STSD-05

kembali ke STSD-04 | lanjut ke STSD-06

Bagian 1

SEJENAK wajah pengawal itu bagaikan kapas, putih pucat seakan-akan tanpa ada setetes darah pun yang mengaliri wajahnya.

“Majulah!” perintah Ki Gede kepada pengawal itu kemudian, “Jangan takut. Kita harus mengetahui terlebih dahulu duduk permasalahan yang sebenarnya sebelum memutuskan sebuah perkara.”

Kata-kata Ki Gede itu memang terdengar sareh, tidak ada nada kemarahan sama sekali. Namun betapapun juga, tubuh pengawal itu tampak gemetaran dan wajahnya pucat sepucat kapas. Dengan langkah satu-satu, pengawal itu pun akhir bergeser mendekati Ki Gede.

“Nah,” berkata Ki Gede kemudian setelah pengawal itu berdiri di hadapannya, “Ceritakanlah sejujurnya apa sebenarnya yang telah terjadi.”

Sejenak pengawal itu masih menundukkan wajahnya dalam-dalam dengan tubuh menggigil seperti orang kedinginan. Ketika dicobanya untuk mengangkat kepala, segera saja pandangan matanya berbenturan dengan pandangan mata Ki Gede, dan ternyata Ki Gede justru telah tersenyum sareh.

Bagaikan tersiram embun pagi, hati pengawal itupun menjadi sedikit tenang. Setelah menarik nafas dalam-dalam beberapa kali, akhirnya pengawal itu pun memulai laporannya.

“Ki Gede, kami berdua mendapat tugas untuk mengantar makan malam bagi tawanan,” berkata pengawal itu kemudian memulai laporannya, “Kawanku itu yang bertugas membawa makanan, sedangkan aku bertugas untuk melindunginya serta mencegah jika tawanan itu akan menggunakan kesempatan saat kami memberi makan untuk melarikan diri.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Kedengarannya apa yang dilaporkan oleh pengawal itu sepertinya sudah sewajarnya. Maka kata Ki Gede kemudian, “Lanjutkan ceritamu.”

Pengawal itu menganggukkan kepalanya sebelum menjawab. Katanya kemudian, “Begitu kami membuka selarak bilik, ternyata tawanan itu masih terikat erat pada tiang yang terdapat di tengah-tengah ruangan itu. Namun ketika kawanku itu kemudian meletakkan semangkuk nasi dan semangkuk kuah yang masih panas di hadapannya, dia telah berteriak untuk meminta salah satu ikatan tangannya untuk dibebaskan.”

“Jika kalian masih menganggap aku sebagai manusia sebagaimana kalian berdua, tentu kalian tidak akan membiarkan aku makan langsung dengan mulutku seperti seekor binatang, begitu berkata tawanan itu selanjutnya,” pengawal itu berhenti sejenak untuk sekedar menarik nafas. Lanjutnya kemudian, “Ketika kawanku meminta persetujuanku, aku pun tidak keberatan untuk melepaskan ikatan salah satu tangannya.”

“Siapakah yang melepas ikatan tangan tawanan itu?” potong Ki Gede cepat.

Sejenak pengawal itu mengkerutkan lehernya. Jawabnya kemudian dengan suara sedikit tersendat, “Aku Ki Gede.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Seharusnya kawanmu itulah yang melepas ikatan tangan tawanan itu. Bukan kamu.”

Pengawal itu tampak menundukkan wajahnya semakin dalam. Memang seharusnya kawannya itu yang membuka ikatan, bukan dirinya yang sedang memegang senjata.

Agaknya Ki Gede tanggap melihat pengawal itu hanya menundukkan wajahnya dalam-dalam. Maka kata Ki Gede kemudian, “Memang engkau pada saat itu berada di belakang tawanan itu sehingga tanpa sadar engkau telah melakukannya tanpa banyak pertimbangan.”

“Ya, Ki Gede,” jawab pengawal itu kemudian, “Memang pada saat itu aku berada tepat di belakangnya sehingga tanpa sadar aku telah membuka ikatan tangannya tanpa banyak pertimbangan.”

Kembali Ki Gede mengerutkan keningnya. Bertanya Ki Gede kemudian, “Akan tetapi bukankah kamu hanya melepaskan salah satu tangannya? Bagaimana mungkin dia kemudian dapat melepaskan diri?”

Pengawal itu tampak menelan ludah sebelum menjawab pertanyaan Ki Gede. Rasa-rasanya tenggorokannya menjadi sangat kering.

“Maaf Ki Gede,” jawab pengawal itu kemudian dengan suara sedikit bergetar, “Disitulah letaknya kelengahan kami berdua. Ketika aku sedang membuka ikatan salah satu tangannya, senjataku tanpa sadar telah aku letakkan di sampingnya. Demikian salah satu tangannya bebas, dengan cepat dia meraih mangkuk yang berisi kuah panas itu dan menyiramkannya ke wajah kawanku yang sedang berjongkok di hadapannya. Setelah itu dia segera meraih senjataku yang tergeletak di sebelahnya sebelum aku menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi.”

Orang-orang yang hadir di tempat itu menjadi berdebar debar. Dalam keadaan yang tidak menentu itu, segala sesuatunya bisa saja terjadi dan berlangsung dalam waktu yang cepat.

“Apakah engkau tidak segera menyadari keadaan itu dan segera meraih senjatamu kembali?” bertanya Ki Gede kemudian.

Pengawal itu menggeleng. Jawabnya kemudian, “Aku tidak sempat mencegahnya. Begitu senjata itu tergenggam di tangannya dia segera mengayunkan senjata itu ke arah belakang untuk mencoba melukaiku. Namun aku masih sempat berguling ke samping.”

“Dan selanjutnya tawanan itu mampu meloloskan diri dengan memotong tali pengikatnya menggunakan senjatamu sendiri. Bukankah begitu cerita selanjutnya?” potong Ki Gede dengan serta merta.

Tampak pengawal itu mengangguk lemah dengan wajah yang pucat.

Berkata pengawal itu kemudian, “Maafkan kami Ki Gede. Kami berdua memang lengah. Pada saat tawanan itu sudah mampu melepaskan ikatannya, dia segera menyerang kawanku yang masih sibuk membersihkan wajahnya yang tersiram kuah panas tadi. Namun naluri keprajuritannya segera muncul dan segera menyadari keadaan yang gawat itu. Dengan sekuat tenaga dia menghalangi tawanan yang mencoba untuk meloloskan diri itu, namun dia tidak berhasil dan bahkan terluka.”

Ki Gede Matesih menarik nafas dalam-dalam sambil mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling. Tampak wajah-wajah yang tegang sedang menunggu keputusannya.

“Kedua pengawal itu memang bersalah,” berkata Ki Gede dalam hati, “Namun kesalahannya bukan karena kesengajaan. Semua peristiwa ini terjadi karena kekurang-waspadaan saja.”

Berpikir sampai disitu Ki Gede segera berkata, “Baiklah, aku sudah mengetahui duduk permasalahannya. Sekarang selenggarakan mayat Gegedug Dukuh Salam ini. dan aku minta kalian lebih berhati-hati lagi di lain kesempatan.”

Selesai berkata demikian Ki Gede segera membalikkan badan dan kemudian melangkah kembali ke pendapa. Beberapa bebahu pun segera mengikutinya, kecuali Ki Wiyaga yang masih mengurus jasad tawanan yang telah terbujur kaku di halaman samping itu. Sementara pengawal yang merasa nasibnya sudah berada di ujung tanduk itu, bagaikan mendapat siraman banyu sewindu.

Dalam pada itu di tengah kelebatan hutan sebelah timur gunung Tidar, tampak Ki Rangga sedang bercakap-cakap di bawah sebatang pohon dengan cantrik Gatra Bumi.

“Sukra,” berkata Ki Rangga sambil memandang wajah anak muda yang berkulit kehitam-hitaman itu, “Mengapa engkau pergi dari rumah tanpa meninggalkan pesan apapun kepada Nyi Sekar Mirah?”

Cantrik Gatra Bumi yang lebih dikenal sebagai nama Sukra itu sejenak terdiam. Wajahnya menunduk dalam-dalam sementara mulutnya terkunci rapat-rapat.

Ki Rangga yang menyadari tentu ada sesuatu yang sedang menjadi ganjalan di dalam hati anak muda itu, segera menepuk bahunya pelahan sambil berkata, “Sukra, katakanlah kebenaran itu, sekalipun itu pahit. Dengan demikian, diharapkan sudah tidak ada lagi ganjalan di antara kita. Untuk seterusnya engkau bebas untuk memilih jalan hidupmu sendiri.”

Sukra tampak termenung beberapa saat. Namun akhirnya dengan tetap menundukkan wajahnya, Sukra pun kemudian menjawab, “Maaf Ki Sedayu, memang tidak ada maksud sebiji sawi pun dalam hatiku untuk meninggalkan kediaman Ki Sedayu tanpa pamit. Semua itu karena aku tidak mampu menahan godaan dalam hatiku pada saat itu.”’

Ki Rangga mengerutkan keningnya mendengar keterangan Sukra. Bertanya Ki Rangga kemudian, “Apa maksudmu dengan godaan dalam hatimu itu, Sukra?”

Sejenak Sukra membetulkan letak duduknya sebelum menjawab pertanyaan Ki Rangga. Setelah menarik nafas dalam-dalam, barulah Sukra menjawab, “Ki Sedayu, ijinkan aku menceritakan peristiwa beberapa saat yang lalu yang terjadi di kediaman Ki Sedayu.”

“Silahkan,” jawab Ki Rangga singkat.

Kembali Sukra menarik nafas panjang. Setelah itu barulah Sukra memulai ceritanya.

“Malam itu hujan turun sangat deras,” berkata Sukra kemudian memulai ceritanya, “Aku mendengar suara titik-titik air hujan yang menerobos di sela-sela atap yang mungkin mulai bocor. Namun karena hari sudah larut malam, aku memutuskan untuk melihatnya keesokan harinya saja.”

Sukra berhenti sejenak untuk sekedar mengambil nafas. Sementara Ki Rangga yang duduk di hadapannya tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Keesokan harinya,” berkata Sukra selanjutnya, “Sebelum aku memeriksa atap yang mungkin bocor, Nyi Sekar Mirah ternyata telah menyuruhku untuk memperbaiki atap yang berada tepat di atas bilik Nyi Sekar Mirah, karena semalam Nyi Sekar Mirah merasakan ada titik-titik air yang jatuh cukup banyak dari atap .”

Tiba-tiba jantung Ki Rangga menjadi berdebar-debar. Dia sudah mulai dapat meraba ke arah mana cerita Sukra. Jika Sukra kemudian memanjat atap yang berada tepat di atas biliknya itu, tentu Sukra akan mendapatkan sesuatu yang mungkin akan sangat mengherankannya.

“Demikianlah Ki Sedayu, aku pun akhirnya memanjat atap dan mencoba membenahi sirap yang berada di atas bilik Nyi Sekar Mirah.”

Sampai disini tiba-tiba saja suara Sukra bagaikan tercekat. Beberapa kali dia tampak menelan ludah untuk melonggarkan kerongkongannya serta menarik nafas dalam-dalam beberapa kali.

Ki Rangga yang melihat Sukra menjadi sedikit ragu-ragu untuk meneruskan cerita segera menyahut, “Sukra, apakah pada saat berada di atas atap, engkau telah melihat sesuatu yang aneh di dalam bilikku?”

Dengan suara sedikit tergagap Sukra pun menjawab, “Ya, Ki Sedayu.”

“Apakah yang aneh itu menurutmu?”

Sejenak Sukra ragu-ragu. Namun jawabnya kemudian, “Sekat antara bilik Ki Sedayu dan bilik sebelah yang kosong itu ternyata ada dua.”

Ki Rangga tersenyum sekilas. Bertanya Ki Rangga seterusnya, “Apakah engkau melihat apa yang berada di dalam kedua sekat itu?”

Sukra menganggukkan kepalanya.

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya wajah anak muda yang tertunduk dalam-dalam itu dengan rasa kasihan. Anak muda itu agaknya telah mengalami goncangan batin setelah bertemu dan ditolong oleh Kanjeng Sunan. Kini Sukra yang berada di hadapannya bukanlah Sukra pembantu rumah tangganya beberapa saat yang lalu.

“Sudahlah Sukra,” berkata Ki Rangga kemudian memecahkan kesunyian, “Cerita selanjutnya aku sudah tahu karena Kanjeng Sunan telah menceritakannya kepadaku pada saat aku bertemu beliau di Panaraga.”

Tampak kepala Sukra semakin tunduk. Rasa bersalah yang tiada taranya telah melanda hatinya. Maka katanya kemudian, “Aku mohon maaf Ki Sedayu. Aku telah tergoda untuk melihat isi kotak kayu itu dan kemudian membawa isinya pergi dari rumah tanpa seijin Ki Sedayu.”

“Sukra,” berkata Ki Rangga sambil menegakkan tubuhnya, “Segala peristiwa yang terjadi di muka bumi ini tidak ada satu pun yang terlepas dari pengawasan Yang Maha Agung,” Ki Rangga berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Bukankah engkau telah dicegat oleh orang-orang tak dikenal di tepian sungai yang berada tidak jauh dari rumah kita?”

“Ya, Ki Sedayu,” jawab Sukra sambil menganggukkan kepalanya.

“Nah, seandainya kitab itu tidak engkau bawa, mungkin orang-orang itu akan dengan mudah menemukan tempat penyimpanan kitab itu dan kemudian membawanya pergi. Jika itu yang terjadi, aku tidak tahu harus kemana aku akan melacaknya untuk menemukan kitab itu kembali.”

Tampak kening Sukra berkerut merut mendengar keterangan Ki Rangga. Namun Ki Rangga agaknya mampu membaca pikiran Sukra. Maka kata Ki Rangga selanjutnya, “Memang jika engkau akan mempertahankan kitab itu sendiri pasti tidak akan mampu. Itulah sebabnya Yang Maha Agung telah menolongmu melalui kehadiran Kanjeng Sunan sehingga akhirnya kitab itu sekarang sudah kembali kepadaku.”

Kali ini kepala Sukra tampak terangguk-angguk. Memang seluruh kejadian di atas bumi ini tidak akan lepas dari pengawasan Yang Maha Agung yang mengetahui segala mobah mosiking jagad.

“Nah Sukra,” berkata Ki Rangga kemudian, “Apakah masih ada sesuatu yang ingin engkau sampaikan?”

Sekarang tampak wajah Sukra tidak murung lagi. Sambil mengangkat wajahnya, Sukra pun menjawab, “Ki Sedayu, sampaikan permintaan maafku kepada Nyi Sekar Mirah. Aku sudah tidak dapat membantunya lagi. Untuk selanjutnya aku telah diperintah oleh Kanjeng Sunan agar mengikuti dan menuntut ilmu kepada Ki Ajar Mintaraga.”

Ki Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika Ki Rangga kemudian berpaling ke arah kanan, tampak Ki Waskita sedang asyik berbincang dengan Ki Ajar Mintaraga. Tampaknya kedua orang yang sudah sepuh itu dengan cepat menjadi akrab.

Sejenak suasana menjadi sunyi. Ketika Ki Rangga kemudian mendongakkan kepalanya ke langit, tampak langit sedikit disaput mendung. Hanya beberapa bintang yang berkeredipan menghiasi wajah langit. Sedangkan bulan tua belum menampakkan dirinya.

Teringat akan bulan yang mungkin sudah waktunya gelap, tiba-tiba Ki Rangga bangkit berdiri sambil berkata, “Marilah Sukra, kita bergabung dengan orang-orang tua itu. Ada sesuatu yang perlu kita bicarakan.”

Namun Sukra ternyata telah menggelengkan kepalanya. Jawabnya kemudian, “Maaf Ki Sedayu, aku lebih baik di sini saja.”

Mendengar jawaban Sukra, langkah Ki Rangga yang sudah terayun itu sejenak tertegun. Namun Ki Rangga segera menyadari bahwa kelihatannya Sukra memang tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam masalah yang sedang mereka hadapi.

“Baiklah Sukra kalau memang engkau lebih senang duduk di sini,” berkata Ki Rangga kemudian sambil melanjutkan langkahnya mendekat ke tempat kedua orang tua itu sedang berbincang-bincang.

“O, marilah Ki Rangga,” sambut Ki Ajar kemudian begitu melihat Ki Rangga berjalan mendekat.

“Terima kasih Ki Ajar,” jawab Ki Rangga kemudian sambil menempatkan diri duduk bersila di atas rerumputan di hadapan kedua orang tua itu.

“Ki Rangga,” berkata Ki Waskita kemudian begitu melihat Ki Rangga telah duduk dengan nyaman, “Kami sedang membicarakan kemungkinan untuk mengadakan penyelidikan ke Perguruan Sapta Dhahana malam ini.”

Tanpa sadar ki Rangga mengalihkan pandangannya kepada Ki Ajar Mintaraga. Betapapun juga keberadaan Ki Ajar di tempat itu adalah atas petunjuk Kanjeng Sunan. Tentu ada pertimbangan khusus dari Kanjeng Sunan yang mungkin telah disampaikan kepada Ki Ajar.

Ki Ajar yang mengerti maksud Ki Rangga segera menyahut, “Ki Rangga, Kanjeng Sunan memang tidak memberikan pesan khusus dalam hal penyelidikan ke Perguruan Sapta Dhahana. Namun ada satu pesan beliau yang perlu dipertimbangkan.”

“Pesan apakah itu, Ki Ajar?” sahut Ki Rangga dengan serta merta.

Ki Ajar tersenyum melihat wajah Ki Rangga yang menjadi sedikit tegang. Maka jawabnya kemudian, “Ki Rangga, Kanjeng Sunan berpesan agar jangan membiarkan gerombolan serigala menjadi semakin besar. Semakin besar gerombolan serigala itu terbentuk, akan semakin sulit untuk menghancurkannya.”

Ki Rangga dan Ki Waskita sejenak saling pandang sambil menarik nafas dalam-dalam. Tampak kedua orang itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka segera maklum dengan apa yang dimaksud oleh Kanjeng Sunan.

“Malam ini setelah lewat wayah sepi uwong kita berangkat, Ki Waskita,” berkata Ki Rangga kemudian, “Biarlah Ki Ajar dan Sukra di tempat ini saja sambil menunggu perkembangan.”

“Aku lebih senang jika cantrik Gatra Bumi ikut serta dalam penyelidikan ini,” sahut Ki Ajar cepat sambil tersenyum, “Semoga dia akan menjadi tambahan kekuatan, bukan sebaliknya menjadi tambahan beban bagi Ki Rangga berdua.”

Sekejab Ki Rangga tertegun. Bertanya Ki Rangga kemudian, “Apakah Sukra sudah dipersiapkan untuk melakukan pekerjaan ini, Ki Ajar?”

“Aku berharap demikian, Ki Rangga,” jawab Ki Ajar masih dengan senyum yang menghiasi bibirnya, “Semoga cantrik Gatra Bumi mendapatkan pengalaman baru sebagai bekal masa depannya.”

Hampir bersamaan Ki Rangga dan Ki Waskita telah menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sadar Ki Rangga berpaling ke arah Sukra yang tampak duduk merenung beberapa tombak jauhnya dari tempat ketiga orang itu duduk.

“Nah, sekarang,” berkata Ki Ajar kemudian sambil berpaling ke arah Ki Rangga, “Apakah masih ada yang ingin disampaikan, Ki Rangga?”

“Ya, Ki Ajar,” jawab Ki Rangga sambil beringsut setapak, “Sesuai dengan keterangan Ki Jayaraga dan Glagah Putih yang telah melakukan penyelidikan di Perguruan Sapta Dhahana beberapa saat yang lalu,  menjelang bulan gelap mereka mempunyai suatu kebiasaan yang aneh, kebiasaan untuk bermain-main dengan api dan tidak menutup kemungkinan mereka juga melakukan persembahan kepada api yang mereka anggap sebagai Dewa.”

Tanpa sadar kedua orang tua itu mendongakkan wajah mereka ke langit. Bulan tua memang belum tampak, atau mungkin saat itu memang sudah saatnya bulan gelap.

Tiba-tiba dada Ki Waskita berdesir tajam. Katanya kemudian sambil beringsut sejengkal ke depan, “Ki Rangga, sepertinya malam ini sudah waktunya bulan gelap. Tentu pada saat ini adalah puncaknya kemampuan pemimpin Perguruan Sapta Dhahana yang senang bermain-main dengan api itu. Apakah tidak sebaiknya kita tunda dulu penyelidikan ini barang sehari atau dua hari?”

Ki Rangga tertegun, tanpa sadar dia berpaling kearah Ki Ajar.

“Aku rasa tidak,” sahut Ki Ajar kemudian, “Menurut perhitunganku nanti menjelang dini hari bulan tua masih akan muncul.”

Sejenak Ki Rangga merenung. Berbagai pertimbangan bergolak di dalam dadanya.

“Kita sudah berjanji dengan Ki Jayaraga untuk mengadakan penyelidikan malam ini,” berkata Ki Rangga kemudian setelah sejenak terdiam, “Kita hanya akan mendekat dan melihat  Perguruan Sapta Dhahana secara keseluruhan sebagai bahan pertimbangan  apa  yang akan kita lakukan kemudian.”

Hampir bersamaan kedua orang tua itu mengangguk-anggukkan kepala mereka.

“Baiklah ngger,” berkata Ki Waskita kemudian, “Sekarang masih belum waktunya sepi uwong. Kita masih sempat untuk mempersiapkan segala sesuatunya.”

Serentak Ki Ajar dan Ki Rangga pun mengangguk-anggukkan kepala mereka.

Dalam pada itu, di lereng sebelah utara gunung Tidar, tampak dua orang berkuda dengan sangat hati-hati menuruni lereng yang cukup terjal. Namun agaknya kuda-kuda itu sudah sangat terlatih. Demikian juga kedua orang yang berada di atas punggung kuda-kuda itu juga bukan orang kebanyakan sehingga kedua orang itu mampu mengendalikan kuda-kuda mereka untuk menuruni lereng tanpa banyak menemui kesulitan. 

Dalam pada itu, di lereng sebelah utara gunung Tidar, tampak dua orang berkuda dengan sangat hati-hati menuruni lereng yang cukup terjal.
“Kita mengambil jalan memutar untuk menghindari pantauan para telik sandi Mataram yang tentu telah tersebar sepanjang jalan dari perdikan Matesih sampai ke Mataram,” berkata salah satu penunggang kuda itu yang berusia hampir paro baya.

Orang yang berkuda di sebelahnya tertawa pendek. Katanya kemudian, “Sebenarnya tidak ada seorang pun yang aku takuti di Mataram saat ini. Namun semua ini kita lakukan karena kita memang harus bergerak dengan sangat rahasia agar rencana Raden dapat berjalan dengan sempurna.”

“Bagaimana dengan Ki Rangga Agung Sedayu?” bertanya orang yang dipanggil Raden itu kemudian.

Orang yang berumur sangat sepuh tapi tampak masih sangat sehat dan kuat itu tertawa pendek. Jawabnya kemudian, “Bukankah aku tadi mengatakan di Mataram saat ini? Ki Rangga sekarang sedang berada di Perdikan Matesih sehingga di Mataram tidak ada orang yang perlu ditakutkan,” orang yang sudah sangat sepuh itu berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Sebenarnya dengan Ki Rangga pun aku tidak takut. Aku sedikit banyak sudah dapat meraba kelemahan ilmu semunya. Namun tetap diperlukan orang lain untuk membantu menemukan tempat samadinya.”

Orang yang dipanggil Raden itu tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Dilemparkan pandangan matanya jauh ke kegelapan di hadapannya. Mereka berdua harus mengambil jalan memutar yang cukup jauh demi tetap terjaganya rencana mereka dari penciuman para petugas sandi Mataram.

“Kita berbelok ke kiri saja Raden,” berkata orang yang sudah sangat sepuh tapi masih terlihat sangat sehat dan kuat itu, “Aku rasa kita lebih baik menyeberangi kali Praga dan kemudian menyusuri tepian sebelah barat untuk sekedar menghilangkan jejak.”

Orang yang dipanggil Raden itu tampak mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Eyang Guru, di waktu seperti ini, apakah ada para tukang satang yang mau menyeberangkan kita ke tepian sebelah barat?”

Orang tua yang ternyata Eyang Guru itu tertawa pendek. Jawabnya kemudian, “Raden, tentu saja kita harus membayar lebih untuk menyeberang diluar waktu yang wajar. Namun jika mereka tetap menolak, aku akan mencekik lehernya dan kemudian melemparkan mayatnya ke Kali Praga. Dengan demikian kita dapat menyeberang dengan menggunakan rakit mereka tanpa ada kewajiban harus membayar.”

Orang yang di panggil Raden itu menarik nafas panjang mendengar kelakar Eyang Guru itu. Namun sesungguhnya lah apa yang dikatakan oleh Eyang Guru itu bukan sekedar kelakar, namun benar-benar dapat terjadi jika Eyang Guru menghendaki.

“Raden Wirasena,” bertanya Eyang Guru kemudian, “Apakah kawan-kawan kita yang berada di Mataram sudah mempersiapkan segala sesuatunya sehubungan dengan rencana kita ini?”

“Sudah Eyang Guru,” jawab orang paro baya itu yang ternyata adalah Raden Wirasena, “Jika perjalanan kita ini lancar, kita akan tiba di Mataram besuk menjelang wayah pasar temawon. Kita masih punya cukup banyak waktu untuk mengatur segala sesuatunya sampai besuk pagi berikutnya.”

“Baiklah, Raden,” sahut Eyang Guru cepat, “Menurut berita telik sandi kita tadi sore, memang besuk pagi rombongan Panembahan Hanyakrawati akan berangkat menuju hutan Krapyak. Namun tidak mungkin mereka akan langsung berburu. Mereka tentu memerlukan waktu barang semalam untuk sekedar beristirahat.”

Raden Wirasena mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Apakah sudah ada berita dari kawan-kawan kita yang berada di istana Kapangeranan?”

Eyang Guru menggeleng. Jawabnya kemudian, “Petugas sandi kita tadi sore tidak menyebutkan berita dari istana Kapangeranan, namun aku yakin tentu Putra Mahkota Raden Mas Rangsang akan ikut dalam rombongan itu.”

Tampak sebuah senyum menghias wajah Raden Wirasena. Katanya kemudian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, “Jika memang kesempatan itu ada, apa salahnya jika kita lenyapkan sekalian Putra Mahkota itu, sehingga jalan kita akan menjadi semakin lapang.”

“Raden benar,” jawab Eyang Guru dengan serta merta, “Kita akan mengumpulkan kawan-kawan kita yang tersebar di Mataram. Segala kemungkinan memang harus diperhitungkan agar kita mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan.”

Raden Wirasena tersenyum. Sebuah senyum yang penuh dengan keyakinan bahwa jalan menuju tahta sudah terbentang di depan mata.

“Eyang Guru,” berkata Raden Wirasena kemudian memecah kesepian, “Sebenarnya aku agak ragu-ragu untuk meninggalkan Perguruan Sapta Dhahana. Namun karena berita yang dibawa oleh petugas sandi kita sangat penting, dengan terpaksa kita harus pergi ke Mataram.”

Eyang Guru tertawa pendek. Katanya kemudian, “Raden, di Perguruan Sapta Dhahana ada Begawan Cipta Hening yang aku yakin kesaktiannya pada saat ini sudah jarang ada bandingnya. Kemudian, pemimpin Perguruan Sapta Dhahana itu sendiri Kiai Damar Sasangka yang aku yakin akan mampu menandingi ilmu Ki Rangga. Selebihnya masih ada lagi Ki Brukut, Ki Kebo Mengo, dan Putut Sambernyawa serta adik Raden sendiri, Raden Surengpati.”

Raden Wirasena menarik nafas panjang. Tanpa sadar wajahnya mendongak ke langit. Tampak langit yang sedikit buram tersaput mendung. Sementara hanya beberapa bintang yang tampak berkelip di angkasa. Sedangkan bulan tua sama sekali belum tampak.

“Sudah waktunya bulan tua,” desis Raden Wirasena tanpa sadar.

“Ya Raden,” sahut Eyang Guru, “Di saat inilah puncak kemampuan ilmu Kiai Damar Sasangka, Aji Sapta Dhahana yang nggegirisi itu akan mampu membakar dan meluluh-lantakkan apa saja yang dikehendakinya.”

Kembali Raden Wirasena menarik nafas panjang. Memang di dalam Padepokan Sapta Dhahana telah berkumpul orang-orang pilih tanding. Namun entah mengapa, setiap kali teringat akan Ki Rangga Agung Sedayu agul-agulnya Mataram yang sekarang mungkin sedang mendekati padepokan, hati Raden Wirasena selalu gelisah tidak menentu.

“Siapakah sebenarnya orang-orang tua yang dibawa oleh Ki Rangga itu?” bertanya Raden Wirasena dalam hati, “Selain Ki Rangga sendiri, ada anak muda yang bernama Glagah Putih. Menurut keterangan Adimas Surengpati, kemampuannya cukup ngedab-edabi. Sedangkan menurut telik sandi yang datang sore tadi, Ki Patih Mandaraka masih terlihat berada di Kepatihan sehingga dugaan Adimas Surengpati sebelumnya ternyata salah,” sejenak Raden Wirasena berhenti berangan-angan. Lanjutnya kemudian, “Namun dengan demikian kekuatan orang-orang yang dibawa oleh Ki Rangga itu menjadi sulit untuk diketahui.”

Raden Wirasena menarik nafas panjang untuk melonggarkan dadanya. Dihirupnya udara malam yang sejuk untuk memenuhi rongga dadanya yang terasa sedikit sesak.

“Mungkin hanya sebuah kekhawatiran yang tidak beralasan,” berkata Raden Wirasena kembali dalam hati mencoba menghibur hatinya yang sedikit gelisah, “Siapapun yang dibawa oleh Ki Rangga, kemampuan mereka tentu tidak akan melebihi Ki Patih Mandaraka dan Ki Rangga sendiri.”

Berpikir sampai disitu hati Raden Wirasena menjadi sedikit agak tenang. Bagaimana pun juga dia telah meninggalkan adiknya disana, Raden Mas Harya Surengpati.

“Surengpati memang terlalu malas untuk meningkatkan ilmunya,” geram Raden Wirasena dalam hati, “Kesenangannya bermain-main dengan perempuan telah menghambat pematangan ilmunya. Semoga kekalahannya dari Ki Gede Matesih akan menjadi pelajaran yang berharga baginya.”

Tanpa terasa jalan yang mereka lalui mulai landai. Setelah melewati sebuah padang perdu yang tidak seberapa luas, mereka berdua pun kemudian memacu kuda-kuda mereka di atas jalan setapak yang tampak menjelujur di dalam keremangan malam.

“Hampir wayah sepi uwong,” desis Raden Wirasena sambil mendongakkan wajahnya ke langit.

Eyang guru yang berkuda di sebelahnya agaknya mendengar desis Raden Wirasena. Maka katanya kemudian, “Raden, apakah kita akan mengambil jalan lurus yang menuju padukuhan kecil di depan kita, ataukah kita menyusur jalan setapak ini yang nantinya akan berbelok ke kanan dan melintasi hutan di sebelah barat padukuhan yang cukup lebat?”

Sejenak Raden Wirasena mengerutkan keningnya. Jawabnya kemudian, “Kita mengambil jalan lurus saja melewati padukuhan kecil itu. Aku rasa jika kita berkuda dengan kecepatan wajar tentu para peronda tidak akan mempermasalahkannya.”

“Dan kita dapat membuat seribu satu macam alasan untuk meyakinkan para peronda,” sahut Eyang Guru.

“Atau sekalian mencekik leher mereka agar tidak banyak bertanya,” timpal Raden Wirasena.

“Ah,” Eyang Guru pun tertawa masam.

Demikianlah akhirnya mereka berdua segera melihat sebuah regol padukuhan yang sangat sederhana. Sebuah lampu dlupak tampak tersangkut di salah satu tiang regol itu.

“Tidak ada satu pun penjaga,” gumam Raden Wirasena begitu keduanya memasuki regol yang terbuka lebar.

“Padukuhan ini kelihatannya terlalu miskin,” berkata Eyang Guru menanggapi, “Mungkin para penghuni padukuhan ini merasa aman karena justru mereka tidak memiliki harta benda yang cukup berharga untuk menjadi incaran para pencuri atau perampok.”

Raden Wirasena mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara kuda-kuda mereka telah berderap dengan irama yang tidak terlalu kencang. Bahkan seakan-akan mereka berdua adalah para peronda itu sendiri yang sedang nganglang.

Sebenarnyalah suara derap kaki-kaki kuda itu telah mengejutkan para penghuni padukuhan itu. Salah satunya adalah Ki Dukuh sendiri.

“Semoga bukan sebuah pertanda buruk,” desis Ki Dukuh sambil bangkit dari tidurnya dan kemudian duduk di bibir pembaringan.

Tanpa sadar pandangan matanya tersangkut pada sebilah pedang yang masih tersimpan dengan rapi dalam sarungnya. Pedang itu tergantung di dekat geledek dan sudah bertahun-tahun tidak pernah dijamahnya.

Tiba-tiba terbersit keinginan di dalam hatinya untuk bangkit dan meraih senjatanya itu. Namun niat itu segera diurungkannya begitu mendengar derap kaki-kaki kuda itu terdengar semakin menjauh dan akhirnya menghilang dari pendengarannya.

“Syukurlah,” gumam Ki Dukuh perlahan sambil memandangi istrinya yang tertidur lelap di pembaringan, “Mungkin mereka hanya para perantau yang tersesat jalan. Padukuhan ini letaknya sangat terpencil dan sangat jarang dilewati orang asing.”

Setelah suara derap kaki-kaki kuda itu menghilang dari pendengarannya, Ki Dukuh pun segera membaringkan tubuhnya kembali di sisi istrinya yang tercinta.

Dalam pada itu Raden Wirasena dan Eyang Guru telah mencapai tepian Kali Praga sebelah timur. Dengan mudah mereka menemukan seorang tukang satang yang sedang tidur meringkuk berselimutkan kain panjangnya. Tukang satang itu tidur di atas rakitnya yang ditambatkan dengan kuat pada sebatang pohon di tepian sungai.

Dengan segera kedua orang itu meloncat turun dari kudanya. Sambil menuntun kuda-kuda itu, kedua orang itu pun kemudian menghampiri ke tempat tukang satang itu tidur.

“Ki Sanak, bangunlah!” seru Raden Wirasena sambil berjongkok dan mengguncang-guncang tubuh tukang satang itu. Sementara Eyang Guru di belakangnya memegangi kendali kedua ekor kuda mereka.

Sejenak tukang satang itu menggeliat sambil meluruskan tubuhnya. Setelah menguap lebar-lebar barulah tukang satang itu bangkit dan kemudian duduk di atas rakitnya.

“Ada apa Ki Sanak berdua malam-malam begini datang ke tepian?” bertanya tukang satang itu kemudian sambil menguap sekali lagi dan mengucak-ucak matanya.

“Tolong seberangkan kami,” jawab Raden Wirasena kemudian.

Sejenak tukang satang itu memandang calon penumpangnya ganti berganti. Setelah yakin dengan pengamatannya, barulah tukang satang itu menjawab sambil bangkit dari duduknya, “Marilah. Sebenarnya aku malas menyeberangkan penumpang di malam-malam seperti ini. Namun aku yakin, jika tidak ada suatu kepentingan yang sangat mendesak, kalian berdua tentu tidak akan menyeberang di saat seperti ini.”

“Ki Sanak benar,” sahut Raden Wirasena dengan serta merta sambil menuntun kudanya naik ke atas rakit, “Kami telah mendapat berita musibah. Kerabat kami yang tinggal di lereng sebelah selatan Gunung Sumbing telah meninggal dunia.”

“O,” seru tukang satang itu dengan suara sedikit tertahan, “Aku ikut berbela sungkawa Ki Sanak. Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapat kekuatan lahir dan batin serta yang meninggal dunia mendapat tempat yang layak di sisi Yang Maha Agung.”

“Terima kasih,” jawab Raden Wirasena dan Eyang Guru hampir bersamaan.

Demikian lah setelah kedua orang beserta kuda-kuda itu naik ke atas rakit, dengan cekatan tukang satang itu segera melepaskan tali pengikat rakitnya. Sejenak kemudian rakit itu pun telah meluncur di atas air kali Praga yang berwarna keruh kecoklat-coklatan.

Tidak ada sepenginang sirih, rakit itupun kemudian telah merapat di sisi sebelah barat kali Praga.

“Terima kasih Ki Sanak,” berkata Raden Wirasena kemudian sambil merogoh beberapa keping uang yang tersimpan di ikat pinggangnya.

“O, tidak usah Ki Sanak, tidak usah!” berkata tukang satang itu dengan cepat sambil memberi isyarat menolak dengan tangannya, “Kalian tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit sehubungan dengan kerabat Ki Sanak yang meninggal itu.”

Untuk sejenak kedua orang itu saling pandang. Namun ternyata mereka berdua mempunyai pendapat yang sama.

Berkata Eyang Guru kemudian sambil menuntun kudanya turun dari rakit, “Ki Sanak, terimalah upah itu. Karena Ki sanak memang berhak menerimanya. Selain itu Ki sanak juga mempunyai keluarga yang tentu membutuhkan biaya untuk menghidupi mereka.”

“Ah,” tukang satang itu tertawa pendek. Katanya kemudian, “Kami sudah terbiasa hidup miskin. Kemiskinan sudah sedemikian akrabnya dengan kehidupan kami sehari-hari. Jadi, apapun yang terjadi dalam keseharian kami, hanya itu yang dapat kami jalani sambil senantiasa tidak pernah lupa berdoa kepada Yang Maha Hidup, Yang Maha Mengetahui kebutuhan hambaNYA. Kami mempunyai keyakinan bahwa hidup ini hanyalah mampir ngombe. Kita tidak akan lama hidup di dunia ini, Ki Sanak. Jangan sampai kita justru disibukkan mengurusi yang hanya akan berlangsung sebentar. Sementara kehidupan yang jauh lebih lama dan langgeng justru telah kita abaikan.”

Untuk beberapa saat kedua orang itu justru telah membeku di tempat masing-masing. Mereka benar-benar tidak menyangka jika di malam-malam seperti itu, di tepian sungai Praga yang jauh dari pemukiman penduduk, mereka berdua telah mendapatkan sebuah kawruh kehidupan yang bermakna sangat dalam namun dalam bingkai kehidupan yang sangat sederhana, sesederhana kehidupan tukang satang itu sendiri.

“Ah, sudahlah,” berkata tukang satang itu kemudian menyadarkan mereka berdua, “Silahkan melanjutkan perjalanan. Semoga perjalanan kalian selamat sampai tujuan.”

Kedua orang itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam sambil saling berpandangan. Ketika Raden Wirasena sekali lagi berusaha menawarkan upah kepada tukang satang itu, sambil tersenyum tukang satang itu tetap menolaknya.

“Terima kasih Ki Sanak,” berkata tukang satang itu sambil mulai menggerakkan rakitnya, “Tolong jangan pengaruhi aku untuk membatalkan niatku berbuat baik bagi sesama. Kesempatan berbuat baik kepada sesama itu sebenarnya terbuka setiap saat, namun justru kita lah yang kadang mengabaikannya atau bahkan kemudian mengotorinya dengan niat yang menyimpang.”

Kata-kata terakhir tukang satang yang semakin menjauh ke tengah aliran Kali Praga itu telah mengetuk hati kedua orang itu. Untuk sejenak mereka berdua kembali berdiri termangu-mangu tanpa mengetahui harus berbuat apa.

“Persetan dengan tukang satang itu!” tiba-tiba terdengar Eyang Guru menggeram, “Untung dia sudah kembali ke timur. Jika masih disini, tentu mulutnya sudah aku robek-robek!”

Raden Wirasena hanya dapat menarik nafas dalam-dalam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah mengapa, kata-kata terakhir dari tukang satang itu telah menghunjam ke dalam jantungnya dan meninggalkan bekas yang tak mungkin terhapuskan.

“Tukang satang yang aneh,” desis Raden Wirasena kemudian sambil meloncat ke atas punggung kudanya, “Marilah Eyang Guru. Semakin cepat kita tiba di Mataram, akan semakin cepat kita menyusun rencana kita.”

Namun nada suara Raden Wirasena terdengar agak meragu.

Eyang Guru yang juga telah meloncat ke atas punggung kudanya agaknya dapat meraba isi hati Raden Wirasena. Maka katanya kemudian sambil menggerakkan kendali kudanya, “Raden, aku harap Raden jangan sampai terpengaruh dengan kata-kata tukang satang gila itu. Memang orang-orang yang tidak mampu memperjuangkan masa depan dan cita-citanya kadang-kadang melampiaskan ketidak-berdayaan dan kegagalan mereka dalam bentuk yang lain. Mereka akan banyak berbicara tentang kawruh batin yang menuntun manusia menuju ke alam kelanggengan. Namun sebenarnyalah mereka itu telah mengalami kegagalan dalam mengejar cita-cita di dunia ini.”

Raden Wirasena yang mendengar kata-kata Eyang Guru itu tidak menanggapi. Namun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam telah terjadi pergolakan batin yang dahsyat.

Dalam pada itu, tukang satang yang telah kembali menepi di sisi timur, sejenak masih berdiri di atas rakitnya. Dipandanginya kedua orang yang tampak samar-samar dalam kegelapan malam di tepian sebelah barat. Ketika kedua orang itu kemudian bergerak meninggalkan tepian, tampak tukang satang itu menarik nafas dalam-dalam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Semoga hati kedua orang itu terketuk,” gumam tukang satang itu seolah-olah ditujukan kepada dirinya sendiri, “Namun jika Yang Maha Kuasa sudah berkehendak, tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang akan mampu menghalangiNYA.”

Sejenak kemudian tukang satang itu segera melangkahkan kakinya meninggalkan tepian setelah terlebih dahulu menambatkan rakitnya pada sebatang pohon yang tumbuh di pinggir sungai.

Namun ternyata tukang satang itu tidak terlalu jauh meninggalkan tepian. Beberapa tombak dari tepian, dia segera berbelok ke kiri dan berjalan mendekati sebuah gubuk reyot yang terletak tidak seberapa jauh dari tepian.

Setelah berada di depan pintu gubuk yang terbuat dari anyaman bambu itu, tukang satang itu pun kemudian mengguncang-guncang pintu gubuk sambil berkata sedikit keras, “Ki Sanak! Ki Sanak! Bangunlah! Aku sudah selesai! Rakitmu aku kembalikan!”

Terdengar suara orang terbatuk-batuk dari dalam gubuk reyot itu. Sejenak kemudian pintu pun terbuka dan seorang yang rambutnya sudah putih semua muncul. Dengan dahi yang berkerut-merut, orang itu pun kemudian melangkah keluar.

“Ini uang sewa rakitmu,” berkata tukang satang itu kemudian sambil mengulurkan tangannya begitu orang itu sudah berdiri di hadapannya.

Sejenak orang berambut putih tertegun. Namun tanpa memperhatikan tangan tukang satang yang menggenggam kepingan uang itu, kepingan uang itu pun kemudian segera berpindah tangan.

Berkata orang berambut putih itu kemudian sambil tersenyum, “Terima kasih Ki Sanak. Apakah Ki sanak sudah mendapat wangsit?”

Tukang satang itu tertawa pendek. Jawabnya kemudian, “Ya, setelah tidur sejenak di rakitmu, aku telah mendapat wisik gaib.”

“He?!”  Wajah orang berambut putih itu menegang sejenak. Tanyanya kemudian, “Apakah isi wisik gaib itu Ki Sanak?”

Tukang satang itu tersenyum. Jawabnya kemudian sambil tetap tersenyum, “Aku harus segera meninggalkan tepian ini dan selanjutnya diperintahkan untuk mencari wangsit di Kota Mataram.”

“Di Kota Mataram?” ulang orang berambut putih itu.

“Ya, di Kota Mataram,” jawab tukang satang itu, “Apakah ada yang aneh jika aku mencari wangsit di Kota Mataram?”

Orang berambut putih itu menggeleng. Jawabnya kemudian, “Tidak ada yang aneh dengan Kota Mataram. Namun yang aneh adalah Ki Sanak sendiri. Apakah Ki Sanak bermaksud ingin menjadi Raja sehingga harus pergi ke Mataram?”

“Ah,” tukang satang itu tertawa pendek sambil melangkah meninggalkan tempat itu, “Jika aku berhasil menjadi Raja, atas jasamu meminjamkan rakit kepadaku, engkau akan aku angkat menjadi Patih.”

“He? Patih? Aku menjadi Patih?!” seru orang berambut putih itu terlonjak kaget. Namun orang yang mengaku sebagai tukang satang itu telah melangkah semakin jauh.

“Orang aneh,” desis orang berambut putih itu sambil menimang-nimang beberapa kepingan uang yang berada di dalam genggaman tangannya.

Ketika dia kemudian membuka genggaman tangannya dan melihat ke arah telapak tangannya dengan seksama, alangkah terkejutnya orang itu. Kepingan uang itu tampak bersinar kekuning-kuningan dibawah cahaya lemah bintang-bintang di langit.

“He?!” teriak orang berambut putih itu dengan suara gemetar menahan gejolak di dalam dadanya.

Bagaikan melihat seekor hantu di siang bolong, dengan pandangan nanar orang itupun segera mendekatkan kepingan uang yang berada di telapak tangannya ke arah wajahnya.

“Emas?! Uang emas..?!” desis orang itu dengan suara gemetar.

“Mbokneee. Kita kaya Mbokneee..!” teriak orang berambut putih itu sambil berlari menyerbu ke dalam gubuk dengan langkah terhuyung-huyung bagaikan orang yang sedang mabuk tuak.

***

Dalam pada itu malam telah menghunjam ke pusatnya. Ki Waskita bersama Ki Rangga tampak sedang berjalan menerobos hutan yang cukup lebat dari arah timur Padepokan Sapta Dhahana.

Hutan itu memang masih cukup lebat dan kelihatannya belum pernah terjamah oleh tangan manusia. Sesekali terdengar lolongan serigala bersahut-sahutan jauh di dalam hutan serta sesekali auman si raja hutan yang cukup menggetarkan dada siapapun yang mendengarnya.

“Ngger,” terdengar suara Ki Waskita memecah kesunyian, “Sepertinya Ki Ajar sangat kecewa ketika Sukra menolak untuk mengikuti perjalanan kita ini.”

Ki Rangga menarik nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya kemudian, “Memang Sukra berhak untuk menentukan arah perjalanan hidupnya sendiri. Dia telah memilih yang terbaik menurut kata hatinya, dan jika itu telah menjadi keputusannya, tidak seorang pun yang berhak mencampurinya.”

Ki Waskita mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba Ki Waskita berkata dengan nada suara yang sedikit cemas, “Ngger, aku mengkhawatirkan perkembangan jiwa Sukra. Aku takut perkembangan jiwa anak muda itu nantinya akan menjadi seperti anakku, Rudita.”

Ki Rangga yang berjalan di sebelah Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Berkata Ki Rangga kemudian, “Ada sedikit perbedaan, Ki Waskita. Rudita sama sekali tidak menyukai dan selalu berusaha menghindari kekerasan. Bahkan dia akan membiarkan seseorang itu menganiaya dirinya kalau memang orang itu menghendaki. Aku jadi teringat peristiwa beberapa tahun yang lalu sewaktu Ajar Tal Pitu mencari aku di Menoreh. Rudita telah menjadi sasaran kemarahan Ajar Tal Pitu. Untung anak itu tidak dibunuhnya,” Ki Rangga berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Namun perkembangan jiwa Sukra agak berbeda. Sepertinya dia hanya menghindari perselisihan sejauh mungkin itu dapat dihindarkan. Jika memang tindak kekerasan atau kejahatan itu berada di depan matanya, apalagi menyangkut keselamatan dirinya, maka dia merasa wajib untuk membela diri. Itu yang disampaikannya kepadaku sewaktu dia menolak untuk aku ajak berangkat.”

Ki Waskita mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas teringat akan anak semata wayangnya dari istri pertamanya. Rudita benar-benar menjauhi dunia kekerasan walaupun itu menyangkut keselamatan diri pribadinya.

“Namun bagaimana pun juga, Rudita masih memikirkan keselamatan dirinya,” berkata Ki Waskita dalam hati sambil mengenang anak laki-laki satu-satunya itu, “Dia telah mempelajari dan membekali dirinya dengan ilmu kebal, walaupun tanpa tuntunan dari seorang guru. Aku sama sekali tidak menyangka jika dia telah berani mengambil kitab itu tanpa seijinku dan kemudian mempelajarinya sendiri.”

Tanpa terasa perjalanan mereka berdua telah semakin mendekati Padepokan Sapta Dhahana. Hutan sudah mulai menipis dan terlihat sudah sering dijamah oleh tangan manusia.

“Hutan ini tentu menjadi salah satu penyokong kehidupan di Padepokan Sapta Dhahana,” desis Ki Rangga tanpa sesadarnya.

“Ya, ngger,” jawab Ki Waskita sambil mengamat-amati bekas beberapa pokok pohon yang terlihat baru ditebang beberapa saat yang lalu. “Padepokan itu tentu memerlukan bahan bangunan untuk menggantikan beberapa bagian dari bangunan padepokan yang mungkin sudah mulai rusak dimakan waktu. Selebihnya beberapa hasil hutan ini pun dapat diambil manfaatnya.”

Ki Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya. Berkata Ki Rangga selanjutnya, “Mungkin sesekali mereka juga mencari binatang buruan yang masih banyak terdapat di hutan ini.”

“Ya, ngger. Aku yakin itu,” sahut Ki Waskita kemudian, “Berburu juga dapat dijadikan sarana untuk melatih ketangkasan membidik yang salah satunya adalah menggunakan anak panah.”

“Apakah ada kemungkinannya para murid padepokan itu melatih ketrampilan membidik mereka dengan cara berburu?”

“Sangat mungkin, ngger. Selain melatih ketrampilan, berburu juga dapat mendatangkan kesenangan dan keasyikan tersendiri. Para keluarga kerajaan, terutama Sinuhun Prabu Hanyakrawati mempunyai kebiasaan untuk sesekali berburu di sela-sela kesibukannya.”

Bersambung ke bagian 2

27 Responses

  1. Gimana caranya tuk dapat siaran ngih?

  2. Gimana caranya supaya dpt postingan

  3. bagus sekali ceritanya…
    semakin penasaran bacanya…

  4. josss gandossss…

  5. Ceriteranya sangat menarik. Tidak kalah dgn tulisan alm SH Mintereja. Sayangnya lukisan2/ gambar yg ada seperti gambar org yg sedang belajar melukis.

  6. Gimana caranya nyambung terus gan

  7. caranya gimana gan spy baca lanjutanya

  8. Agaknya para penghuni Padepokan Sapta Dhahana belum menyerap semua ilmu dari para pendahulunya itu dengan tuntas. Itu terbukti dari pada begitu mudahnya mereka tertidur, termasuk para cantriknya ( dan para ‘cantrik/mentrik adebemers’ ) karena terkena Aji Sirep Megananda dari seseorang sakti angkatan sepuh yang tidak banyak diketahui. Hanya oleh orang-orang tertentu saja rasa kantuk yang tidak sewajarnya itu bisa dihadapi dan dicegah. Namun dalam pada itu, sebenarnyalah akan sangat mudah menghadapi Aji Sirep Megananda itu para ‘sedherek’, dengan menyiapkan Aji Penangkalnya berupa Nasi Megana secukupnya dan tentu saja dengan Wedang Jahe Panas untuk membuat mata para cantrik berbinar-binar dan perut kenyang……Monggo dipun tlateni ingkang sami nyecep ngelmu kanuragan lan jaya kawijayan supados mboten gampang NGANTUK….

  9. Top markotop

  10. Lanjut bag 2. Penasaran

  11. Lanjut bag 2. Penasaran sama lanjutannya

  12. Gaya bahasanya hampir mumpuni.
    Top

  13. lanjut mbah man.,dinanti selalu lanjutan ceritanya …makin joss markojoss

  14. Lanjut terus ceritanya makin asik dan penasaran

  15. adakah cerita baru?

  16. (y)

  17. bisa nyambung dengan tuiurnya SH Mintarja

  18. Bagus.

  19. Bagus sekali.

  20. Jos tenan!

  21. Ki aku cantrik dari padepokan rasa jati ngaturkeun sewu nuhun ADBM ada yang melanjutkan.
    Mudah2an jadi berkah khususnya bagi sampean dan semua kawula yang membaca

  22. Kau?” tiba-tiba terdengar Raden Surengpati menggeram keras sambil menunjuk ke arah wajah Glagah Putih.

    Namun begitu Raden Surengpati menyadari orang yang berdiri di sebelah Glagah Putih, nyawanya pun bagaikan terbang meninggalkan raganya. ( Ada ada saja mbah_man merangkai kalimat )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s