STSD-18

kembali ke STSD-17 | lanjut ke STSD-19

 

 

Bagian 1

“Sebenarnya ilmu menghisap tenaga lawan ini adalah sejenis ilmu yang dapat untuk melumpuhkan lawan tanpa mencederainya,” berkata Ki Rangga dalam hati sambil terus mengawasi jalannya pertempuran, “Perguruan Windujati pun mempunyai ilmu sejenis itu, namun dalam bentuk yang berbeda. Ilmu yang dapat mempengaruhi indera penciuman seseorang sehingga akan mengakibatkan lawan menjadi lumpuh saraf otaknya. Namun kebanyakan ilmu-ilmu yang sejenis itu justru dijadikan sebagai alat pembunuh oleh pemiliknya. Membunuh dengan cepat lawan yang sudah tak berdaya. Berbeda dengan tujuan semula, untuk menjadikan lawan menyerah tanpa harus mencederainya.”

Ketiga orang yang sedang mengawasi jalannya perang tanding itu sekilas berpaling ke arah pintu longkangan ketika tiba-tiba mereka mendengar derit pintu yang terbuka lebar. Sejenak kemudian tampak Ki Gede Matesih berjalan menuju ke tempat mereka sambil menjinjing tombak pusakanya.

“Aku akan mendekat,” berkata Ki Gede sambil melewati Ki Bango Lamatan dan Ratri.

“Aku di sini saja, ayah,” bisik Ratri dengan suara yang nyaris tak terdengar. Sementara Ki Bango Lamatan hanya tersenyum. Dia tidak bisa mendekat ke arena perang tanding justru karena mengkhawatirkan keselamatan Ratri jika putri Matesih itu ditinggal sendirian.

Dalam pada itu langkah Ki Gede pun semakin dekat dengan ketiga orang yang sedang terpaku mengawasi jalannya perang tanding. Ketika Ki Gede kemudian berdiri di sebelah kanan Ki Waskita, hampir serentak ketiga orang itu menganggukkan kepalanya yang  segera dibalas anggukan pula oleh pemimpin perdikan Matesih itu.

“Luar biasa,” desis Ki Gede kemudian begitu pandangan matanya ikut menyaksikan kedahsyatan perang tanding itu, “Jarang ada anak muda seusianya yang mempunyai ilmu ngedab edabi seperti ini.”

Ki Waskita yang berdiri di sebelahnya hanya menarik nafas dan berpaling sekilas ke arah Ki Gede sambil tersenyum dan mengangguk. Perhatian orang tua itu benar-benar sedang tercurah pada pertempuran.

Ki Rangga yang berdiri di sebelah kiri Ki Waskita sekilas berpaling mendengar desis Ki Gede. Namun sebagai kakak sepupu dan sekaligus guru Glagah Putih dari jalur Ki Sadewa, Ki Rangga benar-benar sedang mengkhawatirkan keselamatan Glagah Putih.

“Di dalam diri Glagah Putih telah mengalir dua jalur perguruan, jalur dari perguruan Ki Sadewa dan Ki Jayaraga,” membatin Ki Rangga untuk menentramkan gejolak hatinya, “Selain itu pergaulannya dengan Raden Rangga juga telah membuat ilmunya semakin meningkat pesat,” Ki Rangga sejenak berhenti berangan-angan. Lanjutnya kemudian, “Terakhir dia telah mewarisi sebuah kitab dari Kiai Namaskara secara aneh dan tidak masuk akal. Namun aku belum sempat meneliti lebih jauh ilmu yang telah dipelajari oleh Glagah Putih dan Rara Wulan itu. Sebagai gurunya, suatu saat aku akan mempelajari isi kitab itu secara lebih bersungguh-sungguh karena menurut cerita Glagah Putih, banyak laku aneh yang terdapat dalam kitab itu dan memang harus dikaji pengaruhnya terhadap diri pribadi orang yang mempelajarinya.”

Tiba-tiba terbesit sebuah pemikiran di benak Ki Rangga untuk memberitahu Glagah Putih tentang ilmu lawannya yang mungkin

dapat membahayakan dirinya. Namun dengan cepat angan-angan itu pun dibuangnya jauh-jauh.

“Tidak selayaknya jika aku menggunakan aji pameling kepada Glagah Putih untuk mewaspadai ilmu dari goa Langse itu. Itu sama saja dengan berlaku curang untuk membantu salah seorang yang sedang berperang tanding, walaupun secara tidak langsung.”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam, entah untuk ke berapa kalinya. Dadanya rasa rasanya semakin pepat melihat jalannya perang tanding yang semakin dahsyat.

Dalam pada itu Glagah Putih yang belum menyadari siasat lawan yang terus memaksanya bertempur dalam jarak dekat, menjadi berdebar-debar ketika sekilas pandangan matanya sempat melihat ke arah kedua telapak tangan lawannya yang terbuka. Warna kedua telapak tangan itu tampak kebiru-biruan.

“Mungkin mengandung sejenis racun,” membatin Glagah Putih sambil terus bertempur, “Aku dapat merasakan sambaran hawa dingin yang keluar dari kedua telapak tangan itu.”

Menyadari kemungkinan terburuk yang dapat terjadi jika serangan lawan menyentuh tubuhnya, Glagah Putih pun kemudian berusaha melindungi tubuhnya dengan kekuatan tenaga cadangannya.

“Aku tidak mempunyai sejenis ilmu kebal seperti kakang Agung Sedayu,” kembali Glagah Putih berkata dalam hati sambil terus berloncatan dengan lincahnya menghindari setiap serangan lawan, “Namun aku berharap seandainya benar serangan orang ini mengandung racun, tenaga cadanganku akan cukup kuat untuk menahan racun itu menjalar sampai ke jantung.”

Glagah Putih benar-benar harus berjuang sekuat tenaga agar jangan sampai salah satu bagian tubuhnya tersentuh lawan. Ditingkatkan kecepatan geraknya, demikian juga lawannya. Sehingga semakin lama kedua orang yang sedang menyabung nyawa itu sudah tidak tampak ujud mereka. Hanya bayangan yang bergerak cepat, berputar melenting dan kemudian meluncur silih berganti.

Dalam pada itu Matahari telah terbit dan cahayanya yang terang benderang telah menyinari bumi. Ki Rangga dan Ki Waskita yang berada di belakang banjar padukuhan induk itu pun telah dikejutkan oleh suara derap langkah yang teratur dan sorak sorai yang membahana, walaupun suara itu terdengar masih sangat jauh dan hanya mereka berdua saja yang baru dapat mendengarnya.

“Pasukan siapakah yang bergerak di pagi hari begini?” berkata Ki Rangga dalam hati sambil mengerutkan keningnya dalam dalam. Ketika dia kemudian berpaling ke arah Ki Waskita, tampak ayah rudita itu menggeleng lemah. Agaknya Ki Waskita yang juga sudah mendengar suara itu pun tidak mempunyai dugaan sama sekali.

Namun ketika sejenak kemudian Ki Jayaraga telah mampu menangkap suara gerakan pasukan itu, tampak wajah orang tua itu berkerut sejenak. Namun kemudian sebuah senyum tersungging di bibirnya.

Sambil mengangguk-anggukan kepalanya, Ki Jayaraga pun kemudian berdesis perlahan-lahan, “Agaknya pasukan pengawal yang dipimpin Ki Wiyaga telah kembali dari gunung Tidar.”

Yang mendengar desis Ki Jayaraga itu pun telah menarik nafas dalam-dalam, kecuali Ki Gede Matesih. Karena kemampuannya memang masih di bawah orang-orang tua itu sehingga dia telah terkejut mendengar desis Ki Jayaraga.

Bertanya Ki Gede kemudian sambil berbisik, “Ki Wiyaga dan pasukannya telah pulang? Kapan?”

Ki Jayaraga tersenyum sambil berpaling sekilas. Jawabnya kemudian tak kalah lirihnya, “Mereka sedang bergerak menuju ke banjar ini, Ki Gede. Kita tunggu saja, sebentar lagi Ki Gede pun akan mendengar gerakan pasukan itu.”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam mendengar jawaban Ki Jayaraga. Dia segera menyadari keterbatasan kemampuannya jika dibandingkan dengan Ki Rangga dan orang-orang tua itu.

Ki Rangga yang ikut mendengar jawaban Ki Jayaraga itu ikut mengangguk-anggukkan kepalanya. Berkata Ki Rangga dalam hati kemudian, “Semoga pasukan pengawal Ki Wiyaga tidak mengalami satu permasalahan apapun. Semoga mereka membawa berita baik untuk perdikan ini.”

Namun lamunan Ki Rangga terputus ketika terdengar Glagah Putih berteriak keras karena mengalami sebuah peristiwa yang sangat mengejutkan. Ketika dalam jarak yang sangat dekat Glagah Putih tidak ada ruang untuk berkelit, dengan terpaksa anak laki-laki Ki Widura itu pun menangkis serangan lawan, dan akibatnya benar-benar sangat mengejutkan Glagah Putih.

Ketika sambaran tangan lawan dengan telapak tangan yang terbuka itu mengarah ke wajah, Glagah Putih benar-benar tidak sempat mengelak. Yang dapat dilakukannya adalah mengangkat salah satu tangannya untuk melindungi wajah. Namun yang terjadi kemudian justru telah membuat jantungnya hampir terlepas dari tangkainya. Lengan kanannya yang berbenturan dengan telapak tangan lawan itu ternyata telah menempel sangat erat dan lekat sehingga sulit untuk dapat ditariknya kembali.

“Awas Glagah Putih..!!!” tanpa sadar, hampir bersamaan ketiga orang tua itu telah berteriak keras, bahkan Ki Rangga telah melangkahkan kakinya selangkah ke depan. Sementara Ki Gede yang belum mengetahui ilmu nggegirisi dari goa Langse itu hanya mengerutkan keningnya dalam-dalam.

Bagi Ki Gede, benturan itu masih dalam taraf yang wajar. Tidak terdengar suara benturan yang keras atau pun cahaya yang menyilaukan akibat dari benturan itu.

Dalam pada itu Glagah Putih yang belum menyadari apa sebenarnya yang sedang terjadi pada dirinya telah mengerahkan segenap kekuatannya untuk menarik lengannya. Namun semakin dia mengerahkan tenaga cadangan untuk membebaskan lengannya dari cengkeraman lawan, semakin lama cengkeraman lawan justru terasa semakin kuat.

Ketika Glagah Putih kemudian mencoba menggunakan tangannya yang lain untuk menyerang lawan, ternyata lawan dengan sangat tenangnya justru telah menyambut serangannya itu. Sekali lagi, Glagah Putih pun merasakan tangannya bagaikan lengket dan melekat erat pada telapak tangan lawan. Kali ini di bagian pergelangan tangannya.

Untuk beberapa saat kedua orang itu saling berdiri tegak sambil mengerahkan kemampuan masing masing sampai ke puncak. Pertapa goa Langse itu pun telah mengetrapkan ilmu ciri khas perguruannya sampai ke puncak.

Sedangkan Glagah Putih yang berusaha dengan sekuat tenaga melepaskan diri dari cengkeraman kedua tangan lawannya menjadi heran. Semakin keras dia berusaha menarik kedua tangannya, semakin lekat kedua tangan lawan itu mencengkeram kedua lengannya.

“Ilmu iblis apakah ini!” geram Glagah Putih dalam hati sambil mengerahkan tenaga cadangannya untuk memperkuat perlawanannya, “Dalam keadaan seperti ini, tidak mungkin aku melepaskan aji sigar bumi ataupun aji namaskara. Aku membutuhkan waktu sekejap serta jarak yang cukup untuk melontarkan kedua aji itu.”

Demikianlah akhirnya, ketika tenaga cadangan di dalam diri Glagah Putih tidak mampu lagi bertahan, sedikit demi sedikit terasa tenaga cadangan Glagah Putih justru seperti terseret dan kemudian terhisap ke arah lawannya melalui kedua telapak yang mencengkeram itu.

“Gila!!” kembali Glagah Putih menggeram dalam hati. Namun dia tidak putus asa. Sambil berjuang mempertahankan tenaga cadangannya agar jangan sampai terseret dan terserap habis, dia memutar otak untuk menghadapi ilmu yang sangat aneh dan nggegirisi itu.

Dalam pada itu, keempat orang yang berdiri di pinggir arena perang tanding itu menjadi gelisah, terutama Ki Jayaraga dan Ki Rangga. Kedua orang yang merasa sebagai guru Glagah Putih itu tak henti-hentinya menyeka peluh yang membanjiri kening.

“Apa yang harus dilakukan Glagah Putih, Ki,” bertanya Ki Rangga kemudian dengan suara bergetar menunjukkan kecemasan hati yang tiada taranya.

Ki Jayaraga yang memandang ke tengah arena perang tanding itu sama sekali tidak menjawab. Hanya tampak dia menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali. Sedangkan Ki Waskita dan Ki Gede telah membeku di tempatnya masing-masing. Keduanya sama sekali tidak berani bergerak atau pun bersuara yang akan dapat menambah kegelisahan Ki Rangga.

Memang ada sepercik niat untuk membantu murid dan sekaligus adik sepupunya itu. Namun Ki Rangga segera membuang jauh-jauh keinginan itu.

“Sebenarnya dengan sorot mataku, aku dapat membantu Glagah Putih keluar dari kesulitan yang sedang dialaminya. Dengan sekali hentakan saja pada punggung atau bahunya, Pertapa goa Langse itu pasti akan terkejut dan dengan demikian pemusatan nalar dan budinya akan terganggu. Namun itu sangat menyalahi dan menodai aturan perang tanding ini,” membatin Ki Rangga dengan jantung yang semakin berdentangan melihat perkembangan di arena perang tanding.

Dalam pada itu, Ki Bango Lamatan yang termasuk golongan angkatan tua, telah terkejut bukan alang kepalang begitu melihat benturan itu. Tanpa sadar dia telah melangkah ke depan.

“Paman! Jangan pergi!” tiba tiba terdengar rengekan dari belakangnya. Ketika Ki Bango Lamatan kemudian berpaling, tampak Ratri yang kini sudah jatuh bersimpuh di atas tanah.

Sejenak Ki Bango Lamatan menarik nafas dalam-dalam. Dia benar-benar tidak dapat meninggalkan Ratri sendirian dalam keadaan seperti itu. Sementara di arena perang tanding Glagah Putih sedang dalam kesulitan.

“Sedikit banyak aku mengetahui ilmu itu,” berkata Ki Bango Lamatan kemudian dalam hati sambil melangkah mundur kembali dan berdiri tepat di samping Ratri yang sedang bersimpuh, “Ilmu nggegirisi yang dapat menghisap tenaga lawan. Ilmu itu hampir tidak terlawan kecuali lawan yang dihadapi mempunyai tenaga cadangan lebih besar dan lebih kuat. Jika tenaga cadangan lawan jauh lebih kuat, ilmu menempel semacam seekor cicak atau tokek itu akan dengan mudah dilepaskan.”

Namun ternyata kekuatan kedua orang yang sedang menyabung nyawa itu terlihat seimbang, dan agaknya Pertapa goa Langse itu yakin akan mampu menjebol pertahanan Glagah Putih sehingga dia telah tertawa berkepanjangan.

“Nah, Glagah Putih. Sebut nama kedua orang tuamu sebelum nyawamu meninggalkan ragamu!” teriak Pertapa goa Langse di sela sela tawanya, “Engkau dapat menitipkan pesan kepada kakak sepupumu itu sebelum ajal menjemput!”

Dada Glagah Putih rasa-rasanya mau meledak mendengar ejekan dari lawannya itu. Namun benak Glagah Putih tetap jernih dan tidak menjadi buram karena kekalutan hati. Dengan tetap mempertahankan tenaga cadangannya yang mulai mengalir sedikit demi sedikit terseret kekuatan ilmu lawan, Glagah Putih mulai menilai ilmu apa saja yang pernah dipelajarinya sehingga akan dapat digunakan sebagai sarana menghentikan serangan lawan bahkan sekaligus menghancurkannya.

Tiba tiba Glagah Putih teringat kepada sebuah ilmu yang dapat disalurkan lewat pori pori kulitnya. Ilmu yang bertumpu pada kekuatan yang tersimpan dalam aliran darahnya. Ilmu yang dapat mengubah tetes tetes embun pagi dan bahkan butir butir darah yang mengalir dalam tubuhnya menjadi senjata yang sangat dahsyat dan mematikan, aji pacar wutah puspa rinonce.

Berpikir sampai disitu, anak laki laki Ki Widura itu segera memusatkan segenap nalar dan budinya. Bertumpu pada aliran darahnya yang terasa mulai sedikit demi sedikit merembes keluar dari pori-pori di sekujur tubuhnya, Glagah Putih pun kemudian dengan segenap kekuatan telah melontarkan aji pacar wutah puspa rinonce. Aji itu tidak keluar dari kedua telapak tangannya, namun justru telah mengalir deras bersamaan dengan aliran tenaga cadangannya yang tersedot tenaga lawan.

Demikianlah akhirnya dengan berteriak keras, tubuh Glagah Putih bergetar keras. Darah sekujur tubuhnya pun bagaikan bergolak. Tenaga cadangannya pun ikut larut mendesak aliran darahnya yang telah menyatu dalam pemusatan aji pacar wutah puspa rinonce.

Pada awalnya Pertapa goa Langse itu begitu gembiranya menyadari tenaga lawan dengan sangat derasnya memasuki tubuhnya melalui aliran darah. Namun kegembiraan itu hanya berlangsung sekejap dan berganti dengan teriakan penuh kengerian ketika dia menyadari apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Aliran darah Glagah Putih dalam kendali aji pacar wutah puspa rinonce itu telah menyusup ke dalam tubuh lawan melalui pori-pori telapak tangan lawan yang mencengkeramnya dan berubah menjadi ribuan jarum yang sangat lembut yang meluncur deras mengikuti aliran darah menuju jantung.

Menyadari keadaan yang dapat membahayakan jiwanya, Pertapa goa Langse itu segera melepas cengkeramanya dan meloncat ke belakang. Namun semuanya sudah terlambat. Aliran darah yang berubah menjadi senjata mematikan itu telah meluncur deras didorong oleh hentakan tenaga cadangan Glagah Putih yang memang sengaja telah dihentakkan diluar batas kemampuannya.

Akibatnya ternyata sangat dahsyat bagi kedua orang yang sedang berperang tanding itu. Pertapa goa Langse yang telah meloncat ke belakang itu ternyata tidak mampu mempertahankan keseimbangannya. Ribuan butir butir darah yang telah berubah ujud menjadi jarum jarum lembut sebesar gelugut pohon aren itu telah merajam jantungnya.

Sejenak orang yang mengaku sebagai murid dan sekaligus anak dari Pertapa goa Langse sepuh itu terhuyung huyung ke belakang sambil mendekap dada kirinya. Namun semua itu tidak berlangsung lama. Setelah memuntahkan darah segar terlebih dahulu, tubuh Pertapa goa Langse itupun limbung dan akhirnya jatuh terjengkang.

Dalam pada itu, Glagah Putih yang telah menghentakkan kekuatan tenaga cadangannya melebihi batas untuk mendorong aji pacar wutah puspa rinonce telah jatuh pada kedua lututnya. Sejenak pandangan matanya menjadi berkunag kunang sebelum akhirnya semua menjadi gelap dan dengan perlahan tubuhnya rebah di atas tanah yang berdebu.

“Glagah Putih !!!” hampir bersamaan orang orang yang berdiri di pinggir arena itu berlari menghambur ke tempat Glagah Putih yang telah rebah di atas tanah.

Ki Bango Lamatan yang melihat akhir dari perang tanding itu pun sudah tidak mampu menahan diri lagi. Dengan secepat kilat dia meloncat dan berlari menyusul Ki Rangga dan orang-orang tua itu. Tidak diperdulikan lagi suara rengekan Ratri di belakangnya.

Dalam pada itu, Ki Rangga yang telah sampai di tempat Glagah Putih terbaring segera berjongkok dan kemudian mencoba mengangkat kepala Glagah Putih. Ki Jayaraga yang juga telah berjongkok di hadapannya segera membantu Ki Rangga meletakkan kepala Glagah Putih di pangkuan kakak sepupunya itu.

Dengan sangat cekatan dan sangat hati hati Ki Rangga segera meraba denyut nadi di pergelangan tangan adik sepupunya itu. Ketika Ki Rangga tidak menemukan apa yang dicarinya, dia segera bergeser ke arah leher Glagah Putih. Namun Senopati pasukan khusus Mataram yang berkedudukan di Menoreh itu telah mengerutkan keningnya dalam-dalam. Detak nadi itu pun tidak didapatkannya.

Namun Ki Rangga tidak berputus asa. Segera saja telapak tangannya diletakkan di atas dada sebelah kiri Glagah Putih. Sambil mengerahkan segenap nalar dan budinya, Ki Rangga pun berusaha memantau detak jantung Glagah Putih.

“Hampir tidak terdengar,” membantin Ki Rangga dengan jantung yang berdebaran. Dengan cermat Ki Rangga pun segera mengurut beberapa urat-urat darah yang terdapat di sekujur tubuh Glagah Putih, terutama urat darah yang menuju ke jantung

Ketika Ki Bango Lamatan telah tiba di tempat itu, tanpa sadar Ki Rangga telah berpaling ke arahnya. Melihat kedatangan orang yang pernah menjadi kepercayaan Panembahan Cahya Warastra itu, Ki Rangga pun segera berkata, “Ki Bango Lamatan, aku mohon Ki Bango Lamatan memeriksa keadaan Pertapa goa Langse itu.”

“Baik Ki Rangga,” jawab Ki Bango Lamatan sambil bergeser meninggalkan tempat itu.

“Aku ikut,” tiba-tiba Ki Waskita yang berjongkok di sebelah Ki Rangga segera bangkit berdiri dan menyusul Ki Bango Lamatan. Sementara Ki Jayaraga sama sekali tidak memperdulikan keadaan di sekelilingnya. Perhatiannya benar-benar sedang tercurah kepada keadaan Glagah Putih, murid terakhir dan satu-satunya harapan baginya untuk meneruskan jalur ilmu dari perguruannya.

Sepeninggal Ki Bango Lamatan dan Ki Waskita, Ki Rangga segera kembali memeriksa keadaan Glagah Putih dengan lebih seksama lagi.

“Ki Jayaraga, sebaiknya kita baringkan saja Glagah Putih di atas tanah. Aku akan membantu peredaran darahnya agar detak jantungnya kembali seperti biasa,” berkata Ki Rangga kemudian sambil dengan sangat hati hati mengangkat kepala Glagah Putih dari pangkuannya dibantu Ki Jayaraga dan kemudian meletakkannya di atas tanah. Sementara Ki Gede Matesih yang tidak tahu harus berbuat apa hanya berdiri termangu-mangu di belakang Ki Rangga dengan tombak pusakanya tergenggam erat di tangan kanan.

Ketika Glagah Putih kemudian telah terbaring sempurna, Ki Rangga segara duduk bersila. Katanya kemudian, “Ki Jayaraga, bantu aku mendorong aliran darah di dalam tubuh Glagah Putih. Dengan tenaga cadangan, perlahan lahan alirkan hawa panas ke dalam tubuh Glagah Putih melalui kedua telapak kakinya.”

“Baik Ki Rangga,” jawab orang tua itu. Tanpa membuang waktu lagi, Ki Jayaraga segera bergeser dan kemudian duduk bersila di hadapan kedua telapak kaki Glagah Putih. Sejenak kemudian orang yang telah malang melintang di dunia hitam maupun putih itu pun telah tenggelam dalam semedinya membantu Ki Rangga mengalirkan hawa panas dari arah kedua telapak kaki Glagah Putih.

Dalam pada itu pasukan Ki Wiyaga ternyata telah semakin mendekati banjar padukuhan induk. Suara derap langkahnya telah terdengar oleh Ki Gede.

“Pasukan Ki Wiyaga,” tanpa sadar Ki Gede berdesis perlahan. Ketika pemimpin perdikan Matesih itu kemudian memandang ke arah Ki Rangga dan Ki Jayaraga berganti-ganti, keduanya tampak sedang dalam pemusatan nalar dan budi untuk menolong Glagah Putih.

Dalam pada itu pasukan pengawal yang dipimpin Ki Wiyaga telah semakin mendekati banjar padukuhan induk. Sepanjang jalan…….

“Aku tidak akan mengganggu mereka berdua,” berkata Ki Gede kemudian dalam hati sambil melangkah mundur. Ketika tanpa sadar dia memandang ke arah kiri, tampak Ki Bango Lamatan dan Ki Waskita sedang merenungi tubuh Pertapa goa Langse yang terbujur diam.

“Aku akan melihatnya,” kembali Ki Gede berkata dalam hati sambil melangkahkan kakinya. Namun dia menjadi ragu-ragu sejenak ketika sudut matanya menangkap bayangan seseorang yang sudah sangat dikenalnya sedang duduk bersimpuh di dekat pintu longkangan.

“Ratri,” desis Ki Gede tanpa sadar.

Menyadari bahwa saat itu putrinya pasti sedang membutuhkan pertolongan, pemimpin perdikan Matesih itu pun telah mengurungkan niatnya untuk melihat keadaan Pertapa goa Langse. Kakinya pun segera diayunkan menuju ke longkangan .

Dalam pada itu pasukan pengawal yang dipimpin Ki Wiyaga telah semakin mendekati banjar padukuhan induk. Sepanjang jalan pasukan itu telah bersorak dan meneriakkan pekik kemenangan. Para penghuni padukuhan induk sepanjang jalan yang mereka lalui pun telah berhamburan turun ke jalan.

Seorang anak kecil yang sedang dimandikan biyungnya ternyata telah tertarik dengan suara gegap gempita itu dan segera berusaha

meninggalkan biyungnya yang sedang memandikannya.

“He? Mau kemana?” teriak biyungnya sambil menangkap salah satu tangannya begitu anak itu berusaha lari meninggalkannya.

“Ada keramaian, biyung! Aku mau menonton!” “He! Tunggu dulu. Mandimu belum selesai!” “Tidak apa apa biyung. Nanti aku ketinggalan!”

“Tidak boleh, tidak boleh!” sahut biyungnya cepat sambil menarik tangan anak itu mendekat dan kemudian mengguyurnya dengan segayung air.

“Sudah, biyung! Sudah! Nanti aku ketinggalan!” teriak anak itu sambil meronta ronta berusaha untuk melepaskan pegangan biyungnya.

“Selesaikan mandimu dulu, nak!” biyungnya sedikit membentak. Kemudian diambilnya selembar kain yang sudah berwarna sedikit kusam, “Nah, keringkan dulu badanmu baru engkau dapat melihat keramaian itu. Jangan lupa berpakaian dulu. Pakaianmu di amben dapur.”

Namun anak itu sudah tidak mendengarkan biyungnya. Begitu pegangan biyungnya lepas, dengan berlari kencang dia segera menghambur meninggalkan perigi.

“He! Jangan lupa pakai bajumu!” teriak biyungnya mengingatkan. Namun anak kecil itu sudah tidak memperdulikan apapun lagi. Sorak sorai itu terdengar sudah agak jauh meninggalkan depan rumahnya.

“Ah, aku terlambat,” gerutu anak itu sambil berlari lewat samping rumahnya. Dia sama sekali tidak sadar jika masih telanjang bulat dan tetes tetes air masih membasahi sebagian tubuhnya.

Begitu dia sampai di regol depan, ternyata pasukan pengawal itu sudah lewat beberapa langkah dari depan rumahnya namun masih terdengar sorak sorainya di depan rumah sebelah.

Dengan cepat anak itu segera menyusup di antara gerombolan orang yang berjajar-jajar di tepi jalan. Ketika dia kemudian muncul di barisan paling depan, dia masih melihat ekor pasukan pengawal itu.

Alangkah gembiranya anak kecil itu sehingga dia telah berteriak-teriak sambil melonjak-lonjak. Lupa bahwa dirinya sama sekali tidak mengenakan selembar pakaian pun.

Beberapa anak kecil sebayanya yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri telah tertawa sambil menunjuk-nunjuk ke arahnya.

“He! Tidak punya malu!”

“He ! Tidak pakai baju!”

Demikian anak anak sebayanya yang berada di sekitar itu berteriak riuh melihat dia yang telajang bulat.

Orang orang dewasa yang berada di sekitar tempat itu pun telah tertarik dan akhirnya ikut tertawa.

Seorang anak muda segera menarik salah satu tangan anak kecil itu sambil menjewer telinganya. Katanya kemudian, “Tidak tahu malu. Bajumu kemana, he?”

“Aduh kakang sakit!” teriak anak kecil itu kemudian sambil mengikuti anak muda itu yang setengah menyeretnya masuk kembali ke halaman rumahnya.

Dalam pada itu derap langkah pasukan pengawal yang dipimpin

Ki    Wiyaga    semakin    mendekati    banjar     padukuhan    induk.

Sambutan para penghuni padukuhan induk pun semakin meriah.

Mereka berjejal jejal sepanjang jalan yang menuju ke banjar,

Para pengawal regol banjar yang sudah mendengar sorak sorai itupun segera bersiap. Tampak dari kejauhan pasukan pengawal yang dipimpin oleh Ki Wiyaga itu berjalan dengan dada tengadah dan langkah yang tegap.

“Hidup pengawal perdikan Matesih!”

“Hidup pengawal Matesih!”

“Hidup Perdikan Matesih!”

“Jayalah selalu perdikan Matesih!”

Teriakan itu membahana bersahut sahutan sepanjang jalan.

Demikianlah akhirnya ketika pasukan itu kemudian berbelok memasuki halaman banjar, para pengawal jaga telah berdiri berjajar jajar memberikan penghormatan. Para pengawal yang dipimpin Ki Wiyaga itu benar-benar telah disambut bak pahlawan yang pulang dari medan perang dengan membawa kemenangan yang gemilang.

Sesampainya pasukan pengawal itu di halaman banjar, para pemimpin kelompok segera membariskan kelompoknya masing-masing dan kemudian mengistirahatkan mereka sambil menunggu perintah lebih lanjut. Sementara para penghuni sekitar banjar tampak berjejal-jejal di luar pagar depan dan samping.

Namun para pengawal perdikan Matesih yang baru datang itu menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat pemandangan yang aneh di pendapa. Di pendapa itu tidak tampak seorang pun yang sedang duduk duduk. Namun sebagai penggantinya tampak sebuah amben sederhana telah diletakkan di tengah-tengah pendapa. Sementara di atas amben itu sepertinya ada sesosok mayat yang dibaringkan dan ditutupi dengan selembar kain panjang.

“Mayat siapakah itu?” terdengar bisik bisik para pengawal

“Apa sebenarnya yang tekah terjadi? Dan siapakah yang telah meninggal?” pertanyaan itu hilir mudik dalam benak para pengawal, tak terkecuali Ki Wiyaga.

Ketika Ki Wiyaga yang berdiri di tlundak pedapa itu sedang termangu-mangu memandangi jasad yang tampak terbujur di atas amben dan ditutupi kain panjang itu, tiba tiba terasa seseorang sedang menggamitnya dari belakang.

Ketika Ki Wiyaga kemudian berpaling, tampak pemimpin pengawal jaga pagi itu sedang berdiri di belakangnya.

“Ada apa?” bertanya Ki Wiyaga kemudian.

“Ki Gede ada di ruang dalam banjar,” jawab pemimpin jaga itu. Kemudian sambil menunjuk ke arah jasad yang terbaring di atas amben, dia meneruskan, “Menjelang Matahari terbit pagi tadi, ada seseorang yang mengaku sebagai Pertapa dari goa Langse telah menyusup ke dalam banjar lewat belakang dan Glagah Putih telah memergokinya.”

“Jadi mereka kemudian bertempur?” bertanya Ki Wiyaga dengan wajah yang tegang. Beberapa pengawal yang berdiri di dekat kedua orang itu pun ikut tegang dan bahkan ada yang bergeser mendekat untuk mendengarkan lebih jelas.

“Ya,” jawab pemimpin pengawal jaga itu dengan serta merta, “Lebih tepatnya keduanya telah berperang tanding dan orang yang menyebut dirinya Pertapa dari goa Langse itu telah tewas,” pemimpin pengawal jaga itu berhenti sejenak. Kemudian lanjutnya, “Ada lagi seseorang yang mengaku murid Pertapa goa Langse itu dan telah membuat keributan di depan regol banjar padukuhan induk ini.”

“He!” seru Ki Wiyaga tanpa sadar. Wajahnya pun menampakkan ketegangan yang sangat, “Jadi mereka berdua sengaja mendatangi banjar ini untuk membuat keributan?”

“Memang demikian,” sahut pemimpin pengwal jaga itu cepat, “Menurut keterangan muridnya, Pertapa goa Langse itu sebenarnya mencari Ki Rangga untuk ditantang berperang tanding.”

Tampak kerut merut di kening kepala pengawal tanah perdikan Matesih itu. Tanyanya kemudian dengan nada sedikit ragu, “Untuk apa?”

Pemimpin pengawal jaga itu menggeleng, “Entahlah. Tetapi yang jelas Pertapa goa Langse itu telah berhasil dilumpuhkan oleh Glagah Putih walaupun Glagah Putih sendiri telah mengalami luka yang cukup parah.”

“Dari mana engkau tahu?”

“Aku dan beberapa pengawal yang mengangkatnya dari halaman belakang ke dalam ruang tengah,” jawab pengawal itu dengan serta merta, “Keadaannya benar-benar parah dan belum sadarkan diri.”

Sejenak Ki Wiyaga menarik nafas dalam-dalam. Pengenalannya dengan Glagah Putih terjadi sangat singkat semalam ketika Glagah Putih dan Ki Jayaraga menemuinya di tempat persembunyiannya di lereng sebelah utara gunung Tidar.

“Ternyata benar apa yang menjadi dugaanku selama ini,” berkata Ki Wiyaga kemudian dalam hati sambil pandangan matanya lekat ke arah jasad yang terbujur di atas amben itu, “Glagah Putih mempunyai kemampuan yang ngedab edabi. Walaupun pada akhirnya dia juga menderita luka yang parah, namun aku yakin dia akan selamat. Benar-benar seorang anak muda yang mumpuni.”

Kembali Ki Wiyaga menarik nafas dalam-dalam. Ketegangan belum hilang dari wajahnya. Sementara beberapa pengawal yang sekarang telah berkerumun hanya dapat saling pandang tanpa tahu harus berbuat apa.

“Bagaimana dengan orang yang mengaku murid goa Langse itu,” bertanya Ki Wiyaga setelah sejenak mereka terdiam.

“Ki Gede telah melumpuhkannya.”

“He, dia juga telah tewas?” seru Ki Wiyaga dengan suara sedikit keras.

“Tidak Ki Wiyaga,” jawab pengawal jaga itu cepat, “Ki Gede berhasil melumpuhkannya tanpa membuatnya cedera yang berarti, dan sekarang dia kami taruh di salah satu bilik di gandhok kiri dengan penjagaan yang kuat.”

“Nanti aku akan melihatnya,” berkata Ki Wiyaga selanjutnya sambil menaiki tlundak. Lanjutnya kemudian, “Aku akan menghadap Ki Gede terlebih dahulu dan sekaligus memberikan laporan.”

“Bagaimana dengan kami?” tiba tiba salah satu pemimpin kelompok pengawal yang berdiri tidak jauh dari tempat itu mengajukan sebuah pertanyaan.

Sejenak Ki Wiyaga menghentikan langkahnya sambil berpaling. Jawabnya kemudian, “Kalian aku ijinkan untuk beristirahat, namun jangan keluar dari halaman banjar ini. Kita menunggu perintah Ki Gede.”

Selesai berkata demikian, tanpa menunggu tanggapan pemimpin kelompok pengawal itu Ki Wiyaga pun segera meneruskan langkahnya.

Namun baru saja Ki Wiyaga membuka pintu pringgitan, pandangan matanya segera menangkap sosok tiga orang perempuan yang duduk berhimpit himpitan dan hampir saling berpelukan.

Ketiga perempuan itu tampak sangat terkejut begitu mendengar derit pintu pringgitan terbuka. Namun ketika yang muncul kemudian wajah yang sangat mereka kenal, ketiga perempuan itu pun telah menarik nafas dalam dalam sambil melepaskan pelukan satu sama lainnya.

“Ki Wiyaga,” desis perempuan yang paling tua dengan suara sedikit serak dan senyum yang dipaksakan.

Ki Wiyaga tersenyum dan menganggukkan kepalanya mendapat sapa dari perempuan yang paling tua itu. Kemudian sambil melangah masuk, dia bertanya, “Apa kerja kalian di sini?”

Ketiga perempuan itu sejenak saling pandang. Ketika perempuan yang berambut sudah ubanan itu berdiri, yang lain pun kemudian ikut berdiri.

“Maafkan kami Ki Wiyaga,” jawab perempuan tua itu kemudian, “Kami sebenarnya mendapat giliran untuk memasak hari ini. Namun karena telah terjadi keributan di halaman belakang banjar, kami menjadi ketakutan dan tertahan di pringgitan ini.”

Ki Wiyaga mengerutkan keningnya dalam-dalam. Tanyanya kemudian dengan suara sedikit meragu, “Jadi kalian sama sekali belum memasak?”

Perempuan tua itu menggeleng. Jawabnya kemudian, “Bagaimana kami mau memasak, pergi ke dapur pun kami belum berani.”

Ki Wiyaga menarik nafas dalam dalam. Katanya kemudian sambil melangkah, “Marilah aku antar kalian ke dapur lewat ruang tengah saja.”

“O! Jangan…jangan!” bisik perempuan tua itu sambil menggerak gerakkan tangannya memberi isyarat kepada Ki Wiyaga. Kemudian sambil sedikit mencondongkan tubuhnya dia kembali berbisik, lebih pelan lagi, “Di ruang tengah ada Ki Gede dan tamu-tamunya.”

Kembali Ki Wiyaga menarik nafas sambil mengangguk anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Baiklah mbok. Kalian aku rasa sudah berani ke dapur lewat pintu butulan itu. Sudah tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Segeralah memasak untuk para pengawal jaga dan tamu-tamu Ki Gede.”

Untuk sejenak ketiga perempuan itu kembali saling pandang. Namun ketika yang tertua kemudian menganggukkan kepalanya, yang lain pun akhirnya hanya menurut saja.

“Baiklah Ki Wiyaga, terima kasih atas pemberitahuannya. Kami akan langsung ke dapur,” berkata perempuan yang tua itu kemudian.

“Silahkan, silahkan,” jawab Ki Wiyaga sambil melangkah menuju pintu yang membatasi antara ruang pringgitan dan ruang tengah. Sementara ketiga perempuan itu pun segera berjalan menuju ke pintu butulan yang menghubungkan pringgitan dengan longkangan.

Dalam pada itu di kediaman Ki Kamituwa yang berjarak beberapa rumah dari banjar padukuhan induk, terlihat seorang pengawal dengan langkah yang tergesa-gesa sedang memasuki regol rumah Ki Kamituwa.

Setelah melintasi halaman yang tidak seberapa luas, pengawal itu pun kemudian menaiki tlundak pendapa kecil sebelum akhirnya mengethuk pintu pringgitan.

Belum terdengar jawaban dari dalam rumah. Namun ketika pengawal itu akan mengulangi sekali lagi, terdengar langkah-langkah di dalam rumah yang menuju ke arah pintu. Sejenak kemudian pintu pun berderit terbuka dan seraut wajah tersembul.

“Maaf Ki Kamituwa ,” dengan cepat pengawal itu menyapa sambil menganggukkan kepalanya dalam-dalam, “Aku diperintah Ki Gede untuk menyampaikan berita raja pati yang baru saja terjadi.”

“He!?” terkejut Ki Kamituwa sambil membuka pintu lebar-lebar, “Berita raja pati, katamu? Masuklah masuklah!”

“Terima kasih Ki Kamituwa, aku sangat tergesa-gesa,” jawab pengawal itu sambil menggelengkan kepalanya. Lanjutnya kemudian, “Aku hanya diutus Ki Gede untuk menyampaikan bahwa pagi tadi ada raja pati di banjar padukuhan induk dan Ki Kamituwa diharap segera ke banjar.”

“Baiklah,” sahut Ki Kamituwa cepat, “Tetapi siapakah yang meninggal dunia?”

Sejenak pengawal itu mengatur nafasnya. Jawabnya kemudian, “Pagi tadi ada penyusup yang memasuki banjar padukuhan induk dari belakang dan kebetulan Glagah Putih, adik sepupu Ki Rangga memergokinya. Keduanya pun kemudian berperang tanding dan penyusup itu telah tewas di tangan Glagah Putih.”

Sejenak wajah Ki Kamituwa menegang. Berbagai tanggapan pun hilir mudik dalam benaknya. Sedikit banyak Ki Kamituwa mengetahui siapa Glagah Putih karena telah ikut penyerbuan ke padepokan Sapta Dhahana. Namun yang membuat Ki Kamituwa tidak habis mengerti adalah peristiwa yang baru saja didengarnya.

“Mengapa penyusup itu harus dibunuh?” pertanyaan itu melingkar lingkar dalam benak Ki Kamituwa.

“Ki Kamituwa,” tiba-tiba saja pengawal itu berkata membuyarkan lamunannya, “Ki Gede juga menitipkan pesan khusus untuk Nyi Gede dan putranya. Sebaiknya mereka jangan berangkat ke kediaman Ki Gede terlebih dahulu. Keadaan masih belum memungkinkan.”

“Apakah penyusup yang telah tewas itu masih ada hubungannya dengan padepokan Sapta Dhahana?” tiba-tiba terloncat pertanyaan begitu saja dari bibir Ki Kamituwa.

“Kemungkinannya begitu, Ki Kamituwa,” sahut pengawal itu dengan serta merta, “Karena selain penyusup yang telah tewas itu, di depan regol banjar padukuhan induk tadi pagi Ki Gede sendiri telah melumpuhkan orang yang mengaku sebagai murid orang yang telah tewas itu.”

“He!?” wajah Ki Kamituwa pun menegang kembali. Kemudian dengan sedikit berbisik dia berkata, “Baiklah, akan aku sampaikan kepada Nyi Selasih pesan Ki Gede itu. Tetapi rencana yang aku dengar dari Ki Gede sendiri, pagi ini Ki Gede dan Ratri akan ke Menoreh. Apakah mereka jadi pergi?”

Pengawal itu menggeleng sambil menjawab, juga dengan berbisik, “Ratri ada di banjar padukuhan induk. Pagi tadi dia datang bersama Ki Gede dan beberapa pengawal. Agaknya mereka berencana akan berangkat ke Menoreh namun keadaan memang belum memungkinkan.”

Untuk sejenak Ki Kamituwa menarik nafas dalam-dalam. Sambil melemparkan pandangan matanya ke kejauhan, dia pun kemudian berkata ,”Baiklah aku akan berkemas terlebih dahulu.”

“Terima kasih Ki Kamituwa, aku mohon diri,” berkata pengawal itu pada akhirnya sambil melangkah surut.

“Silahkan,” jawab Ki Kamituwa , “Aku juga berterima kasih atas kesediaanmu untuk menyampaikan berita ini kepadaku.”

“Ah, itu sudah menjadi kewajibanku Ki Kamituwa, aku mohon diri,” berkata pengawal itu sambil tersenyum dan kemudian memutar tubuhnya.

Ki Kamituwa tidak menjawab hanya tersenyum sambil menutup kembali pintu pringgitan.

Sepeninggal pengawal itu, dengan langkah berat Ki Kamituwa kemudian menuju ke ruang dalam untuk memberitahu Nyi Selasih.

“Entah tanggapan apa yang akan timbul dalam hati, Nyi Gede,” berkata Ki Kamituwa dalam hati sambil mengayunkan langkahnya, “Kasihan, Nyi Selasih masih harus menunggu dan menunggu lagi. Aku khawatir jika kesabaran perempuan itu semakin tipis dan yang tertinggal hanyalah rasa kecewa dan putus asa.”

Namun Ki Kamituwa melangkah terus. Ketika dia kemudian membuka pintu yang menghubungkan pringgitan dengan ruang dalam, tampak Nyi Selasih sedang memangku anak laki-lakinya ditemani oleh istrinya.

Sebuah desir tajam menggores jantungnya ketika pandangan Nyi Selasih itu menatapnya dengan seribu tanda tanya. Demikian juga istrinya juga memandang ke arahnya untuk menunggu penjelasannya.

Ki Kamituwa berusaha bersikap setenang mungkin. Setelah mengambil duduk di sebelah kanan istrinya, perangkat perdikan Matesih yang rambutnya sudah mulai beruban itu pun berkata, “Baru saja ada pengawal utusan Ki Gede menyampaikan sebuah berita yang berhubungan dengan kita.”

“Berita apakah itu kakang?” sela Nyi Kamituwa dengan nada yang tidak sabar. Sementara Nyi Selasih hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Ki Kamituwa menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu sebelum menjawab. Setelah membetulkan letak kain panjangnya, barulah dia menjawab, “Pagi tadi menjelang Matahari terbit, telah terjadi ontran ontran di banjar padukuhan induk.”

“Ontran-ontran?” seru Nyi Kamituwa tanpa sadar. Sedangkan Nyi Selasih hanya mengangkat wajahnya sejenak, kemudian tunduk kembali.

“Ya,” jawab Ki Kamituwa kemudian, “Ontran ontran yang telah menyebabkan sebuah raja pati.”

Bersambung ke bagian 2

2 Responses

  1. Seorang anak kecil yang sedang dimandikan biyungnya ternyata telah tertarik dengan suara gegap gempita itu dan segera berusaha

    meninggalkan biyungnya yang sedang memandikannya.

    “He? Mau kemana?” teriak biyungnya sambil menangkap salah satu tangannya begitu anak itu berusaha lari meninggalkannya.

    “Ada keramaian, biyung! Aku mau menonton!” “He! Tunggu dulu. Mandimu belum selesai!” “Tidak apa apa biyung. Nanti aku ketinggalan!”

    “Tidak boleh, tidak boleh!” sahut biyungnya cepat sambil menarik tangan anak itu mendekat dan kemudian mengguyurnya dengan segayung air. (Selingan ya mbah_,man)

  2. Jika saja ada petir yang menyambar di ruang pringgitan saat itu, tentu mereka tidak akan seterkejut ketika mendengar keterangan Ki Rangga, kecuali Ki Waskita. ,(Andalannya mbah_man) petir & kolonjengking

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s