STSD-16

kembali ke STSD-15 | lanjut ke STSD-17

 

Bagian 1

“Ngger,” tiba-tiba terdengar ayah Rudita itu berkata memutus lamunan Ki Rangga, “Selain ilmu kebal dan ilmu kabut, ilmu apalagi yang angger trapkan untuk melawan kedua orang pengikut Trah Sekar Seda Lepen itu?”

Untuk beberapa saat Ki Rangga belum menjawab. Hanya tarikan nafasnya saja yang terdengar dalam. Jawabnya kemudian, “Ki Waskita, aku pernah selintas mencoba memahami beberapa ilmu yang terdapat dalam kitab warisan guru. Di dalam kitab itu dijelaskan tentang beberapa ilmu yang dapat mempengaruhi panca indera seseorang, baik indera penglihatan, pendengaran dan penciuman.”

“Luar biasa,” desis Ki Waskita tanpa sadar yang telah membuat wajah Ki Rangga sejenak memerah. Lanjut Ki Waskita kemudian, “Aku yakin ilmu perguruan Windujati sangat lengkap. Bukan saja masalah ilmu jaya kawijayan guna kasantikan, namun juga sebuah ilmu yang tak kalah dahsyatnya dari semua ilmu yang ada di muka bumi ini, yaitu ilmu pengobatan.”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam mendengar kata-kata terakhir dari Ki Waskita. Dia pun menyadari sepenuhnya, bahwa ilmu pengobatan adalah sebuah ilmu yang sangat bermanfaat bagi bebrayan agung.

“Ngger,” berkata Ki Waskita selanjutnya begitu melihat Ki Rangga hanya termangu-mangu duduk di bibir pembaringannya, “Jika aku boleh menebak, ilmu yang dapat mempengaruhi panca indera penglihatan adalah ilmu kabut yang termasyhur itu. Siapapun dari angkatan tua pasti akan mengenali ilmu kabut itu dari perguruan Windujati.”

Ki Rangga mengerutkan keningnya. Tanyanya kemudian, “Ki Waskita, apakah tidak menutup kemungkinan perguruan lain juga mempunyai ilmu yang sejenis, walaupun mungkin ada sedikit perbedaan dalam bentuk ujud pengetrapannya?”

Ki Waskita menggeleng. Orang tua yang sudah kenyang makan asam garamnya kehidupan itu pun kemudian menjawab, “Sejauh pengetahuanku dalam ilmu olah kanuragan jaya kasantikan, belum ada sebuah perguruan yang mempunyai ciri ilmu sebagaimana perguruan Windujati. Justru banyak yang dapat menciptakan badai api, hujan dan bahkan embun yang sangat dingin bagaikan di musim kasongo. Namun untuk urusan kabut, sejauh pengetahuanku hanya perguruan Windujati yang mempunyainya.”

Tanpa sadar kepala Ki Rangga terangguk-angguk. Memang kitab peninggalan gurunya itu belum tuntas dibaca seluruhnya, justru karena kitab itu milik perguruannya sehingga setiap saat jika diperlukan dia dapat membacanya. Berbeda dengan kitab perguruan Ki Waskita. Dia hanya diberi waktu yang singkat untuk mempelajarinya sehingga apa yang dapat dilakukan sejauh-jauhnya adalah membaca seluruh isi kitab itu dan kemudian memahatkan di dinding-dinding hatinya sehingga jika suatu saat dia ingin mempelajarinya, dia dapat mengulangi kembali seolah-olah membaca isi kitab itu sendiri.

“Ngger,” kembali terdengar suara Ki Waskita memecah kesepian, “Pada saat pecah perang antara Pajang dan Mataram, apakah angger masih ingat ketika itu angger telah berperang tanding melawan Ki Tumenggung Prabandaru?”

Untuk beberapa saat wajah Ki Rangga tampak diliputi keheranan. Tentu saja ingatan Ki Rangga sangat jelas akan terjadinya perang tanding itu. Namun yang membuat Ki Rangga keheranan adalah maksud dari pertanyaan ayah Rudita itu.

“Maksud Ki Waskita?” bertanya Ki Rangga kemudian, “Peristiwa itu sudah cukup lama berlalu dan aku kira tidak ada hal yang perlu mendapat perhatian lagi.”

“Bukan begitu maksudku, ngger,” sahut Ki Waskita cepat, “Namun yang ingin aku sampaikan adalah peristiwa perang tanding itu sendiri. Angger tentu masih ingat saat itu indera penciuman angger telah diserang oleh semacam bau yang sangat wangi yang dapat mengacaukan pemusatan nalar dan budi.”

“Ki Waskita benar,” jawab Ki Rangga dengan serta merta, “Pada saat itu aku benar-benar mengalami kesulitan yang luar biasa untuk memusatkan nalar dan budi. Pengetrapan ilmuku menjadi tumpang tindih dan wor suh menjadi satu sehingga lawanku dapat menekan dengan ilmunya yang dahsyat.”

“Nah, di saat itulah ciri khas perguruan Windujati muncul,” berkata Ki Waskita selanjutnya, “Lingkaran perang tanding itu pun kemudian tertutup oleh tirai kabut yang tak tembus pandang.”

“Tentu guruku, Kiai Gringsing yang telah melakukannya,” potong Ki Rangga cepat.

“Ya, ngger. Karena ternyata dalam pernah tanding itu ada yang ikut campur. Ada seseorang yang berilmu tinggi telah berusaha mempengaruhi penalaranmu melalui indera penciumanmu.”

Tampak sebuah kerut yang dalam di kening Ki Rangga. Katanya kemudian, “Ki Waskita, aku memang pernah membaca dalam kitab warisan guru ilmu sejenis itu, ilmu yang dapat mempengaruhi indera penciuman hanya dengan cara melihat lawannya.”

“Engkau benar, ngger,” sahut Ki Waskita cepat, “Ilmu yang diwarisi oleh orang yang menyerang indera penciumanmu itu memang mempunyai sumber ilmu yang sama dengan gurumu.”

“Kakang Panji, maksud Ki Waskita?” sela Ki Rangga kemudian, “Memang pada saat perang tanding antara guru dan orang yang menyebut dirinya Kakang Panji itu aku tidak dapat menyaksikan karena sedang terluka parah. Namun menurut cerita orang-orang yang menyaksikan, perang tanding itu benar-benar terjadi diluar jangkauan nalar. Semua ilmu dari perguruan Windujati maupun Saripati telah ditampilkan dalam ujud ilmu yang nggegirisi dan sudah jarang ditemui pada jaman sekarang ini.”

“Engkau benar, ngger,” jawab Ki Waskita, “Menurut pengamatanku, Kiai Gringsing telah mengeluarkan beberapa ilmu yang sama sekali belum angger sentuh selama ini.”

Ki Rangga mengerutkan keningnya dalam-dalam. Tanyanya kemudian, “Menurut Ki Waskita, ilmu apakah itu?”

“Ilmu gelap ngampar dan ilmu yang dapat menciptakan bau wangi yang tiada taranya.”

Untuk beberapa saat Ki Rangga termenung. Namun ingatan Ki Rangga segera kembali ke beberapa saat yang lalu ketika dalam kekuatan aji pengangen-angen dia menghadapi Eyang Guru dan Kiai Dandang Mangore.

“Ki Waskita,” berkata Ki Rangga kemudian setelah sejenak keduanya terdiam, “Aku pernah mencoba merintis ilmu gelap ngampar yang tertulis dalam kitab Windujati. Namun ilmu itu agaknya kurang sesuai dengan kepribadianku. Rasa-rasanya aku agak segan jika harus berteriak-teriak atau tertawa berkepanjangan sambil bertolak pinggang.”

“Ah,” Ki Waskita berdesah sambil tersenyum. Setelah menarik nafas sejenak, barulah Ki Waskita menanggapi, “Ngger, memang pada dasarnya sebuah ilmu yang kita tekuni itu dapat membawa pribadi seseorang menjadi seperti watak dari ilmu itu. Namun untuk ilmu gelap ngampar, engkau tidak harus melontarkan getaran itu melalui suaramu atau tertawamu. Engkau dapat menyalurkan ilmu itu dalam bentuk lain.”

“Aku memang sudah mencobanya, Ki Waskita,” jawab Ki Rangga kemudian, “Aku telah menyalurkan kekuatan aji gelap ngampar itu melalui getaran ujung cambukku. Namun apa yang aku alami ketika bertempur dengan dua orang pengikut Trah Sekar Seda Lepen beberapa saat tadi, getaran ujung cambukku belum mampu berpengaruh banyak terhadap mereka.”

“Tentu saja semua itu perlu waktu, ngger,” jawab Ki Waskita dengan serta merta, “Namun pada dasarnya angger telah menguasai dasar-dasar dari aji gelap ngampar itu. Angger Sedayu tinggal mengembangkannya, dan itu memerlukan kesabaran dan ketekunan yang pada ujungnya waktu juga yang akan membuktikan.”

Tampak kepala Ki Rangga terangguk-angguk. Masih terbayang dalam ingatannya, bagaimana kedua orang lawannya itu untuk sesaat mengalami kesulitan menghadapi hentakan ujung cambuknya. Namun lambat laun mereka seolah-olah sudah tidak terpengaruh sama sekali.

“Aku memang baru menguasai kulitnya saja,” berkata Ki Rangga dalam hati sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, “Ada bagian yang masih perlu pendalaman yaitu menyalurkan getar suara aji gelap ngampar melalui getaran cambuk serta mengubah getarannya menjadi selembut butir-butir pasir dan setajam ujung jarum yang dapat langsung menembus dan merobek jantung.”

“Nah, saranku, ngger,” berkata Ki Waskita kemudian setelah sejenak mereka berdua terdiam, “Coba kembangkan dan matangkan aji gelap ngampar itu melalui getaran ujung cambuk. Jika angger mampu mematangkan ilmu itu, dengan hanya menggetarkan ujung cambuk, pasukan segelar sepapan akan lumpuh dengan sendirinya.”

“Ah, Ki Waskita terlalu berlebihan,” sahut Ki Rangga serta merta dengan sebuah senyum di bibirnya.

“Tidak, ngger,” jawab Ki Waskita cepat, “Pada saat terjadi benturan pasukan Pajang dan Mataram, orang yang menyebut dirinya Kakang Panji itu mampu melakukannya. Sebaliknya, gurumu pun ternyata juga mampu melakukannya.”

Jantung Ki Rangga menjadi berdebar-debar mendengar keterangan orang tua yang sudah dianggap menjadi gurunya yang kedua itu. Sejauh pengetahuannya, aji gelap ngampar itu pada tingkatan yang tinggi mungkin hanya mampu melumpuhkan beberapa orang saja di sekitarnya, tidak sampai pasukan segelar sepapan. Namun menurut cerita Ki Waskita, ternyata hal itu pernah terjadi.

“Alangkah dahsyatnya,” gumam Ki Rangga dalam hati sambil menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan gejolak dalam dadanya, “Guru memang telah menguasai kitab Windujati itu seutuhnya. Namun dalam keseharian, guru adalah seorang yang sangat rendah hati dan sederhana. Tidak pernah berbuat neko-neko dan membanggakan kemampuannya secara berlebihan.”

Segera saja ingatan Ki Rangga terbawa ke masa pertempuran di lembah antara Merapi dan Merbabu. Jika gurunya menghendaki, dengan berbekal ilmu warisan perguruan Windujati, tentu Panembahan Alit yang memiliki ilmu kebal itu sudah dapat ditundukkannya tanpa harus terluka parah.

“Guru mempunyai anggapan bahwa ilmu-ilmu di masa lalu itu sudah tidak sepantasnya lagi ditampilkan,” kembali Ki Rangga berangan-angan, “Namun jika kita yang muda-muda ini kemudian malas atau bahkan sudah tidak mendapat tuntunan untuk mempelajari ilmu itu, semakin lama ilmu itu akan tinggal gerakan wadag saja tanpa isi yang seharusnya justru menjadi kekuatan utama ilmu itu sendiri.”

“Namun segala ilmu yang gumelar di atas jagad ini, harus tetap dilandasi niat baik untuk menolong sesama,” berkata Ki Rangga dalam hati selanjutnya, “Ilmu yang diwariskan turun temurun oleh seorang guru kepada murid-muridnya harus dapat menjadi pelita untuk menolong bagi sesama.”

Tiba-tiba terlintas dalam ingatan Ki Rangga apa yang tertulis pada lembar pertama kitab Ki Waskita.

“Bahwa saat bintang yang cahayanya seperti seribu obor yang menyala di langit, seorang pertapa yang telah menjauhkan diri dari libatan pengaruh duniawi, dan yang telah mendekatkan diri pada sangkan paraning dumadi, yang diberi pertanda oleh Yang Maha Sakti dengan gelar Empu Pahari, telah menerima wisik di dalam mimpi menjelang fajar menyingsing, bahwa tangannya akan menjadi lantaran turunnya ilmu yang akan diwarisi oleh para sakti yang mendapat anugerah sejati, untuk diamalkan sesuai dengan tetesan hati yang bening dalam kasih. Dan mereka yang mewarisi di atas alas kebenaran akan menjadi pelita yang dapat menerangi kegelapan di sekitarnya. Akan terdengar sorak sorai kegembiraan di hati sesama yang dilindunginya dan akan terdengar gemeretak gigi dan tangis kehancuran bagi mereka yang terkena azabnya karena langkah yang sesat. Terpujilah Yang Maha Benar.”

“Semoga apa yang selama ini aku pelajari dan tekuni, akan dapat menjadi pelita yang menerangi kegelapan serta menjadi sarana penolong bagi sesama dalam kehidupan bebrayan agung,” berkata Ki Rangga Agung Sedayu kemudian dalam hati sambil menarik nafas dalam-dalam.

Untuk beberapa saat suasana menjadi hening. Yang terdengar hanyalah suara angin malam yang bertiup kencang menerobos dedaunan di halaman banjar padukuhan induk perdikan Matesih. Sesekali angin itu bertiup sedemikian kencangnya sehingga membuat sebagian atap banjar berderak-derak.

“Ngger,” tiba-tiba terdengar Ki Waskita membuka suara membuyarkan angan-angan Ki Rangga, “Untuk peningkatan ilmu jaya kawijayan guna kasantikan dapat kita bicarakan di lain waktu lagi. Nah, sekarang untuk menindak-lanjuti peristiwa yang baru saja terjadi terhadap diri angger, apakah tidak sebaiknya salah satu dari kita melaporkan kejadian ini kepada Ki Patih? Paser beracun yang aku simpan ini tentu mempunyai kesamaan dengan paser yang disimpan Ki Patih sehingga akan dapat dijadikan sebagai bukti keterlibatan para pengikut Trah Sekar Seda Lepen atas mangkatnya Sinuhun Prabu Panembahan Hanyakrawati.”

Ki Rangga Agung Sedayu menarik nafas panjang sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya kemudian, “Jika memang itu dipandang penting, mungkin aku sendiri yang akan kembali ke Mataram untuk menghadap Ki Patih.”

“Sebaiknya memang begitu, ngger,” sahut Ki Waskita kemudian, “Namun semua itu tergantung kebijaksanaan angger sebagai pemimpin rombongan kecil ini. Apakah angger akan berangkat sendirian atau memerlukan seorang kawan untuk sekedar menemani di perjalanan nantinya.”

Sejenak Ki Rangga termenung. Berbagai pertimbangan pun hilir mudik dalam benaknya. Sebenarnya lah dengan berbekal doa yang telah diajarkan oleh Kanjeng Sunan, Ki Rangga akan dapat mempersempit jarak yang ditempuhnya serta waktu yang diperlukan untuk sampai di Mataram. Namun ada satu keseganan dalam hatinya jika harus menggunakan doa itu setiap saat.

“Rasa-rasanya sangat deksura jika aku selalu menggunakan aji pangrupak jagad itu di setiap perjalanan,” berkata Ki Rangga dalam hati.

“Ngger,” kembali suara Ki Waskita membangunkan Ki Rangga dari lamunannya, “Jika memang angger memutuskan untuk kembali ke Mataram, kita harus memperhitungkan keadaan di perdikan Matesih ini. Aku khawatir jika kepergian angger diketahui oleh kedua orang yang beberapa saat tadi telah bertempur dengan angger, mereka akan mempergunakan kesempatan itu untuk benar-benar menyerang Matesih.”

“Ki Waskita benar,” jawab Ki Rangga kemudian, “Sebaiknya kita menunggu Ki Jayaraga dan Glagah Putih kembali. Aku ingin mengetahui keberadaan pasukan pengawal Matesih yang sedang berada di padepokan Sapta Dhahana terlebih dahulu sebelum memutuskan langkah-langkah selanjutnya.”

Tampak kepala Ki Waskita terangguk-angguk. Orang tua yang sudah banyak makan asam garamnya kehidupan itu percaya penuh dengan Ki Rangga sebagai pemimpin rombongan kecil itu untuk menyelidiki dan sekaligus menghancurkan padepokan Sapta Dhahana.

Sejenak suasana menjadi sepi kembali. Yang terdengar hanyalah suara binatang malam yang bersenandung dengan lengkingan tinggi namun dalam irama yang ajeg. Sesekali terdengar suara burung Kedasih yang ngelangut di ujung kelokan jalan.

Tiba-tiba pendengaran kedua orang itu menangkap langkah-langkah mendekati banjar padukuhan induk. Arahnya tidak dari regol depan, namun sepertinya arah itu dari samping banjar.

“Dua orang,” gumam Ki Rangga dalam hati. Sementara Ki Waskita hanya tampak mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum.

“Mereka telah datang,” desis Ki Waskita tiba-tiba.

Sejenak Ki Rangga mengerutkan keningnya, namun hanya sekejap.

Sebuah senyum pun kemudian tampak di bibir Ki Rangga.

“Semoga keduanya membawa berita baik,” sahut Ki Rangga yang ditanggapi oleh Ki Waskita dengan sebuah anggukan.

Hanya beberapa saat kedua orang itu menunggu sampai terdengar derit pintu butulan samping. Kemudian ketika pintu bilik Ki Rangga dikethuk perlahan, Ki Waskita pun berkata, “Masuklah!”

Begitu daun pintu bilik itu didorong, dua raut wajah yang sangat mereka kenal muncul di antara daun pintu yang terbuka sejengkal, Ki Jayaraga dan Glagah Putih.

“Silahkan, silahkan,” kembali Ki Waskita mempersilahkan kedua orang itu untuk segera masuk.

Ki Jayaraga tersenyum. Setelah mendorong pintu bilik sehinga terbuka lebar, Ki Jayaraga segera melangkah masuk diikuti oleh muridnya. Setelah menutup pintu bilik itu terlebih dahulu, Glagah Putih yang berjalan di belakang gurunya pun segera bergabung.

Ki Waskita segera bergeser dan duduk di ujung amben sedangkan Ki Rangga segera duduk bersila di atas amben.

“Duduklah Ki Jayaraga,” berkata Ki Waskita kemudian sambil mendorong dingklik kayu yang didudukinya tadi ke depan Ki Jayaraga yang berdiri termangu-mangu.

“Terima kasih Ki Waskita,” berkata Ki Jayaraga kemudian sambil menarik dingklik itu dan kemudian mendudukinya. Sementara Glagah Putih segera duduk di ujung amben yang lain.

“Apakah perjalanan Ki Jayaraga berdua menyenangkan malam ini?” bertanya Ki Rangga kemudian sambil tersenyum setelah semuanya duduk di tempat masing-masing.

Mendapat pertanyaan yang bernada sedikit bercanda itu Ki Jayaraga tertawa pendek. Jawabnya kemudian, “Sebenarnya cukup menyenangkan. Namun yang menjadi masalah adalah, ketika perutku terasa lapar dan kami kemudian mencari kedai untuk membeli makan, tidak ada satu pun kedai yang buka.”

“Ah,” semua yang ada di bilik itu tertawa. Ki Waskita lah yang kemudian menimpali, “Seharusnya kalian tadi membawa bekal dari dapur banjar padukuhan. Lumayan bisa untuk mengganjal perut selama dalam perjalanan.”

“Tapi kami sudah mendapat beberapa ekor wader goreng tadi di padepokan Sapta Dhahana,” Glagah Putih sekarang yang menyahut, “Bahkan Ki Jayaraga habis lima ekor.”

“He!” orang-orang di dalam bilik itu pun terkejut.

Namun serentak semuanya tertawa ketika Ki Jayaraga justru mengelus-elus perutnya sambil berkata, “Wader-wader itu sekarang sudah aman di dalam perutku. Aku khawatir jika tidak diamankan, akan menjadi santapan kucing-kucing liar yang banyak terdapat di padepokan itu.”

“Sebenarnya siapakah yang lebih berbahaya, kucing-kucing liar itu atau Ki Jayaraga sendiri?” tiba-tiba Ki Rangga menyeluthuk yang sekali lagi disambut gelak tawa.

“Sudahlah,” berkata Ki Jayaraga kemudian ketika tawa mereka telah mereda, “Sekarang kami akan memberikan laporan hasil pemantauan kami di bukit Tidar.”

Kemudian secara singkat dan jelas Ki Jayaraga melaporkan keberadaan pasukan pengawal Matesih yang dipimpin oleh Ki Wiyaga.

“Jadi pasukan pengawal itu telah menyingkir terlebih dahulu?” bertanya Ki Rangga kemudian menegaskan.

“Benar, kakang,” Glagah Putih lah yang menjawab, “Ki Wiyaga telah diberitahu oleh seseorang yang aneh menjelang Matahari terbenam sore tadi tentang keberadaan pasukan yang besar yang berkumpul di sebelah barat gunung Tidar.”

“Siapakah orang tua itu?” desis Ki Rangga kemudian dengan suara sedikit ragu-ragu.

Sejenak mereka yang berada dalam bilik itu berpandangan. Namun tidak ada seorang pun yang mempunyai dugaan tentang orang tua aneh itu.

“Banyak orang sakti dari angkatan tua yang masih ada sampai saat ini,” berkata Ki Waskita kemudian menanggapi, “Namun keberadaan mereka sangat sulit kita ketahui. Semoga dengan kemunculan mereka kembali akan ikut menciptakan kedamaian dan kesejahteraan bagi para kawula.”

Tampak setiap kepala terangguk-angguk. Ingatan Ki Rangga pun segera melayang kepada orang yang disebut Kiai Tanpa Aran, pemomong Raden Mas Rangsang yang keberadaan dan jati dirinya masih diliputi kabut rahasia.

“Ki Rangga,” berkata Ki Jayaraga kemudian setelah sejenak mereka terdiam, “Dalam perjalanan kami kembali dari penyelidikan pasukan pengikut Trah Sekar Seda Lepen yang berada di kaki bukit Tidar sebelah barat, kami menjumpai dua orang yang kelihatannya baru saja mengadakan penyelidikan di Matesih.”

Sekejap wajah Ki Rangga tampak menegang, demikian juga Ki Waskita. Segera saja kedua orang itu teringat akan kedatangan Eyang Guru dan Kiai Dandang Mangore yang telah menyerang Ki Rangga dengan curang.

“Apakah kalian berdua sempat berselisih dengan mereka?” bertanya Ki Rangga kemudian dengan jantung yang berdebaran. Bagaimanapun juga Ki Rangga dapat mengukur ketinggian ilmu kedua orang itu.

“Kami berdua mempunyai sejenis ilmu yang dapat digunakan untuk menghindarkan diri dari pandangan kedua orang itu. Itulah salah satu ilmu andalan perguruan kami,” jawab Ki Jayaraga dengan sebuah senyum yang tersungging di bibirnya.

Ki Waskita dan Ki Rangga menjadi sedikit penasaran. Bahkan Ki Waskita telah bertanya lebih lanjut, “Ilmu apakah itu, Ki Jayaraga?”

“Sembunyi,” jawab Ki Jayaraga dengan serta merta yang segera disambut gelak tawa.

“Kami mendengar kedua orang itu bernama Balebang dan Gandhuru,” berkata Ki Jayaraga selanjutnya setelah tawa mereka mereda, “Kelihatannya keduanya adalah sahabat lama. Salah satunya pernah menjadi guru ayah orang yang menyebut dirinya Trah Sekar Seda Lepen itu.”

Tampak kepala orang-orang yang berada di dalam bilik itu terangguk-angguk. Ki Rangga dan Ki Waskita pun yakin bahwa kedua orang yang dijumpai Ki Jayaraga dan Glagah Putih itu adalah kedua orang yang beberapa saat yang lalu berusaha mencederai Ki Rangga.

“Sebaiknya Ki Jayaraga dan Glagah Putih mengetahui juga peristiwa yang terjadi di banjar ini sepeninggal mereka berdua,” berkata Ki Waskita kemudian sambil memandang ke arah Ki Rangga untuk meminta pertimbangan.

Untuk sejenak tampak Ki Rangga ragu-ragu. Bagaimana pun juga Ki Rangga adalah orang yang tidak suka menonjolkan diri di hadapan umum. Namun untuk menghindari kesalah-pahaman, peristiwa di bajar padukuhan induk beberapa saat tadi memang sebaiknya diketahui juga oleh guru dan murid itu.

Ki Rangga pun akhirnya menyerah kan persoalan itu kepada Ki Waskita dan segera menganggukkan kepalanya. Sementara Ki Jayaraga dan Glagah Putih hanya dapat saling pandang dengan sinar mata yang penuh tanda tanya.

Ki Waskita tampak menarik nafas panjang terlebih dahulu sebelum memulai ceritanya. Setelah selesai bercerita, Ki Waskita segera mengeluarkan sebuah bungkusan dari balik bajunya. Dengan sangat hati-hati ayah Rudita itu pun kemudian membuka bungkusan kain putih itu.

“Sebuah paser!” hampir berbareng kedua guru dan murid itu berdesis cukup keras sambil mendekatkan wajah mereka ke arah bungkusan kain di tangan Ki Waskita.

“Sebuah paser!” hampir berbareng kedua guru dan murid itu berdesis cukup keras sambil……

Dalam keremangan lampu dlupak yang di letakkan di ajug-ajug di pojok bilik, tampak sebuah paser kecil yang berwarna kehitam-hitaman.

“Tentu sangat beracun,” desis Ki Jayaraga sambil tetap mengamat-amati paser dalam bungkusan kain itu tanpa berani menyentuhnya. Glagah Putih pun mempunyai pemikiran yang sama.

“Ya, guru,” sahut Glagah Putih kemudian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, “Menilik warnanya yang hitam kelam, tentu mengandung racun yang sangat jahat.”

“Ya, kalian benar,” sahut Ki Waskita sambil kembali membungkus paser itu dengan sangat hati-hati, “Menurut angger Sedayu yang telah banyak belajar dari Kiai Gringsing, racun dalam paser ini hanya memerlukan waktu tidak lebih dari tiga tarikan nafas untuk membunuh korbannya. Kemungkinannya paser yang sejenis ini pula yang telah menyebabkan Sinuhun Prabu Hanyakrawati pralaya di hutan Krapyak beberapa hari yang lalu.”

Hampir bersamaan terdengar tarikan nafas panjang dari Ki Jayaraga dan Glagah Putih. Ingatan mereka berdua pun segera kembali kepada keterangan prajurit sandi yang datang sore tadi.

“Nah, sekarang,” berkata Ki Rangga kemudian, “Aku berencana untuk melaporkan kejadian ini kepada Ki Patih Mandaraka. Salah satu dari kita harus kembali ke Mataram. Sedangkan yang lain tetap di Matesih, berjaga-jaga dari segala kemungkinan yang dapat terjadi.”

“Aku setuju,” sahut Ki Jayaraga dengan serta merta, “Sebaiknya jangan hanya seorang, mungkin dua atau tiga orang untuk menjaga kemungkinan yang justru dapat terjadi dalam perjalanan ke Mataram.”

“Ki Jayaraga benar,” timpal Ki Waskita kemudian, “Aku mengusulkan sebaiknya angger Sedayu sendiri yang menghadap Ki Patih. Tentang kawan seperjalanan yang dipilih, itu terserah Ki Rangga.”

Semua kepala orang-orang yang berada di dalam bilik itu tampak terangguk-angguk. Hanya Ki Rangga sendiri yang terlihat bimbang. Beberapa kali dia tampak menarik nafas dalam-dalam sambil mengerutkan keningnya.

“Bagaimana kakang?” tiba-tiba Glagah Putih memberanikan diri untuk bertanya. Dari nada suaranya, orang-orang di dalam bilik itu dapat menduga tentu Glagah Putih berharap dirinya yang akan di ajak menemani kakak sepupunya itu.

Sejenak Ki Rangga terpekur. Beberapa saat kemudian barulah dia menjawab, “Sesuai apa yang telah disampaikan oleh prajuit sandi beberapa saat yang lalu, tugas kita tidak hanya selesai setelah perguruan Sapta Dhahana hancur. Masih banyak tugas yang menunggu sesuai perintah Ki Patih. Untuk itulah aku mempertimbangkan untuk berangkat sendirian saja agar keamanan dan keselamatan Matesih ini benar-benar tetap terjaga.”

Hampir bersamaan mereka yang hadir di balam bilik itu telah menarik nafas panjang. Betapa wajah Glagah Putih tampak memendam kekecewaan. Namun dengan cepat kesan itu segera terhapus dari wajahnya.

“Kakang Agung Sedayu memiliki sebuah ilmu yang aneh,” berkata Glagah Putih kemudian dalam hati, “Perjalanan dari gunung Muria sampai ke Matesih hanya ditempuh kurang dari setengah hari. Aku benar-benar tidak habis mengerti.”

Berpikir sampai di situ Glagah Putih pun akhirnya menyadari. Agaknya kakak sepupunya itu akan mempersingkat perjalanannya ke Mataram hanya dalam sekejap, karena memang perjalanan dari Matesih ke Mataram memerlukan waktu sekitar sehari penuh dengan berkuda.

“Ki Jayaraga,” bertanya Ki Rangga kemudian, “Berita apalagi yang kalian dapatkan selain pasukan segelar sepapan yang bersembunyi di lembah sebelah barat gunung Tidar?”

Ki Jayaraga pun menganggukkan kepalanya sambil membetulkan letak duduknya. Secara singkat dan jelas segera dilaporkan tentang rencana para pengikut Trah Sekar Seda Lepen itu untuk bergabung dengan padepokan Panembahan Agung yang terletak di lembah antara Merapi dan Merbabu.

“Panembahan Agung?” tiba-tiba terdengar Ki Waskita menyela keterangan Ki Jayaraga.

“Ya, Ki Waskita,” sahut Ki Jayaraga cepat, “Kedua orang itu menyebut sebuah padepokan antara lembah Merapi dan Merbabu. Apakah Ki Waskita pernah mengenal atau setidaknya mendengar nama padepokan itu?”

Untuk sejenak Ki Waskita justru terdiam. Angannya melayang ke masa-masa berpuluh tahun yang silam.

Ki Rangga Agung Sedayu yang semasa mudanya pernah terlibat penyerbuan pasukan Mataram yang dibantu pasukan pengawal Menoreh itu pun ikut mengerutkan keningnya.

“Apakah padepokan itu masih ada?” bertanya Ki Rangga selanjutnya sambil berpaling ke arah Ki Waskita. Namun Ki Waskita tampak menundukkan wajah sambil mengerutkan keningnya dalam-dalam.

“Maksud Kakang?” justru Glagah Putih yang menyahut dengan serta merta. Sementara Ki Jayaraga tampak menegakkan badannya sambil mengerutkan keningnya dalam-dalam.

Kembali Ki Rangga berpaling ke arah Ki Waskita, namun tampak orang tua itu sedang tenggelam dalam kenangan masa mudanya.

“Dulu sebuah padepokan yang bernama padepokan Panembahan Agung memang pernah berdiri di lembah antara Merapi dan Merbabu,” akhirnya Ki Rangga mengawali ceritanya, “Padepokan itu dipimpin oleh seseorang yang menyebut dirinya Panembahan Agung.”

Ki Jayaraga dan Glagah Putih tampak saling berpandangan sejenak. Bertanya Glagah Putih kemudian, “Kakang, apakah orang yang menyebut dirinya Panembahan Agung itu sama dengan orang yang dimaksud kedua orang yang kami temui beberapa saat tadi?”

“Tentu tidak,” jawab Ki Rangga cepat, “Orang yang menyebut dirinya Panembahan Agung itu sudah mati dan jasadnya telah dikuburkan tidak jauh dari padepokannya.”

“Mengapa, kakang?” bertanya Glagah Putih lebih lanjut, “Mengapa Panembahan Agung itu mati? Apakah dia mati karena dibunuh?”

Untuk sejenak Ki Rangga menarik nafas panjang sambil sekali lagi berpaling ke arah Ki Waskita, namun ayah Rudita itu masih tetap tenggelam dalam kenangan masa silamnya.

Namun akhirnya Ki Rangga memutuskan untuk mengakhiri teka-teki itu. Maka jawabnya kemudian, “Panembahan Agung itu terbunuh ketika terjadi perang tanding dengan saudara seperguruannya. Penembahan Agung adalah salah satu dari sekian banyak orang yang bermimpi membangun kembali kejayaan

Majapahit. Namun saat itu pasukan Mataram yang dipimpin oleh Raden Sutawijaya dan dibantu pasukan pengawal perdikan Menoreh di bawah pimpinan Ki Argapati telah menghancurkan padepokan itu.”

Kembali Ki Jayaraga dan Glagap Putih mengerutkan keningnya. Ketika terlihat Glagah Putih akan kembali bertanya, Ki Rangga segera mendahului bertanya kepada Ki Jayaraga, “Ki Jayaraga, apakah Ki Jayaraga mendapat sedikit keterangan tambahan tentang Panembahan Agung dari kedua orang itu?”

“Tidak, Ki Rangga,” jawab Ki Jayaraga kemudian sambil menggelengkan kepalanya, “Kedua orang itu hanya menyebut orang yang bernama Panembahan Agung yang padepokannya terletak antara lembah Merapi dan Merbabu.”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Kembali dia berpaling ke arah Ki Waskita untuk mendapatkan kesan dari orang tua itu. Namun ayah Rudita itu tampak masih dalam sikapnya semula.

“Gantar Angin telah mati,” gumam Ki Waskita dalam hati kemudian. Terlihat kerut merut di keningnya semakin dalam, “Tidak mungkin dia hidup kembali. Tetapi siapakah yang kemudian menyebut dirinya Panembahan Agung itu?”

“Ki Waskita,” akhirnya Ki Rangga tidak mampu menahan hati lagi sehingga telah membangunkan Ki Waskita dari kenangan lamanya, “Bagaimana pendapat Ki Waskita tentang berita yang dibawa Ki Jayaraga ini?”

Tampak betapa wajah orang tua itu dipenuhi oleh kedukaan yang dalam. Jawabnya kemudian setelah terlebih dahulu menarik nafas dalam-dalam, “Angger Sedayu. Engkau bersama aku pada waktu itu melihat sendiri bahwa Gantar Angin yang kemudian menyebut dirinya Panembahan Agung itu telah mati. Aku tidak yakin jika Panembahan Agung yang sekarang ini ada hubungannya dengan Gantar Angin. Aku justru menduga ada orang lain yang menggunakan bekas padepokannya untuk mendirikan padepokan baru. Namun yang aneh bagiku, mengapa dia juga menyebut dirinya Panembahan Agung? Mengapa tidak mengambil nama yang lain yang mungkin tidak kalah menariknya?”

Tampak kepala mereka yang hadir di dalam bilik itu terangguk angguk. Bagi Ki Jayaraga dan Glagah Putih, nama Panembahan Agung tentu saja terasa masih sangat asing di telinga mereka.

“Aku akan menanyakan kisah Panembahan Agung ini di lain waktu kepada kakang Agung Sedayu,” membatin Glagah Putih dalam hati sambil tetap mengangguk-angguk, “Agaknya kisah Panembahan Agung ini melibatkan Ki Waskita dan kakang Agung Sedayu semasa masih muda. Ah, alangkah menariknya.”

“Ah, sudahlah,” berkata Ki Rangga kemudian setelah sejenak mereka terdiam, “Siapakah orang yang menyebut dirinya Panembahan Agung itu nanti akan kita laporkan kepada Ki Patih,” Ki Rangga berhenti sebentar. Kemudian sambil berpaling ke arah Ki Jayaraga dia melanjutkan, “Apakah pasukan segelar sepapan yang bersembunyi di sebelah barat gunung Tidar itu sudah bergerak?”

“Sudah Ki Rangga,” jawab Ki Jayaraga dengan serta merta, “Bahkan menjelang dini hari tadi, kami melihat dengan mata kepala kami sendiri, pasukan itu bergerak menghancurkan padepokan Sapta Dhahana sebelum akhirnya pergi meninggalkan gunung Tidar,”

“Menghancurkan padepokan Sapta Dhahana?” hampir bersamaan Ki Rangga dan Ki Waskita mengulang.

“Mengapa?” lanjut Ki Rangga.

Ki Jayaraga segera menjelaskan secara terperinci kejadian yang telah menimpa padepokan Sapta Dhahana sepeninggal para pengawal Matesih yang dipimpin oleh Ki Wiyaga.

“Agaknya mereka bermaksud untuk menghancurkan para pengawal Matesih yang berjaga di padepokan,” berkata Ki Rangga kemudian dengan dada yang berdebaran, “Untunglah pasukan pengawal Matesih itu telah menyingkir terlebih dahulu. Jika tidak, aku tidak dapat membayangkan apa yang bakal terjadi.”

Tumpes tapis warata bumi,” tiba-tiba terdengar Glagah Putih telah menyeluthuk.

Serentak orang-orang di dalam bilik itu pun berpaling ke arahnya. Ki Rangga lah yang kemudian menanggapi, “Engkau benar Glagah Putih. Pasukan pengawal Matesih itu ibaratnya timun mungsuh duren. Dalam keadaan wajar saja mereka tidak akan mampu melawan. Apalagi aku yakin para pengikut Trah Sekar Seda Lepen itu pasti dalam keadaan wuru dan memendam dendam kesumat setinggi gunung.”

“Engkau benar, ngger,” sahut Ki Waskita menambahi, “Menghadapi keadaan seperti itu, memang lebih baik menyingkir. Mereka sudah keluar dari segala paugeran dan tatanan bebrayan agung. Walaupun kita terlibat dalam sebuah peperangan dan setiap peperangan itu pastilah sangat kejam, namun tetap ada paugeran untuk tidak berbuat sewenang-wenang, apalagi terhadap musuh yang telah tak berdaya dan menyerah.”

Tampak kepala orang-orang yang berada dalam bilik itu kembali terangguk-angguk.

“Nah, aku kira sudah cukup kita membahas rencana kita untuk sehari besuk,” berkata Ki Rangga selanjutnya setelah sejenak terdiam, “Adapun rencana selanjutnya kita menunggu titah Ki Patih Mandaraka serta perkembangan di perdikan Matesih.”

Kembali setiap kepala yang berada di dalam bilik itu terangguk-angguk.

“Silahkan beristirahat,” berkata Ki Rangga kemudian menambahkan, “Masih cukup waktu untuk sekedar memejamkan mata dan meluruskan punggung.”

Sejenak kemudian, kecuali Ki Rangga, mereka segera berdiri dan menuju ke tempat peristirahatan masing-masing.

“Aku akan ke pakiwan dulu,” desis Glagah Putih kemudian sambil berjalan menuju ke pintu.

“Perlu diantar?” bertanya gurunya kemudian sambil tersenyum

“Terima kasih, guru,” jawab Glagah Putih tanpa menoleh, “Aku sudah besar dan sudah berani ke pakiwan sendiri.”

Ki Jayaraga yang mendengar jawaban Glagah Putih itu tersenyum, yang lain pun ikut tersenyum.

Demikianlah akhirnya di sisa malam yang sepi itu mereka berusaha untuk beristirahat sekedar memberi kesempatan kepada tubuh-tubuh mereka agar segar kembali.

Dalam pada itu Ki Jagabaya dukuh Klangon, tidak seperti biasanya telah memimpin sendiri para pengawal dukuh Klangon untuk nganglang. Sejak terbetik berita tentang jatuhnya padepokan Sapta Dhahana, Ki Jagabaya memerlukan sendiri memimpin para pengawal untuk nganglang di padukuhan Klangon setiap malam.

Walaupun padukuhan Klangon tidak terlibat langsung dengan kegiatan para pengikut Trah Sekar Seda Lepen itu, namun pengaruhnya memang sedikit banyak telah menyebar sampai di tempat itu. Bahkan Ki Jagabaya sendiri melihat hubungan yang erat antara Raden Mas Harya Surengpati dengan Ki Dukuh Klangon semasa adik orang yang mengaku Trah Sekar Seda Lepen itu masih tinggal di perdikan Matesih.

Menjelang sirep uwong, dengan hanya berjalan kaki mereka berempat berjalan menyusuri jalan padukuhan Klangon yang tidak seberapa luas. Ketika terdengar gardu-gardu perondan telah

memukul kenthongan dengan nada dara muluk, mereka memutuskan untuk kembali walaupun belum selesai mengelilingi padukuhan sampai ke setiap sudut. Namun apa yang telah mereka ronda, setidaknya cukup mewakili keadaan di padukuhan Klangon malam itu.

“Kita kembali ke banjar padukuhan,“ berkata Ki Jagabaya kemudian sambil menghentikan langkahnya. Ketiga pengawal yang mengikutinya itupun ikut berhenti.

“Mengapa kita kembali Ki Jagabaya?” bertanya salah satu pengawal itu kemudian, “Rasa-rasanya kita baru meronda separo padukuhan Klangon.”

Untuk sejenak Ki Jagabaya tidak menjawab. Namun entah mengapa hatinya malam itu terasa sedikit tidak tenang. Sepertinya ada yang menyuruhnya untuk segera kembali ke banjar padukuhan sehingga telah membuat hati Ki Jagabaya menjadi gelisah.

“Aku kira malam ini cukup. Kita tidak perlu mengitari padukuhan sampai tepung gelang. Beberapa gardu yang kita kunjungi aku rasa telah mewakili keadaan padukuhan Klangon ini,” jawab Ki Jagabaya pada akhirnya.

Para pengawal yang ikut meronda itu sejenak terdiam. Tiba-tiba salah satu pengawal yang berbadan kurus menyeluthuk, “Ki Jagabaya, kita belum mengunjungi gardu di ujung bulak yang berbatasan dengan perdikan Matesih. Aku kira kita perlu menyempatkan waktu untuk ke sana.”

“Ah, kau!” kawannya menyela dengan serta merta, “Aku yakin engkau hanya ingin mencicipi cimplung yang hampir setiap malam tersedia di gardu itu.”

Yang lain tersenyum mendengar ucapan salah satu pengawal itu. Bahkan Ki Jagabaya pun kemudian berkata, “Memang sangat nikmat malam-malam begini makan cimplung, ketela yang direbus dengan santan dan gula kelapa sampai kuahnya habis. Tinggallah ketela rebus yang empuk, gurih dan manis.”

Tanpa mereka sadari, ketiga pengawal itu telah menelan ludah masing masing sambil membayangkan nikmatnya makan cimplung di malam-malam yang dingin.

“Ah, sudahlah. Besuk masih ada kesempatan,” berkata Ki Jagabaya kemudian sambil mengayunkan kakinya, “Besuk kita akan mengitari padukuhan ini semalam suntuk.”

“Tetapi, besuk yang mengawani Ki Jagabaya belum tentu kita bertiga ini,” salah satu pengawal itu masih mencoba merayu Ki Jagabaya.

“Silahkan jika kalian ingin ikut lagi,” sahut Ki Jagabaya acuh, “Aku sama sekali tidak berkeberatan.”

Sejenak ketiga pengawal itu terlihat saling berpandangan. Namun kemudian dengan bergegas ketiganya segera mengikuti langkah pemimpin mereka meninggalkan tempat itu.

Sepanjang jalan kembali ke banjar padukuhan induk, tidak ada seorang pun yang membuka suara. Masing-masing sedang tenggelam dalam lamunan yang mengasyikkan.

“Kita berpisah disini,” berkata Ki Jagabaya dukuh Klangon kemudian ketika keempat orang itu telah tiba kembali di banjar, “Silahkan pulang dan beristirhat. Masih cukup waktu untuk sekedar memejamkan mata.”

“Atau sekalian tertidur sampai tengah hari,” sahut seorang pengawal yang berbadan kurus.

Ki Jagabaya dan lainnya tertawa pendek. Salah seorang pengawal bahkan menyahut, “Aku akan tidur sampai istriku membangunkan aku.”

“Semoga saja istrimu membangunkan engkau sebelum Matahari terbit,” sela yang lain.

“Ah, itu sama saja aku belum tidur,” jawab pengawal itu.

Keempatnya pun kemudian kembali tertawa.

“Sudahlah, kalian boleh pulang,” berkata Ki Jagabaya pada akhirnya sambil melangkah memasuki regol banjar. Sedangkan ketiga pengawal yang menemaninya nganglang itupun telah melangkah pergi pulang ke rumah masing-masing.

Sepeninggal ketiga pengawal itu, Ki Jagabaya masih menyempatkan diri melangkah mendekati para pengawal yang sedang duduk-duduk di dalam gardu perondan dekat regol banjar.

“Ki Jagabaya,” sapa salah seorang dari pengawal di gardu itu sambil bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya, “Tidak seperti biasanya, Ki Jagabaya pulang lebih awal.”

bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s