STSD-10

kembali ke STSD-09 | lanjut ke STSD-11

DALAM PADA ITU, pendengaran Ki Patih Mandaraka dan Pangeran Pati yang sangat tajam melebihi orang kebanyakan ternyata telah menangkap suara ringkikan kuda Panembahan Hanyakrawati. Suara ringkikan kuda itu terdengar cukup keras seolah-olah mengisyaratkan kuda itu sedang mendapatkan sebuah petaka.

“Sebentar, Pangeran!” seru Ki Patih sambil mengekang tali kendali kudanya dengan tiba-tiba sehingga kuda itu telah terkejut dan berhenti seketika dengan mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi. Sementara Pangeran Pati yang berkuda di sebelahnya pun  kemudian berbuat serupa.

“Eyang Buyut Mandaraka,” berkata Pangeran Pati kemudian sambil mengendalikan kudanya yang agak terkejut karena dikekang dengan tiba-tiba, “Mengapa kita justru berhenti? Aku mendengar kuda Ayahanda Prabu telah meringkik keras. Mungkin telah terjadi sesuatu dengan Sinuhun Prabu.”

“Sabarlah Pangeran,” jawab Ki Patih perlahan sambil mengerutkan keningnya dalam-dalam. Sejenak dipandanginya hutan di hadapannya yang membujur di sebelah barat padang rumput itu. Panggraita Ki Patih merasakan sebuah isyarat tentang bahaya yang sedang menghadang di sepanjang jalur jalan setapak yang menjelujur di hadapan mereka berdua.

“Apakah kita akan meneruskan perjalanan, Eyang Buyut?” bertanya Pangeran Pati kemudian dengan suara terdengar sedikit tidak sabar begitu melihat Ki Patih hanya termangu-mangu di atas punggung kudanya.

“Ya, Pangeran,” jawab Ki Patih kemudian sambil meloncat turun dari kudanya, “Kita lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.”

Pangeran Pati Mataram itu pun menjadi heran. Namun Pangeran yang semasa mudanya bernama Mas Rangsang itu pun akhirnya ikut meloncat turun juga dari kudanya.

“Mengapa kita justru berjalan kaki, Eyang Buyut?” kembali Pangeran Pati bertanya sambil menuntun kudanya mengikuti langkah kaki Ki Patih.

“Pangeran,” jawab Ki Patih yang juga menuntun kudanya sambil menjajari Raden Mas Rangsang, “Aku merasakan ada suatu bahaya yang sedang menunggu di sepanjang jalur jalan setapak di hadapan kita itu. Firasatku mengatakan demikian. Sebaiknya kita berjalan kaki saja agar lebih siap jika menghadapi sesuatu yang tak terduga.”

Terasa sebuah desir yang sangat tajam menggores jantung Pangeran Pati. Betapapun juga jawaban Ki Patih itu telah membuatnya semakin gelisah dan mengkhawatirkan akan nasib Ayahandanya.

Setelah menarik nafas panjang untuk sekedar meredakan getar-getar di dalam dadanya, Pangeran Pati itu pun kemudian kembali bertanya, “Bagaimana dengan Ayahanda Prabu? Apakah kita tidak segera menyusulnya? Aku takut bahaya itu justru menghadang Ayahanda Prabu sendiri.”

Sekilas Ki Patih berpaling. Jawabnya kemudian, “Pangeran, kadang kita memang dihadapkan pada dua pilihan yang sangat sulit. Namun jika memang aku diharuskan memilih, aku memilih untuk menyelamatkan masa depan, masa depan seluruh kawula Mataram yang sangat bergantung dengan apa yang mungkin saja akan terjadi pada saat ini.”

Tampak kerut merut di dahi Pangeran Pati itu semakin dalam. Sambil berpaling ke arah Ki Patih yang berjalan di sisinya, dia kembali bertanya, “Apa maksud Eyang Buyut dengan masa depan itu? Aku benar-benar tidak mengerti.”

Ki Patih tersenyum mendengar pertanyaan Pangeran Pati itu. Jawabnya kemudian sambil menggeleng lemah, “Aku juga tidak mengerti apa yang akan terjadi kemudian, Pangeran. Namun aku hanya berusaha mengurai getar-getar firasat yang begitu kuatnya mencengkam jantungku. Semoga semua firasat ini hanyalah sebuah kegelisahan orang tua yang sudah mulai pikun seperti aku ini. Tetapi aku yakin Yang Maha Agung pasti akan memberikan yang terbaik bagi hambaNya yang selalu berjalan mengikuti paugeran-paugeran yang telah disampaikan melalui utusanNya.”

Keterangan Ki Patih itu ternyata tidak menjadikan hati Pangeran Pati menjadi tenang. Justru kegelisahan semakin terasa menghentak-hentak jantungnya. Sementara langkah kedua Priyagung Mataram itu sudah semakin mendekati jalur jalan setapak di dalam hutan sebelah barat padang rumput itu.

Dalam pada itu Raden Wirasena menjadi heran karena derap langkah kaki-kaki kuda itu tiba-tiba saja telah berhenti dan tidak terdengar lagi.

“He? Apa sebenarnya yang telah terjadi?” bertanya Raden Wirasena dengan suara berbisik kepada Kiai Dandang Mangore yang bersembunyi di sebelahnya, “Langkah-langkah kuda itu tidak terdengar lagi?”

Kiai Dandang Mangore tidak menjawab. Sambil mencoba mengetrapkan kemampuan aji sapta pangrungu setinggi-tingginya dia menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan kedua tangan bersilang di dada. Sementara Eyang Guru yang bersembunyi beberapa langkah dari mereka berdua itu agaknya telah berbuat serupa, mengetrapkan kemampuannya untuk mendengarkan bunyi alam sekitarnya.

“Mereka berdua agaknya memilih turun dari kuda,” desis Eyang Guru yang membuat Raden Wirasena terkejut. Bahkan ketika dia kemudian berpaling ke arah Kiai Dandang Mangore, pemimpin perguruan Gandamayit itu tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Gila!” geram Raden Wirasena kemudian sambil mengepalkan kedua tangannya, “Apakah sebaiknya yang kita lakukan?”

Sejenak kedua orang tua itu tampak termangu-mangu. Namun Eyang Guru yang menyadari betapa berharganya waktu saat itu segera bergeser mendekat sambil berdesis, “Kita bergeser mendekati kelokan jalan itu. Begitu kedua orang itu muncul, kita sergap tanpa ampun.”

“Baiklah,” sahut Kiai Dandang Mangore kemudian, “Serahkan Pewaris Mataram itu kepadaku. Sementara Raden berdua dapat menahan orang dari Sela itu. Aku hanya memerlukan waktu sekejab untuk melumatkan Raden Mas Rangsang. Setelah itu aku akan membantu Raden berdua menghancurkan orang yang paling licik di seluruh tlatah Mataram itu.”

“Bagaimana jika mereka berdua ternyata bukan Ki Patih dan Mas Rangsang?” sela Raden Wirasena tiba-tiba mengungkapkan begitu saja apa yang terlintas di dalam benaknya.

“Itu mungkin saja bisa terjadi, Raden,” sahut Eyang Guru dengan serta merta.

Sejenak Kiai Dandang Mangore mengerutkan keningnya dalam-dalam sambil memandang kedua orang yang berdiri di depannya itu ganti-berganti. Jawabnya kemudian tanpa banyak pertimbangan, “Siapapun yang muncul di kelokan jalan itu harus mati.”

Raden Wirasena dan Eyang Guru tidak menyahut lagi. Hanya tampak kepala kedua orang itu yang terangguk- angguk.

Namun baru saja mereka bertiga akan bergeser mendekati kelokan jalan setapak itu, tiba-tiba bumi yang mereka pijak terasa bergetar dan lamat-lamat terdengar suara gemuruh yang semakin lama semakin mendekat.

“Gila! Ada apa lagi ini?!” geram Raden Wirasena dengan raut wajah menegang sambil menengadahkan wajahnya dan mempertajam pendengarannya.

Namun agaknya Eyang Guru dan Kiai Dandang Mangore yang sudah putus segala kawruh lahir maupun batin itu segera menyadari bahwa suara gemuruh yang semakin mendekat itu adalah suara derap puluhan ekor kuda yang sedang dipacu menuju ke tempat mereka.

Dalam pada itu Ki Patih dan Mas Rangsang yang sudah mulai memasuki lorong jalan setapak dalam hutan itu juga terkejut ketika merasakan bumi yang mereka pijak bergetar bersamaan dengan terdengarnya suara bergemuruh.

Ketika kedua Priyagung itu kemudian berpaling ke belakang, tampak puluhan ekor kuda sedang dipacu memasuki padang dari arah pesanggrahan.

“Para Sentana Dalem,” desis Ki Patih tanpa sadar, “Mengapa mereka tertarik untuk mengikuti kita?”

Pangeran Pati yang sedang digelisahkan akan keselamatan Ayahandanya itu sama sekali tidak menanggapi kata-kata Ki Patih. Bahkan dengan sedikit mempercepat langkahnya dia berkata, “Marilah Eyang Buyut. Aku benar-benar mengkhawatirkan keselamatan Ayahanda Prabu.”

Ki Patih yang dapat merasakan kegelisahan Pangeran Pati itu pun akhirnya segera mengikuti langkahnya.

Namun ketika langkah mereka berdua hampir mencapai kelokan jalan setapak itu, tiba-tiba saja Ki Patih kembali menahan lengan Pangeran Pati.

“Ada apa lagi, Eyang Buyut?” sergah Pangeran Pati tanpa dapat lagi menahan kesabarannya.

Ki Patih menarik nafas panjang sambil berdesis perlahan, “Ada gerakan mencurigakan di kelokan jalan setapak itu. Walaupun terdengar sangat lemah di antara suara gemuruh kaki-kaki kuda itu, namun aku masih mampu menangkapnya.”

Pangeran Pati mengerutkan keningnya dengan dada yang semakin berdentangan. Tanyanya kemudian, “Maksud Eyang Buyut, bahaya sedang menunggu kita di kelokan itu?”

“Aku tidak begitu pasti, Cucunda Buyut,” jawab Ki Patih sambil berbisik.

Sekejab kemudian sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, Ki Patih kembali mengerahkan segenap kemampuannya untuk mencoba mendengar setiap desir ranting kering yang patah terinjak maupun daun-daun perdu yang tersibak.

Namun akhirnya Ki Patih kembali mengangkat kepalanya dan mengurai kedua tangannya yang bersilang di dada. Dengan perlahan Ki Patih pun kemudian berdesis, “Syukurlah, mereka agaknya memilih untuk menghindar. Agaknya kedatangan rombongan berkuda itu telah mengubah jalan pikiran mereka.”

Selesai berkata demikian, Ki Patih justru telah berlari meninggalkan kudanya begitu saja serta Pangeran Pati untuk kemudian menghilang di kelokan jalan setapak itu.

Pangeran Pati terkejut melihat Ki Patih Mandaraka meninggalkannya begitu saja. Tanpa sadar dia segera ikut melepaskan kudanya dan berlari menyusul Ki Patih. Sementara rombongan berkuda yang berjumlah hampir dua puluhan itu telah hampir mencapai tengah-tengah padang.

Dalam pada itu, begitu Ki Patih mencapai kelokan jalan setapak itu, pemandangan yang terhampar di hadapannya benar-benar telah membuat jantung orang tua itu seakan terlepas dari tangkainya.

“Cucunda Panembahan!” teriak Ki Patih sambil memburu ke tempat Panembahan Hanyakrawati tergeletak.

Sedangkan Pangeran Pati yang belum mencapai kelokan dan telah mendengar teriakan Ki Patih telah meloncat berlari sekencang-kencangnya bagaikan dikejar hantu di siang bolong.

“Ayahanda Prabu!” teriak Pangeran Pati begitu melihat Panembahan Hanyakrawati tampak terbaring diam. Sementara Ki Patih sedang berlutut di sebelahnya.

Pangeran Pati benar-benar tidak mampu mengendalikan diri lagi. Dengan tangkasnya dia telah meloncat menghambur ke tempat Ki Patih berlutut di sebelah Panembahan Hanyakrawati. Sambil menghunus keris pusakanya dan mengangkatnya tinggi-tinggi seolah ingin menusuk langit, pewaris trah Mataram itu segera berteriak lantang, “Siapa yang telah berani dengan deksura mencederai Ayahanda Prabu?! Keluarlah! Aku tantang berperang tanding sampai salah satu di antara kita terbujur menjadi mayat!”

Namun yang terdengar justru jawaban sareh di sebelahnya, “Cucunda Buyut, sarungkanlah keris pusakamu. Mereka telah pergi dari tempat ini beberapa saat tadi. Mungkin mereka sekarang telah cukup jauh dan adalah sangat berbahaya untuk mengejar mereka di antara pepatnya hutan Krapyak ini.”

“Eyang Buyut,” sahut Pangeran Pati dengan suara bergetar serta dada yang bergelombang, “Aku bersumpah, sampai ke ujung dunia pun akan aku kejar orang yang telah berani mencederai Ayahanda Prabu.”

“Pangeran,” perlahan terdengar suara Ki Patih yang tersendat, “Cucunda Panembahan Hanyakrawati telah mangkat.”

“He?!” jika saja ada petir yang menyambar sejengkal di atas kepalanya, Pangeran Pati tidak akan sedemikian terkejut mendengar kata-kata Ki Patih. Dengan tergesa-gesa disarungkan kembali keris pusakanya sambil berlutut di sebelah Ki Patih.

“Ayahanda Prabu!  Ayahanda Prabu!” seru Pangeran Pati berulang ulang sambil mengguncang-guncang tubuh Penguasa Mataram yang telah terbujur diam itu.

Sudahlah Pangeran, kita harus bertindak cepat,” bisik Ki Patih kemudian sambil menengok ke arah kelokan jalan setapak beberapa tombak dari tempat mereka, “Sebentar lagi………

“Sudahlah Pangeran, kita harus bertindak cepat,” bisik Ki Patih kemudian sambil menengok ke arah kelokan jalan setapak beberapa tombak dari tempat mereka, “Sebentar lagi para Sentana Dalem akan tiba. Kita harus menyembunyikan sebab mangkatnya Sang Prabu. Aku telah membuang paser yang menancap di dadanya. Lepaskanlah baju luarmu dan selimuti jasad Kanjeng Prabu agar bekas lukanya tidak tampak. Sementara aku akan membuang paser satunya yang menancap di leher kuda itu.”

Selesai berkata demikian Ki Patih segera bangkit berdiri dan berjalan ke arah kuda tunggangan Panembahan Hanyakrawati yang tergeletak beberapa langkah dari tempat itu. Sementara Pangeran Pati segera tanggap apa yang di pikirkan oleh Ki Patih. Setelah melepaskan baju luarnya dan diselimutkan ke jasad Ayahandanya, Pangeran Pati pun kemudian duduk bersimpuh dan meletakkan kepala Panembahan Hanyakrawati di pangkuannya.

Sambil duduk bersimpuh dan memangku kepala Ayahandanya, lamunan Pangeran Pati pun melayang ke peristiwa semalam ketika menerima laporan dari selir terkasihnya Rara Anjani.

“Rara Anjani,” desah Pangeran Pati kemudian sambil menatap kosong ke kejauhan, “Ternyata berita yang dibawa benar adanya. Ada sekelompok orang yang menginginkan kematian Ayahanda. Aku saja yang kurang tanggap dan terlalu percaya kepada Emban Menik.”

Teringat akan Emban Menik tiba-tiba saja darah Pangeran Pati bagaikan mendidih sampai ke ubun-ubun.

“Setelah sampai di pesanggrahan nanti, orang pertama-tama yang akan aku cari adalah Emban Menik,” geram Pangeran Pati sambil mengepalkan kedua tangannya, “Jika memang dia terbukti terlibat dalam persekongkolan jahat ini, akan aku jatuhi hukuman gantung. Tidak perduli dengan jasa-jasa dan darma bakti para pendahulunya selama ini.”

Berpikir sampai disitu hati Pangeran Pati menjadi gelisah. Pandangan matanya tak lepas dari kelokan jalan setapak itu. Menunggu memang pekerjaan yang membosankan, namun Pangeran Pati harus menunggu para penunggang kuda itu benar-benar muncul di kelokan.

Dalam pada itu rombongan berkuda para Sentana Dalem telah menyusuri jalan setapak yang menjelujur ke arah barat. Dengan segera mereka memperlambat langkah-langkah kuda itu agar mereka tidak berdesak desakan di jalan setapak yang sempit itu.

“He? Lihat! Ada dua ekor kuda yang terlepas!” seru salah seorang Sentana Dalem yang berkuda di paling depan begitu mendapatkan kuda Ki Patih dan Mas Rangsang dengan tenangnya sedang merumput di pinggir jalan.

“Tentu kuda Ki Patih dan Pangeran Pati,” sahut yang lainnya, “Tapi kemanakah mereka berdua?”

Tidak ada seorang pun yang mampu menjawab pertanyaan itu. Namun ketika rombongan itu kemudian semakin memperlambat laju kuda-kuda mereka karena melewati kelokan jalan, jantung para Sentana Dalem itu pun bagaikan meledak melihat pemandangan yang terhampar di hadapan mereka.

Bagaikan sudah berjanji sebelumnya, para Sentana Dalem itu pun segera mengekang kendali kuda-kuda mereka dan kemudian meloncat turun.

Tidak ada seorang pun yang menghiraukan kuda-kuda itu. Mereka serentak segera berlari ke tempat Pangeran Pati yang sedang memangku kepala Sinuhun Prabu dan Ki Patih yang berdiri termangu-mangu di sebelah kuda yang tergeletak tak bergerak.

“Ampun Ki Patih, ampun Pangeran, apa yang telah terjadi?” pertanyaan itu terdengar bertubi-tubi dari para Sentana Dalem yang telah mencapai tempat itu.

Pangeran Pati sama sekali tidak menjawab. Bahkan mengangkat kepalanya pun tidak. Kesedihan yang tiada taranya tampak menghiasi wajah pewaris Mataram itu.

Ki Patih yang berdiri beberapa langkah dari Pangeran Pati segera melangkah mendekat. Katanya kemudian, “Telah terjadi kecelakaan yang mengakibatkan Sinuhun Prabu meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Agaknya kuda tunggangan Sinuhun Prabu telah terjatuh dan mengakibatkan penunggangnya terjatuh pula.”

Para Sentana Dalem itu menjadi heran mendengar keterangan Ki Patih. Bagaimana mungkin putra Panembahan Senapati yang kemampuan menunggang kudanya tak diragukan lagi itu bisa tewas hanya karena terjatuh dari seekor kuda? Mereka benar-benar tidak dapat mempercayai keterangan itu.

Ketika mereka kemudian berpaling ke arah Pangeran Pati, tampak pewaris Mataram itu mengangkat kepalanya. Sorot matanya menampakkan kesedihan yang tiada taranya. Setelah menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu, barulah Pangeran Pati kemudian menjatuhkan titahnya, “Beberapa di antara kalian kembalilah ke pesanggrahan. Carilah tandu untuk membawa jasad Panembahan Prabu kembali ke pesanggrahan,” Pangeran Pati berhenti sejenak untuk sekedar menarik nafas. Lanjutnya kemudian, “Kirim utusan ke kota Raja malam ini juga untuk mengabarkan berita duka ini.”

“Jangan lupa untuk memerintahkan beberapa Pekatik dengan membawa peralatan untuk mengubur kuda tunggangan Sinuhun Prabu,” Ki Patih menambahkan sambil ikut berlutut di sebelah Pangeran Pati.

Untuk beberapa saat para Sentana Dalem itu masih berdiri termangu-mangu. Mereka benar-benar tidak dapat mempercayai apa yang telah terjadi. Namun ketika Ki Patih kemudian memberi isyarat untuk segera melaksanakan perintah Pangeran Pati itu, beberapa Sentana Dalem pun segera menghaturkan sembah dan kemudian berlari menuju ke arah kuda-kuda mereka. Sedangkan sisanya setelah menghaturkan sembah terlebih dahulu telah ikut duduk bersila beberapa langkah di hadapan jasad Panembahan Hanyakrawati sambil menundukkan kepala dalam-dalam.  Sementara langit pun mulai diliputi kegelapan, segelap hati orang-orang yang sedang menunggui jasad Panembahan Hanyakrawati.

Dalam pada itu, pesanggrahan hutan Krapyak pun menjadi gempar ketika para Sentana Dalem yang mengabarkan berita duka itu telah sampai. Jerit tangis para emban yang telah mendengar mangkatnya Sang Prabu telah menambah suasana menjadi kisruh. Penjagaan prajurit di pesanggrahan pun telah ditingkatkan menjadi kesiagaan tertinggi. Pasukan khusus pengawal Raja pun sebagian telah dikirim ke hutan Krapyak untuk menjemput jasad Sinuhun Prabu. Sementara Ki Lurah Adiwaswa sebagai salah satu perwira yang bertugas malam itu segera mengumpulkan anak buahnya.

“Awasi setiap jengkal tanah di pesanggrahan ini. Jangan sampai ada yang berusaha lolos di saat kita sedang disibukkan menyambut jenazah sang Prabu,” berkata Ki Lurah Adiwaswa kemudian memberikan perintah kepada para pemimpin kelompok prajurit yang bertugas malam itu.

“Ki Lurah,” berkata seorang pemimpin kelompok prajurit yang berbadan kekar, “Di beberapa tempat di pesanggrahan ini tidak dilindungi oleh dinding yang tinggi, terutama di sebelah barat dekat dengan padang rumput itu. Apakah kita perlu memasang pagar betis di sekelilingnya untuk menjaga segala kemungkinan.”

“Engkau benar,” jawab Ki Lurah Adiwaswa dengan serta merta, “Panggil beberapa prajurit yang sedang lepas tugas. Keadaan benar-benar darurat. Kita kerahkan segala kekuatan untuk menjaga keamanan dan kemungkinan lain yang dapat saja terjadi,” Ki Lurah berhenti sejenak. Diedarkan pandangan matanya ke arah para pemimpin kelompok prajurit itu sejenak. Lanjutnya kemudian dengan suara yang sedikit perlahan, “Aku tidak yakin sang Prabu mangkat karena terjatuh dari kuda. Aku mempunyai perhitungan lain. Untuk itu tidak ada jeleknya kita waspada. Kita tidak tahu sekarang ini siapa yang menjadi kawan dan siapa sebenarnya yang telah menyeberang menjadi lawan. Namun jangan saling bercuriga, tetaplah menjaga kewaspadaan di setiap saat. Jika terjadi hal-hal yang mencurigakan, segera laporkan.”

Para pemimpin kelompok prajurit itu terlihat mengangguk-anggukkan kepala mereka. Memang berita yang mereka terima dari para Sentana Dalem, Sinuhun Panembahan Hanyakrawati telah terjatuh dari kuda tunggangannya sehingga tewas. Namun banyak orang meragukan keterangan itu. Putra Panembahan Senopati itu sebagaimana Ayahandanya, juga seorang yang ahli menunggang kuda. Bagaimana mungkin bisa terjatuh dari kuda dan mengakibatkan meninggalnya sang Prabu.

“Panembahan Senapati semasa mudanya memang terkenal sebagai seorang ahli penunggang kuda yang tiada taranya di seluruh Pajang,” berkata seorang pemimpin kelompok prajurit yang bermata sipit dalam hati, “Dengan kepiawiannya menunggang kuda itulah Panembahan Senapati yang waktu itu bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar berhasil menyarangkan ujung tombak Kiai Pleret ke lambung Harya Penangsang.”

“Nah, aku kira sudah cukup,” berkata Ki Lurah Adiwaswa kemudian membuyarkan lamunan pemimpin kelompok prajurit yang bermata sipit itu, “Silahkan kembali ke tempat tugas masing-masing,” Ki Lurah berhenti sejenak. Kemudian kepada pemimpin kelompok prajurit yang berbadan kekar itu dia melanjutkan, “Jangan lupa tugasmu membuat pagar betis di pesanggrahan sebelah barat dekat padang rumput itu.”

“Baik Ki Lurah,” pemimpin kelompok yang berbadan kekar itu pun menyahut.

*****

Demikianlah pesanggrahan yang semula tenang itu telah berubah menjadi hiruk pikuk sehubungan dengan berita mangkatnya Panembahan Hanyakrawati, Penguasa Mataram kedua setelah Panembahan Senapati.

Dalam pada itu, Matahari di langit sebelah barat baru saja terbenam. Namun sinar kemerahan yang redup masih tampak menghiasi langit sehingga suasana benar-benar belum gelap seluruhnya. Di saat para penghuni pesanggrahan hutan Krapyak sedang disibukkan dengan penyembuhan jenasah Sang Prabu, tanpa menarik perhatian, dua orang perempuan sedang berjalan tersaruk-saruk di dalam lebatnya hutan Krapyak sebelah timur. Dua orang perempuan yang berbeda USIA cukup jauh itu tampak masing-masing menggendong sebuah buntalan kecil.

Berkali-kali mereka berdua harus berpindah jalur yang mereka lalui. Selain hutan Krapyak memang masih cukup lebat di beberapa tempat, langit pun mulai diselimuti oleh kegelapan walaupun warna semburat merah di langit barat sedikit banyak masih menerangi alam sekitarnya.

“Menik,” berkata salah satu perempuan yang tampak sudah parobaya, “Mengapa engkau memilih menyingkir? Bukankah tidak ada seorang saksi pun ketika engkau menunjukkan kidang kencana atracak waja itu kepada Sinuhun Prabu?”

“Memang aku yakin tidak ada yang melihat kami berdua saat itu, mbok,” sahut perempuan muda yang berjalan di sebelahnya yang ternyata Emban Menik, “Namun Raden Mas Rangsang ternyata masih hidup, tidak ikut terbunuh sebagaimana rencana yang engkau sampaikan padaku, mbok. Aku yakin, begitu sampai di pesanggrahan, orang pertama kali yang akan dicari oleh Pangeran Pati adalah aku.”

“Mengapa engkau begitu yakin dengan dugaanmu itu?” bertanya perempuan parobaya itu kemudian, “Bukankah rencana itu sangat rahasia dan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya selain kita? Atas dasar apa Pangeran Pati akan mencarimu?”

“Tidak, mbok. Tidak,” desah Emban Menik dengan suara yang mirip dengan sebuah tangisan, “Rencana itu telah bocor sebelum kita berangkat ke hutan Krapyak tadi pagi.”

“He?!” seru perempuan parobaya itu tanpa mampu mengendalikan suaranya, “Apa katamu? Rencana itu sudah bocor sejak tadi pagi?”

“Ya, mbok,” jawab Emban Menik dengan suara sendat, “Bahkan rencana itu memang sudah bocor sejak semalam.”

Perempuan parobaya itu menjadi heran sehingga telah menghentikan langkah. Tanyanya kemudian dengan suara sedikit membentak, “Menik! Jika engkau sudah tahu rencana itu telah bocor, mengapa engkau diam saja? Mengapa engkau tidak memberitahu aku sehingga ketika Ki Lurah Wirabakti siang tadi menghubungi aku, aku dapat melaporkan hal itu!”

Tampak betapa wajah Emban Menik mulai bersimbah air mata lagi. Beberapa saat tadi ketika mendengar berita mangkatnya sang Prabu, hati Emban Menik sempat mengembang dan dipenuhi dengan harapan yang indah. Namun begitu didengarnya Pangeran Pati dan Ki Patih masih hidup dan sedang menunggui jasad Sang Prabu di hutan Krapyak sebelah barat, hatinya yang sudah mengembang itu langsung menciut kembali disertai dengan rasa was-was dan takut yang tiada taranya.

“Menik!” tiba-tiba bentakan kembali perempuan parobaya itu membuyarkan lamunannya, “Mengapa engkau diam saja? Di pihak manakah sebenarnya engkau sekarang ini berpijak? Kalau memang engkau sendiri yang telah membocorkan rencana itu, sekarang juga aku yang akan mencekikmu sampai mati!”

“Jangan, mbok jangan!” terdengar suara Emban Menik yang memelas sambil menjatuhkan diri berlutut di hadapan perempuan parobaya itu dan menangis sejadi-jadinya.

Perempuan parobaya itu menjadi geram melihat tingkah Emban Menik. Dengan mengumpat kasar, diraihnya sanggul Emban Menik dan kemudian ditariknya dengan kasar. Rambut Emban Menik yang hitam dan lebat itu pun jatuh terurai sampai ke pinggang.

“Ampunkan aku, mbok. Ampunkan aku mbok,” rengek Emban Menik di antara sedu sedannya sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

“Menik!” kembali perempuan parobaya itu membentak keras. Kali ini dia telah mencengkeram rambut Emban Menik dengan kedua tangannya sehingga kepala Emban Menik sedikit terangkat, “Aku tidak mau membunuhmu sebelum mendengar pengakuanmu. Sehingga jika aku memang harus membunuh, aku telah membunuh dengan benar. Membunuh seorang pengkianat!”

Kali ini Emban Menik berusaha untuk mengatasi tangisnya. Dia harus menjelaskan semua duduk permasalahannya atau perempuan parobaya yang terkenal dengan sebutan sepasang belati iblis itu terlanjur mencekiknya sampai mati.

Namun sebelum Emban Menik mampu benar-benar meredakan tangisnya, perempuan parobaya itu justru telah mendorongnya sehingga dia telah jatuh terjengkang ke belakang.

“Menik!” geram perempuan parobaya itu kemudian mirip geraman seekor harimau lapar, “Permainan apa pula yang sedang engkau tunjukkan kepadaku, he?”

Sejenak Emban Menik justru telah menghentikan tangisnya karena heran melihat perubahan sikap perempuan parobaya itu. Tanpa sadar dia telah beringsut setapak demi setapak berusaha untuk menjauhi perempuan mengerikan itu.

Namun belum sempat Emban Menik bergeser menjauh, kembali perempuan parobaya itu membentak sambil menunjuk ke arah hidungnya, “Apakah engkau sangka aku dengan mudahnya dapat dijebak, he? Beritahu kawanmu itu untuk segera menampakkan diri! Jangan hanya berani sembunyi dan kemudian menyerangku dengan cara seorang pengecut!”

Emban Menik benar-benar tidak tahu apa maksud perempuan parobaya itu membentak-bentaknya. Untuk beberapa saat dia justru telah membeku di tempatnya.

Agaknya perempuan parobaya itu sudah tidak sabar lagi. Sambil matanya memandang ke arah pohon besar beberapa langkah di samping kiri Emban Menik, dia membentak kasar, “Keluarlah pengecut! Jangan hanya berani bersembunyi di balik pohon! Jika engkau memang punya cukup nyali, hadapi sepasang belati iblis dari lembah Merapi ini!”

Selesai berkata demikian perempuan parobaya itu dengan cepat segera menyingsingkan kain panjangnya. Kini tampak pakaian khusus yang dikenakan di balik kain panjangnya tadi. Sementara kedua tangannya telah menggenggam sepasang belati panjang yang selama ini disembunyikan di dalam buntalan pakaiannya.

Sejenak suasana menjadi sunyi. Emban Menik yang telah menghentikan tangisnya itu benar-benar membeku bagaikan patung batu. Dia benar-benar tidak mengerti dan belum mampu menilai segala tingkah polah perempuan parobaya itu.

Namun belum sempat Emban Menik menilai perubahan keadaan itu, tiba-tiba terdengar sebuah desir langkah dari arah samping kirinya. Ketika Emban Menik kemudian berpaling, dari balik sebuah pohon di samping kirinya muncul bayangan seseorang yang sudah sangat dikenalnya.

“Kakang! Kakang Jajar Kawung!” teriak Emban Menik sambil tergesa-gesa bangkit berdiri dan langsung menghambur ke dalam pelukan orang yang baru datang itu.

Begitu dirinya berada dalam pelukan Jajar Kawung, orang yang menjadi tempatnya bergantung selama ini, tangis Emban Menik pun pecah kembali.

“Kakang, aku takut kakang,” rengek Emban Menik di antara isaknya sambil menyembunyikan kepalanya dalam-dalam di dada kekasihnya itu.

“Sudahlah Menik. Tahan tangismu,” bisik Jajar Kawung sambil membelai rambut Emban Menik yang terurai panjang sampai pinggang, “Aku ada di sini. Jangan takut lagi. Semuanya sudah terlanjur terjadi, kita harus berani bersama-sama untuk menghadapi semua kejadian ini.”

Selesai berkata demikian, Jajar Kawung segera melepaskan pelukan Emban Menik. Dia harus waspada dengan perempuan parobaya yang berdiri beberapa langkah saja dari mereka berdua itu. Perempuan kepercayaan Kiai Dandang Mangore yang sengaja disusupkan ke kalangan Istana.

Emban Menik agaknya tanggap dengan maksud kekasihnya itu. Setelah mengusap air matanya terlebih dahulu, dia segera bergeser dan berdiri di belakang Jajar Kawung.

“Nah, apakah sudah cukup kalian berdua berkesan?” bertanya perempuan parobaya itu kemudian sambil tertawa mengejek,      “Jika sudah cukup puas, aku akan segera meresmikan dan sekaligus mengantarkan kalian menjadi sepasang pengantin di alam baka. Di alam sana kalian akan bebas bercumbu rayu tanpa merasa terganggu oleh siapapun.”

Jajar Kawung menarik nafas dalam-dalam mendengar kata-kata perempuan parobaya itu. Jauh di lubuk hatinya terbesit sebuah penyesalan telah ikut bergabung dengan perempuan parobaya itu. Apalagi dia juga telah melibatkan kekasihnya. Padahal hari-hari bahagia mereka berdua tinggal menghitung hari saja.

“Apakah engkau akan pasrah, Jajar Kawung?” geram perempuan parobaya itu begitu melihat Jajar Kawung hanya berdiri diam termangu-mangu, “Jika engkau memutuskan untuk pasrah dan menyerah, ketahuilah! Aku harus mematuk mata rantai itu sampai pada kalian berdua. Percayalah, aku akan melaksanakan tugasku dengan sebaik-baiknya. Kalian berdua tidak akan mengalami kesakitan yang lama. Dengan sekali tusukan yang dalam, belati panjangku ini akan menembus jantung kalian sampai ke punggung dan sekaligus akan mencabut nyawa kalian.”

Namun yang terdengar justru suara tawa Jajar Kawung yang memuakkan. Jawabnya kemudian, “Aku setuju dengan rencanamu itu perempuan iblis! Memang mata rantai itu harus diputus, namun bukan pada kami. Aku justru berpikir untuk memutus mata rantai itu pada dirimu, perempuan iblis! Setelah itu aku akan bebas dari kejaran para pengikut orang yang mengaku Trah Sekar Seda Lepen itu. Aku dan Menik akan pergi sejauh-jauhnya dan hidup berumah tangga dengan damai, tanpa disibukkan dengan segala urusan tetek bengek dunia ini.”

“Kakang!” tiba-tiba Emban Menik yang berdiri di belakang Jajar Kawung itu telah menjerit kecil sambil kedua tangannya berpegangan erat pada lengan kekasihnya. Hatinya benar-benar ngeri membayangkan kekasihnya itu telah mengambil keputusan untuk berhadapan langsung dengan perempuan iblis itu.

Namun sekarang perempuan iblis itulah yang justru tertawa. Katanya kemudian, “Luar biasa. Seorang Jajar Juru taman ndalem Kapangeranan telah berani menantangku. Aku cabut keputusanku. Aku akan membunuhmu dengan perlahan-lahan sehingga engkau akan merasakan penderitaan yang luar biasa. Cara yang akan aku gunakan untuk menyiksamu pun belum pernah terbayangkan oleh makhluk yang bernama manusia. Engkau akan mengalami siksaan beberapa hari lamanya sebelum akhirnya mayatmu akan aku lempar ke jurang agar menjadi makanan serigala lapar.”

Emban Menik yang bersembunyi di belakang Jajar Kawung menjadi semakin gemetar. Kedua tangannya yang memeluk erat lengan kekasihnya menjadi semakin erat disertai dengan isak tangis yang tertahan-tahan.

“Menik,” desis Jajar Kawung kemudian sambil berpaling ke belakang sekilas, “Jika engkau terus memegangi lenganku, bagaimana aku akan membela diri jika perempuan itu tiba-tiba saja menyerangku?”

Mendengar perkataan Jajar Kawung, Emban Menik menjadi sadar. Perlahan dilepaskan lengan kekasihnya sambil berbisik, “Tapi aku takut kakang. Perempuan itu sangat kejam.”

Jajar Kawung tersenyum. Jawabnya kemudian sambil berbisik sangat perlahan, “Menepilah agak jauh. Jika memang terlihat aku tidak mampu lagi mengatasi perempuan iblis itu, tinggalkan tempat ini dengan segera. Pergilah sejauh mungkin dari jangkauan perempuan iblis ini.”

Mendengar perkataan kekasihnya, Emban Menik bukannya menjadi lebih tenang. Jantungnya justru terasa semakin lama semakin berdegup kencang. Namun apapun yang akan terjadi, Emban Menik telah pasrah dan percaya bahwa kekasihnya itu akan dapat mengatasi keadaan.

“Aku akan berdoa,” berkata Emban Menik dalam hati sambil melangkah menjauh dengan lutut gemetar.

Namun tiba-tiba sebuah pertanyaan melonjak dalam dadanya, “Apakah Yang Maha Agung masih berkenan mendengar doaku?”

Namun Emban Menik terus melangkah dan memilih duduk di bawah sebatang pohon besar yang akar-akarnya tampak menonjol keluar.

Dalam pada itu, Jajar Kawung segera menghunus senjatanya, sebuah pedang pendek yang tampak berkilat-kilat tertimpa cahaya lemah dalam hutan itu.

Perempuan parobaya itu mendengus keras begitu melihat Jajar Kawung telah menggenggam senjatanya. Medan tempat mereka akan bertempur dalam hutan itu memang sangat sempit. Mereka harus membuat perhitungan-perhitungan yang cukup jeli agar tidak terjebak di antara pohon-pohon yang tumbuh cukup rapat berjajar-jajar.

“Aku belum mengetahui tingkat ilmu orang ini,” membatin perempuan parobaya itu sambil menggeser kakinya selangkah ke samping, “Yang aku tahu dia adalah murid salah satu perguruan yang berada di pinggiran kota Raja. Perguruan yang tidak begitu terkenal dan didirikan oleh seseorang yang juga kurang terkenal.”

Berpikir sampai disitu, perempuan parobaya itu segera membentak nyaring sambil meloncat maju. Sepasang belati panjangnya bergerak menyilang membabat leher.

Jajar Kawung sadar lawannya tentu memiliki kekuatan yang besar menilik suara angin bersiutan yang menyertai serangannya. Akan sangat berbahaya jika dia mencoba untuk menangkis serangan itu. Namun Jajar Kawung juga harus berpikir keras untuk menghindar karena medan pertempuran itu benar-benar sempit. Mereka harus bertempur di antara pohon-pohon dan semak belukar.

Namun Jajar Kawung yang telah tuntas menyadap ilmu dari perguruannya itu segera mengambil sikap. Sebelum serangan lawannya menebas leher, dia segera meloncat ke samping, ke balik sebuah pohon. Ketika serangan lawannya itu mengenai tempat kosong, dari balik pohon justru Jajar Kawung yang menjulurkan senjatanya mengarah lambung lawannya yang terbuka lebar.

“Iblis!” umpat perempuan itu sambil menggerakkan tangan kanannya ke bawah menangkis serangan Jajar Kawung.

Benturan keras pun segera terjadi. Sejenak suasana yang remang itu menjadi terang sekejab karena percikan bunga-bunga api yang terlontar ke udara.

Dengan cepat keduanya segera mundur ke belakang untuk memeriksa senjata masing-masing. Ternyata senjata-senjata itu memang terbuat dari bahan pilihan sehingga benturan yang cukup keras tadi tidak membuat senjata-senjata itu cidera.

Untuk beberapa saat keduanya tampak masih berdiam diri. Masing-masing mencoba menilai kekuatan dan kemampuan lawan. Jajar Kawung yang lebih muda segera memikirkan siasat untuk mengulur waktu.

“Perempuan iblis ini menurut cerita yang aku dengar kemampuannya ngedab edabi,” berkata Jajar Kawung dalam hati, “Namun aku tidak yakin, di usianya yang sudah separuh abad ini kemampuannya masih sedahsyat dulu. Aku akan memancingnya bertempur berputaran di antara pohon dan semak belukar. Di saat dia kehabisan nafas, aku akan menyelesaikannya.”

Namun lamunan Jajar Kawung menjadi buyar ketika kembali perempuan itu berteriak keras sambil melancarkan serangannya kembali.

Pertempuran pun segera berkobar menjadi sengit. Jajar Kawung benar-benar menggunakan kelincahan dan kemudaannya untuk meladeni lawannya. Sedang perempuan parobaya yang merasa dirinya mempunyai kelebihan dari lawannya itu benar-benar menjadi sangat marah. Kemana pun lawannya bergerak selalu dikejarnya.

Dalam pada itu warna langit pun semakin kelam. Suasana di dalam hutan tempat kedua orang menyabung nyawa itu pun semakin gelap. Emban Menik yang duduk bersimpuh sambil tak henti-henti bibirnya memanjatkan doa, hanya dapat melihat bayangan-bayangan hitam yang berkelebatan. Dia benar-benar tidak mampu membedakan kedua ujud itu.

“Bagaimana aku harus mengambil sikap?” bertanya Emban Menik dalam hati sambil matanya tak lepas mengawasi bayangan-bayangan yang bergerak sangat cepat di hadapannya, “Aku tidak dapat membedakan mana kakang Kawung dan mana lawannya. Jika kakang Kawung terdesak dan tidak mungkin lagi bertahan, aku harus segera melarikan diri. Namun aku benar-benar kesulitan untuk membedakan dan mengikuti gerakan mereka.”

*****

Dalam pada itu, di pesanggrahan hutan Krapyak, jasad Panembahan Hanyakrawati telah disemayamkan di pringgitan. Beberapa Sentana Dalem dan Ki Patih Mandaraka tampak menunggui jenasah sang Prabu. Tidak ada seorang pun yang tampak berbicara. Semua tenggelam dalam doa masing-masing. Rencananya malam itu juga jasad sang Prabu akan dibawa kembali ke kota Raja.

Suasana di pesanggrahan itu benar-benar diselimuti duka yang mendalam. Rencana sang Prabu untuk tetirah di hutan Krapyak ternyata telah menuai bencana. Bencana yang terjadi pun tidak tanggung-tanggung, telah merenggut nyawa Panembahan Hanyakrawati sendiri sebagai penguasa tertinggi Mataram.

Ki Patih yang duduk di antara para Sentana Dalem itu tiba-tiba teringat akan Pangeran Pati. Tanpa sadar Ki Patih segera mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling pringgitan, namun bayangan Pangeran Pati itu sama sekali tidak dilihatnya.

“Kemanakah Pangeran Pati?” bertanya Ki Patih dalam hati sambil sekali lagi mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling. Satu-persatu diamat-amatinya wajah-wajah yang menunduk  dalam keremangan cahaya lampu dlupak. Namun  wajah yang sangat dikenalnya itu tidak tampak di antara mereka.

“Akan aku cari, kemana Mas Rangsang pergi,” berkata Ki Patih sambil bangkit berdiri.

Ketika seorang Sentana Dalem yang duduk di sebelahnya mengangkat wajah dan memandanginya dengan pandangan heran, Ki Patih segera berkata lirih, “Aku akan ke belakang sebentar.”

Sentana Dalem itu tidak menyahut hanya mengangguk kecil dan kemudian menundukkan wajahnya kembali. Sedangkan Ki Patih dengan tergesa-gesa segera berjalan keluar melewati pintu pringgitan.

Demikian Ki Patih berada di pendapa, segera saja dipanggilnya salah seorang prajurit yang sedang berjaga di regol depan.

Dengan bergegas prajurit itu segera berlari mendapatkan Ki Patih yang telah berdiri di ujung pendapa.

“Apakah kalian melihat Pangeran Pati?” bertanya Ki Patih kemudian begitu prajurit itu sudah berada di hadapannya.

Sambil menyembah prajurit itu pun menjawab, “Ampun Ki Patih. Sepengetahuan kami, Pangeran Pati tadi datang bersama-sama dengan rombongan yang membawa jenasah Sinuhun Prabu.”

“Ya, ya aku tahu,” sahut Ki Patih dengan serta merta, “Aku tadi juga ikut dalam rombongan itu. Maksudku, apakah kalian kemudian melihat Pangeran Pati keluar lagi dari pesanggrahan ini?”

Kembali prajurit itu menyembah sebelum menjawab. Katanya kemudian, “Mohon beribu ampun Ki Patih, kami tidak melihat lagi Pangeran Pati itu keluar  lagi dari pesanggrahan.”

“Baiklah. Terima kasih atas keteranganmu,” berkata Ki Patih kemudian, “Kembalilah bertugas.”

“Sendika Ki Patih,” jawab prajurit itu kemudian sambil menyembah dan kemudian kembali ke regol depan.

Sepeninggal prajurit itu, untuk beberapa saat Ki Patih masih berdiri termangu-mangu. Berbagai tanggapan sedang memenuhi benaknya. Ki Patih benar-benar sedang digelisahkan oleh keberadaan Pangeran Pati.

“Sasaran orang-orang yang tak bertanggung jawab itu selain Sinuhun Prabu pasti Pangeran Pati,” berkata Ki Patih kemudian dalam hati, “Kemudian sasaran berikutnya kemungkinannya adalah aku sendiri.”

“Ah,” tiba-tiba Ki Patih tersenyum sendiri.

“Apakah aku cukup berharga untuk dijadikan sasaran selanjutnya?” membatin Ki Patih kemudian sambil berjalan kembali menyeberangi pendapa menuju ke pringgitan.

Namun baru saja Ki Patih berjalan selangkah dua langkah, dari samping pendapa tampak seseorang sedang menaiki tlundak pendapa.

“Cucunda Buyut?!” seru Ki Patih agak tertahan begitu mengenali siapa yang sedang menaiki tlundak samping pendapa itu.

Yang sedang menaiki tlundak samping pendapa itu memang Pangeran Pati. Begitu mendengar seseorang telah memanggil namanya, Pangeran Pati pun segera berjalan mendekat.

“Pangeran?” sapa Ki Patih kemudian dengan kening yang berkerut-merut, “Dari mana sajakah,  Pangeran?”

Sejenak Pangeran Pati menarik nafas panjang sebelum menjawab. Kemudian sambil duduk di sehelai tikar yang ada di pendapa itu, dia pun kemudian berkata, “Eyang buyut, sebaiknya kita duduk-duduk sebentar untuk membicarakan persoalan yang menurutku ada sangkut pautnya dengan mangkatnya sang Prabu.”

Ki Patih terkejut. Dengan tergesa-gesa dia segera menempatkan diri duduk bersila tepat di hadapan Pangeran Pati.

“Katakan, Pangeran!” berkata Ki Patih kemudian setelah keduanya duduk.

Kembali Pangeran Pati menarik nafas panjang. Setelah sejenak meredakan gejolak di dalam dadanya, Pangeran Pati pun segera menceritakan kejadian semalam ketika Rara Anjani menghadap di biliknya.

“Jadi sebenarnya Rara Anjani mengetahui rencana pembunuhan ini?” bertanya Ki Patih kemudian dengan wajah yang menegang.

“Tidak seluruhnya Eyang Buyut,” jawab Pangeran Pati dengan serta merta, “Rara Anjani hanya mendengar sepotong-sepotong. Sedangkan siapakah yang bercakap-cakap di pinggir taman itu pun Rara Anjani tidak dapat memastikan, hanya menduga-duga menilik suaranya yang sepertinya pernah dikenal.”

Ki Patih termenung sejenak. Bertanya Ki Patih kemudian, “Apakah Pangeran tidak mempercayai laporan Rara Anjani?”

Pangeran Pati menggeleng lemah. Jawabnya kemudian, “Memang pada awalnya aku tidak begitu menaruh perhatian atas laporan Rara Anjani. Bagiku Emban Menik sudah aku anggap sebagai keluargaku sendiri.”

“Nah,” tiba-tiba Ki Patih sepertinya teringat akan sesuatu, “Apakah tidak sebaiknya kita menelusuri kejadian ini dari seorang emban yang benama Menik itu, Pangeran? Bukankah Pangeran membawanya serta ke pesanggrahan ini untuk melayani kebutuhan Pangeran pribadi?”

“Sudah terlambat Eyang Buyut,” sahut Pangeran Pati perlahan.

“He, terlambat?” Ki Patih berseru tertahan. Lanjutnya kemudian, “Mengapa terlambat Pangeran?”

Sambil menggeleng lemah Pangeran Pati menjawab, “Emban Menik telah pergi bersama kawan sebiliknya. Entah kemana tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.”

Ki Patih menjadi heran. Sambil mengerutkan keningnya Ki Patih pun bertanya kembali, “Begitu cepat Pangeran? Bukankah sekeliling pesanggrahan ini telah dijaga ketat dan di pagar betis?”

Pangeran Pati kembali menggeleng. Jawabnya kemudian, “Menurut panggraitaku, Emban Menik mungkin sudah merasa bahwa keselamatanya terancam. Mungkin aku juga menjadi salah satu sasaran selain Kanjeng Prabu. Sehingga ketika para Sentana Dalem datang ke pesanggrahan memberitahukan kabar duka itu, Emban Menik merasa terancam keselamatanya karena mendengar aku masih hidup, tidak ikut pralaya bersama Kanjeng Prabu.”

Sejenak wajah Ki Patih menegang. Segera saja ingatan Ki Patih tertuju saat dia berdua dengan Pangeran Pati menyusul sang Prabu.

“Agaknya rencana ini benar-benar telah tersusun dengan rapi,” berkata Ki Patih kemudian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, “Untunglah aku telah menahan Pangeran untuk menyusul Sinuhun Prabu , sehingga dengan lantaran itulah Yang Maha Agung masih melindungi Pangeran.”

“Tapi justru pada akhirnya kita tidak mampu menyelamatkan Kanjeng Prabu,” sahut Pangeran Pati cepat sehingga membuat wajah Ki Patih memerah sejenak.

“Pangeran,” berkata Ki Patih kemudian perlahan dengan suara yang sedikit di tekan, “Siapakah yang mampu menjamin keselamatan seseornag di muka bumi ini? Walaupun orang itu di beri perlindungan berupa benteng baja dan berlaksa-laksa pasukan, namun jika Yang Maha Agung menghendaki, tidak ada seorang pun yang mampu mengindar atau menolak dari kuasaNya.”

bersambung ke bagian 2