TADBM-398

<< kembali ke TADBM-397 | lanjut ke TADBM-399 >>

tadbm-398HATI Sekar Mirah benar-benar tinggal semenir melihat keadaan Ki Gede. Dicobanya untuk menolong pernafasan Ki Gede dengan membantunya duduk bersandar, namun akibatnya justru membuat Sekar Mirah semakin terisak, Ki Gede ternyata telah terbatuk batuk dan memuntahkan gumpalan darah yang berwarna kehitam-hitaman, walaupun tidak seberapa banyak.

“Ki Gede,” bisik Sekar Mirah diantara isaknya, “Bertahanlah, aku akan mengganti baju Ki Gede yang kotor ini, sementara biarlah para pelayan menyiapkan minuman hangat. Semoga Ki Jayaraga setelah selesai membersihkan diri, segera ke bilik ini pula untuk menjenguk Ki Gede.”

Ki Gede sama sekali tidak menjawab. Wajahnya terlihat sangat pucat dengan kedua mata yang terpejam rapat, sedangkan nafasnya masih saja memburu.

Baru saja Sekar Mirah beranjak dari duduknya, sudut matanya menangkap sesosok bayangan yang termangu-mangu di tengah-tengah pintu bilik Ki Gede.

“Prastawa,” geram Sekar Mirah dalam hati, “Untuk apa sepagi ini dia sudah datang ke rumah ini?” namun pertanyaan dalam hatinya itu segera dijawabnya sendiri, bukankah Prastawa itu kemenakan Ki Gede, sudah sewajarnyalah bila dia mengkhawatirkan kesehatan Pamannya. Namun Sekar Mirah menyadari bahwa kadang niat Prastawa itu tidak tulus.

Sebelum Sekar Mirah memutuskan apa yang akan diperbuatnya, terdengar suara orang tua yang sareh di belakang Prastawa, “Anakmas Prastawa, apakah aku diijinkan untuk memasuki bilik Ki Gede?”

“Oh, “ Prastawa terkejut, dengan cepat digeser tubuhnya kesamping, “Maafkan aku Ki Jayaraga, perhatianku sedang tertuju ke dalam bilik Ki Gede sehingga kedatangan Ki Jayaraga tidak aku dengar.”

Ki Jayaraga hanya tersenyum tipis saja, sambil melangkah masuk dia berbisik ke arah Prastawa yang berdiri beberapa jengkal saja di sebelah pintu, “Cepat panggil Tabib itu, kelihatannya keadaan Ki Gede semakin memburuk.”

Prastawa tanggap dengan apa yang dikatakan Ki Jayaraga, maka katanya kemudian juga dengan setengah berbisik, “Bagaimana dengan keluarga yang ada di Sangkal Putung?”

Ki Jayaraga menghentikan langkahnya sejenak, sambil berpaling ke arah Prastawa Ki Jayaraga pun menganggukkan kepalanya sambil berdesis, “Engkau dapat menyuruh dua atau tiga orang pengawal yang sudah mengenal Sangkal Putung untuk mengabarkan keadaan Ki Gede ini. Jangan lupa, keluarga Ki Waskita pun perlu diberi tahu.”

Prastawa mengangguk anggukan kepalanya. Setelah sekilas memandang ke arah Sekar Mirah yang sedang sibuk mengganti baju Ki Gede yang terkena ceceran muntahan darah , dengan langkah gontai dia meninggalkan bilik Ki Gede.

Pada hari itu, sebelum matahari naik sepenggalah, tiga orang pengawal sedang berpacu di atas punggung kuda menelusuri jalan-jalan di Tanah Perdikan Menoreh menuju ke Kademangan Sangkal Putung. Sedangkan untuk keluarga Ki Waskita, Prastawa telah menyuruh seorang pengawal saja karena tempat tinggal Ki Waskita tidak terlampau jauh bila dibandingkan dengan Kademangan Sangkal Putung.

Dalam pada itu, di sebuah hutan di lereng pegunungan Menoreh yang jarang disentuh oleh tangan manusia, sekelompok orang tampak berkumpul di sebuah tanah yang cukup datar dan lapang yang kelihatannya memang sengaja dibuat demikian itu untuk kepentingan mereka.

“Guru,” berkata seorang yang berperawakan pendek kekar dengan kumis yang jarang-jarang, “Menurut cerita orang-orang yang ada di pasar-pasar, Ki Argapati telah jatuh sakit dengan tiba-tiba, belum diketahui penyebab sakitnya. Bahkan Tabib yang terbaik yang ada di Tanah Perdikan ini belum bisa menyimpulkan apa penyakit yang diderita oleh Ki Argapati.”

Orang yang dipanggil Guru itu tertawa pendek, “Biar saja Argapati mati, apa peduliku. Tanah Perdikan ini akan kosong, tidak akan ada yang mampu memimpin Tanah ini sepeninggal Argapati. Menantunya yang sombong itu lebih memilih mengurusi Kademangannya sendiri, dia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi dengan Tanah Perdikan Menoreh. Sepeninggal Argapati, Menoreh benar-benar akan rapuh dan kita akan segera mengambil alih Tanah Perdikan ini.”

Orang-orang yang ada di sekelilingnya mengangguk anggukkan kepalanya, namun seorang yang berperawakan tinggi kurus dengan mata juling dan hidung bengkok seperti paruh burung rajawali mengangkat tangannya sambil bertanya, “Maafkan aku Guru, sepengetahuanku di Menoreh ini ada Agung Sedayu dengan pasukan khususnya. Bagaimanakah tanggapan Guru sehubungan dengan rencana pengambil alihan Tanah Perdikan ini sepeninggal Ki Argapati?”

“Engkau memang bodoh,” geram Gurunya, “Agung Sedayu sekarang sedang berada di Panaraga, sedangkan pasukan khususnya itu pun akan segera berangkat menyusul ke Panaraga untuk membungkam Pangeran Jayaraga yang berusaha memberontak kepada Mataram. Untuk menyerang Panaraga, Mataram tentu membutuhkan bantuan pasukan yang salah satunya dari Perdikan Menoreh. Nah, apakah engkau sudah dapat membayangkan apa yang akan terjadi sepeninggal Argapati di Menoreh ini? Pengawal-pengawal yang terpilih akan berangkat ke Panaraga, tinggallah cucurut-cucurut yang tak berarti, dengan mudah kita dapat menghancurkan mereka tidak lebih lama dari mijet wohing ranti.”

Orang yang berhidung bengkok seperti paruh burung rajawali itu termangu-mangu sejenak, kemudian katanya, “Tetapi apakah Mataram akan diam saja sekembalinya mereka dari Panaraga ketika mengetahui bahwa Tanah Perdikan Menoreh telah kita kuasai?”

“O, alangkah tumpulnya otakmu, Parta Juling, “ sekali lagi Gurunya menggeram, “Tentu saja kita tidak secara langsung mengambil alih Perdikan ini sepeninggal Argapati. Ada orang yang juga mempunyai hak atas tanah ini yang akan menjadi pemangku sementara, dan kita akan berdiri dibelakangnya untuk mengatur segala galanya yang berhubungan dengan tata pemerintahan Tanah Perdikan ini.”

Parta Juling kelihatannya masih kebingungan dengan penjelasan dari gurunya. Sementara bagi murid-murid yang lain lebih baik mereka diam saja. Biarlah urusan tetek bengek itu dipikir oleh Guru mereka, sedangkan mereka sebagai murid hanya siap menunggu perintah.

“Sudahlah,” berkata Gurunya kemudian, “Kita tunggu kedatangan Ki Harga Jumena dari Blambangan, ada hal-hal penting yang perlu kita bicarakan untuk mengatur langkah-langkah dimasa mendatang.”

Sejenak kemudian suasana hutan itu menjadi sunyi. Masing-masing sibuk dengan angan-angannya sendiri. Sementara suara kicau burung semakin ramai, diselingi dengan suara monyet yang berteriak teriak tidak menentu sambil berayun-ayun dari satu dahan ke dahan yang lain tidak jauh dari tempat mereka berkumpul. Agaknya binatang-binatang itu merasa terganggu dengan kehadiran manusia disekitar mereka.

Hampir sepeminum teh mereka yang ada di hutan itu menunggu, barulah orang yang mereka tunggu hadir. Seorang yang berperawakan kecil ramping, berumur kira-kira hampir setengah abad. Wajahnya cukup bersih dan dapat dikatakan tampan. Berpakaian serba hijau dengan ikat kepala kuning gading, beberapa rambutnya yang mulai berwarna putih tampak terjulur diantara ikat kepalanya.

“Selamat datang Ki Harga Jumena,” sapa orang yang disebut Guru itu, “Silahkan, untuk sementara kami belum bisa menyediakan tempat yang layak.”

“Ah, itu tidak menjadi soal, Ki Wasi Jaladara,” jawab Ki Harga Jumena, “Kami adalah orang-orang yang terbiasa hidup di alam bebas.”

Orang yang selama ini disebut Guru itu ternyata adalah Ki Wasi Jaladara dari perguruan Liman Benawi di Madiun. Orang yang berperawakan tinggi gagah dengan kumis melintang tetapi dengan dagu yang licin. Berikat kepala warna wulung dan berbaju hitam dengan kain panjang hitam bergaris garis putih.

Ki Harga Jumena dan murid muridnya yang berjumlah empat orang itu segera mencari tempat yang masih kosong. Setelah menanyakan keselamatan mereka dalam perjalanan, mulailah Ki Wasi Jaladara mengungkapkan maksudnya mengadakan pertemuan ditempat itu.

“Ki Harga Jumena,” berkata Ki Wasi Jaladara kemudian, “Dalam waktu dekat ini, dapat dipastikan kalau Argapati akan mati. Perdikan Menoreh akan kosong, karena pewaris utamanya, Swandaru suami Pandan Wangi itu pasti masih berat untuk meninggalkan Kademangannya. Perdikan Menoreh ini tentu akan menunjuk seorang pemangku sementara atas persetujuan keluarga Menoreh. Nah, saat itulah Ki Harga Jumena mempunyai peran yang sangat penting untuk merebut masa depan tanah ini.”

Ki Harga Jumena tertegun sejenak, sambil berpaling kearah murid muridnya, dia menjawab, “Kami dari perguruan Harga Belah sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Perdikan Menoreh. Kedatangan kami ke tanah ini adalah karena ada berita munculnya sebuah kitab pusaka warisan Empu Windujati yang dimiliki oleh pewaris perguruan orang bercambuk yaitu Ki Rangga Agung Sedayu dan Swandaru. Selebihnya kami tidak tahu menahu.”

Ki Wasi Jaladara tersenyum sambil mengangguk anggukkan kepalanya, kemudian sambil menatap tajam kearah Ki Harga Jumena, dia berdesis perlahan, “Bukankah semasa muda Ki Harga Jumena yang bernama Janu Ardi itu bersahabat karib dengan Ki Argajaya adik Ki Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh?”

“Ah, kejadian itu sudah sangat lama berlalu dan aku tidak yakin kalau Ki Argajaya masih mengingatku.” Jawab Ki Harga Jumena ragu-ragu.

“Justru pada saat inilah, Ki Harga Jumena dapat mengingatkan Ki Argajaya tentang persahabatan masa lalu itu, tetapi Ki Harga Jumena harus datang pada saat yang tepat, saat Ki Argajaya membutuhkan sebuah pertolongan.”

“Aku tidak mengerti.”

“Baiklah,” Ki Wasi Jaladara beringsut setapak maju, sambil mengedarkan matanya ke seluruh yang hadir ditempat itu, dengan perlahan lahan dia menjelaskan rencananya, “Sepeninggal Argapati, tidak ada lagi yang akan memimpin tanah Perdikan ini, semua orang yang mempunyai sangkut paut dengan Perdikan Menoreh sibuk dengan urusannya sendiri. Swandaru yang seharusnya mempunyai peran yang sangat penting, ternyata tidak bisa berpisah dengan kademangannya, Agung Sedayu yang bukan sanak bukan kadang dengan keluarga Menoreh akan disibukkan dengan urusan keprajuritan sehubungan dengan jenjang kepangkatan yang disandangnya, Prastawa adalah anak kemarin sore yang sama sekali diluar perhitungan. Nah, tinggal Ki Argajaya sebagai adik Ki Gede Menoreh yang pantas menjadi pemangku tanah Perdikan Menoreh ini.”

“Sejauh ini, adik Ki Gede Menoreh itu tidak mau berhubungan dengan urusan pemerintahan Perdikan Menoreh karena dosa yang telah dilakukannya dimasa lalu.” Sergah Ki Harga Jumena.

Sebuah senyuman tersungging di bibir Ki Wasi Jaladara, “Tentu saja Ki Argajaya tidak akan mencalonkan dirinya untuk menjadi pemangku tanah Perdikan ini, tetapi rakyat Perdikan Menoreh lah yang menghendaki.”

“Rakyat Perdikan Menoreh? Bagaimana mungkin?” hampir bersamaan orang-orang yang hadir disitu bergeremang termasuk Ki Harga Jumena.

Senyum Ki Wasi Jaladara semakin lebar. Ditegakkannya kepalanya sambil memandang sekelilingnya, seolah-olah kemenangan itu sudah ada ditangannya.

“Sekaranglah saatnya kita berbagi tugas,” berkata Ki Wasi Jaladara dengan bersungguh-sungguh. Senyumnya sudah hilang dari wajahnya, “Mulai saat ini kita akan menyebar ke seluruh padukuhan-padukuhan yang ada di perdikan Menoreh. Berilah kesan seolah-olah kalian adalah orang dari tempat lain yang singgah di tanah ini hanya sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Kalian dapat singgah di kedai-kedai yang ada di pasar-pasar atau tempat-tempat lain yang banyak dikunjungi orang. Sambil lalu tanyalah keadaan tanah ini, sekiranya mereka memberikan tanggapan, mulailah dengan pertanyaan siapakah yang pantas menggantikan Ki Argapati? Kalian pasti akan mendapatkan jawaban yang beragam. Nah, katakan pada mereka, mereka tidak usah mengharapkan Swandaru atau orang lain, tapi trah Menoreh yang sesungguhnya berhak atas tanah Perdikan ini adalah anak Swandaru dan Pandan Wangi itu.”

Sampai disini Ki Wasi Jaladara berhenti sejenak. Ditunggunya tanggapan dari mereka yang hadir disitu, namun kebanyakan dari mereka hanya menundukkan kepalanya.

“Sebentar, Ki Wasi,” ternyata Ki Harga Jumena tidak dapat menahan dirinya, “Tadi engkau mengatakan bahwa hanya Ki Argajaya yang berhak atas tanah Perdikan ini, bagaimana mungkin engkau menyebut anak Swandaru itu pula?”

Ki Wasi Jaladara tertawa pendek, kemudian lanjutnya, “Anak Swandaru itu aku sebutkan hanya sebagai pancingan saja. Orang-orang tentu akan bertanya, bagaimana mungkin anak yang masih belum cukup umur itu akan memimpin sebuah tanah Perdikan yang besar? Nah, kita dapat memberikan sumbangan pendapat bahwa anak itu perlu seorang pendamping yang masih punya trah Menoreh dan akan menjadi pemangku sementara tanah Perdikan Menoreh ini sambil menunggu dia cukup dewasa untuk menjalankan tugasnya, dan orang itu tidak lain adalah adik kandung Ki Gede Menoreh sendiri, Ki Argajaya.”

“Apakah Ki Argajaya akan bersedia menerima tugas itu?”

“Permasalahannya bukan mau atau tidak mau, tapi adalah kehendak rakyat tanah Perdikan Menoreh yang besar ini, apabila hampir seluruh rakyat tanah Perdikan ini menghendaki hal itu, tidak ada alasan bagi Ki Argajaya untuk menolaknya.”

Sejenak semua diam merenungi keterangan dari Ki Wasi Jaladara. Matahari telah naik semakin tinggi, namun karena hutan itu ditumbuhi pepohonan yang cukup lebat, sinar matahari tidak begitu kuat menerobos sela-sela dedaunan yang rimbun.

Ki Wasi Jaladara memandang wajah-wajah yang ada di sekelilingnya, dicobanya untuk menyelami tanggapan yang mungkin timbul diantara mereka, namun agaknya mereka masih menunggu keterangan dari rencananya selanjutnya.

“Pada saat Ki Argajaya dikukuhkan menjadi pemangku tanah Perdikan ini, peran dari Ki Harga Jumena sangat aku harapkan. Dengan mengingat persahabatan dimasa lalu, aku harapkan Ki Harga Jumena mendapat tempat yang penting dalam membantu Ki Argajaya memimpin tanah ini.”

“Apakah itu mungkin?” bertanya Ki Harga Jumena ragu-ragu. Pertanyaan yang sama ternyata telah tumbuh pula di setiap dada dari mereka yang hadir disitu.

“Itu perkara mudah, Ki Harga Jumena,“ jawab Ki Wasi Jaladara tenang, “Kami akan membuat sebuah ontran-ontran yang meresahkan hampir sebagian besar kawula tanah Perdikan Menoreh. Pada saat itulah Ki Harga Jumena hadir sebagai penyelamat dan pahlawan bagi rakyat Perdikan Menoreh. Hal ini tentu akan menjadi sebuah hutang budi bagi seorang sahabat lama. Dan selanjutnya, Ki Harga Jumena akan mendapat tempat di hati Ki Argajaya maupun rakyat Menoreh.”

Ki Harga Jumena termenung sejenak, kemudian katanya dengan sedikit ragu-ragu, “Selanjutnya, apakah yang dapat aku lakukan untuk Ki Wasi Jaladara?”

“Selanjutnya adalah peran Ki Harga Jumena untuk menerima kami sebagai saudara, sahabat atau apapun yang dapat dijadikan sebagai alasan sehingga kami dapat menyusup dan menjadi bagian dari tanah Perdikan Menoreh.”

Ki Harga Jumena termangu-mangu. Benar-benar sebuah rencana yang rumit dan memakan waktu yang cukup lama, namun semua itu mungkin saja dilakukan asalkan setiap pihak memegang rahasia serapat-rapatnya dan sabar dalam melaksanakan tugasnya masing-masing.

Kembali mereka yang hadir disitu terdiam. Masing-masing mulai membayangkan perannya dan hasil yang mungkin dapat mereka capai sesuai dengan gegayuhannya.

“Maafkan aku sebelumnya, Ki Wasi Jaladara,” suara Ki Harga Jumena memecah keheningan, “Seperti yang pernah aku utarakan sebelumnya, bahwa tujuanku jauh-jauh dari Blambangan ke tanah Perdikan ini adalah karena kitab perguruan Empu Windujati, adapun permasalahan yang menyangkut masa depan tanah ini adalah bukan urusanku. Seandainya benar bahwa engkau mempunyai kemampuan untuk mengetahui letak sebuah pusaka, baik itu berupa sebuah keris, tombak atau bahkan sebuah kitab pusaka sekalipun, aku akan sangat berterima kasih dan akan siap membantu tujuanmu menguasai tanah Perdikan ini jika engkau mau menunjukkan kepadaku, dimana kitab warisan Empu Windujati itu disembunyikan.”

Ki Wasi Jaladara menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk anggukkan kepalanya, kemudian katanya sambil memandang kearah murid muridnya, “Jumali, Santa dan Ranu, kalian dapat memberikan keterangan tentang usaha kalian untuk menjemput kitab itu di rumah Ki Rangga Agung Sedayu sesuai dengan petunjuk dari getaran yang berhasil aku terima tentang keberadaan kitab itu melalui sebuah laku yang cukup rumit.”

“Baik, Guru,” murid tertua dari padepokan Liman Benawi yang disebut Jumali itu bergeser setapak maju, sambil menganggukkan kepalanya kearah Ki Harga Jumena, dia pun mulai bercerita, “Pada malam itu, disaat Ki Rangga Agung Sedayu pergi ke Mataram, salah seorang saudara seperguruan kami, adi Ranu telah mengikuti perjalanannya ke Mataram, bahkan adi Ranu telah berhasil bertemu dengan Ki Rangga Agung Sedayu sendiri di istana kepatihan. Dari keterangan adi Ranu itulah, kami yakin bahwa Ki Rangga Agung Sedayu tidak akan segera kembali ke Menoreh malam itu juga, maka Aku dan adi Santa pun merencanakan untuk memasuki rumahnya keesokan harinya dengan perhitungan penghuni rumah itu sudah keluar semua. Orang yang bernama Ki Jayaraga itu dapat dipastikan pagi-pagi sekali telah berangkat ke sawah, sedangkan Nyi Agung Sedayu sudah terbiasa pergi ke pasar setiap pagi.”

Sampai disini Jumali berhenti sejenak. Setelah menarik nafas dalam-dalam, dia pun meneruskan ceritanya, “Setelah yakin bahwa rumah itu dalam keadaan kosong, kami pun memasukinya dari dua arah, aku dan adi Santa dari arah depan, sedangkan adi Ranu lewat pintu butulan dari halaman belakang. Sesuai dengan petunjuk Guru, memang kami dapat menemukan bilik Ki Rangga Agung Sedayu dengan dinding kamar yang bersekat rangkap, akan tetapi yang membuat kami tidak habis mengerti adalah, Kitab itu sudah tidak ada di tempatnya, yang tertinggal hanyalah sebuah kotak kayu tempat menyimpan kitab pusaka itu yang disembunyikan diantara sekat bilik yang rangkap.”

Ki Harga Jumena mengerutkan keningnya dalam-dalam, lalu katanya, “Jadi kalian benar-benar sudah berhasil memasuki bilik Ki Rangga Agung Sedayu?”

“Benar, Ki,” jawab Jumali, “Bahkan kami telah mencoba mengungkit papan penyekat biliknya dan hanya menemukan sebuah kotak kayu yang telah kosong isinya. Kuat dugaan kami bahwa sebelumnya kitab itu disimpan didalam kotak itu.”

Semua yang hadir disitu terdiam. Masing-masing mencoba menilai apakah sebenarnya yang telah terjadi. Ki Wasi Jaladara adalah seorang yang mumpuni lahir maupun batin. Ketajaman panggraitanya dalam melakukan tayuh terhadap benda-benda pusaka maupun mencari letak benda-benda pusaka termasuk kitab-kitab peninggalan dari para Empu dan Resi tidak diragukan lagi, namun kali ini ketajaman panggraitanya telah diuji. Kitab pusaka itu telah jengkar dari tempatnya tanpa diketahui apa penyebabnya.

“Guru,” tiba-tiba keheningan itu telah dipecahkan oleh suara Ranu yang bergetar menahan gejolak di dadanya, “Ada peristiwa yang mungkin ada sangkut pautnya dengan keberadaan kitab itu sebelum aku memasuki rumah Ki Rangga Agung Sedayu dari pintu butulan.”

Semua orang menjadi berdebar debar, demikian juga dengan Ki Wasi Jaladara. Sambil memandang tajam ke arah muridnya yang termuda diantara ketiga murid utamanya itu, dia berdesis perlahan, “Katakan Ranu, lebih baik engkau mengatakan yang sebenarnya, jangan sampai engkau membuat sebuah kesalahan di hadapan Gurumu.”

Keringat dingin tiba-tiba saja membasahi punggung Ranu, namun apaboleh buat, dia sudah terlanjur mengatakan sesuatu.

“Maafkan aku sebelumnya, Guru. Peristiwa itu kemungkinan ada sangkut pautnya dengan tugas kami, karena dalam perjalanan ke rumah Ki Rangga Agung Sedayu, aku telah berpapasan dengan anak muda yang biasa membantu di rumah Ki Rangga Agung Sedayu. Saat itu aku sedang menuruni tebing sungai yang terletak di sebelah barat Padukuhan induk Perdikan Menoreh. Anak itu aku jumpai justru sedang naik ke tebing yang sama hanya berjarak beberapa puluh langkah saja dariku sambil membawa sebuah buntalan di punggungnya.”

Ki Wasi Jaladara menggeram keras, setengah berteriak dia bertanya, “He, siapakah sebenarnya anak muda itu?”

“Dia adalah pembantu di rumah Ki Rangga Agung Sedayu,“ Jumali yang menyahut, “Menurut pengamatan kami selama ini, dia hanyalah anak muda yang sedang tumbuh seperti anak-anak muda yang lainnya. Tugasnya di rumah Ki Rangga Agung Sedayu hanya berkisar dari menyapu halaman, mengisi jambangan dan membelah kayu bakar.”

“Selain itu dia mempunyai kegemaran memasang rumpon di sungai, hampir tiap malam dia turun ke sungai padahal anak-anak muda seusianya sudah banyak yang beralih ke kegiatan yang lebih menantang.” Kali ini Santa yang sedari tadi diam saja telah menambah keterangan Jumali.

“Persetan dengan rumpon itu, “ geram Ki Wasi Jaladara, “Aku tidak peduli dengan semua itu, tapi kapan terakhir kalinya kalian melihat anak itu masih di rumah Ki Rangga Agung Sedayu?”

Ketiga muridnya saling berpandangan. Mereka memang tidak begitu menaruh perhatian terhadap Sukra, pembantu yang ada di rumah Ki Rangga Agung Sedayu. Bagi mereka Sukra tidak lebih dari anak muda yang mempunyai kegemaran turun ke sungai hampir setiap malam.

Melihat ketiga muridnya hanya saling pandang tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kemarahan Ki Wasi Jaladara sudah tak terbendung lagi. Disertai dengan teriakan yang menggelegar, diangkatnya tangan kanannya tinggi-tinggi. Dari telapak tangan yang mengembang itu, seberkas sinar meluncur menyambar seonggok batu padas sebesar kerbau yang terletak beberapa depa di belakang murid muridnya.

Sebuah ledakan dahsyat segera terjadi disertai debu yang berhamburan ke segala penjuru. Sejenak pemandangan menjadi kabur oleh debu yang berhamburan. Agaknya kemarahan Ki Wasi Jaladara benar-benar sudah sampai ke puncaknya sehingga dia telah mengeluarkan ilmu andalannya. Aji Tapak Liman.

“O, alangkah bodohnya kalian,” geram Ki Wasi Jaladara memaki murid-muridnya, “Percuma saja aku menjalani laku yang cukup rumit untuk mencari petunjuk tentang keberadaan kitab peninggalan Empu Windujati. Kalian telah teledor dan gegabah dalam menyikapi keadaan di sekeliling kalian. Ingat, aku telah berpesan untuk mengamat amati semua orang yang ada di rumah Ki Rangga Agung Sedayu dan ternyata kalian telah melewatkan seorang anak muda pembantu rumah tangga Ki Rangga Agung Sedayu. Kalian benar-benar bodoh!”

Ketiga murid utama padepokan Liman Benawi itu hanya dapat menundukkan kepalanya dalam-dalam. Baru sekarang mereka menyadari, betapa bodohnya mereka yang menganggap Sukra hanyalah anak muda kebanyakan. Namun satu hal yang mereka tidak habis mengerti, seandainya benar Sukra yang mengambil kitab itu, dari mana dia mengetahui keberadaan kitab yang tersembunyi di dalam dinding rangkap bilik Ki Rangga Agung Sedayu?

Sementara itu, hari telah semakin siang. Seberkas sinar matahari yang mampu menerobos disela-sela lebatnya dedaunan telah menyentuh dan menyengat kulit mereka yang sedang berkumpul di tengah hutan itu. Binatang-binatang hutan masih saling bersahutan memperdengarkan suaranya. Seekor monyet yang cukup besar dengan memekik-mekik telah bergelantungan diantara cabang-cabang pepohonan mendekati manusia-manusia yang baginya telah mengganggu kebebasannya.

“Baiklah,” akhirnya Ki Wasi Jaladara berkata, “Aku akan berusaha lagi menemukan letak kitab perguruan Windujati itu. Namun aku minta waktu barang sepekan. Aku sendiri yang akan menelusuri keberadaan kitab itu.”

“Terima kasih, Ki Wasi,” sahut Ki Harga Jumena sambil tersenyum, “kami tidak terikat dengan perjanjian ini, siapapun yang berhasil mendapatkan kitab itu, kami akan bersedia menukarnya dengan apapun asalkan bukan nyawa kami yang diminta.”

“Gila,” geram Ki Wasi Jaladara, “Memang sulit mengikat seorang Harga Jumena dengan segala macam perjanjian, namun baiklah, dalam waktu sepekan engkau sudah akan mendapatkan beritanya.”

“Berhasil maupun tidak berhasil?”

“Ya, berhasil maupun tidak berhasil.”

Demikianlah, akhirnya mereka yang sedang berkumpul di tengah hutan itu kemudian membubarkan diri. Masing-masing akan menempuh jalan sesuai dengan rencana mereka.

Sementara itu tiga orang pengawal yang telah diutus untuk memberi khabar kepada Pandan Wangi di Sangkal Putung sedang berderap dengan kencang di bulak-bulak panjang. Ketika kaki-kaki kuda mereka mulai menyentuh tanah yang berpasir, mereka pun segera mengurangi laju kuda-kuda mereka. Tepian kali Praga sudah terlihat dan mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan tanpa beristirahat terlebih dahulu.

Ketika seorang tukang satang telah menyeberangkan mereka bertiga ke sisi lain dari kali Praga, dengan segera mereka meloncat ke punggung kuda masing-masing. Untuk menghindari berbagai pertanyaan dan permasalahan yang mungkin saja timbul dari akibat kesalah pahaman dengan para prajurit Mataram, mereka sengaja tidak melintasi kota Mataram. Dengan sedikit memutar serta melalui padukuhan-padukuhan yang sepi, ketiganya telah memasuki Kademangan Jati Anom ketika langit sudah mulai gelap. Jalan-jalan mulai diterangi oncor-oncor dari biji jarak atau minyak kelapa yang disangkutkan di regol-regol rumah sepanjang jalan utama Kademangan Jati Anom.

Dengan hati yang berdebar debar mereka mencoba bersikap sewajarnya ketiga beberapa prajurit yang sedang meronda berpapasan diujung jalan justru ketika mereka sudah keluar dari Kademangan Jati Anom menuju daerah yang disebut Macanan yang terkenal angker karena diyakini oleh penduduk sekitar itu terdapat harimau jadi-jadian.

Ternyata para prajurit yang sedang meronda itu hanya memandang sekilas kepada mereka, sedangkan ketiga pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu dengan memperlambat langkah kuda-kuda mereka telah menganggukkan kepala sambil mencoba tersenyum untuk menghindari kesalah pahaman yang mungkin bisa terjadi.

Demikianlah, akhirnya ketika hari sudah menjelang wayah sepi bocah, ketiga pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu dengan dada yang berdebar debar memasuki regol padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung.

Ternyata gardu di regol padukuhan induk itu sudah terisi beberapa anak muda walaupun hari masih belum begitu malam. Seorang anak muda yang berperawakan tinggi kurus dengan wajah yang lonjong dan berkumis tipis telah meloncat turun dari gardu yang terletak disisi kiri regol dari arah para pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu datang.

Dengan mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, anak muda yang kekurus-kurusan itu berkata setengah berteriak, “Sebentar Ki sanak bertiga, berhentilah. Kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada kalian sebelum kalian melanjutkan perjalanan.”

Ketiga pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu saling pandang sambil menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah sudah berjanji, ketiganya pun segera mengekang kuda-kuda mereka untuk kemudian dengan tergesa-gesa meloncat turun.

“Apakah kami berhadapan dengan para pengawal Kademangan Sangkal Putung?” bertanya salah seorang dari pengawal Tanah Perdikan Menoreh setelah mereka berdiri tegak disisi kuda masing-masing.

“Benar,“ jawab anak muda yang kekurus-kurusan itu, “Siapakah kalian ini, dan kemanakah tujuan kalian?”

Pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang bertanya itu tersenyum sambil mengangguk anggukkan kepalanya, kemudian sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling regol, dia melanjutkan, “Kami adalah para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh, kami diutus untuk menghadap Ki Swandaru dan Nyi Pandan Wangi.”

Anak muda yang bertubuh tinggi kurus itu mengerutkan keningnya. Sekilas dia dapat menangkap kesungguhan dibalik kata-kata orang yang mengaku sebagai pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu, namun sebagai pengawal Kademangan Sangkal Putung yang malam itu sedang bertugas menjaga keamanan lingkungan padukuhan induk, tidak ada salahnya untuk berlaku hati-hati dalam menghadapi setiap persoalan.

“Apakah Ki sanak dapat menunjukkan kepada kami suatu pertanda atau apapun yang dapat dijadikan bukti bahwa Ki sanak bertiga adalah pengawal-pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh?” akhirnya anak muda yang bertubuh tinggi kurus itu kembali bertanya.

Ketiga pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh itu saling pandang. Mereka memang tidak diberi pertanda atau serat kekancingan yang dapat membuktikan bahwa mereka adalah para pengawal Tanah Perdikan Menoreh, justru mereka berpikir bahwa yang mereka kunjungi itu masih terhitung kerabat dekat dari Menoreh.

“Ki sanak,” akhirnya pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang berdiri di tengah menyahut, “kami memang tidak dibekali pertanda ataupun serat kekancingan sebagai bukti jati diri kami, namun sesungguhnya lah kami bertiga ini adalah para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh, itu dapat kami buktikan di hadapan Nyi Pandan Wangi, dia pasti mengenali kami sebagaimana dia mengenali Menoreh, tanah kelahirannya.”

Ternyata percakapan itu telah menarik perhatian anak-anak muda yang sedang duduk-duduk di gardu sambil bermain mul-mulan. Satu persatu dari mereka telah turun dari gardu dan berjalan menuju ke tempat ketiga pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu berdiri.

Melihat perkembangan keadaan yang dapat saja menimbulkan ketegangan diantara mereka, dengan tergesa-gesa salah seorang pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh itu berkata, “Bawalah kami menghadap Nyi Pandan Wangi, kami membawa berita yang sangat penting dari Menoreh.”

Seorang anak muda yang bertubuh agak gemuk dan berwajah bulat yang telah tiba lebih dahulu di tempat itu dari kawan kawannya tiba-tiba saja menyahut dengan suara agak keras, “kami tidak akan menghadapkan seseorang yang tidak jelas jati dirinya kepada para pemimpin kami, kecuali apabila kalian tidak berkeberatan menitipkan senjata-senjata kalian itu kepada kami.”

Hampir berbareng ketiga pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh itu mengumpat dalam hati. Senjata bagi mereka adalah tak ubahnya dengan nyawa mereka sendiri. Menyerahkan senjata berarti menyerahkan nyawa.

Namun mereka bertiga tidak mempunyai pilihan lain. Sebelum anak-anak muda Sangkal Putung itu semakin banyak mengerumuni mereka, dengan tersenyum seolah-olah tidak ada beban yang berarti, ketiganya pun kemudian meloloskan senjata-senjata mereka berikut sarungnya.

“Terima kasih,” berkata anak muda yang bertubuh kurus itu sambil menerima senjata-senjata itu, “untuk tidak merepotkan perjalanan kita menuju rumah Ki Demang, biarlah kami yang menuntun kuda-kuda kalian.”

Sebuah desir tajam terasa menggores jantung ketiga pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh itu, namun mereka berusaha untuk mengendapkan perasaan mereka dan membuang jauh-jauh kesan itu agar tidak semakin memperuncing keadaan.

Ketika kemudian mereka dengan berjalan beriringan menuju ke rumah Ki Demang Sangkal Putung, diam-diam ketiga pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh itu memuji kecerdikan dan sikap waspada yang ditunjukkan oleh mereka selama perjalanan menuju rumah Ki Demang Sangkal Putung.

Ternyata secara tidak langsung ketiga pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh itu telah dikepung. Dengan menempatkan dua orang pengawal di depan serta masing-masing seorang pengawal di kedua sisi mereka bertiga, rasa rasanya gerak mereka sangat dibatasi. Apalagi di belakang mereka ada tiga orang pengawal Sangkal Putung yang berjalan sambil menuntun kuda-kuda mereka.

Demikianlah akhirnya iring-iringan itu bergerak menyusuri lorong-lorong padukuhan menuju ke rumah Ki Demang. Sepanjang jalan iring-iringan itu telah menarik perhatian beberapa orang yang berpapasan dengan mereka, bahkan anak-anak muda yang sedang berkumpul di gardu simpang jalan yang menuju rumah Ki Demang Sangkal Putung pun telah berloncatan dari gardu dan dengan tergesa-gesa mengikuti iring-iringan yang semakin panjang itu.

Tidak ada seorang pun yang berusaha menanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi, dan kelihatannya memang itu tidak perlu. Mereka beranggapan bahwa persoalan itu pasti akan dibawa ke hadapan Ki Demang dan ternyata mereka lebih senang mendengar sendiri nanti apa yang akan terjadi di rumah Ki Demang Sangkal Putung.

Ketika seorang pengawal yang sedang bertugas menjaga regol halaman rumah Ki Demang Sangkal Putung melihat iring-iringan yang sangat panjang itu menuju ke arahnya, sejenak dia berusaha untuk meyakinkan penglihatannya. Dengan berdebar debar diamat-amatinya iring-iringan itu, namun dia tidak bisa menduga apa yang sebenarnya akan dilakukan oleh orang-orang yang ada dalam iring-iringan itu, sehingga dengan tergesa-gesa dia segera berlari menyeberangi halaman untuk kemudian naik ke pendapa.

Ketika penjaga itu tinggal selangkah lagi di depan pintu serambi yang menyekat antara pendapa dan ruang dalam, sejenak dia termangu-mangu sambil sesekali berpaling ke belakang untuk meyakinkan bahwa iring-iringan itu benar-benar menuju ke rumah Ki Demang. Akhirnya dengan tangan yang sedikit gemetar, pengawal itu pun kemudian mengetuk pintu serambi dengan ketukan tiga kali ganda.

Swandaru dan Ki Demang yang memang belum tidur dan masih berbincang bincang seputar keadaan Kademangan Sangkal Putung terkejut mendengar ketukan di pintu. Ketukan tiga kali dengan irama ganda adalah sebuah isyarat yang telah disepakati bahwa keadaan diluar memerlukan perhatian yang seksama. Sambil membenahi kain panjangnya, sejenak kemudian Swandaru pun segera berdiri dan berjalan menuju ke pintu.

Bersamaan dengan terbukanya pintu serambi, ternyata iring-iringan itu telah mencapai regol rumah Ki Demang. Dengan suara yang hiruk pikuk mereka pun menerobos regol. Segera saja mereka bergerak mendekati pendapa.

Swandaru yang masih berdiri termangu-mangu di pintu serambi benar-benar terkejut, tanpa disadarinya pengawal yang berdiri di depannya didorongnya kesamping sehingga terhuyung-huyung hampir jatuh.

Menyadari kejadian yang tidak disengajanya itu, Swandaru sempat tertegun sejenak, namun kemudian perhatiannya segera saja tertuju kepada beberapa orang yang mulai naik ke pendapa.

“He,” setengah berteriak Swandaru berkata sambil melangkah maju, “Apa yang sebenarnya sedang terjadi?”

Para pengawal yang membawa ketiga pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh itu sejenak bagaikan membeku di tempatnya. Segera mereka menyadari bahwa kesan pertama kali yang mereka bawa ke rumah Ki Demang adalah kesan yang mendebarkan, sedangkan persoalannya yang sebenarnya belum begitu jelas.

“Maafkan kami, Ki Swandaru,” anak muda yang bertubuh kurus itulah yang akhirnya menjawab, “kami membawa tiga orang yang mengaku dari Tanah Perdikan Menoreh yang ingin bertemu dengan Nyi Pandan Wangi.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Diedarkan pandangan matanya ke arah kerumunan orang-orang yang berdiri dihadapannya. Segera saja dia mengetahui siapakah yang mereka maksud, karena sebagai pemimpin anak-anak muda Sangkal Putung, Swandaru hampir mengenal semua anak-anak muda yang berada di bawah pimpinannya.

Merasa Swandaru sedang memandangi mereka, ketiga pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh itu pun segera bergeser kedepan. Sambil menganggukkan kepalanya dalam-dalam, salah satu dari mereka berkata, “Selamat malam Ki Swandaru, mohon dimaafkan telah mengganggu istirahat Ki Swandaru. Sesungguhnyalah kami para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh mohon diijinkan untuk menghadap.”

“Mohon dimaafkan, Ki Swandaru,“ anak muda yang bertubuh kurus itu menyela, “Mereka memang mengaku pengawal dari tanah Perdikan Menoreh, namun mereka tidak mampu menunjukkan siapa sebenarnya mereka, tidak ada satu pun ciri atau pertanda yang dapat dijadikan bukti bahwa mereka benar-benar pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh.”

Sejenak Swandaru termangu-mangu mendengar ucapan anak muda yang bertubuh kurus itu. Swandaru memang tidak mengenal banyak tentang seluk-beluk Tanah Perdikan Menoreh, apalagi para pengawalnya, karena hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk membina tanah kelahirannya, Sangkal Putung.

Para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh itu saling berpandangan sejenak ketika melihat Swandaru hanya berdiam diri saja, namun kemudian dengan memberanikan diri salah satu dari mereka berkata, “Kami dapat membuktikan bahwa kami adalah para pengawal Tanah Perdikan Menoreh di hadapan Nyi Pandan Wangi, karena Nyi Pandan Wangi pasti mengenal kami sebagaimana dia mengenal tanah kelahirannya dengan sebaik-baiknya, tanah Perdikan Menoreh.”

Dada Swandaru terasa berdesir mendengar ucapan salah seorang pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh itu. Secara tidak langsung seakan akan pengawal itu telah menyindirnya. Dia yang selama ini menjadi suami Pandan Wangi dan sekaligus pewaris trah Menoreh ternyata tidak dapat mengenali pengawal-pengawal dari Menoreh, suatu hal yang sangat disayangkan dan dipertanyakan akan kepeduliannya terhadap tanah kelahiran istrinya itu.

Keributan di pendapa itu ternyata telah menarik perhatian Ki Demang Sangkal Putung. Ki Demang yang sebelumnya duduk-duduk di serambi dan telah menyerahkan persoalan yang mungkin akan timbul kepada Swandaru sepenuhnya, terpaksa berdiri dan melangkah keluar ke pendapa.

Sementara itu di pendapa Swandaru sedang berunding dengan para pengawalnya tentang apa yang sebaiknya mereka lakukan. Tidak ada seorang pun yang mengenal ketiga orang yang mengaku dari Tanah Perdikan Menoreh itu. Satu satunya jalan adalah memanggil Pandan Wangi untuk mengenali mereka, namun persoalannya adalah keseganan Swandaru untuk berbicara dengan Pandan Wangi. Sudah beberapa bulan ini mereka tidak lagi tidur dalam satu bilik. Swandaru memilih tidur di amben besar yang ada di ruang tengah, sedangkan Pandan Wangi tidur di biliknya dengan anaknya. Hubungan mereka akhir-akhir ini memang menjadi dingin, sedingin malam-malam di musim kemarau yang panjang.

Baru saja Ki Demang membuka pintu yang membatasi pringgitan dengan pendapa, tiba-tiba saja sesosok tubuh yang ramping menyelinap diantara celah pintu yang baru terbuka sebagian dengan disertai sebuah jerit seorang perempuan.

“Kakang Santa, engkaukah itu, Kakang?”

Serentak semua mata yang ada di pendapa itu terbelalak memandang kearah suara jeritan itu berasal. Seorang perempuan paruh baya yang masih terlihat sangat cantik dengan rambut dibiarkan jatuh terurai tampak berdiri termangu-mangu membelakangi Ki Demang yang berdiri di tengah-tengah pintu pringgitan. Wajahnya yang cantik itu terlihat pucat dan bersimbah air mata.

“Nyi Pandan Wangi,” bagaikan dengung ribuan lebah, orang-orang yang ada di pendapa itu bergumam.

Perempuan paruh baya yang memang Pandan Wangi itu hampir tak kuasa menahan gejolak di dadanya. Sebagai seorang anak yang sangat mencintai ayahnya dan tanah kelahirannya, hatinya benar-benar tergoncang melihat kedatangan para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh itu. Berbagai tanggapan telah muncul di hatinya, namun hanya satu yang sangat membebani hatinya, keadaan dan kesehatan ayah tercinta, Ki Argapati.

“Wangi, apakah tidak sebaiknya engkau persilahkan tamu-tamu kita ini untuk duduk di pringgitan?” tiba-tiba suara lembut dibelakangnya telah menyadarkan Pandan Wangi dari lamunannya.

Sejenak Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam untuk mengurangi debar di jantungnya, kemudian katanya sambil melangkah kedepan, “Maafkan kami atas sambutan yang kurang menyenangkan ini, Kakang. Adalah wajar apabila para pengawal Sangkal Putung tidak mengenal kakang bertiga, karena jarak yang sangat jauhlah yang membuat kita tidak dapat saling berkunjung dan mempererat tali persaudaraan antara Menoreh dan Sangkal Putung.”

Kata-kata Pandan Wangi itu bagaikan palu godam yang menghantam dinding-dinding hati Swandaru. Betapapun jauhnya jarak yang harus ditempuh, adalah sudah menjadi kuwajibannya sebagai menantu satu satunya dari Ki Gede Menoreh untuk membina Tanah kelahiran istrinya itu.

Pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang bernama Santa itu sejenak termangu-mangu, namun dengan cepat segera saja dibungkukkan badannya sambil berkata, “Kami bertigalah yang seharusnya meminta maaf. Kami datang di waktu yang kurang tepat serta tidak ada pertanda apapun yang kami bawa yang dapat menunjukkan jati diri kami sebagai pengawal Tanah Perdikan Menoreh.”

“Sudahlah,” Ki Demang lah yang menyahut sambil membuka pintu pringgitan lebar-lebar, “Marilah kita duduk di pringgitan, sambil membicarakan segala sesuatu yang berkenaan dengan kunjungan Ki Sanak bertiga.”

Kemudian katanya kepada Swandaru, “Semuanya sudah jelas, Swandaru. Engkau dapat membubarkan kerumunan ini agar tidak menimbulkan kesalah pahaman bagi mereka yang belum mengetahui duduk permasalahannya.”

Swandaru hanya dapat mengangguk anggukkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ketika kemudian ketiga pengawal dari tanah Perdikan Menoreh itu berjalan mengikuti Pandan Wangi dan Ki Demang Sangkal Putung memasuki pringgitan, terasa dada Swandaru menjadi sesak. Berbagai perasaan bercampur aduk di dalam dadanya.

Sementara itu, di dalam pringgitan Ki Demang telah mempersilahkan tamu tamunya duduk diatas tikar pandan yang dibentangkan di tengah-tengah ruangan, sedangkan Pandan Wangi telah menyempatkan diri ke dapur untuk memberitahu para pelayan agar menyiapkan minuman hangat dan makan sekedarnya walaupun malam sudah semakin dalam.

Setelah membenahi pakaiannya dan menyanggul rambutnya, Pandan Wangi pun kemudian bergabung dengan ketiga tamunya di pringgitan.

Setelah menanyakan keselamatan para tamunya selama dalam perjalanan, akhirnya dengan sedikit berdebar debar Pandan Wangi pun menanyakan keperluan ketiga pengawal itu mengunjungi Sangkal Putung.

“Nyi Pandan Wangi,” sambil beringsut setapak maju Santa mencoba menjelaskan maksud kedatangan mereka ke Sangkal Putung, “Kami bertiga diutus oleh Anakmas Prastawa untuk menyampaikan berita kepada Nyi Pandan Wangi di Sangkal Putung tentang kesehatan dari Ki Gede Menoreh akhir-akhir ini.”

Walaupun sudah dapat menduga sebelumnya tentang masalah apa yang akan disampaikan Santa kepadanya, namun tak urung kata-kata Santa itu telah membuat jantung Pandan Wangi berdegub semakin kencang. Bayangan tentang Ayahnya yang sudah tua dan kesepian sedang tergeletak tak berdaya di atas pembaringan, benar-benar telah menggoncangkan hatinya. Dengan menahan tangis sedapat mungkin, akhirnya Pandan Wangi pun berkata pelan, “Baiklah Kakang, kalau Kakang tidak merasa lelah, aku akan ikut Kakang bertiga besuk pagi untuk pergi ke Menoreh menjenguk Ayah Argapati.”

Justru Ki Demang lah yang menjadi terkejut, “Begitu tergesa-gesa, Wangi? Apakah tidak sebaiknya kita beri kesempatan kepada tamu-tamu kita untuk beristirahat barang sehari dua hari?”

Pandan Wangi menggelengkan kepalanya, “Itu terserah kepada mereka Ayah, bagiku semakin cepat aku berangkat ke Menoreh, semakin cepat aku mengetahui keadaan Ayah Argapati.”

Ki Demang Sangkal Putung hanya dapat saling berpandangan dengan ketiga tamunya. Sebagai orang tua, dia sudah dapat meraba hubungan yang terjadi akhir-akhir ini antara anaknya dengan menantunya. Tidak sewajarnyalah jika Pandan Wangi memutuskan sendiri untuk berangkat ke Menoreh tanpa persetujuan suaminya, namun itulah yang terjadi, Pandan Wangi sudah terlalu banyak bersabar dan mengalah.

Perbincangan itu sejenak terhenti ketika seorang pelayan menghidangkan minuman hangat dan beberapa penganan.

“Apakah makan malam untuk ketiga tamu kita ini sudah siap?” bertanya Pandan Wangi kepada pelayan rumah Ki Demang setelah dia selesai menyajikan minuman dan beberapa potong penganan.

“Sudah Nyi,” jawab pelayan itu sambil membungkuk hormat,
“Apakah makan malam itu harus kami siapkan di pringgitan ini juga?”

“Tidak usah repot-repot,” justru Santa lah yang menyahut dengan cepat, “Biarlah kami bertiga nanti makan di dapur saja.”

Pandan Wangi tersenyum. Sudah menjadi kebiasaan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh apabila mereka mendapat giliran jaga di rumah Ki Gede, mereka lebih senang makan di dapur secara bergiliran, dengan demikian mereka dapat makan sekenyangnya.

“Baiklah,” berkata Pandan Wangi kemudian, “kembalilah ke dapur, nanti apabila tamu kita sudah merasa lapar, mereka akan mencari sendiri ke dapur.”

“Ah,” Ki Demang berdesah, “Bukan maksud kami untuk tidak melayani tamu dengan baik, namun anggaplah rumah ini sama dengan rumah di Menoreh, karena betapa pun juga Pandan Wangi adalah salah satu tuan rumah disini.”

Ketiga pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu mengangguk anggukkan kepalanya sambil menghirup wedang sere hangat dan mengunyah ketela yang direbus dengan santan dan gula aren. Alangkah nikmatnya setelah perjalanan yang cukup jauh. Rasa rasanya mereka ingin segera membersihkan diri untuk kemudian merebahkan diri diatas amben yang luas dan mendengkur sepuas puasnya sampai pagi.

Sementara itu, Ki Demang yang sedang menemani ketiga tamunya di pringgitan merasa aneh. Sudah sedemikian lama namun Swandaru belum juga masuk ke dalam. Lamat-lamat Ki Demang masih mendengar percakapan yang terjadi di luar walaupun tidak jelas, namun yang membuat Ki Demang menjadi berdebar debar adalah nada percakapan itu terasa semakin meninggi, bahkan sesekali terdengar Swandaru membentak bentak.

Untuk sejenak Ki Demang ragu-ragu atas pendengarannya sendiri, dicobanya untuk melihat kesan di wajah Pandan Wangi yang duduk disebelahnya, namun kesan yang di tangkap oleh Ki Demang tidak lebih dari seraut wajah yang murung dengan kepala tunduk.

“Kakang Santa,” tiba-tiba suara Pandan Wangi memecah kebisuan, “Siapakah yang mengurusi Ayah Argapati selama sakit?”

“Nyi Sekar Mirah yang biasanya mengawani Ki Gede dan mengurusi kebutuhan Ki Gede sehari hari, sedangkan Ki Jayaraga biasanya menemani Ki Gede di malam hari.”

“Sekar Mirah?” Pandan Wangi mengulang, “Apakah dia tidak disibukkan dengan urusan rumah tangganya sendiri?”

Santa dan kawan kawannya saling berpandangan sejenak. Agaknya berita dari keluarga Menoreh benar-benar belum sampai di Sangkal Putung. Akhirnya Santa memutuskan untuk memberikan penjelasan sejauh yang dia ketahui.

“Maafkan kami, Nyi,” berkata Santa berusaha untuk menjelaskan keadaan keluarga di Menoreh, “Nyi Sekar Mirah telah agak lama tinggal di rumah Ki Gede, jauh sebelum Ki Gede jatuh sakit karena Ki Rangga Agung Sedayu mendapat tugas untuk melawat ke Panaraga.”

“Ke Panaraga?”

“Benar, Nyi. Hubungan Mataram dengan Panaraga akhir-akhir ini semakin panas.”

“Tapi bukankah di rumah Ki Rangga Agung Sedayu ada beberapa orang yang dapat menemani Sekar Mirah selama ditinggal suaminya ke Panaraga?”

Santa dan kawan kawannya saling berpandangan sejenak. Kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam Santa pun melanjutkan kata katanya, “Maksud Nyi Pandan Wangi Glagah Putih dan Rara Wulan?”

Perlahan Pandan Wangi menggeleng, “Glagah Putih dan Rara Wulan sudah mendahului berangkat ke Panaraga beberapa bulan yang lalu dan mereka sempat mampir ke sini untuk berpamitan. Yang aku maksud adalah Ki Jayaraga dan pembantu rumah tangga Ki Rangga Agung Sedayu.”

“Memang masih ada Ki Jayaraga,” jawab Santa, kemudian lanjutnya, “Sedangkan pembantu rumah Ki Rangga Agung Sedayu itu sudah beberapa bulan ini tidak kelihatan, mungkin karena Nyi Sekar Mirah tinggal di rumah Ki Gede sehingga dia kembali ke rumah orang tuanya, barangkali.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. Masih ada satu pertanyaan baginya yang belum terjawab, mengapa sepeninggal Ki Rangga Agung Sedayu yang melawat ke Panaraga Sekar Mirah memilih tinggal di rumah ayahnya, Ki Gede Menoreh.

Agaknya Santa dapat mengerti jalan pikiran Pandan Wangi, maka kemudian katanya, “Ki Rangga Agung Sedayu sendirilah yang menghendaki Nyi Sekar Mirah tinggal di rumah Ki Gede selama ditinggal ke Panaraga?”

“Mengapa?” terkejut Pandan Wangi sambil memandang ke arah Santa.

Sejenak Santa menjadi heran, ternyata keluarga di Sangkal Putung ini belum mengetahui juga kabar tentang kehamilan istri Ki Rangga Agung Sedayu.

Akhirnya dengan perlahan lahan agar tidak mengejutkan, Santa pun mencoba menjelaskan keadaan rumah tangga Ki Rangga Agung Sedayu beberapa bulan terakhir ini, “Ki Rangga Agung Sedayu menghendaki istrinya tinggal di rumah Ki Gede agar ada perempuan yang mengawasi dan membimbing Nyi Sekar Mirah dalam melewati hari-hari menjelang persalinannya sekitar dua atau tiga bulan kedepan.”

“He,” hampir berbareng Ki Demang dan Pandan Wangi terlonjak kaget.

Tiba-tiba Ki Demang bergeser kedepan sambil mengguncang-guncang bahu Santa, “Apa katamu? Benarkah anakku Sekar Mirah telah mengandung?”

“Demikianlah Ki Demang, seluruh keluarga yang ada di Menoreh telah menunggu hari-hari bahagia keluarga Ki Rangga Agung Sedayu itu menjelang, semoga tidak ada satu pun aral yang melintang.”

“Ayah.!” Tiba-tiba terdengar isak Pandan Wangi sambil memeluk Ki Demang.

“Puji syukur kita panjatkan kepada Yang Maha Agung yang telah berkenan mengabulkan doa kita semua,” desis Ki Demang sambil membelai kepala Pandan Wangi.

Berita itu benar-benar telah mengguncang hati keluarga Sangkal Putung. Untuk sejenak mereka tenggelam dalam angan-angan masing-masing.

“Sudahlah Wangi,” akhirnya Ki Demang mencoba melepaskan pelukan Pandan Wangi, “Marilah kita semua mendoakan keluarga Ki Rangga Agung Sedayu agar selalu di beri keselamatan dan kesehatan.”

Pandan Wangi mengangguk perlahan sambil berusaha mengusap air matanya. Hatinya benar-benar trenyuh. Betapapun Pandan Wangi tidak pernah bisa melupakan sosok seorang Agung Sedayu yang pertama kali dikenalnya sebagai seorang gembala bernama Gupita dengan permainan serulingnya yang menawan hati. Alangkah indahnya hari-hari waktu itu baginya. Mereka sempat bertempur berpasangan melawan Ki Peda Sura, kemudian melarikan diri dari kejaran anak buahnya yang berjumlah cukup banyak. Berlari larian diantara pematang dan gerumbul-gerumbul liar sambil bergandengan tangan. Entah perasaan apa yang timbul di hatinya waktu itu, demikian saja hal itu terjadi, dengan tanpa ragu-ragu Gupita meraih tangannya dan menariknya sambil berlari menghindari kejaran anak buah Ki Peda Sura. Dalam keadaan wajar hal itu tentu akan sangat memalukan bagi seorang gadis seperti dirinya yang belum pernah bersentuhan dengan laki-laki, namun justru itulah kenangan terindah dalam hidupnya.

Namun lamunan Pandan Wangi tiba-tiba terputus ketika sekali lagi terdengar bentakan Swandaru yang cukup keras disertai dengan suara tawa seseorang yang berkepanjangan dan menyakitkan telinga.

Hampir berbareng mereka yang ada di pringgitan itu mengangkat kepala sambil mencoba mempertajam pendengaran mereka. Namun agaknya Ki Demang sudah tidak dapat menahan hati lagi, dengan tergesa-gesa dia segera berdiri kemudian dengan langkah yang setengah berlari menuju pintu pringgitan.

Ketika pintu pringgitan itu baru terbuka sejengkal, terasa angin malam yang dingin berhembus dan menerpa seraut wajah tua Ki Demang. Rambutnya yang sudah putih semua yang terjulur diantara ikat kepalanya tampak melambai tertiup angin malam.

Begitu Ki Demang melangkah turun ke pendapa, tampak di halaman rumahnya yang cukup luas itu orang-orang bergerombol mengerumuni tiga orang yang sedang berdiri berhadap-hadapan di tengah-tengah lingkaran dan salah satu dari orang itu adalah Swandaru.

Dengan tanpa menarik perhatian, perlahan lahan dengan langkah satu-satu Ki Demang mendekati kerumunan itu. Setelah menyeberangi pendapa dan menuruni tlundak, akhirnya Ki Demang berhenti hanya satu langkah dari orang yang paling belakang.

“Tuntutan muridku sudah jelas Ki Swandaru,” terdengar suara parau mirip suara burung gagak.

Ternyata orang yang berkata itu seorang yang sudah cukup umur, berkumis dan berjanggut jarang-jarang yang dibiarkan saja tumbuh liar di wajahnya. Sorot matanya tenang menandakan keyakinan yang tinggi atas kemampuan yang dimilikinya. Sedangkan orang yang disebut muridnya itu berdiri di sebelahnya dengan wajah yang tegang dan sorot mata penuh dengan dendam dan kebencian.

“Aku tidak ikut campur atas tuntutan muridku, namun penghinaanmu atas perguruan Toya Upas harus engkau pertanggung jawabkan. Engkau telah dengan sombong berani menantang pemimpin perguruan Toya Upas, perbuatan itu adalah sebuah kesombongan yang tiada taranya, dan aku sudah berjanji untuk menyelesaikannya dengan tuntas,” kembali terdengar orang itu berkata dengan suara keras dan tegas.

“Aku terima tantanganmu,” geram Swandaru, “Aku ingin membuktikan apakah pemimpin perguruan Toya Upas yang bergelar Kyai Sarpa Kenaka itu benar-benar mumpuni dan bertangan racun sekeras racun ular bandotan ataukah hanya mampu meracuni ikan-ikan di sungai atau di rawa-rawa saja.”

“Tutup mulutmu!” bentak orang yang berdiri di sebelah orang yang di sebut Kyai Sarpa Kenaka, kemudian sambil menoleh kepada Kyai Sarpa Kenaka dia melanjutkan, “Guru, ijinkanlah aku menghadapi orang yang sudah berani menghina perguruan kita ini, aku merasa mempunyai bekal yang lebih dari cukup.”

Kyai Sarpa Kenaka sejenak mengerutkan keningnya, kemudian katanya tanpa menoleh kearah muridnya, “Engkau jangan gegabah Wanengpati, yang berdiri dihadapan kita ini adalah murid dari orang bercambuk yang merupakan jalur langsung dari perguruan Windujati.”

“Aku tidak takut, Guru.”

“Persoalannya bukan takut atau tidak takut, namun lebih dari itu dia telah berani dengan sengaja menantangku secara tidak langsung di arena langen tayub beberapa bulan yang lalu. Itu adalah kesalahan yang tidak dapat diampuni, dan aku memang tidak pernah mengampuni lawan-lawanku.”

“Diam!” kini giliran Swandaru yang membentak, “Kalian tidak usah berebut lawan, majulah bersama sama, aku kira aku masih mempunyai tenaga yang cukup untuk melayani kalian berdua.”

“Omong kosong!” bentak Kyai Sarpa Kanaka tak kalah kerasnya, “Marilah kita hentikan segala macam omong kosong ini, kita akan segera bertempur sampai mati. Tidak ada seorang pun yang boleh mengganggu perang tanding ini.”

“Guru,” tiba-tiba Wanengpati menyela, “bagaimana dengan tuntutanku?”

Sejenak Kyai Sarpa Kenaka mengedarkan pandangan matanya. Yang tampak berdiri di sekeliling mereka adalah para pengawal Sangkal Putung. Kyai Sarpa Kenaka tidak mempunyai gambaran yang pasti tentang kekuatan sebenarnya dari para pengawal Sangkal Putung, maka katanya kemudian, “Terserah kepadamu Wanengpati, engkau dapat bermain main sejenak dengan para pengawal ini sebelum melaksanakan tuntutanmu.”

“Apakah tuntutannya?” tiba-tiba terdengar suara yang berat dan dalam. Seseorang telah menyibakkan kerumunan itu dan melangkah memasuki lingkaran.

“Ki Demang Sangkal Putung,” hampir setiap orang yang berdiri di halaman itu berdesis.

“Ayah,” Swandaru berdesis perlahan, “Ayah tidak usah mencampuri persoalan ini. Ini adalah urusanku pribadi yang menyangkut harga diri dengan pemimpin perguruan Toya Upas.”

“Sudah pasti aku tidak akan mencampuri urusan pribadimu, Swandaru.” Jawab Ki Demang dengan cepat, “Bukankah yang aku tanyakan adalah tuntutan dari orang yang bernama Wanengpati ini, murid dari perguruan Toya Upas? Mengapa dia mengajukan tuntutan dan apa haknya terhadap kademangan ini sehingga dia berani mengajukan sebuah tuntutan? Itulah yang aku ingin mengetahuinya.”

Swandaru berdiri membeku di tempatnya. Pertanyaan ayahnya itu bagaikan menguliti wajahnya dan sekali lagi membuka aibnya di hadapan para pengawal Sangkal Putung yang sudah mendengar sebelumnya dari Wanengpati ketika Ki Demang belum hadir di tempat itu.

“O,” tiba-tiba terdengar suara Wanengpati tertawa terbahak bahak, “Jadi engkau adalah Ki Demang Sangkal Putung ayah dari orang yang sombong ini, “ dia berhenti sejenak lalu, “Ketahuilah Ki Demang, anakmu ini telah merebut calon istri orang.”

“Tutup mulutmu!” bentak Swandaru sebelum Wanengpati menyelesaikan kata katanya.

“Swandaru!” tiba-tiba Ki Demang yang sudah tidak dapat menahan hati lagi telah membentak Swandaru. Sejak Swandaru berumah tangga, baru sekali inilah dia dibentak oleh ayahnya sehingga sekejap dia bagaikan kehilangan keseimbangan. Swandaru benar-benar tidak percaya bahwa ayahnya telah membentaknya dihadapan sekian banyak orang.

“Swandaru,” suara Ki Demang melunak, “Marilah kita selesaikan segala macam persoalan yang membelit dan tidak berujung pangkal ini, lebih baik kita saling membuka dada dan menyelesaikan permasalahan ini dengan kekeluargaan.”

“Tidak bisa Ki Demang,” sahut Wanengpati dengan cepat, “Peristiwa di rumah Ki Jinawi tiga bulan yang lalu telah mencemarkan nama baikku dan menjatuhkan harga diriku sebagai laki-laki di hadapan calon istriku Nyi Saimah. Pamanku Ki Jinawi telah lama mengenalkan Nyi Saimah kepadaku. Kebetulan saja dia adalah seorang penari yang baik dan bersedia menari mengiringi para tamu pada saat Ki Jinawi mempunyai hajat. Tapi ketamakan anakmu lah yang menyebabkan dia tidak bisa melayani tamu yang lain menari. Bahkan setelah peristiwa itu berlalu, anakmu telah menjalin hubungan secara diam-diam dengan Nyi Saimah, itu diakui Nyi Saimah setelah Paman Jinawi mencoba menolongku untuk menjalin kembali hubunganku dengannya dan dia dengan tegas telah menolaknya karena menunggu lamaran dari anakmu.”

Bagaikan disambar halilintar Ki Demang terkejut bukan alang kepalang. Sejenak pandang mata orang tua itu berkunang-kunang, keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya. Mulutnya bagaikan membeku dan kelu, tidak ada satu kata pun yang terucapkan, hanya pandangan mata yang kosong dan dada yang bergejolak disertai nafas yang memburu. Ki Demang benar-benar tidak menyangka kalau Swandaru telah berbuat sejauh itu.

Akhirnya dengan susah payah Ki Demang berhasil menguasai dirinya. Sambil berpaling kearah Swandaru, Ki Demang berdesis perlahan sekali, nyaris tak terdengar, “Swandaru, benarkah semua tuduhan itu?”

Swandaru benar-benar dihadapkan kepada sebuah pilihan yang sulit. Tidak mungkin bagi dirinya mengingkari semua kata-kata Wanengpati, karena ada seorang saksi yang tidak akan dapat dikesampingkan begitu saja, Nyi Saimah. Namun seandainya dia mengakui semua perbuatannya itu, entah bagaimana lagi dia harus menghadapi istrinya, Pandan Wangi.

Ketika sekali lagi Ki Demang mengulangi pertanyaannya, tidak ada pilihan lain bagi Swandaru. Dengan lantangnya dia pun segera berteriak sambil mengurai cambuknya, “Persetan dengan semua itu, marilah kita selesaikan semua persoalan ini secara laki-laki, aku bukan seorang pengecut yang berlindung di balik punggung perempuan.”

Selesai mengucapkan kata katanya, dihentakkannya cambuk yang tergenggam ditangannya dengan sendal pancing. Bagaikan suara guruh cambuk Swandaru pun meledak dengan dahsyatnya.

Orang-orang yang ada di halaman Ki Demang itu pun terkejut mendengar suara ledakan cambuk Swandaru. Kyai Sarpa Kenaka pun sempat tertegun sejenak mendengar suara ledakan cambuk Swandaru. Betapa besarnya tenaga wadag Swandaru itu dapat diukur dari dahsyatnya suara ledakan cambuknya. Namun semua itu bagi Kyai Sarpa Kenaka hanyalah pertunjukan pengeram-eram bagi orang-orang kebanyakan.

“Alangkah dahsyatnya suara ledakan cambukmu, Ki Swandaru,” berkata Kyai Sarpa Kenaka sambil mengangguk anggukkan kepalanya, “Mungkin engkau dapat menakut-nakuti burung-burung di sawah agar tidak mencuri padi para petani, namun bagiku itu tidak lebih dari permainan para gembala di padang-padang rumput.”

Dengan menggeram keras, sekali lagi Swandaru memutar cambuknya diatas kepala, kemudian dengan gerakan sendal pancing, sekali lagi cambuk itu meledak di udara. Namun kali ini suaranya hampir tidak terdengar akan tetapi getarannya ternyata telah mengguncangkan setiap dada dari mereka yang hadir di halaman rumah Ki Demang Sangkal Putung.

Kali ini Kyai Sarpa Kenaka benar-benar terkejut. Getaran suara cambuk Swandaru bagaikan merontokkan isi dadanya. Ternyata Swandaru telah menekuni kitab peninggalan gurunya dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Pengalamannya dikalahkan dengan mudah oleh kakak seperguruannya serta beberapa kali benturan ilmu yang dialaminya dengan beberapa lawannya ternyata telah memacu dirinya untuk menekuni ilmu warisan perguruan Windujati itu dengan lebih mendalam, dan hasilnya ternyata tidak mengecewakan.

Para pengawal Sangkal Putung dan Ki Demang sendiri merasakan betapa dahsyatnya getaran yang menusuk dada mereka. Sejenak dada mereka bagaikan tertimpa gunung anakan. Dengan terhuyung-huyung sambil memegangi dada, sebagian dari mereka mencoba bergeser menjauhi tempat itu.

Kyai Sarpa Kenaka menarik nafas dalam-dalam untuk melonggarkan rongga dadanya. Walaupun akibat yang dirasakan tidak sedahsyat orang lain, namun tak urung pernafasannya menjadi bagaikan tersumbat.

Ketika dia berpaling kearah muridnya, tampak Wanengpati memegangi dadanya dengan kedua tangannya sambil terbungkuk-bungkuk. Dengan demikian Kyai Sarpa Kenaka dapat mengukur bahwa sebenarnyalah kemampuan Wanengpati belum dapat disejajarkan dengan murid kedua dari orang bercambuk itu.

Sementara itu, Ki Demang Sangkal Putung yang berdiri paling dekat dengan Swandaru ternyata telah mengalami akibat yang paling parah. Orang tua itu sekejap bagaikan tak sadarkan diri sehingga jatuh terduduk. Ketika kesadarannya perlahan mulai pulih kembali, didapatinya dirinya sedang dipapah oleh dua orang pengawal menjauhi tempat itu menuju ke pendapa.

“Luar biasa,” kata-kata pujian pun akhirnya keluar dari mulut Kyai Sarpa Kenaka, “Aku sekarang yakin bahwa Ki Swandaru benar-benar adalah murid dari jalur perguruan Windujati, namun apakah kemampuan itu seutuhnya dapat dibanggakan dan dibandingkan dengan perguruan Toya Upas, itu masih perlu dibuktikan.”

“Baiklah, kita akan segera berperang tanding dengan taruhan nyawa kita masing-masing,” geram Swandaru sambil melangkah selangkah kedepan. Segala pertimbangan nalarnya telah gelap. Yang ada di benaknya hanyalah keinginan untuk segera menyelesaikan lawannya.

“Aku setuju,” hampir berteriak Kyai Sarpa Kenaka menjawab, “Namun taruhan itu bukan hanya nyawa kita masing-masing, tuntutan muridku juga menjadi bagian dari taruhan perang tanding ini.”

“Ya,” tiba-tiba Wanengpati yang sudah dapat menguasai dirinya menyahut, “Sekali lagi aku katakan tuntutanku. Sebagai ganti Nyi Saimah yang telah engkau rebut dengan licik dari tanganku, istrimu harus ikut dengan kami.”

“Persetan!” teriak Swandaru, “Engkau akan dicincang oleh para pengawal Sangkal Putung jika berani menyentuh kulit istriku.”

“Aku bersedia!” tiba-tiba terdengar lengking seorang perempuan.

Semua orang yang ada di halaman rumah Ki Demang Sangkal Putung itu terkejut bukan buatan. Serentak mereka berpaling kearah suara itu berasal. Seorang perempuan paruh baya yang masih sangat cantik dengan mengenakan pakaian khusus yang menyerupai pakaian laki-laki dan sepasang pedang di lambung tampak sedang berjalan menuruni anak tangga pendapa menuju kearah mereka.

“Nyi Pandan Wangi,” hampir setiap mulut menyebut nama itu.

Dengan langkah perlahan namun penuh percaya diri, Pandan Wangi pun melangkah menuju kearah kerumunan itu diiringi oleh ketiga pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh.

Orang-orang yang berkerumun itu segera menyibak untuk memberi jalan kepada Pandan Wangi, sedangkan langkah ketiga pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh itu tertahan sejenak ketika tiba-tiba saja seorang pengawal dari Sangkal Putung yang bertubuh kekurus-kurusan telah menghentikan langkah mereka.

“Inilah senjata-senjata kalian,“ bisik pengawal itu, “Maafkan perlakuan kami waktu itu, bukan maksud kami untuk mempersulit Ki Sanak bertiga, tindakan kami hanyalah ujud dari kehati-hatian terhadap setiap perubahan yang tidak menentu.”

“Terima kasih,” hampir berbareng ketiga pengawal dari Menoreh itu menjawab singkat.

Sementara itu Pandan Wangi telah berdiri beberapa langkah dari Swandaru. Wajahnya sedikit terangkat dan tidak menunjukkan kegelisahan sedikit pun. Berbeda dengan Swandaru yang berdiri dengan gelisah. Sesekali matanya mencuri pandang ke wajah istrinya, namun Pandan Wangi sama sekali tidak menoleh kearahnya.

“Siapakah diantara kalian disini yang berkepentingan dengan aku?” tanya Pandan Wangi sambil memandang kearah kedua orang yang berdiri beberapa langkah di depannya, Kyai Sarpa Kenaka dan Wanengpati.

Sambil tersenyum dan mengembangkan kedua tangannya, Wanengpati menjawab, “Akulah yang berkepentingan denganmu, Nyimas Ayu Pandan Wangi, bukankah namamu Pandan Wangi?”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya sejenak sambil memandang tajam kearah Wanengpati, kemudian katanya, “Apakah engkau yakin mampu membawaku ke padepokanmu?”

“Mengapa tidak?” Wanengpati balik bertanya dengan heran, “Guru adalah orang yang tanpa tanding di seluruh tlatah Mataram, suamimu tidak akan bisa bertahan lebih dari sepenginang.”

“O,” Pandan Wangi mengangguk anggukkan kepalanya sambil tersenyum penuh arti, “Jadi engkau akan melaksanakan tuntutanmu itu dengan mengandalkan bantuan gurumu?”

Seleret warna merah menghiasi wajah Wanengpati, sementara gurunya Kyai Sarpa Kenaka yang mendengar kata-kata Pandan Wangi itu tertawa terkekeh-kekeh, kemudian katanya disela-sela tertawanya, “Hati hatilah Wanengpati jika engkau ingin memelihara singa betina ini di padepokan kita, bisa-bisa kepalamu dulu yang lepas dari lehermu.”

“Baiklah,” justru Pandan Wangi yang menyela, “ Engkau tidak usah mengharapkan bantuan gurumu, aku bersedia ikut denganmu kemana saja engkau pergi tetapi dengan satu syarat.”

Berkerut merut kening Wanengpati, sambil menegakkan dadanya, dia bertanya, “Apakah syarat itu?”

Dengan langkah gemulai Pandan Wangi melangkah ke depan mendekati Wanengpati. Ketika jarak keduanya tinggal dua langkah, Pandan Wangi pun berhenti. Sambil meraba tangkai pedangnya, dia berkata tegas, “Tunjukkan padaku bahwa engkau seorang laki-laki sejati yang mampu melindungi seorang perempuan dalam ujud yang sebenarnya, bukan dengan kata-kata yang tidak berguna.”

Bagaikan tersentuh bara, wajah Wanengpati pun merah membara. Sambil melangkah ke belakang beberapa tindak, Wanengpati segera merenggangkan kedua kakinya kesamping, sementara tangan kanannya diletakkannya didepan dada dengan pergelangan tangan ditekuk keatas dan jari-jari terbuka. Sedangkan tangan kirinya ditekuk sebatas siku dengan lengan bagian bawah lurus dan telapak tangan menghadap keatas dengan jari-jari merapat menopang telapak tangan kanannya.

“Baiklah, kalau memang itu yang engkau kehendaki, aku tidak berkeberatan menunjukkan kemampuanku kepadamu, Pandan Wangi,” berkata Wanengpati sambil mengatur pernafasannya untuk menghimpun tenaga cadangannya. Kelihatannya dia ingin menguasai Pandan Wangi dengan cepat untuk mempengaruhi keseimbangan nalar Swandaru.

Pandan Wangi yang melihat sikap Wanengpati segera tanggap dengan apa yang sedang dipersiapkan lawannya itu. Tanpa membuang waktu, Pandan Wangi pun segera menggeser kaki kirinya selangkah kesamping, kemudian dengan agak merunduk, kedua tangannya disilangkan di depan dadanya.

Orang-orang yang berkerumun di halaman rumah Ki Demang Sangkal Putung segera menebar, membentuk lingkaran yang lebih luas. Beberapa pengawal telah memasang obor di sudut-sudut halaman sehingga halaman rumah Ki Demang menjadi semakin terang.

Pengawal Kademangan Sangkal Putung yang bertubuh tinggi dan kekurus-kurusan itu ternyata justru telah bergeser menjauh. Dengan sebuah isyarat dia berusaha mengumpulkan beberapa pengawal yang hadir. Dengan tanpa meninggalkan kewaspadaan serta gerakan yang dapat menimbulkan kecurigaan bagi kedua orang dari perguruan Toya Upas itu, mereka telah berkumpul di sudut yang gelap di sebelah kanan pendapa.

“Aku minta dua orang untuk menghubungi para pengawal yang bertugas malam ini, baik yang ada di gardu-gardu maupun regol-regol padukuhan. Usahakan untuk tidak menarik perhatian. Jangan semua pengawal yang bertugas malam ini meninggalkan tempat penjagaan mereka. cukup satu atau dua orang yang bergeser ke rumah Ki Demang ini, yang lainnya tetap di tempatnya masing-masing.”

“Bagaimana dengan anak-anak muda yang biasanya ikut berkumpul di gardu-gardu?”

Sejenak pengawal yang kekurus-kurusan itu merenung, kemudian katanya, “Biarkan saja mereka tetap di tempatnya dan jangan beri kesan kepada mereka seolah-olah Kademangan ini akan berperang agar ketenteraman dan ketenangan tetap terjaga.”

Para pengawal yang sedang berunding itu pun mengangguk anggukkan kepalanya. Namun sebelum mereka sempat memberikan tanggapan, tiba-tiba saja mereka telah dikejutkan oleh suara ledakan cambuk yang menggelegar. Ternyata perang tanding itu sudah dimulai.

“Baiklah,” berkata pengawal yang bertubuh kekurus-kurusan itu kemudian, “Kita tidak punya waktu lagi, laksanakan tugas kalian dan jangan lupa tetap mengawasi halaman ini serta dinding-dinding diseputar rumah Ki Demang, siapa tahu mereka membawa pengikut yang sengaja disembunyikan dahulu untuk membuat suatu kejutan justru disaat kita lengah.”

Sejenak kemudian, mereka pun segera berpencar untuk melaksanakan tugas mereka masing-masing.

Sementara itu, perang tanding antara Swandaru dan Kyai Sarpa Kenaka telah dimulai. Dengan mengerahkan segala kemampuannya, Swandaru mencoba membatasi gerak Kyai Sarpa Kenaka. Gerakan cambuknya yang kadang mendatar, kadang tegak lurus dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh pandang mata biasa benar-benar menyulitkan lawannya untuk mendekat. Swandaru sadar bahwa pimpinan padepokan Toya Upas ini pasti senang bermain main dengan racun. Kuku-kuku jarinya yang panjang-panjang dan berwarna hitam menunjukkan betapa berbahayanya apabila kulitnya sampai tersentuh walaupun hanya segores tipis.

Kyai Sarpa Kenaka mengumpat tidak habis habisnya. Dia benar-benar mengalami kesulitan untuk mencoba bertempur dengan jarak dekat. Ujung cambuk Swandaru seolah-olah berubah menjadi berpuluh puluh jumlahnya dan mengejar kemanapun dia bergerak.

Ketika Kyai Sarpa Kenaka merasa semakin kesulitan menembus pertahanan Swandaru, tiba-tiba saja dia meloncat mundur beberapa langkah untuk mengambil jarak. Sebelum Swandaru sempat memburunya, di tangan kiri guru Wanengpati itu telah tergenggam seutas rantai yang berwarna kehitam-hitaman. Sebuah bandul bergerigi sebesar kepalan tangan orang dewasa tersangkut diujung rantai itu.

Langkah Swandaru tertegun sejenak. Senjata lawannya itu mempunyai sifat yang mirip dengan senjatanya, lentur dan panjang. Namun yang membedakannya adalah warangan racun yang pasti melumuri sepanjang rantai itu. Demikian juga bandul bergerigi itu pasti mengandung racun yang sangat kuat dan jahat.

Sejenak mereka masih saling berdiam diri. Ada satu keanehan yang dapat dijadikan sebagai pancadan bagi Swandaru. Kebanyakan orang menggenggam senjatanya di tangan kanan, kecuali kidal. Namun dari gerak geriknya Swandaru yakin bahwa Kyai Sarpa Kenaka tidaklah kidal. Akan tetapi mengapa dia lebih mempercayakan senjatanya di tangan kiri?

Ketika sekali lagi Swandaru mencoba mengamati lawannya, sadarlah dia bahwa lawannya lebih mempercayakan pada kuku-kuku jarinya yang panjang-panjang dan berwarna hitam itu. Senjata di tangan kiri hanyalah sebagai penyeimbang senjata cambuk Swandaru agar dirinya tidak selalu terdesak karena ujud senjata lawannya yang panjang, sedangkan senjata sebenarnya yang lebih berbahaya dari pemimpin padepokan Toya Upas itu adalah kuku-kuku jarinya, segores tipis saja bagi mereka yang tidak mempunyai pertahanan tubuh yang kuat, akan dapat mengantarkan nyawa mereka dalam pelukan dewi maut.

“Nah, Ki Swandaru, apa katamu sekarang?” bertanya Kyai Sarpa Kenaka sambil mulai menggerakkan senjata di tangan kirinya. Rantai itu berputar dengan kencang di atas kepalanya sehingga menimbul suara yang mendengung bagaikan suara ribuan lebah.

Swandaru sama sekali tidak menjawab, perlahan kaki kanannya bergeser beberapa jengkal ke kanan, kemudian dengan gerakan tiba-tiba yang bertumpu pada kaki kanannya yang setengah ditekuk, dia melontar kedepan secepat tatit yang menyambar di udara dengan suara cambuk yang menggelegar menyambar kearah dada Kyai Sarpa Kenaka yang terbuka.

Kyai Sarpa Kenaka sama sekali tidak terkejut, dengan menarik kaki kanannya selangkah ke belakang sambil memiringkan tubuhnya, cambuk itu meledak hanya sejengkal dari dadanya. Sebelum Swandaru sempat menarik cambuknya, rantai di tangan kiri lawannya meluncur deras menghantam kepalanya.

Kini giliran Swandaru yang berusaha menghindari sambaran senjata lawannya. Selagi tubuhnya melayang di udara karena dorongan daya lontarnya yang belum habis, dengan cepat ditariknya cambuknya dengan memutarnya sambil menundukkan kepalanya menghindari sambaran senjata lawan. Dalam keadaan setengah berjongkok, sekali lagi cambuk Swandaru pun menyambar pergelangan kaki Kyai Sarpa Kenaka dan berusaha untuk membelitnya.

Demikianlah perkelahian antara kedua orang yang berilmu tinggi itu semakin lama semakin dahsyat. Debu-debu berhamburan dan tanah di halaman rumah Ki Demang Sangkal Putung itu bagaikan dibajak. Beberapa orang yang berdiri terlalu dekat dengan arena perkelahian itu segera menyingkir agak jauh agar tidak terkena akibat dari ungkapan ilmu dari kedua orang yang sedang mengadu liatnya kulit dan kerasnya tulang.

Sementara itu, Pandan Wangi dan lawannya pun ternyata telah terlibat dalam perkelahian yang tak kalah dahsyatnya. Seperti berjanji, keduanya berkelahi dengan menggunakan tangan kosong. Wanengpati yang ingin memboyong Pandan Wangi ke padepokannya telah berusaha agar dapat melumpuhkan Pandan Wangi tanpa segores luka pun.

Namun Pandan Wangi bukanlah anak kemarin sore dalam olah kanuragan. Pengalamannya dalam mengikuti beberapa kali pertempuran telah menempanya menjadi seorang perempuan yang mumpuni. Ketekunannya dalam mendalami ilmu warisan keluarga Menoreh serta beberapa petunjuk yang pernah diterimanya dari para sesepuh ilmu kanuragan seperti, Kyai Gringsing dan Ki Jayaraga telah menempatkannya sejajar dengan orang-orang yang berilmu tinggi.

Salah satu ilmu yang mungkin tidak disadari oleh lawannya adalah kemampuannya untuk mendahului ujud wadagnya. Serangan yang masih berjarak satu jengkal dari tubuh lawannya ternyata sudah mampu menyentuh sasaran. Apalagi kalau Pandan Wangi sudah menggunakan sepasang pedangnya, keterlambatan lawannya dalam menyadari kemampuan serangan Pandan Wangi yang mampu mendahului ujung pedangnya akan dapat berakibat maut.

Namun sejauh ini Pandan Wangi ternyata masih belum merasa perlu untuk mengungkapkan ilmunya yang nggegirisi itu. Dibiarkan saja lawannya mempunyai perhitungan yang salah tentang kemampuannya. Dengan demikian Pandan Wangi akan lebih mudah mencari celah-celah kelemahan dari lawannya.

Sementara itu, suara ledakan cambuk Swandaru ternyata telah terdengar sampai ujung padukuhan induk. Beberapa pengawal dan anak-anak muda yang sedang berjaga-jaga di gardu regol padukuhan induk menjadi berdebar debar. Suara itu lamat-lamat terdengar berulang ulang dari arah rumah Ki Demang Sangkal Putung, bahkan semakin lama suara ledakan cambuk itu semakin sering.

Ketika mereka yang ada di gardu regol padukuhan induk itu sudah tidak dapat menahan hati lagi untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di halaman rumah Ki Demang Sangkal Putung, tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh dua sosok bayangan yang berlari larian dari arah padukuhan induk menuju kearah mereka.

Dengan sigap beberapa pengawal segera berloncatan ke tengah jalan dengan pedang terhunus, sementara sisanya tetap tinggal ditempat untuk mengawasi keadaan.

Sebelum para pengawal yang berdiri menghalangi jalan itu bertindak, salah satu dari kedua orang yang berlari larian itu ternyata telah mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi sambil berteriak, “He, ini aku, pengawal kademangan yang bertugas di rumah Ki Demang.”

Senjata-senjata yang sudah teracu itupun kemudian menunduk, namun mereka tetap tidak meninggalkan kewaspadaan. Barulah ketika dua orang itu semakin dekat dan hanya berjarak beberapa langkah, mereka dapat mengenali wajah-wajah dari kawan-kawan mereka sesama pengawal Kademangan Sangkal Putung.

“Kau,” sapa para pengawal penjaga regol padukuhan induk.

“Ya,” jawab kedua orang itu hampir berbareng.

“He, apa kerjamu malam-malam begini berlari larian sepanjang jalan padukuhan?”

Kedua orang itu tidak langsung menjawab. Keduanya masih berusaha mengatur pernafasan mereka setelah berlari larian sepanjang jalan padukuhan induk. Setelah nafas mereka agak tenang, barulah salah satu dari mereka berkata, “Apakah kalian tidak mendengar suara ledakan cambuk itu?”

“Ya, kami sudah mendengarnya beberapa saat yang lalu. Tetapi apa hubungannya dengan kalian berdua?”

“Justru untuk itulah kami berdua datang kesini, telah terjadi perang tanding di halaman rumah Ki Demang Sangkal Putung.”

“He?” hampir berbareng mereka yang ada di regol padukuhan induk itu berteriak kaget.

“Siapakah yang berperang tanding?” beberapa pengawal bertanya saling bersahutan.

Kedua pengawal yang sedang bertugas di rumah Ki Demang itu pun akhirnya secara singkat menceritakan apa yang sedang terjadi di halaman rumah Ki Demang serta pesan yang harus disampaikan dari pengawal yang bertubuh kekurus-kurusan.

Para pengawal regol padukuhan induk itu pun mengangguk anggukkan kepala, mereka menyadari bahwa keadaan dapat saja berkembang kearah yang tidak terduga. Maka setelah mencapai kesepakatan, akhirnya mereka mengirimkan tiga orang yang bertugas di regol padukuhan induk itu untuk bergeser ke rumah Ki Demang.

“Bagaimana dengan anak-anak muda itu?” bertanya salah seorang pengawal yang bertugas di regol padukuhan induk sambil menunjuk kearah anak-anak muda yang berdiri termangu-mangu di depan gardu.

“Biarkan mereka tetap disini. Usahakan mereka juga bersenjata agar siap untuk menghadapi segala kemungkinan.”

Demikianlah akhirnya kedua orang pengawal yang bertugas di rumah Ki Demang itupun kemudian melanjutkan perjalanan mereka untuk menghubungi gardu-gardu penjagaan yang lain.

Sementara itu suara ledakan cambuk Swandaru juga terdengar sampai ke telinga dua orang perantau yang sedang duduk melepaskan lelah di bawah sebatang pohon preh di pinggir sungai yang mengalir membelah padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung sebelah selatan.

****

Sejenak salah satu dari perantau yang usianya sudah sangat tua tapi masih terlihat sehat dan kuat itu mendongakkan kepalanya. Suara ledakan cambuk yang lamat-lamat terdengar di kejauhan itu agaknya sangat menarik perhatiannya. Sambil berpaling kearah orang yang duduk disebelahnya, dia berdesis perlahan lahan, “Apakah engkau juga mendengar suara cambuk itu, Damar?”

Orang yang dipanggil Damar itu ternyata adalah seorang yang masih sangat muda. Wajahnya bersih dan lembut seperti seorang perempuan. Hanya karena dia mengenakan pakaian laki-laki yang membuat orang yang berpapasan dengannya akan menyangka dia seorang pemuda tanggung yang sangat tampan.

Damarpati, pemuda tampan itu mengangkat kepalanya. Tampak lehernya yang jenjang dan putih bersih. Untuk sejenak dia ragu-ragu, ketajaman pendengarannya tidak sebaik orang tua yang duduk disebelahnya. Namun akhirnya dia pun menggelengkan kepalanya sambil kembali menunduk memandangi rerumputan dibawah kakinya.

“Apakah engkau tidak ingin mencoba mengetrapkan aji sapta pangrungu yang telah aku ajarkan kepadamu yang dapat digunakan untuk mendengarkan bunyi dari jarak yang jauh sekalipun?” kembali orang tua itu ingin meyakinkan pendengaran anak muda yang bernama Damarpati itu.

Kembali Damarpati mengangkat kepalanya. Sambil memicingkan matanya dia mencoba mempertajam pendengarannya. Namun ternyata dia tetap tidak menampakkan kesan apapun selain menggeleng lemah, kemudian tanpa sepatah kata pun dia kembali tertunduk lesu sambil menekuri rerumputan diujung jari kakinya.

Orang tua itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sudah beberapa kali cucunya itu menyatakan ketidak tertarikannya pada semua yang berhubungan dengan olah kanuragan. Sudah ke sekian kalinya dirinya sebagai kakek dari Damarpati ini ingin melihat cucunya mempunyai kemampuan untuk menjaga diri. Dirinya sudah cukup tua, seandainya Yang Maha Agung sewaktu-waktu memanggilnya, dia ingin Damarpati dapat berdiri sendiri di atas kemampuannya sendiri.

“Kek,” tiba-tiba dengan suara yang lunak selunak suara perempuan, Damarpati berkata tanpa berpaling ke arah kakeknya, “Untuk apakah sebenarnya kita merantau yang tak ada ujung pangkalnya ini? Bukankah kakek mempunyai kewajiban untuk meneruskan padepokan peninggalan Buyut Panembahan Kalijenar di lereng Gunung Kendeng? Dan aku sendiri sepeninggal Ayah dan Ibuku dapat tinggal di rumah warisan di padukuhan Ngerang. Jadi mengapa kita mesti menyengsarakan diri terlunta-lunta tanpa tujuan yang pasti?”

Orang tua itu sejenak merenung. Ingatannya kembali beberapa puluh tahun yang lalu ketika dia masih tinggal di padepokan ayahandanya, padepokan yang lebih sering disebut Pesantren Glagah Tinutu serta para cantrik yang berguru disitu lebih dikenal dengan sebutan santri. Padepokan itu terletak di lereng pegunungan Kendeng dan dipimpin oleh seorang panembahan yang waskita, keturunan seorang Waliyullah, Panembahan Kalijenar.

Panembahan Kalijenar adalah cucu dari Nyi Ageng Ngerang yang dipercaya oleh para kawula Kadipaten Pati dan sekitarnya sebagai seorang Waliyullah, penyebar agama Islam disekitar daerah Juwana Pati, Muria dan pegunungan Kendeng yang merupakan pegunungan kapur yang membujur di sebelah utara pulau Jawa.

Nyi Ageng Ngerang adalah keturunan bangsawan Majapahit yaitu Raden Bondan Kejawan yang berputra tiga orang; Ki Ageng Wanasaba, Ki Ageng Getas Pendawa dan Dewi Rara Kasihan yang lebih dikenal dengan nama Nyi Ageng Ngerang setelah bersuamikan Ki Ageng Ngerang salah satu putra dari Sunan Maulana Malik Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Gresik.

Orang tua itu tiba-tiba mengerutkan keningnya dalam-dalam, suara cambuk itu hampir tidak terdengar lagi, namun sayup-sayup dia bisa merasakan udara malam seolah bergetar yang entah oleh kekuatan apa. Memang tidak begitu kuat getaran itu, namun rasa rasanya dada orang tua itu seperti terketuk-ketuk dengan sebuah ujung jari.

“Orang bercambuk,” desisnya perlahan namun justru membuat Damarpati mengangkat kepalanya dan berpaling.

“Siapakah yang kakek maksud dengan orang bercambuk?” tanya Damarpati

Kakeknya menarik nafas sejenak sambil bangkit berdiri, kemudian katanya, “Marilah kita mendekat, aku ingin secara pribadi mengenal perguruan orang bercambuk yang sejak dulu telah banyak menjadi buah bibir mulai jaman Demak, Pajang dan sekarang Mataram.”

Dengan tergesa-gesa Damarpati berdiri sambil mengibas-ngibaskan kain panjangnya. Kemudian dengan langkah-langkah kecil dia mengikuti Kakeknya berjalan menuju arah suara cambuk itu berasal.

Sementara itu perang tanding antara Swandaru dengan Kyai Sarpa Kenaka telah mencapai puncaknya. Cambuk Swandaru tidak lagi meledak-ledak memekakkan telinga, namun justru getarannya seolah mampu menembus jantung lawan dan sekaligus meremasnya.

Kyai Sarpa Kenaka pun ternyata telah mengungkapkan ilmu pamungkasnya yang nggegirisi. Pada ikat pinggang guru Wanengpati itu terikat sebuah bumbung kecil yang di dalamnya tersimpan berpuluh puluh butiran racun yang sangat mematikan. Dengan cermat dia memasukkan beberapa butir racun itu ke dalam mulut kemudian dengan cepat dikunyahnya. Dengan bercampur ludah dan disertai dengan pengerahan tenaga cadangan, semburan yang meluncur dari mulut Kyai Sarpa Kenaka itu bagaikan awan panas yang berwarna kehitam-hitaman dan mengandung racun yang sangat ganas.

Swandaru terkejut melihat perkembangan ilmu lawannya. Hanya orang-orang yang sudah benar-benar kebal dari segala macam jenis racun lah yang berani bermain main dengan racun di dalam mulutnya. Karena kesalahan sedikit saja sehingga racun itu tertelan, justru nyawa sendirilah yang melayang.

Ternyata nama perguruan Toya Upas bukanlah tanpa arti sama sekali. Semburan dari mulut Kyai Sarpa Kenaka benar-benar berkekuatan sepuluh kali lipat dari upas seekor ular bandotan macan yang mampu membuat kulit dan daging lawannya hancur meleleh.

Swandaru menyadari sepenuhnya ketika tandang lawannya berubah dengan cepat. Lawannya berusaha bertempur dengan jarak dekat walaupun Swandaru sudah mencoba memagari garis serang lawannya dengan panjang juntai cambuknya. Namun setiap kali, Kyai Sarpa Kenaka selalu berusaha membelitkan rantai bajanya dengan cambuk Swandaru, sehingga Swandaru setiap kali harus menarik cambuknya dan melangkah mundur.

Pandan Wangi yang sekilas melihat cara bertempur suaminya itu menjadi berdebar debar. Bagaimanapun juga Swandaru adalah suaminya dan sekaligus ayah dari anaknya. Kesalahan yang telah sering diperbuat oleh Swandaru memang tidak bisa dimaafkan oleh seorang istri manapun di dunia ini, namun melihat suaminya terdesak dan sedang mengalami kesulitan dengan lawannya di depan mata kepalanya sendiri membuat hatinya bagaikan teriris sembilu.

Tandang pemimpin padepokan Toya Upas itu semakin wuru. Seolah olah tidak dihiraukan lagi kemungkinan tubuhnya terkena sengatan dari ujung cambuk Swandaru. Dengan gerak yang cepat dia berusaha memperpendek jarak dengan lawannya. Rantai baja di tangan kirinya berputar dengan cepat bagaikan payung hitam yang melindungi tubuh bagian atasnya. Dengan teriakan yang menggelegar dia meloncat menubruk dada Swandaru dengan kuku-kuku beracun tangan kanannya, sedangkan dari mulutnya menyembur uap panas kehitam-hitaman yang sangat beracun menyambar ke arah muka.

Menghadapi serangan beruntun itu Swandaru telah mengambil suatu keputusan akhir. Tidak mungkin baginya untuk terus menerus meloncat mundur. Dia menyadari bahwa dirinya tidak kebal racun, namun sudah menjadi keputusan yang bulat dalam hatinya untuk menghentikan serangan lawannya langsung pada pusatnya, yaitu menghancurkan lawannya sebelum dirinya sendiri hangus ditelan racun yang ganas.

Dalam sekejap Swandaru pun bersikap. Tangan kanan yang menggenggam tangkai cambuknya telah diangkat tinggi-tinggi, diikuti dengan tangan kiri yang bersilang di depan dada. Dengan bertumpu pada kaki kanannya yang setengah ditekuk dan kaki kiri terangkat, Swandaru siap melontarkan puncak ilmunya yang dipelajari dari kitab peninggalan gurunya, kitab perguruan Windujati.

Dada dari setiap orang yang hadir di halaman rumah Ki Demang berdegup kencang. Mereka menyadari bahwa Swandaru telah mengambil keputusan akhir untuk membenturkan ilmunya dengan ilmu lawannya.

Pandan Wangi dan Wanengpati yang sedang bertempur itu pun sejenak meloncat mundur. Agaknya keduanya pun ingin menyaksikan akhir dari perang tanding itu.

Sementara itu Swandaru ternyata masih mampu menggunakan nalarnya walaupun kemarahan menghentak hentak dadanya, ketika melihat semburan uap panas itu meluncur ke arah mukanya, dia tidak ingin membiarkan mukanya hancur diterjang semburan beracun lawannya. Oleh sebab itu, sebelum semburan itu menggapai wajahnya, Swandaru telah bergeser selangkah kesamping kiri, kemudian dengan sekuat tenaga dia meloncat tinggi-tinggi sambil menghentakkan cambuknya kearah punggung lawannya.

Adalah diluar dugaan, ternyata lawannya sama sekali tidak ada usaha untuk menghindari serangan cambuknya, bahkan dengan menggeram keras karena semburannya gagal menyentuh wajah Swandaru, Kyai Sarpa Kenaka justru telah melontarkan rantai bajanya yang berbandul bergerigi itu mengarah ke perut Swandaru, sedangkan kedua tangannya yang berkuku panjang-panjang itu berusaha menggapai kaki Swandaru yang sedang melayang di udara.

Rantai baja yang berbandul bergerigi itu meluncur dengan deras mengarah ke perut Swandaru. Tidak ada waktu lagi bagi Swandaru untuk mengurungkan serangannya. Dengan semampunya dia berusaha menghindari sambaran rantai baja itu dengan menggeliat. Namun tak urung rantai baja dengan bandul bergerigi itu berhasil menghantam pinggangnya.

Terdengar keluhan tertahan hampir berbareng. Ujung cambuk Swandaru ternyata telah menghantam punggung lawannya dengan ledakan yang sama sekali tak bersuara, namun getaran dari ujung cambuk itu mampu menembus daya tahan tubuh Kyai Sarpa Kenaka dan sekaligus meremukkan tulang punggungnya.

Tampak Kyai Sarpa Kenaka guru Wanengpati yang sangat gemar bermain main dengan racun itu terhuyung-huyung beberapa saat, sebelum kemudian dengan sebuah umpatan yang sangat kotor dia jatuh terjerembab.

Sedangkan Swandaru yang terkena sambaran rantai baja pada pinggangnya telah terdorong kesamping kiri beberapa langkah. Sambil mendekap pinggangnya yang terluka, Swandaru pun akhirnya jatuh terduduk.

“Kakang..!” jerit Pandan Wangi sambil berlari kearah suaminya. Berbagai perasaan telah bergejolak dalam dadanya, namun jauh di sudut hatinya, tetap ada rasa bakti terhadap suami dan sekaligus ayah dari anaknya.

Wanengpati yang melihat gurunya jatuh terjerembab segera meloncat berlari untuk segera mengetahui keadaannya. Namun sebelum langkahnya sampai di tempat gurunya tergeletak, berpuluh puluh ujung pedang telah menghadangnya.

“Bunuh..!” teriak beberapa pengawal Sangkal Putung yang mengepungnya.

“Ya, bunuh orang yang telah berani mengacau Kademangan kita ini!” sahut yang lain.

“Bunuh.!”

“Bunuh.!”

“Cincang sampai lumat..!”

Tersirap darah Wanengpati menghadapi perubahan keadaan yang sama sekali diluar perhitungannya. Dengan sigap dia segera meloncat mundur sambil menghunus senjatanya.

Begitu melihat Wanengpati menghunus senjatanya, para pengawal Sangkal Putung yang sedang mengepungnya itu pun bagaikan wuru. Dengan teriakan yang membahana, beramai ramai mereka menyerang Wanengpati dari segala penjuru.

Wanengpati sebenarnyalah bukan orang kebanyakan. Dia adalah murid dari perguruan Toya Upas yang terkenal bengis dan kejam dalam memperlakukan lawan lawannya. Namun menghadapi sekian banyak orang, Wanengpati benar-benar mengalami kesulitan.

Ketika senjatanya berhasil melukai lambung orang yang menyerang dari depan, sebuah hantaman bindi dari belakang ke arah kepalanya telah membuatnya terhuyung beberapa langkah kedepan. Belum sempat dia memperbaiki kedudukannya, sebuah tombak pendek telah menyongsongnya dan menghujam perutnya.

Demikianlah akhirnya, murid perguruan Toya Upas itu telah menjadi bulan bulanan dan pangewan-ewan oleh para pengawal Sangkal Putung yang marah demi melihat Swandaru, pemimpin mereka terluka oleh Kyai Sarpa Kenaka. Tidak ada rasa belas kasihan sama sekali. Apalagi ketika mereka masih melihat dalam keadaan yang payah Wanengpati masih sempat melukai beberapa pengawal lagi, kemarahan para pengawal itu pun telah sampai ke puncaknya. Dengan teriakan buas dan liar mereka telah mencincang Wanengpati di halaman rumah Ki Demang itu tanpa ampun.

Sementara itu Ki Demang Sangkal Putung yang sedang duduk bersandaran tiang pendapa menyaksikan semua peristiwa yang terjadi di halaman rumahnya dengan hati yang terguncang guncang. Swandaru yang terluka, pemimpin perguruan Toya Upas yang terbujur diam, entah mati atau pingsan, dan Wanengpati yang hancur lumat menjadi sayatan daging dan pecahan tulang. Hati tua Ki Demang itu benar-benar terguncang, perlahan lahan kesadarannya pun mulai melemah. Samar-samar masih terdengar umpatan dan cacian kemarahan para pengawal Sangkal Putung, namun yang terasa sangat memilukan hati adalah jeritan Pandan Wangi yang berusaha menolong suaminya yang perlahan lahan jatuh terlentang tak sadarkan diri karena pengaruh racun dari senjata Kyai Sarpa Kenaka.

Bersamaan dengan hilangnya kesadaran Ki Demang, dua sosok bayangan menyelinap memasuki halaman rumah Ki Demang justru melalui regol depan yang tak terjaga, karena seluruh perhatian pengawal tercurah kepada Wanengpati.

Sejenak kedua orang yang menyelinap masuk ke halaman itu ragu-ragu. Sambil menggamit seseorang yang berdiri di sebelahnya, orang yang kelihatannya sudah sangat tua tapi masih sehat dan kuat itu memberi isyarat untuk mendekat kearah kerumunan para pengawal Sangkal Putung.

Ketika seorang pengawal yang berdiri di paling belakang dari kerumunan itu mendengar desir langkah di belakangnya itu berpaling, tanpa menggunakan nalar yang bening segera saja dia berteriak untuk menarik perhatian kawan kawannya.

Segera saja kedua orang yang baru memasuki halaman rumah Ki Demang itu terkepung dengan senjata yang teracu, bahkan beberapa orang sudah mulai mendesak ke depan sambil mengayun-ayunkan senjata mereka.

“Selamat malam Ki sanak semua,” dengan tenang orang tua itu menyapa sambil menggandeng tangan cucunya, seorang pemuda tanggung yang berwajah sangat tampan.

Untuk beberapa saat para pengawal itu tertegun. Ketenangan dan kewibawaan orang tua itu justru telah menggetarkan hati. Tidak tampak kegelisahan sama sekali dari kedua pendatang itu, bahkan pemuda tanggung yang sangat tampan itu dengan manja telah menyandarkan kepalanya di bahu orang tua yang menggandengnya.

Namun kejadian itu tidak berlangsung lama, seorang pengawal yang bertubuh kurus segera saja melangkah ke depan sambil berkata, “Ki Sanak, kami tidak mengenal kalian berdua. Di halaman ini baru saja terjadi peristiwa yang menggemparkan dan tiba-tiba saja kalian muncul. Jangan salahkan kami kalau kami terpaksa bertindak tegas jika kalian berdua tidak dapat menjelaskan jati diri dan keperluan kalian memasuki halaman ini.”

Orang tua itu tersenyum sambil mengangguk, kemudian katanya, “Kami adalah perantau yang berasal dari Padepokan Glagah Tinutu di lereng gunung Kendeng. Pemuda ini bernama Damarpati dan aku adalah Kakeknya.”

Pengawal yang bertubuh kurus itu mengerutkan keningnya. Nama perguruan itu masih asing di telinganya, sambil berpaling ke arah kawan kawannya, dia berseru, “Apakah diantara kalian ada yang pernah mendengar nama padepokan Glagah Tinutu dari lereng gunung Kendeng?”

Beberapa pengawal saling berpandangan, namun akhirnya beberapa orang menggelengkan kepala sambil berkata, “Kami belum pernah mendengarnya.”

“Nah, apa katamu Kakek tua?” pengawal bertubuh kurus itu kembali bertanya sambil memandang tajam kearah kedua orang yang berdiri di hadapannya.

“O.., itu memang mungkin sekali karena letak perguruan kami sangat jauh dan baru kali inilah kami merantau sampai di tempat ini.” Jawab Kakek tua itu dengan tenang.

“Jadi, apakah aku harus mengirimkan satu dua pengawal ke lereng gunung Kendeng untuk membuktikan kebenaran ucapanmu itu?” kembali pengawal bertubuh kurus itu bertanya dengan nada setengah jengkel.

“O.., tidak Ki sanak, itu tidak perlu. Tapi sebenarnyalah kami memang berasal dari padepokan Glagah Tinutu, dan yang menuntun kami sampai ketempat ini adalah suara cambuk itu. Suara cambuk yang dapat mengingatkan kami pada seseorang yang bergelar orang bercambuk.”

Ketika kakek tua itu menyebut nama orang bercambuk, bagaikan tersadar dari mimpi buruk, para pengawal itupun serentak berpaling kearah dimana Swandaru telah jatuh terduduk.

Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat Swandaru ternyata telah terbujur diam dan di sampingnya, Pandan Wangi sambil menahan tangis berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyadarkannya.

Hampir berbarengan para pengawal itu pun segera berlomba lomba berlari dahulu mendahului untuk sampai ketempat Swandaru terbaring, sehingga keberadaan Damarpati dan Kakeknya telah mereka lupakan.

Kakek Damarpati hanya dapat tersenyum melihat tingkah polah para pengawal Sangkal Putung itu. Sambil tetap menggandeng tangan cucunya, dia segera melangkah dengan tergesa-gesa menyusul ke arah para pengawal itu berlari menuju tempat Swandaru terbaring.

Para pengawal yang telah sampai di tempat Swandaru terbaring segera mengerumuninya. Beberapa orang mencoba membantu Pandan wangi untuk menyadarkan Swandaru. Ada yang memijit mijit kakinya, menekan nekan pundaknya, bahkan ada yang telah mencari air ke perigi di belakang rumah untuk dibasuhkan di wajah Swandaru.

Sedangkan Pandan Wangi yang sedang meraba dada suaminya menjadi sangat terkejut. Tubuh itu terasa sangat dingin dan hampir tidak terasa detak jantungnya. Ketika dengan tergesa-gesa ditempelkan telinganya di dada suaminya, detak jantung itu begitu jauh dan lembut, kadang muncul kadang tenggelam.

“Apakah ada diantara kalian yang dapat memanggil Tabib di Kademangan ini?” akhirnya dengan suara yang sendat menahan tangis Pandan Wangi berkata.

Para pengawal itu saling pandang sejenak, namun baru saja beberapa orang berdiri untuk menjemput Tabib yang ada di Kademangan itu, terdengar suara lembut tepat dibelakang Pandan Wangi.

“Ijinkanlah aku melihat lukanya,” ternyata Kakek Damarpati telah sampai ditempat itu. Sambil berjongkok di sebelah Pandan Wangi, dia berusaha mengamat amati luka di pinggang Swandaru yang tidak mengalirkan darah sama sekali, namun kulit disekitar luka itu telah menghitam dan membengkak.

Pandan Wangi terkejut begitu mendapati seseorang berjongkok disebelahnya, namun sebelum dia sempat bertanya, orang tua itu telah berbisik dengan sareh, “Maafkan aku, Nyi. Lukanya harus segera ditangani. Untunglah ketahanan tubuhnya luar biasa. Walaupun dia tidak mempunyai ilmu kebal, namun aliran racun di jalan darahnya belum sampai ke jantung.”

Para pengawal yang berkerumun itu terkejut dan baru menyadari bahwa mereka masih mempunyai urusan dengan kedua orang asing itu, namun ketika dilihatnya Pandan wangi hanya diam saja, mereka menjadi ragu-ragu untuk bertindak.

Kakek Damarpati benar-benar bekerja dengan cepat dan cermat. Dikeluarkannya dari kantong ikat pinggangnya sebuah batu yang berwarna putih bersih. Segera saja batu itu ditempelkan ke luka Swandaru yang berwarna hitam legam, perlahan batu itu pun berubah warna menjadi hitam, sedangkan warna kehitam-hitaman dari luka di pinggang Swandaru perlahan lahan telah memudar, sejalan dengan itu setetes demi setetes darah yang berwarna merah mulai mengalir dari luka itu.

“Apakah aku bisa mendapatkan semangkuk air bersih?” berkata Kakek Damarpati sambil melepas batu yang menempel di luka Swandaru. Kemudian diambilnya lagi sekantung obat serbuk yang ditaburkan keatas permukaan luka yang mulai mengalirkan darah. Perlahan lahan darah yang mengalir dari luka yang cukup dalam itupun akhirnya mampat.

Ketika seorang pengawal mengulurkan semangkuk air bersih, dengan cepat Kakek Damarpati menyambutnya. Kemudian dari kantung ikat pinggangnya yang lain dikeluarkan sebuah bumbung kecil yang berisi beberapa butir obat berwarna kehijau-hijauan. Setelah memasukkan tiga butir obat kedalam mangkuk yang berisi air itu, orang tua itu pun telah mengaduknya dengan menggunakan sebuah silatan bambu yang juga diambil dari kantung ikat pinggangnya.

Pandan Wangi benar-benar terkesima melihat gerak gerik yang cekatan dari orang tua itu. Dalam pandangannya seolah olah dia kembali melihat seorang-orang tua yang berkain gringsing dan berwajah sareh sedang mengobati ayahnya yang terluka oleh senjata lawannya, Ki Tambak Wedi.

Pandan Wangi tersadar ketika orang tua itu berkata kepadanya, “Tolong bantu aku Nyi, untuk meminumkan cairan obat ini agar racun yang terlanjur mengalir dalam darahnya menjadi tawar dan membantu memulihkan kekuatannya.”

Dengan cepat Pandan Wangi memangku kepala suaminya. Dengan perlahan lahan dan sangat hati-hati, kakek Damarpati itu berusaha memasukkan setetes demi setetes cairan obat itu ke mulut Swandaru. Memang sangat sulit karena Swandaru belum tersadar dari pingsannya, namun dengan keahlian seorang tabib yang mumpuni, akhirnya tetes-tetes obat itupun mampu melewati tenggorokan Swandaru.

Demikianlah akhirnya, dengan memijat dan menekan pada beberapa bagian penting yang ada di tubuh Swandaru, Kakek Damarpati telah mencoba untuk menyadarkannya.

Ketika sebuah tarikan nafas yang berat disertai dengan sebuah desis perlahan keluar dari mulut Swandaru, Kakek Damarpati pun telah menghentikan sentuhannya di tubuh Swandaru.

Pandan Wangi yang mengikuti semua gerak gerik kakek Damarpati dalam usahanya membantu mengendalikan racun yang sudah terlanjur memasuki jalur darah Swandaru melalui luka di pinggangnya menjadi sangat trenyuh. Orang tua yang berjongkok disebelahnya ini bukan sanak bukan kadang, bahkan mengenal pun dia tidak, namun kesungguhannya dalam usaha membantu kesulitan sesamanya, benar-benar telah menyentuh hatinya dan menimbulkan kesan tersendiri.

Ketika sekali lagi Swandaru berdesis perlahan sekali sambil menggeliat, Kakek Damarpati pun segera memberikan isyarat kepada Pandan Wangi agar memindahkan Swandaru ketempat yang lebih baik.

Pandan Wangi segera menengadahkan wajahnya dan mengedarkan pandangan matanya untuk meminta bantuan para pengawal mengangkat Swandaru ke serambi. Namun pandangan Pandan Wangi sempat tertegun sejenak pada seraut wajah tampan dari seorang anak muda yang berdiri termangu-mangu selangkah dibelakang orang tua yang telah menyelamatkan nyawa suaminya itu.

Pandan Wangi bagaikan terpesona memandang wajah tampan itu. Kulitnya begitu putih dan halus dengan sepasang mata bagaikan bintang timur sedang bercahaya. Bulu-bulu lentik matanya serta alis yang bagaikan semut beriring menjadikan wajah itu begitu sempurna. Hidung yang kecil dan mancung serta bibir bak delima merekah akan membuat seseorang akan menjadi bertanya tanya, perempuan atau laki-lakikah pemuda ini?

Namun naluri kewanitaan Pandan Wangi tidak bisa dipungkiri, pemuda tanggung yang berdiri beberapa langkah di sampingnya ini adalah seorang perempuan muda yang sangat cantik jelita dan entah oleh sebuah alasan apa, telah menyamarkan dirinya menjadi seorang laki-laki.

Agaknya Kakek Damarpati dapat membaca perasaan Pandang Wangi, untuk itulah dengan tergesa-gesa dia berkata, “Maafkan kami Nyi, ini adalah cucuku Damarpati. Kami berdua tidak sengaja telah merantau sampai ke Kademangan Sangkal Putung ini, dan sesungguhnya suara cambuk itu yang telah menuntun kami sampai ke halaman ini.”

Pandan Wangi tidak menjawab, akan tetapi pandangan matanya tidak lepas dari wajah Damarpati yang menunduk dalam-dalam. Wajah yang sangat tampan tetapi terlalu lembut untuk ukuran seorang laki-laki. Wajah yang tampak selalu murung, semurung dirinya dahulu ketika usianya mulai beranjak remaja.

“Perkenankan kami memindahkan Ki Swandaru ke serambi, Nyi,” tiba-tiba seorang pengawal berdesis perlahan disampingnya sambil berjongkok.

“O.., silahkan, silahkan,” jawab Pandan Wangi sambil perlahan menurunkan kepala Swandaru dari pangkuannya untuk kemudian bergeser ke kanan dan perlahan lahan bangkit berdiri.

Tiga orang pengawal dengan cekatan telah mengangkat tubuh Swandaru yang masih belum sadarkan diri. Dengan cepat namun sangat hati-hati, ketiganya pun kemudian membawa Swandaru masuk ke serambi.

Sementara itu Pandan Wangi yang telah berdiri tegak telah berada tepat di depan Damarpati. Pandangan tajam dan naluri kewanitaan Pandan Wangi benar-benar tidak dapat dikelabuhi dengan hanya mengenakan pakaian laki-laki kebanyakan serta ikat kepala. Tanpa mengucapkan sepatah kata sebelumnya, tiba-tiba Pandan Wangi telah menyentuh pundak Damarpati dan perlahan mengguncangnya.

“Engkau yang bernama Damarpati?” tanya Pandan Wangi dengan tangan kanan masih melekat di bahu Damarpati.

Damarpati mengangkat wajahnya sekilas, namun dengan cepat menunduk kembali begitu pandang matanya berbenturan dengan pandang mata Pandan Wangi. Hanya sebuah anggukan kecil yang hampir tak terlihat yang menjawab pertanyaan Pandan Wangi.

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam, kemudian dengan penuh rasa keibuan ditariknya Damarpati kedalam pelukannya.
Hampir saja sebuah tangis meledak ketika kepala Damarpati menyusup dalam dekapan Pandan Wangi. Namun dengan sekuat tenaga, Damarpati mencoba menahan tangisnya dan ternyata dia telah berhasil menguasai dirinya. Hanya sebuah 5frisak kecil yang terdengar di telinga Pandan Wangi.

“Sudahlah Damarpati,” berkata Pandan Wangi sambil melepaskan pelukannya, kemudian katanya perlahan sambil berbisik di telinga Damarpati, “Kita punya banyak waktu untuk berbicara tentang diri kita masing-masing setelah semua urusan ini selesai.”

Damarpati hanya mengangguk kecil sambil berusaha menyembunyikan air matanya yang mulai menitik.

Semua peristiwa itu tidak luput dari pengamatan Kakeknya. Orang tua itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Kegelisahannya tentang masa depan cucunya itu menjadi semakin dalam. Semenjak kematian kedua orang tua Damarpati yang masih menyisakan teka-teki sampai sekarang, memang telah diputuskannya untuk menyingkir dari padukuhan Ngerang, menempuh jalan yang panjang tanpa tujuan hanya untuk menyelamatkan Damarpati dari sebuah ancaman pembunuhan yang mungkin saja terjadi setelah kematian kedua orang tuanya.

Damarpati adalah nama yang dipilihnya untuk cucunya selama dalam pengembaraan. Demi untuk menjaga segala kemungkinan buruk yang dapat timbul selama dalam perantauan, dia menyarankan cucunya untuk menyamar menjadi anak muda yang bernama Damarpati karena sebenarnyalah cucunya itu adalah seorang gadis remaja yang baru tumbuh menjadi sebuah bunga yang indah tiada taranya sehingga akan dapat menimbulkan banyak permasalahan.

Kakek Damarpati itu tersadar dari lamunannya ketika Pandan Wangi berpaling kearahnya sambil bertanya, “Kakek, sebutan apakah yang sebaiknya aku gunakan untuk menyebut nama Kakek?”

Kakek Damarpati itu tertegun sejenak. Nama baginya sudah tidak ada artinya lagi, tidak ada seorang pun yang akan mengenalnya dari padepokan Glagah Tinutu di lereng Gunung Kendeng, karena sesungguhnya padepokan itu sudah lama hilang dari permukaan bumi, hanya sisa-sisa bangunan yang tidak utuh lagi yang menjadi saksi atas kejadian berpuluh puluh tahun yang lalu.

“Bagaimana, Kek?” kembali Pandan Wangi mengulangi pertanyaannya.

“Baiklah, Nyi,” akhirnya dia mengalah, “Engkau dapat memanggilku Kyai Sabda Dadi.”

“Terima kasih,” jawab Pandan Wangi, “Aku adalah Pandan Wangi dari Tanah Perdikan Menoreh. Keberadaanku disini mengikuti suamiku Ki Swandaru putra Ki Demang Sangkal Putung yang terluka tadi dan telah mendapat pertolongan dari Kyai.”

“Ah..,” desah Kyai Sabda Dadi, “Aku hanyalah lantaran dari Yang Maha Agung, hanya dengan perkenan Nya Ki Swandaru dapat tertolong.”

Pandan Wangi mengangguk anggukan kepalanya, kemudian lanjutnya, “Kyai, bagaimanakah dengan Kyai Sarpa Kenaka yang menjadi lawan suamiku? Apakah Kyai berkenan untuk melihat keadaannya?”

Kyai Sabda Dadi terkejut, tanpa menjawab pertanyaan Pandan Wangi dengan tergesa-gesa dia melangkah mendekati tubuh Kyai Sarpa Kenaka yang terbujur diam menelungkup.

Sesampainya di samping tubuh pemimpin perguruan Toya Upas itu, dengan sangat hati-hati dibalikkannya tubuh yang menelungkup itu. Alangkah terkejutnya Kyai Sabda Dadi ketika dia menarik bahu Kyai Sarpa Kenaka, tubuh itu bagaikan tak bertulang. Ternyata tulang belakangnya telah hancur lumat oleh ilmu cambuk Swandaru yang nggegirisi.

“Sasra Birawa,” desis Kyai Sabda Dadi dalam hati, “Ternyata Ki Swandaru mewarisi ilmu dari Perguruan Pengging yang terkenal semasa pemerintahan Demak itu melalui jalur perguruan orang bercambuk. Agaknya memang benar menurut cerita orang tuaku dulu bahwa semasa mudanya, orang bercambuk itu bersahabat dengan salah satu murid perguruan Pengging, sehingga tidak menutup kemungkinan telah terjadi pertukaran ilmu diantara mereka, walaupun ujud dari ilmu itu sendiri akhirnya melebur dengan ilmu orang bercambuk, namun akibat yang dialami oleh lawannya benar-benar akibat dari benturan ilmu yang disebut Sasra Birawa itu.”

Sejenak Kyai Sabda Dadi masih merenungi jasad Kyai Sarpa Kenaka yang terbujur diam. Perlahan Kyai Sabda Dadi bangkit berdiri sambil menarik nafas dalam-dalam, kemudian katanya sambil berpaling kearah Pandan Wangi yang berdiri termangu-mangu disisi Damarpati beberapa langkah di belakangnya, “Nyai, kelihatannya tidak ada yang dapat aku perbuat terhadap orang ini. Lebih baik engkau dapat memerintahkan para pengawal untuk segera menyelenggarakan jasadnya.”

“Benar, Kyai, ” jawab Pandan Wangi, “Demikian juga nasib muridnya, ternyata telah mendapatkan perlakuan yang sangat buruk dari para pengawal Sangkal Putung.”

“Suatu kejadian yang sebenarnya tidak perlu terjadi,” desis Kyai sabda Dadi perlahan seolah olah ditujukan kepada dirinya sendiri, “Suatu pengingkaran dari sifat-sifat manusia yang seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yang dikaruniakan oleh Yang Maha Agung, namun dorongan nafsulah yang telah menjerumuskan manusia dalam tindakan dan perbuatan yang justru bisa lebih buruk dari sifat-sifat seekor binatang.”

Semua orang yang mendengarkan perkataan Kyai Sabda Dadi tertunduk diam. Terlebih lebih adalah para pengawal Sangkal Putung yang telah ikut andil mencincang Wanengpati. Ada suatu penyesalan jauh di lubuk hati mereka yang paling dalam. Mengapa semua itu telah mereka lakukan, justru di kalangan suatu kehidupan bebrayan yang disebut beradab, suatu kehidupan yang penuh dengan tatanan yang mengatur hubungan timbal balik antara sesama dan hubungan mereka dengan Tuhannya.

“Marilah Kyai,” akhirnya Pandan Wangi memecah kebisuan, “Biarlah para pengawal menyelenggarakan jenasah mereka berdua sebagaimana mestinya, kita dapat beristirahat sejenak di serambi sambil melihat perkembangan Kakang Swandaru.”

Demikianlah akhirnya, perang tanding antara Swandaru dan Pemimpin padepokan Toya Upas itu telah berakhir dengan meninggalkan kesan tersendiri dihati masing-masing orang yang hadir di halaman rumah Ki Demang Sangkal Putung malam itu. Berbagai tanggapan telah muncul di setiap dada, terutama para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh telah mendapat kesan yang buram tentang tingkah laku Swandaru selama ini.

Keesokan harinya, ternyata Pandan Wangi telah bertindak cepat. Sambil menunggu perkembangan Suaminya, dia telah berunding dengan Ki Demang Sangkal Putung untuk segera mengirim kembali para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh dengan membawa berita tentang keadaan Swandaru.

“Apakah itu perlu, Wangi,” bertanya Ki Demang dengan sareh, “Ki Argapati sedang menderita sakit, berita sekecil apapun yang dapat membebani pikirannya akan dapat menambah sakitnya.”

“Akan tetapi Ayah Argapati harus mendapat berita yang sebenarnya mengapa aku tidak segera datang ke Menoreh untuk menjenguknya.”

“Tunggulah barang sehari dua hari, jika kesehatan suamimu menunjukkan perkembangan kearah yang menggembirakan, engkau dapat berangkat ke Menoreh bersama sama dengan para pengawal.”

Pandan Wangi tertunduk diam, dia benar-benar dihadapkan pada permasalahan yang pelik. Untuk meninggalkan Swandaru rasa rasanya sebagai seorang istri tidaklah pantas, walaupun setiap hidung di Kademangan Sangkal Putung itu telah mengetahui apa yang telah diperbuat boleh suaminya, sedangkan disisi lain, Ayahnya di Menoreh sangat memerlukan kehadirannya.

Kyai Sabda Dadi yang ikut duduk berbincang bincang pagi itu di serambi rumah Ki Demang ternyata tidak dapat menahan hati lagi, sambil beringsut setapak dari tempat duduknya dia perlahan lahan berkata, “Ki Demang dan Nyi Pandan Wangi, ijinkanlah saya menyampaikan sesuatu yang mungkin akan sangat berpengaruh terhadap keputusan-keputusan yang akan diambil nantinya.”

Hampir bersamaan Ki Demang dan Pandan Wangi berpaling kearah Kyai Sabda Dadi. Sambil mengerutkan keningnya ternyata Pandan Wangi lah yang lebih dahulu menyahut, “Apakah yang Kyai maksud?”

“Tentang perkembangan kesehatan Ki Swandaru, Nyi.” Jawab Kyai Sabda Dadi pelan.

Berdesir dada Pandan wangi dan Ki Demang Sangkal Putung.

“Apakah ada sesuatu yang mengkawatirkan?” tanya Ki Demang.

“Tidak seluruhnya Ki Demang, kesehatannya memang menunjukkan tanda-tanda kearah yang menggembirakan, namun ada suatu keanehan yang aku temukan pagi-pagi tadi ketika aku menyeduhkan obat untuknya.”

“Apakah itu?” serentak Pandan Wangi dan Ki Demang bertanya.

Kyai Sabda Dadi tidak segera menjawab. Dilemparkan pandangan matanya ke halaman rumah Ki Demang Sangkal Putung melalui pintu pringgitan yang terbuka lebar. Tampak Damarpati sedang berjalan-jalan mengelilingi halaman yang luas itu sambil sesekali melihat lihat berjenis jenis bunga yang ditanam sedemikian rupa sehingga benar-benar menyerupai sebuah taman yang indah dan mempesona.

“Kyai, apakah sebenarnya yang terjadi pada suamiku?” bertanya Pandan Wangi menyadarkan Kyai Sabda Dadi.

Setelah menarik nafas dalam-dalam, Kyai Sabda Dadi pun akhirnya memutuskan untuk menyampaikan apa yang sebenarnya sedang dialami oleh Swandaru.

“Nyi,” perlahan Kyai Sabda Dadi berkata, “Racun yang mengalir dalam darah Ki Swandaru memang sudah bersih, namun akibat luka yang diderita di pinggangnya itulah yang ternyata telah membawa akibat buruk pada tubuh bagian bawahnya.”

“Maksud Kyai?” dengan tak sabar Pandan Wangi menyela.

“Senjata Kyai Sarpa Kenaka itu ternyata telah mengenai simpul-simpul syaraf yang ada di pinggang Ki Swandaru, sehingga Ki Swandaru mengalami gangguan untuk menggerakkan kedua kakinya.”

“Maksud Kyai, anakku menjadi lumpuh?” Ki Demang lah kini yang menyela dengan suara yang bergetar menahan gejolak di dadanya.

“Demikianlah untuk sementara yang dapat aku simpulkan dari kejadian ini, namun aku masih berusaha untuk memperbaiki simpul-simpul syaraf itu walaupun kenyataannya sangat rumit.”

Pandan Wangi yang mendengar penjelasan dari Kyai Sabda Dadi hanya termangu-mangu diam. Entah perasaan apa yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. Sejak Suaminya melakukan hubungan dengan beberapa wanita lain walaupun dia sendiri tidak mengetahui dengan mata kepala sendiri, namun perasaan hatinya telah hampa. Seolah olah dia menjadi perempuan asing di rumah ini. Dia kembali menjadi pendiam dan pemurung. Hari harinya hanya dihabiskan dengan bermain main dengan anak laki-laki satu satunya yang mulai beranjak remaja.

“Wangi, “ suara Ki Demang tiba-tiba telah menyadarkan lamunannya, “Apakah engkau mempunyai pertimbangan tersendiri sehubungan dengan perkembangan kesehatan suamimu?”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Sambil berpaling sekilas kearah Kyai Sabda Dadi dia menjawab, “Aku tidak begitu banyak mengetahui tentang pengobatan, Ayah. Mungkin Kyai Sabda Dadi dapat memberikan pertimbangan yang terbaik untuk kita dan keluarga yang berada di Menoreh.”

Kyai Sabda Dadi yang merasa menjadi tumpuan harapan dari Pandan Wangi justru telah menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sambil menghela nafas yang panjang, dia berdesis perlahan lahan, “Aku hanyalah manusia biasa, tidak menutup kemungkinan dugaanku itu salah, namun untuk beberapa pekan mendatang, aku harap Ki Swandaru segera pulih kesehatannya, kecuali pengaruh luka di pinggangnya yang dapat mempengaruhi kemampuan gerak kedua kakinya.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya anak menantunya yang menundukkan kepalanya dalam-dalam. Entah apa yang sedang dipikirkan dalam benak Pandan Wangi, Ki Demang tidak berani berandai-andai.

“Baiklah,” akhirnya Ki Demang memberanikan diri menawarkan sebuah kemungkinan, “Aku rasa sebaiknya Pandan Wangi tidak berangkat ke Menoreh, betapapun juga suaminya disini memerlukan perhatiannya. Untuk itu, sekali lagi kami mohon bantuan dari Kyai Sabda Dadi untuk menolong mengobati Ki Argapati yang sedang sakit di Menoreh.”

Kyai Sabda Dadi terkejut mendengar permintaan Ki Demang itu. Dengan tergesa-gesa dia beringsut kedepan beberapa jengkal dari tempat duduknya, kemudian katanya, “Maafkan aku sebelumnya, Ki Demang. Sebenarnyalah aku bukan seorang ahli pengobatan. Kemampuanku yang tidak seberapa ini aku dapatkan dari orang tuaku sendiri, sehingga aku tidak berani menjamin bahwa aku dapat mengobati penyakit Ki Gede Menoreh, justru pada saat semua orang menaruh harapan kepadaku.”

Ki Demang tersenyum tipis, “Sekecil apapun bantuan itu, kami sangat mengharapkan. Jikalau Kyai Sabda Dadi berkenan, Kyai dapat berangkat bersama sama para pengawal Menoreh yang akan kembali untuk mengabarkan keadaan Swandaru dan Pandan Wangi yang sementara waktu ini belum bisa menjenguk keluarga yang ada di Menoreh.”

Kyai Sabda Dadi mengangguk anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Kapankah kira-kira para pengawal dari Menoreh itu akan kembali?”

“Secepatnya,” Pandan Wangi lah yang menyahut, “Sebaiknya Kyai bersama mereka berangkat besuk pagi , agar menjelang sore sudah bisa sampai di Tanah Perdikan Menoreh.”

“Ya, pagi-pagi sekali agar tidak terlalu malam sampai Tanah Perdikan Menoreh.” Ki Demang menambahkan.

Demikianlah akhirnya telah disepakati bahwa besuk pagi, sebelum sinar matahari memancarkan sinarnya ke atas bumi Sangkal Putung, mereka para pengawal dari Menoreh beserta Kyai Sabda Dadi dan cucunya akan berangkat ke Tanah Perdikan Menoreh.

Ketika di malam harinya Kyai Sabda Dadi menyampaikan hal itu kepada Damarpati, tampak kedua matanya berbinar-binar penuh dengan keceriaan, katanya kemudian, “Aku senang sekali Kek, bisa ikut ke tanah kelahiran Nyi Pandan Wangi. Bukankah dia juga akan bersama kita ke Menoreh?”

Kyai Sabda Dadi tersenyum simpul melihat kegembiraan cucunya itu, kemudian jawabnya, “Tidak Damar, Nyi Pandan Wangi tidak akan ikut.”

“Mengapa? Bukankah ayahnya juga sedang sakit dan memerlukan perhatiannya?”

Kyai Sabda Dadi menggeleng lemah sambil berkata, “Suaminya juga memerlukan perhatiannya disini, Damar.”

“Bukankah disini ada Ki Demang, ayah Ki Swandaru? Selain itu disini juga banyak pembantu rumah tangga Ki Demang yang dapat mengurusi keperluan sehari hari Ki Swandaru.”

“Tidak, Damar,” sekali lagi Kyai Sabda Dadi menggeleng, “Jika seorang laki-laki jatuh sakit, istrinyalah yang lebih berhak untuk merawatnya sebagai tanda bakti seorang istri kepada suami.”

Damarpati termangu-mangu, penjelasan kakeknya terasa janggal dan tidak masuk akal. Baginya keberadaan seorang ayah itu lebih penting dari pada seorang suami. Hal ini memang masih sulit dipahami oleh Damarpati yang masih berusia sangat muda dan belum mengerti arti seorang suami bagi seorang istri dalam hubungan hidup bebrayan dan hubungan timbal balik dengan Yang Maha Agung yang telah berkenan menciptakan seluruh makhluk hidup yang ada di permukaan bumi ini berpasang-pasangan dan menciptakan rasa kasih sayang diantara mereka agar mereka mensyukurinya.

Demikianlah akhirnya, keesokan harinya ketika matahari masih belum menampakkan sinarnya dan burung-burung masih enggan meninggalkan sarangnya, mereka yang akan melakukan perjalanan jauh telah bangun dan pergi ke pakiwan bergantian untuk mensucikan diri. Setelah melaksanakan kewajiban mereka sebagai hamba terhadap Tuhannya, mereka pun mulai berbenah untuk menyiapkan keperluan mereka yang dibutuhkan untuk sebuah perjalanan.

Ternyata para pembantu Ki Demang masih sempat menghidangkan sarapan pagi bagi para tamu yang akan berangkat ke Menoreh pagi itu, walaupun hidangan yang disajikan hanya sekedarnya karena memang hari masih terlalu pagi untuk belanja ke pasar, namun hal itu tidak mengurangi selera makan mereka yang sedang menyantap hidangan itu.

Ki Demang dan Pandan Wangi menyempatkan diri menemani para tamunya untuk makan pagi. Kesempatan itu dipergunakan Pandan Wangi untuk memberikan beberapa pesan sehubungan dengan keadaan Swandaru yang terluka parah setelah berperang tanding melawan pemimpin perguruan Toya Upas.

“Kalian tidak perlu memberikan keterangan kepada Ayah Argapati hal-hal yang dapat menambah beban pikirannya. Sebaiknya kalian cukup memberikan penjelasan bahwa sakitnya Kakang Swandaru itu didapatkan setelah berperang tanding melawan pemimpin perguruan Toya Upas, namun keadaan Kakang Swandaru sekarang ini sudah semakin baik atas pertolongan Kyai Sabda Dadi. Jadi tidak ada lagi yang perlu dirisaukan.”

“Ah..” justru Kyai Sabda Dadi lah yang berdesah, “Apa yang telah aku lakukan itu hanyalah sekedar sebuah usaha, hasilnya kita pasrahkan kepada Yang Maha Agung. Kita patut bersyukur bahwa sesungguhnya hanya atas perkenanNya semua itu dapat terjadi.”

Semua yang hadir di pringgitan itu mengangguk anggukkan kepalanya. Sebenarnyalah Santa dan kawan kawannya tidak mengetahui penyebab sakitnya Ki Argapati. Yang mereka ketahui hanyalah Ki Argapati telah jatuh sakit dengan tiba-tiba dan mereka diberi tugas untuk menyampaikan kabar itu kepada keluarga di Sangkal Putung. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa berita itu nantinya justru akan menambah parahnya sakit Ki Gede Menoreh. Bagaimanapun juga, Ki Gede yang telah banyak makan asam garamnya kehidupan ini pasti dapat menghubungkan peristiwa yang terjadi atas Ki Jayaraga di Menoreh dengan perang tanding Swandaru melawan Kyai Sarpa Kenaka di Sangkal Putung.

Ketika sinar matahari yang pertama telah menyentuh pucuk-pucuk pepohonan yang masih basah oleh embun pagi, serta burung-burung telah memperdengarkan kicau merdu mereka di dahan-dahan yang tinggi sambil berloncatan dari cabang satu ke cabang lainnya dengan riangnya, lima ekor kuda telah berderap meninggalkan padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung. Mereka berderap di jalan-jalan padukuhan yang semakin ramai dengan kecepatan yang wajar agar tidak banyak menarik perhatian. Sesekali mereka berpapasan dengan orang-orang yang akan pergi ke sawah atau ke pasar. Ketika sebuah pedati yang penuh dengan muatan hasil bumi berjalan perlahan bagaikan seekor siput di atas jalan berbatu batu menuju ke padukuhan induk kademangan Sangkal Putung, mereka berlima telah keluar dari regol Kademangan Sangkal Putung kemudian melintasi sebuah bulak panjang.

Di ujung bulak panjang itu terdapat sebuah hutan yang membujur dari utara ke selatan. Namun hutan itu sekarang sudah tidak begitu lebat lagi, bahkan beberapa bagiannya telah dibuka untuk memperluas tanah pesawahan sejalan dengan meningkatnya kebutuhan hidup para penghuninya. Setelah melewati hutan yang sudah semakin tipis itu, mereka masih harus melewati padang perdu yang disebut lemah cengkar yang dipercaya oleh penduduk sekitar menjadi tempat bersarangnya seekor macan siluman, macan putih.

Dulu sebelum jalan-jalan menjadi ramai dan hutan itu sebagian belum dibuka untuk tanah pesawahan, orang-orang yang bepergian lebih senang menempuh jalan selatan melewati Kali Asat. Walaupun perjalanan menjadi agak jauh, namun hampir dikatakan tidak pernah berjumpa dengan penyamun di tengah perjalanan. Setelah melewati pohon randu alas yang besar dikelokan jalan, mereka dapat melanjutkan perjalanan menuju dukuh pakuwon lewat bulak dowo, kemudian menyisir lewat pinggir hutan yang terkenal dengan nama macanan, karena masih terdapat harimau loreng yang kadang muncul di sisi hutan sebelah timur. Setelah itu barulah mencapai Kademangan Jati Anom.

Sinar matahari pagi masih belum terasa menyengat kulit. Angin yang semilir dan sejuk bertiup perlahan membelai daun-daun pohon randu yang banyak ditanam di kiri kanan jalan. Pohon-pohon randu itu belum musimnya untuk berbuah sehingga daunnya masih hijau dan lebat. Apabila musim berbuah telah tiba, daun daunnya yang lebat dan hijau itu akan menguning dan kering, kemudian jatuh berguguran ke bumi. Sebagai gantinya, berpuluh puluh buah pohon randu akan bergelantungan menghiasi sepanjang jalan.

Di sebelah menyebelah bulak yang panjang itu terbentang sawah yang luas yang baru saja dipanen. Tampak beberapa gundukan jerami yang menggunung di sana sini. Berpuluh puluh ekor itik yang sedang digembalakan, tampak sedang menyusuri pematang untuk kemudian saling berebut turun ke sawah mencari siput dan sejenisnya yang biasanya banyak terdapat di sawah-sawah yang baru saja dipanen dan merupakan makanan kesukaan bagi sang itik. Tak ketinggalan pula burung-burung yang berbulu putih bergerombol di sepanjang pematang sambil menjulurkan paruh-paruh mereka yang panjang dan runcing ujungnya itu di sela-sela pokok batang-batang tanaman padi yang telah dipangkas. Biasanya katak dan sejenis kumbang air banyak yang bersembunyi di tempat itu. Sebagian lagi telah turun ke sawah dengan kaki kakinya yang panjang berjingkat-jingkat sambil mematuk-matuk di tanah berlumpur yang becek untuk mencari makanan.

Damarpati yang berkuda di sisi kakeknya benar-benar menikmati perjalanan itu. Tak henti hentinya dia menoleh ke kanan dan ke kiri memperhatikan keindahan alam ciptaan Tuhan. Sejauh jauh mata memandang hanyalah hamparan sawah yang terbentang sampai ujung cakrawala. Sementara suara gemericik air dari parit yang cukup lebar di kiri kanan jalan itu menambah suasana yang tentram dan damai.

Jauh di hadapan mereka tampak gunung Merapi berdiri dengan kokohnya. Puncaknya yang meruncing itu tampak selalu diselimuti awan putih. Berhelai-helai kabut tipis tampak berarak arak turun dari arah puncak bagaikan selendang bidadari yang turun dari kahyangan mencari telaga manca warna untuk mandi dan bercengkerama.

Sementara itu mendung yang tebal telah menyelimuti langit Mataram dan Panaraga. Adipati Panaraga Pangeran Jayaraga ternyata telah memilih tidak mau mengakui kekuasaan Kakandanya Panemhahan Hanyakrawati di Mataram. Atas bujukan Pangeran Ranapati dan dukungan penuh dari guru Pangeran Ranapati, Ki Singa Wana Sepuh, Pangeran Jayaraga benar-benar telah madeg suraning driya, mengibarkan bendera perang terhadap Mataram.

Ki Patih Mandaraka yang secara teratur mendapat laporan dari para telik sandi yang bertugas di Panaraga, telah menyempatkan diri menghadap Panembahan Hanyakrawati untuk melaporkan hubungan Mataram dan Panaraga yang semakin memanas.

“Ampun cucunda Panembahan,” demikian Ki Patih Mandaraka menghaturkan sembah di suatu sore ketika menghadap Panembahan Hanyakrawati di ruangan khusus, “Berdasarkan laporan para telik sandi dan pengamatan Ki Rangga Agung Sedayu yang berada di Panaraga, sudah saatnya cucunda Panembahan memberikan peringatan keras kepada Panaraga agar tingkah lakunya itu tidak ditiru oleh kadipaten-kadipaten yang lain.”

Panembahan Hanyakrawati sejenak merenung. Sekali lagi pertumpahan darah harus terjadi. Pertikaian yang justru dipicu oleh kalangan keluarga istana sendiri yang menuntut lebih banyak dari apa yang sudah semestinya diterima. Namun kadang-kadang banyak pihak ketiga yang mengail di air keruh, dengan membenturkan para keluarga istana itu sendiri, mereka berharap kekuatan Mataram menjadi lemah sehingga mereka yang bercita-cita untuk menegakkan kembali kejayaan masa lalu itu mempunyai kesempatan untuk kembali tampil kedepan.

“Eyang Patih,” sabda Panembahan Hanyakrawati setelah menimbang nimbang beberapa saat, “Aku menunjuk Adimas Pangeran Pringgalaya untuk memimpin pasukan segelar sepapan. Namun pesanku, seandainya Adimas Pangeran Jayaraga berubah pikiran, jangan sampai pertumpahan darah ini terjadi. Sudah sering kali terjadi peperangan di tanah ini dan kawula alit jugalah yang akan menanggung penderitaan itu.”

Ki Patih Mandaraka mengangguk anggukkan kepalanya, kemudian katanya, “Berdasarkan laporan para telik sandi, Cucunda Pangeran Jayaraga telah mengangkat seorang Panglima Perang Kadipaten Panaraga yaitu orang yang bernama Ranapati dan mengaku masih trah Panembahan Senopati.”

Panembahan Hanyakrawati kembali termenung. Seandainya benar orang yang bernama Ranapati itu masih trah Panembahan Senopati, berarti dia masih saudara tua dan berhak atas tahta Mataram. Namun semua itu masih perlu dibuktikan dan yang terjadi sekarang ini, Panaraga telah memukul bende pertanda perang dengan Mataram setelah orang yang bernama Ranapati itu menjadi agul-agul Kadipaten Panaraga.

Panembahan Hanyakrawati menarik nafas dalam sekali, kemudian sabdanya, “Usahakan untuk mengurangi kekuatan Panaraga sebelum pecah perang. Aku berharap Adimas Jayaraga akan berpikir ulang setelah kekuatannya satu demi satu kita lumpuhkan.”

“Ampun Cucunda Panembahan, hal itu sejalan dengan pemikiran Eyang. Ki Rangga Agung Sedayu memang telah kami tugaskan ke Panaraga untuk membayangi kekuatan Ki Singa Wana Sepuh, guru Ranapati.”

“Baiklah, aku restui Ki Rangga Agung Sedayu untuk melumpuhkan salah satu kekuatan Panaraga. Tentu saja dengan cara yang tidak menyolok. Aturlah agar orang yang menyebut dirinya Ki Singa Wana Sepuh itu bisa bertemu dengan Ki Rangga Agung Sedayu beradu dada.”

Demikianlah, setelah Panembahan Hanyakrawati memberikan pesan mawanti-wanti agar pengerahan pasukan ke Panaraga itu jangan sampai menggoncangkan sendi-sendi kehidupan kawula Mataram dan sekitarnya, Ki Patih Mandaraka pun diperkenankan mengundurkan diri kembali ke Kepatihan.

Ternyata Ki Patih Mandaraka tidak menunda nunda waktu lagi. Malam itu juga Pangeran Pringgalaya telah dipanggil ke kepatihan. Banyak persoalan yang dibicarakan mereka berdua sebelum mengadakan pertemuan dengan para pimpinan pasukan yang ada di Mataram. Selain itu Mataram juga memerlukan dukungan pasukan dari kadipaten-kadipaten yang tersebar di daerah pesisir selatan dan Tanah-tanah perdikan serta kademangan-kademangan besar yang bersatu di bawah Panji-Panji kebesaran Mataram.

Tak ketinggalan pasukan yang berkedudukan di Jati Anom juga dilibatkan. Ki Patih Mandaraka sengaja menggelar kekuatan yang segelar sepapan agar dapat mempengaruhi jalan pikiran Adipati Panaraga. Dengan melihat besarnya pasukan Mataram yang mengepung Panaraga, diharapkan Adipati Panaraga menyadari kesalahannya dan pertumpahan darah pun dapat dihindarkan.

Di hari berikutnya, beberapa utusan telah disebar dengan membawa surat kekancingan dari Panembahan Hanyakrawati. Kadipaten-kadipaten yang diwajibkan membantu Mataram antara lain, Kadipaten Pajang, Demak, Pati dan beberapa kadipaten pesisir. Tanah Perdikan Menoreh dan pasukan khusus yang berkedudukan di Menoreh juga tidak luput dari kewajiban ini, sedangkan Kademangan Sangkal Putung, Prambanan, Mangir, dan lain lain juga diwajibkan mengirimkan para pengawalnya yang terlatih.

Selain mengatur pasukan yang akan berangkat ke Panaraga, Ki Patih juga telah mengirimkan utusan khusus untuk menghubungi Ki Rangga Agung Sedayu di Panaraga. Perintah Panembahan Hanyakrawati sudah jelas, kekuatan Panaraga harus dilumpuhkan dulu satu persatu sebelum perang pecah, dan Ki Singa Wana Sepuh guru pangeran Ranapati adalah sasaran yang pertama.

Sementara itu Ki Rangga Agung Sedayu yang berada di Panaraga telah menerima pesan itu lewat Ki Madyasta.

Malam itu, di tempat yang telah disepakati untuk dijadikan pertemuan, Ki Madyasta, Ki Rangga Agung Sedayu, Glagah Putih dan Rara Wulan duduk melingkar di atas bebatuan yang banyak berserakan di pinggir sungai yang membelah sisi sebelah utara kota Panaraga.

“Ki Rangga,” Ki Madyasta membuka pembicaraan, “Pesan yang aku terima dari petugas sandi tadi pagi, Ki Patih menugaskan Ki Rangga untuk mengurangi kekuatan Panaraga, dalam hal ini adalah guru Pangeran Ranapati, Ki Singa Wana Sepuh.”

Sejenak Ki Rangga Agung Sedayu termenung. Kembali dirinya terlibat dalam kekerasan yang tak berujung pangkal. Mengurangi kekuatan Panaraga berarti melenyapkan sumber kekuatan itu sendiri, namun yang dapat berakibat semakin tenggelamnya dirinya dalam pusaran dendam dan permusuhan.

“Apakah Kakang sudah mendapatkan gambaran kekuatan dari orang yang menjadi guru Pangeran Ranapati itu?” pertanyaan Glagah putih menyadarkan Ki Rangga Agung Sedayu dari lamunannya.

Sambil menarik nafas dalam dalam, Ki Rangga menjawab sambil menggelengkan kepalanya, “Belum Glagah Putih, Ki Patih Mandaraka tidak menyebutkan secara terperinci, namun menilik ceritamu ketika terjadi adon-adon jago di alun-alun Panaraga, setidaknya kalian dapat memberikan ancar ancar kepadaku, seberapa tinggi ilmu Pangeran Ranapati, dengan demikian dapat diperhitungkan kekuatan yang tersimpan dalam diri guru Pangeran Ranapati, Ki Singa Wana Sepuh, dan kalau aku merasa tidak dapat menandingi Ki Singa Wana Sepuh, aku dapat meminta bantuan kalian berdua.”

“Ah,” justru Ki Madyasta lah yang berdesah. Dia menganggap Ki Rangga suka berolok-olok, namun Glagah Putih dan Rara Wulan yang sudah paham dengan sifat sifat kakak sepupunya itu hanya tersenyum masam.

“Selanjutnya, Glagah Putih dan Rara Wulan mendapatkan tugas baru dari Ki Patih Mandaraka,” Ki Madyasta melanjutkan keterangannya.

“Apakah tugas baru itu?” hampir berbareng Glagah Putih dan Rara Wulan bertanya.

“Kalian berdua diperkenankan untuk kembali ke barat.” Jawab Ki Madyasta sambil tersenyum penuh arti.

“Ki Madyasta jangan bergurau,” sergah Rara Wulan, “Perang sudah di ujung hidung, setiap kekuatan harus diperhitungkan.”

“Ya..,ya,” jawab Ki Madyasta sambil mengangguk anggukkan kepalanya sambil masih tetap tersenyum, “Memang benar setiap kekuatan harus diperhitungkan, namun ada perhitungan tersendiri dari Ki Patih untuk menugaskan kalian berdua kembali ke barat, menyusuri lereng Merapi sebelah utara. Disana ada sebuah kademangan kecil, Kademangan Cepogo yang tidak banyak dikenal namun dari sanalah kalian harus menelusuri kebenaran cerita itu.”

Glagah Putih dan Rara Wulan mengerutkan keningnya. Jantung mereka berdua rasa rasanya menjadi cepat berdenyut.

“Cerita apakah itu?” desak Rara Wulan.

“Cerita tentang asal-usul orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati. Dari pengamatan para telik sandi, ada orang yang menyebutkan bahwa ibunda Pangeran Ranapati itu masih hidup dan tinggal di Kademangan Cepogo, kademangan kecil di sebelah utara lereng Merapi,” Ki Madyasta berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Tugas kalianlah adalah untuk membuktikan kebenaran cerita itu dan sekaligus mematahkan anggapan yang telah beredar luas di seluruh tlatah Mataram tentang kisah kayu cendana pelet putih.”

Mereka yang mendengarkan cerita Ki Madyasta itu hampir bersamaan menarik nafas dalam dalam. Berbagai tanggapan bergolak di dalam hati mereka masing masing.

Sejenak mereka berdiam diri, masing masing tenggelam dalam angan angan yang tak berujung pangkal. Suara gemericik air yang mengalir di sela-sela batu terdengar begitu jelas berpadu dengan suara cengkerik dan belalang yang saling bersahutan. Sesekali terdengar bunyi teriakan burung bence memecah keheningan malam, sedangkan nun jauh di sana lamat-lamat suara burung kedasih terdengar ngelangut bersahut sahutan bagaikan sepasang kekasih yang saling merindu.

“Baiklah,” akhirnya Ki Rangga Agung Sedayu memecahkan kebisuan, “Kita segera membagi tugas, dimanakah kira kira aku dapat bertemu dan berkenalan dengan Ki Singa Wana Sepuh?”

“Menurut berita yang aku terima dari para telik sandi, para pengikut Pangeran Ranapati sering bercerita dengan penuh kebanggaan tentang guru junjungan mereka yang sakti mandraguna. Mereka menyebut beberapa tempat di sekitar Panaraga ini yang sering dikunjungi Ki Singa Wana Sepuh untuk olah batin dan memperdalam ilmunya.”

“Bagaimana dengan Pangeran Ranapati itu sendiri?”

“Pangeran itu hampir tidak pernah keluar dari lingkungan istana kadipaten Panaraga. Setiap saat Kanjeng Adipati Jayaraga memerlukannya.”

Mereka yang mendengar keterangan Ki Madyasta itu menjadi berdebar debar. Ternyata guru Pangeran Ranapati itu tidak dapat begitu saja meninggalkan kebiasaannya sebagai seorang pertapa. Hidup dilingkungan kemewahan istana tentu sangat bertentangan dengan apa yang selama ini telah diyakini dan dihayati, sehingga walaupun telah tinggal di istana Kadipaten Panaraga, Ki Singa Wana Sepuh tidak dapat meninggalkan kebiasaannya untuk menyepi dan berolah batin.

“Ada beberapa tempat yang sering digunakan oleh Ki Singa Wana Sepuh untuk mesu raga. Gunung Bayangkaki yang terletak di sebelah selatan Panaraga dengan empat puncaknya yang terkenal angker, yaitu Puncak Ijo, Puncak Tumpak, Puncak Tuo dan Puncak Genthong. Khusus untuk puncak yang terakhir ini, Puncak Genthong, diyakini oleh penduduk sekitar sebagai istana kerajaan siluman Prabu Bathara Katong pendiri Kadipaten Panaraga yang telah mrayang dan dianggap menjadi pelindung kawula Panaraga, khususnya para petani. Di musim kemarau yang panjang dan hujan belum turun turun, mereka akan melihat tanda tanda adanya api yang menyala di puncak Genthong terutama di malam hari. Api itu sebagai pertanda bagi para petani bahwa musim tanam padi telah tiba karena dapat dipastikan hujan akan segera turun.” Ki Madyasta berhenti sejenak. Dipandanginya satu persatu mereka yang duduk di depannya, namun ketiganya hanya berdiam diri saja menunggu Ki Madyasta meneruskan ceritanya.

Setelah mengambil nafas sejenak, Ki Madyasta pun meneruskan ceritanya, “Tempat kedua yang tak kalah menariknya adalah sebuah air tejun yang bertingkat dua dan diyakini dapat menyembuhkan segala penyakit dan menambah umur dengan cara mandi di bawah curahan airnya, yaitu air terjun Toyomerta. Jalan menuju kesana sangatlah sulit bagi orang kebanyakan. Jalannya menanjak dan berliku melewati tebing tebing curam dan hutan lebat yang masih banyak menyimpan binatang buas.”

Ki Rangga Agung Sedayu menarik nafas dalam dalam. Benar benar sebuah perburuan yang sulit. Tidak mungkin baginya untuk menelusuri setiap tempat itu untuk menemukan Ki Singa Wana Sepuh, waktunya akan habis terbuang sementara itu perang antara Mataram dan Panaraga sudah tidak bisa ditunda tunda lagi.

Agaknya Ki Madyasta bisa membaca jalan pikiran Ki Rangga Agung Sedayu. Sambil tersenyum dia berkata, “sebenarnya masih ada dua tempat lagi, yaitu sebuah telaga yang luas di arah utara Kadipaten Panaraga di lereng Gunung Wilis dan yang berikutnya adalah Gua Lawa, disebut demikian karena banyak dihuni ribuan kelelawar, namun tempat itu sangat jarang dikunjungi guru Pangeran Ranapati itu, sejauh ini baru sekali dan selebihnya dia lebih senang mengunjungi ke dua tempat yang telah aku sebutkan terdahulu.”

“Apakah tidak ada gambaran yang pasti kapan dan dimana guru Pangeran Ranapati itu mesu raga, sehingga dengan demikian Ki Rangga Agung Sedayu dapat menentukan sikap?” bertanya Rara Wulan yang dapat membayangkan kesulitan Ki Rangga dalam mengemban tugasnya.

“Secara bergiliran Pangeran Ranapati selalu menyertakan anak buahnya dua atau tiga orang untuk mengikuti gurunya sekedar melayani kebutuhan sehari hari atau kadang hanya berjaga jaga agar ketenangan Ki Singa Wana Sepuh dalam mesu raga tidak terganggu. Biasanya mereka yang akan bertugas maupun selesai bertugas saling menyombongkan diri satu sama lainnya, dan itu sering mereka lakukan pada saat mereka berada ditempat umum, di pasar pasar atau kedai kedai, sehingga dari situlah para telik sandi dapat menyadap berita yang sangat penting itu untuk disampaikan kepadaku.”

“Mengapa mereka bertindak sebodoh itu?” bertanya Glagah Putih. Sebagai prajurit sandi, dia sangat heran dengan tingkah laku para pengikut Pangeran Ranapati itu.

Ki Madyasta tersenyum maklum, kemudian jawabnya, “Mereka memang orang orang bodoh yang hanya mengandalkan otot saja. Ingatlah, pengikut Pangeran Ranapati itu bukan prajurit, mereka berasal dari cantrik padepokan yang dipimpin oleh Pangeran itu sendiri, namun yang dalam perkembangannya sangat jauh dengan apa yang telah dikuasai oleh pangeran Ranapati itu sendiri. Engkau sendiri sudah membuktikan bahwa orang kedua yang ada di padepokan itu ilmunya terpaut sangat jauh dengan Pangeran Ranapati, itu menunjukkan bahwa Pangeran yang tamak itu hanya membutuhkan tenaga mereka namun tidak ada pembinaan yang berjenjang dan bertingkat sehingga mereka tidak lebih dari segerombolan orang orang kasar yang terlalu bangga menjadi pengikut seorang Pangeran.”

Mereka yang mendengar penjelasan Ki Madyasta itu mengangguk anggukkan kepala. Benar benar seorang Pangeran yang tamak dan sangat mementingkan diri sendiri. Sekilas Rara Wulan teringat dengan Nyi Kanthil, perempuan simpanan Pangeran Ranapati yang bermimpi menjadi istri yang sebenarnya dari seorang Pangeran, namun kenyataannya hanya menjadi seorang pelayan di istana Pangeran yang tidak berjantung itu. Itupun diterima dengan sangat terpaksa.

“Nah, berita terakhir apakah yang engkau terima Ki Madyasta?” bertanya Ki Rangga Agung Sedayu.

Sejenak Ki Madyasta membetulkan letak duduknya, kemudian jawabnya, “Dalam dua tiga hari kedepan, Ki Singa Wana Sepuh akan mesu raga di puncak Genthong gunung Bayangkaki. Aku sarankan Ki Rangga dapat melengkapi berita ini dengan cara menyadap keterangan itu sendiri dari anak buah Pangeran Ranapati. Biasanya mereka suka bergerombol di kedai dawet jabung Nyai Kawis di pojok utara pasar Panaraga.”

“Dan mereka dapat makan minum sepuasnya tanpa harus membayar,” geram Rara Wulan.

“Itulah yang membuat Nyai Kawis sangat keberatan. Untunglah pengikut Pangeran Ranapati itu kadang juga masuk ke kedai yang lain, sehingga Nyai Kawis masih bisa bertahan sampai sekarang ini.”

Ki Rangga Agung Sedayu mengangguk anggukkan kepala, namun Rara Wulan justru menggeram, katanya kemudian, “Apapun alasannya, semua itu harus dihentikan. Mereka tidak punya hak untuk berbuat seperti itu.”

“Engkau benar, Rara,” jawab Glagah Putih, “Tapi untuk sementara biarlah itu terjadi. Kita tidak ingin kehadiran kita di Panaraga ini diketahui oleh para petugas sandi Panaraga.”

“Jadi, kita biarkan saja kesewenang wenangan ini terjadi?” sergah Rara Wulan.

“Bukan begitu maksudku,” Glagah Putih berusaha mendinginkan hati Rara Wulan, “Kita tidak akan membiarkan semua itu terjadi, namun waktunya belum tepat. Biarlah kakang Agung Sedayu membuat pertimbangan pertimbangan yang matang dulu sebelum mengambil langkah selanjutnya.”

Rara Wulan tidak menjawab, namun hatinya tetap tidak rela melihat kesewenang wenangan yang menimpa kawula alit, walaupun untuk kepentingan yang lebih besar, sesuatu harus dikorbankan kalau perlu, akan tetapi mengapa kawula alit yang harus banyak menanggung semua itu?

Ketika bintang gubuk penceng sudah mulai bergeser dari tempatnya, angin malampun terasa semakin dingin. Mereka yang sedang mengadakan pertemuan itu kemudian memutuskan untuk mengakhiri pertemuan itu dan kembali ke tempat masing masing.

Keesokan harinya, di siang hari yang terik, ketika Ki Rangga Agung Sedayu sedang mengobati rasa hausnya di sebuah kedai dawet jabung di pojok utara pasar Panaraga, tiba tiba saja seseorang masuk kekedai itu sambil berteriak, “Nyai, apakah dawetmu masih ada? Berilah aku barang semangkok. Hari ini panasnya bukan main.”

Semua yang berada di kedai itu serentak berpaling, seorang yang berperawakan tinggi besar dengan kumis melintang dan jambang yang lebat masuk kedai dengan langkah yang tegap. Ikat kepalanya hanya disangkutkan begitu saja diatas kepalanya, sementara bajunya yang berwarna hijau gelap disampirkan di atas pundak kanannya.

Dengan acuh orang tersebut mengambil tempat duduk yang kosong di depan meja Ki Rangga Agung Sedayu, sambil meraih jadah dengan tangan kirinya, disuapi mulutnya sambil mengangkat kaki kanannya keatas lincak.

Ki Rangga Agung Sedayu menarik nafas dalam dalam. Menurut keterangan yang diterima dari para telik sandi Mataram melalui Ki Madyasta semalam, para pengikut Pangeran Ranapati sering berkeliaran di pasar pasar setiap harinya dan mereka dengan bebasnya tanpa harus membayar memasuki kedai mana saja dan makan makanan apa saja yang mereka kehendaki. Dan agaknya Ki Rangga Agung Sedayu telah bertemu dengan salah satu dari mereka.

“Mengapa Ki sanak memandangku sedari tadi?” tiba tiba dengan suara berat orang yang berkumis dan berjambang itu menegur Ki Rangga Agung Sedayu yang sedang duduk dihadapannya.

“Oh, maafkan Ki Sanak,” tergagap Ki Rangga Agung Sedayu menjawab, “Aku mengagumi kumis dan jambang Ki Sanak, sejak muda aku bermimipi mempunyai kumis dan jambang seperti Ki Sanak namun agaknya aku kurang beruntung.”

Sebuah senyum kebanggaan tampak menghiasi wajah orang yang berkumis dan berjambang itu, kemudian katanya sambil mengangguk anggukkan kepalanya, “Apakah engkau sudah mencoba beberapa ramuan yang dipercaya dapat menumbuhkan kumis dan jambangmu?”

“Sudah sering kali Ki Sanak, seperti minyak cacap dari tungkai kambing, atau minyak dari seekor kalajengking hijau yang dibakar, bahkan aku pernah mencoba yang lebih gila lagi, rambut dari tiga orang janda kembang yang dibakar dan abunya dicampur dengan minyak klentik.”

Tiba tiba orang yang berkumis dan berjambang itu tertawa tergelak gelak sampai terbatuk batuk karena mulutnya masih penuh dengan jadah. Ketika batuknya telah reda diapun mengumpati Ki Rangga Agung Sedayu, “Bodoh, kalau setiap kata orang engkau ikuti, bukan rambut yang akan tumbuh di wajahmu tapi kurap dan kadas yang akan merusak wajahmu.”

“Ah,” desah Ki Rangga Agung Sedayu, “Akupun akhirnya berpikir demikian juga, Ki sanak, sehingga aku hentikan angan anganku untuk mempunyai kumis dan jambang seperti Ki Sanak.”

 

Bersambung ke jilid 399

<< kembali ke TADBM-397 | lanjut ke TADBM-399 >>

2 Responses

  1. Cerita yang di tulis mbah man ini lebih dramatis, lebih ngintrik, dan lebih garang di banding SHM. Mbah Man lbh tegaan. Klo SHM, unsur detil nya, jawa nya, toleransi nya lbh kental. Btw, good job Mbah 😇

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s