STSD-07

kembali ke STSD-06 | lanjut ke STSD-08

Bagian 1

NAMUN Ki Rangga ternyata tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Selagi lawannya terdorong beberapa langkah surut, kali ini ketiga ujud Ki Rangga segera melakukan gerakan yang sama, memutar cambuk di atas kepala beberapa kali.

Sejenak kemudian, begitu ujud lawannya yang berupa gumpalan api sebesar gardu perondan itu terlihat telah tegak kembali, serangan Ki Rangga pun meluncur kembali dengan dahsyatnya. Kali ini tiga larik sinar kebiru-biruan meluncur deras menghantam dada lawannya.

Agaknya serangan Ki Rangga kali ini telah melemparkan tubuh lawannya beberapa langkah ke belakang sebelum akhirnya jatuh bergulingan. Segera saja rumput-rumput dan semak belukar yang tertimpa tubuh Kiai Damar Sasangka hangus terbakar menjadi abu.

“Anak Iblis..!” umpat pemimpin perguruan Sapta Dhahana itu sambil terus bergulingan beberapa kali sehingga arena di sekitar pertempuran yang hangus terbakar menjadi semakin luas. Beberapa buah pohon perdu ikut terbakar sehingga sinar apinya yang membara terlihat dari tempat Ki Waskita bertempur.

“Aji Sapta Dhahana yang sempurna,” membatin Ki Waskita sambil terus berkelit menghindari serangan lawannya, “Siapa lagi yang mampu mengungkapkan aji Sapta Dhahana yang sempurna di padepokan ini selain Kiai Damar Sasangka.”

Jantung Ki Waskita pun menjadi semakin berdebar-debar. Berbagai dugaan telah muncul dalam benaknya. Sebagai orang yang telah mengijinkan Ki Rangga untuk membaca kitab perguruannya, Ki Waskita tahu dengan pasti tingkat kemampuan agul-agulnya Mataram itu.

“Angger Sedayu sebaiknya mengatasi perlawanan  aji Sapta Dhahana dengan aji pengangen-angen,” berkata Ki Waskita dalam hati selanjutnya, “Aku tidak yakin jika ilmu kebal angger Sedayu akan mampu menahan panasnya api aji Sapta Dhahana. Demikian juga dengan aji kakang kawah adi wuragil, wadag asli angger Sedayu masih terlibat sehingga kemungkinan terkena pancaran ilmu lawan sangat memungkinkan,” sejenak Ki Waskita berhenti berangan-angan ketika seleret lidah api dari lawannya meluncur hampir menyentuh jidadnya. Dengan cepat Ki Waskita pun merundukkan kepalanya.

“Dengan aji pengangen-angen, wadag angger Sedayu akan terbebas dari pengaruh ilmu lawannya. Sehingga lawan akan terkuras tenaganya, sementara ujud semu dari angger Sedayu dapat mengurangi daya tahan lawan dengan serangan-serangannya yang tak ada bedanya dengan ujud aslinya.”

Namun Ki Waskita tidak sempat berangan-angan terlampau jauh. Serangan lawan telah datang bertubi-tubi bagaikan gempuran ombak pantai selatan.

Dalam pada itu, beberapa puluh langkah dari arena pertempuran Ki Rangga yang membara, Glagah Putih sedang berusaha menjinakkan adik kandung orang yang menyebut dirinya Trah Sekar Seda Lepen itu. Badai api yang dibuat oleh Raden Surengpati memang cukup nggegirisi, namun dalam diri Glagah Putih telah mengalir berbagai cabang ilmu olah kanuragan. Selain ilmu olah kanuragan dari cabang Ki Sadewa yang didapatkan dari kakak sepupunya, Glagah Putih pun juga mewarisi ilmu dari Ki Jayaraga, seorang petualang yang ngedab-edabi di masa mudanya.

Disamping ilmu-ilmu yang didapatkan dari kedua gurunya itu, Glagah Putih juga pernah bersahabat dengan Raden Rangga, putra tertua Panembahan Senapati yang mempunyai kesaktian yang aneh, kesaktian yang diluar jangkauan nalar. Dan yang terakhir, bersama istrinya Rara Wulan, mereka dengan tidak sengaja telah mewarisi sebuah Kitab peninggalan seorang Pangeran di jaman Majapahit, Pangeran Namaskara.

Demikianlah pertempuran kedua anak muda itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Tanah tempat mereka berpijak bagaikan dibajak oleh berpuluh-puluh ekor kerbau. Sedangkan beberapa tanaman bunga serta perdu yang ada di halaman padepokan itu telah hancur terkena sambaran ilmu keduanya.

“Menyerahlah, Raden,” berkata Glagah Putih kemudian di sela-sela serangan Raden Surengpati yang datang membadai, “Raden harus melihat kenyataan. Tubuh Kiai Damar Sasangka yang berujud gumpalan api itu telah terguling terkena sambaran ilmu Ki Rangga. Aku yakin sebentar lagi api itu pun akan padam, atau tinggal baranya saja yang tak lebih dari sebongkah bara dari akar kayu mlanding. Hanya mampu untuk membakar jagung atau ketela.”

“Tutup mulutmu!” bentak Raden Surengpati sambil menghentakkan ilmu pamungkasnya. Badai api pun kembali melanda Glagah Putih.

Namun Glagah Putih selalu waspada. Dia tidak ingin terjebak untuk mengadu ilmu pamungkas Raden Surengpati itu secara langsung. Glagah Putih selalu menghindar dan mencari celah untuk melepaskan salah satu puncak ilmunya yang didapat dari Ki Jayaraga, aji sigar bumi.

“Aku tidak mempunyai ilmu kebal sebagaimana Kakang Agung Sedayu,” demikian Glagah Putih berkata dalam hati, “Aku belum tahu sejauh mana panasnya api ini akan dapat menembus kulitku.”

Dengan pemikiran seperti itu, Glagah Putih pun berusaha sejauh mungkin menghindari jilatan dari badai api yang diciptakan oleh lawannya.

Dalam pada itu, Ki Rangga yang melihat lawannya justru telah berguling menjauh telah dihinggapi keragu-raguan.  Dibiarkan saja gumpalan api sebesar gardu perondan itu berguling menjauh.

Namun ternyata disitulah letak kelengahan Ki Rangga. Di saat dia hanya berdiri termangu-mangu memandangi lawannya yang bergulingan menjauh, Kiai Damar Sasangka tidak mau memberikan kesempatan kepada lawannya untuk sekali lagi mengulangi serangannya. Tiba-tiba saja sambil melenting berdiri, pemimpin perguruan Sapta Dhahana itu tanpa ancang-ancang telah melontarkan serangannya kembali. Berpuluh-puluh lidah api yang sepanas bara api tempurung kelapa pun meluncur terus menerus menerjang ujud Ki Rangga yang asli.

Bagaikan melihat hantu yang bangkit dari kuburnya, Ki Rangga dibuat terkejut bukan buatan. Tubuh lawannya yang berbentuk gumpalan api sebesar gardu perondan itu seolah olah tidak merasakan akibat dari serangannya beberapa saat tadi. Lawannya masih mampu menyerang dengan serangan-serangan dahsyat sebagaimana semula. Seolah olah serangan ilmu puncak dari perguruan orang bercambuk itu sama sekali tidak membekas di tubuhnya.

Segera saja Ki Rangga teringat akan kesaktian Panembahan Cahya Warastra yang pernah berperang tanding dengannya beberapa saat yang lalu. Ketika itu serangan Ki Rangga pun seakan-akan tidak mampu menembus ilmu kebal lawannya. Namun ternyata pada akhirnya tubuh bagian luar Panembahan Cahya Warastra sajalah yang tetap utuh. Sedangkan bagian dalam tubuhnya telah remuk dan lumat menjadi seonggok daging bercampur dengan pecahan tulang.

“Benar-benar sebuah ilmu yang bersumber dari alam kegelapan,” desis Ki Rangga dalam hati sambil terus berloncatan menghindari setiap serangan lawannya.

Demikianlah sejenak kemudian kedua orang itu kembali terlibat dalam pertempuran yang sengit. Masing-masing mencoba mencari kelemahan dan menunggu kelengahan lawannya.

Dalam pada itu, di rumah Ki Prana, Nyi Selasih agaknya telah selesai berbenah. Sebuah buntalan besar telah dipanggul di pundak Gandhung. Sedangkan Ki Prana menggendong cucu laki-laki satu-satunya yang masih kanak-kanak. Sementara Nyi Selasih sendiri hanya menjinjing sebuah buntalan yang kecil.

“Marilah,” berkata Ki Wiyaga kemudian begitu mereka telah berkumpul di pendapa, “Sebaiknya rumah ini memang dikosongkan saja. Kita semua berangkat ke Matesih.”

“Bagaimana dengan tawanan itu?” tiba-tiba saja seorang pengawal menyeletuk.

Sejenak Ki Wiyaga mengerutkan keningnya. Sekilas dia tadi melihat tawanan itu masih pingsan. Jika orang itu disadarkan dari pingsannya tentu akan merepotkan untuk membawanya ke Matesih. Namun jika dibiarkan dalam keadaan pingsan, tentu juga akan menyulitkan.

“Di belakang ada seekor kuda, walaupun tidak tegar dan bahkan bisa dibuang agak kurus,” tiba-tiba Ki Prana menyahut, “Bagaimana jika kita angkat tawanan yang pingsan itu dengan seekor kuda?”

“Bagus,” jawab Ki Wiyaga dengan serta merta dan wajah yang berseru. Kemudian katanya kepada salah seorang pengawal yang berdiri di sampingnya, “Ambil kuda itu di belakang rumah.”

Tanpa membuang waktu, pengawal itu segera bergegas menuju ke belakang rumah lewat samping.

Demikianlah akhirnya. Sejenak kemudian rombongan kecil itu segera bersiap meninggalkan rumah Ki Prana. Di barisan paling depan seorang pengawal menuntun seekor kuda yang digunakan untuk mengangkut tawanan. Tawanan itu diikat kedua tangan dan kakinya serta tubuhnya ditelungkupkan di atas pelana. Sementara sebuah tali yang kuat telah mengikat tubuh yang tertelungkup itu dengan pelana kuda.

Ki Wiyaga berjalan di samping kuda itu. Sedangkan Ki Prana selangkah di belakang Ki Wiyaga sambil mendukung cucunya yang mulai mengantuk. Sementara Nyi Selasih dengan kepala tunduk berjalan di samping ayahnya.

Dua langkah di belakang mereka barulah para pengawal dan kemudian Gandhung yang memanggul sebuah bungkusan besar di pundak kanannya. Sedangkan tangan kirinya menjinjing sebuah tombak pendek.

Sesekali Nyi Selasih masih sempat berpaling ke belakang. Terasa sebuah desir tajam telah menggores jantungnya. Bagaimana pun juga, rumah itu adalah rumah yang penuh dengan kenangan. Disitulah dia dilahirkan dan dibesarkan sampai kemudian datang seorang laki-laki yang meminangnya. Namun ternyata usia laki-laki itu tidak panjang. Setelah memberinya seorang anak laki-laki, suami pertamanya itu pun meninggal dunia karena sakit.

Ketika seorang laki-laki kembali hadir dalam hidupnya, terasa keceriaan itu kembali menghangati bilik hatinya yang sempat dingin dan sepi. Namun yang terjadi kemudian adalah diluar kuasa dirinya. Anak tirinya ternyata telah menolak kehadirannya untuk menjadi bagian dari keluarga di Perdikan Matesih.

Dalam pada itu, tanpa sepengetahuan rombongan kecil yang mulai bergerak meninggalkan halaman, dari salah satu sudut halaman rumah Ki Prana yang gelap, dua bayangan aneh tampak sedang mengawasi mereka.

Tampak seorang yang berperawakan tinggi besar berpakaian serba hitam dengan sebagian wajah, kaki dan tangan penuh dengan bulu-bulu seperti rupa seekor monyet raksasa. Di sebelahnya justru kebalikannya, seorang yang berperawakan ramping dibalut dengan pakaian yang ringkas serta sebagian wajahnya tertutup secarik kain.

“Tawanan itu masih pingsan,” tiba-tiba terdengar orang yang berperawakan ramping itu berdesis perlahan, “Mungkin aku tadi memukulnya terlalu keras.”

Orang tinggi besar yang berdiri di sebelahnya terdengar menarik nafas panjang. Katanya kemudian, “Rara, lain kali sebaiknya Rara membuat pertimbangan terlebih dahulu sebelum mengerahkan kekuatan. Aku takut leher orang itu justru telah patah atau mengalami cedera yang berat.”

“Ah Eyang ini,” terdengar suara manja dari orang yang bertubuh ramping sambil tangannya bergerak membuka penutup wajahnya. Seraut wajah cantik pun muncul dengan sepasang alis yang bak semut beriring di atas sepasang mata yang selalu berbinar bak bintang kejora. Hidung yang mungil namun mancung itu terlihat begitu serasinya dipadu dengan bibir merah muda nan ranum yang selalu basah menggairahkan.

“Marilah, Rara,” berkata orang tinggi besar itu kemudian, “Aku kira tenaga kita sudah tidak diperlukan lagi di sini. Kita segera berangkat ke gunung Kendalisada.”

“Aduh, Eyang..,” terdengar suara sedikit kesal yang meluncur dari bibir yang menggemaskan itu, “Jauh-jauh Eyang aku panggil dengan aji pameling, mengapa kita tidak sekalian saja bergabung dengan mereka sehingga kita dapat membantu tugas Ki Rangga di Gunung Tidar?”

Kembali terdengar helaan nafas panjang dari orang tinggi besar itu. Jawabnya kemudian, “Rara, aku yakin Ki Rangga dan kawan-kawannya pasti sudah membuat pertimbangan-pertimbangan sebelum bertindak. Perguruan Sapta Dhahana di Gunung Tidar memang tidak dapat dipandang dengan sebelah mata. Namun sekali lagi aku yakin, Ki Rangga sudah sangat berpengalaman dalam melaksanakan tugasnya dan mempunyai banyak pertimbangan dalam menghadapi perubahan di setiap keadaan.”

Sejenak wajah cantik itu tampak menunduk dalam-dalam dengan kening yang berkerut. Namun kata-kata yang kemudian terucap dari bibirnya justru telah mengejutkan orang yang dipanggil Eyang itu.

“Ya, sudahlah Eyang,” terdengar perempuan cantik itu berdesis perlahan sambil mendongakkan wajahnya memandang bintang-gemintang yang berkelip di angkasa, “Ki Rangga memang tidak memerlukan tenaga kita sama sekali. Aku jadi menyesal, mengapa aku tadi begitu tergesa-gesa membantu Nyi Selasih? Seharusnya kita menunggu saja kemunculan Ki Rangga untuk menyelamatkan Nyi Selasih.”

“Ah,” desah orang tinggi besar itu sambil beberapa kali menggelengkan kepalanya, “Bukan begitu maksudku, Rara. Betapapun tinggi ilmu Ki Rangga, namun dia tetap mempunyai kelemahan. Sudah sepatutnya Rara tadi membantu Nyi Selasih. Dalam keadaan seperti tadi, kita memang wajib memberikan bantuan semampu kita. Tidak usah menunggu orang lain yang belum tentu dapat diharapkan kehadirannya.”

“Jadi..?” sepasang mata indah itu tampak berbinar, “Maksud Eyang, betapapun hebatnya Ki Rangga, tetap saja dia memerlukan bantuan orang lain?”

Segaris tipis senyum tampak menghias bibir orang tinggi besar itu. Tanpa menjawab pertanyaan perempuan cantik itu, dia kemudian melangkah sambil berkata, “Marilah. Ada baiknya kita ikut melihat-lihat keadaan di sekitar Gunung Tidar. Jika terjadi kecurangan-kecurangan, setidaknya kita dapat memperingatkan Ki Rangga dan kawan-kawannya. Jika semuanya sudah berjalan dengan baik, tidak ada salahnya kita menjadi penonton yang baik pula.”

Hampir saja perempuan cantik itu terlonjak kegirangan. Namun dengan cepat perasaan yang hampir meluap itu disimpannya rapat-rapat di dalam dada. Hanya sebuah senyum manis saja yang tersungging di bibirnya sambil tangan kanannya merangkul lengan kiri orang yang dipanggilnya Eyang itu sehingga kakinya yang sudah akan terayun lagi itu terhenti.

“Apakah Eyang akan berlari dengan aji Sepi Angin kembali?” bertanya perempuan cantik itu dengan nada sedikit manja sambil mempererat pegangannya.

“Waktu kita sudah sangat sempit sekali,” jawab orang yang dipanggil Eyang itu sambil menengadahkan wajahnya, “Beberapa saat lagi malam akan berlalu dan akan banyak kemungkinan yang akan terjadi selepas sang fajar terbit.”

Selesai berkata demikian, orang yang dipanggil Eyang itu tiba-tiba saja menggerakkan sepasang kakinya dengan langkah yang lebar. Segera saja tampak benda-benda di sekitar mereka berdua bergerak menjauh ke belakang dengan sangat cepatnya.

Dalam pada itu, malam semakin jauh meninggalkan pusatnya. Namun di padukuhan-padukuhan terdekat belum terdengar kokok ayam jantan bersahut-sahutan. Sedangkan binatang-binatang malam dan sejenisnya masih saja terbang berputar-putar mencari mangsa dan belum ada keinginan untuk kembali ke sarang mereka.

Ki Gede Matesih yang berjalan di depan pasukan pengawal tampak mendongakkan wajahnya. Lintang gubuk penceng sudah semakin jauh bergeser ke arah langit selatan. Sebagai gantinya, tampak lintang panjer rina mulai muncul dengan sinarnya yang cerah menyapa langit sebelum sinar Matahari yang pertama menyentuh bumi.

“Masih ada sedikit waktu sebelum fajar tiba,” desis Ki Gede tanpa sadar.

Beberapa pengawal yang berjalan di sebelahnya hampir serentak ikut mendongakkan wajah mereka. Wajah langit memang masih tampak gelap, namun tanda-tanda akan kedatangan sang fajar sudah mulai tampak.

“Marilah!” teriak Ki Gede kemudian sambil mempercepat langkahnya, “Kita jangan sampai terlambat!”

Serentak para pengawal itu pun kemudian ikut mempercepat langkah mereka. Ketika Ki Gede kemudian berlari-lari kecil, pasukan yang berjumlah hampir tiga puluh orang itu pun kemudian berlari-larian sepanjang jalan setapak menuju ke lereng Gunung Tidar.

Beberapa ratus langkah di belakang pasukan itu, Ki Kamituwa bersama sekitar dua puluhan pengawal telah ikut berlari-larian sepanjang bulak panjang yang menghubungkan perdikan Matesih dengan Gunung Tidar. Mereka berusaha memperpendek jarak dengan pasukan di depannya.

“Semoga kita tidak terlambat,” desis Ki Kamituwa sambil mempercepat larinya. Para pengawal pun segera menyesuaikan dengan langkah pemimpinnya itu.

Dalam pada itu, pertempuran antara Ki Rangga melawan Kiai Damar Sasangka benar-benar semakin nggegirisi. Pertempuran antara kedua orang yang sudah sama-sama putus segala kawruh lahir maupun batin itu semakin sulit dinalar. Sedikit demi sedikit lingkaran pertempuran pun telah bergeser semakin jauh dari halaman depan padepokan. Kini kedua orang itu telah mendekati dinding padepokan sebelah timur.

Ki Waskita yang bertempur di halaman belakang kini dengan sangat jelas dapat melihat lawan Ki Rangga yang telah berubah ujud menjadi gumpalan api sebesar gardu perondan. Terlihat betapa Ki Rangga sangat kerepotan menghindari sambaran lidah api yang datang meluncur terus menerus tak ada henti-hentinya bagaikan curah hujan yang turun dari langit.

“Mengapa angger Sedayu masih mempertahankan kedua ujud semunya itu?” bertanya Ki Waskita dalam hati sambil pandangan matanya sekilas-sekilas memperhatikan pertempuran yang semakin mendekati dinding sebelah timur padepokan, “Justru kendala utama yang dihadapinya adalah ujud wadagnya sendiri. Angger Sedayu justru disibukkan dengan ujud aslinya sendiri yang berusaha menghindari serangan lawannya sehingga tidak ada kesempatan untuk sekejap saja mengendalikan ujud-ujud semunya. Kedua ujud semu itu bila tanpa pengendalian nalar dan budi hanyalah sekedar ujud-ujud yang berloncat-loncatan tak berarti. Sementara agaknya angger Sedayu benar-benar tidak mempunyai kesempatan mengendalikan ujud-ujud semunya untuk melontarkan serangannya.”

Sebenarnyalah Ki Waskita dapat merasakan kesulitan yang sedang dihadapi oleh Ki Rangga. Serangan lawannya benar-benar susul-menyusul tak henti-hentinya sehingga sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Ki Rangga untuk balas menyerang.

“Angger Sedayu harus dapat mencari celah untuk menghindar dari medan, bagaimanapun caranya,” berkata Ki Waskita kembali dalam hati, “Aji Sapta Dhahana harus dilawan dengan aji Pengangen-angen.”

Namun apa yang dipikirkan oleh Ki Waskita itu ternyata tidak mudah untuk dilaksanakan. Untuk beberapa saat Ki Rangga masih belum dapat membebaskan dirinya dari gencarnya serangan lawannya.

Serangan lidah-lidah api itu meluncur terus menerus tanpa henti. Selain harus mengetrapkan kemampuannya dalam menghilangkan bobot tubuhnya, ujud-ujud semu Ki Rangga pun sesekali harus bersatu dengan ujud aslinya untuk kemudian berpencar kembali. Dengan demikian diharapkan lawannya memerlukan waktu sekejap untuk mencari ujud Ki Rangga yang asli, sehingga Ki Rangga akan mendapat kesempatan walaupun hanya sekejap untuk kembali balas menyerang.

Namun ternyata lawannya dengan cerdik telah mengubah serangannya. Pemimpin perguruan Sapta Dhahana itu tidak lagi berusaha mencari ujud asli Ki Rangga. Begitu ujud-ujud Ki Rangga itu bersatu, kemudian dengan cepat berpencar ke tiga arah yang berbeda, serangan-serangan lidah api itupun meluncur bertaburan ke tiga arah yang berbeda pula.

Ki Rangga harus benar-benar memeras kemampuannya untuk mengimbangi kecepatan lidah-lidah api itu. Sesekali memang ujung lidah api yang sepanas api dari tempurung kelapa itu sempat menyentuh tubuh Ki Rangga dan menghanguskan baju serta mampu menyengat kulitnya.

“Orang ini ternyata mempunyai panggraita yang nyaris sempurna,” berkata Ki Rangga dalam hati sambil terus berloncatan menghindari serangan lawan, “Dia sudah tidak peduli lagi akan keberadaan ujud asliku. Dia lebih memusatkan pada kecepatan serangan lidah apinya sehingga aku hampir tidak mempunyai kesempatan untuk balas menyerang.”

Namun Ki Rangga tidak pernah berputus asa. Setiap kali ketiga ujudnya bersatu untuk kemudian berpencar lagi. Demikian hal itu dilakukannya berulang-ulang dan semakin sering dengan harapan dia akan mendapat kesempatan walaupun hanya sekejap.

Demikianlah ternyata usaha Ki Rangga pada akhirnya membuahkan hasil. Ketika ketiga ujud Ki Rangga itu berloncatan saling mendekat dan kemudian berpencar kembali, Ki Rangga telah memutuskan untuk mengetrapkan ilmunya yang lain. Ilmu yang didapatkannya secara tidak sengaja ketika dia sedang memperdalam ilmunya di sebuah goa dekat kampung halamannya, Jati Anom.

Sejenak kemudian, dua bayangan semu Ki Rangga ternyata telah meloncat jauh sekali ke arah yang saling berlawanan untuk sekedar memancing perhatian lawan. Sedangkan ujud asli Ki Rangga justru tetap tegak di tempatnya dengan kedua tangan bersilang di dada sambil pandangan matanya tajam menatap ke arah gumpalan api sebesar gardu perondan itu. Sementara senjata andalannya yang berupa seuntai cambuk dibiarkan saja jatuh tergeletak di atas tanah di depan kakinya.

Kiai Damar Sasangka terkejut bukan alang kepalang. Sebelum dia menyadari sepenuhnya akan perubahan gerak lawan, seleret cahaya meluncur dari sepasang mata Ki Rangga dan menyusup ke dalam dada meremas jantung.

Terdengar pemimpin perguruan Sapta Dhahana itu mengumpat keras. Rasa-rasanya jantungnya bagaikan tertindih batu sebesar gunung anakan. Namun ketahanan tubuh Kiai Damar Sasangka itu memang luar biasa. Sambil menahan rasa sakit luar biasa yang sedang mencengkeram jantung, tangan kanannya terangkat ke atas, berpuluh lidah api pun meluncur menerjang dada Ki Rangga.

Sejenak Ki Rangga berusaha bertahan dengan ilmu kebalnya. Walaupun lidah-lidah api itu sudah menghanguskan bajunya dan membakar kulit dadanya, Ki Rangga tetap bertahan pada sikapnya. Betapa raut muka Ki Rangga tampak sedang menahan kesakitan yang luar biasa. Namun sambil menggeretakkan giginya, Ki Rangga memutuskan untuk tetap melanjutkan serangannya.

Melihat lawannya tetap berdiri kokoh di tempatnya, agaknya Kiai Damar Sasangka ingin mengulangi serangannya. Sambil menahan dada dengan tangan kirinya, tangan kanannya berusaha diangkatnya kembali. Namun di saat yang bersamaan, dua larik sinar menyusul meluncur dari kedua bayangan semu Ki Rangga dari dua arah yang berbeda. Agaknya Ki Rangga telah kembali mampu mengendalikan bayangan semunya sehingga telah memperkuat serangannya.

Kembali terdengar pemimpin perguruan Sapta Dhahana itu mengumpat keras sambil terbungkuk. Kedua tangannya mencengkeram dadanya yang bagaikan ditindih Gunung Mahameru. Kiai Damar Sasangka benar-benar sedang dalam puncak kesulitan.

Namun di saat sedemikian gawatnya, ternyata pemimpin perguruan Sapta Dhahana itu sangat cerdik dan masih mampu berpikir dengan jernih. Menyadari serangan lawan berasal dari tiga pasang mata yang mampu mengeluarkan sinar menembus jantungnya, Kiai Damar Sasangka segera menjatuhkan diri berguling ke belakang dengan cepat. Dia berusaha menjauhi garis serang dari ketiga pasang sorot mata lawannya sejauh-jauhnya.

Ternyata usaha pemimpin perguruan Sapta Dhahana itu membuahkan hasil. Demikian tubuhnya menjauh dari garis serang sorot mata ketiga lawannya, tekanan terhadap dadanya pun dengan segera telah berkurang.

Namun alangkah terkejutnya pemimpin perguruan Sapta Dhahana itu. Ketika dia kemudian dengan cepat melenting berdiri dan bersiap dengan serangannya, ternyata ketiga bayangan lawannya sudah tidak berada di tempatnya lagi.

“Pengecut! Jangan lari!” geram Kiai Damar Sasangka sambil mengedarkan pandangan mata ke sekitarnya. Namun bayangan ketiga lawannya itu benar-benar telah lenyap bagaikan ditelan bumi.

Dalam pada itu, Ki Waskita yang sedang bertempur di halaman belakang sekilas telah mendengar umpatan Kiai Damar Sasangka.

“Syukurlah,” berkata Ki Waskita dalam hati begitu menyadari Ki Rangga telah mendapat kesempatan untuk menghindar dari medan, “Dengan aji pengangen-angen, hantu api sebesar gardu perondan itu tidak akan banyak berpengaruh terhadap wadag angger Sedayu.”

Namun ternyata dugaan Ki Waskita itu tidak sepenuhnya benar. Tiba-tiba saja pemimpin perguruan Sapta Dhahana itu telah merentangkan kedua tangannya tinggi-tinggi ke angkasa seolah olah ingin membakar langit. Sejenak kemudian, api yang menyelimuti sekujur tubuhnya itu berkobar semakin dahsyat dan semakin membesar.

 

“Ki Rangga!” tiba-tiba terdengar teriakan menggelegar di sela-sela suara api yang bergemeretak mengerikan, “Aku tahu engkau berada tidak jauh dari tempat ini. Aku tidak tahu ilmu apalagi yang akan engkau pamerkan kepadaku. Namun semua itu tidak akan banyak berarti. Ilmu semumu sudah aku ketahui kelemahannya. Segala usahamu akan sia-sia. Engkau hanya mengulur-ulur waktu untuk menunda kematianmu saja!”

 

Namun belum selesai Kiai Damar Sasangka mengatupkan mulutnya, sebuah bayangan seolah muncul begitu saja dari kegelapan dan berdiri beberapa langkah saja di hadapannya.

“He..?!” seru Kiai Damar Sasangka terkejut bukan alang kepalang. Tanpa sadar dia telah mundur selangkah.

Namun keterkejutan Kiai Damar Sasangka itu hanya sekejab. Sejenak kemudian, suara tawanya pun menggelegar memenuhi udara malam di atas padepokan Sapta Dhahana.

“Apakah Ki Rangga sudah kehabisan ilmu untuk dipamerkan kepadaku?” bertanya Kiai Damar Sasangka kemudian di sela-sela tawanya, “Dengan dibantu oleh dua bayangan semu saja engkau tidak mampu mengalahkan aku. Apalagi sekarang hanya sebuah bayangan semu. Apakah engkau sudah berputus asa Ki Rangga?”

Bayangan semu Ki Rangga itu tidak menjawab. Sejenak bayangan itu tampak menggerak-gerakkan tubuhnya. Beberapa saat kemudian tampak bayangan semu Ki Rangga itu seperti membengkak dan terus membengkak dan akhirnya menjadi sebesar tiga kali lipat dari ujudnya semula.

Untuk beberapa saat Kiai Damar Sasangka tertegun. Ujud semu Ki Rangga yang hanya satu namun berukuran tiga kali lipat dari ujud aslinya itu ternyata telah mendebarkan jantungnya. Dia belum dapat meraba ilmu sejenis apakah yang akan diperlihatkan oleh lawannya.

“Semacam ilmu bertiwikrama,” membatin Kiai Damar Sasangka dengan jantung yang berdebaran, “Namun mengapa dia mengambil ujud semu? Dengan ujud semu memang dia dapat berubah ujud menjadi sebesar gunung sekali pun. Tetapi di manakah ujud aslinya sekarang ini?”

Pertanyaan itu berputar-putar di dalam benak Kiai Damar Sasangka sampai akhirnya dia dapat mengambil kesimpulan sendiri.

“O, inilah agaknya kelebihan ilmu Ki Rangga ini,” kembali Kiai Damar Sasangka berkata dalam hati sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, “Dia berusaha menghindari benturan langsung antara ujud wadag aslinya dengan ilmuku. Dia berusaha bersembunyi di balik ilmu semunya ini. Namun aku yakin, aku akan dapat menemukan persembunyiannya. Sementara ujud semu ini tentu dalam pengendalian penuh Ki Rangga dari jarak yang tidak seberapa jauh dari tempat ini.”

Berpikir sampai disitu, pemimpin perguruan Sapta Dhahana itu segera bersiap kembali untuk melanjutkan pertempuran. Tanpa membuang waktu lagi, Kiai Damar Sasangka segera berteriak menggelegar sambil kedua tangannya terangkat ke atas tinggi-tinggi. Sejenak kemudian, api yang menyelimuti tubuhnya pun menjadi semakin berkobar nggegirisi.

Agaknya ujud semu raksasa Ki Rangga itu telah terpancing dengan gerakan lawan dan berusaha mendahului. Dengan cepat disilangkan kedua tangannya di depan dada. Sejenak kemudian dari sepasang mata ujud semu raksasa Ki Rangga meluncur seleret cahaya kebiru-biruan menembus tebalnya selimut api yang melindungi tubuh lawannya dan langsung menembus dada meremas jantung.

Terdengar seruan keras dari balik gumpalan api yang menyala-nyala itu. Namun bersamaan dengan itu, tiba-tiba saja dari gumpalan api itu meluncur berpuluh-puluh lidah api yang langsung mengurung dan menyelimuti sekujur tubuh ujud semu raksasa Ki Rangga.

Ki Waskita yang sempat sekilas mengamati medan pertempuran Ki Rangga dan Kiai Damar Sasangka menjadi terkejut bukan alang kapalang. Tanpa sadar dia telah meloncat ke belakang sambil berteriak keras, “Ngger..! Engkau telah terpancing.! Jangan benturkan ilmumu ngger..!”

Namun semuanya sudah terlambat. Kiai Damar Sasangka yang dengan cerdik membiarkan dirinya diserang terlebih dahulu oleh bayangan semu Ki Rangga telah berhasil meraba tempat persembunyian Ki Rangga.

Sedangkan Ki Waskita yang meloncat ke belakang sambil memperhatikan arena pertempuran Ki Rangga ternyata telah lengah. Seleret lidah api dari lawannya telah menggores lengan kirinya.

“Gila!” teriak orang tua itu kesakitan sambil meloncat mengambil jarak. Terasa betapa lengan bajunya telah hangus terbakar sementara kulit lengannya terkelupas.

Dalam pada itu selagi Ki Waskita berusaha menghindari serangan susulan lawannya, orang tua itu kembali mendengar Kiai Damar Sasangka berteriak keras.

Sebenarnyalah Kiai Damar Sasangka dengan sangat cerdik telah mengetahui sumber pancaran ilmu lawannya. Sebagaimana usahanya terdahulu dalam menghindari serangan lawan melalui sorot matanya, Kiai Damar Sasangka segera berguling menjauh. Begitu dia merasa sudah terlepas dari garis serang sorot mata lawannya, tiba-tiba saja tubuhnya melenting tinggi dan hinggap di atas dinding padepokan.

Pemimpin perguruan Sapta Dhahana itu hanya memerlukan waktu sekejap untuk mengamati keadaan di luar dinding. Begitu tampak olehnya sebuah bayangan kepala seseorang yang menyembul di antara semak belukar di bawah sebatang pohon keluwih, tubuhnya yang berbentuk gumpalan api sebesar gardu perondan itu pun bagaikan tatit segera meluncur deras menghantam bayangan di bawah pohon keluwih itu.

Dalam pada itu, malam memang masih menyisakan kegelapan, namun ayam-ayam jantan di padukuhan-padukuhan telah berkokok bersahut-sahutan menyambut datangnya sang fajar. Di Menoreh, Sekar Mirah sedang tidur terlelap karena hampir semalaman Bagus Sadewa rewel dan menangis tanpa tahu sebab musababnya. Baru menjelang dini hari tadi, anak semata wayangnya itu bisa tidur dengan tenang.

Namun baru saja Sekar Mirah terlena beberapa saat, dia telah dikejutkan oleh sebuah mimpi yang mengerikan.

“Kakaang..!” teriak Sekar Mirah tiba-tiba sambil terlonjak dari tempat tidurnya. Dengan jantung yang berdentangan, sepasang matanya nanar mengawasi keadaan di sekelilingnya. Sementara sekujur tubuhnya telah menjadi gemetar dan bersimbah keringat   serta nafas yang memburu.

Damarpati yang selalu menemani Sekar Mirah dan tidur beralaskan tikar di lantai bilik ikut terkejut. Dengan cepat dia segera bangkit berdiri dan menghampiri istri Ki Rangga Agung Sedayu itu.

“Mbokayu,” seru Damarpati sambil mengguncang-guncang lengan Sekar Mirah, “Ada apa, mbokayu..!?”

Sekar Mirah belum dapat berkata sepatah kata pun. Mulutnya rasa-rasanya terkunci dan lidahnya kelu. Apa yang dilihatnya di alam mimpi benar-benar telah mengguncang hatinya.

“Kakaang..,” hanya sepatah kata itulah yang bisa terucap dari bibir yang pucat dan gemetar.

Agaknya Damarpati segera tanggap. Dengan cepat dia berlari ke sudut bilik. Dituangkannya air kendi yang segar ke dalam cawan. Dengan langkah sedikit tergesa cawan itu pun kemudian diangsurkannya kepada Sekar Mirah.

“Minumlah mbokayu,” berkata Damarpati kemudian.

Dengan kedua tangan yang gemetar, Sekar Mirah menerima cawan itu. Betapa sulitnya air minum itu menembus kerongkongannya. Rasa-rasanya ada batu sebesar kepalan tangan orang dewasa yang menyumbat kerongkongannya.

Namun akhirnya sedikit demi sedikit air minum itu pun kemudian mampu membasahi kerongkongangnya.

“Ada apa mbokayu?” bertanya Damarpati kemudian perlahan sambil menerima cawan dari tangan Sekar Mirah, “Apakah mbokayu bermimpi buruk?”

Sejenak Sekar Mirah mencoba melonggarkan dadanya dengan cara menarik nafas dalam-dalam beberapa kali. Ketika dirasakan jantungnya sudah tidak begitu melonjak-lonjak lagi, barulah Sekar Mirah menganggukkan kepalanya.

“Ya, Damarpati,” jawab Sekar Mirah perlahan sambil mengangguk, “Aku baru saja tertidur sejenak ketika tiba-tiba saja mimpi itu datang. Sebuah mimpi yang sangat mengerikan.”

Damarpati mengerutkan keningnya. Tanyanya kemudian, “Kalau aku boleh tahu, apakah mimpi mbokayu itu?”

Kembali Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Kemudian sambil berpaling ke arah Bagus Sadewa yang tidur lelap di sebelahnya, dia menjawab lirih, “Aku melihat dalam mimpi, Kakang Agung Sedayu sedang terjebak dalam sebuah hutan yang sedang terbakar dengan dahsyatnya. Aku mencoba berteriak-teriak memanggilnya, namun bayangan kakang Sedayu telah hilang ditelan api yang berkobar-kobar.”

Sampai disini Sekar Mirah sudah tidak kuasa lagi menahan isaknya. Sejenak kemudian tangis Sekar Mirah pun terdengar tersendat-sendat di antara suara riang kicau burung yang mulai terdengar menghiasi udara pagi.

“Mbokayu,” berkata lirih Damarpati kemudian mencoba menghibur sambil memeluk lengan Sekar Mirah, “Lebih baik kita berdoa untuk keselamatan Ki Rangga. Selain itu kita dapat menghadap Ki Gede Menoreh atau Kakekku untuk mohon petunjuk.”

Sekar Mirah tidak menjawab. Hanya anggukan kepalanya saja yang tampak di antara sedu-sedannya.

Dalam pada itu, Ki Waskita yang sekilas melihat hantu api sebesar gardu perondan itu meloncat ke atas dinding padepokan, jantungnya bagaikan terlepas dari tangkainya. Dengan sepenuh kekuatan segera saja dihentakkan serangannya untuk mendesak lawannya. Tandang orang tua itu pun kemudian bagaikan banteng ketaton. Kekhawatiran akan nasib Ki Rangga membuat orang tua itu sudah tidak dapat mengekang diri lagi.

Yang terjadi kemudian benar-benar telah membuat lawannya harus berloncatan menghindar. Ki Waskita yang semasa mudanya bernama Jaka Raras  itu telah menunjukkan kekuatan yang sebenarnya. Ikat pinggang di tangan kanannya telah berubah menjadi pusaran angin yang memporak-porandakan lidah-lidah api yang mengurungnya.

Ternyata Ki Waskita telah menggunakan kesempatan sebaik-baiknya begitu lawannya berloncatan mundur dan mundur terus. Sejenak kemudian, orang tua itu telah menggenjot tubuhnya dan kemudian meloncat berlari meninggalkan medan menyusul Kiai Damar Sasangka yang telah menghilang di balik dinding padepokan.

“Setan tua! Jangan lari..!” teriak Putut Sambernyawa begitu menyadari usaha lawannya untuk menghindar dari medan. . Berpuluh lidah api pun meluncur deras mengejar Ki Waskita, namun orang tua itu sudah semakin jauh berlari mendekati dinding padepokan dan kemudian meloncat naik.

Dinding padepokan itu memang cukup tinggi, namun Ki Waskita mempunyai cara tersendiri untuk mengatasinya sebagaimana ketika dia dan Ki Rangga beberapa saat yang lalu memasuki padepokan.

“Gila!” geram Putut Sambernyawa begitu menyadari lawannya telah berhasil meloncati dinding padepokan yang tinggi itu dengan caranya yang cukup cerdik. Tanpa membuang waktu lagi dia pun segera berlari mengejar Ki Waskita.

Dalam pada itu, Kiai Damar Sasangka yang telah menemukan keberadaan lawannya agaknya sudah tidak dapat mengekang diri lagi. Dengan sepenuh kekuatan, segera saja dihentakkan puncak ilmunya pada serangan pamungkasnya itu.

Sejenak kemudian benturan dahsyat pun tak terelakkan lagi. Terdengar sebuah ledakan dahsyat yang bergemuruh memekakkan telinga memenuhi udara di padepokan Sapta Dhahana.

Pohon keluwih sebesar paha orang dewasa itupun telah meledak dan hancur terbakar terkena pengaruh benturan kedua orang itu. Puing-puing bara apinya bercampur abu telah terlempar ke segala penjuru. Demikian juga semak belukar dan pohon-pohon perdu serta ilalang yang banyak tumbuh rapat berjajar-jajar di tempat itu semuanya telah hangus rata dengan tanah.

Ki Waskita yang telah berada di atas dinding padepokan masih sempat menyaksikan benturan itu. Pandangan matanya yang tajam telah menyaksikan sesuatu yang mendebarkan jantung. Di saat serangan Kiai Damar Sasangka hampir menyentuh kepala orang yang duduk di bawah pohon keluwih itu, dengan gerakan yang tidak kasat mata, kedua tangan orang itu tiba-tiba saja telah menyilang di atas kepalanya.

Sejenak Ki Waskita menjadi heran. Wadag Ki Rangga yang sedang dalam puncak samadinya itu seharusnya tidak akan mampu berbuat apapun, sekalipun hanya untuk menggerakkan ujung ibu jari kakinya. Namun pada kenyataannya yang terjadi kemudian adalah benar-benar diluar dugaan.

Dalam pada itu, akibat dari benturan itu tubuh Kiai Damar Sasangka telah terlempar ke belakang beberapa langkah sebelum akhirnya jatuh bergulingan. Demikian dahsyatnya benturan itu yang menyebabkan pengetrapan aji Sapta Dhahana nya menjadi terganggu sehingga api yang menyelimuti tubuh Kiai Damar Sasangka pun telah padam dengan sendirinya.

“Setan, gendruwo, tetekan..!” umpat Kiai Damar Sasangka sambil mencoba merangkak bangun. Namun ternyata kekuatan wadagnya sudah tidak mendukung lagi. Seluruh tulang-belulang di sekujur tubuhnya rasa-rasanya telah hancur lumat sehingga dengan tanpa daya dia kembali terguling.

Bersamaan dengan itu, Ki Waskita telah meluncur turun dari dinding padepokan yang tinggi dan langsung berlari ke arah tempat benturan itu terjadi.

Namun alangkah terkejutnya orang tua itu. Pandangan matanya yang tajam segera menangkap bayangan seseorang yang sedang berdiri tegak di atas kedua kakinya yang renggang selangkah di depan bekas pohon keluwih yang telah hancur.  Namun ternyata orang itu bukanlah Ki Rangga Agung Sedayu.

Sejenak Ki Waskita ragu-ragu untuk melanjutkan langkahnya.  Dia sama sekali belum mengenal orang itu. Seseorang yang tampak masih muda namun memiliki sorot mata yang sangat tajam.

Melihat Ki Waskita ragu-ragu untuk melangkah mendekat, anak muda itu segera maju beberapa langkah. Sesampainya di hadapan Ki Waskita, dia segera membungkuk dalam-dalam sambil tersenyum. Katanya kemudian, “Maafkan aku, Kiai. Ijinkan aku memperkenalkan diri terlebih dahulu. Namaku Santri, orang-orang terbiasa memanggilku Mas Santri.”

Ki Waskita mengerutkan keningnya dalam-dalam. Nama itu terdengar agak asing di telinganya. Seumur hidupnya Ki Waskita memang belum pernah mendengar nama Mas Santri.

“Mas Santri?” tanpa sadar Ki Waskita mengulang nama itu.

“Benar, Kiai,” jawab anak muda yang mengaku bernama Mas Santri itu dengan serta merta.

“Baiklah, Mas Santri,” berkata Ki Waskita kemudian, “Jangan panggil aku Kiai, karena aku memang bukan seorang Kiai. Aku Ki Waskita, salah seorang penghuni di Tanah Perdikan Menoreh.”

Mas Santri tampak mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Ki Waskita.  Berkata Mas Santri kemudian sambil mengangguk hormat, “Maafkan aku Ki Waskita, jika memang aku salah dalam hal ini. Aku diutus oleh ayahku dan sekaligus guruku untuk memberitahukan kepada siapapun yang mencari keberadaan Ki Rangga saat ini.”

Mendengar Mas Santri menyebut nama Ki Rangga, Ki Waskita bagaikan tersadar dari sebuah mimpi buruk. Dengan tergesa-gesa dia segera menyahut, “Ki Rangga Agung Sedayu? Di mana keberadaan Ki Rangga sekarang? Dan bagaimanakah keadaannya?”

Mas Santri tersenyum sekilas mendapat pertanyaan yang bertubi-tubi dari Ki Waskita itu. Jawabnya kemudian, “Ki Waskita, Ki Rangga telah dibawa menyingkir oleh ayahku. Tapi percayalah, ayahku akan berusaha sekuat tenaga untuk menolong Ki Rangga yang sedang menderita luka yang cukup parah.”

“Ki Rangga terluka parah?” tanpa sadar Ki Waskita berseru dengan suara sedikit khawatir.

Segera saja Ki Waskita teringat di saat-saat terakhir sebelum benturan itu terjadi. Ki Waskita masih sempat melihat Ki Rangga yang sedang dalam puncak samadinya itu menyilangkan kedua tangannya di atas kepala.

“Bagaimana mungkin itu bisa dilakukan oleh angger Sedayu?” pertanyaan itu melingkar-lingkar dalam benak Ki Waskita, “Untuk membangunkan dari puncak samadinya diperlukan waktu. Mungkin seseorang yang linuwih telah berhasil membangunkan angger Sedayu hanya dalam waktu yang sekejap sehingga angger Sedayu masih mempunyai kesempatan untuk melindungi diri. Tidak menutup kemungkinan ayah dan sekaligus guru dari anak muda yang bernama Mas Santri inilah yang telah melakukannya.”

Namun belum sempat kedua orang itu melanjutkan pembicaraan mereka, tiba-tiba saja dari arah dinding padepokan terdengar suara teriakan menggelegar.

“Guru..?!” terdengar seseorang berteriak sambil meluncur turun dari atas dinding padepokan.

Serentak kedua orang itu berpaling. Tampak Putut Sambernyawa yang telah turun dari dinding padepokan itu sedang berlari menuju ke tempat gurunya yang terbujur diam.

Dada Ki Waskita pun berdesir tajam. Tidak menutup kemungkinan pertempuran antara dirinya dengan Putut itu akan berkobar kembali. Namun Ki Waskita sudah bertekat bulat. Apapun yang terjadi, dia akan menyabung nyawa dengan murid utama perguruan Sapta Dhahana itu.

“Sudahlah Ki Waskita,” tiba-tiba terdengar Mas Santri bergumam perlahan, “Aku mohon diri. Aku harus segera menyusul ayahku untuk ikut membantu menolong menyelamatkan Ki Rangga.”

Ki Waskita berpaling ke arah Mas Santri. Sejenak dipandanginya anak muda itu dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Sambil melangkah mendekat, Ki Waskita pun kemudian berkata dengan suara yang berat dan dalam, “Mas Santri, aku tidak tahu siapakah sebenarnya kalian berdua dan dari mana asal kalian. Namun menurut pengakuanmu sendiri, ayahmu telah membawa Ki Rangga yang sedang terluka parah,” Ki Waskita berhenti sejenak untuk sekedar menarik nafas melonggarkan dadanya yang tiba-tiba saja menjadi sedikit pepat. Lanjutnya kemudian, “Katakanlah yang sebenarnya, apakah aku dapat memegang ucapanmu? Apakah engkau dan ayahmu dapat menjamin akan keselamatan Ki Rangga?”

Mendapat pertanyaan seperti itu, sejenak Mas Santri tertegun. Sambil menghela nafas panjang, Mas Santri pun akhirnya menjawab, “Ki Waskita, ayahku melarang untuk mengungkapkan jati diri kami berdua. Bukan maksud kami untuk berteka-teki. Tujuan kami adalah semata-mata menolong sesama dengan tanpa pamrih,” sejenak Mas Santri mengambil nafas. Lanjutnya kemudian, “Tentang keselamatan Ki Rangga, tentu saja kami berdua tidak bisa menjamin. Bahkan menjamin keselamatan diri kami sendiri pun kami tidak akan mampu. Hanya Yang Maha Agung yang dapat menjamin keselamatan kita semua di muka bumi ini. Marilah kita selalu mendekatkan diri dan berdoa kepadaNYA agar langkah kita selalu dalam perlindunganNYA.”

Kata-kata Mas Santri itu bagaikan ujung sebuah duri kemarung yang menghunjam ke jantungnya. Ki Waskita pun tersadar akan kesalahan pemahamannya selama ini bahwa nasib seseorang itu dapat ditentukan oleh orang lain. Hanya kepada Yang Maha Agung, Penguasa seluruh alam semestalah tempat semua makhluk itu bergantung.

Ketika Ki Waskita masih merenungi kata-kata Mas Santri, tiba-tiba terdengar sebuah bentakan keras hanya beberapa langkah saja di belakangnya. Ki Waskita pun segera membalikkan badan.

“Orang tua!” geram Putut Sambernyawa yang ternyata telah berdiri beberapa langkah saja di hadapannya, “Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa. Nyawa guruku sama dengan nyawa seribu orang. Aku akan membunuh siapapun orang-orang yang telah membantu Mataram. Seribu orang, ya, seribu orang, itu baru sepadan dengan nyawa guruku.”

Ki Waskita mengerutkan keningnya. Ancaman Putut itu terdengar aneh di telinganya. Menghadapi dirinya seorang saja dia masih belum mampu untuk menuntaskan nya, apalagi seribu orang. Namun Ki Waskita segera menyadari bahwa ancaman Putut itu tentu terdorong oleh kemarahan atas kematian gurunya.

Ketika Ki Waskita kemudian menyempatkan diri untuk berpaling sekilas ke belakang, ternyata anak muda yang mengaku bernama Mas Santri itu sudah tidak berada di tempatnya lagi

“Luar biasa,” berkata Ki Waskita dalam hati, “Siapakah sebenarnya anak muda itu? Jika masih semuda itu dia sudah menguasai ilmu sedemikian ngedab-edabi, tentu ayah dan sekaligus gurunya itu mempunyai kemampuan yang tiada taranya.”

Namun jauh di lubuk hati Ki Waskita telah terucap sebuah rasa syukur yang ikhlas. Ki Rangga ternyata telah mendapat perawatan di tangan seorang yang linuwih. Tentu kesehatan Ki Rangga akan segera  pulih dengan cepat seperti sedia kala.

Walaupun demikian, sepercik keragu-raguan masih saja hinggap di salah satu sudut  dalam hatinya. Manusia memang hanya mampu berusaha, Yang Maha Agung jugalah yang akan menentukan. Apabila ketentuan Yang Maha Agung itu yang akan berlaku, manusia hanya dapat pasrah untuk menerima dan berusaha dengan ikhlas untuk menjalankannya.

“Nah, bersiaplah untuk mati!” tiba-tiba terdengar geram Putut Sambernyawa membangunkan lamunan Ki Waskita. Ketika Ki Waskita kemudian mengamati lawannya yang berdiri beberapa langkah saja di hadapannya, tampak murid utama perguruan Sapta Dhahana itu telah bersiap  menyalakan api untuk membakar tubuhnya.

Ki Waskita menarik nafas panjang. Tanpa sadar diamatinya kedua tangannya. Di lengan kiri masih membelit kain ikat kepalanya. Sedangkan di tangan kanan, seutas ikat pinggang telah siap melayani tandang Putut yang garang itu.

Sejenak kemudian, tanpa menunggu waktu lagi, serangan Putut Sambernyawa pun segera datang membadai menerjang lawannya.

Namun lawannya adalah Ki Waskita, orang tua yang sudah putus segala kawruh lahir maupun batin. Dengan mengandalkan kekuatan pada ujung ikat pinggangnya yang terbuat dari besi baja pilihan, serangan Ki Waskita pun mematuk-matuk ke segala bagian yang berbahaya dari tubuh lawannya.

“Rahasia orang ini agaknya terletak pada ketahanan tubuhnya,” demikian Ki Waskita berpikir sambil terus bertempur, “Jika aku mampu menggoyahkan ketahanan tubuhnya sedikit demi sedikit, api yang menyelimuti tubuhnya itu akan berbalik membakar tubuhnya sendiri.”

Berpikir sampai disitu, Ki Waskita segera meningkatkan serangannya. Ikat pinggang di tangan kanannya berputar semakin deras dan sesekali meluncur mematuk mengarah ke bagian-bagian tubuh lawannya yang berbahaya. Sedangkan tangan kirinya yang terbalut kain ikat kepalanya sibuk menangkis lidah-lidah api yang berhamburan menerjang ke arahnya.

Dalam pada itu, Glagah Putih yang sedang bertempur melawan Raden Surengpati menjadi sangat gelisah. Dia telah mendengar ledakan yang dahsyat tadi, namun sejauh itu dia belum mengetahui apa yang sebenarnya  telah terjadi dengan kakak sepupunya.

Beberapa saat tadi dia sempat melihat Kiai Damar Sasangka menghindar dari bayangan semu Ki Rangga dan kemudian berlari meloncati dinding Padepokan sebelah timur. Ketika bayangan pemimpin perguruan Sapta Dhahana itu menghilang ke balik dinding, Glagah Putih kembali melihat seseorang dari arah halaman belakang berlari meloncati dinding padepokan menyusul Kiai Damar Sasangka, dan Glagah Putih pun sangat mengenalnya sebagai Ki Waskita.

Begitu ledakan dahsyat itu terdengar membahana dan mengguncang udara padepokan Sapta Dhahana, Glagah Putih kembali melihat seseorang yang tidak dikenalnya berlari menyusul Ki Waskita meloncati dinding.

“Apakah sebenarnya yang telah terjadi?” pertanyaan itu sangat mengusik hati Glagah Putih, “Mengapa bayangan semu Kakang Agung Sedayu ikut menghilang bersama dengan menghilangnya Kiai Damar Sasangka?”

Namun Glagah Putih tidak mampu memecahkan teka-teki yang telah menyesaki benaknya.

Ternyata perhatian Glagah Putih yang terpecah itu telah dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh lawannya. Ketika Glagah Putih yang gelisah itu mencoba memperhatikan kembali dinding padepokan sebelah timur untuk sekedar menduga-duga apa yang telah terjadi, sambaran angin bercampur api yang membara telah menyentuh pundaknya.

“Gila..!” teriak Glagah Putih sambil meloncat ke samping. Rasa pedih disertai panas membakar terasa menyengat pundaknya.

Namun lawannya tidak mau melepaskannya. Sekali lagi sebuah serangan meluncur menyambar dada.

Tidak ada jalan lain bagi Glagah Putih selain menjatuhkan diri bergulingan menjauhi garis serangan lawan. Begitu Glagah Putih kemudian melenting berdiri, kedua tangannya telah teracu ke depan, siap melontarkan aji pamungkasnya, aji Namaskara.

bersambung ke bagian 2

2 Responses

  1. Salam kenal sedoyo

  2. Waah..Ada jagoan baru ..Mas Santri, kira2 siapa ya? Murid Kanjeng Sunan Muria?
    BTW, Ki Tanpa Aran itu Kiai Gringsing kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s