STSD-30

kembali ke STSD-29 | lanjut ke STSD-31

 

 

Bagian 1

BUKAN orang yang berdiri tepat di depan pintu yang terbuka sejengkal itu yang membuat dada Ki Patih berdesir tajam, namun seseorang yang berdiri di belakangnya yang membuat Ki Patih terkejut bagaikan tersengat seekor Kalajengking.

“Ki Tumenggung Singaranu,” desis Ki Patih tanpa sadar sambil mengerutkan keningnya dalam dalam.

Kanjeng Ratu yag mendengar desis Ki Patih ikut terkejut. Tumenggung Singaranu adalah tangan kanan Pangeran Purbaya, Pangeran yang membawahi seluruh prajurit Mataram yang berkedudukkan di kotaraja.

“Permainan apalagi yang akan ditunjukkan oleh Pangeran Purbaya setelah pengerahan pasukan kemarin pagi di alun alun?” bertanya Kanjeng Ratu dalam hati sambil pandangan matanya tak lepas dari wajah di belakang pelayan dalam istana itu.

“Masuklah!” berkata Ki Patih kemudian mempersilahkan pelayan dalam itu. Pelayan dalam itu pun kemudian membuka pintu yang menghubungkan pringgitan dengan ruang tengah. Setelah menyembah dalam dalam, pelayan dalam itu pun undur diri. Tinggallah Tumenggung Singaranu yang berdiri termangu mangu.

“Masuklah Ki Tumenggung,” berkata Ki Patih kemudian mempersilahkan. Ki Tumenggung Singaranu pun menghaturkan sembah terlebih dahulu baru kemudian melangkahkan kakinya memasuki ruang dalam.

Sesampainya di hadapan Ki Patih dan Kanjeng Ratu, kembali Ki Tumenggung menghaturkan sembah kemudian mengambil duduk bersila beberapa langkah di samping Ki Patih.

Sejenak suasana menjadi agak tegang. Kanjeng Ratu yang masih belum berkenan dengan pengerahan pasukan di alun alun kemarin pagi telah memandang tajam Ki Tumenggung. Sedangkan Ki Patih tampak menarik nafas dalam dalam untuk mengatasi jantungnya yang terasa sedikit melonjak lonjak.

Setelah terlebih dahulu menanyakan keselamatan masing masing, barulah Ki Patih menanyakan kepentingan Ki Tumenggung Singaranu menghadap ke istana Kanjeng Ratu Lungayu.

“Ki Tumenggung,” bertanya Ki Patih kemudian, “Apakah ada sesuatu yang sangat penting dan mendesak sehingga Ki Tumenggung sendiri yang memerlukan menghadap ke istana ini?”

Ki Tumenggung segera menyembah sambil menjawab, “Ampun Ki Patih, hamba menghadap ke istana ini karena diperintah oleh Pangeran Purbaya.”

“Pangeran Purbaya?” hampir serentak kedua priyagung itu mengulang nama yang selama ini telah membuat keluarga istana menjadi sedikit resah, terutama keluarga dari pihak Kanjeng Ratu Lungayu.

“Sendika Ki Patih,” sahut Ki Tumenggung cepat. “Menjelang Matahari terbit tadi kami berdua telah menghadap Ki Patih di ndalem kepatihan. Namun kami mendapat berita bahwa Ki Patih bersama Kanjeng Sunan lewat tengah malam tadi telah menghadap ke istana ini.”

“Jadi? Pangeran Purbaya sekarang sedang menunggu di kepatihan?” sela Ki Patih dengan serta merta.

“Sendika Ki Patih,” jawab Ki Tumenggung sambil kembali menyembah.

Sejenak suasana menjadi sunyi. Tampak Ki Patih sedang mempertimbangkan segala sesuatunya sehubungan dengan penobatan Raja Mataram yang hanya tinggal menunggu waktu. Ki Patih tidak mau rencananya gagal total karena ulah sekelompok orang atau karena ketidak percayaan terhadap jalan yang dipilihnya untuk memenuhi janji Sinuhun Prabu Hanyakrawati. Jika kedua belah pihak yang saling berbeda pilihan itu sulit diberi pengertian, tidak menutup kemungkinan akan terjadi benturan sehingga dapat menumpahkan darah.

“Sekecil apapun perbedaan itu, harus dihilangkan,” membatin Ki Patih sambil mengangguk angguk, “Semoga Kanjeng Sunan segera kembali dan wisuda Raja Mataram yang baru ini segera terlaksana.”

Berpikir sampai disitu Ki Patih segera berpaling ke arah Kanjeng Ratu. Berkata Ki Patih kemudian, “Kanjeng Ratu, aku akan kembali ke kepatihan. Percayalah padaku. Semuanya sudah aku atur sedemikian rupa agar penobatan Raden Mas Wuryah ini dapat terlaksana dengan baik dan lancar.”

Tampak Kanjeng Ratu tersenyum tipis sambil memandang tajam ke arah Ki Tumenggung Singaranu, namun yang dipandang tampaknya berusaha menghindar dengan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Baiklah Ki Patih”, berkata Kanjeng Ratu pada akhirnya, “Terima kasih atas bantuan Ki Patih dan sampaikan sembah baktiku kepada Kanjeng Sunan jika beliau sudah kembali.”

“Semoga Yang Maha Agung mengijinkan kita semua untuk bertemu kembali,” sahut Ki Patih sambil berdiri. Ki Tumenggung pun ikut berdiri setelah menyembah terlebih dahulu kepada Ki Patih dan Kanjeng Ratu. Sementara Kanjeng Ratu tetap duduk di tempat semula.

Demikianlah akhirnya Ki Patih dengan Ki Tumenggung Singaranu pun berkuda kembali ke kepatihan.

***

 

Dalam pada itu Matahari benar-benar telah terbit di langit timur. Sinarnya yang cemerlang menimbulkan kehangatan di permukaan bumi yang disinarinya. Kehangatan sinar Matahari itu ternyata telah mampu menyusup di sela-sela lebatnya pepohonan dan mengusir embun-embun pagi yang masih bergelayutan manja di pucuk-pucuk dedaunan.

Di Menoreh Pandan Wangi telah mengajak Ratri untuk pergi ke sanggar. Setelah sarapan pagi agaknya Pandan Wangi ingin menjajagi kekuatan yang secara tidak sadar telah tersimpan di dalam diri Ratri.

Dengan mengenakan pakaian khusus, keduanya pun kemudian berjalan menuju sanggar.

“Di mana Bayu Swandana, mbokayu?” bertanya Ratri sambil mengikuti langkah Pandan Wangi menuju sanggar yang terletak di samping rumah Ki Gede Menoreh.

“Biasanya kalau tidak sedang berlatih berkuda, pagi-pagi dia sudah ikut para pekerja kami pergi ke sawah,” jawab Pandan Wangi sambil tersenyum tanpa menghentikan langkahnya, “Dia senang sekali bermain lumpur, mencari belut dan kadang turun ke sungai mencari udang. Pernah suatu ketika dia dibantu para pembantu laki-laki kami, pulang mendapatkan sekepis penuh udang kali. Setibanya di rumah dia segera meminta dimasakkan kendo udang. Masakan kesukaannya.”

Ratri tersenyum geli membayangkan anak laki-laki yang agak gemuk itu terjun ke sungai. Tentu gerak geriknya akan terlihat sangat lucu dan menggemaskan.

Tanpa terasa kedua perempuan itu sudah sampai di depan sanggar. Pandan Wangi pun kemudian mendorong pintu sanggar dan melangkah masuk. Ratri pun hanya mengikuti saja.

Sebenarnya lah Ratri sudah pernah menengok sanggar yang berada di rumahnya. Namun dia tidak pernah tertarik dengan segala isinya waktu itu. Sekarang begitu memasuki sanggar di kediaman Ki Gede Menoreh, jantung Ratri pun berdesir tajam. Sanggar itu cukup luas. Berbagai macam senjata tampak tergantung di dinding sanggar. Beberapa patok-patok dari batang-batang pohon kelapa yang mempunyai ketinggian berbeda tampak di tanam di pinggir sanggar dekat dinding. Sementara di sisi dinding sanggar yang lain tampak beberapa gawang pintu yang terbuat dari kayu yang juga ditanam cukup dalam dan kuat. Ada beberapa tali yang diikatkan di tengah-tengah gawang pintu itu. Agaknya itu peralatan untuk melatih otot-otot lengan dengan cara bergelantungan seperti seekor kera yang bergelantungan di antara sulur-sulur pohon.

Ketika Pandan Wangi memberi isyarat untuk menutup pintu sanggar, Ratri pun segera menutup pintu dan kemudian mengikuti Pandan Wangi ke tengah-tengah sanggar.

“Duduklah,” berkata Pandan Wangi kemudian sambil mengambil duduk bersila di lantai sanggar. Ratri pun kemudian duduk bersila di hadapan Pandan Wangi.

“Ratri,” berkata Pandan Wangi kemudian, “Aku akan mengajari bagaimana caranya untuk memusatkan nalar dan budi. Pada dasarnya ini adalah cara untuk mengungkapkan tenaga cadangan yang tersimpan di dalam diri kita.”

Tampak kening Ratri sedikit berkerut. Maklumlah puteri Matesih itu sama sekali belum pernah bersentuhan dengan olah kanuragan. Baginya yang namanya olah kanuragan tentu penuh dengan gerakan dan latihan untuk memperkuat serta mempercepat gerakan tubuh.

Agaknya Pandan Wangi dapat meraba pikiran Ratri. Maka katanya kemudian sambil tersenyum, “Ratri, belajar olah kanuragan tidak hanya berlatih kekuatan dan kecepatan, namun juga olah pikir dan ketenangan batin. Seseorang yang mempunyai kekuatan dan kecepatan gerak namun tidak diimbangi dengan olah pikir dan ketenangan batin, maka akan dapat dengan mudah dikalahkan dan kemudian dilumpuhkan.”

Tampak kepala Ratri terangguk angguk. Gadis puteri Matesih itu mulai mengerti apa yang dimaksud dengan belajar olah kanuragan.

“Dan tidak kalah pentingnya dalam belajar olah kanuragan itu adalah pengendalian diri,” berkata Pandan Wangi selanjutnya, “Seseorang yang telah memiliki kemampuan olah kanuragan dituntut untuk selalu rendah hati, tidak sesongaran dan selalu siap menolong sesamanya yang teraniaya.”

Kembali terlihat Ratri terangguk angguk. Pengetahuan Ratri tentang belajar olah kanuragan pun semakin luas dan dia sudah memantapkan dirinya untuk berguru kepada Pandan Wangi.

“Nah, saat ini aku tidak akan memulai pelajaran olah kanugaran yang bersumber dari perguruan Menoreh,” lanjut Pandan Wangi, “Kita masih menunggu ijin. Ayah masih akan membicarakan hal ini dengan paman Argajaya selaku adik seperguruan ayah.”

Tampak Ratri menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk kecil. Walaupun hati kecilnya ada sedikit rasa kecewa, namun Ratri berusaha menghilangkan kesan itu dari wajahnya. Yang tampak kemudian justru sebuah senyum yang manja.

“Nyi Pandan Wangi,” berkata Ratri kemudian sambil menatap wajah Pandan Wangi, “Aku tidak tergesa gesa. Aku akan sabar menunggu sampai ijin untuk menyadap ilmu dari perguruan Menoreh itu aku dapatkan.”

“Syukurlah, Ratri,” sahut Pandan Wangi dengan serta merta, “Mempelajari olah kanuragan itu tidak sehari dua hari, sepekan dua pekan. Bahkan tidak cukup setahun dua tahun. Semua menuntut kesungguhan dan kesabaran.”

“Terima kasih, Nyi,” berkata Ratri kemudian menanggapi, “Akan selalu aku ingat pitutur dari Nyi Pandan Wangi.”

Pandan Wangi tersenyum. Katanya kemudian, “Nah bersiaplah. Ini bukan berarti aku mendahului ijin dari perguruanku. Aku hanya membantu dirimu untuk lebih mengenali tenaga cadangan yang menurut ceritamu telah tersimpan dalam dirimu, entah bagaimana asal muasalnya. Dengan demikian tenaga cadangan itu akan dapat engkau kenali dan kemudian dapat engkau gunakan sesuai dengan kemauanmu sehingga tidak liar dan dapat berakibat kurang baik bagi dirimu maupun orang lain.”

Untuk kesekian kalinya Ratri terangguk angguk. Sekilas ingatannya melayang ke peristiwa di pintu gerbang kotaraja sebelah utara beberapa hari yang lalu.

“Pukulanku ternyata terlalu keras untuk prajurit Panaraga itu,” membatin Ratri sambil mengerutkan keningnya dalam-dalam, “Semoga saja prajurit itu hanya pingsan. Tetapi memang dia telah berbuat kurang ajar sehingga sangat pantas untuk mendapatkannya.”

“Ratri,” berkata Pandan Wangi kemudian membuyarkan lamunan Ratri, “Aku hanya mengajarimu cara mengatur nafas yang baik, yang bermanfaat bagi diri kita. Dari pengaturan nafas inilah tenaga kita akan terkumpul dan terpusat pada satu titik yang kita kehendaki,” Pandan Wangi berhenti sebentar. Lanjutnya kemudian, “Ikuti gerakanku. Jika aku mengatakan tarik, berarti engkau harus menarik nafas. Jika aku mengatakan lepas, maka engkau harus menghembuskan nafasmu.”

Ratri mengangguk. Pandan Wangi pun mulai menarik kedua sikunya sejauh jauhnya ke belakang dan kemudian meletakkan kedua telapak tangannya ke samping dada dengan telapak tangan terbuka menghadap ke depan.

“Duduklah yang tegak dan busungkan dadamu,” perintah Pandan Wangi kemudian. Ratri pun mengikuti petunjuk Pandan Wangi.

“Kedua telapak tangan yang terbuka dan diletakkan di sisi kanan dan kiri dada kita ini berguna untuk memperbesar rongga dada kita. Dengan membusungkan dada, kita akan menampung sebanyak mungkin udara yang masuk. Tahanlah sebentar kemudian turunkan udara yang berada di dada itu ke perut, tahan beberapa saat. Kemudian kembalikan ke dada dan terakhir keluarkan udara itu melalui mulut dengan menekan perut kita.”

Kembali Ratri mengangguk. Sejenak kemudian terlihat kedua perempuan yang berbeda umur namun terlihat mempunyai kecantikan masing-masing itu berlatih pernafasan bersama.

Setelah dirasa cukup, Pandan Wangi pun kemudian memberi isyarat Ratri untuk berhenti sejenak dan menurunkan kedua tangannya. Berkata Pandan Wangi kemudian, “Ratri, sekarang engkau harus berusaha memusatkan nalar dan budimu untuk mengendalikan pernafasanmu. Pada saat menarik nafas, bayangkan seolah olah engkau sedang menghirup kedamaian dan ketenangan. Sedangkan pada saat engkau memindahkan nafasmu dari rongga dada ke rongga perut, bayangkan engkau sedang memindahkan tenaga yang ada di dalam dirimu. Kemudian pada saat engkau membuang nafas, bayangkan dirimu sedang membuang segala macam permasalahan yang membuatmu cemas dan takut,” Pandan Wangi berhenti sejenak. Sambil menatap Ratri yang duduk tepat di hadapannya, Pandan Wangi pun bertanya, “Engkau siap, Ratri?”

Untuk sejenak Ratri ragu-ragu. Namun akhirnya dia menjawab sambil menganggukkan kepalanya, “Ya, Nyi. Aku siap!”

Pandan Wangi tersenyum. Katanya kemudian, “Pada tahap ini memang perlu banyak latihan. Dengan tetap pada sikap seperti semula, kita dapat memulai latihan ini. Mari kita lakukan perlahan lahan saja sambil menghayati setiap gerakan dengan pemusatan nalar dan budi. Kendalikan pikiranmu seperti yang telah aku jelaskan tadi, dan jangan lupa, ini sangat penting dalam setiap apapun kegiatan yang kita lakukan, hati kita pasrah kepada Yang Maha Pemberi.”

Selesai berkata demikian Pandan Wangi segera mengambil sikap.

Ratri pun kemudian mengikuti.

Demikianlah, walaupun Ratri kadangkala masih kebingungan dan kurang dapat memusatkan segenap nalar dan budinya, Pandan Wangi dapat memakluminya. Setelah mencoba beberapa kali, Ratri pun akhirnya menjadi terbiasa.

Perlahan lahan tapi pasti Ratri mulai merasakan desiran lembut yang berasal dari jantungnya. Desiran lembut itu terasa menyelusuri urat urat nadinya sejalan dengan pergerakan nafasnya. Ketika Ratri menarik nafas sedalam-dalamnya dan mengumpulkan udara itu di dalam dadanya, terasa desiran lembut yang keluar dari jantungnya itu ikut terkumpul ke arah ulu hatinya. Ketika Ratri kemudian memindahkan udara yang terkumpul dalam dadanya itu ke perut, terasa desiran lembut itu menyelusuri urat-urat nadinya dan berkumpul di pusarnya.

Semakin lama Ratri terasa semakin mengenali gerakan desir lembut yang berasal dari jantungnya itu. Semakin cepat dia menggerakkan udara yang ada dalam dadanya, semakin cepat pula desiran lembut itu mengalir.

“Nah,” berkata Pandan Wangi kemudian begitu melihat titik-titik keringat mulai menyembul di kening dan pelipis gadis muda itu, “Kita berhenti sebentar. Apa yang telah kita lakukan tadi pada dasarnya hanya mengungkap dan mengendalikan tenaga cadangan yang sudah ada dalam diri manusia. Setiap perguruan mempunyai cara yang berbeda namun secara garis besar hampir sama.”

Tampak kepala gadis Matesih itu terangguk angguk, namun dari sorot matanya terlihat masih ada sesuatu yang mengganjal hatinya.

Agaknya Pandan Wangi dapat melihat sinar mata gadis muda dari Matesih itu. Maka tanyanya kemudian, “Ratri, apakah masih ada yang ingin engkau tanyakan?”

“Ya, Nyi,” sahut Ratri dengan serta merta, “Dalam latihan tadi aku masih kebingungan dan memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengenali dan kemudian mengungkapkan serta mengendalikan tenaga cadangan. Bagaimana jika itu terjadi di dalam sebuah pertempuran yang sesungguhnya? Musuh sudah berada di hadapan mata dan aku masih memerlukan waktu untuk mengungkapkan tenaga cadangan. Apakah tidak akan terlambat nantinya?”

Pandan Wangi tertawa pendek mendengar pertanyaan polos dari gadis cantik puteri Matesih itu. Jawabnya kemudian sambil menepuk pundak Ratri, “Semua itu memang memerlukan waktu dalam mempelajari olah kanuragan. Demikian juga untuk mengungkapkan tenaga cadangan, kita perlu berlatih dalam waktu yang cukup lama. Setelah kita sudah terlatih, maka hampir tidak memerlukan waktu sekejap pun untuk mengungkapkan tenaga cadangan ini. Bahkan tenaga cadangan ini akan bergerak tanpa kita sadari pada saat ada bahaya yang mengancam. Misalnya saat kita tidur dan ada orang yang berniat jahat. Secara naluriah tenaga cadangan itu akan bergerak sendiri untuk melindungi diri kita.”

Tampak kerut merut di dahi yang halus dan bersih itu. Puteri Matesih itu agaknya masih ragu-ragu dengan penjelasan Pandan Wangi.

“Maaf, Nyi,” bertanya Ratri kemudian dengan nada yang perlahan sekali agar tidak menyinggung perasaan Pandan Wangi, “Bukannya aku tidak percaya dengan penjelasan terakhir Nyi Pandan Wangi. Maksudku, bagaimana mungkin seseorang yang sedang tidur tenaga cadangannya akan mampu melindungi dirinya padahal dia sedang tidak terjaga?”

Pandan Wangi tersenyum sekilas. Jawabnya kemudian, “Ratri, engkau tentu sudah pernah mendengar dari cerita-cerita babat tentang Adipati Pajang Sultan Hadiwijaya. Pada saat dua orang Sureng sraya dari Harya Penangsang Adipati Jipang Panolan berhasil memasuki bilik peraduan Kanjeng Sultan Pajang, Kanjeng Sultan sedang dalam keadaan tidur. Berkali kali salah satu Sureng itu menusukkan keris Kiai Setan Kober ke tubuh Kanjeng Sultan Pajang, namun tidak mempan. Bahkan ketika Kanjeng Sultan terbangun dan kemudian mengibaskan selimutnya, kedua Sureng itu terlempar dan jatuh tersungkur hanya karena terkena kibasan selimut Kanjeng Sultan.”

Jantung Ratri berdesir tajam. Sudah sering dia mendengar kisah kepahlawanan itu, namun setiap saat dadanya selalu berdebar debar membayangkan kesaktian Kanjeng Sultan Hadiwijaya yang semasa mudanya bernama Mas Karebet itu.

“Jika tubuh kita sudah terlatih,” lanjut Pandan Wangi kemudian, “Akan muncul gerak naluriah dari dalam tubuh kita jika tubuh kita mendapat ancaman atau serangan yang tidak kita sadari atau tubuh kita sedang tidak sadar atau tertidur.”

Tampak kepala Ratri terangguk angguk. Berbagai harapan pun tumbuh dalam hatinya sejalan dengan bertambahnya pengetahuan tentang olah kanuragan.

“Nah, sekarang kita coba dalam keadaan berdiri,” berkata Pandan Wangi kemudian sambil bangkit berdiri. Ratri pun ikut bangkit berdiri.

“Pertama tama engkau harus membuat kuda-kuda yang kuat,” berkata Pandan Wangi seterusnya sambil memberi contoh bagaimana memasang kuda-kuda. Ratri pun dengan bersemangat mengikutinya.

“Kedua lutut agak ditekuk kemudian seperti pada saat kita duduk bersila tadi, kedua telapak tangan kita berada di sisi dada sambil menarik nafas dalam-dalam,” berkata Pandan Wangi memberi contoh. Sekali lagi tanpa banyak bertanya Ratri pun mengikutinya.

Ternyata dalam keadaan berdiri, Pandan Wangi telah menambah beberapa gerakan tangan untuk mengungkapkan tenaga cadangan yang tersimpan di dalam dirinya. Gerakan itu diulang-ulang sambil mengatur pernafasan dan memusatkan nalar dan budinya.

Sekarang Ratri dapat merasakan, betapa desiran lembut yang berasal dari jantungnya itu telah berubah menjadi getaran-getaran yang cukup kuat merambat dalam urat-urat nadinya. Semakin cepat gerakan tangannya, semakin cepat dan kuat pula getaran itu merambat kemana saja dia mengarahkannya.

Cukup lama kedua perempuan yang berbeda umur itu melakukan latihan untuk mengungkapkan tenaga cadangan. Titik-titik keringat pun mulai membasahi kening dan punggung.

Ketika Pandan Wangi melihat Ratri mulai kelelahan, dia segera menghentikan latihan itu.

“Cukup Ratri,” berkata Pandan Wangi kemudian sambil mengendurkan kuda-kudanya dan berdiri sebagaimana biasa, “Hari ini aku rasa cukup. Marilah sekarang kita akhiri latihan ini dengan mengatur pernafasan kita.”

Ratri yang belum mengetahui bagaimana cara mengatur pernafasan itu hanya mengangguk.

Sejenak kemudian, Ratri yang berdiri berhadapan dengan Pandan Wangi itu telah menirukan apa yang dilakukan oleh Pandan Wangi. Mengangkat kedua belah tangannya, merentang dan kemudian diangkat lebih tinggi lagi. Ketika kedua tangan itu menurun, maka Pandan Wangi telah membuat beberapa gerakan kecil dengan pergelangan tangannya yang terbuka. Kemudian mengatupkan kedua telapak tangan tepat di depan wajahnya dan menurun perlahan-lahan. Kedua telapak tangan yang terkatup itu berhenti di depan dadanya. Satu tarikan nafas panjang seakan-akan telah mengendapkan segala kelelahan.

“Nah, sekarang tiba saatnya untuk mencoba sampai sejauh mana engkau mampu mengerahkan tenaga cadanganmu dan kemudian menggunakannya,” berkata Pandan Wangi pada akhirnya sambil tersenyum penuh arti kepada Ratri. Ratri pun menjadi berdebar debar walaupun dia ikut tersenyum.

Dengan langkah satu-satu, Ratri kemudian mengikuti langkah Pandan Wangi menuju ke salah satu sudut sanggar. Beberapa patok-patok dari batang-batang pohon kelapa yang tidak sama ketinggiannya tampak di tanam dalam-dalam berjajar jajar.

Kembali jantung Ratri berdebar debar. Berbagai dugaan pun hilir mudik dalam benaknya. Jika harus memukul patah batang pohon kelapa itu, hati Ratri pun menciut tinggal semenir.

“Nah,” berkata Pandan Wangi kemudian sambil berhenti tepat di hadapan potongan sebatang pohon kelapa setinggi pinggang, “Aku akan meletakkan sebuah batu merah di atas batang pohon ini, sebuah saja dulu. Nanti akan bertambah sesuai dengan pengerahan tenaga cadangan yang telah engkau kuasai.”

Selesai berkata Pandan Wangi segera bergeser ke sudut. Tampak beberapa buah batu bata yang bertumpuk-tumpuk tersusun dengan rapi. Pandan Wangi pun kemudian mengambil sebuah dan meletakkannya di atas patok yang berada di hadapan Ratri.

“Mulailah, Ratri!” perintah Pandan Wangi kemudian sambil tersenyum. Ratri pun mengangguk dan membalas senyuman Pandan Wangi.

Untuk sejenak Ratri segera memasang kuda-kuda. Ketika dirasakan kuda-kudanya sudah cukup sempurna Ratri pun kemudian melakukan gerakan-gerakan sebagaimana yang telah diajarkan Pandan Wangi. Ketika getaran-getaran yang semakin kuat itu telah menyatu di sisi telapak tangan kanannya yang terbuka dengan jari-jari merapat, Ratri pun kemudian mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi siap untuk melumatkan batu bata itu.

“Ratri, jangan gunakan kekuatan wadagmu!” tiba-tiba terdengar Pandan Wangi berbisik di telinganya, “Sentuhlah batu bata itu dengan tenaga cadanganmu tanpa mengikut sertakan tenaga wadagmu.”

Dalam hati Ratri menjadi heran. Bagaimana mungkin memukul batu bata itu tanpa menggunakan tenaga wadagnya tetapi hanya menggunakan tenaga cadangannya? Namun Ratri menurut saja.

Sejenak kemudian tangan Ratri pun terayun perlahan tanpa dorongan tenaga wadag. Seolah tangan itu hanya terayun sebagaimana ketika dia melenggangkan tangannya saat berjalan. Namun di sisi telapak tangannya yang terbuka dengan jari-jari merapat itu telah tersimpan tenaga cadangannya.

Yang terjadi kemudian sungguh diluar dugaan Ratri sendiri. Begitu telapak tangannya menyentuh batu bata itu, seakan akan Ratri tidak merasakan dorongan kekuatan dari wadagnya sama sekali, namun tiba-tiba saja batu bata itu telah remuk berkeping keping.

“Ah!” jerit Ratri sambil meloncat mundur. Jantungnya pun berdentang semakin kencang begitu mengetahui hasil dari pengerahan tenaga cadangannya yang diluar dugaan itu.

“Luar biasa!” seru Pandan Wangi sambil bertepuk tangan memuji. Segera saja rona merah menjalari wajah Ratri yang cantik nan ayu itu.

“Untung yang terjadi pada diri prajurit Panaraga itu diluar kesadaranmu,” berkata Pandan Wangi selanjutnya sambil mendekati Ratri dan kemudian menepuk nepuk bahunya, “Jika engkau sekarang itu dalam kesadaranmu seutuhnya mengerahkan tenaga cadangan untuk menamparnya, tentu kepalanya akan remuk seperti batu bata itu.”

“Ah,” desah Ratri dengan wajah yang kembali memerah, “Nyi Pandan Wangi terlalu berlebihan.”

“Tidak Ratri,” sahut Pandan Wangi cepat, “Engkau pernah mendengar cerita Jaka Tingkir yang memukul pecah kepala seekor kebo ndanu di hutan Prawata? Demikian itulah jika seseorang mampu melatih dan mengetrapkan tenaga cadangannya sampai ke puncak. Untuk itulah aku berpesan, Ratri. Mulai sekarang engkau harus pandai-pandai mengendalikan diri, terutama mengendalikan amarah yang kadang-kadang melonjak hanya karena suatu sebab yang kecil dan sepele. Syukurilah karunia itu dan gunakan untuk melindungi yang lemah.”

Tampak Ratri tidak menjawab, hanya kepalanya saja yang terangguk angguk. Rasa syukur pun segera memenuhi dadanya sejalan dengan kesadarannya untuk menggunakan kekuatan yang dimilikinya itu untuk kepentingan bebrayan agung.

“Nah,” berkata Pandan Wangi kemudian, “Aku kira hari ini sudah cukup, aku belum berani terlalu dalam mengajari dirimu sebab ijin dari perguruan Menoreh belum turun. Kelihatannya ayah masih sibuk dan belum sempat mengadakan pembicaraan dengan paman Argajaya.”

Ratri hanya dapat mengangguk anggukkan kepalanya walaupun dalam hati ada sedikit ganjalan. Namun puteri Matesih itu hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam dan pasrah menerima nasib.

“Setelah berlatih beberapa hari, aku yakin engkau akan mampu mengungkapkan dan menyalurkan tenaga cadangan di dalam dirimu itu sepenuhnya,” berkata Pandan Wangi kemudian sambil tersenyum. Lanjut Pandan Wangi kemudian sambil melangkah ke pintu sanggar, “Dalam dua tiga hari kedepan, aku berharap engkau akan mampu memukul hancur sebuah batu padas sebesar kepala seekor kerbau.”

“Ah,” desah Ratri sambil mengikuti langkah Pandan Wangi, “Nyi Pandan Wangi terlalu berlebihan. Menghancurkan batu padas sebesar kepala seekor ayam saja aku belum tentu mampu.”

“He? Bukankah batu bata itu menjadi hancur hanya karena sentuhan kecil sisi telapak tanganmu?”

“Tetapi, aku masih belum mengerti!”

“Lambat laun engkau akan mengerti dan menyadari kekuatan yang tersimpan dalam dirimu, Ratri,” sahut Pandan Wangi sambil tertawa pendek, “Kekuatan itu harus dilatih terus menerus sehingga engkau akan terbiasa.”

“Aku masih harus mendapat banyak tuntunan dan petunjuk dari Nyi Pandan Wangi,” desis Ratri perlahan seolah hanya ditujukan kepada dirinya sendiri.

Pandan Wangi hanya tersenyum dan tidak menanggapi lagi. Keduanya pun kemudian keluar dari sanggar. Setelah terlebih dahulu menutup pintu sanggar, kedua perempuan yang terpaut umur cukup jauh itu segera berjalan bergandengan tangan menuju ke dapur.

Dalam pada itu di pendapa kediaman Ki Gede Menoreh tampak beberapa orang sedang duduk-duduk berbincang bincang. Ki Gede Menoreh ditemani Kiai Sabda Dadi sedang berbicang-bincang dengan Ki Gede Matesih. Di hadapan orang-orang tua itu tampak beberapa mangkuk minuman hangat dan ketela rebus yang masih mengepulkan asap.

“Marilah,” berkata Ki Gede Menoreh kemudian sambil mengangkat mangkuk yang ada di hadapannya. Orang-orang pun mengikuti Ki Gede.

Namun sebelum orang-orang itu sempat meletakkan kembali mangkuk mereka, tiba-tiba dua orang memasuki regol kediaman Ki Gede Menoreh. Para pengawal yang sedang bertugas jaga pun tampak menyapa kedua orang itu dengan rasa hormat.

Ki Gede Menoreh yang sudah meletakkan mangkuk minumannya itu segera melemparkan pandangan matanya ke arah regol. Ki Gede pun segera menyadari siapa yang datang.

“Ki Jagabaya dan Ki Kamituwa,” desis Ki Gede Menoreh sambil tersenyum lebar. Ki Gede Matesih dan Kiai Sabda Dadi pun tampak mengangguk angguk sambil memandang ke arah kedua orang yang berjalan mendekati pendapa.

“Silahkan! Silahkan!” berkata Ki Gede Menoreh kemudian mempersilahkan kedua orang itu yang mulai menaiki tlundak pendapa. Sementara Kiai Sabda Dadi dan Ki Gede Matesih telah menggeser duduk mereka untuk memberi tempat bagi yang baru datang.

“Terima kasih Ki Gede,” hampir bersamaan kedua orang itu menjawab sambil mengangguk hormat. Setelah mengucapkan salam sambil menyalami satu persatu orang-orang yang duduk di pendapa itu, keduanya pun kemudian mengambil tempat duduk di hadapan Ki Gede Menoreh.

Ki Demang dan Ki Jagabaya Pudak Lawang pun kemudian bergabung duduk melingkar di pendapa itu.

Setelah saling menanyakan keselamatan masing-masing, Ki Gede Menoreh segera berkata, “Nah, Ki Jagabaya dan Ki Kamituwa, sebelumnya aku ingin memperkenalkan tamu kita Ki Gede Matesih beserta beberapa orang yang telah berkenan mengunjungi perdikan Menoreh yang sepi ini.”

“Ah,” Ki Gede Matesih berdesah sambil tersenyum. Kemudian Ki Gede Matesih pun segera menganggukkan kepalanya dalam-dalam kepada kedua bebahu perdikan Menoreh itu.

Kedua bebahu perdikan Menoreh itu pun membalas anggukan kepala Ki Gede Matesih sambil tersenyum lebar.

“Nah, sekarang kita akan membicarakan permasalahan yang terjadi akhir-akhir ini di perdikan Menoreh,” berkata Ki Gede Menoreh selanjutnya, “Kalian berdua aku panggil karena ada sesuatu hal yang cukup penting untuk kalian ketahui.”

Tampak wajah kedua bebahu perdikan Menoreh itu sedikit tegang. Namun dengan cepat Ki Gede Menoreh segera melanjutkan ucapannya, “Bukan sesuatu hal yang sangat penting dan membahayakan, namun tidak ada jeleknya kita selalu berhati-hati dalam menyikapi setiap perubahan sekecil apapun yang terjadi di sekeliling kita serta memperhitungkan langkah-langkah yang akan kita ambil. Tentu saja semua itu, selaku kepala perdikan aku selalu mengikut sertakan para bebahuku untuk mengambil keputusan.”

Serentak kedua bebahu perdikan Menoreh itu tampak mengangguk angguk.

“Beberapa hari ke depan, kita mendapat undangan untuk menghadiri pembukaan sebuah perguruan baru, perguruan Wirapati,” Ki Gede Menoreh berhenti sejenak sambil memperhatikan raut wajah kedua bebahunya. Ketika Ki Gede melihat kedua bebahunya itu masih terdiam, dia segera melanjutkan, “Perguruan Wirapati itu terletak di kademangan Pudak Lawang. Aku telah memanggil Ki Demang Pudak Lawang untuk mendengarkan penjelasan langsung dari dirinya serba sedikit tentang perguruan Wirapati yang berada di wilayahnya.

Mungkin sebentar lagi Ki Demang Pudak Lawang akan hadir di tengah-tengah kita.”

Orang-orang yang hadir di pendapa itu pun tampak mengangguk anggukkan kepala mereka.

“Ki Gede,” berkata Ki Jagabaya kemudian setelah sejenak mereka terdiam sambil menganggukkan kepalanya ke arah pemimpinnya itu, “Aku memang sudah mendengar tentang perguruan Wirapati yang terletak di kademangan Pudak Lawang itu. Aku juga sudah mendengar beberapa laporan tentang kenakalan anak-anak muda yang mengaku murid-murid perguruan Wirapati. Terakhir, tadi pagi aku mendapat laporan dari Ki Jagatirta bahwa beberapa petani yang sedang mengairi sawah mereka di malam hari telah mendapatkan bendungan di sisi selatan sungai yang membelah kademangan Pudak Lawang telah jebol. Setelah pertemuan ini aku akan menuju ke sana untuk memeriksanya.”

Tampak kerut merut di kening Ki Gede Menoreh. Bendungan adalah salah satu sarana dalam memberikan layanan air kepada para petani dalam menggarap sawah mereka. Jika bendungan itu kemudian jebol apapun yang telah menimpanya, dapat dipastikan pasokan air untuk sawah-sawah di sekitarnya akan tersendat.

“Apakah sudah ada laporan bagaimana bendungan itu bisa jebol?” bertanya Ki Gede Menoreh kemudian sambil memandang Ki Jagabaya, “Aku tidak yakin jika bendungan itu jebol dengan sendirinya secara tiba-tiba. Paling tidak beberapa hari atau pekan sebelumnya pasti sudah ada tanda-tanda bendungan itu akan mulai rusak.”

“Benar Ki Gede,” sahut Ki Jagabaya dengan serta merta, “Menurut laporan Ki Jagatirta dari para petani yang menyaksikan langsung keadaan bendungan yang jebol itu, keadaannya memang sepertinya seseorang dengan sengaja telah menghancurkannya entah dengan cara apa. Brunjung-brunjung bambu itu kedapatan telah hancur berserakan bagaikan habis terkena sambaran petir. Bahkan bambu-bambu yang digunakan untuk menempatkan batu-batu itu sepertinya telah hangus terbakar.”

“He?!” hampir bersamaan Ki Gede Menoreh dan Kiai Sabda Dadi tersentak. Menilik cerita yang disampaikan Ki Jagabaya itu, sepertinya memang seseorang yang berilmu sangat tinggi telah menghancurkan bendungan itu. Sedangkan Ki Gede Matesih yang hanya menjadi pendengar yang baik ikut berdebar debar.

“Ki Gede,” berkata Kiai Sabda Dadi menyela, “Kalau menurut dugaanku, bendungan itu tidak mungkin rusak karena waktu. Menilik laporan yang disampaikan oleh Ki Jagabaya tadi, pasti ada penyebab hancurnya bendungan itu. Namun aku tidak yakin jika bendungan itu hancur karena disambar petir. Belum pernah ada ceritanya sebuah bendungan tersambar petir. Biasanya bangunan yang tinggi atau pohon-pohon yang tinggi sajalah yang tersambar petir.”

“Atau sesuatu yang keberadaannya lebih tinggi dari medan di sekitarnya,” sela Ki Gede Matesih memberikan pendapatnya, “Seorang petani yang sedang berada di pematang sawahnya juga ada kemungkinan tersambar petir di saat hari hujan, karena dia paling tinggi keberadaannya saat itu di banding dengan sekelilingnya.”

Yang mendengar penjelasan tambahan dari Ki Gede Matesih itu pun mengangguk anggukkan kepala mereka.

“Nah,” bertanya Ki Gede Menoreh kemudian sambil mengedarkan pandangan matanya ke sekelilingnya, “Jadi apa kesimpulan yang dapat kita tarik dari peristiwa ini? Apakah ada kemungkinannya seseorang telah menghancurkan bendungan itu? Tetapi apa kepentingannya?”

Sejenak orang-orang yang berada di pendapa itu saling pandang. Kiai Sabda Dadi lah yang kemudian berusaha menjawab. Berkata Kiai Sabda Dadi kemudian, “Ki Gede, jika memang ada seseorang yang dengan sengaja telah menghancurkan bendungan itu dengan cara apapun, aku berkeyakinan bahwa perbuatannya itu pasti dengan tujuan. Yang pertama, mungkin dia ingin menunjukkan ketinggian ilmunya sehingga dia mampu memecah bendungan itu dengan ilmunya. Kemudian ketika berita ini sampai di hadapan Ki Gede Menoreh, penguasa tertinggi di tanah perdikan ini, orang itu ingin Ki Gede mendatangi bendungan itu dan kemudian memeriksanya sendiri. Dengan demikian orang itu berharap Ki Gede Menoreh akan silau dan menganggap bahwa sekarang, saat ini juga di tanah perdikan Menoreh telah hadir seseorang yang mempunyai ilmu yang ngedab edabi,” Kiai Sabda Dadi berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Dan yang kedua, mungkin dia ingin menarik perhatian kepada seseorang di tanah perdikan Menoreh ini untuk datang menemuinya.”

Semua orang yang hadir di pendapa itu tampak mengerutkan kening mereka dalam-dalam. Berkata Ki Gede Menoreh kemudian, “Dugaan Kiai Sabda Dadi itu ada benarnya dan masuk akal. Aku jadi teringat ketika Ajar Tal Pitu hadir di Menoreh ini. Seorang yang mempunyai ilmu yang sulit dicari tandingannya. Untuk menandai kehadirannya, dia telah menakuti-nakuti para peronda dengan membuat Pengeram-eram dan menunjukkan kelebihannya. Terakhir dia bahkan telah menganiaya dan melukai Rudita, putera laki-laki satu satunya Ki Waskita.”

Orang-orang yang mendengar cerita Ki Gede Menoreh itu menjadi tegang. Bahkan Ki Gede Matesih telah bergeser sejengkal mendekat. Bertanya Ki Gede Matesih kemudian, “Ki Gede, apa maksud orang yang bernama Ajar Tal Pitu itu dengan semua perbuatannya? Apakah tidak ada seseorang yang berani menghentikannya?”

Mendengar pertanyaan bernada sedikit gelisah itu, Ki Gede Menoreh segera berpaling dan tersenyum ke arah Ki Gede Matesih. Jawab Ki Gede Menoreh kemudian sambil tetap tersenyum, “Jangan khawatir Ki Gede Matesih. Peristiwa itu sudah cukup lama berlalu. Dendam pribadi yang telah membawanya ke Menoreh untuk mencari Ki Rangga Agung Sedayu. Saat itu Ki Rangga Agung Sedayu yang belum memasuki dunia keprajuritan, bahkan masih belum berumah tangga telah berhasil menghentikan tingkah polah Ajar Tal Pitu itu untuk selama lamanya.”

Berdesir dada Ki Gede Matesih. Jika Ki Rangga yang masih belum memasuki dunia keprajuritan dan bahkan belum berumah tangga itu telah mampu menghentikan seseorang yang menyebut dirinya Ajar Tal Pitu, Ki Gede Matesih tidak dapat membayangkan ketinggian ilmu Ki Rangga sekarang ini.

“Namun ketinggian ilmu itu tidak membawa Ki Rangga pada sikap yang tinggi hati,” membatin Ki Gede Matesih sambil menarik nafas dalam-dalam dan mengangguk angguk, “Orangnya sangat bersahaja dan tidak pernah memamerkan ketinggian ilmunya.”

“Nah,” berkata Ki Gede Menoreh selanjutnya membangunkan lamunan Ki Gede Matesih, “Jika memang sekarang peristiwa itu terulang kembali, tentu ada seseorang yang berilmu sangat tinggi ingin menarik perhatian seseorang di perdikan Menoreh ini. Entah siapa yang ingin dipancingnya untuk keluar dan menemuinya.”

“Tentu bukan aku, Ki Gede!” sahut Kiai Sabda Dadi dengan serta merta yang membuat orang-orang justru telah tersenyum. Lanjutnya kemudian, “Aku justru curiga peristiwa ini ada hubungannya dengan berdirinya perguruan Wirapati. Jika orang-orang di sekitar Pudak Lawang itu kemudian mengetahui bahwa bendungan telah pecah, tentu mereka akan bertanya tanya apa sebenarnya yang telah terjadi. Nah, saat-saat seperti itulah yang mungkin akan digunakan oleh perguruan Wirapati untuk berpura-pura meminta maaf atas ketidak-sengajaan menggunakan bendungan itu sebagai sarana mengukur ketinggian ilmu mereka. Kemudian mereka akan menyanggupi untuk memperbaiki bendungan itu dalam waktu dekat. Namun kesan yang akan diperoleh oleh perguruan Wirapati itu akan sangat dahsyat. Semua orang akan berpikir seribu kali jika ingin berurusan dengan perguruan itu.”

Untuk beberapa saat orang-orang yang hadir di pendapa itu termenung. Jika memang apa yang menjadi dugaan Kiai Sabda Dadi itu mendekati kebenaran, perdikan Menoreh benar-benar akan berada di bawah bayang-bayang sebuah perguruan yang memiliki jalur ilmu yang dahsyat tiada taranya.

Selagi orang-orang yang berada di pendapa itu termenung, tiba-tiba terdengar derap beberapa ekor kuda menuju ke kediaman Ki Gede Menoreh. Ketika orang-orang di pendapa itu kemudian berpaling ke arah regol, tampak di depan regol dua orang sedang meloncat turun dari kuda mereka. Setelah menyerahkan kendali kuda-kuda itu kepada para pengawal, kedua orang itu pun dengan bergegas segera memasuki regol.

“Ki Demang Pudak Lawang dan Ki Jagabaya kademangan,” desis Ki Gede Menoreh yang membuat orang-orang di pendapa itu terangguk angguk. Sementara kedua orang yang baru datang itu telah menyeberangi halaman rumah Ki Gede yang luas.

“Silahkan Ki Demang, silahkan Ki Jagabaya,” sambut Ki Gede Menoreh kemudian tanpa berdiri dari duduknya begitu melihat kedua orang itu sedang menaiki tlundak pendapa. Mereka pun kemudian bersalam-salaman.

Ki Demang dan Ki Jagabaya Pudak Lawang pun kemudian bergabung duduk melingkar di pendapa itu.

“Bagaimana perjalanan Ki Demang berdua?” bertanya Ki Gede Menoreh kemudian setelah kedua orang itu mengambil duduk.

“Terima kasih Ki Gede,” jawab Ki Demang kemudian sambil mengangguk, “Atas doa restu Ki Gede dan semua yang hadir di sini perjalanan kami berdua cukup lancar, hanya…”

Ki Demang tidak meneruskan kata katanya sehingga orang-orang yang hadir di pendapa itu menjadi heran kecuali Ki Jagabaya Pudak Lawang.

“Hanya apa Ki Demang?” Ki Gede Menoreh dengan serta merta menyahut.

Sejenak Ki Demang terlihat ragu-ragu sambil memandang ke arah Ki Gede Matesih. Ki Gede Menoreh pun tanggap. Agaknya Ki Demang ragu-ragu menyampaikan sesuatu hal karena melihat ada seseorang yang belum dikenalnya ikut duduk di pendapa itu.

“O, maaf. Aku belum memperkenalkan kepada kalian tamu istimewa kita ini,” berkata Ki Gede Menoreh kemudian sambil berpaling ke arah Ki Gede Matesih, “Pemimpin tertinggi perdikan Matesih telah berkenan mengunjungi tanah perdikan kita ini untuk menjalin tali persaudaraan.”

“Ah,” desah Ki Gede Matesih dengan serta merta, “Aku hanyalah orang yang kebetulan saja mendapat lintiran kekuasan di Perdikan Matesih dari ayahku. Selebihnya aku adalah seorang ayah dari dua orang anak-anakku.”

“Perdikan Matesih?” ulang Ki Demang tanpa sadar sambil memandang terheran heran ke arah Ki Gede Matesih, “Sepengetahuanku perdikan Matesih terletak jauh di kaki bukit Tidar.”

“Benar Ki Demang,” sahut Ki Gede Matesih dengan serta merta sambil mengangguk dan tersenyum, “Sebuah tanah perdikan yang kecil jika dibandingkan dengan perdikan Menoreh yang sangat luas ini. Perdikan Menoreh benar-benar diluar bayanganku, tanah perdikan yang membujur dari arah utara ke selatan sepanjang perbukitan Menoreh.”

“Ki Gede Matesih terlalu berlebihan,” Ki Gede Menoreh menyela, “Memang perdikan Menoreh sangat luas, namun yang berpenghuni hampir tidak ada seper-sepuluhnya. Demikian juga tanah yang telah dikelola masih sangat sedikit jika dibanding dengan hutan belukar serta bukit-bukit yang membujur dari arah utara ke selatan.”

“Itu berarti masa depan perdikan Menoreh tidak akan pernah suram, Ki Gede,” timpal Ki Gede Matesih kemudian, “Sumber daya alam di Menoreh ini sangat berlimpah ruah. Tinggal bagaimana kita mengelolanya untuk masa depan anak cucu kita nanti.”

Tampak semua kepala terangguk angguk. Sejenak pembicaraan itu terhenti karena pintu pringgitan terbuka dan dua orang pelayan perempuan masing-masing tampak membawa nampan yang berisi makanan dan minuman.

Setelah meletakkan makanan dan minuman di hadapan para tamu, dua orang pelayan itu pun segera mengundurkan diri dan menghilang di balik pintu pringgitan.

“Silahkan dicicipi mumpung masih hangat,” berkata Ki Gede Menoreh kemudian sambil mempersilahkan tamu tamunya. Orang-orang pun kemudian menyempatkan untuk meneguk minuman mereka barang seteguk dua teguk.

“Nah, sekarang Ki Demang dapat melanjutkan ceritanya,” berkata Ki Gede Menoreh kemudian sambil meletakkan mangkuk minumannya.

“Baiklah Ki Gede,” berkata Ki Demang kemudian, “Sebelum aku berangkat dari kademangan tadi pagi, aku memang sudah menerima laporan dari Ki Jagabaya Pudak Lawang. Maka pada kesempatan ini Ki Jagabaya Pudak Lawang pun aku ajak ikut serta menghadap Ki Gede untuk memberikan laporan.”

“Apa sebenarnya yang telah terjadi Ki Demang?” sela Kiai Sabda Dadi terlihat tidak sabar. Orang-orang yang berada di pendapa itu pun juga terlihat mulai tidak sabar.

Menyadari semua orang menunggu ceritanya, Ki Demang segera melanjutkan, “Sebelum aku berangkat dari kademangan, Ki Jagabaya telah datang dan melaporkan bahwa para petani yang sedang mengairi sawahnya semalam telah mendapatkan bendungan di sisi selatan kademangan Pudak Lawang telah jebol.”

“He?” serentak orang-orang yang mendengar cerita Ki Demang itu telah berseru tertahan. Walaupun mereka sudah mendengar berita itu sebelumnya, namun tetap saja mereka terkejut.

“Mengapa bendungan itu bisa jebol, Ki Demang?” bertanya Ki Gede Menoreh kemudian dengan nada yang berat dan dalam.

“Itulah yang menjadi persoalan yang ingin aku sampaikan kepada Ki Gede,” jawab Ki Demang sambil mengangguk ke arah Ki Gede, “Dalam perjalanan ke padukuhan induk ini, aku dan Ki Jagabaya telah menyempatkan untuk menengok keadaan bendungan itu. Ternyata menurut pengamatanku dan juga pengamatan Ki Jagabaya, bendungan itu kelihatannya memang dengan sengaja telah dirusak oleh seseorang.”

Terlihat Ki Gede Menoreh menarik nafas dalam-dalam sambil berpaling ke arah Kiai Sabda Dadi. Orang tua itu pun terlihat mengangguk anggukkan kepalanya.

“Ki Demang,” berkata Ki Gede Menoreh kemudian, “Sebelum Ki Demang dan Ki Jagabaya Pudak Lawang hadir di sini, kami telah membicarakan tentang bendungan yang jebol itu. Ki Jagabaya dan Ki Kamituwa perdikan telah melaporkan hal itu kepadaku pagi tadi. Kami juga telah membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang dapat menyebabkan bendungan itu jebol.”

Tampak Ki Demang mengangguk-angguk sambil memandang ke arah Ki Jagabaya dan Ki Kamituwa perdikan. Katanya kemudian, “Syukurlah laporan kejadian di kademangan Pudak Lawang itu bisa sampai ke hadapan Ki Gede Menoreh dengan cukup cepat.”

Tampak hampir setiap kepala telah terangguk angguk. Memang Ki Gede Menoreh telah menyusun jalur-jalur pelaporan yang cepat jika terjadi hal-hal yang perlu segera mendapat perhatian.

“Apakah sudah diketahui siapa yang bertanggung jawab dibalik semua kejadian itu, Ki Demang?” bertanya Ki Gede Menoreh selanjutnya.

Untuk sejenak Ki Demang telah berpaling ke arah Ki Jagabaya kademangan. Agaknya Ki Demang ingin meminta pertimbangan bebahunya itu. Ketika terlihat Ki Jagabaya menganggukkan kepalanya, Ki Demang pun kemudian kembali memandang ke arah Ki Gede Menoreh sambil beringsut sejengkal ke depan.

Berkata Ki Demang kemudian, “Ki Gede, dalam perjalanan kami berdua setelah menengok keadaan bendungan yang jebol itu, kami di tengah jalan telah dihadang oleh pemimpin perguruan Wirapati bersama gurunya.”

“He?!” semua orang yang berada di pendapa itu telah terlonjak kaget kecuali Ki Jagabaya Kademangan Pudak Lawang.

“Ki Tumenggung Wirapati, maksud Ki Demang?” sahut Kiai Sabda Dadi dengan nada penasaran.

“Benar, Kiai,” jawab Ki Demang sambil mengangguk ke arah Kiai Sabda Dadi, “Aku sudah pernah bertemu dengan keduanya ketika mereka bermaksud membeli tanah dari Ki Sengkon yang memiliki tanah berupa pategalan yang sangat luas di sebelah barat kademangan Pudak Lawang.”

Tampak kerut merut di dahi Ki Gede Menoreh. Bertanya Ki Gede Menoreh kemudian, “Jadi perguruan Wirapati itu telah membeli tanah dengan syah melalui Ki Demang Pudak Lawang?”

“Demikianlah Ki Gede,” jawab Ki Demang, “Tentu saja aku tidak bisa menolak jika mereka mau mendirikan sebuah perguruan di Kademangan Pudak Lawang.”

Untuk sejenak suasana menjadi sunyi. Orang-orang pun hampir mempunyai persamaan pemikiran bahwa keberadaan perguruan itu syah adanya karena telah meminta ijin kepada penguasa setempat dalam hal ini adalah Ki Demang Pudak Lawang.

“Jadi apa maksud pemimpin perguruan Wirapati itu bersama gurunya mencegat perjalanan Ki Demang?” bertanya Ki Gede Menoreh setelah sejenak mereka terdiam.

Ki Demang tidak langsung menjawab pertanyaan Ki Gede Menoreh. Tampak Ki Demang menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu. Jawabnya kemudian, “Ki Wirapati atas nama perguruannya meminta maaf atas rusaknya bendungan yang terletak di sebelah selatan kademangan Pudak Lawang itu. Ki Wirapati sanggup membetulkan bendungan itu dalam waktu dekat.”

“Jadi memang perguruan Wirapati yang telah merusak bendungan itu?” sela Kiai Sabda Dadi dengan nada suara bergetar menahan gejolak dalam dadanya.

Ki Demang berpaling ke arah Kiai Sabda Dadi sambil menggeleng. Jawabnya kemudian, “Bukan Kiai. Ki Wirapati hanya menyatakan sanggup untuk memperbaiki bendungan yang rusak itu. Semua biaya akan ditanggung oleh mereka.”

Bersambung ke bagian 2.

16 Responses

  1. Bagian pertama STSD-30 sudah diunggah.

    Yang menanti kelanjutan cerita Agung Sedayu, monggo……

  2. Maaf …ikut coment lur…semoga kalian semua dalah keadaan sehat..amin
    Maaf sebelumnya …knp ceritanya hanya sepenggal-sepenggal ya?? Lebih lama nunggunya beresar dari pada saat membaca…coba kalau bisa…dizelsaikam dulu satu buku baru di posting…biar kita jg focus bacanya…terkmkasih
    Salam dari penggemar cerita SHM

    • Gampang kok.

      Jangan baca sepenggal-sepenggal, tunggu setelah bundel ketiga selesai.

      hi hi hi …..

      • Mungkin dialog/cerita yang kurang perlu atau terlalu panjang bisa d kurangi, karena banyak sekali yang seperti itu… contohnya pisode ini dialog pandan wangi dengan ratri hampir menghabiskan jatah setengahnya sendiri… hehehe… mungkin bisa jadi masukan… tx

  3. Terima kasih mbah Man, ditunggu kelanjutannya

  4. Maaf …ikut coment lur…semoga kalian semua dalah keadaan sehat..amin

    Maaf sebelumnya …knp ceritanya hanya sepenggal-sepenggal ya?? Lebih lama nunggunya beresar dari pada saat membaca…coba kalau bisa…dizelsaikam dulu satu buku baru di posting…biar kita jg focus bacanya…terkmkasih

    Salam dari penggemar cerita SHM

  5. Menunggu saat penobatan raja baru dan selesainya laku aji pangangen-ngangen gak sabarrrrrrr

  6. Setya lenggah angantu wedharing sabda salajengipun🤲

  7. Tansah nengga kumitiring anggitanipun ki Mbah Man .

  8. Menunggu

  9. menunggu kelanjutannya mbah

  10. Menunggu🙏

  11. Bagian kedua STSD-30 sudah diunggah.

    Sanak-kdang yang menunggunya, silahkan kunjungi halaman yang tersedia.

    Monggo

  12. Ngenteni bundel nomer telu . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s