• Kalender

    December 2020
    M T W T F S S
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Statistik Blog

    • 6,352,943 kunjungan
  • Tulisan Terakhir

  • Komentar

    Istna pujiani on STSD-28
    Ali Murtadho on STSD-28
    Reza on STSD-28
    Tursantono on TADBM-413
    Heru Usadajati on STSD-28
    Iwan on STSD-28
    Tursantono on TADBM-412
    Arrow Zarkoni on STSD-28
    Indra on STSD-28
    pujianto on STSD-28
  • Archives

STSD-28

kembali ke STSD-27 | lanjut ke STSD-29

 

Bagian 1

UNTUK sejenak anak-anak muda itu saling pandang. Tiba-tiba seorang anak muda yang berambut keriting dan berkulit gelap menyeluthuk, “Kami tidak pernah takut kepada siapa pun! Karena itulah kami pun tidak pernah menghargai siapa pun! Bahkan kedua orang tua kami akan menggigil ketakutan jika keinginan kami tidak dikabulkan!”

“Ya, betul. Itulah kami yang tidak mengenal takut!” teriak yang lain menimpali.

“Siapapun akan kami lawan jika itu berseberangan dengan keinginan kami!”

Segera saja gelak tawa memenuhi udara pagi di bulak itu. Pandan Wangi dan Ratri pun hanya dapat menarik nafas dalam-dalam sambil berusaha menahan gejolak dalam dada.

Dalam pada itu, para pengawal yang sedang berjaga di regol padukuhan induk tampak mengamat amati apa yang sedang terjadi di tengah-tengah bulak. Bulak itu memang tidak seberapa panjang sehingga mereka dapat melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi dari tempat mereka berdiri.

“Sepertinya segerombolan anak-anak muda liar sedang mengganggu dua orang perempuan berkuda,” desis seorang pengawal yang bertubuh kekar sambil memicingkan kedua matanya untuk memperjelas penglihatannya.

“He?” tiba-tiba kawannya berseru, “Bukankah itu Nyi Pandan Wangi dan tamunya?”

“Benar!” seru yang lainnya. Dengan bergegas beberapa pengawal yang sedang berjaga di regol padukuhan induk itu pun mencoba mempertajam pandangan mata mereka.

“Cepat susul mereka!” perintah seorang pengawal tertua kemudian, “Dua orang dengan berkuda susul mereka!”

Perintah itu tidak perlu diulangi. Dua orang pengawal segera melepas tali-tali kekang kuda-kuda yang di tambatkan di patok-patok sebelah regol. Sejenak kemudian dua ekor kuda pun berderap meninggalkan regol.

Dalam pada itu Pandan Wangi yang melihat dua ekor kuda dengan penunggangnya sedang berpacu ke tempat itu segera berkata, “Nah, anak-anak muda, para pengawal agaknya telah tertarik dengan apa yang sedang terjadi di sini. Lebih baik kalian segera menyingkir.”

Untuk sejenak kembali mereka saling pandang. Namun yang terjadi kemudian sungguh sangat mengejutkan. Anak muda yang berbadan paling besar itu pun telah tertawa sambil berkata lantang, “Ah! Para pengawal perdikan Menoreh sama sekali tidak menggetarkan hati kami para anak murid perguruan Wirapati. Seperti apa yang telah kami sampaikan tadi, kami sama sekali tidak mengenal takut. Siapapun akan kami hadapi dengan dada tengadah!”

Terlihat kerut merut di kening Pandan Wangi mendengar sesorah anak muda itu. Sedangkan Ratri sedari tadi hanya berdiam diri saja sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam.

Selagi Pandan Wangi berpikir keras bagaimana caranya mengajari anak-anak muda itu untuk mengenal unggah ungguh, kedua pengawal dari regol padukuhan induk itu pun telah semakin dekat.

Demikian kedua kuda itu sampai di tempat, kedua penunggangnya segera menghela dan menempatkan diri mereka di kanan kiri kedua perempuan itu.

“Maaf Nyi Pandan Wangi,” bertanya salah satu pengawal itu kemudian, “Apakah yang bisa kami bantu?”

Sebenarnya Pandan Wangi tidak ingin namanya disebut. Namun dia sudah tidak mampu untuk mencegahnya. Sementara anak-anak muda yang mendengar nama Pandan Wangi disebut telah tertegun diam di tempat masing-masing.

“O, jadi inikah puteri satu-satu Ki Gede Menoreh itu?” seru anak muda yang paling besar sambil mengangguk angguk dan tersenyum senyum. Kawan-kawannya pun ikut mengangguk angguk dan tersenyum. Bahkan ada yang tertawa kecil sepertinya sangat meremehkan nama itu.

“Benar anak muda,” sahut salah satu pengawal itu dengan serta merta, “Kalian sedang berhadapan dengan puteri Ki Gede Menoreh dan tamunya yang juga seorang puteri dari Ki Gede Matesih.”

“O,” kembali terdengar suara gaduh di sana sini. Sekarang perhatian mereka tertumpah pada seraut wajah Ratri yang sedari tadi hanya menundukkan wajahnya dalam-dalam.

“Cantik juga,” berkata salah satu anak-anak muda itu sambil mengacungkan ibu jarinya, “Namun sayang, agaknya dia sedang menderita sakit di lehernya. Sedari tadi aku melihat dia hanya menunduk saja sehingga aku tidak begitu jelas melihat wajahnya.”

“Ya, ya aku juga menjadi penasaran!” sahut anak muda yang berambut keriting sambil membungkuk dari atas punggung kudanya. Agaknya dia berusaha untuk melihat wajah Ratri yang menunduk itu dengan lebih jelas lagi. Namun usahanya sia-sia belaka. Ratri ternyata telah semakin menundukkan wajahnya.

“Gadis yang pemalu,” desis anak muda yang bertubuh paling besar itu sambil tersenyum dan mengangguk angguk. Katanya kemudian sambil menatap ke arah kawan-kawannya satu persatu, “Jika kalian memang masih penasaran ingin melihat kecantikan wajahnya, kalian aku ijinkan untuk membuatnya mengangkat wajah!”

Hampir bersamaan anak-anak muda itu telah bersorak gembira. Mereka sama sekali tidak memandang sebelah mata pun pada kedua pengawal yang telah hadir di tempat itu.

Sedangkan Ratri yang sekarang telah menjadi pusat perhatian tubuhnya terlihat gemetar. Peluh telah membasahi punggungnya. Sementara wajahnya terlihat menjadi sedikit pucat. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Untuk menengok ke arah Pandan Wangi pun dia merasa sangat takut.

“Diam!” tiba-tiba terdengar bentakan menggelegar. Ternyata salah satu pengawal itu sudah tidak dapat menahan diri lagi melihat keliaran anak-anak muda itu.

Namun yang terjadi kemudian benar-benar telah membuat kedua pengawal itu terheran heran. Dengan wajah merah padam, anak muda yang bertubuh paling besar itu justru telah menatap dengan tajamnya ke arah pengawal yang telah membentak mereka.

Berkata anak muda itu kemudian sambil tetap melotot, “Jangan mencoba menakuti-nakuti kami! Kami adalah segerombolan serigala anak murid perguruan Wirapati! Jika kalian membuat ulah merendahkan kami apapun alasannya, kalian akan menerima akibatnya!”

Namun pengawal itu bukanlah anak kecil yang ketakutan melihat seekor ular sawah merayap di pematang. Dengan tiba-tiba dihentakkan perut kudanya sambil dihelanya kendali kuda di tangannya.

Yang terjadi kemudian benar-benar diluar dugaan anak muda itu. Kuda pengawal yang terkejut itu telah terlonjak dan menerjang ke depan. Kearah kuda anak muda yang bertubuh paling besar itu.

Anak muda dan kuda tunggangannya itu pun menjadi terkejut bukan buatan. Namun semuanya sudah terlambat. Dengan deras kuda tunggangan pengawal itu menerjang ke depan dan melanggar kuda di depannya. Tak dapat dielakkan lagi, kuda yang dilanggar itu pun terdorong jatuh beserta penunggangnya.

Terdengar kedua kuda yang bertabrakan itu meringkik keras. Anak muda yang bertubuh paling besar itu pun terlempar dan jatuh terjengkang. Namun belum sempat dia bangkit berdiri, pandangan matanya menangkap sepasang kaki yang renggang berdiri hanya selangkah di hadapannya.

Terdengar anak muda itu menggeram. Dengan perlahan dia bangkit berdiri. Begitu tubuhnya yang tinggi besar itu tegak di atas tanah, tanpa peringatan terlebih dahulu, sebuah pukulan pun melayang ke arah dagu pengawal itu.

Jarak keduanya begitu dekat, hanya selangkah. Namun pengawal itu sudah menduga bahwa anak muda yang terjatuh itu pasti akan membalas dendam. Maka begitu serangan itu datang, pengawal itu justru telah melangkah ke depan sambil memutar tubuhnya membelakangi anak muda yang sedang menyerangnya.

Sebelum anak muda itu menyadari apa yang akan terjadi, dengan sangat cepatnya tangan anak muda yang terjulur melewati bahunya itu segera di tangkap dengan kedua tangan. Dengan sedikit merendahkan tubuhnya, pinggul pengawal itu pun melekat pada lambung anak muda itu. Sejenak kemudian dengan sekali sentakan tubuh yang tinggi besar itu pun telah terayun ke depan dan kemudian terlempar melewati tubuh pengawal itu.

Yang terdengar kemudian adalah suara teriakan kesakitan bersamaan dengan benturan keras tubuh anak muda itu dengan tanah.

Terdengar umpatan yang sangat kotor dari mulut anak muda itu. Sambil menggeliat, tangan kanan anak muda itu pun memegangi pinggangnya yang terasa patah.

Melihat salah satu kawannya dapat dipecundangi oleh salah satu pengawal itu, anak-anak muda yang lain pun segera berloncatan turun. Sekejap kemudian kelima anak muda yang tersisa itu telah mengurung pengawal yang telah mencederai kawannya.

“Habisi mereka!” geram anak muda bertubuh tinggi besar itu sambil mencoba bangkit berdiri. Punggungnya rasa rasanya telah patah dibanting oleh pengawal tadi.

Perintah itu tidak perlu diulangi. Kelima anak muda itu segera bersiap mengeroyok pengawal yang hanya seorang diri. Sementara pengawal yang satunya masih termangu mangu di atas punggung kudanya. Demikian juga Pandan Wangi dan Ratri.

Namun sebelum anak-anak muda itu melampiaskan dendam, tiba-tiba dari arah regol padukuhan induk terdengar suara kuda-kuda yang sedang dipacu dengan kencangnya menuju ke tempat itu.

Ketika mereka kemudian berpaling tampak empat ekor kuda meluncur bagaikan anak panah yang dilepas dari busurnya.

Untuk beberapa saat anak-anak muda itu justru telah terkesiap. Jika keempat pengawal itu sampai di tempat itu, berarti akan ada enam orang pengawal ditambah puteri Ki Gede Menoreh dan puteri Ki Gede Matesih.

Terlihat wajah anak-anak muda itu menjadi bimbang. Apalagi pemimpin mereka terlihat sudah cidera punggungnya dan tidak mampu lagi berdiri tegak.

Sejenak kemudian keempat ekor kuda itu pun telah sampai di tempat itu. Dengan tangkas keempat penunggangnya segera berloncatan turun. Pengawal yang datang pertama kali itu pun akhirnya ikut meloncat turun.

“Maaf Nyi Pandan Wangi,” bertanya salah satu pengawal yang baru datang itu kemudian sambil membungkuk dalam-dalam, “Apa yang telah terjadi? Apakah anak-anak muda ini telah berani mengganggu Nyi Pandan Wangi berdua?”

Pandan Wangi yang mendapat pertanyaan itu telah tersenyum sambil menggeleng. Jawabnya kemudian sambil tetap di atas punggung kudanya, “Mereka hanya anak-anak nakal saja, paman. Mungkin mereka perlu mendapat bimbingan dan tuntunan untuk menghargai sesama apalagi kepada orang yang lebih tua,” Pandan Wangi berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Aku serahkan anak-anak muda itu kepada kalian. Lebih baik aku dan Ratri pulang saja.”

“Silahkan, Nyi,” sahut pengawal tertua itu sambil mengangguk dalam-dalam.

Namun sebelum Pandan Wangi menggerakkan kendali kudanya, tiba-tiba anak muda yang bertubuh paling besar itu telah berseru, “Tunggu sebentar Nyi Pandan Wangi!”

Semua orang terkejut dan berpaling ke arah anak muda itu. Beberapa pengawal yang berdiri di dekat anak muda itu pun telah bersiap. Jika anak muda mencoba menggangu puteri pemimpin perdikan Menoreh, mereka sudah bersiap meringkusnya dan membawa ke gardu untuk diberi sedikit pelajaran.

Akan tetapi orang-orang yang berada di tempat itu menjadi lega ketika terlihat anak muda itu mengambil sesuatu dari balik bajunya. Sebuah gulungan rontal yang terikat rapi.

“Atas nama Tumenggung Wirapati, pemimpin perguruan Wirapati, kami mengirim undangan kepada Ki Gede Menoreh untuk hadir di padepokan kami,” anak muda itu berhenti sejenak. Sambil mengulurkan gulungan rontal itu kepada pengawal di dekatnya dia melanjutkan, “Sepekan lagi kami akan mengadakan peresmian perguruan Wirapati, perguruan yang tidak akan ada tandingannya di seluruh tlatah Mataram ini!”

Kata-kata itu memang terdengar sangat sombong, namun para pengawal dan Pandan Wangi hanya menanggapi dengan dingin. Setelah pengawal itu menerima gulungan rontal dan kemudian menyampaikannya kepada Pandan Wangi, puteri satu satunya Ki Gede Menoreh itu pun segera menghela kudanya diikuti oleh Ratri.

Demikianlah kedua perempuan yang sama-sama cantik namun berbeda usia itu pun telah kembali berderap di atas kuda masing-masing memasuki padukuhan induk. Ketika Pandan Wangi sempat berpaling ke belakang, tampak keenam anak-anak muda itu sudah di atas punggung kuda masing-masing dan berderap perlahan meninggalkan tempat.

“Anak-anak muda yang kurang mendapat arahan dan bimbingan,” desis Pandan Wangi sambil terus memacu kudanya.

Ratri yang mendengar desis Pandan Wangi itupun telah berpaling sambil berkata, “Benar, Nyi. Mereka adalah anak-anak muda yang telah mencegat kami kemarin selepas dari tepian kali Praga.”

Tampak kepala Pandan Wangi terangguk angguk. Katanya kemudian, “Aku sudah menduga. Untunglah mereka tidak mengenalimu lagi. Jika mereka mengenalimu, tentu tingkah anak-anak muda itu akan semakin liar.”

Terlihat Ratri hanya mengangguk angguk kecil sambil menatap ke titik-titik di kejauhan. Peristiwa demi peristiwa yang menimpa dirinya walaupun secara langsung maupun tidak langsung telah membulatkan tekatnya untuk mempelajari olah kanuragan.

Demikianlah kuda-kuda kedua perempuan itu telah memasuki rumah Ki Gede Menoreh. Keduanya segera turun dari kuda ketika memasuki regol.

Dua orang pengawal yang berjaga di regol segera mengangguk dalam-dalam ketika kedua perempuan itu lewat.

Pandan Wangi tersenyum sambil membalas anggukan kedua pengawal itu. Sementara Ratri hanya berpaling sekilas dan cepat-cepat menundukkan kepalanya sambil menuntun kudanya.

“Mengapa puteri Matesih itu jarang tersenyum?” bisik salah satu pengawal itu kemudian begitu kedua perempuan itu telah berjalan agak jauh.

“Tentu saja dia menjaga harga diri sebagai seorang tamu,” jawab kawannya juga sambil berbisik, “Jika dia mengumbar senyum di mana-mana, orang justru akan bertanya tanya.”

“Maksudmu?”

Kawannya menarik nafas panjang terlebih dahulu untuk menghilangkan kejengkelan dalam dadanya. Jawabnya kemudian, “Selain dia belum begitu mengenal lingkungan di tempat ini, dia juga malu jika disangka perempuan murahan!”

“Ah,” desah pengawal itu sambil tersenyum, “Bukankah tersenyum kepada setiap orang yang kita jumpai itu adalah salah satu bentuk dari sodaqoh?”

“Macammu!” gerutu kawannya dengan serta merta, “Itu berlaku untuk laki-laki sesama laki-laki atau perempuan sesama perempuan. Jika seorang perempuan yang tidak mengenalmu kemudian tersenyum senyum kepadamu ketika bertemu, apa tanggapanmu?”

Pengawal itu    tampak   mengerutkan keningnya     sambil    berpikir.

Namun akhirnya kepalanya pun terlihat terangguk angguk.

Dalam pada itu selagi Pandan Wangi dan Ratri menuntun kuda-kuda mereka, dua orang pelayan laki-laki segera berlari larian menyambut kendali kuda kedua perempuan itu.

“Terima kasih,” jawab Pandan Wangi kepada pelayan yang meminta kendali kudanya. Sementara Ratri hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.

“Marilah kita bergabung di pendapa,” berkata Pandan Wangi kemudian sambil menggandeng tangan Ratri menaiki tlundak pendapa.

Dalam pada itu di pendapa terlihat kedua orang pemimpin tanah perdikan itu sedang berbincang bincang ditemani oleh Kiai Sabda Dadi. Di hadapan mereka tampak beberapa mangkuk minuman hangat dan beberapa piring penganan.

“Kemarilah!” berkata Ki Gede Menoreh kemudian begitu melihat kedua perempuan itu sedang menaiki tlundak pendapa.

Dengan segera mereka berdua menempatkan diri ikut bergabung duduk-duduk di pendapa.

“Bagaimana Nimas Ratri? Apakah perjalanan keliling Menoreh cukup menyenangkan?” bertanya Ki Gede Menoreh kemudian sambil memandang Ratri dengan senyum dikulum.

Mendapat pertanyaan seperti itu Ratri segera mengangguk sambil menjawab, “Menyenangkan sekali Ki Gede. Namun kami tidak sampai berkuda dari ujung ke ujung tanah perdikan Menoreh ini.”

Tampak Ki Gede Menoreh mengerutkan keningnya. Tanyanya kemudian, “Mengapa?”

Untuk sejenak Ratri tidak mampu menjawab. Tanpa sadar dia telah berpaling ke arah Pandan Wangi untuk meminta bantuan menjawab. Perhatian orang-orang di pendapa itu pun beralih ke Pandan Wangi.

Pandan Wangi yang merasa menjadi perhatian segera beringsut ke depan setapak. Setelah menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu, barulah dia menjawab, “Ayah, tanpa sengaja kami telah bertemu dengan serombongan anak-anak muda yang mengaku sebagai murid perguruan Wirapati.”

“Perguruan Wirapati?” hampir serempak orang-orang tua itu pun telah berseru.

“Engkau tidak apa-apa nduk?” bertanya Ki Gede Matesih kemudian dengan serta merta sambil berpaling dan menggamit lengan anaknya yang duduk di sebelahnya.

“Tidak ayah, aku tidak apa-apa. Untunglah mereka sudah tidak mengenal aku lagi,” jawab Ratri hampir berbisik. Ki Gede Matesih pun hanya dapat menarik nafas panjang.

“Bukankah anak-anak muda itu juga yang telah mencegat rombongan Ki Gede Matesih kemarin?” bertanya Kiai Sabda Dadi kemudian sambil memandang ke arah pemimpin perdikan Matesih itu.

Ki Gede Matesih pun menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Benar Kiai. Kemarin kami sempat bersilang jalan dengan mereka. Untunglah Ki Bango Lamatan menemukan cara untuk membuat mereka sedikit jera dan mengurungkan niat mereka.”

Tampak kerut merut di dahi orang-orang yang hadir di pendapa itu kecuali Ki Gede Matesih dan Ratri. Bertanya Ki Gede Menoreh kemudian, “Apa maksud anak-anak muda itu mencegat rombongan Ki Gede?”

Untuk sejenak tampak Ki Gede Matesih dan Ratri saling berpandangan. Tiba-tiba saja wajah Ratri tampak memerah karena menahan rasa malu.

“Tidak apa-apa Ratri,” berkata ayahnya kemudian sambil tersenyum untuk menenangkan hati anak perempuan satu satunya itu, “Kita katakan saja apa sebenarnya yang telah terjadi kemarin, agar Ki Gede Menoreh sebagai pemimpin tertinggi di perdikan ini mengetahui polah tingkah anak-anak murid dari perguruan Wirapati itu.”

Tampak kepala Ratri terangguk kecil. Bagaimana pun juga perlakuan anak-anak muda itu terhadap dirinya sehari yang lalu telah menorehkan kenangan pahit di hatinya.

“Ki Gede,” berkata Ki Gede Matesih kemudian, “Anak-anak muda itu saling bertaruh ketika melihat Ratri dalam pakaian laki-laki. Mereka menuntut Ratri untuk membuka pakaiannya di hadapan anak-anak muda itu sebagai bukti jati diri Ratri yang sebenarnya.”

“Gila!” tiba-tiba terdengar Pandan Wangi menggeram dengan muka memerah darah sambil mengepalkan tangan kanannya. Tanyanya kemudian sambil berpaling ke arah Ratri, “Ratri, mengapa tidak engkau ceritakan kelakuan anak-anak muda itu kepadaku tadi sewaktu kita bertemu mereka? Tentu akan aku hajar mereka sampai babak belur untuk meminta maaf kepadamu!”

“Ah, sudahlah Wangi!” ternyata justru ayahnya yang menyahut dengan nada sareh, “Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Aku yakin Nimas Ratri tentu merasa ewuh pekewuh untuk menceritakan hal itu kepadamu. Apalagi di hadapan anak-anak muda itu.”

“Tapi ayah, kelakuan anak-anak muda itu sudah diluar batas. Kita harus memberi peringatan kepada gurunya!” sahut Pandan Wangi dengan serta merta.

Tampak kerut merut di kening Ki Argapati. Tanyanya kemudian dengan nada sedikit ragu, “Bagaimana caranya, Wangi? Bagaimana kita dapat memperingatkan guru mereka atas kelakuan anak-anak muridnya?”

Pandan Wangi tersenyum penuh arti sambil menyerahkan gulungan rontal yang sedari tadi di genggam di tangan kirinya. Katanya kemudian, “Inilah jawabannya ayah. Inilah kesempatan bagi kita untuk memberi peringatan kepada perguruan itu bahwa di perdikan Menoreh mereka tidak dapat berbuat seenak mereka sendiri. Salah satu dari anak muda itu menitipkan rontal ini sebagai undangan untuk menghadiri peresmian perguruan mereka.”

Dengan raut wajah penuh tanda tanya, Ki Gede Menoreh segera menerima gulungan rontal dari tangan kanan anak perempuan satu satunya itu. Dengan sedikit bergegas, Ki Gede Menoreh pun segera membuka gulungan rontal itu dan kemudian membacanya dengan suara bergumam yang tidak begitu jelas.

“Hem,” terdengar Ki Gede Menoreh kembali bergumam sambil kembali menggulung rontal itu dan kemudian menyerahkan kepada Kiai Sabda Dadi.

“Apa isinya ayah?” bertanya Pandan Wangi kemudian dengan nada yang tidak sabar.

Ki Gede tersenyum sambil berpaling ke arah putrinya. Jawabnya kemudian, “Perguruan Wirapati memang akan mengadakan peresmian atas berdirinya perguruan mereka dan sekaligus akan mengadakan pasang giri gelar kaprawiran dalam waktu sepekan ke depan. Mereka mengundang kita untuk menghadirinya dan sekaligus sebagai perkenalan perguruan yang baru tumbuh di tanah perdikan ini.”

Terlihat setiap kepala terangguk angguk. Kiai Sabda Dadi yang sedang membaca rontal di tangannya pun ikut mengagguk angguk dan tersenyum tipis.

“Sebentar Ki Gede,” berkata Kiai Sabda Dadi kemudian sambil menggulung kembali rontal itu dan meletakkan di hadapannya, “Mereka mengundang kita untuk menghadiri acara peresmian perguruan mereka dan sekaligus mengadakan pasang giri gelar kaprawiran,” Kiai Sabda Dadi berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian sambil memandang kedua pemimpin tanah perdikan itu ganti berganti, “Kalau aku tidak salah, pasang giri gelar kaprawiran itu semacam pertandingan ketangkasan dan keprigelan dalam olah kanuragan. Mereka tentu juga akan mengundang perguruan-perguruan lain untuk mengikuti pertandingan itu.”

“Kiai Sabda Dadi benar,” sahut Ki Gede Menoreh dengan serta merta, “Perguruan Wirapati adalah perguruan yang baru muncul. Tentu mereka akan menunjukkan kelebihan-kelebihan yang mereka miliki dibandingkan dengan perguruan yang lain,” Ki Gede Menoreh berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Namun yang aku takutkan adalah, dengan adanya pasang giri gelar kaprawiran itu, tidak akan menambah kawan tapi justru akan menambah lawan!”

“Tinggal bagaimana mereka nantinya menyelenggarakan acara itu, Ki Gede,” Ki Gede Matesih yang sedari tadi hanya menjadi pendengar yang baik menimpali, “Tujuan dari pasang giri gelar kaprawiran itu sebenarnya adalah saling tukar pengalaman dan saling berbagi pengalaman. Namun jika yang terjadi nantinya adalah keinginan untuk saling menunjukkan kelebihan serta keinginan untuk saling menjatuhkan, akhir dari semua itu adalah rasa dendam yang timbul antara perguruan-perguruan itu dan dapat berakibat kurang baik di masa mendatang.”

Tampak orang-orang yang hadir di pendapa itu mengangguk angguk. Dari keinginan mempererat persaudaraan dan menambah pertemanan, justru akan berakhir dengan persaingan dan permusuhan.

“Ayah,” bertanya Pandan Wangi kemudian setelah sejenak mereka terdiam, “Apakah ada kemungkinan kita juga akan dilibatkan dalam acara pasang giri gelar kaprawiran itu?”

Untuk sejenak ayahnya tidak mampu menjawab. Diedarkan pandangan matanya ke sekeliling seakan mencari bantuan untuk menjawab pertanyaan anaknya,

Segera saja Kiai Sabda Dadi beringsut setapak ke depan. Katanya kemudian, “Maaf Ki Gede. Jika Ki Gede nantinya berkenan hadir, tentu saja Ki Gede akan hadir sebagai seorang kepala tanah perdikan, bukan sebagai pemimpin sebuah perguruan. Jadi menurut pendapatku, lebih baik kita menjadi penonton yang baik saja.”

Kembali kepala orang-orang yang hadir di tempat itu terangguk angguk, kecuali Pandan Wangi.

“Sebentar Kiai,” sela Pandan Wangi cepat, “Memang ayah nantinya akan hadir sebagai seorang kepala tanah perdikan, bukan sebagai pemimpin sebuah perguruan. Namun tidak menutup kemungkinan jika pihak perguruan Wirapati ingin menjajagi kemampuan para pengawal perdikan Menoreh sehingga kita akan dilibatkan dalam acara pasang giri gelar kaprawiran itu!”

Sekarang hampir setiap wajah telah mengerutkan kening mereka dalam-dalam. Kemungkinan yang disampaikan oleh Pandan Wangi itu memang ada, dan jika memang itu yang terjadi nantinya, tentu saja Ki Gede Menoreh tidak ada alasan untuk menolak.

“Aku sarankan Ki Gede membawa serta beberapa pengawal yang dapat diandalkan,” berkata Kiai Sabda Dadi kemudian menanggapi kekhawatiran Pandan Wangi, “Aku kira sudah sewajarnya jika Ki Gede menghadiri perhelatan perguruan Wirapati itu dengan membawa beberapa pengawal.”

“Ya, Kiai,” sahut Ki Gede Matesih memberikan pendapatnya, “Aku kira tidak akan menjadi masalah jika Ki Gede Menoreh membawa beberapa pengawal yang dapat diandalkan dan sekaligus sebagai wakil perdikan Menoreh jika perguruan Wirapati melibatkan perdikan ini dalam acara pasang giri gelar kaprawiran itu.”

Tampak setiap kepala sekarang terangguk angguk. Dalam waktu dekat ini Ki Gede Menoreh dapat memilih para pengawal yang akan dibawa menghadiri undangan perguruan Wirapati itu.

“Aku akan memanggil Prastawa,” berkata Ki Gede kemudian sambil tersenyum, “Sebagai kepala pengawal di perdikan ini, tentu Prastawa lebih mengetahui kemampuan anak buahnya.”

“Aku setuju Ki Gede,” sahut Kiai Sabda Dadi dengan serta merta. Sementara Ratri yang sedari tadi hanya tertunduk telah mengangkat wajahnya dan berpaling ke arah Pandan Wangi dengan kerut merut di keningnya.

Agaknya Pandan Wangi tanggap dengan apa yang ingin diketahui oleh Ratri. Maka sambil mencondongkan tubuhnya merapat ke arah Ratri, Pandan Wangi pun berbisik, “Prastawa adalah anak laki-laki satu satunya Paman Argajaya, adik kandung ayahku.”

“O,” desis Ratri kemudian sambil mengangguk angguk. Orang-orang yang mendengar bisikan Pandan Wangi itu pun telah ikut tersenyum.

“Ki Gede,” berkata Kiai Sabda Dadi kemudian sambil berpaling ke arah Ki Gede Menoreh, “Apakah Ki Rangga Agung Sedayu akan ikut hadir di perguruan Wirapati nantinya?”

Dengan sedikit bergegas, Ki Gede Menoreh pun segera membuka gulungan rontal itu dan kemudian membacanya……………

Sejenak terlihat kerut merut di kening pemimpin tanah perdikan Menoreh itu. Namun Ki Gede Menoreh kemudian menggelengkan kepalanya. Jawabnya kemudian, “Undangan ini hanya berlaku untuk pemimpin perdikan Menoreh dan para bebahu perdikan Menoreh,” Ki Gede berhenti sebentar. Dengan gerak naluriah tangan kanan Ki Gede meraih rontal yang tergeletak di hadapan Kiai Sabda Dadi dan membukanya kembali.

Berkata Ki Gede Menoreh kemudian sambil mengamat amati rontal di tangannya, “Nama Ki Rangga sama sekali tidak ada dalam undangan ini. Namun tidak ada salahnya jika aku mengajaknya.”

“Ayah,” tiba-tiba Pandan Wangi menyahut, “Aku mempunyai dugaan bahwa Ki Rangga pasti ikut diundang. Keberadaan barak prajurit pasukan khusus Mataram di Menoreh ini mungkin juga menjadi daya tarik tersendiri bagi perguruan Wirapati untuk mengadakan perbandingan ilmu. Mungkin sekarang ini utusan dari perguruan Wirapati sedang menuju barak prajurit pasukan khusus untuk mengantarkan undangan.”

Sejenak tampak ketiga orang tua itu saling berpandangan. Ki Gede Menoreh pun akhirnya mengangguk anggukkan kepalanya sambil berdesis perlahan, “Jika perguruan Wirapati sengaja ingin membuat perbandingan ilmu dengan para prajurit khusus itu, tentu mereka telah bertindak terlampau jauh.”

“Belum tentu Ki Gede,” tiba-tiba Ki Gede Matesih menyela, “Belum tentu kemampuan seorang cantrik atau putut akan berada di bawah kemampuan seorang prajurit. Memang perguruan Wirapati ini masih tergolong perguruan yang baru. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa sebenarnya hanya nama perguruannya saja yang baru, namun para cantrik, putut dan jejanggan perguruan itu sudah lama ada. Dengan kata lain, mereka membuat nama perguruan baru namun sebenarnya mereka adalah perguruan yang sudah lama keberadaannya.”

“Tetapi jika memang demikian, apa sebenarnya tujuan mereka dengan berganti nama?” sekarang Kiai Sabda Dadi yang menyela.

“Banyak alasan yang dapat dipakai untuk mengganti nama sebuah perguruan,” jawab Ki Gede Matesih sambil berpaling ke arah Kiai Sabda Dadi, “Mungkin mereka adalah sebuah perguruan lama yang telah membuat kesalahan terhadap pemerintahan Mataram sehingga telah dibubarkan. Atau bisa jadi mereka sengaja menyamar dengan nama perguruan yang baru untuk tujuan tertentu yang kita belum ketahui.”

“Kemungkinan yang terakhir itu bagiku yang masuk akal,” menyela Ki Gede Menoreh kemudian, “Kita harus tahu sumber ilmu yang sebenarnya dari perguruan Wirapati itu. Nama Wirapati hanya diambil dari nama seorang tumenggung yang telah purna, namun yang harus kita ketahui, dari mana Ki Tumenggung Wirapati itu menyadap ilmu? Apakah perguruan tempat Ki Tumenggung Wirapati itu menyadap ilmu ada hubungannya dengan tanah perdikan Menoreh secara khusus atau ada hubungannya dengan Mataram secara keseluruhan?”

Segera saja wajah-wajah yang hadir di pendapa itu menjadi tegang. Memang segala kemungkinan dapat saja terjadi. Namun dengan seringnya tanah perdikan Menoreh dijadikan sasaran sebagai pancadan oleh sekelompok orang yang tidak ingin melihat Mataram berdiri tegak, telah membuat Ki Gede Menoreh selalu berhati hati dalam menyikapi setiap perubahan.

“Langkah pertama aku akan memanggil Ki Demang Pudak Lawang,” berkata Ki Gede Menoreh kemudian setelah sejenak mereka terdiam, “Perguruan Wirapati itu terletak di kademangan Pudak Lawang. Seharusnya Ki Demang Pudak Lawang mengetahui sejarah tanah yang sekarang ditempati oleh perguruan itu.”

Sekarang terlihat orang-orang yang hadir di pendapa itu menarik nafas dalam-dalam. Memang seharusnya para penghuni tanah perdikan Menoreh mengetahui dan mencermati setiap perubahan yang terjadi di sekitarnya, sehingga sekecil apapun kemungkinan terjadinya ketidak-nyamanan di lingkungan mereka, segera dilaporkan kepada pihak yang berwenang.

“Ki Gede,” berkata Kiai Sabda Dadi kemudian sambil berpaling ke arah Ki Gede Menoreh setelah sejenak mereka terdiam, “Dalam waktu dekat ini, aku akan berusaha mengadakan penyelidikan ke perguruan Wirapati. Mungkin aku akan mendapat sisik melik tentang perguruan itu.”

“Terima kasih, Kiai Sabda Dadi,” sahut Ki Gede Menoreh sambil tersenyum ke arah Kakek Damarpati dan mengangguk anggukkan kepalanya. Lanjutnya kemudian sambil berpaling ke arah Ki Gede Matesih, “Dalam waktu sepekan ini kita akan mempersiapkan segala sesuatunya sehubungan dengan undangan perguruan itu. Aku mohon Ki Gede Matesih berkenan ikut menghadiri.”

“O, maafkan aku Ki Gede,” sahut Ki Gede Matesih dengan serta merta, “Aku tidak bisa berlama lama meninggalkan perdikan Matesih. Mungkin dalam waktu sehari atau dua hari ke depan, aku akan mohon pamit untuk kembali ke Matesih.”

“Ayah!” tiba-tiba Ratri menyela sambil memandang ayahnya dengan sinar mata penuh tanda tanya, “Bukankah di Matesih sudah ada Ki Kamituwa dan Ki Wiyaga? Demikian juga kawan-kawan Ki Rangga telah bersedia membantu keamanan Matesih selama ayah pergi.”

“Engkau benar Ratri,” jawab ayahnya kemudian sambil tersenyum sareh, “Namun demikian bukan berarti aku dapat meninggalkan tugasku selaku kepala perdikan seenaknya. Ayah harus segera kembali ke Matesih.”

Tampak raut wajah Ratri menjadi sedikit buram. Ada sedikit kegalauan mengetahui niat ayahnya untuk kembali ke Matesih dalam waktu dekat ini.

“Pasti karena perempuan itu!” geram Ratri dalam hati. Namun Ratri hanya dapat menyimpan kegeramannya dalam hati.

“Ah, sudahlah,” berkata Ki Gede Menoreh menengahi, “Ki Gede Matesih tidak perlu tergesa gesa. Di Matesih ada Ki Waskita dan Ki Jayaraga. Kedua orang tua itu pasti akan dapat mrantasi setiap persoalan yang timbul.”

“Mudah mudahan Ki Gede,” sahut ayah Ratri dengan serta merta sambil mengangguk anggukkan kepalanya.

Sejenak kemudian suasana menjadi sunyi. Masing-masing terlihat sedang terbuai oleh angan-angan yang tak berujung pangkal.

“Wangi,” tiba-tiba terdengar suara Ki Gede Menoreh memecah kesepian, “Bayu Swandana tadi ingin memandikan kudanya. Sudah aku katakan kepadanya untuk meminta bantuan paman pekatik. Lihatlah ke belakang, mungkin engkau dapat mengarahkannya.”

“Ayah,” sahut Pandan Wangi kemudian, “Sudah berapa kali Bayu Swandana meminta ijin untuk memandikan kudanya sendiri. Aku sudah melarangnya karena dia belum cukup tinggi untuk menggapai punggung kuda itu. Aku akan menengoknya ayah.”

Selesai berkata demikian Pandan Wangi segera menggamit Ratri. Sejenak kemudian kedua perempuan itu segera minta diri dan bergegas ke halaman belakang melalui longkangan.

Sepeninggal kedua perempuan itu, pembicaraan di pendapa itu pun telah berkisar ke berbagai masalah, mulai dari pergantian musim yang tidak menentu serta musim kemarau yang lebih lama dari biasanya, peningkatan pembudidayaan ternak dan ikan baik di Menoreh maupun di Matesih.

Dalam pada itu dua ekor kuda yang cukup tegar tampak sedang dipacu di bulak panjang menuju ke barak pasukan khusus Mataram yang berkedudukan di Menoreh.

Dari jauh sudah tampak pintu gerbang yang berdiri dengan kokoh. Beberapa prajurit yang berbadan tinggi dan tegap tampak sedang berdiri di sebelah menyebelah pintu gerbang yang tertutup rapat.

Ketika jarak dengan pintu gerbang itu tinggal tiga tombak, kedua penunggang kuda itu segera mengekang kendali kuda masing-masing. Setelah kuda-kuda mereka benar-benar berhenti, barulah keduanya meloncat turun. Sambil menuntun kudanya, kedua orang yang terlihat masih cukup muda itu berjalan mendekati gerbang.

Seorang prajurit yang berkumis melintang segera menyambut kedatangan kedua orang itu. Ketika keduanya tinggal kira-kira enam langkah, prajurit berkumis melintang itu segera mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.

“Berhenti!” terdengar suaranya tegas dan lantang, “Katakan jati diri kalian dan maksud kedatangan kalian ke barak pasukan khusus ini!”

Berdesir dada kedua orang itu. Nama pasukan khusus Mataram yang berkedudukan di Menoreh itu sudah dikenal banyak orang di seluruh tlatah Mataram. Sebuah pasukan khusus yang memang dilatih untuk melaksanakan tugas-tugas berat yang sulit dilakukan oleh prajurit biasa. Pasukan khusus yang dipimpin oleh seorang senapati yang namanya sangat disegani lawan dan ditakuti lawan, Ki Rangga Agung Sedayu.

Sambil tetap memegangi kendali kuda-kuda mereka, kedua orang itu segera maju selangkah sambil menganggukkan kepala mereka. Berkata salah satu dari mereka kemudian, “Perkenalkan, kami para cantrik utusan dari perguruan Wirapati ingin bertemu dengan senapati pasukan khusus Mataram yang berkedudukan di Menoreh.”

Untuk sejenak tampak kerut merut di kening prajurit itu. Jawabnya kemudian, “Ki Rangga Agung Sedayu sedang mengemban tugas. Kami tidak tahu sampai kapan Ki Rangga akan kembali.”

Sekarang di kening kedua cantrik itulah yang tampak berkerut merut. Setelah saling pandang sejenak, kembali salah satu dari mereka berkata, “Jika demikian, kami ingin mengetahui kapan Ki Rangga akan kembali dari mengemban tugas. Jika memungkinkan kami akan menunggunya.”

Kembali prajurit berkumis melintang itu mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Sebutkan keperluan kalian. Kalian dapat menitipkan pesan itu kepada kami para prajurit jaga. Biarlah kami yang akan menyampaikan kepada Ki Rangga nantinya.”

Kembali kedua cantrik itu saling pandang. Berkata salah satu dari keduanya kembali, “Kami diutus untuk menyampaikan undangan kepada Ki Rangga Agung Sedayu.”

Tampak prajurit berkumis melintang itu menarik nafas dalam-dalam sambil memandang ganti berganti kepada kedua orang itu. Katanya kemudian, “Serahkan undangan itu kepadaku. Nanti akan aku sampaikan kepada Ki Rangga jika Ki Rangga sudah kembali,” prajurit itu berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Atau aku dapat menyampaikannya kepada Ki Lurah yang mewakili Ki Rangga selama Ki Rangga tidak di tempat.”

“Tetapi pesan guru kami, undangan ini harus kami sampaikan kepada Ki Rangga sendiri. Tidak boleh dititipkan kepada sembarang orang!” sela salah satu cantrik utusan perguruan Wirapati yang terlihat berwajah bulat.

“Itu tidak ada bedanya!” sergah prajurit berkumis melintang itu dengan nada yang sedikit jengkel, “Jika keperluan kalian hanya mengantar undangan untuk Ki Rangga, cukup kami para prajurit jaga yang menerimanya. Kami tidak akan mengganggu tugas-tugas Ki Rangga hanya untuk urusan sekecil ini. Cukup kami para prajurit jaga yang akan menyampaikannya nanti.”

Akan tetapi jawaban kedua cantrik utusan dari perguruan Wirapati itu sungguh sangat mengejutkan. Dengan tegas keduanya menggeleng. Berkata cantrik yang berwajah bulat itu kemudian, “Sesuai perintah guru kami, undangan ini harus sampai ke tangan Ki Rangga sendiri!”

“Persetan dengan gurumu!” geram prajurit berkumis melintang itu. Agaknya dia mulai kehabisan kesabaran menghadapi dua orang cantrik utusan dari perguruan Wirapati yang keras kepala itu.

“Jika kalian bersikeras untuk bertemu dengan Ki Rangga sendiri, kalian hanya akan bermimpi!” geram prajurit itu selanjutnya, “Pergilah, kami tidak butuh dengan undangan kalian. Bawa kembali undangan itu kepada gurumu!”

Merah padam wajah kedua utusan itu. Untuk sejenak mereka justru telah membeku di tempat masing-masing tidak tahu harus berbuat apa.

Beberapa prajurit yang lain agaknya telah tertarik dengan kedua orang cantrik yang mengaku utusan dari perguruan Wirapati itu. Sejenak kemudian dua orang prajurit telah melangkah mendekat.

“Ada apa kakang?” bertanya salah seorang prajurit yang terlihat masih muda.

Prajurit berkumis melintang yang dipanggil kakang itu terdengar mendengus marah. Katanya kemudian sambil menunjuk ke arah kedua utusan itu, “Ada dua orang yang mengaku utusan dari perguruan Wirapati. Aku tidak tahu di mana perguruan itu berada. Mereka membawa undangan untuk Ki Rangga. Akan tetapi mereka berdua menolak untuk menyerahkan undangan itu dan bersikeras untuk bertemu Ki Rangga sendiri.”

Prajurit muda itu mengerutkan keningnya. Katanya kemudian kepada kedua cantrik itu, “Ki Sanak berdua harus menyadari bahwa Ki Sanak berada di lingkungan keprajuritan, bukan di lingkungan sebuah perguruan. Kami para prajurit sangat menjunjung tinggi paugeran yang berlaku di barak ini. Tidak sembarang orang akan diijinkan untuk menghadap pimpinan kami. Hanya orang yang sudah kami kenal dengan baik atau orang-orang yang mempunyai jalur keprajuritan dengan pasukan khusus ini yang dapat menghadap pemimpin kami.”

“Itu pun harus dibuktikan dengan pertanda khusus dari lingkungan kesatuan di atas kami,” timpal prajurit berkumis melintang itu kemudian, “Jika mereka tidak membawa pertanda khusus, walaupun mereka mengenakan pakaian keprajuritan lengkap dengan tanda-tanda kepangkatan, tetap akan kami tolak.”

Kedua cantrik yang mengaku utusan dari perguruan Wirapati itu masih berdiri termangu mangu sambil memegangi kendali kuda-kuda mereka. Berbagai pertimbangan pun hilir mudik dalam benak mereka.

“Ki Sanak,” berkata cantrik yang berwajah bulat itu pada akhirnya, “Jika kalian berpegang pada paugeran prajurit, kami juga berpegang pada paugeran perguruan kami. Perintah seorang guru bagi murid muridnya adalah mutlak. Tidak ada alasan bagi kami untuk mengingkarinya!”

Para prajurit itu sejenak tertegun. Tiba-tiba saja salah seorang dari para prajurit itu bertanya, “Siapakah nama guru kalian?”

Sekejap kedua utusan itu tertegun. Namun cantrik yang berwajah bulat itu segera menjawab sambil membusungkan dadanya, “Guru kami adalah seorang Tumenggung, lengkapnya Ki Tumenggung Wirapati!”

Terkejut para prajurit yang mengerumuni kedua cantrik itu. Pangkat Tumenggung adalah pangkat yang sangat tinggi dalam keprajuritan sehingga telah membuat jantung mereka berdesir tajam.

“Ki Tumenggung Wirapati,” tanpa sadar beberapa prajurit telah mengulang nama itu. Rasa rasanya mereka belum pernah mendengar nama itu di Mataram, namun demikian mereka menjadi ragu-ragu untuk mengambil keputusan.

Di tengah ketidak pastian itu tiba-tiba terdengar pintu gerbang berderit karena di dorong dari dalam oleh seseorang sehingga terbuka sedepa. Ketika para prajurit yang berkerumun itu kemudian berpaling, tampak seseorang yang usianya sudah mendekati pertengahan abad sedang melangkah mendekat.

“Ki Lurah!” desis beberapa prajurit sambil menyibak memberi jalan.

“Ada apa?” bertanya Ki Lurah kemudian sesampainya di hadapan para prajurit itu.

“Ada dua orang cantrik dari perguruan Wirapati sedang mengantarkan undangan untuk Ki Rangga, Ki Lurah,” berkata prajurit yang berkumis melintang itu memberikan laporan.

“Ki Rangga sedang tidak ada di tempat,” berkata Ki Lurah kemudian sambil memandang kedua cantrik itu ganti berganti, “Berikan saja undangan itu kepadaku. Nanti aku sendiri yang akan menyampaikannya kepada Ki Rangga.”

“Tetapi, Ki Lurah,” sahut cantrik berwajah bulat itu dengan serta merta, “Guru kami, Ki Tumenggung Wirapati telah berpesan mawanti wanti bahwa undangan ini harus kami sampaikan sendiri kepada Ki Rangga, tidak boleh diwakilkan kepada siapapun.”

Cantrik berwajah bulat itu sengaja menyebut nama dan gelar gurunya untuk mendapatkan perhatian, namun ternyata Ki Lurah justru telah mengerutkan keningnya dalam-dalam. Bertanya Ki Lurah kemudian, “Benarkah gurumu itu seorang Tumenggung?”

“Benar Ki Lurah,” sahut cantrik berwajah bulat itu cepat, “Guru kami adalah seorang Tumenggung yang pernah bertugas jauh di pantai Utara untuk mengamankan pelabuhan-pelabuhan dari gangguan para perompak.”

Tampak kepala Ki Lurah terangguk angguk. Katanya kemudian seolah olah ditujukan kepada dirinya sendiri, “Sejauh pengetahuanku dalam paugeran keprajuritan, seorang prajurit dalam tataran kepangkatan apapun dilarang untuk mengikuti kegiatan apa saja diluar tugas-tugas keprajuritannya. Apalagi memimpin sebuah perguruan. Karena hal tersebut akan dapat mengganggu tugas-tugasnya, kecuali prajurit tersebut sudah purna tugas.”

Kedua cantrik itu sejenak saling pandang. Berkata cantrik berwajah bulat itu kemudian, “Memang guru kami baru purna tugas beberapa bulan yang lalu dan sekarang telah mendirikan perguruan Wirapati yang terletak di perdikan Menoreh, tepatnya di Kademangan Pudak Lawang.”

“O,” segera saja terdengar decak para prajurit yang berada di sekitar tempat itu. Sementara Ki Lurah pun telah tersenyum sambil mengangguk anggukkan kepalanya.

“Nah, Ki Sanak berdua,” berkata Ki Lurah itu pada akhirnya, “Serahkan undangan itu kepadaku. Nanti aku sendiri yang akan menyampaikannya kepada Ki Rangga.”

Untuk kesekian kalinya kedua cantrik itu saling pandang. Wajah-wajah mereka pun tampak menyiratkan ketidak puasan.

“Ada apa Ki Sanak?” bertanya Ki Lurah kemudian begitu melihat kedua cantrik itu tampak ragu-ragu, “Apakah kalian tidak percaya kepadaku?”

“O, bukan begitu maksudku, Ki Lurah,” jawab cantrik berwajah bulat itu dengan serta merta, “Namun pesan dari guruku sangat jelas. Hanya Ki Rangga Agung Sedayu sendiri yang berhak menerima undangan ini.”

Terlihat Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan gejolak dalam dadanya yang tiba-tiba saja menggelepar. Katanya kemudian, “Terserah kalian berdua. Jika menunggu Ki Rangga, aku belum dapat memastikan kapan Ki Rangga kembali dari bertugas. Sedangkan yang mewakili Ki Rangga selama beliau tidak di tempat ada tiga orang Lurah prajurit. Aku sendiri dan dua orang Lurah prajurit lainnya.”

Tampak wajah kedua cantrik itu mulai menyiratkan kebimbangan.

Namun pesan guru mereka tadi memang sangat jelas.

“Kalian harus dapat menyerahkan rontal ini langsung kepada Ki Rangga sendiri. Jika Ki Rangga tidak ada di tempat dan kapan kembalinya tidak ada yang tahu, jangan menitipkan rontal ini kepada siapapun, walaupun dia itu orang yang ditunjuk untuk mewakili Ki Rangga sekalipun. Lebih baik rontal ini kalian bawa pulang,” demikian pesan Ki Wirapati sebelum kedua cantrik itu berangkat.

“Bagaimana Ki Sanak?” tiba-tiba pertanyaan Ki Lurah itu telah membangunkan lamunan mereka berdua.

Cantrik berwajah bulat itu sejenak memandang kawannya, namun terlihat kawannya pun tidak mampu memberi saran.

“Baiklah Ki Lurah,” berkata cantrik berwajah bulat itu kemudian, “Aku hanya ingin memastikan, kapan kira-kira Ki Rangga kembali dari tugasnya?”

Dengan cepat Ki Lurah menggeleng. Jawabnya kemudian, “Aku tidak tahu. Selain sebagai Senapati pasukan khusus ini, Ki Rangga juga sering menerima tugas khusus dari Ki Patih Mandaraka. Sudah cukup lama Ki Rangga meninggalkan perdikan Menoreh dan aku tidak tahu kapan Ki Rangga akan kembali.”

Tampak kedua cantrik itu mengangguk angguk. Cantrik berwajah bulat itu pun kemudian memberi isyarat kawannya.

“Baiklah Ki Lurah, sesuai pesan guru kami, kami akan kembali,” berkata cantrik itu pada akhirnya.

“Silahkan,” sahut Ki Lurah sambil mempersilahkan dengan isyarat tangannya, “Sebenarnya jika hanya menyampaikan undangan, kalian dapat menitipkan kepada para penjaga, sehingga kalian tidak mondar mandir kehilangan waktu.”

“Sebenarnya kami tahu itu, Ki Lurah. Namun kami tidak berani melanggar perintah guru kami,” berkata cantrik berwajah bulat itu kemudian sambil memutar arah kudanya. Kawannya pun kemudian mengikuti. Sementara Ki Lurah berjalan menjajari langkah cantrik berwajah bulat itu.

“Begitu pentingkah undangan itu sehingga harus Ki Rangga sendiri yang menerimanya?” bertanya Ki Lurah kemudian sambil mengikuti langkah kedua cantrik itu menuntun kuda-kuda mereka menjauhi pintu gerbang.

“Aku tidak tahu, Ki Lurah,” jawab cantrik berwajah bulat itu sambil bersiap siap menaiki kudanya. Ketika dia berpaling sekilas, kawannya ternyata justru telah mendahului meloncat ke atas punggung kudanya.

“Kami mohon diri Ki Lurah,” berkata cantrik berwajah bulat itu kemudian ketika sudah berada di atas punggung kudanya.

“Silahkan! Semoga selamat sampai tujuan,” berkata Ki Lurah kemudian, “Sampaikan salam hormat kami kepada Ki Tumenggung Wirapati.”

“Tentu Ki Lurah,” jawab cantrik berwajah bulat itu kemudian. Sejenak kedua ekor kuda itu pun telah berpacu di jalan yang berbatu batu kembali ke kademangan Pudak Lawang.

Sepeninggal kedua cantrik itu, tampak Ki Lurah berjalan sambil menundukkan kepalanya. Beberapa prajurit yang berada di pintu gerbang itu pun segera menyambutnya.

“Mengapa undangan itu tidak dititipkan kepada Ki Lurah saja?” bertanya salah satu prajurit itu begitu mereka tiba di hadapan Ki Lurah.

Ki Lurah menghentikan langkahnya. Setelah menarik nafas dalam-dalam, barulah Ki Lurah menjawab, “Aku tidak tahu. Akan tetapi yang jelas undangan itu sangat mencurigakan. Mengapa mesti Ki Rangga sendiri yang harus membukanya?” Ki Lurah berhenti sebentar sambil terlihat mengerutkan keningnya. Lanjutnya kemudian, “Atau jangan-jangan mereka menaruh sesuatu dalam gulungan rontal itu yang dapat mencelakakan Ki Rangga.”

“Ya, Ki Lurah. Aku juga menduga demikian,” sahut prajurit berkumis melintang itu dengan serta merta, “Mungkin rontal itu di dalamnya dibubuhi sejenis racun ganas yang tidak terlihat dan tidak berbau. Namun ketika Ki Rangga menyentuhnya, racun itu akan merembes ke dalam tubuhnya melalui kulit dan kemudian menembus jantung.”

“Ah,” seru kawan-kawannya, “Engkau terlalu banyak berkhayal. Belum ada racun sejenis itu yang mampu meresap ke dalam kulit tanpa melalui sebuah luka yang terbuka, atau melalui pernafasan.”

“Siapa tahu sekarang sudah ada dan perguruan Wirapati itu telah menggunakannya untuk mencederai Ki Rangga?” bantah prajurit berkumis melintang itu.

“Ah, sudahlah,” berkata Ki Lurah menengahi sambil melanjutkan langkahnya. Para prajurit itu pun mengikutinya.

“Kita harus tahu latar belakang perguruan Wirapati itu,” berkata Ki Lurah selanjutnya ketika mereka sudah sampai di pintu gerbang, “Aku akan mengutus beberapa prajurit sandi untuk menyelidiki perguruan baru itu. Bukankah mereka tadi menyebut kademangan Pudak Lawang?”

“Benar Ki Lurah,” jawab prajurit berkumis melintang itu dengan cepat, “Jika guru mereka berpesan agar Ki Rangga sendiri yang menerima rontal itu, berarti guru mereka itu sudah pernah mengenal Ki Rangga, atau paling tidak pernah mendengar namanya di seluruh tlatah Mataram ini.”

Kembali tampak Ki Lurah mengangguk angguk. Katanya kemudian, “Aku akan membicarakan terlebih dahulu dengan Lurah prajurit yang lain sebelum memutuskan untuk menugaskan prajurit sandi.”

Para prajurit yang berjaga di pintu gerbang itu pun mengangguk anggukan kepala mereka. Demikian lah Ki Lurah pun kemudian berlalu dari tempat itu.

***

 

Dalam pada itu di istana kepatihan, tampak Ki Patih sedang menerima dua orang utusan dari istana Kanjeng Ratu Lungayu.

“Silahkan,” berkata Ki Patih sambil mempersilahkan keduanya duduk di serambi samping kepatihan. Kedua utusan Kanjeng Ratu itu pun kemudian duduk bersila berhadap hadapan dengan Ki Patih.

Setelah menanyakan keselamatan masing-masing, Ki Patih pun kemudian mulai menyinggung kepentingan kedua utusan itu.

“Ampun Ki Patih,” berkata salah satu utusan yang rambutnya sudah mulai bercampur putih, “Kami berdua memang telah diutus oleh Kanjeng Ratu.”

Tampak Ki Patih menarik nafas dalam-dalam. Sambil memandangi kedua utusan itu ganti berganti, Ki Patih pun kemudian bertanya, “Apakah pesan Kanjeng Ratu itu?”

Sambil menyembah dalam-dalam, utusan yang berambut nyambel wijen itu pun menjawab dengan suara rendah, “Ampun Ki Patih, Kanjeng Ratu menyampaikan keberatannya atas kejadian pagi tadi di alun-alun. Pengerahan pasukan dari berbagai kesatuan itu telah membuat Kanjeng Ratu tidak nyaman. Terus terang Kanjeng Ratu tidak berkenan dengan apa yang telah dilakukan oleh Pangeran Purbaya.”

Kembali tampak Ki Patih menarik nafas panjang. Untuk beberapa saat orang yang di masa mudanya bernama Ki Juru Mertani itu termenung. Berbagai tanggapan pun hilir mudik dalam benaknya.

“Untuk apa Pangeran Purbaya melakukan semua itu? Walaupun dengan alasan persiapan pengamanan kotaraja menjelang penobatan Raja Mataram yang baru, namun pengerahan pasukan dari berbagai kesatuan secara besar besaran itu dapat menimbulkan berbagai penafsiran dan memecah belah kerukunan keluarga istana,” membatin Ki Patih sambil memandang ke titik-titik di kejauhan.

Sejenak suasana menjadi sunyi. Matahari sudah wayah pasar temawon. Dari arah regol depan terdengar suara tawa yang tertahan tahan. Agaknya para prajurit jaga kepatihan sedang bergurau atau membicarakan sesuatu yang mengundang tawa.

“Jadi, apa kehendak Kanjeng Ratu sehubungan dengan gelar pasukan tadi pagi?” bertanya Ki Patih pada akhirnya setelah sejenak mereka terdiam.

“Ampun Ki Patih,” kembali utusan yang sudah berumur itu menyembah, “Kanjeng Ratu hanya ingin meminta kepastian dari Ki Patih tentang penobatan besuk pagi, tanpa terpengaruh oleh gelar pasukan tadi pagi.”

“O, tentu saja tidak!” sahut Ki Patih cepat sambil menggelengkan kepalanya, “Sudah menjadi keputusan sidang para sentana dalem dan kerabat istana bahwa besuk pagi Raden Mas Wuryah akan menduduki tahta.”

Tampak kepala kedua utusan itu terangguk angguk. Mereka berdua percaya sepenuhnya bahwa Ki Patih tidak akan mengingkari janji.

“Nah, sekarang apa lagi yang mesti dirisaukan oleh Kanjeng Ratu?” bertanya Ki Patih kemudian sambil tersenyum tipis, “Dengan seijin Yang Maha Agung, mudah mudahan apa yang telah kita rencanakan besuk pagi dapat berjalan sesuai harapan.”

“Sendika Ki Patih,” sahut kedua utusan itu hampir berbareng sambil menyembah.

“Nah, apakah masih ada lagi pesan dari Kanjeng Ratu yang ingin kalian sampaikan?” bertanya Ki Patih selanjutnya.

Kembali utusan yang sudah cukup berumur itu menyembah sambil berkata, “Ampun Ki Patih. Kanjeng Ratu merasa keamanan di lingkungan istana Kanjeng Ratu perlu ditingkatkan. Demikian juga untuk istana Raden Mas Wuryah.”

bersambung ke bagian 2

15 Responses

  1. Blum bisa baca jilid 28

  2. 😁 seperti biasa.. terkejut karena sudah ada gambar cover-nya, setia menanti.

  3. Assalamualaikum om ditunggu lanjutannya makasih ceritanya menarik,mendidik,banyak hal2 positif yang bisa aku dapat makasih☺☺☺

  4. Setia menanti…..

  5. STSD-28 bagian 1 sudah dinggah.
    Bagi yang menunggu, monggo dinikmati.

  6. menunggu kirangga mnyelesaikan laku aji pangangen-ngangen, kayaknya untuk tugas tertentu cukup dgn tiduran d rumah hehe
    trimakasih ceritanya sangat menarik mbah…slalu sehat.

  7. matur nuwun mbah man, pokokmen top

  8. Alhamdulillah, matur suwun sanget mbah Man. Semoga tetap sehat seger waras untuk melanjutkan penulisan cerita yg legendaris ini.

  9. Tanpa Pati Geni, tapa ngalong dan tapa kungkum masing-masing 3 hari, aji pengangen-angen sudah tuntas dengan melakukan puasa Abi Daud sesuai dengan anjuran kanjeng Sunan.

  10. Mbah man memang hebat….

  11. Dah pengin banget tau kelanjutan dari stsd baik 28 bagian dan jilid2 selanjutnya

  12. Mantab … ditunggu kelanjutannya

  13. Kok dangu jedul Bundelan jilidnya Mbah man dan pak satpam….

  14. Pak satpam, kangen baca cerita nya ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s