STSD-09

kembali ke STSD-08 | lanjut ke STSD-10

Bagian 1

UNTUK SEJENAK Ki Gede mengerutkan keningnya dalam-dalam. Rasa-rasanya Ki Gede pernah bertemu dengan orang itu, tetapi entah di mana dan kapan.

Ketika orang yang terlihat sudah cukup sepuh itu semakin dekat, barulah Ki Gede teringat akan para perantau yang dijumpainya di banjar padukuhan Klangon beberapa saat yang lalu.

Dengan tergesa-gesa Ki Gede pun segera melangkah menyongsong orang tua itu. Sementara Ki Wiyaga yang pernah bertemu dengan kelima perantau di dekat gardu perondan itu pun telah ikut pula berjalan mendekat.

“Bukankah Ki Sanak adalah salah satu dari para perantau yang aku jumpai di banjar padukuhan Klangon itu?” sapa Ki Gede kemudian sesampainya dia di hadapan orang tua itu.

Orang tua itu menghentikan langkahnya. Sambil tersenyum dia menjawab, “Benar Ki Gede, aku salah satu perantau itu. Jika Ki Gede masih ingat, namaku Ki Waskita.”

“O,” Ki Gede tertawa pendek sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “Ternyata aku sudah menjadi seorang pelupa. Padahal umurku masih jauh lebih muda dari Ki Waskita.”

Kemudian sambil berpaling ke arah Ki Wiyaga yang berdiri di sebelahnya Ki Gede bertanya, “Bukankah Ki Wiyaga juga telah mengenal Ki Waskita?”

“Ya, Ki Gede,” jawab Ki Wiyaga sambil mengangguk ke arah Ki Waskita, “Seperti yang pernah aku ceritakan kepada Ki Gede, mereka berlima telah berjasa menyelamatkan nyawaku.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Tanyanya kemudian, “Apakah memang benar demikian?”

Hampir bersamaan Ki Waskita dan Ki Wiyaga tertawa pendek. Jawab Ki Wiyaga kemudian, “Agaknya Ki Gede benar-benar menjadi seorang pelupa.”

“Ah,” desah Ki Gede sambil tertawa, “Di usia yang masih belum begitu tua ini ternyata aku sudah mulai dijangkiti penyakit lupa.”

Ki Waskita tersenyum mendengar keluh kesah Ki Gede. Katanya kemudian, “Usia Ki Gede boleh lebih muda dari aku, namun beban kerja yang harus Ki Gede tanggung lebih banyak sehingga sudah sewajarnya jika Ki Gede menjadi sedikit pelupa. Berbeda dengan aku yang kerjanya hanya menyusuri bulak panjang di siang hari dan menghitung banyaknya bintang di langit di malam hari.”

“Ah,” kembali Ki Gede tertawa. Beberapa orang yang mendengar ucapan Ki Waskita pun ikut tertawa. Berkata Ki Gede kemudian, “Sebenarnyalah Ki Waskita adalah lebih dari sekedar seorang perantau. Namun aku tidak memaksa Ki Waskita untuk membuka jati diri Ki Waskita. Suatu saat nanti jika waktunya telah tiba, kami seluruh penghuni perdikan Matesih hanya dapat mengucapkan rasa syukur dan terima kasih yang tak terhingga atas bantuan dan pertolongan dari Ki Waskita dan kawan-kawan.”

“Sudahlah Ki Gede,” sahut Ki Waskita cepat, “Sekarang kita harus segera mengadakan pembersihan ke segenap sudut padepokan Sapta Dhahana ini sebelum kita menempatinya untuk sementara.”

Ki Gede tidak menjawab, hanya tampak kepalanya saja yang terangguk-angguk. Tanpa sadar dia berpaling ke arah sebuah arena pertempuran jauh di sebelah barat. Ternyata Ki Waskita pun telah mengikuti arah pandang Ki Gede.

“Sepertinya Ki Jayaraga yang sedang bertempur itu,” desis Ki Waskita tanpa sadar.

“Ki Jayaraga?” ulang Ki Gede diikuti oleh Ki Kamituwa. Sedangkan Ki Wiyaga tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ya Ki Gede,” jawab Ki Waskita sambil melangkahkan kakinya mendekati ke arah arena pertempuran, “Mungkin Ki Gede masih ingat, Ki Jayaraga adalah salah satu dari kami berlima, perantau dari Prambanan.”

“O!” seru Ki Gede sambil menggeleng gelengkan kepalanya berkali-kali, “Aku benar-benar telah menjadi seorang pelupa.”

Beberapa orang yang mendengar seruan Ki Gede menjadi tersenyum. Ki Kamituwa yang berjalan mendekat pun akhirnya ikut berkata, “Tentu saja tidak Ki Gede, keadaan lah yang menjadikan Ki Gede menjadi sedikit pelupa. Setelah semuanya selesai, aku yakin Ki Gede akan dapat kembali mengingat hal-hal yang membuat Ki Gede lupa.”

Orang–orang yang ada di sekitar tempat itu pun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Berkata Ki Gede kemudian, “Ki Wiyaga, atur para pengawal untuk mengadakan pembersihan di seluruh sudut padepokan, sedangkan Ki Kamituwa mengurus para korban. Usahakan yang terluka untuk mendapat pertolongan terlebih dahulu.”

“Baik Ki Gede,” hampir bersamaan kedua bebahu perdikan Matesih itu menjawab.

Setelah memberikan petunjuk kepada kedua bebahu Matesih itu, Ki Gede pun kemudian segera menyusul langkah Ki Waskita yang sudah mendekati arena pertempuran.

Sesampainya Ki Gede di dekat arena pertempuran, tampak Ki Waskita berdiri termangu-mangu sambil mengerutkan keningnya dalam-dalam. Betapa orang tua itu benar-benar sedang mengamati dan menilai jalannya pertempuran dengan seksama.

Ki Gede segera mendekat dan berdiri di sebelah Ki Waskita. Pandangan matanya tak lepas dari tubuh Ki Jayaraga yang tampaknya di beberapa bagian telah tergores oleh senjata lawannya.

“Ki Jayaraga telah terluka,” desis Ki Gede perlahan sambil berpaling ke arah Ki Waskita yang berdiri di sebelahnya.

Ki Waskita mengangguk. Tanpa berpaling dia menjawab, “Ya Ki Gede. Kedua lawan Ki Jayaraga memang cukup tangguh. Mereka berdua bertempur berpasangan dengan sangat baiknya. Aku kira kedua lawan Ki Jayaraga ini memang pasangan yang sudah cukup lama malang melintang dalam dunia olah kanuragan.”

Berdesir dada Ki Gede mendengar keterangan Ki Waskita. Di dalam hatinya timbul perasaan cemas akan keselamatan Ki Jayaraga.

“Apakah Ki Jayaraga akan dapat bertahan?” bertanya Ki Gede kemudian.

Sejenak Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya pertempuran yang semakin dahsyat itu. Sesekali tampak kerut-merut di dahi ayah Rudita itu. Namun kemudian sebuah senyum kecil tampak tersungging di bibirnya.

“Semoga Ki Jayaraga segera menemukan kelemahan ilmu kedua lawannya itu,” berkata Ki Waskita kemudian sambil berpaling sekilas kearah Ki Gede, “Aku yakin dengan pengalamannya yang panjang, Ki Jayaraga pasti akan berhasil memecahkan kelemahan ilmu kedua lawannya.”

Mendengar keterangan Ki Waskita, hati Ki Gede menjadi agak tenang. Namun ketika pandangan matanya kembali ke arah kancah pertempuran yang menjadi semakin sengit, tak urung jantungnya kembali melonjak-lonjak.

Dalam pada itu di arena pertempuran, kedua lawan Ki Jayaraga ternyata melihat kehadiran dua orang itu di pinggir arena. Berkata Putut Talanggeni kemudian, “Nah, kakek tua. Kawan-kawanmu sudah berdatangan ingin membantumu. Segeralah berteriak agar mereka tidak ragu-ragu lagi untuk memasuki arena pertempuran.”

Ki Jayaraga tersenyum sekilas sambil menjawab, “Bukankah sedari tadi Ki Sanak yang memerlukan bantuan? Untuk melawan seorang kakek-kakek tua, ternyata diperlukan dua orang yang berilmu tinggi. Aku benar-benar merasa tersanjung.”

“Tutup mulutmu!” geram Putut Talanggeni sambil mengayunkan bindinya menyambar kepala. Namun Ki Jayaraga ternyata masih sangat sayang dan memerlukan kepalanya itu. Dengan menundukkan kepalanya dalam-dalam, maka senjata lawannya pun lewat hanya sejengkal di atas ujung ikat kepalanya.

“Sebenarnya tidak ada masalah bagiku memanggil mereka untuk membantuku,” berkata Ki Jayaraga kemudian sambil terus bertempur, “Karena ini bukan sebuah perang tanding. Jadi jika sedari tadi aku harus melawan kalian berdua sekaligus, sekarang giliran kalian yang harus melawan kami bertiga sekaligus.”

“Tutup mulutmu, pengecut!” teriak Putut Talangbanyu sambil melontarkan trisulanya mengarah dada. Namun lawannya ternyata terlalu licin untuk diperdayainya.

Ki Jayaraga tertawa pendek melihat kedua lawannya menjadi tersinggung harga dirinya sehingga menjadi waringuten. Berkata Ki Jayaraga kemudian, “Jangan khawatir. Aku akan menjunjung tinggi kejantanan di medan perang manapun. Jika di awal pertempuran tadi kalian mengeroyokku, maka di akhir pertempuran yang sebentar lagi akan berakhir, kalian berdualah yang harus menanggung akibatnya.”

“Omong kosong!” hampir bersamaan kedua Putut itu membentak. Serangan keduanya pun semakin dahsyat dan membadai menerjang guru Glagah Putih itu.

Sekarang Ki Jayaraga benar-benar harus mengerahkan segenap kemampuannya. Dia baru saja bertempur melawan Ki Brukut dan sebelum kekuatannya pulih kembali seperti sediakala, dia harus bertempur melawan dua orang sekaligus. Orang tua itu benar-benar harus memeras segenap kemampuannya.

Sedangkan kedua lawannya yang bertempur dengan ciri khas masing-masing itu ternyata dapat bekerja sama dengan sangat baik sehingga telah membuat guru Glagah Putih itu mengalami tekanan yang cukup berat. Namun pengalamannya malang melintang dalam dunia olah kanuragan sedikit banyak telah membantu mengatasi setiap kesulitan yang datang.

“Aku tidak boleh terpancing untuk bertempur dalam satu garis lurus,” berkata Ki Jayaraga dalam hati sambil terus bertempur, “Jika itu yang terjadi, dan kemudian serangan keduanya datang bersamaan dalam kecepatan yang hampir tidak kasat mata, aku akan kehilangan kesempatan.”

Dengan bergerak setapak demi setapak, guru Glagah Putih itu pun kemudian bergeser untuk menghindari setiap kemungkinan bertempur dalam satu garis lurus.

“Jika aku dapat menghentikan salah satu terlebih dahulu, tentu yang lain tinggal menunggu waktu,” kembali Ki Jayaraga berangan-angan.

Dalam pada itu kedua lawannya agaknya sedang asyik menikmati kemenangan-kemenangan kecil mereka ketika segores demi segores ujung trisula itu berhasil menembus pertahanan Ki Jayaraga. Walaupun luka itu tidak terlalu dalam, namun jika dibiarkan terus, darah yang mengalir akan semakin banyak dan tentu saja akan mempengaruhi ketahanan tubuh Ki Jayaraga.

Ketika Putut Talanggeni bergerak semakin mendesak guru Glagah Putih itu, ternyata Putut Talangbanyu pun telah meningkatkan serangannya pula. Kedua trisula itu ganti berganti meluncur mematuk-matuk tubuh Ki Jayaraga dari arah yang berbeda-beda.

Diam-diam Ki Jayaraga mengagumi cara kedua lawannya itu menyerang. Mereka tampaknya sangat serasi dalam mengisi serangan. Hampir tidak ada celah yang kosong yang dapat dijadikan oleh Ki Jayaraga untuk melaksanakan rencananya. Setiap kali Ki Jayaraga bergeser setapak, mereka berdua pun selalu bergerak mengikuti ke arah mana guru Glagah Putih itu bergeser.

“Ternyata terlalu sulit keluar dari garis serang yang sengaja mereka buat,” berkata Ki Jayaraga kemudian dalam hati sambil terus menghindari serangan yang datang silih berganti hampir tidak ada celahnya.

“Aku harus mencari cara lain untuk mengakhiri pertempuran ini,” kembali Ki Jayaraga berpikir keras untuk memecahkan kelemahan kedua lawannya.

Namun lambat laun Ki Jayaraga mulai menyadari bahwa kedua lawannya itu telah mulai merambah pada puncak ilmu mereka. Keduanya bergerak sangat cepat berputaran bagaikan tidak menjejak tanah. Senjata kedua lawannya itu berdesing berputaran mengitari tubuh Ki Jayaraga semakin rapat tanpa celah sedikit pun.

“Aku harus menghentikan salah satu dari mereka terlebih dahulu, walaupun mungkin akibatnya akan merugikan diriku,” berkata Ki Jayaraga dalam hati sambil meningkatkan kecepatannya untuk berloncatan menghindar, “Putut Talanggeni inilah yang akan aku jadikan sasaran terlebih dahulu. Semoga rencanaku berhasil.”

Berpikir sampai disitu Ki Jayaraga segera meloncat ke samping. Ketika kedua lawannya memburu, guru Glagah Putih itu pun telah siap dengan aji sigar bumi.

Kedua lawannya terkejut begitu mendapati sikap Ki Jayaraga dengan aji sigar buminya. Namun Ki Jayaraga bertindak cepat, sebelum kedua lawannya mengambil sebuah keputusan, Ki Jayaraga telah melesat dengan aji sigar buminya menerjang Putut Talanggeni.

Tidak ada kesempatan bagi Putut Talanggeni untuk meloncat menghindar. Tubuh Ki Jayaraga bergerak bagaikan tatit yang melompat di udara. Yang dapat dilakukan oleh Putut Talanggeni kemudian adalah mengayunkan kedua bindinya menyambut aji sigar bumi.

Hampir bersamaan Ki Waskita dan Ki Gede yang berada di luar lingkaran pertempuran telah berseru keras. Bagi Ki Waskita, aji sigar bumi Ki Jayaraga sudah tidak diragukan lagi kedahsyatannya. Namun yang membuat Ki Waskita terkejut adalah sikap Putut Talangbanyu. Selagi Ki Jayaraga menghentakkan kekuatan ajinya menghantam kedua bindi Putut Talanggeni yang menyambutnya, di sisi lain Putut Talangbanyu telah melemparkan salah satu trisulanya menghajar punggung Ki Jayaraga.

Sedangkan Ki Gede Matesih yang tidak mengetahui kedahsyatan aji sigar bumi justru menjadi sangat khawatir jika Ki Jayaraga akan hancur diserang oleh lawan-lawannya dari dua arah yang berbeda.

Benturan yang terjadi kemudian sangatlah dahsyatnya. Kedua bindi Putut Talanggeni hancur lebur tak berbentuk. Sedangkan kekuatan aji sigar bumi terus meluncur tak tertahankan menghantam kepala Putut Talanggeni.

Putut Talanggeni sama sekali tidak sempat mengeluh. Kepalanya hancur bersamaan dengan muncratnya darah segar disertai dengan isi otaknya yang berhamburan. Tubuhnya terbanting ke tanah dengan kerasnya. Sejenak tubuh itu masih sempat berkelojotan sebentar kemudian diam untuk selama-lamanya.

Dalam pada itu ujung trisula Putut Talangbanyu ternyata telah menancap di punggung sebelah kanan Ki Jayaraga. Ketika Putut Talangbanyu kemudian menarik rantai trisula itu dengan gerakan sendal pancing, sebagian daging dan kulit di punggung Ki Jayaraga itupun ikut terkelupas dan mengeluarkan darah segar.

Sejenak Ki Jayaraga terhuyung selangkah ke belakang mengikuti tarikan trisula lawannya. Namun kini orang yang pernah malang melintang di dunia hitam maupun putih itu sudah tidak dapat mengekang diri lagi. Sambil berbalik, dihentakkan kekuatan air, api dan angin menerjang Putut Talangbanyu yang sedang memutar trisulanya untuk melontarkan serangannya kembali.

Agaknya Putut itu tidak menyadari bahwa Ki Jayaraga sama sekali belum habis. Dia sama sekali tidak bersiap menghadapi serangan jarak jauh itu. Menurut perhitungannya Ki Jayaraga pasti akan kehilangan keseimbangannya untuk beberapa saat. Di saat itulah, serangan pamungkasnya pasti akan mengakhiri hidup orang tua itu.

Namun yang terjadi kemudian adalah diluar perhitungan Putut itu. Dengan secepat kilat Ki Jayaraga segera membalikkan badannya bersamaan dengan meluncurnya serangan jarak jauh dari kedua tangannya yang teracu ke depan.

Terdengar sebuah pekik kesakitan sebelum tubuh Putut itu terputar satu kali putaran untuk kemudian terlempar jatuh di atas tanah yang berdebu.

Untuk beberapa saat suasana menjadi beku. Ki Waskita dan Ki Gede bagaikan tersihir melihat cara Ki Jayaraga menghabisi kedua lawannya. Namun begitu kedua orang itu menyadari keadaan Ki Jayaraga, keduanya pun segera meloncat berlari mendekati Ki Jayaraga yang kemudian jatuh terduduk dengan lemahnya.

“Ki Jayaraga!” hampir bersamaan kedua orang itu telah berteriak sambil meloncat berlari ke arah Ki Jayaraga.

“Ki Jayaraga,” bisik Ki Waskita perlahan sambil berlutut di sisi tubuh Ki Jayaraga dan menahan tubuh yang mulai limbung itu, “Bertahanlah, Ki.”

Ki Jayaraga tidak menjawab hanya tampak kepalanya saja yang terangguk kecil.

Sedangkan Ki Gede yang juga telah sampai di tempat itu segera menahan punggung Ki Jayaraga yang telah bersimbah darah.

“Tahanlah Ki Gede,” berkata Ki Waskita kemudian sambil mengambil sesuatu dari kantong ikat pinggangnya, “Aku akan mencoba memampatkan darah yang mengalir di punggung Ki Jayaraga ini.”

Sejenak kemudian, perlahan-lahan aliran darah dari luka-luka yang silang melintang itupun mulai berkurang kecuali luka terakhir yang cukup lebar dan dalam. Luka itu tetap mengalirkan darah walaupun Ki Waskita sudah menaburkan sejenis serbuk yang berwarna kekuning-kuningan.

Menyadari kesulitan yang dialami oleh Ki Waskita, Ki Jayaraga yang terlihat semakin lemah itu segera membisikkan sesuatu ke telinga Ki Waskita.

Ki Waskita segera tanggap. Dengan cepat dia segera mengambil sebuah bumbung kecil yang diikatkan pada ikat pinggang Ki Jayaraga. Ketika dibuka, ternyata bumbung kecil itu berisi sebuah cairan yang sangat kental dan berwarna hitam.

Tanpa membuang waktu, Ki Waskita segera mengoleskan cairan kental berwarna hitam itu pada luka yang terakhir dan yang paling parah.

Sejenak kemudian perlahan-lahan aliran darah dari luka itu pun mulai berkurang walaupun tidak berhenti sama sekali. Tentu masih diperlukan waktu untuk menghentikan aliran darah itu.

Namun agaknya Ki Jayaraga benar-benar telah kehabisan tenaga. Setelah bertempur melawan Ki Brukut, sebelum tenaganya benar-benar pulih, dia harus melawan dua orang Putut yang gabungan kemampuan keduanya hanya berselisih selapis tipis di bawah Ki Brukut. Sejenak kemudian, orang tua yang telah sekian lama malang melintang dalam kerasnya dunia olah kanuragan itu pun jatuh pingsan.

Dengan cepat Ki Waskita segera menangkap tubuh Ki Jayaraga yang limbung dan memeluknya. Berkata Ki Waskita kemudian, “Ki Gede, tolong panggilkan beberapa pengawal untuk mengangkat Ki Jayaraga ini ke pendapa.”

Namun baru saja Ki Gede bangkit berdiri, pendengaran kedua orang yang tajam itu telah mendengar gemerisik dari arah gerumbul perdu yang banyak tumbuh di samping pintu gerbang.

Ketika kedua orang itu kemudian berpaling, tampak seseorang yang bertubuh tinggi besar dengan wajah yang hampir tertutup oleh kumis dan jenggot, sedang melangkah menuju ke tempat ke dua orang itu. Langkahnya terlihat sedikit tertatih sambil menyibak daun-daun dan ranting-ranting perdu yang menghalangi jalannya.

“Ki Bango Lamatan!” seru Ki Waskita tanpa mampu menyembunyikan kegembiraannya.

Sedangkan Ki Gede yang telah berdiri di sebelah Ki Waskita mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ingatannya segera kembali ke beberapa saat yang lalu ketika dia bertemu dengan kelima orang perantau itu di banjar padukuhan Klangon.

“O, Ki Bango Lamatan rupanya,” sapa Ki Gede kemudian sambil menyongsong orang kepercayaan Pangeran Pati Mataram itu, “Apakah sebenarnya yang telah terjadi?  Ki Bango Lamatan terlihat pucat dan sedikit gemetar.”

Orang itu memang Ki Bango Lamatan yang telah selesai dari samadinya. Walaupun tubuhnya masih terasa lemah serta wajahnya terlihat pucat, Ki Bango Lamatan tetap memaksakan bibirnya untuk tersenyum.

Jawab Ki Bango Lamatan kemudian sambil melangkah semakin dekat, “Aku tidak apa-apa Ki Gede, aku hanya memerlukan waktu yang cukup untuk memulihkan keadaanku.”

Sejenak Ki Gede dan Ki Waskita saling pandang. Mereka pun segera maklum, tentu Ki Bango Lamatan pun telah mengalami pertempuran yang dahsyat dengan lawannya.

“Apakah Ki Jayaraga terluka parah?” bertanya Ki Bango Lamatan kemudian sesampainya dia di tempat itu.

Ki Waskita mengangguk. Kemudian katanya kepada Ki Gede, “Ki Gede, aku perlu bantuan pengawal untuk mengangkat Ki Jayaraga ke pendapa.”

“O,” desis Ki Gede sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “Aku benar-benar telah menjadi seorang pelupa. Ki Waskita telah memintanya beberapa saat tadi.”

Selesai berkata demikian, Ki Gede segera berpaling ke arah pendapa sambil melambaikan tangannya ke arah para pengawal yang berdiri di sana. Serentak empat orang pengawal berlari menuju ke tempat Ki Gede.

“Angkat Ki Jayaraga ke pendapa,” perintah Ki Gede kemudian kepada ke empat pengawal itu, “Hati-hatilah. Ki Jayaraga telah terluka cukup parah. Usahakan punggungnya tidak menyentuh lantai.”

“Baik Ki Gede,” hampir serentak keempat pengawal itu menjawab.

Demikianlah akhirnya Ki Jayaraga segera di bawa ke pendapa. Sesampainya di pendapa, pengawal yang mempunyai kemampuan sebagai tabib segera merawatnya dibantu oleh Ki Waskita. Sementara Ki Bango Lamatan di persilahkan untuk beristirahat pula di pendapa.

“Ki Waskita,” berkata Ki Bango Lamatan kemudian sambil duduk bersandaran tiang pendapa, “Apakah sudah ada berita kawan-kawan kita yang lain? Ki Rangga dan Glagah Putih?”

Sejenak Ki Waskita tertegun. Kesibukannya menolong Ki Jayaraga ternyata telah menyita perhatiannya sehingga lupa belum menceritakan keadaan Ki Rangga dan Glagah Putih kepada Ki Bango Lamatan.

Dengan segera Ki Waskita kemudian duduk di sebelah orang kepercayaan Pangeran Pati Mataram itu. Jawabnya kemudian, “Ki Rangga kelihatannya terluka cukup parah dan telah dibawa pergi oleh seseorang yang aku belum mengenalnya. Hanya seorang anak muda yang memperkenalkan diri bernama Mas Santri telah memberitahu aku bahwa Ki Rangga telah dibawa oleh ayahnya untuk mendapatkan perawatan atas luka-lukanya.”

Ki Bango Lamatan terkejut. Tanyanya kemudian, “Siapakah anak muda yang mengaku bernama Mas Santri itu?”

Ki Waskita menggeleng lemah sambil berdesis, “Sejauh pengetahuanku, aku belum pernah mendengar ada anak muda yang bernama Mas Santri, apalagi ayahnya yang tidak disebutkan namanya itu.”

“Bagaimana dengan Kiai Damar Sasangka sendiri? Apakah dia mampu bertahan?” bertanya Ki Bango Lamatan selanjutnya.

Ki Waskita menggeleng. Jawabnya kemudian, “Pemimpin perguruan Sapta Dhahana itu tidak mampu bertahan ketika terjadi benturan yang dahsyat pada puncak ilmu masing-masing. Ketika para cantrik padepokan Sapta Dhahana memutuskan untuk menarik diri dari medan pertempuran, aku mencoba melihat kembali jasad Kiai Damar Sasangka di balik dinding sebelah Timur. Namun ternyata jasadnya telah raib bersama jasad yang lain, jasad Putut Sambernyawa.”

Ki Bango Lamatan mengerutkan keningnya mendengar keterangan Ki Waskita. Tanpa sadar dia berdesis perlahan, “Agaknya kematian guru dan putut tertua itu yang membuat para cantrik memutuskan untuk menarik diri.”

“Benar, Ki,” sahut Ki Waskita dengan serta merta, “Putut Talangwani lah yang telah memberi aba-aba untuk menarik diri. Pada saat itu dia sedang bertempur melawan aku, dan ternyata aku telah terpedaya oleh siasatnya. Aku tidak tahu bahwa dia memberikan isyarat sampai tiga kali kepada pasukannya itu hanyalah sebuah usaha untuk menarik diri.”

“Mungkin sekarang ini mereka sedang menyusun kembali kekuatan mereka untuk merebut padepokan ini,” sela Ki Bango Lamatan menduga-duga.

Namun Ki Waskita menggelengkan kepalanya berkali-kali. Jawabnya kemudian, “Aku rasa itu tidak mungkin, Ki. Kecuali mereka mempunyai pemimpin baru setingkat guru mereka yang terdahulu. Barulah aku yakin mereka akan berani merebut padepokan ini kembali.”

Untuk beberapa saat kedua orang tua itu terdiam. Masing-masing tenggelam dalam lamunan yang tak berujung pangkal.

Sejenak Ki Bango Lamatan menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Berbagai dugaan muncul dalam benaknya, namun semuanya berakhir dengan tanda tanya.

Untuk beberapa saat kedua orang tua itu terdiam. Masing-masing tenggelam dalam lamunan yang tak berujung pangkal.

“Bagaimana dengan Glagah Putih, Ki Waskita?” tiba-tiba Ki Bango Lamatan mengajukan sebuah pertanyaan setelah sejenak mereka terdiam.

“Itu lah yang sedikit aku sesalkan,” jawab Ki Waskita sambil menarik nafas dalam-dalam, “Glagah Putih begitu mengkhawatirkan keselamatan kakak sepupunya itu, sehingga ketika dia bertanya kepadaku ke arah mana perginya anak muda yang bernama Mas Santri itu, dia segera menyusulnya, tanpa memperdulikan lagi keadaan di sekitarnya.”

Kembali Ki Bango Lamatan menarik nafas panjang sambil sepasang matanya menerawang ke langit-langit pendapa. Pikirannya benar-benar kosong, tidak ada sedikitpun dugaan yang terlintas dalam benaknya. Nama yang disebut oleh Ki Waskita itu benar-benar belum pernah didengarnya.

“Ah, sudahlah,” berkata Ki Waskita kemudian sambil bangkit berdiri, “Sebaiknya semua itu kita pasrahkan kepada sumber hidup kita. Semoga Yang Maha Agung senantiasa memberikan keselamatan dan keberhasilan pada setiap langkah kita,” Ki Waskita berhenti sejenak. Kemudian sambil melangkah dia meneruskan kata-katanya, “Beristirahatlah yang cukup, Ki. Aku akan meneruskan pekerjaanku membantu tabib itu untuk menyadarkan Ki Jayaraga.”

Ki Bango Lamatan tidak menjawab, hanya kepalanya saja yang terlihat mengangguk. Sejenak kemudian Ki Bango Lamatan pun terlihat sudah memejamkan matanya lagi sambil bersedekap dan menyelonjorkan kedua kakinya.

Dalam pada itu Ki Wiyaga yang telah mengadakan pembersihan di setiap sudut padepokan segera melaporkan keadaan terakhir kepada Ki Gede.

“Seluruh padepokan telah kita amankan, Ki Gede,” berkata Ki Wiyaga kemudian, “Tidak tampak adanya para cantrik padepokan. Kelihatannya mereka telah meloloskan diri melalui pintu butulan belakang padepokan.”

Ki Gede mengerutkan keningnya mendengar keterangan Ki Wiyaga. Tanyanya kemudian, “Bagaimana dengan Raden Surengpati, adik orang yang mengaku sebagai Trah Sekar Seda Lepen itu?”

Ki Wiyaga menggeleng. Jawabnya kemudian, “Kami tidak mengetahui keberadaannya. Semenjak pagi tadi pasukan Matesih menyerbu padepokan ini, tidak terlihat sama sekali bayangan Raden Surengpati.”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Dalam benak Ki Gede telah timbul berbagai pertanyaan, namun Ki Gede merasa enggan untuk mengatakannya. Bertanya Ki Gede kemudian, “Apakah Ki Wiyaga bisa memperkirakan ke arah mana mereka meloloskan diri?”

Ki Wiyaga menggeleng. Jawabnya kemudian, “Tidak Ki Gede. Kami bergerak sangat lambat dan hati-hati dalam membersihkan padepokan ini sehingga kita sudah tidak melihat bayangan mereka sama sekali di belakang padepokan.”

Kembali Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Ki Gede menyadari bahwa gerakan pembersihan di padepokan Sapta Dhahana tidak dapat dilakukan dengan tergesa-gesa. Mereka harus meneliti ruangan demi ruangan dan setiap sudut yang memungkinkan untuk tempat persembunyian. Namun ternyata cantrik-cantrik padepokan Sapta Dhahana memilih meninggalkan padepokan mereka.

“Kita harus membagi pasukan,” berkata Ki Gede kepada Ki Wiyaga kemudian, “Aku minta Ki Wiyaga beserta sebagian pasukan pengawal untuk tetap tinggal dan berjaga di padepokan ini. Adakan pengawasan yang ketat terhadap setiap jalur yang menghubungkan padepokan ini dengan dunia luar,” Ki Gede berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Aku bersama Ki Kamituwa akan kembali ke perdikan Matesih sambil membawa korban-korban yang terluka.”

“Bagaimana dengan korban yang telah meninggal dunia, Ki Gede?”  bertanya Ki Wiyaga kemudian dengan serta merta.

Sejenak Ki Gede termenung. Jawabnya kemudian, “Korban dari para cantrik dapat dikebumikan di belakang padepokan. Sedangkan korban dari para pengawal akan kita bawa ke Matesih untuk mendapatkan penghormatan terakhir serta penyerahan kepada pihak keluarga yang berduka.”

Ki Wiyaga menarik nafas dalam-dalam. Bagaimana pun juga, korban yang jatuh dari pihak Matesih telah menimbulkan duka yang mendalam, terutama bagi keluarga yang ditinggalkannya.

“Sudah seharusnya mereka yang gugur dalam tugas mulia ini mendapat tanda jasa yang layak serta keluarga yang ditinggalkan mendapat santunan yang layak pula,” tanpa sadar Ki Wiyaga berdesis perlahan seolah-olah hanya ditujukan kepada dirinya sendiri.

Ki Gede yang berdiri di sebelahnya agaknya mendengar desis Ki Wiyaga. Maka katanya kemudian, “Sudah sepatutnya itu semua kita lakukan sebagai balas budi atas jasa mereka, Ki Wiyaga.”

Ki Wiyaga terkejut. Tak disangkanya Ki Gede mendengar ucapannya. Namun kepala pengawal perdikan Matesih itu pun hanya dapat menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Dalam pada itu, tanpa seorang pun yang menyadari, dua orang yang terlihat sudah sangat sepuh sedang mendekati gerbang padepokan Sapta Dhahana.

“Apakah kita akan mendekat?” bertanya seorang kakek-kakek yang tampak hanya mengenakan selembar kain panjang berwarna putih lusuh yang dibebatkan pada bagian tubuhnya dari pinggang sampai ke lutut.

“Tidak perlu,” sahut orang di sebelahnya yang tak kalah tuanya, “Aku hanya ingin meyakinkan bahwa pasukan Matesih dalam keadaan baik-baik saja.”

Kakek-kakek yang hanya mengenakan kain panjang itu tidak menjawab. Hanya tampak kepalanya saja yang terangguk-angguk.

Dari tempat mereka berdiri, kedua orang tua itu dapat melihat kesibukan para pengawal yang mondar-mandir membersihkan halaman padepokan melalui pintu gerbang yang terbuka lebar. Beberapa korban yang tewas telah ditempatkan di gardu penjagaan depan. Sedangkan yang terluka telah dibawa ke pendapa.

Tiba-tiba Ki Waskita yang sedang berada di pendapa berpaling ke arah pintu gerbang dan memandang dengan tajamnya ke tempat kedua orang tua itu bersembunyi di balik sebuah pohon di pinggir jalan. Agaknya Ki Waskita yang mempunyai panggraita yang sangat tajam itu telah merasakan getar-getar kehadiran kedua orang itu.

“Orang tua di pendapa itu kelihatannya mengetahui kehadiran kita, Ki,” desis orang yang berpakaian aneh itu kepada kawan di sebelahnya.

“Begawan benar,” sahut orang yang berdiri di sebelahnya, “Aku tahu siapa orang itu. Orang itu adalah Ki Waskita, salah satu guru dari Ki Rangga Agung Sedayu.”

“Guru Ki Rangga?” bertanya orang yang dipanggil Begawan itu dengan wajah heran, “Sejauh pengetahuanku, Ki Rangga adalah murid orang bercambuk.”

“Memang Ki Rangga adalah murid orang bercambuk,” jawab orang tua itu kemudian, “Namun Ki Waskita telah memberikan kesempatan kepada Ki Rangga untuk membaca kitab peninggalan perguruannya untuk dipelajari.”

Orang yang dipanggil Begawan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanyanya kemudian, “Apakah Ki Waskita sudah mendapatkan ijin dari orang bercambuk itu untuk memberikan kesempatan Ki Rangga mempelajari kitabnya?”

“O, tentu saja,” jawab orang tua itu dengan serta merta, “Tanpa ijin dari orang bercambuk itu, Ki Waskita tidak akan mungkin berani untuk memberikan kesempatan kepada Ki Rangga untuk membaca kitabnya.”

Namun pertanyaan berikutnya dari orang yang dipanggil Begawan itu justru telah membuat orang tua itu terkejut dan membeku di tempatnya.

“Bagaimana engkau bisa mengetahui seluk beluk kehidupan orang bercambuk dan murid-muridnya itu, Ki?” bertanya Begawan itu kemudian dengan serta merta.

Untuk sejenak orang tua itu bagaikan membeku di tempatnya. Namun beberapa saat kemudian dia segera menjawab, “Aku memang mengenal mereka namun tidak secara pribadi. Sebagai murid dan sekaligus sahabat Kanjeng Sunan, aku sering mengikuti beliau ke mana saja, sehingga pengetahuanku tentang orang-orang berilmu tinggi di tanah ini cukup luas.”

Kembali orang yang dipanggil Begawan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika dia kemudian melemparkan pandangan matanya ke arah padepokan melalui pintu gerbang yang terbuka lebar, tampak Ki Waskita sedang berjalan menuruni tangga pendapa.

“Ki Waskita agaknya mencurigai kita, Ki,” desis Begawan kemudian, “Apa yang sebaiknya kita lakukan?”

Orang tua yang berpakaian sebagaimana orang kebanyakan itu memandang ke arah depan sejenak. Katanya kemudian, “Bukannya aku tidak ingin menjumpai orang yang bernama Ki Waskita itu. Namun kehadiran kita disini sepertinya sudah tidak diperlukan lagi. Lebih baik kita menyingkir dan kembali ke tempat kita masing-masing.”

Orang yang dipanggil Begawan itu mengangguk. Keduanya pun kemudian bergeser meninggalkan tempat itu tanpa menimbulkan bekas sehingga Ki Waskita yang telah mencapai gerbang telah kehilangan jejak.

“Siapakah kedua orang itu?” bertanya Ki Waskita dalam hati sambil berdiri termangu-mangu di depan gerbang padepokan, “Semoga mereka bukan pendukung Trah Sekar Seda Lepen. Menilik kemampuan mereka dalam menghilangkan jejak dari pandangan mataku, keduanya pasti orang-orang linuwih yang mempunyai kemampuan ilmu tiada taranya.”

Setelah sejenak mengamati keadaan di luar padepokan dan tidak mendapatkan sesuatu pun yang dapat dijadikan petunjuk, Ki Waskita pun kemudian berjalan kembali ke pendapa.

“Apakah ada sesuatu yang penting, Ki Waskita?” bertanya Ki Gede Matesih begitu melihat orang tua itu berjalan dari arah regol depan padepokan.

“O, tidak, tidak,” jawab Ki Waskita sambil tersenyum lebar, “Aku hanya berjalan ke regol untuk mengamati keadaan di luar sana.”

Ki Gede pun mengangguk anggukkan kepalanya mendengar jawaban Ki Waskita. Sejenak kemudian Ki Gede pun telah disibukkan dengan persiapan untuk kembali ke perdikan Matesih.

Ketika Ki Waskita kemudian melangkah kembali ke tempat Ki Jayaraga yang sedang dirawat, tiba-tiba Ki Bango Lamatan yang sedang duduk bersandaran tiang pendapa di dekat Ki Jayaraga dirawat telah membuka kedua matanya.

“Dari manakah, Ki Waskita?” bertanya Ki Bango Lamatan kemudian sambil memejamkan matanya kembali.

Sejenak Ki Waskita tertegun sambil memandang Ki Bango Lamatan yang bersandaran tiang pendapa dengan kedua kaki berselonjor serta kedua tangan bersilang di dada.

Setelah menarik nafas panjang, barulah Ki Waskita berdesis perlahan, “Ada dua orang tamu yang malu-malu untuk menampakkan diri.”

Dengan kedua mata tetap terpejam, Ki Bango Lamatan pun kemudian menyahut, “Biarkan sajalah mereka, Ki Waskita. Agaknya kedua orang itu sudah bergeser menjauh.”

Ki Waskita tidak menanggapi, hanya kepalanya saja yang terangguk-angguk sambil meneruskan langkahnya ke tempat Ki Jayaraga dirawat.

Dalam pada itu, kedua orang yang beberapa saat yang lalu mengamati padepokan Sapta Dhahana telah semakin jauh meninggalkan gerbang padepokan. Keduanya berjalan menyusuri jalan setapak yang menjelujur menuruni lereng bukit gunung Tidar.

“Begawan,” berkata orang tua yang satunya kemudian sambil tetap mengayunkan langkahnya, “Kemanakah tujuan Begawan setelah ini?”

Orang tua yang dipanggil Begawan itu pun kemudian menjawab sambil tetap mengikuti langkah kawannya, “Aku akan melanjutkan tapaku di pebukitan Menoreh dan aku tidak akan tergiur lagi dengan segala rayuan orang untuk melibatkan diri dalam urusan dunia.”

“Itu lebih baik Begawan,” sahut orang tua satunya, “Kadangkala kita yang sudah bau tanah ini masih tergiur dengan urusan dunia. Contohnya aku ini, aku masih saja melibatkan diri dengan urusan pemerintahan Mataram.”

“O, itu lain bagi Ki Tanpa Aran,” sela orang yang dipanggil Begawan itu, “Ki Tanpa Aran memang mengemban tugas khusus dari Kanjeng Sunan untuk menggulawentah Pangeran Pati agar nantinya Mataram di masa mendatang benar-benar menjadi sebuah kerajaan yang dapat mengayomi seluruh negeri ini dari ujung ke ujung menjadi sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi tata titi tentrem kerta raharja. Thukul kang sarwa tinandur, murah kang sarwa tinuku.”

Orang tua yang ternyata Ki Tanpa Aran itu tersenyum mendengar ucapan Begawan Cipta Hening. Sambil menjajari langkah Begawan itu, Ki Tanpa Aran pun menimpali, “Kita semua seharusnya memang berperan dalam membangun negeri ini. Tidak ada yang merasa lebih hebat dan berjasa, demikian pula tidak ada yang merasa tidak punya arti dan dikucilkan. Semua berperan sebagaimana jati diri kita serta tugas yang dibebankan di pundak masing-masing.”

Begawan Cipta Hening mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Kalau menurut pendapatku, aku memilih menjadi orang yang tidak punya peran sama sekali. Aku akan meninggalkan urusan dunia ini dan kembali bertapa di puncak pebukitan Menoreh.”

“Pendapat yang demikian itu kurang tepat, Begawan,” sahut Ki Tanpa Aran cepat, “Justru Begawan memilih tidak mencampuri urusan dunia itulah peran yang sangat berarti bagi kelangsungan kedamaian negeri ini. Bukankah apa yang telah terjadi beberapa saat yang lalu sehingga terjadi pertumpahan darah adalah keputusan Begawan untuk mendukung Trah Sekar Seda Lepen?”

“Ah,” Begawan Cipta Hening tertawa pendek. Terbayang kembali dalam benaknya bagaimana dia harus mengadu ilmu tanpa mengerahkan kekuatan wadag sama sekali melawan Ki Tanpa Aran. Sebuah perang tanding di alam Sonya ruri, namun akibatnya tak kalah dahsyatnya dengan perang tanding di alam nyata.

“Untunglah Ki Tanpa Aran ini berhati seluas lautan,” berkata Begawan dalam hati sambil terus mengayunkan langkahnya mengikuti langkah Ki Tanpa Aran, “Seandainya saja Ki Tanpa Aran tadi memutuskan untuk membunuhku, tentu aku sekarang ini hanyalah tinggal nama saja dan apa yang aku yakini dan aku perjuangkan selama ini ternyata hanyalah sia-sia belaka.”

Tanpa terasa langkah-langkah mereka berdua telah sampai di lereng gunung Tidar yang landai. Ketika keduanya kemudian sampai di kaki bukit, mereka segera menghentikan langkah mereka.

“Aku hanya sampai disini menemani Ki Tanpa Aran,” berkata Begawan Cipta Hening kemudian, “Dengan setulus hati aku meminta maaf atas keterlanjuranku dalam mendukung Trah Sekar Seda Lepen. Namun dengan kejadian ini, aku menjadi bagaikan terlahir kembali. Nasehat-nasehat Ki Tanpa Aran akan aku jadikan pedoman dalam menjalani sisa-sisa hidupku ini.”

“Ah,” desah Ki Tanpa Aran sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “Begawan terlalu melebih-lebihkan. Apa yang aku sampaikan hanya meniru dari para Winasis dan Sesepuh serta Pinisepuh. Sudah sewajarnya jika kita sebagai manusia saling nasehat menasehati untuk kebaikan.”

Begawan Cipta Hening tersenyum. Katanya kemudian, “Baiklah, Ki Tanpa Aran. Aku mohon diri. Aku akan berjalan dan terus berjalan tanpa henti sampai tujuanku tercapai, puncak pebukitan Menoreh.”

“O, silahkan Begawan,” sahut Ki Tanpa Aran, “Sesampainya Begawan nanti di puncak pebukitan Menoreh, aku harap Begawan jangan berhenti berjalan. Namun perjalanan yang akan Begawan lakukan dalam bentuk lain. Sebuah perjalanan batin yang akan menuntun Begawan ke alam kelanggengan.”

“Terima kasih, Ki,” jawab Begawan Cipta Hening dengan serta merta, “Setiap patah kata nasehat dari Ki Tanpa Aran akan selalu aku ingat. Sampaikan salamku kepada Kanjeng Sunan jika suatu saat Ki Tanpa Aran sowan ke gunung Muria. Sebenarnyalah terbesit sebuah keinginan untuk bertemu dengan beliau suatu saat, jika Yang Maha Agung masih berkenan memberiku umur panjang.”

“O, tentu, tentu Begawan. Akan aku sampaikan salam Begawan kepada Kanjeng Sunan dan juga keinginan Begawan untuk suatu saat berjumpa dengan beliau.”

“Sekali lagi aku ucapkan terima kasih, Ki,” berkata Begawan Cipta Hening kemudian sambil mengulurkan tangannya, “Sekarang ijinkan aku benar-benar mohon diri.”

“Silahkan Begawan. Semoga perjalanan Begawan menyenangkan dan selamat sampai tujuan,” berkata Ki Tanpa Aran kemudian sambil menerima uluran tangan Begawan yang aneh itu.

“Semoga Ki Tanpa Aran demikian juga,” sahut Begawan Cipta Hening dengan tersenyum.

Demikianlah akhirnya, kedua orang yang pada awalnya berdiri berseberangan itu, kini bagaikan dua orang sahabat karib yang akan berpisah untuk waktu yang tidak ditentukan. Mereka saling mendoakan untuk kebaikan dan keselamatan masing-masing.

Sepeninggal Begawan Cipta Hening yang hilang di balik rimbunnya hutan di kaki bukit Tidar, untuk sejenak Ki Tanpa Aran termangu-mangu. Setelah berpaling ke arah puncak bukit Tidar yang terlihat berkilauan tertimpa sinar Matahari, pemomong Pangeran Pati Mataram itu pun kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.

Dalam pada itu Matahari telah memanjat langit semakin tinggi dan bersinar dengan garangnya. Walaupun Matahari belum sampai ke puncaknya, namun sinarnya terasa bagaikan membakar seluruh permukaan bumi. Para petani yang sedang menggarap sawahnya tampak mulai melepaskan lelah dan lebih senang duduk-duduk di gubuk sambil menikmati ransum kiriman dari rumah.

Di tengah terik sinar Matahari itulah tampak seorang anak muda berjalan tergesa-gesa menyusuri pematang demi pematang. Wajahnya tampak merah terbakar terik sinar Matahari. Sesekali dilemparkan pandangan matanya ke sekeliling untuk melihat-lihat barangkali dia menemukan sesuatu yang sedang dicarinya.

“Aneh,” desis anak muda itu tanpa sadar, “Aku belum melihat keberadaan seorang anak muda sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ki Waskita tadi.”

Anak muda itu meneruskan langkahnya. Dari kejauhan dia telah melihat para petani yang sedang berteduh dan bergerombol di sebuah gubug di tengah sawah.

“Aku akan menjumpai mereka,” berkata anak muda itu dalam hati sambil terus mengayunkan langkahnya menyusuri pematang, “Mereka telah berada di tanah pesawahan ini semenjak Matahari belum menampakkan sinarnya. Barangkali mereka melihat seseorang yang melintas di tempat ini.”

Berpikir sampai disitu, semangat anak muda itu pun timbul kembali. Dengan langkah yang lebar dia mulai mendekati gubug di tengah sawah itu. Namun kelihatannya anak muda itu sedikit kurang cermat mengamati keadaan. Batang-batang padi muda itu memang baru saja ditanam karena musim hujan baru saja tiba. Jika demikian keadaannya, para petani biasanya menengok sawahnya justru di malam hari, di saat mereka mendapat giliran untuk mengairi sawah mereka.

Ketika langkah anak muda itu telah hampir mendekati gubuk, orang-orang yang sedang melepas lelah di dalam gubuk itu pun telah berpaling ke arahnya. Sementara anak muda itu sama sekali tidak menyadari jika di sekitar gubug itu sama sekali tidak terdapat sebuah pun alat-alat pertanian, seperti cangkul dan sabit. Peralatan yang sudah sangat akrab sekali dengan para petani.

“Maafkan aku paman,” berkata anak muda itu kemudian sambil menghentikan langkahnya tepat di samping gubuk, “Aku telah mengganggu istirahat paman-paman ini. Jika berkenan, aku ingin menanyakan sesuatu kepada para paman ini.”

Sejenak para petani itu saling pandang. Namun salah seorang petani yang terlihat paling tua telah tersenyum sambil menjawab, “Silahkan ngger. Sejauh kami memang mengetahuinya, kami pasti tidak akan berkeberatan untuk memberitahu angger.”

Untuk beberapa saat anak muda itu justru terdiam. Mungkin dia sedang menyusun kata-kata yang gamblang agar mudah dicerna oleh para petani itu.

“Terima kasih paman,” berkata anak muda itu kemudian, “Apakah paman-paman ini beberapa saat yang lalu melihat ada seorang anak muda bersama ayahnya sedang membawa seseorang yang sedang sakit?”

Untuk sejenak para petani itu kembali saling pandang satu sama lainnya. Namun kemudian salah seorang terdengar menjawab, “Maaf anak muda. Sedari tadi kami tidak melihat seorang pun yang mendekat ke tempat ini selain dirimu.”

Anak muda itu menarik nafas panjang sambil mengangguk-angguk. Tampak betapa kekecewaan yang dalam tersirat di wajahnya.

“Baiklah paman, terima kasih atas keterangannya. Aku akan melanjutkan perjalananku,” berkata anak muda itu kemudian sambil bersiap mengayunkan langkahnya.

“Sebentar anak muda,” tiba-tiba seorang petani yang rambutnya sudah ubanan mencegah langkah anak muda itu, “Angger terlihat sangat lelah dan mungkin juga lapar. Sebaiknya angger beristirahat sejenak di gubug ini.”

“Ya, engkau dapat makan bersama kami,” sahut seorang petani yang lain sambil menyodorkan sebungkus nasi, “Aku yakin sedari pagi engkau pasti belum makan.”

“Ah,” anak muda itu berdesah. Katanya kemudian sambil menggelengkan kepala, “Memang aku sedari pagi tadi belum makan, namun aku tidak ingin mengganggu para paman petani. Aku tidak mau merebut jatah salah seorang dari paman ini sehingga salah seorang dari kalian harus berbagi dengan yang lainnya.”

“O, tentu tidak ngger,” sahut petani beruban itu dengan serta merta, “Sudah menjadi kebiasan kami untuk mendapatkan ransum dari rumah yang berlebih. Kadangkala ada salah satu dari kami yang ingin menambah sehingga orang-orang di rumah yang menyiapkan ransum ini pasti dilebihkan.”

“Ya,” sahut seorang petani yang tubuhnya terlihat gemuk. Bajunya dibiarkan saja terbuka sehingga terlihat perutnya yang buncit, “Akulah yang biasanya makan dua bungkus nasi. Namun hari ini aku sudah merasa kenyang sehingga engkau dapat makan yang satu bungkus lagi.”

“He, apa katamu? Engkau hari ini hanya makan satu bungkus?” sela seorang petani yang berkumis tebal, “Bukankah istrimu biasanya mengirim ransum tiga bahkan kadang empat bungkus? Dan sekarang ransummu tinggal satu bungkus. Itu berarti engkau sudah makan dua atau tiga bungkus.”

Segera saja terdengar gelak tawa di gubug itu. Tak ketinggalan anak muda itu pun ikut tersenyum, walaupun sedikit masam.

bersambung ke bagian 2