ADBM4-388

<<kembali | lanjut >>

RARA WULAN tidak dapat menahan tertawanya. Disela-sela derai tertawanya Rara Wulan berkata, “Untunglah kakang tidak ditelikung oleh kakang Santa.”

Sekar Mirah pun tertawa pula.

Ketika Rara Wulan dan Sekar Mirah masih sibuk mentertawakan Glagah Putih, maka terdengar pintu butulan diketuk orang.

 “Ada tamu, kakang.”

Glagah Putih pun segera pergi ke pintu butulan. Demikian pintu itu terbuka, maka dilihatnya Ki Santa berdiri termangu-mangu di muka pintu.

 “Kang Santa,” desis Glagah Putih.

Tiba-tiba saja Ki Santa itu berlutut di hadapan Glagah Putih sambil berkata, “Aku minta ampun, adi. Aku minta ampun.”

Glagah Putih pun menarik kedua lengan Ki Santa sambil berkata, “Berdirilah, kakang. Berdirilah.”

Demikian Ki Santa berdiri, maka Glagah Putih pun berkata, “Marilah. Silahkan duduk di pringgitan, kang.”

 “Tidak adi. Tidak usah. Aku hanya datang untuk minta ampun. Aku telah berbuat sesuatu yang sangat memalukan. Karena itu sudah sepantasnya adi Glagah Putih menghukum aku.”

 “Sudah aku katakan. Lupakan saja kakang.”

 “Tidak. Aku harus mendengar langsung, bahwa kau telah memaafkan aku.”

 “Baik. Baiklah kang Santa. Aku telah memaafkan kang Santa.”

 “Terima kasih adi. Terima kasih. Dengan demikian, baru aku merasa terlepas dari penyesalan yang sangat dalam. Aku memang seorang pemarah. Tetapi seharusnya aku tahu, dengan siapa aku berhadapan. Seharusnya aku tahu, bahwa adi memang tidak akan mungkin melakukan kesalahan itu. Akulah yang dungu, yang tekebur dan laknat.”

 “Sudahlah. Sudahlah. Sekarang silahkan duduk di pringgitan, kang Santa.”

 “Terima kasih . Terima kasih, adi. Aku akan mohon diri. Aku sudah puas dengan kesediaan adi memberi ampun kepadaku.”

Ki Santa benar-benar tidak mau duduk. Ia pun segera minta diri dan meninggalkan rumah Ki Lurah Agung Sedayu, sehingga Glagah Putih itu berdiri saja termangu-mangu.

Demikian orang itu pergi, maka Rara Wulan dan Sekar Mirah pun segera muncul pula. Mereka masih saja menahan tawa mereka.

Tetapi Glagah Putih mengerutkan dahinya sambil berkata, “Kalian mentertawakan aku?”

 “Tidak,” sahut Sekar Mirah, “aku tidak mentertawakan kau, Glagah Putih. Tetapi aku mentertawakan kesalah-pahaman yang aneh ini. Untung kaulah yang dikenainya. Jika yang dikenai itu juga seorang pemarah seperti kang Santa, akibatnya akan menjadi sangat buruk. Bahkan akan dapat menimbulkan akibat yang sangat memalukan.”

Glagah Putih menarik nafas panjang. Sementara itu Sekar Mirah dan Rara Wulan pun segera kembali ke dapur.

Sukra yang tidak mengenakan baju, sementara keringatnya membasahi seluruh tubuhnya mendekati Glagah Putih sambil bertanya, “Ada apa sebenarnya dengan Ki Santa?”

Glagah Putih berpaling kepadanya sambil menjawab, “Tidak ada apa-apa. He, kau baru apa?”

 “Membelah kayu bakar di belakang,” jawab Sukra sambil melangkah pergi.

 “Bukankah kau pergi ke sawah dengan Ki Jayaraga?”

 “Tidak banyak yang dikerjakan di sawah. Lebih baik aku pulang saja melanjutkan kerjaku yang belum selesai.”

 “Bagaimana dengan Ki Jayaraga?”

 “Ki Jayaraga masih berada di sawah,” jawab Sukra.

Glagah Putih tidak bertanya lagi. Sukra pun sudah menghilang di sudut rumah. Masih ada beberapa potong kayu yang masih belum dibelahnya.

Glagah Putih pun yang kemudian duduk di serambi samping telah didatangi oleh Rara Wulan sambil berkata, “Aku tidak perlu ke sawah siang nanti. Ada Sukra. Biarlah Sukra saja yang pergi ke sawah membawa kiriman makan dan minuman bagi Ki Jayaraga. Aku justru sempat mulai menyiapkan pakaian khususku.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Sukra akan dapat pergi ke sawah siang nanti.”

Demikianlah ketika makan dan minum bagi Ki Jayaraga sudah siap, maka Sukra pun telah siap pula. Dikenakannya bajunya dan dibenahi pakaiannya. Menjelang matahari sampai di puncak, maka Sukra pun berangkat mengantar makan dan minuman ke sawah. Sementara itu, Rara Wulan dapat melakukan kerja yang lain.

Beberapa orang perempuan yang pergi ke sawah telah mempertanyakan Rara Wulan kepada Sukra.

 “Mbokayu baru sibuk,” jawab Sukra.

 “Jadi kau harus mengambil sendiri kiriman untukmu itu?”

 “Aku tidak kerja di sawah hari ini. Tidak banyak yang dikerjakan, sehingga aku sudah pulang sejak tadi.”

Perempuan-perempuan yang sebaya Rara Wulan atau gadis-gadis yang lebih muda menjadi kecewa. Mereka merasa senang pergi ke sawah bersama Rara Wulan. Selain Rara Wulan ramah dan suka bergurau, Rara Wulan pun dapat membuat mereka menjadi tenang. Bersama Rara Wulan tidak akan ada orang yang berani mengganggu.

Tetapi ketika Sukra mendahului perempuan-perempuan itu, justru gadis-gadis yang menyapanya, “Kenapa tergesa-gesa sekali, Sukra. Bukankah hari masih belum terlalu siang.”

Sukra berpaling. Dilihatnya tiga orang gadis yang berjalan di belakang beberapa orang perempuan yang juga pergi ke sawah.

Jantung Sukra menjadi berdebar ketika ia melihat seorang diantara mereka. Justru bukan gadis dari Tanah Perdikan Menoreh. Gadis itu datang untuk mengunjungi kakeknya yang tinggal di Tanah Perdikan Menoreh, justru tidak terlalu jauh dari rumah Ki Lurah Agung Sedayu. Sedangkan di rumah kakeknya itu terdapat pula seorang gadis yang sudah dikenal dengan baik oleh Sukra.

Dengan demikian, maka akhirnya Sukra pun telah berkenalan dengan gadis yang datang berkunjung ke rumah kakeknya itu.

Tetapi saat Sukra pergi ke sawah membawa makan dan minuman bagi Ki Jayaraga itu, ia tidak menyapa gadis itu, yang justru menunduk ketika ia melihat Sukra mendahuluinya. Tetapi gadis sepupunya yang berjalan bersamanya membawa makan dan minuman bagi kakek dan ayahnya itu telah mencubitnya.

 “Ah,” sepupunya itu pun menghindar.

Gadis itu tertawa tertahan. Sementara itu Sukra justru berjalan semakin cepat mendahului perempuan-perempuan dan gadis-gadis yang juga pergi ke sawah itu.

 “Kau nakal sekali mbokayu,” desis Witri, gadis yang berkunjung ke rumah kakeknya itu.

Sepupunya masih saja menahan tertawanya. Seorang gadis yang lain justru berkata, “Sebaiknya kau tidak usah pulang ke Krendetan.”

 “Kenapa?” bertanya Witri.

 “Tidak apa-apa. Bukankah Supi tidak mempunyai saudara perempuan. Kau dapat menemaninya. Kalian berdua akan menjadi kembang sepasang.”

Supi, sepupu Witri itu pun menjawab, “Kembang sepasang. Tetapi kebetulan yang satu dimakan ulat.”

 “Ah, tentu tidak Supi. Kau dan Witri memang seperti kembang sepasang.”

Supi mengulurkan tangannya untuk mencubit kawannya itu. Tetapi kawannya cepat bergeser, menyusup diantara beberapa orang perempuan yang juga sedang membawa kiriman ke sawah itu.

Namun tiba-tiba saja Witri itu menjadi gelisah. Beberapa kali ia berpaling.

Ketika Supi dan kawannya mengetahui kegelisahan Witri, maka mereka pun berpaling pula. Mereka menjadi berdebar-debar pula melihat tiga orang anak muda yang berjalan mengikuti mereka.

Supi pun kemudian mendekati Witri sambil berbisik, “Ada apa Witri? Kau nampak gelisah. Apakah ada hubungannya dengan ketiga orang anak muda itu?”

 “Ya, mbokayu,” jawab Witri.

 “Kau kenal mereka?”

Witri itu pun mengangguk sambil berdesis, “Kenal mbokayu. Mereka adalah anak-anak muda dari Krendetan.”

 “Anak muda dari Krendetan? Untuk apa mereka datang kemari justru pada saat kau berada di Tanah Perdikan ini? Apakah kedatangannya kemari ada hubungannya dengan keberadaanmu disini?

 “Mungkin mbokayu. Seorang diantara mereka adalah anak muda yang bagiku menakutkan.”

 “Kenapa?”

 “Ia mengejarku. Aku sudah mengatakan kepadanya, bahwa aku tidak mau lagi berhubungan dengan anak muda itu. Tetapi ia tidak mau tahu. Bahkan ayahku pun tidak dapat mencegah kemauannya itu. Anak itu merasa bahwa segala kemauannya harus terjadi. Bagi anak-anak muda sepadukuhan Krendetan, ia adalah anak muda yang paling ditakuti dan dipatuhi.”

 “Tetapi kau sekarang tidak sedang berada di Krendetan, Witri. Kau berada di Tanah Perdikan Menoreh.”

Witri tidak menjawab. Tetapi ia menjadi semakin gelisah. Ketiga orang anak muda itu berjalan semakin dekat di belakang mereka.

Tetapi beberapa puluh langkah dihadapan mereka, sudah nampak beberapa orang laki-laki yang sedang bekerja di sawah. Meskipun kerja tidak terlalu banyak, tetapi ada juga orang yang sedang membersihkan rerumputan yang tumbuh di sela-sela batang padi, sehingga dapat mengganggu pertumbuhan batang padi itu.

Tidak jauh dari jalan bulak, Ki Jayaraga sudah duduk di sebuah gubug kecil bersama Sukra yang membawa kiriman makan dan minuman baginya.

Perempuan-perempuan yang pergi ke sawah itu pun mulai berpencar. Mereka pergi ke sawah masing-masing untuk menyampaikan kiriman bagi keluarganya yang sedang bekerja di sawah.

 “Mbokayu, aku takut,” desis Witri.

 “Jangan takut. Di sawah itu bertebaran banyak orang.”

 “Tetapi anak muda itu adalah anak muda yang ditakuti. Ia pintar berkelahi. Tidak ada orang yang dapat mengalahkannya.”

Supi tidak sempat menjawab. Ternyata ketiga orang anak muda itu berjalan mendahului Witri, sepupunya dan seorang kawannya.

 “Mbokayu, aku takut,” desis Witri.

Tetapi ketiga anak muda itu berjalan terus. Bahkan berpaling pun tidak.

 “Apa yang akan mereka lakukan?” bertanya kawan Supi.

Supi menggeleng. Katanya, “Entahlah.”

Baru kemudian mereka mengetahui, bahwa ketiga orang anak muda itu justru langsung menuju ke gubug kecil, tempat Sukra dan Ki Jayaraga duduk sambil membuka bungkusan makan siang bagi Ki Jayaraga serta sekendi air minum.

Tetapi ketiga orang anak muda itu tidak meloncati parit dan turun ke pematang. Mereka berdiri saja diatas tanggul dengan sikap yang angkuh. Seorang diantara mereka, yang paling ditakuti oleh Witri itu pun berdiri bertolak pinggang sambil berteriak, “Aku ingin bertemu dan berbicara dengan Sukra. Bukankah kau yang duduk di gubug itu bernama Sukra.”

Sukra terkejut. Ia tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja ada anak muda yang mencarinya. Sementara itu, Witri, Supi dan seorang kawannya justru berdiri mematung di pinggir jalan.

 “Ada orang yang mencarimu Sukra,” berkata Ki Jayaraga.

 “Siapakah mereka, Ki Jayaraga?”

 “Aku tidak tahu. Apakah mereka bukan anak Tanah Perdikan ini? Agaknya mereka telah mengenalimu. Mereka tahu pasti, bahwa kau berada disini sekarang.”

 “Mereka bukan anak Tanah Perdikan ini.”

Karena Sukra tidak segera menjawab, maka anak muda itu berteriak lagi, “Sukra. Jangan bersembunyi. Aku ingin bertemu dan berbicara denganmu.”

 “Apa maksudnya, Ki Jayaraga.”

 “Turunlah. Temui anak muda itu. Berbicaralah.”

 “Aku tidak senang dengan sikapnya itu,” berkata Sukra.

 “Justru karena itu, berbicaralah. Mungkin dia salah paham. Mudah-mudahan salah paham itu dapat kau jelaskan sehingga segala sesuatunya dapat menjadi jernih.”

Sukra menarik nafas panjang. ia pun kemudian meloncat turun dari gubug itu dan melangkah menyusuri pematang.

Ki Jayaraga pun turun pula dari gubug kecil itu. ia pun mengikuti Sukra beberapa langkah di belakangnya.

 “Ada apa Ki Sanak,” bertanya Sukra dengan nada berat.

 “Jangan pura-pura tidak tahu, Sukra. Sebaiknya kau segera minta maaf kepadaku.”

 “Kenapa? Ada apa sebenarnya?”

 “Jika kau tidak mau minta maaf kepadaku, maka kita akan menyelesaikan persoalan diantara kita dengan cara seorang laki-laki. Aku tahu, bahwa di Tanah Perdikan ini banyak terdapat orang berilmu tinggi. Tetapi aku tidak berurusan dengan mereka.”

Sukra mengerutkan dahinya. Ia memang menjadi agak bingung menghadapi orang yang tiba-tiba saja marah kepadanya.

Sukra adalah seorang anak muda yang baru tumbuh. Karena itu, maka darahnya pun menjadi cepat memanas. Sukra bukanlah orang sesabar Ki Lurah Agung Sedayu atau Glagah Putih. Karena itu, maka dengan suara yang keras pula ia pun berkata, “Jangan berputar-putar. Katakan. Kau mau apa.”

 “Jahanam kau Sukra,” bentak orang itu, “aku datang untuk menghukummu. Seperti yang sudah aku katakan, di Tanah Perdikan ini banyak orang berilmu tinggi. Tetapi aku tidak datang untuk mencari Ki Lurah Agung Sedayu atau Nyi Lurah. Tidak pula mencari Glagah Putih atau istrinya. Aku juga tidak merasa perlu bertemu dengan Ki Prastawa apalagi Ki Gede. Aku datang untuk bertemu dengan Sukra. Kecuali jika Sukra seorang yang licik dan pengecut, yang mencari perlindungan kepada orang-orang berilmu tinggi di Tanah Perdikan ini.”

 “Apa sebenarnya maumu, he.” Sukra pun membentak pula sambil melangkah mendekat, “aku bukan pengecut yang hanya berani bersembunyi di balik perlindungan orang-orang berilmu tinggi. Tetapi katakan, apakah persoalannya.”

 “Baik. Jika kau masih berpura-pura. Dengar. Kau telah mencoba untuk mencuri Witri dari sampingku. Witri adalah calon isteriku. Tidak seorang pun yang boleh mengganggunya.”

Jantung Sukra terasa berdenyut semakin cepat. Ia tidak mengira bahwa perkenalannya dengan Witri, gadis dari Krendetan yang berada di rumah kakeknya itu akan mendatangkan persoalan baginya.

Namun dalam pada itu, Witri yang mendengar kata-kata keras dari anak muda Krendetan itu pun berkata lantang, “Bohong. Anak muda itu bohong. Aku bukan bakal istrinya. Aku tidak mau. Orang tuaku pun tidak mau menerima seandainya ia datang melamarku.”

 “Cukup,” teriak anak muda dari Krendetan itu, “kau dapat berkata seperti itu disini. Mungkin Sukra telah mengetrapkan guna-guna sehingga kau telah kehilangan pribadimu. Kau lupa akan janji-janji setiamu. Tetapi jika itu yang terjadi, aku tidak menyalahkanmu. Jika aku sudah berhasil memaksa Sukra untuk mengaku bersalah dan minta maaf kepadaku, maka pengaruh guna-guna itu akan hilang dengan sendirinya.”

 “Bohong, bohong.”

 “Ki Sanak,” berkata Sukra, “apa sebenarnya maumu Ki Sanak. Tetapi apapun alasannya, jika kau memang hanya ingin menantang berkelahi, aku tidak berkeberatan. Bahkan sebenarnya kau tidak perlu menyangkut pautkan Witri atau siapapun juga. Kau cukup datang kepadaku dan menantangku.”

 “Bagus. Sekarang naiklah. Aku telah datang untuk menantangmu berkelahi. Seorang lawan seorang. Jika aku datang bertiga, maka kedua orang kawanku ini hanyalah akan menjadi saksi, bagaimana aku membuatmu berlutut dan mohon ampun. Bagaimana kau mencium kakiku sambil berjanji untuk tidak mengganggu calon isteriku itu lagi.”

Telinga Sukra menjadi panas. ia pun segera meloncat naik sambil berkata, “Bagus. Bersiaplah. Aku tidak mempunyai keberatan apa-apa. Aku akan minta orang-orang Tanah Perdikan Menoreh untuk tidak ikut campur. Menang atau kalah, aku akan melakukannya sendiri.”

Anak muda dari Krendetan itu pun bergeser surut. Keduanya pun kemudian berdiri di tengah jalan.

Beberapa orang yang melihat gelagat kurang baik itu pun telah meletakkan cangkul mereka. Bergegas mereka pergi mengerumuni Sukra dan anak muda Krendetan itu.

Ki Jayaraga yang kemudian juga berdiri diantara mereka mencoba untuk melerai kedua orang anak muda yang sudah siap untuk berkelahi itu. Dengan nada berat Ki Jayaraga pun berkata, “Perkelahian bukan satu-satunya cara untuk memecahkan persoalan anak muda. Kita tentu dapat mencari cara lain yang lebih baik dari mempergunakan kekerasan. Bukankah kita dapat berbicara dengan baik. Kita cari akar persoalannya, kemudian kita cari jalan ke luarnya dengan hati yang dingin.”

 “Tidak ada yang dapat mencegah perkelahian ini,” berkata anak muda dari Krendetan itu, “persoalannya adalah persoalan yang sangat pribadi. Sukra telah menyinggung harga diriku, sehingga kesalahannya itu hanya dapat ditebusnya dengan sikap seorang laki-laki. Jika ia menolak, maka ia benar-benar seorang pengecut yang licik.”

 “Aku tidak menolak,” sahut Sukra langsung, “aku terima tantanganmu meskipun alasan dari perkelahian ini tidak masuk akal. Tetapi itu memang tidak penting. Jika yang kau inginkan perkelahian, ada atau tidak ada alasan, kita akan berkelahi. Biarlah orang-orang yang ada di sekitar kita menjadi saksi.”

 “Nanti dulu Sukra,” berkata Ki Jayaraga, “apakah yang akan kalian dapatkan dari perkelahian ini. Baik bagi yang menang apalagi yang kalah.”

 “Kami akan mendapatkan kepuasan. Tentu saja bagi yang menang. Selebihnya, Witri akan menilai, siapakah yang terbaik diantara kami. Yang terpenting, pengaruh guna-guna yang dilepas oleh Sukra akan menjadi tawar.”

 “Jangan halangi kami, Ki Jayaraga,” berkata Sukra pula, “ini memang cara terbaik untuk mencari penyelesaian.”

Tetapi Ki Jayaraga menggeleng. Katanya, “Tidak. Bukan penyelesaian terbaik. Apalagi menyangkut seseorang yang mempunyai nalar budi serta dapat menentukan sikap sesuai dengan kemauannya. Menurut aku yang terbaik biarlah Witri berbicara. Apa yang diinginkannya sesuai dengan kemauannya sendiri. Kalian tinggal menyesuaikan saja, karena kalian pun harus menghormati kebebasan seseorang untuk menentukan sikapnya.”

 “Ki Jayaraga. Sebenarnya aku tidak ingin berselisih dalam hubungannya dengan Witri. Aku menjadi sangat malu dilihat dan didengar oleh banyak orang. Karena itu, aku sudah mengatakannya. Tidak usah mengkaitkan tantangan anak ini dengan Witri. Jika ia ingin berkelahi, aku akan melayaninya.”

 “Aku mengerti, Sukra. Tetapi jika Witri menentukan sikapnya, mungkin sekali kekerasan itu tidak perlu.”

 “Aku merasa perlu untuk berkelahi. Baik. Aku setuju dengan Sukra,” berkata anak muda dari Krendetan itu, “tidak ada persoalan apa-apa diantara kami. Aku hanya ingin berkelahi, begitu saja.”

 “Bagus,” Sukra pun hampir berteriak, “beri kami tempat yang lebih luas.”

Ki Jayaraga menarik nafas panjang. Ia sudah tidak berdaya untuk melerai perkelahian itu. Karena itu, ia hanya dapat mengawasi agar anak-anak muda yang akan berkelahi itu tidak kehilangan akal, sehingga mereka akan menjadi liar.

Keduanya pun kemudian segera mempersiapkan diri. Ki Jayaraga pun menyadari, bahwa sulit untuk mencegah perkelahian itu.

 “Sukra,” berkata anak muda Krendetan itu, “aku akan membuatmu tidak berdaya. Kemudian memaksamu berlutut dihadapanku dan mencium telapak kakiku. Kau akan menangis untuk mohon ampun kepadaku.”

 “Lakukan jika kau mampu melakukan. Tetapi jika mulutmu yang lancang itu terkoyak, jangan salahkan aku.”

Sukra tidak sempat berbicara lebih panjang. Tiba-tiba saja anak muda Krendetan itu pun telah meloncat menyerangnya.

Kedua orang kawan anak muda dari Krendetan itu pun bergeser menjauh. Seorang diantara mereka berkata, “Anak Tanah Perdikan itu akan menyesali kesombongannya.”

 “Ia belum mengenal, siapakah lawannya. Ia tidak tahu, bahwa lawannya telah berguru kepada seorang yang sakti yang tinggal di pesisir Selatan.”

 “Ia akan segera menyerah, berlutut dan mencium kakinya. Ia akan menangis untuk mohon ampun atas kelakuan dan kesombongannya. Ia mengira, bahwa karena ia tinggal di Tanah Perdikan, dengan sendirinya menjadi anak muda yang berilmu tinggi.”

Kawannya tertawa. Katanya, “Ya. Ia tentu mengira, bahwa kemampuan yang tinggi itu seperti penyakit menular. Jika seseorang selalu berdekatan dengan orang berilmu tinggi, maka ia pun akan dijangkiti oleh kemampuan yang tinggi pula.”

Keduanya tertawa tertahan. Sementara itu, Sukra sudah berkelahi melawan anak muda dari Krendetan itu.

Dalam pada itu, seorang telah menyibak orang-orang yang berkerumun. Ia langsung mendekati Ki Jayaraga sambil berdesis, “Apakah perkelahian itu tidak dapat dicegah, Ki Jayaraga?”

Ki Jayaraga berpaling. Dilihatnya Glagah Putih yang nampak gelisah berdiri di sebelahnya.

 “Aku sudah berusaha. Tetapi aku tidak berhasil melerainya. Kedua-duanya sudah berniat untuk berkelahi.”

Glagah Putih menarik nafas panjang. Sementara Ki Jayaraga pun berkata, “Tetapi agaknya ada baiknya juga mereka berkelahi disini. Disini banyak saksi. Bahkan kita akan dapat mencegah jika mereka kehilangan kendali dan berbuat melampaui batas. Jika kita dengan paksa mencegah perkelahian itu, maka mereka mungkin akan melakukannya di luar pengamatan kita. Bahkan dengan cara yang sangat berbahaya.”

Glagah Putih terdiam. Di pandanginya perkelahian yang menjadi semakin seru itu dengan dahi yang berkerut.

Sementara itu, Sukra dan anak muda dari Krendetan itu berkelahi dengan keras. Mereka telah meningkatkan kemampuan mereka. Anak muda dari Krendetan itu ternyata memang pernah berguru dan memiliki ilmu yang garang. Sementara itu, Sukra telah menempa dirinya cukup lama, sehingga ilmunya pun sudah menjadi semakin mapan.

Ternyata anak muda dari Krendetan yang mengira, bahwa ia akan dengan mudah mengalahkan Sukra disaksikan oleh kawan-kawannya dan terutama oleh Witri. Ia ingin Sukra itu benar-benar berjongkok dihadapannya sambil mohon ampun. Jika demikian, maka ia akan memerintahkan Sukra itu mencium telapak kakinya.

Tetapi ternyata Sukra itu tidak mudah dikalahkannya. Bahkan semakin lama Sukra itu menjadi semakin garang.

Sebenarnyalah Sukra yang masih ragu mengetrapkan ilmunya dalam perkelahian yang sebenarnya, menjadi agak terdesak. Tetapi setelah tubuhnya berkeringat, maka ia pun menjadi semakin mapan. Serangan-serangan Sukra menjadi semakin sering menembus pertahanan anak muda Krendetan itu.

Glagah Putih berdiri termangu-mangu. Sementara Ki Jayaraga pun bertanya, “Darimana kau tahu bahwa Sukra bertengkar?”

 “Seseorang berlari-lari pulang memberitahukan kepadaku, bahwa Sukra berkelahi di bulak.”

Ki Jayaraga menarik nafas panjang. Tetapi ia pun terdiam.

Sementara itu, Glagah Putih memperhatikan perkelahian itu dengan seksama. Bahkan di luar sadarnya, ia seakan-akan sedang melihat Sukra itu sedang berlatih. Semakin lama Sukra pun semakin menunjukkan tataran kemampuannya yang sebenarnya.

Anak muda dari Krendetan itu pun telah meningkatkan kemampuannya pula. Setelah berguru beberapa lama, tanpa dapat menuntaskan pewarisan ilmunya, anak muda itu telah meninggalkan perguruannya.

Meskipun demikian, anak muda itu sudah dapat menempatkan dirinya pada kedudukan terbaik diantara anak-anak muda sepadukuhannya. Tidak seorang pun dari anak-anak muda di padukuhannya yang berani melawannya.

Keadaan itulah yang telah menyesatkan penilaian anak muda itu atas dirinya sendiri. Anak muda itu bagaikan orang mabuk dan kehilangan penalarannya yang jernih. Sehingga karena itu, maka ia merasa bahwa ia akan dapat dengan mudah menundukkan Sukra, meskipun ia mengakui, bahwa di Tanah Perdikan terdapat beberapa orang berilmu tinggi, tetapi menurut pendapatnya, selain beberapa orang, yang lain adalah anak-anak muda kebanyakan yang tidak akan dapat mengimbangi kemampuannya.

Tetapi ternyata anak muda itu salah hitung. Berhadapan dengan Sukra ternyata ia mengalami kesulitan. Dalam pada itu, serangan-serangan Sukra datang seperti banjir. Beberapa kali ia telah mendesak lawannya beberapa langkah surut. Bahkan ketika kakinya telah mengenai dada lawannya, anak muda dari Krendetan itu bagaikan telah terlempar dari arena perkelahian. Tubuhnya terbanting jatuh di jalan yang berbatu-batu, sehingga terasa punggungnya bagaikan menjadi retak.

Namun ia pun segera bangkit berdiri. Dengan cepat ia mencoba menyerang Sukra yang setapak demi setapak maju mendekatinya.

Dengan garangnya anak muda itu meloncat tinggi.

Badannya berputar sambil mengayunkan kakinya mendatar menyambar kening.

Tetapi Sukra dengan tangkasnya menghindar. Sambil merendah, Sukra telah menyapu kaki lawannya, pada saat kakinya yang lain itu menyentuh tanah.

Lawan Sukra itu tidak mengira, bahwa Sukra dapat bergerak secepat itu. Justru karena itulah, maka lawan Sukra itu telah terbanting jatuh.

Sukra tidak memburunya. Dibiarkannya pula anak muda itu berusaha bangkit sendiri.

Sukra memang memberinya waktu untuk mempersiapkan dirinya, sehingga keduanya pun telah berhadapan pula dan siap untuk mulai berkelahi lagi.

Namun sebelum mereka mulai, Ki Jayaraga melangkah maju sambil bertanya kepada kedua orang anak muda yang sedang berkelahi itu, “Apakah kalian sudah puas? Bukankah kalian sudah dapat menduga, siapakah yang akan menang di antara kalian. Atau kalian dapat saja menyatakan bahwa tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang di antara kalian.”

 “Tidak,” anak muda Krendetan itulah yang berteriak, “Aku akan memaksanya berlutut di hadapanku dan kemudian mencium kakiku. Kecuali jika sekarang Sukra mau berlutut di hadapanku dan mencium kakiku, maka aku akan mengampuninya.”

Ternyata darah Sukra sudah terlanjur panas. Demikian lawannya mengatupkan bibirnya, Sukra pun berkata lantang, “bersiaplah. Aku akan membuatmu menyesali sesumbarmu itu.”

Ki Jayaraga tidak sempat berkata apapun lagi. Sukra dan anak muda dari Krendetan itu tidak lagi memperhatikannya.

Demikianlah, keduanya pun telah terlibat kembali dalam perkelahian yang sengit. Sukra yang menjadi semakin marah itu pun bertempur semakin garang. Penguasaannya atas ilmunya justru semakin meyakinkan. Serangan-serangannya menjadi semakin berbahaya bagi lawannya. Bahkan menjadi semakin sering menembus pertahanan anak muda dari Krendetan.

Sebaliknya, serangan-serangan anak muda dari Krendetan itu menjadi semakin lemah. Untuk mengatasi serangan-serangan Sukra, anak muda itu telah mengerahkan tenaga dan kemampuannya. Namun dengan demikian, maka tenaganya pun menjadi semakin cepat menyusut. Keringatnya bagaikan terperas dari tubuhnya, sedangkan nafasnya menjadi semakin cepat mengalir lewat lubang-lubang hidungnya.

Sekali-sekali Sukra sengaja membentur serangan lawannya. Pada saat lawannya menjulurkan kakinya menyamping mengarah ke dada Sukra, Sukra sengaja tidak menghindarinya. Dengan menyilangkan tangannya di dadanya, Sukra telah menahan serangan itu. Mula-mula Sukra menahan kaki lawannya dengan lunak. Namun tiba-tiba saja kedua tangan Sukra itu pun menghentak.

Lawannya terkejut. Dorongan hentakan tangan Sukra yang bersilang itu telah mendorong tubuh anak muda dari Krendetan itu tergeser surut.

Bahkan anak muda dari Krendetan itu tidak mampu mempertahankan keseimbangannya, sehingga ia pun telah jatuh terlentang.

Melihat keseimbangan perkelahian itu, kedua kawan anak muda dari Krendetan itu menjadi berdebar-debar. Mereka sama sekali tidak mengira, bahwa justru Sukra lah yang telah membuat kawan kebanggaan mereka itu mengalami kesulitan.

Meskipun anak muda itu masih dapat segera bangkit, tetapi tenaganya telah menjadi jauh menyusut.

Tetapi agaknya di hadapan Witri anak muda itu tidak ingin menunjukkan kelemahannya. Karena itu, maka anak muda itu masih melangkah maju dan kemudian berdiri bertolak pinggang. ia pun masih berkata dengan lantang, “Kali ini adalah kesempatanmu yang terakhir, Sukra. Jika kau tidak mau mempergunakan kesempatan ini, maka nasibmu akan menjadi lebih buruk.”

 “Diamlah. Bersiaplah.”

Sukra bergeser setapak. Ia tidak ingin dikatakan menyerang lawannya pada saat lawannya itu masih belum siap. Karena itu ia memberi waktu bagi lawannya untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Tetapi tenaga anak muda itu memang sudah anak berangsur turun. Meskipun Sukra memberinya kesempatan, namun anak muda itu masih saja nampak goyah.

Namun Sukra tidak mau menunggu lebih lama. ia pun kemudian telah menyerang lawannya. Kakinya pun terjulur mengarah ke dada.

Dengan tenaganya yang tersisa, anak muda itu pun bergeser menghindar. Namun ternyata Sukra menggeliat. Kakinya tidak lagi mengarah ke dada, tetapi kakinya itu menyerang lambung.

Lawannya terkejut. Tetapi ia tidak sempat lagi menghindar. Kaki Sukra itu pun telah mengenai lambungnya, sehingga anak muda itu terpental beberapa langkah dan jatuh berguling.

Ketika anak muda itu berusaha untuk bangkit, maka tubuhnya terasa menjadi sangat lemah. Perutnya terasa mual dan sakit sekali. Sementara itu tulang-tulang di punggungnya bagaikan menjadi retak.

Karena itu, ketika ia mencoba untuk bangkit, anak muda itu justru mengaduh kesakitan. Tubuhnya telah terjatuh kembali dan terbaring di tanah sambil mengerang.

Kedua orang kawannya pun dengan tergesa-gesa mendekatinya. Sementara itu Sukra pun melangkah maju pula dan berdiri beberapa langkah di dekatnya.

 “Bangunlah,” berkata Sukra, “aku masih belum berlutut di hadapanmu. Aku masih belum mencium kakimu.”

Anak muda itu mengangkat kepalanya. Namun anak muda itu masih belum kuasa untuk bangkit berdiri.

Sejenak Sukra menunggu. Tetapi anak muda itu masih juga belum dapat bangkit.

 “Akulah yang sekarang menguasaimu. Akulah yang akan dapat memaksamu berturut dihadapanku dan memaksamu mencium kakiku. Aku akan dapat meletakkan telapak kakiku di wajahmu. Karena kau sudah tidak dapat bangkit berdiri lagi.”

 “Persetan kau, Sukra.”

Hampir saja Sukra itu meloncat ke arah anak muda itu. Tetapi jari-jari yang kokoh, seperti baja telah menggenggam lengannya, sehingga Sukra itu pun tidak sempat meloncati anak muda dari Krendetan itu.

Ketika ia berpaling, maka yang dilihatnya adalah Glagah Putih yang berdiri sambil memandanginya dengan tajamnya

 “Kau mau apa?” bertanya Glagah Putih.

 “Ia sudah menghinaku,” sahut Sukra.

 “Tetapi ia sudah tidak berdaya.”

Sukra menarik nafas panjang. Anak muda itu memang sudah tidak berdaya. Ia tidak lagi dapat segera bangkit berdiri.

Glagah Putih lah yang kemudian melangkah maju mendekati kedua anak muda yang kemudian berjongkok di samping kawannya yang kesakitan, “Bawa kawanmu pergi.”

Kedua orang kawan anak muda yang berkelahi melawan Sukra itu termangu-mangu. Glagah Putih pun kemudian berkata, “Sekali lagi aku minta, bawa kawanmu pergi.”

 “Kau siapa?” bertanya salah seorang dari kedua orang anak muda itu.

 “Aku Glagah Putih.”

Kedua orang itu pun terkejut. Mereka tahu benar, siapakah Glagah Putih itu meskipun mereka baru melihat wajahnya saat itu. Mereka tahu, bahwa Glagah Putih adalah salah seorang pemimpin Pasukan Pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang disegani. Lebih disegani daripada Prastawa, anak Ki Argajaya.

Karena itu, maka kedua orang anak muda itu pun kemudian berusaha membantu kawannya yang kesakitan itu sambil berkata, “Marilah. Kita pulang.”

Anak muda yang kesakitan itu pun kemudian dengan susah payah berusaha untuk berdiri. Dibantu oleh kedua orang kawannya, anak muda itu pun meninggalkan arena perkelahian itu. Ternyata ia tidak mampu mengalahkan Sukra. Justru dihadapan Witri.

Ternyata Rara Wulan pun telah berada di bulak itu pula. Rara Wulan lah yang kemudian menggandeng Witri yang gemetar. Katanya, “Marilah. Bukankah kau dan Supi akan mengirim makanan ke sawah. Marilah, aku akan menemani kalian.”

Supi tahu benar tentang kelebihan Rara Wulan. Karena itu, ia pun menjadi tenang. Ketika Rara Wulan ada di antara mereka.

 “Marilah Witri,” ajak Supi.

 “Aku takut,” desis Witri.

 “Mbokayu Rara Wulan ada diantara kita. Kita tidak perlu takut lagi. Apalagi di bulak ini ada kakang Glagah Putih, ada Ki Jayaraga dan banyak orang lainnya.”

Witri masih saja termangu-mangu.

Ki Jayaraga lah yang kemudian mempersilahkan orang-orang yang berkerumun itu untuk kembali ke kerja masing-masing.

Sejenak kemudian, jalan bulak itu sudah menjadi lengang lagi. Orang-orang yang semula berkerumun telah kembali ke kerja mereka masing-masing. Namun karena orang-orang yang mengirim makan dan minuman sudah berdatangan, maka mereka pun kemudian mencuci kaki dan tangan mereka di air parit yang bersih.

Witri, Supi dan Rara Wulan duduk di pematang. Ayah Supi yang bekerja sejak pagi mulai membuka kiriman yang dibawa Supi dengan sebuah bakul kecil.

Sambil makan ayah Supi itu pun bertanya, “Kau kenal anak muda itu, Witri.”

Witri menundukkan kepalanya. Dengan suara tertahan ia pun menjawab, “Ya, paman. Anak muda itu selalu memburuku.”

 “Apakah kau pernah memberikan semacam harapan kepadanya?”

 “Tidak paman. Tidak pernah. Sejak semula aku sudah berusaha menjauhinya. Tapi ia adalah anak muda yang ditakuti di Krendetan. Ia merasa bahwa apapun yang dikehendaki, tentu akan dapat terpenuhi. Karena itu, maka ia pun menganggap bahwa aku tidak akan dapat menolak kemauan-nya. Demikian pula orang tuaku. Karena itulah, maka ia merasa berhak untuk menyusulku kemari.”

 “Apakah benar kau telah membuat hubungan dengan Sukra?”

Witri menundukkan kepalanya.

Supi lah yang menyahut, “Aku kenal Sukra, ayah. Karena itu, maka akhirnya Witri pun mengenalnya.”

 “Maksudku, apakah perkenalan itu sebatas perkenalan biasa, atau lebih dari itu?”

Witri masih saja menunduk. Sedangkan Supi menjawab pula, “Bukankah mereka belum lama berkenalan? Witri baru saja tinggal bersama kami.”

 “Witri,” bertanya ayah Supi itu pula, “kau datang kemari sekedar untuk menengok kakekmu, atau kau sengaja menghindar dari anak muda itu?”

Dengan nada dalam Witri pun menjawab, “Kedua-duanya paman. Sekarang aku semakin takut pulang.”

 “Sebaiknya kau memang tinggal disini untuk beberapa lama. Biarlah nanti paman mencari jalan, agar anak muda itu tidak menakut-nakutimu lagi.”

Witri tidak menjawab. Sementara itu, ayah Supi pun kemudian berdesis, “Aku selesaikan makan dahulu. Apakah kalian juga akan makan disini.”

 “Aku membawa makan dan minuman untuk ayah. Jika aku dan Witri ikut makan, nanti ayah malahan tidak mendapat bagian.”

 “Tetapi rasanya lebih enak makan di sawah di siang hari begini.”

 “Tentu, karena ayah merasa lapar. Apapun yang dihidangkan tentu akan terasa enak sekali.”

Ayah Supi itu tertawa. ia pun kemudian berkata kepada Rara Wulan, “terima kasih, ngger. Supi dan Witri hanya merepotkan angger saja. Tetapi aku tidak akan mempersilahkan angger makan, karena yang ada hanyalah oyok-oyok lembayung.”

Rara Wulan tertawa. Katanya, “Paman kira, aku makan apa di rumah? Padamara kangkung atau gudangan daun ketela gantung.”

Ayah Supi itu pun tertawa pula. Katanya, “Tentu tidak. Di kandang ada telur. Di belumbang ada gurameh. Sekali-kali jika ayamnya sudah terlalu banyak perlu dikurangi.”

 “Ah, paman.”

Supi pun tertawa pula. Sedangkan Witri masih saja nampak pucat. Tetapi gadis itu sudah mulai tersenyum.

Sementara itu, di gubug kecil, di sawah seberang jalan, Sukra duduk sambil menunduk pula di hadapan Ki Jayaraga dan Glagah Putih. Dengan nada berat Glagah Putih pun berkata, “Kau sudah merasa benar-benar dewasa sekarang Sukra.”

Sukra tidak menjawab. Tetapi ia masih saja menundukkan kepalanya.

 “Masa-masa yang rumit yang sedang kau lewati sekarang Sukra. Kau berada di masa peralihan,” berkata Ki Jayaraga, “karena itu, kau harus menjadi sangat berhati-hati.”

Sukra menarik nafas panjang. Dengan nada, berat ia pun berkata, “Aku tidak tahu, kenapa ini harus terjadi.”

 “Memang bukan salahmu. Tetapi kau harus mulai berusaha untuk mengendalikan diri. Tidak hanya dalam persoalan seperti ini. Tetapi dalam persoalan-persoalan lain, kau juga harus mengendalikan dirimu.”

Sukra mengangguk. Namun sebelum ia sempat menjawab, mereka yang berada di gubug kecil itu melihat beberapa orang anak muda berlari-lari ke bulak. Dua orang di antara mereka pun segera mendapatkan Sukra yang meloncat turun dari gubug kecil itu.

Tetapi yang bertanya lebih dahulu adalah Glagah Putih, “Ada apa?”

 “Aku dengar, Sukra dikeroyok oleh anak-anak muda dari Krendetan. Untunglah disini ada kakang Glagah Putih dan Ki Jayaraga. Dimana anak-anak muda dari Krendetan itu?”

 “Tidak. Bukan begitu. Tidak ada yang mengeroyok Sukra.”

 “Jadi?”

 “Sukra memang berkelahi. Tetapi seorang melawan seorang.”

 “Lalu?”

 “Anak itu sudah pulang ke Krendetan.”

 “Anak-anak muda itu akan dapat mengancam dan pada suatu saat beramai-ramai menangkap Sukra.”

 “Apakah menurut dugaanmu mereka berani melakukannya?”

Anak muda itu termangu sejenak. Namun akhirnya ia pun menggeleng sambil berdesis, “Tidak, kakang. Mereka tidak akan berani melakukannya. Mereka tentu sudah tahu, bahwa mereka tidak dapat berbuat kasar terhadap penghuni Tanah Perdikan ini.”

 “Nah, aku sependapat. Karena itu aku masih menaruh hormat kepada anak muda yang datang menantang Sukra. Ia berniat bertemu dan berkelahi dengan Sukra, meskipun ia tahu, bahwa ada beberapa orang berilmu tinggi dan tidak mungkin dikalahkannya.”

Anak-anak muda itu pun mengangguk-angguk.

 “Sudahlah. Kembalilah ke kerjamu. Agar orang-orang Tanah Perdikan ini tidak menjadi gelisah.”

 “Baik, kakang,” jawab anak muda itu.

Anak-anak muda itu pun kemudian kembali menemui kawan-kawan mereka yang masih berada di jalan. Merekapun segera meninggalkan tempat itu, setelah kawannya itu memberikan penjelasan.

Namun peristiwa itu sempat menjadi bahan pembicaraan anak-anak muda di Tanah Perdikan Menoreh.

 “Anak Krendetan itu tentu terkejut menghadapi Sukra. Sukra yang tidak banyak tingkah laku memang memiliki ilmu yang semakin mapan. Ketika ia mengikuti pendadaran untuk menjadi Pengawal Tanah Perdikan, ia sudah menunjukkan beberapa kelebihan dari kawan-kawannya.”

 “Ya,” sahut yang lain, “tetapi aku yakin, bahwa anak-anak muda Krendetan menyadari, bahwa mereka tidak akan dapat mengganggu anak muda dari Tanah Perdikan ini. Kecuali jika anak Tanah Perdikan ini yang melakukan kesalahan.”

Sebenarnyalah, bahwa anak muda Krendetan itu tidak dapat mengingkari kenyataan. Ia tidak dapat mengalahkan Sukra. Jika ia kehilangan kendali dan minta kawan-kawannya membantunya melawan Sukra, akibatnya tentu akan sangat buruk bagi Krendetan. Anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh akan dapat membuat anak-anak muda Krendetan menyesali kekasaran mereka.

Dalam pada itu, Glagah Putih dan Rara Wulan tidak terlalu lama berada di bulak Rara Wulan pun kemudian pulang.

Bersama Supi, Witri dan seorang kawannya. Sedangkan di belakang mereka, beberapa orang perempuan telah pulang pula dari sawah. Di belakang mereka, Sukra berjalan bersama Glagah Putih. Sementara Ki Jayaraga masih saja tinggal di sawah. Karena kerja hanya sedikit, maka Ki Jayaraga sempat duduk-duduk bersandar tiang gubug kecil di tengah bulak itu.

Ketika angin semilir mengusap wajahnya, Ki Jayaraga menjadi mengantuk. Namun karena itu, maka ia pun segera meloncat turun dengan cangkul kecilnya yang bertangkai lebih panjang untuk membersihkan rumput yang tumbuh di sela-sela tanaman. Bahkan jika cangkulnya tidak dapat menyusup diantara batang-batang padi, maka Ki Jayaraga harus mencabuti dengan tangannya.

Di sepanjang jalan pulang, Glagah Putih sempat memberikan banyak pesan kepada Sukra. Glagah Putih memang tidak menyalahkan Sukra. Tetapi ia mencoba untuk mengendapkan perasaan anak muda itu agar tidak cepat terbakar.

 “Sabar memang harus dilatih,” berkata Glagah Putih, “namun jika kau sudah menyandangnya, maka ia akan tetap ada di dalam dirimu.”

Sukra mengangguk-angguk.

 “Sejak tiga hari lagi, aku akan pergi untuk waktu yang agak lama. Mungkin sebulan atau bahkan lebih. Kau harus selalu dekat dengan Ki Jayaraga yang akan dapat banyak memberikan petunjuk-petunjuk kepadamu.”

 “Ya, kakang.”

 “Kau sudah melewati masa membuka dan menutup pliridan di sungai. Kau sudah harus meninggalkan masa remajamu memasuki satu masa yang rumit. Memasuki usia dewasa kau akan melampaui satu masa yang banyak disebut sebagai masa pancaroba. Jika masa itu disadari, maka tidak akan terjadi banyak gejolak, karena kita sudah mempersiapkan kekang yang kuat bagi diri kita. Tetapi jika masa itu tidak disadari, maka masa itu akan dapat menyesatkan.”

Sukra mengangguk-angguk.

Ternyata Sukra selalu mengingat-ingat pesan Glagah Putih. Ia sudah tidak lagi nampak sangat kekanak-kanakan. Sukra pun selalu teringat pula pesan, agar tidak terlalu jauh dari Ki Jayaraga yang akan dapat memberinya banyak nasehat. Tentu saja juga Ki Lurah Agung Sedayu dan Nyi Lurah. Tetapi Ki Lurah di siang hari selalu berada di baraknya, sementara Nyi Lurah sibuk di dapur. Tetapi dalam keadaan yang penting, keduanya tentu akan bersedia memberikan waktu kepada Sukra.”

Dalam pada itu, Glagah Putih sendiri dan Rara Wulan pun telah memanfaatkan waktunya yang sempit itu untuk mempersiapkan diri. Rara Wulan benar-benar dapat menyelesaikan pakaian khususnya, sebelum ia harus memasuki masa penempaan diri. Masa latihan bagi pada prajurit dalam tugas khusus sebagai prajurit sandi.

Namun bagi Rara Wulan, beban terberat pada saat-saat latihan itu bukannya beban kewadagan. Banyak orang yang sudah tahu, bahkan para perwira di lingkungan pasukan khusus, bahwa Rara Wulan memiliki kemampuan yang tinggi, yang bahkan jauh di atas syarat yang ditentukan. Tetapi beban terberat bagi Rara Wulan adalah justru beban kejiwaan. Ia adalah satu-satunya perempuan dalam kelompok calon prajurit sandi itu. Meskipun para calon prajurit seperti juga para perwira sudah mengenalnya.

Meskipun tidak akan datang gangguan dari para calon prajurit yang lain, bahkan para perwira yang akan memberikan bimbingan, latihan, bahkan pembajaan diri sebagai prajurit sandi, namun kodratnya sebagai seorang perempuan memang berbeda dengan seorang laki-laki.

Namun Rara Wulan memang sudah bertekad bulat. Beban itu justru akan dapat menempanya untuk menjadi semakin tabah menghadapi berbagai macam gejolak di dalam tugasnya nanti.

Demikianlah, pada hari yang telah ditentukan, maka Glagah Putih dan Rara Wulan pun telah berangkat menuju ke Mataram. Mereka memilih berjalan kaki, agar mereka tidak menjadi repot mengurusi kuda-kudanya itu.

Keduanya justru berangkat ketika matahari sudah tinggi. Mereka akan sampai di Mataram di sore hari. Mereka akan bermalam di barak yang sudah disediakan, agar esok pagi, saat mereka mulai memasuki tempat latihan khusus bagi calon prajurit sandi, tidak terlambat.

Ki Lurah Agung Sedayu sudah memberitahukan kepada para prajuritnya, bahwa pada hari itu, ia akan datang sangat terlambat karena Ki Lurah akan melepas Glagah Putih dan Rara Wulan memasuki tempat latihan khusus bagi calon prajurit sandi.

Ki Lurah Agung Sedayu, Sekar Mirah, Ki Jayaraga dan bahkan Sukra telah melepas Glagah Putih dan Rara Wulan di regol halaman rumahnya. Keduanya, dengan membawa keba pandan yang berisi pakaian seperlunya saja, melangkah dengan tegar menuju ke Mataram Keduanya melambaikan tangan mereka, pada saat mereka melangkah semakin jauh dan bahkan kemudian keduanya pun telah menghilang di tikungan.

Sekar Mirah menarik nafas panjang. Nampak kerut di dahinya menjadi semakin dalam. Bahkan kemudian terdengar ia berdesis perlahan, “Aku ingin Glagah Putih dan Rara Wulan pada suatu saat, akan tinggal di rumah dalam suasana kekeluargaan yang utuh.”

Ki Lurah Agung Sedayu pun telah menjadi peka pula. Ia mengerti kemana arah pernyataan Sekar Mirah itu. Agaknya Sekar Mirah ingin melihat seorang bayi yang dilahirkan oleh Rara Wulan, sehingga Sekar Mirah akan dapat ikut mengaku, bayi itu sebagai anaknya sendiri.

Tetapi Ki Lurah Agung Sedayu hanya dapat menyerahkan segala sesuatunya kepada pepesthen yang tentu dijiwai oleh kebijaksanaan yang tinggi yang kadang-kadang tidak segera dapat dimengerti.

Demikianlah, maka Glagah Putih dan Rara Wulan pun berjalan dengan cepat di teriknya sinar matahari yang menjadi semakin tinggi. Beberapa orang yang ditemuinya di jalan, telah menyapanya. Seorang laki-laki yang terhitung masih muda, sebaya dengan Glagah Putih yang berpapasan di bulak, bertanya, “Kalian mau kemana?”

 “Kami akan pergi ke Mataram.”

 “Kalian tentu akan berada di Mataram untuk waktu yang lama. Bahkan mungkin kalian akan pergi ke tempat yang lain lagi.”

 “Kenapa?”

 “Kalian tidak berkuda. Biasanya jika kalian pergi tanpa kuda, kalian akan pergi untuk waktu yang lama. Bahkan mungkin kalian akan ikut dalam sepasukan prajurit yang akan melawat ke daerah lain.”

 “Jika aku pergi melawat bersama para prajurit, biasanya aku pergi bersama kakang Lurah Agung Sedayu.”

 “O, ya, Jadi kenapa kalian tidak berkuda?”

 “Kami memang ingin berjalan-jalan.”

Laki-laki itu tertawa. Katanya, “Ya. Mumpung panas matahari serasa membakar tubuh.”

Glagah Putih dan Rara Wulan pun tertawa pula.

Demikianlah, maka keduanya pun melanjutkan perjalanan. Beberapa saat kemudian, mereka telah mendekati tepian Kali Praga.

Di siang yang terik itu, memang tidak terlalu banyak orang yang menyeberang. Baik yang menyeberang ke Timur, maupun yang menyeberang ke Barat.

Karena itu, maka demikian Glagah Putih dan Rara Wulan sampai ke pinggir Kali Praga, sebuah rakit yang telah terisi oleh beberapa orang telah siap untuk menyeberang.

Glagah Putih dan Rara-Wulan pun segera naik pula. Diantara mereka yang menyeberang dalam rakit itu terdapat sepasang pengantin baru. Masih nampak pada dahi pengantin perempuan, bekas paes serta rambutnya yang dipotong ujungnya pada saat wajahnya dirias.

Keduanya pun duduk di ujung rakit, sementara orang-orang lain tiba-tiba bangkit berdiri, mendekati kedua tukang satang di kedua ujung rakit itu sambil menodongkan pisaunya.

 “Bawa rakit ini sedikit ke hilir, Ki Sanak. Cari tempat yang sepi, kemudian menepi.”

 “Kenapa?” bertanya tukang satang yang ada di ujung depan.

 “Kau tidak usah bertanya. Dengar dan lakukan perintahku.”

Kedua tukang satang itu tidak dapat berbuat apa-apa. Sejenak kemudian, maka arah rakit itu pun mulai menyimpang.

Rakit yang ada di seberang, yang sudah mulai beranjak dari tepian, melihat arah rakit yang menyimpang itu. Namun mereka pun melihat, bahwa dua orang telah menodongkan pisaunya kepada dua orang tukang satang yang ada di rakit itu.

Karena itu, maka tukang satang di rakit yang menyeberang dari arah yang berlawanan itu tidak dapat berbuat apa-apa. Jika mereka berbuat sesuatu, maka mungkin sekali, kawannya yang ditodong dengan pisau itu akan mengalami kesulitan.

Demikianlah, maka rakit itu pun kemudian telah bergerak ke hilir. Seperti yang dikatakan oleh orang yang menodongkan pisaunya kepada tukang satang itu, bahwa rakit itu hendaknya dibawa ke hilir. Kemudian mencari tempat yang sepi untuk menepi.

Maksud kedua orang yang menodongkan pisaunya itu sudah jelas. Mereka akan merampok orang-orang yang berada di rakit itu. Terutama sepasang pengantin baru itu. Pengantin perempuan masih mengenakan berbagai macam perhiasan. Gelang, kalung, subang dan berbagai macam perhiasan yang lain. Sedangkan pengantin laki-lakinya, mengenakan timang emas yang mahal.

 “Tidak hanya Yu Santa yang mengalami,” desis Rara Wulan hampir berbisik.

Glagah Putih mengangguk.

Tiba-tiba saja orang yang menodongkan pisau kepada tukang satang yang berada di ujung depan itu pun berteriak, “Berhenti disini. Menepi diantara semak-semak itu.”

 “Rakitnya tidak dapat menepi Ki Sanak. Ada semacam rawa-rawa. Mereka yang turun dari rakit, akan masuk ke dalam rawa-rawa yang diam. Semak-semak itu adalah tumbuh-tumbuhan air.”

 “Jadi di mana kita dapat menepi?”

 “Sebentar lagi. Ada tepian berpasir meskipun sempit.”

 “Jangan membohongi kami, Ki Sanak Kami akan dapat melubangi perutmu.”

 “Tidak. Kami tidak berani membohongi kalian.” Sementara itu, sepasang pengantin baru itu pun sudah mulai gemetar. Seorang laki-laki separo baya yang berjalan bersama nampaknya juga menjadi ketakutan. Orang itu tidak mengenakan perhiasan seperti pengantin laki-laki. Tetapi ia mengenakan keris yang pendoknya terbuat dari emas. Pendok yang tentu sangat mahal harganya.

Sedangkan beberapa orang yang lain pun menjadi ketakutan pula. Meskipun mereka tidak membawa harta benda yang mahal harganya seperti sepasang pengantin baru itu, namun jika mereka harus menyerahkan bekal yang mereka bawa, maka mereka pun akan mengalami kesulitan diperjalanan selanjutnya. Sedangkan seorang diantara mereka adalah seorang saudagar lembu yang membawa banyak uang dari hasil penjualan lembunya

Glagah Putih dan Rara Wulan pun duduk sambil menundukkan kepala mereka. Mereka tidak ingin menarik perhatian kedua orang yang menodongkan pisaunya kepada kedua orang tukang satang itu.

Beberapa saat kemudian, ketika orang yang menodongkan pisaunya itu melihat tepian berpasir yang sempit, maka ia pun segera berteriak, “berhenti. Sekarang menepi.”

Kedua tukang satang itu tidak dapat menolak. Meskipun tukang satang itu pun berkata, “Di sebuah tepian yang sempit itu, terdapat rumpun-rumpun pandan yang rapat. Sulit bagi kalian untuk mencari jalan ke luar kecuali lewat air.”

 “Aku tidak peduli,” geram orang yang menodongkan pisau itu.

Rakit itu pun kemudian telah menepi. Demikian rakit itu berhenti, maka orang yang menodongkan pisaunya kepada tukang satang yang ada di ujung rakit itu pun berkata, “Turun. Semuanya turun.”

Untuk beberapa saat, orang-orang yang berada di atas rakit itu pun tidak beranjak dari tempatnya. Namun kedua orang itu pun kemudian menyarungkan pisaunya dan menarik goloknya yang besar sambil berteriak, “Cepat turun.”

Orang-orang yang ada di rakit itu pun mulai bergerak. Tubuh mereka gemetar, sedangkan wajah-wajah pun menjadi pucat.

 “Jika semuanya sudah turun, maka rakit itu harus pergi,” teriak orang itu pula, “jika rakit itu tidak pergi, maka aku akan membunuh kedua tukang satang itu.”

Tidak ada yang menjawab. Tukang satang itu pun menjadi ketakutan pula.

Namun sebelum orang-orang yang berada di atas rakit itu turun, maka Glagah Putih pun berkata, “Jangan turun. Rakit ini pun jangan pergi lebih dahulu. Biarlah kami berdua yang turun.”

Kedua orang yang membawa golok itu terkejut. Justru karena itu, maka keduanya pun terdiam sejenak. Sementara itu Glagah Putih dan Rara Wulan sudah meloncat turun.

 “Apa maumu, Ki Sanak?” geram salah seorang yang membawa golok itu, “apakah kau ingin disebut pahlawan. Tetapi jika kau mati disini, tidak akan ada yang sempat membawa mayatmu pergi. Kau akan berkubur di sini dan tidak akan ada yang datang mengunjungi makammu sebagai makam seorang pahlawan.”

 “Apa salahnya menjadi pahlawan? Aku tidak akan menjadi ketakutan disebut pahlawan. Tetapi yang aku tidak ingin adalah mati disini.”

 “Persetan. Ternyata kau adalah orang yang sangat sombong. Kau akan menyesali kesombonganmu itu. Dan jika kau tidak minggir, kami benar-benar akan membunuhmu.”

 “Sudahlah. Hari sudah terlalu siang untuk banyak berbicara di sini. Sekarang kau harus naik lagi ke rakit. Kami akan pergi ke Mataram. Kalian berdua akan kami bawa ke Mataram agar kalian ditangkap dan dipenjarakan. Dengan demikian, penyeberangan ini akan menjadi aman.”

Kedua orang yang memegang golok yang sudah meloncat turun ke tepian itu, memandang Glagah Putih dan Rara Wulan dengan heran. Ada juga orang yang benar-benar berani menentang mereka, meskipun mereka sudah memegang golok yang besar di tangannya.

 “Jadi kalian benar-benar ingin disebut pahlawan? Baik. kalian akan benar-benar mati disini. Mungkin kalian tidak mempunyai barang berharga yang dapat kami ambil. Itu tidak mengapa, karena kami akan mengambil nyawa kalian.”

 “Ya. Kami memang ingin menjadi pahlawan. Seorang pahlawan dalam dongeng kanak-kanak akan selalu memenangkan perkelahian melawan penjahat yang paling garang sekalipun. Nah, sekarang aku ingin membuktikannya.”

Kedua orang itu menjadi sangat marah. Merekapun segera bergeser mengambil jarak di antara mereka.

Agaknya Rara Wulan merasa masih belum perlu melibatkan diri. Ia pun berdesis di telinga Glagah Putih, “Kakang akan dapat menyelesaikan mereka sendiri. Aku akan menunggu jika ada di antara mereka berdua yang curang dengan menyerang orang-orang yang masih berada di rakit. Bahkan mungkin mengancam mereka untuk memaksa kakang untuk tidak memberikan perlawanan.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Baik. Berhati-hatilah. Jangan sampai salah seorang dari mereka naik ke atas rakit.”

Demikianlah, maka Glagah Putih pun segera bersiap menghadapi kedua orang yang bersenjata golok itu. Sementara Rara Wulan justru melangkah surut mendekat di depan rakit yang masih berhenti di tepian.

Sejenak kemudian, maka kedua orang yang bersenjata golok itu pun segera berloncatan menyerang Glagah Putih. Mereka berniat dengan cepat menyelesaikan orang yang berniat menghalangi niat mereka merampas perhiasan sepasang pengantin baru itu, serta apa saja yang dimiliki oleh para penumpang rakit itu.

Namun Glagah Putih dengan tangkasnya mengelak. Serangan-serangan itu sama sekali tidak menyentuhnya. Bahkan dengan cepat Glagah Putih melenting. Satu kakinya terjulur lurus menerpa dada seorang di antara keduanya.

Orang itu pun terpelanting jatuh di pasir tepian. Namun kawannya tidak membiarkannya. ia pun dengan cepat mengayunkan goloknya mengarah ke leher Glagah Putih.

Dengan kecepatan yang lebih tinggi Glagah Putih merendah. Demikian golok itu terayun di atas kepalanya, maka kaki Glagah Putih telah terjulur menghantam lambungnya.

Orang itu pun terdorong beberapa langkah surut. Tetapi ia masih mampu mempertahankan keseimbangannya, sehingga ia tidak jatuh terkapar.

Sejenak kemudian, keduanya pun telah berdiri tegak. Dalam sekejap keduanya telah bersiap untuk menyerang Glagah Putih.

Namun Glagah Putih telah memegangi ikat pinggangnya. Karena itu, maka perlawanannya pun menjadi semakin sengit.

Dalam pertempuran yang semakin cepat, kedua orang yang memegang golok di tangannya itu justru menjadi semakin bingung. Setiap kali ayunan goloknya telah membentur ikat pinggang Glagah Putih. Ternyata bahwa golok mereka yang membentur ikat pinggang itu, rasa-rasanya bagaikan telah membentur dinding baja.

 “Gila orang ini. Ujud senjatanya tidak lebih dari ikat pinggang kulit. Tetapi kekuatannya ternyata melampaui senjata yang terbuat dari baja pilihan.”

Dengan demikian, maka kedua orang itu semakin lama justru menjadi semakin terdesak. Glagah Putih yang tidak mempunyai banyak waktu itu pun segera menekan mereka. Bahkan ketika ikat pinggang kulitnya menyentuh lengan seorang diantara kedua orang yang bersenjata golok itu, maka sebuah goresan telah melukai lengannya.

Orang itu berloncatan surut. Demikian ia meraba lengannya, maka ia pun menggeram, “Anak iblis. Aku bunuh kau.”

Glagah Putih tidak menyahut. Tetapi ia pun telah berloncatan menyerang kedua orang lawannya yang semakin terdesak.

 “Menyerahlah. Aku akan membawa kalian ke Mataram, karena aku memang akan pergi ke Mataram.”

 “Persetan,” geram salah seorang diantara keduanya, “jangan menghina kami.”

Glagah Putih tidak menjawab. Namun ia pun maju selangkah-selangkah mendekati orang yang berbicara itu.

Ternyata apa yang diperhitungkan Rara Wulan itu pun benar-benar akan terjadi. Ketika keduanya tidak lagi dapat mengingkari kenyataan, bahwa lawan mereka itu memiliki ilmu yang tidak dapat mereka atasi, maka seorang diantara mereka justru menunjukkan sikap yang mencurigakan.

Dengan demikian, maka Rara Wulan pun telah menyingsingkan kain panjangnya, sehingga yang dikenakannya kemudian adalah pakaian khususnya.

Namun agaknya orang yang bersikap mencurigakan itu tidak begitu memperhatikannya sehingga ia tidak tanggap sama sekali.

Dengan tanpa menghiraukan Rara Wulan, maka orang itu pun dengan sigapnya meloncat ke arah rakit yang masih berhenti di tepian itu.

Orang-orang yang berada di rakit itu pun menjadi sangat cemas. Orang itu akan dapat mengancam seisi rakit itu, sehingga orang yang sedang bertempur di tepian itu berhenti.

Tetapi sebelum orang itu sampai ke rakit yang berhenti di tepian, tiba-tiba saja orang itu telah terpental beberapa langkah. Bahkan kemudian ia terjatuh berguling di pasir tepian.

Dengan cepat orang itu bangkit berdiri. Dipandanginya perempuan yang mengenakan pakaian khusus itu dengan tajamnya.

Rara Wulan pun melangkah mendekatinya sambil bertanya, “Kau mau kemana?”

 “Persetan iblis betina. Kau mau apa?”

 “Kau tentu akan berbuat curang. Kau akan naik ke rakit dan mengancam orang-orang yang ada diatasnya, agar orang yang bertempur melawan kawanmu itu berhenti dan membiarkan kalian berbuat sekehendak kalian dengan taruhan orang-orang yang berada di atas rakit.”

 “Jadi kau akan melindungi mereka?”

 “Bukankah itu sudah kami lakukan sejak awal dan bahkan suamiku telah bertempur melawan kawanmu itu. Sebentar lagi kawanmu itu tentu tidak akan berdaya lagi. Kami akan membawamu ke Mataram dan menyerahkanmu kepada prajurit Mataram, agar kalian dihukum sehingga menjadi jera untuk menyamun lagi.”

 “Cukup. Aku akan mengoyak mulutmu. Melekatkan golokku di lehermu. Jika laki-laki itu tidak mau menghentikan pertempuran, maka kau akan mati.”

 “Apakah begitu mudah bagimu untuk melakukannya? Atau sekedar omong kosong saja?”

Orang itu pun segera meloncat menyerang Rara Wulan. Goloknya yang besar itu pun terayun dengan derasnya, mengarah ke leher Rara Wulan.

Tetapi Rara Wulan bergerak dengan cepat, sehingga golok itu tidak menyentuhnya. Bahkan sebelum orang itu sempat mempersiapkan diri, justru kaki Rara Wulan lah yang terjulur dengan derasnya mengenai lambung orang itu.

Sekali lagi orang itu pun jatuh berguling di pasir tepian. Namun ia tidak lagi mampu bangkit dengan serta merta. Ketika ia berusaha untuk berdiri, maka terasa lambungnya itu sangat kesakitan.

Meskipun demikian, orang itu pun akhirnya berdiri tegak pula sambil berdesah.

 “Aku masih memberimu kesempatan untuk menyerah,” berkata Rara Wulan, “jika kau tidak mempergunakan kesempatanmu yang terakhir ini, maka kau akan menyesal.”

Tetapi orang itu tidak menghiraukannya. Dengan cepat orang itu menjulurkan goloknya ke arah dada Rara Wulan.

Tetapi Rara Wulan pun bergeser ke samping, sehingga golok itu tidak melukainya. Bahkan demikian golok itu terjulur lurus, Rara Wulan pun mengayunkan tangannya mengenai tengkuk lawannya. Demikian kerasnya sehingga orang itu pun jatuh terjerembab. Wajahnya terpuruk ke dalam pasir tepian. Kerikil-kerikil yang bertebaran diantara pasir itu telah membuat wajahnya dan terutama dahinya kesakitan.

Bahkan ketika orang itu berusaha untuk bangkit, kaki Rara Wulan telah menginjak punggungnya. Dengan nada berat Rara Wulan pun berkata, “Katakan, kau menyerah atau tidak. Jika kau tidak menyerah, maka kakiku akan membenamkan kepalamu ke dalam pasir.”

Orang itu mengangkat wajahnya yang kotor berpasir itu sedikit. Tetapi ia tidak segera menjawab.

 “Cepat. Jawab. Kau menyerah atau tidak?” Orang itu masih berdiam diri.

 “Jika kau tidak segera menjawab, maka aku benar-benar akan menginjak kepalamu.”

Dalam pada itu orang itu pun melihat, bahwa kawannya-pun sudah tidak berdaya. Orang itu duduk bersimpuh di pasir tepian. Di belakangnya Glagah Putih berdiri sambil bertolak pinggang.

Karena itulah, maka orang itu pun berkata, “Baik. Baik. Aku menyerah.”

Rara Wulan pun mengangkat kakinya, sehingga orang itu pun kemudian bangkit dan duduk di atas pasir.

 “Lemparkan golokmu.”

Orang itu pun kemudian melemparkan goloknya.

 “Kita akan bersama-sama pergi ke Mataram,” berkata Rara Wulan kemudian.

Orang itu tidak menjawab. Sementara itu Glagah Putih pun berkata, “Kita akan naik ke rakit. Kita akan pergi ke penyeberangan. Kemudian kita akan turun di sisi sebelah timur.”

Kedua orang itu tidak menjawab lagi. Keduanya pun kemudian bangkit berdiri. Namun mereka tidak lagi memungut golok-golok mereka.

Sejenak kemudian mereka pun telah digiring naik ke rakit. Keduanya pun kemudian diminta duduk di ujung rakit di bawah pengawasan Glagah Putih dan Rara Wulan.

Kepada kedua tukang satang rakit itu, Glagah Putih berkata. “Kita kembali ke penyeberangan, Ki Sanak.”

Kedua orang tukang satang itu pun kemudian beringsut dari tepian yang sepi itu. Kedua tukang satang itu pun mendorong rakitnya agak ke tengah, kemudian menentang arus sungai, bergerak ke penyeberangan.

Tetapi agaknya arus Kali Praga menjadi agak besar. Agaknya ada hujan di arah ujung sungai, sehingga arusnya lebih deras dari biasanya.

Dengan demikian, maka kedua orang tukang satang itu harus bekerja keras untuk dapat membawa rakitnya melawan aliran Kali Praga itu.

Namun yang tidak diduga telah terjadi. Tiba-tiba saja seorang diantara kedua orang yang gagal merampok itu pun telah meloncat terjun ke sungai yang arusnya cukup besar itu.

Orang-orang yang ada di rakit itu terkejut. Kawannya pun kemudian berteriak-teriak, “Kakang, kakang.”

Orang yang terjun itu mencoba berenang. Tetapi arus sungai itu menyeretnya justru ke tengah.

Kedua orang tukang satang itu menjadi bimbang. Seorang diantara mereka berkata, “Kita akan menyusulnya.”

Tetapi kawannya yang lebih tua menjawab, “tetapi apakah kita akan dapat menguasai rakit kita jika rakit ini meluncur dengan kecepatan tinggi pada arus yang kuat ini?”

Kawan yang lebih muda itu menjadi semakin ragu. Sementara itu para penumpang yang lain telah menjadi ketakutan. Sedangkan penyamun yang seorang lagi masih saja berteriak, “Kakang, kakang. Kembalilah. Kau akan dihanyutkan arus.”

Orang yang terjun ke sungai itu masih mencoba untuk berenang. Tetapi agaknya sulit baginya untuk mengatasi aliran air yang deras. Bahkan sangat sulit baginya untuk berenang menepi, sehingga semakin lama ia justru menjadi semakin ke tengah.

Tidak ada yang dapat menolongnya. Kedua tukang satang itu tidak berani meluncurkan rakitnya memburu orang itu. Jika rakit itu nanti tidak dapat dikuasainya, maka para penumpang yang masih ada di atas rakit itu, akan menjadi korban pula.

Glagah Putih dan Rara Wulan pun menjadi berdebar-debar pula. Mereka memang pandai berenang. Merekapun memiliki tenaga dalam yang kuat, jauh melampaui tenaga dan kekuatan orang kebanyakan. Sehingga jika keduanya terhempas ke dalam aliran sungai yang kuat itu, masih ada kemungkinan bagi mereka untuk berenang menepi meskipun tentu agak jauh ke hilir karena dorongan arus air yang kuat. Tetapi Glagah Putih dan Rara Wulan itu kurang yakin, apakah ia dapat menolong orang yang meloncat ke dalam air itu.

Karena itu, seperti tukang satang itu, keduanya pun menjadi bimbang.

Dalam pada itu, orang yang meloncat ke dalam air itu sudah menjadi semakin jauh dan justru menjadi semakin ke tengah.

Akhirnya tukang satang yang lebih tua itu pun berkata. “Kita akan melanjutkan pekerjaan kita. Kita pergi ke penyeberangan. Mudah-mudahan air tidak menjadi bertambah besar.”

Tukang satang yang muda tidak membantah. Mereka pun kemudian mendorong rakit mereka semakin maju menuju ke penyeberangan.

Ketika rakit itu mendekati penyeberangan, maka beberapa orang yang berada di sisi Barat dan Timur Kali Praga berdiri termangu-mangu di tepian.

Bahkan rakit yang lain yang telah sampai ke sisi Barat Kali Praga, masih tetap berada di tepian meskipun sudah penuh dengan penumpang. Tetapi karena air mengalir lebih deras, maka jumlah penumpangnya agak disusut, agar tugas para tukang satangnya tidak menjadi terlalu berat. Serta goncangan air tidak terasa terlalu kuat.

Tetapi agaknya tukang satangnya masih ingin tahu, apa yang terjadi dengan kawan-kawannya yang berada di atas rakit yang telah ditodong dengan pisau oleh dua orang perampok.

Ketika mereka melihat rakit itu bergerak menentang arus mendekati penyeberangan justru ke sisi sebelah Timur, maka rakit yang satu itu pun mulai bergerak pula.

 “Apa yang telah terjadi dengan rakit itu?” orang-orang yang ada di kedua sisi Kali Praga dan bahkan yang telah berada di atas rakit yang mulai bergerak menyeberang itu saling bertanya yang satu kepada yang lain.

Ternyata rakit yang menentang aliran air itu berjalan sangat lambat. Namun akhirnya rakit itu pun sampai di tepian tempat penyeberangan hampir bersamaan waktunya dengan rakit yang menyeberang dari sisi Barat.

Beberapa orang yang berada di tepian sebelah Timur, serta mereka yang baru saja turun dari rakit yang menyeberangkan mereka dari sisi Barat, segera mengerumuni rakit itu.

Beberapa orang penumpang rakit itu pun berloncatan turun. Demikian pula Glagah Putih dan Rara Wulan serta seorang dari kedua perampok yang telah mereka tangkap itu.

Kedua tukang satang yang baru menyeberang dari sisi Barat, setelah menambatkan rakit mereka, juga telah mendatangi kawan mereka, tukang rakit yang baru saja ditodong pisau itu.

Salah seorang dari tukang rakit itulah yang kemudian menceriterakan apa yang telah terjadi. Sejak mereka ditodong dengan pisau belati, hingga salah seorang perampok itu terjun ke dalam air, hingga mereka kembali ke tempat penyeberangan itu.

Tetapi para penumpang pun ternyata tidak hanya diam saja. Merekapun telah ikut pula bercerita tentang apa yang telah mereka alami.

Sepasang pengantin baru yang disertai oleh seorang laki-laki separo baya itu pun juga bercerita sepotong-sepotong kalau ada orang yang bertanya langsung kepada mereka.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Glagah Putih dan Rara Wulan pun telah minta diri kepada kedua orang tukang satang serta orang-orang yang masih berkerumun, setelah Glagah Putih memberikan upah penyeberangan yang lebih dari biasanya.

Tetapi tukang satang yang tua, yang menerima uang itu pun berkata, “Ki Sanak. Kau memberikan uang terlalu banyak. Bukankah kau hanya berdua saja?”

 “Ya. Kami hanya berdua.”

 “Karena itu, uangmu terlalu banyak.”

 “Tetapi kau bekerja lebih keras dari biasanya, Ki Sanak. Bahkan berbahaya pula.”

 “Bukan salahmu. Bahkan kau telah menyelamatkan beberapa orang dari kejahatan yang akan dilakukan oleh kedua orang itu. Bahwa yang seorang telah terjun ke air, itu juga bukan salahmu.”

 “Sudahlah. Bawalah. Mungkin kau memerlukannya.”

Tukang satang itu menarik nafas panjang. Katanya, “Terima kasih, Ki Sanak. Bukan hanya aku. Tetapi para penumpang yang lain juga berterima kasih kepada Ki Sanak.”

Sepasang pengantin baru itu pun kemudian mendekati Glagah Putih dan Rara Wulan pula. Suaminya pun kemudian berkata, “Kami berdua sangat berterima kasih kepada Ki Sanak berdua. Jika tidak ada kalian, mungkin kami tidak mempunyai perhiasan lagi.”

 “Kalian tidak perlu mengenakan perhiasan berlebihan itu sepanjang jalan,” berkata Rara Wulan.

 “Aku mengerti,” jawab pengantin baru itu.

Sementara itu saudagar yang membawa banyak uang itu pun berkata, “Ki Sanak. Biarlah aku yang membayar upah penyeberangan. Kalian telah menyelamatkan uangku pula.”

 “Sudahlah. Jangan berlebihan. Adalah kewajiban setiap orang untuk menangkap penjahat. Kami berdua sekarang akan pergi ke Mataram. Aku akan membawa penjahat yang seorang ini.”

Kedua tukang satang dan orang-orang yang berkerumun itu tidak dapat menahan Glagah Putih dan Rara Wulan. Mereka kemudian hanya dapat memandangi kedua orang suami isteri itu berjalan melintasi tepian berpasir sambil menggiring seorang diantara kedua orang penjahat yang berusaha untuk merampok orang-orang yang naik rakit menyeberangi Kali Praga itu.

Demikianlah, maka Glagah Putih dan Rara Wulan berjalan dengan cepat menuju ke Mataram. Perjalanan mereka telah terhambat beberapa lama di penyeberangan, sementara perjalanan mereka masih agak jauh.

Bersama mereka adalah salah seorang dari kedua orang perampok yang telah kehilangan kawannya, terseret arus kali Praga pada saat ia berusaha melarikan diri. Ia mengira bahwa ia akan dapat mengalahkan arus yang kuat dan berenang menepi. Tetapi agaknya arus itu terlalu kuat.

Perampok yang seorang, yang harus ikut pergi ke Mataram, tidak dapat mengelak lagi. Ia harus mempertanggungjawabkan kejahatan yang telah diperbuatnya, seorang diri.

Mereka bertiga itu pun harus berjalan cepat agar mereka tidak kemalaman di perjalanan. Mereka tidak lagi berhenti di perjalanan. Sementara matahari pun semakin lama menjadi semakin rendah.

Menjelang matahari turun di sisi Barat cakrawala dan hinggap di punggung bukit, maka mereka bertiga telah memasuki pintu gerbang kota. Glagah Putih pun langsung pergi ke sebuah gardu yang berada di bagian dalam pintu gerbang untuk menemui Lurah Prajurit yang bertugas.

Kepada Lurah Prajurit itu Glagah Putih telah menyerahkan perampok yang dibawanya dari tepian Kali Praga, dengan keterangan singkat tentang apa yang sudah dilakukan oleh orang itu.

 “Siapakah kalian berdua Ki Sanak?” bertanya Lurah Prajurit itu.

 “Kami adalah calon prajurit yang harus mengikuti latihan untuk memahami tugas-tugas kami mulai esok pagi.”

 “O,” agaknya Lurah Prajurit itu mengetahui tentang latihan yang akan diselenggarakan bagi para prajurit sandi.

Namun seorang prajurit yang lain bertanya, “Kalian berdua, atau perempuan itu sekedar mengantarmu sampai ke barak.”

 “Kami berdua.”

Sebelum prajurit itu bertanya, Lurah Prajurit itu pun berkata, “Aku juga mendengar, bahwa ada seorang perempuan yang akan mengikuti latihan itu.”

 “Ya, perempuan inilah yang akan ikut serta. Perempuan ini adalah isteriku. Jadi kami berdua, suami isteri, akan ikut serta dalam latihan itu.”

Lurah Prajurit itu tersenyum. Katanya, “Baiklah. Mudah-mudahan kalian dapat mengikuti latihan-latihan itu dengan baik, sehingga kalian benar-benar dapat diterima menjadi prajurit dalam tugas sandi.”

 “Terima kasih,” sahut Glagah Putih. Lalu katanya, “Sekarang kami minta diri. Jika kemudian diperlukan, kami akan siap menjadi saksi. Kedua orang tukang satang itu pun tentu tidak akan berkeberatan pula untuk menjadi saksi.”

 “Baiklah. Tinggalkan orang itu di sini. Kami akan menyerahkannya kepada yang akan mengurusnya lebih lanjut.”

Glagah Putih dan Rara Wulan pun kemudian meninggalkan gardu itu langsung menuju ke barak yang disediakan bagi calon prajurit dalam tugas sandi itu.

Menjelang senja, maka Glagah Putih dan Rara Wulan telah memasuki baraknya. Beberapa orang ternyata telah datang lebih dahulu. Namun ada pula yang masih belum datang.

Sebelum orang-orang yang lain berdatangan, maka setelah beristirahat sejenak, Rara Wulan pun langsung pergi ke pakiwan untuk mandi, bergantian dengan Glagah Putih.

Sebenarnyalah maka beberapa saat kemudian, maka para calon prajurit yang akan mengikuti penempaan diri itu pun berdatangan. Namun mereka sudah saling mengenal, sehingga suasananya pun justru menjadi meriah, seolah-olah sekelompok orang yang sudah lama tidak saling bertemu, berkumpul dalam satu acara yang khusus.

Rara Wulan pun tidak lagi merasa janggal berada di antara mereka. Semua orang telah mengenalnya, bahkan semua orang sudah mengerti kelebihan sepasang suami isteri itu. Cerita tentang mereka telah tersebar ke setiap telinga, sehingga orang-orang yang akan mengikuti latihan dasar prajurit sandi itu pun menghormatinya.

Meskipun demikian masih saja sulit bagi Rara Wulan untuk menjadi luluh diantara mereka. Ia tidak dapat melupakan bahwa dirinya adalah seorang perempuan.

Sejak malam itu, para calon prajurit yang akan memasuki tugas sandi itu pun sudah berada dalam satu lingkungan yang tinggal dalam satu barak. Namun ternyata bahwa mereka tetap saja menyadari, bahwa ada seorang perempuan diantara mereka. Dalam keadaan tertentu para calon prajurit itu masih juga mampu mengendalikan pembicaraan-pembicaraan mereka, meskipun kadang-kadang terloncat juga kata-kata yang agak menggelitik di saat mereka berkelekar.

Tetapi Rara Wulan dapat memaklumi. Karena itu, maka ia pun pura-pura tidak mendengar. Bahkan jika masih ada kesempatan Rara Wulan pun merasa lebih baik menghindar, agar para calon prajurit itu tidak merasa sangat terkekang karena keberadaannya.

Ternyata yang diserahi untuk memimpin pelaksanaan latihan dasar keprajuritan bagi para calon prajurit sandi itu masih juga Ki Tumenggung Purbasena yang memimpin pendadaran bagi para calon itu. Ki Tumenggung masih juga dibantu oleh para perwira yang ikut dalam pendadaran beberapa hari yang lalu.

Karena itu, maka para pelatih dalam latihan dasar tersebut dengan para calon prajurit itu pun merasa sudah saling mengenal pula. Merekapun mengetahui secara umum, rata-rata kemampuan para calon prajurit yang akan mereka pakai sebagai landasan langkah mereka dalam penempaan diri selanjutnya bagi calon prajurit itu.

Namun dengan demikian, maka Glagah Putih dan Rara Wulan masih juga cemas, bahwa Ki Tumenggung Purbasena itu akan mengambil langkah-langkah yang dapat merugikan mereka.

Tetapi Glagah Putih dan Rara Wulan sudah bertekad, jika memang mereka terpaksa minggir dari lingkungan keprajuritan karena tindakan Ki Tumenggung Purbasena, apa boleh buat.

Namun mereka tidak akan bersedia untuk merendahkan harga diri mereka untuk kepentingan apapun dalam hubungannya dengan niat mereka menjadi seorang prajurit.

Malam itu, seorang Rangga telah hadir di barak para calon prajurit itu. Kepada mereka, Ki Rangga pun memberikan beberapa penjelasan tentang pelaksanaan latihan dasar keprajuritan serta tugas-tugas sandi yang harus mereka lakukan.

 “Yang terpenting, bahwa kalian harus menepati segala ketentuan dan paugeran. Jumlah kita tidak terlalu banyak. Ternyata sampai pada saat terakhir, jumlah para peserta latihan ada hanya tujuh belas orang. Karena itu, maka pelanggaran atas ketentuan dan paugeran akan segera dapat dilihat. Kalian tidak boleh mengelakkan tugas yang dibebankan kepada kalian. Kalian pun tidak boleh membantah setiap perintah yang harus kalian lakukan. Kalian pun harus menerima dengan ikhlas semua hukuman yang dijatuhkan atas diri kalian jika kalian melakukan kesalahan.”

Para calon prajurit itu mendengarkan penjelasan itu dengan sungguh-sungguh.

Kemudian Ki Rangga itu pun kemudian berkata, “Nah sekarang kalian boleh beristirahat. Esok pagi, pada saat terdengar isyarat suara kentongan yang-pertama, kalian harus bangun, mandi dan berbenah diri. Isyarat suara kentongan kedua, kalian harus pergi ke dapur untuk minum dan makan pagi. Kemudian isyarat suara kentongan untuk ketiga kalinya, kalian harus sudah siap di alun-alun pungkuran untuk mendapatkan penjelasan. Namun pada hari kedua dan seterusnya, kalian tidak harus melakukan hal yang sama. Tetapi kalian justru harus bangun lebih pagi. Kalian harus melakukan pemanasan bersama dibawah pimpinan seorang perwira. Baru kemudian kalian beristirahat, mandi dan berbenah diri. Kemudian kalian tidak perlu pergi ke alun-alun pungkuran. Setiap hari kalian akan mendapatkan petunjuk tentang acara di hari berikutnya.”

Para calon prajurit itu mengangguk-angguk kecil.

Namun Rara Wulan lah yang harus berpikir, mencari jalan ke luar, khususnya tentang mandi dan berbenah diri justru setelah melakukan pemanasan di pagi hari.

 “Biarlah aku bicara dengan kakang Glagah Putih,” berkata Rara Wulan di dalam hatinya.

Demikianlah, maka Ki Rangga itu pun segera meninggalkan barak itu. Ia memberi kesempatan agar para calon prajurit setelah makan malam dapat segera beristirahat Mereka yang baru saja datang, terutama yang datang dari jauh, tentu merasa letih. Sedangkan esok pagi mereka harus bersiap di alun-alun pungkuran. Mereka akan mengikuti upacara pembukaan latihan khusus bagi para calon prajurit sandi itu.

Pada wayah sepi uwong, maka barak itu memang sudah sepi. Mereka sudah berbaring di pembaringan masing-masing. Rara Wulan memilih pembaringan yang berada di ujung. Kemudian di pembaringan sebelah, di tempati oleh Glagah Putih. Kawan-kawan mereka memang memberikan tempat terbaik bagi keduanya, karena mereka sudah mengenal bahwa keduanya adalah suami isteri.

Pagi-pagi sekali, Rara Wulan telah bangun. Ia ingin mendahului semua orang di dalam barak itu.

Ketika isyarat untuk bangun bagi para calon prajurit itu terdengar, Rara Wulan telah rapi membenahi diri. Ia sudah mengenakan pakaian khususnya serta siap untuk hadir dalam upacara pembukaan latihan khusus bagi calon prajurit dalam tugas sandi.

 “Nampaknya kau tidak tidur semalaman,” gurau seorang diantara para peserta yang melihat Rara Wulan telah selesai berbenah diri.

Rara Wulan tersenyum. Katanya, “Hanya ada dua pilihan bagiku. Yang pertama atau yang terakhir.”

Orang itu pun tersenyum pula sambil mengangguk-angguk, “Ya. Itulah sulitnya. Tetapi kau tentu akan dapat mengatasinya.”

Demikianlah, maka beberapa saat kemudian terdengar suara kentongan sebagai isyarat kedua. Para calon prajurit itu pun beramai-ramai pergi ke sebuah ruangan di sebelah dapur untuk makan pagi. Makan yang termasuk sederhana . Tidak berlebihan, jenisnya maupun banyaknya. Tetapi mencukupi.

Setelah makan dan beristirahat sejenak, maka seorang perwira telah mendatangi mereka dan memerintahkan mereka untuk bersiap pergi ke alun-alun pungkuran yang jaraknya hanya beberapa ratus langkah saja.

Demikianlah, maka ketika isyarat yang ketiga berbunyi, para calon prajurit itu pun telah meninggalkan barak mereka.

Ternyata di alun-alun pungkuran, panggungan yang dibuat pada saat pendadaran masih ada. Bahkan beberapa orang perwira telah berada di panggungan itu. Sementara para calon prajurit itu berdiri berjajar dengan tegap di depan panggungan.

Para calon prajurit itu jumlahnya tidak seberapa banyak. Tetapi upacara pembukaan itu dilakukan dengan bersungguh-sungguh. Bahkan mereka masih menunggu kehadiran Ki Patih Mandaraka dan Pangeran Singasari.

Namun ternyata yang hadir di alun-alun pungkuran, di depan panggungan itu tidak hanya beberapa orang calon prajurit sandi, tetapi di belakang mereka telah berbaris pasukan segelar sepapan. Pasukan itu adalah satu kesatuan yang telah dipersiapkan sebagai Pasukan Khusus yang akan memperkuat pasukan pengawal. Pada hari itu, pasukan itu akan diresmikan pula oleh Pangeran Singasari mewakili Ingkang Sinuhun di Mataram.

Pasukan pengawal itu diperkuat, karena ternyata Ingkang Sinuhun sendiri, ternyata sering langsung turun sendiri ke medan pertempuran. Ketika terjadi perang dengan Demak, maka pasukan Pengawal Raja masih harus diperkuat dengan Pasukan Pengawal Istana yang sebenarnya mempunyai tugas yang berbeda.

Beberapa saat kemudian, maka terdengar suara bende bertalu-talu. Beberapa saat kemudian, maka pangeran Singasari dan Ki Patih Mandaraka pun telah hadir di panggungan, di hadapan para calon prajurit yang akan mulai dengan latihan-latihan khusus di bawah pimpinan Ki Tumenggung Purbasena serta sepasukan prajurit yang akan diresmikan menjadi Pasukan Khusus Pengawal Raja.

Ketika matahari mulai nampak di langit, maka upacara itu pun segera di mulai.

Segala sesuatunya pun berlangsung dengan lancar sebagaimana direncanakan. Pangeran Singasari telah meresmikan pembukaan masa latihan bagi para prajurit sandi itu lebih dahulu. Demikian upacara pembuka masa latihan itu selesai, maka para ca m prajurit itu telah diminta untuk berdiri di sebelah anggungan justru menghadap ke alun-alun.

Ternyata bahwa para prajurit dari Pasukan Khusus Pengawal Raja itu, akan melakukan pameran kemampuan mereka sebagai prajurit dari Pasukan Khusus.

Pameran kemampuan itulah yang sebenarnya berlangsung lama. Para calon prajurit itu berdiri tegak di sebelah panggungan untuk ikut menyaksikan pameran kekuatan dan kemampuan yang dilakukan di alun-alun pungkuran itu.

Sebenarnyalah bahwa para prajurit dari Pasukan Khusus itu telah memamerkan berbagai macam kelebihan. Mereka telah mempertunjukkan kemampuan mereka bertempur dengan segala jenis senjata dan bahkan tanpa senjata. Ada pula diantara mereka yang memamerkan kemampuan mereka menunggang kuda dan bahkan beberapa orang diantaranya menunjukkan kemampuan mereka menguasai kuda-kuda liar. Yang lain lagi mempertunjukkan kekuatan tenaganya yang sangat besar, serta ketahanan tubuhnya. Ketrampilan memanjat, berayun dan berbagai macam kelebihan yang lain.

Demikianlah, pameran kemampuan dan kekuatan itu berlangsung sampai lewat tengah hari, sehingga terik matahari terasa membakar kulit. Sementara itu, orang-orang yang menonton pameran kekuatan dan kemampuan itu masih juga tetap bertahan. Mereka benar-benar menjadi kagum melihat kelebihan itu, sehingga mereka pun menjadi semakin berbangga atas kelebihan dari para prajurit Mataram itu.

Seorang yang sudah separo baya berkata, “Bukan main. Kita tentu bangga mempunyai prajurit yang memiliki kemampuan begitu tinggi.”

 “Menakutkan,” desis seorang yang berdiri di sebelahnya.

 “Menakutkan? Apa yang menakutkan?”

 “Jika mereka marah?”

 “Marah kepada siapa?”

 “Kepada kita.”

 “Kenapa mereka marah kepada kita?”

 “Jika kita dianggap bersalah.”

Orang yang sudah separo baya itu tertawa. Dengan nada tinggi ia pun bertanya, “Kenapa kau berprasangka buruk. Bahwa para prajurit itu akan marah kepada kita? Tentu tidak. Mereka adalah prajurit yang justru harus melindungi kita. Justru karena ada mereka, kita akan merasa aman dan tenteram.”

Orang yang berdiri di sebelahnya itu mengangguk-angguk. Ia tahu bahwa para prajurit itu harus melindungi rakyat dari segala macam bahaya yang mengancam.

Bukan hanya jika musuh datang menyerang Mataram. Tetapi para prajurit itu juga akan melindungi rakyat dari kerusuhan-kerusuhan yang timbul dan bahkan dari bencana alam. Tetapi ia masih saja menjadi berdebar-debar jika ia melihat sepasukan prajurit di manapun.

Demikianlah, para prajurit dari Pasukan Khusus Pengawal Raja itu masih mempertunjukkan berbagai macam kelebihan mereka di teriknya sinar matahari. Baru ketika matahari mulai turun di sisi Barat langit, maka pameran ketrampilan para prajurit itu pun berakhir.

Beberapa saat kemudian, maka perwira yang memimpin pasukan Pengawal Raja yang baru, untuk melengkapi pasukan yang sudah ada itu, telah melaporkan kepada Pangeran Singasari dan Ki Patih Mandaraka yang berada di panggungan, bahwa pameran kekuatan dan kemampuan para prajurit itu sudah selesai.

Pangeran Singasari pun telah memerintahkan para prajurit itu kembali ke barak mereka. Demikian pula para calon prajurit akan mengikuti latihan khusus bagi prajurit dalam tugas sandi itu pun diperintahkan untuk kembali ke barak mereka pula.

Ternyata pada hari pertama itu, para calon prajurit dalam tugas sandi itu, masih belum melakukan apa-apa kecuali melapor keberadaan mereka kepada Pangeran Singasari serta Ki Mandaraka yang membuka masa latihan mereka dengan resmi, kemudian menonton pameran kekuatan dan kemampuan para prajurit dari Pasukan Khusus Pengawal Raja.

Selanjutnya mereka pun telah kembali ke barak untuk makan siang dan beristirahat di barak mereka.

Namun di sore hari, seorang Rangga telah datang kepada mereka dengan membawa perintah-perintah apa yang harus mereka lakukan esok pagi.

Beberapa orang telah berdesah. Esok mereka harus melakukan begitu banyak tugas sejak pagi-pagi sekali.

Mereka mendapat kesempatan beristirahat pada saat matahari sepenggalah. Kemudian sedikit lewat tengah hari dan tugas mereka baru akan selesai menjelang senja.

 “Apakah kami harus melakukan tugas-tugas seperti ini setiap hari,” desis seorang anak muda yang tubuhnya tinggi, berdada bidang dan agaknya mempunyai tenaga yang kuat.

 “Ya,” sahut seorang yang lebih tua, “bahkan mungkin ada hari-hari yang akan terasa lebih berat.”

 “Aku akan mati sebelum masa latihan ini selesai.”

Orang yang lebih tua itu tertawa. Katanya, “Lihat Glagah Putih dan Rara Wulan itu. Mereka lebih tua dari kau, bahkan lebih tua dari aku. Tetapi mereka juga akan menjalaninya. Bahkan Rara Wulan adalah seorang perempuan.”

Anak muda yang bertubuh raksasa itu pun tersenyum pula. Katanya, “Ya. Jika perempuan itu mampu, kenapa aku tidak?”

Sebenarnyalah, di hari-hari berikutnya, maka para calon prajurit sandi itu pun harus mengikuti latihan-latihan yang berat. Setiap hari mereka harus bangun pagi-pagi sekali. Melakukan pemanasan dengan gerakan-gerakan ringan. Kadang-kadang mereka harus berlari-lari ke luar dari barak mereka untuk mengelilingi alun-alun pungkuran. Tetapi kadang-kadang mereka bahkan ke luar dari alun-alun pungkuran dan berlari-lari bukan saja mengelilingi kota, tetapi juga ke luar dari pintu gerbang kota.

Beberapa orang mulai mengeluh. Mereka merasa betapa letihnya mengikuti latihan-latihan yang seakan-akan tidak sempat beristirahat.

Namun bagi Glagah Putih dan Rara Wulan, latihan-latihan yang terasa berat bagi para calon prajurit sandi itu, masih belum menyamai laku yang dijalaninya sesuai dengan isi kitab Ki Namaskara. Karena itu, bagi Glagah Putih dan Rara Wulan, latihan-latihan itu adalah latihan-latihan yang sama sekali tidak membuatnya lelah.

Meskipun demikian, Glagah Putih dan Rara Wulan selalu berusaha menyesuaikan dirinya dengan para calon prajurit yang lain. Jika para calon prajurit yang lain nampak sangat letih, maka Glagah Putih dan Rara Wulan nampak menjadi letih pula.

Karena itu, maka Glagah Putih dan Rara Wulan sama sekali tidak menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang mempunyai kelebihan dari para calon prajurit sandi yang lain.

Dalam kegiatan yang kadang-kadang dinilai kecepatan waktunya, Glagah Putih dan Rara Wulan tidak pernah berusaha menjadi orang pertama. Mereka selalu berusaha berada diantara urutan kelima atau keenam.

Dengan demikian, maka Glagah Putih dan Rara Wulan tidak menjadi orang-orang yang selalu menjadi pusat perhatian.

Namun dalam pada itu, meskipun tidak nampak jelas, tetapi masih saja tetap terasa bahwa ada jarak antara Glagah Putih dan Rara Wulan dengan Ki Tumenggung Purbasena. Dalam beberapa hal yang langsung ditangani Ki Tumenggung Purbasena, maka seakan-akan Glagah Putih dan Rara Wulan justru tidak mendapat perhatiannya.

Tetapi Glagah Putih dan Rara Wulan justru tidak mempedulikannya. Mereka lakukan apa yang harus mereka lakukan sebagaimana calon prajurit yang lain.

Dari hari ke hari, latihan-latihan bagi para calon prajurit itu justru menjadi semakin berat. Tetapi karena para calon prajurit itu sudah melakukan setiap hari, maka akhirnya mereka pun tidak lagi merasa, bahwa latihan-latihan itu terlalu berat.

Dalam pada itu, Glagah Putih dan Rara Wulan pun semakin hari nampak seakan-akan menjadi semakin meningkat kemampuannya sebagaimana para calon yang lain. Merekapun mengikuti segala macam latihan, mulai dari latihan kanuragan bagi para calon itu seorang-seorang. Pertempuran dalam kelompok. Cara-cara penyusupan, penyamaran, pengenalan lingkungan, ciri-ciri serta isyarat khusus bagi para prajurit sandi Mataram.

Merekapun mendapat latihan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya serta cepat tanggap serta mengambil keputusan menghadapi setiap permasalahan.

Bagi Glagah Putih dan Rara Wulan, latihan-latihan itu tidak mempunyai kesulitan apa-apa. Yang baru bagi mereka adalah pengenalan atas isyarat-isyarat khusus bagi para prajurit sandi Mataram. Tetapi itu pun tidak terlalu sulit bagi Glagah Putih dan Rara Wulan.

Meskipun demikian, Glagah Putih dan Rara Wulan tidak pernah menjadi orang terbaik dalam lingkungan calon prajurit itu.

Semakin lama mereka berada di barak latihan itu, maka perintah yang mereka terima pun semakin beraneka. Kadang-kadang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Bahkan kadang-kadang mereka menerima perintah dengan tiba-tiba.

Dalam pada itu, pada satu malam para calon prajurit itu terkejut ketika seorang Rangga datang kepada mereka. Ki Rangga itu menyampaikan perintah, bahwa para calon prajurit harus segera bersiap. Mereka mendapat perintah untuk melakukan penjelajahan malam di sekitar kota raja.

 “Tetapi dua orang diantara kalian harus tinggal. Kalian tidak dapat meninggalkan barak kalian tanpa penunggu sama sekali. Tetapi dua orang yang tinggal di barak ini, tidak boleh tidur sama sekali. Mereka bertanggung jawab atas barak ini.”

Semua calon prajurit itu berharap, bahwa merekalah yang bertugas untuk tetap tinggal di barak. Namun Ki Rangga itu pun berkata, “Sebaiknya Glagah Putih dan Rara Wulan sajalah yang tinggal di barak ini. Aku tidak berniat membedakan antara laki-laki dan perempuan, tetapi yang pertama ini, aku perintahkan Glagah Putih dan Rara Wulan lah yang tinggal. Sedangkan yang lain, akan meninggalkan barak ini bersama aku dan seorang Rangga yang lain.”

Tidak ada yang pernah membantah perintah. Karena itu, Glagah Putih dan Rara Wulan pun menerima perintah itu tanpa pertanyaan apapun juga.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian, maka para calon prajurit sandi itu sudah siap. Ki Rangga pun segera memberikan perintah untuk berangkat, sementara Glagah Putih dan Rara Wulan berdiri tegak di depan tangga barak mereka melepas keberangkatan sekelompok calon prajurit sandi itu.

Demikian sekelompok prajurit itu hilang dalam kegelapan, maka Glagah Putih dan Rara Wulan pun segera menutup beberapa pintu barak dan menyelaraknya dari dalam. Hanya ada satu pintu yang tidak diselarak. Sementara Glagah Putih dan Rara Wulan duduk di serambi barak itu.

 “Siapakah yang akan mendapatkan latihan khusus malam ini, kakang? Sekelompok kawan-kawan kita itu, atau justru kita berdua. Mereka sengaja menyingkirkan kawan-kawan kita untuk dapat memberikan latihan khusus kepada kita.”

 “Memang mungkin sekali, Rara. Karena itu, sebaiknya seorang diantara kita ada di dalam barak. Mungkin ada penyusupan lewat sudut-sudut dinding atau bahkan dari atap.”

 “Baik, kakang. Aku akan berada di dalam.”

 “Baik. Aku akan berada disini.”

 “Agaknya memang lebih enak di dalam. Malam dingin sekali.”

 “Asal kau tidak tertidur.”

Rara Wulan pun tertawa. Katanya, “Jika aku tidur, itu salah kakang,”

Sejenak kemudian, maka Rara Wulan pun segera masuk ke dalam baraknya untuk mengawasi kemungkinan terjadi penyusupan ke dalam barak itu. Sedangkan Glagah Putih tetap saja berada di luar, ia pun kemudian duduk bersandar dinding di sebelah pintu yang tidak diselarak itu.

Beberapa lama mereka menunggui barak itu hanya berdua saja. Seorang di dalam dan seorang di luar. Tetapi sampai malam menjadi semakin dalam, tidak terjadi apa-apa di barak itu. Tidak ada penyusupan. Tidak ada gerakan apa-apa yang terjadi di sekitar barak itu.

Meskipun demikian, keduanya tidak menjadi lengah. Keduanya melakukan tugas mereka dengan sebaik-baiknya. Mungkin saja beberapa calon prajurit telah siap menyusup ke barak itu. Mereka masih menunggu pada saat kedua orang penunggu banjar itu lengah. Tetapi Glagah Putih dan Rara Wulan memang tidak pernah lengah.

Menjelang dini hari, Glagah Putih terkejut ketika ia melihat sekelompok calon prajurit yang meninggalkan barak dalam latihan penjelajahan kota di malam hari itu memasuki halaman barak dalam keadaan yang buruk. Beberapa orang harus dipapah oleh kawan-kawannya, sedangkan ada pula diantara mereka yang berjalan timpang. Yang lain nampak kesakitan dalam pakaian yang kusut.

Glagah Putih kemudian telah memanggil Rara Wulan yang masih ada di dalam.

 “Rara. Lihat mereka datang dalam keadaan yang buruk.”

 “Ada apa?”

Rara Wulan pun segera ke luar dari ruang dalam baraknya. Berdua mereka segera turun dari tangga serambi menyongsong kawan-kawan mereka.

 “Kalian kenapa?” bertanya Glagah Putih, “begini jauhkah kalian menjalani latihan.”

Ki Rangga yang memimpin para calon prajurit itulah yang menjawab, “Biarlah mereka beristirahat serta membenahi diri mereka masing-masing. Nanti aku akan memberikan penjelasan.”

Glagah Putih dan Rara Wulan tidak bertanya lagi. Mereka memandangi saja kawan-kawan mereka yang berjalan tertatih-tatih naik tangga serambi baraknya.

Demikian mereka berada di serambi, maka sebagian dari mereka pun segera menjatuhkan dirinya di lantai. Bahkan ada pula diantara mereka yang langsung berbaring memasuki bagian dalam baraknya dan langsung menjatuhkan diri di pembaringan.

 “Mereka tidak sempat membersihkan dirinya,” bisik Glagah Putih kepada Rara Wulan.

Rara Wulan mengangguk kecil sambil berdesis, “Apa saja yang telah terjadi dengan mereka.”

Ki Rangga, yang memimpin sekelompok calon prajurit itu pun kemudian memerintahkan kepada para calon prajurit itu untuk membenahi diri mereka masing-masing.

 “Pergilah ke pakiwan. Kalian akan merasa menjadi lebih baik.”

Beberapa orang pun kemudian bangkit berdiri. Dengan malas mereka pun pergi ke pakiwan. Beberapa orang pergi di halaman sumur di barak itu. Sedangkan yang lain, masih saja berbaring di serambi atau bahkan di pembaringan mereka masing-masing meskipun pakaian mereka kusut dan kotor, menunggu giliran.

Dalam pada itu, Glagah Putih dan Rara Wulan duduk di tangga serambi barak itu bersama Ki Rangga.

 “Aku akan mengatakan satu rahasia kepada kalian berdua. Hanya kepada kalian berdua,” berkata Ki Rangga hampir berbisik.

Glagah Putih dan Rara Wulan tidak menyahut.

 “Aku katakan hal ini kepada kalian, karena aku mengenal siapa kalian. Aku pun percaya bahwa kalian akan dapat menyimpan rahasia ini pula.”

Glagah putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk.

 “Kami telah membawa para calon prajurit mengelilingi kota. Tiba-tiba saja kami menemukan segerombolan perampok sedang merampok sebuah rumah yang besar di pinggir kota, dekat pintu gerbang, meskipun agak masuk ke dalam sebuah lorong.”

 “Apakah itu satu kebetulan?” bertanya Glagah Putih.

 “Tidak. Semuanya sudah kami rencanakan dalam rangka latihan bagi para calon prajurit sandi. Tetapi kami berharap bahwa mereka tetap tidak tahu, bahwa yang mereka hadapi bukannya perampok yang sebenarnya. Tetapi sekelompok perwira yang justru menjadi pelatih mereka.”

 “Apakah para calon prajurit ini tidak dapat mengenali mereka seorang demi seorang?”

 “Semua perampok itu mengenakan topeng di wajah mereka.”

Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk. Bahkan kemudian Glagah Putih itu sambil tersenyum berkata, “Aku mengerti. Latihan ini merupakan cara yang baik bagi para calon prajurit sandi itu.”

 “Ya. Pertempuran itu terjadi dengan sengitnya. Dan kau lihat, akibat yang terjadi bagi para calon prajurit itu.”

 “Ya. Tetapi apakah tidak terjadi pertempuran bersenjata?”

 “Aku tidak memerintahkan para calon prajurit untuk membawa senjata. Sementara itu, para perampok itu pun tidak mempergunakan senjata pula.”

 “Lalu bagaimana pertempuran itu berakhir? Apakah para calon prajurit ini melarikan diri dari arena?”

 “Tentu tidak. Itu akan menjadi kebiasaan buruk bagi para calon prajurit.”

 “Jadi?”

 “Sekelompok prajurit yang bertugas di pintu gerbang telah berdatangan.”

Glagah Putih dan Rara Wulan mengerutkan dahinya. Dengan nada tinggi, Rara Wulan pun bertanya, “Darimana para prajurit di pintu gerbang itu tahu, bahwa para calon prajurit sandi itu tengah bertempur dengan para perampok?”

 “Aku telah memerintahkan dua orang calon prajurit untuk berlari ke pintu gerbang pada saat para calon prajurit mengalami kesulitan. Namun aku tidak pernah mengatakan bahwa mereka mengalami kesulitan. Seandainya tidak ada bantuan dari pintu gerbang pun para perampok tentu akan melarikan diri.”

 “Tetapi keadaan mereka agak parah.”

 “Ya. Ketika pertempuran masih berlangsung, sebagian besar dari mereka masih tetap bertempur. Tetapi demikian para perampok itu pergi, maka barulah mereka merasakan kesulitan yang mereka alami.”

Glagah Putih dan Rara Wulan pun tersenyum. Katanya, “Cara yang menarik. Tetapi kenapa kami berdua yang justru harus tinggal di barak.”

Ki Rangga itu tersenyum. Katanya, “Jika kalian berdua ikut, sementara itu kami belum sempat memberitahukan kepada kalian, rencana kami, maka rencana ini tentu akan gagal. Para perwira itu akan menjadi pingsan. Jika ada topeng yang terbuka diantara mereka, maka gagallah acara yang menarik ini.”

Glagah Putih dan Rara Wulan justru tertawa.

Ki rangga yang juga tertawa itu pun kemudian berkata, “ Tetapi lain kali, kalian juga akan ikut agar tidak menimbulkan kecurigaan, bahwa selalu kalian yang harus menunggui barak. Tetapi kalian sudah tahu, apa yang kalian lakukan.”

 “Ya,” Glagah Putih mengangguk-angguk Ia masih juga tertawa tertahan. Demikian pula Rara Wulan.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, para calon prajurit itu pun sudah mandi semuanya Seorang yang tertidur di pembaringannya telah dibangunkan. Dengan kaki timpang ia pun pergi juga ke pakiwan untuk mandi.

Setelah semuanya mandi, maka mereka pun diperintahkan untuk duduk di serambi. Dua orang petugas di dapur menghidangkan minuman hangat yang dapat menyegarkan tubuh mereka.

 “Ternyata perjalanan kita menjelajahi kota telah terhalang,” berkata Ki Rangga, “sehingga telah terjadi pertarungan yang sengit. Tetapi para perampok itu sebenarnya tidak akan berdaya mengalahkan kalian meskipun kita tidak memanggil para prajurit yang berada di pintu gerbang kita. Tetapi karena kalian adalah masih calon prajurit, maka aku menjadi cemas juga, bahwa sesuatu terjadi atas kalian. Jika ada korban yang jatuh diantara kalian, maka akulah yang harus bertanggungjawab.”

Para calon prajurit itu mendengarkan penjelasan Ki Rangga dengan seksama. Sementara itu Ki Rangga pun berkata selanjutnya, “Namun aku bangga kepada kalian. Kalian telah menunjukkan sikap seorang prajurit.”

Sebenarnyalah bahwa para calon prajurit itu pun menjadi bangga pula. Rasa-rasanya jantung mereka telah mekar.

Sejenak kemudian, Ki Rangga itu pun berkata, “Pada kesempatan lain, latihan seperti ini akan berlanjut. Tetapi kita harus menjadi lebih berhati-hati. Mungkin kita tiba-tiba saja akan bertemu dengan sekelompok perampok seperti yang telah terjadi. Perampok itu tentu akan mendendam kita. Apalagi jika mereka tahu, bahwa kita adalah sekelompok kecil calon prajurit. Tetapi kita memang harus bersikap sebagaimana seorang prajurit. Kita tidak akan menjadi ketakutan sehingga kita tidak berani ke luar dari sarang kita. Setelah keadaan kalian menjadi baik, maka kita akan segera melanjutkan tugas kita untuk meronda berkeliling kota Mataram.”

Para calon prajurit itu mengangguk-angguk.

Ki Rangga tidak berbicara terlalu panjang. ia pun kemudian menutup penjelasannya sambil mengatakan, “Lain kali, tugas untuk menunggu barak ini akan berganti orang. Tetapi kita belum tahu, kapan tugas semacam itu akan kita laksanakan. Tiba-tiba saja aku akan menyampaikan perintah itu pada saatnya.”

Sepeninggal Ki Rangga, maka para calon prajurit itu pun segera menjatuhkan diri di pembaringan mereka masing-masing. Tetapi masih ada dua orang yang tidak mengalami cidera, duduk di serambi bersama Glagah Putih dan Rara Wulan.

Keduanya pun kemudian berceritera, bahwa tiba-tiba saja mereka menjumpai sekelompok orang yang sedang merampok.

 “Ternyata mereka adalah orang-orang berilmu tinggi. Jumlah kami memang lebih banyak. Tetapi hampir saja kami dikalahkan. Ki Rangga telah mengambil kebijaksanaan, agar dua orang diantara kami menemui prajurit yang bertugas di pintu gerbang untuk minta bantuan. Beberapa orang diantara mereka pun segera datang. Demikian mereka datang, maka para perampok itu pun segera melarikan diri.”

 “Tidak ada seorang pun yang dapat kalian tangkap?”

 “Tidak. Tidak ada. Kami memang tidak berhasil menangkap seorang pun dari mereka. Mereka berloncatan seperti kijang.”

Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak bertanya lagi.

 “Untunglah kalian tidak ikut,” berkata seorang diantara mereka.

Tetapi yang lain menyahut, “Ki Rangga sudah mengatakan, bahwa lain kali, kalian berdua akan ikut dalam tugas-tugas seperti ini.”

Glagah Putih pun mengangguk sambil menjawab, “Ya. Lain kali, kami akan diikut sertakan.”

Yang seorang pun kemudian berkata, “Tetapi tentu bukan soal bagi kalian berdua. Meskipun demikian, tentu lebih baik tidak ikut berlelah-lelah kemana-mana.”

 “Aku kira lebih baik ikut ke mana-mana daripada harus duduk menahan kantuk di barak,” sahut Rara Wulan.

Kedua orang itu pun tertawa pendek. Tetapi mereka mempercayai ucapan Rara Wulan itu, karena mereka tahu bahwa kedua orang suami isteri itu mempunyai kemampuan lebih dari para calon yang lain. Namun mereka masih belum tahu seberapa batas ketinggian ilmu keduanya.

Ketika malam menjadi semakin malam, maka kedua orang itu pun minta diri untuk pergi ke pembaringan.

 “Kami juga akan tidur,” berkata Glagah Putih, “justru kami duduk-duduk saja di barak? maka kami menjadi mengantuk pula.”

Demikianlah, maka mereka berempat pun segera masuk ke ruang dalam barak mereka. Sementara itu, di barak prajurit pengawal istana yang ada di samping barak kecil calon prajurit sandi itu terdengar suara kentongan dalam irama dara muluk.

 “Hampir pagi,” berkata Glagah Putih di dalam hatinya. Ternyata pagi itu para calon prajurit sandi tidak mendapat kesempatan untuk beristirahat lebih lama. Mereka harus bangun sebagaimana hari-hari yang lain. Merekapun harus turun untuk melakukan pemanasan serta di hari itu melakukan latihan-latihan sebagai seharusnya.

Nampaknya para pelatih tidak peduli bahwa ada di antara para calon prajurit itu yang masih timpang karena kakinya yang kesakitan. Bahkan masih ada yang perutnya terasa mual. Lengannya masih sulit digerakkan.

Tetapi latihan-latihan yang seharusnya dilakukan berjalan terus meskipun sebagian duri para calon prajurit sandi itu mengumpat-umpat.

Demikianlah latihan-latihan para calon prajurit sandi itu berlangsung terus sebagaimana seharusnya betapapun nampak beberapa orang di antara mereka masih harus melakukannya sambil menahan sakit.

Hari-hari pun beredar terus. Setiap malam para calon prajurit sandi itu harus bersiap, seandainya mereka harus bangun dan kemudian pergi meronda bahkan sampai ke luar pintu gerbang kota.

Sebenar ketika malam terasa dingin, serta angin berhembus kencang. Ki Tumenggung Purbasena sendiri telah datang ke barak para calon prajurit itu. Dengan lantang Ki Tumenggung pun memerintahkan agar pura calon prajurit itu bersiap. Mereka akan meronda berkeliling di dalam dan di luar pintu gerbang kota.

Dengan bergegas para calon prajurit pun mempersiapkan diri. Glagah Putih dan Rara Wulan pun dalam waktu yang singkat telah siap menjalankan tugas bersama-sama dengan para calon prajurit yang lain.

Dalam waktu yang singkat semua calon prajurit telah bersiap untuk menerima perintah.

 “Semua akan ikut bersama kami,” terdengar perintah Ki Tumenggung lantang, “Empat orang prajurit akan bertahan disini, menjaga barak kalian tang kalian tinggalkan.”

Demikianlah, maka sejenak kemudian, maka para calon prajurit itu pun telah berangkat meninggalkan barak mereka dipimpin oleh Ki Tumenggung Purbasena sendiri bersama dua orang Rangga.

Seperti pada penjelajahan yang pertama, maka malam itu, para calon prajurit itu pun bergerak dari lorong ke lorong. Bahkan akhirnya mereka tidak saja berada di dalam lingkungan pintu gerbang kota, tetapi mereka telah merambah ke luar dinding kota.

Iring-iringan calon prajurit sandi itu telah menembus batas-batas bulak panjang, padang perdu dan bahkan daerah-daerah yang rumit melintas di pinggir-pinggir hutan dalam gelapnya malam. Bahkan angin yang berhembus mulai terasa basah. Sementara langit nampak gelap. Bintang-bintang telah bersembunyi di belakang awan yang kelabu.

Beberapa saat kemudian, terasa titik-titik air mulai berjatuhan dari mendung yang pekat.

Ketika iring-iringan itu berjalan semakin cepat, maka Ki Tumenggung Purbasena pun membentak, “Siapakah yang memerintahkan kalian melarikan diri dari hujan, he? Bukankah kalian bukan sebangsa garam yang akan larut ke dalam air.”

Para calon prajurit itu pun memperlambat langkah mereka meskipun hujan kemudian turun semakin lebat.

 “Ki Tumenggung Purbasena juga kehujanan. Kenapa kita harus menghindar,” desis seorang calon prajurit.

Namun kawannya juga bertanya, “Siapa yang menghindari hujan yang tidak lebih dari titik-titik air?”

 “He?” orang yang berdesis itu justru terkejut. Katanya kemudian, “Ya. Siapa yang takut kehujanan?”

Keduanya pun terdiam.

Iring-iringan itu pun kemudian turun ke jalan yang lebih besar. Sebuah bulak yang panjang.

Sekali-sekali nampak kilat meloncat di udara.

Sinarnya rasa-rasanya telah menerangi seluruh permukaan bumi.

Ki Tumenggung Purbasena berjalan di paling depan. Sedangkan seorang dari kedua orang Rangga berjalan di sisi kanan iring-iringan itu. Seorang yang lain berjalan di paling belakang.

Namun ketika mereka berada di simpang empat di tengah-tengah bulak yang panjang, Ki Tumenggung Purbasena pun memberi isyarat, agar para colon prajurit itu berhenti.

Ki Rangga yang berjalan di sisi kanan iring-iringan itu pun segera melangkah ke depan, mendekati Ki Tumenggung Purbasena sambil bertanya, “Ada apa Ki Tumenggung?”

 “Apakah kau belum melihat apa yang ada di depan kita?”

Ki Rangga itu termangu-mangu. Namun sebenarnyalah, bayang-bayang dalam hujan di tengah bulak itu, semakin lama menjadi semakin jelas. Juga sebuah iring-iringan yang datang mendekati iring-iringan para calon prajurit itu.

 “Siapakah mereka, Ki Tumenggung?” bertanya Ki Rangga.

 “Entahlah. Bukankah kita berjalan beriring?”

Ki Rangga itu mengangguk-angguk.

Para calon prajurit itu menjadi berdebar-debar. Agaknya yang mereka temui itu bukan sekelompok orang baik-baik. Tetapi sekelompok orang yang berniat buruk.

Seorang yang berjalan di paling depan pun kemudian mengangkat tangannya sambil berkata, “Apakah aku bertemu dengan para calon prajurit yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Purbasena?”

 “Ya,” sahut Ki Tumenggung Purbasena. “Akulah Tumenggung Purbasena.”

 “Bagus. Sudah lama aku menunggu di sini. Aku kira kalian telah merubah rencana kalian dan menempuh jalan yang lain.”

 “Apa maksudmu?”

 “Aku mempunyai persoalan dengan anak buahmu.”

 “Persoalan? Persoalan apa?”

 “Karena itu, maka aku telah menunggu kau dan anak buahmu yang para calon prajurit itu lewat.”

 “Darimana kau tahu, bahwa kami akan lewat jalan ini?”

Orang itu tertawa. Katanya, “Bukan soal yang sulit bagi kami. Kami mempunyai hubungan yang luas dengan para prajurit di Mataram. Juga para prajuritmu. Karena itu, aku tahu, bahwa kau dan para calon prajurit ini akan lewat di sini.”

 “Tentu ada pengkhianat di antara kami.”

 “Tentu. Tetapi tentu bukan para calon prajurit, karena mereka tidak tahu, jalan manakah yang akan kau tempuh malam ini. Dengan demikian, maka kau tidak perlu bersusah-payah mencari pengkhianat itu.”

 “Lalu apa maumu sekarang? Persoalan apakah yang kau maksud itu?”

Orang itu pun termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Ketahuilah, bahwa aku telah membawa para pengikutku yang terbaik. Aku harap kau tidak menjerumuskan para calon prajurit itu ke dalam kesulitan.”

 “Aku tidak tahu maksudmu.”

 “Jangan ada yang turut campur, agar mereka selamat. Siapa yang mencoba turut campur akan kami binasakan.”

 “Apa maumu sebenarnya he? Jangan hanya melingkar-lingkar saja. Kau harus mengatakan dengan jelas.”

 “Aku hanya berurusan dengan Glagah Putih dan Rara Wulan. Aku tahu, bahwa keduanya ada di dalam iring-iringan calon prajurit sandi itu. Karena itu, serahkan mereka kepadaku.”

 “Apa kepentinganmu dengan mereka?”

 “Aku mendendam kakaknya suami isteri. Aku adalah salah seorang pengikut Ki Saba Lintang. Aku datang untuk membalas dendam. Jika kau serahkan kepadaku Glagah Putih dan Rara Wulan, maka aku tidak akan mengganggu para calon prajurit yang lain. Aku akan memerintahkan orang-orangku untuk tidak berbuat apa-apa. Tetapi jika mereka ikut campur, maka kami akan menyelesaikan mereka sampai orang yang terakhir.”

 “Itu tidak mungkin,” bentak Ki Tumenggung Purbasena, “Glagah Putih dan Rara Wulan sekarang berada di bawah tanggung-jawabku. Karena itu, maka segala persoalan yang menyangkut diri mereka, harus kalian selesaikan dengan aku.”

Orang itu tertawa. Tiba-tiba saja seseorang melangkah maju sambil berkata, “Kau tidak usah melindungi mereka, Ki Tumenggung. Serahkan mereka kepada kami.”

Orang-orang yang mendengar suara orang itu terkejut. Ternyata orang itu adalah seorang perempuan.

 “Tidak. Aku bertanggung-jawab atas semua calon prajurit yang berada di bawah asuhanku. Karena itu, maka jika kau ingin mengambilnya, maka kau tidak akan mendapatkannya. Kecuali jika kau dapat melangkahi mayatku.”

 “Kau tidak usah menjadi seorang pahlawan Ki Tumenggung. Aku tahu bahwa kau adalah seorang yang bertanggung-jawab. Tetapi persoalan ini adalah persoalan pribadi.”

 “Persoalannya adalah persoalanmu dengan Ki Lurah Agung Sedayu. Karena itu, selesaikan persoalanmu itu dengan orang itu. Jika kau tidak berani bertarung melawan Ki Lurah Agung Sedayu, sudahlah. Pergi sajalah. Tetapi jangan menumpahkan dendammu kepada adiknya yang tidak bersalah.”

Orang itu tertawa pula. Katanya, “Baiklah. Aku tidak dapat melawanmu. Ternyata Glagah Putih dan isterinya adalah pengecut yang hanya berani bersembunyi di belakang punggung pemimpinnya.”

Suasana pun menjadi tegang. Sementara itu orang itu pun berkata selanjutnya, “Aku memang tidak seharusnya melawan Ki Tumenggung Purbasena. Aku tahu, bahwa Ki Tumenggung berilmu tinggi, sehingga aku tentu tidak akan dapat mengalahkan Ki Tumenggung. Aku pun tidak ingin orang-orangku bertempur melawan para calon prajurit Mataram, sehingga akan dapat menimbulkan masalah. Apalagi sekarang. Kami tidak mempunyai kekuatan apa-apa lagi setelah Perguruan Kedung Jati yang terlibat dalam perang antara Demak dan Mataram menjadi berantakan. Jika Glagah Putih dan isterinya yang ada di dalam kelompok calon prajurit yang dibawa Ki Tumenggung ini memang tidak berani menampakkan dirinya, baiklah. Kami akan pergi. Namun kami sekarang tahu, bahwa mereka adalah pengecut.”

 “Sudah aku katakan, bahwa persoalanmu sama sekali tidak ada hubungan dengan Glagah Putih. Karena itu. kau harus menyelesaikan persoalanmu itu dengan Ki Lurah Agung Sedayu dan isterinya.”

 “Baik. Baik. Selamat malam Ki Tumenggung Purbasena,” kemudian ia pun berkata kepada para calon prajurit itu, “siapapun di antara kalian yang bernama Glagah Putih dan Rara Wulan, aku mengucapkan selamat. Kalian telah mendapat kesempatan untuk berlindung di bawah sayap-sayap yang hangat dari Ki Tumenggung Purbasena, sehingga umur kalian masih akan panjang.”

Dalam pada itu, Glagah Putih dan Rara Wulan yang sudah menahan diri sekian lama, akhirnya tidak lagi dapat mengendalikan diri. Keduanya pun kemudian bergerak maju mendekati Ki Tumenggung Purbasena. Dengan suara yang bergetar, Glagah Putih pun berkata, “Ki Tumenggung. Aku minta ijin untuk berbicara dengan orang ini.”

 “Tidak,” bentak Ki Tumenggung, “Aku bertanggung jawab atas semua calon prajurit ini. Karena itu, biarlah aku yang menghadapi mereka, apapun yang akan mereka lakukan.”

Orang yang datang mencari Glagah Putih dan Rara Wulan itu pun kemudian bertanya, “Akhirnya kau menampakkan dirimu pula Glagah Putih. Tetapi ternyata bahwa aku tidak dapat berbuat apa-apa. Ki Tumenggung Purbasena adalah seorang Tumenggung yang bertanggung jawab atas tugasnya sehingga kau dapat terselamatkan.”

 “Ki Tumenggung,” berkata Glagah Putih, “apakah aku harus berdiam diri mendengarkan suaranya yang sangat menusuk perasaan itu.”

 “Jika kau merasa perasaanmu tertusuk, lakukanlah sesuatu untuk menyelamatkan harga dirimu. Bukan justru bersembunyi di balik tanggung jawab Ki Tumenggung.”

 “Ki Tumenggung,” berkata Glagah Putih kemudian, “agaknya persoalan ini adalah persoalan pribadi. Biarlah kawan-kawanku, para calon prajurit menjadi saksi, bahwa aku dan isteriku akan menyelesaikan persoalan dengan orang ini secara pribadi. Tidak akan ada orang yang menyalahkan Ki Tumenggung, seandainya terjadi sesuatu atas aku dan istriku malam ini. Aku mengucapkan terima kasih atas perlindungan Ki Tumenggung terhadap aku dan istriku sebagai calon prajurit yang memang berada di bawah tanggung jawab Ki Tumenggung. Tetapi aku mohon Ki Tumenggung memberikan kesempatan kepadaku untuk menyelamatkan harga diriku. Aku adalah seorang calon prajurit Mataram. Apakah aku akan membiarkan namaku direndahkan sedemikian di hadapan kawan-kawanku? Ki Tumenggung. Tidak ada cara lain untuk mengangkat dan menyelamatkan namaku selain menerima tantangannya. Soalnya, bukan menang atau kalah. Bahkan hidup atau mati. Tetapi kami, maksudku aku dan istriku, tidak mau direndahkan seperti itu.”

Ki Tumenggung Purbasena termangu-mangu sejenak. Sementara itu, orang yang datang mencari Glagah Putih dan Rara Wulan itu pun berkata, “Bagus. Ternyata kau mempunyai harga diri juga Glagah Putih. Kau memang tidak boleh mencemarkan nama kakak sepupumu itu. Jika bersembunyi di belakang perlindungan Ki Tumenggung, bukan hanya namamu yang tercemar, Tetapi juga nama Ki Lurah Agung Sedayu.”

 “Nah, Ki Tumenggung dengar. Seandainya yang dihinakan sedemikian rupa itu Ki Tumenggung, apakah Ki Tumenggung juga akan tetap berdiam diri?”

 “Baiklah,” jawab Ki Tumenggung kemudian, “Kata-katanya memang sangat menyakitkan hati. Bahkan aku pun rasa-rasanya tidak akan dapat menahan diri menghadapi penghinaan seperti itu. Tetapi biarlah para calon prajurit yang ada di sini menjadi saksi, bahwa aku sudah berusaha untuk mempertanggung-jawabkan keselamatan para. calon prajurit. Tetapi rasa-rasanya aku memang tidak dapat mencegah mereka menyelesaikan persoalan pribadi mereka, meskipun sebenarnya persoalannya adalah persoalan orang itu dengan Ki Lurah Agung Sedayu.”

“Terima kasih, Ki Tumenggung,” berkata Glagah Putih.

Glagah Putih dan Rara Wulan pun kemudian melangkah maju mendekati kedua orang yang mencegat perjalanan para calon prajurit itu. Seorang laki-laki dan seorang perempuan.

 “Kau siapa?” bertanya Glagah Putih.

 “Namaku Gempur Awang-awang. Perempuan ini adalah isteriku. Namanya Sangga Langit. Kami adalah murid-murid terpercaya dari perguruan yang dipimpin oleh Ki Saba Lintang. Karena itu, kami datang untuk membalaskan dendam kematian guru.”

 “Bukankah yang membunuh Ki Saba Lintang bukan aku?”

Orang itu tertawa. Katanya, “Jadi kembali kau akan mengelak agar aku tidak menantangmu dan kemudian kau berlindung di belakang tanggung jawab Ki Tumenggung Purbasena? Sudah aku katakan, jika kau berlindung di bawah tanggung jawab Ki Tumenggung, maka kami memang tidak dapat berbuat apa-apa. Kami tentu tidak akan dapat mengalahkan Ki Tumenggung yang berilmu sangat tinggi.”

 “Tidak,” sahut Rara Wulan, “Kami tidak akan bersembunyi di mana-mana. Kami siap untuk menerima tantanganmu. Kami tahu, bahwa kalian tentu menjadi ketakutan mendengar nama Ki Lurah Agung Sedayu dan isterinya, Sekar Mirah. Karena itu, maka kau telah datang kepada kami. Tetapi kami bukan pengecut.”

 “Bagus. Kalian tidak akan pernah dapat menjadi prajurit, karena kalian akan berhenti malam ini. Kalian akan mati dan esok para calon prajurit itu akan menguburkan mayatmu.”

Glagah Putih menggeram. Namun kemudian ia pun berpaling kepada Ki Tumenggung sambil berkata, “Ki Tumenggung. Kami mohon restu. Kami akan melayani tantangan mereka.”

Glagah Putih dan Rara Wulan pun kemudian bergeser saling menjauh. Merekapun segera mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.

Sementara itu, para calon prajurit itu pun menjadi tegang. Mereka tahu, bahwa Glagah Putih dan Rara Wulan mempunyai ilmu yang tinggi. Tetapi mereka belum tahu, seberapa batas puncak ilmu mereka. Sementara itu, mereka melihat dua orang suami isteri yang menyebut diri mereka murid-murid terpercaya dari perguruan Kedung Jati. Mereka tentu murid Ki Saba Lintang yang memiliki ilmu tidak terbatas. Namun yang akhirnya dapat diselesaikan oleh Nyi Lurah Agung Sedayu. Sedangkan Glagah Putih adalah adik sepupu Ki Lurah Agung Sedayu itu.

Demikianlah kedua belah pihak sudah saling berhadapan. Glagah Putih menghadapi Gempur Awang-awang, sedangkan Rara Wulan berhadapan dengan isterinya yang menyebut dirinya Sangga Langit.

 “Kau masih terlalu muda untuk mati nduk,” berkata Sangga Langit, “karena itu, biarlah suamiku saja membunuh suamimu. Kemudian kau ikut kami dan tinggal bersama kami.”

Rara Wulan tertawa. Katanya, “Kau aneh, Nyi. Kau pikir aku ini siapa? Sekarang, jangan berpikir yang aneh-aneh. Bersiaplah. Bukankah kau akan membalas dendam atas kematian Ki Saba Lintang, tetapi kau tidak berani menemui kakang Lurah Agung Sedayu serta mbokayu Sekar Mirah? Jika kau hanya berani melawan kami, maka sebaiknya kita bertempur.”

 “Bagus. Sebenarnya aku merasa sayang jika aku harus membunuhmu. Tetapi apa boleh buat. Kau sendiri menghendakinya.”

 “Tidak. Aku tidak ingin mati. Tetapi nampaknya malam ini, di bawah hujan yang deras ini, akulah yang akan membunuh.”

Nyi Sangga Langit itu pun menggeram. Sambil bergeser ia pun berkata, “Kau tidak akan dapat bertahan sepenginang nduk.”

Rara Wulan tidak menjawab. Tetapi ia pun bergeser pula kesamping.

Ketika Nyi Sangga Langit meloncat menyerang, maka Rara Wulan pun telah mengelakkan diri, sehingga serangan itu tidak menyentuhnya.

Namun Nyi Sangga Langit itu pun melenting dengan cepat. Tubuhnya berputar di udara. Satu kakinya pun terayun mendatar menyambar dada Rara Wulan.

Tetapi serangan itu pun tidak mengenai sasarannya. Rara Wulan menggeliat sehingga kaki Nyi Sangga Langit itu terayun sejengkal dari dadanya. Justru pada saat itu, dengan cepat Rara Wulan telah mendorong kaki lawannya, sehingga lawannya itu justru terdorong sehingga hampir saja terjatuh. Namun dengan liat ia sempat mempertahankan keseimbangannya. Bahkan kemudian ia pun sempat berloncat surut untuk mengambil jarak.

Rara Wulan tidak memburunya. Dibiarkannya lawannya itu memperbaiki keadaannya dan siap untuk bertempur lagi.

 “Ternyata ilmumu cukup memadai, Rara Wulan. Agaknya kau memang akan mampu bertahan lebih lama dari dugaanku. Tetapi segalanya itu akan sia-sia. Kau hanya membuat dirimu letih, sehingga perjalananmu menuju ke alam wang-wung akan memerlukan waktu yang lebih panjang.”

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 380)

diedit dari:

http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iv-88/

Terima kasih kepada k4ng t0mmy yang telah me-retype jilid ini

<<kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s