STSD-14

kembali ke STSD-13 | lanjut ke STSD-15

 

Bagian 1

TERNYATA sifat Ki Swandaru telah menurun kepada anaknya,” hampir setiap dada telah terguncang oleh pernyataan sikap Bayu Swandana itu.

“Kasihan Nyi Pandan Wangi,” seorang pengawal yang rambutnya mulai beruban melanjutkan angan-angannya, “Semoga Ki Argapati di Menoreh lambat laun akan mampu membentuk anak ini menjadi anak yang andap asor dan berbudi luhur serta menjadi harapan bagi masa depan kedua daerah yang besar itu.”

Sedangkan perempuan parobaya yang ternyata adalah Pandan Wangi, ibu Bayu Swandana itu justru telah terpekur di atas kudanya yang berderap perlahan. Berbagai tanggapan pun telah tumbuh di dalam hatinya.

“Ayah Demang memang terlalu memanjakannya,” berkata Pandan Wangi dalam hati sambil terus mengendalikan kudanya agar tidak berderap terlalu kencang, “Apapun tingkah lakunya selalu dibenarkan dan didukung. Mungkin kenangan atas kakang Swandaru telah membuat ayah Demang berbuat seperti itu.”

Demikianlah kelima kuda ekor itu berderap terus menyusuri pinggir hutan yang masih cukup lebat. Sesekali mereka melihat beberapa ekor kera bergelantungan di pepohonan di pinggir hutan. Terdengar suara mereka yang ribut dan saling bersahut-sahutan.

“Paman,” tiba-tiba Bayu Swandana menyelethuk, “Mengapa kera-kera itu mengikuti kita?”

Orang yang dipanggil paman itu tersenyum sebelum menjawab. Jawabnya kemudian, “Tentu saja mereka bercuriga terhadap kita. Mereka selalu bercuriga terhadap sesuatu yang mereka anggap asing dan berbahaya bagi kelompok mereka. Sebenarnyalah mereka hanya berusaha mengawal kita sampai keluar hutan untuk meyakinkan bahwa kita tidak akan mengganggu mereka.”

Tampak kepala Bayu Swandana terangguk-angguk. Kemudian sambil sedikit berteriak dia bertanya kepada Pandan Wangi yang berkuda di depan, “Biyung, masih lamakah perjalanan ini?”

Pandan Wangi yang kembali berkuda di depan berpaling ke belakang sekilas sambil menjawab, “Sedikit lagi, Ngger. Bersabarlah. Nanti setelah sampai di kediaman kakek Argapati, engkau dapat beristirahat sepuas-puasnya.”

“Aku tidak akan tidur, Biyung,” sela Bayu Swandana cepat, “Aku akan mengajak kakek Argapati untuk berkuda berkeliling perdikan Menoreh.”

Pandan Wangi tersenyum mendengar ucapan anak laki-laki satu-satunya yang terdengar penuh semangat itu. Beberapa pengawal yang ikut dalam rombongan itu pun tampak tersenyum.

“Malam-malam engkau akan berkuda, Ngger?” tiba-tiba salah seorang pengawal yang berkuda di belakang bertanya.

Bayu Swandana berusaha berpaling ke belakang untuk melihat pengawal yang bertanya itu. Namun pandangan matanya tertutup tubuh pengawal yang berkuda dengannya. Maka jawabnya sambil sedikit berteriak, “Apa salahnya berkuda malam-malam? Udara malam tidak sepanas siang hari sehingga kita tidak akan cepat lelah dan dapat berkuda sepuas-puasnya.”

“Namun kuda juga perlu beristirahat,” sahut pengawal yang berkuda bersamanya, “Sebagaimana manusia, binatang juga perlu beristirahat di malam hari.”

“Tapi kelelawar itu justru berkeliaran di malam hari,” sergah Bayu Swandana cepat, “Pohon jambu di belakang dapur itu buahnya yang sudah masak habis dimakan kelelawar. Padahal aku baru mau memetiknya keesokan harinya.”

Orang-orang yang mendengar gerutu Bayu Swandana itu tak urung telah tersenyum geli.

“Ngger, Tuhan Yang Maha Agung menciptakan makhlukNya berbeda-beda,” jawab pengawal yang berkuda dengannya sambil tersenyum sareh, “Ada makhluk yang memang menggunakan siang hari untuk bekerja dan malam hari untuk beristirahat, contohnya kita sebagai manusia. Namun ada juga makhluk yang menggunakan siang hari untuk beristirahat dan malam hari untuk mencari makan, salah satunya adalah kelelawar itu.”

“Tapi manusia kadang-kadang ada yang hidupnya seperti kelelawar,” sahut Bayu Swandana cepat.

“Apa maksudmu, Ngger?”  sahut pengawal yang berkuda bersamanya dengan kerut merut di dahi.

Bayu Swandana tertawa pendek. Jawabnya kemudian sambil tangannya kanannya menunjuk ke belakang, ke arah pengawal yang berkuda bersamanya, “Paman sendiri yang aku lihat kemarin menjadi kelelawar.”

“He?!” hampir bersamaan para pengawal yang ikut dalam rombongan itu terlonjak kaget. Tak terkecuali Pandan Wangi yang berkuda di depan pun ikut berpaling.

“Kapan aku menjadi kelelawar, Ngger?” bertanya pengawal yang berkuda bersamanya itu dengan serta merta dan nada penuh keheranan.

Kembali Bayu Swandana tertawa pendek. Jawabnya kemudian, “Kemarin lusa aku lihat paman tidur seharian di lincak dekat longkangan. Baru menjelang Matahari terbenam paman bangun dan pergi ke pakiwan belakang dapur.”

“Ah!” serentak para pengawal itu tertawa. Pandan Wangi pun tersenyum menanggapi ucapan anak semata wayangnya itu.

“Itu karena paman semalaman habis meronda ke seluruh wilayah kademangan Sangkal Putung,” berkata pengawal yang berkuda bersamanya itu kemudian, “Paman sangat mengantuk dan memang hampir seharian tidur di lincak dekat longkangan itu.”

“Nah, bukankah benar yang aku katakan,” sergah Bayu Swandana cepat, “Saat itu paman sedang menjadi kelelawar. Bekerja di malam hari dan tidur di siang hari.”

“Memang benar, Ngger,” seorang pengawal yang berkuda di belakangnya menyahut sambil memacu kudanya menjajari kuda Bayu Swandana, “Kelak engkau akan melihat banyak manusia yang hidupnya seperti kelelawar.”

“Ah, sudahlah,” tiba-tiba terdengar Pandan Wangi yang berkuda di depan memotong. Tanyanya kemudian mengalihkan pembicaraan, “Apakah kita akan melewati Kota Raja?”

“Ya, ya, Biyung. Kita lewat Kota Raja!” sahut Bayu Swandana kegirangan, “Aku belum pernah melihat Kota Raja. Alangkah indahnya! Kita dapat bermalam di Kota Raja, Biyung.”

“Sebaiknya kita menghindari Kota Raja, Nyi,” pengawal yang berkuda bersama Bayu Swandana itu lah yang menjawab, “Jika Nyi Pandan Wangi sependapat, kita sedikit ke selatan melewati kademangan Sewon yang besar. Namun aku rasa perjalanan kita tidak akan mengalami banyak hambatan. Berbeda dengan jika kita melewati Kota Raja.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya sambil berpaling sekilas ke belakang. Tanyanya kemudian, “Ada apa dengan Kota Raja jika kita melewatinya?”

“Maaf Nyi,” jawab pengawal itu, “Bukan Kota Raja itu sendiri yang menjadi masalah. Namun rombongan ini akan sangat menarik perhatian para prajurit yang menjaga pintu gerbang Kota Raja.”

“Maksudmu, pakaian yang aku kenakan ini akan menarik perhatian mereka?”

“Demikianlah, Nyi. Itu menurut perhitunganku.”

“Ada apa dengan Biyung?” tiba-tiba Bayu Swandana menyelethuk dengan nada bersungut-sungut, “Biyung terlihat sangat cantik dan gagah mengenakan pakaian itu. Apalagi biyung juga membawa sepasang pedang di lambung. Para prajurit yang menjaga pintu gerbang pasti akan ketakutan.”

Hampir semua orang dalam rombongan itu telah tersenyum mendengar ucapan Bayu Swandana.

“Tidak, Ngger,” jawab Pandan Wangi kemudian sambil mengurangi laju kudanya dan menjajari kuda yang ditunggangi pengawal bersama anaknya, “Para prajurit Mataram tidak mengenal rasa takut. Sebaiknya kita memang menghindari Kota Raja. Bukan berarti kita takut dengan para prajurit Mataram. Mereka sangat baik. Namun lebih baik kita menghindari Kota Raja. Kota Raja sangat ramai dan kemungkinannya perjalanan kita akan sangat lambat. Berbeda jika kita melewati kademangan Sewon. Kita dapat berpacu di bulak-bulak panjang sehingga setelah Matahari terbenam kita sudah akan menyeberangi Kali Progo.”

“Horee…!!!  Kita akan berpacu lagi!” seru Bayu Swandana gembira, “Aku sudah bosan naik kuda pelan-pelan. Seperti menaiki seekor kerbau.”

“Ah”, beberapa pengawal tertawa. Salah satu dari pengawal yang berkuda di belakang itu pun kemudian menyahut, “Tapi naik kerbau sangat menyenangkan. Kita dapat duduk dengan tenang sambil terkantuk-kantuk.”

Kembali terdengar orang-orang dalam rombongan itu tertawa. Bayu Swandana pun tertawa karena dia sering melakukannya jika musim menggarap sawah tiba. Kakeknya Ki Demang Sangkal Putung mempunyai kerbau yang cukup banyak sehingga dia sering ikut ke sawah sambil menaiki kerbau.

***

 

 

Dalam pada itu, Matahari masih terlihat bersinar dengan garangnya walaupun sudah tidak sepanas beberapa saat tadi. Di pringgitan banjar padukuhan induk perdikan Matesih, dekat sebuah jendela besar sehingga angin terasa sejuk memasuki pringgitan, tampak beberapa orang sedang berkumpul mendengarkan keterangan dari seorang prajurit sandi dari Mataram.

“Jadi, Sinuhun Prabu telah mangkat?” hampir bersamaan pertanyaan itu meluncur dari bibir orang-orang yang berada di pringgitan itu.

Sejenak prajurit sandi Mataram itu menarik nafas panjang sambil mengedarkan pandangan matanya ke setiap wajah yang hadir di tempat itu. Jawabnya kemudian sambil menganggukkan kepalanya dalam-dalam, “Benar, Sinuhun Prabu telah mangkat di hutan Krapyak kemarin sore karena kuda tunggangan Sinuhun mengalami kecelakaan.”

Mereka yang hadir di pringgitan itu sejenak menahan nafas. Mereka benar-benar tidak habis mengerti, bagaimana mungkin putra Panembahan Senapati yang termasyhur pandai menunggang kuda itu bisa mengalami kecelakaan ketika sedang berkuda.

“Aneh,” tiba-tiba Ki Jayaraga menyelethuk sambil mengerutkan keningnya dalam-dalam.

Serentak semua pandangan tertuju ke arah guru Glagah Putih itu.

“Apanya yang aneh, Ki?” bertanya prajurit sandi itu dengan serta merta.

“Aku hanya merasa aneh saja,” jawab Ki Jayaraga sambil menggeser duduknya setapak maju, “Sebagaimana ayahandanya, Sinuhun Prabu semasa mudanya juga sangat senang berkuda. Ketangkasannya dalam menunggang kuda juga tidak kalah dari ayahandanya, Panembahan Senapati.”

“Ki Jayaraga benar,” sahut Ki Rangga Agung Sedayu yang duduk di sebelah Ki Gede Matesih, “Sinuhun Prabu terkenal sebagai seorang penunggang kuda yang tangkas sebagaimana ayahandanya.”

Segera saja terdengar suara bergumam yang menandakan persetujuan dari orang-orang yang hadir di tempat itu.

Untuk sejenak prajurit sandi itu tertegun. Tampaknya dia sedang mempertimbangkan sesuatu untuk disampaikan. Berkali-kali pandangan matanya tertuju ke arah Ki Rangga dan kemudian beralih kepada Ki Gede Matesih dan orang-orang yang hadir di ruangan itu.

Agaknya Ki Rangga tanggap. Maka katanya kemudian, “Engkau dapat mempercayai semua orang yang hadir di tempat ini jika memang ada sebuah rahasia yang ingin engkau sampaikan. Aku sebagai jaminannya.”

Mendengar kata-kata Ki Rangga, tampak prajurit sandi itu tersenyum sambil mengangguk-angguk. Sekarang tidak ada lagi keraguan untuk menyampaikan berita rahasia itu kepada orang-orang yang hadir di pringgitan itu.

“Pada awalnya aku memang ragu-ragu untuk menyampaikan berita khusus dari Ki Patih Mandaraka ini,” prajurit sandi itu mengawali ceritanya, “Memang Ki Patih tidak menyebut satu persatu orang yang harus mendengar berita ini, namun secara khusus Ki Patih telah berpesan agar berita ini sampai kepada Ki Rangga.”

Tampak wajah-wajah yang berada di pringgitan itu menjadi tegang. Beberapa orang bahkan mulai menduga-duga berita itu walaupun hanya sebatas dalam hati.

Setelah menarik nafas dalam-dalam untuk memenuhi rongga dadanya, barulah kemudian prajurit sandi itu menceritakan kejadian sebenarnya yang menimpa Sinuhun Prabu Hanyakrawati pada saat berburu di hutan Krapyak.

“Paser beracun?” hampir bersamaan mereka yang hadir di tempat itu berseru tertahan ketika prajurit sandi itu menyebutkan penyebab wafatnya Sang Prabu.

“Apakah Ki Patih dan Raden Mas Rangsang mengetahui siapa yang telah menyerang Sinuhun dengan curang?” bertanya Ki Rangga kemudian dengan jantung yang berdebaran.

Prajurit sandi itu menggeleng. Jawabnya kemudian, “Ki Patih dan Raden Mas Rangsang telah terlambat sekejap. Kedua priyagung Mataram itu tidak berani dengan gegabah memacu kuda mereka melewati tikungan. Ki Patih justru telah mengajak Pangeran Pati untuk turun dari kuda.”

“Turun dari kuda? Mengapa?” Glagah Putih yang sedari tadi hanya menjadi pendengar yang baik ternyata tidak mampu menahan hatinya untuk bertanya.

Ki Rangga berpaling sekilas ke arah adik sepupunya itu. Namun perhatiannya kembali tercurah kepada prajurit sandi Mataram itu.

“Ki Patih mempunyai panggraita bahwa di balik tikungan itu pasti ada sesuatu yang sedang menunggu, sesuatu yang dapat mencelakakan mereka berdua,” jawab prajurit sandi itu kemudian.

“Jadi bagaimana nasib Sinuhun? Siapakah yang menolong Sinuhun?” Sekarang giliran Ki Gede Matesih yang mengajukan pertanyaan dengan suara yang bergetar, menahan gejolak di dalam dadanya.

Prajurit sandi itu tampak menarik nafas dalam-dalam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Terdengar suaranya lirih namun sangat jelas terdengar di telinga orang-orang yang hadir di pringgitan itu.

“Tidak ada seorang pun yang mampu menolong Sinuhun. Sinuhun telah mangkat, terkena paser beracun. Demikian juga kuda tunggangan Sinuhun,” jawab prajurit sandi itu dengan suara perlahan sambil mencoba menahan gejolak di dalam dadanya yang seakan-akan mau meledak.

Sejenak suasana menjadi hening. Masing-masing mencoba mengurai dan mencerna berita pralaya yang baru saja mereka terima.

“Mengapa Ki Patih justru mengajak Pangeran Pati turun dari kuda?” sebuah pertanyaan menyelinap dalam benak Ki Rangga, “Seandainya Ki Patih dan Pangeran Pati tetap berpacu mengejar Sinuhun, apakah nasib Sinuhun dapat diselamatkan?”

Namun panggraita pemimpin pasukan khusus Mataram yang berkedudukan di Menoreh itu segera dapat mengurai peristiwa yang terjadi di hutan Krapyak itu.

“Agaknya sasaran yang dituju tidak hanya Sinuhun Prabu,” berkata Ki Rangga dalam hati kemudian, “Ki Patih dapat meraba bahaya yang mengintai penerus tahta Mataram itu yang bersembunyi di balik tikungan. Untuk itulah Ki Patih dihadapkan pada dua pilihan yang sulit, dan agaknya Ki Patih lebih memilih menyelamatkan masa depan Mataram selagi masih dapat diusahakan. Sedangkan nasib Sinuhun Prabu agaknya memang sudah menjadi garis Yang Maha Agung.”

Berpikir sampai disitu, hati Ki Rangga pun menjadi sedikit tenang. Maka katanya kemudian, “Kita harus bersyukur bahwa trah Mataram, Pangeran Pati masih bisa diselamatkan dari tindakan orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu. Sinuhun Prabu telah wafat dan agaknya Ki Patih telah mengambil langkah yang tepat dengan mencegah Pangeran Pati menyusul ayahandanya tanpa perhitungan sama sekali.”

“Ya, Ngger,” sela Ki Waskita, orang tua yang sudah putus segala kawruh lahir maupun batin dan sekaligus dapat dikatakan guru kedua dari Ki Rangga itu, “Seandainya kedua priyagung itu tanpa mereka sadari telah berpacu menyusul Sinuhun Prabu, entah apa yang akan menimpa kedua priyagung itu. Mungkin Mataram akan kesulitan mencari penerusnya dan agaknya itulah yang memang dikehendaki oleh orang-orang yang mencegat Sinuhun di tikungan itu.”

Orang-orang yang hadir di ruangan itu pun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Pada awalnya di antara mereka memang ada yang menyayangkan keputusan Ki Patih untuk mencegah Pangeran Pati menyusul ayahandanya. Namun ternyata semua itu dilakukan Ki Patih untuk menyelamatkan masa depan Mataram.

“Apakah Ki Patih atau Raden Mas Rangsang dapat menduga pihak manakah yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang terjadi di hutan Krapyak itu?” bertanya Glagah Putih yang menjadi sangat penasaran atas terjadinya peristiwa itu.

Prajurit sandi Mataram itu menggeleng lemah. Jawabnya kemudian, “Peristiwa itu masih diselimuti tabir gelap. Ki Patih telah memerintahkan seluruh petugas sandi untuk disebar ke seluruh pelosok Mataram untuk mencari sisik melik yang dapat dijadikan sebagai pancadan dalam merunut peristiwa itu.”

Kembali terlihat setiap kepala yang hadir di tempat itu terangguk-angguk.

“Mungkin peristiwa di hutan Krapyak itu ada hubungannya dengan keberadaan orang yang menyebut dirinya sebagai Trah Sekar Seda Lepen,” tiba-tiba tanpa sadar Ki Waskita berdesis perlahan namun telah mengagetkan mereka yang hadir di tempat itu.

“Trah Sekar Seda Lepen?” desis prajurit sandi itu sedikit keras sambil mengerutkan keningnya dalam-dalam. Sementara Ki Rangga yang mempunyai panggraita sangat tajam melebihi orang kebanyakan justru telah mencoba mengenali sebuah getaran yang tiba-tiba saja menyusup ke relung hatinya yang paling dalam.

“Kakang,” Glagah Putih lah yang kemudian menyela dengan nada yang sedikit bergetar, “Bukankah kakang pernah mengatakan kalau orang yang menyebut dirinya Trah Sekar Seda Lepen itu tidak tampak batang hidungnya ketika kita menyerbu padepokan Sapta Dhahana?”

“Bukan begitu maksudku, Glagah Putih,” jawab Ki Rangga dengan serta merta, “Aku belum pernah mengenal orang yang menyebut dirinya sebagai Trah Sekar Seda Lepen itu. Dan pada saat kita memasuki Sapta Dhahana, tidak ada orang yang menyambut kita dengan mengaku sebagai Trah Sekar Seda Lepen,” Ki Rangga berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Aku tidak tahu apakah Ki Waskita dan kawan-kawan selama memasuki Sapta Dhahana telah berjumpa dengan orang yang menyebut dirinya Trah Sekar Seda Lepen itu?”

Ki Waskita yang sedang terpekur itu mengangkat kepalanya dan menggeleng. Sedangkan Ki Jayaraga dan Ki Bango Lamatan hampir bersamaan menjawab, “Tidak Ki Rangga.”

“Nah,” berkata Ki Rangga selanjutnya, “Aku mempunyai panggraita bahwa kemungkinannya orang yang menyebut dirinya Trah Sekar Seda Lepen beserta orang yang dipanggil Eyang Guru itu memang sedang diluar padepokan ketika kita sedang menyerbu Sapta Dhahana.”

Orang-orang di dalam pringgitan itu menjadi tegang. Jika dugaan peristiwa tewasnya Sinuhun Prabu Panembahan Hanyakrawati itu mengarah kepada Trah Sekar Seda Lepen, berarti keterkaitan padepokan Sapta Dhahana tidak dapat dipungkiri lagi.

“Ngger,” Ki Waskita lah yang kemudian berkata memecah keheningan yang sempat melingkupi pringgitan itu, “Jika memang kita runut peristiwa itu ada hubungannya dengan Trah Sekar Seda Lepen, aku yakin kekuatan sebenarnya perguruan Sapta Dhahana belum habis. Matesih harus meningkatkan kewaspadaan untuk menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi kemudian.”

“Benar Ki Waskita,” sahut Ki Rangga cepat. Kemudian sambil berpaling ke arah Ki Gede Matesih yang duduk di sebelah kanannya, Ki Rangga pun melanjutkan kata-katanya, “Ki Gede, aku mohon kesiap-siagaan pengawal Matesih ditingkatkan. Jika memungkinkan, pasukan pengawal yang menjaga padepokan Sapta Dhahana ditarik saja. Kita pusatkan kekuatan di Matesih.”

Terlihat wajah Ki Gede menjadi sangat tegang. Dengan suara bergetar karena menahan luapan perasaan, pemimpin tertinggi di perdikan Matesih itu pun kemudian berkata, “Aku mohon petunjuk Ki Rangga dan kawan-kawan untuk menyelamatkan Matesih. Tidak menutup kemungkinan para pengikut Trah Sekar Seda Lepen itu akan membalas dendam dengan menghancurkan Matesih.”

“Jangan khawatir, Ki Gede,” sahut Ki Jayaraga dengan serta merta, “Kita akan selalu siap sedia membantu Matesih. Yang terpenting adalah meningkatkan kesiap-siagaan para pengawal tanpa menumbuhkan kecurigaan pihak lawan. Kita usahakan peningkatan kewaspadaan ini dengan diam-diam malam ini juga.”

“Aku setuju,” Ki Bango Lamatan yang sedari tadi diam saja menyahut, “Sehabis pertemuan ini aku siap membantu Ki Gede untuk menggerakkan para pengawal.”

“Jika diijinkan, aku juga siap membantu Ki Gede,” kali ini Glagah Putih agaknya sudah tidak dapat menahan diri lagi dan telah menyatakan kesanggupannya.

“Baiklah,” berkata Ki Rangga kemudian berusaha untuk membagi tugas, “Selepas pertemuan ini, aku dan Ki Waskita akan tetap tinggal di banjar padukuhan induk. Ki Bango Lamatan dan Glagah Putih membantu Ki Gede untuk mengatur kesiap-siagaan para pengawal dengan catatan jangan sampai terlihat mencolok dan dapat menimbulkan kecurigaan lawan. Sedangkan Ki Jayaraga aku mohon beristirahat saja di bilik untuk memulihkan kesehatannya.”

“Ah,” segera saja terdengar suara tawa Ki Jayaraga yang renyah, “Alangkah tidak bergunanya tenaga tua ini? Semua mendapat tugas untuk membantu Matesih, sedangkan aku hanya dipersilahkan tidur-tiduran saja menganyam mimpi.”

Hampir bersamaan orang-orang yang hadir di pringgitan itu tertawa. Ki Gede Matesih yang mulai akrab dengan sifat-sifat kawan-kawan Ki Rangga itu pun juga tertawa. Bagi dirinya, orang tua yang bernama Ki Jayaraga itu selalu memancing canda dalam setiap keadaan.

“Bukan begitu maksudku, Ki Jayaraga,” sela Ki Rangga cepat, “Namun kita semua mengetahui bahwa Ki Jayaraga baru saja mendapatkan luka yang cukup parah sehingga memerlukan waktu yang cukup untuk pulih kembali.”

“Jika diijinkan, aku dapat memulihkan lukaku sambil berjalan-jalan mengelilingi perdikan Matesih malam ini,” sahut Ki Jayaraga yang membuat orang-orang tersenyum masam, “Aku hanya memerlukan satu atau dua orang kawan untuk sekedar berbincang selama dalam perjalanan meronda tanah perdikan. Aku khawatir

Demikianlah kelima ekor kuda itu berderap terus menyusuri pinggir hutan yang masih cukup lebat.

jika tidak ada yang mengajakku berbincang selama meronda, aku akan ketiduran di atas punggung kuda.”

Kembali terdengar suara gelak tawa di ruang pringgitan itu.

“Baiklah,” berkata Ki Rangga kemudian ketika suara gelak tawa itu sudah mereda, “Silahkan jika Ki Jayaraga ingin membantu Ki Gede Matesih. Namun aku menyarankan jangan bergerak bersama-sama. Biarlah Ki Gede ditemani Ki Bango Lamatan dan Ki Jayaraga bersama Glagah Putih.”

Tampak kepala orang-orang yang hadir di pringgitan itu terangguk-angguk. Sekilas tampak Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun kesan itu segera lenyap dari wajahnya. “Baiklah,” berkata Ki Rangga kemudian setelah selesai memberikan pembagian tugas kepada kawan-kawannya, “Sekarang berita apa lagi yang engkau bawa dari Ki Patih?”

Prajurit sandi itu menganggukkan kepalanya sambil menyahut, “Ki Rangga, berita selanjutnya jasad Sinuhun Prabu telah dikebumikan dengan upacara kerajaan siang tadi selepas Matahari tergelincir dari puncaknya,” prajurit sandi itu berhenti sejenak untuk sekedar mengambil nafas. Lanjutnya kemudian, “Pada saat upacara penghormatan kepada jasad Sinuhun, Ki Patih Mandaraka atas nama Mataram telah menganugerahkan gelar Panembahan Seda ing Krapyak kepada Sinuhun Prabu.”

“Panembahan Seda ing Krapyak,” hampir setiap orang mengulang nama gelar yang diberikan kepada Sinuhun Prabu Panembahan Hanyakrawati itu.

“Ya, Panembahan Seda ing Krapyak atau dapat disingkat Panembahan Seda Krapyak,” demikian prajurit sandi itu menegaskan.

Kembali tampak orang-orang yang hadir di tempat itu mengangguk-anggukkan kepala mereka.

“Rencananya malam ini para kerabat keraton akan bermusyawarah untuk menentukan siapa yang berhak menggantikan Sinuhun Prabu Hanyakrawati,” berkata prajurit sandi itu selanjutnya.

Untuk beberapa saat terlihat wajah-wajah yang hadir di pringgitan itu diliputi keheranan. Bukankah kedudukan Pangeran Pati sudah diberikan kepada Raden Mas Rangsang? Mengapa masih perlu dimusyawarahkan lagi?

Agaknya prajurit sandi itu dapat membaca wajah-wajah yang keheranan di sekitarnya. Maka katanya kemudian, “Ratu Tulungayu telah menuntut hak atas tahta bagi putranya Raden Mas Wuryah.”

Berdesir dada orang-orang yang hadir di tempat itu. Mereka semua maklum bahwa Raden Mas Wuryah putera Ratu Tulungayu, putri dari Panaraga itu menderita sakit tuna grahita, sehingga tidak selayaknya menduduki tahta.

“Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?” tiba-tiba Ki Gede Matesih yang sudah tidak dapat menahan hati telah mengajukan sebuah pertanyaan.

Prajurit sandi itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya ke arah Ki Gede. Jawabnya kemudian, “Ketika Sinuhun Adi Prabu Panembahan Hanyakrawati masih menjadi Adipati Anom, telah berjanji kepada Ratu Tulungayu bahwa jika kelak dirinya diwisuda menjadi Raja, maka keturunan dari Ratu Tulungayu lah yang akan mewarisi tahta.”

“Namun ternyata sampai Raden Mas Rangsang lahir dari putri Pajang itu, Ratu Tulungayu masih belum dikaruniai seorang putra,” sahut Ki Waskita kemudian.

“Ki Waskita benar,” berkata Ki Rangga kemudian, “Barulah setelah empat tahun Sinuhun Prabu Panembahan Hanyakrawati menduduki tahta, Ratu Tulungayu melahirkan seorang putera yang diberi nama Raden Mas Wuryah.”

“Padahal saat itu jabatan Adipati Anom telah diserahkan kepada Raden Mas Rangsang,” berkata prajurit sandi itu menambah keterangan Ki Rangga.

Sejenak suasana menjadi hening. Masing-masing tenggelam dalam angan-angan yang tak berkesudahan. Nasib Mataram di masa mendatang benar-benar sedang dipertaruhkan dan tidak menutup kemungkinan dapat menimbulkan perang saudara. Sementara ada pihak-pihak lain yang justru ingin merongrong dan sekaligus menggulingkan pemerintahan Mataram.

“Aku yakin Ki Patih pasti sudah memikirkan jalan keluarnya,” berkata Ki Rangga dalam hati, “Sebagaimana yang telah terjadi sebelumnya, setiap permasalahan pelik sedang terjadi, Ki Patih yang semasa mudanya bernama Ki Juru Mertani itu selalu mampu menyelesaikannya, walaupun ada pihak yang merasa dirugikan. Namun pada dasarnya kelangsungan dan keutuhan di tanah ini tetap terjaga.”

Berpikir sampai disitu Ki Rangga segera berkata, “Sudahlah, permasalahan itu pasti sudah dipikirkan oleh Ki Patih Mandaraka. Kita semua tahu, bagaimana Ki Patih yang semasa mudanya bernama Ki Juru Mertani itu mampu menyelesaikan kemelut yang terjadi antara Pajang dan Jipang Panolan pada waktu itu.”

“Juga peristiwa di Madiun,” sahut Ki Waskita cepat, “Dan masih banyak lagi persoalan yang bagi orang kebanyakan sangat rumit dan sulit dipecahkan, namun Ki Patih Mandaraka selalu dapat mencarikan jalan keluarnya.”

Semua kepala pun terangguk-angguk.

“Tidak menutup kemungkinan, setelah Sinuhun Prabu Panembahan Hanyakrawati mangkat, permasalahan pewaris tahta Mataram itu pun pasti sudah dipikirkan,” berkata Ki Rangga selanjutnya.

Kembali mereka yang hadir di ruangan itu mengangguk-angguk.

“Nah, biarlah permasalahan pewaris tahta Mataram itu dibicarakan oleh para kadang sentana malam ini,” berkata Ki Rangga selanjutnya. Kemudian sambil berpaling ke arah prajurit sandi itu Ki Rangga meneruskan, “Mungkin masih ada berita lagi yang ingin engkau sampaikan.”

Sekarang prajurit sandi itu tampak ragu-ragu. Beberapa kali dia memandang ke arah Ki Rangga dengan tatapan yang penuh tanda tanya.

Ki Rangga tersenyum melihat keraguan prajurit sandi itu. Maka tanyanya kemudian, “Apakah pesan kali ini sangat rahasia dan khusus?”

Dengan serta merta prajurit sandi itu mengangguk.

Kembali Ki Rangga tersenyum sambil mengedarkan pandangan matanya ke sekelilingnya untuk mendapat tanggapan dari orang-orang yang hadir. Namun yang terlihat hanyalah wajah-wajah yang tegang menunggu berita selanjutnya.

“Apakah yang hadir di sini boleh mengetahui serba sedikit berita yang berikutnya ini?” kembali Ki Rangga bertanya.

Sejenak prajurit sandi itu masih terlihat sedikit ragu-ragu. Namun akhirnya terlihat kepala prajurit sandi itu terangguk.

“Nah,” sahut Ki Rangga kemudian, “Engkau tidak harus menyebutkan berita itu secara keseluruhan. Mungkin hanya pokok permasalahannya saja.”

Kembali kepala prajurit sandi itu tampak terangguk-angguk. Sambil menegakkan tubuh bagian atasnya dan memandang ke arah Ki Rangga sekilas, prajurit sandi itupun kemudian berkata perlahan, “Berita selanjutnya adalah tentang selir kinasih Pangeran Pati.”

Hampir bersamaan terdengar helaan nafas panjang orang-orang yang hadir di tempat itu. Jika berita itu tentang selir Pangeran Pati, tentu tidak akan sedemikian gawatnya sehingga mereka menjadi kurang menaruh perhatian.

Beberapa orang memang tidak mengetahui hubungan yang pernah terjalin antara selir Pangeran Pati itu dengan Ki Rangga Agung Sedayu. Namun Ki Waskita yang mempunyai panggraita dan diberi kelebihan untuk dapat membaca masa depan walaupun hanya berupa isyarat, telah bergeser setapak ke depan.

Bertanya Ki Waskita kemudian, “Jika aku boleh mengetahui kejadian yang sebenarnya, ada apakah dengan selir kinasih Pangeran Pati itu?”

Kini semua mata memandang ke arah ayah Rudita itu, tak terkecuali Ki Rangga Agung Sedayu. Sedangkan prajurit sandi itu justru telah memandang wajah Ki Rangga dan Ki Waskita berganti-ganti. Agaknya dia ingin mendapat ijin dari Ki Rangga untuk menyampaikan berita itu seutuhnya.

Ketika terlihat sebuah anggukan kecil dari Ki Rangga, akhirnya terucap juga sebuah pengakuan yang membuat setiap dada yang hadir di tempat itu hampir meledak, kecuali Ki Rangga Agung Sedayu.

“Rara Anjani, selir kinasih Pangeran Pati telah hilang dari keputren ndalem Kapangeranan,” lirih terdengar suara prajurit sandi itu hampir tak terdengar.

“He?!” bagaikan disengat kalajengking sebesar ibu jari kaki orang dewasa, orang-orang yang hadir di pringgitan itu terlonjak kaget, kecuali Ki Rangga yang sudah mengetahui berita itu dari Kanjeng Sunan.

“Bagaimana mungkin?” bertanya Ki Bango Lamatan yang sedari tadi hanya berdiam diri saja. Berita hilangnya Rara Anjani itu ternyata telah mengusik kenangan masa lalunya di tegal kepanasan perbukitan Menoreh.

Mendapat pertanyaan seperti itu, prajurit sandi itu menggeleng lemah dan justru pandangan matanya ditujukan ke arah Ki Rangga.

Mendapat tatapan mata penuh pertanyaan seperti itu, Ki Rangga menjadi gelisah. Tanyanya kemudian, “Apakah Pangeran Pati menitipkan pesan khusus sehubungan dengan hilangnya Rara Anjani?”

Dengan serta merta prajurit sandi itu mengangguk. Jawabnya kemudian, “Aku mendapat tugas menyampaikan titah Pangeran Pati kepada Ki Rangga untuk mencari keberadaan Rara Anjani.”

“Ah!” tanpa sadar Ki Rangga berdesah sambil matanya menatap ke arah pintu pringgitan yang tertutup rapat. Seolah olah Ki Rangga ingin menjenguk apa yang berada di balik pintu itu.

Untuk beberapa saat suasana menjadi hening. Pada umumnya orang-orang yang hadir di tempat itu merasa kasihan kepada Ki Rangga. Tugas menghancurkan perguruan Sapta Dhahana saja belum dapat dikatakan selesai sudah muncul persoalan yang lain. Hilangnya Rara Anjani dari keputren ndalem Kapangeranan masih diselimuti tabir gelap dan Ki Rangga harus menyingkap tabir kegelapan itu.

“Ki Rangga,” tiba-tiba suara prajurit sandi itu terdengar memecah keheningan, “Menurut keterangan Pangeran Pati, Ki Rangga lah yang sangat berkepentingan untuk menemukan kembali Rara Anjani.”

“Cukup!” tiba-tiba terdengar Ki Rangga berkata sedikit keras, “Aku sudah tahu maksud Pangeran Pati dan aku pasti akan menjunjung tinggi setiap titah yang dibebankan kepadaku.”

Orang-orang yang hadir di tempat itu menjadi berdebar-debar menanggapi ucapan Ki Rangga itu. Berbagai dugaan muncul dalam hati masing-masing, namun tidak ada satu pun yang berani mengungkapkannya.

“Apakah Pangeran Pati menjelaskan secara rinci tugas yang dibebankan kepadaku sehubungan dengan hilangnya selir kinasih Pangeran Pati?” bertanya Ki Rangga selanjutnya sambil memandang tajam penuh selidik ke arah prajurit sandi itu.

Mendapat tatapan setajam itu, prajurit sandi itu segera menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jawabnya kemudian, “Tidak Ki Rangga, Pangeran Pati hanya memberi titah kepada Ki Rangga untuk menemukan Rara Anjani kembali, karena menurut Pangeran Pati, Ki Rangga kemungkinan besar mengetahui kemana perginya Rara Anjani.”

Segera saja wajah-wajah yang semula tampak tegang telah mengendur kembali. Setelah menarik nafas panjang terlebih dahulu Ki Rangga pun akhirnya berkata, “Pangeran Pati memang mengetahui bahwa Rara Anjani adalah murid Resi Mayangkara yang tinggal di gunung Kendalisada. Dengan demikian secara tidak langsung aku diperintahkan untuk pergi ke gunung Kendalisada.”

Tampak kepala orang-orang yang hadir di tempat itu kembali terangguk-angguk. Hanya Ki Gede Matesih yang tampak mengerutkan keningnya dalam-dalam.

Melihat raut wajah Ki Gede yang menyimpan kekhawatiran itu, Ki Rangga pun segera berkata, “Jangan khawatir Ki Gede, persoalan di perdikan Matesih ini kita selesaikan terlebih dahulu sebelum kita berangkat ke gunung Kendalisada mencari Rara Anjani.”

Kini tampak wajah Ki Gede menjadi cerah kembali. Katanya kemudian sambil tertawa pendek, “Ah, aku mewakili seluruh kawula Matesih hanya dapat mengucapkan ribuan terima kasih atas bantuan dari Ki Rangga dan kawan-kawan dan juga perhatian Mataram terhadap keselamatan perdikan ini.”

“Sudah menjadi tugas Mataram untuk memberikan perlindungan dan pengayoman terhadap seluruh kawula bawahan Mataram,” sela prajurit sandi itu, “Para prajurit sandi telah lama disebar di sekitar perdikan Matesih ini untuk mengamati kegiatan padepokan Sapta Dhahana yang mulai terlihat mencurigakan.”

“Syukurlah,” sahut Ki Gede kemudian, “Aku Sekarang ini merasa tidak sendirian lagi. Ternyata yang telah membantu perdikan Matesih selama ini adalah prajurit-prajurit Mataram yang sedang dalam penyamaran.”

“Tapi sebagian dari kami memang bukan prajurit Ki Gede,” potong Ki Jayaraga dengan serta-merta, “Aku dan Ki Waskita adalah orang-orang tua yang kurang kerjaan di hari-hari tua kami sehingga kami menyediakan diri untuk membantu Ki Rangga.”

“Aku juga bukan prajurit yang sesungguhnya Ki Gede,” Ki Bango Lamatan ikut menyela, “Aku adalah orang kleyang kabur kanginan yang ditampung oleh Pangeran Pati di ndalem Kapangeranan sekedar untuk menjadi juru dang atau juru taman.”

“Ah,” yang hadir di tempat itu pun tidak mampu menahan tawa mereka.

Ki Jayaraga lah yang kemudian menyelethuk, “Ki Bango Lamatan memang pantas menjadi juru dang. Itu bisa dilihat dari badannya yang tumbuh dengan cepat melebihi orang kebanyakan karena selalu mendapat jatah nasi yang berlebih.”

Kembali orang-orang di dalam pringgitan itu tidak mampu menahan tawa mereka.

“Ki Rangga,” berkata prajurit sandi itu kemudian setelah suara tawa itu mereda, “Selebihnya aku juga membawa titah lagi dari Ki Patih Mandaraka untuk Ki Rangga.”

Kembali dada orang-orang yang hadir di tempat itu berdesir tajam. Jika titah itu dari Ki Patih Mandaraka lagi, tentu ada hubungannya dengan tugas mereka menghancurkan perguruan Sapta Dhahana.

Tampak kepala Ki Rangga terangguk-angguk. Katanya kemudian, “Silahkan, kami semua sudah siap menerima titah Ki Patih Mandaraka.”

Prajurit sandi itu menganggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Ki Patih Mandaraka telah mendapat laporan dari para telik sandi yang di tugaskan untuk mengamat-amati Kademangan Cepaga di lereng gunung Merapi. Tempat tinggal orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati.”

“Pangeran Ranapati,” hampir setiap dada terguncang mendengar nama itu kembali disebut, nama yang sudah lama menghilang sejak peristiwa pertempuran di lemah Cengkar beberapa saat yang lalu.

“Ada apakah dengan Pangeran Ranapati?” bertanya Ki Rangga kemudian dengan kening yang berkerut merut.

Prajurit sandi itu menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Ki Rangga. Jawabnya kemudian, “Menurut para telik sandi yang disebar di sekitar kademangan Cepaga, Pangeran Ranapati ternyata telah sembuh dari luka-lukanya. Bersama gurunya, dia telah turun dari lereng Merapi dan berangkat menuju ke arah timur.”

Kembali desir tajam menggores setiap dada yang hadir di tempat itu, terutama Ki Rangga Agung Sedayu. Sejenak suasana menjadi sunyi. Kawan-kawan Ki Rangga menyadari sepenuhnya bahwa tugas menangkap hidup atau mati orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu memang masih tetap berada di pundak Ki Rangga Agung Sedayu.

“Apakah titah Ki Patih Mandaraka?” bertanya Ki Rangga kemudian setelah sejenak mereka terdiam.

“Titah Ki Patih adalah, setelah perguruan Sapta Dhahana dapat dihancurkan dan perdikan Matesih dapat dikatakan aman dari   gangguan sisa-sisa pengikut Trah Sekar Seda Lepen, Ki Rangga dan kawan-kawan diperintahkan melanjutkan tugas melacak keberadaan Pangeran Ranapati,” jawab prajurit sandi itu tegas dan lugas.

Berdebar setiap jantung orang yang hadir di pringgitan itu. Tugas yang dibebankan kepada Ki Rangga memang terlihat berlebihan. Namun mereka percaya Ki Rangga akan dapat memilah dan memilih, tugas manakah yang akan didahulukan.

“Melindungi Matesih adalah tugas yang sedang berada di depan mata,” berkata Glagah Putih dalam hati, “Kakang Agung Sedayu pasti akan menyelesaikan tugas ini terlebih dahulu. Dugaan keterlibatan Trah Sekar Seda Lepen dalam peristiwa di hutan Krapyak harus diungkap dan dibuktikan sejalan dengan penghancuran padepokan Sapta Dhahana. Kemudian tugas selanjutnya baru dapat dilaksanakan.”

Tiba-tiba sebuah desir tajam menyentuh jantung Glagah Putih. Tidak menutup kemungkinan jika dia beserta yang lainnya akan ikut terlibat dengan tugas selanjutnya yang telah dibebankan kepada Ki Rangga.

“Apakah Ki Patih mengijinkan aku untuk membawa kawan-kawan ini melacak keberadaan Pangeran Ranapati?” tiba-tiba sebuah pertanyaan dari kakak sepupunya telah membangunkan Glagah Putih dari lamunannya.

Prajurit sandi itu tersenyum sambil mengangguk. Jawabnya kemudian, “Ki Rangga diperkenankan membawa rombongan yang telah ada ini untuk meneruskan tugas Ki Rangga selanjutnya.”

Tampak Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya tidak ada keberatan sama sekali di sudut hatinya untuk melaksanakan baik titah dari Pangeran Pati maupun Ki Patih Mandaraka. Namun yang menjadi persoalan adalah Glagah Putih beserta orang-orang tua itu.

Agaknya Ki Jayaraga dapat menyelami jalan pikiran Ki Rangga. Maka katanya kemudian dengan serta merta, “Ki Rangga, sebagaimana yang telah aku sampaikan kepada Ki Gede Matesih, aku adalah orang tua pengangguran yang kurang kerjaan. Jika Ki Rangga berkenan membawa aku sekedar sebagai juru dang, aku tidak keberatan.”

“He! Ki Jayaraga jangan mengambil alih tugasku,” sergah Ki Bango Lamatan cepat, “Akulah juru dang yang sebenarnya, dan aku sudah siap mengikuti kemana saja Ki Rangga pergi.”

“Jangan khawatir, Ki Bango Lamatan,” sahut Ki Jayaraga sambil tertawa pendek, “Walaupun yang menjadi juru dang sekarang adalah aku, jatah nasi Ki Bango Lamatan tetap aku beri berlebih, agar pertumbuhan badan Ki Bango Lamatan tidak terhambat.”

“Ah, sudahlah,” Ki Rangga mencoba menengahi kedua orang tua yang berebut ingin menjadi juru dang itu, walaupun sebenarnya itu hanyalah sebuah gurauan, “Aku telah ditunjuk Ki Patih menjadi pemimpin rombongan kecil ini sejak berangkat dari Mataram. Jika memang Ki Patih telah mengijinkan untuk kembali membawa rombongan kecil ini melacak keberadaan Pangeran Ranapati, aku tidak berkeberatan,” Ki Rangga berhenti sejenak. Sambil mengedarkan pandangan matanya ke arah kawan- kawannya, Ki Rangga pun melanjutkan ucapannya, “Nah, apakah ada di antara kalian yang berkeberatan karena ada suatu urusan lain yang perlu diselesaikan?”

Tampak kawan-kawan Ki Rangga itu saling berpandangan sejenak. Ki Waskita lah yang menjawab, “Ngger, kita berangkat berlima, kita akan menuntaskan permasalahan apapun yang menjadi tugas kita juga berlima. Semoga Tuhan Yang Maha Agung memberikan pertolongan kepada kita semua sehingga kelak setelah semua tugas ini selesai, kita akan menghadap dan melaporkan hasil tugas kita kepada Ki Patih Mandaraka juga berlima.”

Tampak kepala orang-orang yang berkumpul di ruang pringgitan itu terangguk-angguk. Hanya Ki Gede Matesih yang terlihat mengerutkan keningnya dalam-dalam.

“Ki Rangga,” tiba-tiba Ki Gede Matesih mengajukan sebuah pertanyaan, “Apakah Ki Rangga masih menerima tenaga yang tidak berarti ini untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang sedang menimpa Mataram? Jika memang diperkenankan, aku yang tidak berarti ini siap untuk membantu Ki Rangga.”

Segera saja pandangan mata orang-orang yang berada di pringgitan itu tertuju kepada Ki Gede Matesih.

“Ki Gede,” jawab Ki Rangga dengan suara tenang, “Tugas ini sudah sejak awal dibebankan kepada kami berlima. Ki Gede Matesih mempunyai tugas yang lebih besar di perdikan ini. Bangun kembali kepercayaan kawula Matesih untuk bersetia kepada Mataram setelah beberapa saat yang lalu terbuai oleh janji -janji orang yang menyebut dirinya Trah Sekar Seda Lepen itu.”

Ki Gede menarik nafas dalam sejenak mendengar jawaban dari Ki Rangga. Namun dia segera menyadari kedudukannya sebagai kepala sebuah perdikan. Maka katanya kemudian, “Terima kasih Ki Rangga. Aku terpancing untuk mengenang masa-masa muda dahulu. Ingin rasanya berkelana kembali mendaki bukit dan menuruni lembah dan ngarai serta mengunjungi tempat-tempat yang hampir tidak pernah dikunjungi oleh manusia,” Ki Gede berhenti sejenak untuk sekedar mengambil nafas. Lanjutnya kemudian, “Namun apa yang disampaikan Ki Rangga telah mengingatkan aku kembali tentang tugas yang dibebankan kepadaku selaku kepala sebuah tanah perdikan.”

“Ki Gede ada benarnya,” sahut Ki Jayaraga sambil tersenyum, “Sebenarnya kami yang tua-tua ini pun hanya rindu petualangan semasa masih muda dahulu. Bahkan jika tidak disibukkan oleh urusan di Kota Raja, Ki Patih Mandaraka pun pada awalnya menyatakan keinginannya untuk ikut dalam rombongan ini.”

“Ah!” Ki Gede Matesih tertawa pendek. Ternyata tidak hanya dirinya saja yang telah rindu akan petualangan di masa-masa muda dahulu.

“Nah,” berkata Ki Rangga selanjutnya kepada prajurit sandi itu, “Aku masih menunggu jika memang ada perintah selanjutnya.”

“Tidak ada Ki Rangga,” sahut prajurit sandi itu, “Aku akan segera mohon diri. Aku harus kembali ke tempat tugasku. Jika sewaktu-waktu ada berita yang dikirim, baik melalui seorang caraka maupun isyarat-isyarat yang telah disepakati, aku sudah berada di tempat tugasku kembali.”

“Bukankah biasanya kalian tidak sendirian?” bertanya Glagah Putih menyela. Sebagai prajurit sandi bersama Rara Wulan, Glagah Putih sangat paham dengan seluk beluk tugas prajurit sandi yudha.

“Engkau benar Glagah Putih,” jawab prajurit sandi itu sambil berpaling ke arah adik sepupu Ki Rangga itu, “Kami selalu berdua bahkan kadang bertiga menunggu di tempat yang telah disepakati. Jika memungkinkan salah satu dari kami akan nganglang mencari berita dan menyadap keterangan dari tempat-tempat yang memang sedang kita pantau. Sedangkan yang lainnya menunggu berita di tempat persembunyian kita.”

Sedangkan Ki Gede Matesih yang tidak begitu paham akan seluk beluk tugas prajurit sandi yudha itu pun bertanya, “Jadi Ki Sanak ini tidak berasal dari prajurit yang berada di Kota Raja Mataram?”

Prajurit sandi itu tersenyum sambil menggeleng. Jawabnya kemudian, “Tidak Ki Gede. Sudah berbulan-bulan aku bertugas di sekitar perdikan Matesih ini. Kawan-kawanku sebagian ada yang di tempatkan di dukuh Salam, kemudian di seberang Kali Krasak. Demikian itu sampai ke Kota Raja. Jika ada berita yang sangat penting, berita itu akan disampaikan secara berantai sehingga sampai kepada petugas sandi yang terdekat.”

“Bagaimana caranya berita itu bisa disampaikan?” bertanya Ki Gede kemudian dengan nada sedikit penasaran.

Kembali prajurit sandi itu tersenyum. Jawabnya kemudian, “Dengan banyak cara Ki Gede. Dengan isyarat panah sendaren, panah berapi, burung merpati yang telah terlatih dan tentu saja juga dengan seorang caraka yang bertugas membawa sebuah nawala.”

Kali ini tampak Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Walaupun di dalam hatinya masih tersisa sebuah pertanyaan, namun Ki Gede merasa sudah terlalu banyak bertanya.

“Baiklah aku segera mohon diri,” berkata prajurit sandi itu kemudian, “Jika ingin menghubungi kawan-kawan, Ki Rangga tentu sudah tahu harus pergi ke mana.”

“Terima kasih,” berkata Ki Rangga kemudian sambil bangkit berdiri ketika dilihatnya prajurit sandi itu bangkit berdiri.

“Maafkan kami,” sahut Ki Gede Matesih mengikuti Ki Rangga berdiri, “Begitu tegangnya kami mengikuti berita yang Ki Sanak bawa, sehingga aku telah lupa memerintahkan orang-orang di dapur banjar untuk menghidangkan minuman dan makanan sekedarnya.”

“Ah sudahlah Ki Gede,” jawab prajurit sandi itu sambil tertawa pendek, “Kami yang bertugas di lapangan sudah terbiasa dengan keadaan ini. Kami dapat makan di mana saja dan juga seadanya saja. Memang kami kadang harus menjauhi keramaian untuk mengurangi kecurigaan.”

“Sesekali bergabunglah dengan kami,” sahut Ki Jayaraga dengan serta merta sambil bangkit dan mengikuti langkah mereka yang keluar pringgitan, “Setiap hari orang-orang dapur itu menyembelih ayam dan memasak sayur lodeh keluwih.”

“Dengan nasi putih yang masih hangat dan sambal tomat yang pedas,” timpal Ki Bango Lamatan yang segera disambut dengan gelak tawa.

Demikianlah akhirnya, prajurit sandi itu pun segera minta diri untuk kembali ke tempat tugasnya.

Setelah prajurit sandi itu hilang di balik pintu gerbang banjar padukuhan induk yang segera ditutup rapat-rapat, Ki Gede Matesih pun juga segera minta diri untuk mempersiapkan para pengawal Matesih.

“Ki Rangga,” berkata Ki Gede kemudian sambil menghentikan langkah tepat di bawah tlundak pendapa, “Lebih baik sekarang juga aku mohon diri, selagi hari masih terang. Aku akan mampir ke rumah terlebih dahulu.”

“Silahkan Ki Gede. Usahakan pengerahan pasukan pengawal itu tidak terlalu mencolok,” pesan Ki Rangga sambil menaiki tlundak pendapa, “Ki Bango Lamatan akan membantu Ki Gede.”

“Terima kasih,” berkata Ki Gede kemudian sambil mengangguk dalam-dalam, “Aku mohon diri.”

Ki Rangga mengangguk. Kemudian katanya kepada Ki Bango Lamatan, “Ikutlah Ki Gede, Ki Bango Lamatan. Bantu Ki Gede mengatur pertahanan para pengawal di tempat-tempat yang sekiranya akan dijadikan pintu masuk bagi pasukan lawan.”

“Baik Ki Rangga,” jawab Ki Bango Lamatan kemudian sambil bergeser mendekat kepada Ki Gede Matesih.

Setelah mengucapkan salam perpisahan, kedua orang itu pun segera meninggalkan banjar padukuhan induk.

Sepeninggal Ki Gede dan Ki Bango Lamatan, Ki Rangga segera memberi pesan-pesan kepada Ki Jayaraga dan muridnya, Glagah Putih.

“Untuk Ki Jayaraga dan Glagah Putih, aku mohon untuk mengadakan hubungan dengan pasukan pengawal yang berada di padepokan gunung Tidar. Jika memungkinkan pasukan pengawal itu ditarik saja ke perdikan Matesih untuk menambah kekuatan kita,” berkata Ki Rangga selanjutnya.

“Baiklah kakang,” Glagah Putih lah yang menyahut, “Namun kami akan berangkat selepas Matahari terbenam agar memudahkan kami dalam melakukan pergerakan.”

bersambung ke bagian 2

3 Responses

  1. Jilid 14 sudah lengkap. Monggo….

  2. Bayu Swandana akan sombong spt Swandaru ….sediiiih, kasian Pandan Wangi

  3. Tugas Mbah agung Sedayu berikutnya apa ya ? 1. Mencari keberadaan Anjani apa mencari p ranapati ? Mana yang harus diprioritaskan ,? ( Mbah_man) ,?.?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s