SEJENGKAL TANAH SETETES DARAH

stsd

Satu karya mbah_man (paneMBAHan MANdaraka) setelah menamatkan TADBM di jilid 416. Semoga naskah yang ini bisa menjadi pelepas kerinduan terhadap lanjutan kisah ADBM.

SINOPSIS

Pemberontakan Pangeran Jayaraga di Panaraga masih menyisakan luka bagi Mataram. Adi Prabu Panembahan Hanyakrawati berniat untuk tetirah sekaligus berburu sekedar untuk melepaskan ketegangan. Pemilihan hutan Krapyak sebagai tempat tetirah ternyata ada kesengajaan dari pihak yang ingin menggulingkan Mataram. Rara Anjani yang telah diangkat sebagai selir Pangeran Pati, secara tidak sengaja telah mencium rencana jahat sekelompok orang yang akan menyingkirkan Panembahan Hanyakrawati pada saat di hutan Krapyak nanti. Ketika hal itu disampaikan kepada Raden Mas Rangsang, karena hasutan seorang emban kaki tangan pengikut trah Sekar Seda Lepen, Raden Mas Rangsang menganggap selirnya itu telah mencoba mempengaruhinya dengan menyebarkan fitnah. Dalam keadaan mengandung muda, Rara Anjani  lebih memilih menyingkir ke gunung Kendalisada memohon  perlindungan kepada Resi Mayangkara karena keselamatannya pun  juga terancam.

Dalam pada itu  di Kademangan Sangkal Putung, sepeninggal Ki Swandaru  Pandan Wangi lebih memilih pulang ke Tanah Perdikan Menoreh dengan membawa anak laki-laki satu-satunya, Jaka Swandana. Sedangkan Sekar Mirah, setelah suaminya mengundurkan diri dari lingkungan keprajuritan, lebih memilih membesarkan anak semata wayangnya Bagus Sadewa di Sangkal Putung. Sementara Ki Agung Sedayu setelah melawat ke perguruan Jalatunda di lereng gunung Penanggungan sebagai usaha Mataram untuk menjajagi kekuatan Kadipaten Surabaya, telah mengundurkan diri dari lingkungan keprajuritan dan lebih senang menyepi di padepokan Jati Anom.

Waktu pun bergulir dengan cepat. Ki Untara yang telah menyelesaikan  masa bhaktinya di keprajuritan,   telah menyerahkan anaknya Putut Pratama kepada adiknya untuk berguru di padepokan Jati Anom. Putut Pratama pun menjadi saudara seperguruan dengan Bagus Sadewa. Sementara Jaka Swandana yang berada di Menoreh ternyata telah digembleng sendiri oleh ibunya untuk mewarisi ilmu turun-temurun dari Menoreh. Ki Argapati pun sebelum tutup usia telah ikut turun tangan memberi petunjuk kepada cucu satu-satunya itu.

Persoalan pun muncul ketika Jaka Swandana merasa punya hak atas Kademangan Sangkal Putung, sedangkan para tetua Kademangan Sangkal Putung telah sepakat menetapkan Bagus Sadewa sebagai Pemangku sementara kademangan sambil menunggu serat kekancingan dari Mataram. Sementara itu, Glagah Putih yang telah diangkat menjadi Senapati pasukan khusus Mataram yang berkedudukan di Menoreh telah mencurigai adanya usaha orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk membenturkan Tanah Perdikan Menoreh dengan Kademangan Sangkal Putung yang selama ini menjadi salah satu penyangga kekuatan Mataram agar sedikit demi sedikit kekuatan Mataram melemah.

Dalam pada itu,  langit di atas Mataram terlihat kelabu. Perebutan kekuasaan antar keluarga kerajaan sendiri untuk menduduki tahta menjadi semakin meruncing. Sepeninggal Panembahan Hanyakrawati,  Ratu Tulungayu tetap menuntut Raden Mas Wuryah yang menduduki tahta sesuai janji  Panembahan Hanyakrawati  semasa masih menjabat Adipati Anom Mataram. Sedangkan  Raden Mas Rangsang yang telah diangkat sebagai Putra Mahkota semasa pemerintahan Ayahandanya, menyerahkan semua persoalan itu kepada keputusan kerabat Istana.

22 Desember 2016
Padepokan Sekar Keluwih,

Sidoarjo

paneMBAHan  MANdaraka

Pintu masuk gandok

STSD-01   STSD-02   STSD-03   STSD-04   STSD-05

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s