STSD-02

 

kembali ke STSD-01 | lanjut ke STSD-03

stsd-02

Bagian 1

“TANGKAP pembunuh..!!” yang lainnya pun ikut berteriak sambil mengangkat senjata di tangan kanan mereka tinggi-tinggi.

Untuk beberapa saat Ki Rangga dan kawan-kawannya justru telah membeku. Mereka tidak tahu apa yang harus  dilakukan dan hanya diam di tempat saja sambil menunggu.

Sejenak kemudian orang-orang yang berlari-larian itu telah sampai di tempat  Ki Rangga dan kawan-kawannya berdiri. Dengan  segera mereka berkerumun sambil mengacu-acukan senjata mereka.

Sekilas Ki Rangga dan kawan-kawannya segera melihat  bahwa mereka adalah sekumpulan orang-orang padukuhan yang masih lugu, dilihat dari jenis senjata yang mereka bawa. Kebanyakan dari mereka membawa parang pembelah kayu, linggis dan bahkan sabit rumput serta dua orang justru telah membawa cangkul.

Agaknya mereka begitu tergesa-gesa atau bahkan tidak menutup kemungkinan mereka sedang dalam perjalanan  ke sawah atau ke pategalan dan kemudian seseorang telah mempengaruhi mereka.

“Ki Sanak semua,” berkata Ki Waskita kemudian dengan suara sareh sambil maju selangkah, “Apakah sebenarnya yang telah terjadi, sehingga Ki Sanak semua telah berbondong-bondong menuju ke tempat ini?”

“Tidak usah berpura-pura kakek tua!” geram seorang yang berperawakan tegap dan masih cukup muda sambil melangkah ke depan, “Kalian berlima akan kami bawa ke banjar padukuhan untuk mempertanggung-jawabkan perbuatan kalian.”

“Sebentar Ki Sanak,” berkata Ki Waskita tetap dengan nada yang sareh, “Perbuatan apakah yang harus kami pertanggung-jawabkan?”

“Kalian telah membunuh orang itu!” bentak orang bertubuh kekar itu sambil menunjuk orang yang duduk di bawah pohon dan telah menjadi mayat.

“Kalian salah sangka,” jawab Ki Waskita, “Kami berlima justru terheran-heran mendapatkan orang itu telah menjadi mayat.”

“Bohong!” kembali orang berperawakan tegap itu membentak, “Ada seseorang yang telah memberitahu kami bahwa kalian lah yang telah membunuh orang itu.”

Ki Waskita mengerutkan keningnya sejenak. Katanya kemudian, “Siapakah diantara kalian yang melihat kami telah membunuh orang itu?”

Serentak orang-orang yang berkerumun itu saling pandang sambil mencoba mengenali orang-orang yang berada di dekat mereka. Agaknya mereka sedang mencari seseorang diantara mereka.

“Dimana dia?” geram orang berperawakan tegap itu sambil menebarkan pandangannya ke sekeliling.

“Ya, mana orang tadi?” seseorang yang lain telah menyahut.

“Siapa?” yang lain justru balik bertanya

“Orang yang memberitahu  kita bahwa di bulak telah terjadi  rajapati,” sahut yang lain.

Segera saja terdengar suara bergeremang di antara mereka. Ternyata orang yang sedang mereka cari  itu  justru tidak ada di antara mereka.

“Gila!” kembali orang tegap itu menggeram, “Kemana perginya orang itu, he? Dia harus bertanggung jawab atas semua kejadian ini.”

“Maaf Ki Sanak,” kali ini Ki Rangga yang berkata, “Sesungguhnya kami berlima  bermaksud untuk menanyakan sesuatu kepada orang itu. Namun kami menjadi curiga begitu orang itu sama sekali tidak menjawab bahkan terlihat tidak bergerak sama sekali,” Ki Rangga berhenti sebentar. Lanjutnya kemudian, “Kami menyangka orang itu sedang mengalami kesulitan atau menderita sakit. Maka kami memberanikan diri untuk mendekat dan memeriksanya. Ternyata orang itu telah meninggal.”

Beberapa orang tampak menarik nafas sambil mengangguk-angguk. Sedangkan orang berperawakan tegap itu masih mengerutkan keningnya dalam-dalam. Bertanya orang itu kemudian dengan nada yang mulai menurun, “Siapakah sebenarnya Ki Sanak berlima ini?”

“Kami dari Prambanan dan sedang dalam perjalanan menuju ke tanah Perdikan Matesih,” jawab Ki Waskita, “Kami sangat jarang melakukan perjalanan jauh. Sehingga kami sering berhenti di suatu tempat dan menanyakan kembali arah perjalanan kami untuk meyakinkan bahwa kami tidak tersesat.”

Orang bertubuh tegap itu tampak ragu-ragu. Namun sebelum dia bertanya lebih lanjut, tiba-tiba terdengar langkah-langkah beberapa orang yang sedang berlari-larian menuju ke tempat itu Sejenak kemudian beberapa orang tampak muncul dari regol padukuhan.

“Ki Jagabaya!” hampir setiap mulut menyebut nama itu kecuali Ki Rangga dan kawan-kawannya.

Memang yang datang itu adalah Ki Jagabaya, perangkat padukuhan Klangon yang bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan padukuhan.

“Ada apa Ki Senggi?” bertanya Ki Jagabaya sesampainya dia di hadapan orang yang bertubuh tegap itu.

“Maaf Ki Jagabaya, kita sedang mengusut sebuah rajapati yang baru saja terjadi di bulak ini,” jawab orang bertubuh tegap itu yang ternyata bernama Ki Senggi.

Sejenak Ki Jagabaya mengerutkan keningnya sambil mengedarkan pandangan matanya ke wajah-wajah yang ada di sekelilingnya. Katanya kemudian, “Aku baru saja diberi tahu tentang rajapati ini. Nah, di mana jasad orang itu? Aku ingin melihatnya.”

Segera saja kerumunan itu menyibak dan memberi jalan Ki Jagabaya. Dengan langkah lebar Ki Jagabaya pun kemudian mendekati jasad orang yang masih terlihat duduk di bawah pohon itu.

Sambil membungkuk Ki Jagabaya mencoba membuka caping itu. Sejenak kerut merut yang dalam terlihat menghiasi kening Ki Jagabaya.

“Sebuah paser,” desis Ki Jagabaya perlahan sambil mengamat-amati sebuah paser yang menancap dalam-dalam di leher orang itu, “Tentu sebuah paser yang sangat beracun.”

Beberapa orang yang mendengar desis Ki Jagabaya itu mencoba mendekat. Dengan berdesak-desakan mereka mencoba melihat keadaan orang itu.

“Sudahlah,” berkata Ki Jagabaya kemudian sambil menegakkan tubuhnya dan berbalik, “Angkat jasad ini dan bawa ke banjar padukuhan. Kita harus segera menyelenggarakan pemakaman baginya sebelum hujan turun.”

Mendengar kalimat terakhir Ki Jagabaya, serentak mereka yang hadir mendongakkan kepala mereka ke langit. Mendung sudah sedemikian tebalnya serta angin yang bertiup keras terasa telah membawa titik-titik air.

“Bagaimana dengan Ki Sanak berlima ini, Ki Jagabaya?” bertanya Ki Senggi begitu melihat Ki Jagabaya tampak memperhatikan Ki Rangga dan kawan-kawannya yang berdiri termangu-mangu sambil memegang kendali kuda masing-masing.

Ki Jagabaya berpaling sekilas mendengar pertanyaan Ki Senggi. Bertanya Ki Jagabaya kemudian, “Siapakah mereka?”

“Maaf Ki Jagabaya,” Ki Waskita lah yang mendahului menjawab sambil melangkah mendekat dengan tetap memegangi kendali kudanya, “Kami berlima berasal dari Prambanan dan sedang dalam perjalanan menuju ke Perdikan Matesih,” Ki Waskita berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Beberapa saat tadi kami menemukan orang itu sudah dalam keadaan tidak bernyawa di bawah pohon.”

Ki Jagabaya tidak segera menanggapi kata-kata Ki Waskita. Sepasang matanya yang mirip sepasang mata burung hantu itu menatap tajam ke wajah Ki Waskita.

Agaknya Ki Waskita dapat menjajagi isi hati Ki Jagabaya. Maka katanya kemudian sambil balas menatap mata Ki Jagabaya, “Apakah Ki Jagabaya meragukan keterangan kami?”

Ki Jagabaya terkejut. Sepasang mata Ki Waskita yang balik menatapnya itu bagaikan menyala dan telah membuat sepasang matanya menjadi pedas bahkan mulai berair.

“Gila!” geram Ki Jagabaya dalam hati sambil melemparkan pandangan matanya ke arah Ki Senggi. Katanya kemudian, “Ada hubungan apakah mereka berlima dengan peristiwa rajapati ini?”

Ki Senggi beringsut setapak. Jawabnya kemudian, “Seseorang telah memberitahukan kepada kami bahwa mereka berlima itulah pembunuh yang sebenarnya.”

Untuk ke sekian kalinya Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Tanyanya kemudian, “Di mana orang itu sekarang?”

“Dia tidak ada di sini, Ki Jagabaya.”

Merah padam wajah Ki Jagabaya. Katanya kemudian dengan suara sedikit keras, “Panggil orang itu ke sini sekarang juga!”

“Aku tidak mengenalnya, Ki Jagabaya.”

“He?” seru Ki Jagabaya keheranan, “Bagaimana mungkin? Bukankah Ki Senggi mengenal hampir semua penghuni padukuhan Klangon ini?”

“Ya, Ki Jagabaya,” jawab Ki Senggi cepat, “Namun kami tidak sempat menanyakan jati diri orang itu, karena berita rajapati itu telah mengejutkan kami.”

“Ki Senggi benar Ki Jagabaya,” sahut yang lain, “Pada saat kami akan berangkat ke sawah, di tengah perjalanan seseorang telah memberitahu kami tentang rajapati ini.”

“Dan tidak ada seorang pun dari kalian yang mengenal orang itu?’ sela Ki Jagabaya cepat.

Hampir bersamaan orang-orang padukuhan Klangon yang hadir di tempat itu menggeleng.

Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sambil menatap satu-satu wajah yang tertunduk itu Ki Jagabaya pun kemudian bertanya, “Atas dasar apa kalian seenaknya saja menuduh Ki Sanak berlima ini sebagai pelakunya?”

Wajah-wajah lugu penghuni padukuhan Klangon itupun semakin tertunduk dalam-dalam.

“Untunglah seseorang telah memberitahu aku tentang peristiwa di depan regol padukuhan ini, sehingga kesalah-pahaman ini dapat dihindarkan,” berkata Ki Jabagaya kemudian setelah sejenak mereka terdiam. Lanjut Ki Jagabaya kemudian, “Marilah kita segera menyelenggarakan jasad orang itu. Siapapun dia sebenarnya, karena dia telah meninggal di padukuhan Klangon, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk menyelenggarakan pemakamannya.”

Setiap kepala yang hadir di tempat itu pun tampak terangguk-angguk.

Kemudian kepada Ki Rangga dan kawan-kawannya, Ki Jagabaya berkata, “Marilah Ki Sanak, kami persilahkan Ki Sanak berlima untuk sekedar mampir di padukuhan Klangon. Kalian dapat bermalam di banjar padukuhan karena sebentar lagi kelihatannya hujan akan turun, dan sebaiknya Ki Sanak mencari tempat berteduh.”

Hampir bersamaan Ki Rangga dan kawan-kawannya saling pandang. Segera saja mereka memaklumi ajakan Ki Jagabaya itu. Walaupun tidak secara langsung orang yang bertanggung jawab atas keamanan padukuhan Klangon itu mencurigai mereka, namun ajakan untuk bermalam di padukuhan Klangon itu perlu diwaspadai. Secara tidak langsung ajakan itu mengisyaratkan bahwa Ki Rangga berlima masih dalam pengawasan atas peristiwa rajapati itu.

“Terima kasih Ki Jagabaya,” akhirnya Ki Waskita lah yang menjawab mewakili yang lain, “Kami sangat bersyukur mendapat tempat bermalam di padukuhan Klangon. Semoga kehadiran kami tidak merepotkan para penghuni padukuhan.”

“O, tidak..tidak,” jawab Ki Jagabaya dengan serta merta, “Marilah kita berangkat sebelum hujan benar-benar turun,” Ki Jagabaya berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Apakah kami dapat meminjam salah satu kuda kalian untuk membawa jasad orang itu?”

“O, tentu..tentu,” dengan tergopoh-gopoh Ki Waskita segera menyerahkan kendali kudanya, “Kami akan berjalan kaki bersama-sama kalian ke banjar padukuhan.”

“Terima kasih,” jawab Ki Jagabaya sambil menerima kendali kuda.

Sejenak kemudian, salah satu penghuni padukuhan Klangon segera menaikkan jasad itu ke atas punggung kuda Ki Waskita. Setelah menerima kendali kuda dari Ki Jagabaya, dengan perlahan kuda itu pun dihelanya maju. Sementara dua orang menjaga di kiri kanan jasad yang terlelungkup di atas punggung kuda itu.

Demikianlah iring-iringan itu pun segera bergerak menuju ke banjar padukuhan Klangon. Sepanjang jalan hampir tidak ada seorang pun yang berbicara. Masing-masing sedang sibuk dengan angan-angan mereka sendiri-sendiri. Sementara di langit sesekali terdengar petir bersabung disertai dengan air hujan yang mulai turun menetes satu persatu.

Rombongan itu segera mempercepat langkah mereka. Ketika titik-titik hujan mulai terasa semakin deras, beberapa orang bahkan telah mulai berlari-lari kecil.

Untunglah banjar padukuhan itu sudah mulai terlihat di ujung kelokan jalan. Begitu mereka mencapai pendapa banjar padukuhan, jasad itu segera diangkat dan kemudian diletakkan di tengah-tengah pendapa. Sejenak kemudian, hujan pun turun bagaikan dicurahkan dari langit.

“Marilah Ki Sanak sekalian,” berkata Ki Jagabaya kemudian kepada Ki Waskita, “Biarlah kuda-kuda kalian dirawat oleh penjaga banjar ini,” Ki Jagabaya berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Bukankah kalian sudah mengambil perbekalan masing-masing?”

“Sudah Ki Jagabaya,” jawab Ki Waskita sambil menunjukkan buntalan pakaian di tangan kirinya diikuti oleh yang lainnya, “Jika diijinkan kami akan membersihkan diri terlebih dahulu sebelum berganti pakaian.”

“Silahkan, silahkan,” sahut Ki Jagabaya cepat, “Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, kalian dapat beristirahat di ruang dalam banjar. Aku akan mempersiapkan pemakaman jenazah sambil menunggu hujan reda.”

Demikianlah kelima orang itu segera memasuki banjar padukuhan Klangon. Seorang yang berpakaian serba hitam dengan rambut yang sudah mulai memutih telah menunjukkan ruang dalam tempat mereka untuk beristirahat.

Untuk beberapa saat mereka masih menunggu hujan agak mereda untuk pergi ke pakiwan secara bergantian. Kesempatan itu digunakan oleh Ki Rangga untuk membicarakan rencana mereka selanjutnya.

“Kelihatannya sekarang ini kita diterima sebagai tamu,” berkata Ki Rangga memulai pembicaraan, “Namun aku merasa kita selalu diawasi sehingga kita ini seperti menjadi tawanan saja.”

“Angger benar,” sahut Ki Waskita, “Aku tadi sempat melihat beberapa pengawal padukuhan Klangon telah berdatangan bersamaan dengan turunnya hujan.”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam sambil memandang ke arah Glagah Putih. Agaknya Glagah Putih pun tanggap dengan maksud kakak sepupunya itu. Maka katanya kemudian sambil bangkit berdiri, “Aku akan melihatnya kakang.”

“Berhati-hatilah,” hampir bersamaan Ki Rangga dan Ki Jayaraga berpesan.

“Ya Guru,” jawab Glagah Putih sambil melangkah ke pintu.

Begitu bayangan Glagah Putih hilang di balik pintu, Ki Rangga pun segera meneruskan kata-katanya.

“Malam ini kita akan membagi tugas untuk menyelidiki padukuhan ini,” Ki Rangga berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Kita ingin mengetahui, sejauh mana padukuhan ini telah terpengaruh oleh bujukan orang-orang yang mengaku Trah Sekar Seda Lepen.”

“Kemungkinan itu memang ada. Ngger,” berkata Ki Waskita menanggapi, “Terbukti salah satu petugas sandi Mataram telah menjadi korban.”

“Agaknya mereka juga senang bermain-main dengan racun,” Ki Jayaraga memberikan pendapatnya.

Sejenak Ki Rangga terdiam. Tanpa sadar dia berpaling ke arah Ki Bango Lamatan yang terlihat hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Apakah Ki Bango Lamatan mempunyai sebuah gagasan?,” tiba-tiba Ki Rangga mengajukan sebuah pertanyaan yang membuyarkan lamunan Ki Bango Lamatan.

Untuk sejenak Ki Bango Lamatan masih menarik nafas dalam sambil menegakkan punggungnya. Jawabnya kemudian, “Ki Rangga, kedudukanku dalam kelompok ini hanyalah sebagai pelengkap. Aku dititipkan oleh Pangeran Pati atas persetujuan KI Patih Mandaraka. Sehingga apapun rencana Ki Rangga, aku akan mengikutinya.”

“Ah,” desah Ki Rangga sambil tertawa pendek, “Aku ditunjuk sebagai pemimpin kelompok ini bukan berarti aku mempunyai kekuasan mutlak untuk menjalankan rencana sesuai dengan hasil pemikiranku sendiri. Setiap anggota di dalam kelompok ini berhak untuk mengajukan pendapatnya.”

“Ki Rangga benar,” sahut Ki Jayaraga cepat, “Setiap orang dalam kelompok ini dapat mengusulkan sebuah rencana yang disesuaikan dengan keadaan. Rencana manakah yang akan kita pakai nantinya, tergantung dari hasil kesepakatan kita.”

Semua yang hadir di ruangan itu mengangguk-anggukkan kepala mereka tak terkecuali Ki Bango Lamatan.

Pembicaraan itu terhenti ketika terdengar pintu berderit dan Glagah Putih muncul dari balik pintu. Sementara hujan di luar kelihatannya sudah mulai mereda. Bunyi air hujan yang memukul-mukul atap banjar padukuhan sudah tidak sekeras dan sesering seperti beberapa saat tadi.

“Masuklah,” berkata Ki Rangga begitu melihat adik sepupunya itu masih termangu-mangu di tengah-tengah pintu, “Apakah engkau melihat sesuatu yang perlu mendapat perhatian?”

“Jenazah itu akan diberangkatkan,” jawab Glagah Putih sambil melangkah mendekat dan kemudian duduk di sebelah gurunya, “Banjar ini rasa-rasanya telah terkepung dari segala penjuru. Aku melihat banyak pengawal yang berjaga-jaga di seputar banjar.”

“Apakah tidak sebaiknya kita ikut mengantarkan jenazah itu, ngger?” sela Ki Waskita sambil berpaling ke arah Ki Rangga.

Sejenak Ki Rangga termenung. Namun jawabnya kemudian, “Aku kira tidak perlu Ki Waskita. Kita tidak usah menunjukkan kedekatan kita dengan orang yang sudah meninggal itu. Sebaiknya kita tetap di banjar ini.”

Hampir bersamaan mereka yang hadir di ruangan itu telah menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk-angguk.

Untuk sejenak mereka yang berada di dalam ruang itu terdiam. Sementara bunyi titik-titik air hujan yang menimpa atap banjar padukuhan sudah tidak terdengar lagi. Berkata Ki Rangga kemudian, “Nah, hujan sudah benar-benar reda. Siapakah yang akan ke pakiwan terlebih dahulu?”

Tanpa menunggu jawaban yang lainnya, ternyata Glagah Putih telah berdiri kembali. Sambil melangkah ke pintu dia berkata, “Aku akan menimba air terlebih dahulu. Silahkan jika ada yang akan membersihkan diri.”

“Benar-benar anak yang baik,” sahut Ki Jayaraga yang disambut gelak tawa oleh yang lainnya.

Demikianlah ketika Glagah Putih kemudian membuka pintu butulan dan turun ke halaman belakang, secara tidak mencolok tampak beberapa pengawal duduk-duduk bergerombol di teritisan sebelah kiri sambil bersenda-gurau. Di hadapan mereka tampak beberapa mangkuk minuman panas dan penganan.

Glagah Putih pura-pura tidak memperhatikan mereka. Diayunkan langkahnya menuju ke perigi. Setelah melepas tali senggot yang diikatkan pada sebatang bambu yang ditancapkan di sebelah perigi, sejenak kemudian Glagah Putih pun telah tenggelam dalam keasyikannya menimba air.

Dalam pada itu, di pendapa banjar padukuhan jenazah petugas sandi Mataram itu telah diberangkatkan. Beberapa orang penghuni padukuhan Klangon tampak ikut mengantar jenazah itu ke tanah pekuburan bersama dengan beberapa pengawal padukuhan. Selain pengawal padukuhan Klangon, Ki Jagabaya pun tampak ikut berjalan di antara mereka.

Tiba-tiba seseorang yang rambutnya sudah putih semua dengan memakai ikat kepala yang agak rendah tanpa menarik perhatian telah berjalan menjajari langkah Ki Jagabaya.

“Ki Jagabaya,” bisik orang itu, “Apakah benar ada lima orang yang bermalam di banjar sekarang ini?”

Ki Jagabaya terkejut. Dengan cepat dia segera berpaling. Sejenak Ki Jagabaya ragu-ragu, dia hampir tidak mengenali orang itu. Namun ketika orang itu kemudian tersenyum ke arahnya, barulah Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam.

“Benar Ki Gede,” jawab Ki Jagabaya kemudian juga dengan berbisik sambil mengiringi langkah orang yang dipanggilnya Ki Gede itu.

Orang yang dipanggil Ki Gede itu tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil memandang ke titik-titik di kejauhan dia berdesis, “Usahakan untuk mengetahui jati diri mereka. Agaknya mereka itu orang-orang yang sedang menyamar. Tidak menutup kemungkinan mereka adalah para petugas sandi Mataram. Aku memerlukan datang ke sini untuk bisa bertemu dengan mereka. Mudah-mudahan dugaanku ini tidak keliru, namun jangan sampai menimbulkan kesan kepada para pengikut Raden Mas Harya Surengpati yang banyak tersebar di padukuhan ini.”

“Akan aku usahakan, Ki Gede,” sahut Ki Jagabaya, “Namun aku tidak yakin jika mereka itu para petugas sandi Mataram yang sedang menyamar. Jika mereka adalah para prajurit sandi Mataram, beberapa di antaranya sudah terlalu tua untuk disebut sebagai seorang prajurit.”

Orang yang dipanggil Ki Gede itu tertawa pendek sehingga orang-orang yang berjalan di depannya telah berpaling sekilas. Namun Ki Gede tidak mempedulikan mereka. Lanjutnya kemudian, “Mungkin yang tua-tua itu adalah para prajurit yang sudah purna namun tenaganya masih dibutuhkan sehingga tidak menutup kemungkinan mereka diperbantukan dalam tugas rahasia ini,” Ki Gede berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Apakah para penghuni padukuhan Klangon ini ada yang dapat mengenali aku?”.

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Sambil mengedarkan pandangan matanya ke sekitarnya, dengan nada sedikit ragu dia menjawab, “Sejauh ini belum ada yang mengenali dan memperhatikan Ki Gede. Dalam pakaian yang sangat sederhana ini, kemungkinannya sangat kecil untuk mengenal Ki Gede. Kecuali orang-orang terdekat yang sudah terbiasa bergaul dengan Ki Gede.”

Orang yang dipanggil Ki Gede itu mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar keterangan Ki Jagabaya. Dalam hati dia membenarkan pendapat Ki Jagabaya itu. Betapapun sempurnanya dia melakukan penyamaran, namun orang-orang terdekatnya terutama istri dan kedua anaknya tentu dapat mengenali dari bentuk tubuh, gerak-gerik serta hal-hal lain yang tidak pernah terbaca oleh orang lain kecuali hanya keluarga terdekatnya saja.

Untuk beberapa saat mereka berdua terdiam. Masing-masing tenggelam dalam angan-angan tentang kelima orang asing itu. Sementara langkah-langkah mereka telah semakin mendekati tanah pekuburan.

“Usahakan mereka tidak keluar dari banjar malam ini,” berkata Ki Gede kemudian ketika iring-iringan jenazah itu sudah memasuki gerbang tanah pekuburan, “Apapun yang akan terjadi, aku akan menemui mereka. Aku sudah muak dengan segala tingkah polah para pengikut Trah Sekar Seda Lepen itu.”

Ki Jagabaya yang berjalan di samping Ki Gede tampak mengerutkan keningnya. Jawabnya kemudian, “Bagaimana jika dugaan Ki Gede justru sebaliknya? Mereka ternyata justru utusan Raden Wirasena yang selama ini belum pernah kita lihat? Atau bahkan tidak menutup kemungkinan justru salah satu dari mereka itu adalah Raden Wirasena sendiri.”

Berdesir jantung Ki Gede. Kemungkinan itu memang ada. Dan jika kemungkinan itulah yang akan terjadi, tentu lehernya sendiri yang akan menjadi taruhannya.

Untuk beberapa saat kedua orang itu kembali terdiam sambil berjalan di antara sela-sela batu nisan. Ketika iring-iringan itu kemudian berhenti di depan liang lahat yang telah disediakan, kedua orang itu pun segera menepi dan berdiri di bawah sebatang pohon Kamboja.

“Apakah kita akan mendekat, Ki Gede?” bertanya Ki Jagabaya kepada Ki Gede yang berdiri di sebelahnya.

“Tidak perlu,” jawab Ki Gede, “Aku khawatir jika terlalu dekat dengan mereka, mungkin salah satu dari mereka akan ada yang mengenaliku.”

Ki Jagabaya tersenyum. Katanya kemudian, “Sudah aku katakan tadi, penyamaran Ki Gede cukup sempurna. Namun jika Ki Gede berbicara, tentu orang akan dapat mengenali Ki Gede dari suara itu.”

Ki Gede tersenyum, betapapun masamnya. Katanya kemudian, “Untuk itulah kita tidak perlu mendekat. Jika seseorang kemudian bertanya sesuatu kepadaku, walaupun tanpa kesengajaan dan maksud tertentu, tentu aku akan mengalami kesulitan untuk menyembunyikan suaraku yang asli.”

Ki Jagabaya kembali tersenyum. Sambil melemparkan pandangan matanya ke arah kerumunan orang di seputar liang lahat itu, dia kemudian bergumam perlahan seolah-olah ditujukan kepada dirinya sendiri, “Siapakah sebenarnya orang itu? Dia mati tanpa meninggalkan ciri-ciri yang dapat dijadikan sebagai pancadan untuk menelusuri jati dirinya.”

Ki Gede yang mendengar gumam Ki Jagabaya telah menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya kemudian, “Tentu bukan pengikut Trah Sekar Seda Lepen. Aku justru cenderung menduga dia adalah salah satu dari petugas sandi yang telah disebar oleh Mataram. Kemungkinannya orang itu ada hubungannya dengan kedatangan kelima orang yang sekarang berada di banjar.”

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar dugaan Ki Gede. Namun semua dugaan itu masih harus dibuktikan.

Demikianlah ketika liang lahat itu telah selesai ditimbun tanah dan seseorang yang dianggap sesepuh padukuhan Klangon telah selesai memanjatkan doa, orang-orang yang hadir di tanah pekuburan itu pun segera membubarkan diri.

 “Marilah Ki Gede,” berkata Ki Jagabaya kemudian sambil melangkahkan kakinya, “Sebaiknya kita ikut meninggalkan tempat ini.”

Ki Gede mengangguk sambil melangkahkan kakinya. Ketika pandangan matanya melihat beberapa pengawal padukuhan yang berjalan beriringan sambil bersenda gurau, Ki Gede pun segera membisikkan sebuah pertanyaan kepada Ki Jagabaya.

“Mengapa begitu banyak pengawal yang datang melayat? Aku tadi juga sempat melihat banyak pengawal yang bersiaga di banjar padukuhan. Apakah ini ada hubungannya dengan kedatangan kelima orang itu?”

Ki Jagabaya menggeleng. Jawabnya kemudian, “Aku tidak tahu, Ki Gede. Mungkin Ki Dukuh telah mendapat laporan dan menyuruh para pengawal padukuhan untuk bersiaga.”

Ki Gede menarik nafas panjang. Bertanya Ki Gede kemudian, “Apakah Ki Dukuh Klangon masih sering mengadakan hubungan dengan pengikut Trah Sekar Seda Lepen?”

K Jagabaya mengangguk sambil berdesis, “Orang yang mengaku bernama Raden Mas Harya Surengpati itulah yang sering mengunjungi Ki Dukuh dan kemudian membuat hubungan kerja sama dan janji-janji dengan mengatas-namakan kakaknya, Raden Wirasena.”

Ki Gede kembali menarik nafas dalam-dalam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya kemudian, “Agaknya Ki Dukuh Klangon telah termakan janji-janji dari Raden Mas Harya Surengpati.”

“Kemungkinannya memang demikian Ki Gede,” sahut Ki Jagabaya.

“Apakah semua perangkat padukuhan telah terpengaruh?” bertanya Ki Gede selanjutnya.

Ki Jagabaya menggeleng, “Aku tidak tahu Ki Gede. Yang jelas aku tetap bersetia kepada Mataram. Namun hal ini tidak aku tunjukkan dengan semata-mata. Aku masih memikirkan keselamatan keluargaku.”

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Pertimbangan yang sangat berat adalah permasalahan yang menyangkut keluarga. Bagaimanapun juga jika keluarga terancam keselamatannya, tentu akan berpikir seribu kali untuk menentang pengaruh para pengikut Trah Sekar Seda Lepen itu.

Tak terasa langkah mereka telah sampai di persimpangan jalan. Kedua orang itu pun kemudian memutuskan untuk segera berpisah.

“Kita bertemu lagi saat sirep uwong,” berkata Ki Gede, “Aku akan berusaha memasuki banjar lewat belakang. Aku akan menunggu di dekat perigi. Lontarkanlah sebuah isyarat jika memang kelima orang itu berada di pihak kita. Namun jika ternyata kelima orang itu justru orang-orangnya Raden Mas Harya Surengpati, aku harus segera menyelamatkan diri.”

“Baik Ki Gede,” jawab Ki Jagabaya.

Demikianlah akhirnya kedua orang itu pun kemudian segera berpisah. Ki Gede dengan langkah yang tergesa-gesa telah mengambil jalur jalan yang lurus untuk meninggalkan tempat itu, sementara dengan langkah satu-satu Ki Jagabaya mengambil jalur jalan yang satunya untuk kembali menuju ke banjar padukuhan.

Dalam pada itu, walaupun hujan telah berhenti, namun di langit masih menyisakan mendung yang bergelayutan. Matahari tidak menampakkan sinarnya sama sekali. Walaupun hari belum menjelang petang, namun suasananya benar-benar sudah seperti menjelang malam.

Di banjar padukuhan, Ki Rangga dan kawan-kawannya telah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian. Mereka pun kemudian segera berkumpul kembali di ruang dalam, ruang yang diperuntukkan bagi mereka untuk bermalam.

“Sebentar lagi Matahari akan terbenam,” berkata Ki Rangga kemudian sambil membetulkan letak duduknya, “Selepas makan malam sebaiknya kita menyusun rencana.”

“Ya ngger,” jawab Ki Waskita, “Aku menyarankan sebagian dari kita duduk-duduk saja di pendapa. Siapa tahu Ki Jagabaya berkenan hadir dan menemani kita berbincang.”

“Ya, aku setuju,” sahut Ki Jayaraga, “Sementara sebagian dari kita berbincang di pendapa, yang lainnya melakukan penyelidikan di padukuhan Klangon ini.”

“Tepatnya di sekitar rumah Ki Dukuh Klangon,” dengan serta-merta Glagah Putih mengajukan sebuah usul.

Semua orang menengok ke arah suami Rara Wulan itu. Ki Rangga lah yang kemudian bertanya, “Apa pertimbanganmu Glagah Putih?”

Glagah Putih menggeser duduknya sejengkal. Jawabnya kemudian, “Aku mempunyai dugaan, jika padukuhan ini telah terpengaruh oleh orang-orang yang menyebut dirinya Trah Sekar Seda Lepen, tentu dimulai dari pemimpinnya , dalam hal ini adalah Ki Dukuh.”

Mereka yang hadir mengangguk-anggukkan kepala pertanda setuju dengan pendapat Glagah Putih kecuali Ki Bango Lamatan. Berkata Ki Bango Lamatan kemudian, “Belum tentu Ki Dukuh telah terpengaruh oleh para pengikut Trah Sekar Seda Lepen. Bisa saja Ki Dukuh sedang dalam tekanan dan ancaman orang-orang terdekatnya yang telah terpengaruh terlebih dahulu. Jika hal ini yang terjadi, kita harus melindungi Ki Dukuh.”

Kembali mereka mengangguk-angguk. Berkata Ki Rangga kemudian, “Kedua kemungkinan itu bisa saja terjadi, dan sebaiknya kita memang mengadakan penyelidikan di sekitar rumah Ki Dukuh Klangon.”

“Benar, ngger,” Ki Waskita menambahi, “Namun harus tetap kita usahakan jangan sampai jati diri kita terungkap. Dan yang lebih penting lagi, jangan sampai apa yang terjadi nantinya di padukuhan Klangon ini akan membangunkan perguruan Sapta Dhahana yang selama ini masih belum menyadari akan kehadiran kita.”

Untuk beberapa saat mereka terdiam. Memang sasaran mereka yang utama adalah memutus hubungan antara perguruan Sapta Dhahana dengan orang-orang yang menyebut dirinya Trah Sekar Seda Lepen. Namun agaknya pengaruh itu sudah cukup meluas sehingga telah sampai di padukuhan Klangon tempat mereka bermalam.

“Marilah,” tiba-tiba Ki Waskita berkata memecah kesunyian, “Matahari sudah terbenam dan sudah terdengar panggilan untuk menunaikan kewajiban kita kepada Yang Maha Agung.”

Hampir bersamaan mereka mengangguk-angguk. Secara bergantian mereka pun kemudian memerlukan pergi ke pakiwan untuk mensucikan diri sebelum menunaikan kewajiban sebagai tanda syukur atas nikmat dan karunia dari Sang Maha Pencipta.

Dalam pada itu Ki Gede yang sedang menyusuri bulak panjang yang menghubungkan padukuhan Klangon dengan Tanah Perdikan Matesih telah dikejutkan oleh kehadiran seseorang di atas tanggul.

Pada awalnya Ki Gede menduga orang itu hanyalah seorang petani yang sedang melepaskan lelah sehabis membenahi sawahnya. Musim hujan memang telah datang dan agaknya para petani sudah mulai ancang-ancang untuk menggarap sawah mereka kembali.

“Mungkin hanya seorang petani yang kebetulan belum pulang dari sawahnya,” berkata Ki Gede dalam hati sambil memandang bayangan hitam yang berdiri di atas tanggul sebelah kiri beberapa puluh tombak di depan. Matahari memang baru saja terbenam namun karena langit masih menyisakan mendung yang bergelayutan, sehingga suasana pun terlihat cukup gelap.

“Mengapa akhir-akhir ini aku menjadi cepat berprasangka buruk terhadap seseorang.?” bertanya Ki Gede dalam hati sambil terus mengayunkan langkah, “Mungkin kehadiran orang-orang yang mengaku pengikut Trah Sekar Seda Lepen itu yang membuatku selalu bercuriga.”

Ketika langkah Ki Gede semakin dekat dengan orang yang berdiri di atas tanggul itu, jantung Ki Gede pun berdentang semakin keras. Orang itu tidak tampak sebagaimana petani biasanya yang memanggul cangkul di pundaknya dan menyelipkan sabit di pinggangnya. Orang itu justru telah berdiri sambil bertolak pinggang dan terlihat dengan sengaja memang sedang menunggu kedatangannya.

“Apa boleh buat,” geram Ki Gede dalam hati sambil meraba pinggangnya. Ketika tangan kanannya menyentuh sebuah keris pusaka turun-temurun kebanggaan Tanah Perdikan Matesih yang terselip di pinggang kanannya, hatinya pun menjadi sedikit tenang.

Dengan langkah satu-satu Ki Gede berjalan terus tanpa meninggalkan kewaspadaan. Malam yang baru saja mulai itu terasa sangat sepi. Hanya terdengar suara binatang-binatang malam yang mulai memperdengarkan nyanyian dalam irama ajeg. Sementara di langit yang kelam kelelawar dan burung-burung malam mulai beterbangan hilir mudik mencari mangsa.

Semakin dekat jarak Ki Gede dengan orang di atas tanggul itu, jantung Ki Gede pun rasa-rasanya telah berpacu semakin kencang. Betapa pun Ki Gede berusaha menepis syak wasangka di dalam hatinya, namun sikap orang di atas tanggul itu memang terasa sangat mendebarkan.

Ternyata apa yang menjadi dugaan Ki Gede itu benar adanya. Ketika jarak mereka berdua tinggal beberapa langkah lagi, tiba-tiba terdengar suara tawa perlahan dan tertahan-tahan dari orang yang berdiri di atas tanggul itu. Agaknya itu adalah sebuah isyarat bahwa orang di atas tanggul itu memang sengaja menunggu Ki Gede. Maka Ki Gede pun segera menghentikan langkahnya.

Sejenak suasana menjadi sunyi. Sudah tidak terdengar lagi suara tawa yang memuakkan itu. Masing-masing terlihat saling menahan diri dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Diam-diam Ki Gede telah menggeser kedudukan keris pusakanya ke depan. Tangan kanannya pun telah menggenggam hulu keris itu, siap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Suasana benar-benar sangat mencekam. Masing-masing mencoba menilai keadaan, namun tidak ada yang berani mengambil keputusan untuk bergerak terlebih dahulu. Masing-masing hanya menunggu dan menunggu.

Tiba-tiba suasana yang mencekam itu telah dipecahkan kembali oleh suara tawa orang yang berdiri di atas tanggul itu. Suara tawa yang terdengar dalam nada rendah dan berkepanjangan. Benar-benar sebuah tawa yang terdengar sangat memuakkan di telinga Ki Gede.

“Diam!” tiba-tiba Ki Gede yang sudah tidak dapat menahan hatinya itu telah membentak dengan suara yang menggelegar.

Orang di atas tanggul itu tampak terkejut dan segera menghentikan tawanya. Untuk beberapa saat dia hanya dapat berdiri diam termangu-mangu.

“Apakah Ki Gede merasa terganggu?” tiba-tiba orang di atas tanggul itu bertanya. Suaranya terdengar sangat berat dan dalam.

Berdesir dada Ki Gede mendengar pertanyaan itu. Orang itu agaknya telah mengenal dirinya. Jantung Ki Gede pun menjadi semakin berdebaran.

Ki Gede tidak segera menjawab. Dicobanya untuk mengenali bayangan yang berdiri bertolak pinggang di atas tanggul itu. Namun kegelapan yang menyelimuti tempat itu telah menghalangi Ki Gede untuk melihat wajahnya dengan jelas, walaupun Ki Gede telah mengerahkan kemampuannya untuk menajamkan pandangan matanya.

“Bagaimana Ki Gede?” kembali terdengar suara orang di atas tanggul itu, “Mengapa Ki Gede diam saja?” orang itu berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Ki Gede tidak perlu menghunus pusaka kebesaran Tanah Perdikan Matesih. Tidak akan banyak berarti bagiku.”

“Sombong!” sergah Ki Gede dengan serta merta. Namun dalam hati Ki Gede mengakui ketajaman mata orang itu. Maka katanya kemudian sambil melepaskan pegangan pada hulu kerisnya dan menunjuk ke arah orang itu, “Turunlah! Jangan menjadi pengecut yang hanya berani bertempur dari atas tanggul. Jika Ki Sanak tetap bertahan, jangan salahkan aku jika aku akan memaksamu turun dengan caraku.”

“O?” terdengar orang itu kembali tertawa, tawa yang memuakkan, “Tidak ada seorang pun yang dapat memaksa aku untuk turun dari tanggul ini. Ki Gede Matesih pun tidak,” orang itu berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Kalau Ki Gede tidak percaya, silahkan! Aku berjanji tidak akan menggerakkan tubuhku untuk melawan atau pun menghindar, walaupun hanya ujung ibu jari kakiku.”

Kata-kata itu benar-benar telah membuat darah Ki Gede mendidih. Rasa-rasanya kemarahan Ki Gede telah sampai ke ubun-ubun. Sebuah penghinaan yang luar biasa telah dengan sengaja ditujukan kepada dirinya, penguasa tertinggi Tanah Perdikan Matesih.

Dengan menggeram marah Ki Gede segera memusatkan segenap nalar dan budinya untuk mengungkapkan puncak ilmu warisan turun-temurun leluhur Perdikan Matesih. Sebuah ilmu yang bersumber dari perguruan Pandan Alas dari cabang Gunung Kidul. Namun dalam perkembangannya, sepeninggal Ki Demang Sarayudha, murid pertama Ki Ageng Pandan Alas, ilmu cabang Perguruan Ki Pandan Alas itu telah mengalami kemunduran yang cukup memprihatinkan.

Segera saja Ki Gede bergeser ke samping setapak. Wajahnya terangkat dan matanya menjadi redup setengah terpejam. Disalurkan segala tenaganya yang dilambari dengan pemusatan pikiran untuk kemudian meletakkan satu tangannya di atas dada, sedangkan tangan lainnya menjulur ke depan lurus-lurus. Itulah suatu sikap untuk melepaskan ilmunya yang dahsyat, ilmu pamungkas Cundha Manik dari Perguruan Pandan Alas.

Orang di atas tanggul itu terkejut begitu menyadari Ki Gede telah mengungkapkan ilmu pamungkasnya. Namun sebagaimana janji yang telah diucapkan sebelumnya, orang di atas tanggul itu tidak akan menggerakkan tubuhnya untuk melawan atau pun menghindar, walaupun hanya ujung ibu jari kakinya.

Sejenak kemudian terdengar teriakan menggelegar dari Ki Gede. Tubuhnya melesat bagaikan tatit yang meloncat di udara. Tangan kanan yang terjulur lurus itu dengan kekuatan penuh menghantam dada orang yang berdiri di atas tanggul itu.

Akibatnya sangat dahsyat. Tubuh Ki Gede bagaikan membentur dinding baja setebal satu jengkal. Kekuatan yang tersalur pada telapak tangan kanannya membalik membentur dadanya sendiri sehingga tubuhnya terpental ke belakang dan melayang jatuh terjerembab di tanah yang berdebu. Terdengar sebuah keluhan pendek sebelum akhirnya Ki Gede jatuh pingsan.

Sedangkan orang yang berdiri di atas tanggul itu sejenak bagaikan membeku di tempatnya. Walaupun kekuatan aji Cunda Manik itu tidak mampu menggetarkan tubuhnya, namun untuk beberapa saat jalan nafasnya terasa bagaikan telah tersumbat.

“Sayang,” desis orang itu sambil menarik nafas dalam-dalam untuk melonggarkan dadanya, “Aji Cunda Manik ini tinggal kulitnya saja. Seandainya Ki Gede mampu mendalami dan mematangkannya, menghadapi orang yang menyebut dirinya Raden Mas Harya Surengpati itu bukanlah suatu hal yang menakutkan.”

Dengan perlahan orang itu pun kemudian melangkahkan kakinya menuruni tanggul.

“Seandainya Ki Ageng Pandan Alas masih hidup dan beliau sendiri yang melontarkan Aji Cunda Manik ini, aku tidak yakin kalau aku akan mampu bertahan,” gumam orang itu kemudian sambil melangkah ke tempat Ki Gede terbaring.

Sesampainya orang itu di sebelah tubuh Ki Gede, segera saja dia mengambil tempat di sebelah kirinya dan kemudian duduk bersila di atas tanah yang berdebu.

Untuk beberapa saat orang itu masih merenungi tubuh Ki Gede yang terbujur diam. Kemudian dengan perlahan dirabanya pergelangan tangan Ki Gede, kemudian berpindah ke dada dan terakhir orang itu memiringkan tubuh Ki Gede untuk meraba punggungnya.

“Untung hanya pingsan saja,” desis orang itu, “Tidak ada luka dalam. Semoga ini menjadi pelajaran bagi Ki Gede untuk memacu semangatnya dalam mendalami dan menyempurnakan ilmu kebanggaan Perguruan Pandan Alas ini.”

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, orang itu pun kemudian mulai memijat tengkuk Ki Gede. Sejenak kemudian, terdengar keluhan tertahan yang keluar dari mulut Ki Gede.

“Ki Gede,” desis orang itu perlahan ketika melihat Ki Gede mulai membuka kedua matanya, “Tidak ada yang perlu dirisaukan. Anggap saja apa yang baru saja terjadi ini adalah bentuk dari perkenalan kita.”

Ki Gede yang belum menemukan kesadarannya secara utuh itu tidak menjawab. Pendengaran dan penglihatannya belum pulih dan bekerja sebagaimana biasa. Sementara dadanya terasa nyeri dan tulang-tulang rusuknya bagaikan berpatahan.

“Duduklah Ki Gede,” bisik orang itu sambil membantu menyangga punggung Ki Gede.

Ki Gede masih berusaha memperjelas penglihatan kedua matanya. Dengan mengerjap-kerjapkan kelopak kedua matanya beberapa kali, akhirnya penglihatan Ki Gede pun menjadi semakin terang dan jelas.

Begitu kesadarannya mulai pulih kembali, tanpa sadar Ki Gede telah berpaling. Namun alangkah terkejutnya Ki Gede. Darahnya bagaikan tersirap sampai ke ubun-ubun begitu kedua matanya menatap  wajah orang yang berada di sebelah kirinya itu.

Kalau saja Ki Gede tidak menguatkan hatinya, tentu dia sudah berteriak ketakutan melihat raut wajah orang yang berada di sebelahnya itu. Seraut wajah yang rata, tidak tampak adanya sepasang mata, hidung atau pun mulut. Seraut wajah yang benar-benar tampak mengerikan.

Namun Ki Gede bukanlah anak kemarin sore yang ketakutan seperti melihat orang-orangan pengusir burung di sawah. Menurut dugaannya, orang itu pasti menggunakan sejenis topeng tipis dari kulit binatang yang disamak dengan halus sehingga terlihat seperti kulit wajah manusia. Berpikir sampai disitu, dengan mengendapkan hatinya yang sempat bergejolak, Ki Gede pun segera bergerak meraih topeng yang menutupi wajah orang itu.

Namun sebelum tangan Ki Gede sempat meraih wajah orang itu, tiba-tiba saja dirasakan sekujur tubuhnya menjadi lemas tak bertenaga. Tulang-belulangnya pun bagaikan terlepas dari persendian. Bersamaan dengan itu, terasa telapak tangan orang bertopeng itu mengusap tengkuknya.

Sejenak kemudian, Ki Gede merasakan kantuk yang luar biasa beratnya dan tak tertahankan.. Namun sebelum Ki Gede jatuh tertidur, terdengar orang bertopeng itu membisikkan sesuatu di telinganya.

Demikianlah akhirnya, Ki Gede yang telah siuman dari pingsannya itu telah tak sadarkan kembali, namun kali ini Ki Gede merasakan ketenangan yang luar biasa dalam tidurnya.

Ketika Ki Gede kemudian terbangun dari tidur nyenyaknya, dia mendapatkan dirinya sedang terbaring di bawah sebatang pohon di sebelah perigi.

“He?” desis Ki Gede sambil bangkit dan bertelekan pada kedua tangannya, “Di mana aku? Apa sebenarnya yang telah terjadi?”

Perlahan-lahan Ki Gede mencoba merangkai ingatannya kembali. Segera saja ingatan Ki Gede tertuju pada seraut wajah yang mengerikan, wajah yang tampak rata tak berbentuk bagaikan sebuah dinding batu saja.

“Mengapa orang bertopeng itu membawaku kemari?” bertanya Ki Gede dalam hati sambil memperbaiki duduknya, “Orang yang aneh, namun kesaktiannya benar-benar ngedab-edabi,” Ki Gede berhenti berangan-angan sejenak. Kemudian lanjutnya, “Atau aku saja yang terlalu malas untuk mendalami Aji Cunda Manik?”

Berpikir sampai disitu, tiba-tiba saja terbesit niat di dalam hati Ki Gede untuk menjalani laku yang sudah ditentukan dalam menyempurnakan puncak ilmunya.

“Namun guru sudah lama meninggal,” kembali Ki Gede berangan-angan, “Aku tidak berani menjalani laku terakhir itu tanpa bimbingan seorang guru.”

Niat yang sudah menggebu-gebu di dalam hatinya itu tiba-tiba saja surut kembali bagaikan sinar sebuah dlupak yang kehabisan minyak.

“Ah, sudahlah,” desah Ki Gede kemudian, “Itu akan aku pikirkan kemudian. Kelihatannya sekarang sudah mendekati waktu sepi uwong. Aku telah berjanji dengan Ki Jagabaya untuk bertemu di banjar.”

Sambil berpegangan pada sebatang pohon sawo kecik di sebelahnya, Ki Gede pun kemudian mencoba untuk bangkit. Diedarkan pandangan matanya ke sekelilingnya sambil mengibas-kibaskan kain panjangnya yang menjadi sedikit kotor. Hujan memang telah berhenti sejak sore tadi, namun tanah tempat Ki Gede terbaring masih terasa basah.

“Hem,” desah Ki Gede sambil mengamat-amati lampu dlupak yang disangkutkan di teririsan. Tampak beberapa orang pengawal sedang tidur silang melintang. Bahkan ada yang bersandaran tiang di teritisan itu.

“Banjar padukuhan Klangon,” desis Ki Gede dalam hati dengan jantung yang berdebaran begitu mengenali tempat itu, “Para pengawal itu seharusnya berjaga-jaga, namun mengapa mereka justru telah tertidur?”

Dengan tetap tidak meninggalkan kewaspadaan, ki Gede pun mulai melangkahkan kakinya menuju banjar padukuhan.

“Mereka tidur dalam keadaan tidak sewajarnya,” kembali Ki Gede berkata dalam hati begitu dia sampai di dekat teritisan, “Sebaiknya aku tidak perlu mengusik mereka. Aku akan masuk dan menemui kelima perantau itu.”

Dengan sedikit bergegas Ki Gede pun segera membuka pintu butulan dan melangkahkan kakinya memasuki dapur.

Di dalam dapur itu ternyata tidak ada sebuah dlupak pun yang menyala sehingga suasana benar-benar gelap. Untunglah Ki Gede bukan orang kebanyakan. Dengan mengerahkan kemampuannya untuk mempertajam pandangan matanya, Ki Gede pun tidak mengalami kesulitan sedikit pun untuk melintasi dapur dan menuju ke ruang tengah.

Begitu Ki Gede membuka pintu yang menghubungkan dapur dengan ruang tengah, sepercik sinar segera saja menyambarnya. Ternyata di ruang tengah itu ada sebuah dlupak yang diletakkan di ajug-ajug. Walaupun sinarnya tidak begitu terang, namun sudah cukup untuk menerangi ruang tengah yang cukup luas itu.

Demikian Ki Gede melangkah memasuki ruang tengah, lamat-lamat dia mendengar suara orang yang sedang bercakap-cakap.

“Mereka agaknya di pringgitan,” berkata Ki Gede dalam hati sambil mengayunkan langkahnya.

Namun tiba-tiba saja sebuah keragu-raguan telah menyelinap di hatinya sehingga ki Gede telah menghentikan langkahnya.

“Bagaimana jika orang bertopeng itu sengaja menjebakku?” pertanyaan itu telah berputar-putar di benak Ki Gede.

Memang sebelum jatuh tertidur beberapa saat tadi, Ki Gede sempat mendengar bisikan orang bertopeng itu di telinganya, “Bergabunglah dengan kelima orang di banjar itu, Ki Gede. Sesungguhnya mereka orang-orang yang dapat dipercaya.”

Pesan singkat itu memang sangat jelas. Namun tidak menutup kemungkinan jika yang terjadi kemudian adalah justru sebaliknya. Mereka adalah para pengikut Trah Sekar Seda Lepen, atau bahkan salah satu dari mereka adalah Raden Wirasena sendiri.

bersambung ke bagian 2