FADBM-404

<< kembali ke FADBM-403 | lanjut ke TADBM-405 >>

FADBM-404RARA SUHITA sengaja tidak mendekat, sampai mereka menyelesaikan seluruh rangkaian tata geraknya terlebih dahulu.

“Alas mereka sama”, berkata Rara Suhita dalam hati.
“Yang membedakan adalah beberapa jalur perguruan yang menyatu dalam tata gerak itu. Jalur Kedungjati sedikit banyak ikut memberi warna dalam tata gerak Sukra. Ternyata Kakangmbok Sekar Mirah sering memberi petunjuk kepadanya.”

Seleret senyum di bibir Rara Suhita disaat dua orang yang tengah berlatih itu telah selesai dan berdiri termangu mangu memandanginya.

Sukra mendahului berkata, begitu Rara Suhita telah mendekat. “Apa sudah lama Kakangmbok Suhita berdiri di situ?”

“Tidak terlalu lama, Sukra. Memang sengaja aku tetap berdiri disana menunggu sampai kalian menyelesaikan latihan bersama itu.”

“Aku memang terlambat, Kakangmbok. Andai dahulu tidak terlalu bergantung kepada pliridan, tentu aku hanya selapis tipis saja di bawah Wira Permana.”

“Ah, kau terlalu suka merendahkan dirimu sendiri”, desis Wira Permana.

“Yang membuat penilaian bukan dirimu, Sukra”, berkata Rara Suhita kemudian. “Itulah pentingnya akan kehadiran seorang guru. Dia yang akan menahan jika kita terlalu cepat dan begitu sebaliknya seorang guru seakan seperti cambuk yang akan terus berbunyi sampai kita mau berjalan kembali.
Dan apa yang aku lihat tadi adalah alas tata gerak yang sama namun menjadi berlainan karena telah luluh dengan beragam jalur yang berlainan itu.”

Wira Permana nampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
Lalu berkata perlahan, “Terima kasih Mbokayu.”

Sukra sendiri yang masih berdiri termangu-mangu di tempatnya hanya mampu menganggukkan kepalanya dengan kedua tangannya mengatup di atas dada.

Rara Suhita menjadi berdebar-debar dibuatnya.
“Apakah mereka tersinggung”, batin Rara Suhita.

“Ah, semoga tidak. Mereka berdua pasti memahami maksudku. Justru karena aku telah mereka anggap seperti kakak kandungnya sendiri.”

Sebenarnyalah setelah beberapa pekan di rumah Agung Sedayu, hubungan mereka bertiga semakin erat, sama seperti yang dirasakan oleh Rara Suhita dengan penghuni rumah lainnya.

Mungkin hanya berbeda tipis keakrabannya, itu juga karena pembawaan dari Wira Permana sendiri yang agak pendiam.
Dalam pada itu, Sukra pun berkata sesaat kemudian.
“Apakah Kakangmbok Suhita akan ke tepi kolam seperti biasanya dahulu, sebelum masuk ke sanggar?”

Walau perasaan itu terkadang masing datang, namun semakin dengan berlalunya waktu, Sukra telah mampu meletakkan dan membuat semua menjadi wajar dalam pergaulan kesehariannya.

“Bukankah aku hanya meniru apa yang kau serta Wira Permana kerjakan disaat malam seperti ini.” Rara Suhita tersenyum sambil bergantian memandangi wajah dua pemuda yang sedang berdiri dihadapannya itu.

“Ah, itu jawaban yang selalu kau ulang-ulang”, Kakangmbok!”

“Bukankah memang benar seperti itu”, menyahut Wira Permana perlahan.

“He, sejak kapan kau juga memperhatikan kesibukan Kakangmbok Rara Suhita?.”

Sukra sendiri begitu selesai berkata, telah melompat agak menjauh sambil tertawa berkepanjangan.

Sebenarnyalah walau malam itu cukup gelap, seolah olah tetap tidak mampu menutupi rona merah di wajah Wira Permana. Begitu tiba-tiba Sukra dalam mengatakannya, sehingga Rara Suhita sendiri juga hanya mampu terdiam dalam beberapa saat.

Sukra sendiri yang sebelumnya menunggu Wira Permana segera membalas gurauannya, akhirnya juga ikut terdiam.
Ketiga orang itu pun akhirnya sibuk bergelut dengan alam pikirannya masing-masing.

Sementara itu, dalam waktu yang bersamaan di pendapa rumahnya, Agung Sedayu, Ki Jayaraga, Sekar Mirah bersama dengan Pangeran Pringgalaya tengah membicarakan sesuatu yang penting.

“Menurut laporan prajurit sandi dari pasukan khusus, memang semakin melengkapi dugaan telik sandi itu, Pangeran. Walaupun tentunya aku juga masih menunggu hasil laporan lainnya, justru dari prajurit sandi yang mencoba membayangi perkemahan itu dari sisi utara” Agung Sedayu kemudian terdiam sambil memandang pangeran muda itu.

“Walau sebenarnya aku masih berkeinginan mereka menyerah atau paling tidak memutuskan untuk menarik seluruh pasukannya, Paman. Namun ternyata itu semua hanya mimpiku saja.” berkata Pangeran Pringgalaya,

Agung Sedayu, bahkan Ki Jayaraga nampak tersenyum mendengar perkataan Pangeran Pringgalaya tersebut.
Ki Jayaraga lalu mendahului berucap, “Sudah berulang kali Angger Pangeran, bahkan sejak Ayahanda Pangeran sendiri masih ada. Panembahan Senapati dan Ki Patih Mandaraka selalu memberi kesempatan kepada siapapun mereka untuk menyelesaikan perbedaan itu tanpa harus ada korban nyawa.”

Akan tetapi ucapan Ki Jayaraga menjadi terputus, di saat mereka melihat kuda Rara Wulan telah berhenti di luar pagar.

“Kelihatannya ada yang penting, Paman”, desis Pangeran Pringgalaya disaat melihat Rara Wulan tengah terburu buru menambatkan kudanya.

Dan sebenarnyalah begitu naik ke pendapa dan memberi salam hormat kepada Pangeran Pringgalaya, Rara Wulan segera bertanya kepada Ki Jayaraga.

“Apakah Kakang Glagah Putih masih belum keluar dari sanggar, Kyai.”

Ki Jayaraga sendiri yang sudah mulai mengira ngira maksud sebenarnya dari ucapan Rara Wulan itu, lantas segera menjawab. “Kapan pun dia bisa keluar dari sanggar, bukankah dua hari yang lalu, kau sendiri yang menyiapkan landa merangnya.”

“Apa ada kabar lainnya, Nyi?”

Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam seakan baru menyadari ketergesa-gesaannya itu. “Maafkan aku, Pangeran.
Ini semua karena keyakinan dari para prajurit sandi itu.”

“Apakah semua sudah datang, Rara?”tiba-tiba menyela Agung Sedayu.

“Dua prajurit dengan Ki Lurah Hadi Suprana tengah menuju kemari, Kakang. Mereka akan melaporkan hasil dari tugasnya langsung kepada Kakang Agung Sedayu.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu sejenak menoleh ke arah Sekar Mirah yang duduk di sebelahnya.

Mengerti akan maksud suaminya itu, Sekar Mirah pun lantas berkata. “Aku akan segera mengumpulkan para perempuan untuk segera bersiap di dapur umum, Pangeran.
Mungkin mulai malam ini para pengawal serta prajurit lainnya sudah tidak mempunyai kesempatan untuk pulang ke rumah atau kembali ke baraknya.”

Dan seperti yang telah dikatakan Rara Wulan, derap tiga ekor kuda telah berhenti di depan pintu pagar rumah Agung Sedayu. Setelah menambatkan kuda-kuda mereka di patok-patok dekat pohon jambu sukun, Ki Lurah Hadi Suprana bersama dua prajurit sandinya segera menemui Agung Sedayu.

“Silahkan segera laporkan kepada Paman Agung Sedayu hasil dari tugas kalian itu”, desis Pangeran Pringgalaya.

Sebenarnyalah, mereka yang berada di pendapa itu lantas berdiam mendengarkan dengan sungguh-sungguh laporan dari dua orang prajurit sandi itu.

Ki Jayaraga berkali-kali harus menarik nafas dalam-dalam dengan kepalanya yang semakin tertunduk.

Setelah para prajuritnya itu selesai bicara, Agung Sedayu pun berkata. “Ternyata mereka sudah benar-benar jemu dan terpancing untuk mendahului melakukan serangan.”

“Masih ada kesempatan satu hari bagi pasukan kita untuk lebih mematangkan serta melengkapi kekurangan-kekurangan yang lain.”

“Silahkan Pangeran”, lanjut Agung Sedayu.

“Baiklah. Aku akan mengumpulkan semua senapati di rumah Ki Gede saat tabuh pertama. Karena saat itu adalah waktu yang paling aman dari kemungkinan masuknya para telik sandi Panaraga. Justru disaat mulai tabuh pertama itulah seakan akan gelar baris pendem para pengawal telah melingkupi seluruh celah di Tanah Perdikan ini.
Dan semoga mulai besok Ki Glagah Putih telah kembali menemani Ki Prastawa dalam memimpin para pengawal dalam keseluruhan”

“Bagaimana menurut pendapatmu, Paman Sedayu?”

“Benar seperti yang Pangeran katakan. Paling tidak kita harus lebih mengurai secara keseluruhan, baik mengenai medan maupun gelar dalam pasukan kita sendiri.
Untuk itu aku akan perintahkan beberapa prajurit untuk ikut memperketat gelar baris pendem dalam penjagaan rumah Ki Gede Menoreh. Dan untuk Glagah Putih, seperti yang tadi Ki Jayaraga bilang, dia tinggal dalam pemulihan wadagnya saja.”

“Bahkan tadi Glagah Putih telah menemui Angger Prastawa di banjar padukuhan, Pangeran.” Ki Jayaraga mengangguk begitu selesai berkata.

“Baiknya kita segera menyiapkan diri, Paman. Aku akan segera menemui Ki Gede Menoreh dahulu, dan kita akan berkumpul sesuai waktu yang telah kita sepakati”. kata Pangeran Pringgalaya.

Sebenarnyalah, Pangeran Pringgalaya bersama dengan Ki Lurah Hadi Suprana dan dua prajurit sandinya telah bergegas menuju rumah Ki Gede Menoreh.

Sementara itu, di kediaman Agung Sedayu, seketika itu juga hampir semua penghuninya telah mempersiapkan diri.
Sekar Mirah ternyata yang keluar rumah terlebih dahulu.
Justru tanpa ada ganjalan sedikit pun, begitu Rara Suhita yang mengatakan terlebih dahulu untuk ikut membantu pekerjaan di dapur umum.

“Apakah Kakangmbok tidak akan terjun ke medan, bertanya Rara Suhita disaat keduanya telah berjalan bersama.”

Sekar Mirah tersenyum sesaat. Katanya, “Sama seperti yang kau lakukan Nimas. Bukankah kau juga mengenakan pakaian khususmu di balik kain jarik itu.”

Senyum tersungging di bibir Rara Suhita.

“Apa yang kita kerjakan ini juga bagian dari tanggung jawab agar Tanah Perdikan mampu melewati ujian ini, Nimas.
Dan aku mengerti landasan hatimu sehingga kau sendiri yang tadi memintaku untuk mengajakmu ke dapur umum.”

Rara Suhita hanya mengangguk-angguk kecil, sambil tertunduk seolah sedang ikut menghitung tapak kakinya itu.
Namun sesaat kemudian tiba-tiba justru Rara Suhita yang seakan menahan langkah Sekar Mirah. Nampak kerut tipis di dahi Rara Suhita memandang perempuan yang diakuinya sebagai gurunya tersebut.

“Apakah Kakangmbok lupa dengan tongkat perguruan?”

Sekar Mirah yang semula terkejut, akhirnya menjadi tersenyum. “Tanah Perdikan mungkin hanya tinggal menunggu waktu saja Nimas, disaat pasukan segelar sepapan itu akan memaksakan kehendaknya atas tanah ini.
Dan sangat tidak pantas, andai aku menganggap tidak perlu membawa tongkat warisan dari guru.”

Masih dengan tersenyum, Sekar Mirah lalu menyingkap kain panjangnya. Dan di sisi pakaian khususnya terlihat tongkat baja putih tergantung pada seutas tali yang seolah saling melilit pada seluruh badannya.

Wajah Rara Suhita tiba-tiba menjadi berseri-seri.
Kedua mata Rara Suhita seolah-olah tiada berhentinya bergantian memandang wajah Sekar Mirah dan tongkat baja putih tersebut.

“Apakah kau tahu, Nimas, tali yang membelit yang sebenarnya bisa dikatakan sebagai wadah dari tongkat ini?”
Sekar Mirah bahkan menjadi tertawa perlahan, dan tanpa menunggu perempuan muda didepannya itu menjawab, kembali ia berkata. “Kalau kau pernah mendengar senjata cambuk yang selalu melilit di pinggang kakang Agung Sedayu, sebenarnyalah tali yang melilit di senjataku ini adalah janget kinatelon, yang menjadi bahan utama dari cambuk kakang Agung Sedayu itu sendiri.”

“Dan Kakangmbok akan merasa selalu ada di dekat Ki Rangga.”

Wajah Rara Suhita menjadi semakin berseri seri.
Tidak tahu mengapa di dalam hatinya perasaan gembira yang tulus seakan akan tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Sekar Mirah pun kemudian telah menarik tongkat baja putih itu dari tempatnya. Ditimangnya sebentar, lalu berkata.
“Apakah kau ingin memegangnya, Nimas?”

Tanpa menunggu jawaban, Sekar Mirah telah menarik tangan Rara Suhita dan meletakkan tongkat tersebut.
Dan seolah olah Rara Suhita sendiri tanpa sadar telah menggenggam tongkat itu dengan kedua tangannya.
Namun sejenak kemudian, seakan baru tersadar akan sesuatu, Rara Suhita cepat-cepat berkata. “Suatu kehormatan, Kakangmbok telah mengijinkan aku untuk memegang panji kebesaran perguruan Kedungjati ini. Justru tongkat ini yang pertama kali lahir, sebelum tongkat yang kedua itu akhirnya dibuat.”

Hanya sejenak, Rara Suhita telah mengembalikan tongkat baja putih itu ke tangan Sekar Mirah kembali.

Setelah Sekar Mirah telah menyelipkan senjatanya tersebut, berkatalah Rara Suhita, “Pasti berbeda rasanya Kakangmbok, di saat memegang tongkat kebesaran itu atas ijin dari pewaris sahnya dibandingkan dengan cara yang pernah dilakukan oleh Ki Saba Lintang dan para pengikutnya itu.”

Sekar Mirah mengangguk-angguk sambil mengajak Rara Suhita untuk berjalan kembali. “Andai dulu eyang guru sudah mengetahui kebenaran jalur tongkat kebesaran yang dipegang Kakangmbok itu, pasti aku telah disuruh untuk menemui Kakangmbok. Justru disaat Ki Saba Lintang tengah gencar-gencarnya menebar racun kepada murid-murid murni Kedungjati.”

Sekar Mirah memandang sejenak perempuan yang berjalan bersamanya itu. Tanpa berkata, Sekar Mirah kemudian telah memandang ke depan kembali.

“Seperti itulah mengapa eyang guru, seperti yang telah aku katakan kepada Kakangmbok Sekar Mirah, selalu mewanti-wantiku agar jangan sampai lupa untuk menyampaikan permohonan maafnya. Eyang guru merasa bersalah yang sangat besar karena telah membiarkan perguruan Kedungjati diguncang prahara, yang akan menjadikannya runtuh itu.
Dan yang membuat Eyang guru berniat ingin menutup padepokan kecilnya itu adalah perasaan malu dan merasa tidak pantas memimpin padepokan, justru karena padepokan itu adalah temurun dari induk Kedungjati. Eyang guru telah membiarkan pimpinan tertingginya, pemimpin utama perguruan Kedungjati harus berdiri sendiri mengadu jiwa demi mengembalikan nama baik perguruan.”

“Ah, sudahlah Nimas”, desis Sekar Mirah.

Dipandanginya wajah saudara seperguruannya itu.
Walau hanya setitik, namun samar-samar, nampak air mata mengembun di sudut mata Rara Suhita.

“Itu sudah berlalu, Nimas. Bukankah telah aku katakan, kabar yang diterima eyang guru saat itu adalah dari orang-orang yang mengaku-aku saja dari jalur Kedungjati.”

“Dan atas doamu Nimas”, menjadi perlahan suara Sekar Mirah. “Tanah Perdikan akan tenang kembali.
Aku akan mengajak kakang Agung Sedayu ke padepokanmu.”

“Aku sangat berterima kasih, Kakangmbok. Eyang Guru pasti akan sangat gembira, justru disaat keberaniannya untuk menemui Kakangmbok telah pupus sama sekali.”

“Bukan itu penyebabnya. Bukankah telah kau ceritakan kepadaku, bahwa saat ini juga ada orang-orang yang mempunyai niat yang sama seperti yang pernah Ki Saba Lintang lakukan. Bahkan menurut perkiraanmu mempunyai keinginan yang jauh melebihi tujuan dari Ki Saba Lintang itu sendiri. Eyang gurumu pasti sedang berusaha menyelesaikan tugas penting itu, Nimas. Justru disaat nama Perguruan Kedungjati kembali di sangkut pautkan didalamnya.”

Rara Suhita mengangguk anggukkan kepalanya.
Dan ia akhirnya berbelok begitu tangan Sekar Mirah menyentuhnya, ketika berdua telah sampai di jalan simpang.

Dan sebenarnyalah mulai malam itu semua kesiagaan di Tanah Perdikan telah meningkat. Di kelompok pengawal sendiri yang semula masih terbagi-bagi untuk bergilir, sejak malam itu Prastawa telah menjatuhkan perintah untuk selalu siaga penuh di tempat yang telah ditentukan.
Prastawa yang sempat bertemu dengan Glagah Putih di pendapa rumah Ki Gede, akhirnya telah memutuskan untuk menarik jajaran ketiga untuk menjadi pasukan cadangan.
Justru karena Pasukan pengawal, atas wewenang Ki Gede Menoreh akan berada di induk gelar.

“Apakah aku tidak salah dengar? bertanya salah seorang dari pemimpin pengawal.”

“Tidak. Sebenarnyalah para pengawal akan mengisi medan di induk gelar”, jawab Prastawa.

“Untuk itulah aku telah menarik semua pengawal cadangan dan menggantinya dengan jajaran ketiga.”

“Apa gelar yang akan dipakai, Ki Prastawa? bertanya pengawal lainnya.

“Garuda Nglayang”, jawab Prastawa.

Sebenarnyalah akan di buat tidak utuh. Namun begitu Pangeran Pringgalaya mengetahui bahwa pengawal tanah perdikan mempunyai empat jajaran, maka kita diijinkan untuk membuat menjadi utuh.

“Aku kurang mengerti Angger Prastawa”, berkata anggota pengawal yang rambutnya sudah mulai memutih.

“Nanti akan ada perintah selanjutnya, Ki Nawa.
Justru tentang lentur kerasnya induk gelar Garuda Nglayang tersebut.”

Dan seperti yang sudah diperkirakan oleh para senapati dan Ki Gede Menoreh sendiri, sebenarnyalah para telik sandi pasukan Panaraga telah diperintahkan untuk lebih meningkatkan dalam gelar sandinya. Bahkan perintah itu tegas tidak saja untuk mengamati seberapa besar kekuatan para pengawal yang telah disusun dalam gelar, namun lebih meluas untuk membayangi semua padukuhan-padukuhan sekitar.

Prastawa yang saat itu sedang berbincang-bincang di banjar padukuhan induk pun, tidak luput dari pengamatan para telik sandi.

“Itukah para pemimpin dari pengawal itu?”

“Yang pasti mereka bukan pengawal kebanyakan,” jawab telik sandi yang kedua.

“Ternyata hanya dua lapis seperti yang nampak dalam gelar di tengah bulak itu. Apa mereka kira kita akan tertipu dengan perkemahan kosong yang sengaja dibuat berjejeran itu?”

Orang kedua hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Mari kita lebih masuk ke dalam, lanjut telik sandi pertama.
Biarkan orang-orang itu menikmati umurnya yang tinggal menunggu sesaat.”

“Mungkin saja mereka sudah hilang akal, hingga masih saja bisa terkantuk-kantuk di banjar”, sahut orang kedua sambil menahan tertawanya yang hampir tidak tertahan.

Akhirnya kedua orang itu telah pergi menghilang di tengah-tengah lebatnya tanaman jagung.

Dan dalam pada itu, justru di saat malam telah melewati puncaknya, seakan akan hampir di setiap sudut di padukuhan-padukuhan Tanah Perdikan tidak ada yang luput dari pengawasan para prajurit sandi pasukan Panaraga ataupun Perguruan Semu.

Dan begitu ada sesuatu yang menarik perhatian, mungkin meningkatnya kesiagaan atau pergerakan para pengawal, seketika itu juga secara berantai para telik sandi itu segera memberikan laporan ke induk pasukan.

Sebenarnyalah tidak hanya sebatas padukuhan-padukuhan dan tempat-tempat yang mungkin bisa untuk menyiagakan pasukan, para telik sandi itu juga menyebar sampai di bukit-bukit atau hulu sungai.

Justru di saat tempat-tempat atau hulu sungai itu ada di sisi selatan Tanah Perdikan.

“Mari kita dekati dua orang yang sedang menunggu jaring ikannya itu.”

“Kelihatannya dua anak muda dungu”, jawab orang yang diajak bicara.

“Mungkin saja itu para pengawal yang sengaja menyamar untuk mengelabuhi kita.”

Kawannya itu hanya mengangguk-angguk, tanpa menjawab lagi. Justru ketika telah mendekati tempat dua orang yang tengah menunggu jaring ikannya tersebut. Salah seorang hanya berpaling sejenak di saat ada dua orang yang berjalan mendekat ke tempatnya.

Dua orang yang baru datang seketika menjadi heran begitu melihat sikap dua orang pencari ikan itu. Bahkan terhadap yang satunya, seakan tidak menganggap sama sekali kehadiran mereka berdua.

“Mungkin airnya terlalu deras Kisanak”, berkata salah seorang yang baru datang yang sebenarnya adalah para telik sandi Panaraga itu.

Tidak ada jawaban, hanya tatapan sesaat dari salah seorang.

“Mungkin di bukit hujan kemarin malam sangat lebat Kisanak”, lanjut seorang anggota telik sandi tersebut.

Mengerti belum ada jawaban, telik sandi yang satunya mengumpat-umpat dalam hati. Dengan menahan marah berucap, “Apakah kau lapar hingga telingamu menjadi tuli?
Barangkali kalian lupa membawa bungkusan nasi yang telah disiapkan biyungmu.”

Tiba-tiba seorang yang semula hanya diam tanpa mau memalingkan wajahnya itu telah berteriak dengan setengah menjerit.

“Apa mau kalian, orang-orang sombong?! Apakah kerjaan para pengawal itu hanya mengganggu orang-orang pencari ikan seperti kami ini.”

“Sudahlah, Kasru! Berkata yang seorang lagi sambil menahan lengan kawannya yang memukul-mukul tanah pasir di tepian sungai sambil berteriak teriak itu.

Sementara itu dua orang telik sandi tersebut menjadi diam terpaku di tempatnya. Mereka hanya saling pandang satu sama lain. Walau sebenarnya kata-kata yang dilontarkan sambil menjerit jerit itu juga mampu mereka tangkap dengan jelas.

“Apa kalian akan memukuli kami lagi?” Tiba-tiba bertanya orang yang baru saja menenangkan kawannya tersebut.
“Kalau kalian mau bersikap adil dan tidak sewenang-wenang, tentunya kalian tidak akan sampai di sungai ini.
Apakah memang kalian di perintahkan untuk nganglang sampai padukuhan Wuni?”

“Atau barangkali Ki Demang Kronggahan telah menyerah-kan padukuhan Wuni menjadi wewenang Tanah Perdikan.”

Pencari ikan itu lalu tersenyum tipis. Kepalanya menggeleng-geleng sambil berucap perlahan yang hampir tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.

“Aku memang bagian dari pemuda bodoh itu. Dan sudah sepantasnya kalau Padukuhan Wuni menjadi pelayan dari Tanah Perdikan yang makmur. Tanah Perdikan yang dijaga ratusan, bahkan ribuan pengawal yang kuat dan sudah terkenal sampai ke seluruh pelosok bumi Mataram.”

Dalam pada itu, dua telik sandi Panaraga tersebut seolah olah tanpa sengaja telah mengangguk anggukkan kepalanya.
Semakin lama keduanya telah mengetahui dengan siapa saat itu mereka tengah berhadapan. Lalu, kedua telik sandi tersebut kembali saling pandang satu sama lain.

Begitu isyarat telah saling dimengerti, lalu berkata lah salah seorang telik sandi tersebut. “Kisanak berdua, sebelumnya tolong dimaafkan perkataan kawanku ini. Mungkin dia tidak tahu kalau Kisanak berdua sedang sungguh-sungguh mencari ikan, tidak sedang melakukan pekerjaan yang lain.”

“Apa kalian buta, tidak melihat jaring, ember serta cangkul ini?!”

Selesai berkata, pencari ikan yang dipanggil Kasru itu menatap tajam wajah kedua anggota telik sandi Panaraga tersebut.

“Kami yang terburu buru, Kisanak. Namun setelah mendengar apa yang Kisanak katakan, kami menjadi tahu bahwa Kisanak sedang mencari ikan, justru di sungai padukuhan Kisanak sendiri.”

“Jadi Padukuhan Wuni masih menjadi bagian dari Kademangan Kronggahan, belum menjadi pelayan dari Tanah Perdikanmu itu?” Bertanya pencari ikan satunya

“Aku tidak tahu akan hal tersebut, Kisanak. Justru karena kami bukan anggota pengawal.”

“He, kau akan menipu kami. Dan setelah puas dengan permainanmu itu, baru kau dan temanmu akan bersama sama memukuli kami!”

Telik sandi yang berbicara itu sejenak memandang kawannya. Setelah kawannya memberi tanda anggukan kecil, salah seorang petugas telik sandi tersebut kembali berkata. “Kisanak, kalau kau mengerti tanda pengenal keprajuritan, kalian akan percaya kalau kami memang bukan pengawal.”

Telik sandi itu segera menyingkap pakaian hitamnya.
“Ini adalah sebagai bukti, kami sungguh-sungguh bukanlah anggota dari pengawal Menoreh Kisanak”, lanjut telik sandi itu sambil mengurai ikat pinggangnya.

“Perhatikan timang perak ini, Kisanak!”

Orang yang bernama Kasru hanya menggeleng-geleng begitu ikat pinggang itu diletakkan di tangannya. Seketika itu juga telah diberikan kepada kawannya.

“Aku sebenarnya bagian dari prajurit, namun bukan dari Mataram. Coba Kisanak baca tulisan yang menyerupai bulan sabit itu. Juga gambar yang seakan sedang dipangkunya tersebut.”

Dahi pencari ikan yang satunya itu nampak berkerut-kerut memperhatikan semua badan dan bagian-bagian dari timang perak itu.

Sejenak kemudian, telah diserahkan kembali timang yang melekat pada ikat pinggang tersebut. “Aku tidak bisa membacanya, terlalu kecil tulisan itu, juga seolah sengaja dibuat buat oleh pandai besinya dulu. Akan tetapi aku belum pernah melihat gambar seperti yang ada di ikat pinggangmu itu.”

“Apakah kau pernah melihat lukisan gambar pada timang keprajuritan sebelumnya, Kisanak?” Bertanya telik sandi.

Pencari ikan diam sesaat, lalu menjawab. “Tetapi tidak sama seperti milikmu itu.”

“Dan ketahuilah Kisanak, paling tidak dalam satu kadipaten yang dalam wewenang seorang adipati, khusus untuk keprajuritan akan mempunyai tanda pengenal yang sama.
Yang membedakan hanya bahan dari pembuatan timang itu sendiri. Tentu bagi seorang patih, tumenggung atau panglima senapati lainnya, akan terbuat dari emas bukan dari perunggu atau perak seperti milikku ini.”

“Jadi kalian bukan prajurit Mataram? He, atau barangkali kau akan berkunjung ke rumah Ki Bekel Wuni. Namun terlambat, kakak Ki Bekel Wuni yang dulu prajurit Pajang itu telah dikuburkan lewat senja tadi.”

Sejenak terlonjak dan menjadi berbinar binar, seakan berubah menjadi bersahabat tatapan mata pencari ikan tersebut.

Telik sandi itu sendiri menjadi tersenyum. Dipandanginya kawannya sesaat, seakan akan memberi isyarat bahwa keinginan mereka berdua kemungkinan akan berhasil.

“Rumah Ki Bekel sudah tidak terlalu jauh lagi”, lanjut pencari ikan. “Mungkin benar yang kau katakan tadi, air sungai terlalu deras. Kalau sabar menunggu, kalian bisa bersama kami setelah jaring terakhir ini aku angkat.”

Kedua telik sandi itu sama-sama mengangguk anggukkan kepala, namun lantas berucap salah seorang, “Kisanak ternyata kalian orang baik. Sungguh beruntung kami berdua bisa bertemu dengan kalian di tempat ini. Akan tetapi, tanpa mengurangi rasa terima kasih, kami mohon maaf Kisanak karena sebenarnya kami bukanlah prajurit Pajang yang akan melayat ke Padukuhan Wuni. Justru kami adalah prajurit Panaraga.”

Seperti mendengar suara petir yang menyambar tebing-tebing padas di tepian sungai, seakan akan dua orang pencari ikan tersebut telah terlonjak dari tempatnya. Tanpa menyadari sebelumnya, seorang pencari ikan, justru yang jarang bercakap itu telah terpeleset dan terpelanting masuk ke dalam kedung sungai.

Sebenarnyalah kedua orang telik sandi itu segera menyadari keadaan. Salah seorang diantaranya telah bergerak cepat mematahkan ranting pohon dan segera melompat ke atas tebing, lalu menjulurkan ranting pohon sebesar pergelangan tangan itu masuk kedalam sungai tersebut.

Namun sebenarnyalah orang yang dipanggil Kasru itu cukup pandai berenang. Hanya sesaat nampak wajah telik sandi berubah cerah, begitu dirasakannya ranting kayu tersebut ada yang menarik-nariknya dari bawah.

Seperti tidak ingin menjadi terlambat semuanya, telik sandi itu telah menarik keras-keras ranting pohon yang tenggelam hampir setengahnya tersebut. Begitu keras tarikannya, hingga telik sandi itu tidak dapat menguasai kuda-kuda sepenuhnya dan akhirnya tubuhnya ikut terjengkang menabrak pohon Asem di sebelahnya.

Sementara itu, kawan telik sandi satunya yang berjaga di tengah aliran sungai, menjadi tidak kuat menahan tertawanya.
Di saat menyaksikan kawannya harus terjengkang dan akhirnya berguling menelungkup di balik akar pohon, justru pencari ikan yang tenggelam telah mampu menepi dengan selamat berkat hentakan kuat itu.

Namun dalam pada itu, sebenarnyalah beberapa pasang mata ternyata sedang mengawasi kejadian di tepian sungai itu.
Tidak hanya dari balik lebatnya semak di sisi timur sungai, namun beberapa orang juga dengan sengaja membayangi, justru dari atas pohon dengan bersembunyi di balik ranting dan dahan.

Dua orang yang kelihatannya adalah pimpinan kelompok pengintai itu, nampak begitu sungguh-sungguh, seakan tidak ingin ada yang terlewat dari semua percakapan orang-orang di tepian sungai tersebut. Namun begitu, sebenarnyalah semakin lama mereka berdua sedikit demi sedikit telah bergeser agak menjauh dari tepian sungai.

Justru disaat keduanya telah merasa tujuannya menunjukkan hasil. “Bagaimana semisal telik sandi itu benar-benar bersedia ikut ke Padukuhan Wuni?”

Orang yang di ajak bicara hanya menggeleng sambil menutup mulutnya kuat-kuat. “He, kau ini masih bisa tertawa juga. Apakah kau juga akan melakukan itu, andai Ki Prastawa yang bertanya?”

Setelah sejenak menahan mual akibat desakan ketawanya, orang itu akhirnya berkata perlahan. “Aku tadi membayangkan andai yang kau ucapkan itu benar terjadi.
Apakah kau lupa Ki Bekel Wuni itu adalah anak pertama.
Coba bayangkan tiba-tiba Ki Bekel Wuni kedatangan prajurit Pajang yang ingin melayat kakaknya yang telah meninggal.”

“Kakaknya yang dulu prajurit atau barangkali lurah prajurit Pajang, begitu kan yang kau maksud?”

Akhirnya tidak hanya seorang saja, namun keduanya menjadi sama-sama tidak kuat menahan ketawanya. Bahkan mereka berdua yang sebenarnya adalah para pengawal dalam gelar baris pendem itu harus membungkam kuat-kuat mulut mereka dengan kedua tangan masing-masing.

“Tetapi mereka berdua cukup cerdik, beruntung Kasru pandai berenang sehingga dia mampu berlama lama di dalam kedung itu.”

Setelah mampu menguasai dirinya, salah seorang pengawal tersebut menjawabnya. “Akhirnya kedua telik sandi itu akan memberi laporan bahwa induk pasukan memang benar-benar hanya dua lapis, justru di saat perkemahan-perkemahan itu hanya untuk mengelabuhi.”

Pengawal kawannya mengangguk anggukkan kepalanya.

Sementara itu tidak terlalu jauh dari tepian sungai, sebenarnyalah berlindung di bawah rapatnya pepohonan, terlihat beberapa gubuk sederhana yang seakan dengan sengaja telah didirikan agak berjauhan. Tidak terlihat sama sekali, seolah olah hanyalah batang-batang dari pepohonan yang tumbuh silang menyilang. Justru atap yang hanya dari tumpukan ranting dan alang-alang, semakin menyamarkan gubuk-gubuk tersebut. Alang-alang yang tumbuh meranggas di sekitar pepohonan itulah yang akhirnya terlihat dari kejauhan, andai ada orang yang tidak sengaja melalui tepian hutan di pinggir sungai itu.

Prastawa atas persetujuan Ki Gede Menoreh telah menyiapkan jauh-jauh hari persiapan persiapan tersebut.
Bahkan yang baru saja dilakukannya, justru juga atas petunjuk Pangeran Pringgalaya selaku Senapati medan, Prastawa telah menarik sebagian para pengawal untuk membuat gelar tersembunyi di balik bukit tersebut. Bahkan, hampir separo lebih Prastawa telah menarik pasukannya,walau tidak semua ditempatkan di sekitar sungai tersebut.

Dua orang pengawal pengintai telah kembali ke kelompoknya, justru di saat kedua orang telik sandi Panaraga itu telah pergi dari tepian sungai itu.

“Apakah sudah pada kedudukannya masing masing, anggota yang mendapat giliran jaga?” Bertanya salah seorang pengawal setengah tua yang sebenarnya adalah pemimpin dari kelompok pengawal itu sendiri.

“Sudah semua Ki Marta”, jawab seorang pengawal.
“Semua sudah digantikan tepat saat tabuh terakhir.”

Walau masih terlihat samar samar, namun dari kejauhan oncor kecil di gubuk itu seakan-akan hanyalah biasan dari kilat yang kadang masing sering muncul di langit.

“Sebenarnya aku tidak menyangka para telik sandi itu juga jauh sampai ke bagian dalam Tanah Perdikan ini”, lanjut pemimpin pengawal yang dipanggil Ki Marta tersebut.

“Namun Kasru telah mampu meyakinkan dua telik sandi itu”, sahut salah seorang pengawal. “Hingga telik sandi itu meyakini bahwa kekuatan para pengawal hanyalah dua lapis tersebut.”

“Bukankah Kasru adalah pengawal dari jajaran kedua?”

“Benar, Ki Marta” Kali ini yang menjawab adalah pengawal paling muda di antara pemimipin kelompok di dalam gubuk utama itu.

“Namun Ki Prastawa telah memberi perintah untuk menjadikan satu dari dua jajaran tersebut. Tentunya tetap dalam kendali pemimpin kelompok atau regunya masing masing.”

“Semoga apa yang telah direncanakan memang seperti itulah kenyataannya nanti.” Terdengar Ki Marta bergumam perlahan, seakan hanya kepada dirinya. Kemudian, dia pun melanjutkan pembicarannya, “Andai memang benar benar terjadi, semoga tidak sampai matahari terbenam, perang itu telah usai. Aku yakin Ki Gede Menoreh, juga para pemimpin lainnya tidak deksura seolah tidak menganggap sama sekali kekuatan pasukan segelar sepapan itu. Namun sebenarnyalah, para pemimpin Mataram masih berupaya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi kepada Kanjeng Adipati Panaraga. Justru tentang keberadaan Perguruan Semu dengan segala maksud maksud tersembunyinya tersebut.”

Para pemimpin pengawal di gubuk utama itu nampak sama sama mengangguk-anggukkan kepalanya. Walaupun dalam hati, mereka tidak akan pernah surut meski Menoreh terbakar ilalang, justru di saat raga mereka masih bernyawa, namun mereka adalah bagian dari pengawal Tanah Perdikan maupun Mataram pada umumnya. Mereka akan selalu mendengar dan menjalankan perintah dari pemimpinnya. Justru di saat perang yang sudah dihadapan mata itu, adalah untuk memaksa para senapati Panaraga menarik semua pasukannya disaat telah melihat keadaan medan yang sesungguhnya.

“Sesuai perintah Ki Prastawa, kita harus selalu dalam kesiagaan tertinggi”, kembali berkata Ki Marta. “Dan besok pagi panah panah cadangan itu harus sudah terkumpul dalam kelompok masing masing!”

Sebenarnyalah upaya yang telah dilakukan oleh Ki Gede Menoreh serta para Senapati lainnya telah menunjukkan hasilnya. Walau ada satu, dua anggota pengawal yang masih terjebak oleh para telik sandi itu, namun sesungguhnya semua laporan para prajurit sandi tersebut telah membuat para senapati Panaraga dan Perguruan Semu menjadi semakin yakin akan keberhasilan pasukannya.

“Baiklah, namun tetap perintahkan para telik sandi untuk melakukan tugas sandinya, justru besok adalah waktu yang menentukan akan keberhasilan pasukan kita.”

Ki Kebo Langitan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Walau sebenarnya perintah yang turun kepadanya telah memberitahu bahwa Menoreh tidak lagi menjadi tujuan utama, justru disaat Panaraga memutuskan untuk menunggu kedatangan pasukan Mataram, namun ia tetap ingin memberi kehancuran nyata, yang nantinya akan selalu dirasakan olah para penduduk Tanah Perdikan di kemudian hari.

“Andai Ki Pideksa kembali berada di pasukan”, gumam Panembahan Gede memecah keheningan sejenak di perkemahan utama itu.

“Sudahlah Panembahan, potong Ki Kebo Langitan.
Apakah Panembahan kurang yakin dengan kekuatan kita saat perang senapati nanti?”

“Ki Kebo Langitan”, menyela Tumenggung Jaya Wiguna.
“Ternyata Panaraga tetap menambah dua kelompok setingkat dibawah katumenggungan dan Adi Rangga Wirabaya, juga Ki Lurah Naga Wuragil ada bersamanya.”

Ki Kebo Langitan menjadi berdebar-debar sesaat, seakan ada sesuatu yang menarik perhatiaannya, justru di saat Tumenggung Jaya Wiguna menyebut nama senapati dari pasukan cadangan Panaraga tersebut.

“Siapa Naga Wuragil itu, Adi Tumenggung?”

Empu Waringin pun tampak beringsut setapak bergeser mendekat ke sisi Senapati Panaraga itu.

“Dia dulu murid dari Perguruan Nagaraga, Ki Kebo Langitan.”

“He, maksudmu Perguruan Nagaraga di sekitar Madiun itu?!”

Ki Ageng Panjerbumi kembali teringat dalam benak tentang cerita pertempuran yang seakan benar-benar di luar nalarnya itu.

“Benar Ki Ageng”, jawab Tumenggung Jaya Wiguna.
“Kabar saat Mataram mampu menghancurkan tapis Padepokan Nagaraga, ternyata tidak keseluruhannya benar.
Justru Ki Lurah Naga Wuragil ini telah mampu untuk tidak bergantung kepada kekuatan ular naga lagi.”

“Iya, karena naga itu telah mati di tangan Raden Rangga”, desis Panembahan Gede sambil tertawa lirih

“Apakah Panembahan Gede tidak percaya kepada kemampuan kanuragan Ki Lurah Naga Wuragil?”

Nampak Tumenggung Jaya Wiguna menatap wajah Panembahan Gede lekat-lekat.

“Ah, Bukan begitu yang aku maksud Ki Tumenggung.” Ada perasaan menyesal dalam hati Panembahan Gede disaat yang telah ia utarakan itu ternyata membuat tersinggung senapati Panaraga tersebut.

Dengan bibir yang tetap tersenyum, Panembahan Gede melanjutkan perkataannya. “Baiklah Ki Tumenggung, Ki Kebo Langitan serta senapati lainnya. Aku akan meluruskan ucapanku tadi biar semua menjadi jelas adanya. Justru disaat Adi Tumenggung Jaya Wiguna menyebut tentang nama Naga Wuragil. Bukan aku menganggap rendah tingkat ilmu serta kanuragan atas Ki Lurah Naga Wuragil, namun sebaliknya aku menjadi senang ketika Adi Tumenggung telah mengatakan bahwa Naga Wuragil sudah bisa terlepas dari ketergantungan akan kekuatan dari ular naga tersebut.”

Dalam pada itu, Ki Kebo Langitan pun menyela, “Apakah Panembahan Gede kenal dengan Ki Lurah itu?”

“Tidak Ki Langitan. Bahkan baru pertama kali ini aku dengar tentang nama Lurah tersebut. Akan tetapi Ki Nagaraga sendiri lah yang dahulu pernah berkawan dekat denganku.”

“He, benarkan Panembahan.” Ki Kebo Langitan menjadi sedikit terkejut, yang akhirnya seolah tanpa disadari duduknya pun menjadi bergeser mendekat.

Sebenarnyalah cerita yang didengar tentang apa yang pernah dilakukan Ki Nagaraga dengan padepokannya kala itu seakan selalu membekas dalam ingatan Ki Kebo Langitan.
Justru disaat Raden Rangga yang berilmu diluar nalar itu harus terluka parah disaat bertempur melawan ular naga.

“Benar, Ki Langitan. Bahkan boleh dibilang aku dengan Ki Nagaraga adalah seperguruan, walau pada akhirnya kami menjadi berbeda dalam pengetrapan watak ilmunya.”

Seakan hampir semua orang di perkemahan utama para senapati tersebut saling mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ki Tumenggung Jaya Wiguna sendiri yang semula merasa di anggap tidak berati akan kekuatan Pasukannya, akhirnya bernafas lega. Justru disaat perkataan Panembahan Gede telah membuat dirinya menjadi mengerti maksud sebenarnya.
“Walau berbeda tetapi inti ilmunya tetap sama.” Sambil tertawa Ki Ageng Panjer Bumi menatap wajah Panembahan Gede.

“Walau laku seperti yang aku pilih dan mungkin yang sekarang juga dilakukan oleh Ki Lurah Naga Wuragil, memerlukan waktu dua atau bahkan tiga kali lebih lama dari pada ketika menyerap langsung dari sumber ular raksasa tersebut. Namun justru ilmu dengan alas kekuatan api itu tidak akan berkurang sedikit pun disaat sedang jauh dengan ular naga atau bahkan ular raksasa itu telah mati sekalipun.” Kata Panembahan Gede.

Ki Kebo Langitan sendiri setelah sejenak berdiam sambil mendengarkan kawan-kawan senapatinya itu bercakap. Akhirnya ia pun mencoba membuat pertimbangan-pertimbangan yang lebih mapan dalam gelar pasukannya.
Justru disaat mengingat atas jatuhnya perintah yang hanya menghancurkan Menoreh tanpa menjadikannya sebagai landasan.

Panembahan Gede menjadi terkejut begitu mendengar rencana Ki Kebo Langitan berikutnya. “Apakah Ki Langitan tidak lebih baik tetap di paruh gelar seperti saat rencana awal?”

“Aku rasa gelar cadangan ini akan lebih berhasil”, jawab Ki Kebo Langitan. “Apalagi Panaraga sudah tidak memerlukan lagi Tanah Perdikan ini.” Ki Kebo Langitan berhenti sejenak, selanjutnya, “Panembahan Gede akan menjadi senapati di induk gelar mengganti aku. Dengan begitu dua lapis pengawal Tanah Perdikan itu akan cepat tumpas.”

Sesungguhnya Panembahan Gede sudah dapat membaca apa keinginan dari pemimpin Perguruan Semu tersebut.
Dengan alas ilmu yang dimilikinya itu, Ki Kebo Langitan menginginkan sebelum matahari sampai ke puncak para pengawal Tanah Perdikan sudah hangus menjadi abu.

“Baiklah Ki Kebo Langitan. Walaupun tentunya tidaklah mudah, justru karena aku yakin di induk gelar pasukan mereka pasti juga diisi oleh para senapati berilmu tinggi”, jawab Panembahan Gede.

Sebenarnyalah mulai akhir malam itu dan hari berikutnya kedua pasukan baik Panaraga maupun Tanah Perdikan Menoreh telah semakin dalam kesiagaan penuh.
Pasar-pasar di padukuhan-padukuhan serta padukuhan induk, yang sehari sebelumnya masih ada satu, dua orang yang tetap berjualan maka mulai hari itu pasar-pasar itu menjadi kosong.

Para penduduk pun tidak ada yang keluar rumah, walau hanya sekedar untuk menengok aliran air di parit sawah atau tanaman di petegalan mereka. Keadaan padukuhan-padukuhan yang hari itu sungguh-sungguh menjadi lengang, ternyata telah di anggap menjadi sesuatu yang sangat wajar oleh para senapati pasukan gabungan. Justru di saat keyakinan bahwa para pengawal telah di kerahkan seluruhnya di semua sisi.

“Apakah prajurit pemanah telah bersiap sepenuhnya?” Kata Ki Kebo Langitan sambil tetap memandang induk pasukan pengawal yang telah menggelar lengkap dengan umbul-umbul, rontek, klebet, atau tunggul kebanggaan mereka.

“Dalam sepekan mereka selalu berjaga”, jawab seorang prajurit Panaraga.

“Dan kau serta penghubung lainnya, harus cepat-cepat menghindar dan melapor kepadaku, andai Mataram mengirimkan bala bantuan prajuritnya. Justru di saat pasukan khusus Panaraga itu tidak mampu menahan arus pasukan yang akan menyeberang tersebut.”

“Baik Senapati”, jawab prajurit penghubung itu sebelum pergi.

Dalam pada itu, Ki Gede Menoreh pun telah menjatuhkan perintah untuk membuat gelar pasukannya menjadi utuh. Tidak hanya di induk pasukan, namun di sayap-sayap gelar semua tanda baik itu tunggul kebesaran maupun rontek, umbul atau klebet seakan dengan tengadah telah memberitahu keberadaan mereka sebagai prajurit-prajurit Mataram. Bahkan di saat tepat tengah hari, tiba-tiba Ki Gede Menoreh telah memberi perintah untuk mengembalikan paruh gelar menjadi seutuhnya.

bersambung ke bagian 2

16 Responses

  1. Pripun Ki kok sampun dangu mboten gogrok rontalipun kawulo kalian para cantrik ing padepokan Sundoro Sumbing ngantos nagntuk-ngantuk nenggo . . . nuwun

  2. lha ngih , kula pinten pinten buka malih koq dereng nambah malih ceritanipun, nopo nembe cuti, kula tenggo lho lanjutanipun
    suwun

  3. Kok dangu Nyi / Ni ?
    Sampun Kadung kesengsem je

  4. Rasa lapar dan haus akibat shaum/puasa bulan ramadhan menjadi bertambah berat karena menanti wedaran saking Nyi/Ni Flam Zahra

  5. gaya bahasanya agak berbeda dengan Ki S.H. Mintaharja, namun tetap punya keistimewaan tersendiri yang bikin ketagihan……. salam kenal untuk semua pecinta cersl ini dan terima kasih untuk yang telah berbaik hati melanjutkan dan memposting cerita ini. semoga mendapat balasan berupa kebaikan di dunia dan diakhirat dari yang maha kuasa.. amiin…3X

  6. he eh..piye iki

  7. setia menanti…..cepetan dooong….

  8. kemana lanjutannya ???

  9. Dhalangnya masih istirahat. Belum tahu sampai kapan.

  10. Suwun wedaranipun, Nyi, tambah penasaran ngentosi wedaran lanjutipun ….. Salam saking lereng sumbing-sundoro

  11. Mbok Ayu banyak yang nunggu terusannya udah lama ga terbit

  12. mn nih lanjutannya…?
    😤
    😥
    😭😭

    Kami kehilangan kontak dengan beliaunya (Nyi Flam Zahra), sehingga tidak bisa menjelaskan tentang kelanjutannya.

  13. mnunggu turun nya sang tulisan…

  14. Pada akhirnya seperti penulis2 yg lain
    Cerita Api di Bukit Menoreh ini tidak seselai.
    Ending cerita gantung gak jelas

  15. Saya masih terus berharap semoga cerita ini masih terus berlanjut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s