STSD-16

Bagian 2

Ki Jagabaya tersenyum sambil menerima uluran tangan pengawal itu. Jawabnya kemudian, “Kami tadi hanya berkeliling tanpa mampir ke gardu-gardu. Sebenarnya nganglang itu tidak membutuhkan waktu yang lama, apalagi dukuh Klangon ini tergolong kecil,” Ki Jagabaya berhenti sejenak. Lalu, “Yang membuat lama itu adalah minuman hangat dan penganan yang tersedia di setiap gardu perondan.”

“Ah,” serentak para para pengawal di gardu itupun tertawa.

“Apakah tidak ada peristiwa khusus yng perlu mendapat perhatian selama aku nganglang?” bertanya Ki Jagabaya kemudian sambil ikut duduk di gardu.

Seorang pengawal yang duduk sambil memeluk lutut dan berselimut kain panjangnya segera menjawab, “Tidak ada, Ki. Semua berjalan lancar. Hanya saja menjelang tengah malam tadi, kita mendapat tamu.”

“Tamu?” sela Ki Jagabaya sambil mengerutkan kening, “Tamu menjelang tengah malam tentu perlu mendapat perhatian.”

“Tidak, Ki ,” jawab pengawal itu kemudian, “Para tamu itu adalah putera Ki Dukuh bersama gurunya beserta tiga orang.”

“He?!” tanpa sadar Ki Jagabaya berseru sedikit keras sambil bangkit dari tempat duduknya, “Putera Ki Dukuh katamu? Jaka Purwana maksudmu?”

“Ya, Ki Jagabaya,” kembali pengawal itu menyahut, “Ada apakah dengan Jaka Purwana? Bukankah kita semua mengetahui kalau selama ini dia berguru jauh ke pesisir selatan?”

“Ya, aku tahu,” jawab Ki Jagabaya sambil menarik nafas dalam-dalam untuk mengendurkan getar di dalam dadanya. Entah mengapa mendengar Jaka Purwana kembali bersama guru dan beberapa saudara seperguruannya, hatinya menjadi sedikit gelisah.

“Aku akan pulang,” tiba-tiba Ki Jagabaya berdesis sambil melangkahkan kakinya.

Para pengawal yang berada di gardu itu terkejut. Biasanya selesai nganglang, Ki Jagabaya menyempatkan waktu untuk duduk-duduk di gardu banjar terlebih dahulu sambil menikmati wedang sereh yang telah dingin dan beberapa penganan yang masih tersisa.

“Ki Jagabaya tidak mencicipi juadah bakar dulu?” seorang pengawal mencoba menahan Ki Jagabaya sambil menyodorkan beberapa potong juadah bakar yang dibungkus daun pisang.

“Terima kasih,” sahut Ki Jagabaya sambil tangannya memberi isyarat menolak, “Aku masih kenyang.”

“Barangkali minum wedang sereh dulu, Ki?” pengawal yang lain masih berusaha menahannya. Namun kelihatannya Ki Jagabaya sudah benar-benar ingin pulang.

“Sudahlah, terima kasih semuanya. Aku sudah mengantuk. Aku akan pulang,” berkata Ki Jagabaya kemudian sambil melangkah pergi.

Para pengawal yang berada di gardu itu hanya dapat memandangi langkah Ki Jagabaya yang semakin jauh dan kemudian menghilang dalam gelap malam.

“Aneh,” tiba-tiba pengawal yang duduk sambil memeluk lutut itu menyeluthuk, “Rasa-rasanya malam ini Ki Jagabaya sangat asing bagiku. Biasanya dia banyak bergurau dan bahkan sering menemani kita sampai pagi. Namun agaknya malam ini dia sedang ada masalah.”

“Ah, kau!” geram salah seorang kawannya yang duduk bersandaran dinding, “Dari mana engkau tahu jika Ki Jagabaya sedang punya masalah?”

“He? Bukankah kita semua tahu, Ki Jagabaya berseberangan keyakinan dengan Ki Dukuh? Walaupun itu tidak tampak secara nyata? Namun perseteruan Ki Jagabaya dengan Ki Dukuh bagaikan api dalam sekam. Setiap saat dapat membakar padukuhan Klangon ini.”

“Ah, tentu tidak!“ sahut pengawal yang duduk bersandaran dinding itu, “Ki Dukuh mempunyai pengaruh yang kuat di padukuhan ini, sedangkan Ki Jagabaya hanyalah salah seorang perangkat padukuhan. Jika Ki Dukuh menghendaki, tentu Ki Jagabaya akan diberhentikan dan diganti dengan orang yang sejalan dengan pemikirannya.”

Tampak kepala para pengawal yang berada di gardu itu terangguk-angguk, kecuali pengawal yang duduk memeluk lutut itu. Kerut merut di keningnya pun tampak semakin dalam.

“Aku tidak habis mengerti,” tiba-tiba pengawal yang duduk memeluk lutut itu berkata setelah sejenak mereka terdiam, “Mengapa Ki Dukuh terlihat sangat mendukung janji-janji yang diberikan oleh para pengikut Trah Sekar Seda Lepen itu? Padahal padepokan Sapta Dhahana yang menjadi pusat para pendukung Trah Sekar Seda Lepen itu telah dihancurkan oleh Ki Gede dan pasukan pengawal Matesih.”

“Engkau benar,” sahut kawannya yang duduk bersandaran dinding, “Lebih tepatnya lagi, Ki Gede dan para pengawal dibantu oleh para pengembara dari Prambanan yang pernah bermalam di banjar ini.”

“Ya, aku masih ingat,” seorang pemgawal yang lain ikut menimbrung, “Malam itu para cantrik padepokan Sapta Dhahana turun dari bukit Tidar dan mengepung banjar ini. Kita yang tidak tahu menahu urusan hanya diperintah oleh Ki Dukuh untuk membantu mengawasi kelima perantau itu agar tidak lolos dari banjar.”

“Ya, aku juga ikut waktu itu,” pengawal yang duduk memeluk lutut itu menimpali, “Walaupun pada waktu itu Ki Jagabaya melarang kita ikut campur, namun Ki Dukuh ternyata berpendapat lain.”

“Dan kelima perantau itu pada akhirnya lolos dari banjar tanpa sepengetahuan kita,” kembali pengawal yang bersandaran dinding menyahut, “Sekarang terbukti bahwa mereka berlima memang bukan perantau kebanyakan. Aku dengar salah seorang dari mereka merupakan prajurit Mataram yang berpangkat rangga, Ki Rangga Agung Sedayu dan telah berhasil membunuh Kiai Damar Sasangka pemimpin padepokan Sapta Dhahana yang menurut cerita yang aku dengar, sakti mandraguna tidak akan mati jika tidak dikehendakinya sendiri.”

“Ah, omong kosong!” sergah pengawal yang duduk memeluk lutut itu, “Buktinya dia dapat dikalahkan oleh Ki Rangga. Dan satu lagi yang tidak masuk akal, mana ada orang yang menghendaki kematiannya sendiri selain orang yang bunuh diri.”

“Engkau berani berkata begitu sekarang ini!” potong salah satu pengawal yang berdiri beberapa langkah di sebelahnya, “Saat padepokan Sapta Dhahana masih berdiri kokoh, tentu engkau akan percaya setengah mati tentang cerita ngayawara itu.”

Pengawal yang duduk memeluk lutut itu hanya tersenyum kecut tanpa membalas ucapan kawannya.

Tiba-tiba telinga Ki Jagabaya yang tajam kembali mendengar suara dari dalam pringgitan rumah Ki Dukuh Klangon…..

Dalam pada itu langkah Ki Jagabaya dukuh Klangon semakin menjauhi banjar padukuhan Klangon. Sambil menyusuri jalan yang sepi dan lengang itu, berkali-kali tampak kepala Ki Jagabaya terangguk-angguk.

“Apa maksud kedatangan guru Jaka Purwana itu?” bertanya Ki Jagabaya dalam hati sambil terus melangkahkan kakinya, “Apalagi dengan membawa para muridnya yang tentu kemampuannya perlu mendapat perhitungan.”

Ki Jagabaya menarik nafas panjang untuk melonggarkan dadanya. Sesekali ditengadahkan kepalanya untuk melihat seribu bintang yang bergayutan di langit.

Tiba-tiba tanpa sadar Ki Jagabaya menghentikan langkahnya. Beberapa tombak di depan, tampak sebuah rumah yang cukup besar di banding dengan rumah yang lain. Regol halamannya pun juga besar dan dijaga beberapa pengawal.

“Rumah Ki Dukuh,” desis Ki Jagabaya tanpa sadar sambil mengamat-amati lampu dlupak yang tersangkut di kanan kiri regol.

“Apakah aku akan bertamu di malam-malam begini?” pertanyaan itu berputar putar dalam benak Ki Jagabaya. Ada keinginan yang kuat untuk mengetahui apa maksud kedatangan guru dan saudara saudara seperguruan anak laki-laki Ki Dukuh itu.

“Ki Dukuh sangat mendukung para pengikut Trah Sekar Seda Lepen itu,” gumam Ki Jagabaya dalam hati kemudian sambil tetap berdiri termangu-mangu, “Ada kemungkinan kedatangan mereka untuk bergabung dengan padepokan Sapta Dhahana, namun sudah terlambat. Padepokan itu sudah hancur dan bahkan pemimpinnya yang konon kabarnya sakti mandraguna tan kalis ing lara lan pati itu sudah tewas ditangan Ki Rangga Agung Sedayu.”

Kembali Ki Jagabaya menarik nafas panjang. Diedarkan pandangan matanya ke sekeliling, namun yang terlihat hanyalah kegelapan dan kesepian malam.

“Aku akan mencari sisik melik,” berkata Ki Jagabaya dalam hati akhirnya, “Mungkin berita ini akan berguna bagi Ki Rangga dan kawan-kawannya serta Ki Gede Matesih untuk menjaga segala kemungkinan yang dapat terjadi di perdikan Matesih.”

Berpikir sampai disitu, Ki Jagabaya segera melangkah keluar dari jalur jalan padukuhan Klangon. Dengan cepat tanpa meninggalkan kewaspadaan Ki Jagabaya segera meloncat ke dalam pategalan yang berada di sisi jalan padukuhan itu.

“Aku akan mendekat dan mencoba mencuri dengar percakapan mereka,” berkata Ki Jagabaya dalam hati selanjutnya sambil merunduk runduk di antara rimbunnya pategalan, “Siapa tahu mereka belum tidur dan sekarang sedang berbincang di pringgitan.”

Dengan sangat hati-hati Ki Jagabaya semakin mendekati rumah Ki Dukuh. Kadang kala dia harus meloncati dinding pembatas antara rumah-rumah yang ada di sekitar rumah Ki Dukuh.

Ketika Ki Jagabaya kemudian telah meloncati dinding terakhir rumah yang bersebelahan dengan rumah Ki Dukuh, tak urung jantungnya menjadi berdebaran. Dia sadar sepenuhnya jika guru Jaka Purwana itu tentu orang yang linuwih sehingga dia benar-benar harus menjaga langkah dan nafasnya.

Demikianlah ketika Ki Jagabaya kemudian telah berada di halaman samping rumah Ki Dukuh, sejenak dia bersembunyi di balik sebatang pohon mangga. Sambil mengatur nafasnya yang sedikit terengah serta degub jantungnya yang berdentangan, Ki Jagabaya kemudian mencoba mengenali keadaan di sekelilingnya.

“Sepi,” gumam Ki Jagabaya dalam hati, “Keadaan yang tenang telah membuat para pengawal yang berjaga di regol depan malas untuk meronda. Seharusnya mereka tetap meronda ke sekeliling rumah ini.”

Sebagai Jagabaya dukuh Klangon yang bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan seluruh padukuhan, kelengahan dan keteledoran para pengawal itu sangat mengecewakan baginya. Namun saat ini Ki Jagabaya sangat bersyukur karena dia memang sedang membutuhkan kesempatan itu untuk menyelidiki maksud kedatangan guru dan saudara-saudara seperguruan Jaka Purwana.

“Aku akan mendekati pringgitan dari arah kiri,” membatin Ki Jagabaya kemudian sambil bergeser. Dengan sangat hati-hati ditrapkan segala ilmu yang telah diperolehnya saat berguru dulu. Sebuah ilmu yang dapat menyerap segala jenis bunyi yang dapat ditimbulkan akibat gesekan tubuhnya dengan alam sekitar. Namun tentu saja dalam keterbatasan ilmu seorang Jagabaya.

“Aku akan lewat longkangan,” kembali Ki Jagabaya membatin. Jika mendekati pringgitan dari arah depan gandhok kiri, tentu kesempatan untuk diketahui oleh para pengawal yang berjaga di regol depan akan sangat besar.

Dengan mengendap-endap dan sesekali meringkuk dalam bayangan kegelapan, Ki Jagabaya segera menyelinap ke dalam longkangan.

“Syukurlah tidak ada pelayan yang tidur di longkangan,” berkata Ki Jagabaya dalam hati kemudian sambil memandangi amben besar yang kosong. Biasanya di malam-malam yang cukup berhawa panas, para pelayan laki-laki lebih senang tidur di amben besar yang memang sengaja di taruh di longkangan.

Tiba-tiba jantung Ki Jagabaya berdetak semakin kencang ketika lamat-lamat telinganya yang tajam mendengar suara bergeremang dari arah pringgitan.

Dengan berjingkat dan mengetrapkan ilmu yang dapat menyerap segala bunyi setinggi-tingginya, Ki Jagabaya pun mendekati dinding pringgitan. Dinding pringgitan yang terbuat dari papan-papan kayu jati tebal itu sangat rapat. Di antara sela-sela papan itu direkatkan semacam getah dari kayu hutan sehingga sangat rapat, bahkan tidak tampak secercah pun sinar dlupak yang dapat menembusnya.

Pada awalnya Ki Jagabaya berusaha mengintip ke dalam. Namun usaha itu sia-sia belaka. Maka Ki Jagabaya pun memutuskan untuk mencuri dengar saja percakapan mereka yang sedang berada di dalam pringgitan.

Dalam pada itu malam telah merayap menjauhi pusatnya. Keadaan benar-benar sepi, hanya terdengar suara jeritan binatang malam yang terdengar dalam irama yang ajeg. Sesekali terdengar keluhan burung kedasih jauh di ujung jalan padukuhan di depan rumah Ki Buyut.

Tiba-tiba telinga Ki Jagabaya yang tajam kembali mendengar suara dari dalam pringgitan rumah Ki Dukuh Klangon. Terdengar seseorang berbicara dengan nada suara yang rendah. Malam beberapa saat tadi memang sudah melewati puncaknya sehingga mereka berbicara dengan suara perlahan agar tidak mengganggu seisi rumah yang sedang beristirahat.

“Ki Dukuh,” terdengar suara seseorang yang belum pernah dikenal oleh Ki Jagabaya, “Bagaimana mungkin seorang yang sudah kalis segala bentuk sakit bahkan kematian mampu dikalahkan oleh orang yang bernama Ki Rangga Agung Sedayu?”

“Itulah kenyataannya, Kiai,” jawab seseorang yang Ki Jagabaya mengenali sebagai suara Ki Dukuh, “Aku menduga pasti terjadi kecurangan sehingga Kiai Damar Sasangka dapat dikalahkan. Jika keduanya itu bertempur beradu dada, aku yakin Kiai Damar Sasangka pasti akan mampu mengatasi lawannya.”

Berdesir jantung Ki Jagabaya. Dalam hati Ki Jagabaya yakin jika yang dipanggil Kiai itu pasti guru Jaka Purwana.

“Apakah memang demikian itu sebenarnya yang telah terjadi?” kembali terdengar suara orang yang dipanggil Kiai itu.

“Aku tidak tahu, Kiai,” jawab Ki Dukuh kemudian, “Itu hanya menurut dugaanku saja. Karena kita semua sudah mengetahui kesaktian Kiai Damar Sasangka yang setiap bulan sekali mengadakan pertunjukan yang ngedab-edabi di saat bulan gelap. Tubuh-tubuh para anak murid Sapta Dhahana itu tidak mempan dibakar api. Bahkan konon ceritanya Kiai Damar Sasangka dapat berubah ujud menjadi gumpalan api sebesar gardu perondan.”

Terdengar sebuah helaan nafas. Kemudian terdengar orang yang dipanggil Kiai itu berkata, “Ya, Ki Dukuh. Aku juga sudah mendengar cerita itu dari mulut ke mulut. Namun aku yakin bahwa pemimpin padepokan Sapta Dhahana itu memang mampu melakukannya.”

Sejenak suasana menjadi sepi. Dengan mengerahkan segenap kemampuan, Ki Jagabaya mencoba tetap mendengarkan percakapan di dalam pringgitan itu.

“Ki Dukuh,” terdengar orang yang dipanggil Kiai itu kembali berkata, “Apakah sudah ada berita tentang para cantrik padepokan Sapta Dhahana yang melarikan diri itu kemudian? Kemanakah mereka sekarang ini? Jika memungkinkan, kita dapat menampung mereka dan kita perkuat dengan para pengawal dukuh Klangon yang setia kepada Ki Dukuh untuk membalas dendam menghancurkan perdikan Matesih.”

“Ah,” terdengar Ki Dukuh berdesah. Lanjutnya kemudian, “Bukan maksudku meragukan kekuatan kita sendiri, Kiai. Namun menurut berita yang telah aku terima, Ki Rangga Agung Sedayu dan kawan-kawannya sekarang sedang berkumpul di banjar padukuhan induk Matesih. Aku meragukan kekuatan kita terutama untuk menghadapi Ki Rangga Agung Sedayu.”

“Ki Dukuh terlalu percaya dengan berita ngayawara tentang kesaktian Ki Rangga!” tiba-tiba terdengar suara seseorang memotong, “Bukankah tadi Ki Dukuh meragukan kekalahan Kiai Damar Sasangka? Berarti sebenarnya kemampuan Ki Rangga itu tidak perlu dikhawatirkan. Karena menurut perhitungannku, pasti ada seseorang yang membantu Ki Rangga sehingga mampu mengalahkan pemimpin perguruan Sapta Dhahana itu.”

Untuk sejenak suasana menjadi sepi. Ki Jagabaya yang berada di luar pringgitan menjadi berdebar-debar. Dia mulai menduga mungkin yang berbicara sekarang ini adalah salah satu putut yang ikut ke padukuhan Klangon.

“Guru,” kembali terdengar suara orang yang menyela Ki Dukuh tadi, “Jika diijinkan aku sendiri yang akan menghadapi Ki Rangga. Silahkan semua menjadi saksi agar tidak terjadi kecurangan dalam perang tanding nanti.”

“Tutup mulutmu Brajayekti!” terdengar suara gurunya menggeram, “Jika yang berkata itu kakang mu putut Acarya atau Panengah, aku masih berpikir untuk memberi kesempatan pada keduanya untuk maju bersama menghadapi Ki Rangga. Jika hanya engkau seorang diri ingin menyombongkan diri, aku jamin tidak lebih lama dari mijed wohing ranti engkau sudah jadi endog pengamun-amun.”

Terdengar tawa lirih dari beberapa orang yang hadir disitu. Ki Jagabaya pun menduga bahwa yang tertawa itu pasti yang disebut putut Acarya dan putut Panengah.

“Jadi, bagaimana guru?” tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sudah sangat dikenal oleh Ki Jagabaya menyela.

“Jaka Purwana,” gumam Ki Jagabaya dalam hati. Ki Jagabaya pun semakin merapatkan telinganya ke dinding pringgitan.

Sejenak tidak terdengar suara dari dalam pringgitan itu. Namun Ki Jagabaya kemudian mendengar suara berbisik-bisik yang sangat perlahan sehingga dia tidak mampu untuk menangkap isi pembicaraan itu.

“Nah, selesaikan tugas kalian,” tiba-tiba terdengar suara orang yang dipanggil guru itu berbicara dengan nada suara yang wajar lagi, “Aku akan beristirahat. Besuk saja kita lanjutkan pembicaraan kita ini.”

“Baiklah, Kiai,” terdengar Ki Dukuh menjawab, “Sudah kami siapkan tempat istirahat di gandhok kanan. Jika membutuhkan sesuatu, jangan sungkan-sungkan untuk memanggil para penjaga di regol.”

“Terima kasih Ki Dukuh,” jawab orang yang dipanggil guru itu.

Sejenak kemudian terdengar suara orang bergeser dan berdiri dari tempat duduk mereka. Ki Jagabaya pun maklum bahwa sudah saatnya dia harus menyingkir dari tempat itu.

“Apakah sebaiknya yang aku lakukan?” bertanya Ki Jagabaya dalam hati kepada dirinya sendiri sambil bergeser semakin menjauhi rumah Ki Dukuh, “Ternyata masih ada kekuatan tersembunyi dari para pengikut Trah Sekar Seda Lepen. Ternyata dugaanku selama ini benar, Ki Dukuh ternyata telah terpengaruh.”

Sambil tetap dalam kewaspadaan yang tinggi, Ki Jagabaya pun mulai keluar dari halaman samping rumah Ki Dukuh. Beberapa kali dia harus meloncati pagar rumah yang berdekatan dengan rumah Ki Dukuh sebelum akhirnya sampai di pategalan yang kosong.

Namun begitu menginjakkan kakinya di pategalan kosong itu, Ki Jagabaya merasakan panggraitanya menangkap sesuatu yang mencurigakan.

“Sepertinya ada seseorang yang sedang mengikuti langkahku,” gumam Ki Jagabaya kemudian sambil terus berjalan mengendap-endap di antara gerumbul dan semak yang banyak bertebaran di pategalan kosong itu.

Setiap kali Ki Jagabaya berhenti, gemerisik suara yang mengikuti beberapa tombak di belakangnya pun ikut berhenti sehingga membuat Ki Jagabaya menjadi penasaran.

“Aku akan tetap berjalan sampai orang yang mengikuti aku itu menampakkan diri dengan sendirinya,” berkata Ki Jagabaya kemudian dalam hati.

Berpikir sampai disitu, Ki Jagabaya tiba-tiba mendapatkan pemikiran yang cemerlang. Cepat-cepat dia meloncat berlari sekencang-kencangnya untuk mencapai jalan padukuhan yang masih puluhan tombak jauhnya.

Namun yang terjadi kemudian sungguh diluar dugaan Ki Jagabaya dukuh Klangon. Tiba-tiba saja terdengar bentakan keras disertai meluncurnya dua bayangan mendahuluinya dari arah kanan dan kiri.

“Berhenti..!!!” hampir bersamaan terdengar suara dua orang membentak keras.

Ketika Ki Jagabaya kemudian menghentikan langkahnya, beberapa langkah di hadapannya telah berdiri dua bayangan orang di antara rimbunnya pepohonan di pategalan itu.

Untuk beberapa saat Ki Jagabaya tercekat. Dalam keremangan malam, dua orang di hadapannya itu tampak berdiri dengan kokoh dan kaki yang renggang. Seorang berbadan agak gemuk dan seorang lagi berbadan kurus, dengan senjata masing-masing terselip di pinggang.

Sejenak Ki Jagabaya berusaha mengamati wajah kedua orang itu. Pandangan Ki Jagabaya yang cukup tajam itu dengan jelas dapat menangkap setiap guratan di kedua wajah orang itu, namun Ki Jagabaya sama sekali tidak mengenal keduanya.

“Siapakah Ki Sanak berdua ini? Dan ada keperluan apakah telah menghentikan langkahku?” bertanya Ki Jagabaya pada akhirnya dengan jantung yang berdebaran.

“He?!” bentak salah seorang yang berbadan agak gemuk, “Justru kamilah yang seharusnya bertanya kepada Ki Sanak. Siapa Ki Sanak ini yang malam-malam keluyuran di pategalan? Jika tidak bermaksud jahat, mengapa Ki Sanak mangambil jalan yang jarang dilalui orang? Meloncati dinding pembatas antara rumah ke rumah dan juga pategalan-pategalan yang kosong?!”

Ketika Ki Jagabaya kemudian menghentikan langkahnya, beberapa langkah di hadapannya telah berdiri dua bayangan orang…………

“Gila!” geram Ki Jagabaya kemudian dengan suara tak kalah kerasnya, “Kalian benar-benar orang yang tak tahu diri. Akulah yang seharusnya bertanya kepada kalian berdua. Itu adalah hak ku untuk bertanya kepada setiap orang asing yang berada di padukuhan ini.”

“He?!” kali ini orang yang bertubuh kurus itu yang ganti membentak, “Apa hakmu untuk bertanya kepada setiap orang yang ada di padukuhan Klangon ini? Kami berhak keluar masuk ataupun kemana saja, bukan hanya di padukuhan Klangon ini. Tidak ada seorang pun yang berhak melarang kami.”

“Tutup mulutmu!” Ki Jagabaya pun ganti membentak tak kalah garangnya, “Ketahuilah, aku adalah Jagabaya dukuh Klangon. Aku berhak menahan kalian berdua dan membawa ke gardu terdekat untuk mendapatkan keterangan jati diri kalian yang sebenarnya. Jika kalian memang tidak bersalah dan berniat baik, tentu dengan suka rela kami akan melepaskan kalian.”

Sejenak kedua orang itu saling pandang. Namun yang terjadi kemudian adalah diluar dugaan Ki Jagabaya dukuh Klangon. Tiba-tiba saja kedua orang itu telah tertawa berkepanjangan.

“Diam!” bentak Ki Jagabaya kemudian, “Ikut aku ke gardu perondan terdekat. Jika kalian melawan, aku akan memanggil seluruh pengawal padukuhan Klangon untuk menangkap kalian.”

“He?!” tiba-tiba orang yang bertubuh agak gemuk itu menghentikan tawanya diikuti oleh kawannya. Katanya kemudian, “Apakah aku tidak salah dengar? Bagaimana Ki Sanak akan memanggil semua pengawal padukuhan ini? Dengan berteriak atau dengan memukul kentongan? Tapi aku lihat Ki Sanak tidak membawa kentongan!” orang bertubuh agak gemuk itu berhentu sejenak. Lalu, “Seharusnya jika Ki Sanak memang benar-benar sebagai seorang Jagabaya, tentu akan menangkap kami berdua tanpa harus melibatkan para pengawal. Namun itu jika Ki Sanak benar-benar seorang Jagabaya yang mempunyai sedikit kemampuan dan keberanian untuk menangkap kami.”

Selesai berkata demikian kedua orang itu kembali tertawa berderai-derai.

Dada Ki Jagabaya rasa-rasanya bagaikan retak mendapat ejekan dari kedua orang itu. Maka katanya kemudian sambil menggeram, “Silahkan tertawa sepuas-puasnya. Setelah kalian merasa puas tertawa, sebentar lagi kalian akan menangis dan berlutut di hadapanku untuk meminta ampun.”

“Omong kosong!” sergah orang yang berbadan kurus sambil maju selangkah, “Sekali lagi engkau berani menghina kami, aku sobek mulutmu sampai ke telinga.”

“Jangan!” sela kawannya yang berbadan agak gemuk dengan serta merta sambil menggamit lengan kawannya, “Jangan sobek mulutnya terlalu lebar. Kasihan, dia nanti kesulitan untuk menikmati sarapan paginya.”

Kawannya yang berbadan kurus itu sejenak mengerutkan keningnya sambil berpaling. Tanyanya kemudian dengan nada bersungguh-sungguh, “Apakah orang ini masih sempat untuk menikmati sarapan paginya?”

Selesai berkata demikian kembali keduanya tertawa berkepanjangan. Kali ini bahkan lebih keras lagi.

Ki Jagabaya benar-benar merasa dilecehkan oleh kedua orang yang belum dikenalnya itu. Namun sebagai perangkat padukuhan yang bertanggung jawab atas keamanan di padukuhan Klangon, Ki Jagabaya segera berusaha mengendalikan nalarnya dan tidak terpancing oleh ejekan kedua orang itu.

“Kelihatannya kedua orang ini sengaja mencari perkara,” berkata Ki Jagabaya dalam hati sambil mencoba mengamat-amati kedua orang yang masih saja tertawa-tawa di hadapannya, “Siapakah sebenarnya kedua orang ini? Aku harus berpikiran jernih dalam keadaan apapun dan bagaimanapun juga.”

Berpikir sampai disitu, Ki Jagabaya segera menarik nafas dalam-dalam beberapa kali untuk sekedar meredakan gejolak di dalam dadanya. Katanya kemudian, “Ki Sanak, marilah kita buktikan ucapan kita masing-masing. Sebenarnya aku memang Jagabaya di padukuhan ini. Dan selama ini aku mengenal hampir seluruh orang-orang padukuhan Klangon, sehingga aku yakin Ki Sanak berdua adalah bukan orang dukuh Klangon. Marilah ikut aku ke banjar padukuhan untuk kejelasan diri kalian masing-masing.”

“Jangan ngayawara seperti orang mabok tuak!” geram orang yang berbadan agak gemuk itu kemudian, “Sekarang juga Ki Sanak harus ikut kami ke rumah Ki Dukuh untuk mempertanggung jawabkan perbuatan Ki Sanak!”

Berdesir dada Ki Jagabaya mendengar orang yang bertubuh agak gemuk itu menyebut Ki Dukuh Klangon. Segera saja ingatan Ki Jagabaya tertuju kepada tamu-tamu Ki Dukuh.

“Jangan-jangan kedua orang ini adalah saudara seperguruan Jaka Purwana,” membatin Ki Jagabaya dalam hati dengan jantung yang berdebaran. Berbagai tanggapan pun bergolak dalam dadanya.

“Nah, agaknya engkau mulai menyadari kesalahanmu,” berkata orang yang bertubuh kurus  itu kemudian begitu melihat Ki Jagabaya termenung, “Ikut kami ke kediaman Ki Dukuh untuk mendapatkan pengadilan yang pantas bagi seorang pencuri ayam!”

Ki Jagabaya menggeram. Dia benar-benar dibuat kesal dengan kelakuan kedua orang itu. Namun dia tetap berusaha berpikir jernih agar tidak terpancing.

“Aku adalah benar-benar Jagabaya dukuh Klangon,” berkata Ki Jagabaya kemudian dengan suara berat dan dalam, “Aku mempunyai hak untuk memeriksa setiap jengkal tanah di padukuhan ini, terserah apapun anggapan orang. Namun yang jelas kalian berdua adalah bukan kawula padukuhan Klangon. Oleh karena itu tidak usah berbelit-belit dan mencari perkara. Ikut aku ke banjar padukuhan untuk pemeriksaan lebih lanjut!”

Agaknya suara Ki Jagabaya yang penuh wibawa itu sedikit banyak mempunyai pengaruh. Kedua orang itu sejenak terdiam dan saling pandang. Namun yang terjadi kemudian justru telah membuat telinga Ki Jagabaya semakin panas.

“Kakang,” berkata orang yang kurus, “Apakah kakang mau diajak ke banjar padukuhan? Seingatku malam-malam begini di banjar tidak ada apa-apa. Wedang sereh mungkin sudah dingin bahkan habis diminum pengawal jaga yang biasanya sangat rakus. Aku tidak mau ikut , kakang!”

“Aku juga,” sahut orang yang berbadan agak gemuk itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “Aku lebih senang malam-malam yang dingin begini diajak ke rumah seorang janda muda. Pasti di rumahnya banyak kehangatan yang mengasyikkan!”

Selesai berkata demikian, segera saja terdengar lagi tawa memuakkan orang yang berbadan agak gemuk itu diikuti oleh kawannya.

Ki Jagabaya benar-benar sudah muak mendengar celoteh kedua orang itu. Maka katanya kemudian dengan setengah berteriak, “Baiklah! Jika kalian tidak ingin dengan suka rela ikut aku ke banjar padukuhan, aku akan memaksa kalian! Bahkan jika perlu dengan kekerasan!”

“He?! Apa katamu? !” tiba-tiba orang yang agak gemuk itu membentak dengan suara menggelegar sehingga membuat jantung Ki Jagabaya berdenyut semakin kencang, “Engkau akan menggunakan kekerasan untuk membawa kami ke banjar padukuhan? Apakah engkau sudah mengukur kemampuanmu, he?!” orang itu berhenti sejenak. Lalu sambil menunjuk ke arah hidung Ki Jagabaya, dia kembali berkata lantang, “Lihatlah! Lihatlah ke dirimu sendiri! Engkau hanya sendirian dan kami berdua! Lihatlah ke tubuhmu yang kecil dan kerdil itu! Kami berdua lebih besar dan lebih tegap! Apakah yang engkau andalkan untuk menangkap kami, he?!”

Darah Ki Jagabaya rasa-rasanya sudah mendidih sampai ke ubun-ubun. Penghinaan itu baginya sudah diluar batas. Tidak ada jalan lain selain melumpuhkan kedua orang itu dengan kekerasan, walaupun Ki Jagabaya harus berhitung dengan cermat karena dia akan melawan dua orang sekaligus.

“Aku belum mengetahui tingkatan kemampuan ilmu kedua orang ini. Aku akan menggunakan medan yang gelap serta batang-batang pohon yang banyak tumbuh di pategalan ini sebagai perlindungan,” berkata Ki Jagabaya dalam hati sambail bergeser selangkah surut. Dipusatkan segala nalar dan budinya untuk melawan dua orang yang belum diketahui tingkatan ilmu mereka.

“Kakang,” tiba-tiba orang yang bertubuh kurus itu berkata, “Biarkan aku saja yang meringkus pencuri ayam ini. Aku tidak yakin kalau dia benar-benar Jagabaya dukuh Klangon. Dari perawakannya yang kerdil ini aku menduga dia hanyalah seorang pencuri ayam.”

Ki Jagabaya hanya menggeretakkan giginya mendengar ejekan untuk yang kesekian kalinya. Sedangkan orang yang dipanggil kakang itu hanya tertawa sambil melangkah menjauh beberapa tombak ke samping dan kemudian duduk di atas akar pohon yang menonjol.

“Silahkan adi,” berkata orang yang agak gemuk itu kemudian sambil menyandarkan punggungnya ke batang pohon, “Kalau hanya menghadapi seorang pencuri ayam, anggap saja ini sebagai latihan sebelum engkau benar-benar berhadapan dengan Ki Jagabaya dukuh Klangon yang sesungguhnya.”

“Persetan!” geram Ki Jagabaya sambil meloncat dengan kaki terjulur lurus menghantam lambung orang yang bertubuh kurus itu.

Orang itu terkejut. Dengan tergesa-gesa ditarik kaki kirinya selangkah ke belakang sehingga serangan Ki Jagabaya itu hanya mengenai tempat kosong. Selagi kaki kanan Ki Jagabaya terjulur, tiba-tiba dengan cepat tangan kanan lawannya terjulur berusaha untuk menangkap pergelangan kakinya.

Tentu saja Ki Jagabaya tidak ingin pergelangan kakinya tertangkap. Sambil tetap meluncur, ditekuknya kaki kanannya itu sehingga sekarang lutut Ki Jagabaya berputar setengah lingkaran menghantam dada.

Tidak ada pilihan lain bagi lawannya selain menarik tangan kanannya dan kemudian menyilangkan kedua tangannya di depan dada untuk melindungi dadanya dari sambaran lutut Ki Jagabaya

Sejenak kemudian sebuah benturan pun terjadi. Kedua-keduanya terkejut mendapatkan kekuatan lawan yang ternyata cukup besar.

Tubuh Ki Jagabaya terpental ke samping kanan namun dengan cepat dia mampu menguasai keseimbangannya sehingga tidak sampai terjatuh. Sedangkan lawannya sejenak terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah sebelum akhirnya kembali tegak di atas kedua kakinya yang renggang.

“Bagus! Bagus!” berkata orang yang agak gemuk itu sambil bertepuk tangan, “Engkau jangan segan segan untuk menjatuhkannya, adi. Anggap saja ini pendadaran untuk kenaikan tingkat.”

“Terima kasih, kakang,” sahut orang yang bertubuh kurus itu sambil merendahkan tubuhnya. Sejenak kemudian, tubuhnya pun melenting bagaikan seekor bilalang yang menyambar mangsanya.

Demikianlah akhirnya, orang bertubuh kurus itu dengan kemarahan yang meluap-luap menyerang Ki Jagabaya dari segala penjuru. Namun dengan lincahnya Ki Jagabaya berloncatan di antara gerumbul dan perdu. Bahkan sesekali dia menggunakan pepohonan yang tumbuh di pategalan itu untuk berlindung jika lawannya menyerang dengan cukup cepat dan tiba-tiba.

“Aku harus menghemat tenaga,” berkata Ki Jagabaya dalam hati sambil terus bertempur, “Biarpun sekarang ini lawanku hanya seorang, tidak menutup kemungkinan orang yang gemuk itu akan turun ke medan jika melihat kawannya ini terdesak.”

Semakin cepat lawannya memburunya, Ki Jagabaya pun semakin lincah berkelit di antara pepohonan dan gerumbul serta semak belukar.

“Licik!” geram orang yang bertubuh kurus itu ketika serangannya justru menghantam pohon randu sebesar paha orang dewasa. Pohon randu itu pun bergetar dengan dahsyat dan sebagian daun-daunnya pun berguguran.

Diam-diam Ki Jagabaya mulai menilai lawannya. Lawannya yang kurus itu ternyata mempunyai kekuatan yang ngedab-edabi. Namun dari tandangnya terlihat bahwa lawannya itu sangat tergesa gesa dan kurang cermat dalam membuat perhitungan.

“Aku harus menghindari benturan dengannya,” membatin Ki Jagabaya sambil berloncatan dengan lincahnya, “Dia terlihat sangat bernafsu namun kurang perhitungan. Aku akan membuatnya putus asa dan akhirnya kehabisan tenaga karena pokalnya sendiri.”

Namun lawannya ternyata mampu berpikir cermat dan belajar dari pengalaman. Kini dia tidak lagi asal menyerang tanpa memperhatikan kedudukan lawan. Beberapa kali dia mengurungkan serangannya dan bahkan meloncat mundur untuk memancing Ki Jagabaya menyerangnya.

“Dia mencoba memancingku berkelahi di tempat agak terbuka,” geram Ki Jagabaya dalam hati tanpa terpancing oleh gerakan lawan, “Aku akan tetap berloncatan di antara gerumbul dan batang-batang pohon.”

Ternyata sikap Ki Jagabaya yang tidak terpancing itu telah membuat lawannya geram. Berkali-kali dia harus mengumpat-umpat karena gerakan Ki Jagabaya yang sangat licin bagaikan seekor belut dalam lumpur sawah yang baru dipanen.

Dalam pada itu, orang yang bertubuh agak gemuk itu dengan tenangnya justru telah menyandarkan kepalanya ke batang pohon sambil memejamkan mata. Sejenak kemudian terdengar suara dengkuran yang sangat keras dari mulutnya yang setengah terbuka.

Melihat kawannya justru telah tertidur dengan nyenyaknya bersandaran batang pohon, orang bertubuh kurus itu tak henti hentinya mengumpat-umpat.

Menyadari kawannya ternyata sama sekali tidak memperhatikan jalannya perkelahian, orang yang bertubuh kurus itu pun semakin waringuten. Serangannya semakin gencar dan mengejar kemana pun Ki Jagabaya bergerak.

Diam-diam Ki Jagabaya bersorak dalam hati. Lawannya terlihat sangat boros dalam mengumbar tenaga. Memang menilik desir angin yang cukup deras mendahului setiap serangan lawannya, Ki Jagabaya dapat mengukur besarnya tenaga lawannya itu.

“Aku harus menghindari benturan langsung kecuali sangat terpaksa,” berkata Ki Jagabaya dalam hati sambil terus berloncatan di antara semak belukar dan pepohonan, “Lambat laun tenaganya pasti akan susut dan di saat itulah aku akan menjatuhkannya.”

Namun saat saat yang ditunggu itu tak kunjung datang. Lawannya masih terlihat kuat dan gesit mengejar kemanapun Ki Jagabaya berusaha menghindar.

Sambil terus bertempur, tak henti-hentinya Ki Jagabaya mencoba menerka siapakah gerangan kedua orang itu. Namun dugaan yang muncul kemudian hanyalah tertuju kepada tamu-tamu Ki Dukuh yang beberapa saat tadi hanya dapat didengar suara mereka.

Perkelahian itu semakin lama semakin kasar dan liar. Tandang kedua orang itu benar-benar telah membuat semak belukar dan batang-batang perdu di pategalan itu porak poranda. Tanah pategalan yang pada dasarnya cukup gembur telah hancur oleh hentakan kaki-kaki mereka. Jika di pagi harinya akan ada orang yang kebetulan lewat di pategalan itu, tentu dia akan menjadi heran. Seolah-olah pategalan itu semalam habis dibajak berpuluh puluh ekor kerbau.

Semakin lama orang bertubuh kurus itu tandangnya semakin waringuten. Berkat kelincahan dan perhitungan yang matang, beberapa kali justru serangan Ki Jagabaya telah menyentuh tubuhnya, walaupun tidak begitu berbahaya.

Di lambung, dagu, dada dan yang paling menyakitkan adalah ketika sambaran tangan Ki Jagabaya mengenai keningnya. Walaupun sentuhan itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap ketahanan tubuhnya, namun setiap sentuhan itu rasa-rasanya seperti sebuah upet yang menyala dan kemudian disundutkan ke jantungnya.

“Gila! Gila! Gila!” umpat orang bertubuh kurus itu berkali-kali setiap kali tubuhnya tersentuh oleh Ki Jagabaya. Semakin lama dadanya rasa rasanya akan meledak mendapat perlakukan seperti itu dari lawannya.

“Anak demiit..!” teriak orang bertubuh kurus itu ketika sekali lagi sisi telapak tangan kanan lawannya menyentuh dadanya, “Kurobek mulutmu sampai telinga..!”

“O..!” desis Ki Jagabaya sambil memiringkan wajahnya ketika tangan lawan yang membentuk cakar itu berusaha menggapai wajahnya, “Hampir saja Ki Sanak! Sungguh aku masih memerlukan mulutku satu-satunya ini untuk menikmati sarapan pagiku!”

“Diam..!” bentak lawannya sambil terus mengejar Ki Jagabaya yang menghindar ke balik sebuah gerumbul.

“Menyerahlah Ki Sanak,” berkata Ki Jagabaya kemudian sambil terus berloncatan, “Percayalah! Kami para pengawal padukuhan Klangon adalah orang-orang yang memegang teguh paugeran. Jika memang kalian berdua bukan golongan orang yang bermaksud jahat, dengan senang hati kami akan melepaskan kalian.”

“Tutup mulutmu!” teriak lawannya sambil mengejar Ki Jagabaya ke manapun dia berlindung, “Aku bersumpah akan menyobek mulutmu sampai ke telinga!”

Ki Jagabaya hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya menghadapi orang yang keras kepala itu. Perkelahian tanpa ujung pangkal itu agaknya sudah tidak dapat lagi diselesaikan dengan kata-kata.

Dalam pada itu, lawan Ki Jagabaya agaknya sudah hampir sampai pada batas kesabarannya. Ketika dia kemudian benar-benar sudah tidak mampu lagi mengendalikan diri, tiba-tiba dia telah meloncat ke belakang beberapa langkah. Sejenak kemudian sebuah golok yang cukup besar pun telah tergenggam di tangan kanannya.

“Nah! Aku tidak akan bermain-main lagi,” geram orang bertubuh kurus itu kemudian dengan sinar mata yang merah membara, “Aku akan mencincang tubuhmu seperti mencincang seekor ayam!”

Bergetar dada Ki Jagabaya. Agaknya lawannya sudah tidak bermain-main lagi. Namun Ki Jagabaya masih berusaha untuk melunakkan hatinya.

“Ki Sanak,” berkata Ki Jagabaya kemudian mencoba untuk mencairkan suasana, “Di antara kita belum pernah terjadi silang sengketa. Bahkan kita belum saling mengenal. Tiada maksud sebiji sawi pun dalam hatiku untuk mengajak Ki Sanak berselisih. Mari kita sudahi pertengkaran yang tidak ada gunanya ini. Ikutlah ke banjar padukuhan agar segala sesuatunya menjadi jelas.”

bersambung ke bagian 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s