• Kalender

    December 2020
    M T W T F S S
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Statistik Blog

    • 6,353,328 kunjungan
  • Tulisan Terakhir

  • Komentar

    Istna pujiani on STSD-28
    Ali Murtadho on STSD-28
    Reza on STSD-28
    Tursantono on TADBM-413
    Heru Usadajati on STSD-28
    Iwan on STSD-28
    Tursantono on TADBM-412
    Arrow Zarkoni on STSD-28
    Indra on STSD-28
    pujianto on STSD-28
  • Archives

STSD-27

kembali ke STSD-26 | lanjut ke STSD-28

 

Bagian 1

NAH, KI RANGGA,” berkata sang Maharsi kemudian membangunkan Ki Rangga dari lamunan, “Marilah kita berhadapan secara jantan! Tunjukkan dirimu yang sebenarnya! Jangan hanya berani bermain petak umpet!”

Untuk beberapa saat ujud Ki Rangga itu justru telah termenung. Glagah Putih yang melihat ujud semu kakak sepupunya itu terlihat seperti sedang merenung menjadi berdebar debar. Jika kakak sepupunya itu menerima tantangan sang Maharsi untuk berperang tanding, tentu peristiwa di padepokan Sapta Dhahana beberapa saat yang lalu akan terulang kembali.

“Apakah kakang Agung Sedayu akan mampu menundukkan Maharsi yang keras hati ini?” membatin Glagah Putih sambil sedikit demi sedikit bergeser menjauh, “Ataukah kakang Agung Sedayu akan terluka parah lagi?”

Pertanyaan itu ternyata telah membuat Glagah Putih gelisah. Namun anak laki-laki Ki Widura itu belum dapat menemukan jalan keluar menghadapi keadaan yang semakin gawat itu.

Namun lamunan Glagah Putih itu terputus ketika mendengar ujud semu Ki Rangga itu justru telah tertawa. Berkata ujud semu Ki Rangga itu kemudian, “Maharsi, sebenarnya perang tanding ini sudah dimulai sejak aku datang. Namun kita tidak perlu mengadu liatnya kulit dan kerasnya tulang.”

Terlihat kening sang Maharsi yang sudah berkerut merut itu tampak berkerut semakin dalam. Bertanya sang Maharsi kemudian dengan nada sedikit ragu, “Apa maksudmu, Ki Rangga?”

Tampak ujud semu Ki Rangga tersenyum sekilas. Jawabnya kemudian dengan suara yang tegas dan mantap, “Temukanlah ujud wadagku yang asli, dan jika Maharsi berhasil silahkan bawa Glagah Putih!”

“Kakang!” seru Glagah Putih terkejut bukan alang kepalang. Tanpa sadar dia telah melangkah mendekat namun dengan sebuah isyarat ujud semu Ki Rangga telah melarangnya.

Glagah Putih menjadi berdebar debar. Dia kembali teringat peristiwa di Padepokan Sapta Dhahana beberapa saat yang lalu. Kakak sepupunya itu terakhir juga telah menggunakan ilmu semu yang pada akhirnya telah diketemukan persembunyian wadag aslinya oleh Kiai Damar Sasangka.

“Di manakah wadag kakang Agung Sedayu bersembunyi?” bertanya Glagah Putih dalam hati sambil sekali lagi mencoba mengedarkan pandangan mata ke sekelilingnya.

“Mungkin di seberang sungai atau di balik tanggul sungai yang tidak seberapa tinggi itu,” kembali Glagah Putih berangan angan. Ada keinginan untuk mencoba bergeser mendekat ke arah tanggul. Namun keinginan itu diurungkannya ketika dia mendengar sang Maharsi tertawa.

“Ki Rangga,” berkata sang Maharsi kemudian sambil menegakkan tubuhnya yang renta, “Alangkah mudahnya tantangan yang engkau tawarkan ini. Semudah membalik telapak tangan. Jangan salahkan aku jika dengan sekali loncatan, wadagmu yang sedang bersembunyi itu akan lumat terkena gempuran ilmuku!”

Selesai berkata demikian, sang Maharsi segera menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam. Hanya sekejap dan sang Maharsi telah menegakkan kepalanya kembali sambil mengurai kedua tangannya.

“Nah, aku akan mengakhiri permainanmu ini,” berkata Maharsi kemudian yang membuat jantung Glagah Putih bagikan terlepas dari tangkainya, “Jangan sesali keputusanmu untuk menantangku dengan permainan kanak-kanak ini!”

“Silahkan Maharsi!” tantang ujud semu Ki Rangga dengan nada tinggi, “Namun sekali lagi aku katakan, kita tidak perlu mengadu liatnya kulit dan kerasnya tulang. Maharsi hanya aku tantang untuk menemukan ujud asliku, itu saja. Tidak lebih dan tidak kurang!”

“Ah!” seru Maharsi sambil terkekeh, “Mengapa engkau sekarang menjadi seorang pengecut Ki Rangga? Namun semua itu terserah kepadamu. Aku telah menemukan persembunyian wadagmu dan aku akan membangunkan samadimu dengan benturan ilmuku. Terserah engkau akan bersiap atau tidak! Jangan salahkan aku jika wadagmu akan lumat menjadi debu!”

Selesai berkata demikian sang Maharsi segera merentangkan kedua tangannya jauh ke samping kiri dan kanan. Namun tampak sebuah kerutan di keningnya yang memang sudah penuh keriput itu.

“Mengapa wadag Ki Rangga yang bersembunyi di balik tanggul sungai itu ada dua?” bertanya Maharsi dalam hati dengan jantung yang mulai berdebaran. Sebenarnyalah Maharsi itu telah meraba keberadaan dua orang yang bersembunyi di balik tanggul sungai.

“Menilik getarannya yang hampir tak terjangkau oleh panggraitaku, yang bersembunyi di balik tanggul itu pasti wadag Ki Rangga dalam puncak samadinya,” kembali Maharsi berangan angan sambil mulai bersiap. Namun sepercik keraguan kembali merayapi jantungnya.

“Ah, entahlah,” pertanyaan yang melilit benaknya itu akhirnya dijawabnya sendiri, “Mungkin Ki Rangga memang sengaja membawa seseorang yang mendapat tugas untuk mengawasi ujud wadagnya selama ilmu semunya mengembara. Biarlah aku hancurkan semuanya.”

Akhirnya dengan membulatkan tekad dan semangat yang menggebu, guru Anggara itu pun mulai bersiap. Sejenak kemudian, bagaikan sebuah tatit yang meloncat di udara, tubuhnya yang kurus itu melesat ke balik tanggul sungai yang berjarak hanya beberapa langkah saja di belakang ujud semu Ki Rangga.

Namun alangkah terkejutnya sang Maharsi, serangannya ternyata hanya mengenai tempat kosong. Tanggul itu pun meledak dengan dahsyatnya menimbulkan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Gerumbul serta semak belukar yang tumbuh di tanggul itu pun tercerabut dari akarnya dan terlempar ke udara. Akhirnya tanggul setinggi pinggang orang dewasa itu pun runtuh dan berguguran jatuh meluncur ke tepian sungai.

“Luar biasa!” seru ujud semu Ki Rangga.

Tidak ada maksud Ki Rangga untuk merendahkan ilmu sang Maharsi. Namun ayah angkat Anggara itu menjadi sangat tersinggung. Dengan tatapan yang nanar ditelusurinya bekas tempat ledakan itu terjadi.

Alangkah terkejutnya sang Maharsi. Di sebelah menyebelah tanggul yang jebol itu kini berdiri dengan kedua kaki yang renggang, dua orang tua yang sudah sangat dikenalnya, Ki Jayaraga dan Ki Waskita.

“Kau Jayaraga tua!” geram sang Maharsi kemudian sambil melangkah mendekat. Sementara Glagah Putih menjadi sangat gembira melihat gurunya dan Ki Waskita telah hadir di tempat itu.

“Apa kerjamu di sini Jayaraga?” bertanya sang Maharsi kemudian dengan suara yang parau.

Kedua orang yang datang kemudian itu memang Ki Jayaraga dan Ki Waskita. Agaknya Ki Waskita telah mampu melacak jejak-jejak yang ditinggalkan Maharsi setelah Ki Waskita dan Ki Jayaraga berada di luar padukuhan induk.

Beberapa saat yang lalu, begitu Ki Waskita dan Ki Jayaraga keluar dari padukuhan induk, Ki Waskita segera mengajak Ki Jayaraga untuk berhenti sebentar.

“Ki Jayaraga,” berkata Ki Waskita begitu mereka keluar dari padukuhan induk, “Kita berhenti sebentar. Aku akan melacak jejak-jejak Glagah Putih dan orang yang membawanya dari tempat ini.”

“Silahkan Ki, silahkan,” sahut Ki Jayaraga cepat sambil menyingkir agak jauh. Namun kali ini Ki Jayaraga justru telah berdiri tegak sambil mengawasi keadaan di sekelilingnya selagi Ki Waskita melacak jejak-jejak yang tertinggal di sekitar tempat itu.

Demikianlah akhirnya Ki Waskita telah mampu menemukan jejak-jejak yang ditinggalkan oleh Maharsi dan Glagah Putih. Usaha Glagah Putih untuk memperlambat perjalanan mereka berdua ternyata telah membuahkan hasil. Ki Jayaraga dan Ki Waskita telah berhasil menyusul kedua orang itu.

“Ternyata dugaanku benar. Orang ini memiliki sejenis ilmu yang dapat mengelabuhi pengamatan seseorang. Namun ruang lingkupnya tidak terlalu luas, sebagaimana jika seseorang menebar sirep,” membatin Ki Waskita kemudian sambil mengamat amati Maharsi yang berjalan mendekat ke arah Ki Jayaraga.

“Mohon maaf Maharsi,” jawab Ki Jayaraga dengan suara serendah mungkin sambil menganggukkan kepalanya dalam-dalam, “Aku dan Ki Waskita sangat mengkhawatirkan keselamatan Glagah Putih. Untuk itulah kami berdua telah menyusul Maharsi sampai ke tempat ini.”

Untuk sejenak Maharsi tertegun. Tentu saja kedua orang itu mempunyai alasan yang sangat masuk akal untuk sampai di tempat itu. Keduanya sangat berkepentingan dengan Glagah Putih.

“Nah, Maharsi,” tiba-tiba saja terdengar ujud semu Ki Rangga bersuara dengan nada yang berat dan datar, “Permainan sudah berakhir dan ternyata Maharsi tidak mampu menemukan tempat persembunyianku. Maka sudah sewajarnya jika Glagah Putih kembali ke banjar padukuhan induk bersama Ki Jayaraga dan Ki Waskita.”

Untuk sejenak suasana menjadi sunyi mencekam. Betapa wajah sang Maharsi menjadi merah padam. Sementara kedua orang tua itu menjadi berdebar debar melihat ujud semu Ki Rangga.

“Di manakah angger Sedayu sekarang ini?” membatin Ki Waskita sambil mencoba mengetrapkan aji sapta panggraita untuk melacak keberadaan wadag Ki Rangga. Namun usahanya ternyata berakhir dengan sia-sia.

Sedangkan Ki Jayaraga menjadi semakin kagum dan hormat melihat Ki Rangga mampu menghadirkan ujud semunya tanpa dapat dilacak keberadaan ujud wadagnya oleh orang berilmu tinggi setingkat Maharsi. Perkembangan ilmu Ki Rangga baginya semakin mencengangkan.

“Perkembangan ilmu Ki Rangga benar-benar semakin ngedab-edabi,” berkata Ki Jayaraga dalam hati sambil menarik nafas dalam-dalam, “Jika Kiai Gringsing masih hidup, tentu gurunya itu pun akan menjadi heran melihat perkembangan ilmu murid utamanya itu.”

“Permainan ini belum berakhir!” teriak sang Maharsi tiba-tiba mengejutkan semua orang, “Engkau tadi telah menantang aku untuk menemukan persembunyian wadagmu dan ternyata aku memang kalah. Sekarang giliranku untuk menantangmu dalam sebuah permainanku. Dengan demikian kita baru dapat dikatakan seimbang. Jika apa yang aku tawarkan nanti ternyata aku juga kalah, berarti aku sudah mengalami kekalahan dua kali. Aku persilahkan Glagah Putih dibawa kembali ke banjar,” sang Maharsi berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Namun jika aku yang menang, berarti harus ada permainan babak terakhir yang akan menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah!”

Segera saja wajah-wajah orang-orang yang hadir di tempat itu menjadi tegang kembali. Pada awalnya mereka menyangka sang Maharsi akan menyerah begitu saja, tetapi ternyata tidak.

Tampak ujud    semu   Ki Rangga     itu   termangu-mangu     sejenak.

Bertanya   ujud   semu   Ki    Rangga    kemudian,    “Apa    maksudmu

Maharsi? Maharsi juga ingin mengajukan sebuah permainan?”

“Tentu saja!” jawab Maharsi cepat, “Engkau tadi telah menantangku untuk menemukan ujud wadagmu dan ternyata aku kalah. Sekarang terimalah tantanganku!”

Tampak sebuah senyum tersungging di bibir ujud semu Ki Rangga. Jawabnya kemudian, “Silahkan Maharsi mengajukan sebuah tantangan. Jika Yang Maha Agung memberiku pengetahuan untuk memecahkan tantangan itu, aku akan melakukannya. Namun jika ternyata Yang Maha Agung memang belum mengijinkan aku untuk memecahkan tantangan itu, tentu saja aku akan menyerah kalah.”

Berdesir dada orang-orang yang berada di sekitar tempat itu. Dari cara berbicara Ki Rangga melalui ujud semunya, mereka berpendapat bahwa Senapati pasukan khusus Mataram yang berkedudukan di Menoreh itu telah mengalami kematangan batin yang luar biasa. Tetapi apa sebenarnya yang telah terjadi pada diri Ki Rangga sepeninggal rombongan Ki Gede Matesih meninggalkan padukuhan Klangon, mereka belum mengetahuinya.

Terlihat sepasang mata Maharsi berbinar tanda hatinya sedang gembira. Dengan sebuah senyum yang mengandung seribu rahasia, dia pun kemudian berkata, “Baiklah Ki Rangga. Jika tadi aku harus menemukan ujud wadagmu, sekarang giliranmu untuk menemukan ujud semuku! Silahkan!”

Selesai berkata demikian tanpa menunggu tanggapan ujud semu Ki Rangga, Maharsi segera duduk bersila dengan kedua tangan bersilang di dada serta kepala yang tertunduk dalam-dalam. Dalam sekejap tubuh Maharsi sudah diam membatu bagaikan tak bernyawa.

Orang-orang yang berada di tempat itu pun terkejut bukan alang kepalang. Tentu saja mereka pun kesulitan melihat ujud semu Maharsi yang tidak kasat mata. Mereka hanya melihat tubuh Maharsi yang membeku bagaikan seonggok patung batu.

Ditengah kebingungan itu, tiba-tiba ujud semu Ki Rangga memberi isyarat kepada Ki Waskita dan Ki Jayaraga untuk membawa Glagah Putih menyingkir dari tempat itu.

Ki Waskita dan Ki Jayaraga pun tanggap. Dengan serta merta mereka segera menarik lengan Glagah Putih untuk menyingkir dari tempat itu.

“Bagaimana dengan kakang Agung Sedayu, guru?” bisik Glagah Putih kepada Ki Jayaraga.

“Biarlah kedua orang sakti itu mengadu ilmu,” bisik Ki Jayaraga tak kalah lirihnya sambil setengah menarik lengan Glagah Putih, “Kita kembali ke padukuhan induk.”

Glagah Putih tidak membantah. Ketika dia kemudian berpaling ke arah Ki Waskita, tampak ayah Rudita itu sedang tersenyum ke arahnya sambil menganggukkan kepala.

Demikianlah ketiga orang itu dengan perlahan lahan segera bergeser menjauh. Namun mereka masih sempat berpaling ke arah ujud semu Ki Rangga yang berdiri termangu-mangu beberapa langkah saja dari tubuh Maharsi yang seolah telah berubah menjadi sebuah patung batu.

Namun Ki Waskita yang mempunyai panggraita yang sangat tajam itu telah kembali berpaling ke belakang walaupun hanya sekilas. Jantung ayah Rudita itu pun bagaikan terlepas dari tangkainya begitu tidak melihat lagi bayangan semu Ki Rangga maupun sang Maharsi.

“Ke mana perginya mereka?” membatin Ki Waskita dengan jantung yang semakin berdebaran.

Namun orang tua itu percaya dan yakin Ki Rangga akan mampu mengatasi setiap persoalan yang timbul antara dirinya dengan Pertapa goa Langse itu. Ki Waskita pun kemudian meneruskan langkahnya mengikuti Ki Jayaraga dan Glagah Putih.

Demikianlah ketiga orang itu segera berjalan merunduk-runduk serta menembus lebatnya gerumbul perdu dan semak belukar. Sesekali mereka harus menghindari sulur-sulur pepohonan yang banyak berjuntai menghadang jalan.

Kedua orang tua itu menjadi heran ketika melihat Glagah Putih telah mampu mengikuti langkah-langkah kedua orang tua itu tanpa menemui banyak kesulitan. Glagah Putih sudah mampu berjalan tegak dan tidak lagi harus berpegangan atau bantuan dari kedua orang tua itu.

“Engkau sudah bisa berjalan cepat Glagah Putih?” bertanya Ki Jayaraga dengan perasaan sedikit heran ketika mereka bertiga kemudian keluar dari semak belukar dan naik ke jalan padukuhan.

“Aku juga heran, guru,” jawab Glagah Putih kemudian sambil menggerak gerakkan anggota tubuhnya seolah olah ingin meyakinkan apa yang telah terjadi, “Rasa sakit di sekujur tubuhku sudah berkurang. Hanya beberapa persendian saja yang terasa agak sakit jika bergerak agak berlebihan, terutama di pinggang.”

Kedua orang tua yang mendampingi berjalan di kanan kirinya menjadi heran. Untuk sejenak ketiga orang itu pun telah menghentikan langkah mereka di tepi jalan padukuhan itu.

“Apa sebenarnya yang telah terjadi padamu, Glagah Putih?” bertanya Ki Jayaraga kemudian sambil mengamat amati sekujur tubuh Glagah Putih yang terlihat basah, “Tubuhmu sepertinya telah basah kuyup? Apakah engkau habis mandi di sungai?”

Glagah Putih segera teringat peristiwa beberapa saat tadi ketika dia diikat oleh Maharsi dan kemudian dimasukkan ke dalam sungai. Dengan segera dia menceriterakan kejadian itu kepada gurunya dan Ki Waskita.

“Maharsi telah mengikat sekujur tubuhku dengan sulur-sulur pepohonan dan kemudian merendam tubuhku ke dalam sungai,” cerita Glagah Putih kemudian.

“Berapa lama Maharsi merendammu di sungai?” bertanya Ki Jayaraga kemudian.

“Cukup lama guru,” jawab Glagah Putih sambil mencoba mengingat ingat kejadian itu, “Maharsi merendam tubuhku dan kemudian membolak balikkannya seperti laku orang sedang merebus ayam.”

“Ah,” tak urung kedua orang itu tertawa mendengar penjelasan Glagah Putih. Sedangkan Glagah Putih hatinya menjadi sedikit dongkol walaupun tidak ditunjukkan kepada kedua orang tua itu.

“Lalu apa lagi yang diperbuat Maharsi kepadamu?” bertanya Ki Jayaraga selanjutnya.

“Tidak ada guru,” jawab Glagah Putih, “Setelah merendam tubuhku, Maharsi menarik tubuhku ke atas tanggul dan kemudian melepaskan seluruh ikatan yang melilit tubuhku.”

“Apakah Maharsi melakukan pijatan atau sejenisnya ke tempat-tempat tertentu pada sebagian tubuhmu?” kali ini yang bertanya Ki Waskita.

“Tidak Ki Waskita,” sahut Glagah Putih sambil menggeleng, “Tetapi Maharsi justru hanya menyuruh aku untuk duduk bersila di hadapannya.”

“Aneh,” desis Ki Waskita tanpa sadar sambil meraba beberapa bagian tubuh Glagah Putih, terutama di bagian persendian, “Mungkin secara tidak langsung sang Maharsi telah membantu mengobati sakitmu dengan cara yang aneh itu.”

“Maksud Ki Waskita, dengan cara direndam itu?” sela Ki Jayaraga.

“Ya,” sahut Ki Waskita cepat, “Aku pernah membaca sebuah kitab pengobatan yang menggunakan air untuk mengobati seseorang. Air bercampur ramuan tertentu dan kemudian orang yang sakit itu direndam di dalam air ramuan itu.”

“Sekalian di rebus?” sahut Ki Jayaraga sekenanya.

“Ah,” Ki Waskita tertawa pendek, “Ki Jayaraga ada-ada saja.”

“Guru,” menyela Glagah Putih kemudian menyadari kedua orang tua itu mulai bercanda, “Sebenarnya Maharsi merendam tubuhku bukan dengan tujuan untuk mengobatiku.”

“He?” kedua orang tua itu menjadi heran. Keduanya tampak mengerutkan kening dalam-dalam.

“Guru,” menyela Glagah Putih kemudian menyadari kedua orang tua itu mulai bercanda, “Sebenarnya Maharsi merendam tubuhku ……….

“Jadi untuk apa Maharsi merendammu?” bertanya Ki Jayaraga selanjutnya.

“Sebenarnya sang Maharsi itu merasa jijik dengan tubuhku,” jawab Glagah Putih dengan serta merta, “Aku telah mencoba menghentikan usahanya untuk menculikku dengan cara memperlambat perjalanan kami ke laut Selatan.”

Kedua orang tua itu sejenak saling berpandangan. Ki Jayaraga lah yang kemudian bertanya, “Bagaimana caranya?”

Dengan tersenyum malu Glagah Putih pun kemudian menjawab, “Karena Maharsi melihat aku berjalan terlalu lambat, Maharsi pun kemudian berniat mendukungku kembali agar dengan cepat dapat membawaku ke pantai laut Selatan.”

Wajah kedua orang tua itu menegang sejenak. Jika memang itu yang terjadi, tentu kedua orang tua itu akan kesulitan untuk menyusul sang Maharsi.

“Jadi bagaimana caranya engkau memperdayai Maharsi agar perjalanan kalian menjadi lambat atau tertunda?” bertanya Ki Jayaraga kemudian dengan nada yang tidak sabar.

Kembali tampak Glagah Putih tersenyum malu. Setelah menarik nafas panjang akhirnya dia pun menjawab dengan suara perlahan, “Aku sengaja telah kencing di celana sehingga dia menjadi jijik dan tidak jadi mendukungku.”

“He?!” hampir bersamaan kedua orang tua itu terkejut. Namun yang terdengar kemudian adalah tawa kedua orang tua itu yang terkekeh kekeh membelah udara malam yang sepi.

“O, ternyata engkau masih ngompol! Engkau kembali seperti kanak-kanak lagi, Glagah Putih!” berkata Ki Jayaraga kemudian setelah tawanya reda, “Namun akal bulusmu itu ternyata telah menyelamatkanmu dari usaha penculikan sang Maharsi.”

“Tapi ada satu hal yang aneh, Ki Jayaraga,” Ki Waskita menyahut cepat, “Setelah Maharsi merendam Glagah Putih di air sungai yang dingin, rasa sakit di sekujur tubuhnya terutama di persendian ternyata telah berkurang.”

“Baiklah,” berkata Ki Jayaraga kemudian menanggapi sambil berpaling ke arah Glagah Putih, “Besok malam akan kita coba untuk merendam tubuhmu di air yang dingin lagi. Mungkin secara tidak sengaja sang Maharsi telah menunjukkan cara pengobatan yang cepat terhadap sakitmu akibat ilmu penyedot tenaga itu.”

“Aku setuju!” sela Ki Waskita dengan penuh semangat, “Setiap malam Glagah Putih akan kita rendam di air dingin selama mungkin agar kesehatannya dengan cepat segera pulih kembali.”

Glagah Putih yang mendengar kedua orang tua itu membicarakan dirinya tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu telah bersungut sungut sambil berkata, “Berendam dalam air dingin di tengah malam buta itu sungguh sangat tidak nyaman. Bagaimana kalau diganti dengan air hangat saja?”

“He?” Ki Jayaraga lah yang menjadi sedikit marah. Katanya kemudian, “Semua itu untuk kebaikanmu Glagah Putih! Selama ini kita kebingungan memikirkan segala cara untuk mempercepat kesembuhanmu, sekarang setelah kita temukan, justru engkau sendiri yang merasa keberatan!”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Ketika terpandang olehnya wajah Ki Waskita, tampak wajah ayah Rudita itu telah tersenyum menggodanya.

“Engkau segera ingin bertemu dengan istrimu, apa tidak?” goda Ki Waskita kemudian sambil tersenyum senyum menjengkelkan,

“Menurut perhitunganku setelah sepekan engkau setiap malam direndam dalam air dingin, engkau tentu sudah pulih wadagmu seperti sediakala walaupun kemampuan ilmumu belum sepenuhnya. Namun aku yakin kita sudah dapat mengajakmu pulang ke Menoreh dengan berkuda. Kita sudah terlalu lama di Matesih ini.”

Tampak kebimbangan mewarnai wajah Glagah Putih. Ketika dia kemudian berpaling ke arah gurunya, Ki Jayaraga tampak mengangguk-angguk sambil tersenyum senyum.

“Atau mungkin engkau mempunyai pemikiran lain?” bertanya gurunya kemudian dengan senyum yang tetap tersungging di bibirnya.

“Maksud guru?” bertanya Glagah Putih dengan nada ragu-ragu.

Senyum Ki Jayaraga pun semakin lebar. Jawabnya kemudian, “Bukankah gadis-gadis di Matesih ini tidak kalah cantik dan menarik? Kalau engkau memang berniat mencari istri lagi, aku kira engkau tidak akan menemui banyak kesulitan.”

“Ah!” terdengar Glagah Putih berdesah sambil menggeleng gelengan kepalanya. Sementara Ki Waskita justru telah tergelak.

“Ah, sudahlah!” berkata Glagah putih kemudian sambil melangkah, “Dalam keadaan gawat seperti ini, guru masih saja suka bercanda. Yang penting sekarang kita segera kembali ke banjar padukuhan induk.”

“Ya, aku setuju,” sahut Ki Jayaraga sambil berjalan mengikuti langkah muridnya, “Di ujung malam yang tersisa ini memang sangat enak untuk kembali meringkuk di pembaringan sambil berselimut kain panjang.”

“Atau duduk-duduk di gardu menemani para penjaga regol sambil minum wedang sereh hangat dan juadah bakar,” Ki Waskita ikut menimpali sambil melangkah di samping Glagah Putih.

“Tentu wedang serehnya sudah dingin,” sahut Ki Jayaraga, “Dan juadah bakarnya sudah ludes dimakan para penjaga regol.”

“Tak apalah,” kembali Ki Waskita menyahut, “Aku akan membawa sisa wedang sereh itu ke dapur untuk dihangatkan.”

Demikianlah ketiga orang itu pun kemudian berjalan di sepanjang jalan yang menuju ke regol padukuhan induk.

Ketika lampu dlupak yang disangkutkan di kanan kiri regol sudah terlihat berkedip kedip, kedua orang tua itu pun segera mempercepat langkah mereka.

“Jangan terlalu cepat guru,” desis Glagah putih sambil memegangi pinggangnya yang terasa sangat penat.

“O,” hampir berbareng kedua orang tua itu segera menahan langkah mereka. Agaknya kedua orang tua itu terlalu bersemangat dan lupa jika Glagah Putih belum pulih benar kesehatannya.

“Nah, jika ingin cepat sembuh, memang sebaiknya mulai besuk malam harus berendam di air yang dingin, semakin dingin akan semakin baik bagi penyembuhanmu,” berkata Ki Waskita sambil berpaling dan tersenyum.

Namun Glagah Putih tidak menanggapi. Rasa rasanya sekujur tubuhnya terasa sangat penat dan persendian di sekujur tubuhnya pun mulai terasa ngilu kembali.

Ketika regol padukuhan induk itu sudah di hadapan mereka, tampak dua orang pengawal yang sedang bertugas jaga telah menghadang jalan.

“Siapa?” bertanya pengawal itu sambil mempertajam pandangan matanya untuk mengenali mereka bertiga.

“Kami kawan-kawan Ki Rangga Agung Sedayu,” Ki Waskita lah yang menjawab sambil menghentikan langkah tepat di depan pengawal yang bertanya itu.

“O, kiranya para tamu Ki Gede,” jawab pengawal itu kemudian sambil memberi jalan, “Silahkan jalan terus. Tapi malam-malam begini, dari mana sajakah tuan-tuan?”

“Kami sedang berjalan jalan mengelilingi padukuhan untuk melatih Glagah Putih mengembalikan kesehatannya,” kali ini Ki Jayaraga yang menyahut.

Kedua pengawal itu tampak mengangguk-angguk dan tidak bertanya lebih lanjut. Namun keduanya segera melihat Glagah Putih yang tampak berjalan agak tertatih diapit oleh kedua orang tua itu.

Sesampainya ketiga orang itu depan regol banjar padukuhan induk, dua orang pengawal yang sedang berjaga segera menyongsong. Ki Waskita dan Ki Jayaraga berjalan di depan, sedangkan Glagah Putih dengan menundukkan kepala dalam-dalam berjalan di belakang mereka.

“Dari mana saja, Ki?” bertanya salah satu pengawal itu dengan wajah terheran-heran. Beberapa saat yang lalu mereka masih melihat kedua orang tua itu berada di banjar.

Namun belum sempat salah satu dari kedua orang tua itu menjawab, kedua pengawal itu pun dikejutkan lagi oleh kehadiran Glagah Putih di belakang kedua orang tua itu.

“Glagah Putih?!” seru kedua pengawal itu hampir bersamaan begitu secercah cahaya obor menimpa wajah Glagah Putih yang tertunduk.

Ternyata teriakan kedua pengawal itu telah terdengar sampai pendapa banjar walaupun tidak begitu jelas. Ki Kamituwa dan Ki Wiyaga yang masih duduk terkantuk-kantuk di pendapa itu pun terkejut. Ketika mereka berpaling ke arah regol, tampak tiga orang sedang melangkah memasuki regol.

Bagaikan disengat seekor kalajengking sebesar ibu jari kaki orang dewasa, kedua bebahu tanah perdikan Matesih itu pun segera meloncat menghambur ke arah regol.

“Ki Waskita? Ki Jayaraga?” teriak kedua bebahu perdikan Matesih itu sambil berlari sekencang kencangnya. Namun jantung kedua bebahu perdikan Matesih itu pun bagaikan meledak begitu menyadari Glagah Putih ada di antara mereka.

“Glagah Putih?!” teriak kedua orang itu sesampainya mereka di hadapan Glagah Putih. Tanpa sadar kedua orang itu pun telah mengguncang-guncang tubuh Glagah Putih.

“Sudahlah Ki,” berkata Ki Waskita kemudian sareh sambil menggamit lengan Ki Kamituwa dan Ki Wiyaga, “Glagah Putih masih sakit. Sebaiknya kita antar dia ke bilik untuk beristirahat.”

“O, maaf. Maaf,” sahut Ki Kamituwa sambil melangkah mundur dan tersenyum. Ki Wiyaga pun menghentikan guncangannya pada tubuh Glagah Putih.

“Engkau telah membuat kami semua khawatir Glagah Putih,” berkata Ki Wiyaga kemudian sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “Tetapi apa sebenarnya yang telah terjadi sehingga badanmu basah kuyup semua?”

“Aku terjatuh ke sungai,” jawab Glagah Putih sekenanya yang membuat orang-orang yang mendengarnya tersenyum.

“Nah, sekarang mandilah,” berkata Ki Jayaraga kemudian, “Setelah itu engkau dapat berganti pakaian yang bersih dan kemudian tidur. Masih cukup waktu sebelum Matahari benar-benar terbit.”

“Baiklah guru,” jawab Glagah Putih kemudian sambil berjalan menuju ke banjar. Orang-orang itu pun kemudian mengikutinya.

“Agaknya Glagah Putih sudah sembuh,” bisik Ki Wiyaga kemudian sambil berjalan di sisi Ki Jayaraga. Sementara Ki Waskita tampak sedang berbicara sungguh-sungguh dengan Ki Kamituwa sambil berjalan menuju ke banjar.

“Belum sepenuhnya, Ki Wiyaga,” jawab Ki Jayaraga juga dengan berbisik, “Namun kesehatan Glagah Putih sudah mulai membaik. Mungkin sepekan ke depan jika memungkinkan kami bertiga akan menyusul Ki Rangga ke Menoreh.”

“Tapi Ki Gede Matesih belum kembali?” sela Ki Wiyaga dengan serta merta.

Ki Jayaraga mengangguk. Jawabnya kemudian, “Tentu saja kami akan menunggu kembalinya Ki Gede Matesih, sebelum kembali ke Menoreh.”

Tampak Ki Wiyaga menarik nafas dalam-dalam. Bagaimana pun juga, perkenalannya dengan Ki Rangga dan kawan-kawannya itu telah memberinya kesan tersendiri.

***

 

Dalam pada itu di puncak bukit Muria, Kanjeng Sunan tampak sedang akan memimpin sholat subuh berjamaah di masjid pesantren. Untuk ke sekian kalinya Kanjeng Sunan mengedarkan pandangan matanya ke seluruh jamaah sholat subuh yang sudah berdiri dalam shof yang lurus. Namun yang dicari Kanjeng Sunan tetap tidak ketemu.

“Di mana Ki Rangga?” membatin Kanjeng Sunan sambil menarik nafas dalam-dalam, “Jika ternyata dia telah melanggar perintahku untuk tetap tinggal di Gunung Muria selama tiga hari, apa yang ingin diraihnya itu tidak akan pernah didapatkannya.”

Namun ketika Kanjeng Sunan baru saja akan membalikkan badan, sudut matanya menangkap bayangan seseorang yang sudah sangat dikenalnya sedang tergesa-gesa memasuki shof yang terakhir, Ki Rangga Agung Sedayu.

“Hem,” terdengar Kanjeng Sunan bergumam perlahan sambil memutar tubuhnya. Sejenak kemudian Kanjeng Sunan pun dengan khusuk telah memimpin para santrinya menunaikan kewajiban mereka kepada Yang Maha Agung.

Sejenak kemudian terdengar lantunan ayat-ayat suci yang sangat menyentuh hati. Angin pun seolah berhenti bertiup. Suasana begitu heningnya sehingga jika saja ada sebutir kerikil yang jatuh di salah satu sudut ruangan itu, akan terdengar dengan jelas di sudut yang lainnya.

Setelah selesai menunaikan kewajiban, Kanjeng Sunan segera memutar tubuhnya dan duduk bersila menghadap para jamaah. Mereka pun kemudian larut dalam dzikir kepada Yang Maha Agung.

Ketika semuanya telah selesai, terlihat Kanjeng Sunan masih tetap duduk di tempatnya semua. Kepada salah seorang santri yang duduk terdekat, Kanjeng Sunan pun kemudian berbisik, “Tolong panggilkan Ki Rangga!”

Santri itu segera tanggap. Sambil bergeser mundur dia kemudian bangkit berdiri dan berjalan terbungkuk bungkuk di antara orang-orang yang mulai bergeser dan berpindah tempat.

Sesampainya santri di tempat Ki Rangga duduk, segera saja disampaikan pesan Kanjeng Sunan itu.

Ki Rangga yang baru saja selesai berdoa telah menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

“Terima kasih,” berkata Ki Rangga sambil bangkit berdiri.

Ki Rangga pun kemudian berjalan sambil terbungkuk bungkuk melintasi beberapa orang yang belum juga beranjak dari duduknya. Setelah mengucapkan salam sambil menghaturkan sembah, Ki Rangga pun kemudian duduk bersila di hadapan Kanjeng Sunan sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Setelah membalas salam Ki Rangga, untuk beberapa saat Kanjeng Sunan termenung. Ketika Kanjeng Sunan kemudian mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling, tampak orang-orang sudah mulai membubarkan diri. Namun masih ada satu dua orang yang tetap duduk bersila di tempatnya sambil terkantuk kantuk.

“Ki Rangga,” berkata Kanjeng Sunan kemudian sambil memandang tajam ke arah Ki Rangga yang tertunduk, “Semalam aku telah mendapat laporan dari salah satu cantrik yang melihatmu meninggalkan pesantren ini.”

Terkejut Ki Rangga mendengar teguran langsung dari Kanjeng Sunan itu. Tampak Ki Rangga menengadahkan wajahnya, namun hanya sekejap. Ketika terpandang olehnya wajah Kanjeng Sunan yang tenang dan dalam serta sorot mata yang mengandung kewibawaan luar bisa, Ki Rangga pun segera kembali menundukkan wajahnya dalam-dalam.

“Ampun Kanjeng Sunan,” berkata Ki Rangga kemudian sambil merangkapkan kedua tangannya di depan dada dan sedikit membungkuk, “Dalam keheningan hamba menjalankan ibadah sesuai petunjuk Kanjeng Sunan, tiba-tiba hamba merasakan getaran dahsyat yang mengisyaratkan sesuatu telah terjadi pada adik sepupu hamba, Glagah Putih.”

Tampak kerut merut sekilas di kening Kanjeng Sunan. Sambil tersenyum sareh, Kanjeng Sunan pun kemudian bertanya, “Apakah Ki Rangga terpengaruh dengan getaran isyarat itu?”

“Hamba Kanjeng Sunan,” jawab Ki Rangga dengan serta merta, “Sedemikian kuatnya getaran isyarat itu sehingga telah membuat hamba memutuskan untuk mengetrapkan aji pengangen angen.”

Tampak kepala Kanjeng Sunan terangguk angguk. Katanya kemudian, “Memang secara lahir engkau tadi malam tidak meninggalkan gunung Muria, namun secara batin engkau telah melanggar pesanku.”

“Hamba mohon ampun Kanjeng Sunan, hamba tidak mempunyai pilihan lain. Glagah Putih benar-benar dalam bahaya,” berkata Ki Rangga kemudian sambil menghaturkan sembah dalam-dalam.

Sejenak suasana menjadi sunyi. Angin pagi yang bertiup lembut terasa sangat segar. Namun tidak demikian yang dirasakan oleh Ki Rangga. Punggungnya telah basah oleh keringat sedangkan aliran darah di sekujur tubuhnya terasa membeku.

“Ki Rangga,” berkata Kanjeng Sunan kemudian setelah sejenak mereka terdiam, “Aku tidak menyalahkan usahamu untuk menolong Glagah Putih yang mengalami bahaya, namun aku juga tidak sedemikian mudah membebaskanmu dari tuntutan untuk tidak meninggalkan gunung Muria ini selama tiga hari,” Kanjeng Sunan berhenti sejenak untuk sekedar menarik nafas. Lanjutnya kemudian, “Ketahuilah berhasil tidaknya permohonanmu kepada Yang Maha Agung dalam meraih sesuatu yang engkau cita-citakan, tergantung kesungguhan usahamu dan luas serta dalamnya kesabaranmu.”

Tampak Ki Rangga hanya mengangguk-anggukkan kepala dalam-dalam. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya. Suasana kembali menjadi sunyi. Burung-burung pun telah berkicau semakin ramai menyambut Matahari yang sebentar lagi akan terbit menyinari Jagad Raya.

“Ki Rangga,” berkata Kanjeng Sunan kemudian setelah sejenak keduanya terdiam, “Perseteruanmu dengan Maharsi itu sebaiknya diakhiri saja. Tidak akan ada gunanya. Jika Maharsi memaksamu terus, lebih baik engkau mengalah saja. Ingat, wani ngalah luhur wekasane!”

Untuk beberapa saat tampak kerut merut di kening Ki Rangga. Sebenarnyalah dia juga merasa tidak ada gunanya bersilang jalan dengan sang Maharsi. Namun tuntutan Maharsi itu terlalu berat baginya dan tentu saja bagi Glagah Putih.

“Ampun Kanjeng Sunan,” berkata Ki Rangga kemudian sambil menghaturkan sembah, “Sebenarnyalah dari hati kecil hamba sama sekali tidak ada rasa permusuhan dengan sang Maharsi. Namun tuntutan Maharsi lah yang sangat berat bagi hamba, apalagi bagi Glagah Putih.”

Sekilas wajah Kanjeng Sunan muram, namun dengan cepat kesan itu segera menghilang dari wajahnya. Bertanya Kanjeng Sunan kemudian sambil tersenyum, “Apakah yang memberatkan hatimu untuk memenuhi tuntutan Maharsi itu, Ki Rangga?”

Ki Rangga menarik nafas terlebih dahulu sambil membenahi duduknya. Jawabnya kemudian, “Ampun Kanjeng Sunan. Pada awalnya Maharsi menuntut hamba sebagai guru Glagah Putih untuk bertanggung jawab atas kematian Anggara, murid dan sekaligus anak angkat Maharsi.”

Terlihat Kanjeng Sunan terangguk angguk kecil. Ketika Ki Rangga menyadari Kanjeng Sunan sedang menunggu lanjutan ceritanya, dengan segera Ki Rangga melanjutkan, “Hamba sebenarnya tidak berkeberatan untuk memikul tanggung jawab selaku guru Glagah Putih karena kematian Anggara. Namun ternyata tuntutan Maharsi itu terlalu berat.”

“Apakah tuntutan Maharsi itu, Ki Rangga?” sela Kanjeng Sunan cepat.

“Ampun Kanjeng Sunan, Maharsi menuntut pelestarian dan kesinambungan ilmu warisan goa Langse agar tidak punah sejalan dengan kematian Anggara,” jawab Ki Rangga kemudian. Lanjutnya, “Namun Maharsi mempunyai persyaratan khusus yang harus hamba terima, bersedia atau tidak bersedia.”

Ki Rangga berhenti sejenak sekedar untuk meredakan gelora dalam dadanya dengan menarik nafas dalam-dalam. Sedangkan Kanjeng Sunan yang duduk bersila di hadapannya tampak termangu-mangu sambil mengerutkan keningnya.

Bertanya Kanjeng Sunan kemudian, “Apakah persyaratan itu begitu beratnya sehingga Ki Rangga tidak sanggup untuk melaksanakan?”

“Demikianlah Kanjeng Sunan,” jawab Ki Rangga dengan serta merta, “Maharsi menuntut untuk mengosongkan seluruh ilmu yang telah hamba pelajari untuk kemudian menerima aliran murni ilmu dari perguruan goa Langse.”

Kembali tampak kerutan di kening Kanjeng Sunan. Namun kali ini Kanjeng Sunan justru telah tersenyum sambil mengangguk-angguk. Berkata Kanjeng Sunan kemudian, “Ki Rangga, aku sarankan Ki Rangga menerima saja persyaratan itu.”

Terkejut Ki Rangga bagaikan disambar petir di siang bolong. Tanpa sadar Ki Rangga telah mendongakkan wajahnya. Namun begitu disadarinya Kanjeng Sunan sedang memandang ke arahnya, dengan cepat Ki Rangga segera kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Ampun Kanjeng Sunan hamba tidak mengerti,” berkata Ki Rangga kemudian sambil menghaturkan sembah dalam-dalam.

Tampak Kanjeng Sunan menarik nafas dalam-dalam sambil menegakkan punggungnya. Berkata Kanjeng Sunan kemudian, “Nanti pada akhirnya engkau akan mengerti Ki Rangga. Semua itu butuh waktu dan butuh perjuangan. Engkau masih mempunyai waktu dua hari dua malam. Maka pergunakanlah waktu itu sebaik baiknya untuk benar-benar berpasrah diri kepada Yang Maha Agung.”

Ki Rangga benar-benar dibuat kebingungan. Namun yang dapat dilakukan Ki Rangga hanyalah menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Sejenak suasana menjadi sunyi kembali. Para santri yang berada di masjid pesantren gunung Muria itu sudah tidak ada yang tertinggal sama sekali. Mereka sudah menyebar untuk melakukan tugas masing-masing.

“Ki Rangga,” bertanya Kanjeng Sunan kemudian mengejutkan Ki Rangga yang sedang termenung, “Di manakah keberadaan sang Maharsi sekarang ini?”

Berdesir dada Ki Rangga. Ada rasa segan untuk menceritakan kejadian beberapa saat yang lalu. Namun karena yang bertanya adalah Kanjeng Sunan, Ki Rangga tidak mampu menolak.

“Ampun Kanjeng Sunan,” jawab Ki Rangga kemudian dengan suara sedikit bergetar menahan gejolak dalam dadanya, “Di saat hamba dalam pengaruh aji pengangen-angen berhadapan dengan Maharsi, hamba telah memilih cara yang hamba kira terbaik untuk menyelesaikan perseteruan hamba dengan Maharsi. Hamba telah menantang Maharsi untuk menemukan ujud wadag hamba dengan Glagah Putih sebagai taruhannya.”

“Tentu Maharsi tidak akan mungkin menerima tantangan itu jika mengetahui wadagmu berada di Gunung Muria,” Kanjeng Sunan menyahut. Lanjutnya kemudian, “Aku yakin Maharsi mengetahui di mana ujud wadagmu berada.”

“Ampun Kanjeng Sunan,” berkata Ki Rangga menanggapi dugaan Kanjeng Sunan, “Ternyata Maharsi terlalu tergesa gesa. Pada saat itu memang Ki Waskita dan Ki Jayaraga yang menyusul Glagah Putih telah sampai dan bersembunyi di balik tanggul sungai dekat dengan tempat itu. Agaknya pengamatan yang tergesa gesa itulah yang membuat Maharsi keliru.”

Terlihat Kanjeng Sunan tersenyum sambil mengangguk-angguk. Katanya kemudian dengan nada rendah seolah ditujukan kepada dirinya sendiri, “Syukurlah dengan demikian perseteruan kalian telah selesai.”

“Ampun Kanjeng Sunan, ternyata Maharsi belum menyerah,” sela Ki Rangga cepat.

“He?” seru Kanjeng Sunan sedikit terkejut, “Bagaimana mungkin? Bukankah perjanjiannya mengatakan demikian? Dan dengan sangat jelasnya Maharsi telah melakukan kekeliruan.”

“Ampun Kanjeng Sunan,” jawab Ki Rangga dengan sedikit membungkuk, “Sebenarnyalah hamba juga beranggapan demikian. Namun ternyata Maharsi juga mengajukan tantangan sebagai bentuk keadilan dari kedua belah pihak.”

“O, jadi Maharsi pun mengajukan sebuah tantangan kepada Ki Rangga?”

“Demikianlah Kanjeng Sunan, dan hamba telah menerima tantangan itu.”

“Apakah tantangan Maharsi?”

“Ki Rangga,” berkata Kanjeng Sunan kemudian sambil memandang tajam ke arah Ki Rangga yang tertunduk, “Semalam aku telah…….

Bersambung ke bagian 2

22 Responses

  1. Kapan saya dapat membaca lagi Mbah
    🙏🙏🙏

  2. Alhamdulillah juoooss nan,matur suwun mbah Man

  3. Al;hamdulillah , matur nuwun mbah Man, saya tunggu berikutnya eh bendel berikutnya.

  4. Alhamdulillah Muantabbb , suwun mbah Man ,mbah Satpam

  5. Alhamdulillah matur kesuwon sanget dhateng lanjutan stsd puniko

  6. STSD-27 bundel pertama sudah diunggah.

    Bagi yang menunggunya, monggo meluncur ke gandoknya.

  7. mBah Man medot nya kok Nanggung tambah penasaran

  8. Wah makin jauh aja jangkauan aji Pengangen2 Ki Rangga…

  9. Mbah man……n pak sat pam…… nanggung bgt nih…..qiqiqi

  10. Lho kok bundelan ceritanya cuma suitik men Mbah Man ??? Pengen buanyak bundelane…..ckckck

  11. Gerbong bagian 2 nopo dereng lewat nggih mbah Man,ngapunten

  12. Sehat selalu nggih mbah Man..

  13. Setia menunggu lanjutannya Bos

  14. semoga dapat bisa terbit kelanjutannya
    matur nuwun

  15. STSD-27 bundel kedua sudah ada di tempatnya.

    Bagi yang menunggu rontal tersebut, monggo…….

  16. semoga bagian ke3 segera dapat diupload

  17. Menunggu lanjutannya

  18. Waduuuuh…sepertinya Ki Bango naksir Pandan Wangi 🤔

  19. Bagian akhir jilid 27 sudah diunggah.

    Monggo……

  20. Alhamdulilah, brsyukur sekali bisa kmbali mlnjutkan bacaan. Yg hampir tiap hari dinanti. Matur suwun, mbah Mugi pajenengan di paringi kebrkahan.. Aminn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s