STSD-03

kembali ke STSD-02 | lanjut ke STSD-04

Bagian 1

KETIKA Ki Rangga kemudian mendengar Ki Waskita terbatuk-batuk kecil, barulah Ki Rangga teringat akan pertanyaan Ki Waskita itu. Maka jawabnya kemudian, “Ki Waskita, pada awalnya memang ada niat untuk meninggalkan Ki Kebo Mengo dan kemudian mengejar Eyang Guru. Namun entah mengapa tiba-tiba saja terbersit di dalam hatiku untuk mengetrapkan aji kakang pembarep dan adi wuragil sekaligus. Dengan demikian aku berharap kedua ujud semuku akan dapat menghadapi lawan-lawanku secara terpisah,” Ki Rangga berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Namun yang terjadi kemudian justru telah membuat aku benar-benar tidak habis mengerti. Dengan mengetrapkan aji kakang pembarep dan adi wuragil, pengetrapanku terhadap aji pengangen-angen menjadi melemah dan akhirnya aku tersadar dari samadiku.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Ki Rangga. Setelah terdiam beberapa saat, barulah dengan suara yang sangat sareh Ki Waksita pun berkata, “Ngger, memang tidak ada ilmu yang sempurna di atas bumi ini. Pada dasarnya aji kakang pembarep dan adi wuragil mempunyai sifat dan watak yang berbeda dengan aji pengangen-angen, walaupun keduanya bertumpu pada ujud semu yang sama,” Ki Waskita berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Aji kakang pembarep adi wuragil menuntut kehadiran wadagmu sedekat mungkin, bahkan menuntut wadagmu untuk ikut dalam setiap keberadaan ujud semu itu. Sedangkan aji pengangen-angen tidak menuntut akan kehadiran ujud wadagmu. Justru aji pengangen-angen akan meninggalkan wadagmu sejauh dapat engkau lakukan, menyeberangi lautan misalnya. Semua itu tergantung dari kekuatan pancaran ilmu dari sumbernya, yaitu  wadagmu sendiri.”

Sejenak Ki Rangga termenung. Berbagai tanggapan dan harapan sedang bergolak di dalam dadanya.

“Dalam sebuah kancah pertempuran pasukan segelar sepapan yang sebenarnya, aji pengangen-angen ini tidak dapat berdiri sendiri, tetapi membutuhkan bantuan orang lain,” berkata ki Waskita selanjutnya, “Kehadirannya mungkin akan sempat membingungkan lawan. Namun jika lawan sempat mengetahui kelemahannya dan menemukan tempat persembunyian ujud wadagnya, tentu akan sangat berbahaya. Demikian juga jika seseorang diminta secara khusus untuk menjaga wadagnya selama dia dalam puncak samadinya, siapakah yang dapat menjamin jika orang yang menjaganya itu tidak akan berkhianat?”

Ki Rangga masih berdiam diri dan belum menanggapi penjelasan Ki Waskita. Angan-angannya sedang menerawang entah ke mana.

“Ngger,” berkata Ki Waskita seterusnya begitu melihat Ki Rangga masih termangu-mangu, “Berbeda dengan aji kakang pembarep dan adi wuragil yang kehadirannya di medan pertempuran yang sebenarnya akan sangat berarti. Lawan akan memperhitungkan keberadaan bentuk semu itu karena engkau telah mampu memancarkan ilmumu melalui kedua ujud semu itu. Sehingga lawan akan mendapatkan perlawanan tiga kali lipat dari kekuatan yang sesungguhnya,” Ki Waskita berhenti sejenak sambil mencoba mengamati raut wajah Ki Rangga. Lanjutnya kemudian, “Jika angger ingin menggabungkan kedua aji itu, tentu diperlukan laku khusus yang tentu akan melibatkan persyaratan dari kedua cabang ilmu itu. Dengan demikian, apabila seseorang telah mampu menguasai gabungan kedua aji tersebut, dia akan benar-benar mampu menjaga wadagnya dengan salah satu bentuk semunya, sedangkan bentuk semu yang lain akan mampu bergerak ke tempat yang sangat jauh, sejauh angan-angan dari manusia itu sendiri.”

Kali ini Ki Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya. Walaupun tampaknya memang masih ada yang membebani pikirannya.

Agaknya Ki Waskita dapat membaca wajah Ki Rangga yang terlihat sedang menyimpan sebuah beban dalam hatinya itu. Maka katanya kemudian, “Ngger, aku melihat sebuah kegelisahan yang terpancar pada wajah angger. Jika memang aku boleh mengetahuinya, apakah sebenarnya yang masih menjadi beban di hati angger?”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu sebelum menjawab. Setelah membetulkan letak duduknya, barulah Ki Rangga menjawab, “Ki Waskita, penggabungan aji kakang pembarep dan adi wuragil dengan aji pengangen-angen itu sebaiknya kita pikirkan di kemudian hari,” Ki Rangga berhenti sejenak untuk sekedar menarik nafas panjang. Lanjutnya kemudian, “Adapun yang masih membebani hatiku sampai saat ini adalah, sejak aku mendalami aji pengangen-angen, aku merasakan sesuatu yang aneh sedang terjadi dalam diriku, terutama panggraitaku. Beberapa kali aku merasakan sepertinya aku mendapatkan firasat tentang sesuatu. Ketika aku menganggapnya itu hanyalah sebagai bentuk kegelisahanku saja, ternyata firasat itu benar-benar terjadi. Namun tidak jarang aku tidak mampu mengurai makna firasat itu sehingga yang terjadi kemudian hanyalah sebuah kegelisahan yang tak berujung pangkal. Aku tidak tahu apakah kejadian dalam diriku ini ada hubungannya dengan usahaku untuk menekuni aji pengangen-angen?”

Untuk beberapa saat Ki Waskita termenung. Setelah menarik nafas dalam-dalam, barulah Ki Waskita menjawab, “Ngger, agaknya angger sedang mengalami keadaan yang sebenarnya wajar bagi angger. Aji pengangen-angen itu pada awalnya adalah suatu bentuk ilmu yang hanya berlandaskan pada sebuah angan-angan. Kemudian dengan memusatkan nalar dan budi serta menyelaraskan ilmu itu dengan pikiran serta persangkaan orang lain, maka akan terciptalah bentuk-bentuk semu sesuai dengan apa yang ada di dalam angan-angan kita,” Ki Waskita berhenti sejenak untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba saja menjadi kering. Lanjutnya kemudian, “Semasa mudaku dulu, aku hanya mampu mempelajari sampai batas ini, walaupun guruku telah memberikan tuntunan sampai sejauh apa yang telah tertulis dalam kitab perguruan kami. Aku memang terlampau puas dengan apa yang telah aku capai waktu itu, tanpa memperhitungkan bahwa ternyata ilmu itu jika disempurnakan dan dikembangkan akan mempunyai kekuatan yang sangat ngedab-edabi.”

Ki Rangga tidak menjawab, hanya kepalanya saja yang terlihat terangguk-angguk. Sementara Ki Waskita meneruskan kata-katanya, “Dalam mendalami ilmu ini, aku pun pada awalnya juga mengalami seperti apa yang sedang engkau alami, ngger. Ketika hal itu aku sampaikan kepada guruku, ternyata aku telah diberi wawasan yang luas bagaimana cara mempelajari dan kemudian mempertajam panggraita kita dalam menyikapi peristiwa itu. Aku pun kemudian justru telah tertarik untuk mengembangkan ilmu dalam mengurai isyarat yang merupakan cabang dari aji pengangen-angen dan telah mengabaikan kelanjutan dari aji pengangen-angen itu sendiri sehingga kemampuanku tidak lebih dari sebuah permainan kanak-kanak,” Ki Waskita berhenti sejenak sambil kembali mencoba mengamati perubahan wajah Ki Rangga. Namun Ki Rangga hanya menundukkan kepalanya saja. Maka Ki Waskita pun melanjutkan kata-katanya, “Ngger, jika memang engkau tertarik dengan ilmu dalam mengurai isyarat ini, usahakan untuk mendalami dan meresapi setiap isyarat yang muncul. Memang kadang-kadang kita salah dalam menafsirkan makna isyarat itu karena memang sesungguhnya tiada daya dan upaya kecuali atas seijin Yang Maha Agung. Oleh karena itu, ngger, semakin kita mendekatkan diri dengan Dzat Yang Maha Mengetahui seluruh alam semesta ini, akan semakin terbukalah cakrawala angan-angan kita sehingga kita akan diijinkan untuk mengetahui sedikit rahasia yang selama ini tersembunyi.”

Kembali Ki Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini hatinya mulai tertata kembali. Tidak ada kegelisahan yang selama ini selalu menggelayuti hatinya. Semuanya yang telah terjadi, sedang terjadi maupun yang akan terjadi adalah di dalam genggamanNYA, di dalam kekuasaanNYA. Jika memang seorang hamba diperkenankan untuk mengetahui sedikit dari apa yang akan terjadi di hari esok, sesungguhnyalah itu adalah sebuah karunia yang tiada taranya.

“Ngger,” tiba-tiba suara Ki Waskita membuyarkan lamunannya, “Jika aku boleh mengetahuinya, sebenarnya isyarat apakah yang sekarang ini sedang angger terima?”

Sejenak Ki Rangga mengerutkan keningnya. Ada sedikit keragu-raguan yang tampak terpancar dari sorot kedua matanya. Namun akhirnya meluncur juga kata-kata dari bibirnya, “Ki Waskita, akhir-akhir ini aku sedang digelisahkan oleh sebuah isyarat yang berhubungan dengan masa depan Kademangan Sangkal Putung sepeninggal Adi Swandaru. Aku sering diperlihatkan sebuah pemandangan yang mengerikan, baik dalam mimpi-mimpiku maupun sebuah firasat yang tiba-tiba saja terasa mencengkam jantungku sehingga telah menggelisahkan hatiku. Namun aku tidak tahu dengan pasti, firasat apakah itu sebenarnya. Yang justru kemudian muncul dalam benakku adalah wajah-wajah yang begitu aku kenal, Sekar Mirah dan Pandan Wangi.”

Sejenak Ki Waskita menahan nafas. Apa yang disampaikan Ki Rangga itu telah menggores jantungnya. Ayah Rudita yang juga diberi karunia untuk menerima isyarat tentang masa depan itu sejenak  bagaikan telah membeku.

“Ngger,” berkata Ki Waskita akhirnya sambil menarik nafas dalam-dalam, “Sebagaimana angger, aku juga menerima isyarat yang kurang menyenangkan tentang masa depan Sangkal Putung. Akan tetapi, marilah semua itu kita kembalikan kepada Yang Maha Mengetahui. Kita sebagai hambaNYA hanya dapat berusaha dan berdoa, sekiranya kita dapat membantu Sekar Mirah maupun Pandan Wangi untuk semakin memajukan Sangkal Putung maupun Tanah Perdikan Menoreh.”

Mendengar Ki Waskita menyebut kedua wilayah itu, tiba-tiba saja dada Ki Rangga berdesir tajam. Tanpa sadar Ki Rangga berdesis perlahan, “Siapakah sebenarnya yang berhak atas kedua wilayah itu?”

Ki Waskita hanya menarik nafas panjang mendengar pertanyaan Ki Rangga. Kedua daerah yang subur itu memang kelak di kemudian hari tidak menutup kemungkinan akan menjadi bahan persengketaan oleh beberapa pihak yang berkepentingan maupun yang tidak berkepentingan.

“Ngger,” berkata Ki Waskita kemudian setelah sejenak mereka terdiam, “Sangkal Putung harus segera mengambil sikap sehubungan dengan niat Pandan Wangi untuk kembali ke Menoreh.”

Untuk kesekian kalinya Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Beberapa hari setelah pemakaman suaminya, Pandan Wangi memang secara khusus telah berbicara dengannya tentang masa depan Bayu Swandana.

“Kakang,” berkata Pandan Wangi pada saat itu ketika mereka berdua saja sedang duduk-duduk di pringgitan, “Sepeninggal kakang Swandaru, rasa-rasanya sudah tidak ada lagi yang dapat mengikatku di Kademangan ini, kakang.”

“Wangi?” terkejut Ki Rangga mendengar ucapan Pandan Wangi, “Mengapa engkau berkata demikian? Bukankah masih ada Ki Demang sebagai mertuamu? Serta Bayu Swandana sebagai penerus Adi Swandaru yang kelak akan memimpin Kademangan Sangkal Putung?”

Pandan Wangi sejenak termangu-mangu. Pandangan matanya jatuh ke tikar tempat duduknya. Seakan-akan Pandan Wangi sedang menghitung helai demi helai anyaman tikar pandan itu di setiap jengkalnya.

“Wangi,” kembali terdengar Ki Rangga bertanya ketika dilihatnya Pandan Wangi hanya tertunduk diam, “Apakah engkau mempunyai keinginan untuk kembali ke Menoreh?”

Kali ini Pandan Wangi mengangkat wajahnya. Ketika dua pasang mata itu saling beradu, alangkah terkejutnya Ki Rangga. Sepasang mata itu terlihat sayu dan penuh air mata. Betapa sepasang mata itu dulu pernah menatapnya seperti itu, berpuluh tahun yang lalu. Masih jelas dalam ingatan Ki Rangga yang pada saat itu menggunakan nama Gupita, dia harus menyampaikan pesan adik seperguruannya, Gupala kepada putri Menoreh itu.

“Sepasang mata yang kecewa, tanpa harapan dan cinta,” desis Ki Rangga dalam hati sambil mencoba menghindari tatapan mata Pandan Wangi. Dilemparkan pandangan matanya jauh keluar pintu pringgitan yang terbuka lebar.

“Kakang,” tiba-tiba terdengar lirih kata-kata Pandan Wangi, “Aku sudah cukup menderita di Sangkal Putung ini, walaupun sebagai istri, aku telah berusaha menjadi istri yang baik. Aku tetap berharap kakang Swandaru dengan bersungguh-sungguh berusaha untuk memperbaiki hubungan kami sebagaimana dulu pertama kali kita telah berjanji untuk merajut masa depan bersama,” Pandan Wangi berhenti sejenak. Nafasnya menjadi sesak bersamaan dengan air mata yang mulai tumpah membasahi wajahnya. Sambil berusaha menghapus air mata dengan ujung lengan bajunya, Pandan Wangi pun kemudian meneruskan kata-katanya walaupun terdengar timbul tenggelam dalam isak tangisnya, “Kakang, salahkan aku jika aku ingin menghapus kenangan masa laluku yang begitu pahit ini? Aku ingin kembali ke tanah kelahiranku untuk memulai hidup baru sekalian membesarkan anakku serta menunjukkan baktiku kepada orang tuaku yang telah tua dan renta.”

Ki Rangga terdiam. Hanya degup jantungnya saja yang terdengar bertalu-talu.

“Ngger,” tiba-tiba terdengar suara Ki Waskita membangunkan Ki Rangga dari lamunannya, “Sebaiknya memang permasalahan Sangkal Putung segera dibicarakan bersama. Jika Pandan Wangi berkeinginan untuk pulang ke tanah kelahirannya, berarti harus segera ditunjuk Pemangku sementara kademangan Sangkal Putung untuk mendampingi Ki Demang yang sudah sangat sepuh itu.”

“Ki Waskita benar,” jawab Ki Rangga, “Namun siapakah yang berhak untuk menjadi pemangku sementara, sedangkan Bayu Swandana masih terlalu kecil? Sementara Pandan Wangi sebagai istri Adi Swandaru serta ibu Bayu Swandana telah menyampaikan keinginannya untuk kembali ke Menoreh?”

Ki Waskita tersenyum sekilas. Jawabnya kemudian, “Masih ada saudara sedarah Ki Swandaru yang dapat menjadi pemangku sementara di kademangan Sangkal Putung.”

Ki Rangga mengerutkan keningnya dalam-dalam sambil memandang tajam ke arah Ki Waskita. Katanya kemudian dengan nada yang sedikit ragu-ragu, “Maksud Ki Waskita, Sekar Mirah?”

“Ya, ngger,” jawab Ki Waskita sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, “Sekar Mirah dapat ditunjuk untuk menjadi pemangku sementara sambil menunggu Bayu Swandana dewasa.”

“Tidak, Ki Waskita,” dengan serta-merta Ki Rangga menyela, “Akulah yang berkeberatan jika Sekar Mirah yang akan ditunjuk menjadi pemangku sementara kademangan Sangkal Putung.”

Ki Waskita terkejut mendengar kata-kata Ki Rangga. Orang tua itu sejenak termangu-mangu sambil mengerutkan keningnya dalam-dalam. Adalah hal yang diluar kewajaran jika seseorang dengan sadar telah menolak sebuah kedudukan, pangkat dan derajat baik bagi dirinya sendiri maupun bagi keluarganya.

“Ngger,” berkata Ki Waskita kemudian dengan sareh, “Nyi Sekar Mirah mempunyai hak untuk menerima itu walaupun angger sebagai suaminya juga mempunyai hak untuk menentukan seberapa jauh seorang istri diperbolehkan oleh suaminya untuk berbuat diluar dunianya. Jangan tergesa-gesa untuk memutuskannya sekarang, ngger. Ajaklah istrimu untuk bermusyawarah.”

Untuk beberapa saat Ki Rangga terdiam.  Berbagai persoalan sedang bergulat di dalam benaknya.

“Alangkah beruntungnya Bayu Swandana,” berkata Ki Rangga dalam hati, “Dari garis ibunya dia mewarisi Tanah Perdikan Menoreh yang luas, sedangkan dari garis ayahnya, dia adalah pewaris kademangan Sangkal Putung yang subur.”

Tiba-tiba dada Ki Rangga berdesir tajam. Ingatannya melayang kepada anak laki-laki satu-satunya, Bagus Sadewa. Dan tiba-tiba saja hati Ki Rangga telah tersentuh

“Bagus Sadewa,” hampir saja nama itu terloncat dari bibirnya, namun cepat-cepat ki Rangga menelan kembali kata-katanya sendiri yang sudah berada di ujung bibirnya.

“Aku takut seandainya Sekar Mirah ditunjuk menjadi Pemangku sementara Kademangan Sangkal Putung, Bagus Sadewa setelah beranjak dewasa akan mempunyai tanggapan tersendiri atas hak Kademangan Sangkal Putung,” berkata Ki Rangga dalam hati kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam, “Apalagi jika Sekar Mirah sebagai ibu ingin melihat anak laki-laki satu-satunya mempunyai masa depan yang lebih baik, tentu akan timbul pertentangan yang justru berawal dari dalam keluarga sendiri.”

Diam-diam Ki Rangga mengeluh dalam hati. Isyarat yang diterimanya tentang masa depan Sangkal Putung benar-benar telah menggelisahkan hatinya.

“Ngger,” kembali kata-kata Ki Waskita membuyarkan lamunan Ki Rangga, “Biarlah urusan Sangkal Putung kita kesampingkan terlebih dahulu. Sekarang sebaiknya kita bicarakan kemungkinan-kemungkinan yang akan kita lakukan sehubungan dengan telah diketahuinya kehadiran kita di Padukuhan Klangon ini.”

Ki Rangga berpikir sejenak. Jawabnya kemudian, “Ki Waskita, salah satu pengikut Trah Sekar Seda Lepen yang disebut Eyang Guru itu telah mengetahui kehadiranku. Demikian juga dengan orang yang selama ini telah menghantui Perdikan Matesih, Raden Surengpati. Tidak menutup kemungkinan tempat ini akan segera diserbu oleh para pengikut Trah Sekar Seda Lepen.”

Ki Waskita menarik nafas panjang sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang kemungkinan itulah yang bisa terjadi dalam waktu dekat ini, dan mereka benar-benar harus mempersiapkan diri.

“Kita menunggu Ki Jayaraga dan yang lainnya, ngger,” berkata Ki Waskita kemudian, “Semoga pekerjaan mereka segera selesai dan tidak ada satu aral pun yang melintang dalam perjalanan mereka kembali ke banjar ini.”

Ki Rangga tidak menjawab. Hanya tampak kepalanya saja yang terangguk-angguk.

Dalam pada itu Ki Jayaraga, Ki Bango Lamatan dan Glagah putih telah selesai mengubur mayat orang yang belum diketahui jati dirinya itu. Dengan berjalan sedikit tergesa-gesa, ketiganya pun telah memutuskan untuk segera kembali ke banjar padukuhan.

Namun sesampainya mereka di kelokan jalan yang mengarah ke banjar padukuhan itu, ketiga orang itu telah dikejutkan oleh bayangan seseorang yang tampak berjalan perlahan-lahan di dalam kegelapan malam berlawanan arah dengan mereka.

Agaknya orang itu pun juga melihat Ki Jayaraga dan kawan-kawannya yang sedang berjalan ke arahnya. Tanpa sadar orang itu pun telah menghentikan langkahnya.

“Guru,” desis Glagah Putih yang tampak berjalan di sebelah kiri gurunya sambil memanggul cangkul di pundaknya, “Siapakah orang itu?”

“Aku tidak tahu Glagah Putih,” jawab gurunya, Ki Jayaraga sambil terus melangkah, “Dalam keadaan seperti ini, kita harus berhati-hati dan waspada ketika berhadapan dengan siapapun yang belum kita ketahui jati dirinya.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam sambil berpaling ke arah Ki Bango Lamatan. Namun tampaknya Ki Bango Lamatan sedang sibuk mengamati orang yang berdiri tegak di atas kedua kakinya yang renggang di tengah jalan itu.

Ketika jarak antara mereka tinggal beberapa tombak, tiba-tiba saja orang yang berdiri tegak itu tanpa membuat sebuah ancang-ancang, demikian saja melontarkan tubuhnya ke samping dan menghilang di antara gerumbul-gerumbul perdu yang banyak berserakan di tepi jalan.

Bagaikan sudah berjanji sebelumnya, Ki Jayaraga dan Ki Bango Lamatan pun segera meloncat memburu ke tempat orang itu menghilang. Sementara Glagah Putih harus melempar cangkulnya terlebih dahulu ke tepi jalan sebelum menyusul kedua orang tua itu kemudian.

Sejenak kemudian, terjadilah kejar-kejaran di antara keempat orang itu. Ki Jayaraga yang berlari di depan sendiri merasa heran. Guru Glagah Putih itu telah mengerahkan segenap kemampuannya, namun orang itu masih saja berada beberapa langkah di depannya.

Untuk beberapa saat mereka masih berputar-putar di sekitar tempat itu. Memang ada beberapa petak rumah yang telah di bangun di sekitar kelokan jalan itu, namun selebihnya masih berupa gerumbul perdu dan tanah kosong yang ditumbuhi rumput tinggi rapat berjajar-jajar.

Tanpa terasa keempat orang yang sedang bermain kejar-kejaran itu telah merambah pada kemampuan ilmu mereka yang tinggi, baik kemampuan dalam berlari maupun kemampuan untuk menyerap bunyi yang dapat ditimbulkan oleh suara gesekan mereka dengan alam sekitarnya.

Tiba-tiba saja orang yang sedang mereka kejar itu telah mengubah arah larinya. Dia tidak lagi lari berputar-putar, namun telah berlari menjauhi tempat itu menuju ke barat.

Ketika orang itu kemudian menyusup ke dalam rimbunan pohon bambu yang tumbuh membujur di belakang sebuah rumah kecil di tepi jalan, tiba-tiba saja Ki Jayaraga dan kawan-kawannya telah kehilangan jejak.

Serentak mereka bertiga segera menghentikan langkah.

“Kemana perginya orang itu, Guru?” bertanya Glagah Putih kemudian sambil mengatur nafasnya yang sedikit tersengal.

KI Jayaraga tidak menjawab. Disilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ternyata Ki Bango Lamatan pun telah berbuat serupa.

……….“Sudahlah Ki Sanak. Tidak ada gunanya lagi untuk bersembunyi. Lebih baik Ki Sanak segera berterus terang apa maksud Ki Sanak melakukan semua ini?”

Ki Jayaraga dan Ki Bango Lamatan hanya memerlukan waktu sekejap untuk mengetahui keberadaan buruannya. Sambil mengangkat kepalanya dan mengurai kedua tangannya, Ki Jayaraga pun kemudian berkata, “Sudahlah Ki Sanak. Tidak ada gunanya lagi untuk bersembunyi. Lebih baik Ki Sanak segera berterus terang apa maksud Ki Sanak melakukan semua ini?”

Tidak ada jawaban. Sementara itu Glagah Putih telah mencoba mempertajam penglihatannya dengan lambaran aji sapta pandulu. Segera saja tampak beberapa tombak di depannya, di bawah sebatang pohon keluwih yang tumbuh beberapa langkah dari gerumbul pohon bambu itu, bayangan seseorang sedang berdiri bersandaran pada batang pohon keluwih itu dengan asyiknya.

“Ki Sanak,” Ki Bango Lamatan yang jarang berbicara itu telah maju selangkah, “Apa maksud Ki Sanak melakukan semua ini? Jangan salahkan kami jika Ki Sanak tidak dapat memberikan alasan yang jelas dan masuk akal, kami akan menangkap Ki Sanak.”

Tiba-tiba terdengar bayangan di bawah pohon keluwih itu tertawa perlahan-lahan. Suara tawa yang benar-benar memuakkan.

Berkata bayangan itu kemudian di sela-sela tawanya, “Dan selanjutnya akan diserahkan kepada Ki Jagabaya Dukuh Klangon? Begitu?”

Ketiga orang itu terkejut. Orang itu telah menyebut Ki Jagabaya Dukuh Klangon. Tentu orang itu telah mengetahui serba sedikit tentang mereka dalam hubungannya dengan Ki Jagabaya Dukuh Klangon.

Namun sebelum Ki Jayaraga menjawab, orang itu telah berkata lagi, “Bagaimana mungkin kalian mau menangkap aku, berlari saja kalian masih seperti kanak-kanak,” orang itu berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Nah, aku akan berlari lagi. Silahkan kalau mau menangkap aku jika kalian merasa mampu.”

Selesai berkata demikian, hampir tidak kasat mata, bayangan itu pun melesat meninggalkan tempat itu menuju ke arah barat.

Ki Jayaraga dan kawan-kawannya merasa tertantang untuk mengejar bayangan itu. Maka sejenak kemudian kejar-kejaran di antara keempat orang itu pun terjadi lagi.

Semakin lama mereka telah semakin jauh meninggalkan padukuhan Klangon dan kini tak terasa mereka telah mendekati tapal batas antara Padukuhan Klangon dengan Tanah Perdikan Matesih sebelah barat.

Sesekali ketiga orang itu kembali kehilangan buruan mereka sehingga ketiga orang itu pun telah menghentikan langkah mereka untuk sejenak. Namun entah mengapa, dengan sengaja orang yang sedang mereka cari itu tiba-tiba saja telah menampakkan diri lagi tidak jauh dari tempat mereka berhenti, sehingga kejar-kejaran itu pun kembali terjadi.

Ketika ketiga orang itu merasakan tanah yang mereka lewati kemudian terasa agak landai, tahulah mereka bahwa sebentar lagi mereka akan mencapai sebuah sungai yang mengalir di sepanjang sisi barat Tanah Perdikan Matesih, kali Praga.

Tiba-tiba saja Ki Jayaraga yang berlari di paling depan telah memperlambat langkahnya. Lamat-lamat Ki Jayaraga mendengar suara aliran air. Sedangkan kedua kawannya yang berlari di belakangnya pun kemudian ikut memperlambat langkah mereka.

“Kita kehilangan jejak kembali,” desis Ki Jayaraga sambil mengatur pernafasannya yang sedikit memburu. Sementara Ki Bango Lamatan dan Glagah Putih pun telah berbuat serupa.

“Apa maksud orang itu membawa kita ke tepian kali Praga ini?” geram Ki Bango Lamatan sambil menekan lambungnya untuk mengurangi rasa sakit yang tiba-tiba saja terasa menyengat.

“Orang gila,” geram Glagah Putih yang berdiri tersengal-sengal di sebelah Ki Bango Lamatan, “Orang itu berlari seperti setan dan sepertinya memang dengan sengaja dia ingin mempermainkan kita.”

“Sudahlah,” berkata Ki Jayaraga kemudian ketika pernafasannya sudah teratur kembali, “Kita coba untuk turun ke tepian, barangkali di sana ada sesuatu yang perlu mendapat perhatian.”

Ki Bango Lamatan dan Glagah Putih tidak menjawab. Hanya kepala mereka saja yang terlihat mengangguk.

Sejenak kemudian ketiga orang itu pun mulai menuruni tebing yang agak curam. Ketika sisi tebing itu mulai landai, mereka pun kemudian mulai berjalan di tepian kali Praga yang berpasir lembut.

Namun baru saja mereka berjalan beberapa langkah, pendengaran mereka yang tajam telah mendengar langkah beberapa orang yang tampak tergesa-gesa menyusuri tepian dari arah yang berlawanan. Memang masih cukup jauh namun ketiga orang itu dengan sangat jelas telah mendengar suara mereka.

Bagaikan sudah berjanji sebelumnya, ketiga orang itu pun segera berloncatan dan bersembunyi di balik gerumbul-gerumbul perdu yang banyak bertebaran di sisi tebing.

Sejenak kemudian tampak dalam kegelapan malam, beberapa orang muncul dari kelokan sungai. Dengan langkah yang tergesa-gesa mereka menyusuri tepian yang berpasir basah.

“Sebelum ayam jantan berkokok untuk terakhir kalinya, kita sudah harus sampai di banjar Padukuhan Klangon,” berkata seseorang yang berjalan paling depan. Tubuhnya tinggi menjulang dengan sebuah tombak pendek di tangan kanannya, “Perintah Kakang Putut Sambernyawa sudah jelas, kita kepung banjar Padukuhan Klangon tepung gelang agar tidak ada seekor semut pun yang dapat lolos dari pengamatan kita.”

“Kakang Putut Jangkung,” menyela seseorang yang bertubuh gemuk dan pendek yang berjalan di sebelahnya, “Menurut Kakang Putut Sambernyawa tadi, kita sebaiknya membuat hubungan terlebih dahulu dengan Ki Kebo Mengo, orang kepercayaan Raden Wirasena.”

“Persetan dengan Kerbau bodoh itu,” geram Putut Jangkung sambil menghentakkan kakinya ke tanah. Segera saja terasa bumi di sekitar tempat itu bergetar, “Aku sudah muak sebenarnya dengan orang yang menyebut dirinya Trah Sekar Seda Lepen beserta para pengikutnya itu. Mereka telah merayu Guru untuk mendukung perjuangan mereka. Dengan berbekal keyakinan seolah-olah wahyu keprabon itu akan menjadi milik mereka, Guru telah dirayu dengan janji-janji yang memabokkan.”

“Apakah janji mereka?” pertanyaan itu dengan serta merta telah terloncat begitu saja hampir dari mulut setiap orang.

Putut Jangkung menarik nafas panjang sebelum menjawab. Sambil mengeluarkan sebuah dengusan dari hidungnya dia menjawab, “Guru dijanjikan akan diangkat menjadi seorang Adipati jika perjuangan mereka berhasil.”

“Sebuah mimpi yang indah,” tiba-tiba saja seseorang yang berjalan di belakang Putut Jangkung terdengar menyahut.

Ki Jangkung berpaling sekilas ke belakang. Katanya kemudian, “Engkau benar, Ki Brukut. Sebuah mimpi yang indah, bahkan terlalu indah jika kita bermimpi ingin menjadi seorang Adipati.”

Ki Brukut menarik nafas panjang. Katanya kemudian, “Kedatanganku ke Padepokan Sapta Dhahana sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan segala tingkah polah orang-orang yang menyebut dirinya sebagai pewaris Trah Sekar Seda Lepen itu.”

“Nah, mengapa Ki Brukut ikut rombongan kami?”” sahut orang yang berperawakan gemuk dan pendek yang berjalan di samping Putut Jangkung dengan serta-merta.

Ki Brukut tertawa pendek. Jawabnya kemudian, “Aku datang ke Padepokan Sapta Dhahana sekedar untuk menengok keadaan anakku, Putut Sambernyawa. Anakku lah yang telah meminta aku untuk mengikuti kalian ke Dukuh Klangon, dan memastikan bahwa kalian akan sampai di sana dengan selamat.”

Hampir saja setiap mulut mengumpat mendengar kata-kata Ki Brukut. Namun mereka segera menyadari siapakah Ki Brukut itu. Ayah dari Putut Sambernyawa, Putut tertua dan terpercaya dari Kiai Damar Sasangka, pemimpin tertinggi padepokan Sapta Dhahana.

“Menilik rasa hornat yang diperlihatkan oleh Guru kepada Ki Brukut ini, tentu tingkat ilmunya tidak jauh berbeda dengan Guru,” demikian beberapa orang yang berada dalam rombongan itu berkata dalam hati.

“Atau mungkin keseganan Guru hanya karena Ki Brukut adalah ayah kakang Putut Sambernyawa, bukan tingkat ilmunya,” yang lain justru mempunyai tanggapan yang berbeda.

Tak terasa langkah orang-orang itu pun telah mendekati tempat dimana Ki Jayaraga dan kawan-kawannya sedang bersembunyi.

“Lima belas orang,” berkata Ki Jayaraga dalam hati. Berbagai pertimbangan tengah hilir-mudik dalam benaknya.

Agaknya Ki Bango Lamatan dan Glagah Putih pun juga telah ikut menghitung jumlah orang-orang yang sedang lewat beberapa langkah di hadapan mereka itu.

“Terlalu banyak dan terlalu berat akibat yang akan ditimbulkan,” berkata Ki Bango Lamatan dalam hati. Memang melawan lima belas orang dengan tingkatan ilmu yang belum mereka ketahui sama saja dengan membunuh diri.

Demikianlah ketika rombongan itu telah berlalu dan tidak tampak lagi bayangannya, ketiga orang yang sedang bersembunyi itu pun berniat untuk keluar dari persembunyiannya. Namun baru saja mereka beringsut setapak, tiba-tiba pendengaran mereka menangkap kembali langkah-langkah mendekati tempat itu. Bahkan sekarang terdengar langkah-langkah itu lebih banyak dari yang pertama.

Segera saja ketiga orang itu membenamkan diri mereka kembali ke dalam gerumbul-gerumbul perdu sambil menahan nafas.

Ternyata yang lewat kemudian adalah serombongan orang yang berjumlah sangat besar, hampir dua kali lipat dari yang pertama. Rombongan yang kedua itu pun kemudian disusul dengan rombongan yang ketiga, keempat dan rombongan kelima adalah rombongan yang terbesar, hampir lima puluh orang.

“Gila!” geram KI Jayaraga perlahan sambil bangkit dari persembunyiannya ketika dirasa sudah tidak ada lagi rombongan yang akan lewat. “Agaknya murid-murid Padepokan Sapta Dhahana telah dikerahkan untuk menutup setiap jalan keluar dari Padukuhan Klangon.”

“Kakang Agung Sedayu dan Ki Waskita pasti akan menemui kesulitan, jika tidak segera diberitahu,” sahut Glagah Putih sambil bangkit berdiri dan mengibas-kibaskan kain panjangnya yang terkena pasir tepian.

Sedangkan Ki Bango Lamatan tampak mengerutkan keningnya dalam-dalam. Katanya kemudian, “Kita harus berterima kasih kepada orang yang telah membawa kita ke tepian ini. Secara tidak langsung dia telah memberitahukan kepada kita, gerakan padepokan Sapta Dhahana yang akan mengepung banjar Padukuhan Klangon.”

Dada Ki Jayaraga dan Glagah Putih berdesir tajam begitu mendengar kata-kata Ki Bango Lamatan. Secara tidak langsung orang itu telah membantu mereka dengan memberitahukan bahaya besar yang akan mengancam jika mereka tetap bertahan di banjar padukuhan.

“Marilah kita segera kembali ke banjar,” berkata Ki Jayaraga kemudian sambil melangkah tergesa-gesa menaiki tebing, “Sesampainya di atas tebing, kita akan berlari kembali sesuai jalur yang telah ditunjukkan oleh orang tadi. Agaknya jalur tadi adalah jalan pintas. Semoga kita dapat mendahului rombongan orang-orang padepokan Sapta Dhahana.”

“Ya, Ki,” sahut Ki Bango Lamatan sambil mengikuti langkah Ki Jayaraga, “Ki Rangga dan Ki Waskita harus segera menyingkir sebelum kedatangan orang-orang itu.”

Glagah Putih yang melihat kedua orang tua itu telah menaiki tebing segera menyusul. Dengan cepat dia segera meloncat di antara batu-batu yang menjorok di lereng untuk menyusul kedua orang tua yang sudah hampir mencapai bibir tebing.

Dalam pada itu di banjar Padukuhan Klangon Ki Rangga dan Ki Waskita masih belum menyadari bahwa bahaya sedang mendekat ke arah mereka. Murid-murid perguruan Sapta Dhahana dari lereng Gunung Tidar secara bergelombang telah memasuki Padukuhan Klangon dari arah barat.

Namun kedua orang yang telah mempelajari ilmu dari sumber yang sama itu ternyata hampir bersamaan panggraita mereka telah menerima getaran-getaran isyarat yang mendebarkan.

Hampir bersamaan keduanya pun segera menyilangkan kedua tangan di depan dada. Sambil menundukkan kepala dalam-dalam dan memejamkan mata, keduanya berusaha memusatkan segenap nalar dan budi untuk memperjelas getaran-getaran isyarat yang mereka terima.

Sejenak kemudian keduanya telah tenggelam dalam pemusatan nalar dan budi. Namun baru beberapa saat berlalu, mereka berdua telah terganggu dengan kedatangan Ki Jayaraga bertiga.

Segera saja Ki Waskita menghentikan usahanya untuk mempertajam panggraitanya. Sambil menarik nafas dalam-dalam dan mengurai kedua tangannya yang bersilang di dada, Ki Waskita pun segera menyapa Ki Jayaraga bertiga.

“Bagaimana keadaan kalian bertiga?” bertanya Ki Waskita kemudian sambil mempersilahkan mereka bertiga untuk duduk di atas tikar, “Apakah semuanya dapat berjalan lancar?”

Ketiga orang itu saling pandang sejenak. Perhatian mereka masih tertuju kepada Ki Rangga yang tampak masih mencoba menghentakkan kemampuan panggraitanya untuk memantau keadaan di sekitar Padukuhan Klangon.

Melihat ketiga orang itu tidak menjawab dan justru telah tertarik melihat apa yang sedang dilakukan oleh Ki Rangga, Ki Waskita pun kemudian berusaha memberikan penjelasan, “Ki Rangga sedang berusaha mempertajam panggraitanya. Agaknya tempat ini sudah tidak nyaman dan aman lagi bagi kita.”

“Benar, Ki Waskita,” tiba-tiba Ki Rangga menyahut sambil membuka kedua matanya dan mengurai kedua tangannya yang bersilang di dada, “Sepertinya Padukuhan Klangon ini telah kedatangan banyak orang dari arah utara. Aku tidak tahu mereka berasal dari Perdikan Matesih ataukah Gunung Tidar.”

Mendengar Ki Rangga menyebut gunung Tidar, Ki Jayaraga segera beringsut maju. Katanya kemudian, “Ki Rangga, kami bertiga tadi sempat menjumpai murid-murid gunung Tidar sedang berbondong-bondong menuju ke Padukuhan Klangon,” Ki Jayaraga berhenti sebentar sambil memandang ke arah Ki Bango Lamatan dan Glagah Putih yang tampak mengangguk-angguk. Lanjut Ki Jayaraga kemudian, “Bahkan kami sempat mendengar percakapan mereka. Murid-murid perguruan Sapta Dhahana itu memang sengaja dikirim ke Padukuhan Klangon untuk mengepung serta menutup semua jalan keluar terutama di banjar padukuhan ini.”

Kemudian secara singkat Ki Jayaraga segera menceritakan tentang orang aneh yang telah dengan sengaja menuntun mereka ke tepian kali Praga yang terletak di sebelah barat Perdikan Matesih.

Mendengar cerita Ki Jayaraga, tampak kening Ki Rangga berkerut-merut. Berbagai dugaan telah muncul dalam benaknya tentang orang yang dengan sengaja membawa ketiga orang itu ke tepian Kali Progo.

Namun Ki Rangga benar-benar tidak dapat menduga dengan pasti, siapakah sebenarnya orang itu.

“Ngger,” berkata Ki Waskita kemudian menyadarkan Ki Rangga dari lamunannya, “Apakah tidak sebaiknya kita segera menyingkir?”

Sejenak Ki Rangga memandang ke arah orang-orang yang berada di ruangan itu. Ketika semuanya terlihat mengangguk, Ki Rangga pun segera berkata, “Baiklah, kita segera berkemas. Besok pagi sebelum wayah pasar temawon, salah satu dari kita harus menghubungi Ki Gede Matesih agar membatalkan rencananya untuk mengundang kita.”

Hampir bersamaan yang lainnya telah mengangguk-angguk.

Demikianlah, sejenak kemudian kelima orang itu pun telah berkemas dan meninggalkan tempat itu melalui pintu butulan.

Ketika Ki Rangga sempat melihat para pengawal yang tertidur silang melintang di teritisan, Ki Rangga pun hanya dapat menarik nafas dalam-dalam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sebuah sirep yang sangat halus,” desis Ki Rangga kemudian sambil berjalan di sebelah Ki Waskita, “Seseorang telah menebarkan sirep yang sangat halus sejak sore tadi. Hampir tidak ada seorang pun dari kita yang menyadarinya.”

“Ya, ngger,” sahut Ki Waskita sambil mendahului melangkahi tlundak pintu butulan di pagar belakang, “Aku hanya merasakan udara begitu sejuk dan sangat nyaman untuk beristirahat sehingga aku tidak menyadari bahwa seseorang telah menebarkan sirep.”

Glagah Putih yang mendengar kata-kata Ki Waskita hanya dapat mengangguk-anggukkan kepala. Sementara Ki Jayaraga dan Ki Bango Lamatan yang mempunyai pengalaman dalam hal ilmu yang dapat membuat orang kehilangan kesadaran itu justru telah tersenyum.

“Diperlukan ketelatenan dalam mengetrapkan sirep sejenis ini,” berkata Ki Jayaraga dalam hati, “Berbeda dengan sirep tajam yang dengan serta merta akan mempengaruhi orang dengan rasa kantuk yang tak tertahankan. Sirep halus ini harus terus menerus ditebarkan di sepanjang waktu dengan kekuatan yang tidak terlalu tajam untuk menyamarkan keberadaan sirep itu sendiri.”

Sedangkan Ki Bango Lamatan yang pernah menebarkan sirep di kediaman Ki Gede Menoreh beberapa waktu yang lalu telah berkata dalam hati, “Aku belum pernah mempelajari sirep jenis ini. Aku lebih senang menebarkan sirep yang langsung dapat membuat orang jatuh pingsan sehingga apa yang menjadi tujuan kita segera dapat tercapai,” Ki bango Lamatan berhenti berangan-angan sejenak. Kemudian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Ki Bango Lamatan pun meneruskan angan-angannya, “Namun dengan demikian jika ada seseorang yang mempunyai kemampuan mumpuni akan segera menyadari bahwa seseorang sedang menebarkan sirep.”

Tak terasa langkah-langkah mereka telah semakin jauh meninggalkan banjar Padukuhan Klangon.

Dalam pada itu, ketika ayam jantan telah berkokok untuk terakhir kalinya, banjar padukuhan itu benar-benar telah terkepung rapat dari segala penjuru. Tidak ada sejengkal tanah pun yang luput dari pengamatan murid-murid Padepokan Sapta Dhahana. Namun mereka belum menyadari bahwa buruan mereka telah lolos beberapa saat yang lalu.

Ketika kepungan itu semakin merapat dan mulai mendekati regol banjar, mereka pun mulai melihat sebuah keanehan. Tidak tampak seorang penjaga pun yang sedang berdiri di depan regol.

“He? Kemana perginya para penjaga itu?” geram Putut Jangkung yang memimpin pengepungan itu.

“Apakah mereka belum menyadari akan kehadiran kita?” bertanya kawannya yang bertubuh gemuk dan pendek, “Bukankah kita juga telah mengirimkan para cantrik untuk membantu Ki Dukuh?”

Putut Jangkung tidak menjawab. Sejenak dipicingkan kedua matanya untuk mempertajam penglihatannya. Jarak mereka dengan regol banjar itu hanya tinggal beberapa tombak saja, namun Putut Jangkung masih belum melihat seorang penjaga pun yang berdiri di sebelah menyebelah regol.

“Mereka tentu telah tertidur nyenyak di bawah selimut kain panjang mereka!” geram Putut Jangkung. Kemudian katanya kepada orang yang di sebelahnya, “Putut Pendek, ajak tiga cantrik untuk menemanimu melihat keadaan regol terlebih dahulu.”

“Baik kakang,” jawab Putut Pendek sambil memberi isyarat tiga orang cantrik di dekatnya untuk mengawaninya.

Tanpa meninggalkan kewaspadaan, keempat orang itu pun kemudian segera berjalan mengendap-endap mendekati regol. Masing-masing telah menggenggam tangkai senjata mereka dan setiap saat siap untuk dihunus.

“Sepi,” desis Putut Pendek begitu mereka telah semakin dekat dengan regol.

Salah satu cantrik dengan memberanikan diri telah meloncat ke samping regol. Dengan sangat hati-hati dia mencoba menjengukkan kepalanya ke dalam.

Apa yang dilihatnya kemudian benar-benar telah membuat cantrik itu mengumpat-umpat tak ada habis-habisnya. Di sebelah regol bagian dalam memang ada gardu penjagaan tempat para penjaga regol untuk sekedar melepas lelah. Namun gardu penjagaan itu kini telah dipenuhi oleh para cantrik dan pengawal Padukuhan Klangon yang sedang bertugas malam itu. Mereka terlihat tertidur dengan nyenyak. Ada yang tidur silang melintang di lantai gardu, namun ada juga yang tertidur hanya dengan bersandaran dinding.

Putut Pendek yang melihat cantrik itu justru segera melangkah dengan tergesa-gesa. Namun sebagaimana cantrik itu, Putut Pendek pun telah mengumpat dengan umpatan yang sangat kotor begitu mendapatkan para cantrik dan pengawal yang bertugas menjaga regol justru telah tertidur nyenyak.

“Orang-orang yang tak tahu diri!” geram Putut Pendek kemudian sambil menendang salah satu cantrik yang tertidur sambil bersandaran dinding.

Tentu saja cantrik itu terkejut bukan alang-kapalang merasakan sesuatu telah menghantam pinggulnya dengan keras.

“He?!” teriak cantrik itu sambil terlonjak dari duduknya. Dengan cepat dia segera melenting berdiri.

Namun cantrik itu justru telah membeku begitu menyadari siapa yang sedang berdiri di hadapannya dengan wajah merah padam, Putut Pendek dari perguruan Sapta Dhahana.

“Apa kerja kalian, he?!” terdengar Putu Pendek itu membentuk dengan suara menggelegar. Sementara para cantrik dan pengawal yang lainnya segera tersadar dari tidur nyenyak mereka begitu mendengar suara ribut-ribut.

Dalam pada itu Putut Jangkung yang mendengar suara ribut-ribut di regol segera melangkah mendekat. Yang dilihatnya kemudian adalah para cantrik dan pengawal Padukuhan Klangon yang berdiri dengan kebingungan sementara Putut Pendek telah membentak-bentak mereka tak henti-hentinya.

“Sudahlah, Pendek,” berkata Putut Jangkung kemudian sambil melangkah semakin dekat, “Tentu ada alasannya mengapa mereka telah meninggalkan tugas dan lebih memilih tidur di dalam gardu.”

Putut Pendek menarik nafas panjang untuk meredakan gejolak di dalam dadanya. Katanya kemudian sambil berpaling ke arah Putut Jangkung, “Kakang, tidak ada ampun bagi mereka yang telah melalaikan tugas. Setiap kesalahan harus mendapatkan hukuman yang setimpal, terutama para cantrik padepokan Sapta Dhahana.

Sedang para pengawal Padukuhan Klangon akan kita laporkan kepada Ki Dukuh.”

Putut Jangkung mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya kemudian, “Aku setuju dengan alasanmu itu. Namun kita juga tidak boleh menutup mata sebab musabab yang telah membuat mereka lalai dalam menunaikan tugas.”

“Maaf Kakang Jangkung,” tiba-tiba salah satu cantrik memberanikan diri maju selangkah ke depan, “Kami memang mengakui kesalahan kami. Namun apa yang telah terjadi ini benar-benar diluar kuasa kami. Kami merasakan udara tadi malam memang terasa sangat sejuk. Entah awalnya dari mana, tahu-tahu kami telah dikuasai oleh kantuk yang perlahan–lahan mulai menyergap dan membelenggu kami sejak saat sirep bocah tadi.”

Putut Pendek akan menanggapi kata-kata cantrik itu, namun dengan cepat Putut Jangkung memberi isyarat untuk berdiam diri. Berkata Putut Jangkung kemudian, “Mungkin kalian telah terpengaruh oleh sirep atau sejenisnya yang dapat membuat kalian terserang kantuk tak tertahankan,” Putut Jangkung berhenti sebentar. Lanjutnya kemudian, “Sebelum Matahari terbenam sore tadi, memang Raden Wirasena telah menerima laporan akan kedatangan orang asing di Padukuhan Klangon ini. Untuk itulah Raden Wirasena telah meminta bantuan Guru agar mengutus beberapa murid padepokan Sapta Dhahana untuk menghubungi dan membantu Ki Dukuh. Ternyata Ki Dukuh pun telah menyanggupi dan menyiapkan para pengawal Dukuh Klangon untuk berjaga-jaga bersama para cantrik di banjar padukuhan. Ternyata kalian di sini hanya pindah tidur saja.”

Para cantrik dan pengawal dukuh Klangon itu semakin menundukkan kepala mereka. Entah apa jawab mereka nantinya jika Ki Dukuh menanyakan hal itu.

“Sudahlah,” tiba-tiba Ki Brukut yang telah berada di samping Putut Jangkung menyela, “Yang terpenting sekarang ini adalah keberadaan orang-orang asing itu. Apakah mereka masih berada di dalam banjar?”

Bagaikan disambar halilintar di siang bolong, serentak Putut Jangkung dan Putut Pendek segera meloncat dan berlari menuju ke dalam banjar.

Setelah melewati pendapa yang tidak begitu luas, dengan tergesa-gesa keduanya telah mendorong pintu pringgitan dengan kasar. Ketika keduanya kemudian telah sampai di ruang dalam, yang mereka jumpai hanyalah selembar tikar usang yang terhampar di tengah-tengah ruangan.

“Setan gendruwo, tetekan!” geram Putut Jangkung sambil berjalan mengitari ruangan. Tiba-tiba pandangan matanya tertumbuk pada sebuah lobang yang tidak seberapa besar yang terdapat di pojok ruangan.

“Lubang ini terlihat masih baru,” desis Putut Jangkung sambil meraba sudut dinding kayu itu, “Seseorang dengan sengaja telah membuat lubang ini dengan suatu tujuan.”

Sedang Putut Pendek dan Ki Brukut yang datang kemudian ternyata lebih memilih menelusuri dapur untuk kemudian lewat pintu butulan ke halaman belakang.

Ternyata di halaman belakang pun kedua orang itu juga dikejutkan oleh para pengawal padukuhan yang terlihat sedang tidur silang melintang di teritisan.

“Sirep,” hampir bersamaan kedua orang itu berdesis.

“Siapakah yang telah menebarkan sirep ini?” tiba-tiba Putut Pendek mengajukan sebuah pertanyaan.

Sejenak Ki Brukut termenung. Jawabnya kemudian, “Tidak menutup kemungkinan orang-orang asing itulah yang telah menebarkan sirep dalam usaha mereka untuk meloloskan diri.”

“Tapi menurut cerita para cantrik dan pengawal yang berjaga di regol depan tadi, mereka merasa di serang kantuk mulai saat sirep bocah,” sela Putut Pendek.

“Entahlah,” akhirnya Ki Brukut menggeleng lemah, “Namun yang jelas kelima orang itu telah pergi dan kita harus memberi jawaban kepada Raden Wirasena dan Kiai Damar Sasangka.”

Berdesir dada Putut Pendek. Jika mereka para cantrik perguruan Sapta Dhahana itu tidak mampu menunaikan tugas karena kelalaian atau ketidak-mampuan mereka, tentu tidak segan-segan guru mereka, Kiai Damar Sasangka, akan memberikan hukuman.

“Sebaiknya kita segera mengirim isyarat,” berkata Putut Pendek kemudian sambil melangkah kembali memasuki bangunan induk banjar.

“Sebaiknya memang demikian,” sahut Ki Brukut sambil mengikuti langkah Putut Pendek, “Dengan demikian Raden Wirasena segera dapat mengambil tindakan dan langkah-langkah berikutnya.”

Ternyata di halaman belakang pun kedua orang itu juga dikejutkan oleh para pengawal padukuhan yang terlihat sedang tidur silang melintang di teritisan.
“Sirep,” hampir bersamaan kedua orang itu berdesis.

bersambung ke bagian 2