STSD-17

kembali ke STSD-16 | lanjut ke STSD-18

 

Bagian 1

Dengan jantung yang semakin berdebaran Glagah Putih melalui ketajaman pendengarannya terus mengikuti gerak yang sangat lembut itu. Dan kini Glagah Putih dapat menduga bahwa orang atau apapun itu pasti sekarang sudah berada di halaman belakang banjar, beberapa tombak di belakangnya.

Menyadari orang yang berada beberapa tombak di belakangnya bisa saja setiap saat berlaku curang, Glagah Putih pun akhirnya memutuskan untuk menghentikan pekerjaannya. Setelah menambatkan tali senggot itu pada pathok di sebelah perigi, Glagah Putih pun segera membalikkan badannya.

Dengan langkah satu-satu, anak laki-laki Ki Widura itupun kemudian mendekati pohon-pohon serta gerumbul perdu yang banyak tumbuh bertebaran di dekat dinding belakang banjar.

Ketika jaraknya kira-kira tinggal empat tombak dari dinding belakang banjar, langkah Glagah Putih pun terhenti. Sejenak dipandanginya gerumbul perdu dan batang-batang pohon yang tampak masih remang-remang di ujung pagi. Sambil mengetrapkan aji sapta pandulu setinggi-tingginya, pandangan mata Glagah Putih pun segera menangkap sebuah bayangan yang tampak hampir melekat pada sebatang pohon.

“Sudahlah Ki Sanak, tidak usah bermain petak umpet,” berkata Glagah Putih kemudian sambil bergeser beberapa langkah mendekat, “Kita bukan kanak-kanak lagi. Segera tunjukkan dirimu dan sampaikan apa kepentingan Ki Sanak di pagi-pagi begini memasuki banjar dengan cara yang tidak sewajaranya.”

Tidak terdengar jawaban sama sekali. Hanya terdengar kicau burung yang bersahut-sahutan menyambut datangnya Matahari pagi.

Kembali Glagah Putih menajamkan penglihatannya. Namun alangkah terkejutnya adik sepupu Ki Rangga Agung Sedayu itu. Ternyata bayangan yang terlihat beberapa saat tadi melekat pada sebatang pohon beberapa tombak di hadapannya, kini sudah tidak tampak lagi. Dengan jantung yang berdebaran Glagah Putih pun berusaha untuk mengerahkan kemampuan aji sapta pandulu. Diedarkan pandangan matanya ke sekeliling, namun usahanya terlihat sia-sia.

“Gila!” geram Glagah Putih dalam hati dengan jantung yang semakin berdebaran, “Begitu cepatnya dia berpindah tempat tanpa sepengetahuanku. Agaknya orang ini memang sengaja mempermainkan aku.”

Berpikir sampai disitu, Glagah Putih bermaksud untuk mencari tempat yang lebih lapang. Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, dia harus siap untuk menghadapinya.

Dengan bergegas Glagah Putih segera membalikkan badan dan kemudian berjalan ke tempat yang lebih lapang di belakang dapur.

Namun baru saja dia melangkah selangkah dua langkah, tiba-tiba pendengaran Glagah Putih telah dikejutkan oleh suara tawa perlahan dari arah belakangnya. Suara tawa itu terdengar sangat perlahan-lahan namun bagi Glagah Putih yang mempunyai pendengaran sangat tajam, segera dapat mengenalinya dengan sangat jelas.

Dengan cepat Glagah Putih segera berbalik dengan kesiap-siagaan yang tinggi. Namun terasa dadanya terguncang ketika melihat sesosok bayangan yang muncul justru dari balik pohon tempatnya semula bersembunyi.

“Hem!” desah Glagah Putih kemudian dalam hati sambil memandang tajam ke arah bayangan yang bergerak mendekat, “Aku tadi memang tidak melihat dia berpindah tempat dari pohon itu ke tempat lain. Agaknya dia hanya bergeser dengan sangat cepatnya ke belakang pohon sehingga pandangan mataku telah tertipu. Sebuah permainan petak umpat yang lumayan bagus.”

Namun Glagah Putih tidak sempat berangan-angan lebih jauh karena bayangan itu telah semakin dekat.

“Anak muda yang luar biasa!” terdengar bayangan itu berdesis perlahan sambil melangkah mendekat.

Glagah Putih yang melihat bayangan itu semakin dekat segera dapat melihat seraut wajah yang belum dikenalnya sama sekali. Sebuah wajah yang terlihat belum seberapa tua dengan kumis tipis dan tanpa jenggot sama sekali.

Ketika orang yang umurnya terlihat sudah melewati setengah abad itu tinggal lima langkah saja dari Glagah Putih, dia segera menghentikan langkahnya dan kemudian berdiri tegak dengan kedua kaki yang renggang sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sebuah sikap yang sangat mendebarkan.

“Maafkan aku, Kiai,” Glagah Putihlah yang mendahului membuka percakapan begitu dilihatnya orang tua itu hanya berdiri diam, “Sepertinya kita belum pernah bertemu?”

“Memang,” jawab orang itu serta merta dengan suara yang datar, “Kita berjumpa baru kali ini namun aku mengakui, engkau adalah seorang anak muda yang lain dari pada yang lain,” orang itu berhenti sebentar. Lalu, “Orang lain belum tentu dapat mengetahui kehadiranku di belakang banjar padukuhan ini. Namun engkau yang terhitung masih muda sudah dapat menangkap getaran akan kehadiranku. Benar-benar seorang anak muda yang luar biasa.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Dugaannya tenyata benar. Di ujung pagi ini ternyata ada seseorang yang telah mencoba memasuki banjar padukuhan induk Matesih itu dengan cara yang tidak sewajarnya, entah untuk tujuan apa.

“Kiai,” berkata Glagah Putih kemudian, “Aku memang dapat mendengar langkah-langkah Kiai memasuki halaman belakang banjar padukuhan ini. Itu mungkin bukan karena kemampuan pendengaranku yang tajam, namun aku kira Kiai yang terlalu ceroboh sehingga langkah-langkah Kiai dapat terdengar oleh orang kebanyakan seperti aku ini.”

“Omong kosong!” terdengar orang itu menggeram, “Jangan mencoba meremehkan pengamatanku. Engkau mencoba mengelabuhi aku dengan cerita ngayawara itu. Aku tahu, engkau pasti mempunyai kepercayaan diri yang tinggi sehingga sampai saat ini engkau masih berani berdiri di hadapanku tanpa berteriak memanggil pengawal yang sedang bertugas jaga untuk meminta pertolongan.”

Glagah Putih hanya dapat menarik nafas dalam-dalam mendengar ucapan orang itu. Sementara Matahari belum benar-benar terbit. Masih ada beberapa saat untuk benar-benar Matahari memancarkan sinarnya ke muka bumi.

“Kiai,” berkata Glagah Putih kemudian, “Aku sampai saat ini masih berdiri di sini bukan berarti aku merasa orang yang berilmu tinggi, namun sebagai seorang tamu yang telah diberi tempat berteduh oleh Ki Gede, aku berkewajiban ikut menjaga keamanan di banjar ini.”

“He? Apa katamu?” seru orang itu dengan wajah keheranan, “Engkau hanya salah seorang tamu di sini?”

“Benar, Kiai,” jawab Glagah Putih cepat, “Kami rombongan berlima memang telah menjadi tamu Ki Gede dan dipersilahkan untuk menginap di banjar ini.”

Untuk sejenak tampak kerut-merut di kening orang. Namun kemudian justru tawanya yang terdengar berkepanjangan.

Katanya kemudian setelah tawanya reda, “Alangkah bodohnya, aku. Ternyata engkau adalah salah satu rombongan Ki Rangga Agung Sedayu yang telah berhasil membantu Ki Gede Matesih dan pasukan pengawalnya menghancurkan padepokan Sapta Dhahana. Pantas engkau memiliki kepercayaan diri yang begitu tinggi.”

Sekarang  giliran    kening   Glagah    Putih   yang    berkerut-merut. Bertanya Glagah Putih kemudian, “Maafkan aku Kiai. Dari mana Kiai mengetahui kalau rombongan Ki Rangga bermalam di sini?”

“Ah, semua orang di perdikan Matesih ini mengetahuinya!” potong orang itu cepat, “Hampir setiap mulut di perdikan Matesih ini dengan bangganya membicarakan pahlawan-pahlawan mereka yang telah berhasil menghancurkan padepokan Sapta Dhahana, dan mereka juga mengetahui bahwa kalian sedang bermalam di banjar ini.”

Kembali Glagah Putih menarik nafas panjang. Orang ini agaknya memang dengan sengaja telah mendatangi banjar padukuhan induk untuk menjumpai rombongan Ki Rangga, entah untuk tujuan apa.

“Nah, anak muda. Jika memang benar engkau adalah bagian dari rombongan Ki Rangga, sebut namamu dan juga peranmu dalam rombongan itu. Sebagai juru dang atau justru hanya sebagai seorang pekatik yang mengurusi kuda,” berkata orang itu kemudian dengan nada yang setengah mengejek.

Seleret warna merah menghiasi wajah Glagah Putih, namun hanya sebentar. Jawab Glagah Putih kemudian, “Memang aku bekerja serabutan dalam rombongan Ki Rangga ini. Kadang mengurusi makanan, kadang juga memandikan kuda dan sekalian merumput,” Glagah Putih berhenti sebentar. Lanjutnya kemudian, “Namun yang jelas, aku menjadi bagian dari rombongan Ki Rangga karena Ki Rangga memang mengajak aku untuk ikut serta.”

“He? Ki Rangga mengajakmu?” kembali orang itu bertanya dengan nada heran. Lanjutnya kemudian, “Memangnya ada hubungan apa engkau dengan Ki Rangga?”

Glagah Putih menarik nafas panjang sebelum menjawab. Ada sedikit kejengkelan yang mulai merayapi hatinya menghadapi sikap orang itu. Maka katanya kemudian dengan suara perlahan namun cukup jelas di telinga orang itu, “Namaku Glagah Putih. Aku adalah adik sepupunya dan sekaligus muridnya.”

“He?” untuk kesekian kalinya orang itu terkejut. Namun dengan cepat dia kembali tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya kemudian, “Luar biasa. Ternyata engkau adalah adik sepupu sekaligus murid Ki Rangga,” orang itu berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Baiklah Glagah Putih. Tadi aku sudah melihat sendiri kemampuanmu dalam mengetrapkan panca indera mencari tempat persembunyianku. Nah, sekarang aku ingin menguji kekuatan batinmu. Aku akan melepaskan ilmuku untuk menguji katahanan jiwamu. Bersiaplah jika tidak ingin engkau terkapar di atas tanah tanpa arti.”

Selesai berkata demikian orang itu segera menundukkan kepalanya dengan kedua tangan tetap bersilang di dada. Hanya sekejap dan orang itu sudah kembali ke sikapnya semula.

Glagah Putih sempat terheran-heran melihat sikap orang yang bediri beberapa langkah saja di hadapannya itu. Dia belum dapat merasakan akibat ilmu yang telah dilepaskan oleh orang itu.

Namun Glagah Putih tidak sempat berpikir lebih jauh ketika tiba-tiba saja telinganya tidak mampu lagi dengan jelas mendengar kicau burung yang ramai bersahut-sahutan menyambut sinar Matahari pagi. Sementara rasa kantuk yang luar biasa dahsyat telah menyergapnya dan hampir menghilangkan separo dari kesadarannya.

“Gila!” tanpa sadar Glagah Putih berteriak sedikit keras sambil menggoyang-goyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk mengusir rasa kantuk yang sedang mencengkeram otaknya, “Ilmu sirep! Ini pasti ilmu sirep!”

Terdengar orang itu tertawa terkekeh kekeh. Katanya kemudian, “Memang mirip dengan ilmu sirep. Pengaruh ilmu sirep akan pudar sejalan dengan sinar Matahari yang pertama menyentuh bumi, namun ilmuku ini tidak. Kapan saja aku menghendaki, aku dapat melepaskannya untuk lawan-lawanku sehingga mereka akan terkapar tanpa aku harus susah payah menundukkannya.”

Diam-diam Glagah Putih mengeluh dalam hati. Perasaan kantuk itu memang terasa bagaikan melumpuhkan kesadarannya. Namun dengan berbekal segala ilmu olah kanuragan jaya kawijayan yang telah dipelajarinya dari aliran Ki Sadewa melalui kakak sepupunya serta ilmu yang diperoleh dari gurunya Ki Jayaraga, Glagah Putih masih mampu mempertahankan kesadarannya, walaupun tidak sepenuhnya.

“Gila!” kembali Glagah Putih menggeram dalam hati, “Rasa-rasanya angin yang bertiup lembut ini mulai menutup segenap panca inderaku dan melumpuhkan syaraf kesadaranku.”

Namun Glagah Putih tetap bertahan. Dengan cepat dia berusaha bergerak, bergeser dari tempatnya semula agar aliran darahnya tidak membeku.

Melihat apa yang dilakukan oleh Glagah Putih, orang itu tertawa pendek sambil berkata, “Sebuah usaha yang bagus untuk memperlancar peredaran darahmu. Tapi tidak akan bertahan lama, engkau segera terkapar tak sadarkan diri di halaman belakang banjar ini.”

Namun Glagah Putih tidak menyerah mendapat serangan dahsyat yang dapat merampas kesadarannya itu. Segera dipusatkan segenap nalar dan budi untuk mengungkapkan tenaga cadangan agar dapat melindungi seluruh panca indera dan kesadarannya.

Agaknya Glagah Putih mulai berhasil namun tidak sepenuhnya. Pusat semacam ilmu sirep itu hanya beberapa langkah saja di hadapannya sehingga kekuatan yang membelenggu kesadaran Glagah Putih benar benar ngedab-edabi.

“Menyerahlah anak muda,” berkata orang itu kemudian sambil tertawa terkekeh kekeh, “Aku tidak akan membunuhmu. Percayalah, aku tidak akan membunuhmu, karena engkau adik sepupu dan sekaligus murid Ki Rangga. Aku akan mebawamu ke padepokanku di laut selatan dan akan kujadikan dirimu sebagai barang taruhan.”

“Barang taruhan?!” ulang Glagah Putih dengan suara yang hampir tenggelam. Namun Glagah Putih tidak putus asa. Sambil terus berusaha meningkatkan tenaga cadangan untuk melawan pengaruh rasa kantuk yang mencengkeram kesadarannya, Glagah Putih terus memutar otak untuk mengatasi ilmu lawan yang tidak kasat mata itu.

“Ya,” jawab orang itu kemudian sambil tertawa terkekeh-kekeh, “Engkau akan kujadikan barang taruhan untuk memancing Ki Rangga mendatangi goa Langse di laut selatan.”

Untuk sejenak wajah Glagah Putih menunjukkan keheranan. Sambil tetap mengerahkan kemampuannnya bertahan dari rasa kantuk yang rasa-rasanya semakin tak tertahannkan, dia bertanya dengan suara yang terdengar sayup-sayup, “Untuk apa Kiai mengharap Ki Rangga datang ke goa Langse?”

Kembali terdengar orang itu tertawa, kali ini lebih keras dan lebih panjang. Jawabnya kemudian, “Untuk menggali liang kuburnya sendiri. Karena aku akan membunuhnya.”

Gemetar sekujur tubuh Glagah Putih menahan kemarahan yang tiada taranya. Tiba-tiba terbesit sebuah akal untuk memusnahkan pengaruh sirep dari orang yang berdiri hanya beberapa langkah saja di hadapannya. Tidak ada cara lain untuk memusnahkan pengaruh sirep itu selain memadamkan sumbernya.

Berpikir sampai disitu, dengan sisa-sisa kesadarannya, segera saja ditrapkan ilmu yang disadapnya dari Ki Jayaraga. Ilmu yang dapat digunakan untuk menyerang pada jarak tertentu yang berlandaskan pada inti kekuatan bumi, air, udara dan api.

Sejenak kemudian, tanpa ancang-ancang Glagah Putih segera menghentakkan kekuatan ilmunya melalui kedua telapak tangan yang terbuka dan terjulur ke depan. Namun karena kesadaran Glagah Putih tinggal hampir separohnya saja, maka pemusatan nalar dan budi Glagah Putih pun terganggu sehingga serangan Glagah Putih pun tidak sampai ke puncak.

Sejenak kemudian, dari kedua telapak tangan Glagah Putih yang terbuka, meluncur seleret sinar kemerahan bagaikan tatit yang meloncat di udara menerjang ke arah orang yang berdiri di hadapannya.

Akan tetapi Glagah Putih tidak bermaksud curang. Dia hanya mengarahkan serangannya itu ke arah tanah yang hanya sejengkal di hadapan orang itu berdiri.

Orang itu terkejut bukan alang kepalang begitu mata batinnya melihat selerat cahaya yang keluar dari kedua telapak tangan Glagah Putih. Tanpa ancang-ancang tubuh orang itu seakan akan berpidah begitu saja ke tempat yang lain. Sedangkan serangan jarak jauh Glagah Putih yang menimpa tanah telah meledak dengan dahsyatnya menyemburkan api bercampur tanah dan kerikil serta uap panas.

“Iblis!” umpat orang itu sambil kembali meloncat mengambil jarak. Sejenak pemusatan nalar dan budinya pun agak terganggu sehingga Glagah Putih pun bagaikan telah keluar dari sebuah himpitan yang mencengkeram otaknya.

“Benar-benar anak iblis!” geram orang itu kemudian. Bersamaan dengan itu, cahaya Matahari yang pertama pun mulai menyentuh bumi.

“Engkau berhasil anak muda,” berkata orang itu kemudian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Lanjutnya kemudian, “Ternyata aku telah salah menilai. Engkau cukup pantas mengaku sebagai murid Ki Rangga yang namanya kawentar kajala driya dari ujung ke ujung tanah ini. Namun jangan harap aku silau melihat ilmu serangan jarak jauhmu yang tidak seberapa itu. Aku meloncat bukan karena aku takut terkena ilmumu, namun aku meloncat karena gerak naluriah saja yang terkejut karena aku sama sekali tidak menduga engkau masih mampu menyerang,” orang itu berhenti sejenak. Lalu, “Jika engkau ingin menyerangku sekali lagi dengan ilmumu itu, aku akan menyediakan diri untuk tidak menghindar sama sekali. Namun aku tidak bertanggung jawab jika ilmu kebanggaanmu itu justru nantinya akan berbalik memukulmu sehingga engkau akan terluka parah atau justru mati karena pokalmu sendiri.”

Berdesir dada Glagah Putih. Jika orang itu tidak punya bekal yang lebih dari cukup untuk membetengi diri dari terjangan ilmunya, tentu dia tidak akan berani mati menyombongkan diri. Namun Glagah Putih membiarkan saja orang itu mendapatkan gambaran yang salah tentang kekuatan ilmunya.

“Nah, Matahari sudah terbit,” berkata orang itu kemudian, “Waktuku sangat sempit, aku akan segera kembali ke goa Langse. Namun aku akan tetap menangkapmu dan membawamu ke goa Langse untuk memancing Ki Rangga.”

“Kiai,” sela Glagah Putih kemudian dengan serta merta, “Rasa-rasanya kita belum pernah berselisih jalan. Demikian juga dengan kakak sepupuku. Aku masih berharap Kiai mengurungkan niat Kiai untuk membuat persoalan di antara kita.”

“Jangan merajuk!” bentak orang itu sambil menggeleng gelengkan kepalanya, “Sebagai saudara sepupu dan sekaligus murid Ki Rangga, tunjukkan kemampuanmu. Jangan merengek seperti kanak-kanak ditinggal biyungnya. Namun sekali lagi perlu aku katakan, aku sama sekali tidak silau dengan ilmu kalian. Aku mempunyai segudang ilmu serta berjenis-jenis ilmu yang kalian belum pernah mengalaminya bahkan membayangkan pun belum pernah.”

Kembali Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun tanyanya kemudian, “Kiai, apakah Kiai sudah pernah mengenal Ki Rangga?”

Orang itu tertawa pendek. Jawabnya kemudian, “Itu tidak perlu. Aku sudah mendengar agul-agulnya Mataram itu mengalahkan lawan-lawannya dengan berbagai macam ilmu yang mereka punya. Namun sekali lagi aku katakan, aku sama sekali tidak silau dan siap kapan saja untuk membunuh kakak sepupumu dan sekaligus gurumu itu.”

“Apakah itu memang perlu, Ki Sanak?” tiba-tiba terdengar sebuah suara yang berat dan mantap dari arah samping dapur. Belum hilang terkejutnya Glagah Putih dan orang itu, dari samping dapur muncul Ki Rangga dan Ki Waskita.

Sejenak orang itu membeku di tempatnya. Matanya yang tajam bagaikan burung hantu itu tidak berkedip mengawasi langkah Ki Rangga dan Ki Waskita yang berjalan mendekat.

Glagah Putih yang melihat kemunculan Ki Waskita dan kakak sepupunya itu telah menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam hati anak muda itu terlintas sedikit rasa kecewa. Dia sesungguhnya ingin menyelesaikan masalah itu tanpa campur tangan Ki Rangga.

“Jika kakang Agung Sedayu mengijinkan, aku akan menghadapi orang ini dalam sebuah perang tanding,” berkata Glagah Putih dalam hati sambil bergeser beberapa langkah untuk memberi tempat Ki Rangga dan Ki Waskita.

Dalam pada itu, orang yang mengaku dari goa Langse itu sejenak termangu-mangu. Menilik kehadiran kedua orang itu yang tidak mampu diketahuinya, tentu kemampuan ilmu keduanya tidak dapat dipandang sebelah mata.

“Ki Sanak,” berkata Ki Rangga kemudian setelah keduanya berdiri di samping Glagah Putih, “Akulah yang Ki Sanak cari. Ada keperluan apakah Ki Sanak mencari aku sehingga Ki Sanak jauh-jauh dari pesisir laut selatan telah datang ke perdikan Matesih ini?”

Tampak orang itu terdiam beberapa saat. Terlihat dia sedang mencoba menimbang-nimbang kekuatan yang tersimpan di dalam diri orang yang bernama Ki Rangga Agung Sedayu itu .

“Ki Sanak, apakah Ki Sanak mendengar pertanyaanku?” terdengar Ki Rangga mengulangi pertanyaannya.

Tiba-tiba orang itu justru telah tertawa berkepanjangan sambil menggeleng-gelengkan kepala. Katanya kemudian seolah-olah ditujukan kepada dirinya sendiri, “Sulit dipercaya, ternyata agul agulnya Mataram yang namanya kondang kawentar kajaladriya dari ujung ke ujung tanah ini tidak sebagaimana yang telah aku bayangkan selama ini. Aku menjadi tidak yakin dengan pengamatanku sendiri, ataukah memang nama besar Ki Rangga itu terlalu dibesar-besarkan sehingga telah membuat orang-orang salah menilai.”

Untuk sejenak Ki Rangga dan Ki Waskita saling berpandangan. Namun hanya sesaat. Berkata Ki Rangga kemudian, “Ki Sanak, aku sama sekali tidak memperdulikan nama besar. Apa yang telah aku lakukan selama ini hanyalah menetapi kewajiban selaku prajurit Mataram, tidak lebih dan tidak kurang. Jika keluarga atau kerabat bahkan perguruan dari orang-orang yang telah aku kalahkan dalam sebuah peperangan itu kemudian menjadi tidak terima dan menarik setiap persoalan yang seharusnya berhenti di medan peperangan menjadi sebuah persoalan pribadi, aku hanya pasrah kepada Yang Maha Pemberi Hidup. KepadaNya lah aku menyembah dan hanya kepadaNya lah aku memohon perlindungan.”

“Omong kosong!” bentak orang itu dengan suara menggelegar sehingga telah mengejutkan para pengawal yang sedang berjaga di regol. Bahkan perempuan-perempuan yang baru saja datang dari arah regol pun ikut terkejut dan menjadi ketakutan.

Dalam pada itu, pemimpin pengawal jaga yang kebetulan baru saja keluar dari gandhok kanan telah berlari ke depan gardu penjagaan.

“Salah satu dari kalian ikut aku!” berkata pemimpin pengawal jaga itu kemudian sambil melangkah kembali menuju ke longkangan, “Kita lihat halaman belakang banjar. Mungkin ada sesuatu yang perlu mendapat perhatian.”

Pengawal yang mengikutinya tidak menjawab. Diikuti saja langkah pemimpinnya itu menuju longkangan.

Dalam pada itu, tiga orang perempuan yang baru saja memasuki regol dengan menjinjing beberapa barang belanjaan telah terhenti di gardu. Sambil menahan rasa takut yang mulai menjalari hati mereka, salah satu yang rambutnya sudah ubanan segera bertanya, “Ada apakah, ngger? Apakah ada keributan di halaman belakang banjar?”

Sejenak para pengawal yang ada di gardu itu saling pandang. Namun salah seorang segera menjawab, “Kami belum tahu, mbok. Kita tadi telah sama-sama mendengar seseorang membentak dengan suara yang sangat keras sehingga suaranya sampai terdengar ke tempat ini. Menilik arah suaranya memang dari arah belakang banjar. Namun kami belum tahu pasti apa sebenarnya yang sedang terjadi.”

“Jadi kami harus bagaimana?” bertanya perempuan satunya yang terlihat masih cukup muda dan berparas cukup cantik dan manis.

Sejenak para pengawal yang berada di gardu itu kembali saling pandang. Mereka terlihat agak ragu-ragu untuk memutuskan. Bahkan seorang pengawal yang berbadan agak gemuk justru tak henti-hentinya memandangi wajah perempuan itu yang memang terlihat masih cukup muda dan manis.

Segera saja perempuan muda itu menundukkan wajahnya yang menjadi kemerah-merahan seperti udang di rebus. Dia menjadi sedikit salah tingkah. Pengawal yang bertubuh agak gemuk itu baru menyadari perbuatannya ketika pengawal di sebelahnya menggamit lambungnya.

“Begini saja,” akhirnya pengawal tadi menjawab, “Kalian ke dapur lewat pintu depan saja. Kalian jangan lewat longkangan dan kemudian langsung ke dapur. Sebaiknya kalian ke ruang tengah melalui pringgitan sehingga jika terjadi hal-hal yang diluar kendali. Kalian tetap di ruang tengah saja.”

“Bagaimana jika hal yang diluar kendali itu justru sedang terjadi di dalam banjar, di ruang tengah banjar maksudku?” potong perempuan yang sudah ubanan itu dengan serta-merta.

Kembali para pengawal itu saling pandang. Namun akhirnya salah satu pengawal telah turun dari gardu dan melangkah sambil berkata, “Aku antar kalian ke ruang tengah melalui pintu depan.”

Ketiga perempuan itu pun akhirnya menarik nafas dalam dalam sambil mengikuti langkah pengawal itu.

“Apakah itu memang perlu, Ki Sanak?” tiba-tiba terdengar sebuah suara yang berat dan mantap dari arah samping dapur.

Ketika mereka kemudian telah sampai di pringgitan, tiba-tiba perempuan yang rambutnya sudah ubanan itu menjadi ragu-ragu sehingga telah menghentikan langkahnya.

“Ada apa, mbok?” bertanya perempuan yang masih muda sambil ikut menghentikan langkahnya. Akhirnya yang lain pun ikut berhenti.

“Bukankah di ruang tengah ada beberapa tamu Ki Gede yang sedang menginap?” bertanya perempuan tua itu kemudian begitu melihat kawan-kawannya ikut berhenti.

“Ya,” jawab pengawal yang mengantar itu dengan serta merta, “Mereka adalah orang-orang linuwih yang telah membantu Ki Gede menghancurkan padepokan Sapta Dhahana.”

“Ah, aku jadi segan jika harus ke dapur melalui ruang tengah,” berkata perempuan itu kemudian sambil menggelengkan kepalanya.

“Jadi bagaimana? Kita lewat pintu butulan samping saja?” perempuan yang lain menyahut.

Perempuan tua itu sejenak ragu-ragu. Namun terlihat dia menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali.

“Aku takut,” katanya kemudian dengan wajah yang pucat, “Lebih baik kita duduk saja di dalam pringgitan ini.”

Pengawal yang mengantar ketiga perempuan itu menjadi heran. Maka tanyanya kemudian, “Mbok, tidak ada yang perlu ditakutkan. Aku akan mengantar kalian sampai ke dapur melalui ruang tengah.”

“Tapi, bagaimana jika orang-orang yang sedang bertengkar itu tiba-tiba memasuki dapur?”

“Kalian dapat menyelarak pintu dapur dengan kuat,” sahut pengawal itu, “Selebihnya kalian memang harus memasak untuk para tamu dan juga pengawal yang jaga.”

Untuk sejenak ketiga perempuan itu saling pandang. Berbagai pertimbangan sedang bergolak di dalam dada mereka. Memang mereka mempunyai kewajiban untuk memasak bagi para tamu yang sedang menginap di banjar selain para pengawal jaga yang memang setiap hari mendapat jatah makan.

“Bagaimana, mbok?” bertanya pengawal itu dengan nada tidak sabar.

“Bagaimana, nduk?” perempuan tua itu tidak menjawab pertanyaan pengawal justru malah balik bertanya kepada perempuan yang masih muda.

“Aku juga takut, mbok!” bisik perempuan yang terlihat masih muda itu sambil bergeser merapatkan tubuhnya kepada kawan di sebelahnya.

“Ah, kalian memang penakut!” gerutu pengawal itu kemudian, “Aku tidak bertanggung jawab jika Ki Gede mengetahui para tamu-tamunya sepagi ini belum mendapat minuman hangat, apalagi sarapan!”

“Ah, macam kau!” sela perempuan tua itu dengan nada kesal, “Kami ini perempuan memang mempunyai keterbatasan. Jika Ki Gede mengetahui kejadian yang sebenarnya, beliau pasti tidak akan marah.”

“Tapi kami yang akan menjadi korban,” sahut pengawal itu kembali dengan serta-merta, “Nanti sampai Matahari sepenggalah pasti kami belum mendapat sarapan. Padahal saat Matahari sepenggalah, pengawal lain akan datang untuk menggantikan kami jaga.”

“Itu urursan kalian,” kembali perempuan tua itu menyela dengan suara ketus, “Kalian dapat makan di rumah masing-masing. Sementara setelah keributan ini selesai, baru kami akan memasak untuk makan siang.”

“He?” pengawal itu berseru dengan suara sedikit keras, “Jadi kami benar-benar tidak akan mendapat sarapan pagi?”

Perempuan tua itu baru akan menyahut ketika kembali terdengar suara bentakan menggelagar dari arah belakang banjar. Kali ini bahkan lebih keras.

“O,” para perempuan itu pun segera menjatuhkan diri berhimpit himpitan di lantai pringgitan sambil saling berpelukan. Lutut mereka rasa-rasanya menjadi lemas tak bertenaga sehingga tidak mampu lagi untuk menyangga tubuh mereka.

Pengawal yang mengantarkan itu pun menjadi terkejut dan berdebar-debar. Suara bentakan yang dilambari dengan ilmu yang tinggi itu pun telah menciutkan nyalinya. Maka katanya kemudian setengah berbisik, “Baiklah mbok, kalian tinggal di sini saja. Lupakan masalah sarapan pagi. Aku akan kembali ke gardu depan.”

“He! Jangan tinggalkan kami!” perempuan tua itu berusaha berteriak untuk mencegah pengawal itu meninggalkan pringgitan. Namun suaranya tersangkut di tenggorokan sehingga yang terdengar hanya sebuah desahan memelas saja.

Pengawal itu tidak menghiraukan ketiga perempuan itu lagi. Segera saja dia melangkah meninggalkan pringgitan untuk kembali ke gardu depan.

Dalam pada itu di halaman belakang banjar padukuhan induk, Ki Rangga segera bergeser selangkah kedepan. Katanya kemudian, “Ki Sanak, sebaiknya kita saling mengenal jati diri kita terlebih dahulu. Aku adalah Ki Rangga Agung Sedayu, sedangkan yang di sebelahku ini adalah Ki Waskita, orang yang sangat aku hormati dan sekaligus aku anggap sebagai guruku sepeninggal Kiai Gringsing.”

Ki Rangga sengaja menyebut nama Ki Waskita sebagai orang yang sangat dihormatinya agar orang itu berpikir seribu kali jika ingin membuat onar di halaman belakang banjar padukuhan. Setidaknya dia harus memperhitungkan kehadiran orang tua itu.

“Aku tidak peduli!” geram orang itu kemudian. Seolah-olah sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan Ki Rangga. Lanjutnya kemudian, “Aku, Pertapa dari goa Langse sama sekali tidak takut dengan orang-orang macam kalian. Tujuanku ke sini hanya satu. Aku ingin menjajagi nama besar Ki Rangga Agung Sedayu!”

Semua orang yang hadir di halaman belakang banjar itu telah mengerutkan kening mereka dalam-dalam. Bahkan diam-diam Glagah Putih mulai muak dengan kesombongan orang itu.

Namun selagi mereka yang berada di halaman belakang banjar itu terdiam, tiba tiba terdengar suara orang terbatuk-batuk kecil. Ketika mereka kemudian berpaling ke arah suara itu berasal, tampak Ki Jayaraga muncul dari pintu dapur yang terbuka.

“Maaf aku mengganggu perbincangan kalian,” berkata Ki Jayaraga kemudian sambil melangkah mendekat, “Sebenarnyalah aku menjadi penasaran dengan pengakuan Ki Sanak ini. Seingatku orang yang disebut Pertapa dari goa Langse itu sudah sangat sepuh ketika aku pernah lewat di pantai selatan berpuluh tahun yang lalu. Aku sangat menghormati sang Pertapa itu yang menurut pengamatanku tidak pernah meninggalkan Pertapaannya dan sudah menjauhi segala urusan tetek bengek kehidupan.”

Tampak semburat warna merah menghiasi wajah orang yang menyebut dirinya Pertapa goa Langse itu. Namun hanya sekejab. Sejenak kemudian orang itu justru telah tertawa pendek sambil bertolak pinggang. Katanya kemudian, “Memang guruku dan sekaligus ayahku sudah terlalu tua dan sudah tidak mengurusi urusan dunia lagi. Sekarang akulah penggantinya. Kalian tidak akan menemukan sedikitpun perbedaan antara ayahku dan aku, baik secara ilmu jaya kawijayan maupun guna kasantikan.”

“Aku percaya Ki Sanak,” sahut Ki Rangga dengan serta merta, “Namun Ki Sanak lupa, ada perbedaan mendasar antara kalian berdua yang dapat aku tangkap walaupun hanya sekilas.”

“Maksudmu?” geram Pertapa goa Langse itu dengan kerut merut menghiasi keningnya.

Ki Rangga tersenyum. Jawabnya kemudian, “Pandangan hidup. Mungkin itulah perbedaan kalian.”

“Persetan!” geram Pertapa goa Langse itu kemudian sambil maju selangkah. Jari telunjuknya pun kemudian mengarah kepada Ki Rangga, “Nah, aku tantang agul-agulnya Mataram ini untuk berperang tanding secara jujur. Perang tanding ini nantinya tidak akan dapat dikatakan selesai sampai salah satu terbujur membeku di atas tanah.”

Hampir bersamaan orang-orang yang hadir di halaman belakang banjar itu menarik nafas dalam-dalam. Kembali sebuah persoalan yang tanpa ujung pangkal membelit Ki Rangga.

“Ki Sanak yang mengaku sebagai Pertapa goa Langse,” berkata Ki Rangga kemudian, “Aku tidak akan melayani sebuah perang tanding yang tidak ada alasan yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan, baik di kehidupan bebarayan agung ini maupun di kehidupan abadi kelak. Kubur dalam-dalam keinginan Ki Sanak untuk menantang aku. Lebih baik kita sudahi saja permasalahan yang tidak jelas ujung pangkalnnya ini.”

“Pengecut!” bentak Pertapa goa Langse itu kemudian sambil kembali maju selangkah, “Aku akan menghitung sampai tiga kali, bersiap ataupun tidak bersiap, aku akan melancarkan seranganku pada hitungan ketiga!”

Terkejut orang-orang yang hadir di tempat itu. Agaknya orang yang mengaku Pertapa dari goa Langse itu sangat keras hati. Jika dia mempunyai kemauan, pantang untuk melangkah mundur.

“Ki Sanak,” kali ini Ki Jayaraga yang berbicara sambil menjajari Ki Rangga, “Ki Sanak bagiku sangatlah aneh. Aku tidak yakin jika Ki Sanak ini murid perguruan goa Langse. Aku mengenal betul Pertapa goa Langse itu semasa mudaku. Dan lebih dari itu, saat aku berkunjung ke goa Langse di pesisir laut selatan beberapa puluh tahun yang lalu, Pertapa itu hidup sendirian, tidak ada seorang pun yang menemaninya. Bagaimana mungkin tiba-tiba Ki Sanak mengaku sebagai murid dan sekaligus anak dari Pertapa goa Langse itu?”

“Tutup mulutmu! Itu bukan urusanmu!” kembali Pertapa goa Langse itu membentak dengan suara yang menggelegar, “Yang aku tantang berperang tanding adalah Ki Rangga, yang lain tidak usah ikut campur. Jika memang yang lain sudah bosan hidup, nanti akan tiba giliran kalian satu persatu aku bunuh setelah aku menghancurkan nama besar agul-agulnya Mataram ini.”

“Tunggu dulu Ki Sanak,” sekarang Ki Waskita yang menyela, “Sejauh pengetahuanku, goa Langse juga menjadi Pertapaan atau katakanlah sebagai pilihan bagi para Wali untuk mencari kesunyian diri. Aku mendengar Kanjeng Sunan Kali pernah menggunakan goa Langse untuk tempat menggembleng Panembahan Senapati ketika masih muda yang bercita-cita ingin menyatukan negeri ini di bawah panji panji kebesaran Mataram. Demikian juga konon kabarnya Syeh Lemah Abang pernah mencari jati dirinya di goa Langse itu.”

“Ya, aku juga pernah mendengar cerita itu,” sahut Ki Jayaraga dengan serta merta, “Dari cerita Pertapa goa Langse itulah aku mendengar sebagian cerita itu. Namun cerita tentang Ki Sanak yang sekarang berdiri di hadapan kita ini sama sekali belum pernah aku dengar.”

“Apa perduliku!” geram orang yang mengaku Pertapa goa Langse itu sambil menghentakkan salah satu kakinya ke tanah. Tanahpun rasa-rasanya bergoncang dengan dahsyat. Berkata Pertapa goa Langse itu selanjutnya, “Siapapun aku menurut kalian, tidak ada masalah bagiku. Namun yang jelas aku menantang Ki Rangga untuk berperang tanding. Ketahuilah, kedatanganku ke perdikan Matesih ini adalah untuk bergabung dengan padepokan Sapta Dhahana. Namun aku mendengar bahwa padepokan itu telah kalian hancurkan dan Kiai Damar Sasangka telah terbunuh. Aku yakin, jika tidak ada kecurangan, mustahil bagi Ki Rangga untuk mengalahkan Kiai Damar Sasangka,” orang itu berhenti sejenak untuk sekedar menarik nafas. Lanjutnya kemudian, “Nah, sekarang akan menjadi ajang pembuktian bagi Ki Rangga, apakah dalam perang tanding dengan Kiai Damar Sasangka saat itu dia berlaku jujur atau tidak, namun itu jika Ki Rangga masih mempunyai keberanian untuk membuktikan!”

Ki Rangga dan kedua orang tua yang mendampinginya hanya dapat saling pandang sambil menarik nafas setelah mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya. Ternyata semua itu masih terkait dengan jatuhnya padepokan Sapta Dhahana dan tewasnya Kiai Damar Sasangka. Namun Glagah Putih yang masih berdarah panas menjadi tidak sabar dan dengan segera dia meloncat dua langkah ke depan.

Berkata Glagah Putih kemudian dengan suara yang tak kalah menggelegarnya, “Kiai, siapapun Kiai dan alasan apapun yang Kiai gunakan untuk menantang Ki Rangga, aku tidak peduli. Namun yang jelas Kiai telah menyinggung harga diri kami, terutama aku sebagai murid Ki Rangga. Apa yang telah terjadi semua itu adalah dalam sebuah pertempuran dan sudah menjadi tanggung jawab serta kesadaran pribadi bagi setiap orang yang terlibat dalam pertempuran itu, membunuh atau dibunuh. Nah, jika Kiai tetap bersikeras untuk menantang Ki Rangga berperang tanding apapun alasannya, sebelum Kiai menyentuh guruku, hadapi dulu aku sebagai muridnya!”

Ki Rangga terkejut bukan alang kepalang mendengar ucapan Glagah Putih itu. Namun baru saja Ki Rangga akan mencegah, Ki Jayaraga yang berdiri di sebelahnya telah menggamit sambil berbisik, “Biarlah Glagah Putih menambah pengalamannya. Aku tidak yakin jika orang ini benar-benar murid Pertapa goa Langse.”

Ki Rangga hanya dapat menarik nafas panjang mendengar bisikan Ki Jayaraga. Betapapun, Glagah Putih adalah murid Ki Jayaraga juga, sehingga pertimbangan orang tua itu harus menjadi pertimbangannya pula.

Dalam pada itu, Pertapa dari goa Langse itu ternyata menjadi heran begitu melihat Glagah Putih meloncat ke depan dan menantangnya untuk menggantikan Ki Rangga Agung Sedayu. Untuk beberapa saat Pertapa goa Langse itu justru telah berdiri termangu-mangu di tempatnya. Tidak tahu harus berbuata apa.

“Nah, apakah Kiai menjadi ketakutan untuk melawan aku,” berkata Glagah Putih kemudian sambil tersenyum mengejek, “Tadi Kiai telah mencoba menyerangku dengan ilmu sirep yang hanya dapat menidurkan kanak kanak di gendongan biyungnya. Sekarang yang akan engkau hadapi adalah Glagah Putih seutuhnya, adik sepupu Ki Rangga dan sekaligus muridnya.”

Namun Pertapa goa Langse itu ternyata telah menyadari keadaannya sehingga telah tertawa terbahak-bahak. Katanya kemudian, “Alangkah sombongnya engkau, anak muda! Aku tadi hanya mengujimu dengan ilmuku yang sangat rendah dengan pengerahan kemampuan tidak ada sepertiganya, dan kini engkau telah berani mati menyombongkan diri untuk melawanku. Aku benar-benar harus meminta maaf kepada gurumu jika hari ini akan menjadi hari terakhirmu!”

Orang-orang yang hadir di tempat itu menjadi berdebar-debar mendengar sesumbar orang yang menyebut dirinya Pertapa dari goa Langse itu, namun Glagah Putih ternyata tidak.

Dengan mengangguk-anggukkan kepalanya Glagah Putih segera menimpali ucapan calon lawannya itu, “Terima kasih atas kebaikan Kiai untuk memberi aku nasehat. Namun aku saranku, Kiai supaya lebih berhati hati. Tidak menutup kemungkinan justru hari ini adalah hari terakhir bagi Kiai. Jika memang Kiai mempunyai pesan-pesan terakhir, segera saja disampaikan kepada kami agar kami dapat menyampaikan pesan itu kepada keluarga Kiai.”

“Tutup mulutmu!” bentak Pertapa goa Langse itu dengan suara menggelegar, lebih dahsyat dari suara sebelumnya. Namun ke empat orang yang berada di halaman belakang banjar itu sama sekali tidak terpengaruh.

Dalam pada itu pemimpin pengawal dan kawannya yang telah sampai di longkangan justru telah menghentikan langkah mereka sambil terbungkuk bungkuk memegangi dada mereka yang serasa mau pecah.

“Gila!” geram pemimpin pengawal itu. Ketika dirasa sakit dalam dadanya telah berkurang, dia mencoba maju beberapa langkah untuk mengintip dari longkangan ke arah halaman belakang.

Betapa hatinya bagaikan tersiram banyu sewindu ketika dia melihat bayangan Ki Rangga Agung Sedayu ada di halaman belakang banjar itu.

“Sudah ada Ki Rangga Agung Sedayu,” desis pemimpin pengawal itu sambil melangkah mundur. Kawannya yang masih kesulitan bernafas itu hanya dapat mengangguk-angguk sambil mencoba melonggarkan dadanya dengan menghirup udara pagi sedalam-dalamnya.

Demikianlah akhirnya kedua orang itu segera bergeser menjauh dan kembali ke regol depan.

Dalam pada itu, Glagah Putih agaknya sudah bertekad untuk menghadapi tantangan Pertapa dari goa Langse. Ketika dia sempat berpaling ke arah kakak sepupunya itu, sekilas dia melihat Ki Rangga menganggukkan kepalanya.

“Kakang Agung Sedayu tidak keberatan,” berkata Glagah Putih dalam hati sambil melemparkan pandangan matanya ke arah Ki Jayaraga. Ternyata Ki Jayaraga pun telah menggangguk dan mengacungkan ibu jari tangan kanannya.

“Guru tentu mempunyai pertimbangan yang matang sehingga mengijinkan aku menghadapi orang ini,” berkata Glagah Putih kembali dalam hati, “Guru tentu mempunyai pengalaman dengan Pertapa goa Langse yang sebenarnya sehingga tidak begitu mengkhawatirkan keselamatanku.”

Berpikir sampai disitu Glagah Putih segera bergeser ke tempat yang agak lebih lapang sambil berkata, “Marilah Kiai, kita tidak usah berpanjang kata. Tadi engkau telah sempat menjajagi kekuatan batinku. Sekarang marilah kita uji kekerasan tulang dan keliatan kulit kita masing-masing!”

Pertapa goa Langse itu mengeram sambil mengikuti langkah Glagah Putih. Jawabnya kemudian, “Agaknya aku harus membunuhmu terlebih dahulu untuk meyakinkan Ki Rangga bahwa ilmuku sudah pantas untuk berperang tanding dengannya!”

“Bukan begitu Ki Sanak,” sahut Ki Rangga cepat sambil mengikuti langkah kedua orang itu ke tempat yang lebih terbuka, “Aku memang menolak setiap pertikaian yang tidak berujung pangkal. Nah, barangkali Ki Sanak dapat mempertimbangkan kembali keputusan Ki Sanak. Sapta Dhahana telah hancur dan para pengikut Trah Sekar Seda Lepen telah tercerai berai. Tidak ada gunanya lagi bagi Ki Sanak untuk membelanya.”

Untuk kesekian kalinya orang itu tertawa. Jawabnya kemudian, “Sudah aku katakan, nama besarmulah yang membuat aku ingin membuktikan kedahsyatan ilmumu. Persetan dengan Trah Sekar Seda Lepen dan cita-citanya untuk membangun negeri ini.”

bersambung ke bagian 2

13 Responses

  1. Engge pasti d tunggu

    • Oada stsd 17, saya merasakan banyak ungkapan- ungkapan yang membingungkan, serta muncul istilah istilah modern, yg tidak mencerminkan zaman pada cerita ini. Nuwun sewu apakah yg menulis.masih Mbah Ima.?

  2. Sabar menanti ..

  3. Suwun mbah… monggo segera dilanjut

  4. D tunggu lagi mbah…. Mbah jngn lupa de selingi bumbu romantis mbah dan glagah putih ilmunya sdh mumpuni semenjak belajar tapa ngidang dari kitab ki namaskara

  5. Gara2 ada keturunan Majapahit bikin kerajaan, kayaknya ga dilanjut cerita nya. Wkwkwkwk

  6. Dilanjukan lagi mbah kami setia menunggu

  7. STSD17 bagian 3 mana ya?

  8. Mohon perhatiannya:
    Contoh pengalan cerita:
    Tidak ada cara lain selain jalan kekerasan,” geram putut Acarya dalam hati. Dia mulai menghargai di antara pengawal itu, siapakah yang paling lemah dapat dibuat untuk lolos dari tempat terkutuk itu.
    Akan lebih pas bila kata” menghargai” diganti dengan kata “menilai”.
    Dan ada beberapa istilah asing dan kata kekinian sebaiknya diganti,. Sudah pas seperti SH Mintarja, dalam mengungkapkan waktu dengan istilah “. Matahari sepenggalah, wayah sepi uwong dll, agar tidak menyebut dengan jam, hal ini supaya sesuai dengan jaman pada cerita.
    Demikian kasih sayang kami, maturnuwun

  9. Still waiting…

  10. Dipun tunggu cerita selajengipun,nuwun

  11. Malem om
    Mbok ampnya dihidupin biar kalo dibaca lewat hp jadi lebih nyaman

    Trims

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s