FADBM-398

<< kembali ke FADBM-397 | lanjut ke TADBM-399 >>

FADBM-398SEBENARNYALAH Agung Sedayu pun segera mengatakan kepada Swandaru serta Pandan Wangi tentang maksud tujuannya pergi ke Sangkal Putung. Swandaru dan Pandan Wangi dengan bersungguh-sungguh mendengarkan Agung Sedayu bicara.

Demikianlah Agung Sedayu menceritakan tentang maksud tujuannya pulang ke Jatianom. Juga tidak ketinggalan men-ceritakan pertemuannya dengan ki Sentanu alit dan Nem Lintang Sore. “Sebelum datang ke padepokan ini, aku sempat pulang dulu menemui kakang Untara serta istrinya. Aku merasa perlu menemui semua saudara-saudaraku di Jatianom dan di sangkal putung, karena aku merasa bahwa perguruan semu perlu mendapat perhatian yang khusus”, lanjut Agung Sedayu.

“Aku akan melakukannya sepenuh hati sampai batas kemampuanku kakang, semoga Yang Maha Agung memberi kemudahan kepadaku”, desis Swandaru.

Agung Sedayu menganggukkan kepala saat Swandaru berniat dengan sungguh-sungguh untuk mesu diri untuk memperdalam ilmu perguruan orang bercambuk. “Masih ada waktu adi untuk menilik kemampuan pribadimu, selain itu tentunya juga melakukan persiapan para pengawal Kademang-an Sangkal Putung. Juga untukmu Pandan Wangi, kau sudah mewarisi semua ilmu-ilmu yang tertimbun dalam diri Ki Gede menoreh. Dan jika kau belum mengerti, sebenarnya dalam puncak ilmumu atau ilmu Ki Gede Menoreh, adalah puncak ilmu yang tidak hanya mendahului wadag tetapi mampu menyerang pada bagian dalam tubuh seseorang. Itulah ilmu yang juga di miliki oleh Sultan Pajang semasa hidupnya, Aji Rog-Rog Asem. Kau sudah membuka pintu ilmu itu serta memasukinya Pandan Wangi, sekarang kau bisa lebih masuk ke dalamnya sampai muara ilmu itu”, lanjut Agung Sedayu.

Pandan Wangi menundukkan kepala, tetapi tetap mendengarkan dengan sungguh-sungguh pesan-pesan dari Agung Sedayu. “Akan aku coba kakang”, jawab pandan wangi singkat sambil masih menundukkan kepalanya.

“Paman, adi Swandaru dan Pandan Wangi, aku sore nanti akan menuju ke suatu tempat sebelum pulang ke Menoreh.
Tetapi waktu yang masih ada ini, apakah tidak sebaiknya kita gunakan untuk jalan-jalan berempat di sekitar padepokan kita ini. Mungkin kita bisa melihat hijaunya di selatan Lemah Cengkar?” Bertanya Agung Sedayu.

Ki Widura, Swandaru dan Pandan Wangi adalah orang-orang yang mempunyai panggraita yang selalu diasah.
Jadi mereka sudah paham akan maksud Agung Sedayu mengajak mereka bertiga jalan-jalan di bulak selatan Lemah Cengkar.

“Apakah Wira Permana perlu kita ajak serta, Agung Sedayu, bertanya Ki Widura.

Agung Sedayu diam sesaat membuat pertimbangan-pertimbangan yang terbaik untuk Wira Permana. “Paman, kita tidak usah mengajak Wira Permana ke Lemah Cengkar, tetapi jika paman mengijinkan sore nanti aku akan mengajak Wira Permana menyertaiku ke suatu tempat juga ke Tanah Perdikan Menoreh. Jika paman mengijinkan, sekalian beritahukan juga kepada kakang Untara serta mbok ayu Untara. Kalau kakang Untara marah, biar dia datang ke tanah perdikan menjemput Wira Permana”, jawab Agung Sedayu.

Ki Widura tersenyum mendengar jawaban serta rencana Agung Sedayu mengajak Wira Permana ke Tanah Perdikan Menoreh. “Aku meyakini sebentar lagi Wira Permana akan melampaui gurunya ini”, sambil bergurau Ki Widura menjawab pertanyaan Agung Sedayu.

“Baiklah adi Swandaru dan Pandan Wangi mari kita berangkat sekarang”, lanjut Agung Sedayu kemudian.
Sebenarnyalah sesaat kemudian empat ekor kuda berderap meninggalkan padepokan menuju bulak di selatan Lemah Cengkar.

“Ini tidak jalan-jalan kakang, tetapi lomba berkuda”, gurau Swandaru kepada Agung Sedayu.

“Adi, sebenarnya aku ingin jalan kaki, tapi telapak kakiku sudah tidak terlalu tahan panas”, jawab Agung Sedayu tidak mau kalah membalas gurauan adik seperguruannya itu.

Perjalanan ke Lemah Cengkar adalah perjalanan yang pendek. Dengan mengambil jalan pintas membelah hutan kecil, kemudian melewati pategalan di tengah hutan, sampailah mereka di bulak di sebelah selatan Lemah Cengkar.
Mereka berempat segera turun dan menambatkan kuda mereka masing-masing.

Mereka berempat segera menuju ke tanah yang agak rata.

“Paman, tempat inilah yang di maksud guru semasa hidupnya sebagai tempat yang layak untuk menguji apa yang telah kita latih selama ini. Mungkin karena di bulak ini keadaan tanah yang tidak rata sama sekali, juga banyak batu-batu kecil yang hampir rata menutupi tanah, juga terdapatnya watu item yang besar dan keras, sehingga bisa dijadikan sanggar terbuka yang sangat baik untuk latihan olah kanuragan”, berkata Agung Sedayu.

“Apakah kau juga melewati tempat ini saat kau terpaksa di bawa kakakmu untuk menemuiku di Sangkal Putung?” ki Widura balik bertanya.

“Mungkin kakang Agung Sedayu tidak sempat memperhatikan tempat ini waktu itu, karena harus menghadapi alap-alap Jalatunda, Pande Besi Sendang Gabus serta dua temannya pengikut Macan Kepatihan”, Swandaru menambah gurauan ki Widura.

Agung Sedayu hanya tersenyum mendengar gurauan paman serta adik seperguruannya itu.

“Perjalanan hidup yang unik dari manusia aneh yang bernama Agung Sedayu. Aku tetap akan memuja muji kepada Yang Maha Agung, telah membuat hatiku merasakan kesejukan dan ketentraman yang tak akan pernah hilang”, bisik Pandan Wangi dalam hati.

“Pandan Wangi, mari kita lalui pepesten ini dengan mengabdikan hidup kita dalam urip bebrayan agung.
Kau adalah perempuan yang mempunyai hati seluas samudera”, kembali Agung Sedayu dengan aji pameling memberi pesan kepada Pandan Wangi

Pandan Wangi yang mendengar bisikan itu hanya terdiam tertunduk, tak sanggup untuk mengangkat kepala menatap sang pemberi aji pameling itu. “Segala puji bagi Yang Maha Agung telah memberi kebahagiaan kepadaku”, berkata pandan wangi dalam hati.

“Paman, adi Swandaru dan Pandan Wangi” berkata Agung Sedayu yang seolah-olah membuat terkejut Pandan Wangi, walau ki Widura serta Swandaru tidak mengerti tentang sesuatu yang telah terjadi. Lanjutnya, “Aku akan mencoba melatih tata gerak ilmu cambukku, semoga aku terjauhkan dari tindak deksura.”

“Silahkan kakang!” desis Swandaru”

Demikianlah Agung Sedayu segera berjalan agak menjauh dari tempatnya semula berdiri. “Paman, adi Swandaru, juga Pandan Wangi, aku akan mencoba sebatas kemampuanku dengan sasaran dua watu item di depanku ini.” sebenarnyalah sesaat kemudian Agung Sedayu mengurai cambuknya, cambuk berjuntai panjang sebagai ciri perguruan orang bercambuk.

“Aku akan mulai paman, adi Swandaru!. Ini adalah tataran pertama dari empat tataran tertinggi ilmu cambuk perguruan kita”, seru Agung Sedayu.

Hanya sekejap saja cambuk Agung Sedayu telah berputar-putar cepat di atas kepala Agung Sedayu. Dan juga hanya dalam waktu sekejap Agung Sedayu telah menghentakkan cambuknya menghantam watu item di depannya. Terdengar ledakkan yang keras memekakkan telinga, seolah suara petir menggelegar membelah langit. Walau tak pecah tampak kulit luar watu item itu sedikit mengelupas.

“Tenaga wadag kakang Agung Sedayu pun tak mampu terbayang seberapa besarnya”, desis Swandaru

“Ini tataran kedua”, seru Agung Sedayu tanpa menghenti-kan putaran cambuknya

Saat itu juga Agung Sedayu menghentakkan cambuknya sendal pancing menghantam watu item di depannya.
Hampir tak terdengar suara hentakkan cambuk sama sekali, akan tetapi gelombang tenaga dalam Agung Sedayu serta kekuatan tenaga dalamnya telah membuat watu item di depannya hancur berkeping-keping.

“Dan ini tataran ke tiga puncak dari ilmu cambuk”, kembali Agung Sedayu berseru.

Agung Sedayu melompat menjauhi watu item sebesar kerbau. Dengan kaki tegak, kembali cambuk Agung Sedayu berputar merambah dalam puncak ilmu cambuk. Sesaat kemudian Agung Sedayu menghentakkan sendal pancing dalam puncak ilmu cambuk. Tak terdengar suara sama sekali, tampak kilatan sinar putih kebiru-biruan menghantam watu item sebesar kerbau itu. Gelombang tenaga dalam dari puncak ilmu cambuk itu membuat ranting-ranting berjatuhan, daun-daun berguguran, bahkan seakan-akan tanah ikut bergetar. Ki Widura, Swandaru dan Pandan Wangi harus bersila meningkatkan daya tahan tubuhnya.

Setelah menunggu beberapa saat sampai keadaan kembali seperti semula, akhirnya Agung Sedayu menghampiri pamannya, Swandaru serta Pandan Wangi. “Marilah paman, adi Swandaru dan Pandan Wangi, kita melihat apa yang telah terjadi pada watu item itu”

Mereka berempat segera mendekati watu item yang menjadi sasaran dari ungkapan puncak ilmu cambuk Agung Sedayu itu.

Pandan wangi segera mendekati watu item itu. “mengapa watu item ini tidak bergeming sama sekali, padahal jelas terlihat kilasan sinar itu tepat mengenai watu item ini”, berbisik pandan wangi dalam hati. Pandan Wangi yang berdiri paling dekat dengan watu item itu segera mengulurkan tangannya memegang watu item itu. Sebenarnyalah sesaat tangan Pandan Wangi menyentuh watu item itu, Pandan Wangi terkejut sambil meloncat mundur. Watu item yang dipegang Pandan Wangi itu, tiba-tiba hancur luluh menjadi butiran-butiran halus. “baru kali pertama ini, aku melihat ungkapan ilmu yang begitu dahsyatnya. Semoga kakang Swandaru mempunyai tekat yang kuat untuk sampai pada tataran itu”, berkata pandan wangi dalam hati.

Ki Widura dan Swandaru hanya diam mematung.
Setelah mampu mengendalikan perasaannya barulah ki Widura angkat bicara. “Aku tak mampu membayangkan dalam tataran pamungkasnya, Agung Sedayu.”

“Paman, Aji Lebur Saketi yang telah luluh dalam ungkapan puncak ilmu cambuk itulah yang akan menjadi ilmu pamungkas Perguruan Orang Bercambuk. Dan ilmu-ilmu itulah yang paman serta adi Swandaru akan jalani laku untuk membuka pintu serta memasukinya untuk merambah pada tataran ilmu-ilmu puncak itu”, berkata Agung Sedayu kemudian.

Swandaru menganggukkan kepala mendengar penjelasan kakak seperguannya. “Apakah kakang akan menunjukkan juga ilmu pamungkas perguruan kita itu kepada kami? Bertanya Swandaru”

“Adi Swandaru, maksudku menunjukkan ilmu-ilmu perguruan orang bercambuk itu hanyalah aku meniru cara guru kyai Gringsing saat menyuruh kita meningkatkan tataran ilmu kita, walau waktu itu guru hanya memberi kitab Windujati kepada kita, tetapi dengan guru memperlihatkan ilmu-ilmunya padaku dapat sebagai gambaran akan hasil yang harus dicapai atau setidak-tidaknya mendekati yang guru ungkapkan”, jawab Agung Sedayu. Baiklah, aku akan mencoba ungkapkan ilmu pamungkas itu, dengan pohon asem raksasa di depan sana itu sebagai sasarannya”, lanjut Agung Sedayu.

Agung Sedayu melangkah menjauhi tempat berdiri ki Widura, Swandaru dan Pandan Wangi. Kemudian berhenti di bagian utara gumuk di selatan Lemah Cengkar itu, menghadap ke arah pohon asem. Sesaat kemudian Agung Sedayu telah mulai mengungkap tenaga cadangannya, juga mengungkap unsur-unsur puncak ilmu cambuknya. Agung Sedayu kemudian membuka simpul-simpul api Aji Lebur Saketi yang melebur luluh dalam tenaga cadangan dan unsur-unsur puncak ilmu cambuk. Hanya sekejap Agung Sedayu mengetrapkan unsur-unsur ilmunya, begitu juga hanya dalam sekejap saja cambuk Agung Sedayu telah bergulung-gulung bagai kabut putih di atas kepalanya.

“Paman, Adi Swandaru dan Pandan Wangi inilah ilmu pamungkas perguruan orang bercambuk”, seru agung sedayu. Sesaat kemudian Agung Sedayu telah menghentakkan sendal pancing dalam ungkapan ilmu pamungkas perguruan orang bercambuk. Tidak terdengar suara sama sekali.
Tampak seleret sinar putih kebiru-biruan secepat kilat tepat menerpa pohon asem raksasa yang kokoh menjulang yang berdiri tegak.

Ki Widura, Swandaru dan Pandan Wangi hanya mampu terdiam membeku menyaksikan ungkapan ilmu pamungkas itu. Pohon asem raksasa itu hancur menjadi timbunan debu hitam. Tidak ada yang tersisa dari pohon asem raksasa itu kecuali semuanya hanya debu kering yang menggunung.

“Luar biasa dahsyatnya. Mungkin, itulah ilmu para raja yang sering diceritakan ayah semasa mulai mengenalkan aku pada olah kanuragan”, berbisik pandan wangi dalam hati.

Ki Widura dan Swandaru baru tersadar saat Agung Sedayu telah berdiri di dekatnya.

“Paman itulah ilmu yang akan paman serta Adi Swandaru jalani laku untuk dapat merambahnya. Aku kurangi tenaga cadanganku dengan menguatkan unsur-unsur api Aji Lebur Saketi, supaya gelombang pantulnya tidak merusak pohon-pohon di sekitarnya”, berkata Agung Sedayu kemudian.

“Agung sedayu, ternyata Kiai Gringsing mewariskan ilmu yang benar-benar nggegirisi”, desis ki Widura.

“Benar paman, kecuali guru berilmu sangat tinggi, beliau seorang yang sangat rendah hati. Keturunan langsung raja Majapahit yang memilih hidup seperti orang kebanyakan.
Dalam hal ilmu, guru juga sangat jarang menggunakan ilmu-ilmu langka tersebut. Paman pasti ingat saat guru bertempur melawan Panembahan Alit, beliau rela harus luka dalam, hanya karena memaksa tidak mau menggunakan ilmu-ilmu dahsyat tersebut. Sosok panutanku yang selamanya akan aku rasa beliau bersama dalam setiap langkah kakiku” berkata Agung Sedayu.

Swandaru yang mendengarkan perkataan Agung Sedayu, merasa begitu sejuk menyentuh relung-relung hatinya. “Aku berjanji guru, dengan bimbingan kakang Agung Sedayu, akan menjadi sesuai keinginanmu guru”, berkata Swandaru dalam hati.”

“Aku akan mulai segera menjalani laku itu kakang, walau aku menyadari tidak boleh tergesa-gesa untuk mencapai hasilnya”, berkata Swandaru.

“Besok dalam sepekan bisa paman serta adi Swandaru sebagai tahap persiapan sebelum menjalani laku yang sebenarnya”, jawab Agung Sedayu.

Setelah selesai berbicara, tiba-tiba Agung Sedayu mengangkat kepalanya menatap ke timur. “Apa ada sesuatu yang akan mendatangiku”, bertanya Agung Sedayu dalam hati.

Sebenarnyalah Agung Sedayu segera mengetrapkan Aji Sapta Pandulu sekaligus Sapta Pangrungu. “Aji Ngantariksa!!
Seorang yang melayang melewati pohon-pohon menuju kemari. Mungkin orang ini yang mendatangi adi Swandaru atau mungkin kawannya,” berkata Agung Sedayu dalam hati.

“Kakang Agung Sedayu, apa kakang melihat orang yang dapat terbang itu menuju kemari?” Tiba-tiba bertanya Pandan Wangi.

“Ah ternyata Pandan Wangi matang dalam panggraita juga Aji Sapta Pandulunya”, berkata Agung Sedayu dalam hati.

“Aku rasa seperti itu, Pandan Wangi” berkata Agung Sedayu.

Ki Widura dan Swandaru serta merta memandang ke arah yang di tunjuk Pandan Wangi. Ki Widura dan Swandaru juga segera mengetrapkan aji sapta pandulunya masing-masing.

“Ilmu terbang”, desis ki Widura dan Swandaru hampir bersamaan.

“Kakang, walau masih samar-samar, orang yang mampu terbang bukan yang pernah mendatangi Sangkal Putung”, desis Swandaru.

“Biarlah kita menanti sejenak, kalau memang orang ini dari Perguruan Semu, bisa jadi mempunyai maksud dan tujuan yang sama seperti halnya Ki Sentanu Alit serta Nem Lintang Panjer Sore”, jawab Agung Sedayu.

“Salah, kalian menganggap hanya aku prajurit mataram yang pantas kalian perhatikan. Ketahuilah mataram mempunyai prajurit berilmu sangat tinggi yang tak terhitung jumlahnya”, berkata Agung Sedayu dalam hati.

Demikianlah beberapa saat kemudian orang yang mampu terbang itu semakin lama semakin nyata melayang mendekati tempat Agung Sedayu berdiri. Akhirnya setelah sampai di dekat pohon jati yang berbatasan dengan bulak selatan Lemah Cengkar, orang itu berhenti tepat di atas dahan pohon jati tersebut. Seorang laki-laki setengah tua, dengan rambut yang sudah mulai banyak berubah warna, menatap mereka berempat yang berdiri di bulak. Hanya sesaat orang itu melayang terbang, kemudian perlahan lahan orang itu mulai turun, dan akhirnya kakinya menjejakkan tanah tepat di depan Agung Sedayu, Ki Widura, Swandaru dan Pandan Wangi berdiri.

Orang itu tiba-tiba membungkuk hormat kepada mereka berempat. “Kehormatan bagiku bisa berhadapan dengan para penerus keluhuran budi Eyang Windujati, perkenalkan namaku Satmaka, berkata perlahan orang itu.”

Agung Sedayu serta yang lainnya segera membalas mengangguk hormat kepada orang yang mengaku bernama Satmaka tersebut.

“Aku sudah mengenal kalian satu persatu, maaf jika selama ini aku selalu memperhatikan semua hal yang berhubungan dengan Perguruan Orang Bercambuk”, lanjut orang yang mengaku bernama Satmaka itu.

“Kehormatan yang tiada terkira, hari ini aku bisa bertemu langsung dengan Ki Widura, Ki Swandaru, serta Nyimas Pandan Wangi. Orang-orang berilmu sangat tinggi yang menjadi pengawal lahirnya mataram hingga kerajaan mataram kini menjadi semakin berkembang. Tentunya aku saat ini juga sedang berhadapan dengan senapati pasukan khusus mataram yang berada di Tanah Perdikan Menoreh ,ki Rangga Agung Sedayu. Yang mana Nem Lintang Panjer Sore walau hanya terkena pantulan Aji Lebur Saketinya sudah tak sadarkan diri”, lanjut orang yang mengaku bernama Satmaka tersebut.

Agung Sedayu serta yang lain hanya bisa terdiam ketika orang yang bernama Satmaka itu menyebut nama mereka satu persatu.

“Siapa ki sanak yang mempunyai ilmu yang tiada terkira ini sebenarnya”, akhirnya ki Widura mengajukan pertanyaannya.

Orang yang mengaku bernama Satmaka itu tersenyum mendengar pertanyaan ki Widura. “ki Widura, apa yang aku punya hanyalah sekuku ireng dari para ahli waris perguruan orang bercambuk. Apalagi jika di perbandingkan dengan Ki Rangga Agung Sedayu, apa yang aku punya hanyalah ndok amun-amun. Ki Widura, aku adalah anggota Perguruan Semu”

“Perguruan semu?”, desis Swandaru.

“Benar Ki Swandaru, aku memang anggota Perguruan Semu, yang sekarang mungkin mulai banyak di bicarakan orang, paling tidak untuk daerah bang wetan” jawab Ki Satmaka.

“Ki Satmaka, apakah memang kau mempunyai tujuan untuk menemui kami?” bertanya agung sedayu.

Ki Satmaka menarik nafas dalam-dalam sejenak. Barulah setelah beberapa saat, Ki Satmaka menjawab pertanyaan Agung Sedayu. “Ki Rangga, memang demikian adanya, aku di beri tugas menemuimu serta Perguruan Orang Bercambuk.
Ki Rangga, sebelumnya aku ingin berterus terang. Mungkin Ki Rangga bertanya tentang aku yang berbeda dengan teman-temanku saat menemui Ki Rangga. Dan aku memang telah di beri perintah untuk menemui Ki Rangga. Tapi mengertilah Ki Rangga, aku masih mencoba untuk menilai apa yang sebenarnya ingin di capai oleh Perguruan Semu, walaupun aku tetap harus melaksanakan semua garis ketentuan Perguruan Semu. Ki Rangga, aku adalah murid utama dari guru Putut Sungsang”.

“siapakah Putut Sungsang itu Ki Satmaka”, tiba-tiba Agung Sedayu memotong perkataan Ki Satmaka.

“Kyai Putut Sungsang adalah murid utama Perguruan Semu”, jawab Ki Satmaka. “Tujuanku tetap sama, membuat perbandingan ilmu dengan mu Ki Rangga, dengan ilmu puncak yang aku miliki”, lanjut Ki Satmaka.

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepala, sambil dengan sungguh-sungguh mendengarkan perkataan ki Satmaka. “sepertinya, orang ini dapat kupercaya perkataan-nya”, berkata Agung Sedayu dalam hati.

“Ki Rangga Agung Sedayu, berkat Ki Satmaka.
Aku menilai apa yang terjadi antara Mataram dan Panaraga adalah keinginan hawa nafsu dari segelintir orang.
Tapi percayalah Ki Rangga, masih banyak rakyat biasa yang masuk dalam kekuasaan Panaraga menghendaki jalan damai.
Seperti halnya aku juga meyakini sebagian rakyat Mataram yang menghendaki demikian. Ki Rangga, aku memang tetap berada di pihak Panaraga walaupun mungkin tujuanku dengan tujuan utama dari Perguruan Semu berbeda. Aku tidak mau kembali ke masa lalu dengan membawa citra kejayaan masa lalu, tetapi aku ingin kejayaan dan kehidupan rakyat biasa yang lebih baik dari masa sekarang.” Berkata Ki Satmaka.

Agung Sedayu dan yang lainnya hanya diam sambil mendengarkan dengan sungguh-sungguh perkataan Ki Satmaka.

“Ki Rangga, baiklah aku akan berterus terang, walau aku yakin kau sudah dapat menangkap maksud Perguruan Semu mengirim orang-orangnya untuk mencarimu. Ki Rangga, sebenarnya Perguruan Semu ingin menilai sampai dimana batas ilmu yang telah kau punyai. Karena kami menganggap kau satu-satunya penerus perguruan Windujati yang telah tuntas.” Berkata Ki Satmaka.

“Ki Satmaka, sampai kapan pun aku tetap dalam keterbatasan mutlak, karena hanya Yang Maha Agung yang tidak terbatas ilmunya. Ki Satmaka, aku sudah mengetahui jalur-jalur dari Perguruan Semu, walau aku belum mengetahui nama mereka. Tiga pemimpin Perguruan Semu yang masih di bantu oleh guru mereka. Dan seandainya perang besar ini benar-benar tak bisa dihindarkan lagi, ini adalah perang antara Mataram dengan Panaraga, bukan perang antara Perguruan Semu dengan Perguruan Orang Bercambuk yang berjalur dengan Perguruan Windujati. Ki Satmaka, aku rasa kita tidak usah membandingkan ilmu, tetapi aku akan menitipkan pesan yang mungkin bisa menjawab apa yang ingin diketahui oleh para pemimpin perguruan semu.” Berkata Agung Sedayu.

“Ki Rangga, sebenarnya aku juga tidak akan membanding-kan ilmu dengan Ki Rangga. Setinggi apapun ilmuku, tetap tak akan menjangkau ilmumu. Pertama kali aku melihat Ki Rangga, aku seperti melihat angkasa raya yang luas tiada bertepi” jawab Ki Satmaka.

“Sudahlah Ki Satmaka, tidak ada ilmu yang sempurna, hanya Yang Maha Agung yang Maha Sempurna.” Balas Agung Sedayu.

Ki Satmaka menarik nafas dalam-dalam. “Keluhuran budi Eyang Windujati ternyata benar-benar menjadi nafas hidup trah Perguruan Orang Bercambuk. Ki Rangga aku akan menyampaikan pesanmu pada guruku, biarlah beliau yang akan menyampaikan ke tataran selanjutnya”, berkata Ki Satmaka.

“Aku harus meyakinkan sebenar-benarnya kepada Ki Satmaka”, berkata agung sedayu dalam hati.

“Ki Satmaka, apa benar ilmu yang baru saja ki Satmaka trapkan ialah aji Ngantariksa yang bersumber kepada mata air Aji Bayu Hening?” bertanya Agung Sedayu.

Ki Satmaka tampak terkejut mendengar pertanyaan Agung Sedayu tersebut. “Apakah Ki Rangga juga telah membekali dirinya dengan Aji Bayu Hening selain tentunya dengan Aji Lebur Saketi yang nggegirisi itu?” Dalam hati ki Satmaka bertanya kepada dirinya sendiri.

Ki Satmaka menarik nafas dalam-dalam sambil menganggukkan kepala membenarkan pertanyaan Agung Sedayu tersebut. “Ki Rangga, bukan maksud ku untuk menyombongkan diri, hanya karena perintah para pemimpin perguruan semu, aku harus melakukan semua itu.”

“Ki Satmaka, sebenarnya ini adalah masalah antara Mataram sebagai kerajaan dengan Panaraga yang juga masih dalam wilayah mataram. Bukan antara Perguruan Semu dengan Perguruan Orang Bercambuk. Tetapi baiklah, mungkin Perguruan Semu mempunyai keyakinan yang kuat, dengan menjadi bagian dari kekuatan Panaraga, akan dapat mewujudkan tujuannya semula” berkata Agung Sedayu.

Ki Satmaka tertunduk mendengarkan Agung Sedayu bicara.

“Ki Satmaka, aku mohon ki Satmaka mau menyampaikan pesanku ini. Sampaikan bahwa yang empat telah kembali.” Berkata Agung Sedayu.

“Yang empat telah kembali”, gumam ki Satmaka, “apa ada hubungannya dengan cerita guru, Aji Bayu Hening adalah satu dari empat ilmu yang sangat sulit diimbangi. Guru sendiri tidak dapat sampai ke puncak Ilmu Bayu Hening”, berkata ki Satmaka dalam hati. “Aku sangat yakin Ki Rangga Agung Sedayu berpesan demikian karena rasa welas asih Ki Rangga kepada para utusan-utusan yang ditunjuk Perguruan Semu selanjutnya. Baiklah Ki Rangga sebelum aku pergi, aku akan mengucapkan rasa hormatku kepada Perguruan Orang Bercambuk, sebagai titisan Perguruan Windujati. Aku mohon diri Ki Rangga, Ki Widura, Ki Swandaru serta Nyimas Pandan Wangi.” Lanjut Ki Satmaka.

Sebenarnyalah Ki Satmaka segera meninggalkan gumuk selatan Lemah Cengkar.

“Orang linuwih yang rendah hati”, desis Ki Widura.

“Aku terpaksa melakukan semua ini, semoga terjauhkan dari sifat deksura terhadap sesama titah”, gumam agung sedayu.

“Paman, Adi Swandaru aku berjanji untuk menceritakan semua yang mungkin menjadi pertanyaan dalam benak paman, Adi Swandaru, dan Pandan Wangi. Tetapi tidak kali ini, mungkin saat paman serta Adi Swandaru kali pertama melontarkan aji pamungkas perguruan orang bercambuk.” berkata Agung Sedayu.

“Itu akan menjadi cambuk bagiku untuk lebih sungguh-sungguh kakang”, desis Swandaru.

“Baiklah marilah kita pulang ke padepokan”, berkata Ki Widura.

Sementara itu dalam perjalanan ke timur Ki Satmaka di kejutkan dengan kehadiran gurunya Ki Putut Sungsang.
“guru, aku tidak mengira guru akan menunggu di tapal batas ini.”

“Bagaimana hasil dari tugas yang kau emban Satmaka”, bertanya Ki Putut Sungsang. “Apa kau berhasil mengukur tingkat ilmunya atau barangkali kau sanggup mengalahkan agul-aguling Mataram itu?”

Ki Satmaka menarik nafas dalam-dalam, sambil menata hati serta menyiapkan laporan langsung secara tepat, agar tidak terjadi salah pemahaman dari gurunya. “Aku sudah berjumpa dengan Agung Sedayu, bahkan juga dengan Ki Widura, Swandaru serta Pandan Wangi.”

“Ssiapa Pandan Wangi itu”, potong Ki Putut Sungsang.

“Ddia adalah istri Swandaru, yang merupakan anak kandung Ki Argapati”, jawab Ki Satmaka.

“Maksudmu Argapati dari tanah perdikan menoreh?” terkejut Ki Putut Sungsang.

“Benar guru, Ki Argapati atau sering di sebut dengan Ki Gede Menoreh.” Berkata Ki Satmaka.

“Argapati, apa sudah sempurna aji Rog-rog asem yang kau punya”, berkata Ki Putut Sungsang dalam hati.

“Apakah guru sudah pernah bertemu dengan Ki Argapati?” bertanya Ki Satmaka.

“Aku mengenal Argapati hanya dalam waktu sesaat, tapi waktu yang hanya sesaat itu telah menjadikan aku mengenalnya luar dalam”, jawab Ki Putut Sungsang. “Mungkin sekarang sudah tua, tapi tetap hati-hati kau Satmaka jika nanti kau harus bertemu di medan perang. Ilmunya kebanyakan satu jalur dengan ilmu mas Karebet.”

“Satmaka, memang bukan satu-satunya sebab, tetapi saat perguruan Windujati beradu dada berada di pihak yang mengiyakan perpindahan wahyu kraton lengser ke Demak Bintara, itulah yang menjadikan kita di bang wetan menjadi tersingkirkan. Baiklah, sekarang lanjutkan laporan hasil dari tugasmu Satmaka, apa kau sudah mampu mengukur tataran ilmu Agung Sedayu yang di yakini sebagai murid terbaik Raden Timur Pamungkas itu?”

“Baiklah guru”, jawab Ki Satmaka

Demikianlah Ki Satmaka akhirnya menceritakan semua yang terjadi saat bertemu dengan Agung Sedayu, Ki Widura, Swandaru, serta Pandan Wangi, tanpa ada yang di tambah maupun di kurangi sedikitpun. Tetapi saat Ki Satmaka menyampaikan pesan Agung Sedayu, tampak perubahan di wajah gurunya. Ketegangan yang tampak jelas di raut muka gurunya Ki Putut Sungsang.

“Itulah guru yang mampu aku lakukan dalam tugas ini.
Aku tidak sempat perang tanding dengan Agung Sedayu.
Terus terang guru, saat aku berhadapan dengannya, aku merasa melihat sesuatu yang tak terjangkau oleh pikiranku.
Aku seperti sedang berdiri di pinggir lautan yang tak beriak sedikitpun.” berkata Ki Satmaka.

Ki Putut Sungsang mendengarkan semua itu menjadi semakin tegang, keringat mengalir membasahi seluruh badannya. “Dalam usianya sekarang mustahil Agung Sedayu mampu menimbun ilmu-ilmu dahsyat itu. Aku yang sudah setua ini saja, tak mampu mencapai puncak Aji Bayu Hening, apalagi kau Agung Sedayu. Tetapi mengapa ia seakan-akan paham tentang ke empat ilmu itu? Mengapa juga Satmaka seakan-akan takjub saat bertemu Agung Sedayu? Padahal Satmaka juga orang yang mumpuni dalam kawruh batin”,
berkecamuk pertanyaan-pertanyaan Ki Putut Sungsang dalam hati.

Ki Putut Sungsang dan Ki Satmaka akhirnya saling berdiam diri hanyut dalam alam pikirannya masing-masing. “setiap orang berhak bicara apapun, tetapi semua harus perlu di buktikan kebenarannya”, berkata Ki Putut Sungsang memecah kediaman mereka. “Aku akan membicarakan hasil dari tugasmu dengan guru, Satmaka”, lanjut Ki Putut Sungsang.

Ki Satmaka menganggukkan kepala tanpa berkata apapun.

“Satmaka, sebaiknya kita segera kembali dulu, biar para pemimpin atau sesepuh perguruan semu segera mendapat laporan dari hasil tugasmu itu, walau mungkin sekali Agung Sedayu hanya menggertak untuk memperlemah secara jiwani kekuatan perguruan semu”, berkata Ki Putut Sungsang selanjutnya.

“Aku rasa tlatah bang wetan ini akan menjadi satu.
Bagaimana dengan pesisir utara dan sekitarnya?” berkata Ki Satmaka.

“Gajah lawe telah memastikan sebagian besar tlatah pesisir utara dan sekitarnya sungguh-sungguh akan menjadi satu dengan Panaraga. Bahkan perguruan-perguruan di sekitar Pegunungan Kendeng akan ikut dalam kekuatan Panaraga juga”, jawab orang kedua.

“Tugasku mungkin masih memerlukan waktu, aku mencoba memancing Agung Sedayu mengetrapkan ilmunya tahap demi tahap. Aku sengaja mengirim murid Perguruan Semu dari tataran bawah, setahap demi setahap akan naik ke tataran berikutnya. Kelihatannya Agung Sedayu sudah mengerti maksud kita, tetapi tujuan kita hanyalah mengetahui sedalam apa ilmu Agung Sedayu itu”, berkata orang ketiga.

“Aku meyakini Kyai Purwa, Kyai Atmaja, Kyai Laksana tidak ada yang benar-benar menguasai semua ilmu-ilmu itu.
Mungkin Raden Timur Pamungkas bisa saja sudah menimbun ilmu-ilmu itu, karena ia cucu dari Eyang Windujati sendiri,
tetapi ia sendiri sekarang sudah tiada. Dan kita yakin kitab Windujati yang di wariskan raden timur kepada murid-muridnya hanyalah satu unsur dari ke empat unsur itu”, berkata orang kedua.

“Maksudmu Kyai Purwa, Kyai Atmaja dan Kyai Laksana hanya menguasai masing-masing satu unsur saja, begitukah maksudmu?” Bertanya orang pertama.

“Benar. Yang aku takutkan seandainya, Kyai Purwa dan yang lainnya telah bertemu dengan Agung Sedayu.
Serta telah memberikan wejangan-wejangan dari semua ilmu mereka kepada Agung Sedayu. Dan kita telah meyakini dengan pasti, Agung Sedayu ialah manusia aneh yang mempunyai daya ingat tiada tandingnya. Setiap yang pernah dipikirkan pasti selamanya akan selalu terpatri dalam dinding-dinding hatinya”, jawab orang kedua.

Sebenarnyalah ketiga orang itu masih bercakap-cakap panjang lebar. Membicarakan tentang hubungan Panaraga dengan Mataram, juga membicarakan tentang persiapan-persiapan Panaraga sendiri.

Sementara itu di tepian Kali Praga, rakit-rakit hilir mudik mengantarkan para penumpangnya, baik yang akan menuju tlatah Perdikan Menoreh atau sebaliknya. Matahari mulai turun ke arah cakrawala. Angin yang mulai berhembus seakan-akan menjadi penyeka keringat orang-orang yang lalu lalang menyeberangi Kali Praga. Suasana di tempat penyeberangan ini seakan-akan tetap tenang, adem ayem tanpa banyak terpengaruh kemelut yang sedang terjadi antara mataram dengan Panaraga. Bahkan seorang tukang satang sedang bersenandung kidung Asmarandana, sambil menanti giliran rakitnya menyeberang.

“Rasta, Apakah Mataram memang benar-benar sombong atau mereka kumpulan orang-orang bodoh?” Bertanya seorang laki-laki setengah baya kepada temannya yang masih muda.

“Aku tidak tahu kakang”, jawab orang yang di panggil Rasta, sesaat mereka berdua telah naik ke rakit yang akan menuju ke tepi barat Kali Praga.

Laki-laki setengah baya itu tiba-tiba berdiri menolong seorang perempuan tua membawakan barang-barangnya ke rakit. Laki-laki setengah baya itu hanya mengangguk sambil tersenyum ramah, saat perempuan tua itu mengucapkan terima kasih. Sesaat kemudian tukang satang mulai menggerakkan rakit menyeberangi Kali Praga menuju tepi barat Kali Praga. Rakit bergerak perlahan karena angin yang agak kencang menjelang terbenamnya matahari.

“Ramai sekali penyeberangan hari ini kang. Bahkan sampai menjelang senja masih banyak orang yang menyeberang”, bertanya laki-laki setengah baya itu kepada tukang satang.

“Hari ini bertepatan dengan hari pasaran di Tanah Perdikan Menoreh, ki sanak. Banyak pedagang-pedagang yang mengirim dagangannya ke tanah perdikan. Tetapi juga banyak pula pedagang-pedagang yang mengambil terutama hasil bumi tanah perdikan, untuk di jual ke daerah-daerah lain.” Jawab tukang satang itu.

Laki laki setengah baya itu mengangguk angguk mendengarkan jawaban tukang satang itu. “Panembahan senapati ternyata mampu meletakkan pembangunan Mataram di setiap sisi kehidupan rakyat mataram”, berkata laki-laki setengah baya itu dalam hati.

Walau agak lambat, akhirnya rakit itu sampai di tepian sebelah barat Kali Praga.

“Kita akan bermalam di hutan yang berbukit-bukit di selatan tanah perdikan itu”, berkata laki-laki setengah baya saat mereka berdua telah berjalan menjauhi tepian kalipraga.

“Sebaiknya memang di hutan itu, kakang. Dari situ kita akan bisa melihat tlatah Perdikan Menoreh secara luas.” Berkata Rasta.

Laki-laki setengah baya itu memandang wajah Rasta sesaat, kemudian tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak Rasta.
“Apa kau tidak merasa lelah dan bosan, setelah sekian lama selalu menemaniku kemanapun aku pergi?”

“Pangeran adalah junjungan hamba. Dalam diri pangeran mengalir darah trah keprabon yang mempunyai hak bertahta menjadi junjungan di seluruh tanah jawa ini. Akan menjadi kebanggaan bagiku, bisa sebagai teman sekaligus abdi yang setiap saat selalu berada di dekat pangeran” jawab Rasta.

“Sudahlah Rasta, ingatlah janjimu untuk tidak menyebutku dengan panggilan pangeran. Aku lebih senang kau anggap sebagai kakak angkatmu. Tetaplah kau panggil aku dgn namaku Harya Pamungkas. Kalau kau menganggap aku sebagai pangeran atau rajamu, simpan saja dalam hatimu.
Kita akan bebas kemana kita suka. Kita tidak menjadi bagian dari rakyat yang harus mematuhi aturan-aturan yang sering mereka sebut dengan aturan urip bebrayan agung itu.
Kita mempunyai dunia sendiri, Rasta.” nerkata laki-laki setengah baya itu.

Rasta mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum mendengar perkataan laki-laki setengah baya yang menyebut dirinya Harya Pamungkas itu. Katanya, “Benar kakang.
Kita yang menentukan benar atau salah, walau para penguasa itu menyatakan benar, tetapi jika kita menganggap salah maka selamanya akan tetap menjadi salah.

“Marilah Rasta kita percepat langkah kaki kita. Tidakkah kau lihat hutan berbukit-bukit itu melambaikan tangannya memanggil kita untuk segera menjadikannya istana untuk kita melepas lelah di dalamnya. Akhirnya teriringi indahnya matahari senja yang akan pulang ke peraduannya, dua orang laki-laki itu segera bergegas menuju hutan berbukit-bukit di selatan Tanah Perdikan Menoreh.

Demikianlah Harya Pamungkas dan Rasta sengaja melewati semak belukar untuk menghindari bertemunya dengan orang-orang yang melalui jalan biasa. Mereka berjalan tak mengenal lelah, walau senja hari telah turun, gelap telah menyelimuti alam sekitar.

“Dalam satu dua hari kita mempersiapkan tempat kita tinggal, Rasta!. Aku rasa bekal yang kau bawa masih cukup untuk sepekan kedepan.” Berkata Harya Pamungkas.

“Kita cari mata air dulu kakang”, desis Rasta.

Harya Pamungkas mengangguk-angguk sambil meloncati batang pohon yang menghalangi semak yang mereka lalui.
Mereka berdua terus menembus semak belukar, tanah yang berbatu-batu tidak rata, pohon pohon besar, tetapi kadang-kadang juga melewati padang rumput yang agak rata.

“Apakah kau merasakan ada mata air di bukit di hadapan kita itu Rasta?”berkata Harya pamungkas, setelah sekian lama mereka berjalan.

“Kalau Kakang mau menurunkan ilmu kakang setitik saja, mungkin aku akan mampu merasakannya”, gurau Rasta.

“Kau sudah aku anggap sebagai orang yang linuwih, hanya kau lebih suka menyembunyikan apa yang selama ini kau punya”, sahut Harya Pamungkas sambil tersenyum.

“Ah, Kakang terlalu memujiku”. Balas Rasta.

Seakan-akan sebelumnya telah membuat kesepakatan, mereka berdua mempercepat langkah kaki mereka, untuk segera sampai di bukit di hadapan mereka.

—oOo—

Sementara itu, di rumah agung sedayu, tampak Glagah Putih bersama Ki Jayaraga sedang duduk berdua di amben bambu di bawah pohon belimbing di samping rumah Agung Sedayu. Angin malam yang bertiup perlahan membuat udara menjadi sejuk. Lintang Gubug Penceng sejak sore telah menampakkan wujudnya, saat bulan memang masih berujud lengkungan kecil. Saat itulah bintang dalam wujud taman bintang bercengkerama menghibur seisi jagat raya.

“Ini adalah malam terakhir menjelang esok kita menjalani laku yang sangat berat. Dua tujuan dalam satu laku belum pernah aku lakukan. Apalagi dalam tiga laku sekaligus.
Hanya orang-orang seperti Panembahan senopati, Pangeran Benawa, atau kakak sepupumu yang kuat menjalaninya.” Berkata Ki Jayaraga.

“Ini juga kali pertama aku mencoba melakukannya. Semoga Yang Maha Agung memberi kemudahan, guru”, jawab Glagah Putih.

Tibaptiba mereka berdua dikejutkan dengan kehadiran Sukra yang datang sambil berlari dari pintu butulan kanan.
Nafas Sukra yang memburu, baju yang basah serta terkoyak, juga ternoda darah menandakan telah terjadi sesuatu yang mendebarkan jantung.

“Apa yang sudah terjadi Sukra”, desis Glagah Putih.

“Kau sudah aku anggap sebagai pengawal Tanah Perdikan yang ilmu kanuraganmu tidak bisa di anggap sebelah mata.”
Ki Jayaraga seketika segera memegang tubuh Sukra.

Sukra seakan-akan sudah sampai pada batas kemampuan tubuhnya, tiba-tiba hampir roboh jika tidak segera di dukung Ki Jayaraga.

“Mari Glagah Putih, segera kita bawa ke dalam. Anak ini sepertinya telah mengalami kejadian yang mengguncang ketahanan jiwaninya, desis Ki Jayaraga” berkata Ki Jayaraga.

Sekar Mirah dan Rara Wulan yang sedang duduk-duduk di ruang dalam terkejut melihat ki Jayaraga serta Glagah Putih yang mendukung Sukra yang dalam keadaan hampir pingsan.

“Apa yang terjadi dengan Sukra, kakang”, seru Rara Wulan.

“Apa yang sebenarnya telah terjadi ki Jayaraga”, bertanya Sekar Mirah.

“Aku belum tahu Nyi, Sukra belum sempat cerita apapun”, jawab Ki Jayaraga.

“Sebaiknya segera aku rawat dahulu Sukra. Tolong Glagah Putih, ambil air hangat dan kain kering beberapa lembar”, lanjut ki Jayaraga.

Demikianlah Sukra segera di baringkan di amben ruang dalam.

Ki Jayaraga segera memegang pergelangan tangan Sukra.
Sesaat Ki Jayaraga mencoba merasakan denyut dalam pembuluh darahnya. Selanjutnya Ki Jayaraga memegang tengkuk kepala Sukra, di teruskan ke seluruh bagian tubuh Sukra. “aku rasa wadag Sukra tidak mengkhawatirkan, hanya dalam jiwaninya ada sesuatu yang membuatnya tak mampu menyeimbangkan wadag serta jiwanya”, berkata Ki Jayaraga dalam hati.

“Beri ia ramuan yang mampu menambah daya tahan tubuhnya. Juga beri ia air putih yang agak banyak, glagah putih!” berkata Ki Jayaraga.

Glagah Putih pun segera mengerjakan apa yang di minta oleh gurunya. Berkali-kali Glagah Putih menyeka keringat di kening Sukra. Mata Sukra yang terbuka, hanya melihat apa yang di kerjakan Glagah Putih tanpa bersuara sedikit pun.

“Kau tunggu ia Glagah Putih, sampai Sukra mampu menyelaraskan wadag serta jiwanya.” Perintah Ki Jayaraga kepada Glagah Putih.

Tetapi, sebelum Ki Jayaraga menyelesaikan bicaranya, tiba-tiba terdengar suara yang seolah-olah berasal dari atap rumah Agung Sedayu. “Hai orang-orang di dalam rumah, mengapa kalian seperti pengecut. Aku mencari semua keluarga Agung Sedayu.” Terdengar suara yang bergaung-gaung, bergulung-gulung seakan akan mengitari rumah Agung Sedayu.

“Hati-hati kita kedatangan tamu yang tak di undang”, desis Ki Jayaraga.

Suara yang datang bergulung-gulung itu semakin lama ternyata membuat dada orang-orang yang berada di rumah Agung Sedayu terasa sesak. Sukra yang pertama kali merasakan dadanya terasa sesak, jantungnya seakan-akan diremas-remas. Ki Jayaraga dan yang lain mampu untuk meningkatkan daya tahan tubuh mereka, tetapi Sukra yang masih terluka merasakan serangan suara itu menghunjam tepat di jantungnya tanpa mampu ia membuat tirai untuk menahannya.

Glagah Putih yang telah mampu mengendalikan serangan suara itu, melihat keadaan Sukra yang sangat mengkhawatir-kan itu, berusaha berpikir untuk melakukan sesuatu. “Ilmu sejenis Gelap Ngampar, apa yang harus aku lakukan untuk segera menolong Sukra, bisik Glagah Putih dalam hati” Glagah Putih terus memeras pikirannya, untuk segera menemukan cara menolong Sukra.

“Ilmu rinding Ki Citra Gati” Glagah Putih tersentak ketika ia seolah-olah mendapat jawaban untuk segera menolong Sukra. “semoga rindingku mampu menahan Aji Gelap Ngampar yang cukup tajam ini, berkata glagah putih dalam hati.

Tetapi, sebelum Glagah Putih benar-benar memainkan rindingnya, suara orang dari atap rumah dalam ungkapan Aji Gelap Ngampar itu berhenti seketika. Mereka yang di dalam rumah tetap diam walau suara itu telah berhenti. tetapi mereka semakin menambah tingkat kewaspadaan mereka.
Sukra yang benar-benar merasakan ungkapan aji gelap Ngampar semakin membuat tubuhnya menjadi lemah. Tiba-tiba mereka yang di dalam rumah dikejutkan dengan bentakan-bentakan yang berasal dari depan rumah.

“Aku akan melihat ke depan rumah, guru.” Berkata Glagah Putih.

“Hati-hatilah Glagah Putih. Sepertinya ada orang lain yang lebih dahulu menghentikan ilmu itu. Semoga ia orang baik.” pesan Ki Jayaraga kepada Glagah Putih.

Sekar Mirah ternyata telah keluar dari biliknya sambil menjinjing tongkat baja putihnya. Rara Wulan pun segera mengikuti Sekar Mirah. Akhirnya hanya Ki Jayaraga yang tinggal di ruang dalam rumah Agung Sedayu untuk menolong Sukra.

Sebenarnyalah, ketika Sekar Mirah membuka pintu butulan samping, mereka bertiga segera meloncat keluar. Mereka berpencar mengepung pelataran rumah mereka. Dari tempat Glagah Putih, ia melihat empat orang berdiri berhadap-hadapan.

“Apa keuntungan kalian sampai berani menolong orang-orang di dalam rumah Agung Sedayu” bentak seorang laki-laki berkumis tebal .

Tetapi, sebelum ada jawaban, tiba-tiba Sekar Mirah telah meloncat dari tempatnya bersembunyi. Sekar mirah akhirnya berdiri tepat di depan pendapa rumahnya. Katanya, “kalian orang2 yang tidak mengenal unggah ungguh sama sekali” berkata sekar mirah. “Mari siapakah dari kalian yang ingin mencoba kedahsyatan puncak Ilmu Kedungjati. Kakang Agung Sedayu atau saudaraku yang lain tidak perlu mengotori tangan mereka hanya untuk menghadapi orang-orang seperti kalian.”

Orang yang berkumis tebal dan seorang lagi yang berdiri di dekatnya seolah-olah terpana mendengar semua perkataan sekar mirah, yang tiba-tiba telah hadir di antara mereka.

Selesai berkata, Sekar Mirah mulai membuka simpul-simpul semua ilmunya, membangunkan ilmu pernafasan untuk menghadapi pertempuran bagaimanapun lamanya. Tenaga cadangan mulai mengalir ke permukaan, yang siap untuk digunakan kapan pun juga. “aku tidak punya banyak waktu, siapa yang mau melawanku sekarang, atau kalian semua maju bersama sama. Kalau aku terdesak, aku pasti di bantu saudara-saudaraku untuk menyeimbangkan pertempur-an” berkata Sekar Mirah.

Tiba-tiba dua orang mengangguk hormat sambil mundur menjauhi tempat berdiri orang berkumis lebat serta teman satunya. “Aku kawan dari Angger Glagah Putih, Nyi Agung Sedayu” berkata salah seorang yang menjauhi tempat Sekar Mirah berdiri.

Sekar Mirah memandang sekilas terhadap orang yang baru saja bicara.

Glagah putih dari tempatnya bersembunyi terkejut mendengar seseorang telah mengenalnya dan menganggap kawan terhadapnya. Glagah putih mencoba memandang lebih jelas lagi terhadap dua orang tadi. “Ki Carang Blabar!!” Desis Glagah Putih tertahan.

Sementara itu, dua orang yang masih berdiri di hadapan Sekar Mirah masih tertegun mendengar semua perkataan Sekar Mirah.

“Hai kalian berdua, jangan salahkan aku jika aku mulai seranganku sedangkan kau masih membiarkan pikiranmu melayang-layang entah kemana!” Berkata sekar mirah.

Dua orang yang berhadapan dengan Sekar Mirah tergagap hampir bersamaan. “Apakah kau istri dari ki Rangga Agung Sedayu, yang juga sebagai pewaris syah dari Perguruan Kedungjati?” Bertanya teman orang yang berkumis tebal.

“Benar, aku Sekar Mirah istri dari kakang Agung Sedayu.
Tetapi kalian tidak usah khawatir, aku akan melawan kalian sesuai paugeran perang tanding” jawab Sekar Mirah tegas.

Orang yang tadi bertanya mengangguk2kan kepala sebentar. Katanya, “maafkan kawanku yang telah bermain2 dengan ilmu suaranya, yang tentunya tidak mampu menembus sedikit pun kepada penghuni rumah ini. Perkenalkan aku Ki Darma Candik, sedangkan temanku mempunyai nama Ki Mangunyuda” berkata teman orang berkumis lebat, yang mengaku bernama Ki Darma Candik tersebut.

“Minggirlah sebentar kakang, aku akan membuktikan apakah ilmunya sesuai dengan sesumbarnya” berkata orang yang bernama Mangunyuda.

“Hati-hati lah adi, yang kau hadapi ialah pewaris dari kedahsyatan Ilmu Kedungjati, ilmu yang sama dengan yang di punyai Adipati Harya Penangsang serta Patih Mentahun.
Dan mengertilah adi, ia ialah istri Ki Rangga Agung Sedayu.
Yang tentunya ada sesuatu yang telah suaminya luluhkan dalam ilmu-ilmunya” jawab yang bernama Darma Candik.

“Citra perguruan kita tak pernah terkalahkan oleh perguruan manapun, jika ada kawan-kawan kita yang berhasil ditundukkan, itu pun hanya oleh seorang Agung Sedayu.
Dan kakang tentunya mengetahui, ilmu-ilmu Agung Sedayu banyak yang bersumber dari perguruan kita. Aku tidak tahu dari mana Agung Sedayu mencuri ilmu-ilmu trah keprabon itu” jawab Mangunyuda.

Sekar Mirah yang mendengar perkataan Mangunyuda menarik nafas dalam-dalam, ia mengetahui Mangunyuda sengaja mencoba membuatnya marah sehingga akan mempengaruhi dalam membuat perhitungan-perhitungan dalam perang tanding yang sebenarnya. Jawabnya kemudian, “hai Mangunyuda, hari sudah mulai malam, apakah kau tidak mengetahui tugas perempuan untuk bangun pagi-pagi sekali untuk mempersiapkan makan pagi sebelum berangkat ke pasar?. Lekaslah mulai Mangunyuda, aku sudah mulai kantuk” berkata sekar mirah pelan.

Mangunyuda yang mendengar perkataan sekar mirah, jantungnya bagai meledak. Darahnya mengalir cepat yang membuat dadanya sesak menahan amarah yang tak tertahankan lagi. Katanya kemudian. “Aku akan membungkam mulutmu perempuan sombong !”

Mangunyuda meloncat tinggi-tinggi sebelum membuat kakinya menuju tepat ke kening sekar mirah dengan jari-jari kedua tangan Mangunyuda berbentuk cakar untuk menyerang ganda selanjutnya..

Dari suara desiran angin yang tajam, menandakan bahwa serangan Mangunyuda disertai ungkapan tenaga cadangan yang besar. Serangan yang begitu tiba-tiba dalam kecepatan serta tenaga dalam yang tinggi, memang diperhitungkan oleh Mangunyuda untuk memudahkannya dalam serangan-serangan selanjutnya. Tetapi sebenarnyalah, Sekar Mirah telah mempersiapkan semua yang ia punyai, termasuk telah membangunkan Aji Sapta Pandulu maupun Sapta Panggraita.
Hanya sekejap sebelum kaki Mangunyuda mengenai kepalanya, Sekar Mirah telah berjongkok dengan satu kaki, sedangkan kaki yang lain melayang mengarah pada pergelangan tangan Mangunyuda yang membentuk cakar ganda. Walau Sekar Mirah melakukannya hampir bersamaan saat ia menghindari serangan, juga dengan kecepatan tinggi, akan tetapi Mangunyuda masih mampu mengatasi serangan Sekar Mirah.

Dalam awal pertempuran ternyata keduanya tidak mau mengekang diri untuk melakukan penjajakan dari tataran rendah lebih dahulu. Serangan-serangan Mangunyuda laksana badai yang beruntun menyerang hampir ke semua bagian tubuh Sekar Mirah. Tetapi, Sekar Mirah tetap mampu menghindarinya, kemudian balas menyerang titik-titik lemah Mangunyuda.

Mangunyuda yang melihat Sekar Mirah masih mampu menghindari semua serangannya, bahkan berganti menyerang dirinya. Telah membuatny meningkatkan tataran ilmunya beberapa lapis. Sehingga yang tampak hanya bayang-bayang dari dua orang yang berperang tanding itu.

Hingga pada saat yang tak terhindarkan, Sekar Mirah terpaksa menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya untuk membenturkan dengan kaki Mangunyuda yang menyerang sangat cepat tak mampu dihindarinya lagi.
Saat terjadi benturan terdengar ledakan yang keras akibat benturan dari tenaga cadangan Sekar Mirah maupun Mangunyuda.

Walau tidak sampai bergeser dari tempat berdiri, Sekar Mirah merasakan kedua tangannya terasa sangat pedih serta dadanya yang terasa sesak. Mangunyuda sendiri sesaat setelah kakinya membentur pertahanan Sekar Mirah, tubuhnya berputar ke belakang sebelum kakinya mendarat agak jauh dari tempat Sekar Mirah berdiri. Tetapi hanya sesaat Mangunyuda mampu berdiri tegak, setelah itu ia tak mampu membawa beban tubuhnya, sehingga ia hampir roboh kalau saja kedua tangannya tak mampu menyangga tubuhnya.

Darma Candik yang menyaksikan dari pinggir arena perang tanding sejenak menahan nafas menyaksikan akibat dari benturan tenaga dalam itu. “Luar biasa perempuan ini.
Tata gerak dalam pertahannya seolah-olah sudah tertutup rapat.”

Hanya sesaat, Mangunyuda telah berdiri kembali.
Sekar Mirah tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyerang Mangunyuda. Sekar Mirah tiba-tiba meloncat tinggi, sambil tangannya menggenggam kuat menyerang dengan cepat ke arah Mangunyuda yang berdiri tegak.
Mangunyuda yang mengerti dirinya sedang diserang, hanya diam saja bahkan bibirnya tersenyum melihat datangnya serangan.

Sekar Mirah tidak sempat mengekang serangannya.
Sesaat kemudian tangan Sekar Mirah tepat membentur dada Mangunyuda.

Mangunyuda terdorong beberapa tindak ke belakang.
Tetapi Mangunyuda tetap seperti semula dengan bibir yang tetap tersenyum.

“Aji Tameng Waja” bisik seseorang yang berdiri di samping Carang Blabar.

“Tirai yang sangat tebal guru” jawab carang Blabar kepada orang di sampingnya yang ternyata ialah gurunya, Kyai Setinggil.

Sekar mirah sejenak tertegun sambil memandang Mangunyuda yang masih berdiri tegak di depannya. “Tenaga dalam perempuan ini sangat kuat, Tameng Waja ku mampu ia tembus, walau masih tipis mengenaiku. Aku tidak akan mencobanya lagi” berkata Mangunyuda dalam hati.

Sekar mirah memandang tajam Mangunyuda. “Ilmu kebal yang sangat kuat, aku harus mampu menembus-nya” berkata sekar mirah dalam hati.

Sejenak kemudian Sekar Mirah membuat gerakan-gerakan awal untuk merambah dalam tataran yang lebih tinggi.
Setelah menarik nafas dalam-dalam, Sekar Mirah melompat cepat ke arah Mangunyuda, jari-jari tangan Sekar Mirah menyatu sedang tangan yang lain mengepal di atas dada.
Dari suara desir angin sebenarnyalah Sekar Mirah telah menguatkan tenaga cadangannya.

Ternyata Mangunyuda juga telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Sesaat jari-jari tangan Sekar Mirah akan menyusup tepat di dadanya, Mangunyuda menjatuhkan badannya sambil kakinya membuat tendangan ke atas untuk menahan pukulan Sekar Mirah berikutnya. Sekar Mirah yang melihat Mangunyuda mampu menghindari serangannya, akhirnya memilih menghindari benturan serangan gandanya.
Sekar Mirah melenting ke atas sebelum kembali kakinya melakukan tendangan susulan.

Demikianlah pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya. Kedua-duanya semakin meningkatkan tingkat kemampuannya. Semakin lama gerakan keduanya semakin cepat setelah keduanya mengetrapkan ilmu meringankan tubuh mereka. Sekar Mirah benar-benar tak mengekang diri lagi. Tata gerak ilmu Kedungjati yang telah sampai pada puncaknya benar-benar membuat orang-orang di pinggir arena hanya mampu menahan nafas.

Semakin lama pertempuran semakin seru. Semakin sering pula mereka terpaksa membenturkan anggota tubuh mereka masing-masing. Sesaat Sekar Mirah terjajar beberapa tindak kebelakang, tetapi Mangunyuda pun sering terguling-guling akibat bentrokan yang tak terhindarkan lagi.

Berkali-kali terdengar suara desahan akibat benturan antara keduanya. Serangan-serangan yang silih berganti disertai kecepatan gerak yang tinggi. Dua bayangan yang saling menyambar, menerkam, kemudian berputaran dengan sangat cepat. Tetapi, kadang-kadang mereka berdua tidak bergerak sama sekali, kaki mereka seolah olah menancap di tanah, sedangkan kedua tangan mereka saling memukul dan menangkis.

Glagah putih dengan sungguh-sungguh menyaksikan dari balik pohon. “Tenaga dalam mbokayu masih di atas Mangunyuda beberapa lapis”. Guman Glagah Putih dalam hati. Kemudian, “Aji Alas Kobar!” tiba-tiba tersentak glagah putih sesaat melihat perubahan di arena perang tanding.
Sebenarnyalah Mangunyuda mulai mengeluarkan ilmu-ilmu simpanannya.

Tampak dari kedua telapak tangan Mangunyuda mengeluarkan api yang menyambar-nyambar. Kemanapun Sekar Mirah menghindar, api dari telapak tangan Mangun-yuda terus menyerangnya. Bahkan Sekar Mirah semakin terkejut saat melihat tubuh Mangunyuda melayang terbang, dengan kedua telapak tangannya tetap mengeluarkan api yang terus memburu kemanapun dirinya menghindar. Sekar Mirah benar-benar harus meningkatkan kecepatan tata geraknya sebelum api dari telapak tangan Mangunyuda benar-benar membakar tubuhnya. Sekar Mirah kadang-kadang harus melenting tinggi, kadang-kadang jungkir balik bahkan berguling-guling di tanah, saat Mangunyuda dari atas menyerangnya tiada henti.

Rara Wulan yang bersembunyi berseberangan dengan Glagah putih harus menahan nafas saat melihat yang terjadi di arena perang tanding itu. “orang itu mempunyai semacam Aji Ngantariksa. Itu yang membuat ia mampu melakukan serangan seolah-olah tiada henti sama sekali” berkata Rara Wulan dalam hati.

Di arena perang tanding, walau tata gerak Sekar Mirah sudah sedemikian cepat, seolah-olah hanya berupa bayangan yang meliuk-liuk tanpa pernah berhenti sekalipun, akhirnya dalam satu kesempatan lontaran api dari ungkapan aji alas kobar yang di trapkan Mangunyuda mampu menyentuh lengan Sekar Mirah, walau hanya mengakibatkan hangusnya kain pakaian Sekar Mirah. Sekar Mirah pun melakukan lompatan panjang untuk menjauhi arena perang tanding.
Kesempatan yang sekejap itu telah cukup buat Sekar Mirah untuk mengambil keputusan. Demikianlah di saat lontaran api dari aji alas kobar hampir menerpanya, sekali lagi Sekar Mirah membuat lompatan panjang hingga dirinya bergulingan di tanah.

Mangunyuda tidak membiarkan lawannya lepas dari lontaran apinya. Di saat Sekar Mirah bergulingan, Mangunyuda telah kembali melontarkan aji alas kobarnya.
Api yang laksana lidah yang membara meluncur cepat ke arah Sekar Mirah. Sekar Mirah memang menyadari sepenuhnya akan lontaran aji alas kobar yang akan terus mengejarnya, kemanapun dirinya menghindar. Sekar Mirah pun telah mengambil keputusan untuk tidak terus menghindar.
Sebenarnyalah sesaat kemudian tampak Sekar Mirah dengan sebelah tangan menyangga tubuhnya, seolah-olah menanti datangnya api dari ungkapan aji alas kobar nya Mangunyuda.
Hanya sekejap api itu tepat mengenai tubuh Sekar Mirah, tiba-tiba Sekar Mirah mengangkat tangannya. Dengan tangan yang membentuk kepalan menghadang api yang membentuk lidah panjang.

Mangunyuda terkejut melihat apa yang telah terjadi.
Api yang hanya sekejap akan menghanguskan Sekar Mirah tiba2 terhenti seolah-olah tertahan dinding yang tak terlihat.
Mangunyuda semakin terkejut ketika api yang seolah-olah menerpa dinding yang tak terlihat itu, bergulung-gulung meluncur kembali ke arah datangnya.

Di arena perang tanding, walau tata gerak Sekar Mirah sudah sedemikian cepat, seolah-olah hanya berupa bayangan yang meliuk-liuk tanpa pernah berhenti sekalipun, akhirnya dalam satu kesempatan lontaran api dari ungkapan aji alas kobar yang di trapkan Mangunyuda mampu menyentuh lengan Sekar Mirah, walau hanya mengakibatkan hangusnya kain pakaian Sekar Mirah. Sekar Mirah pun melakukan lompatan panjang untuk menjauhi arena perang tanding.
Kesempatan yang sekejap itu telah cukup buat Sekar Mirah untuk mengambil keputusan. Demikianlah di saat lontaran api dari aji alas kobar hampir menerpanya, sekali lagi Sekar Mirah membuat lompatan panjang hingga dirinya bergulingan di tanah.

Mangunyuda tidak membiarkan lawannya lepas dari lontaran apinya. Di saat Sekar Mirah bergulingan, Mangunyuda telah kembali melontarkan aji alas kobarnya.
Api yang laksana lidah yang membara meluncur cepat ke arah Sekar Mirah. Sekar Mirah memang menyadari sepenuhnya akan lontaran aji alas kobar yang akan terus mengejarnya, kemanapun dirinya menghindar. Sekar Mirah pun telah mengambil keputusan untuk tidak terus menghindar.
Sebenarnyalah sesaat kemudian tampak Sekar Mirah dengan sebelah tangan menyangga tubuhnya, seolah-olah menanti datangnya api dari ungkapan aji alas kobar nya Mangunyuda.
Hanya sekejap api itu tepat mengenai tubuh Sekar Mirah, tiba-tiba Sekar Mirah mengangkat tangannya. Dengan tangan yang membentuk kepalan menghadang api yang membentuk lidah panjang.

Mangunyuda terkejut melihat apa yang telah terjadi.
Api yang hanya sekejap akan menghanguskan Sekar Mirah tiba2 terhenti seolah-olah tertahan dinding yang tak terlihat.
Mangunyuda semakin terkejut ketika api yang seolah-olah menerpa dinding yang tak terlihat itu, bergulung-gulung meluncur kembali ke arah datangnya.

Pantulan lidah api itu bahkan lebih cepat dari semula.
Mangunyuda sendiri hampir terlambat untuk menghindari terpaan api yang membara tersebut. Orang-orang yang menyaksikan dari pinggir arena hanya termangu-mangu sambil menahan nafas.

“Ilmu apa itu guru” berbisik Carang Blabar kepada gurunya.

Kyai Setinggil hanya menggelengkan kepala sambil menarik nafas dalam-dalam. “Mungkin salah satu kandungan dari ilmu-ilmu Kedungjati. Tetapi bisa saja ilmu yang seolah-olah datang dengan sendirinya karena mungkin Nyi Sekar Mirah menjalani laku pribadi sendiri. Sebagaimana Ki Rangga Agung Sedayu yang menurut Ki Citra Gati juga mempunyai aji sorot mata, yang dahulu ia peroleh dari laku mesu diri tanpa lantaran seorang guru.”

Sementara itu Mangunyuda yang bersusah payah untuk menghindari api yang berasal dari ilmunya sendiri,
berdiri dengan jantung yang berdegup kencang. Perasaan marah serta terkejut bercampur menjadi satu. “Sekar Mirah, aku rasa sudah cukup bermain-main dengan kau. Bersiaplah, mungkin ini terakhir kali kau bisa melihat saudara-saudaramu. Sayang kau tidak bisa berpamitan kepada suamimu” teriak Mangunyuda.

Sekar Mirah menyadari bahwa Mangunyuda sudah akan merambah pada ilmu pamungkasnya. Sebenarnyalah Mangunyuda tampak membuat gerakan-gerakan khusus. Kedua tangan yang lurus kedepan kemudian di tarik menelungkup berhadapan di atas dada. Setelah sebelah kaki Mangunyuda di tarik ke belakang tampak di antara ke dua telapak tangan Mangunyuda muncul bulatan besar yang berwarna merah menyala. Sekar Mirah pun tak tinggal diam. Ia tak ingin terlambat untuk menghadapi aji pamungkas Mangunyuda.

Sekar Mirah berdiri dengan tangan kiri tetap terurai di samping tubuhnya. Sedangkan tangan kanan di atas dada dengan jari-jari tangan merapat lurus menghadap ke atas.
Tenaga cadangan telah di kumpulkan untuk mendukung ilmu yang akan ia trapkan. Glagah putih yang menyaksikan dari balik pohon tercekat melihat gerakan-gerakan Sekar Mirah.

“Aji pamungkas Perguruan Kedungjati! Ilmu nggegirisi yang hanya pernah mbokayu gunakan saat menghadapi Ki Saba lintang di perang Demak dahulu. Kalau seluruh tenaga cadangannya disatukan tanpa sisa, apa jadinya dengan Mangunyuda” berbisik Glagah putih dalam hati.

Sebenarnyalah Mangunyuda pun terlihat segera menghentakkan dengan cepat kedua tangannya ke depan.
Tampak bulatan sebesar kepala kerbau yang tampak bersinar merah melesat cepat ke arah Sekar Mirah. Suara gemuruh seakan-akan menyertai ungkapan aji pamungkas Mangun-yuda. Hanya sekejap sebelum aji pamungkas Mangunyuda menghantam Sekar Mirah, tampak Sekar Mirah mengangkat tangan kanannya menghadapkan telapak tangannya ke arah datangnya serangan. Sekejap Bulatan besar yang bersinar itu mendera tubuh Sekar Mirah, melesat cahaya putih kehijauan yang hanya terlihat samar-samar dari telapak tangan Sekar Mirah. Cahaya putih dengan bilur-bilur hijau melesat menghadang bulatan merah menyala ungkapan aji pamungkas Mangunyuda. Orang-orang yang menyaksikan dari pinggir arena seakan-akan menahan nafas menunggu apa yang akan terjadi dari benturan dua ilmu pamungkas tersebut.

“Semoga Nyi Sekar Mirah masih sedikit mengekang kekuatan ilmunya. Kalau tidak, Mangunyuda akan hangus jadi debu” berkata Damar Candik.

Akhirnya sesaat kemudian ledakan yang keras terjadi.
Seakan-akan tanah ikut bergetar di saat terjadinya benturan dari dua ilmu pamungkas itu. Bunga-bunga api membumbung tinggi di angkasa. Dahan-dahan berguguran luruh ke tanah.
Tampak sekar mirah terhuyung-huyung ke belakang beberapa tindak. Ternyata ilmu pamungkas Sekar Mirah beberapa lapis di atas ungkapan ilmu Mangunyuda. Sebenarnyalah setelah terjadi benturan yang dahsyat itu, Mangunyuda terlempar hingga jatuh bergulingan membentur pagar pembatas rumah Agung Sedayu.

Darma Candik seketika segera melompat mendapatkan Mangunyuda yang tergeletak menelungkup di samping pagar halaman. “bertahanlah Mangunyuda” desis Damar Candik.
Damar Candik pun segera membalikkan tubuh Mangunyuda.
Tampak darah meleleh dari sela-sela mulut Mangunyuda.
Damar Candik segera meraba hampir seluruh bagian penting dari tubuh Mangunyuda. Akhirnya Damar Candik menarik nafas dalam-dalam. “Ternyata Nyi Sekar Mirah masih mengekang ilmunya, kalau tidak tubuhmu akan lumat Mangunyuda” berkata Damar Candik dalam hati.

Glagah putih sendiri dan yang lain serta Ki Jayaraga telah berdiri di dekat Sekar Mirah yang tengah duduk bersila bersemedi untuk membuat semua kembali seperti semula.
Rara Wulan berdiri di belakang kakak sepupunya itu, menanti sampai Sekar Mirah benar-benar menyelesaikan semedinya.
Sebenarnyalah bersamaan di saat Sekar Mirah menghembus-kan nafas, tangan Sekar Mirah pun terurai kesamping sebagai tanda selesainya semedi.

“Kakangmbok” desis Rara Wulan.

Sekar Mirah segera menoleh ke belakang.

“Bagaimana keadaan Kakangmbok, lanjut Rara Wulan.”
Sekar Mirah tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

“Yang Maha Agung masih melindungiku, Rara” jawab Sekar Mirah perlahan.

“Nyi Sekar Mirah mengekang ilmunya dalam wujud puncak ungkapannya” tiba-tiba terdengar suara lirih dari sebelah belakang.

“Siapakah ki sanak ini” Sekar Mirah menyahut dengan pertanyaan terhadap orang yang baru saja berbicara itu.

“Nyi Sekar Mirah, perkenankan aku yang menjawabnya” tiba-tiba carang Blabar berbicara.

Akan tetapi sebelum Carang Blabar meneruskan bicaranya, Glagah Putih telah mendahului menjawab. “Kakangmbok, benar seperti yang di katakan saat Kakangmbok akan bertempur dengan Mangunyuda tadi, paman ini ialah paman Carang Blabar yang saat aku bersama Rara Wulan mendapat tugas untuk mencari keberadaan Ki Saba Lintang dengan tongkat baja putihnya, paman inilah yang telah membantu serta menyelamatkan aku serta Rara Wulan.”

Carang Blabar mengangguk hormat terhadap Sekar Mirah.
“Nyi Sekar Mirah, kami datang bersama guruku Kyai Setinggil serta paman guru Kyai Winasis, yang sekarang tidak berada jauh dari tempat ini, untuk berjaga jaga melihat keadaan kalau saja Darma Candik dan Mangunyuda datang tidak hanya mereka berdua. Maafkan kami Nyi, jika kami telah deksura dengan melakukan semua ini, tanpa ijin dari Nyi Sekar Mirah serta saudara-saudara yang lain. Masih banyak yang ingin kami sampaikan Nyi, tetapi apakah tidak sebaiknya kita lihat dahulu keadaan Mangunyuda? Berkata Kyai Setinggil sambil mengangguk hormat.”

Dan ternyata ketika Sekar Mirah serta yang lain mendekati tempat Mangunyuda terbaring, Ki Jaya Raga telah membantu mengobati Mangunyuda. Walau Mangunyuda masih tak sadarkan diri, akan tetapi tampak nafas Mangunyuda mulai mengalir dengan baik. Wajah mulai tampak berdarah kembali.

“Terima kasih Nyi, atas kerendahan hati Nyi Sekar Mirah, yang masih mengekang ilmu yang nggegirisi itu” desis Darma Candik.”

“Apakah kalian juga bagian dari orang2 perguruan semu?” Bertanya Sekar Mirah. Apakah kalian juga yang telah membuat seorang pemuda yang bernama Sukra harus mengalami tindakan sewenang-wenang?” berkata Sekar Mirah.

Darma Candik hanya terdiam menundukkan kepala.
“Mengertilah mengapa aku tidak menuntaskan benturan ilmu, karena aku masih menghargai Sukra. Kalau saja dalam kesempatan lain Sukra akan mengukur kemajuan ilmunya, tentunya kalian berdua akan menepati janji untuk melakukan perang tanding yang adil. Sejak mengalami peristiwa malam ini, aku akan berharap dan memohon Kakang Agung Sedayu mau mengangkat Sukra sebagai murid murni, yang akan mewarisi ilmu-ilmu Kakang Agung Sedayu, sampai batas kemampuan yang ada dalam diri Sukra.”

Orang-orang yang berdiri di halaman rumah itu hanya terdiam. Bahkan Darma Candik semakin tertunduk tanpa mampu menatap wajah Sekar Mirah.

“Baiklah ki sanak, biarlah ki Jayaraga membantu merawat temanmu itu, tentunya sebelum kalian berdua pulang untuk melaporkan hasil dari tugas kalian ini. Karena keperluan kalian datang ke menoreh ini adalah karena ada kepentingan pribadi dengan penghuni rumah ini bukan untuk kepentingan dengan Tanah Perdikan Menoreh pada umumnya, maka aku jamin keselamatan kalian selama berada di tanah perdikan ini. Biarlah Glagah Putih nanti yang akan melaporkan kejadian ini kepada Ki Argapati, berkata Sekar Mirah selanjutnya.

Untuk pertama kali Damar Candik menganggukkan kepala, tetapi tetap dengan kepala tertunduk. Sekar Mirah diam sejenak untuk menanti jika ada sesuatu yang akan dikatakan darma Candik. Tetapi Darma Candik tetap terdiam tanpa berkata atau berbuat sesuatu. Akhirnya Sekar Mirah bertanya kepada Carang Blabar. “Ki Carang Blabar, apakah tidak sebaiknya paman menemui paman guru Ki Carang Blabar, aku akan mengucapkan terima kasih kepadanya”

Carang Blabar menganggukkan kepala. Katanya,
“baiklah Nyi , aku akan segera menemui Kyai Winasis, semoga belum berpindah tempat.”

Sebenarnyalah Carang Blabar segera pergi untuk menjemput Kyai Winasis. Hanya beberapa saat setelah Carang Blabar pergi menjemput paman gurunya itu, tiba-tiba tampak beberapa orang memasuki halaman rumah Agung Sedayu.

“Ki Gede!” Glagah Putih yang berdiri paling dekat segera menyambut kedatangan ki Gede Menoreh yang ternyata datang bersama beberapa pengawal tanah perdikan yang sedang mendapat tugas meronda.

“Apa yang telah terjadi, Angger Glagah Putih? Aku tadi mendapat laporan dari salah satu pengawal yang sedang meronda, yang kebetulan lewat tidak jauh dari tempat ini.
Ia melihat api yang membumbung tinggi yang disertai ledakan yang sangat keras.” Bertanya Ki Gede Menoreh.

“Memang sebenarnya seperti itu ki Gede. Di halaman rumah ini telah terjadi perang tanding antara Mbokayu Sekar Mirah dengan orang yang terbaring itu” jawab glagah putih.

Demikianlah Glagah Putih pun menceritakan dari awal sampai akhir tanpa ada yang tertinggal sedikit pun.
Mulai dari Sukra yang datang dengan luka-luka di tubuhnya sampai terjadinya perang tanding antara Sekar Mirah dengan Mangunyuda.

Ki argapati mendengarkan dengan sungguh-sungguh sambil mengangguk-anggukkan kepala, sekali-sekali disertai kening yang berkerut-kerut. “Biarlah orang itu di rawat di rumahku saja, beberapa pengawal akan menjaganya” berkata ki Gede menoreh setelah mendengarkan laporan Glagah Putih dari awal sampai akhir.

“Baiklah, kami mengikuti yang terbaik menurut ki Gede” berkata Sekar Mirah.

Sebenarnyalah beberapa pengawal tanah perdikan segera membawa Mangunyuda juga Damar Candik ke rumah ki Gede menoreh.

“Perkuat pengawal di rumahku serta tugaskan penghubung untuk memperkuat perondaan di padukuhan-padukuhan”, perintah ki Gede kepada pemimpin pengawal yang sedang meronda.

“Baik ki Gede” jawab pemimpin pengawal sesaat sebelum membawa darma Candik serta Mangunyuda.

Sebenarnyalah Ki Gede Menoreh serta yang lainnya segera duduk berkumpul di pendapa rumah agung sedayu. Ki Jayaraga sendiri setelah melihat perkembangan keadaan Sukra, juga segera ikut bergabung di pendapa.

“Kelihatannya orang-orang Panaraga atau para pendukungnya mulai bergerak. Walaupun masih dalam memangkas ranting-ranting atau memperlemah secara jiwani rakyat Mataram” berkata Ki Argapati.

“Tetapi paling tidak, ranting-ranting kekuatan mataram sangat liat, tidak mudah untuk patah. Bahkan mungkin akan sulit bagi Panaraga untuk membedakan mana yang batang, mana yang ranting” sahut Ki Jayaraga sambil tersenyum.

Tiba-tiba percakapan mereka terhenti, ketika dua orang memasuki halaman rumah Agung Sedayu.

“Silahkan kyai, paman Carang Blabar” berkata glagah putih menyambut dua orang yang baru saja masuk di halaman rumah, yang ternyata Carang Blabar serta paman gurunya Kiai Winasis.

Carang Blabar serta Kiai Winasis segera mengangguk hormat kepada orang-orang yang duduk di pendapa itu.

“Silahkan kyai, keadaan sudah menjadi tenang kembali” berkata Ki Gede menoreh menyambut Kiai Winasis dan Carang Blabar.

“Aku secara pribadi mewakili keluarga Ki Rangga Agung Sedayu, dan aku secara umum sebagai yang di beri kepercayaan memimpin tanah perdikan ini, mengucapkan banyak terima kasih kepada Ki sanak bertiga. Ki sanak bertiga telah memberi pelajaran yang berharga kepada kami, untuk lebih meningkatkan penjagaan di seluruh wilayah tanah perdikan.

“Bukan maksud kami untuk deksura Ki Gede” jawab kyai Setinggil. “Mungkin yang berada di tanah perdikan ini belum mengetahui yang sebenarnya. Mengertilah Ki Gede, nama Menoreh telah menembus cakrawala, baik di timur atau di barat. Nama menoreh seakan akan telah menjadi pembanding atas kemajuan kademangan-kademangan lain. Dan yang pasti di Tanah Perdikan Menoreh ini ialah gudang dari orang-orang berilmu tinggi. Kami mengetahui semua Ki Gede, sudah berapa puluh kali tanah perdikan ini ingin di ambil paksa oleh para pemberontak untuk di jadikan sebagai landasan yang kuat untuk gerakan selanjutnya. Tetapi sudah berapa kali juga tanah perdikan ini mampu melindungi dirinya.”

“Ah itu terlalu berlebihan kyai, jawab Ki Argapati.
Kami rakyat Menoreh hanya mencoba untuk hidup sebagaimana mestinya, yang menjaga keseimbangan antara hak serta kewajiban.” Jawab Ki Gede Menoreh.

“Dan kami bertiga sebelum sampai ke tanah perdikan ini telah diberi pertunjukan oleh senapati pasukan khusus mataram yang berada di tanah perdikan menoreh, Ki Rangga Agung Sedayu” tiba2 berkata Carang Blabar.

Sekar mirah terkejut, saat nama Agung Sedayu di sebut oleh Carang Blabar. “Apa yang terjadi dengan Kakang Agung Sedayu” bertanya sekar mirah dengan suara agak tersendat.

Carang Blabar tersentak setelah mengetahui perkataannya membuat sekar mirah mengkhawatirkan keselamatan Agung Sedayu. Dengan cepat ia menyahut, “Maaf Nyi, kalau perkataanku membuat Nyi Sekar Mirah menjadi cemas.
Sebenarnya kami bertiga telah bertemu dengan tidak sengaja dengan Ki Rangga Agung Sedayu.”

Sebenarnyalah Carang Blabar segera menceritakan secara runtut tentang pertemuan mereka di lereng gunung Merapi, tanpa ada yang tertinggal sedikit pun. Sekar mirah serta yang lain akhirnya bernafas lega, setelah mendengarkan cerita Carang Blabar.

“Sepertinya orang-orang Perguruan Semu sengaja ingin menguji kemampuan Ki Rangga Agung Sedayu” gumam Ki Jayaraga.

“Ki Rangga sudah mengetahuinya Ki Jayaraga” berkata Kiai Winasis.

“Kalau Perguruan Semu terus menerus memaksa dengan cara itu, aku rasa Perguruan Semu tidak akan ikut dalam peperangan yang sebenarnya” tiba-tiba berkata Rara Wulan.

Semua yang berada di pendapa itu tersenyum mendengar perkataan Rara Wulan.

“Ki Gede, Nyi Sekar Mirah, kami minta ijin untuk dapat tinggal di tanah perdikan ini untuk beberapa saat” berkata Kiai Winasis selanjutnya. “Dan kami akan mengikuti paugeran yang berlaku di tanah perdikan ini.”

Ki Gede tersenyum mendengar perkataan Kiai Winasis. “Aku sudah lama tinggal sendiri kyai, hanya kadang-kadang Ki Jayaraga mau menemaniku. Tetapi ternyata Ki Jayaraga lebih suka dengan parit dan cangkulnya” gurau Ki Argapati.

“Baiklah, malam semakin larut, aku minta para tamu ada yang mau menemaniku menjaga orang-orang Perguruan Semu itu. Aku sendiri tidak akan mampu melawan Darma Candik.
Mungkin kalau di paksa, aku memilih menghadapi Mangunyuda saja” berkata Ki Gede Menoreh.

Kiai Winasis serta yang lain tersenyum mendengar gurauan Ki Argapati.

Sebenarnyalah ki Gede menoreh segera berpamitan di ikuti Kiai Winasis dan Kyai Setinggil. Carang Blabar sendiri memilih untuk tetap tinggal di rumah Agung Sedayu.

—oOo—

Sementara itu, di lebatnya hutan selatan menoreh terlihat dua orang sedang duduk di dekat mata air kecil. Salah seorang diantaranya memulai pembicaraan, “Ternyata kita tidak usah membuat gubuk, Rasta. Goa sempit itu, besok akan ku coba memasukinya. Semoga bisa kita tinggali untuk sementara waktu.”

“Apakah besok, kita akan turun ke padukuhan terdekat kakang?” bertanya Rasta.

“Kita lihat dahulu keadaannya besok, Rasta” jawab kawan berbincang Rasta.

Kedua orang itu akhirnya terdiam dalam beberapa saat. Masing-masing dalam alam pikirannya sendiri-sendiri.

“Tidurlah kau dulu, Rasta. Nanti kau aku bangunkan untuk ganti berjaga!” berkata kawan berbincang Rasta.

“Baiklah kakang”, jawab Rasta.

Rasta pun segera memejamkan mata, mengendurkan otot-otot yang menegang setelah seharian menempuh perjalanan mendampingi kakaknya, Harya Pamungkas. Hanya sesaat, Rasta pun telah dapat tertidur pulas.

Harya Pamungkas tersenyum melihat Rasta dalam tidurnya. Katanya, “semoga di masa-masa yang akan datang, kau tidak mengalami seperti yang aku jalani sekarang ini.
Aku berjanji untuk membuatmu menjadi pemuda yang bisa hidup seperti orang-orang kebanyakan. Biar aku yang menjalani ini semua, hidup dalam mimpi mimpiku, berkata Harya Pamungkas dalam hati.”

Suara hewan malam terdengar silih berganti.
Di kejauhan sekali-sekali terdengar auman harimau. Burung hantu pun seakan akan menetapi kewajibannya untuk memberi rasa takut bagi yang mendengar suaranya.
Tetapi alam pun memberi keseimbangan, dengan menghadir-kan kunang-kunang yang beterbangan memberi warna keindahan malam tersendiri. Malam pun semakin berjalan menuju puncaknya. Lintang Gubuk Penceng tampak jelas menjadi lukisan indah di angkasa raya.

“Indahnya alam ini, dibalik keperkasaannya” desis Harya Pamungkas. Kemudian, “Betapa kecil dan kerdilnya aku. Mengapa banyak manusia termasuk aku selalu berlaku sombong. Mengaku yang paling benar. alangkah damainya andai alam dengan keindahannya ini tidak ada yang menguasai. Tidak ada yang memperebutkan. Andai kehidupan manusia memerlukan tumbal untuk bisa seperti keindahan alam raya ini, aku bersedia melakukannya.”

Sesaat berlalu, Harya Pamungkas kembali memandang wajah Rasta. “untuk malam ini, biarlah kita tidak bergantian berjaga” gumam Harya Pamungkas sambil tersenyum.

—oOo—

Dalam waktu yang hampir bersamaan, di penyeberangan sebelah utara Kali Praga tampak dua rakit hilir mudik menyeberangkan para penumpang. Penyeberangan sebelah utara Kali Praga termasuk penyeberangan yang kecil.
Yang jarang dilalui oleh para pedagang maupun penduduk setempat. Dua tukang satang itu seakan-akan mendapat durian runtuh yang tidak terbayang sama sekali. Para penumpang itu membawa barang-barang yang kebanyakan dihiasi dengan janur.

Dan sebenarnyalah, kepada tukang satang para penumpang itu mengatakan akan menghadiri pernikahan kerabat mereka.
Saat kokok ayam yang pertama sayup-sayup terdengar, semua penumpang baru selesai diseberangkan ke tepian barat Kali Praga.

Setelah membayar semua upah penyeberangan, rombongan itu pun segera melanjutkan perjalanan mereka. Tetapi ketika rombongan besar itu sampai di atas tebing, tiba-tib seseorang berteriak memanggil dua tukang satang yang sedang membenahi rakit-rakitnya. “Ki sanak, kemarilah sebentar.
Ini ada sedikit makanan untuk kalian, teriak seorang bertubuh besar.”

Saat mendengar mereka akan di beri makanan, dua tukang satang itu pun segera menuju ke atas tebing. “tentunya kalian berdua sangat lelah, dan tentu saja juga sangat lapar. Setelah kalian berdua hilir mudik menyeberangkan kami semua” berkata seorang bertubuh besar, sesaat setelah dua orang tukang satang itu sampai di tempat rombongan itu berhenti. “Berikan bekal makanan kita itu adi, berkata seorang bertubuh besar itu kepada salah seorang kawannya.”

Sebenarnyalah kawan seorang bertubuh besar itu segera mendekat dengan membawa tiga bungkusan daun pisang.

“Silahkan ambil ki sanak. Tanpa kisanak berdua tentu kami semua belum sampai di seberang Kali Praga ini” berkata orang yang membawa bungkusan daun pisang itu.

Dua orang tukang santang itu pun segera menerima tiga bungkusan daun pisang tersebut. “Terima kasih ki sanak. Selain kami mendapat upah yang berlebih dari ki sanak, kami juga mendapat pemberian makanan yang berlebih juga” berkata salah seorang tukang satang.

Laki laki bertubuh besar itu tersenyum memandang kedua tukang satang itu. Tetapi sesaat kemudian laki laki bertubuh besar itu menatap tajam kepada dua orang tukang satang itu.
“Makanlah yang dua bungkus daun pisang itu. Yang satu berikanlah kepada Ngabehi Loring Pasar, katakan padanya Mataram yang di tinggalkan tidak mampu berdiri lagi.”

Tiba-tiba tidak tahu apa yang telah terjadi, dua orang tukang satang itu telah terbujur kaku.

“Cepat hanyutkan mereka di arus Kali Praga. Waktu kita tidak banyak, sebelum matahari terbit, kita harus sudah sampai di tempat yang telah kita sepakati.” Berkata orang itu.

Sebenarnyalah, orang yang tadi membawa bungkusan daun pisang serta seorang kawannya yang lain, segera menyambar tubuh-tubuh kaku itu. Mereka segera berlari menuruni tebing Kali Praga sambil memanggul tubuh kaku dua orang tukang satang itu, untuk di hanyutkan di arus Kali Praga. Hanya sesaat mereka berdua telah kembali lagi bergabung dengan rombongan yang menunggu mereka di atas tebing.

“Mari segera kita lanjutkan perjalanan yang tinggal sedikit lagi ini” berkata orang bertubuh besar yang tampaknya adalah pemimpin rombongan itu. “Turangga Pethak, kau tetap di paling belakang, untuk menghilangkan jejak jejak kita.”

“Daerah utara ini memang sangat menguntungkan kita.
Disamping jarang dilalui orang-orang pedukuhan terdekat,
jalan yang akan kita lalui ialah yang paling dekat dengan tempat yang akan kita tuju. Putut Kirana serta kau Sura Abang, kalian di depan kelompok untuk membuka jalan.
Sebelum matahari terbit kita harus sudah bertemu dengan Empu Sapu Jagad.”

Demikianlah kelompok orang-orang itu segera berjalan dengan Putut Kirana serta Sura Abang yang membuka semak belukar. Kedua orang itu sangat hati-hati dalam memilih belukar yang akan mereka lalui. Taranga Pethak yang berjalan paling belakang dengan sigap menghilangkan jejak-jejak yang mungkin nampak jelas terlihat. Kelompok itu berjalan terus menembus belantara hutan di sebelah utara menoreh.

“Setelah melewati dua bukit lagi, harusnya kita sudah sampai ke tempat tujuan, Wuragil” berkata orang bertubuh besar yang menjadi pimpinan kelompok itu.

“Aku kira sebelum terbit matahari, kita sudah sampai, empu” jawab orang yang di panggil wuragil.

Semakin lama kelompok besar itu semakin mendekati tempat yang mereka tuju. Hingga saat mereka hampir tiba di bukit terakhir, tiba-tiba Putut Kirana dan Sura Abang menghentikan rombongan. Orang bertubuh besar yang di panggil itu tersenyum sejenak. Katanya, “Wuragil, kau dengar suara burung hantu itu.”

“Aku dapat mendengarnya dengan jelas” empu jawab wuragil.

“Itulah isyarat dari kawan-kawan kita, dan kita akan segera bertemu dengan Empu Sapu Jagad. Perintahkan kepada putut Kirana serta Sura Abang untuk mempercepat jalan” berkata orang bertubuh besar yang di panggil empu kepada Wuragil.

Suara burung hantu itu terus berbunyi seakan akan sebagai petunjuk jalan untuk di ikuti kelompok besar itu berjalan menuju perkemahan kelompok Empu Sapu Jagad.

“Sselamat datang di Menoreh Empu Serat Waringin”, tiba-tiba terdengar suara yang menyapa sesaat setelah burung hantu berhenti bersuara.

Kelompok besar itu pun segera berhenti. Walau mereka yakin yang baru saja berbicara kepada pimpinan mereka ialah Empu Sapu Jagad, tetapi mereka tetap hati-hati. “Siapkan senjata kalian” berkata orang bertubuh besar yang dipanggil dengan sebutan Empu Serat Waringin itu. “Aku mengerti, yang baru saja menyapaku ialah Empu Sapu Jagad, tetapi kita harus tetap berhati-hati. Siapa tahu orang2 menoreh telah menjadikan mereka tawanan.”

“Tidak mudah, orang-orang Menoreh menghancurkan kami, Empu Serat Waringin. Apalagi di sini kita kedatangan tamu penting, Kiai Kebo Langitan” berkata Empu Sapu Jagad yang seakan-akan mengerti apa yang ada dalam kepala Empu Serat Waringin.

“Kami hanya berhati-hati Empu Sapu Jagad,
biarkan kami memasuki perkemahan dengan senjata terhunus. Paling tidak untuk di lihat oleh Kiai Kebo Langitan, bahwa kelompok kami ialah kumpulan orang-orang yang siap mati demi kembalinya citra yang kita inginkan.” Berkata Empu Serat Waringin.

Empu Sapu Jagad tertawa keras mendengar perkataan Empu Serat Waringin. “Baiklah empu, Kiai Kebo Langitan ingin kau sendiri yang langsung memimpin kelompok.
Kami akan menyambut dengan upacara kehormatan.”

Empu Serat Waringin pun tertawa mendengar jawaban dari Empu Sapu Jagad. akhirnya kelompok besar itu pun masuk ke lingkungan perkemahan.

—oOo—

Sementara itu, semburat merah seakan2 mengintip dari ufuk timur. Samar-samar kokok ayam jantan terdengar bersahut-sahutan. Harya pamungkas yang bersandar di akar pohon besar, segera bangkit berdiri, menuju mata air kecil untuk membersihkan diri.

Sesaat Rasta pun terbangun dari tidurnya. Ia segera bergegas mendekati Harya Pamungkas yang sedang duduk dengan merendamkan kedua kakinya di mata air kecil itu.
“mengapa kakang tidak membangunkan aku, untuk bergantian jaga.”

Harya Pamungkas hanya tersenyum memandang wajah Rasta yang masih tampak garis-garis bekas tidur. “Duduk di dekatku sini Rasta, rendamkan kakimu biar rasa lelahmu segera hilang.”

Rasta pun segera duduk mengikuti apa yang dilakukan Harya Pamungkas.

“Kita nikmati dahulu alam yang indah ini, Rasta. Kita rasakan sisa-sisa embun pagi ini. Apa kau merasa terganggu dengan ikan-ikan kecil itu, yang seolah-olah memakan kakimu itu Rasta?” bertanya Harya Pamungkas.

“Tidak kakang, bahkan seolah-olah darahku bergerak cepat.

“Itulah salah satu keseimbangan alam. Ikan-ikan itu memang sebenarnyalah menggigit kaki kita, tapi apakah kita akan dengan mudahnya membunuh ikan-ikan itu padahal sakit pun tidak terasa sama sekali. Pahami serta renungkan peristiwa ini Rasta.” Berkata Harya Pamungkas.

Rasta menganggguk-aggukkan kepala sambil pandangan-nya masih melihat ikan-ikan kecil yang semakin banyak jumlahnya.

“Marilah Rasta, matahari pagi sudah terbit, kita akan mulai dengan tugas-tugas kita.” Berkata Harya Pamungkas.

“Bukankah kakang akan lebih dulu akan melihat gua sempit itu. Kakang, kalau diijinkan selagi kakang masuk ke gua, aku akan turun ke padukuhan terdekat untuk membeli perbekalan makanan kita” berkata Rasta.

Harya Pamungkas tiba-tiba tersentak mendengar niat Rasta yang akan pergi ke padukuhan seorang diri. Harya Pamungkas menarik nafas dalam2, tersenyum menepuk-nepuk pundak Rasta. “Bukan aku meragukan kemampuanmu Rasta, aku yakin tidak sembarang orang yang sanggup mengimbangi kemampuanmu dalam olah kanuragan. Tetapi kau harus ingat kita sedang dalam menjalankan tugas. Jangan sampai kita memaksakan diri yang akibatnya dapat menggagalkan semua rencana kita.”

“Rasta, aku akan memasuki gua itu sekarang. Hutan ini sangat jarang dilalui penduduk sekitar, lihatlah akar-akar pohon, semak belukar yang masih meranggas. Tetapi kau harus tetap berhati-hati, seandainya ingin menjerang air, jagalah apimu sekecil mungkin.” Berkata Harya Pamungkas.

“Baik kakang, aku akan selalu mengingat pesan-pesan itu.” Jawab Rasta.

Sebenarnyalah Harya Pamungkas segera berjalan mendekati batu besar yang ternyata terdapat gua di bawahnya yang hampir seluruh mulut guanya tertutup akar yang menjalar. Harya Pamungkas segera menyingkirkan akar-akar maupun tumbuh-umbuhan yang menjalar itu. “Sangat sempit, harus dengan jalan merangkak aku memasuki mulut gua ini.
Baiklah aku akan mencoba memasukinya, mungkin di dalamnya ada tempat yang lebih luas” berkata Harya Pamungkas dalam hati.

Sesaat akan memasuki gua itu, Harya Pamungkas melambaikan tangan memanggil Rasta untuk mendekat.
“Rasta, seandainya matahari sampai di puncaknya, aku belum kembali, aku perintahkan kau harus segera pergi dari tempat ini. Kau tidak boleh membantah, yang aku ucapkan ialah sabda pandita ratu.”

“Hamba junjung tinggi pangeran” ,jawab Rasta.

Rasta pun akhirnya hanya bisa memandangi Harya Pamungkas merangkak melewati mulut gua. “Engkau orang sakti, berilmu tiada banding. Aku yakin kau akan segera keluar dari gua, kakang” gumam Rasta sesaat Harya Pamungkas memasuki gua.

“Baiklah aku akan mencari ranting-ranting kering untuk membuat perapian. Sejak kemarin kakang Harya Pamungkas hanya minum air saja. Masih ada jahe serta sedikit gula aren, akan menjadi minuman hangat untuk kakang Harya Pamungkas.” Gumam Rasta.

Sebenarnyalah Rasta akhirnya mulai dengan pekerjaannya. Sambil menanti air masak, Rasta menumbuk jahe dalam mangkuk satu-satunya yang ada.

“Pangeran yang rendah hati, sudah lebih dari tiga purnama ia bergantian mangkuk denganku. Sampai kapan pun akan aku simpan mangkuk ini. Biarlah sebagai pengingatku, bahwa aku pernah menemani perjalanan seorang pangeran” gumam Rasta seorang diri.

“Hanya yang selalu membuatku takut, walau Kakang Harya Pamungkas tak pernah sekalipun marah kepadaku, mengapa kadang-kadang Kakang Harya Pamungkas tiba-tiba menjadi marah saat melihat atau menyeberangi sungai. Beruntung saat menyeberangi Kali Praga kemarin amarahnya mampu di redamnya. Kalau tidak apa jadinya, dengan salah seorang pedagang yang sombong itu.” Gumam Rasta dalam hati.

Tiba-tiba Rasta terhenyak, lalu melompat dari duduknya, saat ia merasa mendengar desiran lembut di belakangnya.

“Ternyata kau tetap dalam kewaspadaan Rasta, walau aku sudah menyerap bunyi, kau masih mampu merasakannya.” Berkata seseorang yang ternyata adalah Harya Pamungkas

“Kakang Harya Pamungkas”, seru Rasta setelah mengetahui yang berusaha menyamarkan bunyi ialah Harya Pamungkas.

“Bau wedang jahemu terasa nikmat sekali Rasta” sahut Harya pamungkas.

Rasta pun tersenyum, segera mengambil mangkuk wedang jahe yang memang ia sediakan untuk Harya Pamungkas.

“Mengapa harus selalu aku yang meminumnya lebih dulu” bertanya Harya Pamungkas sesaat menerima mangkuk wedang jahe itu. “Kau ternyata masih belum bisa menganggap aku, layaknya kau menganggap siapa dirimu sendiri.”

Rasta hanya menundukkan kepala.

“Sudahlah Rasta kelak kau akan seperti yang kuinginkan.
Renungkanlah kata-kata terakhirku tadi” berkata Harya Pamugkas selajutnya.

“Rasta” berkata Harya Pamungkas selanjutnya. Ternyata keadaan di dalam gua tidak seperti yang tampak dari luar.
Di dalam aku pastikan bisa sebagai tempat tinggal kita untuk sementara waktu. Walau masih banyak lorong-lorong yang bercabang yang belum aku lihat semuanya” sejenak Harya Pamungkas memberikan mangkuk wedang jahe kepada Rasta.
“maaf, aku terlalu banyak meminumnya Rasta. Untuk malam nanti, sisakan aku sedikit saja.”

“ah, kakang” desis Rasta

“Baiklah, mungkin kau sudah tidak sabar untuk segera turun ke padukuhan terdekat, tetapi aku tidak akan melihat-lihat keadaan padukuhan di pinggiran hutan itu. Kita akan melihat langsung ke padukuhan induk. Paling tidak dengan banyaknya orang-orang yang lalu lalang di pasar padukuhan induk, kita tidak akan banyak menarik perhatian orang-orang.
Tetapi kita tetap harus menyamar, Rasta.” Berkata Harya Pamungkas.

“Benar kakang, di padukuhan induk tentu juga banyak bahan-bahan makanan dan minuman yang bermacam-macam jenisnya.” Jawab Rasta.

Harya Pamungkas tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak Rasta. Kemudian, “kalau begitu, kau siapkan emas-emas yang kita bawa, tetapi pilihlah dari jenis yang sering di jual belikan di pasar-pasar. Untuk kali ini, kita akan menyamar sebagai pedagang emas.”

Sebenarnyalah Harya Pamungkas serta Rasta segera mempersiapkan penyamaran mereka. Pakaian mereka pun berganti dengan bekal pakaian yang lain, yang di sesuaikan dengan penyamaran mereka. Rasta sendiri juga memilah emas-emas yang biasa dipakai oleh orang-orang kebanyakan.

“Aku rasa sudah saatnya kita mulai dengan rencana besar kita, Rasta” berkata Harya Pamungkas. Kemudian, “aku tetap menghormatimu Menoreh, tetapi aku punya cita-cita dari leluhurku yang harus aku perjuangkan” berkata Harya Pamungkas dalam hati.

Demikianlah Harya Pamungkas dan Rasta segera menuruni bukit terjal untuk menuju ke padukuhan menoreh.

Sebenarnyalah perjalanan menuju induk padukuhan tanah perdikan bukan perjalanan yang terlalu jauh. Harya Pamungkas dan Rasta sengaja memilih melalui jalan di pinggiran padukuhan-padukuhan, untuk menghindari bertemunya dengan penduduk setempat.

“Rasta, sebaiknya kita melalui bukit di depan kita itu.
Kelihatannya di balik bukit itu adalah pesawahan. Kita akan segera sampai di induk padukuhan tanah perdikan.

“Bagaimana kakang tahu semua itu?” Sahut Rasta.

“Kalau induk tanah perdikan hanya perkiraanku saja, tetapi coba lihat orang yang di depan kita itu yang membawa cangkul itu, Bukankah ia akan berangkat ke sawah atau barangkali pategalan. Aku yakin di balik bukit kecil itu akan menuju pesawahan” jawab Harya Pamungkas sambil tersenyum.

Akhirnya mereka mempercepat jalan, tetapi baru saja melalui jalan yang agak naik, Harya Pamungkas memberi isyarat untuk berhenti.

“Apakah kau mendengar suara angin bergemerisik?” dengan setengah berbisik Harya Pamungkas bertanya kepada Rasta”

“Sayup-sayup,aku mendengarnya kakang. Bukankah itu suara orang yang sedang berkelahi kakang?” jawan Rasta.

“Ayo kita lebih mendekat Rasta, sepertinya suara-suara itu dari balik pohon-pohon jati di depan kita itu.” Ajak Harya Pamungkas.

Sebenarnyalah mereka berdua semakin mendekati tempat perkelahian itu.

“Kakang, perkelahian yang tidak adil. Seorang harus melawan lima orang sekaligus” berkata Rasta.

Harya Pamungkas tidak menjawab perkataan Rasta.
Dengan sungguh Harya Pamungkas memperhatikan jalannya pertempuran itu.

“Seorang yang masih sangat muda, tetapi mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Tata geraknya benar-benar saling mengisi.
Seakan-akan tak ada celah untuk dapat menyentuh tubuh anak muda itu. Seberapa pun tingginya lawan-lawannya, anak muda itu yang tinggal menentukan kapan akan mengakhiri perkelahian itu” berkata Harya Pamungkas dalam hati.”

Tiba-tiba Harya Pamungkas tersentak, saat lima orang yang berkelahi dengan anak muda itu, tiba-tiba hampir terguling-guling di tanah hampir bersamaan.

“Tata gerak dua tiga ganda itu, siapa anak muda itu sebenarnya” batin Harya Pamungkas”

“Apakah kalian sudah menyerah? Aku masih memberi kesempatan kalian semua untuk melawan”, berkata anak yang masih sangat muda dengan setengah membentak.

Ke-lima orang yang masih merintih kesakitan itu, hanya diam saja tanpa berani menatap wajah anak muda itu.

“Mengapa kalian diam saja? Mana sesumbarmu tadi yang akan menggantungku dengan kaki di atas, dengan kepalaku terayun-ayun di atas bara api. Aku tanya satu kali lagi, apakah kalian sudah menyerah?” Bertanya anak muda itu dengan suara yang semakin meninggi.

Tiba2 salah seorang yang rambutnya sudah bercampur warnanya, dengan suara yang masih menahan sakit di tubuhnya, memberanikan diri menjawab pertanyaan anak muda itu. “Aku menyerah, dan kami berlima mohon ampun” jawab orang itu terbata-bata.

“Baiklah untuk kali ini aku membebaskan kalian”, berkata anak muda itu perlahan.

“Terima kasih, den” jawab orang yang rambutnya sudah bercampur warna tersebut.

“Jangan berterima kasih dulu, aku belum selesai bicara.
Kalian berlima akan aku bebaskan, setelah menjawab tiga pertanyaanku” berkata anak muda itu dengan mata menatap tajam terhadap orang yang mewakili keempat temannya itu.

Tanpa menunggu jawaban dari kelima orang yang masih merintih kesakitan, anak muda itu segera mengajukan pertanyaan-pertanyaannya. “Ini pertanyaanku yang pertama, sangat mudah kalian jawab. Siapa kalian berlima ini?”

Ke-lima orang itu yang masih terduduk lemah itu tidak segera menjawab, mereka saling melempar pandangan seakan-akan meminta persetujuan dengan yang lain.

“Hai, lihatlah batu hitam sebesar gajah itu, tapi rasakan perubahan yang terjadi di sekitar kalian!” Tiba-tiba berteriak anak muda itu.

Sebenarnyalah tanpa mengetahui apa yang terjadi, tiba-tiba udara yang tadinya panas perlahan berubah menjadi dingin.
Yang akhirnya udara di sekitar itu membuat kelima orang itu menggigil kedinginan, bahkan salah seorang di antaranya telah jatuh pingsan.

Harya Pamungkas serta Rasta yang masih berlindung di belakang pohon jati, terkesiap melihat apa yang telah di lakukan oleh anak yang masih sangat muda itu. “Tempat ini cukup jauh, tetapi dinginnya udara itu mampu merambat sampai ke tempat ini” berkata Harya Pamungkas dalam hati.

Sesaat kemudian mereka berdua semakin berdebar-debar jantungnya, saat menyaksikan apa yang dilakukan selanjutnya oleh anak muda itu. Sebenarnyalah tiba-tiba di sekitar tubuh anak muda itu mulai diselimuti semacam kabut tipis.
Semakin lama kabut tipis yang menyelimuti tubuh anak muda itu mulai menebal. Hampir bersamaan udara di sekitar tempat perkelahian itu pun kembali seperti sediakala, udara yang mulai terasa panas saat matahari mulai merambat naik.
Harya Pamungkas dan Rasta semakin diam terpaku, saat melihat yang terjadi selanjutnya. Kabut-kabut yang menyelimuti tubuh anak muda itu perlahan-lahan seakan-akan mengalir ke arah kedua tangannya. Sehingga pada akhirnya di kedua tangan anak muda itu tampak menggumpal kabut putih. Yang terjadi selanjutnya, sebenarnyalah anak muda itu mengangkat kedua tangannya mengarahkan kedua telapak tangannya ke arah batu hitam sebesar gajah itu.
Dan ketika anak muda itu menghentakkan tangannya, gumpalan kabut putih itu melesat seperti berubah menjadi cahaya putih yang memancar menghantam batu hitam itu.

“Betapa luar biasanya, batu hitam sebesar gajah itu hancur dan berubah menjadi butiran-butiran putih. Aku yakin butiran-putih putih itu akan menjadi air saat udara sekitar mulai menerpanya” berkata Harya Pamungkas dalam hati.

“Pertanda apa ini, Rasta? Kita baru mulai dengan satu langkah kaki, dari ribuan langkah yang kita inginkan.
Tetapi kita telah di beri suatu pertunjukkan ilmu yang luar biasa dahsyatnya. Dan itu semua dilakukan oleh anak muda yang sepantasnya menjadi anak ku.”

“Baru sekali ini aku melihat ungkapan ilmu yang demikian dahsyatnya, kakang” desis Rasta.

Harya pamungkas hanya mengangguk kecil. Pandangannya masih dengan sungguh-sungguh ke arah tempat perkelahian itu.

“Siapakah sebenarnya anak yang masih sangat muda itu,
apakah ia salah seorang dari pengawal tanah perdikan yang sering menjadi bagian dari prajurit mataram saat terjadi perang di waktu lampau?” Gumam Rasta seolah-olah berbicara kepada diri sendiri.

“Aku sama dengan kau Rasta, yang sangat gugup melihat peristiwa yang baru saja terjadi ini. Sama sekali aku belum pernah mendengar cerita tentang seorang anak muda yang berilmu sangat tinggi itu. Para telik sandiku, juga belum pernah ada yang bercerita tentang kehadiran seorang anak muda yang ilmunya menyentuh awan itu.” Sahut Harya Pamungkas.

“Kalau anak muda itu benar-benar salah seorang pengawal tanah perdikan, dalam mimpi pun aku tidak akan sanggup menggambarkan tingkat ilmu para senapatinya” gumam Rasta.

“Aku rasa ia bukan salah seorang pengawal tanah perdikan Rasta, tetapi rasa-rasanya ia ada hubungannya dengan tanah perdikan ini.” berkata harya Pamungkas.

“Aku kurang mengerti kakang” sahut Rasta.

“Tata gerak sewaktu anak muda itu membuat kelima lawannya jatuh bersamaan itu. Hanya ada tiga perguruan yang mempunyai tata gerak pertahanan yang sangat rapat” jawab harya Pamungkas.

“Maksud kakang?” tanya Rasta.

“Tata gerak yang sengaja memancing lawan untuk menyerang secara beruntun. Kemudian meredam semua serangan itu dengan serangan pula pada waktu yang hampir bersamaan.” Jawab Harya Pamungkas.

“Aku mengerti kakang.” Sahut Rasta.

“Apakah anak muda itu ada hubungannya dengan perguruan Windujati, tetapi apa perguruan Windujati mempunyai ilmu yang bersumber dari ungkapan kekuatan air?” bertanya Harya pamungkas dalam hati.

Sementara itu anak muda yang baru saja menghancurkan wadag maupun sifat dari batu hitam itu, seolah-olah tidak pernah terjadi apapun, melangkah mendekati kelima orang yang terlentang di depannya. Ternyata ke empat orang itu telah menjadi pingsan, kecuali orang yang rambutnya mulai berubah warna. Walau keadaannya pun hampir sama dengan ke empat temannya.

“Teman-temanmu akan baik-baik saja. Segeralah kau atur jalan pernafasan serta aliran darahmu. Aku tidak punya banyak waktu” berkata anak muda itu.

Tanpa berani berucap sepatah kata pun, orang yang rambutnya mulai berubah warna itu, mulai memaksakan untuk duduk bersila mengatur jalan pernafasannya.
Sebenarnya sesaat kemudian orang-orang yang masih pingsan itu mulai tersadar.

“Kalian semua, segera lakukan sebagaimana temanmu itu” berkata anak muda itu saat melihat orang-orang yang pingsan itu mulai siuman.

“Rasta, ungkapkan seluruh tenaga cadanganmu untuk menyerap bunyi” berkata harya Pamungkas.

“Sudah kakang, saat aku mulai menyaksikan pertempuran itu, aku sudah kerahkan sampai batas kemampuanku.” Sahut Rasta.

“Semoga anak muda itu tidak mengetahui kehadiran kita ini” berkata Harya pamungkas selanjutnya.

Sementara itu, kelima orang itu mulai mampu duduk dengan tenang, walau tubuhnya tampak masih sangat lemah.

“Baiklah, sekarang jawab pertanyaanku yang pertama tadi”, tiba-tiba berkata anak muda itu.

Kelima orang itu seakan-akan sudah tidak punya keberanian sedikit pun untuk mencari alasan apapun untuk tidak segera menjawab pertanyaan anak muda itu.

“Kami berlima adalah murid-murid dari Perguruan Sewu Angin di pesisir utara” berkata orang yang rambutnya mulai berubah warna.

“Apakah ada yang ingin kau tambahkan untuk melengkapi jawabanmu tadi” kembali bertanya anak muda itu.

Orang yang rambutnya mulai berubah warna itu tampaknya sudah tidak akan menutup-nutupi tentang mereka keseluruhannya.

“Kami berhasil melarikan diri, di saat perguruan kami di hancurkan olah orang-orang yang tidak kami kenal sebelumnya. Guru kami tewas disaat melakukan perang tanding dengan salah seorang di antara mereka. Kami terpaksa melarikan diri, karena kami merasa takkan sanggup melawan mereka. Sementara kami tidak akan mau di paksa bergabung dengan mereka.” Berkata orang yang rambutnya mulai beruban itu.

“Baik, aku kira sudah cukup jawabanmu untuk pertanyaan pertamaku. Sekarang pertanyaanku yang kedua. Siapa yang menyuruhmu melakukan semua ini. Aku merasa kalian tidak bermaksud untuk merampok maupun membunuhku. Aku pastikan, ada orang yang menyuruh kalian untuk melakukan kerusuhan di tanah perdikan menoreh ini.” bertanya anak muda itu.

“Sebenarnya memang seperti itu, anak muda. Tetapi sebelum mengatakan tentang siapa orang yang menyuruh kami melakukan kerusuhan-kerusuhan ini, bolehkah kami melanjutkan ceritaku tadi”, orang yang rambutnya mulai beruban itu mengajukan permohonan.

“Katakanlah” jawab anak muda itu.

“Anak muda, kami berlima melarikan diri dari pertempuran yang sedang berlangsung. Kami semua murid-murid Perguruan Sewu Angin, setelah melihat guru kami tewas dalam perang tanding itu, seakan-akan tanpa diperintah, seketika kami menyerang orang-orang yang memaksa kami itu. Akan tetapi yang terjadi adalah semacam pembantaian.
Saudara-saudara seperguruanku, di bunuh satu persatu.
Entah sekarang apakah masih ada saudara-saudaraku lain yang masih hidup. Tanpa membawa bekal apapun, kami berhari-hari hanya berhenti saat malam menjelang, dari hutan satu ke hutan yang lain. Hingga kami akhirnya sampai di tepian Kali Praga. Kami berlima pun harus melarikan diri lagi saat tak mampu membayar upah tukang satang. Waktu menembus lebatnya hutan di sisi utara tanah perdikan, kami dihadang oleh seorang laki-laki setengah baya. Tanpa berkata sepatah kata pun, orang itu menyerang kami. Laki-laki setengah baya itu berilmu sangat tinggi, akhirnya kami berlima pun menyerah kepada laki-laki setengah baya itu.
Anak muda, laki-laki setengah baya itu mengaku bernama Turangga Pethak. Orang itulah yang telah menyuruh kami membuat kerusuhan-kerusuhan di tanah perdikan ini. Kami tidak mampu membantah, selain ilmunya yang sangat tinggi, kami juga di beri upah yang sangat banyak. Nasib kami, dalam sehari kami harus menghadapi orang-orang yang mumpuni.” Orang yang rambutnya mulai beruban itu menceritakan kisahnya sejak perguruannya dihancurkan oleh sekelompok orang yang tidak dikenal.

Anak muda itu menganggukkan kepala, setelah orang yang rambutnya mulai berubah warna itu mengakhiri ceritanya. Katanya, “Aku mempercayai semua perkataanmu.
Untuk itu aku akan menyarankan kalian berlima, seandainya kalian mau melakukannya.”

“Kami dengan senang hati akan melakukannya anak muda, selama itu baik menurutmu” jawab orang yang rambutnya mulai berubah warna itu.

“Baiklah, ini hanya saranku, aku tidak memaksa kalian harus melakukannya. Aku rasa sebaiknya kalian berlima segera pulang ke padepokan kalian di pesisir utara itu.
Percayalah padaku, orang-orang yang menyerang perguruan kalian itu tidak akan menguasai padepokan kalian.
Aku yakin bukan itu maksud mereka, tetapi mereka hanya datang untuk meminta dukungan dari perguruan kalian.
Semoga masih ada saudara-saudara kalian yang lain yang masih hidup. Ajaklah mereka untuk bersama-sama menghidupkan kembali seperti sedia kala. Aku hargai sikap perguruan kalian yang mempunyai pendirian tegas, walau harus dibayar dengan puluhan atau bahkan ratusan nyawa sekalipun” berkata anak muda itu dengan nada datar.

“Apakah sekarang kalian sudah mampu untuk melakukan perjalanan pulang ke padepokanmu?” bertanya anak muda itu selanjutnya.

Kelima murid perguruan sewu angin itu hanya menganggukkan kepala, tanpa mengucap sepatah kata pun.

“Baiklah, ini ada sedikit bekal untuk kalian, sehingga kalian tidak perlu lagi melarikan diri saat tukang satang meminta upah kepada kalian” berkata anak muda itu dengan memberikan beberapa keping uang kepada murid perguruan sewu angin itu.

“Terima kasih anak muda, aku akan melaksanakan semua saranmu itu.” Sahut orang itu.

“Matahari belum sampai ke puncaknya, sebaiknya kalian berlima segera berangkat sekarang” berkata anak muda itu selanjutnya.

111.

“Bukankah masih ada satu pertanyaan lagi yang akan kau tanyakan, anak muda?” Bertanya orang yang rambutnya mulai berubah warna itu.

Sambil tersenyum anak muda itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku percaya kalian hanya berlima, tidak seperti perkiraanku sebelumnya. Untuk itulah, aku tidak lagi mempunyai pertanyaan untuk kalian.”

“Maksudmu, anak muda?” orang itu bertanya.

“Ah, sudahlah, lekaslah berangkat. Aku berjanji akan pergi ke perguruanmu kelak. Akan aku perkenalkan kalian kepada kakak seperguruan yang sekaligus eyang guruku.” Jawab anak muda itu.

Sebenarnyalah mereka berlima, segera meninggalkan bukit kecil itu untuk melakukan perjalanan panjang menuju pesisir utara, tempat perguruan mereka berada. Sementara itu Harya Pamungkas serta Rasta yang mendengarkan semua perkataan anak muda itu, terkesiap dan hanya mampu terdiam membeku di tempatnya. Mereka seakan-akan tak mengerti langkah apa yang sebaiknya mereka lakukan.

“Kehadiran kita ternyata telah diketahuinya sejak awal Rasta” akhirnya Harya Pamungkas membisikkannya kepada Rasta.

“Apakah tidak sebaiknya kita keluar saja dari tempat ini kakang, untuk mengatakan yang sebenarnya kita lakukan di tempat ini” bertanya Rasta.

“Sebentar Rasta, aku akan mencoba dengan cara lain dahulu. Semoga ia mau menjawab pesanku ini.” sahut Harya Pamungkas.

Sebenarnyalah Harya Pamungkas segera memusatkan nalar budinya, untuk mengungkap aji pameling. Katanya, “anak muda, maafkan kami yang tidak melihat besar dan tingginya Gunung Semeru di hadapan kami. Kiranya kau sudi, kami akan meminta maaf secara langsung kepadamu.”

Sebenarnyalah anak muda itu dapat menangkap pesan aji pameling Harya Pamungkas. Jawabnya, “Ki sanak, kita tidak pernah bertemu sebelumnya, juga tidak punya urusan apapun.
Biarlah keadaan ini tetap berjalan seperti ini.”

“Baiklah jika itu maumu, anak muda. Tetapi sekedar nama, apa salahnya jika kita saling mengenal. Aku Harya Pamungkas serta adi Rasta meminta maaf atas sikap deksura kami kepada kau, anak muda” Jawab Harya Pamungkas.

“Ilmu ku masih sangat terbatas. Aji pamelingmu luar biasa ki sanak. Ki Harya Pamungkas, juga ki Rasta. Aku sangat senang, saat kemarin untuk pertama kalinya bertemu dengan kakak sekaligus eyang guruku. Ia memanggilku Serat Manitis” jawab anak muda itu.

“Hari ini kami telah bertemu dengan seorang anak muda yang tidak mampu kubayangkan sebelumnya. Terima kasih Serat Manitis atas semua yang telah kau lakukan.” Berkata Harya Pamungkas.

“Ki Harya pamungkas terlalu memuji. Baiklah sekarang kita berpisah. Aku masih harus mengenal Tanah Perdikan Menoreh ini.” berkata Serat manitis.

Akhirnya Harya Pamungkas menghentikan ungkapan aji pamelingnya. Harya pamungkas menarik nafas dalam-dalam, sesaat melihat anak muda yang bernama Serat Manitis itu melangkah pergi menuruni bukit menuju induk padukuhan tanah perdikan.

“Rasta, kita tetap di sini dulu.” Berkata Harya Pamungkas.

“Apakah kita tetap akan meneruskan tujuan kita melihat-lihat induk padukuhan tanah perdikan, kakang?” bertanya Rasta.

“Kita tetap seperti rencana semula. Tetapi biarkan anak muda itu pergi lebih dahulu. Dan memang sebenarnya kita tidak punya urusan apapun dengannya. Rasta, anak muda itu mengatakan, baru kemarin kakak seperguruannya yang sekaligus eyang gurunya memanggilnya dengan sebutan serat Manitis.”

“Serat Manitis. nama yang mungkin mempunyai arti khusus” sahut Rasta.”

“Mungkin sekali Rasta. Juga tentang seringnya ia menyebut kakak seperguruan sekaligus eyang gurunya itu. Mungkin ada maksud tertentu yang ingin di sampaikan oleh Serat Manitis” jawab Harya Pamungkas.

Sementara itu Serat Manitis terus melangkah menuruni bukit kecil itu. “siapakah kedua orang itu” bertanya serat Manitis dalam hati. Baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah perdikan, aku sudah harus bertemu dengan banyak manusia aneh. Baiklah aku akan menuju lebih dahulu ke barak pasukan khusus untuk menyerahkan nawala ini.”

Serat Manitis terus berjalan menuruni bukit kecil itu. Sebenarnyalah bukit kecil itu bagaikan dinding alam dari induk padukuhan tanah perdikan menoreh. Sesaat Serat Manitis telah mulai menapaki pematang dari hamparan persawahan yang luas.

Para penduduk tanah perdikan yang sedang bekerja di sawah pun tampak bersungguh-sungguh dengan pekerjaannya sendiri2. Seolah-olah mereka berlomba2 untuk mendapatkan hasil yang paling bagus. Matahari waktu itu telah mulai menanjak naik, dan sudah menjadi kebiasaan setiap waktu saat matahari akan mendekati puncaknya, para perempuan-perempuan mulai berdatangan untuk mengantarkan kiriman makanan serta minuman untuk keluarga mereka yang sedang bekerja di sawah.

“Tata kehidupan yang sudah umum di pedesaan” gumam Serat Manitis. “Orang tidak akan mengira, di balik kehidupan masyarakat yang setiap hari kebanyakan hanya hilir mudik ke sawah ini, tersimpan kekuatan yang menjadi salah satu benteng kekuatan Mataram” lanjut Serat Manitis.

“Mau kemana anak muda” tiba-tiba bertanya seorang perempuan yang membawa bakul berisi makanan dan minuman, yang kebetulan berpapasan dengan Serat Manitis.

Serat Manitis berhenti lalu menganggukkan kepala. “Oh bibi, aku akan mengunjungi rumah pamanku. Pasti bibi akan mengantarkan kiriman makanan serta minuman” jawab Serat Manitis sambil tersenyum.

“Begitulah anak muda, kehidupan di pedesaan. Dari mana asalmu anak muda, sepertinya aku belum pernah melihatmu?” bertanya perempuan itu.

“Asalku jauh bibi, yang sudah masuk wilayah bang wetan, tepatnya dari Kademangan Mojoagung” jawab Serat Manitis.

Perempuan yang membawa bakul berisi makanan dan minuman itu menganggukkan kepala. “Baiklah, silahkan melanjutkan perjalananmu anak muda, maaf telah menggang-gu perjalananmu.”

“Sebentar bibi, bolehkah aku bertanya tentang sesuatu” bertanya Serat Manitis yang akhirnya menahan perempuan itu yang sudah akan beranjak berjalan lagi.

“Silahkan anak muda, apakah kau mau menanyakan arah jalan ke tempat pamanmu itu?” bertanya perempuan itu.

“Bukan bibi, aku sudah tahu arah rumah pamanku.
Aku hanya mau bertanya apakah kain-kain tenun sudah banyak di jual belikan di pasar padukuhan induk tanah perdikan ini” jawab Serat Manitis.

“Oh, apakah kau pedagang kain anak muda?” Bertanya perempuan itu.

“Tidak sepenuhnya bibi, aku hanya mengambil dari kakak perempuanku untuk kujual kembali” jawab Serat Manitis.

“Bukankah berdagang memang seperti itu anak muda” berkata perempuan itu sambil tersenyum. “Anak muda, di pasar-pasar sekitar tanah perdikan ini memang sudah ada kain-kain yang diperjual belikan, akan tetapi pedagang kain tenun jarang ada, dalam satu purnama belum tentu ada pedagang kain tenun yang datang ke pasar-pasar sekitar tanah perdikan ini. Apakah kau berniat untuk berdagang di sini anak muda” lanjut bertanya perempuan itu?”

“Kalau memang memungkinkan, aku akan mencobanya, bibi” jawa Serat Manitis.

“Dalam seusiamu, kau telah bertindak layaknya orang-orang yang berumur jauh di atasmu anak muda.” Berkata perempuan itu.

Serat Manitis hanya tersenyum mendengar perkataan perempuan itu. Kemudian katanya, “Baiklah bibi, aku berterima kasih telah di beri petunjuk-petunjuk dan juga minta maaf telah mengganggu pekerjaan bibi. Bibi, sebelum aku melanjutkan perjalanan yang tinggal selangkah ini, bolehkah kiranya aku menanyakan tentang nama bibi” bertanya Serat Manitis selanjutnya.

Perempuan itu tersenyum dengan menganggukkan kepala.
“Baiklah anak muda, panggil aku Nyi Dwani.”

“Salam hormatku Nyi Dwani, aku sendiri mempunyai nama Serat Manitis” berkata Serat Manitis.

“Ssilahkan Serat Manitis, mungkin pamanmu sudah lama menunggu kedatanganmu” berkata perempuan itu yang ternyata Nyi Dwani .”

Serat Manitis mengangguk hormat sebelum meneruskan perjalannya. Perempuan itu bukan orang kebanyakan. Dalam tugasnya sehari-hari yang sangat banyak, tak dapat di bayangkan ternyata Nyi Dwani itu mumpuni dalam olah kanuragan.

“Ternyata benar seperti yang dulu guru ceritakan,
Dibalik kehidupan para penduduk yang kebanyakan setiap hari pergi ke sawah itu, tersimpan kekuatan yang sangat sulit di bayangkan” berkata serat Manitis dalam hati. Kemudian, “Salah satu benteng mataram yang akan selalu berada di paling depan. Juga membuktikan kebenaran ucapan guru, kedekatan yang hampir tiada batas antara Mataram dengan Menoreh ialah bermula dari pertemanan ki Gede Menoreh dengan Panembahan Senapati semasa hidupnya.”

“Di depan itu jalan padukuhan induk tanah perdikan telah nampak, Menoreh, bukan aku jumawa, akan tetapi aku hanya melaksanakan tugas yang wajib aku kerjakan, desis serat Manitis.

Akhirnya Serat Manitis pun benar-benar telah menapakkan kaki di padukuhan induk. Serat Manitis seolah-olah sedang berjalan-jalan menikmati suburnya tanah perdikan. Persawahan yang bertingkat-tingkat mengikuti alur tanah, yang di sertai aliran air yang telah tertata dan mampu mengairi luasnya pesawahan itu. Di tanah dataran pun sawah-sawah selalu di sisi parit-parit yang selalu terdengar gemericik airnya walau dalam musim kemarau sekalipun.

“Ah, kebetulan sekali ada seorang laki-laki yang kelihatannya baru pulang dari hutan” gumam serat Manitis dalam hati. Kemudian, “ki sanak, apakah arah ke utara simpang di depan itu akan menuju ke barak prajurit Mataram?” bertanya serat Manitis sambil mengangguk hormat.

Laki-laki yang membawa seikat kayu bakar itu sejenak memandangi Serat Manitis, sebelum menganggukkan kepala. Kemudian, “Benar anak muda, setelah melewati bulak serta hutan kecil kau akan sampai ke tempat barak itu.
Sebenarnya ada yang tidak melewati hutan kecil itu, tetapi harus melewati jalan yang memutar” jawab laki-laki itu dengan ramah.

“Terima kasih paman, aku akan memilih melalui arah utara simpang yang akan lebih dekat dengan barak prajurit Mataram” jawab Serat Manitis sambil tersenyum ramah.

“Silahkan anak muda, walau kau harus melewati hutan kecil itu dulu, akan tetapi anak-anak muda yang kebanyakan adalah anggota pengawal sering melewati hutan kecil itu,
saat pulang atau baru akan berangkat ke pategalan di seberang hutan atau memang mereka sedang mencari kayu bakar di hutan itu.” Jelas laki-laki itu.

“Apakah paman juga anggota pengawal tanah perdikan?” tiba-tiba bertanya Serat Manitis.

Orang yang membawa kayu bakar itu sesaat tersentak sebelum akhirnya tersenyum memandang Serat Manitis.
“Anak muda, sesungguhnya seluruh rakyat tanah perdikan adalah pengawal. Dahulu sewaktu Ki Rangga Agung Sedayu belum menjadi prajurit mataram, ia yang memberi latihan kepadaku serta kawan-kawan yang lain. Ki Rangga Agung Sedayu selalu berpesan saat selesai latihan olah kanuragan maupun latihan perang gelar, sesungguhnya umur bisa semakin menua, akan tetapi jiwani pengawal Tanah Perdikan Menoreh tidak akan pernah terkubur dalam tanah” jawab orang yang membawa kayu bakar itu dengan nada dalam.

“Apakah semua pengawal-pengawal tanah perdikan dilatih khusus oleh Ki Rangga Agung Sedayu” paman, bertanya Serat Manitis selanjutnya.

Tampak sesaat orang yang membawa kayu bakar itu kembali tertegun mendengar pertanyaan Serat Manitis.
“apakah kau mengenal Ki Rangga, anak muda?” balik bertanya orang yang membawa kayu bakar itu.

Serat Manitis tersenyum mendengar pertanyaan orang yang membawa kayu bakar itu. “orang tuaku sering bercerita tentang Ki Rangga Agung Sedayu, paman.”

“Seorang yang dekat dengan Panembahan Senapati maupun Pangeran Benawa. Bahkan Ki Rangga Agung Sedayu pernah mengembara bersama panembahan senapati semasa mudanya.” Berkata Serat Manitis.

Orang yang membawa kayu bakar itu mengangguk-anggukkan kepala mendengarkan perkataan Serat Manitis.
“anak muda, silahkan kau segera melanjutkan perjalananmu yang tinggal sedikit itu” berkata orang yang membawa kayu bakar itu sambil membenarkan letak kayu bakarnya.

Serat Manitis mengangguk hormat sebelum orang yang membawa kayu bakar itu melangkah pergi. Akan tetapi baru beberapa tindak melangkah, orang yang membawa kayu bakar itu menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya kembali menghadap Serat Manitis. “Anak muda, jika kau berkenan untuk melihat gubukku, letaknya hanya berjarak lima rumah dari rumah Ki Rangga Agung Sedayu. Jika kau menemukan rumah yang di pelatarannya ada dua pohon jambu mete, itulah gubukku. Kau bisa bertanya letak rumah Ssastra Dikun kepada orang yang kau temui di jalan, seandainya benar kau berkeinginan ke rumahku.”

“Baik paman, jika paman Dikun mengijinkan tentu aku sangat senang bisa ke rumah paman. Paman, namaku Serat Manitis.”

“Baiklah angger Serat Manitis, aku akan menunggumu datang ke rumah. Aku masih punya ayam, yang bisa di potong untuk menjamu mu” jawab orang yang membawa kayu bakar yang ternyata bernama Sastra Dikun itu sambil tersenyum.

Sebenarnyalah perjalanan Serat Manitis yang hanya tinggal selangkah itu tidak menemukan hambatan sama sekali.
Setelah melewati hutan kecil serta pategalan di seberang hutan kecil itu, akhirnya Serat Manitis mendaki dataran yang agak naik walaupun tidak setinggi perbukitan. “Akhirnya aku sampai juga di barak pasukan khusus. Seperti apa kira-kira prajurit-prajurit mataram yang mampu bertempur di segala medan itu. Juga yang mempunyai kelebihan sebagai prajurit siluman, yang mampu menyerang serta menghilang secara tiba-tiba itu” berkata Serat Manitis dalam hati di saat sampai di luar dinding barak pasukan khusus.”

“Anak muda, apa yang kau kerjakan di tempat itu? Apa kau akan mengunjungi sanak kadangmu, yang mungkin ada yang menjadi prajurit di barak ini?” Seru seorang prajurit yang sedang berdiri di depan pintu regol barak pasukan khusus itu.

“Kemarilah anak muda” lanjut prajurit jaga itu dengan suara yang lebih keras.

Sesaat Serat Manitis menarik nafas dalam-dalam sebelum melangkah mendekati pintu regol barak pasukan khusus itu.
“sedang apa kau berdiri di tempat itu, anak muda?” Bertanya prajurit jaga itu sesaat setelah Serat Manitis telah berdiri di depannya.

Serat Manitis mengangguk hormat kepada prajurit jaga itu serta tiga prajurit lain yang sedang duduk-duduk di dalam gardu jaga. “Namaku Serat Manitis. Aku datang ke barak pasukan khusus ini untuk menghadap Ki Lurah Hadi Suprana, jawab Serat Manitis perlahan”

“Siapa kau sebenarnya, dan ada keperluan apa anak seusiamu mau menghadap Ki Lurah Hadi Suprana?” bertanya prajurit kedua yang datang mendekat, tertarik kepada maksud Serat Manitis untuk menemui Ki Lurah Hadi Suprana.

“Untunglah aku sudah di beri tahu tentang sifat-sifat prajurit pasukan khusus yang selalu bertindak penuh kehati-hatian dalam menghadapi segala hal” berkata Serat Manitis dalam hati.

Akhirnya Serat Manitis dengan perlahan menceritakan maksud serta tujuannya menghadap Ki Lurah Hadi Suprana.
“aku mendapat perintah untuk menyerahkan nawala kepada Ki Lurah Hadi Suprana, jawab serat Manitis.

Akhirnya dua orang prajurit lainnya yang semula duduk di dalam gardu jaga, turut mendekati tempat berdiri kawannya serta serat Manitis. Prajurit pertama tadi menatap tajam, seolah-olah sedang menimbang-nimbang apakah perkataan Serat Manitis itu benar-benar dapat di percaya atau tidak.

Serat Manitis menyadari sepenuhnya, sebenarnyalah prajurit-prajurit jaga melakukan semua itu semata-mata karena tanggungjawab dalam tugasnya, juga sikap kehati-hatian yang tinggi untuk berjaga-jaga dari hal-hal yang tidak di inginkan.

Maka selanjutnya Serat Manitis mengambil nawala yang ia simpan di balik bajunya. “Aku harus menyerahkan nawala ini kepada Ki Lurah Hadi Suprana kalau sekiranya aku mendapat ijin untuk menghadap. Akan tetapi jika tidak diperkenankan menghadapnya langsung, maka aku diperkenankan untuk menitipkan nawala ini kepada prajurit yang sedang berjaga di pintu regol, untuk segera menyerahkan nawala itu kepada ki Lurah Hadi Suprana. Dan ini sebagai bukti bahwa sebenarnya-lah aku memang mendapat tugas untuk menyampaikan nawala ini” berkata serat Manitis, sambil memperlihatkan timang perak bergambar dua burung merpati yang sedang terbang.

Keempat prajurit jaga itu terkejut saat melihat timang yang baru saja di ambil dari balik baju Serat Manitis itu. “siapakah kau sebenarnya anak muda? Apakah kau telik sandi dari istana kepatihan? Sebab timang itu adalah tanda perintah resmi dari istana kepatihan” bertanya prajurit pertama itu.

Serat Manitis baru mengerti mengapa timang perak bergambar dua burung merpati itu harus ditunjukkan di saat akan menyerahkan nawala ini.

Setelah menyadari Serat Manitis hanya diam saja, maka prajurit pertama tadi kembali mengatakan sesuatu terhadap Serat Manitis. “Maafkan jika kami berempat dalam menerima-mu membuat kau kurang berkenan” berkata prajurit pertama tadi.

“Tidak apa-apa ki sanak, semua itu sudah menjadi paugeran yang harus di jalankan oleh ki sanak berempat” jawab Serat Manitis perlahan.

“Apakah kau benar utusan khusus dari istana kepatihan, anak muda” bertanya prajurit yang baru saja bergabung dengan kawan-kawannya itu.

Sejenak Serat Manitis menarik nafas dalam-dalam.
“Ki sanak, aku hanya di beri perintah untuk menyerahkan nawala ini, juga untuk menunjukan timang perak ini saja.
Biarlah nanti Ki Lurah Hadi Suprana yang mengambil keputusan.”

Ke-empat prajurit jaga itu mengangguk-anggukan kepala, memahami alasan Serat Manitis tidak menjawab pertanyaan mereka. “Baiklah anak muda, mari kau segera aku antar untuk menghadap Ki Lurah Hadi Suprana. Nanti kau sendiri yang akan memberikan nawala itu kepadanya.

Demikianlah, Serat Manitis akhirnya di antar oleh prajurit pertama menghadap Ki Lurah Hadi Suprana.

“Siapa namamu anak muda, serta ada keperluan apa kau menemui aku?” bertanya Ki Lurah Hadi Suprana sesaat setelah Serat Manitis duduk berhadapan dengannya.

Serat Manitis mengangguk hormat sebelum menjawab pertanyaan Ki Lurah Hadi Suprana itu. “Ki lurah, aku seorang utusan yang bernama Serat Manitis. Aku datang dengan membawa nawala yang akan kuserahkan kepada Ki Lurah Hadi Suprana serta membawa timang perak ini sebagai tanda bahwa aku sebenar-benarnya seorang utusan” jawab Serat Manitis sambil meletakkan nawala serta timang perak itu diatas meja bambu di depannya.

Ki Lurah Hadi Suprana tampak terkejut melihat timang perak di atas meja bambu tersebut. “Tinggalkan kami berdua di ruangan ini, perintah Ki Lurah Hadi Suprana kepada prajurit yang mengantar Serat Manitis.

“Apakah kau utusan dari istana kepatihan atau mungkin kau utusan langsung Kanjeng patih Mandaraka sendiri?” bertanya Ki Lurah Hadi Suprana sesaat setelah prajurit yang mengantar Serat Manitis keluar dari ruang salah satu senapati pasukan khusus tersebut.

“Ki lurah, aku hanya di beri perintah untuk menyampaikan nawala itu saja. Mungkin setelah ki lurah membaca nawala itu, akan bisa mengerti siapa yang menyuruh aku menyampaikan nawala itu.” Jawab Serat Manitis.

Ki Lurah Hadi Suprana mengangguk-anggukan kepala membenarkan perkataan Serat Manitis. Sesaat pembicaraan itu terhenti sejenak, ketika seorang prajurit masuk menyuguhkan minuman serta makanan kecil.

“Silahkan Serat Manitis, mungkin kau belum pernah merasakan wedang jahe dalam bumbung bambu” berkata Ki Lurah Hadi Suprana sambil menghirup wedang sere yang tampak masih mengepul itu.

“Pasti akan terasa segar ki lurah” jawab Serat Manitis menghirup wedang sere itu.

“Dan singkong bakar ini pasti juga terasa nikmat bagi mereka yang baru tiba dari perjalanan jauh” gurau Ki Lurah Hadi Suprana.

“Baiklah, aku akan membaca nawala ini dulu, silahkan kau lanjutkan suguhan seadanya ini” berkata Ki Lurah Hadi Suprana.

Serat Manitis pun mengangguk ,mempersilahkan ki lurah membaca nawala tersebut.

Sementara ki lurah membaca nawala, Serat Manitis memandangi kesederhanaan ruangan salah satu senapati pasukan khusus tersebut. Ruangan yang hanya mempunyai meja bambu serta dua tempat duduk yang juga berasal dari bambu.

Yang tampak berkesan hanya lukisan Panembahan Senapati dan Panembahan Hanyakrawati.

“Semoga kesahajaan para senapati mataram serta pemimpin-pemimpinnya yang lain seperti halnya keseder-hanaan Ki Lurah Hadi Suprana” berkata Serat Manitis dalam hati.

Sementara itu Ki Lurah Hadi Suprana tampak bersungguh-sungguh dalam membaca nawala itu. Serat Manitis melihat keringat seakan-akan membasahi seluruh tubuh Ki Lurah Hadi Suprana, saat ia mengakhiri membaca nawala itu. “Untung saja kau lebih awal dalam menyampaikan nawala ini.
Jadi sambil menunggu kepulangan Ki Rangga Agung Sedayu, kami akan mulai melaksanakan isi nawala ini. Serat Manitis, kau sudah tahu apa yang harus kau kerjakan. Sebenarnya aku ingin kau sementara tinggal di barak pasukan khusus ini, akan tetapi karena demi menjaga kerahasiaan serta keberhasilan langkah-langkah kita, memang sebaiknya kau tidak di sini.”

Serat Manitis mengangguk-anggukkan kepala membenar-kan perkataan Ki Lurah Hadi Suprana.

“Aku akan segera menemui Ki Jayaraga, sesuai isi nawala ini. Kau juga harus mulai berhati-hati begitu keluar dari barak pasukan khusus ini. Tetapi aku kira dengan seumuranmu, tidak akan terlalu banyak di perhatikan oleh mereka” berkata Ki Lurah Hadi Suprana selanjutnya.

“Aku akan lebih hati-hati lagi ki lurah. Sementara sambil menunggu langkah selanjutnya, aku akan mengenal tanah perdikan ini dahulu ki lurah” berkata Serat Manitis perlahan.

“Untuk langkahmu selanjutnya hampir pasti sudah dapat ku tentukan sekarang. Besok pagi, kau berjalanlah melewati bulak kecil di selatan padukuhan induk tanah perdikan ini.
Ketika kau sampai di pohon asem besar yang akar-akarnya keluar menutupi batangnya, beloklah kau menuruni pategalan di sebelah kiri bulak itu. Kau carilah dangau yang akan aku suruh untuk memberinya tanda” berkata Ki Lurah Hadi Suprana.

“Baiklah ki lurah, mungkin sebaiknya aku mohon diri sekarang. Aku masih punya waktu untuk ke pasar, membeli perbekalan yang aku butuhkan.” Berkata Serat Manitis.

Ki Lurah Hadi Suprana tersenyum mendengar perkataan Serat Manitis. “marilah kau aku antar lewat pintu butulan samping saja.”

bersambung ke jilid 399

edited by arema

<< kembali ke FADBM-397 | lanjut ke TADBM-399 >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s