STSD-06

kembali ke STSD-05 | lanjut ke STSD-07

Bagian 1

“GILA!” teriak Ki Brukut sambil meloncat mundur. Dengan segera diperiksanya kulit lengannya yang tersentuh sisi telapak tangan Ki Jayaraga.  Ternyata sebagian kulitnya telah melepuh dan berwarna merah kehitaman.

“Setan, iblis laknat jahanam!” umpat Ki Brukut tak habis habisnya sambil menyeringai menahan pedih yang menyengat kulit lengannya.

“Ki Sanak,” berkata Ki Jayaraga kemudian begitu melihat lawannya sedang sibuk memeriksa lukanya, “Silahkan beristirahat sebentar untuk mengobati luka Ki Sanak. Jika Ki sanak tidak membawa obat, aku ada sedikit yang dapat dipakai sementara untuk menahan pedih di luka Ki Sanak.”

“Persetan!” geram Ki Brukut dengan wajah merah padam, “Jangan engkau sangka aku sudah habis sampai di sini. Aku masih mempunyai bermacam-macam ilmu yang lain yang cukup untuk membuatmu bertekuk lutut. Aku peringatkan sekali lagi, jangan mencoba bergurau dengan Ki Brukut, nyawamu sudah berada di ujung rambutmu.”

Namun Ki Jayaraga menanggapi ancaman Ki Brukut dengan sebuah senyuman, senyuman yang tampak sangat menyakitkan hati lawannya.

Dengan cepat Ki Brukut segera mengeluarkan sebuah bungkusan dari kantong ikat pinggangnya. Setelah menaburkan bubuk yang berwarna putih di atas lukanya, Ki Brukut pun kemudian menyimpan kembali sisa obat dalam bungkusan itu ke kantong ikat pinggangnya kembali.

“Nah,” berkata Ki Brukut kemudian, “Sekarang bersiaplah untuk menerima hukuman. Aku sudah tidak akan bermain-main lagi. Ungkapan ilmu yang akan aku tunjukkan mungkin akan sangat membingungkanmu. Tapi percayalah, jika Ki Sanak menyerahkan diri secara baik-baik, aku akan mempercepat kematianmu tanpa merasakan sakit sama sekali.”

Guru Glagah Putih itu menarik nafas dalam-dalam. Menilik dari ucapannya, lawannya itu sangatlah sombong sekali. Namun Ki Jayaraga berpendapat, jika tidak memiliki bekal yang lebih dari cukup, tentu lawannya itu tidak akan berani berkata seperti itu.

“Baiklah Ki Brukut,” berkata Ki Jayaraga kemudian menanggapi, “Kita akan bertempur kembali. Namun kali ini kita harus membuat sebuah perjanjian terlebih dahulu. Selama pertempuran berlangsung, tidak diperkenankan untuk mengambil istirahat, makan atau minum misalnya. Bahkan mengobati luka pun juga termasuk dilarang.”

“Tutup mulutmu!” bentak Ki Brukut dengan wajah yang merah padam. Giginya terdengar bergemelutuk menahan kemarahan yang sudah mencapai ubun-ubun.

“Aku peringatkan sekali lagi. jangan menghina Ki Brukut!” geram Ki Brukut kemudian sambil tangan kirinya menunjuk ke arah wajah lawannya, “Aku dapat berbuat apa saja bahkan diluar batas kewajaran seorang manusia sekalipun.”

Diam-diam Ki Jayaraga tersenyum dalam hati. Pancingannya ternyata berhasil. Lawannya menjadi waringuten dan tentu saja Ki Jayaraga berharap penalaran lawannya pun akan menjadi buram serta pengetrapan ilmunya menjadi tumpang suh.

Maka kata Ki Jayaraga kemudian, “Ki Sanak aku menjadi tidak sabar lagi. Sedari tadi engkau selalu mengancam dan mengancam. Aku benar-benar sudah bosan dan muak mendengar ancamanmu itu.”

Belum selesai Ki Jayaraga mengatupkan bibirnya, serangan lawan telah meluncur deras mengarah ke dada.

Demikianlah akhirnya, setelah Ki Brukut dikejutkan dengan kemampuan lawannya yang mampu melontarkan kekuatan api melalui telapak tangannya, kedua orang itu pun kemudian kembali terlibat dalam pertempuran yang semakin sengit. Masing-masing telah meningkatkan ilmu dan tenaga cadangan yang tersimpan dalam diri mereka.

Dalam pada itu di halaman depan Ki Rangga terlihat sedang bertempur melawan pemimpin perguruan Sapta Dhahana, Kiai Damar Sasangka.

Ternyata pemimpin perguruan Sapta Dhahana itu langsung menyerang ki Rangga pada tataran tinggi ilmunya, walaupun belum merambah sampai ke puncak. Namun serangan-serangannya benar-benar dilambari tenaga cadangan dengan kekuatan yang dahsyat dan nggegirisi.

Sejauh itu Ki Rangga masih mampu melayani serangan-serangan lawannya, baik dalam hal kecepatan maupun tata gerak. Ketika lawannya semakin meningkatkan kecepatan geraknya, Ki Rangga pun mulai mengungkapkan ilmu yang mampu menghilangkan bobot tubuhnya.

“Ternyata nama besar Ki Rangga Agung Sedayu hanyalah sebuah omong kosong,” desis Kiai Damar Sasangka sambil terus meningkatkan serangannya, “Bagiku ilmu loncat-loncatan ini tak ubahnya permainan kanak-kanak yang baru belajar berjalan. Mereka senang meloncat-loncat karena ingin menirukan polah tingkah seekor katak.”

Sekilas Ki Rangga terlihat tersenyum. Dia menanggapi ejekan pemimpin perguruan Sapta Dhahana itu dengan senyum dikulum.  Ki Rangga sudah terbiasa menghadapi berbagai macam perangai lawan dalam setiap pertempuran.

Tiba-tiba lawan Ki Rangga itu meloncat ke belakang beberapa langkah untuk mengambil jarak. Sekejap dia terlihat seperti meraba kantong ikat pinggangnya. Belum sempat Ki Rangga mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh lawannya, serangan Kiai Damar Sasangka telah meluncur kembali dengan membadai.

Berbagai dugaan timbul dalam benak ki Rangga. Senapati pasukan khusus yang sudah kenyang makan asam garamnya pertempuran itu menduga tentu lawannya telah mengambil sebuah senjata rahasia yang disimpan di dalam kantong ikat pinggangnya.

“Mungkin sebuah paser kecil atau jarum yang sangat beracun,” berkata Ki Rangga dalam hati menduga-duga.

Walaupun pada dasarnya tubuh Ki Rangga telah dikaruniai kemampuan untuk menolak segala jenis racun, namun Ki Rangga tidak mau tubuhnya terluka hingga mengeluarkan darah.

“Dengan lontaran kekuatan yang dahsyat serta jarak yang sangat dekat, apapun jenis senjata rahasia itu, tentu akan mampu menembus kulitku,” berpikir Ki Rangga sambil terus mengawasi setiap gerakan tangan kanan lawannya yang tampak menggenggam sesuatu.

Maka sejenak kemudian, Ki Rangga pun mulai melindungi tubuhnya dengan meningkatkan ilmu kebalnya selapis demi selapis walaupun belum sampai ke puncak. Ki Rangga benar-benar tidak mau lengah walaupun hanya sekejap.

Namun untuk beberapa saat lawannya tidak menampakkan perubahan yang berarti. Serangannya tetap melanda Ki Rangga bagaikan ombak yang bergulung-gulung menerjang pantai. Sementara tangan kanannya tetap dalam keadaan menggenggam tanpa terlihat usaha untuk melemparkan sesuatu ke arah Ki Rangga.

Ki Rangga benar-benar sempat dibuat gelisah. Dia sedang menantikan lawannya menyerang dengan senjata rahasianya itu sehingga dia lebih banyak menunggu dan menghindar. Dengan loncatan-loncatan panjang dan kadang meloncat tinggi sekali, semua serangan lawannya dapat dihindarkan dengan mudah.

Namun lama kelamaan Ki Rangga menjadi tidak telaten. Ki Rangga tidak mau dirinya hanya menjadi sasaran serangan lawan, sementara senjata rahasia yang ditunggu-tunggu itu tidak kunjung tiba.

“Mungkin dia tidak benar-benar menggenggam sebuah senjata rahasia,” berkata Ki Rangga dalam hati sambil melenting tinggi, “Aku hanya dibayangi ketakutanku sendiri. Lebih baik aku balas menyerang. Bukankah aku dapat mengandalkan ilmu kebalku?”

Berpikir sampai disitu Ki Rangga segera mengambil keputusan untuk balas menyerang.

Demikianlah akhirnya, ketika kesempatan itu terbuka, serangan Ki Rangga pun datang melanda lawannya bagaikan angin puting beliung yang melanda apa saja yang dilewatinya.

Namun ternyata saat-saat itulah yang sedang ditunggu oleh lawannya. Begitu tubuh Ki Rangga meluncur deras ke depan, Kiai Damar Sasangka tampak mengangkat tangan kanannya dan membuka telapak tangan yang sedari tadi selalu tergenggam.

Ki Rangga terkejut. Ternyata sama sekali tidak ada senjata paser atau jarum dan sejenisnya dalam genggaman tangan lawannya. Yang meluncur deras menyambar wajah Ki Rangga adalah segumpal serbuk berwarna kekuning-kuningan yang segera menebar bercampur dengan udara malam.

Dalam keadaan yang sedemikian cepat itu Ki Rangga masih sempat memalingkan wajahnya. Namun tak urung serbuk yang telah bercampur dengan udara malam itu telah terhirup oleh pernafasan Ki Rangga.

Dengan cepat ki Rangga segera meloncat ke belakang mengambil jarak. Untuk sejenak Ki Rangga belum merasakan pengaruh serbuk yang ikut terhirup pernafasannya itu. Namun lambat laun Ki Rangga merasakan tubuhnya menjadi lemah dan lemas. Pandangan matanya menjadi kabur dan mulai berkunang-kunang serta pernafasannya menjadi sedikit sesak dan tersengal. Agaknya serbuk berwarna kekuning-kuningan itu sejenis racun yang sangat kuat dan jahat.

Perlahan tapi pasti, racun itu mulai meresap melalui paru-parunya dan selanjutnya beredar mengikuti aliran darahnya.

Agaknya di dalam tubuh Ki Rangga telah terjadi pertarungan yang dahsyat antara racun itu dengan darah Ki Rangga yang telah mengandung penawar terhadap segala racun. Betapa dahsyatnya pergolakan itu sehingga telah membuat tubuh Ki Rangga menggigil keras seperti orang kedinginan. Perlahan-lahan Ki Rangga pun kemudian terjatuh pada kedua lututnya.

“Kakang..!” terdengar teriakan Glagah Putih beberapa tombak dari tempat Ki Rangga terjatuh. Dengan sekuat tenaga Glagah Putih mencoba melepaskan diri dari pusaran pertempuran itu. Namun lawannya tidak membiarkannya keluar dari lingkaran pertempuran.

Sejenak Kiai Damar Sasangka hanya berdiri diam sambil bertolak pinggang. Sebuah senyum kemenangan telah menghiasi bibirnya.

“Ternyata agul-agulnya Mataram ini hanya sampai disini saja kehebatannya,” seru Kiai Damar Sasangka sambil tertawa terkekeh-kekeh, “Alangkah mudahnya melawan orang sesakti Ki Rangga Agung Sedayu yang namanya telah kawentar dari ujung sampai ke ujung tanah ini. Aku yakin, sebenarnya Kakang Pideksa pun tidak mungkin dapat dikalahkan kecuali dengan sebuah kecurangan.”

Ki Rangga Agung Sedayu yang mendengar suara tertawa lawannya itu tidak mengambil sikap apapun. Ki Rangga tetap berdiri pada kedua lututnya. Justru sekarang kepala Ki Rangga terlihat tertunduk dalam-dalam.

Sebenarnyalah racun yang terdapat dalam serbuk kekuning-kuningan itu sangat kuat dan dahsyat. Darah di tubuh Ki Rangga memerlukan waktu beberapa saat untuk mengendapkan kekuatan racun itu.

Untunglah Kiai Damar Sasangka tidak menyadari hal itu. Jika di saat tubuh Ki Rangga melemah karena pengaruh racun itu kemudian lawannya menyerang, tentu dengan sebuah serangan yang sangat sederhana pun Ki Rangga akan tumbang.

Namun ternyata Ki Rangga masih mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung. Perlahan tapi pasti pengaruh racun itu mulai menghilang dan Ki Rangga pun merasakan tubuhnya sehat kembali seperti sedia kala.

“Nah Ki Rangga,” berkata Kiai Damar Sasangka begitu melihat lawannya terlihat masih menundukkan kepalanya dalam-dalam, “Engkau harus mengakui kehebatan perguruan Sapta Dhahana. Sekarang tataplah langit dan peluklah bumi untuk terakhir kali. Jangan rindukan lagi Matahari terbit di esok hari.”

Selesai berkata demikian Kiai Damar Sasangka segera mengerahkan tenaga cadangan di kepalan tangan kanannya. Sambil berteriak nyaring, tubuhnya melesat ke depan sambil mengayunkan kepalan tangannya untuk meremukkan kepala Ki Rangga Agung Sedayu.

Namun yang terjadi kemudian adalah sangat diluar dugaan pemimpin perguruan Sapta Dhahana itu. Disaat serangannya hampir mencapai sasaran, dengan gerakan yang hampir tidak kasat mata Ki Rangga telah menyilangkan kedua tangannya tepat di atas kepala. Benturan yang dahsyat pun tak terelakkan lagi.

Yang terjadi kemudian adalah sebuah benturan yang dahsyat. Udara malam terasa bergetar dengan dahsyat. Getarannya telah merontokkan dedaunan serta menghamburkan debu di sekitar lingkaran pertempuran itu. Bahkan getaran udara itu terasa menghentak dada Glagah Putih dan Raden Surengpati yang sedang bertempur tidak jauh dari tempat itu.

“Gila!’ teriak Glagah Putih dan Raden Surengpati hampir bersamaan. Dengan cepat kedua anak muda itu pun segera meloncat mundur sambil menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan getaran yang telah menyesakkan dada.

Dalam pada itu, Kiai Damar Sasangka yang sama sekali tidak menduga jika lawannya masih mampu memberikan perlawanan telah terlontar ke belakang hampir satu tombak jauhnya. Tubuhnya melayang tanpa terkendali sebelum akhirnya jatuh bergulingan di atas tanah yang berdebu.

Sedang Ki Rangga yang mempunyai kedudukan lebih menguntungkan ternyata telah terdorong surut beberapa langkah ke belakang dengan tetap bertumpu pada kedua lututnya. Rasa-rasanya berbongkah-bongkah batu padas yang berguguran dari atas bukit telah menimpa dadanya.

Ki Rangga segera bangkit berdiri sambil mengibas-kibaskan debu yang melekat di kain panjangnya.  Ketika pandangan matanya kemudian melihat ke arah depan. Tampak lawannya telah bangkit berdiri sambil mengumpat tak habis-habisnya.

“Syetan, iblis, gendruwo, tetekan..!” geram Kiai Damar Sasangka sambil mengusap wajahnya yang penuh debu, “Syetan mana yang merasuki tubuhmu, he?!”

Ki Rangga tersenyum mendengar umpatan lawannya. Jawabnya kemudian sambil tetap tersenyum, “Aku tidak pernah berkawan dengan syetan, Kiai. Aku selalu memohon perlindungan kepada Yang Maha Agung.”

“Omong kosong!” sergah Kiai Damar Sasangka, “Ternyata tubuhmu kebal terhadap serbuk racunku. Baiklah pertempuran belum berakhir. Aku masih mempunyai segudang ilmu untuk membunuhmu.”

Namun sebenarnyalah telah terlintas sebuah penyesalan dalam benak pemimpin perguruan Sapta Dhahana itu.

“Sekebal apapun seseorang itu terhadap pengaruh racun, dia pasti memerlukan waktu untuk menawarkannya. Dan aku ternyata telah menyia-nyiakan kesempatan itu,” sesalnya kemudian dalam hati.

Kiai Damar Sasangka benar-benar telah menyesali kesempatan yang terbuka di hadapannya.  Pada saat Ki Rangga sedang berjuang menawarkan racun yang masuk ke dalam aliran darahnya melalui pernafasannya, tentu pertahanan Ki Rangga menjadi sangat lemah.

“Jika pada saat dia terjatuh itu aku menyerangnya kembali, tentu nama besar agul-agulnya Mataram itu kini hanya tinggal kenangan,” berkata Kiai Damar Sasangka dalam hati kemudian.

Demikianlah, sejenak kedua orang itu pun segera memulai lagi pertempuran yang dahsyat mengadu kerasnya tulang dan liatnya kulit.

Dalam pada itu, udara malam terasa semakin dingin menusuk kulit dan meremas tulang. Dalam keremangan malam tampak beberapa bayangan berjalan di antara gerumbul-gerumbul perdu dan sesekali mereka meloncati parit dan meniti pematang.

“Sebelum ayam berkokok untuk terakhir kalinya, aku harap kita sudah sampai di rumah Nyi Gede,” berkata salah seorang di antara mereka yang berbadan tegap dan kekar.

“Ki Jagabaya,” sahut seorang yang berperawakan tinggi dan kurus, “Apakah Nyi Gede akan percaya bahwa kita adalah utusan Ki Gede Matesih untuk menjemput mereka?”

Orang yang dipanggil Ki Jagabaya itu tertawa pendek. Jawabnya kemudian, “Nyi Gede sudah sangat mengenal aku sebagai Jagabaya perdikan Matesih. Dengan seribu satu macam alasan, kita pasti dapat memboyong Nyi Gede dan putranya.”

Sejenak suasana menjadi sepi. Yang terdengar hanyalah deru nafas orang-orang itu yang sedang berpacu dengan waktu.

“Ki Jagabaya,” kembali terdengar orang yang tinggi kurus itu menyeletuk, “Menurut berita telik sandi kita menjelang sirep uwong tadi, Ki Wiyaga dan beberapa pengawal telah berangkat untuk menjemput Nyi Gede atas perintah Ki Gede. Aku khawatir jika rombongan kita ini nantinya justru akan berjumpa dengan mereka di rumah yang ditempati Nyi Gede.”

“Apa engkau takut?” tiba-tiba terdengar suara mirip burung hantu memotong, “Jika engkau takut, masih ada kesempatan untuk kembali. Sebenarnya cukup aku sendiri saja untuk melakukan tugas ini. Apakah susahnya membawa seorang perempuan dan anak yang masih kecil? Walaupun mereka dilindungi pasukan segelar sepapan, sendirian saja aku sanggup mengatasinya.”

“Ah, sombongnya!” geram orang tinggi kurus itu, “Sesekali aku memang ingin mencoba untuk membuktikan kesombonganmu itu!”

“Ah, sudahlah!” potong Ki Jagabaya yang melihat orang yang mempunyai suara mirip burung hantu itu akan menjawab, “Jangan bertengkar karena hal-hal yang sepele. Kita mempunyai sebuah kerja besar malam ini. Jika Nyi Gede dan putranya dapat kita kuasai, aku yakin Ki Gede Matesih dengan suka rela akan menyerah dan mendukung perjuangan kita.”

Tampak kedua orang yang sedang bertengkar itu menarik nafas dalam-dalam. Keduanya berusaha untuk menahan diri sejauh dapat mereka lakukan. Namun tanpa terasa bibit-bibit dendam itu mulai tumbuh di hati mereka.

“Kita tetap lewat jalan pintas,” berkata Ki Jagabaya kemudian ketika mereka keluar dari sebuah pategalan dan mendapatkan sebuah jalur jalan yang membujur kearah timur dan barat, “Kita lewat padang perdu itu kemudian membelok ke timur. Setelah melewati belakang pasar dukuh Salam, kita akan sampai di rumah Nyi Selasih, janda anak satu yang telah dinikahi Ki Gede hampir setahun yang lalu.”

Orang-orang yang mengikuti Ki Jagabaya itu tampak mengangguk-anggukkan kepala mereka. Demikian mereka menaiki tanggul di sisi selatan jalan itu, mereka pun kemudian menyeberangi jalan untuk kemudian melintasi sebuah padang perdu yang cukup luas.

Dalam pada itu, di kedalaman hutan sebelah timur gunung Tidar, tampak Ki Ajar Mintaraga sedang duduk di atas sebuah batu yang terletak di tengah-tengah padang rumput yang tidak seberapa luas. Di hadapannya duduk seorang anak muda dengan kepala yang ditundukkan dalam-dalam.

“Gatra Bumi,” berkata Ki Ajar kemudian dengan sareh, “Aku memang sempat kecewa dengan keputusanmu yang menolak ajakan Ki Rangga untuk mengadakan penyelidikan di perguruan Sapta Dhahana. Namun aku dapat menyadari keputusanmu itu. Engkau memang berhak untuk memilih jalan hidupmu sendiri.”

Anak muda yang tak lain adalah Sukra itu tampak menarik nafas dalam-dalam. Sambil membungkukkan badannya sedikit ke depan dia pun berkata, “Guru, aku memang telah memutuskan untuk menghindari setiap kekerasan yang terjadi di atas muka bumi ini, sesuai dengan ajaran Kanjeng Sunan yang telah disampaikan kepadaku beberapa saat yang lalu.”

Sejenak Ki Ajar Mintaraga mengerutkan keningnya. Bertanya Ki Ajar kemudian dengan nada suara yang terdengar tetap sareh, “Pelajaran apakah yang dapat engkau petik dari ajaran Kanjeng Sunan itu?”

Sukra tidak langsung menjawab. Digeser duduknya beberapa jengkal ke depan sebelum menjawab pertanyaan gurunya.

“Guru,” jawab Sukra kemudian, “Kanjeng Sunan mengajarkan sebuah laku yang harus kita jalani dengan ikhlas jika kita ingin bergaul dan hidup di antara kawula dalam bebrayan agung.”

Ki Ajar mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebagai murid dan sekaligus sahabat Kanjeng Sunan, tentu saja Ki Ajar sudah paham betul dengan ajaran itu. Namun Ki Ajar tetap saja melanjutkan pertanyaannya.

“Apakah engkau dapat menjelaskan kepadaku tentang laku itu?”

Untuk beberapa saat Sukra terdiam. Berbagai tanggapan hilir mudik dalam benaknya. Ada sedikit keseganan yang timbul dalam hatinya jika harus menjelaskan kepada gurunya tentang ajaran Kanjeng Sunan itu.

“Apakah guru hanya ingin mengujiku sejauh mana aku memahami ajaran Kanjeng Sunan itu?” pertanyaan itu bergejolak di dalam dadanya.

“Gatra Bumi,” berkata Ki Ajar kemudian begitu melihat muridnya hanya diam saja, “Jika seorang guru bertanya kepada muridnya, bukan berarti guru itu belum mengetahui persoalan yang sebenarnya. Namun ada kalanya seorang guru ingin mengetahui sejauh mana seorang murid telah memahami persoalan yang sedang mereka hadapi.”

Sukra menarik nafas panjang mendengar keterangan Ki Ajar. Dengan suara yang sedikit sendat, dia pun segera berkata, “Guru, Kanjeng Sunan mengajarkan kepadaku sebuah laku yang disebut Tapa Ngeli.”

Ki Ajar tersenyum mendengar keterangan Sukra. Bertanya Ki Ajar kemudian, “Gatra Bumi, apakah engkau dapat menjelaskan makna dari Tapa Ngeli itu?”

Kembali Sukra terdiam beberapa saat. Namun akhirnya Sukra pun menjawab, “Maafkan aku Guru. Sejauh yang aku pahami tentang laku Tapa Ngeli, adalah sebuah sikap diri untuk menerima segala keadaan, pasrah kepada Yang Maha Agung tentang takdir yang akan berlaku pada diri kita. Kita ikuti saja aliran air ke mana kita dibawanya.”

Tampak kerut merut di dahi Ki Ajar semakin dalam. Sambil menarik nafas panjang, Ki Ajar pun kemudian bertanya, “Apakah dengan dasar pemikiran seperti itu engkau telah menolak ajakan Ki Rangga untuk menemaninya mengadakan penyelidikan di padepokan Sapta Dhahana?”

Sejenak Sukra ragu-ragu. Namun akhirnya dia menjawab perlahan, “Guru, memang aku merasa bahwa apa yang akan dilakukan Ki Rangga adalah sikap yang tidak pasrah dan kurang percaya terhadap apa yang akan berlaku sesuai kehendak Yang Maha Agung. Aku merasa usaha Ki Rangga dalam mengadakan penyelidikan adalah sebuah usaha mencurigai sekaligus rasa ketidak percayaan kita terhadap sesama.”

“Ah,” Ki Ajar berdesah perlahan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sepasang mata tua namun yang terlihat masih sangat jernih itu memandang Sukra dengan penuh rasa belas kasih.

Berkata Ki Ajar kemudian, “Gatra Bumi, Tapa Ngeli memang sebuah laku kepasrahan diri. Namun itu bukan berarti bahwa kita ibaratnya hanyalah sebuah batang pisang yang terhanyut oleh aliran sebuah sungai. Makna Ngeli dan Keli itu sangat berbeda. Ngeli mempunyai makna sengaja menghanyutkan diri namun tidak sampai keli atau terhanyut. Ngeli ning aja nganti keli. Dalam menyikapi sebuah kejadian di masyarakat, kita ikuti apa kemauan mereka, namun jika ada hal-hal yang bertentangan dengan aturan yang telah diturunkan oleh Yang Maha Agung melalui utusaNYA, kita tidak boleh terhanyut dan terseret oleh kemauan mereka.”

Sukra tampak mengerutkan keningnya dalam-dalam. Pemahamannya tentang Tapa Ngeli itu memang sedikit berbeda.

“Selain itu,” berkata Ki Ajar selanjutnya, “Tapa Ngeli mengajarkan kita untuk selalu rendah hati, mengalir wajar dan tidak neko-neko. Membuat kita peka terhadap kejadian apa saja yang kita lihat sepanjang aliran sungai, sepanjang aliran kehidupan masyarakat yang selalu berubah dan bergolak bagaikan aliran sebuah sungai.”

Untuk kali ini tampak kepala Sukra terangguk-angguk. Ketika dia kemudian menengadahkan wajahnya, Ki Ajar pun sedang memandang ke arahnya dengan sebuah senyum yang tersungging di bibir, sebuah senyum yang sareh.

“Nah, Gatra Bumi,” berkata Ki Ajar selanjutnya, “Kita bersama telah mengetahui bahwa sekarang ini Ki Rangga dan kawan-kawannya sedang mendekati padepokan Sapta Dhahana. Segala sesuatunya bisa saja terjadi. Kita berdua sengaja dikirim oleh Kanjeng Sunan untuk membantu Ki Rangga, namun bukan bantuan berupa tenaga untuk menghadapi sebuah pertempuran, namun bantuan pemikiran atau usaha agar apa yang dilaksanakan oleh Ki Rangga dan kawan-kawannya itu berhasil.”

“Jadi, apa yang harus aku lakukan, Guru?” sahut Sukra dengan nada sedikit meragu.

“Beri tahu Ki Gede Matesih bahwa kemungkinannya sekarang ini Ki Rangga dan kawan-kawannya sedang berada di padepokan Sapta Dhahana. Tidak menutup kemungkinan mereka sedang terlibat dalam sebuah pertempuran yang dahsyat,” jawab Ki Ajar cepat.

Tergetar hati Sukra mendengar penjelasan gurunya. Tanpa sadar dia beringsut setapak sambil bertanya, “Bagaimana Guru bisa menduga jika sekarang ini Ki Rangga sedang terlibat dalam sebuah pertempuran?”

Kembali Ki Ajar Mintaraga tersenyum sareh. Jawabnya kemudian, “Aku telah menerima aji pameling dari Ki Tanpa Aran,” Ki Ajar berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Bukankah engkau mengenal Ki Tanpa Aran?”

“Ya Guru,” jawab Sukra kemudian, “Ki Tanpa Aran dan Guru ibaratnya saudara seperguruan.”

Ki Ajar tertawa. Katanya kemudian, “Bukan ibaratnya saja, Gatra Bumi. Kami memang saudara seperguruan.”

Sukra tanpa sadar menengadahkan wajahnya sambil mengulang, “Saudara seperguruan?”

“Ya, kami memang saudara seperguruan,” jawab Ki Ajar dengan senyum yang penuh teka-teki.

“Ah sudahlah,” berkata Ki Ajar selanjutnya mengalihkan pembicaraan, “Menurut aji pameling yang baru saja aku terima, telah terjadi pertempuran di perguruan Sapta Dhahana. Ki Tanpa Aran telah menebar sirep yang sangat tajam sehingga pertempuran yang sedang berlangsung sekarang hanyalah antara Ki Rangga dan kawan-kawannya melawan para petinggi perguruan Sapta Dhahana.”

“Apakah Ki Tanpa Aran ikut terlibat dalam pertempuran?” bertanya Sukra kemudian.

Sejenak Ki Ajar termenung. Namun akhirnya Ki Ajar menjawab, “Ki Tanpa Aran memang terlibat dalam sebuah pertempuran namun jauh di luar lingkungan padepokan Sapta Dhahana.”

“Mengapa?” bertanya Sukra dengan serta merta, “Apakah Ki Tanpa Aran tidak membantu Ki Rangga dan kawan-kawannya di dalam padepokan?”

Ki Ajar menggeleng. Jawabnya kemudian, “Aku tidak tahu siapa lawan Ki Tanpa Aran. Yang jelas dalam aji pameling tadi Ki Tanpa Aran berpesan bahwa sebelum Matahari terbit, Ki Gede Matesih dan pasukan pengawal harus sudah sampai di padepokan Sapta Dhahana.”

Sejenak Sukra termangu-mangu. Kemudian sambil mengerutkan keningnya dalam-dalam dia mengajukan sebuah pertanyaan yang kelihatannya masih mengganjal dalam hatinya.

Bertanya Sukra kemudian, “Untuk apa sepasukan pengawal jika para cantrik padepokan Sapta Dhahana sudah terlelap dalam sirep?”

“Itulah permasalahannya,” sahut Ki Ajar cepat, “Kekuatan sirep akan pudar seiring dengan terbitnya Matahari. Yang dikhawatirkan oleh Ki Tanpa Aran adalah jika pertempuran Ki Rangga dan kawan-kawannya belum berakhir dan Matahari keburu terbit di langit Timur.”

“Dan para cantrik, manguyu, jejanggan serta Putut yang terpengaruh sirep akan sadar bersamaan dengan terbitnya Matahari,” Sukra kemudian menyahut dengan dada yang berdebaran, “Begitu menyadari apa yang sedang terjadi di padepokan mereka, mereka akan berduyun-duyun mengeroyok Ki Rangga dan kawan-kawannya.”

“Dugaanmu sangat tepat, Gatra Bumi,” Ki Ajar menimpali, “Jika itu yang terjadi, maka Ki Rangga dan kawan-kawannya akan mengalami kesulitan.”

“Ya, kami memang saudara seperguruan,” jawab Ki Ajar dengan senyum yang penuh teka-teki.

Sukra termenung. Sejenak suasana menjadi sunyi. Keduanya telah tenggelam dalam lamunan masing-masing.

“Guru,” berkata Sukra kemudian setelah beberapa saat keduanya terdiam, “Aku akan menghadap Ki Gede Matesih sekarang juga. Namun aku mohon bantuan Guru. Jarak hutan tempat kita ini dengan perdikan Matesih cukup jauh. Aku khawatir tidak bisa sampai di perdikan Matesih sebelum fajar,” Sukra berhenti sejenak untuk sekedar menarik nafas. Lanjutnya kemudian, “Demikian juga Ki Gede memerlukan waktu untuk mengumpulkan para pengawalnya serta perjalanan menuju ke gunung Tidar.”

Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku mengerti maksudmu Gatra Bumi. Marilah aku antar menghadap Ki Gede Matesih.”

Sukra cepat-cepat menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan senyumnya. Dia benar-benar merasa lega jika Ki Ajar berkenan mengantarkannya ke perdikan Matesih. Perjalanan dari tempat mereka sekarang ini ke perdikan Matesih memerlukan waktu yang cukup lama, namun dengan aji pangrupak jagad yang diajarkan oleh Kanjeng Sunan kepada Ki Ajar, tentu perjalanan mereka dapat dipersingkat.

Demikianlah sejenak kemudian Sukra segera membantu gurunya berdiri dari tempat duduknya. Dengan bertelekan pada tongkatnya, Ki Ajar yang sudah sangat sepuh sekali itupun berjalan tertatih-tatih dituntun muridnya menembus pekatnya malam dan lebatnya hutan menuju ke perdikan Matesih.

Dalam pada itu di regol penjagaan depan kediaman ki Gede Matesih, tampak seorang anak muda berjalan dalam gelapnya malam mendekati regol.

Serentak para penjaga segera berloncatan menghadang jalan.

Ketika sinar oncor yang disangkutkan di sebelah menyebelah regol itu menerangi wajahnya, tampak wajah seorang anak muda dengan warna kulit kehitam-hitaman.

“Selamat malam,” berkata anak muda itu kemudian sesampainya di depan para pengawal yang berdiri berjajar-jajar di depan regol, “Namaku Sukra atau cantrik Gatra Bumi. Jika diperkenankan aku ingin menghadap Ki Gede Matesih.”

Sejenak para pengawal penjaga regol itu saling pandang. Adalah sangat aneh jika ada seseorang ingin menghadap Ki Gede di waktu seperti itu.

“Anak muda,” berkata pengawal tertua di antara mereka kemudian, “Malam sudah melewati tengah malam. Sebaiknya kepentinganmu untuk menghadap Ki Gede itu engkau tunda sampai besok pagi saja.”

Tampak kerut merut di dahi Sukra. Tanpa sadar dilayangkannya pandangan matanya ke arah pendapa. Dari tempatnya berdiri Sukra dapat melihat melalui regol yang terbuka, tampak beberapa orang sedang duduk-duduk berbincang di pendapa.

Agaknya pengawal tertua itu mengikuti arah pandang Sukra. Maka katanya kemudian, “Mereka adalah para bebahu perdikan Matesih. Sejak sore tadi mereka telah mengadakan pertemuan dan agaknya pertemuan itu sudah selesai. Sebentar lagi mereka akan pulang ke rumah masing-masing.”

Tampak Sukra menelan ludah beberapa kali untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba saja menjadi kering. Sukra memang belum terbiasa berbicara panjang lebar dengan orang yang lebih tua dan belum dikenalnya.

Akhirnya dengan memberanikan diri, Sukra pun kemudian menyampaikan maksudnya, “Maafkan aku sebelumnya Ki Sanak, aku ingin menghadap Ki Gede sehubungan dengan pesan Ki Rangga Agung Sedayu.”

“Ki Rangga Agung Sedayu?” hampir bersamaan orang-orang yang hadir di regol depan itu mengulang. Sukra memang dengan sengaja menggunakan nama Ki Rangga agar menarik perhatian. Berbeda jika dia menyebut nama Ki Tanpa Aran, kemungkinannya tidak ada seorang pun di antara mereka yang akan mengenalnya.

Sejenak wajah-wajah para pengawal itu terlihat ragu-ragu. Namun akhirnya pengawal tertua itu pun bertanya, “Apakah engkau mempunyai saksi atau dapat membuktikan bahwa pesan yang engkau bawa itu benar-benar dari Ki Rangga Agung Sedayu.”

Belum sempat Sukra menjawab, tiba-tiba terdengar suara menjawab, “Akulah saksinya Ki Sanak.”

Serentak mereka berpaling ke arah suara itu berasal. Tampak dari kegelapan malam muncul sesosok orang yang sudah sangat sepuh yang berjalan tertatih-tatih bertelekan pada tongkatnya.

“Guru,” desis Sukra kemudian sambil menarik nafas panjang. Dengan kemunculan gurunya itu dia menganggap dirinya telah gagal dalam menjalankan tugas untuk meyakinkan para pengawal.

“Sudahlah Gatra Bumi. Engkau masih mempunyai banyak kesempatan di lain waktu,” berkata Ki Ajar kemudian sambil tersenyum sareh begitu melihat wajah Sukra yang kecewa.

Kemudian kepada para pengawal, Ki Ajar pun kemudian berkata, “Tolonglah Ki Sanak semua. Sampaikan maksud kami untuk menghadap kepada Ki Gede. Kami membawa berita yang sangat penting yang harus segera ditindak lanjuti malam ini juga.”

Entah mengapa, begitu para pengawal menatap sepasang mata sepuh itu, hati mereka telah tergetar dan tidak kuasa untuk menolak permintaannya.

Dalam pada itu, di pendapa perdikan Matesih, Ki Gede baru saja akan beranjak memasuki pintu pringgitan ketika seorang pengawal yang bertugas jaga di regol depan tampak berlari-larian menuju ke pendapa.

“Ada apa?” hampir bersamaan para bebahu yang sudah bersiap meninggalkan pendapa itu bertanya.

“Ada tamu yang ingin menghadap Ki Gede,” jawab pengawal itu dengan nafas sedikit memburu.

Ki Gede yang sudah berada di depan pintu pringgitan dan mendengar kata-kata pengawal itu segera melangkah kembali ke pendapa.

“Siapakah tamu yang datang malam-malam begini?” bertanya Ki Gede kemudian sesampainya dia di hadapan pengawal itu.

Sejenak pengawal itu mengatur pernafasannya. Jawabnya kemudian, “Ki Gede, kedua orang itu mengaku sahabat Ki Rangga Agung Sedayu dan membawa berita yang sangat penting.”

Hampir setiap orang yang hadir di tempat itu mengerutkan kening dalam-dalam. Nama Ki Rangga Agung Sedayu memang telah mereka dengar dan merupakan harapan bagi mereka untuk mengeluarkan perdikan Matesih dari kemelut yang sedang terjadi. Namun sebagian dari mereka belum pernah bertemu.

Namun Ki Gede yang sudah pernah bertemu dengan mereka di banjar padukuhan Klangon itu segera tanggap. Katanya kemudian kepada pengawal itu, “Bawa mereka kemari!”

“Baik, Ki Gede,” jawab pengawal itu kemudian sambil berlari menuju regol kembali.

“Marilah,” berkata Ki Gede kemudian mempersilahkan para bebahu yang sedianya sudah mau meninggalkan tempat itu, “Agaknya malam ini kita harus bersiaga semalam suntuk. Semoga perjuangan kita ini tidak sia-sia.”

Para bebahu tampak mengangguk-anggukkan kepala mereka sambil mengambil tempat duduk kembali di atas tikar pandan di tengah-tengah pendapa.

Sejenak kemudian mereka yang hadir di pendapa itu segera melihat seorang yang sudah sangat sepuh berjalan tertatih-tatih berpegangan pada sebatang tongkat dan dituntun oleh seorang anak muda.

Serentak mereka yang berada di pendapa itu segera berdiri menyambut.

“Silahkan. Silahkan.” berkata Ki Gede kemudian dengan ramah sambil mempersilahkan kedua tamunya untuk mengambil tempat duduk.

“Terima kasih, mohon dimaafkan telah merepotkan semuanya,” jawab orang yang sudah sangat sepuh itu.

Sejenak kemudian semuanya telah duduk kembali di atas tikar pandan yang dibentangkan di tengah-tengah pendapa.

“Sebelumnya, perkenankan kami memperkenalkan diri,” berkata ki Gede kemudian, “Aku sendiri adalah kepala tanah perdikan Matesih.”

Tampak kepala kedua tamunya itu terangguk-angguk. Kemudian selanjutnya satu persatu Ki Gede memperkenalkan para bebahu yang hadir di pendapa itu.

“Mohon maaf Ki Gede,” berkata orang yang sudah sangat sepuh itu, “Aku adalah Ki Ajar Mintaraga salah seorang murid dan sekaligus juga sahabat dari Kanjeng Sunan Muria,” Ki Ajar berhenti sejenak. Kemudian sambil berpaling ke arah Sukra dia melanjutkan, “Dan ini adalah Cantrik Gatra Bumi, salah seorang muridku.”

Hampir bersamaan orang-orang yang hadir di pendapa itu mengangguk-anggukkan kepala. Nama Kanjeng Sunan Muria sudah tidak asing bagi mereka. Kanjeng Sunan Muria adalah putra dari seorang Wali yang waskita, Kanjeng Sunan Kalijaga.

“Maafkan kami sebelumnya, Ki Ajar,” berkata Ki Gede kemudian, “Apakah memang benar bahwa kedatangan Ki Ajar berdua ini ada hubungannya dengan Ki Rangga Agung Sedayu?”

“Benar Ki Gede,” jawab Ki Ajar dengan serta merta, “Keadaan di padepokan Sapta Dhahana sekarang sedang terjadi pertempuran dahsyat. Ki Gede dimohon memberikan bantuan para pengawal untuk membantu Ki Rangga dan kawan-kawannya.”

Kemudian secara singkat Ki Ajar segera menceritakan Ki Rangga Agung Sedayu dan kawan-kawannya yang telah berangkat ke gunung Tidar sejak waktu sepi uwong tadi.

Untuk sejenak Ki Gede mengedarkan pandangan matanya ke arah para bebahu. Betapa wajah-wajah para bebahu itu menjadi tegang.

“Agaknya pertempuran sudah tidak dapat dielakkan lagi,” desis Ki Gede sambil menarik nafas dalam-dalam, “Jika semenjak sore tadi kita menyusun rencana jika padepokan Sapta Dhahana menyerang perdikan ini, ternyata yang terjadi adalah sebaliknya. Malam ini kita akan menyerang padepokan di gunung Tidar itu.”

Wajah-wajah di pendapa itu pun menjadi semakin tegang.

“Berhubung Ki Wiyaga sedang mengemban tugas khusus, aku mohon Ki Kamituwa mengumpulkan para pengawal, khususnya pengawal padukuhan induk perdikan Matesih ini terlebih dahulu. Untuk selanjutnya pengawal dari padukuhan yang lain dapat menyusul kemudian.”

“Baik Ki Gede,” jawab Ki Kamituwa kemudian sambil menegakkan badannya, “Apakah diperkenankan untuk melemparkan isyarat?”

Sejenak Ki Gede tertegun. Sambil berpaling ke arah Ki Ajar, Ki Gede pun meminta pertimbangan.

“Bagaimanakah sebaiknya, Ki Ajar?” bertanya Ki Gede kemudian.

“Tidak ada masalah Ki Gede,” jawab Ki Ajar kemudian, “Namun sebaiknya isyarat yang dilontarkan jangan menimbulkan bunyi yang dapat memancing perhatian lawan atau bahkan meresahkan para kawula yang tidak mengetahui duduk permasalahannya. Lemparkan saja panah berapi sesuai dengan kesepakatan yang telah diketahui oleh para pengawal Matesih.”

Ki Gede tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil berpaling ke arah Ki Kamituwa, Ki Gede pun kemudian berkata, “Lontarkan panah berapi ke udara tiga kali berturut-turut. Sesuai kesepakatan kita, para pengawal harus segera berkumpul di banjar padukuhan induk secepat mungkin. Usahakan lontaran isyarat itu jangan hanya sekali. Jika para pengawal di gardu-gardu perondan melihat, mereka akan segera menghubungi kawan-kawannya.”

“Baik Ki Gede, aku mohon diri untuk mengumpulkan para pengawal,” jawab Ki Kamituwa kemudian sambil bangkit berdiri.

Setelah menganggukkan kepalanya kepada semua yang hadir di pendapa itu, Ki Kamituwa pun segera bergerak menuju regol depan. Beberapa pengawal jaga segera diperintahkan untuk melontarkan isyarat panah berapi sesuai dengan yang telah disepakati..

Sepeninggal Ki Kamituwa, Ki Gede segera membagi tugas di antara para bebahu Matesih.

Berkata Ki Gede kemudian, “Mohon maaf Ki Ajar. Apakah Ki Ajar akan ikut ke gunung Tidar?”

Ki Ajar tersenyum sambil menggeleng. Jawabnya kemudian, “Aku hanya akan merepotkan saja. Lebih baik aku tinggal di sini bersama muridku untuk ikut mengawasi keadaan.”

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Biarlah aku bangunkan perempuan-perempuan yang bekerja di dapur. Mungkin Ki Ajar berdua memerlukan semangkuk minuman panas sekedar untuk menghangatkan diri dan mencegah kantuk.”

“Ah,” desah Ki Ajar dan Sukra hampir bersamaan.

Jawab Ki Ajar kemudian, “Janganlah keberadaan kami berdua menjadikan beban bagi keluarga Ki Gede.”

“Kalian berdua adalah tamu-tamuku. Sudah sewajarnya jika aku menghormati tamu-tamuku,” potong Ki Gede sambil tersenyum.

Demikianlah akhirnya, Ki Gede telah minta diri sejenak untuk masuk ke dalam sekedar mengambil senjata serta membangunkan perempuan yang bekerja di dapur.

Dalam pada itu Ratri yang gelisah di dalam biliknya semenjak sore tadi telah bangkit dari pembaringan dan mencoba keluar bilik. Ketika dia kemudian membuka pintu bilik, tampak ayahnya sedang bergegas keluar dari biliknya sambil menjinjing senjata kebesaran perdikan Matesih Kiai Singkir Geni, sebuah tombak bermata tiga.

“Ayah,” desis Ratri begitu melihat ayahnya berpaling ke arahnya.

“Ada apa Ratri?” bertanya Ki Gede kemudian sambil berjalan mendekat.

“Ayah akan pergi kemana?” bertanya Ratri kemudian sambil memandang ke arah tangan kanan ayahnya yang menjinjing senjata pusakanya.

“Aku akan nganglang sebentar, Ratri,” jawab Ki Gede yang kemudian berdiri selangkah saja di hadapan anak perempuannya itu.

“Malam-malam begini?”

“Ya, Ratri. Apa salahnya?”

Sejenak Ratri termangu-mangu. Ada sedikit rasa segan untuk bertanya lebih jauh karena Ratri sudah mendengar berita yang terjadi siang tadi antara ayahnya dengan Raden Surengpati.

“Apakah pertemuan para bebahu di pendapa sudah selesai?” bertanya Ratri kemudian mengalihkan pembicaraan.

Ki Gede menganggukkan kepalanya sambil memandang putri satu-satunya itu dengan tajam sehingga Ratri telah menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Ratri,” berkata Ki Gede kemudian sambil menepuk pundak putrinya dengan tangan kirinya, “Sudahlah. Kembalilah ke bilikmu. Masih cukup waktu untuk beristirahat. Biarlah mbok Pariyem saja yang mengurusi kedua tamu yang berada di pendapa itu.”

“Tamu?” tanpa sadar Ratri mengulang dengan nada sedikit terkejut sambil mengangkat wajahnya.

Ki Gede menarik nafas panjang. Ada sedikit penyesalan atas keterlanjurannya menyebut tentang kedua tamunya itu. Namun semua sudah terlanjur dan Ki Gede pun menyadari sifat anak perempuan satu-satunya itu, dia pasti ingin mengetahui siapa kedua tamunya itu.

Namun Ki Gede tidak begitu khawatir dengan keberadaan kedua tamunya itu. Maka jawabnya kemudian, “Ya, Ratri. Ada dua orang tamu yang sekarang sedang berada di pendapa. Aku sudah memberi tahu mbok Pariyem untuk sekedar menjamu mereka dengan minuman hangat.”

“Aku akan membantu mbok Pariyem,” sahut Ratri cepat tanpa meminta persetujuan ayahnya sambil keluar biliknya. Sebelum melangkah menuju dapur, Ratri pun telah menutup biliknya terlebih dahulu.

Untuk beberapa saat Ki Gede hanya dapat berdiri termangu-mangu sambil mengikuti langkah anak perempuan satu-satunya itu dengan pandangan kosong. Setelah bayangan Ratri kemudian hilang di balik pintu yang menghubungkan ruang dalam dengan dapur, barulah Ki Gede melanjutkan langkahnya.

Dalam pada itu, para pengawal bersama anak-anak muda yang berjaga di gardu-gardu perondan hampir di seluruh padukuhan induk memang telah melihat panah berapi itu melesat di udara tiga kali berturut-turut.

Seorang pengawal berjambang lebat di sebuah gardu perondan di ujung lorong padukuhan induk dekat pasar telah melihat panah berapi itu.

“He?” seru pengawal yang berjambang lebat itu, “Apa aku tidak salah lihat. Ada yang melontarkan panah berapi di udara tiga kali berturut-turut!”

Kawan-kawannya yang sedang bermain mul mulan dan tidak sempat melihat panah berapi itu telah mendongakkan kepala mereka. Namun mereka sudah tidak melihat lagi panah berapi itu di langit yang gelap.

“Ah mungkin matamu saja yang salah,” desis pengawal yang bertubuh pendek, “Itu mungkin lampor atau ilu-ilu banaspati yang dengan sengaja telah menunjukkan diri kepadamu. Hati-hati, kamu bisa dimakannya.”

“Omong kosong!” sergah pengawal berjambang lebat itu sambil tetap mengawasi langit.

“He lihat!” tiba-tiba pengawal yang berjambang itu berseru kembali, “Mereka melempar panah berapi lagi!”

Serentak kawan-kawannya memandang ke langit. Dan memang benar apa yang dikatakan oleh kawannya itu. Tampak tiga larik sinar kemerah-merahan menghiasi langit yang buram.

“Kita segera berkumpul di banjar padukuhan induk!” hampir bersamaan mereka telah berseru sambil bangkit berdiri. Permainan mul mulan itu pun dengan sendirinya telah terhenti.

“Bangunkan mereka!” perintah pengawal yang tertua di antara mereka sambil menunjuk ke dalam gardu. Tampak beberapa orang sedang terlelap berselimutkan kain panjang mereka.

Seorang pengawal segera meloncat ke dekat gardu. Diguncang-guncangnya kaki-kaki para pengawal dan anak-anak muda yang sedang tidur itu.

Sambil berdesis dan menggeliat, satu persatu mereka pun kemudian dengan malasnya membuka mata. Namun beberapa di antara mereka telah menarik kain panjangnya dan meringkuk lagi.

Pengawal itu menjadi tidak sabar. Ditariknya kain-kain panjang yang digunakan untuk selimut itu sambil berteriak, “He! Bangunlah. Ada isyarat panah berapi tiga kali berturut-turut. Kita harus segera berkumpul di banjar padukuhan induk!”

Barulah para pengawal dan anak-anak muda itu terkejut. Serentak mereka segera bangkit dan kemudian duduk.

“Sisakan dua orang untuk menjaga di gardu ini,” perintah pengawal tertua itu begitu melihat mereka sudah terbangun semua, “Yang lainnya menuju ke banjar padukuhan induk. Sambil berjalan menuju padukuhan induk, jika kalian melewati rumah kawan-kawan kita yang sedang tidak bertugas, bangunkan mereka dan beri tahu untuk segera berangkat dan berkumpul di banjar padukuhan induk.”

Perintah itu sangat jelas dan tidak perlu diulangi sekali lagi.

bersambung ke bagian 2

3 Responses

  1. Gimana kelanjatan stsd 06 min

  2. Gimana kelanjutan stsd 06 bagian ke2nya

  3. Sepertinya Glagah Putih mata keranjang juga ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s