FADBM-402

<< kembali ke FADBM-401 | lanjut ke TADBM-403 >>

FADBM-402MEREKA berdua tetap saling menyerang dan menghindar dalam tata gerak yang semakin rumit. Tubuh mereka seolah-olah hanya berupa bayang-bayang yang saling menyambar satu sama lain. Tata gerak yang benar-benar rumit itu membuat seluruh medan perang tanding bagaikan diselubungi oleh tubuh mereka berdua.

Sebenarnyalah, tidak memerlukan waktu lebih lama lagi, baik Serat Manitis maupun Kebo Anggara telah merambah ke puncak tata gerak ilmu kanuragan mereka. Hampir bersamaan pula tenaga cadangan dan ilmu meringankan tubuh mereka telah sampai pula pada puncak kemampuan yang mereka miliki.

Ternyata, begitu masing-masing telah sampai ke puncak tata geraknya, mereka berdua tidak terlalu banyak lagi untuk dapat menghindar dari serangan lawan. Yang kemudian sering mereka lakukan adalah membenturkan wadag mereka masing-masing. Begitu terjadi benturan wadag itu, tubuh mereka pun nampak bergoncang bahkan kadang-kadang harus saling terdorong ke belakang.

Namun mereka tidak selalu bisa membenturkan kekuatan wadag tersebut. Baik Serat Manitis maupun Kebo Anggara juga harus menahan sakit disaat bagian tubuhnya terkena pukulan atau tendangan lawan.

Semakin lama mereka dalam bertarung itu, akhirnya nampak biru lebam telah mulai terlihat di tubuh Serat Manitis dan Kebo Anggara.

Akhirnya, saat ujung telapak kaki Serat Manitis tepat mengenai perut Kebo Anggara, tubuh salah satu pemimpin Perguruan Semu itu terlempar dan jatuh terguling-guling di tanah.

Akan tetapi. Agung Sedayu yang menyaksikan dari pinggir arena telah berdegup cepat jantungnya beberapa saat sebelumnya. Sebenarnyalah, Agung Sedayu telah melihat Kebo Anggara membuat suatu gerak khusus bersamaan dalam ungkapan puncak tata geraknya. Sikap gerak yang luput atau bisa jadi memang Serat Manitis belum mengerti akan maksud dari tata gerak khusus tersebut.

“Anggota Perguruan Semu tersebut ternyata telah berbekal ilmu kebal pula” batin Agung Sedayu dengan debaran di dadanya yang semakin menjadi-jadi. “Serat Manitis justru belum mengenal sikap khusus itu.”

Kegelisahan ternyata seketika itu juga tumbuh dalam hati Agung Sedayu. Yang terjadi kemudian memang seperti yang sedang dikhawatirkan oleh Agung Sedayu. Walaupun hentakkan kaki Serat Manitis telah dalam ungkapan puncak tenaga cadangannya, namun seolah-olah tidak berarti sama sekali bagi Kebo Anggara. Kebo Anggara yang seolah merasa tidak pernah terjadi apapun di tubuhnya itu, segera bangkit berdiri.

Menyaksikan apa yang telah terjadi itu, sesaat Serat Manitis terkesiap. Serat Manitis tidak mengira sama sekali puncak tenaga cadangannya ternyata tidak berakibat apapun bagi lawan.

Akan tetapi, Serat Manitis tidak ingin berlama-lama larut dalam kecemasannya tersebut. Sesaat kemudian, Serat Manitis ternyata telah mampu membuat pertimbangan-pertimbangan yang mapan, walaupun kemungkinan-kemungkinan yang lain pun akan juga dapat terjadi.

“Orang ini telah mengetrapkan tirai ilmu kebalnya” berkata Serat Manitis dalam hati. “Semoga masih ada cara untuk menembusnya.”

Sebenarnyalah, yang terjadi kemudian adalah begitu Kebo Anggara bangkit berdiri, saat itu juga ia telah melompat cepat menyerang Serat Manitis kembali. Tidak nampak ada kekangan sama sekali. Sebenarnyalah, Kebo Anggara telah memutuskan untuk tidak mengulur ulur waktu lebih lama lagi.
Sejenak kemudian, Serat Manitis sangat terkejut sehingga ia harus melompat menjauh dari lawan.

“Aku disini anak muda.”

Hampir bersamaan dengan ucapan itu, Serat Manitis merasakan bagai terhantam bongkahan batu besar dadanya.
Bagai diterjang badai, tubuh Serat Manitis terlempar dan berguling guling di tanah.

Kebo Anggara yang telah mulai mengungkap salah satu ilmunya itu, ternyata tidak ingin melepaskan kesempatan itu.
Begitu melihat Serat Manitis jatuh terguling guling, kembali terdengar suara yang seakan akan memberi peringatan terlebih dahulu kepada Serat Manitis. “Lindungi kepalamu Serat Manitis.”

Sesaat kemudian Serat Manitis benar-benar mendengar angin yang bersiut menuju ke arah kepalanya. Sekali lagi di memaksa menghentakkan tubuhnya hingga nampak kembali terguling guling menjauh.

Kali ini ternyata Serat Manitis telah menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi. “Aji Panglimunan” batin Serat Manitis sesaat.

Sementara itu, walaupun jantung Agung Sedayu masih terus berdegup kencang, namun begitu menyaksikan apa yang terjadi selanjutnya dalam perang tanding itu, membuatnya bertanya tanya dalam hati.

“Mengapa orang ini masih saja harus mengetrapkan aji Panglimunan” berkata Agung Sedayu dalam hati.
“Semoga seperti yang kupikirkan, Aji Bumi Sejati milik ketua perguruan semu ini masih sebatas kulit luarnya saja.”

Hanya sekejap pukulan sisi dalam tangannya mendera wajah Serat Manitis. Namun, yang terjadi kemudian telah membuat Kebo Anggara sangat terkejut. Tanpa diketahui asal datangnya, gumpalan kabut yang semakin menebal tiba-tiba telah menutup penglihatannya. Tetapi, Kebo Anggara ternyata memilih untuk tidak menahan hentakan pukulannya, walaupun tidak tampak dimana Serat Manitis saat itu berada.
Sebenarnyalah, tidak satu pun pukulan beruntun itu mampu mengenai tubuh Serat Manitis.

Beberapa saat Kebo Anggara masih saja terus menyerang, dengan menghentakkan kedua tangannya susul menyusul.
Tidak hanya itu, dengan kedua kakinya Kebo Anggara juga membuat sapuan mendatar atau tendangan melingkar dalam puncak tenaga dalamnya.

Baru setelah merasa tidak satupun mengenai sasaran, Kebo Anggara dengan cepat melompat menjauh. Apa yang tengah dilakukannya itu ternyata disengaja oleh Kebo Anggara.
Ternyata, Kebo Anggara melakukan semua itu agar Serat Manitis tidak sempat mengungkap aji sapta panggraitanya.

Namun, sebenarnyalah dalam waktu yang hanya sekejap itu Serat Manitis ternyata mampu membangkitkan aji Sapta Pangrasa yang dimilikinya.

Walau semua itu telah Kebo Anggara lakukan, namun sebenarnyalah dia telah terlambat walau dalam sekejap.
Disaat Kebo Anggara melompat menjauh dengan tetap dalam ungkapan aji panglimunan, dalam waktu yang hampir bersamaan tiba-tiba kabut yang semakin menebal itu seakan akan meluncur cepat menuju ke arahnya. Kebo Anggara yang dengan begitu cepatnya menajamkan panggraitanya itu, benar-benar telah menyadari akan bahaya yang datang bersamaan dengan kabut yang mendatanginya itu.
Akan tetapi, ternyata Kebo Anggara telah terlambat sekejap.
Serat Manitis yang dengan cepat menajamkan pangrasanya, telah bisa mengira-ngira dimana lawannya itu berada.
Hentakan pukulan Serat Manitis yang telah dilambari ungkapan salah satu ilmunya, tidak mampu dihindarkan dan tepat mengenai perut Kebo Anggara. Begitu kuatnya pukulan itu, sampai membuat tubuh Kebo Anggara terlempar hingga jatuh di semak belukar.

Seketika itu juga, wujud Kebo Anggara nampak terlihat kembali bersamaan dengan luruhnya aji panglimunan yang ia ungkap.

Putut Bajra Geni sendiri hanya terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya sejenak saat melihat adik seperguruan-nya itu seakan akan terkapar tak bergerak sama sekali.

“Kau ternyata benar-benar bodoh Kebo Anggara” batin Putut Bajra Geni. “Itulah akibat dari tindakan bodohmu itu.”

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu tidak pernah melepaskan sedikit pun perhatiannya kepada semua yang terjadi di arena pertempuran. Demikian juga atas apa yang tampak terlihat dari Putut Bajra Geni.

“Luar biasa, orang tua itu ternyata mempunyai pengamatan yang begitu tinggi” berkata Agung Sedayu dalam hati. “Ia sangat yakin kawannya itu belum membutuhkan pertolongan.”

Hanya sejenak tanpa menunggu waktu lama, apa yang di rasakan Agung Sedayu ternyata benar adanya. Kebo Anggara yang sebelumnya nampak terlihat seperti sedang dalam kesulitan, akan tetapi ternyata sanggup bangkit berdiri lagi seakan akan tidak ada sedikit pun luka yang ia rasakan.

Dari tempatnya berdiri Agung Sedayu menyaksikan semua itu. Namun sebenarnyalah tetap Agung Sedayu dapat menangkap sesuatu yang coba disamarkan oleh Kebo Anggara.
“Ternyata benar, ilmu kebalnya itu masih bisa ditembus” batin Agung Sedayu. “Walaupun Serat Manitis pun harus menggunakan tenaga cadangannya sampai ke puncak.”

Akhirnya sejenak kemudian, hampir bersamaan waktunya, kabut yang menyelimuti tempat itu perlahan-lahan mulai menghilang. Kembali kedua orang yang sedang melakukan perang tanding itu, saling berdiri berhadapan.

“Ilmu kabutmu benar-benar dahsyat, Serat Manitis,” berkata Kebo Anggara dengan nada dalam. “Mungkin ada satu atau dua yang ingin ku lakukan terlebih dahulu sebelum membenturkan ilmu pamungkasku.”

Serat Manitis ternyata memilih diam saja tanpa berkata apapun. Meskipun demikian, dalam hatinya Serat Manitis telah mempercayai ucapan Kebo Anggara tersebut.

Serat Manitis pun menjadi semakin berhati hati dan tidak pernah kehilangan kewaspadaan sama sekali. “Aku sanggupi apa yang kau minta sampai batas kemampuanku, Kebo Anggara,” batin Serat Manitis. “Biarlah yang menjadi akhirnya nanti adalah pepesten dari Yang Maha Agung.”

Dengan demikian. maka Serat Manitis pun menjadi semakin tenang, walaupun tetap dalam kesadaran kuat bahwa lawan yang sedang dihadapi kali ini benar-benar berilmu sangat tinggi.

Sejenak kemudian kembali terdengar berucap Kebo Anggara. “Bersiaplah anak muda, aku akan memulainya saat ini.”

Putut Bajra Geni yang berdiri agak jauh di belakang dari tempat saudara seperguruannya itu berdiri, agak terkejut.
Putut Bajra Geni benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Kebo Anggara tersebut. “Kau ternyata masih mencoba-coba juga dengan ilmu yang masih belum tuntas itu pula” berkata dalam hati Putut Bajra Geni di saat melihat apa yang sedang dilakukan Kebo Anggara.”

Sementara itu, begitu melihat lawan telah membuat gerak-gerak khusus sebagai langkah awal dalam pemusatan nalar budi, Serat Manitis pun telah bersiap siap pula.
Sebenarnyalah apa yang sedang dilakukan kemudian baik oleh Serat Manitis maupun Kebo Anggara tersebut, sesungguhnya telah dimengerti oleh Agung Sedayu.

Sikap gerak pemusatan nalar budi kedua orang yang sedang bertempur itu benar-benar mampu dibaca oleh Agung Sedayu.
Akhirnya setelah yakin akan gerak khusus itu masing-masing, maka Agung Sedayu telah memutuskan untuk memperingat-kan Serat Manitis. Seakan-akan dia terbayang saat-saat ia ditolong oleh gurunya Kyai Gringsing. “Semoga kau mampu menangkap pesanku ini” berkata Agung Sedayu dalam hati.

Disaat itu juga, tanpa membuat gerakan sedikit pun sebenarnyalah Agung Sedayu telah membuka simpul aji pamelingnya. Dengan merambah tenaga dalamnya yang hampir ke puncak, agar ungkapan aji pameling itu nantinya tidak mampu diketahui oleh Kebo Anggara atau Putut Bajra Geni. “Serat Manitis, aku tidak mengetahui seberapa tinggi ungkapan Aji Bayu Hening dari lawanmu itu. Kali ini kau harus mendahului menyerang terlebih dahulu.”

“Aku hanya mengingatkan saudaraku, Kebo Anggara,” batin Agung Sedayu. “Bahwa tidak harus selalu menunggu dalam setiap perang tanding itu.”

Sebenarnyalah Serat Manitis seolah-olah tidak mampu membedakan ungkapan aji pameling Agung Sedayu itu dengan kesadarannya yang tiba-tiba hadir. Begitu halus ungkapan aji pameling itu, hingga tidak ada perasaan terkejut sedikit pun yang terjadi dalam diri Serat Manitis. Yang terjadi kemudian benar-benar telah membuat terkejut Kebo Anggara dan Putut Bajra Geni.

Bahkan Putut Bajra Geni tiba-tiba telah bergeser semakin menjauh dari arena perang tanding. “Apakah aku sedang bermimpi. Aku tidak mengira sama sekali, anak muda ini telah mengetrapkan Aji Kembang Tanjung.”

Sebenarnyalah setelah menyaksikan apa yang di ungkap Serat Manitis tersebut, Putut Bajra Geni ingin mendahului dengan mengetrapkan salah satu ilmunya.
Akan tetapi begitu dilihatnya Agung Sedayu yang ternyata tengah memandangnya, membuat Putut Bajra Geni menjadi ragu-ragu untuk segera melakukannya. Kebo Anggara sendiri, walau segera sadar atas apa yang tengah terjadi, namun sebenarnyalah ia telah terlambat dalam sekejap.

Gerakan tangan Serat Manitis yang terlihat hanya terangkat sedikit itu, ternyata mampu menebarkan bau yang menusuk tajam indra penciuman Kebo Anggara. Bau yang mampu mempengaruhi keseimbangan perasaan orang yang menghirupnya.

Kebo Anggara yang sesungguhnya juga telah bersiap untuk menghentakkan Aji Bayu Hening itu, cepat-cepat menutup indra penciumannya.

“Aku masih mampu mengatasinya Serat Manitis.”

Hampir bersamaan itu pula, Kebo Anggara yang sebenar-nya telah terlihat agak bergetar kedua kakinya tersebut, tiba-tiba nampak kedua tangannya yang mengembang bagai sayap burung rajawali itu, ia dorongkan ke arah Serat Manitis.
Agung Sedayu yang berdiri agak menjauh, menjadi berdebar-debar menyaksikan apa yang tengah dilakukan oleh Kebo Anggara tersebut.

“Orang ini tetap memaksa juga mengungkap ilmunya itu.”

Namun, dalam pada itu walau Kebo Anggara tetap mampu melepaskan ilmunya, namun sebenarnya akibat dari ketajaman Aji Kembang Tanjung, begitu mempengaruhi kekuatan gelombang Aji Bayu Hening tersebut.
Tenaga dalam yang seharusnya terbuka sepenuhnya untuk merambah ke puncak kekuatan Aji Bayu Hening ternyata harus terbagi untuk menutup indera penciuman Kebo Anggara sendiri.

Walaupun seakan akan suara gemuruh angin yang begitu keras masih terdengar mengiringi lontaran ilmu Ki Anggara, namun Serat Manitis sekejap masih mampu melihat pusat badai angin tersebut.

Yang terjadi kemudian adalah terlihat Serat Manitis tiba-tiba telah menjatuhkan tubuhnya rata dengan tanah.
Sesungguhnya terjangan badai angin itu tetap kuat walau hanya sekedar untuk menerbangkan dahan maupun ranting-ranting, bahkan mematahkan pohon-pohon kecil di sekitar medan pertempuran tersebut.

Serat Manitis sendiri dengan semakin meningkatkan daya tahan tubuhnya sekuat tenaga tetap bertahan untuk tidak terseret kuatnya terjangan angin itu.

Putut Bajra Geni sendiri menyaksikan keadaan itu dengan dada yang berdebar debar. Dalam hati Putut Bajra Geni sebenarnya tidak terlalu yakin ungkapan ilmu saudara seperguruannya itu akan bisa menghentikan Serat Manitis sama sekali.

Dan sesaat kemudian apa yang dikhawatirkan Putut Bajra Geni sungguh-sungguh terjadi. Bagai berhenti berdenyut jantung Putut Bajra Geni begitu menyaksikan yang telah terjadi di medan pertempuran.

Sebenarnyalah, hampir bersamaan badai angin yang mulai menghilang, tiba-tiba kabut tebal kembali datang begitu saja menyelimuti sekitar medan perang tanding tersebut.
Terlambat bagi Kebo Anggara untuk menilai keadaan.
Disaat ia mencoba menajamkan panggraitanya untuk mengerti di mana Serat Manitis berada, ayunan tangan Serat Manitis yang dilambari puncak tenaga cadangannya menerpa dada Kebo Anggara.

Kekuatan yang sangat besar itu akhirnya membuat Kebo Anggara terlempar jauh keluar arena pertempuran.
Tidak ada teriakan sama sekali, yang terdengar hanya suara patahnya pohon yang tertimpa tubuh Kebo Anggara.
Kembali keadaan menjadi hening sesaat kemudian.
Seakan akan binatang di sekitar hutan itu juga tidak ada satupun yang berani bersuara. Mereka semua seolah olah menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Akhirnya setelah beberapa lama menunggu, tiba-tiba terdengar suara yang membuat bergetar dada Serat Manitis.

“Kau memang anak muda yang luar biasa, Serat Manitis.
Walau ilmu kebalku belum tuntas, namun sebenarnyalah tidak sembarang orang mampu sampai pada tataranku ini. Ternyata itu semua seakan tidak membuat dirimu mengalami kesulitan sedikitpun.”

Bersamaan dengan kabut yang semakin menghilang, terlihat dengan langkah perlahan Kebo Anggara keluar dari semak belukar dari sela-sela pepohonan di sekitar arena perang tanding tersebut. Pakaian dan kain panjang Kebo Anggara seolah tidak berbentuk lagi.

Dan saat berhenti tepat di depannya, dada Kebo Anggara nampak membekas hitam akibat kedahsyatan ungkapan ilmu Serat Manitis tersebut.

Terdengar kembali Kebo Anggara berucap. “Sudah waktunya kita benturkan puncak dari kemampuan kita masing-masing. Akan tetapi, andai benar seperti yang pernah adi Putut Jaya Ludira katakan, ternyata nantinya kita tidak akan membenturkan dari dua jenis ilmu yang berbeda.”

Serat Manitis sendiri tanpa berkata apapun akhirnya melangkah mundur beberapa tindak saat dilihatnya Kebo Anggara telah lebih dahulu bergeser sedikit menjauh.

Sudah tidak ada sedikitpun yang akan disisakan. Yang pertama dilakukan Serat Manitis adalah melindungi tubuhnya dengan ungkapan Aji Tameng Waja. Sejenak kemudian hanya dalam waktu sekejap Serat Manitis telah memusatkan nalar budi. Apa yang telah mengendap dalam dirinya, semuanya telah diungkapkannya tanpa tersisa sedikit pun untuk menopang puncak ilmu pamungkasnya.

Sementara itu, dari tempatnya mereka berdiri, baik Agung Sedayu maupun Putut Bajra Geni saling menahan nafas menunggu akhir dari benturan ilmu pamungkas tersebut.
Namun, sesaat kemudian terlihat senyuman di bibir Putut Bajra Geni.

Sebenarnyalah setelah menyaksikan apa yang nampak dari dua orang yang saling berdiri berhadapan itu, Putut Bajra Geni telah dapat menilai yang akan terjadi selanjutnya.
“Kau sedang tidak beruntung kali ini, anak muda,” berkata Putut Bajra Geni dalam hati. Satu lagi jalur Windujati yang harus berakhir hidupnya.”

Berbeda dengan yang Putut Bajra Geni rasakan. Sebenarnyalah, setelah melihat apa yang terjadi di tengah arena perang tanding tersebut, Agung Sedayu hanya dapat berharap Kebo Anggara yang telah terluka itu tidak mampu sampai tuntas dalam mengetrapkan tenaga cadangannya.
Dengan demikian, perbedaan yang selapis tipis itu tidak akan sangat berati.

Agung Sedayu hanya menarik nafas dalam-dalam. Dirabanya kain kecil di balik ikat pinggangnya. Agung Sedayu ingin meyakinkan butiran-butiran obat yang selalu dibawanya itu masih ada di tempatnya. “Semua yang terjadi adalah pepesten Yang Maha Agung” berkata Agung Sedayu dalam hati.

Hampir bersamaan dengan kilat yang datang susul menyusul, seperti telah berjanji sebelumnya, baik Serat Manitis maupun Kebo Anggara kemudian saling berjalan mendekat. Sikap yang tidak ada bedanya sama sekali.
Dengan dua telapak tangan berjajar di depan dada sebelum akhirnya di tarik ke samping pinggang masing-masing.
Walau ungkapan ilmu pamungkas itu mampu dilontarkan tanpa sentuhan wadag, namun keduanya ternyata lebih memilih untuk membenturkannya langsung dalam sentuhan wadag.

Dan yang terjadi selanjutnya adalah seakan akan udara di sekitar hutan itu tiba-tiba telah membeku. Rintik-rintik air hujan yang tercurah itu tiba-tiba bagai berhenti saat itu juga.
Saat itulah terlihat Serat Manitis dan Kebo Anggara telah saling dorong dengan kedua telapak tangannya yang saling melekat.

Semakin lama udara pun menjadi semakin dingin yang tiada terkirakan, seiring dengan penambahan tenaga cadangan menuju ke puncak benturan dua ilmu sejenis tersebut.

Benturan ilmu tersebut membuat kedua tubuh yang sedang membenturkan ilmu tersebut terlontar ke belakang. Pada saat yang bersamaan, Agung Sedayu segera melompat tinggi menangkap tubuh Serat Manitis yang melayang di udara.

Seperti yang dilakukan oleh Agung Sedayu, Putut Bajra Geni juga dengan tiba-tiba telah melompat mengejar tubuh Kebo Anggara yang ternyata benar-benar tidak kuasa melawan gelombang pantulan dari kedahsyatan dua ilmu tersebut. Begitu sampai di dekat tubuh Kebo Anggara yang terbaring lemah di dekat pohon jati besar, dengan bergegas Putut Bajra Geni segera mengangkat kepala kawannya itu, kemudian dibaringkan di atas akar pohon jati tersebut. Sambil meraba pergelangan tangan Kebo Anggara, Putut Bajra Geni segera mengambil dua butiran kecil obat berwarna hitam dari kantong kecil di pinggangnya. Dengan segera dimasukkannya kedua obat sebesar jari kelingking itu ke dalam mulut Kebo Anggara.

“Anak muda itu ternyata telah mewarisi Aji Banyu Suci dalam tataran puncak” berkata Putut Bajra Geni dalam hati

Putut Bajra Geni kemudian terlihat mengangguk kecil begitu menatap wajah Kebo Anggara. lalu terdengar ia bergumam perlahan, “Beruntung kau lengkapi Aji Tameng Waja mu dengan tirai Aji Bumi Sejati, Anggara. Walau masih sebatas kulitnya, ternyata masih membuatmu bisa bertahan.”

Akhirnya setelah menunggu beberapa saat, terlihat tangan Kebo Anggara bergerak gerak lemah disertai dengan terdengarnya erangan kecil dari bibirnya.

“Ternyata obat itu telah mulai bekerja dengan baik dalam tubuhnya” terangguk angguk kepala Putut Bajra Geni disertai dengan senyuman dibibirnya.

Tiba-tiba seperti baru tersadar atas sesuatu hal, Putut Bajra Geni dengan cepat berdiri sambil membalikkan badannya.
Namun terlihat kemudian seolah olah Putut Bajra Geni bisa bernafas lega kembali.

Setelah melihat apa yang baru saja dikhawatirkan, ternyata tidak lebih baik bahkan menurut keyakinan Putut Bajra Geni, keadaan Serat Manitis jauh lebih buruk dari pada Kebo Anggara.

“Temui kematianmu itu, anak muda” batin Putut Bajra Geni.

Agung Sedayu sendiri yang tengah dengan sekuat tenaga mencoba memberi pertolongan terhadap Serat Manitis, segera merasa bahwa Putut Bajra Geni tengah memandang ke arahnya.

Tubuh Serat Manitis yang dirasakan Agung Sedayu bagai dilapisi air yang membeku tersebut, dibaringkan sebentar di tanah kembali.

Agung Sedayu lalu berdiri tegak memandang Putut Bajra Geni. Tidak seperti biasanya, kali ini mata Agung Sedayu benar-benar terlihat begitu tajam menatap pemimpin Perguruan Semu itu.

Senyuman di bibir Putut Bajra Geni tiba-tiba sirna saat itu juga. Putut Bajra Geni benar-benar merasakan jantungnya berdegup dengan cepat. Tatapan mata Agung Sedayu itu bagai menyala seakan akan mampu membakar seisi hutan itu.

Dalam beberapa saat Agung Sedayu masih terus memandang wajah Putut Bajra Geni seakan-akan tanpa berkedip sedikit pun.

Teriring dengan tiupan angin yang terkadang masih membawa tetesan air hujan, kedua kaki Agung Sedayu tampak semakin kokoh menancap di bumi. Agung Sedayu yang hanya diam tanpa berucap sepatah katapun namun matanya yang bagai kilat menyambar, sesungguhnya telah semakin membuat Putut Bajra Geni tidak berani lagi untuk selalu menatap mata Agung Sedayu tersebut.

Sebenarnyalah saat itu darah Agung Sedayu telah mengalir dengan begitu cepatnya. Apa yang terjadi pada Serat Manitis benar-benar telah membuat Agung Sedayu ingin segera menuntaskannya terhadap orang yang telah merencanakan semua itu.

Walau dahulu Agung Sedayu juga sering menyaksikan bagaimana Glagah Putih, Sekar Mirah atau saudaranya yang lain juga terluka parah di medan perang, namun apa yang telah dialami oleh Serat Manitis tersebut jauh lebih parah dibanding dengan yang pernah dialami oleh istri atau keluarga lainnya. Walau telah memberi obat kepada Serat Manitis, namun sebenarnyalah itu hanya sekedar untuk bisa tetap bertahan dalam beberapa saat.

Sementara itu Putut Bajra Geni semakin gelisah disaat menyaksikan apa yang tengah diperbuat oleh Agung Sedayu itu terhadapnya. Udara dingin di tengah hutan lebat itu seakan tetap tidak kuasa untuk menahan keringat yang mulai nampak membasahi pakaian Putut Bajra Geni.

Sejenak kemudian, jantung Putut Bajra Geni seolah olah telah berhenti berdenyut. Agung Sedayu tiba-tiba berucap. meskipun perlahan, tetapi terdengar bagai suara petir saat sampai di telinga Putut Bajra Geni.

Begitu perlahannya ucapan Agung Sedayu tersebut, seolah olah tidak mampu mengalahkan suara-suara jengkerik yang sudah mulai berani berbunyi kembali. “Aku tidak punya waktu banyak Ki Putut Bajra Geni. Aku harus segera melanjutkan mengobati luka bagian dalam saudaraku ini.”
Agung Sedayu diam sejenak, ucapan selanjutnya benar-benar membuat Putut Bajra Geni tanpa sengaja bergerak surut.
“Aku akan langsung mengadu ilmu pamungkasku dengan ilmu yang kau andalkan.”

Beberapa saat Agung Sedayu masih tetap memandang lekat-lekat wajah Putut Bajra Geni, seakan akan sedang menunggu pemimpin Perguruan Semu tersebut untuk segera menyahut ucapannya.

Namun dalam pada itu, didalam waktu sesaat yang digunakan untuk menanti itu, tiba-tiba tanpa diketahui asalnya, ada bisikan yang hadir begitu saja dalam batin Agung Sedayu. Bisikan tersebut membuat Agung Sedayu membuat terkejut, sebenarnyalah apa yang ia dengar itu adalah bisikan suaranya sendiri. Suara lembut yang terus menerus serasa mengetuk ngetuk dinding hatinya. “Tetaplah menjadi diri kita dengan hati yang lepas dari nafsu amarah.” Bagai mengalir tiada pernah berhenti, memenuhi ruang yang ada dalam tubuh Agung Sedayu. Yang terjadi kemudian adalah seakan akan hati Agung Sedayu bagai tersiram air yang begitu terasa menyejukkan. Bagai kolam air suci seperti benar-benar telah bertempat dalam hati Agung Sedayu.

Sementara itu, Putut Bajra Geni sendiri sebenarnya telah melihat raut wajah murid utama perguruan orang bercambuk itu telah menjadi berubah sama sekali. Wajah yang sebelumnya tampak begitu keras dengan tatapan mata yang seakan mampu meruntuhkan kokohnya gunung itu, tiba-tiba menjadi raut wajah yang sejuk, dan seolah olah gemerlap cahaya lembut selalu mengiringi pandangan mata Agung Sedayu.

Akhirnya semua itu telah membuat Putut Bajra Geni sungguh-sungguh merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sama sekali. Ada sesuatu dan ternyata bukanlah kekuatan yang tiada tara besarnya, namun telah menjadikan bergetar hati Putut Bajra Geni walau dalam sesaat.
Pertanyaan-pertanyaan seakan akan dengan tiba-tiba telah hadir begitu saja dalam benak Putut Bajra Geni.
“Apa yang sebenarnya telah terjadi pada diriku ini.
Aku menyadari Agung Sedayu itu berilmu seakan tiada batas, namun bukankah aku juga memiliki sebagian ilmu yang dimilikinya serta ditambah dengan ilmu-ilmuku sendiri.”

Tarikan nafas panjang disertai desahan perlahan menyertai Putut Bajra Geni sesaat. “Apakah Agung Sedayu sedang memainkan ilmu sihirnya? Ah, pasti bukan. Apakah tidak memalukan, andai dengan umur setua ini ternyata tidak mampu membedakan akan bayang-bayang semu.”

Akhirnya di saat kegelisahan semakin kuat mencengkeram hati Putut Bajra Geni, tiba-tiba berkata Agung Sedayu.
Ucapan yang sungguh-sungguh membuat Putut Bajra Geni menjadi terkesiap, seakan tidak percaya atas semua yang didengarnya itu.

“Aku yakin Ki Putut Bajra Geni tidak punya dendam pribadi sekecil apapun terhadapku. Walaupun kita berdiri di pihak yang berseberangan, akan tetapi itu semua tidak mengharuskan kita untuk mencari palagan tersendiri.”

Mendengar ucapan Agung Sedayu tersebut, sebenarnyalah Putut Bajra Geni segera menyadari apa yang terjadi.
Bahkan setelah beberapa saat kemudian, Putut Bajra Geni menjadi lebih mengerti akan maksud sebenarnya dari ucapan Agung Sedayu tersebut.

“Kyai, lanjut Agung Sedayu. Kalau pepesten mengharuskan kita untuk beradu ilmu, biarlah di palagan yang sebenarnya kita akan melakukannya. Dan tentunya setelah aku lebih mengasah apa yang aku punya saat ini terlebih dahulu.”

Putut Bajra Geni menjadi semakin terpaku di tempatnya.
Sebenarnyalah, walaupun watak Putut Bajra Geni seakan akan begitu keras serta tidak mengenal belas kasihan, namun kata-kata Agung Sedayu itu membuatnya benar-benar tidak mampu untuk melawan sedikit pun. Bahkan, Putut Braja Geni juga mengerti apa yang telah di katakan Agung Sedayu itu sesungguhnya tidak seperti pada kenyataan yang sebenarnya.

“Baiklah Agung Sedayu” berkata Putut Bajra Geni dalam hati. “Kau jangan menyesal pada kesempatan yang lainnya.
Sebagai balas budi baikmu ini, aku akan langsung membawa pulang Kebo Anggara tanpa singgah di perkemahan prajuritku terlebih dahulu.”

Agung Sedayu yang melihat Putut Bajra Geni tetap diam tanpa berucap sepatah kata pun, akhirnya meneruskan ucapannya. “Aku akan segera merawat kembali Serat Manitis.
Tentunya kau juga akan melakukan hal yang sama, walau pada kenyataannya keadaan Ki Kebo Anggara jauh lebih baik.”

Putut Bajra Geni tetap tidak menyahut sedikit pun ucapan Agung Sedayu itu, hanya anggukan kecil yang ia lakukan.

“Terima kasih atas keputusanmu itu Kyai” kembali terdengar ucapan Agung Sedayu, sebelum ia kembali duduk di dekat tubuh Serat Manitis.

Melihat Agung Sedayu yang sudah tidak memperhatikan-nya lagi, Putut Bajra Geni pun akhirnya juga mendekati Kebo Anggara yang masih nampak terbaring lemah.

Bagaimanapun juga pada kenyataannya, walau hanya selapis tipis namun beda yang selapis itu telah membuat keadaan Kebo Anggara ternyata tidak mengkhawatirkan sama sekali. Pada saat Putut Bajra Geni mendekat, sebenarnyalah Kebo Anggara telah membuka mata, dan pernafasannya pun tidak tersendat lagi. Bahkan saat Putut Bajra Geni telah berada di sebelahnya, Kebo Anggara tiba-tiba meraih tangan kawannya itu untuk dapat membantunya agar bisa duduk.

Putut Bajra Geni tersenyum, dan segera ia mendudukkan Kebo Anggara.

“Ternyata aku salah duga, Anggara,” gumam Putut Bajra Geni. “Ilmu bumi sejatimu ternyata telah mulai kau asah juga. Cepat kau meneruskannya dengan olah semedimu” lanjut Putut Bajra Geni sambil bergeser agak menjauh.

Nampak Kebo Anggara mengangguk lemah. Namun sebelum Kebo Anggara memulai semedi, sambil memegang pundaknya Putut Bajra Geni berdesis, “Sebenarnya aku ingin mengabulkan keinginan Agung Sedayu itu, namun apakah semua itu tidak menjadikan aku telah menyia-nyiakan kesempatan yang ada ini.”

Sebenarnyalah, walaupun pada saat itu Kebo Anggara masih dalam terbaring lemah, namun sesungguhnya ia telah mendengar semua yang di katakan oleh Agung Sedayu tersebut.

Kebo Anggara yang telah bersiap untuk memulai semedinya, akhirnya mengurai tangannya kembali, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke wajah kakak seperguruan-nya itu. Kedua mata Kebo Anggara yang masih terlihat sangat pucat itu terus menatap tanpa berkedip. Walaupun ia telah mengenal watak saudara seperguruannya itu, namun sebenarnyalah ucapan Putut Bajra Geni tersebut telah membuat jantungnya kembali berguncang hebat. Tidak mengira sama sekali bahwa hal itu bisa terucap dari mulut saudara seperguruannya itu.

Akhirnya, dengan suara yang terdengar masih begitu lemah, Kebo Anggara berkata. “Apakah karena aku masih bisa bertahan sejauh ini, hingga membuat Kakang Bajra Geni punya rencana lain.”

“Jangan kau menganggap aku lemah, adi,” potong Putut Bajra Geni. Mengertilah hanya aku yang meniru watak dari guru. Apakah dengan hatimu yang terlalu lentur itu bisa membuat cita-cita guru dan kita semua ini menjadi kenyataan?”

Berdesir dada Kebo Anggara. Bagaimanapun juga, ia merasa telah mendapat kepercayaan yang sama besarnya dari guru mereka bertiga. Tidak perbedaan sedikitpun dengan dua saudara seperguruannya yang lain.

“Meskipun demikian, baiklah”, kembali Putut Bajra Geni berucap. “Ternyata aku lebih suka biar guru saja yang langsung beradu dada dengan Agung Sedayu. Entah di tlatah Panaraga atau di bumi Mataram sendiri, perang besar itu akan segera terjadi.”

Kebo Anggara hanya menarik nafas dalam-dalam mendengar ucapan saudara seperguruannya itu. Walaupun sifatnya yang sangat sulit di tebak serta sering berubah ubah, namun Kebo Anggara sudah mengetahui dengan pasti ketinggian ilmu kakak seperguruannya tersebut. Sebagai murid pertama, kemampuan Putut Bajra Geni sudah hampir mendekati ketinggian ilmu gurunya sendiri.

Sebenarnyalah Kebo Anggara tanpa menunggu waktu lagi, segera kembali meneruskan olah semedinya. Bagaimanapun juga, ungkapan aji pamungkas Serat Manitis telah mampu membuatnya terluka bagian dalam. Beruntunglah, Aji Tameng Wajanya telah di dukung oleh ungkapan Aji Bumi Sejati, sehingga tidak membuatnya harus terluka terlalu parah. Sesaat kemudian, di tempat itu kembali sunyi tanpa terdengar ucapan atau sekedar bisikan selembut apapun.

Walaupun Kebo Anggara masih sanggup memperbaiki keadaannya sendiri, namun Putut Bajra Geni tetap membantu dengan menyalurkan hawa panas kedalam tubuh saudara seperguruannya itu.

Berbeda dengan yang di alami oleh Agung Sedayu.
Keadaan Serat Manitis yang masih diam tanpa mampu bergerak sedikit pun, telah menjadikan Agung Sedayu harus mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya.
Seakan akan Agung Sedayu tidak menghiraukan lagi seandainya saja Putut Bajra Geni kemudian tiba-tiba menyerangnya. Hawa dingin dari ungkapan ilmu Kebo Anggara telah membuat jantung dan aliran darah Serat Manitis seakan telah berhenti sama sekali.

Keringat seolah benar-benar di peras dari tubuh Agung Sedayu. Saat itu Agung Sedayu sedang mengungkap secara bersamaan dari dua ilmunya yang berbeda sama sekali.
Di saat telapak tangan kirinya mencoba menyerap hawa dingin dari tubuh Serat Manitis, di waktu yang bersamaan pula dari telapak tangan kanan Agung Sedayu mengalirkan secara perlahan lahan hawa panas dari ungkapan ilmunya.

“Semoga aku tidak salah mengingat petunjuk dari kitab Ki Waskita itu”, batin Agung Sedayu.

Namun untuk selanjutnya semakin lama terlihat kegelisahan nampak di wajah Agung Sedayu. Disaat ia telah sampai batas kemampuannya, ternyata belum ada tanda-tanda membaiknya keadaan Serat Manitis.

“Semoga obat tadi masih bertahan lebih lama lagi” gumam Agung Sedayu lirih.

Bersamaan itu pula tiba-tiba Agung Sedayu telah menegak-kan tubuh Serat Manitis. Sambil tetap menahan tubuh Serat Manitis agar tidak kembali terkulai, Agung Sedayu dengan cepat segera duduk bersila di belakang Serat Manitis.
Kembali Agung Sedayu dengan cara yang sama mencoba untuk bisa sedikit memperbaiki keadaan Serat Manitis.
Sebenarnyalah walau kekuatan dua ilmu yang seakan tiada batasnya itu telah diyakini mampu mengurai hawa dingin yang membeku dalam tubuh Serat Manitis, namun ternyata ilmu batin Agung Sedayu pun telah memancar dan semakin meningkat dari hati Agung Sedayu. Yang terjadi pada akhirnya adalah kerendahan hati dalam kepasrahan sesungguhnya.
Pada akhirnya Yang Maha Agung yang akan menentukan semuanya.

Sementara itu, Putut Bajra Geni sendiri ternyata nampak telah membantu Kebo Anggara untuk berdiri. Disaat Agung Sedayu yang tengah berupaya keras itu, mereka berdua terlihat mulai melangkahkan kakinya perlahan-lahan menjauhi tempat itu.

Tetap seakan tidak pernah memikirkan mereka sedikit pun, Agung Sedayu dengan tekun terus mencoba meringankan keadaan Serat Manitis.

Akhirnya setelah beberapa lama kemudian, walau begitu halus namun Agung Sedayu mampu merasakan denyut lembut dari dalam tubuh Serat Manitis.

Semua itu membuat Agung Sedayu semakin menyerahkan kepada ketentuan Yang Maha Agung. Meskipun hanya sedikit dalam hati, Agung Sedayu tidak merasa bahwa ia yang telah mampu membuat keadaan Serat Manitis menjadi sedikit lebih membaik.

Sebenarnyalah, meskipun telah mengerahkan upayanya untuk menyembuhkan Serat Manitis, seakan akan kekuatan tenaga dalam Agung Sedayu tidak berkurang, bahkan seakan-akan masih bugar sama sekali.

Sebenarnyalah walau bagaimanapun juga ungkapan puncak dari dua ilmu yang memang nyata berlawanan itu benar-benar telah menguras kekuatan wadag Agung Sedayu. Hanya kekuatan batin Agung Sedayu yang seolah mengalir ke semua bagian tubuhnya, yang mampu untuk membuat tidak pernah menyerah.

Sehingga di saat walau hanya sekilas terasa detak jantung Serat Manitis mulai ada kembali, seakan akan kekuatan wadag Agung Sedayu pun menjadi bugar seperti sediakala.

“Kau telah melewati sesaat yang menentukan itu, Serat Manitis,” batin Agung Sedayu.

Sejenak Agung Sedayu terlihat mengurai kedua tangannya.
Yang dilakukan Agung Sedayu kemudian adalah mendukung tubuh Serat Manitis, dibawanya menuju batu besar di sebelah pohon jati. Dengan perlahan di sandarkan tubuh Serat Manitis di batu hitam tersebut.

Sejenak Agung Sedayu memandang Serat Manitis.
Kepala yang nampak masih terkulai lemah itu memang menandakan sebenarnyalah Serat Manitis belum siuman sama sekali.

“Yang Maha Agung telah memberi kemudahan kepadamu Manitis” gumam Agung Sedayu. “Namun itu semua juga karena kau telah mau bersungguh-sungguh dalam menempa diri sebelumnya. Pepesten Yang Maha Agung ini merupakan jawaban dari kesungguhan dan ketekunanmu dalam berlatih.”

Agung Sedayu masih membiarkan Serat Manitis seperti adanya. Bahkan tiba-tiba Agung Sedayu berdiri dan kemudian berjalan mendekati semak belukar.

Sebenarnyalah yang di lakukan Agung Sedayu adalah mengumpulkan ranting-ranting di bawah rimbunnya semak-semak tersebut. Ranting-ranting yang masih agak kering, tidak basah karena terkena air hujan.

Di saat Agung Sedayu telah berhasil menguras habis hawa dingin dari dalam tubuh Serat Manitis, maka dengan membuat perapian akan bisa mengurangi hawa dingin yang masih membungkus kulit tubuh Serat Manitis.

Tidak beberapa lama kemudian Agung Sedayu telah berhasil membuat perapian kecil. Sengaja perapian yang berasal dari tumpukan ranting-ranting kering itu, diletakkan agak jauh di depan tempat Serat Manitis berada.

Akhirnya dengan sedikit pengerahan tenaga cadangannya, Agung Sedayu dapat mengalirkan sedikit demi sedikit hawa panas dari perapian itu ke arah tubuh Serat Manitis.

Sebenarnyalah, Agung Sedayu telah menyadari sepenuhnya akan bahaya dari perapian yang dibuatnya. Perapian itu dapat dilihat oleh para prajurit-prajurit sandi yang banyak berjaga di sisi selatan hutan lebat tersebut. Tetapi, hawa panas yang murni berasal dari alam tersebut memang sudah tidak bisa ditunda lagi untuk segera diterima oleh wadag Serat Manitis adanya. Akibat apapun yang akan terjadi kemudian seakan akan sudah tidak dihiraukan sama sekali. Tanggung jawabnya terhadap adik seperguruannya itu telah membulatkan tekat Agung Sedayu untuk menghadapi segala apapun yang akan terjadi kemudian.

Demikianlah, setelah dengan sungguh-sungguh dan tanpa tergesa-gesa sama sekali, hawa panas dari perapian itu perlahan lahan mulai menyusup dalam tubuh Serat Manitis.
Penglihatan Agung Sedayu yang tidak seperti orang kebanyakan itu segera dapat melihat perubahan warna dari kulit tubuh Serat Manitis. Perlahan lahan tubuh Serat Manitis yang pucat memutih itu sedikit demi sedikit mulai nampak memerah kembali.

Sementara itu, hujan benar-benar telah berhenti sama sekali. Walaupun semburat awan tipis masih nampak seakan tergambar di angkasa, namun redup bintang-bintang mulai terlihat di langit luas.

Sebenarnyalah malam itu telah mulai beranjak jauh meninggalkan puncaknya. Suara jengkerik-jengkerik pun semakin sering bersahut-sahutan seolah-olah telah berjanji untuk bersama-sama membalas dendam akibat telah di bungkam sebelumnya supaya menyaksikan perang tanding itu terlebih dahulu.

Akhirnya setelah beberapa lama, apa yang telah dilakukan Agung Sedayu dengan sungguh-sungguh itu telah berhasil sesuai dengan yang diinginkan. Dari penglihatannya yang tajam, Agung Sedayu mampu melihat tarikan nafas Serat Manitis yang seolah sudah tidak terhalang sama sekali.

“Aku akan merawatmu bersama Ki Jayaraga sampai kembali seperti sediakala” Agung Sedayu berdesis sambil menarik nafas dalam-dalam. Setelah mengurai ungkapan tenaga dalamnya, Agung Sedayu segera beranjak mendekati saudara seperguruannya tersebut.

Pendengaran Agung Sedayu yang sudah benar-benar terlatih, segera mengetahui adanya suara langkah-langkah kaki yang menuju ke arahnya. Meskipun masih samar-samar, namun terdengar nyata adanya puluhan orang yang sedang mendekati tempat terjadinya perang tanding tersebut.
Berawal dari seorang prajurit sandi yang tanpa sengaja berada di dekat tempat itu yang sempat melihat cahaya api dari ranting-ranting kecil yang terbakar dari perapian yang dibuat Agung Sedayu.

Agung Sedayu segera membuat pertimbangan-pertimbangan yang mapan. “Mereka masih cukup jauh” batin Agung Sedayu. “Ada jalan setapak di sisi timur hutan ini”

Dengan tanpa menunggu waktu lagi, Agung Sedayu segera mendukung tubuh Serat Manitis. Bergegas Agung Sedayu berjalan cepat melewati semak belukar supaya dapat segera menembus pepohon yang tumbuh lebat. Agung Sedayu berhenti sejenak setelah yakin bahwa dirinya sudah tidak akan di ketahui jejaknya.

“Ternyata lebih dari tiga puluh orang dari prajurit sandi yang mendatangi tempat itu” gumam Agung Sedayu dari balik punggung pohon jati besar sambil memandang lekat-lekat sekelompok prajurit sandi tersebut. Hanya sesaat, Agung Sedayu segera melangkahkan kakinya kembali semakin menjauhi tempat terjadinya perang tanding itu.

Dengan tetap mendukung Serat Manitis, Agung Sedayu menyusuri jalan setapak. Walaupun kadang-kadang masih terhalang oleh dahan-dahan atau batang pohon, namun jalan setapak itu cukup memudahkan Agung Sedayu disaat harus mendukung tubuh Serat Manitis.

Akan tetapi, pada saat sudah hampir mendekati tepi hutan yang berbatasan dengan luasnya pategalan, tiba-tiba Agung Sedayu menghentikan langkahnya. Sebenarnyalah, pendengaran Agung Sedayu yang terlatih telah mampu mendengar desiran lembut dari arah depan. Dengan semakin memegang kuat tubuh Serat Manitis, Agung Sedayu lebih mempertajam pendengarannya.

“Ada dua orang sedang menuju kesini” berkata Agung Sedayu dalam hati. “Semoga bukan bagian dari prajurit sandi itu lagi.”

Dengan menyerap bunyi di sekitarnya, Agung Sedayu dengan cepat bersembunyi di balik semak yang banyak tumbuh menjalar di sepanjang jalan setapak kecil tersebut.
Dari tempatnya berlindung, Agung Sedayu semakin menajamkan dengan aji sapta pangrungu.

“Bukan orang kebanyakan, walau tampaknya mereka sedang berjalan biasa saja” batin Agung Sedayu.

Disaat dua orang itu muncul dari kelokan jalan setapak itu, Agung Sedayu agak terkejut, segera ia keluar dari semak belukar.

“Pangeran Pringgalaya! Ki Jayaraga !”

Kedua orang itu yang ternyata adalah Pangeran Pringgalaya dan Ki Jayaraga, juga nampak terkejut begitu melihat Agung Sedayu yang dengan tiba-tiba keluar dari tempatnya bersembunyi.

Keduanya menjadi semakin berdebar-debar saat memandang tubuh Serat Manitis yang tampak begitu lemah melekat di punggung Agung Sedayu. Walaupun belum pernah sekalipun bertemu muka serta bercakap, namun mereka berdua sudah pernah melihat wajah Serat Manitis.

“Apa yang terjadi dengan Serat Manitis, Ki Rangga,” desis Pangeran Pringgalaya sejenak kemudian.

Ki Jayaraga sendiri juga terlihat begitu tergesa-gesa ingin segera mengetahui apa yang sesungguhnya telah terjadi pada Serat Manitis. “Apakah Angger Serat Manitis harus menghadapi sekelompok orang berilmu sangat tinggi Ki Rangga?” bertanya Ki Jayaraga.

Sebenarnyalah, baik Pangeran Pringgalaya maupun Ki Jayaraga sudah mengetahui dengan pasti akan kemampuan sebenarnya dari Serat Manitis. Peristiwa di dalam pendapa rumah Ki Gede Menoreh sudah cukup memberi gambaran nyata atas kemampuan Serat Manitis yang sangat tinggi tersebut.

Terlihat Agung Sedayu sejenak menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan dua orang yang telah begitu dikenalnya itu. Kemudian, “Ini adalah pepesten, Pangeran,” Agung Sedayu mulai bercerita dengan nada dalam.
Aku yakin paman guru pun saat menyuruh Serat Manitis menemuiku, juga tidak mengira kejadian ini akan dapat menimpa saudaraku ini. Namun ternyata ada sebagian yang tidak berjalan sebagaimana yang diperkirakan.
Serat Manitis yang sedang mengemban tugasnya itu ternyata harus membentur kekuatan yang melampauinya.
Itulah yang tidak diperkirakan sebelumnya oleh kami, bahwa para pemimpin perguruan semu itu ternyata turut hadir di tanah perdikan.”

“Apakah Ki Rangga datang terlambat disaat peristiwa itu terjadi” sahut Pangeran Pringgalaya dengan suara seakan masih belum percaya sesuatu telah menimpa diri Serat Manitis.

Agung Sedayu hanya terlihat menganggukkan kepalanya sesaat, sebelum pada akhirnya menceritakan runtutan peristiwa yang baru saja terjadi itu tanpa ada yang tertinggal sedikit pun. Peristiwa perang tanding yang berakhir pada benturan puncak ilmu sejenis.

Pangeran Pringgalaya maupun Ki Jayaraga sungguh berdebar-debar saat mendengar cerita dari peristiwa yang sebenarnya baru saja terjadi itu. Seolah olah mereka benar-benar dapat merasakan kedahsyatan beradunya ilmu yang tiada tara tersebut.

“Ternyata Yang Maha Agung masih melindungi Serat Manitis” gumam Agung Sedayu kemudian, beberapa saat setelah mengakhiri ceritanya. “Daya tahan tubuhnya sungguh-sungguh luar biasa, hingga pada akhirnya ia mampu melewati saat-saat yang paling menentukan.”

Hampir bersamaan Pangeran Pringgalaya maupun Ki Jayaraga terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya dengan bernafas lega.

Ki Jayaraga kemudian kembali memandang ke arah Serat Manitis yang nampak seakan-akan sedang tertidur pulas.
Ki Jayaraga menggeleng geleng sesaat, sebelum akhirnya menyahut ceritera Agung Sedayu itu. “Aku yakin Angger Serat Manitis akan segera menemukan kesembuhannya Ki Rangga.
Sudah tidak sabar rasanya untuk segera dapat bercakap dengan anak yang masih begitu muda namun telah mewarisi ilmu-ilmu yang nggegirisi.”

Ucapan Ki Jayaraga tersebut telah membuat Pangeran Pringgalaya tertawa perlahan. Katanya kemudian, “Aku percaya sepenuhnya akan pangrasa Ki Jayaraga.
Ucapan Kyai tersebut telah membuat hatiku bisa menjadi tenang kembali.”

Agung Sedayu sendiri juga tersenyum mendengar itu semua. Walaupun Agung Sedayu yakin Pangeran Pringgalaya dan Ki Jayaraga baru sesaat bertemu, namun nampak mereka berdua selayaknya kawan yang telah lama bersama.
Sebenarnyalah bertiga mereka masih bercakap cakap sebentar tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi akibat dari perang tanding itu.

Akhirnya, Pangeran Pringgalaya berkata. “Ada baiknya aku segera menemui para senapati dalam pasukan cadangan terlebih dahulu. Baru setelah itu aku akan membicarakannya di dalam pasukan utama.”

“Sebaiknya memang seperti itu pangeran” sahut Agung Sedayu. “Kita harus sudah siap sepenuhnya, andai mereka tiba-tiba mulai menyerang tanah perdikan.”

Sejenak Pangeran Pringgalaya mengangkat kepalanya untuk memandang langit sesaat. “Ternyata sudah hampir pagi Ki Rangga. Sebaiknya aku harus segera pergi ke perkemahan pasukan cadangan sekarang.”

Akhirnya mereka pun segera bergegas meninggalkan tepian hutan itu. Sebenarnyalah hanya perjalanan yang pendek. Hanya beberapa saat kemudian mereka telah sampai di pinggir hutan yang berbatasan dengan hamparan pategalan yang cukup luas.

Sejenak mereka berhenti saat di depan nampak membujur pematang yang membelah hamparan pategalan tersebut.
Pangeran Pringgalaya terlihat sejenak menganggukkan kepalanya. Kemudian ia berkata perlahan, “Aku akan berbelok menyusuri pematang yang melintang di pinggiran pategalan ini Ki Rangga. Sebelum terbit fajar harusnya aku sudah bisa bergabung dengan pasukan mataram di hutan sebelah barat itu.”

“Baiklah Pangeran” desis Agung Sedayu. “Akan tetapi aku harus minta maaf terlebih dahulu Pangeran. Saat ini aku benar-benar membutuhkan bantuan Ki Jayaraga untuk bersama-sama berusaha menyembuhkan Serat Manitis. Untuk itu Ki Jayaraga akan aku ajak pulang ke rumah bersamaku”

Sebenarnyalah, baik Pangeran Pringgalaya maupun Ki Jayaraga terkejut mendengar perkataan Ki Rangga Agung Sedayu tersebut. Mereka berdua tidak menduga sama sekali kalau luka dalam Serat Manitis sampai begitu parahnya. Andai bukan Agung Sedayu yang mengatakannya sendiri, mungkin mereka berdua baik Pangeran Pringgalaya maupun Ki Jayaraga tidak akan berani menduga duga atas keadaan sebenarnya dari Serat Manitis.

Terdengar suara Pangeran Pringgalaya menjadi bergetar di saat menyahut ucapan Agung Sedayu beberapa saat kemudian. “Aku sebelumnya tidak mengira sama sekali, Ki Rangga. Bahkan sesaat kita masih di dalam hutan tadi, aku sesungguhnya telah yakin keadaan Serat Manitis akan segera kembali seperti sediakala.”

“Aku juga berpikir seperti itu sebelumnya” gumam Ki Jayaraga membenarkan perkataan Pangeran Pringgalaya.

Tarikan nafas sangat dalam dilakukan Agung Sedayu sebelum menjawab ucapan Pangeran Pringgalaya maupun Ki Jayaraga. “Semoga penilaianku ini salah Pangeran, Ki Jayaraga. Mungkin semua ini hanya ketakutanku semata. Itu semua disebabkan hingga sampai saat ini aku masih belum mendapatkan jawaban atas tanaman obat dari jenis apa yang bisa membantu kesembuhan Serat Manitis.”

Ki Jayaraga hanya menundukkan kepalanya tanpa menyahuti perkataan Agung Sedayu tersebut. Sudah diketahuinya dengan pasti bahwa Agung Sedayu juga seorang tabib yang sangat baik. Hingga sewaktu mengetahui Agung Sedayu masih mengalami kesulitan untuk menyembuhkan saudara seperguruannya itu, akhirnya yang dapat dilakukan-nya hanya diam tanpa berucap sepatah katapun

Sebenarnyalah, hanya sesaat mereka yang seolah olah larut dalam kegelisahan. Mereka bertiga adalah orang-orang yang telah tuntas dalam kawruh lahir maupun batin.
Hingga pada akhirnya kegelisahan yang seakan tiada berujung itu segera mampu diendapkan oleh keyakinan akan pertolongan dari Yang Maha Agung.

Terdengar ucapan Pangeran Pringgalaya yang mulai tenang kembali. “Aku akan segera mempersiapkan seluruh prajurit yang ada, Ki Rangga. Akan aku satukan seluruh kekuatan, baik yang ada di barak pasukan khusus maupun yang sekarang sedang berkemah di hutan sebelah barat itu.”

Walau agak terkejut pada awalnya, namun Agung Sedayu dan Ki Jayaraga segera dapat mengerti langkah yang akan ditempuh Pangeran Pringgalaya tersebut.

“Aku yakin Ki Rangga Agung Sedayu serta Ki Jayaraga sudah mengerti maksud dari rencanaku ini” lanjut Pangeran Pringgalaya. “Saat senja turun nanti, gelar pasukan Mataram sudah siap di sisi utara tanah perdikan.”

“Dan dengan tetap menunggu sampai mereka yang mulai menyerang terlebih dahulu” sahut Ki Jayaraga sambil tersenyum.

Sebenarnyalah Ki Jayaraga sungguh-sungguh mengagumi langkah cerdik Pangeran Pringgalaya tersebut. Dengan sengaja memasang gelar terbuka namun dengan siasat untuk tidak menyerang terlebih dahulu. Siasat agar nantinya pasukan gabungan dari Perguruan semu serta prajurit Panaraga itu harus selalu siap setiap saat, berjaga jaga seandainya pasukan Mataram sudah mulai bergerak.

“Silahkan Ki Rangga dengan urusan Serat Manitis terlebih dahulu” berkata Pangeran Pringgalaya dengan mengangguk-kan kepalanya terhadap Agung Sedayu. “Tidak bermaksud mendahului sebuah pepesten, namun aku merasa pasukan Panaraga nantinya akan dilanda kejenuhan.”

Agung Sedayu dengan tetap memegang erat Serat Manitis di punggungnya, tertawa perlahan sambil mengangguk anggukkan kepalanya. “Apakah Pangeran akan memasang gelar Garuda Nglayang, seperti yang dulu pernah Panembahan Senapati lakukan di kadipaten Madiun?”

Pangeran Pringgalaya hanya mampu menahan tertawanya mendengar ucapan Agung Sedayu tersebut.

“Gelar yang oleh Panembahan Senapati mampu ditrapkan seolah-olah tanpa ada sisi lemah sedikit pun” lanjut Agung Sedayu.”

“Benar Ki Rangga” sahut Ki Jayaraga. “Seakan-akan di setiap sudut sekecil pun apapun dalam Garuda Nglayang, pasti telah di pahami dengan sangat baik oleh Panembahan Senapati.”

Sejenak mereka bertiga terdiam dalam beberapa saat.
Seakan-akan mereka sungguh-sungguh telah melihat bagaimana para prajurit Mataram serta pengawal tanah perdikan telah menutup pategalan dan bulak-bulak kecil yang membujur dari sisi barat sampai ke timur. Gelar Garuda Nglayang yang terlihat sangat kuat bagai banjir bandang di saat menyerang, namun juga teramat liat dalam menahan gempuran lawan.

“Baiklah Ki Rangga, aku akan bergegas sekarang” berkata Pangeran Pringgalaya beberapa saat kemudian.

“Silahkan Pangeran, aku bersama Ki Jayaraga juga akan bergegas supaya cepat sampai di rumah.”

Sebenarnyalah Pangeran Pringgalaya terlebih dahulu memisahkan diri dengan berjalan menuju ke arah barat.
Sejenak Agung Sedayu serta Ki Jayaraga masih berada di tepian pategalan itu sampai Pangeran Pringgalaya benar-benar tidak terlihat lagi.

Agung Sedayu sendiri dengan tetap mendukung Serat Manitis di punggungnya segera bergegas menyusuri pematang yang membujur di tengah pategalan itu. Ki Jayaraga memilih berjalan di belakang mengikuti Agung Sedayu.

Pematang yang sempit serta licin itu tidak membuat mereka berdua mengalami kesulitan sedikitpun. Tanpa bercakap lagi, mereka terus berjalan menuju padukuhan induk tanah perdikan Menoreh.

Akan tetapi, di saat telah memasuki jalan padukuhan induk dan Agung Sedayu memilih untuk berjalan lurus di saat melewati jalan simpang, barulah terdengar suara lirih Ki Jayaraga.

“Apakah Ki Rangga memutuskan untuk tidak merawat angger Serat Manitis di rumah kita?”

Seakan-akan Agung Sedayu baru tersadar kalau dirinya tidak sedang berjalan berdua saja dengan Serat Manitis. “Aku kira tadi Ki Jayaraga mau melihat parit-parit terlebih dahulu” jawab Agung Sedayu sambil tertawa perlahan.

Ki Jayaraga sendiri yang telah berjalan berjajar, juga menyahut gurauan Agung Sedayu itu dengan tertawa yang lebih keras.

Sebenarnyalah Ki Jayaraga telah mengerti bahwa Agung Sedayu tetap mencoba untuk tidak mengganggu sedikit pun keluarganya yang di rumah. Apalagi laku mesu diri Sekar Mirah serta yang lainnya sudah melampui separo dari waktu yang diperlukan. Mungkin bisa saja tidak berpengaruh sama sekali, namun seandainya tetap membawa Serat Manitis ke rumah, dapat dipastikan akan banyak pertanyaan tentang siapa sesungguhnya Serat Manitis itu serta sebab musabab sampai ia terluka. Ki Jayaraga memahami Agung Sedayu tidak ingin saat pewarisan ilmu itu ada sesuatu yang mengguncang nalar serta batin istri serta saudara saudaranya.

“Bagaimana menurut Ki Jayaraga, seandainya kita ke rumah Empu Wisanata?” berkata Agung Sedayu di saat mereka hampir keluar dari padukuhan induk.

Sebenarnyalah, di depan mereka jalan mulai agak mendaki menuju bulak di tepi hutan kecil.

“Aku juga sudah agak lama tidak berkunjung ke rumah Empu Wisanata” sahut Ki Jayaraga dengan mengangguk anggukkan kepalanya. “Walau kadang-kadang masih sering bertemu, namun hanya di saat sedang membuka air atau dengan pekerjaan sawah lainnya.”

“Ia orang baik, Kyai. Aku yakin dalam pengalamannya yang luas, Empu Wisanata pasti juga telah banyak mengenal berbagai macam tanaman-tanaman untuk pengobatan.”

Akhirnya mereka berdua tidak terus melangkah ke arah jalan yang mendaki, namun berbelok ke kanan menyusuri jalan di pinggiran padukuhan induk.

Sebenarnyalah Empu Wisanata dan anaknya Nyai Dwani telah pernah punya jasa besar dalam membantu memberi gambaran tentang Ki Saba Lintang beberapa waktu yang lalu.
Oleh sebab itulah, disaat Empu Wisanata serta Nyai Dwani merasa nyaman dengan tata kehidupan penduduk tanah perdikan, maka Ki Gede Menoreh sebagai pemimpin tertinggi di tanah perdikan dan tentunya telah melalui persetujuan dari para bebahu, akhirnya memberi hadiah terhadap Empu Wisanata sebidang tanah untuk dapat didirikan sebuah rumah. Selain itu Empu Wisanata juga diperbolehkan membuka hutan seperlunya yang nantinya akan bisa dijadikan pesawahan atau pategalan.

“Ki Rangga, seakan rumah Empu Wisanata itu seperti layaknya sebagai batas dari padukuhan induk” gumam Ki Jayaraga sewaktu mereka telah melihat rumah kecil yang berdiri agak jauh dari rumah penduduk lainnya serta di tanah yang sedikit berbukit.

Agung Sedayu hanya mengangguk-angguk dan mereka berdua terus bergegas menuju rumah Empu Wisanata tersebut.

Akhirnya setelah membelok ke kiri serta melalui jalan yang agak naik, akhirnya mereka telah sampai di depan rumah dengan pendapa kecil itu. Rumah yang tidak ada pagar di depannya, namun banyak ditanami pepohon buah di halaman depan.

“Mungkin Empu Wisanata baru menunaikan kewajibannya, Kyai” gumam Agung Sedayu sambil berjalan menuju lincak bambu di samping pendapa.

Dengan di bantu Ki Jayaraga, akhirnya Serat Manitis dibaringkan di atas lincak bambu tersebut.

Sebenarnyalah desiran suara langkah kaki di halaman rumahnya telah diketahui oleh Empu Wisanata.
Sesaat setelah Agung Sedayu serta Ki Jayaraga membaringkan tubuh Serat Manitis, terdengar langkah kaki melintasi pendapa rumah mendekati tempat mereka berdua berdiri.

“Siapa yang di luar” terdengar suara perlahan Empu Wisanata beberapa saat kemudian.

Ki Jayaraga yang tidak ingin membuat Empu Wisanata menjadi curiga disaat berkunjung di waktu yang kurang tepat, cepat-cepat menyahut ucapan Empu Wisanata. “Aku Jayaraga Empu, datang bersama Ki Rangga Agung Sedayu.”

Mendengar jawaban itu, Empu Wisanata yang masih berdiri termangu-mangu di atas pendapa bagian depan, tanpa menunggu waktu lagi segera bergegas menuruni tlundak pendapa menuju ke tempat Ki Jayaraga serta Agung Sedayu berdiri.

Dengan tergopoh-gopoh Empu Wisanata menyambut kedua tamunya tersebut. “Silahkan Ki Rangga, Ki Jayaraga naik ke pendapa” dengan agak tergagap Empu Wisanata mempersilahkan kedua tamunya itu.

Namun Empu Wisanata menjadi terkejut begitu menyadari di atas lincak bambu miliknya, seseorang nampak tengah terbaring lemah. Wajah tua Empu Wisanata menjadi semakin berkerut ketika tengah mencoba mengingat ingat, seandainya dirinya mungkin pernah mengenal atau bertemu dengan Serat Manitis itu.

“Empu, semburat merah menjadi semakin jelas di ufuk timur, aku mau meminjam tempat untuk melaksanakan kewajiban terlebih dahulu” perlahan berkata Agung Sedayu sambil tersenyum memandang Empu Wisanata.

“Oh, silahkan Ki Rangga, Ki Jayaraga. Mari langsung masuk ke ruang dalam saja.”

Tanpa berkata lagi, Agung Sedayu segera mengangkat pelan-pelan tubuh Serat Manitis. Empu Wisanata yang mulai dapat meraba-raba tentang keadaan Serat Manitis itu, tanpa bertanya lagi cepat-cepat menyiapkan bilik untuk digunakan membaringkan Serat Manitis.

Sebenarnyalah beberapa saat kemudian, setelah Agung Sedayu dan Ki Jayaraga melaksanakan kewajibannya masing-masing, mereka berdua telah terlihat duduk di pendapa bersama Empu Wisanata.

Kicau burung perkutut di atas dahan pohon jeruk yang baru mulai tumbuh itu seakan akan tengah menanti hangatnya matahari pagi.

Setelah saling menyampaikan kabar keselamatan masing-masing, akhirnya Agung Sedayu mengatakan tujuan mereka berdua berkunjung ke rumah Empu Wisanata tersebut.
Nyai Dwani sendiri setelah menghidangkan minuman serta makanan kecil juga memilih ikut bergabung berbincang dengan ayah serta kedua tamunya itu.

Empu Wisanata nampak mengangguk-anggukkan kepalanya begitu Agung Sedayu selesai berbicara. “Aku pernah bertemu dengan anak muda yang bernama Serat Manitis itu” ternyata Nyi Dwani yang pertama kali menyahut atas apa yang di sampaikan oleh Agung Sedayu.

Saat Empu Wisanata memandangnya, Nyi Dwani segera meneruskan ucapannya kembali. “Sudah agak lama, mungkin hampir satu purnama. Aku berpapasan dengan Serat Manitis di pematang sawah saat aku akan mengantarkan makanan serta minuman untuk ayah. Dia menanyakan arah yang menuju pasar tanah perdikan.”

“Dan yang kau jumpai di sawah itu ialah adik seperguruan Ki Rangga Agung Sedayu dari jalur perguruan Windujati, Dwani.”

“Iya ayah. Saat itu aku tidak mengira sama sekali” desis perlahan Nyi Dwani sambil menundukkan kepalanya.

“Baiklah Ki Rangga” gumam Empu Wisanata kemudian.
“Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
Kitab pengobatan yang selama ini aku tulis bersama Dwani masih terlalu dangkal untuk mengurai kedahsyatan ilmu yang sangat langka itu. Namun aku akan tetap menyediakan tenaga serta waktuku untuk membantu kesembuhan Angger Serat Manitis.”

“Itulah maksudku sebenarnya, Empu. Kita coba gabungkan ilmu pengobatan yang kita miliki selama ini. Dari Ki Jayaraga, serta warisan dari guruku Kyai Gringsing maupun apa yang pernah aku pelajari dari Ki Waskita akan melengkapi ilmu pengobatan Empu Wisanata sendiri.”

“Ah, Ki Rangga terbalik dalam mengatakannya” sahut Empu Wisanata sambil tertawa perlahan begitu mendengar apa yang di sampaikan Agung Sedayu tersebut.

Untuk beberapa saat mereka masih berbincang-bincang dalam banyak hal yang sebagian besar tentunya tidak jauh mengenai keadaan tanah perdikan Menoreh saat itu.
Nyi Dwani sendiri tidak beberapa lama kemudian memilih pergi ke belakang untuk mengerjakan tugas kesehariannya.
Tugas yang pasti akan bertambah karena kehadiran tiga orang tamu-tamu ayahnya. Namun semua itu tetap dengan senang hati dijalankannya.

Sementara itu di salah satu ruangan dalam perkemahan prajurit Panaraga nampak dua orang tengah bercakap cakap dengan sungguh-sungguh. Dua orang berumur setengah baya yang sudah lengkap dalam pakaian perang keprajuritan.
Sebenarnyalah apa yang telah terjadi di tengah hutan sebelah barat perkemahan benar-benar telah diketahui oleh semua prajurit Panaraga dan para murid perguruan semu.
Perang tanding yang akhirnya telah membuat para pimpinan prajurit harus segera membuat tindakan cepat serta menghentikan rencana-rencana yang telah disusun matang sebelumnya.

“Apakah Turangga Pethak sudah memberikan perintah apa yang harus kita kerjakan?”

“Belum kakang lurah. Ki Turangga Pethak masih berada di dalam perkemahan induk berkumpul dengan para pimpinan lainnya.”

Orang yang di panggil dengan sebutan kakang lurah itu nampak hanya tersenyum kecil dengan matanya tetap memandang tajam ke arah orang yang sedang diajaknya bicara itu. Dalam beberapa lama orang yang dipanggil dengan sebutan kakang lurah itu masih terus memandang seakan tanpa berkedip sama sekali.

Akhirnya membuat orang yang diajak bicara itu seakan akan hanya mampu berbisik lemah dengan kepalanya tertunduk dalam. “Bukankah Kakang Arya Alit tetap akan dalam penyamaran dalam batas sebagai seorang lurah prajurit?”

“Tetap seperti itu, Jaka Panengah. Kau jangan terlalu cemas. Hanya saja aku semakin melihat orang Perguruan Semu itu semakin nyata menunjukkan kebodohannya.”

Orang yang dipanggil Jaka Panengah itu hanya mengangguk kecil, akan tetapi dari tarikan nafas dalamnya nampak mulai berkurang kegelisahannya yang sedang melandanya sejak beberapa saat yang lalu.

“Kau jangan terlalu menganggap aku mudah untuk terpancing amarahku, Panengah. Sudah sering aku katakan biarlah Ki Ageng Singa Wasesa dengan perguruan semunya itu mencoba untuk mewujudkan cita citanya terlebih dahulu” Senyum tipis nampak di bibir orang yang bernama Arya Alit itu. “Orang yang sudah mulai pikun tetapi tidak mau menyadarinya” lanjut Arya Alit kemudian.

“Namun walau sekecil apapun Ki Ageng Singa Wasesa juga akan mampu mengguncang Mataram, Kakang.”

“Benar Panengah. Walau sangat sulit untuk menembus para senapati utama Mataram, namun dengan ilmunya yang cukup tinggi itu akan bisa berguna juga untuk ikut sedikit mengikis tembok kuat Mataram tersebut.”

Jaka Panengah tiba-tiba tersenyum lebar sambil menyahut ucapan kawan bicaranya. “Mereka sudah mulai mendengar tentang nama Podang Alit. Dan sebentar lagi pasti juga menyusul tentang gerakan Jati Alit.”

“Juga kabar tentang adanya seorang anak muda yang sedang di tempa oleh trah leluhurnya Harya Pamungkas, menyahut Arya Alit dengan terlihat wajahnya yang nampak membesi.”

“Dan mengertilah, Panengah. Cukup satu pesan yang perlu kau ingat dari orang -rang yang dulunya mengaku sebagai guru kita. Selain kau dan aku memiliki ilmu yang sangat tinggi, kita juga harus mempunyai nalar yang tidak tertandingi pula.”

Jaka Panengah nampak mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Yang ada setelah itu bukanlah guru lagi” lanjut Arya Alit kemudian. “Mereka hanyalah lantaran, karena mereka lebih dahulu memiliki ilmu-ilmu itu daripada kita.”

Sebenarnyalah walau ada sedikit yang tidak sesuai dengan hatinya, namun semua itu segera tertutup sama sekali oleh nalar Jaka Panengah. Nalar Jaka Panengah telah menghasilkan satu sikap yang sudah hampir mendekati Arya Alit.

Mengapa harus di sebut guru, jika untuk menyamai saja tidak mampu, apalagi untuk dapat mengalahkan dirinya.
Keyakinan seperti itulah yang ada dalam nalar Jaka Panengah sesungguhnya, seperti halnya yang juga diyakini oleh Arya Alit adanya.

“Benar Kakang” bergetar suara Jaka Panengah. “Orang-orang terdahulu dan mungkin yang sekarang masih juga seperti itu, mereka tidak akan mampu menajamkan ilmu-ilmunya disebabkan karena telah dianggapnya batas ketinggian ilmu itu seperti yang ada serta dimiliki oleh gurunya. Mereka tidak akan pernah bisa melepaskan dari batas itu sebab merasa dirinya hanyalah seorang murid.”

Arya Alit Tertawa agak keras, sambil menepuk nepuk pundak saudara seperguruannya itu. “Jangan kau pernah kembali ragu-ragu lagi, Panengah. Walau itu hanya selintas laksana embun di pagi hari. Andai suatu saat ada ganjalan atau kegelisahan segera kau katakan kepadaku. Karena yang setipis apapun itu akan dapat menumbuhkan adanya sebuah batas kembali. Batas itulah yang membuat kau akan berjalan ke belakang, berteman lagi dengan Kakang Panji, Saba Lintang, atau orang tua pikun Singa Wasesa itu.”

“Apakah Kakang Arya Alit menganggap aku sebodoh itu.”

Arya Alit tertawa semakin keras begitu mendengar ucapan saudara seperguruannya itu. Dengan kedua tangan, dipegangnya kedua bahu Jaka Panengah. Di pandangnya lekat-lekat wajah adik seperguruannya itu. “Aku hanya tidak ingin kita berpisah, Panengah.”

Arya Alit berhenti sesaat. Kemudian, “Semua itu tidak akan pernah terjadi selama pengakuanmu kepada para guru itu benar-benar telah lenyap tanpa bekas sama sekali.”

Jaka Panengah yang semula tertunduk dalam-dalam, sesaat kemudian mengangkat kepalanya berganti memandang wajah Arya Alit. Jaka Panengah berkata dengan nada dalam, “Percayalah kepadaku kakang. Sebagaimana keyakinan kakang disaat mengorbankan diri hanya untuk menyelamatkanku dari derasnya banjir bandang kala itu.”

Namun sebelum Arya Alit menjawab, tiba-tiba masuk seorang prajurit ke dalam perkemahan mereka. Prajurit itu cepat-cepat mengangguk hormat untuk segera menyampaikan perintah yang telah dibawanya.

“Ki Lurah diperintah untuk segera membawa seluruh prajurit bergerak ke timur menemui Tumenggung Suradira yang sudah berada di sana. Untuk seterusnya aku yang akan bertugas menjadi penghubung dari kelompok prajurit yang Ki Lurah pimpin.”

“Baiklah prajurit, Aku sudah siap sejak tadi. Aku akan segera berangkat membawa seluruh prajurit sekarang juga”, jawab Arya Alit dengan suara tinggi.

Prajurit penghubung itu pun setelah mengangguk hormat segera cepat-cepat keluar untuk melanjutkan tugasnya yang lain.

Arya Alit kemudian memandang Jaka Panengah sambil tersenyum. Jaka Panengah juga melakukan hal yang sama, bahkan terdengar perlahan suara tertawanya.

Jaka Panengah lebih dahulu berkata. “Mari Kakang, kita segera berangkat. Kelihatannya kelompok prajurit kita akan berada di sayap kiri gelar nantinya.”

Arya Alit sendiri kemudian meraih tombak pendek yang tergantung di samping pintu tenda itu. Tanpa menyahut perkataan Jaka Panengah lagi, Arya Alit telah keluar dari tenda prajurit itu.

Jaka Panengah hanya tertawa pendek memandang saudara seperguruannya itu yang seakan-akan menganggapnya tidak pernah ada di tempat itu.

Sebenarnyalah perintah telah jatuh dari senapati yang ditunjuk. Hari itu juga, semua prajurit Panaraga maupun anggota Perguruan Semu harus sudah bersiap semua dalam gelar perang. Mereka tidak ingin terlambat sekejap pun.
Sebelumnya mereka sudah mulai merasa kalau para pengawal sudah mulai mencium keberadaan perkemahan besar mereka itu, maka dengan adanya peristiwa perang tanding semalam telah menambah keyakinan mereka semua bahwa dalam setiap saat mereka bisa saja dengan tiba-tiba diserang lebih dahulu oleh pasukan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Sementara itu keadaan di tanah perdikan Menoreh sendiri, hampir di semua padukuhan telah terlihat kesibukan yang meningkat. Walaupun sebelumnya kebanyakan para penduduk telah mengetahui tentang keberadaan pasukan besar yang sedang membayangi tempat tinggalnya, namun perintah yang begitu tiba-tiba untuk segera cepat bersiap itu, telah menjadikan kesibukan hampir di setiap rumah, apalagi yang di rumah itu adalah tempat tinggal dari seorang pengawal.

Pangeran Pringgalaya sendiri sebagai senapati utama, dengan sungguh-sungguh telah bertindak sigap serta dengan penuh perhitungan.

Setelah Pangeran Pringgalaya menjelaskan dan memberi perintah kepada semua senapati bawahannya, termasuk waktu yang dipilih untuk memulai bergerak, ternyata Pangeran Pringgalaya telah lebih dahulu berada di induk padukuhan Menoreh.

Selain untuk melihat kembali semua sisi atau sudut yang mungkin bisa menjadi titik lemah di semua padukuhan tanah Perdikan, maka Pangeran Pringgalaya juga memerlukan waktu khusus untuk menemui para penghuni rumah Agung Sedayu.

Sebenarnyalah peningkatan kesibukan di tanah perdikan yang begitu meningkat berlipat-lipat itu benar-benar telah membuat hampir semua penghuni rumah Agung Sedayu sangat terkejut. Kecuali Rara Suhita, semua orang di rumah itu seperti terpana tanpa mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Pada saat mereka para penghuni rumah Agung Sedayu sedang menimbang-nimbang apa yang sedang terjadi, kembali mereka dikejutkan dengan kehadiran Pangeran Pringgalaya.

Bukan derap kaki kuda yang dengan sigap mampu berhenti mendadak di depan pagar halaman, namun kedatangan putra Panembahan Senapati yang datang tanpa pengawal sama sekali itulah yang membuat dada para penghuni rumah menjadi berdebar debar.

Glagah Putih dengan wajah yang nampak sedikit pucat, dengan tanpa menunggu waktu lebih lama lagi segera bergegas meraih tali kekang kuda Pangeran Pringgalaya.

“Silahkan naik ke pendapa rumah kami, Pangeran,” dengan perlahan Sekar Mirah yang berdiri di samping tlundak pendapa mempersilahkan tamunya itu untuk segera naik ke pendapa.

Sukra yang baru keluar melalui halaman samping, segera meminta tali kekang kuda dari tangan Glagah Putih.
Sukra pun mengetahui kalau Glagah Putih juga ingin segera berbincang dengan tamu yang bukan orang kebanyakan itu.
“Cepat sana, segera bergabunglah di pendapa, desis Sukra.”

Tanpa menunggu Glagah Putih menjawab, Sukra telah menuntun kuda Pangeran Pringgalaya. Glagah putih hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, mendengar ucapan Sukra tersebut.

Glagah Putih pun akhirnya segera bergegas untuk ikut bergabung dengan Sekar Mirah dan Rara Wulan, yang telah terlebih dahulu menemui Pangeran Pringgalaya.

Hanya dalam sesaat saja mereka sama-sama saling menyampaikan kabar keselamatan masing-masing.
Kesungguhan yang nampak dari wajah Pangeran Pringgalaya benar-benar telah di mengerti baik oleh Sekar Mirah, Glagah Putih maupun Rara Wulan.

Begitu mereka bertiga menyampaikan sepatah dua patah kata tentang keselamatan masing-masing, mereka lantas memilih untuk diam memberi kesempatan Pangeran Pringgalaya untuk segera mengatakan maksud dan tujuannya berkunjung ke rumah mereka itu.

Pangeran Pringgalaya sendiri sebenarnya sudah paham benar dengan siapa saat itu ia sedang berbicara. Pangeran Pringgalaya juga benar-benar menaruh hormat kepada orang -rang yang saat itu sedang duduk di hadapannya tersebut. Dengan nada dalam ia berkata, “Walau kita jarang bertemu, namun aku begitu mengenal kalian semua seperti aku mengenal ayah Panembahan atau Eyang Patih Mandaraka.
Sudah tidak terhitung jasa serta bakti dari semua orang yang tinggal di rumah ini. Mataram tidak akan mampu membalas atas semuanya itu. Namun, aku yakin generasi Mataram yang akan datang walau dalam wujud apapun, tetap akan mengenang orang -rang yang semasa hidupnya hanya untuk mengabdi demi tegaknya sendi-sendi urip bebrayan agung.”
Sejenak Pangeran Pringgalaya menarik nafas dalam-dalam sebelum meneruskan ucapannya. “Saat ini, dan aku yakin pula untuk masa-masa yang akan datang, Mataram tetap membutuhkan kehadiran Nyai Sekar Mirah, Nyi Rara Wulan , Ki Glagah Putih dan yang lainnya. Dengan alasan itulah, aku mencoba untuk menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi di Tanah Perdikan Menoreh. Biarlah aku di anggap deksura, sebab yang sesungguhnya paling tepat untuk mengatakan semuanya ini adalah hanya Ki Rangga Agung Sedayu.”

Akhirnya, setelah dirasa cukup dalam mengawalinya, Pangeran Pringgalaya pun lantas mengatakan maksud serta tujuan yang sebenarnya, mengapa ia seolah olah begitu tiba-tiba serta terkesan terburu-buru di saat berkunjung di rumah Agung Sedayu tersebut. Tidak ada yang tertinggal sedikit pun, baik sejak awal, dimana para prajurit Panaraga dan Perguruan Semu itu mulai membuat landasan, hingga kepada sampainya laporan yang telah ia terima dari prajurit sandi bahwa pasukan lawan telah bersiap sepenuhnya dalam gelar perang.

Sebenarnyalah, Pangeran Pringgalaya kemudian menjelaskan keadaan yang sedang terjadi di Tanah Perdikan Menoreh itu dengan sangat hati-hati. Dengan tanpa ada kesan terburu-buru sama sekali. Bahwa sesungguhnya dengan tanpa mendahului pepesten, seluruh pengawal dengan para senapatinya, serta para prajurit Mataram yang ditugaskan membantu para pengawal, nyata-nyata telah mampu membuat penilaian yang mapan terhadap kekuatan lawan yang sebenarnya.

Semua di jelaskan secara runtut oleh Pangeran Pringgalaya, dengan maksud agar para penghuni rumah Agung Sedayu tersebut, tidak menjadi terkejut serta segera mampu membuat penilaian yang mapan dari kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.

Namun, bagaimanapun juga apa yang di katakan Pangeran Pringgalaya itu adalah tentang keadaan yang benar-benar dapat mengguncang seluruh sendi-sendi kehidupan rakyat Menoreh. Bagi Sekar Mirah, Glagah Putih, dan Rara Wulan, yang selama ini telah begitu teguh dalam menjaga tiap jengkal tanah Menoreh, tetaplah merasa bersalah seandainya tanah perdikan benar-benar terguncang, tanpa mereka dapat ikut bersama-sama mempertahankannya.

Yang terjadi kemudian adalah mereka seakan-akan tidak mampu bernafas sedikit pun. Hanya dada mereka yang berdebar semakin cepat, baik oleh Sekar Mirah, Glagah Putih, maupun Rara Wulan. Bahkan, di dahi dan wajah Glagah Putih nampak keringat dingin yang semakin nyata terlihat.

Keheningan walau sejenak memang benar-benar terjadi, begitu Pangeran Pringgalaya selesai dalam bicaranya.
Bahkan Sukra yang terlihat berlari dengan tergesa-gesa memasuki halaman rumah tempat tinggalnya itu, tetap tidak mampu memecahkan keheningan di atas pendapa itu.
Hanya Pangeran Pringgalaya yang menoleh ke arah Sukra.
Namun Pangeran Pringgalaya mengurungkan niat untuk melambaikan tangannya, begitu melihat Sukra setelah mengangguk hormat kepada dirinya, cepat-cepat berlalu menuju ke samping rumah.

“Pasti yang di bicarakan ada hubungannya dengan ratusan para pengawal yang telah bersiap di tiap gardu itu” batin Sukra sambil termenung di samping kolam yang bersebelahan dengan pohon jambu sukun itu.

Namun, hanya sesaat Sukra yang terlihat seperti melamun di tepi kolam itu. Seakan-akan seperti telah tersadar atas sesuatu, Sukra tiba-tiba segera berlalu bahkan dengan berlari-lari kecil menuju ke bagian belakang rumahnya. Ke sanggar tempat yang biasa ia gunakan, yang menjadi tujuan Sukra yang nampak sangat tergesa-gesa tersebut. Sukra hanya menganggukkan kepala sejenak disaat melihat Rara Suhita yang tengah duduk di amben kecil di halaman belakang di dekat pohon sawo.

Rara Suhita yang sesungguhnya sudah mengerti tentang keadaan di tanah perdikan yang sebenarnya, hanya membalas dengan menganggukkan kepalanya. Rara Suhita sengaja tidak bertanya sesuatu hal apapun, walau saat itu dilihatnya wajah Sukra yang tampak tengah tegang dengan keringat yang seolah olah membasahi seluruh tubuhnya.

Dibiarkannya Sukra yang terus berlalu hingga memasuki sanggar yang biasa ia gunakan. “Pasti ia telah melihat persiapan para pengawal itu” batin Rara Suhita. “Bagaimanapun juga seluruh orang di rumah Mbokayu Sekar Mirah ini pasti akan mengetahui juga, cepat atau lambat tentang keadaan yang sebenarnya di Menoreh ini.
Semoga seperti yang diharapkan” gumam Rara Suhita dengan beranjak untuk ke dapur kembali menilik air yang sedang dijerangnya.

Sementara itu Sukra tidak terlalu lama berada di dalam sanggar. Sama saat dia masuk, begitu keluar sanggar pun Sukra juga tetap dengan berlari, walau bilik tempatnya yang dituju tidak terlalu jauh letaknya dari sanggar.

Diletakkannya pedang dan busur yang lengkap dengan puluhan anak panah itu di atas amben miliknya.
Sukra pun lantas berkemas, dengan menukar pakaian kesehariannya dengan pakaian yang mirip seperti yang sering dipakai para pengawal. “Dimanapun aku ditempatkan nantinya, akan aku laksanakan dengan sepenuh hati” gumam Sukra sambil menjinjing busur yang kemudian melangkah keluar dari biliknya.

Namun, Sukra tertegun beberapa saat di depan biliknya, di saat melihat Rara Suhita tengah berdiri tidak jauh dari pintu biliknya. Yang mampu dilakukannya hanya menundukkan kepala dengan debar di dada yang semakin lama bertambah cepat.

Rara Suhita sebenarnya memang dengan sengaja berdiri di dekat pintu bilik Sukra itu. Dan mengerti dengan pasti bahwa saat itu Sukra tengah bersiap-siap, tentu saja ia akan segera ikut bergabung dengan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Sekedar untuk mengingatkan agar Sukra menunggu sesaat sampai Sekar Mirah serta yang lainnya turun dari pendapa. Namun serasa bibirnya tercekat tidak mampu terucap sepatah katapun.

Keterkejutan Sukra, juga kegelisahan saat ia sejenak bertatap mata dengannya, membuat Rara Suhita hanya mampu menundukkan kepalanya seperti yang bisa Sukra lakukan saat itu.

Keringat dingin membanjir sekujur tubuh Sukra. Walaupun semakin kuat busur itu tergenggam erat, namun gagang busur itu seakan-akan menjadi terasa semakin licin dalam genggamannya.

Namun dalam pada itu, walaupun Rara Suhita sempat terhanyut sesaat terhadap sesuatu yang sulit di mengerti itu, namun Rara Suhita akhirnya hanya sejenak saja segera mampu menyadari keadaan yang terjadi. Meskipun dengan suara bergetar, namun Rara Suhita telah memulai percakapannya. “Apakah kau akan berangkat tanpa minta ijin dahulu kepada guru-gurumu itu?”

Tampak terkejut, tanpa sengaja Sukra mengangkat kepalanya memandang Rara Suhita. Namun hanya sekilas, lalu seperti semula Sukra menundukkan kepalanya kembali.

“Tunggu sejenak” kembali Rara Suhita berbicara. “Paling tidak supaya nanti kau benar-benar tahu lebih dahulu tentang apa yang sesungguhnya sedang terjadi di Tanah Perdikan ini.”

Sebenarnyalah Rara Suhita tidak ingin terlalu lama berbicara dengan Sukra. Ada sesuatu yang bagi dirinya itu harus di tahan sekuat-kuatnya terlebih dahulu sampai tugas besar yang ia emban benar-benar telah tuntas.

Namun begitu Rara Suhita akan berlalu dari tempat itu, tiba-tiba Sukra berucap bertanya kepada Rara Suhita.
Kembali Rara Suhita menatap wajah Sukra sambil mendengar apa yang tengah ia ucapkan.

“Apakah Nimas Rara Suhita mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh hampir seluruh pengawal itu?” Sejenak Sukra berhenti sejenak seakan-akan sedang mengatur nafas agar suaranya tidak terlalu terdengar bergetar lagi. “Aku melihat di semua gardu ronda, juga di banjar padukuhan induk, para pengawal telah bersiap dengan senjata lengkap. Dan itu bukanlah selayaknya sekedar latihan perang seperti kebiasaan sehari hari.”

“Itu semua yang menjadi alasanku untuk segera menemui Ki Prastawa.”

Sebelum Rara Suhita memberi jawaban, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda berhenti di depan rumah.

“Mari kita keluar” desis Rara Suhita tiba-tiba. “Kau akan segera tahu yang sebenarnya sedang terjadi.”

Dengan menganggukkan kepalanya, akhirnya Sukra mengikuti Rara Suhita yang hendak menuju ke halaman depan.

Sebenarnyalah, begitu hampir sampai di depan pendapa, mereka berdua melihat Ki Jayaraga bersama seorang pemuda tengah berdiri sambil bercakap-cakap dengan Pangeran Pringgalaya dan yang lainnya.

Sukra bersama Rara Suhita lantas memilih berdiri di samping kolam yang berdekatan dengan pohon jambu sukun.
“Anak muda itu putra Ki Tumenggung Untara” bisik Sukra perlahan. Kemudian, “Aku pernah bertemu dengannya beberapa tahun yang lalu, di saat dia diajak ayahnya mengunjungi tanah perdikan.”

Rara Suhita hanya mengangguk kecil sambil memperhatikan orang -rang yang ada di halaman. “Kelihatannya Mbokayu Sekar Mirah, Kakang Glagah Putih, dan Nyi Rara Wulan sudah nampak tenang kembali” berkata Rara Suhita dalam hati. “Semoga memang seperti itu adanya” terlihat Rara Suhita tersenyum dengan nafas lega.

Sementara itu, mereka yang tengah berdiri di halaman depan itu nampak sedang sungguh-sungguh dalam perbincangan. Walau pada awalnya Sekar Mirah, Glagah Putih, dan Rara Wulan agak terkejut, namun begitu Ki Jayaraga menjelaskan secara runtut tanpa ada yang tertinggal sedikit pun, akhirnya mereka bertiga bisa mengerti alasannya.

“Aku tidak mengira kalau Kakang Agung Sedayu sudah berada di Menoreh dalam beberapa hari ini” desis Sekar Mirah.

“Itu semua demi kepentingan yang lebih besar, Nyai Rangga” sahut Pangeran Pringgalaya. “Seperti yang sudah kita bicarakan tadi Nyai, Nyi Rara Wulan tetap akan bergabung di dalam pasukan.”

Sekar Mirah serta Glagah Putih hampir bersamaan saling menganggukkan kepalanya.

“Dan biarlah Wira Permana ikut mendampingiku” lanjut Pangeran Pringgalaya kemudian.

Ki Jayaraga yang waktu itu disuruh untuk menjemput Wira Permana dari barak pasukan khusus, nampak mengangguk sambil memandang Wira Permana.

Merasa dirinya seperti sedang ditunggu kesanggupannya, maka berkatalah Wira Permana. “Aku akan melakukan sampai batas kemampuanku.”

Sebenarnyalah nama Wira Permana yang dengan tiba-tiba telah disuruh ikut bergabung dalam pasukan, telah membuat Glagah Putih dan Sekar Mirah terkesiap beberapa saat.

Pangeran Pringgalaya cepat-cepat menjawab, menyusul keterkejutan Sekar Mirah serta Glagah Putih. “Aku sudah mengerti kemampuan Wira Permana. Dalam usia dia yang masih muda itu, ternyata Ki Rangga Agung Sedayu telah mempercayainya.”

Kemudian Pangeran Pringgalaya bercerita sedikit tentang pertempuran yang pernah terjadi di tengah hutan beberapa hari yang lalu. Walaupun belum berkata apapun namun Pangeran Pringgalaya merasa Sekar Mirah serta Glagah Putih terlihat tidak akan terlalu khawatir lagi, andai Wira Permana benar-benar bergabung dalam pasukan.

“Baiklah, aku akan menuju ke banjar padukuhan dahulu, Nyai Rangga. Saat matahari mulai turun, aku perintahkan Nyi Rara Wulan serta Wira Permana sudah berada di banjar padukuhan induk.”

Akhirnya, setelah berpamitan kepada semuanya, Pangeran Pringgalaya segera bergegas memacu kudanya menuju banjar padukuhan induk.

Orang-orang di rumah Agung Sedayu kemudian kembali duduk di pendapa rumah. Rara Suhita dan Sukra juga ikut bergabung bersama mereka.

“Maafkan aku Mbokayu, aku tidak menyuguhkan minuman serta makanan kecil” desis Rara Suhita mendahului berbicara lebih dulu. “Dan saat itu, Sukra juga tengah bersiap siap.”

Sekar Mirah menganggukkan kepalanya. Dia mengerti alasan Rara Suhita tidak menyuguhkan makanan serta minuman disaat Pangeran Pringgalaya masih ditempat itu.

“Apakah kau akan berangkat sekarang menemui kakang Prastawa?” akhirnya Glagah Putih bertanya kepada Sukra.

Sukra hanya mengangguk kecil sambil memandang wajah Glagah Putih. Sebenarnyalah, baik Sekar Mirah, Glagah Putih maupun Rara Wulan sudah mengerti sepenuhnya tentang keadaan yang sedang terjadi. Dan mereka juga menjadi tahu bahwa pasukan lawan tetap akan menunggu, dengan kemungkinan kecil untuk menyerang terlebih dahulu.
Walaupun yang terjadi di medan pertempuran bisa saja jauh berbeda dari yang diperkirakan sebelumnya.

“Ternyata Pangeran Pringgalaya telah menyusun kekuatan secara berimbang.”

“Benar Wulan” jawab Sekar Mirah. “Juga dengan penempatan prajurit yang berlebih di dapur umum, untuk berjaga seandainya lawan akan menggunakan cara licik dengan membakar atau merusak dapur umum atau bahan-bahan makanan.”

“Kita telah punya pengalaman dalam ketahanan jiwani itu” desis Ki Jayaraga perlahan.

Akhirnya beberapa saat kemudian mereka membubarkan diri masuk ke dalam rumah, kecuali Ki Jayaraga yang akan segera pergi lagi ke rumah Empu Wisanata.

Sementara itu, di perkemahan utama pasukan gabungan nampak para pemimpin prajurit Panaraga maupun Perguruan Semu telah sepakat bulat, walaupun sebelumnya ada yang kurang sependapat tentang langkah yang akan mereka ambil.

“Baiklah” gumam Panembahan Gede pada akhirnya. “Aku menghargai Ki Kebo Langitan yang di utus langsung oleh Ki Ageng Singa Wasesa untuk memimpin pasukan ini.
Walau cara itu tidak seperti yang selama ini aku kenal dalam perang gelar.”

Akhirnya, Ki Ageng Panjer Bumi, Empu Serat Waringin, Tumenggung Jaya Wiguna dan para senapati lainnya bisa bernafas lega.

“Aku pernah berada dalam pasukan Pajang di pasukan berkuda saat terjadi perang besar di Kali Opak kala itu” berkata orang yang bernama Kebo Langitan beberapa saat kemudian. “Dan tidak hanya itu, aku juga ikut mengalami perang-perang besar lainnya setelah itu.”

Wajah tua Kebo Langitan menjadi terlihat semakin bertambah ketuaannya disaat dahinya berkerut mengingat ingat peristiwa-peristiwa perang yang pernah dialaminya. “Tidak hanya sekali atau dua kali aku sengaja mengorbankan wadag, hanya untuk mencari sisi lemah dari Garuda Nglayang.
Dan tentunya aku tidak hanya mendekat, namun harus jauh masuk menusuk ke garis pertahanan lawan.”

“Gede, aku tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu” lanjut Kebo Langitan dengan sengaja memandang wajah Panembahan Gede. “Aku sudah lama mengenalmu, dan aku juga mengerti kau pasti akan memilih untuk kepentingan yang lebih besar, walau itu tidak sama dengan yang ada di dalam hatimu. Gede, anggaplah cara ini memang licik menurut penilaianmu, akan tetapi langkah inilah yang akan menjadi awal dari terwujudnya tujuan pribadimu itu.”

Panembahan Gede hanya menundukkan kepalanya tanpa berucap sepatah kata pun, namun sebenarnya debaran dalam dadanya menjadi semakin cepat, apalagi disaat Kebo Langitan menyinggung tentang kepentingan pribadinya.

Kebo Langitan sendiri cepat-cepat mengalihkan ucapannya manakala dirasakan kegelisahan nampak dalam diri Panembahan Gede.

“Putut Kirana, apakah kau telah menemukan orang -rang yang menyerupai kami.”

“Semua sudah siap Guru” jawab Putut Kirana seketika itu juga. “Kapan pun diperintah, mereka telah siap dengan tugas khususnya itu.”

“Baiklah, lanjut Kebo Langitan. Marilah kita lihat apakah pengawal Tanah Perdikan Menoreh telah bersiap pula.
Ki Ageng Panjer Bumi sebagai senapati pengapit di sayap kiri gelar. Biarlah Turangga Pethak yang memimpin di sayap itu.
Dengan begitu Ki Ageng Panjer Bumi bisa lebih bebas bergerak, walaupun tidak harus memisahkan diri dari kelompok.”

Turangga Pethak dan Ki Ageng Panjer Bumi terlihat menganggukkan kepala sesaat.

“Dan Panembahan Gede sebagai senapati pengapit di sayap kanan gelar yang dipimpin oleh adi Tumenggung Jaya Wiguna.”

Akan tetapi, belum selesai Kebo Langitan berbicara, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang seolah olah telah begitu saja berdiri tepat di bawah pintu butulan tenda.

“Biarlah sedikit tenagaku ini akan menemani adi Kebo Langitan di paruh gelar itu.”

Sebenarnyalah, Kebo Langitan sudah kenal baik dengan orang tua lanjut usia yang dengan tiba-tiba hadir itu. Namun yang terjadi adalah seakan-akan di dalam perkemahan itu terjadi kebisuan tanpa ada yang bisa menyahut ucapan orang itu.

“Apakah aku sudah tidak layak untuk turun di medan pertempuran, adi? Atau barangkali kau sudah tidak mengenal orang pikun seperti aku ini?”

Seakan-akan baru tersadar dari keterkejutannya, tiba-tiba Kebo Langitan seolah-olah melompat begitu saja dari tempat duduknya, menghampiri orang itu dengan memegang kedua tangannya.

“Ki Ajar Wukir Waja” desis Kebo Langitan semakin erat memegang kedua tangan orang itu.

Orang yang di panggil dengan sebutan Ki Ajar Wukir Waja tersebut tertawa perlahan. “Ah, sudahlah adi Kebo Langitan.
Aku sudah terlalu tua untuk membawa nama itu. Apakah kau sudah tidak ingat bagaimana kau dahulu memanggil namaku.”

Kebo Langitan memandang orang yang sudah begitu dikenalnya itu lekat-lekat. Sambil menggelengkan kepalanya, berucap Kebo Langitan, “Aku tidak mungkin lupa kepada engkau kakang Pideksa. Kau tetap aku anggap sebagai guru serta kakangku sendiri.”

Orang tua yang sudah memutih seluruh rambut serta alisnya itu menjadi bertambah keras tertawanya begitu mendengar ucapan Kebo Langitan. Orang yang bernama Ki Ajar Wukir Waja atau Ki Pideksa itu menjawab dengan tetap menahan tertawanya. “Ada baiknya kita bercerita sambil melihat seluruh prajuritmu yang sudah bersiap sejak lama itu.”

Seperti diingatkan akan tugasnya, Kebo Langitan setelah menganggukkan kepala, segera memerintahkan seluruh senapatinya untuk segera bergegas bergabung dengan pasukannya masing-masing.

Disaat matahari mulai beranjak dari puncaknya, sebenarnyalah seluruh pasukan gabungan di sisi utara tanah perdikan itu benar-benar telah siap. Gelar Garuda Nglayang yang dipilih sebagai pembuka, walau tetap saja ada gelar-gelar cadangan yang juga telah dipersiapkan sebelumnya, nampak begitu lengkap serta sangat kokoh. Dengan pasukan berkuda yang sebagian besar mereka tempatkan di sisi paling luar dari masing-masing sayap. Walaupun tetap menyisakan juga pasukan berkuda untuk tetap mengisi di paruh gelar.
Terlihat pasukan panah tetap berada di baris paling depan dari seluruh bagian gelar itu.

“Pasukanmu ini mengingatkanku pada pasukan Raden Sutawijaya semasa berhadapan dengan pasukan Pajang” desis Ki Pideksa disaat bersama Kebo Langitan telah berada di sekitar para prajuritnya.

“Tetap seperti tujuan awal Kakang” berkata Kebo Langitan. Selain hanya untuk memangkas ranting-ranting, yang lebih penting adalah menyiutkan ketahanan jiwani laskar pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu sendiri.” Dari tempat mereka berdiri yang sengaja memilih diatas perbukitan kecil, sebenarnyalah mereka bisa memandang lepas lereng-lereng di depannya hingga sampai jauh ke pategalan luas yang bersebelahan dengan bulak panjang. Seakan-akan bulak panjang serta luas itu yang menjadi batas antara pategalan dengan tepi hutan tanah Perdikan itu.

“Mereka membuat perkemahan ganda Kakang” desis Kebo Langitan sambil terus melihat jauh ke arah pategalan yang menghampar luas. Sesungguhnya Kebo Langitan melihat deretan perkemahan di sepanjang bulak yang berbatasan dengan pategalan. Dan yang menjadikan Senapati utama pasukan Panaraga ini agak bertanya-tanya kemudian adalah sewaktu dilihatnya jauh di seberang pategalan juga nampak tenda-tenda perkemahan prajurit yang ternyata juga didirikan.

“Adi Kebo Langitan” berkata Ki Pideksa dengan nada dalam. Sebenarnya aku ingin bertemu denganmu sudah lebih dari empat purnama yang lalu. Bukan untuk mengetahui tingkat ilmumu setelah menjadi cantrik di Perguruan Semu itu.”

Belum selesai Ki Pideksa dalam berbicara, tiba-tiba Kebo Langitan tertawa lepas begitu mendengar ucapan kawannya yang juga telah dianggap sebagai saudaranya itu. Ki Pideksa sendiri akhirnya juga tidak kuasa untuk sekedar menahan tertawanya. Bahkan tubuh Ki Pideksa yang tinggi besar walau telah berkeriput kulitnya itu, ikut terguncang guncang sesaat.

Akhirnya, beberapa saat kemudian setelah mereka selesai dalam gurauannya, Ki Pideksa melanjutkan perkataannya. “Aku mengerti kebanyakan orang -rang yang ikut bergabung dengan Perguruan Semu itu, semuanya mempunyai kepentingan pribadi.”

“Harusnya Kakang Pideksa juga ikut bergabung” sahut Kebo Langitan sambil tersenyum.

“Benar adi” gumam Ki Pideksa perlahan. “Namun Perguruan Semu harus mampu menjelaskan dahulu tentang Mataram kepadaku. Dan selagi mereka hanya mampu mengetahui sebatas kulitnya, mereka akan terbakar sendiri atas api dendamnya itu.”

Terkejut Kebo Langitan, lalu ditatapnya wajah kawannya itu lekat-lekat.

Namun Ki Pideksa seolah olah tidak mengerti sama sekali, kemudian berkata selanjutnya. “Itu alasanku tidak ikut bergabung serta menjadikan Panaraga sebagai landasan.
Hanya kepada mereka yang memahami Mataram luar maupun dalam, aku akan bersedia menjadi bagiannya.”

“Apa maksud dari semuanya itu, Kakang Pideksa” Kebo Langitan menyahut dengan suara bergetar.

“Adi, ini sesuatu yang kecil dan hanya sebatas dari kulit luarnya saja.”

Walau belum mengerti arah perkataan dari saudaranya itu, namun Kebo Langitan hanya diam tanpa menyela sedikit pun lagi.

“Kau pasti ingat kejadian-kejadian kecil yang ternyata itu berpengaruh besar bagi kemenangan pasukan Mataram.
Seperti terasa baru kemarin, bagaimana cerdiknya Raden Sutawijaya yang dengan sengaja memerintahkan sayap kanan gelarnya untuk perlahan-lahan mundur. Dan dalam waktu yang bersamaan ia hentakkan kekuatan sayap kirinya dengan sangat tiba-tiba. Yang akhirnya membuat dua gelar yang saling berhadapan itu menjadi sedikit bergeser dan cahaya matahari tidak akan lagi menyilaukan mata para prajurit Mataram yang saat itu berada di sisi barat medan pertempuran.”

Kebo Langitan masih tetap diam hanya kepalanya saja terkadang mengangguk serta menggeleng.

“Juga peristiwa tentang perkemahan Mataram yang tiba-tiba telah kosong begitu saja, yang akhirnya membuat laskar pajang sendiri menjadi terkepung di saat mencoba mencari jejak hilangnya seluruh prajurit Mataram itu. Peristiwa di lembah Merapi, saat perang Demak dan tentunya masih banyak lagi. Yang semua itu harus sungguh-sungguh dimengerti oleh siapapun yang ingin beradu dada terhadap Mataram.”

“Kau benar, Kakang.”

“Itu baru sebatas sisi luarnya serta masih sesuatu yang kecil” sahut Ki Pideksa seakan akan memotong begitu saja ucapan sesaat Kebo Langitan tersebut.

Udara yang masih terasa menyengat kulit, seakan akan tidak di rasa sama sekali oleh mereka berdua. Mereka masih terus berdiri di atas bukit kecil itu dengan selalu memandang ke arah padukuhan-padukuhan tanah perdikan. Walau mereka juga tetap berbincang dengan sungguh-sungguh.

“Itulah sebenarnya tujuanku ingin bertemu denganmu, adi Kebo Langitan. Dan ada baiknya tentang pembuatan perkemahan ganda itu menjadi awal dari langkah-langkah yang akan kita ambil seterusnya” gumam Ki Pideksa sambil tertawa perlahan.

Kebo Langitan mengangguk-anggukkan kepalanya sesaat.
Sebenarnyalah Kebo Langitan mulai dapat menangkap maksud dari semua ucapan kawannya itu.

“Ternyata tidak hanya membutuhkan kekuatan besar serta ilmu yang tiada batas untuk menguburkan nama Mataram” desis Kebo Langitan pada akhirnya.

Namun, tiba-tiba ada sesuatu yang menarik perhatian kedua orang itu.

Sebenarnyalah, jauh di depan dari tempat mereka berdiri, keduanya samar-samar melihat perkembangan keadaan baik di perkemahan para pengawal tanah perdikan maupun pasukan Mataram.

Dalam pada itu, Ki Pideksa berkata kepada Kebo Langitan, “Jangan pernah sedikit pun berpikir, prajurit Mataram dengan para pengawal itu berbeda, Adi. Tidak hanya kepada para pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Pengawal Pegunungan Sewu, pengawal Kademangan Sangkal Putung, para pengawal Kademangan Prambanan, mereka semua tidak berbeda sama sekali dengan para prajurit Mataram.”

“Dan Prajurit Mataram selalu unggul dari sisi kecerdikan maupun kelicikan” desis Kebo Langitan.

“Apa maksudmu dengan kelicikan itu, Adi,” sahut Ki Pideksa dengan suara agak keras.

Dan dalam pada itu, Kebo Langitan menjawab dengan memandang lekat-lekat kawannya itu, “Bukankah memang seperti itu adanya Kakang.”

Ki Pideksa menarik nafas dalam-dalam lalu berkata, “Hilangkan keyakinan itu, Adi. Itulah yang menjadi salah satu penyebab atas selalu patahnya mereka semua yang pernah mencoba beradu dada dengan Mataram. Kebencian yang mengakar dalam diri mereka itu akan menjadikannya kehilangan penalaran sama sekali.”

Namun belum selesai perkataan Ki Pideksa, tiba-tiba dua orang berlari lari kecil menuju ke tempat mereka berdua.
Seorang perwira prajurit Panaraga dan seorang putut kepercayaan yang memang mendapat tugas sebagai penghubung dari sayap kanan. Prajurit penghubung itu menganggukkan kepala lalu berkata dengan singkat, “Di sayap kiri lawan, yang kebanyakan adalah para pengawal, ternyata dengan tiba-tiba telah bergerak menyebar dengan membuat garis pertahanan hampir di tengah bulak panjang.”

Kebo Langitan mengangguk kecil dan langsung menyahut, “Walau samar-samar, aku dan kakang Pideksa sudah melihat pergerakan di sayap kiri tersebut. Dan perintahkan kepada Tumenggung Jaya Wiguna untuk tetap dalam garis pertahanan tanpa merubah alas pertahanan itu sedikitpun.”

Mengerti bahwa ucapan Kebo Langitan itu sudah merupakan suatu perintah yang jelas dan tegas, maka tanpa banyak bertanya lagi kedua orang petugas penghubung itu segera bergegas berlalu, cepat-cepat kembali ke sayap kanan pasukan mereka.

Sementara itu, di sayap kanan pasukan Panaraga dan Perguruan Semu, sebenarnyalah semua prajuritnya dalam kesiagaan yang semakin tinggi. Para prajurit yang berada di garis paling depan telah memasang perisai dalam gelar perang.
Perisai yang seolah-olah menutup rapat hampir semua prajurit yang berada di sayap kanan tersebut. Di belakang prajurit yang membawa perisai, ratusan prajurit lainnya, sebelah menyebelah dengan bersenjata lembing dan panah juga sudah benar-benar siap kapan pun perintah menyerang itu turun.

Sesungguhnya para prajurit Panaraga dan Perguruan Semu nyata-nyata telah melihat para prajurit Mataram maupun para Pengawal sudah menyebar dengan senjata merunduk.
Apalagi di saat menyaksikan bahwa lawan ternyata dengan berani menempati separo bulak panjang sebagai garis pertahanan mereka.

Dalam pada itu, seorang prajurit bersenjata panah telah membisiki kawan di sebelahnya yang membawa lembing di tangan kirinya, “Lihatlah perisai mereka yang ternyata tidak terlalu rapat. Benar-benar sombong orang -rang Mataram itu.”

“Bodoh kau” jawab prajurit yang membawa lembing di tangan kirinya. “Orang-rang Mataram itu belum bersiap sepenuhnya. Apakah panahmu itu mampu sampai ke tempat mereka yang masih terlampau jauh itu? Sampai putus tali busurmu, aku jamin hanya sampai di depan kaki mereka panahmu itu.”

“Kau menantang aku” geram prajurit yang bersenjata panah, dengan wajah merah padam memandang lekat-lekat kawannya yang membawa lembing di tangan kiri.

Namun kawannya itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Lalu berkata, “Aku hanya mengingatkan kau, sebab selama ini kita berkawan dekat walau kesatuan kita berbeda. Jangan sampai kita kehilangan penalaran. Bukankah kita tidak hanya sebulan dua bulan, akan tetapi sudah bertahun-tahun lamanya dalam berlatih dengan senjata kita ini. Aku yakin busur serta panah yang kau bawa itu sudah selayaknya seperti kedua tanganmu sendiri.
Sudah menjadi bagian anggota tubuhmu sendiri.”

Akhirnya sedikit demi sedikit orang yang bersenjata panah itu perlahan lahan mulai menurun gejolak amarahnya.
Sejenak kemudian prajurit yang bersenjata panah itu berkata, “Apakah sekarang kau menjadi kidal?”

“Tidak. Aku hanya mencoba untuk tidak menjadi korban disaat benturan pertama itu terjadi.”

Prajurit yang bersenjata panah itu nampak mengerutkan dahinya. Prajurit yang membawa lembing di tangan kirinya itu menyambung ucapannya, “Maksudku, sudah hampir tiga purnama ini aku mencoba melatih otot-otot tangan kiriku.
Memang aku khususkan hanya untuk melempar lembing ini.
Akan tetapi paling tidak, tangan kananku tetap tidak akan pernah lepas dari pedangku ini. Pedang ini adalah peninggalan orang tuaku dan ternyata selalu melindungiku disaat aku butuhkan. Bukankah sudah lebih dari tiga perang aku ikut terjun didalamnya dan ternyata kau masih juga melihatku tetap hidup?.”

“Ah kau. Saat seperti ini kau masih sempat untuk bergurau” desis perlahan orang yang bersenjata panah itu.

Namun dalam pada itu, di sisi yang lain dalam sayap kanan itu tiba-tiba seorang penghubung bersama kawannya yang ternyata seorang prajurit sandi dengan tergesa-gesa telah menghadap Tumenggung Jaya Wiguna. Setelah mengangguk-kan kepalanya berkatalah prajurit penghubung itu, “Ada sekitar sembilan orang dari pasukan berkuda lawan telah bergerak menuju ke arah barat, walau sebelumnya mereka berusaha menyamarkannya dengan bergerak ke arah selatan terlebih dahulu.” Prajurit itu berhenti sejenak, kemudian,
“Aku melepaskan pengamatan setelah mereka berhenti di bulak yang bersebelahan dengan sungai di kiri kanannya itu” prajurit sandi menambahkan penjelasannya.

Tumenggung Jaya Wiguna yang saat itu bersama dengan Panembahan Gede, sejenak terdiam. Namun sesaat kemudian telah bertanya Panembahan Gede, “Menurutmu akan bergerak kemana pasukan kecil itu?”

Prajurit sandi itu termangu mangu sejenak. Sebagaimana yang telah diketahuinya sebagai seorang prajurit sandi memang harus mampu membaca keadaan atau kejadian yang dilihatnya. Akhirnya dengan lirih berkata prajurit sandi tersebut, “Mereka telah berusaha menyamarkan gerak mereka.
Kami telah meyakini, kelompok kecil berkuda itu memang akan menuju ke utara. Namun kemungkinan yang terbesar, mereka hanya mencoba menyesatkan pasukan kita di sayap kanan ini.”

“Baiklah” Tumenggung Jaya Wiguna menyahut, kemudian, “Kembali ke tempatmu sekarang. Dan perintahkan kepada kawan-kawanmu untuk tetap mengamati pergerakan pasukan kecil berkuda itu.”

Sebenarnyalah di bulak panjang yang diapit sungai sebelah menyebelah itu, terlihat kelompok berkuda yang semula berderap cepat kemudian telah berhenti justru ketika telah mulai menapak di bulak panjang. Sembilan orang dalam kelompok berkuda yang dipimpin oleh Rara Wulan.
Seakan-akan apa yang tengah mereka lakukan dengan berhenti justru di saat mulai menapak jalan yang mulai rata itu, sungguh-sungguh sesuatu langkah yang telah mereka rencanakan sebelumnya. Terkesan mereka kemudian tidak terburu buru lagi seperti sebelumnya. Bahkan dua orang di antaranya telah turun dari kudanya masing-masing.

Rara Wulan yang melihat kedua kawannya itu turun dari kudanya, lalu berdesis, “Itu kuda pinjaman Kakang Mandira, Kakang Rumeksa. Pasti belum terlalu jinak kepada kalian berdua. Berhati hatilah, andai kuda-kuda itu tiba-tiba lepas dan berlari sendiri, dengan terpaksa kalian nanti akan aku tinggal di bulak ini berdua.”

“Aku memang sudah tidak muda lagi Rara. Paling tidak dari kelompok kecil ini, aku yang paling tua. Sebenarnyalah aku memang sudah merasa lelah ketika tadi kita seakan-akan telah berlomba berpacu dalam berkuda.” jawab Mandira.

Kesembilan orang itu tertawa terbahak-bahak. Seolah-olah mereka sedang tidak dalam melaksanakan tugas yang sedang diemban. Walaupun sebenarnya mereka tidak lupa sama sekali dan tidak melupakan kewaspadaan sedikitpun. Namun karena mereka adalah kawan-kawan lama yang tiba-tiba telah bertemu kembali, yang membuat mereka benar-benar merasakan kegembiraan itu.

Salah satu diantaranya yang bernama ternyata adalah Pranawa kemudian menyahut ucapan Mandira, “Walau tanpa Glagah Putih dan Sabungsari, namun aku sangat bangga dan percaya di saat kau ditunjuk untuk memimpin kelompok berkuda ini, Rara. Kau yang dulu masih dalam tataran terendah di kelompok kita, namun sekarang ternyata telah melampau yang lain.”

Seseorang yang berada di paling belakang juga menyahut, “Pasti Guru pun akan sangat bangga dengan kemampuan Rara sekarang ini.”

“Baiklah, aku terima pujian kalian semua itu” berkata Rara Wulan sambil tersenyum. “Namun andai aku sampai kehilangan pengamatan diri atau penalaran sebagaimana mestinya, jangan salahkan aku jika Kakang Glagah Putih menjadi marah. Dan pastinya Ki Ajar Gurawa tidak akan lagi melepas murid-muridnya bergabung dalam kelompok ini.”

Sebenarnyalah mereka semua sungguh-sungguh menjadi gembira setelah mendapat kesempatan untuk dapat berkumpul kembali. Rasa rasanya walau tetap tanpa mengurangi kewaspadaan sedikitpun, mereka tetap tidak bisa meninggalkan gurauan-gurauan di waktu yang memungkin-kan.

Namun sesungguhnya dari awal mula, mereka sudah mengetahui kehadiran sekelompok orang yang berpencar sedang mengamati keadaan mereka. Dan tanpa kesengajaan pula gurauan yang tidak dibuat-buat itu mampu meyakinkan sekelompok orang itu bahwa kehadiran mereka ternyata belum diketahui.

Namun dalam pada itu, Mandira kembali berucap, “kalau aku tahu sebelumnya kuda Glagah Putih tidak dipakai, aku tidak menjadi kelelahan seperti sekarang ini. Kuda itu benar-benar luar biasa.”

Sementara itu, mereka masih saling berbincang bincang dalam beberapa saat. Yang dibicarakan adalah kelakar yang tidak berujung pangkal, karena sesungguhnya mereka menyadari akan adanya sekelompok orang yang tengah bersembunyi di belukar di masing-masing tebing sungai tersebut.

Rara Wulan sendiri yang telah ditunjuk untuk memimpin kelompok berkuda itu sebenarnya tidak pernah lepas dari tanggung jawabnya.

Akhirnya Rara Wulan berkata dengan perlahan, “Ini saat yang ditentukan Pangeran Pringgalaya untuk mulai bergerak.
Bersiaplah, matahari telah bergeser ke barat”

Sebenarnyalah kelompok kecil berkuda itu telah bersiap-siap dan tinggal menunggu aba-aba dari Rara Wulan.
Mandira dan Rumeksa juga telah berada di punggung kudanya masing-masing. Namun dalam pada itu, Mandira masih sempat bergumam lirih, “Harusnya aku duduk di punggung kuda Glagah Putih.”

Mandira pun harus segera bersiap-siap sepenuhnya.
Maka hanya beberapa saat kemudian, tangan Rara Wulan telah bergerak turun dengan cepatnya.

Mengerti bahwa itu adalah aba-aba terakhir, maka yang terlihat ialah seolah-olah panah yang telah lepas dari busurnya. Kesembilan orang itu dengan sangat tiba-tiba telah menghentakkan kuda-kuda masing-masing.

Memang kuda-kuda itu juga menjadi terkejut pada mulanya, namun di atas punggungnya adalah orang -rang yang mempunyai kelebihan dari orang kebanyakan, maka kuda-kuda itu tetap dalam kendali dan berlari semakin cepat.
Rara Wulan yang berada di depan bersama Rumeksa, masih terus saja meneriakkan aba-aba untuk tetap memacu lari kuda-kuda mereka.

Sebenarnyalah kuda-kuda mereka sudah berlari demikian cepatnya dan mungkin sudah melebihi batas kewajaran.
Namun sebenarnyalah kesembilan orang yang berada di punggung kuda-kuda itu adalah sekelompok orang yang berilmu tinggi serta mempunyai pengalaman yang sangat luas.
Mereka yang di masa-masa lampaunya pernah berada dalam kelompok Gajah Liwung itu, kini telah berkumpul kembali tentunya dengan ilmu yang semakin meningkat di usia yang semakin matang.

Sementara itu para prajurit sandi Panaraga masih selalu mengamati kelompok berkuda itu. Mereka tidak hanya menempatkan dalam satu tempat, namun prajurit sandi itu berada di empat bahkan lima tempat di sisi-sisi bulak panjang yang membujur dari utara ke selatan tersebut.

Salah seorang prajurit sandi berbisik kepada kawannya yang sedang merunduk di sebelahnya, disaat kelompok berkuda itu berderap cepat melalui kelokan tajam di depan mereka, “Mataram telah mengumpulkan orang-rang gila.”

“Mereka bukan prajurit Mataram, namun para pengawal” desis kawan yang satunya.

“Siapapun itu, mereka benar-benar sudah gila” geram orang yang berkata pertama kali. “Mereka akan bunuh diri dengan bantuan dari kuda-kuda mereka. Mari Sima, kita bergegas menyusul mereka.”

“Maksudmu dengan berjalan kaki” sahut orang yang dipanggil Sima itu.

Namun dalam pada itu, orang yang pertama pun menjawab, “Tidak akan jauh. Kita akan mencari mayat mereka”

Maka, dua prajurit sandi tersebut segera bergegas meninggalkan tempat persembunyiannya. Namun ternyata keduanya tetap memilih melewati semak bahkan ilalang yang banyak tumbuh di sisi-sisi bulak panjang itu.

“Di depan itu ada turunan tajam juga kelokan yang tidak terlalu kelihatan sebelumnya” bisik orang pertama.

“Maksudmu kelokan sebelah tebing di atas tempuran sungai itu?” bertanya prajurit sandi yang bernama Sima.

Prajurit pertama itu hanya berdesis, “Pasti orang -rang yang kurang waras itu sudah menjadi mayat bersama kuda-kuda mereka.”

Sebenarnyalah sebagai prajurit sandi, mereka berdua tetap dalam kewaspadaan tinggi. Bukan takut diketahui kehadirannya oleh kelompok berkuda tadi, karena mereka berdua sudah yakin para penunggang kuda itu adalah orang-rang yang sudah kehilangan penalarannya sama sekali.
Namun keduanya tetap hati-hati serta dalam kewaspadaan tinggi, untuk berjaga jaga seandainya kelompok berkuda itu ternyata sengaja diumpankan oleh pasukan lawan.
Mereka tidak ingin, disaat mereka serta kawan-kawan prajurit sandi lainnya keluar dari tempat persembunyiannya, maka dengan tiba-tiba telah datang kelompok pasukan yang kuat menyergap mereka.

Sementara itu yang terjadi pada Rara Wulan dan yang lainnya ternyata tidak seperti yang diperkirakan oleh dua orang prajurit sandi tersebut.

Walaupun mereka telah berpacu diluar batas kewajaran dengan kudanya masing-masing, namun sesungguhnya mereka telah terlebih dahulu memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Baik keadaan kuda-kuda mereka maupun jalan-jalan sulit yang akan dilalui.
Dan Rara Wulan yang ternyata ditunjuk memimpin kelompok berkuda itu oleh Pangeran Pringgalaya. Selain karena kemampuan Rara Wulan yang tinggi, juga dirinya sudah mengenal alam di tanah perdikan Menoreh seolah olah di luar kepala.

Sebenarnyalah di saat mereka telah berderap cepat mendekati tanah yang menurun tajam, Rara Wulan telah meneriakkan aba-aba untuk menghentikan kuda-kuda mereka. Hampir semua kuda-kuda mereka meringkik keras karena kejadian yang tiba-tiba itu.

Bahkan ada beberapa kuda yang sampai harus berbalik arah. Suara ringkikan kuda-kuda itu sebenarnyalah telah menggema sampai jauh menembus batas bulak panjang tersebut.

Dalam pada itu, akhirnya Rara Wulan pun berkata, “Mari segera kita laksanakan perintah ini. Walaupun mungkin adalah sesuatu yang jarang kita lakukan, namun aku yakin ini sudah melalui pertimbangan yang mapan dari Pangeran Pringgalaya.”

“Benar Rara” seakan bergumam Rumeksa kepada dirinya sendiri. “Para prajurit sandi Panaraga kebanyakan adalah hasil dari pendadaran yang belum terlalu lama. Walau sesungguhnya mereka sudah matang dengan ilmu telik sandinya, namun aku yakin sisa-sisa sebagai bekas prajurit yang terbiasa langsung beradu dada dengan lawan tetap sedikit banyak masih mengakar dalam pikiran mereka.”

Dan sesaat kemudian, anggota kelompok Gajah Liwung itu telah berloncatan dari punggung kudanya masing-masing.
Sesuai dengan aba-aba dari Rara Wulan, mereka segera menyebar turun di kanan-kiri bulak panjang, berlindung di balik belukar atau gerumbulan tanaman yang tumbuh lebat.

Sebenarnyalah, suara ringkikan kuda-kuda tersebut benar-benar telah didengar jelas oleh dua orang prajurit sandi yang mengikuti mereka. Bahkan prajurit-prajurit sandi lain yang menyebar sampai ke ujung bulak panjang itu juga sayup-sayup dapat mendengar suara itu.

Dalam pada itu, salah seorang prajurit sandi yang mengikuti derap kuda itu berkata, “Aku seperti sedang membayangkan, sekelompok orang yang kurang waras itu telah dilemparkan ke dasar tebing oleh kuda-kuda mereka sendiri.”

“Mungkin memang seperti itu adanya” menjawab kawan yang satunya. “Namun kita tetap harus selalu hati-hati, bisa jadi pasukan lawan sengaja mengorbankan orang -dungu tersebut.”

“Mereka itu sudah gila.”

“Bukan, namun mereka adalah dungu” bantah prajurit yang bernama Sima sambil menatap wajah kawannya lekat-lekat.
“Tidak ada orang gila yang begitu mahir dalam berkuda serta tetap melalui perintah dari pimpinannya. Kemungkinan yang pasti mendekati benar, mereka adalah bekas prajurit yang putus asa.”

“Itu juga gila namanya.”

Namun prajurit sandi Panaraga yang bernama Sima itu tidak menanggapi perkataan kawannya itu lagi. Bahkan ia terlihat telah bergeser merayap naik mendekati tepi bulak panjang.

Sebenarnyalah prajurit sandi yang merangkak perlahan lahan itu tetap dalam kewaspadaan tinggi.

Hingga berhenti di balik semak yang sudah tidak ada penghalang lagi di depannya, karena yang telah terlihat setelah itu ialah tepian bulak panjang. Dengan mencoba menajamkan pendengarannya seandainya saja terdengar suara derap kuda yang lain atau suara langkah-langkah kaki, yang mungkin saja itu adalah pasukan pemukul yang telah disiapkan oleh para pengawal tanah perdikan.

“Apakah memang mereka benar-benar gila, batin prajurit sandi itu setelah beberapa lama tidak juga ada tanda-tanda hadirnya pasukan yang akan menjebak mereka.”

Lalu prajurit sandi itu akhirnya telah berdiri dan naik ke bulak yang hanya beberapa langkah dari tempatnya.
Kembali di amati dengan sungguh-sungguh keadaan di sekelilingnya.

Sebagai prajurit sandi yang telah di tempa dengan pendadaran yang sangat berat, sudah pasti akan dapat menangkap sesuatu yang terlihat mencurigakan. Sementara itu kawannya yang berkepala botak ternyata telah mengikuti lalu berdiri di sampingnya.

Kawannya yang berkepala botak itu berkata, “Tidak akan ada pasukan lainnya. Mari segeralah kita datangi tempat mereka bunuh diri itu.”

Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya prajurit sandi yang bernama Sima itu menganggukkan kepalanya, lalu berkata, “Baiklah, mungkin dugaanku memang salah. Dan aku rasa kawan-kawan yang lain pun juga tengah menuju ke dekat tempuran sungai.”

Sebenarnyalah dua orang prajurit sandi tersebut telah bergegas bahkan berlari-lari kecil mendekati tempat kelokan tajam yang sudah tidak jauh lagi. Namun dalam pada itu Rara Wulan dan sebagian kawan kawannya terutama Paripih serta Lelana, telah menangkap desiran suara langkah-langkah kaki yang menuju ke sekitar tempat mereka berada.
Suara langkah kaki itu bahkan semakin lama semakin jelas terdengar.

“Rara, sepertinya rencana kita akan berhasil” bisik Paripih perlahan.

“Mudah mudahan” jawab Rara Wulan.

“Mereka kelihatannya mendatangi tempat ini melalui bulak panjang, tidak dengan merayap melewati semak belukar” berkata Paripih selanjutnya.

Namun dalam pada itu, Rara Wulan pun berkata, tidak hanya terhadap Paripih namun juga kepada anggota lainnya, “Ingat kita harus bergerak cepat lalu meninggalkan tempat ini sebelum datang prajurit bantuan mereka.”

Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, tidak lama kemudian sekelompok prajurit yang sebenarnya adalah para petugas sandi Panaraga telah saling mendekati di tikungan bulak tempat kuda-kuda itu berkumpul. Prajurit penghubung yang ternyata juga disertai beberapa prajurit, juga telah merayap mendekati bulak di sebelah tempuran sungai tersebut. Maka, hampir dalam waktu bersamaan, sekelompok prajurit itu telah tiba dan berdiri di sekitar kuda-kuda yang seakan akan telah menjadi kebingungan itu.

Namun dalam pada itu, Rara Wulan yang berlindung di balik semak belukar sedang menanti saat yang tepat untuk menurunkan perintah penyerangan. “Ingat tujuan utama kita” Rara Wulan berbisik dengan sangat perlahan. “Untuk menghadirkan nama sebuah perguruan ke pasukan lawan, khususnya untuk menandingi keberadaan nama perguruan semu.”

“Padepokan Ringin Kembar” bisik Rumeksa sambil mengangguk anggukkan kepalanya.

Seakan menjadi tanda untuk memulai serangan, perkataan Rumeksa itu, maka Rara Wulan pun telah memberi isyarat untuk segera memulai penyergapan tersebut.

Sebenarnyalah sekelompok prajurit sandi itu benar-benar terkejut yang teramat sangat. Apalagi sebelumnya sebagian prajurit sandi itu telah meyakini kejadian itu bukanlah suatu jebakan.

Tanpa ada teriakan sama sekali, beberapa orang tiba-tiba telah menyerang kelompok mereka. Prajurit-prajurit sandi Panaraga itu seperti membeku beberapa saat sebelum akhirnya baru menyadari tentang apa yang sudah terjadi.

Namun, sesungguhnya beberapa kawan mereka telah banyak yang terlempar pingsan tanpa mampu berbuat sesuatu apapun.

Sementara itu Rara Wulan dan yang lainnya memang berniat untuk segera melumpuhkan lawan mereka semua dan nantinya akan cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut.
Kelompok yang dulu menyebut dirinya Gajah Liwung itu sungguh-sungguh telah menghentakkan kemampuan mereka.
Paripih dan Lelana sebagai murid-murid Ki Ajar Gurawa benar-benar telah membuat beberapa orang prajurit sandi tersebut hanya bisa mencoba untuk tetap bertahan saja.

Walaupun lawan-lawan mereka kemudian telah mencabut senjatanya masing-masing, namun kedua orang saudara seperguruan itu tetap mampu mendesak dengan kecepatan tata geraknya yang rumit.

Di saat tiga orang prajurit sandi itu bersama-sama menghentak dengan menusukkan ujung pedangnya ke arah dada Paripih dan Lelana, dua orang saudara seperguruan itu hampir bersamaan telah menjatuhkan tubuhnya ke tanah.
Dan hampir dalam waktu bersamaan pula tendangan Paripih dan Lelana telah menghunjam di lambung serta perut prajurit-prajurit sandi tersebut.

Begitu derasnya tendangan yang telah dilambari tenaga dalam tinggi itu, hingga membuat ketiga prajurit sandi itu terlempar dan tidak mampu untuk bangun kembali.

Demikian pula yang terjadi pada anggota kelompok Gajah Liwung lainnya. Mereka tidak mau kehilangan waktu dalam sekejap pun. Di saat para prajurit sandi itu masih belum mampu membuat keseimbangan pertempuran, Rara Wulan serta kawan-kawannya telah semakin meningkatkan kemampuannya.

Sebenarnyalah, tidak ada kesempatan sama sekali dari para prajurit sandi Panaraga maupun Perguruan Semu itu walau hanya sekedar untuk bertempur berpasangan untuk mencoba membendung serangan lawan.

Serangan yang tiba-tiba dari anggota kelompok Gajah Liwung yang datang beruntun tiada pernah ada putusnya sama sekali. Bahkan semakin lama hentakan ilmu-ilmu mereka pun telah meningkat datang menggulung-gulung menghantam tata gerak pertahanan para prajurit sandi.
Rumeksa dan Mandira juga semakin mendesak dan menghisap lawan lawannya satu persatu.

Walaupun tidak dengan perjanjian sebelumnya, namun karena keduanya bertempur berdekatan satu sama lainnya maka Rumeksa dan Mandira seakan-akan telah sepakat untuk bertempur berpasangan.

Sesungguhnya kemampuan tata gerak mereka masing-masing sudah termasuk dalam tataran tinggi, apalagi disaat mereka berdua telah bertempur berpasangan saling mengisi dan menutup lubang pertahanan tata gerak mereka berdua. Tidak ada kesempatan sama sekali dari lawan lawannya, tata gerak Rumeksa maupun Mandira terus menyambar-nyambar bagai burung rajawali mematuk mangsanya.

Akhirnya tidak terlalu membutuhkan waktu lama, separuh lebih para prajurit sandi itu telah terhisap. Mereka benar-benar tidak mampu walau hanya untuk sekedar bertahan mengulur waktu lebih lama sambil menunggu datangnya bantuan.

Dan di dekat kelokan tajam bulak panjang itu telah semakin banyak prajurit-prajurit sandi yang terbaring malang melintang sambil merintih kesakitan. Satu dua orang memang masih terlihat mencoba untuk bangkit berdiri. Namun mereka tidak kembali untuk meneruskan pertempuran lagi, mereka berjalan tertatih tatih menjauhi arena.

Ada yang akhirnya memilih membaringkan tubuhnya berlindung di bawah pohon-pohon perdu, namun juga ada yang akhirnya hanya menyandarkan tubuhnya di batu-batu besar yang terdapat di sekitar bulak panjang itu.

Namun, bagi mereka adalah lebih baik di tempat itu daripada tetap berada di sekitar arena pertempuran.
“Tulang punggungku rasanya seperti patah” desis salah seorang prajurit sandi merintih menahan sakit di tubuhnya.

Kawannya tidak menyahut sama sekali, namun ia nampak semakin mengatupkan kuat-kuat mulutnya disaat menahan pedih sewaktu dirinya sedang berusaha menaburkan obat di lambungnya yang terluka agak dalam. Bahkan karena terlalu pedihnya, tiba-tiba prajurit sandi yang terluka di lambungnya itu telah mencengkeram kuat lengan kawannya yang bersandar di sampingnya itu.

Sebenarnyalah, di sekitar tempat mereka berdua, ternyata juga banyak kawan-kawan lainnya yang terpaksa harus menghentikan perlawanannya. Luka-luka di sekujur tubuh atau tulang-tulang yang terasa berpatahan telah menjadikan para prajurit sandi itu tidak mempunyai pilihan lain. Yang dipikirkan kemudian oleh para prajurit sandi yang telah terluka, bahkan ada yang cukup parah itu, hanyalah memilih untuk menyerah tanpa berusaha untuk menyingkir dari arena pertempuran. Walaupun sesungguhnya ada juga satu atau dua orang dari mereka yang telah berhasil meloloskan diri untuk membuat hubungan kepada induk pasukan.

Sementara itu, kelompok Gajah Liwung telah semakin menguasai arena pertempuran. Serangan yang tidak terduga sama sekali yang mengakibatkan begitu cepat menyusut anggota kelompoknya, yang ternyata telah membuat para prajurit sandi itu goyah ketahanan jiwaninya. Jumlah mereka yang pada awalnya hampir dua kali dari lawan lawannya, ternyata hanya dalam waktu yang terhitung pendek telah mematahkan perlawanan kawan-kawan prajurit sandi lainnya.

Namun dalam pada itu, seorang prajurit yang ternyata menjadi pemimpin kelompok itu, tidak mau melihat kenyataan yang terjadi. Bahkan di saat hampir semua kawan kawannya telah saling melemparkan senjata mereka untuk menyerah, pemimpin prajurit sandi itu terlihat melompat menjauhi lawannya.

Rara Wulan yang kebetulan menjadi lawannya mengira pemimpin prajurit itu juga akan segera menyerah seperti kawan kawannya yang lain. Akan tetapi ternyata tidak seperti yang dibayangkan oleh Rara Wulan.

Pemimpin prajurit sandi itu menatap wajah Rara Wulan lekat-lekat. “Aku mengakui kecerdikan tipu muslihat kelompokmu, yang akhirnya mampu menjadikan anggotaku seperti anak-anak kecil.”

Rara Wulan masih diam, belum menyahut perkataan pemimpin prajurit tersebut. Rara Wulan membalas tatapan tajam mata lawannya itu yang seakan akan bisa membakar apa yang dilihatnya.

“Kau perempuan yang berilmu tinggi, dan aku yakin kau adalah pemimpin atau ketua dari kelompokmu itu” pemimpin prajurit sandi itu berkata.

Rara Wulan yang mulai mengerti arah perkataan lawannya itu, segera menjawab dengan nada dalam, “Kau ingin menantang dengan berperang tanding, Kisanak?”

“Bagus, andai kau memang paham akan ucapanku” jawab pemimpin kelompok prajurit sandi tersebut di sela-sela tertawanya yang tiba-tiba telah berderai panjang. “Namun, apakah itu yang akan kau pilih, walau aku sudah meyakini ilmumu memang sangat tinggi.”

Rara Wulan sendiri sengaja hanya akan berbicara seperlunya kepada pemimpin prajurit itu. Sesungguhnya Rara Wulan telah mengerti bahwa lawannya yang kemudian menantang untuk berperang tanding itu sebenarnya sedang dilanda kegelisahan yang sangat.

Akhirnya, pemimpin prajurit sandi itu kembali berucap setelah sejenak mengatur getar jantungnya, “Akan tetapi, menilik dari cara bertempur kalian, aku menjadi ragu apakah kau masih berani berdiri di atas kakimu sendiri. Kalian telah dengan licik menjebak kami, dan kemudian menikam punggung-punggung kami disaat kami telah masuk dalam perangkap yang telah kalian siapkan sebelumnya.”

Akhirnya, tergelitik juga Rara Wulan untuk menyahut perkataan orang yang menantangnya untuk berperang tanding tersebut. Sambil tersenyum Rara Wulan berkata perlahan, “Kuda-kuda kami yang licik, Kisanak. Harusnya mereka tidak meringkik keras-keras, hingga tidak menjadikan orang-orang yang mendengar dari kejauhan telah berani menarik kesimpulan tentang kuda-kuda kami itu.”

Perkataan Rara Wulan itu telah membuat wajah pemimpin prajurit sandi tersebut menjadi merah kelam serta jantungnya seakan akan telah rontok saat itu juga. Lalu dengan menggeram pemimpin prajurit itu berkata, “Mungkin benar seperti dugaanku, bahwa kau tidak akan menyanggupi tantangan perang tanding ini. Kau hanya berilmu sangat tinggi disaat bertempur secara berkelompok.”

Jawaban Rara Wulan berikutnya, kembali membuat pemimpin prajurit sandi itu seolah-olah telah mendengar petir yang luar biasa kerasnya. “Itulah kelemahanku, Kisanak.
Mungkin itu adalah warisan dari leluhur kami tentang keterbatasan ini. Kami tidak bisa berpisah antara anggota satu dengan yang lain. Pasti kau sudah merasakan bobot tenaga dalam kami waktu terungkap di saat kami sedang berpasangan.”

Sebenarnyalah, Rara Wulan tidak berkeinginan untuk melayani tantangan berperang tanding melawan pemimpin yang sudah kehilangan pengamatan diri itu. Walaupun lawannya itu dalam bekal ilmu yang sudah cukup mapan, namun Rara Wulan ternyata sudah mampu mengira-ngira berada dimana tataran orang itu.

Kemudian, Rara Wulan pun berkata, “Kisanak, Kami datang hanya akan memberi pesan kepada Perguruan Semu.
Dan tentunya kami semua sudah mengerti dengan pasti bahwa kau bukanlah dari jajaran para prajurit sandi Panaraga yang sebenarnya.”

“He, apa maksudmu?”

Rara Wulan tersenyum disaat mulai meraba bahwa pemimpin prajurit sandi tersebut sudah mulai agak mapan dalam menilai keadaan. Gejolak yang sempat membuatnya menjadi sangat gelisah di saat harga dirinya sebagai pemimpin kelompok itu sedang dipertaruhkan, justru karena ia adalah anggota perguruan semu.

Kemudian Rara Wulan kembali berkata, “Kami adalah murid-murid dari Perguruan Ringin Kembar. Pasti salah seorang dari gurumu sudah pernah menyinggung tentang nama perguruan kami ini.”

Pemimpin prajurit sandi itu diam termangu-mangu seolah olah sedang membuat pertimbangan-pertimbangan dari ucapan perempuan yang telah ditantangnya untuk berperang tanding itu.

Sementara itu, para anggota prajurit sandi baik yang telah menyerah maupun yang mengalami luka-luka, masih diam di tempatnya masing-masing. Bahkan, prajurit yang telah menyerah yang tidak mengalami luka-luka di tubuhnya, dadanya menjadi semakin berdebar-debar ketika mengetahui pemimpinnya ternyata tidak segera meletakkan senjata.

“Dia tidak pantas menjadi seorang pemimpin prajurit sandi” batin salah seorang prajurit sandi yang telah menyerah. “Harga dirinya itu akan mengantarkannya menjadi debu.
Apakah ia tidak melihat, perempuan itu seolah-olah hanya sedang bermain-main saja saat bertempur tadi. Setitik keringat pun belum tampak membasahi pakaian perempuan itu.”

Setelah terdiam sesaat, Rara Wulan melanjutkan ucapannya, “Kau tidak akan bisa memaksaku untuk berperang tanding. Selain kami tidak punya banyak waktu, sesungguhnya kami butuh kau untuk tetap hidup, hingga nantinya bisa mengatakan kepada gurumu tentang hadirnya kembali nama perguruan Ringin Kembar. Setelah lama mencari jejak jejaknya, akhirnya kami menemukan perguruan yang sering berganti-ganti nama itu ada di tanah perdikan Menoreh ini.”

Pemimpin prajurit sandi yang sedang diam termangu mangu itu menjadi terkejut ketika tiba-tiba Rara Wulan telah melompat di punggung kudanya. Kemudian diikuti oleh anggota kelompok Gajah Liwung yang lain.

“Kisanak” teriak Rara Wulan sesaat sebelum menghentak lari kudanya. “Kembalilah ke pasukanmu serta katakan, Padepokan Ringin Kembar telah bangun dari tidurnya.”

Tanpa menunggu jawaban dari orang itu, Rara Wulan telah melarikan kudanya meninggalkan tikungan bulak di dekat tempuran sungai itu. Pemimpin dan prajurit-prajurit sandi lainnya tidak mampu berucap apapun, ketika kuda-kuda kelompok Gajah Liwung itu dengan tiba-tiba telah melesat cepat meninggalkan mereka.

Para prajurit yang terluka, justru yang dengan sengaja menyingkir ke arah timur menjauhi arena pertempuran, juga sempat memandang derap kaki-kaki kuda itu melintas cepat di depan mereka.

Namun dalam pada itu, Rara Wulan masih saja dengan aba abanya, walau mereka sudah semakin jauh dari arena pertempuran.

 

—–AREMA—–

bersambung ke jilid 403

 

edited by Arema

<< kembali ke FADBM-401 | lanjut ke TADBM-403 >>

One Response

  1. lanjut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s