STSD-12

kembali ke STSD-11 | lanjut ke STSD-13

Bagian 1

AMPUN Kanjeng Sunan,” jawab Ki Rangga kemudian, “Bukan maksud hamba untuk meragukan kemurahan Yang Maha Agung. Kadang kita tidak menginginkan atau tidak pernah terpikirkan oleh kita untuk mendapatkan sesuatu itu. Namun mengapa Yang Maha Agung justru memberikannya kepada kita?”

Sejenak Kanjeng Sunan termenung mendengar pertanyaan Ki Rangga. Namun akhirnya Kanjeng Sunan pun menjawab, “Ki Rangga, semua yang gumelar di atas jagad raya ini adalah diciptakan dengan tujuan. Tidak ada yang sia-sia dari semua ciptaanNya itu. Tujuan diciptakannya alam dan seluruh isinya ini adalah sebagai cobaan bagi orang-orang yang mempercayai keberadaanNya. Tidak henti-hentinya kita ini selalu dalam cobaanNya, namun jika kita sabar dan selalu berjalan menurut petunjukNya serta berpasrah diri, kita akan selalu dalam pertolonganNya.”

Untuk beberapa saat Ki Rangga termenung. Lamunannya terombang-ambing ke masa lalu. Ke masa-masa untuk pertama kalinya Ki Rangga bertemu dengan Anjani.

“Pada awalnya sama sekali tidak terbesit niatku untuk membawa Anjani ke Menoreh,” berkata Ki Rangga dalam hati sambil matanya menatap langit-langit bilik yang terbuat dari anyaman bambu sederhana, “Tujuanku menjadikan Anjani sebagai taruhan hanyalah untuk membakar kemarahan kedua gurunya. Dengan demikian sebelum turun ke arena perang tanding, mereka telah tersulut kemarahannya sehingga penalarannya akan menjadi buram. Perhitungan-perhitungannya akan dipenuhi nafsu amarah sehingga menjadi wor suh dan tumpang tindih dalam mengetrapkan ilmu mereka.”

Namun ternyata pada saat itu yang terjadi kemudian adalah sebaliknya. Justru Anjani, perempuan muda yang kecantikannya mengalahkan putri-putri keraton itu merasa mendapatkan jalan untuk bisa terlepas dan terbebas dari cengkeraman kekejaman kedua gurunya.

“Seandainya aku mengetahui kedudukan Anjani terhadap kedua gurunya pada waktu itu,” kembali Ki Rangga melanjutkan lamunannya, “Tentu aku tidak akan gegabah mengajukannya sebagai persyaratan perang tanding itu.”

Semakin memikirkan persoalannya dengan Anjani, tampak Ki Rangga semakin gelisah. Tanpa sadar bibirnya berdesah perlahan sambil sepasang matanya tetap lekat menatap langit-langit bilik. Ingatannya kembali ke beberapa saat yang lalu sebelum mereka berlima berangkat ke gunung Tidar.

“Pangeran Pati telah menjatuhkan titah,” desah Ki Rangga dalam hati tanpa menyadari bahwa kegelisahannya itu sedang diperhatikan oleh Kanjeng Sunan, “Aku sama sekali tidak pernah menduga apalagi berangan-angan untuk mendapatkan seorang Putri Triman.”

Masih terbayang jelas dalam ingatan Ki Rangga ketika dia mendapat perintah menghadap Pangeran Pati di ndalem Kapangeranan malam itu juga.

“Penerimaan Putri Triman itu nantinya akan digelar bersamaan dengan wisuda kenaikan pangkat seorang prajurit yang berpangkat Rangga. Atas jasa-jasanya selama ini dalam menegakkan panji-panji Mataram, dia akan dianugrahi pangkat menjadi Tumenggung dengan gelar Tumenggung Ranakusuma,”

Demikian titah Pangeran Pati pada saat itu. Betapa sekujur tubuh Ki Rangga saat itu terasa sangat dingin bagaikan diguyur banyu sewindu. Bahkan seluruh persendiannya bagaikan terlepas satu-persatu. Ki Rangga benar-benar tidak menduga bahwa dirinya akan sinengkakake ing ngaluhur mendapat anugrah diwisuda menjadi seorang Tumenggung. Namun yang paling mendebarkan dari semua peristiwa yang rencananya akan dilaksanakan beberapa bulan ke depan itu adalah hadiah Putri Triman itu.

“Ki Rangga,” tiba-tiba terdengar suara Kanjeng Sunan membangunkan lamunan Ki Rangga, “Permasalahan apakah sebenarnya yang sedang membebani hatimu selama ini? Aku dapat merasakan kegelisahan hatimu, walaupun aku hanya dapat menduga-duga dari raut wajahmu yang terlihat sangat gelisah.”

Untuk beberapa saat Ki Rangga justru terdiam. Berbagai pertimbangan hilir mudik dalam benaknya. Namun akhirnya Ki Rangga memutuskan untuk mengungkapkan apa yang telah membebani hatinya selama ini.

“Ampun Kanjeng Sunan,” berkata Ki Rangga pada akhirnya, “Hamba sedang menghadapi sebuah permasalahan yang rumit dan hamba tidak tahu harus bagaimana menyelesaikan permasalahan itu.”

Kembali Kanjeng Sunan terlihat tersenyum simpul. Wali yang waskita itu sedikit banyak telah dapat meraba ke arah mana Ki Rangga akan mengungkapkan permasalahannya. Namun Kanjeng Sunan masih menahan diri.

“Ki Rangga,” berkata Kanjeng Sunan kemudian, “Setiap permasalahan yang sedang menimpa diri kita, pasti Yang Maha Agung tidak akan menyia-nyiakan hambaNya dan akan memberikan jalan keluar namun dengan satu syarat, kita selalu bertawakal kepadaNya dan percaya sepenuh hati akan takdirNya. Kemudian selain akan ditunjukkan jalan keluar dari permasalahan yang sedang kita hadapi, Yang Maha Agung berjanji akan memberikan rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”

Untuk beberapa saat Ki Rangga termenung. Dalam hati Ki Rangga mulai mencerna akan makna yang terkandung dalam nasehat Kanjeng Sunan itu.

“Apakah jalan keluar yang diberikan Yang Maha Agung atas permasalahan Rara Anjani selama ini adalah dengan cara menerimanya sebagai Putri Triman?” Ki Rangga Agung Sedayu bertanya-tanya dalam hati dengan jantung yang berdebaran, “Dan rejeki yang tak disangka-sangka itu adalah keputusan Sinuhun Prabu Hanyakrawati untuk mengangkatku sebagai seorang Tumenggung?”

“Ah!” tanpa sadar Ki Rangga berdesah cukup keras sehingga membuat Kanjeng Sunan mengerutkan keningnya dalam-dalam.

“Ki Rangga,” berkata Kanjeng Sunan kemudian demi melihat Ki Rangga tampak terpekur di pembaringannya, “Bolehkah aku bertanya tentang sesuatu hal yang menyangkut kehidupan pribadi Ki Rangga?”

Terkejut Ki Rangga mendengar pertanyaan dari Kanjeng Sunan itu sehingga dia telah memalingkan wajahnya. Namun sorot mata penuh wibawa Wali yang waskita itu telah membuat Ki Rangga dengan tergesa-gesa segera membuang pandangan matanya ke langit-langit bilik.

“Ampun Kanjeng Sunan,” jawab Ki Rangga kemudian setelah menarik nafas terlebih dahulu, “Hamba sama sekali tidak berkeberatan jika Kanjeng Sunan ingin mengetahui kehidupan pribadi hamba. Justru hamba merasa bersyukur jika Kanjeng Sunan berkenan memberikan nasehat dan pitutur demi kebaikan masa depan hamba.”

Terlihat Kanjeng Sunan tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Berkata Kanjeng Sunan kemudian, “Ki Rangga, peristiwa ini sudah terjadi beberapa saat yang lalu. Engkau tentu masih ingat ketika aku memintamu berangkat ke lemah cengkar untuk menolong pasukan Mataram yang sedang dalam kesulitan,” Kanjeng Sunan berhenti sejenak. Dibiarkan saja Ki Rangga sejenak mengingat-ingat peristiwa beberapa saat yang lalu itu. Lanjut kanjeng Sunan kemudian, “Sepeninggal Ki Rangga, aku telah menyaksikan sebuah perang tanding yang dahsyat antara dua orang perempuan perkasa di dalam sanggar itu.”

Terkejut Ki Rangga mendengar keterangan Kanjeng Sunan sehingga dia kembali mengangkat kepalanya. Namun dengan cepat diturunkannya kembali kepalanya. Berkata Ki Rangga kemudian, “Ampun Kanjeng Sunan, hamba tidak tahu siapakah kedua perempuan perkasa yang Kanjeng Sunan maksud? Dan untuk apakah keduanya berperang-tanding?”

“Ki Rangga,” sahut Kanjeng Sunan kemudian sambil memandang dengan tajamnya ke arah Ki Rangga, “Ketahuilah, kedua perempuan perkasa itu adalah Nyi Sekar Mirah, istrimu melawan murid Resi Mayangkara dari Gunung Kendalisada.”

Jika saja ada petir yang meledak sejengkal di atas kepala Ki Rangga pada saat itu, tentu kakak sepupu Glagah Putih itu tidak akan sedemikian terkejut sehingga telah mengangkat kepalanya dan berpaling ke arah Kanjeng Sunan.

Pernyataan dari Kanjeng Sunan yang tak terduga itu ternyata telah membuat Ki Rangga terperanjat bukan alang-kepalang. Namun begitu sepasang matanya kembali menatap sorot mata Kanjeng Sunan yang teduh dan dalam, sedalam lautan itu, seolah-olah sorot mata itu telah mampu menembus dada dan menjenguk warna jantungnya.

Bergetar dahsyat dada Ki Rangga menyadari semua itu. Sambil kembali meletakkan kepalanya di pembaringan, Ki Rangga pun kemudian berkata “Ampun Kanjeng Sunan, apakah yang Kanjeng Sunan maksud dengan murid Resi Mayangkara itu adalah Rara Anjani? Selir Pangeran Pati Mataram?”

Kanjeng Sunan tidak menjawab pertanyaan Ki Rangga. Justru sebaliknya Kanjeng Sunan kembali bertanya, “Ki Rangga, hubungan apakah sebenarnya yang terjalin antara dirimu dengan murid Resi Mayangkara itu sebelum dia diambil selir oleh Pangeran Pati?”

Sejenak Ki Rangga harus mengatur gejolak dalam dadanya sebelum menjawab pertanyaan Kanjeng Sunan. Ki Rangga menjadi ragu-ragu sejenak untuk menjawab. Dia tidak tahu harus mengawali dari mana cerita panjang kisah hubungannya dengan Rara Anjani.

Hati Ki Rangga benar-benar menjadi sangat gelisah. Jika menurut keterangan Kanjeng Sunan istrinya Sekar Mirah telah berperang tanding dengan Anjani pada saat itu, tentu persoalan yang menyangkut dirinya dengan Anjani telah diketahui oleh istrinya.

“Apa yang harus aku katakan kepada Sekar Mirah?” pertanyaan itu bagaikan meledakkan isi dadanya. Berbagai dugaan pun hilir mudik dalam benaknya sehingga akhirnya muncul sebuah dugaan atas terjadinya semua peristiwa itu.

“Apakah Pandan Wangi telah memberitahu Sekar Mirah tentang kesanggupanku memboyong Anjani ke Menoreh?” pertanyaan itu tidak mampu dijawabnya sendiri sehingga raut wajah Ki Rangga pun terlihat semakin gelisah.

“Dan pesan Adi Swandaru itu?” tiba-tiba sebuah pertanyaan lain yang tak kalah dahsyatnya melanda jantungnya.

“Ah!” kembali sebuah desah meluncur begitu saja dari bibir Ki Rangga yang terlihat masih pucat.

“Ki Rangga.” Tiba-tiba terdengar suara Kanjeng Sunan membuyarkan lamunan Ki Rangga, “Sebenarnya aku tidak ingin mencampuri urusan pribadimu terlampau jauh. Pada saat itu aku telah mencoba menanyakan akar permasalahan yang terjadi di antara mereka berdua sehingga harus diselesaikan dengan ujung senjata. Namun agaknya mereka enggan menyampaikannya kepadaku,” Kanjeng Sunan berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Demikian juga Pandan Wangi yang hadir saat itu sebagai saksi, juga enggan menjelaskan persoalan yang sebenarnya. Pandan Wangi merasa takut penjelasannya akan menimbulkan penafsiran yang berbeda sehingga dia lebih condong untuk menunggu penjelasanmu sendiri kepada istrimu.”

Untuk beberapa saat Ki Rangga tidak mampu berkata-kata. Semua persoalan itu memang berpulang kepada dirinya sendiri. Kejujurannya yang selama ini tidak pernah diragukan oleh Sekar Mirah benar-benar akan dipertaruhkan.

“Nah, Ki Rangga,” berkata Wali yang waskita itu selanjutnya seolah-olah mampu menyelami isi hati Ki Rangga, “Berusahalah memberi keterangan yang sejujurnya kepada istrimu. Memang tidak ada larangan bagi seorang laki-laki untuk menikahi lebih dari seorang perempuan, bahkan sampai empat perempuan sekalipun. Namun sesungguhnya persyaratannya sangatlah berat.”

Tanpa sadar Ki Rangga berpaling ke arah Kanjeng Sunan sambil bertanya, “Ampun Kanjeng Sunan, apakah persyaratannya itu?”

Kanjeng Sunan tersenyum menanggapi pertanyaan Ki Rangga. Dengan tetap tersenyum, Kanjeng Sunan pun justru balik bertanya, “Apakah engkau tertarik Ki Rangga?”

“Ah,” bersemu merah wajah Ki Rangga. Namun cepat-cepat dia menjawab, “Ampun Kanjeng Sunan, setidaknya tidak ada salahnya jika hamba serba sedikit mempunyai pengetahuan tentang itu.”

“Atau barangkali engkau mencoba menimbang-nimbang dirimu sendiri, sudah cukup memenuhi persyaratankah untuk melangkah ke arah itu?”

“Ah,” kembali rona merah mewarnai wajah Ki Rangga. Jauh di lubuk hatinya sebenarnyalah Ki Rangga telah digelisahkan tentang Putri Triman itu.

“Sebenarnyalah Ki Rangga,” berkata Kanjeng Sunan selanjutnya, “Persyaratan itu dikembalikan kepada diri masing-masing setiap laki-laki. Bukan permasalahan mampu atau tidaknya seorang laki-laki itu berbuat adil terhadap istri-istrinya, namun yang menjadi penekanan di dalam perintah Yang Maha Agung itu adalah, langkah yang terbaik yang harus diambil jika merasa tidak mampu berbuat adil.”

Tampak kerut merut di kening Ki Rangga semakin dalam. Dia masih merasa kesulitan untuk mencerna penjelasan wali yang waskita itu. Namun Ki Rangga tidak tahu, apa yang harus ditanyakan.

Agaknya Kanjeng Sunan mampu membaca raut wajah Ki Rangga yang sedikit kebingungan itu. Maka berkata Kanjeng Sunan kemudian, “Ki Rangga, jika seorang laki-laki sudah mulai ada sepercik niat untuk membagi cintanya dengan perempuan lain dalam bingkai sebuah rumah tangga, jangan terlalu berharap bahwa laki-laki itu pasti akan dapat berbuat adil terhadap istri-istrinya. Namun sebelum dia mulai melangkah menuju ke arah itu, dia harus memulai bertanya kepada dirinya sendiri, mampukah dia akan berbuat adil?”

Kerut merut di dahi Ki Rangga pun semakin dalam. Tanpa sadar, seolah hanya ditujukan kepada dirinya sendiri, Ki Rangga pun kemudian bertanya dengan suara perlahan, “Adakah seorang laki-laki di muka bumi ini yang mampu berbuat adil?”

Kanjeng Sunan tersenyum masam mendengar pertanyaan Ki Rangga. Jawab Kanjeng Sunan kemudian, “Kemungkinan itu sangat kecil Ki Rangga. Karena letak keadilan itu bukan pada diri laki-laki itu. Namun keadilan itu justru terletak pada diri istri-istrinya.”

Untuk sejenak Ki Rangga justru menjadi heran. Seorang laki-laki diharapkan dapat berbuat adil terhadap istri-istrinya. Namun mengapa Kanjeng Sunan justru memberikan penjelasan yang terbalik? Keadilan itu terletak pada istri-istrinya?

“Ampun Kanjeng Sunan,” akhirnya Ki Rangga yang tidak mampu menahan pertanyaan dalam dadanya itu pun mengajukan sebuah pertanyaan, “Bagaimana mungkin keadilan itu terletak pada istri-istrinya, bukan pada seorang laki-laki yang menjadi suami mereka?”

Untuk beberapa saat Kanjeng Sunan termenung. Namun akhirnya wali yang waskita itu pun menjawab, “Ketahuilah Ki Rangga, keadilan seorang suami itu memang terletak pada istri-istrinya. Maksudnya, sejauh mana hati istri-istrinya itu merasa ikhlas dan ridhlo terhadap kasih sayang maupun penghidupan yang diberikan oleh suami mereka, tanpa membandingkan antara istri satu dengan yang lainnya. Istri-istri itu hanya mempunyai satu keyakinan yang kuat bahwa suaminya adalah merupakan jembatan untuk meraih keberhasilan dalam hidup di alam kelanggengan nanti. Istri-istri itu lebih mementingkan kehidupan yang langgeng dari pada kehidupan di dunia ini yang penuh dengan permainan dan tipu daya.”

Kali ini penjelasan Kanjeng Sunan itu terasa mengethuk dinding-dinding hati Ki Rangga dan gemanya terasa sampai ke dasar hatinya yang paling dalam. Betapa selama dalam hidup bebrayan dan berumah tangga ini, Ki Rangga dan istrinya masih mengedepankan dalam meraih kebahagiaan dunia. Belum begitu menaruh perhatian yang lebih untuk meraih kebahagian abadi kelak di alam kelanggengan.

“Selama ini aku dan Sekar Mirah belum bersungguh-sungguh dalam meraih kebahagian di kehidupan kelak,” berkata Ki Rangga dalam hati, “Apa yang kami jalani dalam menyembah kepada Dzat Yang Maha Agung adalah sekedar menggugurkan kewajiban. Belum ada kesungguhan hati dalam meraih ridhloNya.”

“Ampun Kanjeng Sunan,” bertanya Ki Rangga kemudian setelah sejenak mereka berdua terdiam, “Bagaimanakah caranya agar para istri mempunyai pemahaman sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Kanjeng Sunan tadi? Menurut pengamatan hamba, mencari seorang istri yang ridhlo terhadap suaminya rasa-rasanya sama sulitnya dengan mencari seorang suami yang mampu berbuat adil.”

Terdengar Kanjeng Sunan tertawa pendek. Jawab Kanjeng Sunan kemudian, “Pemahaman itu harus dicari Ki Rangga. Jangan berdiam diri saja. Laki-laki maupun perempuan mempunyai kewajiban yang sama dalam mencari ilmu. Dengan ilmu seseorang akan bertambah pengetahuannya yang pada akhirnya akan menimbulkan pemahaman di dalam dirinya untuk menyikapi kehidupan di dunia ini.”

Tanpa sadar Ki Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara pandangan matanya menerawang ke langit-langit bilik yang terbuat dari anyaman kulit bambu yang sangat sederhana. Diam-diam Ki Rangga sedang menimbang-nimbang, bagaimana perasaan Sekar Mirah kemudian seandainya penganugerahan Putri Triman itu sudah tidak mampu dihindarinya lagi.

“Nah, Ki Rangga, apakah engkau masih tertarik untuk mencobanya?” tiba-tiba sebuah pertanyaan dari Kanjeng Sunan telah membangunkan lamunannya.

Merasa mendapat jalan untuk mengungkapkan permasalahannya, Ki Rangga pun segera berkata, “Ampun Kanjeng Sunan. Sesungguhnya Pangeran Pati Mataram telah menjatuhkan sebuah titah kepada hamba yang sangat sulit untuk hamba laksanakan. Hamba tidak tahu harus bagaimana menyikapi titah itu.”

“Apakah titah Pangeran Pati itu?” dengan serta merta Kanjeng Sunan pun bertanya.

Sejenak Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam untuk melonggarkan dadanya yang tiba-tiba saja menjadi pepat. Setelah getar di dalam dadanya menjadi sedikit reda, Ki Rangga pun kemudian menceritakan tentang perintah Pangeran Pati untuk menghadap di Istana Kapangeranan sebelum mereka berlima berangkat ke Gunung Tidar.

Ketika Ki Rangga telah menyelesaikan ceritanya, untuk beberapa saat tampak Kanjeng Sunan termangu-mangu. Kerut merut di kening Kanjeng Sunan pun tampak semakin dalam.

“Aneh,” tiba-tiba saja terdengar Kanjeng Sunan bergumam perlahan namun cukup mengejutkan Ki Rangga.

“Ampun Kanjeng Sunan?” bertanya Ki Rangga kemudian demi melihat Kanjeng Sunan hanya diam termangu.

Wajah yang biasanya sareh itu tampak sedikit resah. Namun setelah menarik nafas panjang, wajah Kanjeng Sunan pun tampak kembali tenang dan sumeleh. Betapa Kanjeng Sunan selalu berusaha bersandar dan berpasrah diri kepada Yang Maha Pemberi Hidup ini.

“Ki Rangga,” berkata Kanjeng Sunan pada akhirnya setelah sejenak terdiam, “Aku menangkap sesuatu yang aneh dengan adanya peristiwa demi peristiwa yang terjadi selama ini. Keputusan Panembahan Hanyakrawati untuk menganugerahkan pangkat Tumenggung kepadamu itu memang sudah sewajarnya sesuai dengan dharma baktimu kepada Mataram selama ini. Namun keputusan Pangeran Pati untuk sekaligus memberikan Rara Anjani sebagai Putri Triman kepadamu itulah yang masih menyisakan sebuah pertanyaan. Dan aku yakin jawaban pertanyaan itu ada di dalam dirimu sendiri.”

Kali ini Ki Rangga tidak mampu untuk mengelak lagi. Persoalannya dengan Anjani harus benar-benar tuntas sebelum dia diwisuda menjadi seorang Tumenggung.

“Ampun Kanjeng Sunan,” berkata Ki Rangga kemudian, “Jika Kanjeng Sunan berkenan mendengar cerita hamba, hamba akan menjelaskan hubungan yang telah terjadi antara hamba dengan Rara Anjani sebelum dia menjadi selir Pangeran Pati.”

“Silahkan Ki Rangga,” jawab Kanjeng Sunan dengan serta merta disertai dengan sebuah senyuman yang sareh, “Aku akan menjadi pendengar yang baik, dan semoga Yang Maha Agung akan memberikan jalan terbaik bagi kita semua, khususnya bagi dirimu dan keluargamu.”

Ki Rangga kembali menarik nafas panjang. Kali ini dia sudah bertekat untuk menceritakan apa adanya tentang hubungannya dengan Rara Anjani. Terserah bagaimana nanti penilaian Kanjeng Sunan terhadap dirinya.

Demikianlah akhirnya, Ki Rangga kembali bercerita tentang awal mulanya dia bertemu denga Anjani ketika masih menjadi murid Goh Muka dan Roh Muko, dua orang murid Perguruna Tal Pitu yang ingin membalas dendam akan kematian guru mereka, Ajar Tal Pitu.

Ketika Ki Rangga telah selesai bercerita, betapa tampak wajahnya sedikit cerah. Seolah-olah beban berat yang menghimpit dadanya selama ini telah terlepas, walaupun belum dapat dikatakan akhir dari semuanya.

Tampak Kanjeng Sunan mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar kisah Ki Rangga yang cukup pelik itu. Wali yang waskita itu pun maklum akan tujuan Ki Rangga menjadikan Anjani sebagai taruhan pada saat itu. Ki Rangga saat itu memang tidak mempunyai gambaran sama sekali tentang kekuatan lawan. Ki Rangga harus berhitung dengan cermat jika harus melawan tiga orang sekaligus. Melawan hanya dengan kekuatan kerasnya tulang dan liatnya kulit saja tidak akan cukup, harus menggunakan otak untuk menyusun siasat agar lawan terpedaya.

“Ki Rangga,” berkata Kanjeng Sunan kemudian setelah sejenak mereka terdiam, “Apa yang engkau ajukan sebagai persyaratan perang tanding itu memang dapat diterima oleh akal. Goh Muka dan Roh Muka menuntut nyawamu sebagai taruhan. Sedangkan di lain pihak, engkau mengajukan Anjani sebagai persyaratan jika engkau keluar sebagai pemenang,” Kanjeng Sunan berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Aku memahami sepenuhnya jika sebenarnya dalam hati kecilmu tidak ingin balas dendam itu menjadi berkepanjangan dan turun temurun tidak ada habis-habisnya. Disamping itu engkau mengira bahwa dengan mengusik keberadaan Anjani sebagai murid kedua orang itu, engkau berharap akan dapat menimbulkan kemarahan keduanya sehingga akan sedikit banyak mempengaruhi jalannya perang tanding.”

“Sendika Kanjeng Sunan,” jawab Ki Rangga cepat, “Namun satu hal yang hamba tidak sadari, ternyata Anjani selama itu merasa terpenjarakan oleh kedua gurunya dan sedang mencari jalan untuk melepaskan diri.”

“Sehingga persyaratan perang tanding yang engkau ajukan itu telah disambut dengan suka cita oleh Anjani,” sahut Kanjeng Sunan kemudian.

“Hamba Kanjeng Sunan. Pada saat itu hamba justru berharap Anjani akan bela pati terhadap kematian kedua gurunya,” berkata Ki Rangga selanjutnya, “Namun yang terjadi justru sebaliknya, selepas perang tanding dan berakhir dengan kematian kedua gurunya itu, Anjani benar-benar menuntut janjiku untuk membawanya ke Menoreh.”

Kembali Kanjeng Sunan tampak termenung. Namun itu hanya terjadi sesaat. Berkata Kanjeng Sunan kemudian, “Persoalan antara Ki Rangga dan Anjani sebenarnya sudah selesai ketika Pangeran Pati kemudian berkenan mengambilnya sebagai selir. Bukankah begitu seharusnya, Ki Rangga?”

“Hamba Kanjeng Sunan,” jawab Ki Rangga dengan suara sedikit parau. Setelah menelan ludah beberapa kali untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba saja menjadi sangat kering, barulah Ki Rangga melanjutkan, “Hamba baru mengerti duduk permasalahannya ketika hamba diperintahkan menghadap Pangeran Pati di nDalem Kapangeranan saat itu. Pangeran Pati telah bercerita banyak tentang Rara Anjani. Rara Anjani pun telah berterus-terang kepada Pangeran Pati tentang keadaan dirinya. Dan yang membuat Pangeran Pati memutuskan untuk menghadiahkan Rara Anjani kepada hamba sebagai Putri Triman adalah cerita Rara Anjani tentang janji hamba untuk membawanya ke Menoreh.”

Untuk sejenak suasana menjadi sunyi. Lampu dlupak yang terletak di ajug-ajug tampak berkedip-kedip tertiup angin malam yang menerobos lewat celah-celah jendela satu-satunya yang terdapat di bilik itu. Sementara nyanyian binatang malam di luar bilik terdengar bersahut-sahutan dalam irama yang ajeg.

“Ki Rangga,” berkata Kanjeng Sunan kemudian setelah sejenak mereka terdiam, “Sudah menjadi kebiasaan para Bangsawan tanah Jawa, khususnya keluarga kerajaan untuk memberikan seorang Putri Triman kepada seseorang yang dianggap telah berjasa, baik berjasa terhadap kerajaan ataupun berjasa secara pribadi. Tidak akan menjadi persoalan jika memang dalam penyerahan Putri Triman itu tetap berpegang pada tatanan dan paugeran dari kitab suci Yang Maha Agung serta sesuai dengan tuntunan UtusanNya.”

“Hamba mohon petunjuk, Kanjeng Sunan,” dengan cepat Ki Rangga segera mengajukan sebuah pertanyaan.

“Ketahuilah Ki Rangga,” berkata Kanjeng Sunan selanjutnya, “Putri Triman yang diserahkan itu sebaiknya ditanya terlebih dahulu, apakah memang dia tidak berkeberatan untuk dijadikan Putri Triman? Karena kita dilarang memaksakan kehendak terhadap seorang perempuan dengan alasan apapun serta mengabaikan apa yang menjadi keinginan hatinya. Jika memang dia tidak berkeberatan, maka Putri Triman itu harus diceraikan secara syah terlebih dahulu dan kemudian harus ada batasan hitungan waktu bagi perempuan itu untuk menunggu. Seorang laki-laki yang akan menerima Putri Triman itu tidak dapat dengan serta merta mengawininya, itu melanggar aturan Yang Maha Agung dan UtusanNya.”

Ki Rangga termangu-mangu mendengar penjelasan Kanjeng Sunan. Berbagai tanggapan muncul dalam benaknya.

“Apalagi jika perempuan itu kemudian diketahui telah mengandung dari suaminya yang terdahulu, maka masa tunggu perempuan itu untuk dinikahi adalah setelah bayi yang dikandungnya dilahirkan.”

Ki Rangga kembali menarik nafas dalam-dalam. Pengetahuannya tentang tatanan dan paugeran hidup bebrayan ini sedikit banyak menjadi bertambah. Dengan demikian jika penganugerahan Putri Triman itu jadi dilaksanakan, masing-masing yang bersangkutan, baik dirinya, Rara Anjani maupun Sekar Mirah masih mempunyai cukup waktu untuk berpikir jernih dan berunding untuk memutuskan langkah terbaik bagi kebahagiaan masa depan mereka.

“Keputusan Pangeran Pati untuk menganugerahkan Rara Anjani sebagai Putri Triman itu kelihatannya sudah sejalan dengan keinginan Rara Anjani itu sendiri,” sejenak Ki Rangga berangan-angan dalam benaknya, “Aku masih mempunyai waktu untuk menjelaskan duduk permasalahannya kepada Sekar Mirah. Apalagi jika ternyata Rara Anjani telah terbukti mengandung benih dari Pangeran Pati, waktu kami bertiga untuk mengendapkan hati dan menjernihkan akal masih cukup banyak. Semoga Yang Maha Agung memberikan jalan yang terbaik.”

“Ki Rangga,” berkata Kanjeng Sunan kemudian memecah kesunyian, “Terlepas dari kedudukan Rara Anjani yang nantinya akan menjadi Putri Triman, janji itu ibaratnya adalah hutang. Tentu saja jika janji itu berpegang pada paugeran dan tatanan yang telah digariskan oleh Yang Maha Agung. Seseorang tidak diwajibkan bahkan dilarang untuk memenuhi sebuah janji jika janji itu ternyata menyalahi paugeran dan tatanan. Namun jika janji itu baik dan akan membawa harapan kebaikan di masa mendatang, maka janji itu wajib dilaksanakan. Jika tidak, nanti di alam kelanggengan akan sangatlah berat tanggungannya bagi orang yang mengingkari janji. Sesungguhnya setiap janji itu akan dimintai pertanggung-jawabannya.”

Berdesir jantung Ki Rangga mendengar penjelasan Kanjeng Sunan itu. Tanpa sadar terloncat sebuah pertanyaan, “Mohon ampun Kanjeng Sunan, jika hamba boleh mengetahuinya, beban apakah yang harus ditanggung oleh seseorang di alam kelanggengan nanti jika dia telah mengingkari janji selama hidup di dunia ini?”

Kanjeng Sunan menarik nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Ki Rangga. Kemudian dengan suara perlahan namun sangat jelas di telinga Ki Rangga, Kanjeng Sunan pun menjawab, “Dia akan mendapatkan laknat dan taubatnya tidak akan diterima.”

Untuk sejenak suasana menjadi sunyi. Lampu dlupak yang terletak di ajug-ajug tampak berkedip-kedip tertiup angin malam …….

Bergetar sekujur tubuh Ki Rangga. Keringat dingin membasahi tengkuk dan sekujur punggungnya. Penyesalan yang sangat pun telah mendera dadanya.

“Nah, Ki Rangga,” berkata Kanjeng Sunan selanjutnya, “Ada satu hal yang aku belum mengerti dan mungkin engkau mengetahui jawabannya. Jika memang Pangeran Pati telah berkenan menganugerahkan selirnya sebagai Putri Triman kepadamu, namun mengapa Rara Anjani itu justru telah meninggalkan Istana Kapangeranan?”

Terkejut Ki Rangga mendengar penjelasan Kanjeng Sunan itu sehingga tanpa sadar dia telah mengangkat kepalanya kembali. Sepasang matanya pun segera beradu dengan pandangan mata Kanjeng Sunan yang teduh dan sareh.

“Ampun Kanjeng Sunan,” berkata Ki Rangga kemudian sambil meletakkan kembali kepalanya dan melemparkan pandangan matanya ke langit-langit bilik, “Sejauh ini hamba belum mengetahui jika Rara Anjani telah meninggalkan Istana Kapangeranan.”

Kanjeng Sunan tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Berkata wali yang waskita itu kemudian, “Ketahuilah Ki Rangga. Sebelum terjadinya benturan antara dirimu dengan Kiai Damar Sasangka, aku telah tiba terlebih dahulu di tempat engkau menyembunyikan wadagmu. Namun ternyata di tempat itu telah hadir seseorang yang aku kenal namanya hanya dari cerita yang berkembang dari mulut ke mulut. Cerita seorang Resi yang mempunyai kesaktian tiada taranya, dan Resi itu bernama Resi Mayangkara yang tinggal di bukit Kendalisada,” Kanjeng Sunan berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Dan yang aku tidak mengerti, mengapa Rara An jani yang telah menjadi selir Pangeran Pati itu juga berada di tempat itu?”

Lir kadya sinamber ing gelap luput, Ki Rangga pun terkejut bukan alang kepalang mendengar keterangan Kanjeng Sunan. Ki Rangga benar-benar tidak menduga bahwa pada saat Ww sedang menyabung nyawa dengan pemimpin perguruan Sapta Dhahana itu ternyata Rara Anjani sedang berada tak jauh dari tempatnya.

“Ampun Kanjeng Sunan,” berkata Ki Rangga kemudian setelah gejolak di dalam dadanya sedikit mereda, “Hamba benar-benar tidak habis mengerti, mengapa Rara Anjani mengikuti Resi Mayangkara? Bukankah dia seharusnya berada di nDalem Kapangeranan?”

“Itulah yang aku juga belum mengetahui sebabnya,” jawab Kanjeng Sunan kemudian sambil membetulkan letak duduknya, “Namun aku mempunyai panggraita jika kepergian selir Pangeran Pati itu atas kehendaknya sendiri,” Kanjeng Sunan berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Adapun kehadiran Resi yang namanya hanya dikenal lewat dongeng-dongeng itu pasti atas permintaan murid satu-satunya itu.”

Entah sudah untuk yang keberapa kalinya Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Hatinya kembali menjadi resah begitu mengetahui Rara Anjani telah meninggalkan nDalem Kapangeranan.

Berbagai pertanyaan pun muncul dalam benaknya. Namun Ki Rangga tidak mampu untuk sekedar mencari jawaban dari apa yang telah terjadi itu hanya menurut dugaannya saja.

Ketika terasa dadanya semakin sesak menahan pertanyaan yang tidak mampu dijawabnya sendiri, Ki Rangga pun memberanikan diri untuk mengajukan sebuah pertanyaan.

Bertanya Ki Rangga kemudian, “Mohon ampun Kanjeng Sunan. Mohon kiranya Kanjeng Sunan dapat memberikan hamba sebuah pencerahan. Apakah Kanjeng Sunan mengetahui untuk apa Resi Mayangkara dan muridnya berada di tempat itu saat benturan itu terjadi?”

Kanjeng Sunan menarik nafas terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Ki Rangga. Sejenak kemudian barulah Kanjeng Sunan menjawab, “Ketahuilah Ki Rangga, seandainya aku terlambat datang ke tempat itu, mungkin Resi Mayangkara lah yang akan membangunkan samadimu.”

Terasa sebuah desir tajam menggores jantung Ki Rangga. Ternyata Resi yang sakti itu bersama Rara Anjani telah berada di tempat persembunyian wadagnya itu beberapa saat sebelum benturan dahsyat itu terjadi.

“Seandainya Kanjeng Sunan terlambat hadir di tempat itu dan yang membangunkan aku dari alam sonyaruri adalah Resi Mayangkara, apakah yang akan terjadi selanjutnya?” pertanyaan itu melingkar-lingkar di benak Ki Rangga.

“Dan mungkin sekarang ini aku tidak dirawat di pesantren gunung Muria, akan tetapi mungkin dibawa ke Gunung Kendalisada,” kembali Ki Rangga berangan-angan, “Dan yang paling berkepentingan untuk merawat luka-lukaku tentu saja Rara Anjani.”

“Ah,” tiba-tiba tanpa sadar sebuah desah kembali meluncur dari bibir Ki Rangga Agung Sedayu.

Agaknya segala gerak-gerik Ki Rangga itu sempat tertangkap panggraita Kanjeng Sunan. Maka berkata Kanjeng Sunan kemudian, “Bersyukurlah Ki Rangga, Yang Maha Agung masih berkenan menyelamatkan dirimu. Namun sebenarnyalah aku tidak tahu yang sebenar-benarnya isi di dalam hatimu. Apakah engkau lebih senang dirawat di pesantren ini ataukah di Gunung Kendalisada?”

“Ah!” kali ini desah Ki Rangga terdengar sedikit keras disertai dengan sebuah senyum masam di bibirnya. Agaknya Wali yang waskita itu mampu meraba isi dada Ki Rangga sehingga Ki Rangga menjadi malu dibuatnya.

“Sudahlah Ki Rangga,” berkata Kanjeng Sunan selanjutnya, “Aku pada saat itu memang belum mengetahui sejauh mana hubungan kalian berdua, maksudku Rara Anjani dengan Ki Rangga. Namun yang sempat aku dengar, perempuan muda itu berkali-kali memaksa gurunya untuk mengikuti jejakku yang membawamu ke Gunung Muria. Aku yakin Resi yang sakti itu pasti bisa menyusulku jika memang itu yang diinginkannya. Namun agaknya Resi itu mengetahui hubunganmu dengan Rara Anjani sehingga dia tidak mengabulkan permohonan murid satu-satunya itu.”

Kembali sebuah desir tajam menusuk jantung Ki Rangga. Untuk beberapa saat Ki Rangga justru merasa sebuah penyesalan telah menghentak dadanya. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa sampai sejauh itu perhatian Rara Anjani kepadanya, walaupun kini dia telah mendapat kamukten sinengkakake ing ngaluhur menjadi selir Pangeran Pati Mataram.

“Aku lah yang telah menjadi biang permasalahan ini,” berkata Ki Rangga dalam hati, “Awal dari sebuah permainan yang pada akhirnya menjadi sebuah klilip di dalam rumah tanggaku.”

“Sudahlah Ki Rangga,” berkata Kanjeng Sunan pada akhirnya begitu melihat Ki Rangga lama termenung, “Aku harus segera berangkat ke Kotaraja di penghujung malam ini. Ada sebuah peristiwa penting yang tidak dapat aku jelaskan. Namun sebelum aku berangkat, apakah masih ada permasalahan yang ingin engkau sampaikan? Maksudku selain permasalahanmu dengan Rara Anjani,” Kanjeng Sunan berhenti sejenak untuk mengamati raut wajah Ki Rangga yang tampak sedikit menegang. Lanjut Kanjeng Sunan kemudian, “Aku yakin Rara Anjani sekarang ini telah mendapat perlindungan dari gurunya di Gunung Kendalisada. Permasalahan apa yang membuat Rara Anjani meninggalkan Istana Kapangeranan nanti akan aku tanyakan langsung kepada Pangeran Pati setibanya aku di Kotaraja.”

Terasa dada Ki Rangga menjadi sedikit lapang. Untuk sementara waktu permasalahan dirinya dengan Rara Anjani dapat dikesampingkan dahulu.

“Ampun Kanjeng Sunan,” berkata Ki Rangga kemudian, “Perkenankan hamba menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan ilmu yang telah hamba pelajari dari Ki Waskita.”

Kanjeng Sunan mengerutkan keningnya sejenak mendengar perkataan Ki Rangga itu. Namun Kanjeng Sunan justru telah ganti bertanya, “Apakah engkau langsung berguru kepada Ki Waskita sebagaimana engkau berguru kepada Kiai Gringsing?”

Ki Rangga yang menyadari arah pertanyaan Kanjeng Sunan itu menggeleng. Jawabnya kemudian, “Tidak Kanjeng Sunan. Hamba hanya diberi kesempatan untuk membaca kitab warisan perguruan Ki Waskita dan memahatkan seluruh isinya di dinding-dinding ingatan hamba untuk kemudian di satu kesempatan hamba pelajari secara bertahap.”

Kanjeng Sunan tersenyum. Katanya kemudian, “Ki Rangga, sesungguhnya menurut tataran sebuah perguruan, engkau bukan murid Ki Waskita, justru engkau adalah saudara seperguruan Ki Waskita itu sendiri.”

Ki Rangga tampak mengerutkan keningnya. Dengan sedikit ragu-ragu dia pun kemudian berkata, “Ampun Kanjeng Sunan. Di dalam menjalani setiap laku dari ilmu kitab perguruan Ki Waskita itu, hamba selalu meminta petunjuk dan bimbingan Ki Waskita. Ki Waskita selalu mendampingi hamba layaknya seorang guru mendampingi muridnya.”

“Engkau benar Ki Rangga,” sahut Kanjeng Sunan dengan serta merta, “Namun dengan demikian bukan berarti Ki Waskita itu seolah-olah telah menjadi gurumu. Akan tetapi lebih cenderung menjadi seorang kakak seperguruan yang membimbing dan mengarahkan kepada saudara muda seperguruannya untuk mendalami ilmu sepeninggal gurunya.”

Ki Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekarang dia dapat memaklumi, mengapa selama ini Ki Waskita membebaskan dirinya untuk memilih bagian ilmu yang mana yang ingin ditekuninya dan hanya mendampinginya dalam menjalani sebuah laku? Ki Waskita tidak menentukan sebuah tingkatan ilmu yang harus ditekuninya sebagaimana layaknya seorang guru terhadap muridnya.

“Ternyata Ki Waskita selama ini menganggapku sebagai saudara seperguruan,” berkata Ki Rangga dalam hati, “Ki Waskita dengan senang hati akan memberi petunjuk selama aku memintanya. Jika aku tidak memintanya, Ki Waskita benar-benar menyerahkan semua persoalan sepenuhnya kepadaku.”

“Nah, Ki Rangga,” bertanya Kanjeng Sunan kemudian membangunkan lamunan Ki Rangga, “Persoalan apakah yang ingin engkau sampaikan kepadaku sehubungan dengan ilmu yang engkau pelajari dari kitab Ki Waskita itu?”

“Ampun Kanjeng Sunan,” jawab Ki Rangga pada akhirnya, “Selama hamba menekuni ilmu-ilmu dari kitab Ki Waskita, hamba rasa-rasanya semakin hari semakin digelisahkan oleh isyarat-isyarat yang datang tanpa hamba kehendaki. Isyarat itu datang begitu saja tanpa hamba mampu mengenali apa arti isyarat itu. Namun jika hamba mencoba mengerahkan segenap kemampuan dan mengerahkan nalar dan budi hamba untuk meraba isyarat itu, tiba-tiba saja isyarat itu menghilang begitu saja.”

Kanjeng Sunan mengerutkan keningnya dalam-dalam mendengar uraian Ki Rangga. Setelah menarik nafas panjang terlebih dahulu, barulah Kanjeng Sunan kemudian menjawab, “Ki Rangga, sebenarnya tidak ada kewajiban di dalam diri kita untuk mempelajari sebuah ilmu untuk mengetahui masa depan. Bahkan kita dilarang untuk mencoba menebak ataupun memberitahu seseorang tentang masa depannya. Apa yang telah terjadi, sedang terjadi dan yang akan terjadi adalah mutlak kekuasaan Yang Maha Agung untuk menentukan, bukan wewenang kita untuk mengetahuinya bahkan mencoba untuk mengaturnya. Jadi, sebaiknya getaran-getaran isyarat yang mulai muncul dalam diri Ki Rangga itu sebaiknya dilupakan saja. Berdoalah untuk kebaikan setiap kali isyarat itu muncul. Dengan demikian apapun yang akan terjadi nanti sudah kita pasrahkan kepada Yang Maha Agung.”

Berdesir dada Ki Rangga mendengar uraian panjang lebar Kanjeng Sunan. Jauh di dalam lubuk hatinya, Ki Rangga merasa keberatan untuk mengabaikan getaran-getaran isyarat yang sering diterimanya itu. Namun jika memang Kanjeng Sunan menyarankan untuk mengabaikan semua itu, Ki Rangga akan mencoba meminta pertimbangan terlebih dahulu kepada Ki Waskita.

“Apakah engkau ragu, Ki Rangga?” bertanya Kanjeng Sunan selanjutnya, “Ataukah engkau merasa sayang untuk mengabaikan getaran-getaran isyarat itu? Ketahuilah Ki Rangga, mengapa aku menyarankan lebih baik engkau mengabaikan semua itu? Karena kita tidak berhak mengatur masa depan kita sendiri atau bahkan masa depan orang lain sekalipun. Selalu berprasangka baiklah terhadap kehendak Yang Maha Agung. Sehingga dalam kehidupan keseharian, kita akan selalu tenang dalam menjalaninya.”

Kembali Ki Rangga termenung untuk beberapa saat. Tiba-tiba terbesit sebuah keinginan dalam hatinya untuk menanyakan tentang isyarat yang baru saja diterimanya.

“Kabut tebal yang bergulung-gulung itu. Kemudian muncul seraut wajah yang sudah sangat aku kenal,” berkata Ki Rangga dalam hati kemudian sambil mencoba mengingat-ingat getaran isyarat yang baru saja diterima dari alam bawah sadarnya, “Wajah Rara Anjani tiba-tiba saja menghilang dan sebagai gantinya muncul berpuluh-puluh orang berkuda yang berpacu kencang menuju ke tempatku berdiri.”

Sampai disitu Ki Rangga memutuskan untuk menanyakan langsung kepada Kanjeng Sunan. Namun niat itu segera diurungkannya begitu Ki Rangga teringat akan nasehat Kanjeng Sunan.

“Lebih baik dilupakan saja dan memperbanyak doa dengan sungguh-sungguh agar Yang Maha Agung selalu memberikan yang terbaik,” berkata Ki Rangga dalam hati sambil melonggarkan dadanya dengan sebuah tarikan nafas yang panjang.

Melihat wajah Ki Rangga menjadi sedikit cerah, wali yang waskita itu pun tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Berkata Kanjeng Sunan kemudian, “Ki Rangga, itulah yang dapat aku sarankan kepadamu. Semoga bermanfaat untuk masa depanmu.”

“Sendika Kanjeng Sunan,” jawab Ki Rangga dengan serta merta. Ketika melihat Kanjeng Sunan bangkit berdiri, Ki Rangga pun berusaha untuk bangkit dari pembaringan. Namun dengan cepat segera dicegah oleh Kanjeng Sunan.

“Berbaring sajalah Ki Rangga,” berkata Kanjeng Sunan kemudian sambil tangannya memberi isyarat, “Aku akan memerintahkan Mas Santri untuk membawakanmu air, bukan sembarang air karena air itu berasal dari Tanah Suci yang dengan seijin Yang Maha Agung akan sangat bermanfaat untuk membantu memulihkan kesehatanmu.”

“Hamba Kanjeng Sunan,” jawab Ki Rangga dengan takdimnya.

“Mas Santri akan mengajarimu bagaimana membaca doa sebelum meminum air suci itu,” berkata Kanjeng Sunan selanjutnya sambil melangkah pergi setelah mengucapkan salam terlebih dahulu.

Dengan cepat Ki Rangga pun segera membalas salam itu.

Demikianlah akhirnya Ki Rangga kembali ditinggal sendiri di dalam bilik. Untuk beberapa saat Ki Rangga masih mencoba mencerna segala nasihat yang telah diberikan oleh Kanjeng Sunan. Memang ada harapan dan juga ada sedikit keraguan untuk menapak masa depan. Namun ketika Ki Rangga teringat akan pesan Kanjeng Sunan untuk selalu bersandar kepada Yang Maha Agung, hati Ki Rangga pun menjadi tenang kembali.

Dalam pada itu Kanjeng Sunan yang telah meninggalkan bilik Ki Rangga segera melangkah menuju halaman depan. Kanjeng Sunan sudah sangat paham kemana harus mencari Mas Santri.

Agaknya Mas Santri dan Glagah Putih yang sedang duduk-duduk di tlundak masjid itu segera melihat Kanjeng Sunan yang berjalan ke arah mereka. Dengan tergopoh-gopoh keduanya pun segera bangkit berdiri dan menyongsong kedatangan Kanjeng Sunan.

“Sembah sungkem kami, Kanjeng Rama,” berkata Mas Santri kemudian sambil membungkuk dan merangkapkan kedua tangannya di depan wajahnya. Glagah Putih pun segera berbuat serupa.

Kanjeng Sunan tersenyum sambil memberi isyarat keduanya untuk bersikap sewajarnya saja. Berkata Kanjeng Sunan kemudian, “Mas Santri, bawalah air minum dari Tanah Suci itu secukupnya kepada Ki Rangga. Ajari Ki Rangga membaca doa sebelum meminum air suci itu agar dengan seijin Yang Maha Agung, Ki Rangga akan mendapatkan kesembuhan dan kesehatan.”

“Sendika, Kanjeng Rama,” jawab Mas Santri sambil kembali membungkukkan badannya dan merangkapkan kedua tangannya di depan wajah. Glagah Putih pun kembali mengikuti apa yang dilakukan Mas Santri.

Sepeninggal Kanjeng Sunan, Mas Santri segera mengajak Glagah Putih meninggalkan tempat itu.

“Mas Santri,” bertanya Glagah Putih kemudian sambil mengikuti langkah putra Kanjeng Sunan itu, “Apakah yang dimaksud Kanjeng Sunan dengan air suci itu?”

Mas Santri tersenyum sambil berpaling sekilas. Tanpa menghentikan langkahnya, diapun menjawab, “Itu adalah air yang diambil dari sumur yang berada di Tanah Suci, tanah kelahiran Junjungan kita. Sumber air itu tidak pernah kering dan tidak pernah surut sepanjang masa. Airnya begitu bening sejuk dan segar. Dapat langsung diminum. Yang Maha Agung telah menganugerahkan sumber air suci itu bagi seluruh penduduk Kota Suci khususnya dan ke seluruh penjuru dunia pada umumnya.”

Glagah Putih mengerutkan keningnya dalam-dalam. Dia memang pernah mendapat cerita itu dari ayahnya. Cerita tentang sebuah kota di tengah padang pasir yang maha luas. Padang pasir itu sangat kering dan tandus. Bahkan sebagian besar tanahnya berujud batu-batuan yang keras. Namun anehnya ada sebuah sumber mata air yang berlimpah dan sangat bermanfaat bagi kehidupan.

“Apakah aku boleh mencicipinya?” tiba-tiba sebuah pertanyaan meluncur begitu saja dari bibir Glagah Putih.

Mas Santri berpaling sambil tersenyum. Jawabnya kemudian, “Aku tidak berani memastikan. Tergantung ijin dari Kanjeng Rama. Namun yang pasti Kanjeng Rama hanya memiliki sedikit air suci itu dan digunakan sebagai pengobatan.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam untuk memenuhi rongga dadanya dengan udara malam yang sejuk. Ada sedikit perasaan kecewa memang di dalam hatinya. Namun semua itu segera ditepisnya jauh-jauh. Kesehatan kakak sepupunya jauh lebih penting dari pada sekedar keingin-tahuannya untuk mencicipi air suci itu.

Demikianlah akhirnya kedua anak muda itu segera memasuki bangunan bagian samping dan langsung menuju ke ruang tengah.

****

Dalam pada itu, di sisa malam yang merambat menuju dini hari, Ki Lurah Wirabakti dan kedua prajurit pengawalnya tampak sedang menyusuri hutan Krapyak sebelah timur menuju ke ibu kota Mataram.

“Ki Lurah,” berkata salah seorang prajurit pengawalnya yang berbadan sedikit gemuk sambil tetap mengayunkan langkahnya, “Mengapa kita tidak bergabung saja dengan para pengikut Raden Wirasena di gunung Tidar?”

Ki Lurah menarik nafas terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan pengawalnya itu. Jawab Ki Lurah kemudian, “Ketahuilah kalian berdua, dengan gugurnya Panembahan Hanyakrawati, cita-cita Raden Wirasena untuk menduduki tahta ternyata masih sangat jauh. Masih ada Ki Patih Mandaraka yang penuh dengan akal licik serta Pangeran Pati Mataram.”

“Namun bukankah lebih baik jika kita bergabung dengan perguruan Sapta Dhahana di Gunung Tidar?” pengawalnya yang bertubuh agak pendek tapi cukup kekar menyahut.

“Tidak Srana,” jawab Ki Lurah tegas, “Aku mempunyai pertimbangan-pertimbangan yang cukup matang untuk menentukan langkah kita di masa datang. Terus terang, pada akhirnya aku meragukan kekuatan yang mendukung Trah Sekar Seda Lepen itu.”

“Maksud Ki Lurah?” prajurit pengawal yang bernama Srana itu dengan serta merta menyela. Sementara kawannya yang berbadan agak gemuk hanya berpaling sambil mengerutkan keningnya.

Ki Lurah menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menjawab, “Aku memang meragukan kekuatan yang mendukung Raden Wirasena. Eyang Guru dan Kiai Dandang Mangore seharusnya mampu berbuat sesuatu ketika Ki Patih Mandaraka dan Raden Mas Rangsang menyusul Panembahan Prabu.”

“Bukankah seperti yang telah disampaikan Ki Lurah kepada kami semua, bahwa gemuruh pasukan berkuda Kadang Sentana itu yang telah mengurungkan niat kedua orang tua itu menghabisi Patih Mandaraka dan Raden Mas Rangsang?”

“Betul Srana,” jawab Ki Lurah cepat, “Namun menurut perhitunganku, masih cukup waktu untuk membinasakan kedua Priyagung itu. Mungkin dengan serangan jarak jauh atau apapun. Tentulah kedua dedengkot ilmu olah kanuragan itu lebih mengetahui apa yang seharusnya mereka berdua perbuat.”

Kedua prajurit pengawalnya tampak saling pandang. Pengawal yang bertubuh agak gemuk itulah yang akhirnya bertanya, “Maaf Ki Lurah, bukankah sebagaimana keterangan Ki Lurah yang didapat dari Raden Wirasena, kedua Priyagung itu telah turun dari kuda sehingga membuat kedua orang tua itu ragu-ragu untuk melancarkan serangan?”

bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s