STSD-19

kembali ke STSD-18 | lanjut ke STSD-20

 

 

 

Bagian 1

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Untuk kesekian kalinya Ki Rangga harus berurusan dengan dendam yang tak berujung pangkal. Namun semua itu memang sudah menjadi akibat dari namanya yang sudah kondang kawentar kajala ndriya di seluruh telatah Mataram.

“Mungkin jika aku sudah purna tugas, tidak ada lagi yang akan mencariku dan aku bisa hidup dengan tenang di padepokan,” membatin Ki Rangga dalam hati. Namun sepercik keragu-raguan muncul dari dasar hatinya yang paling dalam.

“Apakah Sekar Mirah dengan senang hati akan mendukung pilihanku ini setelah purna tugas?” sebuah pertanyaan yang cukup pelik telah menghujam jantungnya.

“Ngger,” tiba-tiba suara Ki Waskita membangunkan Ki Rangga dari lamunan, “Menilik kedahsyatan murid goa Langse itu dalam mengetrapkan ilmu penghisap tenaga, tidak menutup kemungkinan kemampuan gurunya jauh berlipat ganda di atas kemampuan muridnya. Angger Sedayu harus mewaspadainya.”

Wajah-wajah yang tegang di dalam bilik itu pun semua berpaling ke arah agul agulnya Mataram itu. Sementara Ki Rangga justru telah menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Aku mengenal sedikit ilmu penghisap tenaga itu,” berkata Ki Jayaraga memecah keheningan dan telah mengejutkan mereka yang berada di dalam bilik itu, “Pernah suatu saat ketika aku lewat di pantai selatan dan berjumpa dengan Pertapa tua itu, dia begitu baik dan ramah telah mempersilahkan aku mampir di goa Langse, tempat tinggalnya selama itu.”

“Ki Jayaraga sempat menjajal ilmunya?” Ki Waskita tiba-tiba menyeluthuk.

“Ah, tentu saja tidak, Ki Waskita,” sahut Ki Jayaraga sambil tertawa pendek, “Aku tidak ada keberanian sebiji sawi pun untuk mencoba ilmunya, tapi justru Pertapa tua itulah yang telah membuat pengeram-eram di hadapanku.”

Mereka yang hadir di dalam bilik itu sejenak saling pandang. Namun tidak ada yang bertanya. Mereka menunggu penjelasan selanjutnya dari Ki Jayaraga.

Melihat orang-orang itu hanya diam saja, Ki Jayaraga pun segera melanjutkan ceritanya, “Pertapa tua itu pernah mengajakku mencari ikan di pantai yang airnya cukup dalam, setinggi pinggang.”

“Mencari ikan?” ulang Ki Bango Lamatan dengan nada keheranan, “Memancing, maksud Ki Jayaraga?”

“O, tidak, tidak,” jawab Ki Jayaraga cepat, “Dia tidak memancing atau pun menjaring karena memang aku lihat pada saat itu dia tidak membawa satu alatpun yang dapat digunakan untuk menangkap ikan.”

“Jadi, bagaimana cara Pertapa tua itu menangkap ikan?” bertanya Ki Bango Lamatan selanjutnya dengan nada penasaran.

Ki Jayaraga tersenyum. Jawabnya kemudian, “Dengan kedua tangannya.”

“He?!” hampir bersamaan orang-orang yang hadir di dalam bilik itu berseru setengah terkejut. Mereka tidak dapat membayangkan bagaimana menangkap ikan di laut dengan hanya mengandalkan kedua tangan?

Melihat kawan-kawannya sedikit kebingungan, Ki Jayaraga pun kembali tersenyum. Kemudian sambil menjulurkan kedua lengannya dia berkata, “Ketika aku mendekat, aku melihat Pertapa tua itu menjulurkan kedua lengannya dan kemudian dimasukkan ke dalam air laut yang berombak. Air laut sangat jernih di tempat itu sehingga aku dengan sangat jelas dapat melihat ikan-ikan yang berseliweran di sekitar kami. Tiba-tiba Pertapa tua itu tampak menarik nafas dalam-dalam. Sejenak kemudian aku melihat dua ekor ikan sebesar betis orang dewasa bagaikan tersedot oleh kedua tangan Pertapa tua itu. Kedua ekor ikan itupun akhirnya menggelepar-gelepar dalam genggamannya.”

Wajah-wajah itu pun menjadi semakin tegang. Berkata Ki Waskita kemudian, “Pertapa tua itu mampu mengerahkan tenaga cadangan di dalam tubuhnya untuk menarik benda apa saja yang ada di sekitarnya.”

“Padahal selama ini yang kita ketahui dan kita pelajari, tenaga cadangan di dalam diri kita hanya digunakan untuk mendorong, menolak atau memukul,” sahut Ki Bango Lamatan cepat.

“Ki Bango Lamatan benar,” Ki Rangga ikut menimpali, “Agaknya Pertapa tua itu telah mampu mengendalikan tenaga cadangannya sedemikian rupa sehingga dapat digerakkan sesuai dengan kemauannya.”

“Itulah sebenarnya yang ingin ditunjukkan Pertapa tua itu kepadaku,” sela Ki Jayaraga dengan serta merta, “Entah mengapa Pertapa tua itu kelihatannya menaruh perhatian kepadaku dan memberiku sedikit petunjuk untuk mengolah tenaga cadangan seperti itu.”

“Jadi? Ki Jayaraga pernah mempelajari ilmu itu?” bertanya Ki Waskita dengan serta merta.

“O, tidak tidak, Ki Waskita,” jawab Ki Jayaraga kemudian sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya, “Aku tidak mau mencampur adukkan ilmu yang aneh itu dengan ilmu perguruanku, sehingga apa yang ditunjukkan Pertapa tua itu sama sekali tidak menarik bagiku.”

Hampir bersamaan mereka yang berada di dalam bilik itu telah menarik nafas dalam-dalam. Sungguh sangat disayangkan kesempatan itu ternyata telah dibuang percuma oleh Ki Jayaraga muda saat itu.

“Sayang,” desis Ki Waskita kemudian sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Ki Jayaraga yang menyadari kekeliruan di masa mudanya segera meneruskan kata-katanya, “Bukannya aku merasa ilmuku sudah tiada bandingannya saat itu. Namun perjalananku menyisir pantai Selatan pada saat itu adalah juga dalam rangka mendalami sebuah laku, sehingga aku telah mengabaikan petunjuk yang diberikannya.”

Semua kepala pun tampak terangguk-angguk. Agaknya saat itu Ki Jayaraga muda sedang menjalani sebuah laku sehingga tidak ada waktu atau bahkan mengesampingkan hal hal lain yang dapat mengganggu tujuan utamanya dalam menjalani laku.

“Nah, sekarang apa rencana Ki Rangga selanjutnya?” bertanya Ki Bango Lamatan kemudian setelah sejenak mereka terdiam.

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan orang yang pernah menjadi kepercayaan Panembahan Cahya Warastra itu. Jawab Ki Rangga kemudian, “Aku berencana untuk mengantar Ki Gede Matesih ke Menoreh besuk pagi. Sekalian aku akan menghadap Ki Patih di Mataram untuk melaporkan tugas yang telah dibebankan kepada kita.”

“Ya, ngger,” Ki Waskita menambahkan, “Sekalian angger dapat membawa bukti paser beracun yang telah digunakan oleh pengikut Trah Sekar Seda Lepen itu untuk mencederai angger beberapa saat yang lalu.”

“Dan sekaligus melaporkan pergerakan pasukan sisa-sisa cantrik Sapta Dhahana dan Trah Sekar Seda Lepen yang bergerak ke arah Timur, ke lembah antara Merapi dan Merbabu,” Ki Jayaraga tak mau kalah ikut menimpali.

“Trah Sekar Seda Lepen harus dihukum!” Ki Bango Lamatan pun ikut memberikan pendapatnya, “Kalau perlu Mataram harus mengerahkan pasukan segelar sepapan untuk membumi hanguskan padepokan Panembahan Agung.”

“Tidak semudah itu,” sahut Ki Rangga cepat, “Mataram harus berhitung cermat sebelum mengirim pasukan ke lembah antara Merapi dan Merbabu. Kita semua tahu, Ki Patih Mandaraka adalah seorang pemikir ulung yang selalu mengedepankan perhitungan yang matang sebelum mengambil langkah. Tentu laporan kita nanti akan dijadikan salah satu pertimbangan sebelum memutuskan untuk menghukum Trah Sekar Seda Lepen beserta pengikutnya.”

Kembali mereka yang hadir di tempat itu terangguk angguk. Terbayang dalam ingatan mereka, sudah berapa kali sejak pertikaian antara Pajang dengan Jipang Panolan dan kemudian berganti Pajang melawan Mataram, Ki Juru Mertani pada saat itu berperan sangat penting dalam memenangkan pertempuran.

“Di saat Madiun bergolak pun, Ki Patih Mandaraka juga yang berhasil mengatasi keadaan,” berkata Ki Waskita dalam hati berangan angan, “Sesungguhnya pasukan Mataram pada saat itu menurut perhitungan kalah jumlah dengan pasukan Madiun. Namun dengan kecerdikannya Ki Patih Mandaraka berhasil memecah belah persekutuan para Adipati yang mendukung Panembahan Madiun sehingga Mataram berhasil menguasai kota Madiun.”

Namun ada satu ganjalan yang tersisa sampai saat ini di antara para prajurit dan Sentana Dalem Mataram begitu Panembahan Senapati memutuskan untuk mengawini Retna Dumilah, putri Panembahan Madiun yang tidak ikut meloloskan diri.

“Di manakah Panembahan Madiun sekarang ini?” kembali Ki Waskita berangan angan, “Mungkin Panembahan Madiun dan keluarganya telah menyatu dengan kawula alit dan hidup dalam kekurangan namun jauh dari pertikaian yang tak pernah reda di atas tanah ini. Itu lebih baik dari pada hidup dalam pengasingan dan pengawasan Mataram.”

“Ki Rangga,” tiba tiba Ki Jayaraga berkata setelah beberapa saat mereka terdiam, “Berita terakhir yang kita terima dari prajurit sandi mengatakan bahwa sekarang ini sedang terjadi perpecahan di dalam keluarga istana. Pihak dari keluarga Ratu Tulung Ayu tetap menuntut Raden Mas Wuryah diangkat menggantikan ayahandanya yang telah wafat. Mungkin saat ini bukan waktu yang tepat bagi Ki Rangga untuk menghadap Ki Patih.”

“Tetapi berita yang akan disampaikan Ki Rangga juga sangat penting, terutama menyangkut Trah Sekar Seda Lepen dan para pengikutnya,” sela Ki Bango Lamatana dengan serta merta.

“Ki Bango Lamatan ada benarnya,” Ki Waskita kemudian memberikan tanggapannya, “Jika tidak segera diambil langkah langkah untuk memadamkan gerakan Trah Sekar Seda Lepen itu, di masa mendatang akan dapat menyulitkan Mataram. Apalagi Mataram sekarang sedang goyah. Telah terjadi perebutan kekuasaan sepeninggal Sinuhun Hanyakrawati walaupun perpecahan itu belum sampai menimbulkan perang saudara.”

Tampak Ki Rangga mengangguk anggukkan kepalanya. Berbagai pertimbangan pun sedang hilir mudik di dalam benaknya.

“Engkau harus mencari waktu yang tepat ngger,” berkata Ki Waskita kemudian menambahkan, “Mataram saat ini mungkin sedang sibuk untuk memilih Raja yang baru sepeninggal Sinuhun Panembahan Hanyakrawati, namun berita yang akan angger laporkan juga tak kalah pentingnya.”

“Apakah sudah ada berita telah diangkatnya Raja baru di Mataram?” tiba tiba Ki Bango Lamatan menyela.

Tampak semua kepala menggeleng. Ki Rangga lah yang menyahut, “Jika memang sudah ada pengangkatan Raja baru, pasti salah satu prajurit sandi akan memberitahukan kepada kita.”

“Dan itu berarti petualangan Ki Bango Lamatan bersama kita akan berakhir sampai di sini,” tiba-tiba Ki Jayaraga menyeluthuk yang membuat orang orang di dalam bilik itu terkejut.

“Maksud Ki Jayaraga?” Ki Rangga yang tidak dapat menahan diri segera menyela. Sementara Ki Bango Lamatan hanya memandang ke arah guru Glagah Putih itu dengan kening yang berkerut merut.

Ki Jayaraga tersenyum sebelum menjawab. Jawabnya kemudian sambil mengacungkan ibu jarinya ke arah Ki Bango Lamatan, “Kita semua tahu bahwa Ki Bango Lamatan telah diangkat menjadi pengawal pribadi Pangeran Pati. Tidak menutup kemungkinan jika Pangeran Pati telah diwisuda menjadi Raja Mataram menggantikan ayahandanya, Ki Bango Lamatan harus selalu berada di dekat Sinuhun Prabu sebagi pengawal pribadi yang terpercaya.”

“Bagaimana dengan tuntutan Ratu Tulung Ayu?” sela Ki Waskita, “Ratu Tulung Ayu menuntut janji Sinuhun Prabu semasa masih menjadi Adipati Anom.”

“Aku mempunyai panggraita jika kebanyakan Sentana Dalem nantinya akan menolak tuntutan itu,” kembali Ki Jayaraga mengajukan pendapatnya, “Selain janji itu terjadi ketika Sinuhun masih menjabat Adipati Anom, keadaan Raden Mas Wuryah sendiri juga tidak memenuhi persyaratan untuk menjadikan dirinya seorang Raja.”

Untuk beberapa saat bilik itu menjadi hening. Semua kawula Mataram telah mengetahui bahwa Raden Mas Wuryah terlahir dalam keadaan tuna grahita, sehingga tidak selayaknya lah jika Mataram yang besar itu dipimpin oleh seorang penyandang tuna grahita.

“Mungkin Ratu Tulung Ayu hanya ingin memenuhi janji Sinuhun Prabu agar di alam kelanggengan sana, tidak ada tuntutan yang akan memberatkan perjalanan Sinuhun Prabu dalam menghadap Sang Pencipta,” membatin Ki Waskita kemudian sambil mengangguk-angguk kecil.

“Jadi, aku cenderung Raden Mas Rangsang lah yang pada akhirnya akan menduduki tahta,” berkata Ki Jayaraga kemudian sambil tersenyum dan memandang ke arah Ki Bango Lamatan.

Semua kepala pun tampak terangguk angguk kecuali Ki Bango Lamatan. Tampak kepalanya tertunduk dengan kening yang berkerut merut. Agaknya dia sedang memikirkan sesuatu.

“Sebenarnya tempat yang tepat bagiku adalah di hutan rimba, gunung, lembah dan ngarai,” tiba tiba Ki Bango Lamatan mengutarakan isi hatinya, “Rasa rasanya akan sangat sulit bagiku untuk menyesuaikan diri, tinggal di istana yang mewah, kerjanya hanya duduk terkantuk kantuk sambil menunggu perintah.”

“Ah,” mereka yang hadir di dalam bilik itu pun tertawa pendek. Ki Rangga lah yang kemudian menyahut, “Keadaan seperti itu mungkin hanya sepekan dua pekan Ki Bango Lamatan rasakan. Setelah itu aku yakin, selanjutnya Ki Bango Lamatan akan menjadi terbiasa dan kerasan.”

“Terbiasa dengan makanan yang enak-enak, tempat tidur yang empuk dan lunak, serta putri putri keraton yang cantik dengan emban emban yang galak,” sela Ki Jayaraga yang membuat mereka yang hadir di tempat itu tergelak.

Sejenak kemudian suasana menjadi sunyi. Masing masing sedang membayangkan kehidupan baru yang mungkin akan terasa sangat asing bagi Ki Bango Lamatan.

“Jika demikian,” berkata Ki Rangga kemudin memecah kesunyian, “Besuk pagi sebaiknya Ki Bango Lamatan ikut aku saja ke Mataram mengawal perjalanan Ki Gede dan Ratri.”

Kini semua mata tampak sedang mengarah kepada Ki Bango Lamatan yang masih menundukkan kepalanya.

“Ki Rangga,” berkata Ki Bango Lamatan kemudina sambil mengangkat wajahnya, “Aku adalah petualang sejati yang telah berjalan dari ujung tanah ini ke ujung yang lain. Memang kadang aku tertahan dan bergabung dengan sekelompok orang yang mempunyai tujuan dan haluan yang sama, Panembahan Cahya Warastra misalnya,” Ki Bango Lamatan berhenti sejenak untuk sekedar mengambil nafas. Lanjutnya kemudian, “Namun aku tidak pernah berdiam di suatu tempat untuk waktu yang lama. Aku selalu berpindah dan menikmati kehidupanku yang bebas bagaikan burung yang terbang di udara.”

Untuk beberapa saat orang orang yang berada di dalam bilik itu terdiam, tidak ada satu pun yang menanggapi ucapan Ki Bango Lamatan. Mereka menunggu saja apa yang akan disampaikan oleh orang yang telah mendapat pencerahan dari Kanjeng Sunan Muria melalui Ki Ajar Mintaraga itu.

“Namun Ki Bango Lamatan yang dulu sudah mati,” lanjut Ki Bango Lamatan kemudian begitu menyadari Ki Rangga dan kawan-kawan tampak hanya menunggu, “Bango Lamatan yang baru telah lahir berkat bimbingan dan petunjuk Kanjeng Sunan melalui murid dan sekaligus sahabatnya, Ki Ajar Mintaraga.”

“Jadi? Apa rencana Ki Bango Lamatan selanjutnya?” bertanya Ki Rangga kemudian dengan nada sedikit kurang sabar.

Ki Bango Lamatan tidak segera menjawab. Sebuah senyum tampak tersungging di bibirnya. Setelah menarik nafas panjang barulah dia menjawab, “Di dalam rombongan ini Ki Rangga telah ditunjuk sebagai pemimpinnya. Aku akan tunduk dan mengikuti setiap perintah dari Ki Rangga.”

Tampak setiap kepala terangguk angguk sambil menghela nafas panjang. Ki Rangga pun segera berkata, “Syukurlah! Dengan demikian aku putuskan besuk pagi aku dan Ki Bango Lamatan akan kembali ke Mataram.”

“Bagaimana dengan Glagah Putih, Ki Rangga?” tiba-tiba Ki Jayaraga menyahut dengan serta merta.

Sejenak Ki Rangga tampak merenungi tubuh Glagah Putih yang terbujur diam dengan nafas yang mengalir teratur.

“Ki Jayaraga,” jawab Agul Agulnya Mataram itu kemudian, “Aku akan meninggalkan obat dan beberapa reramuan yang cukup untuk Glagah Putih selama aku tinggal. Sebenarnya keadaan Glagah Putih sudah tidak mengkhawatirkan lagi. Dia hanya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengembalikan kebugarannya serta yang paling penting adalah meraih kembali puncak dari tenaga cadangannya yang telah hilang.”

“Ki Rangga benar,” sahut Ki Waskita cepat, “Menilik keadaan Glagah Putih ini, paling cepat sepekan dia mungkin sudah mampu untuk berjalan dan melakukan kegiatan sehari hari. Namun untuk meraih puncak ilmunya yang berlandaskan tenaga cadangannya, dia memerlukan waktu mungkin sebulan sampai dua bulan.”

Mereka yang hadir di bilik itu pun tampak mengerutkan kening dalam-dalam. Sebulan atau bahkan sampai dua bulan adalah waktu yang cukup panjang bagi rombongan yang dipimpin Ki Rangga itu. Sehingga tidak menutup kemungkinan Glagah Putih tidak dapat bergabung kembali.

“Apakah memang demikian?” bertanya Ki Bango Lamatan kemudian dengan jantung yang berdebaran.

Tanpa sadar Ki Jayaraga berpaling ke arah Ki Rangga. Ki Rangga pun tanggap dan segera menjawab, “Seperti itulah perkiraanku. Aku tidak dapat memastikan berapa lama Glagah Putih akan pulih seperti sedia kala. Namun setelah kesehatan dan kebugarannya pulih kembali, aku kira dia tidak akan memerlukan waktu sampai berbulan bulan untuk mengembalikan puncak ilmunya. Mungkin hanya sekitar satu bulan lebih.”

Tampak Ki Waskita dan Ki Bango Lamatan mengangguk angguk. Namun Ki Jayaraga justru telah menggeleng gelengkan kepalanya sambil berdesis perlahan, “Dengan demikian Glagah Putih tidak akan ikut dalam rombongan Ki Rangga berikutnya, demikian juga aku.”

“He?” hampir bersamaan orang orang di dalam bilik itu telah terkejut. Sedangkan Ki Rangga segera menyadari bahwa rombongannya akan banyak berkurang setelah Ki Bango Lamatan yang mungkin akan di tarik ke istana dan juga Glagah Putih yang masih sakit.

“Baiklah,” berkata Ki Rangga kemudian sambil menggeser dingklik kayunya sejengkal mundur, “Aku akan memohon petunjuk Ki Patih Mandaraka sehubungan dengan rombongan kecil kita ini. Jika nantinya Ki Bango Lamatan harus kembali ke istana, kemudian Glagah Putih masih harus mengembalikan kekuatannya, yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, mengapa Ki Jayaraga juga mengundurkan diri dari rombongan ni?”

Untuk sejenak Ki Jayaraga terpekur. Orang-orang yang berada di dalam bilik tu pun tidak ada yang berani mengganggu. Mungkin Ki Jayaraga sedang mempertimbangkan sesuatu yang sangat pelik.

“Ki Rangga,” jawab Ki Jayaraga kemudian tanpa berpaling, “Aku mempunyai firasat bahwa Pertapa tua itu suatu saat pasti akan kembali ke banjar ini. Bagiku tidak mungkin meninggalkan Glagah Putih dalam keadaan seperti ini. Apapun yang terjadi, aku harus melindungi Glagah Putih. Yang aku khawatirkan jika Pertapa tua itu kemudian berubah pikiran dan melampiaskan dendamnya kepada Glagah Putih,” orang tua itu berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Selain itu sebagai salah satu gurunya, aku akan membantu Glagah Putih untuk mengembalikan kekuatan puncak ilmunya.”

Terdengar mereka yang hadir dalam ruangan itu menarik nafas dalam dalam sambil mengangguk angguk.

Tiba tiba terdengar Glagah Putih berdesah sambil menggerak gerakan kepalanya. Ketika dengan sangat perlahan kedua kelopak matanya kemudian terbuka, sejenak dia berusaha mengerjap kerjapkan sepasang matanya agar penglihatannya menjadi semakin jelas.

Ketika pandangan matanya sudah dapat mengenali keadaan di sekelilingnya, tampak wajah Glagah Putih sedikit terkejut dan berusaha untuk mengangkat kepalanya. Namun usahanya gagal dan kepalanya pun jatuh terkulai kembali.

“Tenangkanlah dirimu Glagah Putih,” bisik Ki Rangga kemudian sambil menggeser tempat duduknya mendekati amben, “Bersyukurlah! Yang Maha Agung masih berkenan melindungimu. Tenaga wadagmu memang masih sangat lemah, namun aliran darahmu serta pernafasanmu sudah mulai lancar. Engkau tinggal mengembalikan kekuatan wadagmu terlebih dahulu, sebelum merambah kepada pengembalian kekuatan ilmumu.”

Tampak wajah Glagah Putih yang masih pucat menegang. Tanyanya kemudian sambil berpaling ke arah kakak sepupunya itu, “Apa maksud kakang? Apa yang telah terjadi dengan kekuatan ilmuku?”

“Engkau harus mencari waktu yang tepat ngger,” berkata Ki Waskita kemudian menambahkan, “Mataram saat ini……………………..

“Glagah Putih,” Ki Jayaraga lah yang menyahut sambil mendekatkan tempat duduknya, “Kekuatan ilmu lawanmu memang diluar nalar. Aku ternyata telah salah hitung. Aku sama sekali tidak menyangka jika lawanmu yang menyebut dirinya sebagai Pertapa goa Langse itu benar benar telah mewarisi ilmu ciri khas goa Langse. Aku benar benar menyesal telah membiarkan dirimu menghadapinya.”

Sejenak Glagah Putih menarik nafas panjang sambil pandangan matanya menerawang ke langit-langit bilik. Terbayang kembali peristiwa perang tanding antara hidup dan mati beberapa saat yang lalu. Untunglah dia dapat mengatasi ilmu lawannya yang aneh itu dengan aji pacar wutah puspa rinonce.

“Terima kasih Ki dan Nyi Citra Jati,” membatin Glagah Putih dalam hati. Namun terlihat betapa kegelisahan masih tergambar di wajahnya.

“Jangan khawatir Glagah Putih,” berkata Ki Rangga kemudian begitu melihat kekecewaan terbayang di wajah adik sepupunya itu, “Engkau memang telah kehilangan tenaga cadangan di dalam tubuhmu, namun dengan latihan yang sungguh sungguh dalam tempo tidak lebih dari sebulan engkau akan kembali ke puncak ilmumu.”

Kata kata Ki Rangga itu agaknya sedikit banyak telah menghibur Glagah Putih, sehingga wajahnya tidak tampak terlalu kecewa.

“Aku akan menemanimu,” sahut Ki Jayaraga kemudian, “Aku akan menyediakan waktu siang dan malam untuk membantumu meraih kembali kemampuan puncakmu.”

“Terima kasih guru,” berkata Glagah Putih kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam.

“Nah,” berkata Ki Rangga kemudian, “Aku akan membuatkan bubur khusus untukmu agar kekuatan wadagmu segera pulih. Setelah wadagmu benar benar pulih, giliran Ki Jayaraga yang akan membantumu.”

“Akan pergi kemanakah kakang?” tiba tiba sebuah pertanyaan terloncat begitu saja dari bibir Glagah Putih.

Sejenak Ki Rangga menegakkan punggungnya sambil mengedarkan pandangan matanya ke arah orang orang yang hadir di dalam bilik itu. Ketika terlihat olehnya sebuah anggukan dari Ki Waskita, Ki Rangga pun akhirnya menjawab pertanyaan adik sepupunya itu.

Jawab Ki Rangga kemudian, “Glagah Putih, aku dan Ki Bango Lamatan akan kembali ke Mataram untuk membuat laporan kepada Ki Patih Mandaraka. Banyak yang harus dibicarakan sehubungan dengan bergeraknya para pengikut Trah Sekar Seda Lepen itu ke lembah antara Merapi dan Merbabu.”

Tampak kepala Glagah Putih terangguk angguk kecil. Ki Rangga sengaja tidak menyebut Ki Gede dan Ratri yang akan pergi ke Menoreh bersama sama dengan dirinya dan Ki Bango Lamatan. Ki Rangga menganggap hal itu tidak ada hubungannya dengan rencana Ki Rangga melaporkan tugasnya kepada Ki Patih Mandaraka.

“Kapan kakang akan berangkat?” bertanya Glagah Putih selanjutnya.

“Besuk pagi.”

“He?! Besuk pagi? Begitu cepat?”

“Ya, Glagah Putih,” jawab Ki Rangga kemudian sambil mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling, “Banyak pertimbangan yang mengharuskan aku segera ke Mataram. Salah satunya adalah keadaan Mataram yang sampai saat ini belum terbetik berita telah diangkatnya Raja baru menggantikan Sinuhun Hanyakrawati.”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Agaknya Ki Rangga tanggap bahwa adik sepupunya itu belum begitu mengerti alasan yang dikemukakan. Maka lanjut Ki Rangga kemudian, “Sebagaimana engkau juga telah mendengar berita dari prajurit sandi beberapa saat yang lalu. Pergantian pucuk pimpinan di Mataram agaknya telah menimbulkan perselisihan paham antara kerabat istana sendiri.”

Tampak Glagah Putih menarik nafas dalam dalam namun tidak ada tanggapan sama sekali yang keluar dari bibirnya. Maka Ki Rangga pun melanjutkan, “Mataram dalam keadaan seperti sekarang ini akan sangat rapuh jika terjadi pemberontakan dari orang orang yang tidak bertanggung jawab, Trah Sekar Seda Lepen salah satunya. Sehingga kekuatan yang sekarang mungkin sedang berkumpul di lembah antara Merapi dan Merbabu segera harus ditindak lanjuti, sebelum mereka mengetahui keadaan Mataram yang masih belum menentu ini.”

Kembali tampak kepala Glagah Putih terangguk angguk. Orang orang yang hadir di dalam bilik itu pun telah ikut mengangguk anggukkan kepala mereka.

“Nah engkau akan ditemani oleh Ki Waskita dan Ki Jayaraga,” berkata Ki Rangga selanjutnya. Ki Waskita pun tersenyum ke arah Glagah Putih yang memandangnya.

“Aku akan disini saja, ngger,” berkata Ki Waskita kemudian begitu melihat Glagah Putih tanpa berkedip telah memandangnya, “Walaupun ancaman sisa sisa laskar cantrik Sapta Dhahana kemungkinannya sangat kecil, namun perdikan Matesih ini belum dapat dikatakan aman. Dengan senang hati aku akan mengawani Ki Jayaraga.”

Kembali terlihat setiap kepala terangguk angguk. Sejenak suasana menjadi sunyi. Masing masing sedang tenggelam dalam lamunan yang mengasyikkan.

“Apa rencana kakang setelah menghadap Ki Patih,” tiba-tiba pertanyaan Glagah Putih kembali membuat mereka terbangun dari lamunan mereka, “Apakah aku masih diperkenankan untuk ikut dalam rombongan ini?”

Untuk sejenak mereka yang berada di dalam bilik itu pun saling pandang. Namun Ki Rangga segera menjawab agar adik sepupunya itu tidak berteka teki di kemudian hari.

“Glagah Putih,” jawab Ki Rangga kemudian sambil memandang ke arah anak laki laki Ki Widura itu, “Aku akan mohon petunjuk kepada Ki Patih sehubungan dengan keberadaan kelompok kecil kita ini. Tugas yang dibebankan kepada kita masih sangat panjang dan tidak menutup kemungkinan akan bertambah jumlahnya atau bahkan berkurang,” Ki Rangga berhenti sejenak untuk sekedar mengambil nafas. Lanjutnya kemudian, “Selain itu perkembangan keadaan dan keamanan juga mempengaruhi keputusan yang akan diambil oleh Ki Patih pada saatnya nanti. Semua itu tergantung tanggapan dari Ki Patih atas laporan yang akan aku sampaikan nanti.”

“Jadi? Aku tidak akan diperkenankan ikut dalam rombongan kakang lagi?” sela Glagah Putih dengan serta merta.

“Bukan begitu maksudku, Glagah Putih,” jawab Ki Rangga cepat, “ Dalam waktu dekat ini, aku kira tugas kita ke gunung Penanggungan akan ditangguhkan beberapa saat. Aku kira untuk sementara perhatian Ki Patih akan dicurahkan kepada Trah Sekar Seda Lepen terlebih dahulu.”

“Angger Sedayu benar,” sela Ki Waskita ikut menanggapi, “Sebelum pengikut Trah Sekar Seda Lepen itu menjadi besar dan dapat membakar Mataram, sedini mungkin Mataram harus mengambil langkah langkah untuk memadamkannya.”

Terlihat Glagah Putih mengerutkan keningnya. Ada kesan kekecewaan sekilas yang tertangkap oleh Ki Rangga. Maka berkata Ki Rangga kemudian, “Engkau tidak usah merisaukan peperangan yang mungkin akan terjadi di lembah antara Merapi dan Merbabu itu. Kesehatanmu lebih penting dari semua itu. Jika engkau bersungguh sungguh dalam usaha untuk mengembalikan kemampuanmu, aku kira tidak akan lebih dari sebulan engkau sudah dapat bertugas dalam dinas keprajuritan lagi.”

Sekarang tampak wajah Glagah Putih menjadi sedikit cerah. Sambil mengangguk anggukan kepalanya dia pun kemudian berkata, “Terima kasih kakang. Aku akan bersungguh sungguh untuk memulihkan kemampuanku. Aku yakin dibawah bimbingan Ki Jayaraga dan petunjuk Ki Waskita, sekembalinya kakang dari Mataram mungkin aku sudah dapat meraih kembali kemampuanku walaupun baru selangkah dua langkah.”

“Ah,” orang orang pun tertawa mendengar kelakar Glagah Putih. Tapi mereka yakin, Glagah Putih mempunyai niat yang sangat kuat untuk segera mendapatkan kemampuannya kembali.

“Kakang,” berkata Glagah Putih kemudian setelah sejenak mereka terdiam, “Jika kekuatan wadagku sudah pulih kembali, apakah aku diperkenankan untuk kembali ke Menoreh? Rasa rasanya lebih tenang untuk meraih puncak kemampuanku di Menoreh dari pada di rumah orang yang tentu saja akan sangat merepotkan Ki Gede Matesih.”

Untuk beberapa saat mereka tampak saling pandang. Namun segera saja pandangan mereka beralih kepada Ki Rangga sebagai pemimpin rombongan kecil itu.

“Aku juga berpikir demikian, Glagah Putih,” sahut Ki Rangga yang membuat mereka yang hadir di dalam bilik itu mengangguk angguk, “Namun dalam menyampaikan hal ini kepada Ki Gede Matesih harus dengan sangat hati hati, jangan sampai kepala perdikan Matesih itu tersinggung.”

“Angger benar,” sela Ki Waskita kemudian, “Kita harus menjaga hubungan yang sudah terjalin dengan sangat baik ini. Jangan sampai memberikan kesan seolah olah kita sudah tidak memerlukan Matesih lagi setelah Sapta Dhahana jatuh.”

Kembali setiap kepala terlihat terangguk angguk.

“Dan yang lebih penting lagi,” sahut Ki Jayaraga sambil sedikit menahan senyum, “Berlatih olah kanuragan ditunggui oleh seorang istri tercinta akan lebih mengasyikkan dari pada ditunggui orang tua bangka seperti aku ini.”

“Ah,” gelak tawa pun kembali mengumandang di dalam bilik itu. Sementara Glagah Putih hanya dapat tersenyum masam sambil menyeringai.

“Nah, aku rasa pertemuan kita kali ini sudah cukup,” berkata Ki Rangga kemudian sambil mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling, “Aku akan ke dapur untuk meramu obat yang akan aku campurkan ke dalam bubur cair untuk makan malam Glagah Putih.”

Selesai berkata demikian Ki Rangga segera bangkit berdiri. Namun tampaknya Ki Jayaraga masih tetap duduk di tempatnya sambil berkata, “Aku di sini saja. Jika makan malam sudah siap, tolong antarkan ke bilik ini.”

Ki Bango Lamatan yang telah berdiri bersama Ki Rangga segera menyahut, “Ki Jayaraga berkenan bubur cair?”

“O,” jawab Ki Jayaraga sambil menegakkan punggungnya, “Aku senang sekali dengan bubur cair. Tolong bawakan dua mangkuk penuh sekaligus!”

Ki Bango Lamatan yang sudah hampir melangkah itu menjadi heran. Tanyanya kemudian, “Ki Jayaraga mampu menghabiskan dua mangkuk bubur sekaligus?”

Ki Jayaraga tersenyum. Jawabnya kemudian sambil tetap tersenyum dan menggeleng, “Ah, tentu saja tidak. Maksudku dua mangkuk penuh bubur cair itu yang satu untukku dan yang satunya untuk Ki Bango Lamatan.”

“Ah,” mereka pun tergelak mendengar gurauan Ki Jayaraga itu.

Demikianlah, sejenak kemudian, satu persatu mereka telah meninggalkan bilik kecuali Ki Jayaraga yang lebih senang menunggui Glagah Putih.

Dalam pada itu di salah satu bilik di gandhok kiri, tampak Ki Wiyaga dan Ki Gede sedang berusaha membujuk putut Acarya untuk berbicara.

“Katakan saja apa yang engkau ketahui,” berkata Ki Gede dengan nada berat dan dalam, “Apa hubunganmu dengan orang yang mengaku sebagai Pertapa goa Langse itu dan di mana kalian tinggal selama ini,”

Putut Acarya yang duduk di lantai dengan kedua tangan terikat di belakang sebuah tiang yang kuat, tampak hanya menundukkan wajahnya. Mulutnya terkatup rapat rapat serta sorot matanya menampakkan kemarahan yang membakar jantung.

“Kami bukanlah sekelompok orang yang suka berbuat sewenang wenang,” berkata Ki Gede selanjutnya begitu melihat putut Acarya hanya membisu, “Namun disaat saat kami kehilangan kesabaran, kadang kadang sifat yang demikian itu bisa muncul.”

Putut Acarya masih tetap membisu. Wajahnya yang merah membara itu tetap tertunduk dalam dalam.

“Ki Wiyaga,” berkata Ki Gede pada akhirnya memberi isyarat kepada kepala pengawal Matesih itu, “Mendekatlah!”

Ki Wiyaga segera melangkah mendekati Ki Gede. Sejenak kemudian kedua orang itu tampak berbisik bisik dengan suara yang sangat perlahan sehingga tidak mampu didengar oleh putut Acarya.

“Gila!” geram putut Acarya dalam hati, “Apa yang akan mereka perbuat, he?!”

Namun murid pertama goa Langse itu menjdi berdebar debar ketika melihat Ki Wiyaga kemudian melangkah keluar bilik.

“Aku sebelumnya minta maaf, Ki Sanak,” berkata Ki Gede kemudian dengan suara yang dibuat seramah mungkin, “Semua ini akan kami lakukan demi keselamatan dan keamanan perdikan Matesih. Apapun akan kami lakukan walaupun itu sedikit melanggar paugeran ataupun hubungan bebrayan sesama manusia. Percayalah, Ki Sanak akan dapat bertahan karena Ki Sanak adalah murid perguruan goa Langse.”

“Omong kosong!” umpat putut Acarya kemudian dengan suara keras sehingga para pengawal jaga yang berada di luar bilik dapat mendengar dengan jelas.

Serentak kedua pengawal jaga itu pun segera bangkit berdiri sambil meraba hulu senjata masing masing. Namun ketika kedua pengawal itu kemudian mendengar tawa Ki Gede, mereka pun segera duduk kembali sambil menarik nafas dalam dalam.

“Nah,” berkata Ki Gede kemudian sambil berjalan perlahan memutari bilik yang sempit itu, “Aku tidak menuntut apa apa dari Ki Sanak, aku hanya meminta Ki Sanak berbicara jujur.”

“Apa peduliku!” geram Acarya kembali sambil meludah.

“O, baiklah,” jawab Ki Gede kemudian menanggapi kekerasan hati murid goa Langse itu, “Kami mempunyai atau katakanlah kami telah menciptakan sebuah alat yang sangat aneh. Alat itu sangat berguna untuk membuat seseorang berbicara,” Ki Gede berhenti sejenak sambil sudut matanya memandang ke arah putut Acarya. Namun orang itu tampaknya tetap acuh tak acuh saja. Lanjut Ki Gede kemudian, “Alat itu sebenarnya sangat sederhana dan memang bertujuan membantu seseorang yang tadinya tidak mau berbicara akan berubah pikiran dan memutuskan untuk berbicara. Namun ternyata orang yang membuat alat itu terlalu tergesa gesa dan kurang sempurna sehingga telah membuat seseorang tidak hanya berbicara, tetapi berteriak sekeras kerasnya.”

Berdesir dada putut Acarya. Bagaimanapun kerasnya hati murid goa Langse itu, namun apa yang diutarakan Ki Gede itu tak urung telah membuat bulu kuduknya berdiri.

“Kalian memang segerombolan manusia terkutuk yang tidak punya belas kasihan!” geram putut Acarya sambil kembali meludah, “Kalian akan menerima akibatnya jika guruku mengetahui perbuatan kalian terhadap muridnya!”

“He?!” Ki Gede pun terkejut bukan alang kepalang. Dia baru menyadari jika murid goa Langse itu belum diberi tahu jika gurunya telah tewas.

“Baiklah, Ki Sanak,” berkata Ki Gede kemudian sambil berjongkok beberapa langkah di depan putut Acarya, “Aku lupa memberitahukan kepadamu, dan aku mengucapkan turut berduka cita atas musibah yang telah menimpa perguruan kalian.”

Kata kata Ki Gede yang diucapkan dengan tekanan dan terlihat bersungguh sungguh itu telah menyita perhatian putut Acarya. Untuk beberapa saat murid goa Langse itu justru telah terdiam dengan pandangan yang tidak berkedip menatap wajah Ki Gede.

“Ki Sanak,” berkata Ki Gede selanjutnya sambil menarik nafas dalam dalam, “Hidup mati manusia ada di tangan Yang Maha Agung. Kita manusia tidak diberi kewenangan sedikitpun untuk mengungap rahasia kehidupan itu. Maka bersabarlah atas apa yang telah menimpa gurumu.”

“Persetan dengan sesorahmu!” bentak putut Acarya kemudian dengan suara menggelegar. Kembali dua orang pengawal yang berjaga di luar bilik terkejut. Namun keduanya hanya berdiam diri saja sambil menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mereka percaya penuh terhadap kemampuan pemimpin mereka itu.

“Ki Sanak,” berkata Ki Gede tetap dengan nada yang sareh tanpa terpengaruh gejolak dalam dada putut Acarya, “Dalam perang tanding tadi pagi, gurumu yang mengaku sebagai Pertapa dari goa Langse itu ternyata telah dikalahkan dan tewas.”

“Bohong!!” bentak putut Acarya seketika. Namun suaranya terdengar meragu ketika mengucapkan kata kata berikutnya, “Kalian telah berusaha melemahkan hatiku! Kalian berusaha menipu aku dengan cerita ngaya wara yang sama sekali tidak berdasar. Guru adalah orang yang maha sakti dan tidak ada tandingannya di muka bumi ini, Ki Rangga pun tidak!”

“Ki Sanak,” berkata Ki Gede kemudian sambil bangkit berdiri dan maju selangkah. Ditepuk tepuknya pundak putut Acarya beberapa kali sambil berdesis perlahan, “Kuatkan hatimu menerima cobaan ini. Aku tahu gurumu adalah satu satunya tempat bergantung bagimu. Namun nasib telah menentukan lain. Gurumu telah tewas dalam perang tanding bukan dengan Ki Rangga, tapi dengan adik sepupu Ki Rangga yang bernama Glagah Putih.”

Jika saja ada petir yang menyambar dan meledak sejengkal di atas kepala putut Acarya, dia tidak akan seterkejut itu mendengar berita yang baru saja disampaikan oleh Ki Gede.

“Bohong! Pendusta!” teriak putut Acarya kemudian bagaikan orang yang kalap, “Aku tidak percaya jika guru mampu dikalahkan oleh orang yang bukan Ki Rangga. Aku yakin itu!! Ki Rangga pun tidak akan mampu mengalahkannya!!”

“Tapi kenyataan berbicara lain Ki Sanak,” sela Ki Gede dengan serta merta, “Aku tidak tahu lagi bagaimana harus meyakinkan Ki Sanak. Namun aku hanya berbicara berdasarkan kenyataan yang telah terjadi. Gurumu telah tewas dan Ki Sanak sekarang menjadi tawanan kami.”

Putut Acarya masih berusaha menyangkal kenyataan yang mulai menyusup ke dasar hatinya. Bagaimana pun juga berita tewasnya orang yang sangat diagung agungkannya itu benar benar sangat mengejutkan dan telah mengkoyak koyak jantungnya.

“Kepada siapa lagi aku akan bergantung?” keluh putut Acarya dalam hati sambil menundukkan kepalanya dalam dalam, “Adi Brajayekti telah mati terlebih dahulu, dan sekarang guru. Aku tidak tahu lagi bagaimana nasib adi Panengah. Jika aku mengaku telah diberi tempat oleh Ki Dukuh Klangon, dan putra laki laki Ki Dukuh Klangon telah menjadi purid goa Langse, tentu padukuhan Klangon akan diratakan dengan tanah oleh Matesih.”

Berbagai pertimbangan pun hilir mudik dalam benak putut Acarya. Namun dari semua pertimbangan itu semuanya menemui jalan buntu dan berakhir pada ujung yang mengerikan, kematian.

“Nah, aku harap berita yang baru saja aku sampaikan ini akan menjadi bahan renungan Ki Sanak,” berkata Ki Gede selanjutnya sambil berjalan mengelilingi bilik yang sempit itu kembali, “Aku yakin nalar Ki Sanak masih utuh. Panca indera Ki Sanak juga masih lengkap. Pergunakanlah semua itu untuk kebaikan Ki Sanak di masa mendatang.”

Kali ini kepala putut Acarya terlihat semakin tunduk. Sorot matanya tidak lagi membara penuh dengan dendam kebencian. Namun sorot mata itu telah menjadi redup bagaikan sinar lampu dlupak di ujung pagi yang telah kehabisan minyak. Wajahnya pucat pasi serta bibirnya tampak gemetar menahan gejolak dadanya yang tak tertahankan.

Diam diam Ki Gede merasa kasihan melihat perubahan orang yang mengaku murid goa Langse itu. Maka katanya kemudian, “Sudahlah Ki Sanak. Jika Ki Sanak mau menyadari kesalahan Ki Sanak dan memperbaiki jalan hidup Ki Sanak, kami akan mempertimbangkan untuk memberikan pengampunan.”

Telihat kepala putut Acarya sedikit terangkat, namun terkulai kembali. Yang terdengar kemudian hanyalah desah nafasnya yang sedikit memburu.

Tiba-tiba terdengar derit pintu bilik. Sejenak kemudian Ki Wiyaga terlihat memasuki bilik sambil menjinjing sebuah bungkusan kain hitam. Kain hitam itu tidak membungkus seluruh benda yang berada di dalamnya sehingga terlihat kedua ujung benda itu yang ternyata terbuat dari besi dan sebuah rantai tampak menjuntai keluar.

Berdesir jantung putut Acarya melihat alat yang cukup mengerikan itu. Maka katanya kemudian, “Ki Gede, sebenarnyalah aku tidak tahu menahu urusan guruku yang telah mengajak kami murid muridnya ke perdikan Matesih ini.”

Hampir bersamaan Ki Gede dan Ki Wiyaga menarik nafas panjang. Dengan sebuah isyarat Ki Gede segera memerintahkan Ki Wiyaga untuk membawa alat yang cukup mengerikan itu keluar bilik. Ki Wiyaga pun segera melangkah keluar bilik kembali.

“Nah, berceritalah,” berkata Ki Gede kemudian sambil duduk bersila beberapa langkah di hadapan putut Acarya.

Untuk beberapa saat tampak wajah murid goa Langse itu gelisah. Namun agaknya dia telah membulatkan tekad untuk berterus terang karena sudah tidak ada gunanya lagi mengharapkan pertolongan dari guru dan saudara saudara seperguruannya.

“Ki Gede,” berkata putut Acarya kemudian sambil menegakkan kepalanya, “Guru telah mengajak kami semua murid muridnya

untuk mengantar putera Ki Dukuh Klangon pulang ke kampung halamannya.”

Sebuah kerut tampak di dahi Ki Gede. Bertanya Ki Gede kemudian, “Mengantar putera Ki Dukuh Klangon? Apakah putera Ki Dukuh itu juga murid goa Langse?”

“Benar, Ki Gede. Jaka Purwana putera Ki Dukuh Klangon itu terhitung saudara paling muda dalam perguruan goa Langse.”

“Dan dia diantar pulang karena sudah selesai berguru?”

“O, tidak. Ki Gede,” sahut putut Acarya cepat, “Kami mengantar Jaka Purwana karena dia memang ingin menengok keluarganya.”

Tampak kepala Ki Gede terangguk-angguk. Namun sebelum Ki Gede melanjutkan, kembali terdengar pintu bilik berderit dan Ki Wiyaga melangkah masuk.

Ki Gede segera memberi isyarat Ki Wiyaga untuk duduk di sebelahnya. Sejenak kemudian Ki Wiyaga pun kemudian telah duduk bersila di sebelah kiri Ki Gede.

“Nah, Putut Acarya,” Ki Gede berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Bukankah nama Ki Sanak adalah putut Acarya?”

“Panggil saja aku Acarya, Ki Gede,” desis Acarya kemudian hampir tak terdengar, “Aku sudah bukan seorang putut di padepokan goa Langse lagi. Padepokan itu sudah tidak ada lagi. Guru sudah tewas, demikian juga adi Brajayekti. Sedangkan adi Panengah entah sedang berada di mana sekarang ini.”

“Jadi kalian bertiga?” sela Ki Wiyaga kemudian.

“Katakan saja apa yang engkau ketahui,” berkata Ki Gede dengan nada berat dan dalam, “Apa hubunganmu dengan……….

Bersambung ke bagian 2

11 Responses

  1. Lanjut teruss..

    • Kembali nya agung Sedayu sebagai tokoh sentral memang sudah tepat, karena pengungkapan karakter agung Sedayu sebagai tokoh sentral sudah sangat kuat melekat di hati para pembaca adbm. Lanjutkan..

  2. Yuk lanjutkan sampai tuntas…

  3. Ada beberapa perbedaan gaya bahasa, cara tutur, dan penggambaran karakter masing-masing tokoh utamanya. Bahkan ada pergeseran fokus tokoh pada ADBM IV dengan TADBM dan STSD. Pada ADBM IV fokus sebenarnya sudah mulai ke Glagah Putih (GP) dibanding Agung Sedayu (AS). Termasuk Rara Wulan (RW). Ini terbaca dengan pengangkatan GP dan RW sebagai telik sandi yang membuka cerita petualangan mereka berdua. Alih generasi. Bahkan sepertinya SH Mintardja sudah mempersiapkan tokoh terbaru dalam diri Sukra. Tapi pada TADBM (ke STSD) fokus tokoh kembali ke Agung Sedayu.

    BTW Tapi sangat bagus.

  4. Gaya bahasa kadang kurang tepat, mungkin itu bukan bahasa Indonesia tapi cenderung bahasa Melayu

  5. Saya tetap menunggu cerita STSD selanjutnya, mungkinkah seri nya bisa tampil agak cepat, Ki Rangga selalu saja tampilkan untuk penyemangat perjuangan dlm cerita, bahkan sampe sultan agung menguasai Jawa

  6. Siapakah tokoh nyata dari Agung Sedayu, atau kah hanya cerita fiksi, jadi penasaran nih

  7. Ada dua hal cara pandang yang sangat berbeda dalam hal pelaku. Mbah Man lebih berani mengekpresikan sikap aktor dibanding SH Mintarja (contohnya Pandan Wangi yang terhitung matang berani “menggoda” Agung Sedayu dengan kedipan mata dan senyuman. Padahal di masa mudapun tidak pernah ada cerita seperti itu di ADBM pada diri Pandan Wangi). Mbah Man juga lebih berani memandang kehidupan keraton sebagai “manuasia biasa”, sedangkan SH Mintarja sangat terikat unggah ungguh dalam bercerita tentang keluarga keraton.

    • Mbak Ninik Sutarsini di makam raja mataram Kotagede Jogja ada makam konon menurut juru kunci bernama Tumenggung Agung Sedayu

  8. Dengan sabar saya tunggu kelanjutan kiprah sang tokoh agung sedayu

  9. Contoh “orang yang pernah menjadi kepercayaan Panembahan Cahya Warastra”
    Kalimat ini menurut saya terlalu sering diungkapkan, dan ada beberapa kalimat lain.
    Saran saya, untuk dikurangi ungkapan2 yg sering diulang2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s