ADBM4-375

<<kembali | lanjut >>

KI DEMANGLAH yang menjawab, “Terima kasih, Ki Sanak. Kami sudah bertekad untuk melanjutkan perjalanan.”

“Pada saat seperti ini kalian masih berada disini. Tentu kalian tidak akan dapat sampai di Pajang, pada wayah sepi bocah. Karena itu, sebaiknya kalian bermalam saja di rumahku.”

“Terima kasih. Ki Sanak. Terima kasih atas kepedulian Ki Sanak. Tetapi maaf, bahwa kami berniat berjalan terus.”

Orang itu tertawa. Katanya, “Kalian adalah orang-orang yang keras hati. Aku senang kepada orang-orang yang keras hati. Orang yang berpegang pada niat dan tekad.”

“Terima kasih. Ki Sanak. Sekarang kami minta diri untuk meneruskan perjalanan.”

“Tunggu,” seorang yang lain tiba-tiba bergeser beberapa langkah maju, “jangan beranjak dari tempat kalian.”

Ki Demang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun bertanya, “Kenapa?”

Yang menjawab adalah orang yang dijumpainya di kedai itu, “Maaf Ki Sanak. Ini adalah adikku. Ia seorang yang sangat ramah kepada setiap orang. Mungkin ia ingin memperkenalkan diri langsung kepada Ki Sanak semuanya.”

Kedua orang itu pun kemudian melangkah mendekati Ki Demang. Laki-laki yang disebut adiknya itu pun berkata, “Aku memang ingin memperkenalkan diriku.”

“Terima kasih. Ki Sanak. Kami senang sekali dapat berkenalan dengan Ki Sanak berdua.”

“Jika demikian, marilah, singgah di rumahku seperti yang dikatakan kakang tadi.”

“Maaf Ki Sanak. Sudah aku katakan, bahwa kami akan berjalan terus.”

“Kalau kakang tadi mengatakan kalian adalah orang-orang yang keras hati, maka aku mengatakan bahwa kalian adalah orang-orang yang keras kepala.”

“Ki Sanak,” berkata Ki Demang, “kenapa kau sebut kami keras kepala. Aku hargai kebaikan hatimu memberikan kesempatan kepada kami untuk beristirahat dan bahkan menginap. Tetapi sayang, kami harus berjalan terus.”

“Diam kau,” tiba-tiba saja orang yang disebut adiknya itu membentak.

Kakaknya, laki-laki yang dijumpai di kedai itu tertawa. Katanya, “Sifat adikku memang berbeda dengan sifatku. Aku masih dapat menghargai sikap dan keputusan yang diambil oleh orang lain. Tetapi adikku kadang-kadang sulit untuk ditolak kemauannya. Karena itu aku nasehatkan, turuti saja kemauannya. Apalagi ia bermaksud baik. Ia akan tersinggung sekali jika kalian tidak mau memenuhinya.”

Ki Demang termangu-mangu sejenak. Ternyata bahwa pesan orang yang rambutnya mulai ubanan di kedai itu benar.

Bahkan laki-laki yang disebut adiknya oleh orang yang bertemu di kedai itu kemudian berkata, “Nah Kalian harus berhenti dan bermalam di rumahku. Kalian tidak akan dapat menolak Tetapi jika kalian tetap menolak, maka kami akan berterus terang. Kami. kakak beradik adalah penyamun yang paling ditakuti di daerah ini. Kami tidak segan-segan membunuh siapa saja yang berani menentang kemauan kami. Karena itu, jika kalian tidak mau singgah, silahkan berjalan terus. Kami pun sebenarnya segan mengurusi sekian banyak orang. Yang penting tinggal semua uang, perhiasan dan barang-barang berharga yang kalian bawa. Selagi tidak ada orang lain yang berjalan di jalan, cepat lakukan. Aku tidak akan melakukan kekerasan. Tetapi jika kami melihat orang berjalan di kejauhan, maka kami mungkin akan berlaku kasar. Kami akan memaksa kalian untuk turun di tepian itu kembali dan menyingkir ke tikungan sungai itu. Atau bahkan aku akan membunuh kalian semuanya, kecuali perempuan muda itu. Kakang sudah memberitahukan bahwa akan ada perempuan muda dan cantik lewat disini.”

Ternyata Glagah Putih dan Rara Wulan tidak dapat membiarkan pembicaraan itu berlarut-larut. Keduanya pun kemudian melangkah dan berdiri di samping Ki Demang. Justru Rara Wulan lah yang berkata, “Jadi kalian tertarik kepada kecantikanku demikian kalian melihat aku?”

Namun pertanyaan Rara Wulan itu justru sangat mengejutkan. Ia tidak mengira bahwa perempuan yang dikiranya pendiam itu langsung bertanya kepada mereka dengan pertanyaan yang tajam itu.

Namun justru karena itu, maka keduanya pun terdiam sesaat, hingga Rara Wulan pun mendesaknya, “Kenapa kalian diam saja? Apakah kalian malu memberi jawaban? Aku tidak mengira bahwa kalian berdua adalah pemalu.”

Kedua orang laki-laki itu justru saling berpandangan. Perempuan muda yang dihadapi itu sama sekali di luar dugaan mereka.

Namun tiba-tiba yang muda di antara kedua orang itu menggeram, “Ternyata kau bukan perempuan baik-baik. Ternyata kau adalah perempuan binal yang dipungut dari keranjang sampah.”

Tetapi Rara Wulan tertawa. Katanya, “Apakah kalian terkejut karena tiba-tiba saja kalian berhadapan dengan seorang perempuan yang tidak sebagaimana kau bayangkan? Ki Sanak berdua. Kami juga terkejut menghadapi kalian. Ketika kami bertemu dengan seorang di antara kalian di kedai itu. aku mengira bahwa laki-laki itu adalah laki-laki baik-baik. Yang ramah dan peduli kepada sesama. Yang akan memberi tompangan ketika kami kemalaman. Tetapi inilah kenyataan yang kami hadapi. Karena itu, untuk menghadapi kenyataan ini, maka aku pun bersikap sepantasnya sesuai dengan manusia-manusia yang aku hadapi.”

“Anak iblis kau. Siapa sebenarnya kau ini?”

“Kami adalah orang-orang Ampel yang sedang dalam perjalanan ke Pajang. Bukankah sudah kami katakan. Jelasnya bertanyalah kepada kakakmu itu.”

“Sudahlah,” berkata yang tertua di antara mereka. Agaknya laki-laki yang tertua itu masih berusaha untuk mengendalikan sikapnya, “kita sudah berterus terang kepada mereka. Sekarang terserah kepada mereka, apakah mereka mau mendengarkan kata-kata atau tidak. Jika tidak, maka kita akan menentukan langkah selanjutnya.”

“Ya,” sahut yang muda. Lalu laki-laki itu pun berkata kepada Rara Wulan, “sekarang serahkan semua uang kalian, semua harta benda kalian dan dirimu sendiri.”

Rara Wulan tertawa pula. Katanya, “Sebaiknya kalian sajalah yang menyerah. Kami akan pergi ke Pajang. Kalian akan kami hawa ke Pajang dan menyerahkan kalian kepada prajurit Pajang. Biarlah mereka yang memutuskan, apakah kalian akan dihukum atau malahan akan mendapatkan hadiah.”

“Mulutmu itu berbisa perempuan iblis. Karena itu yang pertama-tama akan kami lakukan adalah menyumbat mulutmu itu.”

“Apakah kau kira aku akan memberikan mulutku untuk disumbat?”

“Cukup.”

“Jadi menurutmu, kau sajalah yang boleh berbicara sedang kami tidak.”

Yang tertua di antara mereka berkata, “Menarik sekali perempuan ini. Tetapi dengan demikian kita tahu, bahwa ia bukan perempuan kebanyakan. Baiklah. Serahkan kepadaku. Aku akan menyelesaikannya.”

“Tidak kakang. Aku akan menaklukkannya. Uruslah yang lain-lain. Barangkali uang dan harta benda yang berharga itu mereka yang membawa.”

Yang tertua itu tertawa. Katanya, “Baiklah. Nampaknya kau benar-benar tertarik kepada perempuan itu. Perempuan itu telah membuatmu marah. Tetapi justru karena itu, kau menjadi semakin tertarik kepadanya.”

“Aku senang kepada perempuan binal. Seperti menghadapi kuda liar, jika kita berhasil menundukkannya, maka ia akan menjadi kuda pilihan.”

“Tetapi jika tidak, maka kau akan terinjak-injak sampai lumat,” sahut Rara Wulan.

Laki-laki yang muda itu pun menggeram. Selangkah ia maju, sementara Rara Wulan pun telah bergeser mengambil jarak.

Sementara itu Glagah Putih pun bergeser pula maju sambil berkata, “Aku adalah suami perempuan binal itu. Biarlah isteriku menolong dirinya sendiri. Tetapi jika kau ingin mengganggu orang-orang yang akan pergi ke Pajang ini, maka kau akan berhadapan dengan aku.”

“Ya. ya. Aku mengerti. Jika isterimu bukan perempuan kebanyakan, apalagi kau. Baiklah. Aku memang harus berhadapan dengan kau. Tetapi sebenarnya aku ingin tahu. siapakah kalian berdua itu. Apakah kalian berdua itu orang-orang upahan untuk mengawal orang-orang yang akan pergi ke Pajang itu, atau kalian memang termasuk keluarga mereka.”

“Kami berdua adalah keluarga mereka. Kami semuanya masih berkeluarga yang kebetulan bersama-sama mempunyai kepentingan di Pajang. Karena itu. kami telah pergi bersama-sama pula. Bukankah hal itu sudah dikatakan oleh paman.”

“Ya. Ya. Pamanmu telah mengatakannya. Tetapi dalam keadaan yang gawat bagi kalian, ternyata kaulah yang akan tampil ke depan. Apakah kau benar-benar memiliki kemampuan untuk melakukannya?”

Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Ketika ia memperhatikan Rara Wulan sekilas, Rara Wulan telah bersiap sepenuhnya. Karena itu. ketika laki-laki yang muda itu meloncat menyerangnya. Rara Wulan dengan tangkasnya menghindarinya.

“Isteriku telah mulai bertempur. Sekarang terserah kepadamu. Apakah kita akan menonton sebentar, atau kita akan langsung berkelahi.”

Nampaknya pasangan suami isteri itu adalah orang-orang aneh. Dalam keadaan yang gawat, ia masih saja dapat menawarkan kesempatan untuk melihat pertarungan antara isterinya melawan adik laki-laki itu.

Hampir di luar sadarnya laki-laki itu berkata, “Kalian berdua adalah orang-orang aneh. Tetapi baiklah, kita akan melihat, apa yang dapat dilakukan oleh isterimu.”

Keduanya pun kemudian justru berdiri termangu-mangu menyaksikan pertarungan antara Rara Wulan melawan laki-laki yang lebih muda itu. Laki-laki yang bertubuh raksasa. Bahkan sikapnya lebih garang dari kakaknya.

Dalam pada itu. Ki Demang, Ki Jagabaya dan Ki Bekel telah bergeser menepi. Ketiga orang perempuan yang bersama mereka itu menjadi ketakutan. Sementara itu. cucu Ki Jagabaya itu pun berpegangan tangan neneknya erat-erat.

Rara Wulan yang telah menyingsingkan kain panjangnya dan yang kemudian nampak adalah pakaian khususnya itu, telah membuat lawannya menjadi berdebar-debar. Dengan demikian, maka perempuan itu ternyata telah bersiap menghadapi segala kemungkinan, bahkan dalam olah kanuragan.

Demikianlah mereka berdua pun bertempur dengan sengitnya. Rara Wulan berloncatan dengan cepatnya, seakan-akan kakinya tidak menyentuh tanah.

Laki-laki yang bertubuh raksasa itu telah meningkatkan ilmunya semakin tinggi. Namun ia tidak segera berhasil menguasai lawannya, seorang perempuan yang aneh yang disebutnya sebagai perempuan binal.

“Nah. kau lihat apa yang terjadi?” bertanya Glagah Putih.

“Ya,” laki-laki itu mengangguk-angguk, “perempuan itu memang bukan perempuan kebanyakan.”

“Kau benar,” sahut Glagah Putih, “kalau kami sedang berselisih, bukan aku yang memukuli isteriku. tetapi isteriku itulah yang memukuli aku.”

Laki-laki itu tertawa. Katanya, “Kalau begitu, kau tidak memiliki kemampuan setinggi isterimu?”

“Jika aku berhadapan dengan isteriku memang tidak. Tetapi jika aku berhadapan dengan orang lain. persoalannya agak berbeda. Ada kekuatan lain yang mendukung kemampuanku.”

“Kekuatan apa?”

“Yang terkandung di dalam ilmuku. Hanya muncul jika aku menghendakinya.”

“Kenapa tidak kau munculkan saat kau dipukuli oleh isterimu itu.”

“Tidak, karena aku memang menginginkannya.”

“Setan kau,” geram orang itu.

Glagah Putih tersenyum. Namun tiba-tiba saja bertanya, “Ki Sanak. Kenapa kau menempuh jalan kehidupan sebagaimana kau jalani itu? Apakah kau merasa bahagia?”

Pertanyaan itu agak mengejutkannya. Namun kemudian ia pun menjawab, “Aku tidak tahu apakah itu kebahagiaan atau kesenangan atau apapun namanya. Tetapi setiap kali kami berhasil, kami mendapatkan kepuasan. Semakin banyak mendapatkan hasil dari korban-korban kami. maka semakin tinggilah kepuasan itu.”

“Kau pernah membunuh korban-korbanmu?”

“Mereka yang melawan terpaksa aku bunuh.”

“Dan kau tidak merasa bersalah melakukan pembunuhan itu?”

“Jangan bertanya lagi.”

Glagah Putih terdiam Sementara itu, Rara Wulan pun bertempur semakin cepat untuk mengimbangi lawannya. Karena itu maka pertempuran diantara mereka pun menjadi semakin seru. Mereka saling menyerang. Keduanya pun setiap kali berloncatan menghindari serangan lawannya. Tetapi kadang-kadang mereka pun telah membenturkan kekuatan mereka.

Laki-laki yang tertua itu pun kemudian berkata, “Mereka bertempur semakin sengit. Bersiaplah. Aku akan memaksamu menuruti perintahku. Berikan uangmu serta semua harta benda yang kau bawa. Mungkin berupa perhiasan atau berupa emas lantakan atau berupa apapun.”

“Jangankan uang dan perhiasan, pada kami harus menghitung-hitung untuk membeli makan dan minum, kecuali untuk anak itu. Kami tidak dapat mengekangnya. Bukankah kau melihat sendiri, apa yang kami minum dan apa yang kami makan? Sederhana sekali. Karena uang kami hanya cukup untuk membeli minuman dan makanan yang sederhana itu.”

“Omong kosong. Kau tentu membawa uang banyak serta bermacam-macam bekal.”

“Terserah kepada Ki Sanak, Isteriku juga sudah berkelahi. Sekarang aku pun siap untuk berkelahi.”

Laki-laki yang ditemui di kedai itu tidak bertanya lagi. ia pun segera mempersiapkan diri. Demikian pula Glagah Putih.

Sejenak kemudian mereka pun sudah mulai terlibat dalam pertempuran. Semakin lama semakin sengit. Laki-laki yang ditemui di kedai itu, yang ingin dengan cepat menyelesaikan perlawanan Glagah Putih, telah dengan cepat meningkatkan ilmunya. Namun ternyata ilmu Glagah Putih masih saja mampu mengimbanginya.

Dengan demikian, maka pertempuran diantara mereka pun telah meningkat menjadi semakin sengit.

Dalam pada itu, Glagah Putih yang masih akan menempuh perjalanan panjang ke Pajang, berniat untuk segera mengakhiri pertempuran itu juga sebagaimana lawannya. Namun sebenarnyalah bahwa ilmu orang yang ditemuinya di kedai itu bukan imbangan ilmu Glagah Putih.

Karena itu. maka dalam waktu singkat, maka Glagah Putih pun segera berhasil menekannya sehingga orang itu tidak lagi mendapat kesempatan. Serangan-serangannya sama sekali tidak berarti lagi. Bahkan beberapa kali ia telah terdorong surut jika serangan Glagah Putih mengenainya.

Semakin lama maka dada orang itu rasa-rasanya menjadi semakin sesak. Setiap kali tangan atau kaki Glagah Putih meloncat sambil memutar tubuhnya kakinya yang menebas mendatar telah mengenai keningnya, sehingga orang itu terkapar jatuh di tanah. Tubuhnya yang membentur batu padas terasa betapa nyerinya. Beberapa bagian tulang-tulangnya serasa telah menjadi retak.

Pada saat orang itu mencoba tertatih-tatih bangkit berdiri, Rara Wulan meluncur dengan derasnya seperti anak panah yang meluncur dari busurnya. Kakinya yang terjulur lurus langsung menghantam dada lawannya sehingga lawannya terlempar beberapa langkah surut. Tubuhnya jatuh terbanting menimpa tebing.

Terdengar orang itu mengaduh. Tetapi orang itu tidak segera dapat bangkit berdiri.

Kakaknya yang berhasil bangkit berdiri terhuyung-huyung. Jika saja Glagah Putih menyentuhnya dengan satu jarinya, maka orang itu pun akan terjatuh lagi.

“Lihat adikmu,” desis Glagah Putih, “apakah kau akan menolongnya.”

“Anak setan,” geramnya, “aku bunuh kau.”

“Sudahlah. Jangan bermimpi lagi. Sudah waktunya kau terbangun. Tetapi jika kau masih ingin meneruskan pertarungan ini aku tidak berkeberatan. Jika kau menganggap bahwa akhir dari pertarungan adalah kematian, maka aku akan segera membunuhmu.”

“Jangan, jangan bunuh aku.”

“Bukankah itu pikiran gila. Kau akan membunuhku. Jika aku tidak membunuhmu, maka kaulah yang akan membunuhku.”

“Tidak. Tidak. Aku tidak akan membunuhmu.”

“Apakah kau menyerah?”

“Ya. Aku menyerah.”

“Bagaimana dengan adikmu?”

“Ia sudah tidak dapat bangkit berdiri.”

Glagah Putih menarik nafas panjang. Namun dalam pada itu. tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh derap kaki kuda. Sebelum mereka sempat berbuat sesuatu, maka empat orang penunggang kuda yang memacu kudanya sudah berada dekat di depan mereka setelah kuda-kuda itu menyeberang.

Mereka yang berada di atas tebing sungai itu tidak dapat menghindar lagi. Keempat orang itu pun segera naik pula ke atas tebing.

Namun Glagah Putih dan Rara Wulan pun segera mengetahui, bahwa seorang diantara mereka adalah orang yang rambutnya ubanan yang bertemu di kedai itu.

Para penunggang kuda itu pun segera meloncat turun. Orang yang rambutnya mulai ubanan itu pun bertanya, “Apa yang telah terjadi disini.”

“Ternyata yang Ki Sanak katakan itu benar,” sahut Glagah Putih, “orang itu adalah orang yang berbahaya.”

“Tetapi agaknya kalian dapat mengatasinya.”

“Ya. Kebetulan saja kami dapat mengatasinya.”

“Kami datang terlambat. Menurut perhitungan kami, mereka akan menunggu kalian di tempat yang lebih jauh. karena biasanya mereka menunggu senja untuk melakukan pekerjaan kotor mereka.”

“Mungkin mereka sedang merintis kebiasaan baru.” Orang yang rambutnya mulai ubanan itu pun kemudian menyingkapkan baju dan menunjukkan timang di ikat pinggangnya.

“Kau mengenal pertanda semacam ini?” bertanya orang itu.

Glagah Putih menarik nafas panjang. Katanya, “Ya. Aku mengenalnya. Ki Sanak ternyata seorang prajurit Pajang.”

“Ya. Bukan hanya aku. tetapi kami berempat adalah prajurit Pajang.”

Glagah Putih mengangguk-angguk.

Sementara itu prajurit Pajang itu pun berkata, “Ki Sanak. Jika Ki Sanak tidak berkeberatan, serahkan kedua orang itu kepadaku. Aku akan membawanya ke Pajang.”

Glagah Putih pun mengangguk. Katanya, “Silahkan Ki Sanak. Bawa mereka ke Pajang. Ki Sanak lebih berhak membawa mereka ke Pajang daripada kami.”

“Ikat mereka,” perintah orang yang rambutnya mulai ubanan itu.

“Baik. Ki Lurah,” jawab seorang diantara mereka.

Para prajurit itu pun kemudian telah mengikat kedua orang yang bertubuh raksasa itu. Seorang yang bertempur melawan Rara Wulan itu ternyata keadaannya lebih parah. Ketika ia dipaksa bangkit berdiri, maka orang itu mengaduh tertahan.

Tetapi prajurit Pajang itu pun mengikat tangannya sebagaimana kakaknya.

“Terima kasih Ki Sanak,” berkata orang yang ubanan itu, “mungkin kami memerlukan Ki Sanak di Pajang. Barangkali Ki Sanak bersedia menyebut nama orang yang menjadi tujuan Ki Sanak.”

Glagah Putih pun kemudian berpaling kepada Ki Jagabaya yang berdiri termangu-mangu.

Sementara itu orang yang rambutnya ubanan itu berkata, “Mungkin kami memerlukan saksi atas kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang ini. Sebenarnya kami berniat menangkap basah pada saat orang ini merampok kalian. Tetapi keduanya telah melakukan kejahatan itu di luar kebiasaan mereka. Mereka melakukannya kali ini sebelum senja turun.”

Glagah Putih mengangguk-angguk kecil. ia pun kemudian bertanya kepada Ki Jagabaya, “Apakah Ki Jagabaya dapat menyebutkan nama saudara Nyi Jagabaya yang tinggal di Pajang itu?”

“Adik isteriku adalah seorang prajurit Ki Sanak.”

“Seorang prajurit? Kebetulan sekali. Mungkin aku dapat menghubunginya. Siapakah namanya?”

“Namanya Sapala. Lengkapnya Jaka Sapala.”

“Jaka Sapala?”

“Ya.”

“Aku kenal dengan Ki Lurah Jaka Sapala. Baiklah. Aku akan menghubunginya. Aku akan memberitahukan bahwa saudaranya sedang dalam perjalanan ke Pajang. Itu kalau aku sampai di Pajang lebih dahulu, karena meskipun aku berkuda, tetapi aku membawa dua tawanan. Jika mereka tidak dapat berjalan lebih cepat dari kalian, maka kalianlah yang akan sampai di Pajang lebih dahulu.”

“Kami akan berjalan lambat sekali Ki Sanak.”

“Baiklah. Jika demikian, kami akan berjalan lebih dahulu. Mudah-mudahan, kami sampai di Pajang mendahului Ki Sanak. Aku akan langsung singgah di rumah Ki Lurah Jaka Sapala untuk memberitahukan akan kedatangan kalian.”

“Silahkan Ki Sanak. Kami mengucapkan terima kasih.”

Demikianlah, maka keempat orang prajurit itu melanjutkan perjalanan mereka. Kedua orang yang terikat tangannya dengan tali yang panjang itu dipaksa untuk berjalan di belakang kuda para prajurit itu.

Keduanya tertatih-tatih memaksa diri untuk melangkahkan kakinya, meskipun dada mereka terasa masih sakit. Tulang-tulang mereka seakan-akan menjadi retak, sehingga setiap kali mereka mengeluh kesakitan.

Akhirnya para prajurit itu tidak telaten. Mereka berdua diperintahkan untuk naik diatas punggung seekor kuda. sedangkan dua orang prajurit yang tubuhnya tidak begitu besar, naik pula di punggung seekor kuda.

“Nanti bergantian. Kasihan kudanya,” berkata prajurit yang rambutnya mulai ubanan itu.

Dengan demikian, maka perjalanan mereka menjadi lebih cepat. Sementara itu. Glagah Putih dan Rara Wulan pun telah minta kepada yang lain untuk melanjutkan perjalanan mereka.

Sementara itu matahari pun menjadi semakin rendah. Karena itu. maka mereka tidak akan dapat mencapai Pajang pada saat senja turun. Namun mereka berniat untuk berjalan terus, meskipun mereka baru sampai di Pajang malam hari.

Namun betapa letihnya mereka. Perjalanan yang begitu panjang harus mereka tempuh dalam sehari.

Namun dengan demikian pada saat mereka menyadari bahwa mereka tidak akan sampai di Pajang di senja hari. mereka justru tidak menjadi tergesa-gesa lagi. Mereka berjalan saja menurut kekuatan kaki mereka. Jika mereka merasa lelah, mereka pun berhenti di pinggir jalan. Bahkan ketika senja turun, mereka telah berhenti di sebuah kedai di sebuah padukuhan yang agak besar.

“Kedai itu masih membuka pintunya,” desis Ki Demang.

“Ya. Nampaknya segala sesuatunya masih baru. Beberapa jenis makanan masih nampak mengepul hangat. Demikian pula nasinya,” sahut Nyi Jagabaya.

“Mungkin kedai ini memang buka di sore hari. Atau bahkan sehari penuh. Di sore hari mereka menjajakan minuman, makan dan makanan yang baru lagi.”

“Kita akan singgah. Cucu Ki Jagabaya itu tentu letih, lapar dan haus,” berkata Rara Wulan.

“Ya. Tetapi kali ini, jangan angger yang membayar. Aku akan mendapat giliran untuk membayarnya.”

Rara Wulan tersenyum. Tetapi ia harus mengangguk mengiakan. Ia tidak dapat mengatakan, bahwa ia mempunyai bekal uang cukup banyak, karena dengan demikian. Ki Demang akan menganggapnya seorang perempuan yang sombong.

Demikianlah mereka pun memasuki kedai yang cukup luas itu. Mereka duduk di sudut kedai itu bersama-sama sehingga merupakan kelompok kecil seperti sekelompok orang yang sedang mengadakan pertemuan.

Ki Demang lah yang kemudian memanggil pelayan kedai itu. Setiap orang dipersilahkan oleh Ki Demang untuk memesan langsung kepada pelayan kedai itu.

Karena pesannya tidak sama. maka pelayan itu agak kesulitan mengingat-ingat.

“Nasi megana telur pindang dan daging empal yang tidak terlalu kering,” suara cucu Ki Kebayan melengking.

“Ssst,” desis Ki Jagabaya.

“Aku tidak mau yang lain,” cucunya justru berteriak lebih keras.

“Baik. baik. ngger,” sahut pelayan kedai itu, “kebetulan disini ada nasi megana. Ada telur pindang dan ada daging empal yang digoreng tidak begitu kering.”

Ki Jagabaya itu pun menggamit cucunya sambil berdesis, “Kau tidak boleh nakal.”

“Bukankah aku tidak berbuat apa-apa,” sahut cucunya, “aku hanya memesan nasi megana dengan telur pindang dan daging empal itu saja.”

“Ya. ya. Sudahlah,” desis Nyi Jagabaya. Cucunya pun terdiam.

Yang lain tersenyum-senyum sambil memandang cucu Ki Jagabaya yang nampak bingung.

Kedai yang dibuka di sore hari itu ternyata banyak dikunjungi orang. Agaknya mereka bukan orang yang tinggal di sekitar kedai itu. Beberapa orang nampak berpakaian rapi. Agaknya mereka dalang dari padukuhan-padukuhan yang agak jauh.

“Apa yang mereka lakukan disini?” bertanya Rara Wulan.

“Entahlah. Nanti kita bertanya kepada pelayan kedai itu,” sebenarnyalah ketika salah seorang pelayan kedai itu menghidangkan pesanan Ki Demang dengan orang-orang yang datang bersamanya. Glagah Putih pun bertanya. “Apakah terbiasa kedai ini buka di sore hari?”

“Tidak setiap hari. Ki Sanak,” jawab pelayan itu.

“Kenapa?”

“Biasanya kami hanya buka di pagi dan siang hari. Di sebelah itu ada pasar. Tetapi untuk hari-hari seperti hari ini. kami buka sampai jauh malam.”

“Hari apa?”

“Di ujung padukuhan ini, di belakang pasar itu, ada sebuah gumuk kecil dan sebuah belumbang. Airnya bukan air biasa. Tetapi airnya dapat menyembuhkan orang sakit. Di hari seperti ini, Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon gumuk kecil itu banyak di kunjungi orang. Ada makam tua diatas gumuk itu. Beberapa batang pohon raksasa dan sebuah mata air, yang airnya mengalir ke belumbang itu.”

“Jadi orang-orang yang singgah di kedai ini adalah orang-orang yang berkunjung ke gumuk kecil itu.”

“Ya. Jika Ki Sanak nanti berjalan di depan pasar di sebelah tikungan, maka disana pun ada satu dua kedai yang buka di malam hari. Di tempat-tempat lain pun ada juga kedai-kedai yang buka khusus di hari-hari seperti ini. Malam ini dan esok pagi. Bahkan kami buka di sore hari sejak kemarin.”

Glagah Putih mengangguk-angguk.

“Ki Sanak belum pernah datang kemari?”

Glagah Putih menggeleng, “Belum Ki Sanak.”

Ketika pelayan itu kemudian pergi, maka Rara Wulan pun berkata, “Jadi hari ini adalah malam Jumat Kliwon.”

“Ya,” sahut Ki Bekel, “karena itu. maka kita dapat mencium bau kemenyan.”

“Jika saja tidak kebetulan kita membawa beban kewajiban kita masing-masing aku ingin singgah di gumuk kecil itu,” desis Rara Wulan.

“Aku sebenarnya juga ingin melihatnya,” sahut Ki Demang, “tetapi kita harus segera meneruskan perjalanan.”

Beberapa saat kemudian, maka mereka pun sudah selesai makan dan minum. Setelah beristirahat sebentar, maka mereka pun berniat untuk segera meneruskan perjalanan.

Ki Demang lah yang kemudian membayar harga makanan dan minuman mereka, sebagaimana dikehendakinya. Sementara itu Rara Wulan hanya tersenyum-senyum saja meskipun sebenarnya ia pun tidak berkeberatan untuk membayar. Tetapi ia tidak ingin menyinggung perasaan Ki Demang.

Sementara itu. beberapa orang sudah masuk pula ke dalam kedai itu. sehingga kepergian mereka dapat segera memberikan tempat kepada orang lain.

“Kedaimu laris sekali,” desis Glagah Putih.

Pelayan kedai itu pun menjawab, “Banyak sekali orang yang berdatangan ke gumuk kecil itu. Ki Sanak. Seandainya ada tiga atau empat kedai lagi. agaknya masih juga banyak dikunjungi orang. Selebihnya. Nyi Senik pemilik kedai ini rajin mengunjungi gumuk kecil itu pula. Sekarang ia juga tidak ada disini. Nyi Senik sedang berada di gumuk itu. Yang ada itu anak perempuan sulungnya, yang nampaknya juga akan membuka kedai sendiri kelak.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun minta diri pula.

Ketika mereka melewati tikungan, maka mereka pun sampai di depan sebuah pasar yang tidak begitu besar. Sepi dan bahkan pintu gerbangnya tertutup rapat. Tetapi disebelah pasar itu ada dua buah kedai yang juga dibuka. Pengunjungnya pun cukup banyak sebagaimana kedainya Nyi Senik.

“Kepercayaan mereka terhadap gumuk kecil serta air belumbang itu ada juga akibat baiknya,” berkata Rara Wulan.

“Apa?”

“Rejeki bagi beberapa orang di sekitar tempat ini. Bukan hanya kedai-kedai sajalah yang banyak dikunjungi orang. Nah. kau lihat orang berjualan jagung bakar itu juga banyak penggemarnya. Penjual kacang itu juga mendapat pembeli yang cukup banyak. Ia mempunyai cara yang menarik perhatian orang banyak.”

“Ia tidak merebus kacangnya satu-satu. Tetapi sebatang dengan sekelompok buahnya.”

Glagah Putih dan Rara Wulan itu pun sempat memperhatikan beberapa orang lain yang berjualan berbagai macam makanan di pinggir jalan, di simpang tiga atau simpang empat.

Bahkan Rara Wulan pun memerlukan membeli sebungkus onde-onde ceplus untuk bekal di perjalanan yang masih memerlukan waktu beberapa lama, meskipun sudah tidak terlalu jauh lagi.

Ketika kemudian malam turun, maka mereka masih berada di perjalanan. Mereka tidak dapat mencapai Pajang di senja hari.

Namun mereka menjadi berdebar-debar ketika dalam keremangan ujung malam, di arah yang berlawanan nampak dua orang berkuda. Tetapi demikian kedua orang berkuda itu berada beberapa langkah di hadapan iring-iringan kecil itu. mereka pun segera berhenti. Kedua penunggangnya segera meloncat turun.

Meskipun malam mulai menjadi gelap, namun ternyata Ki Jagabaya dan Nyi Jagabaya dapat segera mengenali. Seorang diantara mereka adalah orang yang akan mereka datangi di Pajang.

“Adi Jaka Sapala,” desis Ki Jagabaya.

“Kakang dan mbokayu Jagabaya,” sahut orang itu.

Ki Jagabaya dan Nyi Jagabaya pun segera bergeser maju. Nyi Jagabaya pun kemudian menepuk bahu Ki Jaka Sapala sambil berkata.

“Kau kelihatan segar sekali.”

“Ya mbokayu. Berkat doa mbokayu.”

“Syukurlah. Bagaimana dengan keluargamu?”

“Ini adalah Prayoga. Apakah kakang dan mbokayu masih ingat kepadanya?”

“Prayoga. Jadi anak ini Prayoga yang nakal itu?”

“Ya. Mbokayu,” lalu katanya kepada Prayoga, “Ini uwa Jagabaya. Bukankah aku pernah bercerita, bahwa salah seorang uwakmu tinggal di kademangan Sima.”

Prayoga itu pun mengangguk hormat.

Ki Jagabaya mendekatinya. Kedua lengan anak itu diguncangnya sambil berkata, “Aku tidak dapat mengenalimu lagi. Apalagi di malam hari seperti ini.”

Ki Jagabaya itu pun kemudian memperkenalkan Ki Demang, Nyi Demang, Ki Bekel, Nyi Bekel serta kedua orang suami isteri yang telah berbaik hati bukan saja bersedia mengantar mereka ke Pajang, tetapi juga telah menyelamatkan jiwa mereka.”

“Aku mengucapkan terima kasih. Ki Sanak,” berkata Ki Lurah Sapala sambil mengangguk hormat.

“Itu sudah menjadi kewajiban setiap orang Ki Lurah,” sementara itu Ki Jagabaya pun telah memperkenalkan cucunya yang nakal, “Inilah Perdi itu … adi.”

“Perdi yang kecil itu?”

“Ya.”

Ki Lurah Sapala itu pun mengangguk-angguk. Katanya, “Ternyata kita memang sudah lama sekali tidak bertemu kakang.”

“Ya. Prayoga sekarang sudah menjadi seorang anak muda yang menjelang dewasa. Ia sudah pandai berpacu diatas punggung kuda.”

“Lebih dari sewindu kita tidak bertemu, hingga Prayoga sekarang umurnya sudah duapuluh tahun.”

“Aku melihatnya terakhir kalinya. Prayoga baru sebesar cucuku yang nakal ini.”

“Nah. sekarang biarlah Perdi naik keatas punggung kuda. Biarlah Prayoga menuntun kudanya.”

“Sebenarnya kalian akan pergi ke mana?” bertanya Nyi Jagabaya.

“Kami sengaja menyongsong kakang dan mbokayu. Tadi seorang kawan singgah sebentar di rumahku dan memberitahukan bahwa kakang ke Pajang. Karena itu, kami berdua memang berniat menyongsong kakang dan mbokayu beserta iring-iringan kecil ini.”

“Kami minta maaf adi. bahwa kami telah merepotkan. Apalagi jika kami sampai di rumah adi.”

“Tidak, tidak mbokayu. Kami sekeluarga akan senang sekali kedatangan mbokayu dan Ki Sanak semuanya.”

“Ada peristiwa yang penting yang nanti akan kami beritahukan adi. Karena peristiwa itulah maka kami sekelompok bebahu dari kademangan Sima telah meninggalkan kademangan dan pergi ke rumahmu. Katakan saja bahwa kami telah mengungsi ke rumahmu.”

“Mengungsi? Ada apa? Tetapi baiklah, nanti saja kakang dan mbokayu bercerita. Sekarang, marilah kita meneruskan perjalanan. Dibandingkan dengan perjalanan dari Sima, maka Pajang tinggal beberapa langkah saja.”

“Kami tidak berangkat dari Sima. adi. Kami berangkat dan Ampel.”

“He?”

“Biarlah nanti kami ceriterakan.”

Sekelompok orang itu pun kemudian melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Pajang. Cucu Ki Jagabaya yang nakal itu ternyata sama sekali tidak takut naik di punggung kuda. Apalagi kudanya dituntun oleh Prayoga.

Demikianlah, maka meskipun lambat sekali akhirnya mereka pun memasuki pintu gerbang kota Pajang yang terbuka. Ada beberapa orang penjaga pintu gerbang. Dua diantara mereka berdiri di depan pintu gerbang, sebelah menyebelah.

Ketika kedua penjaga itu akan menghentikan iring-iringan itu. maka Ki Lurah Sapala melangkah ke depan sambil menuntun kudanya.

Dengan nada datar Ki Lurah itu pun bertanya, “Apakah ada diantara kalian yang mengenal aku?”

Kedua orang prajurit yang bertugas itu termangu-mangu. Sementara itu, Ki Lurah pun telah menyingkapkan bajunya untuk memperlihatkan timang keprajuritannya.

Sementara itu, Lurah prajurit yang bertugas, yang mendengar pembicaraan di pintu gerbang, telah turun dari gardu dan mendekat ke pintu gerbang itu.

Ketika Lurah prajurit itu melihat Ki Lurah Sapala, maka ia pun segera mendapatkannya.

“Ki Lurah Sapala.”

Ki Lurah Sapala itu pun tersenyum. Katanya, “Selamat malam Ki Lurah.”

“Agaknya kedua orang prajurit ini belum mengenal aku. Ketika ke luar dari pintu gerbang ini, yang bertugas di pintu bukan mereka berdua.”

Lurah prajurit itu tertawa. Katanya, “Ya. Baru saja tugas mereka di ganti.”

“Ya. Apalagi mereka belum mengenal aku.”

“Tetapi Ki Lurah malam-malam begini telah pergi ke mana?”

“Menyongsong keluargaku. Aku mendapat pesan dari seorang Lurah Prajurit yang datang dengan membawa dua orang tawanan, bahwa keluargaku berada dalam perjalanan ke Pajang. Karena itu, maka aku dan anakku telah menyongsongnya.”

Lurah Prajurit yang bertugas itu pun telah mengangguk hormat kepada orang-orang yang datang bersama Ki Lurah Sapala.

“Ki Sanak baru datang dari mana?” bertanya Lurah Prajurit itu, “Ki Sanak semuanya kelihatannya sangat letih.”

“Kami datang dari Ampel, Ki Lurah,” jawaban Ki Demang.

“Satu perjalanan yang sangat panjang.”

“Ya. Kami berangkat sebelum matahari terbit.”

“Silahkan. Silahkan. Ki Sanak tentu segera ingin beristirahat.”

Demikianlah, maka iring-iringan itu pun segera meneruskan perjalanan memasuki pintu gerbang Pajang.

Rumah Ki Lurah Sapala itu sudah berada di depan hidung mereka, setelah mereka menempuh perjalanan yang jauh.

Sebenarnyalah beberapa saat kemudian, mereka telah memasuki regol halaman rumah Ki Lurah Sapala. Rumah yang terhitung besar dan lengkap meskipun tidak berlebihan. Rumah yang sesuai bagi seorang Lurah Prajurit.

“Inilah rumahku,” berkata Ki Lurah Sapala. Merekapun kemudian telah berada di halaman rumah Ki Lurah Sapala. Rumah dan halamannya yang nampaknya sepadan dengan rumah Ki Demang di Sima. Rumah yang harus ditinggalkannya untuk mengungsi.

Ki Lurah yang menyadari bahwa orang-orang yang baru datang itu tentu sangat letih, segera mempersilahkan mereka naik ke pendapa dan duduk di pringgitan. Diatas tikar pandan yang putih bergaris biru.

“Silahkan duduk seenaknya saja mbokayu, kakang dan Ki Sanak semuanya. Aku tahu, bahwa kalian tentu sangat letih. Bahkan yang akan berbaring, silahkan berbaring. Bilik-bilik di gandok kiri dan kanan baru dibersihkan. Nanti setelah minum minuman hangat serta makan malam yang tentu sudah terlambat kami persilahkan kalian beristirahat di bilik-bilik yang berada di gandok. Yang akan mandi atau membersihkan kaki dan tangan, nanti aku persilahkan ke pakiwan. Pokoknya, seenaknya sajalah.”

Cucu Ki Jagabaya, yang meskipun sempat naik di punggung kuda, tetapi ia pun merasa sangat letih. Karena itu, maka anak itu pun langsung berbaring di pringgitan.

“Kau belum mencuci kakimu. Apalagi mandi.”

“Sudah kek,” sahut anak itu, “aku sudah mandi di sungai.”

“Tetapi kau tentu sudah menjadi kotor lagi oleh debu.”

“Aku letih sekali kek.”

“Biarlah anak itu berbaring dahulu,” berkata Ki Lurah Sapala, “anak itu tentu sangat letih.”

Demikianlah beberapa saat kemudian, minuman dan makanan pun telah dihidangkan oleh Nyi Lurah yang kemudian ikut pula duduk menyambut tamu-tamunya.

“Begitu cepatnya adi,” desis Nyi Jagabaya.

Nyi Lurah pun tersenyum sambil menjawab, “Sebelum mbokayu dan kakang serta Ki Sanak semuanya datang kami sudah diberitahu, bahwa malam ini kami akan mendapat tamu.”

“Kami mohon maaf, Nyi,” berkata Nyi Demang, “kami telah sangat merepotkan Ki Lurah dan Nyi Lurah.”

“Tidak. Tidak apa-apa. Kami senang sekali mendapat kunjungan kakang, mbokayu dan Ki Sanak semuanya.”

Demikianlah setelah minum seteguk serta makan sepotong makanan, maka mereka pun bergantian pergi ke pakiwan Namun demikian letihnya, sehingga rasa-rasanya mereka sudah tidak mampu lagi bangkit dan berjalan ke pakiwan.

Namun ternyata cucu Ki Jagabaya itu dalam waktu yang singkat telah tertidur pulas, sehingga Ki Lurah Sapala pun berkata, “Sudahlah. Jangan dibangunkan. Kasihan. Anak itu tentu merasa sangat letih setelah menempuh perjalanan yang sedemikian panjangnya pada usianya yang masih remaja.”

Setelah semuanya mandi dan berbenah diri, maka mereka pun dipersilahkan duduk di ruang dalam. Nyi Lurah Sapala telah menyediakan makan malam bagi mereka yang baru datang itu.

“Kami sangat merepotkan adi berdua,” berkata Nyi Jagabaya.

“Ah. tidak apa-apa, mbokayu. Kami sudah terlalu sering menerima tamu sebanyak ini. Bahkan kadang-kadang sekelompok prajurit kakang Sapala datang kemari dengan tiba-tiba setelah menyelesaikan satu tugas tertentu. Mereka langsung saja berteriak, “Makan Nyi Lurah, makan.”

Nyi Jagabaya tertawa. Sementara Nyi Lurah pun berkata selanjutnya, “Dengan demikian, kadang-kadang aku menjadi tergesa-gesa menyediakan makan untuk mereka yang kadang-kadang jumlahnya sampai dua puluh atau dua puluh lima orang.”

Yang mendengarkan cerita itu pun tertawa. Apalagi ketika Ki Lurah berkata, “Jika sudah demikian, maka akulah yang harus melayaninya. Menyediakan kayu bakar, air di gentong, bahkan kadang-kadang akulah yang mencuci dandang.”

Nyi Lurah pun tertawa pula.

Ketika mereka mulai makan, maka Prayoga pun berkata, “Biarlah aku menunggu Perdi di pringgitan.”

“Atau bawa saja ke bilik di ujung gandok sebelah kiri. Tunggu anak itu di bilik itu, agar tidak terkena angin malam di pringgitan,” berkata Ki Lurah.

“Baik. ayah,” jawab Prayoga.

Namun Nyi Lurah itu pun kemudian berkata kepada Prayoga, “Kau tentu dapat memarami kaki anak itu, agar esok pagi. ia tidak merasakan betisnya sakit. Dengan param itu, maka ia tidak akan merasa terlalu letih lagi.”

“Baik ibu,” jawab Prayoga.

“Terima kasih ngger,” berkata Nyi Jagabaya kemudian.

“Nanti mbokayu, kakang dan yang lain jika ingin mempergunakan param, aku mempunyai persediaan cukup banyak. Para prajurit yang letih setelah melakukan tugasnya, sering juga minta param kepadaku.”

“Terima kasih. Nyi. Nanti aku minta param itu,” sahut Rara Wulan.

Glagah Putih sempat menggamit isterinya. Tetapi Rara Wulan tidak berpaling.

Demikianlah maka mereka yang baru datang ke rumah Ki Lurah itu pun makan dengan lahapnya. Meskipun mereka sudah singgah di kedai, tetapi rasa-rasanya mereka telah menjadi lapar lagi.

Meskipun tidak lapar, tetapi Ki Lurah dan Nyi Lurah ikut mengantar tamunya yang sedang makan itu meskipun hanya sedikit.

Sambil makan, maka Ki Jagabaya pun sempat menceriterakan. apa yang telah terjadi di Sima sehingga Ki Demang, Ki Jagabaya dan Ki Bekel harus mengungsi ke Ampel. Tetapi mereka merasa bahwa mereka masih saja berada di bawah bayangan kebengisan orang-orang yang telah datang ke Sima, mengemban tugas dari perguruan Kedung Jati serta dari kadipaten Demak.

Ki Lurah Sapala mendengarkan ceritera itu dengan seksama. Sekali-sekali Ki Lurah itu mengangguk-angguk. Namun kemudian Ki Lurah itu pun menarik nafas panjang.

“Jadi kedua orang suami isteri inilah yang telah menyelamatkan kami dari maut yang disebarkan oleh orang-orang dari perguruan Kedung Jati itu.”

Ki Lurah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih, Ki Sanak. Tetapi maaf jika Ki Sanak tidak berkeberatan, kami ingin tahu, siapakah Ki Sanak berdua ini sebenarnya?”

“Kami adalah orang-orang Tanah Perdikan Menoreh. Ki Lurah. Kami sebenarnya bukan apa-apa meskipun kami selalu melibatkan diri dengan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Namun kepergian kami sekarang mengemban perintah Ki Patih Mandaraka serta Kanjeng Pangeran Purbaya untuk tugas-tugas sandi.”

“Tugas khusus apakah yang harus Ki Sanak laksanakan?”

“Seperti yang aku katakan, mengemban perintah Ki Patih Mandaraka serta Kanjeng Pangeran Purbaya.”

Ki Lurah Sapala menarik nafas panjang. Ia tidak dapat memaksa jika petugas sandi itu sendiri tidak berniat untuk mengatakannya.

“Aku minta maaf Ki Lurah, bahwa aku tidak dapat mengatakan lebih terperinci lagi. Barangkali Ki Lurah dapat melihat pertanda yang ada padaku sebagai petugas sandi di bawah perintah Ki Patih Mandaraka serta Kanjeng Pangeran Purbaya.”

Glagah Putih pun menyingkapkan bajunya pula, sehingga nampak timang pertanda khusus yang dipakainya.

Ki Lurah Sapala pun tiba-tiba mengangguk hormat. Katanya, “Ki Sanak telah dibebani tugas yang berat dengan wewenang khusus meskipun Ki Sanak bukan seorang prajurit. Jarang orang Mataram yang mendapat wewenang begitu besar seperti Ki Sanak itu.”

“Ki Lurah. Dalam hubungan para pendatang di Sima, aku minta Ki Lurah dapat membicarakan ke tingkat yang lebih tinggi di Pajang. Mungkin akan sangat berguna bagi Mataram. Jika ada kekuatan dari sebelah Utara Gunung Kendeng maka Pajang harus menyadarinya.”

Ki Lurah Sapala mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Pajang harus menaruh perhatian yang besar terhadap gerakan dari Utara itu. Namun mudah-mudahan gerakan itu hanyalah bayangan mimpi satu dua orang pejabat tinggi di Demak, sehingga apabila Kanjeng Pangeran Puger mengetahui, maka Kanjeng Pangeran Puger akan mengambil tindakan.”

“Sebelum segala sesuatunya terjadi, maka sebaiknya Pajang berhati-hati.”

“Baik, Ki Sanak tetapi barangkali aku dapat menyebut nama Ki Sanak.”

“Namaku Glagah Putih. Perempuan ini adalah isteriku Namanya Rara Wulan.”

“Terima kasih, Ki Glagah Putih berdua. Kami akan berusaha untuk menarik perhatian ke tingkat yang lebih tinggi. Aku akan menghadap pemimpinku untuk menyampaikan persoalan ini.”

“Ki Lurah pun harus menyembunyikan Ki Demang, Ki Jagabaya dan Ki Bekel dari penglihatan petugas sandi dari Demak serta para petugas dari perguruan Kedung Jati. Bahwa Ki Demang. Ki Jagabaya dan Ki Bekel hilang dari Sima, tetap akan menjadi perhatian mereka. Apalagi di Sima telah terjadi pembunuhan terhadap orang-orang mereka Para petugas dari Demak dan dari perguruan Kedung Jati tentu tidak akan melepaskan Ki Demang, Ki Jagabaya dan Ki Bekel begitu saja. Jika mereka mendapat keterangan dari siapapun juga, bahwa Ki Demang, Ki Jagabaya dan Ki Bekel berada di Ampel. mereka pun tentu akan memburunya. Demikian pula jika mereka sedikitnya menduga, bahwa Ki Demang, Ki Jagabaya dan Ki Bekel itu pergi ke Pajang. Mereka tentu akan mencarinya di Pajang.”

“Baik, Ki Glagah Putih. Aku adalah seorang prajurit. Biarlah aku berusaha untuk melakukannya.”

Demikianlah, ketika mereka sudah selesai makan serta sedikit berbincang tentang berbagai kemungkinan, maka Ki Lurah Sapala pun kemudian berkata, “Nah, sekarang silahkan beristirahat lebih dahulu. Semuanya tentu letih. Jika kalian ingin mempergunakan param, isteriku telah menyediakannya.”

Ternyata Ki Demang, Ki Jagabaya dan Ki Bekel beserta isteri-isteri mereka, akan mencoba mempergunakan param yang hangat yang disediakan oleh Nyi Lurah Param yang terbuat dari reramuan beberapa jenis akar-akaran serta gelepung beras serta sedikit garam itu pun diberi sedikit air sehingga menjadi lumat seperti lumpur. Kemudian digosokkan di betis dan terutama di pergelangan kaki sehingga rasanya menjadi hangat.

“Bagaimana dengan Ki Glagah Putih berdua?”

Glagah Putih dan Rara Wulan tersenyum. Dengan nada datar Glagah Putih pun menyahut, “Kami adalah pengembara. Ki Lurah. Pekerjaan kami adalah berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain, karena itu, maka kami sudah terbiasa menempuh perjalanan jauh. Bahkan lebih jauh dari perjalanan kami kali ini.”

Ki Lurah pun tertawa pula.

Demikianlah, maka sejenak kemudian mereka telah di tempatkan di bilik mereka masing-masing. Sebagian berada di gandok kanan dan yang lain di gandok kiri. Ada beberapa bilik di kedua gandok rumah Ki Lurah Sapala itu.

Malam itu, Perdi, cucu Ki Jagabaya nampak agak gelisah. Anak itu tentu merasa sangat letih Untunglah bahwa Prayoga telah melumuri kaki anak itu dengan param yang hangat, sehingga terasa letihnya menjadi sedikit berkunang.

Seperti biasanya, di tempat yang asing, maka Glagah Putih dan Rara Wulan memanfaatkan sisa malam itu untuk tidur bergantian, Glagah Putih memberi kesempatan Rara Wulan untuk tidur lebih dahulu. Baru kemudian di dini hari, Rara Wulan pun terbangun dan mempersilahkan Glagah Putih untuk tidur meskipun hanya sebentar.

Ternyata malam itu, mereka yang baru datang dan Ampel itu pun dapat tidur dengan nyenyak. Param di kaki mereka, telah membuat mereka menjadi lebih nyaman sehingga mereka dapat tidur dengan lelap.

Dalam pada itu, menjelang fajar, Glagah Putih dan Rara Wulan telah bersiap-siap. Mereka telah mandi dan berbenah diri. Hari itu mereka ingin kembali ke Sima untuk melihat perkembangannya sepeninggal Ki Demang, Ki Jagabaya dan Ki Bekel.

Agaknya Ki Lurah Sapala agak terkejut juga melihat bahwa kedua orang suami isteri itu sudah bersiap.

“Ki Glagah Putih dan Nyi Glagah Putih akan pergi kemana sepagi ini?”

“Kami harus kembali ke Sima, Ki Lurah.”

“Kenapa begitu tergesa-gesa? Kenapa tidak esok saja atau esok lusa.”

“Kami ingin segera mengetahui perkembangan keadaan di Sima sepeninggal beberapa orang bebahunya. Justru para bebahu yang memegang kepemimpinan di Sima.”

“Tetapi Ki Glagah Putih berdua tentu masih letih.”

“Sudah kami katakan, bahwa kami adalah pengembara yang tidak pernah berhenti menempuh perjalanan dari hari ke hari.”

Ki Lurah Sapala suami isteri, bahkan Ki Demang, Ki Jagabaya dan Ki Bekel suami isteri tidak dapat mencegahnya. Namun Ki Lurah telah memaksanya untuk menunggu minuman disiapkan.

Glagah Putih dan Rara Wulan tidak dapat menolak. Merekapun menunggu sampai Nyi Lurah Sapala menghidangkan minuman hangat di pringgitan.

“Minumlah dahulu,” berkata Ki Lurah Sapala. Glagah Putih dan Rara Wulan pun kemudian menghirup minuman yang masih hangat itu. serta makan beberapa potong makanan yang telah disediakan.

Baru kemudian Glagah Putih dan Rara Wulan dapat meninggalkan rumah Ki Lurah Sapala.

Ki Demang, Ki Jagabaya dan Ki Bekel suami isteri berulang-ulang mengucapkan terima kasih kepada mereka. Demikian pula Ki Lurah Sapala. Bahkan Ki Lurah pun sangat berterima kasih atas beberapa keterangan Glagah Putih dan Rara Wulan tentang keadaan di Sima.

“Ki Demang, Ki Jagabaya dan Ki Bekel akan dapat memberikan keterangan lebih banyak lagi,” berkata Glagah Putih.

“Ya. Aku akan mengajak mereka untuk berbicara dengan atasanku. Mudah-mudahan keterangan mereka akan dapat memberikan masukan bagi kesiagaan Pajang menghadapi para petugas sandi dari Demak serta dari Perguruan Kedung Jati.”

“Tetapi Ki Lurah juga harus peduli akan keselamatan Ki Demang, Ki Jagabaya dan Ki Bekel beserta keluarganya.”

“Aku akan mengusahakannya. Ki Glagah Putih.”

“Baiklah, kami mohon diri. Salam buat cucu Ki Jagabaya yang masih tidur nyenyak. Biar sajalah ia beristirahat secukupnya.”

Demikianlah, maka Glagah Putih dan Kara Wulan pun kemudian telah meninggalkan rumah Ki Lurah dan selanjutnya meninggalkan Pajang. Keduanya akan menempuh perjalanan kembali ke Sima untuk melihat perkembangan kademangan itu sepeninggal Ki Demang, Ki Jagabaya dan Ki Bekel.

Di Pajang. Ki Lurah Sapala tidak dapat mengabaikan keselamatan Ki Demang, Ki Jagabaya dan Ki Bekel yang berada di rumahnya, untuk sementara Ki Lurah minta agar mereka tidak ke luar dari regol halaman rumahnya. Bahkan sebaiknya mereka tetap berada di batas pintu seketheng, Ki Lurah pun telah mempersiapkan mereka untuk tidak tidur di gandok karena akan lebih mudah terlihat oleh orang lain. Karena itu, maka Ki Lurah telah menyiapkan bilik-bilik di serambi samping, menghadap ke longkangan di belakang pintu seketheng.

“Aku harus menjaga keselamatan mereka,” berkata Ki Lurah kepada isterinya.

“Maksud kakang?”

“Aku harus menempatkan petugas sandi di rumah ini. Aku yakin bahwa para petugas sandi dari Demak dan dari Perguruan Kedung Jati akan tetap memburu Ki Demang, kakang Jagabaya dan Ki Bekel, justru karena mereka bertiga adalah orang-orang terpenting di kademangan Sima.”

“Jadi rumah ini akan dijaga oleh beberapa orang prajurit.”

“Tidak, Nyi. Tetapi kau tentu akan menjadi semakin sibuk. Mungkin petugas sandi itu akan berada di rumah ini sebagai seorang tamu atau sebagai seorang yang mengurusi kuda atau untuk keperluan-keperluan lain. Tetapi sedikitnya harus ada dua orang petugas sandi di rumah ini.”

Isterinya mengangguk-angguk. Tetapi ia sama sekali tidak mengeluh apapun yang harus dilakukannya, jika itu merupakan dukungan terhadap tugas-tugas suaminya.

Sementara itu. Glagah Putih dan Rara Wulan telah berjalan semakin jauh dari Pajang. Adalah satu kebetulan bahwa di Pajang ia telah bertemu dengan seorang Lurah Prajurit. Ia yakin bahwa Ki Lurah Sapala akan dapat mengangkat persoalan beberapa orang yang mengungsi ke rumahnya itu ke tataran yang lebih tinggi, sehingga Pajang harus mengambil kesimpulan, bahwa Pajang sebagai satu kadipaten, harus berhati-hati menghadapi Demak yang akan bekerja sama dengan perguruan Kedung Jati.

“Pajang seharusnya tidak saja mengamati di dalam lingkungan rumah tangganya sendiri. Tetapi Pajang harus mengirimkan petugas sandinya ke luar. Untuk waktu yang dekat. Pajang harus mengirimkan petugas sandinya ke Sima.”

“Ya, kakang. Tidak seharusnya Pajang hanya sekedar menunggu. Jika Pajang lengah, maka bukan hanya Sima yang akan menjadi landasan kekuatan Demak dan perguruan Kedung Jati. Tetapi Pajang akan dapat dikuasai oleh Demak, setidak-tidaknya pengaruhnya.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan melihat perkembangan keadaan di Sima. Jika keadaannya mendesak, maka kita akan segera kembali ke Mataram untuk melaporkan perkembangan keadaan. Tetapi jika kita sebut bahwa Demak mulai menebarkan pengaruhnya bersama-sama dengan perguruan Kedung Jati, maka Mataram tentu akan terkejut sekali.

“Bahkan mungkin kita tidak akan dipercayainya kakang.”

“Ya. Mungkin sekali. Mungkin sekali kita dianggap telah mengada-ada. Karena kita gagal menjalankan tugas kita menguasai tongkat baja putih itu, maka kita lalu mencari-cari perkara.”

“Hanya jika kita dapat membawa bukti-bukti yang meyakinkan, kita akan dipercaya.”

Glagah Putih menarik nafas panjang. Keduanya pun melangkah semakin cepat. Tanpa orang lain, mereka dapat berjalan jauh lebih cepat dari kemarin.

Dalam pada itu, maka Ki Lurah Sapala di Pajang telah pergi pula untuk menemui kawannya, seorang Lurah prajurit yang rambutnya sudah mulai ubanan, yang semalam datang ke rumahnya dengan membawa dua orang tawanan. Orang itulah yang memberitahukan kepadanya, bahwa keluarganya sedang dalam perjalanan ke Pajang.

“Selamat pagi Ki Lurah Sapala,” sapa prajurit yang rambutnya sudah ubanan itu.

“Selamat pagi, Ki Lurah Tandawira.”

“Silahkan naik, Ki Lurah.”

Keduanya pun kemudian duduk di pringgitan rumah Ki Lurah Tandawira.

“Pagi-pagi Ki Lurah sudah mengunjungi aku. Mungkin ada sesuatu yang penting, Ki Lurah. Mungkin tentang keluarga Ki Lurah yang semalam dalam perjalanan ke Pajang. Apakah mereka sudah sampai ke rumah Ki Lurah Sapala?”

“Sudah, sudah Ki Lurah. Mereka sudah berada di rumahku. Aku datang untuk mengucapkan terima kasih atas keterangan Ki Lurah sehingga aku sempat menyongsong mereka meskipun sudah tidak terlalu jauh dari Pajang.”

“Syukurlah. Namun nampaknya iring-iringan itu adalah iring-iringan yang sudah siap menempuh perjalanan jauh dengan segala macam kemungkinan-kemungkinannya. Ternyata dua orang penyamun yang ditakuti banyak orang itu, tidak berdaya menghadapi keluarga Ki Lurah Sapala.”

“Ternyata itu ada ceriteranya, Ki Lurah Tandawira. Aku datang juga ingin berbicara tentang kelebihan dua orang yang kebetulan berada dalam iring-iringan itu. Sebenarnya bukan kebetulan, karena mereka memang sengaja mengantar keluargaku.”

“Jadi?”

“Ki Lurah. Ternyata keluargaku itu telah membawa berita yang sangat menarik untuk dicermati.”

“Tentang apa. Ki Lurah.”

“Ki Lurah Tandawira,” berkata Ki Lurah Sapala, “menurut pengertianku kepergian Ki Lurah dalam tugas sandi semata-mata dalam hubungannya dengan tindak kejahatan yang semakin sering terjadi di sekitar Pajang, sehingga rasa-rasanya Pajang telah menjadi kota yang menyeramkan. Selama ini Pajang sudah berhasil meningkatkan citranya menjadi kota yang lebih bersih, lebih semarak dan lebih ceria. Namun ternyata di sekitar kota telah tumbuh berbagai macam kejahatan, antara lain kelompok-kelompok penyamun dan perampok. Untuk membersihkan mereka itulah agaknya antara lain tugas Ki Lurah Tandawira.”

“Ya. Ki Lurah benar.”

“Ternyata ada persoalan lain yang harus mendapat perhatian Pajang. Ki Lurah,” Ki Lurah Sapala berhenti sejenak, lalu ia pun menceriterakan tentang keadaan di Sima sehingga kenapa keluarganya yang menjadi bebahu di kademangan Sima harus mengungsi bersama Ki Demang dan Ki Bekel.

Ki Tandawira mendengarkan keterangan Ki Lurah Sapala itu sambil mengangguk-angguk. Demikian Ki Lurah Sapala selesai, maka Ki Lurah Tandawira pun berkata, “Hampir tidak masuk akal bahwa Demak telah terlibat bersama perguruan Kedung Jati yang telah menggeliat kembali. Agaknya perguruan Kedung Jati ingin merebut kembali pengaruhnya atas Jipang. Namun kali ini yang menjadi sasaran adalah Demak untuk kemudian menguasai Mataram.”

“Ada bedanya. Ki Lurah Pengaruh perguruan Kedung Jati sangat besar atas para pemimpin di Jipang, karena beberapa orang pemimpin yang berperan di Jipang memang para pemimpin perguruan Kedung Jati itu sendiri. Sedangkan di Demak, para pemimpinnya bukan orang-orang dari perguruan Kedung Jati.”

“Tetapi dapat saja perguruan Kedung Jati perlahan-lahan menghunjamkan pengaruhnya terhadap para pemimpin di Demak yang sejak semula memang sudah mendapat warisan kecewa dan sesal terhadap kepemimpinan Pajang dan kemudian Mataram. Bahkan kemanunggalan Mataram semasa pimpinan Panembahan Senapati dengan Jipang dibawah Pangeran Benawa, telah melemparkan Kangjeng Adipati Demak setelah dinobatkan menggantikan Kangjeng Sultan Hadiwijaya di Pajang. Bukankah para pemimpin dari Demak yang mendapat kedudukan sangat baik di Pajang menjadi kecewa. Nah, kekecewaan itu tentu mereka wariskan kepada para pemimpin Demak hingga sekarang.”

“Ya,” Ki Lurah Sapala mengangguk-angguk, “karena itulah maka yang harus mendapat perhatian Pajang tentu bukan hanya para perampok dan para penyamun yang semakin mengotori jagad Pajang. Tetapi tidak mustahil, bahwa para petugas sandi dari Demak dan perguruan Kedung Jati itu akan memasuki lingkungan kota Pajang.”

“Ya. Aku sependapat.”

“Karena itu, Ki Lurah. Apakah tidak sebaiknya kita menarik persoalan ini keatas, sehingga para pemimpin di Pajang menyadari bahwa sebenarnyalah ada bahaya lain selain perampok dan penyamun itu. Bahkan menurut pendapatku, bahaya ini jauh lebih besar dari bahaya keberadaan perampok dan penyamun itu.”

“Aku mengerti, Ki Lurah Tandawira, kita bersama-sama meyakinkan para pemimpin tentang kemungkinan buruk yang datang dari Demak dan Perguruan Kedung Jati itu.”

“Nanti siang aku akan berbicara dengan Ki Rangga. Mudah-mudahan Ki Rangga bersedia mendengarnya. Setelah itu. mungkin sekali Ki Lurah Sapala akan dipanggil oleh Ki Rangga, agar Ki Lurah dapat memberikan keterangan lebih jauh.”

Ki Lurah Sapala itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan menunggu. Namun sebelum itu, aku akan minta tolong kepada para petugas sandi untuk mengawasi rumahku. Mungkin sekali, orang-orang yang berada di rumahku itu akan di buru. Orang-orang Demak dan orang-orang perguruan Kedung Jati menganggap mereka orang-orang yang sangat berbahaya.”

“Itulah sebabnya, maka kita harus segera menanganinya. Jika orang-orang Demak dan orang-orang perguruan Kedung Jati menyadari, bahwa persoalan mereka telah ditangani langsung oleh Pajang dan Mataram, maka mereka tentu menganggap bahwa tidak ada gunanya memburu keluarga Ki Lurah itu.”

“Ya. Tetapi sebelum itu maka mereka harus mendapat perlindungan, sementara aku sendiri sering ke luar rumah karena tugas-tugasku.”

“Aku mengerti. Aku akan ikut mengatur tentang pengamanan keluarga Ki Lurah Sapala.”

Ki Lurah Tandawira dan Ki Lurah Sapala memang bergerak cepat. Sejak hari itu, maka di rumah Ki Lurah Sapala telah tinggal pula dua orang petugas sandi. Seorang diantara mereka membantu mengurusi kuda Ki Lurah yang sebelumnya dilakukan oleh Prayoga sendiri, sedangkan yang seorang bertugas membersihkan halaman serta kebun di seputar rumah Ki Lurah Sapala.

Sementara itu, Ki Lurah Sapala dan Ki Lurah Tandawira telah menyampaikan persoalan tentang para petugas dari Demak dan dari perguruan Kedung Jati yang berada di Sima kepada atasan mereka yang telah menyatakan kesediaan mereka untuk menyampaikan kepada tataran yang lebih tinggi lagi.

Sementara itu, Glagah Putih dan Rara Wulan sudah menjadi semakin jauh dari Pajang. Mereka berjalan dengan cepat menuju ke Sima. Namun mereka tidak menempuh jalan yang mereka lalui ketika mereka berjalan dari Ampel ke Pajang serta jalan yang mereka lewati ketika mereka berangkat menuju ke Sima.

Jalan yang mereka tempuh dari Pajang ke Sima adalah jalan yang lebih kecil, tetapi lebih pendek.

Mereka justru memilih jalan melalui Blulukan, kemudian menyeberang Kali Pepe menuju ke Utara.

Jalan yang mereka lalui adalah jalan-jalan yang tidak terlalu ramai. Meskipun demikian, mereka juga melalui beberapa padukuhan yang besar dengan tingkat kehidupan penghuninya cukup baik. Bahkan mereka pun telah melewati pasar yang cukup besar pula. Meskipun Glagah Putih dan Rara Wulan ketika melewati pasar itu, matahari sudah hampir mencapai puncaknya, namun pasar itu masih agak ramai. Masih banyak para pedagang yang belum mengemasi sisa barang-barangnya, sedang masih banyak juga orang yang berniat untuk berbelanja.

Seperti kebanyakan pasar yang ramai, maka di dekat pasar itu terdapat tiga ampat kedai yang masih buka. Satu dua orang masih berada di dalam kedai itu. Bahkan kedai yang berada di ujung, masih nampak dikunjungi beberapa orang.

“Kita memilih yang paling sepi,” berkata Glagah Putih.

“Tetapi yang paling ramai yang agaknya masakannya paling enak. Buktinya kedai itu banyak dikunjungi orang.”

“Belum tentu. Letak kedai itu juga berpengaruh.”

“Ketika kedai-kedai itu masih baru, mungkin letaknya sangat berpengaruh. Tetapi semakin lama, orang-orang yang sering mengunjungi kedai itu tentu akan mengenalinya. Masakan dari kedai yang manakah yang paling sesuai dengan mereka.”

“Tetapi pasar ini dikunjungi oleh orang banyak. Belum tentu semuanya pernah makan di kedai-kedai itu sehingga mereka dapat mengetahui, masakan di kedai yang manakah yang paling enak masakannya.”

“Biasanya yang datang ke pasar yang sama adalah orang-orang yang sama. Jarang sekali orang asing datang untuk mengunjungi sebuah pasar.”

“Kita berdua?”

“Tetapi itu satu kebetulan.”

“Kebetulan itu dapat terjadi pada banyak orang.”

“Banyak orang, banyak orang. Kakang selalu saja asal bersikap dan berkata beda,” tiba-tiba saja tangan Rara Wulan telah mencubit lengan Glagah Putih.

“Rara, jangan. Aku belum menguasai ilmu kebal.”

“Biar saja. Biar saja kulit kakang terkelupas.”

“Lepaskan. Aku tidak akan membantah lagi.”

“Katakan bahwa kedai yang paling enak masakannya adalah kedai yang paling banyak dikunjungi orang.”

“Ya, ya.”

“Katakan.”

“Ya. Kedai yang paling ramai adalah kedai yang dikunjungi banyak orang. Lepaskan, kita akan dapat menjadi tontonan.”

Rara Wulan memang melepaskannya. Namun ia masih bergumam, “Awas jika kau membantah lagi.”

Glagah Putih tersenyum sambil mengusap lengannya yang pedih.

“Kau masih juga tertawa?”

“Tidak. Tidak.”

“Aku mau singgah di kedai yang banyak dikunjungi orang. Terserah, kau akan ikut atau tidak,” berkata Rara Wulan.

“Ya, ya. Aku ikut.”

Rara Wulan pun segera masuk ke kedai yang berada di ujung, yang paling banyak dikunjungi orang.

Mereka pun kemudian mencari tempat di sudut kedai itu. Seorang Pelayan yang melihat mereka masuk, segera menghampiri mereka.

Sambil mengangguk hormat pelayan kedai itu pun bertanya, “Apa yang harus kami sediakan buat Ki Sanak?”

“Nasi langgi, dawet cendol buat kami berdua,” pesan Rara Wulan.

“Nanti dulu, Rara. Aku ingin nasi yang lain.”

“Tidak. Harus nasi langgi dan dawet cendol.”

Glagah Putih tertawa tertahan. Rara Wulan masih nampak jengkel sekali.

Ketika Glagah Putih mau berbicara, Rara Wulan mendahuluinya, “Jika kau pesan yang lain, nanti lenganmu yang satu lagi juga akan terkelupas. Bahkan jika kau mempunyai Aji Lembu Sekilan, aku akan mengetrapkan Aji Sapu Lebu.”

Glagah Putih tidak dapat menahan tertawanya. Sambil bergeser sedikit menjauh, ia pun berkata, “Aku percaya bahwa kau memang sering menyapu dan membersihkan lebu.”

“Apa? Apa?,” Rara Wulan bergeser mendekat. Tetapi akhir-akhirnya ia pun tertawa pula.

Sejenak kemudian, pelayan kedai itu pun menghidangkan yang dipesan oleh Rara Wulan. Nasi Langgi dan dawet cendol.

“Terima kasih,” desis Rara Wulan.

Sejenak kemudian, maka mereka pun mulai menikmati minuman dan makan yang mereka pesan. Namun demikian Rara Wulan menghirup dawet cendolnya, nampak wajahnya berkerut.

Tetapi Rara Wulan diam saja. Bahkan kemudian ia pun mulai menyuapi mulutnya dengan nasi langgi. Nasi dengan lauk telur dadar, sambal lombok goreng, dendeng ragi serta beberapa macam lagi.

Namun demikian Rara Wulan mulai mengunyah, ia menjadi semakin gelisah. Sementara itu, Glagah Putih pun makan dan minum dengan lahapnya.

“Kenapa Rara?” bertanya Glagah Putih.

“Apakah lidahmu tidak merasakannya?”

“Merasakan apa? Maksudmu masakan makan serta minuman di kedai ini?”

“Ya.”

“Kenapa? Bukankah nasi langgi ini nikmat sekali. Begitu segernya dawet cendol ini?” berkata Glagah Putih sambil menghirup dawet cendolnya.

Rara Wulan bergeser mendekat sambil berdesis perlahan, “Jika kakang masih menggodaku, aku tantang kau berperang tanding.”

Glagah Putih tertawa pula. Katanya, “Hamba mohon ampun. Tetapi nasi langgi di sini serta dawet cendolnya, ternyata tidak memenuhi seleraku. Bagaimana dengan kau? Kau masih mempertahankan pendapatmu?”

“Tetapi kakang juga sudah mengatakan bahwa di kedai yang paling ramai ini masakannya tentu yang paling enak.”

“Siapa yang mengatakan?”

“Tadi kakang sudah mengatakannya.”

“Aku mengatakan bahwa kedai yang paling ramai adalah kedai yang dikunjungi banyak orang.”

“Curang, kakang curang,” geram Rara Wulan sambil menggapai lengan Glagah Putih yang satu lagi. Tetapi Glagah Putih cepat-cepat berdesis, “Aku minta ampun. Aku minta ampun. Bukankah sudah aku katakan.”

Namun Rara Wulan masih sempat mencubit lengan itu sehingga Glagah Putih menyeringai menahan sakit.

“Sudah. Sudah. Lihat orang berkumis itu. Ia memperhatikan kita.”

“Biar saja.”

Namun akhirnya Rara Wulan pun melepaskan lengan Glagah Putih sambil bergeser. Ketika ia berpaling, sebenarnyalah orang berkumis lebat memperhatikannya dengan pandangan yang tajam.”

“Nah, jangan macam-macam lagi. Kau dapat diterkamnya nanti,” desis Glagah Putih.

Rara Wulan menarik nafas panjang. Ternyata bahwa masakan di kedai itu memang tidak sesuai dengan selera mereka berdua. Tetapi Rara Wulan masih juga berkata, “Masakan di kedai yang lain tentu lebih tidak enak lagi.”

“Ya, ya.” Glagah Putih tidak mau membantah lagi. Lengannya tentu akan benar-benar terkelupas.

Sebenarnyalah orang berkumis lebat yang duduk di antara beberapa orang kawannya itu selalu saja memandang Rara Wulan yang agak membelakanginya.

Bagaimanapun juga, adalah di luar dugaan bahwa orang itu tiba-tiba saja bangkit dan melangkah mendekati Rara Wulan.

Semua yang ada di kedai itu memperhatikan orang itu dengan jantung yang berdebaran. Apalagi pemilik kedai itu serta para pelayannya. Mereka mengenal dengan baik, siapakah orang berkumis tebal itu.

“Apa yang akan dilakukannya,” desis pemilik kedai itu.

“Agaknya perempuan muda itu sangat menarik perhatian gegedug itu,” jawab seorang pelayannya.

“Kasihan perempuan muda itu. Nasib buruk apakah yang telah membawanya kemari. Kenapa ia tidak singgah di kedai yang lain.”

Pelayannya pun menyahut, “Ia melihat, bahwa kedai inilah yang agaknya paling banyak di kunjungi orang.”

“Seharusnya kau memperingatkannya ketika perempuan muda itu memesan makanan dan minuman, agar mereka pindah saja ke kedai yang lain.”

“Aku tidak sempat. Jika ia tahu aku melakukannya, maka aku tidak akan pernah pulang lagi.”

“Kasihan perempuan itu. Seharusnya kita dapat membantunya.”

“Nampaknya mereka pengantin baru. Atau setidak-tidaknya pasangan yang belum mempunyai seorang anak pun.”

Tetapi pemilik kedai dan para pelayanannya itu tidak ada yang berani mencampuri persoalan orang berkumis tebal yang disebutnya gegedug itu.

Orang berkumis lebat itu tiba-tiba saja sudah duduk di sebelah Rara Wulan sambil berdesis, “Siapa namamu, nduk?”

Rara Wulan memang terkejut, sehingga ia bergeser mendesak Glagah Putih.

Glagah Putih yang sudah menduga bahwa laki-laki itu akan duduk di sebelah Rara Wulan telah bergeser sedikit pula.

Laki-laki itu bertanya sekali lagi, “He, siapakah namamu nduk?”

Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian menjawab, “Lindri, Ki Sanak. Namaku Lindri.”

“Lindri? Nama yang bagus. Siapakah laki-laki itu?”

“Laki-laki ini yang Ki Sanak maksudkan?”

“Ya. Laki-laki yang duduk di sebelahmu.”

“Ini suamiku, Ki Sanak.”

Laki-laki itu menarik nafas panjang. Katanya pula, “Marilah, duduklah bersama kami. Biarlah suamimu menunggu sebentar di sini. Aku perkenalkan kau dengan kawan-kawanku.”

“Kawan-kawanmu? Ki Sanak sendiri belum memperkenalkan diri kepadaku dan kepada suamiku.”

“Baik. Baik. Aku adalah seorang yang memang sering datang kemari. Orang-orang di kedai ini, apalagi pemilik kedai dan para pelayannya tahu, siapakah aku ini.”

“Siapa namamu Ki Sanak?”

“Namaku Srungga. Kau sudah pernah mendengarnya?”

“Srungga. Belum Ki Sanak. Aku belum pernah mendengarnya.”

“Kau tidak tinggal di sekitar tempat ini?”

“Tidak.”

“Dimana rumahmu?”

“Sima. Kademangan Sima.”

“Kademangan Sima? Jadi kau orang Sima.”

“Ya. Kenapa?”

“Jadi kau tinggal di tempat yang jauh dari sini. Kau akan pergi kemana atau dari mana?”

“Kami baru saja pergi ke Pajang. Sekarang kami akan pulang ke Sima.”

Srungga itu mengangguk-angguk. Katanya, “Pantaslah jika kalian berdua belum pernah mendengar namaku, karena kalian tinggal di tempat yang jauh.”

“Ya.”

“Aku adalah orang yang berkuasa di lingkungan ini,” berkata Srungga kemudian, “di daerah ini tidak ada orang yang berani menentang aku. Semua kemauanku harus terlaksana.”

“Kau Demang disini?”

“Bukan. Aku bukan Demang, bukan Bekel. Tetapi Ki Demang dan Ki Bekel serta semua bebahunya tunduk kepadaku. Apa yang aku katakan, mereka tentu akan melakukannya. Jika ada seorang saja yang berani menentangku, maka ia akan menjadi makanan ikan di sungai itu.”

“Kenapa?”

Orang itu tertawa. Katanya, “Bodoh kau. Orang itu aku pilin lehernya sehingga patah, lalu akan aku lemparkan ke sungai.”

“O. Kau bunuh orang itu?”

“Ya.”

“Bagus.”

Orang itu terkejut. ia pun kemudian bertanya, “Apa yang bagus he?”

“Bukankah kau berani membunuh orang yang menentang kemauanmu? Bagus. Itu adalah sikap seorang laki-laki. Di Sima, aku, yang seorang perempuan, juga akan membunuh orang yang berani menentang kemauanku. Tetapi aku tidak pernah melemparkan mayatnya ke sungai. Aku biarkan saja mayat itu terbaring di tempatnya sampai ada orang yang menyingkirkan dan menguburkannya.”

Orang yang bernama Srungga itu menjadi semakin terkejut, sehingga ia bergeser setapak. Dengan suara tersendat ia pun bertanya, “Kau pun membunuh juga?”

“Ya. Aku adalah seorang penari janggrung. Aku harus berani membunuh orang yang berniat mempermainkan aku. Hampir saja aku membunuh Demang Sima jika saja ia tidak bersujud dan mohon ampun dihadapanku.”

“Kau ini berkata sebenarnya atau sedang mengigau?” bertanya laki-laki yang bernama Srungga itu.

“Aku berkata sebenarnya. Jika kau tidak percaya bertanyalah kepada suamiku. Ia selalu mengantarku jika aku menari di mana saja. Suamiku itu seorang iblis yang paling jahat di Sima. Jika kau pernah mendengar nama Naga Sisik Waja yang pernah berkuasa di Sima, ia sudah mati dibunuh suamiku itu.”

Orang yang mengaku bernama Srungga itu termangu-mangu. Ia belum pernah mendengar nama Naga Sisik Waja. Tetapi sikap perempuan itu seakan-akan meyakinkannya. Perempuan itu acuh tak acuh saja kepadanya. Ia sama sekali tidak menjadi gelisah apalagi menjadi ketakutan meskipun sikap Srungga itu tidak wajar. Apalagi suaminya. Sikapnya dingin sekali. Tetapi sikap mereka ternyata membuat hati Srungga berdebar-debar.

Tetapi Srungga adalah seorang yang sangat ditakuti oleh lingkungannya. Apalagi di kedai itu ia datang bersama ampat orang kawannya.

Karena itu, maka Srungga justru ingin menunjukkan kebesarannya. Meskipun perempuan yang mengaku bernama Lindri itu sempat membuatnya berdebar-debar, tetapi Srungga tidak mau melangkah surut. Ia sudah terlanjur menyebut dirinya orang yang paling ditakuti di lingkungannya, sehingga ia harus menjaga harga dirinya, agar tidak direndahkan oleh suami isteri itu.

Tiba-tiba saja Srungga tertawa. Katanya, “Pandai juga kau menggertak. Lindri. Siapakah yang mengajarimu.”

Jawab Rara Wulan juga masih saja mengejutkan, “Kau. Kau ajari aku menggertakmu, karena kau lebih dahulu menggertakku.”

“Apakah aku menggertakmu?”

“Ya. Bukankah kau katakan, bahwa kau akan memilin leher orang yang berani menentangmu dan melemparkannya ke sungai? Bukankah itu juga sekedar gertakan saja, karena sebenarnya memijit telur pun kau tidak dapat memecahkannya.”

“Gila Kau remehkan aku, he?”

“Aku hanya meremehkan orang tidak tahu adat seperti kau. Nah, kau mau apa? Apakah aku harus membunuhmu?” suara Rara Wulan sangat meyakinkan.

Srungga justru menjadi gagap menghadapi sikap Rara Wulan. Tetapi Srungga tidak mau diremehkan. Tiba-tiba saja Srungga membentak kasar, “Kau harus minta ampun kepadaku perempuan iblis.”

Tetapi Rara Wulan justru bangkit berdiri sambi tertawa berteriak, “sudah aku katakan, apakah kau ingin aku membunuhmu?”

Srungga benar-benar merasa terhina. Apalagi di hadapan beberapa orang kawannya yang sangat menghormatinya. Juga dihadapan pemilik dan pelayan kedai itu, serta beberapa orang yang selama ini menjadi sangat ketakutan jika ia marah.

Karena itu, maka ia pun menggeram, “Perempuan tidak tahu diri. Aku koyak mulutmu yang lancang itu. Bangkitlah. Berkelahilah bersama suamimu yang kau katakan telah membunuh Naga Sisik Waja itu. Aku tunggu kalian di halaman.”

Orang-orang yang melihat sikap Rara Wulan menjadi berdebar-debar. Seorang pelayan kedai itu melihat Rara Wulan bangkit. Dengan suara yang agak bergetar ia pun berdesis, “Perempuan itu tidak sadar, dengan siapa ia berhadapan.”

Tetapi pemilik kedai itu menyahut, “Ia tentu bukan perempuan kebanyakan.”

Pelayannya yang lain menyahut, “Ia mengaku penari janggrung. Mungkin sudah dituang ilmu lewat ubun-ubunnya oleh seorang dukun sakti, sehingga perempuan itu berani menantang Srungga. Tetapi Srungga juga bukan laki-laki biasa. Setiap Rebo Pon ia selalu tidur di bawah randu alas di kuburan Kiai Sardula. Meskipun Kiai Sardula sudah meninggal hampir dua puluh lima tahun yang lalu, tetapi setiap kali Srungga masih berbincang-bincang di bawah pohon randu alas di kuburan itu. Bahkan Kiai Sardula masih dapat menurunkan berbagai macam ilmu kepadanya.”

“Tentu akan terjadi pertarungan sengit. Srungga menantang suami isteri itu untuk bertempur berpasangan,” berkata pemilik kedai itu.

“Ya,” jawab salah seorang pelayannya, “tetapi perempuan itu mengaku, suaminya pernah membunuh Naga Sisik Waja yang pernah berkuasa di Sima.”

“Pekerjaan yang tentu akan sangat berat bagi Srungga. Tetapi ilmu iblisnya sangat luar biasa. Apalagi ada beberapa orang kawannya di kedai ini pula.”

Dalam pada itu, Srungga telah berada di halaman. Kawan-kawannya pun telah melangkah ke luar pula. Sedangkan Rara Wulan pun telah bersiap untuk turun. Namun ia sempat berbisik, “Mari kakang. Kita turuti sesumbarnya. Kita buat orang itu jera.”

Glagah Putih tersenyum. Katanya, “Baiklah. Tetapi jangan lama-lama bermain dengan orang itu. Kecuali jika ilmu orang itu setinggi langit, sehingga sulit bagi kita berdua untuk mengalahkannya.”

“Jika kita kalah, kita akan lari. Bukankah kita masih meyakini bahwa kita dapat lari cepat dengan ilmu kita meringankan tubuh.”

“Ya,” Glagah Putih mengangguk-angguk, “Tetapi kita harus membayar dahulu harga makanan dan minuman sebelum kita lari.”

“Baiklah. Kakang saja yang membayar dahulu. Aku akan turun ke halaman agar orang itu tidak menunggu terlalu lama.”

Rara Wulan pun kemudian melangkah menyusul laki-laki yang menyebut dirinya Srungga itu, sementara Glagah Putih pun pergi menemui pemilik kedai itu untuk membayar harga makanan dan minumannya bersama Rara Wulan.

Pemilik kedai itu, serta beberapa orang yang melihatnya menjadi semakin berdebaran. Laki-laki muda itu masih sempat ingat akan minuman dan makanan yang harus mereka bayar.

Laki-laki muda itu sama sekali tidak nampak gelisah sebagaimana seorang yang sedang terancam oleh bahaya yang akan dapat merenggut jiwanya.

Sementara itu, dengan tenang pula Kara Wulan itu turun ke halaman. Bahkan ia masih sempat tersenyum sambil berkata, “Jika kau menantang kami agar kami bertempur berpasangan, tunggu dahulu. Biarlah suamiku membayar harga makanan dan minuman kami berdua. Jika kami nanti harus lari, maka kami tidak berhutang kepada pemilik kedai itu.

“Persetan. Tetapi kalian berdua tidak akan dapat melarikan diri. Kawan-kawanku akan menyaksikan pertarungan itu. Jika kalian ingin melarikan diri, maka kawan-kawankulah yang akan membantai kalian berdua.”

Ketika Rara Wulan kemudian berpaling, maka ia melihat Glagah Putih sudah selesai menerima uang kembalinya. Glagah Putih itu pun dengan sikap yang tenang menyusul Rara Wulan turun ke halaman.

“Orang aneh,” berkata pemilik kedai itu, “orang itu masih ingat harga makan dan minum bagi mereka berdua.”

“Sikapnya tenang sekali sebagaimana sikap isterinya.”

“Menarik sekali,” berkata salah seorang pelayannya, “tentu akan terjadi pertarungan yang sengit. Kita akan mendapat tontonan yang sangat menarik. Jika saja keduanya mampu mengimbangi Srungga yang selama ini sangat menakuti-nakuti orang banyak.”

“Sst, Jika ada orang jahil yang mendengar dan menyampaikannya kepada Srungga, maka kau akan dibelah menjadi dua. Kedua pergelangan kakimu akan dipegang dengan kedua tangan Srungga, kemudian ditariknya dengan kekuatan raksasanya, sehingga kau akan terbelah menjadi dua.”

Pelayan itu pun terdiam. Sementara itu, Glagah Putih dan Rara Wulan telah berada di halaman.

“Nah, kami berdua sudah siap,” berkata Rara Wulan.

“Bagus. Siapakah yang akan mati lebih dahulu?”

“Kau,” jawab Rara Wulan.

Srungga menggeram. Namun kedua suami isteri itu seolah-olah tidak menghiraukannya. Bahkan Glagah Putih pun berkata kepada Rara Wulan, “Kau berdiri di sebelah sana. Aku disebelah sini. Kita akan membuatnya terombang-ambing. Aku akan melemparkan kepadamu, kemudian kau harus melemparkan kembali kepadaku.”

“Baik,” sahut Rara Wulan sambil berjalan dengan tenangnya pula tanpa menghiraukan orang yang bernama Srungga itu.

“Iblis laknat,” teriak Srungga,” bersiaplah. Aku akan mulai membunuh kalian seorang demi seorang.”

Srungga yang tidak dapat menahan perasaannya lagi, telah meloncat menyerang Glagah Putih. Namun Glagah Putih yang seakan-akan tidak menghiraukannya itu, sudah siap sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan. Karena itu, maka ia pun segera bergeser menghindari serangan Srungga itu.

Dengan demikian, maka serangan Srungga itu sama sekali tidak menyentuh sasarannya.

Ternyata Srungga mencoba memburunya. Sekali lagi Srungga meloncat menyerang dengan tangan terjulur lurus ke arah dada Glagah Putih Tetapi sekali lagi Glagah Putih meloncat menghindarinya.

Ketika Srungga bersiap untuk sekali lagi menyerang Glagah Putih, maka Rara Wulan telah mendahuluinya. Kakinya terjulur lurus menyerang lambung.

Srungga terkejut mendapat serangan yang demikian tiba-tiba. Ia mengira bahwa perempuan itu sedang menempatkan dirinya. Namun ternyata perempuan itu telah mulai menyerangnya

Dengan demikian, maka pertempuran itu pun segera berlangsung semakin cepat. Namun sebenarnyalah bahwa Srungga bukan lawan Glagah Putih. Ia bukan pula lawan yang seimbang bagi Rara Wulan. Apalagi Srungga telah menantang kedua orang suami isteri itu bertarung melawannya.

Srungga adalah seorang yang sangat ditakuti oleh orang-orang di sekitarnya karena Srungga adalah seorang yang garang. Seorang yang bengis, yang bahkan benar-benar pernah membunuh orang. Tetapi berhadapan dengan Glagah Putih dan apalagi bersama-sama dengan Rara Wulan, Srungga benar-benar tidak berarti apa-apa.

Ketika kaki Rara Wulan terjulur lurus menyamping yang datang demikian cepatnya, maka Srungga tidak mampu mengelak atau menangkisnya. Karena itu, maka serangan kaki itu telah mengenai lambung Srungga dengan derasnya.

Kekuatan serangan Rara Wulan telah melemparkan Srungga beberapa langkah surut kearah Glagah Putih. Dengan susah payah Srungga mencoba mempertahankan keseimbangannya agar tidak jatuh terlentang di halaman kedai itu.

Ternyata Srungga berhasil. Meskipun terhuyung-huyung, namun Srungga itu tidak terjatuh.

Tetapi dari arah lain, Glagah Putih menggamit punggung Srungga. Demikian Srungga berbalik, Glagah Putih pun menjulurkan tangannya memukul dadanya.

Srungga terdorong pula. Kali ini ke arah Rara Wulan. Hampir saja Srungga kehilangan keseimbangannya. Tetapi justru Rara Wulan menahan tubuhnya.

Dengan nada tinggi Rara Wulan pun berkata, “Hati-hati sedikit, sayang. Jika kau jatuh, nanti kau akan kesakitan.”

Orang itu menghentakkan diri. Kemudian meloncat menjauhi Rara Wulan yang tertawa tertahan.

“Kenapa?” bertanya Rara Wulan.

“Perempuan laknat. Kau akan menyesali kesombonganmu itu.”

“Kenapa aku harus menyesal?”

Srungga itu pun kemudian bersuit nyaring. Tiba-tiba saja keempat orang kawannya pun berloncatan mendekatinya.

“Mereka berdua ternyata curang,” geram Srungga, “kepung mereka. Buat mereka berdua tidak berdaya. Aku sendiri yang akan memberikan keputusan akhir, hukuman apakah yang paling sesuai dengan mereka.”

“Baik, kakang,” jawab mereka hampir berbareng. Sementara itu Srungga pun berkata selanjutnya, “Jika mereka melawan dengan membabi buta, maka bukan salah kita jika mereka berdua itu terbunuh.”

Glagah Putih kemudian menyahut, “Apakah itu berarti bahwa kamu membenarkan orang-orangmu itu membunuh?”

“Bukan salah kami.”

“Salah siapa?”

“Salah kalian berdua.”

“Kenapa kami yang bersalah?”

“Karena kalian tidak mau tunduk kepada perintahku.”

“Jadi kalau kalian tidak mau tunduk kepada perintahku, maka jika aku membunuh kalian, maka itu juga salah kalian?”

Srungga itu menggeram. Katanya, “Menurut pendapatmu, kau berdua dapat mengalahkan kami berlima? Apalagi membunuh kami?”

“Ya. Kami berdua akan dapat mengalahkan kalian berlima.”

“Kesombongan kalian itulah yang mendorong keinginan kami untuk membunuh kalian.”

“Jika demikian, maka pertarungan tidak dapat kita hindari lagi. Kami berdua akan melawan dengan membabi buta. Tetapi kami berdua tidak mau mati disini.”

Srungga pun menggeram. Kemudian ia pun berkata kepada kawan-kawannya, “Lumpuhkan mereka berdua. Biarlah aku yang membunuh mereka dengan tanganku.”

Keempat kawan Srungga itu tidak menunggu lebih lama lagi. Seorang yang berwajah garang dengan beberapa goresan bekas luka berkata, “Aku akan membunuh laki-laki itu. Tetapi aku akan membiarkan perempuan itu tetap hidup.”

“Terserah kepada kalian Tetapi aku ingin mengingatkan kepada kalian bahwa perempuan itu adalah perempuan yang berbahaya. Seperti seekor ular betina dengan bisa di mulutnya.”

“Tidak hanya di mulutnya,” sahut Rara Wulan, “tetapi di setiap lubang kulitku akan mengembun bisa sebagaimana keringatku. Karena itu, maka siapa yang menyentuhku, ia akan terkena bisa yang akan dapat membahayakan jiwanya.”

“Persetan,” geram orang yang berwajah garang, “kau terlalu banyak berbicara.”

Rara Wulan tertawa. Ketika orang berwajah garang itu membentaknya, maka Rara Wulan pun berkata, “Kau cela aku karena terlalu banyak berbicara. Tetapi ketika aku tertawa, kau pun membentaknya pula.”

“Cukup. Bersiaplah. Kami akan bertempur.” Keempat orang itu pun segera bergerak pula. Bahkan agaknya Srungga pun akan ikut pula bertempur bersama keempat orang kawannya itu.

Dengan demikian, maka pertempuran di halaman itu pun menjadi semakin sengit. Lima orang laki-laki yang garang bertempur melawan dua orang suami isteri.

Namun ternyata bahwa kedua orang suami isteri itu mampu bergerak demikian tangkasnya. Mereka sama sekali tidak menjadi bingung menghadapi lima orang lawan yang berdiri di lima arah.

Glagah Putih berloncatan sambil mengayun-ayunkan tangannya. Ketika tangannya itu menyambar dagu diantara lawan-lawannya, maka orang itu pun terdorong beberapa langkah surut. Sebelum ia sempat memperbaiki keadaannya, kaki Rara Wulan terayun mendatar menyambar dadanya.

Orang itu mengaduh tertahan. Namun ia terlempar ke luar dari arena pertempuran, tubuhnya terbanting jatuh di halaman kedai yang tidak begitu luas itu.

Sementara itu, kawannya yang mencoba menyerang Rara Wulan dari samping, ternyata tidak mampu mengenai sasarannya. Dengan cepat Rara Wulan pun mengelak. Bahkan demikian serangan itu meluncur di depan tubuhnya yang bergeser, maka dengan cepat Rara Wulan itu pun meloncat sambil memutar tubuhnya. Kakinya terayun tepat menyambar keningnya.

Orang itu pun terpelanting pula. Bahkan tubuhnya tiba-tiba saja berbenturan dengan kawannya yang telah dilemparkan oleh Glagah Putih Kaki Glagah Putih yang mengenai lambungnya telah mendorongnya beberapa langkah surut sehingga orang itu telah berbenturan dengan seorang kawannya.

Ternyata pertempuran itu tidak berlangsung terlalu lama. Glagah Putih telah memilin tangan kanan Srungga sehingga ia berteriak kesakitan. Ketika Srungga itu menarik pedangnya, dengan kecepatan yang tidak kasat mata, Glagah Putih telah menangkap pergelangan tangannya serta memilinnya ke belakang tubuhnya, sehingga pedangnya terlepas dari tangannya.

Sesaat kemudian, keempat orang kawan Srungga itu sudah tidak berdaya lagi. Mereka berusaha merangkak menepi. Seorang bersandar bebatur kedai itu, seorang yang lain mengaduh sambil menyeringai kesakitan, duduk bersandar sebatang pohon. Seorang lagi pingsan dan yang seorang lagi mengerang kesakitan.

Sedangkan Srungga sendiri sama sekali tidak berdaya.

Sebelah tangannya terpilin di belakang punggungnya. Sekali-sekali Srungga itu mengaduh. Rasa-rasanya tangannya itu akan patah.

Rara Wulan pun melangkah mendekati Srungga yang kesakitan itu. Glagah Putih masih belum melepaskan tangannya yang terpilin kebelakang.

“Nah, apakah kau percaya sekarang, bahwa suamiku telah membunuh Naga Sisik Waja di kademangan Sima?”

Srungga tidak segera menjawab. Namun dalam pada itu Glagah Putih telah menekan tangan Srungga itu semakin keras.

“Jangan. Nanti tulangku patah.”

“Naga Sisik Waja aku patahkan tulang lehernya. Bukan sekedar tulang lengannya,” geram Glagah Putih. Lalu Glagah Putih itu pun bertanya, “Apakah kau ingin membuktikan kata-kataku, bahwa aku dapat mematahkan leher seseorang?”

“Tidak. Jangan.”

“Sekarang jawab pertanyaan isteriku.”

“Pertanyaan apa?”

Rara Wulan lah yang menyahut, “Apakah kau percaya bahwa suamiku telah membunuh orang yang bergelar Naga Sisik Waja di kademangan Sima?”

Srungga masih saja berdiam diri. Namun tiba-tiba saja Glagah Putih berteriak dengan garangnya, “Jawab. Apakah kau percaya bahwa aku telah membunuh Naga Sisik Waja dengan cara ini?”

Glagah Putih melepaskan tangan Srungga. Namun tiba-tiba tangannya itu telah menjepit kepala Srungga. Dengan sekali hentak, maka leher Srungga akan dapat dipatahkan oleh Glagah putih.

“Jangan. Jangan,” teriak Srungga.

“Nah, apakah kau percaya bahwa aku telah membunuh Naga Sisik Waja,” teriak Glagah Putih dengan kasarnya. Bahkan Rara Wulan pun terkejut mendengar teriakan itu, sehingga ia bergeser selangkah surut.

Glagah Putih yang melihat Rara Wulan terkejut dan bergeser surut, hampir saja tidak dapat menahan tertawanya. Namun kemudian sekali lagi ia berteriak, “jawab pertanyaan isteriku.”

Tangan Glagah Putih semakin menekan kepada Srungga sehingga ia pun tidak dapat berbuat lain kecuali menjawab pertanyaan itu, “Ya, ya. Aku percaya.”

Tangan Glagah Putih pun kemudian mulai mengendor. Bahkan kemudian Srungga itu dilepaskannya. Namun kemudian Srungga itu didorong dengan kuatnya sehingga kemudian terpelanting diantara kawan-kawannya.

“Srungga,” berkata Glagah Putih kemudian, “aku sekarang mempunyai kepentingan yang mendesak di Sima, sehingga aku menjadi agak tergesa-gesa. Tetapi persoalan diantara kita masih belum selesai. Aku masih akan mempersoalkan niatmu untuk membunuh aku dan membawa isteriku.”

“Bukan aku,” sahut Srungga.

“Persetan. Tersirat pada sikapmu. Bahkan kawanmu sudah mengucapkannya. Lain kali aku akan datang untuk membuat perhitungan. Isteriku yang akan menyelesaikan masalahnya, karena isterikulah yang lebih tersinggung karena sikapmu serta sikap kawan-kawanmu.”

“Aku minta maaf. Biarlah kawan-kawanku juga minta maaf.”

“Sudah aku katakan, aku tidak mempunyai waktu sekarang. Kapan-kapan jika urusanku sudah selesai, aku akan datang lagi kemari untuk menyelesaikan persoalan diantara kita. Batas akhir dari pertikaian kita adalah kematian. Aku akan datang untuk menuntutnya. Kalian atau kami yang akan mati.”

“Jangan. Jangan. Kami minta ampun,” suara Srungga menjadi serak.

Namun Glagah Putih tidak menghiraukannya lagi. ia pun kemudian berkata kepada Rara Wulan, “Marilah kita pergi ke Sima lebih dahulu. Kapan-kapan kita akan datang kembali ke mari.”

Keduanya pun kemudian melangkah tanpa berpaling lagi. Apalagi mereka sudah membayar makanan dan minuman mereka, sehingga mereka tidak meninggalkan hutang pada pemilik kedai itu.

Glagah Putih dan Rara Wulan itu pun kemudian berjalan tanpa berpaling menjauhi kedai itu. Merekapun berjalan dengan cepat, menyusuri jalan yang menuju ke Sima.

Hambatan kecil di kedai itu telah menyita waktunya beberapa lama. Untunglah bahwa mereka dapat menyelesaikan dengan cepat. Sementara itu, mereka berharap bahwa Srungga dan kawan-kawannya setiap kali mempertimbangkan sikapnya dengan mengingat bahwa pada suatu saat suami isteri itu akan kembali lagi setelah urusannya di Sima diselesaikannya.

Sementara itu, di perjalanannya, Rara Wulan pun berkata, “Seharusnya orang-orang seperti Srungga itu mendapat hukuman yang berat.”

“Jika saja kita tidak mempunyai tugas penting di Sima, kita akan mempunyai cukup waktu untuk berurusan dengan Srungga.”

“Ya. Seharusnya kita sampai di Sima menjelang senja. Tetapi kecoa kecil itu telah menghambat perjalanan kita.”

Keduanya pun kemudian berjalan semakin cepat. Meskipun mereka telah terhambat, namun mereka masih saja berharap agar dapat sampai di Sima sebelum senja. Mereka akan sempat mencari penginapan serta melihat-lihat suasana Di malam hari, mungkin sekali suasana sudah berbeda.

Meskipun demikian, seandainya mereka memasuki kademangan Sima setelah malam hari, maka mereka akan. merasa lebih baik langsung beristirahat di penginapan dan menunda segala sesuatunya sampai esok.

Di perjalanan berikutnya, mereka tidak lagi menemui hambatan yang berarti. Ketika mereka menjadi sangat haus, maka mereka sempat minum dawet cendol yang dijajakan di depan pintu regol sebuah pasar kecil yang sudah sepi. Bahkan pintu regolnya sudah ditutup pula. Seorang petugas nampak sedang menyapu di dalam pasar yang sepi itu.

“Tetapi nanti sebentar lagi, tempat ini akan menjadi ramai lagi,” berkata penjual dawet cendol itu.

“Ada apa?” bertanya Rara Wulan.

“Di rumah di belakang pasar itu akan ada keramaian. Ki Kebayan yang rumahnya di belakang pasar itu, akan menikahkan anak perempuannya. Satu-satunya anaknya. Akan ada tari topeng semalam suntuk. Apakah Ki Sanak berdua memang datang kemari untuk mengunjungi upacara pernikahan itu atau sekedar menonton tari topeng?”

“Kami hanya lewat, Ki Sanak,” jawab Rara Wulan.

Sejenak kemudian, maka mereka berdua telah meninggalkan penjual dawet cendol itu. Namun sambil berjalan Glagah Putih sempat berkata, “Tidak ada dawet cendol yang segarnya menyamai dawet cendol di kedai yang paling banyak dikunjungi orang itu.”

Ketika Rara Wulan bergeser, maka Glagah Putih pun meloncat menepi dan bahkan kemudian berlari-lari kecil.

“Awas kau,” geram Rara Wulan.

“Aku minta ampun. Jika kau sakiti aku, aku akan menjerit.”

“Apa?”

“Tidak. Tidak apa-apa.”

Rara Wulan masih bersungut. Tetapi dengan demikian mereka justru berjalan lebih cepat.

Ternyata mereka justru dapat sampai di kademangan Sima sebagaimana mereka inginkan. Mereka memasuki kademangan Sima sebelum senja, sehingga mereka masih sempat melihat suasana di kademangan yang terhitung besar itu.

“Ada perubahan yang terjadi di Sima,” desis Glagah Putih.

Ya. Nampaknya pintu-pintu kedai sudah ditutup menjelang senja. Kita tidak melihat lagi gebyar padukuhan induk kademangan Sima ini.”

Glagah Putih dan Rara Wulan pun kemudian berjalan menyusuri jalan utama di padukuhan induk kademangan Sima. Jalan utama itu pun tidak seramai beberapa hari yang lalu sebelum Ki Demang, Ki Jagabaya dan Ki Bekel dari padukuhan induk itu meninggalkan Sima.

Hanya beberapa orang saja yang berjalan di jalan utama itu. itu pun mereka nampaknya tergesa-gesa. Agaknya hanya mereka yang mempunyai keperluan penting sajalah yang ke luar rumah di waktu senja.

“Ada bayangan ketakutan atas padukuhan ini,” berkata Glagah Putih.

“Ya. Tentu orang-orang Demak serta orang-orang dari perguruan Kedung Jati itulah yang telah membuat seisi padukuhan ini ketakutan.”

“Ya. Mereka tentu memperalat para bebahu yang masih ada di kademangan ini. Atau bahkan mungkin mereka telah mengangkat seorang Demang, Jagabaya dan Bekel yang baru.”

Rara Wulan menarik nafas panjang. Namun kemudian ia pun bertanya, “Sekarang, apa yang akan kita lakukan kakang. Jika kita berkeliaran di padukuhan induk ini, maka kita tentu akan sangat menarik perhatian. Bahkan kita akan dapat dicurigai dan ditangkap oleh para pengikut Ki Demang yang baru.”

“Kita pergi ke penginapan itu.”

“Apakah keberadaan kita di penginapan itu tidak akan menimbulkan persoalan?”

“Tidak ada yang mengenal kita dalam hubungan hilangnya Ki Demang, Ki Jagabaya dan Ki Bekel. Mereka yang terlibat semuanya telah terbunuh di halaman rumah Ki Demang.”

“Ya. Bahkan laki-laki tua yang seharusnya masih tetap hidup itu.”

Demikianlah, maka mereka berdua pun telah pergi ke penginapan yang pernah mereka singgahi.

Penginapan itu nampak sepi. Agaknya bilik-biliknya banyak yang telah kosong.

Ketika petugas di penginapan itu melihat kedua orang itu memasuki gerbang penginapan, maka petugas itu segera menyongsongnya.

“Marilah Ki Sanak berdua. Ternyata kalian telah datang kembali ke penginapan ini.”

“Ya. Kami memang sudah merencanakannya, setelah beberapa hari tinggal di rumah paman.”

“Kenapa kalian meninggalkan rumah paman?”

“Paman besok akan pergi ke Pajang bersama bibi. Karena itu, agar aku tidak menghambatnya, aku mendahului minta diri.”

Petugas di penginapan itu mengangguk-angguk sambil bertanya, “Untuk apa pamanmu pergi ke Pajang?”

“Aku tidak berani menanyakannya. Itu adalah urusan paman.”

“Ya, ya, maaf. Bahkan aku justru telah bertanya tentang persoalan pribadi pamanmu itu.”

“Sebenarnya paman justru minta kami berdua menunggui rumahnya selama paman pergi. Tetapi kami juga mempunyai kepentingan sendiri, sehingga kami tidak dapat melakukannya.”

Petugas di penginapan itu pun kemudian mempersilahkan mereka, “Marilah. Bilik yang kau pergunakan itu juga masih kosong.”

“Terima kasih. Kami senang tinggal di bilik itu. Namun nampaknya penginapan ini tidak seramai waktu itu.”

“Ya. Ada beberapa perubahan terjadi di Sima, sehingga kesibukan di kademangan ini pun tidak lagi seperti sebelumnya.”

Glagah Putih dan Rara Wulan tidak bertanya lebih lanjut. Mereka ingin mandi dan beristirahat barang sebentar. Malam nanti, petugas itu tentu bersedia untuk berbincang agak lama. Bahkan seandainya petugas ini berganti, petugas yang lain pun baik pula kepada Glagah Putih dan Rara Wulan. Kecuali jika ada petugas baru yang belum dikenalnya.

Beberapa saat kemudian, mereka berdua telah berada di dalam bilik mereka. Bilik yang sebelumnya pernah mereka huni. Bergantian mereka pergi ke pakiwan untuk mandi dan berbenah diri, sementara senja pun menjadi semakin redup.

Beberapa saat kemudian, maka keduanya telah duduk di serambi. Kepada mereka telah dihidangkan minuman hangat serta beberapa potong makanan.

“Apakah kau masih sibuk?” bertanya Glagah Putih kepada petugas di penginapan itu.

“Masih ada sedikit pekerjaan. Ada tiga bilik di tengah yang isi. Aku akan mempersiapkan minuman mereka.”

“O,” Glagah Putih mengangguk-angguk, “nanti jika kau sudah longgar waktunya, duduklah bersama kami.”

“Baik. Nanti aku temani kau berbincang.” Sebenarnyalah, ketika malam turun, maka petugas itu pun telah datang ke serambi bilik Glagah Putih dan Rara Wulan. Bahkan tidak sendiri. Tetapi mereka datang berdua.

“Kami mempunyai banyak waktu,” berkata salah seorang petugas itu.

“Ya. Nampaknya tidak banyak orang yang menginap disini.”

Sementara itu Rara Wulan pun tiba-tiba saja bertanya, “Apakah perempuan manja itu masih menginap disini?”

“Tidak,” jawab kedua orang petugas itu hampir berbareng. Seorang diantara mereka pun berkata selanjutnya, “Mereka pergi tanpa memberitahukannya kepada kami. Tiba-tiba saja mereka tidak kembali lagi ke penginapan ini, sehingga mereka semuanya tidak membayar sewa bilik yang mereka pergunakan itu.”

“Apakah kalian tidak tahu, kemana mereka itu pergi? Atau barangkali ada orang lain yang mencari mereka?”

“Kami tidak tahu kemana mereka pergi. Sementara itu tidak ada pula orang yang mencarinya kemari.”

Rara Wulan mengangguk-angguk. Sementara Glagah Putih pun bertanya, “Perubahan apa yang telah terjadi di kademangan ini, sehingga rasa-rasanya Sima tidak lagi ceria seperti beberapa waktu yang lalu? Perubahan itu berlangsung demikian cepatnya.”

“Bukankah kau selama ini juga berada di Sima?”

“Tidak. Aku berada di rumah paman, di kademangan sebelah. Meskipun rumah paman hampir di perbatasan, tetapi kami tidak sempat mengikuti perkembangan yang demikian cepatnya terjadi di Sima.”

Kedua orang petugas di penginapan itu saling berpandangan sejenak. Kemudian seorang diantara mereka berkata, “Perubahan itu terjadi seperti sambaran tatit di udara. Begitu cepatnya.”

“Begitu cepatnya.”

“Ya. Tiba-tiba saja Ki Demang di Sima, Ki Jagabaya dan Ki Bekel padukuhan induk ini menghilang. Tidak seorang-pun yang mengetahuinya, kemana mereka pergi. Karena itu, maka dipandang perlu untuk mengangkat seorang Demang, Jagabaya dan Bekel yang baru.”

“Bukankah hilangnya Ki Demang itu baru beberapa hari.”

“Ya. Kenapa begitu tergesa-gesa mengangkat Demang yang baru itu?”

“Itulah yang mengherankan?”

“Lalu siapakah yang mengangkat?”

“Di Sima sekarang hadir satu kekuatan yang berkuasa disini. Mereka mengaku para petugas yang dikirim oleh Kangjeng Adipati Demak. Yang mengangkat Demang, Jagabaya dan Bekel baru itu juga para pemimpin yang datang dari Demak. Mereka mengaku bahwa mereka berkuasa di Sima atas nama Kangjeng Adipati Demak.”

“Jadi yang berkuasa sekarang di Sima adalah bebahu baru yang disahkan oleh para pemimpin dari Demak?”

“Ya.”

“Apakah mereka memerintah dengan baik?”

“Tidak. Ternyata banyak persoalan yang telah timbul di Sima.”

Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk. Sementara petugas penginapan yang lain berkata, “Bukankah baru kemarin Demang yang baru itu ditetapkan. Tetapi Demang baru itu sudah mengambil langkah yang buruk.”

“Langkah apa?”

“Ki Demang sudah membuat pengumuman, terutama ditujukan kepada semua penginapan yang ada di Sima,” orang itu terdiam sejenak. Kemudian ia pun berkata lebih lanjut, “Jika diperlukan semua penginapan harus menyediakan tempat bagi para petugas yang datang ke Sima tanpa menentukan tarif sewa bagi mereka. Bahkan penginapan harus menyediakan makan bagi mereka.”

“Bukankah itu berarti membunuh usaha kami,” sambung yang lain, “mungkin kami dapat menyediakan beberapa bilik bagi para pejabat yang bertugas di Sima. Tetapi jika kami juga harus menyediakan makan bagi mereka, agaknya kami akan merasa sangat berat. Dan bahkan dalam waktu yang tidak lama lagi, akan banyak penginapan yang menutup pintunya.”

Tetapi kawannya pun menyahut, “Meskipun kita menutup pintu, mereka akan dapat memaksa kita membuka kembali.”

“Ya,” kawannya mengangguk-angguk.

“Selain itu,” berkata yang seorang lagi, “kemarin Ki Demang, Ki Jagabaya dan Ki Bekel yang baru bersama para bebahu dan yang mereka sebut pejabat dari Demak itu telah melihat-lihat pasar. Nampaknya mereka mempunyai rencana tertentu dengan pasar itu, sehingga hari ini pasar itu menjadi bertambah sepi. Apalagi hari ini bukan hari pasaran. Pagi tadi ketika Yu Suni pergi ke pasar untuk berbelanja, melihat bahwa pasar Sima tidak pernah menjadi sesepi tadi pagi.”

Glagah Putih dan Rara Wulan masih saja mengangguk-angguk.

“Kami melihat bahwa esok keadaan Sima akan menjadi semakin suram.”

“Mudah-mudahan dugaanmu tidak benar,” sahut Glagah Putih, “mudah-mudahan apa yang dilakukan oleh bebahu yang baru itu sekadar penjajagan. Mungkin mereka justru akan menghembuskan kebijaksanaan baru yang lebih baik.”

Tetapi kedua orang petugas di penginapan itu menggeleng. Seorang diantara mereka berkata, “Kami tidak melihat kemungkinan yang lebih baik itu, Ki Sanak.”

Petugas di penginapan itu pun kemudian telah bercerita bahwa para bebahu bersama beberapa pejabat dari Demak telah berkeliling kademangan Sima. Mereka memperhatikan orang-orang terkaya di kademangan ini. Bahkan mereka telah mencatat beberapa hal yang mereka anggap penting. Mungkin tentang letak rumah atau kekayaan yang dimiliki atau mungkin rumah itu sendiri yang sebagaimana penginapan-penginapan yang ada, untuk menampung para pejabat yang mungkin akan berdatangan dari Demak ke Sima.

Petugas yang lain pun menyambung, “Tindakan mereka yang baru mereka mulai itu ternyata telah menimbulkan keresahan. Orang-orang kaya menjadi gelisah sebagaimana para pemilik penginapan. Sementara itu para pedagang di pasar pun telah dihinggapi oleh berbagai macam pertanyaan. Apa yang akan diperbuat oleh para bebahu yang baru itu bersama mereka yang mengaku para pejabat dari Demak itu.

“Terima kasih Ki Sanak,” berkata Glagah Putih kemudian, “dengan demikian, kami berdua harus hati-hati karena kami berdua bukan orang Sima. Kami hanyalah orang lewat. Tetapi kami menjadi ingin tahu, perkembangan lebih lanjut di Kademangan Sima ini.”

“Sebenarnya kalian berdua itu akan pergi ke mana? Bukankah dalam beberapa hari ini kalian tetap saja berada di tempat paman kalian itu?”

“Kami tidak diperkenankan pergi,” jawab Glagah Putih, “bahkan selama paman pergi, paman menghendaki agar aku tetap berada di rumahnya. Tetapi kami mempunyai kepentingan lain yang ingin kami lakukan.”

“Kepentingan apa?”

“Maaf Ki Sanak. Itu adalah persoalan pribadi.”

“Ya, ya. Akulah yang minta maaf. Di luar sadarku, aku sering bertanya tentang urusan pribadi orang lain.”

Glagah Putih dan Rara Wulan pun tersenyum. Dengan nada rendah hampir berbisik Glagah Putih pun berdesis, “Kami adalah pengantin baru Ki Sanak. Tetapi kami berdua berkeinginan untuk melakukan pengembaraan yang panjang untuk mencari pengalaman.”

“Pengalaman apa?”

“Bukankah kami akan menempuh kehidupan baru. Bukankah kami memerlukan pengalaman dari hidup dan kehidupan yang akan dapat menjadi bekal bagi kami berdua di perjalanan hidup kami kemudian?”

Kedua orang petugas itu pun mengangguk-angguk.

Namun seorang diantara petugas di penginapan itu pun kemudian berkata, “Baiklah. Aku minta diri. Mungkin ada diantara tamu yang lain memerlukan sesuatu.”

Kawannya pun kemudian menyambung, “Aku juga akan pergi ke belakang. Kalian berdua tentu ingin segera beristirahat.”

“Tidak. Kami masih ingin berbincang-bincang.”

“Bukankah kalian pengantin baru?” petugas itu pun tertawa.

Glagah Putih dan Rara Wulan pun tertawa pula. Demikianlah, maka kedua orang petugas di penginapan itu telah meninggalkan mereka.

Sepeninggal kedua orang petugas di penginapan itu, Glagah Putih dan Rara Wulan masih berbincang beberapa lama. Bahkan mereka telah memutuskan untuk tidak cepat-cepat meninggalkan Sima.

“Kita akan melihat perkembangan selanjutnya.”

“Ya, kakang. Nampaknya perkembangan di kademangan ini akan sangat menarik. Lebih menarik dari padepokan di Jung Wangi atau perguruan Naga Tapa.”

“Ya. Jika perlu kita akan kembali ke Mataram untuk memberikan laporan tentang perkembangan kademangan ini lebih dahulu. Baru pada kesempatan lain kami akan pergi ke Jung Wangi.”

Rara Wulan pun mengangguk-angguk mengiakan.

Ketika malam menjadi semakin dingin, maka Glagah Putih pun kemudian berkata, “Marilah kita masuk ke dalam, Angin terasa menjadi basah.”

“Ya. Aku pun mulai merasa kedinginan.”

Tetapi sebelum mereka masuk ke dalam bilik mereka. maka mereka melihat dua orang berkuda memasuki halaman penginapan itu. Dua orang petugas penginapan itu pun segera menyongsong mereka. Seorang diantara mereka menerima dua ekor kuda itu, sementara yang lain melayani kedua orang penunggangnya. Kemudian petugas itu pun telah membawa kedua orang tamu itu ke dalam bilik yang akan mereka pergunakan malam itu.

“Tidak banyak yang menginap disini, Ki Sanak.” berkata salah seorang dari kedua orang itu.

“Memang tidak begitu banyak, Ki Sanak,” jawab petugas itu, “tetapi masih juga ada yang mau menginap disini, beberapa bilik yang terisi.”

Kedua orang itu pun kemudian di tempatkan di sebuah bilik yang agak luas, yang akan dipergunakan oleh kedua orang itu.

Ada dua amben yang agak besar di bilik itu. Diatasnya telah dibentangkan tikar yang putih bersih bergaris-garis biru. Lampu minyak kelapa di tempatkan di ajuk-ajuk agak ke sudut ruang.

Di sisi yang lain terdapat tempat duduk kayu memanjang. Sebuah geledeg kayu berukir meskipun agak kasar.

Agaknya kedua orang itu cukup puas mendapat tempat yang bersih dan terhitung cukup luas.

“Aku tidak dapat tidur di barak yang panjang tanpa sekat sama sekali itu. Berjajar di amben besar dan panjang,” berkata yang seorang.

“Penginapan di dekat pasar itu yang Ki Sanak maksudkan?” bertanya petugas penginapan itu.

“Ya. Di sebuah amben panjang mereka yang menginap tidur berjajar. Bahkan satu sama lain tidak menghiraukan dan tidak saling bertenggang rasa. Yang ingin bergurau dan bahkan tertawa berkepanjangan tanpa menghiraukan orang yang berbaring disampingnya sudah memejamkan matanya. Yang lain naik turun di amben yang besar itu tanpa mau mengerti, bahwa amben itu akan terguncang.”

“Penginapan itu memang penginapan sederhana, Ki Sanak. Hanya asal dapat membaringkan tubuhnya dan barangkali tidur beberapa saat saja.”

“Itulah yang aku tidak bisa. Untunglah aku segera meninggalkan penginapan itu dan pergi ke penginapan ini.”

“Memang berbeda Ki Sanak,” jawab petugas itu sambil tertawa tertahan.

“Ya. Berbeda suasananya, berbeda pelayanannya, tetapi juga berbeda beayanya,” berkata seorang diantara kedua orang yang menginap itu sambil tertawa.

Petugas di penginapan itu pun tertawa pula.

“Apakah ada minuman panas? Makan atau makanan?” bertanya orang yang menginap itu.

“Ada Ki Sanak. Minuman panas. Tetapi persediaan makan malam sudah tidak lengkap lagi Ki Sanak.”

“Apa saja yang ada. Jika di penginapan ini tidak ada makan malam, kami akan kelaparan. Sima sekarang tidak lagi seperti Sima beberapa waktu yang lalu. Aku pernah melintasi kademangan ini pada saat memasuki malam hari. Aku dan dua orang kawanku masih menemukan kedai yang terbuka pintunya. Tetapi sekarang, nampaknya Sima menjadi beku di malam hari. Padahal bukankah saat ini belum terlalu malam.”

“Inilah Sima sekarang Ki Sanak,” jawab petugas di penginapan itu.

“Nah, sediakan makan buat kami berdua. Kami akan mandi lebih dahulu.”

Kedua orang itu pun kemudian mandi bergantian. Baru kemudian, petugas di penginapan itu telah menghidangkan minuman hangat serta makan malam meskipun lauknya sudah tidak lengkap lagi. Hanya tinggal ada sayur asam, dendeng ragi, serta telur yang baru saja didadar, sehingga masih panas.

Meskipun nasi sudah dingin, tetapi sayur asam yang dipanasi itu membuat makan malam yang sudah tidak lengkap itu tidak terlalu dingin.

Demikialah kedua orang itu pun makan dengan lahapnya meskipun hanya seadanya saja.

Ketika petugas yang seorang lewat didepan serambi bilik Glagah Putih dan Rara Wulan. maka Glagah Putih pun bertanya, “Siapakah mereka?”

Petugas itu menggeleng sambil menjawab, “Aku belum bertanya kepada mereka. Aku baru menyediakan tempat untuk bermalam serta menyediakan makan malam.”

Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak bertanya lebih jauh.

Namun Glagah Putih dan Rara Wulan dengan sengaja telah turun ke halaman dan duduk-duduk di tangga pendapa. Meskipun malam sudah semakin dalam, tetapi mereka berharap bahwa kedua orang yang baru datang itu tidak segera tidur. Jika setelah makan mereka ke luar dari biliknya untuk menghirup udara segar di luar, Glagah Putih dan Rara Wulan ingin berbincang dengan mereka.

Sebenarnyalah setelah makan malam kedua orang berkuda itu tidak segera masuk ke dalam biliknya dan berbaring di pembaringan. Namun keduanya pun kemudian telah ke luar ke pendapa untuk menghirup udara yang segar.

Ketika Glagah Putih dan Rara Wulan melihat keduanya ke luar dari pintu pringgitan, maka Glagah Putih pun mengangguk hormat sambil berdesis, “selamat malam Ki Sanak.”

Kedua orang itu berpaling kepada Glagah Putih dan Rara Wulan yang mengangguk hormat kepada mereka. Karena itu, maka keduanya pun telah mengangguk hormat pula sambil menjawab hampir berbareng, “selamat malam.”

Glagah Putih dan Rara Wulan pun segera naik ke pringgitan pula. Kemudian berempat mereka duduk di pringgitan.

Terasa udara malam yang sejuk berhembus mengusap tubuh mereka. Seorang diantara orang berkuda itu mengkipas-kipaskan bajunya. Sementara itu, kawannya pun bertanya, “Kau masih saja kepanasan?”

“Bukan kepanasan, tetapi kepedasan sehingga keringatku masih saja mengalir.”

Kawannya tertawa pendek. Katanya, “Kau tidak berhati-hati. Kau kunyah saja cabe rawit yang sudah berwarna hampir merah, sementara sayurnya masih panas.”

Sementara itu, Glagah Putih pun kemudian bertanya, “Ki Sanak berdua datang dari mana?”

“Kami baru saja dari Demak Ki Sanak.”

“Dari Demak. Perjalanan yang jauh.”

“Ya. Kami harus bermalam dua malam di perjalanan sebelum kami sampai di tujuan.”

“Kalian akan pergi ke mana?”

“Kami akan pergi ke Jipang. Kami ingin mengunjungi paman kami yang tinggal di Jipang.”

“Jadi esok Ki Sanak berdua akan melanjutkan perjalanan ke Jipang?”

“Ya. Besok kami akan melanjutkan perjalanan,” jawab seorang diantara mereka. Sementara itu yang seorang lagi bertanya, “Ki Sanak berdua datang dari mana?”

“Kami datang dari Jipang. Tetapi kami berasal dari Jati Anom.”

“Jati Anom. Aku pernah mendengar nama Jati Anom.”

“Jati Anom terletak di kaki Gunung Merapi Ki Sanak. Satu kademangan kecil yang berada di bawah bayangan bukit.”

Kedua orang itu mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka bertanya, “Kalian akan pergi ke mana?”

“Kami akan pergi ke Purwadadi Ki Sanak.”

“Purwadadi?”

“Ya. Kami ingin mengunjungi salah seorang keluarga kami yang tinggal di Purwadadi.”

Kedua orang itu mengangguk-angguk. Namun seorang diantara mereka berkata, “Purwadadi dan sekitarnya sekarang baru sibuk Ki Sanak. Jika kau pergi ke sana, maka kau akan melihat kesibukan itu.”

“Kesibukan apa?”

“Para prajurit dari Demak telah berdatangan ke daerah Purwadadi, Grobogan bahkan sampai ke Wirasari.”

“Untuk apa?”

“Mereka menghimpun anak-anak muda untuk dilatih dalam olah keprajuritan. Setiap orang, bukan hanya anak-anak muda, bahkan laki-laki yang sudah berkeluarga, tetapi masih nampak kokoh, setiap pekan tiga kali melakukan latihan keprajuritan di lingkungan mereka masing-masing. Mereka dilatih sebagaimana seorang prajurit, meskipun mereka tidak dimasukkan ke dalam barak. Namun sepekan tiga kali, lewat tengah hari. mereka harus datang untuk mengikuti latihan olah kanuragan dan bahkan latihan perang gelar.”

“Untuk apa?”

“Menurut pendengaranku tidak untuk apa-apa. Sekedar berjaga-jaga jika terjadi sesuatu.”

“Apa yang dimaksud dengan sesuatu?”

“Entahlah. Aku tidak tahu. Aku hanya mendengar sekilas saja keterangan paman yang tinggal di Purwadadi. Tetapi ternyata paman sendiri juga tidak jelas, apa yang sebenarnya akan terjadi.”

Glagah Putih dan Rara Wulan saling berpandangan sejenak. Namun Glagah Putih pun kemudian bertanya, “Ki Sanak singgah di Purwadadi? Bukankah Ki Sanak tinggal di Demak?”

“Paman adalah pedagang keliling, sehingga mondar-mandir kemana-mana.”

Glagah Putih dan Rara Wulan pun mengangguk-angguk pula.

Untuk beberapa lama mereka masih berbincang. Namun kemudian seorang diantara mereka berkata, “Sudahlah Ki Sanak. Kami minta diri. Kami harus segera tidur karena esok pagi-pagi kami akan berangkat ke Pajang. Ada seorang paman di Pajang.”

“Silahkan Ki Sanak Kami pun akan beristirahat pula.”

Kedua orang yang datang berkuda itu pun segera bangkit berdiri sambil berkata hampir berbareng, “selamat malam.”

Ketika keduanya masuk ke ruang dalam, maka petugas penginapan itu pun telah ke luar pula dari pintu pringgitan.

“Kalian tidak mengantuk?”

“Ya. Kami berdua pun akan beristirahat. Kau?”

Petugas itu tertawa pendek. Katanya, “Jika aku boleh tidur, maka aku lebih senang tidur daripada mondar-mandir di penginapan ini.”

Glagah Putih dan Rara Wulan pun tertawa pula. Keduanya pun segera pergi ke bilik mereka. Sesudah menyelarak semua pintu, maka Rara Wulan pun segera berbaring, sementara Glagah Putih masih duduk di sebuah tempat duduk yang panjang.

“Kau percaya kepada cerita kedua orang itu, kakang?” bertanya Rara Wulan.

“Aku percaya. Rara. Agaknya keduanya berkata dengan jujur tanpa niat apapun.”

“Tentang kesibukan di Purwadadi dan sekitarnya?”

“Ya. Jika kedua orang itu membawa tugas tertentu dalam perjalanan mereka ke Pajang, mereka tidak akan berceritera begitu lugu dan terbuka tentang keberadaan para prajurit di Purwadadi untuk mengumpulkan dan melatih anak-anak muda.”

Rara Wulan pun mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia pun kemudian berkata, “Nampaknya yang akan terjadi di Sima adalah sebagaimana yang telah terjadi di Purwadadi dan sekitarnya.”

“Sebaiknya kita melihat sendiri apa yang terjadi di tempat-tempat yang disebut oleh kedua orang itu.”

“Esok pagi kita berangkat?”

“Sebaiknya kita melihat lebih dahulu, apa yang akan terjadi di Sima dalam satu dua hari ini, Rara.”

Rara Wulan pun mengangguk-angguk, sementara Glagah Putih pun berkata, “Sebaiknya kau tidur dahulu. Nanti jika aku mengantuk, aku akan membangunkanmu.”

“Baik, kakang. Aku juga sudah mengantuk.”

Rara Wulan yang merasa tenang ditunggui suaminya itu pun segera tertidur, sementara Glagah Putih masih duduk di amben panjang. Namun agaknya malam itu tidak terjadi sesuatu di kademangan Sima. Tidak ada tanda-tanda bahwa ada gerakan yang asing yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku pejabat yang datang dari Demak serta orang-orang dari perguruan Kedung Jati.

Di dini hari, tanpa dibangunkan, Rara Wulan telah terbangun sendiri. Sambil bangkit dari pembaringan Rara Wulan itu pun bertanya, “Bukankah masih belum pagi?”

“Belum Rara,” jawab Glagah Putih sambil mengusap matanya.

“Kakang tentu sudah mengantuk. Kenapa kakang tidak membangunkan aku?”

“Aku baru saja berniat membangunkanmu. Tetapi kau sudah bangun sendiri.”

Malam itu Glagah Putih masih sempat tidur meskipun hanya sebentar. Tetapi Glagah Putih sudah merasa cukup beristirahat, sehingga terasa tubuhnya menjadi segar.

Ketika fajar menyingsing, maka keduanya pun bergantian pergi ke pakiwan untuk mandi dan berbenah diri.

Ketika keduanya kemudian ke luar dari dalam bilik mereka dan turun di halaman yang masih remang-remang, mereka melihat kedua orang berkuda itu pun sudah siap untuk berangkat.

“Pagi-pagi sekali kalian sudah berangkat,” desis Glagah Putih yang melangkah mendekati keduanya diikuti oleh Rara Wulan.

“Kami ingin segera sampai di Pajang.”

“Berkuda kalian akan cepat sampai. Mungkin tengah hari.”

“Ya. Kami masih mempunyai waktu untuk melihat-lihat Pajang setelah agak lama kami tidak melihatnya.”

“Tidak banyak perubahan terjadi di Pajang. Segala sesuatunya masih saja seperti semula. Yang barangkali agak berbeda adalah, bahwa Pajang sekarang kelihatan lebih bersih.”

Kedua orang itu tersenyum. Namun kemudian seorang diantara mereka pun bertanya, “Kapan Ki Sanak pergi ke Pajang lagi?”

Glagah Putih dan Rara Wulan saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Glagah Putih pun berkata, “Kapan-kapan Ki Sanak. Tetapi kami memang ingin kembali ke Pajang.”

Sejenak kemudian, maka kedua orang itu pun telah menuntun kudanya ke regol halaman penginapan. Petugas penginapan itu melepas mereka sampai ke regol. Sambil mengangguk hormat petugas di penginapan itu pun berkata, “Selamat jalan. Pada saat Ki Sanak kembali ke Demak dan Pajang, kami harap Ki Sanak dapat menginap lagi disini.”

Keduanya tertawa. Seorang diantara mereka berkata, “Mudah-mudahan. Tetapi jika kami berangkat dari Pajang, maka kami akan sampai disini masih terlalu siang untuk mencari penginapan. Mungkin kami masih akan dapat mencapai tempat berikutnya yang memiliki penginapan seperti di Sima ini.”

Tetapi petugas penginapan itu pun menjawab, “Sebaiknya Ki Sanak berangkat dari Pajang setelah tengah hari.”

Keduanya tertawa semakin keras. Bahkan Glagah Putih dan Rara Wulan pun tertawa pula.

Demikianlah, maka keduanya pun segera meninggalkan penginapan itu. Mereka segera melarikan kuda mereka menuju ke Pajang.

“Keduanya ternyata orang-orang baik,” berkata petugas penginapan itu.

“Ya. Keduanya pun ramah dan mudah bergaul. Kami baru semalam mengenal mereka, tetapi mereka pun bersikap akrab seperti kami sudah berkenalan lama.”

Petugas di penginapan itu pun kemudian telah naik ke pendapa sambil berkata, “Aku akan membersihkan bilik, yang mereka tinggalkan.”

“Silahkan,” sahut Glagah Putih.

Demikian petugas di penginapan itu masuk ke ruang dalam, maka Glagah Putih dan Rara Wulan pun kembali ke biliknya. Mereka menunggu matahari naik. Baru kemudian mereka ke luar dari regol halaman penginapan untuk melihat-lihat suasana.

Sima memang nampak lebih sepi. Meskipun demikian, masih ada satu dua kedai di depan pasar yang membuka pintunya.

Agaknya karena hari masih pagi, atau karena suasana yang berubah, maka rasa-rasanya pasar itu pun masih saja sepi. Apalagi kedai yang berada di depan pasar itu. Di salah satu kedai diantaranya, baru Glagah Putih dan Rara Wulan sajalah yang berada di dalam kedai itu.

Karena itu. maka Glagah Putih dan Rara Wulan sempat berbincang-bincang dengan pemilik kedai yang belum menjadi sibuk itu.

“Suasana telah berubah, Ki Sanak.” berkata pemilik kedai itu.

“Karena Demang di Sima ini diganti.”

“Aku tidak tahu sebabnya. Mungkin karena Demangnya berganti, atau karena perintah dari atasan. Meskipun Demangnya masih tetap. Demang yang dahulu, namun perintah itu harus dijalankannya tanpa dapat mengelak lagi.”

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 376)

diedit dari:

http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iv-75/

Terima kasih kepada k4ng t0mmy yang telah me-retype jilid ini

<<kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s