STSD-1

kembali ke STSD-10 | lanjut ke STSD-12

 

MELIHAT raut wajah ayahnya menjadi sedemikian tegang, Ratri segera menceritakan kejadian di halaman belakang tadi pagi, tanpa dikurangi maupun ditambahi.

“Kakang Gatra Bumi lah yang telah berhasil melumpuhkan Ki Jagabaya,” berkata Ratri mengakhiri ceritanya, “Aku mengatas namakan ayah telah mengucapkan terima kasih atas bantuan Kakang Gatra Bumi sehingga usaha penculikan itu dapat digagalkan.”

Ki Gede Matesih menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menghela nafas panjang mendengar cerita anak perempuan satu-satunya itu. Untunglah Yang Maha Agung masih melindungi keluarganya melalui lantaran cantrik Gatra Bumi. Jika saja rencana Ki Jagabaya itu bisa terwujud, tentu perlawanan pasukan pengawal Matesih di Gunung Tidar pagi tadi dengan mudahnya akan dapat dilumpuhkan.

“Aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat, jika Ki Jagabaya kemudian membawa Ratri ke Gunung Tidar sebagai sandera,” berkata Ki Gede kemudian dalam hati, “Aku benar-benar akan dihadapkan pada dua pilihan yang sangat sulit.”

“Ki Ajar,” berkata Ki Gede kemudian setelah sejenak mereka terdiam, “Entah sudah keberapa kalinya aku harus mengucapkan terima kasih atas bantuan Ki Ajar dan cantrik Gatra Bumi. Aku atas nama seluruh kawula Perdikan Matesih merasa berhutang budi kepada Ki Ajar berdua. Jika Ki Ajar berkenan, tinggallah di Perdikan Matesih. Akan kita bangunkan sebuah padepokan untuk Ki Ajar berdua. Sehingga ke depan, Ki Ajar dapat menjadikan padepokan itu sebagai sarana untuk menggulawentah para murid-murid Ki Ajar utamanya para pemuda yang berasal dari Perdikan Matesih.”

“Ah,” desah Ki Ajar sambil beringsut setapak ke belakang, “Itu aku kira terlalu berlebihan Ki Gede. Apa yang kami lakukan adalah sebagai kewajiban kepada sesama untuk saling membantu. Sebagaimana yang telah diajarkan oleh Kanjeng Sunan.”

“Ayah,” tiba-tiba Ratri menyela, “Kejadian tadi pagi telah memberikan aku sebuah pengalaman. Aku tidak boleh bergantung kepada pertolongan seseorang walaupun semua pertolongan itu sumbernya dari Yang Maha Agung semata, namun manusia diwajibkan untuk berusaha.”

Ki Gede mengerutkan keningnya mendengar ucapan putrinya itu. Sambil berpaling ke arah putrinya, ditatapnya tajam-tajam sepasang mata anak perempuan kesayangannya itu. Sementara Ki Ajar yang sudah dapat menduga arah pembicaraan Ratri telah menarik nafas dalam-dalam.

“Apa maksudmu Ratri?” bertanya Ki Gede kemudian dengan suara sedikit ragu-ragu.

“Ayah,” berkata Ratri selanjutnya sambil menggeser duduknya merapat mendekati Ki Gede, “Aku telah memutuskan untuk keluar dari kelemahan seorang perempuan. Aku telah memutuskan untuk mempelajari olah kanuragan sebagaimana kebanyakan laki-laki melakukannya.”

“He?” seru Ki Gede tertahan. Kerut merut di dahinya pun semakin dalam.

“Apa salahnya ayah?” sergah Ratri sebelum ayahnya menanggapi ucapannya, “Aku sudah dewasa dan aku sudah berhak menentukan jalan hidupku. Namun aku tetap mohon doa restu dari ayah agar apa yang aku cita-citakan ini terwujud dan benar-benar akan bermanfaat bagi diriku sendiri dan bagi bebrayan agung.”

Untuk beberapa saat Ki Gede justru diam membeku. Berbagai pertimbangan sedang hilir mudik dalam benaknya.

Namun akhirnya Ki Gede menyadari, bahwa putri satu-satunya itu mempunyai watak yang sangat keras. Jika sudah mempunyai keinginan, akan sulit bagi siapapun untuk mencegahnya.

“Baiklah Ratri,” berkata Ki Gede kemudian, “Aku akan meluangkan waktuku untuk mengajarimu selangkah dua langkah ilmu olah kanuragan ini. Namun engkau harus menyadari, ilmu olah kanuragan ini memang pada awalnya diciptakan untuk kaum laki-laki saja. Namun dalam perkembangannya ternyata ada beberapa perempuan yang telah mempelajarinya. Tentu saja semua itu harus mengalami penyesuaian dengan kodrat perempuan yang memang berbeda dengan kaum laki-laki.”

Sejenak Ratri memandang ke arah Ki Ajar untuk meminta pertimbangan. Namun agaknya guru cantrik Gatra Bumi itu telah menyerahkan persoalan itu sepenuhnya kepada gadis yang keras hati itu.

“Ayah,” akhirnya Ratri mengambil sebuah keputusan, “Jika ayah memang akan mengajari aku ilmu olah kanuragan, aku tidak yakin jika ayah akan dapat meluangkan waktu untuk itu. Ayah terlalu sibuk untuk mengurusi Tanah Perdikan ini,” Ratri berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Disamping itu, sebagaimana yang telah ayah sampaikan tadi bahwa pada dasarnya ilmu olah kanuragan itu diciptakan untuk kaum laki-laki. Tentu ayah akan mengalami sedikit kendala jika mengajari aku secara langsung. Bukankah ayah belum mempunyai pengalaman untuk mengajarkan ilmu olah kanuragan kepada perempuan?”

Ki Gede tidak menjawab hanya menarik nafas dalam-dalam sambil menganggukkan kepalanya.

“Nah, ayah,” berkata Ratri selanjutnya, “Aku mendengar ada beberapa perempuan yang tinggal di Menoreh mempunyai kemampuan ilmu olah kanuragan yang mumpuni, salah satunya adalah Nyi Sekar Mirah istri Ki Rangga Agung Sedayu.”

“Istri Ki Rangga Agung Sedayu?” ulang Ki Gede terheran-heran, “Aku tidak mengira jika istri Ki Rangga ternyata juga mempelajari ilmu olah kanuragan.”

“Ya, Ki Gede,” sahut Ki Ajar dengan serta merta, “Nyi Sekar Mirah, istri Ki Rangga itu adalah murid Ki Sumangkar, saudara seperguruan Ki Patih Mantahun dari Jipang Panolan.”

“He?!” kali ini Ki Gede benar-benar terkejut. Nama Patih Mantahun sangat disegani pada masa Kerajaan Demak lama.

“Jadi, Nyi Sekar Mirah itu salah satu murid dari jalur Perguruan Kedung Jati yang terkenal itu?” bertanya Ki Gede selanjutnya.

“Ya, Ki Gede,” jawab Ki Ajar, “Bahkan pertanda khusus Perguruan Kedung Jati pun telah diwariskan kepadanya, sebuah tongkat baja putih yang berkepala tengkorak berwarna kekuning-kuningan. Sebuah senjata yang mengerikan.”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata perguruan-perguruan yang terkenal di masa lalu itu sampai kini masih ada penerusnya. Sementara Ratri yang belum mengetahui seluk beluk tentang Nyi Sekar Mirah menjadi semakin bersemangat untuk menjadi muridnya.

Berkata Ratri kemudian, “Ayah, jika ayah berkenan aku ingin berguru kepada Nyi Sekar Mirah.”

Untuk beberapa saat Ki Gede termenung. Berbagai pertimbangan bergolak dalam dadanya. Ki Gede sendiri adalah anak murid dari jalur Gunung Kidul, Ki Demang Sarayuda. Namun sepeninggal Ki Demang Sarayuda, perkembangan Perguruan Gunung Kidul yang merupakan cabang dari Perguruan Pandan Alas itu telah menyusut dengan sedemikian pesatnya.

“Ratri,” berkata Ki Gede kemudian dengan sareh, “Memang menjadi idaman untuk menuntut ilmu kepada Nyi Sekar Mirah. Namun aku tidak yakin jika Nyi Sekar Mirah akan bersedia tinggal di Matesih ini hanya khusus untuk mengajarimu.”

“Bukan begitu ayah,” sela Ratri cepat.

Kembali kerut merut tampak di wajah Ki Gede. Bertanya Ki Gede kemudian, “Jadi apa rencanamu, Ratri?”

“Aku yang akan pergi ke Menoreh, ayah,” jawab Ratri dengan suara yang tegas dan lugas.

Jika saja ada petir yang menyambar sejengkal di atas kepala Ki Gede, Ki Gede tentu tidak akan seterkejut itu. Tidak pernah terbayangkan olehnya jika anak perempuan satu-satunya itu benar-benar akan pergi meninggalkan Matesih.

“Benarkah engkau akan pergi, nduk?” bertanya Ki Gede kemudian dengan suara yang hampir tak terdengar. Terlihat betapa wajah itu memendam kesedihan yang dalam.

Untuk beberapa saat Ratri justru bagaikan membeku mendapat pertanyaan ayahnya. Tanpa terasa di kedua belah sudut matanya yang indah itu telah menyembul setitik air yang bening.

Namun gadis Matesih itu segera mampu menguasai hatinya dan menyingkirkan segenap keragu-raguan yang sempat menyelinap di sudut hatinya. Maka jawabnya kemudian sambil sibuk menyeka air mata yang belum sempat terjatuh di kedua pipinya yang ranum merona itu, “Ayah, aku pergi ke Menoreh bukan untuk selamanya. Aku hanya pergi untuk menggapai cita-citaku. Jika ayah rindu kepadaku, ayah dapat mengunjungiku di Menoreh,” gadis itu berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Bukankah ayah belum sempat mengucapkan terima kasih atas pertolongan Ki Rangga dan kawan-kawannya? Nah, aku kira sudah sepantasnya jika sesekali ayah berkunjung ke Menoreh.”

Kata-kata putri satu-satunya itu bagaikan banyu sewindu yang mengguyur sepetak tanah gersang di sudut hatinya. Tampak wajah Ki Gede menjadi cerah lagi, secerah harapan Perdikan Matesih yang telah terbebas dari pengaruh orang-orang yang mengaku sebagai Trah Sekar Seda Lepen.

“Baiklah Ratri,” berkata Ki Gede kemudian setelah orang tua itu terlebih dahulu memenuhi rongga dadanya dengan udara malam yang mulai dingin, “Aku mengijinkan engkau untuk pergi menuntut ilmu ke Menoreh. Namun satu pesanku, jagalah dirimu, baik tata krama, trapsila dan unggah ungguh sebagai perempuan. Terlebih engkau masih harus memohon kepada Nyi Sekar Mirah untuk berkenan menurunkan ilmu kepadamu. Selebihnya, jika karena suatu alasan tertentu sehingga Nyi Sekar Mirah berkeberatan menerimamu sebagai murid, engkau harus menyadari semuanya itu dan menerimanya dengan lapang dada.”

Sejenak kerut merut tampak di dahi gadis cantik yang beranjak dewasa itu. Sepasang alis bak wulan tumanggal itu pun hampir terpaut menjadi satu. Sementara sepasang mata yang biasanya berbinar penuh sinar kehidupan itu tampak sedikit meredup seiring dengan bibirnya yang memerah delima itu terkatup rapat-rapat.

Melihat perubahan raut wajah puteri Matesih itu, Ki Ajar Mintaraga yang duduk di hadapannya segera bergumam perlahan. Ketika ayah dan anak itu kemudian berpaling ke arahnya, dengan segera Ki Ajar berkata, “Maaf Ki Gede, memang semua keputusan itu kembali berpulang kepada Nyi Sekar Mirah. Ada beberapa pertimbangan sebelum seorang guru memutuskan untuk mengambil seorang murid. Tanggung jawab seorang guru sangatlah berat. Jadi, jika seseorang telah mengambil keputusan untuk mengangkat seorang murid, dia harus bertanggung jawab sepenuhnya atas tingkah laku muridnya itu kelak di kemudian hari. Jika terjadi penyimpangan, tidak segan-segan gurunya akan memperingatkan, bahkan kadang harus melenyapkan sekalipun jika dipandang keberadaan muridnya dengan ilmu yang dikuasainya itu membahayakan bebrayan agung.”

Hampir bersamaan ayah dan anak itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Ki Gede yang merupakan murid Perguruan Pandan Alas dari jalur Gunung Kidul itu pun maklum, hubungan seorang guru dan muridnya bagaikan orang tua dan anaknya, bahkan bisa lebih dari itu karena ada pertautan ilmu yang turun temurun.

Sejenak suasana menjadi sunyi. Masing-masing telah tenggelam dalam lamunan yang hilir mudik dalam benak mereka.

“Jadi, bagaimana jika aku sudah jauh-jauh berjalan ke Menoreh tetapi ternyata Nyi Sekar Mirah berkeberatan untuk mengangkatku sebagai murid?” tiba-tiba keheningan itu telah dipecahkan oleh suara bening Ratri.

Segera saja Ki Gede berpaling ke arah Ki Ajar.

Melihat sinar mata Ki Gede yang penuh dengan tanda tanya itu, Ki Ajar pun segera maklum akan maksud Kepala Perdikan Matesih itu. Maka katanya kemudian, “Ki Gede, aku akan berusaha meyakinkan Nyi Sekar Mirah akan niat baik dari Nimas Ratri ini. Jika memang Nyi Sekar Mirah masih menyimpan keraguan untuk mengangkat Nimas Ratri sebagai murid, aku akan meminta pertolongan kepada Kanjeng Sunan agar bersedia membantu membujuk Nyi Sekar Mirah.”

“Ah,” desah Ki Gede sambil menggeser duduknya setapak kesamping. Katanya kemudian, “Aku tidak pernah berpikir jika permasalahan Ratri ini akan sampai di hadapan Kanjeng Sunan. Biarlah aku sendiri yang akan mengantar Ratri ke Menoreh sekaligus sebagai tanda ungkapan terima kasih mewakili seluruh kawula Matesih atas bantuan Ki Rangga dan kawan kawannya selama ini.”

Mendengar ucapan ayahnya itu, seketika Ratri terlonjak gembira. Sambil memeluk lengan ayahnya, gadis cantik yang beranjak dewasa itu tak henti-hentinya menguncang-guncang lengan ayahnya sambil berseru, “Terima kasih, ayah! Terima kasih, ayah…!”

Ki Ajar yang melihat tingkah gadis itu menjadi tersenyum. Dalam hati Ki Ajar pun maklum, jika Ki Gede sendiri yang mengantar Ratri ke Menoreh, tentu tanggapan Nyi Sekar Mirah akan lain. Setidaknya kehadiran kepala tanah Perdikan Matesih itu akan menjadi petimbangan tersendiri bagi keluarga Ki Rangga Agung Sedayu.

“Sudahlah Ratri,” berkata ayahnya kemudian sambil melepaskan lengannya dari pelukan anak perempuan satu-satunya itu, “Hari sudah cukup malam dan agaknya kita telah sepakat untuk pergi ke Menoreh. Namun perjalanan ke Menoreh cukup jauh dan memerlukan perhitungan yang cukup agar kita tidak mengalami suatu hal apapun dalam perjalanan nanti.”

“Maksud ayah?” sela Ratri dengan serta merta.

Sejenak Ki Gede menarik nafas panjang. Jawabnya kemudian, “Kita perlu mempersiapkan rencana perjalanan itu dengan sebaik-baiknya. Aku tidak bisa dengan serta merta meninggalkan tanah Perdikan yang baru saja mengalami goncangan ini. Diperlukan beberapa hari sebelum kita benar-benar siap untuk melakukan sebuah perjalanan jauh.”

Bagaikan sebuah dlupak yang kehabisan minyak, tiba-tiba saja raut wajah cantik Ratri tampak meredup seiring dengan sinar matanya yang mengandung seribu tanya ke arah ayahnya.

Kembali Ki Gede menarik nafas panjang. Katanya kemudian dengan suara sesareh mungkin, “Nduk, ayahmu ini memikul tanggung jawab yang tidak ringan. Seluruh kawula di Matesih bergantung harapan kepada ayahmu. Selepas cengkeraman pengaruh orang yang mengaku Trah Sekar Seda Lepen itu, aku harus menata kembali tata kehidupan di Matesih. Tidak sedikit para kawula dan perangkat tanah Perdikan yang terpengaruh dengan janji-janji kosong mereka. Semua itu memerlukan waktu yang tidak sebentar. Namun aku berjanji, secepatnya aku akan memulihkan keadaan Perdikan ini sehingga dapat mengantarmu ke Menoreh dengan tenang.”

Sejenak kepala Ratri tampak menunduk dalam-dalam. Kedua jari jemari tangannya yang lentik tampak memainkan ujung bajunya. Sementara kerut merut di keningnya semakin dalam.

Ki Ajar yang melihat gadis itu tidak menjawab dan hanya tertunduk dalam-dalam segera menyahut, “Nimas Ratri, menuntut sebuah ilmu diperlukan sebuah kesabaran, dan kesabaran itu sudah dimulai sejak Sekarang.”

“Ki Ajar benar,” sahut Ki Gede dengan serta merta, “Engkau harus belajar bersabar mulai sekarang, Ratri. Aku sebagai ayahmu sudah memberi ijin dan bahkan telah berjanji untuk mengantarmu sendiri ke Menoreh. Jadikanlah semua itu sebagai pegangan untuk mengapai cita-citamu. Jangan nggege mongso dan mengharap yang lebih. Apa yang sudah tergenggan di tanganmu sekarang ini pun jika Yang Maha Agung tidak mengijinkan, akan terlepas juga.”

Tampak kepala Ratri terangguk-angguk. Memang masih tersisa sebuah kekecewaan terhadap ayahnya. Dia berharap keberangkatan ke Menoreh itu dapat terlaksana secepat mungkin, bahkan kalau perlu besuk pagi-pagi sekali mereka sudah berangkat ke Menoreh.

“Aku tidak boleh terlalu memaksakan kehendakku kepada ayah,” berkata Ratri kemudian dalam hati sambil tetap menundukkan kepalanya, “Aku sudah mendapat ijin dan bahkan ayah telah berjanji untuk mengantarkan aku sendiri ke Menoreh. Itu sudah lebih dari cukup. Aku harus memberi kesempatan ayah untuk membenahi tanah Perdikan ini terlebuih dahulu.”

Berpikir demikian, Ratri pun kemudian menengadahkan wajahnya sambil tersenyum kecil dan berkata, “Maafkan aku ayah. Terdorong semangat yang membara dalam hatiku untuk menuntut ilmu, aku telah membuat ayah menjadi resah.”

“Sudahlah Ratri,” sahut Ki Gede cepat sambil tangan kirinya menyentuh dagu anaknya, “Kita sudah sepakat. Sesegera mungkin ayah akan membenahi tanah Perdikan ini. Dalam dua tiga hari aku harap kita sudah siap untuk berangkat ke Menoreh.”

Mendengar janji ayahnya, wajah Ratri pun menjadi berbinar-binar kembali. Dua tiga hari tidak akan lama walaupun pekerjaan menunggu itu akan sangat membosankan. Namun dia yakin, hari-hari yang tunggu itu akan segera tiba.

“Ada satu hal lagi yang perlu engkau perhatikan Ratri,” lanjut Ki Gede kemudian.

“Apakah itu, ayah?”

“Perjalanan ke Menoreh cukup jauh, kita akan berkuda.”

“Maksud ayah?”

Ki Gede menarik nafas dalam terlebih dahulu. Jawabnya kemudian, “Terakhir aku melihat engkau belajar naik kuda ketika ibumu masih ada.”

Sejenak Ratri menundukkan kepalanya dalam-dalam. Teringat akan ibunya, hati Ratri pun bagaikan teriris sembilu.

“Bagaimana, Ratri?” desak ayahnya, “Apakah engkau masih berani naik kuda?”

Ratri tersenyum sambi mengangguk. Jawabnya kemudian, “Sebelum berangkat ke Menoreh, aku akan berlatih berkuda lagi ayah. Sekedar menyesuaikan diri setelah lama tidak berkuda.”

“Dan sebaiknya Nimas Ratri berpakaian sebagaimana laki-laki,” Ki Ajar pun ikut memberikan pendapatnya, “Dengan demikian Nimas Ratri akan lebih leluasa mengendalikan kudanya dan sekaligus mengurangi kemungkinan-kemungkinan yang tidak diingankan sepanjang perjalanan.”

Hampir bersamaan ayah beranak itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Segala sesuatunya bisa saja terjadi dan lebih baik mereka berusaha menghilangkan kemungkinan-kemungkinan buruk itu sekecil apapun.

“Nah,” berkata Ki Gede kemudian, “Aku kira sudah cukup permbicaraan kita malam ini. Malam sudah cukup larut, sebaiknya kita beristirahat untuk mempersiapkan kerja esok hari yang masih banyak menunggu.”

“Baik Ki Gede,” sahut Ki Ajar kemudian, “Pada kesempatan ini, aku juga ingin mohon pamit. Dalam waktu dekat, aku dan muridku akan segera kembali ke Gunung Muria untuk menghadap Kanjeng Sunan.”

Terkejut ayah beranak itu. Untuk sejenak Ki Gede dan Ratri justru telah terdiam. Mereka berdua tidak menyangka jika Ki Ajar dan muridnya akan secepat itu meninggalkan Matesih.

“Mengapa?” tiba-tiba saja sebuah pertanyaan meluncur begitu saja dari bibir indah putri Matesih itu.

Ki Gede terkejut mendengar pertanyaan serta merta dari putrinya itu. Tanpa sadar dia segera menggamit lengan putrinya.

Ratri yang segera menyadari dirinya itu segera menundukkan wajahnya yang memerah jambu. Ada sedikit penyesalan telah melontarkan sebuah pertanyaan yang dapat menimbulkan berbagai tafsiran atas isi hatinya yang sebenarnya.

“Maaf Ki Ajar,” berkata Ki Gede kemudian masih dalam keadaan tidak percaya, “Bukankah kita dapat melakukan perjalanan bersama ke Menoreh? Akan sangat menyenangkan mempunyai kawan seperjalanan dengan Ki Ajar dan cantrik Gatra Bumi.”

Ki Ajar yang telah kenyang makan asam garamnya kehidupan itu telah tersenyum sambil menggeleng lemah, “Terima kasih atas tawaran Ki Gede itu. Namun aku mendapat pesan dari Kanjeng Sunan untuk segera kembali ke Gunung Muria selepas tugasku telah selesai di Matesih ini. Jika Yang Maha Agung mengijinkan, kita akan bertemu kembali nanti di Menoreh.”

Kata-kata terakhir Ki Ajar itu terdengar di telinga Ratri bagaikan sebuah kidung indah asmarandana. Entah mengapa, ketika tadi dia mendengar Ki Ajar dan muridnya akan meninggalkan Matesih, hatinya terasa pedih bagaikan teriris sembilu. Namun kata-kata terakhir Ki Ajar itu telah menumbuhkan harapan baru di sudut hatinya.

“Apa peduliku!” tiba-tiba sudut hatinya yang lain menyelethuk, “Aku tidak ada sangkut pautnya dengan cantrik itu. Mau pergi ke mana, mau berbuat apa, tidak ada sangkut pautnya denganku.”

Namun di sudut hatinya yang paling dalam telah membuat sebuah pengakuan yang tak terelakkan, “Alangkah senangnya melakukan perjalanan bersama kakang Gatra Bumi. Anak muda yang aneh, pendiam namun mempunyai kemampuan ilmu olah kanuragan yang tinggi. Terbukti Ki Jagabaya saja dapat dilumpuhkan.”

“Ah,” tiba-tiba kedua pipinya merona merah. Gadis yang beranjak dewasa itu menjadi malu sendiri dengan pengakuan jujur di dalam lubuk hatinya.

“Baiklah Ki Ajar” berkata Ki Gede kemudian, “Jika memang Ki Ajar mempunyai tugas yang tidak dapat ditunda lagi, kami seisi tanah Perdikan Matesih hanya dapat mengucapkan terima kasih yang tak terhingga teriring doa semoga Ki Ajar berdua sampai di Gunung Muria dengan selamat.”

“Terima kasih Ki Gede,” jawab Ki Ajar sambil mengangguk dalam-dalam dan bangkit dari duduknya. Ki Gede dan Ratri pun kemudian ikut berdiri.

Kemudian sambil melangkah bertelekan pada tongkatnya, Ki Ajar pun kemudian berkata, “Jika Ki Gede memerlukan kawan seperjalanan ke Menoreh, aku kira ketiga orang tua yang kini sedang berada di banjar padukuhan induk itu akan dapat menjadi kawan seperjalanan yang sangat menyenangkan.”

Mendengar kata-kata Ki Ajar itu, Ki Gede segera teringat kepada ketiga orang-orang tua yang sekarang sedang bermalam di banjar padukuhan induk.

“Dalam dua tiga hari ini aku yakin mereka sudah sehat kembali dan siap kembali ke Menoreh,” berkata Ki Ajar selanjutnya sambil terus berjalan ke arah pintu ruang dalam yang menghubungkan dengan ruang pringgitan, “Mereka tentu akan sangat senang mempunyai kawan seperjalanan dengan Ki Gede dan Nimas Ratri.”

“Semoga demikian Ki Ajar,” sahut Ki Gede sambil mengiringi langkah Ki Ajar. Sedang Ratri berjalan dengan kepala tunduk selangkah di belakang ayahnya.

“Besuk pagi-pagi sekali, aku akan mengirim utusan ke banjar padukuhan induk,” berkata Ki Gede kemudian ketika mereka telah berdiri di dekat pintu pringgitan, “Biarlah orang-orang tua itu dapat beristirahat dengan tenang disini. Aku akan menyuruh perempuan-perempuan yang berada di dapur untuk memasakkan klangenan mereka, nasi putih dengan sayur keluwih dan lauk dendeng sapi serta sambal tomat yang pedas.”

“Ah,” Ki Ajar tertawa pendek. Katanya kemudian, “Semoga saja mereka semakin cepat menemukan kekuatannya kembali dengan obat khusus dari Ki Gede itu.”

Ki Gede ikut tertawa. Sahutnya kemudian, “Mereka sendirilah yang mengatakan obat khusus itu. Aku hanya berusaha menyediakan saja.”

“Nah,” berkata Ki Gede kemudian sambil membukakan pintu pringgitan, “Kapan rencana Ki Ajar berdua akan kembali ke Gunung Muria?”

“Nanti pada saat wayah pasar temawon,” sahut Ki Ajar cepat sambil memegangi daun pintu yang dibukakan oleh Ki Gede, ”Aku berharap masih dapat berjumpa dengan ketiga orang tua itu sebelum meninggalkan Matesih.”

“Sekalian ikut mencicipi obat khusus yang mungkin dapat membuat Ki Ajar semakit bugar,” sela Ki Gede sambil tersenyum.

“Ah,” desah Ki Ajar sambil tertawa. Kemudian setelah menyalami Ki Gede dan menganggukkan kepala dalam-dalam ke arah Ratri, Ki Ajar pun kemudian berpamitan, “Aku mohon diri. Semoga apa yang telah kita sepakati bersama tadi segera dapat terujud.”

“Semoga Ki,” jawab Ki Gede. Sedangkan Ratri hanya tersenyum simpul sambil membalas anggukan kepala Ki Ajar.

Demikianlah akhirnya Ki Ajar segera meninggalkan rumah induk Ki Gede dan berjalan tertatih-tatih bertelekan pada tongkatnya menuju ke gandhok kiri.

Sepeningal Ki Ajar, Ki Gede segera melangkah lebar menuju ke ruang dalam sambil berkata, “Ratri, beristirahatlah. Engkau sudah cukup lelah hari ini, demikian juga aku. Masuklah ke bilikmu untuk beristirahat.”

Sejenak Ratri tertegun memandangi langkah ayahnya yang tergesa gesa menuju ke ruang dalam. Berbagai dugaan timbul dalam benaknya.

“Ayah akan pergi ke mana lagi?” tanpa sadar sebuah pertanyaan meluncur begitu saja dari bibirnya.

Ki Gede yang sudah membuka pintu ruang dalam itu hanya sekilas berpaling sambil menjawab, “Aku akan menengok bilikku sebentar. Setelah itu aku masih ada perlu sedikit dengan Ki Kamituwa. Beristirahatlah, nduk. Masih banyak permasalahan yang harus aku selesaikan di sisa malam ini.”

Ratri tertegun. Segera saja dia teringat Ki Kamituwa yang menunggu di luar pendapa. Namun ketika Ratri kemudian mencoba mengintip dari sela-sela pintu pringgitan, pendapa itu tampak kosong.

“Mungkin Ki Kamituwa pergi ke gardu depan sekedar mencari kawan berbincang,” berkata Ratri dalam hati kemudian sambil melangkah, “Apapun yang akan dikerjakan ayah dan Ki Kamituwa, bukan urusanku. Yang penting ayah sudah mengijinkan aku pergi ke Menoreh.”

Berpikir sampai disitu, tampak bibir memerah delima itu tersenyum puas. Sejenak kemudian Ratri pun segera melangkahkan kaki menuju ke biliknya sendiri.

“Di mana Mbok Pariyem?” tiba-tiba sebuah pertanyaan menyelinap dalam benaknya ketika dia sudah berada di dalam biliknya.

“Ah, sudahlah,” pertanyaan itu dijawabnya sendiri, “Mbok Pariyem pasti sudah terlampau lelah dan sekarang sedang beristirahat di dalam biliknya. Besuk pagi saja aku akan menemuinya untuk memberi tahu kabar gembira ini.”

Segera saja dibaringkan tubuhnya yang terasa penat. Beberapa saat tadi dia harus bersembunyi di dalam geledek bambu di bilik Ki Ajar. Sekarang dia baru menyadari betapa seluruh persendiannya terasa kaku dan nyeri.

Demikianlah, setelah puas berangan-angan tentang masa depan yang akan diraihnya, Ratri pun kemudian segera terbuai dalam alam mimpi yang indah.

Dalam pada itu, Ki Gede yang telah memasuki biliknya, ternyata telah keluar kembali dengan membawa sebuah bungkusan kain kecil yang disangkutkan pada ikat pinggangnya. Setelah berpaling sekilas ke arah bilik Ratri yang tertutup rapat, Ki Gede pun dengan tegesa-gesa segera mengayunkan langkahnya.

Ketika Ki Gede kemudian sudah membuka pintu pringgitan, dia tidak melihat bayangan Ki Kamituwa di pendapa. Dengan melangkahkan kakinya satu-satu, Ki Gede pun kemudian turun ke pendapa. Diedarkan pandangan matanya ke sekeliling, barangkali dia dapat menemukan keberadaan Ki Kamituwa.

Agaknya suara derit pintu pringgitan itu telah menarik perhatian orang-orang yang sedang berada di regol depan. Ki Kamituwa yang memang sedang mencari kawan berbincang itu pun segera melihat Ki Gede yang berjalan perlahan turun ke pendapa.

Dengan tergesa-gesa Ki Kamituwa pun segera menyongsong Ki Gede.

“Ki Gede,” sapa Ki Kamituwa kemudian ketika dia telah berada di ujung tlundak pendapa. Sementara Ki Gede yang sedang berdiri di tengah-tengah pendapa itu tampak termangu-mangu.

“O,” gumam Ki Gede perlahan sambil tersenyum dan melangkah mendekat, “Aku sudah menduga jika Ki Kamituwa pasti sedang mencari kawan berbincang di gardu depan.”

“Benar Ki Gede,” jawab Ki Kamituwa sambil menaiki tlundak pendapa, “Apakah ada sesuatu yang dapat aku bantu, Ki Gede?”

“Kita kembali ke rumah Ki Kamituwa,” jawab Ki Gede singkat sambil menuruni pendapa dan kemudian berjalan menuju ke tempat kuda-kuda mereka tertambat.

Berdesir dada Ki Kamituwa. Namun perangkat Perdikan Matesih yang sudah banyak mengeyam pahit manisnya kehidupan itu pun segera maklum. Agaknya Ki Gede masih ingin menikmati kebersamaannya dengan Nyi Selasih. Maklumlah, walaupun mereka berdua sudah melaksanakan perkawinan setahun yang lalu, namun untuk sekedar menengok keberadaan istri barunya itu, Ki Gede benar-benar harus mengatur waktu dan sekaligus menjaga jangan sampai menyinggung hati anak perempuan satu-satunya, Ratri.

Ketika Ki Gede ternyata sudah melepas tali pengikat kudanya dan kemudian meloncat ke atas punggung kudanya, barulah dengan bergegas Ki Kamituwa segera menyusulnya.

Beberapa saat kemudian kedua orang itu telah memacu kuda-kuda mereka di jalan-jalan berbatu-batu yang menjelujur dalam keremangan malam. Angin yang dingin terasa mengusap tubuh-tubuh yang lelah itu sehingga menjadi sedikit segar.

“Alangkah segarnya malam ini,” desis Ki Gede sambil memacu kudanya tidak begitu kencang, “Rasa-rasanya aku sudah lama tidak ikut nganglang di malam hari sejak pengaruh orang yang mengaku Trah Sekar Seda Lepen itu mencengkeram tanah Perdikan ini.”

“Ya Ki Gede,” sahut Ki Kamituwa yang berkuda di sebelahnya, “Terakhir Ki Gede memimpin sendiri nganglang di siang hari ketika justru berpapasan dengan Raden Surengpati, adik orang yang mengaku Trah Sekar Seda Lepen itu.”

Berdesir dada Ki Gede ketika mendengar Ki Kamituwa menyebut peristiwa yang telah terjadi beberapa hari yang lalu. Peristiwa yang telah mengubah pandangan seluruh kawula Matesih dan juga Raden Surengpati terhadap sikap diamnya selama ini.

“Untunglah aku menyempatkan diri untuk menilai kemampuanku sebelum mengambil sikap untuk membenturkan diri dengan adik orang yang mengaku Trah Sekar Seda Lepen itu,” berkata Ki Gede dalam hati sambil pandangannya menatap jauh kegelapan yang terhampar di hadapannya, “Orang berkerudung yang menolongku itu benar-benar telah membantuku mengurai simpul-simpul saraf dalam tubuhku yang selama itu menggangu penyaluran tenaga cadanganku. Seandainya saja aku dapat bertemu kembali dengan orang itu, tentu aku akan meminta petunjuk-petunjuknya untuk menyempurnakan puncak ilmuku.”

Tiba-tiba terlintas dalam benaknya sesuatu yang belum pernah terpikirkan selama ini.

“Apakah orang aneh itu adalah salah satu murid dari Perguruan Pandan Alas?” pertanyaan itu tiba-tiba saja telah memenuhi benaknya.

“Ah, tidak mungkin,” sudut hatinya yang lain membantah, “Jika memang orang itu masih satu jalur Perguruan denganku, tidak mungkin dia menggunakan cara yang aneh itu untuk membantuku. Orang itu pasti akan menunjukkan jati dirinya dalam hubungannya dengan Perguruan Pandan Alas.”

…………Namun ketika Ki Gede kemudian melemparkan pandangannya ke depan lagi, jantung pemimpin tanah Perdikan Matesih itu berdesir tajam ……..

Berpikir sampai disitu Ki Gede justru menjadi bingung. Karena menurut pengamatannya selama ini, jalur Perguruan Pandan Alas telah terpecah menjadi dua cabang, cabang Gunung Kidul di bawah kepemimpinan Ki Demang Sarayuda yang sekaligus menjadi gurunya, dan satunya adalah cucu Ki Ageng Pandan Alas itu sendiri yang telah dipersunting oleh salah seorang perwira Demak pada masa itu.

“Apakah cucu Ki Ageng Pandan Alas itu sempat menurunkan ilmunya dari cabang Pandan Alas kepada putranya?” bertanya Ki Gede dalam hati kemudian, “Atau aliran dari Perguruan Pengging yang gemilang itu yang justru kemudian mengalir dalam diri anak itu?”

Tiba-tiba jantung Ki Gede berdesir tajam. Dia dapat membayangkan jika ternyata putra satu-satunya dari Rara Wilis dan Mahesa Jenar itu justru telah mewarisi dua jalur Perguruan sekaligus, Perguruan Pandan Alas dan Perguruan Pengging.

“Alangkah dahsyatnya,” desis Ki Gede dalam hati sambil tanpa sadar menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali, “Jika dia benar-benar mampu menguasai dan menyempurnakan kedua jalur ilmunya itu, dia akan menjadi orang yang pilih tanding di seluruh tlatah tanah ini.”

Tiba-tiba jantung Ki Gede kembali berdesir tajam. Tidak menutup kemungkinan orang berkerudung yang membantu meningkatkan ilmunya itu adalah cicit dari Ki Ageng Pandan Alas sendiri.

“Kemungkinan itu memang ada,” kembali Ki Gede berangan-angan, “Usiaku baru menginjak belasan tahun ketika aku mulai berguru kepada Ki Demang Sarayuda. Saat itu beliau sudah sangat sepuh dan pemerintahan Demak sudah bergeser ke Pajang.”

Dalam pada itu, Ki Kamituwa yang berkuda di sebelah Ki Gede tidak berani mengganggu angan-angan pemimpin tanah Perdikan Matesih itu. Hanya sesekali dia mencuri pandang dan melihat betapa Ki Gede tampak beberapa kali menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Mungkin peristiwa putrinya itu masih menyisakan persoalan di hati Ki Gede,” membatin Ki Kamituwa sambil terus berkuda menjajari pemimpinnya, “Berita hilangnya Ratri dan kemudian tiba-tiba saja Ratri dengan diantar oleh Ki Ajar ingin menghadap Ki Gede, benar-benar telah memusingkan kepalaku.”

Namun walaupun sebenarnya ada seribu pertanyaan yang bergelayut di dalam benaknya, Ki Kamituwa tidak berani bertanya.

“Nanti pada saatnya Ki Gede pasti akan memberitahu aku apa sebenarnya yang telah terjadi,” berkata Ki Kamituwa dalam hati kemudian, “Mungkin waktunya belum tepat. Tetapi setidaknya berita hilangnya Ratri dari rumah itu tidak benar dan semoga keluarga Ki Gede segera mendapat ketenangan.”

“Ki Kamituwa,” tiba-tiba Ki Gede berbisik perlahan namun cukup mengagetkan Ki Kamituwa yang sedang tenggelam dalam lamunannya, “Engkau melihat orang yang berjongkok di atas tanggul sebelah kanan membelakangi bulak di depan kita itu?”

Berdesir dada Ki Kamituwa mendapat pertanyaan Ki Gede. Dengan cepat dilemparkan pandangan matanya jauh ke depan. Benar saja, dalam keremangan malam dia melihat bayangan samar-samar di atas tanggul sebelah kanan. Namun jarak itu masih cukup jauh sehingga Ki Kamituwa masih merasa sedikit kesulitan untuk mengenali ujud sebenarnya dari seonggok bayangan hitam di atas tanggul itu. Bagi orang kebanyakan tentu tidak mudah untuk melihatnya, namun ternyata pandangan Ki Kamituwa yang cukup tajam telah mampu mengenalinya.

“Aku memang melihatnya, Ki Gede,” jawab Ki Kamituwa tidak kalah lirihnya, “Namun aku belum yakin jika bayangan hitam itu adalah orang yang sedang berjongkok. Mungkin seonggok batu atau bahkan sebuah gerumbul perdu yang tumbuh di atas tanggul.”

Ki Gede tersenyum mendengar jawaban Ki Kamituwa. Ki Gede segera maklum, tentu kemampuan Ki Kamituwa berbeda dengan kemampuannya dalam melihat jarak yang cukup jauh, apalagi dalam keremangan malam.

Ketika jarak mereka berdua dengan bayangan itu semakin dekat, barulah Ki Kamituwa mampu mengenalinya.

“Mungkin seorang petani yang sedang menunggui aliran air di sawahnya, Ki Gede,” jawab Ki Kamituwa mencoba menduga-duga, “Sudah menjadi kebiasaan para petani untuk menunggui sawah mereka jika mendapat giliran pembagian air di malam hari.”

Ki Gede tidak menjawab hanya tampak kepalanya yang terangguk-angguk. Namun ketika Ki Gede kemudian melemparkan pandangannya ke depan lagi, jantung pemimpin tanah Perdikan Matesih itu berdesir tajam. Dalam keremangan malam, orang yang berjongkok membelakangi bulak panjang itu kini telah berdiri dan justru telah memutar tubuhnya menghadap jalan dengan kedua tangan di pinggang. Benar-benar sebuah sikap yang mendebarkan.

“Kita harus berhati-hati Ki Kamituwa,” bisik Ki Gede kembali sambil tanpa sadar tangan kanannya menggeser kedudukan keris pusakanya yang semula terselip di punggung menjadi ke lambung.

“Ya Ki Gede,” jawab Ki Kamituwa dengan suara sedikit tergetar. Entah mengapa, jantungnya seakan-akan berdetak semakin kencang. Orang yang berdiri bertolak pinggang di atas tanggul itu terlihat sangat meyakinkan dan sepertinya memang dengan sengaja sedang menunggu kehadiran mereka berdua.

Ketika langkah-langkah kaki-kaki kuda mereka semakin dekat, Ki Gede segera memberi isyarat untuk memperlambat laju kuda mereka.

Demikianlah akhirnya kuda-kuda itu berjalan semakin lambat dan akhirnya berhenti beberapa langkah saja dari tempat orang yang berdiri di atas tanggul itu.

Untuk sejenak Ki Gede dan Ki Kamituwa mencoba mengenali wajah orang berdiri di atas tanggul itu. Namun kedua orang itu segera mempunyai kesimpulan yang sama bahwa orang itu agaknya dengan sengaja telah menyembunyikan jati dirinya dengan memakai kerudung hitam yang hampir menutup seluruh bagian kepalanya. Sementara sehelai ikat kepala telah digunakan untuk menutupi sebagian wajahnya.

“Selamat malam Ki Sanak,” akhirnya Ki Gede membuka suara tanpa turun dari kudanya, “Maafkan aku sebelumnya. Jika aku boleh tahu, apakah Ki Sanak Sedang menunggu seseorang?”

“Apa pedulimu!” sahut orang di atas tanggul itu dengan serta merta. Suaranya terdengar berat dan dalam, mirip dengan geraman seekor beruang yang sedang lapar.

Berdesir dada kedua orang tua itu. Namun Ki Gede akhirnya memutuskan untuk menghindar dari tempat itu. Berkata Ki Gede kemudian sambil menggerakkan tali kendali kudanya, “Baiklah kalau begitu. Aku mohon maaf jika telah mengganggu waktumu. Kami berdua akan segera meneruskan perjalanan.”

“Tunggu!” tiba-tiba terdengar orang itu membentak keras. Suaranya menggelegar memecah keheningan udara malam.

Ki Gede dan Ki Kamituwa menjadi bingung sejenak. Kedua tangan mereka yang sudah menggerakkan kendali kuda segera diurungkan.

“Ada apa Ki Sanak?” Ki Gede lah yang kembali bertanya, “Aku tadi sudah bertanya baik-baik dan ternyata Ki Sanak tidak ada sangkut pautnya dengan kami berdua. Sekarang kami akan melanjutkan perjalanan kami. Mengapa Ki Sanak justru mencegah kami?”

“Kalian tidak boleh meneruskan perjalanan sebelum menjawab pertanyaanku!” geram orang itu sambil meloncat turun dari atas tanggul dan kemudian berdiri beberapa langkah saja dari kedua orang tua itu.

Gerakannya sama sekali tidak bersuara. Ki Gede dan Ki Kamituwa seakan-akan hanya melihat sebuah bayangan yang melayang dan kemudian berdiri di hadapan mereka berdua. Tanpa suara sama sekali.

Kembali dada kedua orang tua itu berdesir tajam. Mereka maklum bahwa yang sedang mereka hadapi tentu orang yang berilmu sangat tinggi.

“Apakah sebenarnya yang sedang terjadi?” pertanyaan itu berputar-putar dalam benak Ki Kamituwa. Ki Kamituwa yang kemampuannya merasa di bawah Ki Gede menjadi sangat gelisah.

“Apakah orang ini yang menyebut dirinya Trah Sekar Seda Lepen?” tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan dalam benak Ki Kamituwa yang justru telah membuat tubuhnya semakin menggigil. Namun melihat pemimpinnya masih bersikap tenang, hati Ki Kamituwa yang tinggal semenir itupun perlahan mengembang kembali.

Agaknya Ki Gede mempunyai anggapan yang sama dengan Ki Kamituwa. Orang yang sekarang berdiri di hadapannya sambil bertolak pinggang itu tentu salah satu pengikut Trah Sekar Seda Lepen atau justru orang itu sendiri. Namun Ki Gede yang telah mengalami lonjakan tingkatan ilmu puncaknya itu sama sekali tidak merasa gentar.

Akhirnya kesabaran Ki Gede pun telah sampai ke batas.  Betapapun juga, Ki Gede merasa wajib untuk melindungi tanah Perdikan Matesih dari gangguan orang-orang semacam ini. Maka berkata Ki Gede kemudian dengan suara sedikit membentak, “Tidak usah membuat pengeram-eram yang hanya dapat menakuti anak-anak kemarin sore. Jangan berbelit dan mencari alasan yang aneh-aneh. Katakan saja siapa sebenarnya Ki Sanak dan apa kepentingan Ki Sanak menghentikan kami!?”

Sejenak orang itu terdiam. Namun tiba-tiba terdengar suara tawanya yang melengking tinggi menyakitkan telinga memenuhi udara malam di bulak panjang itu.

“Ki Sanak berdua,” berkata orang itu setelah tawanya reda, “Aku tahu kalian berdua adalah Ki Gede Matesih dan Ki Kamituwa yang pagi tadi telah memimpin pasukan pengawal Matesih segelar sepapan menghancurkan Padepokan Sapta Dhahana,” orang itu berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Nah, sekarang kalian harus menjawab pertanyaanku, kemana perginya Ki Rangga Agung Sedayu? Kalian jangan mencoba menipu aku. Aku dapat berbuat apa saja yang dapat menjadikan kalian mengaku secara sukarela atau pun terpaksa.”

Tersirap darah kedua perangkat Perdikan Matesih itu. Segera saja keduanya maklum, bahwa kemungkinan besar orang yang menyembunyikan wajahnya itu adalah pengikut Trah Sekar Seda Lepen yang menaruh dendam kepada Ki Rangga Agung Sedayu.

Maka jawab Ki Gede kemudian sambil meloncat turun dari kudanya terlebih dahulu, “Maaf Ki Sanak. Ki Sanak tidak mempunyai hak sama sekali untuk memaksa kami menjawab pertanyaan itu. Sedikit banyak kami sudah dapat meraba, di pihak manakah Ki Sanak berdiri dan kami akan bertindak tegas terhadap orang-orang yang mencoba mengacau di tanah Perdikan ini.”

“Tutup mulutmu!” geram orang berkerudung itu menggelegar, “Kalian tikus-tikus celurut tidak berharga sama sekali di hadapanku! Lebih baik segera katakan kemana perginya Ki Rangga Agung Sedayu atau kalian akan merasakan akibat dari kemarahanku!”

Namun sekarang justru Ki Gede lah yang tertawa pendek sambil memberi isyarat Ki Kamituwa yang membeku di atas punggung kudanya untuk ikut turun. Berkata Ki Gede kemudian setelah Ki Kamituwa berdiri di sebelah kuda tunggangannya, “Ki Sanak. Ki Sanak harus menyadari bahwa kami adalah berdua, sedangkan Ki Sanak hanya sendirian. Belum terhitung para peronda yang sedang nganglang di padukuhan induk maupun padukuhan-padukuhan lainnya. Dengan sebuah isyarat, mereka akan segera berkumpul di tempat ini dan kemudian beramai-ramai menangkap Ki Sanak.”

“Pengecut!” sergah orang itu dengan serta merta, “Kalian orang-orang Matesih memang pengecut, hanya berani main keroyokan, tidak berani beradu dada!”

“He? Apa salahnya?” seru Ki Gede dengan wajah yang keheranan, “Kami berada di rumah kami sendiri dan merasa terganggu dengan kehadiran Ki Sanak. Tentu tidak dapat dipersalahkan jika kami kemudian menangkap Ki Sanak untuk dimintai pertanggung jawaban atas keonaran yang Ki Sanak perbuat.”

“Gila! Gila! Gila!” bentak orang berkerudung itu berkali-kali dengan suara yang tidak terlalu keras, namun getarannya mampu mengguncang udara sekitarnya sehingga membuat dada kedua orang tua itu bagaikan dihimpit berbongkah-bongkah batu padas. Sementara kedua kuda itu pun telah terlonjak kaget sambil meringkik keras. Untunglah kedua kuda itu tidak sampai melonjak-lonjak tak terkendali.

Ki Gede yang pada dasarnya telah memiliki tingkat ilmu olah kanuragan yang tinggi, awalnya memang sedikit terpengaruh. Namun seiring dengan perlawanan yang muncul dengan sendirinya dari dalam tubuhnya, pengaruh serangan getaran ilmu orang berkerudung itu dengan cepat dapat dihilangkannya.

“Sejenis ilmu gelap ngampar atau senggoro macan,” berkata Ki Gede dalam hati sambil menarik nafas dalam-dalam untuk menghilangkan sisa-sisa pengaruh getaran di dadanya. Sementara Ki Kamituwa tampak tubuhnya sedikit terbungkuk sambil kedua tangannya memegangi dadanya menahan sakit yang tiada taranya.

Namun Ki Kamituwa yang sedikit banyak telah mempelajari olah kanuragan itu segera mengerahkan ketahanan tubuhnya untuk mengurangi rasa sakit di dalam dadanya, dan agaknya lambat laun dia mulai berhasil.

“Gila!” geram Ki Kamituwa dalam hati sambil menarik nafas dalam-dalam untuk melonggarkan dadanya dan kemudian menegakkan tubuhnya kembali, “Suara tertawanya saja hampir merontokkan dadaku. Bagaimana jika dia menggunakan ilmunya untuk menyerangku?”

Namun ketika Ki Kamituwa dengan sudut matanya melihat Ki Gede terlihat sama sekali tidak terpengaruh, semangat Ki Kamituwa yang hampir padam pun menyala kembali.

“Sudahlah Ki Sanak,” berkata Ki Gede kemudian setelah melihat Ki Kamituwa berdiri tegak kembali, “Sebaiknya Ki Sanak berterus terang. Di pihak manakah Ki Sanak berdiri dan ada maksud apakah Ki Sanak menanyakan keberadaan Ki Rangga?”

“Itu bukan urusan kalian!” kembali terdengar orang itu membentak, “Memang tidak ada jalan lain kecuali membuat kalian mengaku dengan caraku. Jangan salahkan aku jika keterlanjuranku nanti justru akan membuat kalian akan menderita cacat seumur hidup!”

Untuk kesekian kalinya desir tajam menggores jantung kedua perangkat Perdikan Matesih itu. Namun mereka justru telah menjadi semakin yakin bahwa orang berkerudung yang berdiri di hadapan mereka itu mempunyai maksud yang kurang baik terhadap Ki Rangga Agung Sedayu.

“Sudahlah Ki Sanak,” berkata Ki Gede kemudian sambil melepaskan tali kendali kuda tunggangannya dan mundur dua langkah, “Menyerah sajalah! Ikut kami ke banjar padukuhan induk! Di sana Ki Sanak akan kami perlakukan sebagaimana paugeran yang berlaku di Perdikan ini. Kami terpaksa melakukan ini demi keamanan dan ketertiban di Perdikan Matesih.”

“Omong kosong!” sergah orang berkerudung itu sambil bergeser setapak ke samping, “Mengapa orang-orang selalu berlindung di balik sebuah paugeran untuk bertindak sewenang-wenang? Aku belum terbukti melakukan sebuah kesalahan, mengapa aku harus kalian tangkap?”

“Bukan begitu maksudku Ki Sanak,” sela Ki Gede cepat, “Aku hanya mengajak Ki Sanak untuk bersama sama dengan kami ke banjar padukuhan induk. Di sana Ki Sanak dapat menjelaskan secara gamblang, ada keperluan apa Ki Sanak mencari keberadaan Ki Rangga.”

bersambung ke bagian 2