STSD-29

kembali ke STSD-28 | lanjut ke STSD-30

 

 

Bagian 1

“Tidak mungkin!” geram bayangan semu itu kemudian sambil mundur lagi selangkah, “Seseorang pasti sedang mempermainkan pikiranku!”

Berkali kali dicobanya menggeleng gelengkan kepala untuk mengusir ketiga ujud yang telah mencengkeram benaknya itu. Dua orang perempuan dengan mengenakan pakaian khusus dan seorang perempuan lagi yang berpakaian kebanyakan. Namun ujud ketiga perempuan itu tidak mau hilang dari pandangan matanya.

“Aneh,” kembali bayangan semu itu berkata dalam hati, “Apa sebenarnya yang telah terjadi? Biasanya dalam pengetrapan aji pengangen angen, aku seolah olah menjadi seorang dalang yang mampu mempermainkan beberapa wayang sekaligus sebagai perwujudan dari bayangan semuku, atau aku masih tetap mampu mengendalikan bayangan semuku dari tempat wadagku berada. Namun kini yang terjadi benar-benar mengherankan. Aku telah menjadi diriku sendiri dalam ujud bayangan semu ini.”

“Kakang!” tiba-tiba perempuan yang menyandang sepasang pedang di lambungnya itu melangkah mendekat. Bayangan semu itu pun tersentak. Sekarang dengan sangat jelasnya bayangan semu itu dapat mengenali wajahnya.

“Wangi!” desah bayangan semu itu tertegun tegun.

“Ya, kakang, ini aku,” jawab perempuan yang ternyata adalah Pandan Wangi dengan suara yang lembut. Sambil tersenyum tipis dan melangkah semakin dekat dia kemudian melanjutkan, “Ternyata engkau belum melupakan aku, kakang!”

“O, tidak mungkin, Wangi. Aku tidak mungkin akan melupakanmu!” jawab bayangan semu itu kemudian sambil merenggut secarik kain hitam yang menutupi wajahnya. Segera saja terlihat seraut wajah yang tidak asing lagi bagi ketiga perempuan itu, Ki Rangga Agung Sedayu.

“Bagaimana dengan aku kakang?” tiba-tiba perempuan kedua ternyata juga ikut melangkah mendekat. Seraut wajah yang tidak asing lagi bagi Ki Rangga dan yang untuk pertama kalinya menyentuh hati Ki Rangga di masa-masa muda dahulu pun terlihat dengan sangat jelas.

“Mirah!” desah Ki Rangga kemudian dengan suara bergetar, “Mengapa engkau ikut hadir di sini?”

“Jawab pertanyaanku terlebih dahulu kakang!” sergah perempuan kedua yang ternyata adalah Sekar Mirah, “Engkau masih mengenal aku sebagai istrimu dan sekaligus ibu dari anak laki-lakimu atau tidak?”

Kembali tampak bayangan semu Ki Rangga itu mencoba mengibaskan kepalanya berkali kali. Namun usahanya tetap tidak berhasil. Benaknya sekarang terasa seperti dicengkeram oleh kekuatan yang tidak kasat mata.

“Aku harus melawan pengaruh ini!” kembali Ki Rangga menggeram dalam hati, “Sebuah ilmu yang dapat mempengaruhi jalan pikiran seseorang. Seharusnya ilmu ini hanya dapat mempengaruhi pikiran seseorang secara nyata. Namun anehnya kali ini ternyata juga mampu berpengaruh terhadap bayangan semuku.”

“Kakang!” terdengar suara Sekar Mirah sekarang menjerit tinggi, “Jawab pertanyaanku atau aku dan Bagus Sadewa akan hilang dari kehidupan kakang untuk selamanya!”

Kembali Ki Rangga terhenyak ke belakang beberapa langkah. Jawabnya kemudian dengan suara berat dan dalam, “Mirah, sampai kapanpun engkau adalah istriku dan ibu dari anak laki-laki satu satunya yang aku punya, Bagus Sadewa!”

“Akan tetapi bagaimana dengan kehadiran perempuan itu di hatimu kakang?” kembali Sekar Mirah berteriak sambil tangan kanannya menunjuk ke arah perempuan terakhir yang masih tampak berdiri termangu-mangu di kejauhan.

“Siapa yang engkau maksud, Mirah?” bertanya Ki Rangga dengan serta merta sambil mencoba mengamat amati wajah perempuan yang mengenakan pakaian kebanyakan dan terlihat selalu menundukkan wajahnya dalam-dalam.

“Lihatlah kakang! Lihatlah! Bukankah kakang telah berjanji membawanya ke Menoreh untuk menjadi bagian dari keluarga kita?” sekarang suara Sekar Mirah terdengar meninggi dan disertai sedikit isak tangis yang tersendat sendat.

Berdesir tajam dada Ki Rangga. Sepertinya perempuan muda yang berdiri di ujung sana itu tidak asing lagi bagi Ki Rangga. Namun Ki Rangga masih belum yakin karena perempuan muda itu terlihat selalu menundukkan wajahnya dalam-dalam.

Ketika Ki Rangga kemudian mencoba mempertajam pandangan matanya dengan aji sapta pandulu, tiba-tiba entah dari mana datangnya berhelai-helai kabut tipis perlahan turun di sekitar tempat itu sehingga telah menghalangi pandangan matanya.

“Siapa?” perlahan pertanyaan itu terloncat begitu saja dari bibir Ki Rangga yang sedikit bergetar.

Agaknya perempuan itu menyadari bahwa Ki Rangga agak kesulitan mengenalinya. Maka sambil melangkah mendekat dengan langkah gemulai, perempuan itu pun kemudian mengangkat wajahnya.

“Rara Anjani?!” seru Ki Rangga yang terlihat sedikit lepas kendali.

Namun yang terdengar kemudian justru jeritan Sekar Mirah. Sambil menangis sejadi jadinya, Sekar Mirah pun berlari dan kemudian menubruk suaminya.

Ki Rangga sama sekali tidak berusaha menghindar. Dibiarkan saja tubuhnya terbanting di atas tanah. Sejenak kedua orang itu tampak bergulingan di atas tanah. Sambil menjerit jerit bagaikan orang yang kesurupan, Sekar Mirah pun kemudian memukuli dada suaminya bertubi-tubi.

Ki Rangga sendiri menjadi heran. Bukankah dia sedang dalam pengetrapan ilmu aji pengangen angen yang tidak akan tembus oleh ilmu lawan setinggi apapun kecuali lawan itu mengerti kelemahan ilmunya. Namun pukulan bertubi-tubi Sekar Mirah itu telah menghantam dadanya sehingga terasa sesak.

Sambil tetap terlentang di atas tanah Ki Rangga mencoba mengurai semua kejadian itu dengan panggraitanya. Ki Rangga yakin seyakin yakinnya bahwa ketiga ujud perempuan yang hadir di hadapannya sekarang ini tentu bukanlah ujud mereka yang sebenarnya.

“Semua ini pasti ulah seseorang yang mencoba mengungkit kekerdilan jiwaku dengan cara membangkitkan kenangan masa laluku,” membatin Ki Rangga sambil tetap membiarkan istrinya memukuli dadanya sejadi jadinya sambil menjerit jerit.

“Aku tidak boleh tinggal diam. Aku harus melawan pengaruh yang mencengkeram otakku ini,” kembali Ki Rangga berkata dalam hati.

Mendapat pemikiran seperti itu, tiba-tiba Ki Rangga mendorong tubuh Sekar Mirah yang menindihnya sehingga terjengkang selangkah ke belakang. Dengan cepat Ki Rangga segera duduk bersila di atas tanah sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Dengan kepala tunduk dan mata terpejam Ki Rangga pun berusaha menghindari cengkeraman pengaruh ilmu aneh yang menguasai benaknya.

Sejenak kemudian Ki Rangga telah tenggelam dalam pemusatan segenap nalar dan budinya untuk melawan pengaruh aneh yang sedang mencengkeram benaknya.

***

 

Dalam pada itu di Menoreh, Rara Wulan terbangun dari tidurnya karena mendengar suara-suara aneh dari amben di sebelahnya. Ketika Rara Wulan kemudian mengangkat kepalanya untuk melongok ke arah tempat tidur Sekar Mirah, tampak istri Ki Rangga Agung Sedayu itu sedang mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi sambil meracau tidak jelas.

Damarpati yang tidur beralaskan tikar di lantai dekat amben Sekar Mirah pun ikut terbangun. Gadis kecil cucu Kiai Sabda Dadi itu pun bangkit dan kemudian duduk sambil memperhatikan Sekar Mirah yang kelihatannya seperti orang yang sedang ngelindur.

Rara Wulan yang melihat Damarpati terbangun pun akhirnya bangkit dari pembaringannya. Dengan sedikit bergegas dihampirinya amben tempat Sekar Mirah dan Bagus Sadewa tidur.

“Nyi Sekar Mirah! Nyi Sekar Mirah!” desis Rara Wulan kemudian sesampainya dia di tepi pembaringan. Sambil mengguncang guncang perlahan lengan Sekar Mirah, istri Glagah Putih itu berusaha membangunkan Sekar Mirah.

Damarpati pun akhirnya ikut berdiri di sisi pembaringan Sekar Mirah. Sementara terlihat Sekar Mirah semakin meracau sambil tangan dan kakinya bergerak gerak tak beraturan.

“Sepertinya Nyi Sekar Mirah sedang mengalami mimpi buruk,” desis Rara Wulan sambil mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling bilik. Agaknya Rara Wulan sedang mencari sesuatu.

“Mbokayu,” bisik Damarpati kemudian sebelum Rara Wulan melangkah ke sudut bilik, “Bagaimana dengan Bagus Sadewa? Aku takut dia nanti terganggu tidurnya.”

Untuk sejenak Rara Wulan ragu-ragu. Pandangan matanya ganti berganti memandang ke arah Sekar Mirah dan Bagus Sadewa. Namun Rara Wulan segera mengambil keputusan.

“Bawa dulu Bagus Sadewa,” berkata Rara Wulan kemudian sambil berjalan ke sudut untuk mengambil kendi yang terletak di atas meja kecil, “Aku akan mencoba membangunkan Nyi Sekar Mirah dengan air kendi yang dingin ini.”

Agaknya Damarpati segera tanggap. Dihampirinya Bagus Sadewa yang sedang lelap di sisi ibunya. Tanpa banyak pertimbangan bayi itu pun segera digendong dan kemudian dibawanya menyingkir dari pembaringan ibunya.

Ketika Damarpati tanpa sengaja memandang ke arah Rara Wulan, tampak cucu Ki Lurah Branjangan itu sedang tersenyum ke arahnya sambil mengangguk dan berkata, “Engkau dapat menidurkan Bagus Sadewa di pembaringanku.”

Namun ternyata Damarpati lebih senang menggendong Bagus Sadewa dalam dekapannya.

Rara Wulan yang melihat Damarpati hanya melangkah menjauh dan tetap menggendong Bagus Sadewa telah tersenyum dan berkata, “Terserah engkau sajalah jika tidak merasa capek.”

Selesai berkata demikian, Rara Wulan segera menuangkan sedikit air dari dalam kendi ke telapak tangan kanannya. Kemudian sambil sedikit bergegas dia segera menghampiri Sekar Mirah yang kini tampak menjadi sedikit liar dengan ucapan dan geraman yang tidak begitu jelas.

Untuk beberapa saat Rara Wulan termangu-mangu di sisi pembaringan. Dia menjadi sedikit ragu untuk mengusapkan air yang berada di telapak tangan kanannya itu ke wajah Sekar Mirah. Adalah sangat deksura mengusap wajah gurunya tanpa ijin, namun keadaan Sekar Mirah benar-benar semakin mengkhawatirkan.

Namun akhirnya Rara Wulan menemukan akal. Segera saja diusapkan sepercik air yang berada di telapak tangan kanannya ke kedua telapak kaki gurunya.

“Nyi! Nyi Sekar Mirah!” seru Rara Wulan dengan suara sedikit keras di dekat telinga gurunya setelah selesai mengusapkan air ke telapak kaki gurunya, namun sama sekali tidak ada tanggapan.

Ditengah kebingungan itu, tiba-tiba Damarpati mengajukan sebuah saran, “Mbokayu, bagaimana kalau aku meminta tolong kepada kakek?”

Untuk sejenak Rara Wulan tertegun, namun agaknya Rara Wulan sudah tidak mempunyai pilihan lain. Maka katanya kemudian, “Pergilah Damarpati! Beritahu kakekmu apa yang sedang terjadi dengan Nyi Sekar Mirah!”

Perintah itu tidak perlu diulangi. Dengan tetap menggendong Bagus Sadewa, Damarpati pun segera bergegas keluar bilik menuju ke bilik kakeknya yang berada di ujung gandhok.

Malam benar-benar sangat sepi menjelang dini hari. Dengan langkah-langkah yang berjingkat Damarpati segera menyusuri lorong yang berada di gandhok itu untuk mencapai bilik kakeknya.

Beberapa kali Damarpati harus menguatkan hatinya untuk tidak menengok ke arah kegelapan. Walaupun gadis kecil cucu Kiai Sabda Dadi itu pernah belajar ilmu olah kanuragan dari kakeknya, namun melihat malam yang sepi dan gelap di sepanjang teritisan gandhok telah membuat bulu kuduknya merinding.

“Ah, mengapa aku harus takut?” membatin Damarpati sambil mencoba menengok ke arah regol depan yang berjarak cukup jauh dari gandhok. Namun regol depan itu tampak sepi ngelangut. Pintu gerbang yang tertutup rapat serta lampu dlupak di dinding gardu yang berkedip kedip tertiup angin malam menambah suasana menjadi sangat mencengkam.

“Kemana para penjaga regol?” membatin Damarpati sambil terus mengayunkan langkahnya, “Apakah semuanya ketiduran di dalam gardu?”

Namun Damarpati berjalan terus. Tinggal beberapa langkah lagi dia akan mencapai bilik kakeknya.

Kiai Sabda Dadi yang sudah terbiasa bangun di ujung malam segera mendengar langkah-langkah yang mendekati pintu biliknya. Begitu Damarpati mengethuk pintu, tiba-tiba saja pintu bilik terbuka dan kakeknya telah berdiri di hadapannya.

“Ah, kakek!” seru Damarpati terkejut bukan alang kepalang sambil melangkah mundur. Seketika wajahnya terlihat pucat pasi.

Kiai Sabda Dadi tersenyum lebar begitu melihat cucu kesayangannya itu terkejut. Namun segera saja senyum itu berganti dengan kerut merut di keningnya begitu melihat Damarpati datang ke biliknya dengan menggendong Bagus Sadewa.

“Ada apa, Damarpati?” bertanya Kiai Sabda Dadi kemudian sambil mengamat amati Bagus Sadewa yang berada di gendongan cucunya.

Sejenak tampak Damarpati menarik nafas dalam-dalam untuk menghilangkan debar jantungnya yang melonjak lonjak. Jawabnya kemudian, “Kakek ini mengejutkan aku saja. Tapi kami perlu bantuan, maksudku mbokayu Rara Wulan. Nyi Sekar Mirah kelihatannya sedang meracau dalam tidurnya namun mbokayu Rara Wulan tidak berhasil membangunkannya!”

Tampak kerut merut di kening Kiai Sabda Dadi. Katanya kemudian, “Marilah, mungkin Nyi Sekar Mirah sedang mengalami mimpi buruk sehingga telah meracau dalam tidurnya.”

Selesai berkata demikian Kiai Sabda Dadi segera melangkah keluar. Setelah menutup pintu biliknya terlebih dahulu, dengan bergegas kakek dan cucu itu segera berjalan menuju bilik Sekar Mirah.

Dalam pada itu Ratri yang sedang tidur di bilik Pandan Wangi juga telah dikejutkan oleh suara-suara aneh yang keluar dari bibir Pandan Wangi. Suara-suara itu kadang mirip geraman dan kadang terdengar sangat memelas.

Dengan cepat Ratri segera bangkit dari tidurnya dan duduk berselonjoran di pembaringan sambil memperhatikan tingkah Pandan Wangi.

Ketika tingkah Pandan Wangi semakin aneh serta suara-suara geraman dan rintihan dari mulutnya semakin sering, Ratri pun tidak tahan lagi. Segera di guncang guncangnya pundak Pandan Wangi.

“Nyi! Nyi Pandan Wangi!”

Belum ada perubahan. Pandan Wangi tetap bergumam dan kadang berdesah dengan suara tidak jelas.

“Bangun Nyi! Sadarlah Nyi!” kembali Ratri mengguncang guncang lengan Pandan Wangi lebih keras lagi, namun tidak ada perubahan pada diri Pandan Wangi.

“Nyi Pandan Wangi agaknya sedang ngelindur,” desis Ratri sambil terus mengguncang guncang pundak Pandan Wangi. Namun perempuan parobaya itu tampaknya tidak merasakan guncangan maupun panggilan Ratri.

Untuk beberapa saat Ratri justru telah menjadi bingung, tidak tahu apa yang harus diperbuat. Namun ketika tingkah Pandan Wangi semakin menjadi jadi, puteri Matesih itu pun sudah tidak dapat menahan diri lagi.

Dengan segera dia turun dari ranjang. Dihampirinya meja kecil yang terletak di sudut bilik. Sambil menuangkan isi kendi ke telapak tangan kanannya, Ratri pun kemudian kembali menghampiri pembaringan.

Dengan cepat diusap-usapnya kedua telapak kaki Pandan Wangi. Beberapa kali Ratri menuang isi kendi itu ke telapak tangan

kanannya. Setelah dirasa cukup, kendi itu pun segera dikembalikan ke tempatnya.

Ketika Ratri kembali ke pembaringan, ternyata belum ada perubahan sama sekali. Pandan Wangi masih terlihat gelisah sambil mengucapkan kata-kata yang tidak jelas.

Ratri segera duduk di ujung pembaringan. Dipijat-pijatnya kedua telapak kaki Pandan Wangi bergantian sambil mengucapkan doa-doa untuk membantu menyadarkan Pandan Wangi. Namun hasilnya sia-sia.

“Nyi? Nyi Pandan Wangi?” kembali Ratri berusaha membangunkan Pandan Wangi, namun tetap saja Pandan Wangi terlihat seperti sedang mengalami masalah dalam tidurnya.

Tiba-tiba terdengar ketukan lirih di pintu bilik. Untuk sejenak Ratri tertegun. Berbagai dugaan pun muncul dalam benaknya.

Namun sebelum Ratri memutuskan untuk menanggapi, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sudah dikenal oleh Ratri dari balik pintu bilik.

“Wangi! Ada apa Wangi?” terdengar seseorang memanggil manggil dari balik pintu bilik.

Dengan segera Ratri melangkah ke pintu dan mengangkat selaraknya. Begitu pintu bilik terbuka sejengkal, tampak Ki Gede Menoreh sedang berdiri termangu-mangu di depan pintu.

“Ki Gede,” berkata Ratri kemudian dengan suara sedikit bergetar, “Nyi Pandan Wangi tampaknya sedang mengigau dalam tidurnya, namun aku tidak mampu untuk membangunkannya.”

Tampak kerut merut di kening ayah Pandan Wangi itu. Ketika Ratri kemudian membuka pintu bilik lebar-lebar, Ki Gede Menoreh pun segera melangkah masuk.

Sejenak kemudian Ki Gede telah duduk di bibir pembaringan anak perempuan satu satunya itu. Dengan kening yang semakin berkerut merut di cobanya untuk mendengarkan sepatah dua patah kata yang terucap dari bibir anak perempuannya itu.

Namun Ki Gede hanya dapat menggeleng gelengkan kepalanya sambil memandang Ratri yang berdiri termangu-mangu di ujung pembaringan yang lain.

“Tolong ambilkan kendi itu,” berkata Ki Gede kemudian sambil menunjuk ke arah kendi yang terletak di atas meja kecil di sudut bilik.

Dengan bergegas Ratri pun setengah berlari mengambil kendi di atas meja kecil itu. Setelah menyerahkannya kepada Ki Gede, Ratri pun kembali berdiri di ujung pembaringan yang lain.

Dengan sedikit tergesa Ki Gede segera menuangkan air dari dalam kendi itu ke telapak tangan kanannya. Sambil tetap memegangi kendi dengan tangan kirinya, telapak tangan kanan Ki Gede yang berisi air itu pun berkali kali diusapkan ke wajah anaknya.

Sambil membacakan doa-doa Ki Gede pun kemudian meratakan air itu ke seluruh wajah anaknya. Namun sejauh itu belum ada tanda-tanda Pandan Wangi segera terjaga dari tidurnya.

“Wangi? Wangi? Sadarlah nduk!” berkali kali Ki Gede berusaha memanggil nama anaknya agar tersadar dari tidurnya, namun keadaan Pandan Wangi tampaknya tidak berubah, bahkan cenderung semakin parah.

Namun Ki Gede tidak berputus asa. Dengan perlahan Ki Gede berusaha meraih belakang kepala anak perempuan satu satunya itu. Kemudian dengan perlahan lahan dipijatnya tengkuk Pandan Wangi.

Memang terlihat Pandan Wangi menggerak gerakkan kepalanya, tetapi hanya sejenak. Beberapa saat kemudian ibu Bayu Swandana itu kembali meracau sambil menggerak gerakkan anggauta badannya.

Orang tua itu tampak termenung sejenak. Sambil mengangsurkan kendi kembali ke Ratri, tampak orang tua yang sudah kenyang makan asam garamnya kehidupan itu menarik nafas panjang beberapa kali.

Tiba-tiba Ki Gede membungkuk dan mendekatkan telinganya ke bibir Pandan Wangi yang terlihat mengucapkan sepatah dua patah kata yang tidak jelas. Cukup lama Ki Gede mencoba mendengarkan dengan seksama kata-kata yang terucap dari bibir anaknya itu.

Sejenak kemudian Ki Gede telah duduk di bibir pembaringan anak perempuan satu satunya itu. Dengan kening yang…………….

“Hem,” desah Ki Gede kemudian sambil kembali duduk tegak di bibir pembaringan. Beberapa kali tampak Ki Gede menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk angguk. Sementara pandangan mata Ki Gede tidak lepas dari wajah anaknya yang tampak sangat gelisah dalam tidurnya.

“Nimas Ratri,” tiba-tiba Ki Gede berkata sambil berpaling ke arah puteri Matesih itu, “Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk membangunkan Pandan Wangi. Sebaiknya kita tunggu saja sambil berdoa semoga Pandan Wangi secepatnya tersadar dari mimpi buruknya.”

Selesai berkata demikian Ki Gede tampak memijit pijit kedua telapak kaki anak perempuan satu satunya itu sambil membacakan doa-doa agar Pandan Wangi segera tersadar dari cengkeraman mimpi buruknya. Sementara Ratri segera beranjak ke sudut bilik untuk mengambil sebuah dingklik kayu dan kemudian duduk menunggu.

Dalam pada itu Ki Rangga yang terjebak di alam yang belum diketahuinya segera menutup semua panca inderanya dan memusatkan seluruh nalar dan budinya. Dengan segera keheningan pun melingkupi alam di sekitarnya.

Agaknya perlahan lahan Ki Rangga hampir berhasil mengusir pengaruh dalam benaknya kalau saja tidak terdengar bisikan yang berasal dari relung hatinya sendiri yang paling dalam.

“Gupita,” suara itu terdengar sayup-sayup menghunjam jantung, “Masih ingatkah engkau akan gadis Menoreh yang pernah engkau beri harapan itu? Dia masih menunggumu Gupita, dia masih menunggumu!”

“Tidak! Tidak!” terdengar suara hatinya yang lain membantah, “Gupita sudah tidak ada lagi di dunia ini dan gadis itu sudah menikah dengan adi Swandaru. Mereka berdua telah berbahagia dan dikaruniai seorang anak laki-laki.”

“Itu menurutmu Gupita, menurut pengamatan lahiriah yang sama sekali jauh dengan apa yang sebenarnya telah terjadi,” kembali relung hatinya yang paling dalam menambahkan, “Bukankah dia pernah mengadukan nasibnya kepadamu ketika suaminya berselingkuh? Mengapa dia tidak mengadukan perbuatan suaminya itu kepada ayahnya terlebih dahulu? Mengapa justru engkaulah satu satunya tempat baginya untuk mengadu? Jawablah dengan jujur, Gupita!”

“Sudah aku katakan, Gupita sudah tidak ada lagi,” sudut hatinya yang lain menggeram, “Aku sekarang adalah Ki Rangga Agung Sedayu, senapati pasukan khusus Mataram yang berkedudukan di Menoreh.”

Terdengar tawa lirih, Ki Rangga terkejut bukan alang kepalang. Dalam pemusatan nalar dan budinya untuk menghindari pengaruh yang mencengkeram otaknya, justru dia telah mendengar tawa lirih seorang perempuan.

“Ki Rangga Agung Sedayu agul-agulnya Mataram, senapati pasukan khusus Mataram yang berkedudukan di Menoreh, murid utama perguruan orang bercambuk dan entah apalagi gelar serta nama besar yang disematkan kepadamu Ki Rangga. Namun pada kenyataannya engkau tetap saja seorang anak gembala yang bernama Gupita yang hanya pandai memberi harapan untuk kemudian dengan mudahnya mengingkarinya. Sebagaimana secercah harapan yang pernah Ki Rangga berikan padaku!”

“Siapa engkau? Harapan apa yang pernah aku berikan padamu?”

“Ah, engkau lupa Ki Rangga, harapan seorang perempuan yang terbelenggu oleh kekejaman kedua gurunya. Bertahun tahun dia mengharapkan datangnya seorang pahlawan yang akan membebaskannya. Namun ketika pahlawan itu telah datang, ternyata hanya harapan kosong yang diterimanya!”

“Rara Anjani, itu semua bukan maksudku!”

“Jadi maksud siapakah semua yang terjadi itu Ki Rangga?”

Ki Rangga tidak menjawab. Ki Rangga berusaha menutup semua inderanya untuk menghindari pengaruh yang menghunjam jantung. Namun usaha itu kelihatan sia-sia belaka. Yang terdengar kemudian justru isak tangis yang menyayat hati.

Sebelum Ki Rangga menyadari suara tangis siapakah itu, tiba-tiba kembali sebuah bisikan lembut memasuki relung hatinya.

“Mengapa kakang Gupita sempat memberiku harapan?” terdengar suara yang sangat dikenal oleh Ki Rangga, “Padahal kakang telah meninggalkan seseorang yang telah menjadi pujaan hati jauh di kampung halaman? Apakah kakang memang sengaja memberiku harapan untuk kemudian membantingnya dengan kejam di atas batu-batu kenyataan? Mengapa kakang? Mengapa?”

Ki Rangga dengan sekuat tenaga berusaha untuk tidak menghiraukan suara itu. Ki Rangga tahu itu adalah suara hatinya yang berasal dari masa lalu. Masa lalu itu baginya sudah selesai apapun penyelesaian yang diambilnya.

“Wangi, masalah di antara kita semasa muda dulu sudah selesai. Engkau sudah dijodohkan dengan adi Swandaru dan aku sudah memilih Sekar Mirah sebagai pendamping hidupku,” terdengar gema dari sudut hatinya yang lain walaupun Ki Rangga berusaha untuk tidak menanggapi dan tetap memusatkan nalar dan budinya.

“Tetapi mengapa sikapmu pada saat itu begitu meyakinkan perasaanku bahwa aku tidak bertepuk sebelah tangan?” kembali suara itu bergema lirih di relung hatinya, “Kakang Gupita, aku adalah gadis yang belum pernah tersentuh oleh seorang laki-laki dewasa baik perasaanku maupun wadagku pada saat itu. Namun mengapa kakang dengan sangat berani telah menggenggam tanganku dan mengajakku berlarian sepanjang padang yang luas itu? Apakah kakang tidak pernah membayangkan apa yang bergejolak dalam hatiku setelah peristiwa itu terjadi? Berlarian dengan bergandeng tangan di bawah siraman cahaya bulan, benar-benar sebuah harapan yang melambung pada diri seorang gadis.”

Ki Rangga tetap tidak bergeming. Kepalanya terlihat semakin tunduk namun terlihat badannya bergetar keras menahan sesuatu yang seakan ingin meledak dari dalam dadanya.

“Wangi, maafkan aku. Aku saat itu memang khilaf,” sudut hati Ki Rangga lah yang menjawab pertanyaan itu, “Saat itu aku adalah Gupita, pemuda yang mengembara jauh dari rumah, jauh dari kampung halaman sehingga terjadilah kekhilafan itu. Maafkan aku, Wangi. Aku telah melukai hatimu.”

“Jadi? Hanya sekedar kata maaf itu bagi kakang sudah cukup?” sekarang suara terdengar itu mulai terisak, “Tidak tahukah kakang, sepanjang hidupku dengan kakang Swandaru, aku tidak dapat menyerahkan hatiku sepenuhnya. Hatiku masih milik kakang walaupun aku sadar telah tercipta sebuah benteng tinggi berlapis baja di antara hatiku dan hatimu kakang. Namun aku tetap bertahan menjalani sisa-sisa hidupku dengan orang yang tidak aku cintai.”

“Maafkan aku, Wangi. Sekali lagi maafkan aku,” hati kecil Ki Rangga kembali menjawab walaupun dengan sekuat tenaga Ki Rangga telah berusaha menghindari dan mengabaikan suara itu, “Aku tidak punya pilihan lain. Aku telah berjanji kepada Sekar Mirah untuk mengayuh biduk rumah tangga bersama.”

“Tapi itu tidak adil, kakang!” kini suara itu telah berubah menjadi jerit tangis, “Lihatlah apa yang aku dapatkan kemudian. Karena aku tidak dapat melayani suamiku dengan sepenuh hati, kakang Swandaru akhirnya sempat berpaling kepada perempuan lain. Sakit sekali kakang! Sakit sekali rasanya hati ini! Aku sudah mengkhianati hatiku sendiri dan kemudian dikhianati pula! Alangkah sakitnya sebuah hati yang mendapatkan luka tumpang tindih dan kakang dengan sangat entengnya hanya mengatakan maaf? Cukupkah kakang? cukupkah itu untuk mengobati luka yang tumpang tindih ini?”

Ki Rangga benar-benar dibuat kebingungan. Dicobanya untuk membuat hubungan dengan wadagnya yang berada di bukit Muria. Biasanya jika Ki Rangga sedang mengetrapkan aji pengangen angen, antara bayangan semu dengan wadag Ki Rangga yang sebenarnya masih tetap berhubungan. Jika keadaan memaksa, bayangan semu Ki Rangga dapat dengan cepat kembali ke wadag aslinya. Namun sekarang keadaan benar-benar membingungkan. Ujud semu Ki Rangga benar-benar telah terlepas dari pantauan wadagnya.

“Apa yang sebenarnya telah terjadi?” membatin ujud semu Ki Rangga itu sambil terus berusaha memusatkan nalar dan budinya untuk lepas dari pengaruh yang mencengkeram benaknya.

“Kakang!” kembali terdengar bisikan lembut yang menelusuri relung hatinya, “Kakang masih mempunyai hutang kepadaku. Jangan berpura pura lupa untuk melunasi hutangmu itu!”

“Hutang?” Ki Rangga terhenyak dalam pemusatan nalar dan budinya, “Aku merasa tidak mempunyai sangkut paut hutang piutang denganmu, Wangi!”

“Apakah aku harus mengingatkan?”

“Katakanlah Wangi! Jika memang benar aku mempunyai hutang padamu, aku akan memenuhinya segera!”

“Aku pegang janjimu kakang!”

“Semoga Yang Maha Agung memasukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang memegang janji.”

Sejenak suasana menjadi sunyi. Kesempatan itu segera digunakan oleh Ki Rangga untuk semakin menukik ke kedalaman pemusatan nalar dan budinya. Namun entah mengapa seolah olah ada tabir yang menghalanginya sehingga Ki Rangga selalu gagal untuk mengadakan hubungan dengan wadagnya di bukit Muria.

“Kakang,” kembali terdengar suara Pandan Wangi mengusik hatinya, “Engkau telah berjanji di hadapan suamiku sebelum meninggal untuk mendidik Bayu Swandana menjadi murid orang bercambuk yang mumpuni. Apakah engkau masih ingat kakang?”

“Ya, ya. Akan selalu aku ingat permintaan adi Swandaru itu. Kapan pun engkau menyerahkannya ke padepokan di Jati Anom, aku siap untuk mendidiknya,” sahut sudut hati Ki Rangga dengan serta merta.

“Bagaimana dengan hutang berikutnya, kakang?” desah Pandan Wangi terasa mengetuk-ketuk dinding hatinya.

“Aku rasa janjiku kepada adi Swandaru hanya itu, Wangi!” “Engkau lupa atau berusaha melupakannya, kakang?”

“Tidak Wangi, aku rasa tidak ada janji lagi antara mendiang adi Swandaru dengan aku.”

“Masih ada, kakang!”

“Sebutlah, Wangi! Jika memang itu benar janjiku kepada mendiang suamimu, semoga Yang Maha Agung memberi aku kekuatan untuk melaksanakan janji itu.”

Kembali suasana sunyi sejenak. Bayangan semu Ki Rangga berusaha semakin menajamkan nalar dan budinya untuk menukik ke kedalaman batinnya.

“Kakang,” kembali terdengar suara Pandan Wangi mengusik relung hati Ki Rangga, “Sebelum kakang Swandaru menghembuskan nafas yang terakhir, aku lihat kakang Swandaru membisikkan suatu pesan kepadamu. Sebagai istrinya, aku berhak mengetahui apa isi wasiat mendiang suamiku itu.”

Tiba-tiba bayangan semu itu seperti tergetar hebat. Terlihat betapa kegelisahan yang sangat telah merajam jantungnya.

“Wangi,” berkata bayangan semu Ki Rangga kemudian dengan suara yang bergetar, “Aku kira kita tidak perlu membicarakan apa isi wasiat mendiang adi Swandaru itu. Cukup aku saja yang mengetahuinya dan memang aku telah memutuskan untuk tidak melaksanakan isi wasiat itu.”

“He?!” seru Pandan Wangi dengan suara sedikit keras, “Kakang, mengapa kakang memutuskan untuk tidak melaksanakan isi wasiat mendiang kakang Swandaru itu? Aku sebagai istrinya harus tahu dan ikut memutuskan perlu dan tidaknya isi wasiat itu dilaksanakan!”

“Engkau tidak berkepentingan, Wangi,”

“Engkau salah kakang! Aku sangat berkepentingan! Aku istrinya!”

“Aku juga berkepentingan!” tiba-tiba tedengar pekik keras dari sisi lain sudut hati Ki Rangga, “Aku adik kandungnya! Aku juga berhak mengetahui isi wasiat mendiang kakang Swandaru!”

“Itu tidak perlu, Mirah, biarlah isi wasiat adi Swandaru itu hanya aku yang mengetahuinya dan hanya akulah yang berhak memutuskan untuk dilaksanakan atau tidak!”

“Itu tidak adil kakang!” jerit suara Sekar Mirah, “Sebagai sesama anak Demang Sangkal Putung, aku harus mengetahui! Apakah wasiat kakang Swandaru itu berkenaan dengan Kademangan Sangkal Putung?”

“Tidak, Mirah, wasiat kakangmu itu sama sekali tidak menyentuh Kademangan Sangkal Putung!”

“Jadi bagaimana, kakang?” kini yang berbisik suara Pandan Wangi, “Jika isi wasiat kakang Swandaru itu tidak menyentuh Kademangan Sangkal Putung, apakah wasiat itu mengenai tanah perdikan Menoreh?”

“Tidak juga, Wangi. Aku tegaskan sekali lagi, adi Swandaru tidak berwasiat yang berhubungan dengan kedua daerah besar itu. Wasiat kakang Swandaru bersifat sangat pribadi dan hanya kepadaku mendiang adi Swandaru mengkhususkan wasiat itu.”

Tiba-tiba saja terdengar suara yang sangat lembut. Suara yang seolah ditiupkan oleh angin senja yang membelai relung-relung hati Ki Rangga yang sedang lara.

“Ki Rangga,” terdengar suara itu sayup-sayup dari dasar hati Ki Rangga yang paling dalam, “Sebaiknya jika seseorang meninggalkan wasiat kepada siapapun, melalui siapapun, adalah hak seorang istri untuk mengetahuinya, walaupun isi wasiat itu mungkin tidak ada hubungannya sama sekali dengan istrinya. Namun dengan mengetahui isi wasiat tersebut, seorang istri akan dapat mengambil sebuah sikap.”

“Rara Anjani,” terasa kelu lidah Ki Rangga menyebut nama itu. Nama yang sebenarnya sudah lama ingin dilupakan semenjak perempuan cantik bak putri keraton itu sudah menjadi selir Pangeran Pati Mataram.

“Ya, Ki Rangga. Aku Rara Anjani hanya ingin memberikan saran. Adapun janji yang pernah Ki Rangga ucapkan kepadaku, anggaplah itu hanya sebuah kesalah-pahaman di antara kita berdua. Namun bagiku, bagi seorang perempuan yang sedang terbelenggu oleh kekejaman kedua guruku waktu itu, janji Ki Rangga adalah secercah harapan dan awal keberanianku untuk menatap masa depan.”

Kata-kata Rara Anjani itu bagaikan sebongkah batu padas sebesar kerbau yang meluncur dari puncak bukit dan menimpa hati Ki Rangga yang rapuh. Hati Ki Rangga pun hancur berkeping keping tak berbentuk.

“Maafkan aku, Rara Anjani. Sekali lagi aku memohon keikhlasan hatimu untuk memaafkan aku. Bukan maksudku untuk mempermainkan hatimu, namun keadaanlah yang memaksaku untuk mengambil keputusan saat itu.”

“Atau engkau memang sengaja mengail di air keruh, kakang?” tiba-tiba terdengar geraman Sekar Mirah, “Laki-laki jika jauh dari rumah kadangkala berbuat aneh-aneh dan senang memancing persoalan!”

“Benar, Mirah!” terdengar Pandan Wangi menyahut, “Semua itu sudah terbukti. Ketika seorang pemuda yang mengaku bernama Gupita berkelana sampai ke perdikan Menoreh, apa yang diperbuatnya? Dia mencoba mengambil hati seorang gadis lugu dan melupakan kekasihnya yang ditinggal jauh di kampung halamannya!”

“Itulah mbokayu!” kembali Sekar Mirah menyahut dengan suara mirip sebuah tangisan, “Ternyata kejadian itu telah diulanginya lagi setelah dia mempunyai seorang istri. Dengan mudahnya dia berjanji membawa perempuan lain ke Menoreh untuk dinikahi!”

“Tidak! Itu tidak benar!” kini yang menjerit adalah Rara Anjani, “Kalian telah mencoba memojokkan Ki Rangga. Bagiku Ki Rangga adalah seorang suami sejati walaupun kalian memandangnya dari sudut yang berbeda. Ki Rangga tidak pernah berjanji untuk menikahi aku! Ki Rangga hanya bertaruh jika menang berperang tanding melawan kedua guruku, aku akan dibawanya ke Menoreh. Sedangkan jika Ki Rangga yang mengalami kekalahan, nyawalah yang akan menjadi taruhannya!”

“Itu sama saja!” jerit Sekar Mirah diiringi isak tangis yang pilu, “Istri mana yang akan rela jika ada perempuan lain yang hidup seatap dalam rumah tangganya, tanpa ada ikatan perkawinan pula?”

“Sudahlah Mirah, sudahlah,” terdengar desah Ki Rangga memenuhi relung hatinya yang paling dalam, “Persoalan itu memang harus diselesaikan. Sekali lagi aku memohon waktu. Tugas tugasku dari Ki Patih Mandaraka masih banyak yang belum terselesaikan. Urusan di antara kita aku mohon untuk ditunda sementara waktu.”

Untuk sejenak suasana menjadi sunyi dan ngelangut. Ujud semu Ki Rangga mencoba untuk semakin menukik ke kedalaman pemusatan nalar dan budinya. Namun ternyata yang terdengar kemudian adalah teriakan Sekar Mirah.

“Kakang! Sekaranglah saatnya kita selesaikan masalah di antara kita. Jika kakang masih berbelit-belit dan berusaha menghindar, jangan salahkan jika tongkat baja putihku ini yang akan berbicara!”

“Aku setuju, Mirah!” terdengar Pandan Wangi menyahut dengan serta merta, “Sebagai istri mendiang Kakang Swandaru, aku menuntut pengungkapan isi wasiat itu. Jika kakang masih juga menyembunyikan isi wasiat itu, sepasang pedang tipisku ini yang akan berbicara!”

Agaknya kedua perempuan itu sudah tidak dapat mengendalikan diri lagi. Panggraita Ki Rangga pun menyadari bahwa kedua perempuan itu telah menghunus senjata masing-masing.

Tiba-tiba Ki Rangga teringat akan ajaran Kanjeng Sunan tentang sebuah doa untuk memohon ketenangan hati. Ki Rangga pun segera memanjatkan doa itu dengan sepenuh hati dan sepenuh keyakinan. Perlahan lahan seolah semua yang berada di sekitar Ki Rangga mulai berputar, semakin lama semakin cepat. Masih didengarnya lamat-lamat kedua perempuan itu berbicara dengan nada tinggi, namun sudah tidak dapat ditangkap lagi oleh pendengaran batinnya. Ki Rangga pun telah tenggelam dalam pusaran keheningan budinya.

Tiba-tiba entah dari mana datangnya, sebuah kekuatan dahsyat telah menggempur pertahanan Ki Rangga, ditingkah oleh sebuah jeritan menyayat hati. Agaknya kedua perempuan itu sudah membulatkan tekad untuk menyerang Ki Rangga. Sedangkan Rara Anjani hanya dapat berteriak dan menangis menyayat hati. Ki Rangga pun merasakan dirinya terpental jauh dan melayang layang tanpa daya.

Untuk beberapa saat Ki Rangga merasakan badannya melayang layang tanpa bobot dan memasuki sebuah alam gelap gulita yang terasa sangat aneh dan asing. Keadaan benar-benar hening dan sepi tidak terdengar suara apapun di sekelilingnya kecuali degup jantungnya sendiri.

“Sedayu,” tiba-tiba terdengar suara yang sudah sangat dikenalnya dan selalu dirindukannya bergaung memantul mantul dinding hatinya.

“Guru?” tergagap Ki Rangga sambil berusaha menajamkan pandangan matanya. Dalam kegelapan yang berlapis lapis, tiba-tiba sepercik sinar muncul dan semakin lama semakin membesar. Akhirnya Ki Rangga pun mampu melihat sesosok tubuh dengan raut wajah yang tua renta duduk bersila beberapa langkah di hadapannya sambil tersenyum sareh ke arahnya.

“Guru!” seru Ki Rangga hampir berteriak begitu menyadari siapa yang sedang duduk beberapa langkah di hadapannya. Dengan bergegas Ki Rangga pun segera menubruk kaki orang tua renta yang duduk bersila itu.

Namun dengan sebuah tangan, orang tua renta itu telah menahan bahu Ki Rangga sehingga dia tidak mampu untuk melaksanakan niatnya.

“Duduklah ngger,” berkata orang tua renta itu kemudian, “Banyak yang harus kita bicarakan. Hubungan kita sebagai guru dan murid serta pelestarian ilmu perguruan Windujati itu sendiri.”

“Maafkan aku guru,” desah Ki Rangga kemudian sambil mengambil duduk bersila selangkah di hadapan gurunya, “Sepeninggal guru, aku memang mengalami beberapa peristiwa yang menyebabkan aku tidak dapat memberikan tuntunan secara langsung isi kitab Windujati kepada cantrik-cantrik padepokan Jati Anom seutuhnya.”

“Mengapa, Sedayu? Mengapa?” bertanya gurunya kemudian sambil menatap tajam ke arah murid utamanya itu, “Begitu sibukkah engkau sehingga tidak mampu meluangkan waktu untuk mereka? Setidaknya engkau masih ada sedikit waktu untuk memberi arahan kepada Ki Widura. Ataukah engkau lebih tertarik mendalami isi kitab Ki Waskita?” gurunya berhenti sebentar. Lanjutnya kemudian dengan sebuah pertanyaan yang mengoyak dada Ki Rangga, “Apakah engkau sendiri sudah menuntaskan membaca dan memahami isi kitab Windujati itu seluruhnya?

Untuk sejenak Ki Rangga tertegun. Berbagai pertimbangan pun bergejolak dalam dadanya.

“Guru,” berkata Ki Rangga pada akhirnya, “Sepertinya aku telah tuntas membaca dan memahami tentang isi kitab Windujati. Baik yang berisi ilmu olah kanuragan jaya kawijayan maupun ilmu tentang pengobatan.”

“Engkau yakin, Sedayu?”

“Aku yakin guru. Aku telah mampu meraih puncak ilmu perguruan Windujati sebagaimana yang telah guru tunjukkan sewaktu aku dan Glagah Putih sedang dalam perjalanan melawat ke Madiun.”

Sejenak suasana menjadi hening. Ki Rangga mencoba menelisik setiap jengkal tempatnya berada, namun dia selalu gagal untuk mengetahuinya.

“Angger Sedayu,” kembali terdengar gurunya berkata sareh, “Jika memang engkau mengatakan sudah membaca dan memahami semua isi kitab Windujati, bagaimana dengan lembar terakhir kitab itu? Apakah engkau juga telah membaca dan memahaminya?”

Terlihat Ki Rangga ragu-ragu sejenak. Tanyanya kemudian, “Apakah yang guru maksudkan itu sebuah kidung yang tertulis di lembar terakhir kitab Windujati?”

“Ya, ngger. Lembar terakhir.”

“Maafkan aku guru. Lembar terakhir itu hanya berisi sebuah kidung yang cukup panjang dan aku memang telah melewatkannya.”

Terdengar sebuah tarikan nafas yang panjang dari gurunya. Ada nada kecewa di sana, namun orang tua itu tampak berusaha menyembunyikan kekecewaannya.

“Angger Sedayu,” berkata gurunya kemudian setelah sejenak mereka terdiam, “Puncak ilmu dari perguruan Windujati itu memang sudah engkau kuasai. Namun tampaknya engkau tidak begitu tertarik dengan lembar terakhir dari kitab itu setelah halaman yang memuat pelajaran tentang ilmu pengobatan. Engkau hanya melihat sebuah lembaran yang berisi sebuah kidung. Cobalah baca dan renungi isi kidung itu. Niscaya engkau akan menemukan sesuatu yang tidak kalah dahsyatnya dari aji pengangen angen yang sedang engkau matangkan dengan laku yang berbeda dengan tuntunan yang ada di dalam kitab Ki Waskita,” gurunya berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Apakah engkau sudah memikirkan masak-masak untuk mengganti laku yang dipersyaratkan dalam kitab Ki Waskita itu dengan petunjuk dari Kanjeng Sunan?”

Ki Rangga terperanjat mendengar pertanyaan gurunya. Segera saja Ki Rangga teringat Ki Waskita, orang tua yang sudah dianggap sebagai pengganti gurunya sepeninggal Kiai Gringsing.

“Ki Waskita bahkan menawarkan kepadaku untuk mendampingi selama aku menjalani laku,” membatin Ki Rangga dengan jantung yang berdebaran, “Sendang telu di alas Gendari. Aku pun telah memilih tempat yang sangat sesuai untuk menjalani laku itu. Tiga hari tiga malam tapa ngalong, tiga hari tiga malam tapa kungkum dan sekaligus tiga hari tiga malam pati geni.”

Tiba-tiba hati Ki Rangga menjadi gelisah. Berbagai dugaan pun muncul dalam benaknya sehubungan dengan laku yang sedang dijalaninya.

“Kanjeng Sunan telah memberikan tuntunan laku yang berbeda,” kembali Ki Rangga berangan angan, “Aku memang sudah dapat merasakan kemampuan aji pengangen angen yang aku tekuni ini telah meningkat pesat. Akan tetapi mengapa guru mempersoalkannya?”

“Guru,” akhirnya Ki Rangga memberanikan diri untuk bertanya, “Apakah laku yang disarankan oleh Kanjeng Sunan itu menyalahi ketentuan dalam kitab aslinya? Bagaimana dengan kitab perguruan kita? Apakah laku-laku yang tercantum dalam kitab itu juga harus diubah?”

Untuk sejenak tampak gurunya termenung. Setelah menghela nafas terlebih dahulu, barulah gurunya menjawab, “Sedayu, jaman telah berubah. Kepercayaan kepada Yang Maha Agung pun telah bergeser sesuai apa yang telah dibawa oleh para Wali. Memang laku-laku dalam kitab-kitab kuna itu sudah tidak sesuai dengan pemahaman kepercayaan yang baru itu. Aku hanya khawatir, kelak di kemudian hari tidak akan dijumpai lagi seseorang yang mempunyai aji lembu sekilan, tameng waja, lebur seketi, cunda manik dan lain-lain. Apalagi ilmu yang pada saat ini saja sudah sangat langka namun masih mampu engkau kuasai, seperti ilmu kakang pembarep adi wuragil, aji pengangen angen serta masih banyak lagi aji jaya kawijayan guna kasantikan yang mulai hilang tergerus jaman.”

Tertegun Ki Rangga mendengar penuturan gurunya. Berbagai tanggapan pun hilir mudik memenuhi benaknya.

“Ki Patih Mandaraka pernah bercerita tentang orang-orang asing yang mulai menginjakkan kakinya di tanah ini,” membatin Ki Rangga berusaha mengurai keadaan jaman yang semakin berubah, “Mereka dapat dikatakan tidak mengenal sama sekali tentang aji jaya kawijayan guna kasantikan. Namun prajurit-prajurit mereka sangat tangkas dan terampil dalam berolah senjata. Masing-masing prajurit mampu menguasai senjata pelontar jarak jauh yang dapat menyalak memekakkan telinga. Akibat yang ditimbulkannya pun sangat nggegirisi bagi prajurit kebanyakan.”

Ki Rangga yakin dengan pengetrapan ilmu kebal setinggi tingginya, senjata orang-orang asing itu pasti tidak akan mampu menembus ilmunya, apalagi melukai. Namun sebagaimana penuturan Ki Patih Mandaraka beberapa saat yang lalu, orang-orang yang mempunyai kemampuan seperti dirinya itu hanya dapat dihitung dengan jari. Sementara setiap prajurit orang-orang asing itu mampu melakukan serangan jarak jauh yang dapat berakibat mengerikan.

“Sedayu” berkata Kiai Gringsing kemudian, “Apa yang telah engkau dapat, hendaknya akan dapat bermanfaat bagi masa-masa mendatang, bukan saja bagi dirimu pribadi, tetapi juga bagi beberapa lingkungan di sekelilingmu. Setinggi apapun ilmu yang telah engkau raih hanyalah sekedar alat. Alat itu tidak harus selalu dipergunakan dalam setiap kesempatan dan keadaan. Tetapi alat hanya akan dipergunakan pada keadaan dan kemungkinan yang paling tepat,” gurunya berhenti sebentar untuk sekedar menarik nafas. Lanjutnya kemudian, “Namun yang lebih penting dari semua itu adalah pelestarian ilmu-ilmu itu. Engkau adalah bagian yang terpenting yang akan mengambil peran dalam pelestarian ilmu-ilmu itu. Jangan sampai ilmu-ilmu itu pada akhirnya berhenti pada diri pribadimu, kemudian anak cucumu hanya tinggal mendengar kisah kepahlawananmu dan kesaktianmu yang dikagumi lewat cerita-cerita babat atau dongeng-dongeng pengantar tidur.”

Untuk beberapa saat kembali Ki Rangga tertegun diam. Ingatannya segera melayang kepada anak semata wayangnya, Bagus Sadewa.

“Apakah anakku nantinya akan mewarisi ilmu-ilmu dari kitab Windujati lengkap dengan segala tuntunan lakunya? Ataukah laku-laku yang tidak sesuai dengan ajaran kepercayaan yang baru itu harus ditinggalkan dan diganti dengan yang sesuai?” membatin Ki Rangga dengan jantung yang berdebaran, “Tidak menutup kemungkinan jika kitab perguruan Windujati itu nantinya dipelajari tanpa menjalani laku yang dipersyaratkan, apa yang diperoleh nantinya hanyalah sekedar ilmu loncat loncatan dan gerak badan.”

Agaknya Kiai Gringsing dapat membaca apa yang sedang berkecamuk dalam dada murid utamanya itu. Maka katanya kemudian, “Sedayu, tidak semua orang akan mampu meraih kejernihan hati. Apa yang telah diajarkan oleh Kanjeng Sunan menuntut kebeningan hati dan kejujuran, baik jujur kepada dirinya sendiri maupun jujur kepada lingkungannya. Selebihnya lagi pengendalian pamrih menjadi sangat mutlak untuk meraih ridho Yang Maha Agung,” Kiai Gringsing berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Dengan tetap berpedoman ilmu-ilmu yang tercantum dalam kitab Windujati, kelak kemudian hari engkau dapat mengajarkan kepada anak cucumu turun temurun dengan laku dan niat serta kejernihan hati yang bersandar kepada Kitab Suci.”

Terasa dada Ki Rangga sedikit mengembang. Jika saja dirinya dapat menggabungkan ilmu kanuragan guna kasantikan yang tercantum dalam kitab Windujati sebagai perwujudan ilmu lahiriah, sedangkan Kitab Suci dan Kitab UtusanNya sebagai dasar dan landasan batiniah dalam meraih RidhoNya, tentu akan tetap ada jalan melestarikan ilmu dari perguruan Windujati itu sehingga tidak hanya menjadi ilmu yang tanpa isi dan greget.

“Hari ini adalah hari yang terakhir bagi dirimu untuk berpikir selagi masih ada kesempatan” berkata Kiai Gringsing selanjutnya begitu melihat Ki Rangga hanya terpekur diam, “Karena besok adalah laku terakhir yang harus engkau jalani untuk meraih puncak dari aji pengangen angen. Namun sekali lagi perlu aku sampaikan, bahwa segala bentuk ilmu jaya kawijayana guna kasantikan itu bukanlah alat yang terbaik. Aku lebih senang mengatakan bahwa alat ini adalah alat yang paling jelek. Alat yang hanya akan dipergunakan apabila sudah tidak ada alat lain, yang dapat engkau pakai. Namun janganlah mencari perkara atau terdorong oleh kesombongan yang tiada taranya dan keinginan untuk menunjukkan kelebihan, sehingga engkau terdorong pada kemungkinan untuk mempergunakan alat ini. Ingat-ingatlah, alat ini adalah alat yang paling jelek yang engkau miliki. Alat yang paling baik adalah alat yang telah ada di dalam dirimu. Kasih sayang di antara sesama dan pegangan pegangan yang kalian dapat dari ibadah kalian kepada Yang Maha Agung. Ingatlah ini. Janganlah dengan alat ini kalian mengorbankan apa yang sudah kalian miliki itu.”

Tertegun Ki Rangga mendengar petuah bagaikan gerojokan air yang mengalir di sela sela tebing tebing perbukitan. Seakan akan ingatan Ki Rangga telah berputar balik berpuluh tahun yang lalu ketika untuk pertama kalinya dia berguru bersama Swandaru kepada orang tua yang aneh, orang tua yang sebelumnya hanya dikenal sebagai dukun tua dari dukuh pakuwon, Ki Tanu Metir.

Tiba-tiba pendengaran Ki Rangga tersentuh oleh suara gemericik air yang mengalir. Ketika Ki Rangga kemudian mengedarkan pandangan matanya ke sekelilingnya, betapa terkejutnya Ki Rangga. Kini dia mendapatkan dirinya sedang duduk di atas sebongkah batu di tengah tengah sungai yang mengalir jernih.

Dengan jantung yang berdentangan Ki Rangga mencoba menilai setiap sudut yang mampu ditangkap oleh indera penglihatannya maupun pendengarannya. Gurunya yang selalu dirindukannya itu sudah tidak tampak lagi di hadapannya. Sebagai gantinya adalah sebuah tebing sungai yang cukup tinggi membujur di hadapannya.

“Di manakah aku sekarang ini sedang berada?” berkata Ki Rangga dalam hati dengan jantung berdebaran.

Tanpa sadar Ki Rangga mengedarkan pandangan mata ke sekelilingnya. Alangkah terkejutnya Ki Rangga. Jika saja ada petir yang menyambar sejengkal di atas kepalanya, tentu Ki Rangga tidak akan seterkejut itu ketika tiba-tiba saja melihat seraut wajah yang sudah sangat dikenalnya sedang duduk di sampingnya sambil tersenyum menggoda.

“Adi Swandaru?” seru Ki Rangga dengan nada penuh keraguan seolah olah tidak percaya dengan penglihatannya.

“Ya, ini aku, kakang,” sahut Swandaru sambil tersenyum. Betapa Ki Rangga tercekat melihat senyum itu. Apalagi sekarang kedua mata adik seperguruannya itu sedang menatapnya lekat lekat.

“Ada apa adi?” bertanya Ki Rangga kemudian dengan wajah penuh keheranan.

Wajah bulat itu kembali tersenyum. Jawabnya kemudian dengan raut wajah yang lucu, “Jangan lupa dengan janjimu kakang?”

“Janji? Janji apa?”

Wajah bulat itu tertawa pendek sehingga tampak semakin lucu. Jawabnya kemudian, “Ah kakang Sedayu ini belum punya cucu tapi sudah mulai pikun. Bukankah aku meminta kakang untuk mendidik anakku menjadi murid orang bercambuk yang mumpuni seperti kakang?”

“Ya, ya, adi. Aku ingat janjiku itu,” tergagap Ki Rangga menangapi ucapan adik seperguruannya itu.

“Dan satu lagi, kakang?”

Ki Rangga mengerutkan keningnya dalam-dalam. Tanyanya kemudian dengan nada suara sedikit ragu ragu, “Yang mana adi?”

Kali ini Swandaru tidak hanya tersenyum atau tertawa pendek. Tubuhnya yang gemuk itu tampak terguncang guncang menahan tawa dari mulutnya yang berderai derai.

“Adi? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti!” bertanya Ki Rangga kemudian dengan nada sedikit kesal sambil mengguncang guncang pundak adik seperguruannya.

“Ah, kakang ini,” jawab Swandaru sambil tetap tertawa terkekeh kekeh, “Apa kakang sudah lupa akan pesanku? Kasihan Pandan Wangi. Jangan biarkan dia kecewa untuk kedua kalinya, kakang!”

Namun baru saja Ki Rangga bersiap untuk meloncat, tiba-tiba sebuah tangan yang kuat telah menahan pundaknya.

bersambung ke bagian 2

22 Responses

  1. AdBMer yang menunggu STSD-29.

    Bundel pertama STSD-29 sudah bisa dibaca.

    Monggo…

  2. Wah mulai membuka ilmu kanuragan yang telah lama punah…. D tunggu nih Agung sedayu menjadi manusia yg matang lahir dan bathin….

  3. Pak satpam…..mantulll, sinambi ngopi babar cerita ki RAS….semoga sehat selalu nggih

  4. Makin keren aja jalan ceritanya , alhamdulillah ada penerus Bp. Mintardja , keren sehat selalu buat penulis , agar selalu tetap berkarya amiiin YRA..

  5. Mbah Man, kapan bisa diupload STSD-29 bag 2? Pun mboten sabar, hehehe, matur nuwun Mbah 🙏

  6. nggak sabar plus deg2an

  7. Semakin terpaku pada kerangka pikir Islam, tapi kurang mendalami kerangka nilai Jawa

  8. Waduuuuuh…Agung Sedayu kenapa ya…? Jadi kuatirr

  9. Bagian 2 STSD-29 sudah ada di tempatnya.

    Silahkan dinikmati.

  10. Hhhhhh gih matur sembah nuwun
    Saged kagem rerindu penggalih ceritanipun

  11. Setahu saya, sejak saya membaca adbm dari seri 01 sampai 396, agung sedayu adalah sosok yg penakut dan sering ragu2, kemudian menjelma menjadi orang yg perkasa, mempunyai penalaran yg baik, berkemampuan tinggi, rendah hati dan setia. Posisinya benar2 menawan dihati para pembaca. Tetapi mengapa di dlm cerita yg sekarang agung sedayu jadi berubah sering kebingungan dan pikirannya selalu berputar-putar di cintanya terhadap 3 perempuan sehingga menurunkan pamornya. Seperti nya diakhir cerita agung sedayu akan menikah dengan 3 perempuan. Jika ini terjadi, sy akan benar2 kehilangan minat buat membaca cerita ini. Dimanakah agung sedayu yg dahulu..? (kami seperti kehilangan sosoknya yg benar2 agung). Mudah2an untuk cerita kedepannya, agung sedayu bisa mendapatkan posisinya seperti semula dihati para pembaca, sy akan selalu berdo’a untuk kesuksesan penulis, mudah2an STSD bisa lebih baik dan lebih sukses

    • Ya gimana nggih, kalau udah menyangkut ajaran islam , istri bisa jadi 4 , tapi klo raja2 ya bisa lebih ….

    • Mbah_man memang bukan SHM.

      Apapun, pasti ada yang suka dan tidak suka.
      Kadang kita tidak bisa memaksa kepada seseorang untuk memenuhi apa yang kita tidak suka.

      he he he ….

  12. Bagian ketiga, selesai jilid 29 sudah diunggah.

    Bagi yang membacanya, monggo ….

    Sementara, kami akan menyiapkan halaman STSD-30

  13. Terima kasih atas terbirnya bag 3 jilid 29 , ditunggu jilid ke 30

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s