ADBM4-359

<<kembali | lanjut >>

KARENA itu, maka orang itu pun segera memberi isyarat kepada kedua orang kawannya untuk segera melibatkan diri.

Ketika kedua orang yang lain meloncat turun ke arena, maka lawannya pun meloncat surut mengambil jarak.

“Kalian akan bertempur bertiga?” bertanya orang itu.

Orang Gunung Gandar itulah yang menjawab, “Kaulah yang mencari perkara. Kalau kau menjadi ketakutan, menyerahlah. Jika kau berlutut dihadapanku serta mohon ampun, maka aku akan mengampuni.”

Orang itu tersenyum. Katanya, “Kau aneh Ki Sanak. Kau ternyata seorang pengecut yang sombong. Dengan licik kau hadapi aku bersama-sama dengan dua orang kawanmu. Dalam keadaan yang demikian kau masih saja sesumbar, agar aku berlutut di hadapanmu dan mohon ampun. Adakah pantas bahwa aku mohon ampun kepada seorang pengecut yang licik.”

“Tutup mulutmu,” bentak orang Gunung Gandar itu, “apapun yang kau katakan, maka pada akhirnya kau harus berlutut dan mohon ampun dihadapanku atau kau akan mati sia-sia disini.”

“Kau masih saja dapat menyombongkan dirimu.”

“Cukup. Bersiaplah untuk mati.”

“Ki Sanak. Aku masih ingin memberimu peringatan. Untuk melawan kau seorang diri, aku masih dapat mengendalikan diri. Artinya, aku masih dapat memperhitungkan kemampuanku, seranganku dan kekuatanku agar aku tidak membunuhmu. Tetapi jika kalian akan bertempur bertiga, maka kalian telah menyurukkan diri kalian ke dalam bahaya yang lebih besar.”

“Kau telah menjadi putus-asa,” berkata orang Gunung Gandar itu, “kau akan benar-benar mati disini.”

Lawannya tidak menjawab lagi. Tetapi ia pun telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Sejenak kemudian, maka ketiga orang itu pun mulai bergeser mendekati lawan mereka dari arah yang berbeda. Namun lawannya-pun telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan.

Demikianlah, maka pertempuran di halaman kedai itu telah menyala kembali. Beberapa orang yang memperhatikan pertempuran itu menjadi semakin berdebar-debar. Seorang harus bertempur melawan tiga orang yang garang.

Glagah Putih dan Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Jika orang itu bertempur melawan tiga orang mengalami kesulitan, rasa-rasanya Glagah Putih dan Rara Wulan akan merasa segan untuk turun ke arena. Orang itu akan tersinggung jika ia mengetahui bahwa sebenarnya Glagah Putih dan Rara Wulan tidak memerlukan pertolongannya.

Sejenak kemudian, maka telah terjadi pertempuran yang sengit. Orang yang berniat menolong Glagah Putih dan Rara Wulan itu harus mengerahkan kemampuan mereka untuk melawan tiga orang lawan yang keras dan kasar.

Dengan tangkasnya orang itu berloncatan. Sementara itu ketiga orang lawannya telah menyerangnya dari ketiga arah. Mereka berganti-ganti menyerang dengan garangnya. Mereka meningkatkan ilmu mereka semakin tinggi.

Tetapi ternyata bahwa orang yang harus bertempur melawan tiga orang itu adalah orang yang memang memiliki ilmu yang tinggi. Menurut penilaian Glagah Putih dan Rara Wulan, ilmu orang itu lebih tinggi dari ilmu Wirasana dari padukuhan Ricik yang telah memenangkan pertarungan untuk memperebutkan hadiah itu.

Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak semakin meningkatkan ilmu mereka. Serangan-serangan ketiga orang yang bertempur bersama-sama itu pun menyentuh tubuh lawannya.

Tetapi serangan-serangan lawannya pun telah semakin membingungkan ketiga orang lawannya.

Orang dari Gunung Gandar itu seakan-akan tidak mendapat kesempatan lagi. Demikian pula kedua orang kawannya. Serangan-serangan lawannya yang berusaha menolong sepasang suami isteri itu justru datang semakin cepat.

Beberapa saat kemudian, maka seorang diantara mereka telah terpelanting demikian kerasnya. Tubuhnya menimpa sebatang pohon yang tumbuh di pinggir jalan, di depan kedai itu.

Ketika orang itu berusaha untuk berdiri, maka rasa-rasanya tulang-tulangnya telah menjadi retak. Meskipun dengan susah payah ia berhasil berdiri, tetapi rasa sakitnya bagaikan menusuk-nusuk tulang.

Kedua orang kawannya menjadi semakin terdesak. Orang dari Gunung Gandar itu semakin kehilangan kesempatan.

Ketika orang yang membentur sebatang pohon itu mencoba untuk turun lagi ke medan, maka kaki lawannya telah menyambar dagunya.

Wajahnya pun terangkat. Bahkan tubuhnya juga terangkat. Sekali lagi ia terlempar dan terbanting di tanah.

Orang dari Gunung Gandar yang mencoba membantunya, meloncat sambil menjulurkan tangannya. Dengan tiga jari tangan kanannya yang merapat, orang itu berusaha untuk menyerang leher lawannya. Namun serangannya itu tidak menyentuh sasaran. Lawannya dengan tangkas bergeser kesamping sambil menyerang dengan telapak tangan terbuka.

Orang dari gunung Gandar itu terdorong beberapa langkah surut. Ia masih mencoba mempertahankan keseimbangannya. Namun baju di bagian dadanya bagaikan terbakar serta membekas gambar telapak tangan yang membuat bukan saja baju, tetapi kulit tubuh orang Gunung Gandar itu terluka bakar.

Orang Gunung Gandar itu mengaduh kesakitan. Namun kemudian tubuhnya itu tertelungkup. Kedua tangannya mendekap dadanya yang terluka itu.

Yang seorang lagi ternyata tidak mempunyai keberanian untuk melanjutkan perlawanan. Tiba-tiba saja orang itu berlutut sambil berkata, “Ki Sanak. Aku menyerah. Aku minta maaf. Jangan sakiti aku. Aku tidak akan melawan lagi.”

Orang yang menolong Glagah Putih dan Rara Wulan itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata dengan nada berat “Apakah kau sudah jera memperlakukan orang lain dengan semena-mena? Aku tidak mencampuri urusanmu dengan orang yang kau cari itu. Tetapi bahwa orang yang tidak tahu apa-apa akan kau jadikan korban kemarahanmu itulah yang telah menggelitik rasa keadilanku.”

“Aku minta ampun. Kami minta ampun.” Orang itu termangu-mangu sejenak.

Dalam pada itu, Glagah Putih dan Rara Wulan pun bergeser mendekati orang yang menolongnya itu. Keduanya pun kemudian mengangguk hormat. Dengan nada rendah Glagah Putih pun berkata, “Aku mengucapkan terima kasih, Ki Sanak. Jika saja Ki Sanak tidak menolong kami, kami tidak tahu, apakah yang akan terjadi atas diri kami.”

“Sudahlah Ki Sanak berdua. Sudah menjadi kewajiban kami untuk saling menolong.”

“Kami tidak dapat membalas kebaikan hati Ki Sanak.”

“Apakah setiap pertolongan harus dibalas sebagai satu kebaikan hati? Tidak, Ki Sanak berdua. Itu kewajiban. Jadi Ki Sanak tidak merasa perlu untuk membalas kebaikan itu.”

“Meskipun merupakan kewajiban bagi Ki Sanak. Tetapi bagi kami pertolongan Ki Sanak itu merupakan kebaikan budi.”

Orang itu tertawa. Namun kemudian ia pun bertanya. “Kalian berdua mau pergi kemana?”

“Kami adalah pengembara, Ki Sanak. Kami adalah dua orang suami isteri yang tidak mendapat tempat di rumah kami.”

“Kenapa?”

Glagah Putih memang menjadi agak gagap. Tetapi ia pun kemudian menjawab, “Kami tidak diterima di rumah orang tuaku dan tidak pula di rumah isteriku. Pernikahan kami tidak direstui oleh orang tua kami masing-masing.”

Orang itu tertawa. Katanya, “Baiklah. Tetapi apa yang terjadi di sini dapat kau jadikan pengalaman. Karena pernikahanmu tidak direstui, maka kau telah mengalami perlakuan buruk dari orang lain. Orang yang tidak mempunyai sangkut paut dengan orang tua kalian berdua itu. ternyata telah menjadi lantaran, hukuman orang tua kalian terhadap kalian berdua. Untunglah bahwa aku masih sempat menyaksikan apa yang telah terjadi.”

“Kami mengucapkan terima kasih sekali lagi, Ki Sanak. Tanpa pertolongan Ki Sanak, maka keadaan kami akan menjadi sangat buruk.”

“Nah, sekarang kembalilah ke tempat dudukmu,” orang itu pun kemudian memandang berkeliling, kepada orang-orang yang menyaksikan perkelahian di depan kedai itu, “Tontonannya sudah bubar. Kembalilah kalian ke minuman dan makanan kalian.”

Glagah Putih dan Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih.”

Glagah Putih dan Rara Wulan memang kembali masuk ke dalam kedai. Tetapi tidak untuk membeli apa-apa lagi. Glagah Putih membayar pesanannya yang masih belum habis diminum dan dimakan.

Sejenak kemudian, maka keduanya pun segera meninggalkan kedai itu. Di halaman mereka masih sempat mengucapkan terima kasih sekali lagi.

Orang itu pun tersenyum. Katanya, “Selamat jalan pasangan yang masih muda. Kalian dapat melanjutkan perjalanan kalian dengan aman. Aku kira orang-orang ini sudah menjadi jera. Mereka tidak akan mengganggu kalian lagi. Bahkan mereka tidak akan mengganggu orang lain.”

Glagah Putih dan Rara Wulan pun berjalan menyusuri jalan yang tidak terlalu besar. Nampaknya jalan itu tidak cukup lebar untuk dilalui pedati. Tetapi justru karena jalan itu tetap saja rata. Tidak jalur-jalur jejak roda pedati yang kadang-kadang menjadi terlalu dalam.

Di sebelah jalan itu terdapat tanah persawahan yang cukup luas, subur dan bertingkat seperti tangga raksasa. Sedangkan di sebelah lain terdapat tebing yang tidak begitu tinggi.

Nampaknya air yang mengalir di parit-parit tidak pernah kering di segala musim. Rakyat padukuhan itu sudah berhasil menggiring air sehingga rasa-rasanya padukuhan Ricik menjadi terlambat cukup jauh.

Glagah Putih dan Rara Wulan yang tidak terdesak oleh waktu itu berjalan seenaknya saja. Merekapun sama sekali tidak menjadi cemas ketika matahari menjadi semakin rendah. Mereka tidak menjadi cemas, bahwa mereka akan bermalam dimana jika malam turun, karena mereka dapat bermalam di mana-mana.

Sebenarnya ketika langit menjadi gelap, maka keduanya memasuki sebuah padukuhan yang tidak begitu besar. Glagah Putih dan Rara Wulan pun kemudian minta ijin kepada penunggu banjar padukuhan itu, untuk bermalam di banjar.

Ternyata penunggu banjar itu tidak berkeberatan. Glagah Putih dan Rara Wulan dipersilahkan untuk bermalam di banjar itu.

“Tetapi jangan kotori banjar kami,” berkata penunggu banjar itu.

“Tidak, Ki Sanak. Kami akan membersihkan setiap kotoran yang mengotori banjar Ki Sanak.”

“Bodoh kau. Maksudku, bukankah kalian benar-benar suami isteri? Bukan dua orang yang sedang selingkuh?”

“O. Tentu Ki Sanak. Kami adalah dua orang suami isteri.”

Meskipun penunggu banjar itu agak curiga, tetapi menilik sikapnya, maka Glagah Putih dan Rara Wulan bukanlah seorang penipu. Karena itu, maka penunggu banjar itu mengijinkan keduanya bermalam.

Seperti biasanya jika mereka berdua berada di tempat yang asing, maka mereka pun bergantian berjaga-jaga. Seorang tidur, yang lain tetap bangun untuk menjaga segala macam kemungkinan di tempat yang asing itu.

Di pagi hari, sebelum matahari terbit keduanya sudah bangun dan berbenah diri. Merekapun kemudian menemui penunggu banjar itu untuk minta diri, melanjutkan perjalanan.

“Kami mengucapkan terima kasih, Ki Sanak,” berkata Glagah Putih.

“Siapa yang menemui Ki Sanak semalam?” bertanya penunggu banjar itu.

“Semalam?” ulang Glagah Putih.

“Ya. Tiga orang, tiga orang itu datang menemui aku di rumah sepulang aku dari banjar sedikit lewat tengah malam. Mereka menanyakan apakah dua orang suami isteri bermalam di banjar ini.”

Glagah Putih dan Rara Wulan saling berpandangan sejenak.

“Tidak ada yang menemui kami semalam, Ki Sanak,” jawab Glagah Putih kemudian.

“Ada yang menanyakan kalian berdua. Mungkin mereka segan membangunkan kalian karena mereka sampai di padukuhan ini sudah lewat tengah malam. Agaknya mula-mula mereka menemui anak-anak muda yang meronda di gardu. Anak-anak muda itulah yang menunjukkan rumahku kepada mereka, sehingga mereka datang ke rumahku.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah, Ki Sanak. Mungkin hari ini mereka akan menemui aku. Jika ketiganya datang kembali, aku mohon Ki Sanak memberitahukan bahwa aku sedang dalam perjalanan ke Barat.”

“Barat mana?”

“Jika benar dugaanku. Bahwa mereka adalah kawan-kawanku, mereka tahu kemana aku pergi.”

“Baik. Baik, Ki Sanak.”

Demikianlah maka sejenak kemudian Glagah Putih dan Rara Wulan pun meninggalkan banjar itu setelah mengucapkan terima kasih kepada penunggu banjar itu.

Beberapa saat kemudian, maka Glagah Putih dan Rara Wulan telah meninggalkan gerbang padukuhan. Mereka berjalan di jalan yang kering berdebu di tengah-tengah bulak yang luas.

“Siapakah kira-kira ketiga orang itu, kakang?” bertanya Rara Wulan.

“Aku menduga ketiganya adalah tiga orang yang datang ke kedai itu.”

“Apakah mereka belum jera?”

“Mereka menjadi jera di hadapan orang yang menolong kita. Tetapi agaknya mereka justru mendendam kepada kita.”

“Lalu mereka menyusul kita? Darimana mereka tahu kita ada di padukuhan itu?”

“Mereka menelusuri jejak kita. Mereka tentu juga bertanya-tanya tentang dua orang laki-laki dan perempuan yang menempuh perjalanan.”

Rara Wulan menarik nafas panjang. Katanya, “Baiklah. Jika mereka masih juga mendendam.”

Ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka mereka berdua pun menjadi semakin jauh. Mereka melewati jalan yang menyusuri padang perdu yang membatasi daerah persawahan dengan hutan yang terhitung lebat.

“Ada orang yang mengikuti kita, kakang,” desis Rara Wulan.

“Ya. Tiga orang.”

Rara Wulan mengangguk.

Namun keduanya berjalan terus. Mereka seakan-akan tidak mengetahui bahwa ada tiga orang yang mengikuti perjalanan mereka sejak lama.

Tetapi ketiga orang itu pun tidak berusaha menyembunyikan dirinya. Mereka berjalan dengan cepat menyusul kedua orang yang diikutinya.

Dengan demikian maka jarak mereka pun menjadi semakin dekat.

Glagah Putih dan Rara Wulan pun kemudian berhenti ketika mereka mendengar seorang diantara ketiga orang yang menyusulnya itu berteriak, “Berhenti. He, kalian berdua, berhenti.”

Glagah Putih dan Rara Wulan pun kemudian memutar tubuhnya menghadap kepada ketiga orang yang menyusulnya itu.

Sebenarnyalah, mereka bertiga adalah ketiga orang yang dijumpainya di kedai sehari sebelumnya. Ketiga orang yang bertindak kasar terhadap mereka. Seorang diantaranya adalah orang yang telah memasuki arena pertarungan untuk mendapatkan hadiah di kalangan perjudian itu.

“Kalian kira bahwa kalian dapat luput dari tangan kami.” geram orang yang ikut di dalam arena pertempuran itu.

“Ada apa lagi, Ki Sanak?” bertanya Glagah Putih.

“Kau masih juga bertanya?”

“Kami memang tidak mengerti.”

“Mengerti atau tidak mengerti, kalian harus menyesali sikap dan perbuatan kalian.”

“Sikap dan perbuatan yang mana, Ki Sanak.”

“Kalian telah mempermainkan kami di hadapan banyak orang. Kalian telah membuat nama kami tercemar diantara para gegedug yang sebelumnya sangat menghormati dan bahkan ketakutan mendengar nama kami.”

“Bukankah aku tidak berbuat apa-apa. Jika itu terjadi atas diri kalian tentu bukan karena salah kami.”

“Aku tidak berbicara tentang salah atau tidak salah. Tetapi aku berbicara tentang sebab-sebab kenapa aku dipermalukan di depan banyak orang.”

“Bukan pula kami yang menyebabkan. Tetapi kalian sendiri. Jika kalian tidak memaksa aku untuk berbicara tentang sesuatu yang tidak aku mengerti, maka kalian tidak akan mengalami nasib buruk.”

“Persetan dengan wong edan itu.”

“Bukankah seharusnya kalian menuntaskan persoalan kalian dengan orang itu? Dan bukankah kalian sudah berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan kalian lagi. Bahkan tidak hanya terhadap kami. tetapi juga terhadap orang lain.”

“Persetan dengan janji itu. Kami memang berjanji kemarin. Tetapi itu hanya berlaku untuk sehari saja. Sekarang janji itu sudah tidak berlaku lagi.”

“Tidak hanya untuk sehari. Tetapi kau berjanji untuk seterusnya. Untuk sepanjang umurmu.”

Ketiga orang itu tertawa. Seorang yang lain berkata lantang, “Sekarang kau tidak mempunyai pelindung lagi. Orang yang menolongmu itu tidak ada disini sekarang. Karena itu, nasibmu akan menjadi sangat buruk. Terutama kau suami yang malang. Kau akan kehilangan isterimu dan kehilangan nyawamu.”

“Seharusnya kalian tidak berbuat demikian. Jika kalian mempunyai kelebihan, sebaiknya kalian pergunakan untuk tujuan yang baik.”

“Sudah berapa kali kami mendengar nasehat seperti itu. Orang-orang yang pernah mengatakannya adalah orang-orang yang lemah. Orang-orang yang tidak mempunyai kemampuan untuk berbuat lain daripada menasehati orang untuk melindungi dirinya sendiri. Tetapi orang-orang yang kuat akan mengatakan lain,” berkata orang yang ikut bertarung di arena untuk mendapatkan hadiah itu.

“Tidak semua orang yang kuat berbuat semena-mena. Kau masih ingat orang dari padukuhan Ricik itu? Ia tidak membunuhmu meskipun ia memenangkan pertarungan melawanmu. Tidak saja di arena yang sekedar memperebutkan hadiah, tetapi di arena perang tanding. Kau sudah dikalahkannya. Orang padukuhan Ricik itu dapat membunuhmu. Tetapi ia tidak melakukannya.”

“Omong kosong.”

“Bukan omong kosong. Kami berdua melihat pertarungan itu sampai akhir.”

Wajah orang itu menjadi merah.

“Kau yang begitu bernafsu untuk membunuh dalam pertarungan itu. Seharusnya kau sadari, bahwa orang lain yang berilmu pun tidak semuanya mempunyai nafsu membunuh seperti kau.”

“Persetan. Aku bukan orang itu. Aku bukan kau. Aku bukan siapa-siapa. Tetapi aku adalah aku sendiri.”

“Lalu, sekarang kau mau apa?” bertanya Glagah Putih yang darahnya menjadi semakin panas.

“Tidak ada orang yang dapat melindungimu sekarang. Kami akan membunuhmu dan membawa isterimu pulang.”

“Betapapun tinggi ilmumu namun tidak ada seorang pun yang akan membiarkan dirinya di bantai serta dengan suka rela menyerahkan isterinya kecuali orang-orang yang gila dalam segala bentuknya.”

Orang yang ikut bertarung itu pun menyahut, “Kau adalah salah seorang diantara orang-orang gila itu.”

“Mungkin,” jawab Glagah Putih. Namun ia pun kemudian berkata, “Aku tahu sekarang. Kenapa kalian berbuat sesuatu yang tidak masuk akal terhadap kami berdua. Seakan-akan kalian mencari seseorang yang tidak kami mengerti. Jadi sebenarnyalah kalian memang menginginkan untuk merampok isteriku.”

“Tidak. Itu adalah akibat dari sikap keras kepalamu. Kami memang memerlukan orang yang kami tanyakan kepadamu itu.”

“Apa yang kalian perlukan dari padanya?”

“Itu bukan urusanmu.”

“Kenapa kepergiannya kemudian menjadi urusanku.”

“Persetan. Bersiaplah untuk mati.”

Glagah Putih memberikan isyarat agar Rara Wulan mundur beberapa langkah. Digendongnya peti kayunya yang kecil itu dengan selendangnya. Agaknya Glagah Putih ingin menyelesaikan ketiga orang itu sendiri dan secepatnya.

“Bagus,” desis seorang diantara ketiga orang itu, “ternyata kau laki-laki juga. Kau berani mempertahankan harga dirimu meskipun itu berarti hidupmu akan berakhir.”

Glagah Putih tidak menjawab. Tetapi ia pun segera mempersiapkan diri.

“Pandanglah isterimu untuk yang terakhir kalinya, sebelum kau akan mati,” berkata salah seorang dari mereka. Tetapi demikian mulutnya terkatub, maka Glagah Putih pun telah meloncat sambil mengayunkan tangannya menampar mulut orang itu. Demikian keras sehingga orang itu terdorong beberapa langkah surut. Bahkan ia pun kemudian jatuh terguling.

Ketika ia meloncat bangkit, maka mulutnya pun telah berdarah. Dua giginya tanggal sementara bibirnya telah pecah.

Ketika dengan lengan bajunya ia mengusap mulutnya, maka lengan bajunya itu pun telah bernoda darah.

“Gila kau orang muda. Kau telah melakukan kesalahan yang besar sekali.”

Glagah Putih bergeser selangkah.

“Kau justru telah memperpendek umurmu sendiri.”

Tetapi sekali lagi, demikian mulutnya yang berdarah itu terkatub, maka Glagah Putih pun meloncat bagaikan terbang hingga orang itu terlempar dan terpelanting jatuh.

Glagah Putih pun kemudian berdiri selangkah disisinya, orang itu terdengar mengerang kesakitan. Tulang-tulang rusuknya bagaikan telah berpatahan.

Ternyata orang itu tidak mampu lagi bangkit berdiri. Orang itu bahkan berguling-guling menahan sakit yang seakan-akan menusuk-nusuk jantungnya.

Semuanya itu terjadi begitu cepatnya, sehingga kedua orang kawannya tidak mempunyai kesempatan untuk mengambil sikap.

Namun mereka pun menjadi berdebar-debar melihat seorang kawannya sudah tidak berdaya. Bahkan menurut pendapatnya, orang muda itu lebih berbahaya dari orang yang menolongnya di kedai itu. Orang yang mengalahkan mereka bertiga dan memaksa mereka menyatakan janji untuk tidak mengulangi perbuatannya yang buruk itu.

Meskipun agak ragu, namun kemudian orang itu segera mempersiapkan diri. Mereka tidak mau didahului oleh orang muda itu seperti apa yang terjadi dengan kawannya. Karena itu, maka keduanya pun segera berloncatan menyerang bersama-sama dari arah yang berbeda.

Tetapi serangan keduanya sama sekali tidak menyentuh Glagah Putih. Bahkan Glagah Putih pun kemudian meloncat sambil berputar, kakinya terayun dengan derasnya, menyambar kening seorang diantara kedua orang lawannya. Kemudian dengan cepat Glagah Putih meloncat sambil menjulurkan tangannya, tepat menghantam arah ulu hati lawannya yang seorang lagi.

Glagah Putih tidak perlu mengulanginya. Keduanya pun segera kehilangan keseimbangannya. Seorang yang dikenai serangan kaki pada keningnya itu pun terbanting jatuh dengan derasnya. Sedangkan yang seorang lagi, perlahan-lahan jatuh berlutut sambil memegangi bagian bawah dadanya. Nafasnya terasa menjadi bagaikan tersumbat. Dadanya terasa panas dan matanya pun menjadi berkunang-kunang.

Ketiga orang itu pun menjadi tidak berdaya lagi. Beberapa saat Glagah Putih dan Rara Wulan menunggu mereka, sehingga mereka berhenti merintih meskipun mereka masih merasa kesakitan.

“Nah,” berkata Glagah Putih kemudian, “apalagi yang harus aku lakukan atas kalian?”

“Kami minta ampun,” berkata seorang diantara mereka.

“Mulut kalian penuh dengan kebohongan. Hati kalian menyiratkan kepalsuan. Kalian tentu akan berjanji seperti yang kalian ucapkan kepada orang yang menolongku di kedai itu.”

“Ternyata kau tidak memerlukan pertolongan itu,” desis seorang diantara mereka.

“Aku selalu menghargai niat yang baik. Bagaimanapun juga orang itu telah berniat menolongku. Aku harus mengucapkan terima kasih. Sekarang aku langsung berhadapan dengan kalian. Mungkin hatiku tidak sebaik hati orang yang menolongku di kedai itu. Sekarang datang saatnya aku membunuh kalian, karena apapun janji yang kalian ucapkan tentu sekedar usaha kalian untuk menyelamatkan diri.”

Ketiga orang yang masih saja kesakitan itu menjadi sangat gelisah. Seorang diantara mereka pun berkata, “Kami mohon ampun. Kami berjanji demi langit dan bumi.”

“Nilai janji kalian sama dengan tiupan angin di sore hari. Lewat dan kemudian tidak berbekas lagi.”

“Tidak Ki Sanak. Jika tidak percaya, belahlah dada kami.”

“Baik. Aku akan membelah dadamu.”

“Bukan maksudku. Ki Sanak benar-benar membelah dadaku. Maksudku, aku berkata bersungguh-sungguh.”

Glagah Putih menarik nafas panjang. Namun kemudian ia berpaling kepada Rara Wulan sambil bertanya, “Apa yang sebaiknya aku lakukan atas mereka. Mereka telah merendahkan martabat kita berdua. Mereka telah menyinggung harga diri kita.”

“Hukuman yang pantas kau berikan adalah kematian,” sahut Rara Wulan.

“Ampun. Kami mohon ampun. Kami tidak bersungguh-sungguh untuk merampasmu dari tangan suamimu.”

“Sungguh-sungguh atau tidak, sama saja bagiku. Kalian telah menyakiti hatiku.”

“Kami mohon ampun.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun berkata, “Baiklah. Tetapi berjanjilah, bahwa kau tidak memasuki lingkaran pertarungan itu lagi. Pertarungan untuk memperebutkan hadiah bagi pemenangnya.”

“Darimana kau tahu?”

“Aku selalu nonton pertarungan itu. Kau dan kawan-kawanmu, atau siapa saja dari golonganmu, untuk selanjutnya jangan mencoba memasuki arena pertarungan itu. Jika ada diantara kalian yang ikut serta dalam pertarungan itu, maka aku pun akan menyatakan diri untuk ikut pula. Nah, akan terjadi kematian di arena itu, karena aku akan benar-benar membunuh.”

“Aku berjanji. Aku berjanji untuk tidak ikut dalam pertarungan itu lagi seumurku.”

“Selain itu, kalian harus benar-benar menepati janji untuk tidak mengganggu orang lain dengan cara apapun juga, agar umurmu tidak menjadi terlalu pendek.”

“Kami mengerti. Kami berjanji.”

“Kali ini aku masih mengampunimu. Tetapi lain kali tidak akan ada ampunan lagi.”

Glagah Putih pun kemudian meninggalkan ketiga orang yang masih kesakitan itu. Ketiganya tidak segera beranjak pergi. Tetapi ketiganya masih saja menunggu hingga perasaan sakit mereka semakin berkurang.

Namun mereka pun terkejut ketika mereka melihat seseorang datang mendekati mereka. Seorang yang telah mengalahkan mereka di halaman kedai itu.

Ketika orang itu melangkah mendekati mereka, maka ketiga orang yang masih sangat lemah itu menjadi sangat ketakutan.

“Jadi kalian telah membohongiku.”

“Ampun, kami minta ampun.”

“Aku hanya mengampuni kesalahan seseorang satu kali. Jika kesalahan itu diulangi lagi, maka aku tidak akan mengampuninya lagi.”

“Kami tidak akan mengulanginya lagi. Kami berjanji demi langit dam bumi.”

“Kalian memang sangat menggelikan bukankah kedua orang suami isteri itu juga mengatakan, bahwa mulutmu penuh dengan kebohongan. Hatimu penuh dengan kepalsuan?”

“Tetapi kami berjanji.”

“Kalian baru akan berhenti jika kalian sudah mati.”

“Ampun, Ki Sanak. Kami mohon ampun.”

Orang itu berdiri termangu-mangu. Dipandanginya arah Glagah Putih dan Rara Wulan pergi.

“Ternyata dua orang suami isteri itu orang-orang yang berilmu sangat tinggi. Aku menjadi sangat malu kepada diriku sendiri, kenapa aku berusaha untuk menolong mereka. Padahal, merekalah yang sebenarnya harus menolongku karena ilmu mereka, terutama yang sudah aku saksikan, adalah ilmu laki-laki yang masih terhitung muda itu.”

Ketiga orang itu berdiam diri saja. Namun mereka masih harus menahan rasa sakit yang menyengat.

“Dengan demikian, maka rasa-rasanya wajahku bagaikan tercoreng arang,” orang itu terdiam sejenak. Lalu katanya pula, “semuanya itu terjadi karena tingkah laku kalian. Jika kalian tidak berbuat onar di kedai itu, maka aku tidak akan merasa sangat malu ketika aku melihat laki-laki yang masih muda itu mengakhiri perlawanan kalian. Jauh lebih cepat dari yang dapat aku lakukan. Unsur-unsur geraknya sangat mapan. Serangannya pun matang sekali, sehingga seakan-akan tidak pernah gagal. Sementara itu pertahanannya rapat sekali, seperti perisai baja.”

“Kami mohon ampun.”

“Sebenarnya aku tidak akan pernah mengampuni orang yang bersalah sampai dua kali. Terutama mengulangi kesalahan yang sama setelah berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Tetapi karena laki-laki muda yang mengembara bersama isterinya itu juga tidak membunuhmu, maka kali ini kalian aku maafkan. Ingat. Hanya kali ini. Pada kesempatan lain, maka kalian akan aku bantai di tengah-tengah pasar, agar bangkai kalian menjadi tontonan orang banyak.”

“Kami benar-benar menjadi jera.”

Orang itu menarik nafas panjang. Katanya, “Aku akan selalu berada di mana kalian berada. Aku akan muncul dengan tiba-tiba dan menentukan, hukuman atau hadiah apa yang akan aku berikan kepada kalian bertiga. Jika kalian melakukan kesalahan lagi, maka tidak akan ada ampunan. Tetapi jika kalian berbuat baik, mungkin aku akan dapat memberi hadiah kepada kalian, apapun ujudnya.”

“Kami berjanji,” jawab orang yang pernah ikut bertarung di arena perjudian itu.

Orang itu pun termangu-mangu sejenak. Namun kemudian, tiba-tiba saja orang itu meninggalkan ketiga orang yang kesakitan itu tanpa menoleh lagi.

“Orang-orang aneh,” desis seorang diantara ketiga orang itu.

“Yang seorang itu tentu akan selalu membayangi kita bertiga kemanapun kita pergi.”

“Apa keuntungan orang itu dengan tingkahnya yang aneh?”

“Ia seorang yang mengabdikan dirinya kepada sesamanya.”

“Apakah kita juga harus berbuat seperti orang itu?”

“Tidak,” sahut orang yang pernah ikut bertarung itu, “yang dituntutnya dari kita adalah, agar kita tidak merugikan orang lain.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk.

Namun tiba-tiba seorang diantara mereka berdesis, “Orang-orang bodoh.”

“Kenapa?” bertanya orang yang pernah ikut bertarung di arena itu. “Jika mereka mau, maka dalam waktu sebulan, mereka sudah akan menjadi kaya raya. Mereka dapat menyimpan harta benda sebangsal yang besar.”

“Darimana mereka dapatkan itu?”

“Bukankah mereka dapat memungut di sepanjang-padukuhan besar di daerah ini? Tidak akan ada orang yang mampu mencegahnya. Bahkan orang sepadukuhan sekalipun.”

“Ternyata kepalamu berisi ampas kelapa. Kau sama sekali tidak tersentuh oleh nilai-nilai.”

“Nilai-nilai?” orang itu terdiam.

“Sudahlah. Kita akan berbicara kapan saja ada waktu. Marilah, kita pergi.”

Ketiganya pun kemudian meninggalkan tempat itu. Mereka masih saja menyeringai menahan sakit. Bahkan mereka pun masih juga berjalan dengan tertatih-tatih.

Ketika mereka diampuni oleh orang yang berkelahi melawan mereka di kedai, rasa-rasanya jantung mereka masih dibalut oleh awan kegelapan. Tetapi setelah tiga kali mereka dibebaskan dari maut, maka rasa-rasanya telah terjadi sentuhan-sentuhan yang sebelumnya belum pernah dirasakannya.

Dalam pada itu, Glagah Putih dan Rara Wulan pun melanjutkan perjalanan mereka semakin jauh memasuki padang perdu. Jalan setapak yang mereka lewati memang menuju ke pinggir hutan yang nampaknya masih lebat.

“Rara,” berkata Glagah Putih, “jika kau mengambil keputusan untuk menjalani laku sebagaimana tertulis di dalam kitab itu, kita akan memasuki hutan yang lebat itu. Nampaknya ada sungai yang membelah hutan itu. Sungai di depan kita itu nampaknya mengalir dari dalam hutan. Dengan demikian, kita akan dapat menjalani semua laku di satu tempat kecuali tapa ngrame.”

Rara Wulan masih saja nampak bimbang. Dengan nada berat ia pun bertanya, “Apakah tidak akan ada orang yang memasuki hutan itu kakang?”

“Aku kira tidak. Kita pun akan berada di hutan itu untuk beberapa lama sebelum kita memutuskan menjalani laku yang berat itu. Apakah keadaan di hutan itu mendukung atau tidak.”

Rara Wulan masih tetap bimbang. Dengan ragu-ragu Rara Wulan pun bertanya, “Apakah kakang mengenal Tuk Kawarna Susuhing Sarpa seperti yang dikatakan dalam kitab itu?”

“Belum. Tetapi kitab itu tentu memberikan petunjuk jika kita mencarinya. Tetapi bukankah untuk mencari Tuk itu kita harus menjalani seluruh laku itu lebih dahulu?”

Rara Wulan masih saja nampak ragu.

Namun kemudian ia pun berkata, “Kita akan memasuki hutan itu. Kita akan melihat, apakah di hutan itu benar-benar tidak ada seseorang atau pernah diambah kaki seseorang.”

“Baiklah. Kita akan melihatnya.”

Keduanya pun kemudian telah melintasi padang perdu, memasuki hutan yang masih terhitung lebat itu.

Beberapa saat mereka berjalan diantara pepohonan raksasa. Diantara batang-batang merambat, sulur-sulur yang memanjang saling berkaitan. Semak-semak berduri serta rimbunnya dedaunan.

Meskipun matahari masih tinggi, tetapi cahaya di hutan itu sudah menjadi redup oleh bayangan dedaunan yang seakan-akan tidak bersela. Meskipun demikian satu dua berkas sinar matahari masih juga sempat menggapai tanah yang lembab di hutan itu.

Betapapun besar ketahanan jiwani kedua orang suami isteri itu, namun ketika mereka berada diantara pepohonan raksasa serta duri bebandotan, jantung mereka tergetar pula.

“Kakang. Ada perasaan lain di hatiku?”

“Takut?”

Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku memang merasa cemas kakang. Apakah kita akan berada di tempat seperti ini selama kira-kira sebulan?”

Glagah Putih tersenyum. Katanya, “Bukankah kita memerlukan tempat yang terasing yang tidak pernah disentuh kaki manusia.”

“Ya. Tetapi disini kita harus berjuang melawan kekerasan alam yang terasa asing. Di hutan rimba maka hukum yang berlaku adalah siapa yang lemah akan menjadi mangsa yang kuat. Yang menang akan berkuasa mutlak. Tidak ada tatanan dan paugeran. Siapapun dapat membuat tatanan dan paugeran berdasarkan atas keperkasaan.”

“Apakah menurut pendapatmu, kekuasaan yang berdasarkan kepada kekuatan itu hanya berlaku di hutan rimba seperti ini?”

“Maksud kakang?”

“Bagaimana di tengah-tengah kehidupan manusia yang mengaku beradab? Bukankah kekuasaan juga berlandaskan kepada kekuatan, keperkasaan dan kemenangan?”

Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam.

Namun tiba-tiba saja Rara Wulan itu pun berkata, “Baik, kakang. Kita akan menjalani laku di hutan ini. Tetapi lebih ke tengah agar kesendirian kita lebih meyakinkan.”

Dahi Glagah Putih berkerut. Dengan nada dalam ia pun berkata, “Kau ingin membangun kekuatan itu untuk menyusun kekuasaan diantara sesama kita?”

“Tidak, kakang. Aku memang ingin mendapatkan kelebihan itu dengan penuh kesadaran, bahwa tidak ada kekuatan yang tidak dilekati oleh kelemahan. Tetapi aku tidak ingin mempergunakan kekuatan itu untuk membangunkan kekuasaan. Bukankah setiap orang itu guru-guru kita dan juga sebagaimana disebutkan dalam kitab itu mengatakan, bahwa ilmu itu harus berarti bagi banyak orang? Bukankah isyarat bahwa ilmu yang kita miliki harus diperuntukkan bagi kepentingan banyak orang?”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Sementara Rara Wulan berkata selanjutnya, “Kakang. Kita bersama-sama akan menempatkan diri kita berhadapan dengan orang-orang yang menganut aliran, bahwa kekuatan itu sejalan dengan kekuasaan.”

“Baiklah, Rara. Jika kita sudah mantap, maka kita harus mempersiapkan diri kita sebaik-baiknya. Untuk sementara kita masih akan tergantung kepada reramuan untuk melawan bisa dan racun. Bergantung kepada senjata kita untuk kewadagan, maupun senjata ilmu yang sudah mendasari kemampuan kita saat ini.”

“Agaknya bahwa ilmu dasar yang tinggi itu disyaratkan di dalam kita itu untuk melawan kemungkinan buruk yang dapat terjadi selama kita menjalani laku.”

“Ya. Agaknya memang demikian.”

“Lalu, apakah yang harus kita lakukan lebih dahulu?”

“Kita akan melihat-lihat isi hutan ini lebih dalam lagi. Kita akan melihat apakah di tengah-tengah hutan itu nanti, kita akan dapat makan dan tersedia pula air untuk minum? Mungkin air sungai di sebelah itu bening. Tetapi apakah di dalam kejernihannya tidak ada kemungkinan adanya kuman-kuman serta kehidupan air yang dapat membahayakan hidup kita?”

“Bukankah binatang-binatang hutan ini minum air dari sungai itu?”

“Kita harus meyakinkannya lebih dahulu. Jika kita kemudian yakin akan dapat hidup di hutan ini, maka kita baru benar-benar akan mulai dengan laku yang akan kita jalani. Tetapi jika lingkungan di hutan ini tidak memungkinkannya maka kita akan mencari tempat yang lain.”

Rara Wulan mengangguk-angguk.

“Kita tidak dapat ingkar dari kenyataan, bahwa kita harus bertahan hidup selama kita menjalani laku. Kita harus bertahan melawan kelaparan, melawan binatang buas, melawan bisa dan racun dan melawan udara dingin di malam hari. Apalagi pada saat kita Tapa Ngidang.”

Bulu tengkuk Rara Wulan tiba-tiba saja meremang. Bukan karena bayangan kekerasan alam di hutan yang lebat ini, tetapi apa yang harus dilakukannya dalam laku Tapa Ngidang.

Namun akhirnya Rara Wulan pun telah membulatkan tekatnya untuk menjalani laku sebagaimana tersebut di dalam kitab itu. Jika benar isi kita itu, bahwa dengan menjalani laku itu, Rara Wulan dan Glagah Putih akan menguasai ilmu yang lebih baik lagi dari yang dikuasainya sebelumnya, maka ia akan dapat berbuat lebih baik bagi kepentingan sesamanya.

Namun Rara Wulan pun harus menjaga agar ia tidak terjerat oleh kelicikan iblis sehingga setelah ia menguasai ilmu yang jarang ada bandingnya itu, maka ia menjadi lupa kepada sangkan paraning dumadi.

Seperti yang dikatakan oleh Glagah Putih, maka sebelum keduanya benar-benar menjalani laku di hutan yang lebat itu, maka mereka telah berusaha mengenali dunia yang asing itu. Mereka mulai mengenali kehidupan binatang-binatang liar dan bahkan binatang buasnya. Mereka mengenali jenis-jenis binatang buas yang tidak dapat memanjat pepohonan. Tetapi mereka pun berusaha untuk mengenali jenis harimau kumbang yang dapat berkeliaran dari dahan ke dahan.

Merekapun tidak boleh lengah terhadap binatang berbisa ular, jenis laba-laba biru bersabuk putih, ulat berbulu api dan binatang-binatang beracun lainnya.

Namun disamping itu, maka Glagah Putih dan Rara Wulan pun harus membaca lagi, dari mula sampai akhir, laku yang harus dijalani sebelum mereka memasuki latihan-latihan olah kanuragan yang seakan-akan tidak berkeputusan untuk menguasai ilmunya.

Setelah segala sesuatunya dirasa siap betapapun beratnya maka Rara Wulan telah memantapkan diri untuk menjalani laku seutuhnya.

“Kakang,” bertanya Rara Wulan, “bukankah tidak ada batasan antara laku yang satu dengan laku yang lainnya menurut kitab itu?”

“Maksudmu?”

“Bukankah kita dapat menjalani dua laku pada waktu yang sama?”

Glagah Putih menarik nafas panjang. Seakan-akan di luar sadarnya ia pun berdesis, “Gagasan yang baik.”

“Bukankah kita dapat menjalani dua laku sekaligus, misalnya berendam sambil Tapa Ngidang?”

Glagah Putih tersenyum. ia pun kemudian menjawab. “Menurut pengertianku, kita dapat melakukan kedua-duanya bersamaan. Kita akan berendam dan Tapa Ngidang bersama-sama sepekan. Tetapi bukankah menurut syarat laku yang harus dijalani, berendam di air selama sepekan itu tidak berarti kita tidak pernah naik ke darat. Dalam sehari semalam kita dapat berada di darat beberapa lama. Dari matahari terbit, sampai matahari sepenggalah untuk mencari makan bagi ketahanan kewadagan kita.”

“Kaulah yang mencari makan. Aku akan tetap berendam.”

“Bukan hanya mencari makan, tetapi sejak matahari terbit sampai matahari sepenggalah adalah waktu untuk beristirahat bagi kita agar darah kita tidak benar-benar membeku. Selama kita naik ke darat, maka darah kita akan mendapatkan kehangatan.”

“Jika demikian kau naik ke sebelah Timur sungai dan aku akan naik ke sebelah Barat sungai.”

Glagah Putih tertawa. Katanya, “Disebelah Barat sungai sering didatangi para pemburu.”

“Ah.”

Glagah Putih tertawa. Katanya, “Biarlah nanti segalanya akan berlangsung dengan baik jika kita benar-benar menjalaninya dengan sepenuh hati.”

“Tetapi bukankah kita masih diperbolehkan mempergunakan penawar racun serta membawa senjata kita masing-masing? Kau membawa ikat pinggangmu dan aku membawa selendangku.”

“Bukankah di dalam kitab itu tidak disebutkan bahwa kita tidak diperbolehkan membawa senjata?”

Dihari berikutnya sekali lagi mereka mendalami isi kitab itu pada bagian pertama. Mempelajari dan memahami laku yang harus mereka jalani. Semakin-mereka memahami isi kitab itu, maka mereka pun menemukan celah-celah yang dapat mereka pergunakan untuk memperingan laku yang bagi Rara Wulan terasa amat berat. Di celah-celah persyaratan yang harus dijalani, maka pada saat mereka Tapa Ngidang, mereka dapat mempergunakan kulit-kulit kayu dan dedaunan yang terdapat di hutan itu untuk sekedar menggantikan pakaian mereka.

Demikianlah, didahului dengan permohonan yang mantab kepada Yang Maha Agung, agar laku yang mereka jalani itu merupakan usaha serta ungkapan kesungguhan mereka untuk mendapatkan ilmu yang akan dapat mereka pergunakan untuk kepentingan orang banyak sehingga ilmu itu akan mendapatkan arti di dalam kenyataan kehidupan ini di dalam pengamalannya.

Pada hari yang telah mereka pilih, maka mereka mulai dengan laku yang dianggap tidak terlalu berat oleh keduanya. Laku yang akan dapat merupakan langkah pemanasan bagi laku-laku berikutnya.

Glagah Putih dan Rara Wulan itu pun mulai dengan Tapa Ngalong. Mereka memilih tempat yang terbaik, yang tidak menjadi tempat berburu macan kumbang yang sering berkeliaran di dahan-dahan pepohonan.

Dengan demikian, maka di siang hari keduanya telah bergayut pada kakinya di dahan-dahan pepohonan dengan kepala berada di bawah, seperti laku seekor kalong, sejenis kelelawar pemakan buah-buahan yang badan dan rentang sayapnya jauh lebih besar dari kelelawar pemakan nyamuk.

Di malam hari keduanya turun dan berkeliaran di hutan mencari makan.

Di dalam persyaratan laku yang harus dijalani, keduanya dibenarkan untuk membela diri jika mereka diserang. Apalagi yang akan dapat mengakibatkan kematian.

Namun keduanya dengan akal yang mereka miliki, mereka berusaha untuk menghindari benturan kekerasan. Itulah kelebihan mereka dari binatang-binatang yang berkeliaran di hutan.

Sepekan mereka menjalani laku itu. Yang sepekan itu, ternyata merupakan latihan ketahanan tubuh serta kesabaran yang sangat berarti.

Dengan selamat mereka berhasil melampaui laku yang pertama. Kemudian mereka akan menjalani laku yang kedua dan ketiga sekaligus. Mereka akan berendam di air dan menjalani Tapa Ngidang dengan mengenakan dedaunan dan kulit-kulit kayu sebagai pakaian mereka.

Namun tekad mereka yang bulat, serta kepasrahan mereka kepada Yang Maha Agung dalam memohon, maka mereka pun menjalani laku itu dengan bulat hati.

Mereka memerlukan beberapa hari untuk mempersiapkan laku yang kedua dan ketiga yang akan dijalani oleh Glagah Putih dan Rara Wulan sekaligus. Mereka akan berendam di air. Jika matahari terbit, mereka akan naik ke darat. Seperti laku seekor kijang keduanya akan mencari makan di celah-celah lebatnya hutan. Dedaunan dan akar-akaran. Namun tidak disebutkan di dalam kitab, bahwa apa yang mereka makan tidak boleh lain dari makanan seekor kijang.

Meskipun demikian, Glagah Putih dan Rara Wulan akan berusaha untuk menyesuaikan diri sedekat-dekatnya dengan kehidupan seekor kijang.

Namun yang harus mereka lakukan adalah berusaha sebagaimana seekor kijang berusaha menyelamatkan hidupnya di dalam keliaran dan kebuasan yang berada di dalam lingkungan rimba yang ganas itu. Meskipun demikian, Glagah Putih dan Rara Wulan diperkenankan mempergunakan senjata mereka serta dasar-dasar ilmu yang pernah mereka miliki sebelumnya.

Tetapi sebagaimana sudah mereka mulai, Glagah Putih dan Rara Wulan akan berusaha untuk menghindar dengan mempergunakan akal mereka.

Demikianlah, setelah segala-galanya siap, maka keduanya pun mulai menjalani laku yang kedua dan ketiga sekaligus. Rara Wulan merasakan beban terberat sedang diusungnya. Meskipun ia telah mempergunakan kulit kayu dan dedaunan sebagai pakaiannya, apalagi di tengah-tengah hutan yang hanya dihuni oleh binatang liar, namun rasa-rasanya beban itu tetap saja sulit diletakkannya.

Glagah Putih dan Rara Wulan pun telah memilih sebuah kedung kecil di tikungan sungai. Mereka sudah mempelajari tempat itu dengan baik, bahwa di tempat itu tidak terdapat buaya serta binatang air yang berbahaya. Dari syarat-syarat yang mereka pelajari dari kitab yang ada pada mereka, mereka dapat menelan reramuan untuk mencegah racun dan bisa.

Ketika mereka pertama kali mencelupkan diri mereka ke dalam air, terasa betapa dinginnya. Mereka menyadarinya bahwa mereka masih berada di hutan yang membujur di kaki Gunung Merapi.

Sehari semalam mereka berendam dengan menahan dingin, Glagah Putih dan Rara Wulan bergayut pada batang pepohonan yang roboh dan menyilang diatas sungai itu pada saat-saat mata mereka terasa sangat berat.

Sementara itu, di saat matahari terbit, maka keduanya pun segera naik ke darat. Seperti sepasang kijang, mereka berlari-lari di tengah-tengah hutan yang lebat untuk mencari makan. Tetapi sebelumnya keduanya telah mengenali dedaunan yang akan dapat mereka jadikan makanan mereka. Bahkan akar-akaran dan sejenisnya.

Dengan tangkasnya mereka berusaha menghindari binatang-binatang buas yang berusaha memburunya. Dengan akal mereka, keduanya memang mampu melampaui kemampuan seekor kijang menghindar dan menyelamatkan diri.

Namun bukan berarti bahwa pengenalan mereka terhadap binatang-binatang hutan tidak memberikan gagasan-gagasan yang berarti untuk melengkapi unsur-unsur gerak pada ilmu mereka.

Tetapi itu baru akan dapat mereka pikirkan kemudian. Yang mereka lakukan sementara mereka berada di hutan itu adalah menggenapi laku yang harus mereka jalani.

Betapa beratnya laku itu, namun sehari pun merambat ke hari berikutnya. Di hari ketiga, terasa betapa mereka telah dicengkam oleh perasaan letih yang hampir tidak tertahankan. Tetapi kebulatan hati mereka seakan-akan telah menambah kekuatan serta ketahanan unsur kewadagan mereka.

Pada hari keempat, demikian mereka naik ke darat, maka rasa-rasanya tubuh mereka pun menjadi semakin berat. Mereka tidak lagi dapat selincah kijang yang berlari-lari mencari makanan. Meskipun mereka berusaha untuk tidak menyia-nyiakan waktu, namun mereka menjadi semakin lamban.

Pada hari yang kelima, hari yang terakhir, rasa-rasanya mereka sudah tidak kuat lagi. Meskipun demikian, jika Glagah Putih dan Rara Wulan saling berpandangan, maka rasa-rasanya mereka menemukan kekuatan baru di dalam diri mereka.

Dengan doa yang panjang, akhirnya mereka dapat sampai pada saat-saat terakhir dari waktu yang telah ditentukan itu.

Tetapi Rara Wulan sudah hampir tidak mampu lagi naik ke darat.

Glagah Putih yang sangat letih berusaha untuk membantu isterinya, merangkak tebing sungai dan dengan susah payah naik ke darat diantara semak-semak yang tumbuh di bawah pohon-pohon raksasa.

Dengan lemahnya keduanya pun berbaring diatas dedaunan yang bertimbun di pinggir sungai. Dedaunan yang runtuh dari dahan-dahannya dari hari, bulan dan tahun-tahun yang tidak terhitung lagi.

Namun Glagah Putih terkejut ketika tiba-tiba saja ia mendengar isak Rara Wulan yang kemudian duduk sambil menutup wajahnya.

Dengan sisa tenaganya Glagah Putih cepat-cepat bergeser mendekati isterinya. Dipeluknya isterinya sambil bertanya, “Ada apa Rara.”

“Kakang. Yang Maha Agung telah melimpahkan Rahmat Nya kepada kita. Kita telah berhasil menyelesaikan laku terberat yang harus kita jalani.”

Glagah Putih menarik nafas panjang. Katanya, “Ya Rara. Kita wajib bersyukur. Kita telah berhasil melakukan laku yang terberat, bahkan dalam waktu yang lebih singkat.”

“Namun ternyata bahwa laku itu pun terasa menjadi semakin berat. Tetapi terima kasih Yang Maha Agung. Kau beri kami kekuatan dan ketahanan kewadagan dan kajiwan kami.”

Beberapa saat lamanya keduanya duduk di atas tumpukan dedaunan yang runtuh dari dahan-dahannya sehingga hampir menjadi tanah yang lembab. Di antara semak-semak di bawah pepohonan raksasa.

Baru kemudian, mereka bangkit berdiri. Perlahan-lahan mereka pergi meninggalkan tepian.

“Kita dapat membuat api sekarang,” berkata Glagah Putih.

“Ya.”

“Kita dapat mengasapi akar-akaran sejenis garut dan ganyong itu.”

Glagah Putih yang masih menyimpan batu titikan dan emput pada pakaiannya yang kering, telah membuat api. Tetapi ia sadar, bahwa api itu harus terjaga, karena di hutan itu terdapat banyak sekali kekayuan, ranting-ranting dan dedaunan kering yang mudah terbakar.

Sementara itu, mereka pun mengakhiri laku Tapa Ngidang. sehingga mereka dapat menanggalkan pakaian mereka dari kulit-kulit kayu dan dedaunan.

Sambil makan garut dan ganyong yang dipanggang di dalam bara api. Glagah Putih pun berkata, “Kita sudah menyelesaikan tiga laku pokok yang harus kita jalani.”

“Ya, kakang.”

“Kita sudah membersihkan diri dengan berendam, kita sudah secara kewadagan, bersih. Jika bersih secara kewadagan ini menjadi lambang kebersihan jiwa kita, maka kita sudah membersihkan diri lahir dan batin.”

“Ya, kakang.”

“Rara Wulan. Kita harus mencari makna yang lebih dalam dari sekedar mengenali laku ini secara kewadagan. Meskipun tidak jelas, tetapi di dalam kitab itu sudah tersirat, kenapa kita harus menjalani tiga macam laku itu.”

“Ya, kakang.”

“Dalam keterbatasan pengetahuan kita, kita baru dapat menangkap secara samar, lambang-lambang laku yang sudah kita jalani. Jika dengan berendam kita telah membersihkan lahir dan batin kita, maka dengan Tapa Ngidang kita dapat mengenali diri kita sendiri dengan tanpa sekat apapun dalam dunia yang fana ini. Dalam gejolak dan perubahan yang terjadi terus-menerus.”

“Ya, kakang.”

“Di samping itu, kita pun belajar untuk mengatasi segala macam kesulitan di dalam perjalanan hidup kita. Dalam kelemahan dan ketidak berdayaan menghadapi gejolak kehidupan yang ganas dan garang.”

Rara Wulan mengangguk. Sementara Glagah Putih pun berkata, “Tetapi pada suatu saat kita harus menemukan orang yang dapat mengurai lebih dalam tentang laku yang harus kita jalani ini. Jika saja ada seseorang seperti Kiai Namaskara dalam kehidupan yang nyata ini. Ia tentu dapat menguraikan lebih dalam makna dari laku yang kita jalani.”

“Mudah-mudahan pada suatu saat kita dapat menemukannya.”

“Ya. Tentu ada seorang yang memiliki pandangan, jauh dan dalam. Tetapi kita tidak akan dapat menunjukkan kitab itu kepada siapapun sebagaimana pesan Kiai Namaskara yang kita temui dalam dunia yang berbeda itu.”

“Ya, kakang. Orang-orang yang memiliki pandangan jauh dan dalam, tidak sejalan dengan kebersihan nalar dan budinya. Bahkan kadang-kadang pengetahuannya yang jauh dan dalam itu dipergunakannya untuk kepentingan yang bergeser dari pesan-pesan kebijaksanaan sebagai hamba dari Yang Maha Agung.”

“Ya, Rara.”

“Kakang belum berbicara tentang laku yang pertama.”

“Betapa dangkalnya pengetahuanku,” desis Glagah Putih, “tetapi tersirat dalam kitab itu, bahwa dengan Tapa Ngalong, selain kita berlatih tentang ketahanan tubuh serta kesabaran, diisyaratkan pula kepada kita bahwa kita harus melihat apa yang sebenarnya ada di balik penglihatan kewadagan kita. Di balik daya tangkap mata di kepala kita. Kebenaran yang kadang-kadang tidak sejalan dengan gelar keduniawian. Memutar balikkan kenyataan untuk satu tujuan. Yang hitam menjadi putih dan yang putih menjadi hitam. Yang siang menjadi malam dan yang malam menjadi siang.”

Rara Wulan mengangguk-angguk. Sebenarnya Rara Wulan sendiri juga menangkap makna yang tersirat. Tetapi ia ingin menyesuaikan tangkapan batinnya terhadap yang tersirat itu. Ternyata apa yang dikatakan oleh suaminya itu tidak berbeda dengan tanggapannya sendiri.

Dengan demikian, maka laku utama yang harus ditempuhnya telah dapat diselesaikannya. Yang kemudian harus mereka lakukan adalah mendalami petunjuk-petunjuk tentang unsur-unsur gerak dalam olah kanuragan. Berdasarkan atas ilmu yang sudah mereka kuasai, maka mereka akan dapat membuka jalan untuk masuk lebih dalam lagi serta menguasai inti ilmu mereka masing-masing. Menguasai segenap sumber daya kekuatan yang ada di dalam diri mereka sendiri dalam sentuhannya dengan alam di sekitarnya.

Demikianlah, ternyata Glagah Putih dan Rara Wulan pun menjadi terikat oleh laku yang sedang dijalaninya. Mereka merasa bahwa yang dilakukan itu merupakan panggilan nuraninya sehingga Glagah Putih dan Rara Wulan menunda perjalanan mereka ke Barat. Tugas yang mereka usung, namun mereka tidak terikat oleh balasan waktu.

Karena itu, maka Glagah Putih dan Rara Wulan tidak segera meninggalkan hutan itu. Mereka masih tetap berada ditengah-tengah hutan yang lebat di kaki Gunung Merapi.

Berlandaskan dasar ilmu yang berbeda, maka Glagah Putih dan Rara Wulan pun telah menempa diri sesuai dengan jalur yang tertulis di dalam kitab yang diketemukan di rumah yang telah rapuh itu.

Mereka seakan-akan menemukan pintu yang terbuka, sehingga mereka dapat masuk ke dalamnya. Kedalam lorong yang sangat panjang, penuh dengan petunjuk dan bimbingan bagi laku yang harus dijalaninya dalam olah kanuragan.

Dari hari ke hari, maka tenaga dalam mereka pun kian bertambah-tambah matang. Hampir setiap saat keduanya telah berlatih bersama berdasarkan atas petunjuk-petunjuk yang terdapat dalam kitab itu.

Dari pekan ke pekan, bahkan mereka seakan-akan telah lupa akan waktu.

Ketika mereka sadari, bahwa ilmu mereka menjadi semakin matang, maka unsur-unsur yang terdapat pada mereka berdua justru menjadi sama. Mereka tidak merasakan bahwa setiap saat, dalam latihan-latihan bersama maupun sendiri-sendiri, unsur-unsur di dalam ilmu mereka menjadi semakin saling mendekati, sehingga akhirnya mereka seolah-olah telah dilahirkan oleh sebuah perguruan dengan bimbingan seorang guru.

Meskipun mereka masih tetap mengenali landasan ilmu mereka masing-masing, tetapi jika mereka sampai ke puncak kemampuan mereka, maka keduanya tidak lagi mempunyai perbedaan. Hanya karena landasan ilmu Glagah Putih memang lebih tinggi dari Rara Wulan, maka pada hasil akhir dari latihan-latihan mereka masih nampak perbedaan selapis tipis itu.

Yang kemudian nampak pada puncak ilmu Rara Wulan bukan lagi Aji Pacar Wutah Puspa Rinonce. Yang nampak pada puncak ilmu Glagah Putih bukan lagi Aji Sigar Bumi. Bukan pula puncak ilmu Cambuk dari perguruan Orang bercambuk. Bukan pula inti dari ilmu dari Cabang Perguruan Ki Sadewa. Bukan pula lontaran cahaya yang mampu memecahkan dada lawannya. Tetapi puncak kemampuan Glagah Putih pada saat kebabar, tidak ada bedanya sama sekali, kecuali bobotnya yang berselisih selapis tipis dari ilmu Rara Wulan.

Kesadaran itu timbul pada saat-saat mereka mengakhiri laku yang harus mereka jalani di saat-saat mereka mematangkan ilmu kanuragan mereka. Pada saat-saat mereka berlatih dalam tanah berlumpur. Saat mereka berlatih diatas palang-palang kayu yang mereka anyam di hutan itu. Pada saat mereka berlatih dengan memberati tubuh mereka dengan balok-balok kayu dan bebatuan. Pada saat mereka menghadapkan lontaran ilmu mereka ke tebing-tebing berbatu padas dan bahkan pada onggokan batu-batu hitam yang berserakan di tengah sungai. Batu yang nampaknya dimuntahkan dari mulut Gunung Merapi pada saat-saat Gunung itu menjadi pecah.

Baru kemudian, ketika segala laku sudah dijalani kecuali laku terakhir, maka keduanya mulai mempertimbangkan untuk mengakhiri keberadaan mereka di tengah-tengah hutan di kaki Gunung Merapi itu.

“Kita masih harus menjalani laku Pati Geni selama tiga hari tiga malam, Rara.”

“Ya. Kakang. Kemudian Tapa Ngrame. Tetapi Tapa Ngrame itu justru akan kita jalani setelah kita ke luar dari hutan ini.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Kita harus mempersiapkan diri untuk melakukan Pati Geni.”

“Ya, kakang.”

Dihari berikutnya, mereka keduanya pun telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Mereka berusaha menjaga daya tahan tubuh mereka sebaik-baiknya setelah mereka menjalani laku yang berat. Baik dipandang dari sisi kewadagan maupun dipandang dari sisi kajiwan. Ketika mereka mengenakan pakaian mereka yang mereka bawa sebelumnya, maka terasa semua pakaian mereka menjadi longgar.

Itu adalah pertanda, bahwa tubuh mereka telah menyusut, berat mereka pun tentu berkurang. Namun daya tahan tubuh mereka serta tenaga dalam mereka sama sekali tidak menyusut. Bahkan sebaliknya. Sedangkan nalar budi mereka pun menjadi semakin jernih. Penglihatan batin mereka semakin jelas untuk membedakan mana yang buruk dan mana yang baik. Mereka tidak melihat sekedar dengan mata kewadagan mereka. Merekapun tidak sekadar mendengar dengan telinga kewadagan mereka. Mereka tidak pula sekadar meraba dengan sentuhan-sentuhan kewadagan pula.

Demikian setelah mereka mempersiapkan diri selama tiga hari, bahkan mereka harus menghindar dari benturan kekerasan dengan penghuni hutan yang liar dan buas itu, maka mereka pun mulai melakukan Pati Geni. Mereka berdua justru memanjat kaki Gunung Merapi lebih tinggi lagi. Mereka ke luar dari hutan yang lebat itu dan berada di padang perdu di atas hutan.

Udara terasa bertambah dingin. Tetapi mereka terpisah dari hiruk pikuknya kehidupan di hutan. Mereka seakan-akan telah terpisah dari keharusan untuk mempergunakan kekerasan pada saat-saat mereka menjadi lemah, sehingga mereka harus mempergunakan ilmu pamungkas mereka.

Di malam hari, untuk menyusut hawa yang sangat dingin. Glagah Putih dan Rara Wulan menyusup memasuki lekuk-lekuk batu-batu padas di kaki Gunung Merapi itu. Meskipun dingin masih terasa menggigit, tetapi batu-batu padas itu dapat sedikit melindunginya.

Demikianlah mereka berhasil menyelesaikan laku yang harus dijalani terakhir sebelum melakukan Tapa Ngrame yang mereka lakukan di sepanjang jalan yang mereka lalui.

Namun kedua orang suami isteri itu nampak sangat lemah. Mereka memerlukan waktu beberapa hari untuk memulihkan unsur-unsur kewadagan mereka. Karena betapapun tinggi ilmu yang mereka miliki, maka dukungan kewadagan merupakan satu keharusan yang tidak dapat diabaikan.

Satu dua hari keduanya masih tetap berada di hutan perdu.

Mereka masih saja makan berbagai macam dedaunan dan akar-akaran yang mereka jumpai di hutan. Sejenis garut dan ganyong serta ubi-ubian. Buah-buahan terutama pisang liar yang bertebaran dimana-mana. Kelapa yang banyak terdapat di tepian sepanjang sungai yang membelah hutan itu. Bahkan mereka pun telah menemukan beberapa batang pohon gayam yang sedang berbuah.

Ketika keadaan mereka sudah menjadi berangsur pulih, maka mereka pun kemudian bersiap-siap untuk meninggalkan hutan itu. Hutan yang telah menjadi ajang bagi keduanya menjalani berbagai macam laku untuk meningkatkan ilmu serta wawasan mereka tentang berbagai hal yang akan mereka jumpai di dalam perjalanan hidup mereka. Bukan saja yang kasat mata, tetapi mereka harus melihat kedalaman dari persoalan-persoalan yang akan mereka jumpai kemudian.

Ketika mereka meninggalkan padang perdu serta hutan yang mereka huni untuk beberapa pekan itu, mereka lebih dahulu meyakinkan, bahwa mereka tidak meninggalkan bara api meskipun hanya sepeletik kecil. Karena api yang sepeletik kecil itu akan dapat menjalar dan membakar hutan di kaki Gunung Merapi itu.

Ketika hari cerah pada saat cahaya fajar mulai membayang di Timur, keduanya pun telah ke luar dari hutan di kaki Gunung itu. Mereka merambah padang perdu menuruni tebing yang landai. Kemudian menyusuri sungai yang tidak begitu besar tetapi bongkahan bebatuan sebesar kerbau berserakan dimana-mana. Bahkan ada yang lebih besar lagi. Sebenar anak gajah yang sedang tumbuh.

Glagah Putih dan Rara Wulan masih saja membawa kitab yang mereka ketemukan di sebuah rumah yang sudah hampir runtuh di tengah-tengah hutan dalam perjalanan mereka ke Jati Anom. Juga hutan di kaki Gunung Merapi. Tetapi kaki Gunung Merapi di sisi lain.

Rara Wulan lah yang menggendong peti kecil itu dengan selendang sehingga tidak menarik perhatian.

Kitab itu merupakan benda yang sangat berharga bagi Glagah Putih dan Rara Wulan. Tetapi juga karena kitab itu jangan sampai jatuh ke tangan orang lain.

Ketika mereka kemudian sampai ke sebuah jalan bulak, maka rasa-rasanya mereka berada di tempat yang asing. Beberapa lama mereka tidak berada di dunia ramai, terpisah dari pergaulan hidup sesamanya.

Merekapun segera menepi ketika mereka berpapasan dengan beberapa orang yang nampaknya baru pulang dari pasar. Keduanya memperhatikan beberapa orang yang berpapasan itu sehingga keduanya berhenti di atas tanggul parit.

Beberapa orang yang berjalan bersama-sama itu seakan-akan merupakan pemandangan yang terasa asing bagi mereka.

Namun kemudian Glagah Putih pun berdesis, “Agaknya mereka baru pulang dari pasar.”

Rara Wulan menarik nafas panjang. ia pun mengangguk-angguk sambil menyahut, “Ya. Agaknya mereka baru pulang dan pasar.”

“Jika demikian, pasar itu tentu tidak terlalu jauh lagi.”

“Belum tentu. Tetapi setidak-tidaknya jalan ini akan menuju ke sebuah pasar. Entah pasar yang kecil saja atau sebuah pasar yang ramai.”

“Sudah berapa pekan kita tidak minum dan makan sewajarnya? Mungkin kita dapat menemukannya di pasar itu.”

Keduanya pun sepakat untuk pergi ke pasar. Mereka akan dapat minum-minuman hangat serta makan nasi serta lauknya sebagaimana seharusnya.

Beberapa saat mereka menyusuri jalan itu. Sekali-sekali mereka berpapasan dengan beberapa orang yang berjalan beriring. Tetapi sekali-sekali mereka juga bertemu dengan orang yang berjalan sendiri saja sambil menjinjing kereneng berisi berbagai macam kebutuhan mereka sehari-hari atau sebuah bakul yang dukung di punggung.

“Tetapi kita harus membiasakan perut kita dari sedikit Rara,” desis Glagah Putih.

“Tetapi bukankah di hari-hari terakhir ini kita juga makan ubi atau garut atau gayam yang kita benamkan ke dalam api. sehingga tidak perlu menyimpang?”

“Ya. Tetapi sudah lama kita tidak minum-minuman hangat.”

“Kita sering makan garut atau sejenis ubi yang lain yang masih hangat pula.”

“Ya.”

Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, keduanya telah berada di jalan yang langsung menuju ke gerbang sebuah pasar yang terhitung ramai.

Ketika mereka melihat begitu banyak orang berkumpul dan bahkan berdesakan di pasar itu, Glagah Putih dan Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Merekapun mengamati pakaian mereka yang kusut serta peti kecil di gendongan.

“Apakah kita pantas masuk ke dalam pasar itu, Kakang. Pakaian kita kusut dan bahkan kotor.”

“Bukankah kita sudah membenahinya, Rara. Meskipun kusut dan kotor, tetapi kita mengenakannya dengan baik. Di pasar itu, kita akan dapat membeli pakaian baru yang paling sederhana yang dapat kita pakai sebagai pengganti pakaian kita sekarang ini. Bahkan jika perlu kita dapat membeli lebih dari sepengadeg. Bukankah kita mempunyai bekal uang yang cukup?”

“Ya. Selama ini uang kita tidak pernah menyusut. Di hutan kita tidak memerlukan uang sama sekali.”

“Atau kita akan mengenakan pakaian kijang kita.”

“Ah. Pasar akan segera bubar,” Rara Wulan tersenyum. Glagah Putih pun tertawa.

Rara Wulan pun kemudian mengambil kampil yang terselip dibawah setagennya. Ternyata uang yang ada di dalamnya seakan-akan masih belum terjamah.

“Aku juga masih membawa uang,” berkata Glagah Putih sambil meraba kampil yang terselip di bawah ikat pinggang kulitnya.

Keduanya pun kemudian melangkah dengan ragu mendekati pintu gerbang pasar. Namun ternyata bahwa di pasar itu ada juga yang mengenakan pakaian kusut sebagaimana mereka pakai.

Pasar itu adalah pasar yang terhitung besar dan ramai. Namun karena matahari telah menjadi semakin tinggi, agaknya sebagian dari mereka yang berbelanja di pasar itu sudah pulang, sehingga pengunjung pasar itu tidak lagi berjejalan. Para pedagang pun telah banyak yang sempat duduk beristirahat di belakang dagangannya yang sudah jauh menyusut.

Tetapi di deretan para penjual kain masih nampak kelompok-kelompok orang yang berkerumunan.

Glagah Putih dan Rara Wulan pun telah berada diantara mereka yang memilih kain lurik serta baju yang sudah siap pakai. Namun sebagaimana yang terdapat di pasar-pasar yang jauh dari kota raja, maka bahan dan buatannya pun tidak sebaik dan serapi kain dan pakaian yang dijual di pasar-pasar yang lebih dekat dengan pusat-pusat keramaian.

Meskipun demikian, apa yang ada di pasar itu sudah sangat memadai bagi Glagah Putih dan Rara Wulan.

Meskipun sudah agak lama Rara Wulan terpisah dari pergaulan, namun setelah ia melihat-lihat sejenak di tempat para pedagang kain itu, ia pun segera menjadi terampil untuk menawar kain dan pakaian yang diinginkan mereka berdua.

Akhirnya Glagah Putih dan Rara Wulan telah mendapatkan pakaian baru yang akan dapat mereka kenakan kemudian untuk menggantikan pakaian mereka yang kusut. Meskipun pakaian yang kusut itu tidak harus dibuang. Karena mereka dapat mencucinya.

Orang-orang yang membeli lebih dahulu, seakan-akan telah mengingatkan kembali kepada Rara Wulan, bagaimana ia menawar kain dan pakaian jadi.

Rara Wulan pulalah yang harus menggendong kain dan baju yang sudah siap pakai itu dengan selendangnya bersama-sama dengan peti kecil tempat kitabnya disimpan.

“Jika aku tidak membawa selendang,” desis Rara Wulan.

“Aku akan langsung mengenakannya,” jawab Glagah Putih sambil tertawa.

“Lalu pakaianmu yang lama?”

“Aku titipkan pada sebatang pohon di pinggir sungai setelah aku mencucinya.”

“Kalau begitu, titipkan saja nanti pakaian lamamu itu.”

“Bukankah sekarang kau membawa selendang.”

“Huh,” Rara Wulan mencibirkan bibirnya. Glagah Putih tertawa.

Demikianlah mereka berdua pun segera menuju ke pintu gerbang pasar yang sudah tidak lagi terlalu padat. Beberapa orang pedagang bahkan mulai mengemasi sisa dagangan mereka. Sementara matahari pun telah mencapai puncaknya pula.

“Kakang,” berkata Rara Wulan, “apakah kita akan singgah di sebuah kedai yang ada di depan pasar itu?”

“Ya, Rara. Kita akan menikmati minuman hangat. Makan nasi serta lauk pauknya. Sudah lama kita tidak melakukannya.”

“Perut kita akan terkejut, kakang.”

“Sedikit demi sedikit.”

Keduanya tertawa. Namun keduanya pun telah memilih sebuah kedai yang berada di tengah-tengah. Tanpa mereka sadari, bahwa kedai itu adalah kedai yang terbesar dalam deretan beberapa kedai yang ada di depan pasar itu.

Ketika keduanya memasuki kedai itu, maka di dalam kedai itu telah duduk beberapa orang. Pada umumnya mereka adalah orang-orang yang agaknya termasuk orang-orang terpandang. Pakaian mereka nampak baik dan rapi.

Karena itu, ketika mereka melihat dua orang laki-laki dan perempuan dengan pakaian kusut memasuki kedai itu, maka mereka pun segera memperhatikannya.

Glagah Putih dan Rara Wulan baru menyadari, bahwa mereka berada di tempat yang agaknya terlalu baik bagi mereka berdua dalam keadaan mereka yang kusut itu.

Tetapi mereka sudah berada di dalam. Mereka justru merata sangat canggung jika mereka harus pergi ke luar dari kedai itu.

Karena itu. maka keduanya pun segera mencari tempat di sudut kedai. Sementara itu Glagah Putih pun berbisik, “Mudah-mudahan kita tidak terlibat dalam persoalan yang tidak kita mengerti ujung pangkalnya lagi.

“Ya,” Rara Wulan mengangguk-angguk. Agaknya mereka telah teringat apa yang telah terjadi atas mereka ketika mereka singgah di sebuah kedai.

Namun orang-orang di dalam kedai itu pun segera berpaling dari keduanya. Dua orang yang berpakaian kusut itu.

Dengan demikian maka Glagah Putih dan Rara Wulan justru merasa menjadi tenang. Mereka memang berharap bahwa tidak seorang pun yang memperhatikan mereka lagi.

Namun sikap pelayan kedai itu ternyata telah menyinggung perasaan kedua orang suami isteri itu. Karena keduanya berpakaian kusut, maka pelayan kedai itu telah meremehkannya.

Karena itulah, maka pesan mereka berdua dilayani sangat lamban. Orang yang datang kemudian sudah mendapat pelayanan, namun Glagah Putih dan Rara Wulan justru belum.

Tetapi kedua orang suami isteri itu telah menempa dirinya lahir dan batin. Mereka telah berlatih untuk menjadi orang-orang yang sabar. Itulah sebabnya. maka keduanya menunggu dengan sabar pula.

Pelayan kedai itu sebenarnya memang mengharap keduanya menjadi marah, sehingga dengan demikian akan terjadi perselisihan yang dapat dipergunakan menjadi alasan untuk mengusir kedua orang laki-laki dan perempuan yang berpakaian kusut itu.

Tetapi ternyata keduanya tidak marah. Keduanya tetap saja tersenyum-senyum meskipun pesanan mereka dilayani sangat lambat.

“Kita justru mendapat tempat yang baik untuk beristirahat,” berkata Glagah Putih.

“Ya. Jika atas kehendak kita sendiri duduk disini berlama-lama, maka kita tentu sudah diusirnya,” sahut Rara Wulan.

Dengan demikian, maka keduanya justru telah duduk sambil berbincang-bincang tanpa menghiraukan kelambatan pesanan mereka.

Pelayan dan pemilik kedai itu yang kehabisan kesabaran.

Karena kedua orang suami istri itu tetap saja menunggu pesanan mereka, maka akhirnya pelayan kedai itu telah melayani mereka dengan menghidangkan pesanan mereka berdua.

“Akhirnya kita mendapatkan apa yang kita inginkan,” desis Glagah Putih.

“Kakang,” berkata Rara Wulan, “lihatlah pesanan-pesanan mereka yang ada di kedai ini. Mereka telah memesan berbagai macam makanan, nasi dan berjenis-jenis lauknya. Sementara itu pesanan kita sangat sederhana. Agaknya terlalu sederhana bagi kedai yang besar seperti kedai itu.”

“Mungkin Rara. Tetapi kita tidak dapat memesan sebagaimana mereka pesan. Bukan karena kita tidak mempunyai uang cukup, tetapi kita tidak dapat menghamburkan makanan sebanyak itu.”

“Mereka tentu orang-orang kaya yang tidak lagi dihambat perhitungan nilai uang. Mereka mempunyai banyak sekali, sehingga dengan demikian menjadi justru tidak berharga di mata mereka sendiri.”

Glagah Putih mengangguk-angguk.

Beberapa saat kemudian, maka Glagah Putih dan Rara Wulan pun merasa sudah cukup kenyang dengan makan dan minum mereka. Karena itu, maka mereka pun segera memanggil pelayan kedai yang melayani mereka.

Dengan segan pelayan itu mendekatinya dengan sikap yang deksura. Agaknya pelayan itu sangat meremehkan kedua orang suami istri dengan pakaian yang kusut, serta pesanan yang sangat sederhana itu.

“Berapa Ki Sanak,” bertanya Glagah Putih

“Lima keping,” jawab orang itu acuh tak acuh.

Namun mereka terkejut ketika mereka melihat Rara Wulan membuka kampilnya. Ia melihat bukan saja keping-keping uang tembaga, tetapi juga keping-keping uang perak. Apalagi ketika Rara Wulan memberikan uang sepuluh keping kepadanya sambil berkata, “Ambillah kembalinya. Barangkali kau mempunyai anak kecil kau dapat membelikan mainan buat anakmu itu.”

Pelayan itu justru bagaikan membeku. Sisa uang yang lima keping itu tidak diduganya. Ia mengira bahwa dua orang berpakaian kusut itu akan terkejut ketika ia menyebut harga makanan dan minuman mereka yang lima keping itu, karena apa yang mereka makan dan minum itu harganya tidak lebih dari tiga keping di kedai-kedai yang lebih kecil.

Tetapi Glagah Putih dan Rara Wulan tidak menghiraukannya. Keduanya pun segera bangkit berdiri dan melangkah ke pintu kedai.

Namun langkah mereka terhenti ketika pemilik kedai yang tidak tahu, kenapa pelayannya menjadi seperti orang bingung itu menghentikannya.

“Apa yang kalian lakukan?” bertanya pemilik kedai itu.

“Kenapa?”

“Kalian harus membayar penuh harga makanan dan minuman kalian. Kalian tidak dapat membayar hanya sebagian saja.”

“Aku sudah membayar penuh seperti yang dikatakan oleh pelayanmu itu,” jawab Glagah Putih.

“Tunggu,” berkata pemilik kedai itu.

Sementara itu seorang berkumis tipis menyahut, “Ulat-ulat yang tidak tahu diri.”

Hampir di luar sadarnya, Glagah Putih dan Rara Wulan berpaling. Dilihatnya seorang yang berwajah tampan, berkumis tipis duduk menghadapi pesanannya yang bermacam-macam. Makanan, minuman, buah-buahan, nasi dan lauk-pauknya. Bersamanya duduk tiga orang yang juga nampak bersih dan berpakaian rapi. Nampaknya mereka adalah orang-orang yang terhormat di lingkungan itu.

Ketika orang itu melihat Glagah Putih dan Rara Wulan berpaling, maka orang itu pun berkata, “Seharusnya kalian sadari diri kalian. Apakah kalian pantas masuk ke dalam kedai seperti ini.”

Glagah Putih dan Rara Wulan tidak menjawab. Sementara orang itu berkata selanjutnya, “Agaknya dimana-mana sama saja. Di beberapa tempat yang lain. ada saja ulat-ulat seperti itu. Makan dan tidak membawa uang. Mereka mengharap orang lain menaruh belas kasihan dan membayar bagi mereka.”

“Kau tidak dapat berbuat seperti itu disini,” berkata pemilik kedai itu, “sebelum kau membayar, kau tidak akan dapat meninggalkan kedai ini.”

Glagah Putih dan Rara Wulan masih tetap berdiam diri. Namun pelayan kedai yang sudah mendekati pemilik kedai itulah yang menyahut, “Mereka sudah membayar, uwa.”

 “He?”

 “Mereka sudah membayar.”

 “Berapa? Bukankah makanan dan minuman mereka berdua habis lima keping?”

 “Ya.”

 “Lalu berapa keping mereka membayar?”

 “Sepuluh keping.”

 “He?” pemilik kedai itu terkejut, “sepuluh keping? Apakah kau tidak sedang mabuk?”

“Ini uangnya uwa.”

“Pemilik kedai itu menerima uang yang sepuluh keping itu sambil berdesis, “Apakah uangnya uang palsu?”

Namun setelah diamatinya, ternyata bahwa uang itu bukan uang palsu. Kedua orang itu memang membayar sepuluh keping.

“Kenapa sepuluh keping, Ki Sanak?” bertanya pemilik kedai itu.

“Tidak apa-apa K i Sanak. Aku hanya ingin membayar sepuluh keping.”

Pemilik kedai itu menarik nafas panjang. Katanya, “Aku akan mengembalikan yang lima keping Ki Sanak. Lima keping sudah cukup.”

“Tidak apa-apa. Biarlah yang lima keping aku berikan kepada pelayan kedaimu itu untuk membelikan mainan anaknya jika ia mempunyai anak.”

“Aku minta maaf. Agaknya sikap pelayanku telah menyinggung perasaan Ki Sanak. Pelayanku telah meremehkan Ki Sanak, sehingga Ki Sanak telah membalasnya dengan memberinya uang lebih dari yang seharusnya.”

Glagah Putih dan Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Pemilik kedai itu telah menebaknya dengan tepat. Namun justru karena itu, maka Glagah Putih dan Rara Wulan seakan-akan telah diperingatkan bahwa tidak seharusnya mereka berbuat demikian. Tidak seharusnya mereka begitu mudahnya tersinggung dan bahkan langsung membalas dendam.

Namun orang berkumis tipis itu pun menyahut pula, “Salah mereka sendiri. Kenapa mereka mengenakan pakaian yang tidak pantas dipakainya untuk masuk ke dalam kedai besar yang bersih dan tertata rapi ini? Bukankah dengan demikian mereka dengan sengaja melakukannya agar diremehkan kemudian membalas menyakiti hati pelayan kedai itu.”

“Tidak. Bukan maksudku, Ki Sanak,” sahut Glagah Putih, “aku sama sekali tidak berniat demikian.”

“Lalu apa maksudmu?”

“Aku memang tidak mempunyai pakaian lain kecuali yang aku pakai ini. Aku baru saja singgah di pasar untuk membeli pakaian yang lebih baik.”

“Kenapa kau tidak masuk ke dalam kedai yang lain, yang lebih kecil dan yang pantas bagi kalian berdua dengan pakaian kalian yang kusut?” berkata orang berkumis tipis itu.

“Aku tidak memperhatikan dimana aku masuk. Aku baru sadar setelah aku berada di dalam.”

“Pergilah,” berkata orang berkumis itu, “kau kotori kedai ini dengan pakaian kusutmu.”

Glagah Putih dan Rara Wulan pun kemudian meninggalkan kedai itu. Pemilik kedai itu sekali lagi minta maaf kepada mereka karena sikap pelayannya.

“Bukan salahku,” berkata pelayan itu setelah Glagah Putih dan Rara Wulan pergi, “bukankah uwa yang menghambat pelayananku bagi mereka.”

“Kita berdua. Sudahlah. Orang itu sudah pergi.”

“Orang itu justru orang yang tentu sombong sekali,” berkata orang berkumis tipis, “jika saja mereka bukan seorang laki-laki dan seorang perempuan, tetapi keduanya laki-laki, aku akan membuat mereka jera.”

Kawannya yang masih sibuk makan berkata, “Kenapa kau urusi bocah-bocah edan itu? Makanlah. Aku sudah menghabiskan pesananku.”

Orang berkumis tipis itu menarik nafas panjang. Katanya, “Aku justru tersinggung dengan sikap mereka.”

“Kenapa kau sebenarnya? Apakah kau mabuk,” bertanya kawannya yang lain.

Orang berkumis tipis itu pun menyahut, “Jika kalian berkeberatan aku mengurusi kedua orang itu, kenapa kalian mengurusi aku serta sikapku terhadap mereka?”

“Kau kawanku. Kita sama-sama seperjalanan,” jawab seorang kawannya, “sebenarnya kami juga tidak akan mengurusi persoalanmu. Tetapi kami merasa berkewajiban untuk memberikan peringatan kepadamu, bahwa sebaiknya kau tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan remeh yang tidak berarti apa-apa. Bukankah masih banyak kerja lain yang lebih bermanfaat yang dapat kita kerjakan.”

Orang berkumis tipis itu tidak menyahut. ia pun kemudian mencoba memusatkan perhatiannya kepada makanan dan minuman yang telah dipesannya.

Dalam pada itu Glagah Putih dan Rara Wulan pun berjalan semakin jauh dari kedai itu. Sambil berjalan menunduk Glagah Putih berkata, “Sepekan kita mencuci tubuh kita dengan harapan bahwa lambang itu akan numusi pula bagi jiwa kita. Kita berharap bahwa kita masih merupakan sosok yang tidak pantas menyebut diri kita bersih lahir dan batin.”

Rara Wulan mengangguk sambil menjawab, “Ya, kakang. Aku mengerti. Seharusnya kita tidak terlalu mudah merasa tersinggung karena sikap orang lain terhadap kita.”

“Pemilik kedai itu mengerti dengan tepat apa yang kita rasakan dan apa yang kita pikirkan.”

“Aku dapat menerima peringatan itu sebagai satu hal yang berarti bagi kita.”

“Ya. Kita harus mengingat-ingatnya. Kita tidak boleh terjebak lagi kedalam sikap yang justru kekanak-kanakan.”

Demikianlah, maka keduanya pun berjalan terus menyusuri jalan yang panjang. Memasuki sebuah bulak yang luas. Sekali-kali mereka masih mendahului atau didahului oleh orang-orang yang baru pulang dari pasar. Seorang tua yang baru pulang dari pasar terbongkok-bongkok menggendong bakul kecil yang berisi sebuah bungkusan.

Ketika Glagah Putih dan Rara Wulan mendahuluinya, Rara Wulan sempat bertanya, “Nek. Apakah nenek baru pulang dari pasar?”

Perempuan itu memang agak terkejut. Ketika ia berpaling dilihatnya seorang laki-laki dan seorang perempuan berkalan di sebelahnya.

“Ya, ngger,” jawab perempuan itu.

“Pergi berbelanja nek?”

Perempuan itu tersenyum. Masih ada beberapa buah giginya di belakang bibirnya.

“Ya, ngger. Cucuku kepingin punya kalung monte seperti milik kawannya bermain.”

“Kalung monte?”

“Ya. Pagi tadi aku membawa setandan pisang hasil kebun. Sekeranjang kecil uwi jero yang banyak digemari orang. Hasilnya aku belikan kalung monte.”

“Yang di bakul itu, nek?”

“O. Sedikit keperluan dapur.”

“Nenek masih kuat membawa setandan pisang dan sekeranjang uwi jero?”

“Bukan aku yang membawanya ngger. Tetapi anakku. Ayah cucuku yang kepingin kalung monte itu.”

“Sekarang dimana anak nenek itu?”

“Anakku punya kerja di sawah. Demikian hasil kebun itu sampai di pasar, anakku itu pun segera pulang. Ia harus pergi ke sawah untuk mencabut rumput-rumput liar yang tumbuh diantara tanaman padi.”

Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk. Sementara itu matahari sudah turun di sisi Barat.

“Rumah nenek masih jauh?”

“Tidak. Padukuhan di depan kita itu adalah padukuhanku. Sebentar lagi aku akan sampai di rumah.”

“Sampai menjelang sore hari nek?”

“Ya. Jarang sekali orang berjualan kalung monte. Meskipun demikian, aku beruntung, bahwa ada juga orang yang menjual kalung monte itu di pasar tadi.”

Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk.

Tetapi keduanya tidak mendahuluinya. Keduanya berjalan bersama dengan perempuan itu sampai perempuan tua itu memasuki padukuhannya. Dan bahkan sampai ke regol halaman rumahnya.

“Singgah ngger?” orang itu mempersilahkan.

“Terima kasih nek,” jawab Rara Wulan, “kami akan meneruskan perjalanan kami.”

Ketika perempuan tua itu memasuki pintu regol rumahnya, maka Glagah Putih dan Rara Wulan pun melanjutkan perjalanan mereka.

Matahari menjadi semakin rendah. Sementara itu mereka telah memasuki bulak berikutnya demikian mereka ke luar dari padukuhan itu.

Cahaya matahari sudah tidak terasa mengigit lagi. Bayangan pepohonan menjadi bertambah panjang. Beberapa orang yang bekerja di sawah sudah ada yang mulai membersihkan cangkulnya serta mencucui kaki dan tangannya di parit yang mengalirkan air yang bening.

“Beberapa saat lagi senja akan turun,” berkata Glagah Putih.

“Ya. Udara akan terasa semakin segar. Angin yang sejuk akan merambah kaki Gunung.”

Glagah Putih mengangguk-angguk.

Ketika mereka berada di tengah-tengah bulak, maka langitpun menjadi redup. Angin berhembus perlahan menggoyang batang padi yang subur yang tumbuh di seluas bulak yang panjang itu.

Ketika senja turun, mereka berjalan menuju ke sebuah padukuhan ujung bulak itu.

“Apakah kita akan bermalam di padukuhan itu?” bertanya Rara Wulan.

“Kita akan minta ijin penunggu banjar, barangkali kita dapat bermalam di banjar padukuhan yang agaknya lebih besar dari padukuhan-padukuhan yang lain itu.”

Rara Wulan mengangguk-angguk.

Senjapun menjadi semakin suram. Perlahan-lahan malam mulai turun menyelimuti bumi.

Ketika mereka memasuki padukuhan yang besar itu, lampupun sudah nampak dinyalakan di rumah-rumah yang berada di sepanjang jalan utama padukuhan itu. Bahkan di regol-regol halaman rumah yang besar, oncorpun telah dinyalakan.

“Kita akan mencari banjar padukuhan,” desis Glagah Putih.

“Biasanya banjar padukuhan itu berada di pinggir jalan utama ini.”

Rara Wulan mengangguk-angguk.

Namun mereka menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat beberapa orang nampaknya sedang berjaga-jaga di padukuhan itu. Sekelompok orang berdiri di dekat gardu di simpang ampat. Agaknya mereka bersiap-siap untuk menghadapi kemungkinan buruk, karena orang-orang itu semuanya membawa senjata apa saja yang dapat mereka ketemukan. Ada yang membawa pedang, tombak, linggis, kapak dan bahkan kayu-kayu selarak pintu.

Namun lampu minyak atau oncor di gardu itu sendiri belum dinyalakan.

Demikian Glagah Putih dan Rara Wulan berjalan lewat di depan gardu itu, maka seorang diantara mereka yang berdiri di dekat gardu itu bergeser maju.

“Siapa kalian Ki Sanak?”

“Kami dua orang suami isteri yang sedang mengembara, Ki Sanak.”

“Jadikalian adalah sepasang pengembara?”

“Ya, Ki Sanak.”

“Apa yang kalian cari dipadukuhan ini?”

“Kebetulan saja kami berjalan lewat padukuhan ini.”

“Dimana rumah kalian?”

Glagah Putih menjadi ragu-ragu. Jika ia menyebutkan bahwa ia berasal dari Tanah Perdikan Menoreh, maka pada saatnya, ceritera tentang dua orang suami isteri dari Tanah Perdikan Menoreh itu akan tersebar dan sampai ketelinga orang yang tidak dikehendaki Justru orang yang dapat menghubungkan antara Tanah Perdikan Menoreh dengan sepasang suami isteri yang sedang mengembara itu.

Karena itu, maka Glagah Putih pun kemudian menjawab, “Kami berdua berasal dari Banyu Asri, Ki Sanak.”

“Banyu Asri dekat Jati Anom?”

“Ya, Ki Sanak. Kami berdua adalah anak-anak Banyu Asri yang berniat mengembara mencari pengalaman. Kami didera oleh kehidupan yang sulit, karena kami tidak menerima warisan apa-apa dari orang tua kami, sehingga kami memutuskan untuk meninggalkan bumi kelahiran kami.”

Orang-orang yang berada di dekat gardu itu memperhatikan keduanya dengan seksama. Mereka memang nampak berpakaian kusut serta nampak letih oleh perjalanan yang panjang.

Tiba-tiba seorang diantara mereka bertanya, “Kau kenal Ki Among Asmara?”

Glagah Putih dan Rara Wulan saling berpandangan sejenak. Namun kemudian mereka pun menggelengkan kepalanya. Glagah Putihlah yang menjawab, “Tidak Ki Sanak. Kami belum mengenal orang yang bernama Among Asmara.”

“Seorang laki-laki tampan yang berilmu sangat tinggi.”

“Tidak, Ki Sanak.”

“Baiklah. Sekarang kalian akan kemana?”

“Kami tidak mempunyai tujuan yang pasti. Sebagai pengembara kami menurut saja langkah kaki kami. Sedangkan malam ini, jika diijinkan, kami akan mohon ijin untuk bermalam di banjar padukuhan ini. Mungkin kami diperkenankan singgah semalam, meskipun kami harus tidur di serambi belakang banjar padukuhan.”

“Kau datang pada waktu yang salah, Ki Sanak. Seandainya kami mengijinkan kalian bermalam, namun agaknya malam ini bukan malam yang tenang di padukuhan ini?”

“Ada apa dengan padukuhan ini?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Sedangkan seorang yang lain berkata, “Biar saja ia berada di banjar. Asal keduanya tidak ikut campur serta sifat ingin tahunya tidak terlalu besar, agaknya ia tidak akan terganggu.”

“Ada apa sebenarnya di padukuhan ini?”

“Ada semacam upacara nontoni di rumah Ki Bekel,” berkata orang yang pertama.

“Jadi kenapa dengan upacara itu?”

“Ki Bekel telah mendapat ancaman dari orang yang menyebut dirinya Among Asmara. Bahkan anak gadisnya yang akan ditontoni itu sebenarnya diperuntukkan baginya. Among Asmara mengaku masih ada hubungan keluarga dengan Ki Bekel.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya dengan nada rendah, “Jadi ada kemungkinan Among Asmara itu mengganggu upacara yang akan berlangsung itu.”

“Ya, Ki Sanak. Sementara itu menurut kata orang, Among Asmara adalah orang yang berilmu tinggi. Tidak seorang pun yang akan mampu mencegahnya.”

“Jadi, apa yang akan Ki Sanak lakukan bersama-sama?”

“Bagaimanapun juga kami ingin mencegah usaha Among Asmara untuk membatalkan upacara nontoni itu. Bahkan seandainya ia ingin membawa anak perempuan Ki Bekel yang dikatakannya masih ada hubungan keluarga itu.”

“Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk. Sementara itu seorang diantara sekelompok orang itu berkata, “Pergilah ke banjar. Semalam suntuk jangan pergi agar kau tidak terpercik persoalan yang tidak kau ketahui ujung pangkalnya ini.”

“Kasihan Ki Bekel. Tetapi apakah Among Asmara itu benar-benar masih ada hubungan keluarga dengan Ki Bekel?”

“Menurut Ki Bekel, memang masih ada. Tetapi sudah sangat jauh. Ayah Among Asmara memang pernah berkata kepada Ki Bekel, bahwa apabila memungkinkan, mereka akan bebesanan.”

Anak-anak mereka kebetulan laki-laki dan perempuan, akan dijadikan suami isteri. Tetapi setelah itu, keluarga Among Asmara tidak pernah muncul di lingkungan keluarga Ki Bekel. Bahkan tidak ada kabar beritanya lagi. Ketika Ki Bekel mendengar lagi kabar tentang Among Asmara, maka orang itu pun telah menikah setelah menceraikan isterinya yang terdahulu. Dengan demikian Ki Bekel berkesimpulan, bahwa ia tidak terikat lagi dengan pembicaraan yang pernah dilakukannya. Bahkan pembicaraan yang masih mentah.”

Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk. Dengan nada berat Glagah Putih berkata, “Ki Sanak. Bukan maksudku untuk ikut mencampuri persoalan orang lain. Bukan pula ingin menyombongkan diri. Tetapi jika Ki Sanak setuju, apakah aku diperkenankan menghadap Ki Bekel yang tentu sedang gelisah?”

“Kalian mau apa?”

“Barangkali kami dapat membantu mencari jalan ke luar.”

“Apakah kau justru orang yang telah dikirim oleh Among Asmara itu?”

“Tidak, Ki Sanak. Aku belum mengenal orang yang bernama Among Asmara.”

“Apakah kau pernah mendengar nama Alembana?”

“Juga belum,” jawab Glagah Putih.

“Nama Among Asmara yang sebenarnya adalah Alembana. Tetapi ia menggantinya sendiri dengan Among Asmara.”

Glagah Putih dan Rara Wulan hanya mengangguk-angguk saja. Namun seorang diantara orang-orang yang berada didekat gardu itu pun bertanya, “Jika kau bertemu dengan Ki Bekel apa yang akan kau perbuat?”

“Aku ingin mengetahui persoalannya lebih banyak lagi. Jika mungkin, biarlah kami ikut campur meskipun barangkali bukan itu yang dikehendaki oleh Ki Bekel. Sekali lagi aku katakan, bahwa jika kami berbuat demikian, sama sekali tidak terdorong oleh kesombongan kami, tetapi semata-mata karena kami ingin persoalannya selesai dengan baik dan adil.”

“Kalian siapa sebenarnya?”

“Seperti yang kami katakan. Kami adalah suami isteri dari Banyu Asri.”

“Siapa nama kalian?”

“Namaku Wiguna. Dan ini isteriku, Miyat.”

“Miyat,” Rara Wulan mengulang di dalam hatinya. Ia harus mengerti bahwa namanya Miyat. Ia tidak boleh keliru.

“Baiklah. Kami akan membawamu menemui Ki Bekel. Tetapi waktunya terlalu pendek untuk berbicara dengan kalian. Bahkan mungkin sekarang Among Asmara sudah ada di perjalanan menuju kemari.”

“Tetapi biarlah aku pergi ke rumah Ki Bekel.”

Dua orang diantaranya mereka yang berada di dekat gardu itu pun mengantar Glagah Putih dan Rara Wulan pergi ke rumah Ki Bekel.

Di sepanjang jalan menuju ke rumah Ki Bekel, nampak beberapa orang berjaga-jaga. Anak-anak mudapun telah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan, sehingga suasana dipadukuhan itu pun menjadi sangat tegang.

Ki Bekel terkejut ketika dua orang membawa Glagah Putih dan Rara Wulan menemuinya,

“Ada apa Ki Sanak?” bertanya Ki Bekel.

“Aku sudah mendengar persoalan yang Ki Bekel hadapi malam ini.”

“Persoalan apa?”

“Hubungannya dengan Among Asmara serta rencana upacara nontoni yang akan Ki Bekel selenggarakan. Sebentar lagi anak muda yang akan nontoni itu akan datang. Sementara itu, Among Asmara juga akan datang kemari.”

“Ki Jagabaya sudah mempersiapkan pengamanan yang sebaik-baiknya.”

“Menurut pendengaranku, Among Asmara adalah seorang yang berilmu tinggi.”

“Ya.”

“Apakah dengan demikian, korban tidak akan berjatuhan.”

“Lalu apa maksudmu dan siapakah kalian sebenarnya.”

Glagah Putih dan Rara Wulan kemudian mengajukan rencananya untuk menyelamatkan anak perempuan Ki Bekel dari tangan Among Asmara.

Ki Bekel mendengarkan rencana kedua orang suami isteri itu dengan sungguh-sungguh. Namun dari tatapan matanya terpancar keragu-raguan, apakah rencana itu dapat berjalan dengan rancak.

“Mudah-mudahan dengan rencana itu tidak akan ada korban yang jatuh Ki Bekel?”

Ki Bekel memandang Glagah Putih dan Rara Wulan berganti-ganti. Dengan keragu-raguan yang masih mencengkam jantungnya. Ki Bekel itu tertanya pula, “Kalian sudah mengajukan rencana kalian untuk menolong kami. Tetapi kalian belum menjawab, siapakah kalian sebenarnya. Apa pula pamrih kalian sehingga kalian bersedia melakukan rencana kalian yang justru sangat berbahaya bagi kalian. Kalian belum tahu, seberapa tinggi ilmu Among Asmara itu. Jika ternyata kalian tidak mampu menyelamatkan diri kalian, maka kalian akan menjadi korban.”

“Kami tidak mempunyai pamrih apa-apa, Ki Bekel. Kami hanya merasa wajib untuk membantu sesama kami yang mengalami kesulitan. Apalagi memungkinkan jatuhnya korban jiwa. Karena itu, jika Ki Bekel tidak berkeberatan, kami akan mencobanya.”

Namun Ki Jagabaya yang juga berada di rumah Ki Bekel itu berkata, “Rencana yang sangat berbahaya. Ki Bekel. Jika anak anak kita melepaskan Among Asmara itu sampai di rumah ini, maka upacara yang akan diselenggarakan disini akan menjadi berentakan. Karena itu, aku tetap pada sikapku. Among Asmara harus dicegah, agar tidak sampai di rumah ini.”

Ki Bekel menjadi semakin ragu-ragu. Sementara itu seorang yang lainpun berkata, “Apakah kau pengikut Among Asmara yang harus membuka jalan baginya?”

“Aku sudah mengatakan bahwa kami tidak mengenal orang yang bernama Among Asmara. Kami adalah orang Banyu Asri. Namaku Wiguna dan isteriku bernama Miyat.”

“Persetan dengan rencanamu. Seandainya kau bukan pengikut Among Asmara, tetapi kau dan isterimu sekedar orang-orang yang ingin menyombongkan diri dan disebut pahlawan, tetapi ternyata tidak mampu berbuat apa-apa, maka kamilah yang akan mengalami kesulitan.”

Glagah putih menarik nafas panjang. Ia sudah menyarankan agar jalan ke rumah Ki Bekel itu dibuka. Jangan halangi Among Asmara dan orang-orangnya. Jika benar mereka datang, maka mereka akan sebaiknya dijebak saja di halaman rumah Ki Bekel. Satukan semua kekuatan sehingga tidak terpencar dimana-mana, sehingga pecahan-pecahan kekuatan itu akan dengan mudah diterobos oleh Among Asmara dan para pengikutnya dengan meninggalkan korban yang berceceran di jalan-jalan.

Namun seorang tua yang nampaknya memiliki wawasan yang lebih luas dari yang lain berkata, “Aku percaya kepada keduanya. Apa untungnya ia mengajukan rencana itu, jika ia pengikut Among Asmara? Seandainya keduanya tidak mampu berbuat apa-apa menghadapi Among Asmara, namun aku sependapat bahwa kita jangan memecah kekuatan kita dan menaburkan di sepanjang jalan. Aku minta, kita sempat merenungkan pendapat Wiguna ini. Selebihnya aku setuju dengan rencananya yang lain.”

Ki Bekel masih saja termangu-mangu. Namun kemudian ia pun berkata kepada Ki Jagabaya, “Kita akan mencobanya, Ki Jagabaya. Aku juga sependapat, agar kita mengumpulkan kekuatan yang ada di padukuhan ini di sekitar halaman rumah ini. Dengan demikian, maka kita akan menggerakkan kekuatan kita serentak bersama-sama.”

Ki Jagabaya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Baiklah. Aku akan menarik semua anak-anak muda ke sekitar halaman ini.”

“Biarlah mereka tidak menampakkan diri. Baru jika terdengar isyarat yang disepakati, mereka akan ke luar dari persembunyian mereka,” berkata orang tua yang agaknya mempunyai wawasan yang lebih luas itu.

Ki Jagabaya itu mengangguk sambil menjawab, “Baik, paman.”

“Nah, aku setuju dengan seluruh rencana yang dibuat oleh suami isteri ini. Kita akan mencoba mengetrapkannya.”

Orang tua itu memang mempunyai pengaruh yang besar. Ki Bekelpun sangat menghormatinya. Karena itu, maka sebagaimana dikatakan oleh orang tua itu, maka mereka akan mencoba menge-trapkan rencana yang telah dibuat oleh Glagah Putih.

Demikianlah, maka ketika anak muda yang akan nontoni itu datang bersama keluarganya, maka mereka pun segera diterima sebagaimana seharusnya. Mereka dipersilahkan duduk di pringgitan, ditemui oleh Ki Bekel, keluarganya dan beberapa orang sesepuh.

Namun agaknya keluarga anak muda yang akan nontoni itu juga sudah menerima ancaman dari Among Asmara. Karena itu. maka mereka datang tidak saja diiringi oleh keluarga dan para sesepuh, tetapi beberapa orang berilmu telah diminta untuk ikut pula dalam iring-iringan itu, meskipun tidak semata-mata.

Karena itu, demikian mereka duduk maka wakil dari keluarga anak muda yang nontoni itu pun segera memberitahukan kepada Ki Bekel tentang ancaman yang telah diterimanya.

“Aku juga sudah menerima ancaman itu,” desis Ki Bekel.

“Ki Bekel sudah mempersiapkan diri?”

“Ya. Aku sudah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Tetapi menurut pendengaranku, Among Asmara adalah seorang yang berilmu sangat tinggi.”

“Itulah yang membuat kami gelisah. Tetapi bukankah kita tidak dapat mengurungkan upacara ini karena kita menjadi ketakutan oleh ancaman itu?”

“Ya. Aku sependapat. Upacara ini harus berlangsung terus.”

Namun Ki Bekel pun kemudian bercerita tentang keberadaan dua orang suami isteri di rumah itu. Mereka menyatakan diri untuk membantu mengatasi kemelut yang mungkin terjadi apabila Among Asmara benar-benar akan datang.

“Tetapi apakah keduanya benar-benar akan datang.”

“Semula aku memang merasa ragu. Tetapi agaknya mereka bersungguh-sungguh.”

“Aku akan berbicara dengan kemenakanku, agar ia tidak menjadi salah paham. Permainan ini dilakukan khusus untuk mengatasi ancaman Among Asmara.”

“Ya, sebaiknya kau beri tahu, kemenakanmu itu.” Dalam pada itu, di rumah Ki Bekel itu pun nampak menjadi ramai. Lampu minyak dinyalakan dimana-mana. Di regol halaman terdapat dua oncor di sebelah menyebalah pintu. Di sudut gandok, di pintu dapur dan di sebelah kandang juga terdapat oncor yang menyala dengan terang.

Namun orang-orang yang berada di rumah Ki Bekel itu menjadi tegang ketika mereka melihat beberapa orang berkuda memasuki halaman rumah itu.

“Among Asmara,” desis beberapa orang yang sudah mendengar rencana kedatangannya.

Glagah Putih yang berada di halamanpun melihat enam orang berkuda itu. Enam orang yang agaknya orang-orang berilmu.

Namun Glagah Putih terkejut. Orang yang berkuda dipaling depan, yang mungkin adalah orang yang disebut Among Asmara itu adalah orang berkumis tipis yang ditemuinya di kedai di dekat pasar itu.

Orang-orang itu pun segera berloncatan dari punggung kudanya. Orang yang berkumis tipis itu segera naik ke pendapa sambil berkata lantang, “Paman Bekel. Aku benar-benar datang seperti yang telah aku beritahukan.”

Ki Bekel pun kemudian bangkit berdiri dan berjalan mendekati orang itu, “Alembana.”

 “Namaku Among Asmara, paman.”

 “O, Among Asmara. Apa yang sebenarnya kau kehendaki?”

 “Jelas paman. Aku datang untuk nontoni calon pengantinku.”

 “Nampaknya kau sekedar ingin mengacaukan acaraku. Bukankah kau sudah beristeri. Bahkan tidak hanya sekali?”

“Aku memang mencoba melupakan Genduk Wiji dengan mengambil seorang gadis menjadi isteriku. Tetapi aku gagal. Genduk Wiji tetap saja tidak mau semingkir dari hatiku. Bahkan ketika aku menikah lagi, aku tetap merindukannya. Karena itu. Sekarang aku datang untuk nontoni paman. Jika segalanya masih berkenan dihatiku, maka aku akan segera datang melamarnya.”

“Among Asmara. Kau tentu tahu, bahwa hari ini Genduk Miyat akan ditontoni oleh seorang anak muda yang mencintai dan dicintainya. Kau tidak dapat mengganggunya lagi.”

“Paman tidak dapat ingkar. Paman dan ayah sudah bersetuju, bahwa aku dan Genduk Wiji akan menjadi suami isteri.”

“Tetapi kau sudah menikah lebih dari satu kali. Maka pembicaraanku dengan ayahmu yang sebenarnya juga belum matang itu aku anggap gugur.”

“Paman yang meremehkan aku. Jika sekarang ada seorang laki-laki yang menginginkan Genduk Wiji maka orang itu harus menakar kemampuan dengan aku sebagai laki-laki. Aku tantang laki-laki itu bertanding sampai seorang diantara kita mati.”

“Nanti dulu, Among Asmara. Sejak tadi kau sebut Genduk Wiji.”

“Ya genduk Wiji.”

“Nampaknya kau mengigau. Genduk Wiji sudah menikah sejak tiga tahun yang lalu.”

“Jadi siapa yang akan ditontoni sekarang?”

“Genduk Miyat.”

“Siapakah Genduk Miyat itu?”

“Adik Genduk Wiji.”

“Bohong. Paman bohong . Jika benar ada gadis lain, tunjukkan kepadaku gadis itu.”

Ki Bekel pun kemudian melambaikan tangannya sambil berkata, “Bawa Genduk Miyat itu kemari. Biarlah Among Asmara melihat dengan mata kepalanya, siapakah yang akan ditontoni malam ini.”

Sejenak kemudian, maka pintu pringgitanpun terbuka. Dua orang perempuan dan seorang laki-laki yang masih muda mengiringkan Rara Wulan melintasi pringgitan mendekati Among Asmara.

Among Asmara terkejut. Perempuan itu adalah perempuan, yang ditemuinya di kedai itu. Tetapi perempuan itu mengaku bersama suaminya.”

“Paman. Apakah paman sedang bermain-main?”

“Kenapa. Gadis inilah Genduk Miyat yang akan ditontoni malam ini.”

“Tetapi aku pernah bertemu dengan perempuan itu bersama seorang laki-laki yang disebut suaminya.”

“Akulah itu,” sahut Glagah Putih yang berdiri di belakang Rara Wulan, “Kami mengaku suami isteri waktu itu, agar perjalanan kami menjadi aman. Waktu itu aku mendapat tugas yang berat menjemput Miyat dari rumah paman. Justru untuk menjalani upacara sekarang ini.”

Among Asmara termangu-mangu sejenak. Ia memandang Rara Wulan dengan hampir tidak berkedip. Perempuan yang berpakaian kusut yang dilihatnya di kedai itu, ternyata adalah seorang perempuan yang cantik sekali.

Dibawah sinar lampu minyak yang kemerah-merahan, wajah Rara Wulan pun menjadi kemerah-merahan juga. Dikenakannya pakaiannya yang baru. Diriasnya wajahnya sedikit dan disisirnya rambutnya dengan rapi.

“Kenapa aku tidak melihat kecantikan itu waktu aku bertemu dengan perempuan ini di kedai itu,” berkata Among Asmara di dalam hatinya.

Hampir di luar sadarnya Among Asmarapun bertanya, “Jadi gadis inikah yang malam ini ditontoni?”

“Ya,” jawab Ki Bekel, “gadis ini adalah adik Genduk Wiji.”

“Tetapi siapakah yang disebut-sebut oleh ayah tentang gadis yang akan dijadikan isteriku?”

“Dahulu ayahmu memang pernah berbicara tentang Genduk Wiji. Tetapi bukankah pembicaran yang mentah itu telah semakin kau mentahkan dengan pernikahanmu yang bahkan terjadi berulang kali itu?”

“Baiklah. Aku akan melupakan Genduk Wiji. Tetapi aku akan nontoni Genduk Miyat.”

“Nanti dulu,” sahut Ki Bekel, “Genduk Miyat sekarang sedang ditontoni orang. Seorang anak muda yang jika jodoh, akan menjadi suaminya.”

“Persetan dengan anak muda itu. Jika ia berkeras, maka aku akan menantangnya. Siapakah yang masih tetap hidup malam ini, maka ia akan menjadi suami Genduk Miyat.”

“Akulah laki-laki yang akan nontoni,” sahut Glagah Putih.

“Kau?”

“Kami sudah setuju untuk menikah. Kami saling mencintai. Malam ini, aku datang untuk memenuhi urutan upacara. Sebenarnya aku tidak perlu lagi nontoni karena aku sudah mengenal Genduk Miyat dengan baik.”

Among Asmara termangu-mangu. ia pun kemudian berpaling kepada seorang pengiringnya, “Inikah laki-laki itu?”

“Menurut pengertianku bukan laki-laki itu, Ki Lurah.”

“Bukankah kau yang menyampaikan suratku kepada keluarganya agar membatalkan niatnya untuk nontoni malam ini?”

“Ya,” sahut orang itu.

“Surat itu sudah aku terima,” sahut Glagah Putih, “kau mengancam agar upacara malam ini dibatalkan. Tetapi menurut pendapatku, aku tidak perlu mendengarkan ancamanmu. Terus-terang, aku sama sekali tidak menjadi ketakutan. Jika kau malam ini menantangku, maka aku akan melayanimu.”

“Setan kau laki-laki sombong. Sejak di kedai itu aku sudah menduga, bahwa kau adalah laki-laki yang sangat sombong. Tetapi sekarang kau harus menanggung akibat dari kesombongan itu.”

“Akibat apa?” bertaya Glagah Putih.

“Sebenarnya aku ingin melumatkanmu ketika aku melihatmu menyombongkan diri di kedai itu. Kau bayar pelayan kedai itu dua kali lipat dari yang seharusnya kau bayar. Kau telah menggelitik perasaanku. Tetapi kawan-kawanku waktu itu mencegahku,” orang itu berhenti sejenak, lalu. “Nah, sekarang mereka tidak akan mencegah aku lagi. Mereka yang pada waktu itu bersamaku di kedai itu, sekarang mereka juga ada, disini. Mereka akan menyaksikan, bagaimana aku menghancurkan tubuhmu sehingga menjadi debu.”

“Aku tidak peduli apa yang telah aku lakukan dikedai itu. Aku juga tidak peduli akan perasaanmu. Yang penting, jika kau sekarang ingin menantangku, mari. Kita akan turun ke arena. Siapa yang menang akan menjadi suami Genduk Miyat.”

“Bagus,” teriak Among Asmara yang telinganya terasa menjadi panas. Ia tidak pernah bertemu dengan laki-laki yang begitu sombongnya seperti laki-laki yang berdiri di sebelah Genduk Miyat itu.”

“Miyat,” berkata Glagah Putih, “jangan gelisah. Aku akan segera menyelesaikannya.”

“Kakang,” berkata Rara Wulan tiba-tiba, “aku ingin mengulangi bebana yang pernah aku katakan kepadamu. Aku mau menjadi isteri seorang laki-laki yang dapat mengalahkan aku. Karena itu, sebelum laki-laki yang menyebut dirinya bernama Among Asmara itu berkelahi melawanmu, biarlah ia berkelahi melawanku. Jika ia dapat mengalahkan aku, barulah ia pantas menjadi suamiku. Tetapi masih ada lagi satu bebana. Ia harus mengalahkanmu.”

“Iblis betina,” geram Among Asmara, “permainan apa yang sebenarnya kalian lakukan?”

“Bukan apa-apa. Bukankah wajar, bahwa seorang perempuan yang sedang memilih seorang suami mempunyai bebana? Nah, sekarang kau harus memasuki lingkaran sayembara itu. Jika kau dapat mengalahkan aku, maka barulah kau pantas menjadi suamiku. Tetapi masih ada satu tahap lagi yang harus kau lakukan, mengalahkan calon suamiku yang malam ini memasuki upacara nontoni. Upacara yang telah kau kacaukan itu.”

“Baik. Baik,” geram Among Asmara, “aku akan menunjukkan kepadamu, bahwa aku adalah seorang laki-laki. Aku akan memaksamu untuk tunduk kepadaku, melakukan semua perintahku dan menuruti semua kemauanku.”

“Jika saja kau mampu mengalahkan calon suamiku. Ia adalah seorang laki-laki yang pernah mengalahkan aku, sehingga aku bersedia menjadi calon isterinya.”

Namun Glagah Putih pun berkata, “Sebaiknya berikan laki-laki itu kepadaku. Aku akan mengupasnya seperti sebuah pisang koja.”

“Tidak. Ia harus mampu mengalahkan aku lebih dahulu.”

Glagah Putih yang menyebut namanya Wiguna itu pun berkata, “baiklah jika itu yang kau kehendaki.”

Namun Among Asmara itu pun berkata, “Aku merasakan suasana yang tidak sewajarnya disini. Baik. Apapun yang kalian lakukan, kalian akan menyesal. Aku akan membunuh semua orang yang telah mempermainkan aku. Aku tidak peduli apakah perempuan itu Genduk Miyat atau Genduk Wiji atau siapapun juga, aku akan tetap membawanya. Mungkin pada suatu saat nanti, jika aku sudah menjadi jemu, ia akan mengalami nasib buruk karena kesombongannya saat ini.”

“Sudahlah. Jangan menakut-nakuti. Aku sudah bukan anak kecil lagi.”

Rara Wulan yang disebut Genduk Miyat itu pun segera melangkah maju dan turun kehalaman sambil menyingsingkan kain panjangnya, sehingga yang nampak kemudian adalah pakaian khususnya.”

“Ternyata kalian sudah mempersiapkan sebuah permainan yang menurut kalian akan menarik. Tetapi kalian akan menyesal. Perempuan itu akan aku hinakan di hadapan kalian semuanya.”

“Jangan banyak berbicara lagi, Among Asmara. Kita akan berkelahi. Apapun tujuan dari perkelaian ini, namun aku ingin membuatmu menjadi jera, orang cengeng.”

“Iblis betina. Kenapa kau sebut aku cengeng?”

“Namamu adalah penanda, bahwa kau adalah seorang laki-laki cengeng.”

“Bersiaplah. Semakin lama telingaku menjadi semakin panas.”

Rara Wulan tidak menjawab. Tetapi ia pun segera mempersiapkan diri.

Sejenak kemudian, orang-orang yang berada di halaman rumah Ki Bekel itu telah membuat lingkaran. Mereka berdiri berkeliling untuk melihat apa yang akan terjadi dengan perempuan yang disebut Genduk Miyat itu.

Sementara itu, para bebahu, termasuk Ki Bekel sendiri, menjadi tegang. Apakah perempuan itu akan dapat memenangkan perkelahian itu. Bahkan mereka telah mencemaskan keselamatan Genduk Miyat. Jika Among Asmara yang berilmu tinggi itu tidak dapat mengendalikan kemarahannya maka mungkin sekali perempuan itu akan terbunuh di arena.

Namun untuk menenteramkan hatinya, Ki Bekel itu berkata kepada diri sendiri, “Jika perempuan itu berani melakukannya, ia tentu telah memiliki bekal yang dianggapnya cukup.”

Rara Wulan yang merasa dirinya mulai memasuki laku Tapa Ngrame itu, memang merasa kewajiban untuk menolong sesama. Dalam hal ini adalah Ki Bekel dan keluarganya serta keluarga bakal menantunya itu.

Demikianlah maka kedua orang yang berada di dalam arena itu mulai memper siapkan diri mereka sebaik-baiknya.

Among Asmara semakin menyadari, bahwa ia telah berada di tengah-tengah sebuah permainan yang telah disiapkan. Tetapi justru karena itu, maka Among Asmara merasa kebetulan sekali. Dengan demikian ia akan dapat menunjukkan kelebihannya kepada sekian banyak orang, yang esok akan menyebarkan berita kemenangannya itu. Malam itu ia akan membawa Genduk Miyat dan untuk seterusnya perempuan itu tidak akan kembali.

“Jika ternyata Ki Bekel telah mempersiapkan kekuatan padukuhan ini untuk menjebakku, maka mereka yang berani menghalangi aku akan menjadi seperti babadan ilalang. Aku dan kawan-kawanku akan membunuh orang-orang pedukuhan ini sebanyak-banyaknya,” berkata laki-laki berkumis tipis itu.

Sebenarnyalah anak-anak muda yang berada di sekitar rumah Ki Bekel itu sudah siap untuk melaksanakan perintah apapun juga.

Sesumbar itu memang membuat telinga Rara Wulan yang dikenal sebagai Genduk Miyat, menjadi panas. Tetapi ia sendiri tidak dapat, menyadarinya dengan serta merta. Ia berada ditengah-tengah arena sehingga segala sesuatunya harus memakai tatanan.

“Among Asmara,” berkata Rara wulan kemudian, “marilah kita mulai sayembara tanding ini.”

Among Asmara menggeram. Namun ia pun segera mempersiapkan diri. Ia ingin segera menundukkan perempuan itu. Kemudian membunuh laki-laki yang mengaku akan nontoni itu.

“Genduk Miyat,” berkata Among Asmara, “aku tidak tahu, permainan dan jebakan apakah yang sudah kalian rencanakan. Tetapi akhirnya segalanya adalah, bahwa kau akan ikut bersamaku nanti setelah aku membunuh laki-laki yang dalam lakon ini akan nontoni kau.”

Rara Wulan mengerutkan dahinya. Agaknya perasaan Among Asmara cukup tajam sehingga ia dapat mencium lakon yang sudah disiapkan itu.

Tetapi Rara Wulan pun tidak peduli. Yang penting baginya adalah mematahkan niat Among Asmra untuk bertindak semena-mena karena ia memiliki ilmu yang tinggi.

Dengan demikian, maka Rara Wulan yang telah menyingsingkan kain panjangnya, sehingga yang dikenakan kemudian adalah pakaian khususnya, telah bersiap menghadapi lawannya yang disebut-sebut berilmu tinggi.

“Mudah-mudahan bekal ilmuku cukup memadai,” desis Rara Wulan. Bahkan perkelahian ini akan dapat dipergunakan pula oleh Rara Wulan untuk menjajagi kemampuannya setelah ia menjalani laku, bertapa di tengah-tengah hutan di kaki Gunung Merapi beberapa pekan itu.

Sejenak kemudian, maka Among Asmara yang ingin segera mengalahkan lawannya itu pun telah meloncat menyerang.

Tetapi Rara Wulan yang sudah siap untuk melawannya itu dengan cepat pula bergeser mengelakkan serangan itu.

 “Perempuan iblis,” geram Among Asmara. Ia ingin dengan cepat menguasai Rara Wulan yang disebut sebagai Genduk Miyat itu. Bahkan ia benar-benar berniat untuk mempermalukan Genduk Miyat itu dihadapan orang banyak, karena menurut pendapatnya, bahwa Genduk Miyat berani menantangnya itu adalah sikap yang telah mempermalukannya pula.

Sejenak kemudian, maka keduanya pun telah terlibat dalam pertempuran yang sengit. Kawan dan para pengikut Among Asmara memperhatikan pertempuran itu dengan jantung yang berdebaran. Agaknya perempuan yang disebut Genduk Miyat itu memang mempunyai bekal yang cukup memadai.

Namun dalam pada itu, halaman rumah Ki Bekel itu semakin lama menjadi semakin penuh. Anak-anak muda yang semula dipersiapkan di sekitar rumah Ki Bekel itu, satu-satu telah menyelinap masuk. Mereka ingin melihat pertempuran yang terjadi di halaman antara Among Asmara dan seorang perempuan yang bernama Miyat, yang kemudian mengaku sebagai anak Ki Bekel yang akan ditontoni malam itu.

Sebenarnyalah pertempuran di arena itu semakin lama menjadi semakin sengit. Among Asmara yang ingin dengan cepat menundukkan Genduk Miyat dan mempermalukannya dihadapan banyak orang sebelum ia harus bertempur melawan laki-laki yang pernah ditemuinya di kedai itu, telah meningkatkan ilmunya dengan cepat.

Tetapi Genduk Miyat itu pun telah meningkatkan ilmunya pula, sehingga dengan demikian, maka pertempuran itu nampaknya masih saja tetap seimbang.

Dalam pertempuran itu, barulah Rara Wulan dapat menilai kemampuan dirinya. Meskipun ia selalu berlatih bersama Glagah Putih, tetapi dalam pertempuran yang sebenarnya itu ia sempat menilai kemampuan diri.

Demikian pula Glagah Putih yang berdiri di luar arena pertempuran. Ia melihat kemajuan yang sangat pesat pada kemampuan Rara Wulan. Langkahnya nampak sangat ringan. Dengan demikian Rara Wulan mampu bergerak jauh lebih cepat. itu pun Glagah Putih tahu pasti, bahwa Rara Wulan masih belum sampai ke tataran tertinggi dari ilmunya itu.

Dari ayunan tangan dan kakinya, Glagah Putih pun mengetahui, bahwa tenaga dan kekuatan Rara Wulan pun menjadi semakin besar. Apalagi jika ia kemudian mulai merambah ke tenaga dalamnya.

Namun dalam pada itu, justru karena Among Asmara sendiri langsung berada di arena menghadapi Rara Wulan, ia tidak dapat langsung menilai kemampuan lawannya. Apalagi Rara Wulan sengaja untuk tidak dengan serta merta meningkatkan ilmunya sampai ke puncak. Yang dilakukannya adalah sekedar mengimbangi tingkat ilmu Among Asmara.

Sebenarnyalah bahwa Among Asmara memang seorang yang berilmu tinggi. Tetapi ia bukan lawan yang setingkat dengan Genduk Miyat yang telah menempa diri dengan menjalani berbagai laku yang berat.

Karena itulah, maka Among Asmara masih saja bernafsu untuk segera mengalahkan Genduk Miyat dan mempermalukan dihadapan orang banyak. Semakin lama mereka bertempur, maka kemarahan di jantung Among Asmarapun semakin membakar isi dadanya. Nafsunya untuk mempermalukan Genduk Miyatpun semakin menyala pula di dadanya.

Namun Among Asmara itu tidak segera dapat mengalahkan Genduk Miyat itu.

Glagah Putih yang kemdian meyakini bahwa Among Asmara itu tidak berbahaya bagi Rara Wulan, tidak lagi menjadi sangat tegang. Meskipun jika Rara Wulan membuat kesalahan, Among Asmara masih saja tetap orang yang berbahaya baginya.

Pertempuran itu pun bagi orang-orang yang menyaksikannya, semakin lama menjadi semakin mengangkan. Kawan-kawan Among Asmara menjadi heran bahwa Among Asmara yang berilmu tinggi itu tidak segera dapat mengalahkan perempuan yang telah merendahkannya itu. Bahkan mereka melihat, pertempuran itu menjadi semakin rumit. Agaknya Among Asmara memang sudah meningkatkan ilmunya semakin tinggi.

Sementara itu, ternyata Rara Wulan sengaja membiarkan lawannya mengerahkan segenap ilmunya. Ia ingin membiarkan Among Asmara itu kehabisan tenaga sehingga perlawanannya akan berhenti dengan sendirinya. Sedangkan yang dilakukan oleh Rara Wulan adalah sekedar menggelitik, agar Among Asmara meningkatkan ilmunya semakin tinggi.

Sebenarnyalah Among Asmara yang marah itu menjadi kehilangan kendali. Untuk dapat segera menundukkan Genduk Miyat, Among Asmara pun telah meningkatkan ilmunya sampai ke puncak.

Dengan demikian, maka serangan-serangan Among Asmarapun kemudian datang seperti angin prahara.

Rara Wulan merasakan tekanan serangan Among Asmara pada puncak kemampuannya itu. Angin yang panas berdesir menyentuh kilitnya.

“Agaknya Among Asmara telah sampai ke ilmu puncaknya,” berkata Rara Wulan di dalam hatinya.

Dengan demikian Rara Wulan pun menjadi berhati-hati. Namun dengan meningkatkan daya tahan tubuhnya, Rara Wulan dapat mengatasi arus udara yang panas karena ilmu puncak Among Asmara.

Rara Wulan tidak segera berusaha menghentikan perlawanan Among Asmara. Ia justru memanfaatkan perkelahian itu untuk mengenali ilmunya lebih jauh lagi. Rara Wulan justru ingin tahu, tingkat daya tahan tubuhnya. Kemampuannya memperingan tubuh serta tenaga dan kekuatanya serta kemampuan tenaga dalamnya.

Rara Wulan bahkan mempergunakan Among Asmara untuk menilai dirinya sendiri.

Glagah Putih yang berbeda di luar lingkaran arena pertempuran itu, tanggap akan sikap Rara Wulan. Dengan demikian maka Glagah Putih pun telah ikut pula menilai kemampuan Rara Wulan. Among Asmara yang berilmu tinggi itu adalah orang yang tepat untuk menjajagi tingkat kedalaman ilmu Rara Wulan.

Kemarahan Among Asmara telah membakar ubun-ubunnya. Jarang ada orang yang mampu mengatasi serangan-serangannya. Apalagi setelah ia meningkatkan ilmunya sampai kepuncak.

Angin pukulannya yang panas beberapa kali telah menerpa perempuan yang mengaku bernama Genduk Miyat itu. Tetapi perempuan itu seakan-akan tidak terpengaruh karenanya. Dengan ringan ia berloncatan menghindar. Namun pada saat-saat perempuan itu tidak sempat melenting menghindar serangannya, maka rasa-rasanya serangannya itu tidak berbekas.

“Apakah perempuan ini benar-benar iblis betina,” pertanyaan itu telah menggelitik jantungnya.

Namun Rara Wulan masih saja membiarkan Among Asmara mengerahkan kemampuannya. Serangan demi serangan telah dilancarkan. Tetapi perempuan yang menyebut dirinya Genduk Miyat itu tidak dapat ditundukkan.

Karena Rara Wulan selalu memancing Among Asmara mengerahkan kemampuannya, maka semakin lama tenaga Among Asmara pun menjadi semakin menyusut. Meskipun ilmunya masih tetap berada di puncak, tetapi dukungan kewadagannya mulai menurun. Among Asmara mulai menjadi lelah selelah beberapa lama mengerahkan segenap tenaga, kekuatan dan ilmunya.

Rara Wulan masih saja berloncatan dengan tangkasnya. Serangan-serangannya masih saja datang dengan cepatnya. Kakinya bergerak seakan-akan tidak menyentuh tanah.

Serangan-serangan Rara Wulan justru semakin sering menyentuh tubuh Among Asmara yang tenaganya mulai menyusut. Gerak Rara Wulan yang cetap itu mampu menyusup disela-sela pertahanan dan bahkan serangan-serangan Among Asmara. Disela-sela arus udara panas serangan-serangan ilmu pamungkasnya.

Semakin lama, Among Asmara itu tidak saja menjadi semakin marah. Tetapi ia pun menjadi semakin gelisah. Perempuan sombong yang ditemuinya dikedai itu, ternyata memang memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Tetapi dihadapan banyak orang, termasuk kawan-kawannya serta para pengikutnya Among Asmara tidak mau semakin dipermalukan.

Karena itu, maka dikerahkan segenap kemampuannya, ilmunya serta sisa tenaganya. Seperti harimau yang telah terluka. Among Asmara menyerang Rara Wulan. Dihadapan kawan-kawannya dan para pengikutnya, ia tidak mau kehilangan harga dirinya. Kawan-kawannya dan para pengikutnya selalu mengaguminya sebagai seorang berilmu tinggi yang tidak pernah terkalahkan. Segala keinginannya pasti tidak dapat digapainya. Perempuan manapun yang dikehendakinya tentu berhasil dimilikinya. Jika tidak berhasil dibujuknya, justru karena Among Asmara adalah seorang laki-laki yang tampan, maka dilakukannya dengan ancaman dan bahkan kekerasan sebagaimana dilakukannya malam itu.

Tetapi tiba-tiba ia telah terbentur pada kenyataan, bahwa perempuan yang diinginkannya itu sendirilah yang menantangnya.

Pertahanan Rara Wulan memang sedikit terguncang oleh hentakan serangan lawannya. Namun hanya sesaat. Rara Wulan pun segera mampu membuat keseimbangan dengan meningkatkan sedikit kemampuannya, karena Rara Wulan memang belum sampai pada puncak ilmunya yang sangat tinggi itu.

Bahkan sejenak kemudian, justru serangan-serangan Rara Wulan semakin sering mengenai tubuh Among Asmara. Udara panas yang terlontar bersamaan dengan serangan-serangan kewadagan Among Asmara tidak banyak berpengaruh atas lawannya yang meningkatkan daya tahan tubuhnya, tetapi juga bergerak semakin cepat untuk menghindar.

Sentuhan tangan dan kaki Rara Wulan, semakin lama semakin terasa menyakiti tubuh Among Asmara. Beberapa kali ia terhuyung-huyung oleh serangan kaki Rara Wulan. Bahkan ketika Rara Wulan meluncur dengan menjulurkan kakinya menyamping dan mengenai langsung dada Among Asmara, maka Among Asmara itu tidak mampu mempertahankan keseimbangannya. Beberapa langkah ia terlempar surut dan kemudian bahkan terbanting jatuh.

Dengan cepat Among Asmara berusaha untuk bangkit berdiri. Tetapi demikian ia tegak, Rara Wulan tiba-tiba saja sudah berdiri di depan hidungnya. Tangannya tiba-tiba saja terjulur menghantam perutnya, sehingga Among Asmara itu terbungkuk sambil menyeringai kesakitan. Kedua tanganya di luar sadarnya memegangi perutnya yang bagaikan terhimpit segumpal batu. Nafasnya pun menjadi sesak.

Tetapi Rara Wulan tidak menyerang lagi. Ia bahkan melangkah surut dan membiarkan Among Asmara berdesak menahan sakit.

“Alembana,” berkata Rara Wulan kemudian.

“Namaku Among Asmara,” suaranya terdengar serak. Ia masih menyeringai menahan sakit didada dan perutnya.

“Sekehendakku,” sahut Rara Wulan, “bahkan aku ingin menyebutmu Ula Dumung.”

Mata Among Asmara terbelalak. Mulutnya menggeram menahan kemarahan yang menyesakan di dadanya, “Bocah edan. Kau berani menghina aku.”

“Aku ingin menghina dan merendahkanmu serendah-rendahnya. Kalau kau marah, marahlah. Aku akan memukuli kau sampai gigimu tanggal semuanya. Tidak satu pun yang tersisa.”

“Aku bunuh kau.”

“Aku yang akan membunuhmu,” bentak Rara Wulan.

Mata Among Asmara menjadi merah. Namun ketika ia bermaksud minta bantuan kawan-kawannya, sebelumnya ia mengucapkan sepatah kata, Rara Wulan telah mendahuluinya. “Jangan gerakkan kawan-kawanmu dan para pengikutmu. Kami sudah siap untuk membantai mereka jika mereka mencoba untuk membelamu. Selebihnya, kau tidak akan pernah melihat akhir dari pertempuran itu. Kau tidak akan pernah melihat kawan-kawanmu dan pengikutmu mati malang melintang ini karena kaupun akan mati lebih dulu.”

“Persetan. Jangan mencoba menakuti aku.”

Tetapi baru saja mulutnya terkatub, Rara Wulan telah meloncat, memutar tubuh Among Asmara dan sekaligus kedua tangannya memegang dagu dan dahinya.

“Jika kau mencoba membuka mulutmu, aku akan memutar kepalamu sehingga lehermu akan patah. Kau akan mati sebelum orang-orangmu sempat bergerak.”

Among Asmara terdiam. Ia tidak dapat mengelak dari kenyataan. Tangan Rara Wulan yang memegangi kepalanya itu bagaikan lempeng-lempeng baja yang mengimpit tulang kepalanya.

“Katakan, apakah kau menyerah atau tidak.”

Among Asmara tidak segera menjawab. Harga dirinya masih mengekangnya untuk mengaku kekalahannya.

Tetapi tangan Rara Wulan mulai menekannya. Lehernya mulai terasa sakit. Jika perempuan itu menghentakkan kepalannya, maka lehernya benar-benar akan patah.

“Katakan selagi kau sempat. Menyerah atau tidak?”

Rara Wulan menekan kepala Among Asmara semakin keras, sehingga sambil meyeringai menahan sakit, Among Asmara itu pun berkata dengan suara tertahan, “Baik. Baik. Aku menyerah.”

Rara Wulan mengendorkan tangannya. Katanya, “Ulangi. Lebih keras lagi agar kawan-kawanmu mendengarnya.”

“Aku menyerah,” berkata Among Asmara lebih keras lagi.

Rara Wulan pun kemudian mendorong Among Asmara sehingga orang itu terhuyung-huyung dan kemudian jatuh tertelungkup.

“Bangun orang cengeng,” bentak Rara Wulan.

Tertatih-tatih Among Asmara itu pun bangkit berdiri.

“Nah. Camkan ini. Bahwa kau telah dikalahkan oleh seorang perempuan. Selama ini banyak perempuan yang telah menjadi korban. Korban nafsumu. Mereka tidak dapat melawanmu dengan cara apapun juga. Kau ajak kawan-kawanmu dan pengikut-pengikutmu untuk memenuhi kemauanmu yang kotor itu.”

Among Asmara tidak dapat berbuat apa-apa. Meski ia menjadi sangat marah, namun ia harus mendengarkan perempuan itu berkata selanjutnya, “Nah. Seharusnya dalam keadaan seperti ini kau sempat melihat ke dalam dirimu sendiri. Ternyata bahwa kau bukannya orang yang tidak terkalahkan. Bahkan oleh seorang perempuan.”

Among Asmara masih tetap berdiri di tempatnya. Kakinya masih saja agak goyah.

“Sekarang kau dapat memilih. Pulang atau menghancurkan diri sendiri bersama kawan-kawan dan orang-orangmu.”

Among Asmara masih termangu-mangu. Sehingga Rara Wulan pun membentaknya, “Cepat. Ambil sikap. Pulang atau mati disini bersama kawan-kawan dan orang-orangmu.”

Karena Among Asmara masih saja diam, maka Glagah Putih pun kemudian berteriak, “Bersiaplah. Kita akan menyelesaikan masalah ini dengan cara kita. Anak-anak muda dari padukuhan ini tidak usah melibatkan diri. Jika mereka mendendam kepada kami.”

Teriakan Glagah Putih memang tidak jelas ditunjukkan kepada siapa. Seolah-olah ia mempunyai sekelompok kawan yang siap berada di tempat itu selain orang-orang padukuhan itu.

Namun teriakan Glagah Putih mampu mengguncang jantung kawan-kawan dan para pengikut Among Asmara. Mereka segera menjadi gelisah.

“Among Asmara,” berkata Rara Wulan kemudian, “pergilah sebelum aku berubah pikiran. Jika kau tiak pergi segera, berarti kau tetap menantangku sehingga aku harus menyelesaikan pertarungan ini. Tetapi ingat, jika kau masih melakukan seperti apa yang kau lakukan sekarang dan sebelumnya, maka aku akan datang kerumahmu. Aku akan menghancurkanmu sampai lumat. Sekarang, cepat pergi bersama kawan-kawanmu.”

Among Asmara tidak dapat berbuat lain. Tetapi ketika ia bergeser, maka ia hampir saja terjatuh jika seorang kawannya tidak segera menangkapnya.

Dipapah oleh kawannya. Among Asmara pun pergi ke kudanya yang tertambat. Dibantu oleh kawannya, dengan susah payah Among Asmara naik kepunggung kudanya. Tetapi ketika kawan-kawannya akan meloncat naik, Glagah Putih pun berteriak, “Kalian harus mengetrapkan unggah-ungguh dan sopan santun.”

Kawan-kawan dan para pengikut Among Asmara itu termangu-mangu sejenak. Sementara Glagah Putih pun berkata, “Tidak seharusnya kalian berkuda di halaman. Jika saja Among Asmara itu tidak terluka, maka ia pun tidak pantas berkuda di halaman. Ketika kalian datang tanpa turun dari kuda kalian memasuki halaman rumah Ki Bekel ini, kalian sudah menyinggung perasaan kami. Karena itu, tuntun kuda kalian ke luar regol. Baru kalian dapat naik dan segera pergi.”

Jantung kawan-kawan dan para pengikut Among Asmara itu bergejolak. Namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka membayangkan di halaman itu ada beberapa orang yang berilmu tinggi yang siap melumatkan mereka jika mereka mencoba untuk melawan.

Karena itu, maka kawan-kawan dan para pengikut Among Asmara itu pun kemudian menuntun kuda mereka ke luar dari regol halaman. Seorang diantara mereka ke luar dari kudanya sendiri, juga menuntun kuda Among Asmara.

Sejenak kemudian terdengar derap beberapa ekor kuda berjalan di jalan didepan regol halaman rumah Ki Bekel. Tetapi kuda-kuda itu tidak dapat berlari terlalu kencang karena keadaan Among Asmara.

Sebenarnyalah bahwa perasaan Among Asmara benar-benar terpukul oleh peristiwa yang baru saja terjadi. Among Asmara yang sebelumnya dikenal sebagai seorang penakluk perempuan dengan cara apapun juga, telah dikalahkan oleh seorang perempuan di arena terbuka. Dihadapan banyak orang dan bahkan dihadapan kawan-kawan dan pengikutnya.

Dalam perjalanan meninggalkan rumah Ki Bekel itu, Among Asmara baru menyadari, bahwa ia telah menjadi bahan permainan perempuan yang disebut Genduk Miyat itu. Perempuan itu sengaja membiarkannya berloncatan mengerah-kan kemampuannya bahkan sampai tingkat kemampuan tertingginya. Perempuan itu telah membiarkannya mengerahkan segenap tenaga dan ilmunya, sehingga akhirnya Among Asmara itu kehabisan dukungan kewadagannya. Tenaga dan kekuatannya menyusut perlahan-lahan sehingga akhirnya rasa-rasanya ia tidak lagi mampu berdiri.

Pada saat yang menentukan, maka perempuan itu telah menghentikan perlawannya.

Among Asmara menarik nafas panjang. Ternyata ada juga perempuan yang berilmu tinggi. Meskipun ia sudah sampai ke puncak ilmunya, namun perempuan itu seakan-akan tidak tersentuh oleh udara panas yang melingkar-lingkar bebareng dengan angin serangannya.

Perempuan itu telah merendahkannya sehingga Among Asmara itu sama sekali tidak berharga.

Dendam di jantung Among Asmara memang bergejolak. Tetapi ia tidak dapat ingkar dari kenyataan. Jika ia berusaha membalas dendam, maka persoalannya justru akan menjadi berkepanjangan. Jika ia datangi esok atau lusa rumah Ki Bekel, maka perempuan yang berilmu tinggi itu dengan laki-laki yang dikatakan akan nontoni tentu akan datang pula ke rumahnya. Rumahnya dan bahkan seisinya tentu akan dihancurkannya. keluarganya akan dilumatkan tanpa dapat memberikan perlawanan.

Sementara itu, kekecewaan yang sangat telah mencengkam jantungnya. Ternyata bahwa ia bukan seorang laki-laki seperti yang dibayangkan sendiri. Ia bukan seorang yang segala kehendaknya tidak terlawan.

Among Asmara menyadari, bahwa yang terjadi tentu sebuah jebakan. Perempuan yang disebut Genduk Miyat itu tentu ada hubungannya dengan Ki Bekel. Tetapi bahwa perempuan dan laki-laki yang berperan dalam lakon yang mereka susun akan nontoni itu sudah melibatkan diri, maka persolannya akan menjadi lain.

Among Asmara yang terluka dibagian dalam tubuhnya serta luka-luka pula dikulitnya tahu, alasan perkelahiannya dengan perempuan itu, maka gurunya justru akan sangat marah kepadanya. Gurunya bahkan pernah memperingatkannya. Waktu itu ia telah berusaha untuk meninggalkan kebiasaan buruknya. Tetapi ketika ia kembali ke dalam pergaulan dengan kawan-kawan yang lama. maka kebiasaannya itu telah kambuh kembali.

Dan malam itu. Among Asmara telah membentur kenyataan yang sebelumnya belum pernah dibayangkan.

Sementara itu, sepeninggal Among Asmara, maka Ki Bekel pun segera mempersilahkan tamu-tamunya kembali duduk di pringgitan. ia pun mengucapkan terimakasih kepada rakyatnya yang telah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

Sedang Glagah Putih dan Rara Wulan pun kemudian telah dipersilahkannya duduk bersama tamu-tamunya yang mengiringi seorang anak muda yang nontoni anak perempuan Ki Bekel itu.

Baik Ki Bekel maupun keluarga anak muda yang nontoni itu telah mengucapkan terima kasih berulang kali kepada Glagah Putih dan Rara Wulan.

“Kami tidak akan pernah melupakannya,” berkata Ki Bekel.

“Bukankah sudah menjadi kewajiban kita untuk saling membantu dan saling menolong? Kali ini aku dapat membantu Ki Bekel. Tetapi pada kesempatan lain dan dalam persoalan yang berbeda, mungkin sekali aku yang akan minta bantuan Ki Bekel.”

“Jika saja aku mampu, aku tentu tidak akan berkeberatan.”

Dalam pada itu, malam itu, Glagah Putih dan Rara Wulan ikut hadir dalam upacara nontoni di rumah Ki Bekel. Bahkan setelah upacara selesai, Ki Bekel minta Glagah Putih dan Rara Wulan untuk bermalam di rumahnya.

“Jangan di banjar, ngger. Tetapi angger Wiguna dan angger Miyat aku minta bermalam di sini saja. Dirumahku.”

“Terima kasih, Ki Bekel. Nampaknya Ki Bekel dan keluarga Ki Bekel masih akan sibuk sampai esok. Malam ini agaknya beberapa orang anak muda dan tetangga-tetangga Ki Bekel akan berjaga-jaga sampai dini untuk ikut memeriahkan upacara ini.”

“Angger berdua akan dapat beristirahat digandok.”

“Ki Bekel. Kami mengucapkan terima kasih. Tetapi sebaiknya biarlah kami bermalam di banjar saja.”

Ki Bekel tidak dapat mencegah. Ia mengerti maksud kedua orang suami istri yang telah menyelamatkan ana perempuannya itu. Jika mereka bermalam di rumahnya, agaknya mereka tidak akan sempat tidur. Mereka pun tentu akan ikut berjaga-jaga sampai dini. Sementara itu, esok pagi mereka akan meneruskan perjalanan mereka.

Dengan demikian, maka Ki Bekel terpaksa melepaskan keduanya pergi ke banjar. Tetapi seorang pembantunya telah diperintahkannya untuk membawa makanan dan minuman ke banjar.

Sebenarnyalah bagi Glagah Putih dan Rara Wulan merasa lebih bebas berada di bajar. Mereka dapat segera berbaring di amben bambu yang agak besar meskipun dibilik yang sempit di serambi belakang banjar pedukuhan.

Namun seperti biasanya jika mereka berada di tempat yang kurang mereka kenal, maka mereka pun tidur bergantian

Pagi-pagi sekali keduanya sudah bangun. Ketika Rara Wulan mandi di pakiwan, Glagah Putih menimba air untuk mengisi jambangan. Namun pada saat mereka berbenah diri dan siap untuk berangkat melanjutkan perjalanan, maka dua orang anak muda telah datang sambil membawa minuman hangat serta makan pagi yang masih mengepul.

“Ki Bekel menjadi repot,” desis Rara Wulan.

“Tidak, Nyi. Ki Bekel juga harus menyediakan minuman dan makan bagi mereka yang berjaga-jaga di rumahnya.”

“Apakah mereka masih disana?”

“Baru saja mereka pulang, setelah makan pagi serta minum minuman hangat.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian berkata, “Ki Sanak. Tolong sampaikan kepada Ki Bekel bahwa kami berdua mohon diri. Setelah minum dan makan, kami langsung akan melanjutkan perjalanan.”

“Apakah kalian tidak akan menemui Ki Bekel lagi?”

“Sudahlah. Aku kita kau tidak perlu datang lagi ke rumah Ki Bekel. Sampaikan saja kepada Ki Bekel. Kami mengucapkan terima kasih bahwa kami dapat bermalam di banjar padukuhan ini. Kami juga sudah mendapatkan makan dan minum secukupnya. Mudah-mudahan pada kesempatan lain, kami dapat singgah lagi di rumah Ki Bekel itu.”

“Baik, Ki Sanak,” jawab anak muda itu, “kami akan menyampaikannya.”

Dengan demikian, maka setelah minum dan makan pagi, serta menitipkan mangkuk-mangkuk yang kotor itu kepada penunggu banjar, maka Glagah Putih dan Rara Wulan pun telah bersiap untuk berangkat melanjutan perjalanan.

Namun karena Glagah Putih dan Rara Wulan telah menyatakan diri untuk tidak singgah di rumah Ki Bekel, maka ternyata justru Ki Bekel, Nyi Bekel dan anak gadisnya yang semalam di tontonilah yang datang ke banjar.

Sekali lagi mereka mengucapkan terima kasih, serta berharap bahwa pada kesempatan lain, kedua suami isteri itu sempat singgah di padukuhan itu.

Pada saat matahari terbit, maka Glagah Putih dan Rara Wulan itu pun telah meninggalkan banjar padukuhan itu. Mereka berjalan terus menuruni jalan-jalan yang menuju ke Barat masih di kaki Gunung Merapi.

Rara Wulan masih juga menggendong peti kecilnya. Sementara Glagah Putih berjalan sambil melenggang.

Namun kemudian Glagah Putih telah memotong sebatang kayu metir yang tumbuh dipinggir jalan dengan pisaunya. Kayu metir itu pun kemudian dikulitinya dan membuatnya menjadi sebatang tongkat yang dibawanya sepanjang perjalanan.

Dipagi yang cerah mereka berjalan menyusuri jalan yang agak menurun. Di jalan itu terdapat jalur jejak roda pedati yang nampaknya menjadi semakin dalam. Nampaknya sudah ada usaha untuk mengeraskan jalan itu dengan bebatuan. Namun batu-batu itu mulai menyibak.

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 360)

diedit dari:

http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iv-59/

Terima kasih kepada k4ng t0mmy yang telah me-retype jilid ini

<<kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s