• Kalender

    October 2014
    M T W T F S S
    « Oct    
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  
  • Statistik Blog

    • 451,340 kunjungan
  • Tulisan Terakhir

  • Komentar

    There are no public comments available to display.
  • Archives

FADBM-397

Lanjutan ADBM versi Flam Zahra

<< kembali ke adbm-iv-396 | lanjut ke FADBM-398 >>

FADBM-397AKHIRNYA, warisanmu sudah semua aku punyai guru”, kata Agung Sedayu dalam hati. “Ilmu Kabut, Aji Angin Puyuh, Gelap Ngampar, Ilmu Kembang Tanjung, Ilmu  Kerling akan selalu aku asah dan aku amalkan bagi sesama.”

“Kakang, ada tiga orang berjalan kemari,“ kata Sekar Mirah.

Ketika Agung Sedayu beranjak kedepan maka diluar pagar rumah berdiri tiga laki-laki yang sudah sangat tua, lebih tua dari Ki Gede maupun Ki Jayaraga.

“Permisi ngger, apa benar disini rumah Ki Rangga Agung Sedayu ?”

“Benar Kyai,” jawab Agung Sedayu sambil termangu-mangu melihat ketiga orang tua itu.

‘Aku mau bertemu dengan angger Agung Sedayu ”.

“Oh … mari-mari kakek Kyai, aku yang bernama Agung Sedayu ”.

Maka ketiga kakek tersebut sejenak tertegun.

“Silahkan masuk Kyai.”

Kemudian mereka pun duduk di pendapa bersama Agung Sedayu. Sejenak kemudian Sekar Mirah keluar membawa makanan dan minuman.

Setelah dipersilahkan minum juga makan makanan kecil, maka Agung Sedayu bertanya, “Siapa Kiai bertiga ini?”

“Baiklah ngger aku Atmojo, dan kedua saudaraku ini Purwa dan Laksana”.

Agung Sedayu pun mengangguk hormat kepada ketiga tamunya tersebut yang sudah sangat sepuh.

“Sudah saatnya empat itu kembali menjadi satu,” kata Kiai Laksana.

“Benar Kyai, bahkan menurutku sudah agak terlambat,” sambung Kiai Purwa.

“Maksudnya apa dan ada keperluan para kakek Kiai mencari saya?”.

“Baiklah ngger, mungkin angger sudah paham kata yang akan aku ucapkan ini : laksana timur purwo atmaja dengan tanda cakra bergerigi sembilan.”

Agung Sedayu terkejut dan akhirnya berucap,”Paman guru?”.

“Iya ngger, kami adalah saudara seperguruan Windujati,” kata Kiai Laksana.

Akhirnya ketiga Kiai tadi menyingkap lengan bajunya, dan ternyata di pergelangan tangan ada cakra bergerigi sembilan.

“Salam hormat hamba paman guru bertiga, aku yang dungu ini tidak melihat gunung Semeru di depanku”.

“Sudahlah ngger,” sambung Kiai Purwa, “Keberkahan bagi kami yang akhirnya bisa menjumpaimu.”

Selanjutnya mereka berbincang-bincang mengenai segala hal, tapi akhirnya Kiai Atmaja berkata, “Angger Agung Sedayu, kedatangan kami kesini adalah untuk menjalankan amanah dari guru Empu Windujati”.

“Amanah apa paman guru?”

“Baiklah ngger, aku akan mewakili untuk menyampaikan amanah tersebut. Aku akan mengisahkan sedikit cerita, kami dengan gurumu adalah murid dari Empu Windujati, empu adalah seorang linuwih yang sangat santun kepada sesama, empu adalah murid dari 4 guru yang berbeda sama sekali jalur ilmunya. Konon empat jalur ilmu guru adalah dari jalur ilmu Patih Gajah Mada, jalur ilmu Raden Wijaya, jalur ilmu Prabu Airlangga, dan yang terakhir adalah jalur ilmu Raja Purnawarman, yang menurut cerita mampu terbang di atas awan”.

Agung Sedayu terdiam membeku.

“Bisa di katakan empu punya empat jalur ilmu dengan masing-masing empat puncak ilmu itu. Dengan singkatnya Empu Windujati mendalami empat puncak ilmu, ilmu Lebur Saketi yang diamanahkan kepada Kiai Timur, ilmu Bayu Hening yang diamanahkan kepada Kiai Laksana, ilmu Banyu Suci seperti dipunyai Kiai Purwo dan aku ngger di beri amanah untuk mengamalkan aji Bumi Sejati. Maksud empu dulu memecah menjadi empat adalah empu melihat Majapahit yang sudah lemah dan pudar, empu tidak ingin terjadi tindak kesewenang-wenangan dengan ilmu-ilmunya di masa mendatang. Ketahuilah ngger jika ke4 ilmu tadi tertimbun dalam diri seseorang maka dia akan menjadi manusia yang tak terkalahkan, hanya yang Maha Agung dengan takdir kematian saja yang mampu mengakhirinya. Dan tug as kami untuk menyatukan ilmu-ilmu tadi kedalam diri angger Agung Sedayu, ini adalah amanah dari eyang gurumu Empu Windujati, dan kami perintahkan dalam satu tahun ini angger menjalani laku. Jadikan amanah eyang gurumu tadi sebagai sabda pandito ratu”.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Agung Sedayu tanpa berpikir dahulu dan tanpa ragu-ragu menjawab, “Amanah dari eyang guru melalui paman guru akan aku lakukan”.

Dengan tanpa sengaja ketiga Kiai tadi bernafas lega.

“Apa aku harus mengundurkan diri dari keprajuritanku paman?”.

“Oh tidak perlu ngger, angger hanya meluangkan tuga hari dalam satu minggu untuk laku pati geni”.

—oOo–

Sementara itu, Glagah Putih dan Rara Wulan sedang dalam perjalanan kembali ke Mataram.

“Kita istirahat sebentar Rara”.

“Apa tidak sebaiknya kita bermalam saja kakang?”, sahut Rara Wulan kepada Glagah Putih. “Di depan ada hutan kecil”.

“Baiklah Rara,” jawab Glagah Putih.

Akhirnya kedua orang suami istri itu bermalam di hutan kecil.

“Sudah dua hari kita menempuh perjalanan Rara, dan kita harus selalu hati-hati, selain Singa Wana berilmu sangat tinggi ditemani juga oleh para sesepuh perguruan”.

”Benar kakang, apalagi Pangeran Jayaraga mendukung penuh sikap Singa Wana”.

Keduanya akhirnya terdiam dalam angan-angannya sendiri.

Tiba-tiba Rara Wulan bertanya, “Sudah berapa lama kita meninggalkan Tanah Perdikan kakang?“.

“Apakah kamu sudah rindu Rara pada mbokayumu Sekar Mirah? Aku rasa sudah sebelas purnama kita berada di Ponorogo,” jawab Glagah Putih.

“Apakah yang akan diperbuat oleh Mataram terhadap bukti-bukti yang telah berhasil kita kumpulkan kakang?”

“Aku tidak tahu Rara? Memang Mataram berdiri banyak dipenuhi gejolak, tapi itu adalah suatu keadaan yang harus dijalani oleh sebuah kerajaan baru, dimanapun dan di masa kapan pun”.

“Darimana kakang mencuri kata-kata itu?”.

Sambil tersenyum Glagah Putih mencubit lengan Rara Wulan.

“Aduh kakang! Lepaskan kakang!”

Akhirnya Glagah Putih melepaskan cubitannya, sambil berkata, “Andai saja kita di penginapan mewah dan tidak sedang menjalankan tugas”

“Mau apa?”  sahut Rara Wulan sambil tersenyum.

Akhirnya malam itu mereka bermalam istirahat bergiliran.

Ketika semburat merah mulai nampak di langit Timur kedua suami istri itu melanjutkan perjalanan.

“Sebaiknya kita masuk kota mencari penginapan, dan kita alihkan tugas kita untuk menilai kekuatan Ponorogo di pihak Pangeran Jayaraga”.

“Aku setuju kakang, kita sudah tahu kekuatan Ranapati dengan perguruan-perguruan pendukungnya, sekarang kita kumpulkan semua kekuatan Pangeran Jayaraga secara lengkap”.

“Dan semua kita laporkan kepada Ki Patih Mandaraka, Wulan”, imbuh Glagah Putih.

—oOo–

Dalam pada itu Agung Sedayu sedang mempersiapkan diri untuk menjalani laku.

“Nanti malam aku akan menjalani laku khusus selama 7 hara 7malam”, berkata Agung Sedayu.

“Iya kakang, semoga yang Maha Agung memberi kemudahan”.

“Aku akan selalu mendoakan Ki Rangga diberi kemudahan dalam menjalani laku”,  jawab Ki Jayaraga kemudian.

“Aku tadi di barak telah menyerahkan urusan keprajuritan kepada para wakilku.

Sebenarnyalah beberapa hari kemudian keadaan rumah Agung Sedayu menjadi sunyi, Sekar Mirah walau tetap mengerjakan urusan dapur, begitu juga Ki Jayaraga maupun Sukra. Seolah-olah kediaman mereka sebagai laku mereka untuk membantu meringankan beban Agung Sedayu, Sekar Mirah banyak berada di biliknya, walau pun sekedar duduk.

Ki Jayaraga ketika pulang dari sawah, hanya duduk di pendapa dengan mata yang selalu terpejam. Sukra yang melihat itu, juga menjadi paham, bahwa orang-orang rumah sedang tirakat, maka dia pun seolah-olah ikut juga dalam tirakat tersebut.

Walau hari-hari terasa lambat berjalan, tapi waktu akhir laku itupun datang juga.

Malam terakhir itu, Ki Jayaraga, Sekar Mirah, Sukra duduk bersila di depan sanggar untuk menanti selesainya laku Agung Sedayu.

Mereka menanti sambil tetap dengan semedi, dengan tidak pernah berhenti selalu memohon kemudahan kepada Yang Maha Agung.

Malam itu berjalan sepertinya sangat lambat, suasana seolah-olah bertambah sunyi.

Bahkan suara-suara jengkerik, katak sawah, seolah-olah tidak terdengar sekalipun. Seolah-olah jengkerik dan katak-katak sawah pun ikut terbawa suasana.

Dalam hati Ki Jayaraga berkata, “Suatu pewarisan ilmu yang belum pernah aku rasakan, bahkan alam pun seolah-olah terdiam sebagai saksi pewarisan ilmu tersebut”.

Dan akhirnya hampir bersamaan dengan semburat merah di ufuk timur, pintu sanggar terbuka. Agung Sedayu berdiri, kemudian Sekar Mirah seakan berteriak, “Kakang?!”

Agung Sedayu walau kelihatan sangat lelah, tetap tersenyum dan berkata perlahan, “Aku baik saja, atas doa kamu, Ki Jayaraga dan kamu Sukra aku berhasil menjalankan amanah ini. Aku mau mandi keramas”.

“Baik kakang, kan kusiapkan londo merang”,  jawab Sekar Mirah.

“Mirah, senja turun kamu bersama-sama akan aku ajak berjalan-jalan ke Pancuran Watu Item”, kata Agung Sedayu.

“Apakah kakang akan memperlihatkan hasil dari mesu diri dalam setahun ini,” bertanya Sekar Mirah.

“Tidak memperlihatkan tapi karena kau dan Ki Jayaraga yang membantu aku dalam menjalani laku, maka kau dan Ki Jayaraga yang akan menilai tingkat keberhasilanku,” jawab Agung Sedayu.

“Ah kau kakang!” sahut Sekar Mirah.

Sebenarnyalah ketika senja turun, Agung Sedayu telah berdiri tegak ditengah-tengah dataran Pancuran Watu Item. Sekar Mirah dan Ki Jayaraga menyaksikan dari pinggir. Demikianlah Agung Sedayu segera mulai, tidak dari tataran awal tapi langsung ke tataran tinggi. Tata gerak dari 4 jalur ilmu yang dicoba luluhkan Agung Sedayu.

Maka yang terjadi adalah tata gerak yang sangat mantap, dalam pertahanan yang tak tertembus oleh serangan lawan, juga tata gerak yang semakin lama semakin rumit. Ketika diam laksana karang yang tidak goyah diterjang badai bagaimanapun dahsyatnya, ketika bergerak secepat kilat, bagai tidak menyentuh tanah.

Sekar Mirah hanya mampu diam membeku, sedangkan dalam hati Ki Jayaraga berkata, “Ilmu tata gerak yang tidak mampu aku membayangkan dapat menyaksikan tata gerak yang demikian dahsyat, bermimpi pun tidak.

Ki Jayaraga tersentak ketika Agung Sedayu berhenti dan berkata, “Aku akan merambah ke puncak tata gerakku”.  Tata gerak Agung Sedayu menjadi semakin sangat rumit. Kecepatannya nyata tubuh Agung Sedayu benar-benar tak menyentuh tanah dan tenaga Agung Sedayu bagai ledakan guntur setiap melakukan tata gerak.

“Aku seperti butiran debu melihat tata gerak Agung Sedayu” gumam Ki Jayaraga dalam hati.

“Itu yang mampu aku capai sebatas kemampuanku Sekar Mirah, Ki Jayaraga,” berkata Agung Sedayu.

Sekar Mirah masih saja terdiam membeku, seakan-akan tidak percaya apa yang baru saja dia lihat. Bahkan Ki Jayaraga hanya mampu dengan terbata-bata bergumam, “Suatu tata gerak olah kanuragan yang bagai tidak dapat aku mampu membayangkan”.

“Baiklah Mirah, Ki Jayaraga, aku juga akan melatih 4 ilmu puncak dan gabungan dari keempat ilmu tersebut.

Kemudian Agung Sedayu kembali berdiri di tengah-tengah dataran.

“Aku akan menjadikan watu item didepan itu sebagai sasaran. Ini dari ilmu Banyu Suci sebatas kemampuanku”.

Sejenak kemudian Agung Sedayu memusatkan nalar budi, hanya butuh waktu sekejap, tidak lama kemudian telunjuk Agung Sedayu terangkat dan menunjuk ke arah batu hitam sebesar kerbau itu, maka seleret sinar putih melesat langsung mengenai batu hitam, tidak ada suara ledakan tapi yang terjadi kemudian adalah yang membuat Sekar Mirah dan Ki Jayaraga tercengang.

“Mari kita lihat ki!” kata Agung Sedayu.

Sebenarnyalah kemudian Ki Jayaraga memegang bekas batu hitam yang berubah menjadi butiran-butiran es yang sangat lembut.

“Sangat luar biasa Ki Rangga, aku sangat berterima kasih telah diberi kesempatan menyaksikan ilmu yang tidak mampu kujangkau dengan nalarku ini”.

“Ki Jayaraga, Sekar Mirah aku tidak mungkin melatih hasil dari ilmu Bayu Suci karena tidak ada sasarannya, juga ilmu Bumi Sejati, karena itu adalah semacam ilmu kebal. Baiklah aku akan sekali lagi mencoba ilmu gabungan”.

“Apakah tidak Aji Lebur Saketi dulu Ki Rangga?” bertanya Ki Jayaraga.

“Mungkin Ki Jayaraga sudah pernah melihatnya ketika aku mengetrapkannya lewat cambuk dalam puncak ilmu cambuk.”

“Baiklah, tapi aku tetap yakin, hasilnya tetap lebih dahsyat yang sekarang. Kalau dulu sasarannya benda mati akan lumat menjadi debu, sekarang pasti akan lebih lembut daripada tepung,” kata Ki Jayaraga.

“Ah tidak seperti itu ki,” jawab Agung Sedayu, “Marilah,” lanjut Agung Sedayu.

Kemudian Agung Sedayu melangkah ke tengah-tengah dataran, “Aku juga akan menjadikan batu hitam sebagai sasaran,” kata Agung Sedayu.

Sejenak kemudian Agung Sedayu menghadap ke arah batu hitam yang lebih besar lagi. Sejenak kemudian Agung Sedayu memusatkan nalar budinya, dan tidak lama kemudian dari semua tubuh Agung Sedayu memancar cahaya di sekeliling tubuh Agung Sedayu, kemudian seperti diperintah cahaya itu melesat menghantam batu hitam. Tidak ada ledakan, tapi Sekar Mirah dan Ki Jayaraga tambah semakin terheran-heran karena batu hitam yang kena ilmu pamungkas Agung Sedayu hilang tanpa bekas.

“Itu hasilnya Mirah, Ki Jayaraga, sebatas kemampuanku” Agung Sedayu berkata.

“Apakah aku tidak sedang bermimpi kakang?” tanya Sekar Mirah.

Ternyata Ki Jayaraga menyahut, ”Sebelum sampai ke ilmu pamungkas Ki Rangga, semua lawan-lawan sudah akan menyerah. Bahkan juga tidak sampai ke 4 ilmu Ki Rangga yang lain”.

“Semoga aku mampu mengamalkan untuk kepentingan orang banyak,”  jawab Agung Sedayu.

“Marilah Ki Jayaraga, Mirah kita pulang. Senja sudah menjadi gelap”.

Akhirnya bertiga mereka menyusuri jalan pulang.

“Ki Rangga, apa masih ada yang mampu menahan ilmu-ilmu  Ki Rangga bahkan ilmu pamungkas itu?”

“Tidak ada yang sempurna di dunia ini ki, hanya yang Maha Agung yang Sempurna”.

“Memang seperti itu, tapi aku yakin ilmu Bumi Sejati adalah tirai yang paling tebal dari jenis ilmu kebal manapun sampai waktu sekarang,” lanjut Ki Jayaraga.

“Aku hanya melaksanakan amanah dan mencoba mengamalkan kepada banyak orang”.

Sekar Mirah hanya terdiam dan masih saja membayangkan apa yang baru saja ia lihat di Pancuran Watu Item.

Keesokan harinya ketika Agung Sedayu mau mulai berangkat lagi ke barak, Sukra mengatakan kepada Agung Sedayu bahwa ada tamu-tamu2 prajurit menunggu dipendapa.

“Baiklah Sukra, aku akan menemuinya”.

Sebenarnyalah, Agung Sedayu menemui tamunya dipendapa.

Agung Sedayu agak terkejut, yang datang adalah prajurit kepatihan.

“Selamat datang dan pasti ada keperluan mendesak”.

“Benar, Ki  Rangga,” jawab prajurit itu. “Kami diperintah oleh Ki Patih Mandaraka, Ki Rangga diperintah menghadap sekarang”.

Ki Rangga berpikir pasti ada sesuatu yang penting.

“Baiklah, mari kita berangkat sekarang,” jawab Ki Rangga.

Sebelum berangkat Agung Sedayu pamit kepada Sekar Mirah dan Ki Jayaraga.

Sejenak kemudian mereka bertiga telah memacu kuda menuju ke Mataram.

“Apakah Ki Rangga tidak membawa prajurit pengawal dari pasukan khusus”.

“Biarlah aku sendiri saja, lagi pula perjalanan Tanah Perdikan ke Mataram sudah ramai dan aman”.

Perjalanan mereka tidak menemui hambatan di jalan. Dan sebenarnyalah ketika matahari mulai naik, mereka tiba di Kepatihan.

Kemudian lurah jaga mengatakan kepada Narpacundaka, bahwa Ki Rangga Agung Sedayu akan menghadap. Dan sesuai perintah ki Patih, Agung Sedayu disuruh langsung menghadap. Sejenak kemudian Agung Sedayu telah menghadap Ki Patih Mandaraka.

Ketika Ki Patih menatap Agung Sedayu, maka Ki Patih Mandaraka berkata, “Ki Rangga dengan sedikit apa yang kupunya dari panggraita ku, aku berhadapan dengan sebangsal ilmu yang tidak terbatas. Dan terus terang dengan jujur aku akui, apa yang ku punya tidak ada sekuku ireng dari apa yang kau punya. Bersyukurlah Ki Rangga pada Yang Maha Agung atas limpahanNya padamu. Memang itulah yang terjadi suatu keanehan, hanya seorang Rangga, tapi ilmunya melambung menembus mega melebihi para raja.”

Agung Sedayu hanya menundukkan kepala.

“Ki Rangga, aku hanya bisa minta maaf atas kekurang-adilan Mataram kepadamu”.

Sambil menundukkan kepala, Agung Sedayu menjawab, “Apa yang hamba lakukan adalah kewajiban hamba”.

“Ki Rangga,” bertanya Ki Mandaraka, ”Bolehkah aku mengetahui apa yang kaum lakukan selama ini? Dulu pun ketika tiap kamu menghadap kepadaku, aku juga merasakan kamu semakin bertambah ilmumu, tapi untuk kali ini aku benar-benar terkejut yang teramat sangat, aku seperti melihat sumur yang tidak punya dasar, aku seperti melihat lorong yang tidak berujung”.

“Hamba mohon ampun sebelumnya Ki Patih,” kemudian Agung Sedayu menceritakan apa yang telah diperbuatnya di Tanah Perdikan.

“Berdirilah Agung Sedayu,” kemudian Ki Patih merangkul Agung Sedayu. “Benar-benar luar biasa, engkau menimbun ilmu-ilmu  dari para raja yang sakti mandraguna”.

 “Aku pernah mendengar serba sedikit dari guruku dulu, tentang apa yang sekarang tertimbun dalam dirimu,” kata Ki Patih Mandaraka. “Walau tentunya itu hanya sedikit saja yang kuketahui…”.

“Ki Rangga,” berkata Ki Patih kemudian, “Aku sudah sangat tua, mungkin sudah pantas disebut pikun dan sebenarnya aku sudah layak untuk diganti oleh yang lebih muda”.

“Tetapi Ki Patih masih sangat diperlukan oleh Mataram, dan sebelumnya hamba minta maaf Ki Patih, Ki Patih adalah yang selama ini hamba anggap sebagai orang tua hamba. Hamba masih sangat memerlukan wejangan-wejangan dalam melaksanakan tugas-tugas hamba” berkata Agung Sedayu.

“Ohh, Agung Sedayu, suatu kehormatan besar bagiku. Aku melihat kamu, seperti melihat air yang seakan-akan mengalir tanpa riak sama sekali” balas Ki Patih Mandaraka.

Sejenak kemudian Narpacundaka masuk menghadap.

“Ada apa?” tanya Ki Patih

“Glagah Putih bersama istrinya mohon menghadap Ki Patih?” jawab Narpacundaka itu.

“Kebetulan sekali, suruh mereka masuk!” jawab Ki Patih.

Sejenak kemudian Glagah Putih dan Rara Wulan datang menghadap. Ketika mereka masuk ke ruangan, mereka terkejut, melihat Agung Sedayu juga menghadap.

Setelah menanyakan keselamatan masing-masing, kemudian Ki Patih berkata, “Kebetulan sekali Ki Rangga, Glagah Putih dan Rara Wulan sudah pulang”. Ki Patih segera minta Glagah putih melaporkan hasil perjalanannya.

“Ki Patih, dari kesimpulan kami ternyata Panaraga secara terang-terangan telah mempersiapkan pasukan yang sangat besar dan kuat serta didukung oleh perguruan-perguruan. Tapi satu hal yang menjadi tanda tanya kami, ketika kami secara tidak sengaja mendengar dari pengawal Pangeran Ranapati, yang mengatakan kekuatan Panaraga adalah kekuatan yang tanpa batas. Bukan karena kehadiran Ki Singa Wana sepuh, tetapi karena dukungan dari Perguruan Semu, dan hamba belum mampu membuka tabir tentang Perguruan Semu tersebut. Demikian Ki Patih, hasil dari pengamatan hamba dengan Rara Wulan” lapor Glagah Putih.

“Perguruan Semu?,” gumam Agung Sedayu, “Hamba belum pernah mendengarnya Ki Patih”.

Ki Patih Mandaraka mengangguk-angguk, sambil berkata, “Aku juga belum pernah mendengarnya. Tapi bisa saja hanya sekedar gertakan Panaraga, tapi juga bisa perguruan yang memang hanya sekedar nama, tanpa ada tempatnya. Apakah kamu sudah pernah melihat sepak terjang Ki Singa Wana Sepuh Glagah Putih, Rara Wulan?” bertanya Ki Patih.

“Hamba belum pernah bertemu Ki Patih, tetapi hamba sudah pernah berhadapan dengan Pangeran Ranapati, ternyata sangat tinggi ilmunya Ki Patih,” jawab Glagah Putih. “Dan kesimpulanku, jika Perguruan Semu itu ada, pastinya berisi orang-orang linuwih dengan ilmu yang seakan-akan tanpa batas. Bahkan Singa Wana Sepuh bukan tandingan mereka”.

Akhirnya Glagah Putih dan Rara Wulan melaporkan hasil dari tugas mereka sebagai prajurit telik sandi Mataram secara lebih terperinci. Ki Patih Mandaraka dan Agung Sedayu mendengarkan dengan serius, bahkan kadang-kadang dahi mereka berkerut. Pangeran Jayaraga dan Pangeran Ranapati juga dengan gurunya Ki Singa Wana Sepuh telah dengan terang-terangan menyusun kekuatan yang besar. Mereka juga didukung oleh perguruan-perguruan besar. Dan menurut kabar, mereka tidak akan bertahan di dalam kota, tetapi akan membawa pasukannya keluar.

“Hamba belum paham, keluar itu sekedar di sekitar Panaraga atau keluar menuju ke Mataram. Ki Patih, ada satu hal yang perlu kami tambahkan, di Panaraga dalam sepekan terakhir ini tersiar kabar bahwa Panaraga akan dilindungi oleh Perguruan Semu, tetapi kami belum bisa memastikan kepastian kabar tersebut nyata atau hanya berita bohong semata” papar Glagah Putih.

“Perguruan Semu?,” gumam Agung Sedayu. “Perguruan apa itu Ki Patih,” tanya Agung Sedayu.

“Aku juga belum pernah mendengarnya,” jawab Ki Patih. “Walaupun semisal itu hanya berita bohong, tapi ada baiknya kita tetap menganggap itu adalah nyata ada,” lanjut Ki Patih Mandaraka. “Dan tentunya Perguruan Semu tadi berisi orang-orang yang ilmunya seakan-akan tanpa batas, karena menurut mereka sanggup sebagai pelindung Panaraga”.

“Apakah mungkin Panaraga hanya dijadikan landasan saja, Ki Patih?” tanya Agung Sedayu.

“Sangat mungkin, dan aku kira apa yang kau kerjakan terakhir ini ada hubungannya dengan Perguruan Semu” Jawab Ki Patih Mandaraka.

“Aku semakin yakin Ki Rangga, kau memang telah dipersiapkan oleh guru-gurumu untuk menghadapi keadaan ini. Dulu sewaktu Sultan Hadiwijaya masih hidup, pernah membicarakan tentang ilmu-ilmu tingkat tinggi yang telah di anggap punah. Tetapi di masa tuaku, aku pernah melihat sebagian ilmu itu muncul kembali, ketika Kiai Gringsing terpaksa mengeluarkannya untuk menolong aku. Glagah Putih dan kau Rara Wulan, sebaiknya kalian istirahat dulu, segala keperluan akan disiapkan Abdi Kepatihan. Aku akan mengajak kakangmu sowan ke istana” Ki Patih Mandaraka berkata sambil mempersilahkan Glagah Putih dan Rara Wulan istirahat.

Sementara itu, jauh di belahan bumi Timur sekitar Pantai Selatan, Pantai Grajagan, pantai yang tidak pernah lengang karena tiap detik hantaman ombak raksasa yang menghantam dinding-dinding batu karang. Tampak empat orang berjalan menuju padukuhan yang terletak di sebelah Utara Pantai Grajagan. Empat orang yang sudah sepuh itu akhirnya berhenti di sebuah rumah yang kecil, yang dikelilingi pohon buah dan sayur-sayuran di sekitar rumahnya.

Akhirnya ke empatnya masuki pekarangan, tapi sebelum mereka mengucapkan salam di tiap-tiap telinga mereka seperti ada bisikan “Silahkan kakang bertiga dan Ki Kebo Langitan masuk ke dalam”.

Sebenarnyalah kemudian mereka telah berbincang-bincang dengan sangat serius.

“Aku adalah keturunan langsung dari Ken Arok, itu saja yang perlu kalian ingat-ingat. Apakah sudah paham kau adi Gajah Lawe, adi Putut Sungsang, adi Trunajati dan Raden Kebo Langitan?” berkata salah seorang diantaranya.

“Sudah kakang,” jawab mereka hampir bersamaan.

“Biarlah Jayaraga atau Ranapati bermimpi dulu untuk mengganti kekuasaan Hanyakrawati. Aku tidak akan menurunkan prajurit, biarlah Panaraga dibantu Bang Wetan ditambah kelompok perguruan yang jadi tumbal. Mungkin salah satu dari kita cukup untuk melumatkan orang-orang Mataram yang di anggap punya ilmu sangat tinggi. Aku juga tidak akan meniru Panji yang telah mengorbankan pasukannya ikut dalam perang Pajang Mataram. Selain itu Panji merasa sudah punya ilmu yang tidak terkalahkan, tetapi ketika harus berhadapan dengan Raden Timur, Panji pun harus meregang nyawa. Gajah Lawe, Putut Sungsang, Trunajati, serta Raden Kebo Langitan, kalian punya sebangsal ilmu dan kalian lebih punya segalanya di banding Panji Aku akan ke Alas Purwa dalam sepekan ini, aku minta kalian tetap disini”.

Sementara itu, Ki Patih Mandaraka bersama Agung Sedayu menghadap Panembahan Hanyakrawati..

“Ternyata Mataram tidak bisa menghindari perang, aku telah meminta paman Jayaraga untuk datang ke Mataram sesuai kewajibannya. Tetapi paman Jayaraga ternyata telah menentukan sikapnya. Aku hargai sikap itu dengan sikap Mataram yang tegas pula” berkata Panembahan Hanyakrawati.

 Ki Mandaraka dan Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepala dengan terus mendengar titah Panembahan Hanyakrawati.

 “Eyang Mandaraka,” berkata Panembahan Hanyakrawati. “Apakah Perguruan Semu memang dihuni orang-orang yang sakti berilmu sumundul langit, eyang? Dan untuk berulang kali Mataram harus memeras tugas Ki Rangga Agung Sedayu melebihi tugas-tugas keprajuritannya”.

 “Angger Panembahan”, berkata Ki Patih Mandaraka. “Aku belum pasti tentang Perguruan Semu, tetapi aku yakin akan hal itu. Tentang Agung Sedayu, angger Panembahan”, lanjut Ki Patih, “Ia adalah sahabat dekat ramamu, ngger. Ia bersama gurunya dapat disebut cikal bakal dari Mataram, yang telah menentukan sikap walau waktu itu Mataram masih ujud hutan lebat”.

 Panembahan Hanyakrawati mengangguk-anggukkan kepala.

 “Tidak selamanya ilmu-ilmu dari seorang pemimpin itu harus lebih tinggi”, berkata Panembahan Hanyakrawati. “Ki Rangga, kamu adalah benteng Mataram. Baik dulu ketika rama Panembahan masih ada, maupun sekarang. Jadilah pelindung Mataram Agung Sedayu, kita telah meyakini Mataram dengan tujuannya maka kita akan terus sampai kapan pun menjadikan ketentraman Mataram gemah ripah loh jinawi”.

“Eyang Mandaraka, Ki Rangga,” lanjut Panembahan Hanyakrawati. “Mari kita berangkat, kita siapkan Mataram menjalani kewajibannya”.

Sementara itu, pada hari itu juga Agung Sedayu, Glagah Putih, Rara Wulan pulang  ke Tanah Perdikan.

“Kita akan kembali menjalani kerja yang sangat berat, mengorbankan raga dan perasaan kita. Itulah perang” berkata Agung Sedayu.

“Benar kakang,” jawab Glagah Putih. “Kita kalau mungkin selamat, akan kembali merasakan suasana yang membuat perasaan kita hancur,” lanjut Glagah Putih.

Tiba-tiba Agung Sedayu, mengangkat kepalanya menatap jauh ke depan. “Rara, Glagah Putih hati-hati! Aku melihat ketidak wajaran”.

“Trapkan sapta pandulu dan sapta panggraitamu”, lanjut Agung Sedayu.

Rara Wulan dan Glagah Putih, terkejut setelah mereka mempertajam sapta pandulu. “Kakang apa kita tidak sedang bermimpi?”  bertanya Glagah Putih dan Rara Wulan hampir bersamaan.

“Aku melihat, walau masih samar-samar. Ada orang yang seperti mengambang di udara, kadang-kadang hilang tetapi segera muncul kembali di lain tempat”.

“Kita bertemu dengan orang yang berilmu sangat tinggi. Semoga tidak bermaksud tidak baik. Kita tetap berkuda seolah-olah kita belum mengetahuinya,” lanjut Agung Sedayu.

Demikianlah, mereka tetap terus meneruskan perjalanan.

“Kita hampir sampai ke tempat orang itu kakang,” bisik Rara Wulan.

Tiba-tiba ketika mereka sudah hampir sampai ke tempat orang itu, mereka mendengar suara tertawa yang melengking-lengking sangat tinggi.

“Gelap Ngampar, perkuat daya tahanmu Glagah Putih, Rara!” berkata Agung Sedayu.

Demikianlah suara tertawa itu semakin lama tambah melengking tinggi. Glagah Putih dan Rara Wulan walau sudah memperkuat daya tahan tubuh mereka, tetapi ternyata suara tertawa itu mampu menembus jantung mereka walau tidak begitu berpengaruh.

“Gelap Ngampar tataran tinggi,” berkata Agung Sedayu dalam hati.

Tiba-tiba di sela tertawanya, orang itu berkata, tapi tetap dengan suara yang melengking-lengking menusuk-nusuk jantung. “Aku akan berbicara dengan murid Raden Timur Pamungkas, Agung Sedayu!”

Tiba-tiba, di sela-sela suara keras melengking-lengking itu, ada samar-samar suara yang tidak keras bahkan cenderung pelan saja. Tapi suara pelan itu seolah olah mampu meredam suara tinggi tersebut. Orang itu terhenyak, ketika seolah-olah suaranya membentur suara yang pelan-pelan dan perlahan-lahan mampu membalikkan ke sumber suara itu.

“Jangan sombong kau Agung Sedayu, ternyata Gelap Ngamparmu sudah dalam tataran puncak,” berkata orang itu.

“Sudahlah ki sanak, kita hentikan permainan kanak-kanak ini”, jawab Agung Sedayu.

“Baiklah, tapi jangan kau berbangga dengan kemenangan kecilmu itu” balas orang itu.

Kemudian Agung Sedayu meloncat turun dari kudanya, diikuti Glagah Putih dan Sekar Mirah. Demikianlah akhirnya mereka berdiri berhadapan, tepat di depan jalan yang akan masuk ke sebuah padukuban.

“Aku tidak perlu mencari tempat yang sepi, yang jauh dari padukuhan untuk menemui kalian,” berkata orang itu, kemudian, “Aku juga tidak mengkhawatirkan jika harus bertemu para prajurit Mataram.”

“Siapakah ki sanak ini yang menurut penglihatanku memiliki ilmu yang tiada tara ini?” bertanya Agung Sedayu.

“Dengarkan baik-baik Agung Sedayu, kamu tidak perlu mengenalku. Tugasku adalah membunuhmu. Dan kamu tidak perlu bertanya alasanku. Sudah siapkah kau Agung Sedayu?!” jawab orang itu.

Ketika Agung Sedayu akan menjawab, tiba-tiba udara di sekitar menjadi panas. Agung Sedayu terhenyak, berkata dalam hati, “Orang ini tidak main-main”.

“Hai ki sanak, aku akan membela diri karena kau telah menyerang aku dengan ilmumu yang ngedab-ngedabi itu” balas Agung Sedayu

 Glagah Putih dan Rara Wulan mundur agak menjauh, mereka mengerti orang itu hanya ingin menghadapi Agung Sedayu. Dari pinggir arena, Glagah Putih dan Rara Wulan melihat Agung Sedayu tidak menjauhi sumber dari panas tetapi Agung Sedayu seakan-akan menantang dengan mendekat ke arah sumber panas itu.

Ketika Agung Sedayu berdiri tegak, tiba-tiba dari tubuh Agung Sedayu keluar seperti kabut tipis, kabut tipis itu lama kelamaan menyebar memenuhi tempat pertempuran itu.

Orang asing itu tiba-tiba meloncat mundur, sambil berteriak, “Aku akan membunuhmu Agung Sedayu!”

Bersamaan dengan hilangnya udara panas, orang asing itu dengan gerak yang seakan-akan kasat mata menyerang Agung Sedayu. Tangannya yang seperti mematuk mengarah langsung ke sentuhan wadag Agung Sedayu, tetapi Agung Sedayu juga dengan gerak yang sangat cepat mampu menghindar dan membalas serangan orang asing itu.

Demikianlah pertempuran dua orang digdaya semakin lama semakin dahsyat. Sebenarnyalah pertempuran itu langsung dalam tataran tingkat tinggi. Tata gerak mereka sangat cepat dan rumit, seakan-akan hanya kelebatan bayangan yang saling menyambar.

“Tameng Waja,” berkata Agung Sedayu dalam hati, ketika pukulan telapak luar tangan Agung Sedayu seperti membentur dinding tebal ketika mampu mengenai lambung orang asing itu.

Maka Agung Sedayu segera mengetrapkan ilmu kebalnya. Sebenarnyalah Agung Sedayu sengaja hanya mengetrapkan tata gerak perguruan orang bercambuk.

Glagah Putih dan Rara Wulan yang menyaksikan pertempuran dengan berdebar-debar. Tetapi mereka juga menyadari, Agung Sedayu sengaja melayani tataran-tataran ilmu orang asing itu. Setiap orang asing itu meningkatkan ilmunya, maka Agung Sedayu masih saja mampu mengimbangi ilmu orang asing itu.

 Tiba-tiba kesepuluh jari orang asing itu berubah menjadi hitam, juga tata geraknya yang semakin cepat. Agung Sedayu yang masih saja melayani segera paham bahwa orang itu sudah merambah dalam puncak ilmunya, sehingga Agung Sedayu juga melakukannya pula. Memperkuat ilmu kebalnya dan mengetrapkan ilmu meringankan tubuh. Sehingga pertempuran itu menjadi semakin dahsyat, kecepatan yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi bagaikan sekelebatan bayangan yang bagai disertai suara guntur. Ketika harus terjadi benturan tampak gelombang yang besar yang meluruhkan dahan.

Benturan-benturan antara keduanya semakin sering terjadi. Tetapi nyatalah, tenaga dalam Agung Sedayu masih beberapa lapis di atas orang asing itu. Tiap terjadi benturan, ternyata tirai Tameng Waja orang asing itu dapat tertembus dari ilmu perguruan orang bercambuk Agung Sedayu. Sehingga orang asing itu selalu terdorong mundur tiap kali benturan terjadi. Walau tirai ilmu kebal Agung Sedayu juga dapat tertembus, tetapi dengan bekal daya tahan tubuh yang luar biasa maka tidak begitu pengaruh pada Agung Sedayu.

Tiba-tiba orang asing itu meloncat mundur, sesaat kemudian orang asing itu telah membuat gerakan khusus. Agung Sedayu segera menyadari bahwa orang asing itu telah siap untuk melontarkan ilmu pamungkasnya..

“Aku akan mencoba membuat orang itu menyerah,” berkata Agung Sedayu dalam hati.

Sebenarnyalah orang asing itu telah menarik kedua sikunya kebelakang, dengan telapak tangan telungkup. Dan sesaat kemudian aji pamungkas orang asing telah siap dilontarkan, dari tangan orang asing itu telah menjadi merah membawa.

“Kau akan hangus dengan Aji Tatu Geni ku Agung Sedayu!” teriak orang asing itu. Dan sesaat akan di lepaskan aji Tatu Geni, tiba-tiba orang asing itu bergetar tubuhnya.

“Bau apa ini kakang?”  bertanya Rara Wulan.

“Aku tidak tahu, Rara” jawab Glagah Putih. “Rara, kita menjauhi medan sakarang! Bau itu seperti bau kembang yang menusuk-nusuk jantungku”.

Sesaat kemudian Glagah Putih dan Rara Wulan menjauhi arena pertempuran itu. Sebenarnyalah ketika orang asing itu akan melontarkan aji Tatu Geni, tiba-tiba di sekitar tempat itu telah menyebar bau kembang yang mampu menusuk-nusuk jantung. Menghilangkan kekuatan nalarbudi. Orang asing itu merasa semakin lama seakan-akan bau itu semakin menyengat dan semakin membuat tubuhnya bergetar, dan perasaannya tidak mampu di kendalikan. Semakin lama semakin tubuh orang asing itu menjadi limbung.

Telapak tangan yang tadinya menjadi merah membara yang seakan-akan mampu menghanguskan segalanya, telah lenyap sama sekali.  Bahkan tiba-tiba tangan orang asing itu terkulai lemas, bersamaan dengan semakin limbung tubuhnya  maka orang asing itu terbungkuk-bungkuk hingga akhirnya tubuh orang asing itu roboh jatuh ke tanah.

“Apakah kau menyerah atau akan mati lemas, ki sanak?” bertanya Agung Sedayu.

 Orang asing itu memandang Agung Sedayu dengan mata sayu, mulutnya bergerak-gerak tetapi tak keluar suara apapun. Agung Sedayu segera tahu maksud dari orang asing itu, maka sejenak kemudian sengatan bau kembang yang mampu menyerang penciuman orang dan mempengaruhi keseimbang-an nalar budi itu perlahan-lahan mulai berkurang

Semakin lama bau kembang itu semakin lemah hingga akhirnya bau kembang itu hilang sama sekali.

Glagah Putih dan Rara Wulan kemudian mendekati tempat Agung Sedayu berdiri.

“Bagaimana keadaan kakang?” tanya Glagah Putih.

“Aku baik-baik saja Glagah Putih, Yang Maha Agung masih melindungiku.” Jawab Agung Sedayu. “Marilah kita lihat keadaan orang itu,” lanjut Agung Sedayu.

 Maka mereka bertiga kemudian mendekati orang asing itu.

 “Kamu akan lekas baik, ki sanak!” kata Agung Sedayu. “Kamu tinggal mengatur jalan pernafasanmu, kemudian pusatkan nalar budi untuk mengembalikan semua seperti sediakala”.

 “Kamu luar biasa Agung Sedayu. Dan aku yakin yang kamu perlihatkan hanya sebagian kecil dari timbunan ilmu-ilmumu Agung Sedayu,” lanjut orang asing itu.

 “Kamu menguasai ilmu yang juga dipunyai guruku. Aji Kembang Tanjung yang diyakini adalah ilmu yang dipunyai dari trah keluarga Majapahit”.

 “Baiklah ki sanak, kedaanmu sudah membaik. Hanya pernafasanmu yang belum teratur,” berkata Agung Sedayu. “Apakah ki sanak mau melanjutkan perjalanan atau mau singgah di Tanah Perdikan untuk istirahat, mungkin kita bisa membicarakan tentang kerajaan Majapahit yang termashur itu”.

 “Kalau ki sanak mau meneruskan perjalanan, bolehkah ki sanak berkenan memberitahukan nama ki sanak” Agung Sedayu bertanya.

 Orang asing itu memandang Agung Sedayu, kemudian menundukkan kepalanya. Agung Sedayu membiarkan orang asing itu berpikir untuk membuat pertimbangan.

Setelah agak lama menunggu, maka terdengar suara lirih orang asing itu. “Agung Sedayu, kau benar-benar mewarisi ilmu dan jiwa Perguruan Windujati, walau mungkin kau hanya dari jalur Perguruan Orang Bercambuk. Tetapi Perguruan Orang Bercambuk adalah langsung diasuh oleh Raden Timur Pamungkas, cucu Empu Windujati sendiri”.

“Agung Sedayu, namaku Sentanu Alit dan aku mau kau bawa ke Tanah Perdikan Menoreh. Suatu kebanggaan bagiku, di masa tuaku aku bisa menjadi tawanan kehormatan dari agul aguling Senopati Mataram yang ilmunya tiada batas”.

“Ah, ki sanak terlalu berlebihan. Dan perlu Ki Sentanu Alit ketahui, Ki Sentanu bukan tawanan tapi tamu saya”,  jawab Agung Sedayu.

Sebenarnyalah mereka berempat meneruskan perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh. Karena Ki Sentanu Alit tidak berkuda, maka kuda Rara Wulan dipakai Ki Sentanu Alit, Rara Wulan sendiri berkuda berdua dengan Glagah Putih.

 Sebenarnyalah mereka segera melanjutkan perjalanan menuju ke Tanah Perdikan Menoreh. Kuda-kuda mereka berpacu tidak terlalu cepat, seakan-akan mereka sedang menikmati matahari sore hari. Mereka terus berkuda sambil melihat pategalan-pategalan yang ditanami jagung dan palawija yang tumbuh subur.

Tambakbaya yang dulu terkenal lebat dan dipercaya wingit, kini telah dibuka untuk dijadikan padukuhan-padukuhan baru. Juga dibuat saluran-saluran air dari perbukitan di sisi Selatan yang mata airnya tidak pernah kering. Dari saluran air itulah yang bisa di gunakan untuk mengairi petegalan yang terletak di pinggiran padukuhan, juga untuk mengairi persawahan di dalam pedukuhan.

 “Ternyata Mataram sudah sangat pesat perkembangannya”, gumam Ki Sentanu Alit. “Ki Pemanahan serta Panembahan Senopati juga Ki Patih Mandaraka telah berhasil memimpin pembangunan kerajaan baru yang bernama Mataram ini”.

Agung Sedayu yang mendengar Ki Sentanu Alit yang seakan-akan berbicara pada dirinya sendiri, hanya mengangguk-angguk kepala saja. Agung Sedayu membiarkan Ki Sentanu Alit melihat kenyataan yang sebenarnya, keadaan nyata dari kehidupan rakyat Mataram.

 Agung Sedayu membiarkan Ki Sentanu Alit mau meresapi keadaan dan mungkin bisa membuat perbandingan dengan apa yang selama ini ia yakini tentang keadaan Mataram yang tidak pernah tentram, yang penduduknya selalu gelisah karena ketidak-amanan. Sehingga setelah melihat keadaan Mataram dan kehidupan masyarakatnya, maka akan bisa menjadi jawaban yang sebenarnya.

Akhirnya setelah matahari semakin condong ke Barat, mereka sampai ke tepian Kali Praga.

 Setelah menunggu sejenak, maka sampan dari arah Barat telah sampai di tepian Timur, akhirnya mereka segera naik sampan. Sebenarnyalah, perjalanan mereka tidak menemui hambatan. Menjelang senja, akhirnya sampai ke rumah Agung Sedayu.

“Nyi Rangga …, Ki Rangga telah datang bersama kakang Glagah Putih dan Nyi Ayu Rara Wulan”, teriak Sukra.

 Sebenarnyalah, waktu itu Sekar Mirah yang sedang selesai memasak, segera bergegas keluar. Ketika Sekar Mirah melihat Rara Wulan, segeralah berlari mendekati Rara Wulan, keduanya segera berpelukan erat. Air mata tak terasa mengalir di pipi keduanya.

 “Kamu terlalu lama pergi Rara, bahkan aku pernah minta kakangmu untuk mencari kamu dan Glagah Putih”.

 “Aku juga sudah sangat rindu kepada mbokayu dan keluarga Menoreh, dan ternyata kami masih diberi keselamatan oleh Yang Maha Agung” balas Rara Wulan.

 Akhirnya sambil mengusap air mata, Sekar Mirah mengajak Rara Wulan masuk ke ruang dalam. Agung Sedayu segera mempersilahkan Ki Sentanu Alit naik ke pendapa.

 Sementara itu Glagah Putih mendekati Sukra.

 “Tubuhmu tambah besar Sukra, bagaimana dengan pliridanmu?” Glagah Putih bertanya.

 Sukra masih diam mematung, sambil memperhatikan Glagah Putih, seakan-akan belum pernah bertemu sama sekali. “Kau terlalu lama pergi?! Apa nanti sebentar di rumah, kau akan pergi lagi? Aku di rumah masih suka turun ke sungai, kadang-kadang dengan Ki Rangga. Aku juga sering di ajak ke bukit-bukit pada malam hari. Aku di beri pengertian tentang hidup lahir maupun batin. Aku mulai mengerti mengapa kau sering bepergian”.

 Glagah Putih diam dan terpana mendengar Sukra berbicara. Kemudian ia bertanya, “Apa kau telah diambil murid oleh kakang Agung Sedayu?”

 “Ki Rangga tidak pernah mengatakan padaku, tapi bagiku Ki Rangga adalah lebih dari sekedar guru. Ki Rangga adalah panutanku, ayahku, kakangku…” jawab Sukra

“Kamu beristirahatlah, biar aku yang membawa kuda-kuda itu ke kandang” ujar Sukra. Tanpa menunggu jawaban Glagah Putih, Sukra segera mengambil tali kekang kuda-kuda tersebut, lalu dibawa ke kandang.

 Glagah Putih berdiri termangu-mangu. Dalam hati berkata, “Aku yakin ilmu Sukra pasti maju pesat”.

 Ketika Glagah Putih akan naik ke pendapa, terdengar orang menyapanya. “Kapan kau datang Glagah Putih?”

Glagah Putih sudah hapal suara itu, maka Glagah Putih segera berbalik dan menghampiri orang yang menyapa tadi. “Guru!!”

Kemudian Glagah Putih meraih tangan orang yang ternyata gurunya, Ki Jayaraga. “Atas restu guru, aku masih dilindungi Yang Maha Agung”.

Sebenarnyalah mereka berempat akhirnya duduk di pendapa

Sebenarnyalah, mereka berempat yang sedang duduk di pendapa, telah mulai memperkenalkan satu sama lain. Saling menanyakan keselamatan selama di perjalanan maupun yang di rumah.

 “Begitulah ceritanya Ki Jayaraga, hingga kakiku akhirnya menginjak Tanah Perdikan Menoreh. Aku yang dipercaya untuk menghilangkan nama Agung Sedayu. Aku telah deksura menganggap membunuh Ki Rangga tidak butuh waktu sepenginang. Aku tidak tahu seberapa dalam ilmu Ki Rangga, tapi ketika aku menghadapi Ki Rangga tampak tanpa harus berkeringat pun, aku telah takluk” Ki Sentanu mengakhiri ceritanya.

 Tidak lama kemudian, Sekar Mirah dan Rara Wulan keluar untuk menyediakan minuman dan makanan kecil. Demikianlah mereka berenam saling berbagi cerita, tentang berbagai hal.

“Terima kasih Ki Sentanu Alit berkenan singgah di Tanah Perdikan”, berkata Ki Jayaraga.

 “Aku dahulu juga orang yang kleyang kabur kanginan tidak tentu rimba, tetapi pepesten telah mempertemukan aku dengan Kyai Gringsing atau Ki Sentanu menyebutnya dengan nama Raden Timur Pamungkas dengan murid-muridnya. Aku juga sama dengan Ki Sentanu Alit, dengan deksura tidak mengerti bahwa yang aku hadapi adalah Gunung Semeru. Tetapi pepesten itu telah memberi pelajaran bagiku tentang arti urip bebrayan agung”.

 Ki Sentanu Alit mendengarkan cerita Ki Jayaraga sambil menundukkan kepala. “Maaf Ki Sentanu,” lanjut Ki Jayaraga, “Bukan maksudku untuk menggurui Ki Sentanu, tetapi memang demikianlah yang terjadi denganku. Aku di Tanah Perdikan ini seolah-olah merasa menjadi manusia, aku bisa mengerjakan sawah, bisa membuka air untuk mengairi parit-parit, juga kadang-kadang aku bisa ke hutan untuk mencari kayu bakar. Tapi kadang-kadang tenagaku yang serba terbatas ini juga dapat untuk membantu Tanah Perdikan yang sedang menghadapi masalah. Ketika ada orang atau sekelompok orang yang ingin melanggar paugeran urip bebrayan agung, tentunya kita bersama-sama harus melawannya”.

“Aku berterima kasih kepada Ki Jayaraga dan Ki Rangga sekeluarga” berkata ki Sentanu alit sesaat setelah mereka selesai makan malam.

“Besok pagi kalau Ki Rangga berkenan, aku akan meninggalkan tanah perdikan. Aku tidak akan pulang Ki Rangga, aku akan melihat cakrawala baru ke arah matahari terbenam, semoga ada pelajaran yang dapat aku ambil hikmahnya. Itu pun kalau Ki Rangga mengijinkan dan mengampuni kesalahanku.”

“Ki Sentanu Alit”, jawab Agung Sedayu. “Ki Sentanu bukan tawananku, tetapi sebagai tamuku, jadi Ki Sentanu dapat bebas untuk pulang dan suatu saat dengan tangan terbuka, kami ingin Ki Sentanu Alit berkenan mengunjungi kami di Tanah Perdikan Menoreh ini.”

“Aku tidak akan pulang Ki Rangga, tetapi aku akan mencoba melihat cakrawala matahari terbenam. Mungkin terlalu jumawa jika aku mengatakan sebagai ahli pengobatan,
tetapi dengan sedikit keahlian itu, sudah kubulatkan niat untuk menjalankan tapa ngrame di cakrawala matahari terbenam.”

“Ki Rangga”, lanjut Ki Sentanu Alit. “Jika aku kembali ke timur, maka aku harus berpihak kembali, dan jika perang besar itu terjadi maka aku harus berseberangan dengan Ki Rangga sekeluarga.”

Ki Rangga dan yang lain mengangguk-anggukan kepalanya.
“Kalau itu sudah menjadi keputusan Ki Sentanu, maka aku hanya bisa berharap suatu saat berkenan berkunjung ke tanah perdikan ini.”

“Oh.., tentu saja Ki Rangga, aku sudah menganggap semua adalah keluargaku.” Sejenak ki Sentanu alit diam, seolah-olah yang ada di ruang tengah itu juga terdiam.

“Ki Rangga, Ki Jayaraga, Nyi Rangga, Angger Glagah Putih dan Rara Wulan, aku hanya bisa mengucapkan terima kasih,
pertemuan dengan keluarga tanah perdikan ini telah membulatkan tekatku untuk merubah jalan hidupku.”

“Selain itu Ki Rangga”, lanjut ki Sentanu. “Aku akan mengatakan sesuatu hal sejauh yang aku ketahui tentang hubungan Panaraga dengan Mataram.”

“Ki Rangga”, berkata ki Sentanu alit. “Mungkin para telik sandi Mataram sudah mendengar kabar tentang munculnya nama Perguruan Semu. Aku adalah salah satu murid dari jalur Perguruan Semu dari tataran terendah. Perguruan Semu sebenarnya tidak nyata ada. Maksudku Perguruan Semu tidak mempunyai padepokan. Aku hanya mengenal murid-murid Perguruan Semu yang sama dengan tataranku. Tentunya aku juga mengenal guruku yang berada di atas tataranku. Begitu terselubungnya perguruan ini, menjadikan aku tidak dapat mengetahui seberapa anggota perguruan ini. Aku memanggil guruku dengan sebutan ki Truna Jati. Guruku inilah yang punya ilmu mirip dengan yang di punyai Ki Rangga yaitu ilmu kembang tanjung. Mungkin Mataram mudah untuk melihat seberapa kuat pasukan Panaraga, tetapi untuk mengetahui kekuatan Perguruan Semu, sangatlah sulit. Menurut perkataan guru, Panaraga akan mempersiapkan kekuatannya dengan tidak terburu-buru, selalu melihat kelemahan-kelemahan2 yang ada kemudian diperbaiki semua kelemahan itu. Jadi seumpama Panaraga berperang dengan gelar, maka gelar itu seolah-olah tidak akan dapat tertembus oleh musuh. Dan Ki Rangga, aku pernah mendengar guruku secara tidak sengaja mengatakan, setiap senopati Panaraga akan di kawal oleh seorang murid dari Perguruan Semu.”

Tiba-tiba Rara Wulan menyela, “Kalau ki Sentanu alit yang sangat tinggi ilmunya adalah tataran terendah, aku tidak mampu membayangkan anggota-anggota dari Perguruan Semu pada tataran yang lebih tinggi.”

“Ah, tidak begitu Nyi Ayu Rara Wulan.  Mataram ialah kerajaan yang dibentengi oleh senopati-senopati yang berilmu sangat tinggi.”

“Kita masih punya waktu untuk mempersiapkan diri Wulan”, berkata Agung Sedayu..

“Bagaimana dengan Ki Singa Wana sepuh serta muridnya Pangeran Ranapati, Ki Sentanu?” Tanya glagah putih.

“Aku kurang mengerti tentang guru dan muridnya itu, tetapi yang pasti mereka berdua adalah orang-orang yang sangat dekat dengan Pangeran Jayaraga.”

Sebenarnyalah ki Sentanu alit keesokan hari melanjutkan perjalanan menuju ke barat untuk mencoba laku tapa ngrame.
Mencoba membuat ilmu yang dimilikinya dapat bermanfaat untuk sesama.

“Semoga ki Sentanu alit mendapat yang ia cari, urip bebrayan agung”, berkata ki Jayaraga.

“Ia orang baik”, sambung Agung Sedayu.

“Mari semua kita ke ruang dalam, ada sesuatu yang ingin kubicarakan.”

“Ki Jayaraga”, berkata Agung Sedayu, setelah mereka sudah ada di ruang dalam. “Kita harus segera mempersiapkan diri, waktu yang ada ini harus kita manfaatkan sebaik-baiknya.”

“Apakah maksud Ki Rangga, kita semua harus segera melihat diri kita, melihat kemungkinan-kemungkinan untuk melengkapi ilmu yang kita punyai?”

“Benar ki, dalam kitab Windujati, ilmu pertahanan diri adalah Tamengwaja, walau aku tidak mempunyai ilmu tersebut.”

“Kita persiapkan bersama-sama untuk pewarisan ilmu Tamengwaja tersebut. Dan untuk Sukra, kau harus menyediakan waktu khusus untuk menjalani laku dalam merambah tataran tinggi ilmu jalur Ki Sadewa.
Walau hanya sedikit yang bisa dikatakan oleh ki Sentanu alit, tetapi aku mempunyai keyakinan yang kita hadapi ialah ilmu-ilmu yang telah di anggap punah. Kalian sudah terbiasa menjalani laku, aku akan membuatkan tulisan dalam rontal untuk kalian pahami. Ki Jayaraga, aku minta untuk membimbingnya. Sukra, untuk sementara kau latih terus apa yang telah kau kuasai.”

“Apakah kakang akan menjalani laku khusus lagi?”
Bertanya sekar mirah.

“Mirah, aku akan ke Sangkal Putung dan Jati Anom.
Aku akan mengatakan sendiri kepada adi Swandaru, Pandan wangi dan kakang Untara, tentang kekuatan Panaraga.
Perintah-perintah dari Mataram pasti sudah mereka terima, aku hanya akan membuat mereka menjadi semakin yakin akan kekuatan Panaraga. Sehingga akan mempersiapkan pasukan lebih kuat juga mempersiapkan kemampuan pribadinya.”

“Kapan kakang akan berangkat?” Lanjut Sekar Mirah.

“Hari ini, mirah. Aku akan sejenak ke barak pasukan khusus untuk ijin beberapa hari.” Balas Agung Sedayu

Sebenarnyalah, Agung Sedayu hari itu juga berangkat menuju Jati Anom. Sebelumnya Agung Sedayu sempat berpesan kepada ki Jayaraga untuk mulai persiapan-persiapan menjalani laku pewarisan ilmu.

“Baiklah aku berangkat sekarang.” Agung Sedayu berkata.

“Hati-hati kakang, mungkin sekarang tidak aman lagi di perjalanan ke Jatianom sehubungan dengan Panaraga”, pesan sekar mirah.

“Biar mereka yang mencoba mencari perkara dengan Ki Rangga, akan merasakan gabungan dari ilmu-ilmu leluhur para raja masa silam”, kata ki Jayaraga.

“Baiklah aku berangkat. Glagah Putih dan Rara Wulan, tengok kembali Aji Nawaskara dan coba pelajari kemungkinan-kemungkinan untuk mengembangkannya. Ilmu itu mempunyai sifat yang mirip dengan ilmu apinya Ki Jayaraga, mungkin Ki Jayaraga bisa mencoba mempelajari kemungkinan-kemungkinan untuk menggabungkannya.

“Iya kakang”, jawab Glagah Putih dan Rara Wulan hampir bersamaan.

“Akan aku coba Ki Rangga”, jawab ki Jayaraga mengangguk-anggukkan kepala.

Demikianlah, sejenak kemudian derap kaki kuda Agung Sedayu menuju ke barak pasukan khusus, untuk selanjutnya ke Jatianom dan Sangkal Putung.

Sebenarnyalah setelah ijin beberapa hari dari tugas keprajuritan, Agung Sedayu segera meneruskan perjalanan ke Jatianom.

Ketika panas matahari mulai membuat gatal di kulit, Agung Sedayu sampai di tepian barat Kali Praga. Penyeberangan saat itu tampak ramai karena bertepatan hari pasaran di tanah perdikan, maka banyak pedagang-pedagang yang hilir mudik menyeberang Kali Praga.

Agung Sedayu menuntun kudanya menuju ke tukang satang yang baru datang dari timur. Ketika naik sambil membawa kudanya, panggraita Agung Sedayu yang sudah dalam tataran sempurna, menyadari ada empat orang yang mengawasinya sejak turun ke pinggir Kali Praga.

“Baiklah, biarlah mereka mengejarku” gumam Agung Sedayu kepada dirinya sendiri.

Empat orang yang mengawasi Agung Sedayu, akhirnya naik rakit yang sama dengan Agung Sedayu. Setelah di rasa penuh, tukang satang segera menjalankan rakitnya menyeberang ke arah timur Kali Praga.

Rakit memang berjalan agak lambat, disamping muatan penuh juga arus Kali Praga saat itu mengalir deras. Akhirnya setelah menunggu beberapa saat, satang sampai ke tepian kali Praga.

Agung Sedayu setelah membayar upah, segera membawa kudanya turun. Sampai di darat, Agung Sedayu sempat melihat enam ekor kuda dengan dua orang di sampingnya.
Sepertinya mereka sudah merencanakan sesuatu dengan matang.

“Baiklah, aku akan mencoba mencari tahu mereka”, berkata Agung Sedayu dalam hati.

“Aku akan pilih melalui lereng Merapi”, berkata Agung Sedayu dalam hati. “Marilah kita bermain dengan kuda kita.”

Demikian, Agung Sedayu menuntun kudanya menjauhi tepian Kali Praga.

“Ini saatnya”, berkata Agung Sedayu dalam hati.

Tiba-tiba, Agung Sedayu meloncat ke punggung kudanya, dan seperti sudah mengerti maksud dari Agung Sedayu, kudanya pun segera melesat cepat.

“Pengecut, Agung Sedayu!” Teriak salah seorang dari ke enam orang yang mengikuti Agung Sedayu. “Mari kita kejar”, lanjut orang itu, yang ternyata adalah pemimpin dari kelompok kecil itu.

“Gunakan ilmu meringankan tubuh kalian, kita tangkap Agung Sedayu!” Seru pemimpin kelompok berenam itu.
Sebenarnyalah, enam kuda itu berlari cepat, seperti tanpa membawa beban.

Mereka ternyata berilmu tinggi, segeralah Agung Sedayu mengetrapkan ilmu meringankan tubuhnya, sehingga kuda Agung Sedayu pun bertambah cepat larinya.

“Aku akan berhenti di atas bukit itu”, lanjut Agung Sedayu dalam hati.

Keenam orang pengejar, masih terus menambah lari kuda-kuda mereka untuk segera mendekati dan menangkap Agung Sedayu.

“Itu, Agung Sedayu sudah kelelahan mendaki puncak bukit”, teriak salah seorang dari enam orang yang mengejar Agung Sedayu.

Sebenarnyalah Agung Sedayu sengaja memperlambat lari kudanya. Keenam orang yang mengejar Agung Sedayu semakin bersungguh-sungguh untuk menjadi semakin dekat dengan Agung Sedayu.

“Mungkin kita bisa menyusul di atas bukit itu”, teriak pemimpin kelompok. Mereka pun semakin memacu kuda-kuda mereka untuk segera sampai ke atas bukit. Dengan ilmu meringankan tubuh, kuda-kuda mereka semakin cepat berlari, seakan-akan tidak berkurang saat harus mendaki jalan perbukitan.

Namun ketika mereka melewati bibir bukit, mereka terkejut melihat Agung Sedayu berdiri di tengah bukit itu. Akhirnya, setelah mereka sampai di tempat Agung Sedayu berdiri, mereka segera berloncatan turun dan membiarkan kuda-kuda mereka lepas liar sendiri.

“Apakah kau menyerah Ki Rangga Agung Sedayu, senopati pasukan khusus Mataram yang berada di menoreh?” bertanya pemimpin kelompok yang mengejar Agung Sedayu.

“Iya, aku menyerah”, jawab Agung Sedayu. “Aku takut, jika aku paksa, kudaku ini bisa mati kehabisan tenaga. Akibatnya, aku bisa di beri peringatan keras oleh ki Gede Menoreh, karena kudaku adalah pemberian dari ki Gede.”

“Sombong kau Agung Sedayu”, geram pemimpin kelompok.
“Apakah kau sengaja atau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan. Apa kau sudah menganggap ilmumu yang sumundul langit itu, tak ada yang mampu menghancurkan-nya?”

“Oh, tentu tidak, ki sanak, aku hanya prajurit kecil dan di Mataram begitu banyak orang-orang berilmu sangat tinggi.”

“Semakin kau menunjukkan kesombonganmu, Agung Sedayu !”

“Sebenarnya siapa ki sanak berenam ini?” Bertanya Agung Sedayu

“Apakah penting bagimu Agung Sedayu ?”

“Kalau ki sanak bersedia memberi jawaban tentunya?”

“Baiklah Agung Sedayu, kau akan aku tangkap dan tidak usah mencoba melawan, karena bagaimanapun tingginya ilmumu kau tidak kan sanggup melawan ilmu kami. Kami inilah murid-murid Perguruan Lintang Nem.”

“Apa kesalahanku sehingga harus menyerah untuk kalian tangkap?” Bertanya Agung Sedayu.

“Kamu jangan berlagak dungu, Agung Sedayu. Sebentar lagi Mataram akan di hancurkan menjadi ndok amun-amun oleh Panaraga. Dan kami mempunyai kepentingan denganmu karena kau pewaris Windujati.”

“Apa hubungannya dengan persolan Mataram dan Panaraga?”

“Aku akan meminta kitab Windujati. Tidak pantas kau Agung Sedayu, menimbun ilmu Windujati, ilmunya trah keprabon. Apakah kau tidak malu dengan dirimu sendiri, Agung Sedayu? Apakah kau ingin seperti Karebet atau Sutawijaya?”

Agung Sedayu terdiam sesaat. Kemudian, Agung Sedayu bertanya, “Apakah ki sanak berenam juga keturunan darah ratu?”

“Benar, Agung Sedayu. Tapi kami bukan dari trah Majapahit, tapi lebih tinggi lagi kami adalah trah dari leluhur Majapahit. Kami adalah trah Kerajaan Kediri.”

“Ki sanak, aku hanya mempunyai guru satu, dan aku tidak paham ada keterkaitan ilmu-ilmu guru dengan ilmu-ilmu trah keprabon.
Semasa hidup pun guru tidak pernah membeda-bedakan antara ilmu ratu dengan ilmu-ilmu lainnya. Guru hanya mengatakan bahwa ilmu akan nampak ketika bermanfaat untuk urip bebrayan agung. Jadi aku tidak bisa memenuhi permintaan ki sanak semua, dan lagi pula kitab peninggalan guruku sudah aku simpan di tempat yang aman.
Dan mengertilah ki sanak, aku hanya akan mewariskan kepada penerusku atau murid-murid dari saudara perguruanku. Amanat dari guruku Kiai Gringsing, adalah sabda pandita ratu.”

“Hentikan sesorahmu, Agung Sedayu”, bentak pemimpin kelompok.

Bentakan dari pemimpin kelompok tersebut seperti suara guntur yang bergelombang susul menyusul.

“Lagi-lagi Aji Gelap Ngampar”, batin Agung Sedayu.

Demikianlah Agung Sedayu memperkuat daya tahan tubuhnya.
Namun tiba-tiba kelima anggota kelompok yang lain juga berteriak keras-keras mengetrapkan aji gelap Ngampar. Suara teriakan yang bersumber dari enam orang yang didasari kekuatan Aji Gelap Ngampar, membuat dahan-dahan berguguran, ranting-ranting bergoyang, bahkan seakan-akan tanah pun ikut bergetar.

“Luar biasa, orang-orang ini mampu menyatukan enam aji gelap Ngampar luluh menjadi satu kekuatan”, batin Agung Sedayu.

“Baiklah, aku akan mencoba menghadapi kekuatan aji gelap Ngampar gabungan ini dengan ilmu cambuk.”

Sebenarnyalah, walau masih mampu menahan gempuran aji gelap Ngampar gabungan tetapi Agung Sedayu tetap harus menghadapi serangan Aji Gelap Ngampar.

Tidak hanya sekedar menahan dengan mengerahkan kekuatan tenaga dalam. Kemudian Agung Sedayu mengurai cambuknya. “Aji Gelap Ngampar kalian luar biasa ki sanak semua, tapi aku akan menghadapi dengan ilmu cambukku”, teriak Agung Sedayu.

Hanya memerlukan waktu sekejap saja, cambuk Agung Sedayu berputar putar di atas kepala. “Akan aku tunjukkan Aji Lebur Saketi lewat ilmu puncak Perguruan Orang Bercambuk”, berkata Agung Sedayu dalam hati.

Semakin lama semakin deras putaran cambuk Agung Sedayu.
Sesaat kemudian Agung Sedayu menghentakkan sendal pancing dengan sasaran ke udara bebas, dalam puncak ilmu cambuk.
Seakan-akan tanpa suara sama sekali, tampak seleret sinar putih kebiru-biruan seakan-akan menghantam langit.

Akibatnya sungguh luar biasa. Enam orang yang menyerang Agung Sedayu dengan gabungan Aji Gelap Ngampar tersebut, seakan-akan jantung mereka diremas-remas dan mereka sangat sulit bernafas. Dan mereka berenam pun terjengkang roboh.

Agung Sedayu yang baru saja melepas ilmu lebur Saketi dalam ungkapan puncak ilmu cambuk, berdiri tegak dengan memegang cambuk, dengan tangan kiri memegang ujungnya. Sesaat yang semula terdengar suara-suara bagaikan guntur bersahut-sahutan, susul menyusul, akhirnya berhenti dan menjadi hening.

“Silahkan ki sanak berdua ,silahkan keluar. Aku rasa sudah lama ki sanak berdua beristirahat di belakang pohon sonokeling”, tiba-tiba Agung Sedayu berkata seakan-akan kepada dirinya sendiri, karena keenam orang yang menyerang Agung Sedayu telah roboh.

“Mereka hanya pingsan karena pantulan ilmunya sendiri.
Akan segera siuman dengan sendirinya”, berkata Agung Sedayu dalam hati.

Demikianlah Agung Sedayu tetap berdiri sambil menanti dua orang yang bersembunyi di balik pohon sanakeling. Sebenarnyalah sesaat kemudian, dua orang keluar dari balik pohon sanakeling.
Satu orang sudah lanjut usia ,dengan rambut di kepala yang hampir semua sudah memutih. Yang seorang lagi ,yang lebih muda tapi juga tidak bisa di bilang muda lagi. Mereka berjalan dengan tenang menuju ke tempat Agung Sedayu berdiri.

“Sepertinya dua orang ini orang baik, semoga perkiraanku tidak salah. Aku sudah banyak kehilangan waktu, semoga orang-orang ini tidak menimbulkan masalah baru”, berkata Agung Sedayu dalam hati.

Sesaat kemudian dua orang tersebut sudah berdiri di depan Agung Sedayu. Tiba-tiba kedua orang itu hampir bersamaan membungkuk hormat kepada Agung Sedayu. Dan sudah selayaknya Agung Sedayu pun membalas membungkuk hormat kepada dua orang yang baru tiba itu.

“Apakah kami sedang berhadapan dengan Ki Rangga Agung Sedayu, senapati Mataram dari pasukan khusus yang berada di Tanah Perdikan Menoreh. Yang juga kakak dari angger Glagah Putih serta Rara Wulan.”

Agung Sedayu agak terkejut, kedua orang itu sudah mengetahui banyak tentang dirinya.

“Benar, memang aku Agung Sedayu, prajurit Mataram”, akhirnya Agung Sedayu menjawab pertanyaan dari orang yang lebih muda itu.

“Ki Rangga, perkenalkan aku bernama Carang Blabar, serta kakek yang di sampingku ini adalah guruku Kiai Setinggil.
Biar Ki Rangga segera dapat mempercayai kami, kami ini adalah sahabat-sahabat dekat dari Ki Citra Gati dan Nyi Citra Gati.
Mereka berdualah yang pernah di anggap orang tua oleh angger Glagah Putih dan Rara Wulan. Kami yakin Ki Rangga telah mengenal Ki Citra Gati dan Nyi Citra Gati, karena mereka berdua pernah berkunjung di rumah Ki Rangga.”

Agung Sedayu seakan akan terpana mendengar keterangan dari orang yang mengaku bernama Carang Blabar tersebut. “Maafkan atas sambutanku yang kurang menyenangkan, Kiai Setinggil serta Ki Carang Blabar”, berkata Agung Sedayu.

“Hari ini aku yang sudah mulai pikun ini mengucap syukur pada yang Maha Agung, berkata Kiai Setinggil. Karena hari ini aku telah di beri kesempatan untuk bertemu dengan seseorang yang telah tuntas kawruh lahir batin. Aku seperti melihat langit yang bersusun-susun, aku seperti memandang sumur yang tiada dasar, aku seperti memandang jalan yang tiada berujung.”

“Ki Rangga”, Kiai Setinggil melanjutkan bicaranya. “Suatu kehormatan yang tidak terkira besarnya bagiku, dapat bertemu dengan Ki Rangga Agung Sedayu. Dari tempatku di balik pohon sanakeling, aku sempat merasakan kedahsyatan ilmu yang tumurun dari Raden Wijaya, sokoguru Majapahit itu. Ki Rangga, aku pernah menyaksikan kedahsyatan Aji Lebur Saketi, yang waktu itu di trapkan oleh guruku Kiai Setinggil Sepuh. Tapi hari ini apa yang pernah guruku lakukan, tanpa mengurangi rasa hormatku padanya, ungkapan Ilmu Lebur Saketi lewat lecutan cambuk Ki Rangga jauh melampaui apa yang pernah guruku lakukan. Ki Rangga sengaja membuang kekuatan Aji Lebur Saketi itu ke awang-awang, tetapi sisa dari pantulan Ilmu Lebur Saketi Ki Rangga telah membuat bukit ini bergetar, bagai telah terjadi gempa bumi.”

“Kyai Setinggil terlalu memuji”, jawab Agung Sedayu. “Kalaupun ada sedikit ilmu yang aku punya, tentunya tetap dalam keterbatasanku sebagai manusia biasa.”

Ki Carang Blabar yang sejenak diam mendengarkan pembicaraan gurunya dengan Ki Rangga Agung Sedayu, akhirnya ikut bicara.
Ki Rangga, aku pernah melihat tata gerak olah kanuragan Angger Glagah Putih. Aku seperti melihat bermacam-macam ilmu kanuragan yang luluh menjadi satu, seakan-akan seujung rambut pun tak mampu menembus ilmu kanuragan Angger Glagah Putih. Tidak sekedar kabar angin, memang Tanah Perdikan Menoreh berisi orang-orang yang berilmu tiada tara.”

“Sudahlah Kiai serta Ki Carang Blabar, lama kelamaan bisa-bisa aku akan pingsan karena mabuk pujian”, berkata Agung Sedayu.
“Kelihatannya orang-orang itu telah mulai siuman, mari kita dekati mereka.”

Sejenak mereka bertiga segera beranjak mendekati orang-orang yang telah di kalahkan Agung Sedayu itu.

Sebenarnyalah keenam orang yang di kalahkan Agung Sedayu mulai siuman satu persatu.

“Atur pernafasan kalian, semoga segera kembali seperti sediakala”.

Demikianlah mereka melakukan apa yang di katakan Agung Sedayu. Perlahan lahan nafas mereka yang tak beraturan mulai mengalir teratur, aliran darah mulai dapat teratur kembali, wajah mereka yang tampak pucat mulai tampak berdarah kembali.
Setelah beberapa saat mereka mulai mengurai tangan-tangan mereka ke samping, pertanda semedi mereka telah usai. Sebenarnyalah keadaan mereka hampir pulih sama sekali, walaupun tenaga dalam mereka memerlukan waktu beberapa hari untuk mengembalikan seperti sediakala.

Agung Sedayu membiarkan mereka beberapa saat, untuk memberikan waktu berpikir tentang apa yang sebenarnya telah terjadi.

Agung Sedayu sengaja membuat semua menjadi hening.
“Biarlah dalam diam dan hening membuat mereka walau mungkin hanya sedikit, mau melihat ke dalam hati mereka”, berkata Agung Sedayu dalam hati.

Setelah membiarkan dalam diam beberapa saat, akhirnya Agung Sedayu angkat bicara. “Apakah keadaan kalian sudah mulai membaik?”

Keenam orang itu seakan-akan hampir bersamaan memandang ke arah Agung Sedayu. Hanya beberapa saat mereka kembali menundukkan kepala.

“Aku mempunyai keyakinan, kalian tidak bekerja sendiri, tetapi baiklah itu urusan kalian mau mengatakan tentang siapa kalian atau tidak. Aku juga tidak akan memaksa tentang apa sebenarnya tugas kalian berenam. Karena alasanmu tadi ingin membawaku adalah persoalan perguruanku, maka aku menganggap ini semua adalah masalah pribadi antar dua perguruan.”

Setelah menunggu beberapa saat, tetapi keenam orang itu masih diam membisu, maka Agung Sedayu kembali angkat bicara.
“Aku mengampuni kalian. Dan jika tidak ada yang ingin kalian katakan, sebaiknya kalian lekas pergi. Kalian bebas pergi kemanapun kalian suka.”

“Apakah kau akan menghancurkan kami dengan ilmu mu yang tanpa sentuhan wadag, ketika kami mulai berjalan, Ki Rangga?” bertanya pemimpin kelompok tersebut.

Agung Sedayu tersenyum, sambil berkata, “tanyakan pada kata hatimu, apakah aku termasuk orang yang licik atau tidak?”

Keenam orang tersebut kembali hanya terdiam sambil menundukkan kepala mereka..

“Mengapa Ki Rangga melepaskan kami, bukankah kami telah berniat memaksa Ki Rangga untuk ikut ke padepokan kami Padepokan Lintang Nem, bahkan kami telah mencoba membunuh Ki Rangga pula?” Bertanya pemimpin kelompok tersebut.

“Perguruan Lintang Nem?” Tiba-tiba Kiai Setinggil menyahut.

“Apakah Kiai mengenal padepokan tersebut?” Bertanya Agung Sedayu.

“Aku belum pernah ke sana, Ki Rangga. Tetapi guruku semasa hidup pernah bercerita tentang Perguruan Lintang Nem. Semasa hidup guruku bersahabat dengan ketua Perguruan Lintang Nem, tetapi pada suatu ketika, telah terjadi sesuatu persoalan antara guru dengan ketua Padepokan Lintang Nem saat itu. Yang harus diselesaikan dengan perang tanding. Perang tanding yang berakhir imbang, dan harus di bayar dengan luka yang parah baik guru maupun ketua Perguruan Lintang Nem saat itu.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk kepala. “Apakah ki sanak dalam jalur lurus dengan Padepokan Lintang Nem?” bertanya Kiai Setinggil kepada pemimpin kelompok tersebut.

“Maksud Kiai bagaimana? Kalau maksud Kiai apakah kami murni murid-murid Padepokan Lintang Nem, maka sebenarnyalah kami adalah murni murid-murid Perguruan Lintang Nem.”

“Kami adalah tataran kedua Perguruan Lintang Nem. Kami akan tetap membawa citra Perguruan Lintang Nem. Ki Rangga, kami akan mengakui siapa kami dan tugas apa yang kami emban.”

“Tapi Ki Rangga”, lanjut pemimpin kelompok tersebut.
“Kami tidak bisa mengatakan keseluruhan tugas kami, tetapi kami hanya dapat mengatakan serba sedikit saja dari tugas-tugas kami.
Karena murid-murid lintang nem yang telah di percaya melakukan tugas ke luar, maka citra perguruan adalah yang paling utama.
Lebih tinggi kedudukannya dari nyawa kami sendiri.”

“Baiklah, katakan apa yang menurut kalian pantas untuk di katakan”, jawab Agung Sedayu.

Sejenak pemimpin kelompok dari Perguruan Lintang Nem tersebut menarik nafas dalam-dalam untuk menata hatinya.

“Ki Rangga”, lanjut pimpinan kelompok tersebut. “Ki Rangga pasti telah bertemu dengan Ki Sentanu Alit, murid tataran terendah dari ki empu Truna Jati. Dan pasti telah Ki Rangga kalahkan dengan Ilmu Kembang Tanjung yang sangat dahsyat itu. Dan hari ini Ki Rangga telah bertemu kami, ternyata gabungan Aji Gelap Ngampar kami berenam tidak ada sekuku irengnya Aji Lebur Saketi dalam ungkapan ilmu cambuk Ki Rangga Agung Sedayu. Bahkan kami hanya terkena pantulan dari Aji Lebur Saketi yang Ki Rangga lecutkan ke awang-awang, telah membuat kami roboh. Dan apa yang akan kami sampaikan ini adalah pesan guru kami ,dan kami yakin pesan yang sama tetapi berbeda isinya pula telah Ki Sentanu Alit terima. Guruku berpesan, ‘Aji Gelap Ngamparmu akan mampu membuat Agung Sedayu terkapar. Ki Rangga, hanya itu yang bisa kami sampaikan. Panggraita Ki Rangga akan mudah menjawab tentang tugas-tugas Ki Sentanu Alit serta tugas-tugas kami. Kami berenam sering mendapat sebutan Nem Lintang Panjer Sore.”

Ki Rangga Agung Sedayu, Kiai Setinggil serta Ki Carang Blabar bersungguh-sungguh dalam mendengarkan cerita dari pimpinan kelompok tersebut, ternyata yang mempunyai sebutan Nem Lintang Panjer Sore.

Sesaat orang-orang di atas bukit itu sama-sama diam, masing-masing sama-sama berpikir untuk menghayati cerita Nem Lintang Panjer Sore tersebut.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Agung Sedayu angkat bicara. “Baiklah ki sanak Nem Lintang Panjer Sore, silahkan kalian melanjutkan perjalanan, dan jika kalian bertemu guru kalian, sampaikan pesanku. Katakan pada guru kalian, ucapkan terima kasihku, karena beliau berkenan mengangkat aku jadi muridnya.”

Baiklah Ki Rangga, kami akan segera kembali ke padepokan kami. Dan satu hal yang ingin kami katakan, selama ini kami mengagumi tokoh-tokoh ilmu kanuragan bang wetan, yang menurut kami ilmu-ilmu mereka sangat tinggi, tiada yang mampu melampaui mereka. Tapi hari ini kami benar-benar harus mengakui, apa yang selama ini kami yakini ternyata salah. Di tanah Mataram ini, kami bertemu dengan Ki Rangga Agung Sedayu. Dan kami yakin, apa yang baru saja kami lihat adalah baru sebagian kecil dari apa yang Ki Rangga punya. Sekali lagi kami mendapat kehormatan bisa bersentuhan langsung dengan Ki Rangga Agung Sedayu. Kami mohon diri Ki Rangga dan ki sanak berdua.” Sambil membungkuk hormat, Nem Lintang Panjer Sore mohon diri kepada Agung Sedayu, Kiai Setinggil dan Ki Carang Blabar.

“Hati-hati di perjalanan, semoga kita bisa bertemu lagi dalam keadaan yang lebih baik”, pesan Agung Sedayu melepas Nem Lintang Panjer Sore.

Sesaat setelah Nem Lintang Panjer Sore pergi, Kyai Setinggil bertanya kepada Agung Sedayu. “Apakah Ki Rangga akan segera meneruskan perjalanan? Sebenarnya aku ingin bersama Kiai berdua untuk pulang ke Menoreh, tetapi karena aku harus segera sampai ke Jati Anom, aku mohon Kiai Setinggil dan ki Carang Blabar tetap ke tanah perdikan sekarang. Pasti Glagah Putih dan Rara Wulan akan sangat senang mendapat kunjungan Kiai berdua.”

“Ki Rangga, sebelum berpisah aku akan mengatakan sesuatu, tetapi ini belum tentu benar adanya.”

“Silahkan Kiai Setinggil, aku siap mendengarkan”, jawab Agung Sedayu.

“Ki Rangga, cerita ini sebaiknya di rahasiakan dulu, jangan sampai tersebar lebih dahulu. Hanya aku, Carang Blabar, dan kakak seperguruanku yang mengetahuinya.”

“Baiklah kyai, aku akan menjaga rahasia tersebut.” Sahut Agung Sedayu.

“Ki Rangga, dua hari yang lalu kakak seperguruanku Kiai Winasis berkunjung ke padepokanku. Memang seperti kebiasaan Kiai Winasis ketika lama tidak bertemu, akan menyempatkan waktu mengunjungiku dan sebaliknya aku juga sering mengunjunginya, ketika lama Kiai Winasis tidak mengunjungiku. Tetapi kedatangan Kiai Winasis kali ini membawa kabar yang sangat penting, walaupun Kiai Winasis belum mempercayainya secara penuh.”

Kyai Winasis belum yakin akan kebenaran cerita itu, karena hanya mendengar dari seseorang, tanpa melihat dengan mata kepala sendiri, walaupun panggraita Kiai Winasis dapat mempercayainya.
“Ki Rangga”, berkata Kiai Setinggil selanjutnya. “Kalau cerita ini benar, menurut Kiai Winasis dapat mengancam kewibawaan Mataram, bahkan lebih berbahaya dari pemberontakan- pemberontakan sebelumnya.”

“Silahkan di lanjutkan kyai”, berkata Agung Sedayu.

“Baiklah Ki Rangga. Sebenarnya paling lama dua belas purnama sekali aku dengan Kiai Winasis mengunjungi makam guru kami di Kademangan Kalisat. Tetapi sepekan yang lalu, walau kami belum lama ini baru saja mengunjungi makam guru di Kademangan Kalisat, Kiai Winasis tanpa sempat mengajak aku telah mengunjungi lagi makam guru. Kiai Winasis mengatakan, bahwa dalam tiga malam berturut-turut Kiai Winasis selalu bermimpi yang sama. Kiai Winasis merasa guru seolah-olah melambai memanggilnya. Berawal dari mimpi yang sama itulah, Kiai Winasis segera berangkat ke Kademangan Kalisat. Di makam guru itulah Kiai Winasis mencoba mengheningkan cipta rasa, untuk dapat membaca maksud mimpi-mimpinya. Dalam hening cipta rasa itulah, Kiai Winasis seolah-olah melihat hutan lebat dan lautan luas.”

“Ki Rangga”, berkata Kiai Setinggil selanjutnya. “Gambar hutan itu adalah alas Purwa dengan laut Kidul. Sebenarnyalah, ketika Kiai Winasis menyusuri pesisir selatan, beliau bertemu dengan nelayan yang membawa hasil ikan tangkapannya. Nelayan inilah Ki Rangga, yang menjadi sumber cerita yang di dengar oleh Kiai Winasis” berkata Kiai Setinggil selanjutnya.

“Nelayan tersebut tiap sepekan sekali mengirim hasil tangkapannya ke dua pertapa yang berada di Alas Purwa.
Dan ketika pada suatu saat nelayan itu mengirim tangkapannya ke Alas Purwa, nelayan itu melihat sesuatu yang di luar nalar.”

“Apa itu kyai, sesuatu yang diluar nalar tersebut”, bertanya Agung Sedayu.

“Ki Rangga, nelayan tersebut ternyata diberi kesempatan menyaksikan pertunjukan ilmu. Yang membuat nelayan itu seperti melihat sesuatu di luar nalar adalah ia melihat ilmu angin yang mampu menerbangkan pohon-pohon besar. Nelayan itu juga melihat seekor harimau besar yang mati membeku, seolah-olah tubuhnya dilapisi es. Dua pertapa itu juga mengatakan, akan lahir kerajaan baru, meneruskan cita-cita ken Arok.”

“Dengan upah secukupnya sebagai balas budi atas waktu dan tenaga yang diberikan nelayan itu, Kiai Winasis mencoba menggali lebih banyak tentang keberadaan pertapa itu. Ternyata dua pertapa itu juga sering didatangi orang-orang. Bahkan pada suatu ketika, ketika nelayan itu mengantar ikan, ia melihat seorang yang memakai cadar di kepalanya datang di tempat pertapa tersebut.
Tetapi Kiai Winasis tidak dapat mencari tahu tentang siapa nama dua pertapa itu atau kalau mungkin tentang siapa adanya pula orang bercadar itu, karena ketika lima hari yang lalu, saat nelayan itu mengantar ikan, dua pertapa tersebut telah tidak ada di tempat, bahkan keesokan harinya saat Kiai Winasis menyuruh nelayan itu untuk kembali lagi, dua pertapa itu juga sudah tidak berada di tempat. Ki Rangga, apa yang di ceritakan Kiai Winasis sama dengan yang aku ceritakan kepada Ki Rangga. Dan menurut Kiai Winasis, apa yang pernah di tunjukkan kepada nelayan itu seumpama benar, adalah ungkapan ilmu yang nggegirisi. Aku bersama Carang Blabar pergi ke Menoreh ini adalah dari pertimbangan kami dengan Kiai Winasis. Karena menurut kami, ilmu-ilmu nggegirisi itu adalah ungkapan ilmu-ilmu yang telah di anggap hilang atau bahkan telah punah. Seumpama ilmu-ilmu itu akan di gunakan untuk angkara murka yang menyalahi aturan urip bebrayan agung, tentunya harus di cegah. Dan kami bersama Kiai Winasis meyakini, orang-orang yang mempunyai ilmu yang bersumber pada mata air yang sama yang akan mampu mencegahnya atau paling tidak mampu mengimbanginya.”

Ketika Kiai Setinggil diam sesaat, tiba-tiba Agung Sedayu mengangkat kepalanya dan memandang sisi timur bukit itu.

“Ada apa Ki Rangga?” Bertanya ki Carang Blabar.

“Mungkin kita akan kedatangan tamu, Kyai” jawab Agung Sedayu.

Dan setelah beberapa saat kemudian, Kiai Setinggil pun dengan aji sapta pangrungu mampu mendengar desir kaki yang berjalan cepat menuju tempat mereka. “Dengan usia yang masih terhitung muda, Ki Rangga Agung Sedayu telah menimbun bermacam-macam ilmu dalam dirinya. Aji sapta pangrungu pun Ki Rangga telah sampai di puncak tertinggi pula”, berkata Kiai Setinggil dalam hati.

“Semoga yang datang bukan yang akan menghambat perjalananku lagi” berkata Agung Sedayu dalam hati.

Sebenarnyalah setelah menunggu beberapa saat, seorang tua tapi masih kelihatan segar melangkah mendekati Kiai Setinggil, Carang Blabar dan Agung Sedayu berdiri.

“Kakang winasis!” Tiba-tiba Kiai Setinggil memanggil setengah berteriak.

“Ya adi, aku ternyata juga tidak ingin ketinggalan untuk dapat menginjakkan kaki di Tanah Perdikan Menoreh. Yang sudah di kenal sebagai lumbung orang-orang mumpuni.” jawab Kiai Winasis.

“Kakang winasis, ternyata aku dan Carang Blabar sebelum sampai di Tanah Perdikan Menoreh, sudah dapat kehormatan bertemu senapati pasukan khusus Mataram, Ki Rangga Agung Sedayu.” Sahut Kiai Setinggil.

Agung Sedayu segera membungkuk hormat setelah mengetahui yang datang adalah Kiai Winasis, kakak seperguruan Kiai Setinggil.
Kyai Winasis pun juga segera membalas membungkuk hormat kepada Agung Sedayu.

“Akhirnya aku dapat bertemu juga dengan orang yang namanya menggetarkan di seantero tanah ini”, berkata Kiai Winasis.

Setelah saling menanyakan keselamatan masing-masing, Kiai Setinggil menceritakan kejadian di bukit itu kepada Kiai Winasis seluruhnya tanpa ada yang lupa sama sekali.

“Jawaban Ki Rangga sangat tepat, Nem Lintang Panjer Sore pasti akan mengatakan kepada gurunya. Dan sebaiknya kita mengalir saja dahulu sampai Ki Rangga menemukan jalan yang tepat atau Mataram telah memutuskan apa yang harus Ki Rangga lakukan”, berkata Kiai Winasis.

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan dari Kiai Winasis.

“Ki Rangga, sebenarnya aku menyusul Adi Setinggil dan Carang Blabar ke Tanah Perdikan Menoreh, karena ada sedikit tambahan berita, yang bisa sebagai petunjuk untuk membuat kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan”.

“Berita apa kakang?” Bertanya Kiai Setinggil.

“Aku rasa berita ini juga penting, Adi Setinggil. Kalau Ki Rangga tidak akan harus mengejar adi Setinggil, cukup Ki Rangga trapkan aji pameling dalam tataran puncak, akan mampu menyampaikan pesan ini.” kata Ki Winasis

“Ah, tidak benar itu kyai”, jawab Agung Sedayu.

Akhirnya Kiai Winasis segera menceritakan berita yang ia bawa. “Ki Rangga”, berkata Kiai Winasis. “Kemarin di sekitar Kademangan Mlingi, penduduk telah gempar dan resah.
Mereka melihat suatu keajaiban yang tidak dapat di terima nalar, bahkan sebagian penduduk Kademangan Mlingi menganggap ada hantu atau sejenisnya yang menampakkan dirinya.”

“Ki Rangga”, lanjut Kiai Winasis. “Penduduk kademangan Minge telah digemparkan dengan munculnya orang bercadar yang dapat terbang. Aku meyakini itu bukan hantu atau sejenisnya, tetapi suatu pertunjukkan ilmu yang ngedap-edapi. Dan yang paling penting adalah pesan yang di sampaikan orang bercadar itu.
Orang bercadar itu berpesan, penduduk Mlingi harus mendukung kembalinya raja agung. Aku mengira tujuan sesungguhnya adalah menyampaikan pesan tersebut, tentang pertunjukkan ilmu terbangnya adalah untuk membuat penduduk takut dan akhirnya menuruti semua perintah orang bercadar tersebut.”

“Aku ucapkan terima kasih yang tak terhingga Kiai Winasis, juga kepada Kiai Setinggil dan Ki Carang Blabar. Berita ini sangat penting bagi Mataram, dan aku minta bantuan Kiai bertiga untuk menghadapi semua ini”, berkata Agung Sedayu.

“Ki Rangga, suatu kehormatan bagi kami, mungkin sedikit yang kami punya dapat membantu Mataram”, jawab Kiai Winasis.

“Baiklah kyai, aku mohon Kiai bertiga berkenan singgah di Tanah Perdikan Menoreh, aku akan meneruskan perjalanan ke Sangkal Putung dan Jati Anom. Mungkin dalam dua hari aku sudah pulang ke Menoreh kembali. Sebenarnyalah setelah beberapa saat kemudian mereka berpisah untuk melanjutkan perjalanan masing-masing.

“Beruntung aku dapat bertemu dengan Kiai Winasis, Kiai Setinggil dan Ki Carang Blabar. Mataram kembali mendapat ancaman yang menurutku lebih kuat dari pada ancaman-ancaman sebelumnya,” berkata Agung Sedayu dalam hati.

Agung Sedayu pun segera melanjutkan perjalanan, setelah melepas ketiga tamunya meneruskan perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh.

 “Semoga saat senja, sudah bisa sampai di Jati Anom,” kata Agung Sedayu sambil mempercepat lari kudanya.

 Demikianlah Agung Sedayu terus memacu lari kudanya membelah lereng Merapi. Melewati pategalan yang subur, milik dari petani yang tinggal di lereng- lereng gunung Merapi. Seolah Agung Sedayu kembali terbawa saat- saat dalam tempaan gurunya bersama adik seperguruannya Swandaru. Juga terbayang pengembaraannya bersama Raden Sutawijaya yang kemudian di kenal dengan panggilan Panembahan Senapati.

 “Pangeran Benawa?” Gumam Agung Sedayu, seolah-olah menyebutnya tanpa sadar. “Putra raja, yang telah mengangkat aku sebagai sahabat dekatnya. Dia pulalah yang telah menunjukkan jalan, hingga aku di beri kekuatan oleh Yang Maha Agung. Sehingga aku bisa tawar segala jenis bisa dan racun, bagaimanapun kuatnya”.

 Sambil terus memacu lari kudanya, kembali kenangan-kenangan perjalanan hidup silih berganti menemani Agung Sedayu dalam kesendiriannya. Bahkan sesaat kemudian tampak mata Agung Sedayu mengembun dan terlihat walau sekilas butiran- butiran air meleleh di pipi Agung Sedayu.

“Orang tuaku, semoga aku bisa mikul duwur mendem jero, melaksanakan kewajibanku dan amanahmu. Guruku, engkau teladanku. Aku sangat merindukanmu guru. Aku sangat rindu padamu guru. Guruku!!”

Sebenarnyalah perkataan-perkataan batin Agung Sedayu, adalah perkataan batin orang yang telah tuntas dalam kawruh batin. Dan sebenarnyalah panggilan- panggilan kepada gurunya adalah panggilan batin Agung Sedayu dalam mengobati kerinduannya pada gurunya. Dan tanpa sadar sepenuhnya Agung Sedayu telah mengungkap seluruh ilmu batinnya. Tanpa disadarinya pula air mata Agung Sedayu mengalir membasahi wajahnya.

Dalam puncak ungkapan ilmu batin Agung Sedayu seolah olah alam menjadi hening, angin seakan-akan berhenti berhembus, suara-suara binatang hutan tak terdengar sama sekali. Bahkan tiba-tiba seolah-olah awan memayungi Agung Sedayu. Seakan-akan melindungi Agung Sedayu dari sengatan terik matahari.

Dalam kepasrahan yang dalam, juga kerinduan yang telah tersimpan begitu lama dalam relung-relung hati Agung Sedayu ,
yang di ungkapkan dengan mengalirnya seluruh kekuatan batin,
tiba-tiba hampir bersamaan, kuda tunggangan Agung Sedayu berhenti, dan mata Agung Sedayu pun terpejam. Tidak ada suara sekecil apapun, seakan-akan alam pun menjadi diam semuanya..

Dalam kerinduan dan kepasrahan yang tak terkira dalamnya, Agung Sedayu merasakan ketenangan batin yang belum pernah di rasakan sebelumnya. Agung Sedayu merasakan kenikmatan, ketentraman, dan kebahagiaan jiwani. Dalam ketenangan batin yang dirasakan, Agung Sedayu merasa mendengar suara lembut, suara yang membawa kesejukan bagaikan air jernih yang tenang masuk ke dalam relung hati Agung Sedayu. Suara yang begitu dikenalnya, yang begitu dirindukannya. “Agung Sedayu, dengarkan kata hatimu. Laksanakan kewajibanmu. Berlindunglah pada Yang Maha Agung. Apa yang kau rasa, sama dengan yang Kurasa. Jadilah penguasa hati. Selamat tinggal”.

Sebenarnyalah Agung Sedayu seolah-olah hanya diam, tak mampu mengeluarkan sepatah kata apapun. Yang di rasakan hatinya bagai disiram air telaga yang sejuk. Suara-suara yang telah begitu dikenalnya itu bagai menjadi pelita yang tak pernah mati menerangi hati nya.

Akhirnya suasana hening itu sedikit demi sedikit telah terurai.
Suara burung satu dua telah mulai terdengar, demikian juga desah angin sudah mulai berhembus. Demikianlah pelan-pelan namun pasti, keadaan hening itu kembali seperti semula. Dan ketika awan yang seakan-akan memayungi Agung Sedayu mulai terurai, saat itu pulalah Agung Sedayu membuka matanya. “Selamat jalan!!” gumam Agung Sedayu. Baktiku selamanya selalu untukmu. Aku akan selalu mengingat dan melaksanakan sabda-sabda itu, Guru.”

Sebenarnyalah sesaat kemudian Agung Sedayu menepuk2 leher kudanya. “Kawanku yang selalu setia, ayo kita lanjutkan perjalanan.”

Seolah-olah mengerti apa yang di ucapkan Agung Sedayu, maka kuda tunggangan Agung Sedayu seakan2 memberi tanda dengan mengibas2kan ekornya dan mendongakkan kepalanya. Ayo kawanku, kita segera berangkat. Sebenarnyalah tanpa menunggu perintah lagi, kuda Agung Sedayu segera berlari melanjutkan perjalanan membelah lereng Merapi menuju jati anom.

Sebenarnyalah perjalanan Agung Sedayu tidak mendapat hambatan lagi. Saat matahari hampir senja, sampailah Agung Sedayu di Jati Anom, tempat di mana ia menghabiskan masa kecilnya.
Agung Sedayu segera menuju ke rumah kakaknya yang juga dijadikan sebagai barak prajurit. Sesaat Agung Sedayu sampai di regol rumahnya tampak dua penjaga sedang berdiri di gardu regol.
“Oh, Ki Rangga Agung Sedayu ” seru salah seorang prajurit penjaga.
“silahkan, Ki Rangga, lanjut prajurit pengawal yang seorang lagi.”

“Apakah Kakang Untara berada di rumah?”, tanya Agung Sedayu.

“Ada, silahkan langsung masuk ke dalam”, jawab prajurit pengawal yang pertama.

Agung Sedayu pun segera menuntut kudanya, memasuki halaman depan rumah kakaknya, yang sebenarnya juga rumahnya.
Sesaat Agung Sedayu menambatkan kudanya, terdengar suara yang memanggilnya, “Agung Sedayu, ternyata kau masih ingat rumahmu”
Agung Sedayu yang mendengar suara itu, tersenyum dan segera naik ke pendapa.

“Kakang Untara, aku tetap ingat kampung halaman kita”, berkata Agung Sedayu.

Sebenarnyalah Ki Tumenggung Untara telah melihat kedatangan Agung Sedayu, dan sengaja menanti Agung Sedayu di pendapa rumahnya. Kedua orang kakak beradik tersebut segera saling menanyakan keselamatan mereka masing-masing. Juga menanyakan kabar keselamatan keluarga di Jatianom maupun keluarga di Tanah Perdikan Menoreh. Tak lama kemudian istri Ki Tumenggung Untara, keluar ke pendapa untuk menyuguhkan minuman dan makanan kecil.

“Mbokayu, salam pangabekti ku dan keluarga tanah perdikan untuk mbokayu”, berkata Agung Sedayu.

“Atas doa Adi Agung Sedayu dan keluarga Menoreh, keluarga Jatianom tak kurang suatu apapun”, jawab mbokayu Untara.

“Di mana Wira Permana, kakang”, tanya Agung Sedayu, “aku sudah lama tidak berjumpa dengannya, lanjut Agung Sedayu.”

Sambil tersenyum ki Untara menjawab pertanyaan Agung Sedayu, “keponakanmu itu ternyata senang bermain cambuk, adi”

“Oh, sudah berapa lama dia di padepokan kakang?” Lanjut bertanya Agung Sedayu

“Sudah hampir duabelas purnama, adi. Tetapi tiap pekan ,dia pulang satu hari, kemudian berangkat kembali ke padepokan”, jawab ki Untara.

“Aku nanti akan menemuinya kakang, sudah terlalu lama aku tidak bertemu dengan Wira Permana. Dahulu, aku sudah melihat kelebihan-kelebihan Wira Permana, dalam usianya yang masih sangat muda”, berkata Agung Sedayu.

“Dia tentu sangat gembira, adi. Beberapa kali dia sering membicarakanmu, bahkan dia sering menyebutmu seorang senapati yang ilmunya melebihi para raja”, jawab ki Untara.

Agung Sedayu tersenyum mendengar keterangan kakaknya ki Untara itu. “Sifat kanak-kanak, tetapi itu akan membuatnya semakin sungguh-sungguh dan tidak kenal putus asa”, jawab Agung Sedayu.

Setelah berbicara banyak hal tentang keadaan Jati Anom, kesejahteraan penduduk, keamanan padukuhan-padukuhan, dan masih banyak lagi yang tentunya berhubungan dengan perkembangan Jati Anom, maka sampailah Agung Sedayu mulai membicarakan maksud dan tujuannya pulang ke jati anom.
“Kakang, sebenarnya aku pulang ini ada sesuatu hal yang aku anggap sangat penting, yang ingin aku bicarakan dengan kakang Untara”.

Ki Untara terdiam sesaat, mendengar Agung Sedayu bicara.
“apa ada hubungannya dengan Panaraga, adi? Memang aku telah diberi perintah langsung dari Ki Patih Mandaraka untuk meningkatkan sampai batas akhir kemampuan kami, dalam mempersiapkan pasukan di wilayah selatan ini. Bahkan kami mengadakan pembajaan dan latihan-latihan keprajuritan secara tersembunyi. Kelihatannya memang tidak ada kesiagaan sama sekali, bahkan bisa di lihat para prajurit di Jatianom seakan-akan sedang tertidur. Tetapi sebenarnyalah kami dalam mempersiapkannya melebihi ketika dahulu Mataram harus berperang beberapa kali itu. Apakah memang benar, ada hubungannya dengan Panaraga, adi?” Bertanya ki Untara.

“Memang benar, kakang. Aku pulang ini memang ada hubungannya dengan Panaraga. Tetapi aku menemui kakang Untara bukan karena perintah dari Mataram, tetapi kepentinganku sendiri sebagai saudara muda Kakang Untara”, jawab Agung Sedayu.

Ki Untara tersenyum, setelah mengetahui maksud dan tujuan adiknya menemuinya. “Aku sudah mengerti ke arah mana pembicaraanmu tadi, adi”

“Jangan anggap aku deksura, kakang.” jawab Agung Sedayu sambil menundukkan kepalanya.

“Apa yang harus ku lakukan, adi? Tentunya apa yang ingin kau katakan padaku ,adalah yang terbaik untukku”

“Kakang, aku tidak bermaksud menganggap rendah atau tidak mempunyai kelebihan, apa yang kakang punya. Tetapi, aku dan kakang sudah menyadari kekuatan yang berada di belakang Panaraga. Kita masih punya waktu, sebab menurut perkiraan para telik sandi, lima atau enam purnama kedepan, Panaraga baru mulai bergerak.”

Ki Untara mengangguk-angguk, mendengar pembicaraan Agung Sedayu. “Apa yang sebaiknya aku lakukan untuk melihat apa yang ku punya selama ini?” Bertanya Ki Untara.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam, kemudian terdiam sesaat, kemudian katanya, “kakang, kita mempunyai sumber ilmu yang sama dari jalur Ki Sadewa. Mungkin karena keberuntungan, aku mampu menuntaskan jalur ilmu kita lebih dahulu, ketika aku menemukan gambar-gambar yang terpahat di dinding-dinding goa.
Kakang, aku akan memberikan rontal yang berisi puncak ilmu perguruan Ki Sadewa. Dan aku juga menitipkan rontal-rontal, yang berisi laku dari ilmu kebal seperti yang aku punya.
Aku mohon kakang Untara berkenan menjalani laku sebagai pewarisan puncak ilmu jalur Ki Sadewa. Dan rontal-rontal yang kedua, sebaiknya kakang juga mau menjalani laku pewarisannya, untuk menjadi pelengkap dari apa yang kakang sudah punya.”

“Bersyukurlah kakang, Yang Maha Agung memberi berkah lantaran adi Agung Sedayu “, berkata Nyi tumenggung Untara.

“Benar Nyi, tanggung jawabku akan semakin besar dalam urip bebrayan agung”, jawab Ki tumenggung Untara

“Kakang sudah terbiasa menjalani laku, dalam tiga empat purnama ke depan pewarisan ilmu-ilmu itu sudah tercapai, walau dalam setiap kesempatan harus selalu di lihat kembali untuk semakin memperdalamnya.” berkata Agung Sedayu.

“Mungkin tirai ilmu kebal ini kalah selapis tipis dari ilmu lembu sekilan atau Aji Tameng Waja, tetapi karena dalam puncak ilmu kebal ini mampu mengeluarkan udara panas, maka yang selapis tipis tadi hampir tidak ada sama sekali.
Tinggal daya tahan tubuh kita yang menjadi penentu akhir”, lanjut Agung Sedayu

Demikianlah Agung Sedayu masih berbincang banyak hal dengan kakaknya maupun kakak iparnya. Sebagian besar mereka membicarakan tentang perkembangan Wira Permana.
Setelah makan malam, Agung Sedayu berkeinginan untuk menengok Padepokan Orang Bercambuk, padepokan yang didirikannya bersama gurunya, Kiai gringsing. Ada keinginan dari Agung Sedayu untuk bertemu dengan Wira Permana khususnya.

“Kakang dan mbokayu, aku akan bermalam di padepokan. Mungkin esok aku akan langsung berangkat ke Sangkal Putung untuk menemui adi Swandaru dan keluarga.” berkata Agung Sedayu.

“Apakah Adi Agung Sedayu tidak rindu bilik yang dulu di tempati adi?” bertanya mbok ayu Untara.

“Mungkin dalam kesempatan lain, aku akan kembali ke bilikku lagi mbokayu, dan juga mungkin aku akan kembali ke Padepokan Orang Bercambuk”, Jawab Agung Sedayu.

Demikianlah malam itu, ki Untara dan istrinya mengantar adiknya Agung Sedayu sampai ke regol depan, untuk menengok Padepokan Orang Bercambuk.

Perjalanan yang singkat antara Jatianom dengan Padepokan Orang Bercambuk.

Hanya membutuhkan waktu yang pendek perjalanan dari Jatianom menuju Padepokan Orang Bercambuk. Setelah melewati pategalan-pategalan serta gumuk kecil, sampailah Agung Sedayu di depan regol Padepokan Orang Bercambuk.

“Sudah lama aku tidak menengok padepokanku.
Maafkan aku guru, aku belum melaksanakan kewajibanku sebagai murid”, desis Agung Sedayu.

Sejenak, Agung Sedayu larut dalam kenangan masa lalunya, masa ketika dirinya ditempa di Padepokan Orang Bercambuk.
Akhirnya Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.
Dengan perlahan Agung Sedayu menuntun kudanya, mendorong pintu regol yang belum ditutup rapat. Tampak suasana lengang, sinar bulan purnama empat belas bagai menyiram seisi padepokan. Tumbuh-tumbuhan tampak semakin hijau berkilat, kolam ikan bagai permata yang gemerlap. Agung Sedayu segera menambatkan kudanya.

Dua orang cantrik berjalan mendekati Agung Sedayu sambil berkata, “Oh.., Kakang Rangga Agung Sedayu, silahkan kakang langsung naik ke pendapa, aku akan memberitahukan kepada Ki Widura.”

“Silahkan, silahkan, adi” jawab Agung Sedayu.

“Akhirnya kakak seperguruanku berkenan menengok padepokannya yang sudah agak lama di tinggalkan untuk sementara” tiba-tuba terdengar perkataan seseorang yang sedang berjalan keluar dari pintu pringgitan menuju ke tempat Agung Sedayu.

“Paman Widura!” sebut Agung Sedayu.

“Agung Sedayu, atas doamu serta keluarga Menoreh, kami selalu mendapat rahmat keselamatan dari Yang Maha Agung,” Jawab Ki Widura, kemudian, “marilah Agung Sedayu kita naik ke pendapa, mungkin kau sudah lama tidak merasakan ketela pohung, yang dulu kau sendiri yang menanamnya.”

Sebenarnyalah mereka berdua segera larut dalam percakapan tentang perkembangan Padepokan Orang Bercambuk. Sekali-kali mereka berdua juga membicarakan keadaan Banyuasri maupun Kademangan Jatianom. Membicarakan juga tentang perkembangan hubungan Mataram dengan Panaraga yang semakin memburuk.
Tiba-tiba pembicaraan mereka terhenti, ketika seorang remaja muda naik ke pendapa membawa minuman serta makanan kecil. Setelah meletakkan minuman serta makanan kecil, remaja tadi segera ikut duduk di depan Ki Widura serta Agung Sedayu.

“Salam hormat, paman Agung Sedayu. Atas doa paman, kami selalu dalam lindungan Yang Maha Agung.” Anak remaja tersebut menyapa.

“Kau sudah besar, Wira Permana, atas doamu keluarga Menoreh tak kurang suatu apapun.” Jawab Agung Sedayu.

“Wira Permana, apakah kau sudah lelah?” Bertanya Agung Sedayu tiba-tiba.

“Maksud paman?” Wira Permana balik bertanya

Ki Widura tersenyum mendengar pertanyaan Agung Sedayu itu. “Wira Permana, apakah kau tidak ingin dilihat apa yang kau punya saat ini, oleh orang yang sudah mempunyai apa yang di punyai kakek gurumu, Kiai gringsing?” bertanya Ki Widura

Wira Permana termangu-mangu mendengarkan perkataan gurunya. Agung Sedayu dan Ki Widura sengaja membiarkan Wira Permana mencari sendiri maksud pertanyaan Agung Sedayu tersebut. Mereka berdua sengaja membiarkan Wira Permana mencari jawabannya sendiri, untuk melatih panggraita Wira Permana.

“Aku tidak lelah, paman, bahkan sampai esok aku masih mampu,” berkata Wira Permana tiba-tiba. Aku akan bersiap-siap dulu paman”, berkata Wira Permana selanjutnya

“Marilah kita bersama-sama ke sanggar”, jawab Agung Sedayu kemudian.

“Apakah kau tidak istirahat serta makan malam dahulu Agung Sedayu ?” bertanya Ki Widura.

“Nanti saja paman, sekalian setelah selesai dari sanggar” jawab Agung Sedayu.

Sebenarnyalah mereka bertiga segera menuju ke sanggar.
Para cantrik masih ada yang berlatih di luar sanggar.
Para murid Ki Widura yang sudah dipercaya mengasuh para cantrik yang sedang berlatih itu. Agung Sedayu berhenti sejenak untuk menyaksikan para cantrik yang sedang berlatih itu.

“Bukankah putut yang melatih para cantrik itu ialah adi Wuragil serta adi Sasmita, paman?” bertanya Agung Sedayu.

“Memang benar Agung Sedayu, Wuragil putra Demang Jatianom serta Sasmita anak dari Pakuwon. Sasmita inilah yang dulunya sering membantu Kiai gringsing ketika menetap di padukuhan Pakuwon”, jawab Ki Widura. “Aku rasa semua yang aku miliki telah luluh kepada mereka berdua.
Seperti pesan Kiai Gringsing bahwa cambuk sebagai senjata hanya boleh di wariskan kepada orang yang memang seimbang kawruh lahir maupun batin. Sebenarnya aku sudah menganggap mereka berdua layak mendapat pewarisan cambuk sebagai ciri perguruan orang bercambuk. Tetapi, aku belum mau melakukannya, aku menganggap hanya kau Agung Sedayu yang bisa menentukan siapa-siapa yang memang sudah layak mendapat pewarisan cambuk”, lanjut Ki Widura

“Aah, tidak seperti itu paman! Paman Widura telah di tunjuk langsung oleh guru untuk memimpin padepokan sekaligus sebagai perguruan. Tentunya dalam pewarisan cambuk sebagai ciri utama perguruan orang bercambuk, hanya paman Widura yang berhak menentukan”, sanggah Agung Sedayu. “Marilah paman, kita ke sanggar sekarang”, berkata Agung Sedayu selanjutnya

Sebenarnyalah, Ki Widura, Agung Sedayu serta Wira Permana sesaat kemudian telah berada di dalam sanggar.

“Wira Permana, tunjukkan apa yang sudah kau punya di depan pamanmu Agung Sedayu ”, berkata Ki Widura.

“Baik guru”, jawab Wira Permana.

Sebenarnyalah, sesaat kemudian Wira Permana telah berdiri di tengah-tengah sanggar.

“Mulailah Wira Permana!” Ki Agung Sedayu berseru.

“Baik paman Agung Sedayu.” Jawab Wira Permana.

Sesaat kemudian Wira Permana telah berdiri tegak, kedua telapak tangan menyatu di depan dada. Sesaat kemudian Wira Permana mulai dengan gerakan-gerakan kecil untuk memanaskan tubuh. Kemudian Wira Permana mulai dengan latihan kecepatan dan keseimbangan dengan mulai berjalan di atas patok-patok kecil yang tidak sama tingginya. Semakin lama semakin cepat langkah kaki Wira Permana dalam melewati patok-patok kecil itu. Sekali-sekali Wira Permana dari atas patok melenting dan mendarat di atas amben yang sudah tidak genap kakinya, tanpa membuat amben itu roboh. Dari atas amben kembali Wira Permana melenting ke udara membuat gerakan mungkir balik yang akhirnya kembali mendarat di atas patok-patok kecil. Setelah latihan kecepatan serta keseimbangan, Wira Permana segera merambah dalam tata gerak perguruan orang bercambuk. Mulai dari tata gerak paling sederhana kemudian meningkat selapis demi selapis sampai batas yang mampu di capai olehnya. Dan ketika tata gerak Wira Permana merambah dalam tataran tinggi, tampak ilmu perguruan orang bercambuk yang rumit mampu di lakukan Wira Permana dengan baik. Gerakan-gerakan Wira Permana dalam pukulan maupun tendangan sangat seimbang. Tata gerak pertahanan diri juga seakan-akan tak ada celah untuk mampu menembusnya. Ketika Wira Permana masuk dalam tataran lebih tinggi maka seolah-olah gerakan Wira Permana seringan kapas, juga kecepatan gerak Wira Permana semakin cepat.
Maka tata gerak Wira Permana semakin dahsyat, pukulan ganda serta tendangan ganda dalam kecepatan tinggi mampu di lakukan Wira Permana.

“Dalam usia sekarang, Wira Permana telah mampu merambah tataran tinggi tata gerak perguruan orang bercambuk”, berkata Agung Sedayu dalam hati.

Setelah sampai pada batas kemampuan tata gerak unsur-unsur perguruan orang bercambuk, akhirnya Wira Permana menggunakan tenaga cadangan dalam tata geraknya. Maka yang terjadi adalah kekuatan yang berlipat ganda dalam tata geraknya. Suara yang berdengung-dengung akibat tenaga cadangan yang bersinggungan dengan udara di sekitarnya.
Kecepatan gerak Wira Permana pun bertambah berlipat ganda, yang tampak hanya bayang-bayang dari Wira Permana.
Dan ketika sampai pada puncak kemampuan Wira Permana, tubuh Wira Permana melenting tinggi dengan tangan kanan menggenggam keras. Sebenarnyalah ketika tubuh Wira Permana mendarat, maka saat itulah tangan Wira Permana menghantam batu hitam sampai hancur berkeping-keping.
Sejenak kemudian Wira Permana berdiri dengan merapatkan kedua tangannya di atas dada. Kemudian Wira Permana membungkuk hormat kepada gurunya maupun pamannya Agung Sedayu.

“Luar biasa Wira Permana. Aku seusiamu masih belum bisa apa-apa, tetapi kamu sudah mampu membuat batu hitam hancur berkeping-keping. Dan mengertilah Wira Permana, kau ternyata mampu menimbun tenaga cadangan dan mengeluarkannya dalam sentuhan wadag. Suatu saat kau akan mampu melihat kemungkinan-kemungkinan dari diri mu sendiri untuk menggali apa yang ada dalam dirimu.
Percayalah sesuatu yang baru akan muncul dengan sendirinya, seiring dengan kau sungguh-sungguh melihat kemungkinan-kemungkinan dari ilmumu itu. Hanya satu pesanku Wira Permana, dan semoga kau mau mengingatnya sepanjang hidupmu. Tidak ada manusia yang sempurna, hanya Yang Maha Agung yang Maha Sempurna.” Pesan Agung Sedayu.

“Akan aku ingat selalu, paman Agung Sedayu ”, jawab Wira Permana.

“Kita mempunyai bibit yang baik, Agung Sedayu, semoga ketegasannya dan kedisiplinannya meniru kepada ayahnya, sedang ilmunya bisa menyentuh mega-mega layaknya ilmu pamannya Agung Sedayu.” Berkata Ki Widura.

“Semoga dia bisa melebihi aku”, jawab Agung Sedayu.

 “Marilah kita istirahat”, berkata Ki Widura.

Sebenarnyalah Wira Permana segera olah semedi untuk mengatur pernafasannya juga aliran darahnya dapat kembali seperti sediakala. Bagaimanapun juga Wira Permana telah mengeluarkan seluruh kemampuannya baik dalam tata gerak ilmu kanuragan maupun saat mengungkapkan seluruh tenaga cadangannya. Setelah beberapa saat, ketika Wira Permana merasa semua sudah kembali seperti sediakala, Wira Permana mengurai kedua tangannya mengakhiri olah semedinya.

“Wira Permana, kau ternyata sudah mengalami kemajuan yang luar biasa dalam ilmu kanuraganmu, dan semoga kau imbangi juga dengan kawruh batin. Jadikan kakek gurumu Kiai Gringsing sebagai teladan yang baik. Mengertilah, sebenarnya kakek gurumu adalah seorang putra raja, tetapi beliau bersedia hidup selayaknya rakyat biasa. Mengapa kakek gurumu Kiai Gringsing memilih menjalani hidup seperti itu?
Carilah jawabnya, seiring dengan kau semakin tekun dalam mesu kawruh lahir maupun batin”, berkata Agung Sedayu.

Wira Permana mendengarkan dengan sungguh-sungguh semua wejangan pamannya Agung Sedayu itu.

“Wira Permana, aku akan mengatakan sesuatu yang penting dengan paman Widura, dan aku minta kau ikut mendengarkannya, sudah saatnya kau ikut memikirkan persoalan-persoalan yang berusaha keluar dari paugeran urip bebrayan agung.”  Berkata Agung Sedayu.

Tiba-tiba Ki Widura menggamit lengan Agung Sedayu sambil bertanya, “Apakah yang ingin kau katakan ada hubungannya dengan Panaraga serta Perguruan Semu?”

“Ternyata paman Widura sudah mendengar munculnya perguruan semu itu.” Berkata Agung Sedayu.

“Dua hari yang lalu kakakmu Ki Untara mengunjungi padepokan ini. Dia mengatakan tentang hubungan Panaraga Mataram yang semakin suram, juga membicarakan tentang munculnya nama perguruan semu”, berkata Ki Widura.

“Itulah sebenarnya maksudku pulang ke Jatianom, paman.
Aku merasa harus berbicara langsung dengan keluarga di Jatianom, keluarga Sangkal Putung dan juga seluruh penghuni di padepokan kita ini. Paman, perguruan semu adalah kumpulan dari perguruan-perguruan jaman Majapahit bahkan sebelum Majapahit lahir. Seakan akan perguruan-perguruan yang telah di anggap lenyap itu, muncul secara bersama-sama.
Paman, Mataram benar-benar akan menghadapi kekuatan yang sangat besar dan kuat.” Agung Sedayu menjelaskan.

“Apakah begitu berpengaruhnya perguruan semu itu terhadap kekuatan Panaraga, Agung Sedayu?” tanya Ki Widura.

“Paman, perguruan semu di huni orang-orang yang memiliki ilmu-ilmu yang nggegirisi. Kalau kita ingat Kakang Panji yang hanya bisa di kalahkan oleh guru waktu terjadi perang pajang Mataram, aku kira seperti Kakang Panji itulah para anggota perguruan semu itu.” Jawab Agung Sedayu.

“Agung Sedayu, apakah benar seperti itu adanya?” bertanya Ki Widura dengan suara bergetar.

“Paling tidak aku pernah berhadapan dengan anggota perguruan semu dalam tataran rendah. Dan dari tataran rendah anggota perguruan semu itulah, aku harus menghadapi ilmu kembang tanjung dan aji gelap Ngampar.” Agung Sedayu menjelaskan.

“Aku tak mampu membayangkan ungkapan ilmu murid-murid dalam tataran yang lebih tinggi, apalagi ilmu ketua perguruan semu itu sendiri, Agung Sedayu.” berkata Ki Widura.

“Paman, aku sendiri juga masih awam tentang perguruan semu itu sendiri. Mungkin jika masih ada kesempatan, aku juga berniat untuk mengetahui lebih dalam tentang perguruan semu itu, paman.” jawab Agung Sedayu.

Sesaat mereka terdiam. Wira Permana yang sejak semula hanya mendengarkan, mencoba untuk lebih memahami tentang persoalan besar yang sedang dihadapi Mataram.
“Aku yakin paman Agung Sedayu mampu menandingi kekuatan perguruan semu. Paman mempunyai ilmu yang seolah-olah tanpa batas. Aku selamanya akan menganggap paman Agung Sedayu yang terbaik, berkata Wira Permana dalam hati”

“Paman, sebenarnya yang paling penting adalah tentang keberadaan perguruan orang bercambuk ini, yang akan menjadi perhatian utama dari perguruan semu”, berkata Agung Sedayu.

“Bagaimana bisa seperti itu, Agung Sedayu?” Dengan agak tersentak, ki Widura bertanya kepada Agung Sedayu.

“Paman, perguruan kita adalah perguruan murni dari jalur perguruan Windujati. Dan paman pasti sudah mengetahui, perguruan Windujati adalah perguruan yang tidak menentang ketika wahyu keprabon harus berpindah ke Demak.
Perguruan Windujati saat itu paham betul, bahwa masa Majapahit sudah saatnya akan segera berakhir” jawab Agung Sedayu.

“Benar Agung Sedayu, perguruan semu pasti yakin, perguruan kita akan berdiri berseberangan, apalagi murid utama perguruan orang bercambuk adalah senapati pasukan khusus yang berada di Tanah Perdikan Menoreh.
Baiklah Agung Sedayu, aku sudah mulai mengerti ke arah mana yang sebenarnya ingin kau katakan. Aku yang sudah tua ini tetap akan menjaga citra perguruan orang bercambuk sebagai jalur murni dari perguruan Windujati.” lanjut ki Widura.

“Paman, tidak ada batasan umur untuk melihat apa yang telah kita miliki selama ini. Aku harap paman serta adi Swandaru geni bisa melakukannya bersama sama” balas Agung Sedayu.

“Paman, dalam kitab peninggalan guru, kitab Windujati, di situ ada beberapa ilmu yang semuanya saling terkait satu dengan yang lain. Ilmu-ilmu yang terkait dari ke lima indera manusia, juga terkait dari unsur-unsur alam. Walaupun sudah di pecah menjadi empat bagian, kitab Windujati tetap merupakan kitab yang tidak saja tertimbun di dalamnya ilmu-ilmu yang tiada tara, tetapi juga berisi tuntunan hidup dalam kawruh batin. Tentang asal muasal kitab ini adalah salah satu dari empat kitab yang dulunya adalah satu, sebaiknya aku sampaikan ketika adi Swandaru berada di antara kita, paman.”
Ki Widura mengangguk-anggukkan kepala, mendengarkan semua penjelasan Agung Sedayu.

“Aku akan menyesuaikan semuanya, Agung Sedayu”, berkata Ki Widura”

“Paman, aku minta dalam waktu dekat ini paman Widura juga tentunya bersama-sama dengan adi Swandaru melakukan mesu diri untuk membuka pintu-pintu dalam tubuh kita untuk memasukkan ke dalamnya salah satu ilmu yang dulunya hanya di punyai trah keprabon. Ilmu yang bisa menjadi tirai untuk melindungi wadag kita. Aji Tameng Waja inilah yang nanti akan di ungkapkan paman Widura serta adi Swandaru.
Dan perlu paman ketahui Aji Tameng Waja ini mempunyai tirai yang lebih tebal dari pada ilmu kebal yang aku punyai.” Agung Sedayu menjelaskan rencananya.

“Paman, menurut para telik sandi Mataram juga atas laporan serta Rara Wulan, Panaraga akan mulai bergerak paling cepat dalam enam purnama di depan.
Dalam sisa waktu enam bulan ini, paman Widura selain mesu diri dalam Aji Tameng Waja, juga mesu diri dalam tataran puncak ilmu cambuk. Tataran puncak ilmu cambuk inilah yang nanti akan luluh dalam ungkapan Aji Lebur Saketi.
Sebenarnya ada dua jenis ilmu yang jarang sekali di gunakan guru semasa hidup kecuali dalam keadaan yang sangat memaksa. Yang pertama adalah ungkapan Aji Lebur Saketi yang telah luluh dengan tataran puncak ilmu cambuk,
sedangkan yang kedua ialah ilmu kerling. Paman, waktu enam purnama memang belum cukup untuk mencapai tataran puncak ilmu cambuk sebagaimana guru dalam mengungkap-kannya, akan tetapi walau tidak sebagaimana yang guru punya, Aji Lebur Saketi dalam ungkapan tataran puncak ilmu cambuk, tetaplah ilmu yang nggegirisi.” Agung Sedayu melanjutkan penjelasannya.

“Baiklah Agung Sedayu, aku akan mencoba sampai batas kemampuanku. Semoga tidak terlalu mengecewakan”, jawab ki Widura.

“Paman, bukan maksud kita deksura seolah olah hanya ilmu perguruan orang bercambuk yang mampu mengimbangi ilmu perguruan semu, akan tetapi ini adalah semacam kewajiban turunan dari masa Eyang Windujati. Kita selamanya akan selalu mengemban dengan sungguh-sungguh kewajiban ini.” berkata Agung Sedayu

Sesaat Agung Sedayu serta ki Widura terdiam beberapa saat. Kemudian, “Wira Permana”, berkata Agung Sedayu selanjutnya, “Kau harus lebih keras dan sungguh-sungguh dalam berlatih tata gerak ilmu kanuraganmu. Selain itu sering-seringlah melihat ke dalam dirimu sendiri. Asal kau selalu ingat apa yang kita punya hanyalah setitik dari tiada terbatasnya kuasa Yang Maha Agung, kau tak akan tergelincir ke dalam watak yang sesat.”

Wira Permana mengangguk-anggukkan kepala mendengar-kan pesan-pesan dari pamannya Agung Sedayu.

“Paman, besok pagi aku akan menuju ke Sangkal Putung menemui adi Swandaru, Pandan Wangi serta keluarga” berkata Agung Sedayu.

“Baiklah Agung Sedayu, sekiranya sudah cukup apa yang sudah kau sampaikan, marilah kita istirahat. Karena Mulai esok hari tentunya aku, Wira Permana serta cantrik-cantrik semua akan mulai mempersiapkan diri untuk meningkatkan ilmu-ilmu kita”, sambung ki Widura.

Sebenarnyalah mereka bertiga pun segera keluar dari sanggar. Para cantrik yang sebelumnya melakukan latihan tata gerak ilmu kanuragan, sudah senyap masuk ke dalam biliknya masing-masing untuk beristirahat. Hanya satu dua cantrik yang masih terjaga karena jadwal mereka untuk tugas ronda, di sekitar padepokan.

Setelah pergi ke pakiwan, Ki Widura, Agung Sedayu, serta Wira Permana segera masuk ke dalam biliknya masing-masing.

“Aku akan melepaskan lelah ini sebentar, besok pagi-pagi sekali aku akan ke sangkal putung”, berkata Agung Sedayu dalam hati. Agung Sedayu segera memejamkan matanya.
setelah seharian menempuh perjalanan, juga harus melakukan pertempuran, sudah sewajarnya wadagnya juga di beri kesempatan untuk beristirahat. Namun sebelum Agung Sedayu sebenarnya tidur, ada suara lembut terngiang di telinga Agung Sedayu. “Siapa yang mengirim suara lewat aji pameling ini”, berkata Agung Sedayu dalam hati, “terdengar jelas saat menyebut namaku, tapi aku yakin dari tempat yang sangat jauh. Aji pameling tataran puncak”, lanjut berkata Agung Sedayu dalam hati.

“Angger Agung Sedayu, mungkin kau tidak kenal suaraku, karena aku berada jauh dari tempatmu” suara itu terdengar sangat jelas.

“Siapakah ki sanak, yang mempunyai aji pameling tiada tara ini?”, bertanya Agung Sedayu.

“Angger Agung Sedayu, aku bisa jelas mendengar suaramu, juga tidak berubah sama sekali. Itu yang membuktikan aji pamelingku hanya seperempat dari ketajaman aji pamelingmu” jawab orang itu.

“Apakah aku sedang mendengar suara salah satu paman guruku?”, bertanya Agung Sedayu.

“Benar ngger, aku paman gurumu Laksana. Memang inilah batas kemampuanku dalam aji pameling, suaraku tidak bisa sama persis dengan suaraku saat berbicara langsung dengan mu. Tetapi berbeda dengan mu ngger, bagaimanapun jauhnya saat kau trapkan aji pameling, tidak ada bedanya seperti ketika aku berbicara langsung dengan mu. Itulah yang membedakan, tenaga dalammu adalah gabungan dari empat jalur ilmu yang berbeda” jawab orang itu.

“Paman guru, semua ini adalah lantaran empat guruku.
Yang telah memberi kepercayaan yang besar kepadaku.
Semoga aku berhasil dalam tanggung jawab yang sangat besar ini”, berkata Agung Sedayu.

“Ngger, aku mewakili Kiai Purwa serta Kiai Atmaja. Ada titipan amanah dari kedua paman gurumu yang berharap bisa kau lakukan. Angger Agung Sedayu, bukan kehendakku untuk memujimu, tetapi memang sudah menjadi kenyataan, sebenarnyalah dalam dirimu tertimbun ilmu-ilmu yang tak tertandingi. Bahkan kau mampu meluluhkan Aji Lebur Saketi, Aji Bayu Hening, serta Aji Banyu Suci menjadi suatu aji pamungkasmu yang belum pernah ada sebelumnya.
Sekuat apapun lawan-lawanmu, aku kira kau akan mampu mengimbanginya. Angger, hanya saja kau tentu tidak bisa meluluhkannya dengan ilmumu yang lain lagi, Aji Bumi Sejati.
Andaikan saja ke empat ilmu itu bisa luluh menjadi satu.
Angger, ketahuilah sebenarnya ada tiga orang yang paling berbahaya dari perguruan semu, dan sampai saat ini kami belum bisa mengetahui tentang jati diri mereka bertiga.
Tetapi, aku yakin kau masih mampu menandingi mereka.
Angger, sebenarnya maksud terpenting dari semua ini ialah hasil dari laku semedi yang kami bertiga lakukan.
Dan ketahuilah ngger, dalam semedi itu kami di beri gambaran tentang tiga ekor anak harimau dengan satu induknya.” ujar Ki Laksana.

“Guru dari ketiga orang yang paling berbahaya dari perguruan semu itu”, gumam Agung Sedayu.

“Benar ngger, dan kau harus mampu menjadikan satu ke empat ilmumu itu. Belum pernah ada yang melakukannya, tetapi mohonlah petunjuk pada yang Maha Agung, supaya di beri jalan kemudahan. Angger, sebenarnya aku masih ingin bicara banyak, akan tetapi tubuhku yang renta tak memungkinkannya lagi.” Berkata Ki Laksana.

“Baik paman kyai, salam taklim juga buat Kiai Purwa serta Kiai atmaja.” Berkata Agung Sedayu.

“Hati-hati selalu ngger”, sesaat sebelum kyai laksana melepas aji pamelingnya.

Agung Sedayu termenung memikirkan pesan amanah dari paman gurunya. “Aku sudah mengurai inti dari ke empat ilmu tersebut, dan sampai saat ini aku tidak menemukan celah dari Ilmu Bumi Sejati untuk menjadi luluh dengan ketiga ilmu lainnya. Ilmu pertahanan diri harus luluh dengan ilmu pamungkas? Semoga otakku masih mampu kuperas untuk mengurai lebih tuntas ke empat ilmu itu. Aku memerlukan tempat khusus untuk menilik kembali ke empat ilmu tersebut”, berkata Agung Sedayu dalam hati.

Sebenarnyalah akhirnya Agung Sedayu bisa beristirahat juga untuk melepaskan lelah, juga mengendurkan otot-otot tubuhnya. Malam itu padepokan orang bercambuk tampak hening tenteram. Suara jengkerik yang bersahut-sahutan, juga katak-katak sawah yang seakan-akan berlomba menjadi pemenang dengan suara yang paling keras bunyinya.
Bulan hari ke duabelas tampak bersinar lembut, gugusan bintang yang seakan-akan berpendar dalam indahnya taman bintang.

Malam itu seakan-akan menjadi malam yang penuh dengan ketenteraman bagi semua penghuni padepokan. Malam yang bagaikan berjalan perlahan menikmati kidung para bidadari menabur wewangian. Sebenarnyalah malam itu padepokan seakan-akan terlindungi dari bentuk kejahatan apapun.

Seperti kebiasaan sebelum kokok ayam terakhir terdengar, seluruh penghuni padepokan sudah terbangun untuk bersuci serta melaksanakan kewajibannya. Setelah selesai, barulah para penghuni padepokan mengerjakan tugas masing-masing.
Agung Sedayu sendiri setelah selesai melaksanakan kewajiban, seperti kebiasaan di rumahnya segera mengisi air di pakiwan yang kemudian ikut membantu menyapu halaman padepokan.
Kebiasaan menyapu sambil berjalan mundur adalah kebiasaan Agung Sedayu sejak muda sampai sudah mulai berumur.
Sebenarnyalah saat semburat merah tampak di ufuk timur, Agung Sedayu telah selesai berbenah untuk melanjutkan perjalanan ke sangkal putung.

Sebenarnyalah sesaat kemudian Agung Sedayu telah duduk di pendapa bersama ki Widura.

“Silahkan Agung Sedayu, pasti sudah lama kau tidak merasakan wedang jahe, hasil dari kebun padepokan kita sendiri”, berkata Ki Widura.

Agung Sedayu tersenyum mendengar gurauan pamannya ki Widura. “Memang jahe dari kebun kita tidak ada duanya, paman. Apa sebaiknya di depan padepokan, kita dirikan warung yang hanya khusus menjual wedang jahe, paman? Tentunya juga akan menambah penghasilan padepokan kita ini”, berkata Agung Sedayu dalam gurauannya.

Selanjutnya mereka berdua benar-benar mengobrol hal-hal ringan bahkan kebanyakan adalah tentang cerita-cerita lucu yang pernah mereka alami di waktu lampau, tentunya sambil menikmati hangatnya wedang jahe serta singkong rebus.
Ketika matahari telah benar-benar terbit, Agung Sedayu baru tersadar akan pagi yang telah menjelang.

“Paman, ternyata cerita-cerita lucu telah mengendorkan syaraf-syaraf kita, sampai-sampai aku tak menyadari matahari mulai merangkak naik. Baiklah paman, aku akan berangkat ke Sangkal Putung untuk segera dapat berbicara dengan adi Swandaru serta Pandan Wangi.” Berkata Agung Sedayu.

“Tentunya sore nanti kau akan kembali ke padepokan ini, Agung Sedayu?” Bertanya ki Widura.

Akan tetapi sesaat sebelum Agung Sedayu menjawab pertanyaan Ki Widura, terdengar langkah kaki kuda memasuki halaman padepokan.

“Anakmas Swandaru, Nyimas Pandan Wangi”, berseru ki Widura menyambut kedatangan tamu-tamunya yang ternyata adalah Swandaru beserta istrinya Pandan Wangi.

“Selamat datang adi Swandaru, Pandan Wangi”, berkata Agung Sedayu menyambut kedatangan adik seperguruannya beserta istrinya.

Setelah menambatkan kuda-kudanya, Swandaru beserta Pandan Wangi segera naik ke pendapa. Sebenarnyalah mereka berempat segera saling menanyakan keselamatan mereka masing-masing.

“Kita harus memuji syukur kepada Yang Maha Agung ,kita beserta keluarga kita masih diberi kebaikan serta keselamatan lahir maupun batin”, berkata Agung Sedayu.

Sesaat Agung Sedayu bicara, entah karena apa Pandan Wangi menatap mata Agung Sedayu. “mata itulah yang pertama kali mampu membuat hatiku merasakan ketentraman. Biarlah selamanya tersimpan kekal di kalbuku.
Ini adalah rasa yang aku yakin Yang Maha Agung lah yang memberikan kepadaku”, berbisik pandan wangi dalam hati.

Panggraita Agung Sedayu segera mengerti akan apa yang sedang dirasakan hati Pandan Wangi saat itu.
“Akan ku coba dalam sekejap memberi keseimbangan hati Pandan Wangi. Semoga aji pamelingku bisa di terimanya”, berkata Agung Sedayu dalam hati. “Pandan Wangi, rasa itu adalah pepesten, tetapi kau tetap mampu adil dalam menjalankan kodratmu. Kita sama-sama hidup dalam pepesten Yang Maha Agung”.

Pandan wangi tersentak, tetapi segera menyadari, Agung Sedayu telah menyapa hatinya melalui aji pameling.
Semburat merah tampak di wajah Pandan Wangi.
Kebahagiaan tampak memancar dari wajah Pandan Wangi.
“Andai aku di beri karunia aji pameling, walau hanya sesaat aku akan bisa menjawab pesan itu”, berbisik Pandan Wangi dalam hati

“Suatu kebetulan adi Swandaru, sebenarnya aku pagi ini akan ke Sangkal Putung, tetapi ternyata kau serta Pandan Wangi telah sampai di padepokan kita ini”, berkata Agung Sedayu.

Swandaru menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab perkataan Agung Sedayu. “Kakang, sebenarnya aku kesini bersama Pandan Wangi adalah ada hubungannya dengan pesan seseorang yang seakan-akan mempunyai ilmu siluman.
Kakang, sebenarnya tadi pagi saat kokok ayam pertama terdengar, aku di bangunkan Pandan Wangi. Kakang, Pandan Wangi mendengar namaku di panggil seseorang dari atas rumah. Maka saat aku terbangun segeralah kami keluar rumah untuk mengetahui siapa yang memanggil namaku. Kakang, mungkin ini ialah mimpiku dalam dunia nyata, seakan akan aku tak percaya akan kejadian itu. Sebaiknya kau yang meneruskan kejadian tadi pagi itu, Pandan Wangi” Lanjut Swandaru

“Silahkan kau yang meneruskannya Pandan Wangi, mungkin suamimu masih terbawa perasaannya”, berkata Agung Sedayu.

Pandan Wangi menganggukkan kepala dan bergeser setapak. “Kakang, kami melihat seseorang yang berada di atas atap rumah, tetapi yang menjadikan kami merasa seperti bermimpi ialah ternyata orang itu mengambang di udara, tanpa kakinya menyentuh atap atau genting rumah kami.”

“Aji Ngantariksa”, gumam Agung Sedayu. “Lanjutkan, Pandan Wangi!”

“Setelah sesaat kami mampu menata perasaan, kami pun menanyakan maksud orang itu yang bertamu pada waktu dan cara yang tak sewajarnya itu. Kakang, yang membuat kami semakin terkejut adalah tentang pesan yang di sampaikan orang itu. Kakang, orang yang mampu terbang itu berpesan bahwa kakang Agung Sedayu telah tewas terkena sengatan gabungan Aji Gelap Ngampar di lereng Merapi.

“Setelah selesai mengatakan cerita tentang kematian kakang, orang itu pun tanpa berkata apapun lagi segera melayang semakin tinggi menuju ke timur”, lanjut Pandan Wangi.”

“Adi Swandaru, Pandan Wangi, ternyata aku masih di beri keselamatan Yang Maha Agung, sebenarnya cerita orang itu tidak selamanya salah, aku memang sempat berhadapan dengan orang-orang yang mempunyai Aji Gelap Ngampar yang mampu mereka satukan. Kemarin ketika aku dalam perjalanan ke Jatianom itulah aku bertemu dengan mereka, yang pada akhirnya aku mengetahui mereka dari Perguruan Lintang Nem. Mungkin orang yang mendatangi kalian di Sangkal Putung itu begitu yakin akan keberhasilan tugas Nem Lintang Panjer Sore, maka sebelum mendengar tentang yang sebenarnya terjadi, orang itu telah berani memberi kabar tentang kematianku kepada kalian, jawab Agung Sedayu” berkata Agung Sedayu.

“Kakang”, berkata Pandan Wangi selanjutnya. “Sebenarnya setelah orang itu pergi dan kami telah mampu membuat pertimbangan-pertimbangan, maka kami meyakini berita orang itu tidak benar, juga kami meyakini semua itu hanya untuk memperlemah kami di Sangkal Putung.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan mendengar perkataan Pandan Wangi. “Bisa jadi seperti itu Pandan Wangi, semua itu memang dilakukan dengan sengaja untuk memperlemah secara jiwani kekuatan Sangkal Putung.”

“Baiklah Anakmas Swandaru, Nyimas Pandan Wangi” berkata ki Widura. “Ternyata kakakmu masih di beri keselamatan oleh Yang Maha Agung. Dan sebenarnya kakakmu baru saja akan berangkat untuk menemui kalian di sangkal putung.”

“Dan kebetulan sekali kalian berdua telah datang ke padepokan ini, walau sebenarnya maksud kalian pasti ingin menyampaikan cerita orang yang mendatangimu itu kepada paman Widura”, sambung Agung Sedayu.

<< kembali ke adbm-iv-396 | lanjut ke FADBM-398 >>

One Response

  1. kok nggak nyambung ma jilid 396?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.