FADBM-399

<< kembali ke FADBM-398 | lanjut ke TADBM-400 >>

FADBM-399SEMENTARA di tepian timur Kali Praga, siang yang mulai terik itu terjadi kegaduhan yang berujung terjadinya perkelahian.

Sebenarnyalah enam orang tukang satang sedang berkelahi berkelompok menghadapi seorang pemuda yang berpakaian layaknya seorang saudagar kaya. Enam orang tukang satang itu berkelahi dengan menggunakan senjata seadanya yang mereka ambil dari sekitar tempat mereka berkelahi. Orang yang berpakaian sebagaimana saudagar kaya itu tampak tersenyum-senyum, walau dirinya di serang membabi buta dari segala penjuru.

“Ayo orang-orang dungu, peras seluruh tenagamu, sebentar lagi kalian akan mati kehabisan nafas” teriak pemuda yang berpakaian mewah itu.

“Jangan terlalu mengulur waktu, Adi Sasangka. Kita tidak punya banyak waktu. Segeralah selesaikan orang-orang bodoh itu, tinggalkan seorang untuk menyeberangkan kita” teriak orang yang memakai ikat kepala kuning keemasan yang berdiri tidak jauh dari tempat perkelahian itu.

“Baiklah kakang” sambil tertawa keras-keras orang yang berpakaian mewah itu menjawab perkataan temannya. Orang-orang yang berdiri agak jauh dari tempat perkelahian itu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ketika tiba-tiba saja ke-lima tukang satang itu telah jatuh bergelimpangan di tanah.

“Ayo siapa di antara kalian yang mau seperti orang-orang dungu ini” teriak orang yang memakai pakaian mewah yang di panggil dengan sebutan Sasangka tersebut.

Beberapa orang yang kebetulan berada di tepian Kali Praga itu, seakan-akan tanpa menunggu perintah berikutnya, segera berjalan cepat-cepat menjauhi tempat perkelahian itu. Bahkan kebanyakan dari orang-orang itu memilih untuk meninggalkan tepian Kali Praga.

Sementara itu, tukang satang yang seorang lagi, hanya berdiri termangu-mangu, tanpa tahu apa yang harus ia perbuat.

“Aku belum membunuh kawan-kawanmu itu, mereka hanya pingsan. Akan tetapi jika kau tidak segera menye-berangkan aku dan kakang ku, aku akan segera menusuk jantungmu sekarang” berkata orang yang disebut sasangka tersebut.

Seolah seperti baru saja mendengar suara petir yang sangat keras tiba-tiba tukang satang itu menjatuhkan dirinya di depan orang yang berpakaian mewah itu, menyembah-nyembah mohon ampunan.

“Aku percaya kau tidak menyembah orang itu dengan hatimu ki sanak, tiba-tiba terdengar suara perlahan dan halus yang mendekati tempat perkelahian itu.”

“Dalam keadaan terpaksa, apalagi kau merasa nyawamu mendapat ancaman, apa yang kau perbuat itu tidak terlalu menjadi soal ki sanak” lanjut orang tersebut.

Orang yang berpakaian mewah yang di panggil dengan sebutan Sasangka itu seakan-akan diam membeku di tempatnya, ketika semua orang yang berada di tepian Kali Praga meninggalkan tempat itu, tiba-tiba di hadapannya berdiri seorang pemuda yang tampak tenang tanpa ada perasaan takut sedikitpun. Seorang pemuda yang berkumis tipis serta memakai pakaian yang agak kebesaran itu, tersenyum memandang tukang satang yang masih dalam keadaan menyembah terhadap orang yang di panggil Sasangka tersebut.

“Ilmu kanuragan tidak untuk bertindak sewenang-wenang terhadap sesama. Aku tetap mempercayai, empunya yang dahulu menciptakan tata gerak ilmu kanuragan itu mempunyai tujuan yang luhur. Dan aku yakin para guru, para pendahulu-pendahulunya akan sangat kecewa melihat yang telah diwariskannya kepada penerusnya, dipergunakan untuk berbuat sewenang-wenang menebar angkara murka.” Berkata anak muda itu.

Orang yang dipanggil Sasangka itu masih tetap diam tanpa mampu berkata sedikitpun, seolah-olah ia baru melihat sesuatu yang tidak dapat diterima oleh akal sehatnya. Tiba-tiba teman orang yang dipanggil Sasangka itu dengan tidak sabar membentak terhadap pemuda yang memakai pakaian sedikit kebesaran itu. “Siapa kau anak muda? Apakah kau seorang pemain ludruk atau mungkin wayang orang yang ketinggalan rombonganmu, sehingga kau menjadi gila. Aku kira kau sebenarnya memang pemain wayang orang,
melihat kulitmu yang putih bersih itu pastinya kau sering memainkan peran ksatria yang lemah lembut.”

Pemuda yang memakai pakaian sedikit kebesaran itu masih tetap tersenyum tanpa memandang sedikitpun terhadap orang yang baru saja berbicara kepadanya. Bahkan ia mendekati kemudian memegang lengan tukang satang yang masih dalam keadaan menyembah itu untuk segera kembali berdiri seperti semula.

“Hai Sasangka serta kau tentunya yang bernama Purnagati” tiba-tiba pemuda yang bibirnya tersenyum itu, matanya menjadi memandang tajam tanpa senyuman lagi. “Tata gerak ilmu jalur Kedungjati yang masih belum pantas kalian pamerkan.”

“Aku hanya akan berkata sekali dan tidak akan aku ulangi lagi. Urungkan niat kalian dan jangan pernah sekalipun kalian mencoba kembali untuk mewujudkan tujuan kalian, kapan pun dan dimanapun itu.” Berkata anak muda itu selanjutnya.

Dua orang yang di panggil dengan sebutan Sasangka dan Purnagati itu terkesiap, seakan-akan tidak percaya bahwa mereka berdua sedang diberi wejangan oleh orang yang menurut mereka telah mengerti mereka berdua sebelumnya.

“Ssiapa kau anak muda” bertanya yang di panggil dengan sebutan Purnagati dengan suara yang menahan amarah.

Sasangka yang masih termanggu-mangu itu mulai menimbang-nimbang tentang sejatinya orang muda yang memakai pakaian sedikit kebesaran itu. “Anak muda itu telah mengenal aku dan kakang Purnagati. Bahkan ia juga mengerti tata gerak jalur perguruan Kedungjati. Terlebih-lebih lagi anak muda itu telah mengukur tata gerak ilmu kanuraganku” berkata Sasangka dalam hati.

“Cepat pergilah sekarang atau aku harus menggunakan cara lain untuk menanggalkan seluruh ilmu Kedungjati yang kalian punyai” berkata anak muda yang mengenakan pakaian sedikit kebesaran itu.

“Kau memang orang gila anak muda, lihatlah matahari itu untuk yang terakhir kalinya” geram Purnagati.

Anak muda itu hanya tersenyum memandang Purnagati yang ingin segera membunuhnya itu. “Tataranmu belum mencapai tataran tinggi, Purnagati. Masih harus melewati tiga tahapan untuk masuk dalam unsur-unsur tertinggi jalur ilmu Kedungjati.”

Purnagati yang hatinya sudah di penuhi amarah yang meluap-luap, tidak mau berpikir panjang lagi. Tiba-tiba Purnagati melompat menyerang ke arah anak muda itu.
Tangan kanan yang mengepal, di sertai jari-jari tangan kiri membentuk cakar harimau di atas pinggang. Dengan bertumpu pada kaki kiri yang menjadi pusat tumpuan untuk melompat dalam serangan selanjutnya. Sebenarnyalah yang terjadi ialah sungguh-sungguh serangan yang beruntun menyerang ke tiga titik sasaran yang berlainan pada bagian tubuh anak muda itu.

Yang terjadi kemudian memang Purnagati tidak mau menjajaki dulu ilmu lawannya. Kepalan tangan kanan yang mengarah pada wajah, juga cengkeraman tangan kiri kearah lambung, tampak tubuh Purnagati melayang saat menyerang anak muda yang memakai pakaian sedikit kebesaran itu.

“Ah, tata gerak selapis sebelum sampai batas kemampuan-mu” tertawa melengking-lengking anak muda itu saat ia mundur satu langkah menghindari serangan Purnagati.
Demikian pula di saat serangan ketiga tendangan lurus mengarah dada, anak muda itu masih dengan tertawa yang melengking tinggi, melenturkan tubuhnya ke belakang dengan kedua kakinya tetap kokoh ditempat. Melihat semua serangannya hanya menjadi bahan ejekan lawannya, kemarahan Purnagati menjadi semakin meluap. Serangan-serangan Purnagati pun tanpa kekangan samasekali. Dari suara gesekan angin yang menderu-deru, pasir-pasir yang ikut berhamburan menjadi kenyataan dari Purnagati yang telah mengungkapkan tenaga cadangannya dalam setiap tata geraknya. Tetapi, walau serangan-serangan Purnagati semakin lama semakin dahsyat, anak muda yang memakai pakaian sedikit kebesaran itu, masih dengan tertawanya yang melengking-lengking tetap mampu menghindarinya.

Sasangka yang melihat semua itu menjadi semakin berdebar-debar jantungnya. “Anak muda itu selalu mampu menghindari serangan-serangan kakang Purnagati. Tetapi ada keganjilan dari cara tertawa anak muda itu. Itu cara tertawa yang dibuat-buat” berkata Sasangka dalam hati.

Sasangka semakin tertegun ketika menyaksikan Purnagati sudah merambah tata geraknya dalam tataran puncak.
Tubuh Purnagati bagai bayang-bayang yang bergerak sangat cepat, kadang menukik menyambar anak muda itu,
juga terkadang meluncur ke arah dada lawan kemudian menjejakkan kedua kakinya keras-keras ke tanah. Tetapi Sasangka melihat anak muda itu selalu berhasil menghindar dari serangan-serangan Purnagati yang telah sampai pada tataran tertingginya itu.

Keringat yang telah membanjiri tubuh Purnagati, seolah-olah menjadi perintah untuk memeras seluruh kemampuan yang dimilikinya. Dan sebenarnyalah serangan-serangan Purnagati semakin tidak pernah ada selanya, pukulan-pukulan beruntun yang disertai cakaran maupun patukan. Juga sapuan kaki mendatar maupun tendangan melingkar, datang membadai silih berganti mendera ke arah tubuh anak muda yang masih dengan tertawanya yang melengking2 itu. Tetapi kenyataannya, walau digulung-gulung debu yang beterbangan akibat serangan yang tiada habisnya itu, anak muda itu masih mampu menghindarinya tanpa terkena walau setipis apapun.

Sasangka yang melihat semua itu, seolah-olah menjadi tak percaya tentang apa yang sedang disaksikannya itu. “Sampai kapan kakang Purnagati mampu menyerang anak muda itu dengan menguras seluruh tenaga cadangannya. Baiklah, kita mempunyai tujuan jangka panjang kakang. Sebelum tenagamu habis, mari segera kita habisi bersama. Akan aku bunuh kau perempuan iblis, karena aku yakin sebenarnya kau adalah perempuan yang sedang menyamar sebagai laki-laki.
Terimalah Aji Netra Manunggal ku ini, perempuan sombong.
Kau mungkin mengetahui semua ilmu-ilmu Kedungjati,
tapi Netra Manunggalku bukan dari aliran Kedungjati” tertawa penuh kemenangan Sasangka dalam hati.

Purnagati sendiri, setelah menyerang membadai namun tidak satu pun yang mampu mengenai lawannya, akhirnya sambil melompat ke udara membuat dua kali putaran,
menjejakkan kakinya dengan menjauhi tempat berdirinya anak muda yang masih dengan tertawanya yang melengking-lengking itu. Hanya sekejap saja, Purnagati telah membuat suatu gerakan-gerakan khusus. Sementara itu Sasangka yang melihat apa yang sedang di lakukan oleh Purnagati tampak tersenyum penuh arti. “Mari kita satukan aji pamungkas kita kakang. Tetapi kita tidak perlu berjiwa ksatria, aku akan mendahului menyerang perempuan iblis itu, selagi ia belum menyadari apa yang akan aku lakukan. Baru setelah itu, kau lumatkan perempuan itu menjadi debu dengan aji pamungkasmu” berkata Sasangka dalam hati.

Hanya memerlukan waktu sekejap Purnagati memusatkan nalar budinya. Kedua tangannya lurus ke depan saling berhadapan. Kemudian ditariknya ke sisi kanannya sejajar pinggang dengan menggosokkan ke-dua telapak tangannya.
Nampak kedua tangannya sampai batas pergelangan samar-samar mengepul asap warna merah mengepul tipis.
Sebenarnyalah, sebelum Purnagati memusatkan nalar budinya untuk mengungkap aji pamungkasnya itu, Sasangka telah terlebih dahulu memusatkan nalar budinya. Tidak dengan gerakan yang bisa menarik perhatian. Sasangka hanya menundukkan kepala dengan kedua tangannya menjadi satu di punggungnya. Sedangkan anak muda yang memakai pakaian sedikit kebesaran itu memang sudah mengerti, jika lawannya akan segera sampai pada puncak dari ilmu pamungkasnya.

Tiba-tiba anak muda itu terkejut sesaat. “Mengapa ada getaran-getaran halus di tubuhku. Getaran yang menjadi isyarat bahaya untukku” berkata anak muda itu dalam hatinya. Kemudian, “bukankah yang akan diungkap Purnagati itu sebenarnyalah adalah ungkapan Aji Tatu Geni, yang aku sendiri akan bisa mengimbanginya, tetapi mengapa isyarat getaran-getaran itu sekarang aku rasakan. Baiklah aji tameng Waja serta aji rog-rog asem tanpa sentuhan wadag harus ku ungkapkan sekarang” gumam anak muda yang memakai pakaian sedikit kebesaran itu.

Sasangka sendiri memang telah mempersiapkan aji pamungkasnya, dan sebenarnyalah saat Sasangka mengangkat kepalanya menghadapkan wajahnya tertuju kepada anak muda itu, tiba-tiba nampak seleret sinar merah melesat dari kedua mata Sasangka. Seolah-olah secepat kilat sinar merah yang keluar dari kedua mata Sasangka itu melesat menuju tubuh anak muda itu. Dan hanya selang sekejap saja,
Purnagati pun telah berteriak nyaring, melompat tinggi-tinggi ke udara. Yang berakhir dengan mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah anak muda itu berdiri.

Nampak gulungan api yang memanjang keluar dari kedua telapak tangan Purnagati. Walau tidak secepat lesatan cahaya dari mata Sasangka, akan tetapi kedua gulungan api itu seolah-olah seperti dua ular besar yang sedang meluncur untuk mematuk mangsanya. Dua ilmu yang sama-sama berasal dari sumber api itu sebenarnya memang akan melumatkan anak muda yang memakai pakaian sedikit kebesaran itu menjadi debu.

Tetapi, yang dilakukan oleh anak muda yang berpakaian sedikit kebesaran itu selanjutnya memang tidak dapat di duga sebelumnya. Yang terjadi ialah sebuah senyuman tipis pada bibir anak muda itu. “Mungkin ilmumu lebih dalam menyadap sumber inti api itu Sasangka. Dari pada aji tatu geni Purnagati,
Sampai aku merasakan getaran-getaran halus pada kulitku sebelumnya. Akan tetapi ilmumu hanya sampai sebatas kulit luarnya saja dari sumber inti api itu. Lihatlah siapa dirimu Sasangka, jangan mengkhayal ingin menyamai Ki Rangga Agung Sedayu, semisal umurmu di tambah seratus tahun pun kau tak kan sanggup mencapai tataran ilmu sorot mata Ki Rangga Agung Sedayu” berkata anak muda yang memakai pakaian sedikit kebesaran itu dalam hati.

Sebenarnyalah, anak muda itu pun mulai memusatkan nalar budinya. Hanya membutuhkan waktu seperti halnya dalam keinginan di hati saja, maka anak muda itu telah mengangkat ke permukaan aji rog-rog asem juga bersamaan dengan ungkapan tirai aji tameng Waja. Begitu anak muda itu telah mempersiapkan semuanya, nampak ia berdiri tegak menunggu datangnya dua terpaan aji pamungkas tersebut.
Tetapi yang membuat Sasangka serta Purnagati terkejut tiada terkira adalah kembali terdengarnya tertawa yang melengking-lengking tinggi dari anak muda yang memakai pakaian sedikit kebesaran itu.

Dan kenyataannya memang di sengaja oleh anak muda yang memakai pakaian sedikit kebesaran itu, suara tertawa yang melengking2 itu untuk mempengaruhi ketahanan jiwani lawan-lawannya.

“Semoga hinaanku mampu mengurangi ungkapan puncak tenaga cadangan Sasangka dan Purnagati. Sehingga tidak terjadi pantulan gelombang saat terjadi benturan. Walau bagaimanapun kalian masih dalam jalur perguruan Kedungjati” berkata anak muda yang memakai pakaian sedikit kebesaran itu dalam hati.

Dan hanya sekejap lesatan sinar dari mata Sasangka,
kemudian disusul dengan gulungan api yang membuntal-buntal mendera tubuh anak muda yang sedang tertawa melengking-lengking tinggi itu.

Tiba-tiba anak yang memakai pakaian sedikit kebesaran itu, dengan gerakan yang melebihi kecepatan datangnya ungkapan dua ilmu pamungkas itu, melompat tinggi seakan sedang melayang di angkasa, bersamaan juga kedua tangan anak muda itu diarahkan pada datangnya ungkapan dua ilmu pamungkas tersebut.

Yang terjadi selanjutnya adalah luapan lidah api yang sangat besar membumbung ke angkasa. Seakan-akan tepian tempat penyeberangan kali Praga itu berlangitkan api yang menggumpal-gumpal. Orang-orang dari kejauhan yang masih berani menyaksikan perkelahian itu segera berlarian menjauhi tepian Kali Praga tersebut. Walau hanya sesaat, api itu seakan-akan menutupi langit hingga hilang di angkasa, akan tetapi semua itu menjadi yang tidak bisa di terima oleh nalar mereka.

Anak muda yang berpakaian sedikit kebesaran itu pun tak sanggup untuk tetap berdiri, terdorong surut beberapa langkah hingga akhirnya harus terjengkang walau masih mampu bersandar dengan sebelah tangannya..

“Ternyata Aji Tameng Waja ku, masih jauh dari sempurna.
Masih beruntung aku tidak terluka di bagian dalam” berkata anak muda yang memakai pakaian sedikit kebesaran itu.

Keadaan tepian kali Praga mendadak menjadi sepi, tanpa terdengar suara hiruk pikuk orang-orang yang biasanya hilir mudik menyeberangi Kali Praga. Yang terdengar hanya suara gemericik air di bagian tepi sungai, saat aliran air itu melewati batu-batu kecil. Saat itu matahari memang sedang berada di titik tertingginya, burung-burung pun seakan-akan enggan berkicau. Lebih baik berteduh, terkantuk-kantuk di pohon mahoni atau pohon asem yang banyak tumbuh di atas tebing tepian Kali Praga. Atau bagi induknya lebih suka mengerami anak-anaknya untuk melindungi mereka dari teriknya matahari.

Tukang satang yang satu itu pun ikut tengkurap di sebelah kawan-kawannya yang masih pingsan. Tukang satang itu berpikir sudah tidak ada kesempatan untuk berlari menyelamatkan diri, di saat terjadinya benturan ilmu itu.

“Bagaimana keadaan Purnagati dan Sasangka, harusnya mereka juga masih kuat bertahan” berkata anak muda yang memakai pakaian sedikit kebesaran itu dalam hati.

Sesaat kemudian anak muda itu berdiri. Setelah mengibas-ibaskan debu yang mengotori kain panjang serta pakaiannya,
sebenarnyalah anak muda itu pun segera berjalan menuju tempat Purnagati dan Sasangka berada. “Demi kalian orang-orang tolol, aku masih mengekang ilmu ku. Itu semua hanya karena untuk memperbaiki citra aliran Kedungjati” gumam anak muda yang memakai pakaian sedikit kebesaran itu.

Sebenarnyalah yang terjadi disaat kedua ilmu pamungkas mereka berdua membentur Aji Rog-Rog Asem, mengakibatkan Purnagati dan Sasangka tak mampu bertahan lagi. Kedua orang itu sama-sama terlempar dan terseret di atas pasir tepian Kali Praga tersebut.

Sebenarnyalah seperti yang di pikirkan oleh anak muda yang memakai pakaian sedikit kebesaran itu, Sasangka ternyata telah mampu mengangkat tubuhnya untuk selanjut-nya duduk bersila mengatur pernafasan serta aliran darahnya.
Akhirnya anak muda itu pun membiarkan Sasangka meneruskan semedinya, ia selanjutnya mendekati tempat Purnagati terbujur di atas pasir tepian Kali Praga itu.
“semoga aku masih bisa menolongnya” begitu anak muda itu sampai di dekat Purnagati terbujur diam.

Dengan cekatannya anak muda itu segera memegang pergelangan tangannya, kemudian menekan-nekan tengkuk Purnagati. Setelah menekan dada Purnagati sesaat, akhirnya anak muda itu dapat bernafas lega. “Kamu akan segera siuman, semoga peristiwa ini bisa membuka mata hatimu, Purnagati. Kalau tidak, maka aku sendiri yang akan menghukummu” berkata anak muda itu dalam hati.

Anak muda itu akhirnya meninggalkan Purnagati sesaat,
untuk melihat keadaan lima tukang satang yang semuanya tergolek di bawah teriknya matahari tepian Kali Praga itu.
Akan tetapi anak muda itu tersenyum begitu melihat lima tukang satang itu sedang sama-sama duduk termangu-mangu sambil melihat keadaan sekelilingnya. “Ternyata kalian sudah siuman, apakah ada rasa sakit yang sangat yang kau rasakan sekarang?”

Kelima tukang satang itu hanya mampu memandangi anak muda yang berpakaian sedikit kebesaran itu tanpa berucap sepatah katapun.

Anak muda itu masih tersenyum saat kelima tukang satang itu tidak menjawab pertanyaannya. “Baiklah aku rasa keadaan kalian akan baik-baik saja. Sekarang keadaan sudah kembali seperti semula. Jika kalian mau meneruskan pekerjaan kalian,
silahkan tidak ada yang perlu kau risaukan lagi. Dua orang itu sudah tidak akan berani mengganggu pekerjaan kalian lagi” lanjut anak muda itu.

Tukang-tukang satang itu masih saja termangu-mangu memandang anak muda yang berpakaian sedikit kebesaran itu. Nampak ingatannya belum sepenuhnya kembali untuk mengerti tentang peristiwa yang baru saja mereka alami. Akhirnya anak muda itu meninggalkan sejenak kelima tukang satang itu, untuk kembali melihat keadaan Sasangka dan Purnagati.

Sebenarnyalah Sasangka telah selesai dengan semedinya, ia bahkan telah berada di samping Purnagati yang ternyata telah siuman dari pingsannya walau masih lemah keadaannya.
Yang terjadi berikutnya adalah di luar dugaan anak muda yang berpakaian sedikit kebesaran itu. Begitu melihat anak muda itu berjalan mendekati tempatnya berdiri, tiba-tiba Sasangka melangkah surut beberapa tindak, lalu berdiri tegak dengan sikap seolah-olah akan memulai perkelahian lagi.

Sebenarnyalah, saat anak muda itu menyaksikan apa yang telah diperbuat oleh Sasangka, yang terjadi kemudian adalah terdengarnya kembali tertawa yang melengking-lengking tinggi dari anak muda itu. “Harusnya kau menyadari apa yang sebenarnya terjadi, Sasangka. Aku yakin, seandainya saja aku tak mengekang tenaga cadanganku dalam ungkapan Aji Rog-Rog Asem, mungkin kalian berdua sudah menjadi tumenggung dan patih atau mungkin saja panglima wiratamtama di duniamu yang baru itu. Memang seharusnya aku tidak perlu bermurah hati terhadap orang-orang dungu seperti kalian itu” berkata anak muda itu masih dengan tertawanya yang melengking-lengking tinggi itu.

Tiba-tiba saja anak muda itu menghentikan tertawanya.
Yang dilakukan selanjutnya adalah anak muda mengangkat tangan kanannya keatas. “wahai Sasangka, cepat trapkan aji pamungkasmu, aku telah menghimpun seluruh tenaga cadanganku untuk menopang ungkapan Aji Rog-Rog Asem ini.
Tetapi sebelum kau lakukan benturan ilmu, cepat tataplah wajahku lebih dahulu, aku yakin kau akan mengenal aku” berkata anak muda itu dengan nada berat.

Sasangka tertegun sejenak sebelum akhirnya ia benar-benar menatap wajah anak muda itu. Purnagati sendiri ternyata sudah mampu bersandar pada sebelah tangannya, ia pun memandangi dengan lebih sungguh-sungguh wajah anak muda itu. Purnagati terkejut setelah beberapa saat memandangi wajah anak muda itu. “Adi Sasangka, cepatlah kau meminta ampun” berkata Purnagati dengan terbata-bata.

“Nyimas Rara!” tiba-tiba berkata Sasangka sambil menjatuhkan badannya di depan anak muda yang berpakaian sedikit kebesaran itu.

Purnagati sendiri dengan memaksakan keadaannya yang masih lemah, mencoba untuk dapat duduk bersila dengan kepala tertunduk di depan pemuda itu. “Hukumlah aku dengan hukuman seberat-beratnya, Nimas. Aku telah deksura berani menentang junjunganku sendiri” berkata purnagati perlahan.

“Demikian juga aku, Nimas Rara Suhita, yang telah berani pergi ke tanah perdikan ini, sedangkan kami telah di beri larangan untuk tidak mendatangi tanah perdikan menoreh” desis Sasangka semakin menundukkan kepala.

Anak muda yang berpakaian sedikit kebesaran itu menarik nafas dalam-dalam. Kedua matanya yang semula menatap tajam, sudah mulai pelan-pelan berubah menjadi seperti sediakala. “Apa alasan kalian hingga berani melanggar aturan untuk tidak mendatangi Tanah Perdikan Menoreh. Apakah kalian sudah merasa mempunyai sebangsal ilmu, atau juga merasa sudah menyerap ilmu dari berbagai perguruan. Kalau memang seperti itu alasan kalian, ah, betapa tidak berartinya Wangsa Kedungjati yang bermuridkan orang-orang yang dangkal pikirannya”.

Purnagati dan Sasangka hanya mampu tertunduk tanpa mempunyai keberanian untuk memandang wajah orang yang mereka panggil dengan sebutan Rara Suhita itu.

“Apakah kalian memang benar-benar bodoh, sehingga tidak bisa mengingat peristiwa-peristiwa waktu lampau tentang apa yang pernah diperbuat oleh tanah perdikan menoreh?.” Berkata Rara Suhita.

Purnagati serta Sasangka masih tetap diam dengan menundukkan kepala mereka.

“Baiklah, aku hanya akan bertanya satu kali saja” berkata orang yang di panggil Rara Suhita itu selanjutnya.

“Apakah kalian mau jika aku menyuruh kalian menemani eyang guru?” akhirnya bertanya dengan nada dalam orang yang dipanggil dengan sebutan Rara Suhita itu.”

Purnagati dan Sasangka masih tetap tertunduk tanpa berucap sepatah katapun.

“Apa kalian tidak mendengar perkataanku, atau apakah kalian benar-benar tetap akan melanjutkan cita-cita kalian itu” tiba-tiba bertanya orang yang di panggil dengan nama Rara Suhita itu.

Sasangka dan Purnagati seolah-olah baru tersadar dari lamunan mereka, selanjutnya hampir bersamaan mereka merangkapkan kedua tangan mereka di atas dada menyembah kepada Rara Suhita. Rara Suhita sendiri terdiam sejenak, seakan-akan sedang membaca niat sebenarnya dari Purnagati dan Sasangka.

“Nimas Rara Suhita” berkata Sasangka kemudian, “Apakah masih pantas kami terhindar dari hukuman, yang sebenarnya kami telah melanggar aturan-aturan perguruan, kami juga telah berani mencoba melanjutkan cita-cita yang dahulu pernah di lakukan sebagian saudara-saudara seperguruan.”

Rara Suhita masih terdiam untuk merasakan kesungguhan hati Purnagati dan Sasangka itu. “apa yang aku perintahkan kepada kalian adalah hukuman yang sebenarnya harus kalian jalani” akhirnya berkata Rara Suhita.

“Kami belum memahami hukuman apa itu Nimas Rara” bertanya Purnagati selanjutnya.

“Sudahlah, aku harus segera melanjutkan perjalananku yang tinggal selangkah ini, semoga aku masih bisa menjelaskan semuanya kepada orang yang kuyakini sebagai yang memegang wewenang tertinggi, sebelum semuanya menjadi terlambat. Dan sebelum kalian berangkat menuju padepokan eyang guru, tolonglah dulu tukang-tukang satang itu. Kalian harus mengganti semua kerugian serta memberi jaminan kepada mereka, kalian tidak akan mengulangi perbuatan kalian lagi”, berkata Rara Suhita selanjutnya.

Purnagati dan Sasangka akhirnya sedikit-sedikit mulai mengerti hukuman apa yang harus mereka jalani.

Sementara itu, keadaan tepian Kali Praga sedikit demi sedikit telah kembali berjalan seperti semula, walaupun tidak langsung seketika. Orang-orang yang pada saat terjadi perkelahian menyingkir jauh, sudah mulai mendekati tepian Kali Praga kembali. Para tukang satang pun juga sudah mulai berada di rakit masing-masing untuk mempersiapkan rakitnya yang akan segera mereka gunakan untuk menyeberangkan para penumpang. Tetapi, ada juga yang tanpa membawa penumpang, menyeberang ke tepi sebelah barat untuk menjemput para penumpang yang belum kebagian rakit untuk menyeberang.

“Nimas Rara, bolehkah aku bertanya sesuatu hal sebelum Nimas Rara melanjutkan perjalanan” tiba-tiba bertanya Purnagati.

Rara Suhita tersenyum, mengangguk kecil menunggu sesuatu hal yang akan ditanyakan Purnagati tersebut.

“Nimas Rara, siapakah orang yang akan Nimas temui, yang menurut Nimas Rara orang itu memiliki wewenang tertinggi.
Apakah orang itu adalah istri Ki Rangga Agung Sedayu, yang bernama Sekar Mirah itu? Kalau memang orang itu ialah Nyi Sekar Mirah, wewenang tertinggi apa yang ia punya. Padahal ia hanya murid tunggal dari Ki Sumangkar, tanpa pernah sekalipun bergabung dengan saudara-saudara seperguruan yang lain.” Bertanya Purnagati.

Sesaat Rara Suhita terkesiap, walau akhirnya kembali tersenyum memandang Purnagati yang kembali menunduk-kan kepalanya itu.

“Purnagati, dan kau Sasangka, seandainya nanti kalian benar-benar menjadi cantrik yang sesungguhnya di padepokan eyang guru, kalian akan mengerti maksud perkataanku tadi.
Kalaupun memang Nyi Sekar Mirah yang mempunyai wewenang tertinggi sekalipun, tentu kalian akan bisa menerimanya” jawab Rara Suhita.

Purnagati dan Sasangka menganggukkan kepala setelah mendengar jawaban Rara Suhita tersebut. Tiba-tiba Sasangka yang semula diam, akhirnya ikut bertanya kepada Rara Suhita. “Apakah Nimas Rara Suhita tetap dalam penyamaran sebagai seorang laki-laki seperti ini?”

“Ah sudahlah biarlah aku seperti ini. Segeralah bantu tukang-tukang satang itu sekarang. Sampaikan salam hormatku untuk eyang guru setelah kalian sampai di padepokan” berkata Rara Suhita sebelum akhirnya melangkahkan kaki menuju rakit yang akan membawanya menyeberangi kali Praga.

Purnagati dan Sasangka mengangguk hormat sesaat sebelum Rara Suhita meninggalkan mereka berdua. “Perempuan yang masih muda juga sangat cantik, berilmu sangat tinggi. Seharusnya ia juga mempunyai hak untuk menjadi ratu di tanah ini” berkata Sasangka dalam hati.

Rara Suhita sendiri telah berada di atas rakit yang hampir tiba di tepian sebelah barat Kali Praga. Sebenarnyalah sesaat kemudian rakit telah menepi. Setelah membayar upah penyeberangan, Rara Suhita pun segera melanjutkan perjalanannya.

Para penumpang lain memang memilih untuk memberi jalan kepada Rara Suhita dahulu.

“Siapakah pemuda itu sebenarnya. Lihatlah tubuhnya yang kecil itu tidak sesuai dengan pakaian yang ia kenakan nampak kebesaran itu” berkata seorang laki-laki tua yang membawa dua ikat kain, setelah Rara Suhita sudah sampai di atas tebing.

“Mengapa tidak kau tanyakan dulu saat ia masih di atas rakit ini, kalau kau tanyakan padaku sampai asatnya air Kali Praga ini, aku tidak mungkin tahu tentang siapa sebenarnya pemuda itu” potong perempuan tua yang menggendong anak kecil sambil bersungut-sungut, seakan-akan membalas karena ia harus menunggu karena laki-laki yang membawa dua ikat kain itu menghalangi jalannya.

Tukang satang yang mendengar pembicaraan itu tertawa tertahan, sambil meraih lintingan tembakau dari saku pakaiannya.

Laki-laki tua yang membawa dua ikat kain itu hanya mampu tersenyum masam.

Sementara itu, Rara Suhita semakin jauh meninggalkan tepian Kali Praga. Rara Suhita sengaja memilih jalan yang biasa dilalui orang-orang sekitar. Walaupun sering melewati bulak-bulak, sebenarnyalah jalan menuju tanah perdikan adalah jalan yang ramai. Selain karena seringnya para pengawal tanah perdikan yang meronda hingga Kali Praga, jalan itu yang paling dekat dengan Tanah Perdikan Menoreh.

“Hutan2 yang masih terpelihara adalah satu wujud nyata tanggung-jawab rakyat tanah perdikan terhadap alam sekitarnya. Tidak aneh jika para penduduk tanah perdikan mampu memanen padi rata-rata tiga kali dalam dua belas purnama. Hutan yang masih terjaga itulah yang menjadi sumber air yang tiada pernah kering walau kemarau panjang sekalipun” berkata Rara Suhita dalam hati.

Rara Suhita terus melangkahkan kakinya menuju Tanah Perdikan Menoreh. Tidak hanya sekali atau dua kali, tetapi sangat sering Rara Suhita berpapasan dengan para petani, atau para pencari kayu bakar. Selain itu, juga tidak jarang Rara Suhita berpapasan dengan para pedagang yang baru pulang dari pasar sambil membawa sisa dagangannya yang tidak semuanya telah laku di jual. Para pengawal tanah perdikan pun walau tidak sesering para petani atau pedagang, tetapi sering juga berpapasan atau mendahului Rara Suhita berjalan.
Sebenarnyalah perjalanan Rara Suhita memang tidak menemui hambatan samasekali.

Akhirnya saat matahari mulai condong ke arah barat, Rara Suhita sampai di gardu ronda yang bersebelahan dengan tapal batas padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Tampak dua orang pemuda yang membawa cangkul sedang duduk-duduk melepas lelah.

“Ternyata pintu gerbang dinding padukuhan induk tanah perdikan ini selalu terbuka di siang hari. “Mungkin baru pada malam harinya akan ditutup” berkata Rara Suhita dalam hati.

Sesaat kemudian Rara Suhita telah mendekati dua orang yang sedang melepas lelah di gardu ronda itu. “Nampaknya dua orang itu adalah para petani yang sedang beristirahat,
kelihatan dari cangkul-cangkul itu yang masih kotor belum sempat mereka bersihkan. Akan tetapi, menilik dari usia mereka yang terhitung masih muda itu, bisa jadi dua orang itu adalah para pengawal tanah perdikan” berkata Rara Suhita dalam hati.

Sebenarnyalah, begitu tiba di tempat dua orang muda itu beristirahat, Rara Suhita pun segera mengangguk hormat memberi salam. Dua orang muda itu pun, begitu mengerti ada seseorang yang menghampiri mereka, segera bangkit berdiri dengan membalas mengangguk hormat pula. “Maaf ki sanak, aku telah mengganggu istirahat ki sanak berdua. Aku sebenarnya hanya ingin menanyakan, apakah pintu gerbang ini adalah jalan masuk induk padukuhan Tanah Perdikan Menoreh” bertanya Rara Suhita perlahan.

Dua orang muda itu hampir bersamaan mengangguk membenarkan apa yang disampaikan Rara Suhita. “Benar ki sanak, tempat ini sebenarnya memang telah masuk induk padukuhan tanah perdikan” jawab salah seorang di antaranya.

“Kalau boleh bertanya selanjutnya ki sanak, dapatkah aku di beri petunjuk jalan yang menuju rumah Nyi Sekar Mirah?”

Sesaat kedua orang yang sedang beristirahat di gardu ronda itu, memandang sejenak wajah Rara Suhita, walau akhirnya mereka pun tersenyum menganggukkan kepala. Sebenarnya-lah salah seorang yang sedang beristirahat itu menunjukkan jalan yang menuju rumah Nyi Sekar Mirah. “Apakah ki sanak kerabat dari Sangkal Putung, atau utusan dari ki Swandaru?” bertanya salah seorang yang sedang beristirahat itu, begitu ia selesai menunjukkan arah jalan yang menuju rumah Nyi Sekar Mirah.

“Ternyata benar dugaanku, dua orang ini adalah para pengawal tanah perdikan” berkata Rara Suhita dalam hati.

“Tidak ki sanak, aku bukan utusan dari Sangkal Putung.
Aku berasal dari daerah utara ,yang masuk wilayah Kadipaten Pati. Aku jauh-jauh datang kesini, karena kakekku pernah mengatakan, kalau aku masih mempunyai saudara angkat di tanah perdikan ini yang bernama Nyi Sekar Mirah” sengaja Rara Suhita menjelaskan sejelas-jelasnya agar tidak terjadi salah paham dengan dua orang yang ditemuinya itu.

Dua orang itu mengangguk-anggukkan kepala mendengar-kan perkataan Rara Suhita. “Baiklah ki sanak, sudah menjadi tugas kami untuk mengantarkan tamu-tamu di tanah perdikan ini, apalagi engkau adalah tamu Nyi Sekar Mirah” tiba-tiba berkata salah seorang yang sedang beristirahat di gardu ronda itu.

Rara Suhita tersenyum sambil menganggukkan kepala.
“Kebetulan sekali aku bertemu dengan dua orang ini. Mungkin mereka agak mencurigai aku, tetapi dengan diantar dua orang ini akan lebih memudahkanku untuk segera bertemu dengan Nyi Sekar Mirah. Walau yang lain masih selisih pendapat, akan tetapi aku telah mengakuinya sebagai ketua tertinggi aliran Kedungjati” berkata Rara Suhita dalam hati.

“Aku sangat berterima kasih, seandainya ki sanak berdua berkenan mengantarku ke rumah Nyi Sekar Mirah” jawab Rara Suhita seketika.

Sebenarnyalah dua orang itu tidak bertanya apa-apa lagi, hingga akhirnya mereka bertiga segera berangkat menuju rumah Nyi Sekar Mirah.

Sementara itu di saat yang sama, Serat Manitis telah berdiri termangu-mangu di depan sebuah rumah yang ada dua buah pohon jambu besar di halaman rumahnya. Sebenarnyalah, Serat Manitis benar-benar menepati janjinya untuk datang ke rumah Sastra Dikun. Serat Manitis kemudian melangkah mendekati pendapa kecil rumah Sastra Dikun. Akan tetapi, sebelum sampai Serat Manitis mengucap salam, tampak seorang laki-laki setengah baya tergopoh-gopoh berjalan menyeberangi pendapa menyambut kedatangan Serat Manitis.

“Paman, aku telah menepati janjiku untuk datang ke rumah paman, apakah boleh aku sekalian ngenger di rumah paman Dikun, barang satu atau dua pekan” berkata Serat Manitis.

Sastra Dikun tersenyum sambil memeluk erat Serat Manitis. “Jangankan hanya dua pekan, selamanya pun kau boleh tetap tinggal di sini. Meski baru tadi pagi kita bertemu, tapi aku telah menganggapmu sebagai anakku sendiri” tampak sembab mata Sastra Dikun di saat menjawab perkataan Serat Manitis.

“Mari kita naik ke pendapa Serat Manitis” berkata Sastra Dikun selanjutnya.

Akhirnya mereka pun berbincang bincang sambil menikmati wedang jahe serta pohung rebus yang telah disedia-kan oleh Sastra Dikun sendiri.

“Setelah kau nanti mandi serta makan dengan daging ayam yang telah ku janjikan tadi siang, nanti setelah senja turun, kita akan berjalan-jalan mengitari induk padukuhan tanah perdikan ini.” berkata Sastra Dikun.

Tampak wajah Serat Manitis tersenyum gembira mendengar ajakan Sastra Dikun itu. “Aku akan sangat senang paman, bisa paman ajak berkeliling menikmati suasana malam tanah perdikan menoreh ini. Dan tentunya aku pasti akan paman tunjukkan rumah seorang senapati yang ilmunya seakan-akan tiada batas, ki Rangga agung sedayu itu” jawab Serat Manitis dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya.

“Dimanakah bibi paman, sejak tadi aku belum melihatnya, apakah sedang di kebun paman, untuk memetik sayur-sayuran?” Bertanya Serat Manitis selanjutnya.

Dan sebenarnyalah, begitu Serat Manitis menanyakan hal itu, wajah Sastra Dikun yang tadinya cerah dengan senyum yang selalu menghias bibirnya, tiba-tiba semua itu menjadi hilang, berganti dengan wajah yang kelam seakan-akan ada mendung tebal yang sedang menggelayutinya. Serat Manitis terkejut melihat titik-titik air di sudut mata Sastra Dikun.

“Paman menangis” berkata Serat Manitis perlahan.

“Apakah ada perkataanku yang menyinggung perasaan paman. Kalau memang demikian, ampunilah aku paman serta hukumlah aku yang tidak mengerti membalas budi baik paman ini.” berkata Serat Manitis.

Sastra Dikun seakan-akan baru menyadari apa yang sedang ia rasakan, kemudian dengan tergesa-gesa ia menyeka air mata yang membasahi wajahnya. “Tidak, tidak angger Serat Manitis. Aku mungkin yang terlalu memanjakan perasaanku, sehingga membuat kau merasa telah berbuat salah” sahut Sastra Dikun dengan tergesa-gesa.

“Akan tetapi aku yakin, ada salah satu perkataanku yang membuat perasaan paman menjadi bersedih” berkata Serat Manitis selanjutnya.

Sastra Dikun menarik nafas dalam-dalam, dengan kedua matanya memandang jauh ke luar pelataran menembus sawah-sawah yang terhampar seakan2 tiada bertepi.

“Angger Serat Manitis” tiba2 berkata Sastra Dikun dengan suara lirih. Kemudian, “Baiklah aku akan bercerita sedikit mengenai keluargaku. Mengapa sejak bertemu dengan kau, aku seolah-olah menemukan sesuatu yang telah berlalu dari hidupku, kembali lagi.”

Mendengar perkataan Sastra Dikun itu, seperti tanpa sadar Serat Manitis bergeser duduknya lebih mendekati tempat Sastra Dikun duduk.

“Mengertilah angger Serat Manitis, sebenarnya aku seorang diri menempati rumah ini. Dahulu memang aku tidak sendiri, ada seorang istri serta seorang anak laki-laki. Tetapi mereka berdua telah mendahului menghadap Yang Maha Pencipta, angger.”

“Oh, maafkan aku paman, yang telah membuat perasaan paman kembali bersedih” desis Serat Manitis dengan kepala tertunduk.

Sastra Dikun menggelengkan kepalanya. Katanya, “tidak angger, bahkan perkataanmu tadi telah mengingatkanku pada suatu peristiwa yang membuat aku kembali berbangga.”

Kembali Sastra Dikun memandang jauh ke depan, menembus hamparan persawahan, bahkan menembus lebat-nya hutan yang seolah-olah berbatasan dengan cakra-wala.

Serat Manitis sengaja membiarkan Sastra Dikun terdiam dalam bayangan masa lalunya. Kicau burung perkutut seolah-olah menjadi tembang pengiring atas perasaan Sastra Dikun tersebut.

Sesaat kemudian Sastra Dikun tiba-tiba mengangguk-anggukkan kepala, dengan senyum menghiasi bibirnya. Serat Manitis nampak terheran-heran melihat keadaan semua itu.

“Angger Serat Manitis” akhirnya terdengar Sastra Dikun berkata. Kemudian, “istriku sebenarnya meninggal saat melahirkan, akan tetapi Yang Maha Agung masih melimpah-kan rahmat-Nya dengan masih diberinya umur panjang pada bayi yang baru dilahirkannya itu.”

Kembali Sastra Dikun terdiam sejenak, seolah-olah sedang menghadirkan kembali kejadian itu menjadi sungguh-sungguh hadir di waktu sekarang.

“Kesedihanku akhirnya terobati dengan hadirnya bayi laki-laki ku itu. Aku besarkan ia dengan kasih sayang dan perhatian yang teramat besar. Aku sediakan seluruh waktuku untuk membesarkan serta merawat anakku sebaik-baiknya. Itu semua kulakukan, karena aku yakin sebagai wujud amanah dari istriku saat ia memandangku untuk yang terakhir kalinya, sebelum ia menutup mata untuk selama-lamanya. Ia pun tumbuh seperti layaknya anak-anak pada umumnya. Dan yang membesarkan hatiku, ia bisa menerima apa adanya, tanpa harus merasa iri terhadap kawan-kawannya yang dibesarkan oleh kedua orang tua mereka. Semisal ia masih ada, mungkin usianya lima atau enam tahun lebih tua darimu, Angger Serat Manitis.”

Serat Manitis mengangguk-anggukkan kepala mendengar-kan dengan sungguh-sungguh semua yang di katakan Sastra Dikun. Kemuian, “Paman, kalau boleh mengira-ira, apakah putra paman adalah salah satu pahlawan dari para pengawal tanah perdikan menoreh. Yang namanya akan tetap harum selamanya, atas darah yang menetes demi tegaknya sendi-sendi kehidupan tanah perdikan menoreh?” tiba-tiba bertanya Serat Manitis.

“Angger Serat Manitis, kau masih sangat muda, akan tetapi kau mempunyai panggraita yang demikian tajamnya. Anak laki-laki ku sebenarnya memang ikut dalam latihan-latihan olah kanuragan dengan para pengawal tanah perdikan saat itu.
Nanti kau akan bertemu dengan Angger Glagah Putih.
Dia lah yang melatih anakku dengan pemuda yang lain yang seumuran dengannya. Angger Serat Manitis, aku tak akan pernah menganggap anakku sebagai seorang pahlawan. Biarlah ia menunaikan tugasnya ikut menegakkan sendi-sendi kehidupan Tanah Perdikan Menoreh. Dan lebih dari itu, ia mencoba dengan sedikit kemampuannya ikut merasa terpanggil untuk mendarmakan hidupnya bagi negeri tercinta Mataram.”

Serat Manitis mengangguk-anggukkan kepala terpana dengan apa yang baru saja di katakan oleh Sastra Dikun.

“Apakah sudah lama paman kejadiannya, tentang pertem-puran yang harus membuat anak paman pulang lebih dahulu ke pangkuan sang Pencipta itu?”

“Saat prajurit-prajurit mataram harus jauh-jauh men-datangi kadipaten pati, saat pangeran Puger mencoba mbalela terhadap kewajibannya. sebenarnya anak laki-lakiku tidak gugur di tempat, ia masih sempat di bawa pulang ke tanah perdikan, walau saat tandu yang digunakan untuk mendu-kungnya di turunkan di barak pasukan khusus, saat itulah ia menutup mata untuk selamanya. Aku sendiri tiba di barak pasukan khusus, saat anak ku telah menghembuskan nafas terakhirnya” jawab Sastra Dikun.

Sesaat pikiran Sastra Dikun seakan-akan menghadirkan kembali saat-saat yang memilukan hatinya itu. Kembali tampak butiran-butiran air mata mengembun di sudut-sudut matanya.

“Paman, sampai kapan pun darah anak paman yang telah mengalir membasahi bumi pertiwi, akan menjadi sumber kekuatan bagi semua yang di tinggalkannya. Dan itu tidak hanya untuk masa kini, akan tetapi juga untuk masa yang akan datang” berkata Serat Manitis menghibur Sastra Dikun yang kembali dalam kenangannya tentang peristiwa itu.”

Sastra Dikun menganggukkan kepala, membenarkan semua perkataan Serat Manitis. Katanya, “Memang sebaiknya aku tidak harus larut dalam kesedihan saat mengenang anakku angger, akan tetapi aku seharusnya dapat tersenyum atas apa yang pernah dilakukan anak ku semasa hidupnya. Baiklah mari kita masuk ke dalam angger, aku telah menepati janjiku untuk memotong satu ekor ayam jago. Tentunya kau pasti suka, nasi yang masih mengepul di sertai lauk daging ayam dengan bumbu rawon?” sambil tersenyum Sastra Dikun mempersilahkan Serat Manitis masuk ke ruang tengah untuk segera menyantap hidangan makan siang mereka.

Demikianlah, mereka berdua akhirnya sambil bercakap-cakap, juga bercerita tentang segala hal termasuk asal muasal dari diri Serat Manitis sendiri, mereka menyantap hidangan makan siang itu dengan lahapnya.

“Kademangan Mojoagung?, apakah itu berdekatan dengan Kademangan Selapura yang masuk wilayah bang wetan, angger Serat Manitis” bertanya Sastra Dikun di sela-sela menikmati makan siangnya itu.

“Tidak terlalu dekat paman, Kademangan Mojoagung terletak di utara Kademangan Selapura. Apakah paman pernah tinggal di Kademangan Selapura, bertanya Serat Manitis kemudian.

“Orang tua laki-laki ku berasal dari Kademangan Selapura,
ketika aku seumuran mu, pernah di ajak orang tuaku untuk mengunjungi kakekku, yang saat itu masih hidup. Tetapi semenjak kakek ku meninggal, aku tidak pernah pergi ke sana lagi.”

Serat Manitis mengangguk-anggukan kepala, sambil membereskan sisa-sisa makanan mereka, serta mengumpul-kan piring-piring kotor.

“Biarlah aku yang membersihkannya sendiri, angger.
Kau adalah tamuku di rumah ini” berkata Sastra Dikun saat melihat apa yang sedang di kerjakan Serat Manitis itu.

Serat Manitis hanya tersenyum mendengar teguran Sastra Dikun itu. “kalau paman melarangku membersihkan piring-pring kotor ini, aku tidak akan jadi tinggal sementara di rumah paman. Saat senja turun, aku akan berpamitan kepada paman,
untuk melanjutkan perjalananku kembali” jawab Serat Manitis dengan senyum yang semakin lebar di bibirnya.

“Ah kau angger, tetapi seandainya kau, aku beri ijin untuk mengerjakan semua pekerjaanku, apakah kau mau selamanya bertempat tinggal di rumah ini” jawab Sastra Dikun dengan tersenyum lebar.

“Biarlah pepesten yang nanti akan menjawabnya, paman.
Entah mengapa aku merasa tenang begitu aku masuk di rumah paman ini.”

“Marilah angger, aku tunjukkan bilik yang akan kau tempati, tetapi sebelumnya maafkan pamanmu ini, karena tak mampu menyedikan tempat yang cukup layak kau tempati untuk beristirahat, ngger. Nanti senja setelah kita bersih-bersih diri, kita akan berjalan-jalan menikmati malam tanah perdikan ini” berkata Sastra Dikun sambil mengajak Serat Manitis untuk di antarkan ke biliknya.

Sementara itu di rumah Agung Sedayu, Glagah Putih baru tiba dari mengantarkan Ki Carang Blabar ke rumah Ki Gede Menoreh.

Sebenarnyalah mulai hari itu para penghuni rumah Agung Sedayu mulai menjalani laku untuk melihat kemungkinan-kemungkinan dari ilmu-ilmu mereka. Dan tentunya untuk menjalani laku sesuai dengan pesan dari Agung Sedayu untuk mencoba membuka pintu dalam merambah Aji Tameng Waja itu sendiri.

Sebenarnyalah mereka memilih laku yang lebih lama yang harus mereka lakukan.

“Apakah Ki Jayaraga belum pulang dari sawah, kakang-mbok” bertanya glagah putih sesaat setelah masuk kedalam rumah.

“Belum,  glagah putih, bahkan sukra yang aku suruh mengantarkan kiriman pun, belum pulang juga” jawab sekar mirah.

“Apakah Rara Wulan belum keluar sanggar, kakang mbok?”

Sekar Mirah hanya menggelengkan kepala. “Ternyata Rara Wulan memilih laku yang biasanya ia lakukan. Tetapi aku pun mengijinkannya, biarlah nanti kita yang menjaganya secara bergantian” jawab sekar mirah sambil tersenyum.

“Harusnya Rara Wulan tidak memaksa diri, Kakangmbok.
Dua laku sekaligus untuk ungkapan ilmu-ilmu tersebut adalah pekerjaan yang teramat berat.”

“Sudahlah glagah putih, percayalah kepada kemampuan Rara Wulan, bukankah kalian juga pernah menjalani laku yang teramat berat, saat kalian mendapat warisan kitab untuk kalian pelajari isinya itu. Ilmu pamungkas yang kalian beri nama Aji Namaskara yang begitu nggegirisi itu, tentunya tidak dengan mudah kau dapatkan. Aku mampu membayangkan betapa berat laku yang kalian jalani saat itu. Sebaiknya kita yakin akan kemampuan Rara Wulan, di samping kita selalu memohon kemudahan dari Yang Maha Agung untuk laku yang sedang dijalani Rara Wulan maupun laku yang juga sedang kita jalankan ini.” berkata Sekar Mirah.

Glagah Putih menganggukkan kepala membenarkan apa yang disampaikan oleh Sekar Mirah. Katanya kemudian, “Aku akan ke sanggar kecil yang baru saja kita bangun itu dulu Kakangmbok”

Tetapi sebelum Glagah Putih benar-benar beranjak dari tempatnya, terdengar seseorang mengucap salam dari luar rumah Agung Sedayu.

“Kelihatannya ada tamu Glagah Putih, coba kau lihat dahulu siapa tamu kita itu.”

Glagah Putih menganggukkan kepala sambil beranjak keluar menuju pendapa rumah. Sebenarnyalah saat Glagah Putih berjalan menyeberangi pendapa rumah agung sedayu, tampak tiga orang sedang berdiri termangu-mangu di luar pagar rumahnya.

“Dwija! Sembada! Masuklah ke dalam” berkata Glagah Putih saat menuruni pendapa menuju pelataran rumahnya.
Akhirnya orang yang di panggil dengan sebutan Dwija dan Sembada serta seorang lagi, segera memasuki halaman rumah Agung Sedayu.

“Mengapa kalian harus menunggu di luar pagar, Dwija, Sembada? Rumah Kakang Agung Sedayu ini terbuka untuk siapapun, tidak harus dengan unggah ungguh seperti yang baru saja kalian lakukan itu. Apalagi kalian sudah seperti keluarga sendiri di rumah ini” berkata Glagah Putih dengan senyum mengembang di bibirnya.

Demikianlah Glagah Putih pun mengajak ketiga tamu nya duduk di pendapa. Dengan alas tikar putih yang di buat dengan sulaman bergambar burung merpati di tengah-tengahnya.

“Apa kau mau mengajakku bermain macanan lagi, Sembada. Tentu kau akan membalas kekalahanmu tadi malam saat kita berkumpul di gardu ronda” bertanya Glagah Putih dengan gurauan.

Akan tetapi walau sedang bergurau, Glagah Putih masih sempat memandang walau hanya sekejap terhadap orang yang datang bersama Dwija dan Sembada tersebut.

“Perempuan muda ini sungguh-sungguh sempurna dalam menyamar sebagai seorang laki-laki” berkata Glagah Putih dalam hati.

“Ah kakang Glagah Putih lagi-lagi pasti bercanda saat bertemu dengan kami” Sembada menjawab perkataan Glagah Putih dengan tidak mampu menahan tertawanya.

“Atau barangkali kau Dwija ingin bertemu dengan kakang agung sedayu, untuk meminta ramuan obat untuk mengobati penyakit tidurmu itu” lanjut Glagah Putih sambil menepuk-nepuk bahu Dwija. Katanya kemudian, “Akan tetapi malang nasibmu kali ini Dwija, Kakang Agung sedayu sedang tidak ada di rumah sekarang ini.”

Sembada, Dwija dan teman satunya itu tertawa mendengar gurauan Glagah Putih itu. Setelah mereka sudah merasa puas dengan gurauan-gurauan segar mereka, akhirnya Dwija pun mengatakan maksud sebenarnya mereka berkunjung ke rumah Agung Sedayu itu.

“Kakang Glagah Putih, sebenarnya maksud kedatangan kami ke sini ini adalah mengantar ki sanak ini yang akan menemui Nyi Sekar Mirah. Kami bertemu di regol dinding padukuhan induk, saat kami sedang duduk-duduk istirahat di gardu ronda” berkata Dwija sambil memandang teman yang satunya lagi, yang sebenarnya ialah Rara Suhita adanya.

Rara Suhita pun menganggukkan kepala kepada Glagah Putih, yang disambut dengan anggukan serta senyuman ramah oleh Glagah Putih pula.

“Ternyata Glagah Putih telah mengetahui penyamaranku” berkata Rara Suhita dalam hati.

“Aku mendengar ada yang datang mencariku, Glagah Putih” tiba tiba Sekar Mirah telah keluar dari pintu pringgitan membawa nampan berisi minuman serta makanan kecil, berjalan menuju pendapa tempat Glagah Putih serta para tamunya sedang duduk berbincang bincang.

Sebenarnyalah setelah menyuguhkan minuman serta makanan kecil, Sekar Mirah pun segera duduk bergabung dengan Glagah Putih beserta tamu tamunya itu. “Silahkan, mumpung masih hangat wedang sere dan ketela rebusnya, mempersilahkan Sekar Mirah kepada tamu-tamunya.

Sekilas Rara Suhita memandang Sekar Mirah, sebelum mengambil mangkuk wedang serenya.

“Gurih sekali ketela rebusnya, Nyi’ berkata Sembada sambil menikmati ketela rebusnya.

“sebaiknya kau telan dulu sampai habis, baru kau bicara Sembada” potong Glagah Putih saat melihat Sembada begitu lahapnya menikmati ketela rebus yang masih hangat itu.

“ah kakang Glagah Putih lagi-lagi selalu menggoda aku” desis Sembada sambil menghirup wedang serenya.

Sekar Mirah hanya tersenyum saja mendengar gurauan Glagah Putih dan Sembada itu.

Demikianlah mereka sejenak menikmati minuman serta makanan kecil yang di suguhkan oleh Sekar Mirah tersebut.
Tidak jarang mereka pun sama-sama tertawa saat Glagah Putih, Dwija dan Sembada saling berkelakar bersama. Hingga pada suatu saat, Dwija memandang ke luar pelataran, sang surya mulai turun ke cakrawala. Barulah Dwija tersadar kalau senja akan segera turun. Akhirnya Dwija pun mengajak Sembada untuk segera berpamitan pulang.

“Nyi Sekar Mirah, mungkin Nyi Sekar Mirah sudah mengerti maksud kami mengganggu kesibukan Nyi Sekar Mirah ini. Kami mengantarkan ki sanak ini, yang mau bertemu dengan Nyi Sekar Mirah” berkata Dwija perlahan.

“Aku memang secara samar-samar sudah mendengar pembicaraan kalian tadi. Dan aku juga mengerti apa yang ingin kau tanyakan selanjutnya. Baiklah, jika kalian berdua harus mengerjakan pekerjaan rumah kalian karena senja akan segera turun, silahkan kalian tinggalkan kawan barumu yang saat ini telah menjadi tamuku ini sendiri” jawab Sekar Mirah sambil tersenyum.

Akhirnya Dwija dan Sembada pun mohon diri kepada Sekar Mirah. Dengan diantarkan Glagah Putih sampai di luar pagar,
Dwija dan Sembada meninggalkan rumah Agung Sedayu lebih dahulu.

Sejenak kemudian Glagah Putih pun telah kembali duduk bersama Sekar Mirah dan Rara Suhita.

“Dari tadi, walaupun kita telah banyak berbincang, juga bergurau, akan tetapi aku belum mengetahui nama Nimas sebenarnya. Kalau memang tidak keberatan siapakah nama Nimas ini serta berasal dari mana, karena aku merasa belum pernah bertemu dengan Nimas di tanah perdikan ini sebelum-nya” Bertanya Sekar Mirah perlahan.

Rara Suhita, begitu mendengar Sekar Mirah bertanya tentang nama serta asal muasalnya, sejenak menundukkan kepalanya dengan terdengar desahannya perlahan. Setelah menarik nafas panjang-panjang serta menata hatinya, Rara Suhita pun akhirnya menjawab pertanyaan Sekar Mirah. “Nyi Sekar Mirah, ampuni aku dengan sikap deksura ku ini. Hanya dengan ilmu secuil ini, aku telah berani menentang Gunung Semeru di hadapanku. Aku telah berani menyamarkan diriku di hadapan Nyi Sekar Mirah serta Ki Glagah Putih. Nyi, namaku sebenarnya ialah Rara Suhita, tentang asalku, aku dilahirkan serta dibesarkan di wilayah pesisir utara.” Rara Suhita kembali tertunduk begitu selesai menjawab pertanyaan Sekar Mirah.

Sekar Mirah yang melihat gerak tubuh Rara Suhita itu akhirnya memilih untuk mengalihkan pembicaraan terlebih dahulu.

Akan tetapi sebelum Sekar Mirah berucap sepatah kata pun, Glagah Putih yang mempunyai panggraita yang sama dengan Sekar Mirah, terlebih dahulu memotong perbincangan itu. “Sudah hampir senja, Ki Jayaraga dan Sukra belum pulang juga Kakangmbok” desis glagah putih.

“Ah kau glagah putih, mungkin karena terlalu banyak bergurau bersama Dwija serta Sembada tadi, sehingga kau tidak mendengar Sukra sedang membelah kayu bakar di belakang” jawab Sekar Mirah sambil tersenyum.

“Dan nanti Sukra pasti akan mendiamkanku, karena aku tak membantunya lagi, Kakangmbok”

“Baiklah aku akan ke belakang dulu, silahkan Nimas Rara Suhita berbincang-bincang dengan Kakangmbok Sekar Mirah sendiri” berkata Glagah Putih sambil beranjak meninggalkan Sekar Mirah serta Rara Suhita berdua.

Rara Suhita pun tersenyum menganggukkan kepala sesaat sebelum Glagah Putih masuk ke ruang dalam. Begitu Glagah Putih masuk ke ruang dalam, Sekar Mirah kemudian menatap wajah Rara Suhita dalam-dalam. Rara Suhita pun tertegun sejenak, walau akhirnya kembali tertunduk.

“Wajahmu sangat cantik nini, walau kau samarkan, tetapi aku yakin kulit mu pun putih bersih. Apakah kau akan bercerita tentang siapa dirimu sebenarnya, saat ini atau nanti setelah kau beristirahat” bertanya Sekar Mirah perlahan.

Tiba-tiba Rara Suhita bergeser lebih mendekati tempat dimana Sekar Mirah duduk. Dan yang terjadi kemudian, adalah yang membuat Sekar Mirah seakan-akan tidak percaya.
Sebenarnyalah Rara Suhita sedang mencium tangan Sekar Mirah dengan air mata Rara Suhita seakan-akan membanjiri wajahnya.

Sekar Mirah benar-benar dibuat bingung dengan keadaan tersebut. Akan tetapi, akhirnya kebingungan Sekar Mirah mulai terurai, saat di balik isak tangisnya, Rara Suhita pun bercerita.

“Hormat serta sungkemku kepada junjunganku, guru tertinggi aliran Kedungjati. Aku Rara Suhita memohon hukuman, karena tidak pernah datang menghadap Nyi Sekar Mirah.”

Sekar Mirah pun akhirnya membiarkan sejenak Rara Suhita dengan keadaan yang sedang dilakukannya itu. Akan tetapi Sekar Mirah pun terkejut saat Rara Suhita menceritakan tentang jati dirinya sebenarnya. “Biarlah tentang siapa sebenarnya aku ini Nyi, hanya kita serta orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya, berkata Rara Suhita sambil mengangkat wajahnya.”

“Ki Rangga Agung Sedayu serta orang-orang lainnya yang Nyi Sekar Mirah percayai, aku tidak keberatan seandainya Nyi Sekar Mirah akan mengatakannya” lanjut Rara Suhita dengan menyeka air mata di wajahnya.

Sesaat kedua perempuan itu diam tanpa berucap sepatah kata pun. Masing-masing sedang dalam alam pikirannya sendiri-sendiri. Walaupun masing-masing dalam kediaman-nya, tangan kedua perempuan itu tetap saling berpegangan, bertautan seakan-akan tak akan pernah mereka lepaskan lagi.
Wajah cantik Sekar Mirah, dengan mata yang jernih, dapat di rasakan dengan sungguh-sungguh oleh Rara Suhita, sebenarnyalah terpancar ketulusan serta welas asih yang begitu dalam. Dua perempuan yang baru pertama kali bertemu itu, akan tetapi mereka benar-benar merasakan kerinduan, kebahagiaan, serta keharuan di hati mereka masing-masing.

“Yang Maha Agung telah menunjukkan kebesaranNya kembali. Hari ini Ia telah memberikan cinta kasihnya kepadaku. Wujud cinta yang begitu indah, yang mana aku tidak mampu mengatakannya dengan kata-kata. Hanya rasa hati ini sungguh-sungguh tenang yang tercermin dari perasaan haru. Aku yakin semua ini bukan karena ia masih mempunyai darah keturunan ratu, tetapi memang benar-benar pancaran kasih dari Yang Maha Agung” berkata Sekar Mirah dalam hati.

Sebenarnyalah kedua mata Sekar Mirah tidak pernah ter-lepas dari wajah Rara Suhita. Demikian pula Rara Suhita, walau kadang-kadang masih menundukkan kepalanya sejenak,
Rara Suhita memandang wajah Sekar Mirah tanpa pernah melepaskannya lagi. Rara Suhita merasakan ketenangan serta keharuan yang belum pernah ia rasakan.Sebenarnyalah titik-titik air mata kadang-kadang masih tampak mengembun di kedua mata Rara Suhita.

“Nyi Sekar Mirah, seandainya saja engkau di lahirkan saat-saat itu, mungkin saja peristiwa itu tidak sampai terjadi.
Dengan rasa cinta serta welas asihmu, kau akan tanamkan dengan kuat dalam hati kepada semua orang di sekitarmu.
Paling tidak trah kedung jati tak akan menanggapi suara-suara apapun dari luar. Tetapi semua itu sudah terjadi, aku sudah menganggap peristiwa itu adalah pepesten dari Yang Maha Agung.” Berkata Rara Suhita dalam hati.

“Aku hanyalah orang yang lahir jauh setelah peristiwa-peristiwa itu terjadi. Banyak cerita berlainan yang datang kepadaku tentang sebab musabab dari peristiwa-peristiwa itu.
Semoga Yang Maha Agung menjauhkan aku dan saudara tuaku dari dendam yang berkepanjangan ini” berkata Rara Suhita dalam hati.

“Nini Rara Suhita” agak tersentak Rara Suhita, saat dengan tiba-tiba berkata Sekar Mirah memanggil namanya. “Marilah kita masuk ke dalam, kau baru saja melakukan perjalanan jauh, alangkah baiknya membersihkan diri di pakiwan dulu. Setelah itu kita akan makan malam serta berbincang bincang dengan yang lainnya. Selain itu nini Rara”, dengan tersenyum sekar mirah melanjutkan perkataannya. “Sampai saat ini kau masih sebatas tamuku saja. Baru setelah kau berkenan masuk ke dalam rumahku, kemudian kau lakukan apa-apa yang biasa kau kerjakan tiap senja menjelang, barulah kau menjadi bagian dari penghuni rumah ini.”

Rara Suhita yang mendengarkan dengan sungguh-sungguh semua perkataan Sekar Mirah, akhirnya tidak kuasa menahan tertawanya, walaupun tetap mampu ia menahannya untuk tidak sampai tergelak gelak.

“Eyang guru pernah mengatakan, walau semua itu hanya semacam wangsit yang ia peroleh, tetapi eyang guru meyakini bahwa tataran ilmu Ki Rangga Agung Sedayu sudah tidak mampu untuk di bayangkan ketinggiannya. Sekarang pun aku yang sedang berhadapan dengan istrinya, juga merasakan hal yang sama. Pasangan suami istri yang telah ikut menentukan keberhasilan mataram dulu maupun sekarang. Diakui atau pun tidak, tanpa mereka berdua juga peran dari Perguruan Orang Bercambuk, belum tentu hasilnya akan seperti ini.
Besar ataupun kecil, peran mereka sangat ikut menentukan hasil akhirnya” berkata Rara Suhita dalam hati.

Rara Suhita terkejut sesaat, saat dengan tiba-tiba Sekar Mirah telah berdiri di hadapannya, segera menarik tangan Rara Suhita untuk segera berdiri pula.

“Kau terlalu banyak melamun nini Rara, mungkin kau sudah dua hari tidak mandi” gumam Sekar Mirah sambil menggandeng Rara Suhita masuk ke ruang dalam. Rara Suhita pun hanya mampu tersenyum mendengar gurauan Sekar Mirah tersebut.

Sebenarnyalah setelah sang surya benar-benar telah tenggelam di cakrawala, bersamaan dengan saat Sekar Mirah dan yang lainnya sedang menikmati hidangan makan malam kecuali Glagah Putih yang masih menunggui Rara Wulan di depan sanggar utama, saat itulah tepat di depan rumah Agung Sedayu, Serat Manitis dan Sastra Dikun berjalan perlahan melewati depan rumah Agung Sedayu.

“Inilah rumah senapati pasukan khusus Ki Rangga Agung Sedayu itu, Angger Serat Manitis berkata perlahan Sastra Dikun sambil memandang halaman rumah Agung Sedayu yang diterangi temaramnya lampu dlupak di pojok kiri dan kanan pendapa rumah.

“Sederhana sekali paman, tetapi kesederhanaan rumah itu seakan akan tertutupi dengan banyaknya macam tumbuh-tumbuhan di sekitar rumahnya. Kelihatannya di samping rumah juga ada kolam ikannya, paman.”

Sastra Dikun tersenyum sebelum menjawab atas perkataan Serat Manitis itu. “Itulah ngger kenyataan yang sebenarnya.
Orang-orang yang tidak silau dengan gebyaring kamukten.
Tetapi apakah kau juga merasakan ketentraman serta terkagum kagum saat melihat rumah dan pekarangannya itu, ngger?” Bertanya Sastra Dikun saat mereka berdua berbelok ke kiri saat sampai di jalan simpang.

Serat Manitis menarik nafas dalam-dalam seakan-akan ada sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya. “Paman, aku ternyata mempunyai perasaan yang sama dengan yang paman rasakan. Rumah itu seakan akan hidup, seolah olah bisa berbicara dengan orang yang memandangnya. Aku yakin di halaman belakang rumahnya pasti banyak tumbuh bermacam macam tanaman umbi-umbian serta tanaman obat obatan lainnya.”

“Yang selama ini aku sering melihatnya, tetapi tidak tahu akan maksudnya, adalah tentang keberadaan sebuah simbol, gambar bulatan bergerigi yang dikelilingi olah lingkaran yang tidak bergerigi. Gambar itu terpampang jelas di depan pendapa rumah Ki Rangga Agung Sedayu” gumam Sastra Dikun seolah-olah bicara pada dirinya sendiri.”

“Banyak simbol-simbol yang di pergunakan oleh banyak orang, yang sebagian besar tersirat makna tentang hakikat hidup itu sendiri. Bisa jadi simbol di atas pendapa rumah Ki Rangga Agung Sedayu itu mempunyai makna yang demikian pula” berkata Serat Manitis mencoba menjawab pertanyaan Sastra Dikun.

“Kalau menurutmu apa makna dari simbol di rumah Ki Rangga itu angger?”

“Kalau sekiranya aku di perbolehkan mengartikannya,
simbol itupun bermakna tentang hakikat hidup pula, paman.
Lingkaran yang di dalam itu mungkin bermakna tentang kehidupan manusia itu sendiri, sedangkan simbol gerigi-gerigi itu ialah sifat atau watak dari kumpulan manusianya.
Sebenarnya watak atau sifat itu hanya ada dua yaitu sifat baik maupun buruk, akan tetapi ternyata di antara dua sifat itu ada begitu banyak sifat atau watak yang tak terhitung jumlahnya.”

“Lalu apa maksud dari lingkaran yang di luar yang tidak bergerigi itu, ngger” seakan akan Sastra Dikun sudah tidak sabar untuk segera mengerti akan makna sesungguhnya dari simbol itu.

Serat Manitis tersenyum melihat Sastra Dikun yang sudah tidak sabar menanti penjelasan darinya, walau jawabannya itu hanya sekedar pendapat dirinya semata. “Paman, seandainya aku di suruh mengartikan lingkaran yang tidak bergerigi itu,
aku mengartikan lingkaran yang di luar itu adalah simbol dari kematian.”

Sastra Dikun terkesiap sesaat mendengar perkataan Serat Manitis tentang simbol kematian itu.

“Lingkaran yang tanpa gerigi ialah batas akhir atau kematian itu sendiri. Berbagai sifat atau watak manusia itu pasti tidak akan lari dari lingkaran yang di atas atau akhir dari kehidupannya.”

Sastra Dikun tampak terperangah mendengar semua perkataan Serat Manitis tersebut. “Menilik dari usianya yang masih sangat muda itu, sepertinya aku sedang bermimpi ,saat Serat Manitis mampu menjelaskan tentang makna simbol itu. Siapakah sebenarnya Serat Manitis itu? Ah sudahlah, aku tidak harus mengerti tentang siapa adanya angger Serat Manitis itu, yang terpenting bagiku, ialah aku meyakini bahwa ia adalah pemuda yang baik” berkata Sastra Dikun dalam hati.

Setelah keduanya sama-sama terdiam beberapa saat, tiba-tiba Serat Manitis menggamit lengan Sastra Dikun. “Apakah jalan ini bisa sampai pada tempat terjadinya pertempuran ,yang paman ceritakan saat makan malam tadi. Pertempuran yang Ki Patih Mandaraka harus turun ke medan itu sendiri.”

Sastra Dikun pun menganggukkan kepala. “Benar ngger, walau masih cukup jauh. Di tepi pesawahan sebelah utara itu, dulu menjadi induk pasukan lawan. Mereka cukup cerdik, mereka pun memilih tempat perkemahan di atas bukit, di sisi utara tempat induk pasukan mereka.”

“Tetapi tentunya pertempuran itu pun tidak hanya terjadi di sisi utara induk padukuhan tanah perdikan ini saja, pertempuran itu pasti meluas ke tempat lainnya pula” desis Serat Manitis.

“Bahkan, mereka mampu menyusupkan beberapa orang berilmu tinggi untuk menembus rumah Ki Gede Menoreh sendiri, akan tetapi mereka tidak menyadari di rumah Ki Argapati sendiri juga telah bersiap beberapa orang berilmu tinggi pula” jawab Sastra Dikun.

Mereka berdua berjalan tidak terlalu cepat, bahkan bisa di katakan sangat perlahan. Mereka berdua sering berhenti walau sesaat, karena Serat Manitis seolah-olah melihat sesuatu yang menarik perhatiaannya. Yang sering diperhatikan adalah tentang parit-parit serta pesawahan. Tetapi, sebenarnyalah Serat Manitis telah menyadari, ada dua orang yang sedang mengawasi dirinya dan Sastra Dikun.

“Dua orang ini ternyata orang berilmu tinggi, mereka mampu menyerap bunyi di sekitarnya. Apakah dua orang ini bagian dari mereka” berkata Serat Manitis dalam hati.

“Paman, kita istirahat di dangau itu sebentar paman.”
Sastra Dikun memandang Serat Manitis sesaat, sebelum menganggukkan kepalanya.

“aku kira tadi kau sudah tidak sabar ngger untuk melihat tempat pertempuran itu terjadi. Sudah tidak jauh lagi, di ujung pesawahan itu ada tempat yang dulunya adalah hutan, tetapi pohon pohonnya telah ditebangi untuk di jadikan pategalan” berkata Sastra Dikun sesaat setelah mereka berdua telah sampai di dangau tersebut.

“Sebenarnya memang begitu paman, tetapi lebih baik kita berkeliling melewati jalan-jalan di induk padukuhan ini saja dulu paman” jawab Serat Manitis perlahan.

Sebenarnyalah, di belakang dangau yang berada agak jauh dari tempat Serat Manitis serta Sastra Dikun sedang beristirahat, dua orang tengah bersembunyi sambil terus mengawasi dangau tempat Serat Manitis dan Sastra Dikun sedang duduk itu.

“Menurut kakang Turangga Pethak, apakah dua orang itu patut kita curigai ?”

“Aku belum bisa memastikannya, adi Wuragil. Kita terlalu jauh untuk mendengarkan perbincangan mereka” jawab salah seorang yang ternyata adalah Turangga Pethak adanya.

“Tetapi mengapa kakang tadi merasa perlu mengikuti mereka, yang sebenarnya mungkin secara kebetulan kita melihat mereka berdua.

“Adi Wuragil, kita telah di beri perintah untuk selalu mencurigai kepada orang-orang di tanah perdikan ini.
Selain itu aku merasa ada yang aneh dari kedua orang itu.
Mereka berdua seperti orang yang sedang berjalan-jalan saja tanpa ada tujuan yang pasti. Terlalu seringnya mereka berhenti, yang kemudian berjalan kembali, itu pun dengan langkah-langkah kaki mereka yang sangat perlahan seolah-olah tanpa dibatasi oleh waktu sama sekali, semakin membuatku ingin tahu siapa mereka berdua itu sebenarnya” jawab Turangga Pethak dengan mata tetap ke arah dangau tempat Serat Manitis serta Sastra Dikun sedang duduk.

“Apa yang sebaiknya kita lakukan kakang, apakah kita tangkap saja mereka berdua, lalu kita bawa ke perkemahan?”

Turangga Pethak yang tidak pernah melepas tatapan matanya ke arah tempat Serat Manitis serta Sastra Dikun berada, hanya menggelengkan kepalanya. “kita sudah tidak di beri ijin untuk membuat kekacauan lagi, adi. Mungkin para pemimpin sudah membuat rencana yang lain, yang belum kita ketahui apa rencana itu selanjutnya, dengan sangat lirih Turangga Pethak menjawab pertanyaan temannya yang bernama wuragil itu.”

“Kakang, bukankah baru kemarin perintah untuk membuat sedikit kekacauan itu diturunkan, itu pun baru terjadi dua peristiwa yang bisa terlaksana, saat Kakang Turangga Pethak membuat tidak berdaya murid-murid Perguruan Sewu Angin serta saat Sura Abang membuat kekacauan di sebuah pasar padukuhan yang berbatasan dengan hutan itu.”

“Apakah maksud perkataanmu itu adalah mengapa perintah untuk membuat kekacauan di tanah perdikan ini dihentikan?” sahut Turangga Pethak.

Wuragil mengangguk sambil berkata lirih. “Benar kakang, kalau perintah membuat kekacauan itu sudah di anggap cukup, hanya dengan terjadinya dua peristiwa itu, aku beranggapan lain. Kekacauan itu tidak berpengaruh sama sekali secara jiwani yang dapat di rasakan oleh penduduk tanah perdikan menoreh ini.”

Turangga Pethak mengangguk-anggukkan kepala mem-benarkan apa yang telah dikatakan oleh Wuragil, walau tatapan mata Turangga Pethak tidak pernah terlepas dari dangau tempat Serat Manitis serta Sastra Dikun sedang duduk berbincang bincang.

“Adi Wuragil, kalau boleh mengira-ngira, perintah untuk membuat kekacauan itu bukan atas perintah dari pimpinan tertinggi di perkemahan itu. Atau paling tidak belum mendapat persetujuan dari ketua-ketua yang lain.”

“Maksud kakang?” bertanya Wuragil yang belum mengerti maksud dari perkataan Turangga Pethak tersebut yang tetap dengan sungguh-sungguh mengawasi dangau tempat Serat Manitis dan Sastra Dikun berada.

Meskipun demikian, Turangga Pethak tetap mencoba menjelaskan kepada Wuragil. “Adi Wuragil, aku mengira perintah itu datang dari Empu Sapu Jagat sendiri adanya.
Bukankah kau sudah memahami watak serta cara berfikir Empu Sapu Jagad itu. Ia selalu tergesa-gesa dalam bertindak,
memang ilmunya sangat tinggi adi, seakan akan sudah menyentuh mega di langit.”

“Tetapi mungkin saja Empu Sapu Jagad belum memahami benar tentang keadaan dari Tanah Perdikan Menoreh ini beserta isinya, baik saat sekarang maupun saat-saat lampau.
Seandainya saja Empu Sapu Jagad mengetahui sedikit saja tentang tanah perdikan ini, tentunya ia akan berpikir seribu kali lagi untuk menggunakan cara seperti ini. Sudah puluhan kali cara ini bahkan yang lebih dari hanya sekedar membuat kekacauan, di lakukan oleh kelompok prajurit atau kumpulan perguruan-perguruan, akan tetapi semua itu tidak mampu memperlemah secara jiwani penduduk tanah perdikan menoreh, bahkan semakin membuat mereka meningkatkan kewaspadaan kepada lingkungan sekitarnya. Semoga saja dua peristiwa yang sudah terjadi itu belum menembus induk padukuhan tanah perdikan.”

“Bukankah memang pada akhirnya kita akan beradu dada secara terbuka terhadap tanah perdikan ini kakang” gumam Wuragil perlahan.

“Memang seperti itu adanya adi, tetapi menurut Empu Waringin dan ketua-ketua lainnya, tanah perdikan walaupun sudah ada pasukan khusus di dalamnya, tanpa bantuan yang lebih kuat lagi dari prajurit-prajurit mataram, akan mampu di hancurkan oleh kekuatan yang kita punyai sekarang ini. Apalagi menurut kabar yang aku dengar, Ki Rangga Agung Sedayu sedang tidak berada di tanah perdikan. Semoga saja sedikit kekacauan yang telah terjadi itu segera dilupakan oleh penduduk padukuhan yang berbatasan dengan hutan itu serta tidak sampai ke telinga orang-orang padukuhan induk.”

Wuragil mengangguk-anggukkan kepala mendengarkan semua perkataan Turangga Pethak tersebut.

Sementara itu, Serat Manitis serta Sastra Dikun masih berbincang bincang, belum ada tanda-tanda untuk segera meneruskan perjalanannya. Bahkan sering keduanya berbincang bincang sambil merebahkan tubuh mereka di atas tikar pandan walau sudah banyak yang berlubang di beberapa tempat.

“Paman, sebenarnya maksudku untuk meminta paman selalu berbicara perlahan, karena aku merasa kita sedang di bayangi oleh dua orang yang sekarang bersembunyi di balik dangau ditengah pesawahan itu.”

Sastra Dikun setelah mendengar perkataan Serat Manitis tersebut, seolah-olah tanpa sadar memalingkan wajahnya ke arah dangau tempat Turangga Pethak serta Wuragil bersembunyi.

Akan tetapi, Serat Manitis yang mengetahui hal tersebut, segera sedikit menarik tangan Sastra Dikun sehingga arah pandangan mata Sastra Dikun tidak tertuju ke arah dangau tempat bersembunyi Turangga Pethak dan Wuragil itu.

“Maaf paman, jangan membuat gerakan yang membuat mereka berpikir kita telah mengetahui kehadirannya, bisik Serat Manitis.”

Sastra Dikun yang segera menyadari kesalahannya, segera berpura-pura menguap sambil melepas ikat kepalanya untuk dijadikan kain untuk mengusap usap wajahnya. Serat Manitis hanya tersenyum melihat cara Sastra Dikun meyakinkan Turangga Pethak serta Wuragil, bahwa mereka berdua belum mengetahui tentang kehadirannya.

“Apa maksud kedua orang itu ngger? Aku yakin mereka bukan para pengawal tanah perdikan yang sedang meronda.
Andai saja kita ada yang mempunyai Aji Sapta Pandulu atau Aji Sapta Pangrungu, tentunya akan dapat melihat wajah kedua orang itu dan mampu mendengar apa yang mereka bicarakan” gumam Sastra Dikun dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Serat Manitis menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
“Terlalu jauh paman, apalagi mereka berdua bersembunyi di balik dinding bambu. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
Aji Sapta Pangrungu yang dilandasi tenaga dalam yang sangat tinggi pula.”

“Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan, angger?
Apa sebaiknya kita melaporkan dulu atau langsung kita tangkap saja kedua orang itu, ngger?” Gumam Sastra Dikun.

Serat Manitis diam sesaat sambil sekejap memandang dangau tempat Turangga Pethak serta Wuragil bersembunyi. “Apakah paman setuju, kalau kita hanya berdiam diri saja sambil berbincang-bincang tanpa berbuat sesuatu apapun.”

Sastra Dikun agak terkejut mendengar usulan dari Serat Manitis tersebut. “Bagaimana jika seandainya kedua orang itu bermaksud tidak baik terhadap tanah perdikan ini, atau setidaknya andai saja kedua orang itu adalah kawanan perampok yang sedang menyatroni induk padukuhan ini?” desis Sastra Dikun.

“Paman, percayalah tidak akan terjadi apa-apa malam ini di tanah perdikan. Maksudku, kita hanya berdiam diri saja tadi, bukan mengajak paman untuk berlepas diri semisal kedua orang itu akan berbuat kejahatan, akan tetapi sebenarnya dengan kita hanya diam serta berbincang-bincang saja ini, sesungguhnya kita telah mengadu ketahanan jiwani melawan kedua orang yang sedang bersembunyi di balik dinding dangau itu. Percayalah paman sebenarnyalah itulah maksudku, dan aku berjanji akan menceritakan sesuatu yang bisa jadi sedang mengancam ketentraman tanah perdikan menoreh ini.”

Semakin terkejut Sastra Dikun, walau masih menahan untuk tidak berbicara dengan nada tinggi. “Segeralah kau katakan, ngger. Jangan sampai kita terlambat untuk melaporkannya kepada ki Gede menoreh” desak Sastra Dikun sambil memegang kedua tangan Serat Manitis.

“Ingat paman, jangan membuat gerakan tubuh yang dapat membuat kedua orang itu menjadi curiga kepada kita. Dapat aku pastikan bahaya yang mengancam tanah perdikan menoreh ini tidak akan terjadi dalam pekan ini” berkata Serat Manitis walau dengan suara perlahan tetapi jelas terdengar tekanan dalam nada bicaranya.

Sastra Dikun akhirnya menganggukkan kepala walau tampak kesan ketidak-puasan membayang di wajahnya.
“Baiklah paman, sambil kita menunggu apa yang akan di lakukan orang orang itu, aku akan mengatakan sesuatu walau tidak dengan panjang lebar, yang mungkin ada hubungannya dengan dua orang yang sedang mengawasi kita itu. Mungkin nanti saat kita kembali ke rumah paman, aku akan menceritakan semuanya tanpa ada yang tertinggal sedikitpun” akhirnya berkata Serat Manitis saat merasa Sastra Dikun kurang menyetujui langkah yang di pilihnya itu.

Sastra Dikun menarik nafas dalam dalam seakan akan sedang melepaskan beban yang teramat besar. Katanya, “maafkan aku ngger, bukan aku tidak percaya kepadamu,
tetapi mengertilah ngger, sudah begitu sering tanah perdikan menoreh ini mendapat ancaman atau gangguan yang kebanyakan semua itu dapat menggoyang keutuhan tanah perdikan ini, bahkan lebih jauh lagi mengancam kewibawaan mataram secara menyeluruh.”

Serat Manitis mengangguk-angguk membenarkan perkataan Sastra Dikun tersebut. “Apalagi dari kabar yang aku dengar, hubungan Kadipaten Panaraga dengan Mataram sudah demikian buruknya, bahkan ada kabar yang mengatakan perang Madiun dengan Mataram hanya tinggal menunggu waktunya saja. Dan tentunya para pengawal Tanah Perdikan Menoreh akan mengambil bagian dalam perang itu.
Angger Serat Manitis, yang aku takutkan adalah adanya orang orang yang sedang mengamati tanah perdikan ini untuk mengambil kesempatan di saat para pengawal sedang turun di medan, jika perang itu memang benar benar terjadi” berkata Sastra Dikun selanjutnya.

“Yang akan aku sampaikan sudah ada yang paman katakan” berkata Serat Manitis sambil tersenyum.

“Maksud kau, ngger?”

“Baiklah paman, tapi aku minta semua yang akan aku katakan ini, sementara menjadi rahasia paman Sastra Dikun dulu. Hanya sementara saja paman.”

“Aku berjanji ngger.”

“Sejak pertama bertemu, kemudian sempat berbincang di rumah paman, hatiku sudah mempunyai keyakinan yang penuh terhadap paman, dan aku pun telah menganggap paman seperti halnya orang tuaku sendiri.”

“Terima kasih ngger. Dan ada satu hal yang ingin aku katakan lebih dahulu. Sebenarnya aku sudah merasa, entah itu benar atau salah, kedatanganmu ke tanah perdikan ini sesungguhnya sedang melaksanakan tugas yang sangat penting. Bukan karena kau tadi siang telah mengatakan akan pergi ke barak pasukan khusus, karena tidak hanya kau yang tiba-tiba datang ke barak tersebut, tetapi hampir tiap hari ada yang mengunjungi keluarganya yang menjadi prajurit di pasukan khusus itu. Tetapi dari semua yang kau bicarakan itulah, aku meyakini kau memang sungguh-sungguh sedang melaksanakan tugas yang sangat penting” berkata Sastra Dikun perlahan. Kemudian, “silahkan ngger, aku sudah siap mendengarkan semuanya” lanjut Sastra Dikun selanjutnya.

Tiba-tiba Serat Manitis tertawa, walau sebenarnya tertawanya itu ia sengaja untuk meyakinkan bahwa mereka berdua seolah olah belum menyadari atas kehadiran Turangga Pethak dan Wuragil. Sastra Dikun yang kemudian paham akan maksud dari Serat Manitis itu, akhirnya juga ikut tertawa, bahkan tertawanya lebih panjang dari Serat Manitis.
Akhirnya setelah beberapa saat, mereka pun telah terdiam kembali.

“Ah perutku sampai sakit ngger, ketahuilah ngger, sebenarnya aku tadi memang sungguh-sungguh tertawa.
Aku tidak bisa menahan ketawaku, di saat kau tiba tiba berpura pura tertawa untuk meyakinkan kedua orang yang sedang bersembunyi itu” berkata Sastra Dikun sambil memijat mijat perutnya yang menjadi sakit akibat dari tertawanya yang begitu panjang tadi.

“Tidak apa apa paman, dan aku sekarang menjadi yakin kedua orang itu pasti akan mengira kita belum mengetahui tentang kehadiran mereka” jawab Serat Manitis sambil membetulkan ikat kepalanya.

“Bolehkan aku memulainya sekarang paman?” silahkan ngger.”

“Paman, aku belum mengerti apakah dua orang yang sedang mengawasi kita itu ada hubungannya dengan yang akan aku katakan ini atau tidak. Tetapi sebenarnyalah saat ini tanah perdikan memang sungguh sungguh dalam ancaman besar.”

Terkejut yang teramat sangat Sastra Dikun saat mendengar apa yang baru saja di katakan Serat Manitis itu. Kemudian, “siapa yang akan mengancam ketentraman tanah perdikin ini ngger” bertanya Sastra Dikun dengan suara yang tertahan.

“Tenangkanlah hati paman, biarkan aku selesai bicara dulu.” Sahut Serat Manitis.

Sastra Dikun mengangguk, sambil mempersilahkan Serat Manitis melanjutkan bicaranya. “Sebenarnyalah, kalau saja para penghuni rumah Ki Rangga Agung Sedayu tidak sedang menjalani laku untuk mengasah atau menambah perbendaharaan ilmu ilmu mereka, sepertinya aku tidak akan menjalankan tugas ini. Paman, sebenarnya yang mengancam ketentraman tanah perdikan ini, adalah para prajurit prajurit khusus Kadipaten Panaraga dan perguruan-perguruan atau kelompok kelompok yang mendukungnya. Ternyata panaraga memang berusaha memangkas ranting-ranting dan dahan-dahannya. Aku tidak tahu apakah untuk kademangan, tanah perdikan atau bahkan kadipaten yang lainnya juga dengan langsung beradu dada sebagaimana terhadap tanah perdikan menoreh ini. Tetapi aku yakin, para telik sandi Panaraga telah menyusup ke semua wilayah Mataram. Paman, semua memang terjadi secara kebetulan, di saat para penghuni rumah Ki Rangga Agung Sedayu sedang menjalani laku dalam pembajaan diri, karena sebenarnyalah mereka yang akan menjadi para senapati dalam perang Panaraga-Mataram yang di yakini tinggal menunggu waktu itu. Dalam waktu yang sama ternyata para prajurit-prajurit khusus yang di tugaskan memotong ranting serta dahan tersebut telah bersiap siaga untuk menghancurkan Tanah Perdikan Menoreh ini.
Akan tetapi ternyata Mataram mempunyai para telik sandi yang mumpuni. Juga adanya para tokoh golongan tua yang tetap menginginkan mataram tumbuh menjadi semakin besar.”

“Kelihatannya memang seperti terlambat atas laporan para telik sandi Mataram itu, tetapi sebenarnya dengan sangat rumitnya kerja para telik sandi itu, laporan para telik sandi itu sudah tepat waktu serta sangat lengkap.”

“Angger Serat Manitis, kalau boleh bertanya kapan waktu para prajurit-prajurit khusus Panaraga itu akan mulai bergerak?”

Sesaat Serat Manitis akan menjawab pertanyaan Sastra Dikun, tiba-tiba ia menatap dengan tajamnya ke arah dangau tempat Turangga Pethak dan Wuragil bersembunyi membayangi mereka berdua.

“Seorang di antaranya menghilang ke arah utara. Gerakannya demikian cepatnya. Memang pantas kalau mereka merasa yakin akan kemampuannya” berkata Serat Manitis dalam hati.

Sastra Dikun yang melihat wajah Serat Manitis yang sedikit berubah itu, menjadi paham telah terjadi sesuatu di dangau itu.

“Paman, seorang yang sedang mengawasi kita telah menghilang ke arah utara” gumam Serat Manitis seolah olah mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Sastra Dikun itu.

“Tetapi biarlah paman, kita tetap di sini sampai kedua orang itu pergi semuanya serta tidak membayangi kita lagi, lanjut Serat Manitis.”

“Mungkin mereka menjadi tidak sabar dengan cara yang kau pilih ini” jawab Sastra Dikun sambil tersenyum.

“Ssilahkan angger lanjutkan pembicaraan yang sempat terpotong tadi” lanjut Sastra Dikun kemudian.

Serat Manitis mengangguk sejenak, sambil menarik nafas dalam-dalam. “Paman, menurut laporan para telik sandi, mereka tinggal menunggu bergabungnya satu atau dua perguruan lagi, yang mungkin dalam satu atau dua hari ini sudah akan bergabung dalam induk pasukan itu.”

“dalam satu atau dua hari, bahkan tanah perdikan belum mempersiapkan sesuatu apapun” bergetar suara Sastra Dikun saat mendengar perkataan Serat Manitis tersebut.

Serat Manitis yang melihat kepanikan Sastra Dikun itu, segera melanjutkan bicaranya. “Aku hanya minta doa paman, semoga tugasku yang salah satunya adalah membuat pasukan itu menunda waktu mereka akan mulai bergerak akan berhasil aku kerjakan.”

“Apa yang akan kau lakukan ngger, apalagi kau hanya seorang diri” tampak kecemasan semakin membayang di wajah Sastra Dikun.

“Kelihatannya memang seperti terlambat atas laporan para telik sandi Mataram itu, tetapi sebenarnya dengan sangat rumitnya kerja para telik sandi itu, laporan para telik sandi itu sudah tepat waktu serta sangat lengkap.”

“Angger Serat Manitis, kalau boleh bertanya kapan waktu para prajurit-prajurit khusus Panaraga itu akan mulai bergerak?”

Sesaat Serat Manitis akan menjawab pertanyaan Sastra Dikun, tiba-tiba ia menatap dengan tajamnya ke arah dangau tempat Turangga Pethak dan Wuragil bersembunyi memba-yangi mereka berdua.

“Seorang di antaranya menghilang ke arah utara. Gerakannya demikian cepatnya. Memang pantas kalau mereka merasa yakin akan kemampuannya” berkata Serat Manitis dalam hati.

Sastra Dikun yang melihat wajah Serat Manitis yang sedikit berubah itu, menjadi paham telah terjadi sesuatu di dangau itu.

“Paman, seorang yang sedang mengawasi kita telah menghilang ke arah utara” gumam Serat Manitis seolah olah mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Sastra Dikun itu.

“Tetapi biarlah paman, kita tetap di sini sampai kedua orang itu pergi semuanya serta tidak membayangi kita lagi, lanjut Serat Manitis.”

“Mungkin mereka menjadi tidak sabar dengan cara yang kau pilih ini” jawab Sastra Dikun sambil tersenyum.

“Ssilahkan angger lanjutkan pembicaraan yang sempat terpotong tadi” lanjut Sastra Dikun kemudian.

Serat Manitis mengangguk sejenak, sambil menarik nafas dalam-dalam. “Paman, menurut laporan para telik sandi, mereka tinggal menunggu bergabungnya satu atau dua perguruan lagi, yang mungkin dalam satu atau dua hari ini sudah akan bergabung dalam induk pasukan itu.”

“dalam satu atau dua hari, bahkan tanah perdikan belum mempersiapkan sesuatu apapun” bergetar suara Sastra Dikun saat mendengar perkataan Serat Manitis tersebut.

Serat Manitis yang melihat kepanikan Sastra Dikun itu, segera melanjutkan bicaranya. “Aku hanya minta doa paman, semoga tugasku yang salah satunya adalah membuat pasukan itu menunda waktu mereka akan mulai bergerak akan berhasil aku kerjakan.”

“Apa yang akan kau lakukan ngger, apalagi kau hanya seorang diri” tampak kecemasan semakin membayang di wajah Sastra Dikun.

Tiba tiba Sastra Dikun menggamit tangan Serat Manitis, menariknya untuk segera beranjak berdiri. Yang kemudian terjadi adalah terdengarnya gelak tawa Serat Manitis yang berkepanjangan.

“Sebentar paman, aku masih ingin menikmati malam di dangau ini” berkata Serat Manitis di sela sela tertawanya yang berderai derai itu.

“Mungkin cara ini bisa jadi membuat orang di dangau itu sedikit curiga, tetapi biarlah ia menjadi tahu kalau aku memang sedang menantang ia perang tanding dalam ketahanan jiwani ini. Bukan salah paman Sastra Dikun, mungkin caraku yang kurang tepat untuk menyampaikannya” berkata Serat Manitis dalam hati.

Sastra Dikun akhirnya terdiam sambil menarik nafas dalam dalam seakan akan baru menyadari tindakannya yang bisa menjadi awal dari kegagalan pekerjaan besar serta berat Serat Manitis tersebut.

“Maafkan atas kedunguanku ini ngger, aku hanya merasa takut akan bayang-bayang tanah perdikan yang seakan akan sedang berada di tepi jurang kehancuran.”

Serat Manitis yang telah menghentikan tertawanya yang memang ia sengaja itu, tersenyum menganggukkan kepalanya.
“Paman, baiklah aku akan mengatakan tentang siapa sebenarnya aku serta hubunganku dengan tanah perdikan menoreh ini. Semoga aku di jauhkan dari sifat deksura, seolah olah hanya aku yang mampu menjadi pelindung sekaligus pengawal tanah perdikan ini.”

“Silahkan, silahkan ngger! Aku yakin hatiku akan menjadi tenang, saat kau akan membuka tentang jati dirimu sebenarnya.” Nampak ketidak-sabaran terlihat di raut wajah Sastra Dikun.

“Paman, sebenarnya walau aku masih sekuku irengnya, aku bisa dikatakan adik seperguruan Ki Rangga Agung Sedayu.”
terkejut walau sekejap Sastra Dikun di saat mengetahui siapa sebenarnya Serat Manitis itu.

“Angger Serat Manitis adalah adik seperguruan Ki Rangga Agung Sedayu?” bertanya Sastra Dikun seolah olah untuk meyakinkan apakah tidak salah apa yang baru saja ia dengar itu.

Serat Manitis menganggukkan kepalanya tanpa keraguan sedikitpun.

“Paman, sebenarnya Kyai Gringsing adalah kakak seperguruan guruku” berkata singkat Serat Manitis tanpa keraguan sedikitpun.

Sastra Dikun sendiri yang menjadi semakin terheran-heran tidak mengira sama sekali atas apa yang telah dikatakan Serat Manitis tersebut.

“Aku mohon paman mempercayai semua perkataanku.
Sebenarnyalah semua tugas yang aku emban ini ialah atas perintah Ki Rangga Agung Sedayu, yang menyuruhku menyerahkan nawala kepada salah satu pimpinan atau senapati pasukan khusus di tanah perdikan ini, sebelum melakukan tugas-tugas selanjutnya yang semuanya atas perintah Ki Rangga Agung Sedayu.”

Sastra Dikun mengangguk-angguk merasa hatinya mulai tenang setelah mendengar perkataan Serat Manitis itu.
“angger Serat Manitis, tidak ada sedikit pun keraguan atas semua ucapanmu, aku hanya tidak mengira sama sekali.
Sebenarnya aku sudah merasa kau bukan seorang anak muda kebanyakan, tetapi aku tetap terkejut saat kau mengatakan sebagai saudara seperguruan Ki Rangga Agung Sedayu.
Kini aku bisa berbesar hati, yakin Tanah Perdikan Menoreh ini bisa melalui semua ancaman dari para prajurit-prajurit Panaraga tersebut” sambil memegang kedua tangan Serat Manitis, Sastra Dikun akhirnya mengatakan apa yang sedang dirasakannya.

“Itulah alasanku mengapa aku tidak langsung menuju ke rumah Ki Rangga Agung Sedayu paman, walau belum tentu aku menemukan cara untuk membuat para pemberontak itu menunda serangannya, tetapi aku mencoba untuk tidak mengganggu urusan saudara-saudaraku, paling tidak untuk dua pekan kedepan” tambah Serat Manitis meskipun ia tak pernah kehilangan kewaspadaannya terhadap seorang yang masih mengawasi mereka berdua.

“Tugas yang aku sendiri tak mampu untuk membayangkan betapa sulit dan rumitnya” desis Sastra Dikun.

Sejenak kemudian Serat Manitis dan sastra Dikun sama-sama terdiam. Serat Manitis tetap dengan gerak tubuhnya yang nampak seolah olah sedang menikmati malam di hamparan pesawahan luas itu. Walau Serat Manitis tetap dalam kewaspadaan tinggi, akan tetapi sebenarnyalah ia memang sungguh-sungguh sedang menikmati kesunyian alam di sekitar dangau kecil itu. Suara-suara jengkerik yang bersahutan, juga katak sawah yang juga seakan akan saling berlomba untuk menjadi yang termerdu atau menjadi yang paling keras suaranya dari kelompok kawan-kawannya.
Adalah menjadi kebetulan sekali, malam itu, langit tampak benar-benar bersih, tidak tersisa sedikitpun awan yang menghalanginya.

Walaupun bulan masih dalam lengkungan kecil, akan tetapi jutaan bintang yang bercahaya mampu membuat alam tidak nampak hitam kelam lagi. Angin timur laut berhembus sepoi memberikan kesejukan tersendiri kepada Serat Manitis serta dan Dikun.

“Segala puji padaMu Yang Maha Agung, yang telah memberi keindahan serta kenikmatan ini, di saat aku harus beradu melawan rasa bosan ketika aku harus menguji ketahanan jiwani ini. Semoga kenikmatan nyata ini, bisa menjernihkan akal pikiranku untuk langkah langkahku selanjutnya” berkata Serat Manitis dalam hati.

Sementara itu, yang terjadi pada seorang yang membayangi Serat Manitis serta sastra Dikun itu, ternyata berkebalikan dengan Serat Manitis.

“Apa yang di kerjakan dua orang itu. Berbincang bincang yang demikian lamanya. Apa benar seperti yang di katakan Wuragil tadi, bahwa aku selalu timbul curiga jika bertemu atau berbicara kepada orang yang sedikit agak lain dari kebiasaan” berkata orang yang sedang mengawasi Serat Manitis dan sastra Dikun, yang ternyata Turangga Pethak adanya.

“Andai saja aku tidak bertemu dengan dua orang itu, mungkin aku sudah bisa membuat perhitungan-perhitungan tempat yang mungkin menjadi titik lemah dari induk padukuhan tanah perdikan ini” gumam Turangga Pethak.
“Ah, aku serasa buang-buang waktu saja di tempat ini.
Silahkan kalian teruskan menunggui dangau kecil itu” Turangga Pethak menggeram meninggalkan tempat persembunyiannya.

“Paman, lihatlah bintang-bintang itu seakan-akan tersenyum saat menyaksikan orang-orang itu satu per satu meninggalkan dangau tempat mereka membayangi kita.”

“Andai saja kau tidak mengatakannya ngger, aku tak kan pernah tahu apakah orang itu sudah pergi atau belum” sahut Sastra Dikun perlahan.

“Biarlah orang itu pergi, seandainya memang mereka benar-benar telik sandi dari prajurit Panaraga, tentunya mereka akan menyusup ke dalam induk padukuhan tanah perdikan ini. Tetapi biarkanlah seandainya saja mereka benar-benar akan mencoba mengurai tentang Tanah Perdikan Menoreh Ini” berkata Serat Manitis selanjutnya.

“Apakah tidak lebih baik kau yang kini mengawasi apa yang sedang mereka berdua lakukan, ngger?” dengan nada ragu-ragu Sastra Dikun mencoba memberi usulan kepada Serat Manitis.

Sambil tersenyum Serat Manitis menggelengkan kepalanya.
“seandainya mereka berdua benar-benar para telik sandi pasukan Panaraga, yang mereka lakukan sekarang ini hanyalah melihat kemungkinan tempat-tempat yang akan mereka duduki, atau tempat-tempat yang akan di jadikan garis pertahanan terakhir para pengawal, seandainya mereka berpikir mampu mendesak mundur pasukan tanah perdikan menoreh. Paman, mungkin seandainya saja aku belum mengetahui tentang keberadaan pasukan besar yang telah bersiap menyerbu itu, aku pasti akan mengikuti kemana perginya kedua orang itu. Tetapi ternyata aku telah di beri petunjuk lengkap tentang keberadaan pasukan Panaraga itu, yang pada akhirnya mereka akan melakukan perang terbuka terhadap tanah perdikan ini” jawab Serat Manitis.

Sastra Dikun mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti maksud dari Serat Manitis. Katanya, “Tentunya orang-orang itu tidak akan membuat keonaran di tanah perdikan ini.”

“Pasti paman, mereka tidak akan berani melakukannya.
Bukan karena takut terhadap para pengawal, akan tetapi karena mereka menjalankan semuanya menurut perintah dari para pemimpin mereka” jawab serat Manitis.

“Paman, sebaiknya kita pulang saja, tetapi aku ingin melewati jalan memutar dari arah selatan tanah perdikan.”

“Ah, kau ngger. Katakan saja kau masih ingin melihat sisi-sisi tanah perdikan ini” jawab Sastra Dikun sambil tersenyum. “marilah ngger, kita teruskan jalan-jalan mengelilingi induk padukuhan tanah perdikan ini. Mungkin ada sesuatu yang sedang ingin kau ketahui” lanjut Sastra Dikun.

Sebenarnyalah mereka berdua segera meninggalkan dangau itu, tidak dengan langkah-langkah lambat seperti saat sebelumnya, tetapi mereka berdua agak bergegas menelusuri jalan-jalan induk padukuhan tanah perdikan menoreh itu.

Sementara itu di ruang dalam rumah Agung Sedayu, sedang berbincang-bincang Sekar Mirah dengan Rara Suhita dan Ki Jayaraga. Glagah Putih dan Carang Blabar juga sedang berbincang-bincang di depan sanggar utama sambil menunggui Rara Wulan dalam mesu diri menjalani laku.

“Kelihatannya Sukra sudah pergi ke gardu ronda” gumam Carang Blabar.

“Memang seperti itu kebiasaannya, paman Carang Blabar.
Ia maksudkan supaya saat tengah malam nanti dapat turun ke sungai untuk menengok pliritannya” sahut Glagah Putih sambil tersenyum.

Carang Blabar menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum pula. “Biasanya untuk anak muda seusianya sudah enggan untuk turun ke sungai hanya sekedar untuk menengok pliritannya. Tetapi Sukra ternyata lain, ia tetap telaten untuk menjaga pliritannya” sambung Carang Blabar.

“Mungkin karena sudah menjadi kebiasaannya sejak dulu paman, apalagi ketika ia mengerti kebiasaan Kakang Agung Sedayu menyapu halaman sambil berjalan mundur yang sudah Kakang Agung Sedayu lakukan sejak usia muda.
Menjadikan Sukra pun ingin melakukan hal yang sama, menjaga pliritannya seperti halnya Kakang Agung Sedayu selalu menyapu halaman sambil berjalan mundur itu.”

“aku juga sempat melihat senja tadi, Sukra melakukan latihan tata gerak olah kanuragan. Seperti halnya saat aku melihatmu dulu Glagah Putih, dalam diri Sukra pun aku melihat tata geraknya yang sudah tidak murni lagi.
Begitu banyak dari berbagai aliran perguruan yang mewarnai tata gerak Sukra” sambung Carang Blabar.

“Mungkin kebiasaan-kebiasaan seperti mereka itu, bisa membuat mereka mampu menangkap isyarat-isyarat dari alam sekitar” gumam Glagah Putih.

Carang Blabar sesaat memandang wajah Glagah Putih lekat-lekat. Walau tetap tampak jernih, Carang Blabar merasa ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh Glagah Putih.
“aku merasa kau sedang memikirkan sesuatu hal Glagah Putih, apakah kau mau bercerita denganku?”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah sedang mengeluarkan banyaknya beban yang sedang ia pikirkan.

“Sebenarnya tidak ada paman, hanya mungkin pengaruh perasaanku saja yang terlalu mengaitkan-ngaitkan isyarat alam serta mimpiku saat aku terlelap sekejap saat aku menunggu selesainya Sukra mandi tadi, dengan akan terjadinya bencana di tanah perdikan ini.”

“Ceritakanlah Glagah Putih, isyarat alam yang telah menyita perhatianmu itu, aku meyakini bisa sebagai pertanda supaya kita lebih berhati-hati dan tidak pernah lengah.
Ceritakanlah ngger, siapa tahu kita bisa membuat kemungkinan-kemungkinannya” potong Carang Blabar.

“Semula aku masih ragu paman apakah saat itu aku benar-benar tertidur atau hanya sekedar dalam angan-angan sesaat saja, walau pada akhirnya aku meyakini sebenarnyalah itu memang sebuah mimpi.” sesaat glagah putih menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan perkataannya lagi.
“Paman, seolah olah mimpi itu terus mengisi alam pikiranku,
sudah aku coba untuk menenangkan hati serta pikiranku paman, akan tetapi mimpiku ini benar-benar begitu kuat menyatu dengan hati serta pikiranku.”

“Apakah tidak sebaiknya kau ceritakan dulu kepada Nyi Sekar Mirah, Glagah Putih?” Bertanya Carang Blabar perlahan.

Tiba-tiba glagah putih berdiri dari duduknya.
“memang baiknya aku harus menceritakan tentang mimpiku ini paman, karena sekarang baru ada paman, biarlah aku menceritakan dulu kepada paman. Sebentar paman, aku akan melihat keadaan Rara Wulan lebih dahulu” berkata Glagah Putih sambil berjalan mendekati pintu sanggar utama.

Sebenarnyalah sejenak Glagah Putih melihat Rara Wulan yang sedang menjalani laku mesu diri dalam laku khusus.
Walau hanya sesaat, Glagah Putih melihat Rara Wulan yang benar-benar larut dalam laku semedinya. Akhirnya setelah meyakini Rara Wulan masih dalam batas kemampuaannya, akhirnya Glagah Putih pun kembali duduk bersama Carang Blabar di depan sanggar utama.

“Walau Rara Wulan masih muda, tetapi aku mengetahui ia sudah mampu mengukur kemampuan dirinya. Tetapi kau pun juga bertindak sangat wajar, karena kau adalah suami Rara Wulan. Kecemasan itu pasti ada” berkata Carang Blabar begitu Glagah Putih kembali duduk bersamanya.

“Ah paman, kadang-kadang Rara Wulan timbul sifat keras kepalanya. Ia berkali-kali sering memaksa diri di luar batas kemampuannya.”

“Tetapi hasilnya sudah dapat di lihat bukan ngger, perempuan yang bernama Rara Wulan itu ternyata telah menjadi senapati tanggon, salah satu benteng kewibawaan Mataram” sahut Carang Blabar sambil tersenyum.

“Semoga Yang Maha Agung selalu memberi kemudahan kepadanya” gumam Glagah Putih.

Carang Blabar menganggukkan kepalanya sambil menepuk-nepuk pundak Glagah Putih.

“Baiklah paman, biarlah mbokayu Sekar Mirah serta ki Jayaraga berbincang bincang dengan tamu kita, aku akan menceritakan mimpi, juga isyarat-isyarat alam itu kepada paman lebih dahulu” berkata glagah putih selanjutnya.

“Silahkan Glagah Putih, aku pun sebenarnya ingin segera mengetahui tentang mimpimu itu.”

Sejenak Glagah Putih memejamkan mata untuk menata hatinya. Glagah Putih yang mencoba menganggap mimpinya itu hanya sekedar kembang tidur, tetapi ternyata dalam dinding-dinding hatinya selalu terasa terketuk ketuk untuk selalu mengingat tentang mimpinya itu.

Akhirnya setelah menarik nafas dalam-dalam, Glagah Putih mengatakan tentang mimpinya, di saat Carang Blabar terlihat telah sungguh-sungguh menanti ceritanya itu.

“Paman, aku melihat makam Ki Sumangkar terbakar,
tapi yang menjadi keanehan mengapa letak pekuburan Ki Sumangkar berada di tanah perdikan ini, dalam kenyataan yang sebenarnya letak makam Ki Sumangkar terletak di Sangkal Putung. Itulah paman, sebenarnya aku menganggap mimpiku hanyalah mimpinya orang yang sedang kosong pikirannya. Akan tetapi, setiap aku coba melupakannya, hatiku selalu terasa diketuk ketuk dan jantungku berdetak sangat cepat, seolah olah mimpi itu menjadi semakin tergambar jelas di pikiranku.”

“Bukankah Ki Sumangkar adalah saudara seperguruan Adipati Jipang Harya Penangsang dan Patih Mentahun?” sahut Carang Blabar dengan suara bergetar.

“Benar paman, Ki Sumangkar juga guru Kakangmbok Sekar Mirah, yang telah di anggap orang tua sendiri oleh Kakang Agung Sedayu.”

“Apakah mungkin ada hubungannya dengan tugasmu dahulu ngger, saat orang-orang yang mengaku jalur perguruan Kedungjati ingin mencoba menancapkan kekuasaannya itu, lanjut Carang Blabar.”

“Bisa jadi seperti itu paman, akan tetapi dalam mimpi itu, aku merasa makam yang terbakar itu benar-benar makam ki Sumangkar. Dan yang menjadi keanehan paman, dalam mimpi itu aku juga menjadi terheran heran, mengapa makam Ki Sumangkar bisa berada di pekuburan tanah perdikan ini.”
sejenak mereka berdua terdiam, mereka larut dalam alam pikirannya sendiri. Banyak kemungkinan-kemungkinan tentang mimpi itu yang mereka mencoba untuk mengartikan-nya.

Sementara itu di ruang dalam Sekar Mirah sedang berbincang-bincang bersama Rara Suhita serta Ki Jayaraga.
Rara Suhita telah membuka jati dirinya tidak saja terhadap Sekar Mirah, akan tetapi Rara Suhita telah menganggap seluruh penghuni rumah Agung Sedayu adalah orang-orang yang dapat dipercaya. Selain itu dalam hati Rara Suhita telah terpahat, bahwa Ki Rangga Agung Sedayu tidak mungkin tinggal bersama dengan orang-orang yang tidak mengikuti paugeran urip bebrayan agung. Tanpa keraguan sedikit pun, kata-kata Rara Suhita mengalir seakan akan seperti gemericik mata air yang jernih, yang tidak ragu-ragu untuk sampai ke muaranya. Namun juga terasa begitu sejuk bagi telinga yang mendengarkannya. Bahkan kerinduan yang tidak dapat mereka bertiga artikan, telah menjadi muara akhir dari kata-kata Rara Suhita.

Akhirnya mereka bertiga terdiam, Ki Jayaraga menunduk-kan kepalanya, dengan nafas yang mengalir dengan tenang dalam setiap tarikannya melalui bilik serta serambi jantung-nya. Sebagai pertanda akan suatu ketenangan jiwani yang benar-benar sedang ia rasakan. Demikian pula, dalam kedua mata Rara Suhita dan Sekar Mirah yang mengembun air mata membasahi wajah mereka, dapat terlihat jelas kejernihan yang semakin tampak memuncak di wajah mereka. Air mata mereka layaknya rintik hujan yang tiada di temani oleh angin atau petir yang menyertainya. Sebenarnyalah kata-kata Rara Suhita yang juga terjawab oleh Sekar Mirah maupun Ki Jayaraga tanpa disengaja telah membuat hati mereka menjadi tenteram.

“Aku yang sudah pikun ini, ternyata masih di beri kesempatan untuk mengenal trah keprabon, kerinduanku kepada Kyai Gringsing rasa rasanya terobati dengan berkenannya Nimas Rara Suhita mengunjungi rumah ini” akhirnya Ki Jayaraga yang pertama tama mulai mengeluarkan perkataannya, setelah begitu lama mereka bertiga terdiam larut dalam perasaannya masing-masing.

“Dahulu Kyai Gringsing telah memilih menghilang dari lingkungan istana, Nimas Rara Suhita pun melakukan hal yang sama walau dalam keadaan yang berbeda” lanjut ki Jayaraga.

“Dengan suara yang masih bercampur sedu, Rara Suhita pun akhirnya menanggapi perkataan Ki Jayaraga. Kyai, aku tidak akan mencari kesalahan pada peristiwa itu,
aku menganggap mereka semua itu adalah leluhurku, yang masing-masing memiliki paugeran yang benar, walau mungkin banyak orang yang menganggap lain.”

“Kyai” berkata Rara Suhita selanjutnya. “Sedikitpun tidak ada niat untuk bertindak deksura terhadap Mataram.
Hanya aku akan selalu memohon kepada Yang Maha Agung, selalu dialirkannya tanpa pernah ada keringnya sungai-sungai di tanah Jawa ini.”

Sekar Mirah yang sebelumnya masih diam tiada bergeming, tiba-tiba menarik tubuh Rara Suhita dalam pelukannya.
Rara Suhita sendiri membalas bahkan dengan pelukan yang lebih erat menyatu dengan tubuh sekar mirah itu. Walau air mata Rara Suhita kembali membasahi wajahnya, tetapi Rara Suhita seakan akan mendapat sebuah ketenangan akan perlindungan Sekar Mirah.

“Rara, mata air jernih itu yang tetap jernih walau telah sampai ke muaranya, itulah dirimu sebenarnya” bisik sekar mirah.

“Nyai, lelabuhanku pada leluhurku yang tidak sempat aku tunaikan, akhirnya hari ini telah aku dapatkan terhadap diri Nyai guru” sahut Rara Suhita dengan semakin mempererat pelukannya.

Sesaat keheningan kembali menyelimuti ruang dalam rumah Agung Sedayu itu. Seperti halnya keheningan yang juga terlihat nampak jelas di depan sanggar utama, keheningan yang terjadi setelah Glagah Putih selesai menceritakan isyarat alam yang pernah dijumpainya.

Bahkan,Sukra yang baru pulang dari pliritannya, akhirnya memilih untuk tidak bergabung dengan Glagah Putih serta Carang Blabar. Sukra pun telah mampu menilai suasana. “sepertinya Glagah Putih serta Ki Carang Blabar sedang berbincang bincang tentang perihal yang teramat penting. “Ah, lebih baik aku latihan di sanggar terbuka saja,
Setelah lelah pasti akan pulas tidurku nanti” senyuman menghiasi bibir Sukra sambil berjalan menuju sanggar terbuka.

Sebenarnyalah sesaat kemudian Sukra telah larut dalam latihan olah kanuragannya. Pesan dari Agung Sedayu untuk lebih banyak waktu lagi bagi dirinya untuk berlatih, ternyata telah menjadi cambuk bagi Sukra untuk semakin mematangkan ilmunya. Tata gerak mulai dari yang mudah sampai yang tersulit, berkali-kali selalu ia ulang-ulang.
“Tata gerak tidak melalui pikiranmu, tetapi dari perasaanmu yang telah sejiwa dengan tubuhmu.” Kata-kata Agung Sedayu yang telah ia anggap sebagai gurunya itu, seolah olah telah tertulis jelas dalam dinding-dinding hatinya. Meskipun keringat telah membasahi baju serta kain panjangnya, Sukra tetap tidak menghentikan latihan tersebut, sebelum merasa yakin ada perkembangan dari apa yang ia punya selama ini.
Dalam pada itu, Glagah Putih serta Carang Blabar masih dengan sungguh-sungguh memikirkan kemungkinan-kemungkinan tentang makna mimpi juga tentang arti isyarat alam yang pernah di lihat oleh Glagah Putih itu.

“Benar paman Carang Blabar, ndaru yang menyala merah selayaknya kelapa yang terbakar itu, datang dari dua arah yang berbeda. Yang pertama seakan-akan datang dari langit utara, menghilang ke arah kaki langit selatan.”

“Apakah yang satunya kebalikannya ngger, datang dari selatan menghilang di dasar bumi utara” sahut Carang Blabar.

Glagah Putih menganggukkan kepala, membenarkan yang dikatakan Carang Blabar tersebut.

“Dari cerita para winasis, ndaru yang menampakkan ujudnya dengan warna merah, memang di yakini sebagai peringatan, seandainya tidak ingin disebut sebagai pertanda buruk” gumam Carang Blabar, seakan-akan berbicara kepada dirinya sendiri.

“Memang seperti itu paman, dari apa yang aku dengar, ndaru yang bercahaya merah itu memang sebagai isyarat tentang akan datangnya bencana.”

“Dua ndaru dalam saat yang hampir bersamaan” tiba-tiba berkata Carang Blabar dengan suara bergetar.

Glagah Putih yang mendengar perkataan Carang Blabar itu, menarik nafas dalam-dalam seakan akan ingin mengisi sebanyak banyaknya udara ke dalam otak kepalanya.

“Itulah yang menjadikan aku semakin gelisah paman.
Pertanda alam tentang datangnya dua ndaru dalam waktu yang hampir bersamaan.”

Tiba-tiba Glagah Putih mengangkat kepalanya, memandang langit malam yang ditaburi bintang-bintang. Nampak kedua tangan Glagah Putih pun mengepal dengan kuatnya.
“Paman, aku tidak boleh larut dalam perasaanku semata.
Aku meyakini, yang mempunyai hati kuat, yang akan sampai ke tujuan serta mampu melewati ujian-ujian sebesar apapun juga. Telah begitu sering tanah perdikan, bahkan Mataram sekalipun, mendapat ancaman atau gangguan oleh orang-orang yang tidak menuruti paugeran urip bebrayan agung.
Tetapi ternyata tanah perdikan dan Mataram mampu melalui itu semua. Mengapa aku sering lupa akan pesan-pesan Kakang Agung Sedayu. Bahkan sudah terlalu sering Kakang Agung Sedayu mewanti-wanti kepadaku saat aku harus menjalankan tugas bahwasanya hati yang kuat ialah ilmu pamungkas yang tiada bandingannya,” bergetar Glagah Putih dalam ucapannya.

Carang Blabar mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar perkataan Glagah Putih tersebut. “Aku pun sama sepertimu Glagah Putih, yang sejenak tadi sempat hatiku terpengaruh dengan perasaan tanpa aku membuat pertimbangan-pertimbangan. Untunglah kau mengingatkanku dengan pesan Ki Rangga Agung Sedayu itu.”

“Skarang yang terpenting adalah bagaimana kita memikirkan tentang kemungkinan-kemungkinan tentang mimpi serta isyarat alam itu dengan kekuatan hati paman, Kalau memang mimpi serta isyarat alam itu sungguh-sungguh sebagai pertanda yang sebenarnya” desis Glagah Putih.

Tiba tiba hampir bersamaan Glagah Putih serta Carang Blabar memandang ke arah pintu sanggar utama.
Sebenarnyalah nampak Rara Wulan sedang berdiri termangu mangu memandang Glagah Putih dan Carang Blabar yang sedang duduk menungguinya. Walau kedua mata Rara Wulan nampak sangat pucat, namun Rara Wulan mencoba tetap tersenyum seakan akan telah mengatakan hasil dari laku mesu dirinya.

“Rara!” dengan sedikit melompat Glagah Putih menghampiri istrinya itu. “Kau nampak begitu lemah Rara, wajahmu juga sangat pucat” desis Glagah Putih sambil memegang kedua bahu Rara Wulan.

“Aku tidak apa-apa kakang, bukankah memang seperti ini keadaannya saat seseorang sedang menjalani laku” jawab Rara Wulan dengan senyum menghiasi bibirnya.

“Rara, ingatlah ini adalah pertama kali kau mesu diri dalam dua laku sekaligus, dengan sangat lembut“ mencoba mengingatkan Rara Wulan.

“Apakah kakang akan selalu meragukanku serta menganggapku keras kepala” dengan nada suara yang sedikit keras walau tetap dengan bibir tersenyum, Rara Wulan balik bertanya kepada Glagah Putih.

Glagah Putih sendiri hanya mampu menarik nafas dalam-dalam sambil membetulkan ikat kepalanya. Ia sangat paham benar akan sifat maupun watak istrinya itu. Sebenarnyalah watak yang sedikit keras kepala yang ia bawa sejak masa masih menjadi gadis tetap nampak walau tentunya dalam batas-batas yang Rara Wulan sendiri tetap menyadari akan tindakan tindakannya.

Akhirnya Glagah Putih pun tertawa tertahan, sebelum menjawab pertanyaan Rara Wulan itu. “Kau pasti akan bertanya seperti itu, Rara. Tidak hanya untuk kali ini saja, akan tetapi sudah puluhan kali kau ajukan pertanyaan yang sama seperti yang baru saja kau tanyakan tadi. Sebenarnya aku hanya ingin mengingatkan, kau masih harus menjalani laku khususmu itu dalam empat hari kedepan, tentunya kau harus semakin mempersiapkan kekuatan wadagmu serta ketahanan jiwanimu.

“Ah kakang, sudah puluhan kali juga kakang mengatakan hal yang sama seperti yang baru saja kakang katakan” jawab Rara Wulan dengan senyum yang nampak seolah olah sebagai senyum kemenangan.

Carang Blabar yang mendengarkan perbincangan sesaat itu, hanya mampu tersenyum sambil menggeleng gelengkan kepalanya. “Walau sudah dua belas purnama lebih aku tidak bertemu dengan mereka berdua, ternyata tidak berubah sama sekali. Keluguan serta kepolosan yang kadang-kadang di sertai dengan keras kepala serta sedikit nakal itu. Orang-orang yang belum pernah bertemu dengan mereka berdua, tidak akan pernah mengira kalau mereka itu sebenarnya adalah orang-orang yang berilmu sangat tinggi. Memang belum dalam tataran Ki Rangga Agung Sedayu, karena Ki Rangga Agung Sedayu sendiri adalah manusia aneh” berkata Carang Blabar dalam hati.

Sementara itu di saat yang hampir bersamaan, di dalam lebatnya hutan sebelah selatan tanah perdikan, Rasta yang keringat nampak membasahi sekujur tubuhnya, tengah berbincang-bincang dengan Harya Pamungkas. Sesekali Rastra masih mengatur pernafasannya yang belum bisa kembali seperti sediakala.

“Ternyata masih belum saatnya bagiku, kakang. Dalam pertempuran yang sesungguhnya, aku pasti sudah mati kehabisan nafas.”

“Tidak semuanya benar, Rasta. Memang dibutuhkan waktu serta ketekunan yang sungguh-sungguh. Tetapi dalam usiamu yang masih terhitung muda, kau sudah mampu mengungkap seluruh tenaga cadangan sebagai landasan tata gerakmu dalam waktu yang cukup lama. Aku yakin tidak sembarang orang mampu menandingimu” jawab Harya Pamungkas sambil menepuk nepuk bahu Rasta.

Sesaat Rasta menarik nafas panjang-panjang kembali untuk mengurangi degup yang masih terasa tidak beraturan di dadanya.

“Kakang hanya memuji. Tidakkah tadi kakang melihat sendiri, aku hampir mati kehabisan nafas disaat kakang menyuruhku mengungkap seluruh tenaga cadangan dalam tiap tata gerakku” gumam Rasta.

“Sudahlah Rasta, percayalah padaku. Dengan kemampuanmu itu, kau akan sanggup untuk menolongku, saat aku akan mati ketika tidak mampu lagi mengimbangi lawanku” jawab Harya Pamungkas dengan senyum semakin mengembang di bibirnya.

“Ah, itu semua adalah mustahil dapat kulakukan.”

“Rasta, dengarkan perkataanku ini. Aku tidak akan mengulanginya untuk perkataan sekaligus pertanyaanku ini.”

Sedikit terkejut Rasta, saat ia memandang wajah Harya Pamungkas yang nampak sungguh-sungguh berbicara yang di sertai dengan nada tinggi tanpa senyuman lagi di bibirnya.
Yang nampak hanya tatapan mata Harya Pamungkas yang sangat tajam seolah olah mampu menembus jantungnya.

“Apakah ada yang salah dalam ucapanku kakang” akhirnya berkata Rasta, setelah beberapa saat hanya mampu terdiam saja, tanpa berucap sepatah katapun juga.

Harya Pamungkas menggelengkan kepalanya. Katanya, “kau tidak salah Rasta, hanya saja aku hanya ingin kau jawab pertanyaanku ini. Rasta, dalam dua pekan ini kau harus menjalani laku, untuk membuka pintu dari unsur-unsur ilmu pamungkasku.”

“Pangeran!” seakan akan tanpa sadar tangan Rasta memegang kedua kaki Harya Pamungkas.

“Hamba hanya orang kecil, hamba akan deksura seandainya sampai berani melakukannya” semakin tergagap Rasta berkata selanjutnya.

Harya Pamungkas menarik tubuh Rasta yang akan mencoba menyembahnya. Katanya, “Apa yang kau lakukan ini Rasta? yang baru saja kau lakukan, sungguh-sungguh seperti kau belum mengenalku sama sekali. Apakah kau ingin aku menganggapmu sebagai orang lain?” sejenak Harya Pamungkas terdiam, mencoba memberi kesempatan Rasta untuk menggunakan penalarannya kembali. Sebenarnyalah kata-kata Harya Pamungkas memang membuat nalar Rasta kembali seperti semula. Harya Pamungkas yang sesaat tadi tampak dalam mata Rasta, adalah sesungguhnya seorang raja yang sedang memberinya sabda.

“Maafkan aku kakang, aku benar-benar tidak pernah membayang kan sama sekali kakang akan mengatakan itu.”

Harya Pamungkas akhirnya tersenyum setelah merasa Rasta telah kembali kepada dirinya seperti semula.
“bukankah aku telah menganggapmu sebagai saudaraku sendiri. Apakah kau lupa hanya orang-orang yang tidak mengakui kehadiranku saja yang akan menyembahku” berkata Harya Pamungkas sambil menepuk nepuk bahu Rasta.

“Termasuk saudara perempuanku juga harus menyembahku, andai dia tetap pada pendiriannya” lanjut Harya Pamungkas kemudian.

Sesaat terhenyak Rasta begitu mendengar Harya Pamungkas mengatakan tentang saudara perempuannya.
“apakah dua keturunan trah keprabon itu harus mengadu jiwa? dua keyakinan yang sebenarnya menurutku sama-sama benarnya” berkata Rasta dalam hati.

Rasta kembali terkejut saat dengan tiba-tiba Harya Pamungkas berucap seolah olah mengerti apa yang sedang ia pikirkan. “Rasta, apakah kau ingin keindahan alam yang kita rasakan, tidak pernah akan kau rasakan lagi, disaat kita harus menangis kehilangan dahan yang tidak ingin bersama pohonnya kembali. Tangisilah dahan itu Rasta, seandainya kau tidak ingin merasakan kenikmatan alam agung ini.”

Rasta hanya mampu menundukkan kepalanya tanpa berucap sepatah katapun juga. Sebenarnyalah pertentangan dalam hati Rasta sudah sangat sering ia rasakan, pada setiap kali Harya Pamungkas menyinggung hubungannya dengan saudara mudanya itu.

“Maafkan aku pangeran, sesungguhnya sampai kapan pun, aku tetap menganggap kalian berdua mempunyai kemauan serta gegayuhan yang benar semua. Walau Nimas Putri tidak menentang ratu yang berkuasa, tetapi ia tetap ingin secara perlahan lahan memangkas para abdi kraton yang melanggar paugeran urip bebrayan agung. Bukankah tidak salah pangeran, jika aku menganggap gegayuhan pangeran dan Nimas Rara Putri adalah benar semua, bahkan kemungkinan gegayuhan itu sama sangatlah mungkin terjadi? Menjadikan para sentana dengan seluruh rakyatnya selalu dalam paugeran urip bebrayan agung. Yang berbeda itu hanyalah cara mencapai hasilnya, pangeran. Kalau pangeran yakin dengan duduk dalam singgasana keprabon, akan lebih cepat dalam mewujudkan gegayuhan urip bebrayan agung, namun Nimas Rara Putri mungkin berpikir sebaliknya. Dengan tidak membangun rumah, akan tetapi hanya mengganti tiang atau bagian lain yang rusak serta selalu membersihkan debu-debu yang setiap hari datang untuk mengotorinya.” Walau dengan kepala tetap tertunduk, akan tetapi Rasta tetap berkata dalam hati seakan akan ingin beradu dengan kata hati Harya Pamungkas.

Rasta kembali terkejut hingga mengakhiri lamunan, saat tiba-tiba Harya Pamungkas menggamit lengannya. “Aku percaya padamu Rasta, aku yakin keragu-raguan mu itu hanya karena kau merasa kasihan terhadap saudara mudaku, disamping itu kau pasti juga sangat menyayangkan atas sikap Nimas Putri itu” berkata Harya Pamungkas dengan suara perlahan.”

Rasta hanya menganggukkan kepala seolah olah membenarkan semua ucapan Harya Pamungkas itu.
“maafkan aku kakang, untuk kali ini aku berbeda. Aku tidak akan menganggap Nimas Rara Putri sebagai salah seorang yang harus menyembah terhadap pangeran” berkata Rasta dalam hati.”

“Rasta” kembali berucap Harya Pamungkas. “Aku hanya akan meminta kau untuk membuka pintu ilmu Pamungkas jalur perguruan kita itu. Untuk selanjutnya, hanya kau yang akan menentukan ke arah mana ilmu itu akan kau kembangkan sampai batas kemampuanmu. Itulah ciri ilmu pamungkas trah leluhur kita, Rasta. Apa yang kupunya saat ini dengan ilmu pamungkas Nimas Rara Putri, kau akan melihat sebagai dua ilmu yang sama sekali berbeda, walaupun pada kulitnya adalah dua ilmu yang sebenarnya sama.”

Rasta yang sesaat berlalu masih dalam gejolak hatinya, mengangguk-anggukkan kepalanya mendengarkan dengan sungguh-sungguh semua perkataan Harya Pamungkas itu.

“Rasta, aku mengerti kau pasti akan mengatakan tidak sepantasnya menyentuh ilmu itu, karena kau pasti akan menganggap ilmu itu ialah ilmu dari jalur trah keprabon.”

Rasta hanya terdiam tanpa mampu berucap sepatah katapun. Sebenarnyalah Rasta memang merasa tidak sepantasnya, kalau tidak mau disebut deksura, seandainya saja sampai berani menyerap ilmu leluhur trah ratu itu.

“Sesungguhnya tidak seperti yang kau kira atau saudara-saudara lain yang mungkin mempunyai pikiran yang sama denganmu. Ketahuilah Rasta, Ilmu itu ialah ilmu dari suatu perguruan, yang akan selamanya turun temurun kepada semua para cantriknya sampai ke masa kapan pun juga.
Seandainya saja ada cerita yang sampai kepadamu, kalau ilmu itu ialah ilmu para trah keprabon, ketahuilah Rasta, cerita itu hanyalah sebuah dongeng yang sama sekali tidak benar.
Seandainya saja memang benar-benar ada, tentunya kau pasti ingat banyak sekali padepokan-padepokan yang ilmunya bersumber pada perguruan kita. Sangat mungkin terjadi, seandainya saja ada salah satu padepokan yang menganggap seperti itu” berkata Harya Pamungkas selanjutnya.

“Apakah sudah sepantasnya kakang, aku menerima warisan ilmu Pamungkas itu” akhirnya Rasta berucap dengan suara perlahan.

Sebenarnyalah sesaat setelah mendengar perkataan Rasta itu, Harya Pamungkas tiba-tiba saja memeluk erat Rasta.
Rasta sendiri hanya mampu terdiam, tak kuasa untuk berucap sepatah kata pun juga.

“Ilmumu tetap bersumber pada mata air yang sama dengan apa yang aku miliki saat ini, Rasta. Apakah sepantasnya aku harus menyembunyikannya, sedangkan kau juga mempunyai hak untuk mewarisi peninggalan leluhur kita itu. Apalagi kita telah mulai menapakkan kaki untuk mewujudkan gegayuhan kita ini” bisik Harya Pamungkas sesaat kemudian.

Sebenarnyalah kata-kata Harya Pamungkas itu seolah-olah sebagai kolam air suci, yang membuat hati yang berada di sekitarnya akan merasakan ketentraman yang sejati. Perasaan Rasta yang masih dalam bayang-bayang dua pepundennya itu, telah benar-benar terurai seakan akan telah mendapat jawaban yang semestinya.

“Semoga pangeran Harya Pamungkas serta Nimas Rara Putri akan bertemu bukan di jalan simpang, akan tetapi semoga jalan tengah yang akan mempertemukan mereka” berkata Rasta dalam hati.

Sesaat setelah mereka berdua duduk kembali, Harya Pamungkas pun melanjutkan perkataannya. “Rasta” desis Harya Pamungkas sambil memandang ke arah langit luas yang tiada bertepi itu.

“Ya kakang?”

“Mungkin saja menoreh bisa menerima kehadiran kita, karena selama mempunyai niat untuk memakmurkan serta menjaga kehormatannya, ia pasti akan menerima siapapun yang berdiri di atasnya.” sesaat Harya Pamungkas diam sambil menarik nafas dalam-dalam seakan akan untuk memberi waktu bagi Rasta memikirkannya. “akan tetapi apakah para kumpulan orang di balik nama besar menoreh ini, juga akan menerima kehadiran kita, apalagi setelah mereka pada akhirnya harus mengetahui tentang gegayuhan kita yang sebenarnya” berkata Harya Pamungkas selanjutnya.

Anak muda yang sangat tinggi ilmunya itu kembali hadir dalam benak Rasta. “Apakah anak yang masih terlalu muda itu ada hubungannya dengan tanah perdikan ini. Pertama kali menginjakkan kaki di pinggiran padukuhan induk, aku telah di beri suguhan sesuatu yang tetap aku anggap mustahil di lakukan oleh anak yang usianya masih sangat muda itu” berkata Rasta dalam hati.

“Apa masih ada yang mengganggu pikiranmu, Rasta?”

Tersadar Rasta akan lamunannya sesaat, begitu mendengar Harya Pamungkas bertanya kepadanya. Kemudian dia menjawab, “Apakah kakang masih meyakini anak muda yang berilmu sangat tinggi itu, bukan bagian dari pengawal tanah perdikan menoreh?”

“Rasta, sebenarnyalah maksudku meminta kau segera merambah dalam ilmu Pamungkas warisan leluhur kita itu, salah satunya ialah dari peristiwa yang seolah olah sebagai jamuan kepada kita itu. Sampai saat ini perasaanku masih meyakini anak muda itu bukan salah satu dari pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi kehadirannya di tanah perdikan ini pasti mempunyai maksud tertentu.”

“Sungguh luar biasa dahsyatnya kakang, ilmu yang ditrapkannya saat itu seakan akan mampu membuat beku alam ini” gumam Rasta sesaat kemudian.

“Itulah alasanku Rasta, untuk tidak mencoba membayangi ke arah mana yang hendak ia tuju. Sekalipun dengan ilmu menyerap bunyi, aku masih ragu-ragu untuk mengikuti kemana tujuan anak muda itu sesungguhnya.”

“Itu belum lagi saat bertemu dengan orang-orang yang sudah kita dengar akan ketinggian ilmunya itu, kakang.”

“Rasta, memang benar kita harus tetap waspada terhadap orang-orang menoreh ini, tapi kau juga harus mempunyai keseimbangan pegangan. Apakah kau lupa tentang saudara-saudara ku yang telah menyiapkan segalanya, andai saja jalan yang kita tempuh ini tidak membawa hasil?.”

“Maksud kakang, yang di luar jalur perguruan kita itu” seakan akan Rasta kembali berharap setelah mendengar Harya Pamungkas menyinggung tentang saudara saudaranya itu.

Harya Pamungkas tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Walaupun demikian, dalam hati Harya Pamungkas sendiri mulai ada desiran halus. Harya Pamungkas menyadari kebenaran dari perkataan Rasta tentang peristiwa yang mereka alami di saat pertama kali menjejakkan kaki di padukuhan induk tanah perdikan menoreh itu. “Belum lagi bertemu dengan Sekar Mirah dan Ki Argapati, desiran di hatiku mulai menyatu yang seakan akan sulit aku hilangkan.
Apalagi saat aku harus beradu dada dengan Agung Sedayu” berkata Harya Pamungkas dalam hati. Kemudian,
“tetapi biarlah seperti yang sudah sering aku rasakan, desiran ini akan menjadi penyeimbangku untuk selalu hati-hati dalam mengambil langkah selanjutnya” sangat lirih Harya Pamungkas bergumam, seolah olah hanya ia sendiri yang mendengar.

Ssesaat kemudian Harya Pamungkas sambil tersenyum lebar, menepuk nepuk bahu Rasta. Sebenarnyalah Harya Pamungkas melakukan itu semua untuk memberi keseimbangan jiwani kepada diri Rasta sendiri, agar tidak menjadi kecil, seakan akan mereka akan berhadapan dengan orang-orang yang tidak mungkin dapat dikalahkan.

“Kita tidak sendiri, selain sebagian aliran perguruan kita, juga saudara saudaraku yang sekarang masih tersebar di seluruh tanah Jawa ini. Mereka hanya menunggu langkah pertama yang sedang kita kerjakan ini” dengan suara tenang Harya Pamungkas mengucapkannya untuk Rasta.

“Apakah memang agung sedayu benar-benar sulit di cari tandingannya, kakang?” Sahut Rasta sesaat kemudian.

Harya Pamungkas tetap tersenyum, walau desiran lembut di hatinya mulai terasa lebih kuat. “dahulu saja sudah sulit mencari tandingannya. Manusia linuwih yang telah benar-benar tumus lahir maupun batinnya. Perjalanan hidupnya yang luar biasa sebelum sampai sesudah Mataram tumbuh” berkata Harya Pamungkas dalam hati.

“Seandainya langkah pertama kakang ini tidak menemui hasil, tentunya sebagian saudara perguruan serta saudara-saudara kakang yang telah mempersiapkan segalanya itu akan segera bergabung. Dan yang terjadi bukanlah perang tanding.
setinggi apapun ilmu para senapati menoreh tentu tidak akan mampu menahan begitu banyaknya saudara-saudara kakang yang pasti berilmu sangat tinggi” berkata Rasta selanjutnya.

Harya Pamungkas tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. “Baiklah Rasta, itu semua adalah kemungkinan-kemungkinan yang memang bisa terjadi, akan tetapi kita tetap dengan rencana awal kita. Bukankah kau juga lebih memilih kita berhasil mencapai gegayuhan kita dengan langkah pertama ini, dari pada kita harus mengerahkan pasukan segelar sepapan lengkap dengan gelarnya, yang tentunya akan beradu dada dengan pasukan segelar sepapan tanah perdikan yang sudah sangat berpengalaman itu.”

Rasta hanya mengangguk anggukkan kepalanya, begitu Harya Pamungkas bertanya kepadanya.

“Rasta” lanjut Harya Pamungkas sesaat kemudian. “Yang terjadi malam ini ialah kita telah semakin siap lahir maupun batin kita. Itu semua sebab kita telah mempunyai keseimbangan dari kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi hari esok serta hari-hari berikutnya.”

“Iya kakang” gumam Rasta dengan suara perlahan.

Sejenak Harya Pamungkas memandang langit, nampak bulan di awang-awang seakan akan sedang bercengkerama dengan lintang gubuk penceng.

“Segeralah kau mandi keramas Rasta. Sebentar lagi pertengahan malam akan segera tiba. Saat itulah kau kuminta untuk memulai laku mu itu.”

Selayaknya seorang prajurit yang di beri perintah oleh lurahnya, Rasta hanya menganggukkan kepala, tanpa berucap sepatah katapun segera berjalan menuju mata air kecil itu.

Demikianlah mulai malam itu seakan akan sudah pernah melakukan kesepakatan sebelumnya. Semua orang-orang yang mempunyai kepentingan terhadap Menoreh semakin mempersiapkan dirinya masing-masing. Di rumah Agung Sedayu sendiri, setelah Glagah Putih menceritakan yang seakan akan telah menerima pertanda dari mimpi serta isyarat alam itu, maka para penghuni rumah Agung Sedayu semakin sungguh-sungguh dalam menjalani laku.

Saat yang bersamaan dengan seluruh penghuni rumah Agung Sedayu yang sedang dalam menjalani laku, di dalam lebatnya hutan di sisi utara tanah perdikan menoreh terlihat perkemahan yang berdiri berjajar di sepanjang perbukitan itu.
Perkemahan yang didirikan di antara pohon-pohon besar itu disengaja untuk menyamarkan seandainya ada yang memandang dari kejauhan. Sebenarnyalah kemah-kemah itu nampak bagai semak belukar yang seakan akan menambah lebatnya pohon-pohon di perbukitan itu.

“Apakah kau yakin, orang-orang Menoreh belum mengetahui keberadaan kita, Turangga Pethak?”

“Memang demikian adanya, guru. Apabila tiap malam di setiap gardu ronda banyak pengawal yang berada di tempat itu, memang demikian adanya. sudah menjadi kebiasaan di tanah perdikan ini para pengawal secara bergilir mendapat tugas untuk meronda. Tidak hanya di padukuhan induk guru, akan tetapi hampir di seluruh padukuhan melakukan hal yang sama.”

“Sekarang kau Putut Kirana, bagaimana dengan kehidupan penduduk menoreh dalam kesehariannya?”

Orang yang di panggil dengan sebutan Putut Kirana itu mengangguk hormat sebelum menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya itu.

“Guru, aku telah mencoba membaur dengan orang-orang Menoreh. Hampir seluruh pasar serta warung makan telah aku datangi, karena tempat-tempat yang demikian adalah tempat berkumpulnya banyak orang. Guru, aku pastikan Menoreh belum mengetahui keberadaan perkemahan ini. Bahkan aku juga sempat mendatangi beberapa pande besi, dan ternyata tidak ada yang pantas untuk dicermati selanjutnya.”

“Kakang Serat Waringin terlalu berlebihan terhadap menoreh ini. Seandainya saja menoreh sudah mengetahui tentang pasukan kita ini, apa yang bisa mereka lakukan.
Mereka telah terlambat untuk bisa menghambat pergerakan pasukan kita kakang. Kalau saja kita tidak harus menunggu kembalinya Ki Gajah Lawe, aku dan pasukanku sudah cukup untuk membuat menoreh bagai diterjang badai angin puting beliung.”

Sesaat empu serat Waringin menarik nafas dalam-dalam untuk mencoba mengendapkan hatinya yang sedikit tersinggung atas perkataan yang seakan akan dirinya sangat takut akan kebesaran nama Menoreh.

 

bersambung ke jilid 400

 

edited by arema

<< kembali ke FADBM-398 | lanjut ke TADBM-400 >>

.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s