FADBM-401

<< kembali ke FADBM-400 | lanjut ke TADBM-402 >>

FADBM-401BAIKLAH GURU” sambil berjalan guru pasti mau menceritakan lebih lanjut, paling tidak memberitahuku sebuah nama yang nantinya akan membungkam mulut sombong Agung Sedayu itu” sahut Raden Dwija sambil beranjak mengikuti gurunya yang sudah berjalan terlebih dahulu.

“Nanti sesudah sampai di padukuhan yang akan kita tuju akan aku katakan semuanya. Waktu kita tidak banyak Raden” sambil berkata Resi Mahendra Murti tiba-tiba melompat, kemudian berlari cepat menembus lebatnya hutan sisi utara Kademangan Jati Anom.

Sementara itu para prajurit yang baru saja selesai bertempur ternyata mulai membaik keadaannya, walau belum bisa dikatakan pulih seperti sediakala.

“Ki Lurah, keterlambatan kalian ini bukan kalian sengaja.
Nanti kau ceritakan semua kejadian ini kepada Senapati mu.
Bukankah kalian dibawah perintah langsung Tumenggung Wirakusuma?”

“Benar Ki Rangga. Tumenggung Wirakusuma memberi waktu kepada tiga kelompok pasukan berkuda untuk bisa kembali ke kotaraja sebelum matahari terbit.”

“Aku kira kalian belum terlambat. Sebaiknya kau saja Ki Lurah yang menghadap kakang Untara” biar prajuritmu tetap disini.

Ceritakan apa yang sesungguhnya terjadi kepada Kakang Untara, aku yakin Kakang Untara bisa mengerti.”

“Baiklah Ki Rangga, aku sendiri yang akan menghadap serta menyerahkan nawala ini kepada Tumenggung Untara.
Tetapi sebelum pergi, aku tetap harus mengucapkan terima kasih kepada Ki Rangga Agung Sedayu. Tanpa bantuan Ki Rangga, tentu kuda-kuda itu akan pulang ke kotaraja tanpa ada yang duduk di atas pelananya” jawab Lurah prajurit itu dengan tertawa perlahan.

“Aku tidak melakukan apapun Ki Lurah.”

“Karena mereka berdua telah merasa akan menjadi abu andai memaksa membenturkan ilmunya.”

“Ah, sudahlah Ki Lurah. Cepatlah berangkat, waktumu tidak banyak. Sampaikan salam hormat dariku juga Wira Permana kepada Kakang Untara.”

Tidak menunggu lama, lurah prajurit itu segera bergegas menuju Kademangan Jati Anom yang sudah dekat jaraknya itu. Kuda yang ditungganginya pun segera berlari cepat seolah mengerti akan kemauan penunggangnya.

Agung Sedayu mengangguk-angguk disaat melihat ketrampilan lurah prajurit itu dalam berkuda. “Mengagumkan sekali. Ketrampilan berkuda yang akan sulit dicari tandingannya” desis Agung Sedayu perlahan.

Sementara itu, ternyata prajurit-prajurit lainnya telah sama-sama menuntun kudanya mendekati tempat berdiri Agung Sedayu dan Wira Permana.

“Kami telah mampu untuk berkuda lagi, Ki Rangga” berkata salah seorang dari prajurit tersebut.

“Sebaiknya kalian tetap menunggu lurahmu disini.
Bukankah lurah kalian telah memberi perintah seperti itu?”

“Benar Ki Rangga dan kami tetap akan menunggu sampai lurah kami kembali. Ki Rangga, sebenarnya kami hanya ingin mengatakan keadaan kami telah kembali seperti sediakala.
Jika Ki Rangga akan segera melanjutkan perjalanan, kami telah bisa menjaga diri kami sendiri.”

Agung sedayu tersenyum mendengar ucapan salah seorang prajurit tersebut. Sebenarnyalah setelah meyakini kedua orang yang menyerang pasukan berkuda itu tidak akan kembali lagi, maka Agung Sedayu pun memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanannya.

“Terima kasih Ki Rangga, juga Wira Permana.”

“Kalian sudah selayaknya seperti pasukan khusus yang berkedudukan di Ganjur” gumam Agung Sedayu sambil menepuk nepuk bahu salah seorang prajurit tersebut.

Akhirnya Agung Sedayu serta Wira Permana benar-benar meninggalkan para prajurit yang telah kembali bugar tersebut.

“Apakah kita akan menuju ke Menoreh, Paman.”

“Serat Manitis akan mampu mengatasi keadaan dalam sepekan ini. Tetapi kita tetap membayangi Menoreh Wira, sambil mencari keberadaan Kyai Podang Sepuh.

Sebenarnyalah Agung Sedayu serta Wira Permana berjalan menyusuri jalan yang biasa dipakai oleh penduduk sekitar. Jalan yang sudah cukup lebar serta rata. Yang di setiap harinya ramai dilewati pedati-pedati yang dipenuhi barang-barang dagangan.

Walaupun Mataram masih terus dicoba oleh kelompok-kelompok atau beberapa kadipaten yang merasa mempunyai hak atas kuasa pemerintahan, namun Mataram tetap menjalankan kewajibannya terhadap semua sendi-sendi kehidupan rakyat.

Mataram tetap meyakini selamanya bahwa rakyatnya yang tetap sepenuh hati tanpa pamrih. Masa dimana mereka telah membuktikan semua itu. Mereka yang harus ditertawakan akan kerja yang dianggap sia-sia disaat Alas Mentaok yang seakan sinar matahari tidak mampu menembus ke dasarnya, akan dibuka menjadi tempat tinggal juga tempat mata pencaharian mereka.

Semua itu telah terlewati, waktu sekarang rakyat Mataram semakin hari semakin mampu mencukupi kebutuhan hidupnya.

Alas Mentaok yang pada akhirnya berwujud menjadi bumi Mataram itu selanjutnya yang kemudian memberikan semua yang ia punya kepada rakyat yang dulunya dengan hati baja bersama-sama mewujudkan lahirnya bumi Mataram.

Sementara itu Wira Permana akhirnya memilih berjalan di belakang Agung Sedayu. Wira Permana mulai bertanya-tanya dalam hatinya saat merasakan Agung Sedayu berjalan seakan tidak ada sesuatu yang harus segera diselesaikannya.
Pikiran Wira Permana semakin bertambah bertanya tanya, disaat Agung Sedayu mengajaknya beristirahat di tepian kali Opak.

“Wira Permana, pasti ini saat pertama kau duduk di tepian kali Opak” gumam Agung Sedayu dengan senyum mengembang dibibirnya.

Wira Permana nampak diam sambil ikut duduk disamping pamannya tersebut.

“Lihatlah ikan-ikan itu Wira Permana, yang tidak bergerak seperti yang lainnya itu, sebenarnya ia sedang tidur.

“Iya Paman.”

Akhirnya sesaat setelah keduanya sama-sama diam, sambil tersenyum Agung Sedayu memandang wajah Wira Permana.
“Saat seusiamu aku belum mampu memikirkan seperti apa yang saat ini sedang kau resahkan itu.”

Wira Permana terkejut mendengar apa yang baru saja pamannya ucapkan itu.

“Wira Permana” dengan menepuk nepuk bahu putra kakaknya itu, kembali Agung Sedayu melanjutkan perkataannya.

 “Mengertilah Wira Permana, Istriku, pamanmu Glagah Putih serta istrinya Rara Wulan juga Ki Jayaraga yang selama ini telah kuanggap sebagai pengganti orang tuaku, Mereka semua sekarang hidup di bumi Menoreh. Juga para rakyat Menoreh yang selama ini sudah kuanggap seperti keluarga sendiri,
Kawan-kawan prajurit pasukan khusus yang dalam keseharian selalu bahu membahu denganku dalam menjalankan setiap tugas keprajuritan. Seandainya aku sampai hati merelakan terkuburnya bumi Menoreh, apakah masih pantas aku dianggap sebagai manusia, Wira Permana?”

“Maafkan aku Paman” desis Wira Permana dengan kepala tertunduk.

Agung Sedayu tersenyum sambil menggelengkan kepala.
“Dalam usiamu yang masih sangat muda, ternyata telah tumbuh dalam hatimu sifat tanggung jawab yang besar dalam urip bebrayan agung.”

“Wira Permana” berkata Agung Sedayu selanjutnya. “Aku adalah salah seorang dari rakyat Tanah Perdikan dan Tanah Perdikan selamanya akan menganggap aku sebagai salah satu dari ribuan para pengawal. Di Goa peninggalan kakekmu itu yang telah menyadarkan aku atas sikapku selama ini yang sebenarnya telah deksura terhadap Menoreh. Entah kalau itu hanya sekedar perasaanku saja. Wira Permana, ingatlah selalu semua perkataanku tadi. Ilmumu boleh menyentuh mega bahkan melebihinya, tetapi kau harus tanamkan dalam hati, orang lain pun bisa menjadi sepertimu atau bahkan melebihimu. Andai gejolak ini terjadi dimasa masa dahulu, aku pasti sudah mendahulukan kepentingan Menoreh terlebih dahulu, tanpa mempertimbangkan kemungkinan-kemung-kinan yang lain.”

“Apakah maksud Paman, Kakang Serat Manitis akan mampu menyelesaikannya?” bertanya Serat Manitis serta merta.

“Benar, dan kita harus yakin Serat Manitis akan bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Kalau semua masalah itu bisa diselesaikan dalam waktu yang bersamaan, mengapa tidak kita lakukan. Tentunya dengan perhitungan yang tepat.”

“Mungkin terkadang dalam hati Serat Manitis ada keragu raguan atas tugas yang ia emban, tapi percayalah Wira Permana, ia akan segera kembali mampu untuk membuat pertimbangan-pertimbangan yang mapan.”

Wira Permana menganggukkan kepalanya sambil mengambil nafas dalam-dalam. Apa yang dikatakan Agung Sedayu telah membuat dirinya mengerti atas apa yang sebenarnya terjadi di Tanah Perdikan Menoreh.

“Baiklah Wira Permana” berkata Agung Sedayu selanjutnya. “Kita menuju ke kotaraja dahulu.
Aku akan menghadap Ki Patih Mandaraka, untuk mohon petunjuk jalan yang terbaik atas kejadian-kejadian yang seolah saling berkejaran ini.”

Tidak lama kemudian Agung Sedayu serta Wira Permana telah meninggalkan tepian Kali Opak, terus berjalan untuk menuju ke Kotaraja Mataram.

Embun yang telah mulai turun disaat puncak malam telah terlewati. Bulan yang telah beredar di sebelah barat.
Juga di saat Agung Sedayu serta Wira Permana mulai melewati jalan yang membelah hutan tambak baya, kesunyian seakan mengiringi berjalannya waktu yang mulai meninggalkan pertengahan malam itu.

Sebenarnyalah tidak ada kejadian apapun yang menghambat perjalanan Agung Sedayu dan Wira Permana.
Di depan regol dinding kotaraja dua orang prajurit jaga segera berdiri setelah sebelumnya duduk di gardu penjagaan, ketika melihat Agung Sedayu serta Wira Permana berjalan mendekat.

Namun begitu mengetahui siapa yang datang, para prajurit itu pun cepat-cepat mengangguk hormat. Seorang yang kelihatannya adalah lurah prajurit dari regu jaga itu segera berdiri bergegas menghampiri dua orang yang baru saja datang itu.

“Ki Rangga Agung Sedayu” berkata lurah prajurit jaga tersebut sambil mengangguk hormat.

“Maafkan aku Ki Lurah, aku datang terlalu pagi”

Lurah prajurit itu hanya tersenyum mendengar jawaban Agung Sedayu.

“Walau Ki Rangga tidak berkedudukan di kotaraja, tapi aku yakin Ki Rangga mengetahui akan kesiagaan para prajurit di kotaraja ini. Untuk itu, kami yang seharusnya minta maaf.”

“Sudahlah, itu sudah menjadi tugas Ki Lurah dan para prajurit jaga lainnya” jawab Agung Sedayu dengan tersenyum.”

“Silahkan Ki Rangga meneruskan perjalanan.”

“Terima kasih Ki Lurah, sudah lama aku tidak menyusuri jalan-jalan kotaraja disaat menjelang terbit matahari” jawab Agung Sedayu sesaat sebelum ia serta Wira Permana meneruskan perjalanan menuju ke Istana Kepatihan.

Perjalanan yang hanya tinggal selangkah itu tetapi bagi Agung Sedayu sendiri telah membuatnya menjadi tambah mengerti akan perkembangan terakhir di kotaraja.
Meski para penduduk serta para pedagang yang sudah mulai membuat ramai jalan-jalan di kotaraja, akan tetapi kesiagaan para prajurit tetap terasa. Penjagaan semakin diperketat hampir menyeluruh di setiap sudut kotaraja. Para prajurit sandi yang sedang bertugas dalam penyamarannya juga tidak luput dari perhatian Agung Sedayu. Ada yang sedang menggelar barang dagangannya di dekat pasar, yang sebenarnya ia adalah seorang prajurit sandi yang sedang dalam tugas penyamarannya. Juga ada yang menyamar sebagai petani yang seolah-olah sedang berjalan menuju ke sawahnya, atau terkadang menyamar sebagai kuli pasar tentunya tetap dengan kesiagaan dalam mengamati orang-orang yang lalu lalang di pasar tersebut.

“Dalam sepekan ini ternyata kotaraja telah meningkatkan kesiagaannya. Tumenggung Wirayuda sendiri benar-benar telah menurunkan para prajurit sandinya, seakan sejengkal tanah pun tidak ada yang luput dari pengamatan” berkata Agung Sedayu dalam hati.

Akan tetapi, ketika keduanya hampir mendekati istana kepatihan, tiba-tiba Agung Sedayu menahan langkah Wira Permana untuk berhenti sejenak. Sebenarnyalah Agung Sedayu mendengar orang yang baru saja berpapasan jalan dengan mereka telah membisikkan sesuatu kepada Agung Sedayu.

“Ada apa Paman?” bertanya Wira Permana.

“Kau tetap disini Wira Permana, aku akan menemui laki-laki yang berdiri di bawah pohon Talok itu.”

Agung Sedayu segera berjalan mendekat sambil bertanya tanya dalam hati. “Aku merasa ia bukan prajurit sandi biasa.”

Disaat Agung Sedayu telah sampai di tempat laki-laki itu berdiri, tiba-tiba orang yang diyakini Agung Sedayu sebagai prajurit sandi itu mendahului menyapa.

“Bolehkah aku panggil Ki Rangga Agung Sedayu dengan sebutan paman?”

Agung Sedayu masih diam belum menyahut ucapan laki-laki itu. Agung Sedayu masih memandang orang yang sedang dalam penyamaran itu lekat-lekat. Tiba-tiba berdesir hati Agung Sedayu sesaat kemudian. “Pangeran Pringgalaya ?”

“Benar Paman, aku Pringgalaya. Sudah lama aku tidak menjumpai orang yang dulu menjadi sahabat dekat Rama Panembahan Senapati. Baru tiga purnama aku pulang dari Madiun, Paman.”

“Salam hormat hamba Pangeran. Mohon ampun atas sikapku yang tidak sepantasnya ini.”

“Ah, apakah tidak sebaliknya. Aku yang sebenarnya telah bertindak deksura, menghambat perjalanan tugas dari orang yang begitu dekat dengan ayahanda disaat beliau masih ada.”
Pangeran Pringgalaya mengambil nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan bicaranya kembali. “Paman Agung Sedayu, mungkin sudah menjadi pepesten. Sebenarnya saat pagi menjelang ini, aku akan melakukan perjalanan ke kademangan Jati Anom. Eyang Patih Mandaraka yang menyuruhku untuk menyampaikan pesan beliau.”

“Mengapa Pangeran tanpa pengawal? Bukankah pesan itu akan disampaikan kepada Kakang Untara?” Cepat-cepat Agung Sedayu menyahut perkataan Pangeran Pringgalaya.

“Tidak Paman, Ini bukan tugas keprajuritan.
Itulah mengapa tadi aku menyebut semua ini sudah menjadi pepesten. Eyang Mandaraka menyuruh dalam hubungan aku yang telah di anggap sebagai cucu beliau. Perhatian, kasih sayang, juga tanggung jawabnya yang akhirnya Eyang Mandaraka menyuruhku untuk menemui Ki Rangga Agung Sedayu.”

Agung Sedayu sendiri hanya termangu mangu sambil bertanya tanya dalam hati akan maksud sebenarnya Pangeran Pringgalaya tersebut.

“Paman, Eyang Patih meminta Ki Rangga Agung Sedayu untuk menceritakan peristiwa perang tanding Kyai Gringsing dengan Panembahan Alit.”

Agung Sedayu terkejut begitu mendengar maksud dari Pangeran Pringgalaya tersebut. Sebenarnyalah Agung Sedayu segera mampu menangkap maksud yang sesungguhnya dari pesan Ki Patih Mandaraka tersebut.

“Ilmu yang sangat jarang guru ungkapkan itu. Sampai saat ini pun aku belum mencoba untuk mempelajarinya” berkata Agung Sedayu dalam hati.

“Aku rasa Paman Agung Sedayu sudah mengerti kemana arah yang hendak dituju dari pesan Eyang Patih itu” desis Pangeran Pringgalaya.

Agung Sedayu menganggukkan kepala membenarkan perkataan Pangeran Pringgalaya.

“Sebenarnya aku sangat memerlukan ilmu itu” kembali berucap Pangeran Pringgalaya. “Walau belum ditunjuk secara pasti siapa senapati yang akan memimpin pasukan segelar sepapan disaat melawat ke Panaraga nanti,
akan tetapi Eyang Patih lah yang menyuruhku untuk segera mempersiapkan diri. Menurut Eyang Patih kemungkinan aku yang diserahi tugas itu ada, karena menurut Eyang Patih aku lebih paham tentang keadaan wilayah bang wetan.”

Setelah beberapa lama hanya diam, akhirnya Agung Sedayu memberi jawaban atas pesan Ki Patih Mandaraka tersebut.
“Sebenarnya ilmu itu tidak tertulis dalam kitab perguruanku, Pangeran. Namun guru yang mempunyai ilmu tersebut, pernah memberiku wejangan-wejangan mengenai ilmu itu.
Baiklah Pangeran, mungkin lebih baik kita segera menghadap Ki Patih Mandaraka sekarang untuk membicarakannya yang lebih dalam.”

Sesaat Agung Sedayu menoleh ke arah Wira Permana yang masih berdiri termangu mangu di seberang jalan.
Agung Sedayu yang sudah merasa Pangeran Pringgalaya ingin menanyakan siapa kawan perjalanannya itu, segera berucap terlebih dahulu.

“Anak muda itu Wira Permana, putra dari kakangku, Pangeran.”

“Pasti di masa-masa yang akan datang, ia akan mewarisi ilmu dari berbagai jalur. Umurnya tidak terlalu berbeda jauh dengan Raden Mas Rangsang.”

“Baiklah Paman” lanjut berkata Pangeran Pringgalaya. “Silahkan Paman segera menemui Eyang Patih.
Akan tetapi aku tidak akan ikut menghadap.”

Agung Sedayu sendiri hanya mengikuti saja tanpa bertanya lebih lanjut.

Akhirnya setelah Pangeran Pringgalaya pergi terlebih dahulu, Agung sedayu pun segera mengajak Wira Permana untuk berjalan kembali menuju istana kepatihan. Seperti biasanya, Lurah prajurit jaga yang sudah mengenal Agung Sedayu segera mengantarkan mereka berdua menemui pelayan dalam, dan nanti narpacundaka yang sedang bertugas hari itu yang akan menyampaikan atas kedatangan Agung Sedayu tersebut kepada Ki Patih Mandaraka.

Ki Patih Mandaraka sendiri yang saat itu sedang berjalan jalan di pelataran belakang, segera menyuruh Narpacundaka untuk mempersilahkan Agung Sedayu menunggu di ruang dalam kepatihan.

“Ki Rangga Agung Sedayu” terdengar suara perlahan dari bibir seorang yang sudah sepuh memandang Agung Sedayu dengan tersenyum.

Agung Sedayu sendiri setelah menyembah, dengan tergesa-gesa segera berdiri bergegas menyambut laki-laki sepuh yang sebenarnya adalah Ki Patih Mandaraka adanya.

“Untuk kali ini aku tidak sedang sakit, Ki Rangga. Kau tidak perlu menuntunku seperti dulu lagi” tersenyum Ki Patih Mandaraka di saat Agung Sedayu yang hendak membantunya duduk.

“Hamba mohon ampun.”

Ki Patih Mandaraka menjadi tidak bisa menahan tertawanya saat mendengar apa yang terucap dari Agung Sedayu.

“Dari remaja hingga sekarang sifatmu yang satu itu tetap tidak berubah, Ki Rangga.”

Agung Sedayu hanya mampu menundukkan kepalanya sambil menunggu Ki Patih Mandaraka meneruskan ucapannya kembali.

Kehadiran Wira Permana ternyata segera menarik perhatian Ki Patih Mandaraka.

“Kalau boleh mengira ngira, apakah yang sekarang duduk di sebelahmu itu putra dari Ki Untara?”

Disaat Agung Sedayu memandang putra kakaknya itu, ternyata Wira Permana telah menyembah Ki Patih Mandaraka.

“Hamba Wira Permana putra Ki Untara, menghaturkan sembah.”

Ki Mandaraka sambil tersenyum mengangguk-anggukkan kepalanya memandang anak muda yang sedang duduk di hadapannya itu.

“Sengaja aku bawa dari padepokan tanpa seijin ayahnya dulu, Ki Patih. Kakang Untara biar sekali-kali meluangkan waktunya untuk menengok keluarganya yang ada di Menoreh.”

“Tetapi ada baiknya juga kau diculik dari padepokanmu.
Biar kau mulai mengenal luasnya cakrawala. Hanya satu yang perlu kau ingat Wira Permana, Ikutilah kemanapun pamanmu itu akan melangkahkan kakinya” sahut Ki Patih Mandaraka dengar tertawanya yang berderai.

Sejenak ketiganya menghentikan percakapan saat pelayan mengantarkan minuman hangat serta makanan kecil.
Sebenarnyalah setelah sejenak mencicipi hidangan, Ki Patih mulai mengajak bicara Agung Sedayu mengenai sesuatu hal yang penting.

Wira Permana sendiri tetap diperbolehkan untuk ikut mendengarkannya.

“Itulah alasan Raden Mas Julik tidak menemanimu datang kesini. Ia berencana setelah menemuimu di Jati Anom, akan segera berangkat ke tanah perdikan Menoreh.”

“Maafkan atas langkah yang aku ambil ini, Ki Patih.
Aku mengambil jalan itu, karena aku sangat yakin Serat Manitis akan berhasil dalam mengerjakan tugas yang ia emban. Sekurang-kurangnya adalah ia mampu mengulur waktu kapan pasukan lawan itu akan mulai bergerak.”

“Itu langkah yang aku rasa terlahir dari panggraita seseorang yang telah benar-benar tuntas kawruh lahir maupun batin. Walau aku agak terkejut di awalnya, akan tetapi dengan memohon petunjuk Yang Maha Agung, akhirnya aku lakukan langkah yang kau rencanakan itu.”

“Ki Rangga” berkata Ki Patih Mandaraka selanjutnya. Aku berharap perang itu tetap tidak akan pernah terjadi,
namun seandainya pepesten berkata lain, ketahuilah Ki Rangga, di tanah perdikan sekarang telah ada pasukan segelar sepapan yang akan menusuk dari sisi barat. Pasukan itu akan menghimpit ke arah lambung pasukan lawan, disaat pasukan khusus yang berhadapan langsung dengan pasukan lawan, telah mulai melakukan serangan.”

Agung Sedayu dan Wira Permana nampak sungguh-sungguh mendengarkan perkataan Ki Patih Mandaraka.
Walau perlahan namun jelas terasa kewibawaan dalam setiap kata yang diucapkannya.

“Dan sengaja aku ikutkan juga kelompok Gajah Liwung di dalam pasukan khususmu itu, Ki Rangga” imbuh Ki Patih Mandaraka sambil tersenyum lebar.

Wira Permana yang dengan tekun mendengarkan pembicaraan Ki Patih Mandaraka dengan pamannya, menjadi berbesar hati atas kesiapan kekuatan Mataram tersebut.
Dalam hati Wira Permana menjadi semakin tumbuh keinginan untuk menjadi bagian dari pasukan yang telah dipersiapkan untuk menumpas para pemberontak itu.

“Semoga Paman Agung Sedayu mengajakku untuk ikut bergabung dengan para pengawal” berkata Wira Permana dalam hati.

Agung Sedayu sendiri nampak tersenyum disaat Ki Patih Mandaraka menyinggung nama Gajah Liwung yang akan dilibatkan langsung dalam pasukan pengawal tanah Perdikan maupun pasukan khusus.

Setelah sejenak terdiam, Ki Patih Mandaraka kembali berkata. “Raden Mas Julik yang akan menjadi senapati pasukan segelar sepapan itu. Dirinya walau masih muda namun mempunyai kemampuan tinggi dalam siasat perang gelar.”

Sebenarnyalah saat Ki Patih Mandaraka menyebut kembali nama Raden Mas Julik, Agung Sedayu seolah tidak sabar untuk segera menanyakan lebih lanjut akan perintah Ki Patih Mandaraka saat menyuruh Raden Mas Julik untuk menyampaikan pesan kepadanya.

Pada akhirnya begitu Agung Sedayu melihat Ki Patih Mandaraka nampak sudah tidak akan berkata lagi, Agung Sedayu pun segera menanyakan tentang pesan yang disampaikan Raden Mas Julik tersebut.

“Begitulah maksudku sebenarnya Ki Rangga, Raden Mas Berthotot mewarisi Aji Tameng Waja dan Aji Lembu Sekilan sama-sama dalam tataran puncak. Maka disaat kedua ilmu itu ditrapkan bersama hingga luluh menyatu dalam wadag seseorang, hanya akan mampu diimbangi oleh ilmu yang mempunyai ciri melukai bagian luar maupun dalam tubuh secara bersamaan.”

“Pangeran Jayaraga memang seorang yang berilmu sangat tinggi” gumam Agung Sedayu perlahan.

“Seandainya kau berkenan mewariskan ilmu tersebut Ki Rangga, sebenarnyalah Raden Mas Julik adalah seorang yang rendah hati. Aku yakin ia akan amalkan ilmu tersebut untuk berguna bagi orang banyak.”

Agung Sedayu sendiri cepat-cepat menjawab perkataan Ki Patih Mandaraka.

“Tidak ada keberatan sama sekali Ki Patih, namun seperti yang hamba bilang tadi, hamba belum mempelajarinya.
Yang bisa hamba lakukan hanyalah menuliskan dalam lontar wejangan-wejangan yang dulu hamba terima dari guru.

“Walau telah tiada ternyata sampai saat ini Mataram tetap memerlukan gurumu lagi.”

Ki Patih Mandaraka sejenak menundukkan kepala.
Kenangan saat-saat Kyai Gringsing masih ada, sejenak hadir dalam alam pikirannya. Disaat dirinya sama-sama bahu membahu dengan Ki Gede Pemanahan serta Raden Sutawijaya, mencoba melahirkan nama Mataram.

“Mereka semua telah mendahuluiku.”

Batin Ki Mandaraka seakan terus mengalir dalam ucapannya. “Tidak ada yang pernah tahu kapan sampai di batas itu. Hanya pertanda Yang Maha Agung yang selalu mengingatkan akan batas itu. Tubuh rentaku, pikiran yang mulai pikun ini tetap tidak dapat dipungkiri sebenarnya perjalananku sudah akan sampai batas akhir.”

Panggraita Agung Sedayu segera mengetahui apa yang sedang dirasakan Ki Mandaraka. Kedekatan gurunya disaat masih ada dengan Ki Mandaraka terkadang masih menyisakan kerinduan yang teramat dalam pada diri Ki Patih.

“Maafkan, Ki Rangga, gumam Ki Mandaraka memecah kesunyian dalam sesaat itu. Ternyata aku terlalu cengeng.”

Agung Sedayu sendiri cepat-cepat menyembah, yang kemudian segera diikuti pula oleh Wira Permana.

“Ah sudahlah Ki Rangga, biarkan aku yang tiba-tiba menjadi kanak-kanak kembali ini. Sebaiknya mari kita menyegarkan tubuh kita terlebih dahulu. Nanti kita berbincang kembali saat makan pagi.”

Sebenarnyalah setelah Agung Sedayu dan Wira Permana mandi serta berganti pakaian, mereka berdua kemudian istirahat sebentar dalam gandok yang telah disiapkan oleh pelayan dalam. Walau keduanya tidak tidur, akan tetapi mereka tetap memejamkan mata untuk sekedar mengendor-kan kembali otot-otot tubuh mereka.

“Bukankah setelah ini kita akan segera melanjutkan perjalanan ke tanah Perdikan, Paman?”

“Itulah sifat sebenarnya dari pamanmu ini, Wira Permana” jawab Agung Sedayu sambil bangkit setelah sejenak merebahkan tubuhnya. “Berbeda dengan ayahmu. Kakang Untara adalah seorang yang mempunyai keyakinan serta pendirian yang teguh. Sebenarnya apa yang pernah aku katakan kepadamu di tepian kali Opak semalam tidaklah sepenuhnya benar. Mungkin masih bisa dikatakan benar kalau aku nilai dari masih adanya orang lain yang sanggup memikul kewajiban itu, akan tetapi andai aku lihat dari tanggungjawab yang telah diembankan terhadapku, ternyata aku telah memilih kemungkinan yang kurang benar. Ucapan Ki Patih lah yang telah mengingatkanku atas semuanya itu Wira Permana.”

“Ucapan Ki Patih yang mana, Paman?”

Agung Sedayu tersenyum sejenak sebelum menjawab kembali pertanyaan Wira Permana tersebut.
“Pasti kau mendengar perkataan Ki Mandaraka, bahwa sebenarnya beliau terkejut dengan langkah yang aku ambil ini.
Mengertilah Wira Permana, Ki Mandaraka ialah panutan rakyat Mataram. Dialah yang sesungguhnya pantas dinilai sebagai orang yang telah tuntas kawruh lahir maupun batin.
Kita akan ke Menoreh dengan menyamar” akhirnya Agung Sedayu memberi jawaban jelas kepada putra kakaknya itu.

Wira Permana hampir saja melompat kegirangan andai tidak bersamaan dengan terdengarnya ketukan di pintu gandok.

“Ki Rangga, Kanjeng Patih berkenan untuk makan pagi bersama, terdengar suara pelayan dari luar gandok.”

Tanpa menunggu waktu lagi, setelah membenahi pakaian serta kain panjangnya, mereka segera bergegas menuju ruang makan, dimana Ki Mandaraka telah menunggu kehadiran mereka berdua.

Sebenarnyalah pagi itu Ki Mandaraka makan dengan lahapnya, tidak seperti dahulu saat Agung Sedayu melihat Ki Patih Mandaraka kurang dalam nafsu makannya.

“Lihatlah Ki Rangga, seakan aku menjadi muda kembali” tiba-tiba berkata Ki Mandaraka seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan Agung Sedayu.

“Ki Patih nampak semakin segar” sahut Agung Sedayu, yang membuat Ki Mandaraka tidak mampu menahan tertawanya.

Akhirnya setelah mereka selesai serta pelayan telah membereskan piring serta mangkuk-mangkuk kotor, Agung Sedayu pun segera menyampaikan sesuatu hal yang penting kepada Ki Mandaraka.

“Tidak Ki Rangga. Kau tidak akan memilih langkah itu, seandainya kau tidak yakin akan kemampuan Serat Manitis yang sebenarnya. Bukankah kau telah mengatakan nya sendiri bahwa Serat Manitis menemuimu atas perintah gurunya.
Kau sendiri juga telah menilik sedikit atas apa yang telah dipunyai adik seperguruanmu itu.”

“Hamba memang sangat yakin akan kemampuannya Ki Patih. Hanya saja hamba merasa lebih mendahulukan kepentingan pribadi dari kewajiban yang seharusnya hamba emban terlebih dahulu.”

Ki Mandaraka tersenyum sejenak mendengar perkataan Agung Sedayu tersebut. “Itulah sifat pamanmu itu, Wira Permana. Aku tidak meragukan ketinggian ilmunya.
Tidak hanya aku, Panembahan Senapati serta Pangeran Benawa disaat keduanya masih ada, juga mengagumi tingkat ilmunya. Bahkan suwargi Sultan Pajang juga pernah walau hanya sesaat, menyinggung-nyinggung tentang anak muda adik Untara, atas bakatnya yang seolah tiada batasnya itu.
Akan tetapi, ketahuilah Wira Permana, sifat yang agak ragu-ragu itulah yang sering membuat pamanmu itu harus berulang kali terluka parah dalam suatu pertempuran.”

“Hamba Kanjeng Patih” gumam Wira Permana Perlahan.

“Baiklah Ki Rangga, kalau kau akan menyelesaikan tugas di tanah Perdikan terlebih dahulu.” Sejenak Ki Mandaraka terdiam beberapa saat, yang sebenarnya Ki Patih yang telah sepuh itu sedang mengingat-ingat akan keberadaan seseorang kawan yang telah lama tidak pernah bertemu. Dan akhirnya Ki Mandaraka kembali berucap, “Aku akan berusaha mencari hubungan dengan seseorang yang kini tinggal di padukuhan Banyu Biru. Semoga dia bisa membantu atau paling tidak pernah mendengar tentang nama Kyai Podang Sepuh itu.”

Agung Sedayu menyembah sambil mengangguk hormat kepada Ki Mandaraka. “Hamba mengucapkan terima kasih. Sebenarnya hamba sungguh-sungguh telah deksura.
Pekerjaan Ki Patih yang sangat banyak, masih harus memikirkan urusan pribadiku ini.”

Ki Mandaraka tiba-tiba tertawa mendengar perkataan Agung Sedayu tersebut. “Jangan kau mengira aku yang akan melakukan perjalanan ke Banyu Biru, Ki Rangga. Apakah kau tidak kasihan kepada tubuh renta ini, harus melakukan perjalanan, walaupun tidak terlalu jauh, akan tetapi dapat dipastikan nafasku akan terputus di tengah jalan.”

Agung Sedayu serta Wira Permana tersenyum mendengar gurauan Ki Patih Mandaraka tersebut.

Sebenarnyalah setelah semua disampaikan kepada Ki Patih Mandaraka, sesaat kemudian Agung Sedayu serta Wira Permana segera mohon diri untuk melanjutkan perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh.

Ki Patih sendiri bahkan merasa perlu untuk berdiri di pendapa istana kepatihan hanya untuk sekedar melepas bawahannya senapati pasukan khusus serta keponakannya itu.
Nampak Ki Patih menggeleng gelengkan kepalanya sejenak saat Agung Sedayu serta Wira Permana telah berlalu keluar dari gardu penjagaan. Ki Mandaraka hanya mampu mengambil nafas dalam-dalam sambil berkata dalam hati
“Setiap habis bertemu denganmu, Sedayu, aku pasti kembali teringat akan masa-masa yang telah terlewat. Kenangan kita, saat-saat bersama dengan Raden Sutawijaya, gurumu, juga Pangeran Benawa masih begitu jelas tergambar dalam ingatanku.”

Akhirnya Ki Mandaraka pun perlahan lahan melangkah masuk ke dalem kepatihan.

Sementara itu, Agung Sedayu serta Wira Permana yang tetap memilih berjalan kaki, walau Ki Mandaraka telah berkenan menawarkan dua ekor kuda, terus berjalan menyusuri jalan-jalan kotaraja.

Sebenarnyalah Agung Sedayu selepas keluar dari pintu gerbang kotaraja akan memilih jalan yang tidak banyak dilalui orang-orang sekitar. Keduanya berhenti sejenak di gardu penjagaan regol dinding kotaraja bercakap cakap sekedarnya dengan lurah prajurit serta anggotanya sebelum bergegas melanjutkan perjalanannya kembali.

“Biasanya aku tidak melalui jalan ini Wira Permana, tapi untuk kali ini kita mencari jalan yang sepi di jalur utara ini” berkata Agung Sedayu sambil memegang bahu Wira Permana untuk mengikutinya mengambil arah ke sebelah kanan.

Walau pernah dilewati, namun jalur utara sudah jarang dipakai lagi oleh para penduduk sekitar. Selain masih berwujud jalan setapak, jalur utara juga lebih jauh serta memutar jika akan menuju ke Tanah Perdikan Menoreh. Wira Permana terus mengikuti pamannya itu berjalan.
Walau sebenarnya ia lebih menyukai melewati jalan yang ramai, yang sering digunakan orang-orang, sehingga bisa cepat-cepat sampai ke tanah perdikan, namun ia percaya pamannya itu memiliki pertimbangan-pertimbangan yang lain hingga akhirnya harus melalui jalan yang memutar itu.

Namun, Wira Permana yang tengah mengikuti Agung Sedayu dari belakang, tiba-tiba mendengar pamannya itu berbisik kepadanya. “Hati-hati Wira Permana, ada dua atau tiga orang di bulak kecil depan kita itu.”

“Siapa mereka Paman” sahut Wira Permana disaat ia juga telah melihat tiga orang tengah berdiri di bawah pohon Sanakeling yang berdiri tegak ditengah tengah bulak kecil itu.

“Aku tidak tahu. Tetapi kau harus tetap hati-hati Wira Permana, dari cara mereka berdiri aku merasa mereka memang sengaja menunggu kita.”

Sebenarnyalah saat Agung Sedayu serta Wira Permana hampir sampai di pohon Sanakeling yang berdiri kokoh ditengah tengah bulak kecil itu, tiba-tiba orang yang berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di dada, melangkah beberapa tindak mendekati Agung Sedayu serta Wira Permana yang sedang berjalan ke arah mereka.

Orang itu kemudian mengurai kedua tangannya dengan bibirnya yang tersenyum lebar. “Akhirnya hari ini aku bisa juga bertemu dengan senapati agul aguling Mataram, yang seakan mendengar namanya saja telah membuat orang akan mati berdiri. Aku sudah lama mendengar namamu, sayang baru saat rambutmu mulai berganti warna itu, kesempatan bertemu dengan kau baru datang.” kembali orang itu tertawa tergelak gelak di sela-sela ucapannya. “Semoga saja tenaga serta nafasmu tidak menurun terlalu banyak, Agung Sedayu.”

Namun yang terjadi selanjutnya ialah yang membuat orang itu menjadi merah telinganya. “Beruntung aku hari ini hanya bertemu dengan seseorang yang seumuran dengan ayahku andai beliau masih ada” sahut Agung Sedayu dengan senyum mengembang dibibirnya.

Sementara itu dua orang yang masih berdiri di bawah pohon Sanakeling nampak beranjak mendekati kawannya.
“Sudahlah Sapu Jagad, jangan bertele-tele, segera bunuh Agung Sedayu itu. Dan ingat kita bukan sedang berperang tanding, berkata dengan suara dalam salah seorang yang sedang berjalan mendekat tersebut.”

“Baiklah kalau itu kehendak Ki Gajah Lawe, walau sebenarnya aku hanya ingin memberi kesempatan kepada Agung Sedayu untuk menikmati saat-saat ia terakhir bisa melihat langit luas” sahut orang yang berdiri berhadapan dengan Agung Sedayu, yang ternyata Empu Sapu Jagad adanya.

“Jangkung, kau hadapi anak muda itu” berkata kemudian orang yang bernama Gajah Lawe menyuruh kawan yang satunya.

Dalam hati Agung Sedayu sendiri agak terkejut disaat mendengar orang yang saat itu berdiri dihadapannya menyebut nama Gajah Lawe. Sejenak Agung Sedayu memandang Wira Permana yang ternyata telah bergeser menjauh darinya.

“Ternyata orang ini yang bernama Gajah Lawe, salah seorang murid utama perguruan semu” berkata Agung Sedayu dalam hati.

Agung Sedayu merasa pertempuran itu sudah tidak mungkin terhindarkan lagi. “Ternyata kalian telah merencanakan semua ini. Silahkan Ki Sapu Jagad, kebetulan hari masih pagi, tentunya nafasmu akan mampu bertahan lebih lama” tiba-tiba dengan suara keras Agung Sedayu seakan membentak terhadap Empu Sapu Jagad.

Gajah Lawe yang telah berdiri bersebelahan dengan Empu Sapu Jagad nampak merah padam wajahnya. Sedang Empu Sapu Jagad sendiri yang merasa dirinyalah yang sebenarnya disindir itu, jantungnya benar-benar terasa akan meledak.

“Hari ini barak pasukan khususmu hanya akan kedatangan potongan kepalamu, Agung Sedayu” berteriak Empu Sapu Jagad dengan sikap akan segera mulai serangannya.

Namun sejenak ketiga orang itu seakan menjadi terpana, di saat tanpa berucap sepatah katapun, Wira Permana telah melompat menyerang orang yang bernama Jangkung tersebut.
Agung Sedayu hanya menggeleng gelengkan kepala melihat tingkah keponakannya yang tanpa berkata kata tiba-tiba telah mencecar lawannya tersebut. “Watak kakang Untara sangat nampak jelas dalam diri Wira Permana” berkata Agung Sedayu dalam hati.

Empu Sapu Jagad segera menyadari keadaan yang terjadi.
Sebenarnyalah Empu Sapu Jagad melihat Agung Sedayu yang nampak termangu-mangu melihat pertempuran yang sedang terjadi.

Yang terjadi kemudian ialah Empu Sapu Jagad tiba-tiba dengan menggeram keras-keras telah menerjang Agung Sedayu. Empu Sapu Jagad yang tengah bergejolak dadanya, benar-benar tidak memberi kesempatan sedikitpun kepada Agung Sedayu untuk menahan serangannya. Sebenarnyalah nampak dari bekas telapak kaki Empu Sapu Jagad telah mengepul asap saat ia melompat menerjang Agung Sedayu.

“Hancur kepalamu Sedayu” teriak Empu Sapu Jagad bersamaan dengan kepalan tangan yang telah didukung oleh ungkapan tenaga cadangannya mengarah kening Agung Sedayu.

Namun yang terjadi ternyata telah membuat terkejut Gajah Lawe yang masih tetap berdiri sambil melihat serangan yang dilakukan oleh kawannya itu. Sekejap pukulan yang mengandung tenaga dalam tinggi itu menerpanya, tiba-tiba Agung Sedayu seakan melempar tubuhnya sendiri ke belakang. Yang membuat terkejut Gajah Lawe sebenarnya adalah disaat Agung Sedayu yang telah berdiri tegak ternyata ditangan Agung Sedayu telah tergenggam cambuk berjuntai panjang yang menjadi senjata andalannya.

“Wira Permana” berteriak Agung Sedayu.
“Tangkap cambuk ini, gunakan saat kau memerlukannya”

Wira Permana pun tanpa membuang waktu, melompat tinggi-tinggi menyambut cambuk yang dilemparkan oleh pamannya tersebut.

Hanya membutuhkan waktu sekejap, Wira Permana telah kembali berdiri berhadap hadapan dengan Jangkung yang saat itu nampak terpana melihat apa yang telah dilakukan lawannya itu.

Wira Permana kemudian melingkarkan cambuk milik pamannya itu di pinggangnya. Tetap tanpa berucap sedikitpun, apa yang kemudian dilakukan Wira Permana telah membuat Gajah Lawe serta Empu Sapu Jagad hampir meledak jantungnya menahan amarah.

Sebenarnyalah setelah mengikatkan cambuk di pinggangnya, seakan tanpa ancang-ancang sama sekali, Wira Permana tiba-tiba melompat dengan cepatnya menyerang Jangkung yang saat itu nampak masih tetap berdiri ditempatnya.

Tata gerak ganda yang sesungguhnya bukan lagi tataran awal dari perguruan orang bercambuk telah ditrapkan oleh Wira Permana. Jari tangan kanan Wira Permana yang membentuk tusukan, sedang tangan kirinya yang nampak selalu bergerak ke atas maupun ke bawah hanya dalam sekejap akan sungguh-sungguh mendera tubuh Jangkung.

Namun sebenarnyalah Agung Sedayu yang sebelumnya telah terkejut saat melihat tata gerak yang ditrapkan Wira Permana tersebut, menjadi semakin berdebar debar saat melihat sikap Jangkung yang nampak dengan tersenyum kecil tetap berdiri menanti serangan yang mengarah kepadanya itu.
Sebenarnyalah yang terjadi kemudian benar-benar membuat Gajah Lawe serta Empu Sapu Jagad semakin berdegup kencang jantungnya.

Jangkung yang ternyata akan mengadu kekuatan, menahan serangan itu dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada tiba-tiba telah terjengkang dengan tubuhnya terseret ke belakang beberapa tindak. Agung Sedayu yang menyaksikan semua itu kemudian menarik nafas lega.

“Ternyata Wira Permana tidak ingin dikatakan licik, Ilmunya belum ia ungkapkan dengan tenaga cadangannya.”

Namun amarah Gajah Lawe serta Empu Sapu Jagad sungguh-sungguh tiada terkira besarnya menyaksikan apa yang telah dilakukan Wira Permana tersebut.

“Bertahanlah Jangkung. Hati hatilah, anak sombong itu memiliki ilmu yang mendahului sentuhan wadag” teriak Gajah Lawe.

Selesai memberi peringatan kepada Jangkung, Gajah Lawe tiba-tiba telah melompat menyerang Agung Sedayu yang nampak sedang berdiri dengan sikap menunggu serangan.
“Cepat Sapu Jagad, segera kita selesaikan Agung Sedayu ini, dengan kaki yang menghunjam ke arah dada Agung Sedayu, Gajah Lawe berteriak menyuruh Empu Sapu Jagad untuk segera bergerak.”

 

266.

Empu Sapu Jagad yang menyadari serangan terdahulunya masih begitu mudah dielakkan, akhirnya segera meningkatkan tataran tata geraknya. Sebenarnyalah kedua tangan Empu Sapu Jagad yang mengepal keras telah menyertakan tiupan angin mengarah ke muka Agung Sedayu. Dua serangan yang dilakukan oleh para raksasa olah kanuragan itu sungguh-sungguh tanpa kekangan untuk membuat Agung Sedayu hanya terluka parah tanpa menemui kematiannya.

Agung Sedayu sendiri walau sudah dapat mengira bentuk pertempuran apa yang akan terjadi, tetap merasa terkejut akan datangnya serangan yang bergelombang itu. Menyadari kalau dengan mengelak menjauhi medan pasti akan menyusul serangan-serangan yang lebih dahsyat, akhirnya saat banjir bandang serangan akan mendera tubuhnya, Agung Sedayu menjatuhkan badannya rata dengan tanah.

Sesungguhnya tata gerak Perguruan Orang Bercambuk adalah tata gerak yang seimbang dalam serangan maupun bertahan. Begitu mampu melepaskan diri dari serangan lawan lawannya, dalam waktu yang bersamaan Agung Sedayu melakukan sapuan kaki melingkar menyusur tanah.

Melihat lawannya mencoba membalas serangan di bagian bawah, Gajah Lawe serta Empu Sapu Jagad segera melontar-kan tubuh mereka keatas tinggi-tinggi.

“Semoga tata gerak yang belum lama aku kuasai ini, telah luluh dengan tata gerak yang lebih dahulu” berkata Agung Sedayu dalam hati.

Sebenarnyalah Agung Sedayu memilih dengan menjatuh-kan badannya kemudian ganti membalas menyerang bagian bawah tubuh lawan lawannya adalah sekedar untuk memancing agar lawan sungguh-sungguh menghindar dengan melompat tinggi-tinggi keatas.

Gajah Lawe dan Empu Sapu Jagad sangat terkejut saat menyadari keadaan, disaat mereka melompat tinggi-tinggi menghindari serangan kaki lawan, tiba-tiba hampir dalam waktu bersamaan Agung Sedayu telah melakukan tata gerak yang sangat rumit untuk meneruskan serangannya. Dalam keadaan yang belum mapan sama sekali, serangan Agung Sedayu yang sebenarnya sudah sangat rumit tata geraknya menjadi semakin tidak mungkin untuk dapat dihindari oleh mereka berdua.

Pukulan sisi luar telapak tangan Agung Sedayu yang tepat mengenai pinggang lawan akhirnya tak mampu dielakkan oleh Empu Sapu Jagad. Dan hampir bersamaan waktunya pula tumit kaki sebelah kiri Agung Sedayu menjadikan lambung Gajah Lawe menjadi sasarannya.

Yang terjadi selanjutnya adalah walau kedua orang pengikut perguruan semu itu sama-sama terpental namun keduanya tetap mampu berdiri tegak saat kembali menjejakkan kakinya di tanah.

Namun apa yang dilakukan Agung Sedayu itu telah menjadikan merah padam wajah Gajah Lawe maupun Empu Sapu Jagad. Mereka menyadari Agung Sedayu sengaja hanya menggunakan tenaga wadag semata dalam pukulan serta tendangannya.

Yang membuat mereka semakin tidak kuasa menahan amarahnya adalah di saat Agung Sedayu seolah olah tidak sungguh-sungguh dalam membenturkan tenaga wadagnya tersebut.

“Kau benar-benar manusia sombong Agung Sedayu” geram Gajah Lawe dengan suara yang bergetar menahan amarah yang meluap luap.

“Aku memang membutuhkan waktu lama untuk bisa membuat agak berbobot pukulanku” sambil tersenyum Agung Sedayu menyahut ucapan Gajah Lawe tersebut.

Perkataan Agung Sedayu itu serasa bagai petir keras yang menusuk telinga Gajah Lawe serta Empu Sapu Jagad.
Akhirnya tanpa berkata kata lagi, Gajah Lawe maupun Empu Sapu Jagad tiba-tiba telah mengungkap sampai tuntas tenaga cadangan yang mereka miliki.

Walau belum merambah dalam ilmu simpanannya, namun ungkapan tenaga cadangan dalam tataran puncak itu telah membuat rumput-rumput yang mereka injak menjadi hitam seolah telah hangus terbakar api.

“Bersiaplah Agung Sedayu.”

Sebenarnyalah teriakan Gajah Lawe itu bersamaan dengan saat dirinya serta Empu Sapu Jagad melompat menyerang Agung Sedayu.

Sementara itu pertempuran yang terjadi antara Wira Permana dengan Jangkung telah berlangsung dengan sengitnya. Jangkung yang telah diingatkan oleh Gajah Lawe saat ia terlempar akibat ilmu Wira Permana yang mampu mendahului wadag itu, benar-benar tidak mengekang sedikitpun kecuali untuk segera membunuh Wira Permana.
Keringat yang mulai membasahi tubuh mereka, semakin menjadikan keduanya bertambah gencar dalam melakukan serangan.

Sebenarnyalah walau Wira Permana telah cukup tinggi ilmu olah kanuragannya, akan tetapi dirinya memang belum mempunyai pengalaman sedikitpun dalam menghadapi pertempuran yang sesungguhnya.

Nampak ketika keduanya bertempur dalam jarak rapat, sering Wira Permana terkejut atas cara bertempur lawannya itu. Sementara Jangkung sendiri dari caranya bertempur ternyata telah membuktikan dirinya sungguh-sungguh telah berpengalaman luas dalam segala medan pertempuran.
Walau sebenarnya tata gerak ilmu kanuragan mereka bisa dikatakan berimbang sejauh itu, namun Wira Permana benar-benar hanya bertumpu kepada apa yang ia punya.
Seperti di saat keduanya saling menyerang serta menangkis pukulan serta tendangan, nampak Wira Permana terkadang menjadi kebingungan sendiri, ketika kerikil atau daun-daun yang tiba-tiba dilempar ke arahnya sebelum lawan menyerangnya kembali dengan serangan yang lebih cepat,
baik dengan tusukan, pukulan atau tendangan yang sebenarnya.

Bahkan terkadang apa yang dilakukan Jangkung, juga telah membuat Wira Permana tiba-tiba membatalkan serangannya.
Sebenarnyalah di saat Wira Permana baru saja terjajar ke belakang beberapa langkah dan bermaksud untuk melakukan serangan balasan, tiba-tiba Jangkung telah berteriak keras disertai tertawa yang berkepanjangan sambil berlari menjauhi arena pertempuran.

Namun setelah terlalu sering Wira Permana dibuat kebingungan, juga berulang ulang dirinya harus jatuh bangun akibat serangan lawan yang mengenainya dengan telak tanpa mampu ia hindari sama sekali, akhirnya Wira Permana sedikit demi sedikit mulai memahami keadaan.

Sebenarnyalah saat ia harus terguling-guling kembali sampai batang pohon mahoni yang harus menghentikannya, setelah kaki lawan tepat mengenai rahangnya, Wira Permana telah benar-benar mulai memahami apa yang sebenarnya telah terjadi.

Nampak Jangkung membiarkan saja Wira Permana yang baru akan bangkit kembali itu. Sesungguhnya kepercayaan diri yang sangat besar dalam diri Jangkung, setelah puluhan kali membuat jatuh bangun lawannya. Seakan tinggal dirinya saja yang berhak menentukan masih berapa lama lagi Wira Permana masih boleh untuk tetap bernafas. Bahkan Jangkung masih menyempatkan mengalihkan pandangannya ke arah kawan kawannya di arena pertempuran lain.

Pertempuran itu sendiri sudah berlangsung begitu dahsyatnya. Empu Sapu Jagad dan Gajah Lawe sudah tidak pernah terlintas sedikit pun dalam pikiran untuk mengekang tata gerak serta ilmu yang mendukungnya. Yang mereka rasakan atas apa yang dilakukan oleh Agung Sedayu sebelumnya, telah menjadikan mereka hanya berpikir untuk terus meningkatkan tatarannya, juga dengan membuka simpul-simpul semua ilmu yang mereka miliki. Yang terjadi sebenarnya adalah serangan yang datang bergulung-gulung menerjang tiada pernah ada putus.

Ilmu Empu Sapu Jagad yang bersumber dari kekuatan angin, telah menyalur dalam setiap tata geraknya.
Demikian juga dengan Gajah Lawe, sebenarnyalah udara panas selalu menyertai dalam setiap tata gerak yang ia lakukan.

Walau mereka belum sampai kepada puncak kemampuan, namun badai serangan itu seakan menerjang kemanapun Agung Sedayu akan berusaha untuk menghindar. Walau Agung Sedayu nampak masih sanggup untuk mengelak serta terkadang membalas serangan-serangan lawan, akan tetapi menjadi terkejut, saat kedua lawannya yang tiba-tiba dalam waktu sekejap telah meningkatkan tatarannya hampir ke puncak kemampuan yang juga disertai dengan mengungkap ilmu-ilmu simpanannya.

Sebagai senapati pasukan khusus yang telah mempunyai pengalaman luas dalam medan perang gelar ataupun perang tanding, Agung Sedayu dengan cepat telah bisa membuat keseimbangan pertempuran itu kembali.

Yang dilakukan pertama kali olehnya adalah dengan mengetrapkan ilmu meringankan tubuh. Dengan tubuh yang seolah tiada bobotnya itu, Agung Sedayu mulai membuat keseimbangan dengan tata gerak lawan. Serangan beruntun Empu Sapu Jagad dan Gajah yang bak gelombang pusaran panas tetap menyerang hampir ke seluruh bagian tubuh lawan.
Agung Sedayu sendiri yang juga telah menambah dengan mulai mengungkap ilmu kebalnya, tetap dengan cekatan mampu menghindar serta mengelak setiap serangan yang datang.

Akan tetapi tiba-tiba Agung Sedayu seolah telah melontarkan tubuhnya jauh kebelakang, walau sesungguhnya tusukan jari Gajah Lawe tidak akan pernah sampai mengenai bagian tubuhnya.

Sebenarnyalah Agung Sedayu membuat lompatan panjang itu karena dilihatnya Wira Permana tengah terguling guling membentur pohon Mahoni. Bagaimanapun juga ia tidak ingin terjadi apa-apa dengan keponakannya itu.

Namun Empu Sapu Jagad dan Gajah Lawe tidak pernah memberi kesempatan sedikit pun kepada Agung Sedayu.
Mereka dengan cepat kembali mengurung Agung Sedayu untuk tidak berusaha melepaskan diri lagi. Bahkan serangan mereka berdua semakin bertambah cepat dengan panas yang terasa semakin membakar udara di sekitar.

Bagi Agung Sedayu sendiri, waktu yang sekejap tadi ternyata telah cukup untuk menilai keadaan yang sebenarnya bagi Wira Permana. “Anak itu akan mampu mengimbanginya” batin Agung Sedayu.

Maka saat badai serangan yang seakan-akan hanya terlihat bagai bayang-bayang yang terus mengurung, Ternyata Agung Sedayu masih mampu untuk terus mengimbanginya. Bahkan Agung Sedayu pun juga semakin meningkatkan ilmunya pula.
Sebenarnyalah tata gerak Agung Sedayu menjadi semakin rumit dan terkadang sangat mengejutkan bagi lawan-lawannya.

Desahan tertahan akhirnya terdengar disaat tumit Agung Sedayu mengenai bahu Empu Sapu Jagad. Walau tidak begitu banyak berpengaruh karena sebelumnya Empu Sapu Jagad juga telah mengetrapkan Aji Lembu Sekilan, namun ternyata semua itu telah membuat Gajah Lawe menjadi berdebar-debar melihat kemampuan yang dimiliki oleh Agung Sedayu tersebut. Bahkan sesaat kemudian Gajah Lawe dan Empu Sapu Jagad menjadi terkejut dan keduanya harus melompat agak menjauh dari arena pertempuran.

Sebenarnyalah yang terjadi adalah disaat Empu Sapu Jagad akan kembali menyerang setelah sempat terdorong beberapa langkah ke belakang, dalam waktu yang bersamaan pula tiba-tiba terdengar suara ledakan yang menggelegar keras, dan disusul dengan ledakan-ledakan berikutnya.

Namun hanya sekejap saja mereka berdua telah mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi.  Agung Sedayu sendiri akhirnya memilih untuk tidak mengejar lawan lawannya yang melompat menjauh dari arena.

Agung Sedayu bahkan kemudian nampak tersenyum saat melihat wajah Empu Sapu Jagad dan Gajah Lawe menjadi merah padam.

Sebagai orang yang selama ini dianggap sangat penting di dalam perguruan semu, Gajah Lawe telah merasa dipermainkan oleh seorang anak muda yang sedang bermain-main dengan cambuknya.

Sebenarnyalah dalam kesempatan itu di arena pertempuran lain, nampak Wira Permana tengah memutar-mutar cambuknya di atas kepala.

“Jangkung” terdengar teriakan keras Gajah Lawe selanjutnya. “Cepat bunuh anak sombong itu. Suara cambuk itu tidak akan banyak berpengaruh terhadapmu.”

Jangkung sendiri sebenarnya lebih terkejut dari yang dirasakan oleh Empu Sapu Jagad dan Gajah Lawe. Bahkan Jangkung telah melakukan dua lompatan panjang untuk menjauh dari arena pertempuran. Ia yang sebelumnya mengira lawan telah kehilangan kemampuannya, seakan akan tidak percaya Wira Permana ternyata masih mampu menggetarkan sekitar tempat pertempuran. Ucapan Gajah Lawe ternyata belum sepenuhnya mampu mengembalikan kekuatan jiwani murid Perguruan Semu tersebut.

Gajah Lawe yang merasa sudah tidak punya waktu lagi untuk mendekati tempat Jangkung berdiri, segera berteriak memberi perintah untuk yang kedua kalinya. “Segera lemparkan tubuh lawanmu itu dengan kekuatan pusaran anginmu sekarang juga.”

Jangkung yang saat itu tengah diam termanggu mangu di dekat sebuah batu besar, tiba-tiba terkesiap saat gurunya itu kembali meneriakinya. Yang pada kenyataannya ucapan Gajah Lawe tersebut benar-benar telah menghilangkan keragu raguan dalam diri Jangkung. Apalagi saat Gajah Lawe mengatakan lawannya itu tidak akan mampu menahan ilmu simpanan yang ia miliki.

Namun disaat keyakinan Jangkung telah kembali lagi, bersamaan pula Wira Permana telah melompat cepat mendatangi Jangkung yang masih tetap berdiri ditempatnya.
Kembali ledakan keras dari cambuk Wira Permana terdengar berulang ulang.

Jangkung yang sebenarnya belum pulih benar kesadaran jiwaninya, namun perkataan Gajah Lawe telah membuatnya untuk tidak terlambat menyadari datangnya serangan Wira Permana tersebut. Bahkan dalam waktu sekejap bibir Jangkung nampak tersenyum dengan masih tetap berdiri tanpa bergerak sedikitpun kecuali kedua tangannya yang di rentangkan dengan kedua telapak tangan membuka ke depan.

Wira Permana sendiri bukan tidak menyadari akan sikap yang dilakukan oleh lawannya tersebut. Namun Wira Permana masih tetap dengan ledakan-ledakan cambuknya membuat beberapa kali lompatan semakin mendekati tempat Jangkung berdiri yang sesungguhnya sedang menanti datangnya serangan itu.

“Rasakan ilmuku ini, anak sombong” batin Jangkung dengan dibarengi senyumannya yang semakin lebar.

Sebenarnyalah Wira Permana telah membuat pertimbangan-pertimbangan yang mapan. Dan di saat ia melihat kedua tangan lawannya mulai bergerak, di saat itulah kembali ia hentakkan cambuknya menghantam udara bebas.
Yang terjadi adalah diluar dugaan, cambuk yang kali ini dihentakkan tanpa meledak itu walau tidak mengenainya, ternyata telah membuat Jangkung merasakan seakan jantungnya telah ditindih batu yang sangat besar.

Hentakkan cambuk Wira Permana yang hanya terdengar perlahan itu ternyata telah langsung menusuk ke bagian dalam tubuh Jangkung. Walau tidak menghilangkan seluruhnya atas ilmu yang akan ia lepaskan, namun Jangkung telah kehilangan waktu sekejap. Dan yang terjadi kemudian adalah Jangkung yang tidak mampu untuk menghindarkan lagi.

Akhirnya Wira Permana yang sebelumnya telah mengungkap sampai ke puncak tenaga cadangannya dalam menopang kekuatan ilmu cambuk, maka untuk yang selanjutnya ia tidak setengah-setengah lagi. Ilmu yang selama ini telah ia tempa di perguruan orang bercambuk, akhirnya ia trapkan dan sesungguhnya telah mampu luluh dengan ilmu cambuknya. Wira Permana melompat tidak terlalu tinggi, bahkan cenderung seperti sedang melayang dengan kaki yang sedikit menyentuh tanah.

Jangkung yang ternyata masih belum benar-benar terlepas dari gelombang serangan sebelumnya yang terasa menusuk nusuk jantung, akhirnya hanya dapat mencoba dengan melemparkan tubuhnya sendiri kebelakang sejauh ia mampu.

Namun, Wira Permana yang telah memperhitungkan jarak jangkau ujung cambuknya dengan sasaran, ternyata telah membuat Jangkung berteriak sangat keras bersamaan dengan saat tubuhnya melayang ke belakang.

Ujung cambuk dari hentakan sendal pancing Wira Permana ternyata telah tepat mengenai betis kiri dari kaki Jangkung.
Wira Permana tidak mengejar Jangkung yang saat itu tampak sedang bersandar pada sebuah batu besar.

Dengan tetap tanpa kehilangan kehati-hatian, Wira Permana berdiri dengan tangan kiri memegang ujung cambuk.

“Kerasukan apa anak ingusan itu” batin Jangkung sambil menekan betis kaki kirinya yang terluka seakan membentuk lubang yang terasa menembus sampai ke tulang.

Setelah beberapa saat kemudian tiba-tiba Jangkung berteriak keras meneriaki Wira Permana yang tampak masih tetap berdiri di tempatnya. “Kau tunggu apalagi anak muda, cepat bunuhlah aku.”

Berdebar debar hati Wira Permana mendengar ucapan Jangkung tersebut.

Hanya membutuhkan waktu sesaat, Wira Permana telah mampu menata perasaannya kembali. Pilihan dengan menentukan sasaran bukan pada bagian yang lemah dari tubuh lawannya, telah Wira Permana lakukan dengan pertimbangan yang mapan. Walau seandainya mau, ia yakin akan dapat melepaskan ilmu pamungkas yang mampu mendahului sentuhan wadag itu mengenai bagian tubuh lawan yang terlemah sekalipun, dan tentu akan membuat lawan akan terluka semakin parah.

“Cepat bunuhlah aku sekarang anak muda perkasa” kembali berteriak Jangkung, disaat ia nampak tengah mencoba menggerakkan tubuhnya untuk dapat duduk dengan tegak. “Lakukan dengan ilmu cambukmu yang tiada tara itu.”

Sebagai seorang yang mempunyai pengalaman luas dalam segala medan pertempuran, tentunya Jangkung telah sering menghadapi keadaan yang jauh lebih sulit sekalipun.
Teriakan-teriakan keras yang dilakukannya itu sebenarnya adalah untuk mempengaruhi jiwani Wira Permana adanya.
Disaat keragu raguan walau hanya selapis tipis terlintas dalam hati Wira Permana, tentunya akan membuat Jangkung mempunyai waktu sekejap untuk dapat membuat pertimbangan-pertimbangan yang mapan.

Sebenarnyalah disaat Jangkung melihat Wira Permana tetap tidak bergerak sama sekali, maka dengan tangan kirinya tetap menekan kuat luka yang menganga di betisnya, Jangkung merentangkan tangan kanannya perlahan seolah olah sedang berpegangan pada batu di belakangnya untuk membantu menyandarkan tubuhnya sejenak. Sesungguhnya apa yang telah dilakukan oleh Jangkung tersebut adalah sikap untuk mengungkapkan ilmu pamungkas yang sebelumnya tidak sempat ia lepaskan. Walau dengan tenaga cadangan yang jauh berkurang terbagi dengan rasa sakit di kakinya, namun Jangkung yakin sedangkal apapun ilmu pamungkasnya itu dapat ia trapkan, akan bisa sebagai penentu dari akhir pertempuran.

Akhirnya kembali Jangkung memandang Wira Permana lekat-lekat. “Larilah jika kau mampu lakukan anak muda, akan tetapi topan prahara akan terus mengejarmu” batin Jangkung.
Dan akhirnya tangan kanan yang seolah sedang berpegangan pada batu besar itu, tiba-tiba telah dihentakkan mengarah ke tempat Wira Permana berdiri.

Yang terjadi adalah tampak di depan Jangkung yang tengah duduk tersandar di batu besar, terlihat rumput-rumput dan dahan-dahan bahkan ranting-ranting kecil ikut berputar-putar terbawa oleh pusaran angin yang tiba-tiba seolah olah datang begitu saja di arena pertempuran itu. Pusaran angin yang semula nampak perlahan-lahan itu ternyata dalam waktu sesaat kemudian menjadi semakin cepat dengan meninggalkan sayup-sayup suara gemuruh terdengar.

Walau Wira Permana sendiri yang sejak semula telah dalam kehati-hatian, ternyata menjadi berdebar-debar juga disaat menyaksikan pusaran angin itu ternyata perlahan-lahan semakin membesar dengan meninggalkan suara yang bergemuruh seakan badai sungguh-sungguh telah menerjang arena pertempuran itu.

Sebenarnyalah Wira Permana tidak mau terlambat dalam menyadari keadaan sekejappun. Pilihan untuk memberi kesempatan lawan untuk menyerah ternyata tidak memberi jawaban yang sesuai dengan keinginannya, akhirnya telah membuat Wira Permana telah membulatkan hatinya untuk segera menuntaskan pertempuran itu. Tanpa menunggu waktu lagi, kembali cambuk Wira Permana telah berputar putar di atas kepalanya. Dengan mengungkap tenaga cadangan yang sungguh-sungguh telah sampai ke puncak, nyata putaran cambuk Wira Permana seakan hanya berujud bayangan awan tipis.

Setelah dalam sekejap menatap Pusaran angin yang ternyata telah bergerak pula ke arahnya, akhirnya Wira Permana meloncat tinggi-tinggi ke udara. Ungkapan tenaga cadangan yang telah menopang ilmu pamungkasnya itu, telah membuat Wira Permana sebenarnyalah tidak memerlukan jarak jangkau yang terlalu dekat. Hanya dengan satu lompatan panjang, hentakan cambuk Wira Permana telah menghantam tepat di pusat pusaran angin tersebut. Dan tidak hanya sampai di situ saja, saat pusaran angin itu seakan benar-benar terbelah, kembali hentakan sendal pancing cambuk Wira Permana membentur pusaran angin yang mulai terpecah tersebut.

Sementara Jangkung yang tetap duduk ditempatnya, terlihat sedikit terangguk angguk kepalanya, namun senyuman tipis nampak di sudut bibirnya sesaat. “Anak seusiamu ternyata telah berbekal ilmu yang tiada tara” berkata Jangkung dalam hati. Namun otakmu masih tumpul anak muda.”

Sejenak terlihat Jangkung semakin menekan kuat luka di betis kakinya, disaat mencoba untuk lebih mengungkap tenaga cadangannya sampai batas kemampuan. Namun walau pusaran angin itu semakin kencang menuju ke arah Wira Permana, nyata pusaran angin bagai terhalang oleh kekuatan yang lebih besar lagi.

Deraan cambuk dari ungkapan ilmu pamungkas Wira Permana itulah yang telah menahan terjangan pusaran angin tersebut. Kemanapun pusaran angin itu seakan terpecah dan kembali menyatu lagi, saat itu pula Wira Permana ternyata telah menghentakkan ilmu cambuknya lagi.

Sebenarnyalah walau Jangkung terlihat tetap duduk di tempat, nampak keringat seakan telah membanjiri sekujur tubuhnya. Telapak tangan yang berusaha menekan kuat luka yang menganga di betisnya, pada akhirnya tidak kuasa seterusnya untuk mencegah darah yang mulai menyusup keluar melalui sela-sela jari tangannya. “Kau memang sungguh-sungguh luar biasa anak muda” batin Jangkung saat melihat Wira Permana seolah sedang menggila dengan ilmu cambuknya itu. “Namun kau akan tetap mati, anak muda.
Saat kekuatan ilmumu mulai susut, topan praharaku yang akan ganti melemparkanmu.”

Sebenarnyalah Jangkung terus memandang Wira Permana yang seakan akan seperti sedang menggiring pusaran angin tersebut. Topan prahara yang semakin lama terlihat nampak menjauh menuju ke arah pohon-pohon di sisi selatan bulak kecil tersebut. Melihat apa yang dilakukan oleh Wira Permana tersebut, nampak kembali senyum tipis di sudut bibir Jangkung. “Kau telah menentukan tempatmu untuk mati, anak muda perkasa” berkata Jangkung dalam hati.

Namun yang terjadi selanjutnya benar-benar telah membuat Jangkung terkejut yang tiada terkira. Jangkung telah terlambat menyadari maksud dari apa yang telah dilakukan oleh lawannya.

Sebenarnyalah setelah Wira Permana menghentakkan cambuknya dua kali berturut turut sehingga pusaran angin itu seolah olah harus memerlukan waktu lebih lama untuk dapat menyatu kembali akibat terhalang rimbunnya pohon serta semak belukar. Tiba-tiba Wira Permana telah melentingkan tubuhnya, melompat ke arah tempat Jangkung berada.

Agung Sedayu yang tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada diri putra kakaknya itu, Walau dalam keadaan yang sulit karena Gajah Lawe serta Empu Sapu Jagad juga tidak ingin sama sekali melepaskan dalam sekejappun, ternyata Agung Sedayu masih sempat memusatkan nalar budinya membuka simpul unsur ilmu sorot matanya. Namun sebelum Agung Sedayu sungguh-sungguh menghentakkan ilmunya itu, tiba-tiba seseorang dengan ikat kepala yang menutupi sebagian wajahnya, nampak melompat cepat dari balik rapatnya pohon tempatnya bersembunyi. Dan hampir bersamaan waktunya pula orang itu telah melemparkan tombak pendek mengarah ke pusaran angin tersebut. Yang terjadi selanjutnya adalah, walau Wira Permana tetap terguling guling beberapa tindak, namun pusaran angin itu seolah menjadi tercerai berai disaat membentur tombak pendek yang seakan dengan tiba-tiba telah datang menghadangnya.

Akhirnya pusaran angin itu benar-benar lenyap bersamaan dengan tubuh Jangkung yang jatuh telentang.

Agung Sedayu sendiri yang harus kembali membuat lompatan panjang untuk menghindari serangan yang kembali datang menderanya, masih sempat melihat ke arah orang yang tiba-tiba datang membantu Wira Permana tersebut.

“Pangeran Pringgalaya” batin Agung Sedayu.

Sementara itu orang yang telah membantu Wira Permana yang ternyata adalah Pangeran Pringgalaya adanya, segera mendekati Wira Permana yang tengah duduk bersila mengatur pernafasan serta aliran darahnya.

Pangeran Pringgalaya membiarkan sejenak Wira Permana dalam semedinya. Pangeran Pringgalaya kemudian mendekati tubuh Jangkung yang tengah telentang dengan mulutnya yang terus merintih menahan sakit di sekujur tubuh.

Setelah menaburkan bubuk obat di sekitar luka, Pangeran Pringgalaya memandangi lekat-lekat tubuh Jangkung yang tengah memejamkan matanya tersebut.

Aku tidak mampu membayangkan seperti apa dahsyatnya ilmu cambuk itu di tangan Ki Rangga Agung Sedayu, berkata Pangeran Pringgalaya dalam hati.

“Seseorang yang pernah begitu dekat dengan ayahanda Prabu” Sejenak kemudian sambil meraih tombak pendeknya, Pangeran Pringgalaya kembali mendekati Wira Permana.

“Bagaimana keadaanmu Wira Permana?”

Setelah menganggukkan kepalanya, Wira Permana segera menjawab pertanyaan Pangeran Pringgalaya tersebut. “Tanpa kehadiran Pangeran, pasti hamba telah terhisap pusaran angin itu.”

“Ah kau terlalu merendah Wira Permana. Tanpa campur tanganku sekalipun, kau tetap akan sanggup menahan amukan topan prahara dengan ilmu cambukmu yang tiada tara itu.”

Setelah menepuk nepuk bahu Wira Permana, Pangeran Pringgalaya lantas berdiri memandang ke arah arena pertempuran Agung Sedayu, yang masih berlangsung dengan sengitnya.

Namun baru sesaat Pangeran Pringgalaya melihat jalannya pertempuran tersebut, tiba-tiba terdengar Agung Sedayu berteriak keras-keras. “Aku tidak mampu membendung terjangan angin ini Pangeran!.”

Mendengar teriakan Agung Sedayu tersebut, Pangeran Pringgalaya nampak tersenyum sambil mengangguk angguk kecil. “Sebenarnya aku yakin Ki Rangga Agung Sedayu akan mampu mengimbangi seberapapun tingginya ilmu lawan lawannya itu. Akan tetapi baiklah, mungkin ini semacam pendadaran bagiku, berkata Pangeran Pringgalaya dalam hati.”

Dan sesaat kemudian sebenarnyalah Pangeran Pringgalaya telah berada di tengah arena pertempuran. Dari ucapan yang terlontar dari bibir Agung Sedayu, Pangeran Pringgalaya telah mengerti siapa lawan yang harus dihadapinya.

Empu Sapu Jagad sendiri yang telah terbakar oleh amarah yang meluap luap, ternyata tidak menjadikannya untuk mau berpikir sejenak. Yang ada dalam benak Empu Sapu Jagad hanyalah membunuh siapapun yang mencoba melawannya. Pada akhirnya tidak dalam waktu yang lama, seakan akan dalam arena telah berlangsung pertempuran yang saling berpasangan.

Dengan tombak pendek tetap tergenggam kuat ditangan, Pangeran Pringgalaya pun segera mengetrapkan tata geraknya merambah dalam tataran tinggi.

Empu Sapu Jagad yang sudah tidak ada sama sekali kekangan dalam hatinya, semakin menghentak hentakkan serangannya. Seseorang yang dengan tiba-tiba telah berani turun untuk membantu Agung Sedayu itulah yang membuat darahnya semakin mendidih, sehingga ingin segera dihentikan lawannya itu dalam awal benturan. Tata gerak yang rumit serta beruntun datang mendera ke seluruh bagian tubuh Pangeran Pringgalaya.

Pangeran Pringgalaya yang sejak semula sudah melihat jalannya pertempuran itu, segera dapat membuat pertimbangan yang mapan. Tombak pendek ditangan Pangeran Pringgalaya seolah olah telah mampu menghisap seluruh terjangan angin yang selalu datang menyertai setiap tata gerak Empu Sapu Jagad. Bahkan saat tendangan, tusukan, atau pukulannya, tidak satupun yang mampu menyentuh tubuh lawan, benar-benar membuat Empu Sapu Jagad terkejut yang tiada terkira.

Yang terjadi kemudian nampak Empu Sapu Jagad cepat-cepat melompat menjauhi lawannya tersebut. Hampir bersamaan pula, disaat dengan begitu derasnya menggempur Agung Sedayu, tiba-tiba Gajah Lawe juga melompat menjauh setelah melihat Pangeran Pringgalaya yang seakan dengan begitu mudah menghindari semua serangan Empu Sapu Jagad.

“Mengapa berhenti ki sanak” teriak Agung Sedayu sejenak kemudian.

Gajah Lawe sejenak menatap Agung Sedayu, sebelum mengalihkan pandangannya kembali kearah Pangeran Pringgalaya.

“Ternyata kau anak dari Sutawijaya” desis Gajah Lawe dengan menatap tajam Pangeran Pringgalaya.

“Sapu Jagad, kau hadapi Agung Sedayu.” Tiba-tiba tanpa menunggu Empu Sapu Jagad menjawab, Gajah Lawe telah melompat menyerang Pangeran Pringgalaya.

Agung Sedayu serta Empu Sapu Jagad nampak sama-sama termangu mangu, bahkan saling bergeser menjauh disaat Gajah Lawe telah mulai mengetrapkan udara panas dalam tata geraknya.

Bahkan yang terlihat kemudian, sesaat serangannya akan mulai mengenai tubuh lawan, kedua tangan sampai ke pergelangan Gajah Lawe telah menjadi merah membara.

Pangeran Pringgalaya yang telah mulai mampu mengira ngira atas dendam lama Gajah Lawe tersebut, segera memutar tombaknya sebelum menyusul dengan tata geraknya untuk menahan pukulan serta tusukan Gajah Lawe yang datang susul menyusul menderanya. “Paman, apa yang sebenarnya telah terjadi, desis Wira Permana disaat telah berdiri di sebelah Agung Sedayu.”

“Mungkin tombak pendek itu yang membuat Gajah Lawe seakan memaksa Pangeran Pringgalaya untuk berperang tanding.”

“Itulah tombak pusaka Kyai Pasir Sewukir, yang dahulu sering menemani Panembahan Senapati mengembara semasa mudanya. Lihatlah Wira Permana” lanjut Agung Sedayu.
“Walau tata gerak Pangeran Pringgalaya terkesan lambat, akan tetapi seolah olah ia telah mengerti arah serangan Gajah Lawe.”

“Benar Paman, belum ada setipis apapun yang mampu mengenai tubuh Pangeran Pringgalaya.”

Sesungguhnya dalam waktu sekejap pertempuran itu telah berlangsung dengan begitu dahsyatnya. Baik Gajah Lawe maupun Pangeran Pringgalaya sama-sama semakin meningkatkan kemampuannya. Ilmu Gajah Lawe yang kebanyakan bersumber dari unsur api, nampak terlihat jelas di arena pertempuran. Rumput-rumput nampak mengepulkan asap saat terinjak kaki Gajah Lawe. Juga dahan-dahan yang harus luruh hangus disaat menyentuh udara panas tersebut.
Pangeran Pringgalaya sendiri ternyata telah pula mengungkap tirai aji tameng Waja, di samping dengan semakin meningkat-kan daya tahan tubuhnya.

Nampak terlihat keberadaan tombak pusaka ditangannya telah membantu Pangeran Pringgalaya dalam menangkal terjangan hawa panas yang semakin menjadi jadi itu.
Ternyata udara panas itu telah membentur dinginnya udara yang seakan akan telah memancar dari tombak pusaka Pangeran Pringgalaya.

Sebenarnyalah pertempuran itu semakin lama telah mulai merambah dalam puncak tata gerak mereka. Serangan Gajah Lawe yang terlihat kemudian hanya berupa bayang-bayang yang terus menyambar kemanapun Pangeran Pringgalaya bergerak.

Pangeran Pringgalaya sendiri walau terkadang tetap melayani kecepatan gerak lawan, namun yang sering dilakukan kemudian adalah diam sambil menunggu datangnya serangan ,yang pada akhirnya ia pun akan membenturkan dengan kekuatan wadagnya.

Terlihat Empu Sapu Jagad yang berdiri semakin jauh dari arena pertempuran, menjadi berdebar debar saat melihat Gajah Lawe terhuyung-huyung beberapa tindak setelah serangan kakinya membentur tangan Pangeran Pringgalaya yang menyilang di depan dada.

Yang akhirnya pada benturan-benturan selanjutnya nampak jelas terlihat, setelah keduanya sama-sama merambah dalam puncak kemampuannya ternyata tata gerak Gajah lawe masih selapis di bawah Pangeran Pringgalaya. Walau Pangeran Pringgalaya terkadang harus surut beberapa langkah, namun yang terjadi pada Gajah Lawe ternyata lebih sulit lagi.

Menghadapi cara Pangeran Pringgalaya dalam bertempur itu membuat Gajah Lawe sering terhuyung-huyung bahkan terkadang harus terguling guling di tanah. Bahkan di dalam satu kesempatan disaat Pangeran Pringgalaya surut kebelakang serta Gajah Lawe kemudian cepat-cepat mengejar dengan menghentakkan tata geraknya dengan ditopang puncak ilmu meringankan tubuh, ternyata Pangeran Pringgalaya dengan penilaian yang matang lebih dulu mampu menyusupkan telapak tangannya tepat mengenai dada lawan.
Pukulan yang tidak mampu dihindarkan itu telah membuat Gajah Lawe terlempar jauh terguling guling beberapa saat.
Empu Sapu Jagad sendiri semakin berdebar debar melihat jalannya pertempuran itu.

Namun sebenarnyalah Empu Sapu Jagad sambil menyaksikan pertempuran yang sedang berlangsung itu, telah sedikit banyak mampu menilai keadaan serta kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Apalagi disaat melihat Gajah Lawe harus mengalami keadaan yang lebih sulit itu, maka Empu Sapu Jagad telah sungguh-sungguh mampu membuat pertimbangan-pertimbangan yang mapan.

Akhirnya disaat melihat Gajah Lawe yang sudah mampu berdiri itu, ternyata telah membuat gerakan-gerakan khusus, Empu Sapu Jagad cepat-cepat mengambil sesuatu dari balik pakaiannya. Ia mengerti apa yang dilakukan oleh kawannya itu adalah ungkapan untuk mengetrapkan ilmu pamungkasnya,
Namun Empu Sapu Jagad yang telah mampu menilai keadaan, baik kemampuan Pangeran Pringgalaya yang ternyata lebih tinggi dari Gajah Lawe sendiri, juga kekuatan yang lain yang ada pada diri Agung Sedayu maupun Wira Permana,
membuat dirinya tidak ingin terkubur sia-sia seandainya terus memaksa untuk bertempur.

Sementara itu begitu melihat apa yang dilakukan oleh Gajah Lawe selanjutnya, Pangeran Pringgalaya tidak ingin terlambat dalam sekejappun. Sesaat kemudian Pangeran Pringgalaya segera memusatkan nalar budinya. Dengan kedua telapak tangan saling berhadapan menyilang di depan dada, sebenarnyalah Pangeran Pringgalaya telah bersiap untuk membenturkan ilmu pamungkasnya.

Agung Sedayu yang berdiri agak jauh di sebelah kanan Pangeran Pringgalaya, menjadi terkesiap disaat melihat sikap dari Gajah Lawe. “Lebur Saketi” batin Agung Sedayu.
“Ternyata seperti yang dahulu pernah paman guru katakan, ilmu-ilmu itu telah menyatu dalam tubuh perguruan semu.”

Namun sesaat kemudian setelah menyaksikan apa yang telah dilakukan juga oleh Pangeran Pringgalaya, walau pada awalnya sempat terkejut pula dalam sesaat, akan tetapi akhirnya Agung Sedayu bisa bernafas lega.

“Wira Permana” bisik Agung Sedayu sambil menggamit lengan Wira Permana yang berdiri disebelahnya. “Ungkap seluruh tenaga cadangan yang kau punya, salurkan untuk memperkuat daya tahan tubuhmu.”

Wira Permana pun menganggukkan kepalanya.
Tanpa bertanya lebih lanjut lagi, sebenarnyalah Wira Permana segera mengerti maksud dari perkataan pamannya itu. “Pasti yang akan terjadi adalah benturan dari dua ilmu yang luar biasa dahsyatnya” berkata Wira Permana dalam hati.

“Ketahuilah Wira Permana” berkata Agung Sedayu selanjutnya. “Sikap yang dilakukan oleh Pangeran Pringgalaya itu tidak berbeda dengan yang Panembahan Senapati pernah lakukan. Beruntung saat itu Pangeran Benawa segera hadir, yang akhirnya membuat Panembahan Senapati tidak benar-benar menghentakkan ilmu pamungkasnya yang tiada tara itu.”

Sebenarnyalah Wira Permana sungguh-sungguh telah memperkuat daya tahan tubuhnya sampai ke puncak kemampuan. Bahkan Agung Sedayu kemudian telah menyuruhnya untuk bergeser sedikit di sebelah belakang dari tempat pamannya itu berdiri.

Namun yang kemudian terjadi telah membuat Agung Sedayu serta Wira Permana harus memerlukan waktu sesaat untuk menyadarinya. Begitu juga bagi kedua orang yang sedang bertempur tersebut.

Sebenarnyalah disaat Gajah Lawe telah menarik kedua tangannya kebelakang untuk segera menghentakkan ilmu pamungkasnya, dalam waktu yang bersamaan tiba-tiba sambil melompat tinggi, Empu Sapu Jagad telah melemparkan butiran-butiran berwarna hitam ke tengah arena pertempuran itu.

Tiba-tiba saja keadaan yang semula tampak terang benderang itu hanya dalam waktu sekejap seakan-akan telah tertutup oleh kabut hitam yang sangat tebal. Walau Agung Sedayu maupun Pangeran Pringgalaya dengan cepat telah mengetrapkan aji sapta pandulu maupun aji sapta panggraita, namun tindakan mereka berdua itu sungguh-sungguh itu telah terlambat sekejap.

Hanya Gajah Lawe yang kebetulan berdiri lebih dekat dengan Empu Sapu Jagad, akhirnya segera dapat mengerti apa yang sesungguhnya diinginkan oleh kawannya itu. Walau amarah Gajah Lawe semakin menjadi jadi terhadap Empu Jagad yang seolah telah mengganggu jalannya pertempuran , namun pada akhirnya dengan terpaksa ia mengikuti juga kemauan kawannya itu. Satu teriakan panjang akhirnya terdengar, walau selanjutnya teriakan itu tidak pernah terdengar lagi.

Menyaksikan kejadian yang datang tiba-tiba itu, sesung-guhnya telah membuat Wira Permana sedikit melupakan pesan Agung Sedayu untuk selalu berdiri didekatnya. Akhirnya ledakkan cambuk Wira Permana yang benar-benar memekak-kan telinga seakan menjawab suara teriakan panjang yang hanya terdengar sekejap tersebut.

Tidak hanya sampai disitu, Wira Permana kembali dengan berulang-ulang menghentakkan cambuknya ke arah gumpalan kabut yang menutupi pandangannya itu.

“Hentikan Wira Permana” akhirnya berteriak Agung Sedayu. “Cambuk itu tidak akan menghilangkan pekatnya kabut. Biarlah Pangeran Pringgalaya yang akan segera menyingkirkannya.”

Mendengar perkataan Agung Sedayu itu, Pangeran Pringgalaya sendiri segera berjalan mendekati Agung Sedayu dan Wira Permana.

“Mereka telah melarikan diri, Ki Rangga. Biarlah kabut hitam itu hilang dengan sendirinya” berkata Pangeran Pringgalaya dengan tertawa perlahan.

Namun Pangeran Pringgalaya tiba-tiba mengerutkan kening disaat Agung Sedayu menyahut ucapannya. “Apakah murid-murid Perguruan Semu itu mengira Mataram akan bertindak sewenang-wenang terhadap para tawanan, hingga mereka telah sampai hati menghabisi kawannya sendiri.”

Dalam keterkejutannya Pangeran Pringgalaya segera menarik tombak pendeknya, segera ia acungkan ke arah kabut hitam itu. Terlihat dengan perlahan lahan kabut hitam itu seakan akan mengalir terhisap tombak pusaka Pangeran Pringgalaya. Cahaya terang matahari pun dalam waktu sekejap telah kembali seperti sediakala, menerangi bulak kecil yang telah kembali sunyi itu.

“Aji Sapta Pandulu ku tidak ada sekuku irengnya Ki Rangga Agung Sedayu” batin Pangeran Pringgalaya disaat memandang tubuh Jangkung yang tampak terbaring menelungkup dengan kaki melintang di atas batu.

Sementara itu Wira Permana hanya diam termangu mangu, sambil sekali kali dengan bergantian memandang wajah Agung Sedayu dan tubuh yang terbujur itu. Akhirnya Wira Permana mengikuti Agung Sedayu dan Pangeran Pringgalaya yang tengah melangkah mendekati tubuh murid Perguruan Semu tersebut.

Sambil berjongkok Agung Sedayu lalu memegang pergelangan tangan dan memandang dada Jangkung yang tampak menghitam dengan pakaian yang telah hangus terbakar.

“Ternyata Lebur Saketi itu yang telah membunuh kawannya ini” berkata Agung Sedayu dalam hati.

“Kita selenggarakan dahulu murid Perguruan Semu ini, sebelum melanjutkan perjalanan Pangeran.”

“Baiklah Ki Rangga, mari kita selenggarakan sebagaimana mestinya.”

Wira Permana sendiri setelah memandang sekeliling, segera mengangkat tubuh Jangkung, kemudian dibawanya tubuh yang sudah tidak bernyawa itu ke sisi selatan yang ternyata ada banyak batu-batu besar disana.

Akhirnya Wira Permana dengan dibantu Agung Sedayu dan Pangeran Pringgalaya, segera menguburkan tubuh Jangkung dengan sebagaimana mestinya.

Wira Permana pun juga telah memberi tanda pada makam itu, untuk memudahkan apabila suatu saat ada anggota keluarganya yang ingin mengetahui dimana letak makam Jangkung tersebut.

“Aku kira Pangeran sudah sampai di tanah perdikan”, berkata Agung Sedayu disaat mereka bertiga tengah berjalan meninggalkan makam Jangkung tersebut.

“Seharusnya aku memang sudah berada di Menoreh Ki Rangga” jawab Pangeran Pringgalaya dengan menganggukkan kepalanya. “Akan tetapi disaat aku yang juga sama dengan memilih untuk melewati jalur utara ini, di tepian barat Kali Praga dengan tidak sengaja aku bertemu dengan orang yang dipanggil dengan nama Empu Sapu Jagad itu. Aku merasa dari caranya menunggu rakit yang tidak ada kesan tergesa-gesa, juga dengan caranya yang sigap dalam membantu membawakan barang-barang milik para penumpang saat akan menaiki rakit, telah membawaku memilih untuk ikut menyeberang kembali ke tepian timur kali Praga.”

“Akhirnya Pangeran Pringgalaya datang pada waktu yang tepat, walaupun aku rasa Pangeran terlalu lama dalam menyaksikan kami berkelahi terlebih dahulu”, sahut Agung Sedayu dengan tertawa perlahan.

“Ah, aku hanya tidak ingin, dalam terkejutnya Wira Permana tiba-tiba menghentakkan kembali ilmu cambuknya yang dahsyat itu ke tubuh Jangkung yang sudah tidak berdaya.”

Wira Permana akhirnya menyahut perkataan Pangeran Pringgalaya. Katanya, “Waktu itu hamba memang tidak mengira pusaran angin itu ternyata masih mampu mengejarku kembali , Pangeran.”

“Dan setelah lama tidak melihat wujudnya, akhirnya hari ini aku diberi kesempatan untuk melihat kembali tombak pendek yang dulu sering di bawa Panembahan Senapati di masa mudanya” desis Agung Sedayu terlebih dahulu sebelum Pangeran Pringgalaya bicara kembali.

“Eyang Patih yang menyuruhku untuk mengenal tombak ini, Ki Rangga.”

Akhirnya mereka bertiga semakin cepat dalam berjalan melewati jalur sebelah utara yang sudah jarang dilewati oleh penduduk sekitar itu.

Namun dalam pada itu di Tanah Perdikan sendiri, Ki Gede Menoreh mulai dalam langkah-langkah untuk membuat gelar khusus. Pertimbangan atas laporan dari utusan pasukan khusus serta tentang tugas yang sedang diemban oleh Serat Manitis, telah meyakinkan Ki Gede untuk menyamarkan persiapan dari para pengawal.

Sebenarnyalah keadaan di tanah perdikan Menoreh terlihat masih seperti hari-hari biasa. Para penduduk pun tetap pada kesibukannya sendiri-sendiri, walau ada di antara mereka yang sesungguhnya sudah mengerti akan adanya prajurit segelar sepapan yang setiap saat telah siap untuk menyerang kampung halamannya.

Namun, Ki Gede Menoreh telah membuat pertimbangan-pertimbangan yang mapan. Hanya kepada mereka yang mampu menjaga penyamaran dengan baik serta tidak mudah menjadi goncang hatinya, yang mendapat kepercayaan untuk mengetahui apa yang sesungguhnya sedang terjadi di Menoreh.

Akhirnya, yang terlihat benar-benar Menoreh seperti di saat tidak ada gejolak sama sekali. Di rumah Agung Sedayu pun keadaannya tetap berjalan seperti hari-hari biasa, walau sebenarnya baik Ki Jayaraga maupun Rara Suhita telah mengetahui bahaya yang sedang mengancam tersebut.
Akan tetapi keduanya, setelah meminta pertimbangan dari Ki Gede, akhirnya memilih untuk mengulur waktu terlebih dahulu untuk tidak memberitahukan kepada Sekar Mirah dan yang lain, tentunya dengan tetap selalu melihat perkembangan yang terjadi selanjutnya.

Sebenarnyalah, walau panggraita Glagah Putih terkadang masih merasakan adanya sesuatu yang tidak sewajarnya, namun akhirnya ia dan yang lainnya tetap dapat menjalankan laku khususnya dengan mapan.

Sukra sendiri walau lebih banyak di dalam sanggar, ia tetap tidak meninggalkan sama sekali pekerjaannya sehari-hari.
Namun panggraita Ki Jayaraga yang terkadang ikut menuntun Sukra dalam lakunya, sebenarnyalah mampu merasakan ada sesuatu yang tidak wajar tengah terjadi dalam diri Sukra.
Juga dengan seringnya disaat tengah malam melihat Sukra yang menyempatkan hanya untuk berdiri di halaman rumah, telah membuat Ki Jayaraga semakin yakin akan penilaiannya tersebut.

“Apakah aku telah deksura, walau wajah-wajah itu hadir dengan sendirinya.  Sudah cukup untuk malam ini” batin Sukra sambil beranjak melangkahkan kakinya menuju ke sanggar kembali.

Namun hanya beberapa tindak, langkah Sukra telah terhenti. Nampak Sukra tertegun sejenak disaat melihat Ki Jayaraga tengah berdiri di samping Pendapa rumah.
Sukra semakin tidak mengerti setelah melihat Ki Jayaraga tengah senyum-senyum sambil memandang kepadanya. Beberapa saat Sukra masih termangu mangu sejenak sebelum akhirnya Ki Jayaraga berjalan mendekat.

“Kau ternyata senang juga menikmati keindahan langit” gumam Ki Jayaraga sambil menepuk nepuk pundak Sukra.

Ternyata Sukra yang masih belum mampu menghilangkan terkejutnya setelah Ki Jayaraga mengetahui apa yang baru saja dikerjakannya itu, masih tetap diam tanpa mampu berucap sepatah katapun juga.

“Sukra” akhirnya Ki Jayaraga yang kembali berbicara.
“Sampai sekarang pun kadang-kadang aku juga masih menyempatkan untuk memandang langit, yang menurutku nampak perkasa itu. Akan tetapi mungkin orang lain bisa saja melihat langit sebagai hamparan kelembutan. Bahkan ada orang yang menjadi tentram hatinya setelah memandangnya. Walau harus ada titik-titik air di sudut matanya, namun mengertilah Sukra, air mata itu adalah wujud lahir dari ketentraman itu sendiri.”

“Aku tidak mengerti semua yang Ki Jayaraga katakan” akhirnya dengan perlahan Sukra menyahut juga perkataan Ki Jayaraga tersebut.

Ki Jayaraga tiba-tiba tertawa perlahan mendengar apa yang di ucapkan Sukra tersebut. “Siapa yang menyuruhmu untuk mengerti” lanjut Ki Jayaraga dengan semakin tidak mampu menahan tertawanya. “Aku sudah mengenal sifatmu Sukra.
Apakah kau lupa kita seharian selalu bermain main dengan lumpur, tentunya sambil berharap Nyai Sekar Mirah atau Nyi Rara Wulan tidak terlambat datang mengantarkan kiriman makanan serta minuman untuk kita.”

Sukra sendiri tersenyum mendengar perkataan Ki Jayaraga tersebut.

“Aku sudah mengira ngira dan aku yakin benar, tentang apa yang sedang kau rasakan akhir-akhir ini. Ternyata jalan yang kau pilih sudah benar, Sukra.”

Akhirnya Ki Jayaraga memegang lengan Sukra untuk mengajaknya menuju ke belakang rumah tempat di mana sanggar itu berada.

Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba berdesir dada Ki Jayaraga. Sejenak kemudian, ia memalingkan wajahnya ke arah Sukra, tetapi nampak wajah Sukra tetap seperti biasa tanpa ada terlihat garis-garis kegelisahan disana. Walau hanya sesaat, Ki Jayaraga telah memikirkan beberapa kemungkinan yang dapat terjadi.

“Apakah sudah lama orang itu membayangi rumah ini” berkata Ki Jayaraga dalam hati. “Masih beruntung aku segera dapat menguasai rasa terkejutku. Dan beruntung juga ternyata Sukra tidak melihat kehadirannya.”

Namun, yang terjadi selanjutnya telah membuat Ki Jayaraga kembali menjadi terkesiap sejenak, disaat tanpa pernah diperkirakan sebelumnya, ia mendengar suara yang telah begitu dikenalnya lewat isyarat aji pameling.

“Sukra, kau masuk ke dalam sanggar terlebih dahulu, nanti aku akan segera menyusulmu.”

“Apakah Ki Jayaraga sudah mengantuk” jawab Sukra dengan tertawa perlahan.

Ki Jayaraga pun tertawa sejenak mendengar jawaban Sukra tersebut. “Walau aku sudah terlalu tua tetapi tidak mau kalah dengan kau Sukra.”

“Baik, nanti setelah selesai aku menjalani laku, kita berlomba dua hari dua malam untuk tidak tidur sama sekali, Kyai.”

Sebenarnyalah setelah sejenak sama-sama tertawa, akhirnya Sukra segera bergegas terlebih dahulu ke halaman belakang.

Setelah yakin Sukra masuk ke dalam sanggarnya, Ki Jayaraga pun segera berjalan ke luar pekarangan melalui pintu pagar samping rumah. Hanya berjalan beberapa langkah disaat sampai di dekat pohon jambu sukun, Ki Jayaraga menghentikan langkahnya tepat di depan seseorang yang memang sedang menunggu kehadirannya.

“Maafkan aku Ki Jayaraga, ini kulakukan atas pertimbangan Pangeran Pringgalaya dana para senapati lainnya. Itu semua karena Ki Jayaraga telah mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.”

“Benar Ki Rangga, Secara tidak sengaja aku beserta tamu kita Nimas Rara Suhita telah mengerti kalau sesungguhnya tanah perdikan sedang di bayangi kekuatan segelar sepapan dari para prajurit Panaraga.”

“Ternyata Menoreh telah dinilai sebagai salah satu benteng kuat Mataram. Sehingga Perguruan Semu ingin mengurangi kekuatan Mataram dengan memangkas ranting rantingnya terlebih dahulu.”

“Apakah Ki Jayaraga telah bertemu Serat Manitis” bertanya orang yang memberi isyarat melalui aji pameling kepada Ki Jayaraga yang ternyata adalah Agung Sedayu adanya.

“Aku tidak mengira sama sekali ternyata Perguruan Windujati memiliki murid yang lain” jawab Ki Jayaraga perlahan. “Anak yang masih sangat muda itu ternyata berilmu seakan tiada batasnya, Ki Rangga.”

“Suatu saat akan aku ceritakan tentang siapa sebenarnya serta asal usul Serat Manitis itu Kyai.”

“Walau aku tidak sempat melihatnya, akan tetapi dari apa yang telah Ki Gede Menoreh ceritakan malam itu, Angger Serat Manitis telah mengetrapkan ilmu yang sama dengan yang Ki Rangga punyai, ilmu yang bersumber dari unsur air itu” gumam Ki Jayaraga.

“Kyai” berkata Agung Sedayu setelah terdiam sejenak.
“Sebenarnya maksudku pulang sebentar ini hanyalah untuk menanyakan tentang laku yang sudah hampir dua pekan dijalani itu. Biarlah nanti Sekar Mirah menunda mesu dirinya, seandainya dalam waktu sepekan ini, ternyata pasukan kuat di hutan itu akan segera menyerang tanah perdikan.”

“Ki Rangga, ternyata semua penghuni rumah kita ini menjalani laku yang agak berbeda dari yang biasa sama-sama kita lakukan. Bahkan Nyai Sekar Mirah sendiri juga tidak menjalankannya seperti kebiasaannya dengan memilih waktu yang lebih lama itu.”

Walau pada awalnya nampak terkejut mendengar perkataan Ki Jayaraga tersebut, namun sambil menarik nafas dalam-dalam, Agung Sedayu akhirnya tersenyum gembira.
“Pasti Ki Jayaraga sangat lelah harus mengurusi Sekar Mirah dan yang lainnya dalam menjalani laku yang sangat berat itu.”

Ki Jayaraga sejenak tertawa perlahan. Katanya, “Mereka orang-orang yang luar biasa Ki Rangga. Terkadang walau aku memang masih menyempatkan melihat mereka, namun waktuku lebih banyak aku tujukan untuk Sukra.”

“Anak itu sudah saatnya menjadi bagian dari para pengawal, Kyai. Dan tidak hanya sebagai pengawal di garis belakang, akan tetapi aku yakin dengan apa yang sekarang telah dipunyai oleh Sukra, aku rasa ia akan berdiri di pucuk terdepan pasukan pengawal tanah perdikan. Apalagi Kyai Jayaraga ternyata telah membimbingnya juga dalam menjalani laku.”

“Ternyata anak itu juga mulai menginjak dewasa Ki Rangga, sahut Ki Jayaraga dengan tertawa perlahan.”

Agung Sedayu sendiri sejenak terpana, sebelum akhirnya ikut tersenyum juga saat mendengar perkataan Ki Jayaraga tersebut.

“Akan tetapi aku merasakan ada yang tidak sebagaimana mestinya” lanjut Ki Jayaraga kemudian. “Mungkin ini hanya karena tumpulnya panggraitaku, sehingga aku menilai seperti itu.”

Walau Agung Sedayu sendiri sebenarnya agak terkejut akan cerita tentang Sukra itu, namun ternyata Agung Sedayu hanya diam tanpa berucap sepatah katapun, menunggu Ki Jayaraga melanjutkan bicaranya kembali.

“Seakan didepan Sukra tidak hanya terbentang satu jalan yang hendak dilaluinya.”

Tiba-tiba Agung Sedayu hampir tidak mampu menahan tertawanya disaat mendengar apa yang kemudian Ki Jayaraga katakan tersebut.

Walau sebenarnya ia ucapkan dengan sungguh-sungguh namun Ki Jayaraga akhirnya ikut tertawa juga atas apa yang baru saja ia katakan itu.

“Ternyata aku yang telah menjadi kanak-kanak, Ki Rangga.”

“Bukan seperti itu Kyai” jawab Agung Sedayu masih dengan tersenyum.

Namun Ki Jayaraga nampaknya terlalu cemas seandainya saja Sukra nantinya akan salah jalan. Mungkin itu semua disebabkan Ki Jayaraga yang sebenarnya telah menganggap Sukra sebagai murid.

“Ah, aku rasa bukan aku saja gurunya” sahut Ki Jayaraga dengan menahan tertawanya.

Ternyata dalam diri Sukra telah banyak warna dari berbagai perguruan, terutama ciri perguruan orang bercambuk yang nampak begitu nyata dalam setiap tata geraknya.”

Sebenarnyalah mereka berdua masih bercakap sepatah dua patah kata. Ki Jayaraga juga berkesempatan untuk memberita-hukan tentang keberadaan anggota baru di rumah mereka.
Walau sesungguhnya Agung Sedayu pun sudah mengetahui hal itu namun setelah Ki Jayaraga menceritakan jati diri sebenarnya tentang Rara Suhita, seakan-akan Agung Sedayu merasa benar-benar sedang bermimpi.

Sesaat Ki Jayaraga menunggu Agung Sedayu untuk berucap memberi pertimbangan akan kehadiran Rara Suhita tersebut.
Akan tetapi tiba-tiba Ki Jayaraga terkejut disaat ia merasakan adanya seseorang yang sedang mengawasi mereka berdua.
“Apakah Ki Rangga merasakan sesuatu, akhirnya dengan sangat perlahan Ki Jayaraga membisikkannya kepada Agung Sedayu.”

Namun Ki Jayaraga menjadi heran disaat melihat Agung Sedayu ternyata tersenyum mendengar perkataannya itu.
“Aku bersama Serat Manitis, Kyai.”

“Ah, ternyata dia. Seseorang yang masih terlalu muda untuk dapat mempunyai ilmu yang tiada duanya itu.”

Agung Sedayu nampak tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

“Baiklah Kyai, Aku san Serat Manitis akan mencoba untuk mendekat ke tempat perkemahan itu dahulu, sebelum aku pulang ke barak pasukan khusus. Walau sebenarnya aku masih ingin mendengar Ki Jayaraga bercerita tentang Nimas Rara Suhita itu.”

“Baiklah Ki Rangga, sambil tertawa perlahan menjawabnya.
Walau sesungguhnya rumah Ki Rangga hanya selangkah jaraknya dengan barak pasukan khusus.”

Akhirnya, Agung Sedayu pun segera bergegas meninggalkan pekarangan rumahnya itu. Hanya beberapa langkah setelah membelok ke kiri, Agung Sedayu berhenti sejenak.

“Mari kita berangkat sekarang Serat Manitis.”

“Baik Kakang.”

“Kita menyusuri sisi selatan” berkata Agung Sedayu setelah beberapa lama berjalan.

Serat Manitis hanya mengangguk kecil sambil terus mengikuti Agung Sedayu mengayunkan langkah kaki.

Malam semakin larut, bulan dan bintang-bintang yang mulai tertutup gumpalan awan tebal, menjadikan malam itu menjadi semakin gelap gulita. Oleh karena itu,
Agung Sedayu dan Serat Manitis seakan berlomba dengan semakin mempercepat langkah kakinya, meskipun demikian mereka tetap tidak pernah kehilangan kewaspadaan sedikitpun.

Meskipun tidak membuka simpul tenaga cadangan, dengan hanya menggunakan tenaga luar pun mereka tetap mampu berjalan dengan cepat. Kaki-kaki mereka berdua terlihat begitu ringan saat harus meloncati parit-parit atau pematang-pematang yang saling menyilang satu sama lain.
Bahkan ketika melewati gerumbul-gerumbul perdu yang penuh dengan duri. Dengan sekali hentakan, Agung Sedayu dan Serat Manitis dengan mudahnya melompati gerumbul yang memanjang itu.

Akhirnya, setelah melewati sungai kecil, sebuah bulak panjang terhampar di hadapan mereka. Bulak yang diapit oleh sungai kecil yang baru saja mereka seberangi itu.
Seolah olah seperti sudah berjanji sebelumnya, Agung Sedayu dan Serat Manitis bersamaan menghentikan langkahnya.

“Kakang, bukankah pohon jati kembar di depan sana itu adalah yang menjadi pintu masuk menuju ke perkemahan prajurit Mataram” berkata perlahan Serat Manitis.

“Benar, Serat Manitis. Dalam suatu pertempuran, sisi selatan ini memang bisa menjadi garis pertahanan yang kuat.
Selain itu, di saat para prajurit akan keluar menyerang, medan selatan Menoreh ini juga bisa melindungi gerak mereka dengan adanya dua sungai yang mengapit bulak panjang ini” jawab Agung Sedayu sambil berganti ganti memandangi sungai di kanan kirinya itu.

“Bulak memanjang ini ternyata menjadi bagian paling penting Kakang” sahut Serat Manitis sambil memandang wajah kakak seperguruannya tersebut.

Agung sedayu tersenyum dengan menepuk nepuk bahu Serat Manitis. “Ternyata paman guru juga telah memberimu ilmu tentang perang, Serat Manitis. Benar seperti yang kau katakan itu, siapa yang mampu menguasai bulak ini maka dengan sendirinya telah mempersempit ruang gerak pasukan yang berada di sisi selatan sungai. Namun, untuk mencapai bulak ini pun juga bukan pekerjaan yang mudah, bisa saja sungai satunya yang mengapit bulak ini yang lebih terjal itu, akan menjebak mereka sendiri.”

“Apakah menurut Kakang Agung Sedayu, keberadaan pasukan Mataram itu telah mereka ketahui” bertanya Serat Manitis saat mereka berdua telah mulai berjalan kembali.

“Aku kira itu tidak menjadi masalah, Serat Manitis.”

“Maksud kakang?” Agak terkejut Serat Manitis dengan memandang sejenak wajah kakak seperguruannya itu.

“Andai mereka belum menyadari tentang keberadaan prajurit-prajurit Mataram yang berkemah di sisi selatan tanah perdikan ini, tentunya mereka akan menjadi terkejut, di saat mereka benar-benar telah beradu dada dengan para pengawal tanah Perdikan, tiba-tiba datang pasukan lain yang juga untuk menghancurkan mereka.”

Agung Sedayu sekilas memegang lengan Serat Manitis untuk mengajaknya berjalan lebih cepat lagi. Serat Manitis pun akhirnya juga mencoba untuk selalu berjalan di sebelah Agung Sedayu.

“Seandainya mereka sudah mengetahui kehadirannya, kakang?”

“Apakah kau ingin perang ini tetap terjadi?” balik bertanya Agung Sedayu dengan tertawa perlahan.

“Aku tetap ingin perang ini tidak pernah terjadi, Kakang.”

“Baiklah semoga saja prajurit-prajurit sandi Panaraga benar-benar telah mengetahui kehadiran pasukan Mataram itu” sekilas Agung Sedayu dengan tersenyum menatap wajah Serat Manitis.

Terpaksa Serat Manitis menahan untuk bertanya lagi, di saat Agung Sedayu tiba-tiba telah semakin cepat langkah-langkah kakinya hingga membuatnya agak tertinggal di belakang.

Sebenarnyalah kemudian dua orang itu masing-masing telah mengetrapkan ilmu meringankan tubuhnya. Seakan akan kini tubuh mereka hanya berupa bayang-bayang yang bergerak sangat cepat. Dengan tubuh yang seolah olah tidak berbobot lagi, telah membuat kedua kaki mereka hanya sesekali saja menyentuh tanah.

Akhirnya tidak memerlukan waktu yang lama, dua orang itu telah mulai mendekati tempat yang mereka tuju. Di kaki bukit kecil yang terdapat banyak batu-batu besar, Agung Sedayu dan Serat Manitis akhirnya menghentikan langkah.
Awan yang sejak semula telah begitu tebalnya menutup langit malam, perlahan lahan mulai berubah menghitam.

“Lebih hati-hati lagi, Manitis,” bisik Agung Sedayu.
“Bukankah di sekitar hutan di atas bukit kecil ini letaknya perkemahan itu? Buka semua simpul ilmu batinmu.”

Sesaat kemudian mereka berdua telah berjalan kembali.
Mereka menyadari adanya kemungkinan bahwa para prajurit Panaraga tentu telah menyebar para prajurit sandi untuk menjaga akan kemungkinan adanya penyusup, maka Agung Sedayu serta Serat Manitis nyaris berjalan setapak demi setapak.

Sebenarnyalah, apa yang tengah mereka pikirkan tersebut benar-benar terjadi. Tidak hanya satu atau dua, tetapi puluhan prajurit sandi mengawasi setiap jengkal tanah seakan akan selapis tipis pun tidak ada yang mampu menembusnya. Namun Agung Sedayu dan Serat Manitis bukanlah orang kebanyakan. Aji Sapta Pandulu dan Sapta Pangrungu nyata membuat dua orang saudara seperguruan itu seolah olah yang ganti membayangi para prajurit sandi tersebut. Dengan mengetrapkan ilmu menyerap bunyi di sekitar, membuat tidak ada desiran selembut apapun yang mereka tinggalkan.

Mereka berdua semakin mendekati perkemahan para prajurit Panaraga tersebut. Semakin kedalam, maka semakin lebat pula gerumbul yang mereka temui.

Namun disaat Serat Manitis akan menyibak gerumbul yang menghalanginya, tiba-tiba Agung Sedayu memegang lengannya dengan kuat. Meskipun agak terkejut namun Serat Manitis cepat mengerti maksud dari kakak seperguruannya itu.

“Ada apa kakang?” bertanya Serat Manitis dengan suara yang sangat perlahan.

Agung Sedayu masih tetap diam belum menjawab pertanyaan Serat Manitis. Sebenarnyalah dada Agung Sedayu masih berdesir atas kejadian yang baru saja ia alami. “Manitis, trapkan sampai ke puncak seluruh ilmu batinmu” akhirnya berkata Agung Sedayu. “Ada seseorang yang telah mengetahui kehadiran kita. Ia berilmu sangat tinggi, Manitis.”

Bisikan Agung Sedayu itu telah membuat dada Serat Manitis berdebar debar.

Ia sudah mengetahui dengan pasti ketinggian ilmu kakak seperguruannya itu. Sehingga seolah olah apa yang baru saja dikatakan Agung Sedayu hanyalah sebuah gurauan untuk mengurangi ketegangan sesaat. Namun ternyata yang terjadi adalah sebenarnya seperti yang telah dikatakan Agung Sedayu.
Dengan semakin menajamkan panggraitanya, akhirnya Serat Manitis mulai mampu merasakan kehadiran lebih dari seorang di sekitar tempat itu.

Agung Sedayu sendiri walau nampak masih termangu mangu, tetapi dia telah bisa meraba kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.

Sejenak kemudian terdengar suara yang seolah tanpa wujud. “Ki Rangga Agung Sedayu, senapati pasukan khusus Mataram” perlahan namun jelas suara itu menyebut nama Agung Sedayu. “Aku tidak akan berbicara banyak sebetulnya Ki Rangga. Tetapi, ijinkanlah aku lebih dahulu menyambutmu dengan penghormatan yang setinggi tingginya. Aku sudah mengetahui semuanya tentang kau Ki Rangga. Putra Ki Sadewa yang sedikit penakut di usia remajanya, akan tetapi disaat telah menginjak dewasa ternyata dengan sungguh-sungguh tanpa pamrih menyerahkan hati serta raganya untuk bumi Mataram.”

Agung Sedayu masih membiarkan orang yang tidak menampakkan wujudnya itu terus bicara.

“Sebenarnya tidak pantas aku memamerkan ilmu yang masih mentah ini di hadapanmu. Di hadapan orang yang ilmunya tiada batas.”

“Tidak ada ilmu yang tiada batas. Hanya Yang Maha Agung lah yang tiada batas” akhirnya dengan perlahan Agung Sedayu berucap.

“Itulah sifat yang menjadikanmu berilmu terus melaju meninggalkan yang lainnya. Baiklah Ki Rangga, sekarang aku akan berterus terang akan maksudku” lanjut suara tanpa wujud itu. “Sebenarnya aku tidak ingin bertemu dengan kau saat ini Ki Rangga. Yang aku ingin temui sesungguhnya adalah anak muda di sampingmu itu. Anak muda yang beberapa hari lalu telah menyapa adik seperguruanku Putut Jaya Ludira.”

Terkesiap Serat Manitis sambil sesaat memandang wajah Agung Sedayu.

Demikian juga yang terjadi pada Agung Sedayu, walau ia telah mendapat laporan dari para senapatinya tentang peristiwa yang telah terjadi di rumah Ki Gede Menoreh. Namun, mendengar pengakuan langsung serta maksud tujuan orang yang masih menyembunyikan wujudnya itu, menjadikan dadanya berdebar debar juga. Serat Manitis sendiri juga telah menceriterakan ketinggian ilmu Putut Jaya Ludira yang diakui sebagai adik seperguruan dari suara tanpa wujud tersebut.

“Baiklah Ki Rangga Agung Sedayu. Walaupun kau dan anak muda di sampingmu itu dengan pasti telah mengetahui dimana keberadaan kami berdua, akan tetapi kami tetap akan menampakan juga tubuh-tubuh tua ini. Aku sangat gembira, anak muda di sampingmu itu ternyata tidak menolak keinginan kami.”

Sebenarnyalah, sejenak kemudian di depan Agung Sedayu, di dekat akar-akar pohon jati yang melintang terlihat dua orang yang telah memutih rambutnya tengah berdiri sambil memandang Agung Sedayu.

“Perkenalkan namaku Kebo Anggara. Sedang yang berdiri di sampingku ini adalah kakak seperguruanku Putut Bajra Geni.”

Agung Sedayu dan Serat Manitis menganggukkan kepala ke arah dua orang tersebut.

“Apakah kau benar-benar sudah paham, Agung Sedayu,” tiba-tiba orang yang bernama Putut Bajra Geni itu bertanya.

Agung Sedayu agak terkejut atas pertanyaan orang yang semula hanya diam saja itu. “Mungkin orang ini lebih tua dari orang yang mengaku bernama Kebo Anggara itu, namun dengan tatapan matanya yang sangat tajam itu, juga dengan caranya dalam berkata kata, menandakan orang ini sangat yakin atas dirinya” batin Agung Sedayu.

“Ki Rangga Agung Sedayu” berkata orang yang mengaku bernama Kebo Anggara sejenak kemudian. “Kakang Putut Bajra Geni nanti hanya akan menjadi saksi, sama seperti kau Ki Rangga.”

Agung Sedayu dan Serat Manitis masih diam saja, hanya mendengarkan ucapan Kebo Anggara selanjutnya. Namun ucapan Kebo Anggara berikutnya telah membuat dada Agung Sedayu kembali berdebar debar.

“Akan tetapi seandainya anak muda yang berdiri di samping Ki Rangga itu ternyata ingin mengenal Kakang Putut Bajra Geni, tentunya aku juga tidak keberatan sama sekali.”

“Apakah maksud dan tujuan sebenarnya dari ki sanak berdua” dengan perlahan akhirnya keluar suara dari mulut Agung Sedayu.

“Ah, Ki Rangga Agung Sedayu ternyata senang bergurau” jawab Kebo Anggara dengan tertawa perlahan.

Namun sebelum Agung Sedayu meneruskan ucapannya, tiba-tiba Putut Bajra Geni memotong terlebih dahulu. Katanya, “Kau bukan kanak-kanak Agung Sedayu. Cepat tanyakan pada anak muda itu, siapa yang ia pilih saat ini?”

Akhirnya setelah menahan diri beberapa lama, akhirnya terucap juga sepatah kata dari mulut Serat Manitis. “Namaku Serat Manitis.”

Sebenarnyalah perkataan Serat Manitis itu telah membuat terkejut Putut Bajra Geni. Terasa seolah-olah ucapan Serat Manitis itu menjadikan dirinyalah yang telah ia pilih. Kedua mata Putut Bajra Geni yang sesungguhnya sudah demikian tajam seakan akan menjadi semakin berkilat-kilat laksana memancarkan api amarah yang tiada terbendung.

“Baik, kau sudah menentukan pilihanmu Serat Manitis” hampir berteriak Putut Bajra Geni menyahut perkataan Serat Manitis tersebut. “Adi Kebo Anggara, ternyata kau yang menjadi saksinya. Mengertilah kau Serat Manitis, aku adalah orang kedua setelah guruku dalam jajaran ketua Perguruan Semu. Apakah cukup atau kurang luas tempat ini menurut ukuranmu?”

Berdesir hati Agung Sedayu setelah menyadari keadaan yang terjadi selanjutnya itu. Panggraita Agung Sedayu meyakini, apa yang dikatakan oleh dua orang yang membayanginya itu memang benar. Walaupun dirinya yakin benar kemampuan adik seperguraannya itu, namun Agung Sedayu juga sudah mengetahui dengan pasti ketinggian ilmu murid-murid utama, apalagi ilmu dari para guru Perguruan Semu.

Agung Sedayu benar-benar dihadapkan kepada pilihan yang teramat sulit. Di satu sisi ia tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada diri Serat Manitis, di sisi lain Agung Sedayu juga tidak ingin harga diri adik seperguruannya itu menjadi jatuh.

Sejenak tidak ada seorang pun yang berbicara. Hanya saja,  angin yang tertiup ternyata telah membawa titik-titik air yang turun dari langit. Awan yang semula masih berupa gumpalan-gumpalan putih telah berubah menjadi gumpalan mendung hitam.

Gelap yang semakin pekat semakin tergambar jelas disaat wajah-wajah ke empat orang itu hanya sedikit terlihat saat kilat silang menyilang di lambung mendung.

“Baiklah, kita menuju ke tanah yang sedikit lapang itu adi Kebo Anggara” dengan suara keras sambil bergegas Putut Bajra Geni melangkah di tanah yang agak menurun.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu dan Serat Manitis masih tetap di tempatnya, masing-masing berdiri sambil memandang Putut Bajra Geni dan Kebo Anggara yang berjalan menjauhi mereka.

“Kakang, semoga Yang Maha Agung akan selalu memberi perlindungan serta keselamatan kepadaku. Aku selalu percaya akan pepesten, Kakang Agung Sedayu.”

Mendengar ucapan Serat Manitis itu, dada Agung Sedayu menjadi semakin berdebar-debar. Sesaat, Agung Sedayu memandang wajah adik seperguannya itu lekat-lekat.
Sesungguhnya, walau masih muda usia, namun Agung Sedayu melihat ada keteguhan terpancar didalamnya, serta hati yang telah begitu mapan. Namun, disaat mengingat siapa lawan yang harus dihadapi oleh Serat Manitis, keragu-raguan kembali hadir dalam hati Agung Sedayu. Sifat yang dahulu begitu sulit untuk dihilangkan, ternyata kembali datang begitu saja walau dalam keadaan yang berbeda.

Teriakan-teriakan Putut Bajra Geni pun agar segera mendatangi tempat yang dipilihnya, sedikit pun tidak berpengaruh bagi Agung Sedayu. Seakan teriakan itu hanya di anggap sebatas gurauan saja.

“Aku yang akan mewakili Serat Manitis” berkata Agung Sedayu dalam hati. “Tanpa ku katakan terlebih dahulu, aku yakin tentu Serat Manitis akan mengerti maksudku.”

Sejenak kemudian Agung Sedayu menoleh, kembali memandangi wajah murid paman gurunya itu. Ternyata yang terjadi kemudian adalah keragu raguan datang dalam hati kecilnya. Katanya dalam hati, “Bagaimana jika dengan sikap yang aku ambil ini, wajah yang tulus dengan hati yang mapan itu akan berubah menjadi jiwa yang kosong tanpa ada gairah sama sekali?”

Kilat yang semakin sering muncul seakan saling berloncatan di antara mendung. Desah angin juga terdengar semakin keras disaat menerpa lebatnya pepohonan.
Semua itu sejalan atas apa yang tengah Agung Sedayu rasakan.

Teriakan-teriakan Putut Bajra Geni yang masih terus terdengar tanpa ada sela, tetap tidak dapat membuat Agung Sedayu segera mengambil sikap. Titik air hujan yang semakin sering membasahi kain panjang dan pakaiannya, juga tidak mampu mengusik Agung Sedayu.

Namun, hampir bersamaan dengan suara petir yang datang dengan begitu tiba-tiba, terdengar suara keras Serat Manitis.
“Aku akan menyanggupi melakukan perang tanding ini, tentunya ki sanak yang bernama Ki Kebo Anggara yang aku pilih sebagai lawan dalam perbandingan ilmu ini.
Seandainya Ki Putut Bajra Geni tidak tergesa-gesa sekali, mungkin bisa menunggu sampai aku selesai melakukan perang tanding ini, tentunya jika nantinya aku yang masih tetap tegak berdiri.”

Sebenarnyalah ucapan Serat Manitis itu telah mampu membakar jantung Kebo Anggara. Walaupun sifat Kebo Anggara yang biasanya lebih mampu menekan amarahnya dari pada kakak seperguruannya Putut Bajra Geni, namun sebenarnyalah ia telah merasa dihina oleh ucapan Serat Manitis tersebut. Seakan-akan dengan begitu mudah saja dirinya akan dibuat tidak berdaya oleh Serat Manitis.
Sementara itu, yang di rasakan Putut Braja Geni adalah seolah-olah petir telah menyambar tubuhnya.
Apalagi disaat mendengar apa yang dikatakan Serat Manitis selanjutnya, benar-benar telah membuat darahnya seakan berhenti mengalir.

“Namun kalau Ki Putut Bajra Geni tidak sabar menunggu, Kakang Agung Sedayu pasti bersedia bermain main denganmu.”

“Ternyata kau anak muda yang sombong, Serat Manitis” tiba-tiba dengan berteriak Kebo Anggara menyahut ucapan Serat Manitis. “Aku akan menjadi lawanmu dalam perang tanding ini. Aku akan membuktikan, apakah benar seperti yang pernah adi Jaya Ludira katakan bahwa kau menimbun juga aji Banyu Suci.”

Namun, Serat Manitis seakan tidak menghiraukan sama sekali teriakan penuh amarah Kebo Anggara tersebut.
Bahkan ia telah menoleh kesamping memandang wajah Agung Sedayu.

Agung Sedayu melihat mata Serat Manitis diantara permohonan dengan gambaran dari keteguhan jiwanya.
Sebenarnyalah walau pertama kali ia seperti tidak percaya atas apa yang telah didengarnya dari mulut adik seperguruannya itu, namun akhirnya semua itu telah membuat Agung Sedayu dapat bernafas lega. Kekhawatiran terhadap Serat Manitis yang harus mengorbankan harga dirinya, telah berangsur-angsur menghilang dengan sendirinya, di saat mendengar apa yang telah Serat Manitis katakan itu. Seiring dengan hilangnya kegelisahan serta keraguan di hatinya, Agung Sedayu segera dapat membuat pertimbangan-pertimbangan yang mapan.

“Kakang, aku telah memilih Kebo Anggara sebagai lawan.
Mungkin aku akan lebih bisa mengimbanginya daripada harus berhadapan dengan Putut Braja Geni” desis Serat Manitis, seakan hanya dirinya sendiri yang bisa mendengarnya.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam sambil terus memandang wajah Serat Manitis. “Seharusnya aku yang menghadapinya, Manitis. Bukan karena aku pasti akan bisa mengalahkannya, namun semata mata tanggung jawabku kepada adik seperguruan.”

Sejenak Agung Sedayu melihat ke arah dua orang tataran tertinggi perguruan semu itu berdiri. Nampak Kebo Anggara dan Putut Braja Geni hanya termangu-mangu tanpa terdengar teriakan-teriakan mereka lagi. Seakan-akan itu semua sengaja mereka lakukan, hanya sekedar memberi belas kasihan kepada Serat Manitis agar dapat menikmati tarikan nafas untuk yang terakhir kali.

Sebenarnyalah, walau gelap pekat menyelubungi hutan tanah perdikan itu, namun tajamnya penglihatan Agung Sedayu ternyata masih mampu melihat Kebo Anggara dan Putut Bajra Geni yang tengah tersenyum memandang ke tempatnya berdiri.

“Manitis” berkata Agung Sedayu selanjutnya. Berhati-hatilah, mereka berdua adalah orang-orang yang sangat yakin atas kemampuannya. Sekarang aku menjadi tahu, mereka berdua itu adalah orang-orang yang pernah menetap di Alas Purwa, seperti yang dulu telah Kyai Winasis sampaikan itu.”

“Mari kita hampiri mereka. Semoga Yang Maha Agung memberi perlindungan serta kemudahan kepada kita.”

Serat Manitis mengangguk kecil sambil menarik nafas dalam-dalam, sebelum akhirnya dirinya dan Agung Sedayu berjalan mendekat ke tempat dimana Kebo Anggara dan Putut Braja Geni telah menunggu. Tanah yang agak luas, meskipun banyak belukar dan ilalang tumbuh diatasnya. Pohon jati tegak menjulang di salah satu tepinya dan pohon sanakeling di sisi yang lain, seakan-akan telah menjadi batas yang dipilih dalam arena perang tanding tersebut.

Agung Sedayu dan Serat Manitis pun telah berdiri di salah satu sisinya.

“Sudah siapkah kau Serat Manitis” dengan suara keras Kebo Anggara bertanya begitu Serat Manitis tiba di arena perang tanding itu.

Namun, Agung Sedayu mendahului berbisik kepada murid paman gurunya itu, sebelum Serat Manitis menyahut ucapan Kebo Anggara. “Ungkap mulai sekarang ilmu batinmu, Manitis. Trapkan sampai ke puncak kemampuanmu.
Itu semua yang nantinya akan membantumu untuk tidak terlambat dalam memahami keadaan.”

Walau tidak melalui aji pameling, namun Agung Sedayu dengan begitu pelannya dalam memberi pesan itu, sehingga hanya Serat Manitis sendiri yang dapat mendengarnya.

Sebenarnyalah sebelum menjawab pertanyaan Kebo Anggara, Serat Manitis telah mengungkap seluruh ilmu batinnya sampai ke puncaknya. Dan semua itu telah membuat ketajaman indra Serat Manitis menjadi berlipat-lipat.

“Aku sudah siap sejak pertama kali bertemu” akhirnya dengan perlahan terucap dari mulut Serat Manitis, bersamaan dengan langkah kakinya beberapa tindak menuju agak ke tengah arena perang tanding.

Walau hanya pelan-pelan, namun jawaban Serat Manitis itu telah menjadikan dada Keba Anggara benar-benar akan meledak. Begitu pun bagi Putut Braja Geni. Andai saja ia tidak mengingat adik seperguruannya yang akan melakukan perang tanding, maka saat itu juga ia pasti telah melompat untuk membungkam mulut Serat Manitis tersebut.

Akhirnya yang mampu dilakukan Putut Braja Geni hanyalah mendengus dengan terus menatap tanpa berkedip wajah Serat Manitis.

“Aku harap kau tidak mati saat ini anak muda sombong” batin Putut Bajra Geni. “Kau akan aku beri kesempatan untuk merasakan bagaimana rasanya tubuhmu yang akan terpanggang itu juga harus tercerai berai oleh kekuatan angin.”

Sementara itu, ternyata Kebo Anggara dengan cepat segera dapat mengendapkan amarahnya yang meluap-luap. Ia menyadari bahwa semua itu akan bisa mengurangi penalarannya. Sesaat kemudian Kebo Anggara juga telah berjalan lebih ke tengah mendekati tempat Serat Manitis berdiri.

Akhirnya kedua orang yang akan berperang tanding tersebut telah saling berdiri berhadapan satu sama lain.
Agung Sedayu yang berdiri agak ke belakang dari tempat Serat Manitis, agak berdesir hatinya setelah merasakan perubahan sikap Kebo Anggara. Sebagai seorang yang telah puluhan kali mengalami peristiwa, baik itu dalam peperangan gelar maupun perang tanding, Agung Sedayu mengerti akan sikap watak seperti yang sedang ditunjukkan oleh Kebo Anggara tersebut. Watak yang akan bisa membantunya dalam melihat kemungkinan-kemungkinan yang sedang terjadi dalam suatu peperangan.

Selain itu, Agung Sedayu juga merasa, sesungguhnya Kebo Anggara lebih mampu membuat pertimbangan dengan nalar yang mapan di banding dengan kakak seperguruannya itu,
walaupun ilmu Putut Braja Geni mungkin lebih tinggi darinya.

“Walau sempat terlihat sesaat luapan amarahnya, ternyata orang ini juga begitu cepat dalam mendinginkan hatinya” berkata Agung Sedayu dalam hati. “Semoga Serat Manitis tetap berhati-hati tanpa pernah kehilangan pengamatan diri.”

Walaupun hujan yang sebenarnya belum juga tercurah, akan tetapi titik-titik air semakin sering mengenai tubuh mereka berempat. Dan hampir bersamaan dengan kilat yang mampu sesaat menerangi hutan lebat itu, tiba-tiba berteriak Putut Bajra Geni. Suara yang terlontar dengan ungkapan tenaga dalam. “Aku akan menjadi saksi dalam perang tanding ini.” terdengar suara itu melingkar lingkar seakan terus tanpa ada selanya mengelilingi arena perang tanding itu.

Serat Manitis dan Agung Sedayu segera mengetahui bahwa Putut Bajra Geni telah menyusupkan ilmunya dalam getar suaranya tersebut. Namun, keduanya yang telah dalam tingkat kewaspadaan yang tinggi, ternyata tidak begitu terpengaruh dengan getar suara itu. Bahkan, sesaat kemudian Agung Sedayu telah menyahut teriakan Putut Bajra Geni tersebut.

Suara yang perlahan, tidak terdengar melingkar-lingkar tanpa pernah putus sama sekali, akan tetapi sebenarnyalah Agung Sedayu pun telah mengungkap salah satu ilmunya yang mampu luluh dalam getar suaranya. Getar suara yang seolah olah mampu menindih lontaran ilmu serupa dari Putut Bajra Geni walau dalam wujud yang berbeda.

“Aku akan berdiri disini menjadi saksi bagi Serat Manitis yang akan berperang tanding.” Sangat perlahan, bahkan hanya seperti bisikan saja ucapan Agung Sedayu tersebut. Namun, akibat yang terjadi selanjutnya sungguh-sungguh telah mengejutkan Kebo Anggara, terlebih lagi bagi Putut Bajra Geni sendiri yang merasa ilmunya telah mampu dikalahkan lawan.

Namun sesungguhnya dua orang tataran tertinggi dari perguruan semu tersebut adalah orang-orang yang benar-benar linuwih. Walaupun lontaran ilmu Agung Sedayu mampu membuyarkan getar suara dari ungkapan ilmu Putut Bajra Geni, namun ungkapan ilmu Agung Sedayu itu pun tidak banyak berpengaruh terhadap mereka berdua, baik wadag maupun jiwaninya. Bahkan setelah melihat apa yang mampu dilakukan oleh Agung Sedayu itu, penalaran Kebo Anggara menjadi semakin mapan.

“Sungguh luar biasa manusia satu ini. Tidak salah jika semua murid utusan perguruan semu tidak mampu menyentuhnya sama sekali” berkata Kebo Anggara dalam hati.
“Aku harus mampu menundukkan Serat Manitis. Anak muda ini yang akan menjadi jalan untuk mengalahkan Agung Sedayu. Andai saja bukan aku atau kakang Bajra Geni, tentunya guru yang akan mampu melakukannya.
Sedikit luka dalam jiwanimu, Agung Sedayu. Itu sudah lebih dari cukup.”

Sejenak kemudian setelah terjadi adu sedikit ilmu antara Putut Bajra Geni dengan Agung Sedayu, maka keadaan kembali hening dalam sesaat. Seakan-akan lontaran-lontaran ilmu baik oleh Agung Sedayu maupun Putut Bajra Geni, adalah sebagai tanda akan segera di mulainya perang tanding tersebut.

Sebenarnyalah kedua orang yang saling berhadapan itu, baik Serat Manitis maupun Kebo Anggara seolah-olah telah berjanji sebelumnya, masing-masing telah membuka semua simpul-simpul ilmu yang mereka miliki.

Tidak ada sama sekali yang mencoba untuk sedikit menge-kang atas apa yang mereka miliki.

Dalam pada itu, Agung Sedayu sendiri semakin dalam kewaspadaan tinggi manakala melihat sikap Kebo Anggara tersebut.

“Semoga Serat Manitis tidak pernah kehilangan pengamatan diri, sehingga menjadikannya terburu-buru” batin Agung Sedayu sesaat sebelum Serat Manitis dan Kebo Anggara berjalan saling mendekat.

Tidak tampak amarah sedikit pun yang tergambar dari wajah kedua orang yang akan berperang tanding itu.

“Aku akan memulai Serat Manitis” berkata Kebo Anggara di saat mereka berdua hanya berjarak beberapa langkah saja.

“Baik” jawab Serat Manitis bersamaan dengan ia bergeser ke samping menghindari tendangan lurus kaki Kebo Anggara yang mengarah ke perutnya.

Sebenarnya serangan kaki Kebo Anggara itu adalah pembuka dari rangkaian tata geraknya, yang mengarah ke bagian-bagian tubuh Serat Manitis lainnya. Namun, Serat Manitis yang sudah mengerti sebelumnya kalau Kebo Anggara tidak akan memulai dari tataran terendahnya, telah mengira akan datangnya lagi serangan-serangan susulan.

Akhirnya sepasang tendangan beruntun serta pukulan yang mengarah ke wajahnya mampu dielakkan oleh Serat Manitis.
Bahkan setelah sedikit membuang tubuhnya ke samping untuk menghindari pukulan Kebo Anggara, dengan cepat Serat Manitis pun melompat membuat tusukan jari tangan mengarah ke dada Kebo Anggara.

Walau begitu cepat serta tiba-tiba serangan balasan Serat Manitis tersebut, namun Kebo Anggara dengan merendahkan tubuhnya masih bisa mengelakkan serangan balasan tersebut.
Yang terjadi kemudian adalah pertempuran yang semakin liat.
Seiring dengan semakin memanasnya tubuh mereka, sedikit demi sedikit Serat Manitis dan Kebo Anggara telah mulai meningkatkan kemampuannya. Semakin lama, di saat keringat telah mulai membasahi tubuh mereka, pertempuran itu pun berlangsung semakin sengit.

Baik Serat Manitis maupun Kebo Anggara telah masing-masing mulai mengungkap tenaga cadangannya. Yang terjadi kemudian adalah tata gerak serangan-serangan mereka menjadi semakin berisi. Semak-semak yang semula masih rimbun di tengah-tengah tanah yang sedikit lapang itu, sedikit demi sedikit mulai luruh. Tenaga cadangan yang tiada pernah putus mengalir dalam setiap pukulan ataupun tendangan mereka berdua, ternyata juga membuat belukar di sekitar arena perang tanding itu tidak mampu untuk tidak sampai terkikis habis.

Agung Sedayu yang tidak pernah luput sama sekali dalam menyaksikan perang tanding tersebut, benar-benar harus mengakui kemampuan yang sangat tinggi dari dua orang yang sedang bertempur itu. Tata gerak yang sangat rumit akan tetapi ternyata juga didukung oleh kemampuan yang tinggi pula untuk mampu menghindar.

Sebenarnyalah walau pertempuran itu telah berlangsung beberapa saat, namun ternyata belum ada satu pun pukulan, tendangan atau tusukan dari Serat Manitis atau Kebo Anggara yang mampu mengenai sasaran. Kalaupun ada, itu karena mereka berdua dengan sengaja telah membenturkan masing-masing pukulan ataupun tendangannya. Tentunya, mereka berdua masing-masing akan terdorong surut sejenak dan kemudian saling melompat untuk menyerang kembali.

Putut Braja Geni yang juga sama seperti Agung Sedayu, yang berdiri di tepi arena perang tanding itu, sejenak menjadi terpana melihat jalannya pertempuran itu. Walaupun dirinya juga merasa mampu untuk melakukan semua itu, namun ternyata apa yang telah dilakukan adik seperguruannya itu atau Serat Manitis, serasa mengharuskan Putut Braja Geni untuk mengakui ketinggian ilmu serta kedahsyatan dari perang tanding itu.

Namun, selagi Putut Bajra Geni semakin terkagum-kagum menyaksikan pertempuran itu, tiba-tiba seakan tanggal jantungnya sesaat setelah melihat yang tengah terjadi di arena pertempuran tersebut. Walau sejenak kemudian dirinya telah dapat kembali bernafas lega, namun kejadian tersebut telah mampu membuat dadanya berdebar debar.

“Anak muda itu ternyata sanggup melompati tataran tata geraknya beberapa lapis” berkata Putut Bajra Geni dalam hati.

Sebenarnyalah yang terjadi adalah disaat Kebo Anggara yang ternyata lebih memilih untuk mengimbangi sampai seberapa pun tataran lawan, ternyata telah terlambat dalam menyadari.

Disaat Kebo Anggara membuat gerakan tusukan ganda yang sesungguhnya sudah sedemikian rumitnya, ternyata Serat Manitis tidak berusaha untuk menghindar.  Serat Manitis ternyata memilih untuk saling menyerang. Gerakan Serat Manitis ternyata berbeda sama sekali, dengan kedua tangan yang membuka ke samping, seakan-akan dengan sengaja membiarkan supaya lawan lebih mudah untuk mengenainya.

Kebo Anggara sendiri sesungguhnya juga menyadari apa yang telah dilakukan oleh Serat Manitis tersebut. Namun, perubahan tata gerak Serat Manitis yang tiba-tiba itu telah membuat Kebo Anggara terlambat walau hanya sekejap.
Lompatan tataran tata gerak itu benar-benar dari perhitungan yang matang dari Serat Manitis. Disaat tusukan ganda sesaat akan tepat mengenai dadanya, tiba-tiba dengan gerakan yang demikian cepatnya Serat Manitis seolah olah menjatuhkan tubuhnya keras-keras ke tanah. Kebo Anggara yang tidak mengira lawannya akan membuat gerakan itu akhirnya hanya terdengar desahan tertahan dari mulutnya di saat sisi luar kaki kanan Serat Manitis tepat mengenai lambung kirinya.

Kebo Anggara agak terhuyung-huyung kebelakang beberapa langkah, sebelum akhirnya memilih untuk membuat lompatan panjang menjauh dari lawan. Kebo Anggara akhirnya berdiri tegak di depan pohon jati yang seolah olah menjadi batas dari arena perang tanding tersebut.

Serat Manitis sendiri yang memilih untuk tidak mengejar lawannya yang melompat menjauh, nampak juga berdiri dengan tetap dalam kewaspadaan yang tinggi.

“Aku tidak menganggapmu curang, Serat Manitis,” tiba-tiba berkata Kebo Anggara dengan nada dalam. “Tidak ada aturan yang mengharuskan kita untuk meningkatkan ilmu selapis demi selapis.”

Berdesir dada Serat Manitis mendengar ucapan Kebo Anggara tersebut.

“Ternyata kau benar-benar telah merambah dalam inti tata gerak perguruan Windujati” lanjut Kebo Anggara. “Baiklah Serat Manitis, mari kita benturkan inti ilmu kita masing-masing.”

Sesungguhnyalah, Agung Sedayu menjadi berdebar-debar mendengar ucapan Kebo Anggara tersebut, apalagi di saat ia melihat tidak tampak sedikitpun kesulitan dari tubuh Kebo Anggara tersebut.

Yang terjadi kemudian telah nampak dalam pertempuran itu, baik Serat Manitis maupun Kebo Anggara sungguh-sungguh telah merambah ke puncak tata geraknya.
Tata gerak yang sudah begitu rumit seakan-akan menjadi tidak lagi bisa diterima oleh nalar, ketika tenaga cadangan semakin terus bertambah untuk menopang tata gerak mereka.
Gerakannya menjadikan udara di sekitarnya bergemuruh yang tidak pernah hilang.

Akhirnya, begitu ilmu meringankan tubuh telah mereka ungkapkan, tubuh mereka hanya terlihat berupa bayang-bayang dalam pusaran yang selalu bergerak.

Tidak seperti disaat mereka berdua belum merambah dalam puncak tata geraknya, akhirnya baik Serat Manitis maupun Kebo Anggara tidak mampu untuk selalu dapat menghindar dari serangan lawan. Desahan tertahan bahkan semakin sering terdengar manakala ungkapan tenaga cadangan mereka sudah hampir sampai ke puncaknya.

Kadang-kadang Serat Manitis harus terdorong surut sejenak, sebelum melompat menyerang kembali. Kebo Anggara kadang-kadang juga harus terhuyung-huyung saat pukulan atau tusukan jari lawan tidak mampu dihindarinya.

Agung Sedayu dan Putut Bajra Geni yang melihat semua itu menjadi sama-sama terlihat tegang. Agung Sedayu kadang-kadang harus menahan nafas saat melihat Serat Manitis harus terdorong surut beberapa langkah.

Akhirnya, tidak hanya di tengah-tengah tanah yang sedikit lapang itu saja mereka berdua bertempur. Tubuh Serat Manitis maupun Kebo Anggara yang nampak hanya berupa bayang-bayang itu, yang terjadi kemudian hampir-hampir menggunakan semua sisi arena perang tanding tersebut.
Semak belukar benar-benar telah terkikis habis, tanah yang dipijaknya nampak seperti habis di bajak.

Seolah-olah sudah berjanji sebelumnya, Agung Sedayu dan Putut Bajra Geni masing-masing sedikit menjauh dari arena pertempuran itu.

Walaupun pertempuran sudah berlangsung beberapa lama, namun sebenarnyalah belum nampak sedikitpun siapa yang ternyata telah mampu menguasai lawan.

 —–AREMA—–

 bersambung ke jilid 402

 edited by arema from https://www.facebook.com/groups/apidibukitmenoreh

 

<< kembali ke FADBM-400 | lanjut ke TADBM-402 >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s