STSD-15

kembali ke STSD-14 | lanjut ke STSD-16

Bagian 1

DALAM PADA ITU Ki Jayaraga dan Glagah Putih yang telah meninggalkan banjar padukuhan induk semenjak Matahari terbenam hampir tidak mendapatkan halangan yang berarti. Sebenarnyalah mereka berdua melihat sepanjang jalan setapak menuju padepokan Sapta Dhahana telah banyak bertebaran para telik sandi lawan. Ada yang bertengger di atas dahan-dahan pohon yang cukup tinggi, ada yang berjongkok di antara rimbunnya gerumbul perdu dan semak belukar, bahkan ada yang berlindung di balik pohon-pohon besar yang banyak tumbuh berjajar-jajar di sepanjang jalan setapak itu.

Namun bagi keduanya, keberadaan para telik sandi itu tidak banyak berarti. Keduanya segera mengetrapkan kemampuan mereka untuk menyerap segala bunyi yang ditimbulkan oleh gesekan tubuh mereka dengan alam sekitarnya. Dengan sangat hati-hati mereka berdua pun kemudian menyusup di antara gerumbul perdu dan kadang harus merangkak di antara lebatnya ilalang yang tumbuh rapat berjajar-jajar.

Sesekali mereka berdua menyempatkan berhenti sejenak untuk sekedar menyimak percakapan di antara mereka betapapun lirihnya.

“Aku sudah tidak sabar lagi untuk membalas dendam!” demikian geram salah seorang yang berperawakan kecil namun terlihat cukup berotot, “Perdikan Matesih harus dibuat karang abang untuk menuntaskan dendam kita yang sedalam lautan dan setinggi gunung.”

Kawannya yang bersandaran pada sebatang pohon besar tertawa pendek. Jawabnya kemudian, “Setiap orang yang merasa hidup di bawah naungan padepokan Sapta Dhahana pasti memendam dendam. Aku kira dendam ini tidak akan tuntas hanya dengan membuat Matesih menjadi karang abang. Setiap nyawa kawan-kawan kita harus ditebus dengan sepuluh nyawa orang-orang Matesih. Apalagi nyawa guru kita dan kakang Talangpati. Nyawa seluruh kawula Matesih rasanya belum cukup untuk menggantikan nyawa mereka berdua.”

“Aku setuju!” tiba-tiba seseorang yang duduk berselonjoran di antara gerumbul perdu menyahut dengan serta merta, “Tapi yang kita bunuh hanya laki-laki, perempuan tidak, terutama gadis-gadis. Mereka akan kita bawa ke padepokan dan akan kita jadikan budak seumur hidup untuk melayani semua kebutuhan kita.”

“Bagus!” kembali orang yang bersandaran pohon itu menyahut cepat, “Barulah dendam kita akan terbalaskan dengan tuntas!”

“Tapi, bagaimana dengan Ki Rangga Agung Sedayu?” tiba-tiba sebuah pertanyaan menyelethuk begitu saja dari balik sebuah gerumbul.

Serentak orang-orang itu pun berpaling. Sejenak kemudian dari balik sebuah gerumbul perdu yang cukup lebat muncul sesosok tubuh yang tinggi besar dengan jambang hampir memenuhi seluruh wajahnya.

“Kakang Samba!” terdengar desis perlahan dari bibir orang-orang yang berada di tempat itu.

Untuk beberapa saat suasana menjadi hening. Kata-kata orang yang bernama Samba itu ternyata telah menghentak dada mereka dan membuat jantung mereka berdetak lebih cepat. Sementara wajah-wajah mereka pun tampak diliputi ketegangan.

“Kakang,” akhirnya orang yang bersandaran pohon itu menjawab, “Aku kira Eyang Guru dan Kiai Dandang Mangore sudah memikirkan caranya untuk menundukkan agul-agulnya Mataram itu.”

“Ya, aku yakin,” sahut orang yang berselonjoran di antara gerumbul dan perdu, “Aku yakin kedua orang linuwih itu akan mampu menjinakkan Ki Rangga.”

“Apa pertimbangan kalian?” bertanya Samba kemudian sambil melangkah mendekat, “Guru kita, Kiai Damar Sasangka saja tidak mampu mengatasi agul-agulnya Mataram itu.”

Kembali suasana menjadi hening. Masing-masing sedang terhanyut oleh kenangan beberapa hari yang lalu di padepokan Sapta Dhahana. Betapa kekaguman dan kebanggaan mereka atas kesaktian guru mereka Kiai Damar Sasangka telah dipatahkan oleh orang yang bernama Ki Rangga Agung Sedayu itu.

“Bagaimana mungkin guru yang ilmunya sudah mencapai sempurna itu dapat dikalahkan oleh Ki Rangga?” pertanyaan itu berputar-putar dalam benak semua orang yang berada di tempat itu.

“Hanya ada satu jawaban dari peristiwa terbunuhnya guru kita oleh Ki Rangga,” tiba-tiba Samba berkata dengan nada yang sangat berat dan dalam memecah kesunyian, “Pasti telah terjadi kecurangan. Pasti ada seseorang yang membantu Ki Rangga sehingga pada saat pemusatan nalar dan budi Kiai Damar Sasangka hanya tertuju kepada Ki Rangga, seseorang yang berilmu tinggi dengan curangnya telah menyerang guru kita.”

“Ya, ya kakang. Kakang benar!” sahut orang yang bersandaran pohon itu dengan serta merta, “Aku juga berpikiran demikian. Tidak mungkin guru yang sudah sempurna ilmunya itu dapat dikalahkan oleh orang seperti Ki Rangga Agung Sedayu.”

“Apakah engkau sudah mengetahui tingkat ilmu Ki Rangga yang sebenarnya?” namun pertanyaan Samba berikutnya itu justru telah membuatnya terdiam.

“Nah!” berkata Samba selanjutnya begitu melihat orang yang bersandaran pohon itu terdiam, “Ki Rangga adalah seorang senapati pasukan khusus Mataram yang berkedudukan di Menoreh. Beberapa orang sakti kabarnya telah dikalahkannya. Tetapi aku yakin guru masih memiliki selapis dua lapis ilmu di atasnya. Pertempuran kedua orang itu tentu berlangsung dengan dahsyatnya dan guru benar-benar harus memusatkan seluruh nalar dan budinya untuk mengalahkan lawan. Di saat seperti itulah, aku yakin ada campur tangan orang lain yang membantu Ki Rangga dengan curang sehingga guru telah dapat dikalahkannya.”

Tampak kepala orang-orang yang berada di tempat itu terangguk-angguk. Apa yang disampaikan oleh Samba itu agaknya telah menjawab teka-teki yang selama ini berkecamuk di setiap dada murid-murid padepokan Sapta Dhahana.

“Nah, sekarang kembalilah bertugas!” berkata Samba kemudian, “Eyang Guru dan Kiai Dandang Mangore sedang mengintip kekuatan Matesih. Jika memungkinkan mereka berdua sekaligus akan menghancurkan agul-agulnya Mataram itu sehingga jalan kita menuju Matesih menjadi sangat lapang dan mudah.”

Sekarang wajah-wajah itu menjadi cerah. Tampak sebuah senyum kemenangan telah tersungging hampir di setiap bibir yang hadir di tempat itu.

“Kakang,” tiba-tiba terdengar orang yang berselonjoran di antara gerumbul perdu itu bertanya, “Mengapa kita hanya diperintahkan untuk menunggu? Mengapa kita tidak diijinkan untuk membantai para pengawal Matesih yang telah menguasai padepokan Kita? Aku benar-benar jemu hanya menunggu dan menunggu. Sebaiknya sambil menunggu hasil penyelidikan di Matesih, kita bantai saja semua pengawal Matesih yang menguasai padepokan kita.”

“Setuju!” hampir serentak orang-orang yang berada di tempat itu menyahut dengan serta merta kecuali Samba.

“Bodohnya kalian!” geram Samba kemudian, “Itu pekerjaan sia-sia. Betapapun lemahnya kekuatan para pengawal itu dibanding kekuatan kita, namun tidak menutup kemungkinan tetap akan ada korban yang jatuh di pihak kita. Itu yang tidak dikehendaki oleh Raden Wirasena. Kekuatan kita harus tetap utuh pada saat menyerang Matesih.”

Untuk beberapa saat mereka hanya saling pandang. Namun sejenak kemudian tampak kepala mereka pun terangguk-angguk.

“Sudahlah!” berkata Samba kemudian sambil melangkah pergi, “Aku akan kembali ke tempatku. Jangan lengah sekejap pun. Usahakan kalian mengatur waktu secara bergantian untuk mengadakan pengamatan dan istirahat.”

“Baik kakang,” jawab orang-orang itu hampir bersamaan.

Dalam pada itu Ki Jayaraga dan Glagah Putih yang sengaja berhenti sejenak untuk mendengarkan percakapan mereka telah menarik nafas dalam-dalam. Namun mereka berdua tidak merasa khawatir dengan kedatangan orang yang mereka sebut Eyang Guru dan Kiai Dandang Mangore itu ke perdikan Matesih. Di bajar padukuhan induk masih ada Ki Waskita dan Ki Rangga.

“Ki Waskita adalah orang yang dikaruniai sebuah kemampuan khusus,” berkata Ki Jayaraga dalam hati kemudian sambil memberi isyarat Glagah Putih untuk bergeser dari tempat itu, “Seolah-olah Ki Waskita mampu membaca masa depan walaupun masih berupa isyarat-isyarat yang harus diurai. Namun kedatangan kedua orang itu ke banjar padukuhan induk pasti akan terpantau oleh Ki Waskita dan Ki Rangga,”

Sejenak kemudian kedua guru dan murid itupun sudah kembali menyusuri jalan setapak menuju ke padepokan Sapta Dhahana.

Mereka sengaja mendekati padepokan dari arah timur. Memang perjalanan mereka menjadi agak melambung, namun mereka berdua menjadi agak lebih leluasa bergerak karena di sebelah timur agaknya lawan tidak menempatkan telik sandi mereka.

Semakin mendekati dinding padepokan, hati kedua orang itu menjadi semakin berdebar-debar. Menilik percakapan yang mereka dengar dari para telik sandi tadi, padepokan masih dikuasai oleh para pengawal Matesih.

“Apakah tidak sebaiknya kita menyelinap lewat regol depan saja, guru? Seperti saat kita menyerbu padepokan ini.” bisik Glagah Putih sambil mengamat-amati dinding padepokan yang sangat tinggi, “Dinding padepokan ini sangat tinggi, masih seperti yang dulu.”

“Ah, macam kau!” jawab Ki Jayaraga sambil tertawa pendek, “Tapi benar juga katamu. Sebaiknya kita mengethuk pintu regol depan saja dan bertamu secara baik-baik. Siapa tahu para pengawal itu masih ada yang mengenali aku.”

“Ah!” Sekarang Glagah Putih yang tertawa. Dalam keadaan yang genting pun guru dan murid itu masih saja sempat bergurau.

“Jadi, sebaiknya bagaimana, guru?” kembali Glagah Putih mengajukan pertanyaan dengan nada yang bersungguh-sungguh.

Sejenak Ki Jayaraga termenung. Sesaat kemudian, barulah dia menjawab, “Kita meloncat setinggi-tingginya. Memang tidak mungkin untuk mencapai bibir dinding itu dengan kaki kita. Namun aku yakin kedua tangan kita masih mampu untuk meraih dinding itu dan kemudian berayun untuk melompat lebih tinggi lagi.”

“Jika pada lompatan pertama ternyata tangan kita tidak mampu menggapai bibir dinding padepokan?” bertanya Glagah Putih selanjutnya dengan nada sedikit ragu-ragu.

“Usahakan engkau memilih tempat jatuh di tanah yang empuk, sehingga tulang belulangmu tidak berpatahan,” jawab Ki Jayaraga sambil tersenyum.

“Ah!” desah Glagah Putih sambil tersenyum masam.

“Kita coba melingkar ke bagian belakang,” akhirnya Ki Jayaraga menemukan sebuah akal, “Barangkali dinding bagian belakang ada sebatang pohon yang tumbuh dekat dinding dan dapat kita jadikan sebagai pancadan untuk memasuki padepokan.”

“Guru,” berkata Glagah Putih kemudian menanggapi usul gurunya, “Sebenarnyalah kita ini bermaksud baik dan tentu saja salah satu pengawal Matesih yang berjaga di padepokan ini masih ada yang mengenali guru,” Glagah Putih berhenti sejenak untuk sekedar menarik nafas. Lanjutnya kemudian, “Permasalahan yang sebenarnya adalah bagaimana kita memasuki padepokan tanpa sepengetahuan lawan, terutama telik sandi yang telah disebar di sekitar gunung Tidar ini.”

“Engkau benar Glagah Putih,” sahut gurunya kemudian sambil melangkah menyusuri dinding sebelah timur menuju ke utara, ke arah belakang dinding padepokan, “Jangan sampai kedatangan kita  ini akan diketahui oleh pihak lawan terutama para telik sandi sehingga mereka akan melaporkan keadaan terakhir padepokan ini kepada pemimpin mereka.”

“Dan tentu saja para pemimpin lawan akan mengambil langkah-langkah cepat untuk merebut padepokan ini,” Glagah Putih pun kemudian menyahut dengan serta merta.

“Tepat dugaanmu!” kembali Ki Jayaraga menyahut, “Itulah yang harus kita hindari sebelum mengetahui keadaan yang sebenarnya dari pasukan pengawal Matesih di padepokan ini.”

Glagah Putih tidak menanggapi kata-kata terakhir gurunya. Hanya kepalanya saja yang terlihat terangguk-angguk.

Demikianlah kedua guru dan murid itu kemudian dengan sangat hati-hati dan tidak meninggalkan kewaspadaan sekejap pun menyusuri dinding padepokan yang membujur ke arah utara.

“Kita telah sampai,” desis Ki Jayaraga sambil menghentikan langkahnya dan mengamat-amati dinding tinggi yang membujur di sebelah utara padepokan.

“Guru,” berkata Glagah Putih kemudian sambil menunjuk ke depan, “Ada sebatang pohon yang tumbuh dekat dinding padepokan itu. Kita dapat memanjatnya dan kemudian meloncat masuk.”

Ki Jayaraga memandang ke arah yang ditunjuk muridnya itu. Namun pandangan mata orang yang semasa mudanya telah malang melintang di dunia hitam maupun putih itu telah melihat sebuah pintu butulan beberapa langkah saja di sebelah pohon yang menjulang tinggi itu.

“Aku lebih senang lewat pintu butulan itu, Glagah Putih,” jawab Ki Jayaraga kemudian sambil berpaling sekilas ke arah muridnya dan tersenyum lebar, “Semoga saja ada salah seorang pengawal yang berjaga di belakang dan mendengar kita mengethuk pintu.”

Glagah Putih hanya dapat mengangkat kedua bahunya sambil menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam hati dia tidak dapat menyalahkan gurunya. Memang jika jalan yang lebih mudah dapat ditempuh, mengapa mesti mencari jalan yang lebih sulit dan rumit?

Sejenak guru dan murid itu kemudian bergerak dengan cepat namun tidak meninggalkan kewaspadaan menyisir sepanjang dinding belakang padepokan menuju ke pintu butulan.

Namun alangkah terkejutnya kedua orang itu ketika pandangan mata mereka yang tajam melebihi orang kebanyakan telah mendapatkan pemandangan yang aneh di depan pintu butulan itu.

“Guru, mengapa batang-batang perdu dan gerumbul di sekitar pintu butulan ini tampak seperti baru saja dilewati segerombolan kerbau liar?” bertanya Glagah Putih kemudian sambil mengamat-amati keadaan di depan pintu butulan.

“Bukan hanya di depan pintu butulan ini saja Glagah Putih,” jawab Ki Jayaraga sambil mengikuti muridnya mengamati keadaan di sekitarnya, “Tampaknya tempat ini baru saja dilewati serombongan pasukan atau apa. Namun yang jelas rombongan orang-orang itu bergerak menjauhi padepokan.”

“Ya, guru,” sahut Glagah Putih cepat, “Jejak-jejak ini memang berasal dari dalam padepokan.”

“Marilah kita masuk,” berkata Ki Jayaraga kemudian sambil melangkah mendekati pintu butulan, “Jika dugaan kita benar, tentu pintu butulan ini tidak diselarak.”

Selesai berkata demikian dengan perlahan Ki Jayaraga mendorong pintu itu. Ternyata memang benar, dengan mudahnya pintu butulan itu terbuka lebar.

“Glagah Putih, cepat masuk!” perintah Ki Jayaraga. Tanpa menunggu waktu kedua orang itu dengan cepat segera menyelinap masuk.

“Selaraklah!” berkata Ki Jayaraga kemudian begitu melihat muridnya itu hanya berdiri termangu-mangu saja. Sementara pintu butulan di belakangnya terbuka lebar.

Dengan cekatan Glagah Putih pun segera menutup pintu butulan itu dan menyelaraknya.

“Kita kemana, guru?” bertanya Glagah Putih kemudian ketika melihat gurunya hanya diam mematung.

Ketika keduanya kemudian mendorong pintu belakang dapur, segera saja pandangan mata mereka ………

 Ki Jayaraga menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya kemudian, “Lebih baik kita masuk saja untuk memeriksa keadaan di dalam padepokan. Menurut panggraitaku, agaknya padepokan ini sudah kosong. Namun tidak ada jeleknya kita periksa saja.”

“Baik guru,” jawab Glagah Putih kemudian sambil mengikuti langkah gurunya. Keduanya tidak perlu lagi berjalan merunduk-runduk di antara gerumbul dan tanaman perdu, karena kedua orang itu yakin jika padepokan sudah dalam keadaan kosong.

Ketika keduanya kemudian mendorong pintu belakang dapur, segera saja pandangan mata mereka melihat keadaan dapur yang remang-remang. Sebuah lampu dlupak tampak berkelap-kelip sinarnya di atas ajug-ajug di pojok dapur. Tungku yang berada di dekat dinding tampak masih berasap walaupun sudah tidak tampak lagi nyala apinya. Sementara sebuah belanga besar diletakkan begitu saja di atas tungku.

Dengan langkah perlahan kedua orang itu segera memasuki dapur. Sebuah amben besar terdapat di tengah tengah ruangan. Di atasnya beberapa mangkuk kotor dan bahkan sebagian masih terisi nasi tampak berserakan di atas amben.

“Agaknya para pengawal telah meninggalkan padepokan ini dengan tergesa-gesa,” desis Ki Jayaraga sambil berjalan berkeliling.

Sambil membuka geledeg besar yang ada di sudut, Ki Jayaraga meneruskan kata-katanya, “Mungkin mereka meninggalkan padepokan selepas Matahari terbenam. Begitu tergesa-gesanya sampai ada yang tidak sempat makan sore.”

Glagah Putih mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berjalan ke amben besar di tengah tengah ruangan itu. Diamat-amatinya beberapa mangkuk kotor dan mangkuk yang masih terisi nasi dan sayur, namun yang belum sempat dinikmati.

“Sayur lodeh nangka,” desis Glagah Putih sambil menyentuh mangkuk itu.

“Makanlah!” berkata Ki Jayaraga sambil berpaling sekilas, “Tadi engkau kelihatannya belum begitu puas makan di banjar padukuhan.”

“Ya, guru,” sahut Glagah Putih sambil tersenyum, “Rasa-rasanya aku tadi makan kurang bersemangat. Sayur bayam dan bothok sembukan. Jika saja bothoknya agak pedas, mungkin makanku akan lahap dan nikmat.”

“Mengapa engkau tadi tidak meminta sambal ke dapur?”

“Sambal di dapur sudah habis,” sahut Glagah Putih dengan serta merta, “Sebenarnya perempuan yang bekerja di dapur itu akan membuatkan aku sambal lagi, tapi aku menolak. Terlalu lama menunggu.”

Ki Jayaraga tersenyum mendengar ucapan muridnya itu. Katanya kemudian, “Sekarang engkau dapat makan sepuas-puasnya jika ingin makan lagi. Ini ada sambal dan ikan wader. Tapi sudah agak dingin.”

“Ah, sudahlah guru,” sela Glagah Putih begitu melihat gurunya mengambil sepotong ikan wader goreng di sebuah mangkuk, “Aku kurang berselera malam ini. Lebih baik kita lanjutkan penyelidikan kita di padepokan ini.”

“Tidak ada gunanya,” jawab gurunya sambil menguyah ikan wader itu yang sedikit alot karena sudah dingin, “Aku yakin tenpat ini sudah kosong. Lebih baik kita ikuti saja jejak-jejak tadi menuju ke arah mana.”

Glagah Putih tidak menanggapi hanya menarik nafas dalam-dalam ketika dilihatnya Ki Jayaraga kembali meraih seekor ikan wader goreng di dalam mangkuk. Bahkan sekarang ikan wader itu agak besar.

“Ambillah!” berkata Ki Jayaraga sambil memberi isyarat dengan tangannya, “Lumayan enak walaupun sudah agak dingin dan sedikit alot.”

Agaknya Glagah Putih terpengaruh melihat gurunya yang terlihat sangat menikmati wader goreng itu. Tanpa sadar tangan kanannya terulur untuk mengambil sebuah.

Ketika Glagah Putih kemudian memasukkan wader goreng berukuran kecil itu ke dalam mulutnya, segera saja tampak sebuah kerutan di dahinya.

“Ya guru, lumayan enak,” berkata Glagah Putih kemudian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Tanpa mereka sadari, keduanya pun kemudian telah duduk di amben besar itu sambil menikmati wader goreng. Mereka seolah-olah telah lupa bahwa setiap saat keadaan dapat berubah dengan cepat.

Namun sebenarnyalah kedua orang itu tidak pernah sekejap pun melepaskan kewaspadaan, walaupun keduanya terlihat sangat menikmati ikan wader goreng yang sudah dingin.

Ketika sudah tidak tersisa lagi wader goreng dalam mangkuk itu, keduanya pun segera beranjak menuju ke meja di sudut dapur. Beberapa kendi tampak diletakkan berjajar-jajar di atas meja.

Setelah meneguk minuman dalam kendi itu sepuas-puasnya, barulah Ki Jayaraga berkata, “Nah, sekarang kita sudah siap melaksanakan tugas berikutnya. Kita lacak kemana perginya para pengawal Matesih itu.”

Glagah Putih tidak menyahut. Setelah meletakkan sebuah kendi yang berada di tangan kanannya, kemudian diikuti saja langkah-langkah gurunya keluar dapur.

Dalam pada itu Ki Wiyaga dan pasukan pengawal Matesih ternyata telah sampai di makam orang suci yang berada di lereng sebelah utara gunung Tidar. Sejak matahari terbenam, secara berkelompok mereka bergerak meninggalkan padepokan melalui pintu butulan sebelah utara. Mereka bergerak dalam kelompok-kelompok kecil dengan jeda pemberangkatan yang telah ditentukan. Kelompok-kelompok kecil itu bergerak menyebar menyusuri lereng sebelah utara gunung Tidar sampai akhirnya tiba di makam orang suci yang dikeramatkan.

“Masing-masing kelompok usahakan mencari tempat yang memadai untuk berlindung,” perintah Ki Wiyaga sesampainya mereka di makam orang suci itu, “Jarak antar tempat kalian bersembunyi diusahakan jangan terlalu jauh dan gunakan isyarat yang telah kita sepakati untuk saling berhubungan.”

Masing-masing kelompok itu pun kemudian bergerak dengan senyap menuju tempat persembunyian yang telah ditentukan.

Malam telah melewati sirep bocah dan memasuki wayah sepi uwong ketika Ki Jayaraga dan muridnya sampai di tempat itu. Adalah sangat mudah bagi kedua orang itu untuk menyusuri jejak para pengawal yang meninggalkan padepokan.

Sepanjang perjalanan kedua orang itu dengan jelas dapat melihat rumput-rumput yang bagaikan habis dilewati segerombolan kerbau liar, ranting-ranting dan daun-daun perdu yang berpatahan serta gerumbul-gerumbul yang tersibak dan terinjak kaki puluhan orang.

“Mereka ternyata sama sekali tidak berusaha untuk menyamarkan jejak mereka,” desis Glagah Putih sambil terus berjalan mengikuti jejak-jajak yang mereka tinggalkan.

“Mereka tidak berpikir sejauh itu, dan mungkin juga tidak sempat,” sahut Ki Jayaraga kemudian sambil menengadahkan wajahnya ke langit. Lanjutnya kemudian, “Sudah hampir wayah sepi uwong. Semoga Ki Wiyaga dan beberapa pengawal Matesih masih mengenali aku.”

Glagah Putih mengerutkan keningnya sambil berpaling sekilas ke arah gurunya. Katanya kemudian, “Yang jelas mereka memang belum mengenal aku. Tapi seandainya mereka juga tidak mengenali Ki Jayaraga lagi, apa yang harus kita perbuat?”

“Lari,” jawab Ki Jayaraga pendek tanpa basa basi.

“Lari?” ulang Glagah Putih dengan nada keheranan, “Mengapa?”

“Terserah engkau Glagah Putih,” kembali Ki Jayaraga menjawab acuh, “Aku tidak mau ditangkap dan dijadikan pengewan-ewan oleh pasukan Matesih yang sedang kalap. Mereka saat ini benar-benar sedang dalam puncak ketegangan sehingga jika kita sedikit saja salah berbuat atau bicara, kita akan menjadi bulan-bulanan.”

“Ah, tentu tidak, guru,” sahut Glagah Putih dengan serta merta, “Tentu pemimpin pasukan itu mempunyai kebijaksanaan dalam menangani sebuah kesalah-pahaman. Jika kita tidak memancing kemarahan mereka, tentu mereka juga akan memperlakukan kita dengan baik.”

Ki Jayaraga mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan muridnya. Namun orang yang telah kenyang makan asam garamnya kehidupan itu kemudian berkata selanjutnya, “Itu bisa terjadi jika kita menghadapi orang-orang yang waras dan dalam keadaan yang wajar. Namun jika kita berhadapan dengan orang yang otaknya sudah dikotori oleh prasangka buruk dan dalam keadaan yang genting karena menyangkut persoalan hidup atau mati, biasanya mereka akan bertingkah tidak wajar dan memilih meniadakan segala kemungkinan yang dapat membahayakan keamanan dan kelangsungan hidup mereka.”

Glagah Putih tidak menyahut. Hanya tarikan nafasnya saja yang terdengar panjang dan sangat dalam.

Demikianlah langkah-langkah kedua orang itu semakin mendekati tempat persembunyian pasukan pengawal Matesih. Bagaikan sudah berjanji sebelumnya, keduanya sama sekali tidak menyembunyikan desir langkah kedatangan mereka. Dalam pandangan guru dan murid yang sangat tajam melebihi orang kebanyakan itu, keberadaan tempat persembunyian pasukan Matesih itu sudah dapat mereka temukan.

Ketika jarak kedua orang itu tinggal beberapa tombak, Ki Jayaraga segera memberi isyarat kepada muridnya untuk berhenti. Untuk sejenak keduanya hanya berdiri diam termangu-mangu sambil menunggu. Namun ketika tidak ada tanda-tanda penyambutan, barulah Ki Jayaraga kemudian mengucapkan salam.

“Selamat malam Ki Wiyaga,” berkata Ki Jayaraga sambil sedikit membungkukkan badannya diikuti oleh Glagah Putih, “Semoga Ki Wiyaga masih ingat aku, Ki Jayaraga salah satu kawan Ki Rangga yang ikut menyerbu padepokan Sapta Dhahana beberapa saat yang lalu.”

Tidak terdengar jawaban, suasana terlihat sangat sepi, hanya suara jengkerik dan binatang-binatang malam yang terdengar melengking bersahut sahutan dengan irama yang ajeg.

Namun keadaan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba saja terdengar gemerisik dedaunan yang tersibak dan ranting-ranting kering yang berpatahan terinjak oleh kaki dari arah depan.

“Selamat malam Ki Jayaraga,” terdengar suara yang berat dan dalam bersamaan dengan munculnya sesosok tubuh dari dalam sebuah semak belukar.

“Ah, benar dugaanku. Ki Wiyaga kiranya,” jawab Ki Jayaraga sambil tertawa pendek dan berjalan menyambut Ki Wiyaga yang berjalan mendekat.

“Bagaimana keadaan Ki Jayaraga?” bertanya Ki Wiyaga kemudian setelah keduanya bersalaman, “Apakah Ki Jayaraga benar-benar sudah sehat?”

“Sebagaimana yang engkau lihat, Ki. Atas seijin dan pertolongan Yang Maha Agung, aku sudah kembali pulih seperti sedia kala.”

“Syukurlah,” sahut Ki Wiyaga sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian sambil memandang ke arah Glagah Putih, pemimpin pengawal Matesih itu pun meneruskan kata-katanya, “Tapi sepertinya aku belum pernah mengenal Ki Sanak yang masih muda ini.”

“O, maafkan aku, Ki Wiyaga,” terdengar Ki Jayaraga tertawa pendek. Kemudian sambil menarik lengan Glagah Putih yang berdiri mematung di sebelah kanannya Ki Jayaraga melanjutkan kata-katanya, “Perkenalkan ini Glagah Putih, saudara sepupu Ki Rangga Agung Sedayu.”

“Saudara sepupu Ki Rangga Agung Sedayu?!” seru Ki Wiyaga sambil dengan tergopoh-gopoh menyambut uluran tangan Glagah Putih. Glagah Putih pun menjadi segan mendapat perlakuan seperti itu.

“Ki Wiyaga,” berkata Glagah Putih kemudian setelah keduanya selesai bersalaman, “Aku bukan siapa-siapa. Hanya kebetulan saja menjadi saudara sepupu Ki Rangga. Jadi aku harap Ki Wiyaga memperlakukan aku apa adanya.”

“Ah,” hampir bersamaan Ki Jayaraga dan Ki Wiyaga berdesah. Namun cepat-cepat Ki Wiyaga menyahut, “Namun setidaknya sebagai saudara sepupu, kemampuan Ki Sanak tentu tidak terpaut jauh dengan Ki Rangga.”

“Itu tidak benar, Ki Wiyaga,” sela Glagah Putih cepat, “Ki Rangga adalah seorang yang sangat luar biasa dan aku kebetulan hanyalah anak pamannya yang mempunyai hubungan sedarah dari jalur ibunya.”

Ki Wiyaga mengerutkan keningnya sementara Ki Jayaraga justru tertawa pendek. Katanya kemudian kepada Ki Wiyaga, “Memang demikianlah sifat-sifat dari keluarga Ki Rangga. Bagaikan bulir-bulir padi, semakin merunduk semakin berisi.”

“Ah,” Glagah Putih lah yang sekarang berdesah dengan muka sedikit memerah. Dia tahu sifat gurunya yang suka bercanda. Namun saat ini dia harus memberikan penjelasan yang sebenarnya kepada kepala pengawal Matesih itu agar dirinya dapat bergaul tanpa dibebani rasa segan.

“Sebenarnyalah aku juga pernah belajar selangkah dua langkah ilmu kanuragan, Ki Wiyaga,” berkata Glagah Putih kemudian, “Namun guru Ki Rangga dan guruku berbeda orang, berbeda aliran.”

“He!?” sekarang Ki Wiyaga benar-benar terkejut. Tanyanya kemudian dengan kerut merut di dahi, “Sejauh pengetahuanku, ada beberapa keluarga yang mewarisi ilmu turun temurun dari satu cabang perguruan yang sama. Aku kira Ki Rangga dan Ki Sanak menimba ilmu dari sumber yang sama.”

“Tidak Ki Wiyaga,” jawab Glagah Putih dengan serta-merta sambil tersenyum, “Aku menimba ilmu pada aliran perguruan yang lain. Pada seseorang yang sangat mumpuni dan mempunyai ilmu yang dahsyat tiada taranya. Sampai saat ini aku masih sedang menimba ilmu kepadanya, masih belajar selangkah dua langkah untuk mengetahui ilmu olah kanuragan yang sebenarnya. Jadi Ki Wiyaga jangan menganggap diriku setara atau paling tidak mendekati kemampuan Ki Rangga. Aku hanyalah sebuah timun wungkuk bersanding dengan sebuah durian.”

Wajah Ki Wiyaga tampak sedikit menegang. Memang usia Glagah Putih menurut taksiran Ki Wiyaga masih muda. Jadi menurut perkiraan Ki Wiyaga, kemampuan ilmu kanuragannya pun tentu masih biasa saja. Maka tanyanya kemudian, “Tetapi siapakah sebenarnya guru Ki Sanak itu?”

Glagah Putih tersenyum sambil membungkuk hormat dan mengacungkan jempol tangan kanannya ke arah Ki Jayaraga. Katanya kemudian, “Ki Jayaraga lah yang selama ini menuntunku untuk mengenal dunia olah kanuragan.”

“O!” seru Ki Wiyaga dengan wajah penuh kekaguman. Kemudian sambil membungkuk dalam-dalam dia berkata, “Maafkan aku Ki Jayaraga jika aku tidak mengetahui bahwa Glagah Putih ini adalah muridmu. Kami sudah mengetahui kedahsyatan ilmu Ki Jayaraga ketika bertempur melawan dua orang putut Sapta Dhahana pada waktu itu. Ternyata dugaan kami memang benar, kawan-kawan Ki Rangga adalah orang-orang linuwih sebagaimana Ki Rangga itu sendiri.”

Seleret warna merah segera saja menghiasai wajah Ki Jayaraga. Namun hanya dalam sekejap. Sejenak kemudian Ki Jayaraga justru telah tertawa sambil berkata, “Ah, aku ini memang gurunya Glagah Putih. Aku telah mengajarkan dia selangkah dua langkah ilmu olah kanuragan. Namun yang aku ajarkan lebih banyak langkah mundur dari pada langkah maju.”

Hampir bersamaan Ki Wiyaga dan Glagah Putih mengerutkan kening mereka.

Ki Wiyaga lah yang kemudian menjadi penasaran dan mengajukan sebuah pertanyaan dengan serta merta, “Maksud Ki Jayaraga?”

“Aku banyak mengajarkan dia untuk melangkah mundur, maksudnya melarikan diri jika bertemu lawan. Itulah jurus andalan perguruan kami.”

“Ah,” segera saja Ki Wiyaga dan Glagah Putih tertawa masam.

“Sudahlah Ki Wiyaga,” akhirnya Ki Jayaraga berkata dengan sungguh-sungguh, “Aku membawa pesan dari Ki Rangga untuk pasukan Matesih yang sedang bertahan di padepokan.”

“Jadi, benar berita yang mengatakan bahwa Ki Rangga telah hadir di perdikan Matesih?” sela Ki Wiyaga kemudian dengan nada penuh kegembiraan.

“Benar Ki Wiyaga,” jawab Ki Jayaraga sambil menganggukkan kepalanya, “Ki Rangga telah hadir di perdikan Matesih wayah tunggang gunung tadi siang bersama saudara sepupunya ini.”

Tanpa sadar Ki Wiyaga berpaling ke arah Glagah Putih. Namun kali ini Glagah Putih telah tersenyum lebar sehingga Ki Wiyaga pun akhirnya ikut tersenyum lebar.

“Syukurlah,” berkata Ki Wiyaga kemudian dengan tetap tersenyum, “Semoga dengan kehadiran Ki Rangga dan saudara sepupunya ini, Matesih akan dapat diselamatkan dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.”

“Kita semua hanya berusaha dan berdoa, Ki Wiyaga,” cepat-cepat Glagah Putih menimpali, “Dengan dukungan seluruh kawula Matesih dan perkenan dari Yang Maha Agung, kita semua berharap Matesih dapat lolos dari cobaan ini.”

Tampak Ki Wiyaga mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Jayaraga yang berdiri di sebelah kiri Glagah Putih telah tersenyum penuh arti.

“Baiklah Ki Wiyaga,” berkata Ki Jayaraga kemudian setelah sejenak mereka terdiam, “Aku mengemban perintah dari Ki Rangga untuk menyampaikan perintah bahwa pasukan yang masih bertahan di padepokan sebaiknya ditarik kembali ke perdikan Matesih.”

Untuk beberapa saat Ki Wiyaga termangu-mangu. Orang tua berpakaian aneh yang menemuinya tadi sore telah menyarankan kepada dirinya untuk bersembunyi saja di makam suci itu. Jika dia dan pasukannya berencana akan kembali ke Matesih, tidak menutup kemungkinan justru akan dicegat di perjalanan dan kemudian dihancurkan oleh pasukan gabungan perguruan Sapta Dhahana dan Gandamayit.

“Maaf Ki Jayaraga,” akhirnya Ki Wiyaga menyahut setelah sejenak berdiam diri, “Kami mempunyai perhitungan tersendiri tentang hal itu.”

Kemudian secara singkat Ki Wiyaga segera menceritakan tentang orang tua aneh yang telah datang ke padepokan dan memberinya beberapa petunjuk.

“Pasukan itu sangat besar,” berkata Ki Wiyaga selanjutnya, “Aku dan pembantuku waktu itu memang tidak melihat langsung pasukan itu. Namun menilik dari gema suara sorak sorai mereka yang membahana, aku taksir pasukan itu besarnya berlipat ganda dari pasukan Matesih yang berada di padepokan.”

Untuk sejenak Ki Jayaraga dan muridnya saling pandang. Memang sangat berbahaya bergerak meninggalkan padepokan Sapta Dhahana saat itu. Sementara pasukan lawan yang berlipat ganda jumlahnya sedang berada di depan hidung.

“Guru,” berkata Glagah Putih kemudian, “Apakah tidak sebaiknya kita mengadakan penyelidikan terlebih dahulu untuk melihat seberapa besar jumlah pasukan lawan itu?”

Ki Jayaraga tidak segera menjawab. Namun tampak kepalanya terangguk-angguk. Dia dan Glagah Putih memang harus melihat sendiri pasukan lawan itu sehingga akan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil langkah-langkah berikut-nya.

“Baiklah,” berkata Ki Jayaraga pada akhirnya, “Memang sebaiknya kita mengadakan penyelidikan, mumpung sudah berada di sini.”

“Setuju, Ki,” sahut Ki Wiyaga. Kemudian dengan singkat kepala pengawal Matesih itu segera memberikan ancar-ancar tempat keberadaan pasukan gabungan cantrik Sapta Dhahana dan Gandamayit itu.

“Ki Wiyaga,” berkata Ki Jayaraga kemudian sambil mengedar-kan pandangan matanya sekeliling. Kemudian sambil tersenyum dia melanjutkan, “Pasukan pengawal Matesih memang sudah cukup rapi bersembunyi. Namun usahakan untuk mengurangi gerakan yang tidak perlu, walaupun aku tahu tentu nyamuk di hutan ini cukup ganas dan besar-besar.”

“Benar Ki Jayaraga,” sahut Ki Wiyaga cepat, “Sebelum berangkat tadi beberapa pengawal ada yang sempat mengambil daun tapak dara yang banyak tumbuh di halaman padepokan. Sementara yang lain ada yang menumbuk batang pohon sereh dicampur dengan daun selasih. Dengan melumurkan tumbukan keduanya pada sebagian kaki dan lengan, nyamuk tidak akan mendekat.”

“Mengapa kalian tidak membawa air panas sekalian?” sela Glagah Putih yang membuat kedua orang itu mengerutkan keningnya dalam-dalam.

“Untuk apa?” hampir bersamaan kedua orang itu kemudian bertanya.

Glagah Putih tersenyum sebelum menjawab. Jawabnya kemudian sambil tersenyum lebar, “Tumbukan batang pohon sereh dan daun selasih itu tentu nikmat diseduh dengan air panas dan gulan aren.”

“Macammu!” geram Ki Jayaraga yang disambut tawa oleh Ki Wiyaga dan Glagah Putih. Ki Jayaraga pun akhirnya ikut tertawa.

“Sudahlah,” berkata Ki Jayaraga pada akhirnya setelah tawa mereka mereda, “Silahkan Ki Wiyaga tetap di sini. Kami berdua akan mendekati pasukan itu. Semoga bisa dijadikan gambaran untuk persiapan perdikan Matesih menyongsong lawan.”

“Terima kasih, Ki,” sahut Ki Wiyaga sambil mengangguk dalam-dalam, “Semoga perjalanan kalian berdua menyenangkan.”

“O, tentu saja!” sela Ki Jayaraga cepat, “Menelusuri hutan di malam yang dingin dengan ditemani semangkuk wedang sereh dicampur daun selasih dengan sepotong gula aren tentu sangat mengasyikkan!”

“Ah!” kembali mereka bertiga pun tertawa.

Demikianlah akhirnya Ki Jayaraga dan Glagah Putih meninggalkan tempat itu. Sepeninggal kedua guru dan murid itu, Ki Wiyaga segera bergeser kembali ke tempat persembunyiannya.

Dalam pada itu pertempuran antara Eyang Guru dan Kiai Dandang Mangore melawan kedua ujud bayangan semu Ki Rangga semakin lama menjadi semakin sengit. Kiai Dandang Mangore yang belum pernah mengalami bertempur dengan bayangan semu Ki Rangga menjadi sedikit gugup dan sering melakukan kesalahan-kesalahan yang seharusnya tidak terjadi. Pemimpin Perguruan Gandamayit iu masih belum dapat mempercayai dengan apa yang ada di hadapannya, sebuah bayangan semu yang mampu memancarkan ilmu sebagaimana ujud aslinya.

“Gila! Gila! Gila!” berkali kali umpatan itu keluar dari mulut Kiai Dandang Mangore setiap kali dia terkecoh oleh bayangan semu Ki Rangga.

Sedangkan Eyang Guru yang telah mengalami bertempur dengan bayangan semu Ki Rangga sebelumnya telah dapat bertempur dengan sedikit lebih tenang. Dia lebih mengutamakan  panggraitanya dari pada mata wadagnya untuk melihat ujud lawan secara keseluruhan.

“Bayangan semu ini kadang hanya sebuah bayangan kosong tanpa isi,” berkata Eyang Guru dalam hati sambil terus bertempur, “Namun di saat-saat tertentu dengan tiba-tiba bayangan ini menjadi lantaran pancaran ilmu Ki Rangga. Aku harus mampu mengenali kapan itu terjadi.”

Dengan berbekal keyakinan itulah Eyang Guru bertempur dengan tenang. Sesekali dia sekilas sempat melihat ke arah arena pertempuran Kiai Dandang Mangore. Orang kepercayaan Trah Sekar Seda Lepen itu pun hanya dapat menarik nafas dalam-dalam melihat kesulitan yang sedang menimpa sahabatnya itu.

“Kiai Dandang Mangore terlalu percaya dengan kemampuan ilmunya,” berkata Eyang Guru selanjutnya dalam hati sambil berputaran menghindari serangan lawan, “Dia masih belum percaya sepenuhnya dengan permainan Ki Rangga. Jika dia mampu mengendapkan kesombongannya dan mencoba menilai lawan dengan mata batinnya, tentu dia akan segera keluar dari kesulitan.”

 “Sudahlah,” berkata Ki Jayaraga pada akhirnya setelah tawa mereka mereda, “Silahkan Ki Wiyaga tetap di sini……..

Namun Eyang Guru tidak mampu menolong sahabatnya itu. Dia sendiri harus benar-benar memusatkan segenap kemampuan-nya untuk menghadapi ilmu lawannya yang aneh itu.

Semakin lama kedua ujud Ki Rangga bertempur semakin nggegirisi. Bayangan semu yang menghadapi Eyang Guru tampak sudah mulai merambah pada tataran ilmu yang lebih tinggi. Bayangan semu itu bergerak dengan sangat cepatnya dengan lompatan-lompatan tinggi diluar kewajaran.

Eyang Guru benar-benar dibuat kebingungan. Tidak mungkin baginya untuk mengimbangi gerak lawan. Selain wadagnya yang sudah mulai renta dan harus menghemat tenaga dengan cermat, dia juga tidak mempunyai sejenis ilmu yang dapat menghilangkan bobot tubuhnya.

“Jika aku meladeni tandangnya, sebentar saja aku akan terkapar kehabisan nafas,” membatin Eyang Guru dalam hati.

Memang sebenarnya itulah yang dikehendaki oleh Ki Rangga. Melalui pancaran ilmunya dia berusaha memancing Eyang Guru untuk bergerak berlebihan sehingga akan menguras tenaganya. Namun ternyata Eyang Guru tidak terpancing. Dia bergerak selangkah demi selangkah dan hanya sesekali meloncat menjauh untuk menghindari sambaran ujung cambuk lawannya.

Namun lama-kelamaan Eyang Guru menjadi bosan. Selama ini dia melayani lawan sebagaimana dia melayani lawan yang sesungguhnya. Selama ini dia telah berusaha mengetrapkan ilmu sapta panggraitanya dan berusaha untuk membaca setiap perubahan yang terjadi pada ujud semu Ki Rangga. Namun orang kepercayaan Trah Sekar Seda Lepen itu masih belum yakin dengan hasil pengamatannya.

Memang kadang-kadang Eyang Guru berusaha untuk tidak menghindari ujung cambuk ujud semu Ki Rangga jika dia menilai dan yakin yang menyerangnya itu hanyalah bentuk semu, tanpa pancaran ilmu. Akan tetapi kadang kala Eyang Guru merasa terjebak dengan perhitungannya sendiri. Disaat ujung cambuk ujud semu Ki Rangga menyambarnya, dia tidak berusaha menghindar karena menurut perhitungan panggraitanya itu hanyalah sebuah serangan semu. Namun alangkah terkejutnya orang kepercayaan Raden Wirasena itu karena dia merasakan sebuah desir yang sangat kuat mendahului datangnya ujung cambuk yang menyambar lehernya.

Cepat-cepat Eyang Guru menjatuhkan diri bergulingan ke samping sambil mengumpat tak habis-habisnya. Begitu dia melenting berdiri di atas kedua kakinya yang kokoh, kembali ujung cambuk itu disertai kekuatan yang lebih dahsyat menyambar dadanya.

Sebenarnya jika lawan menggunakan senjata biasa, bukan senjata dari jenis yang lentur, tentu Eyang Guru dengan tatag akan menangkis dengan sepenuh kekuatan. Namun yang dihadapi adalah senjata cambuk yang mempunyai sifat lentur, sehingga jika dia berusaha menangkisnya, justru pergelangan tangannya yang mungkin akan terbelit oleh ujung cambuk itu.

Untuk itulah Eyang Guru terpaksa meloncat mundur dan mundur terus untuk menghindari serangan susulan lawan.

“Ujud semu Ki Rangga ini sengaja mengambil jarak dengan menggunakan senjata panjang dan lentur,” membatin Eyang Guru kemudian sambil terus menghindari serangan lawan, “Tidak ada jalan lain kecuali membalas dengan serangan jarak jauh pula,”

Berbekal keyakinan itu, Eyang Guru tidak berusaha lagi bertempur pada jarak dekat. Namun Eyang Guru justru berloncatan menjauh dan berputar-putar mengitari medan pertempuran.

“Aku harus tahu, kapan ujud semu Ki Rangga ini benar-benar merupakan pancaran ilmunya,” kembali Eyang Guru berkata dalam hati, “Mungkin pada saat ujud semu itu menyerang, aku akan merasakan ada dan tidaknya sambaran angin yang mendahului serangan itu. Saat itulah ujud semu itu akan aku serang.”

Berpikir sampai disitu, Eyang Guru segera memutar keris pusakanya Kanjeng Kiai Sarpa Sri di atas kepalanya. Segera saja tampak lingkaran kemerah-merahan di atas kepala Eyang Guru.

Ketika ujud semu Ki Rangga kemudian meloncat dengan lecutan cambuk sendal pancing mengarah kepala, Eyang Guru segera merasakan sebuah sambaran angin yang sangat keras mendahului datangnya ujung cambuk itu. Sambil merendahkan diri, Eyang Guru segera mengarahkan ujung keris pusakanya itu kearah Ki Rangga sambil menghentakkan segenap kekuatannya.

Sejenak kemudian berpuluh-puluh bola-bola api kecil melesat menerjang ujud semu Ki Rangga.

Ujud semu Ki Rangga itu terkejut. Dengan cepat dia menggeliatkan tubuh sambil menarik cambuknya. Kemudian dengan cepat dia memutar cambuk itu di depan tubuhnya membentuk perisai untuk melindungi dirinya dari sergapan bola-bola api yang tak terhitung jumlahnya.

Eyang Guru tersenyum tipis melihat lawannya membentuk perisai dari putaran cambuk di depan tubuhnya. Dengan demikian perhitungan Eyang Guru kali ini tidak meleset.

Namun alangkah kecewanya Eyang Guru, ketika dia meningkatkan serangannya dan bola-bola api itu semakin banyak menerjang ujud Ki Rangga, tiba-tiba Ki Rangga menghentikan putaran cambuknya dan dengan tanpa ancang-ancang meloncat menerjang ke arahnya.

Sadarlah Eyang Guru bahwa kini ujud Ki Rangga telah kembali dalam bentuk ujud semu yang sesungguhnya. Bola-bola api serangannya sama sekali tidak berpengaruh terhadap ujud semu itu dan meluncur bertubi-tubi menerjang rumput dan semak belukar di tanggul pinggir bulak. Sejenak kemudian api pun berkobar membakar rumput dan batang-batang perdu yang kering.

“Setan alas!” geram Eyang Guru yang menyadari lawan telah mempermainkan dirinya. Dia sama sekali tidak menghindar ketika ujung cambuk lawan itu kemudian menyambar lambungnya. Serangan itu pun sama sekali tak berbekas di tubuhnya.

“Sebenarnya kunci kekuatan ilmu semu Ki Rangga ini hanyalah masalah waktu,” geram Eyang Guru dalam hati sambil terus bertempur, “Ki Rangga dengan sangat cerdiknya memilih waktu yang tepat kapan ujud semunya diisi dengan pancaran ilmunya atau hanya berupa ujud semu belaka. Namun sangat sulit untuk menebak kapan saat dia mengisi ujud semu dengan ilmunya. Aku harus mampu memecahkan teka teki ini dengan melihat tanda-tanda kapan dia berbuat seperti itu.”

Dalam pada itu Kiai Dandang Mangore ternyata masih belum dapat keluar dari kesulitan. Hatinya masih diliputi keragu-raguan setiap kali ujud Ki Rangga yang menjadi lawannya menyerang. Dia berusaha bergerak mendahului serangan lawan. Sebelum serangan lawan meluncur dia sudah terlebih dahulu menghindar dan kemudian dengan cepat membalas setiap serangan.

Namun berkali kali terdengar umpatan yang sangat kotor keluar dari mulut pemimpin perguruan Gandamayit itu. Berkali kali serangannya hanya seperti menembus kabut. Akan tetapi ketika dia lengah sekejap karena mengira serangan lawan hanyalah bentuk semu yang tak berarti, tiba-tiba salah satu bagian tubuhnya terasa pedih tersengat ujung cambuk lawannya.

“Iblis… gendruwo tetekan!” umpat Kiai Dandang Mangore dengan kerasnya sehingga terdengar oleh sahabatnya yang sedang sibuk melayani ujud semu Ki Rangga yang lain.

“Kasihan Balebang,” membatin Eyang Guru sambil merunduk menghindari sambaran ujung cambuk lawan. Sambaran itu memang tidak didahului oleh desir angin yang menampar tubuhnya. Namun Eyang Guru tetap menghindar untuk mengelabuhi lawan.

Dalam pada itu, menyadari lawan telah meningkatkan ilmunya dan tidak dapat disangka-sangka kapan ujud semu itu merupakan pancaran ilmu Ki Rangga, Kiai Dandang Mangore yang mempunyai sejenis ilmu kebal, segera mengetrapkan ilmu kebal itu setinggi-tingginya.

“Dengan perlindungan ilmu kebal ini aku tidak akan menjadi bingung dengan serangan Ki Rangga yang berubah-ubah,” demikian pemimpin perguruan Gandamayit itu berpikir, “Aku tinggal memikirkan kapan akan menyerang dengan sungguh-sungguh jika ujud semu itu merupakan pancaran ilmu Ki Rangga.”

bersambung ke bagian 2

7 Responses

  1. Assalamu’alaikum.. Mbah Man, saya adalah penggemar ADBM sejak sy kecil, sy membaca ADBM dari seri 1 jilid 1, sampai sekarang. Saya bisa bertahan membaca serial ini karena ceritanya sangat menaruk, tokoh utamanya Agung Sedayu adalah tokoh yg setia pd istri, tokoh yg dapat membangkitkan inspirasi kita untuk selalu berbuat baik. Tapi akhir2 ini sy agak kecewa dg tokoh AS yg dibuat mencintai 3 org wanita sekaligus, dan sepertinya cerita ini bisa dibaca pada akhirnya AS akan mempunyai 3 org istri, sy khawatir jika itu benar2 terjadi, sy akan kehilangan selera untuk melanjutkan membaca serial ini. Mohon maaf jika ada tulisan yg tidak berkenan, sukses selalu mbah man..

    • Waalaikum salam Ni/Nyi Widuri
      Matur suwun atas perhatiannya selama ini.
      ADBM jilid 1-396 adalah salah satu karay besar sang Maestro SHM. Beliau lah inspirator saya untuk melanjutkan cerita yang terputus itu. Memang tokoh AS sangat digemari dan menjadi teladan banyak pembaca ADBM. Saya berusaha menyentuh kembali sisi2 romantis dari seorang manusia. Pertemuan Gupita (AS) dengan PW banyak mengisyaratkan bagaimana ketertarikan AS terhadap PW, sedangkan PW benar2 mengharap AS menjadi bagian dari masa depannya. Kemudian hadir AJ (TADBM) untuk meramaikan suasana dan sebagai tantangan bagi AS menyelesaikan konfilk batin yang sering muncul pada jaman itu masalah putri triman. Bagaiaman sikap kebanyakan seorang istri jika suaminya mendapat hadiah putri triman dari seorang penguasa? Marilah kita tunggu bersama (jika masih berkenan mengikuti ceritanya) jalannya cerita STSD sampai tamat.
      Mohon maaf jika alur cerita yang saya buat agak bikin kecewa para Mentrik (wanita/istri). namun saya siap didemo jika memang nantinya AS punya istri 3. Lha wong saya sendiri saja istri masih satu kok hehehe…
      matur suwun

    • waduuuuu… sampe segitunya… xixixixix

  2. Assalamualaikum,, saya penggemar ADBM mulai kecil ,yg saat itu ada ditayangkan di sandiwara radio,, sampai sekarang,,trus ini kapan dilanjutkan ?STSD 15 bagian ke 2,,,? Udah ga tahan nunggu kelanjutannya,,kapan ?? matur nuwun,,

  3. Saya tetap mengharap agar Mbah agung Sedayu jangan pensiun dulu sebelum pangkatnya naik menjadi tumenggung dengan gelar tumenggung agung Sedayu (jangan dirubah namanya) trimahasih mbah_man)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s