STSD-23

kembali ke STSD-22 | lanjut ke STSD-24

 

 

Bagian 1

KI GEDE yang melihat putrinya dalam kesulitan segera melangkah mendekat. Namun prajurit berwajah kasar itu telah membentak, “Diam di tempatmu atau aku pluntir kepalamu sampai patah!”

Bergetar dada Ki Gede mendapat perlakuan seperti itu. Namun ketika dia sempat berpaling ke arah Ki Rangga, tampak Ki Rangga memberi isyarat untuk berdiam diri saja.

“Nah,” berkata prajurit berwajah kasar itu kemudian, “Engkau memang bisu atau begitu kelelahan sehingga tidak mampu lagi untuk berbicara, he?!”

Betapa kedua kaki Ratri tampak gemetaran. Tubuhnya pun ikut menggigil seperti orang yang sedang kedinginan.

Prajurit berwajah kasar itu menjadi semakin marah melihat Ratri tidak menjawab. Sambil menggeram dia pun membentak lagi. Kali ini lebih keras, “He! Jawab pertanyaanku! Engkau ini bisu atau tuli?”

Terdorong perasaan takut yang melanda hatinya, Ratri pun telah terisak sambil memanggil ayahnya, “Ayah…!”

Terkejut prajurit berwajah kasar itu. Demikian juga para prajurit yang berada di pintu gerbang itu. Ternyata pemuda yang dalam keremangan sinar obor itu terlihat tampan dan lembut adalah seorang perempuan.

“O!” seru prajurit berwajah kasar itu sambil tertawa berderai, “Ternyata dugaanku benar. Engkau seorang gadis yang sedang menyamar.”

Orang-orang yang berada di depan pintu gerbang itu pun menjadi berdebar debar, terutama Ki Gede Matesih. Sebagai seorang ayah, tentu tidak tega melihat anak gadisnya diperlakukan dengan tidak wajar di depan matanya.

Namun ketika Ki Gede memandang ke arah Ki Rangga untuk meminta pertimbangan, tampak kepala Senapati pasukan khusus itu menggeleng.

Ki Gede menjadi semakin tidak sabar ketika melihat prajurit berwajah kasar itu melangkah semakin dekat. Katanya kemudian sambil bertolak pinggang, “Anak manis. Angkatlah wajahmu. Aku ingin melihat dengan jelas wajahmu yang cantik itu.”

Ratri yang merasa diperlakukan tidak sewajarnya itu menjadi semakin menggigil. Namun entah mengapa, seperti ada kekuatan dari dalam tubuhnya yang mendorong dirinya untuk tetap berdiri tegak.

Tiba-tiba terlintas dalam benak prajurit berwajah kasar itu sebuah pikiran yang sangat kotor. Sambil tersenyum memuakkan dan mengangguk anggukkan kepalanya, prajurit itu pun kemudian maju selangkah lagi sehingga sekarang jarak dirinya dengan Ratri hanya selangkah.

“Nah, jika engkau tidak mau mengangkat wajahmu,” berkata prajurit berwajah kasar itu kemudian, “Dengan senang hati aku akan membantumu.”

Selesai berkata demikian, tiba-tiba saja tangan kanan prajurit berwajah kasar itu terulur untuk menyentuh dagu Ratri.

Dengan gerak naluriah Ratri pun segera surut selangkah sambil membuang mukanya kesamping. Namun yang terjadi selanjutnya benar-benar diluar dugaan orang-orang yang berada di pintu gerbang itu. Begitu Ratri mundur selangkah sambil membuang mukanya, tangan prajurit berwajah kasar yang sudah terulur itu justru telah turun ke bawah dan meremas dada.

Sebuah pekik kecil pun segera terdengar diiringi suara tawa memuakkan dari prajurit berwajah kasar itu. Ratri yang merasa direndahkan di depan umum itu pun meradang.

Didorong oleh kemarahan yang tiada taranya, tiba-tiba Ratri merasakan seluruh urat nadi di dalam tubuhnya bergetar. Hawa panas yang berpusat dari jantungnya tiba-tiba bergerak menyusur urat-urat nadi di tangan kanannya seiring dengan sebuah gerakan naluriah dari seorang gadis yang merasa di perlakukan semena mena.

Yang terjadi kemudian benar-benar diluar nalar mereka yang menyaksikan. Kemarahan Ratri yang sudah sampai ubun-ubun itu ternyata memerlukan penyaluran. Dengan dilandasi kekuatan dari dalam tubuhnya yang belum disadari sepenuhnya oleh Ratri, tangan kanan Ratri pun terangkat ke atas dan kemudian dengan deras terayun sekuat tenaga menampar wajah prajurit yang telah berbuat kurang ajar itu.

Ki Rangga yang menyaksikan kejadian itu sejak awal telah menahan nafas. Jika perhitungannya tepat, tentu prajurit berwajah kasar itu akan mengalami cidera parah, atau paling tidak giginya akan rontok terkena tamparan Ratri.

Dalam pada itu, prajurit berwajah kasar yang melihat Ratri sedang mengayunkan tangan ke wajahnya justru telah tertawa berkepanjangan. Dalam perhitungannya, tidak akan mungkin tamparan gadis itu akan mencederainya. Paling-paling wajahnya hanya akan terasa panas, dan selanjutnya dia akan memperlakukan gadis itu semakin kasar.

Namun yang terjadi kemudian telah membuat jantung orang-orang yang berada di pintu gerbang itu bagaikan terlepas dari tangkainya. Ayunan deras tangan Ratri dengan telak telah menimpa wajah prajurit itu. Seketika tawanya pun terputus diiringi tubuhnya yang terdorong ke belakang selangkah. Sementara kepalanya terasa bagaikan telah dihantam sebatang wesi gligen.

Terdengar teriakan kesakitan sebelum akhirnya kepala prajurit berwajah kasar itu ikut terputar seiring dengan tubuhnya yang jatuh terjengkang, pingsan.

Gemparlah orang-orang yang menyaksikan semua peristiwa itu. Ki Gede yang tidak menyangka anak perempuan satu satunya itu telah mampu melakukan perlawanan dengan demikian dahsyatnya telah meloncat mendekati Ratri.

“Ratri, engkau tidak apa-apa, nduk?” bertanya Ki Gede kemudian demikian dia telah berada di samping anaknya sambil memegang kedua bahu Ratri yang terasa masih bergetar hebat.

“Aku tidak apa-apa, ayah,” desis Ratri lirih dengan suara bergetar sambil mengatur debar jantungnya. Ratri sendiri tidak menyangka jika tamparan tangannya akan dapat berakibat sedahsyat itu.

“Tenanglah, nduk. Ayah sudah berada di sampingmu,” berkata Ki Gede selanjutnya sambil merengkuh pundak anak gadisnya itu. Ketika Ki Gede kemudian melayangkan pandangannya ke arah Ki Rangga, tampak Agul Agulnya Mataram itu sedang tersenyum ke arahnya.

“Aneh,” berkata Ki Gede dalam hati sambil membalas senyum Ki Rangga, “Sepertinya Ki Rangga mengetahui apa sebenarnya yang telah terjadi di dalam diri anakku ini. Mulai dari keberaniannya menaiki kuda dengan meloncat, dan yang baru saja terjadi telah menunjukkan bahwa Ratri telah mengalami sebuah perubahan besar di dalam dirinya.”

Diam-diam Ki Gede bersyukur. Jika memang seseorang telah membantu Ratri mengungkapkan kekuatan dalam dirinya, tentu keinginan Ratri untuk mempelajari olah kanuragan akan semakin lancar. Tiba-tiba Ki Gede teringat akan apa yang pernah menimpa dirinya ketika bertemu dengan orang bertopeng beberapa saat yang lalu di sebuah bulak panjang.

“Orang itu telah membantu melancarkan peredaran darah serta tata letak urat-urat nadiku sehingga aku mampu mengungkapkan aji cunda manik dengan lebih sempurna,” membatin Ki Gede kemudian.

Dalam pada itu, prajurit tinggi besar yang memimpin kawan kawannya telah menggeram keras. Katanya kemudian dengan suara yang keras dan tegas, “Singkirkan kawanmu yang lemah seperti cacing itu! Bawa dia ke dalam gardu!”

Beberapa prajurit segera bergerak dengan sigap menggotong kawannya yang sedang tak sadarkan diri itu. Sementara prajurit tinggi besar itu segera melangkah ke hadapan Ki Gede dan Ratri.

“Penyerangan dengan sengaja kepada petugas adalah sebuah tindak kejahatan!” geram prajurit tinggi besar itu kemudian sambil menunjuk ke arah Ratri. Bentaknya kemudian menggelegar, “Serahkan gadis itu! Atau kalian aku anggap telah berani melawan kepada prajurit yang sedang bertugas!”

Namun baru saja Ki Gede akan menjawab, Ki Rangga segera melangkah sambil berkata, “Sebentar Ki Sanak, permasalahan ini tidak bisa hanya dilihat dari satu pihak saja. Namun pihak kami pun berhak untuk memberikan pembelaan.”

Tampak kerut merut di wajah prajurit tinggi besar itu. Sambil berpaling ke arah Ki Rangga, dia pun kemudian membentak kasar, “Siapa kau, he?! Berani melawan prajurit yang sedang bertugas!”

Ki Rangga menarik nafas panjang. Jawabnya kemudian dengan suara datar namun terdengar jelas di telinga setiap orang yang hadir di tempat itu, “Aku Ki Rangga Agung Sedayu, Senapati pasukan khusus Mataram yang berkedudukan di Menoreh. Akulah pemimpin rombongan ini.”

Sejenak jawaban Ki Rangga itu bagaikan membekukan darah seluruh prajurit yang sedang bertugas di pintu gerbang itu. Sementara diam-diam Ki Bango Lamatan telah tersenyum. Tidak menjadi kebiasaan Ki Rangga untuk menyombongkan diri. Namun agaknya kali ini Ki Rangga ingin menghindari kesalah-pahaman itu agar tidak berlarut larut.

“Ki Rangga Agung Sedayu,” tiba-tiba terdengar seseorang berdesis perlahan dari arah gardu. Serentak pandangan orang-orang itu pun tertuju ke arah seorang Lurah prajurit yang keluar dari gardu penjagaan.

Tampak seseorang yang tidak begitu tinggi namun juga tidak terlalu pendek berjalan dengan langkah satu-satu menuju ke tempat Ki Rangga berdiri.

“Nama Ki Rangga Agung Sedayu memang pernah aku dengar,” berkata Ki Lurah selanjutnya, “Namun secara pribadi aku belum pernah bertemu dengan orangnya.”

Kata-kata Ki Lurah itu seakan menyiratkan makna bahwa dia tidak percaya begitu saja dengan apa yang telah disampaikan oleh Ki Rangga.

Namun Ki Rangga masih berusaha sejauh mungkin menghindari perselisihan. Maka katanya kemudian, “Menilik tanda-tanda keprajuritan yang Ki Sanak kenakan, Ki Sanak adalah seorang Lurah prajurit. Namun seragam dan tanda-tanda itu agak lain yang biasanya digunakan oleh prajurit Mataram.”

“Ki Rangga benar,” sahut Lurah prajurit itu cepat, “Kami memang bukan prajurit Mataram. Kami adalah prajurit yang berasal dari kadipaten Panaraga.”

“Kadipaten Panaraga?” hampir bersamaan Ki Rangga dan kawan-kawan mengulang dengan nada yang penuh keheranan.

“Ya, kami memang prajurit dari kadipaten Panaraga,” kembali Lurah prajurit itu menyela, “Nah, sebagai Lurah prajurit yang diberi tugas untuk mengamankan pintu gerbang kotaraja sebelah utara, aku berhak untuk menolak orang yang tidak berkepentingan yang ingin memasuki kotaraja.”

Untuk beberapa saat Ki Rangga dan kawan-kawan termangu mangu. Mereka menjadi sangat heran dengan keberadaan para prajurit dari kadipaten Panaraga itu di pintu gerbang kotaraja sebelah Utara. Pantas saja mereka tidak mengenal Ki Rangga.

“Mengapa bukan prajurit Mataram yang menjaga gerbang kotaraja sebelah Utara ini?” tiba-tiba Ki Bango Lamatan yang sedari tadi diam saja sudah tidak mampu menahan diri untuk bertanya.

Sekilas Lurah prajurit itu berpaling ke arah Ki Bango Lamatan. Jawabnya kemudian, “Ketahuilah oleh kalian semua. Kami para prajurit dari kadipaten Panaraga, beberapa hari ini telah diperbantukan untuk mengamankan kotaraja, dan itu bukan urusan kalian.”

Sejenak Ki Rangga dan Ki Bango Lamatan saling pandang. Mereka benar-benar tidak habis mengerti, bagaimana mungkin Mataram sampai meminta bantuan sebuah kadipaten bawahannya justru untuk menjaga keamanan kotaraja.

“Nah, Ki Rangga,” berkata Ki Lurah itu selanjutnya begitu melihat Ki Rangga hanya berdiri termangu mangu, “Aku kira semuanya sudah jelas. Kesalah-pahaman prajuritku dengan gadis itu aku anggap tidak ada dan selesai sampai disini saja. Sekarang aku persilahkan Ki Rangga dan rombongan untuk meneruskan perjalanan tanpa memasuki kotaraja.”

Namun Ki Rangga masih berusaha melunakkan hati Lurah prajurit dari Panaraga. Maka katanya kemudian, “Ki Lurah, jika Ki Lurah meragukan jati diriku sebagai bagian dari prajurit Mataram, aku membawa lencana khusus dari Ki Patih Mandaraka. Aku mohon Ki Lurah mempertimbangkannya.”

Selesai berkata demikian Ki Rangga segera mengeluarkan sebuah lencana yang terlihat berkilauan tertimpa sinar obor yang berada di pintu gerbang itu.

Sejenak Lurah prajurit dari kadipaten Panaraga itu tertegun. Dengan segera diterima lencana dari tangan Ki Rangga. Setelah mengamat amati beberapa saat, Ki Lurah pun kemudian mengembalikannya kepada Ki Rangga.

Berkata Ki Lurah kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam, “Ki Rangga, aku adalah Lurah prajurit dari kadipaten Panaraga. Kami mempunyai lencana tersendiri yang berbeda ujud dengan lencana prajurit Mataram. Secara pribadi, aku memang belum pernah melihat lencana itu sebagai lencana khusus pertanda utusan resmi dari Ki Patih Mandaraka. Jadi sekali lagi, aku mohon maaf. Aku tidak dapat mengabulkan permintaan Ki Rangga dan rombongan.”

“Sebentar Ki Lurah,” sela Ki Rangga dengan serta merta, “Aku dan rombongan ini sengaja memasuki kotaraja karena memang ada sebuah keperluan yang sangat penting. Aku harus menghadap Ki Patih Mandaraka untuk menyampaikan laporan sehubungan tugas yang telah diperintahkan kepadaku.”

Namun tanggapan Ki Lurah benar-benar telah menyinggung perasaan Ki Rangga dan kawan kawannya.

Dengan sebuah senyum yang terkesan mengejek, Ki Lurah pun kemudian menjawab, “Ki Rangga, semua orang yang ingin memasuki kotaraja dapat menggunakan dalih apa saja dengan harapan alasannya akan diterima,” Ki Lurah berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian dengan suara lugas dan tegas, “Akan tetapi aku tidak akan terpengaruh! Silahkan memutar arah dan tinggalkan gerbang kotaraja ini.”

Selesai berkata demikian Ki Lurah segera memberi isyarat kepada para prajuritnya untuk membawa kuda-kuda Ki Rangga dan rombongan mendekat.

Dengan sigap beberapa prajurit segera menuntun kembali kuda-kuda itu dan menyerahkan kepada para pemiliknya.

Ternyata Ratri tidak mau menerima kendali kudanya ketika seorang prajurit mengulurkan kendali kuda itu. Terpaksa Ki Gede yang berdiri di sebelahnya menerima dua kendali kuda.

Prajurit itu tampak sedikit tersinggung. Dengan sorot mata yang tajam dipandanginya gadis yang menyamar dengan mengenakan pakaian laki-laki itu. Namun dada prajurit itu segera berdesir tajam ketika terpandang olehnya tangan kanan Ratri yang baru saja membuat kawannya jatuh pingsan.

“Bagaimana mungkin tangan yang terlihat halus mulus itu bisa membuat orang jatuh pingsan?” pertanyaan itu pun berputar putar dalam benaknya. Namun prajurit itu ternyata memilih untuk tidak mencari perkara dengan Ratri. Maka sambil mendengus marah dia pun kemudian segera berlalu dari tempat itu.

Dalam pada itu, Ki Rangga yang telah memegang kendali kudanya untuk beberapa saat termangu mangu. Sebagai seorang prajurit Ki Rangga hafal betul dengan paugeran-paugeran yang berlaku dalam dunia keprajuritan. Matahari telah beberapa saat tadi terbenam dan biasanya sebentar lagi akan ada pergantian tugas jaga di seluruh penjagaan di kotaraja.

“Semoga prajurit yang datang kemudian untuk menggantikan jaga adalah para prajurit Mataram yang sebenarnya, bukan bantuan dari prajurit Panaraga,” membatin Ki Rangga sambil mengamati kedua pengawal dari Matesih yang sedang menerima senjata mereka yang beberapa saat tadi telah disita, “Jika para prajurit Mataram yang jaga kemudian mengenali aku dan Ki Bango Lamatan, kemungkinan untuk dapat memasuki kotaraja sangat besar.”

Berpikir sampai disitu, Ki Rangga pun memutuskan untuk mengulur waktu sampai pergantian jaga yang sebentar lagi akan tiba.

“Maaf Ki Lurah,” berkata Ki Rangga kemudian sambil tetap memegangi kendali kudanya, “Ada satu hal yang membuat aku sebagai bagian dari prajurit Mataram tidak habis mengerti. Mengapa Mataram meminta bantuan para prajurit dari kadipaten Panaraga? Apa sebenarnya yang sedang terjadi di kotaraja?”

“Itu bukan urusanmu Ki Rangga,” sahut Ki Lurah dengan nada sedikit kethus, “Nah, apalagi yang kalian tunggu! Segera putar kuda-kuda kalian dan tinggalkan tempat ini!”

Namun sebelum Ki Rangga dan kawan-kawan melakukan apa yang diminta oleh Ki Lurah, lamat-lamat terdengar suara derap puluhan ekor kuda menuju ke tempat itu.

Sejenak Ki Lurah tampak mengerutkan keningnya. Namun katanya kemudian, “Jangan hiraukan suara derap kuda-kuda itu. Mereka prajurit yang bertugas menggantikan kami. Jangan sampai Lurah prajurit yang mengepalai jaga berikutnya mempunyai pertimbangan lain sehingga justru kalian akan diperlakukan sebagai pelanggar hukum dan ditahan.”

Berdesir dada orang-orang yang berada di dalam rombongan Ki Rangga. Namun Ki Rangga mempunyai pemikiran lain. Jika yang menggantikan prajurit-prajurit jaga itu adalah prajurit dari kadipaten Panaraga juga, nasib mereka tentu akan lebih buruk lagi. Namun jika yang menggantikan itu prajurit Mataram, Ki Rangga masih punya harapan.

Melihat Ki Rangga dan rombongannya sama sekali tidak beranjak dari tempat itu, tampak wajah Ki Lurah menjadi merah padam. Sambil bertolak pinggang, dia pun kemudian membentak kasar, “Cepat pergi dari tempat ini! Aku sudah muak melihat wajah-wajah kalian.”

Namun Ki Rangga tidak bergeming. Panggraitanya telah memberinya isyarat bahwa yang datang itu adalah sepasukan prajurit Mataram. Memang pasukan itu masih agak jauh, namun dengan aji sapta pandulu Ki Rangga mampu melihat seragam serta tanda-tanda keprajuritan yang mereka kenakan.

“Syukurlah,” membatin Ki Rangga dalam hati sambil mencoba mengamat amati seorang Lurah wira tamtama yang berkuda di paling depan.

“Rasa rasanya aku pernah mengenal Lurah prajurit itu,” kembali Ki Rangga membatin dalam hati. Sementara kawan-kawan Ki Rangga hanya menunggu saja apa yang akan terjadi kemudian.

Dalam pada itu selagi kemarahan Ki Lurah membakar dadanya, sekelompok prajurit berkuda itu telah bergerak semakin dekat.

Sejenak kemudian perhatian orang-orang yang berada di pintu gerbang itu pun tercurah kepada sekelompok prajurit yang telah tiba di tempat itu.

Terdengar teriakan kesakitan sebelum akhirnya kepala prajurit berwajah kasar itu ikut terputar seiring dengan…………………

Seorang Lurah prajurit segera mengangkat tangan untuk memberi aba-aba agar pasukan berkuda itu berhenti. Dengan lincahnya mereka pun kemudian segera berloncatan turun dari kuda masing-masing.

“Ki Rangga Agung Sedayu?!” seru Lurah prajurit yang telah meloncat turun itu tiba-tiba sambil bergegas mendekati Ki Rangga. Sementara seorang prajurit di belakangnya segera mengambil tali kendali kuda yang ditinggalkan Ki Lurah dengan tergesa gesa.

Ki Rangga pun akhirnya menarik nafas dalam-dalam sambil menyambut jabat tangan Lurah prajurit itu. Berkata Ki Rangga kemudian sambil melepas jabat tangannya, “Kalau aku tidak salah, yang berada di hadapanku sekarang ini adalah Ki Lurah Adiwaswa.”

Ki Lurah Adiwaswa tertawa pendek. Jawabnya kemudian, “Ternyata ingatan Ki Rangga sangat baik,” Ki Lurah Adiwaswa berhenti sejenak. Sambil mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling, dia melanjutkan, “Nah, apakah ada yang bisa aku bantu, Ki Rangga?”

Namun sebelum Ki Rangga menjawab, dengan wajah merah padam Lurah prajurit Panaraga itu telah maju selangkah sambil berkata, “Sebentar Ki Lurah Adiwaswa. Mereka itu urusanku! Aku telah menolak mereka memasuki kotaraja dengan pertimbangan keamanan. Walaupun Ki Adiwaswa secara pribadi telah mengenal Ki Rangga, namun keputusan mutlak berada di tanganku sebagai prajurit yang sedang mengemban tugas.”

Tampak kerut merut di wajah Ki Lurah Adiwaswa. Lurah prajurit yang sudah melewati masa-masa mudanya namun belum berkeluarga itu akhirnya berkata, “Silahkan Ki Lurah. Jika selama bertugas Ki Lurah dan anak buah Ki Lurah telah menjatuhkan sebuah keputusan kepada Ki Rangga, aku tidak akan mengganggu gugat. Namun pergantian penjagaan sudah waktunya dilaksanakan.”

Kata-kata terakhir Ki Lurah Adiwaswa itu telah membuat wajah Ki Lurah prajurit dari kadipaten Panaraga itu semakin merah padam. Tanpa berkata sepatah katapun dia segera memberi isyarat kepada para anak buahnya untuk berkumpul di sisi gerbang bagian dalam.

Ki Lurah Adiwaswa tersenyum ke arah Ki Rangga sambil berkata, “Silahkan Ki Rangga menunggu agak jauh dari gerbang. Kami akan melaksanakan serah terima penjagaan,” Ki Lurah Adiwaswa berhenti sejenak. Ketika tanpa sengaja pandangan matanya berbenturan dengan Ratri yang juga sedang memandangnya, dada Ki Lurah pun berdesir tajam.

“Apakah Ki Rangga membawa rombongan?” bertanya Ki Lurah Adiwaswa kemudian sambil berpaling ke arah Ki Rangga untuk mengalihkan perhatian. Betapa jantungnya terasa berdetak lebih cepat begitu melihat seraut wajah yang menurut nalurinya pasti seorang gadis yang menyamar dengan berpakaian laki-laki.

“Y, Ki Lurah,” jawab Ki Rangga kemudian sambil memperkenalkan anggota rombongannya.

“Ini adalah Ki Bango Lamatan,” berkata Ki Rangga selanjutnya sambil menunjuk Ki Bango Lamatan yang berdiri di sebelahnya. Ki Bango Lamatan pun tersenyum sambil mengangguk.

“Yang berdiri agak jauh itu Ki Gede Matesih beserta putranya,.. eh maksudku puterinya.”

Ratri yang merasa di perkenalkan menjadi malu sehingga telah menundukkan wajahnya dalam-dalam. Sementara degup jantung Ki Lurah Adiwaswa pun semakin kencang.

“Puteri Ki Gede Matesih ternyata,” membatin Ki Lurah Adiwaswa sambil pandangan matanya tidak berkedip memandangi wajah Ratri yang tertunduk. Tidak disadarinya sedari tadi Ki Gede sedang memperhatikannya.

“Akulah Ki Gede Matesih itu, Ki Lurah,” berkata Ki Gede kemudian mengejutkan Ki Lurah Adiwaswa.

“O, maaf Ki Gede,” jawab Ki Lurah dengan suara sedikit tergagap, “Aku dengar perdikan Matesih adalah sebuah perdikan yang besar dan subur di lereng kaki gunung Tidar.”

“Terima kasih,” sahut Ki Gede sambil mengangguk. Sementara Ki Rangga segera memperkenalkan kedua pengawal yang dibawa Ki Gede.

“Nah, Ki Lurah,” berkata Ki Rangga selanjutnya, “Kami akan menunggu di luar gerbang terlebih dahulu.”

“Silahkan Ki Rangga,” sahut Ki Lurah kemudian sambil melangkah, “Maafkan sambutan yang kurang menyenangkan. Mereka memang prajurit dari Panaraga dan sudah sewajarnya mereka tidak mengenal Ki Rangga.”

Demikianlah Ki Rangga dan rombongan kemudian menyingkir beberapa tombak dari pintu gerbang terlebih dahulu. Sementara kedua pasukan prajurit dari kesatuan yang berbeda itu sedang mengadakan serah terima penjagaan.

Sejenak kemudian pintu gerbang yang tinggi dan lebar itu pun kemudian di tutup untuk sementara selama berlangsungnya peralihan petugas jaga.

Ketika pintu gerbang telah dibuka kembali, Ki Rangga dan rombongan pun segera melihat bahwa prajurit yang jaga telah berganti.

“Marilah kita segera memohon ijin kepada penjaga yang baru untuk memasuki kotaraja,” berkata Ki Rangga kemudian sambil berjalan menuntun kudanya. Orang-orang pun kemudian mengikutinya.

Begitu mereka memasuki pintu gerbang, terdengar derap puluhan ekor kuda meninggalkan tempat itu. Agaknya para prajurit dari kadipaten Panaraga yang telah selesai menjalankan tugas segera meninggalkan tempat untuk beristirahat di barak.

“Persetan dengan Ki Rangga!” geram Lurah prajurit Panaraga itu kepada pembantunya yang berkuda di sebelahnya.

“Memangnya ada apa dengan Ki Rangga, Ki Lurah?” prajurit pembantunya itu justru telah bertanya.

“Kita tidak tahu apa tujuan sebenarnya Ki Rangga dan rombongannya itu memasuki kotaraja,” jawab Ki Lurah sambil terus berpacu, “Jangan sampai penobatan Raden Mas Wuryah beberapa hari lagi akan mengalami kendala. Peristiwa ini harus segera dilaporkan kepada Ki Tumenggung.”

Pembantunya tidak menjawab. Hanya tampak kepalanya yang terangguk angguk. Tanpa sadar pembantu Ki Lurah itu menengok ke belakang. Tampak prajurit yang telah siuman dari pingsannya itu mengendarai kudanya seperti orang mabuk.

“He! Kendalikan kudamu dengan baik!” seru kawan di sebelahnya sambil menjajarkan kuda tunggangannya.

“Gadis itu benar-benar bertangan besi!” geram prajurit yang telah merasakan kerasnya tamparan Ratri, “Suatu saat aku ingin berjumpa kembali dan akan aku tantang perang tanding secara jujur!”

“Apa alasanmu?” bertanya kawannya kemudian sambil terus memacu kudanya.

“Balas dendam!” jawab prajurit itu singkat. Namun kawan di sebelahnya hanya tertawa saja.

Dalam pada itu rombongan Ki Rangga telah memasuki gerbang kotaraja sambil menuntun kuda-kuda mereka.

“Selamat datang di kotaraja, Ki Rangga,” berkata Ki Lurah Adiwaswa kemudian sambil berdiri di samping pintu gerbang, “Maaf atas penyambutan sebelumnya yang kurang layak. Namun aku persilahkan Ki Rangga segera melanjutkan perjalanan.”

“Terima kasih Ki Lurah,” jawab Ki Rangga sambil menghentikan langkahnya sejenak. Yang lain pun akhirnya ikut berhenti.

“Maaf Ki Lurah,” berkata Ki Rangga kemudian ketika sudah berada di depan Ki Lurah Adiwaswa, “Mengapa prajurit dari kadipaten Panaraga dilibatkan dalam pengamanan kotaraja?”

Tampak Ki Lurah menarik nafas panjang terlebih dahulu. Kemudian sambil mendekat Ki Lurah pun kemudian menjawab sambil berbisik, “Beberapa hari lagi akan ada penobatan raja baru. Raden Mas Wuryah yang ternyata disetujui oleh Ki Patih Mandaraka. Untuk lebih lengkapnya, nanti Ki Rangga pasti akan mendapat penjelasan dari Ki Patih.”

Berdesir dada Ki Rangga. Seolah olah Ki Rangga tidak percaya mendengar justru Raden Mas Wuryah yang akan sinengkaake ing ngaluhur menjadi Susuhunan Prabu di Mataram.

Namun ketika Ki Rangga akan bertanya lebih lanjut dan memandang ke arah Ki Lurah, tampak Ki Lurah menggeleng lemah sambil berkata, “Selamat jalan. Semoga tidak ada lagi aral yang melintang dan selamat sampai tujuan.”

“Terima kasih Ki Lurah,” jawab Ki Rangga sambil tersenyum. Lanjutnya kemudian dengan nada sedikit menggoda “Barangkali Ki Lurah ingin menitipkan pesan?”

Tampak wajah Ki Lurah menegang sejenak. Tanpa sadar pandangan matanya terarah kepada Ratri. Namun gadis itu telah berjalan di sebelah kanan ayahnya sambil menuntun kudanya sehingga Ki Lurah tidak dapat melihatnya dengan jelas.

“Ki Rangga,” berkata Ki Lurah pada akhirnya, “Semoga ini bukan pertemuan yang pertama dan terakhir. Aku berharap pada hari-hari mendatang adanya sebuah kepastian.”

“He?!” Ki Bango Lamatan yang menuntun kudanya di sebelah Ki Rangga justru yang menyahut, “Agaknya Ki Lurah sedang memberi tebak tebakan kepada kami semua. Semoga saja ada yang merasa wajib untuk menjawab tebakanmu itu Ki Lurah.”

Ki Rangga tertawa pendek. Sementara Ki Gede yang berpaling sekilas kepada putrinya hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Sama sekali tidak ada kesan di wajah puteri Matesih yang menundukkan kepalanya dalam-dalam itu.

Demikianlah akhirnya setelah mohon diri sekali lagi, Ki Rangga segera meloncat ke atas punggung kudanya diikuti oleh yang lainnya. Sejenak kemudian, rombongan itu pun telah meninggalkan pintu gerbang sebelah Utara dan menyusuri jalan-jalan menuju ke pusat kota.

Sepeninggal rombongan Ki Rangga, tampak Ki Lurah Adiwaswa masing berdiri termangu mangu di pinggir pintu gerbang. Pandangan matanya kosong menatap ke kejauhan. Ke arah titik-titik hitam yang bergerak menjauh dan semakin lama semakin hilang di telan malam.

“Ki Lurah,” tiba-tiba seorang prajurit membangunkan dari lamunan indahnya, “Ada beberapa orang berkuda lagi yang sedang menuju ke mari.”

Ki Lurah yang terbangun dari lamunan itu segera berkata, “Cegat mereka dan tanyakan keperluannya memasuki kotaraja.”

Dalam pada itu rombongan Ki Gede yang sedang menyusuri jalan-jalan kotaraja ternyata sama sekali tidak mendapat halangan yang berarti. Jalan-jalan memang tampak ramai diterangi obor-obor di sudut-sudut jalan maupun di regol setiap rumah yang mereka lalui.

Sesekali mereka berpapasan dengan sekelompok prajurit yang sepertinya sedang meronda. Kadang-kadang mereka memang dihentikan untuk sekedar menanyakan tujuan mereka. Namun ketika Ki Rangga kemudian menunjukkan lencana dari Ki Patih, dengan segera mereka mempersilahkan rombongan itu untuk melanjutkan perjalanan.

“Ternyata para prajurit itu mengenali lencana yang dibawa Ki Rangga,” desis Ki Gede kemudian sambil tersenyum dan berpaling sekilas.

“Tentu saja Ki Gede,” sahut Ki Rangga dengan serta merta, “Mereka itu para prajurit Mataram yang sedang bertugas menjaga keamanan kota. Berbeda dengan prajurit dari kadipaten Panaraga yang menjaga pintu gerbang sebelah Utara tadi. “

“Mengapa para prajurit dari kadipaten Panaraga itu dilibatkan untuk menjaga keamanan kotaraja?” tiba-tiba Ki Bango Lamatan yang berkuda di belakang Ki Rangga menyeluthuk.

Sejenak Ki Gede dan Ki Rangga saling berpandangan. Jawab Ki Rangga kemudian, “Aku belum tahu. Akan tetapi menilik keterangan dari Ki Lurah Adiwaswa tadi, beberapa hari ke depan akan ada penobatan raja baru di Mataram.”

“Itulah agaknya yang menjadi alasan kehadiran para prajurit dari kadipaten Panaraga itu,” sahut Ki Bango Lamatan kemudian, “Raden Mas Wuryah memang keturunan dari Panaraga dari jalur Ratu Lung Ayu.”

“Namun seharusnya tidak sepenuhnya prajurit kadipaten Panaraga,” sela Ki Rangga sambil berpaling ke belakang sekilas, “Sebaiknya para prajurit dari pengamanan kotaraja tetap dilibatkan sehingga tidak terjadi kesalah-pahaman seperti tadi.”

Tampak kepala orang-orang yang di dalam rombongan itu terangguk angguk. Sementara Ratri tampak tidak memperhatikan percakapan itu. Perhatiannya tertumpah sepenuhnya kepada pemandangan sepanjang jalan di kotaraja.

“Alangkah indahnya,” membatin Ratri sambil tak henti hentinya mengarahkan pandangan matanya ke kiri dan ke kanan bergantian. Jalan-jalan yang rata dan penerangan di setiap regol serta sudut-sudut persimpangan jalan telah membuat pemandangan sepanjang jalan itu terlihat menakjubkan.

Tak terasa perjalanan mereka telah mendekati pintu gerbang Istana Kepatihan. Ratri benar-benar dibuat terkagum-kagum dengan keindahan Istana Kepatihan itu.

Berpuluh puluh obor serta dlupak besar dan kecil yang diatur sedemikian rupa sepanjang dinding luar Istana Kepatihan itu telah memberikan pemandangan yang indah. Demikian juga gapura besar yang berdiri megah itu pun dihiasi dengan lampu-lampu dlupak besar dan kecil yang disangkutkan di beberapa tempat di gapura itu telah menjadikan gapura itu terlihat indah menawan.

Dengan cepat Ki Rangga segera memberi isyarat untuk turun dari kuda demikian mereka telah berada tepat di depan gapura. Beberapa prajurit jaga tampak berjalan mendekat.

“Selamat malam,” sapa salah satu prajurit jaga itu kemudian, “Siapakah pemimpin rombongan ini?”

“Aku Ki Sanak,” jawab Ki Rangga sambil maju selangkah. Sementara tangan kiri Ki Rangga tetap memegang kendali kudanya.

“Apakah Ki Sanak dapat menunjukkan jati diri Ki Sanak?” bertanya prajurit jaga itu kemudian sambil berjalan mendekati Ki Rangga.

Dengan tangan kiri tetap memegang kendali kudanya, tangan kanan Ki Rangga pun segera merogoh saku yang ada di ikat pinggangnya. Sejenak kemudian Ki Rangga segera mengangsurkan sebuah lencana yang tampak berkilat kilat tertimpa sinar lampu yang banyak terdapat di gapura itu.

Prajurit itu segera menerima lencana itu. Untuk sejenak prajurit itu masih mengamat amati lencana itu di bawah siraman cahaya lampu dlupak dan obor. Tampak kepalanya kemudian terangguk angguk.

Sambil mengembalikan lencana itu kepada Ki Rangga, prajurit itu pun kemudian bertanya, “Jika aku diperbolehkan mengetahui jati diri Ki Sanak lebih jauh, siapakah Ki Sanak ini dan untuk keperluan apakah mendatangi Istana Kepatihan?”

Ki Rangga tersenyum sambil memasukkan kembali lencana itu di kantong ikat pinggangnya. Jawabnya kemudian, “Aku seorang Rangga dan sekaligus Senapati pasukan khusus Mataram yang berkedudukan di Menoreh. Kami baru saja datang dari perdikan Matesih di lereng gunung Tidar. Maksud kedatangan kami ke Istana Kepatihan ini tentu saja memohon untuk menghadap Ki Patih Mandaraka.”

Prajurit itu tampak ragu-ragu sejenak. Tanyanya kemudian dengan suara sedikit ragu, “Bukankah Senapati pasukan khusus Mataram yang berkedudukan di Menoreh itu Ki Rangga Agung Sedayu?”

“Ya,” jawab Ki Rangga dengan serta merta, “Akulah Ki Rangga Agung Sedayu itu.”

Untuk beberapa saat para prajurit yang mengerumuni rombongan Ki Gede itu terkesiap. Sebagai prajurit, mereka memang sudah sering mendengar nama Ki Rangga Agung Sedayu, baik di medan pertempuran maupun dalam tugas-tugas yang lain. Namun tidak seorang pun yang pernah bertemu secara langsung dengan orangnya. Untuk itulah mereka sedikit meragukan keterangan Ki Rangga.

Namun selagi para prajurit itu termangu mangu, seseorang telah turun dari gardu penjagaan dan melangkah mendekat.

“Selamat datang Ki Rangga,” terdengar orang itu menyapa ramah.

“O, terima kasih,” sahut Ki Rangga cepat sambil menerima uluran tangan orang yang baru datang itu, “Kiranya Ki Lurah yang mengepalai jaga malam ini.”

Orang yang disebut Ki Lurah itu tertawa. Sementara para prajurit jaga yang mengerumuni rombongan Ki Rangga itu telah menarik nafas dalam-dalam sambil saling pandang satu sama lainnya.

Berkata Ki Lurah kemudian, “Silahkan Ki Rangga dan rombongan masuk. Biarlah kuda-kuda ini diurus oleh para prajurit jaga. Aku persilahkan Ki Rangga dan rombongan menempati gandhok kanan.”

“Terima kasih Ki Lurah,” sahut Ki Rangga sambil menyerahkan kendali kudanya kepada seorang prajurit yang dengan tergopoh gopoh segera mendekat. Yang lain pun segera menyerahkan kuda-kuda mereka kepada para prajurit yang lain.

Dengan diantar oleh seorang prajurit jaga, Ki Rangga dan rombongan pun kemudian segera menuju ke gandhok kanan.

Sesampainya mereka di gandhok kanan, seorang kepala pelayan yang bertugas di gandhok itu segera menempatkan mereka di bilik-bilik yang memang disediakan khusus untuk para tamu di Istana Kepatihan.

“Biarlah aku satu bilik dengan anakku,” berkata Ki Gede kemudian sambil menarik Ratri ke salah satu bilik. Ratri pun tampak hanya menurut sambil menjinjing bungkusan perbekalannya. Sedangkan Ki Gede tidak lupa menjinjing tombak pendeknya yang masih dalam selongsong.

“Bagaimana kalau kita berdua satu bilik, Ki Rangga?” bertanya Ki Bango Lamatan kemudian sambil tersenyum ke arah Ki Rangga. Ki Rangga tidak menjawab hanya mengangguk angguk saja.

Namun kepala pelayan yang bertugas di gandhok itu telah menyela. Katanya kemudian, “Aku mendapat laporan bahwa salah satu dari rombongan ini adalah Senapati pasukan khusus Mataram yang berkedudukan di Menoreh.”

Sejenak Ki Bango Lamatan dan Ki Rangga saling pandang. Akhirnya Ki Rangga tersenyum dan mengangguk sambil menjawab, “Akulah yang Ki Sanak maksud.”

Kepala Pelayan itu cepat-cepat membungkukkan badannya dalam-dalam sambil berkata, “Jika demikian Ki Rangga dapat tinggal di bilik yang terdekat dengan nDalem Kepatihan.”

Kembali Ki Rangga dan Ki Bango Lamatan saling pandang. Ki Rangga pun akhirnya tersenyum lebar sambil menjawab, “Tidak usah Ki Sanak. Biarlah aku tinggal berdua dengan kawanku ini. Biar kami mempunyai kawan untuk berbincang bincang.”

“Tapi aku sudah mengantuk Ki Rangga,” sela Ki Bango Lamatan kemudian, “Jika Ki Rangga masih ingin berbincang bincang, silahkan ke gardu penjagaan depan. Di sana banyak orang yang dapat diajak berbincang bincang sepanjang malam.”

“Ah,” hampir bersamaan Ki Rangga dan kepala pelayan itu tertawa pendek. Berkata kepala pelayan itu kemudian, “Terserah Ki Rangga, tugasku adalah memberikan pelayanan yang terbaik untuk tamu-tamu di Istana Kepatihan ini sesuai dengan jenjang kepangkatannya.”

“Bagaimana dengan aku,” potong Ki Bango Lamatan dengan serta merta, “Aku bukan prajurit dan tentu saja tidak mempunyai pangkat.”

Kepala Pelayan itu tersenyum. Jawabnya kemudian, “Tamu-tamu Ki Patih tidak selamanya prajurit. Ada juga tamu kerabat dari Sela. Semuanya kami tempatkan dengan baik di Istana Kepatihan ini.”

Ki Bango Lamatan tampak masih akan berbicara lagi namun dengan cepat Ki Rangga segera menggamit sambil berdesis, “Sudahlah, katanya sudah mengantuk. Kalau Ki Bango Lamatan bertanya terus, aku nanti yang malah menjadi mengantuk.”

Kembali mereka tertawa. Ki Rangga dan Ki Bango Lamatan pun kemudian memasuki bilik untuk beristirahat. Sementara dua orang pengawal Matesih telah ditempatkan di bilik yang paling ujung.

Dalam pada itu, Ratri yang tinggal satu bilik dengan ayahnya ternyata telah meminta Ki Gede untuk mengantarkannya mencari pakiwan.

“Ayah, antarkan aku ke pakiwan,” berkata Ratri kemudian kepada ayahnya.

“He? Bukankah engkau sudah dewasa Ratri?” sela ayahnya dengan kening berkerut, “Engkau sudah berani ke pakiwan sendiri.”

“Ah, ayah,” desah Ratri sambil menampakkan wajah cemberut, “Itu kalau di rumah. Sekarang ini kita tinggal di Istana Kepatihan dan aku sama sekali tidak tahu menahu seluk beluk Istana ini. Selain itu aku takut ada yang mengetahui penyamaranku dan berbuat yang tidak senonoh.”

Ayahnya tersenyum maklum sambil mengangguk angguk. Katanya kemudian, “Baiklah. Apakah engkau akan mandi dan berganti pakaian? Maksudku tetap dalam pakaian laki-laki atau kembali ke jati dirimu, pakaian kebanyakan perempuan?”

“Ah, ayah ini mengada ada,” kembali tampak wajah Ratri cemberut, “Bukankah aku datang sebagai laki-laki? Tentu akan membuat pelayan di gandhok ini kebingungan jika tiba-tiba saja ada seorang perempuan dalam salah satu bilik di gandhok ini.”

Ki Gede tertawa pendek. Sambil melangkah keluar bilik, Ki Gede pun memberi isyarat anak perempuan satu satunya itu untuk mengikuti langkahnya.

Sekembalinya Ki Gede mengantar putrinya ke pakiwan, ternyata di dalam bilik telah disediakan makan malam.

“Silahkan menikmati santap malam,” berkata pelayan yang mengatur hidangan di atas meja besar di sudut bilik, “Jika nanti sudah selesai, taruh saja mangkuk-mangkuk kotor di depan pintu bilik. Kami akan mengambilnya.”

“Terima kasih,” sahut Ki Gede kemudian. Sementara Ratri tampak sedang mengamat amati sayur dan lauk yang ada di atas meja.

Begitu pelayan itu pergi, Ratri segera mendekati meja dan mulai meneliti satu persatu makanan yang ada di atas meja.

“Lihatlah ayah. Sayur ini kelihatannya sangat enak,” berkata Ratri kemudian sambil mengendus-endus seperti laku seekor kucing yang menemukan sepotong ikan, “Lauk ini pasti daging sapi dan yang itu kambing. Nah, yang ini aku suka, dadar jagung dan telur ceplok.”

“Ratri!” seru ayahnya sedikit keras, “Berhenti mengendus endus seperti kucing. Aku jadi tidak berselera makan melihat tingkahmu seperti itu.”

Namun Ratri justru tertawa. Jawabnya kemudian, “Syukurlah jika ayah kehilangan selera. Akan aku habiskan semua makanan ini.”

“He?” seru Ki Gede kembali dengan wajah keheranan, “Jaga sikapmu Ratri. Jangan sampai di Menoreh nanti engkau menjadi beban keluarga Ki Rangga Agung Sedayu kalau selera makanmu tidak dikendalikan.”

Namun Ratri justru tersenyum sambil menyenduk nasi putih dalam bakul kecil yang tampak masih mengepul hangat, “Di Menoreh nanti aku akan tirakat sesuai dengan anjuran Nyi Sekar Mirah sebagai guruku. Mesu diri dan sebagainya dengan mengurangi makan dan tidur agar gegayuhan kita terkabul. Tetapi sekarang aku belum mulai, jadi masih bebas makan apa saja.”

“Ah,” sahut Ki Gede kemudian sambil ikut mengambil nasi dan sayur serta lauknya, “Tetapi setidaknya engkau harus ingat tujuanmu pergi ke Menoreh.”

Ratri pun hanya tersenyum senyum menanggapi nasihat ayahnya sambil menyuapi mulutnya.

Dalam pada itu di dalam bilik yang lain, Ki Rangga dan Ki Bango Lamatan tampak juga sedang bersantap malam.

“Seharusnya Ki Rangga menerima saja tawaran kepala pelayan tadi untuk menempati bilik yang terdekat dengan nDalem Kepatihan,” berkata Ki Bango Lamatan sambil mengunyah.

Ki Rangga menggeleng. Jawabnya kemudian, “Tidak ada bedanya Ki. Jika kita sudah tertidur pulas, bilik yang mewah maupun yang sederhana tidak akan dapat kita rasakan lagi.”

“Ki Rangga betul,” sahut Ki Bango Lamatan kemudian, “Namun aku yakin, selain bilik yang mewah, tentu makanannya pun mewah dan berlimpah.

 

“Ah,” desah Ki Rangga sambil mengambil sepotong lauk lagi, “Makanan ini pun sudah cukup mewah dan lebih dari cukup untuk kita berdua. Kadangkala aku berpikiran aneh jika sedang menyantap makanan yang agak berlebihan seperti ini.”

Ki Bango Lamatan menghentikan makannya sejenak. Tanyanya kemudian, “Apakah itu Ki Rangga?”

Ki Rangga tampak menelan makanan yang ada di mulutnya sebelum menjawab. Jawabnya kemudian, “Di tempat ini, saat ini kita menghadapi makanan yang mewah dan berlimpah. Namun di tempat lain di saat yang sama, mungkin banyak orang yang kelaparan dan kesulitan hanya untuk mencari sesuap nasi saja.”

“Ah,” desah Ki Bango Lamatan kemudian sambil menghentikan kegiatan makannya sejenak, “Ki Rangga membuat aku kehilangan selera makan.”

Ki Rangga tertawa pendek. Kata Ki Rangga selanjutnya, “Namun Yang Maha Agung itu adil dan Maha Pemurah. Kita harus yakin, Yang Maha Agung telah menghidupkan kita, tentu rejeki kita pun sudah di sediakan di atas bumi ini.”

“Ki Rangga benar,” sahut Ki Bango Lamatan sambil meneruskan makannya, “Segala sesuatunya sudah disiapkan, tinggal bagaimana usaha kita untuk mendapatkannya.”

“Melalui cara dan jalan yang diridhoiNya, atau justru dengan cara dan jalan yang sebaliknya,” Ki Rangga menambahkan.

“Itulah Ki Rangga,” sela Ki Bango Lamatan dengan serta merta, “Aku sudah pernah melalui cara dan jalan yang tidak menurut petunjukNya. Namun berkat jasa Kanjeng Sunan, kini aku telah terlahir dengan semangat baru dalam kehidupan yang baru.”

“Bersyukurlah Ki Bango Lamatan,” timpal Ki Rangga selanjutnya, “Masih banyak orang yang terjerumus dalam tindak dan perbuatan yang tidak sesuai dengan petunjukNya. Apa yang dapat kita lakukan adalah mensyukuri peparing ini dan berusaha untuk meningkatkan diri kita dalam meraih ridhoNya.”

Tampak kepala Ki Bango Lamatan terangguk-angguk. Sejenak suasana menjadi sepi. Hanya terdengar suara dua orang yang sedang asyik menikmati makanan mereka.

Setelah selesai bersantap malam, keduanya segera membereskan mangkuk-mangkuk kotor dan mencuci tangan mereka di tempat yang sudah di sediakan. Namun baru saja mereka akan memindahkan mangkuk-mangkuk kotor itu ke depan bilik, terdengar suara ketukan di pintu.

Ki Bango Lamatan segera melangkah ke pintu dan mengangkat selaraknya. Tampak kepala pelayan itu sudah berdiri di depan pintu ditemani oleh seorang pelayan dalam Kepatihan.

“Silahkan, silahkan,” berkata Ki Bango Lamatan kemudian. Namun tampak kepala pelayan gandhok itu menggeleng. Katanya kemudian, “Aku hanya mengantar pelayan dalam nDalem Kepatihan ini.”

Selesai berkata demikian kepala pelayan gandhok itu segera bergeser dan memberi tempat kepada pelayan dalam itu.

Pelayan dalam nDalem Kepatihan itu agaknya tanggap. Sambil bergeser tepat di depan pintu bilik yang terbuka, dia segera berkata, “Maaf mengganggu santap malam kalian. Ki Patih telah berkenan menerima Ki Rangga dan kawan-kawan sekarang juga di ruang samping nDalem Kepatihan.”

Ki Rangga yang telah melangkah mendekat itu segera menjawab, “Terima kasih. Tetapi apakah kami diperkenankan menghadap semuanya?”

Pelayan dalam nDalem Kepatihan itu sejenak mengerutkan keningnya. Jawabnya kemudian, “Pesan Ki Patih, yang ada keperluan saja yang dipersilahkan menghadap. Yang tidak punya kepentingan sebaiknya tinggal di gandhok saja.”

Ki Rangga pun telah tanggap. Maka jawabnya kemudian, “Baiklah, terima kasih atas pemberitahuan ini. Beri waktu kami untuk berkemas sebelum menghadap Ki Patih.”

“Silahkan,” jawab pelayan dalam itu. Kemudian sambil menggamit kepala pelayan gandhok yang berdiri mematung di sebelahnya, dia melanjutkan, “Kami rasa cukup dan kami akan minta diri.”

“Silahkan dan terima kasih atas pemberitahuannya,” Ki Bango Lamatan lah yang menjawab sambil kembali menutup pintu bilik itu begitu kedua orang itu berlalu.

“Marilah kita letakkan mangkuk-mangkuk kotor ini di depan pintu bilik,” berkata Ki Rangga kemudian, “Sekalian kita pergi ke bilik Ki Gede untuk mengajak menghadap Ki Patih.”

Ki Bango Lamatan tidak menjawab. Dibantunya Ki Rangga mengangkat mangkuk-mangkuk kotor itu dan kemudian meletakkan di depan pintu bilik. Setelah menutup pintu bilik itu kembali dari luar, keduanya pun kemudian melangkah menyusuri lorong menuju ke bilik Ki Gede.

Agaknya Ki Gede dan Ratri pun telah selesai bersantap malam menilik mangkuk-mangkuk kotor itu sudah diletakkan di depan pintu. Dengan perlahan Ki Rangga pun kemudian mengethuk pintu.

Terdengar suara seseorang berjalan tergesa gesa menuju pintu. Sejenak kemudian terdengar selarak diangkat dan seraut wajah muncul dari pintu yang terbuka sejengkal.

“O, Ki Rangga dan Ki Bango Lamatan kiranya,” berkata Ki Gede sambil membuka pintu bilik lebar-lebar, “Aku kira ada pelayan yang mengantar makanan lagi. Ternyata Ratri masih kelaparan.”

“Ah, ayah!” seru Ratri dari dalam bilik dengan nada sedikit kesal.

Yang mendengar pun tidak dapat menahan senyum mereka.

“Ki Gede,” berkata Ki Rangga kemudian sambil memberi isyarat kepada Ki Gede bahwa mereka tidak perlu masuk bilik, “Ki Patih telah menerima permohonan kita untuk menghadap sekarang juga. Silahkan berbenah dan kami tunggu di luar bilik saja.”

“Ratri juga ikut?” bertanya Ki Gede kemudian sambil memandang tajam ke arah Ki Rangga.

Bersambung ke bagian 2

11 Responses

  1. Susah membuka kelanjutan STSD-23 bagian 2 & 3

  2. Matursuwunki tenggo wedaran lajengipun

  3. terima kasih sudah melanjutkan … walaupun belum banyak

  4. Jooski bisa bikin dekdek pyur jantung

  5. Mantab dengan gaya tutur yang agak berbeda tapi tetap GAYENG.. sekarang agung Sedayu dan orang orang tua makin bahagia hidupnya.. banyak becandanya

  6. Assalamualaikum gerbong ada disini Ki Arema dan Mbah Man, semoga sll sehat, wedaran lancar jaya . Wassalam

  7. Bagian du STSD-23 sudah terisi.
    Silahkan …..

  8. bagian tiga, insya Allah segeraa menyusul

  9. Bikin penasaran, tp yg jelas RAS pasti selamat dg ilmunya atau bantuan orang lain.
    Menunggu kelanjutannya mbah.

  10. Kami tunggu mbah, semakin mendebarkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s