STSD-01

kembali ke TADBM-416 | lanjut ke STSD-02

stsd-01

Bagian 1

MALAM baru saja lewat sirep bocah. Angin malam yang bertiup cukup keras telah menggugurkan daun-daun kering pepohonan yang tumbuh di halaman istana Kepatihan. Di ruang dalam, tampak lima orang sedang duduk terpekur menunggu titah Ki Patih Mandaraka.

Tidak ada seorang pun yang berani membuka suara. Masing-masing sedang tenggelam dalam lamunan yang mengasyikkan. Berbagai kenangan telah hilir mudik dalam benak mereka. Satu-persatu kenangan itu bagaikan air hujan yang turun membasahi bukit-bukit berbatu. Mengalir di sela-sela bebatuan susul menyusul saling berebut hingga akhirnya sampailah air itu di kaki bukit kenangan mereka.

“Ki Rangga,” tiba-tiba terdengar Ki Patih berkata membuyarkan lamunan mereka, “Bagaimanakah rencana Ki Rangga selanjutnya sehubungan dengan lolosnya orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu.”

Ki Rangga Agung Sedayu beringsut setapak ke depan sambil menyembah. Jawabnya kemudian, “Ampun Ki Patih. Pangeran Ranapati telah lolos dari medan pertempuran lemah Cengkar karena ditolong oleh Gurunya, Ki Singawana Sepuh. Menurut perkiraan hamba, mereka kemungkinan besar telah pulang ke Kademangan Cepaga. Hamba mempunyai rencana untuk menyusul mereka.”

Untuk beberapa saat Ki Patih termenung. Ingatannya kembali ke masa puluhan tahun yang silam ketika seorang pemuda yang bernama Jaka Suta bersama Pamannya singgah di padepokan Selagilang, di lereng utara gunung Merapi.

Sejenak suasana kembali sepi. Ki Patih sedang terbawa kenangan sewaktu Panembahan Senapati masih muda dan lebih dikenal dengan nama Raden Sutawijaya.

“Tugas untuk melacak keberadaan pangeran Ranapati itu masih tetap berada di pundakmu, Ki Rangga,” berkata Ki Patih kemudian memecah kesunyian, “Namun yang perlu engkau waspadai, Ki Ageng Selagilang atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Singawana Sepuh, tentu akan melindungi orang yang sudah dianggap seperti cucunya sendiri itu. Ki Ageng Selagilang mempunyai ketinggian ilmu yang tak terukur. Engkau harus benar-benar siap lahir maupun batin jika ingin berurusan dengannya lagi,” Ki Patih berhenti sejenak. Setelah menarik nafas panjang Ki Patih melanjutkan, “Tidak menutup kemungkinan jika Ranapati masih dapat bertahan dan selamat, dia akan menyusun kekuatan lagi dengan mempengaruhi dan bergabung dengan para Adipati di pesisir yang sekarang ditengarai sedang bergolak.”

Ki Rangga tidak menjawab. Hanya kepalanya saja yang tampak terangguk dalam-dalam.

“Nah, Ki Rangga. Untuk sementara persoalan Ranapati itu kita kesampingkan dulu sambil menunggu perkembangan dari para petugas sandi. Mereka telah disebar untuk memantau keberadaan Ranapati.”

Mereka yang hadir di ruang dalam Kepatihan itu hanya dapat mengangguk-angguk tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Sekarang aku akan menyampaikan sesuatu hal tentang Kademangan Sangkal Putung,” berkata Ki Patih kemudian sambil membetulkan letak duduknya.

Ki Rangga yang mendengar Kademangan Sangkal Putung disebut, tanpa sadar telah mengangkat wajahnya. Namun begitu disadari Ki Patih sedang memandang ke arahnya, dengan cepat segera ditundukkan kembali wajahnya.

“Mataram sedang mempersiapkan serat kekancingan bagi Kademangan Sangkal Putung,” berkata Ki Patih selanjutnya, “Ki Swandaru telah berjasa ikut menjaga kedaulatan Mataram dari tangan-tangan segolongan orang yang tidak bertanggung jawab. Bentuk penghargaan itu sedang dipikirkan. Mungkin kademangan Sangkal Putung akan ditingkatkan kedudukannya menjadi sebuah tanah Perdikan yang tidak mempunyai kewajiban membayar upeti, namun kewajiban untuk tunduk dan patuh kepada Mataram tetap ada.”

Berdesir jantung orang-orang yang hadir di ruang dalam Kepatihan itu. Selama ini Ki Demang Sangkal Putung dalam tugas sehari-hari telah diambil alih oleh Ki Swandaru karena kesehatan ki Demang yang sudah menurun serta usianya yang sudah sedemikian sepuh. Sepeninggal Ki Swandaru, Kademangan Sangkal Putung harus segera menunjuk seseorang untuk membantu tugas Ki Demang atau bahkan sekalian mengangkat seorang Pemangku sementara untuk menjalankan tugas sehari-hari sampai saatnya nanti Ki Demang mengundurkan diri.

“Apakah Kademangan Sangkal Putung sudah memutuskan siapa Pemangku sementara untuk membantu Ki Demang yang sudah tua dan sakit-sakitan itu?” tiba-tiba Ki Patih bertanya seolah-olah mengerti apa yang sedang mereka pikirkan.

Orang-orang yang hadir di ruang dalam Kepatihan itu untuk sejenak saling berpandangan. Ki Rangga lah yang akhirnya menjawab, “Ampun Ki Patih, beberapa saat yang lalu Pandan Wangi telah menyampaikan rencananya kepada hamba. Bayu Swandana anak laki-laki satu-satunya Ki Swandaru rencananya akan dibesarkan oleh ibunya di Tanah Perdikan Menoreh.”

Ki Patih mengerutkan keningnya dalam-dalam. Sambil berpaling ke arah Ki Rangga, Ki Patih pun bertanya, “Mengapa Pandan Wangi memilih pulang ke Tanah Perdikan Menoreh?”

Ki Rangga yang melihat Ki Patih telah berpaling ke arahnya segera menyembah sambil menjawab, “Mohon ampun Ki Patih. Hamba telah memberikan beberapa pertimbangan kepadanya, namun Pandan Wangi lebih memilih untuk pulang ke Menoreh.”

Kembali Ki Patih mengerutkan keningnya. Sebagai seorang yang telah kenyang makan asam garamnya kehidupan, Ki Patih segera maklum apa yang dimaksud oleh Ki Rangga.. Katanya kemudian sambil menghela nafas panjang, “Ya, aku bisa memaklumi sikap Pandan Wangi. Sepeninggal suaminya, Pandan Wangi tentu merasa lebih tenang membesarkan anaknya di tanah kelahirannya sendiri. Sementara di Menoreh, Ki Argapati pun juga memerlukan pendamping untuk menjalankan tugasnya sehari-hari.”

“Sudahlah,” berkata Ki Patih kemudian memecah kesunyian, “Biarlah urusan itu dibicarakan oleh keluarga besar kedua wilayah itu. Mataram akan menunggu setiap keputusan yang telah disepakati”, Ki Patih berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Sekarang aku ingin mendengar laporan tentang perjalanan Glagah Putih beberapa pekan yang lalu ke Bukit Tidar.”

Glagah Putih yang disebut namanya segera bersingsut ke depan. Sambil menyembah, Glagah Putih pun segera memberikan laporannya.

“Mohon ampun Ki Patih,” berkata Glagah Putih kemudian, “Rencana perjalanan kami ke bukit Tidar memang sempat tertunda beberapa hari sehubungan dengan meninggalnya Ki Swandaru,” Glagah Putih berhenti sejenak. Kemudian lanjutnya, “Gunung Tidar selama ini ternyata sedang dalam pengamatan para petugas sandi. Kami telah mengadakan hubungan dengan para petugas sandi di sana. Akhir-akhir ini perguruan Sapta Dhahana yang berada di lereng gunung Tidar sedang giat menjalin hubungan dengan segolongan orang yang mengaku sebagai Trah Sekar Seda Lepen.”

Tampak Ki Patih menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar laporan Glagah Putih. Sekilas wajah Ki Patih tampak sedikit muram. Sedangkan orang-orang yang hadir di ruangan itu tampak saling pandang dengan kening yang berkerut-merut.

Ki Waskita yang duduk di sebelah kiri Ki Rangga memberanikan diri untuk mengajukan pendapatnya, “Ampun Ki Patih. Bukankah orang-orang yang mengaku pengikut Trah Sekar Seda Lepen itu pernah membuat keributan di kediaman Ki Gede Menoreh beberapa saat yang lalu? Agaknya berita kebangkitan keturunan dari Pangeran Sekar itu bukan berita ngaya wara.”

“Benar, Ki Waskita,” jawab Ki Patih, “Aku memang sudah mendapat laporan sebelumnya, namun aku ingin Glagah Putih di dampingi Ki Jayaraga untuk menelusuri kebenaran berita itu dan melihat kekuatan yang tersimpan di padepokan Sapta Dhahana serta hubungannya dengan orang yang menyebut dirinya sebagai trah Sekar Seda Lepen.”

“Sendika Ki Patih,” Ki Jayaraga yang sedari tadi diam saja kini menyahut, “Kami berdua telah mengamati perguruan itu dari dekat. Pemimpin perguruan Sapta Dhahana, Kiai Damar Sasangko, sering mengadakan hubungan dengan seseorang yang bernama Raden Wirasena yang mengaku sebagai keturunan Pangeran Sekar, putra tertua dari Raden Patah Sultan Demak pertama walaupun dari garwa selir. Raden Wirasena menganggap dirinya lebih berhak atas tahta di tanah ini dari pada keturunan Panembahan Senapati.”

Untuk beberapa saat mereka yang mendengarkan penjelasan Ki Jayaraga itu terdiam. Orang yang bernama Raden Wirasena dan para pengikutnya itu agaknya sedang berusaha menanamkan pengaruhnya terhadap para kawula Mataram dengan cara mengungkit kembali akan garis keturunan dari kerajaan Demak lama. Tidak menutup kemungkinan orang-orang yang masih rindu akan kejayaan Demak lama akan terpengaruh, karena mereka masih beranggapan bahwa penguasa negeri ini harus ada garis keturunan dari kerajaan besar yang pernah ada, yaitu Majapahit. Sedangkan Panembahan Senapati yang kemudian menjadi raja pertama di Mataram itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan garis keturunan dari Majapahit.

“Ampun Ki Patih,” kembali Ki Waskita mengajukan pendapatnya sambil menyembah, “Bukankah jaman sudah berganti dan Wahyu Keprabon sudah berpindah beberapa kali? Dan yang terakhir, sesuai dengan ramalan seorang Wali yang waskita, Wahyu Keprabon ternyata telah jatuh di Alas Mentaok yang sekarang ini telah menjadi kerajaan Mataram.”

 “Ki Waskita benar,” jawab Ki Patih sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, “Namun yang perlu diluruskan adalah, siapakah yang telah mengaku sebagai trah Pangeran Sekar itu? Seperti yang telah kita ketahui bersama, Pangeran Sekar meninggalkan dua orang putra, Harya Penangsang dan Harya Mataram. Harya Penangsang gugur dalam peperangan antara Pajang dan Jipang di pinggir bengawan sore, sedangkan Harya Mataram telah lolos dan sampai sekarang tidak ada kabar beritanya.”

Untuk sejenak ruang dalam Kepatihan itu kembali menjadi sunyi. Masing-masing telah tenggelam dalam angan-angan mereka. Sementara di luar angin malam bertiup agak kencang sehingga telah mengguncang daun-daun pohon sawo kecik yang ditanam di sebelah regol Kepatihan.

“Sudahlah,” berkata Ki Patih kemudian, “Persoalan itu akan menjadi pekerjaan para prajurit sandi untuk mengungkapkan siapakah sebenarnya orang yang mengaku sebagai Trah Sekar Seda Lepen itu,” Ki Patih berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Nah, sekarang yang perlu kita ketahui adalah kekuatan sebenarnya dari Padepokan Sapta Dhahana. Ki Rangga pun agaknya sangat berkepentingan dengan berita ini. Mungkin Ki Jayaraga dapat memberikan gambaran.”

Selesai berkata demikian Ki Patih kemudian berpaling kepada Ki Jayaraga. Ki Jayaraga pun tanggap. Secara singkat segera diceritakan hasil pengamatannya bersama Glagah Putih di Padepokan Sapta Dhahana.

“Ampun Ki Patih, sebagaimana yang pernah Ki Patih sampaikan. Perguruan itu memang mempunyai sebuah ritual yang cukup aneh. Kami berdua sempat menyaksikan walaupun dari jarak yang agak jauh. Setiap murid perguruan itu senang bermain-main dengan api,” Ki Jayaraga memulai kisahnya, “Pada tingkat kemampuan yang paling rendah, murid-murid padepokan itu mampu berjalan dengan kaki telanjang di atas tumpukan bara api tanpa menderita luka sedikit pun. Sedangkan pada tingkatan yang lebih tinggi, seseorang telah dilumuri sekujur tubuhnya dengan sejenis minyak kemudian dibakar. Ternyata tubuh orang tersebut tidak mempan dibakar api, bahkan pakaian yang dikenakannya pun tetap utuh, tidak hangus dimakan api.”

Mereka yang hadir di ruangan itu menjadi berdebar-debar. Jika murid-muridnya saja mampu menunjukkan pengeram-eram seperti itu, bagaimana dengan kemampuan gurunya sendiri?

“Semasa mudaku aku memang pernah mendengar perguruan itu,” Ki Patih memberikan tanggapannya, “Seingatku perguruan itu memang senang bermain-main dengan api, sesuai dengan namanya Sapta Dhahana,” Ki Patih berhenti sejenak untuk mengumpulkan daya ingatnya. Lanjutnya kemudian, “Kekuatan yang terpancar dari puncak ilmu perguruan Sapta Dhahana itu, tentu tidak lepas dari kekuatan api, entah itu berupa semburan api yang sangat panas, atau bola-bola api yang sangat panas yang terlontar dengan kekuatan nggegirisi. Aku berharap semua ini akan memberikan sedikit gambaran tentang kekuatan perguruan Sapta Dhahana kepada Ki Rangga Agung Sedayu,” kembali Ki Patih berhenti sejenak. Sambil berpaling ke arah Ki Rangga, Ki Patih pun melanjutkan kata-katanya, “Bukankah janji Kiai Damar Sasangka itu masih berlaku Ki Rangga?”

Ki Rangga Agung Sedayu yang mendapat pertanyaan dari Ki Patih itu hanya dapat menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil menyembah. Dia segera teringat akan penuturan Kiai Sabda Dadi yang pernah berjumpa langsung dan menerima pesan dari pemimpin perguruan Sapta Dhahana itu. Kiai Damar Sasangka telah memberinya waktu sebulan lebih sepuluh hari untuk menyembuhkan luka-lukanya. Jika batas waktu itu telah tercapai, bagaimana pun keadaan dirinya, Pemimpin perguruan di lereng gunung Tidar itu tetap akan membunuhnya, melawan ataupun tidak melawan.

“Sampai kapan aku akan terbebas dari lingkaran dendam yang tak berkesudahan ini?” Ki Rangga hanya dapat mengeluh dalam hati.

Sejenak kemudian, ruang dalam Kepatihan itu pun kembali sunyi. Hanya terdengar suara angin di luar gedung Kepatihan yang bertiup kencang sehingga membuat atap gedung Kepatihan itu berderak-derak.

“Ampun Ki Patih,” tiba-tiba Ki Waskita berkata sambil menghaturkan sembah, “Orang yang mengaku pengikut Trah Sekar Seda Lepen yang pernah membuat onar di kediaman Ki Gede Menoreh itu juga mampu mengungkapkan ilmunya melalui pusaran angin bercampur lidah api. Bahkan ketika orang itu telah menghentakkan ilmunya, yang terpancar dari ilmunya benar-benar berupa badai api yang siap melumat apapun yang menghalanginya.”

“Ya, aku sudah mendapat laporan tentang itu,” sahut Ki Patih cepat, “Namun orang yang disebut Eyang Guru itu ternyata  telah melarikan diri begitu Ki Rangga hadir. Agaknya dia ketakutan begitu melihat cambuk di tangan Ki Rangga.”

Orang-orang yang hadir di ruang itu tersenyum mendengar kelakar Ki Patih, kecuali Ki Rangga Agung Sedayu. Dengan cepat dia segera menghaturkan sembah sambil berkata, “Ampun Ki Patih, yang membuat orang yang disebut Eyang Guru itu melarikan diri adalah suara derap kaki kuda Ki Gede Menoreh dan rombongannya yang sudah mencapai regol halaman, bukan hamba. Karena sesungguhnya hamba belum melakukan apa-apa.”

“Engkau benar Ki Rangga,” jawab Ki Patih sambil tersenyum penuh arti, “Bukankah engkau memang hanya berbaring saja di tempat tidur ketika pengikut Trah Sekar Seda Lepen itu membuat ontran-ontran?”

“Ah,” desah Ki Rangga sambil menundukkan kepala, sementara KI Waskita justru telah tertawa. Sedangkan yang lain hanya dapat mengerutkan kening mereka dalam-dalam karena tidak tahu apa yang maksud oleh Ki Patih.

“Bukankah Kakang Agung Sedayu masih sakit pada waktu itu?” pertanyaan itu telah berputar-putar dalam benak Glagah Putih. Sementara Ki Jayaraga hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Sedikit banyak dia mulai dapat meraba ilmu yang sedang ditekuni oleh kakak sepupu muridnya itu.

 “Nah, sekarang aku akan memberikan tugas kepada kalian,” berkata Ki Patih kemudian, “Sebenarnya Ki Rangga dan Glagah Putih saja yang mendapat tugas ini langsung dari Adi Prabu Panembahan Hanyakrawati.”

Tanpa sadar kelima orang yang menghadap Ki Patih itu telah mengangkat kepala mereka dengan jantung yang berdebaran.

“Namun atas saran Pangeran Pati, dan juga pertimbanganku sendiri, Ki Bango Lamatan juga aku libatkan dalam tugas ini.” Ki Patih melanjutkan penjelasannya.

Bagaikan disengat ribuan kalajengking, Ki Rangga dan kawan-kawannya terlonjak kaget, terutama Ki Rangga Agung Sedayu. Nama Bango Lamatan tentu saja tidak asing di telinga Ki Rangga karena memang mereka berdua pernah bertemu. Sedangkan yang lainnya  mengenal nama itu sebagai pengikut setia Panembahan Cahya Warastra.

Serentak keempat orang itu berpaling ke belakang, kearah seorang yang berperawakan tinggi besar dengan jambang dan kumis yang hampir menutupi separuh wajahnya.

Sejenak Ki Rangga mengerutkan keningnya dalam-dalam. Bango Lamatan yang dulu tidak memelihara kumis dan jambang, namun agaknya sekarang dia lebih senang memeliharanya sehingga orang yang pernah mengenalnya akan kesulitan untuk mengenalinya kembali.

Memang pada saat mereka berempat memasuki ruang dalam Kepatihan beberapa saat yang lalu, di dalam ruangan itu telah hadir seseorang yang hampir seluruh wajahnya tertutup kumis dan jambang yang lebat. Orang itu selalu menundukkan wajahnya sehingga wajahnya sulit untuk dikenali.

Sementara Ki Bango Lamatan yang duduk di belakang sendiri ketika namanya disebut, hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil menyembah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Agaknya Ki Patih dapat membaca wajah-wajah yang penuh tanda tanya itu. Maka katanya kemudian, “Ki Bango Lamatan telah menyediakan dirinya untuk membela tetap tegak dan berkibarya panji-panji Mataram di seluruh pelosok negeri ini,” Ki Patih berhenti sebentar. Kemudian sambil berpaling ke arah Ki Bango Lamatan, Ki Patih bertanya, “Bukankah begitu, Ki Bango Lamatan?”

Dengan penuh rasa takdim, Ki Bango Lamatan pun menyembah sambil berdesis perlahan, “Sendika Ki Patih,”

Hampir bersamaan, Ki Rangga dan kawan-kawannya pun telah menarik nafas dalam-dalam. Agaknya sesuatu telah terjadi pada diri orang kedua di perguruan Cahya Warastra itu setelah pasukan Panembahan Cahya Warastra dihancurkan oleh pasukan Mataram.

“Nah, tugas kalian adalah memutus hubungan  perguruan Sapta Dhahana dengan orang yang mengaku sebagai trah Sekar Seda Lepen itu sebelum semuanya berkembang menjadi besar,” berkata Ki Patih kemudian yang membuat jantung kelima orang itu tergetar.  “Namun kalian tidak diijinkan  membawa pasukan segelar sepapan untuk menghancurkan perguruan itu. Carilah upadaya agar kalian mendapatkan ikannya tanpa harus membuat keruh air di sekelilingnya.”

Jantung kelima orang itu menjadi semakin berdebaran. Agaknya Ki Patih menghendaki cara lain dalam melumpuhkan perguruan Sapta Dhahana dan itu bukan suatu pekerjaan yang mudah.

“Karena beratnya tugas ini, aku juga mohon kepada Ki Waskita dan Ki Jayaraga untuk menemani Ki Rangga,” berkata Ki Patih selanjutnya sambil tersenyum  dan memandang ke arah kedua orang tua itu, “Atas nama Mataram aku hanya dapat mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya. Sungguh, aku pun secara pribadi rasa-rasanya ingin bergabung dan mengulang kembali masa-masa muda, menjelajahi hutan dan ngarai. Menuruni lembah dan bukit, mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah tersentuh oleh tangan manusia.”

Ki Waskita dan Ki Jayaraga sejenak saling pandang. Ki Waskita lah yang kemudian menghaturkan sembah sambil berkata, “Ampun Ki Patih, kami yang tua-tua ini sesungguhnya merasa takut jika keberadaan kami nantinya hanya menjadi beban. Namun sesungguhnya kami pun juga merasa sangat kesepian jika hanya duduk-duduk saja di beranda menunggu waktu berlalu, karena memang kami tidak mempunyai pekerjaan yang dapat mengikat kami. Sehingga  jika  tenaga kami yang sudah rapuh ini memang masih dibutuhkan,  kami siap untuk membantu Ki Rangga.”

“Ah,” Ki Patih tertawa pendek, “Tenaga Kalian berdua memang terlihat rapuh sebagaimana orang tua kebanyakan. Namun aku yakin, Ki Waskita masih mampu membakar hutan dengan tatapan matanya, sedangkan Ki Jayaraga masih mampu meledakkan bukit  hanya dengan ujung jarinya.”

Semua yang hadir di ruangan itu tersenyum mendengar kelakar Ki Patih. Dengan cepat Ki Jayaraga beringsut ke depan sambil menyembah. Katanya kemudian, “Ampun Ki Patih sebenarnya hamba sudah dihinggapi penyakit tua, tidak bisa menunjuk ke sasaran dengan tepat karena tangan hamba selalu gemetar. Hamba takut jika harus meledakkan bukit kecil di sebelah istana Kepatihan ini, justru istana ini yang akan hancur.”

“Ah,” kini semua yang hadir di ruang dalam Kepatihan itu tertawa.

“Nah,” berkata Ki Patih kemudian setelah tawa mereka mereda, “Mataram tidak mungkin menyerang padepokan Sapta Dhahana secara terbuka sebelum ada bukti keterlibatan mereka dalam usaha makar yang diprakarsai oleh orang-orang yang mengaku trah Sekar Seda Lepen. Untuk itulah aku telah mempertimbangkan masak-masak dengan memilih cara ini. Semoga Yang Maha Agung selalu meridhoi setiap langkah kita untuk menuju perdamaian di seluruh penjuru negeri Mataram.”

Hampir bersamaan kelima orang itu telah menarik nafas dalam-dalam. Sebuah tugas yang memerlukan kesabaran dan ketabahan. Selain tidak boleh menggunakan kekuatan prajurit, tidak menutup kemungkinan di padepokan Sapta Dhahana nantinya mereka akan menghadapi kekuatan yang jauh diluar  dugaan mereka .

“Persoalan yang sedang berkembang di gunung Tidar tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Namun jauhkan kesan keterlibatan Mataram dalam peristiwa ini sebelum ada bukti yang nyata tentang usaha mereka untuk menggulingkan Mataram.” Titah Ki Patih kemudian.

Demikianlah untuk beberapa saat mereka yang berada di ruang dalam Kepatihan itu masih membicarakan masalah seputar rencana keberangkatan mereka besuk pagi.

Ketika Ki Patih sudah merasa cukup memberikan pengarahan kepada kelima orang itu, Ki Patih pun segera menutup pertemuan itu dan mempersilahkan mereka untuk beristirahat di tempat yang telah disediakan.

Dalam pada itu malam hampir mencapai puncaknya ketika kelima orang itu keluar dari ruang dalam  Istana Kepatihan. Hampir tidak ada satu pun yang mengeluarkan suara. Masing-masing sedang tenggelam dalam angan-angan mereka sehubungan dengan tugas yang telah diberikan oleh Ki Patih.

Ketika mereka telah tiba di halaman samping kanan Istana Kepatihan, tiba-tiba saja Ki Bango Lamatan telah menghentikan langkahnya. Ki Rangga dan kawan-kawannya pun segera saja ikut menghentikan langkah mereka.

“Ki Rangga,” berkata Ki Bango Lamatan kemudian, “Aku bermalam di Ndalem Kapangeranan. Pangeran Pati telah berkenan menerima suwitaku untuk menjadi pengawal pribadinya.”

“Syukurlah,” berkata Ki Rangga, “Tenaga Ki Bango Lamatan sangat dibutuhkan untuk perkembangan Mataram di masa mendatang.”

“Aku hanya berusaha untuk  yang terbaik, Ki Rangga,” jawab Ki Bango Lamatan kemudian. Sementara orang-orang yang ada di sekitarnya hanya mengangguk-angguk tanpa menanggapi sepatah kata pun.

“Aku mohon diri,” berkata Ki Bango Lamatan kemudian.

“Silahkan, silahkan..” hampir bersamaan orang-orang yang berada di tempat itu menjawab.

Demikianlah sejenak kemudian mereka segera berpisah menuju ke tempat masing-masing. Ki Bango Lamatan menuju ke Ndalem Kapangeranan sedangkan Ki Rangga dan kawan-kawannya menuju ke gandok sebelah kanan istana Kepatihan.

Namun baru saja Ki Rangga menutup pintu biliknya, pendengarannya yang tajam telah mendengar desir langkah yang menuju ke biliknya.

Sejenak Ki Rangga menunggu. Ketika kemudian terdengar ketukan perlahan di pintu biliknya, dengan tanpa meninggalkan kewaspadaan, Ki Rangga pun segera melangkah mendekati pintu sambil bertanya, “Siapa?”

“Aku Ki Rangga, prajurit jaga dari Ndalem Kapangeranan,” terdengar jawaban seseorang dari balik pintu bilik.

KI Rangga menarik nafas dalam-dalam sambil mengangkat pintu selarak. Sejenak kemudian dari pintu yang terbuka muncul seorang prajurit lengkap dengan tanda jaga Ndalem Kapangeranan.

“Ada apa?” bertanya Ki Rangga kemudian.

“Mohon maaf mengganggu istirahat Ki Rangga,” jawab prajurit itu sambil mengangguk dalam-dalam, “Aku diperintah Pangeran Pati untuk menjemput Ki Rangga. Pangeran Pati sedang menunggu kehadiran Ki Rangga di Ndalem Kapangeranan.”

Sebuah desir tajam segera saja menggores jantung Ki Rangga. Bukan masalah Pangeran Pati itu yang akan menjadi persoalan jika dia diperintah untuk menghadap, namun keberadaan seorang perempuan muda yang memiliki kecantikan luar biasa yang kini tinggal di Ndalem Kapangeranan itu yang akan membebani hatinya, Rara Anjani.

“Apakah Ki Rangga sudah siap?” pertanyaan prajurit jaga itu telah menyadarkan Ki Rangga.

Sejenak Ki Rangga tanpa sadar telah memandang tajam ke arah prajurit jaga itu. Dengan serta merta prajurit jaga itu pun segera menundukkan wajahnya.

“Baiklah, aku sudah siap,” jawab Ki Rangga kemudian sambil melangkah keluar dan menutup pintu bilik.

Demikianlah kedua orang itu segera turun ke halaman Istana Kepatihan yang luas. Setelah terlebih dahulu keluar dari regol penjagaan istana Kepatihan, untuk sejenak mereka harus menyusuri lorong yang menghubungkan istana Kepatihan itu dengan Ndalem Kapangeranan.

Setelah melewati beberapa penjagaan yang sangat ketat, tanpa kesulitan yang berarti Ki Rangga dan prajurit jaga itu pun telah sampai di depan Ndalem Kapangeranan.

“Silahkan Ki Rangga,” berkata prajurit jaga itu mempersilahkan Ki Rangga menaiki tlundak pendapa. Sementara seorang pelayan dalam telah berdiri menunggu di ujung tangga.

“Pangeran Pati berkenan menerima Ki Rangga di ruang dalam,” berkata pelayan dalam itu kemudian sambil mengiringi langkah Ki Rangga menyeberangi pendapa yang luas menuju ke pintu pringgitan.

Sejenak kemudian Ki Rangga pun telah duduk bersila di ruang dalam. Sementara pelayan dalam yang mengantarkannya itu dengan bergegas segera masuk ke ruang tengah untuk melaporkan kehadiran Ki Rangga kepada Pangeran Pati.

Sambil menunggu kehadiran Pangeran Pati, Ki Rangga Agung Sedayu harus berkali-kali menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan gejolak di dalam dadanya. Bayangan perempuan cantik yang kini telah menjadi selir Pangeran Pati itu benar-benar telah  meresahkan hatinya.

“Apakah sekarang aku harus menyembah kepadanya?” di sudut hatinya yang paling dalam bertanya.

“Tentu saja engkau harus menyembah Ki Rangga,” sudut hatinya yang lain menjawab, “Anjani yang sekarang bukan Anjani yang dulu, perempuan kleyang kabur kanginan yang tidak mempunyai masa depan yang jelas. Sekarang dengan gelar Rara dan menjadi selir Pangeran Pati, semua orang harus menghormatinya, tidak terkecuali engkau.”

“Ah,” Ki Rangga berdesah. Baginya lebih baik menghadapi seribu musuh dengan ilmu yang ngedab-edabi sekalipun dari pada menghadapi satu orang saja, orang yang selama ini dia merasa bersalah karena belum dapat memenuhi janjinya.

“Dengan berkenannya Pangeran Pati mengambil Anjani sebagai selir, janjiku kepada Anjani sudah tidak berlaku lagi,” berkata Ki Rangga dalam hati sambil sekali lagi menarik nafas dalam-dalam, “Namun entah mengapa, aku merasa malu bahwa pada akhirnya Anjani telah sinengkakake ing ngaluhur dan tinggal di Ndalem Kapangeranan, sama sekali jauh dengan apa yang pernah aku janjikan, tinggal di Menoreh.”

Ketika Ki Rangga sedang asyik dengan lamunannya, tiba-tiba saja pintu yang menghubungkan ruang dalam dengan ruang tengah terbuka. Pangeran Pati telah muncul sambil tersenyum dan melangkah memasuki ruang dalam.

“Apakah Ki Rangga telah menungguku terlalu lama?” bertanya Pangeran Pati itu sambil melangkah mendekat dan mengulurkan tangannya.

Dengan cepat Ki Rangga segera bangkit berdiri sambil menyambut uluran tangan Pangeran Pati itu. Jawab Ki Rangga kemudian, “O, tidak Pangeran. Hamba baru saja duduk beberapa saat ketika Pangeran telah datang.”

Pangeran Pati  tersenyum sambil mempersilahkan Ki Rangga duduk kembali.  Pangeran Pati pun kemudian mengambil tempat duduk di hadapan Ki Rangga.

Setelah sejenak menanyakan keselamatan masing-masing, Pangeran Pati pun segera mengungkapkan tujuan yang sebenarnya untuk memanggil Ki Rangga menghadap.

“Aku telah menitipkan Ki Bango Lamatan kepada Eyang Buyut Mandaraka untuk menyertakan dia dalam tugas bersama Ki Rangga,” Pangeran Pati itu berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Memang Ki Bango Lamatan telah mendapat gemblengan di pertapaan Mintaraga beberapa saat yang lalu. Kehadirannya di sini atas perintah dan jaminan dari Kanjeng Sunan dan aku tidak mungkin menolaknya. Untuk itulah tugas ke gunung Tidar ini aku anggap sebagai pendadaran baginya sebelum suwitanya di Ndalem Kapangeranan ini benar-benar aku terima.”

Ki Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Pangeran Pati. Terjawab sudah pertanyaan yang selama ini menghantui pikirannya. Pada saat mereka berempat menghadap Ki Patih di ruang dalam Kepatihan beberapa saat yang lalu, Ki Rangga telah dikejutkan dengan kehadiran Ki Bango Lamatan di ruangan itu.

Namun Ki Rangga tidak berani mempermasalahkannya. Dengan hadirnya Ki Bango Lamatan pada saat itu, Ki Rangga sudah dapat menduga, tentu semua itu sudah menjadi tanggung jawab Ki Patih Mandaraka.

“Bagaimana Ki Rangga? Apakah Ki Rangga berkeberatan?” pertanyaan Pangeran Pati telah membuyarkan lamunannya.

Dengan cepat Ki Rangga menghaturkan sembah sambil menjawab, “Justru hamba menghaturkan banyak terima kasih atas perkenan Pangeran Pati memperbantukan Ki Bango Lamatan. Tugas kami ke gunung Tidar benar-benar cukup berat dan semoga kehadiran Ki Bango Lamatan akan memberikan bantuan tenaga yang sangat berarti.”

Pangeran Pati mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Namun pertanyaan selanjutnya dari Putra Mahkota itu hampir saja membuat jantung Ki Rangga terlepas dari tangkainya.

“Ki Rangga,” berkata Pangeran Pati kemudian , “Aku ingin bertanya sesuatu sehubungan dengan Rara Anjani.”

Berdesir jantung Ki Rangga bagaikan tersentuh ujung duri kemarung. Namun dengan cepat Ki Rangga segera menyesuaikan dirinya. Katanya kemudian, “Ampun Pangeran, masalah apakah yang ingin  Pangeran sampaikan sehubungan dengan diri Rara Anjani?”

Sejenak Pangeran Pati termenung. Namun sebelum Pangeran Pati menjawab pertanyaan Ki Rangga, tiba-tiba saja pintu yang menghubungkan ruang dalam dengan ruang tengah berderit dan terbuka.

Ketika Ki Rangga kemudian berpaling, yang muncul dari pintu ruang tengah itu adalah sesosok tubuh yang langsing terbalut seperangkat pakaian mewah dan gemerlap, Rara Anjani.

Tertegun Ki Rangga melihat seorang perempuan yang kecantikannya nyaris sempurna. Dalam pakaian yang paling sederhana pun Rara Anjani sudah terlihat begitu menawan. Apalagi kini dengan pakaian yang gemerlap penuh berhiaskan permata, Rara Anjani benar-benar menjelma menjadi seorang Putri Raja yang kecantikannya hanya ada dalam tulisan babat dan dongeng-dongeng.

Ki Rangga benar-benar terpesona seolah-olah baru kali ini dia bertemu Rara Anjani. Segala gerak-geriknya tidak luput dari pengamatan Senapati pasukan khusus yang berkedudukan di Menoreh itu. Langkahnya yang kemudian dengan hati-hati berlutut bertumpu pada kedua lututnya di atas lantai. Dengan cekatan namun tetap terkesan  gemulai, diturunkannya dua mangkuk minuman hangat dan beberapa makanan dari atas nampan kayu dan kemudian dihidangkan di hadapan mereka berdua. Sejenak kemudian Rara Anjani pun surut selangkah, berdiri perlahan-lahan sambil membalikkan badan dan akhirnya hilang kembali di balik pintu.

Ketika bayangan Rara Anjani telah hilang di balik pintu yang tertutup rapat, barulah Ki Rangga Agung Sedayu bagaikan tersadar dari sebuah mimpi yang mengasyikkan.

Dalam pada itu  di ruang tengah, dengan setengah berlari Rara Anjani segera menuju ke biliknya. Ketika dia berpapasan dengan pelayan dapur yang sedianya bertugas mengantar minuman dan makanan itu ke ruang dalam, nampan kayu itu pun segera diserahkannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Pelayan dapur itu menerima nampan dengan kening berkerut. Tampak Rara Anjani begitu tergesa-gesa menyerahkan nampan itu kepadanya sehingga tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir yang memerah delima itu.

“Aneh,” desis pelayan itu begitu bayangan Rara Anjani menghilang di balik pintu, “Tidak biasanya Rara Anjani bertingkah seperti ini. Dia selalu ramah kepada siapa saja termasuk kami para pelayan.  Dan yang tak pernah lupa dari Rara Anjani adalah ucapan terima kasih dan senyum yang tulus setiap dia meminta pertolongan kepada siapa saja, khususnya kepada para pelayan Ndalem Kapangeranan.”

Namun pelayan Ndalem Kapangeranan yang sudah cukup berumur itu tidak dapat menarik kesimpulan apa pun dari peristiwa yang baru saja terjadi.

“Mungkin hati Rara sedang suntuk,” berkata pelayan itu dalam hati sambil berjalan kembali ke dapur.

Dalam pada itu sesampainya di bilik, Rara Anjani segera menjatuhkan tubuhnya di atas pembaringan sehingga terdengar suara kayu yang berderak-derak. Wajahnya tampak sebentar pucat sebentar memerah. Tanpa terasa air mata telah menganak sungai dari sudut kedua belah matanya yang terpejam rapat.

Tidak ada isak tangis. Hanya suara desah tertahan serta nafas yang sedikit memburu. Hati Rara Anjani benar-benar sedang didera oleh rasa kecewa.

“Mengapa aku masih tidak bisa menerima kenyataan ini?” desahnya diantara nafas yang memburu sehingga tampak dadanya bergelombang, ”Aku telah mencoba menyembunyikan perasaan ini dengan mengabdikan diriku seutuhnya di Ndalem Kapangeranan. Dengan demikian aku berharap tidak akan pernah lagi berjumpa dengan Ki Rangga. Biarlah kenangan indah itu terkubur bersama dengan berlalunya waktu. Namun kenyataannya, aku tetap tidak mampu melupakan Ki Rangga, orang yang pertama kali telah menyentuh hatiku dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dengan kesabaran serta keteladanan yang selama ini telah ditunjukkannya.”

tiba-tiba Rara Anjani menjadi gelisah. Tanpa sadar dia bangkit dan duduk di bibir pembaringan. Berkali-kali dia berusaha menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan gejolak di dalam dada sambil menyeka air mata yang membasahi kedua pipinya dengan ujung bajunya.

“Sengaja aku mengenakan pakaian yang indah ini agar Ki Rangga menjadi silau dan tidak punya keberanian untuk menatapku,” berkata Rara Anjani kemudian sambil matanya menerawang ke langit-langit bilik, “Aku ingin menunjukkan kepada Ki Rangga bahwa ternyata yang aku dapatkan jauh lebih baik dari apa yang dijanjikannya. Namun ternyata Ki  Rangga tidak menjadi silau dan menundukkan kepalanya. Dia justru telah menatapku dengan tatapan mata seperti pertama kali kita bertemu. Tatapan yang memancarkan cahaya penuh kekaguman, penuh kedamaian serta penuh harapan namun yang ternyata telah membuatku salah paham.”

Kembali Rara Anjani menarik nafas panjang. Sambil membetulkan letak sanggulnya kembali dia berkata dalam hati, “Sebenarnyalah hati kecilku tidak mampu untuk membenci Ki Rangga. Apa yang ingin aku pamerkan di hadapan Ki Rangga justru telah melukai hatiku sendiri.”

Untuk beberapa saat Rara Anjani masih merenungi dirinya. Tiba-tiba saja sebuah gagasan menyelinap di dalam benaknya dan membuat Rara Anjani tersenyum.

“Aku akan melakukannya,” desisnya kemudian sambil bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke geledek  kayu jati  berukir indah yang terletak di sudut bilik.

Dalam pada itu di ruang dalam, sepeninggal Rara Anjani, Pangeran Pati yang sedari tadi selalu mengikuti gerak gerik Ki Rangga telah menahan senyumnya. Katanya kemudian, “Ki Rangga, Rara Anjani telah banyak bercerita tentang diri Ki Rangga,” Pangeran Pati itu berhenti sejenak sambil mengamati perubahan yang terjadi pada wajah Ki Rangga. Namun Ki Rangga tampak hanya diam membisu. Maka kata Pangeran Pati kemudian, “Rara Anjani mengaku telah ditolong oleh Ki Rangga dari cengkeraman kedua gurunya yang jahat.”

Sampai disini Ki Rangga masih diam membisu sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia belum dapat menebak ke arah mana pembicaraan Putra Mahkota itu.

“Rara Anjani juga bercerita tentang janji Ki Rangga untuk membawanya ke Menoreh,” berkata Pangeran Pati selanjutnya.

Sampai disini jantung Ki Rangga benar-benar bagaikan ditusuk ujung duri kemarung. Sejenak dada Senapati pasukan khusus yang berkedudukan di Menoreh itu  menjadi pepat bagaikan tertindih berbongkah-bongkah batu padas yang berguguran dari lereng bukit.

Akhirnya setelah menarik  nafas dalam-dalam terlebih dahulu untuk meredakan gejolak di dalam dadanya, barulah Ki Rangga menjawab sambil menyembah, “Ampun Pangeran. Jika diperkenankan, hamba akan menjelaskan tentang Rara Anjani dalam hubungannya dengan hamba.”

Pangeran Pati mengerutkan keningnya. Tampak Putra Mahkota itu sedikit ragu-ragu. Namun katanya kemudian, “Ki Rangga, bukan maksudku untuk mengungkit masa lalu Rara Anjani. Aku sudah menerima dia sebagaimana adanya,” Pangeran Pati itu berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Yang sebenarnya ingin aku sampaikan kepada Ki Rangga  adalah kesetiaannya kepada Mataram. Rara Anjani adalah bekas murid perguruan Tal Pitu yang dengan jelas telah berpihak pada Kadipaten Panaraga pada saat pemberontakan Pamanda Jayaraga. Apakah Rara Anjani dapat dipercaya atas kesetiaannya kepada Mataram?”

Untuk beberapa saat Ki Rangga justru telah membeku. Dia tidak pernah menduga bahwa arah pembicaraan Pangeran Pati itu justru telah mengarah kepada peran kedua guru Rara Anjani pada saat terjadi pemberontakan Adipati Panaraga.

“Ampun Pangeran,” jawab Ki Rangga pada akhirnya setelah gelora di dalam dadanya sedikit mereda, “Hamba memang telah terlibat perang tanding dengan kedua guru Rara Anjani, Goh Muka dan Roh Muka. Kedua orang guru Rara Anjani itu adalah murid dari perguruan Tal Pitu. Mereka menuntut kematian guru mereka, Ajar Tal Pitu.”

Pangeran Pati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Rara Anjani telah bercerita kepadaku tentang perang tanding itu,” Pangeran Pati berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Bukankah Ki Rangga telah mengajukan syarat Rara Anjani sebagai taruhannya?”

“Hamba Pangeran,” jawab Ki Rangga, “Hamba mempunyai panggraita bahwa kedua guru Rara Anjani itu pada akhirnya pasti akan berbuat curang dengan mengeroyok hamba. Padahal perjanjian perang tanding itu hanya dengan salah satu dari mereka. Untuk itulah hamba berusaha memancing kemarahan mereka dengan mengajukan syarat Rara Anjani sebagai taruhannya.”

“Dan ternyata Ki Rangga lah yang keluar sebagai pemenang,” sahut Pangeran Pati cepat.

Berdesir dada Ki Rangga mendengar ucapan Pangeran Pati itu. Namun dengan cepat Ki Rangga segera menghilangkan segala syak wasangka dengan menjawab, “Sendika Pangeran. Atas pertolongan dan dikabulkannya doa hamba kepada Yang Maha Agung, hamba masih diberi keselamatan sampai saat ini.”

Pangeran Pati sejenak menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk-angguk kecil. Setelah terdiam beberapa saat, barulah Pangeran Pati mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat jantung Ki Rangga berpacu kencang kembali.

“Bagaimanakah selanjutnya nasib Rara Anjani? Apakah Ki Rangga jadi membawanya ke Menoreh?”

“Ampun Pangeran,” jawab Ki Rangga sambil beringsut dari duduknya setapak, “Setelah kedua gurunya tewas, sebenarnya hamba mengira Rara Anjani akan bela pati, namun ternyata Rara Anjani merasa bersyukur telah terbebas dari cengkeraman kedua gurunya,” Ki Rangga berhenti sejenak untuk sekedar membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba saja menjadi kering. Lanjutnya kemudian, “Mohon beribu ampun Pangeran, setelah mengetahui keadaan Rara Anjani yang sebenarnya, hamba telah memberikan kebebasan kepadanya untuk memilih sendiri masa depannya dengan pertimbangan bahwa  Rara Anjani sama sekali tidak terlibat dengan pemberontakan di Panaraga.”

Kembali calon pewaris tahta Mataram itu mengangguk-angguk mendengar penjelasan Ki Rangga. Namun pertanyaan selanjutnya telah membuat jantung Ki Rangga yang sudah agak tenang itu melonjak-lonjak kembali.

“Menurut pengakuan Rara Anjani, dia lebih memilih mengikuti Ki Rangga ke Menoreh,” berkata Pangeran Pati selanjutnya, “Apakah keberatan Ki Rangga yang sebenarnya jika Rara Anjani memang berkeinginan untuk menjadi bagian dari keluarga Ki Rangga di Menoreh?”

Sampai disini Ki Rangga benar-benar tidak mampu untuk menjawab. Berbagai pertimbangan memang bergolak di dalam dadanya dan ingin disampaikan kepada Pangeran Pati. Namun hati kecilnya telah mencegahnya. Ki Rangga merasa lebih baik diam saja dan menunggu titah dari Pewaris Mataram itu.

Melihat Ki Rangga hanya diam termangu tanpa menjawab pertanyaannya, Pangeran Pati pun maklum, tentu ada sesuatu yang menyebabkan Ki Rangga tidak mampu menjawab pertanyaannya.

Untuk beberapa saat suasana di ruang dalam Ndalem Kapangeranan itu menjadi sepi. Di luar lamat-lamat terdengar kentongan ditabuh dengan nada dara muluk, menunjukkan malam telah sampai ke puncaknya.

“Sudahlah Ki Rangga,” berkata Pangeran Pati kemudian, “Malam sudah semakin larut dan Ki Rangga harus beristirahat untuk mempersiapkan perjalanan besok pagi,” Pangeran Pati itu berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian “Aku mengerti jalan pikiran Ki Rangga. Memang untuk sebagian laki-laki, dengan mudahnya mereka akan mengambil selir tanpa rasa ewuh pekewuh. Namun bagi Ki Rangga mungkin akan sangat sulit untuk membagi cinta dengan perempuan lain. Tapi percayalah Ki Rangga, menyia-nyiakan sebuah cinta dan harapan yang tulus dari seorang perempuan adalah termasuk sebagian dari dosa, jika kita tidak mampu menjelaskannya secara bijak. Dan semua itu akan  menjadi sebuah penyesalan yang tiada akhirnya sepanjang  kehidupan kita nantinya.”

Kalimat demi kalimat dari Pangeran Pati itu satu demi satu bagaikan ujung sebuah  pisau bermata rangkap yang terhunjam ke jantungnya perlahan-lahan. Menimbulkan rasa sakit dan pedih yang tak terperikan.

“Ki Rangga,” berkata Pangeran Pati kemudian begitu melihat Ki Rangga hanya diam termangu, “Kesalahan yang kadang tidak kita sadari adalah, memberi harapan yang berlebih padahal kita hanya berusaha menjalin sebuah tali persaudaraan. Semua itu harus dijelaskan secara bijak agar tidak terjadi kesalah-pahaman di kemudian hari,” Pangeran Pati berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Dalam hal Rara Anjani, aku tidak bisa menyalahkan dia karena janji yang disampaikan Ki Rangga sudah jelas. Jika Ki Rangga keluar sebagai pemenang dalam perang tanding itu, Ki Rangga akan membawanya ke Menoreh. Semua orang pasti paham dengan maksud yang terkandung dalam janji itu. Tidak mungkin dengan membawa Rara Anjani ke Menoreh kemudian Ki Rangga akan menempatkannya di sembarang tempat, di gardu peronda atau di banjar padukuhan misalnya. Semua orang tentu maklum bahwa Ki Rangga secara tidak langsung telah berjanji untuk mengambil Rara Anjani sebagai istri.”

Jika saja ada guntur yang meledak di langit saat itu, tentu Ki Rangga tidak akan sekaget mendengar kata-kata pewaris Mataram itu. Betapa penyesalan telah merajam hatinya atas keterlanjuran sikapnya ketika menghadapi perang tanding dengan murid perguruan Tal Pitu itu. Seharusnya dia tidak perlu mengikut-sertakan Rara Anjani sebagai persyaratan dalam perang tanding itu.

Namun semua itu sudah menjadi masa lalu, dan kini Rara Anjani telah menjadi selir pangeran Pati. Maka jawab Ki Rangga kemudian sambil menyembah dalam-dalam, “Mohon ampun Pangeran, semua itu memang salah hamba. Hamba tidak mengira bahwa tanggapan Rara Anjani menjadi begitu dalam atas persyaratan yang hamba minta dalam perang tanding itu. Namun hamba kira semuanya kini telah berlalu dan Rara Anjani telah hidup berbahagia di Ndalem Kapangeranan.”

“Siapa bilang Rara Anjani telah hidup berbahagia?” sergah Pangeran Pati itu sedikit keras, “Aku mengambilnya menjadi selirku karena aku tidak tahu dengan gamblang latar belakangnya. Demikian juga Rara Anjani, dia menerima pinanganku dengan harapan untuk membuka lembaran baru,” Pangeran Pati berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Namun seiring dengan berlalunya waktu, aku sering melihat Rara Anjani termenung berlinang air mata di malam-malam yang sunyi. Kadang aku memergoki Rara Anjani hampir seharian duduk di taman Ndalem Kapangeranan tanpa berbuat apa-apa, hanya berlinang air mata dengan tatapan mata yang kosong menerawang ke kejauhan.”

Kali itu jantung Ki Rangga bagaikan sebuah belanga yang jatuh di atas tanah berbatu-batu, hancur berkeping-keping tak berbentuk lagi.

“Sudahlah Ki Rangga. Bukan maksudku mengungkit masa lalu kalian berdua. Namun aku di sini merasa ikut bertanggung-jawab atas masa depan Rara Anjani. Jujur saja, aku ingin melihat Rara Anjani meraih kebahagiaan yang diimpikannya.  Demikian juga aku harap Ki Rangga menjadi laki-laki yang tangguh tanggon bukan hanya dalam hal olah kanuragan jaya kawijayan saja, namun juga kuat dalam menjalani kehidupan bebrayan khususnya dalam membina sebuah keluarga.”

Ki Rangga masih terdiam belum berusaha menjawab. Hatinya telah teraduk-aduk oleh perasaan bersalah.

“Sekarang aku akan memberitahu Ki Rangga, tentang rencanaku sehubungan dengan masa depan Rara Anjani” berkata Pangeran Pati kemudian tanpa memperdulikan Ki Rangga yang terlihat semakin gelisah, “Rara Anjani sekarang sedang mendapat karunia dari Yang Maha Agung untuk mengemban amanahNYA. Dalam beberapa bulan kedepan jika Yang Maha Agung mengijinkan, Rara Anjani akan segera melahirkan anakku, darah dagingku.”

Entah sudah untuk ke berapa kalinya jantung Ki Rangga terkoyak-koyak. Namun senapati pasukan khusus itu tetap bertahan dalam kediamannya.

“Setelah anakku lahir, aku akan memberikan kebebasan kepada Rara Anjani,” berkata Pangeran Pati selanjutnya yang membuat dada Ki Rangga semakin berdebar-debar. Lanjut Pangeran Pati kemudian, “Jika Rara Anjani merasa tidak bahagia tinggal di Ndalem Kapangeranan, aku akan menawarkan kepadanya untuk menjadi Putri  Triman.”

Jantung Ki Rangga kali ini benar-benar meledak. Gemuruhnya terasa sampai ke dasar hatinya yang paling dalam. Sejenak nafas kakak sepupu Glagah Putih itu bagaikan tersumbat. Dia menyadari sepenuhnya, siapakah yang akan menerima Rara Anjani itu nantinya sebagai Putri Triman.

“Yang akan mendapat kehormatan menerima Putri Triman itu nantinya adalah seorang Tumenggung,” berkata Pangeran Pati selanjutnya yang membuat Ki Rangga terlonjak. Tanpa sadar Ki Rangga pun telah mengangkat wajahnya. Sementara Pangeran Pati pun segera melanjutkan kata-katanya, “Seorang Tumenggung yang bergelar Tumenggung Ranakusuma, yang mengandung makna bunga peperangan, karena selama ini namanya selalu harum di setiap medan pertempuran.”

Untuk beberapa saat Ki Rangga justru telah diam membeku. Dia tidak mengerti akan arah pembicaraan Pangeran Pati. Sedangkan Pangeran Pati justru telah tersenyum melihat Ki Rangga yang kebingungan itu.

“Penerimaan Putri Triman itu nantinya akan digelar bersamaan dengan wisuda kenaikan pangkat seorang prajurit yang berpangkat Rangga. Atas jasa-jasanya selama ini dalam menegakkan panji-panji Mataram, dia akan dianugrahi pangkat menjadi Tumenggung dengan gelar Tumenggung Ranakusuma.”

Dengan dada yang berdebaran Ki Rangga mencoba memandang ke arah Pangeran Pati.  Kali ini agaknya Pangeran Pati sudah tidak sampai hati untuk berteka teki. Maka katanya kemudian, “Ki Rangga, sudah menjadi ketetapan Ayahanda Prabu Hanyakrawati dan juga atas saran Eyang Buyut Patih Mandaraka, sudah waktunya pasukan khusus yang berkedudukan di Menoreh dipimpin oleh seorang Tumenggung, dan Ki Rangga akan segera diwisuda menjadi Tumenggung dengan gelar Tumenggung  Ranakusuma.”

Kali ini sekujur tubuh Ki Rangga terasa dingin bagaikan diguyur banyu sewindu. Bahkan seluruh persendiannya bagaikan terlepas satu-persatu. Ki Rangga benar-benar tidak menduga bahwa dirinya akan mendapat anugrah diwisuda menjadi seorang Tumenggung. Namun yang paling mendebarkan dari semua peristiwa yang rencananya akan dilaksanakan beberapa bulan ke depan itu adalah hadiah Putri Triman itu.

“Ki Rangga.”  berkata Pangeran Pati selanjutnya, “Nama Tumenggung Ranakusuma itu adalah pilihan Ayahanda Prabu Hanyakrawati sendiri. Apakah Ki Rangga mempunyai pilahan gelar tersendiri?”

Kalimat terakhir dari Pangeran Pati itu barulah membangunkan Ki Rangga dari mimpi panjangnya. Dengan merangkapkan kedua tangannya yang gemetar, Ki Rangga pun segera menghaturkan sembah sambil menjawab, “Mohon beribu ampun Pangeran. Hamba hanya dapat mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Hamba tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang Tumenggung.”

“Bagaimana dengan Putri Triman itu?” bertanya Pangeran Pati kemudian dengan serta merta.

Untuk sesaat lidah Ki Rangga bagaikan kelu. Namun Ki Rangga segera menyadari bahwa titah seorang Pangeran Pati tidak mungkin ditolak. Maka jawabnya kemudian sambil menyembah dan membungkuk dalam-dalam, “Hamba akan menjunjung tinggi setiap titah dari paduka Pangeran Pati Mataram.”

bersambung ke bagian 2

6 Responses

  1. mantap… mbah monggo di lanjut

  2. waduh agung sedayu benar2 terhipnotis oleh kecantikan Anjani …. apakah ada penyesalan di hatinya ??? he he he

  3. Top markotop! Joss markojoss! Nuwun mbah man – mas satpam.

  4. hwadhuh mbah….. meh copot jantungku…. nderek nengga candakipun mbah Man.

  5. jantung Agung Sedayu bergetar hebat …. Tanpa Aran memang mungkin adalah gurunya …..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s