TADBM-401

<< kembali ke TADBM-400 | lanjut ke TADBM-402 >>

TADBM-401MATAHARI telah merambat semakin tinggi. Sinarnya yang hangat terasa mulai menggatalkan kulit. Mereka bertiga yang masih duduk-duduk di pendapa rumah yang selama ini digunakan oleh kedua murid perguruan Tal Pitu itu masih diam membisu. Agaknya mereka bertiga sedang sibuk dengan lamunan masing-masing. Sesekali terdengar helaan nafas yang panjang, namun mereka lebih banyak termenung sambil menundukkan kepala dalam-dalam.

“Ki Rangga,” tiba-tiba Ki Ageng Sela Gilang bergumam pelan, “Masih ingatkah Ki Rangga dengan suara jeritan seorang perempuan yang telah menyebabkan kita menelusurinya sampai ke tempat ini?”

Ki Rangga Agung Sedayu mengangkat kepalanya, namun sebelum dia menjawab, ternyata Anjani telah mendahuluinya, “Kakek, akulah yang menjerit itu atas perintah kedua Guruku. Sebenarnyalah kalian berdua telah dipancing untuk masuk ke perangkap Guruku. Para telik sandi Kadipaten Panaraga secara teratur memberikan laporan tentang keberadaan kalian berdua, sehingga kami telah menyiapkan jebakan ini.”

Ki Rangga dan Ki Ageng hampir bersamaan telah mengangguk anggukkan kepala. Baru sekarang mereka menyadari bahwa setiap langkah mereka ternyata telah dipantau oleh para telik sandi Kadipaten Panaraga.

“Bagaimana dengan para penghuni Padukuhan Panjer Bumi ini? Dimanakah mereka?” bertanya Ki Rangga setelah beberapa saat mereka terdiam.

“Padukuhan Panjer Bumi?” Anjani justru balik bertanya dengan terheran heran, “Sepengetahuanku padukuhan ini bernama Padukuhan Merjan, bukan padukuhan Panjer Bumi.”

Sekarang Ki Rangga dan Ki Ageng lah yang menjadi bingung. Sebelum memasuki padukuhan ini mereka telah membaca nama padukuhan ini yang terpahat pada tugu pembatas yang terletak di ujung padukuhan. Memang tulisan itu tampak baru saja dibuat dengan tergesa-gesa. Kalau memang nama padukuhan ini adalah padukuhan Merjan, berarti ada orang yang dengan sengaja telah mengganti nama padukuhan ini dengan nama Padukuhan Panjer Bumi untuk suatu tujuan tertentu. Tetapi apakah maksud sebenarnya dari semua itu?

Untuk sejenak mereka bertiga termangu mangu. Namun akhirnya sambil menghela nafas panjang, Ki Ageng Sela Gilang pun berdesis perlahan lahan, “Ah, sudahlah. Sebaiknya kita segera meninggalkan padukuhan ini, terutama Ki Rangga. Tidak menutup kemungkinan peristiwa yang telah terjadi di sini telah di sadap oleh para telik sandi dan dilaporkan ke Kadipaten Panaraga.”

“Benar Ki Ageng,” jawab Ki Rangga, “Sebaiknya kita tidak usah menunggu anak buah kedua murid Tal Pitu itu selesai mengubur Pemimpin mereka. Namun, sebelum meninggalkan Padukuhan ini, kita harus mencari di mana para penghuni Padukuhan ini bersembunyi dan membujuk mereka untuk kembali.”

“Aku tahu tempat mereka bersembunyi,” desis Anjani perlahan tanpa mengangkat kepalanya, “Di sisi selatan Padukuhan ini ada hutan yang luas dan masih lebat. Di sanalah mereka bersembunyi.”

Ki Ageng dan Ki Rangga tanpa sadar mengangguk anggukkan kepala. Namun panggraita kedua orang yang sudah hampir putus kawruh lahir dan batin itu telah menangkap sesuatu yang tidak wajar sedang bergejolak dalam diri Anjani.

“Marilah,” berkata Ki Ageng menyadarkan Anjani yang sedang tenggelam dalam perasaannya, “Matahari sudah semakin tinggi. Lebih baik kita segera melanjutkan perjalanan kita.”

Sejenak kemudian ketiga orang itu telah berdiri dan berjalan menuruni tangga pendapa. Ketika mereka memandang ke arah halaman rumah sebelah kiri, halaman itu sudah bersih walaupun bekas-bekas pertempuran semalam masih tampak, pohon-pohon yang dahannya berpatahan dan tanah yang bagaikan dibajak.

Beberapa anak buah dari kedua murid Tal Pitu yang terbunuh itu masih tampak membenahi barang-barang mereka sebelum berangkat kembali ke Padepokan mereka. Sedangkan para Prajurit Kadipaten Panaraga yang diperbantukan kepada kedua murid Tal Pitu itu sudah tidak tampak lagi. Agaknya mereka telah kembali ke Panaraga tanpa menunggu penguburan kedua murid Tal Pitu itu.

Sementara itu, matahari telah merambat semakin tinggi. Angin yang segar bertiup membelai wajah Anjani yang selalu menunduk. Rambutnya yang disanggul tinggi itu tampak serasi dengan wajahnya yang agak bulat. Anak rambut di keningnya tampak beriak-riak tertiup angin menambah pesona indah di wajahnya.

Ketika hutan yang membujur di sebelah selatan Padukuhan itu semakin dekat, tampak wajah Anjani semakin tegang. Sesekali dia menarik nafas panjang untuk sekedar meredakan gejolak di dalam dadanya. Matanya yang sayu itu kini semakin sembab dengan air mata yang terlihat mulai mengembang di pelupuk matanya.

Ki Rangga Agung Sedayu yang berjalan di sebelah kanannya sesekali telah mencuri pandang ke arah wajah Anjani. Berbagai dugaan telah tumbuh di hatinya melihat wajah yang cantik itu tampak sangat gelisah, sesekali berubah memerah, sesekali berubah pucat.

Sambil mencoba menjajari langkah-langkah kecil Anjani, Ki Rangga perlahan berbisik, “Adakah sesuatu yang masih membebani hatimu, Anjani? Engkau telah terlepas dari pengaruh jahat kedua Gurumu. Seharusnya engkau gembira menyongsong masa depanmu?”

Kepala yang menunduk itu sejenak menengadah, sambil memalingkan wajahnya ke arah Ki Rangga, mata yang bulat dan bening namun mulai basah dengan air mata itupun menatap dengan sendu, kata katanya pun keluar satu-satu, “Ki Rangga, tiada kebahagiaan yang melebihi dari pada terlepas dari cengkeraman jahat kedua Guruku. Namun sekarang aku baru menyadari, betapa kotornya diri ini. Rasanya aku ini sudah tidak pantas lagi untuk diterima dan menjadi bagian dalam kehidupan bebrayan ini.”

Sebuah desir yang tajam terasa menggores jantung Ki Rangga Agung Sedayu. Bagaimanapun juga, Ki Rangga merasa bersalah telah meminta Anjani sebagai taruhan dalam perang tanding itu. Namun sebenarnyalah Ki Rangga merasakan getaran-getaran aneh setiap kali memandang wajah Anjani. Wajah itu seakan penjelmaan wajah seorang gadis dari Menoreh yang pernah hadir mengisi kenangan dalam hidupnya berpuluh tahun yang lalu.

“Anjani,” perlahan Ki Rangga mencoba menghibur hati Anjani yang telah patah, “Kehidupan ini berjalan sesuai dengan kehendak Yang Maha Agung. Sebaiknya kita menerimanya dengan ikhlas, walaupun kita sebagai hambaNya tetap diperintahkan untuk berusaha yang terbaik, namun kehendakNyalah yang berlaku dan kita sebaiknya dengan ikhlas menjalaninya.”

Anjani yang berjalan di sisi Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam, kemudian dihembuskannya udara yang ada di dalam rongga dadanya dengan cepat seolah olah ingin dibuangnya segala permasalahan yang membelit hatinya. Kemudian desahnya perlahan hampir tak terdengar, “Seandainya ada seseorang yang mau menerima diri ini betapapun kotornya, aku bersumpah akan mengabdikan sisa-sisa hidupku ini kepadanya.”

Ki Rangga Agung Sedayu yang mendengar desah Anjani lamat-lamat itu terkejut. Walaupun Anjani seolah olah hanya berkata kepada dirinya sendiri, namun pendengaran Ki Rangga yang sangat tajam dengan sangat jelas dapat mendengarkan segala keluhan Anjani itu.

Berbagai perasaan bergejolak dalam dada Ki Rangga Agung Sedayu. Ingin rasanya menghibur Anjani dengan memberikan harapan-harapan masa depan yang lebih cerah. Namun jika diingat bahwa dirinya sudah tidak bisa disebut muda lagi, serta ada seorang istri yang sedang hamil tua dengan setia menunggu kepulangannya dari Panaraga, hati Ki Rangga bagaikan sebuah belanga yang jatuh terbanting di jalan berbatu-batu, hancur berkeping-keping tak berbentuk.

Ki Ageng Sela Gilang sengaja memperlambat langkahnya agar kedua orang itu dapat berjalan beriringan dan saling mengungkapkan perasaanya. Sebagai orang yang tidak pernah mengikatkan diri dengan ikatan yang bernama sebuah keluarga, Ki Ageng memang sejak mudanya telah dengan sengaja menjaga jarak dengan yang namanya perempuan. Bukan karena dia membencinya atau tidak ada keinginan dalam dirinya terhadap mereka, namun lebih dari itu, Ki Ageng yang di masa mudanya terkenal dengan nama Singa Wana itu merasa bahwa kedekatannya dengan perempuan hanya akan menambah masalah saja. Paling tidak menurut anggapannya, dengan menjauhi perempuan, dia akan terhindar dengan sebuah masalah yang menurutnya lebih rumit dan membingungkan dari pada ilmu olah kanuragan yang sedahsyat apapun.

Tak terasa langkah mereka telah mendekati bibir hutan yang membujur di sebelah selatan padukuhan itu. Hutan itu tampak lengang, hanya kicau burung sesekali masih terdengar di dahan-dahan pohon yang rendah. Ada jalan setapak yang menjelujur di antara perdu-perdu yang bertebaran di padang sempit sebelum memasuki hutan yang cukup lebat.

Semakin dekat dengan hutan itu, Anjani tampak semakin gelisah. Beberapa kali dia menggeretakkan giginya sambil mengepalkan jari jemarinya keras-keras. Sesekali dia menengadahkan kepalanya untuk menahan air mata yang kelihatannya mulai mengembang di pelupuk matanya dan mulai jatuh satu-satu berderai derai.

Ki Rangga Agung Sedayu yang sedari tadi selalu memperhatikannya, diam-diam tidak tahan melihat kegelisahan Anjani. Sambil menyentuh pundak Anjani dengan lembut, Ki Rangga Agung Sedayu pun berbisik perlahan, “Anjani, tenangkanlah hatimu. Aku akan selalu berusaha membantumu untuk mengatasi kesulitanmu sejauh mana aku dapat membantumu. Marilah kita hadapi segala permasalahan ini dengan tenang dan penuh kesabaran. Semoga Yang Maha Agung selalu membimbing kita di jalan yang dikehendakiNya.”

Anjani hanya mengangguk perlahan.

Sementara itu Matahari telah berada di puncak langit. Panasnya benar-benar membakar kulit, namun angin yang bertiup cukup keras di pinggir hutan itu telah membuat tubuh ketiga orang itu menjadi cukup segar. Sambil menghirup udara hutan yang segar, Ki Ageng Sela Gilang ternyata telah mendendangkan sebuah tembang macapat.

“Lamun sira hanggeguru kaki, Hamiliya manungsa kang nyata Ingkang becik martabate, Sarta kang wruh ing hukum Kang ibadah, Lan kang wiraki Syukur antuk sang tapa kang awus amungkur Tan pamrih pawehing liyan, iku pantes sira guronana kaki, Sartane kawruhana…”

Ki Rangga Agung Sedayu tersenyum mendengar Tembang Dandanggula yang berisi nasehat tentang bagaimana seorang anak manusia mencari Guru sejatinya. Guru yang akan menunjukkan ke arah kawruh sejati dan sejatinya kawruh yang akan membawa manusia pada saat meninggalkan dunia yang fana ini dan kembali kepada Penciptanya, akan kembali dalam keadaan suci sebagaimana waktu dia dilahirkan.

Sedangkan Anjani merasa bahwa tembang itu bagaikan menghadapkan wajahnya untuk bercermin pada sebuah belanga yang berisi air yang jernih dan tenang. Betapa bayangan yang timbul dari kejernihan air di belanga itu memantulkan seraut wajah yang berlumuran noda dan dosa yang tidak akan mungkin terhapus dengan begitu saja.

Sejenak kemudian mereka bertiga telah memasuki hutan yang cukup lebat. Pohon-pohon yang tinggi menjulang bagaikan menembus awan. Daun-daunnya yang lebat menyebabkan sinar Matahari tidak mampu menembus sampai ke tanah. Hanya sesekali ketika angin yang bertiup cukup keras dan mampu menggoyangkan dedaunan dan menyibakkannya untuk sesaat, sinar matahari pun langsung menembus dan menciptakan bayang-bayang berbinar indah di atas tanah yang lembab.

Dengan perlahan mereka mulai menapakkan kaki-kaki mereka di atas tanah yang lembab. Sesekali mereka harus meretas jalan dengan mematahkan sulur-sulur atau dahan-dahan yang saling menyilang menghalang jalan. Ki Rangga Agung Sedayu yang berjalan di depan sudah bisa merasakan berdasarkan panggraitanya yang tajam bahwa berpuluh-puluh pasang mata sedang mengawasi mereka bertiga dari balik gerumbul-gerumbul dan batang-batang pohon yang besar. Namun sejauh itu belum ada tanda-tanda bahwa orang-orang yang sedang mengawasi mereka itu akan membahayakan keberadaan mereka bertiga.

Diam-diam Ki Ageng Sela Gilang yang berjalan di belakang sendiri telah merasakan gerakan-gerakan yang mencurigakan di sekelilingnya. Kelihatannya-orang orang yang bersembunyi diantara gerumbul-gerumbul perdu dan batang-batang pohon itu dengan sengaja telah mengikuti ke arah mana mereka bertiga bergerak, sehingga tanpa mereka sadari, ketiga orang itu telah masuk kedalam kepungan.

Semakin lama mereka berjalan semakin masuk jauh ke jantung hutan yang masih banyak dihuni binatang-binatang buas itu. Sesekali Anjani harus merunduk untuk menghindari dahan-dahan pohon yang patah dan menyilang jalan. Tak jarang Ki Rangga Agung Sedayu yang berjalan di depannya harus membimbingnya untuk meloncati tanah-tanah yang longsor dan membentuk parit-parit yang cukup lebar dan dalam.

Suatu ketika tanah yang sedang diinjak Anjani tiba-tiba saja longsor. Anjani yang tidak siap menghadapi situasi itu tiba-tiba saja terhuyung-huyung kedepan sambil memekik kecil. Disaat yang rawan itulah tiba-tiba saja sebuah tangan yang kokoh telah merengkuhnya. Sekejab kemudian tanpa disadarinya, Anjani telah berada dalam pelukan Ki Rangga Agung Sedayu.

Sejenak keduanya bagaikan terbuai dalam alam mimpi yang mengasyikkan. Bau wangi tubuh Anjani benar-benar telah membuai daya nalar Ki Rangga Agung Sedayu sehingga untuk beberapa saat dia bagaikan kehilangan kesadaran. Sedangkan Anjani yang membiarkan dirinya jatuh dalam pelukan Ki Rangga Agung Sedayu benar-benar terhanyut dalam perasaannya dan merasakan betapa damai dan hangatnya dalam pelukan Ki Rangga Agung Sedayu. Seakan akan semua persoalan yang membelit dirinya selama ini telah sirna bersama dengan munculnya perasaan aman dan damai dalam perlindungan orang yang dikaguminya itu.

Kalau saja Ki Ageng Sela Gilang yang berdiri hanya beberapa langkah di belakang kedua orang yang sedang tenggelam dalam alam bawah sadar itu tidak terbatuk-batuk kecil, niscaya keduanya tidak akan segera sadar bahwa mereka saat itu sedang berada di tengah-tengah buasnya rimba raya.

Menyadari hal yang demikian itu, segera saja keduanya dengan sekuat tenaga melepaskan diri dari pusaran perasaan yang dapat menghanyutkan dan menjerumuskan mereka. Dengan tanpa menyinggung perasaan Anjani, Ki Rangga telah melepaskan pelukannya dan mundur dua langkah, kemudian katanya, “Ma’afkan aku Anjani, atas keterlanjuran ini. Bukan maksudku untuk menambah beban di hatimu, namun sesungguhnyalah aku tidak sengaja. Semua ini benar-benar diluar kesadaranku. Aku hanya ingin menolongmu, tidak ada maksud lain.”

Anjani yang masih berdiri termangu-mangu sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam perlahan-lahan mulai dapat menguasai dirinya. Sambil melangkah meneruskan perjalanan, dia bergumam perlahan, “Akulah yang bersalah, Aku kurang hati-hati melihat keadaan di sekelilingku. Namun apapun yang telah terjadi, aku wajib mengucapkan terima kasih atas pertolongan Ki Rangga.”

Ki Ageng Sela Gilang yang melihat ewuh-pekewuh yang terjadi di antara kedua orang itu, berusaha untuk mencairkan suasana. Katanya kemudian sambil melangkah mengikuti Anjani, “Marilah, urusan kita masih banyak. Agaknya orang-orang yang dengan diam-diam telah mengikuti kita sedari tadi, sudah semakin banyak. Mungkin kita akan segera sampai di tempat persembunyian mereka.”

Ki Rangga Agung Sedayu yang masih berdiri mematung itu akhirnya menarik nafas dalam-dalam. Entah perasaan apa yang sedang bergolak di dalam rongga dadanya. Berbagai kenangan sepanjang hidupnya silih berganti memenuhi benaknya. Saat-saat pertama bertemu dengan Sekar Mirah di Sangkal Putung. Walaupun dalam beberapa hal dirinya kurang sependapat dengan cara berpikir gadis anak Demang yang kaya raya itu, namun ada sesuatu yang dimiliki oleh gadis itu yang sangat berkesan dan membuatnya tertarik dan tidak ingin kehilangan dirinya. Padahal saat itu dirinya harus berhadapan dengan Sidanti, murid Ki Tambak Wedi yang garang. Ternyata kekuatan yang tumbuh dalam dirinya karena pengaruh Sekar Mirah saat itu benar-benar ngedab-edabi. Dia berani beradu dada dengan Sidanti dan telah membulatkan tekadnya untuk tidak ingin kehilangan Sekar Mirah sejak saat itu dan untuk selanjutnya di hari-hari mendatang.

Sambil berjalan mengikuti di belakang Ki Ageng Sela Gilang, pikiran Ki Rangga Agung Sedayu kembali terhanyut ke sebuah tempat yang indah dengan bukit-bukit yang membujur dan tanah-tanah yang subur, Tanah Perdikan Menoreh.

“Ah,” tanpa disadarinya Ki Rangga berdesah sehingga Ki Ageng yang berjalan di depannya menoleh.

Sambil tersenyum Ki Ageng menghentikan langkahnya dan berpaling ke arah Ki Rangga yang sedang melangkah ke arahnya. Kemudian dengan langkah satu-satu, keduanya pun berjalan beriringan menyusul Anjani yang sudah berada cukup jauh di depan.

“Ki Rangga,” berkata Ki Ageng sambil mengiringi langkah Ki Rangga, “Ki Rangga sudah memenangkan perang tanding dengan murid Tal Pitu itu, dan kini Anjani yang dijadikan taruhan atas permintaan Ki Rangga sendiri telah bersedia mengikuti Ki Rangga. Apakah rencana Ki Rangga selanjutnya yang berkenaan dengan diri Anjani?”

Mendapatkan pertanyaan seperti itu, sejenak Ki Rangga terdiam. Setelah beberapa saat kemudian barulah Ki Rangga menjawab, “Ki Ageng, sejujurnya pada waktu itu aku hanya bermain main saja sewaktu meminta Anjani sebagai taruhan agar dapat mempengaruhi nalar kedua murid Tal Pitu itu. Namun dalam perkembangannya aku menjadi serba salah, ternyata Anjani tidak ikut bela pati kepada Gurunya, justru dia merasa berterima kasih telah terbebas dari pengaruh jahat kedua Gurunya. Itulah yang sekarang sedang membebani pikiranku, apa yang sebaiknya aku lakukan sehubungan dengan ikutnya Anjani ke Tanah Perdikan Menoreh.”

Ki Ageng Sela Gilang mengangguk anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dia menyadari bahwa tidak ada kesengajaan sama sekali dari Ki Rangga untuk mendapatkan Anjani karena pamrih pribadi. Menurut perhitungan Ki Rangga dan juga Ki Ageng pada saat itu, Anjani akan membela mati-matian kedua gurunya itu, dan jika itu yang terjadi, Ki Rangga pasti akan dapat menyelesaikannya dengan mudah.

Namun yang terjadi kini adalah justru sebaliknya. Anjani adalah seorang perempuan yang memerlukan belas kasihan dan bantuan tulus untuk dapat bangkit kembali dari keterpurukannya. Tentu saja jika dikehendaki Ki Rangga akan dapat memberikan bantuan baik secara lahir maupun batin dengan tulus. Namun yang harus dipertimbangkan dengan lebih mendalam adalah kesan yang akan didapat dari keluarga Ki Rangga Agung Sedayu sendiri sesampainya mereka nanti di Menoreh.

Sementara itu Anjani yang sudah meninggalkan Ki Rangga dan Ki Ageng jauh di depan tampak berjalan dengan riangnya. Kalau sebelumnya dia berjalan dengan wajah menunduk dan kaki tersaruk-saruk, kini dengan lincahnya dia berloncatan menghindari batang-batang pohon yang tumbang dan lubang-lubang di tanah yang terjadi akibat longsor atau tergerus aliran air sewaktu hujan lebat melanda hutan itu.

Hatinya benar-benar sedang berbunga-bunga. Apa saja yang dilihatnya seakan berubah menjadi indah dan menawan. Anggrek-anggrek hutan yang bergerombol menempel pada batang-batang pohon yang besar dengan bunganya yang berwarna warni, semak-semak yang bertebaran serta gerumbul-gerumbul liar yang kadang-kadang muncul di antara daun-daunnya yang berwarna hijau gelap, bunga-bunga kecil mungil nan cantik, serta sulur-sulur yang menjulur tak beraturan yang justru tampak bagaikan tirai indah terbuat dari benang-benang sutra yang biasa menghiasi istana para Raja.

Tanpa terasa langkah Anjani telah sampai pada sebuah padang perdu yang cukup luas. Agaknya padang perdu itu memang sengaja dibuat dengan cara menebangi pepohonan yang ada di tengah hutan itu.

Padang perdu itu memang telah dijadikan sebagai tempat tinggal sementara dengan membangun gubuk-gubuk yang sangat sederhana yang jumlahnya puluhan buah. Ketika Anjani telah menginjakkan kakinya di padang perdu itu, ternyata para penghuninya telah berkumpul di depan gubuk terbesar yang terletak di paling depan dari deretan gubuk-gubuk yang ada di situ.

Seorang yang berperawakan sedang dengan rambut dibiarkan terurai dan ikat kepala yang dikalungkan di lehernya, berdiri di paling depan. Umurnya sudah lewat setengah abad menilik sebagian rambutnya yang mulai memutih serta garis-garis keriput yang menghiasi wajahnya.

Anjani segera menghentikan langkahnya ketika orang tua itu mengangkat tangan kanannya, kemudian katanya dengan suara yang tegas, “Berhenti di tempatmu, atau para pengawal padukuhan Merjan akan menghentikan langkahmu dengan cara mereka.”

Seleret warna merah menghiasi wajah Anjani. Sudah sekian lama dia bergaul dengan kedua gurunya yang mempunyai watak tinggi hati dan mudah tersinggung, sehingga sedikit banyak sifat itu telah menular kepadanya.

“Kalau aku tidak mau berhenti, kalian mau apa?” jawabnya sambil bertolak pinggang dan menengadahkan wajahnya.

Orang tua itu sejenak mengerutkan alisnya, kemudian sambil menunjuk ke atas pohon yang tumbuh berjajar jajar di sekeliling Anjani dia berkata, “Silahkan kalau ingin mencoba ketajaman anak panah kami. Kami sengaja mengasah anak panah itu setiap hari khusus untuk menyambut orang-orang yang telah mengusir kami dari padukuhan kami.”

Ketika Anjani menengadahkan wajahnya mengikuti arah yang ditunjukkan oleh orang tua itu, sekejab dadanya berdesir. Berpuluh-puluh orang sedang bertengger di atas pohon-pohon itu dengan anak panah yang siap diluncurkan dari busurnya.

Sebenarnya ada keinginan dari Anjani untuk mencoba kehebatan para pengawal padukuhan Merjan. Namun baru saja tangan kanannya meraba hulu pedangnya, terdengar suara halus menegur di belakangnya, “Anjani, kita datang dengan maksud damai, mengajak mereka untuk kembali ke padukuhannya, bukan untuk membuka permasalahan baru.”

Untuk sejenak Anjani tertegun, ketika kemudian dia menoleh ke belakang, tampak Ki Rangga Agung Sedayu dan Ki Ageng Sela Gilang telah berdiri beberapa langkah di belakangnya.

“Biarlah aku mencoba menjelaskan maksud kedatangan kita ini,” berkata Ki Ageng sambil melangkah melewati Anjani.

Ketika dia sudah berhadap hadapan dengan orang tua yang telah menghentikan langkah Anjani, Ki Ageng pun segera membungkukkan badannya sambil berkata, “Ma’afkan atas sikap deksura dari cucuku. Dia masih muda dan belum mengerti luasnya dunia ini.”

“Bohong..!” tiba-tiba terdengar jerit seorang perempuan muda. Dengan segera dia mendesak maju sambil berteriak dan tangannya menunjuk ke arah Anjani, “Dia.., ya!, dia…!, perempuan yang telah menggoda suamiku sehingga suamiku dengan teganya meninggalkan aku. Dia perempuan terkutuk yang telah membuat padukuhan Merjan hancur bersama dengan kedua gurunya yang seperti iblis itu.”

Tersirap darah Anjani sampai ke ubun-ubun demi menatap wajah perempuan muda yang berdiri hanya dua langkah saja di depannya. Matanya yang merah darah itu dengan nanar menatap liar ke arah Anjani.

“Perempuan iblis, mampuslah kau..!” tiba-tiba dengan disertai umpatan yang kotor, perempuan muda itu meloncat menubruk Anjani.

Anjani yang sedari tadi telah terguncang jantungnya demi mengenali wajah perempuan muda itu hanya diam membeku. Tidak ada usaha untuk menghindari terjangan perempuan muda yang seperti sedang kerasukan setan. Penyesalan yang dahsyat telah melanda hatinya begitu menyadari bahwa perempuan muda itu adalah salah satu dari sekian banyak korbannya. Suaminya telah meninggalkannya karena tergila-gila dengan Anjani, namun Anjani ternyata tidak pernah bersungguh-sungguh dan hanya ingin mempermainkannya saja. Tidak lebih dari seminggu setelah laki-laki itu mengikuti Anjani, mayatnya ditemukan terkapar tak bernyawa di pinggir sungai sebelah utara padukuhan Merjan dalam keadaan terkoyak-koyak karena gigitan dari segerombolan anjing hutan. Untung seorang pencari ikan yang pertama kali menemukannya telah berhasil mengusir anjing-anjing liar itu sehingga mayat itu masih dapat dikenali.

Sementara itu perempuan muda yang sedang kalap itu telah mengembangkan jari-jarinya untuk menerkam wajah Anjani. Sebagai perempuan, Anjani secara naluri berusaha untuk menyelamatkan wajahnya dengan menyembunyikannya dibalik kedua belah telapak tangannya, sehingga ketika terjangan perempuan muda itu dengan deras menghantam Anjani, selamatlah wajah Anjani dari goresan kuku-kuku perempuan yang telah mendendamnya sampai ke ubun-ubun.

Namun ternyata Anjani sama sekali tidak berusaha untuk melawan kekuatan terjangan itu sehingga sejenak kemudian kedua perempuan itu telah jatuh bergulingan di atas tanah yang lembab.

Sambil berteriak teriak seperti orang kesurupan, perempuan yang kehilangan suaminya itu berusaha mencakar memukul dan menjambak Anjani sehingga Anjani yang berusaha untuk bangkit berdiri, telah jatuh terduduk kembali.

Peristiwa yang sedang terjadi itu telah membuat miris hati orang-orang yang melihatnya. Beberapa perempuan yang ikut hadir disitu dan merasa kasihan dengan nasib yang telah menimpa kawannya, ternyata tidak mau tinggal diam. Mereka berlomba lomba mendesak maju untuk ikut mengeroyok Anjani, sehingga keadaan pun berkembang menjadi semakin kisruh.

“Berhenti..!” tiba-tiba terdengar bentakan menggelegar yang membuat jantung setiap orang yang ada disitu hampir terlepas dari tangkainya. Kiranya Ki Ageng Sela Gilang yang tidak tahan melihat penderitaan Anjani telah mengeluarkan bentakan yang dilandasi dengan ilmu gelap sayuta.

Sejenak kemudian suasana benar-benar menjadi hening. Orang-orang padukuhan Merjan itu tampak jatuh terduduk sambil memegangi dada mereka masing-masing. Jalan nafas mereka seolah olah tersumbat, sedangkan jantung mereka seakan berhenti berdetak sehingga membuat pandangan mata mereka berkunang-kunang.

Sementara itu para perempuan yang sedang mengeroyok Anjani ternyata nasibnya jauh lebih buruk lagi. Mereka bergelimpangan di sekeliling Anjani dalam keadaan tak sadarkan diri.

Dengan perlahan Anjani berdiri sambil mengibas-ngibaskan kotoran yang melekat di kain panjangnya. Rambutnya yang disanggul ke atas dengan rapi itu kini telah berantakan dan rambutnya yang panjang dan hitam itu pun terurai jatuh sampai ke pinggang. Wajahnya yang sembab oleh linangan air mata tampak kuyu dan pucat, sepucat bulan kesiangan.

Ki Rangga Agung Sedayu yang berdiri agak jauh dan melihat semua peristiwa itu dengan utuh telah membulatkan hatinya untuk tidak ikut campur terlalu jauh dengan persoalan yang membelit Anjani, kalau sekiranya persoalan itu tidak terlalu membahayakan jiwa Anjani. Memang ada keinginan untuk menolong Anjani pada saat dia dalam kesulitan menghadapi amukan para perempuan dari Padukuhan Merjan, namun beberapa pertimbangan yang tumbuh di hati Ki Rangga telah membuatnya ragu-ragu untuk bertindak. Dia tidak ingin memberikan kesan yang semakin dalam kepada Anjani sehingga dapat menumbuhkan harapan-harapan bagi masa depan Anjani namun yang justru pada akhirnya akan menjerumuskan Anjani pada harapan yang sia-sia dan keputus asaan. Untunglah ketika keragu-raguan itu masih menghantui benaknya, Ki Ageng Sela Gilang telah bertindak cepat dan tepat untuk menyelamatkan Anjani.

Dengan perlahan-lahan dan susah payah, akhirnya para penghuni Padukuhan Merjan itu satu persatu telah bangkit dari duduknya kecuali para perempuan dan anak-anak. Orang tua yang telah menghentikan Anjani itu ternyata telah berdiri paling awal dibanding dengan lainnya. Agaknya orang tua itu memiliki ketahanan tubuh yang cukup baik.

“Ki Sanak,” berkata orang tua itu setelah dia mampu berdiri lurus di depan Ki Ageng, “Perkenalkan aku adalah Ki Dukuh Merjan yang bertanggung jawab atas keselamatan seluruh penghuni Padukuhan Merjan. Siapa pun Ki Sanak, aku tidak perduli. Yang jelas kedatangan Ki Sanak bertiga ke tengah hutan ini telah membawa bencana.”

Selesai berkata demikian pandangan orang tua yang ternyata adalah Ki Dukuh Merjan itu menatap ke arah para perempuan yang masih tergolek pingsan serta beberapa anak-anak yang ada di belakang yang juga masih tak sadarkan diri.

Sambil menarik nafas dalam dan menggeleng gelengkan kepalanya, Ki Ageng menjawab, “Ma’afkan aku Ki Dukuh, aku tidak mempunyai pilihan lain untuk menghentikan kegilaan ini. Seandainya memang benar cucuku ini bersalah, sebaiknya kita selesaikan dengan cara yang benar sesuai dengan hukum yang berlaku di negeri ini.”

Ki Dukuh termangu mangu mendengar penuturan Ki Ageng. Sejenak pandangannya silih berganti ke arah Anjani yang berdiri dengan menundukkan kepalanya serta Ki Rangga Agung Sedayu yang berdiri mematung agak jauh.

Agaknya Ki Ageng dapat menebak apa yang tersirat di hati Ki Dukuh, maka kemudian katanya sambil menunjuk ke arah Ki Rangga, “Orang itu tidak ada sangkut pautnya dengan peristiwa yang baru saja terjadi, tapi sudah seharusnyalah kalian para penghuni Padukuhan Merjan berterima kasih kepadanya karena atas jasanyalah kalian dapat kembali menempati rumah-rumah kalian tanpa ada rasa takut terhadap kekejaman kedua murid dari perguruan Tal Pitu itu.”

Sekejap Ki Dukuh terperanjat sambil memandang ke arah Ki Rangga Agung Sedayu. Berbagai dugaan berkecamuk di dalam dadanya mendengar perkataan Ki Ageng. Demikian juga para penghuni Padukuhan Merjan yang lain. Bahkan beberapa laki-laki telah melangkah maju menjajari Ki Dukuh untuk meyakinkan berita yang di bawa oleh Ki Ageng.

Agaknya Ki Rangga Agung Sedayu yang berdiri agak jauh merasa tidak enak jika hanya berdiam diri saja. Maka sambil melangkah mendekat, dia berkata, “Apa yang terjadi antara aku dan kedua murid Tal Pitu itu adalah urusan dendam yang tak berkesudahan. Hanya karena perlindungan Yang Maha Agung sajalah sehingga sampai saat ini aku masih diperkenankan untuk menikmati sinar Matahari.”

“Jadi,” sahut Ki Dukuh dengan suara yang hampir tersangkut di tenggorokan, “Ki Sanak berhasil menghancurkan kedua iblis itu?”

“Demikianlah atas pertolongan Yang Maha Agung,” jawab Ki Rangga sambil menganggukkan kepalanya.

“Syukurlah, akhirnya pertolongan itu datang juga,” seru Ki Dukuh dengan suara tersendat.

Namun yang terjadi kemudian adalah diluar dugaan Ki Rangga Agung Sedayu. Tiba-tiba saja Ki Dukuh telah menjatuhkan diri berlutut di depan Ki Rangga diikuti oleh beberapa laki-laki yang berdiri di dekat Ki Dukuh.

“Kami mengucapkan ribuan terima kasih atas pertolongan Ki Sanak.” Berkata Ki Dukuh diikuti oleh lainnya.

“Ah, sudahlah Ki Dukuh, ” desis Ki Rangga. Dengan cepat dipegangnya bahu Ki Dukuh dan ditariknya keatas untuk berdiri. Kemudian katanya kepada yang lain yang masih berlutut, “Berdirilah..! Tidak ada suatu keistimewaan apapun terhadap diriku karena yang kulakukan itu atas dasar dendam dan permusuhan, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan permasalahan kalian. Kalau pun hal itu ternyata telah menguntungkan kalian, itu semua adalah atas pertolongan dan belas kasihan dari Yang Maha Agung.”

Beberapa orang yang sudah berdiri itu masih termangu mangu. Namun agaknya Ki Ageng Sela Gilang tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Sambil melangkah menuju ke tempat para perempuan yang masih tergolek tak sadarkan diri, dia berkata kepada Ki Rangga, “Ki Rangga, aku akan menolong para perempuan ini terlebih dahulu. Seandainya Ki Rangga berkenan, Ki Rangga dapat menolong mereka yang masih tak sadarkan diri yang ada di belakang.”

Ki Rangga mengangguk anggukkan kepalanya sambil berkata kepada Ki Dukuh, “Ki Dukuh, aku mohon ijin untuk membantu menyadarkan mereka yang ada di belakang itu. Sementara itu Ki Dukuh bersama yang lainnya dapat berkemas-kemas untuk kembali ke padukuhan.”

Ki Dukuh benar-benar dibuat bingung. Dia tahu apa yang harus diperbuat untuk mengajak rakyatnya kembali ke padukuhan, namun bahwa masih ada seorang perempuan yang dikenal bernama Anjani murid kedua iblis yang telah menguasai padukuhan Merjan, hatinya menjadi sedikit bimbang. Apalagi sekarang ini Anjani justru mengikuti orang yang mengaku telah membunuh kedua Gurunya itu.

Ki Rangga yang sudah mengayunkan langkahnya itu sejenak tertegun ketika dilihatnya Ki Dukuh masih belum berbuat apa-apa. Dia menyadari sepenuhnya bahwa Ki Dukuh masih ragu-ragu dengan keberadaan Anjani, maka katanya kemudian, “Jangan kuatir dengan Anjani, Ki Dukuh. Dia kini bersamaku. Aku jamin dia telah menyadari kesalahannya di masa lalu. Justru saat ini kita harus membantunya untuk meyakinkan bahwa pintu tobat itu masih terbuka selama kita dengan tulus mau menyadari kesalahan-kesalahan kita.”

Ki Dukuh mengangguk anggukkan kepalanya. Ketika tanpa disadarinya dia berpaling ke arah Anjani, dilihatnya perempuan itu menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan muka pucat dan berlinangan air mata.

Demikianlah akhirnya, dengan dibantu oleh beberapa orang, Ki Ageng dan Ki Rangga telah berusaha menyadarkan mereka yang masih tak sadarkan diri. Dengan sentuhan lembut pada bagian tubuh tertentu, para perempuan dan anak-anak itu mulai menyadari keadaan dirinya. Segera saja terdengar jerit dan tangis di mana-mana. Anak-anak segera mencari biyung dan bapaknya. Sementara para pengawal padukuhan Merjan yang berada di atas pepohonan untuk menjaga segala kemungkinan yang dapat terjadi, telah turun dari tempat persembunyian masing-masing dan membantu Ki Dukuh mengumpulkan rakyatnya untuk bersama-sama kembali ke padukuhan.

Sementara itu, ketika perempuan yang telah kehilangan suaminya itu tersadar atas bantuan Ki Ageng, pertama tama yang dicarinya adalah Anjani. Dengan pandangan yang masih sedikit kabur, diedarkan tatapan matanya ke seluruh penjuru. Tapi ternyata dia tidak usah bersusah payah mencari Anjani karena justru Anjani lah yang melangkah mendekat. Ketika kemudian dia telah berada di depan perempuan yang masih duduk bersimpuh itu, Anjani segera ikut duduk bersimpuh dihadapannya. Dengan wajah yang berlinang air mata, diloloskannya pedang yang tergantung di pinggangnya kemudian disodorkan kepada perempuan yang telah kehilangan suaminya itu.

“Lakukanlah,” bisik Anjani diantara sedu sedannya, “Kalau memang itu akan membuatmu tenang. Sungguh aku ikhlas untuk menebus dosa dosaku.”

Sejenak perempuan itu tercekat. Dia tidak pernah mengira bahwa Anjani akan berbuat seperti itu. Ada perasaan aneh yang menjalar di dalam relung hatinya. Namun dendam kesumat yang telah sekian lama dipendamnya itu ternyata telah menggerakkan tangannya untuk meraih pedang yang disodorkan oleh Anjani.

Begitu hulu pedang itu telah tergenggam kuat, diiringi pekikan histeris, diayunkannya pedang itu dengan sekuat tenaga menebas leher Anjani yang sedang duduk bersimpuh sambil menangis tertahan-tahan.

Perempuan yang sedang kalap itu memang tidak pernah belajar ilmu olah kanuragan, namun kesehariannya dia adalah seorang pekerja keras. Hampir tiap pagi dia ke pategalan untuk mengurusi tanaman yang ada, mencangkul, menyiangi bahkan kadang menyulami tanaman-tanaman yang mati. Kadang-kadang dia juga harus membelah kayu bakar untuk menyalakan tungku kalau suaminya tidak sempat mengerjakannya. Siang sedikit menjelang Matahari mencapai puncaknya dia harus ke sawah mengirim ransum untuk suaminya yang sedang bekerja di sawah. Kadang, di sore hari dia masih turun ke sungai untuk suatu keperluan. Dengan demikian kekuatan yang tersimpan di dalam dirinya ditambah dengan kemarahan yang sudah mencapai ubun- ubun benar-benar mengerikan, pedang itu berkelebat membabat leher Anjani yang hanya menundukkan kepalanya saja sambil menangis tertahan-tahan.

Namun, sebelum pedang itu menyentuh leher Anjani yang berkulit putih bersih itu, tiba-tiba saja sebuah jari-jari yang kokoh telah memijat urat yang ada di pundak perempuan yang telah kehilangan suaminya itu. Seketika terdengar sebuah jeritan pendek diikuti dengan jatuhnya pedang milik Anjani itu ke tanah yang lembab.

Sejenak suasana menjadi tegang. Beberapa orang yang sedang berbenah dan tidak tahu duduk permasalahannya tampak menghentikan pekerjaannya untuk sejenak sambil mengerutkan keningnya dengan pandang mata yang menyala. Mereka menyangka jeritan perempuan yang malang itu ada hubungannya dengan Anjani.

Namun, yang terjadi kemudian adalah sangat mengherankan mereka yang hadir di situ. Begitu menyadari dirinya dan keterlanjuran tindakannya kepada Anjani yang hampir saja mencelakakan Anjani, perempuan itu tiba-tiba saja telah menjerit sekeras-kerasnya kemudian memeluk Anjani yang duduk bersimpuh di depannya. Segera saja tangis keduanya meledak sambil berpelukan erat-erat seolah olah tak akan terpisahkan lagi.

Ki Ageng Sela Gilang yang masih berdiri di belakang kedua perempuan yang sedang berpelukan itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun dalam hati Ki Ageng merasa agak lega setelah satu permasalahan yang membelit Anjani terselesaikan. Betapapun juga, Anjani sudah dianggap seperti cucunya sendiri. Ketika Ki Ageng masih tinggal di Istana Kadipaten Panaraga, dia sering bertemu dengan Anjani yang diajak kedua gurunya untuk menghadap Pangeran Ranapati. Sikap Anjani yang riang dan agak manja telah menarik hati Ki Ageng yang pada waktu itu dikenal bernama Ki Singa Wana Sepuh. Dari hari ke hari keduanya menjadi akrab karena kedua guru Anjani disibukkan dengan urusan kerja sama dengan Pangeran Ranapati, sehingga waktu luangnya digunakan untuk berbincang bincang dengan Ki Ageng Sela Gilang.

Sementara itu, Ki Dukuh Merjan telah mengatur para penghuni padukuhan yang telah mengungsi untuk beberapa lama di tengah hutan itu. Ternyata mereka juga sempat membawa ternaknya, bahkan beberapa ekor kuda juga sempat dibawa walaupun harus ditempatkan di bagian yang cukup terlindung dari serangan binatang buas yang mungkin mendekat ke perkemahan mereka. Namun, sejauh ini tidak ada binatang yang berani mendekat karena jumlah penghuni padukuhan yang mengungsi ke tengah hutan itu hampir dua ratusan.

Ketika kemudian Matahari mulai tergelincir ke arah barat, rombongan itu mulai bergerak meninggalkan hutan. Beberapa orang masih sempat berpaling memandangi gubuk-gubuk sederhana yang selama ini menjadi tempat tinggal mereka. bahkan tak sedikit para perempuan yang sempat menitikkan air mata.

Ki Dukuh berjalan diapit Ki Rangga dan Ki Ageng di kiri kanannya. Sedangkan Anjani dan perempuan yang ternyata bernama Selasih itu telah berbaur dengan rombongan anak-anak dan perempuan yang lain. Dengan riuhnya mereka saling berbagi cerita dengan Anjani. Tak jarang Anjani harus menahan diri kalau mereka bertanya terlampau jauh tentang masa lalu kehidupan pribadinya yang kelam.

Namun, kini Anjani telah pasrah. Dia akan menjalani hidup ini apa adanya, tidak lebih dan tidak kurang sambil mengharapkan seseorang yang mau mengulurkan pertolongan untuk membimbingnya ke jalan yang terang.

Sementara itu, Ki Dukuh yang berjalan sambil mengawasi rombongan yang berjalan dengan lambat itu tiba-tiba terkejut ketika Ki Rangga bertanya kepadanya, “Ki Dukuh, menurut pengakuan Anjani dan juga Ki Dukuh sendiri, padukuhan yang kalian tempati itu bernama Padukuhan Merjan, akan tetapi kami menjumpai nama yang lain ketika pertama kali memasuki padukuhan itu.”

“Maksud Ki Rangga, nama padukuhan yang terpahat di tugu batu itu?” sahut Ki Dukuh.

Kini giliran Ki Rangga dan Ki Ageng yang terkejut. Agaknya Ki Dukuh sudah mengetahui tentang nama padukuhan yang terpahat di tugu pembatas itu.

“Benar, Ki Dukuh,” kali ini Ki Ageng yang menyahut, “Nama yang terpahat pada tugu itu adalah Padukuhan Panjer Bumi, bukan Padukuhan Merjan.”

Sejenak Ki Dukuh termangu mangu. Pandangan matanya menerawang jauh sampai di awan putih yang tampak berarak arak setelah beberapa saat mereka mulai keluar dari hutan belukar. Kini rombongan itu mulai menelusuri padang perdu menuju ke Padukuhan yang telah memberikan kehidupan kepada mereka selama ini, Padukuhan Merjan.

“Ki Dukuh belum menjawab pertanyaan kami,” Ki Rangga mencoba mengingatkan Ki Dukuh yang tampak berjalan sambil termenung.

“Ah..,” desah Ki Dukuh, “Bukan maksudku untuk menghindari pertanyaan itu, Ki Rangga. Namun sesungguhnya akulah yang telah memahat nama Panjer Bumi itu.”

“He..?” hampir serentak Ki Rangga dan Ki Ageng terlonjak kaget.

“Maksud Ki Dukuh?” bertanya Ki Rangga tidak sabar.

Setelah menarik nafas sejenak, Ki Dukuh pun akhirnya menjawab, “Aku sengaja mengganti nama padukuhan Merjan ini dengan Panjer Bumi, karena memang aku sedang menunggu kedatangan seseorang yang kami harapkan dapat menolong masalah kami.”

Hampir bersamaan Ki Rangga dan Ki Ageng mengerutkan keningnya. Agaknya Ki Dukuh sadar bahwa kedua orang itu masih belum mengerti hubungan antara nama Padukuhan Panjer Bumi dengan kedatangan seseorang yang diharapkan dapat menolong mereka. Oleh karena itu maka kemudian katanya, “Orang yang kami tunggu itu adalah Panembahan Panjer Bumi yang pernah singgah di Padukuhan kami beberapa tahun yang lalu. Namun kami yakin bahwa Panembahan Panjer Bumi tidak akan lupa kepada kami karena sebelum melanjutkan perjalanan, Panembahan Panjer Bumi telah menitipkan sesuatu kepadaku dan berjanji suatu saat akan mengambilnya.”

“Panembahan Panjer Bumi,” tanpa disadari, kedua orang itu berdesis perlahan lahan mengulang nama yang disebutkan oleh Ki Dukuh.

Sejenak perbincangan itu terhenti. Yang terdengar hanya desir langkah mereka di atas rerumputan yang menguning karena hujan sudah lama tidak turun membasahi daerah itu.

“Apakah kalian mengenalnya?” bertanya Ki Dukuh pada akhirnya ketika melihat kedua orang itu masih terdiam sambil menundukkan kepala memandangi langkah mereka menyusuri padang perdu yang tidak begitu luas.

“Tidak, aku tidak mengenalnya,” akhirnya Ki Ageng lah yang menjawab sambil menengadahkan wajahnya memandangi burung-burung seriti yang melayang layang di angkasa. Sesekali mereka terbang rendah untuk menyambar bilalang atau sejenis serangga lainnya yang banyak bertebaran di padang itu.

Ki Rangga Agung Sedayu yang umurnya jauh lebih muda dari Ki Ageng ternyata juga merasa tidak pernah mengenal nama Panembahan Panjer Bumi, bahkan mendengar pun tidak.

Sambil berjalan beriringan mereka mulai mendekati Padukuhan Merjan. Sesekali mereka menengadahkan wajahnya memandangi Matahari yang mulai condong ke barat. Angin yang bertiup perlahan seakan-akan mendinginkan tubuh-tubuh yang basah oleh keringat.

“Ki Dukuh,” sambil berpaling ke arah Ki Dukuh yang berjalan di sebelah kirinya, Ki Ageng bertanya seolah olah sambil lalu saja, “Ki Dukuh tadi mengatakan bahwa Panembahan Panjer Bumi pasti akan kembali ke Padukuhan Merjan karena ada sesuatu yang dititipkan kepada Ki Dukuh. Kalau aku boleh tahu, barang apakah yang dititipkan itu? Keris pusaka, kitab atau benda berharga lainnya?”

Ki Dukuh tersenyum sambil menggeleng gelengkan kepalanya. Jawabnya kemudian, “Sama sekali bukan benda berharga. Mungkin bagi pribadi Panembahan Panjer Bumi membawa suatu kenangan khusus, namun bagi orang lain mungkin tidak sama sekali.”

Ki Rangga yang mulai tertarik dengan pembicaraan itupun menyela, “Jadi, berujud apakah titipan Panembahan Panjer Bumi itu? Apakah Ki Dukuh membawanya sekarang?”

Tiba-tiba Ki Dukuh menghentikan langkahnya. Sambil menurunkan buntalan kain yang ada di pundaknya, dia menjawab pertanyaan Ki Rangga, “Hanya selembar kain panjang yang sudah usang. Bahkan warnanya pun mulai buram sejalan dengan usia kain panjang ini yang sudah cukup tua.”

“Kain panjang?” tanpa sadar kedua orang itu melangkah mendekat ketika Ki Dukuh mengambil sesuatu dari buntalan kain yang telah diletakkan di atas tanah.

Betapa terkejutnya kedua orang itu terutama Ki Rangga Agung Sedayu begitu melihat selembar kain panjang di tangan Ki Dukuh yang sudah kusam warnanya namun masih jelas guratan-guratan jenis kain itu, kain gringsing.

Bagaikan tersiram banyu sewindu, tubuh Ki Rangga Agung Sedayu tiba-tiba menggigil seperti orang yang kedinginan. Dengan tangan gemetar dicobanya untuk meraih kain gringsing yang berada di tangan Ki Dukuh itu sambil bergumam perlahan, “Guru.., ya ini kain panjang Guru..”

“He..!” seru Ki Ageng yang berdiri di sisi lain dari Ki Dukuh, “Bukankah Guru Ki Rangga yang dikenal bernama Kiai Gringsing itu sudah lama meninggal dunia?”

Ki Rangga Agung Sedayu sejenak menarik nafas dalam-dalam untuk mengurai getar-getar di dalam dadanya. Katanya kemudian, “Demikanlah Ki Ageng. Aku dan Adi Swandaru sebagai muridnya langsung tidak pernah mengetahui keberadaan persemayaman terakhir dari Guru. Hanya paman Widura pada waktu itu yang diijinkan untuk mengetahui dimana keberadaan Guru, sedangkan seorang Wali yang waskita dari gunung Muria pernah menemuiku dan membawa pesan dari Guru di hari-hari terakhirnya. Aku belum tahu apakah paman Widura juga sempat bertemu dengan Wali yang waskita itu ketika menunggui hari-hari terakhir Guru.”

Ki Ageng Sela Gilang mengangguk-anggukkan kepala sambil bergumam perlahan, “Secara pribadi aku tidak mengenal gurumu. Akan tetapi nama orang bercambuk itu telah menggetarkan tanah ini dari ujung ke ujung sejak jaman pemerintahan Demak.”

“Itulah yang aneh,” berkata Ki Rangga sambil menggeleng gelengkan kepalanya, “Pada saat kami berdua mulai berguru, kami tidak mengenal secara pribadi orang yang menyebut dirinya Kiai Gringsing. Yang aku kenal adalah seorang dukun tua sahabat ayahku yang tinggal di dukuh Pakuwon, Ki Tanu Metir. Paman Widura lah yang telah berhasil memecahkan rahasia dibalik nama Kiai Gringsing yang senang mengenakan topeng dengan Ki Tanu Metir dukun tua sahabat ayahku yang pada waktu itu membantu mengobati Kakang Untara yang sedang terluka karena kelicikan Sidanti murid Ki Tambak Wedi.”

Ki Ageng hanya tersenyum sambil mengangguk-angguk mendengar penjelasan dari Ki Rangga. Sementara Ki Dukuh yang tidak mengerti ujung pangkal pembicaraan itu menggeleng gelengkan kepalanya sambil bergumam, “Aku tidak mengerti apa yang kalian berdua bicarakan. Ada hubungan apakah antara Panembahan Panjer Bumi dengan guru Ki Rangga?”

“Sudahlah Ki Dukuh,” sela Ki Rangga cepat, “Permasalahan ini hanyalah seputar padepokan kecil tempat kami berguru dulu. Tidak ada hubungannya dengan Panembahan Panjer Bumi yang Ki Dukuh kenal.”

Ki Dukuh kelihatannya masih belum puas, maka katanya kemudian, “Tapi bagaimana mungkin kain panjang Guru Ki Rangga bisa dibawa oleh Panembahan Panjer Bumi?”

Ki Rangga Agung Sedayu menggeleng lemah. Namun tiba-tiba sesuatu telah terlintas di benaknya sehingga dengan tergesa-gesa Ki Rangga pun bertanya, “Ki Dukuh, seperti apakah perawakan orang yang menyebut dirinya Panembahan Panjer Bumi itu?”

Sejenak Ki Dukuh mengerutkan keningnya, namun akhirnya pertanyaan Ki Rangga itupun dijawabnya tanpa prasangka apapun, “Panembahan Panjer Bumi itu orangnya berperawakan sedang bahkan cenderung kurus. Cara berpakaiannya sangat aneh, tidak seperti kebanyakan orang. Berpakaian serba putih dengan jubah yang berwarna putih pula. Sedangkan ikat kepalanya bukan sebagaimana ikat kepala pada umumnya, namun dia menyebutnya surban dan juga berwarna putih.”

“Kanjeng Sunan..,” tanpa sadar bibir Ki Rangga bergetar menyebut sebuah nama.

“Kanjeng Sunan..?” hampir berbareng Ki Ageng dan Ki Dukuh yang mendengar Ki Rangga menyebutkan sebuah nama itu mengulang.

Ki Ageng Sela Gilang yang lebih banyak berpengalaman itu segera tanggap dengan apa yang telah diucapkan oleh Ki Rangga, maka katanya kemudian, “Menurut pengamatan Ki Rangga, apakah orang yang menyebut dirinya Panembahan Panjer Bumi itu adalah Kanjeng Sunan dari gunung Muria yang pernah menemui Ki Rangga untuk menyampaikan pesan terakhir dari Kiai Gringsing?”

“Demikianlah Ki Ageng,” jawab Ki Rangga yakin, “Menilik ciri cirinya dan hubungan yang berkaitan dengan Guru, aku yakin Panembahan Panjer Bumi itu adalah Kanjeng Sunan.”

Untuk beberapa saat mereka terdiam. Ki Dukuh yang menjadi pendengar sedari tadi menjadi berdebar debar. Seandainya benar bahwa orang yang menyebut dirinya Panembahan Panjer Bumi itu adalah seorang Wali yang tinggal di gunung Muria, dia benar-benar menyesal telah menyia-nyiakan kesempatan untuk memohon petunjuk yang sangat berharga bagi kehidupan bebrayan dan kesiapan lahir batin dalam menyongsong alam kelanggengan.

Akhirnya setelah terdiam beberapa saat, Ki Ageng mencoba mengungkapkan pendapatnya. Katanya kemudian, “Agaknya Ki Rangga memang mendapat pesan khusus dari Kanjeng Sunan. Mungkin kain panjang itu memang benar milik Kiai Gringsing. Namun lebih dari semua itu, maksud dari Kanjeng Sunan menitipkan kain panjang kepada Ki Dukuh Merjan itulah yang harus kita cermati.”

“Kanjeng Sunan adalah seorang Wali yang waskita,” berkata Ki Rangga menanggapi pernyataan Ki Ageng, “Kalau Yang Maha Agung menghendaki umat Nya untuk sedikit mengetahui rahasia masa depan, itu adalah anugrah yang tiada taranya. Aku berharap Kanjeng Sunan memang sengaja menitipkan kain panjang Guru ini kepada Ki Dukuh agar aku sebagai muridnya dapat menang-kap isyarat tentang apa yang harus aku kerjakan.”

Ki Ageng mengangguk anggukkan kepalanya mendengar uraian Ki Rangga. Sebaliknya Ki Dukuh yang sedari tadi diam saja, ternyata sudah tidak kuat lagi untuk menahan diri, sehingga akhirnya dia berkata dengan nada setengah menggerutu, “Kalau memang benar Panembahan Panjer Bumi itu adalah Kanjeng Sunan dari gunung Muria, betapa bodohnya aku waktu itu karena tidak menggunakan kesempatan sebanyak banyaknya untuk minta petunjuknya.”

“Ah,” hampir bersamaan Ki Rangga dan Ki Ageng berdesah. Kemudian dengan cepat Ki Rangga menyahut, “Kanjeng Sunan tentu telah memberikan beberapa petunjuknya kepada setiap orang yang dijumpainya, termasuk para penghuni padukuhan Merjan.”

“Itulah yang masih aku sesali,” sahut Ki Dukuh, “Pada waktu itu kami tidak berusaha minta petunjuk yang sebanyak banyaknya tentang kawruh lahir dan batin, karena kami memang tidak menyadari dengan siapa kami berhadapan.”

“Itulah yang masih sering kali menjadi hambatan bagi diri kita dalam mencari kawruh kasampurnan. Kadang kita masih memandang siapa yang berbicara tapi tidak mencoba menalar dan mengurai makna sebenarnya yang terkandung dalam ucapan itu sendiri,” Ki Rangga berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Menghargai seseorang yang menyampaikan apapun kepada kita adalah baik, namun akan lebih baik lagi jika kita menghargai makna yang terkandung dalam ungkapan penyampaian itu sendiri tanpa memandang siapakah yang menyampaikannya.”

Ki Dukuh mengerutkan keningnya dalam-dalam mendengar uraian Ki Rangga. Ada beberapa hal yang dia kurang memahami-nya. Berbeda dengan guru Pangeran Ranapati yang di Kadipaten Panaraga lebih dikenal dengan nama Ki Singa Wana Sepuh. Pengalaman di masa mudanya berpetualang dari ujung ke ujung tanah ini telah membawanya bertemu dengan berbagai macam tingkah dan perangai manusia. Sehingga apa yang telah didapatkannya di masa-masa muda itu telah menempa jiwa dan raganya menjadi orang yang matang lahir maupun batin di masa tuanya.

Sementara itu Ki Rangga Agung Sedayu mencoba mengurai apa yang telah ditinggalkan oleh Kanjeng Sunan atau yang lebih dikenal oleh penduduk Merjan dengan nama Panembahan Panjer Bumi itu. Selembar kain panjang memang seakan tidak punya makna sama sekali selain mengingatkan kepada orang yang pernah memiliki dan memakainya, namun disamping itu tentu ada makna khusus yang ingin disampaikan oleh Kanjeng Sunan kepadanya.

“Ki Dukuh,” kata Ki Rangga kemudian sambil memegang kain panjang di tangan Ki Dukuh yang masih terlipat rapi, “Bolehkah aku melihat kain panjang ini sekali lagi, agar aku dapat menyimpulkan apa sebenarnya arti semua teka teki ini?”

“Silahkan, silahkan,” jawab Ki Dukuh sambil mengangsurkan lipatan kain panjang yang berada di tangannya.

Dengan tangan sedikit gemetar, Ki Rangga mencoba mem-bentangkan kain panjang itu. Untuk beberapa saat Ki Rangga masih menekuni setiap guratan yang tergambar dalam kain panjang itu. Namun tiba-tiba matanya yang tajam itu menangkap sesuatu yang tidak wajar tergores atau mungkin sengaja digoreskan di tengah-tengah kain panjang itu. Semacam lukisan dari getah pepohonan yang sulit untuk dihilangkan. Walaupun guratan-guratan itu sangat tipis, namun mata Ki Rangga yang tajam dapat membedakan mana guratan asli dari kain gringsing itu yang sudah usang dimakan usia dan guratan mana yang masih baru walaupun terlihat hanya samar-samar. Guratan-guratan itu memang tidak membentuk suatu bentuk apapun selain garis-garis silang menyilang yang sangat samar dan sulit untuk dilihat oleh mata orang kebanyakan.

Sejenak mata Ki Rangga yang sangat terlatih dan mempunyai ketajaman melebihi orang kebanyakan itu mulai dapat menang-kap sebentuk lukisan di tengah-tengah kain panjang yang kini di bentangkannya di atas tanah. Dengan berjongkok, Ki Rangga mencoba mengamat-amati setiap guratan yang tergambar di atas kain panjang itu, sedangkan Ki Ageng dan Ki Dukuh hanya berdiri termangu-mangu di belakangnya.

Gambar yang muncul dalam benak Ki Rangga itu mula-mula hanya sebentuk lingkaran, namun lambat laun seolah olah gambar itu menjadi hidup dan berkembang perlahan tapi pasti membentuk sebuah lukisan cakra bergerigi sembilan yang terkait pada ujung sebuah cambuk.

“Lambang perguruan Windujati,” desis Ki Rangga dalam hati.

Untuk beberapa saat Ki Rangga masih mencoba merenungi makna gambar yang tergurat di atas kain panjang itu yang hanya dapat muncul dalam benak Ki Rangga, sedangkan Ki Dukuh yang berdiri di belakang Ki Rangga hanya melihat sebuah kain panjang yang sudah usang, dengan coretan garis silang menyilang yang sangat samar dan hampir tak terlihat.

Ketika Ki Rangga memutuskan untuk melipat kembali kain panjang yang terbentang di atas tanah itu, seolah-olah ada yang menahan keinginannya, bahkan kemudian matanya seolah-olah terpaku pada lukisan cakra yang terbelit di ujung cambuk itu. Dengan berdebar-debar Ki Rangga semakin menajamkan panggraitanya dan yang terlihat oleh mata hatinya adalah sesuatu yang sangat mendebarkan. Lukisan cakra bergerigi sembilan itu ternyata telah bernoda darah dan salah satu ujung geriginya ternyata telah tanggal.

Terkesiap jantung Ki Rangga seketika begitu menyadari apa arti sebenarnya dari lukisan yang tercipta dalam panggraitanya itu. Perguruan Windujati adalah perguruan yang dilandasi dengan sembilan wewaler sebagaimana dilambangkan pada jumlah gerigi yang ada pada lukisan cakra. Sembilan wewaler itu satu pun pantang bagi murid-murid perguruan Windujati untuk melanggarnya, dan kini seolah olah Ki Rangga Agung Sedayu selaku murid tertua dan sekaligus pengganti gurunya yang telah tiada seakan dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa adik seperguruannya telah lama dan bahkan sampai dua kali menurut pengamatannya telah melanggar salah satu wewaler itu.

“Aku tidak tahu,” berkata Ki Rangga dalam hati, “Kanjeng Sunan ataukah Guru sendiri yang menegurku melalui lambang perguruan Windujati ini. Mungkin Guru jauh-jauh hari sudah melihat tanda-tanda Adi Swandaru yang hatinya memang belum bisa mengendap, selalu melonjak lonjak dan terlalu menyombongkan kemampuan yang telah dicapainya itu. Walaupun setiap saat Guru selalu berusaha mengendapkan gejolak yang ada di dalam dada Adi Swandaru, namun agaknya sampai Guru meninggal, Adi Swandaru tidak banyak berubah.”

Untuk beberapa saat Ki Rangga Agung Sedayu masih berjongkok sambil termenung. Dia masih ingat betul waktu Gurunya menceritakan kepadanya, bagaimana Swandaru pernah menjajagi kemampuan Raden Sutawijaya? Benar-benar suatu sikap yang deksura. Untunglah Raden Sutawijaya pada waktu itu walaupun masih terhitung muda tapi sudah mempunyai hati yang seluas lautan dan memahami benar gejolak yang ada di dalam diri Swandaru. Selebihnya Raden Sutawijaya memang sangat mengharapkan bantuan dari perguruan orang bercambuk termasuk tenaga Swandaru beserta pengawalnya untuk membantu dirinya pada awal berdirinya Mataram.

Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, akhirnya Ki Rangga berdiri dan melipat kembali kain panjang itu kemudian diangsurkan kepada Ki Dukuh sambil berkata, “Ki Dukuh, aku kembalikan kain panjang ini. Aku tidak perlu menyimpannya walaupun aku yakin ini adalah kain panjang peninggalan Guru. Simpanlah baik-baik, seandainya benar orang yang menyebut dirinya Panembahan Panjer Bumi itu akan kembali ke Padukuhan ini untuk mengambil barang titipannya, sampaikanlah salam hormatku.”

Ki Dukuh hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menerima kain panjang yang telah terlipat kembali dengan rapi itu kemudian menyimpannya ke dalam buntalan pakaiannya.

Sementara itu Ki Ageng Sela Gilang yang berdiri beberapa langkah dari Ki Rangga hanya diam membisu. Sebagai orang yang sudah banyak mengenyam asam garamnya kehidupan, pada dasarnya dia tahu yang sedang terjadi pada diri Ki Rangga Agung Sedayu adalah urusan perguruan, sehingga dia tidak banyak ikut campur ataupun mencoba mengungkapkan pendapatnya.

Dalam pada itu, mereka bertiga yang berhenti di antara gerumbul-gerumbul di tengah padang perdu yang menuju ke padukuhan Merjan telah tertinggal cukup jauh dengan rombongan penduduk padukuhan Merjan yang sedang berjalan kembali ke tempat tinggal mereka. Anjani dan Selasih, perempuan yang kehilangan suaminya itu telah mencapai regol padukuhan sebelah selatan.

Yang berlari larian paling depan tentu saja adalah anak-anak. Mereka berlari sambil berteriak-teriak tidak keruan. Beberapa anak yang cukup besar bahkan telah berlari-lari meniti tanggul yang ada di kanan kiri jalan sambil menari-nari. Adik-adiknya yang masih kecil tentu saja berteriak-teriak memanggil kakak kakaknya meminta untuk diajak naik ke tanggul. Namun biyung-biyung mereka tentu saja tidak akan mengijinkan anak-anak mereka yang masih belum cukup umur itu untuk meniti tanggul-tanggul yang cukup tinggi itu sebagaimana kakak-kakaknya, sehingga jerit tangispun segera terdengar disana-sini ditingkah dengan suara biyung-biyung mereka yang mencoba menenangkan mereka dengan segala bujuk rayunya.

Ketika kemudian Anjani mencoba menengok ke belakang, tampak olehnya Ki Rangga Agung Sedayu yang sedang berjalan beriringan dengan Ki Ageng dan Ki Dukuh. Kelihatannya mereka agak sedikit tergesa-gesa menilik dari langkah-langkah mereka yang lebar dan kadang setengah berlari menyusul rombongan yang terlebih dahulu telah sampai di regol padukuhan sebelah selatan.

“Ki Dukuh,” berkata Ki Rangga sambil mengayunkan langkahnya, “Aku mohon ma’af sebelumnya, karena tidak dapat singgah di padukuhan Merjan. Aku harus segera meneruskan perjalanan ke Sangkal Putung. Adik seperguruanku sedang terbaring sakit dan aku belum menengoknya sama sekali.”

“Jadi,” berkata ki Dukuh dengan nada kecewa, “Tidak adakah waktu barang semalam bagi Ki Rangga untuk tinggal di padukuhan kami? Mungkin waktu yang sangat sempit itu dapat kami pergunakan untuk mohon petunjuk kepada Ki Rangga untuk melatih para pengawal padukuhan dalam menyusun kekuatan dan pengamanan padukuhan kami terhadap hal-hal yang mungkin timbul sebagaimana yang pernah terjadi.”

“Sekali lagi aku mohon ma’af Ki Dukuh. Waktuku sangat sempit. Mungkin Ki Dukuh dapat meminta bantuan dari Ki Ageng dalam hal menyusun pengamanan padukuhan ini.” Jawab Ki Rangga sambil berpaling ke arah Ki Ageng untuk meminta pendapatnya.

“Ah,” Ki Ageng tertawa tertahan, “Ki Rangga ini mau enaknya sendiri. Aku yang sudah tua disuruh tinggal di padukuhan yang sepi ini, sedangkan Ki Rangga akan meneruskan perjalanan ke Sangkal Putung hanya berdua saja dengan Anjani.”

“Bukan begitu maksudku ,” cepat-cepat Ki Rangga memotong dengan muka yang merah padam, “Aku akan ke Sangkal Putung sendirian saja, sedangkan Ki Ageng dengan Anjani dapat tinggal di padukuhan ini selama kalian suka.”

“Ah, itu juga tidak adil,” seru Ki Ageng, “Aku sama sekali tidak berkepentingan dengan Anjani. Ki Rangga lah yang bertanggung jawab atas keberadaan Anjani. Ingat, dia adalah barang taruhan perang tanding itu, dan Ki Rangga yang telah keluar sebagai pemenangnya. Aku mohon berlakulah sedikit adil terhadap Anjani agar Ki Rangga tidak melukai perasaannya untuk yang ke sekian kalinya.”

Ki Rangga hanya diam termangu-mangu mendengar jawaban Ki Ageng, sedangkan Ki Dukuh yang tidak mengetahui persoalan Anjani yang sebenarnya mencoba menengahi dengan berkata sareh, “Sudahlah, kami akan sangat senang jika kalian bertiga berkenan singgah sejenak di padukuhan kami, walaupun hanya semalam. Selanjutnya, di hari berikutnya kalian dapat meneruskan perjalanan dengan lebih cepat, karena jika kalian menghendaki, kami akan menyiapkan tiga ekor kuda yang tegar untuk mempercepat perjalanan kalian.”

Ki Rangga dan Ki Ageng sejenak saling pandang. Agaknya itu adalah saran yang paling baik yang dapat mereka ikuti. Akhirnya hampir berbareng mereka mengangguk dan menjawab, “Terima kasih atas saran Ki Dukuh. Semoga kehadiran kami bertiga tidak merepotkan.”

“Tentu saja tidak,” sahut Ki Dukuh, “Kalian bertiga adalah tamu seluruh penduduk padukuhan Merjan, dan kami wajib menghormati tamu-tamu kami.”

Demikianlah akhirnya, mereka bertiga telah diperlakukan sebagai tamu-tamu terhormat. Rumah Ki Dukuh ternyata adalah rumah yang selama ini dipakai oleh kedua murid dari Tal Pitu dan anak buahnya. Setelah terlebih dahulu dibersihkan oleh para pembantu Ki Dukuh yang juga ikut mengungsi ke tengah hutan, Ki Rangga Agung Sedayu dan Ki Ageng Sela Gilang dipersilahkan untuk beristirahat di gandok sebelah kanan, sedangkan Anjani ternyata lebih senang tinggal di rumah Selasih. Mereka berdua seolah-olah bagaikan dua sahabat yang lama tak bersua. Kemanapun mereka berdua pergi, selalu bergandengan tangan seakan tak mau terpisahkan lagi.

Sementara itu, Matahari semakin jauh tergelincir ke arah barat. Sinarnya yang mulai melemah dan berwarna kuning pucat bercampur merah tua tampak menggapai pucuk-pucuk dedaunan menimbulkan kesan suram, namun semangat para penduduk Padukuhan Merjan ternyata malah sebaliknya. Dengan riuhnya mereka bekerja bahu membahu membersihkan rumah-rumah yang telah cukup lama mereka tinggalkan. Demikian juga banjar padukuhan dan gardu-gardu perondan tidak luput dari perhatian mereka.

Demikian senja menjelang dan kegelapan mulai menyelimuti padukuhan Merjan, lampu-lampu pun mulai dinyalakan. Jalan-jalan yang biasanya gelap kini tampak terang benderang. Gardu-gardu mulai dipenuhi oleh anak-anak muda dan para pengawal yang mulai mendapat giliran jaga secara teratur. Sedangkan orang-orang tua lebih senang duduk-duduk di pendapa berbincang-bincang dan bercerita tentang sawah ladang mereka yang telah lama mengering serta rencana kapan mereka akan mulai turun ke sawah sambil menikmati minuman hangat dan ketela rebus.

Sementara itu, di Tanah Perdikan Menoreh Ki Argapati sedang tergolek sakit ditunggui oleh Sekar Mirah dan Damarpati. Kedatangan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh beberapa hari yang lalu dari Sangkal Putung tanpa Pandan Wangi dan Swandaru memang telah membuat Ki Argapati kecewa, walaupun bersama para pengawal itu telah ikut pula Kiai Sabda Dadi dan cucunya yang aneh, Damarpati.

Damarpati dianggap oleh sebagian orang-orang Tanah Perdikan Menoreh sebagai anak yang berperilaku aneh, karena walaupun hampir semua orang telah mengetahui jati diri Damarpati sebagai seorang perempuan, namun entah dengan alasan apa, dalam kesehariannya Damarpati tetap lebih senang mengenakan pakaian laki-laki dari pada perempuan.

Malam itu, Ki Gede Menoreh tampak gelisah di pembaringan-nya. Udara memang terasa agak panas di penghujung musim kemarau ini. Awan yang cukup tebal telah menaungi langit Tanah Perdikan Menorah sejak sore tadi, namun hujan tak kunjung turun juga. Hanya Petir yang sesekali menyambar dan membuat malam yang mulai kelam itu untuk sejenak menjadi terang benderang, sekejab kemudian disusul oleh suara guruh yang menggelegar memekakkan telinga.

“Mirah,” tiba-tiba Ki Gede yang tergolek sakit itu berdesah lemah, namun cukup mengejutkan Sekar Mirah yang sedang mempersiapkan makan malam Ki Gede di atas sebuah lincak bambu.

Dengan tergesa-gesa Sekar Mirah segera mendekat ke pembaringan Ki Gede, kemudian katanya setengah berbisik, “Ada apa Ki Gede?”

Sambil berdesah panjang, Ki Gede berusaha membuka kedua matanya, namun alangkah beratnya bagi Ki Gede untuk membuka kedua kelopak matanya walaupun hanya sekejab. Ketika usahanya untuk membuka kedua matanya hampir berhasil, ternyata jalur pernafasan Ki Gede menjadi agak terganggu. Untuk beberapa saat Ki Gede masih berusaha untuk menguasai pernafasannya yang mulai tersendat. Setelah dicobanya menarik nafas dalam-dalam beberapa kali sambil menyebut nama Yang Maha Agung, akhirnya pernafasan Ki Gede pun kembali longgar.

“Mirah,” akhirnya Ki Gede berhasil membuka kedua matanya walaupun tampak sayu dan berair, “Kenapa malam ini terasa sangat panjang?”

Sekar Mirah terkejut mendengar perkataan Ki Gede. Dengan segera digeser tubuhnya merapat ke pembaringan Ki Gede. Kemudian sambil duduk di sisi amben yang terbuat dari ukiran kayu jati itu, dia berkata perlahan, “Malam baru saja mulai Ki Gede. Apakah Ki Gede berkenan makan malam?”

Ki Gede menggeleng lemah. Kemudian pandangan matanya yang kabur itu menangkap sesosok bayangan yang duduk terpekur di atas dingklik kayu di sudut bilik.

Agaknya Sekar Mirah tanggap, maka katanya kemudian, “Ma’afkan aku Ki Gede. Damarpati, cucu Kiai Sabda Dadi aku ajak untuk ikut menunggui Ki Gede agar aku ada kawan untuk merawat Ki Gede.”

Ki Gede hanya mengangguk lemah kemudian kembali terbaring diam.

Sementara itu Ki Jayaraga yang masih berada di rumah Ki Rangga Agung Sedayu sepulang dari menengok sawah masih memerlukan waktu sejenak untuk berkemas-kemas sebelum berangkat ke kediaman Ki Argapati. Sudah menjadi kebiasaannya untuk setiap malam menemani Ki Gede sejak Ki Gede jatuh sakit. Rumah Ki Rangga Agung Sedayu dibiarkan saja kosong di malam hari. Namun untuk memberikan kesan bahwa rumah itu masih dihuni, setiap sore sebelum berangkat ke rumah Ki Argapati, Ki Jayaraga selalu menyempatkan diri untuk menyalakan dlupak yang tergantung di tengah-tengah pendapa.

Setelah minum beberapa teguk dari air kendi yang terletak di ajug-ajug yang berada di dapur, Ki Jayaraga pun segera bergegas meninggalkan rumah Ki Rangga setelah sebelumnya menyelarak pintu depan dari dalam kemudian dia keluar dari pintu butulan yang ada di dapur.

Pintu butulan yang berada di dapur itu memang dapat diselarak dari luar dengan cara memanjat dinding dapur yang terbuat dari anyaman bambu berlapis dua. Diantara dinding dapur dengan atap ada celah yang dapat digunakan untuk mengait selarak dari luar sehingga pintu butulan itu pun dapat tertutup dengan rapat.

Dengan langkah yang sedikit bergegas, Ki Jayaraga segera keluar dari regol halaman rumah Ki Rangga Agung Sedayu. Setelah menutup pintu regol, kemudian dengan langkah-langkah lebar Ki Jayaraga menyusuri lorong-lorong jalan yang menghubungkan rumah Ki Gede dengan rumah yang selama ini ditempatinya, rumah Ki Rangga Agung Sedayu.

Jarak rumah Ki Rangga dengan Ki Gede memang tidak seberapa jauh. Setelah melewati sebuah perempatan dan sebuah pertigaan, Ki Jayaraga pun kemudian menyusuri jalan yang membujur di depan sebuah rumah yang cukup besar, rumah yang ditinggali oleh keluarga Ki Ranu Gede, salah seorang saudagar kaya raya dan cukup dermawan yang ada di Tanah Perdikan Menoreh. Orang-orang menyebutnya Ki Ranu Gede karena memang Ki Ranu berperawakan tinggi besar untuk membedakan dengan Ranu yang lain yang berperawakan kecil dan sama-sama sebagai saudagar tapi tidak sekaya Ki Ranu Gede.

Ketika kemudian Ki Jayaraga melewati regol besar dengan daun pintu yang sedikit terbuka, tanpa sengaja Ki Jayaraga telah berpaling. Tampak beberapa orang sedang duduk-duduk di pendapa rumah Ki Ranu Gede yang luas. Tidak ada satu pun hal yang menarik perhatian ketika pandangan Ki Jayaraga sesaat menyambar ke arah orang-orang yang sedang duduk-duduk di pendapa itu. Karena jarak itu cukup jauh, Ki Jayaraga hanya dapat melihat sekitar sepuluh orang sedang duduk melingkar di atas tikar pandan yang dibentangkan di tengah-tengah pendapa.

Dengan terbungkuk-bungkuk Ki Jayaraga meneruskan langkahnya berjalan melintasi regol rumah Ki Ranu Gede. Namun baru saja beberapa langkah meninggalkan regol rumah saudagar yang kaya raya itu, Ki Jayaraga melihat dari arah depan sekelompok orang sedang berjalan menuju ke arahnya. Agaknya rombongan itu datang dari arah kelokan jalan di depan perempatan yang hanya berjarak beberapa tombak dari rumah Ki Ranu Gede.

Ki Jayaraga tidak menaruh perhatian sama sekali terhadap serombongan orang yang berjalan menuju ke arahnya. Adalah wajar di malam yang masih terhitung sore ini masih banyak orang-orang yang berlalu lalang karena ada suatu keperluan.

Ketika kemudian mereka berpapasan, dengan tetap menundukkan kepalanya, Ki Jayaraga mencoba mencuri pandang kearah rombongan itu. Betapa terkejutnya Ki Jayaraga ketika mengenali wajah seseorang yang berjalan paling depan. Seorang yang berperawakan kecil ramping, berumur kira-kira hampir setengah abad. Wajahnya cukup bersih dan dapat dikatakan tampan. Berpakaian serba hijau dengan ikat kepala kuning gading, beberapa rambutnya yang mulai berwarna putih tampak terjulur diantara ikat kepalanya.

“Ki Harga Jumena dari perguruan Harga Belah,” terkejut Ki Jayaraga berkata dalam hati.

Pemimpin rombongan itu memang Ki Harga Jumena dari perguruan Harga Belah dengan diiringi oleh empat orang muridnya yang terpercaya.

Dengan tanpa menarik perhatian dan berlaku sebagaimana orang kebanyakan, Ki Jayaraga segera berlalu dari tempat itu. Namun berbagai pertanyaan telah tumbuh di hatinya. Dia sudah bertemu bahkan telah terlibat perkelahian langsung dengan murid-murid dari perguruan Toya Upas, dan kini perguruan Harga Belah dari Blambangan ternyata juga telah hadir di Tanah Perdikan ini.

Sebelumnya memang Ki Jayaraga telah mendengar kedatangan beberapa perguruan yang ingin mencari kitab peninggalan Perguruan Windujati dari murid-murid Toya Upas sendiri ketika mereka terlibat dalam suatu perkelahian antara hidup dan mati. Dan sekarang Ki Jayaraga telah melihat dengan mata kepala sendiri tentang kehadiran perguruan yang terletak di ujung paling timur dari pulau Jawa, Perguruan Harga Belah.

Perguruan itu diberi nama Harga Belah, sesuai dengan Aji kebanggaan yang dimiliki oleh Ki Harga Jumena pemimpin perguruan itu, Aji Harga Belah, Aji yang mampu membelah gunung sebesar apapun.

Kebetulan Ki Jayaraga mengenal Ki Harga Jumena ketika Ki Jayaraga masih senang berpetualang menyusuri hutan dan lembah dari ujung ke ujung pulau ini. Perkenalan secara pribadi memang tidak, namun ketika Ki Jayaraga berada di Blambangan, dirinya sempat melihat sendiri Pemimpin perguruan Harga Belah yang sangat disegani di ujung timur pulau Jawa itu.

Ketika kemudian Ki Jayaraga kembali menyusuri jalan yang menuju ke kediaman Ki Gede Menoreh, seolah olah ada firasat yang entah mengapa menyebabkan dia ingin berpaling ke belakang. Betapa terkejutnya hati Ki Jayaraga ketika melihat rombongan dari Blambangan itu ternyata justru telah berbelok memasuki regol rumah Ki Ranu Gede.

Sejenak Ki Jayaraga justru terdiam mematung. Namun ketika disadarinya betapa berbahayanya kalau sampai rombongan dari perguruan Harga Belah itu sempat melihatnya berdiri mengawasi mereka, maka dengan tanpa terlihat oleh mata wadag, tiba-tiba saja tubuh Ki Jayaraga bagaikan lenyap dari jalan yang membujur menuju ke kediaman Ki Argapati.

Ternyata tubuh Ki Jayaraga telah melekat pada sebatang pohon mahoni yang tumbuh besar di pinggir jalan. Dengan mengerahkan kemampuannya untuk menyerap bunyi dari alam sekitarnya, perlahan-lahan Ki Jayaraga pun kemudian bergeser mendekati dinding pagar samping dari rumah Ki Ranu Gede.

Dengan sangat berhati-hati dan tidak melepaskan kewaspadaan, Ki Jayaraga mulai mengamati dinding samping yang mengelilingi rumah Ki Ranu Gede itu. Dicobanya mencari bagian yang agak terlindung sehingga memungkinkan dia untuk meloncat ke atas dinding itu tanpa sepengetahuan para penghuninya.

Ketika kemudian Ki Jayaraga menyusuri dinding samping rumah Ki Ranu Gede, dilihatnya ada sebatang pohon manggis yang tumbuh di dalam dinding pagar namun beberapa cabangnya menjulur keluar pagar. Dengan cepat dan tanpa menimbulkan suara yang dapat menarik perhatian, Ki Jayaraga telah melekat di atas dinding pagar dalam keadaan tengkurap.

Sejenak Ki Jayaraga masih mengamati keadaan sekelilingnya. Tampak dari sela-sela rimbunnya daun manggis, Ki Jayaraga melihat rombongan dari Perguruan Harga Belah itu telah naik ke pendapa dan disambut oleh Ki Ranu Gede sendiri. Namun selanjutnya Ki Jayaraga menjadi kecewa ketika ternyata Ki Ranu Gede telah mempersilahkan para tamunya termasuk yang sebelumnya duduk-duduk di pendapa untuk masuk ke pringgitan sehingga Ki Jayaraga tidak bisa mengamati gerak-gerik mereka selain pendapa yang kosong.

Untuk beberapa saat Ki Jayaraga masih berdiam diri di atas dinding sambil tengkurap. Halaman rumah Ki Ranu Gede yang luas itu tidak benar-benar sepi setelah para tamu memasuki ruang dalam. Masih ada sekitar lima orang yang berjaga-jaga sambil duduk-duduk menebar di sekitar halaman. Ada yang duduk di atas sebongkah batu yang ada di dekat regol, ada yang duduk bersandaran pohon mangga dekat pendapa sebelah kiri, dan sebagian lagi ada yang berdiri di tengah-tengah halaman sambil berbincang-bincang.

Halaman itu sangatlah terang benderang diterangi oleh beberapa oncor yang dipasang di beberapa sudut dan beberapa lampu dlupak yang disangkutkan pada tiang pendapa selain yang tergantung di tengah-tengah pendapa itu sendiri. Agaknya sangat sulit bagi Ki Jayaraga untuk mendekati pringgitan tanpa sepengetahuan para penjaga rumah Ki Ranu Gede. Untunglah jarak pohon manggis yang tumbuh di dekat dinding pagar itu agak jauh dari rumah induk. Sedangkan gandhok kiri dari rumah induk itu terletak agak menjorok kebelakang sehingga halaman rumah itu terkesan menjadi sangat luas.

Agak lama Ki Jayaraga memikirkan jalan untuk mendekati rumah induk, terutama pringgitan. Namun ketika sekali lagi Ki Jayaraga melayangkan pandangan matanya ke arah gandhok kiri, tiba-tiba timbul niatnya untuk mendekati rumah induk dari arah gandhok kiri, yaitu melalui atap yang terbuat dari sirap. Dia yakin mampu melakukannya, merangkak di atas atap dari arah yang tidak terlihat oleh para penjaga kemudian mendekati pringgitan untuk menyadap pembicaraan mereka yang ada di dalam pringgitan.

Setelah yakin dengan rencananya, mulailah Ki Jayaraga menuruni dinding pagar dengan hati-hati. Tubuhnya yang sudah tua itu ternyata masih lincah. Dengan sekali melenting, Ki Jayaraga sudah berjongkok di belakang pohon manggis itu.

Sambil tetap mengamati keadaan di sekelilingnya, terutama para penjaga yang tersebar di halaman, Ki Jayaraga mulai merangkak di antara tanaman-tanaman perdu dan gerumbul-gerumbul bunga yang sengaja ditanam di sekitar halaman samping itu untuk menambah keindahan. Sesekali Ki Jayaraga harus berhenti untuk meyakinkan keadaan sekelilingnya. Kemudian setelah yakin tidak ada yang memperhatikannya, Ki Jayaraga pun kemudian mendekati gandhok sebelah kiri. Ketika dia telah sampai di dinding gandhok yang terbuat dari kayu halus dan di beberapa bagiannya diukir itu, Ki Jayaraga segera menyelinap ke belakang gandhok dan mulai mencari pancadan untuk memanjat ke atapnya.

Dengan tanpa kesulitan yang berarti, Ki Jayaraga telah sampai di atap gandhok dan mulai merangkak mendekati bangunan induk untuk mendengarkan percakapan para tamu Ki Ranu Gede.
Dengan mengetrapkan ilmu untuk menyerap segala bunyi yang bersumber dari dirinya yang mungkin timbul dari gesekan tubuhnya dengan atap yang terbuat dari sirap itu, Ki Jayaraga telah mendekati atap bangunan induk yang di bawahnya adalah pringgitan tempat Ki Ranu Gede menjamu tamu-tamunya.

Ki Jayaraga tidak perlu membuka atap untuk mendengarkan pembicaraan orang-orang yang ada di dalam ruangan itu. Dengan mengetrapkan aji sapta pangrungu, dengan jelas Ki Jayaraga dapat mendengarkan setiap patah kata yang terucap dari orang-orang yang ada di bawahnya itu.

“Ki Ranu,” terdengar suara seorang laki-laki dengan nada berat, “Kami mengucapkan terima kasih telah diterima menumpang selama dua hari disini, namun rencana ini harus segera dilaksanakan sebelum pecah perang antara Mataram dan Panaraga.”

“Engkau benar Ki Wasi,“ terdengar suara seseorang menyahut dan Ki Jayaraga yakin orang itu pasti Ki Ranu Gede, “Kalian telah datang jauh-jauh dari Madiun dan aku jamin rencana kita pasti akan berjalan dengan lancar. Bukankah sekarang ini sebagian besar pengawal Tanah Perdikan Menoreh telah diberangkatkan bergabung dengan prajurit Mataram ke Panaraga? Pasukan khusus yang berkedudukan di Menoreh pun telah dikerahkan untuk menghancurkan Panaraga, jadi apa yang tersisa di Menoreh ini hanya para pengawal yang sudah tua-tua dan sakit sakitan. Kerja kita nanti ibaratnya suwe mijet wohing ranti.”

Sejenak Ki Jayaraga yang mendengarkan pembicaraan itu terkesiap, ternyata orang yang berbicara itu adalah Ki Wasi Jaladara yang pernah didengarnya sebagai pimpinan Padepokan Liman Benawi di Madiun.

Ki Jayaraga menjadi semakin berdebar-debar ketika pembicaraan itu ternyata mengarah kepada sebuah rencana yang sangat keji, penyerbuan ke kediaman Ki Gede Menoreh selagi Ki Gede sedang sakit parah dan kekuatan Tanah Perdikan Menoreh lemah karena para pengawalnya sebagian besar telah diberangkatkan ke Mataram untuk menyerang Panaraga dibawah pimpinan Prastawa.

“Besuk malam,” desis Ki Jayaraga dalam hati ketika mengetahui kapan rencana itu akan dilaksanakan.

Sementara itu malam semakin larut. Pembicaraan itu masih berlangsung tapi bahan pembicaraannya sudah bergeser ke arah masalah yang lain, sehingga Ki Jayaraga memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.

Ketika kemudian ayam berkokok untuk yang pertama kali, Ki Jayaraga telah berada di kediaman Ki Gede Menoreh. Ada kesan muram dan sepi di kediaman Ki Gede yang cukup besar itu. Hanya ada dua orang pengawal yang menjaga regol sambil duduk terkantuk-kantuk. Sesekali mereka menggeliat dan kadang-kadang berdiri kemudian berjalan mondar-mandir di sekitar gardu penjagaan untuk mengusir rasa kantuk. Namun ketika mereka telah merasa bosan berjalan mondar-mandir dan kemudian duduk kembali, rasa kantuk itu pun mulai menyergap lagi. Sementara itu lampu dlupak yang tergantung di tengah-tengah pendapa terayun-ayun perlahan tertiup oleh angin malam yang lembut.

Sejenak Ki Jayaraga masih merenungi kedua pengawal yang setengah tertidur bersandaran sebelah menyebelah pintu regol yang terbuka. Mereka sama sekali tidak menyadari ketika Ki Jayaraga memasuki regol kediaman Ki Gede Menoreh. Mereka benar-benar telah dicengkam oleh rasa kantuk yang tiada taranya.

Suwe mijet wohing ranti,” tanpa disadarinya Ki Jayaraga berdesis perlahan-lahan mengulangi kata-kata Ki Ranu Gede beberapa saat yang lalu, “Keadaan Ki Gede yang sedang sakit telah mempengaruhi ketahanan jiwani para penghuni Tanah Perdikan Menoreh, terutama para bebahu dan pengawal. Dengan sakitnya pemimpin yang mereka cintai dan hormati itu, seolah-olah seluruh sendi-sendi kehidupan di Tanah Perdikan Menoreh ikut terhenti. Mereka tidak menyadari bahwa bahaya yang mengerikan sedang mengintai di sekitar mereka.”

Akhirnya, Ki Jayaraga meneruskan langkahnya menyeberangi halaman kemudian naik ke pendapa. Dengan tanpa ragu-ragu didorongnya pintu pringgitan. Suara derit pintu yang cukup keras ternyata telah menarik perhatian Sekar Mirah dan Damarpati yang sedang duduk-duduk di ruang tengah di depan bilik Ki Gede.

Ketika Ki Jayaraga muncul dari balik pintu ruang tengah, dilihatnya Sekar Mirah dan Damarpati yang berdiri termangu-mangu beberapa langkah di depan bilik Ki Gede.

“O.., kiranya Ki Jayaraga“ sapa Sekar Mirah sambil tersenyum, “Marilah Ki Jayaraga, Ki Gede baru saja beristirahat. Kami sengaja menunggu di luar bilik agar Ki Gede dapat beristirahat dengan tenang.”

Ki Jayaraga hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Malam sudah semakin larut. Sebaiknya kalian berdua beristirahat. Biarlah aku saja yang menjaga Ki Gede.”

“Kami belum mengantuk Ki Jayaraga,” sahut Sekar Mirah, sementara Damarpati yang berdiri di sampingnya hanya menundukkan kepalanya, “Kami baru mulai bermain dakon. Sayang kalau permainan ini terhenti di tengah jalan. Kami akan menyelesaikan dulu baru beristirahat.”

Ki Jayaraga hanya menarik nafas dalam-dalam sambil memandang ke arah Damarpati sekilas. Kemudian katanya sambil melangkah menuju dapur, “Terserah kalian, tapi engkau harus ingat akan kandunganmu, Mirah. Aku akan ke dapur mencari sesuatu yang mungkin dapat menghangatkan tubuhku di malam yang semakin dingin ini.”

Sekar Mirah hanya tertawa pendek sambil kembali duduk menghadapi permainan dakon yang kadang-kadang memang dapat mendebarkan dada dan menguras perhatian bagi mereka yang bermain maupun yang menonton.

Ketika Sekar Mirah sudah mulai menggenggam biji sawo kecik dengan tangan kanannya, dilihatnya Damarpati masih berdiri termangu mangu di hadapannya.

“He” seru Sekar Mirah, “Apakah engkau sudah mengantuk, Damar?”

Damarpati menggeleng, lalu katanya, “Aku tadi mendapat pesan dari Kakek untuk memberitahukan kalau Ki Jayaraga sudah datang. Kakek ingin bermain mul-mulan lagi dengan Ki Jayaraga. Katanya kemarin kakek kalah dan ingin menebus kekalahannya malam ini.”

“Ah,” kembali Sekar Mirah tertawa pendek, “Orang-orang tua itu kadang-kadang bersikap kekanak-kanakan. Permainan yang pada awalnya hanya untuk mengisi waktu saja seolah-olah menjadi sebuah pertempuran yang menentukan, lengkap dengan balas dendamnya segala.”

“Jadi, bagaimana Nyi Sekar Mirah?” bertanya Damarpati kemudian ketika melihat Sekar Mirah justru telah menggerakkan tangannya mengisi lobang-lobang dakon dengan biji-biji sawo kecik.

“O..,” Sekar Mirah termangu sejenak, namun akhirnya dia telah memutuskan untuk berhenti bermain dakon. Sambil berdiri perlahan lahan, dia berkata, “Silahkan memberitahu Kiai Sabda Dadi kalau Ki Jayaraga sudah datang. Lebih baik kita beristirahat saja. Besuk masih banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan.”

Damarpati mengangguk. Ketika kemudian Sekar Mirah memasuki biliknya yang bersebelahan dengan bilik Ki Gede, Damarpati pun melangkah keluar dari ruang tengah lewat pintu seketheng menuju longkangan yang menghubungkan rumah induk Ki Gede dengan gandhok kanan.

Ternyata Kiai Sabda Dadi belum tidur. Direbahkan tubuhnya yang terasa penat di atas amben bambu satu-satunya yang ada di ruangan itu. Seharian tadi Kiai Sabda Dadi memecah kayu bakar yang ada di halaman belakang. Sudah dua hari ini pembantu laki-laki Ki Gede yang bertugas menyiapkan kayu bakar sakit, sehingga dengan senang hati Kiai Sabda Dadi menggantikan tugasnya.

Ketika derit pintu bilik di gandhok kanan yang ditempatinya selama berada di rumah Ki Gede itu berderit, dilihatnya cucunya itu melongokkan kepalanya di pintu yang terbuka sejengkal sambil tersenyum.

“Kakek belum tidur?” tanya Damarpati sambil melangkah masuk.

Kakeknya tidak menjawab. Dengan bertelekan pada kedua tangannya Kiai Sabda Dadi bangkit dari tidurnya, kemudian katanya sambil menyambar ikat kepala yang tergantung di geledeg bambu, “Apakah Ki Jayaraga sudah datang?”

“Sudah Kek,” jawab cucunya sambil duduk di bibir amben sebelah Kiai Sabda Dadi.

Mendengar jawaban cucunya itu Kiai Sabda Dadi segera berbenah. Dipakainya kembali ikat kepalanya yang telah dilepaskan ketika dia berbaring tadi. Kemudian sambil bangkit dari tempat duduknya dan merapikan kain panjangnya dia berpesan kepada cucunya, “Beristirahatlah. Aku akan menemani Ki Jayaraga menjaga Ki Gede. Semoga kesehatan Ki Gede semakin membaik.”

“Kek,” tiba-tiba dengan manja Damarpati meraih lengan Kakeknya, “Sampai kapan kita tinggal di sini, Kek?”

Sejenak Kiai Sabda Dadi mengerutkan keningnya, “Apa maksudmu Damar? Apakah engkau sudah bosan tinggal di Menoreh?”

Damarpati yang masih bergelayutan pada lengan kakeknya itu hanya menundukkan kepalanya. Ketika kemudian dia menengadahkan wajahnya memandang Kakeknya, alangkah terkejutnya Kiai Sabda Dadi ketika memandang wajah cucunya itu. Wajah yang putih bersih itu ternyata telah bersimbah air mata.

“Ada apa, Damar?” dengan sareh Kiai Sabda Dadi duduk kembali di samping Damarpati tanpa melepaskan pegangan Damarpati pada lengannya.

Damarpati mencoba mengendalikan perasaannya. Untuk sesaat gejolak di dadanya masih bergemuruh. Sesekali diusapnya air mata yang mengalir dari sudut mata dengan ujung bajunya. Sambil menahan isak, dicobanya untuk mengeluarkan isi hatinya yang selama ini terpendam bagaikan timbunan pasir di kelokan sungai, semakin hari tanpa terasa semakin menggunung.

“Kakek,” pelan suara Damarpati memecah kebisuan, “Kapan kita pulang ke Padepokan Glagah Tinutu? Aku sudah rindu dengan kawan kawanku di Padukuhan Kendeng. Mereka sering mengajakku bermain di Hutan Glagah yang banyak tumbuh kembang leduri. Aku suka sekali dengan kembang itu. Warnanya yang putih dan bentuknya yang bulat seperti bulan purnama sungguh sangat indah. Tapi hati-hati, Kek. Kalau angin bertiup kencang, kembang leduri itu akan mudah tercerai-berai terbawa angin.”

Kiai Sabda Dadi tertegun. Hatinya menjadi sangat trenyuh mendengar penuturan Damarpati. Sudah berapa padukuhan yang telah mereka lewati, dan sudah berapa banyak tempat yang mereka singgahi. Padepokan Glagah Tinutu yang terletak di lereng gunung Kendeng itu dengan sengaja telah mereka tinggalkan. Menghindari silang sengketa antar keluarga yang berakhir dengan terbunuhnya ayah dan ibu Damarpati. Untuk menghindari terjadinya malapetaka yang lebih hebat, Kiai Sabda Dadi membawa cucu satu satunya itu untuk merantau menyusuri padang ilalang, menembus hutan dan mendaki pegunungan.

“Sudahlah Damar,” akhirnya Kiai Sabda Dadi berkata sambil bangkit dari tempat duduknya, “Itu kita bicarakan nanti. Sementara ini kesehatan Ki Gede memerlukan perhatian yang lebih. Aku tidak tahu apa sebenarnya sakit Ki Argapati ini, namun yang jelas ada sesuatu yang terpendam dalam hati Ki Gede namun tidak dapat tersalurkan dengan benar. Ki Gede memerlukan seseorang yang dapat diajak bicara untuk menyampaikan uneg-unegnya.”

Damarpati hanya terdiam, perlahan dilepaskan pegangan pada lengan kakeknya. Kemudian sambil ikut bangkit dari amben bambu itu, dia berkata, “Kek, aku tidak ingin terlibat dalam urusan yang mungkin bukan urusan kita, sementara nasib kita sendiri belum pasti.”

Kiai Sabda Dadi tersenyum sambil mengusap kepala cucunya, “Jangan kuatir, Damar. Setelah selesai persoalan yang ada di Menoreh ini, kita segera meneruskan perjalanan untuk menyelesaikan masalah yang membelit keluarga besar kita.”

Damarpati hanya mengangguk perlahan. Dibiarkannya Kakeknya berjalan menuju pintu. Ketika tangan Kiai Sabda Dadi membuka pintu bilik, terdengar derit yang cukup keras. Kemudian sambil melangkah keluar, Kiai Sabda Dadi masih sempat berpaling dan berkata, “Kalau engkau mau tidur, tidurlah di bilikmu. Jangan lupa untuk menyelarak pintu sebelum engkau berangkat tidur.”

Selesai berkata demikian, bayangan Kiai Sabda Dadi pun segera menghilang di balik pintu. Tinggallah Damarpati yang berdiri termangu-mangu. Namun kemudian akhirnya Damarpati pun meninggalkan bilik Kakeknya menuju biliknya sendiri setelah tidak lupa menutup pintu bilik Kakeknya.

Sementara itu Ki Jayaraga sedang duduk dengan gelisah di ruang tengah. Semangkuk wedang sere hangat dan beberapa penganan tidak dapat membuatnya nyaman. Berkali-kali dipandanginya pintu seketheng yang menuju ke longkangan itu. Seolah-olah seseorang sedang diharapkan untuk masuk melalui pintu itu.

Ketika kemudian pintu itu berderit dan seseorang muncul dari balik pintu, Ki Jayaraga pun menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Marilah Kiai, aku sudah menunggu hampir semalaman.”

“Ah,” Kiai sabda Dadi yang masuk ke ruang tengah itu tertawa pendek. Sambil duduk bersila di hadapan Ki Jayaraga, dia berkata, “Agaknya justru Ki Jayaraga lah yang tidak sabar untuk mengalahkan aku lagi. Namun kali ini aku tidak akan memberi kesempatan kepada Ki Jayaraga. Aku sudah mempelajari kekalahanku kemarin malam. Sekarang tiba saatnya kita membuktikan siapa yang terbaik.”

Namun tanggapan Ki Jayaraga ternyata justru diluar dugaan Kiai Sabda Dadi. Dengan raut muka yang bersungguh-sungguh dia bergeser setapak dari tempat duduknya untuk memberikan tempat kepada Kiai Sabda Dadi agar mereka dapat duduk berhadap hadapan, kemudian katanya sambil menatap lurus-lurus ke arah Kiai Sabda Dadi, “Ma’af Kiai, kita tidak punya waktu untuk bermain mul-mulan malam ini. Ada kejadian yang sangat penting yang harus kita bicarakan karena menyangkut masa depan Tanah Perdikan Menoreh ini.”

Kiai Sabda Dadi mengerutkan keningnya. Dengan heran dia pun akhirnya bertanya, “Aku tidak mengerti, aku bukan orang Menoreh. Mengapa aku harus dilibatkan dalam urusan Tanah Perdikan ini yang menurut Ki Jayaraga sangat penting.”

“Kiai Sabda Dadi memang bukan orang Menoreh, tapi Kiai telah terlanjur di sini, di rumah Ki Gede, dan ini menyangkut keselamatan Ki Gede sendiri.” Jawab Ki Jayaraga.

Sejenak Kiai Sabda Dadi tertegun. Dicobanya untuk mengamat-amati wajah Ki Jayaraga untuk mendapatkan kesan, karena biasanya Ki Jayaraga memang senang berkelakar. Namun ketika disadarinya bahwa yang mereka bicarakan itu adalah masalah yang sangat penting, Kiai Sabda Dadi pun akhirnya menyimpulkan bahwa tidak mungkin Ki Jayaraga berkelakar dengan bahan gurauan keselamatan Ki Argapati sendiri, selain tidak pada tempatnya, masih banyak bahan gurauan lain yang dapat mereka perbincangkan untuk mengisi malam-malam yang sepi itu.

“Baiklah,” berkata Kiai Sabda Dadi akhirnya, “Aku akan menjadi pendengar yang baik. Silahkan diceritakan apa sebenarnya yang sedang terjadi dan mungkin akan terjadi di Tanah Perdikan Menoreh ini.”

Ki Jayaraga mencoba mengendapkan perasaannya dengan menarik nafas dalam-dalam sebelum menguraikan apa yang telah dilihatnya dan didengar langsung di rumah Ki Ranu Gede. Dengan perlahan dan jelas tanpa meninggalkan satu urutan peristiwa pun, Ki Jayaraga menceritakan tentang rencana orang-orang yang akan menyerbu ke kediaman Ki Gede Menoreh.

Ketika kemudian Ki Jayaraga menyebutkan waktu yang akan dipergunakan oleh orang-orang yang berkumpul di rumah Ki Ranu Gede, Kiai Sabda Dadi benar-benar menjadi sangat terkejut.

“Gila..!” tanpa disadarinya Kiai Sabda Dadi mengumpat, “Besuk malam adalah waktu yang sangat sempit bagi kita untuk mempersiapkan diri. Aku tidak tahu, selain kita berdua, siapakah yang dapat diandalkan untuk melawan mereka?”

Ki Jayaraga termangu mangu untuk beberapa saat. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dia berdesis perlahan, “Seandainya saja Sekar Mirah bisa membantu.”

“Tentu tidak,” dengan cepat Kiai Sabda Dadi menimpali, “Keadaan Sekar Mirah tidak memungkinkannya untuk terlibat dalam masalah ini. Bagaimana tanggapan Ki Rangga Agung Sedayu seandainya terjadi hal-hal diluar kehendak kita. Aku adalah orang yang paling menyesal seandainya terjadi apa-apa dengan kandungan Nyi Sekar Mirah.”

Ki Jayaraga hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika tanpa disadarinya dia memandang ke arah pintu bilik Ki Argapati, dengan cepat Kiai Sabda Dadi segera memberikan pertimbangannya, “Ki Argapati adalah orang yang harus kita lindungi. Kedahsyatannya di masa muda sudah tidak berbekas sama sekali. Namun demikian sekarang kitalah yang berkewajiban untuk melindunginya sebagaimana dulu dia selalu menjadi pelindung bagi orang-orang yang lemah.”

Ki Jayaraga benar-benar sudah berada di ujung keputus-asaan. Dengan suara bergetar dia menghitung dengan jari-jari tangannya, “Kekuatan mereka benar-benar nggegirisi. Aku sudah bertemu sendiri dengan Ki Harga Belah berserta keempat murid utamanya. Kemudian walaupun hanya mendengar suaranya, tapi Ki Ranu Gede menyebut nama Ki Wasi Jaladara dari Madiun, dan mungkin masih banyak lagi kekuatan yang tidak bisa kita perhitungkan, sedangkan waktu kita tinggal malam ini dan seharian besuk.”

Diam-diam Kiai Sabda Dadi mengeluh, bukan mengkhawatirkan keselamatan dirinya, namun Damarpati lah yang merisaukan hatinya. Anak itu masih sangat dangkal ilmu kanuragannya, walaupun dia sudah mempelajari ilmu yang dapat membingungkan pandangan mata lawannya. Namun jika lawannya mempunyai kemampuan untuk mengatasi kekerdilan jiwanya, ilmu semacam itu hanyalah sebuah permainan kanak-kanak.

Sejenak mereka berdua terdiam untuk beberapa saat. Masing-masing terhanyut dalam alam lamunannya. Ketika kemudian suara derit pintu yang memecah kesunyian telah mengagetkan mereka berdua, dengan tergesa-gesa mereka pun berpaling ke arah sumber suara itu. Tampak Sekar Mirah telah berdiri di tengah-tengah pintu biliknya yang terbuka lebar.

“Mirah, engkau belum tidur?” dengan ragu-ragu Ki Jayaraga menyapa Sekar Mirah.

“Aku tidak bisa tidur,” jawab Sekar Mirah sambil melangkah keluar biliknya. Setelah menutup pintu biliknya terlebih dahulu, Sekar Mirah pun kemudian ikut bergabung duduk-duduk di ruang tengah.

Sejenak suasana menjadi sangat kaku. Kiai Sabda Dadi hanya menundukkan kepalanya saja menghindari tatapan Sekar Mirah, sedangkan Ki Jayaraga yang mencoba meminta pertimbangan kepada Kiai Sabda Dadi dengan memandang lekat-lekat ke arahnya menjadi kecewa karena Kakek Damarpati itu justru selalu menundukkan kepalanya.

Akhirnya justru Sekar Mirah lah yang memulai pembicaraan, “Ki Jayaraga, aku telah mendengar semua pembicaraan kalian, dan aku tidak akan berpangku tangan saja menghadapi permasalahan ini.”

“Jangan, Nyi..!” ternyata Kiai Sabda Dadi yang terlebih dahulu menyahut, “Walaupun kami tahu bahwa Nyi Sekar Mirah mempunyai kemampuan yang melebihi orang kebanyakan, namun keadaan Nyi Sekar Mirah lah yang mengharuskan Nyi Sekar Mirah untuk tidak mengerahkan kemampuan olah kanuragan apapun ujudnya dan seberapapun besarnya.”

“Mengapa?” sahut Sekar Mirah, “Aku dapat bertempur sambil berdiri saja, tidak perlu meloncat loncat. Dengan mengandalkan kekuatan dan kecepatan tongkat baja putihku, aku yakin dapat mengatasi lawan lawanku, walaupun mungkin hanya sekedar bertahan, tapi itu akan sangat lebih baik dari pada tidak berbuat apa-apa sama sekali.”

Ki Jayaraga tertegun. Sedikit banyak Ki Jayaraga telah mengenal watak Sekar Mirah selama tinggal bersama di rumah Ki Rangga Agung Sedayu. Sekar Mirah ini tidak ada bedanya dengan kakaknya Swandaru Geni. Sama-sama berwatak keras dan terlalu percaya dengan kekuatan sendiri bahkan kadang kala cenderung kurang perhitungan.

“Nah,” berkata Sekar Mirah kemudian, “Tidak ada salahnya kita mulai membuat perhitungan tentang kekuatan kita,” Sekar Mirah berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Bagaimana kalau kita meminta bantuan ke barak pasukan khusus yang ada di Tanah Perdikan Menoreh ini? Kakang Agung Sedayu adalah pemimpin pasukan khusus, setidaknya mereka pasti memberikan perhatian terhadap keselamatan keluarga yang ditinggalkan selama bertugas.”

Sejenak Ki Jayaraga dan Kiai Sabda Dadi bagaikan terbangun dari mimpi. Dada mereka bagaikan bergelora mendengar penuturan Sekar Mirah. Harapan yang tadinya mulai surut, kini berkembang lagi.

“Engkau benar, Mirah,” berkata Ki Jayaraga kemudian, “Aku yang sudah tua ini agaknya mulai pikun. Benar-benar diluar perhitunganku mengenai keberadaan pasukan khusus di Menoreh ini. Para Perwira yang tidak berangkat ke Panaraga pasti akan membantu kita, namun yang menjadi masalah sekarang adalah, siapakah yang akan menghubungi para Perwira di barak pasukan khusus? Aku tidak begitu mengenal mereka dan memang aku secara pribadi tidak punya sangkut paut apapun dengan mereka.”

Sekar Mirah tertegun. Seandainya dirinya tidak sedang hamil tua, tentu saja dia akan dengan senang hati menemani Ki Jayaraga ke barak pasukan khusus itu, karena pasti mereka mengenal Sekar Mirah sebagai istri Ki Rangga Agung Sedayu pemimpin pasukan khusus, selain itu Sekar Mirah juga pernah terlibat langsung sebagai pelatih olah kanuragan pada awal-awal pembentukan pasukan khusus di Menoreh.

“Tidak ada pilihan lain,” Kiai Sabda Dadi lah yang menyahut, “Setidaknya Ki Jayaraga pernah dikenal oleh sebagian Perwira yang bertugas di barak pasukan khusus. Apalagi seperti yang aku dengar, pasukan khusus itu telah mengalami pemekaran, sehingga masih banyak Prajurit yang tinggal untuk menjaga keamanan di lingkungan barak itu sendiri.”

Hampir bersamaan Sekar Mirah dan Ki Jayaraga mengangguk anggukkan kepala. Memang Ki Jayaraga pernah berkunjung ke barak pasukan khusus itu beberapa kali sehubungan dengan kenaikan pangkat Ki Rangga Agung Sedayu dan juga pada saat pasukan khusus itu dimekarkan. Bahkan masih segar dalam ingatan Ki Jayaraga ketika terjadi perselisihan antara Glagah Putih dengan seorang Lurah Wira Tamtama yang akan ditempatkan di kesatuan Ki Rangga Agung Sedayu.

“Ki Lurah Sanggabaya,” tanpa disadarinya Ki Jayaraga mengulang nama itu.

“He,” Sekar Mirah terkejut , “Kakang Agung Sedayu pernah menyebut nama itu. Ki Jayaraga dapat menemuinya dan meminta bantuan seandainya Ki Lurah Sanggabaya tidak ikut pasukan ke Panaraga.”

“Ya,” berkata Ki Jayaraga penuh semangat, “Semoga dia sudah melupakan kejadian itu dan dengan sadar mau membantu pengamanan di kediaman Ki Gede.”

“Aku rasa dia tidak mempunyai alasan untuk menolaknya,” Kiai Sabda Dadi memberikan pendapatnya, “Sebagai Prajurit bawahan Ki Rangga Agung Sedayu, dia mempunyai kewajiban menjaga keamanan dan keselamatan di lingkungan barak pasukan khusus itu termasuk Tanah Perdikan Menoreh ini. Apalagi ini menyangkut keselamatan Nyi Sekar Mirah dan Ki Argapati.”

Sekar Mirah dan Ki Jayaraga mengangguk-anggukkan kepala. Kemudian sambil bangkit dari tempat duduknya dan menuju ke bilik di sebelah bilik Ki Gede, Sekar Mirah berkata, “Baiklah, aku akan beristirahat. Besuk pagi-pagi Ki Jayaraga dapat pergi ke barak pasukan khusus itu dan menghadap ke Ki Lurah Sanggabaya atau siapapun yang ada untuk memohon bantuan.”

“Ya, Mirah,” sahut Ki Jayaraga, “Sebaiknya engkau beristirahat. Biarlah urusan ini nanti aku selesaikan bersama dengan Kiai Sabda Dadi.”

Demikianlah akhirnya, sisa malam itu terasa menjadi sangat panjang. Setelah Sekar Mirah memasuki biliknya, Kiai Sabda Dadi dan Ki Jayaraga tidak bernafsu untuk bermain mul-mulan seperti malam kemarin. Waktu yang tersisa di malam itu telah digunakan oleh Kiai Sabda Dadi kembali ke gandhok kanan untuk menemui Damarpati. Dengan singkat dan jelas diterangkannya kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi sehubungan dengan rencana penyerbuan sekelompok orang yang tinggal di rumah Ki Ranu Gede ke kediaman Ki Gede Menoreh.

Sementara itu Ki Jayaraga telah turun ke halaman. Untuk beberapa saat Ki Jayaraga masih termangu mangu di tangga pendapa, namun kemudian dengan langkah satu-satu diayunkan kakinya menuju ke regol.

Dua orang pengawal yang bertugas jaga di regol itu terkejut ketika tiba-tiba saja pundak mereka telah digamit. Mereka tidak menyangka bahwa seseorang akan melakukan itu justru pada saat mereka sedang duduk terkantuk-kantuk bersandaran pada pintu regol.

“Oh, Ki Jayaraga rupanya,” dengan tergopoh-gopoh keduanya segera bangkit berdiri dan membetulkan letak kain panjang mereka sambil menggenggam erat tombak di tangan kanan.

Sejenak Ki Jayaraga termangu mangu sambil memandangi kedua pengawal itu berganti ganti. Ketika kedua pengawal itu menjadi salah tingkah karena pandangan Ki Jayaraga, barulah Ki Jayaraga berkata perlahan, “Berapa orang yang berjaga di kediaman Ki Gede ini setiap malam?”

Kedua pengawal itu saling pandang, baru kemudian pengawal yang bertubuh agak pendek dibanding kawannya menyahut, “Sepuluh orang, Ki. Tetapi kami tidak bertugas bersamaan. Sebagian istirahat di gandhok kiri untuk menunggu giliran jaga.”

Ki Jayaraga mengangguk anggukkan kepalanya. Sambil menghirup udara malam yang semakin dingin dia kembali bertanya, “Siapakah pemimpin pengawal di tanah Perdikan ini selain Prastawa yang telah berangkat ke Panaraga?”

“Maksud Ki Jayaraga, pengawal yang diserahi tanggung jawab selama Ki Prastawa bersama sebagian pengawal berangkat ke Panaraga?” kali ini pengawal yang bertubuh tinggi kurus itu yang balik bertanya.

“Ya,” jawab Ki Jayaraga cepat, “Apakah dia bertugas malam ini?”

“Tidak,” jawab pengawal yang bertubuh tinggi kurus itu, “Tapi jika Ki Jayaraga memerlukannya, kami dapat memberitahukan-nya besuk setelah kami lepas jaga.”

“Baiklah,” berkata Ki Jayaraga kemudian, “Tolong sampaikan kepadanya untuk datang ke sini besuk pagi-pagi sekali. Katakan kalau Ki Argapati memerlukannya.”

Hampir bersamaan kedua pengawal itu mengangguk. Kemudian yang bertubuh pendek itu berdesis ke arah kawannya, “Rumahmu sejalan dengan rumah Kakang Jamawir. Jangan lupa untuk menyampaikan pesan Ki Jayaraga.”

Kawannya yang bertubuh tinggi kurus itu mengangguk, “Akan aku ingat pesan itu.”

Ki Jayaraga menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku akan kembali ke ruang dalam untuk menunggui Ki Gede, barangkali Ki Gede terbangun dan memerlukan sesuatu. Jangan lupa pesanku, Ki Gede memerlukannya.”

“Ya, Ki Jayaraga,” hampir bersamaan keduanya menyahut.

Ketika kemudian Ki Jayaraga kembali ke ruang tengah, malam sudah hampir menjelang pagi. Kokok ayam jantan terdengar bersahut-sahutan dari segala penjuru. Beberapa orang yang telah terbangun segera ke pakiwan untuk bersuci dan menunaikan kuwajibannya selaku hamba yang bersyukur kepada Yang Maha Agung.

Beberapa pembantu rumah Ki Gede pun segera menjalankan kewajiban masing-masing. Pembantu laki-laki bertugas menyapu halaman dan mengisi pakiwan. Sedangkan para perempuan mulai menghidupkan api di dapur untuk menjerang air dan menanak nasi.

Setelah meneguk minuman hangat dan mengunyah beberapa potong makanan, pagi itu Kiai Sabda Dadi akan menemani Ki Jayaraga ke barak pasukan khusus yang ada di Tanah Perdikan Menoreh. Semula Damarpati menyatakan keinginannya untuk ikut, akan tetapi dengan lembut Kakeknya mencegah.

“Damar,” berkata Kiai Sabda Dadi ketika sudah berada di atas punggung kuda, “Kawani Nyi Sekar Mirah. Aku dan Ki Jayaraga tidak akan terlalu lama. Setelah semua urusan selesai, kami akan segera kembali.”

Damarpati yang berdiri di sebelah Sekar Mirah hanya mengangguk perlahan, namun dari sorot matanya tampak betapa gadis itu menjadi sangat kecewa.

Ki Jayaraga yang juga sudah berada di atas punggung kuda di sebelah Kiai Sabda Dadi menjadi kasihan. Katanya kemudian, “Masih banyak waktu. Nanti kalau Ki Rangga Agung Sedayu sudah kembali dari Panaraga, engkau dapat ikut ke barak kapan pun engkau mau, karena Ki Rangga adalah pemimpin pasukan khusus itu.”

Sekali lagi Damarpati hanya mengangguk sekilas, namun justru Sekar Mirah lah yang dadanya berdesir tajam ketika mendengar nama suaminya disebut.

“Semoga Tuhan Yang Maha Agung melindungi kita semua,” do’a Sekar Mirah dalam hati. Tanpa disadarinya tiba-tiba sudut matanya menjadi hangat dan setetes air mata mulai mengambang di pelupuk matanya. Cepat-cepat Sekar Mirah menengadahkan wajahnya agar air mata itu tidak jadi jatuh membasahi pipinya.

Sementara itu Ki Jayaraga masih sempat berpaling kepada seseorang yang berdiri mematung beberapa langkah di sebelah kirinya. “Ki Jamawir, engkau sudah tahu apa yang harus dikerjakan. Laksanakan semua rencana kita tanpa menimbulkan gejolak para penghuni padukuhan-padukuhan yang ada di Tanah Perdikan ini, terutama para penghuni padukuhan induk.”

Orang yang di panggil Jamawir itu menganggukkan kepalanya betapapun isi dadanya terasa pepat menghadapi keadaan yang tak terduga duga itu. Sambil sekali lagi menganggukkan kepalanya, dia berkata, “Ijinkan aku berangkat juga Ki, semoga sebelum tengah hari, apa yang kita rencanakan sudah mulai tampak hasilnya.”

Hampir bersamaan Ki Jayaraga dan Kiai Sabda Dadi mengangguk anggukkan kepala. Kemudian kata Ki Jayaraga kepada Sekar Mirah, “Mirah, aku berangkat. Jagalah Ki Gede baik-baik. Aku sengaja tidak memberitahukan peristiwa ini kepadanya, agar tidak menambah beban sakitnya.”

“Ya, Ki,” sahut Sekar Mirah.

Sejenak kemudian kedua ekor kuda itu segera berderap perlahan meninggalkan halaman rumah Ki Argapati. Sedangkan Ki Jamawir pun kemudian segera meminta diri kepada Sekar Mirah untuk melaksanakan rencana yang telah mereka sepakati.

Sepanjang perjalanan, Kiai Sabda Dadi dan Ki Jayaraga hampir tidak berbicara sepatah kata pun. Mereka berdua lebih banyak tenggelam dalam angan-angan masing-masing. Hanya sesekali saja Ki Jayaraga melemparkan pandangan matanya ke arah tepi jalan yang mereka lewati.

‘Kiai,” desis Ki Jayaraga perlahan sambil tetap berkuda di sebelah Kiai Sabda Dadi, “Apakah Kiai merasa ada yang janggal di sepanjang perjalanan kita ini?”

Kiai Sabda Dadi tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Jawabnya kemudian, “Mereka kurang sempurna dalam penyamarannya,” Kiai Sabda Dadi berhenti sejenak, kemudian sambil perpaling ke arah Ki Jayaraga dia melanjutkan, “Ataukah kita ini memang termasuk orang-orang linuwih yang mampu membuka tabir segelap apapun dari setiap penyamaran?”

“Ah,” Ki Jayaraga tertawa pendek. Dia tahu maksud sesungguhnya dari Kiai Sabda Dadi yang hanya ingin mengurangi ketegangan yang terasa mencekam jantung mereka. Namun apa boleh buat, keadaan telah berkembang sedemikian rupa dan mereka telah memutuskan untuk mengambil suatu sikap.

Memang di sepanjang jalan menuju ke barak prajurit pasukan khusus, panggraita kedua orang yang sudah putus segala kawruh lahir maupun batin itu menangkap hal-hal yang agak janggal bagi mereka berdua. Seakan-akan memang hanya duduk-duduk beristirahat di bawah sebatang pohon, atau seorang petani yang akan berangkat ke sawah lengkap dengan cangkulnya sedang berhenti sejenak di tanggul tepi jalan, bahkan ada juga seorang penjual dawet cendol yang duduk menjajakan dagangannya tepat di seberang regol kediaman Ki Argapati begitu mereka berdua keluar dari regol tadi pagi.

Untuk beberapa saat mereka berkuda masih dengan kecepatan yang wajar. Mereka berdua memang tidak perlu memacu kuda-kuda itu walaupun jalan di pagi hari itu masih cukup sepi. Hanya sesekali mereka berpapasan dengan pedati yang penuh dengan muatan hasil bumi dari padukuhan-padukuhan yang tersebar di seluruh wilayah Perdikan Menoreh untuk dibawa ke pasar induk.

Ketika kemudian mereka berdua telah meninggalkan gerbang padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh, terhampar di hadapan kedua orang tua itu bulak panjang yang seakan tidak berujung. Di sebelah menyebelah bulak terhampar sawah yang mulai dikerjakan. Musim kemarau memang sudah berakhir dan para petani telah memulai membajak sawahnya. Tampak sebuah bajak yang ditarik oleh sepasang kerbau yang gemuk sedang terperosok dan berkutat dengan lumpur yang sangat lengket. Seorang anak yang masih cukup muda bertubuh kekar dan bertelanjang dada mencoba mengeluarkan kaki-kaki kerbaunya yang terperosok. Namun agaknya sepasang kerbau itu sudah cukup lelah dan sekalian ingin berkubang di lumpur yang dingin dan becek itu. Sehingga akhirnya anak muda itu menyerah. Dilepaskannya rangkaian bajak itu dari leher kedua kerbau yang sudah membenamkan tubuh-tubuh mereka ke dalam kubangan lumpur di sawah.

Kiai Sabda Dadi yang melihat kejadian itu dari tengah bulak hanya tersenyum masam. Teringat olehnya cucu satu-satunya yang kini menjadi beban pikirannya, Damarpati. Anak itu sangat senang bermain lumpur di sawah. Teringat olehnya ketika Damarpati masih kecil dan tinggal di padukuhan Ngerang bersama kedua orang tuanya. Sesekali Damarpati mengikuti kakeknya ke Padepokan Glagah Tinutu di Pegunungan Kendeng untuk mengunjungi kakek buyutnya, Panembahan Kalijenar.

Sementara Ki Jayaraga yang berkuda di sebelah Kiai Sabda Dadi sama sekali tidak menaruh perhatian. Pandangannya lurus ke depan seakan-akan ingin menembus titik-titik di kejauhan yang masih terselimuti oleh kabut pagi. Wajahnya yang sudah berkeriput itu berkali-kali mengerutkan keningnya. Pikirannya benar-benar sedang kalut, bukan memikirkan dirinya sendiri. Dia sudah merasa hidup terlalu lama di muka bumi ini. Kalaupun maut datang menjemput dengan cara apapun dia tidak akan mengelak, dan memang tidak akan punya kekuatan untuk menolak kalau Yang Maha Agung sudah berkehendak. Namun yang menjadi beban pikirannya adalah Sekar Mirah. Keluarga kecil itu baru akan menerima anugerah dari Yang Maha Welas Asih. Haruskah semua itu berakhir dengan kesedihan? Tak terbayangkan betapa akan sangat kecewanya suaminya Ki Rangga Agung Sedayu yang kini sedang mengemban tugas melawat ke Panaraga.

Tanpa terasa, kuda-kuda mereka telah berderap menuju ujung bulak. Setelah bulak yang panjang itu mereka akan menjumpai sebuah jalan simpang. Kalau berbelok ke kiri akan sampai pada sebuah padukuhan, dan jika mereka menempuh jalan lurus, mereka akan menjumpai sebuah hutan yang tidak begitu lebat. Untuk mencapai barak pasukan khusus, mereka masih harus menyisir pinggir hutan yang tipis itu namun yang masih terdapat beberapa binatang buruan yang kecil, seperti sejenis kancil dan menjangan serta beberapa jenis burung liar. Di hutan itulah dulunya Pandan Wangi sering pergi berburu ditemani oleh pemomongnya yang sangat setia, Kerti.

Ketika kemudian kedua orang tua itu sedang menyusuri pinggir hutan yang tidak begitu lebat, Ki Jayaraga yang berkuda di depan tiba-tiba pandangan matanya menangkap sesuatu yang tidak wajar. Ada dua orang yang sedang menyabit rumput justru di tengah jalan setapak di pinggir hutan yang sedang mereka lalui.

Untuk sejenak keduanya mencoba memperlambat laju kuda-kudanya. Sambil mengekang kudanya agar tidak melanggar kedua orang yang sedang menyabit rumput itu, Ki Jayaraga berteriak, “Ki Sanak..! Ijinkan kami berdua lewat sebentar.”

Kedua orang yang sedang menyabit rumput itu memang sejenak mengangkat kepala mereka. Ketika kemudian kaki-kaki kuda Ki Jayaraga hampir saja melanggar punggung mereka, barulah mereka dengan tergesa-gesa meloncat berdiri sambil tetap menggenggam sabit di tangan kanan dan segenggam rumput di tangan kiri.

“Berhati hatilah dengan kudamu, Ki Sanak.!” Bentak salah seorang yang berwajah kasar dan sedikit liar dengan muka merah padam.

Ki Jayaraga yang telah menguasai kudanya itu mengerutkan keningnya. Dari ujud kedua orang itu, Ki Jayaraga meragukan bahwa keduanya adalah benar-benar orang yang sedang mencari rumput. Tampaknya hal ini memang disengaja untuk mencari alasan agar mereka berdua terlibat keributan dengan kedua penyabit rumput itu.

“Ki Sanak,” berkata Ki Jayaraga kemudian sambil meloncat turun dari kudanya diikuti oleh Kiai Sabda Dadi yang ada di belakangnya,

“Adalah sangat janggal kalau Ki Sanak mencari rumput sampai di pinggir hutan ini. Apakah di padukuhan Ki sanak sudah kehabisan rumput sehingga Ki Sanak bersusah payah pergi ke hutan ini hanya sekedar untuk sekeranjang rumput.”

“Persetan dengan ocehanmu.!” Penyabit rumput yang berbadan pendek kekar penuh dengan otot-otot yang menonjol di kedua belah lengannya ikut membentak, “Kelakuan kalian telah menyinggung perasaan kami. Untuk itu kalian harus di hukum.”

Kiai Sabda Dadi yang agaknya ikut tertarik dengan peristiwa itu telah melangkah kedepan sambil menuntun kudanya, “Ki Sanak,” katanya kemudian, “Kewenangan apakah yang Ki Sanak miliki sehingga Ki Sanak akan menghukum kami?”

“Kami memiliki kewenangan mutlak untuk menghukum siapa saja yang kami kehendaki, bahkan membunuh sekalipun.” Geram penyabit rumput yang pertama.

Kiai Sabda Dadi dan Ki Jayaraga saling berpandangan. Peristiwa yang hanya sekilas itu telah memberikan gambaran dengan siapa mereka berhadapan.

Ki Jayaraga yang pada masa mudanya telah tuntas berpetualang di dunia kelam menjadi tidak sabar. Maka katanya sambil menambatkan kudanya pada pohon perdu yang tumbuh di pinggir hutan itu, “Sudahlah Ki Sanak, aku sudah muak dengan segala sandiwaramu. Kalau kalian memang ingin membunuh diri, aku sanggup membantu menjadi lantaran. Sudah lama aku menahan tanganku ini untuk membunuh justru karena aku menghargai keluarga Ki Rangga Agung Sedayu tempat di mana selama ini aku hidup menumpang.”

Sejenak kedua penyabit rumput itu bagaikan membeku melihat sikap Ki Jayaraga. Apalagi ketika Kiai Sabda Dadi ternyata tanggap dengan permainan Ki Jayaraga itu kemudian telah mengumpat kasar sambil tangan kanannya menghantam pohon sebesar paha orang dewasa yang tumbuh beberapa langkah di sebelah kirinya. Segera saja terdengar benturan keras dan pohon itupun tumbang dalam keadaan hancur tercerai berai.

“Marilah,” geram Kiai Sabda Dadi kemudian, “Tidak usah berbelit-belit, segera panggil kawan kawanmu yang masih bersembunyi di dalam hutan. Aku pun sudah lama tidak membunuh orang.”

Kedua orang penyabit rumput itu benar-benar telah membeku di tempatnya. Keringat dingin telah membasahi sekujur tubuh mereka. Mereka tidak menyangka akan mengalami keadaan seperti itu. Sebelumnya mereka menyangka bahwa tugas mereka sangatlah ringan, membuat permasalahan dengan kedua orang yang akan lewat di pinggir hutan itu, kemudian membawa mereka berdua memasuki hutan untuk dibantai beramai-ramai.

Ketika Ki Jayaraga dan Kiai Sabda Dadi telah selesai menambatkan kuda-kuda mereka, dengan langkah satu-satu keduanya pun segera menghampiri kedua penyabit rumput yang masih berdiri di tempatnya dengan tubuh menggigil.

Namun baru saja mereka berdua mendekati kedua penyabit rumput itu, tiba-tiba terdengar suara gemerisik dedaunan yang tersibak dari gerumbul-gerumbul perdu.

Sejenak kemudian dari dalam hutan yang tidak begitu lebat itu muncul beberapa orang yang berwajah keras.

Kiai Sabda Dadi terkejut begitu melihat orang yang berjalan di paling depan.

Seseorang yang berperawakan tinggi besar dengan kumis melintang tetapi dengan dagu yang licin, Ki Wasi Jaladara dari perguruan Liman Benawi.

“Selamat bertemu kembali, Kiai Sabda Dadi,” berkata Ki Wasi Jaladara, “Agaknya kali ini engkau tidak akan mendapatkan kesempatan lagi. Walaupun engkau berkawan dengan orang tua dulu yang mampu menyemburkan tanah dan api, namun kini kami membawa seseorang yang tidak akan pernah kalian duga sebelumnya, Ki Harga Jumena dari perguruan Harga Belah di Blambangan.”

Namun Ki Wasi Jaladara menjadi heran, ternyata kedua orang itu tidak menampakkan rasa keterkejutan mereka sama sekali, bahkan Ki Jayaraga telah maju beberapa langkah sambil membungkuk memberi hormat, “Selamat datang di Menoreh, Ki Harga Jumena. Kita memang belum pernah saling mengenal, namun nama perguruan Harga Belah dari Blambangan telah terdengar jauh sampai di Tanah Perdikan Menoreh yang sepi ini.”

Sejenak Ki Harga Jumena dan Ki Wasi Jaladara saling berpandangan. Kesan pertama yang mereka peroleh adalah bahwa kedua orang tua itu ternyata sama sekali tidak takut dengan nama besar mereka.

“Sebentar Ki sanak,” Ki Harga Jumena melangkah ke depan Ki Jayaraga, “Apakah kita pernah bertemu?”

Ki Jayaraga tersenyum sambil menggeleng, “Ki Harga Jumena pasti tidak mengenalku, Jayaraga yang tua. Tapi hampir setiap orang di tanah ini pernah mendengar nama besar Perguruan Harga Belah di Blambangan, walaupun secara pribadi belum pernah bertemu dengan pemimpin padepokan itu sendiri. Namun sebenarnya beberapa tahun yang lalu sebelum aku memutuskan untuk menetap di Menoreh, aku pernah menjelajah pulau ini dari ujung yang satu sampai ke ujung yang lain. Kebetulan pada saat berada di Blambangan aku pernah melihat Ki Harga Jumena beserta murid-murid Harga Belah sedang melintas di depan sebuah kedai tempat aku sedang melepas lelah pada saat itu. Orang-orang di dalam kedai itulah yang memberitahukan kepadaku bahwa yang baru saja melintas adalah Ki Harga Jumena, pemimpin padepokan Harga Belah yang besar.”

Ki Harga Jumena mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa disadarinya ada sesuatu yang mengembang di rongga dadanya, suatu kebanggaan bahwa dirinya dan perguruannya telah dikenal sampai tempat sejauh ini, di Tanah Perdikan Menoreh.

Sementara itu Kiai Sabda Dadi menjadi berdebar debar ketika pandangan matanya tertumbuk pada timang dari ikat pinggang yang dikenakan oleh Ki Harga Jumena. Sejenak Kiai Sabda Dadi mencoba mengenali gambar yang terukir pada timang emas bertretes berlian itu. Sebuah gambar yang selama ini telah menjadi teka-teki baginya.

Ki Harga Jumena yang merasa diperhatikan oleh Kiai Sabda Dadi menjadi heran. Dengan orang tua yang satu ini pun dia juga belum pernah merasa bertemu, namun pandangan tajam dari orang tua yang satu ini terasa langsung menembus jantungnya.

Ketika kemudian Kiai Sabda Dadi menyadari atas perhatiannya yang berlebihan itu, segera saja pandangan matanya dilemparkan ke titik-titik di kejauhan. Ke atas pucuk-pucuk pepohonan yang beriak tertiup angin. Namun sebenarnyalah jantungnya berdegup semakin kencang ketika menyadari justru perhatian Ki Harga Jumena sekarang beralih kepadanya.

Ternyata dugaan Kiai Sabda Dadi benar. Perlahan lahan Ki Harga Jumena bergeser mendekati Kiai Sabda Dadi. Katanya kemudian ketika sudah berada di depan Kiai Sabda Dadi, “Ki Sanak, tinggal engkau yang belum memperkenalkan diri. Rasa-rasanya kita pernah bertemu namun aku sudah lupa dimana dan kapan kejadian itu.”

Sebuah desir tajam menggores jantung Kiai Sabda Dadi. Bagaimanapun juga kejadian sepuluh tahun yang lalu di padepokan Glagah Tinutu tidak akan pernah dilupakannya. Penyerbuan ke padepokan itu pada saat penghuninya tertidur lelap benar-benar perbuatan yang keji. Siapakah yang bertanggung jawab atas kejadian itu masih gelap. Hanya ada sebuah ikat pinggang kulit ditemukan diantara korban-korban yang bergelimpangan dengan timang bergambar sebuah trisula yang dibelit dua ekor ular. Sepanjang pengetahuannya gambar itu bukan simbul Perguruan Harga Belah. Perguruan Harga Belah sesuai dengan namanya menggunakan simbol sebuah gambar gunung yang menjulang dan sebuah petir yang menyambar di tengah-tengahnya. Seolah olah gunung yang tinggi menjulang itu terbelah oleh sambaran petir yang dahsyat. Namun timang dengan gambar yang sama dengan yang ditemukan di padepokan Glagah Tinutu pada saat malam kejadian itu kini justru sedang dikenakan oleh Ki Harga Jumena, pemimpin Perguruan Harga Belah.

Setelah menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan getar di dadanya, Kiai Sabda Dadi pun memperkenalkan diri, “Baiklah Ki Sanak, namaku Sabda Dadi dari Perguruan Glagah Tinutu di Pegunungan Kendeng. Aku adalah pewaris sekaligus keturunan dari Panembahan Kalijenar, pemimpin padepokan Glagah Tinutu sebelumnya.”

Kiai Sabda Dadi sengaja menyebut nama padepokan Glagah Tinutu di Pegunungan Kendeng untuk melihat tanggapan dari Ki Harga Jumena. Namun Kiai Sabda Dadi menjadi kecewa, ternyata Ki Harga Jumena justru tertarik dengan nama Panembahan Kalijenar.

“Panembahan Kalijenar,” desis Ki Harga Jumena mengulang nama itu sambil mengangguk anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Kalau aku tidak salah, Panembahan Kalijenar adalah salah satu cucu dari Nyi Ageng Ngerang, seseorang yang dipercaya oleh para kawula di sekitar Juwana Pati sebagai seorang Wali yang Waskita.”

Kiai Sabda Dadi menarik nafas dalam-dalam. Menilik tanggapan dari Ki Harga Jumena terhadap dirinya sebagai keturunan Nyi Ageng Ngerang, Ki Harga Jumena tidak ada sangkut pautnya dengan penyerbuan ke padepokan Glagah Tinutu sepuluh tahun yang lalu. Namun yang kini menjadi perhatiannya adalah, mengapa Ki Harga Jumena memakai timang dengan simbol yang mirip dengan simbol yang tertinggal atau sengaja ditinggalkan di padepokan Glagah Tinutu pada waktu itu?

“Baiklah,” berkata Ki Harga Jumena kemudian, “Aku tertarik dengan cucu Nyi Ageng Ngerang ini,” dia berhenti sejenak, kemudian sambil berpaling ke arah Ki Wasi Jaladara dia melanjutkan, “Kalau Ki Wasi Jaladara ingin bergabung, masih ada orang yang bernama Jayaraga tua itu, setua tubuhnya yang sudah berbau tanah.”

“Ah,” Ki Jayaraga tertawa, katanya kemudian, “Aku memang sudah tua Ki Harga Jumena, namun aku yakin masih setangkas waktu muda dahulu. Apalagi aku akhir-akhir ini rajin minum jamu untuk memperkuat otot dan tulangku.”

“Tutup mulutmu, tua bangka.!” Bentak Ki Wasi Jaladara, “Umurmu tinggal sepenginang dan engkau masih sempat bergurau. Cepat katakan pesan terakhirmu sebelum aku cabut selembar nyawamu yang tidak berharga sama sekali itu.”

Ki Jayaraga tertegun, namun hanya sekejap. Kemudian sambil menghampiri pemimpin Perguruan Liman Benawi dari Madiun itu, dia berkata, “Seandainya malam itu engkau tidak tergesa-gesa meninggalkan medan pertempuran, aku ingin mengajakmu bermain-main untuk saling mengenal ilmu kita. Sayang, Kiai Sabda Dadi membiarkan saja engkau pergi.”

“Persetan..!” geram Ki Wasi Jaladara, “Jangan banyak bicara. Mari akan aku tunjukkan kekuatan sebenarnya dari ilmu Perguruan Liman Benawi.”

Selesai berkata demikian Ki Wasi Jaladara segera mempersiapkan diri. Kelihatannya dia tidak akan mulai dari awal, kemudian selapis demi selapis meningkat, tapi pemimpin perguruan dari Madiun itu akan langsung para tataran tertinggi karena tidak ingin banyak membuang waktu.

Ki Jayaraga menyadari sepenuhnya bahwa lawannya tidak akan mulai dari penjajagan terlebih dahulu menilik dari sikap awal yang ditrapkan oleh lawannya, tapi langsung pada tingkatan tertinggi dari ilmunya yang nggegirisi, Aji Tapak Liman.

Sementara itu Kiai Sabda Dadi segera bergeser beberapa langkah menjauhi Ki Jayaraga dan lawannya untuk sekedar memperluas medan yang akan mereka gunakan untuk bertempur. Sedangkan dua orang yang menyamar sebagai penyabit rumput dan beberapa orang yang datang kemudian telah menyingkir agak jauh. Mereka sadar sepenuhnya bahwa akan terjadi pertempuran antara orang-orang yang berilmu tinggi dan mereka tidak mau terkena imbas dari benturan ilmu mereka jika berdiri terlalu dekat.

Sejenak kemudian telah terjadi dua lingkaran pertempuran yang dahsyat. Kali ini Ki Wasi Jaladara tidak mencabut kerisnya yang luk sembilan itu, tapi dia mempercayakan pada aji andalannya, Aji Tapak Liman.

Aji Tapak Liman pada dasarnya adalah suatu ilmu yang bertumpu pada pengerahan kekuatan, baik secara wadag maupun dengan lambaran tenaga cadangan. Dengan telapak tangan yang terbuka, Ki Wasi Jaladara memburu kemana saja Ki Jayaraga menghindar. Kedua telapak tangan Ki Wasi Jaladara yang terbuka itu bagaikan memiliki kekuatan kaki seribu gajah. Setiap kali telapak tangan itu menghantam Ki Jayaraga yang licin bagaikan belut, tanah bekas tempat berpijak Ki Jayaraga itu melesak sedalam hampir selutut orang dewasa dan selebar sehasta.

Diam-diam Ki Jayaraga bergidik. Beruntung dirinya selalu dapat menghindari terjangan kedua telapak tangan Ki Wasi Jaladara yang datang susul menyusul bagaikan ombak laut selatan yang menghantam tebing-tebing curam di bibir pantai.

Berbeda dengan Ki Wasi Jaladara yang menggunakan kekuatan telapak tangannya untuk menyerang lawannya, Ki Harga Jumena menggunakan sisi telapak tangannya yang terbuka untuk membelah tubuh lawannya dengan ajinya yang tak kalah nggegirisi, Aji Harga Belah.

Setiap kali lawan Kiai Sabda Dadi itu bergerak menyerang, selalu diikuti oleh suara angin bersiutan dan kilatan cahaya yang secara bersamaan menerjang Kiai Sabda Dadi. Namun Kiai Sabda Dadi adalah cucu Nyi Ageng Ngerang, seorang yang dipercaya sebagai Waliyullah. Sehingga sampai beberapa saat lamanya, pemimpin perguruan dari Blambangan itu hanya dapat membelah angin. Namun tak jarang pohon-pohon yang ada di sekitar pertempuran itu benar-benar roboh terbelah batangnya menjadi dua diterjang ilmu Ki Harga Jumena.

Untuk sementara Kiai Sabda Dadi hanya mengandalkan kelincahannya untuk menghindari semua serangan Ki Harga Jumena. Namun bagaimanapun juga Kakek Damarpati itu menyadari sepenuhnya bahwa kekuatan wadagnya sudah jauh berkurang. Jadi sebelum nafasnya habis untuk berloncat-loncatan menghindari serangan lawan, dia telah memutuskan untuk menghentikan semua serangan lawannya itu langsung ke sumbernya.

Namun kesempatan untuk mengetrapkan ilmunya itu hampir-hampir tidak ada sama sekali. Gempuran Ki Harga Jumena benar-benar bertubi-tubi, susul menyusul hampir tak ada celah sama sekali.

Ketika Kiai Sabda Dadi sedang memikirkan bagaimana caranya mengambil jarak dari lawannya itu untuk sekejab saja memusatkan nalar budinya, tiba-tiba mereka yang berada di pinggir hutan itu telah dikejutkan oleh suara derap kaki kuda. Derap kaki-kaki kuda itu masih terdengar lamat-lamat, namun bagi orang-orang yang mumpuni itu sudah dapat mendengar dengan jelas dan arahnya pun pasti, dari padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh.

Menyadari betapa berbahayanya jika yang datang itu nantinya adalah sekelompok pengawal berkuda dari Menoreh, Ki Harga Jumena dan Ki Wasi Jaladara seperti berjanji segera menghentakkan kemampuan puncak mereka. Kedua orang itu bergerak bagaikan tatit yang meluncur di udara. Menyambar lawan lawannya tanpa ampun.

Namun yang mereka hadapi kali ini adalah orang-orang yang secara kewadagan memang sudah tua, namun ilmu mereka seolah telah mengendap dan menyatu dengan tulang sumsum. Mereka bergerak tanpa harus mengingat lagi unsur-unsur yang manakah yang dipakai untuk menghadapi serangan lawan lawannya. Unsur-unsur gerak olah kanuragan itu benar-benar telah menyatu dengan jiwa raga mereka.

Sementara itu derap kaki-kaki kuda itu semakin keras terdengar. Sejenak kemudian dari tikungan hutan yang tidak seberapa lebat itu muncul lima ekor kuda dengan penunggang penunggangnya para pengawal Tanah Perdikan Menoreh di bawah pimpinan Ki Jamawir.

Ki Jayaraga yang sempat sekilas melihat siapa yang datang menarik nafas dalam-dalam sambil meloncat mundur. Agaknya kedatangan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu juga telah menarik perhatian lawannya, Ki Wasi Jaladara, sehingga untuk sejenak dia telah mengendorkan serangan serangannya.

Berbeda dengan Ki Wasi Jaladara, Ki Harga Jumena benar-benar tidak terpengaruh dengan kedatangan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Dia tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Pemimpin perguruan Harga Belah itu benar-benar sudah waringuten. Dia tidak menyangka bahwa di Menoreh ini ada orang yang mampu mengimbangi kemampuannya, bahkan ketika dia sudah sampai pada puncak ilmunya.

Kiai Sabda Dadi tidak mempunyai pilihan lain untuk menghentikan serangan lawannya yang membadai itu. Jalan satu satunya adalah dengan membenturkan puncak ilmu andalannya. Sebuah ilmu yang tidak bernama. Ayahnya dan juga sekaligus gurunya, Panembahan Kalijenar tidak pernah memberitahukan apa nama ilmu itu, ilmu yang sebenarnya hanya untuk mempertahankan diri, sejenis dengan Ilmu Tameng Waja, atau ilmu kebal dan sejenisnya. Namun ilmu dari perguruan Glagah Tinutu ini mempunyai keistimewaan. Selain untuk mempertahankan diri, ilmu ini juga mempunyai sifat yang khusus, yaitu dapat membalikkan kekuatan lawan sehingga tenaga lawan akan memantul dan menghantam diri sendiri.

Demikianlah, ketika para pengawal yang dipimpin oleh Ki Jamawir itu telah meluncur memasuki medan pertempuran, para pengikut dari Ki Wasi Jaladara dan Ki Harga Jumena pun segera menyongsong dengan hiruk pikuk. Mereka berteriak teriak seperti sedang mengejar tupai sambil mengacung acungkan senjata mereka.

Segera saja para pengawal itu berloncatan turun dari punggung kuda masing-masing. Setelah terlebih dahulu melecut kuda-kuda itu agar berlari menjauh, dengan secepat kilat mereka segera mencabut senjata dan bergerak menebar untuk menyambut lawan-lawan mereka.

Ternyata benturan yang pertama dari para pengawal dan murid-murid kedua perguruan itu sekejab telah menarik perhatian Ki Harga Jumena. Waktu yang hanya sekejab itu telah dipergunakan sebaik baiknya oleh Kiai Sabda Dadi. Dengan tergesa-gesa dia segera meloncat mundur untuk mengambil jarak. Kiai Sabda Dadi hanya memerlukan waktu sekejab untuk memusatkan nalar budi mengetrapkan ilmunya setinggi tingginya sambil tidak lupa memohon perlindungan kepada Yang Maha Hidup, sebagai sumber dari segala sumber penghidupan di dunia ini.

Ki Harga Jumena yang menyadari kesalahannya telah menggeram keras. Dipusatkan seluruh ilmunya pada sisi telapak tangan kanannya. Dengan sebuah teriakan yang menggelegar, dia meloncat menerjang Kiai Sabda Dadi yang telah siap menyambutnya dengan puncak ilmunya, ilmu yang tak bernama namun mempunyai kekuatan yang nggegirisi.

Ki Jayaraga dan Ki Wasi Jaladara sejenak menghentikan pertempuran dan meloncat mundur. Mereka ingin melihat hasil akhir dari benturan dua buah ilmu yang dahsyat dan sudah jarang-jarang dimiliki orang-orang pada zaman itu.

Sejenak kemudian sebuah benturan ilmu yang dahsyat telah terjadi. Tangan Ki Harga Jumena yang terayun deras telah membentur kedua tangan Kiai Sabda Dadi yang disilangkan di atas kepala. Ledakan yang keras bagaikan guruh yang bersabung di udara telah menggetarkan arena pertempuran. Gelombang getaran yang kuat itu telah menghentakkan mereka yang kurang kuat pertahanannya sehingga terdorong mundur beberapa langkah sambil memegangi dada mereka yang seolah olah akan rontok diterjang getaran benturan kedua ilmu itu.

Sementara itu benturan ilmu kedua orang yang mumpuni dalam olah kanuragan itu telah melemparkan Kiai Sabda Dadi beberapa langkah kebelakang. Sejenak Kiai Sabda Dadi terhuyung-huyung sebelum akhirnya jatuh terduduk pada kedua lututnya. Masih terdengar sebuah keluhan pendek dari mulutnya sebelum akhirnya dia jatuh terlentang tak bergerak.

Sedangkan Ki Harga Jumena yang telah mengerahkan segenap puncak ilmunya ternyata bagaikan membentur dinding baja setebal satu jengkal. Pengerahan tenaga cadangannya yang berlebihan ternyata telah berbalik menghantam dirinya sendiri. Sebuah kekuatan dahsyat yang berasal dari kekuatannya sendiri dan ditambah dengan daya tangkal dari aji Kiai Sabda Dadi ternyata telah membelah isi dadanya. Tubuhnya terpental dan melayang bagaikan sebuah layang-layang putus sebelum akhirnya tubuh itu jatuh terjerembab di rerumputan dalam keadaan yang mengenaskan, isi dadanya hancur dan nyawanya pun terputus.

Ki Wasi Jaladara yang menyaksikan peristiwa itu dengan mata kepalanya sendiri hampir-hampir tak percaya. Bagaimana mungkin seorang yang sakti seperti Ki Harga Jumena bisa dikalahkan dan menilik keadaannya sudah tidak dapat ditolong lagi.

Segera saja dengan sebuah teriakan yang keras, Ki Wasi Jaladara meloncat memburu kearah tubuh Ki Harga Jumena yang terbaring diam. Sementara para murid kedua perguruan itupun ikut berlari larian menyusul Ki Wasi Jaladara.

Ki Jayaraga yang juga menyaksikan peristiwa yang mendebarkan itupun telah berlari ke arah Kiai Sabda Dadi yang terbujur diam. Dengan tergesa-gesa ditempelkan telinganya di dada kiri Kiai Sabda Dadi untuk mendengarkan detak jantungnya. Ketika detak jantung Kiai Sabda Dadi ternyata masih terdengar betapapun lemahnya dan dengan irama yang tak beraturan, Ki Jayaraga menjadi sedikit lega. Dengan cepat diurutnya beberapa urat nadi yang ada di tubuh Kiai Sabda Dadi terutama di daerah sekitar dada, dan menekan beberapa simpul syaraf di belakang telinga dan kepala, sedikit demi sedikit pernafasan Kiai Sabda Dadi menjadi teratur walaupun kadang-kadang masih terasa bagaikan tersumbat.

Ki Jayaraga memang bukan seorang ahli pengobatan, namun pengalamannya yang panjang telah membekalinya tentang apa yang seharusnya diperbuat untuk pertolongan pertama pada saat-saat yang gawat seperti itu. Setelah selesai mengurut dan menekan beberapa bagian yang penting, Ki Jayaraga segera menggerak gerakkan kedua tangan Kiai Sabda Dadi ke atas dan ke bawah beberapa kali untuk semakin melonggarkan pernafasannya.

Ki Jamawir dan para pengawal lainnya ternyata telah berkumpul pula mengelilingi Kiai Sabda Dadi. Menyadari betapa keadaan masih dapat berkembang dan membahayakan, Ki Jayaraga segera memberi isyarat kepada Ki Jamawir untuk memimpin kawan kawannya mengamati keadaan.

Namun alangkah terkejutnya Ki Jamawir dan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh ketika mereka baru menyadari bahwa ternyata Ki Wasi Jaladara dan para pengikutnya telah meninggalkan tempat sambil membawa mayat pemimpin perguruan Harga Belah dari Blambangan itu.

Ketika hal itu disampaikan kepada Ki Jayaraga, orang tua itu hanya menarik nafas dalam-dalam sambil mengangkat kepalanya memandang ke arah dimana tubuh Ki Harga Jumena terbaring. Namun tempat itu telah kosong dan yang tersisa hanyalah bekas=bekas pertempuran yang mengerikan.

“Biarkan mereka pergi,” berkata Ki Jayaraga kemudian, “Beri aku air untuk menolong Kiai Sabda Dadi agar segera sadarkan diri.”

Seorang pengawal segera berlari kearah kuda-kuda mereka yang ternyata tidak berlari terlalu jauh. Sudah menjadi kebiasaan para pengawal untuk membawa bekal ketika sedang nganglang, termasuk bekal air yang mereka simpan di bumbung-bumbung bambu.

Setelah menerima air dari wadah bumbung bambu, Ki Jayaraga berusaha mengusap wajah Kiai Sabda Dadi dengan air yang ditampung dengan telapak tangannya. Sejenak wajah Kiai Sabda Dadi pun menjadi basah namun terlihat menjadi lebih segar. Ketika kemudian sekali lagi Ki Jayaraga mengusapkan air yang kali ini pada bagian tengkuk Kiai Sabda Dadi, Kakek Damarpati itupun mulai berdesah pendek dan menggeliat.

Ketika kemudian Ki Jayaraga berusaha meneteskan air setetes demi setetes ke bibir Kiai Sabda Dadi, maka perlahan lahan Kiai Sabda Dadi pun mulai menyadari dirinya.

Perlahan tapi pasti sepasang mata itu mulai terbuka. Pertama yang dilihat oleh Kiai Sabda Dadi adalah bayangan kabur dari beberapa orang yang mengerumuninya. Namun lambat laun tampak jelas dalam rongga matanya wajah-wajah yang tegang sedang memandang ke arahnya.

“Ki Jayaraga,” desah Kiai Sabda Dadi hampir tak terdengar.

“Ya aku di sini, Kiai,” jawab Ki Jayaraga sambil mendekatkan telinganya ke bibir Kiai Sabda Dadi.

“Tolong ambilkan aku obat yang berwarna kuning di kantong ikat pinggangku sebelah kiri,” bisik Kiai Sabda Dadi.

Kiai Sabda Dadi adalah seorang yang menekuni dunia pengobatan. Pengetahuannya tentang bermacam-macam obat dan kegunaannya serta pengalamannya menghadapi berbagai macam penyakit telah membuat dirinya mumpuni dalam menangani berbagai macam penyakit dan luka, baik luka biasa maupun luka yang disebabkan oleh sebuah pertempuran.

Dengan tergesa-gesa Ki Jayaraga segera mengambil obat yang di maksud dari kantong ikat pinggang Kiai Sabda Dadi. Dengan pertolongan Ki Jayaraga obat itu pun dapat ditelan oleh Kiai Sabda Dadi setelah seteguk demi seteguk didorong dengan air minum dari bumbung bambu.

Sejenak kemudian dengan dibantu oleh Ki Jayaraga, Kiai Sabda Dadi dengan perlahan-lahan mencoba untuk duduk. Setelah meminum obat yang dapat membantu menguatkan daya tahan tubuhnya, kini cucu dari Nyi Ageng Ngerang itu mencoba untuk memusatkan nalar dan budinya memohon kepada Yang Maha Agung agar diberi kemurahan dan kemudahan untuk mengembalikan kekuatannya kembali.

Sementara itu Ki Wasi Jaladara dan para pengikutnya dengan tergesa-gesa telah meninggalkan tempat pertempuran yang ternyata telah menjadi penyebab kehancuran sebuah perguruan besar, perguruan Harga Belah dari Blambangan.

Keempat murid dari Harga Belah itu dengan bergantian mendukung guru mereka yang telah diam membeku. Berbagai perasaan bergejolak dalam hati mereka. Ada rasa dendam yang setinggi langit terhadap orang-orang Tanah Perdikan Menorah itu, namun ada juga rasa ketakutan yang merayapi jauh di lubuk hati mereka. Guru yang mereka bangga-banggakan itu telah tiada, sedangkan murid-murid padepokan Harga Belah belum ada yang dapat menyamai kemampuan guru mereka, atau paling tidak selapis tipis di bawah pemimpin tertinggi perguruan itu. Namun kenyataannya selisih itu terlalu jauh sehingga mereka merasa putus asa dan tidak ada harapan untuk melanjutkan nama besar perguruan Harga Belah.

“Ma’afkan kami Ki Wasi Jaladara,” tiba-tiba salah satu dari keempat murid Harga Belah itu berkata, “Kemanakah jasad guru kami ini akan dibawa?”

Tanpa menoleh sedikit pun Ki Wasi Jaladara menjawab sambil terus berjalan cepat, “Kemana saja asal untuk sementara kita menjauhi iblis-iblis dari Menoreh itu. Tidak mungkin kita kembali ke rumah Ki Ranu Gede karena pasti akan menarik perhatian para penghuni rumah di sekitar rumah Ki Ranu Gede, kecuali kita menunggu Matahari terbenam, namun bagiku itu terlalu lama. Sebelum Matahari terbenam kita sudah harus membuat perhitungan-perhitungan baru sehubungan dengan tewasnya gurumu.”

Keempat murid Harga Belah itu hanya mengangguk anggukkan kepala mereka. Selebihnya hanya suara gemerisik dedaunan dari gerumbul-gerumbul liar ketika rombongan itu menerobos dan sesekali bahkan membabat dahan-dahan rendah yang menghalangi jalan mereka.

Ketika salah seorang dari pengikut Ki Wasi Jaladara menengadahkan kepalanya, Matahari memang belum sampai puncaknya. Sinarnya yang cerah menerobos di sela-sela dedaunan yang bergoyang goyang tertiup angin. Hutan itu memang tidak terlalu lebat dan pepat. Kadang-kadang bahkan mereka menjumpai tanah lapang beberapa petak di tengah hutan itu yang agaknya sering digunakan oleh para pemburu untuk bermalam.

Dalam pada itu, keadaan Kiai Sabda Dadi telah berangsur semakin baik walaupun masih belum pulih sama sekali, namun agaknya Kiai Sabda Dadi memaksakan untuk meneruskan perjalanan menuju barak prajurit khusus.

“Kiai,” berkata Ki Jayaraga, “Sebaiknya Kiai Sabda Dadi kembali saja ke kediaman Ki Gede menoreh bersama para pengawal untuk beristirahat dan memulihkan kesehatan, sedangkan aku dan Ki Jamawir akan meneruskan perjalanan ke barak prajurit khusus.”

“Aku tidak apa-apa, Ki,” jawab Kiai Sabda Dadi, “Keadaan masih gawat dan apapun masih bisa terjadi dalam perjalanan. Sebaiknya aku ikut agar dapat mengurangi beban apabila kembali terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan.”

Sejenak Ki Jayaraga termenung. Dalam hatinya menduga-duga apa sebenarnya maksud yang tersembunyi dari Kiai Sabda Dadi untuk memaksakan ikut meneruskan perjalanan.

Namun sebelum Ki Jayaraga menemukan jawabannya, Kiai Sabda Dadi telah menjelaskannya sendiri. Kata Kiai Sabda Dadi kemudian, “Ki Jayaraga, seperti kita ketahui, sepanjang perjalanan kita pagi tadi banyak petugas-petugas sandi yang bertebaran mengawasi kita. Aku ingin memberikan kesan kepada mereka bahwa aku tidak merasakan apa-apa dan masih siap untuk bertempur. Ini akan menimbulkan kesan kepada mereka sehingga mereka mungkin akan mempertimbangkan sekali lagi untuk mengadakan penyerbuan nanti malam.”

Ki Jayaraga dan para pengawal yang mendengarkan penjelasan Kiai Sabda Dadi mengangguk anggukkan kepala mereka. Memang apa yang dilakukan Kiai Sabda Dadi dapat mengelabuhi lawan. Namun yang masih dalam pemikiran Ki Jayaraga adalah keadaan kesehatan yang sebenarnya dari Kiai Sabda Dadi itu sendiri.

Maka kata Ki Jayaraga kemudian, “Tapi apakah Kiai Sabda Dadi yakin masih mampu berkuda sendirian? Apakah ini nantinya tidak akan memperburuk kesehatan Kiai?”

Kiai Sabda Dadi tertawa pendek. Diraihnya bumbung bambu yang ada disebelahnya. Sebelum menjawab pertanyaan Ki Jayaraga, diteguknya air dalam bumbung bambu itu berkali-kali sampai puas, baru kemudian jawabnya sambil berdiri dari tempat duduknya, “Lihatlah, bukankah aku tidak kurang suatu apapun? Walaupun memang masih diperlukan waktu untuk mengembalikan kesehatanku seperti sedia kala, namun aku sudah dapat menjaga diriku sendiri.”

Ki Jayaraga tersenyum sambil mengangguk angguk. Sementara Ki Jamawir dan para pengawal itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam sambil mengagumi ketahanan tubuh yang dimiliki oleh orang tua itu.

Demikianlah akhirnya, para pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu di bawah pimpinan Ki Jamawir telah bergabung dengan kedua orang tua itu untuk meneruskan perjalanan menuju barak pasukan khusus yang berkedudukan di Menoreh.

Sepanjang perjalanan yang tinggal beberapa langkah itu, ki Jayaraga masih sempat mengamati Kiai Sabda Dadi yang duduk di atas punggung kudanya. Orang tua itu tampak sedikit pucat dan sedikit letih, namun agaknya murid perguruan Glagah Tinutu itu mempunyai ketahanan tubuh yang luar biasa.

Ketika kemudian mereka telah mendekati regol penjagaan barak pasukan khusus itu, segera mereka memperlambat laju kuda-kuda mereka. Begitu jarak regol itu tinggal beberapa langkah saja, serentak mereka segera berloncatan turun dari punggung kuda-kuda mereka.

Ternyata Kiai Sabda Dadi tak kalah tangkas dengan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang masih terhitung muda. Dengan sigap dia meloncat turun dengan tetap berpegangan pada kendali kudanya. Ketika kedua kaki Kiai Sabda Dadi sudah menjejak tanah, orang tua itu menarik nafas dalam-dalam untuk menghilangkan kesan keletihannya.

Sambil tetap memegangi kendali kudanya, Ki Jayaraga yang berada di paling depan segera bergeser dua langkah kedepan, kemudian katanya, “Selamat siang Ki sanak. Aku Jayaraga dari Menoreh ingin menghadap kepada Ki Lurah Sanggabaya.”

Sejenak para prajurit yang berjaga di regol itu termangu mangu. Mereka adalah para prajurit pasukan khusus yang tidak berasal dari Tanah Perdikan Menoreh, jadi wajar jika mereka tidak mengenal Ki Jayaraga.

Salah seorang dari prajurit pasukan khusus itu maju selangkah, katanya kemudian, “Kami tidak mengenal Ki Sanak walaupun tadi Ki Sanak mengaku dari Menoreh, tetapi itu tidak penting. Yang lebih penting adalah, ada kepentingan apakah Ki Sanak mau menghadap Ki Lurah Sanggabaya?”

“Jadi Ki Lurah Sanggabaya tidak ikut ke Panaraga?” Ki Jayaraga tidak menjawab pertanyaan prajurit itu tapi malah balik bertanya.

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Tampaknya dia agak tersinggung dengan pertanyaan Ki Jayaraga. Maka katanya kemudian dengan nada tinggi, “He, Ki Sanak. Perlu aku beritahukan kepada kalian, bahwa kalian berhadapan dengan prajurit khusus Mataram. Bersikaplah agak sopan dan jawablah setiap pertanyaan kami.”

Ki Jayaraga yang menyadari kelancangannya segera membungkuk dalam-dalam sambil berkata, “Maafkan keterlanjuran kami, Ki Sanak. Sesungguhnyalah kami merasa gembira bahwa Ki Lurah Sanggabaya tidak ikut ke Panaraga sehingga kami dapat menggantungkan pertolongan Tanah Perdikan Menoreh ini pada Ki Lurah Sanggabaya.”

Kembali prajurit itu mengerutkan keningnya. Wajahnya menunjukkan ketidak senangnya pada sikap Ki Jayaraga yang menurut penilaiannya kurang menghargai dan menghormati kedudukan prajurit khusus.

“Ki Sanak,” berkata parajurit itu dengan nada dalam, “Aku tidak memberitahukan ada atau tidak adanya Ki Lurah Sanggabaya di barak ini,” prajurit itu berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Yang aku tanyakan adalah kepentingan kalian untuk menghadap Ki Lurah Sanggabaya. Sehingga aku dapat mempertimbangkan pantas atau tidaknya kepentingan kalian itu mendapat perhatian dari Ki Lurah Sanggabaya.”

Hampir bersamaan Ki Jayaraga dan Kiai Sabda Dadi menarik nafas dalam-dalam sambil berpandangan. Agaknya rencana mereka untuk menghadap Ki Lurah Sanggabaya agak menemui kesulitan.

Setelah menimbang nimbang beberapa saat dan dari pandangan mata Kiai Sabda Dadi, maka Ki Jayaraga memutuskan untuk berterus terang saja tentang kepentingan mereka menghadap di siang hari itu.

Setelah sebelumnya menyerahkan kendali kudanya kepada Ki Jamawir yang berdiri di sebelahnya, Ki Jayaraga pun maju selangkah lagi agar lebih dekat dengan parajurit yang berdiri di depan regol itu. Katanya kemudian, “Baiklah Ki Sanak. Sekali lagi namaku Jayaraga, aku tinggal serumah dengan Ki Rangga Agung Sedayu. Apakah kalian mengenalnya? Sekarang ini Ki Rangga Agung Sedayu sedang melawat ke Panaraga, sedangkan istrinya yang sedang hamil tua dititipkan di rumah Ki Gede Menoreh.” Ki Jayaraga berhenti sejenak untuk melihat kesan yang timbul dari para prajurit yang bertugas menjaga regol. Kemudian dia meneruskan, “Akhir-akhir ini keamanan di Tanah Perdikan Menoreh menurun. Banyak berkeliaran orang-orang dari luar Menoreh yang telah membuat keresahan para penghuni Tanah Perdikan ini. Untuk itu kami mohon dapatnya bantuan sepasukan prajurit untuk menjaga keluarga Ki Rangga Agung Sedayu yang tinggal di kediaman Ki Gede Menoreh.”

Para prajurit yang sedang bertugas menjaga regol itu saling berpandangan. Siapa yang tidak mengenal Ki Rangga Agung Sedayu yang menjadi pelatih pasukan khusus Mataram yang berkedudukan di Menoreh dan sekaligus sebagai pemimpin tertinggi pasukan khusus itu.

Namun ternyata prajurit yang mewakili kawan kawannya untuk berbicara dengan Ki Jayaraga itu mempunyai tanggapan lain. Bahkan dia meragukan keterangan Ki Jayaraga.

“Aku tidak yakin bahwa apa yang engkau ucapkan itu dapat dipertanggungg-jawabkan,” berkata prajurit itu dengan nada rendah.

Sekejab Ki Jayaraga terkejut mendengar kata-kata prajurit itu. Bahkan Kiai Sabda Dadi telah maju ke depan sambil menuntun kudanya. Sedangkan para pengawal hanya berdiri termangu mangu tidak tahu harus bersikap bagaimana menghadapi kejadian yang tidak disangka sangka itu.

Ketika ketegangan itu hampir memuncak, seorang perwira yang bertugas mengepalai penjagaan hari itu telah mendekat. Sebelumnya Perwira itu tidak tertarik dengan kejadian di depan regol itu. Disangkanya mereka adalah rombongan orang-orang yang sedang mengunjungi anaknya atau saudaranya yang telah menjadi anggota pasukan khusus Mataram yang berkedudukan di Menoreh. Namun ketika dia menyadari bahwa pembicaraan itu kelihatannya menjurus ke arah kesalah pahaman, Perwira yang sebelumnya duduk-duduk di pendapa dari bangunan utama di barak pasukan khusus itu pun akhirnya memutuskan untuk mendekat.

Serentak para prajurit penjaga regol itu pun segera berdiri berjajar dan mengambil sikap sempurna ketika perwira itu telah berdiri di hadapan mereka.

“Apakah sebenarnya yang telah terjadi?” bertanya perwira itu sambil mengedarkan pandangan matanya ke arah orang orang yang berkerumun di depan regol.

Prajurit yang mewakili kawan-kawannya untuk berbicara dengan Ki Jayaraga itu segera mengangguk hormat sebelum menjawab. Jawabnya kemudian, “Kami para penjaga regol barak pasukan khusus ini telah kedatangan tamu yang tidak dikenal. Kami memutuskan untuk tidak menerima mereka.”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berjalan menghampiri Ki Jayaraga yang berdiri paling depan. Setelah berhenti tepat di depan Ki Jayaraga, sambil tersenyum seramah mungkin Perwira itu berkata, “Ki Sanak harus memahami paugeran yang berlaku di barak pasukan khusus ini. Kami tidak menerima tamu yang tidak jelas asal usulnya maupun tujuannya datang ke barak ini. Jadi kami mohon, Ki Sanak segera membawa rombongan ini meninggalkan barak kami.”

Ki Jayaraga pada dasarnya adalah orang tua yang sudah jauh mengendap, betapapun masa mudanya adalah masa masa yang penuh gejolak dan petualangan. Namun di masa tuanya ini, setelah perkenalannya dengan Kiai Gringsing, lambat laun jiwanya yang penuh dengan gejolak itu pun mereda dan mengendap.

Maka ketika dia dihadapkan pada permasalahan yang cukup menjengkelkan ini, Ki Jayaraga masih berusaha tetap tenang dan sareh. Katanya kemudian, “Ma’afkan kami Ki Sanak. Kami dari keluarga Ki Rangga Agung Sedayu datang kesini untuk memohon bantuan keamanan sehubungan dengan gangguan keamanan yang terjadi akhir akhir ini di Menoreh.”

Ki Jayaraga sengaja menyebut kembali nama Ki Rangga Agung Sedayu di hadapan Perwira ini agar kali ini mendapatkan perhatian dan ternyata usaha Ki Jayaraga tidak sia-sia.

 

bersambung ke TADBM jilid 402

 

Naskah asli iupload di http://cersilindonesia.wordpress.com

<< kembali ke TADBM-400 | lanjut ke TADBM-402 >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s