TADBM-405

<< kembali ke TADBM-404 | lanjut ke TADBM-406 >>

TADBM-405DALAM pada itu, di tepian sebelah barat Kali Praga, para pengikut Panembahan Cahya Warastra tampak sedang berjaga jaga di sepanjang tepian. Mereka duduk bergerombol gerombol sambil menyalakan api untuk mengusir dingin. Di beberapa tempat yang lain ada yang sekedar duduk-duduk sambil memeluk lutut berselimutkan kain panjang, bahkan ada yang tidur-tiduran di atas batu-batu besar yang banyak berserakan di tepian.

Seorang yang berperawakan tinggi besar dengan kumis melintang dan jambang yang lebat tampak sedang duduk di atas sebongkah batu yang menjorok agak ke tengah Kali Praga sambil mengasah sebilah pedang yang berukuran besar. Dibiarkan kedua kakinya terendam air Kali Praga yang keruh kecoklatan sebatas lutut. Sesekali dengan tangan kirinya dia mengambil air Kali Praga untuk membasahi pedangnya yang tengah diasah. Sementara tangan kanannya menggenggam erat hulu pedangnya kemudian dengan dibantu tangan kirinya yang memegang ujung pedang yang besar itu, dia terus mengasah senjatanya berulang ulang.

“Kepala orang-orang Mataram akan aku tebas satu persatu dengan pedang ini, sampai orang yang terakhir,” gumamnya sambil tersenyum, lanjutnya kemudian, “Setelah perang ini selesai, sesuai janji kakang Bango Lamatan aku akan diangkat menjadi seorang Demang.”

Dia berhenti sejenak sambil mengamat-amati bilah pedang besarnya untuk melihat dari dekat ketajamannya, malam memang terlalu pekat tanpa sepotong bulan pun yang muncul.

“Janda kembang sebelah timur Pasar Kliwon itu tidak akan mungkin berani menolakku lagi kalau aku sudah diangkat menjadi Demang,” kembali dia tersenyum sambil menimang nimang senjatanya yang telah selesai diasah, “Justru dia nantinya yang akan merengek rengek di depanku untuk minta dikawin.”

Kali ini orang tinggi besar itu benar-benar tersenyum lebar membayangkan janda kembang sebelah timur Pasar Kliwon itu meronta ronta manja dalam pelukannya. Sambil memejamkan matanya, orang yang sudah berangan angan menjadi Demang itu semakin larut dalam buaian khayalannya.

Ketika kemudian janda kembang yang cantik itu dengan manja merangkul lehernya, orang tinggi besar itu semakin bernafsu. Nafasnya memburu bagaikan nafas seekor kuda jantan yang sedang dipacu di tengah padang.

Namun alangkah terkejutnya orang tinggi besar itu ketika rangkulan janda kembang sebelah timur Pasar Kliwon itu dirasakannya semakin lama semakin ketat dan mulai menyumbat pernafasannya.

Dengan terengah-engah dia mencoba mengurai rangkulan janda kembang itu dengan tangan kirinya sambil membuka matanya dan berkata, “Janga..an.”

Namun kata katanya tidak pernah selesai karena keburu nafasnya putus ketika sepasang lengan yang kekar dan kuat itu telah memluntir lehernya sampai patah.

Sejenak kemudian, dengan perlahan tanpa menimbulkan bunyi sedikitpun, mayat orang yang bermimpi menjadi Demang itu telah diseret masuk ke dalam Kali Praga yang keruh.

Para pengikut Panembahan Cahya Warastra yang sedang berjaga di sepanjang tepian itu tidak menyadari kalau maut sedang mengintai mereka. Dengan gerakan senyap, diantara bunyi riak dan buih air Kali Praga yang keruh telah tersembul beberapa kepala dibalik bebatuan yang berserakan di tepian.

Dengan teratur mereka bergerak menyelinap diantara bebatuan dan mulai mendekati para pengikut Panembahan Cahya Warastra yang sedang lengah.

Ki Rangga Agung Sedayu yang memimpin penyergapan di sisi selatan telah memerintahkan para prajurit Jalamangkara untuk bergerak semakin jauh meninggalkan tepian. Walaupun sebenarnya jauh di lubuk hatinya yang paling dalam telah terjadi pertentangan yang dahsyat. Betapa nyawa manusia sama sekali tidak ada harganya. Mereka mati sia-sia menjadi korban ketamakan segelintir orang.

“Mungkin jauh di sebuah padukuhan mereka juga mempunyai keluarga,” berkata Ki Rangga dalam hati, “Istri-istri yang setia menunggu suami suaminya pulang dengan membawa harapan bagi masa depan keluarga. Dan mungkin juga anak-anak manis yang sedang tumbuh dan memerlukan perhatian.”

Sampai di sini Ki Rangga Agung Sedayu tergugu. Ingatannya segera melayang ke Padukuhan Induk Tanah Perdikan Menoreh di mana anak dan istrinya sedang menanti kepulangannya.

“Aku belum memikirkan sebuah nama,” demikian kembali Ki Rangga berangan angan, “Semoga saja Sekar Mirah sudah mempersiapkannya.”

Tiba-tiba terdengar suara pekik burung malam di atas tepian Kali Praga. Ki Rangga Agung Sedayu pun bagaikan terbangun dari sebuah mimpi. Dengan sebuah isyarat yang telah di sepakati, pasukan Jalamangkara yang dipimpinnya itu segera memecah menjadi dua bagian. Sebagian bergerak terus menghancurkan penjagaan yang ada di tepi barat Kali Praga itu, sebagian lagi justru berbelok ke kiri dan menyelusuri tepian untuk melumpuhkan para penjaga rakit-rakit yang sedianya untuk menyeberangkan pengikut Panembahan Cahya Warastra.

Demikianlah yang terjadi kemudian adalah sebuah pembantaian yang mengerikan tanpa mengenal belas kasihan. Pasukan Jalamangkara benar-benar dilatih untuk membunuh. Mereka tidak pernah ragu-ragu dalam melaksanakan tugas, karena keragu raguan adalah awal dari kegagalan. Maka sejenak kemudian, tepian Kali Praga sebelah barat pun telah menjadi sebuah padang pembantaian yang sangat mengerikan.

Ki Rangga yang mencoba menebarkan pandangan matanya di sekitar tepi barat Kali Praga sebelah selatan diam-diam bergidik ngeri. Dia sudah terbiasa dengan pemandangan mayat-mayat bergelimpangan yang terjadi dalam sebuah perang terbuka. Namun kini yang disaksikannya adalah sebuah pembantaian tanpa ampun. Para pengikut Panembahan Cahya Warastra itu benar-benar tidak diberi kesempatan untuk melawan, bahkan hanya untuk menggerakkan ibu jari sekalipun.

Ketika kemudian Ki Rangga mencoba mengetrapkan aji sapta pandulu untuk mengamati keadaan lebih jauh lagi ke depan, alangkah terkejutnya dia ketika dalam keremangan malam tampak bayangan seseorang yang bergerak justru berlawanan arah dengan gerakan para prajurit Jalamangkara. Bayangan itu menyelinap dengan cepat hampir tak tertangkap oleh mata wadag diantara batu-batu yang bertebaran di tepian mendekati salah seorang prajurit Jalamangkara yang sedang berlindung di balik sebuah batu sebesar kerbau.

Sejenak Ki Rangga masih mencoba meyakinkan pandangannya. Mungkin bayangan yang bergerak tadi adalah salah satu dari para prajurit Jalamangkara. Namun kalau menilik dari gerakannya yang justru berlawanan dan mendekati salah seorang parajurit yang sedang berlindung di balik batu, Ki Rangga menduga bayangan itu kemungkinannya adalah salah seorang dari pengikut Panembahan Cahya Warastra yang mempunyai kelebihan dari kawan kawannya sehingga menyadari adanya gerakan dari lawan walaupun kesadaran itu sudah cukup terlambat.

Jarak antara Ki Rangga dengan bayangan itu memang cukup jauh. Ada keinginan dari Ki Rangga untuk memperingatkan prajurit itu akan bahaya yang sedang mengintainya. Namun sebelum Ki Rangga meneriakkan sebuah isyarat yang mirip dengan suara burung hantu, tiba-tiba sekali lagi Ki Rangga dikejutkan oleh sebuah bayangan yang menyelinap mengikuti gerakan bayangan yang pertama, namun bayangan yang terakhir ini bergerak agak lambat dari yang pertama sehingga dengan jelas Ki Rangga mampu menangkap gerakannya.

“Gila!” desis Ki Rangga dalam hati, “Ternyata ada dua orang yang lolos dari penyergapan ini. Aku tidak boleh terlambat sebelum jatuh kurban.”

Berpikir sampai disitu, Ki Rangga dengan tergesa-gesa segera bergerak mendekat ke arah prajurit yang sedang bersembunyi di balik batu itu. Dengan kemampuannya menyerap segala bunyi yang timbul di sekitarnya, Ki Rangga pun bergerak semakin dekat dengan tempat persembunyian prajurit Jalamangkara itu.

Ketika jarak itu masih terpaut sekitar enam sampai tujuh tombak, dari balik sebuah batu, Ki Rangga mencoba mengamati kembali keadaan di sekitar prajurit yang sedang berjongkok di balik batu sebesar kerbau itu. Namun alangkah terkejutnya Ki Rangga ketika mendapati prajurit itu ternyata telah rebah terlentang di atas tanah yang berpasir dan lembab.

Bagaikan seekor garuda yang sedang memburu mangsanya, dengan sekali lompat tubuh Ki Rangga Agung Sedayu melayang tinggi di udara untuk kemudian dengan dahsyatnya menyambar dua buah bayangan yang telah bergerak dengan cepat sekali menghindar dari tempat itu.

Ternyata Ki Rangga Agung Sedayu telah mengerahkan kemampuannya untuk meringankan bobot tubuhnya sebagaimana yang telah dipelajarinya dari kitab Ki Waskita. Tubuh Ki Rangga benar-benar bagaikan tak berbobot. Sekali menyentuh tanah, tubuhnya kembali melenting ke udara. Namun kedua bayangan itu ternyata tak kalah gesit dan lincah dengan Ki Rangga. Dengan mengerahkan segenap kemampuan, mereka berdua mencoba menghindar dari tempat itu.

Ketika jarak Ki Rangga dengan kedua orang itu semakin dekat, tahulah Ki Rangga bahwa ternyata kedua orang yang sedang dikejarnya itu mempunyai kemampuan berlari yang tidak sama. Orang yang bertubuh lebih kecil dan ramping itu telah digandeng atau bahkan dapat dikatakan telah diseret oleh orang satunya yang bertubuh tinggi besar. Agaknya kemampuan berlari orang yang lebih kecil itu masih dibawah kemampuan Ki Rangga sehingga orang yang tinggi besar itu telah membantunya dengan cara menggandengnya untuk menghindari kejaran Ki Rangga Agung Sedayu.

Semakin lama tak terasa mereka telah cukup jauh meninggalkan tepian dan mulai memasuki sebuah padang perdu yang luas. Ki Rangga masih terus berusaha mengejar kedua orang aneh itu. Jarak mereka semakin dekat ketika tiba-tiba saja kedua orang yang dikejarnya itu menghentikan langkah dan berbalik menghadap Ki Rangga.

Belum sempat Ki Rangga memperlambat langkahnya, tiba-tiba saja orang yang bertubuh kecil dan ramping itu telah berteriak dengan nyaring sambil meloncat menyongsong Ki Rangga dengan sebuah serangan dahsyat.

Terkejut Ki Rangga mendengar teriakan nyaring orang yang menyerangnya. Sebagai orang yang sudah banyak makan asam garamnya kehidupan, Ki Rangga segera menyadari bahwa yang sedang menyerangnya itu adalah seorang perempuan.

Pada dasarnya Ki Rangga adalah seorang yang lebih senang menghindari keributan, apalagi sampai bertempur dengan seorang perempuan. Untuk itulah dia tidak ingin membenturkan kekuatannya dengan kekuatan lawannya. Sambil sedikit memiringkan tubuhnya, tendangan lawannya itu lewat hanya sejengkal dari dadanya.

Pada saat itulah Ki Rangga sempat menatap ke arah wajah lawannya. Ternyata lawannya itu telah menutup sebagian wajahnya dengan sebuah ikat kepala sehingga Ki Rangga tidak mampu mengenali wajahnya.

Ketika menyadari serangannya dengan mudah dapat dihindari oleh Ki Rangga, dengan memekik marah, orang yang berperawakan ramping itu segera mengubah serangannya dengan menekuk lututnya untuk mendera dada Ki Rangga. Sementara tangan kanannya melindungi dadanya sendiri, tangan kirinya menyambar wajah Ki Rangga dengan jari-jari yang membentuk cakar harimau.

Ki Rangga terkejut menghadapi dua serangan berbahaya ini. Tidak ada kesempatan untuk menghindar karena jarak lawan yang sangat dekat. Dengan mengetrapkan ilmu kebalnya, Ki Rangga pun akhirnya dengan terpaksa menangkis serangan lutut lawannya yang mengarah ke dada dengan siku kirinya, sedangkan serangan tangan kiri lawannya yang mengarah ke wajah dengan cepat dihindarinya dengan cara memalingkan wajahnya ke kiri.

Terasa angin yang deras menerpa pipi kanan Ki Rangga begitu serangan lawannya itu lewat hanya berjarak setebal daun. Tanpa sesadarnya, lamat-lamat Ki Rangga mencium bau wangi yang mendebarkan ketika jari-jari tangan lawannya hampir menyentuh hidungnya.

Sementara itu benturan antara siku kiri Ki Rangga dengan lutut lawannya ternyata telah melemparkan mereka berdua beberapa langkah ke belakang.

Sejenak keduanya saling berdiam diri sambil menilai kekuatan lawannya. Orang yang berperawakan ramping itu tiba-tiba merangkapkan kedua telapak tangannya di depan dadanya. Sekejab kemudian dia sudah siap untuk melontarkan serangannya kembali.

“Sudahlah ngger, jangan kau teruskan,” tiba-tiba terdengar teguran perlahan dari orang tinggi besar yang berdiri beberapa langkah di belakang lawan Ki Rangga.

“Biarlah, Eyang. Aku ingin memuaskan hatiku. Agar aku tidak dipandang sebelah mata oleh orang yang bernama Ki Rangga Agung Sedayu, agul agulnya Mataram,” orang yang berperawakan ramping itu menjawab lantang tanpa berpaling ke belakang.

Diam-diam Ki Rangga menjadi berdebar debar. Rasa rasanya dia mengenal suara itu, suara seorang perempuan muda yang selama ini telah menggelisahkan tidurnya, yang telah membuatnya merasa bersalah karena tidak mampu menepati janjinya.

Sejenak kemudian mereka bertiga telah menyusuri bulak panjang yang menghubungkan padukuhan itu dengan hutan yang sudah semakin tipis karena di beberapa bagian telah dibuka untuk memperluas tanah pesawahan. Setelah melewati hutan yang tidak seberapa lebat itu, mereka akan sampai di sebuah padang rumput.

Di hutan yang tidak seberapa lebat itu, beberapa pengikut Panembahan Cahya Warastra juga telah di tempatkan untuk mengamati keadaan. Sebelum Ki Lurah dan kedua kawannya itu mencapai hutan, beberapa orang telik sandi yang berada di hutan itu ternyata telah merayap mendekati sumber suara tangis yang terdengar sangat jelas dari dalam hutan.

Ki Rangga Agung Sedayu dan Resi Mayangkara menyadari bahwa tangis Anjani akan dapat memancing perhatian lawan. Pendengaran kedua orang yang mumpuni itu segera saja mendengar getaran-getaran dari arah hutan di depan mereka.

“Sudahlah Anjani,” kini Resi yang aneh itu yang berkata perlahan, “Jangan engkau turuti gejolak perasaanmu. Kita sedang di daerah musuh, segala sesuatunya bisa terjadi.”

Anjani yang masih bergulat dengan sedu sedannya itu sejenak berusaha untuk menguasai diri. Betapapun juga dia menyadari keterlanjurannya sehingga dapat memancing perhatian pihak lawan. Dengan menahan tangisnya sekuat tenaga, Anjani pun kemudian berdiri sambil sibuk mengusap air matanya dengan kedua belah telapak tangannya.

Setelah tangisnya agak mereda, dia pun kemudian berkata sambil berpaling ke arah Resi Mayangkara, “Marilah Eyang kita tinggalkan tempat ini. Aku tidak ingin terlalu memaksakan diriku untuk berharap lebih. Biarlah waktu nanti yang membuktikan.”

Selesai berkata demikian, tanpa berpaling ke arah Ki Rangga Agung Sedayu yang masih berdiri termangu mangu beberapa langkah di depannya, Anjani pun segera beranjak pergi, justru berjalan ke arah utara tanpa memperdulikan apapun juga.

Melihat Anjani pergi begitu saja, sambil menarik nafas dalam-dalam, Resi Mayangkara pun kemudian berdesis perlahan, “Kami mohon pamit Ki Rangga. Jangan terlalu ditanggapi sikap Anjani. justru sekarang ini dia sedang mengalami goncangan-goncangan dalam hatinya. Semoga dia dapat segera menemukan jati dirinya kembali.”

Ki Rangga hanya tersenyum masam. Jawabnya kemudian, “Silahkan Eyang Resi. Aku yakin dibawah bimbingan Eyang, Anjani akan segera dapat memahami dirinya, terlebih lagi keinginan hatinya yang melonjak lonjak tanpa mempertimbang-kan keadaan sekelilingnya.”

Resi Mayangkara mengangguk sambil tersenyum. Katanya kemudian sambil melangkah menyusul Anjani yang sudah cukup jauh, “Semoga saja Yang Maha Agung selalu berkenan memberi-kan perlindungan dalam setiap langkah kita.”

Selesai berkata demikian Resi Mayangkara dengan langkah yang tergesa-gesa segera menyusul Anjani yang berjalan sambil menundukkan kepalanya.

Ketika kemudian Resi Mayangkara dan Anjani telah menghilang dalam kegelapan menjelang dini hari di padang perdu itu, Ki Rangga segera mengerahkan aji sapta pangrungu untuk menangkap getaran-getaran yang masih cukup jauh dari gerakan-gerakan yang mencurigakan dari arah hutan. Namun sebelum Ki Rangga bergerak untuk mengetahui apa sebenarnya yang sedang ada di depannya diantara gerumbul-gerumbul perdu yang cukup lebat, tiba-tiba Ki Rangga mendengar langkah-langkah beberapa orang yang sedang berlari larian dari arah tepian Kali Praga menuju ke tempatnya berdiri.

Sejenak kemudian dari dalam keremangan malam muncul beberapa orang yang sudah sangat dikenal oleh Ki Rangga Agung Sedayu selain beberapa yang belum dikenalnya sama sekali.

Ternyata kelengahan Ki Rangga yang hanya sekejap itu telah dimanfaatkan oleh para pengikut Panembahan Cahya Warastra yang telah semakin dekat dengan tempat Ki Rangga berdiri. Menyadari bahwa kemungkinan pihak Mataram telah sampai di tempat itu, para pengikut Panembahan Cahya Warastra pun segera berusaha mengirimkan isyarat ke padukuhan tempat Panembahan Cahya Warastra dan perguruan-perguruan yang sehaluan dengannya bertahan.

Salah seorang pengikut panembahan Cahya Warastra ternyata telah berusaha membuat api dengan batu titikan yang kemudian dihembuskan pada sejumput gelugut aren. Ketika api itu telah menyala, beberapa kawannya segera berkumpul untuk menyalakan panah-panah api yang mereka bawa.

Nyala api yang terlihat sekilas diantara gerumbul-gerumbul perdu yang lebat itu memang terlihat oleh Ki Rangga. Namun ternyata salah seorang anak Nyi Citra Jati yang telah tiba di tempat Ki Rangga berdiri bersama sama dengan yang lainnya ternyata telah tanggap. Segera saja sebuah anak panah meluncur dengan deras dari busur Padmini ke arah titik api itu yang kemudian disusul dengan sebuah jeritan mengerikan.

Namun ternyata ada seorang pengikut Panembahan Cahya Warastra yang mampu menyalakan panah berapinya sebelum kawannya yang menyalakan api itu tertembus dadanya oleh panah Padmini. Dengan cepat dia segera mengangkat busurnya untuk melontarkan panah berapi itu ke udara.

Pandangan mata Ki Rangga yang tajam segera melihat peristiwa itu. Tanpa berpikir panjang, diraihnya busur dan panah panah dari genggaman seorang gadis mungil yang berdiri termangu mangu di sisi Padmini.

Yang terjadi selanjutnya adalah sebuah pameran ketangkasan membidik yang tiada duanya. Begitu panah berapi dari pengikut panembahan Cahya Warastra itu terlontar ke udara mencapai setinggi pucuk-pucuk pepohonan yang ada di pinggir hutan itu, dengan gerakan yang hampir tidak kasat mata, Ki Rangga telah melontarkan panah panahnya menghantam panah berapi yang sedang meluncur di udara itu sehingga hancur berantakan dan jatuh terbanting kembali ke bumi.

Orang-orang yang berada di sekitar Ki Rangga benar-benar membeku melihat kemampuan Ki Rangga Agung Sedayu dalam membidik. Glagah Putih dan Pandan Wangi yang sudah sering melihat kemampuan Ki Rangga Agung Sedayu dalam membidik masih juga berdebar debar. Sementara Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati yang juga mempunyai kemampuan membidik dan telah diajarkan kepada anak-anak mereka merasa sangat kecil. Betapa kemampuan Ki Rangga itu seolah olah bukan kemampuan manusia, namun kemampuan yang hanya dimiliki oleh tokoh-tokoh sakti yang hanya ada dalam cerita-cerita babat dan dongeng-dongeng.

Namun, ternyata lontaran anak panah berapi dari salah satu pengikut panembahan Cahya Warastra yang patah di tengah jalan itu sempat terlihat oleh kawan-kawannya yang lain, sehingga sejenak kemudian langit di tepian Kali Praga itu pun segera dihiasi oleh puluhan anak panah berapi yang beterbangan di udara diselingi oleh bunyi panah-panah sendaren yang meraung raung memenuhi udara malam.

Ki Rangga Agung Sedayu yang melihat peristiwa itu telah menggeram. Ada sebuah penyesalan mengapa hal itu bisa terjadi. Seandainya tangis Anjani tidak terdengar sampai ke tempat para pengikut Panembahan Cahya Warastra yang berjaga jaga di dalam hutan, tentu sekarang ini pasukan Mataram sudah merayap mendekati Padukuhan.

“Kakang,” tiba-tiba Pandan Wangi yang berdiri beberapa langkah di belakangnya menyapa, “Sebaiknya kita segera mundur ke tepian untuk menyusun pasukan sebelum pasukan lawan menyerbu ke tempat ini.”

Ki Rangga berpaling. Sejenak diamat-amatinya beberapa orang yang belum dikenalnya. Seorang laki-laki dan perempuan yang sudah cukup berumur itu sepertinya sudah pernah dikenalnya, namun tiga orang perempuan yang cantik-cantik dan masih muda serta seorang laki-laki yang lebih tua sedikit dari Glagah Putih dan berdiri di paling belakang, rasa rasanya Ki Rangga belum pernah bertemu.

Agaknya Glagah Putih menyadari hal itu. Maka katanya kemudian sambil maju selangkah, “Kakang, mereka adalah saudara-saudara kita. Yang paling tua itu adalah orang tua angkat kami, Kakang tentu masih mengingatnya, Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati. Kemudian ketiga gadis-gadis itu adalah anak-anak mereka, sedangkan yang berdiri di paling belakang adalah paman gadis-gadis itu, Ki Mlayawerdi.”

Ki Rangga segera membungkukkan badannya ke arah mereka sambil tersenyum. Kemudian katanya, “Selamat datang dan selamat bergabung di tepian Kali Praga. Ma’afkan aku yang agak lupa dengan Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati. Bagi yang belum kenal, aku adalah kakak sepupu Glagah Putih,” Ki Rangga berhenti sejenak, kemudian lanjutnya sambil menyerahkan busur yang ada di tangannya kepada Baruni yang berdiri beberapa langkah di samping kanannya, “Ini busurmu. Ma’af, aku telah meminjamnya tanpa seijinmu, tapi itu semua adalah karena keadaan yang sangat memaksa.”

Dengan tangan gemetar dan wajah bersemu kemerahan Baruni menerima busur dari tangan Ki Rangga Agung Sedayu. Betapa deburan jantungnya yang memukul mukul rongga dadanya membuat kedua tangannya menjadi lemas bagaikan tak bertenaga, sehingga busur yang diterima dari Ki Rangga itu pun hampir saja terjatuh.

Namun Baruni pun ternyata segera menyadari keadaannya. Dengan cepat diraihnya busur yang hampir jatuh itu, kemudian sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam, dia segera bergeser di belakang mbokayunya.

Pandan Wangi dan Rara Wulan yang berdiri paling dekat dan menyaksikan peristiwa itu walaupun hanya sekilas telah sama-sama mengerutkan keningnya. Bagi mereka berdua Baruni adalah gadis yang sama sekali masih hijau dan belum mengenal ganas dan liarnya kehidupan. Agaknya kesan pertama Baruni terhadap Ki Rangga telah menyentuh perasaannya yang paling dalam sehingga membuat gadis itu terlihat gugup.

Sementara Padmini yang merasa telah mempelajari ketangkasan memanah dari kedua orang tua angkatnya sejenak seperti sedang bermimpi. Betapa tidak, kemampuan membidik Ki Rangga memang benar-benar luar biasa. Jangankan di tengah malam yang gelap, di siang hari yang terang benderang pun dirinya belum tentu mampu untuk membidik anak panah yang sedang melaju di udara. Benar-benar kemampuan yang luar biasa.

“Mungkin ada sejenis aji yang bisa digunakan untuk mengungkapkan kemampuan membidik seseorang,” gumam Padmini dalam hati, “Seperti dalam cerita pewayangan, Resi Drona yang mempunyai aji Danurwenda itu mampu memanah dan mengenai sasarannya dengan tepat hanya berdasarkan kepada suara yang diperdengarkan oleh sasaran itu.”

“Marilah kita tinggalkan tempat ini,” tiba-tiba terdengar suara Ki Rangga yang membuyarkan lamunan Padmini, “Kita harus segera menyusun gelar sebelum musuh datang ke tepian ini.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam mendengar ucapan Ki Rangga. Ucapan Ki Rangga itu baginya tak ubahnya sebuah perintah, justru karena keduanya adalah prajurit.

“Marilah,” katanya kemudian kepada istrinya Rara Wulan yang segera mengikuti langkah suaminya. Sementara yang lain pun telah bergerak mengikuti Ki Rangga yang telah meninggalkan tempat itu terlebih dahulu. Sejenak kemudian Ki Rangga dan kawan kawannya telah jauh meninggalkan padang perdu kembali ke tepian untuk melaporkan perkembangan keadaan kepada Ki Patih Mandaraka.

Dalam pada itu di tepian Kali Praga sebelah timur hanya tinggal sebuah rakit saja yang belum bergerak menyeberang ke tepi barat. Ki Patih Mandaraka tampak sedang menghadap Sinuhun Panembahan Hanyakrawati.

“Cucunda Panembahan,” demikian Ki Patih berkata sambil menghaturkan sembah, “Sebaiknya Cucunda Panembahan dan Putranda Raden Mas Rangsang kembali saja ke Istana. Biarlah aku yang sudah tua ini saja yang menyelesaikan urusan dengan orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra itu.”

“Tidak Eyang Patih,” sabda Sinuhun Panembahan Hanyakrawati, “Aku sengaja mengajak Mas Rangsang datang ke tempat ini untuk menyaksikan gemuruhnya sebuah pertempuran, agar kelak kalau sudah waktunya Mas Rangsang menduduki tahta, dia dapat mempertimbangkan untung dan ruginya sebuah peperangan.”

“Sendika dawuh Cucunda Panembahan,” jawab Ki Patih, “Namun apakah memang perlu bagi Putranda Raden Mas Rangsang untuk ikut menyeberang ke sisi barat? Apakah tidak sebaiknya para prajurit diperintahkan untuk membuat pesanggrahan di sini sehingga Cucunda Panembahan dan Putranda Raden Mas Rangsang dapat menyaksikan pertempuran itu dari tempat ini saja?”

“O, Eyang Patih,” seru Sinuhun Panembahan Hanyakrawati sambil tertawa tertahan, “Apakah Eyang lupa aku ini juga seorang prajurit? Aku juga ingin Mas Rangsang ini mewarisi jiwa prajurit yang telah turun temurun dari Ayahanda Panembahan Senapati.”

Sejenak Ki Patih Mandaraka termangu mangu. Ada sebersit kekhawatiran jika Sinuhun Panembahan Hanyakrawati dan Putranda Raden Mas Rangsang terlalu dekat dengan pertempuran. Ki Patih belum mempunyai gambaran kekuatan yang dimiliki oleh orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra itu. Jika berita tentang kesaktiannya yang sudah terbebas dari rasa sakit bahkan kematian sekalipun itu benar, Mataram benar-benar dalam bahaya yang besar, orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra itu akan dapat menggulung Mataram sampai orang yang terakhir.

“Aku tidak percaya kalau Kecruk Putih itu hidup kembali,” berkata Ki Patih dalam hati, “Seandainya pada waktu itu dia tidak mati terkena aji pamungkasku, kali ini aku benar-benar akan membunuhnya.”

“Namun bagaimana jika Kecruk Putih telah meningkatkan ilmunya yang nggegirisi itu?” tiba-tiba terbersit sebuah pertanyaan yang mendebarkan di hati Ki Patih.

“Juru Martani bukan anak kemarin sore,” pertanyaan dalam hati itu dijawab sendiri oleh Ki Patih, “Masih ada beberapa simpanan ilmuku yang akan dapat mengatasi Kecruk Putih, selebihnya aku selalu menyandarkan diriku kepada Yang Maha Agung dalam setiap persoalan baik yang menyangkut diriku pribadi maupun persoalan yang menyangkut kehidupan bebrayan agung.”

Sampai di sini Ki Patih tidak mempunyai pilihan lain selain bersama sama dengan Sinuhun Panembahan Hanyakrawati dan Putranda Raden Mas Rangsang menumpang rakit yang terakhir menyeberang ke sisi barat Kali Praga.

Dalam pada itu, di padukuhan tempat Panembahan Cahya Warastra menghimpun para pengikutnya, Bango Lamatan yang sedang berada di biliknya dikejutkan oleh suara raungan panah-panah sendaren yang memenuhi udara.

Sejenak Bango Lamatan bangkit dari pembaringannya. Ketika kemudian dia mencoba melongokkan kepalanya di jendela satu satunya yang ada di bilik itu, wajahnya menjadi semakin tegang. Ternyata selain bunyi panah sendaren yang meraung-raung, di langit malam yang kelam itu juga dihiasi oleh panah-panah berapi yang bertebaran di udara.

“Gila,” umpat Bango Lamatan, “Apa saja kerjanya anak-anak Jambe Wangi itu di tepian sehingga musuh bisa menyusup. Ki Bagus Lelana harus bertanggung jawab atas keteledoran anak buahnya.”

Selesai berkata demikian, Bango Lamatan segera membenahi pakaiannya yang kusut. Kemudian dengan tergesa-gesa dia pun melangkah keluar bilik menuju ke pendapa.

Ternyata di pendapa telah berkumpul para pemimpin perguruan-perguruan yang telah bersedia membantu Panembahan Cahya Warastra. Ada sekitar empat puluh perguruan yang telah tergabung dalam barisan Panembahan Cahya Warastra, sehingga di pendapa yang cukup luas itu telah berkumpul empat puluh orang pemimpin masing-masing perguruan.

Ketika kemudian pintu pringgitan yang membatasi antara pendapa dengan ruang dalam itu berderit, berpuluh puluh pasang mata segera mengarahkan pandangan mereka kepada Bango Lamatan yang berdiri termangu mangu di tengah-tengah pintu yang terbuka separo.

“Kakang Bango Lamatan,” tiba-tiba seorang yang berperawakan gemuk pendek dengan kepala gundul plonthos merangsek ke depan, “Kami menunggu perintah Kakang. Apakah kita akan menyambut lawan di tepian Kali Praga, ataukah kita akan menunggu dan bertahan di padukuhan ini?”

“Kita ke tepian,” seorang yang berwajah kasar dan sedikit liar menyahut dengan suara menggelegar sambil menyibakkan kerumunan orang-orang itu dan maju ke depan, “Jangan tanggung-tanggung dalam bertindak. Kita menuju ke tepian dan menghancurkan mereka. Setelah itu kita menyeberang dan sekaligus menghancurkan Mataram. Aku yakin pasukan Mataram yang dibawa menyeberang ke Menoreh ini hanya sisa-sisa pasukan yang ada di ibu kota Mataram di tambah para pengawal Kademangan di sekitarnya. Kalau kita mampu menghancurkan pasukan itu, berarti memasuki kota Mataram tak ubahnya seperti bertamasya saja.”

“Jangan takabur Adi Siwurbang,” berkata seorang yang sudah berumur yang berdiri di sebelahnya, “Juru Martani mempunyai seribu akal licik untuk menjebak musuh musuhnya. Masih ingat bagaimana Adipati Jipang yang perkasa itu ternyata takluk di tangan Sutawijaya, anak yang masih ingusan? Bagaimana Panembahan Madiun yang disegani oleh seluruh Adipati Bang Wetan ternyata tertipu dengan Nyai Adisara, perempuan suruhan Juru Martani? Dan masih banyak lagi akal licik orang dari Sela itu yang ternyata telah mampu mengubah sejarah di Tanah ini. Aku yakin, kali ini pun Ki Juru Martani itu pasti mempunyai siasat yang dapat mengelabuhi pengamatan kita.”

“Aku setuju dengan pendapat Ki Ageng Blarak Sineret,” akhirnya Bango Lamatan menjawab sambil kemudian melangkah ke pendapa, “Kekurang-cermatan kita dalam menilai kekuatan musuh adalah awal kegagalan dari perjuangan ini. Kita tidak usah mengganggu Panembahan Cahya Warastra, aku telah diberi kuasa penuh untuk memimpin pasukan ini. Panembahan hanya akan turun ke medan jika Juru Martani yang licik itu sudah terlihat memasuki pertempuran. Sesungguhnya kekuatan Mataram itu terletak pada Juru Martani. Dengan membunuhnya, kita akan melapangkan jalan menuju ke istana.”

Sejenak terdengar beberapa orang bergeremang dengan tidak jelas. Masing-masing memberikan pendapatnya dan bertukar pendapat dengan orang yang berdiri di sebelahnya. Namun ada juga yang hanya mengangguk anggukkan kepala sambil mengelus elus janggutnya.

“Bagaimana?” tiba-tiba terdengar suara Bango Lamatan lantang untuk mengatasi suara gaduh yang mulai timbul di antara kerumunan para pemimpin perguruan itu.

“Maksud kakang?” bertanya orang yang berwajah kasar dan sedikit liar yang ternyata bernama Siwurbang, lengkapnya Alap-Alap Siwurbang.

Bango Lamatan sejenak tidak menjawab pertanyaan Alap-Alap Siwurbang. Diedarkan pandangan matanya ke seluruh sudut pendapa untuk mendapatkan kesan dari mereka yang hadir di tempat itu. Namun tidak ada seorang pun yang membuka mulut untuk memberikan pendapatnya.

“Baiklah,” akhirnya Bango Lamatan memutuskan, “Kita akan songsong musuh di tepian. Masing-masing perguruan harus terikat dengan satu kesatuan pasukan yang utuh. Jangan bertindak sendiri-sendiri. Kita akan berperang dalam gelar Wulan Tumanggal.”

Beberapa orang tampak mengerutkan keningnya mendengar Bango Lamatan akan menggunakan gelar Wulan Tumanggal untuk menyongsong musuh yang sudah berada di tepian.

Agaknya Bango Lamatan tanggap dengan kesan yang di dapat dari beberapa pemimpin perguruan itu. Maka katanya kemudian, “Apakah ada yang mempunyai pemikiran yang lebih baik dari gelar Wulan Tumanggal?”

“Ma’af Kakang Bango Lamatan,” seorang yang masih cukup muda dan berwajah cukup tampan maju ke depan, “Apakah kelebihan gelar Wulan Tumanggal dalam hal ini menghadapi pasukan Mataram yang sudah berada di tepian?”

“He!” tiba-tiba Bango Lamatan yang menyadari siapa orang yang sedang berbicara kepadanya itu membentak keras, “Apa kerja anak buahmu di tepian? Bagaimana mungkin pasukan Mataram bisa menyeberang ke tepi barat sedangkan anak buahmu telah berjaga jaga siang dan malam di sana?”

Orang yang dibentak itu ternyata Ki Bagus Lelana, pemimpin perguruan Jambe Wangi yang mendapat tugas menjaga tepian sebelah barat kali Praga.

Mendapat tegoran keras seperti itu sejenak Ki bagus Lelana terdiam dengan muka merah padam. Namun kemudian setelah mampu menguasai gejolak dalam dadanya, dia menjawab, “Ma’afkan aku Kakang, aku juga belum mendapatkan laporan dari anak buahku bagaimana mereka bisa sedemikian ceroboh membiarkan musuh menyeberang.”

Mendapat jawaban seperti itu Bango Lamatan sejenak termangu mangu. Dia baru menyadari bahwa sampai saat ini belum ada laporan dari para telik sandi yang telah mereka sebar di dalam hutan yang terletak di dekat padang perdu menuju ke arah tepian Kali Praga.

“Apakah sudah ada telik sandi yang memberikan laporan?” bertanya Bango Lamatan setelah sejenak terdiam.

“Belum Kakang,” jawab Ki Bagus Lelana, “Justru kami berkumpul di sini ingin mendengarkan berita dari Kakang yang mungkin telah menerima laporan dari para telik sandi.”

Bango Lamatan menarik nafas dalam-dalam sambil menggelengkan kepalanya. Jawabnya kemudian, “Aku belum menerima laporan. Mungkin mereka sedang dalam perjalanan kemari.”

Baru saja Bango Lamatan menyelesaikan kata katanya, tiba-tiba dari arah pintu regol terdengar kegaduhan disusul dengan munculnya tiga orang yang dengan tergesa-gesa segera berlari menuju ke pendapa.

“Kami harus segera menghadap Ki Bango Lamatan,” teriak salah seorang yang baru datang itu sambil menaiki tlundak pendapa. Sementara kedua kawannya menyusul di belakangnya.

“Aku di sini,” sahut Bango Lamatan lantang sambil melangkah mendekat.

Ketiga orang yang baru saja datang itu segera melangkah mendekati Bango Lamatan yang justru kini telah berdiri di tengah-tengah pendapa.

Begitu ketiga orang itu telah berada di hadapan Bango Lamatan, segera saja para pemimpin perguruan yang hadir di situ bergerak merapat membentuk lingkaran. Mereka agaknya juga ingin mendengarkan berita yang di bawa oleh ketiga telik sandi itu.

“Katakan dengan jelas supaya engkau tidak usah mengulang ulang ceritamu,” perintah Bango Lamatan dengan nada dalam.

Sejenak orang yang tertua dari ketiga petugas sandi itu menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya. Tiba-tiba saja kerongkongannya menjadi kering begitu dia menyadari betapa gawatnya berita yang dibawanya itu.

“Ki Bango Lamatan,” akhirnya keluar juga kata-kata dari mulutnya, “Kami bertiga adalah petugas sandi yang ditempatkan di dalam hutan yang sudah tidak begitu lebat lagi itu. Menjelang dini hari tadi, kami mendengar suara tangis seorang perempuan dari arah padang perdu.”

Sampai di sini para pemimpin perguruan yang hadir disitu hampir sebagian besar telah berguman sambil berpaling memandang ke arah Ki Bagus Lelana yang berdiri di sebelah kanan Bango Lamatan.

Mendapatkan perlakuan seperti itu, Ki Bagus Lelana pun menggeram, “Mengapa kalian memandangku seperti itu, he?”

“Bukankah sudah bukan rahasia lagi kalau perguruanmu itu selalu berhubungan dengan perempuan?” terdengar suara berat dan dalam dari seorang yang berdiri beberapa langkah di samping Ki Bagus Lelana, “Itu pasti salah seorang korban nafsu anak buahmu yang berjaga jaga di tepian.”

Dengan mata merah membara, Ki Bagus Lelana mencari arah suara yang berat dan dalam itu. Ketika kemudian pandangan matanya tertumbuk pada seorang yang berperawakan tinggi gagah dengan kumis melintang tetapi dengan dagu yang licin, berikat kepala warna wulung dan berbaju hitam dengan kain panjang hitam bergaris garis putih, Ki Bagus Lelana pun seakan akan telah membeku di tempatnya. Orang yang menegurnya itu ternyata adalah Ki Wasi Jaladara dari perguruan Liman Benawi di Madiun.

“Nah,” berkata Ki Wasi Jaladara selanjutnya, “Bukankah sudah jelas siapa yang telah meninggalkan kewajibannya menjaga tepian sebelah barat kali Praga? Setiap kesalahan pasti ada hukumannya, dan hukuman apa yang akan ditimpakan kepada perguruan Jambe Wangi, kita serahkan saja kepada Kakang Bango Lamatan.”

Kembali mereka yang hadir di tempat itu bergeremang sambil memandang ke arah Bango Lamatan.

Namun sebelum Bango Lamatan memberikan pendapatnya, tiba-tiba petugas sandi yang tertua itu menyela, “Ma’af Ki Bango Lamatan, aku belum selesai dengan ceritaku.”

Kini perhatian orang-orang yang ada di pendapa itu kembali tercurah kepada petugas sandi yang tertua itu.

“Lanjutkan,” perintah Bango Lamatan singkat.

Setelah menarik nafas dalam-dalam, petugas sandi yang tertua itu pun melanjutkan ceritanya, “Kami berusaha mendekati arah suara tangis itu. Ternyata ada tiga orang yang salah satunya adalah seorang perempuan yang kelihatannya sedang berselisih paham sehingga perempuan itu telah menangis sejadi-jadinya.”

“Apakah engkau dan kawan kawanmu dapat mengenali siapakah mereka itu?” bertanya salah seorang pemimpin perguruan yang hadir disitu.

Petugas sandi itu menggeleng, namun kemudian katanya, “Kami hanya mengenali salah seorang dari ketiga orang itu sangat aneh. Badannya tinggi besar dan hampir di sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu yang berwarna putih.”

“Resi Mayangkara!” hampir bersamaan beberapa orang telah berseru.

Bango Lamatan yang mendengar seruan beberapa orang itu telah mengerutkan keningnya dalam-dalam. Katanya kemudian, “Aku memang pernah mendengar seorang sakti yang aneh dan tinggal di gunung Kendalisada. Namun aku tidak yakin kalau benar-benar tokoh itu ada. Mungkin itu hanya sekedar dongeng ngayawara yang berkembang di lingkungan para kawula Mataram.”

Sejenak petugas sandi itu termangu mangu. Ada sedikit keraguan tersirat di wajahnya. Waktu itu memang malam masih cukup gelap dan sosok yang dilihatnya itu pun cukup jauh. Namun sebenarnya dia sangat yakin dengan penglihatannya pada waktu itu karena memang dia mempunyai kemampuan yang jarang dimiliki oleh orang lain, pandangan yang sangat tajam walaupun di malam yang sangat pekat sehingga dia diandalkan oleh perguruannya menjadi salah seorang petugas sandi.

“Apakah engkau mengenali laki-laki yang satunya?” kembali sebuah pertanyaan terlontar dari salah satu yang hadir disitu.

Petugas sandi itu menggeleng, “Aku tidak melihat ciri-ciri yang khusus pada laki-laki yang satunya,” dia berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Namun yang sangat mendebarkan adalah kemampuannya membidik. Dia mampu memotong arah anak panah berapi yang dilepaskan oleh Putut Banjar Panji, justru di malam yang masih cukup gelap.”

Selesai berkata demikian petugas sandi itu pun kemudian menceritakan peristiwa yang terjadi di pinggir hutan dekat padang perdu itu.

Sejenak para pemimpin perguruan yang hadir di tempat itu menjadi gempar. Mereka benar-benar hampir tidak percaya kalau ada orang yang mempunyai kemampuan bidik yang sempurna seperti itu.

“Mungkin orang itu mempunyai aji Danurwenda, aji yang dimiliki Resi Drona,” berkata salah seorang.

“Ah, aji Danurwenda itu hanya ada dalam cerita pewayangan,” sahut yang lain.

“Tapi bukankah ilmu-ilmu yang ada sekarang ini juga bersumber dari cerita-cerita seperti itu?” sahut yang lain tak kalah serunya.

“Sudahlah..!” tiba-tiba Bango Lamatan berteriak lantang untuk menenangkan suara riuh rendah para pemimpin perguruan yang berkumpul di pendapa itu, “Aku sudah tahu siapa orang yang mempunyai kemampuan bidik yang luar biasa itu.”

Ucapan Bango Lamatan itu ternyata telah mengejutkan. Beberapa orang hampir bersamaan telah bertanya, “Siapakah yang engkau maksud, Kakang?”

Bango Lamatan menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan itu. Ada sedikit keseganan untuk mengatakan siapa orang itu, karena sama saja dengan mengungkit masa lalunya yang memalukan. Namun akhirnya terlontar juga jawaban dari mulutnya, “Orang itu adalah Agul Agulnya Mataram, adik kandung Senapati yang berkedudukan di Jati Anom, murid utama orang bercambuk, Ki Rangga Agung Sedayu.”

Kali ini pendapa itu benar-benar bagaikan meledak. Beberapa orang telah berteriak teriak untuk mengungkapkan ketidak percayaan mereka terhadap kata-kata Bango Lamatan.

“Tidak mungkin,” seorang yang rambutnya hampir putih semua menyela setengah berteriak untuk menarik perhatian, “Bukankah Kiai Naga Geni telah mencegatnya di hutan tambak baya? Kiai Naga Geni adalah orang yang tiada duanya di Nusa Kambangan. Tidak ada orang yang mampu lolos dari tangannya.”

“Ya,” sahut yang lain cepat, “Bahkan masih ada Ki Ajar Andong Puring dan murid muridnya yang membantu.”

“Tetapi kenyataan berbicara lain,” jawab Bango Lamatan yang membuat mereka yang hadir disitu tertegun, “Memang belum ada laporan mengenai hal itu, tapi aku yakin, orang yang mampu membidik dengan tepat walaupun di malam yang gelap sekalipun itu pasti murid orang bercambuk itu.”

Sejenak pendapa itu menjadi sunyi. Beberapa orang yang mengetahui tingkat kemampuan Ki Rangga Agung Sedayu menjadi gelisah. Bahkan Bango Lamatan pun tidak mampu menghapus bayangan masa lalunya ketika harus berhadapan dengan Ki Rangga Agung Sedayu waktu itu yang masih berusia muda.

“Mungkin aku terlalu percaya diri waktu itu sehingga membuat aku lengah,” berkata Bango Lamatan dalam hati, “Sekarang aku telah menyempurnakan ilmuku dengan laku yang sangat berat dan rumit. Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi dari seorang Agung Sedayu.”

Namun jauh di dasar hatinya Bango Lamatan tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa dirinya masih merasa segan jika harus berhadapan dengan Ki Rangga Agung Sedayu lagi.

“Mengapa kita mesti ketakutan dengan orang yang bernama Agung Sedayu, murid utama orang bercambuk?” tiba-tiba terdengar suara yang pelan namun getarannya telah menggoncang tiang-tiang pendapa dan setiap dada yang hadir di tempat itu.

Serentak mereka berpaling ke asal getaran suara itu. Tampak seseorang yang sudah cukup tua namun masih terlihat sangat sehat dan kokoh, berdiri di belakang kerumunan sambil mengelus-elus janggutnya yang panjang menggapai dada. Sementara di belakangnya berdiri dua orang kakak beradik murid kepercayaannya.

“Ki Gede Ental Sewu dari Gunung Sindara” beberapa orang yang telah mengenalnya segera menyerukan nama yang telah menggetarkan setiap jantung yang hadir di pendapa itu.

Sejenak kemudian orang-orang yang berkerumun itu pun segera menyibak, memberikan jalan bagi Ki Gede Ental Sewu dari Gunung Sindara dan kedua muridnya.

“Ma’afkan kami Ki Gede,” berkata Bango Lamatan sambil merangkapkan kedua telapak tangannya di depan dada dan membungkuk dalam-dalam, “Kami merasa sangat tersanjung Ki Gede Ental Sewu bersedia hadir di tengah-tengah kami.”

Ki Gede Ental Sewu tidak menjawab hanya mengangguk anggukkan kepalanya sambil mengelus elus janggutnya. Ki Gede Ental Sewu dari Padepokan Ental Sewu yang terletak di lereng Gunung Sindara berbatasan dengan Gunung Sumbing yang berpemandangan asri ini memang termasuk tokoh angkatan tua. Hampir tidak pernah keluar dari Padepokannya kalau tidak ada peristiwa yang khusus. Agaknya Ki Gede Ental Sewu ini merasa perlu untuk turun gunung dengan membawa kedua muridnya kakak beradik, Sindangwangi dan Bantarkawung. Selain ingin membantu sahabatnya Panembahan Cahya Warastra yang semasa mudanya bernama Kecruk Putih, Ki Gede juga ingin memberikan pengalaman kepada kedua muridnya yang masih muda.

“Bango Lamatan,” pelan terdengar suara Ki Gede namun getarannya seakan merontokkan isi dada, “Apakah tidak sebaiknya kita berbicara sambil duduk? Banyak hal yang harus kita bicarakan sehubungan dengan rencana penyerbuan ke tepian kali Praga.”

Bagaikan tersadar dari sebuah mimpi buruk, Bango Lamatan pun kemudian dengan tergopoh-gopoh mempersilahkan para pemimpin perguruan yang hadir di pendapa itu untuk duduk, terutama Ki Gede Ental Sewu dan kedua muridnya.

Sejenak kemudian mereka yang hadir di pendapa itu pun telah menempatkan dirinya masing-masing. Beberapa perguruan yang telah saling mengenal sebelumnya telah duduk bergerombol saling berdekatan, namun ada juga yang mencoba berbaur dengan perguruan lain walaupun mereka belum saling mengenal.

“Bango Lamatan,” kembali terdengar suara Ki Gede Ental Sewu yang berat dan dalam, “Apakah pertimbanganmu untuk menggunakan gelar Wulan Tumanggal pada saat benturan pertama dengan pasukan Mataram.”

Sambil mengangguk hormat Bango Lamatan menjawab, “Ki Gede, gelar Wulan Tumanggal akan kita gunakan untuk menggempur musuh karena pertimbangan akan kekuatan yang kita miliki. Disini telah berkumpul sekitar empat puluh perguruan, itu berarti kita mempunyai empat puluh pemimpin perguruan yang kemampuannya setingkat dengan Rangga atau bahkan mungkin dapat disamakan dengan Tumenggung dalam keprajuritan.”

Ki Gede Ental Sewu mengerutkan keningnya mendengar jawaban Bango Lamatan. Kemudian sambil menggeleng perlahan, dia berkata, “Perhitunganmu terlalu berlebihan Bango Lamatan. Kalau pemimpin perguruan kemampuannya engkau samakan dengan Rangga, apa katamu tentang Ki Rangga Agung Sedayu yang baru mendengar namanya saja kalian telah ketakutan? Ingat Ki Rangga Agung Sedayu lah yang telah menghentikan petualangan Ajar Talpitu. Kemudian seorang Tumenggung Prabandaru dari Pajang pun juga terbunuh di tangannya dan masih banyak lagi. Namun ada satu hal yang sampai saat ini aku tidak percaya itu bisa terjadi. Bagaimana mungkin seorang yang bernama Pideksa yang kemudian bergelar Ajar Kumuda dari Madiun dapat dikalahkan oleh seorang yang bernama Agung Sedayu, murid orang bercambuk. Padahal dimasa mudanya, Ajar Kumuda itu pernah berselisih dengan Guru Agung Sedayu, orang bercambuk itu dan kemampuan mereka pada saat itu dapat dikatakan seimbang. Justru pada saat Ajar Kumuda telah memasuki usia tua dan ilmunya semakin mapan dan sempurna, dia telah terbunuh dalam perang tanding melawan Agung Sedayu, murid orang bercambuk yang menjadi seterunya di masa muda.”

Para pemimpin perguruan yang mendengar penuturan Ki Gede Ental Sewu itu sejenak termangu mangu. Ki Ajar Kumuda adalah seorang yang mempunyai kebiasaan yang sama dengan Ki Gede Ental Sewu. Keduanya dapat dikatakan jarang sekali keluar padepokan untuk merantau. Kalau Ki Ajar Kumuda mempunyai kepentingan dengan seseorang, biasanya orang itu akan dipanggilnya untuk menghadap ke padepokan, dan orang tersebut dengan patuh akan menghadap walaupun dia tahu bahwa dia akan dihukum atau bahkan dibunuh sekalipun.

Namun ternyata Ki Ajar Kumuda yang dimasa mudanya benama Pideksa itu telah dikalahkan oleh Agung Sedayu, justru murid orang bercambuk yang sangat dibencinya dan ingin dibunuhnya.

“Nah,” berkata Ki Gede Ental Sewu kepada Bango Lamatan kemudian, “Apakah engkau masih akan mempertahankan perhitunganmu tentang perbandingan kekuatan kita?”

Sejenak Bango Lamatan merenung, kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam dia menjawab, “Ki Gede, Ki Rangga Agung Sedayu adalah seorang prajurit yang berpangkat Rangga namun mempunyai kemampuan yang khusus. Yang aku perbandingkan adalah prajurit berpangkat Rangga yang sesungguhnya. Khusus untuk Ki Rangga Agung Sedayu aku serahkan kepada kebijaksanaan Ki Gede.”

Ki Gede Ental Sewu tertawa tertahan. Sambil menggeleng gelengkan kepalanya dia menjawab, “Bukankah di sini masih banyak yang lebih mumpuni? Bagaimana dengan aji Panglimunanmu yang nggegirisi itu? Haruskah aku yang sudah tua ini masih harus mengadu kerasnya tulang dan tebalnya kulit dengan orang yang pantas menjadi anakku?”

“Guru,” tiba-tiba Bantarkawung yang ada di belakang Gurunya menyela setengah berbisik, “Ijinkan aku menghadapinya, kalau perlu berdua dengan mbokayu Sindangwangi.”

Gurunya yang mendengar bisik muridnya itu tersenyum masam, jawabnya kemudian sambil sedikit menoleh kebelakang, “Kalian masih pupuk bawang diantara para raksasa olah kanuragan dalam perang di tepian nanti. Lebih baik kalian berdua menimba pengalaman dengan bertempur melawan para prajurit biasa saja.”

Merah padam muka Bantarkawung mendengar teguran Gurunya itu. Sementara mBokayunya Sindangwangi yang duduk di sebelahnya justru telah tertawa kecil sambil mencibirkan bibirnya yang mungil menggemaskan itu ke arah adiknya.

bersambung ke bagian 2

8 Responses

  1. saluut sarta ngaturaken gunging panuwun kagem mbah-man ingkang nyelipaken kewajibaning titah minangka raos syukur kanthi manembah dhumateng gusti Allah…..
    mugi-mugi ndadosna panjurung para kadang sutresna carios saking tanah leluhur anggenipun ngupadi ridho Allah….aamiin….

    • Saya setuju,pilihan kata dan setting tempatnya masih menggambarkan cerita SH Mintarja,tidak terlalu liar dan kekinian,baguuus sekali,trims

  2. monggo mbah kelanjutanipun ampun sithil sithil tambah penasaran je.

  3. lanjut segera …………………. matur nuhun

    masih kejar tayang
    jika tidak sabar silahkan kunjungi http://cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-405/ dan baca postingan komentar dari mbah_man

  4. mbenjang menopo kelanjutanipun mbah?

  5. Wadduh simbah, pripun niki kadung penasaran, mugi2 mboten ngantos duangu….

  6. Whee..ee…lhadhalaa..aahhh; mandheg tho iki.???

  7. Cepet mbah gek ndang disambung……kadung penasaran……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s