STSD-04

kembali ke STSD-03 | lanjut ke STSD-05

Bagian 1

SELESAI berkata demikian, dengan langkah satu-satu Raden Surengpati pun kemudian melangkah semakin dekat. Sementara Ratri benar-benar bagaikan melihat seekor serigala lapar dengan sepasang mata merah menyala serta gigi-gigi runcing menyeringai mengerikan.

Ada sebersit penyesalan yang menyelinap di dalam hati anak perempuan satu-satunya Ki Gede Matesih itu. Jika dia sedikit bersabar menunggu kedatangan mbok Pariyem, mungkin Raden Surengpati akan bersikap lain.

“Raden,” berkata Ratri kemudian mencoba untuk mengalihkan perhatian Raden Surengpati, “Menurut berita yang aku dengar, kelima orang yang bermalam di banjar padukuhan Klangon itu telah lolos.”

“Persetan dengan segala macam tetek bengek itu!” geram Raden Surengpati, “Aku sudah tidak peduli lagi kepada mereka. Yang ada sekarang ini adalah antara engkau dan aku!”

Selesai berkata demikian, Raden Surengpati maju selangkah lebih dekat. Penalarannya benar-benar telah gelap. Di dalam benaknya hanya ada satu keinginan, menguasai Ratri dengan sepenuhnya kalau perlu dengan paksaan.

Namun putri Matesih itu belum menyerah. Dengan menguatkan hatinya, Ratri pun akhirnya berkata dengan nada sedikit memelas, “Raden, kasihanilah aku. Aku harus cepat kembali, dan Raden pun tentu mempunyai kepentingan lain yang tidak dapat ditunda -tunda. Ijinkanlah aku pergi, Raden.”

Suara Ratri yang terdengar memelas itu di telinga Raden Surengpati bagaikan sebuah rengekan manja dari seorang gadis yang haus akan cinta. Darah di sekujur tubuhnya pun bagaikan mendidih dan kemudian menggelegak menelusuri segenap urat-urat nadinya.

“Ratri,” terdengar suara Raden Surengpati yang bergetar hebat menahan gejolak yang sudah menghanguskan jantungnya, “Engkau begitu cantik dan menawan. Aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk menikmati tubuhmu sejengkal demi sejengkal. Percayalah, aku tidak akan menyakitimu walau hanya seujung rambutmu. Engkau akan kubawa ke alam keindahan dan kenikmatan yang belum pernah terbayangkan dalam seumur hidupmu.”

Mulut Ratri benar-benar sudah terkunci, tidak mampu lagi untuk berkata-kata maupun berteriak. Kengerian yang sangat telah menjalar ke sekujur tubuhnya sehingga tubuhnya telah kaku seperti sebuah tonggak kayu. Bahkan hanya untuk menggerakkan ujung ibu jari kakinya pun dia sudah tidak mampu lagi.

Ketika salah satu tangan Raden Surengpati yang kekar itu kemudian merengkuh pundaknya, hanya terdengar sebuah jeritan kecil dari mulutnya yang mungil. Sejenak kemudian segalanya terlihat gelap dalam rongga matanya dan Ratri pun jatuh pingsan dalam pelukan Raden Surengpati.

Melihat mangsanya ternyata telah jatuh pingsan, Raden Surengpati pun bagaikan menjadi kalap. Dengan kedua tangan yang gemetar menahan nafsu yang bergejolak, dicobanya untuk membuka pakaian bagian atas putri Matesih itu.

Namun belum sempat dia melakukannya, tiba-tiba telinganya mendengar suara seseorang bergumam tidak seberapa jauh di depannya.

Ketika Raden Surengpati kemudian mengangkat wajahnya, tampak seorang anak muda dengan wajah yang merah padam berdiri beberapa langkah saja di hadapannya dengan kaki renggang dan kedua tangan bersilang di depan dada.

“Iblis!” geram Raden Surengpati kemudian sambil menurunkan tubuh Ratri perlahan-lahan dan kemudian membaringkannya di atas t anah. Sambil maju dua langkah, Raden Surengpati pun kemudian membentak keras, “Siapa yang berani mengganggu kesenangan Raden Surengpati, he?!”

Namun Raden Surengpati menjadi heran sendiri. Pemuda yang berdiri di hadapannya itu tidak menampakkan rasa gentar sedikit pun mendengar dia menyebut nama serta gelar kebangsawanannya. Bahkan sambil mengurai kedua tangannya yang bersilang di depan dada, tangan kanan Pemuda itu justru telah menunjuk ke arah wajahnya sambil membentak tak kalah kerasnya, “Surengpati, namamu yang selama ini menghantui Perdikan Matesih akan berakhir hari ini. Sebelum Matahari terbenam di langit sebelah barat, aku jamin mayatmu akan terbujur di pategalan ini sebagai tumbal tanah Perdikan Matesih untuk menemukan masa depannya kembali.”

“Tutup mulutmu! ” bentak Raden Surengpati kemudian dengan wajah membara, “Sebut namamu sebelum aku membunuhmu! ”

Pemuda itu melangkah setapak ke depan. Sambil membusungkan dada, dia pun kemudian berteriak lantang, “Dengarkan baik-baik. Aku Glagah Putih dari Prambanan yang akan mengakhiri petualanganmu hari ini.”

Belum sempat Glagah Putih menutup mulutnya dengan sempurna, terpaan angin yang keras terasa mendahului serangan Raden Surengpati yang telah meluncur dengan deras menyambar dagunya.

Namun Glagah Putih bukanlah anak kemarin sore yang baru saja berlatih loncat-loncatan dalam olah kanuragan. Dengan tangkasnya dia bergeser selangkah ke samping kiri. Kemudian dengan bertumpu pada tumit salah satu kakinya, kaki yang lainnya berputar menyambar lambung lawannya yang terbuka.

Raden Surengpati yang menyadari sambaran kaki lawannya mengarah ke lambung segera menggeliat. Tumit Glagah Putih pun lewat hanya sejengkal dari lambungnya.

Demikian lah sejenak kemudian kedua orang itu segera bertempur dengan sengitnya. Kedua-duanya masih muda dan berdarah panas, sehingga keduanya segera saja telah merambah pada tingkat ilmu mereka yang semakin tinggi.

Dalam pada itu, Ki Jayaraga dan Ki Bango Lamatan diam-diam menjadi semakin berdebar-debar melihat tandang Glagah Putih. Dari tempat persembunyian mereka, terlihat Glagah Putih bertempur dengan segenap tenaga dan terlihat sedikit menuruti gejolak dalam dadanya.

“Ki Jayaraga, mengapa Glagah Putih terlihat begitu bernafsu untuk segera menjatuhkan lawannya?” bisik Ki Bango Lamatan kepada Ki Jayaraga yang berada di sampingnya.

Ki Jayaraga tersenyum sambil menggeleng. Jawabnya kemudian, “Aku tidak tahu. Mungkin terdorong kemarahan yang membakar jantungnya melihat putri satu-satu Ki Gede Matesih itu dalam bahaya.”

Ki Bango Lamatan mengerutkan keningnya mendengar jawaban Ki Jayaraga. Katanya kemudian, “Seharusnya Glagah Putih mengekang diri. Jika terjadi kesalahan tangan sehingga Raden Surengpati terbunuh, apakah tidak akan membahayakan para kawula tanah Perdikan Matesih ini?”

“Maksud Ki Bango Lamatan, Raden Wirasena sebagai saudara kandung Raden Surengpati pasti akan membalas dendam?”

“Benar, Ki,” jawab Ki Bango Lamatan, “Dan tidak menutup kemungkinan Raden Wirasena akan meminta bantuan perguruan Sapta Dhahana untuk membuat Perdikan Matesih menjadi karang abang.”

Sekarang giliran Ki Jayaraga yang mengerutkan keningnya. Namun sambil tertawa lirih Ki Jayaraga pun kemudian berkata, “Jika memang itu yang kemudian terjadi, sekali lagi kita harus menyembunyikan mayatnya agar untuk sementara orang-orang pengikut Trah Sekar Seda Lepen itu tidak mengetahuinya.”

Ki Bango Lamatan hanya dapat menarik nafas dalam-dalam mendengar jawaban Ki Jayaraga. Pandangan matanya kembali melihat ke arah medan pertempuran kedua anak muda itu yang semakin lama semakin sengit.

Lingkaran perkelahian itu semakin lama semakin menjauhi tempat Ratri tergeletak tak sadarkan diri. Agaknya kedua anak muda itu pun menyadari bahaya dari akibat yang dapat ditimbulkan dari benturan ilmu mereka jika Ratri masih berada di dekat mereka.

Demikianlah kedua anak muda itu benar-benar sudah tidak dapat mengekang diri lagi. Semakin lama mereka semakin merambah pada tingkat ilmu yang semakin tinggi. Tanah tempat mereka berpijak telah hancur bagaikan sehabis dibajak berpuluh ekor lembu. Sementara gerumbul-gerumbul dan batang-batang perdu telah hancur lumat diterjang oleh sambaran ilmu mereka.

Ketika pada suatu kesempatan serangan Glagah Putih tidak dapat dihindarkan lagi, maka Raden Surengpati telah menyilangkan kedua tangannya di depan dada menghadang tumit lawannya yang meluncur mengarah dada.

Sejenak kemudian terjadilah benturan yang tak terhindarkan. Kedua-duanya terkejut mendapati kekuatan lawannya. Ternyata kedua anak muda itu telah terlempar beberapa langkah ke belakang sebelum akhirnya mereka jatuh bergulingan di atas tanah. Namun dengan cepat keduanya pun segera melenting berdiri.

Untuk beberapa saat mereka masing-masing saling menilai kekuatan lawannya. Raden Surengpati yang merasakan kekuatan terjangan lawannya itu bagaikan menghentak dadanya telah menarik nafas dalam-dalam sekedar untuk melonggarkan jalan pernafasannya yang tiba-tiba saja bagaikan tersumbat.

Sedangkan Glagah Putih ternyata telah berbuat serupa. Serangannya bagaikan membentur dinding baja setebal satu jengkal. Akibatnya, kekuatan yang tertumpu pada tumitnya itu telah membalik dan rasa-rasanya tulang tumitnya telah retak serta lututnya bagaikan terlepas dari persendian.

“Ternyata nama Raden Surengpati ini bukan omong kosong,” berkata Glagah Putih dalam hati, “Pantas saja Ki Gede Matesih tidak mempunyai nyali untuk menentangnya. Mungkin dia telah membuat sebuah pengeram-eram di Perdikan Matesih ini sehingga semua orang mengetahui tingkat ilmunya dan menjadi ketakutan karenanya.”

“Anak Muda,” tiba-tiba terdengar suara Raden Surengpati lantang memecah kesunyian, “Menurut laporan yang aku terima, salah seorang dari para perantau yang menginap di banjar padukuhan Klangon itu berusia masih muda. Menilik pengakuanmu tadi yang berasal dari Prambanan, apakah engkau adalah salah satu dari para perantau itu?”

“Engkau benar,” jawab Glagah Putih dengan serta merta, “Setelah engkau mengetahui aku adalah salah satu dari kelima perantau itu, apa katamu sekarang?”

Seketika wajah Raden Surengpati menjadi sedikit pucat. Tanpa sadar dia segera mengedarkan pandangan mata ke sekelilingnya.

“Siapa yang sedang engkau cari, Raden Surengpati?” bertanya Glagah Putih kemudian dengan nada sedikit mengejek begitu melihat pandangan mata lawannya tampak seperti sedang mencari seseorang di sekitar tempat itu, “Akulah lawanmu dan aku masih berdiri tegak di hadapanmu. Engkau tidak usah menjadi yang lainnya.”

“Gila!” umpat Raden Surengpati dalam hati. Segera saja jantung Raden Surengpati bergetar dahsyat. Tidak menutup kemungkinan Ki Rangga Agung Sedayu beserta yang lainnya berada di sekitar tempat itu dan sedang mengawasi mereka berdua.

“Eyang Guru saja menghindari pertemuan dengan Ki Rangga,” berkata Raden Surengpati dalam hati dengan jantung yang berdebaran, “Apalagi aku. Tentu dengan sangat mudahnya Ki Rangga akan membunuhku, tidak perlu dengan menggunakan ujud semunya yang nggegirisi itu. Atau mereka memang sengaja memberikan pendadaran dan pengalaman kepada anak muda ini. Setelah itu mereka akan menangkapku dan kemudian menyanderaku untuk memberikan tekanan kepada Kakanda Wirasena agar menyerah.”

Berpikir sampai disitu, Raden Surengpati tiba-tiba saja telah memutuskan untuk segera menghindar dari tempat itu secepat-cepatnya, sebelum semuanya terlambat.

Demikianlah akhirnya, sebelum Glagah Putih menyadari apa yang akan diperbuat oleh lawannya, tiba-tiba saja Raden Surengpati telah mengambil sikap. Diangkatnya tangan kanannya tinggi-tinggi dengan telapak tangan terbuka ke atas, sementara tangan kirinya mengepal sejajar lambung. Disertai dengan suara teriakan menggelegar, Raden Surengpati pun kemudian meloncat sambil tangan kanannya diputar di atas kepala.

Akibatnya benar-benar diluar dugaan. Sebuah pusaran angin tiba-tiba saja telah tercipta di sekeliling Raden Surengpati. Dengan mengerahkan segenap kemampuannya, pusaran badai itu pun kemudian berputar dahsyat dan menyambar Glagah Putih.

Glagah Putih yang tidak menyadari lawannya telah menghentakkan ilmu puncaknya menjadi terkejut. Dengan cepat dia melenting ke belakang beberapa langkah. Dalam sekejap Glagah Putih pun telah siap dengan ajinya yang nggegirisi, aji sigar bumi.

Namun alangkah terkejutnya Glagah Putih. Ternyata Raden Surengpati itu tidak bermaksud untuk benar-benar menyerang ke arahnya. Namun pusaran angin badai itu telah menghantam tanah yang berjarak selangkah dari tempatnya berdiri tadi. Akibatnya tanah dan debu serta daun-daun kering berhamburan ke udara. Dalam sekejap pandangan mata Glagah Putih menjadi terhalang oleh debu dan daun-daun kering yang berhamburan. Glagah Putih pun harus kembali meloncat ke belakang untuk mengambil jarak.

Kesempatan itu ternyata tidak disia-siakan oleh Raden Surengpati. Dengan beberapa kali lompatan panjang, adik dari orang yang mengaku Trah Sekar Seda Lepen itupun telah berhasil menyingkir dari tempat itu.

Dalam pada itu, Ki Jayaraga dan Ki Bango Lamatan yang sedang bersembunyi di balik pohon-pohon perdu itu terkejut begitu menyadari lawan Glagah Putih telah melarikan diri. Jarak kedua orang tua itu dengan Raden Surengpati cukup jauh sehingga tidak memungkinkan bagi mereka untuk mencegah atau pun melakukan pengejaran.

Sedangkan Glagah Putih yang menyadari lawannya ternyata telah melarikan diri, segera melompat ke depan untuk mengadakan pengejaran. Namun baru saja kakinya akan melangkah lagi, tiba-tiba saja Ratri yang sedang tergolek pingsan itu terdengar mengeluh pendek.

Hampir saja Glagah Putih meloncat mendekat jika saja Ki Jayaraga tidak melontarkan isyarat kearahnya.

Sejenak Glagah Putih berpaling. Ketika dilihat gurunya itu melambaikan tangan, Glagah Putih pun segera maklum bahwa dirinya harus cepat-cepat bersembunyi kembali sebelum Ratri menyadari keadaannya.

Demikianlah, perlahan-lahan kesadaran telah memasuki benak Ratri seiring dengan semilir angin pategalan yang membelai wajahnya. Ketika kedua mata putri Matesih itu kemudian mulai terbuka, segala sesuatunya memang masih terlihat remang-remang. Setelah mengerjap-kerjapkan kelopak matanya berkali-kali, barulah Ratri bisa melihat keadaan di sekelilingnya dengan jelas.

“Dimanakah aku? Apa yang telah terjadi pada diriku?” pertanyaan itulah yang pertama-tama melonjak dalam hatinya. Dengan bertelekan pada kedua sikunya, Ratri pun kemudian mencoba untuk duduk.

Perlahan-lahan ingatan Ratri pun mulai pulih kembali. Ketika disadari dirinya disaat-saat terakhir sebelum jatuh pingsan berada dalam pelukan Raden Surengpati, tiba-tiba saja gadis itu telah memekik kecil sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tangis Ratri pun tiba-tiba saja telah meledak sejadi-jadinya.

Hampir saja Glagah Putih meloncat dari persembunyiannya kalau saja Ki Jayaraga tidak segera menekan pundaknya.

“Engkau mau kemana Glagah Putih?” bertanya gurunya dengan setengah berbisik.

“Guru,” jawab Glagah Putih sambil berpaling kearah Gurunya, “Kasihan Gadis itu. Kita harus memberitahukan kepadanya bahwa segala sesuatu yang dikhawatirkan itu belum terjadi. Dia masih utuh dan tidak kurang suatu apapun.”

“O, maksudmu, engkau akan menunjukkan kepada gadis itu bahwa dia masih utuh dan belum ternoda. Bagaimana caranya?” sela Ki Jayaraga kemudian.

Sejenak Glagah Putih menjadi bingung. Tanpa sadar dia berpaling ke arah Ki Bango Lamatan. Namun ternyata Ki Bango Lamatan justru telah tersenyum ke arahnya.

“Gila!” geram Glagah Putih dalam hati. Ternyata setelah bergaul beberapa saat lamanya, Ki Bango Lamatan yang pendiam itu mulai terbiasa dengan kebiasaan mereka, bercanda dan menggoda.

“Sudahlah Glagah Putih,” berkata Ki Jayaraga kemudian sambil menepuk pundak muridnya, “Dia akan mengetahui dengan sendirinya. Sebaiknya kita tunggu saja sampai dia menyadari keadaannya dan pergi dari tempat ini dengan aman dan selamat.”

Apa yang dikatakan oleh Ki Jayaraga itu ternyata benar. Perlahan-lahan tangis Ratri pun mulai mereda. Sejenak gadis itu masih termangu-mangu di tempat duduknya. Beberapa kali dia menarik nafas dalam-dalam sambil mengamati pakaian di sekujur tubuhnya. Tidak ada yang robek maupun yang terlepas, semuanya terlihat masih rapi dan utuh di tempatnya.

Ratri kembali menarik nafas panjang, panjang sekali. Seolah-olah ingin dihirupnya udara di pinggir parit yang jernih itu untuk memenuhi rongga dadanya.

“Mungkin Raden Surengpati telah berbelas kasihan begitu melihat aku jatuh pingsan,” berkata Ratri kemudian dalam hati sambil bangkit berdiri, “Aku tidak percaya jika Raden Surengpati akan tega berbuat itu kepadaku. Dia begitu lembut dan penuh pengertian kepadaku. Semoga saja dugaanku ini benar.”

Setelah mengibas-kibaskan debu yang melekat di beberapa tempat di tubuhnya, serta rumput-rumput yang mengotori rambutnya, putri Ki Gede Matesih itu pun dengan langkah yang masih gemetar segera meninggalkan tempat itu.

Ketika tanpa sadar Ratri kemudian berpaling kearah tempat bekas pertempuran Raden Surengpati dan Glagah Putih, sejenak kening gadis itu pun menjadi berkerut-merut. Seingatnya tempat itu tadi terlihat hijau dan sejuk. Namun sekarang tanahnya bagaikan baru saja dibajak. Gerumbul-gerumbul perdu tercerabut dari akarnya dan berserakan bagaikan baru saja tersapu oleh badai.

Namun gadis itu tidak dapat menemukan jawabannya. Setelah menggeleng lemah sambil menarik nafas panjang, Ratri pun kemudian meneruskan langkahnya.

Sepeninggal Ratri, ketiga orang itu pun kemudian segera keluar dari tempat persembunyian mereka. Ketika kedua orang tua itu mulai melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu, tampak Glagah Putih masih berdiri termangu-mangu. Pandangan matanya masih tertuju ke arah menghilangnya Ratri di balik pohon-pohon dan gerumbul yang tumbuh lebat di pategalan itu.

Tanpa sadar kedua orang tua itu saling berpandangan sejenak. Ki Jayaraga lah yang kemudian bertanya, “Ada apa lagi Glagah Putih? Apakah engkau mendapat firasat lagi atau engkau mempunyai perhitungan yang lain tentang gadis itu?”

Sejenak Glagah Putih masih termangu-mangu. Namun kemudian sambil menggelengkan kepalanya, dia segera melangkahkan kakinya menyusul kedua orang tua itu.

Dalam pada itu, Ki Rangga dan Ki Waskita yang menyusuri daerah Perdikan Matesih dari arah timur hampir tidak menjumpai rintangan apapun. Daerah tanah Perdikan Matesih sebelah timur memang masih berupa hutan belukar yang pepat. Memang ada beberapa bagian yang tampak sudah mulai dijamah oleh tangan-tangan manusia. Mungkin mereka mencari beberapa hasil hutan yang dapat dipergunakan untuk suatu keperluan, atau bahkan tidak menutup kemungkinan hasil hutan itu dapat mereka pergunakan sebagai mata pencaharian mereka sehari-hari.

“Hutan ini sangat luas,” berkata Ki Waskita yang berjalan di sebelah Ki Rangga, “Sebenarnya para penghuni padukuhan yang terdekat dapat memanfaatkan sebagian hutan ini untuk pategalan atau persawahan.”

“Ya, Ki,” jawab Ki Rangga sambil mengamat-amati sebuah pohon raksasa yang tumbuh menjulang tinggi, “Pohon ini sepertinya sudah berusia ratusan tahun, menilik ujudnya yang sudah sedemikian besarnya.”

“Ya, ngger,” sahut ki Waskita sambil ikut mengamat -amati pohon besar itu. Mungkin tiga pelukan orang dewasa belum cukup untuk melingkari pohon itu.

Namun tiba-tiba saja pandangan mata Ki Rangga menangkap gurat -gurat aneh di sebagian kulit pohon raksasa itu.

“Ki Waskita,” berkata Ki Rangga kemudian sambil meraba guratan-guratan itu yang terlihat samar, “Apakah Ki Waskita dapat melihat guratan-guratan ini?”

Ki Waskita menjadi tertarik. Dengan segera dia ikut meraba guratan-guratan yang ditunjukkan oleh Ki Rangga.

“Menilik bekasnya, guratan-guratan ini sepertinya baru saja dibuat,” berkata Ki Rangga kemudian.

“Ya, ngger dan sepertinya guratan-guratan ini mengandung sebuah makna atau isyarat.” berkata Ki Waskita kemudian sambil tetap mengamat-amati guratan-guratan itu.

“Aku juga beranggapan demikian, Ki Waskita,” jawab Ki Rangga. Dicobanya untuk melihat guratan-guratan itu pada sisi yang lain dari pohon raksasa itu. Namun ternyata tidak diketemukan lagi.

“Aneh,” berkata Ki Rangga pada akhirnya, “Kelihatannya seseorang dengan sengaja telah membuat guratan-guratan ini.”

“Ya ngger,” sahut Ki Waskita sambil melangkah mundur satu langkah. Tiba-tiba saja dia melihat seolah-olah guratan-guratan itu justru telah menjadi semakin jelas.

“He?!” seru Ki Waskita kemudian, “Lihatlah ngger! Guratan-guratan itu justru dapat terbaca dari tempat ini!”

Mendengar seruan Ki Waskita, Ki Rangga segera melangkah mendekati tempat Ki Waskita berdiri. Dengan jantung berdebaran Ki Rangga pun mulai mencoba membaca guratan-guratan itu dari samping Ki Waskita .

Sambil mengerutkan keningnya dalam-dalam, Ki Rangga pun mulai mencoba merangkai guratan-guratan itu menjadi susunan kata..

“Begawan Cipta Hening,” desis Ki Rangga perlahan membaca guratan yang tertulis di kulit pohon raksasa itu.

“Begawan Cipta Hening? Apa maksudnya?” bertanya Ki Rangga kemudian seolah-olah ditujukan kepada dirinya sendiri.

Ki Waskita ikut mengerutkan keningnya. Sebagai angkatan tua tentu saja dia pernah mendengar nama itu. Nama yang pernah terdengar namun mirip dengan nama-nama para tokoh dalam dongeng dan cerita dalam pewayangan.

“Dan apakah tulisan dibawahnya itu, ngger?” bertanya Ki Waskita kemudian begitu melihat Ki Rangga tampak sedikit membungkuk untuk membaca guratan yang lain.

“Gunung Tidar,” desis Ki Rangga perlahan

“Gunung Tidar?” tanpa sadar Ki Waskita mengulang sambil kembali mengerutkan keningnya dalam-dalam.

“Mungkin maksudnya ada seseorang yang bergelar Begawan Cipta Hening dan tinggal di gunung Tidar,” berkata Ki Rangga kemudian sambil tersenyum.

“Ah,” Ki Waskita tertawa pendek, “Mungkin saja tebakan teka-teki itu sedemikian mudahnya, ngger. Namun tujuan orang itu menulis di pohon raksasa ini yang masih belum kita ketahui.”

Sejenak Ki Rangga merenung. Katanya kemudian, “Ki Waskita, apakah Ki Waskita mengenal atau setidaknya pernah mendengar orang yang bergelar Begawan Cipta Hening itu?”

Untuk beberapa saat Ki Waskita tampak sedang mengumpulkan ingatannya. Sambil menarik nafas panjang, akhirnya Ki Waskita pun menjawab, “Ngger, nama Begawan Cipta Hening itu seperti dongeng saja. Namun sepanjang pengetahuanku, orang yang bergelar Begawan Cipta Hening itu seorang Pertapa yang sangat sakti. Beliau selalu berpindah-pindah tempat untuk bertapa. Aku tidak pernah mendengar sang Pertapa itu terlibat akan urusan dunia. Hampir tidak pernah ada seorang pun yang pernah berjumpa dengan Pertapa itu. Orang mendengar namanya hanya dari ceritanya saja, selebihnya tidak ada yang tahu.”

Ki Rangga termenung. Semasa gurunya masih hidup dulu, dia juga sering mendapat cerita tentang orang-orang sakti pada jaman dahulu dengan berbagai jenis ilmunya yang aneh-aneh dan nggegirisi. Namun gurunya tidak pernah menyebut nama Begawan Cipta Hening itu.

“Jadi, apakah kesimpulan kita sehubungan dengan guratan-guratan aneh itu, Ki?” bertanya Ki Rangga kemudian.

Sejenak Ki Waskita termenung. Namun akhirnya ayah Rudita itu menjawab sambil tersenyum, “Ngger, mungkin jawaban yang sangat mudah dan sederhana adalah, orang yang bergelar Begawan Cipta Hening itu sekarang ini sedang bertapa di Gunung Tidar.”

“Ah,” Ki Rangga tertawa pendek. Namun tiba-tiba terasa jantung Ki Rangga berdebar keras. Maka katanya kemudian, “Ki Waskita, tidak menutup kemungkinan orang yang bergelar Begawan Cipta Hening itu telah bergabung dengan perguruan Sapta Dhahana di Gunung Tidar dan mendukung gerakan Trah Sekar Seda Lepen.”

“He?” Ki Waskita justru telah terlonjak kaget. Dengan cepat dia segera memberi tanggapan, “Ngger, jika memang benar dugaan itu bahwa Begawan Cipta Hening telah bergabung dengan Trah Sekar Seda Lepen, kita benar-benar akan menghadapi kekuatan yang tiada taranya.”

“Benar Ki,” jawab Ki Rangga sambil menarik nafas panjang untuk menguasai debar di dalam dadanya, “Kita harus memperhitungkan kekuatan mereka dengan cermat. Malam ini sebaiknya kita mengadakan penyelidikan ke tempat mereka berkumpul di perguruan Sapta Dhahana.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Yang masih menjadi pertanyaan dan sampai sekarang belum terjawab, adalah siapakah sebenarnya orang yang selama ini secara tersamar telah membantu kita?”

Untuk beberapa saat Ki Rangga termenung. Ingatannya kembali ke peristiwa dini hari tadi. Mereka dapat lolos dari pengepungan para murid Sapta Dhahana juga atas jasa seseorang yang tidak dikenal.

“Orang itu tidak mau membantu dengan semata-mata. Namun dengan membawa Ki Jayaraga dan kawan-kawannya ke tepi kali Praga secara tidak langsung telah menunjukkan kegiatan yang sedang dilakukan oleh murid-murid perguruan itu.,” berkata Ki Rangga dalam hati.

“Kali ini pun aku yakin, orang itu juga yang telah memperingatkan akan kehadiran orang yang bergelar Begawan Cipta Hening itu di gunung Tidar,” kembali Ki Rangga berangan-angan, “Setiap kekuatan harus dihitung dengan cermat.”

“Marilah, ngger,” berkata Ki Waskita kemudian membangunkan Ki Rangga dari lamunannya, “Matahari sudah tergelincir ke barat. Sebaiknya kita segera meneruskan perjalanan.”

Ki Rangga tidak menjawab. Hanya kepalanya saja yang tampak terangguk-angguk.

Demikianlah kedua orang itu pun segera melanjutkan perjalanan menembus hutan yang masih pepat menuju ke gunung Tidar dari arah timur.

Dalam pada itu, Eyang guru yang sedang tidur-tiduran di bawah sebatang pohon di tepi jalan telah terkejut. Pendengarannya yang tajam telah menangkap bunyi derap seekor kuda yang sedang dipacu dengan kencang menuju ke arahnya.

Dengan malas-malasan Eyang Guru membuka kedua matanya dan kemudian duduk. Ketika dia kemudian berpaling, dari arah timur tampak seekor kuda sedang dipacu dengan kencangnya seperti sedang dikejar hantu.

“Raden Surengpati,” desis Eyang Guru begitu mengenali siapa yang berada di atas punggung kuda itu, “Mengapa dia memacu kudanya seperti orang yang sedang dikejar hantu?”

Memang orang yang sedang berkuda itu Raden Surengpati. Beberapa saat tadi, begitu menyadari lawannya adalah salah satu kawan dari Ki Rangga Agung Sedayu, Raden Surengpati pun telah memutuskan untuk melarikan diri.

Sambil memacu kudanya dengan kencang, sesekali Raden Surengpati menengok ke belakang. Hatinya benar-benar kecut dan kacau jika tiba-tiba saja bayangan semu Ki Rangga mengejarnya.

“Bayangan semu itu dapat menghilang dan kemudian muncul sesuka hatinya,” berkata Raden Surengpati dengan keringat dingin yang membasahi punggungnya, “Dengan mudahnya dia akan mencekik leherku tanpa aku dapat melakukan perlawanan sedikitpun.”

Ketika pandangan matanya telah dapat menangkap sesosok tubuh yang duduk di bawah sebatang pohon rindang di pertigaan jalan itu, hati Raden Surengpati pun menjadi sedikit tenang.

“Eyang Guru,” desis Raden Surengpati kemudian, “Setidaknya Eyang Guru akan mampu mengenali jika Ki Rangga muncul dengan ilmunya yang ngedab-edabi itu.”

Sejenak kemudian Raden Surengpati pun telah mengurangi kecepatan kudanya. Ketika kuda itu tinggal beberapa tombak lagi dari tempat Eyang Guru duduk, Raden Surengpati segera menarik tali kendali kudanya perlahan-lahan. Setelah kuda itu benar-benar berhenti hanya beberapa langkah saja di depan Eyang Guru, tanpa turun dari kudanya, Raden Surengpati segera berteriak, “Eyang Guru, sebaiknya kita segera meneruskan perjalanan!”

Eyang Guru yang masih duduk dengan tenang di bawah sebatang pohon itu menjadi heran. Dari raut wajahnya, adik orang yang mengaku Trah Sekar Seda Lepen itu tampak seperti orang yang sedang ketakutan.

“Apa sebenarnya yang telah terjadi, Raden?” bertanya Eyang Guru kemudian sambil bangkit berdiri. Diraihnya kendali kuda yang berada selangkah di sampingnya.

“Marilah Eyang Guru,” sahut Raden Surengpati tanpa menjawab pertanyaan Eyang Guru, “Nanti akan aku ceritakan sambil kita meneruskan perjalanan.”

Eyang Guru hanya dapat tersenyum, sekilas. Tanpa berkata-kata lagi, Eyang Guru itu pun segera meloncat ke atas punggung kudanya. Sejenak kemudian kedua orang itu pun telah berderap di atas punggung kuda masing-masing menyusuri bulak panjang menuju ke Gunung Tidar.

Dalam pada itu, Eyang guru yang sedang tidur-tiduran di bawah sebatang pohon di tepi jalan telah terkejut. Pendengarannya yang tajam telah menangkap bunyi derap seekor kuda yang sedang dipacu dengan kencang menuju ke arahnya.

“Nah,” berkata Eyang Guru kemudian setelah beberapa saat keduanya terdiam, “Raden sekarang dapat menceritakan pertemuan Raden dengan putri Matesih itu. Apakah ada sesuatu yang penting bagi perjuangan kita?”

Raden Surengpati menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Eyang Guru. Dilemparkan pandangan matanya ke arah titik-titik di kejauhan. Jawabnya kemudian, “Eyang Guru, berita tentang kelima orang perantauan itu sudah bukan hal yang baru bagi kita,” Raden Surengpati berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Namun keberadaan kelima perantau itu sekarang yang sangat menarik perhatian.”

“Maksud Raden?” sela Eyang Guru sambil berpaling.

Kembali Raden Surengpati menarik nafas panjang. Jawabnya kemudian, “Aku baru saja bertemu dengan mereka.”

“He?!” seru Eyang Guru terkejut bukan alang kepalang, “Jangan bergurau Raden. Di saat-saat seperti ini rasa-rasanya kurang tepat untuk bergurau. Berita kedatangan kelima perantau itu yang salah satunya ternyata Ki Rangga Agung Sedayu telah menggemparkan perguruan Sapta Dhahana.”

“Aku tidak sedang bergurau, Eyang Guru,” jawab Raden Surengpati dengan suara berat dan dalam, “Aku memang tidak bertemu dengan Ki Rangga, namun dengan anak muda yang bernama Glagah Putih. Dan ternyata dalam usia semuda itu dia telah menguasai ilmu yang ngedab-edabi.”

Sejenak Eyang Guru termangu-mangu di atas punggung kudanya. Dengan tetap mengendalikan kudanya sehingga berderap dengan ajeg, Eyang Guru pun kemudian bertanya, “Di manakah Raden bertemu dengan anak muda yang bernama Glagah Putih itu?”

Raden Surengpati tersenyum masam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian diceritakannya pengalaman sewaktu menemui Ratri di tengah pategalan yang sepi itu.

“Raden telah dijebak,” tiba-tiba Eyang Guru mengemukakan pendapatnya, “Bukankah menurut cerita Raden, putri Matesih itu tidak pernah sendirian ketika menjumpai Raden? Nah, aku mempunyai prasangka bahwa Raden sengaja telah dijebak.”

Untuk beberapa saat Raden Surengpati termenung. Namun katanya kemudian, “Tetapi itu tidak mungkin Eyang Guru. Ratri pasti tidak dengan sengaja menjebakku. Ratri begitu mencintaiku, itu bisa aku lihat dari sikap dan pandangan matanya kepadaku,” Raden Surengpati berhenti sejenak untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba saja menjadi sangat kering begitu teringat akan keindahan dan kehangatan tubuh gadis itu dalam pelukannya. Lanjutnya kemudian, “Kemungkinannya para perantau itulah yang telah membuntuti Ratri tanpa sepengetahuan gadis itu.”

“Tetapi mengapa Ratri dengan sengaja datang sendirian? Apakah dia tidak takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan?” sahut Eyang Guru cepat.

Sejenak Raden Surengpati tertegun. Namun jawabnya kemudian sambil menggelengkan kepala, “Aku tidak tahu. Namun segala sesuatunya mungkin saja terjadi. Mungkin Ratri yang tergesa-gesa untuk menemui aku sehingga lupa atau tidak sempat membawa kawan. atau masih ada banyak kemungkinan lain yang kita hanya dapat menduga-duga.”

Eyang Guru menarik nafas panjang. Memang sangat tidak masuk akal dan merupakan suatu tindakan yang sangat berbahaya jika Ki Gede dengan sengaja mengumpankan Ratri. Ki Gede tidak akan mengorbankan putri satu-satunya itu sementara Ki Gede belum mengetahui tingkat ilmu kelima perantau itu.

“Kecuali Ki Gede telah mengetahui bahwa salah satu dari perantau itu adalah Ki Rangga Agung Sedayu, Agul-agulnya Mataram,” berkata Eyang Guru dalam hati. Namun kemungkinan itu sangat kecil. Agaknya kelima perantau itu memang dengan sengaja telah menyamarkan jati diri mereka.

“Apakah tidak menutup kemungkinan kelima orang itu sekarang berada di kediaman Ki Gede Matesih?” tiba-tiba saja Eyang Guru bertanya seolah-olah sambil lalu saja.

Raden Surengpati terkejut. Tanpa sadar dia telah berpaling ke arah Eyang Guru yang berkuda di sebelahnya. Katanya kemudian, “Kemungkinan itu memang ada, Eyang Guru. Tetapi berita yang dibawa Ratri tidak menyebutkannya. Ratri hanya memberitahu bahwa kelima orang itu telah lolos dari banjar padukuhan Klangon.”

“Atau memang dia belum sempat untuk menyebutkannya,” sahut Eyang Guru sambil tertawa hambar.

Untuk sejenak wajah Raden Surengpati menjadi merah padam. Namun dengan cepat dia segera dapat menguasai perasaannya dan menghapus kesan itu dari wajahnya.

Untuk sejenak mereka berdua telah terdiam di atas punggung kuda masing-masing.

Namun pandangan kedua orang itu tiba-tiba saja telah dikejutkan oleh titik-titik di kejauhan yang bergerak -gerak menuju ke arah mereka. Di belakang titik-titik itu tampak debu yang berwarna keputih-putihan mengepul tinggi.

“Siapakah siang-siang begini berkuda di sepanjang bulak?” desis Raden Surengpati sambil menatap jauh ke depan.

“Ki Gede Matesih dan para pengawal,” tiba-tiba Eyang Guru yang mempunyai pandangan lebih tajam dari Raden Surengpati telah berdesis.

“He?” seru Raden Surengpati dengan kening berkerut, “Bukankah Ki Gede Matesih dan para pengawalnya sudah tidak punya nyali lagi untuk meronda sejak peristiwa beberapa bulan yang lalu?”

Eyang Guru tersenyum. Katanya kemudian, “Agaknya kedatangan kelima orang itu telah membangkitkan kembali keberanian para penghuni Tanah Perdikan Matesih.”

“Gila!” geram Raden Surengpati, “Orang-orang itu harus dibuat jera agar tidak banyak tingkah di kemudian hari.”

Selesai berkata demikian Raden Surengpati bermaksud untuk memacu kudanya menyongsong rombongan Ki Gede yang sudah semakin dekat.

Namun baru saja Raden Surengpati akan menggerakkan kendali kudanya, tiba-tiba saja Eyang Guru menyelutuk, “Siapa sajakah yang berada dalam rombongan Ki Gede itu? Jangan-jangan Ki Rangga Agung Sedayu ada dalam rombongan itu.”

Mendengar kata-kata Eyang Guru, untuk sejenak Raden Surengpati bagaikan membeku di atas punggung kudanya. Matanya nanar menatap jauh ke depan mencoba untuk mengenali setiap wajah yang berada dalam rombongan itu.

Melihat Raden Surengpati terlihat gugup, Eyang Guru justru tertawa berkepanjangan sampai-sampai tubuhnya terguncang-guncang.

“Eyang Guru,” sergah Raden Surengpati kemudian, “Bukan saat yang tepat untuk bergurau. Musuh sudah berada di depan hidung, dan kita masih belum menentukan sikap.”

“O,” seru Eyang Guru sambil mencoba menahan tawanya, “Jangan khawatir, Raden. Menurut panggraitaku, Ki Rangga Agung Sedayu dan kawan-kawannya pasti belum bergabung dengan Ki Gede Matesih. Agaknya Mataram sengaja tidak ingin terlibat langsung dengan gerakan Ki Rangga dan kawan-kawannya itu. Ini yang harus kita waspadai. Ki Rangga dan kawan-kawannya sepertinya sedang menjalankan sebuah tugas khusus.”

Raden Surengpati menarik nafas panjang untuk mengendorkan rongga dadanya yang menjadi sedikit sesak. Ketika dia kemudian melemparkan pandangannya ke depan, tampak Ki Gede Matesih yang berkuda di paling depan telah mengangkat tangan kanannya.

Hampir bersamaan Raden Surengpati dan Eyang Guru segera mengekang kendali kuda masing-masing. Sementara Ki Gede dan rombongannya pun juga telah menghentikan kuda-kuda mereka.

“Selamat siang Raden,” sapa Ki Gede Matesih kemudian sambil menganggukkan kepalanya, “Maafkan kami mengganggu perjalanan kalian. Siang ini sengaja kami nganglang ke seluruh tanah Perdikan Matesih sejauh yang dapat kami jangkau.”

“Itu bukan urusanku!” jawab Raden Surengpati dengan nada sedikit keras, “Sejak kapan Ki Gede peduli dengan tanah perdikan ini?”

“O, aku selalu peduli dengan tanah perdikan ini, Raden,” jawab Ki Gede dengan serta merta, “Dulu sudah menjadi kebiasaanku untuk nganglang bersama-sama dengan para pengawal. Namun sejak peristiwa rajapati yang menimpa salah satu pengawal kami, untuk sementara kegiatan nganglang itu kami hentikan,” Ki Gede berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Kini kegiatan itu kami lakukan kembali.”

“Apakah Ki Gede tidak takut atau sudah lupa dengan ancaman itu?” menyela Raden Surengpati.

“Maksud Raden, ancaman orang yang telah membunuh pengawal yang sedang nganglang itu?”

“Ya,” sahut Raden Surengpati cepat, “Bukankah Ki Gede telah menerima ancaman untuk tidak melakukan nganglang lagi? Jika larangan itu dilanggar, maka akan ada rajapati lagi dan itu tidak menutup kemungkinan Ki Gede lah yang akan menjadi korban berikutnya.”

Berdesir dada Ki Gede mendengar ucapan Raden Surengpati. Sambil menatap tajam ke arah adik orang yang mengaku sebagai Trah Sekar Seda Lepen itu, Ki Gede pun dengar suara yang berat dan dalam kemudian berkata, “Aku tidak peduli lagi dengan segala ancaman yang menyangkut tanah perdikan ini. Aku sebagai pemimpin tertinggi Perdikan Matesih, akan mengambil alih semua tanggung jawab. Apapun yang akan terjadi.”

Kata-kata ki Gede itu sejenak telah membungkam Raden Surengpati. Dia benar-benar tidak menyangka jika pemimpin Perdikan Matesih itu yang pada awalnya menurut persangkaannya silau dengan tingkatan ilmunya, kini sudah tidak memandang sebelah mata pun kepadanya.

Sedangkan para bebahu dan pengawal yang ikut dalam rombongan nganglang itu menjadi berdebar-debar. Mereka tidak menyangka jika pemimpin mereka itu ternyata telah berani berkata sedemikian tegas dan lugas, tanpa tedeng aling-aling.

Hampir saja Ki Jagatirta yang berkuda di sebelah Ki Gede menggamit pemimpin tertinggi Perdikan Matesih itu, namun niat itu segera diurungkannya. Ternyata Ki Wiyaga yang berkuda di belakangnya telah terlebih dahulu menggamitnya.

Berkata Ki Wiyaga kemudian dengan setengah berbisik, “Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya Ki Jagatirta. Ki Gede pasti punya pertimbangan-pertimbangan tersendiri sehingga Ki Gede berani mengambil sikap demikian.”

Ki Jagatirta berpaling ke belakang sekilas. Sambil menarik nafas dalam-dalam Ki Jagatirta pun kemudian menjawab ucapan Ki Wiyaga dengan sebuah anggukan kecil.

Dalam pada itu, Raden Surengpati pun telah dihinggapi sebuah pertanyaan aneh yang melingkar-lingkar di dalam benaknya tentang sikap Ki Gede itu.

“Apakah Ki Gede telah kehilangan penalaran dan menjadi gila karena tidak adanya keseimbangan antara keinginan dan kemampuannya?” bertanya Raden Surengpati dalam hati. Namun menilik sorot mata Ki Gede yang tajam dan berbinar, jauh dari persangkaan Raden Surengpati yang menganggap Ki Gede telah menjadi gila.

“Nah,” berkata Ki Gede kemudian begitu melihat kedua orang di hadapannya itu hanya diam termangu-mangu di atas punggung kuda masing-masing, “Kami akan meneruskan nganglang kami sampai ke tempat yang paling ujung dari tanah Perdikan Matesih ini. Sekedar untuk menumbuhkan kepercayaan para kawula Matesih bahwa pemimpin mereka masih dapat dipercaya dan diandalkan untuk menghadapi keadaan seberat apapun.”

Selesai berkata demikian, Ki Gede segera bermaksud untuk menggerakkan kendali kudanya. Namun tiba-tiba saja selarik cahaya menyilaukan meluncur dan menghantam tanah hanya selangkah di depan kuda Ki Gede. Akibatnya sangat dahsyat. Tanah itu bagaikan meledak dan menghamburkan tanah dan batu-batu kerikil ke udara.

Kuda tunggangan Ki Gede pun terlonjak kaget dan mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi sambil meringkik keras. Untunglah Ki Gede adalah seorang penunggang kuda yang baik. Dengan cekatan Ki Gede segera mampu mengendalikan kudanya dan membuatnya tenang kembali.

Sedangkan kuda-kuda yang lain pun ternyata telah ikut terkejut dan menjadi bertingkah serta meringkik-ringkik. Namun dengan cekatan masing-masing penunggangnya segera berhasil menguasainya.

Berdesir dada Ki Gede mendapatkan perlakuan seperti itu. Sudah beberapa kali Ki Gede mendapat laporan tentang pengeram-eram yang dibuat oleh Raden Surengpati. Namun baru kali ini Ki Gede mengalaminya sendiri.

“Luar biasa,” desis Ki Gede perlahan dengan nada suara yang datar. Raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kekaguman atau pun kegentaran sama sekali. Ini benar-benar telah mengejutkan dan diluar dugaan Raden Surengpati dan Eyang Guru.

“Orang ini benar-benar telah menjadi gila,” berkata Raden Surengpati dalam hati, “Tekanan rasa takut yang berlebihan selama ini serta kekerdilan jiwanya untuk menghadapi kenyataan yang sebenarnya telah membuat penalaran Ki Gede mengalami owah gingsir.”

Sedangkan Eyang Guru ternyata mempunyai tanggapan yang lain.

“Selama ini Ki Gede mengetahui pengeram-eram yang dibuat Raden Surengpati hanya dari cerita para pengawal,” berkata Eyang Guru dalam hati, “Mungkin Ki Gede telah mempunyai pertimbangan-pertimbangan tertentu sehingga dia berani mengambil sikap seperti itu.”

Sedangkan Ki Wiyaga dan para bebahu lainnya serta para pengawal menjadi terguncang melihat peristiwa itu. Sebenarnyalah beberapa di antara mereka sudah pernah melihat pengeram-eram yang dilakukan oleh Raden Surengpati, namun tetap saja membuat dada mereka terguncang.

Ki Jagatirta yang berada di dekat Ki Gede sudah tidak dapat menahan diri lagi. Maka katanya kemudian sambil berbisik, “Ki Gede, tidak ada gunanya memancing kemarahan Raden Surengpati. Lebih baik kita menghindari perselisihan dengan orang-orang yang mengaku Trah Sekar Seda Lepen ini.”

“Tenanglah, Ki Jagatirta,” desis Ki Gede perlahan sekali sambil berpaling sekilas, “Aku sudah memperhitungkan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi. Percayalah, Yang Maha Agung pasti akan menolong hambaNYA yang sabar dan berpasrah diri.”

Ki Jagatirta menarik nafas dalam-dalam mendengar jawaban Ki Gede. Tanpa sadar diedarkan pandangan matanya ke setiap orang yang ikut dalam rombongan nganglang Ki Gede itu. Namun wajah-wajah itu tampak kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa.

“Raden,” berkata Ki Gede kemudian, “Apakah aku harus menunjukkan kekuatan sesungguhnya yang tersimpan di Perdikan Matesih ini? Selama ini aku memang hanya diam saja mendengar para pengawalku mengalami kesewenang-wenangan dari Raden. Namun untuk kali ini aku tidak akan membiarkan kesewenang-wenangan dan kesombongan itu terjadi di hadapanku. Para pengawal akan menjadi saksi bahwa Perdikan Matesih masih mempunyai pemimpin yang dapat dibanggakan.”

Merah padam wajah Raden Surengpati mendengar ucapan Ki Gede. Secara tidak langsung pemimpin Perdikan Matesih itu telah menantang dirinya untuk mengadu liatnya kulit dan kerasnya tulang serta jaya kawijayan guna kasantikan.

Ketika tanpa sadar Raden Surengpati kemudian berpaling ke arah Eyang Guru yang berada di sampingnya, dilihatnya Eyang Guru tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

“Baiklah Ki Gede,” geram Raden Surengpati kemudian, “Kita akan mengadakan penjajagan ilmu. Selama ini aku hanya mendengar bahwa Ki Gede Matesih adalah murid dari jalur perguruan Gunung Kidul yang terkenal akan kedahsyatan Aji Cundha Maniknya. Namun aku pun tahu bahwa tingkatan Aji Cundha Manik itu pun bermacam-macam. Jika yang berdiri di hadapanku sekarang ini adalah Ki Demang Sarayudha, tentu jauh-jauh hari aku sudah berpikir untuk menghindarinya.”

Berdesir dada Ki Gede mendengar Raden Surengpati menyebut perguruan serta aji andalannya, Cundha manik. Jika saja Ki Gede tidak mengalami dan merasakan hal yang aneh yang terjadi di dalam tubuhnya setelah bertemu dengan orang bertopeng malam tadi, tentu dirinya tidak seberani dan segegabah itu untuk menghadapi Raden Surengpati.

“Kemungkinannya orang bertopeng itulah yang telah menolongku selama aku tak sadarkan diri,” berkata Ki Gede dalam hati, “Agaknya dia telah menolong mengurai simpul-simpul syaraf di beberapa titik di tubuhku sehingga membuat aliran darah serta tenaga cadanganku dapat mengalir dengan deras, tanpa ada hambatan lagi.”

Sebenarnyalah menjelang dini hari tadi Ki Gede memang sempat dibuat heran dengan keadaan tubuhnya. Sekembalinya dari banjar padukuhan Klangon, Ki Gede tidak merasa lelah maupun letih. Badannya tetap terasa segar walaupun dia telah melakukan perkelahian melawan orang bertopeng itu serta kemudian berjalan pulang ke Perdikan Matesih.

Bahkan Ki Gede telah menyempatkan diri memasuki sanggar untuk sekedar mengenali tingkatan ilmunya, terutama ilmu puncaknya, Aji Cundha Manik.

 bersambung ke bagian 2

4 Responses

  1. […]   STSD-02   STSD-03   STSD-04   […]

  2. Sipp senang bisa terus menerus mengikuti perjalanan Agung Sedayu…

  3. Perjalanan kakek agung Sedayu segera beraksi dari sini

  4. mantab !!, kira2 untara terlibat lagi gk ya? mengingat untara sbg tokoh penghantar jejak agung sedayu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s