STSD-26

kembali ke STSD-25 | lanjut ke STSD-27

 

Bagian 1

DALAM PADA ITU di halaman banjar padukuhan induk, Ki Waskita yang sedang bertempur telah mendengar suara derap kaki-kaki kuda ditingkah suara kenthong titir yang membahana. Derap kaki-kaki kuda itu sepertinya sedang menuju ke banjar padukuhan induk dengan sangat cepatnya.

Lawan Ki Waskita pun agaknya telah mendengar dan mulai mempertimbangkan untuk segera mengakhiri pertempuran itu.

Tiba-tiba saja lawan Ki Waskita telah meloncat ke belakang beberapa langkah. Diangkatnya keris di tangan kanannya tinggi-tinggi. Sebelum orang itu sempat mengetrapkan puncak ilmunya, dua ekor kuda yang meluncur bagaikan anak panah yang dilepas dari busurnya telah memasuki halaman banjar.

Ki Waskita yang menyadari lawan telah mempersiapkan ilmu puncaknya segera bersiap. Namun Ki Waskita masih sempat berpaling sekejap dan melihat Ki Jayaraga dan Ki Wiyaga yang meluncur di atas kuda-kuda mereka memasuki halaman banjar.

Ketika dari ujung keris lawan kemudian meluncur dengan sangat cepatnya lidah api yang mampu menghanguskan apa saja yang diterjangnya, Ki Waskita telah meloncat ke samping sambil memutar ikat pinggang di tangan kanannya.

Kemudian sambil menghentakkan puncak ilmunya ke arah lawan, Ki Waskita masih sempat berteriak ke arah Ki Jayaraga.

“Ki Jayaraga! Langsung ke dapur!” teriak Ki Waskita kemudian sambil membenturkan puncak ilmu yang disalurkan lewat ujung ikat pinggangnya ke arah lidah api yang meluncur.

Ki Jayaraga yang mendengar teriakan Ki Waskita segera tanggap. Dengan sedikit mengekang kendali kudanya, Ki Jayaraga pun kemudian meloncat bagaikan terbang langsung ke pendapa. Begitu kakinya menginjak lantai pendapa, bagaikan dikejar hantu di siang bolong, guru Glagah Putih itu pun segera menghambur memasuki banjar langsung menuju ke dapur.

Ki Wiyaga yang ikut mendengar teriakan Ki Waskita segera mengikuti langkah Ki Jayaraga. Namun pemimpin pengawal perdikan Matesih itu tidak berani meloncat dari punggung kudanya selagi kuda itu sedang berlari kencang. Ditariknya kendali kuda itu perlahan lahan sehingga kuda itu tidak terkejut dan melonjak lonjak.

Begitu kuda itu berhenti tepat di depan tlundak pendapa, Ki Wiyaga segera meloncat turun. Namun baru saja Ki Wiyaga akan meloncat berlari, sudut matanya melihat kedua orang yang sedang menyabung nyawa itu telah membenturkan puncak ilmu masing-masing.

Terdengar sebuah ledakan keras. Debu di halaman banjar pun berhamburan bercampur daun-daun kering serta rumput-rumput yang bagaikan tercerabut dari akarnya. Sejenak suasana pun menjadi sedikit gelap tertutup oleh debu yang berhamburan.

Ketika debu-debu telah mereda. Tampak lawan Ki Waskita itu tergeletak beberapa langkah di hadapan Ki Waskita. Sementara ayah Rudita itu tampak jatuh terduduk pada kedua lututnya.

“Ki Waskita!” teriak Ki Wiyaga kemudian sambil berlari mendapatkan orang tua itu.

“Aku tidak apa-apa, Ki Wiyaga,” berkata Ki Waskita kemudian dengan suara yang sedikit tersendat sambil duduk bersila untuk mengatur pernafasannya yang bagaikan tersumbat. Lanjutnya, “Pergilah ke halaman belakang lewat longkangan. Kedua kawan orang itu telah berusaha memasuki banjar lewat longkangan.”

Tanpa berpikir panjang, Ki Wiyaga pun segera berlari menuju ke longkangan sebelah kiri bangunan induk.

Dalam pada itu lawan Ki Waskita ternyata masih dapat bertahan walaupun dalam keadaan yang sangat parah. Terdengar beberapa kali dia menggeram dan mengumpat. Namun tubuhnya benar-benar telah sangat lemah sehingga untuk menggerakkan ibu jari kakinya pun dia sudah tidak mampu.

Ki Waskita yang sudah selesai mengatur pernafasannya segera bangkit dan berjalan mendekati lawannya.

“Persetan kau iblis tua!” geram orang itu sambil menyeringai menahan sakit yang tiada taranya di sekujur tubuh. Seluruh persendian yang ada dalam tubuhnya terasa telah terlepas dan tercerai berai. Tubuhnya kini tak ubahnya hanya seonggok daging dan patahan tulang yang tidak dapat digerakkan sama sekali.

Ki Waskita yang telah berlutut di sisi lawannya segera melihat betapa keadaan orang itu sudah sangat parahnya dan sangat kecil kemungkinannya untuk dapat selamat.

“Engkau beruntung iblis tua!” geram orang itu kemudian dengan suara yang tersendat sendat dan nafas yang tersengal, “Seandainya aku mempunyai kesempatan untuk menyempurnakan aji alas kobar ini, mungkin tubuhmu sekarang sudah menjadi seonggok arang yang tak berarti!”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Aji alas kobar lawannya tadi memang masih belum matang. Belum mencapai tataran tertinggi dari puncak ilmu itu sendiri. Namun semua sudah berlalu dan orang yang menguasai aji alas kobar itu sekarang sedang tergolek tak berdaya.

“Tahanlah Ki Sanak,” berkata Ki Waskita kemudian dengan nada yang sareh, “Aku akan membantumu sejauh pengetahuanku.

Namun Ki Sanak harus membantuku dengan semangat dan perjuangan untuk melewati masa-masa yang gawat ini.”

“Omong kosong!” bentak orang itu dengan suara keras. Namun akibatnya justru telah membuat keadaannya menjadi semakin parah. Tampak orang itu terbatuk batuk beberapa kali dan pada akhirnya telah mengeluarkan segumpal darah yang berwarna kehitaman dari mulutnya.

“Tahanlah Ki Sanak,” berkata Ki Waskita kemudian sambil meraba dada orang itu. Namun dengan susah payah ternyata dia telah berusaha menepis tangan Ki Waskita.

“Enyahlah dari hadapanku!” geram orang itu kemudian dengan suara parau bercampur dengan tetesan-tetesan darah yang meleleh dari mulutnya.

Setelah terbatuk batuk lagi, orang itu pun dengan susah payah telah melanjutkan, “Kali ini kami gagal. Tapi dengarlah iblis tua! Saudara-saudara seperguruanku sedang mematangkan aji alas kobar ini beserta aji sapu angin. Kedua ilmu itu jika digabungkan akan menjadi ilmu yang tak terkalahkan di muka bumi,”

Kembali orang itu terbatuk batuk. Kali ini bahkan telah membuat dadanya terguncang guncang. Ki Waskita yang telah memberi isyarat kepadanya untuk berdiam diri terlebih dahulu ternyata telah diabaikan.

“Ingat!” setengah berteriak orang itu melanjutkan kata-katanya di antara desah nafasnya yang tersengal sengal, “Saudara-saudara seperguruanku akan datang untuk menjemput ajal Ki Rangga dan juga engkau, iblis tua. Itu jika nyawamu masih senang melekat di tubuhmu yang sudah renta.”

Orang itu kemudian tampak berusaha untuk tertawa. Namun ternyata justru telah membuat keadaannya semakin parah.

Beberapa kali dia terbatuk batuk lagi dan akhirnya ketika dia gagal untuk menarik nafas, tubuhnya pun menggeliat dan meronta ronta sebelum nyawanya lepas dari tubuhnya.

Untuk beberapa saat Ki Waskita masih merenungi tubuh yang terbujur kaku di hadapannya. Ketika Ki Waskita kemudian menyingkap baju orang itu, tampak sebuah ikat pinggang lebar yang terselip beberapa buah paser kecil. Dalam keremangan cahaya obor, paser-paser itu tampak berwarna hitam legam.

“Paser-paser ini tentu sangat beracun,” desis Ki Waskita sambil mengamat amati tanpa berani menyentuhnya, “Untunglah dia belum sempat menggunakan. Agaknya kedatangan Ki Jayaraga dan Ki Wiyaga telah membuyarkan semua rencananya.”

Teringat Ki Jayaraga, Ki Waskita pun terlonjak bagaikan disengat seekor kalajengking sebesar ibu jari orang dewasa. Ayah Rudita itu pun dengan tergesa gesa segera bangkit berdiri dan kemudian bergegas berlari menyusul Ki Jayaraga.

Dalam pada itu, Ki Wiyaga yang sedang menyusuri longkangan telah mendengar denting senjata beradu. Dengan bergegas kepala pengawal perdikan Matesih itu pun segera menghunus senjatanya dan berlari menuju ke arah suara yang mendebarkan itu.

Demikian Ki Wiyaga muncul dari longkangan, di halaman belakang tampak seorang pengawal tergolek di tanah. Sementara beberapa tombak jauhnya tampak seorang pengawal sedang berjuang mati matian mempertahankan hidupnya.

Ki Wiyaga segera menghambur ke tempat perkelahian itu sambil berteriak, “Tahanlah! Aku datang membantu!”

Pengawal yang sedang terdesak dengan sangat hebatnya itu seakan telah mendapat semangat dan kekuatan baru. Dengan sisa-sisa tenaganya dia berusaha menahan gempuran lawan.

Orang yang menjadi lawan pengawal itu terkejut ketika tiba-tiba saja sebuah serangan dahsyat dari arah samping menerjangnya. Tidak ada pilihan lain baginya kecuali meloncat ke samping sehingga pengawal yang terdesak itu pun dapat memperbaiki kedudukannya.

“Licik! Pengecut!” teriak orang itu sambil memutar senjatanya untuk melindungi tubuhnya dari sergapan Ki Wiyaga.

“Apa katamu? Licik?” teriak Ki Wiyaga sambil terus mengurung lawannya dengan serangan membadai. Lanjutnya kemudian sambil merunduk menghindari tebasan lawan, “Ini bukan perang tanding! Kami para pengawal perdikan Matesih sedang menangkap gerombolan pencuri yang akan memasuki banjar padukuhan tanpa ijin!”

“Omong kosong!” bentak lawannya dengan suara keras, “Kami bukan segerombolan pencuri! Kami adalah murid-murid perguruan besar yang mampu meluluh lantakkan perdikan ini menjadi rata dengan tanah hanya dalam sekejap!”

“Itulah yang namanya omong kosong!” sahut Ki Wiyaga tanpa mengendurkan serangannya. Sementara pengawal yang lawannya telah diambil alih oleh Ki Wiyaga segera menolong kawannya yang sedang pingsan.

Demikianlah kedua orang yang sama sekali tidak saling mengenal namun mempunyai kepentingan yang berseberangan itu telah bertempur dengan sengitnya. Silih ungkih singa lena.

Dalam pada itu Ki Waskita yang telah mencapai dapur menjadi terkejut bukan alang kepalang. Dari pintu yang terbuka sejengkal Ki Waskita dapat melihat Ki Jayaraga yang sedang berjongkok di hadapan sesosok tubuh yang terbujur diam. Bau sesuatu yang hangus terbakar pun tercium oleh Ki Waskita.

Untuk sejenak Ki Waskita telah tertegun di tengah-tengah pintu. Di sudut dapur, di depan sebuah geledhek pendek yang terbuat dari bambu, tampak Ki Jayaraga sedang berjongkok merenungi seseorang yang terbujur diam. Tampak tubuh bagian atas orang itu telah hangus terbakar.

“Ki Jayaraga?” sapa Ki Waskita kemudian sambil melangkah masuk.

Ki Jayaraga yang sebenarnya sudah mengetahui kedatangan Ki Waskita sedari tadi telah menarik nafas dalam-dalam sambil bangkit berdiri. Katanya kemudian, “Aku terlalu tergesa gesa dan kurang perhitungan ketika melancarkan serangan. Aku begitu mengkhawatirkan akan nasib Glagah Putih.”

Begitu mendengar nama Glagah Putih disebut, seketika Ki Waskita telah meloncat mendekati geledhek bambu yang masih tertutup itu. Dengan tergesa gesa segera ditariknya selarak dan kemudian dibukanya pintu geledhek itu.

Namun alangkah terkejutnya ayah Rudita itu, geledhek bambu itu ternyata sama sekali kosong. Tidak ada lagi Glagah Putih yang beberapa saat tadi di sembunyikan di dalamnya.

“Glagah Putih?!” seru Ki Waskita dengan nada yang cemas sambil berpaling ke arah Ki Jayaraga.

Ki Jayaraga yang sudah berdiri itu pun kemudian dengan tergesa gesa segera mendekat dan berjongkok di dekat Ki Waskita untuk melongok ke dalam geledhek. Namun memang geledhek bambu itu kosong melompong.

“Ki Waskita,” bertanya Ki Jayaraga kemudian dengan suara bergetar menahan gejolak di dalam dadanya, “Di mana Ki Waskita menyembunyikan Glagah Putih? Di dalam geledhek bambu ini kah?”

Hati Ki Waskita benar-benar telah menciut menjadi sebesar biji sawi. Mulutnya bagaikan terkunci dan kedua lututnya pun menjadi gemetaran. Dia tidak mampu menjawab pertanyaan Ki Jayaraga dengan kata-kata. Hanya sebuah anggukkan lemah saja namun yang telah membuat nyawa Ki Jayaraga serasa bagaikan terbang meninggalkan raganya.

“Ki Waskita?” tanya Ki Jayaraga kemudian dengan suara parau dan gemetar sambil terduduk di lantai dapur, “Kemana Glagah Putih?”

Untuk sejenak Ki Waskita menjadi bingung. Namun ayah Rudita itu segera berkata, “Mari kita periksa semua geledhek yang ada di dalam dapur,”

Selesai berkata demikian, Ki Waskita segera beranjak dari tempatnya. Ki Jayaraga pun kemudian mengikuti Ki Waskita membuka buka semua geledhek yang ada di dalam dapur, namun keberadaan Glagah Putih tetap belum dapat diketemukan.

Kedua orang tua yang pinunjul ing apapak itu pun menjadi seperti kanak-kanak yang kehilangan mainannya. Namun Ki Waskita yang dikaruniai kelebihan dapat meraba dan melacak keberadaan barang-barang yang hilang itu segera berkata, “Tenanglah Ki. Menilik selarak geledhek bambu ini yang belum dibuka, aku yakin Glagah Putih masih selamat. Entah siapa yang telah menyelamatkannya. Aku akan mencoba melacaknya.”

Mendengar dugaan Ki Waskita itu, hati Ki Jayaraga yang tinggal semenir telah berkembang kembali. Katanya kemudian, “Baiklah Ki Waskita. Cobalah untuk melacak keberadaan Glagah Putih. Barangkali Ki Waskita akan mendapat sisik melik keberadaan Glagah Putih.”

Ki Waskita tersenyum sambil mengangguk. Segera saja ayah Rudita itu duduk bersila sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Dengan kepala tunduk dan sepasang mata yang terpejam, Ki Waskita pun mulai menelusuri keadaan di sekitarnya dengan mata batinnya yang sangat tajam.

Sedangkan Ki Jayaraga yang duduk di sebelahnya ikut menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam dan memejamkan kedua matanya. Dicobanya untuk mengetrapkan aji sapta pangrungu untuk mendengarkan setiap desir yang mencurigakan di sekitarnya.

***

 

Dalam pada itu di perdikan Menoreh, Rara Wulan yang baru saja terlelap beberapa saat telah terlonjak bangun sambil menjerit. Wajahnya tampak pucat pasi dan keringat dingin pun mengucur dari sekujur tubuhnya. Sementara terlihat nafasnya yang memburu disertai dengan air mata yang mulai membasahi kedua pipinya.

“Ada apa Rara?” bertanya Sekar Mirah yang ikut terbangun. Sedangkan Damarpati yang tidur dengan menggelar tikar di samping pembaringan Sekar Mirah ikut terbangun.

“Kakang Glagah Putih, Nyi!” terdengar suara sendat Rara Wulan disertai dengan isak tangis yang tertahan tahan.

“O, engkau telah bermimpi buruk rupanya,” berkata Sekar Mirah kemudian sambil bangkit dan turun dari pembaringannya. Sambil membenahi sanggulnya istri senapati pasukan khusus Mataram yang berkedudukan di Menoreh itu segera mendekati pembaringan Rara Wulan.

“Tenanglah, Rara,” berkata Sekar Mirah kemudian sambil duduk di bibir pembaringan Rara Wulan. Direngkuhnya bahu Rara Wulan sambil meneruskan kata-katanya, “Memang sering terjadi jika kita jauh dari orang-orang yang kita cintai, kita kadang diganggu oleh mimpi-mimpi buruk. Berdoalah, agar mimpi buruk itu tidak menjadi kenyataan dan kita semua selalu dalam lindungan Yang Maha Agung.”

Tampak Rara Wulan yang berusaha menahan tangisnya itu mengangguk lemah. Namun bayangan mimpi yang mengerikan itu sulit dihilangkan dari dalam benaknya.

“Nyi, mimpi itu benar-benar mengerikan,” berkata Rara Wulan kemudian setelah dia mulai dapat menguasai hatinya, “Dalam mimpi itu, aku dan kakang Glagah Putih sedang berjalan jalan di tebing sebuah sungai yang curam. Aku sangat takut namun kakang Glagah Putih memaksaku untuk berjalan terus. Tiba-tiba terdengar suara bergemuruh dari arah hulu. Ternyata air di sungai itu meluap dan banjir besar pun melanda tebing sungai tempat kami berpijak,” Rara Wulan berhenti sejenak sambil menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan jantungnya yang bergejolak kembali. Lanjutnya kemudian, “Tebing yang kami pijak tiba-tiba runtuh, namun kakang Glagah Putih masih sempat mendorongku sekuat tenaga sehingga aku telah terlempar ke tempat yang tidak longsor. Namun akibatnya sangat mengerikan. Kakang Glagah Putih sendiri telah terperosok dan terseret oleh arus banjir bandang.”

Sampai disini Rara Wulan kembali terisak-isak. Dengan sekuat tenaga dia mencoba menahan tangisnya agar tidak membangunkan Bagus Sadewa. Sementara Damarpati yang duduk berselonjoran di atas tikar ikut menjadi berdebar debar.

“Sebuah mimpi yang aneh,” berkata Damarpati dalam hati sambil menarik nafas dalam-dalam, “Semoga hanya bunga tidur saja dan ungkapan dari rasa kangen mbokayu Rara Wulan terhadap suaminya.”

Tanpa sadar Damarpati tersenyum sendiri. Namun cepat-cepat senyum itu dibuang dari wajahnya ketika terdengar Sekar Mirah bertanya, “Apakah yang terjadi selanjutnya dalam mimpimu itu, Rara?”

Kembali Rara Wulan menarik nafas panjang beberapa kali untuk mengendurkan getar-getar di dalam dadanya. Ketika dia sudah mulai agak tenang kembali, Rara Wulan pun menjawab, “Aku yang didorongnya ke atas tebing hanya dapat berteriak teriak meminta tolong. Kakang Glagah Putih tampak berusaha melawan arus yang menyeretnya. Namun banjir bandang itu tidak mampu dilawannya sehingga kakang Glagah Putih pun semakin terseret jauh ketengah sungai.”

Untuk beberapa saat Sekar Mirah tertegun. Dia sendiri pernah mengalami mimpi mengerikan seperti itu ketika mereka belum menjadi pasangan suami istri. Ikatan batin yang kuat ternyata telah memberinya isyarat bahaya yang sedang mengancam calon suaminya saat itu.

“Seolah olah aku benar-benar mengalami peristiwa itu,” membatin Sekar Mirah sambil pandangan matanya menerawang langit-langit bilik, “Dalam mimpiku itu aku melihat kakang Agung Sedayu sepertinya sedang dikeroyok berpuluh puluh ekor anjing liar atau serigala, aku tidak begitu jelas. Namun aku benar-benar melihat kakang Agung Sedayu sedang dalam bahaya. Benar-benar sebuah mimpi yang mengerikan.”

“Sudahlah Rara,” berkata Sekar Mirah kemudian sambil memberi isyarat Damarpati untuk mengambilkan kendi yang terletak di atas meja kecil di sudut bilik, “Sebaiknya engkau tidur kembali. Namun sebelum tidur, minumlah barang seteguk dua teguk agar hatimu menjadi sedikit tenang.”

Selesai berkata demikian Sekar Mirah segera menerima kendi dari tangan Damarpati. Kemudian kendi itu pun segera diangsurkan kepada Rara Wulan.

“Minumlah Rara,” berkata Sekar Mirah kemudian.

“Terima kasih, Nyi,” sahut Rara Wulan sambil menerima kendi itu. Rara Wulan pun kemudian meminum air kendi itu seteguk dua teguk.

“Terima kasih Damarpati,” berkata Rara Wulan kemudian sambil mengembalikan kendi itu kepada Damarpati. Damarpati pun kemudian mengembalikan kendi itu pada tempatnya semula.

“Nah, sekarang marilah kita tidur lagi,” berkata Sekar Mirah kemudian sambil bangkit dari duduknya, “Jangan lupa berdoa sebelum tidur.”

Rara Wulan mengangguk. Namun baru saja Sekar Mirah melangkah, tiba-tiba saja Rara Wulan berdesis, “Tapi mimpiku itu belum selesai, Nyi.”

“He?” seru Sekar Mirah sambil memutar tubuhnya. Tanyanya kemudian dengan nada sedikit ragu sambil memandang tajam muridnya, “Maksud Rara?”

Rara Wulan yang dipandang gurunya dengan tajam telah menundukkan kepalanya. Jawabnya kemudian, “Sebelum terbangun dari tidurku, aku sepertinya melihat seseorang yang berlari lari di atas air sungai yang sedang meluap dan menghampiri kakang Glagah Putih yang hampir tenggelam.”

“He?” kembali Sekar Mirah terkejut dan kemudian duduk kembali di samping Rara Wulan. Tanyanya kemudian, “Apakah orang yang berlari larian di atas air itu kemudian berhasil menolong suamimu?”

Untuk sejenak Rara Wulan tampak ragu-ragu. Namun akhirnya dia pun mengagguk sambil menjawab, “Kelihatannya seperti itu, Nyi. Namun aku keburu terbangun. Yang aku ingat orang itu tampak menjulurkan tangannya ke arah kakang Glagah Putih sebelum aku terbangun.”

Kembali Sekar Mirah tertegun. Namun Sekar Mirah tidak mau berandai-andai terlalu jauh. Maka katanya kemudian, “Sudahlah Rara. Apapun yang terjadi itu adalah pertanda baik. Seseorang sudah berusaha menolong suamimu walaupun dengan cara yang aneh, berlari larian di atas air sungai yang sedang meluap,” Sekar Mirah berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Tetapi di dalam mimpimu itu, apakah engkau mengenal orang yang berusaha menolong suamimu itu?”

Tampak kening Rara Wulan berkerut merut. Tiba-tiba sebuah senyum tersungging di bibirnya. Wajahnya yang sedari tadi murung menjadi ceria kembali. Jawabnya kemudian dengan nada yang riang, “Benar, Nyi. Aku mengenalnya dengan baik orang yang menolong kakang Glagah Putih. Orang itu adalah Ki Rangga Agung Sedayu, suami Nyi Sekar Mirah.”

Terkejut Sekar Mirah mendengar cerita muridnya itu. Untuk sejenak tubuh Sekar Mirah justru telah membeku.

“Nyi?” desis Rara Wulan kemudian membangunkan Sekar Mirah dari lamunan.

“Oh,” desah Sekar Mirah kemudian sambil menggeleng gelengkan kepalanya, “Sudahlah Rara, aku tidak mengerti arti mimpimu. Tapi sebaiknya kita berdoa agar suami-suami kita selalu mendapat perlindungan Yang Maha Agung dalam menjalankan tugas-tugas mereka.”

Tampak kepala Rara Wulan terangguk angguk. Ketika Sekar Mirah kemudian bangkit dari duduknya dan menuju ke pembaringannya sendiri, Rara Wulan pun kemudian merebahkan tubuhnya kembali. Sedangkan Damarpati yang sedari tadi hanya menjadi pendengar yang baik segera ikut merebahkan diri di atas tikar sambil berselimut kain panjangnya.

“Tenanglah, Rara,” berkata Sekar Mirah kemudian sambil duduk di bibir pembaringan Rara Wulan. Direngkuhnya …..

Sejenak kemudian ketiga perempuan yang berada dalam satu bilik itu mulai mencoba memejamkan mata. Namun sekarang justru Sekar Mirah lah yang menjadi sedikit gelisah. Mimpi Rara Wulan yang melihat suaminya berlari larian diatas air sungai yang sedang meluap itu telah menggelisahkan hatinya.

“Tugas apa sebenarnya yang sedang diemban kakang Agung Sedayu?” pertanyaan itu berputar putar dalam benaknya, “Menurut Ki Bango Lamatan, kakang Agung Sedayu sedang mendapat tugas khusus dari Pangeran Pati. Tentu sebuah tugas yang sangat sulit yang orang lain dipandang tidak akan mampu menyelesaikannya.”

Berpikir sampai disitu Sekar Mirah menjadi semakin gelisah. Namun ketika terpandang olehnya Bagus Sadewa yang tidur lelap di sampingnya, hati perempuan anak Demang Sangkal Putung itu pun menjadi sedikit tenang.

“Semoga Yang Maha Agung selalu memberikan perlindungan kepada kita semua,” doa Sekar Mirah kemudian pasrah sambil memejamkan matanya.

***

 

Dalam pada itu di Perdikan Matesih, Ki Waskita yang sedang mengetrapkan kemampuannya untuk melacak keberadaan Glagah Putih telah dibuat kebingungan. Setelah beberapa saat tidak mendapatkan sisik melik, Ki Waskita pun segera mengakhiri samadinya.

Ki Jayaraga yang menyadari Ki Waskita sudah selesai dengan samadinya segera ikut menghentikan usahanya untuk mendengarkan keadaan di sekelilingnya dengan aji sapta pangrungu.

“Bagaimana, Ki?” bertanya Ki Jayaraga kemudian dengan nada harap-harap cemas.

Untuk beberapa saat ayah Rudita itu telah membeku di tempatnya. Namun ketika kesadaran kembali memasuki benaknya, Ki Waskita segera menjawab setelah menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu, “Aku merasakan sesuatu yang aneh sedang terjadi di sekitar banjar ini. Sepertinya ada kabut tebal yang menyelimuti banjar ini sehingga aku tidak dapat melacak keberadaan Glagah Putih beberapa saat yang lalu,” Ki Waskita berhenti sejenak sekedar untuk menarik nafas. Lanjutnya kemudian, “Biasanya aku mampu melacak jejak-jejak yang ditinggalkan sebuah kejadian walaupun itu sudah berlalu beberapa saat. Namun kali ini aku benar-benar dibuat bingung. Pandangan mata batinku seperti terhalang oleh sebuah kabut tebal yang tak tembus pandang.”

Ki Jayaraga menjadi berdebar debar. Namun orang tua itu hanya dapat pasrah sambil tak lupa memanjatkan doa untuk keselamatan muridnya yang terakhir itu.

“Ki Jayaraga, marilah kita tengok perkelahian yang sedang berlangsung di halaman belakang itu,” berkata Ki Waskita pada akhirnya sambil bangkit berdiri dan memberi isyarat Ki Jayaraga untuk keluar dapur. Suara denting senjata yang beradu di halaman belakang itu telah menarik perhatiannya.

“Siapa tahu hilangnya Glagah Putih ada hubungannya dengan ketiga orang yang memasuki banjar beberapa saat tadi. Dua orang sudah terbunuh, kita harus mengorek keterangan dari yang tersisa,” lanjut Ki Waskita sambil melangkah.

“Ya. Siapa tahu mereka bertiga hanya bertugas memancing perhatian dengan membuat keonaran. Sementara masih ada orang lain yang bertugas membawa pergi Glagah Putih,” sahut Ki Jayaraga dengan penuh semangat sambil mengikuti langkah Ki Waskita.

Namun tampak sebersit keragu-raguan menghinggapi wajah tua itu. Pintu dapur ternyata masih terlihat diselarak dengan kuat.

Tidak tampak tanda-tanda seseorang telah membukanya dengan paksa dari luar.

“Kita keluar, Ki?!” desis Ki Jayaraga yang membangunkan Ki Waskita yang hanya termangu mangu saja di depan pintu.

“Tentu saja, Ki,” sahut Ki Waskita dengan serta merta, “Aku benar-benar dibuat heran, dari mana orang yang membawa keluar Glagah Putih itu datang dan pergi?”

“Bukankah pintu butulan ruang dalam yang tembus ke gandhok kiri tadi terlihat telah didobrak?”

“Maksud Ki Jayaraga, orang itu melalui pintu butulan yang sudah terbuka tadi?”

“Dari mana lagi?”

Sejenak Ki Waskita merenung. Namun akhirnya Ki Waskita memutuskan untuk segera keluar dari dapur.

Dengan cekatan Ki Waskita segera mengangkat selarak. Ketika pintu dapur pun kemudian terbuka, udara malam yang dingin pun segera menyergap kedua orang tua itu. Sementara suara denting senjata beradu terdengar semakin keras.

Dengan setengah berlari Ki Waskita dan Ki Jayaraga pun segera keluar dapur dan kemudian mencari arah suara perkelahian yang terdengar sangat seru.

“Ki Wiyaga!” hampir berbareng kedua orang tua itu berseru tertahan. Namun hanya dengan melihat sekilas saja kedua orang tua yang sudah putus dari segala kawruh lahir maupun batin itu dapat menilai bahwa Ki Wiyaga akan dapat mengatasi lawannya.

“Aku akan membantu kedua pengawal itu terlebih dahulu,” berkata Ki Jayaraga kemudian sambil melangkah kearah seorang pengawal yang tampak sedang berjongkok di sisi kawannya yang terbaring diam.

“Silahkan, Ki,” sahut Ki Waskita sambil melangkah mendekati arena perkelahian.

Untuk sejenak Ki Waskita masih menilai jalannya perkelahian yang semakin seru dan mendebarkan. Keduanya tampak semakin waringuten. Beberapa gores luka mulai menghiasi tubuh lawan Ki Wiyaga.

“Usahakan untuk menangkapnya hidup-hidup Ki Wiyaga!” seru Ki Waskita kemudian, “Kita memerlukan keterangannya karena kedua kawannya telah menemui ajal!”

“Omong kosong!” bentak lawan Ki Wiyaga itu dengan suara menggelegar, “Kalian tidak akan mungkin mengalahkan guru. Dengan ilmunya kalian akan dibakar menjadi abu!”

“Engkau benar Ki Sanak!” teriak Ki Waskita mengatasi deru perkelahian kedua orang itu, “Aku hampir saja lumat menjadi abu. Namun ternyata ilmu gurumu itu masih belum matang sehingga akhirnya gurumu lah yang tidak mampu bertahan!”

“Omong kosong!” kembali lawan Ki Wiyaga itu berteriak menggelegar untuk mengatasi kegalauan hatinya, “Kalian mencoba mempengaruhi ketahanan jiwaku dengan cerita ngayawara yang tak berdasar itu!”

“Sadarilah ucapanmu Ki Sanak!” kembali Ki Waskita berteriak dari pinggir arena, “Bukankah engkau melihat sendiri akulah yang menjadi lawan gurumu itu beberapa saat tadi? Dan sekarang aku telah berdiri di sini! Engkau seharusnya menyadari apa yang telah terjadi dengan gurumu itu!”

“Persetan!” teriak lawan Ki Wiyaga sambil menghentakkan kemampuannya. Namun di sudut hatinya mulai bertanya tanya tentang keadaan gurunya.

“Benarkah guru telah dikalahkan oleh orang tua bangka itu?” pertanyaan itu berputar putar dalam benaknya seiring dengan debar jantungnya yang semakin kencang.

Dalam pada itu Ki Jayaraga telah melangkah mendekati kedua pengawal itu. Tampak pengawal yang terbaring itu terlihat mulai menggeliat.

“Apa yang terjadi?” bertanya pengawal yang mulai tersadar itu kemudian sambil bangkit dan kemudian duduk berselonjoran. Kedua matanya tampak menyimpan seribu pertanyaan sambil memandang ke arah kawannya dan Ki Jayaraga yang baru datang.

“Engkau telah jatuh pingsan,” jawab kawannya kemudian sambil mengangguk dan tersenyum ke arah Ki Jayaraga yang baru datang, “Engkau terjatuh pada saat mendapat serangan tiba-tiba dari orang tak dikenal itu.”

Selesai berkata demikian kawannya segera menunjuk ke arah orang yang sedang bertempur dengan dahsyatnya melawan Ki Wiyaga.

“Gila!” geram pengawal itu kemudian sambil berusaha bertelekan pada kedua tangannya untuk berdiri. Namun kawannya segera mencegah.

“Ada apa?” bertanya kawannya kemudian sambil memandang pengawal itu dengan penuh tanda tanya.

“Aku akan membalas perbuatan liciknya! Menyerang tanpa memberikan peringatan terlebih dahulu!”

“Ah!” kawannya tersenyum masam. Katanya kemudian, “Bagi orang yang ingin berbuat jahat, tidak perlu baginya untuk memberi peringatan atau pun tidak. Mereka dapat saja menusuk kita dari belakang, bahkan di saat kita sedang tertidur lelap sekalipun.”

Pengawal itu masih akan membantah, namun Ki Jayaraga yang ikut berjongkok di sebelahnya segera menengahi. Katanya kemudian, “Sudahlah! Apa yang dikatakan kawanmu itu benar adanya. Biarkan Ki Wiyaga menangkapnya hidup-hidup. Kita perlu keterangan dari orang itu. Kedua kawannya telah terbunuh sehingga kita memerlukannya untuk mendapat keterangan lebih lanjut.”

Pengawal itu agaknya dapat memahami penjelasan Ki Jayaraga. Sambil mengangguk-angkukkan kepala, dia pun kemudian berdesis, “Terima kasih Ki. Peristiwa ini akan menjadikan aku lebih berhati hati di kemudian hari.”

Serentak Ki Jayaraga dan pengawal satunya itu pun terangguk angguk.

“Nah,” berkata Ki Jayaraga kemudian sambil bangkit berdiri, “Kalian berdua pergilah ke halaman depan. Aku tadi melihat dua orang kawan kalian tergeletak di depan gardu. Mungkin mereka memerlukan pertolongan.”

Bagaikan di sengat seekor kalajengking, kedua pengawal itu terlonjak kaget. Dengan tergesa gesa keduanya pun segera bangkit berdiri dan tanpa bertanya lebih jauh, keduanya segera berlari lewat longkangan menuju ke halaman depan.

Sepeninggal kedua pengawal itu, Ki Jayaraga segera mendekati arena pertempuran yang semakin seru. Namun sebagaimana Ki Waskita, Ki Jayaraga pun sudah dapat menebak akhir dari perkelahian itu.

“Bagaimana Ki?” bisik Ki Jayaraga kemudian begitu dia berdiri di samping Ki Waskita.

“Awasi perkelahian ini, Ki,” jawab Ki Waskita tanpa berpaling, “Usahakan untuk menangkap orang itu hidup hidup. Aku tadi sudah berpesan kepada Ki Wiyaga. Namun jika Ki Wiyaga kesulitan, Ki Jayaraga dapat turun tangan ikut membantu. Sementara aku akan mencari sisik melik hilangnya Glagah Putih dari halaman belakang. Barangkali aku bisa menyingkap tabir yang menyelimuti banjar ini.”

Tanpa menunggu jawaban Ki Jayaraga, Ki Waskita segera bergeser menjauh dengan cepat ke arah perigi.

Untuk beberapa saat Ki Waskita masih mencoba mendengarkan suara-suara di sekelilingnya dengan aji sapta pangrungu, meneliti satu persatu ke tempat-tempat yang gelap dengan aji sapta pandulu, dan mencoba meraba sekelilingnya dengan aji sapta panggraita. Namun kesemuanya tidak memberikan hasil sama sekali.

“Aku akan memantau kembali dengan mata batinku,” berkata Ki Waskita kemudian dalam hati sambil mulai menyilangkan kedua tangannya di dada dan menundukkan kepalanya dalam-dalam serta memejamkan kedua matanya.

Sejenak kemudian, dengan mata batinnya ayah Rudita itu mulai menelisik setiap jengkal tanah yang ada di sekeliling banjar padukuhan induk itu.

Dalam pada itu perkelahian antara Ki Wiyaga dan lawannya sudah mulai mendekati babak akhir.

“Menyerahlah!” berkata Ki Wiyaga sambil terus mendesak lawannya, “Kami para pengawal perdikan Matesih adalah orang-orang yang memegang teguh paugeran. Walaupun kalian memasuki banjar ini seperti laku para pencuri, namun kami akan bertindak seadil-adilnya.”

“Omong kosong!” teriak lawannya sambil terus berusaha menghindari serangan Ki Wiyaga yang membadai, “Kalian sama saja dengan segerombolan serigala yang akan mencabik cabik mangsa kalian tanpa belas kasihan. Kalian akan menikmati kesenangan dengan menyiksa lawan yang sudah tidak berdaya!”

“Tentu saja tidak, Ki Sanak!” sahut Ki Wiyaga dengan serta merta sambil memutar pedangnya dan kemudian menebas ke arah leher lawan, “Perdikan Matesih adalah sebuah perdikan yang dipimpin oleh seorang yang luhur dan bijaksana. Ki Gede Matesih tidak akan membiarkan kesewenang-wenangan terjadi di perdikan Matesih, walaupun itu terhadap orang-orang yang telah membuat keonaran dan kegaduhan!”

“Tutup mulutmu!” bentak lawan Ki Wiyaga sambil merendahkan tubuhnya. Tiba-tiba saja dia memindahkan senjatanya ke tangan kiri. Sementara dengan sangat cepatnya hampir tidak dapat diikuti oleh pandangan mata wadag, di tangan kanannya telah tergenggam tiga buah paser kecil.

“Awas paser beracun!” teriak Ki Jayaraga dengan serta merta memperingatkan Ki Wiyaga. Dengan sekali pandang saja, Ki Jayaraga segera maklum paser-paser itu sangat beracun dilihat dari warnanya yang hitam kelam.

Ki Wiyaga yang terkejut mendengar teriakan Ki Jayaraga segera menyadari bahaya yang mengancam jiwanya.

Namun jarak keduanya terlalu dekat sehingga kesempatan Ki Wiyaga untuk meloncat menghindar hampir tidak ada. Namun kepala pengawal perdikan Matesih itu dapat berpikir cepat. Dalam keadaan yang mendebarkan itu Ki Wiyaga segera mengambil keputusan untuk menjatuhkan diri bersamaan dengan meluncurnya tiga buah paser menyambar dadanya.

Terdengar umpatan yang sangat kotor keluar dari mulut lawan Ki Wiyaga itu begitu menyadari lawan dapat menghindari sambaran paser-pasernya. Dengan gerakan yang sulit diikuti oleh mata wadag, tiba-tiba di tangan kanannya sudah tergenggam tiga buah paser beracun lagi dan siap untuk meluncur menerkam Ki Wiyaga yang masih berguling di tanah.

Namun kepala pengawal perdikan Matesih itu ternyata telah menggunakan kesempatan sekejap selagi dia berguling di tanah. Dengan satu gerakan dia justru telah berguling mendekat dan kemudian mengayunkan pedangnya menebas pergelangan tangan lawannya yang terangkat.

Tidak ada kesempatan bagi orang itu untuk menghindari tebasan Ki Wiyaga. Justru di saat dia telah siap untuk mengayunkan tangannya melempar paser-paser itu ke arah Ki Wiyaga, senjata lawan telah menyambarnya.

Yang terdengar kemudian adalah sebuah jeritan kesakitan yang luar biasa. Pergelangan tangan lawannya itu rasa rasanya telah terlepas persendiannya bersamaan dengan terlemparnya ketiga paser yang berada dalam genggamannya. Dengan gerak naluriah, orang itu pun telah melepas senjata di tangan kirinya dan kemudian mendekap erat pergelangan tangan kanannya yang rasa rasanya mau putus.

Ternyata dalam keadaan yang menegangkan itu Ki Wiyaga masih dapat berpikir wajar. Dia tidak menggunakan sisi pedangnya yang tajam akan tetapi dia telah menggunakan sisi pedangnya yang tumpul untuk memukul pergelangan tangan kanan lawan.

Namun kembali mereka dibuat terkejut bukan alang kepalang. Di saat yang menentukan itu, orang yang telah jatuh terduduk itu ternyata masih sempat merogoh ke dalam bajunya dengan tangan kirinya.

“Awas paser!” teriak Ki Jayaraga memperingatkan. Dengan gerak naluriah Ki Wiyaga yang sudah bangkit berdiri itu telah mengangkat senjatanya tinggi-tinggi untuk menghabisi lawan.

“Jangan dibunuh, kita perlu keterangannya!” teriak Ki Jayaraga kembali sambil meloncat maju sejauh jauhnya berusaha untuk menyentuh kepala bagian belakang orang itu. Ternyata Ki Jayaraga berusaha menyentuh tengkuk orang itu untuk melumpuhkannya.

Namun yang terjadi kemudian adalah sangat diluar dugaan. Lawan Ki Wiyaga itu tidak melontarkan paser-paser yang sudah tergenggam di tangan kirinya ke arah lawan. Orang itu justru telah menancapkan paser-paser itu di dadanya sendiri.

Untuk sejenak kedua orang itu justru telah tertegun diam. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa orang itu akan berbuat nekat untuk menghabisi nyawanya sendiri.

Terdengar orang itu menggeram keras. Tubuhnya pun kemudian terguling dan rebah di tanah. Racun yang sangat ganas dengan sangat cepat telah menyusuri aliran darahnya dan menyergap jantung.

Hampir bersamaan kedua orang itu segera meloncat mendekat. Tampak dengan pandangan nanar orang itu memandang kedua orang yang telah berjongkok di sisi tubuhnya.

Tiba-tiba orang itu tersenyum sambil berdesis, “Kalian tidak akan mampu menangkap aku. Aku lebih baik mati dari pada menjadi tawanan kalian,” orang itu berhenti sejenak karena nafasnya menjadi tersengal sengal. Lanjutnya kemudian, “Tapi ingat perguruan kami akan tetap memburu Ki Rangga Agung Sedayu sampai ke ujung bumi sekalipun. Sehebat dan setinggi apapun ilmu Ki Rangga, perguruan kami telah mempersiapkan ilmu untuk menghadapinya. Sebuah ilmu gabungan dari aji alas kobar dan aji sapu angin untuk membunuhnya.”

Selesai berkata demikian tampak mulut orang itu menyeringai menahan sakit yang sangat hebat. Setelah menggeliat sambil mengumpat dengan kata-kata yang sudah tidak jelas, tubuhnya pun kemudian terbujur diam untuk selama lamanya.

Untuk beberapa saat kedua orang itu masih tampak merenungi jasad yang tergeletak di hadapan mereka.

Tiba-tiba terdengar langkah-langkah seseorang dari arah belakang perigi menuju ke tempat itu.

“Ki Waskita,” sapa Ki Wiyaga kemudian sambil bangkit berdiri diikuti oleh Ki Jayaraga.

“Apa yang telah terjadi?” bertanya Ki Waskita kemudian sesampainya dia di tempat itu.

Kedua orang itu tampak menarik nafas panjang terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Ki Waskita. Ki Jayaraga lah yang kemudian menjawab, “Kita gagal untuk menangkapnya hidup-hidup. Dia lebih suka menghabisi nyawanya sendiri dari pada memberi keterangan tentang jati diri mereka.”

“Ah, sudahlah,” berkata Ki Waskita kemudian, “Ada baiknya Ki Wiyaga ke halaman depan untuk melihat keadaan. Aku dan Ki Jayaraga akan mengawasi keadaan di halaman belakang ini.”

“Baik Ki,” jawab Ki Wiyaga kemudian sambil mengangguk. Setelah menyarungkan senjatanya, kepala pengawal tanah perdikan Matesih itu pun melangkah meninggalkan tempat itu melalui longkangan.

Sepeninggal Ki Wiyaga, Ki Jayaraga segera berlutut kembali di sisi jasad yang terbujur diam itu. Untuk beberapa saat guru Glagah Putih itu tampak termenung. Dengan gerak naluriah disingkapkan baju orang itu untuk melihat ikat pinggangnya.

“Timang ikat pinggang ini sepertinya menggambarkan lambang sebuah perguruan,” desis Ki Jayaraga seolah ditujukan kepada dirinya sendiri.

Ki Waskita yang mendengar desis guru Glagah Putih itu segera kembali berjongkok. Diamat amatinya timang ikat pinggang itu dalam keremangan malam. Namun orang tua yang mempunyai penglihatan yang sangat tajam itu segera melihat sebuah lukisan yang dibuat di atas timang yang lebar itu.

“Timang yang sama dengan yang dipakai lawanku. Sebaiknya kita lepas saja timang ini,” berkata Ki Waskita mengusulkan, “Timang ikat pinggang ini suatu saat nanti dapat dijadikan sisik melik untuk mencari keberadaan perguruan yang sangat menaruh dendam kepada angger Sedayu.”

“Ki Waskita benar,” sahut Ki Jayaraga sambil dengan cekatan melepas timang itu dari tempatnya, “Akan kita tunjukkan timang ini kepada Ki Rangga. Tentu Ki Rangga mempunyai ingatan tentang ikat pinggang ini.”

“Juga ciri khas perguruan ketiga orang ini, terutama guru mereka,’ sahut Ki Waskita dengan serta merta, “Agaknya mereka begitu membanggakan aji alas kobar dan aji sapu angin. Walaupun orang yang bertempur di halaman depan tadi baru menguasai kulitnya saja.”

Tampak kepala Ki Jayaraga terangguk angguk sambil menyimpan timang itu di saku ikat pinggangnya.

“Ki Waskita,” bertanya Ki Jayaraga kemudian sambil bangkit berdiri “Bagaimana hasil pelacakan keberadaan Glagah Putih dari halaman belakang ini?”

Tampak Ki Waskita menggelengkan kepalanya sambil ikut berdiri. Jawabnya kemudian, “Aku benar-benar merasa kebingungan menelisik keberadaan Glagah Putih. Panggraitaku mengatakan Glagah Putih masih berada di sekitar banjar ini, namun pengamatan batinku tidak menemukan apa-apa. Seolah olah di sekeliling banjar ini telah diselimuti oleh kabut tebal yang tidak tembus pandang.”

Kerut merut yang dalam pun tampak di wajah Ki Jayaraga. Betapa kekhawatiran tampak sangat jelas menghiasi wajahnya.

“Sebaiknya kita melihat ke halaman depan, Ki,” berkata Ki Waskita kemudian sambil mengayunkan langkahnya, “Sepertinya kita perlu membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi sebelum menentukan langkah selanjutnya.”

Ki Jayaraga tidak menjawab. Diikuti saja langkah orang tua yang mempunyai penglihatan batin yang sangat tajam itu.

Dalam pada itu Ki Kamituwa dan dua orang pengawal yang berpacu menuju padukuhan Cluring telah melewati beberapa gardu penjagaan yang tersebar di sepanjang jalan.

“Carilah kuda dan sebagian dari kalian susullah kami ke padukuhan Cluring!” demikian Ki Kamituwa memberi perintah kepada para pengawal dan anak-anak muda yang tampak bersiaga di setiap gardu.

Rombongan Ki Kamituwa itu pun semakin lama menjadi semakin banyak. Mereka berpacu dengan sangat kencangnya menuju ke padukuhan Cluring.

“Awas! Di depan ada tikungan menurun menuju kali Lengkung!” teriak Ki Kamituwa memberi peringatan para pengawal yang mengikutinya.

Sambil sedikit menahan laju kudanya, Ki Kamituwa pun kemudian menuruni jalan yang menikung dan kemudian menurun ke arah tepian kali Lengkung. Para pengawal yang mengikutinya pun segera berbuat serupa.

Rombongan berkuda itu pun kemudian menyeberangi kali Lengkung yang airnya sangat dangkal. Begitu kaki-kaki kuda itu menyentuh tepian sebelah utara, Ki Kamituwa dan para mengawal segera melecut kembali kuda masing-masing.

Bersambung ke bagian 2

24 Responses

  1. Mak jal.. nanggung! 😁

  2. Jiaaan mengasyikkan,matur suwun mbah Man,semoga pinaringan seger kewarasan selalu,aamiin

  3. Maturnuwun Mbah_Man & P.Satpam

  4. Makasih , cerita nya menarik , ditunggu kelanjutannya

  5. Iiiiih…..penasaraaan

  6. Terima kasih alias matur nuwun , semoga cepat tersaji kelanjutannya.
    ( begitu penasaran walau saya sdh berumur 65 tahun / seuasia pertapa dari Gua Langse )

  7. Alhamdulillah..JKK, SALB

  8. duh..tanggung bangettt 😂😀 oh

  9. Ditunggu kelanjutannya Mbah man

  10. Saya termasuk pandemen serial silat api di bukit menoreh dan sejengkal tanah setetes darah……mantabbb

  11. Bundel bagian pertama STSD-26 sudah bisa dibaca.

    Yang menyukainya, monggo…….

    Dengan kecepatan penulisan panjenenganipun Mbah_man, selamat bertemu dua minggu lagi.

    Nuwun

  12. Nyuwun enggal dipun wedar Malih Mbah_man , Kulo remen crito silat meniko

  13. Kami sabar menunggu bersama teman” anggota group padepokan Sagopi. Semoga semuanya lancar dan sukses.

  14. Matur suwun sanget nggih mbah Man,mugi2 kaparingan sehat waras wiris

  15. Semakin AS membuat tanjub insan beriman.

  16. Ditunggu kelanjutan mbah semoga tdk lama lagi.
    Nuwun

  17. Sudah adakah lanjutannya? Ajkkh

  18. mantaap….terima kaish Mbah Man….

  19. ….semoga Pandan wangi akhirnya menemukan cinta sejatinya ya Mbah…he,he…

  20. Asalaualaikum Mbak Man….sambil menarik nafas dalam2 saya sabar menunggu cerita lanjutnya..semoga cepet seperti suwe mijet wohing ranti….salam kenal saya danang, jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s