STSD-08

kembali ke STSD-07 | lanjut ke STSD-09

Bagian 1

Untuk beberapa saat ketiga orang itu justru hanya diam mematung tersihir oleh kecantikan Ratri, gadis yang sedang beranjak dewasa dengan segala kelebihannya.

“Urus anak muda gila itu, Panut!” berkata Ki Jagabaya akhirnya kepada kawannya kemudian setelah dia menyadari akan tujuannya datang ke kediaman Ki Gede, “Aku akan mencoba melunakkan hati gadis itu. Siapa tahu dengan suka rela dia akan bersedia ikut dengan kita.”

Tanpa menunggu jawaban Panut, Ki Jagabaya pun dengan langkah lebar segera berjalan kembali menuju ke dapur.

Sedangkan Panut yang mendapat perintah untuk mengurus cantrik Gatra Bumi hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Jika saja dia boleh memilih, tentu dia akan memilih untuk mengurus gadis cantik itu, walaupun harus dengan sedikit kekerasan sekalipun.

Dalam pada itu, cantrik Gatra Bumi yang melihat kemunculan Ratri menjadi salah tingkah. Dia sama sekali tidak mengharap bertemu dengan gadis cantik namun terlihat sedikit tinggi hati itu. Sebenarnya ada niat untuk segera meninggalkan tempat itu, akan tetapi kata-kata terakhir dari Ki Jagabaya itu telah mengusik hatinya.

“Gadis itu akan diajak ke mana?” bertanya cantrik Gatra Bumi dalam hati sambil mengawasi langkah Ki Jagabaya, “Adalah sebuah tindakan deksura mengajak seorang gadis apalagi putri Ki Gede tanpa seijin orang tuanya.”

Pertanyaan itu berputar-putar dalam benak cantrik Gatra Bumi tanpa dia mampu mencari jawabannya.

Dalam pada itu Ratri yang pada awalnya berdiri di tengah-tengah pintu dapur telah melangkah keluar begitu dilihatnya ki Jagabaya menghampirinya.

“Ratri,” berkata Ki Jagabaya kemudian sesampainya dia di hadapan gadis itu, “Aku datang membawa pesan dari Raden Mas Harya Surengpati.”

Ratri mengerutkan keningnya. Ada sedikit rasa terkejut dalam hatinya mendengar kata-kata Ki Jagabaya.

“Raden Surengpati?” ulang Ratri sambil sepasang mata yang indah itu menatap tajam Ki Jagabaya, “Apakah benar Raden Surengpati menitipkan pesan untukku?”

Ki Jagabaya cepat-cepat membuang muka. Ada desir tajam yang menggores jantungnya. Pandangan tajam dari sepasang mata gadis yang dulu semasa kanak-kanak sering digendongnya jika dia berkunjung ke rumah Ki Gede itu seakan telah menjenguk langsung ke dalam dadanya dan melihat betapa jantung itu sekarang telah ditumbuhi oleh bulu-bulu ketamakan dan keserakahan?

“Aku harus kuat dan mampu menyingkirkan segala perasaan yang cengeng dan tidak beralasan ini,” geram ki Jagabaya dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, “Perjuangan Trah Sekar Seda Lepen harus berhasil. Dengan demikian nasibku pun akan berubah, dari seorang Jagabaya yang tidak mempunyai kekuasan selain menjadi pesuruh, menjadi seorang pemimpin sebuah tanah perdikan yang luas dan subur. Tanah perdikan Matesih.”

Tiba-tiba sebuah senyum tersungging di bibir Ki Jagabaya. Seolah-olah jabatan kepala Tanah Perdikan Matesih itu sudah berada dalam genggamannya.

“Ki Jagabaya,” tiba-tiba terdengar suara Ratri membangunkan mimpi indah Ki Jagabaya, “Ki Jagabaya belum menjawab pertanyaanku.”

Sejenak wajah Ki Jagabaya menegang. Namun dengan cepat kesan itu segera hilang dari wajahnya. Katanya kemudian sambil tersenyum, “Ratri, aku sebagai orang tua yang sudah kenyang makan asam garamnya kehidupan tidak menutup mata akan hubungan kalian berdua. Raden Surengpati sering bercerita tentang dirimu. Menurut panggraitaku sebagai laki-laki, agaknya Raden Surengpati benar-benar telah mabuk kepayang dengan putri satu-satu Ki Gede Matesih yang mempunyai kecantikan luar biasa ini.”

“Ah,” desah Ratri dengan kedua pipi memerah. Dengan cepat ditundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Nah,” berkata Ki Jagabaya kemudian begitu kata-kata sanjungannya mulai merasuki hati gadis itu, “Sekarang aku telah diutus untuk menjemputmu. Keadaan di rumah ini tidak aman lagi. Menurut berita seorang telik sandi, sebentar lagi pasukan segelar sepapan Mataram akan menyerbu ke tempat ini. Untuk itulah langkah satu-satunya bagi Raden Surengpati adalah menyelamatkanmu, karena engkau adalah satu-satunya yang paling berharga dalam hidupnya.”

Kata-kata Ki Jagabaya yang terakhir itu bagaikan kidung asmarandana yang melambungkan Ratri ke awang-awang. Hatinya telah dipenuhi oleh bunga-bunga yang semerbak harum mewangi. Betapa perhatian yang dalam telah diberikan kepadanya oleh laki-laki pujaan hatinya itu. Namun berita tentang kedatangan pasukan Mataram itu sedikit meragukan hatinya.

Untuk beberapa saat telah terjadi pergolakan di dalam hati putri Matesih itu. Gadis yang sedang beranjak dewasa itu merasakan getar-getar lembut yang mengusap jantungnya. Betapa kerinduan yang hampir tak tertahankan untuk bertemu dengan pujaan hatinya itu. Namun jauh di dasar lubuk hatinya, terdengar bisikan yang mengisyaratkan untuk selalu meningkatkan kewaspadaan sehubungan dengan tingkah laku Raden Surengpati yang baru saja dialaminya beberapa saat yang lalu.

“Akan tetapi ternyata aku tidak mengalami suatu apapun?” sudut hatinya yang lain menyangkal, “Mungkin aku saja yang terlalu berprasangka buruk kepadanya sehingga ketakutanku telah mengalahkan nalarku.”

Terdengar Ratri berdesah perlahan. Hatinya benar-benar gundah gulana. Dia benar-benar tidak dapat menentukan sikap sehubungan dengan berita yang dibawa oleh Ki Jagabaya yang sudah sangat dikenalnya dengan baik itu.

“Bagaimana Ratri?” bertanya Ki Jagabaya kemudian begitu melihat putri Matesih itu hanya diam termangu sambil menundukkan wajahnya.

Tanpa sadar Ratri mengangkat wajahnya mendengar pertanyaan Ki Jagabaya. Sekilas dia melihat jauh ke depan. Tampak anak muda yang dikenalnya sebagai tamu ayahnya itu sedang berdiri termangu-mangu di dekat perigi. Kedua tangannya tampak sedang memegangi tali senggot, namun tidak ada gerakan sama sekali untuk mengambil air. Sementara beberapa langkah di hadapannya, seseorang sedang berdiri sambil bertolak pinggang.

Ki Jagabaya berpaling sekilas ke belakang mengikuti pandangan Ratri. Katanya kemudian, “Jangan hiraukan mereka berdua. Keduanya tidak ada sangkut pautnya dengan urusan kita.”

Ratri tidak menjawab dan kembali menundukkan kepalanya. Sementara Ki Jagabaya agaknya tanggap. Tentu sedang terjadi pergolakan batin di dalam diri gadis itu. Maka Ki Jagabaya pun membiarkan gadis itu untuk sejenak membuat pertimbangan-pertimbangan di dalam dirinya.

Dalam pada itu cantrik Gatra Bumi yang sedikit banyak telah mempelajari dasar-dasar dari aji sapta pangrungu sedari tadi telah mencoba mencuri dengar percakapan Ki Jagabaya dengan Ratri.

Jantung anak muda murid Ki Ajar Mintaraga itu pun menjadi berdebar-debar begitu dengan sangat jelasnya mendengar apa yang sebenarnya menjadi tujuan utama Ki Jagabaya datang ke kediaman Ki Gede itu. Apalagi begitu mendengar alasan ki Jagabaya yang menyangkut-pautkan pasukan Mataram, cantrik Gatra Bumi pun segera dapat mengambil kesimpulan bahwa Ki Jagabaya telah berupa daya untuk menipu putri Matesih itu agar bersedia diajak pergi.

Berpikir sampai disitu, cantrik Gatra Bumi pun segera melangkah meninggalkan perigi dan bermaksud menuju ke tempat Ki Jagabaya. Namun kawan Ki Jagabaya yang bernama Panut itu ternyata telah menghadang jalannya.

“Ha, akan melarikan diri kemana kau?” geram Panut sambil merentangkan kedua tangannya, “Jangan harap dapat lolos dari tanganku!”

Cantrik Gatra Bumi mengerutkan kening sambil menghentikan langkahnya. Jawabnya kemudian, “Ki Sanak, aku tidak bermaksud melarikan diri. Aku hanya ingin berbicara dengan Ki Jagabaya.”

“Itu tidak perlu!” sergah Panut sambil bertolak pinggang, “Jika engkau memutuskan untuk menyerah dan meminta maaf atas kelakuanmu tadi, cukup kepadaku. Tidak usah kepada Ki Jagabaya. Aku bersedia memaafkanmu namun dengan satu syarat, engkau dengan sukarela harus menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam perigi.”

Cantrik Gatra Bumi mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Panut. Namun ternyata dia tidak kurang akal untuk membalas ejekan Panut. Maka katanya kemudian, “Maaf Ki Sanak. Bukankah Ki Sanak sendiri yang tadi dengan sukarela ingin masuk ke dalam perigi? Untunglah Ki Jagabaya mempunyai pikiran lain. Jika Ki Sanak ingin mandi, memang sebaiknya di pakiwan saja, bukan langsung ke dalam perigi.”

“Aku sobek mulutmu, bocah lancang!” geram Panut. Namun diam-diam di dalam hati Panut mulai menilai kekuatan lawannya. Pada benturan yang pertama tadi ternyata anak muda itu telah mampu melemparkannya.

Maka kali ini Panut tidak ingin mengulangi kegagalannya. Segera saja dia mengambil sikap. Ditekuknya salah satu lutut kakinya sedikit rendah. Sedang kaki yang lainnya membuat gerakan setengah lingkaran ke depan dan berakhir dengan tumit yang diangkat tinggi-tinggi sehingga hanya ujung ibu jari kakinya saja yang menyentuh tanah. Sementara kedua tangannya membentuk pertahanan di depan dada.

Cantrik Gatra Bumi mengerutkan keningnya. Dia tidak begitu heran dengan sikap kuda-kuda seperti itu. Setiap orang yang pernah belajar olah kanuragan pasti dikenalkan dengan berbagai macam bentuk dan ragam kuda-kuda.

“Nah, anak muda,” berkata Panut kemudian, “Aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi. Dan jangan samakan aku dengan kawanku yang tentu sudah engkau lumpuhkan terlebih dahulu.”

Mendengar ucapan Panut itu, cantrik Gatra Bumi pun segera teringat kepada orang tinggi kurus yang menghampirinya ketika dia sedang mengambil air di perigi beberapa saat yang lalu.

“Orang aneh,” gumam cantrik Gatra Bumi dalam hati, “Tanpa memberi peringatan apapun tiba-tiba saja dia memukul tengkukku.”

Memang kawan Ki Jagabaya yang tinggi kurus itu telah membuat sebuah kesalahan besar yang mengakibatkan kerugian pada dirinya sendiri.

Ketika Ki Jagabaya memerintahkannya untuk membungkam anak muda yang sedang mengambil air di perigi itu, dia berpikir bahwa anak muda itu hanyalah seorang anak muda kebanyakan. Maka sambil menyunggingkan senyum, kawan Ki Jagabaya yang bertubuh tinggi kurus itu segera menghampiri cantrik Gatra Bumi.

Pada awalnya cantrik Gatra Bumi sama sekali tidak menaruh curiga. Dia bahkan mengira orang itu menghampiri dirinya untuk sekedar ingin menggantikan dirinya mengambil air menilik sikapnya yang tenang dengan bibir tersenyum-senyum.

Namun yang terjadi kemudian telah membuat cantrik Gatra Bumi itu terkejut bukan alang kepalang. Sesampainya orang itu selangkah di samping kirinya, tiba-tiba saja orang itu dengan sisi telapak tangan kanannya secepat kilat menghantam tengkuk cantrik Gatra Bumi.

Untunglah cantrik Gatra Bumi telah mendapat gemblengan yang luar biasa dari Ki Ajar Mintaraga. Otot-otot di sekujur tubuhnya telah terlatih untuk mendapat serangan yang mendadak dan tak terduga seperti itu. Maka ketika sisi telapak tangan kanan orang tinggi kurus itu hampir menyentuh sasaran, dengan gerakan diluar sadar cantrik Gatra Bumi segera menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil sedikit membungkukkan badannya.

Akibatnya adalah sangat merugikan orang tinggi kurus itu sendiri. Karena ketergesa-gesaannya, maka akibatnya yang terjadi kemudian adalah sangat diluar perhitungannya. Ketika serangannya tidak menemui sasaran, tubuhnya ikut terdorong ke depan karena pengerahan kekuatannya sendiri. Sementara cantrik Gatra Bumi yang terkejut dan marah atas serangan licik orang itu telah membalas perlakuan orang tinggi kurus itu dengan sebuah serangan pula tanpa terkendali.

Begitu tubuh orang tinggi kurus itu condong ke depan, dengan menggunakan tali senggot yang masih berada di kedua tangannya, cantrik Gatra Bumi segera mengalungkannya untuk kemudian menjerat leher orang itu dengan sekali hentakan yang sangat kuat.

Ternyata kemarahan yang menyesakkan dada cantrik Gatra Bumi telah membuat dirinya lepas kendali. Jeratan tali senggot di leher orang itu begitu cepat dan kuatnya sehingga telah membuat leher orang itu tercekik dan jalan pernafasannya tersumbat seketika. Tanpa dapat dicegah, tubuh orang itu pun terkulai dan jatuh pingsan seketika.

Melihat orang tinggi kurus itu jatuh terkulai, cantrik Gatra Bumi menjadi gugup dan bingung. Dengan cepat ditangkapnya tubuh orang tinggi kurus itu yang hampir saja terjatuh ke dalam perigi. Sejenak dia tidak tahu harus berbuat apa. Namun nalurinya segera mengatakan untuk cepat-cepat menyembunyikan tubuh orang tinggi kurus itu dari penglihatan Ki Jagabaya dan kawan yang satunya.

Demikianlah akhirnya Ki Jagabaya dan kawan yang satunya itu ternyata tidak menyadari bahwa kawan mereka telah dapat dilumpuhkan oleh cantrik Gatra Bumi dengan sangat mudahnya.

“Nah, anak muda,” berkata Panut kemudian menyadarkan lamunannya, “Bersiaplah. Jika serangan pertamaku ini langsung melumpuhkanmu, maka jangan salahkan aku. Itu karena nasibmu sendiri saja yang sangat jelek.”

Selesai berkata demikian, Panut segera mengambil ancang-ancang sambil mengerahkan kekuatannya yang bertumpu pada kedua kakinya. Sejenak kemudian, tubuhnya telah terlontar ke depan dengan sangat cepatnya. Serangan pertamanya pun segera datang membadai menerjang lawannya.

Sebenarnyalah serangan Panut itu bagi cantrik Gatra Bumi yang telah mengalami gemblengan dari Ki Ajar Mintaraga tidak begitu membahayakan. Namun jantung cantrik Gatra Bumi menjadi semakin berdebar-debar ketika sekilas dia melihat Ki Jagabaya melangkah semakin dekat ke tempat Ratri berdiri.

“Apakah Ratri akan terbujuk oleh rayuan Ki Jagabaya?” bertanya cantrik Gatra Bumi dalam hati sambil bergeser ke samping menghindari serangan Panut, “Sebenarnya aku kurang memahami persoalan apa yang sedang mereka bicarakan. Namun bagaimana pun juga, membawa anak gadis orang tanpa seijin orang tuanya adalah sebuah tindakan yang tidak pantas. Bahkan mungkin itu dapat disamakan dengan tindak penculikan.”

Berpikir sampai disitu dada cantrik Gatra Bumi bagaikan terhimpit berbongkah-bongkah batu padas. Dadanya menjadi sesak memikirkan kemungkinan terburuk yang dapat terjadi pada anak perempuan satu-satunya Ki Gede Matesih itu.

“Ya, ini kemungkinannya adalah sebuah usaha penculikan,” berkata cantrik Gatra Bumi dalam hati selanjutnya sambil terus menghindari serangan lawan yang mulai terlihat membabi buta karena tidak ada satu pun serangan yang mampu menyentuh tubuh anak muda itu.

“Gila.! Gila..! Gilaa..!” umpat Panut berkali kali setiap serangannya hanya menyentuh angin. Dia benar-benar merasa direndahkan oleh lawannya yang tampaknya tidak begitu menanggapi serangannya dan hanya menghindar dan menghindar terus.

Dalam pada itu, Ki Jagabaya yang mendengar kawannya mulai bertempur dengan cantrik Gatra Bumi menjadi gelisah. Tanpa sadar dia maju selangkah.

Sebenarnyalah Ratri yang sedang termenung itu telah dikejutkan oleh pertempuran yang telah terjadi. Begitu pandangan matanya melihat ke depan. Jantung gadis itu pun bagaikan terlepas dari tangkainya. Wajahnya menjadi pucat dan lututnya gemetar.

“Ki Jagabaya,” desis Ratri tertahan-tahan, “Apa yang terjadi? Mengapa mereka bertempur?”

“Sekali lagi aku katakan,” jawab Ki Jagabaya tanpa berpaling, “Jangan hiraukan mereka. Mereka bukan urusan kita.”

Untuk beberapa saat Ratri tetap berdiri dengan wajah pucat dan lutut gemetar. Gadis itu memang tidak pernah diperkenalkan dengan olah kanuragan oleh ayahnya sehingga selalu ketakutan bila melihat orang bertengkar, apalagi sampai berkelahi.

“Nah, apakah engkau sudah siap, Ratri?” pertanyaan Ki Jagabaya telah mengejutkan Ratri yang sedang dalam kekalutan dan ketakutan itu.

“Siap untuk apa, Ki Jagabaya?” bertanya balik gadis itu kemudian dengan bibir pucat dan suara gemetar.

“Tentu saja bersiap untuk berangkat ke rumah yang selama ini dijadikan kediaman Raden Surengpati.” Jawab Ki Jagabaya dengan wajah yang sedikit memerah.

Sejenak wajah gadis yang pucat itu menjadi semakin pucat pasi. Dia belum pernah berpikir bahwa dia harus meninggalkan rumah yang telah dihuninya semenjak lahir itu. Apalagi alasan Ki Jagabaya mengajaknya menyingkir dari rumah itu baginya kurang masuk akal.

“Bukankah di rumah ini ada pengawal?” bertanya Ratri dalam hati dengan jantung yang berdentang semakin keras, “Ayah juga sedang nganglang bersama para pengawal. Jika akan terjadi apa-apa, ayah pasti segera pulang untuk melindungi rumah ini.”

“Marilah, Ratri,” berkata Ki Jagabaya kemudian membangunkan lamunan Ratri, “Waktu kita tidak banyak. Sebentar lagi padukuhan induk ini akan diserbu pasukan Mataram, termasuk rumah ini. Kita harus segera menyingkir secepatnya.”

Ratri benar-benar dalam keadaan kalut. Walaupun dia sudah mengenal baik Ki Jagabaya sejak kanak-kanak dan Ki Jagabaya baginya mempunyai arti tersendiri dalam perkembangan kehidupannya sampai dia beranjak remaja, namun ajakan Ki Jagabaya itu terdengar sungguh sangat aneh di telinganya. Sedangkan pertempuran yang sedang berlangsung di hadapan matanya itu saja telah hampir membuatnya jatuh pingsan.

Dalam pada itu, dua orang perempuan pembantu rumah Ki Gede yang sedang memasak di dapur telah mendengar suara ribut-ribut di halaman belakang. Hari memang masih terlalu pagi dan di dapur masih sepi, hanya mereka berdua saja yang bertugas menjerang air untuk membuat minuman panas untuk seisi rumah termasuk para pengawal yang berjaga. Sedangkan untuk tamu Ki Gede yang sekarang sedang duduk-duduk di pendapa, mereka telah menyempatkan terlebih dahulu menghidangkan minuman panas serta beberapa penganan sisa tadi malam yang masih layak.

Sejenak kedua perempuan itu hanya dapat saling berpandangan. Mereka memang sering mendengar ribut-ribut di halaman belakang. Tukang kebun Ki Gede memang sering uring-uringan sendiri jika melihat banyak sampah yang menumpuk di dekat perigi. Dia selalu mengomeli perempuan-perempuan yang bekerja di dapur agar membuang sampah di lobang-lobang yang telah digalinya di beberapa tempat. Namun pagi itu tukang kebun yang biasanya juga bertugas mengisi pakiwan itu tidak masuk kerja karena istrinya sakit. Selain mengisi pakiwan, tukang kebun itu juga mengisi tempayan dan lodong-lodong bambu yang berada di dapur.

Akhirnya dengan memberanikan diri keduanya pun mencoba melihat apa yang sebenarnya telah terjadi. Beberapa saat tadi mereka juga merasa heran telah mendengar derit suara senggot. Padahal sehari sebelumnya tukang kebun itu telah memberitahu bahwa esoknya dia minta ijin tidak masuk kerja. Biasanya jika ada salah satu pembantu rumah Ki Gede yang berhalangan masuk karena sesuatu hal, mbok Pariyem lah yang mencarikan gantinya.

Dengan sedikit bergegas keduanya pun segera berdiri dan berjalan ke arah pintu. Mereka tidak berani keluar pintu tetapi hanya melongok saja dari pintu dapur yang terbuka.

Namun alangkah terkejutnya kedua perempuan itu begitu menyadari apa sebenarnya yang sedang terjadi. Jantung keduanya pun bagaikan berhenti berdenyut.

Yang pertama kali mereka lihat adalah putri Matesih yang berdiri dengan tubuh gemetar. Beberapa langkah di hadapannya berdiri dengan gelisah orang yang sudah sangat mereka kenal, Ki Jagabaya. Namun yang membuat jantung mereka bagaikan berhenti berdenyut adalah sebuah pertempuran yang sedang terjadi dengan sengitnya di halaman belakang dekat perigi.

Mereka berdua sama sekali belum pernah mengenal kedua orang yang sedang bertempur dengan sengitnya itu. Namun bukan pengenalan mereka atas kedua orang itu yang membuat mereka terkejut. Pertempuran itulah yang telah membuat tulang-tulang sendi sekujur tubuh kedua perempuan itu bagaikan terlepas satu-persatu.

“Ada apa..?” bisik salah satu dari kedua perempuan itu kepada kawannya dengan suara serak hampir tak terdengar.

Kawannya hanya menggeleng lemah dengan nafas memburu dan dada bergelombang. Sambil memberi isyarat untuk menyingkir, dia mencoba menggerakkan salah satu kakinya. Namun yang terjadi kemudian justru tubuhnya limbung dan jatuh terduduk.

Kawannya yang melihat dia jatuh terduduk mencoba menolong, namun justru tubuhnya ikut-ikutan limbung dan jatuh menimpa kawannya yang sudah jatuh terlebih dahulu.

Demikianlah kedua perempuan pembantu Ki Gede itu sama sekali tidak mampu untuk berbuat apa-apa. Ketakutan yang sangat telah membuat sekujur tubuh mereka menjadi lemas tak bertenaga. Sebenarnya ada keinginan untuk melaporkan kejadian di halaman belakang itu kepada para pengawal yang berjaga di regol depan. Namun keinginan itu hanyalah tinggal keinginan saja.

Dalam pada itu Ratri yang masih berdiri dengan lutut gemetar sambil menundukkan kepala dalam-dalam menjadi semakin ketakutan ketika Ki Jagabaya sekali lagi melangkah selangkah mendekatinya. Hampir saja lututnya yang gemetar tidak mampu menyangga tubuhnya.

Namun entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja Ratri teringat akan kedudukannya sebagai putri Kepala Tanah Perdikan Matesih sehingga kekuatannya muncul kembali. Dengan memperkuat hatinya, akhirnya terucap juga kata-kata dari bibir yang pucat itu, “Aku menunggu ayah pulang saja,”

Ki Jagabaya terkejut mendengar jawaban Ratri. Dengan serta merta dia segera mencegah, “Jangan! Engkau tidak perlu menunggu ayahmu. Apakah engkau tahu kemana ayahmu pergi?”

Kepala yang tunduk itu hanya menggeleng perlahan tanpa terucap sepatah kata pun.

Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan dadanya yang mulai terasa pepat dan panas atas perubahan sikap Ratri. Namun Ki Jagabaya benar-benar harus berpacu dengan waktu. Dia harus meyakinkan gadis itu atau sekalian membawa gadis itu pergi dengan kekerasan mumpung belum ada yang menyadari kehadiran dia dan kawannya kecuali anak muda di perigi itu.

Teringat akan cantrik Gatra Bumi, dengan cepat Ki Jagabaya segera berpaling ke belakang. Beberapa saat tadi dia memang masih mendengar gerak langkah kedua orang yang sedang bertempur itu serta sumpah serapah Panut. Namun apa yang dilihatnya sekarang benar-benar telah menghentikan detak jantungnya. Anak muda yang mengaku bernama Gatra Bumi itu tampak tegak berdiri dengan kaki renggang. Sementara selangkah di hadapannya telah terbujur tubuh Panut yang diam tak bergerak.

“Iblis..!” umpat Ki Jagabaya sambil memutar tubuhnya dan melangkah menghampiri cantrik Gatra Bumi, “Agaknya memang tidak ada pilihan bagiku kecuali melenyapkanmu dari muka bumi ini.”

Cantrik Gatra Bumi menarik nafas panjang. Panggraitanya sekarang memberitahukan kepadanya bahwa Ki Jagabaya ini memang mempunyai niat yang kurang baik.

“Maafkan aku sebelumnya Ki Jagabaya,” berkata cantrik Gatra Bumi kemudian sesampainya ki Jagabaya di hadapannya, “Sebenarnya aku tidak mempunyai sangkut paut dengan permasalahan yang dibawa Ki Jagabaya. Namun setelah mendengar bahwa Ki Jagabaya bermaksud membawa putri Ki Gede selagi Ki Gede tidak ada di rumah, itu adalah perbuatan yang tidak pada tempatnya. Ki Jagabaya seharusnya meminta ijin terlebih dahulu kepada Ki Gede jika memang ingin membawa putrinya.”

“Persetan dengan sesorahmu!” geram ki Jagabaya. Dia benar-benar gelisah menghadapi anak muda aneh itu, “Itu semua bukan urusanmu. Siapakah engkau sebenarnya sehingga berani mati mencampuri urusan rumah tangga Ki Gede?”

“Maaf Ki Jagabaya,” jawab cantrik Gatra Bumi tetap dengan suara merendah, “Aku bersama guruku adalah tamu disini. Kami memang tidak mempunyai kewenangan apapun untuk mencampuri urusan rumah tangga Ki Gede. Namun jika ada kejadian yang dapat membahayakan keselamatan keluarga Ki Gede, kami mempunyai kewajiban untuk membantu, sebagai tanda syukur dan ujud rasa terima kasih kami yang telah diberi tempat untuk sekedar berteduh.”

Untuk beberapa saat Ki Jagabaya tertegun. Dia tadi mendengar dengan jelas bahwa anak muda itu mengaku datang bersama gurunya dan sekarang sedang menjadi tamu Ki Gede. Tiba-tiba saja terasa sebuah desir yang tajam menggores jantungnya. Jika anak muda ini saja sudah mampu dengan sangat mudahnya melumpuhkan kedua kawannya, bagaimana dengan guru anak muda itu sendiri?

Namun agaknya Ki Jagabaya mempunyai perhitungan tersendiri. Jika dia dapat melumpuhkan anak muda ini dengan cepat serta menguasai Ratri apapun cara yang akan dia gunakan, kemungkinannya dia akan segera dapat lolos dari tempat itu dengan membawa hasil yang gemilang.

Berpikir sampai disitu, tiba-tiba saja tanpa sebuah peringatan Ki Jagabaya telah meloncat menerjang cantrik Gatra Bumi yang hanya berdiri tiga langkah saja di hadapannya.

Serangan itu memang sangat mengejutkan Cantrik Gatra Bumi. Bahkan Ratri yang menyaksikan semua kejadian itu telah terpekik kecil. Betapapun juga hati kecil gadis itu mulai terpikat oleh tutur kata cantrik Gatra Bumi yang terdengar sangat trapsila dan andap asor.

“Anak Muda itu tidak ada hubungan sanak kadang dengan keluargaku,” demikian gadis itu berkata dalam hati dengan jantung yang berdebaran, “Namun dia rela mempertaruhkan nyawanya untuk keselamatan keluargaku, terutama aku sendiri yang sama sekali tidak dikenalnya.”

Dalam pada itu, serangan Ki Jagabaya yang tanpa peringatan itu datang bagaikan badai angin puyuh yang menerjang cantrik Gatra Bumi. Namun dengan cepat murid Ki Ajar Mintaraga itu mampu menguasai dirinya dan menghindari serangan pertama lawannya yang langsung pada tataran tinggi tingkat ilmunya.

“Anak syetan..! Jangan lari!” bentak Ki Jagabaya yang melihat lawannya menghindar ke samping. Dengan cepat diputar tubuhnya setengah lingkaran sambil melancarkan serangan susulan.

Kali ini cantrik Gatra Bumi benar-benar harus mengerahkan segenap kemampuannya. Jika kedua lawannya yang terdahulu dengan mudah dapat dilumpuhkannya, namun kali ini lawannya adalah ki Jagabaya tanah Perdikan Matesih, orang terkuat di Matesih setelah Ki Gede Matesih sendiri.

Semakin lama pertempuran itu menjadi semakin sengit. Ki Jagabaya benar-benar telah digelisahkan oleh kemampuan lawannya yang masih muda itu. Segenap kemampuannya telah dikerahkan namun lawannya yang terlihat masih muda itu mampu mengimbanginya dengan kecepatan yang ngedab-edabi.

Ki Jagabaya berpaling sekilas ke belakang mengikuti pandangan Ratri. Katanya kemudian, “Jangan hiraukan mereka berdua. Keduanya tidak ada sangkut pautnya dengan urusan kita.”

“Syetan mana yang telah merasuki anak gila ini?” umpat ki Jagabaya dalam hati sambil terus meningkatkan kekuatan dan kecepatan serangannya. Namun lawannya masih saja mampu mengimbanginya walaupun hanya menghindar dan menghindar terus tanpa mampu membalas serangannya.

Semakin lama Ki Jagabaya menjadi semakin gelisah. Apalagi ketika dengan sudut matanya Ki Jagabaya kemudian melihat Ratri dengan langkah tertatih-tatih justru telah bergeser mundur mendekati pintu dapur.

“Apa boleh buat!” geram Ki Jagabaya dalam hati kemudian, “Aku benar-benar berpacu dengan waktu. Dengan sangat terpaksa aku harus melumpuhkan anak ini dengan puncak ilmuku sebelum Ratri meninggalkan halaman ini dan justru mungkin akan memanggil para pengawal di regol depan. Dalam sekejap para pengawal itu pasti akan segera berdatangan dan kemudian beramai-ramai mengeroyokku.”

Berpikir sampai disitu, tandang Ki Jagabaya pun menjadi semakin cepat dan keras. Setiap serangannya selalu dibarengi dengan suara desir angin yang mengerikan. Semakin lama suara desir angin itu semakin keras dan mulai mengganggu pertahanan cantrik Gatra Bumi.

“Ilmu apa sebenarnya yang diterapkan oleh Ki Jagabaya ini?” bertanya cantrik Gatra Bumi dalam hati sambil terus berloncatan menghindar, “Rasa-rasanya desir angin itu terasa pedih menerpa kulitku.”

Namun murid Ki Ajar Mintaraga itu bertempur terus. Dengan mengandalkan kelincahan dan kecepatan geraknya, dia berusaha sejauh mungkin menghindari terpaan angin yang menyertai setiap serangan lawannya.

Dalam pada itu mbok Pariyem yang telah selesai membersihkan ruang dalam mencoba mencari Ratri di biliknya. Ternyata bilik itu kosong. Padahal sewaktu dia tadi melewati ruang dalam untuk membersihkan ruang pringgitan, gadis itu tampak masih berada di dalam biliknya.

“Kemana anak itu?” gumam mbok Pariyem perlahan sambil melangkahkan kakinya menuju ke dapur.

“Mungkin dia sedang bosan berada di dalam biliknya dan ingin membantu-bantu di dapur,” demikian mbok Pariyem berangan-angan.

Namun alangkah terkejutnya mbok Pariyem begitu dia membuka pintu yang menghubungkan ruang dalam dengan dapur. Dalam keremangan ruang dapur yang sama sekali belum tersentuh sinar Matahari, tampak pintu belakang dapur yang terbuka. Beberapa langkah di dekat pintu yang terbuka itu tampak bersimpuh dua orang perempuan pembantu Ki Gede dengan tubuh gemetaran.

Namun yang membuat mbok Pariyem terkejut bukan alang kepalang adalah suara bentakan-bentakan orang yang sepertinya sedang bertempur. Ketika dia kemudian melangkahkan kakinya memasuki dapur, jantungnya bagaikan berhenti berdetak ketika melihat seorang gadis cantik namun dengan wajah pucat pasi terhuyung-huyung mendekati pintu dapur yang terbuka itu.

“Ratri..!” jerit mbok Pariyem sambil dengan tergesa-gesa berlari menyongsong momongannya itu.

Ratri yang mendengar suara pemomongnya itu bagaikan mendapat sebuah kekuatan baru. Dengan menghentakkan kakinya, dia pun dengan setengah berlari memasuki dapur.

Segera saja kedua perempuan yang usianya berbeda jauh itu berpelukan dengan eratnya.

“Mbok. Aku takut!” isak gadis putri satu-satunya Ki Gede Matesih itu begitu dia sudah berada dalam pelukan pemomongnya.

“Jangan takut nduk,” bisik mbok Pariyem sambil membelai lembut rambut Ratri yang tergerai indah bak kembang bakung itu, “Mbok ada di sini.”

Namun gadis itu masih saja terisak. Sambil tetap menyembunyikan wajahnya dalam pelukan mbok Pariyem, tangan kanannya menunjuk ke belakang, ke arah luar dapur.

Mbok Pariyem segera tanggap dengan apa yang dimaksud oleh momongannya itu. Dari pintu dapur yang terbuka itu dengan jelas dia dapat melihat pertempuran yang semakin sengit antara Ki Jagabaya dan cantrik Gatra Bumi.

“Ki Jagabaya?” desis mbok Pariyem keheranan, “Mengapa dia bertempur dengan anak muda itu? Bukankah anak muda itu tamu Ki Gede semalam?”

Ratri tampak menganggukkan kepalanya sambil tetap bersembunyi dalam pelukan mbok Pariyem.

“Nah, kalau begitu aku harus segera memanggil para pengawal di regol depan untuk membantu Ki Jagabaya menangkap anak muda itu,” berkata mbok Pariyem kemudian sambil mencoba melepaskan pelukan Ratri.

“Mbok, jangan..!” seru Ratri tertahan sambil sejenak melepaskan pelukannya. Kedua pasang mata perempuan yang umurnya terpaut sangat jauh itupun saling beradu. Betapa air mata tampak mengambang di pelupuk sepasang mata gadis putri satu-satunya Ki Gede itu.

“Apa sebenarnya yang sedang terjadi, Ratri?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir keriput mbok Pariyem.

Namun belum sempat Ratri menjawab, mereka yang berada di dalam dapur itu telah dikejutkan oleh sebuah teriakan menggelegar disusul dengan suara ledakan yang cukup dahsyat. Getaran ledakan itu telah mengguncang dinding dapur yang terbuat dari papan itu sehingga peralatan-peralatan dapur yang di gantung di dinding telah berjatuhan dan menimbulkan suara yang berkerontangan.

Tidak ada yang dapat dilakukan oleh perempuan-perempuan yang berada di dalam dapur itu selain berpelukan satu sama lainnya dengan eratnya. Kedua perempuan pembantu rumah Ki Gede itu pun bahkan telah berpelukan sambil meringkuk di atas lantai dapur.

“Mbok,” bisik Ratri tetap dalam pelukan pemomongnya sesaat setelah getaran ledakan itu mereda, “Apa yang terjadi?”

“Aku belum tahu, nduk,” jawab mbok Pariyem sambil melonggarkan pelukannya, “Marilah kita lihat. Mungkin keduanya telah mengadu puncak ilmu mereka.”

“Aku takut, mbok..!”

“Tidak ada yang perlu ditakutkan Ratri, semuanya akan baik-baik saja.”

Namun Ratri kembali mengeratkan pelukannya sambil mulai terisak. Tanpa sadar angan-angannya mulai membayangkan anak muda yang dianggapnya terlalu sombong pada saat mereka berdua bertemu pada pandangan pertama beberapa saat yang lalu.

“Bagaimana jika anak muda itu terluka? Bahkan mungkin bisa mati?” angan-angan itu menyelinap dalam benaknya sehingga membuat tubuh Ratri tiba-tiba saja menggigil seperti orang kedinginan. Tanpa sadar dia mulai membandingkan anak muda itu dengan Raden Mas Harya Surengpati.

“He? Ada apa, nduk?” bertanya mbok Pariyem kemudian dengan heran melihat perubahan dalam diri momongannya itu.

Namun Ratri tidak menjawab, hanya isak tangisnya saja yang menjadi semakin keras.

Ketika mbok Pariyem masih belum menemukan akal untuk membujuk Ratri, tiba-tiba saja terdengar langkah orang berlari-lari menerobos pintu seketeng menuju ke halaman belakang.

“He?! Ki Jagabaya?” terdengar orang pertama yang menginjak halaman belakang itu berseru.

“Ki Jagabaya?” terdengar orang yang datang kemudian ikut berseru.

“Ya, ternyata Ki Jagabaya,” orang yang datang pertama kali itu menyahut.

“Bagaimana mungkin?” sahut yang lainnya.

“Apa yang terjadi?”

“Mengapa Ki Jagabaya pingsan?”

Terdengar suara bersahut-sahutan tanpa ada yang mampu menjawabnya dengan tepat.

Ternyata para pengawal yang berjaga di regol depan telah mendengar suara ledakan serta merasakan getaran itu walaupun tidak sekeras mereka yang berada di dapur.

“Kakang,” berkata pengawal yang bertubuh gemuk kemudian, “Ada seorang lagi yang tergeletak pingsan!”

Pengawal yang dipanggil kakang itu sejenak mengamati tubuh Panut yang terbujur diam beberapa langkah dari tempatnya. Katanya kemudian, “Aku tidak mengenalinya.”

Beberapa pengawal sejenak termangu-mangu. Namun satu dua pengawal segera mendekat ke tempat Panut terbaring untuk mengenalinya lebih dekat.

Tiba-tiba mata pengawal yang dipanggil kakang itu menatap tajam ke arah cantrik Gatra Bumi yang sedang duduk bersila dengan tangan bersilang di dada tidak jauh dari tempat itu.

“Siapakah anak muda itu?” desis pengawal berbadan kekar yang dipanggil kakang itu kepada pengawal di sebelahnya.

Pengawal itu menggeleng. Jawabnya kemudian, “Aku tidak tahu namanya, kakang. Namun waktu pergantian jaga tadi aku sepertinya melihat dia sedang duduk-duduk di pendapa dengan seorang yang sudah sangat sepuh.”

“O,” desis pengawal yang bertubuh kekar itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, “Para pengawal yang jaga larut malam tadi memang menyebut kedua orang itu adalah tamu Ki Gede, namun kita harus tetap waspada. Biarkan dulu dia. Tampaknya dia sedang berusaha memulihkan keadaannya. Setelah itu kita tanya apa sebenarnya yang telah terjadi.”

“Baik kakang,” jawab pengawal itu.

Dalam pada itu, mbok Pariyem yang menghadap ke arah halaman belakang segera mengenali yang datang itu adalah para pengawal perdikan Matesih yang sedang bertugas jaga di regol depan. Maka dengan perlahan dilepaskannya pelukan Ratri.

“Ratri,” bisik mbok Pariyem kemudian, “Yang datang para pengawal penjaga regol depan.”

Barulah Ratri melepaskan pelukannya. Sambil mengusap air mata dengan ujung bajunya, dia pun kemudian berpaling ke belakang. Tampak dalam pandangan matanya para pengawal itu sedang berdiri berkerumun.

“Marilah kita mendekat,” ajak mbok Pariyem kemudian sambil menggandeng tangan momongannya, “Kesaksian dan keteranganmu mungkin sangat diperlukan oleh mereka.”

Ratri tidak berkata sepatah kata pun. Hanya tampak sebuah anggukan kecil.

Demikianlah akhirnya Ratri menurut saja ketika dibimbing oleh mbok Pariyem menuju pintu dapur. Sebelum melangkah keluar, mbok Pariyem masih sempat berkata kepada kedua perempuan yang masih meringkuk di lantai dapur itu.

“Teruskan pekerjaan kalian,” berkata mbok Pariyem sambil menyentuh kaki salah satu perempuan itu, “Semuanya sudah ditangani oleh para pengawal.”

Mendengar para pengawal sudah hadir di halaman belakang, barulah kedua perempuan itu bergerak bangun. Namun tubuh kedua perempuan itu masih tampak lemas dan menggigil walaupun wajah mereka sudah tidak sepucat tadi.

“Air di belanga ini hampir habis,” desis salah satu perempuan itu sambil mengambil sebuah lodong bambu yang masih berisi penuh air dan kemudian menuangkannya ke dalam belanga.

“Tidak mengapa,” sahut perempuan satunya, “Yang penting kita tetap menyiapkan minuman hangat walaupun agak terlambat.”

Kawannya mengangguk sambil memasukkan beberapa potong kayu bakar ke dalam tungku. Sejenak kemudian keduanya sudah melupakan apa yang baru saja terjadi dan asyik meneruskan pekerjaan mereka.

Dalam pada itu para pengawal yang sedang mengerumuni tubuh Ki Jabagaya yang pingsan segera mengangkat dan membawanya ke pendapa. Sementara beberapa pengawal tampak sedang meminta keterangan kepada cantrik Gatra Bumi yang sudah berdiri dari tempatnya.

“Anak muda,” berkata seorang pengawal yang bertubuh gemuk, “Kami tahu bahwa engkau adalah tamu Ki Gede bersama orang sepuh itu. Namun engkau harus dapat menjelaskan secara rinci, mengapa sekarang engkau justru berada di halaman belakang ini? Tidak di pendapa? Dan apa yang telah membuat Ki Jagabaya sampai jatuh pingsan? Demikian juga dengan orang yang satunya itu?”

Sejenak cantrik Gatra Bumi menjadi kebingungan untuk menjawab pertanyaan yang bertubi-tubi itu. Bagaimana dia harus menjelaskan keadaan yang sebenarnya yang menyangkut Ki Jagabaya sebagai perangkat tanah Perdikan Matesih?

“He? Mengapa engkau diam saja, anak muda?” geram pengawal yang bertubuh tinggi kekar itu dengan tidak sabar, “Jika dugaanku benar, tentu engkau yang telah membuat persoalan dengan Ki Jagabaya.  Terbukti Ki Jagabaya telah jatuh pingsan. Aku yakin hanya dengan menggunakan cara yang curang, engkau dapat melukai Ki Jagabaya. Mengaku sajalah! Jika engkau berbelit-belit, dengan kedua tanganku ini aku akan memuntir lehermu sampai patah.”

“Ya, kakang. Aku setuju,” yang lain terdengar menimpali, “Kita hajar ramai-ramai saja anak tak tahu membalas budi ini.”

Namun ternyata cantrik Gatra Bumi hanya diam membisu. Memang terbersit niat untuk memberikan keterangan, namun ketika sudut matanya menangkap bayangan seorang gadis cantik bersama seorang perempuan tua berjalan mendekat ke arah mereka, cantrik Gatra Bumi pun memilih berdiam diri.

“Kakang, bagaimana dengan orang yang satunya itu?” tiba-tiba salah satu pengawal menggamit pengawal yang berbadan kekar itu sambil menunjuk ke arah Panut yang tergeletak beberapa langkah dari mereka, “Apakah dia terlibat dalam persoalan ini?”

“Aku tidak tahu,” jawab pengawal yang bertubuh kekar itu tanpa berpaling, “Mungkin dia adalah kawan dari anak muda ini yang telah dilumpuhkan terlebih dahulu oleh Ki Jagabaya.”

“Itu semua tuduhan bohong!” tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring dari arah dapur. Serentak mereka semua berpaling. Tampak Ratri putri satu-satunya Ki Gede Matesih itu sedang berjalan ke arah mereka bersama mbok Pariyem.

“Ratri,” terdengar beberapa pengawal bergumam menyebut nama putri Matesih itu. Beberapa pengawal segera menyibak memberi jalan kepada kedua perempuan itu.

Ketika kedua perempuan itu sudah berhadapan dengan cantrik Gatra Bumi, tanpa sadar sepasang mata kedua remaja itupun telah beradu.

Hampir saja cantrik Gatra Bumi membuang pandang matanya jika saja dia tidak melihat perubahan sorot mata gadis itu. Sepasang mata itu sekarang tidak lagi menyiratkan ketinggian hatinya. Bahkan sepasang mata itu menatapnya dengan ungkapan terima kasih yang tulus disertai dengan sebuah senyuman yang manis, bahkan teramat manis menurut ukuran cantrik Gatra Bumi yang seumur hidup belum pernah mendapatkan sebuah senyuman manis dari seorang gadis pun.

Jika saja mbok Pariyem tidak terbatuk-batuk kecil, tentu kedua remaja itu masih tetap saja beradu pandang dengan asyiknya.

“Ratri,” berkata mbok Pariyem kemudian begitu melihat momongannya itu menundukkan wajahnya sambil tersipu malu, “Engkau harus dapat menjelaskan kejadian yang sebenarnya.”

Ratri mengangguk kecil. Setelah menarik nafas dalam-dalam, dia segera menceritakan kejadian yang sebenarnya. Bagaimana Ki Jagabaya membujuknya untuk meninggalkan rumah karena rumah itu sudah dianggap tidak aman lagi.

“Ki Jagabaya memberitahu aku bahwa Raden Surengpati telah mengirimnya untuk menjemput aku,” berkata Ratri kemudian sambil tetap menundukkan wajahnya.

Ketika menyebut nama Raden Surengpati, betapa gadis itu tampak memendam suatu perasaan yang hanya dia sendiri yang tahu. Sementara beberapa pengawal telah menarik nafas dalam-dalam. Sebagian besar mereka memang telah mendengar hubungan khusus yang terjadi di antara kedua orang itu.

“Sejauh pengetahuanku, Ki Jagabaya memang sering berhubungan dengan sekelompok orang-orang yang mengaku Trah Sekar Seda Lepen itu,” tiba-tiba pengawal yang berbadan gemuk itu memotong.

“Apakah orang yang pingsan itu adalah salah satu pengikut Trah Sekar Seda Lepen?” tiba-tiba salah satu pengawal menceletuk sambil menunjuk ke arah belakang mereka. Tampak Panut masih tergeletak pingsan tanpa ada seorang pun yang menaruh perhatian.

“Ya, orang itu kawan Ki Jagabaya,” cantrik Gatra Bumi lah yang menyahut sehingga membuat semua orang berpaling ke arahnya, “Namun kawan Ki Jagabaya itu tidak hanya satu, tetapi dua orang.”

“He? Dua orang katamu?” hampir setiap mulut telah berseru.

“Ya, dua orang,” jawab cantrik Gatra Bumi sambil menunjuk ke arah gerumbul perdu di dekat perigi, “Aku telah menyembunyikannya di dalam gerumbul perdu itu.”

Orang-orang yang hadir di tempat itu pun menjadi berdebar-debar. Dengan penasaran mereka berusaha mengamat-amati gerumbul perdu itu dari jauh. Namun mereka tidak melihat apapun selain daun-daun perdu yang tumbuh subur menghijau.

Namun ternyata pengawal yang bertubuh kekar itu mampu melihat sepasang telapak kaki yang tersembul di antara lebatnya daun-daun perdu.

“He? Lihatlah! Ada sepasang kaki yang tersembul di antara daun-daun perdu!” seru pengawal itu dengan serta merta sambil menunjuk ke satu arah. Beberapa pengawal yang mengikuti arah yang ditunjukkan oleh pengawal yang berbadan kekar itu pun akhirnya dapat melihatnya.

Kemudian kepada beberapa pengawal yang berdiri di sebelahnya pengawal berbadan kekar itu segera berkata, “Pergilah ke gerumbul itu. Angkat orang itu ke pendapa beserta orang yang satunya itu.”

“Baik kakang,” serentak para pengawal itu menjawab sambil melangkah ke arah gerumbul di dekat perigi. Sementara beberapa pengawal yang lain telah mengangkat tubuh Panut yang masih pingsan dan membawanya ke pendapa.

“Nah,” berkata pengawal berbadan kekar itu kemudian, “Ternyata berita yang aku dengar benar adanya. Ki Jagabaya telah memihak kepada orang yang menyebut dirinya Trah Sekar Seda Lepen itu, “pengawal itu berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Pada awalnya aku tidak mempercayai berita itu. Namun dengan adanya kejadian ini, sekarang aku benar-benar yakin di pihak mana Ki Jagabaya berdiri.”

“Engkau benar kakang,” sahut pengawal yang bertubuh gemuk, “Kita wajib meminta maaf kepada anak muda ini dan sekaligus berterima kasih telah melindungi putri Ki Gede Matesih dari percobaan penculikan.”

Tampak semua kepala yang hadir di tempat ini mengangguk-angguk kecuali cantrik Gatra Bumi. Mukanya menjadi bersemu merah karena segannya. Sementara kepalanya hanya dapat tertunduk dalam-dalam.

Diam-diam segala tingkah laku cantrik Gatra Bumi itu tidak pernah lepas dari perhatian Ratri dan mbok Pariyem. Kedua perempuan yang berbeda usia itu masing-masing punya kesan tersendiri terhadap anak muda itu.

“Anak muda,” tiba-tiba terdengar suara Ratri sehingga mengejutkan cantrik Gatra Bumi yang sedang termenung itu, “Walaupun aku belum tahu namamu, namun atas nama pemimpin tanah Perdikan Matesih, aku mewakili ayah mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas jasamu ini. Jika ayah nanti sudah kembali, akan melaporkan kejadian ini apa adanya, tanpa aku tambah atau aku kurangi.”

Kembali tampak kepala orang-orang yang hadir di halaman belakang itu mengangguk-angguk kecuali cantrik Gatra Bumi. Tanpa berani memandang wajah gadis itu, dia segera membungkukkan badannya dalam-dalam sambil berkata, “Maafkan tindakanku yang deksura tanpa memperkenalkan namaku terlebih dahulu. Aku cantrik Gatra Bumi bersama guruku Ki Ajar Mintaraga semalam telah diutus oleh Kanjeng Sunan Muria untuk menyampaikan berita khusus kepada Ki Gede.”

Orang-orang yang hadir di tempat itu menjadi terkejut begitu nama Kanjeng Sunan Muria disebut. Memang pengawal yang jaga pagi itu bukan pengawal yang jaga semalam sehingga mereka tidak tahu jika anak muda itu masih ada sangkut pautnya dengan Kanjeng Sunan Muria, seorang wali yang Waskita dan sangat dihormati oleh seluruh kawula Mataram.

“Apakah engkau termasuk murid Kanjeng Sunan Muria?” bertanya pengawal yang bertubuh kekar itu kemudian.

Dengan cepat cantrik Gatra Bumi menggeleng. Jawabnya kemudian, “Aku murid Ki Ajar Mintaraga. Guruku lah yang menjadi murid Kanjeng Sunan dan sekaligus menjadi sahabat beliau.”

Kembali kepala orang-orang yang hadir di tempat itu terangguk-angguk. Mereka menjadi semakin yakin bahwa anak muda itu mampu mengalahkan Ki Jagabaya dan kawan-kawannya karena anak muda itu sedikit banyak ada hubungannya dengan Kanjeng Sunan Muria.

“Baiklah,” berkata pengawal yang berbadan kekar itu kemudian, “Semuanya sudah jelas sekarang. Aku harap kita kembali ke tugas dan pekerjaan kita masing-masing. Biarlah Ki Jagabaya dan kedua kawannya itu setelah siuman kita masukkan ke bilik tahanan sambil menunggu Ki Gede kembali.”

Bersambung ke bagian 2