STSD-22

kembali ke STSD-21 | lanjut ke STSD-23

 

 

Bagian 1

UNTUK beberapa saat Ki Rangga justru telah membeku di tempatnya. Memang orang yang sedang duduk membelakanginya di dalam lumbung itu sepintas mirip dengan gurunya. Namun Ki Rangga segera teringat kembali dengan pemomong Pangeran Pati Mataram, yang sampai saat ini jati dirinya masih belum terungkap.

“Jika aku tidak salah, orang ini juga yang pernah aku lihat sewaktu di lemah Cengkar,” membatin Ki Rangga kemudian.

Ingatan Ki Rangga pun segera melayang ke peristiwa di lemah Cengkar. Seseorang yang sangat mirip gurunya terlihat sedang berjalan menjauhi lemah Cengkar bersama Raden Mas Rangsang dan Rara Anjani. Walaupun saat itu Ki Rangga hanya dapat melihat dari kejauhan serta dari arah belakang.

“Pada awalnya pun aku juga sempat menyangka orang itu adalah guru,” Ki Rangga melanjutkan angan angannya, “Ternyata dia adalah Ki Tanpa Aran, pemomong Raden Mas Rangsang atas saran dan petunjuk dari Kanjeng Sunan.”

“Bahkan Ki Patih Mandaraka sendiri telah dibuat penasaran dengan jati diri Ki Tanpa Aran,” membatin Ki Rangga kembali sambil terus mengawasi orang yang berada di dalam lumbung padi itu.

Semakin lama Ki Rangga meneliti orang itu, Ki Rangga pun ternyata telah menjadi ragu ragu dengan pengamatannya sendiri.

“Guru selalu menggunakan kain gringsing sehingga orang-orang pun menyebutnya Kiai Gringsing,” membatin Ki Rangga dengan jantung yang berdegup kencang, “Namun orang ini tidak memakai kain gringsing. Hanya cara berpakaian serta cara menggunakan ikat kepalanya saja yang sangat mirip. Demikian juga bentuk tubuhnya jika dilihat dari arah belakang.”

Semakin lama Ki Rangga pun semakin dihinggapi keragu raguan. Pengamatannya yang hanya sekilas dan tergesa gesa tadi ternyata telah membuatnya ragu ragu.

“Memang banyak orang yang jika dilihat sepintas dari belakang sangat mirip satu dengan lainnya. Namun jika kita cermati lebih teliti, ternyata mereka orang-orang yang berbeda,” berkata Ki Rangga kemudian dalam hati sambil menarik nafas dalam-dalam.

Tiba-tiba panggraita Ki Rangga yang sangat tajam melebihi orang-orang kebanyakan telah menangkap sebuah desir yang sangat mencurigakan. Arah gerakan yang sangat lembut itu berasal dari gerumbul dan semak belukar di samping perigi.

Untuk beberapa saat Ki Rangga tertegun. Hatinya menjadi sedikit bimbang. Di satu sisi Ki Rangga ingin bertemu dengan orang yang sedang duduk bersila menunggui Ratri di dalam lumbung padi itu, namun di sisi lain, gerakan yang sangat lembut dari arah samping perigi itu telah menarik perhatiannya.

Namun Ki Rangga yang pada dasarnya berotak sangat cemerlang itu segera dapat menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa yang lainnya.

“Tentu ada hubungannya antara bunyi isyarat yang mirip dengan desis ular itu dengan keberadaan orang di dalam lumbung itu,” membatin Ki Rangga sambil mundur beberapa langkah, “Mungkin orang yang berada di dalam lumbung itu, siapapun dia, ingin memberitahu jika di halaman belakang ini telah hadir seseorang yang perlu mendapat perhatian.”

Berpikir sampai disitu, Ki Rangga segera dapat mengambil sebuah kesimpulan. Kedatangannya ke halaman belakang ini sangat ditunggu karena mungkin ada pihak lain yang sangat berkepentingan dengan dirinya dan perlu mendapat perhatian.

“Aku akan melihat orang yang berada di dekat pakiwan itu terlebih dahulu,” membatin Ki Rangga selanjutnya sambil surut ke belakang, “Siapapun yang menunggui Ratri, aku percaya tidak akan terjadi hal hal yang tidak diinginkan. Sebaliknya orang yang bersembunyi di balik pakiwan itu mungkin akan sangat berbahaya jika tidak mendapat perhatian khusus.”

Demikianlah akhirnya Ki Rangga memutuskan untuk melihat terlebih dahulu siapa yang sedang berada di balik gerumbul di samping pakiwan itu.

Dengan sangat hati-hati dan tidak meninggalkan kewaspadaan , Ki Rangga pun segera melangkah menuju ke pakiwan.

Namun alangkah terkejutnya Agul Agulnya Mataram itu. Sesampainya dia di samping perigi, jantung Ki Rangga pun rasa rasanya bagaikan terlepas dari tangkainya. Dengan sangat jelasnya dia dapat melihat keadaan di balik gerumbul perdu serta semak belukar itu.

“Pertapa tua itu,” gumam Ki Rangga tanpa sadar sambil berdiri mematung. Pandangan matanya pun tak lepas dari sesosok tubuh tua renta yang terbalut kain lusuh sedang duduk bersila dengan mata terpejam sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Agaknya orang tua renta itu mendengar gumam Ki Rangga sehingga telah membuka sepasang mata tuanya. Sebuah senyum pun tampak tersungging di bibirnya yang keriput.

“Selamat datang Ki Rangga Agung Sedayu, senapati pasukan khusus dan sekaligus Agul Agulnya Mataram, murid utama perguruan orang bercambuk yang merupakan pewaris perguruan Windujati, perguruan yang pernah bersinar di jaman kerajaan Majapahit,” gumam orang tua renta itu sambil mengangguk anggukkan kepalanya. Pandang matanya pun tak pernah lepas dari wajah Ki Rangga.

Ki Rangga yang mendapat perlakuan seperti itu menjadi sedikit rikuh dan ewuh pekewuh. Sambil menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan getar di dalam dadanya, Ki Rangga pun kemudian menerobos semak dan belukar untuk kemudian ikut

duduk bersila beberapa langkah di hadapan orang tua renta itu. 3

“Mohon di maafkan Maharsi,” berkata Ki Rangga kemudian sambil menganggukkan kepalanya dalam-dalam, “Kita memang belum pernah berjumpa apalagi berkenalan. Namun aku sudah banyak mendengar cerita tentang Maharsi dari Ki Jayaraga.”

“O, Jayaraga tua itu,” terdengar sang Maharsi tertawa renyah. Lanjutnya kemudian, “Aku mengenalnya sewaktu dia masih muda. Seorang pemuda yang giat menuntut ilmu sampai jauh di pantai laut Selatan. Aku mengenalnya sebagai Jayaraga muda yang bernama Pradapa, pemuda yang sedikit sombong dan terlalu membanggakan perguruannya. Tapi itu memang tidak salah. Setiap murid memang wajib membanggakan perguruannya.”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Sejauh itu Ki Rangga masih belum dapat menangkap apa sebenarnya keinginan pertapa tua itu menjumpainya di rumah Ki Dukuh.

“Nah, Ki Rangga,” berkata sang Maharsi selanjutnya setelah sejenak mereka terdiam, “Engkau tentu sudah mendapat pesanku lewat Jayaraga beberapa saat yang lalu,” sang Maharsi berhenti sebentar. Sambil memandang tajam, dia melanjutkan, “Tentu engkau sudah paham maksudku. Biarlah urusan murid selesai sampai di tingkat murid itu sendiri, sedangkan urusan antar guru, marilah kita selesaikan sampai tuntas.”

Dada Ki Rangga berdesir tajam. Bukan karena takut akan kedahsyatan ilmu pertapa tua itu. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, Ki Rangga sudah merasa jemu dengan dendam yang selalu membelit dalam setiap langkah kehidupannya.

“Mohon dimaafkan Maharsi,” berkata Ki Rangga kemudian sambil beringsut sejengkal dan membetulkan letak kain panjangnya, “Sejujurnya aku sudah lelah dengan lingkaran dendam ini. Seakan akan dendam kesumat itu mengejarku kemana pun aku melangkah. Sebenarnyalah jika kita mau merenung dan menilai diri kita sendiri, dendam itu sebenranya tidak akan berkesudahan. Dendam itu akan terus berlanjut turun temurun sehingga sepanjang hidup kita, serta anak turun kita nantinya tidak akan pernah berhenti membalas dendam. Hidup kita menjadi tidak berguna bagi sesama karena sepanjang hayat yang kita kejar hanyalah bagaimana caranya bisa menuntaskan dendam para leluhur kita.”

Sang Maharsi tertawa pendek mendengar uraian Ki Rangga. Jawabnya kemudian, “Ki Rangga, aku tidak pernah menuntut balas apalagi dengan didasari dendam kesumat yang tak beralasan. Aku menjumpaimu bukan untuk membalas dendam atas kematian anak angkatku yang telah aku anggap sebagai anak kandungku sendiri. Namun yang aku tuntut dari diri Ki Rangga adalah lebih dari sekedar pembalasan dendam. Yang aku tuntut adalah tanggung jawabmu selaku guru dan sekaligus pemimpin rombongan yang telah mendapat tugas dari Mataram.”

Ki Rangga tertegun. Berbagai tanggapan pun bergolak dalam benaknya. Selama ini yang terjadi adalah pengaburan antara permintaan tanggung jawab dengan pembalasan dendam. Setiap peristiwa yang melibatkan dirinya baik dalam sebuah peperangan maupun perselisihan secara pribadi, penyelesaiannya selalu berujung pada perang tanding yang berakibat pada munculnya dendam baru.

“Mohon dimaafkan Maharsi,” kembali Ki Rangga mencoba menanggapi, “Bagi kebanyakan orang, adalah sangat sulit untuk membedakan antara penyelesaian sebuah dendam dengan meminta sebuah pertanggung jawaban. Hampir semua orang menggunakan dalih meminta sebuah pertanggung jawaban dengan tujuan melepaskan dendam yang telah menggunung.”

Kembali terdengar sang Maharsi tertawa renyah. Katanya kemudian di sela-sela tawanya, “Alangkah dangkalnya penalaranmu Ki Rangga. Tidak setiap dendam dapat diselesaikan dengan hanya meminta sebuah pertanggung jawaban. Demikian juga meminta sebuah pertanggung jawaban itu tidak harus menjadi sarana sebuah ajang balas dendam.”

Kerut merut yang dalam tampak menghiasi kening Ki Rangga. Sambil menarik nafas dalam-dalam untuk melonggarkan dadanya, Ki Rangga pun kemudian menjawab, “Mohon dimaafkan Maharsi, pengetahuan ku memang sangat dangkal. Jika Maharsi berkenan, berilah petunjuk kepadaku perbedaan tentang balas dendam dan permintaan sebuah tanggung jawab itu.”

“Ah, itu terlalu remeh bagiku Ki Rangga,” sahut sang Maharsi dengan serta merta, “Engkau tidak usah meminta petunjuk padaku. Dengan sebuah perenungan yang dalam, aku yakin engkau sebagai murid perguruan orang bercambuk akan mampu untuk menelusuri perbedaan keduanya. Tentu saja engkau harus melihat pada sebuah cermin yang bersih jika ingin melihat bayangan dirimu sendiri seutuhnya.”

Kembali terlihat kening Ki Rangga berkerut. Diam-diam Ki Rangga menjadi sedikit heran. Berbeda dengan kebanyakan orang yang menuntut tanggung jawab terhadap kematian gurunya, anaknya atau bahkan ayahnya dengan kata-kata yang keras dan cenderung kasar. Bahkan tak jarang mereka menggunakan cara-cara licik dengan tujuan untuk menjebaknya. Namun sang Maharsi ini terlihat berbicara tanpa ada muatan kemarahan dalam setiap tutur katanya, bahkan dengan sangat tenangnya dia menanggapi setiap ucapan Ki Rangga. Tak jarang tawa yang renyah serta senyum selalu menghiasi bibirnya.

“Nah, Ki Rangga. Apakah Ki Rangga sudah siap?” bertanya sang Maharsi selanjutnya membangunkan lamunan Ki Rangga.

Dada Ki Rangga berdesir kembali, kali ini lebih tajam. Beberapa saat yang lalu Ki Waskita baru saja menyarankan untuk menyempurnakan aji pengangen-angen dengan laku yang cukup berat dan dia masih berusaha untuk mengatur waktu. Ternyata sang Maharsi itu sekarang sudah berada di depan matanya untuk melaksanakan dendamnya walaupun dia menyangkal jika pertemuan itu dikatakan sebagai ajang balas dendam.

“Mohon dimaafkan Maharsi,” jawab Ki Rangga dengan suara tenang dan dalam, “Apapun yang terjadi, siap ataupun tidak siap, sebagai guru Glagah Putih dan sekaligus pemimpin rombongan, aku siap menerima tanggung jawab yang memang secara sadar dan ikhlas telah aku bebankan pada pundakku sendiri.”

“Bagus!” seru sang Maharsi dengan gembira, “Belum pernah aku berjumpa dengan orang sebaik dan sejujur dirimu Ki Rangga. Aku minta engkau benar-benar memegang ucapanmu itu. Aku hanya meminta keikhlasanmu untuk menerima nasibmu ini.”

Selesai berkata demikian, sebelum Ki Rangga sempat menggunakan nalarnya untuk mencerna maksud sang Maharsi, guru orang yang menyebut dirinya sebagai Pertapa goa Langse itu segera menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Kali ini jantung Ki Rangga rasa rasanya bagaikan terlepas dari tangkainya. Perlahan lahan dari ubun-ubun sang Maharsi muncul asap tipis kemerah merahan.

Ki Rangga benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Sementara asap yang muncul dari ubun-ubun sang Maharsi itu semakin tebal dan berputar di atas kepalanya membentuk sebuah lingkaran yang semakin lama semakin membumbung tinggi.

Dalam pada itu, di halaman rumah Ki Dukuh Klangon, pertempuran telah berlangsung semakin sengit. Ki Waskita yang melihat Ki Rangga menyelinap ke dalam rumah menjadi sedikit gelisah. Apalagi ketika lamat-lamat pendengarannya yang sangat tajam telah mendengar kembali isyarat dari arah halaman belakang walaupun hanya sekilas.

“Isyarat itu lagi,” gumam Ki Waskita dalam hati sambil terus memutar ikat pinggang di tangan kanannya. Orang tua itu tidak ingin jika senjata lawannya yang jauh lebih muda itu dapat menembus pertahanannya.

“Aku harus segera mengakhiri pertempuran ini,” membatin Ki Waskita dalam hati, “Mungkin angger Sedayu sedang menghadapi keadaan yang tak terduga.”

Berpikir sampai disitu ayah Rudita itu pun kemudian segera mempercepat serangannya. Diputarnya senjata ditangan kanan itu semakin cepat. Sesekali ujung ikat pinggang yang berupa timang yang terbuat dari baja pilihan itu mematuk-matuk tubuh lawannya dari sudut-sudut yang tak terduga.

Gandhung menggeram keras. Dicobanya untuk mengimbangi kecepatan gerak lawannya. Namun murid kedua dari perguruan Singo Barong itu harus mengakui kecepatan dan kekuatan lawannya.

Semakin lama pertahanan Gandhung rasa rasanya semakin ringkih dan mengalami tekanan yang hampir tak tertahankan. Bahkan di satu kesempatan, ujung ikat pinggang yang berupa timang dari baja pilihan itu kembali menyentuh bagian tubuhnya. Kali ini di bagian lambung, bagian yang paling lemah dari tubuhnya. Gandhung pun terhuyung ke kanan.

Ketika Ki Waskita berusaha mengejar, ternyata Gandhung masih sempat meloncat beberapa kali ke belakang untuk menghindari serangan susulan. Demikian Gandhung telah tegak kembali di atas kedua kakinya yang renggang, tampak darah mengucur dari lambung kirinya.

“Iblis tua!! Aku benar-benar tidak akan mengampuni nyawamu kali ini,” geram Gandhung kemudian sambil tangan kirinya mendekap erat lukanya, “Dengan kerisku ini, akan aku lobangi dadamu sampai tembus punggung!”

Selesai berkata demikian, tampak Gandhung sejenak memusatkan segenap nalar dan budinya. Dengan tangan kiri tetap mendekap lambung kirinya, tangan kanannya pun terangkat tinggi-tinggi. Tampak keris Kiai Kebo Lajer itu bagaikan berpijar.

Ki Waskita segera menyadari bahwa pertempuran itu harus segera diakhiri. Orang tua yang sudah kenyang makan asam garamnya kehidupan itu hanya memerlukan waktu sekejab untuk memusatkan nalar dan budinya. Ketika dengan teriakan menggelegar lawannya kemudian meloncat sambil mengayunkan senjatanya, Ki Waskita pun segera menyambut dengan ayunan deras senjata ikat pinggang di tangan kanannya.

Yang terjadi kemudian adalah sebuah benturan yang dahsyat. Keris Kiai Kebo Lajer di tangan Gandhung terlempar beberapa langkah dan jatuh tergeletak di tanah. Sedangkan pemiliknya pun mengalami nasib yang sama. Tubuhnya seperti membentur dinding baja setebal dua jengkal. Dengan teriakan dan umpatan yang kasar, tubuh Gandhung pun terlempar ke belakang dan jatuh terjengkang di atas tanah.

Masih terdengar erangan beberapa saat sebelum akhirnya nyawa Gandhung meninggalkan raganya.

Dalam pada itu Ki Waskita yang melihat lawannya sudah tidak bergerak lagi, tidak mau membuang waktu. Sambil mengenakan kembali ikat pinggang dan ikat kepalanya, orang tua itu pun segera bergegas meloncat berlari menyeberangi pendapa dan kemudian hilang di balik pintu pringgitan.

Beberapa tombak jauhnya dari lingkaran pertempuran Ki Waskita, Ki Jayaraga pun tampaknya ingin mengikuti jejak Ki Waskita. Ketika melihat lawan tandangnya semakin nggegirisi, Ki Jayaraga pun segera memutuskan untuk melepaskan aji sigar bumi.

Namun tampaknya Srenggi sudah melihat gelagat lawannya yang telah meloncat ke belakang mengambil jarak. Murid pertama perguruan Singo Barong itu pun segera mengambil sikap.

Sejenak kemudian dari sepasang telapak tangannya yang terbuka lebar-lebar, dua bola api kecil berwarna merah kehitaman pun meluncur menerjang Ki Jayaraga.

Ki Jayaraga yang sudah siap dengan aji sigar buminya pun tidak mau menunda nunda lagi. Dengan kedua tangan teracu ke depan, seleret cahaya menyilaukan melesat menghantam kedua bola api yang meluncur ke arahnya.

Yang terjadi kemudian adalah sebuah ledakan yang dahsyat. Suaranya menggelegar mengejutkan orang-orang yang sedang bertempur di halaman rumah Ki Dukuh itu. Akibatnya ternyata telah membuat jantung Kiai Singo Barong meleleh. Sekali lagi murid yang dibangga-banggakannya telah terlempar ke belakang dan akhirnya jatuh di atas tanah yang berdebu.

Tubuh Srenggi pun terbanting keras sebelum akhirnya tergolek diam, mati.

“Persetan kalian orang-orang Mataram!” teriak Kiai Singo Barong demi melihat kedua muridnya sudah tergeletak tak bernyawa, “Akan aku bunuh kalian semua!”

Namun teriakan pemimpin perguruan Singo Barong itu terasa sumbang. Dengan kekuatan yang masih lengkap saja dia dan murid-muridnya belum mampu mengimbangi kekuatan rombongan Ki Rangga Agung Sedayu, bahkan Ki Rangga sendiri belum turun ke medan. Apalagi dengan berkurangnya dua kekuatan inti perguruan Singo Barong. Akhir dari pertempuran di halaman rumah Ki Dukuh itu seolah olah sudah dapat ditebak.

Namun Kiai Singo Barong pantang menyerah. Sebagaimana murid utamanya, dia segera berteriak keras dengan kedua telapak tangan yang terbuka dan diangkat tinggi-tinggi. Sejenak kemudian bola-bola api sebesar buah kelapa berterbangan mengejar lawannya.

Tidak sebagaimana kemampuan muridnya yang hanya mampu melepaskan bola-bola api yang meluncur ke arah lawan dan kemudian meledakkan sasaran. Bola-bola api Kiai Singo Barong lebih besar dan mengejar lawan kemana pun lawan bergerak.

Ki Bango Lamatan terkejut bukan alang kepalang. Ketika sebuah bola api yang sebesar buah kelapa itu meluncur ke arahnya, dengan cepat dia meloncat ke samping. Namun yang terjadi kemudian benar-benar telah membuat orang yang pernah menjadi kepercayaan Panembahan Cahya Warastra itu terperanjat. Bola-bola api yang tidak mengenai sasarannya itu justru telah berbelok dan kembali meluncur ke arahnya.

“Gila!” geram Ki Bango Lamatan dalam hati sambil kembali berloncatan semakin cepat untuk menghindari terjangan bola-bola api itu.

Dalam pada itu Ki Jayaraga yang telah selesai dengan lawannya sudah tidak dapat menahan diri lagi. Dengan beberapa kali loncatan saja tubuhnya telah menghilang ke balik pintu pringgitan.

Ketika Ki Jayaraga sedang melewati dapur, tampak kening guru Glagah Putih itu berkerut-merut. Seingatnya kedua cantrik Singo Barong yang telah dilumpuhkannya itu tergolek demikian saja di atas lantai dapur yang sedikit kotor, tidak terikat di salah satu tiang yang ada di tengah-tengah dapur.

“Aneh,” desis Ki Jayaraga sambil mengamat amati kedua cantrik yang duduk saling membelakangi dan terikat dengan kain panjang pada salah satu tiang yang ada di dapur.

“Tentu Ki Rangga yang melakukannya,” gumam Ki Jayaraga selanjutnya sambil melangkah meninggalkan dapur, “Ki Rangga memang selalu bertindak hati-hati dan menggunakan nalarnya.”

Ketika Ki Jayaraga kemudian melewati pintu dapur yang sudah tidak berdaun lagi, jantung orang tua itu pun bagaikan terlepas dari tangkainya. Beberapa langkah di depan pintu dapur tampak Ki Waskita sedang berdiri tegak sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Iblis tua!! Aku benar-benar tidak akan mengampuni nyawamu kali ini,” geram Gandhung kemudian sambil tangan kirinya mendekap erat lukanya,……………..

Ki Jayaraga pun segera maklum bahwa Ki Waskita sedang berusaha mengamati halaman belakang rumah Ki Dukuh itu dengan mata batinnya.

Sebenarnya Ki Jayaraga ingin mengikuti jejak Ki Waskita untuk mencari keberadaan Ki Rangga dengan mata batinnya. Namun baru saja dia akan memulainya, tampak Ki Waskita sudah mengurai kedua tangannya dan menegakkan kepalanya kembali.

Sambil menarik nafas panjang, Ki Waskita pun kemudian berpaling ke arah Ki Jayaraga sambil berbisik, “Ada dua orang yang berilmu tinggi sedang mengadu ilmu di samping perigi. Di antara semak belukar itu.”

Selesia berkata demikian, Ki Waskita segera menunjuk tempat yang dimaksud.

Berdesir dada Ki Jayaraga sambi memandang ke arah yang ditunjukkan oleh Ki Waskita. Jantungnya pun semakin berdentangan ketika pandangan matanya yang tajam itu melihat dari sela sela gerumbul perdu serta dedauana semak belukar bayangan dua orang yang sudah sangat di kenalnya.

“Ki Rangga dan Maharsi!” bisik Ki Jayaraga dengan nada sedikit bergetar. Agaknya Ki Jayaraga sudah tidak dapat menahan diri lagi. Segera saja dia memberi isyarat kepada Ki Waskita untuk mendekat.

Ki Waskita pun mengangguk tanda setuju. Dengan langkah mengendap endap keduanya pun kemudian mendekati gerumbul dan semak belukar yang terletak di samping pakiwan.

Dalam pada itu Ki Rangga yang melihat asap di atas ubun ubun Maharsi semakin tebal dan membentuk lingkaran kecil yang berputaran membubung keatas menjadi semakin berdebaran. Namun Ki Rangga tidak mau membuang waktu walaupun hanya sekejap, karena yang sekejap itu dapat berarti maut.

Dengan segera disilangkan kedua tangannya di depan dada. Ditrapkan ilmu kebal terlebih dahulu setinggi tingginya. Sejenak kemudian udara di sekitar Ki Rangga pun mulai terasa menghangat.

“Engkau akan melawan Ki Rangga?” tiba-tiba sang Maharsi menegakkan kepalanya sambil membuka kedua matanya, “Pasrahlah terhadap cakra manggilinganing jaman yang akan memutarmu seiring dengan putaran nasibmu. Itu lebih baik dari pada engkau melawan dan akhirnya justru akan hancur menjadi debu tergilas cakra manggilinganing jaman dan akhirnya menjadi tidak berguna sama sekali.”

Selesai berkata demikian sang Maharsi segera menjulurkan ke dua tangannya ke depan dengan sepasang telapak tangan yang terbuka.

“Aku akan membersihkan terlebih dahulu sekujur tubuhmu dari ilmu-ilmu sebelumnya yang telah engkau kuasai. Ilmu-ilmu itu tidak bermanfaat bagimu dan hanya mengotori aliran darahmu saja,” Maharsi berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Setelah tubuhmu kosong, aku akan mengisi ilmu dari aliran perguruanku sehingga engkau akan lahir sebagai manusia baru dengan aliran yang murni dari perguruanku.”

Terkejut bukan alang kepalang Ki Rangga mendengar penjelasan sang Maharsi. Tanyanya kemudian tanpa meninggalkan kewaspadaan sekejap pun, “Mohon dimaafkan sang Maharsi, apakah ini merupakan ujud tanggung jawab yang harus aku pikul sehubungan dengan balas dendam atas kematian putra angkat Maharsi?”

“Sekali lagi aku katakan, Ki Rangga. Ini bukan ajang balas dendam!” jawab sang Maharsi dengan suara yang berat dan dalam penuh wibawa, “Aku hanya menuntut tanggung jawabmu yang telah memutus aliran ilmu perguruanku sehubungan dengan matinya murid sekaligus anak angkatku. Engkau harus menjadi penerus ilmuku namun aku menuntut pemurnian ilmu perguruanku tanpa tercampuri oleh ilmu-ilmu yang lain yang bagiku sama sekali tidak berguna,” sang Maharsi berhenti sejenak. Sambil menggetarkan kedua lengannya dia melanjutkan, “Nah, bersiaplah untuk mengosongkan tubuhmu dari kekotoran-kekotoran yang tidak berguna itu.”

Sejenak kemudian terasa serangkum hawa dingin menyergap sekujur tubuh Ki Rangga. Perlahan tapi pasti Ki Rangga pun merasakan seolah olah seluruh kekuatan yang tersimpan di dalam dirinya tersedot oleh kekuatan yang tidak kasat mata.

“Gila!” geram Ki Rangga sambil berusaha berjuang sekuat tenaga menahan kekuatan di dalam dirinya yang ditarik oleh kekuatan yang tidak kasat mata itu.

Namun kekuatan itu begitu dahsyatnya mencengkeram sekujur tubuhnya. Ki Rangga benar-benar dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan.

Tiba-tiba terlintas dalam benak Ki Rangga sebuah pemikiran yang cemerlang untuk menghindarkan diri dari ilmu lawannya yang sangat aneh itu.

“Aku akan langsung menyerang sumber yang menyebabkan kekacauan semua ini,” membatin Ki Rangga kemudian.

Berpikir sampai disitu, Ki Rangga segera mengetrapkan puncak ilmunya melalui sorot matanya. Namun sepercik keragu-raguan melintas di benaknya, sehingga Ki Rangga tidak mengetrapkan ilmu sorot matanya sampai ke puncak.

“Biarlah ini hanya sebagai peringatan bagi sang Maharsi untuk tidak berbuat sewenang wenang kepada setiap orang tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu,” berkata Ki Rangga dalam hati selanjutnya.

Sejenak kemudian, kepala Ki Rangga yang tertunduk itupun segera tegak kembali. Ketika Ki Rangga kemudian membuka kedua matanya, dua larik cahaya kebiruan meluncur dan langsung menembus dada menyentuh jantung. Jantung sang Maharsi pun bagaikan di remas oleh kekuatan yang maha dahsyat.

Terdengar sang Maharsi berteriak kaget. Sambil tetap dalam keadaan duduk bersila, dia melontarkan tubuhnya ke belakang sejauh jauhnya untuk memudarkan pengaruh sorot mata Ki Rangga.

“Anak iblis!” geram sang Maharsi kemudian, “Ternyata engkau benar-benar telah melawan, Ki Rangga!”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Dengan sendirinya pengaruh ilmu sang Maharsi yang nggegirisi itu memudar sejalan dengan pudarnya pemusatan nalar dan budi sang Maharsi.

“Mohon dimaafkan sang Maharsi,” berkata Ki Rangga kemudian sambil menganggukkan kepalanya dalam-dalam, “Bukan maksudku untuk kadug wani kurang deduga kepada Maharsi. Namun sejujurnya aku tetap ingin menjadi pewaris perguruan Windujati.”

“Omong kosong!” kembali terdengar sang Maharsi menggeram.

Wajahnya yang biasanya sareh itu tampak merah padam.

Namun sebelum sang Maharsi melanjutkan kata-katanya, terdengar langkah-langkah orang menuju ke tempat itu. Walaupun langkah itu sudah disamarkan sedemikian rupa, namun sang Maharsi dan Ki Rangga tetap dapat mendengarnya.

“Hem,” desah sang Maharsi kemudian, “Aku tidak mau Pradapa ikut campur urusanku. Lebih baik aku pergi,” sang Maharsi berhenti sejenak. Kemudian sambil memandang tajam ke arah Ki Rangga dia berkata, “Tapi ingatlah Ki Rangga! Kebaikan hatiku untuk menitipkan ilmu perguruanku kepadamu ternyata telah engkau tolak mentah-mentah. Itu sama saja dengan merang kampuh jingga kepadaku. Tunggulah! Suatu saat aku akan menjumpaimu kembali. Namun di saat itu aku tidak akan menitipkan ilmu lagi kepadamu, tapi aku akan mengambil nyawamu.”

Selesai berkata demikian tiba-tiba saja tubuh yang terlihat sangat tua renta itu menghilang dari pandangan Ki Rangga bersamaan dengan suara langkah-langkah kaki dan tangan-tangan yang menyibak gerumbul serta batang-batang perdu.

“Angger Sedayu?” terdengar sapa suara seseorang yang sudah sangat dikenal Ki Rangga.

“Ki Rangga?” suara yang lain terdengar menimpali.

Ki Rangga tersenyum sambil bangkit berdiri. Dikibas-kibaskan kain panjangnya yang terkena tanah. Sambil berpaling ke arah suara gemerisik yang datang dia menjawab, “Aku di sini, Ki. Aku tidak apa-apa.”

Ternyata yang datang kemudian itu adalah Ki Waskita dan Ki Jayaraga. Wajah Kedua pini sepuh itu tampak menyiratkan kekhawatiran yang sangat terutama Ki Jayaraga.

“Bagaimana ngger?” bertanya Ki Waskita kemudian sesampainya dia di hadapan Ki Rangga, “Apa sebenarnya yang telah terjadi?”

Mendapat pertanyaan seperti itu Ki Rangga justru terkejut bukan buatan. Ingatannya segera kembali ke lumbung padi. Di sana seseorang yang diduga mirip dengan gurunya sedang menunggui Ratri.

Dengan bergegas Ki Rangga pun kemudian melangkah meninggalkan tempat itu sambil berdesis sedikit keras, “Marilah, Ki. Kita lihat keberadaan Ratri.”

Sengaja Ki Rangga menyebut nama Ratri agar kedua orang itu tidak banyak bertanya. Tanpa bertanya lebih lanjut, kedua orang tua itu pun segera bergerak mengikuti langkah Ki Rangga.

Namun alangkah kecewanya Ki Rangga. Sesampainya dia di depan lumbung padi dan melihat ke dalam lumbung dari celah pintu yang terbuka sejengkal, tidak tampak lagi bayangan orang tua yang dicarinya.

Namun Ki Rangga tetap melangkah masuk. Dengan sangat hati-hati dibukanya pintu lumbung padi itu sehingga terbuka lebar. Sekarang tampak jelas di antara tumpukan ikatan bulir-bulir padi dan onggokan keranjang-keranjang yang tertata rapi, sesosok tubuh kecil ramping terbujur diam.

“Ratri,” hampir bersamaan ketiga orang itu telah berdesis.

Dalam pada itu pertempuran di halaman rumah Ki Dukuh sudah mendekati puncaknya. Kiai Singo Barong yang sudah tidak mengekang dirinya lagi telah menciptakan berpuluh puluh bola-bola api panas sebesar buah kelapa yang mengejar lawannya kemana pun dia pergi.

Ternyata Ki Bango Lamatan pun akhirnya telah merambah pada puncak ilmunya. Ilmu yang sudah sangat jarang ditemui saat itu. Ilmu yang bertumpu pada kekuatan untuk menyerap segala bentuk kewadagan di dalam tubuhnya sehingga lawan akan kehilangan arah mencari dirinya.

Demikianlah sejenak kemudian Kiai Singo Barong dibuat terkejut bukan alang kepalang. Tubuh lawannya tiba-tiba saja lenyap dari pandangan matanya.

“Gila!” seru Kiai Singo Barong sambil meloncat mundur beberapa langkah. Kekuatan pancaran bola-bola apinya pun tertahan sejenak.

Dengan segera pemimpin perguruan Singo Barong itu memusatkan segenap nalar dan budinya. Dengan puncak panggraitanya Kiai Singo Barong berusaha untuk mengetahui keberadaan lawan yang sedang bersembunyi dari penglihatan mata wadagnya.

Namun Kiai Singo Barong menjadi berdebar debar ketika panggraitanya tidak mampu meraba keberadaan lawannya.

“Bagaimana Kiai Singo Barong?” tiba-tiba terdengar suara bernada rendah bergulung-gulung di sekitar tempat pertempuran itu, “Apakah Kiai memutuskan untuk menyerah?”

“Persetan!” bentak Kiai Singo Barong sambil berusaha mencari arah sumber suara itu, namun tetap saja gagal.

“Sudahlah Kiai,” kembali terdengar suara bernada rendah itu bergaung di setiap sudut medan pertempuran itu, “Alangkah mudahnya bagiku utuk membunuh Kiai. Cukup dengan sekali serang, aku yakin Kiai tidak akan mampu untuk bertahan,”

Mendidih darah Kiai Singo Barong sampai ke ubun-ubun mendengar sesorah lawannya. Dicobanya sekali lagi untuk mencari arah sumber suara itu, namun tetap saja sia sia.

“Tidak ada jalan lain untuk memperdayai orang ini selain mengetrapkan aji pamungkasku,” berkata Kiai Singo Barong dalam hati sambil merendahkan tubuhnya dengan cara sedikit menekuk kedua lututnya.

Namun terselip sedikit keraguan walau hanya sekilas di dalam hatinya. Aji bledeg sayuta itu sangat berbahaya baik bagi lawan maupun bagi dirinya sendiri. Aji itu sebenarnya adalah jalan terakhir jika dia tidak mampu mengatasi lawannya. Aji yang mengajak lawannya untuk ikut mati sampyuh dalam sebuah perang tanding.

Demikianlah tanpa disadari Ki Bango Lamatan yang masih dalam lindungan aji halimunan, lawannya telah mengetrapkan aji bledeg sayuta sampai ke puncak sehingga tubuhnya telah menggigil keras. Wajahnya menjadi merah padam serta otot-otot di sekujur tubuhnya pun tampak bertonjolan.

Ki Bango Lamatan yang belum menyadari siasat lawan itu dengan perlahan justru telah melangkah mendekat. Tanpa dia sadari dia telah memasuki jarak jangkau aji bledeg sayuta.

Sejenak kemudian dengan teriakan keras menggelegar Kiai Singo Barong membentangkan kedua tangannya ke samping tubuhnya. Terdengar suara ledakan menggelegar bersamaan dengan kilatan lidah api yang menyebar ke segala penjuru dari tubuh Kiai Singo Barong.

Ki Bango Lamatan terkejut bukan alang kepalang. Namun disaat yang sangat gawat itu dia masih sempat berpikir wajar. Dengan sepenuh tenaga dia meloncat ke belakang sejauh jauhnya sambil menghentakkan ilmunya ke arah kilatan lidah api yang menjulur ke arahnya.

Benturan kedua ilmu yang dahsyat itu pun tak terelakkan. Ki Bango Lamatan terlempar beberapa langkah ke belakang dan terhuyung huyung sejenak. Namun dengan beberapa kali loncatan kecil Ki Bango Lamatan pun dapat memperoleh keseimbangannya kembali.

Dalam pada itu Kiai Singo Barong yang mengerahkan segenap ilmunya ternyata telah kehabisan nafas dam tenaga. Benturan ilmunya dengan ilmu Ki Bango Lamatan telah menambah tekanan dalam dadanya.

Sejenak orang tua yang berambut panjang itu bagaikan tercekik. Dengan kedua tangannya dia berusaha menggapai lehernya yang bagaikan tersumbat seonggok pasir. Dicobanya menarik nafas dalam-dalam untuk mengisi rongga dadanya yang terasa tertimbun berbongkah-bongkah batu padas, namun tidak berhasil.

Sejenak tubuh tua itu masih limbung sebentar sebelum akhirnya terhuyung huyung dan jatuh tersungkur di atas tanah yang berdebu.

Dalam pada itu anak murid perguruan Singo Barong yang melihat Gandhung dan Srenggi serta guru mereka telah tersungkur di halaman rumah Ki Dukuh itu hati mereka bagaikan terbakar. Kini tinggal Gentho sebagai saudara tertua yang tersisa.

“Kita berjuang sampai titik darah penghabisan!” teriak Gentho memberi semangat anak murid perguruan Singo Barong yang tersisa. Ketujuh murid-murid Singo Barong itu pun bagaikan kalap menyerang Ki Kamituwa dan kawan-kawan.

Ki Gede Matesih yang menjadi lawan Gentho menjadi berdebar debar. Murid termuda perguruan Singo Barong itu tandangnya semakin liar. Pedang lebar dan panjang di tangannya berputaran dan terayun ayun menimbulkan bunyi siutan angin yang mendebarkan.

Ketika Ki Gede sempat berpaling sekilas ke tempat Ki Bango Lamatan, dada pemimpin perdikan Matesih itu berdesir tajam. Ki Bango Lamatan yang baru saja menyelesaikan lawannya itu ternyata telah meloncat berlari ke pendapa. Sejenak kemudian bayangan orang yang berperawakan tinggi besar itu pun lenyap di balik pintu pringgitan.

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Kini tinggal dia beserta para bebahu perdikan Matesih yang berjuang menghadapi amukan murid-murid Singo Barong.

Selagi Ki Gede dilanda kebimbangan, tiba-tiba lamat-lamat terdengar derap berpuluh puluh ekor kuda berpacu menuju ke tempat itu.

“Tentu bukan sekedar ilmu semu,” membatin Ki Gede dalam hati. Ki Gede berharap segera ada bantuan untuk menyelesaikan pertempuran itu tanpa pertumpahan darah lagi.

Sedangkan Gentho dan kawan kawannya yang juga mendengar derap kaki-kaki kuda itu telah mengumpat umpat. Mereka mengira ada permainan ilmu semu lagi.

Namun yang terjadi kemudian telah mengejutkan Gentho dan kawan kawannya. Begitu orang berkuda pertama yang masuk ke dalam regol rumah Ki Dukuh, ternyata telah disambut teriakan gembira oleh Ki Kamituwa.

“Ki Demang Salam!” teriak Ki Kamituwa penuh kegembiraan. “Hidup Ki Demang salam!” teriak Ki Wiyaga menimpali

“Hidup Mataram!” kembali terdengar teriakan dari salah satu pengawal Matesih.

Ki Gede Matesih yang melihat Ki Demang salam sendiri yang memimpin pasukan berkuda itu telah menarik nafas dalam-dalam. Apalagi ketika Ki Gede mengenali salah satu di antara para penunggang kuda itu adalah Ki Jagabaya dukuh Klangon.

“Nah, anak muda. Menyerahlah!” berkata Ki Gede kemudian sambil tetap bertempur, “Pasukan pengawal kademangan Salam telah datang dan Ki Demang sendiri yang memimpinnya, kalian sudah kehilangan kesempatan sama sekali.”

“Persetan dengan sesorahmu!” geram Gentho sambil mengayun ayunkan senjatanya, “Aku sudah memutuskan untuk tidak mengambilmu sebagai mertua, Ki Gede. Sekarang engkau lebih baik mati saja!”

“Engkau keliru anak muda,” sahut Ki Gede sambil merunduk menghindari sambaran senjata lawan. Sebagai gantinya tombak bermata tiga di tangannya terjulur mengancam dada.

“Menyerahlah!” berkata Ki Gede selanjutnya, “Engkau masih mempunyai kesempatan untuk memperbaiki jalan hidupmu.”

Berdesir dada Gentho. Tanpa sadar dia sedikit mengendorkan serangannya sambil bertanya, “Apakah jika aku menyerah, Ki Gede akan mengambil aku sebagai menantu?”

“Itu terserah kepadamu,” sahut Ki Gede cepat sambil memutar tombaknya, “Aku mempunyai beberapa kerbau betina jika memang engkau menginginkan salah satunya.”

“Iblis laknat jahanam!” bentak Gentho dengan nafas memburu karena pengaruh kemarahan yang sudah mencapai ubun-ubun.

Namun Ki Gede adalah anak murid perguruan Pandan Alas dari cabang gunung kidul. Dengan tenangnya pemimpin perdikan Matesih itu melayani kemarahan lawannya.

Dalam pada itu Ki Demang dan pasukan pengawalnya telah memasuki halaman rumah Ki Dukuh dan mengepung mereka yang sedang bertempur.

Untuk beberapa saat Ki Demang masih mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling. Ketika pandangan matanya kemudian membentur tiga sosok mayat yang malang melintang di halaman itu, jantung Ki Demang pun berdesir tajam.

“Mayat siapakah itu?” bertanya Ki Demang dalam hati sambil menghela kudanya mendekati tempat ke tiga mayat itu tergeletak.

Diam-diam Ki Demang bergidik ngeri ketika melihat bekas pertempuran antara Kiai Singo Barong melawan Ki Bango Lamatan.

“Agaknya di tempat ini baru saja terjadi pertempuran dahsyat antara dua orang sakti,” membatin Ki Demang kemudian sambil meloncat turun dari kudanya dan mengamat amati mayat pemimpin perguruan Singo Barong itu.

“Hati-hati Ki Demang. Menilik ujud kuku-kuku baja itu pasti sangat beracun,” tiba-tiba terdengar suara memperingatkannya dari arah samping. Ketika Ki Demang kemudian berpaling, tampak Ki Jagabaya dukuh Klangon sedang berjalan ke arahnya sambil menuntun kudanya.

“Sebaiknya kuda-kuda ini kita tambatkan di patok-patok sebelah pendapa itu Ki Demang,” berkata Ki Jagabaya dukuh Klangon selanjutnya.

Ki Demang tidak menjawab hanya tampak mengangguk-anggukkan kepalanya sambil bangkit berdiri. Diserahkan kendali kudanya kepada Ki Jagabaya sebelum Ki Demang beranjak untuk memeriksa mayat yang lainnya.

Ketika langkah Ki Demang melewati arena pertempuran Ki Gede melawan Gentho, pemimpin kademangan Salam itu sejenak berhenti. Untuk beberapa saat diikuti jalannya perang tanding antara Ki Gede melawan Gentho itu.

Sesekali tampak kepala Ki Demang terangguk angguk. Walaupun pertempuran itu terlihat sekilas masih seimbang, namun kesabaran dan keuletan Ki Gede sudah tampak akan mendapatkan hasil.

“Lawan Ki Gede itu terlihat hanya mengandalkan kekuatan wadagnya saja,” berkata Ki Demang kemudian dalam hati sambil melangkah terus mendekati mayat Srenggi dan Gandhung, “Ki Gede tinggal menunggu waktu saja untuk menundukkan lawannya yang berangasan itu.”

Dalam pada itu pasukan pengawal kademangan Salam yang melihat pemimpinnya telah turun dari kuda segera mengikutinya. Dengan tangkasnya mereka kemudian berloncatan dari kuda masing-masing dan menambatkan di pepohonan dan batang-batang perdu yang banyak terdapat di halaman rumah Ki Dukuh.

Setelah mengikat kuda masing-masing, para pengawal itu pun segera mencabut senjata dan mulai melibat diri dalam lingkaran pertempuran.

“Menyerahlah!” teriak Ki Wiyaga kemudian sambil memberi isyarat Ki Kamituwa dan kedua pengawal Matesih untuk berpencar agar pengawal kademangan Salam dengan mudah dapat memasuki arena pertempuran untuk membantu mereka.

“Omong kosong!” teriak salah satu cantrik yang tidak berikat kepala. Dibiarkan saja rambut gimbalnya itu terurai menutupi sebagian wajahnya.

“Kalian dapat menangkap kami setelah kami terbujur menjadi mayat!” teriak cantrik yang lain sambil menghentakkan serangannya.

Namun keadaan sekarang telah berbalik. Para pengawal yang berjumlah dua puluh orang itu telah mengurung cantrik-cantrik Singo Barong yang hanya berjumlah tujuh orang.

Hanya dapat hitungan tidak lebih dari sepenginang sirih, murid-murid Singo Barong itu telah terdesak dengan hebatnya. Mereka memang telah berusaha bertempur dengan cara berkelompok, namun jumlah lawan hampir tiga kali lipat sehingga mereka benar-benar mengalami kesulitan.

“Menyerah sajalah!” Ki Kamituwa yang merasa paling tua di antara mereka segera berusaha membujuk dengan kata-kata yang lembut, “Kami bukanlah sekumpulan serigala yang siap mencabik cabik tubuh kalian jika kalian menyerah. Kami sangat menjunjung tinggi paugeran sehingga kalian akan diperlakukan secara adil.”

“Tutup mulut iblismu itu!” bentak salah satu cantrik Singo Barong itu, “Adil menurut kalian akan tetapi akan sangat mengerikan bagi kami. Lebih baik mati dengan senjata tetap di tangan dari pada digantung di alun-alun Mataram dengan kaki dan tangan terikat seperti tak ubahnya kalian memperlakukan terhadap binatang-binatang buruan!”

“Ah tentu tidak,” sahut Ki Kamituwa dengan serta merta, “Kami akan tempatkan kalian di bilik-bilik yang terpisah. Tiga kali sehari kalian akan mendapat jatah makan sesuai dengan jatah makan para pengawal yang menjaga kalian, tidak ada bedanya. Kalian akan tidur beralaskan tikar pandan yang berlapis tebal dan empuk. Kapan saja kalian tidur tidak akan ada yang melarang. Hanya satu yang kalian tidak punya, kebebasan.”

“Tutup mulutmu, iblis tua!” kembali cantrik yang tidak berikat kepala itu menggeram. Diayunkan senjatanya yang mengerikan ke arah Ki Kamituwa. Namun orang tua itu dengan lincahnya segera berkelit ke samping.

Demikianlah pertempuran itu belum dapat dipastikan kapan akan segera berakhir. Namun segores demi segores luka mulai menghiasi tubuh para cantrik Singo Barong itu.

“Persetan!” teriak salah satu cantrik yang baru saja mendapat segores luka yang memanjang di punggungnya, “Segores luka balasannya adalah nyawa kalian. Kami tidak akan bermain main lagi!”

“He?!” teriak Ki Wiyaga menanggapi ancaman cantrik itu, “Jadi selama ini kalian belum bersungguh sungguh dan hanya menari saja menghadapi serangan-serangan kami? Baiklah kami akan membuat tarian kalian semakin meriah dengan luka arang kranjang di sekujur tubuh kalian!”

“Persetan!” hampir bersamaan cantrik-cantrik itu telah mengumpat.

Namun keadaan cantrik-cantrik itu semakin lama menjadi semakin terdesak hebat. Walaupun dengan luka yang arang kranjang di sekujur tubuh mereka, tidak ada tanda-tanda bahwa mereka akan menyerah.

Demikianlah pertempuran yang tidak seimbang itu pun terus berlanjut.

Dalam pada itu Ki Demang yang telah selesai mengamati ketiga sosok mayat yang terbujur di halaman rumah Ki Dukuh dekat pendapa telah bergeser ke arena perang tanding antara Ki Gede melawan Gentho. Bersama Ki Jagabaya dukuh Klangon, keduanya dengan wajah sedikit tegang mengikuti jalannya perang tanding dari pinggir arena.

“Majulah kalian semua!” geram Gentho kemudian begitu melihat kedua orang itu mendekat, “Biar aku tidak usah membuang buang waktu untuk menghabisi kalian semua!”

Demikianlah agaknya Gentho sudah tidak mempunyai pilihan lain selain mengajak lawannya untuk mati bersama sama. Serangannya ……

Bersambung ke bagian 2

10 Responses

  1. STSD-22 bagian 1 dan 2 sudah diwedar.

    Monggo… yang berkenan bisa berkunjung di gandoknya.

  2. STSD-22 bagian 3 kapan di wedar…..
    Penasaran nih…. 🙊🙊

  3. Suwun ki arema. Ditenggo wedaran berikutnya…

  4. Matursuwun Ki wedaranipun

  5. Sebaiknya cerita ini harus segera diselesaikan, jangan sampai nasinya seperti cersil2 yg lain menggantung tanpa penyelesaian sehingga memberikan kekecewaan bagi pembaca setianya

  6. masih setia menunggu

  7. Alhamdulillah… Bagian 3 sudah bisa dinikmati sanak-kadang yang menunggunya.

    Monggo….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s