STSD-21

kembali ke STSD-20 | lanjut ke STSD-22

 

Bagian 1

SEBENARNYALAH Ki Rangga memang belum pernah mencoba sebelumnya. Biasanya Ki Rangga mengetrapkan aji pengangen-angen itu dengan bersemedi dan berbaring serta menyilangkan kedua tangannya di dada.

Namun kesempatan untuk berpikir panjang lagi sudah tidak ada. Sementara langkah kaki Kiai Singo Barong sudah semakin mendekati ujud semu prajurit berkuda Mataram itu.

“Nah!” berkata Kiai Singo Barong sesampainya dia di depan bayangan semu itu sambil mengedarkan pandangan sekelilingnya, “Akan aku buktikan bahwa kuda dan prajurit penunggangnya ini tidak akan dapat berbuat apapun terhadap diriku. Lihatlah!”

Selesai berkata demikian Kiai Singo Barong segera bergeser setapak. Sejenak kemudian pemimpin perguruan Singo Barong itu sudah mengambil ancang-ancang dengan mengangkat tinggi-tinggi tangan kanannya. Dengan sekuat tenaga tangan kanannya terayun deras menampar kepala kuda itu.

Namun yang terjadi kemudian telah membuat orang-orang yang berada di halaman itu berseru kaget, termasuk Ki Bango Lamatan dan Ki Gede Matesih.

Begitu tangan Kiai Singo Barong itu meluncur, ternyata prajurit yang menungganginya telah menarik tali kekangnya sehingga kuda itu telah mundur selangkah. Bersamaan dengan lewatnya tamparan tangan Kiai Singo Barong, kuda itu pun telah meringkik keras dan mengangkat kedua kaki depannya ke atas tinggi-tinggi.

Sebelum Kiai Singo Barong menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi, tiba-tiba saja kedua kaki kuda yang terangkat tinggi-tinggi itu telah menghunjam ke arah dadanya.

Pemimpin perguruan Singo Barong itu sebenarnya masih berpikir bahwa semua itu hanyalah sebuah permainan semu. Namun ketika dia merasakan sambaran angin yang keras mengarah dadanya, tak urung dia segera berpikir cepat. Disilangkan kedua tangannya di depan dada untuk menghindari terjangan kaki-kaki kuda itu.

Akibatnya benar-benar telah membuat halaman rumah Ki Dukuh menjadi gempar. Terjangan kedua kaki depan kuda itu telah membentur tangan Kiai Singo Barong yang bersilang di depan dada. Akibatnya ternyata sangat dahsyat. Kiai Singo Barong telah terlempar hampir tiga langkah ke belakang dan jatuh bergulingan di atas tanah.

Dalam pada itu Ki Jayaraga di tempat persembunyiannya serta Ki Bango Lamatan yang berada di halaman telah ikut menjadi terkejut bukan alang kepalang. Keduanya menyadari bahwa ilmu semu Ki Waskita itu tidak akan mampu berbuat apa-apa.

Sedangkan Ki Waskita yang berada di dalam salah satu bilik di gandhok kanan telah menarik nafas dalam-dalam. Ketika dia melihat pemimpin perguruan Singo Barong itu telah terlempar, segera saja pandang mata Ki Waskita tertuju ke arah Ki Rangga yang tampak berdiri diam sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan tangan bersilang di dada.

“Untunglah tidak ada yang menyadari apa yang sedang diperbuat oleh angger Sedayu,” membatin Ki Waskita sambil menarik nafas dalam-dalam ketika melihat Ki Rangga sudah menegakkan kepalanya dan mengurai kedua tangannya.

“Jika saja ada yang menyadari dan kemudian menyerangnya, akibatnya akan sangat berbahaya bagi angger Sedayu,” berkata Ki Waskita selanjutnya.

Ayah Rudita itu benar-benar mengagumi usaha yang pantang menyerah dari Ki Rangga di setiap waktu luangnya.

“Ternyata angger Sedayu telah memanfaatkan waktu-waktu luangnya untuk semakin menukik ke kedalaman aji pengangen-angen. Angger Sedayu sudah mulai merambah ke dalam kemampuan melontarkan dan menggerakkan alam sekitarnya dengan pancaran ilmunya. Jika Ajar Tal Pitu mampu menggerakkan sekelompok serigala liar untuk bekerja dibawah pengaruhnya, maka angger Sedayu justru akan dapat berbuat lebih. Setiap angin yang bertiup, pohon-pohon yang bergetar dan binatang apapun yang berada di sekitarnya akan dapat bergerak karena pancaran ilmunya,” Ki Waskita berhenti berangan-angan sejenak. Lanjutnya kemudian, “Semoga dengan laku terakhir nanti, angger Sedayu benar-benar akan mampu mengetrapkan aji pengangen-angen sampai benar-benar ke puncaknya.”

Namun Ki Waskita menyadari, tidak ada ilmu yang sempurna di muka bumi ini. Demikian juga dengan ilmu puncak perguruannya, dan itu memang sudah disadari sejak awal oleh Ki Rangga Agung Sedayu.

Selagi Ki Waskita merenungi perkembangan aji pengangen-angen Ki Rangga, tiba-tiba pendengaran Ki Waskita yang tajam telah mendengar desir langkah berjingkat jingkat mendekati bilik tempat dia bersembunyi bersama Ratri.

Ki Waskita pun tanggap. Tentu itu adalah langkah-langkah Ki Kamituwa yang telah selesai memeriksa bilik-bilik yang ada di gandhok kanan.

Dengan cepat Ki Waskita segera bergeser dan perlahan tanpa menimbulkan bunyi, pintu bilik segera di bukanya. Ki Kamituwa yang berdiri termangu mangu di depan bilik pun segera diberinya isyarat untuk masuk.

Alangkah terkejutnya Ki Kamituwa begitu kakinya melangkah masuk, pandangan matanya menangkap sesosok tubuh yang sudah tidak asing baginya sedang tertidur di atas amben.

Hampir saja Ki Kamituwa membuka suara jika saja Ki Waskita tidak memberi isyarat untuk menutup mulut. Kemudian Ki Waskita pun memberi isyarat kepada Ki Kamituwa untuk mendukung Ratri dan membawanya keluar bilik. Ki Waskita pun kemudian mengikutinya dari belakang.

Dalam pada itu Kiai Singo Barong yang jatuh bergulingan segera bangkit berdiri. Untuk sejenak dikibas-kibaskan kain panjang serta bajunya yang kotor terkena debu

“Guru?!” tiba-tiba terdengar Srenggi dan kedua saudara seperguruannya berseru sambil berlari mendekat. Namun dengan cepat gurunya segera memberi isyarat untuk mencegahnya.

“Iblis, Gendruwo, Tetekan!” umpat Kiai Singo Barong berkali kali sambil menarik nafas dalam-dalam untuk melonggarkan dadanya yang bagaikan tertimpa berbongkah-bongkah batu padas yang meluncur dari lereng bukit.

Sejenak dipandanginya bentuk-bentuk semu di sekitarnya dengan pandangan yang nanar. Penalarannya menjadi buram dan kepercayaan dirinya pun menjadi sedikit luntur.

“Baiklah,” berkata Kiai Singo Barong kemudian sambil melemparkan pandangan matanya kembali ke sekelilingnya, “Aku tidak akan memaksakan sebuah kepercayaan kepada kalian semua. Jika kalian memutuskan menyerah, itu hak kalian. Tapi aku dan murid-murid perguruan Singo Barong akan tetap maju pantang mundur. Rawe-rawe rantas malang-malang putung!”

Segera saja terdengar geremangan di antara orang-orang yang berada di halaman itu. Semuanya dengan sangat jelasnya menyaksikan bagaimana pemimpin perguruan Singo Barong itu telah terjatuh dilanggar kedua kaki depan kuda yang ditamparnya. Untuk beberapa saat para pengawal dan orang-orang padukuhan Klangon itu pun tidak tahu harus bersikap bagaimana.

“Bagaimana kakang?” bisik seorang pengawal dukuh Klangon kepada kawan di sebelahnya dengan nada yang bergetar karena menahan gejolak dalam dadanya.

“Aku tidak tahu,” jawab kawan di sebelahnya tak kalah lirihnya, “Bukankah kita sebenarnya tidak sedang bertugas? Namun kawan-kawan kita yang sedang bertugas di kediaman Ki Dukuh ini telah mengajak kita kemari.”

“Ya, aku juga diberitahu oleh mereka,” pengawal itu menjawab sambil sekilas berpaling ke belakangan. Tampak seekor kuda yang tegar beberapa langkah di belakang dengan penunggangnya seorang prajurit Mataram yang gagah perkasa.

“Mengapa wajah-wajah para prajurit itu terkesan dingin dan mengerikan? Sepertinya mereka bukan manusia yang sebenarnya,” kembali pengawal itu berbisik kepada kawan di sebelahnya.

Kawannya menengok sekilas ke belakang sebelum menjawab. Jawabnya kemudian sambil kembali memandang lurus ke depan, “Bukankah tadi Kiai Singo Barong mengatakan mereka itu hanyalah sebagai ujud-ujud semu yang tidak punya pengaruh apapun terhadap keadaan di sekitarnya?”

Pengawal itu mengangguk angguk dengan dada yang berdebaran. Namun dia masih sempat memberikan pendapatnya, “Tapi ternyata Kiai Singo Barong terjatuh sewaktu menampar kuda yang katanya hanya ujud semu itu?”

“Ada permainan ilmu yang kita tidak mengetahuinya,” bisik kawan di sebelahnya itu kembali, “Sudahlah, kita lihat perkembangan selanjutnya. Jika memang benar-benar ada campur tangan pasukan Mataram, lebih baik kita meninggalkan tempat ini saja.”

Pengawal itu mengangguk. Jauh di dalam lubuk hatinya sebenarnya dia sudah mulai meragukan janji-janji Ki Dukuh setelah terbetik khabar jatuhnya padepokan Sapta Dhahana.

Dalam pada itu Kiai Singo Barong yang sempat terjatuh ternyata telah melangkah kembali ke hadapan Ki Rangga.

“Ki Rangga,” berkata Kiai Singo Barong kemudian sambil memandang ke arah Ki Rangga yang terlihat hanya berdiri tenang, “Aku tantang Ki Rangga untuk memecahkan rahasia ilmu perguruan Singo Barong. Ini bukan perang tanding satu lawan satu. Namun apa yang aku tawarkan adalah sebuah tantangan untuk memecahkan rahasia ilmu langkah bintang beralih yang diciptakan oleh nenek moyang perguruan kami. Belum ada satu pun orang yang mampu keluar hidup-hidup dari kepungan delapan langkah bintang beralih,” Kiai Singo Barong berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian dengan suara yang sedikit datar, “Tetapi itu semua berpulang kepada keberanian Ki Rangga, Agul Agulnya Mataram yang telah kondang kaloka kajalandriya di seluruh tlatah Mataram. Apakah Ki Rangga berani menerima tantangan ataukah akan bersembunyi di balik pinjung biyungnya.”

Kata-kata terakhir Kiai Singo Barong itu terdengar sangat menyakitkan dan menyinggung perasaan Ki Rangga Agung Sedayu. Tetapi memang itulah yang dikehendaki oleh pemimpin perguruan Singo Barong itu.

Namun yang justru melangkah ke depan adalah Ki Bango Lamatan. Orang yang pernah menjadi kepercayaan Panembahan Cahya Warastra itu agaknya sudah tidak mampu menahan diri lagi.

Berkata Ki Bango Lamatan kemudian sesampainya dia di hadapan Kiai Singo Barong, “Kiai, aku hormati Kiai sebagai pemimpin sebuah perguruan yang terkenal di lereng Gunung Arjuna. Semasa mudaku, aku pernah mendaki Gunung Arjuna dan memang aku melihat sebuah perguruan yang besar, perguruan Singo Barong,” Ki Bango Lamatan berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Namun aku menjadi tidak habis mengerti, dimana harga diri sebuah perguruan yang sedemikian besar dengan menantang Ki Rangga untuk berperang tanding tetapi dengan cara main keroyokan? Jika memang Kiai Singo Barong mempunyai cukup keberanian, silahkan menantang perang tanding dengan Ki Rangga satu lawan satu.”

Berdesir dada pemimpin perguruan Singo Barong itu. Jika dia harus berperang tanding satu lawan satu dengan Ki Rangga, kemungkinan untuk dapat keluar dalam keadaan hidup adalah sangat kecil.

“Sorot mata itu,” membatin Kiai Singo Barong dalam hati sambil memandang sekilas ke arah Ki Rangga yang tetap berdiri dengan tenang, “Seandainya aku sudah dapat memecahkan ilmu sorot mata itu tanpa menggunakan ilmu langkah rahasia bintang beralih. Itupun aku masih harus melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dalam perang tanding nantinya.”

Berpikir sampai disitu Kiai Singo Barong segera tertawa pendek. Jawabnya kemudian, “Perang tanding tidak harus satu lawan satu. Aku hanya menawarkan kepada Ki Rangga jika dia benar-benar seorang yang pilih tanding, tentu merupakan suatu kehormatan bagi perguruan Singo Barong untuk melayani Ki Rangga dengan jurus andalan kami.”

“Omong kosong!” sergah Ki Bango Lamatan kemudian sambil tangan kanannya menunjuk ke arah Kiai Singo Barong, “Saat ini bukanlah waktu yang tepat bagi kita untuk saling menguji ilmu. Saat ini adalah kekuasaan mutlak yang dimiliki Ki Rangga selaku duta pamungkas dari Mataram. Ki Rangga berhak menangkap kalian dan menyerahkan ke Mataram untuk mendapatkan hukuman yang setimpal atas usaha kalian bergabung dengan Trah Sekar Seda Lepen.”

“Tutup mulutmu!” giliran Kiai Singo Barong yang membentak menggelegar sambil tangannya juga menunjuk ke arah wajah Ki Bango Lamatan, “Tidak ada seorang pun yang berhak melakukan pemaksaan kehendak kepada kami, Ki Rangga pun tidak walaupun dia mengatas namakan dirinya sebagai duta pamungkas dari Mataram, karena kami merasa bukan di bawah Mataram” Kiai Singo Barong berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Kami perguruan Singo Barong memang sudah bertekat untuk membuat tatanan yang lebih baik di negeri ini bersama Trah Sekar Seda Lepen, Trah yang seharusnya berhak untuk memerintah di atas tanah ini.”

“Terserah apa kata kalian!” sergah Ki Bango Lamatan dengan suara tak kalah lantangnya, “Namun kalian sekarang ini sedang berhadapan dengan duta pamungkas dari Mataram. Suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, kalian akan kami perlakukan sebagai pemberontak yang wajib untuk ditangkap dan diserahkan kepada Mataram.”

“Lakukanlah jika kalian mampu,” geram pemimpin perguruan Singo Barong itu kemudian, “Kami bukan sekumpulan cacing-cacing tanah yang hanya sedemikian lemahnya untuk kalian injak-injak. Kami adalah segerombolan singa yang haus darah dan siap untuk mencabik cabik tubuh-tubuh kalian menjadi sayatan daging dan pecahan tulang.”

Kalimat terakhir dari Kiai Singo Barong itu memang terdengar mengerikan. Namun Ki Bango Lamatan justru telah tertawa berkepanjangan. Jawabnya kemudian setelah tawanya reda, “Kiai Singo Barong, sebaiknya engkau segera membuka mata dan telingamu lebar-lebar. Engkau tidak usah menakuti-nakuti kami dengan kata-kata yang nggegirisi namun bagiku sangat menggelikan. Memang kita belum pernah saling bertemu, namun aku rasa nama kita masing-masing pernah terdengar di atas tanah ini walaupun dengan gaung yang berbeda. Perkenalkan aku, Bango Lamatan yang pernah menjadi orang kepercayaan Panembahan Cahya Warastra.”

Jika saja ada guruh yang meledak di siang hari itu, tentu tidak akan membuat pemimpin perguruan Singo Barong itu terkejut dan sejenak bagaikan kehilangan penalaran.

Namun dengan cepat Kiai Singo Barong segera mampu menguasai dirinya. Katanya kemudian disertai dengan sebuah tawa yang memuakkan, “O, ternyata inilah orang yang di sebut Bango Lamatan itu, orang kepercayaan Panembahan Cahya Warastra,” Kiai Singo Barong berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Namun aku yakin yang mampu mengubah dirinya menjadi raksasa sebesar bukit itu adalah Panembahan Cahya Warastra, bukan orang kepercayaannya yang bernama Bango Lamatan. Selain itu, ada satu keanehan bagiku. Menurut berita tembang rawat-rawat, bakul sinambi wara, Panembahan Cahaya Warastra telah menemui ajalnya oleh Ki Rangga Agung Sedayu. Nah, bagaimana mungkin orang kepercayaannya sekarang ini justru telah berdiri berdampingan dengan pembunuh tuannya?”

Dengan sengaja Kiai Singo Barong mengungkit kematian Panembahan Cahya Warastra, karena pemimpin perguruan Singo Barong itu tidak yakin jika orang yang berdiri di hadapannya sekarang ini adalah benar-benar Ki Bango Lamatan yang pernah berseberangan dengan Mataram.

“Kiai,” jawab Ki Bango Lamatan kemudian dengan suara berat dan dalam, “Bango Lamatan yang dulu telah mati. Sekarang yang berdiri di hadapanmu adalah Bango Lamatan yang telah terlahir kembali dengan semangat dan kepercayaan yang baru. Semangat dan kepercayaan yang telah tumbuh dari lubuk hati yang paling dalam untuk ikut menegakkan panji-panji Mataram di seluruh pelosok tanah ini.”

“Omong kosong!” geram Kiai Singo Barong memotong ucapan Ki Bango Lamatan, “Apa yang engkau sampaikan itu semuanya tak lebih dari sebuah bualan orang yang telah putus asa. Sepeninggal Panembahan Cahya Warastra, engkau telah menjadi pengecut dan menyerahkan diri kepada Mataram untuk memohon ampunan. Sebagai balas budi atas kehidupan yang diberikan kepadamu, engkau sekarang telah menjadi budak orang-orang Mataram dan telah melupakan jati dirimu sendiri.”

“Tapi itu lebih baik bagiku,” sergah Ki Bango Lamatan cepat, “Lebih baik bagiku untuk mendarma baktikan sisa hidupku ini di jalan kebenaran, jalan yang diridhoi oleh Yang Maha Agung dari pada hidup tanpa arti, aji godong jati aking!”

Ki Bango Lamatan sengaja melontarkan kata-kata yang cukup pedas sebagai balasan ejekan Kiai Singo Barong. Namun pemimpin perguruan yang cukup disegani di lereng Gunung Arjuna itu justru kembali tergelak. Jawabnya kemudian, “Kebenaran itu tergantung dari sudut pandang mana kita menilainya. Sudut pandang kita berbeda walaupun kita bisa saja berdiri sejajar dan tidak berseberangan. Kita semua ingin melihat keadilan dan kesejahteraan tercipta di atas tanah ini. Itu berarti kita berdiri sejajar. Namun aku melihat cara kalian menyejahterakan kawula alit itu ternyata hanyalah omong kosong belaka. Janji-janji yang kalian tebar hanyalah tipu muslihat untuk mencari simpati kawula alit. Setelah kalian mendapat kepercayaan untuk mengemban amanah dari kawula alit, kalian lebih banyak mabuk kenikmatan dunia dan berfoya-foya sehingga meninggalkan cita-cita semula, mengabdi kepada kepentingan kawula alit.”

“Sesukamulah untuk menilai, Kiai” jawab Ki Bango Lamatan sambil membentangkan kedua tangannya, “Kalian berhak untuk menilai apa saja tentang Mataram. Namun Mataram pun berhak menilai sikap kalian yang sengaja berseberangan bahkan sudah mulai mengumpulkan kekuatan untuk tujuan pemberontakan.”

“Kami tidak memberontak!” geram Kiai Singo Barong dengan wajah merah padam, “Sudah aku katakan sebelumnya. Kebenaran itu tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Aku melihat kawula alit begitu menderita dibawah tekanan pemerintahan Mataram. Bersama kawula alit kami justru bahu membahu berjuang melawan kekejaman yang menindas mereka. Itulah sebenarnya kenyataan yang terjadi. Sebuah perjuangan untuk mengembalikan kembali Trah Sekar Seda Lepen ke tahta yang memang menjadi haknya.”

“Omong kosong!” geram Ki Bango Lamatan sambil melangkah selangkah ke depan, “Semua orang di tanah ini sudah tahu bahwa wahyu keprabon telah berpindah. Sejak Majapahit runtuh dan kemudian Demak berdiri, masih banyak orang yang bermimpi membangun kembali kerajaan terbesar yang pernah ada di tanah ini, namun selalu gagal. Kemudian Demak pun berpindah ke Pajang dan tetap ada orang-orang yang bermimpi membangun kembali kejayaan Demak lama. Orang-orang yang tidak mau melihat kenyataan masih terus bermimpi mengembalikan kejayaan masa lampau,” Ki Bango Lamatan berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Sudahlah Kiai. Jaman sudah berganti dan kita jangan terlena mengikuti mimpi yang tak mungkin terjadi. Lihatlah aku, Kiai! Aku sudah mampu melupakan masa laluku dan sekarang aku bertekad untuk berbuat yang terbaik bagi negeri ini.”

“Teruslah bermimpi Bango Lamatan!” ternyata Kiai Singo Barong justru menggeram marah mendengar nasehat orang yang pernah menjadi kepercayaan Panembahan Cahya Warastra itu, “Nanti akan kita lihat, mimpi siapakah yang akan menjadi kenyataan. Kita telah lama tertidur nyenyak mendengar kidung malam yang begitu syahdu. Kidung yang dilantunkan oleh Panembahan Senapati dan keturunannya. Namun saat Matahari terbit, kita akan terjaga dan masing-masing akan menyadari, untuk siapa sebenarnya kita selama ini telah mengabdi!”

Untuk beberapa saat Ki Bango Lamatan tertegun. Ditariknya nafas dalam-dalam sambil membuang pandangan matanya ke kejauhan. Sikapnya itu justru telah disalah-artikan oleh Kiai Singo Barong. Dengan sebuah senyum di bibirnya, pemimpin perguruan di lereng Arjuna itu pun kembali berkata, “Nah, dengarkanlah hati nuranimu, Ki Bango Lamatan. Apa yang telah engkau yakini selama ini belum tentu merupakan sebuah kebenaran abadi. Kebenaran abadi itu tidak ada. Semua berubah menurut jaman dan kehendak kita. Marilah jaman itu kita putar sesuai dengan kehendak kita sehingga keadilan dan kesejahteraan di atas tanah ini akan segera tercapai.”

……Tampak seseorang yang berwajah penuh wibawa melangkah ke pendapa diiringi oleh beberapa orang.

“Aku setuju dengan pendapatmu itu Kiai,” sahut Ki Bango Lamatan yang membuat beberapa orang yang hadir di halaman itu mengerutkan kening, “Kita semua memang dapat menentukan perubahan jaman itu dengan andil kita masing-masing. Namun aku sangat tidak setuju dengan pilihanmu untuk membenturkan Mataram yang sudah mapan ini dengan kekuatan Trah Sekar Seda Lepen yang belum tentu dapat menjamin berlangsungnya pemerintahan yang lebih baik kelak di kemudian hari. Peperangan hanya akan menyengsarakan kawula alit. Sebenarnyalah kawula alit hanya berpihak kepada rasa damai dan tentram di atas tanah ini. Mereka tidak akan peduli Trah siapa yang duduk di atas singgasana. Namun yang mereka harapkan adalah perdamaian dan keadilan dari siapapun yang nantinya akan menduduki tahta.”

“Itu tidak mungkin Ki Bango Lamatan!” sergah Kiai Singo Barong cepat, “Landasan utama untuk membangun sebuah pemerintahan yang adil dan sejahtera adalah terletak pada kejujuran sehingga akan dinyatakan syah seseorang itu menduduki tahta. Jika dia merebut tahta dengan cara yang sangat curang dan melanggar paugeran bebrayan agung, bagaimana mungkin dia akan melaksanakan kewajibannya dengan baik dan bersih jika jiwanya sudah dikotori dengan segala laku kecurangan dan tipu muslihat?”

“Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu, Kiai,” kembali Ki Bango Lamatan menyela, “Bukankah Kiai tadi mengajari aku tentang sudut pandang? Nah, seseorang dikatakan melakukan sebuah kecurangan, itu mungkin dilihat dari pihak yang dirugikan. Namun jika dilihat dari pihak yang diuntungkan, itu bukanlah sebuah kecurangan, namun itu adalah sebuah siasat untuk mencapai tujuan! Bukankah memang demikian kita seharusnya melihat sesuatu itu dari sudut pandang masing-masing?”

Merah padam wajah Kiai Singo Barong. Dengan sebuah bentakan yang menggelegar dia pun kemudian berteriak, “Tutup mulutmu Bango Lamatan! Engkau terlalu ikut campur urusanku dengan Ki Rangga. Minggirlah! Engkau masih belum cukup umur untuk berada di lingkaran orang-orang berilmu tinggi!”

Namun Ki Bango Lamatan ternyata justru telah tertawa. Jawabnya kemudian, “Aku sekarang sudah menjadi bagian dari Mataram. Tugas Ki Rangga tentu saja juga menjadi tugasku. Kalian orang-orang perguruan Singo Barong tidak usah bermimpi untuk menantang Ki Rangga berperang tanding. Jika Kiai memang cukup mempunyai keberanian, hadapilah aku! Kita akan berperang tanding satu lawan satu sampai di antara kita tidak mampu lagi untuk melihat terbitnya Matahari esok pagi!”

Kata-kata Ki Bango Lamatan itu ternyata telah membuat darah Kiai Singo Barong semakin mendidih. Namun sebelum dia memutuskan, tiba-tiba terdengar langkah-langkah beberapa orang yang keluar dari pringgitan.

Serentak mereka yang berada di halaman itu segera mengarahkan pandangan mata mereka ke pintu pringgitan yang terbuka lebar.

Sejenak orang-orang yang di halaman itu bagaikan membeku. Tampak seseorang yang berwajah penuh wibawa melangkah ke pendapa diiringi oleh beberapa orang.

“Hidup Ki Patih Mandaraka!” tiba-tiba para prajurit berkuda Mataram yang sedari tadi hanya diam mematung telah berteriak gegap gempita menyambut kedatangan orang-orang dari dalam pringgitan itu.

“Hidup Ki Patih Mandaraka!”

“Hidup Mataram!”

“Jayalah Mataram selama lamanya!”

Teriakan itu terdengar bersahut-sahutan sehingga telah mengejutkan mereka yang berada di halaman, terutama para pengawal padukuhan Klangon dan orang-orang padukuhan yang terpengaruh oleh sikap Ki Dukuh.

Mereka memang seumur-umur belum pernah melihat atau bertemu dengan Ki Patih Mandaraka. Namun melihat ujud orang yang sangat berwibawa itu serta teriakan para prajurit berkuda Mataram, mereka pun segera dapat mengambil kesimpulan bahwa yang hadir itu benar-benar Ki Patih Mandaraka.

“Gila!” seru beberapa pengawal dukuh Klangon tanpa sadar sambil pandangan mata mereka tak berkedip memandang orang-orang yang keluar dari pringgitan dan kemudian turun ke pendapa.

“Apa yang harus kita perbuat?” bertanya seorang penghuni padukuhan Klangon itu kepada salah satu dari keempat pengawal yang sedang berjaga di rumah Ki Dukuh.

Pengawal yang ditanya itu sejenak kebingungan. Ketika dia kemudian berpaling ke arah kawan-kawannya yang berdiri di dekat pintu gerbang, tampak betapa wajah-wajah itu menjadi pucat pasi.

“He?! Bagaimana?!” desak salah satu penghuni padukuhan Klangon itu sambil mengguncang tubuh pengawal yang diam mematung itu.

“Ya, bagaimana?” yang lain pun ikut bertanya.

“Ayo cepat! Beritahu kami apa yang harus kami perbuat!”

“Jangan diam saja! Ki Patih sudah menuruni tlundak pendapa!”

“Ya, ya. Cepat beritahu kami harus bagaimana?”

Pertanyaan bertubi-tubi dari penghuni padukuhan maupun pengawal-pengawal yang lain telah membuat keempat pengawal itu menjadi kebingungan. Keringat dingin pun membasahi sekujur tubuh mereka.

“Kami tidak tahu,” akhirnya keluar juga jawaban dari salah satu pengawal itu dengan suara yang lirih dan bergetar nyaris tak terdengar.

Mendengar jawaban dari salah satu pengawal itu, orang-orang itu pun menjadi gelisah dan kebingungan. Entah siapa yang bergerak terlebih dahulu. Namun ternyata orang-orang padukuhan Klangon dan para pengawal yang berada di dekat pintu gerbang segera berhamburan dan saling berebut untuk keluar dari halaman rumah Ki Dukuh. Yang lain pun segera mengikuti kawan-kawan mereka.

Hanya dalam waktu yang sekejap, mereka telah meninggalkan halaman rumah Ki Dukuh. Kedatangan pasukan berkuda Mataram beberapa saat tadi telah menggoyahkan keberanian mereka. Sekarang dengan kehadiran Ki Patih Mandaraka benar-benar telah membuat mereka ketakutan dan memutuskan untuk tidak melibatkan diri terlalu jauh.

Kiai Singo Barong yang melihat semua kejadian itu segera mengumpat tak habis habisnya. Teriaknya kemudian menggelegar mengatasi hiruk pikuk itu, “Diam! Kalian semua diam!”

Kemudian kepada anak murid perguruan Singo Barong dia segera menjatuhkan perintah, “Cantrik-cantrik Singo Barong jangan terpengaruh! Sekali lagi ini hanya sebuah permainan semu yang memuakkan!”

Beberapa cantrik yang ilmunya belum setara dengan Srenggi dan kedua adik seperguruannya memang hampir saja terpengaruh. Namun teriakan gurunya itu telah menyadarkan mereka tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi.

“Alangkah dahsyatnya ilmu semu ini,” membatin para cantrik itu sambil menarik nafas dalam-dalam untuk mengurai getar di dalam dada mereka, “Dalam pertempuran yang sebenarnya, orang-orang yang tingkatan ilmunya belum mampu membedakan antara ujud nyata dengan ujud semu benar-benar akan menjadi linglung dan tidak tahu harus berbuat apa.”

Sedangkan Srenggi dan kedua adik seperguruannya hanya mengerutkan kening mereka dalam-dalam. Dengan mudahnya mereka dapat mengenali bentuk-bentuk semu itu. Namun tetap saja mereka memerlukan waktu sekejap untuk mengenalinya.

Dalam pada itu, teriakan Kiai Singo Barong ternyata telah menghentikan hiruk pikuk di halaman itu. Segera saja halaman itu menjadi hening. Sambil memandang langkah-langkah Ki Patih Mandaraka yang menuruni tlundak pendapa diiringi tiga orang di belakangnya, Kiai Singo Barong segera menggeram keras, “Permainan yang memuakkan! Kalian telah berhasil menakuti-nakuti para pengawal dan penduduk Klangon! Namun kami dari perguruan Singo Barong tidak akan terkecoh dengan semua permainan ini!”

Sebenarnyalah yang datang kemudian itu adalah Ki Waskita dan kawan-kawan. Setelah menyembunyikan Ratri terlebih dahulu di lumbung padi dekat gandhok kiri, Ki Waskita bersama Ki Kamituwa pun kemudian bergabung dengan Ki Jayaraga dan Ki Wiyaga di ruang tengah.

“Kita sembunyikan saja gendhuk Ratri ini di lumbung padi itu,” berkata Ki Waskita beberapa saat yang lalu kepada Ki Kamituwa yang mendukung Ratri.

“Apakah tidak akan berbahaya Ki Waskita?” bertanya Ki Kamituwa sambil melangkah ragu-ragu mendekati lumbung padi.

“Maksud Ki Kamituwa?” balas bertanya Ki Waskita sambil berpaling ke arahnya.

“Maksudku, jika ada yang mengetahui keberadaan Ratri, bukankah akan sangat membahayakan keselamatannya?”

Sejenak Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam sambil menghentikan langkah. Kemudian sambil menundukkan kepala dan menyilangkan kedua tangan di depan dada, dicobanya untuk mengamati keadaan di halaman belakang itu.

Ki Kamituwa yang ikut berhenti menjadi berdebar debar. Namun dia percaya sepenuhnya kepada orang tua itu.

“Untuk sementara aman,” berkata Ki Waskita kemudian sambil mengurai kedua tangannya dan menengadahkan wajahnya.

Ki Kamituwa pun menarik nafas panjang sambil melangkah mengikuti ayah Rudita yang telah melangkah kembali.

Namun kedua orang itu tidak menyadari jika di dekat perigi, melekat pada sebatang pohon sawo kecik, sebuah bayangan seseorang yang seolah olah telah menyatu dengan pohon sawo kecik, sedang mengawasi kedua orang yang sedang melangkah menuju lumbung padi itu.

Demikianlah, setelah selesai menyembunyikan Ratri, kedua orang itu segera bergabung dengan Ki Jayaraga dan Ki Wiyaga di ruang tengah.

Dalam pada itu Ki Rangga dan rombongan terutama Ki Gede menjadi terkejut melihat Ki Waskita telah hadir di halaman. Pikirannya segera terbayang pada anak perempuan satu satunya yang sedang pingsan di salah satu bilik di gandhok kanan.

“Siapakah yang menunggui Ratri?” pertanyaan itu berputar putar dalam benak Ki Gede Matesih.

Sedangkan Ki Rangga justru telah tersenyum dan mengangguk angguk. Ternyata Ki Waskita telah mengirim aji pameling kepadanya dan menjelaskan tentang tempat menyembunyikan Ratri yang terakhir.

Melihat Ki Gede yang tampak gelisah, Ki Rangga pun kemudian segera memberi isyarat dengan sebuah anggukkan ke arahnya.

Ki Gede pun agaknya telah tanggap. Pemimpin tanah perdikan Matesih itu pun akhirnya menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk anggukkan kepalanya.

Dalam pada itu Kiai Singo Barong yang melihat keempat orang itu sedang menuruni tlundak pendapa hatinya berdesir tajam. Panggraitanya segera mengenali siapa yang selama ini telah membuat bentuk-bentuk semu yang memuakkan itu.

Maka sambil melangkah ke depan dia segera menunjuk ke arah Ki Waskita. Katanya kemudian dengan teriakan yang menggelegar, “Ki Sanak! Aku tahu sumber kekacauan semua ini berasal dari Ki Sanak. Maka aku peringatkan, buang semua ilmu semumu ini. Tidak akan ada gunanya lagi!”

Memang Ki Waskita telah kembali bermain dengan ilmu semunya untuk semakin menambah rasa takut para pengawal padukuhan Klangon dan beberapa orang padukuhan Klangon yang telah terpengaruh oleh bujukan Ki Dukuh. Setelah melihat orang-orang padukuhan Klangon itu melarikan diri bersama para pengawal, Ki Waskita pun beranggapan sudah tidak ada gunanya lagi untuk mempertahankan bentuk-bentuk semu itu.

Sejenak kemudian, bentuk-bentuk semu itu pun perlahan lahan bagaikan asap yang tertiup angin, menghilang dari pandangan orang-orang yang berada di halaman rumah Ki Dukuh Klangon.

“Nah, begitu lebih baik,” berkata Kiai Singo Barong kemudian sambil tertawa pendek, “Sekarang kita berhadapan sebagaimana laku seorang jantan. Kita akan berhitung dengan cermat. Siapa yang akan mendahului terbujur menjadi mayat di halaman ini!”

Sejenak suasana menjadi sunyi. Masing-masing saling menilai siapakah yang pantas menjadi calon lawannya serta kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di halaman itu nantinya.

Tiba-tiba beberapa orang yang berilmu tinggi di halaman itu telah dikejutkan oleh pendengaran mereka. Walaupun suara itu tidak terdengar jelas dan hanya berlangsung sekilas, namun tak urung suara desis yang mirip dengan desis seekor ular itu telah mengejutkan mereka, terutama Ki Rangga.

“Suara isyarat itu,” membatin Ki Rangga dengan jantung yang berdesir tajam sambil memandang ke arah Ki Waskita, “Arahnya dari halaman belakang.”

Ayah Rudita agaknya telah mendengar pula suara isyarat yang pernah dipakai pada saat peralihan pemerintahan dari Demak ke Pajang. Namun Ki Waskita terlihat menggelengkan kepalanya sambil memandang ke arah Ki Rangga.

Untuk beberapa saat Ki Rangga justru telah termangu-mangu. Ingatannya segera saja melayang ke peristiwa beberapa saat yang lalu sebelum dia dan kawan=kawan berangkat ke gunung Tidar.

“Tidak mungkin yang melemparkan isyarat ini adalah Ki Patih Mandaraka,” membatin Ki Rangga dalam hati dengan jantung yang berdebaran, “Apakah mungkin orang lain? Golongan dari angkatan tua yang masih tersisa? Atau Ki Tanpa Aran barangkali yang selama ini jati dirinya masih gelap?”

Berbagai dugaan pun muncul dalam benak Ki Rangga, namun dia belum dapat menarik sebuah kesimpulan pun.

Demikian juga Ki Jayaraga. Namun orang tua yang sudah kenyang kehidupan hitam maupun putih itu kelihatannya justru telah berpaling ke arah Ki Rangga sambil tersenyum. Seakan akan dia menyerahkan tugas untuk menyelidiki suara itu kepada Ki Rangga

Dalam pada itu Ki Bango Lamatan yang sedang berhadap hadapan dengan Kiai Singo Barong juga dapat menangkap suara aneh itu. Tetapi dia tidak dapat menduga suara apakah itu yang tidak mungkin dapat ditangkap oleh pendengaran orang kebanyakan. Suara yang terdengar hanya sekilas dan sangat perlahan

Namun ternyata Ki Bango Lamatan telah memantapkan hatinya untuk melawan pemimpin perguruan yang berada di lereng gunung Arjuna itu. Maka katanya kemudian, “Kiai, sudah aku katakan sedari tadi. Kiai aku tantang untuk berperang tanding satu lawan satu. Silahkan yang lainnya menyesuaikan diri dengan lawan masing-masing. Biarlah Ki Rangga beristirahat. Tugas-tugas yang diembannya masih cukup banyak untuk diselesaikan.”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam mendengar usul Ki Bango Lamatan itu. Segera saja Ki Rangga tanggap akan maksud Ki Bango Lamatan. Maka katanya kemudian, “Terima kasih Ki Bango Lamatan. Aku memang agak lelah pagi ini karena semalaman memang tidurku sedikit tidak nyenyak.”

Selesai berkata demikian Ki Rangga segera melangkah mendekati Ki Waskita dan kawan-kawannya yang masih berdiri termangu mangu di ujung tlundak pendapa.

Sesampainya di hadapan mereka Ki Rangga segera menyalami satu persatu sambil berkata, “Terima kasih atas kehadiran dan bantuannya. Sesuai saran Ki Bango Lamatan, aku akan duduk-duduk saja di pendapa.”

“Silahkan ngger,” jawab Ki Waskita sambil tersenyum lebar, “Namun angger Sedayu tidak akan ditemani semangkuk minuman hangat dan ketela rebus yang dicampur santan dan gula aren.”

“Akulah yang seharusnya meminta maaf,” sela Ki Jayaraga yang berdiri di sebelah Ki Waskita, “Kedua pelayan yang sedang memasak di dapur terpaksa aku suruh tidur nyenyak di lantai dapur karena ternyata mereka berdua tidak pandai memasak. Jadi untuk apa mereka diberi tugas untuk memasak?”

Sebagian yang mendengar kelakar Ki Jayaraga itu telah tertawa. Namun Kiai Singo Barong dan murid muridnya justru telah mengerutkan kening sambil mengumpat-umpat.

“Guru,” tiba-tiba Srenggi berkata sambil menunjuk ke arah Ki Jayaraga, “Ijinkan aku untuk menidurkan orang tua tak tahu diri itu selama lamanya. Dia sudah berani dengan sombongnya mencederai anak murid perguruan Singo Barong. Tidak ada balasan yang setimpal selain nyawanya. Sudah cukup baginya hidup di atas bumi ini. Sudah waktunya dia meninggalkan dunia ini untuk selama lamanya.”

Ketika gurunya kemudian mengangguk kecil, Srenggi pun segera melangkah lebar mendekati Ki Jayaraga yang juga kemudian turun ke halaman.

“Nah, kakek tua,” geram Srenggi kemudian sesampainya dia di hadapan Ki Jayaraga, “Kita tidak perlu berbasa-basi berkepanjangan. Aku tahu kedua cantrik yang aku tugaskan memasak di dapur ternyata telah engkau cederai atau mungkin keduanya sekarang sudah tak bernyawa,” Srenggi berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Tapi jangan menyamakan murid-murid Singo Barong sebagaimana kedua cantrik yang telah engkau lumpuhkan itu. Aku peringatan untuk mengetrapkan seluruh ilmumu dan seluruh aji jaya kawijayan yang telah engkau kuasai, agar selembar nyawamu yang sama sekali tidak berharga itu bisa diselamatkan. Namun terus terang aku meragukan keselamatanmu.”

Ki Jayaraga tersenyum menanggapi ucapan calon lawannya itu. Maka jawabnya kemudian sambil melangkah ke tempat yang agak lapang dan jauh dari Ki Waskita dan kawan-kawan, “Aku sangat tersanjung mendapat kehormatan menghadapi salah satu murid perguruan Singo Barong. Terima kasih saran Ki Sanak. Namun aku juga berhak memberikan saran. Jangan ragu-ragu untuk menumpahkan seluruh ilmu yang telah Ki Sanak kuasai walaupun lawan Ki Sanak kali ini adalah seorang tua bangka. Untuk itu jagalah nama baik perguruanmu. Jangan sampai perguruan Singo Barong yang terkenal itu justru akan berubah menjadi perguruan Singo ompong!”

Merah padam wajah Srenggi. Tanpa memberikan peringatan terlebih dahulu, tiba-tiba serangan pertamanya pun datang membadai melanda Ki Jayaraga. Namun orang tua itu telah siap. Dengan lincahnya dia segera meloncat menghindar.

Namun Srenggi ternyata tidak membiarkan begitu saja lawannya terlepas pada serangan pertamanya. Dengan berputar setengah lingkaran dan bertumpu pada salah satu kakinya, kaki yang lain ternyata telah menyambar dagu Ki Jayaraga.

Ki Jayaraga agak terkejut melihat kesigapan serangan lawan. Dengan sedikit merendahkan tubuh, sambaran kaki lawan itu lewat sejengkal di atas kepalanya. Kemudian dengan mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, tangan kanannya dengan jari-jari merapat meluncur ke arah ulu hati. Sementara tangan kirinya disilangkan di depan dada.

Murid utama perguruan Singo Barong itu sama sekali tidak terkejut. Dengan memiringkan tubuhnya, serangan lawan pun mengenai tempat kosong. Sebagai gantinya tangan kanan Srenggi terayun deras memukul tengkuk.

Terlihat sebuah senyum di sudut bibir Ki Jayaraga. Guru Glagah Putih yang telah malang-melintang di dunia hitam maupun putih itu masih belum ingin menjajagi kekuatan lawan melalui benturan. Maka sambil merendahkan diri serendah rendahnya, Ki Jayaraga pun kemudian melenting ke samping.

Demikianlah sejenak kemudian kedua orang yang terpaut umur cukup jauh itu segera terlibat dalam pertempuran dahsyat. Silih ungkih singa lena.

Untuk beberapa saat Kiai Singo Barong masih mengamati jalannya perang tanding antara Srenggi dan Ki Jayaraga. Namun pemimpin perguruan Singo Barong itu yakin Srenggi akan dapat mengatasi lawannya. Tingkatan ilmu Srenggi hanya terpaut selapis tipis di bawahnya.

Namun ada satu hal yang membuat pemimpin perguruan Singo Barong itu gelisah. Beberapa saat tadi dia juga mendengar suara desis dari arah halaman belakang. Namun suara itu terdengar sangat lembut dan dalam sekejap telah menghilang dari pendengarannya.

“Suara apakah itu tadi?” bertanya Kiai Singo Barong dalam hati sambil mencoba menduga duga, “Agaknya Ki Rangga telah mengenal suara itu. Terbukti dia segera melangkah pergi.”

Dalam pada itu Gandhung dan Gentho yang melihat kakak seperguruannya telah terlibat dalam sebuah pertempuran segera berpaling ke arah gurunya. Namun tampaknya Kiai Singo Barong masih menimbang nimbang. Pemimpin perguruan Singo Barong itu masih belum yakin dengan kemampuan salah seorang muridnya itu untuk menghadapi Ki Waskita, orang yang menurut pengamatannya mempunyai sejenis ilmu yang dapat menipu pandangan mata lawan. Membuat ujud-ujud semu yang membingungkan.

“Dalam sebuah pertempuran yang sebenarnya, bayangan semu itu akan dapat mempengaruhi pemusatan nalar dan budi,” membatin Kiai Singo Barong kemudian, “Gandhung dan Gentho memang tidak akan dengan mudah tertipu oleh bentuk-bentuk semu. Namun dalam pertempuran yang sebenarnya, jika lawan dapat menggunakan kesempatan serta memilih saat yang tepat untuk menciptakan bentuk-bentuk semu, tentu penalaran mereka akan terganggu walaupun hanya sekejap. Namun waktu yang hanya sekejap itu akan sangat menentukan dalam sebuah lingkaran perang tanding orang-orang yang berilmu tinggi.”

Namun Kiai Singo Barong tidak sempat berangan angan terlampau jauh. Tiba-tiba saja Gandhung telah melangkah lebar sambil berdesis, “Guru, aku memilih melawan orang yang sudah sangat tua itu. Aku tahu dia mampu melemparkan bentuk-bentuk semu untuk sekedar mengelabui kanak-kanak. Barangkali saat ini adalah kesempatan terakhir kakek tua itu untuk bermain main. Aku akan melayaninya sampai dia merasa menyesal telah bertemu dengan aku.”

Gurunya tidak menjawab. Dipandanginya saja langkah Gandhung yang sedikit tergesa menuju ke hadapan Ki Waskita.

Ki Waskita yang melihat salah satu murid Singo Barong itu mendekatinya segera tanggap. Ayah Rudita itu pun kemudian segera menyongsongnya dengan sebuah senyum yang lebar.

“Ah, ternyata aku masih mendapat kehormatan untuk disejajarkan dengan orang-orang muda,” berkata Ki Waskita kemudian sesampainya dia di hadapan Gandhung, “Sebenarnyalah aku lebih suka duduk-duduk di pendapa sambil menikmati udara pagi dengan semangkuk wedang sereh dan ketela rebus.”

Gandhung mengerutkan keningnya. Dipandanginya Ki Waskita dari ujung kepala sampai kaki. Sejenak murid kedua perguruan Singo Barong itu menjadi heran melihat orang tua itu memakai ikat pinggang rangkap, walaupun salah satunya terlihat lebih kecil.

“Orang tua yang aneh,” membatin Gandhung dalam hati sambil kembali melihat ke arah pinggang Ki Waskita, “Orang tua ini terlihat tidak membawa senjata, sebuah keris atau apapun yang bisa di sembunyikan di balik bajunya. Aku justru bercuriga dengan ikat pinggang yang rangkap itu.”

Bersambung ke bagian 2

13 Responses

  1. Kapan kelanjutan nya ini? STSD jilid 22??

  2. Mantul Mbah..

  3. Kulo niki senenge mung maos mas Kyai,dados mboten saget komen. Pokoke lancar critane yo seneng😊🙏🙏🙏

  4. Lanjut Mbah..

  5. Tetap setia menunggu mbah Man….kelihatannya sudah mulai “IN” nih…..tetap semangat

  6. STSD-21 bagian dua sudah tersedia, silahkan dibaca.

  7. Jilid 22 sudah terbit kah

  8. wah saya nunggu sampai banyak dulu aja ah, biar marem bacanya

  9. Lanjut dong,..please..!

  10. Bagian tiga sudah diwedar. Monggo, kisanak yang akan membacanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s