• Kalender

    April 2014
    M T W T F S S
    « Oct    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  
  • Statistik Blog

    • 324,240 kunjungan
  • Komentar

    There are no public comments available to display.
  • Archives

ADBM3-270

<<kembali | lanjut >>

BAIK guru” jawab kedua orang muridnya hampir berbareng.

Demikianlah maka Ki Ajar Gurawa itu pun telah pergi ke Sumpyuh selagi masih sempat. Ternyata ia dapat bertemu dengan hampir semua orang-orang Gajah Liwung. Kecuali Mandira dan Naratama yang pergi ke pasar di Kotaraja dan belum kembali.

“Jika dua hari lagi aku datang kerumah Ki Rangga Ranawandawa, aku sangsi, apakah kita masih tetap dapat berhubungan.” berkata Ki Ajar.

“Nampaknya perintah yang akan datang menjadi sangat penting.” desis Ki Jayaraga.

“Ya. Sementara itu, salah seorang diantara mereka menyebut bahwa tujuh orang Rubah Hitam sudah ada di sarang” berkata Ki Ajar Gurawa.

Yang mendengarkan keterangan Ki Ajar itu mengangguk-angguk. Mereka itu merasakan bahwa yang akan dilakukan oleh gerombolan yang dipimpin oleh kedua Rangga itu adalah satu pekerjaan yang besar dan sangat penting, yang dapat ikut menentukan perkembangan Mataram selanjutnya. Bukan sekedar merampok disana-sini. Membuka perjudian, dan sabung ayam. Tetapi jauh lebih penting dari itu sehingga menyangkut tata pemerintahan.

“Jadi, apa yang dapat kami lakukan Ki Ajar?” bertanya Sabungsari.

“Satu-satunya langkah yang dapat diambil adalah-mengawasi rumah Ki Rangga Ranawandawa. Tetapi jangan sampai hal itu sempat diketahui oleh Ki Rangga dan orang-orangnya. Jika demikian, maka persoalannya akan menjadi semakin rumit.”

Sabungsari mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kami akan melakukannya.”

“Ya” sahut Ki Ajar, “meskipun aku belum pernah melihat ia berada diantara para pemimpin dan gerombolan itu.”

“Baiklah” Sabungsari mengangguk-angguk, “kita akan menugaskan dua orang diantara kita untuk mengawasi rumah itu. Sudah tentu tidak dimuka rumah Ki Rangga. Tetapi diujung-ujung jalan yang lewat dimuka rumah Ki Rangga.”

“Jangan terlalu dekat. Kecuali dimalam hari, itu pun jika kalian yakin bahwa kalian mendapat tempat bersembunyi yang sangat baik. Mungkin dihalaman rumah tetangga Ki Rangga. Agaknya Ki Rangga sama sekali tidak menaruh curiga sama sekali kepada tetangga-tetangganya bahwa mereka ingin tahu apa yang terjadi dihalaman rumah Ki Rangga. Tetapi letak rumahnya memang berbeda dengan rumah Ki Rangga Resapraja, yang berada diantara halaman dan rumah orang-orang terhormat. Tetapi rumah Ki Rangga Ranawandawa terletak diantara rumah-rumah orang kebanyakan, yang berhalaman luas, namun masih banyak yang liar.” berkata Ki Ajar Gurawa.

Sabungsari mengangguk-angguk. Ia sendiri sebenarnya ingin melakukannya sebagaimana Glagah Putih. Tetapi tentu pada satu kesempatan yang khusus, karena Podang Abang akan dapat hadir disetiap saat.”

Namun bagaimanapun juga mereka memang menghadapi kesulitan untuk membuat hubungan jika pada suatu saat untuk menjaga kerahasiaan rencana mereka Ki Ajar Gurawa dan kedua murid-muridnya tidak diperkenankan meninggalkan rumah Ki Rangga Ranawandawa.

Ki Ajar dan para anggauta Gajah Liwung itu pun kemudian menyusun berbagai kemungkinan yang dapat mereka lakukan untuk melakukan hubungan. Salah satu cara adalah dengan kidung macapat.

“Jika terdengar tembang Pocung, maka akan terjadi perampokan biasa. Jika tembang Dandanggula, yang akan terjadi adalah perampokan atau sergapan kerumah orang-orang penting. Jika tembang Durma, yang akan terjadi adalah serangan yang akan dapat mengguncangkan Mataram” berkata Ki Ajar Gurawa, “selebihnya, kami tidak dapat berbuat apa-apa.”

“Apakah tembang itu dapat terdengar dari luar halaman?” bertanya Sabungsari.

Ki Ajar Gurawa termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Dibelakang sanggar terbuka ada sebuah sumur disebelah pakiwan. Senggotnya akan dapat dilihat dari luar dinding di-sisi Timur. Tetapi aku tidak tahu, apakah yang ada dibalik dinding disisi Timur itu. Disetiap tengah malam, selama kami berada di rumah Ki Rangga Ranawandawa kami akan membuat isyarat dengan tembang. Tentu saja perlahan-lahan dan tidak menarik perhatian. Jika tidak terdengar apa-apa, maka berarti kami tidak tahu apa-apa tentang rencana yang bakal dilakukan oleh gerombolan itu.”

Para anggauta kelompok Gajah Liwung hanya dapat mengangguk-angguk saja. Tugas mereka menjadi semakin berat. Padahal menurut perintah Ki Wirayuda berdasarkan pesan dari Ki Patih Mandaraka, anggauta Gajah Liwung lah yang diserahi untuk melacak tugas yang telah dibebankan kepada Ki Ajar Gurawa. Ki Wirayuda sengaja tidak menyerahkan para petugas sandi, karena jika demikian maka Ki Rangga Resapraja akan dapat mengetahuinya.

Namun kemampuan mereka pun terbatas. Demikian pula kemampuan dan kesempatan Ki Ajar Gurawa. Betapapun tinggi kemampuannya, namun kemampuan itu tetap saja terbatas.

Meskipun demikian, mereka merasa berkewajiban untuk berusaha sebaik-baiknya, sejauh-jauh dapat dilakukan.

Demikianlah, maka Ki Ajar Gurawa pun telah minta diri. Ia tidak ingin terlalu lama meninggalkan rumahnya, meskipun ia telah memberikan alasan, bahwa ia masih mempunyai satu sasaran yang masih ingin diselesaikan.

Di hari berikutnya, maka segala sesuatunya telah dipersiapkan sebaik-baiknya. Mereka memusatkan perhatian mereka pada rumah Ki Rangga Ranawandawa dan sekitarnya. Sehari kemudian Ki Rangga Ranawandawa telah memanggil beberapa orang terpenting untuk berkumpul di rumahnya.

Namun seperti biasa, Ki Rangga berpesan, agar mereka berhati-hati memasuki regol halaman rumah Ki Rangga. Atau sebaiknya mereka masuk lewat regol samping dan butulan, karena ternyata disebelah Barat rumah Ki Rangga terdapat sebuah lorong kecil yang memisahkan halaman rumahnya dengan halaman tetangganya, dan tembus menyusup diantara halaman-halaman yang lain sampai ke jantung padukuhan.

Anggauta-anggauta kelompok Gajah Liwung ternyata juga bekerja cepat. Demikian Ki Rangga memberikan pesan, maka ia malam harinya, sebelum orang-orang yang dipanggil Ki Rangga berkumpul, maka orang-orang dari kelompok Gajah Liwung telah melihat-lihat keadaan. Memang bukan orang-orang yang mungkin dapat dikenali. Tetapi Rumeksa dan Pranawa lah yang harus mendahului mengamati kemungkinan yang dapat dilakukan oleh kelompok Gajah Liwung.

Ketika menjelang fajar keduanya telah berada kembali di sarang mereka, maka mereka pun telah memberikan laporan hasil perjalanan mereka.

“Ada kemungkinam untuk mendekati tempat itu.” berkata Rumeksa.

“Disiang hari?” bertanya Sabungsari.

“Tidak. Hanya dimalam hari. Memang harus sangat berhati-hati. Kami berdua telah melakukannya. Kami mencoba memasuki halaman rumah disebelah Timur rumah Ki Rangga. Kami memang dapat melihat senggot timba itu. Tetapi aku tidak yakin, bahwa kita akan dapat mendengar tembang yang dilagukan dari pakiwan didekat sumur itu.” berkata Rumeksa pula.

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa orang yang melagukan tembang dipakiwan tentu tidak akan terlalu keras. Mungkin saat menimba air. Apalagi ditengah malam

Namun dalam pada itu Ki Jayaraga pun berkata, “Aku memang tidak memiliki pendengaran setajam Agung Sedayu yang mempunyai Aji Sapta Pangrungu. Tetapi aku mempunyai kebiasaan untuk mendengarkan suara yang paling lemah sekalipun dengan mempergunakan Aji Pameling yang merupakan landasan dasar yang masih kasar dari Aji Sapta Pangrungu. Tetapi barangkali serba sedikit akan dapat membantu. Kecuali jika kita sempat memanggil Agung Sedayu dari Tanah Perdikan.”

“Kita akan kehilangan waktu” berkata Glagah Putih. “kita pun tidak tahu apakah kakang Agung Sedayu akan dapat begitu saja meninggalkan tugasnya yang tentu sudah lain dari saat kakang Agung Sedayu belum berada di barak Pasukan Khusus.

Jika demikian, kita akan menyerahkan tugas itu kepada Ki Jayaraga. Meskipun Podang Abang telah mengenal Ki Jayaraga, tetapi di malam hari, kita berharap akan dapat mencari kesempatan untuk dapat melakukannya.” berkata Sabungsari.

“Meskipun kita yakin, bahwa lingkungan disekitar rumah itu tentu diawasi. Tetapi jika tidak ada kecurigaan apa pun sebelumnya, maka pengawasannya tentu tidak akan terlalu ketat, karena tempat itu sudah dipergunakan sekian lama, namun tidak pernah disentuh oleh para petugas sandi” berkata Ki Jayaraga.

Yang lain mengangguk-angguk. Sebenarnyalah yang akan mereka lakukan adalah satu tugas yang sangat berbahaya.

Namun kelompok Gajah Liwung itu benar-benar telah bersiap lahir dan batinnya. Mereka akan berbuat apa saja yang dapat mereka lakukan untuk kepentingan tugas yang sudah mereka rintis itu.

Pada hari yang sudah ditentukan, maka beberapa orang telah berkumpul di rumah Ki Rangga. Tetapi ternyata tidak sebanyak yang diduga oleh Ki Ajar Gurawa. Hampir tidak ada perubahan sebagaimana beberapa hari yang lewat. Namun di hari itu, hadir yang disebut tujuh orang Rubah Hitam sebagaimana dikatakan oleh Truna Patrap.

Tujuh orang Rubah Hitam itu adalah tujuh orang yang berpakaian serba hitam dengan ikat kepala hitam pula. Berbaju hitam dengan lengan yang longgar besar sampai kebawah siku, bercelana hitam yang juga longgar sampai kebawah lutut, berkain hitam dengan ikat pinggang kulit yang juga berwarna hitam setebal hampir sejengkal. Semua membawa belati panjang dilambung kanan dan sebuah kapak kecil terselip pada ikat pinggangnya dibagian depan perutnya.

Ki Ajar Gurawa menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya tujuh orang Rubah Hitam itu merupakan kekuatan inti dari gerombolan itu.

“Kenapa gerombolan itu tidak menyebut dirinya Rubah Hitam saja daripada Gajah Liwung” berkata Ki Ajar didalam hatinya.

Ketika kemudian hari menjadi semakin malam, maka pertemuan itu pun segera dimulai. Ternyata malam itu hadir bukan saja Dipacala, Truna Patrap, Ki Rangga Ranawandawa, tetapi juga Ki Rangga Resapraja dan dua orang yang sebelumnya tidak pernah hadir ditempat itu. Orang itu adalah orang yang pernah diKenal oleh Ki Ajar Gurawa, namun belum mengenalnya. Podang Abang. Sedangkan seorang lagi nampaknya memang seorang prajurit. Tetapi bukan prajurit Mataram.

Ki Ajar Gurawa memang menjadi berdebar-debar. Ternyata gerombolan itu memiliki kekuatan yang cukup besar, karena Ki Ajar yakin, bahwa yang ada dirumah itu adalah pemimpin-pemimpinnya saja. Dibelakang mereka masih banyak terdapat orang-orang yang akan dapat digerakkan setiap saat.

Yang pertama-tama berbicara adalah Ki Rangga Resapraja. Dengan nada berat ia berkata, “Sejak saat ini, kalian tidak boleh meninggalkan tempat ini. Kalian harus selalu siap melakukan perintah kapan pun perintah itu diberikan.”

Ki ajar Gurawa menarik nafas dalam-dalam. Perintah itu ternyata benar-benar diberikan sehingga hubungannya dengan gerombolan Gajah Liwung menjadi semakin sulit.

Ki Rangga itu pun kemudian berkata pula, “Ki Podang Abang dan Ki Wanayasa akan memimpin langsung gerakan yang akan kita lakukan besok malam.”

Semua orang mendengarkan dengan seksama. Sementara itu Rangga Resapraja pun berkata selanjutnya, “Persoalan yang lebih jelas akan diberikan oleh Ki Wanayasa.”

Orang yang disebut Ki Wanayasa itu pun kemudian telah bangkit berdiri. Dipandanginya orang-orang yang ada di ruang yang agak luas dibagian belakang rumah Ki Rangga Ranawandawa itu. Seakan-akan ia ingin melihat setiap wajah seorang demi seorang. Sorot matanya memancar tajam, memancar-kan wibawa pribadinya.

“Sanak kadang yang ada disini” berkata orang itu, “aku berterima kasih atas kesediaan kalian bergabung dengan kami untuk satu tujuan yang besar. Aku tidak pernah menerima perintah dari Kangjeng Adipati di Pati. Tetapi darah pengabdianku telah memanggilku dan sanak kadang sekalian untuk berbuat lebih banyak sebelum Kangjeng Adipati sendiri melangkah.”

Orang itu berhenti sejenak. Lalu katanya, “Tetapi aku tidak yakin bahwa kalian semuanya tidak akan membuka rahasia tentang rencana kita besok. Bukan aku tidak percaya terhadap kalian, tetapi mungkin rahasia itu akan tersingkap diluar kesadaran kalian. Ketujuh orang Rubah Hitam akan mengawasi rumah ini. Tidak seorang pun akan dapat keluar dan tidak seorang pun akan dapat masuk. Hanya Dipacala yang besok pagi-pagi akan keluar dan mengatur barisan agar segala sesuatunya dapat berjalan lancar. Besok saat kita berangkat, aku akan memberitahukan kepada kalian, kemana kalian akan pergi. Dipacala tidak akan kembali lagi ke rumah ini bersama seluruh pasukannya. Besok sore ia akan datang untuk memberikan laporan apakah segala sesuatunya sudah siap.”

“Apakah aku diperkenankan membantu?” bertanya Truna Patrap.

“Selain Dipacala, tidak boleh keluar. Jika seseorang memaksa, maka ia akan dibunuh.” jawab Ki Wanayasa tegas.

Truna Patrap pun terdiam. Yang lain tidak ada pula yang bertanya.

Sementara itu Ki Wanayasa itu pun berkata, “Salah seorang sesepuh ada diantara kita. Ki Podang Abang akan menjadi inti kekuatan kita.”

“Tentu saja disamping Ki Wanayasa sendiri” desis Podang Abang.

Ki Wanayasa tersenyum. Katanya, “Ada bedanya antara aku dan Ki Podang Abang. Tetapi kami berdua sama-sama pembunuh di peperangan.”

Pertemuan itu pun kemudian diakhiri setelah orang-orang yang ada di tempat itu makan dan minum minuman panas. Sementara Ki Rangga Resapraja sempat mengancam, “Siapa mabuk akan aku bunuh.”

Orang-orang yang ada di ruang itu saling berpandangan. Bukankah mereka tidak akan mabuk sekedar minum wedang jae dengan gula kelapa?

Namun ternyata kemudian juga terdapat tuak. Tetapi memang hanya beberapa bumbung sehingga tidak akan dapat membuat mereka mabuk.

Dalam pada itu, maka disudut ruang itu Ki Ajar Gurawa sempat berbincang dengan kedua orang muridnya. Salah seorang dari antara mereka harus pergi ke pakiwan. Ia harus melagukan sebuah tembang macapat sebagaimana disepakati.

Pilihan mereka, tembang yang akan dilagukan adalah Durma. Yang memberikan isyarat keadaan paling gawat bagi Mataram. Namun mereka tidak dapat memberikan penjelasan, apa yang harus dilakukan untuk mengatasi kegawatan itu.

Ternyata Ki Ajar telah menunjuk muridnya yang tua untuk pergi ke pakiwan ditengahi malam. Ketika orang-orang masih sibuk minum tuak yang memang tidak terlalu banyak.

“Kemana?” bertanya salah seorang dari tujuh orang yang disebut Rubah Hitam itu.

“Aku akan mandi” Jawab murid Ki Ajar itu.

“Tengah malam begini pergi mandi?” orang itu memang curiga.

“Awasi aku jika kau tidak yakin” berkata murid Ki Ajar itu.

“Biarlah ia mandi” Ki Ajar tiba-tiba saja ikut berbicara, ”Jika ia tidak mandi, ia akan mabuk. Anak itu tentu tidak ingin dibunuh disini.”

Salah seorang dari ketujuh Rubah Hitam itu membiarkan murid Ki Ajar itu pergi ke pakiwan. Namun ia benar-benar telah mengawasinya dari kejauhan.

Ternyata bahwa jambangan di pakiwan itu tidak terisi penuh, sehingga karena itu, maka ia harus menimba lebih dahulu.

Ditengah malam itu terdengar senggol timba berderit. Tidak terlalu keras. Tetapi dalam kesenyapan malam, suaranya telah menggetarkan udara.

Sambil menimba air, maka murid Ki Ajar itu telah mengalunkan tembang Durma. Tidak terlalu keras, seakan-akan begitu saja terlontar dari mulutnya dengan ucapan yang tidak begitu jelas. Bahkan kadang-kadang yang terdengar hanya gumam lagunya saja.

Sebenarnyalah bahwa yang terpenting bagi murid Ki Ajar itu adalah lagunya saja. Durma.

Seorang diantara ketujuh orang Rubah Hitam yang mengawasinya itu sama sekali tidak menjadi curiga. Ia mengira bahwa murid Ki Ajar itu memang sudah mulai menjadi mabuk. Tetapi belum sampai kehilangan kesadaran, sehingga masih belum cukup alasan untuk menghukumnya.

Namun dalam pada itu, isyarat yang dilontarkan oleh murid Ki Ajar itu dapat tertangkap oleh telinga Ki Jayaraga. Agaknya pengamatan di rumah Ki Rangga Ranawandawa itu memang agak kurang ketat. Ki Podang Abang dan Ki Wanayasa sebagaimana Ki Rangga Resapraja dan Ki Rangga Ranawandawa terlalu yakin, bahwa pengamatan para petugas sandi Mataram tidak akan sampai pada rumah yang mereka pergunakan sebagai tempat berkumpul orang-orang terpenting dari gerombolan yang dikemudikan oleh Ki Rangga Resapraja itu. Apalagi Ki Rangga Resapraja sendiri menganggap bahwa pasukan sandi Mataram masih belum mencium kegiatan mereka, karena terbukti sama sekali tidak ada peningkatan pengamatan yang dilakukan oleh para petugas sandi Bahkan para petugas sandi seakan-akan justru tidak lagi berusaha untuk memecahkan perampokan yang terjadi beberapa kali di Mataram.

Dalam pada itu, isyarat yang dilontarkan dari dalam lingkungan dinding halaman rumah Ki Rangga Ranawandawa itu dengan cepat telah dibawa kepada semua anggota Gajah Liwung yang memang semuanya telah berada dibeberapa tempat didalam kota. Sabungsari sendiri danGlagah Putih telah berada di rumah Ki Wirayuda. Sementara itu, dua orang yang lain berada dirumah Lurah Branjangan. Dua orang yang mengamati jalan yang melintas didepan rumah Ki Rangga sedangkan yang lain termasuk Ki Jayaraga berusaha mendekati dinding halaman rumah Ki Rangga diarah senggot timba yang nampak dari luar halaman.

Sabungsari dan Glagah Putih yang malam itu juga mendapat laporan, segera memperbincangkannya dengan Ki Wirayuda.

“Nampaknya hal itu akan segera terjadi” berkata Sabungsari. Lalu katanya pula, “Dengan isyarat itu, maka Ki Ajar Gurawa dan kedua muridnya tidak akan dapat lagi keluar. Jika mereka masih mungkin keluar, maka besok pagi mereka tentu akan menghubungi salah seorang diantara kita di pasar.”

“Kita akan meyakinkan besok pagi-pagi. Jika tidak ada diantara kedua murid Ki Ajar yang menghubungi kita di pasar, maka biarlah aku segera memberikan laporan kepada Ki Patih berkata Ki Wirayuda.

Sebenarnyalah, ketika menjelang fajar, maka Rumeksa telah berada di pasar. Tetapi seperti yang telah diduga, tidak seorang pun diantara kedua murid Ki Ajar yang menemui mereka.

Dengan cepat masalah itu telah dibawa menghadap kepada Ki Patih Mandaraka. Ki Wirayuda pun melaporkan satu kemungkinan yang buruk bakal terjadi.

Ki Wirayuda yang menghadap Ki Patih menjadi heran, ketika Ki Patih kemudian berkata, “Aku sudah menduga.”

“Menduga apa Ki Patih?” bertanya Ki Wirayuda.

“Aku telah mendapat laporan tentang satu gerakan sandi” berkata Ki Patih Mandaraka.

“Laporan? Darimana?” bertanya Ki Wirayuda.

“Menurut laporan itu, akan ada gerakan kejahatan besar-besaran disekitar Plered. Demang Ngemplak atau Saudagar ternak di Ngebel disebut-sebut sebagai sasaran tugas utamanya. Karena itu diusulkan agar ada gerakan pasukan sandi ke daerah Plered dan sekitarnya, meliputi daerah Ngemplak dan Ngebel. Bahkan kesiagaan pasukan untuk meronda daerah yang luas sampai ke Barong, Bapang dan Jodog.” berkata Ki Patih Mandaraka.

“Siapakah yang memberikan laporan itu Ki Patih?” bertanya Ki Wirayuda pula.

“Apakah tidak ada seorang pun petugas sandi yang memberikan laporan semacam itu kepadamu?” bertanya Ki Wirayuda, ”bukankah daerah yang memerlukan perlindungan itu bukan hanya para penghuni di lingkungan dinding kota itu?

“Ya, ya Ki Patih” jawab Ki Wirayuda, ”tetapi tidak ada laporan seperti itu sampai kepadaku.”

Ki Patih tersenyum. Katanya, “Nah. marilah kita urai apa yang telah terjadi itu.”

Ki Wirayuda masih saja belum mengerti maksud Ki Patih Mandaraka. Karena itu, maka ia masih menunggu.

“Apakah kau sependapat dengan laporan tentang kemungkinan yang bakal terjadi di luar dinding kota itu?” bertanya Ki Patih Mandaraka.

“Seperti yang sudah aku katakan, aku belum mendapat laporan tentang hal itu.” berkata Ki Wirayuda meskipun terasa ragu.

“Seandainya hal ini kita sesuaikan dengan isyarat dari Ki Ajar Gurawa?” bertanya Ki Patih.

“Ki Patih” jawab Ki Wirayuda, “ketika mereka akan melakukan perampokan didalam lingkungan dinding kota, maka mereka tidak menjaga kerahasiaan gerakan seperti sekarang ini. Apalagi jika hal itu akan mereka lakukan diluar dinding kota. Mereka tentu tidak akan menjaga rahasia mereka lebih rapat dari rencana mereka merampok didaiam lingkungan dinding kota.”-

Ki Patih Mandaraka mengangguk-angguk. Katanya, ”Aku sependapat denganmu. Karena itu, maka laporan tentang kemungkinan terjadi perampokan besar-besaran di sekitar Plered itu masih diragukan kebenarannya. Tetapi aku anjurkan, agar digerakkan sekelompok petugas sandi untuk meronda di daerah itu.”

Ki Wirayuda mengerutkan keningnya. Dengan nada berat ia bertanya, “Jadi laporan itu kita anggap benar?”

“Perintahkan sekelompok pelugas sandi meronda daerah yang luas disekitar Plered seperti yang dilaporkan. Kemudian sekelompok lagi di daerah Ganjur, Barong, Bapang dan Jodog.” berkata Ki Patih Mandaraka, “mereka diijinkan untuk membunyikan isyarat jika memang terjadi sesuatu. Prajurit yang ada di Ganjur akan siap bergerak.”

“Prajurit berkuda?” bertanya Ki Wirayuda.

“Ya. Seorang petugas akan membawa perintahku ke Ganjur agar Senapati pasukan berkuda yang ada di Ganjur bersiap-siap.”jawab Ki Patih.

“Jadi kita tidak mengirimkan prajurit keluar?” bertanya Ki Wirayuda.

“Hanya para petugas sandi.” jawab Ki Patih, “meskipun jumlah prajurit berkuda di Ganjur kecil, tetapi untuk menghadapi sekelompok perampok, tentu akan dapat mengatasinya, karena orang-orang padukuhan tentu akan membantu jika mereka tahu kehadiran sekelompok prajurit betapapun kecilnya. Karena hati mereka akan menjadi besar sehingga keberanian mereka tergugah.”

Ki Wirayuda mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Ki Patih. Hamba akan memerintahkan dua kelompok petugas sandi untuk bergerak keluar lingkungan dinding kota.”

“Nah, sekarang tentang kemungkinan lain” Berkata Ki Patih Mandaraka kemudian.

“Aku masih belum begitu jelas tentang persoalan yang kita hadapi dalam keseluruhan. Tetapi apakah Ki Patih berkenan memberitahukan kepadaku, siapakah yang memberikan laporam tentang kemungkinan terjadi gerakan kejahatan besar-besaran diluar dinding kota itu?” bertanya Ki Wirayuda.

Ki Patih tertawa kecil. Katanya, “Ki Rangga Resapraja.”

“Ki Rangga Resapraja?” Ki Wirayuda terkejut.

“Ya. Kemarin Ki Rangga Resapraja menghubungi aku. Ia tidak pernah, atau jarang sekali datang menemuiku langsung dirumah ini. Biasanya ia menghubungi aku di paseban.” jawab Ki Patih. Katanya kemudian, “Tetapi kemarin Ki Rangga itu datang kepadaku dan memberikan laporan itu. Ia agak lama berada dirumah ini. Bahkan kemudian, ia minta ijin untuk pergi ke pakiwan sebentar. Ternyata dari pakiwan Ki Rangga telah singgah di gedogan untuk melihat-lihat kuda yang ada di gedogan. Baru kemudian ia kembali ke serambi.”

Ki Wirayuda termangu-mangu sejanak. Sementara Ki Patih berkata selanjutnya, “Ia akan datang pula hari ini untuk memberikan keterangan terakhir dari kemungkinan seperti yang dilaporkannya. Ki Rangga mengaku mendapat keterangan dari orang-orangnya yang khusus. Bahkan ia berkata bahwa ia kurang percaya kepada para petugas sandi yang mengamati keadaan karena mereka pada umumnya kurang tanggap pada keadaan.”

“Jadi hari ini Ki Rangga akan datang lagi?” bertanya Ki Wirayuda.

“Ya. Pagi ini.” berkata Ki Patih.

“Jika demikian, aku mohon diri Ki Patih. Nanti siang aku akan kembali lagi” berkata Ki Wirayuda.

“Kita tidak mempunyai banyak waktu lagi Wirayuda. Kau jangan pergi. Masuklah keruang dalam jika Ki Rangga nanti datang. Kita harus segera mengambil satu kesimpulan.” berkata Ki Patih.

Ki Wirayuda mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Ki Patih. Aku akan menunggu.”

“Bukankah satu hal yang agak aneh bahwa Ki Rangga Resapraja langsung menemui aku di rumah ini. sementara kita sudah tahu dimana ia berdiri. Tetapi sudah tentu Ki Rangga masih belum menyadari, bahwa hubungannya dengan Ki Rangga Ranawandawa dan gerombolan yang sedang dalam pengawasan itu sudah kita ketahui” berkata Ki Patih.

Ki Wirayuda mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya, “Jadi apa artinya dengan tugas yang harus aku berikan kepada kelompok-kelompok petugas sandi itu.?”

”Bukankah dengan demikian Ki Rangga Resapraja yakin bahwa rencananya tidak kita ketahui sehingga kita sangat percaya kepada laporannya?” jawab Ki Patih.

Ki Wirayuda mengangguk-angguk pula. Katanya, “Aku mengerti Ki Patih.”

Demikianlah setelah menunggu beberapa saat, maka Ki Rangga pun benar-benar datang menemui Ki Patih Mandaraka, sementara Ki Wirayuda telah berada diruang dalam.

Ki Rangga telah memperkuat laporannya dan memberitahukankan bahwa malam itu, para petugas sandi harus sudah melakukan tugasnya diluar dinding kota. Katanya, “Kita tidak boleh terlambat Ki Patih.”

“Ya. Aku akan mempertimbangkannya” jawab Ki Patih.

“Nampaknya para petugas sandi kurang tangkas melakukan tugas mereka, sehingga dalam lingkungan dinding kota pun telah terjadi perampokan-perampokan yang justru sampai saat ini masih belum terbongkar” berkata Ki Rangga.

“Baiklah. Aku sangat mempertimbangkan laporanmu.” jawab Ki Patih, “bahkan aku sangat berterima kasih kepadamu.”

Ki Rangga masih memberikan beberapa keterangan untuk memperkuat laporan yang sudah diberikannya sebelumnya.

Bahkan Ki Rangga Resapraja itu kemudian berkata, “Jika para prajurit sandi itu tidak digerakkan malam ini, agaknya kita tidak akan pernah sempat menangkap para perampok ini.”

Ki Patih mengangguk-angguk. Katanya, “Baik. Aku akan memberikan perintah.”

Janji itu telah membuat Ki Rangga Resapraja menjadi puas. Ia pun kemudian minta diri untuk melakukan tugasnya sehari-hari.

Sepeninggal Ki Rangga, maka Ki Patih telah memanggil Ki Wirayuda. Dengan tegas Ki Patih berkata, “Kau perintahkan dua kelompok prajurit sandi pergi ke tempat yang ditunjuk oleh Ki Rangga Resapraja. Perintah itu terbuka sehingga akan diketahui oleh Ki Rangga, Sebelum tengah hari semua anggauta kelompok Gajah Liwung harus sudah berada disini. Aku akan menempatkan kepercayaanku untuk menerima mereka. Mereka harus masuk melalui pintu butulan sebelah kiri. Jangan menarik perhatian. Karena itu, maka jangan lebih dari dua orang setiap kali datang.”

“Sebelum tengah hari?” bertanya Ki Wirayuda.

“Ya. Sesudah tengah hari, rumah ini tentu sudah berada dalam pengawasan Ki Rangga Resapraja.” berkata Ki Patih.

Ki Wirayuda tidak segera tahu keseluruhan rencana Ki Patih. Namun Ki Patih itu berkata, “Lakukan sekarang. Kita jangan kehilangan waktu. Perintahmu harus segera sampai kepada kedua kelompok prajurit sandi dan anggauta kelompok Gajah Liwung. Sebelum tengah hari, maka masih ada jalan yang akan dapat mereka tembus.”

Ki Wirayuda pun segera minta diri. Dengan cepat. Ki Wirayuda telah memberikan perintah kepada seorang perwira prajurit sandi sebagaimana diperintahkan oleh Ki Patih Mandaraka. Kemudian ia pun dengan cepat telah memberikan perintah kepada Sabungsari dan Glagah Putih yang masih ada dirumahnya.

“Apa maksud Ki Patih?” bertanya Sabungsari.

“Masih kurang jelas. Tetapi nanti Ki Patih akan menjelaskannya” sahut Ki Wirayuda.

Namun Ki Wirayuda memang tidak memberikan kesan kegiatan apa pun didalam lingkungan Kotaraja. Ia justru telah mengirimkan dua kelompok prajurit sandi untuk pergi keluar Kotaraja.

Perintah Ki Wirayuda itu ternyata memang sampai pula ketelinga Ki Rangga Resapraja. Sambil tertawa Ki Rangga Resapraja berkata kepada diri sendiri, “Alangkah bodohnya kekuatan sandi di Mataram, sehingga mereka tidak mencium gerakan yang demikian besarnya, yang akan mengguncang ketahanan jiwani orang-orang Mataram. Demikian saja mereka percaya dan mengirimkan orang-orang yang sebenarnya diperlukan malam ini di Kotaraja.”

Dengan demikian maka Ki Rangga Resapraja memang merasa bahwa rencananya masih belum diketahui oleh para petugas sandi di Mataram.

Ketika dua kelompok prajurit sandi dilepas untuk pergi keluar dinding Kotaraja dan akan berpangkal di Plered dan Jadog, serta membuat hubungan dengan pasukan berkuda yang kecil di Ganjur, maka Ki Rangga merasa bahwa rencananya akan berhasil.

Lewat senja, maka para pemimpin dari sekelompok orang yang telah menyusun satu rencana tertentu itu telah berkumpul lagi, sementara orang-orang yang ada dirumah Ki Rangga Ranawandawa sama sekali tidak boleh keluar dan dinding halaman rumah itu untuk menjaga agar rencana mereka benar-benar tetap rahasia.

Ki Rangga Resapraja, Ki Podang Abang dan Ki Wanayasa telah hadir diantara mereka disamping KI Rangga Ranawandawa dan Ki Dipacala yang akan melaporkan tugas yang dibebankan kepadanya.

Ketika malam menjadi semakin dalam, maka semua orang yang ada dirumah Ki Rangga Ranawandawa itu telah dikumpulkan. Diantara mreka terdapat ketujuh orang Rubah Hitam yang telah mengenakan pakaian mereka selengkapnya.

Dua orang diantaranya mereka melaporkan, bahwa mereka telah menjalankan tugas mereka mengamati rumah Ki Patih Mandaraka sejak lewat tengah hari.

“Tidak ada kegiatan yang nampak selain kegiatan sehari-hari. Tidak ada gerakan prajurit serta hal-hal lain yang dapat diartikan satu persiapan yang dilakukan secara khusus” lapor salah seorang dari kedua orang yang mendapat tugas untuk mengamati rumah Ki Patih itu.

Ki Ajar Gurawa menjadi berdebar-debar. Sementara itu Ki Dipacala pun telah melaporkan pula bahwa semua persiapan sudah mapan.

“Pasukan itu sudah siap untuk bergerak” berkata Ki Dipacala.

“Baik” berkata Ki Wanayasa, “jika demikian, maka kita akan melakukannya. Keseluruhan gerakan ini akan dipimpin oleh Ki Rangga Resapraja yang telah mengetahui seluk-beluk sasaran lebih baik dari aku.”

Ki Rangga Resapraja itu pun kemudian berkata, “Malam ini, kita akan merampok sebuah rumah yang tidak tanggung-tanggung. Bukan saja harta benda yang ada di rumah itu.Tetapi justru jiwanya sangat kita perlukan. Kita akan memasuki rumah Ki Patih Mandaraka, dan membunuhnya.”

Memang mengejutkan. Ki Ajar yang gelisah, telah terkejut mendengar perintah itu.

Sementara itu Ki Rangga Resapraja berkata selanjutnya, “Sebenarnyalah kekuatan Mataram ada di kepala Ki Patih Mandaraka. Panembahan Senapati memang seorang yang pilih tanding. Tetapi tanpa Ki Patih, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sejak masa pemerintahan Kangjeng Sultan Hadiwijaya di Pajang, maka Ki Patih Mandaraka yang masih bernama Ki Juru Martani telah memegang peranan yang penting. Gugurnya Harya Penangsang oleh Danang Sutawijaya yang sekarang bergelar Senapati Ing Ngalaga itu juga karena otak Ki Juru Martani. Karena itu. maka Ki Patih Mandaraka harus kita musnahkan lebih dahulu. Jika demikian, maka pada saatnya Pati datang ke Mataram, kekuatan Mataram akan tidak sesulit memijit buah ranti.”

Orang-orang yang ada di rumah Ki Rangga Ranawandawa itu mengangguk-angguk. Demikian pula ketujuh orang Rubah Hitam yang telah dipersiapkan menjadi inti kekuatan dan segerombolan orang yang akan menyerang istana kepatihan itu -

Ki Ajar Gurawa memang menjadi gelisah, ia yang lewat muridnya yang tertua telah memberikan isyarat kepada .mggaula Gajah Liwung bahwa akan ada gerakan yang dapat mengguncang Mataram, namun sasarannya tidak dapat disebut Ki Patih Mandaraka.

Namun memang tidak ada kesempatan untuk berbuat begitu. Gerombolan itu tentu akan berangkat sebelum tengah malam. Mudah-mudahan isyarat yang kemarin malam diberikan dapat ditangkap oleh orang-orang Gajah Liwung, sehingga Ki Wuayuda telah membuat persiapan-persiapan yang lebih baik diseluruh kota. Sehingga mereka akan dapat melihat gerakan yang besar ini.” berkata Ki Ajar Gurawa kepada kedua orang muridnya.

Tetapi Ki Ajar tidak tahu bahwa dua kelompok prajurit sandi justru telah dikirim keluar Kotaraja untuk mengamati daerah Plered dan Jodog dan sekitarnya.

Namun dalam pada itu, ketajaman panggraita Ki Patih Mandaraka telah membawanya kedalam satu keputusan untuk memanggil semua orang anggauta Gajah Liwung. Kehadiran Ki Rangga Resapraja di Kepatihan. Bahkan Ki Rangga telah pergi ke pakiwan dan melihat-lihat gedogan serta usaha yang keras dari Ki Rangga untuk memberikan kesan, seakan akan telah terjadi gerakan diluar Kotaraja, telah membuat Ki Patih menghubungkannya dengan laporan yang diberikan oleh anggauta Gajah Liwung berdasarkan atas isyarat dari Ki Ajar Gurawa. Ketajaman kemampuan mengurai perkembangan keadaan serta unsur-unsur persoalan yang saling bertautan itu, maka Ki Patih Mandaraka berkesimpulan bahwa sasaran utama malam itu adalah istana Kepatihan itu sendiri.

Meskipun demikian, atas perintah Ki Patih Mandaraka, Ki Wirayuda juga menugaskan beberapa orang petugas sandi yang tersisa secara khusus mengawasi istana PanembahanSenapati. Sementara Panembahan Senapati yang sebenarnya telah mendapat laporan dari Ki Patih telah memberikan perintah-perintah khusus pula yang tidak menarik perhatian kepada para pemimpin prajurit pengawal serta para pemimpin pelayan dalam yang bertugas. Namun perintah itu pun diberikan setelah malam turun menyelimuti Mataram, sehingga tidak merambat sampai ke telinga Ki Rangga Resapraja.

Namun dalam pada itu, di istana Kepatihan peningkatan pengawasan pun tidak dilakukan dengan terbuka. Tetapi sebenarnyalah Ki Wirayuda sendiri telah mengatur para pengawal yang ada di istana untuk mengawasi setiap jengkal dinding istana Kepatihan. Bahkan Ki Wirayuda telah memanggil semua orang laki-laki yang ada di lingkungan dinding halaman istana Kepatihan untuk mempersiapkan senjata. Para juru masak, gamel, pekatik, juru taman dan para pelayan.

“Kalian harus membantu para prajurit untuk menghadapi segala kemungkinan” berkata Ki Wirayuda.

Orang-orang itu pun mengangguk-angguk. Meskipun mereka bukan prajurit, tetapi kesetiaan mereka untuk mengabdi telah membuat mereka bersedia melakukan perintah Ki Wirayuda dengan dada tengadah.

Sementara itu, Ki Wirayuda telah memerintahkan pula sepuluh orang terbaik yang telah dipilihnya, diluar segala perintah yang telah dikeluarkannya hari itu. Sebelum tengah hari orang-orang itu pun telah berada di halaman Kepatihan tanpa mengetahui untuk apa mereka dipanggil seorang demi seorang sehingga mereka baru tahu bahwa mereka berjumlah sepuluh orang setelah mereka di halaman istana Kepatihan.

Ketika mereka mengerti apa yang harus mereka lakukan, maka perintah lain pun telah jatuh. Mereka tidak boleh keluar dari halaman istana Kepatihan.

Kepada sepuluh orang itu, Ki Wirayuda tidak memperKenalkan kedelapan orang anggauta kelompok Gajah Liwung sebagai anggauta kelompok itu. Tetapi mereka disebut sebagai abdi Kepatihan dari berbagai macam pekerjaan. Karena itu, maka delapan orang anggauta Gajah Liwung berada di antara para juru masak, gamel, pekatik, juru taman dan para abdi yang lain.

Para anggauta kelompok Gajah Liwung sama sekali tidak merasa tersinggung. Mereka menyadari, bahwa hal itu dilakukan oleh Ki Wirayuda dalam rangka tugasnya. Tugas sandi.

Bahkan Ki Jayaraga pun berada pula diantara mereka yang disebut sebagai abdi Kepatihan itu. Sambil tersenyum Ki Wirayuda justru berkata kepada Ki Jayaraga, “Jika kau merasa terlalu tua untuk terlibat dalam kemungkinan yang keras, maka sebaiknya kau bersembunyi saja.”

Teiapi Ki Jayaraga pun menjawab, “Ampun Ki Wirayuda. Meskipun sudah tua, aku ingin menunjukkan setia baktiku. Jika tidak sekarang, kapan hal itu dapat aku lakukan.”

“Bagus” desis Ki Wirayuda, “hati hatilah. Kau akan berada diantara tanaman yang kau pelihara disetiap hari. Jangan sampai terinjak oleh kaki orang-orang yang tidak sepantasnya memasuki halaman Kepatihan ini. Sebagai seorang juru taman kau tentu tidak akan merelakan pohon-pohon bunga itu menjadi rusak dan berpatahan -

”Tentu Ki Wirayuda” jawab Ki Jayaraga sambil mengangguk hormat.

Sabungsari dan anggauta-anggaula Gajah Liwung yang lain sempat tersenyum. Namun mereka tidak mengatakan sesuatu. Yang justru menjadi agak bingung adalah abdi kepatihan yang sebenarnya. Namun Ki Wirayuda sempat berbisik, “Mereka adalah abdi Kepatihan yang baru. Yang justru diterima saat keadaan menjadi gawat. Satu kesempatan bagi mereka untu mengalami pendadaran. Apakah mereka benar-benar setia dan dapat diterima mengabdi di Kepatihan.”

Para abdi yang lain hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi tidak seorang pun yang sempat bertanya, karena Ki Wirayuda pun kemudian telah membagi tugas mereka.”

Tetapi Ki Wirayuda sama sekali tidak menunjukkan kesiagaan itu. Para prajurit justru berada didalam istana Kepatihan. Hanya beberapa orang saja yang nampak bertugas dihalaman. Mereka berada di gardu dibelakang regol. Sedangkan hanya dua orang yang berdiri berjaga-jaga diregol induk halaman istana Kepatihan.

Satu-satunya perubahan yang nampak adalah, bahwa pintu regol induk halaman istana itu telah ditutup. Sedangkan pintu-pintu yang lain memang sudah menjadi kebiasaannya telah ditutup pula.

Sepuluh orang terpilih yang telah dipersiapkan oleh Ki Wirayuda telah mendapat petunjuk seluk beluk istana Kepatihan itu. Mereka berada disetiap pintu istana bersama beberapa orang prajurit yang memang bertugas di istana itu. Mereka harus menahan arus para penyerang. Jika terjadi pertempuran dipintu-pintu istana, maka para abdi itu akan terdapat delapan orang anggauta Gajah Liwung, Mereka masih mengharap bantuan Ki Ajar Gurawa dengan kedua orang muridnya.

Namun Ki Wirayuda yang memimpin langsung pertahanan di istana Kepatihan itu telah mengatakan kepada setiap orang di halaman istana itu, bahwa lawan jumlahnya tentu akan lebih banyak.

“Tetapi kita berharap bahwa kita akan dapat menghancurkan mereka” berkata Ki Wirayuda.

Sementara itu, Sabungsari, Glagah Putih dan Ki Jayaraga lelah sepakat untuk dengan cepat menyusul lawan mereka. Jika tidak demikian, maka pertahanan di Kepatihan itu akan mengalami kesulitan. Apalagi diantara mereka terdapat para abdi yang tidak terlatih, meskipun ada diantara mereka yang memang bekas prajurit memilih bekerja di Kepatihan dihari-hari menjelang usia tuanya.

Delapan orang anggauta Gajah Liwung itu telah menebar. Namun Sabungsari, Glagah Putih dan Ki Jayaraga masih berkumpul di dekat seketheng. Mereka harus dengan cepat menemukan orang-orang terpenting dari mereka yang datang menyerang. Jika tidak, maka korban tentu akan dengan cepat berjatuhan diantara para abdi kepatihan.

Malam pun semakin lama menjadi semakin dalam. Istana Kepatihan nampak sepi. Penghuninya seakan-akan telah lelap tertidur kecuali beberapa orang prajurit yang berada digardu dibelakang regol induk. Dua orang prajurit berdiri disebelah menyebelah regol. Untuk mengusir perasaan kantuk dan jemu, keduanya sering berjalan menyilang dan bertukar tempat sampai datang dua orang yang akan menggantikan mereka di giliran berikutnya. Sementara keduanya dapat beristirahat digardu bersama beberapa orang kawannya yang lain.

Namun para prajurit itu pun telah dibekali dengan kesiagaan sepenuhnya. Kemungkinan yang buruk dapat mengguncang halaman istana Kepatihan.

Sementara itu, jalan-jalan di Kotaraja telah menjadi sepi. Mataram seakan-akan telah tertidur pula. Beberapa buah oncor nampak berkeredipan. Namun sinarnya tidak cukup terang menggapai setiap jengkal jalan-jalan kota.

Diantara rimbunnya pepohonan dan kegelapan, maka nampak bayangan yang bergerak. Dari beberapa arah menyusup jalan-jalan yang sempit. Ternyata semuanya menuju ke istana Kepatihan.

Mereka adalah orang-orang yang telah terikat dalam satu rencana yang masak, memasuki istana Kepatihan. Mereka bukan saja akan merampok, tetapi mereka mendapat tugas terpenting, membunuh Ki Patih Mandaraka yang dianggap sebagai seorang yang memiliki otak cemerlang disamping Panembahan Senapati yang ilmunya tidak tertandingi. Namun tanpa Ki Patih, maka Panembahan Senapati tidak banyak dapat berbuat.

Sejalan dengan malam yang merayap semakin malam, maka orang-orang itu pun menjadi semakin dekat dengan istana Kepatihan. Ki Dipacala telah membagi orang-orangnya menjadi beberapa kelompok yang akan mendekati Kepatihan lewat lorong-lorong yang berbeda. Namun diantara mereka itu, maka beberapa orang yang dianggap orang-orang penting akan datang lewat bagian depan halaman Kepatihan.

Orang-orang terpenting itu antara lain adalah Ki Wanayasa, Ki Podang Abang, Ki Rangga Resapraja, Ki Rangga Ranawandawa, Ki Dipacala sendiri dan bersama dengan mereka adalah Ki Truna Patrap, Ki Kerta Dangsa dan kedua kemanakannya, serta ketujuh orang Rubah Hitam.

Ketika dua orang yang mendapat tugas untuk mendahului para pemimpin dari kelompok yang menyerang istana Kepatihan itu melihat regol halaman Kepatihan ditulup, maka mereka memang menjadi termangu-mangu sejenak.

“Kita laporkan saja kepada Ki Rangga Ranawandawa atau Ki Rangga Resapraja” berkata salah seorang dari kedua orang itu.

Ki Rangga Resapraja memang menjadi agak heran. Bahkan ia pun berdesis, “Apakah Kepatihan sudah bersiap-siap? Tetapi menurut perhitunganku, serta laporan yang aku terima, Ki Patih benar-benar telah mengikuti petunjukku. Telah dikirim dua kelompok petugas sandi keluar Kotaraja.”

“Tetapi bahwa pintu gerbang itu ditutup, memang merupakan satu kelainan dari kebiasaan” sahut Ki Rangga Ranawandawa.

“Kita akan membuktikan. Seseorang akan memanjat dinding dan melihat, apakah ada kesiagaan didalam halaman istana.” desis Ki Rangga Resapraja.

Yang mendapat tugas untuk melihat adalah Ki Dipacala sendiri disertai dua orang diantara ketujuh orang Rubah Hitam itu.

Sebenarnyalah, dibawah sebatang pohon yang rimbun yang tumbuh dekat dinding halaman, maka ketiga orang itu, dengan mempergunakan kemampuan mereka telah meloncat keatas dinding.

Namun Ki Dipacala itu menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak melihat kesiagaan apa pun didalam halaman. Bahkan yang dilihat adalah dua orang penjaga pintu gerbang yang terkantuk kantuk yang sekali-sekali berjalan saling menyilang untuk mencoba mengusir kantuk. Sementara kawan-kawannya duduk digardu sambil menguap. Dua orang diantara mereka bermain macanan disebelah gardu dan duduk di atas tikar.

Kepada yang ada di bawah Dipacala pun memberi isyarat bahwa tidak ada kegiatan apa pun di halaman Kepantihan.

Ki Podang Abang sendirilah yang kemudian meyakinkan, apakah di halaman itu benar-benar tidak ada persiapan apa pun. Bahkan bersama Ki Rangga Resapraja.

Sebenarnyalah, bahwa di halaman itu tidak ada persiapan sama sekali untuk menyongsong kedatangan orang-orang yang telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk merampok istana Kepatihan itu.

Namun mereka tidak menyadari, bahwa dibelakang setiap pintu istana Kepatihan telah bersiap orang-orang yang terpilih dan beberapa orang prajurit pengawal istana yang justru ditarik masuk kedalam. Sementara itu, di rumah-rumah para abdi dibelakang Kepatihan, telah bersiap para abdi serta kedelapan orang anggauta Gajah Liwung yang mengaku sebagai abdi Kepatihan itu pula. Sedangkan diregol dan digardu di halaman depan, terdapat pula beberapa orang prajurit yang nampaknya tidak bersiap-siap menghadapi serangan yang bakal datang. Namun sebenarnyalah mereka telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan berbagai jenis senjata. Bahkan didalam gardu itu terdapat beberapa buah busur dan anak panah. Lembing dan senjata-senjata yang lain, yang siap mereka pergunakan. Sedangkan jumlah prajurit yang ada di gardu memang tidak terlalu banyak. Namun mereka benar-benar dapat dipercaya.

Dalam pada itu, maka Ki Rangga Resapraja pun telah memberikan isyarat kepada para pemimpin yang lain bahwa mereka dapat memasuki halaman dengan hati-hati, sementara Ki Dipacala justru meloncat keluar untuk memberikan aba-aba kepada pasukannya yang tentu sudah mengepung istana itu dari berbagai penjuru.

Ki Jayaraga yang memiliki pendengaran yang sangat tajam mengetahui bahwa beberapa orang telah memasuki halaman. Karena itu, maka ia pun telah menarik tali yang memberikan isyarat kedalam istana, sehingga semua orang pun telah bersiap. Bahkan Ki Patih Mandaraka sendiri telah bersiap pula untuk menghadapi orang-orang yang akan memasuki istananya. Ki Patih yakin bahwa diantara orang-orang yang memasuki istananya itu tentu terdapat orang-orang yang berilmu tinggi yang merasa yakin akan dapat menyelesaikan Ki Patih itu sendiri.

Namun Ki Patih pun adalah seorang yang mumpuni, ia bukan saja orang yang berpikir jernih. Tetapi ia adalah seorang yang memiliki ilmu sangat tinggi sehingga pada suatu saat Panembahan Senapati telah menyerahkan anaknya yang tidak terkekang serta memiliki ilmu yang tidak dimengerti kepada Ki Patih Mandaraka. Namun di tangan Ki Patih Mandaraka, Raden Rangga, putera Panembahan Senapati itu menjadi lebih jinak, meskipun kadang-kadang masih juga lepas kendali.

Sementara itu, dua orang prajurit lelah mendapat perintah untuk memberitahukan kehadiran orang-orang yang akan menyerang istana Kepatihan itu kepada para prajurit yang ada di gardu.

Dengan seakan-akan tidak tahu menahu bahaya yang mengancam, maka dua orang begitu saja turun dari pendapa istana Kepatihan berjalan tanpa ragu-ragu menuju ke gardu dibelakang pintu gerbang.

Orang-orang yang sudah ada di halaman melihat kedua orang prajurit yang berjalan menuju ke gardu. Dengan demikian mereka menjadi semakin yakin, bahwa kedatangan mereka masih belum diketahui oleh para petugas di Kepatihan.

Para prajurit yang ada di gardu setelah mendapat pemberitahuan bahwa orang-orang yang mereka tunggu lelah benar-benar memasuki halaman, maka mereka pun segera bersiap-siap. Tetapi seperti yang sudah dipesankan, maka semuanya itu dilakukan dengan tidak memberikan kesan kesiagaan. Kedua orang yang ada di regol masih saja berdiri terkantuk-kantuk. Mereka berjalan menyilang untuk mengusir kantuk. Seorang dari kedua orang itu menguap.

Namun dalam pada itu, para prajurit yang berada didalam gardu, telah bersiap sepenuhnya. Mereka telah mengenakan senjata mereka. Bahkan ada diantara mereka yang lelah mempersiapkan busur dan anak panah.

Dalam pada itu, orang-orang yang telah berada dihalaman telah bergerak dengan diam-diam. Mereka telah membuka pintu-pintu butulan. Dengan demikian maka orang-orang yang mengepung istana Kepatihan itu telah memasuki halaman dar samping dan belakang.

Ki Rangga Resapraja, Ki Wanayasa dan Podang Abang serta orang-orang yang menyertainya merasa bahwa rencana mereka dapat berjalan dengan lancar. Semua orang yang mereka bawa telah berada di halaman Kepatihan. Dengan demikian maka mereka tidak memerlukan pintu gerbang didepan yang tertutup.

Ketika semuanya sudah dianggap mapan, maka isyarat pun telah diberikan. Dalam kegelapan malam itu telah terdengar suara burung kedasih ngelangut.

Isyarat pertama, merupakan satu peringatan agar semua orang telah berada ditempat yang telah ditentukan. Kemudian terdengar isyarat kedua. Semua orang bersiaga. Senjata dan kelengkapan harus sudah siap.

Para pemimpin dari gerombolan yang memasuki istana Kepatihan itu memang menjadi berdebar-debar. Mereka sudah membayangkan keberhasilan mereka. Di istana Kepatihan itu tentu terdapat harta benda yang tidak ternilai harganya. Pusaka-pusaka yang bertuah. Perhiasan dari emas dan perak. Permata dan batu-batu mulia. Namun lebih dari semua itu adalah nyawa Ki Patih Mandaraka sendiri.

Sejenak kemudian, maka terdengarlah isyarat ketiga, suara burung kedasih yang memecahkan kesepian malam itu merupakan perintah bagi setiap orang dalam gerombolan itu untuk menyerang memasuki istana Kepatihaa

Namun mereka terkejut ketika hampir berbareng dengan suara kedasih yang merupakan isyarat ketiga itu, terdengar pula suara burung hantu. Tidak hanya dari satu sumber. Tetapi dari beberapa sumber. Suara burung hantu itu terdengar sahut-menyahut dari rumah kerumah.

Ki Rangga Resapraja memang terkejut. Demikian pula beberapa orang pemimpin yang lain. Tetapi mereka tidak sempat berbuat sesuatu. Demikian isyarat ketiga itu berbunyi, maka orang-orangnya pun telah mulai bergerak.

Beberapa orang yang mendapat perintah untuk memasuki istana dari belakang pun telah berlari-lari menuju kepintu-pintu yang menghadap kebelakang. Demikian pula yang dari samping kanan dan kiri. Beberapa orang mendapat perintah untuk mengepung dan membatasi gerak para prajurit yang ada di gardu. Sementara para pemimpin akan memasuki istana lewat pintu depan.

Beberapa orang yang berusaha mengepung para prajurit yang ada digardu terkejut. Tiba-tiba dinding disisi gardu itu seakan-akan telah terbuka. Beberapa orang prajurit berloncatan keluar dari gardu dengan busur dan anak panah.

Prajurit-prajurit itu telah mendapat perintah untuk tidak menjadi ragu-ragu, Karena itu, maka demikian mereka menarik tali busur, mereka benar-benar telah membidik dada. Sehingga demikian anak panah mereka terlepas, maka seorang diantara mereka yang mengepung itu mengaduh tertahan dan kemudian terlempar jatuh.

Serangan itu memang tidak terduga-duga, sehingga dalam waktu singkat, beberapa orang telah benar-benar menjadi korban.

Namun yang lain segera menyesuaikan diri mereka. Orang-orang itu menjadi semakin menebar. Namun anak panah itu rasa-rasanya telah memburu kemana mereka bergeser.

Karena itu, maka mereka harus berusaha untuk menghindari anak panah yang meluncur itu, atau menangkisnya dengan senjata mereka.

Sementara itu, orang-orang dari kelompok Gajah Liwung pun telah keluar dari rumah-rumah para abdi. Mereka segera bergeser justru menyusup dibelakarg gerombolan yang telah menyerang istana itu. Mereka ternyata terlalu sibuk dengan usaha mereka memecahkan pintu sehingga tidak melihat kegiatan orang-orang yang telah menunggu mereka.

Dalam pada itu, beberapa orang anggauta Gajah Liwung telah berada di halaman depan. Mereka sempat melihat pertempuran antara beberapa orang penyerang dengan para prajurit yang semula berada di gardu. Namun ternyata para prajurit itu tidak sekedar menunggu. Tetapi mereka justru telah mendekat. Busur mereka masih saja terentang dan anak panah pun meluncur semakin deras. Bahkan beberapa orang telah melemparkan lembing-lembing kayu ber-bedor besi.

Para anggauta Gajah Liwung menganggap bahwa mereka akan dapat menyelesaikan pertempuran itu jika tidak ada perubahan sikap para penyerangnya.

Dengan demikian maka para anggauta Gajah Liwung itu pun telah memecah diri. Yang tetap berada dibagian depan adalah Ki Jayaraga, Sabungsari dan Glagah Putih. Mereka yakin bahwa orang-orang terpenting yang datang menyerang itu juga berada di-pintu depan.

Anggauta yang lain telah membaurkan diri dengan para abdi Kepatihan itu. Mereka memencar disekeliling istana. Mereka telah bersiap untuk menyerang para anggauta gerombolan itu dari punggung jika para prajurit telah memancing mereka dalam pertempuran.

Di beberapa sisi pintu memang lelah dipecahkan. Pintu samping istana yang menghadap ke longkangan kiri telah pecah. Namun demikian pintu terbuka, maka yang menghambur keluar adalah beberapa orang prajurit dengan senjata teracu. Demikian pula dua pintu yang lain. Sehingga pertempuran pun segera pecah.

Pada saat yang demikian, maka para abdi serta para anggauta kelompok Gajah Liwung telah menyerang mereka. Yang berada dipaling depan adalah para abdi Kepatihan yang pernah menjadi prajurit yang dihari tuanya ingin mengabdi di Kepatihan.

Dengan demikian maka halaman Kepatihan itu pun seakan-akan telah dibakar oleh pertempuran dibeberapa penjuru. Namun adalah diluar dugaan orang-orang yang datang menyerang, bahwa Kepatihan itu telah bersiaga sepenuhnya menerima kedatangan mereka. Apalagi ketika orang-orang itu telah mendapat serangan dari punggung. Meskipun yang datang menyerang itu para abdi, tetapi mereka benar-benar terkejut. Apalagi para abdi yang pernah menjadi prajurit. Meskipun pada umumnya mereka sudah berangkat menjadi tua, tetapi mereka masih memiliki ketangkasan seorang prajurit Mataram.

Dengan demikian maka perhatian mereka pun terpecah. Beberapa orang harus berpaling dan menghadapi para abdi. Tetapi jantung mereka berdegup keras, ketika ternyata diantara para abdi itu terdapat orang-orang yang tangkas mempermainkan senjata. Selain para bekas prajurit, maka ada diantara mereka adalah anggauta Gajah Liwung yang memang berbaur dengan para abdi.

Dengan demikian maka pertempuran itu pun menjadi semakin seru. Orang-orang yang menyerang istana Kepatihan itu mulai merasa terjebak. Namun dalam sekilas, mereka masih melihat bahwa jumlah mereka memang lebih banyak.

Namun demikian, jumlah para penyerang itu pun dengan cepat telah susut. Selain karena mereka terkejut, juga karena para prajurit dan para abdi Kepatihan benar-benar tidak ragu-ragu menjalankan perintah.

Di bagian depan, Ki Rangga Resapraja dan para pemimpin yang lain benar-benar merasa terjebak. Ternyata Ki Patih Mandaraka benar-benar seorang yang berotak cemerlang. Ia mampu membaca apa yang akan terjadi di Kepatihan itu meskipun isyarat yang diterimanya hanya sedikit sekali.

Dalam pada itu Ki Ajar Gurawa yang melihat kesiagaan di istana Kepatihan itu menarik nafas dalam-dalam. Agaknya isyarat telah sampai meskipun Ki Ajar Gurawa juga tidak tahu darimana Ki Patih dapat menduga bahwa serangan yang bakal datang tertuju ke istana Kepatihan.

Namun dalam pada itu, maka Ki Ajar pun dengan serta merta telah berlari ke halaman depan dibawah tangga pendapa. Selagi para pemimpin dari gerombolan yang menyerang itu berusaha untuk dengan cepat memasuki istana Kepatihan dan menyelesaikan Ki Patih Mandaraka dengan cepat bersama-sama, maka Ki Ajar itu pun telah berteriak, “He Podang Abang. Inilah aku. Ajar Gurawa yang selama ini hanya dapat mendengar namamu.”

Podang Abang berpaling. Ia melihat Ajar Gurawa dibawah cahaya lampu minyak sebagai seseorang yang disebut Kerta Dangsa. Namun dengan cepat Podang Abang pun menyadari bahwa orang itu tentu telah berkhianat.

Namun ia berkata, “jangan hiraukan orang itu. Pecahkan pintu. Jika kita bersama-sama menyerang Ki Patih Mandaraka dengan kemampuan ilmu kita masing-masing, maka Ki Patih tentu akan segera terbunuh. Baru kemudian, maka kita akan membantai semua orang yang telah mencoba menghalangi kita.”

Ki Rangga Resapraja mengangguk kecil. Namun ia pun telah membangunkan ilmunya. Dengan satu hentakan ilmu yang disalurkan lewat kedua telapak tangannya yang menghantam pintu, maka pintu itu pun telah pecah.

Beberapa orang menghambur masuk. Namun mereka terhenti ketika mereka melihat Ki Patih Mandaraka berdiri tegak diruang dalam disamping Ki Wirayuda yang telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Dengan suara yang agak serak Ki Patih Mandaraka menyapa mereka, “Selamat malam saudara-saudaraku. Aku sudah menunggu agak lama. Aku kira aku salah hitung dan perampokan itu benar-benar terjadi di sekitar Plered atau Jodog.”

Wajah Ki Rangga Resapraja menjadi panas. Namun ia berkata, “Baiklah Ki Patih. Aku dan kawan-kawanku harus mengakui betapa cemerlangnya otak Ki Patih. Meskipun demikian, sekarang aku datang bersama beberapa orang itu untuk membunuh Ki Patih Mandaraka. Mungkin pasukan Ki Patih yang berhasil menjebak kami akan dapat menahan kami beberapa lama. Tetapi Ki Patih tidak akan dapat bertahan sepenginang.”

“Aku tidak sendiri Ki Rangga” jawab Ki Patih, “kau sudah dengar suara Ki Ajar Gurawa di halaman? Ia adalah orang yang sangat aku percaya. Ia berhasil hadir didalam tubuh gerombolanmu sehingga karena itu, maka rencanamu kali ini dapat aku ketahui.”

“Itulah yang aku kagumi Ki Patih” berkata Ki Resapraja, “tetapi orang itu pun akan segera mati, karena bagi kami, hukuman yang paling sesuai bagi seorang pengkhianat adalah hukuman mati.

Namun tiba-tiba Ki Patih tertawa. Katanya, “Ia dapat dihukum mati jika ia terikat pada tiang pendapa. Tetapi ia masih tetap bebas. Dan ia memiliki ilmu yang sangat tinggi”

“Persetan. Bersedialah untuk mati Ki Patih,“ Podang Abang menjadi tidak telaten. Ia pun segera mempersiapkan diri untuk menyerang.

Tetapi Podang Abang itu terkejut. Yang juga masuk melalui pintu yang dirusak itu berkata dibelakangnya, “Apakah kau lupa akan janjimu Podang Abang. Kau tidak dapat bertempur melawan Ki Patih Mandaraka, karena jika demikian maka kau tentu akan mati karena ilmu Ki Patih tidak terlawan oleh siapa pun di Mataram. Mungkin Panembahan Senapati. Bukankah dengan demikian janji kita akan batal? Kita akan membuat satu penyelesaian yang paling manis bagi orang-orang tua.”

Podang Abang berpaling. Dengan kemarahan yang meledak ia menggeram, “Setan kau Jayaraga.”

Ki Jayaraga tertawa. Katanya, “Apakah kau masih seorang laki-laki seperti dahulu?”

“Ya” jawab Podang Abang singkat.

Sementara itu Ki Wanayasa berkata, “Baiklah. Lakukan apa yang akan kau lakukan Ki Podang Abang. Biarlah aku menyelesaikan Ki Patih Mandaraka.”

Podang Abang tidak menunggu lebih lama lagi. Katanya, ”Baiklah. Ternyata bahwa nasib Ki Patih masih cukup baik sekarang ini. Tetapi sebelum fajar, Ki Patih dan orang-orangnya tentu sudah disapu bersih dari Kepatihan. Biarlah aku membunuh Jayaraga itu dahulu. Nampaknya ia ingin memanfaatkan keadaan ini untuk menyelamatkan diri.”

Ki Jayaraga justru tertawa. Katanya, “Kenapa aku harus memanfaatkan satu keadaan untuk membebaskan diri? Aku hanya mencari kesempatan untuk dapat bertemu denganmu. Sebenarnya aku sudah melupakanmu. Tetapi kaulah yang mengungkit persoalan lama, sehingga aku harus menghadapimu lagi.”

“Cukup” geram Podang Abang, “kita akan turun kehalaman. Jangan menyesali nasibmu yang buruk Jayaraga.”

Podang Abang pun telah bergerak ke pintu. Jayaraga pun lelah mendahuluinya turun ke halaman. Sementara beberapa orang lain justru menyibak, memberikan jalan kepada kedua orang tua itu untuk membuat perhitungan.

Sementara itu Ki Patih Mandaraka pun bertanya kepada Ki Wanayasa, “Ki Sanak. Aku belum pernah melihatmu sebelumnya sebagaimana aku belum pernah bertemu dengan orang yang disebut Podang Abang itu.”

“Bagus Ki Patih” jawab Ki Wanayasa, “aku memang harus mengatakan bahwa langkah ini akulah yang bertanggung jawab sepenuhnya. Baru kemudian orang-orang lain yang datang bersamaku.”

“Karena itu, maka aku ingin tahu siapakah Ki Sanak itu. Seandainya aku tidak sempat melihat matahari terbit esok, maka aku sudah tahu, siapakah Ki Sanak sebenarnya.” desis Ki Patih Mandaraka.

“Baiklah Ki Patih” jawab Ki Wanayasa, “jika kau ingin tahu, aku adalah salah seorang guru Kangjeng Adipati Pati.”

Ki Patih mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi kau datang ke Mataram sebagai utusan Kangjeng Adipati?”

“Tidak. Aku datang atas kehendakku sendiri. Jika Kangjeng Adipati tahu bahwa aku telah membunuhmu malam ini, maka Kangjeng Adipati tentu akan marah kepadaku” jawab Ki Wanayasa. Lalu katanya, “Mungkin satu keinginan yang ngayawara bahwa seseorang ingin membunuh Ki Patih Mandaraka yang berilmu sangat tinggi. Tetapi ketahuilah Ki Patih. Ilmumu memang sangat tinggi dipandang oleh orang-orang Mataram. Tetapi tidak oleh orang-orang Pati yang bekerjasama dengan orang-orang dari Gunung Kendeng yang menjadi kecewa atas sikap Senapati di Madiun.”

Ki Patih Mandaraka mengangguk-angguk. Katanya, ”jika demikian, apakah Kangjeng Adipaii Pati benar-benar ingin bermusuhan dengan Mataram? Mudah-mudahan yang terjadi ini adalah satu langkah karena kebodohanmu saja, sehingga antara Mataram dan Pati tidak akan terjadi sesuatu.”

Ki Wanayasa mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Mudah-mudahan hanya karena kebodohanku. Tetapi aku sudah berterus-terang, bahwa Kangjeng Adipati Pati tidak memerintahkan aku membunuhmu Ki Patih. Jika aku melakukannya, sebenarnyalah karena aku ingin tahu, apakah benar orang-orang Mataram yang disebut berilmu tinggi itu mampu melindungi diri sendiri. Selebihnya, tanpa Ki Patih, maka Panembahan Senapati tidak akan dapat berbuat banyak. Seandainya Kangjeng Adipati kemudian benar-benar harus bertempur melawan Mataram, maka Mataram tidak akan mampu bertahan sepenginang. “Ki Patih Mandaraka tersenyum. Katanya, “Sebenarnya hal seperti ini tidak usah terjadi. Kita yang tua-tua ini harus berusaha untuk jika mungkin mencegah permusuhan diantara Mataram dan Pati. Kau barangkali mengetahui, siapakah orang tua Panembahan Senapati dan siapa pula orang tua Kangjeng Adipati Pati. Panembahan Senapati adalah anak Ki Gede Pemanahan. Sedang Kangjeng Adipati Pati adalah anak Ki Penjawi. Kedua-duanya adalah adik seperguruanku.”

Tiba-tiba Ki Wanayasa tertawa. Katanya, “Dalam ketakutan kau sempat mengenang orang tua Kangjeng Adipati Pati. Tetapi itu tidak ada artinya lagi, kau akan mati malam ini.”

Ki Patih Mandaraka mengerutkan dahinya. Sementara itu Ki Wanasaya pun telah bersiap pula. Namun dalam pada itu, Ki Rangga Ranawandawa berkata, “Biarlah aku selesaikan dahulu Wirayuda yang sombong ini. Selesaikan Ki Patih. Jika kalian belum berhasil dan Wirayuda ini sudah mati, aku akan melibatkan diri. Tetapi tikus ini tidak akan mengganggu lagi.”

“Cepat selesaikan orang itu” sahut Ki Rangga Resapraja. Lalu katanya, “sementara ini aku dan Ki Wanayasa akan menyelesaikan Ki Patih Mandaraka.”

Kedua orang itu pun segera bersiap. Ki Patih Mandaraka pun bergeser surut. Sedangkan Ki Wirayuda justru telah mengambil jarak.

Dalam pada itu, pertempuran telah berkobar disekitar istana Kepatihan. Para prajurit, sepuluh orang petugas sandi yang terpilih serta sebagian dari anggauta Gajah Liwung telah menyebar. Dari luar para abdi bertempur dengan garangnya menghadapi orang-orang yang datang menyerang istana itu. Meskipun jumlah para penyerang itu lebih banyak, namun mereka tidak segera menguasai medan.

Sementara itu, Ki Ajar Gurawa yang telah menyatakan dirinya itu, tiba-tiba saja telah dikepung oleh tiga orang dari antara tujuh orang Rubah Hitam. Kemudian dua orang diantara mereka telah menghadapi kedua orang yang dianggap kemanakan KiAjar Gurawa yang diKenal bernama Kerta Dangsa.

Namun dalam pada itu, Ki Jayaraga yang telah berhadapan dengan Podang Abang berkata lantang, “Maaf Ki Ajar Gurawa. Aku telah mengambil orang itu untuk aku jadikan kawan bermain, karena orang ini adalah sahabat lamaku yang telah beberapa lama ingin membuat penyelesaian.”

Ki Ajar Gurawa pun sempat menjawab, “Silahkan Ki Jayaraga. Ternyata aku harus menghadapi rubah-rubah yang nampaknya buas ini.”

“Diam kau pengkhianat” geram salah seorang dari Rubah Hitam itu, “kami sudah curiga sejak kemarin. Tetapi kau berhasil membius Ki Dipacala. Bahkan Ki Rangga berdua. Sekarang kau tidak akan mampu melepaskan diri dari hukuman yang paling pantas bagi seorang pengkhianat. Kulitmu akan terkelupas seperti sebuah pisang yang sudah dikuliti. Jika dalam keadaan demikian kau masih hidup, maka tubuhmu akan disiram dengan air garam.”

Tetapi Ki Ajar Gurawa tertawa. Katanya, “Darimana kau mendapatkan garam? Apakah kau sudah sampai ke dapur Kepatihan?”

Namun Ki Ajar itu terkejut. Tiba-tiba saja salah seorang dari Rubah Hitam itu telah menebarkan sejumput garam sambil berkata, “Kau jangan heran bahwa garam merupakan kelengkapan senjata kami.”

Ki Ajar termangu-mangu sejenak. Sebelum ia berkata sesuatu, salah seorang Rubah Hitam itu lebih dahulu menggeram, “Kau mulai ketakutan. Tetapi tidak ada jalan kembali. Seandainya kau berlutut dan mohon maaf sekalipun, semuanya sudah terlambat.”

Namun Ki Rangga justru tertawa lagi. Katanya, “Kau memang lucu. Rubah-rubah yang pernah aku lihat memang lucu.”

Ketiga orang Rubah Hitam itu menjadi sangat marah. Bagaimanapun jugamereka masih juga mempunyai perasaan, sehingga kata-kata Ki Ajar itu benar-benar menyinggung perasaan mereka.

Karena itu, maka tiba-tiba ketiganya telah berloncatan menempatkan dirinya diseputar Ki Ajar Gurawa.

Dengan tenang Ki Ajar menghadapi mereka bertiga. Namun Ki Ajar itu merasa bahwa lawannya bukan lawan yang dapat dianggap ringan.

Sejenak kemudian, Rubah Hitam itu pun mulai menyerang, sehingga pertempuran segera terjadi. Mereka berloncatan dengan tangan yang siap menerkam. Tiba-tiba saja Ki Ajar melihat kuku-kuku yang panjang dijari-jari ketiga orang lawannya itu.

Ki Ajar tidak sempat mengingat-ingat, apakah sejak ia melihat ketujuh orang Rubah Hitam itu, ditangannya sudah ada kuku-kukunya yang panjang seperti itu.

Namun kini Ki Ajar itu harus menghindari sentuhan kuku-kuku yang tentu akan dapat melukai kulitnya.

Ternyata Ki Ajar yang dikenal dengan nama Kerta Dangsa itu cukup tangkas. Meskipun ia harus melawan tiga orang terpilih dari gerombolan yang besar itu, namun Ki Ajar tidak segera kehabisan akal. Bahkan kecepatannya bergerak, kadang-kadang telah membuat lawan-lawannya menjadi kebingungan.

Kedua orang murid Ki Ajar itu masing-masing harus menghadapi seorang diantara Rubah Hitam itu.

Sementara itu dua orang dari ketujuh orang Rubah itu telah terhenti langkahnya, ketika tiba-tiba saja dua orang anak muda berdiri dihadapan mereka. Sabungsari dan Glagah Putih.

“Kita selesaikan dua orang ini lebih dahulu” berkata Sabungsari.

“Iblis kau. Siapa namamu?” geram salah seorang dari kedua orang Rubah Hitam itu.

“Sabungsari” jawab Sabungsari sambil melangkah mendekat, “siapa kau dalam pakaian yang aneh itu?”

“Kau yang dungu. Kami adalah dua diantara tujuh orang Rubah Hitam yang tidak pernah dapat dikalahkan” jawab seorang diantara keduanya.

Sabungsari tidak menjawab lagi. Namun kemudian katanya kepada Glagah Putih, “Marilah, cepat sedikit. Semakin sombong orang itu, semakin cepat saja kita selesaikan.”

Kedua Rubah Hitam itu menggeram. Tiba-tiba saja keduanya telah meloncat menerkam.

Sabungsari dan Glagah Putih telah siap menunggunya. Karena itu dengan cepat pula mereka menanggapi serangan kedua orang Rubah itu.

Betapapun garangnya Rubah Hitam itu, ternyata di arena pertempuran itu mereka semuanya telah tenggelam tanpa dapat menunjukkan kelebihan mereka sama sekali.

Dipacala yang mengatur orang-orangnya pun telah berada di halaman depan istana itu pula. Demikian pula dengan Truna Patrap. Mereka menjadi gelisah melihat ketujuh orang kebanggaan mereka sama sekali tidak berarti apa-apa.

Sebenarnyalah ketujuh Rubah Hitam itu tidak mampu berbuat apa-apa dihadapan orang-orang yang seakan-akan kebetulan saja mereka temui di arena pertempuran itu. Truna Patrap yang menjadi kurang sabar berkata kepada Dipacala, “Apakah kita akan berdiam diri saja dan sekedar mengelilingi istana ini.”

“Kita selesaikan kedua orang anak muda itu” berkata Dipacala.

Dipacala dan Truna Patrap pun segera mendekati Sabungsari dan Glagah Putih. Tetapi mereka tidak ingin bertempur bersama-sama dengan Rubah Hitam yang mempunyai gaya tersendiri itu. Karena itu, maka Dipacala pun berkata kepada Rubah Hitam yang kebetulan bertempur melawan Glagah Putih, “Bergabunglah dengan kawanmu. Kami akan menyelesaikan anak ini. Nampaknya anak ini memiliki ilmu yang cukup tinggi.”

Rubah Hitam itu meloncat surut, sementara Glagah Putih memang memberinya kesempatan. Bahkan sambil berkata, “Silahkanlah Rubah. Aku tidak akan mengganggumu selagi kau ingin berganti permainan.”

Namun yang mengumpat adalah Truna Patrap, “Anak iblis kau. Begitu sombongnya kau dihadapanku.”

“Aku sombong dihadapan siapa saja. Nah, katakan, siapa kau?,“ Truna Patrap menggeram. Katanya, “Aku Truna Patrap. Kau tentu belum pernah mendengar namaku. Namun sebelum kau mati, ada baiknya kau mengagumi nama Truna Palrap.

Glagah Putih tertawa. Katanya, “Apa yang harus aku kagumi padamu?”

“Cukup” bentak Truna Patrap.

Namun Glagah Putih masih juga bertanya, “Siapa yang seorang lagi?”

“Dipacala” jawab Dipacala singkat, “marilah. Kita berada di pertempuran.”

Glagah Putih tidak menjawab lagi. Tetapi ia memang harus berhati-hati menghadapi kedua orang yang nampaknya juga berilmu sebagaimana Rubah Hitam itu.

Sabungsarilah yang kemudian harus bertempur melawan kedua orang Rubah Hitam yang garang itu. Dengan cepat, keduanya berloncatan, menyambar, menerkam dan bahkan berteriak mengejutkan.

Tetapi Sabungsari yang memiliki pengalaman yang luas itu tidak segera dapat dikuasai oleh sepasang Rubah Hitam itu.

Dalam pada itu, Ki Ajar Gurawa yang bertempur melawan ketiga orang Rubah Hitam itu sempat melihat Ki Wirayuda dan Ki Rangga Ranawandawa meloncat keluar dari ruang dalam. Nampaknya Ki Wirayuda memang memancing lawannya untuk bertempur di halaman.

Sementara itu, Ki Patih Mandaraka menghadapi Ki Wanayasa dan Ki Rangga Resapraja diruang dalam.

Namun dalam pada itu, orang-orang yang menyerang istana Kepatihan itu menjadi heran. Kenapa tiba-tiba saja di Kepatihan telah hadir orang-orang berilmu tinggi. Anak-anak muda sebagaimana yang dihadapi oleh Dipacala dan Truna Patrap itu pun tidak segera dapat mereka selesaikan, disamping kedua Rubah Hitam yang berhadapan dengan Sabungsari itu justru mulai terdesak.

Yang segera mengalami kesulitan adalah kedua Rubah yang berhadapan dengan kedua orang murid Ki Ajar Gurawa.

Orang-orang yang bertempur di halaman itu terkejut, ketika mereka mendengar kedua Rubah yang melawan murid Ki Ajar itu tiba-tiba mengaum tinggi.

Kedua orang murid Ki Ajar itu pun dengan cepat mempersiapkan diri. Mereka mengira bahwa aumam itu merupakan satu isyarat bagi Rubah itu untuk melepaskan ilmu pamungkas mereka. Namun yang terjadi kemudian tidak lebih dari hentakan-hentakan ilmu sebagaimana yang sudah diperlihatkan sebelumnya.

Ki Rangga Resapraja yang ada didalam menjadi gelisah. Ia kenal atas isyarat yang dilontarkan oleh kedua Rubah itu. Demikian pula Ki Wanayasa yang nampaknya masih belum bersungguh-sungguh.

“Tunggu sebentar Ki Wanayasa” berkata Ki Rangga Resapraja, “jaga Ki Patih Mandaraka. Aku akan segera kembali. Jangan beri kesempatan melarikan diri.”

Tetapi Ki Wanayasa tertawa. Katanya, “Ia akan segera mati. Kau jangan tergesa-gesa. Selesaikan orang-orang yang ada di halaman.”

Namun Ki Patih berkata, “Ia tidak akan pernah memasuki rumah ini lagi jika ia melangkahkan kakinya keluar.”

“Kenapa?” bertanya Ki Wanayasa.

“Diluar terdapat orang-orang terbaik dari Mataram selain Panembahan Senapati. Mereka akan melumatkan orang-orangmu semuanya. Sedangkan kau tidak akan pernah dapat keluar dari rumah ini karena nampaknya kau lebih senang tinggal didalam.”

Ki Wanayasa mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Suaramu seperti gemuruhnya guntur dilangit. Tetapi setitik pun hujan tidak akan pernah turun.”

“Tanpa hujan, petir akan dapat menumbangkan bukit.”desis Ki Patih Mandaraka.

Ki Wanayasa menggeram. Namun ia pun berkata lantang kepada Ki Rangga Resapraja, “Tugasmu mengurus Rubah-rubah itu.

Ki Rangga pun segera meloncat keluar. Segera ia melihat dua diantara ketujuh orang Rubah itu berloncatan dan bahkan berlari-lari menghindari lawan-lawannya. Karena itu, maka Ki Rangga Resapraja pun segera menilai keadaan.

Dengan cepat Ki Rangga mengambil kesimpulan. Karena itu, maka ia pun segera berlari kearah Kerta Dangsa yang bertempur melawan tiga diantara ketujuh orang Rubah Hitam itu.

“Kau dengar isyarat kawanmu?” desis Ki Rangga, “Dua diantara kalian, tinggalkan orang ini.”

Perintah itu pun segera dilaksanakan. Dua diantara ketiga orang Rubah itu pun telah meninggalkan Kerta Dangsa dan tergabung dengan kedua Rubah yang lain, yang mengalami kesulitan.

Dengan demikian, maka kedua orang murid Ki Ajar itu masing-masing harus menghadapi dua orang dari antara ketujuh orang Rubah Hitam itu.

Sementara itu, Ki Rangga Resapraja telah mengambil alih Ki Ajar Gurawa dibantu oleh seorang dari antara ketujuh orang Rubah itu.

Ki Ajar Gurawa tersenyum melihat kehadiran Ki Rangga Resapraja. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Bagaimana, apakah kau sudah membunuh Ki Patih?”

“Setan kau” geram Ki Rangga, “kau tahu hukuman bagi seorang pengkhianat.”

“Aku bukan pengkhianat” jawab Ki Ajar Gurawa, “tetapi aku tentu akan diberi gelar pahlawan, karena aku berhasil menyusup kesarangmu dan memberikan isyarat gerakanmu malam ini.”

“Setan kau. Tetapi kau akan dibunuh di halaman ini.” geram Ki Rangga Resapraja.

Tetapi Ki Ajar Gurawa justru tertawa. Katanya, “Jika aku terbunuh di sini, maka aku benar-benar akan diberi gelar pahlawan.”

“Iblis kau” Ki Rangga segera meloncat menyerangnya.

Tetapi Ki Ajar pun sudah siap menghadapinya. Karena itu, maka ia pun segera bergeser menghindar. Sementara itu, seorang Rubah yang berpakaian hitam itu tiba-tiba saja telah menyambarnya dengan garangnya. Tangannya terayun siap mencengkam apa pun yang dapat digapainya. Namun ternyata Rubah itu tidak mampu menyentuh apalagi kulitnya, pakaiannya pun tidak.

Demikianlah, maka pertempuran di istana Kepatihan itu pun menjadi semakin sengit. Masing-masing seakan-akan telah dipertemukan dengan lawan-lawan yang menjadi seimbang. Kadang-kadang memang terjadi pertukaran lawan atau yang satu membantu yang lain sesuai dengan kemungkinan-kemungkinan yang berkembang kemudian. Sebagaimana juga terjadi pada para prajurit yang berada di sekitar istana, yang bertempur melawan para penyerangnya.

Didekat gardu disebelah pintu gerbang yang tertutup, para prajurit ternyata tidak mengalami kesulitan menghadapi para penyerang yang telah dipersiapkan menyerang mereka. Mula-mula jumlah penyerang itu memang lebih banyak. Tetapi jumlah itu dengan cepat susut ketika para prajurit itu menyerang mereka dengan busur dan anak panah. Namun ketika kemudian kedua kelompok itu berbenturan, maka pertempuran pun menjadi semakin sengit. Para penyerang dengan kasar telah berusaha untuk menghancurkan para prajurit. Namun para prajurit yang terlatih menghadapi kekerasan dan kekasaran itu pun telah bertahan dengan gigihnya. Bahkan sebagaimana perintah yang mereka terima, maka mereka sama sekali tidak ragu-ragu lagi. Para prajurit itu tidak lagi menahan pedangnya, apabila ujungnya menghunjam kedalam lawannya.

Demikian pula pertempuran yang terjadi disekilar istana itu. Para pengawal istana Kepatihan, para abdi Kepatihan dan beberapa orang diantara kelompok Gajah Liwung serta para petugas sandi pilihan yang dibawa oleh Ki Wirayuda masih juga bertahan. Tidak seorang pun diantara para penyerang yang sempat memasuki istana. Bahkan semakin lama mereka justru terdesak semakin men-jauhi pintu-pintu yang telah terbuka. Jika ada satu dua orang diantara mereka yang mencoba untuk menyusup mendekati pintu, maka seseorang tentu mencegahnya.

Dalam pada itu, yang seakan-akan terpisah dari segala hiruk pikuk pertempuran itu adalah Ki Jayaraga yang sedang menghadapi Podang Abang. Keduanya seolah-olah tidak menghiraukan lagi apa yang terjadi di istana Kepatihan itu. Yang mereka lakukan adalah persoalan mereka berdua yang memang berniat ingin menyelesaikan lewat kemampuan dan ilmu kanuragan.

Dengan tangkasnya kedua orang itu saling menyerang dan bertahan. Mereka berloncatan diatas rerumputan yang sehari-hari dirawat dengan baik. Bahkan pohon-pohon bunga pun lelah berpa-tahan dan terinjak-injak.

Sementara itu Ki Ajar Gurawa pun telah mendapat lawan pula, Ki Rangga Resapraja ternyata juga seorang yang berilmu tinggi.

Dengan tangkasnya ia berusaha menguasai lawannya. Tetapi Ki Ajar Gurawa ternyata mampu mengimbangi ketangkasan termasuk seorang Rubah Hitam. Yang telah terdesak adalah justru orang-orang yang semula menjadi kepercayaan Ki Rangga Resapraja, Tujuh orang rubah Hitam itu diharapkan akan dapat membuat goncangan-goncangan di halaman istana Kepatihan. Namun ternyata mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan berpasangan mereka menghadapi anak-anak muda yang dianggapnya sekedar ikut-ikutan.

Ternyata murid Ki Ajar Gurawa dengan mengerahkan kemampuannya berhasil mengatasi sepasang Rubah Hitam yang garang itu. Demikian pula Sabungsari, sehingga Rubah-rubah itu menjadi seakan-akan tidak berdaya.

Ki Rangga Resapraja yang menjadi sangat kecewa melihat mereka telah meneriakkan isyarat yang hanya dapat dimengerti oleh lingkungan mereka. Ketujuh Rubah Hitam yang mendengar isyarat itu telah menghentakkan kemampuan mereka. Sehingga tiba-tiba saja mereka nampak menjadi semakin liar. Ketujuh Rubah itu menggeram, berteriak, menyambar dengan kuku-kukunya dan sekali-sekali meloncat menerkam. Dalam pertempuran berpasangan, keduanya memang mampu saling mengisi dengan tangkas dan mapan. Tetapi lawan-lawan mereka pun memiliki kemampuan yang dapat mengimbanginya, sehingga dengan demikian, maka Rubah-rubah itu sama sekali tidak dapat menunjukkan kelebihan apa pun juga.

Betapapun mereka mencoba untuk menunjukkan betapa mereka merupakan sekelompok orang-orang yang sangat berarti, namun mereka ternyata telah gagal.

Dipacala dan Truna Patrap pun menjadi sangat kecewa terhadap orang-orang yang disebut Rubah Hitam itu, yang sebelumnya memang mampu menunjukkan betapa mereka merupakan sekelompok orang yang setiap kali mampu menyelesaikan persoalan. Tetapi sepasang diantara mereka yang berhadapan dengan Sabungsari, semakin lama menjadi semakin terdesak. Meskipun mereka mengerahkan segenap kemampuan mereka. Mengaum, menggeram, menerkam, menyambar dan segala macam tingkah laku yang keras dan garang, namun Sabungsari masih sempat tertawa dan berkata, “Apa yang sebenarnya ingin kalian lakukan? Bertempur atau mencoba-coba menirukan sejenis binatang yang paling dibenci anak-anak. Menurut namamu, kalian ingin disebut sebagai Rubah dan karena kalian berpakaian hitam, maka kalian bernama Rubah Hitam. Sepengetahuanku rubah adalah sejenis binatang yang sering mencuri ayam.”

“Iblis kau” teriak seorang diantara mereka.

“Nah” sahut Sabungsari, “sekali-sekali bicaralah dengan gaya seseorang. Kau tidak perlu mengaum dan menggeram menirukan seekor rubah. Yang mengaum bukan rubah, tetapi serigala. Dan serigala memang lebih garang dari rubah yang kecil.”

“Kubunuh kau” teriak yang lain.

“Aku senang mendengar kau berbicara seperti aku, meskipun sekedar mengumpat.” desis Sabungsari.

Kemarahan kedua orang Rubah Hitam itu bagaikan meledakkan ubun-ubunnya, Namun keduanya memang tidak dapat berbuat banyak menghadapi Sabungsari yang telah menarik pedangnya. Bahkan Sabungsari pun kemudian berkata, “Aku tidak mempunyai banyak waktu menggembalakan rubah yang sedang gila.”

Sepasang Rubah Hitam yang merasa dirinya lebih kuat dari orang itu, benar-benar tidak mampu berbuat apa apa.

Semula mereka mengira, bahwa jika telah terjadi benturan kekerasan di istana Kepatihan, maka ketujuh orang Rubah Hitam itu akan memegang peranan. Mereka akan dapat mencerai-beraikan para prajurit pengawal. Membunuh pemimpin-pemimpinnya dan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada Ki Wanayasa, Ki Rangga Resapraja dan Ki Rangga Ranawandawa untuk menyelesaikan Ki Patih Mandaraka yang memang dianggap berilmu sangat tinggi. Bahkan jika diperlukan Ki Dipacala dan Ki Truna Patrap akan dapat membantu Ki Wanayasa, karena menurut perhitungan ketujuh Rubah Hitam itu, pertahanan para pengawal tentu akan dengan cepat dihancurkan.

Tetapi yang terjadi sama sekali berbeda dari perhitungan mereka. Ketujuh orang Rubah Hitam itu tidak dapat berperan sama sekali. Demikian mereka mulai bertempur, maka mereka langsung terikat kepada lawan-lawan yang tidak dapat mereka kalahkan.

Demikian pula Dipacala dan Truna Patrap. Mereka mengumpat tidak habis-habisnya. Ternyata tidak semudah dugaan mereka untuk merampok istana Kepatihan dan membunuh Ki Patih Mandaraka.

Bahkan mereka berdua ternyata tidak segera dapat mengatasi seorang anak muda yang ditemunya di halaman itu. Menilik pakaian yang dikenakan, anak muda itu bukan seorang prajurit. Kecuali jika ia termasuk seorang prajurit dalam tugas sandi.

Kekesalan, kemarahan dan dendam tertumpah kepada seseorang yang dikenalnya bernama Kerta Dangsa. Demikian lembutnya muslihatnya sehingga ia dapat menyusup memasuki lingkungan yang sebelumnya tertutup rapat.

Tetapi penyesalan itu tidak ada gunanya. Mereka sudah berhadapan dengan lawan di arena pertempuran yang ternyata sulit untuk ditembus itu. Bahkan ketujuh orang Rubah Hitam yang diharapkan akan dapat mengoyak seluruh pertahanan di istana itu pun seakan-akan telah terkungkung dibawah tempurung. Sekali-sekali bahkan terdengar isyarat dari mulut salah seorang diantara ketujuh orang Rubah Hitam itu memanggil kawan-kawannya karena ia berada dalam kesulitan. Tetapi tidak seorang pun diantara mereka yang dapat menolongnya, karena semuanya berada dalam kesulitan.

Satu diantara Rubah itu yang bertempur bersama-sama Ki Resapraja menghadapi Ki Ajar Gurawa, justru menjadi ragu-ragu. Ia mendengar seorang dari kawan-kawannya itu memberikan isyarat seolah-olah merintih kesakitan. Namun ia tidak berani meninggalkan Ki Rangga Resapraja tanpa perintahnya.

Namun Ki Rangga Resapraja akan dapat mengalami kesulitan jika ia harus bertempur sendiri. Tetapi Rubah itu tahu, bahwa Ki Rangga Resapraja memiliki ilmu Pamungkas yang dahsyat, karena Ki Rangga adalah salah seorang diantara pewaris dari ilmu Tapak Geni, landasan dari ilmu yang jarang ada duanya, ilmu Tapak Gun-dala.

“Jika Ki Rangga terdesak kedalam kesulitan, maka ia tentu akan mempergunakan ilmunya yang jarang sekali ditampakkan kepada siapa pun juga.” berkata Rubah itu didalam hatinya.

Meskipun demikian, ia tidak dapat begitu saja meninggalkan Ki Rangga tanpa perintahnya, meskipun ia beberapa kali mendengar isyarat dari seorang kawannya,

Namun akhirnya Ki Rangga Resapraja telah memerintahkan Rubah itu meninggalkannya. Katanya, “Selamatkan kawanmu itu. Cepat dan selesaikan orang-orang gila di halaman ini. Buat apa aku memelihara kalian jika kalian tidak mampu berbuat apa-apa.

Rubah itu pun segera meloncat meninggalkan Ki Resapraja untuk menemukan kawannya yang telah memberikan isyarat. Ternyata bahwa salah seorang diantara kedua orang lawan Sabungsari telah meneriakkan isyarat untuk mendapatkan bantuan. Tetapi yang datang hanya seorang.

Demikian orang ketiga itu datang Sabungsari segera berkata sambil berloncatan menghindari serangan lawan-lawannya, “Itulah salahnya, jika kalian terlalu biasa bertempur dalam kelompok yang utuh. Tetapi disini kalian tidak dapat melakukannya. Jika kalian berkumpul menjadi satu, berarti kawan-kawan kalian yang lain, yang tidak digelari Rubah Hitam akan segera mati.”

“Persetan” geram Rubah yang baru datang.

“Kau pun mengumpat seperti kedua orang kawanmu. Agaknya kalian hanya dapat menggeram dan mengumpat.” sahut Sabungsari.

Rubah-rubah itu tidak menjawab lagi. Mereka serentak telah menyerang dengan garangnya.

Melawan ketiga orang yang disebut Rubah Hitam itu, Sabungsari memang harus mengerahkan kemampuannya. Ketiganya menjadi garang dan bahkan buas dan liar. Namun dengan pedang ditanganSabungsari mampu melindungi dirinya dari serangan-serangan yang kasar itu.

Tetapi ketiga orang dari antara ketujuh orang Rubah Hitam itu semakin lama menjadi semakin garang. Mereka bergerak susul menyusul. Mereka menyambar dengan kuku-kukunya yang tajam, bergantian sambil berlari berputaran.

Sabungsari yang harus bekerja keras untuk menghindari serangan beruntun tanpa henti-hentinya itu berkata didalam hati, ”Inilah agaknya kelebihan Rubah Hitam itu. Alangkah garangnya jiga mereka sempat bertempur bertujuh.”

Semakin lama ketiganya bergerak semakin cepat, nampaknya mereka mulai mapan. Sementara Sabungsari sibuk melindungi dirinya dengan putaran pedangnya.

Sementara itu, kedua orang murid Ki Ajar Gurawa yang masing-masing juga harus bertempur melawan dua orang Rubah Hitam, harus juga bekerja keras untuk melawan kecepatan gerak mereka. Semakin mapan para Rubah Hitam itu, maka mereka memang menjadi semakin berbahaya.

Yang kemudian tidak kalah sibuknya adalah Glagah Putih. Ia harus bertempur melawan Ki Dipacala dan Truna Patrap. Dua orang yang dianggap pemimpin langsung yang mengatur orang-orang mereka yang jumlahnya cukup-banyak. Orang ketiga yang dipersiapkan sebenarnya adalah Kerta Dangsa. Tetapi ternyata Kerta Dangsa telah mengkhianati mereka.

Ternyata bahwa Dipacala dan Truna Patrap telah mengerahkan kemampuannya pula. Bagaimanapun juga keduanya adalah orang-orang yang berilmu. Dengan demikian maka Glagah Putih memang harus memeras kemampuannya pula untuk mengatasi keduanya.

Pengalaman dan bekal kemampuan kedua orang itu kadang-kadang memang membuat Glagah Putih harus menghentakkan unsur-unsur geraknya yang rumit.

Namun ternyata Dipacala dan Truna Patrap pun ingin tugasnya menghadapi anak muda itu cepat selesai. Karena itu, maka baik Dipacala maupun Truna Patrap telah menggenggam senjatanya.

Dalam medan yang dianggap berat, Dipacala telah membawa pedang yang cukup besar dan panjang, sementara Truna Patrap membawa pedang lurus bermata rangkap.

“Senjata ini adalah senjata andalan” berkata Dipacala, “dalam medan yang aku anggap biasa-biasa saja, aku tidak membawa senjata pusaka ini. Ketika aku merampok dibeberapa tempat senjata yang aku bawa bukan pusakaku ini. Tetapi sekarang aku membawa senjata terbaik yang aku miliki. Satu diantara lebih dari sepuluh buah pedang pilihan. Karena itu, maka pedang pusakaku yang telah berada diluar sarungnya ini, harus dibasahi dengan darah.”

Glagah Putih telah meloncat mengambil jarak, ketika ia mendengar Dipacala berbicara. Nampaknya Dipacala dan Truna Patrap memang memberinya kesempatan untuk berbicara menjawab pernyataan Dipacala itu.

Tetapi Glagah Putih ternyata hanya tersenyum saja sambil menimang ikat pinggang kulitnya.

Dipacala dan Truna Patrap pun sadar, bahwa ikat pinggang itu tentu bukan ikat pinggang kebanyakan. Apalagi ketika mereka melihat, betapa Glagah Putih nampak tenang-tenang saja dengan senjatanya yang tidak berbentuk senjata sebagaimana umumnya.

Truna Patrap yang melihat ketenangan sikap Glagah Putih itu jantungnya justru menjadi panas. Katanya, “Nampaknya kau memang sudah berputus asa, sehingga kau tidak memberikan tanggapan apa pun juga melihat senjata kami.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah berdiri pada jarak yang cukup dari kedua lawannya. Dengan nada berat ia berkata, “Apa yang harus aku katakan tentang senjata kalian? Senjata kalian adalah senjata yang biasa-biasa saja. Yang sudah terlalu sering aku lihat.”

“Bagus” geram Truna Patrap, “kau semakin memuakkan. Bersiaplah untuk mati. Aku tidak dapat membayangkan, bagaimana ujud mayatmu nanti. Kau sebenarnya masih terlalu muda untuk mati.”

Glagah Putih justru tertawa. Katanya, “Sudahlah. Nampaknya kita masing-masing memang sudah jemu untuk bertempur terus. Karena itu, maka kita harus segera menyelesaikannya.”

Dipacala dan Truna Patrap pun segera bersiap. Demikian pula Glagah Putih. Ia pun segera bersikap. Ikat pinggangnya mulai berputar. Sementara itu ia masih sempat berkata, “Senjataku ini aku terima dari Ki Patih Mandaraka sendiri. Nah, kau akan tahu betapa senjata dari Kepatihan ini mampu melindungi diriku.

“Persetan. Kau mulai mengigau” geram Dipacala.

Glagah Putih tidak menjawab. Tetapi ia justru melangkah mendekat.

Dipacala dengan serta merta meloncat maju. Diayunkannya senjata yang dianggapnya pusaka terbaiknya itu dengan sekuat tenaganya.

Namun Glagah Putih pun telah siap sepenuhnya. Ia memang tidak ingin menghindari serangan itu. Tetapi Glagah Putih ingin menunjukkan betapa senjatanya yang diterimanya dari Ki Patih itu sendiri benar-benar senjata yang sesuai baginya. Seakan-akan senjata itu memang dibuat khusus bagi Glagah Putih.

Karena itu, maka sejenak kemudian telah terjadi benturan yang keras antara pusaka Dipacala dengan senjata Glagah Putih yang sangat khusus itu.

Ternyata benturan itu sangat mengejutkan Dipacala. Bukan saja ikat pinggang kulit itu seakan-akan telah berubah menjadi kepingan baja yang telah membentur pedang pusakanya, namun kekuatan Glagah Putih yang muda itu benar-benar mengejutkannya. Dua langkah Dipacala meloncat mundur. Tangannya memang serasa menjadi pedih. Namun pusakanya itu masih saja berada dalam genggamannya, karena hulunya bagaikan melekat pada telapak tangannya.

Truna Patrap pun terkejut melihat akibat benturan itu justru karena mengenal dengan baik kemampuan dan kekuatan Dipacala.

Kedua orang kepercayaan Ki Rangga Resapraja itu termangu-mangu sejenak. Anak muda yang dihadapinya itu ternyata memiliki kekuatan dan kemampuan yang tidak mereka duga. Benturan antara pedang pusaka Dipacala dan ikat pinggang Glagah Putih telah memberikan isyarat kepada Dipacala, bahwa yang dihadapinya benar-benar seorang anak muda yang pilih tanding.

Ketika ia bersama-sama dengan Truna Patrap bertempur melawan Glagah Putih, semata-mata karena keduanya ingin dengan cepat membunuh anak muda itu sebelum mereka membaurkan diri melawan orang lain. Mereka berharap bahwa kematian demi kema-tian akan membuka kemungkinan yang lebih besar untuk menyelesaikan tugas mereka di istana Kepatihan itu.

Namun ternyata anak muda itu benar-benar pantas untuk bertempur melawan mereka berdua.

Glagah Putih melihat kedua orang lawannya termangu-mangu. Ia justru seakan-akan telah memberi kesempatan kepada mereka untuk merenung. Bahkan memperhatikan seluruh halaman Kepatihan. Pertempuran telah terjadi dimana-mana. Podang Abang yang bertempur melawan Ki Jayaraga seakan-akan telah memisahkan diri. Kemudian Ki Ajar Gurawa yang mulai mendesak Ki Rangga Resapraja. Kedua orang yang diKenal sebagai ke-manakan Kerta Dangsa melawan masing-masing dua orang dari antara ketujuh orang Rubah Hitam. Kemudian Sabungsari yang sedikit mengaalami kesulitan melawan tiga orang Rubah Hitam. Di-sekitar pintu gerbang, pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya. Para prajurit, yang telah berhasil menyusut lawan-lawan mereka, masih harus bertahan terhadap sisa-sisa penyerang yang mulai merasa terjebak.

Sementara itu, pertempuran disekitar istana itu masih berlangsung pula dengan sengitnya.

“Bagaimana menurut penilaian kalian?” bertanya Glagah Putih tiba-tiba.

Kedua orang itu memang agak terkejut mendengar pertanyaan yang tidak mereka duga-duga. Sementara Glagah Putih masih bertanya pula, “Apakah kalian masih juga berpengharapan untuk dapat memenangkan seluruh pertempuran ini?”

“Anak muda” berkata Dipacala, ”jika kita jujur melihat keseimbangan pertempuran itu, maka kita masih belum dapat menentukan siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah. Ki Rangga Resapraja memang agak terdesak. Tetapi ia tentu masih belum melepaskan ilmu pamungkasnya. Sementara itu Ki Podang Abang adalah orang yang sulit dicari imbangannya dalam ilmu kanuragan. Adalah nasib buruk bagi seseorang yang kebetulan menjadi lawannya.”

Tetapi Glagah Putih sempat pula menjawab, “Yang bertempur melawan Podang Abang itu adalah sahabat lamanya. Orang yang tidak pernah dapat dikalahkan oleh Podang Abang kapan pun juga. Kebetulan sekali, bahwa mereka telah bertemu lagi sehingga mereka akan dapat menyelesaikan permainan mereka. Mudah-mudahan kali ini dapat mereka tuntaskan.”

“Ki Podang Abang sekarang bukan Ki Podang Abang beberapa tahun yang lalu” berkata Ki Truna Patrap.

Glagah Putih tertawa. Katanya, “Baiklah. Kita akan dapat melihat, siapakah diantara mereka yang tidak akan dapat keluar dari halaman istana Kepatihan ini.“ ia berhenti sejenak, lalu katanya, “Nah, bagaimana dengan kita.”

Kedua orang lawan Glagah Putih itu pun segera bersiap. Mereka melihat ikat pinggang yang dikatakan oleh anak muda itu sebagai hadiah khusus dari Ki Patih Mandaraka telah bergetar.

Sejenak kemudian, Glagah Putih pun telah bertempur pula dengan sengitnya. Kedua orang itu benar-benar memiliki ilmu yang mum puni dalam permainan pedangnya. Namun ikat pinggang Glagah Putih itu berputaran dengan cepat sekali melindungi seluruh tubuhnya.

Dalam pada itu, Sabungsari memang mengalami kesulitan melawan tiga orang Rubah Hitam yang mulai, mapan. Mereka benar-benar mampu bertempur saling mengisi. Sasaran serangan mereka justru bagian bawah tubuh lawannya. Mereka tidak menerkam kearah leher dan dada. Tetapi mereka menyambar kaki dan perut Sabungsari. Dengan kukunya yang tajam, mereka menerkam kemudian menggapai dengan cepat.

Sabungsari yang mempergunakan pedangnya untuk menahan serangan lawannya yang menjadi semakin buas itu, harus berloncatan surut jika ketiganya menerkam bersama-sama. Mereka dengan cepat mengatur serangan disela-sela pertahanan pedang lawannya.

Di bagian lain, Rubah-rubah itu memang mulai menjadi mapan pula. Demikian pula mereka yang bertempur melawan kedua orang murid Ki Ajar Gurawa. Kedua orang murid Ki Ajar Gurawa itu pun mempergunakan pedang pula untuk menahan Rubah-rubah yang semakin lama menjadi semakin garang itu.

Yang seakan-akan terpisah dari pertempuran dalam keseluruhan adalah pertempuran antara Podang Abang melawan Ki Jayaraga. Keduanya adalah orang yang berilmu sangat tinggi. Mereka berdua menyadari, bahwa pertempuran itu akan menjadi pertempuran yang menentukan mati dan hidup mereka. Mereka tidak akan menunda-nunda lagi permainan diantara mereka meskipun Ki Podang Abang sempat menyesal, bahwa Jayaraga hadir justru pada saat ia mengemban tugas yang penting. Membunuh Ki Patih Mandaraka.

Namun Ki Podang Abang berharap bahwa Ki Wanayasa yang juga berilmu tinggi akan dapat menyelesaikan Ki Patih Mandaraka. Tetapi ternyata bahwa Ki Rangga Resapraja yang juga berilmu tinggi yang diharapkan akan dapat membantu Ki Wanayasa menyelesaikan Ki Patih Mandaraka, telah mendapatkan lawannya sendiri yang nampaknya juga tidak mudah untuk dikalahkannya.

“Tetapi setidak-tidaknya Ki Wanayasa akan dapat mempertahankan diri dengan ilmunya yang tinggi itu sampai seseorang datang membantunya.” berkata Ki Podang Abang didalam hatinya.

Tetapi ternyata Ki Rangga Resapraja memang tidak dapat dengan cepat menyelesaikan Ki Ajar Gurawa. Ia harus mengerahkan segenap kemampuannya untuk tidak terdesak surut. Bahkan kemudian Ki Rangga Resapraja tidak mempunyai pilihan lain kecuali mempersiapkan ilmu pamungkasnya. Aji Tapak Geni.

Namun dalam pada itu, Ki Wirayuda ternyata mengalami kesulitan menghadapi Ki Rangga Ranawandawa. Ternyata Ki Rangga Ranawandawa juga memiliki ilmu simpanan yang mampu menyulitkan kedudukan Ki Wirayuda.

Karena itu, ketika Ki Rangga Ranawandawa mulai terdesak oleh ilmu pedang Ki Wirayuda yang mum puni, maka Ki Rangga Ranawandawa telah mulai dengan ilmunya yang garang.

Ternyata bahwa Ki Rangga Ranawandawa dan Ki Rangga Resapraja adalah dua orang saudara seperguruan. Ketika Ki Rangga Ranawandawa mulai dengan melepaskan Aji Tapak Geni, maka Ki Wirayuda nenjadi terdesak. Ditangan kanan Ki Rangga Ranawandawa masih juga tergenggam pedangnya ketika telapak tangannya mulai berasap.

Namun bagaimanapun juga Ki Wirayuda adalah seorang prajurit yang baik. Karena itu, maka dengan mengerahkan kemampuan ilmu pedangnya, Ki Wirayuda berusaha untuk melindungi kulitnya dari sentuhan tangan Ki Rangga Ranawandawa.

Sebagaimana dilakukan oleh Rangga Ranawandawa, maka Ki Rangga Resapraja pun melakukannya pula. Telapak tangan kirinya mulai berasap. Sementara pedangnya masih juga menyambar-nyambar dengan garangnya.

Ki Ajar Gurawa memang sudah menyadari sejak semula bahwa Ki Rangga Resapraja yang berani mengambil langkah yang sangat berat bersama Ki Wanayasa itu tentu memiliki bekal yang cukup. Karena itu, demikian ia melihat telapak tangan Ki Rangga berasap, maka Ki Ajar Gurawa segera mengetahui, bahwa Ki Rangga Resapraja telah membangunkan ilmunya yang dibanggakannya.

Sambil meloncat surut Ki Ajar Gurawa berdesis, “Kekuatan apalagi yang akan kau tunjukkan Ki Rangga?”

“Kau akan segera mati Kerta Dangsa. Pcngkhianatanmu memang harus kau tebus dengan nyawamu” geram K i Rangga.

Ki Ajar Gurawa tidak menjawab. Ia melihat telapak tangan Ki Rangga Resapraja mulai menjadi merah. Meskipun Ki Ajar Gurawa bukan orang kebanyakan, tetapi ia sadar, bahwa ia berhadapan dengan ilmu yang tinggi. Sentuhan tangan yang membara itu akan dapat membakar kulitnya, bahkan dagingnya

Sejenak kemudian, maka Ki Rangga Resapraja itu lelah berloncatan menyerang. Jika lawannya menangkis dengan pedangnya, maka dengan cepat tangan yang membara itu menerkam kea-rah dadanya. Tetapi Ki Ajar Gurawa cukup tangkas untuk menghindarinya.

Namun Ki Ajar Gurawa menjadi berdebar -debar ketika dengan kecepatan yang tinggi, tangan Ki Rangga Resapraja terayun hampir saja menyentuh pundaknya, Meskipun telapak tangan yang membara itu belum menyentuhnya, namun udara panas telah menyambar kulit Ki Ajar Gurawa.

Ki Ajar Gurawa termangu-mangu sejenak. Ia menjadi berdebar-debar ketika ia melihat Ki Rangga Resapraja justru menyarungkan senjatanya.

Namun sejenak kemudian jantung Ki Ajar seakan-akan berdetak semakin cepat. Ia sadar, bahwa Ki Rangga lebih percaya kepada kedua telapak tangannya yang telah menjadi merah daripada senjatanya.

Untuk beberapa saat Ki Ajar Gurawa masih mempertahankan senjatanya. Namun ketika Ki Ajar menusuk kearah jantung, maka dengan sigapnya, kedua telapak tangan Ki Rangga Resapraja telah menjepit daun pedang Ki Ajar Gurawa.

Pedang yang dipergunakan Ki Ajar adalah pedang kebanyakan. Ia tidak mengira bahwa ia akan berhadapan dengan seorang yang memiliki ilmu yang dapat menyadap kekuatan api. Karena itu, maka yang terjadi memang telah mendebarkan. Pedang Ki Ajar yang dijepit oleh kedua telapak tangan Ki Rangga Resapraja dengan ilmu Tapak Geni, telah membara pula, seperti besi baja yang diletakkan diperapian pande besi. Ketika kemudian Ki Rangga menggerakkan tangannya berputar, maka Ki Ajar terpaksa melepaskan pedangnya karena pedang itu tidak akan berarti lagi baginya.

Daun pedang yang bagaikan diletakkan diperapian pande besi itu telah menjadi merah membara pula, bahkan kemudian melengkung karenanya. Daun pedang itu seakan-akan telah menjadi lunak oleh panasnya bara api pada telapak tangan Ki Rangga Resapraja yang telah mempergunakan Aji Tapak Geni.

Ki Ajar Gurawa itu pun segera meloncat surut. Sambil melangkah mendekat Ki Rangga Resapraja berdesis, “Terimalah hukumanmu pengkhianat. Telapak tanganku akan memberikan bekas didadamu. Yang akan menjadi pertanda pada mayatmu, bahwa kau adalah seorang pengkhianat.

Ki Ajar Gurawa termangu-mangu sejenak. Telapak tangan Ki Rangga Resapraja benar-benar telah merah membara. Bukan sekedar penglihatannya tetapi pedangnya benar-benar telah kehilangan bentuknya oleh panasnya bara ditelapak tangan Ki Rangga itu.

Namun Ki Ajar bukannya tidak memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Ia bukan saja seorang Kerta Dangsa yang memiliki tenaga yang besar dan kuat. Tetapi ia adalah Ki Ajar Gurawa yang berilmu tinggi.

Untuk mengatasi kelebihan Ki Rangga Resapraja, maka Ki Ajar pun telah, melepaskan kekuatan ilmunya pula. Ternyata Ki Ajar Gurawa memiliki kekuatan ilmu sebagaimana dimiliki oleh Agung Sedayu. Meringankan tubuh.

Dengan demikian, maka Ki Ajar Gurawa itu pun segera melenting tinggi. Meloncat berputaran seakan-akan kakinya tidak menjejak tanah.

Ki Rangga Resapraja mengerutkan keningnya. lawannya memang menjadi sangat berbahaya baginya. Sambil menggeram Ki Rangga Resapraja menghentakkan kemampuan dan ilmunya. Setiap bayangan Ki Ajar bergetar melayang disekitarnya, maka dengan cepat tangannya yang membara pada telapaknya itu pun lelah menggapainya. Meskipun tidak dengan sepenuh kekuatannya, tetapi sentuhannya saja akan dapat membakar kulit orang tua itu.

Tetapi Ki Ajar Gurawa benar-benar mampu bergerak dengan kecepatan melebihi jangkauan tangan Ki Rangga Resapraja. Karena itu, maka sulit bagi Ki Rangga untuk dapat menyentuh kulit lawannya.

Namun Ki Rangga Resapraja adalah orang yang cukup berpengalaman. Ia tidak segera kehilangan harapan untuk dapat membakar kulit orang yang diKenalnya bernama Kerta Dangsa itu. Dengan penuh kesungguhan Ki Resapraja telah berusaha untuk segera menghancurkan orang yang telah berkhianat, sehingga rencananya untuk merampok dan sekaligus membunuh Ki Palih menjadi terhambat.

Dalam pada itu, Sabungsari sempat melihat, bagaimana Ki Wirayuda harus berloncatan surut menghindari telapak langan Ki Rangga Ranawandawa yang memiliki ilmu sebagaimana Ki Rangga Resapraja. Dalam keremangan cahaya lampu minyak di pendapa dan oncor di regol halaman, maka sekali-sekali kilatan warna merah bara pada telapak tangan kedua orang saudara seperguruan itu telah mengejutkan Sabungsari.

Apalagi ketika kemudian ketiga orang diantara tujuh orang Rubah Hitam yang berputaran disekitamya menjadi semakin mapan. Bukan saja serangan-serangan mereka datang beruntun, susul menyusul tanpa henti-hentinya, sehingga setiap kali Sabungsari harus berloncatan menghindar, namun angin yang timbul oleh gerak berputar mereka itu semakin lama menjadi semakin hangat.

“Inilah agaknya kelebihan dari ketujuh Rubah Hitam itu” berkata Sabungsari didalam hatinya.

Dengan demikian maka Sabungsari pun harus mengerahkan kemampuan ilmu pedangnya pula. Ia tidak mau sekedar menjadi sasaran serangan Rubah Hitam itu. Tetapi ia pun telah mempergunakan setiap kesempatan untuk meloncat dengan pedang terjulur lurus mematuk lawannya. Kemudian terayun deras atau menebas mendatar.

Namun Rubah-rubah itu berloncatan trengginas sambil menggeram. Sementara udara yang mulai menjadi panas telah menebar dan mulai berputar mengikuti putaran ketiga Rubah Hitam itu.

Sabungsari yang bukan saja menilai ketiga orang lawannya, telah menjadi cemas pula melihat perkembangan pertempuran di halaman. Ternyata para prajurit yang berada di pintu gerbang mulai terdesak. Para penyerang meskipun pada mulanya jumlahnya cepat surut, namun mereka masih saja lebih banyak dari para prajurit yang bertugas. Dengan demikian, maka para prajurit itu pun telah mengalami kesulitan menghadapi para penyerangnya.

Meskipun Sabungsari sama sekali tidak menjadi cemas melihat Ki Ajar Gurawa yang seakan-akan telah berusaha menjadi bayangan yang berterbangan dan berputaran disekitar Ki Rangga Resapraja, namun Sabungsari harus memperhitungkan juga keadaan Ki Wirayuda. Meskipun ilmu pedangnya dapat dibanggakan, tetapi menghadapi ilmu Tapak Geni, Ki Wirayuda memang harus menjadi sangat berhati-hati. Jika pedangnya sempat dijepit dengan kedua telapak tangan lawannya, maka pedang itu akan kehilangan bentuknya ,seperti pedang Ki Ajar Gurawa. Untunglah Ki ajar Gurawa memang tidak bertumpu kepada kemampuan ilmu pedangnya. Tetapi ia masih memiliki jenis ilmu yang dapat dipergunakannya untuk mengatasi kekuatan ilmu lawannya.

Bahkan sekali-sekali justru Ki Ajar Gurawa telah mampu mengenai tubuh Ki Rangga Resapraja. Kemampuannya bergerak yang sangat cepat, dapat menyusup pertahanan lawannya yang sangat berbahaya karena kedua telapak tangannya yang membara itu.

Karena itu, maka Sabungsari harus segera mengambil sikap. Yang mula-mula menjadi perhatiannya adalah Ki Wirayuda yang terdesak. Kemudian kedua orang murid Ki Ajar G urawr. Meskipun mereka masih juga mampu bertahan, namun Rubah rubah Hitam itu mulai sempat berlari-lari berputaran sambil menyambar-nyambar dengan kukunya yang panjang.

Agaknya waktu memang menjadi semakin mendesak. Sementara ketiga lawan Sabungsari itu telah membuainya semakin marah pula. Udara panas yang berputaran itu telah membual Sabungsari semakin tidak sabar lagi.

Meskipun Sabungsari tahu bahwa kedua murid Ki Ajar Gurawa itu juga mempunyai ilmu yang tinggi dalam olah kanuragan, namun Sabungsari masih belum mengetahui, apakah mereka mempunyai ilmu yang dapat menangkap udara panas yang dapat ditimbulkan oleh kemampuan ilmu para Rubah Hitam itu selagi mereka berlari berputaran. Tanpa udara panas itu, Sabungsari yang pernah saling menjajagi ilmu dengan kedua orang murid Ki Ajar Gurawa itu yakin, bahwa kedua Rubah Hitamku akan dapat dikalahkannya. Namun jika Rubah-rubah itu menjadi mapan, maka persoalannya mungkin akan berbeda.

Dengan demikian, maka Sabungsari tidak mempunyai pilihan lain untuk segera mengatasi ketiga orang Rubah Hitam yang semakin mendesaknya. Bahkan Sabungsari telah mulai merasa mengalami kesulitan menghadapi mereka.

Sekilas Sabungsari melihat Glagah Putih yang harus melawan dua orang kepercayaan Ki Rangga Resapraja. Namun setidak-tidaknya Sabungsari masih mempunyai perhitungan, bahwa anak muda itu akan mampu melindungi dirinya sendiri.

Demikianlah, ketiga ketiga orang Rubah Hilam yang melawan Sabungsari itu berputar semakin cepat, serta udara yang mengalir melingkarinya menjadi semakin panas, maka Sabungsari tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Keringatnya bagaikan telah terperas dari tubuhnya, sehingga pakaiannya pun telah menjadi basah bagaikan tersiram hujan seharian.

Dalam keadaan yang demikian, maka Sabungsari pun telah meloncat mengambil jarak. Dengan tangkas Sabungsari berusaha untuk memecahkan putaran itu. Hentakkan ilmu pedangnya yang mum puni memang mampu mengejutkan ketiga orang Rubah Hitam itu. Dengan mengerahkan daya tahan tubuhnya, Sabungsari berusaha mengatasi udara panas yang memutarinya.

Sejenak kemudian Saabungsari telah berada beberapa langkah dari ketiga orang Rubah Hitam yang termangu-mangu itu. Namun serentak ketiganya telah meloncat memburu Sabungsari yang berdiri tegak sambil menyilangkan tangannya didadanya.

Namun ketiga Rubah Hitam itu ternyata telah menghadapi satu kenyataan yang sangat pahit. Sabungsari yang terdesak kekuatan ilmu Rubah Hitam yang menjadi mapan, telah berusaha mengatasinya dengan ilmunya yang jarang ada duanya.

Demikian Rubah Hitam itu meloncat berlari, maka tiba-tiba saja seleret sinar memancar dari mata Sabungsari yang berdiri tegak sambil menyilangkan tangannya didadanya. Justru pedangnya tertancap ditanah disisinya.

Seleret sinar itu telah menyambar salah seorang dari antara ketiga orang Rubah Hitam itu. Terdengar teriakan kesakitan. Rubah Hitam menggeliat. Namun kemudian tubuhnya telah terjatuh ditanah.

Serangan kekuatan ilmu Sabungsari itu dilontarkan pada jarak yang terlalu dekat. Karena itu, maka tubuh Rubah Hitam itu pun telah mengepulkan asap. Ternyata tubuh itu bagaikan telah terbakar. Baunya disapu angin memenuhi halaman istana Kepatihan.

Kedua orang kawannya terkejut melihat peristiwa itu. Sejenak mereka terpukau oleh kenyataan yang mereka hadapi. Namun kemudian, kedua orang Rubah Hitam itu menjerit tinggi. Hampir bersamaan mereka telah meloncat menyerang.

Sekali lagi Sabungsari meloncat mengambil jarak. Sekali lagi seleret sinar memancar dari keduabelah matanya menyambar salah seorang Rubah Hitam yang menyerangnya itu. Dan sekali lagi jerit mengerikan melenting tinggi.

Rubah Hitam yang seorang lagi telah jatuh pula ditanah.

Tetapi kawannya ternyata tidak menghiraukannya. Ia tidak berhenti menyerang. Bahkan dengan cepat ia meloncat memburu dengan tangannya yang mengembang menerkam Sabungsari.

Sabungsari memang sudah menjadi marah sekali menghadapi Rubah-rubah Hitam itu. Namun ia tidak meloncat mengambil jarak. Waktunya telah terlalu sempit baginya untuk menghindar.

Karena itu, maka dengan kemampuannya yang tinggi dalam olah kanuragan, maka ia bergeser kesamping. Dengan tangkasnya ia menangkap pergelangan tangan kanan Rubah Hitam itu dan kemudian memutarnya tubuhnya diudara.

Ternyata tenaga Sabungsari cukup besar untuk memutar tubuh Rubah Hitam itu. Dengan geram tubuh itu pun kemudian dilemparkannya kearah sebatang pohon sawo.

Demikian tangan Sabungsari melepaskannya, maka tubuh yang terputar itu meluncur seperti anakpanah, tepat membentur sebatang pohon sawo di halaman istana Kepatihan.

Benturan yang sangat keras telah terjadi. Rubah itu memang menjerit pula. Tetapi bukan karena serangan ilmu Sabungsari lewat sorot matanya. Tetapi karena benturan yang sangat keras dengan sebatang pohon sawo yang besar itu.

Tubuh Rubah yang satu ini tidak menjadi hangus. Namun darah telah mengalir dari kepalanya yang membentur pohon itu dengan kerasnya.

Orang-orang yang bertempur di halaman istana itu sempat melihat apa yang terjadi. Ki Rangga Ranawandawa pun melihat bagaimana Sabungsari seolah-olah membakar lawannya dengan sorot matanya. Demikian pula Ki Rangga Resapraja yang telapak tangannya bagaikan telah membara. Namun yang mengalami kesulitan untuk menyentuh tubuh Ki Ajar Gurawa yang berterbangan bagaikan bayangan.

Sejenak Sabungsari berdiri tegak. Dipandanginya tubuh ketiga orang lawannya berganti-ganti. Tidak seorang pun yang masih akan dapat mengganggunya lagi.

Tiga dari ketujuh orang Rubah Hitam itu telah terbunuh. Namun Sabungsari sempat membayangkan, seandainya ketujuh orang itu menyatu melawan seseorang yang berilmu tinggi sekalipun, lawannya itu tentu akan mengalami kesulitan. Mereka bertujuh seakan-akan digerakkan oleh satu otak sehingga tata gerak mereka yang saling mengisi seakan-akan tidak tcrdapai kesalahan betapapun kecilnya. Tiga orang diantara mereka yang bertempur melawan Sabungsari itu telah benar-benar membuatnya terdesak sehingga Sabungsari itu harus mempergunakan ilmu pamungkasnya.

Sementara itu pertempuran dihalaman istana Kepatihan itu menjadi semakin garang. Yang menjadi perhalian Sabungsari pertama-tama adalah para prajurit di regol halaman yang semakin terdesak. Jumlah para penyerang yang telah banyak disusul itu masih juga terlalu banyak bagi para prajurit yang bertugas.

Karena itu, maka sambil menyambar pedangnya Sabungsari telah berlari ke pintu gerbang. Dengan serta merta Sabungsari telah menceburkan diri kedalam pertempuran.

Kehadiran Sabungsari, meskipun hanya seorang, tetapi mampu merubah keseimbangan. Para prajurit seakan-akan segera dapat bernafas kembali. Mereka sempat menebar dan bertempur dengan garang.

Beberapa orang penyerang memang telah terikat dalam pertempuran melawan Sabungsari. Mereka bersama-sama telah mengepungnya. Dua tiga orang yang melihat apa yang lelah terjadi, berusaha untuk benar-benar mengurung agar Sabungsari tidak sempat mengambil jarak.

“Jangan beri kesempatan ia mengambil ancang-ancang untuk melepaskan ilmu iblisnya” teriak seorang yang telah setengah baya. Agaknya orang itu memiliki pengalaman yang sangat luas sehingga ia mampu melihat kelemahan Sabungsari yang memerlukan ancang-ancang untuk melepaskan ilmunya meskipun hanya sekejap.

Tetapi Sabungsari yang bertempur dengan ilmu pedangnya itu berkata, “Tiga orang dari antara orang-orang yang kalian anggap terbaik, yaitu Rubah-rubah Hitam itu telah terbunuh. Apakah kalian mampu menahan aku? Atau kalian dapat berpikir lebih baik untuk menyerah saja?”

“Kau pikir hanya Rubah-rubah itu saja yang mampu berbuat sesuatu?” geram orang yang sudah separo baya itu.

Sabungsari tidak menjawab lagi. Namun pedangnyalah yang segera berputar dengan garangnya.

Namun dalam pada itu, Ki Wirayuda benar-benar menjadi semakin terdesak. Ketika Ki Wirayuda menangkis ujung pedang lawannya yang terjulur lurus kearah dada, maka Ki Rangga Ranawandawa sempat memutar pedangnya dan pedang itu pun segera menebas mendatar.

Ki Wirayuda meloncat menghindar. Namun hal itu telah diperhitungkan oleh Ki Rangga Ranawandawa. Dengan tangkasnya Ki Rangga telah mengayunkan pedangnya kearah pundak lawannya. Tetapi Ki Wirayuda masih juga mampu menangkisnya, sehingga terjadi benturan yang keras.

Pada kesempatan itulah, Ki Rangga Ranawandawa memutar pedangnya seakan-akan membelit pedang lawannya. Sementara Ki Wirayuda mempertahankan pedangnya dan menariknya dari libatan pedang Ki Rangga, maka Ki Rangga telah meloncat dengan cepat. Ki Rangga tidak sempat mempergunakan pedangnya. Tetapi telapak tangannya yang dilambari ilmu Tapak Geni itu sempat menyentuh lengan Ki Wirayuda.

Ki Wirayuda terkejut. Dengan cepat ia meloncat mengambil jarak. Bahkan beberapa langkah.

Ternyata bukan saja pakaiannya yang bagaikan terbakar, tetapi kulit lengannya menjadi sangat pedih. Sentuhan kecil itu ternyata telah meninggalkan bekas yang sangat menyakitkan. Bukan saja luka bakar yang ditimbulkannya, tetapi juga hati Ki Wirayuda- pun menjadi sakit mengalami serangan yang telah membakarnya itu.

Namun Ki Wirayuda tidak dapat ingkar dari kenyataan bahwa lawannya memiliki kelebihan. Meskipun dalam ilmu pedang Ki Wirayuda tidak akan dapat dikalahkannya.

Sebenarnyalah, Ki Rangga Ranawandawa yang tidak melepaskan pedangnya itu telah mempergunakan selain pedangnya adalah telapak tangannya. Setiap kali Ki Rangga berusaha untuk membenturkan pedangnya, kemudian menekan menyamping, sementara tangannya yang membara itu menyambar tubuh Ki Wirayuda.

Beberapa kali Ki Rangga memang harus berloncatan menghindar. Ketika Ki Wirayuda itu berusaha untuk menusuk lawannya dengan pedangnya saat pertahanan Ki Rangga terbuka, maka Ki Rangga itu pun dengan tergesa-gesa telah bergeser. Namun Ki Wirayuda sempat menggeliat, sehingga pedangnya pun berubah arah.

Ki Wirayuda merasa betapa ujung pedangnya sempat menyentuh lambung Ki Rangga. Meskipun hanya meninggalkan goresan tipis, tetapi dari luka itu telah mengembun titik-titik darah. Namun bersamaan dengan itu, maka telapak tangan Ki Rangga telah menjamah bagian belakang pundak Ki Wirayuda yang sedang menjulurkan pedangnya.

Keduanya, yang merasa tersengat oleh serangan lawannya telah berloncatan surut. Ki Rangga Ranawandawa menggeram marah. Lambungnya ternyata telah terluka. Namun Ki Wirayuda pun telah menggeretakkan giginya. Sentuhan dibagian belakang pundaknya itu terasa semakin menggigit kulit dagingnya.

Luka oleh Aji Tapak Geni itu rupa-rupanya bagaikan dilekati bara. Panasnya menyusup sampai kecelah-celah tulang. Betapapun Ki Wirayuda mengerahkan tenaga serta daya tahannya, namun ia tidak mampu meredam perasaan sakitnya.

Sementara Ki Rangga Ranawandawa mengumpat-umpat kasar. Bajunya memang telah dikoyakkan oleh pedang Ki Wirayuda, bahkan kulitnya pun telah tergores ujung pedang sehingga darahnya telah menodai pakaiannya.

“Iblis kau Wirayuda” geram Ki Rangga Ranawandawa, ”kau kira kau akan dapat mengimbangi ilmuku? Jika kau mau menyerah, aku masih mungkin mengampunimu.”

“Omong kosong” geram Ki Wirayuda sambil menyeringai menahan sakit, ”jika kau berhasil membunuh Ki Patih Mandaraka, maka semua orang tentu kau lenyapkan untuk menghindari kesaksian yang akan dapat menjeratmu ketiang gantungan.”

“Jika kau mau bekerja sama dengan kami, maka kami akan membuat pertimbangan lain” jawab Ki Ranga Ranawandawa.

“Sebaiknya kau saja yang menyerah Ki Rangga. Aku berjanji untuk memohonkan pengampunan. Jika kau menyerah sekarang, maka dosamu masih belum sampai keleher” sahut Ki Wirayuda,.

Ki Rangga menggeram. Telapak tangannya yang masih membara diangkatnya. Katanya, “Jika telapak tangan ini menekan dadamu, maka kau tidak akan berpengharapan lagi.”

“Kau tidak akan sempat melakukannya Ki Rangga. Ujung pedangku masih setajam ujung pedangmu.” jawab Ki Wirayuda.

Ki Rangga Ranawandawa yang masih belum setingkat dengan Ki Rangga Resapraja masih belum melepaskan pedangnya. Ia masih mempergunakan pedangnya untuk melindungi dirinya dari ujung pedang Ki Wirayuda.

Demikianlah keduanya segera terlibat lagi dalam pertempuran yang sengit. Ia memang berhasil menyentuh sekali lagi lengan Ki Rangga, tetapi jari-jari Ki Rangga pun sempat menyentuh tangannya selagi tangannya itu terjulur menikam dengan pedangnya.

“Kau segera akan mati” geram Ki Rangga.

Ki Wirayuda tidak menjawab. Tetapi ia justru telah mengerahkan segenap kemampuan ilmu pedangnya, meskipun setiap kali harus berloncatan mundur.

Dalam pada itu, kehadiran Sabungsari diantara para prajurit diregol benar-benar telah memberikan pengaruh yang sangat besar. Keseimbangan pun segera berubah. Meskipun Sabungsari sekedar mempergunakan pedangnya. Namun pedang Sabungsari juga tidak ragu-ragu. Ia sadar, bahwa lawannya memang benar-benar kuat, sehingga setiap orang yang mempertahankan istana Kepatihan itu tidak boleh ragu-ragu.

Demikian pula Glagah Putih. Ia memang dipengaruhi oleh sikap Agung Sedayu. Tetapi ia pun dipengaruhi oleh sikap Raden Rangga. Karena itu, maka Glagah Putih itu pun telah mengerahkan segenap kemampuannya untukmelawan dua ujung senjata yang digerakkan oleh tangan-tangan yang berpengalaman.

Namun ikat pinggangnya menyambar-nyambar dengan garangnya. Benturan-benturan yang terjadi telah membuat kedua lawannya yang berpengalaman sangat luas itu masih saja terkejut. Ikat pinggang itu benar-benar merupakan senjata yang mendebarkan. Sekali-sekali Glagah Putih menggerakkan dengan sebelah tangannya. Namun kemudian ikat pinggang itu direntangkannya dan dipeganginya dengan kedua belah tangannya.

Ketika pedang Dipacala terayun kearah ubun-ubun Glagah Putih, maka ikat pinggang itu telah direntangkannya dialas kepalanya secepat ayunan pedang lawannya. Dengan kedua belah tangannya Glagah Putih menahan ayunan pedang itu dengan sedikit mengendorkan rentangan ikat pianggangnya. Namun yang kemudian telah dihentakkannya kuat-kuat sehingga pedang Dipacala bagaikan didorong dengan kekuatan yang sangai besar memental hampir saja terlepas dari tangannya.

Untunglah bahwa tangan Dipacala cukup kuai menahan hulu pedangnya, sehingga pedangnya itu masih saja tetap didalam genggaman. Namun sementara itu, senjata Truna Patrap telah terjulur lurus kearah lambung Glagah Putih sehingga anak muda itu harus bergeser menghindarinya.

Glagah Putih memang menghindar. Tetapi serangan Truna Patrap itu datang beruntun susul menyusul dengan serangan-serangan yang diluncurkan oleh Dipacala, sehingga Glagah Putih benar-benar merasa terdesak

Tetapi Glagah Putih masih belum sampai ke puncak. Namun bahwa ia telah terdesak telah mendorongnya untuk memberikan perlawanan yang lebih baik. Apalagi ketika ia melihat Ki Wirayuda yang menjadi semakin terdesak oleh Ki Rangga Ranawandawa.

Demikianlah, maka Glagah Putih pun mulai merambah puncak ilmu yang diwarisinya dari aliran Ki Sadewa lewat Agung Sedayu. Ia sengaja tidak menghentakkan ilmunya yang disadapnya dari Ki Jayaraga yang mampu menghambur meluncur menyeberangi jarak. Tetapi ia ingin mengalahkan lawannya pada jarak gapai senjatanya.

Sejenak kemudian, maka ikat pinggang ditangan Glagah Putih itu pun berputar semakin cepat. Bukan saja semakin cepat, tetapi kekuatan yang tersalur daripadanya menjadi berlipat pula. Kekuatan puncak ilmu dari aliran Ki Sadewa itu telah tersalur melalui ikat pinggang kulitnya yang diterimanya dari Ki Patih Mandaraka.

Kedua lawannya terkejut karenanya. Tetapi mereka sudah tidak mempunyai waktu lagi. Serangan Glagah Putih justru datang membadai.

Kedua orang lawannya berusaha menghentikan kemampuan mereka pula. Sebelumnya mereka merasa mampu mendesak anak muda itu, sehingga anak muda itu mengalami kesulitan. Namun ternyata kemudian, keseimbangan pertempuran itu pun berubah dengan serta merta Keduanya tidak lagi mampu mendesak Glagah Putih. Bahkan keduanyalah yang kemudian merasa terdesak.

Tetapi baik Dipacala maupun Truna Patrap seakan-akan tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu. Ikat pinggang Glagah Putih seakan-akan telah berubah menjadi kabut yang melingkari tubuhnya. Namun setiap kali, ikat pinggang itu dengan garangnya menyambar-nyambar kedua orang lawannya.

Tnina Patrap yang mencoba untuk membendung serangan itu, telah membentur ikat pinggang Glagah Putih. Adalah benar-benar diluar dugaan bahwa kekuatan benturan itu jauh melampaui kekuatan anak muda itu sebelumnya. Senjata Truna Patrap ternyata tidak lagi dapat dipertahankan. Benturan yang kuat itu telah melemparkan senjata Truna Patrap beberapa langkah dari padanya.

Dipacala yang melihat kesulitan kawannya itu dengan serta merta telah menyerang pula. Dengan mengerahkan kemampuan ilmu pedangnya yang tinggi. Tetapi ternyata Dipacala pun tidak lagi berkemampuan cukup untuk menghentikan amuk ikat pinggang Glagah Putih.

Bahkan Truna Patrap yang meloncat dan berusaha meraih senjatanya, telah kehilangan kesempatan untuk menghindari serangan Glagah Putih ketika anak muda itu menyusulnya.

Ikat pinggang dalam ujud dan kegunaannya sebagaimana ikat pinggang kulit pada umumnya itu telah terayun deras sekali menghantam punggung Truna Patrap.

Terdengar teriakan yang menggelepar mengoyak udara malam. Sejenak kemudian, dalam siraman cahaya oncor dan lampu minyak, tubuh Truna Patrap itu terdorong jatuh menelungkup. Orang itu masih mencoba menggeliat. Namun kemudian diam untuk selama-lamanya. Ternyata bahwa tulang punggungnya telah patah.

Glagah Putih masih belum sempat melihat keadaan lawannya yang seorang itu, karena Dipacala telah menyerangnya dengan garangnya. Namun Glagah Putih sempat mengelakkan serangan itu. Dengan tangkasnya, ia memutar ikat pinggangnya membelit daun pedang Dipacala. Dengan kedua tangannya, Glagah Putih merenggut pedang itu sehingga terlepas dari tangan lawannya.

Dipacala benar-benar terkejut mengalaminya. Demikian cepat dan tiba-tiba. Bahkan benar-benar diluar penalarannya bahwa hal seperti itu dapat terjadi. Ikat pinggang yang lebar dan yang sekali-sekali mampu membentur pedangnya sebagai sekeping besi baja, tiba-tiba saja telah membelit pedangnya. Apalagi dengan kekuatan raksasa ikat pinggang itu telah merenggut pedangnya.

Dipacala yang kehilangan senjatanya itu meloncat mundur. Namun ujung ikat pinggang Glagah Putih telah memburunya. Satu sentuhan yang kuat telah menghantam pundaknya justru saat Dipacala menyelamatkan dadanya.

Kekuatan yang tidak pernah diduga sebelumnya telah melemparkan Dipacala sehingga orang itu jatuh terpelanting. Dua kali ia terguling.

Ketika Dipacala dengan serta-merta berusaha untuk bangkit, ia pun telah terjatuh kembali. Wajahnya nampak menyeringai menahan sakit. Rasa-rasanya tulang-tulangnya telah berpatahan.

Glagah Putih termangu-mangu. Ketika ia berpaling memandang tubuh Truna Patrap, maka orang itu sudah tidak bernafas lagi. Namun Dipacala nampaknya masih akan mampu bertahan untuk hidup, meskipun sejenak kemudian terdengar orang itu mengerang kesakitan.

Glagah Putih masih juga sempat mengingat, bahwa diantara orang-orang itu, terutama pemimpinnya, diperlukan untuk memberikan keterangan tentang gerakan yang lelah mengejutkan istana Kepatihan itu.

Glagah Putih masih termangu-mangu sejenak. Namun ia pun segera menyadari keadaan. Ki Wirayuda ternyata telah terdorong jatuh. Tetapi tangan Ki Rangga Ranawandawa telah menyentuhnya lagi. Bahkan didadanya.

Ki Rangga Ranawandawa yang melihat lawannya terjatuh dan berguling beberapa kali untuk mengambil jarak, tertawa meledak. Dengan lantang ia berkata, “Inikah seorang yang dipercaya untuk memimpin pertahanan di istana Kepatihan?”

Ki Wirayuda memang bangkit berdiri. Tetapi ketika ia berusaha untuk tegak, maka keseimbangannya masih belum pulih seluruhnya. Apalagi luka-luka bakar ditubuhnya telah membuatnya seakan-akan tidak berdaya lagi.

Ki Rangga Ranawandawa tiba-tiba justru telah menyarungkan pedangnya. Dengan serta merta ia telah bersiap sambil mengangkat kedua tangannya dengan telapak tangan menghadap kepada Ki Wirayuda, “Inilah saat terakhirmu. Tataplah langit yang kelam untuk yang terakhir kalinya. Bintang-bintang dan mega tipis itu. Kau akan segera tersungkur kepelukan bumi.”

Ki Wirayuda memang sudah tidak berdaya sama sekali. Ia memang sempat memandang lampu minyak dipendapa Kepatihan. Namun hatinya memang menjerit. Ia sadar, di ruang dalam Ki Patih Mandaraka sedang berhadapan dengan Ki Wanayasa, Ki Wirayuda sadar bahwa Ki Patih memiliki ilmu yang sangat tinggi. Namun jika kemudian beberapa orang sempat membantu Ki Wanayasa, maka Ki Patih memang berada dalam bahaya.

Tetapi Ki Wirayuda tidak dapat memerintahkan prajuritnya untuk membunyikan tanda bahaya. Karena Ki Patih telah memerintahkan untuk tidak melakukannya, agar rakyat Mataram terutama di Kotaraja tidak menjadi gelisah dan bahkan ketakutan.

Meskipun demikian, sebagai prajurit Ki Wirayuda masih belum melepaskan pedangnya. Hulu pedangnya itu seakan-akan telah melekat pada kulit telapak tangannya. Bahkan ketika Ki Rangga mulai bergerak, Ki Wirayuda telah berusaha mengangkat pedangnya. Namun tangannya seakan-akan sudah tidak berdaya. Pedang itu nampak gemetar dan sekali-sekali ujungnya bergerak turun betapapun setiap kali Ki Wirayuda berusaha mengangkatnya.

Dalam keadaan yang demikian Glagah Putih telah meloncat berlari. Tetapi jaraknya ternyata terlalu jauh. Sementara Ki Rangga Ranawandawa telah bergerak maju. Telapak tangannya yang membara siap menerkam Ki Wirayuda, meskipun ia masih menggenggam pedang, tetapi pedangnya sudah tidak bertenaga sama sekali. Namun justru karena pedang itu telah menggores tubuh Ki Rangga, maka Ki Rangga pun benar-benar telah siap membunuhnya. Jika kedua telapak tangannya itu sempat melekat didada Ki Wirayuda, maka ia tidak akan mempunyai kesempatan untuk menyelamatkan diri.

Dalam pada itu, Glagah Putih yang masih berjarak beberapa langkah itu berteriak, “Tunggu. Kau tidak dapat membunuhnya.”

Ki Rangga berpaling sejenak. Namun Glagah Putih justru telah mendorong Ki Rangga untuk lebih cepat bertindak. Apalagi Ki Rangga tahu berapa keseimbangan pertempuran dalam keseluruhan kurang menguntungkan bagi gerombolannya.

Glagah Putih memang menjadi ragu-ragu. Tctapi hanya sesaat, Ki Wirayuda yang sudah tidak berdaya meskipun tangannya masih menggenggam pedang itu memang sudah tidak berpengharapan. Sementara lawannya telah siap menerkam.

Glagah Putih tidak mempunyai pilihan lain. Ia tidak mungkin dapat menyelamatkan Ki Wirayuda jika ia harus meloncat mendekat arena didepan tangga pendapa Kepatihan itu. Karena itu, maka Glagah Putih pun justru berhenti. Ia memerlukan waktu sekejap dan kemampuan bidik yang tinggi. Demikian Ki Rangga Ranawandawa meloncat, maka Glagah Putih pun telah melepaskan ilmunya pula.

Seleret sinar telah memancar dari telapak tangan Glagah Putih yang memiliki landasan beberapa macam ilmu sekaligus. Selagi ia masih berada dalam puncak kekuatan ilmu yang disadapnya berdasarkan aliran Ki Sadewa lewat Agung Sedayu, maka ia telah melontarkan ilmunya yang diwarisinya dari Ki Jayaraga pada landasan kekuatan yang diterimanya dari Raden Rangga.

Karena itu, yang meluncur adalah ilmu yang dahsyat sekali, justru karena Glagah Putih tergesa-gesa sehingga ia tidak membuat pertimbangan-pertimbangan lebih panjang serta mempergunakan ilmunya yang lebih lunak.

Sambil berdiri tegak serta menyangkutkan ikat pinggangnya dilehernya Glagah Putih telah mengangkat tangannya dengan telapak tangan menghadap kearah Ki Rangga Ranawandawa yang sedang meloncat.

Ternyata bahwa seleret sinar yang terlontar dari telapak tangan Glagah Putih itu tidak tepat menghantam tubuh Ki Rangga. Sinar itu seakan-akan hanya menyinggung punggungnya dan langsung menghantam tangga pendapa,sehingga tangga pendapa Kepatihan itu seakan-akan lelah meledak.

Semua orang yang sedang bertempur dihalaman itu terkejut. Dengan serta merta mereka telah berpaling. Mereka masih melihat bebatuan yang terlempar. Namun mereka pun melihat tubuh Ki Rangga yang tersinggung oleh kekuatan ilmu Glagah Putih itu terlempar dan terbanting jatuh.

Sebenarnya keadaan Ki Rangga yang tidak tepat dikenai ilmu Glagah Putih itu tidak terlalu parah keadaannya. Tetapi karena terjatuh dan membentur sebongkah batu yang terlempar dari tangga pendapa, maka dengan serta merta, orang berilmu tinggi itu pun telah menjadi pingsan.

Sementara itu, Ki Wirayuda yang lemah itu pun tidak mampu bertahan atas goncangan ilmu Glagah Putih yang menghantam dan meledakkan tangga pendapa Kepatihan itu. Karena itu, maka ia pun telah terdorong beberapa langkah surut dan jatuh terguling di tanah.

Glagah Putih sendiri terkejut melihat akibat serangan ilmunya itu. Namun ia lebih terkejut lagi melihat keadaan Ki Wirayuda. Karena itu, maka ia pun Segera berlari mendekatinya.

Ketika Glagah Putih berjongkok disisi Ki Wirayuda, maka dilihatnya orang itu tersenyum. Bahkan mencoba untuk bangkit dan duduk bersandar pada kedua tangannya.

“Aku tidak apa-apa” desis Ki Wirayuda.

“Aku menjadi cemas sekali” sahut Glagah Putih.

“Ternyata kau sungguh-sungguh luar biasa. Kau memiliki ilmu yang tidak ada duanya” berkata Ki Wirayuda, “dan kau sudah menyelamatkan nyawaku.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Ki Rangga Ranawandawa yang masih terbaring diam.

“Aku akan melihat keadaannya” berkala Glagah Putih. Ki Wirayuda pun mengangguk.

Sejenak kemudian Glagah Putih telah mendekati Ki Rangga Ranawandawa. Ternyata punggung Ki Rangga yang tersentuh ilmu yang terloncat dari telapak tangan Glagah Putih menjadi seakan-akan tersentuk lidah api.

Namun Ki Rangga itu masih tetap hidup. Bahkan kemudian terdengar mengerang kesakitan.

“Jika saja ia tidak berdiri terlalu dekat dengan Ki Wirayuda, maka aku tentu akan mengenainya dan tubuhnya tentu akan hancur” berkata Glagah Putih didalam hatinya. Sebenarnya ia telah merasa menyesal mempergunakan hampir seluruh kekuatan yang ada pada ilmunya yang tertimbun.

Karena itu, ia justru merasa bersyukur bahwa ia telah melontarkan ilmunya dengan perhitungan agar tidak menyentuh tubuh Ki Wirayuda yang hanya berdiri kurang dari dua langkah dari Ki Rangga Ranawandawa, sehingga karena itu justru hanya menyinggung saja punggung Ki Rangga. Dengan demikian maka tubuh itu pun tidak menjadi hancur karenanya.

Sejenak kemudian, Glagah Putih pun telah memapah Ki Wirayuda dan membawanya menepi. Menempatkannya ditempat yang lebih baik. Sementara pertempuran pun semakin lama menjadi semakin reda. Para prajurit diregol halaman bersama Sabungsari telah mampu menguasai para penyerangnya. Demikian pula agaknya para prajurit di sekitar istana yang bertempur bersama-sama sepuluh orang pilihan dari antara para petugas sandi serta beberapa orang anggota kelompok Gajah Liwung.

Yang masih bertempur di halaman adalah Ki Rangga Resapraja melawan Ki Ajar Gurawa. Ternyata keduanya benar-benar berilmu tinggi. Meskipun telapak tangan Ki Rangga Resapraja telah dilandasi dengan ilmu Tapak Geni, namun tangan itu seakan-akan tidak pemah mampu menyentuh tubuh lawannya. Sekali dua kali jari-jarinya memang mampu mengenai pakaian dan tubuh Ki Ajar Gurawa dan melukainya. Tetapi tidak banyak mempengaruhi kemampuan tempur Ki Ajar yang berloncatan bagaikan bayangan. Dengan tangkasnya, beberapa kali serangannya mampun menembus pertahanan Ki Rangga Resapraja meskipun ia memiliki Aji Tapak Geni. Sekali tangan Ki Ajar bahkan telah menghantam dada Ki Rangga. Kemudian tumitnya yang terjulur tepat mengenai lambungnya. Sambil terbang dan berputar diudara, tangan Ki Ajar sempat menyambar kening Ki Rangga Resapraja sehingga hampir saja Ki Rangga itu kehilangan keseimbangannya. Untunglah bahwa ia cukup tangkas untuk tetap tegak berdiri.

Namun sentuhan-sentuhan tangan Ki Ajar Gurawa semakin lama semakin terasa betapa sakitnya. Ilmu meringankan tubuh Ki Ajar Gurawa ternyata mampu mengimbangi ilmu Tapak Geni Ki Rangga Resapraja sebagai bagian permulaan dari ilmu Tapak Gun-dala yang lebih dahsyat lagi. Bahkan mampu melontarkan kekuatan intinya panas api pada jarak tertentu.

Beberapa kali Ki Rangga Resapraja mengumpat. Ia harus mengakui kelebihan orang yang dikenalnya bernama Kerta Dangsa itu. Ia pun menyesal bahwa ia terlalu percaya kepada orang baru dilingkungannya meskipun telah melalui satu pendadaran yang berat.

“Apakah saat Kerta Dangsa melakukan pendadaran untuk membunuhku. Ia sudah mecurigai aku?” pertanyaan itu ternyata baru timbul kemudian.

Tetapi Ki Rangga Resapraja tidak sempat berpikir terlalu panjang. Serangan Ki Ajar Gurawa kemudian justru mengalir semakin keras. Sentuhan-sentuhan yang semakin menyakiti tubuhnya justru terjadi semakin sering.

Sementara itu, Ki Rangga Resapraja pun sempat melihat Glagah Putih yang telah berhasil mengalahkan kedua orang kepercayaan Ki Rangga Resapraja. Juga satu hal yang tidak disangka-sangka. Dua orang sekalipun,. Bahkan kemudian Ki Rangga Ranawandawa telah dihancurkan dengan ilmu yang dahsyat sekali, yang sama sekali tidak pernah diduganya akan dapat dilontarkan oleh seseorang yang ada di halaman istana Ki Patih Mandaraka.

Ki Rangga telah benar-benar terjebak. Namun ia masih mengharapkan Ki Wanayasa yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Jika Ki Wanayasa mampu mengalahkan Ki Patih Mandaraka, betapapun besar kemampuan orang-orang yang ada di halaman itu, mereka tentu akan dihancurkannya.

Tetapi Ki Rangga pun menyadari bahwa Ki Patih Mandaraka adalah orang yang jarang ada duanya. Sementara itu, Podang Abang yang bertempur melawan Ki Jayaraga masih juga belum menunjukkan siapakah yang akan memenangkan pertempuran itu.

Sementara itu Glagah Putih menjadi ragu-ragu. Apakah ia akan melangkah mendekati Ki Rangga Resapraja yang bertempur melawan Ki Ajar Gurawa, atau mendekati Podang Abang yang bertempur melawan Ki Jayaraga ditempat yang agak jauh terpisah.

Namun dalam pada itu, para prajurit diregol tertutup halaman istana Kepatihan itu telah selesai dengan tugas mereka. Para penyerang yang tersisa telah menyerahkan diri. Mereka telah melemparkan senjata-senjata mereka ketanah.

Dengan demikian maka tugas Sabungsari di pintu gerbang itu pun telah selesai. Ia pun kemudian meninggalkan para prajurit yang sedang menyelesaikan para tawanan itu. Mengumpulkan dan kemudian menjaga mereka sebaik-baiknya.

Sambil mendekati Glagah Putih, Sabungsari sempat melihat betapa Ki Ajar Gurawa semakin mendesak lawannya yang tidak mampu mengimbangi kecepatan geraknya meskipun memiliki Aji Tapak Geni.

Namun ditubuh Ki Ajar Gurawa pun terdapat pula luka-luka bakar dibeberapa bagian. Pakaiannya pun masih juga berasap dan melontarkan bau yang menyentuh indera penciuman.

Tetapi keseimbangan pertempuran itu sudah menjadi jelas.

Demikian pula Ki Podang Abang yang bertempur melawan Ki Jayaraga. Keduanya adalah orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Dengan berbagai macam ilmu Ki Podang Apang berusaha untuk menghancurkan Ki Jagayara. Namun Ki Jayaraga masih juga mampu mengatasinya.

Ketika Ki Rangga Resapraja sudah tidak lagi mempunyai harapan untuk tetap bertahan, maka Sabungsari dan Glagah Putih justru meninggalkannya. Dipinggir halaman Ki Wirayuda masih juga dapat menunggui Ki Rangga Ranawandawa yang masih saja terbaring sambil mengerang kesakitan. Sedangkan Dipacala yang luka parah, tidak akan segera dapat bangun. Sementara Truna Patrap tidak lagi dapat bernafas.

Sabungsari yang sempat berbicara dengan Glagah Putih telah mengambil keputusan untuk membantu kedua orang murid Ki Ajar Gurawa yang pertahanan tubuh mereka mulai menurun, sementara Rubah-rubah Hitam itu menjadi semakin buas.

Rubah Hitam yang bertempur dengan kedua murid Ki Ajar itu berusaha untuk menyelesaikan keduanya sebelum Sabungsari dan Glagah Putih datang mendekat Namun kedua murid Ki Ajar Gurawa yang mengerti dan tanggap kepada keadaan, berloncatan mengambil jarak. Mereka sadar bahwa berat bagi mereka untuk melawan kedua Rubah itu sekaligus, meskipun dalam keadaan yang terpaksa mereka tidak akan ingkar.

Rubah-rubah Hitam yang mulai mapan itu menggeram. Mereka benar-benar menjadi buas. Kehadiran Sabungsari dan Glagah Putih membuat mereka semakin garang.

Tetapi Rubah-rubah itu tidak mempunyai kesempatan lagi. Sabungsari dan Glagah Putih telah memasuki arena pertempuran itu, sehingga dengan demikian, maka masing-masing harus bertempur melawan seorang saja dari antara Rubah-rubah Hitam itu.

Dengan demikian, maka keseimbangannya pun menjadi jelas. Kedua murid Ki Ajar itu juga memiliki ilmu yang cukup tinggi. Sehingga mereka tidak mengalami kesulitan yang dapat membahayakan jiwa mereka.

Betapapun liar dan buasnya orang yang disebut Rubah Hitam itu, namun mereka benar-benar tidak mampu mengimbangi kemampuan lawan-lawannya.

Namun demikian mereka adalah orang-orang yang seakan-akan telah kehilangan perasaannya. Meskipun disaat-saat tertentu masih juga muncul gejolak dihatinya, namun menghadapi lawan-lawannya mereka sama sekali tidak lagi berjantung.

Murid-murid Ki Ajar Gurawasemakin lama menjadi semakin marah menghadapi Rubah-rubah itu. Meskipun serangan mereka beberapa kali dapat mengenai tubuh lawannya, tetapi demikian Rubah itu terpelanting, secepat itu pula ia bangkit dan meloncat menyerang sambil mengaum tinggi.

Sabungsari menjadi jengkel terhadap lawannya. Ketika Sabungsari sempat menyerang dengan ujung pedangnya dan menyentuh pundak lawannya, maka Rubah itu memang meloncat surut. Tetapi sejenak kemudian ia pun telah meloncat menerkam dengan garangnya.

Luka demi luka telah tergores ditubuh Rubah-rubah itu. Senjata murid-murid Ki Ajar pun telah melukai lawan-lawannya. Demikian pula ikat pinggang Glagah Putih. Tetapi ternyata Rubah-rubah Hitam itu sama sekali tidak berniat untuk menghentikan perlawanan.

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 271)

diedit dari:

http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iii-70/

Terima kasih kepada Ki Kuncung yang telah me-retype jilid ini

 

 

<<kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.