FADBM-403

<< kembali ke FADBM-402 | lanjut ke TADBM-404 >>

FADBM-403DEMIKIANLAH beberapa saat kemudian kelompok Gajah Liwung tersebut telah mendekati padukuhan di perbatasan tanah perdikan Menoreh. Derap kuda yang masih tetap berpacu kencang itu akhirnya mulai melambat begitu Rara Wulan telah memberikan isyaratnya.

Sebentar lagi senja akan segera turun. Kita akan langsung menghadap Pangeran Pringgalaya, untuk memberikan laporan hasil dari tugas yang telah kita emban tadi.” berkata Rara Wulan sesaat setelah mereka tidak berpacu lagi.

“Benar Rara”, sahut Mandira yang saat itu berkuda paling dekat, disebelah Rara Wulan. “Namun aku rasa kita tidak harus terus berpacu dengan kuda-kuda kita ini.”

Rara Wulan hanya mengangguk anggukkan kepala, namun kuda Rara Wulan sendiri memang sudah tidak berpacu dengan cepat lagi, bahkan semakin lama Rara Wulan terus melambatkan lari kudanya.

Ternyata Rara Wulan dan kawan-kawannya lebih memilih untuk melalui jalan di pinggiran padukuhan itu. Walaupun sebenarnya para penduduk tanah perdikan sudah banyak yang mengetahui tentang keadaan yang sebenarnya sedang terjadi, namun Rara Wulan dan kawan-kawannya tetap tidak ingin membuat gelisah para penduduk yang tinggal di padukuhan itu, justru padukuhan itu sebagai padukuhan paling luar yang berbatasan dengan hutan belantara.

Di saat mereka telah berbelok menuju ke arah padukuhan induk, Rumeksa berkata, “Apakah mereka, terutama Perguruan Semu benar benar akan percaya dengan kemunculan nama Perguruan Ringin Kembar?”

“Itulah yang di inginkan oleh Pangeran Pringgalaya” jawab Rara Wulan dengan nada dalam. “Untuk membuat para pemimpin Perguruan Semu menjadi ragu-ragu tentang kebenaran laporan dari para prajurit sandi tersebut.”

“Dan memang nama Perguruan Ringin Kembar itu memang tidak pernah ada” sahut Pranawa yang berkuda di paling belakang.

Para anggota Gajah Liwung lainnya sama-sama mengangguk anggukkan kepalanya membenarkan percakapan sesaat itu.

Semakin lama terlihat langit memang mulai nampak buram. Namun para anggota kelompok Gajah Liwung sudah tidak terlalu jauh lagi dengan padukuhan induk Tanah Perdikan.

Akhirnya disaat senja benar benar turun, kuda-kuda mereka telah sedikit berpacu di jalan-jalan padukuhan induk.
Perintah yang jelas dari Pangeran Pringgalaya sebelumnya, telah membawa anggota kelompok Gajah Liwung melarikan kuda-kuda mereka menuju ke rumah Ki Gede Menoreh, sebagai induk juga lapis pertahanan terakhir dari pasukan para pengawal.

 Sebenarnyalah di hari itu, baik pasukan para pengawal maupun gabungan prajurit Panaraga dengan Perguruan Semu, masih belum bergerak.

Walaupun kedudukan pasukan Panaraga lebih diuntungkan dengan keadaan medan yang berada di perbukitan dan lebih terlindungi dengan lebatnya pohon pohon, namun ternyata pasukan para pengawal telah memperhitungkan keadaan tersebut.

Para pengawal seakan-akan dengan sengaja telah memilih membuat garis pertahanan di tengah-tengah bulak panjang.
Gelar menyebar dan sangat terbuka, justru karena telah melalui penilaian yang cermat dari Pangeran Pringgalaya.
Dan di saat malam benar benar telah turun, oncor oncor telah ditancapkan memanjang di seluruh garis pertahanan para pengawal.

Dengan kesiagaan yang tinggi, secara bergiliran para pengawal selalu berjaga di setiap sudut garis pertahanan tersebut.

Sementara itu, para pemimpin prajurit Panaraga dan Perguruan Semu telah menjatuhkan perintah memperketat penjagaan di malam itu, walau sesungguhnya mereka yakin para pengawal tidak akan memilih untuk mulai menggerakkan pasukannya di waktu malam.

Akan tetapi, peristiwa yang terjadi di bulak panjang di sisi barat tanah Perdikan itulah yang membuat pasukan Panaraga lebih berhati-hati, justru terhadap pergerakan pasukan lawan dalam kelompok-kelompok kecil.

Kebo Langitan sendiri menjadi berdebar-debar ketika secara terperinci telah dilaporkan tentang peristiwa yang menimpa para prajurit sandi Panaraga.

“Turangga Pethak” desis Kebo Langitan. “Segera kau tambahkan prajuritmu untuk lebih menyebar ke sisi timur.
Para pengawal memang sangat licik.”

Ki Pideksa yang juga hadir di antara para pemimpin serta senapati Panaraga itu hanya mampu menarik nafas dalam dalam dengan sedikit mengangguk anggukkan kepalanya.
Ia tahu benar tentang apa yang telah terjadi serta apa yang di inginkan oleh para pemimpin Tanah Perdikan Menoreh dan senapati Mataram.

Turangga Pethak sendiri telah meninggalkan tempat untuk segera melaksanakan perintah tambahan tersebut.

Namun dalam pada itu, Kebo Langitan berkata memecahkan kesunyian yang sesaat, “Apakah Kakang Pideksa dan yang lain mengenal tentang nama Perguruan Ringin Kembar?”

Hampir bersamaan Ki Pideksa dan sebagian pemimpin lainnya menggelengkan kepalanya.

“Aku baru pertama kali ini mendengar nama perguruan itu”, berkata Ki Ageng Panjer Bumi. “Atau mungkin karena aku sendiri yang sudah jarang keluar dari padepokan, hingga tidak tahu peristiwa peristiwa yang terjadi berikutnya.”

Dalam pada itu Panembahan Gede menyahut perlahan seakan hanya ia sendiri yang mendengar ucapannya, “Mungkin itu hanya sekedar nama, yang tidak pernah nyata akan wujud dari padepokannya sendiri.”

“Aku setuju pendapatmu itu”, berkata Ki Pideksa.

“Itu hanya perkiraanku semata mata, Ki Pideksa.”

Ki Pideksa diam sesaat sebelum menjawab perkataan Panembahan Gede, “Kita telah di hadapkan kepada dua persoalan. Tentang kejadian di hutan sisi barat serta keberadaan Perguruan Ringin Kembar itu sendiri.”

 Kebo Langitan menarik nafas dalam dalam, lalu menyahut ucapan Ki Pideksa itu, “Apa yang sebaiknya kita lakukan, Kakang? Justru disaat dua pasukan segelar sepapan sudah saling beradu dada.”

Panembahan Gede dan para pemimpin maupun senapati lainnya, nampak sama-sama terdiam, hanya kerut-merut di dahi mereka terlihat jelas, mencoba membuat penilaian dari kemungkinan kemungkinan yang dapat terjadi.

Namun dalam pada itu, Ki Pideksa pun berkata, “Itulah Mataram yang sebenarnya. Coba kalian ingat peristiwa peristiwa sejak berakhirnya Pajang sampai waktu sekarang ini.
Dalam perang Madiun, perang saudara disaat berhadapan dengan Adipati Pati. Juga di saat Pangeran Puger di Pajang kurang setuju melepas pusaka pusaka piyandel ke Mataram, apakah yang kisanak semua bisa simpulkan dari semua itu?”

Hampir bersamaan semua orang yang berada di perkemahan induk itu mengangguk anggukkan kepalanya.
Justru disaat telah diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan pertanyaan, telah menjadikan mereka seakan akan telah diberi jawaban yang sesungguhnya.

Empu Serat Waringin yang lebih banyak diam telah menyahut untuk yang pertama kali, “Bukan karena Mataram dibentengi oleh orang orang berilmu yang seolah olah tiada yang mampu mengimbanginya. Adipati Pati, Adipati Madiun adalah orang-orang yang berilmu rangkap yang jarang ada bandingnya. Walaupun di Mataram juga ada Panembahan Senapati daun Ki Patih Mandaraka, namun hal itu telah menunjukkan keseimbangan, yang sebenarnya bukan mutlak milik Mataram.”

Ki Pideksa berdesah sambil menarik nafas dalam dalam.
Namun di saat ia akan menyahut ucapan Empu Serat Waringin tersebut, Panembahan Gede telah berkata mendahului, “Namun, walaupun mungkin hanya dinilai selapis tipis, kehadiran trah Majapahit tetap menjadikan Mataram lebih unggul dan matang dalam benturan ilmu yang sesungguhnya.”

“Maksudmu, apakah atas kehadiran murid dari perguruan Windujati di pihak Mataram, yang justru adalah cucu dari Eyang Windujati itu sendiri?” bertanya Ki Pideksa.

Panembahan Gede hanya mengangguk kecil membenarkan perkataan Ki Pideksa tersebut.

“Namun itu hanya di saat Mataram memberontak terhadap Pajang” desis Kebo Langitan tiba tiba. “Sesudahnya, wadag orang bercambuk itu sudah tidak sanggup lagi untuk menyangga ilmu yang tiada terlawan tersebut. Justru sekarang orang bercambuk itu telah tiada.”

“Aku pernah mendengar tentang orang bercambuk itu, walau belum pernah bertemu” gumam Ki Ageng Panjer Bumi.

“Adi Kebo Langitan dan para Kisanak semua, akhirnya kita sudah mulai meyakini, walaupun itu bukan satu-satunya yang menentukan, namun ternyata ilmu orang-orang Mataram bukanlah ilmu yang tidak tertandingi sama sekali.” berkata Ki Pideksa. Kemudian, “Baiklah” berkata Ki Pideksa selanjutnya.
“Mungkin kali ini kita sudah terlambat selangkah lagi, justru di saat hanya mencoba untuk memangkas nama Menoreh, bukan Mataram yang lebih besar. Namun tentu kita tidak akan pernah melangkah surut.”

“Aku tidak akan pernah meninggalkan hutan yang telah kita jadikan sebagai landasan ini” tiba-tiba menyahut Kebo Langitan dengan nada dalam. “Justru disaat perang belum terjadi sama sekali.”

Ki Pideksa nampak tersenyum sambil mengangguk anggukkan kepalanya.

Kebo Langitan berkata dengan suara lirih seolah-olah hanya ia sendiri yang mendengar, “Walaupun di hari pertama gelar pasukan kita ini telah digoncang oleh siasat para pengawal Tanah Perdikan. Cara yang seakan akan pasukan Panaraga dan Perguruan Semu ini tidak lebih dari gerombolan perampok yang tidak berarti sama sekali.”

“Ah, aku rasa tidak seperti itu”, akhimya Tumenggung Jaya Wiguna menyahut setelah sebelumnya lebih memilih untuk mendengarkan saja. “Gabungan prajurit kita ini tetaplah sebagai pasukan yang kuat serta lebih besar dari pasukan lawan.”

Demikianlah para senapati Pasukan Panaraga itu masih terus berbicara dengan sungguh-sungguh. Hampir semua senapati diberi kesempatan untuk membuat penilaian-penilaian atas apa yang telah terjadi, tentang peristiwa di hutan sisi barat tersebut.

Justru di saat mereka telah meyakini tentang keseimbangan ilmu mereka. Akhirnya Kebo Langitan sebagai senapati tertinggi telah menjatuhkan perintah-perintah selanjutnya.

Hingga waktu tengah malam akan sampai di puncaknya, para senapati pasukan Panaraga itu baru kembali ke dalam pasukan mereka masing-masing. Ki Pideksa sendiri tetap bersama Kebo Langitan di induk pasukan.

“Biarlah para prajurit tidur bergantian di paruh gelar ini”, berkata Kebo Langitan disaat telah berada di dalam pasukannya kembali.

Ki Pideksa mengangguk anggukkan kepalanya, lalu berkata, “Aku setuju dengan langkahmu ini, Adi. Biar para pengawal Tanah Perdikan mengerti kalau kita pun akan selalu siap andai perang terbuka ini justru terjadi di malam hari.”

Sejenak mereka berdua masih terus saja memberi perintah-perintah kepada seluruh prajurit, sebelum akhirnya Ki Pideksa mohon ijin untuk menilik keadaan di sayap kiri pasukan Panaraga.

“Hati-hati lah, Kakang. Sebaiknya Kakang Pideksa membawa beberapa orang prajurit. Walaupun seakan-akan tidak berjarak sama sekali, namun untuk berjaga-jaga andai orang-orang yang mengaku murid-murid Perguruan Ringin Kembar itu menyusup di sela-sela gerumbul liar.”

Sebenarnyalah, Ki Pideksa segera bergegas menuju ke sayap kiri pasukan Panaraga. Namun Kebo Langitan tidak mampu untuk memaksa, ketika Ki Pideksa lebih memilih untuk berjalan seorang diri. Kebo Langitan hanya dapat menarik nafas dalam-dalam sambil memandang punggung Ki Pideksa hilang di balik lebatnya pepohonan besar di sekitar hutan itu.

Kebo Langitan mengetahui dengan pasti siapa Ki Pideksa tersebut. Salah seorang dari sedikit orang berilmu tinggi yang diyakini telah tuntas kawruh lahir maupun batinnya.

“Mungkin bisa saja prajurit-prajurit itu justru akan dapat menjadi beban tersendiri bagi Kakang Pideksa” batin Kebo Langitan dengan kepalanya terangguk angguk.

Sebenarnyalah, jarak antara induk pasukan dengan sayap kiri pasukan Panaraga itu tidaklah terlalu jauh, bahkan termasuk dalam hitungan yang cukup dekat. Namun, di malam yang cukup pekat, justru disaat bulan yang memang baru mulai menapak dalam lengkungannya yang nyaris tidak terlihat, Ki Pideksa melangkah perlahan melalui semak belukar ke arah timur di hutan tanah perdikan Menoreh tersebut.

Ki Pideksa sengaja mengambil jalan yang tidak pernah dilalui baik oleh para prajurit maupun murid-murid Perguruan Semu, walau jalan yang di ambil Ki Pideksa tersebut masih berujud semak-semak atau belukar yang cukup rapat.

“Mungkin dengan cara ini, aku tidak harus menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para prajurit penghubung atau petugas sandi pasukan Panaraga” batin Ki Pideksa setelah beberapa lama berjalan. “Bahkan mungkin akan dapat membayangi keberadaan para murid Perguruan Ringin Kembar, andai apa yang dikhawatirkan Adi Kebo Langitan itu menjadi kenyataan. Justru rapatnya semak belukar ini memang sangat mungkin untuk disusupi oleh murid-murid Perguruan Ringin Kembar.”

Namun ternyata Ki Pideksa tidak melihat sesuatu yang mencurigakan, bahkan hingga ia sudah mendekati
tempat yang di sebut sayap kiri gelar Garuda Nglayang tersebut.

Akhirnya beberapa saat kemudian Ki Pideksa telah berhenti di tempat yang agak terbuka di dekat pohon Sanakeling yang tumbuh di sebelah menyebelah.

Beberapa saat kemudian, Ki Pideksa menghentikan langkah kakinya, dan segera menyilangkan kedua tangannya dengan kepalanya yang sedikit terangkat keatas.

Dengan pendengarannya yang sangat tajam Ki Pideksa mendengar di sekitar tempat itu suara burung kedasih walau hanya samar-samar.

Suara yang benar-benar seperti burung kedasih yang sesungguhnya.

Beberapa orang prajurit yang sedang dalam kesiagaan tinggi pada sayap kiri gelar, bahkan merasa suara burung kedasih itu dapat sedikit mengurangi ketegangan di dada mereka, justru suara burung kedasih tersebut seakan-akan tidak berbeda sama sekali dengan suara burung yang sesungguhnya.

Sebenarnyalah suara burung Kedasih itu tidak terlalu lama terdengar. Sedikit demi sedikit, suara burung Kedasih tersebut bagai luruh terbawa semilir angin malam, hingga pada akhirnya suara burung Kedasih itu lenyap tidak terdengar sama sekali.

Ki Pideksa nampak menurunkan kepalanya seperti sediakala sambil menarik nafas dalam-dalam. Sambil menolehkan kepalanya, perlahan seolah-olah Ki Pideksa hanya bergumam, “Aku tahu kalian berdua pasti akan mengetahui keberadaanku di tempat ini.”

Sebenarnyalah, sesaat kemudian dua orang telah hadir di dekat pohon Sanakeling yang tumbuh sebelah menyebelah tersebut. Salah seorang diantaranya segera berkata, “Aku tidak mengira Kyai jauh-jauh menemui kami di tanah perdikan ini.” Kemudian, ucapan tersebut segera disahut oleh orang yang kedua, “Kami di pasukan Panaraga hanya sebagai prajurit biasa, Kyai. Tentunya kami tidak mempunyai wewenang untuk menerima kehadiran Kyai Pideksa di dalam perkemahan.
Untuk itu mungkin sebaiknya Kyai dapat segera mengatakan kepentingan Kyai Pideksa jauh-jauh datang ke tanah perdikan ini.”

Ki Pideksa benar-benar terkesiap atas apa yang baru saja ia dengar dari mulut dua orang yang mendatanginya itu.
Ki Pideksa seakan akan tidak percaya atas apa yang baru saja ia dengar itu. Sebenarnyalah, untuk beberapa saat Ki Pideksa hanya mampu terdiam, walau sesungguhnya di dalam dada orang yang sudah memutih alis serta seluruh rambut di kepalanya itu menjadi bergemuruh seolah bagai diterjang badai yang datang susul-menyusul tiada pernah berhenti sama sekali. Yang dapat dilakukan Ki Pideksa hanyalah mengatur pernafasannya untuk mengatasi perasaannya yang terasa menghentak hentak.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba kembali berkata salah seorang yang datang kemudian di dekat pohon Sanakeling itu, “Bagaimana keadaan padepokan Kyai serta orang-orang yang mencari ilmu di sana?”

Kemudian yang terjadi selanjutnya adalah pertanyaan-pertanyaan dari dua orang tersebut yang seolah olah tiada pernah ada putusnya sama sekali. Pertanyaan-pertanyaan yang membuat Ki Pideksa semakin terpaku diam di tempatnya.

Walau seakan akan nafas Ki Pideksa terasa semakin sesak dengan darah yang mengalir tidak terkendali, namun sesungguhnya pertanyaan-pertanyaan itu telah memberikan jawaban atas kebenaran cerita yang telah di sampaikan kepadanya.

Ki Pideksa pun segera mencoba untuk bisa menerima semua yang telah dikatakan oleh dua orang yang sengaja ia minta kehadirannya tersebut. Walau sedikit demi sedikit namun perasaan dalam diri Ki Pideksa yang semula bagai terpanggang bara api, akhirnya mampu menjadi reda kembali.
Cerita yang datang kepadanya akhirnya mampu ia buktikan sendiri kebenarannya.

Justru karena semua itu ia terima dari orang yang selama ini begitu dekat dengan dirinya. “Ternyata cerita itu benar adanya” berkata Ki Pideksa dalam hati.

“Mereka berdua sungguh-sungguh sudah tidak mengakuiku sebagai gurunya lagi.” Ki Pideksa menarik nafas dalam-dalam, sambil memandang kedua orang dihadapannya itu, berkata perlahan lahan Ki Pideksa, “Tujuanku jauh-jauh pergi ke tanah perdikan Menoreh ini sebenarnyalah memang untuk menemui kalian berdua. Cerita yang aku terima itu lah yang akhirnya memang membuatku terburu-buru untuk segera menjumpai kalian berdua. Hingga di lebatnya hutan serta malam yang sangat pekat ini, kita dapat bertemu kembali. Dan ternyata cerita itu memang benar adanya.” Sesaat Ki Pideksa berhenti sejenak, menata perasaannya yang sedikit bergejolak kembali.
Kemudian, “Arya Alit dan kau Jaka Panengah, walau aku tidak akan pernah memutuskan hubungan guru dengan murid, namun aku tidak memaksa kalian berdua untuk tetap memanggilku dengan sebutan guru. Mungkin memang tidak pantas bagiku untuk tetap dipanggil guru, justru karena ilmu kalian berdua sungguh-sungguh telah menggapai mega di langit tertinggi.”

Pekatnya malam yang telah semakin meninggalkan puncaknya, hanya kunang-kunang yang terkadang beterbangan memberikan sedikit cahayanya. Namun sebenarnyalah ketajaman panggraita Ki Pideksa mampu merasakan sesuatu yang terjadi terhadap kedua orang yang berdiri di hadapannya itu. Ketajaman penglihatan laki-laki yang telah memutih rambut serta alisnya itu ternyata dapat melihat berubahnya raut wajah kedua orang yang selama ini telah mewarisi seluruh ilmu yang ia miliki.

Untuk beberapa saat Ki Pideksa masih belum meneruskan perkataannya kembali. Sengaja Ki Pideksa menunggu, untuk memberi kesempatan kepada kedua orang yang ternyata adalah Arya Alit serta Jaka Panengah adanya itu, untuk menyahut ucapannya.

Sebenarnyalah ketiga orang yang berdiri di dekat pohon Sanakeling yang tumbuh sebelah menyebelah itu memang terdiam tanpa berucap sepatah katapun lagi. Hanya kedua mata mereka yang saling pandang satu sama lain.

Akan tetapi keadaan tersebut tidak bertahan dalam waktu yang terlalu lama, justru sesaat kemudian sesuatu yang terjadi telah membuat Ki Pideksa menjadi terkejut yang tiada terkira.
Sebenarnyalah, walaupun perlahan-lahan turunnya kabut tipis yang datang begitu saja melingkari tempat itu, telah menjadikan jantung Ki Pideksa seakan akan menjadi berhenti berdenyut.

Kabut yang semakin lama menjadi bertambah tebal. Kunang-kunang yang semula menjadi sedikit penerang, akhirnya telah lenyap begitu saja tanpa ada yang tersisa sedikitpun. Suara binatang-binatang malam yang seolah olah sedang mendendangkan kidung menemani berlalunya malam, tiba-tiba juga tiada lagi terdengar sama sekali. Seakan-akan mereka juga sedang ikut merasakan sesuatu yang sangat menakutkan yang tiba-tiba telah hadir begitu saja di sekitar tempat tinggalnya.

Malam yang sebenarnya memang sudah sedemikian pekat itu menjadi bertambah kelam tanpa dapat mata memandangnya walau hanya untuk melihat sejengkal di depan mata.

Namun pada akhirnya, beberapa saat kemudian Ki Pideksa nampak menarik nafas dalam-dalam. Ki Pideksa tidak ingin terlalu lama larut dalam goncangan perasaan, justru karena ia merasa dua orang yang sedang berdiri dihadapannya itu tidak mempunyai maksud yang buruk terhadapnya. Yang dilakukan Ki Pideksa kemudian adalah segera menajamkan penglihatan-nya dengan alas salah satu ilmunya aji Sapta Pandulu. Walau demikian pekat kabut yang menyelimuti tempat di sekitar pohon Sanakeling yang tumbuh sebelah menyebelah itu, namun dengan puncak aji Sapta Pandulunya, Ki Pideksa masih mampu melihat keberadaan dua orang murid kepercayaannya itu.

Dalam pekatnya kabut yang teramat sangat itu, akhirnya Ki Pideksa dapat melihat Arya Alit serta Jaka Panengah yang tengah tersenyum memandangnya. Kembali Ki Pideksa menarik nafas panjang dengan kepala sedikit terangguk angguk.

Berkata Ki Pideksa dalam hati, “Luar biasa kau Arya Alit, walau kalian berdua sudah tidak dapat dikatakan muda lagi, namun saat seusia kalian, setengah saja dari ilmu guru masih belum mampu aku mewarisinya.”

Kepala Ki Pideksa tiba-tiba sedikit terangkat, kembali ia memandang ke arah salah satu muridnya, disaat Arya Alit berucap dengan perlahan “Bukan hanya terhadap Kyai seorang, namun kepada orang yang mewariskan ilmu kabut ini, aku dan adi Jaka Panengah juga tidak pernah menganggapnya sebagai guru.”

Ki Pideksa yang telah semakin mampu mengendalikan perasaannya itu kemudian menyahut perkataan Arya Alit tersebut, “Ternyata kalian berdua juga telah mewarisi ilmu dari jalur Windujati, justru Perguruan Windujati sampai sekarang tetap kuyakini sebagai perguruan yang jarang ada duanya.”

“Ilmu kabut ini lebih tua jika hanya dibandingkan dengan ilmu kabut Windujati.”

“He, benarkah yang kau katakan itu, Alit?” jawab Ki Pideksa dengan nada tinggi.

“Itu hanya salah satu ilmu di luar dari jalur perguruan Kyai Pideksa. Dan ternyata keyakinan Kyai selama ini adalah salah, justru jalur Windujati bukanlah perguruan yang tidak tertandingi.” Sahut Arya Alit.

Ki Pideksa mengangguk-anggukan kepalanya. Apa yang di lihat serta didengarnya dari kedua orang muridnya itu, ternyata semakin mampu mengembalikan penalarannya menjadi semakin mapan.

“Tidak akan berguna jika aku masih mencoba untuk mengingatkan mereka berdua” kata Ki Pideksa dalam hati. “Selain ilmunya memang seakan tiada batas, ternyata keyakinan mereka berdua ini benar-benar telah bulat, mengakar kuat dalam hatinya masing-masing.
Aku hanya akan mengatakan sesuatu tentang Agung Sedayu, andai mereka berdua masih belum mengetahui semuanya.”

“Aku tidak tahu dengan pasti, apakah kalian berdua sama-sama mengetrapkan ilmu kabut yang teramat dahsyat ini?
Namun aku minta sebaiknya segera tarik ilmu kalian yang semakin aku sulit untuk selalu bisa melihat dimana kalian berdua berdiri.” Kata Ki Pideksa.

Arya Alit nampak tersenyum tipis, lalu berkata, “Ilmu kabut ini belum dalam puncaknya, Kyai. Dan masih banyak lagi ilmu-ilmu lain yang Kyai belum mengetahuinya.”

Tidak lama kemudian, seakan akan kabut yang teramat pekat itu mulai perlahan-lahan dihisap naik ke angkasa.
Ki Pideksa pun menarik nafas panjang sambil mengurai Aji Sapta Pandulunya begitu kabut tebal itu telah mulai menghilang hingga tanpa tersisa sama sekali.

Ki Pideksa menjadi semakin mengerti andai Arya Alit maupun Jaka Panengah benar-benar mengetrapkan ilmu kabut itu dalam kemampuan puncak, tentunya dirinya akan sangat kesulitan untuk dapat melihat keberadaan kedua muridnya itu berada. “Andai benar seperti yang dikatakan, tentu kedua muridku ini akan sangat sulit dijajaki ketinggian ilmunya”, berkata Ki Pideksa dalam hati.

“Akhirnya aku bisa melihat kalian lagi Alit, Panengah.
Andai kalian tidak segera menarik ilmumu tadi, mungkin sekarang aku sudah menjadi pingsan akibat terlalu memaksakan kemampuanku melebihi batas.”

Arya Alit daun Jaka Panengah hanya mengangguk angguk tanpa menyahut perkataan Ki Pideksa.

Setelah terdiam beberapa saat, kemudian Ki Pideksa berkata kembali, “Arya Alit dan kau Jaka Panengah, aku hanya ingin mengatakan sedikit sebelum aku kembali ke induk pasukan. Aku tidak menjadikan soal andai kalian tidak menganggap aku atau orang-orang yang mewariskan ilmu ilmunya itu sebagai guru. Dan aku juga percaya kalian berdua adalah orang yang berilmu sangat tinggi seakan tiada batas, melampaui mega-mega di langit.”

“Alit, Panengah”, lanjut Ki Pideksa setelah sejenak menghentikan perkataannya, mengatur nafasnya yang tiba-tiba terasa sesak. “Aku hanya minta kalian berdua untuk lebih mengenal nama seorang Agung Sedayu baik saat mudanya maupun di waktu sekarang. Dan menurut cerita yang aku dengar, Agung Sedayu sering terluka parah dalam setiap perang tandingnya. Itulah yang harus segera kalian pahami, sehingga pada akhirnya kalian akan sungguh-sungguh mengerti siapa sebenarnya Agung Sedayu itu.”

“Ah sudahlah, Kyai. Apa yang Kyai dengar tentang Agung Sedayu mungkin tidaklah melebihi apa yang aku mengerti selama ini. Dan tidaklah hanya Kyai sendiri, orang-orang yang mengaku dirinya sebagai guru-guruku itu juga selalu mengatakan seperti yang Kyai ucapkan tadi.”

Nampak Ki Pideksa menarik nafas dalam-dalam.
Walaupun dadanya menjadi bergemuruh yang tiada mampu dicegahnya, namun Ki Pideksa masih mampu tersenyum dengan kepalanya yang selalu terangguk angguk.

“Dan ini mungkin sebagai rasa terima kasihku terhadap Kyai”, kembali berkata Arya Alit. “Seandainya Kyai pernah mendengar nama Serat Manitis, anak muda trah Windujati, mengertilah Kyai bahwa ilmu adik seperguruan Serat Manitis tidaklah dibawah ilmu kanuragan kakak seperguruannya itu.”

“Maksud kamu siapa, Ngger?” Terdengar suara Ki Pideksa tersendat.

“Retno Kinanti, Kyai.”

“Maksudmu Retno Kinanti adik kandungmu itu, Ngger?!”

Arya Alit hanya tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan Ki Pideksa. Bahkan yang dilakukan Arya Alit kemudian adalah menggamit lengan Jaka Panengah sambil menganggukkan kepalanya.

“Kyai, sudah terlalu lama kita berbincang disini, tetapi yakinlah kyai masih bisa bertemu denganku kapan pun kyai mau. Mungkin dalam waktu luang Kyai mau menilik apa yang terendap dalam wadagku ini.”

“Ah sudahlah Arya Alit, aku sudah percaya dengan semua yang kau katakan itu”, lirih terdengar jawaban Ki Pideksa.
“Keyakinanku itu pulalah yang membuat aku menjadi yakin bahwa titipan kitab peninggalan eyang guru sudah tidak pantas untuk kalian berdua. Jadi biarlah untuk sementara waktu, kitab peninggalan ini masih tetap menemaniku sampai menemukan pewarisnya.”

Namun, tampaknya Arya Alit maupun Jaka Panengah seperti tidak sungguh-sungguh mendengar perkataan gurunya itu. Yang dilakukan mereka berdua hanyalah anggukan kecil sesaat sebelum keduanya membalikkan badan berjalan menjauh dari sekitar pohon sanakeling kembar itu.

Keheningan semakin hening dirasakan oleh Ki Pideksa setelah kedua muridnya itu berlalu. “Andai kalian tahu isi kitab itu Alit, Panengah!”

“Sebenarnya aku sangat yakin mereka berdua akan mampu menggelar tata gerak yang teramat rumit dalam kitab warisan ini. Walau telah begitu lama aku tidak menilik seberapa tinggi tingkat ilmu mereka, namun apa yang terjadi ditempat ini telah menjadikan aku seperti anak-anak yang baru mengenal dunia olah kanuragan”.

Nampak Ki Pideksa menarik nafas dalam-dalam sesaat sebelum akhirnya melangkah meninggalkan tempat tumbuhnya pohon sanakeling kembar itu.

Ki Pideksa pun berjalan ke arah darimana pertama kali ia datang. Seakan akan dirinya hendak menuju ke induk pasukan prajurit Panaraga itu lagi. Tetapi, di saat akan melalui gumuk kecil Ki Pideksa mengambil arah melewati jalan setapak yang masih banyak ditumbuhi belukar. Ki Pideksa berjalan seolah olah tanpa ada tujuan, hanya menurut kemana kedua kakinya akan membawanya pergi. Semakin jauh Ki Pideksa berjalan menembus hutan sisi utara Tanah Perdikan Menoreh, terus berjalan menjauh dari induk pasukan Perguruan Semu tersebut.

Nampak tidak ada ketergesa-gesaan sama sekali, bahkan sering Ki Pideksa berhenti sesaat hanya sekedar untuk menyeka embun yang mulai turun membasahi kain panjang serta tubuhnya. “Andai aku masih seumuran dengan kedua muridku itu”, batin Ki pideksa disaat ia menjatuhkan tubuhnya di atas akar pohon jati yang tumbuh silang menyilang. “Tentu saat tersebut aku akan sanggup untuk menjalani laku yang teramat berat itu. Hanya dengan laku berat itu, yang akan mampu mengurai tata gerak dalam kitab peninggalan ini. Atau apakah memang isi kitab ini memang takkan pernah mampu dimiliki oleh guru serta murid-murid penerusnya?”

Tiba-tiba nampak wajah Ki pideksa menegang sejenak.
“Ah, tidak mungkin itu terjadi. Dengan cara apapun dahulu guru mendapatkannya, suatu saat pasti aku akan menemukan pewaris yang benar-benar mampu mengurai sampai puncak ilmunya.”

Dihembuskannya nafas panjang sesaat sebelum tangan Ki Pideksa mengambil buntalan kain hitam dari balik baju luriknya.

Sejenak, mata Ki Pideksa terus menatap lekat-lekat buntalan kain hitam, sebelum akhirnya kepala Ki Pideksa mendongak ke atas, memandang langit luas, yang masih tersisa sedikit gumpalan awan hitam. Akhirnya terdengar lirih Ki Pideksa berucap, dengan kepala masih tertuju ke luasnya angkasa. “Sisa gumpalan awan hitam yang akan segera hilang itu menjadi saksi, aku akan mencari penerus yang sanggup menggelar ilmu yang tiada banding ini.”

Ki Pideksa Lalu berdiri sambil mengibaskan kain panjangnya. “Andai kau mengerti Arya Alit, Jaka Panengah, kitab ini adalah paduan jalur Pengging dengan warisan tata gerak Windujati!” batin Ki Pideksa sesaat sebelum menyimpan buntalan kain hitam itu kembali.

Ki Pideksa pun akhirnya berjalan lagi menelusuri setapak yang penuh belukar itu.

Dalam pada itu Arya Alit daun Jaka Panengah ternyata memilih jalan melingkar. Walaupun mereka berdua tetap berjalan ke arah induk pasukan di sayap kiri gelar perang itu, namun ternyata mereka berdua memilih untuk menghindari para prajurit yang tengah mendapat giliran berjaga, seandainya mereka tetap memilih jalan seperti saat awal keduanya meninggalkan induk pasukan.

Arya Alit telah mengatakan kepada Jaka Panengah, akan ada sesuatu peristiwa di jalur luar sayap kiri pasukan Panaraga. Jaka Panengah pun sebenarnya juga mempunyai pikiran yang sama dengan kakak seperguruannya itu, sehingga tanpa bertanya apa alasannya, Jaka Panengah terus mengikuti kemana Arya Alit melangkah.

Tanpa ada suara berisik sedikit pun, seolah olah ranting-ranting atau dahan-dahan benar-benar malu untuk memunculkan deraknya.

Walau jalan setapak yang mereka lewati terputus, namun tidak juga ada suara sedikit pun disaat harus melalui gerumbulan ataupun belukar lebat.

“Panengah, kita akan menunggu di balik batu besar di dekat kelokan sungai kecil itu”, bisik Arya Alit disaat di depannya terlihat sungai kecil.

Jaka Panengah sendiri nampak hanya mengangguk kecil dengan kepalanya yang terus memandang ke depan seakan akan ada sesuatu yang sedang dipikirnya. “Apakah Kakang juga merasa tempat yang dipilih para senapati Panaraga dan Perguruan Semu itu seperti tempat yang pantas untuk bunuh diri.” Jaka Panengah berhenti berjalan untuk menunggu jawaban dari saudara seperguruannya itu.

Arya Alit sendiri sejenak hanya terdiam walau kemudian terdengar tertawanya yang berderai. Ditepuknya bahu adik seperguruannya itu dengan senyum yang belum hilang dari bibirnya.

“Aku kira kau belum tahu akan hal itu, adi. Memang benar, senapati-senapati dungu itu telah memasukkan prajuritnya dalam tempayan, nantinya orang-orang Menoreh lah yang akan dengan mudah menggilingnya.”

“Mungkin karena kekurang tahuan mereka tentang keadaan alam Menoreh ini, hingga para senapati salah memilih landasan dalam menyusun kekuatannya”, desis Jaka Panengah sedikit membantah.

“Sebenarnya para senapati itu mungkin juga ada yang mengatakan cerdik”

“Apakah maksud kakang jika para pengawal terpancing dengan menyerang landasan kita terlebih dahulu?”
Nampak dahi Jaka Panengah berkerut menatap wajah kakak seperguruannya itu.

“Bukankah memang seperti itu, adi? Andai orang-orang Menoreh terpancing menyerah terlebih dahulu, pakaian para prajurit Panaraga belum basah oleh keringat pun, orang-orang Menoreh sudah hancur.”

“Akan tetapi nampaknya hal itu kecil kemungkinannya, Kakang”, sahut Jaka Panengah. “Ternyata para pengawal itu nampak telah diberi perintah untuk membuat garis pertahanan tinggi. Seolah olah mereka akan menyerang terlebih dahulu, akan tetapi aku sangat yakin garis pertahanan tinggi di tempat terbuka itu hanyalah gelar pembuka untuk memancing para prajurit Panaraga.”

Arya Alit tersenyum sambil mengangguk anggukkan kepalanya. Lalu, “Adi, bukankah benar seperti yang aku ucapkan tadi, mereka itu sebenarnya dungu dan belum pantas ditunjuk sebagai senapati. Termasuk Ki Kebo Langitan yang akan berada langsung di paruh gelar itu.”

“Harusnya memang para senapati itu sudah dapat membaca mengapa para pengawal itu membuat gelar yang tidak utuh, walau dalam kasat mata sudah nampak seperti Garuda Nglayang. Memang sedikit sulit, karena para senapati Panaraga mengira gelar yang sedikit agak menyebar di paruh gelar pasukan pengawal itu disebabkan untuk mengaburkan paruh gelarnya itu sendiri.”

“Dan di saat prajurit Panaraga terpancing untuk menyerang terlebih dahulu karena melihat garis pertahanan lawan yang terlalu tinggi itu, maka di waktu yang bersamaan supit-supit urang para pengawal tanah perdikan akan membenamkam prajurit Panaraga dalam lingkaran tanpa butulan.
Bukankah seperti itu adi yang terjadi selanjutnya.”

Jaka Panengah sendiri nampak tersenyum dengan kepala terangguk angguk.

“Sebenarnya hal itu tidak akan terjadi, adi”, lanjut Arya Alit.
“Andai saja para senapati itu tidak salah memilih landasan. Lihatlah pasukan kita sudah harus terhimpit oleh alam Menoreh ini sendiri. Juga dengan kehadiran sepasukan berkuda yang membuat gerakan di sisi barat Tanah Perdikan ini. Andai para senapati itu mau berpikir panjang, tentunya mereka tidak akan menggerakkan pasukan segelar sepapan ini terlebih dahulu. Aku sangat yakin kelompok berkuda yang ternyata tidak membunuh satu pun prajurit sandi itu, hanya sekedar membakar amarah senapati Panaraga supaya terpancing terlebih dahulu.”

Jaka Panengah sejenak berkerut dahinya, lalu berkata, “Dan andai Panaraga tidak terpancing maka para pengawal tetap akan menyerang terlebih dahulu dengan gelar sama Garuda Nglayang.”

“Benar adi”, jawab Arya Alit perlahan. “Namun, apakah kau yakin Panaraga akan mampu tidak terpancing menyerang terlebih dahulu? Hanya satu orang saja dari beberapa senapati itu yang aku anggap mampu mengurai keadaan perang sesungguhnya. Akan tetapi seorang Panembahan Gede saja tidak akan bisa mengambil satu perintah untuk menunda serangan, tanpa persetujuan Ki Kebo Langitan.
Untuk itulah adi, aku masih sangat yakin gelar pasukan Menoreh akan berubah tiba-tiba di saat benturan pertama itu terjadi.”

Terdengar Jaka Panengah tertawa tertahan dalam sesaat, lalu berucap, “Walau sebenarnya aku berharap Panaraga tidak terpancing, tetapi aku rasa kemungkinan itu sangatlah kecil.”
Namun belum selesai Jaka Panengah berucap, hampir bersamaan mereka terkesiap sejenak dengan keduanya saling berpandangan.

Tiba-tiba Jaka Panengah berlutut sambil menempelkan telapak tangan kanannya ke tanah. Arya Alit sendiri ternyata memilih untuk mempertajam aji Sapta Pandulu dan Sapta Pangrungunya.

“Marilah adi kita segera berlindung di bebatuan dekat sungai yang sudah mau surut itu”, bisik Arya Alit setelah yakin atas pendengarannya.

Jaka Panengah pun hanya mengangguk begitu dia selesai mengetrapkan salah satu ilmunya itu. Dengan semakin meningkatkan dalam menyerap bunyi sekitar, mereka berdua pun berjalan menuju batu besar di atas sungai kecil yang sedikit curam tersebut.

“Ada sebelas kuda dengan satu kuda yang terdengar begitu halus derapnya.”

“Benar Kakang. Derap kuda-kuda itu sebenarnya sudah membuatku kagum terhadap para penunggangnya.
Mereka seperti sudah benar-benar menyatu dengan tunggangannya, sehingga kuda itu pun tanpa mengeluarkan sedikitpun ringkikannya. Namun yang membuat aku hampir tidak percaya adalah derap seekor kuda diantaranya yang nyata-nyata hampir tidak terdengar sama sekali.
Sebegitu tinggikah kemampuan seorang Rara Wulan, kakang?”

Arya Alit tersenyum memandang kerut di dahi adik seperguruannya itu. Ucapnya, “itulah kemampuan salah seorang pemimpin dari pengawal-pengawal di Menoreh ini.
Dan aku pun telah melihat kemampuan ilmu kanuragannya saat pecah perang Demak dahulu. Bahkan aku pun sempat pula menyaksikan puncak ilmunya, dan ternyata Rara Wulan menurut Ki Jumena, menimbun ilmu yang diyakini telah murca.”

“Ternyata Guru telah mengetahui lebih dalam tidak sebatas nama kawentar Agung Sedayu seorang.”

“Dia bukan gurumu, Panengah!” desis Arya Alit sambil menatap tajam wajah adik seperguruannya itu.

Jaka Panengah sendiri nampak menarik nafas dalam-dalam sebelum memberi jawaban atas ucapan Arya Alit tersebut.
“Itu hanya sekedar sebutan kakang, walau sebenarnya hatiku sudah menganggapnya bukan sebagai guru lagi.”

Arya Alit menepuk nepuk bahu saudara seperguruannya itu, lalu sebentar membetulkan ikat kepala Jaka Panengah.
“Andai kau tetap menganggapnya sebagai guru Panengah, kau akan mengalami kesulitan sendiri jika suatu saat dia berdiri di pihak lawan. Maka lenyapkanlah sebutan itu, dan kau akan mudah untuk membunuhnya jika suatu saat nanti ia menantang dalam perang tanding denganmu. Atau dalam perang gelar sekalipun!”

“Kakang! desis Jaka Panengah tiba-tiba. Mereka berhenti!”

Arya Alit hanya mengangguk anggukkan kepalanya. “Namun aku yakin, mereka tidak akan mengetahui keberadaan kita. Entah kalau panggraita Rara Wulan sendiri sudah sedemikian tingginya hingga tahu tempat kita ini, Panengah.”

Sebenarnyalah saat itu kelompok berkuda yang ternyata adalah kelompok Gajah Liwung adanya tengah menghentikan lari kudanya

“Apakah kita akan melakukannya di sini, Adi? Bisik salah seorang anggota kelompok Gajah Liwung.”

Dan anggota-anggota lainnya nampak sedang menanti perintah Rara Wulan selanjutnya, sambil terus mengusap-usap leher masing-masing kuda mereka. Sebagai kelompok yang ditunjuk untuk mengawali gerakan, tentunya Rara Wulan terus mewanti-wanti para anggotanya selalu bisa menguasai sepenuhnya kuda tunggangannya tersebut. Dan semua anggota Gajah Liwung tidak ingin mengecewakan Rara Wulan sedikit pun.

“Mungkin baiknya kita sedikit merubah rencana kita Kakang Rumeksa.”

Terlihat para anggota Gajah Liwung saling berpandangan sesaat, akan tetapi tidak ada sedikit pun terdengar suara bantahan dari mulut mereka. Hanya pertanyaan-pertanyaan dalam hati mereka mengapa Rara Wulan tiba-tiba merubah rencana awal.

“Aku hanya menunggu perintah darimu selanjutnya, adi Rara Wulan”, akhirnya berkata perlahan Mandira seolah olah mewakili semua anggota kelompok Gajah Liwung lainnya.

Rara Wulan sejenak memandang jauh kedepan seakan akan mampu menembus dinding-dinding terjal yang semakin nampak gagah dengan selimut lebatnya pepohonan di sekitarnya.

“Siapkan dua panah senderan kalian”, bisik Rara Wulan tiba-tiba.

Kalian gunakan dua dahulu Kakang, dan aku punya rencana lainnya untuk sisa panah kalian.”

Sejenak Rara Wulan nampak membelokkan kudanya menghadap ke arah barat. Katanya kemudian, “begitu aba-abaku turun, kita lepaskan bersama sama panah-panah senderan ini. Dan setelah itu Kakang, segera kita pacu berbalik arah.”

Sekejap kemudian begitu ada tanda dari Rara Wulan, maka di waktu mendekati lintang gubuk penceng yang hampir menghilang, keheningan malam di sisi timur Tanah Perdikan itu telah dikejutkan oleh desingan panah-panah senderan yang terdengar seakan akan saling bersahutan tidak ada putusnya.
Suaranya yang seolah membelah tanah Menoreh terbawa arus menuju cakrawala.

Akhirnya sesuai perintah, begitu masing-masing anggota Gajah Liwung melepas dua panah sendarennya, hampir tanpa ada beda waktu, mereka pun dengan sigap menghela kudanya.

Dalam pada itu sebenarnya apa yang tengah dilakukan Rara Wulan bersama kelompok Gajah Liwung, tidak sedikit pun lepas dari pengamatan Arya Alit maupun Jaka Panengah.
Nampak dahi Arya Alit berkerut, begitu menyaksikan panah-panah senderan dari kelompok Gajah Liwung yang mengguncang tintrimnya tempat di sekitar sayap kiri pasukan Panaraga tersebut.

Begitu juga di saat kelompok Gajah Liwung segera memacu kuda-kuda mereka pergi menyusuri pategalan-pategalan seperti di saat mereka datang.

“Mereka sudah pergi kakang”, perlahan berkata Jaka Panengah.

“Mungkin Panengah. Karena tugas mereka sebenarnya hanya untuk mengganggu ketahanan jiwani prajurit Panaraga.”

Namun tiba-tiba seakan Arya Alit tersadar akan sesuatu.
“Apakah kau mendapat kesan yang aneh dari mereka, Panengah!”

Nampak wajah Arya Alit menegang, lalu kemudian tiba-tiba berdiri tegak sambil kepala menghadap lurus kedepan, seolah olah menyusuri jalan yang sesaat tadi dilalui oleh kelompok Gajah Liwung.

Jaka Panengah sendiri hanya diam, sambil meraba raba kejadian apa yang telah membuat kakak seperguruannya itu terlambat menyadarinya.

Namun tanpa menunggu lama Jaka Panengah telah berucap sesuatu. “Kakang, derap kaki-kaki kuda mereka harusnya sudah tidak terdengar lagi.”

“Mereka sengaja mempermainkan kita, Panengah” geram Arya Alit.

Mereka menunggang kuda seperti anak-anak yang ketakutan begitu duduk di pelana. Dengarkan sayup-sayup ringkikannya itu, masih terdengar jelas dari sini.”

Jaka Panengah menarik nafas dalam-dalam, dia sangat menyadari apa akibatnya jika saudara seperguruannya itu tidak mampu mengekang amarahnya. Sebangsal ilmunya yang tiada tara itu diyakininya tidak akan ada yang sanggup mengimbanginya walaupun oleh raja Mataram, apalagi hanya oleh orang-orang Menoreh.

Namun, Jaka Panengah tidak ingin hal itu terjadi terlebih dahulu, selain karena tujuan mereka berdua bergabung di pasukan Panaraga hanya sekedar untuk melihat keadaan, namun yang paling utama adalah menunggu saudara perempuan Arya Alit, menyelesaikan tugasnya dahulu.

bersambung ke bagian 2

9 Responses

  1. Kapan rontal 403 seterusnya bisa dilanjut…

    rontal 403 diupload kalau sudah cukup menjadi satu jilid
    sekarang masih kejar tayang di https://www.facebook.com/groups/apidibukitmenoreh/
    jika tidak sabar menunggu di blog ini, silahkan kunjungi FP tersebut.

  2. Nyi… kapan rontal 403 lanjut…

  3. ditunggu lanjutannya..kok lama ya..

  4. Permisi…..
    rontal kapan turun lagi ya??

  5. Taksih gerah ni…? Mugi enggal sehat ugi nerasaken FADBM..

  6. Wis arepe setahun
    koq ra nambah2 critane ya? Aja2 Ni/Nyi Flam Zahra wis rq minat nyuguhke fadbm kie…. waduh….
    Mslahe saya suwe saya mirip gaya eyang adbm…

  7. Nyi Flam… katanya mau aktif lagi… d tunggu lho…

  8. maaf sebelumnya mau ikut urun rembug sedikit..saya sudah membaca dari buku 1 sampai buku 396 karangan Almarhum SH.Mintareja..sampai dengan lanjutan Api diBukit Menoreh karya beberapa Penulis..ada pertanyaan yang timbul dari saya,kenapa sisi kehidupan Rara Wulan setelah menikah dengan Glagah Putih,seperti terputus hubungan dengan keluarganya..dalam cerita sama sekali tidak pernah ada Rara Wulan dan Glagah Putih mengunjungi Ayah ibunya..bahkan pada saat Rara Wulan berada di Mataram..sungguh hubungan yang aneh padahal Rara Wulan adalah anak perempuan satu2 Nya ..mohon penjelasan atau memang saya yang kurang teliti.

  9. Iya memang begitu,,Rara Wulan dan Glagah Putih tak pernah berkunjung ke Ayah Rara Wulan,,padahal ortunya sudah jadi Tumenggung kalo gak salah,,,mungkin pengarang lupa,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s