• Kalender

    September 2014
    M T W T F S S
    « Oct    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  
  • Statistik Blog

    • 450,961 kunjungan
  • Tulisan Terakhir

  • Komentar

    There are no public comments available to display.
  • Archives

ADBM2-118

<<kembali | lanjut >>

AYAH tentu memperbolehkan jika kakang tidak berkeberatan.”

“Aku tidak berkeberatan jika paman Widura mengijinkan.”

“Itu namanya berputar-putar,” Glagah Putih bersungut-sungut, “tetapi aku akan ikut kakang melihat sawah dan pategalan.”

“Hanya sawah di ujung lorong itu,” potong Agung Sedayu.

“Ya. Sawah di ujung lorong.”

Glagah Putih tetap pada pendiriannya. Agaknya Ki Widura memang tidak melarangnya, sehingga Glagah Putih pun kemudian ikut bersama dengan Agung Sedayu dan seorang anak muda penunggu padepokannya.

Sudah agak lama Agung Sedayu meninggalkan sawah dan ladangnya. Tetapi nampaknya anak-anak muda yang ditinggalkannya adalah anak-anak muda yang rajin. Ternyata bahwa sawah dan ladang mereka nampak terpelihara rapi, seperti halaman dan kebun padepokannya yang nampak bersih dan terawat.

Udara yang segar rasa-rasanya seakan-akan menyusup lubang kulit sampai ketulang sungsum. Daun padi yang subur disentuh angin malam, bagaikan ombak lembut yang mengalir dari ujung sampai keujung bulak yang tidak terlalu panjang.

“Kau tidak lelah Agung Sedayu,” bertanya kawannya yang mengikutinya kesawah.

“Aku sudah cukup lama beristirahat. Sore tadi aku sempat berbaring sebentar sebelum mandi,” jawab Agung Sedayu.

“Aku sama sekali tidak lelah,” berkata Glagah Putih, “bukankah aku tinggal duduk saja? Kudanyalah yang mungkin lelah.”

Agung Sedayu menepuk bahu adik sepupunya. Sambil tersenyum ia berkata, “Kudanya pun tidak lelah. Kuda terbiasa menempuh jarak yang jauh.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Apakah manusia tidak dapat berlatih berjalan seperti seekor kuda? Cepat dan jauh?”

Agung Sedayu tertawa. Jawabnya, “Perbedaan itu sudah ada pada kodratnya. Yang dapat dilakukan oleh manusia adalah berusaha untuk meningkatkan segala yang ada padanya menurut batas yang memang sudah tidak akan dapat dilampauinya lagi. Karena itu, yang dapat kita capai dengan segala macam latihan dan penemuan diri adalah memanfaatkan yang ada pada kita setinggi-tingginya. Bukan saja kemampuan jasmaniah, tetapi yang terutama justru akal budi. Dengan akal kita mampu menimbuni segala macam kekurangan dan kelemahan. Tenaga manusia wajarnya jauh dibawah tenaga seekor lembu jantan. Tetapi justru manusia dapat memanfaatkan lembu bagi keuntungannya. Manusia dapat mempergunakan akalnya dalam banyak segi perbedaan. Tetapi manusia juga dikendalikan oleh budinya. Akal yang terlepas dari kendali budinya, justru akan sangat berbahaya bagi manusia itu sendiri.”

Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Ia mencoba untuk mengerti kata-kata Agung Sedayu. Tetapi Agung Sedayu menepuk bahunya sambil berkata, “Jangan risaukan. Pada saatnya kau akan mengerti.”

“Aku sudah mengerti,” jawab Glagah Putih.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Jika demikian kau memang cerdas. Aku memerlukan waktu untuk memikirkan nasehat itu. Tetapi agaknya kau dapat langsung menangkap maksudnya.”

Glagah Putih mengangguk. Katanya, “Tidak sulit.”

Agung Sedayu tertawa. Katanya, “Baiklah. Kita sekarang sudah sampai di ujung lorong. Didepan kita adalah sawah kita yang terakhir kita buka, namun nampaknya air didaerah inipun cukup banyak.”

“Tidak ada bedanya dengan kotak-kotak sawah yang lain,” jawab anak muda yang memelihara sawah dan padepokan Agung Sedayu.

Agung Sedayu pun kemudian berjalan menyusuri pematang di antara tanaman yang hijau subur disawahnya. Rasa-rasanya ia telah menemukan ketenangan dan ketenteraman setelah beberapa saat lamanya ia dibayangi oleh kegelisahan dendam orang orang lain terhadapnya. Dendam karena peristiwa-peristiwa yang susul menyusul diluar kehendaknya.

Ternyata Glagah Putih pun senang berada di sawah yang terbentang luas. Kunang-kunang yang tidak terhitung jumlahnya berterbangan dari daun kedaun. Sementara bunyi bilalang berderik-derik memecah sepinya malam.

Namun dalam pada itu, ketenangan Agung Sedayu pun segera terganggu ketika ia melihat bayangan seseorang di lorong yang melintasi daerah persawahan itu. Bahkan bayangan itu pun kemudian berhenti tidak terlalu jauh di ujung pematang.

Glagah Putih pun melihat bayangan dikeremangan malam itu. Karena itu maka ia pun berdesis, “Siapakah orang itu kakang?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja hatinya menjadi berdebar-debar. Apakah di padukuhan terpencil itu ia masih saja selalu dibayangi oleh dendam dan kebencian?

Tetapi Agung Sedayu tidak dapat membiarkan orang itu berdiri saja mematung tanpa menyapanya. Bahkan kemudian katanya didalam hati, “Mungkin justru akulah yang terlalu berprasangka.”

Agung Sedayu pun kemudian melangkah dipematang mendekati orang yang berdiri tegak itu. Beberapa langkah lagi daripadanya, ia mendengar orang itu berdesis, “Apakah aku berhadapan dengan Agung Sedayu?”

Agung Sedayu menjadi semakin berdebar-debar.

Jawabnya, “Ya, aku Agung Sedayu.”

Orang itu tertawa kecil. Katanya, “Syukurlah. Sebenarnya aku ingin menjumpai ke pintu gerbangmu, aku melihat kau keluar dan menyusuri jalan ini. Aku ikuti saja kau dari kejauhan. Dan sekarang aku sudah bertemu denganmu.”

Agung Sedayu menjadi semakin ragu-ragu. Tetapi ia melangkah mendekatinya sambil bertanya, “Apakah kau mempunyai suatu kepentingan?”

Orang itu tertawa. Jawabnya, “sebenarnya tidak. Aku hanya tahu bahwa kau adalah adik kakang Untara.”

“Ya. Aku adalah adik kakang Untara. Siapa kau?”

“Namaku Sabungsari. Aku adalah seorang prajurit. Aku belum lama mendapat tugas di Jati Anom.”

“O,” Agung Sedayu mengangguk-angguk.

“Ternyata aku tidak begitu sesuai menjadi jemu berada didalam barak. Setiap hari aku bergaul dengan orang-orang yang sama dan melakukan pekerjaan yang serupa saja.”

Agung Sedayu masih mengangguk-angguk.

“Aku ingin mengenal dan bergaul dengan orang yang berbeda. Aku tahu bahwa kau baru saja kembali dari Sangkal Putung. Karena itu aku sengaja datang kepadepokanmu. Sebenarnyalah aku tidak mempunyai kepentingan apapun selain mencari suasana baru. Aku benar-benar sudah jemu berada di dalam barak.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Ia tidak segera menjawab. Dicobanya untuk mengerti maksud yang sebenarnya dari prajurit muda yang menyebut dirinya bernama Sabungsari itu.

Dalam pada itu. Glagah Putih telah mendekatinya pula sambil bertanya, “Apakah kau termasuk anak buah kakang Untara?”

“Ya. Aku adalah anak buah Ki Untara,” jawab Sabungsari, “tetapi siapakah kau?”

“Glagah Putih. Aku adalah saudara sepupu kakang Agung Sedayu.”

“Kalau begitu kau juga sepupu dengan Ki Untara.”

“Ya.”

Sabungsari mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Aku ingin mendapat kesempatan untuk datang ke padepokanmu.”

“Datanglah,” jawab Agung Sedayu, “Sudah tentu aku tidak berkeberatan.”

“Terima kasih,” desis Sabungsari, “besok, jika aku mendapat hari istirahat setelah bertugas, aku datang kepadepokanmu. Aku ingin mendapat tempat untuk menemukan suasana yang lain dari pada sebuah barak prajurit.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tanpa prasangka apapun ia berkata, “Aku menunggu. Aku senang jika kau sudi datang kepadepokan kecil itu.”

Sabungsari tersenyum. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “sekarang aku minta diri. Aku tidak banyak mempunyai kesempatan malam ini. Sebentar lagi aku akan bertugas nganglang di Kademangan Jati Anom dan sekitarnya.”

Agung Sedayu melangkah semakin dekat terasa dadanya berdebar-debar ketika ia melihat dalam kegelapan sekilas mata anak muda itu bagaikan bercahaya.

Tetapi Sabungsari tetap tersenyum. Tidak ada tanda-tanda niatnya yang kurang baik, sehingga Agung Sedayu pun kemudian berkata, “Baiklah. Datanglah kapan saja kau kehendaki.”

Sabungsari pun kemudian minta diri. Ia akan datang di siang hari ke padepokan Agung Sedayu.

“Mungkin aku datang bersama satu dua orang kawanku,” berkata Sabungsari ketika ia melangkah pergi.

“Datanglah,” sahut Agung Sedayu, “aku senang menerima mereka.”

Kepergian Sabungsari meninggalkan kegembiraan dihati Agung Sedayu. Ia merasa akan mendapat kawan-kawan baru dari lingkungan keprajuritan yang umurnya tidak terpaut banyak daripadanya.

“Apakah ia benar-benar akan datang?” bertanya Glagah Putih.

“Aku kira ia benar-benar akan datang.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi ia sama sekali tidak memikirkannya lagi. Bahkan ia pun kemudian turun kedalam parit sambil mengayunkan cangkulnya, membuka pintu pematang untuk mengalirkan air kedalam sawah seperti yang sering dilakukan sebelumnya.

Agung Sedayu memandanginya saja sambil mengangguk-angguk. Glagah Putih termasuk seorang anak muda yang rajin, tetapi juga berkemauan keras.

Dalam pada itu, selagi anak-anak muda bekerja di sawah, maka di padepokan kecil itu Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Ki Widura sedang berbincang mengenai keadaan terakhir yang dialami oleh Agung Sedayu. Seolah-olah Agung Sedayu telah menjadi pusat kisaran peristiwa yang menyangkut masalah Mataram dalam hubungannya dengan Pajang dan orang-orang yang menyebut dirinya pewaris Kerajaan Agung Majapahit.

“Aku kira tidak begitu Kiai,” berkata Widura kemudian, “kita mungkin menganggap demikian karena kita dekat dengan Agung Sedayu. Kita tidak tahu pasti, peristiwa-peristiwa apa yang menyangkut Raden Sutawijaya, yang menyangkut Sultan Pajang sendiri dan mungkin orang-orang lain yang tidak kita kenal. Mungkin mereka mengalami persoalan-persoalan yang serupa dengan Agung Sedayu atau justru lebih parah lagi. Bahkan mungkin satu dua orang telah jatuh menjadi korban.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin demikian. Tetapi bagaimanapun juga, kita tidak akan dapat membiarkan kesulitan itu dialami oleh Agung Sedayu meskipun seandainya orang-orang lain pun mengalaminya.”

Ki Waskita justru tersenyum. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Sudah tentu Kiai. Dan kita akan bersama-sama berusaha.”

Kiai Gringsing memandang Ki Waskita sejenak. Lalu katanya, “Aku justru khawatir bahwa pada suatu saat, Agung Sedayu tidak dapat mengelak lagi dari kesulitan yang menerkamnya. Mungkin dari depan dengan beradu dada. Tetapi mungkin dari belakang langsung menghantam punggung.”

Ki Waskita dan Ki Widura mengetahui yang dimaksud oleh orang tua itu. Sebagai seorang guru maka kekhawatirannya itu dapat dimengerti.

Apalagi ketika Kiai Gringsing berkata, “Ketika terakhir kali ia mengalami serangan dari saudara tua orang-orang Pasisir Endut itu, sebenarnyalah ia telah mengalami kesulitan. Carang Waja telah mempergunakan ilmu yang langsung menyerang perasaan Agung Sedayu, sehingga seolah-olah keseimbangannya telah terganggu dengan goncangan-goncangan bumi.”

Ki Widura mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ia telah berhasil membebaskan diri dari pengaruh sirep. Tetapi pengaruh yang lain dari kekuatan Carang Waja, hampir saja mencelakainya. Untunglah, bahwa ia langsung menusuk sumber pancaran ilmu itu dengan rabaan pandangan matanya yang mempunyai nilai raba wadag itu.”

 “Itulah sebabnya,” berkata Kiai Gringsing, “aku mulai memikirkan kelanjutan ilmu bagi Agung Sedayu. Ia sudah menemukan sendiri betapa besarnya kekuatan yang dapat dipancarkan dari pemusatan indera lewat tatapan matanya. Namun agaknya sudah sampai pula waktunya ia memiliki dasar-dasar ilmu yang langsung dapat mempengaruhi perasaan orang lain lewat getaran indera yang tidak kasat mata, disamping ilmu-ilmu kanuragan yang telah dimilikinya. Ia sudah waktunya mengetahui bagaimana seseorang dapat melepaskan ilmu sirep, ilmu gendam dan ilmu yang akan dapat menjadi perisai dari pengaruh ilmu semacam itu pula, meskipun sekedar bersifat melindungi diri sendiri.. Bukan sebagai alat untuk menyerang.”

Ki Waskita dan Ki Widura mengangguk-angguk.

Mereka mengakui bahwa meskipun Agung Sedayu memiliki kemampuan yang tinggi dalam olah kanuragan, tetapi jika ia masih dapat ditembus oleh kegelisahan karena sentuhan langsung pada perasaannya dengan peristiwa-peristiwa semu. maka Agung Sedayu masih memiliki kelemahan yang dapat berakibat gawat bagi dirinya. Ilmu yang dimiliki oleh Ki Waskita, dengan ujud-ujud semu masih akan dapat memberikan pengaruh bagi ketahanan perasaan Agung Sedayu meskipun ia menyadari keadaan sepenuhnya, karena ia masih belum dapat dengan pasti membedakan, yang manakah yang sebenarnya dihadapinya, dan yang manakah yang sebenarnya hanya sekedar ujud semu. Ia pun masih dibingungkan oleh peristiwa semu yang seolah-olah bumi telah berguncang dan langit akan runtuh oleh getaran suara tertawa dan teriakan. Mungkin rasa-rasanya telinganya akan pecah dan dadanya retak mendengar ilmu yang disebut Gelap Ngampar atau Gelap Sayuta, yang sebenarnya tidak ada yang akan berpengaruh bagi wadagnya.

Tetapi setiap orang akan dapat melihat, bahwa pengaruh perasaan bagi seseorang, mempunyai akibat yang tidak kalah dahsyatnya dengan pengaruh pada wadagnya. Kelumpuhan wadag sebagian dapat terjadi karena kelumpuhan perasaan. Dan mereka yang kehilangan pegangan justru akan menjadi korban yang pahit dari peristiwa-peristiwa yang sebenarnya tidak terlalu sulit untuk diatasi.

 “Ki Waskita,” berkata Kiai Gringsing, “aku adalah guru Agung Sedayu dalam olah kanuragan. Aku dapat mengajarinya mempergunakan cambuk sebaik-baiknya. Aku juga dapat mengajarinya ilmu pedang dan senjata-senjata yang lain disamping senjata yang khusus. Aku dapat menuntunnya mempergunakan tenaga cadangan dengan dasar penyaluran nafas dan pemusatan Indera serta membulatkan tekad dalam kedudukannya sebagai kesatuan alam kecil didalam keutuhan alam semesta. Namun aku tidak dapat meletakkan dasar-dasar ilmu yang mengutamakan sentuhan-sentuhan pada perasaan seseorang secara khusus dan mendalam, meskipun sebagai pribadi aku dapat berlindung dibalik kesadaranku menghadapi segalanya itu.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia merasakan pula segi kelemahan pada diri Agung Sedayu seperti yang dikatakan oleh Kiai Gringsing. Saat-saat ia menghadapi Panembahan Agung, dan Agung Sedayu sendiri menghadapi Ki Gede Telengan dan terakhir adalah Carang Waja, maka nampak sekali keuletan yang dapat membahayakan dirinya. Untunglah bahwa Agung Sedayu memiliki unsur sentuhan wadag pada tatapan matanya. Namun pada suatu saat ia akan dapat dibingungkan oleh kelemahan pada perasaannya menghadapi bayangan-bayangan semu dan peristiwa-peristiwa semu.

Sebelum Kiai Gringsing mengatakan sesuatu kepadanya, maka sudah terasa pada Ki Waskita, bahwa Kiai Gringsing menginginkan. untuk memberikan warna pada kemampuan Agung Sedayu, pada segi yang agak berbeda dari ilmu yang sudah diberikan oleh Kiai Gringsing kepada anak muda itu.

Namun demikian, terkilas di hati Ki Waskita, bagaimanakah murid Kiai Gringsing yang seorang lagi. Jika ia hanya memberikan pengetahuan itu kepada salah satu dari murid Kiai Gringsing, apakah itu dapat disebut adil.

Meskipun demikian. Ki Waskita tidak bertanya sesuatu. Apalagi Kiai Gringsing masih belum mengatakan kepadanya. Sehingga karena itu maka mereka pun terdiam untuk beberapa saat.

Namun ternyata bahwa Kiai Gringsing memang tidak mengatakannya. Kiai Gringsing tidak menyerahkan muridnya untuk mendapatkan petunjuk dari Ki Waskita.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Agaknya adalah suatu kebijaksanaan yang telah ditempuh oleh Kiai Gringsing. Jika ia menyerahkan Agung Sedayu kepadanya, maka ia pun harus berbuat sama terhadap Swandaru, karena kedua-duanya adalah muridnya yang dibinanya bersama.

Tetapi agaknya Kiai Gringsing telah diganggu oleh sikap dan tingkah laku Swandaru pada saat-saat terakhir, sehingga ia kurang berani untuk mempertanggung jawabkan akibat dari kemampuan yang sangat tinggi pada muridnya yang seorang itu.

Ki Waskita sendiri ternyata telah melihat bayangan yang buram pada anak muda yang gemuk itu dihari kemudian. Meskipun ia juga melihat mendung dihari depan Agung Sedayu, namun arena yang sama-sama kelabu itu mempunyai jiwa yang berbeda.

Apalagi menilik perkembangan ilmu dari kedua murid Kiai Gringsing itu pun nampak berbeda pula. Swandaru lebih banyak memperkembangkan kemampuan jasmaniahnya meskipun ia juga menelusuri tenaga cadangannya serta mempelajari ilmu pernafasan sebagai alas menyalurkan segenap kekuatannya. Namun dalam pada itu. Agung Sedayu lebih banyak melihat unsur-unsur kekuatan yang termuat didalam dirinya dalam hubungannya sebagai kesatuan dengan alam yang besar. Dengan matanya Agung Sedayu sudah berhasil menembus kesatuan tempat, sehingga tatapan matanya itu pun mempunyai sentuhan wadag. Sementara itu cara Agung Sedayu mesu diri, menukik kedalam inti dari kekuatan yang tersimpan didalam dirinya yang bahkan hampir saja menenggelamkan dirinya kedalam kesulitan jasmaniah.

Karena itu, didalam wawasan Ki Waskita, Agung Sedayu akan lebih mudah mempelajari ilmu seperti yang dimaksud gurunya, yang kebetulan sebagian ada padanya. Meskipun ilmu itu tidak banyak berarti bagi mereka yang memiliki kemantapan kepercayaan kepada diri sendiri dan ketahanan jasmaniah yang tinggi. Namun ilmu itu pada waktunya akan dapat berguna pula untuk menghadapi saat-saat yang khusus, seperti yang pernah dialami oleh Agung Sedayu. Carang Waja adalah salah seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi, sehingga ia seakan-akan dapat mengguncang bumi dan menghancurkan isi dada.

Tetapi Kiai Gringsing tidak berkata kepadanya tentang muridnya. Itu adalah pertanda bahwa Kiai Gringsing tidak bertindak sesuatu bagi ilmu murid-muridnya.

Namun Ki Waskita dapat menangkap hubungan peristiwa yang diharapkan terjadi oleh Kiai Gringsing. Ki Waskitalah yang sebaiknya atas kehendak sendiri memberikan petunjuk kepada Agung Sedayu. Dengan demikian, tidak ada kewajiban Ki Waskita untuk bertindak adil bagi kedua murid Kiai Gringsing, sedangkan Kiai Gringsing-pun tidak pula harus memberikan kemungkinan yang sama bagi kedua muridnya, karena yang terjadi adalah diluar permintaannya.

Ki Widura yang duduk merenungi pembicaraan mereka yang seolah-olah terputus itu pun mengerti pula. Karena itu, maka ia sama sekali tidak menyambung pembicaraan itu. Ia lebih baik berdiam diri sambil menunggu, apakah yang akan dibicarakan oleh Ki Waskita dan Kiai Gringsing selanjutnya.

Ketiganya saling berdiam diri sampai malam menjadi semakin larut. Nampaknya mereka masing-masing telah terlibat kedalam persoalan dihati sendiri, sehingga mereka melupakan bahwa mereka duduk bersama.

Baru ketika mereka mendengar seorang penghuni padepokan itu berjalan melintas. Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam.

“Malam telah larut,” katanya.

Ki Waskita mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Agung Sedayu belum kembali.”

Ki Widura mengerutkan keningnya. Agung Sedayu pergi bersama Glagah Putih. Bagaimanapun juga ia tidak dapat melepaskan dari kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat terjadi atas Agung Sedayu dan anaknya seperti yang telah terjadi di Sangkal Putung.

Tetapi mereka tidak perlu menunggu terlalu lama, karena sebentar kemudian Agung Sedayu pun telah datang bersama Glagah Putih dan seorang kawannya, anak muda yang ikut menghuni padepokan itu.

Agung Sedayu pun untuk beberapa saat ikut pula duduk bersama orang-orang tua itu. sementara Glagah Putih yang sudah mengantuk segera pergi ke pembaringan setelah mencuci kakinya.

Namun pembicaraan berikutnya tidak berlangsung terlalu lama. Mereka pun segera meninggalkan ruangan itu kembali kedalam bilik masing-masing untuk beristirahat.

Ketika matahari kemudian bangkit di hari berikutnya, terasa pagi yang cerah itu memberikan kesegaran lahir dan batin. Rasa-rasanya padepokan kecil itu merupakan dunia tersendiri yang penuh ketenangan dan kedamaian. Tidak ada persoalan yang menegangkan. Nampaknya semua yang diam dan yang bergerak bersama-sama menikmati lahirnya hari baru.

Yang ada kemudian adalah kerja yang menyenangkan di padepokan kecil itu. Suara sapu lidi dan senggot timba, seolah-olah telah membangunkan irama hidup yang segar dan tenang.

Agung Sedayu terkejut ketika dipagi hari itu, seorang anak muda muncul di regol padepokannya. Yang nampak pertama-tama di wajahnya adalah senyum yang cerah, secerah pagi itu.

“Apakah kau lupa kepadaku Agung Sedayu?” bertanya anak muda itu.

Agung Sedayu pun tersenyum. Jawabnya, “Meskipun aku bertemu denganmu dimalam hari, tetapi aku tidak lupa. Kaulah yang semalam datang ke sawah.”

Anak muda itu tertawa. Katanya, “Aku memenuhi kata-katamu. Aku ingin mendapatkan suasana baru. Apakah kau keberatan.”

“Sudah aku katakan Sabungsari,” jawab Agung Sedayu, “aku senang kau datang. Silahkan. Aku akan mencuci tangan lebih dahulu.”

“Jangan kau tinggalkan pekerjaanmu,” potong Sabungsari.

Agung Sedayu yang sudah melangkah kepakiwan tertegun. Sementara Sabungsari berkata seterusnya, “Teruskan. Kau tinggal menyelesaikan sedikit lagi. Halaman padepokan ini akan nampak bersih dan gilar-gilar.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian sambil tersenyum ia barkata, “Sebaiknya aku mempersilahkan tamuku duduk dahulu.”

 “Tidak. Aku bukan tamu. Aku adalah kawan bermain. Anggap saja demikian. Kedatanganku memang tanpa keperluan apapun. Aku datang untuk mencari kesegaran. Jika kau menerima aku seperti kau menerima seorang tamu, maka aku akan jatuh lagi kedalam suasana yang kaku,” sahut Sabungsari.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Jika demikian, terserahlah kepadamu. Aku akan menyelesaikan kerjaku. Duduklah lebih dahulu di pendapa.”

 “Tidak di pendapa. Aku akan duduk disini,” jawab Sabungsari sambil duduk di babatur dinding halaman.

 “Terserahlah,” jawab Agung Sedayu, “jika kau ingin demikian, maka silahkan melihat-lihat padepokan kecilku ini.”

Sabungsari pun mengangguk-angguk sambil menjawab, “Terima kasih. Selesaikan kerjamu lebih dahulu.”

Sementara Agung Sedayu melanjutkan menyapu sudut halaman yang tersisa, maka Glagah Putih yang melihat kedatangan Sabungsari pun mendekat pula sambil berkata, “Tentu Ki Sanak yang datang semalam.”

Sabungsari tersenyum. Jawabnya, “Tepat. Ternyata kau adalah anak muda yang cermat. Kau mengenal aku didalam gelap malam.”

“Apa sulitnya?” bertanya Glagah Putih, “kau semalam juga memakai pakaian yang kau pakai sekarang.”

Sabungsari tertawa, sementara Agung Sedayu berdesis, “Sst, kenapa kau sebut juga tentang pakaian?”

“Menarik sekali,” berkata Sabungsari sambil tertawa, “adik sepupumu memiliki pengamatan yang luar biasa Agung Sedayu.”

Agung Sedayu pun tertawa juga, sementara Glagah Putih berkata, “Ah. jangan memuji. Aku menjadi malu sekali, seolah-olah aku benar-benar memiliki kelebihan.”

“Kau memang mempunyai banyak kelebihan,” sahut Sabungsari.

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Sambil mendekati Agung Sedayu ia berkata, “Kakang berikan sapu itu kepadaku. Biarlah aku yang menyelesaikan sudut yang sedikit itu.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak, namun kemudian diberikannya sapu itu kepada Glagah Putih sambil berkata, “Baiklah Glagah Putih. Selesaikan sudut yang tersisa itu.”

 “Tetapi aku tidak telaten menyapu halaman seperti kakang Agung Sedayu. Tanpa tapak kaki. Aku menyapu dengan cara yang biasa. Tidak mundur seperti undur-undur.”

Sabungsari tertatik kepada kata-kata Glagah Putih itu. Tiba-tiba saja ia memperhatikan bekas sapu lidi Agung Sedayu. Katanya, “Luar biasa. Kau menyapu seluruh halaman ini tanpa telapak kaki. Aku tidak begitu memperhatikan. Jika Glagah Putih tidak mengatakan, aku tidak melihat perbedaan cara Agung Sedayu menyapu halaman ini.”

Agung Sedayu tertawa. Katanya, “Aku hanya sekedar bergurau dengan diriku sendiri.”

“Nampaknya demikian. Tetapi untuk melakukan seperti yang kau lakukan itu memerlukan ketahanan niat tersendiri. Kau melatih ketahanan dan ketekunan. Yang kau lakukan sungguh-sungguh mengagumkan.”

Agung Sedayu masih tertawa. Kemudian katanya, “Marilah. Biarlah Glagah Putih menyelesaikannya. Marilah bertemu dengan Kiai Gringsing yang sudah aku anggap orang tuaku sendiri bersama dua orang kawan dekatnya.”

“Jangan mengganggu mereka. Biarlah mereka melakukan kewajibannya. Aku akan berjalan-jalan mengelilingi padepokan ini jika kau tidak berkeberatan,” sahut Sabungsari.

“Tentu aku tidak berkeberatan,” jawab Agung Sedayu.

Keduanya pun kemudian berjalan menyusuri halaman samping padepokan kecil itu. Sabungsari tidak bersedia untuk dengan tergesa-gesa diperkenalkan dengan orang-orang tua yang berada di padepokan itu.

“Nanti saja, jika mereka sudah beristirahat,” katanya.

Dalam pada itu. Kiai Gringsing pun sedang membersihkan ruang dalam pedepokannya, sementara Ki Waskita sedang mengisi jambangan di pakiwan. Ki Widura pun sedang sibuk dengan cangkulnya, mengatur air yang mengalir di sebatang parit kecil di kebun mengaliri beberapa buah kolam yang ada di padepokan itu.

“Padepokan kecil ini memang luar biasa,” desis Sabungsari yang sedang melihat-lihat padepokan itu. “berapa lama umur pedepokanmu?” tiba-tiba saja ia bertanya.

“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu pula.

“Aku dengar padepokanmu ini belum terlalu lama kau bangun. Tetapi disini terdapat beberapa batang pohon buah-buahan yang sudah berbuah.”

“O,” Agung Sedayu mengangguk-angguk, “tanah ini adalah bekas tanah pategalan. Di tanah pategalan itu memang sudah terdapat beberapa batang pohon buah-buahan. Karena itulah, maka pohon itu kini sudah berbuah. Tegasnya, pohon buah-buahan itu ada di situ sebelum tempat ini menjadi sebuah pedepokan.”

“O,” Sabungsari mengangguk-angguk. Wajahnya nampak cerah. Nampaknya padepokan itu sangat menarik perhatiannya. “Sayang, aku seorang prajurit.” gumannya.

“Kenapa kalau kau seorang prajurit?” sekali lagi Agung Sedayu bertanya.

“Aku tidak dapat sebebas kau menikmati ketenangan dalam padepokan kecil ini. Aku terikat pada suatu tata kerja yang teratur dalam ketertiban kewajiban.”

“Jangan berkata begitu,” jawab Agung Sedayu, “setiap lapangan mempunyai bentuk dan coraknya sendiri.”

“Benar. Dan agaknya aku sudah terperosok kedalam lingkungan yang salah. Yang tidak sesuai dengan sifat dan pembawaanku.”

Agung Sedayu memandang anak muda itu sekilas. Tetapi ia tidak menemukan kesan yang khusus di wajahnya yang tunduk.

Untuk sesaat keduanya saling berdiam diri. Mereka berjalan menyusuri halaman belakang padepokan bekas tanah pategalan itu.

Langkah mereka tertegun ketika mereka melihat seseorang sibuk membelokkan arus air sebuah parit kecil di kebun padepokan yang nampak hijau segar itu.

“Itulah Ki Widura, ayah Glagah Pulih,” desis Agung Seayu.

Ternyata Widura mendengar kata-kata Agung Sedayu, sehingga ia pun berpaling. Keningnya berkerut ketika ia melihat seorang anak muda dalam pakaian seorang prajurit berjalan bersama Agung Sedayu.

adbm 118-01“Paman,” berkata Agung Sedayu, “anak muda ini adalah seorang prajurit dibawah kakang Untara.”

“Jauh dibawah,” Sabungsari menyahut, “aku adalah prajurit di tataran paling bawah.”

Ki Widura memandang Sabungsari itu sejenak. Kemudian diletakkannya cangkulnya. Sambil tersenyum ia berkata, “Aku mengenalmu dari pakaian yang kau kenakan anak muda.”

“Namanya Sabungsari,” Agung Sedayu memperkenalkan namanya.

Widura mengangguk-angguk. Katanya, “Sepagi ini kau sudah berada disini anakmas. Apakah kau hari ini tidak mempunyai tugas?”

“Aku mendapat istirahat hari ini Ki Widura. Aku baru turun dari tugas semalam suntuk meronda Jati Anom dan sekitarnya.”

“Kau tidak mempergunakan saat-saat ini untuk beristirahat?” bertanya Ki Widura.

“Sebentar lagi. Pagi ini aku ingin singgah di padepokan Agung Sedayu yang tenang ini.”

“Tetapi sejak kapan kalian berkenalan?” tiba-tiba saja Widura bertanya.

Sabungsari termangu-mangu. Tetapi Agung Sedayu lah yang menjawab seperti adanya, “Semalam paman. Semalam Sabungsari menemui aku di sawah untuk memperkenalkan diri.”

Ki Widura mengangguk-angguk. Dan ia pun tersenyum ketika Sabungsari menjelaskan niatnya seperti yang sudah dikatakannya kepada Agung Sedayu.

“Ya.” Widura mengangguk-angguk, “mungkin kau menemukan udara baru dipadepokan ini. Silahkan. Bukankah kau baru melihat-lihat? Barangkali Agung Sedayu dapat menjamumu dengan buah-buahan meskipun agaknya masih terlalu pagi.”

Sabungsari tertawa sambil mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih. Terima kasih Ki Widura.”

Keduanya pun meneruskan langkah mereka. Mula mula mereka menyusuri kolam yang jernih. Mereka melihat beberapa kelompok ikan gurami berenang melingkar-lingkar.

“Senang sekali,” gumam Sabungsari, “kau tinggal memetik padi di sawah, kemudian menangkap beberapa ekor gurami di kolam. Sehabis makan kau dapat memetik buah-buahan didahan yang segar.”

Agung Sedayu tersenyum. Jawabnya, “Menyenangkan bagi yang tidak mengalaminya sehari-hari. Tetapi bagi kami, hal itu sudah terlalu biasa, sehingga memang itulah warna hidup kami sehari-hari.”

Sabungsari mengangguk-angguk. Katanya, “Hari ini aku mendapat istirahat sehari penuh.”

“Apakah kau akan berada di padepokan ini sehari penuh pula?” bertanya Agung Sedayu.

“Apakah kau tidak berkeberatan?”

“Kenapa aku berkeberatan?”

Sabungsari merenung sejenak. Lalu katanya, “Terima kasih. Aku akan berada disini sehari penuh.”

Demikianlah seperti yang dikatakannya, Sabungsari berada di padepokan itu sehari penuh. Seperti anak-anak muda yang bebas dari segala kewajiban, Sabungsari menikmati hari istirahatnya bersama Agung Sedayu dan Glagah Putih. Demikian mereka selesai makan siang, maka mereka pun segera pergi kekebun belakang memetik buah-buahan. Rasa-rasanya Sabungsari ingin memetik semua buah jambu air yang berwarna kemerah-merahan beruntai bergayutan disetiap ranting.

Sambil berbaring di sehelai ketepe yang dianyam dari daun nyiur mereka berteduh dibawah rimbunnya sebatang pohon jambu air yang berbuah lebat sekali.

Dengan asyiknya mereka berceritera tentang bermacam-macam persoalan yang mereka jumpai sehari-hari dalam hidup mereka. Sabungsari berceritera tentang kejemuannya hidup dibawah bersama prajurit-prajurit yang lain. sementara Glagah Putih berceritera tentang padepokannya yang semakin subur.

 “Sebentar lagi kuweni itu akan berbuah,” berkata Glagah Putih, “sekarang daun-daunnya sudah mulai bersemi kemerah-merahan. Dari ujung daun-daun muda itu akan tumbuh bunga-bunganya yang putih. Kemudian akan bergayutan buah kuweni selebat daunnya. He, kau pernah makan kuweni?”

Sabungsari tertawa. Jawabnya, “Tetanggaku mempunyai pohon kuweni pula di pedukuhanku. Jika kuweni itu berbuah lebat, maka banyak yang berjatuhan dihalaman rumahku. Bukankah kuweni biasanya dibiarkan tua di dahan?”

 “Ya. Kami juga membiarkan kuweni itu berjatuhan. Barulah kuweni itu terasa enak sekali dimakan.”

Sabungsari mengangguk-angguk. Dipandanginya daun kuweni yang mulai bersemi. Daun-daun mudanya yang berwarna kemerah-merahan memberikan kesegaran tersendiri di antara hijau daunnya yang rimbun.

Namun dalam pada itu, sekilas membayang rencananya yang akan dilakukannya untuk melepaskan dendam yang bersarang dihatinya. Ia tidak melupakan kematian ayahnya. Kini ia sudah berhadapan dengan orang yang telah membunuh ayahnya itu.

“Tetapi aku ingin menjajagi sampai dimanakah kemampuan ilmu Agung Sedayu sebelum aku menantangnya untuk berperang tanding,” berkata Sabungsari didalam hatinya.

Tetapi Sabungsari tidak tergesa-gesa. Ia mempunyai banyak waktu untuk melakukannya. Ia sudah berhasil berkenalan dengan Agung Sedayu yang dicarinya dengan tekun untuk melepaskan dendamnya. Supaya ia tidak tergelincir seperti orang-orang yang mendahuluinya, maka ia ingin mengenal Agung Sedayu lebih banyak.”

Karena itulah, maka Sabungsari tidak berbuat sesuatu. Ia benar-benar berlaku sebagai seorang kawan yang baik bagi Agung Sedayu, seperti yang dikatakan, bahwa di padepokan itu ia telah menemukan suasana yang baru.

Dengan demikian, maka Agung Sedayu merasa bahwa ia telah mendapatkan seorang kawan baru yang sesuai dengan umurnya. Prajurit itu nampaknya seorang yang ramah dan berterus terang.

Menjelang senja, maka Sabungsari itu minta diri. Dengan hormat ia membungkuk di hadapan Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Ki Widura.

“Aku akan sering datang kemari,” berkata Sabungsari.

“Kami akan menerima dengan senang hati ngger,” sahut Kiai Gringsing, “datanglah di hari-hari istirahatmu kepadepokan ini.”

Sabungsari mengangguk-angguk. Katanya, “padepokan ini merupakan tempat yang paling menyenangkan yang pernah aku kenal.”

Kiai Gringsing hanya tersenyum saja. Kemudian dilepaskannya Sabungsari meninggalkan padepokan itu sampai ke regol halaman padepokan bersama Ki Waskita dan Ki Widura.

“Anak yang baik,” berkata Kiai Gringsing, “nampaknya ia seorang prajurit yang tangguh. Tetapi juga seorang anak muda yang merindukan sesuatu. Nampaknya ia pernah kehilangan dan kini ia sedang mencari isi dari kekosongan itu.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Namun wajahnya membayangkan sesuatu yang agak buram.

“Apakah yang Ki Waskita lihat?” bertanya Kiai Gringsing.

Ki Waskita termenung sejenak. Dipandanginya anak muda yang semakin lama menjadi semakin jauh itu.

“Apakah kau baru mengenalnya semalam Agung Sedayu?” bertanya Ki Waskita.

“Ya Ki Waskita,” jawab Agung Sedayu, “semalam ia menyusul kami di sawah ketika kami menengok air yang mengalir tidak begitu lancar di parit yang menyilang jalan kecil itu.”

Ki Waskita masih mengangguk-angguk. Gumamnya seolah-olah kepada diri sendiri, “Anak itu memang baik. Tetapi aku melihat sesuatu yang mungkin keliru di penglihatanku.”

“Apakah yang kau lihat?” bertanya Ki Widura.

“Aku melihat noda yang melekat di senyumnya yang cerah itu.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Katanya, “Rasa-rasanya ia seorang yang baik. Hatinya terbuka dan agaknya ia memang seseorang yang memerlukan orang lain didalam hidupnya.”

“Ya. Nampaknya didalam sikap dan kata-katanya. Tetapi aku melihat jauh lebih dalam lagi. “ Ki Waskita berhenti sejenak, lalu. “tetapi isyarat itu pun kurang dapat aku pahami.”

Agung Sedayu pun mengangguk-angguk. Seandainya Ki Waskita tidak melihat isyarat apapun, maka kecurigaannya memang wajar. Adalah terlalu berlebih-lebihan bahwa anak muda itu menyusulnya ke sawah. Kemudian pagi-pagi benar ia sudah berada dipadepokan. Sehari penuh ia berada di padepokan itu untuk melihat-lihat dan mengenal setiap sudut-sudutnya, seolah-olah tidak ada sejengkal tanah pun yang dilampauinya.

“Tetapi bagiku,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya, “sikap itu adalah justru sikap yang tulus, tanpa dibuat-buat dan jujur.”

Namun Agung Sedayu tidak mengatakannya. Ia menahannya didalam hati. Namun ia mengharap bahwa akhirnya Ki Waskita akan mengakui kebenaran dugaannya itu.

Sejak saat itu, maka Sabungsari terlalu sering datang ke padepokan kecil itu. Bahkan hampir setiap waktu terluangnya, meskipun hanya beberapa saat, ia memerlukan datang. Kadang-kadang ia datang berkuda masih dalam pakaian keprajuritannya yang lengkap. Ia hanya berteriak saja didepan regol. Jika Agung Sedayu atau Glagah Putih telah menjenguknya, maka sambil melambaikan tangannya ia berpacu meninggalkan regol itu.

Bagi Agung Sedayu. Sabungsari merupakan kawan yang baik. Sekali-sekali keduanya pergi bersama mengelilingi Jati Anom. Kadang-kadang Glagah Pulih ikut bersama mereka. Tetapi kadang-kadang tidak seorang pun serta.

Jika keduanya berkuda di bulak panjang yang sepi, terbersit keinginan Sabungsari untuk menyelesaikan tugas yang terasa selalu bergejolak didalam dadanya. Ia ingin segera dapat melepaskan dendam yang sudah lama tersimpan. Tetapi Sabungsari tidak mau mengorbankan harga dirinya sebagai seorang anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi dengan membunuh lawannya dari belakang. Ia harus menyatakan maksudnya kepada Agung Sedayu, kemudian menyelesaikan persoalannya dengan cara seorang laki-laki, perang tanding.

Namun setiap kali Sabungsari masih dibayangi oleh keragu-raguan. Ia belum berhasil menjajagi kemampuan Agung Sedayu, sehingga setiap kali ia masih saja menahan hati.

“Aku harus dapat mengetahui dengan melihat sendiri, apa yang dapat dilakukan oleh anak ini,” berkata Sabungsari didalam hatinya. Karena selama itu. ia baru mendengar kata orang, bahwa Agung Sedayu adalah seorang anak muda yang memiliki kemampuan tidak terlawan.

“Omong kosong,” kadang-kadang Sabungsari menggeram. Namun pendengarannya itu selalu membayanginya dengan keragu-raguan.

“Aku akan mengajaknya bermain-main dengan ilmu,” katanya didalam hati, “dengan demikian, aku akan dapat melihat, apakah yang telah dilakukannya.”

Dengan demikian, maka Sabungsari selalu mencari kesempatan untuk dapat melihat, apa yang dapat dilakukan oleh Agung Sedayu. Dengan berbagai cara ia mencoba untuk menyudutkan Agung Sedayu kedalam keadaan yang memungkinkannya menunjukkan kemampuannya.

“Agung Sedayu,” katanya pada saat ia berkunjung di padepokan kecil itu, “setiap orang mengatakan, bahwa kau adalah orang yang tidak terlawan saat ini. Di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, kau berhasil membunuh beberapa orang terpenting dari mereka yang menyebut dirinya pewaris kerajaan Majapahit. Sebenarnyalah, aku sebagai seorang prajurit, kadang kadang merasa iri. Umurmu dan umurku tidak terpaut banyak. Mungkin aku lebih tua sedikit, sebaya dengan Ki Untara. Namun aku tidak pernah dapat membayangkan, apa yang pernah kau lakukan itu.”

Pertanyaan itu mengejutkan Agung Sedayu. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Dari siapa kau mendengar peristiwa yang terjadi di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu?”

Sabungsari memandang Agung Sedayu dengan heran. Katanya, “Setiap mulut mengatakannya demikian. Setiap prajurit di Jati Anom mengetahui bahwa adik Untara telah melakukan sesuatu yang tidak masuk akal. Tetapi hal itu telah terjadi.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sama sekali tidak benar. Aku tidak berbuat apa-apa. Aku bertempur di antara para pengawal dari Mataram, dari Tanah Perdikan Menoreh dan dari Sangkal Putung. Aku tidak mempunyai kelebihan apapun dari mereka. Apalagi dengan para pemimpin pengawal itu.”

Sabungsari memandang Agung Sedayu dengan kecewa. Katanya, “Aku tahu, bahwa kau bukan seorang anak muda yang sombong, yang senang dipuji, apalagi sesongaran menunjukkan kelebihannya. Tetapi aku sekedar menuruti gejolak hati yang tidak dapat aku tahan lagi. Sebagai seorang prajurit yang ingin aku ketahui adalah olah kanuragan.”

Tetapi Agung Sedayu menggeleng. Katanya, “Tidak ada yang dapat aku tunjukkan kepadamu dan kepada siapapun. Yang terjadi seperti yang kebanyakan terjadi dipeperangan. Dan aku hanyalah satu dari sekian banyak orang.”

Sabungsari tersenyum, betapapun kecutnya. Katanya, “Aku sudah mengira. Tetapi bagaimana kau dapat membunuh Ki Gede Telengan, Ki Tumenggung yang memegang kendali pertempuran dari mereka yang berada di lembah itu, Samparsada dan Kelasa Sawit, jika kau hanya satu di antara yang sekian banyaknya.”

“Aku tidak membunuh mereka. Bagaimana mungkin kau dapat menuduhku membunuh mereka itu?”

“Agung Sedayu,” desis Sabungsari, “mungkin kau benar. Tetapi kau adalah sebab terakhir kematian merereka.”

 “Kelasa Sawit?” bertanya Agung Sedayu. Namun kemudian Katanya, “Sudahlah. Aku ingin melupakan semuanya. Yang terjadi merupakan bayangan yang kelam didalam hidupku. Aku mohon jangan kau sebut lagi.”

Sejenak Sabungsari termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “Maaf Agung Sedayu. Jika aku menyebutnya, bukan karena aku ingin mengingatkan kau apa yang telah terjadi. Tetapi sebenarnyalah bahwa aku sebagai seorang prajurit ingin melihat, bagaimana kau mengetrapkan ilmu yang tiada taranya itu. Menurut pendengaranku, kau mempunyai kemampuan yang seolah-olah tidak terbatas.”

“Ah,” desah Agung Sedayu.

“Jangan menyelubungi kemampuan yang sudah diketahui oleh setiap orang itu Agung Sedayu.”

“Itu omong kosong,” desis Agung Sedayu, “sudahlah. Marilah kita berbicara tentang pohon buah-buahan, tentang burung yang berkicau dan tentang air parit yang bening.”

“Tetapi aku seorang prajurit Agung Sedayu. Aku tentu akan lebih banyak berbicara tentang olah kanuragan dan olah senjata jenis apapun juga,” jawab Sabungsari.

“Dan aku? Aku seorang petani dipadepokan kecil. Aku lebih tertarik kepada pohon buah-buahan dan tanaman yang hijau disawah. Dan memang sebenarnyalah aku hanya pandai menyiangi padi yang tumbuh subur serta menghalau burung pipit menjelang padi dituai.”

Sabungsari sudah menduga, bahwa ia tidak akan mudah memaksa Agung Sedayu memamerkan kemampuannya, apapun alasannya. Sifat-sifat Agung Sedayu yang mulai dikenalnya sejak ia bergaul dengan anak muda itu, memberikan beberapa petunjuk, bahwa ia akan mengalami kesulitan untuk menjajagi ilmu anak muda yang seolah-olah tertutup rapat diruang perbendaharaan berlapis tujuh.

“Gila,” Sabungsari bergumam didalam hatinya, “aku harus berhasil mengetahui tingkat ilmunya sebelum aku terjerumus kedalam kesalahan seperti yang pernah terjadi. Jika aku tidak yakin dapat membunuhnya. maka aku akan menunda sampai saatnya aku menyempurnakan ilmuku barang enam atau sepuluh bulan dengan tekun berdasarkan ilmu yang sudah aku kuasai. Meskipun aku merasa bahwa yang aku miliki sekarang ini sudah lebih selapis, atau setidak-tidaknya setingkat dengan ilmu ayahku, namun ada kemungkinan bahwa Agung Sedayu pun telah meningkat pula.”

Karena itu, Sabungsari masih harus bersabar. Ia bukan seorang yang bodoh dan tergesa-gesa. Tetapi ia ingin menyelesaikan persoalannya dengan sikap seorang laki-laki dalam perang tanding. Bukan seorang pembunuh yang licik yang menikam lawannya dari punggung.

Karena itu, maka yang dilakukan kemudian dan di hari berikutnya, sama sekali tidak mengesankan rencananya yang sudah tersusun rapi. Ia masih merupakan kawan yang baik bagi Agung Sedayu, bahkan bagi Glagah Putih. Baginya Glagah Putih bukannya persoalan yang perlu mendapat perhatian tersendiri. Ia tahu bahwa Glagah Putih dengan tekun melatih diri dibawah tuntunan Agung Sedayu dan ayahnya, Ki Widura dalam cabang ilmu Ki Sadewa yang agak berbeda dari ilmu yang diwarisi oleh Agung Sedayu dari Kiai Gringsing. Namun ternyata bahwa Agung Sedayu pun nampaknya menguasai benar-benar setiap unsur gerak dari ilmu ayahnya yang telah meninggal itu.

Tetapi tingkat ilmu Glagah Putih barulah pada tataran dasar, meskipun meningkat dengan pesatnya.

Meskipun demikian, isi padepokan kecil itu selalu berlaku hati-hati dan sesuai dengan kebiasaan didalam setiap perguruan yang sebenarnya. Latihan-latihan khusus selalu dilakukan dalam ruang tertutup bagi orang lain. Bahkan bagi anak-anak muda yang tinggal dipadepokan itu.

“Aku harus mendapat akal,” berkata Sabungsari kepada dirinya setiap kali ia digelisahkan oleh rencananya yang masih belum maju setapakpun baginya, sehingga ia sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk mengintip kedalamnya.

Sementara itu Ki Waskita masih tetap berada dipadepokan kecil itu. Sudah ada niatnya untuk pulang. Tetapi ketika ia melihat isyarat yang buram pada anak muda yang bernama Sabungsari, ia menjadi ragu-ragu.

 Namun akhirnya Ki Waskita ragu-ragu terhadap dirinya sendiri. Ternyata sudah beberapa lamanya Sabungsari berkenalan dengan Agung Sedayu, sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa ia bertindak tidak jujur. Keduanya seperti sahabat yang saling mempercayai dalam banyak hal.

“Aku mulai tua,” berkata Ki Waskita kepada diri sendiri, “banyak yang nampak kabur di mata hatiku. Tetapi itu tidak perlu aku sesali.”

Dengan demikian, maka niat Ki Waskita itu pun kemudian disampaikannya kepada Kiai Gringsing, bahwa ia sudah lewat waktunya untuk pulang ke rumahnya.

“Aku mengatakan kepada keluargaku, bahwa aku tidak lama berada di Sangkal Putung. Mereka tentu menunggu. Meskipun aku sudah terbiasa pergi, namun semakin tua istriku menjadi semakin cemas melepaskan aku.”

Kiai Gringsing tertawa. Tetapi ia tidak dapat menahan Ki Waskita lebih lama. Adalah wajar sekali, sebagai seorang yang berkeluarga, maka ikatan keluarga itu jauh lebih penting dari ikatan persahabatan yang manapun juga.

Meskipun demikian. Kiai Gringsing masih juga bertanya, “Ki Waskita, bagaimanakah pendapat Ki Waskita tentang Agung Sedayu?”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti Kiai. Ternyata kini ia banyak mendapat cobaan. Ia kini harus menghadapi berbagal macam ilmu. Di Sangkal Putung, ia harus berhadapan dengan ilmu sirep yang tajam. Juga ilmu yang langsung menyentuh angan-angan dan pertimbangannya. Melawan saudara tua kedua kakak beradik dari Pesisir Endut, maka selain bertempur melawan orang itu dalam olah kanuragan, ia pun harus memerangi kegelisahannya karena baginya, seolah-olah bumi telah terguncang.”

 “Ya Ki Waskita. Aku tidak mempunyai dasar pengetahuan mendalam tentang hal itu. Aku hanya dapal menangkis berdasar pada keyakinanku atas diri sendiri. Tetapi tidak karena aku memahami ilmunya secara mendasar.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Ia mengerti yang dimaksudkan oleh Kiai Gringsing. Ia pun menyadari bahwa sebagai dua orang yang berbeda perguruan dan warisan ilmu yang pernah mereka pelajari, maka Kiai Gringsing dan Ki Waskita mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, pada segi yang berbeda-beda.

Ki Waskita pun sadar, bahwa Kiai Gringsing memerlukannya bukan bagi dirinya sendiri. Sebenarnya juga bukan bagi Agung Sedayu itu sendiri. Tetapi dalam tugas yang diemban oleh Agung Sedayu, kadang-kadang ia menemukan kesulitan karena jenis-jenis ilmu yang tidak terhitung jumlahnya yang tersebar dimuka bumi. Yang satu mempunyai kelebihan dari yang lain. Tetapi tidak ada ilmu yang tidak terkalahkan, betapapun dahsyatnya.

Kiai Gringsing pun tidak akan menyerahkan Agung Sedayu dalam bimbingan orang lain sebagaimana seorang guru menyerahkan muridnya untuk mendapatkan bimbingan khusus, karena murid Kiai Gringsing tidak hanya seorang saja.

Karena itu, maka seolah-olah diluar sadarnya, maka Ki Waskita pun berkata, “Kiai, apakah Kiai mengijinkan Agung Sedayu pergi bersamaku barang satu dua pekan?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia pun mengerti sikap Ki Waskita. Karena itu, maka ia pun menjawab, “Jika Ki Waskita menghendaki anak itu untuk mengikuti perjalanan Ki Waskita kembali, aku tidak berkeberatan.”

“Baiklah Kiai. Aku akan bertanya langsung kepadanya,” berkata Ki Waskita kemudian.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia menyadari sepenuhnya, bahwa ia sudah berbuat sesuatu yang tidak seimbang bagi murid-muridnya. Meskipun ia tidak dengan resmi berkata kepada Ki Waskita, menyerahkan Agung Sedayu untuk mendapatkan tambahan ilmu yang mempunyai sifat dan watak yang berbeda dengan ilmu yang telah dikuasai oleh anak itu, namun ia telah membuka jalan bagi Agung Sedayu. Tetapi tidak bagi Swandaru. Kepada orang lain ia dapat berkata, bahwa niat itu tumbuh dari hati Ki Waskita sendiri yang sudah lama bergaul dengan Agung Sedayu. Juga kepada Swandaru ia dapat berkata seperti itu. Tetapi ia tidak dapat mengatakannya kepada dirinya sendiri.

“Apa boleh buat,” katanya kepada diri sendiri, “aku tidak mempunyai niat buruk. Swandaru menunjukkan gejala sifat yang kurang dapat aku pahami, sedang Agung Sedayu bagiku mempunyai sikap dan pandangan hidup yang lebih sesuai dengan ketinggian ilmu yang bakal dimiliki dan dikembangkannya.”

Namun Kiai Gringsing pun menyadari, bahwa Agung Sedayu pun mempunyai cacat jiwani. Keragu-raguan dan ketidak pastiannya akan dapat mengganggunya, tetapi yang ada padanya, masih jauh lebih cerah dari yang nampak pada Swandaru.

Ketika Agung Sedayu menunggu senja, duduk di serambi gandok padepokan kecilnya, maka Ki Waskita pun mendekatinya. Sejenak mereka berbincang mengenai sawah dan ladang. Namun percakapan itu pun kemudian semakin menjurus pada maksud Ki Waskita.

“Aku akan mengajakmu barang satu dua pekan,” berkata Ki Waskita.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah guru akan mengijinkan?”

“Aku sudah berbicara dengan gurumu,” jawab Ki Waskita, “aku bermaksud menunjukkan kepadamu sesuatu yang barangkali penting bagimu. Bagi bekal hidupmu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Waskita berkata selanjutnya, “Ternyata bahwa duniamu untuk sementara memang menjadi buram karena dendam dan kebencian. Yang terjadi adalah diluar kehendakmu dan diluar kuasamu untuk menolak.”

“Ya Ki Waskita,” Agung Sedayu menundukkan kepalanya.

“Dendam itu selalu membayangimu, sebagaimana membayangi Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa.” Ki Waskita berhenti sejenak, lalu. “namun mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang pilih tanding.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia menyadari bahwa Ki Waskita bukannya tidak mempunyai maksud tertentu dengan kata-katanya itu. Sebagai seorang perasa Agung Sedayu pun segera menangkap, bahwa Ki Waskita bermaksud mengatakan kepadanya, agar ia mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan dengan memperdalam ilmunya, sehingga setidak-tidaknya tidak terpaut terlalu banyak dari kedua orang anak muda itu.

Sebenarnya bahwa Agung Sedayu tidak dapat menjajagi. betapa tingginya ilmu Raden Sutawijaya. Ia adalah seorang anak muda yang terlalu sering mesu diri. menempa ilmunya sehingga melampaui kebanyakan orang.

Sedangkan Pangeran Benawa adalah seorang anak muda yang ajaib. Yang terlempar dari dunianya oleh kekecewaan yang mendalam. Namun ia adalah seorang anak muda yang memiliki ilmu tiada taranya. Agung Sedayu sendiri telah menyaksikan, bagaimana Pangeran Benawa pernah membunuh dua bersaudara dari Pesisir Endut.

Diluar sadarnya Agung Sedayu telah melihat ke dirinya sendiri. Yang terakhir ia telah bertempur melawan saudara dari kedua kakak beradik dari Pesisir Endut yang telah dibunuh oleh Pangeran Benawa.

“Apakah dengan demikian, aku sudah pantas menyejajarkan diri disamping kedua anak muda itu?” pertanyaan itu tiba-tiba saja telah tumbuh dihatinya.

Sebuah kebanggaan memang membersit dihatinya. Bagaimanapun juga Agung Sedayu adalah seorang yang dikehendaki atau tidak, telah sering terlibat dalam pertempuran melawan orang-orang berilmu tinggi. Karena itulah, maka kemampuan dan tingkat ilmu kanuragan masih juga merupakan kebanggaan baginya.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja terkilas wajah Rudita. Wajah yang jernih dan cerah. Secerah wajah-wajah anak-anak yang sama sekali tidak tersentuh noda-noda hitamnya kehidupan.

“Ah,” tiba-tiba saja Agung Sedayu berdesah. Namun ia telah terperosok jauh kedalam lingkaran dendam kebencian yang seakan-akan tidak berujung dan berpangkal seperti sebuah lingkaran.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam ketika Ki Waskita bertanya, “Apakah kau siap untuk berangkat dalam waktu dekat?”

Sejenak Agung Sedayu berpikir. Jawabnya kemudian, “Aku siap Ki Waskita. Tetapi bagaimana dengan Glagah Putih, aku kira ia ingin sekali untuk ikut serta dalam perjalanan ini. Setiap kali ia selalu minta agar ia diijinkan untuk ikut dalam setiap perjalanan.”

Ki Waskita mengangguk-angguk, “Bagaimana dengan kau? Jika kau tidak berkeberatan, akupun tidak berkeberatan. Selebihnya, bagaimana dengan Ki Widura.

Agung Sedayu termenung sejenak. Memang ada keinginannya untuk mengajak adik sepupunya itu. Perjalanan yang agak panjang akan membuatnya mengenal lingkungan yang lebih luas. Namun dengan demikian, ia mempunyai pertanggungan jawab yang lebih berat. Glagah Putih sendiri adalah seorang anak muda yang baru dalam olah kanuragan. Meskipun ia memiliki dasar yang baik, tetapi yang sudah diserapnya masih belum terlalu banyak.

“Aku akan minta pertimbangan guru dan paman Widura,” berkata Agung Sedayu kemudian, “jika keduanya tidak mengijinkan, maka aku tidak akan membawanya meskipun ia minta.”

“Baiklah, mintalah petunjuk-petunjuk mereka. Kita akan berangkat besok pagi.”

“Besok pagi,” Agung Sedayu mengulangi, “begitu cepat?”

“Aku sudah terlalu lama disini.”

“Baiklah Ki Waskita. Aku juga akan minta diri kepada Sabungsari agar ia tidak kecewa bahwa ia tidak dapat menjumpai aku jika ia datang kemari. Apalagi jika aku pergi bersama Glagah Putih.”

Tiba-tiba saja wajah Ki Waskita menjadi buram. Sekilas terbayang kembali isyarat yang pernah dilihatnya tentang anak muda yang bernama Sabungsari itu. Namun yang akhirnya diragukannya sendiri.

Meskipun demikian, Ki Waskita itu pun berkata, “Aku kira tidak perlu Agung Sedayu. Biarlah Kiai Gringsing atau Ki Widura mengatakan kepadanya, bahwa kau sedang menempuh suatu perjalanan. Aku pun tidak sependapat jika mereka yang tinggal akan memberitahukan, kemana kau pergi untuk satu dua pekan mendatang.”

“Kenapa?” Agung Sedayu menjadi heran, “ia sering datang ke padepokan ini. Sikapnya selama ini baik kepadaku dan kepada Glagah Putih.”

adbm 118-02“Agung Sedayu,” berkata Ki Waskita bersungguh-sungguh, “jika aku ingin mengajakmu pergi untuk satu dua pekan itu tentu aku mempunyai maksud tertentu. Aku kira kau sudah mengerti. Karena itu. maka kepergianmu sebaiknya tidak perlu diketahui oleh orang-orang yang tidak berkepentingan meskipun ia sahabat baik bagimu.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Ia tidak mengerti maksud Ki Waskita.

Karena itu, maka Ki Waskita yang melihat keragu-raguan diwajah Agung Sedayu mencoba menjelaskan, “Agung Sedayu. Biarlah kepergianmu kali ini merupakan persoalan perguruanmu, bahkan lebih sempit lagi, karena aku dan juga Kiai Gringsing tidak menyertakan saudara seperguruanmu sendiri. Bahkan aku berniat untuk tidak memberitahukan hal ini kepada siapapun juga selain kau sendiri dan jika dikehendaki dan diijinkan, Glagah Putih.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Sebenarnya ia merasa kecewa bahwa ia tidak diperbolehkan untuk minta diri kepada sahabatnya yang dianggapnya seorang anak muda yang baik, yang memerlukan seseorang untuk mengisi kekosongan hidupnya, karena ia telah menjadi jemu kepada lingkungannya.

Namun Agung Sedayu pun tidak dapat melanggar pesan Ki Waskita. Ia sadar, bahwa niat Ki Waskita membawanya tentu ada hubungannya dengan perkembangan terakhir yang terjadi atas dirinya.

“Nah, mulailah mempersiapkan diri. Katakan kepada gurumu, kepada pamanmu dan kepada Glagah Putih. Jangan kau ajak anak itu jika ia tidak menyatakan atas kehendaknya sendiri. Baru kemudian ia harus minta diri kepada ayahnya dan persetujuan Kiai Gringsing.”

Agung Sedayu pun kemudian bangkit dan melangkah mencari gurunya untuk minta pertimbangannya.

Tidak banyak persoalan yang dihadapi Agung Sedayu dari gurunya, karena ternyata Kiai Gringsing telah mengetahui segala-galanya. Kiai Gringsing hanya memberikan beberapa pesan, bahwa perjalanannya itu bukan perjalanan tamasya.

Ketika Agung Sedayu menyinggung Glagah Putih, maka Kiai Gringsing berkata, “Kau harus minta ijin pamanmu Widura. Tetapi jika anak itu tidak berkeras untuk ikut, biarlah ia tinggal bersama kami dipadepokan ini.”

Agung Sedayu mengangguk. Ia menjadi ragu-ragu menghadapi Glagah Putih. Sebenarnya ia ingin juga seorang kawan di perjalanan pulang untuk kawan berbincang. Namun jika Glagah Putih ikut bersamanya, maka ia akan berada dibawah tanggung jawabnya.

“Aku kira tidak akan banyak rintangan di sepanjang jalan,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri. Namun ketika teringat olehnya dendam yang sudah dinyalakannya dimana-mana, maka ia menjadi bimbang.

Hampir diluar sadarnya ketika Agung Sedayu justru menyampaikan niatnya untuk pergi bersama Ki Waskita lebih dahulu kepada Glagah Putih sebelum ia bertemu dengan pamannya, Ki Widura.

Seperti yang diduganya, dengan serta merta Glagah Putih berkata, “Aku ikut dengan kakang. Kali ini harus.”

“Siapa yang mengharuskan Glagah Putih?” bertanya Agung Sedayu.

Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Jawabnya, “Aku. Aku yang mengharuskan aku sendiri untuk ikut.”

“Jika aku berkeberatan.”

“Terserah kepada kakang Agung Sedayu. Tetapi aku akan mengikuti kemana saja kakang pergi. Aku ingin sekali melihat-lihat daerah yang agak jauh.”

Agung Sedayu memandangi wajah adiknya yang nampak bersungguh-sungguh. Anak itu tentu akan sangat kecewa jika kali ini ia tidak diijinkan untuk ikut pergi bersamanya.

Karena itu, maka Agung Sedayu berkata, “Glagah Putih. Semuanya tergantung kepada paman Widura. Jika paman mengijinkan, akupun tidak berkeberatan. Tetapi kau harus menyadari, bahwa mungkin perjalanan yang nampaknya akan menyenangkan itu akan menjadi perjalanan yang berat. Di perjalanan pulang, kita hanya akan berdua saja. Kau harus menyadari, apa yang pernah terjadi atas kita. Terutama atas aku sendiri.”

Glagah Pulih mengangguk-angguk. Katanya, “Dimanapun akan sama saja bahayanya. Jika orang-orang berniat buruk, maka ia dapat menyergap kita bukan saja di perjalanan, tetapi dapat dilakukan di sawah, di ladang atau di pategalan. Saat-saat kita menunggui sawah atau saat-saat kita memetik buah-buahan.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk pula. Apalagi ketika Glagah Putih berkata, “Justru di padepokan ini mereka akan dapat segera menemukan kita. Agak berbeda dengan di perjalanan, karena kita dalam keadaan bergerak.”

“Baiklah,” berkata Agung Sedayu, “aku akan menemui paman Widura. Semuanya terserah kepada paman.”

“Aku ikut menemui ayah agar aku dapat menjelaskan kepada ayah, bahwa aku bukan kanak-kanak lagi.”

Agung Sedayu tidak dapat menolak. Berdua mereka mencari Ki Widura untuk menyampaikan maksudnya.

Ketika Ki Widura mendengar rencana kepergian Agung Sedayu yang akan diikuti oleh Glagah Putih, maka Ki Widura hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti kepentingan kepergian Agung Sedayu. Namun nampaknya Glagah Putih benar-benar ingin ikut bersamanya.

“Perjalanan itu bukannya perjalanan untuk sekedar menengok sanak kadang,” berkata Ki Widura, “seandainya demikian pun, maka kau harus mengetahui Glagah Putih, bahwa banyak hal yang dapat terjadi di perjalanan.”

 “Aku mengerti ayah. Banyak orang yang tidak senang terhadap kakang Agung Sedayu, karena kakang Agung Sedayu mereka anggap selalu merintangi maksud-maksud buruk mereka. Tetapi aku pun tahu, bahwa dimanapun juga, bahaya itu akan dapat menerkam kita.”

Ki Widura ternyata tidak dapat mencegah Glagah Putih. Setiap usahanya untuk menahan agar Glagah Putih tetap tinggal dipadepokan, ada saja dalih yang dapat diberikan oleh anak itu.

“Glagah Putih,” berkata Ki Widura kemudian, “jika kau memang sudah menyadari bahwa perjalanan itu merupakan perjalanan yang berat, maka terserahlah kepadamu untuk menentukan.”

“Aku akan pergi ayah,” berkata Glagah Putih dengan pasti.

Ki Widura hanya dapat mengangguk-angguk sambil berkata, “Tetapi berhati-hatilah di perjalanan. Perjalanan kalian adalah perjalanan yang banyak mengandung kemungkinan. Saat kalian berangkat, maka kalian akan bersama dengan Ki Waskita. Tetapi di perjalanan kembali kepadepokan ini, kalian hanya akan berdua saja.”

“Tidak apa-apa ayah,” jawab Glagah Putih dengan serta merta.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti maksud Ki Widura yang memperingatkannya, bahwa banyak persoalan yang sedang dihadapi oleh Agung Sedayu. Sekilas terbayang orang dari Pesisir Endut yang menuntut kematian kedua saudaranya, bukan kepada Pangeran Benawa, tetapi justru kepadanya. Teringat pula oleh Agung Sedayu, beberapa orang yang mencarinya dan menyusulnya sampai ke Mataram.

Karena itu, maka agaknya benar pesan Ki Waskita, untuk tidak mengatakan kepada siapapun, kemana ia akan pergi. Juga kepada Siabungsari, karena mungkin sekali Sabungsari akan men-ceriterakan kepada orang-orang lain yang akhirnya sampai ke telinga orang-orang yang mendendamnya.

Agaknya setelah Ki Widura tidak dapat menahan Glagah Putih, tidak ada lagi yang akan dibicarakannya. Yang dilakukan oleh Agung Sedayu dan Glagah Putih kemudian adalah mempersiapkan diri untuk satu perjalanan yang cukup panjang bagi Glagah Pulih, namun cukup mengandung banyak kemungkinan bagi Agung Sedayu.

Dimalam hari menjelang keberangkatan Ki Waskita bersama Agung Sedayu dan Glagah Putih, orang-orang tua di padepokan kecil itu masih sempat untuk berbicara tentang beberapa hal. Tentang masa depan dan tentang perkembangan keadaan.

Ketika malam itu Sabungsari datang berkunjung ke padepokan kecil itu. Agung Sedayu sama sekali tidak mengatakan bahwa besok pagi-pagi ia akan pergi bersama Ki Waskita. Glagah Putih pun telah dipesannya pula untuk tidak mengatakan apapun juga tentang rencana kepergian mereka.

Karena itu, maka Sabungsari sama sekali tidak mengira, bahwa Agung Sedayu akan meninggalkan padepokan itu untuk beberapa hari lamanya.

Demikianlah ketika matahari terbit di pagi hari berikutnya, maka tiga ekor kuda telah siap menempuh perjalanan. Mereka membawa sedikit bekal di perjalanan. Meskipun perjalanan itu bukannya perjalanan yang sangat panjang, tetapi bagi Glagah Putih akan merupakan pengalaman baru disaat-saat umurnya menjelang dewasa.

Kiai Gringsing dan Ki Widura mengantar mereka sampai keregol halaman. Kemudian melepas mereka pergi dengan berat hati. Terutama karena Glagah Putih ikut bersama mereka.

Tetapi mereka tidak dapat menganggap Glagah Putih sebagai kanak-kanak untuk seterusnya dan membiarkannya selalu berada di dalam pengawasan orang tua. Pada suatu saat ia harus merintis jalan bagi kedewasaannya. Bukan saja umurnya, tetapi juga sikap dan pandangan hidupnya.

Karena itu, maka betapapun beratnya. Glagah Putih dilepaskannya pula pergi bersama Agung Sedayu dan Ki Waskita, meskipun Ki Widura sadar, bahwa saat mereka kembali, maka Glagah Putih hanya akan dikawani oleh Agung Sedayu saja.

Demikianlah, maka sejenak kemudian ketiga ekor kuda itu pun telah berderap menyusuri jalan-jalan bulak yang panjang. Dalam cahaya matahari pagi, udara merasa segar menyusup sampai ketulang.

Di perjalanan itu Glagah Putih nampak gembira sekali. Kudanya kadang-kadang berlari mendahului Agung Sedayu dan Ki Waskita. Namun kemudian di tengah-tengah bulak ia berhenti untuk menunggu.

Tidak ada hambatan apapun pada saat mereka berangkat. Agar perjalanan mereka merupakan perjalanan yang terasa panjang, maka sengaja mereka tidak singgah di Mataram.

Ki Waskita dan Agung Sedayu ternyata dengan sengaja memberikan kesan perjalanan yang sebenarnya. Karena itu, maka mereka telah merencanakan untuk bermalam di perjalanan. Bermalam di perjalanan akan merupakan suatu pengalaman tersendiri meskipun jalan menuju ke Menoreh merupakan jalan yang ramai.

Tetapi Ki Waskita dan Agung Sedayu sengaja memilih tempat bermalam yang agak asing. Bukan di banjar-banjar Kademangan atau ditempat sanak-kadang yang dilalui di sepanjang perjalanan, tetapi Ki Waskita telah membawa Glagah Putih lewat jalan setapak yang melewati tepi hutan dilereng Gunung Merapi.

—- > Bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.