STSD-16

Bagian 3

“Omong kosong!” geram orang bertubuh kurus itu sambil mulai memutar senjatanya, “Engkau pasti akan menangkap kami dan kemudian mengarak kami keliling padukuhan sebagaimana kalian sering lakukan jika menangkap seorang pencuri ayam. Engkaulah pencuri ayam itu dan kami yang akan mengarak engkau keliling padukuhan.”

“Tentu tidak,” jawab Ki Jagabaya dengan serta merta, “Aku adalah benar-benar Jagabaya dukuh Klangon, dan kami para penghuni padukuhan Klangon adalah orang-orang yang beradab dan menjunjung tinggi paugeran yang berlaku. Percayalah, jika memang apa yang terjadi ini hanya sebuah kesalah pahaman, dengan senang hati aku akan melupakan semua yang telah terjadi di antara kita.”

“Persetan dengan sesorahmu!” bentak orang bertubuh kurus itu sambil mengangkat senjatanya tinggi tinggi. Lanjutnya kemudian, “Jika aku sudah mencabut senjataku ini, pantang bagiku untuk menyarungkan kembali tanpa membasahinya terlebih dahulu dengan darah.”

“He?!” seru Ki Jagabaya terkejut mendengar ucapan lawannya yang terdengar nggegirisi itu.

“Mengapa? Engkau takut?” bertanya lawannya sambil tertawa pendek, “Jika memang hatimu menjadi kecut dan kerdil, tundukkan kepalamu, aku akan memotong lehermu dengan sekali tebas. Aku jamin engkau hanya akan merasakan sakit sejenak. Kemudian engkau akan hidup abadi di akhirat nanti.”

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Agaknya memang sudah tidak ada jalan untuk menghindari pertumpahan darah. Maka Ki Jagabaya pun akhirnya mencabut keris pusakanya yang terselip di pinggang.

“Bagus!” seru lawannya kemudian sambil memutar mutar senjata yang berada di tangan kanannya, “Aku akan sangat terhormat jika membunuh lawan yang bersenjata. Tapi sekali lagi aku tawarkan untuk terakhir kalinya. Menyerahlah! Agar aku lebih mudah menyelesaikan tugasku.”

“He?!” seru Ki Jagabaya kembali begitu mendengar kata-kata terakhir dari lawannya. Tanyanya kemudian, “Tugas apa Ki Sanak? Kita belum pernah bertemu dan bersilang sengketa. Bahkan saling mengenal namapun kita tidak. Bagaimana mungkin Ki Sanak menyebut sebuah tugas untuk membunuhku?”

Agaknya orang bertubuh kurus itu menyadari keterlanjurannya. Maka jawabnya kemudian sambil membentak, “Tentu saja tugas untuk menangkap pencuri ayam! Siapapun jika menjumpai seseorang yang terlihat sangat mencurigakan, wajib hukumnya untuk bertindak!”

“Omong kosong!” bentak Ki Jagabaya dengan serta merta.

Orang kurus itu menanggapi bentakan Ki Jagabaya hanya dengan tertawa pendek. Katanya kemudian, “Nah! Sekarang tataplah langit peluklah bumi. Jangan rindukan lagi terbitnya matahari esok pagi!”

Untuk sejenak Ki Jagabaya justru telah membeku di tempatnya. Ingatannya segera kembali ke beberapa saat yang lalu ketika dia sedang mencuri dengar percakapan di pringgitan rumah Ki Dukuh.

“Selesaikan tugasmu!” demikian Ki Jagabaya mendengar guru Jaka Purwana memberikan perintah kepada murid-muridnya.

Mendapat dugaan seperti itu, jantung Ki Jagabaya pun berdentangan semakin keras.

“Agaknya perbuatanku mencuri dengar percakapan mereka beberapa saat tadi telah diketahui oleh guru Jaka Purwana, sehingga sekarang kedua orang muridnya ini ditugaskan untuk menghilangkan saksi atas rencana mereka,” berkata Ki Jagabaya kemudian dalam hati.

“Apa sebaiknya yang harus aku lakukan?” pertanyaan itu pun berputar-putar dalam benak Ki Jagabaya.

Selagi Ki Jagabaya menimbang-nimbang dalam hati, tiba-tiba dengan suara teriakan keras lawannya telah menerjang dengan senjata menebas leher.

Tidak ada jalan lain bagi Ki Jagabaya kecuali meladeni tandang lawannya yang seperti kerasukan syetan itu.

Demikianlah beberapa kali Ki Jagabaya terdesak karena serangan lawan yang membadai. Namun sampai sejauh itu Ki Jagabaya masih mampu bertahan, berlindung di antara pepohonan yang banyak tumbuh di pategalan itu.

Semakin lama perkelahian itu pun menjadi semakin sengit. Gerumbul dan pohon-pohon perdu daunnya berterbangan dan ranting-rantingnya berpatahan terkena sambaran senjata kedua orang yang telah sama-sama waringuten itu. Lingkaran perkelahian itu pun semakin luas dan gerumbul serta pohon-pohon perdu yang tertebas senjata mereka semakin banyak.

Sambil terus bertempur Ki Jagabaya memutar otaknya. Dugaannya selama ini bahwa kedua orang itu adalah saudara seperguruan Jaka Purwana agaknya mendekati kenyataan.

“Orang ini benar-benar ingin membunuhku, apapun alasannya. Aku harus mencari celah untuk kabur dari tempat ini,” berkata Ki Jagabaya dalam hati sambil terus bertempur, “Aku akan lari sekencang-kencangnya ke gardu perondan terdekat untuk meminta pertolongan para pengawal yang sedang berjaga.”

Berpikir sampai disitu Ki Jagabaya mulai memikirkan peluang untuk lolos dari tempat itu. Dengan sengaja Ki Jagabaya bertempur dengan berputaran dan bergeser sedikit demi sedikit mendekati jalan padukuhan yang terletak beberapa tombak dari arena pertempuran.

“Gardu perondan terdekat adalah di regol halaman Ki Dukuh,” membatin Ki Jagabaya sambil bergeser ke balik sebatang pohon ketika senjata lawannya menusuk dada, “Atau gardu yang agak jauh di dekat kelokan jalan sebelum banjar padukuhan.”

Berbagai pertimbangan pun hilir mudik dalam benaknya. Sebenarnya lah gardu perondan yang terdekat adalah di regol halaman rumah Ki Dukuh. Namun Ki Jagabaya tidak mungkin memilih gardu itu, karena jika benar kedua orang ini adalah tamu-tamu Ki Dukuh, itu sama saja dengan menyerahkan lehernya.

“Selesaikan tugasmu,” gumam Ki Jagabaya dalam hati mengingat kembali ucapan guru Jaka Purwana itu sambil terus berputar-putar menghindari serangan lawan, “Jika memang demikian berarti mereka benar-benar akan membunuhku.”

Mendapat kesimpulan seperti itu, Ki Jagabaya pun mulai memikirkan gardu yang berada di kelokan jalan dekat banjar padukuhan.

“Memang agak jauh,” keluh Ki Jagabaya dalam hati kemudian, “Namun aku tidak boleh terlambat. Jika kawannya yang seorang itu terbangun dan ikut mengeroyok, kesempatanku akan hilang sama sekali.”

Berpikir sampai disitu, Ki Jagabaya segera meningkatkan serangannya. Senjatanya berputaran mematuk-matuk lawannya dari segala penjuru.

Melihat Ki Jagabaya meningkatkan serangannya dan sudah tidak bermain petak umpet di antara pepohonan lagi, orang yang bertubuh kurus itu segera menghentakkan kemampuannya untuk meredam serangan Ki Jagabaya. Pedang di tangan kanannya menyambar-nyambar mengeluarkan suara berdesing mengerikan yang dapat membuat ciut nyali lawan. Dia sudah tidak mengekang diri lagi untuk menumpahkan segenap kekuatan dan kemampuannya.

Ki Jagabaya terkejut. Ternyata setelah menghentakkan kemampuannya, tenaga lawannya sangatlah diluar dugaan. Jika terjadi benturan senjata, tidak menutup kemungkinan senjata di tangan Ki Jagabaya akan dapat terlepas dari genggamannya.

“Aku harus menghindari benturan,” berkata Ki Jagabaya dalam hati kemudian sambil meloncat mundur. Begitu lawan memburunya, Ki Jagabaya segera berkelit ke balik sebuah pohon besar.

“Licik!” geram lawannya sambil bergerak mengejar kemanapun Ki Jagabaya berlindung, “Jika tertangkap, akan aku buntungi terlebih dahulu kedua kakimu yang seperti kaki kancil itu!”

“O.!” seru Ki Jagabaya sambil kembali menghilang di balik rimbunnya sebuah gerumbul, “Aku menjadi bingung. Manakah yang akan engkau lakukan terlebih dahulu? Menyobek mulutku atau membuntungi kedua kakiku?”

“Diam! Diam!” bentak lawannya berkali-kali, “Kalau memang engkau jantan, mari bertempur beradu dada. Jangan main petak umpet seperti kanak-kanak!”

Ki Jagabaya tidak menjawab. Dibiarkan saja lawannya memburu dirinya kesana kemari dengan sepenuh kekuatan. Melihat lawannya telah menghentakkan segenap kekutatan dan kemampuannya, Ki Jagabaya pun segera mengimbangi dengan kelincahannya dan kembali berloncatan di antara gerumbul semak dan batang-batang pohon.

Sesekali dari balik sebatang pohon, kerisnya terjulur dan hampir saja merobek dada lawannya. Untunglah hanya baju bagian depannya yang tersobek.

“Iblis laknat jahanam!” teriak lawannya sambil mendengus marah.

Senjatanya semakin cepat mengejar bayangan Ki Jagabaya.

Namun Ki Jagabaya memang sengaja menguras tenaga lawannya sehingga dia tetap saja berputaran di segala medan.

Perkelahian tanpa ujung pangkal itu semakin lama semakin sengit. Namun Ki Jagabaya sudah tidak mampu lagi untuk mengulur waktu. Walaupun terlihat lawannya berkelahi dengan menguras tenaga, namun belum tampak tanda-tanda kelelahan. Sehingga Ki Jagabaya harus berpikir keras karena harus berpacu dengan waktu. Dia harus melumpuhkan lawannya sebelum orang yang tidur bersandarkan pohon itu terbangun.

“Orang ini mempunyai tenaga yang luar biasa dan ketahanan tubuh yang ngedab-edabi,” membatin Ki Jagabaya sambil terus berloncatan, “Sudah sekian lama dia menguras tenaganya dengan boros dan tanpa perhitungan. Namun tenaganya seakan-akan tidak ada habis-habisnya.”

Perkelahian pun berjalan terus dengan serunya. Ketika pada satu kesempatan keris di tangan Ki Jagabaya menyambar kening, lawannya dengan cepat menundukkan kepalanya. Disaat keris itu menyambar sejengkal di atas kepala, pedang di tangan kanannya pun lurus menusuk perut.

Ki Jagabaya yang cukup berpengalaman itu tidak meloncat mundur, hanya tubuhnya saja yang digeser setapak ke samping sehingga ujung pedang itu lewat setebal daun dari perutnya. Sambil sedikit membungkuk, salah satu kaki Ki Jagabaya pun terangkat dan dengan deras tumitnya menghantam ulu hati lawan.

Untunglah disaat yang gawat itu lawannya masih sempat melangkah mundur. Namun tak urung ujung tumit Ki Jagabaya masih menyentuh perutnya. Tak urung perutnya pun terasa bergolak dan hampir saja seluruh isi perutnya terlontar keluar.

Terdengar umpatan kotor dari mulut lawan Ki Jagabaya itu. Dengan tergesa-gesa dia segera meloncat mundur sejauh-jauhnya karena pada saat yang bersamaan ujung keris di tangan kanan Ki Jagabaya menyambar dada.

“Setan alas!” geram orang bertubuh kurus itu sambil meloncat dua kali ke belakang menghindari kemungkinan serangan susulan.

Kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya oleh Ki Jagabaya untuk lolos dari tempat itu. Selagi lawannya meloncat sejauh-jauhnya, dengan cepat Ki Jagabaya segera meloncat berlari sekencang-kencangnya meninggalkan tempat itu menuju ke jalan padukuhan.

“Jangan lari pengecut!” teriak lawannya begitu menyadari Ki Jagabaya sudah beberapa langkah meninggalkan tempat itu. Namun Ki Jagabaya berlari terus. Tujuannya hanya satu, menghindar sejauh-jauhnya dari tempat terkutuk itu.

Tetapi ternyata orang bertubuh kurus itu dengan sangat cerdiknya telah memotong arah larinya. Ketika langkahnya tinggal terpaut dua langkah di belakang Ki Jagabaya, tiba-tiba dengan didahului sebuah bentakan keras, pedangnya menyambar lambung Ki Jagabaya.

Tidak ada jalan lain bagi Ki Jagabaya untuk menyelamatkan lambungnya. Dengan terpaksa Ki Jagabaya mengurangi laju langkahnya untuk kemudian meloncat ke samping.

Kesempatan itu ternyata tidak disia-siakan oleh lawannya. Dengan segera dia kembali melibat Ki Jagabaya dalam sebuah perkelahian yang seru.

Diam-diam Ki Jagabaya mengeluh dalam hati. Ternyata usahanya kali ini gagal. Namun orang yang bertanggung jawab atas keamanan padukuhan Klangon itu tidak berputus asa. Dengan segenap kemampuan dan kelincahannya, Ki Jagabaya kembali meladeni tandang lawannya yang semakin kasar dan liar.

Ketika kokok ayam jantan untuk kedua kalinya kemudian terdengar bersahut-sahutan di sekitar rumah-rumah yang ada di sekitar pategalan itu, orang yang duduk bersandaran pohon itu tiba-tiba saja telah menggeliat sambil menguap lebar-lebar.

Sejenak dia mengusap-usap wajah dan mengerjap-kerjapkan kedua

matanya untuk mempertajam penglihatannya. Ketika pendengarannya yang tajam mendengar suara perkelahian yang telah bergeser semakin jauh dari tempat semula, orang agak gemuk itu pun segera bangkit berdiri.

“Adi putut Brajayekti, mengapa belum engkau bunuh orang yang mengaku aku sebagai Jagabaya dukuh Klangon itu?” teriaknya kemudian dengan suara geram.

Orang bertubuh kurus yang ternyata bernama putut Brajayekti itu menjawab sambil berteriak, “Kakang, orang ini sangat licik dan licin seperti belut. Dia tidak berani beradu dada, tapi main petak umpet layaknya anak kecil!”

“Ah, sudahlah. Mari aku bantu membunuh kecoak itu!” geram orang bertubuh agak gemuk itu sambil melangkah mendekat.

Berdesir jantung Ki Jagabaya. Kesempatannya untuk lolos dari tempat itu rasa-rasanya semakin sempit. Namun dia tidak berputus asa. Segera diputar akalnya untuk mendapatkan jalan keluar dari tempat itu.

Namun kesempatan itu seolah tertutup rapat begitu orang berperawakan agak gemuk itu menarik pedang yang terselip di pinggangnya. Kemudian dengan teriakan menggelegar dia menyerbu ke depan.

Sekarang Ki Jagabaya benar-benar dalam kesulitan. Dengan sekuat tenaga dia berusaha meningkatkan perlawanannya sambil tetap bertempur di antara gerumbul, semak dan pohon-pohon yang banyak tumbuh di pategalan itu.

“Tidak usah berlari-larian, pengecut!” geram orang agak gemuk itu begitu melihat Ki Jagabaya menyelinap di belakang sebatang pohon, “Percuma saja , engkau hanya menunda kematian. Lebih baik menyerah sajalah! Aku akan membunuhmu dengan satu tusukan menembus jantung. Engkau akan merasakan sakit hanya sekejap, kemudian nyawamu akan segera meluncur ke dalam neraka.”

Ki Jagabaya sama sekali tidak menanggapi ucapan lawan. Dipusatkan segenap nalar dan budinya untuk melawan kedua orang asing itu.

“Kakang, kita desak pengecut ini ke dinding rumah yang ada di sebelah pategalan ini!” teriak putut Brajayekti kemudian sambil memutar senjatanya, “Setelah terdesak ke dinding, kita tinggal mencincangnya saja. Dia tidak akan mampu bermain petak umpet lagi.”

“Baik,” jawab orang yang agak gemuk itu, “Mari kita giring pengecut ini ke dinding itu.”

Selesai berkata demikian, bagaikan sudah berjanji sebelumnya kedua orang itu segera berpencar dan mendesak Ki Jagabaya dari dua arah yang berbeda.

Jantung Ki Jagabaya pun berdetak semakin kencang. Namun sebagai perangkat dukuh Klangon yang sehari-hari bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan dukuh Klangon, dia tidak mengenal putus asa. Setiap kali kedua lawannya mencoba mendesak ke satu titik untuk menjebaknya, dia selalu berhasil berkelit dan keluar dari kepungan.

“Setan alas demit gendruwo tetekan!” umpat orang agak gemuk itu berkali kali setiap jebakannya meleset dan Ki Jagabaya memang selalu berhasil keluar dari kepungan mereka berdua.

“Kakang, aku akan menyerangnya dari belakang!” tiba-tiba putut Brajayekti berteriak sambil bergeser dengan cepat. Sekarang dia telah berada di belakang Ki Jagabaya.

Orang agak gemuk itu agaknya tanggap. Begitu melihat saudara seperguruannya sudah berada di belakang Ki Jagabaya, dia segera menyerang lawannya dengan serangan yang membadai.

Ki Jagabaya kembali mengeluh dalam hati. Berkali-kali dia berhasil lolos dari kepungan kedua lwannya. Namun kini dia harus memutar otak lagi untuk menghindari jebakan berikutnya.

Namun kedua lawannya ternyata sangat cerdik. Setiap kali Ki Jagabaya memutar tubuhnya untuk menghindar jangan sampai salah satu lawannya berada di belakangnya, salah seorang segera bergeser kembali di belakangnya dan menyerang dengan serangan yang dahsyat.

Demikianlah Ki Jagabaya harus bertempur sambil berputar putar untuk menghindari terjebak siasat kedua lawannya.

Dalam pada itu malam semakin merambat ke ujungnya. Di gandhok kanan rumah Ki Dukuh Klangon, tampak dua orang menyelinap dari pintu butulan samping. Dengan langkah yang cepat dan gesit keduanya segera melintasi halaman belakang dan kemudian meloncati dinding belakang rumah Ki Dukuh.

“Guru,” berkata salah seorang yang terlihat masih muda sesampainya kedua orang itu di luar dinding, “Akan kemanakah kita?”

“Kita ke perdikan Matesih?” jawab orang yang dipanggil guru itu pendek.

“Ke Matesih?” ulang orang yang masih muda itu dengan nada suara yang keheranan, “Untuk apa?”

“Diamlah, Acarya!” geram gurunya kemudian sambil melangkah cepat meninggalkan tempat itu, “Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri, seperti apakah ujud orang yang bernama Ki Rangga Agung Sedayu itu?”

Muridnya yang bernama Acarya itu mengerutkan keningnya sejenak. Tiba-tiba sebuah pertanyaan meluncur begitu saja dari mulutnya, “Guru, apakah tidak sebaiknya kita mengajak adi Jaka Purwana?”

“Ah, aku tidak mau mengganggunya. Dia mungkin masih lelah,” sahut gurunya tanpa menghentikan langkah, ”Selain itu ilmunya juga masih mentah. Dia hanya akan menjadi beban saja jika benar-benar terjadi benturan di Matesih nanti.”

Muridnya tidak bertanya lagi, hanya kepalanya saja yang terlihat terangguk-angguk sambil bergegas menyusul gurunya.

“Apa yang akan dilakukan guru setelah bertemu dengan orang yang bernama Ki Rangga itu?” membatin putut Acarya sambil mempercepat langkahnya. Keduanya terpaksa meloncati dinding halaman beberapa rumah yang berdekatan dengan rumah Ki Dukuh.

Ketika keduanya sudah mendekati pategalan tempat Ki Jagabaya sedang bertempur melawan kedua lawannya. Sejenak guru putut Acarya itu menghentikan langkah. Kemudian dengan memberi isyarat kepada muridnya, keduanya pun kemudian melangkah mendekat.

Kedua guru dan murid itu agaknya berusaha agar kehadiran mereka tidak diketahui oleh ketiga orang yang sedang bertempur dengan sengitnya itu.

“Mengapa mereka berdua harus main keroyokan?” geram guru putut Acarya perlahan, “Seharusnya Brajayekti saja sudah cukup untuk menyelesaikan tugas itu.”

“Adi Brajayekti memang terpaut agak jauh dengan adi Panengah guru,” jawab putut Acarya sambil berbisik perlahan, “Dia sangat malas untuk berlatih mengulang ulang ilmu-ilmu yang telah guru ajarkan. Dia lebih senang mempelajari hal-hal yang baru padahal apa yang telah diterimanya belum dikuasainya dengan benar.”

“Dia memang murid yang serakah dan tamak!” kembali gurunya menggeram, “Keinginannya untuk segera menguasai ilmu perguruan goa Langse sangat menggebu-gebu. Namun dia sangat malas berlatih agar dapat menguasai ilmu yang telah dipelajarinya dengan lebih mendalam. Lebih dari itu, dia sangat ceroboh dan kurang perhitungan dalam pertempuran yang sebenarnya.”

Putut Acarya tidak menjawab. Dia sangat setuju dengan pendapat gurunya itu. Namun kali ini dia tidak perlu mengkhawatirkan adik seperguannya itu karena ada putut Panengah yang membantu. Hanya kepalanya saja yang terlihat terangguk-angguk sambil pandangan matanya tajam mengawasi jalannya pertempuran.

“Namun ada satu kelebihan dari adik seperguruanmu itu,” berkata gurunya selanjutnya, “Dia memiliki tenaga yang besar dan ketahanan tubuh yang baik sekali. Itu adalah karunia alam yang tidak setiap orang dapat memilikinya.”

Kembali kepala putut Acarya terangguk-angguk.

Dalam pada itu ketiga orang yang sedang menyabung nyawa itu sama sekali tidak menyadari jika dari balik sebatang pohon yang cukup besar, dua orang sedang memperhatikan jalannya pertempuran.

Dalam pada itu, Ki Jagabaya benar-benar sedang dalam kesulitan. Beberapa gores luka mulai menghiasi sebagian tubuhnya. Walaupun luka itu tidak terlalu dalam, namun darah yang mulai menetes lama kelamaan akan dapat mengurangi daya tahan tubuhnya.

“Persetan!” geram Ki Jagabaya ketika segores luka lagi tampak menyilang di dadanya.

“Menyerahlah, pencuri ayam!” teriak putut Brajayekti sambil mencoba menggapai pundak lawannya dengan ujung pedangnya. Namun Ki Jagabaya masih cukup tangkas untuk berkelit.

Namun ketika senjata di tangan orang yang bertubuh agak gemuk yang ternyata bernama putut Panengah hampir bersamaan menebas dari belakang, yang dapat dilakukan oleh Ki Jagabaya adalah menjatuhkan diri sambil berguling ke arah semak belukar di dekatnya.

Melihat lawannya jatuh berguling ke dalam semak, agaknya putut Brajayekti tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan sebuah loncatan panjang senjatanya terayun deras menghujam ke arah gerumbul tempat Ki Jagabaya jatuh berguling.

“Mampuslah engkau pencuri ayam!” teriaknya sambil menghunjamkan senjatanya ke dalam gerumbul tempat Ki Jagabaya beberapa saat tadi jatuh berguling.

“Adi Brajayekti, jangan!!” teriak putut Panengah memperingatkan.

Namun sudah terlambat. Ki Jagabaya yang cerdik itu segera beringsut setapak begitu melihat samar-samar di antara rimbunnya semak belukar, salah satu lawannya tanpa perhitungan telah meloncat ke dalam gerumbul semak sambil menghujamkan senjatanya. Senjata lawannya itu memang menghujam hanya setebal daun dari tubuhnya. Namun yang terjadi kemudian adalah diluar perhitungan putut Brajayekti sama sekali.

Ketika dengan beringas dia menghujamkan senjatanya ke arah gerumbul itu, tiba-tiba terasa sesuatu menembus dadanya. Sebelum dia menyadari apa sebenarnya yang telah terjadi, terasa sekujur tubuhnya gemetar. Tubuhnya yang terdorong oleh kekuatannya sendiri ketika meloncat itu telah membuat dia terjerembab. Darah pun membasahi gerumbul itu.

“Iblis.! Kubunuh kau..!” teriak putut Brajayekti sambil berusaha bangkit dan mengacungkan senjatanya tinggi-tinggi. Namun suaranya terputus bersamaan dengan nyawanya yang keburu meninggalkan raganya. Tubuhnya pun kembali tersungkur dengan bersimbah darah.

Ki Jagabaya yang telah meloncat kesamping itu masih sempat mencabut kerisnya. Ketika Ki Jagabaya kemudian meloncat menjauh untuk mengambil jarak, tiba-tiba di hadapannya telah berdiri dua orang, salah seorang lawannya terdahulu yang bertubuh agak gemuk, dan seorang lagi yang belum dikenalnya sama sekali.

“Iblis!, kau bunuh adik seperguanku!” hampir bersamaan terdengar dua orang itu berteriak.

“Panengah, Acarya, segera selesaikan tikus curut itu!” tiba-tiba terdengar sebuah geraman mirip geraman seekor singa. Ketika Ki Jagabaya berpaling ke arah suara itu berasal, tampak seseorang yang sudah berumur muncul begitu saja dari balik sebatang pohon.

“Gila!” geram Ki Jagabaya dalam hati dengan jantung yang terasa hampir putus dari tangkainya, “Ternyata mereka berempat. Menilik suara orang yang sudah berumur itu, sepertinya dia Guru mereka. Aku akan kehilangan kesempatan jika tetap bertahan di sini. Aku harus meloloskan diri.”

Berpikir sampai disitu, tiba-tiba Ki Jagabaya berteriak menggelegar sambil mengangkat senjatanya tinggi-tinggi. Kedua orang yang berdiri beberapa langkah di hadapannya itu terkejut dan segera berloncatan ke samping.

Namun yang terjadi kemudian telah membuat kedua orang itu mengumpat umpat tak habis habisnya. Ketika mereka meloncat ke arah yang berbeda sambil bersiap menghadapi serangan lawan, teryata Ki Jagabaya telah berlari menghilang di antara gerumbul perdu dan batang-batang pohon yang banyak tumbuh di pategalan itu.

“Anak setan!” geram putut Panengah dan putut Acarya hampir bersamaan. Tanpa berjanji keduanya pun segera meloncat mengejar.

Gurunya yang melihat peristiwa yang terjadi di hadapan matanya itu justru telah tertawa berkepanjangan. Katanya kemudian, “Kalian ternyata belum dapat dibanggakan sebagai putut-putut padepokan goa Langse. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi meningkatkan ilmu kalian. Kalian terlalu bebal untuk menerima ilmu yang tinggi dari perguruan goa Langse.”

Selesai berkata demikian, dengan acuhnya dia segera melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu. Salah satu pututnya yang telah tewas pun bahkan tidak ditengoknya.

“Persetan dengan murid-murid bodoh itu!” geram orang itu seolah ditujukan kepada dirinya sendiri, “Aku harus sampai di Matesih sebelum ayam berkokok untuk terakhir kalinya. Aku benar-benar dibuat penasaran dengan orang yang disebut Ki Rangga Agung Sedayu itu.”

Dalam pada itu, putut Acarya dan putut Panengah yang sedang mengejar Ki Jagabaya dukuh Klangon benar-benar dibuat kebingungan. Ki Jagabaya yang mengenal dengan baik tempat di sekitar itu segera berlari di antara rumah-rumah dan pategalan yang ada. Beberapa kali dia harus menyembunyikan dirinya di sebuah gerumbul atau perigi sebuah rumah yang dilewatinya.

“Setan! Demit! Iblis!” geram putut Panengah sambil mengobrak abrik sebuah gerumbul perdu yang diduga menjadi tempat persembunyian Ki Jagabaya. Namun bayangan Ki Jagabaya seolah telah hilang ditelan bumi.

“Bagaimana kakang?” bertanya putut Panengah kemudian kepada putut Acarya.

Untuk beberapa saat putut Acarya berpikir keras. Dikerahkan segenap kemampuannya untuk mendengar segala bunyi yang ada di sekitarnya, namun jejak Ki Jagabaya bagaikan ditelan bumi.

“Kita kembali saja, kakang,” berkata putut Panengah kemudian begitu menyadari kakak seperguruannya itu hanya diam mematung.

“Diamlah sebentar, Panengah,” desis putut Acarya kemudian sambil tetap berdiri di tempatnya. Disilangkan kedua tangannya untuk mencoba mendengarkan setiap bunyi yang mencurigakan di sekitarnya.

Namun apa yang dilakukan putut Acarya itu sama sekali tidak membuahkan hasil. Keberadaan Ki Jagabaya benar-benar telah lenyap dari pantauan mereka.

“Bagaimana kakang?” kembali Panengah bertanya yang membuat wajah Acarya sedikit terlihat jengkel.

“Kita menyusul guru!” jawab Acarya pendek sambil melangkahkan kakinya.

“Kemana?” kembali Panengah bertanya yang membuat Acarya semakin jengkel.

Jawab Acarya kemudian, “Kita ke Matesih mencari Ki Rangga Agung Sedayu.”

“Ki Rangga Agung Sedayu?” gumam Panengah tanpa sadar sambil menghentikan langkahnya. Lalu, “Untuk apa kakang?”

Acarya yang semakin jengkel karena tidak dapat menemukan persembunyian Ki Jagabaya semakin jengkel dengan tingkah adik seperguruannya itu. Maka jawabnya kemudian sambil membalikkan badan, “Guru ingin berkenalan dengan orang yang bernama Ki Rangga Agung Sedayu. Guru ingin menjajal kedahsyatan ilmunya. Untuk itulah engkau akan diadu terlebih dahulu dengan Ki Rangga untuk mengetahui sampai tingkat mana kedahsyatan ilmunya. Setelah itu barulah guru yang akan turun tangan membunuhnya.”

“He?!” Panengah terkejut sehingga tanpa sadar dia mundur selangkah. Dengan suara bergetar dia melanjutkan, “Mengapa mesti aku? Bukankah masih ada kakang yang lebih tinggi ilmunya?”

“Bodoh!” geram Acarya kemudian, “Sebenarnya guru akan mengumpankan Brajayekti terlebih dahulu, namun dia sudah mati. Maka giliran berikutnya adalah engkau!”

Meremang seluruh buku kuduk Panengah. Dengan pandangan kosong dia menatap kakak seperguruannya itu. Katanya kemudian dengan nada yang memelas, “Kakang, tolonglah aku. Aku belum mau mati. Aku masih ingin hidup. Lebih baik kita kembali ke rumah Ki Dukuh.”

Untuk beberapa saat Acarya termangu-mangu. Berbagai pertimbangan hilir mudik dalam benaknya. Dia sangat tahu dan paham akan sifat gurunya yang sangat kejam tanpa rasa belas kasihan sama sekali. Selama mereka berguru di goa Langse, sudah berapa kali mereka mendapat hukuman hanya karena masalah sepele. Selain itu guru mereka itu sangat pelit untuk menurunkan ilmunya. Bertahun tahun mereka berguru tetapi yang diajarkan tidak begitu banyak dan rasa-rasanya kemajuan yang mereka capai sangat lambat.

“Atau kami bertiga ini yang terlalu bebal,” gumam Acarya dalam hati. Tetapi ketika Jaka Purwana ikut bergabung dengan mereka, terlihat murid yang baru itu diperlakukan sangat khusus oleh guru mereka.

“Adi Jaka Purwana memang murid yang sangat disayang oleh guru,” kembali Acarya berangan-angan, “Itu mungkin karena setiap pulang menengok keluarganya, Jaka Purwana selalu membawa barang-barang berharga dari Ki Dukuh sebagai hadiah untuk guru. Terakhir aku lihat guru mendapat sebuah timang emas yang bertretes berlian. Tentu itu penyebabnya mengapa adi Jaka Purwana mendapat perlakuan khusus dari guru.”

Berpikir sampai disitu kepala Acarya terlihat terangguk-angguk. Mereka bertiga pada dasarnya memang orang yang hidup kleyang kabur kanginan yang kemudian ditemukan oleh guru mereka dan kemudian diajak hidup di goa Langse.

“Pada awalnya kami bertiga hanya dijadikan sebagai pelayan,” berkata Acarya selanjutnya dalam hati mengenang masa lalu, “Entah atas dasar pertimbangan apa, akhirnya guru memutuskan untuk mengajari kita selangkah dua langkah ilmu olah kanuragan.”

“Kakang!” tiba-tiba Panengah berkata setengah berteriak, “Bagaimana selanjutnya? Kita menyusul guru apa kembali ke rumah Ki Dukuh?”

Sejenak dipandanginya adik seperguruannya yang bertubuh gemuk itu. Ada rasa belas kasihan dalam diri Acarya melihat adik sepergurannya itu. Menurut cerita Panengah sendiri, dia diselamatkan oleh guru mereka ketika dia sedang dikejar-kejar oleh para penghuni sebuah padukuhan karena kedapatan dia sedang mencuri makanan di pasar.

“Kasihan Panengah,” gumam Acarya dalam hati sambil memandang wajah adik seperguruannya yang terlihat polos dan sedikit dungu itu. Maka katanya kemudian, “Kembalilah ke rumah Ki Dukuh. Guru tadi hanya mengajak aku ke Matesih. Tapi sebelum itu mari kita kuburkan adi Brajayekti.”

Selesai berkata demikian, tanpa menunggu tanggapan dari Panengah, Acarya segera melangkah kembali ke pategalan tempat Brajayekti terbunuh.

Dalam pada itu Ki Jagabaya dukuh Klangon yang terluka di beberapa bagian tubuhnya, semakin lama menjadi semakin lemah. Darah yang keluar terus menerus dari luka-lukanya membuat tubuhnya lemas dan pandangan matanya berkunang kunang.

“Aku harus mencari pertolongan,” membatin Ki Jagabaya sambil beringsut dari persembunyiannya.

Untuk sejenak Ki Jagabaya hanya duduk bersandaran pada sebatang pohon. Dengan sisa-sisa kemampuannya dicobanya untuk mengawasi keadaan di sekitarnya. Ketika dia merasa kedua orang yang mengejarnya itu sudah pergi, dengan perlahan dia beringsut menuju ke sebuah rumah yang terletak tidak seberapa jauh dari tempatnya bersembunyi tadi.

“Semoga penghuni rumah itu cukup baik hati dan mengenal aku sebagai Jagabaya dukuh Klangon,” berkata Ki Jagabaya kemudian.

……..Sudah menjadi kebiasaannya di manapun dia berada, Glagah Putih selalu menyempatkan diri untuk mengisi air di pakiwan.

Dengan tertatih-tatih dia mencoba berdiri berpegangan pada sebatang pohon. Ketika dirasa tubuhnya sedikit kuat, dengan menghentakkan dan mengeraskan hatinya, Ki Jagabaya pun berjalan terhuyung-huyung menuju sebuah rumah yang terletak tidak jauh dari tempatnya.

Jarak yang hanya beberapa tombak itu rasa-rasanya menjadi sangat jauh bagi Ki Jagabaya. Namun kekerasan hatinya telah membantunya untuk berjalan terus, walaupun dengan bantuan berpegangan pada pepohonan di sekitarnya.

Rumah yang dituju itu tidak seberapa besar. Rumah yang sangat sederhana sebagaimana kebanyakan rumah yang berada di padukuhan Klangon. Harapan Ki Jagabaya pun semakin besar ketika dari sela-sela dinding kayu yang renggang dia dapat melihat secercah sinar dlupak yang meloncat keluar.

“Semoga penghuni rumah itu tidak terkejut dan kemudian membunyikan kentongan,” berkata Ki Jagabaya sambil berpegangan pada tiang di teritisan. Rumah itu tidak ada pendapanya, hanya teritisan yang agak lebar dengan tlundak yang tinggi.

Dengan perlahan Ki Jagabaya kemudian mencoba naik ke tlundak yang tinggi itu. Namun rasa-rasanya kekuatannya sudah habis hanya untuk sekedar mengangkat kaki. Maka Ki Jagabaya pun kemudian menjatuhkan diri duduk di tlundak itu sambil menggeram keras-keras. Harapannya penghuni rumah itu mendengar suara geramannya.

Namun tidak terdengar suara sama sekali dari dalam rumah, mungkin penghuninya masih terlelap. Langit memang masih gelap dan Matahari kelihatannya belum ada tanda-tanda untuk terbit.

“Aku harus mengetuk pintu atau aku akan mati kehabisan darah di teritisan ini,” geram Ki Jagabaya sambil mencoba merangkak naik ke tlundak.

Setelah berjuang dengan susah payah, usaha Ki Jagabaya tampak membuahkan hasil. Dengan menguatkan hatinya, Ki Jagabaya pun kemudian merangkak ke arah pintu yang tertutup rapat.

Sesampainya di depan pintu, dengan sisa tenaganya yang terakhir Ki Jagabaya pun kemudian memukul pintu itu dengan sekuat tenaga beberapa kali.

“Toloong!.Tolonglah aku..!” rintih Ki Jagabaya sambil mencoba memukul pintu dengan sisa tenaganya. Namun tenaganya yang sudah sangat lemah itu hanya mampu menyentuh pintu dengan suara yang sangat lemah.

Ketika harapan Ki Jagabaya sudah hampir punah, tiba-tiba terdengar langkah-langkah dari dalam rumah sebelum akhirnya terdengar seseorang mengangkat pintu selarak.

Terdengar derit pintu dibuka ketika Ki Jagabaya mencoba mendongakkan wajahnya. Namun selanjutnya pandangan Ki Jagabaya menjadi gelap, semuanya gelap dan akhirnya Ki Jagabayapun jatuh pingsan.

Penghuni rumah itu terkejut bukan alang kepalang begitu membuka pintu rumahnya, dia mendapatkan seseorang sedang tergolek di depan pintu.

“Siapa?” bertanya penghuni rumah itu dengn suara bergetar.

Dengan sangat hati-hati dia berjongkok dan mencoba mengamat-amati wajah orang yang tergeletak di hadapannya. Di bawah sinar lampu dlupak yang menerobos lewat pintu, penghuni rumah itu pun segera mengenali seraut wajah di hadapannya.

“Ki Jagabaya?” setengah berseru orang itu sambil segera mendekatkan wajahnya agar mengenal lebih jelas lagi.

“He! Benar ini Ki Jagabaya!” kembali orang itu berseru sambil menyentuh tubuh Ki Jagabaya yang diam, “Apa yang telah terjadi Ki Jagabaya?”

Namun sama sekali tidak terdengar jawaban dari mulut Ki Jagabaya. Menyadari bahwa Ki Jagabaya kemungkinannya telah jatuh pingsan, orang itu segera berteriak memanggil anak laki-lakinya.

“Suta! Naya! Kemarilah! Bantu ayah!” teriak orang itu kemudian memanggil anak-anaknya.

Dalam pada itu di banjar padukuhan induk perdikan Matesih, menjelang Matahari terbit Glagah Putih telah terbangun dan pergi ke pakiwan. Sudah menjadi kebiasaannya di manapun dia berada, Glagah Putih selalu menyempatkan diri untuk mengisi air di pakiwan.

Ki Rangga dan yang lainnya pun ternyata telah bangun. Setelah bergantian ke pakiwan, merekapun segera melaksanakan kewajiban mereka selaku hamba kepada Yang Maha Pencipta, tak terkecuali Glagah Putih.

“Aku akan tidur lagi,” desis Ki Jayaraga setelah mereka selesai melaksanakan kewajiban, “Aku akan meneruskan mimpiku yang sempat terputus tadi.”

Selesai berkata demikian Ki Jayaraga segera bergegas kembali ke biliknya. Sementara yang mendengar kelakar Ki Jayaraga hanya tersenyum.

“Aku akan mengisi pakiwan lagi sampai penuh,” berkata Glagah Putih kemudian sambil bangkit berdiri, “Tempayan di dapur juga masih kosong. Jika perempuan-perempuan yang bertugas memasak di dapur itu datang, mereka segera dapat memasak untuk kita.”

“Apakah engkau sudah lapar?” bertanya Ki Rangga kemudian kepada adik sepupunya itu.

“Belum kakang,” sahut Glagah Putih sambil melangkah pergi, “Aku hanya membantu menyiapkan keperluan memasak para perempuan yang bertugas di dapur hari ini.”

Ki Rangga pun tidak bertanya lagi. Hanya tampak kepalanya yang terangguk-angguk. Sementara Ki Waskita tampak masih tetap duduk bersila sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Untuk beberapa saat Ki Rangga tidak ingin mengganggu orang tua itu. Namun ketika Ki Waskita kemudian terdengar berdesah sambil mengangkat kepalanya dan berpaling ke arahnya, Ki Rangga pun tersenyum.

“Sebaiknya kita ke pringgitan saja, ngger,” berkata Ki Waskita kemudian sambil bangkit dari duduknya. Ki Rangga hanya mengangguk sambil ikut bangkit berdiri. Keduanya pun kemudian melangkah menuju pringgitan.

Sesampainya kedua orang itu di pringgitan, mereka segera duduk bersila. Memang belum ada wedang sereh hangat maupun penganan yang dapat untuk mengganjal perut.

“Mengapa Ki Bango Lamatan sampai pagi ini belum kembali?” tiba-tiba Ki Rangga bertanya sambil memandang ke arah Ki Waskita yang duduk di hadapannya.

Sejenak Ki Waskita menarik nafas panjang sambil menegakkan punggungnya. Jawabnya kemudian, “Aku tidak tahu, ngger. Kemampuanku sangat terbatas, tidak semua peristiwa yang gumelar di atas jagad ini dapat aku lihat dalam bentuk isyarat yang kemudian harus aku urai. Hanya peristiwa yang penting yang menyangkut diri seseorang yang dengan sengaja ingin aku ketahui yang dapat aku cari isyaratnya. Itu pun kadang aku kesulitan untuk mendapatkannya.”

“O, bukan itu maksudku Ki Waskita,” sahut Ki Rangga kemudian sambil tersenyum, “Aku hanya ingin mengetahui pendapat Ki Waskita atau mungkin dugaan yang berdasar perhitungan saja. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan kemampuan Ki Waskita untuk melihat isyarat-isyarat itu.”

“Ah,” desah Ki Waskita kemudian sambil menggeser duduknya sejengkal, “Aku masih dihantui permasalahan yang angger sampaikan beberapa saat yang lalu. Jika angger menerima isyarat itu tanpa angger kehendaki, itu adalah peparing dari Yang Maha Agung, ngger. Syukurilah, itu adalah salah satu bentuk peringatan dini untuk diri angger sendiri.”

Ki Rangga termenung. Apa yang disampaikan oleh Ki Waskita ini sangat bertolak belakang dengan saran Kanjeng Sunan. Kanjeng Sunan justru menyarankan untuk mengabaikan saja isyarat-isyarat itu karena semua yang telah terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi adalah dalam genggaman Yang Maha Kuasa.

Namun betapapun dada Ki Rangga bergejolak, kepalanya terlihat terangguk-angguk.

“Suatu saat nanti aku akan memikirkannya,” berkata Ki Rangga kemudian dalam hati, “Tentu saja semua pemberian Yang Maha Agung itu kita niatkan untuk menolong sesama sejauh dapat kita lakukan dan tidak mendahului kehendak Yang Maha Agung.”

Dalam pada itu, Matahari memang belum menampakkan dirinya di langit timur. Namun cahaya di ufuk timur mulai terlihat semburat kemerahan walaupun suasana kegelapan masih melingkupi langit perdikan Matesih.

Glagah Putih yang sedang asyik menimba air tiba-tiba terkejut. Panggraitanya yang sangat tajam melebihi orang kebanyakan telah menangkap desir lembut yang sangat mencurigakan. Sebuah desir yang tertahan-tahan sedang mendekati dinding belakang banjar .

“Ada seseorang yang sedang mendekati dinding belakang banjar,” berkata Glagah Putih sambil tetap menggerakkan tangannya menimba air dari perigi. Terdengar suara senggot berderit dalam irama ajeg yang diselingi suara tumpahnya air ke dalam pakiwan.

“Desir itu berhenti,” kembali Glagah Putih berkata dalam hati sambil mengetrapkan aji sapta pangrungu setinggi-tingginya. Namun tiba-tiba jantungnya bagaikan berhenti berdetak. Dia tidak mampu lagi memantau suara desir langkah yang sangat halus itu.

“He? Desir itu berhenti,” membatin Glagah Putih dalam hati. Namun dia berusaha untuk tidak terpancing dan tetap menggerakkan senggot untuk mengambil air.

“Jika aku berhenti menimba, orang yang sedang mendekati dinding itu pasti menyangka aku mengetahui kedatangannya,” kembali Glagah Putih berkata dalam hati, “Sebaiknya aku pura-pura tidak mengetahui kehadirannya. Biarlah orang itu memasuki halaman belakang banjar ini. Aku ingin mengetahui maksud kedatangannya yang tidak sewajarnya ini.”

Demikianlah, Glagah Putih tetap melanjutkan pekerjaannya seolah-olah tidak terganggu sama sekali dengan kedatangan orang di balik dinding itu.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba pendengaran Glagah Putih yang masih mengetrapkan aji sapta pangrungu itu kembali mendengar desir lembut itu. Namun yang membuat Glagah Putih jantungnya semakin berdentangan adalah desir itu sekarang terdengar tidak menyusuri tanah, namun justru terdengar merayap di dinding.

“He?” membatin Glagah Putih dengan jantung yang berdebaran, “Desir itu merayap di dinding seperti seekor cicak! Aku menjadi tidak yakin dengan pendengaranku sendiri. Sepertinya yang sedang merayap di dinding itu bukan manusia, namun sejenis cicak atau pun tokek raksasa!”

 

——————oOo——————

 

Bersambung ke jilid 17

 

kembali ke STSD-15 | lanjut ke STSD-17

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s