TADBM-406

<< kembali ke TADBM-405 | lanjut ke TADBM-407 >>

TADBM-406Bagian 1

DALAM pada itu, Ki Jayaraga bersama Empu Wisanata dan Nyi Dwani masih berdiri di atas panggungan yang di dirikan di sebelah menyebelah regol padukuhan induk. Mereka bertiga tidak habis mengerti, mengapa pasukan para pengikut Panembahan Cahya Warastra itu tidak kunjung menyerang? Mereka justru telah mengambil jarak yang cukup jauh dari dinding padukuhan dan sepertinya ada yang sedang mereka tunggu.

“Mengapa mereka tidak segera menyerbu padukuhan ini, Ayah?” bertanya Nyi Dwani.

Empu Wisanata menggeleng lemah, “Aku tidak tahu, Dwani. Mungkin mereka menunggu Matahari terbit.”

“Bukankah Matahari telah terbit beberapa saat yang lalu?”

“Ya,” jawab ayahnya, “Mungkin masih terlalu pagi bagi mereka untuk memulai sebuah pertempuran.”

“Tentu tidak,” sahut Ki Jayaraga sambil mengamati para pengikut Panembahan Cahya Warastra yang berlindung di antara pepohonan dan tanggul-tanggul yang tinggi, “Aku merasakan ada sesuatu yang sedang mereka tunggu, namun apakah itu aku tidak dapat menebak dengan pasti.”

Sejenak Empu Wisanata dan Nyi Dwani menekur. Berbagai dugaan silih berganti di dalam benak mereka, namun tak satu pun yang dapat dijadikan alasan yang kuat mengapa mereka tidak segera menyerang.

Selagi mereka disibukkan dengan berbagai tanggapan atas sikap pasukan Panembahan Cahya Warastra itu, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh bunyi panah sendaren dua kali berturut turut memecahkan udara pagi di atas padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh.

Para pengawal Menoreh yang telah bersiap di balik pagar hampir serentak memandang ke udara. Panah-panah itu memang sudah tidak kelihatan namun suara raungannya terasa membelah angkasa.

“Jangan terpancing!” tiba-tiba terdengar teriakan yang menggelegar dari Ki Jayaraga yang berdiri di atas panggungan. Ditebarkan pandangan matanya ke seluruh pengawal tanah perdikan Menoreh yang merupakan gabungan para pengawal yang ada di padukuhan-padukuhan kecil dan padukuhan induk. Katanya kemudian sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi, “Tetap di tempat kalian. Jangan terpancing dengan keadaan yang tidak menentu. Biasakan selalu mendengarkan perintah melalui atasan kalian.”

Selesai berkata demikian Ki Jayaraga segera mengajak Empu Wisanata dan Nyi Dwani turun dari panggungan. Mereka harus segera memperhitungkan jika musuh jadi menyerang. Gelar yang telah disepakati adalah gelar gedong minep atau jurang grawah. Kalau pintu gerbang padukuhan induk ternyata mampu dijebol oleh pihak lawan, mereka justru akan membiarkan sebagian lawan masuk dengan deras ke dalam padukuhan. Setelah gelombang serangan itu agak mereda, para pengawal yang bersembunyi di kanan kiri regol akan serentak menyerang untuk memotong arus serangan itu.

Ki Jayaraga dengan cerdik telah menanam batang-batang bambu beberapa langkah di belakang regol. Dengan sebuah pengungkit yang diletakkan di kedua ujung bambu-bambu yang ditanam itu, arus serangan lawan akan tertahan beberapa saat. Di saat itulah para pengawal di sebelah menyebelah regol akan menyerang pasukan lawan yang tertahan itu.

Dengan tergesa-gesa Ki Jayaraga segera menuju ke sebuah rumah yang dijadikan sebagai tempat pertemuan para pemimpin pengawal. Dengan sebuah isyarat kentong dua ganda berturut turut yang tidak terlalu keras namun gaungnya cukup sampai ke sudut-sudut pertahanan Menoreh, beberapa pemimpin pengawal pun segera berkumpul.

Setelah semuanya duduk di pendapa beralaskan sebuah tikar pandan yang lebar, Ki Jayaraga pun memulai pembicaraan.

“Panah sendaren yang baru saja kita dengar pasti ada hubungannya dengan penyerbuan ke padukuhan induk ini,” Ki Jayaraga berhenti sejenak, “Kita tidak usah berandai-andai panah sendaren itu sebagai isyarat pasukan lawan ditarik mundur, namun yang perlu kita siagakan adalah, kemungkinan sebagai isyarat dimulainya penyerbuan pasukan lawan. Oleh karena itu, siapkan panah-panah dan lembing-lembing di atas panggungan sepanjang dinding padukuhan. Beberapa pengawal dapat memanjat pohon yang tumbuh di sisi dalam dinding. Usahakan jangan sampai lawan dapat mencapai dinding padukuhan sehingga memberi kesempatan pada mereka untuk memanjat dengan cara apapun. Hujani mereka dengan anak panah, lembing bahkan kalian dapat menggunakan batu-batu yang dilontarkan melalui bandil maupun ketapel.”

Para pemimpin pengawal itu mengangguk anggukkan kepala mereka. Salah satu pemimpin pengawal yang berkumis tipis tiba-tiba mengangkat tangannya untuk menarik perhatian Ki Jayaraga.

“Bicaralah!” perintah ki Jayaraga kemudian.

“Ki Jayaraga,” berkata pemimpin pengawal yang berkumis tipis itu, “Kami juga menyediakan batu-batu yang cukup besar di sepanjang panggungan.”

Ki Jayaraga mengerutkan keningnya, bahkan para pemimpin pengawal yang lain telah saling pandang karena tidak mengerti maksud kawannya itu.

“Apakah alat yang akan engkau gunakan untuk melontarkan batu-batu yang cukup besar itu?” bertanya Ki Jayaraga kemudian.

Sejenak pemimpin pengawal yang berkumis tipis itu tersenyum. Diedarkan pandangan matanya ke arah kawan kawannya, baru kemudian dia meneruskan kata katanya, “Batu-batu itu tidak dilontarkan, melainkan dijatuhkan saja dari atas dinding apabila lawan dapat mencapai dinding dan mencoba memanjat.”

Ki Jayaraga mengangguk anggukkan kepalanya, sementara para pemimpin pengawal yang lain saling bergeremang bahkan ada yang mencemooh.

“Buang-buang waktu saja,” desis seorang pemimpin pengawal yang berbadan kekar kepada kawannya yang duduk di sebelahnya, “Kita perbanyak panah dan lembing yang mempunyai jarak lontar cukup jauh. Jika ada yang berhasil mencapai dinding, alangkah mudahnya membidik orang yang sedang memanjat, apapun alat yang dipakainya.”

Kawannya yang duduk di sebelahnya hanya mengangguk angguk tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Siapa yang memimpin pasukan pertahanan di belakang pintu gerbang?” pertanyaan Ki Jayaraga telah membungkam pengawal yang bertubuh kekar itu.

“Aku, Ki Jayaraga,” jawab seorang pemimpin pengawal yang bertubuh tinggi dan berambut keriting.

“Engkau sudah tahu tugasmu?” kembali Ki Jayaraga bertanya.

Orang yang tinggi dan berambut keriting itu sejenak menggeser duduknya agak mendekat, kemudian jawabnya, “Tugas kami menahan laju pasukan lawan jika gerbang padukuhan induk dapat dijebol lawan. Kami juga sudah menyiapkan anak panah dan lembing yang jumlahnya tak terhitung. Selain itu kami juga telah membuat tombak-tombak panjang dari batang-batang bambu yang ujungnya telah diruncingkan.”

“Bagus,” sahut Ki Jayaraga, “Begitu mereka memasuki pintu gerbang, hujani mereka dengan anak panah dan lembing. Jika ternyata masih ada yang lolos, kalian dapat mempergunakan batang-batang bambu itu untuk menahan mereka, dan jika ternyata masih ada yang lolos, kalian harus siap dengan sebuah pertempuran yang sebenarnya.”

Para pemimpin pengawal itu mengangguk anggukkan kepala mereka. Dalam benak mereka terbayang, betapa pasukan lawan akan sangat kesulitan menghadapi berbagai rintangan yang telah mereka siapkan.

“Nah,” berkata Ki Jayaraga kemudian, “Apakah masih ada yang kurang jelas?”

Para pemimpin pengawal yang berkumpul di pendapa itu hampir serentak menjawab, “Semuanya sudah jelas, Ki.”

“Baiklah, kalau memang sudah tidak ada persoalan lagi, silahkan kembali ke tempat kalian masing-masing.”

Demikianlah akhirnya pertemuan itu segera bubar. Sementara Ki Jayaraga telah menemui Empu Wisanata dan Nyi Dwani yang sedang melihat lihat pertahanan yang telah disusun oleh para pengawal.

Namun baru saja Ki Jayaraga mendekati Empu Wisanata dan Nyi Dwani yang sedang mengamati sebuah pengungkit yang berada beberapa langkah di sisi regol, seorang pengamat yang berada di atas panggungan telah memberikan isyarat kepada Ki Jayaraga bahwa ada tanda-tanda musuh telah mendekat.

Dengan tergesa-gesa Ki Jayaraga beserta Empu Wisanata dan Nyi Dwani naik ke atas panggungan. Dada ketiga orang itu sejenak berdesir begitu melihat pasukan lawan yang sudah bergerak dalam gelar walaupun masih cukup jauh dan belum dapat dijangkau oleh lontaran anak panah.

“Dirada Meta,” desis Ki Jayaraga.

“Ya, Ki,” Empu Wisanata yang di sebelahnya menyahut, “Agaknya mereka memperhitungkan kekuatan gerbang padukuhan ini sehingga mereka mengandalkan kekuatan Dirada Meta untuk menjebolnya.”

“Kekuatan utama tentu pada kedua gading itu,” berkata ki Jayaraga kemudian tanpa melepaskan pandangan matanya pada gerak gelar lawan yang lambat tapi pasti menuju ke padukuhan induk, “Kalau tidak terdapat pada kedua gadingnya, tentu Senapatinya bertempat pada belalai itu .”

Ketika jarak pasukan lawan itu hampir mendekati jarak jangkauan lontaran anak panah, tiba-tiba gelar Dirada Meta itu berhenti. Terdengar sebuah aba-aba yang kemudian segera sambung bersambung ke seluruh gelar.

Sejenak kemudian gelar itu pun seperti teraduk. Beberapa orang saling bergeser. Ketika beberapa saat kemudian gelar itu kembali tenang, tampak orang-orang yang terletak pada bagian kepala gelar telah menyandang sebuah perisai.

“Mereka agaknya sudah mempersiapkan diri dengan sebaik baiknya,” berkata Empu Wisanata.

Ki Jayaraga mengangguk anggukkan kepalanya. Ketika pandangan matanya membentur tangan Empu Wisanata dan Nyi Dwani, keduanya ternyata telah menggenggam busur dan menyandang endong dengan puluhan anak panah di dalamnya.

“Kami meminjam dari para pengawal itu,” berkata Empu Wisanata sambil menunjuk ke arah seorang pengawal yang sekarang sedang berdiri agak jauh sambil menjinjing beberapa lembing.

Ki Jayaraga menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Jika yang melontarkan anak panah kalian berdua, aku yakin setebal apapun perisai itu pasti akan tembus.”

“Ah,” hampir bersamaan ayah dan anak itu berdesah, “Kami belum berbuat apa-apa. Semoga kami tidak lupa bagaimana menggunakan busur ini.”

Ki Jayaraga tersenyum. Katanya kemudian, “Nah, kalian berdua dapat memulai melontarkan anak panah. Memang untuk kebanyakan pemanah, jarak itu masih cukup jauh, tapi bagi kalian aku rasa dapat mencapainya untuk sekedar mengingatkan kepada lawan bahwa yang mereka hadapi bukan anak-anak kemarin sore yang sedang belajar memanah.”

 Empu Wisanata dan Nyi Dwani saling pandang sejenak. Ketika mereka melemparkan pandangan mata ke arah pasukan lawan, perlahan tapi pasti gelar Dirada Meta itu telah bergerak maju.

Jarak dengan pasukan itu memang masih jauh, namun dengan mengerahkan tenaga cadangan, ayah dan anak itu telah mengangkat busurnya. Ketika tali busur itu telah direntangkan dengan sekuat tenaga, hampir bersamaan dua buah anak panah melesat bagaikan tatit yang melompat di udara menyambar kearah sasaran.

Ternyata kekuatan tenaga cadangan kedua orang itu telah mampu melontarkan anak panah melebihi orang kebanyakan. Kedua anak panah itu pun kemudian menyambar sasaran masing-masing. Terdengar umpatan yang sangat kotor dari kedua pengikut Panembahan Cahya Warastra ketika kedua anak panah itu telah mampu menembus perisai yang mereka bawa. Anak panah dari Nyi Dwani ternyata sempat menyentuh pundak salah seorang pengikut Panembahan Cahya Warastra sehingga darah pun telah menetes. Sedangkan anak panah Empu Wisanata ternyata tidak hanya menyentuh, namun benar-benar telah melukai dada kanan lawannya.

“Gila,” umpat Bango Lamatan yang ternyata telah bergabung dengan pasukan yang dipimpin Ki Gede Ental Sewu, “Orang-orang Menoreh memang gila. Mereka harus diajari bagaimana memanah yang sesungguhnya.”

Selesai berkata demikian, Bango Lamatan yang berada di belalai dari gelar Dirada Meta itu telah menyambar busur dan sebuah anak panah dari seseorang yang berdiri di belakangnya. Dengan sepenuh tenaga, segera dilontarkannya anak panah itu mengarah ke gerbang padukuhan induk yang tertutup rapat.

Yang terjadi kemudian ternyata telah menggetarkan setiap dada yang berada di belakang gerbang padukuhan induk itu. Pintu gerbang yang setebal telapak tangan orang dewasa dan diselarak ganda ternyata telah terguncang hebat begitu terkena anak panah yang dilepaskan Bango Lamatan. Untunglah gerbang itu terbuat dari kayu nangka yang sangat tua sehingga tidak menjadi retak ataupun selaraknya berpatahan. Namun goncangannya telah membuat setiap dada dari para pengawal Tanah Perdikan Menoreh berdebar debar.

“Jangan terpancing!” tiba-tiba terdengar teriakan lantang dari Ki Jayaraga, “Tidak setiap orang dalam pasukan lawan mampu melakukan itu. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu membuat pengeram-eram seperti itu. Mungkin itu tadi yang melakukannya adalah Senapati lawan untuk sekedar menakut-nakuti kita. Tapi dengan kesombongannya itu, justru aku sudah dapat meraba, sampai di mana kemampuan ilmunya yang sebenarnya.”

Empu Wisanata yang berada di sebelah Ki Jayaraga menarik nafas dalam-dalam sambil berbisik, “Ternyata Ki Jayaraga mampu juga untuk sedikit menyombongkan diri di hadapan para pengawal.”

Ki Jayaraga tersenyum sambil berpaling, jawabnya kemudian, “Kadang-kadang sikap jumawa itu diperlukan untuk sekedar membangkitkan kepercayaan para pengawal terhadap pemimpinnya.”

Empu Wisanata hanya dapat mengangguk anggukkan kepalanya.

Dalam pada itu gelar Dirada Meta dari para pengikut Panembahan Cahya Warastra telah semakin dekat dengan gerbang padukuhan induk.

Tiba-tiba Bango Lamatan mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil meneriakkan sebuah aba-aba yang segera diteruskan oleh para pemimpin pasukan yang ada di sebelah menyebelah gelar. Sejenak kemudian pasukan pengikut Panembahan Cahya Warastra itu pun telah berhenti.

“Bango Lamatan,” Ki Gede Ental Sewu yang berada di ujung belalai telah mundur beberapa langkah kebelakang mendekati Bango Lamatan, “Kita harus memperhitungkan korban yang akan berjatuhan jika kita menyerbu gerbang padukuhan induk itu tanpa perhitungan.”

“Demikianlah, Ki Gede,” jawab Bango Lamatan sambil mengangguk hormat, “Aku berpendapat sebaiknya untuk mengalihkan perhatian, Ki Gede dapat menjebol dinding sebelah kanan regol sedangkan aku dan Ki Ajar Wiyat serta Kiai Sasadara akan berusaha menjebol dinding sebelah kiri regol.”

Sejenak Ki Gede Ental Sewu terdiam, namun akhirnya dia bertanya juga, “Bagaimana dengan regol itu?”

“Pasukan pemanah berapi akan membakar regol itu. Kita sudah menyiapkan bumbung-bumbung bambu yang berisi minyak jarak serta panah-panah yang ujungnya telah dibalut dengan secarik kain yang nantinya akan dicelupkan ke bumbung-bumbung itu kemudian di nyalakan.”

Ki Gede mengangguk angguk sambil memandang ke arah dinding padukuhan induk Menoreh yang terlihat berdiri sangat kokoh.

“Dinding itu memang terbuat dari batu Ki Gede,” berkata Bango Lamatan sepertinya memahami apa yang sedang dipikirkan oleh pemimpin padepokan dari gunung Sindara itu, “Namun diantara bebatuan yang direkatkan itu pasti ada celah yang lemah sehingga serangan yang terus menerus pada celah itu akan dapat menggugurkan bebatuan itu.”

Kembali Ki Gede mengangguk anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Baiklah Bango Lamatan. Tapi bagi kalian yang tidak memiliki ilmu kebal atau sejenisnya akan sangat sulit mendekati dinding itu karena hujan panah dan lembing pasti akan menghambat pergerakan kalian.”

“Itu sudah kami perhitungkan Ki Gede,” jawab Bango Lamatan, “Aku memang tidak menguasai ilmu kebal atau sejenisnya. Aku akan membawa perisai atau setidaknya ada orang lain yang membawa perisai bersamaku untuk sekedar melindungiku dari hujan anak panah selagi aku mencoba untuk mengguncang dinding itu.”

“Bagaimana dengan Ki Ajar Wiyat dan Kiai Sasadara?”

“Menurut pengakuan mereka, mereka telah memiliki bekal itu, sejenis ilmu kebal yang dapat melindungi wadag mereka dari serangan anak panah dan senjata tajam lainnya.”

“Baiklah,” berkata Ki Gede Ental Sewu kemudian, “Perintahkan agar pasukan tetap diam di tempat. Seandainya mereka nanti menghujani aku dengan anak panah, pasukan kita tidak usah membalas. Persediaan anak panah kita sangat terbatas, berbeda dengan orang-orang Menoreh itu, mereka dapat membuat anak panah sebanyak banyaknya.” Ki Gede berhenti sejenak kemudian lanjutnya, “Sekarang aku akan mendekati dinding itu, engkau bersama dengan Ki Ajar Wiyat dan Kiai Sasadara dapat memulainya sekarang juga.”

Selesai berkata demikian, Ki Gede tanpa menunggu tanggapan Bango Lamatan telah melangkah keluar dari barisan dan kemudian berjalan mendekati dinding sebelah kanan regol.

Seperti yang telah mereka duga sebelumnya, segera saja hujan anak panah dan lembing berhamburan ke arah Ki Gede Ental Sewu yang berjalan seenaknya tanpa menghiraukan anak-anak panah dan lembing yang menyerangnya.

Sekali lagi para pengawal Tanah Perdikan Menoreh dadanya bagaikan diguncang prahara menyaksikan betapa anak panah dan lembing yang mereka lontarkan itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap Ki Gede Ental Sewu. Anak-anak panah dan lembing-lembing itu seolah olah telah menyentuh sekeping baja tulen sehingga terpental dan berjatuhan ke tanah. Bahkan tak jarang beberapa diantaranya telah berpatahan sebelum jatuh ke tanah.

Ketika Ki Gede Ental Sewu telah berdiri beberapa tombak dari dinding, sejenak dipusatkan nalar budinya untuk mengungkapkan ilmunya yang sangat nggegirisi.

Ki Jayaraga yang melihat ada orang yang mendekati dinding padukuhan dengan menunjukkan kelebihannya menahan serangan anak panah dan lembing segera memerintahkan untuk menghentikan serangan. Dengan hati yang berdebar debar Ki Jayaraga sambil berjongkok mencoba mengintip dari balik dinding di atas panggungan. Panggungan itu memang tidak dibangun sejajar dengan tinggi dinding, namun panggungan itu dibangun agak rendah dari dinding. Jaraknya sekitar setinggi pinggang orang dewasa.

“Rasa rasanya aku pernah mengenal orang itu,” desis Ki Jayaraga sambil terus mengamati seraut wajah yang kelihatannya tidak asing baginya.

“He!” hampir saja Ki Jayaraga terlonjak dari tempatnya begitu dia menyadari siapakah orang yang sedang berdiri beberapa tombak dari dinding padukuhan itu.

“Ki Gede Ental Sewu dari gunung Sindara.” serunya sedikit tertahan.

“He!” Empu Wisanata yang berjongkok di sebelahnya pun ikut terkejut, “Benarkah kita berhadapan dengan Ki Gede Ental Sewu?”

Sementara Nyi Dwani yang masih muda dan tidak banyak mengenal tokoh tua telah ikut mengawasi Ki Gede dari balik dinding, katanya kemudian, “Siapakah yang ayah maksudkan? Aku tidak mengenalnya.”

“Engkau memang tidak mengenalnya,” jawab ayahnya, “Ki Gede jarang sekali turun gunung. Entah apa yang membuatnya tertarik untuk mendatangi Tanah Perdikan Menoreh ini.”

Dalam pada itu Ki Gede Ental Sewu yang telah selesai memusatkan nalar budinya segera mengurai kedua tangannya yang menyilang di depan dadanya. Sejenak kemudian dengan mata yang menyala, Ki Gede pun telah mengangkat tangan kanannya ke atas. Seleret cahaya kebiru-biruan melesat menghantam dinding padukuhan sebelah kanan regol.

Benturan ilmu Ki Gede dengan dinding itu telah menimbulkan ledakkan yang dahsyat dan suara menggelegar memekakkan telinga. Beberapa pengawal yang bersembunyi di balik dinding di atas panggungan itu telah terlempar berhamburan jatuh ke tanah saling tindih. Untunglah mereka tidak mengalami cidera yang berarti, hanya sedikit benturan dengan tanah dan lecet-lecet saja.

Ki Jayaraga mengerutkan keningnya dalam-dalam. Serba sedikit guru Tumenggung Prabandaru ini sudah mengenal Ki Gede Ental Sewu ketika dia masih bergelut dengan dunianya, dunia hitam. Seseorang yang tidak dapat dikatakan putih, namun juga tidak berwarna hitam, justru karena Ki Gede Ental Sewu lebih senang dengan warnanya sendiri dan tidak berpihak kepada siapapun kecuali yang memberikan keuntungan kepadanya.

Ketika sekali lagi Ki Gede Ental Sewu bermaksud melontarkan ajinya untuk menggempur dinding padukuhan induk yang sudah mulai jebol bagian atasnya, Ki Jayaraga telah mengambil keputusan untuk menghentikannya.

Demikianlah ketika sekali lagi tangan kanan Ki Gede Ental Sewu terangkat ke atas, sebelum Ki Gede sempat melontarkan ajinya yang nggegirisi itu, entah dari mana datangnya tiba-tiba hanya berjarak selangkah di depan Ki Gede, tanah yang ada di depan Ki Gede telah meledak disertai dengan semburan api yang menjilat. Benar-benar semburan api yang keluar dari dalam tanah dan jilatan lidah apinya sempat menyambar kain panjang Ki Gede Ental Sewu.

“Gila!” umpat Ki Gede terkejut sambil meloncat ke belakang. Semburan api dan percikan tanah yang membara itu ternyata telah menghanguskan ujung kain panjangnya.

Sejenak Ki Gede masih mengatur gejolak dalam dadanya mendapat serangan yang tiba-tiba itu, walaupun sebenarnya Ki Jayaraga tidak bermaksud menyerang langsung ke arah Ki Gede dan hanya mengarahkan serangannya itu selangkah di depan Ki Gede, namun semburan api itu ternyata telah mengejutkannya.

“Hanya ada satu orang di dunia ini yang mampu meledakkan tanah dan menyemburkan api!” teriak Ki Gede sambil memandang ke tempat Ki Jayaraga bersembunyi, “Aku tidak akan pernah lupa dengan Pradapa yang kemudian menyebut dirinya Jayaraga, guru Tumenggung Prabandaru dan para Bajak laut itu,” dia berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Mengapa engkau tersesat di tempat ini, he! Ataukah engkau telah menjadi seorang pengembara yang putus asa dan menjelajah ke seluruh sudut bumi ini hanya untuk sekedar mengobati rasa kecewamu atas kematian semua muridmu?”

Berdesir dada Ki Jayaraga ketika murid muridnya disebut. Bagaimana pun juga, di sudut hatinya yang paling dalam rasa penyesalan itu masih tetap ada. Penyesalan tentang nasib murid muridnya yang telah terbunuh dan sama sekali tidak pernah memberikan kebanggaan dan mengangkat nama baik perguruan.

“Engkau benar Ki Gede,” tiba-tiba Ki Jayaraga menyahut sambil berdiri dari tempatnya berlindung, “Aku merindukan kembali masa-masa mudaku ketika aku masih bernama Pradapa. Menjelajahi pulau ini dari ujung sampai ke ujung yang lainnya. Bertemu dengan banyak orang yang salah satunya adalah seseorang yang menyebut dirinya Respati Mintuna.”

“Tutup mulutmu yang kotor itu, Pradapa!” bentak Ki Gede Ental Sewu, “Kalau engkau bermaksud mengungkit masa lalu itu, berarti akan ada perang tanding kedua untuk menuntaskan dendam diantara kita.”

“Dendam itu sebenarnya tidak ada, Kakang Respati. Engkau hanya mengada-ada. Aku tidak pernah mendendam kepada siapapun, bahkan kepada mereka yang telah membunuh murid muridku karena mereka telah mati dalam sebuah perang tanding yang adil.”

“Jangan panggil aku Kakang!” kembali Ki Gede Ental Sewu membentak, “Aku tidak pernah mempunyai sangkut paut atau pun hubungan keluarga dengan orang yang bernama Pradapa yang kemudian bersembunyi di balik nama Jayaraga, dan entah nama apalagi yang akan engkau pakai setelah ini.”

“Tidak, Kakang Respati!” tak kalah kerasnya Ki Jayaraga yang biasanya tenang itu telah berteriak, “Aku memanggilmu Kakang justru karena aku ingin menghormatimu sesuai dengan permintaan Niken Larasati.”

Tiba-tiba tubuh Ki Gede Ental Sewu gemetar begitu mendengar nama Niken Larasati disebut oleh Ki Jayaraga. Sejenak wajahnya berubah merah membara dan sepasang matanya menyiratkan dendam kesumat yang tiada taranya.

Namun belum sempat Ki Gede membalas kata-kata Ki Jayaraga, mereka telah dikejutkan oleh suara benturan yang menggelegar di sebelah kiri regol. Ternyata Bango Lamatan bersama dengan Ki Ajar Wiyat dan Kiai Sasadara telah mulai menggabungkan kekuatan mereka untuk menggempur dinding padukuhan sebelah kiri regol.

Empu Wisanata yang masih berjongkok di atas panggungan di sebelah Ki Jayaraga segera bangkit berdiri. Sejenak dilayangkan pandangan matanya ke arah dinding sebelah kiri regol. Ternyata dinding itu telah jebol hampir sepertiganya. Tampak Bango Lamatan yang menyandang perisai di tangan kirinya, sedang tangan kanannya sudah siap kembali melontarkan ajinya untuk menggempur dinding sebelah kiri regol. Demikian juga Ki Ajar Wiyat dan Kiai Sasadara telah bersiap siap membantu Bango Lamatan.

Tanpa berpikir panjang, Empu Wisanata segera menarik sebuah anak panah dari endongnya. Namun sebelum menempatkan anak panah itu pada busurnya, dia terlebih dahulu telah mematahkan ujung anak panah yang runcing itu.

Sejenak kemudian sebuah anak panah yang tumpul ujungnya telah meluncur menghantam perisai Bango Lamatan dari samping kiri. Akibatnya sangat luar biasa, Bango Lamatan yang sedang memusatkan nalar budinya untuk kembali menggempur dinding sebelah kiri regol telah terguncang ketika panah Empu Wisanata menghantam perisainya.

Hantaman itu bagaikan berbongkah-bongkah batu padas yang berguguran dari atas bukit, sehingga sejenak Bango Lamatan telah kehilangan keseimbangan. Kalau saja Ki Ajar Wiyat tidak menahan tubuhnya, tentu Bango Lamatan sudah jatuh terjengkang kebelakang.

“Gila!” teriak Bango Lamatan sambil memperbaiki kedudukannya. Kemudian perintahnya pun keluar dengan teriakan yang menggelegar, “Bakar pintu gerbang sekarang juga!”

Perintah itu tidak perlu diulangi, segera saja para pengikut Panembahan Cahya Warastra yang membawa panah berapi telah melontarkan panah-panah berapi ke pintu gerbang. Sebagian lagi bahkan telah melontarkan bumbung-bumbung bambu yang berisi minyak jarak ke arah pintu gerbang sehingga ketika bumbung-bumbung itu berbenturan dengan pintu gerbang yang cukup tebal itu, minyaknya telah tumpah berhamburan melumuri sebagian daun pintunya.

Para pengawal Tanah Perdikan Menoreh tidak tinggal diam, dari atas panggungan sambil berlindung mereka menghujani pasukan lawan yang mencoba maju dengan senjata jarak jauh yang telah mereka persiapkan. Hujan panah dan lembing serta batu-batu memang sempat menghambat gerak maju pasukan Panembahan Cahya Warastra, namun ketika sebagian pintu gerbang yang berlumuran minyak jarak itu terkena panah berapi, gerbang yang kokoh itu pun sedikit demi sedikit mulai terbakar.

Kepanikan pun segera terjadi di sekitar regol. Beberapa pengawal mencoba mencari air dari perigi terdekat untuk memadamkan api yang mulai membesar. Namun karena tidak ada persiapan yang memadai untuk mengatasi kebakaran, api pun semakin membesar dan kini seluruh pintu gerbang telah ditelan oleh api yang berkobar kobar.

Kesempatan itu ternyata tidak di sia-siakan oleh Bango Lamatan. Dengan sebuah isyarat, bersama dengan Ki Ajar Wiyat dan Kiai Sasadara, sekali lagi dinding yang terbuat dari susunan batu-batu kali itu telah meledak dan batu batunya pun jatuh berguguran sehingga telah terbuka sebuah lubang yang cukup lebar.

“Maju..!” teriak Bango Lamatan memberikan semangat pasukannya untuk masuk menerobos melalui dinding sebelah kiri regol yang telah berlubang cukup lebar.

Kembali para pengawal Tanah Perdikan Menoreh memberikan perlawanan melalui lontaran anak panah dan lembing serta batu-batu sebesar kepalan tangan orang dewasa. Namun pasukan di bawah pimpinan Bango Lamatan itu agaknya telah mempersiapkan diri sebaik mungkin. Mereka yang menerobos di garis depan telah dibekali dengan perisai yang kuat, sementara beberapa kawannya yang tidak berperisai telah ikut berlindung di bawahnya sambil membalas serangan para pengawal Menoreh dengan melontarkan anak panah yang mereka bawa.

Korban segera berjatuhan di kedua belah pihak. Walaupun perisai yang melindungi pasukan pimpinan Bango Lamatan itu cukup rapat, namun sesekali tetap ada anak panah atau lembing yang mampu menerobos di sela selanya sehingga korban pun tidak dapat dielakkan lagi. Sedangkan di pihak Menoreh, mereka menjadi sasaran yang empuk jika mereka kurang sempurna dalam berlindung. Lawannya akan dengan mudah membidik dari balik perisai justru pada saat para pengawal itu muncul di atas dinding untuk melontarkan anak panah maupun melemparkan lembing. Kesempatan itu dijadikan saat yang tepat bagi para pengikut Panembahan Cahya Warastra untuk berbalik menyerang.

Pertempuran jarak jauh di sebelah kiri regol itu semakin seru ketika pasukan di bawah pimpinan Bango Lamatan semakin mendekati dinding. Kini batu-batu besar pun ikut di jatuhkan dari atas dinding dan ternyata telah memakan korban yang cukup banyak. Pasukan Bango Lamatan itu kini telah menempatkan perisai mereka di atas kepala sambil merunduk mendekati dinding yang telah berlubang. Mereka tidak menyangka kalau pasukan Menoreh akan menjatuhkan batu-batu besar tepat di atas perisai-perisai itu sehingga telah membuat beberapa orang jatuh terjungkal, pada saat itulah beberapa anak panah telah menyambar dada mereka.

Bango Lamatan melihat kesulitan pasukannya, maka teriaknya kemudian, “Pasukan yang membawa panah, serang mereka yang di atas dinding! Jangan beri kesempatan mereka keluar dan menyerang kita!”

Aba-aba itu telah menguatkan semangat mereka untuk menggunakan anak panah mereka habis habisan. Karena sebelumnya mereka mendapat perintah untuk menghemat anak panah karena persediaan memang sangat terbatas.

Sejenak kemudian, beratus ratus anak panah telah berterbangan menyambar-nyambar ke atas dinding sehingga membuat para pengawal yang berjaga di atas panggungan tidak berani menampakkan diri apalagi membalas serangan. Kesempatan ini segera di gunakan oleh Bango Lamatan untuk membawa maju pasukannya.

Dalam pada itu, Ki Jayaraga yang menyaksikan pertempuran jarak jauh yang telah berkobar di regol sebelah kiri telah memerintahkan Empu Wisanata dan Nyi Dwani untuk turun dari panggungan dan membantu perlawanan yang berada di regol sebelah kiri.

Empu Wisanata dan Nyi Dwani tidak menunggu perintah untuk kedua kalinya. Bagaikan dua ekor garuda yang sedang menyambar mangsanya, ayah dan anak itu segera meluncur turun dari panggungan menuju ke sebelah kiri gerbang padukuhan induk. Keadaan dinding sebelah kiri gerbang itu benar-benar telah rusak. Dinding batu yang terkena lontaran ilmu Bango Lamatan dan kawan-kawannya ternyata telah jebol dan membentuk sebuah lubang yang memungkinkan pasukan Bango Lamatan untuk menerobos maju.

Para pengawal Tanah Perdikan Menoreh pun segera menyambut pasukan Bango Lamatan itu dengan hujan anak panah, lembing dan tombak-tombak panjang yang terbuat dari bambu. Korban di pihak lawan pun mulai berjatuhan, namun dengan semangat membara, pasukan yang dipimpin Bango Lamatan itu sedikit demi sedikit telah memasuki padukuhan induk lewat celah dinding yang telah jebol.

Sebelum pasukan lawan itu telah benar-benar memasuki padukuhan induk, para pengawal yang bertahan di atas panggungan sepanjang dinding sebelah kiri telah berloncatan turun dan bergabung dengan kawan-kawan mereka yang bertahan beberapa puluh langkah di belakang dinding padukuhan induk.

Seorang pengawal yang bermata sipit tiba-tiba saja telah berbalik akan memanjat ke panggungan lagi.

“He!” teriak kawannya, “Mau kemana?”

Sejenak pengawal yang bermata sipit itu ragu-ragu, namun katanya kemudian, “Bekalku tertinggal di atas panggungan.”

“Ah,” kawannya segera menariknya untuk bergabung dengan para pengawal yang telah menempatkan diri, “Apa engkau sudah gila? Mungkin engkau masih akan menemukan bekalmu di sana, tapi sebagai gantinya justru kepalamu yang akan tertinggal di atas panggungan sana.”

Pengawal bermata sipit itu tidak menjawab. Dengan tergesa-gesa dia pun kemudian berlari mengikuti kawannya menuju ke tempat para pengawal mempertahankan diri.

“Mundur ke pertahanan ke dua!” Empu Wisanata yang melihat kesulitan para pengawal menahan arus pasukan Panembahan Cahya Warastra yang dipimpin oleh Bango Lamatan telah menjatuhkan perintah.

Dengan cekatan para pengawal Menoreh segera membentuk pertahanan kedua. Mereka telah menempatkan brunjung-brunjung bambu yang berisi batu-batu kali dan di susun berjajar memanjang sekitar dua puluh langkah di belakang dinding padukuhan sebagai tempat berlindung dari serangan anak panah atau lemparan tombak dan lembing dari lawan. Dari tempat perlindungan itu, para pengawal kembali menghujani pasukan lawan dengan anak panah dan senjata lontar lainnya.

Namun, pasukan lawan benar-benar telah menyiapkan diri untuk menghadapi serangan jarak jauh dari para pengawal Menoreh. Sekali lagi orang-orang yang membawa perisai-perisai yang lebar dan kuat telah berada di barisan paling depan. Sementara yang lainnya telah membalas serangan jarak jauh para pengawal Menoreh dengan senjata yang sama, anak panah, lembing dan tombak-tombak yang dilemparkan dengan sekuat tenaga.

Empu Wisanata dan Nyi Dwani yang bahu membahu bersama para pengawal menahan arus serangan pasukan lawan mulai menyadari keadaan yang tidak menguntungkan. Lambat laun pertahanan mereka akan jebol dan pertempuran yang sebenarnya tidak akan dapat dihindarkan lagi.

“Hubungi Ki Jayaraga,” berkata Empu Wisanata kepada seorang penghubung yang berjongkok di sebelahnya di balik brunjung-brunjung bambu, “Katakan kepada Ki Jayaraga, kapan kita mulai membuka gelar.”

Penghubung itu segera bergerak. Dengan terbungkuk-bungkuk, penghubung itu pun kemudian menyelinap di antara riuhnya pertempuran jarak jauh yang sedang berkecamuk di sebelah kiri pintu gerbang.

Baru saja penghubung itu pergi, tiba-tiba terdengar sorak-sorai dari arah pasukan lawan yang berada di depan pintu gerbang. Ternyata pasukan lawan berusaha untuk menjebol pintu gerbang yang sudah terbakar hampir seluruhnya itu. Dengan berlindung pada perisai-perisai lebar yang dipegang oleh beberapa murid Panembahan Cahya Warastra, beberapa orang yang berbadan tegap dan kekar telah memanggul potongan pohon kelapa yang cukup besar dan panjang. Dengan berteriak dan bersorak, batang pohon kelapa itu dicoba untuk dibenturkan ke arah pintu gerbang yang mulai rapuh karena api telah membakar hampir seluruhnya.

Mereka tidak memperdulikan lagi hujan anak panah, lembing dan batu-batu sebesar kepalan tangan orang dewasa. Mereka percaya penuh kepada kawan-kawan mereka yang melindungi mereka dengan perisai-perisai lebar. Memang masih ada satu dua anak panah, bahkan beberapa lembing yang mampu menyusup diantara rapatnya perisai-perisai itu, namun akibatnya sudah tidak begitu terasa bagi pasukan Panembahan Cahya Warastra.

Pintu gerbang itu memang telah rapuh. Ketika sekali lagi hentakan yang kuat menderanya, dengan menimbulkan suara yang berderak derak, pintu gerbang padukuhan induk yang kokoh itu pun akhirnya roboh.

Bagaikan air bah yang sedang melanda, pasukan Panembahan Cahya Warastra yang berada di depan pintu gerbang segera bergerak memasuki gerbang yang telah roboh. Gerakan pasukan itu memang tidak lancar karena mereka harus berjalan sambil menghindari potongan-potongan kayu yang masih menyala serta kepingan-kepingan bara dari sisa-sisa daun pintu yang telah hangus terbakar. Sedangkan dari atas, beratus ratus anak panah dan lembing serta bebatuan berterbangan siap untuk mencabut nyawa.

Gerakan pasukan lawan itu memang sangat lambat, namun mereka yang membawa perisai segera berdiri di paling depan untuk melindungi gerak maju pasukan. Beberapa orang yang membawa peralatan untuk menyerang jarak jauh segera membalas serangan dari arah panggungan di kanan kiri gerbang yang telah roboh itu untuk mengurangi tekanan. Dan ternyata usaha itu sedikit demi sedikit membawa hasil, pasukan Panembahan Cahya Warastra yang berada di depan pintu gerbang telah mulai memasuki padukuhan induk, mengikuti pasukan sebelumnya yang dipimpin Bango Lamatan.

Ketika kemudian Ki Jayaraga yang masih di atas panggungan itu tanpa disadarinya telah berpaling ke tempat Ki Gede Ental Sewu berdiri, alangkah terkejutnya guru Glagah Putih itu. Ternyata Ki Gede telah mundur dan hilang di dalam pasukannya.

“Gila,” geram Ki Jayaraga, “Kemana perginya setan tua itu.”

Memang pasukan lawan yang ada di depan Ki Jayaraga belum bergerak sama sekali. Mereka agaknya sedang menunggu pasukan Bango Lamatan yang berusaha menerobos dinding sebelah kiri pintu gerbang serta pasukan yang berada di tengah yang sedang berusaha menjebol pintu gerbang yang sedang terbakar.

Ki Jayaraga tanggap dengan keadaan yang kurang menguntungkan bagi para pengawal Menoreh. Dengan cepat Ki Jayaraga segera meluncur turun dari panggungan untuk mengendalikan para pengawal yang bertahan di belakang pintu gerbang.

“Mundur ke pertahanan kedua!” teriak Ki Jayaraga ditengah tengah hiruk pikuk pasukan lawan yang menyerbu lewat pintu gerbang.

Ketika kemudian penghubung dari Empu Wisanata itu telah sampai di hadapan Ki Jayaraga, tahulah Ki Jayaraga bahwa keadaan para pengawal di sebelah kiri pintu gerbang pun sedang mengalami tekanan yang luar biasa. Maka katanya kemudian kepada penghubung yang masih berdiri termangu mangu di sebelahnya, “Sampaikan kepada setiap pemimpin kelompok untuk segera memasang gelar gedong minep!”

Penghubung itu mengangguk. Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya, sejenak kemudian penghubung itu pun telah hilang diantara riuhnya pertempuran yang mulai berkobar di depan pintu gerbang.

Perlahan-lahan para pengawal Menoreh itu pun kemudian mulai menarik diri dari tempat mereka semula. Mereka yang semula bertahan di atas panggungan telah berloncatan turun dan mulai menyusun pertahanan dengan gelar gedong minep. Mereka akan membiarkan pasukan lawan untuk masuk ke padukuhan induk. Namun justru pada saat lawan lengah dan merasa telah berhasil memasuki padukuhan induk, mereka akan di cerai beraikan terlebih dahulu untuk mengurangi tekanan lawan sebelum kemudian dihancurkan.

Dalam pada itu, pasukan Panembahan Cahya Warastra yang berada di sisi kanan pintu gerbang padukuhan ternyata telah bergabung dengan pasukan yang ada di depan pintu gerbang dan berusaha untuk ikut masuk ke dalam padukuhan. Sedangkan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh dengan sigap telah membentuk gelar gedong minep. Para pengawal telah menyebar dan mengurung pasukan Panembahan Cahya Warastra yang mulai memasuki padukuhan induk.

Ketika kemudian pasukan Panembahan Cahya Warastra telah memasuki padukuhan induk semakin jauh ke dalam, pertempuran pun sudah tidak dapat dielakkan lagi. Suara gemuruh teriakan, sumpah serapah, bahkan jerit kesakitan terdengar di seluruh medan pertempuran. Kilatan pedang di bawah terik sinar Matahari dan dentangan senjata-senjata yang beradu benar-benar mendebarkan jantung. Korban di kedua belah pihak pun sudah mulai berjatuhan.

Ki Jayaraga benar-benar harus mengendalikan pasukannya agar dalam benturan pertama tidak terlalu banyak korban yang jatuh di pihak Menoreh. Jumlah lawan memang tidak terpaut terlampau banyak dengan para pengawal Menoreh yang bertahan di padukuhan induk, namun rasa rasanya Ki Jayaraga merasakan sebuah isyarat yang aneh ketika melihat pasukan lawan yang berduyun-duyun menyerbu ke padukuhan induk.

“Sebenarnya jumlah mereka tidak terpaut banyak dengan pasukan Menoreh,” berkata Ki Jayaraga dalam hati, “Tidak mungkin pasukan Panembahan Cahya Warastra yang di kumpulkan dari perguruan-perguruan itu hanya sebanyak ini. Mungkin mereka masih menyimpan tenaga yang masih segar sebagai pasukan cadangan.”

Berpikir sampai disitu, Ki Jayaraga segera melambaikan tangannya ke arah seorang pengawal penghubung yang lain yang berada di barisan belakang.

Dengan berlari-lari kecil pengawal penghubung itu segera menghadap Ki Jayaraga.

“Kembalilah ke kediaman Ki Gede. Sampaikan bahwa pasukan cadangan agar segera digerakkan menuju ke medan pertempuran,” perintah Ki Jayaraga kepada pengawal penghubung itu.

Sejenak pengawal penghubung itu ragu-ragu. Akhirnya dengan memberanikan diri dia bertanya, “Apakah menurut perhitungan Ki Jayaraga pasukan pengawal Menoreh sudah memerlukan bantuan?”

Ki Jayaraga mengerutkan keningnya. Jawabnya kemudian, “Aku tidak mengatakan pasukan kita dalam tekanan yang berat. Aku hanya mengatakan bahwa sudah waktunya pasukan cadangan yang ada di kediaman Ki Gede untuk digeser ke medan pertempuran. Soal mereka nanti akan ikut terjun dalam pertempuran atau tidak, akan kita lihat perkembangannya nanti.”

Pengawal penghubung itu menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk anggukkan kepalanya. Kemudian tanpa bertanya lagi dia segera berlari ke salah satu rumah yang ada di belakang garis pertempuran untuk mengambil kuda.

Ki Jayaraga masih melihat pengawal penghubung itu berlari menuju ke salah satu rumah yang ada di belakang garis pertempuran. Namun sejenak kemudian Ki Jayaraga pun telah melibatkan diri dalam hiruk pikuknya pertempuran.

Sambil menghindari serangan yang datang dari para pengikut Panembahan Cahya Warastra yang berada di kanan kirinya, Ki Jayaraga semakin masuk dalam kancah pertempuran. Agaknya Ki Jayaraga sedang mencari seseorang yang akan sangat berbahaya bagi para pengawal Menoreh jika sepak terjangnya tidak dihentikan, Ki Gede Ental Sewu.

Dalam pada itu, pengawal penghubung yang ditugaskan untuk menghubungi pasukan cadangan yang ada di kediaman Ki Gede telah memacu kudanya bagaikan terbang. Sebagaimana yang telah dipesankan oleh Ki Jayaraga, pengawal penghubung itu harus segera menghadap Ki Gede untuk meminta bantuan pasukan cadangan.

Kuda yang ditungganginya benar-benar berpacu seperti dikejar setan. Melewati jalan berbatu batu di jalan-jalan padukuhan induk yang telah sepi karena ditinggal penghuninya mengungsi ke padukuhan-padukuhan yang lebih aman.

Ketika kemudian regol kediaman Ki Gede Menoreh sudah terlihat, pengawal penghubung itu pun segera memperlambat laju kudanya. Dengan sebuah isyarat yang telah disepakati berupa lambaian tangan tiga kali berturut turut, pengawal penghubung itu berusaha untuk menarik perhatian para penjaga regol kediaman Ki Gede Menoreh.

Ternyata para pengawal yang sedang bertugas menjaga regol itu telah melihat kedatangannya sehingga mereka segera menyibak untuk memberi jalan. Dengan tanpa turun dari kudanya, pengawal penghubung itu segera menghela kudanya memasuki halaman rumah Ki Gede Menoreh.

Ki Gede Menoreh dan Kiai Sabda Dadi yang sedang duduk-duduk di pendapa itu terkejut ketika melihat seekor kuda yang melaju cukup kencang melewati regol untuk kemudian melintasi halaman menuju ke pendapa.

Dengan segera kedua orang tua yang sudah kenyang makan asam garamnya kehidupan itu berdiri. Ketika penunggang kuda itu telah menghentikan kudanya tepat di bawah tangga pendapa dan meloncat turun, barulah Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Penunggang kuda itu sudah sangat dikenal oleh Ki Gede.

Dengan tergesa-gesa pengawal penghubung itu segera menaiki tlundak pendapa menuju ke tempat Ki Gede dan Kiai Sabda Dadi berdiri menunggu.

“Maaf Ki Gede,” berkata pengawal penghubung itu sesampainya di depan Ki Gede sambil mengangguk hormat, “Pertempuran di padukuhan induk telah pecah. Pesan Ki Jayaraga, mohon Ki Gede berkenan melepas pasukan cadangan untuk membantu pasukan yang sedang bertempur di padukuhan induk.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Kalau Ki Jayaraga sampai meminta bantuan pasukan cadangan, berarti keadaan sudah berkembang sedemikian gawatnya. Maka katanya kemudian kepada pengawal penghubung itu, “Apakah para pengawal yang bertahan di padukuhan induk mengalami tekanan yang terlalu berat?”

Pengawal penghubung itu menggeleng, “Tidak Ki Gede. Ki Jayaraga hanya berpesan untuk memohon pasukan cadangan digerakkan menuju ke medan.”

Ki Gede dan Kiai Sabda Dadi saling berpandangan sejenak. Kalau pasukan Menoreh tidak mengalami tekanan yang berarti, untuk apa pasukan cadangan harus digerakkan ke medan pertempuran. Namun akhirnya Ki Gede menyadari, tentu Ki Jayaraga sudah memperhitungkan untuk apa pasukan cadangan digerakkan ke Medan, padahal pasukan cadangan itu juga diperlukan jika ternyata lawan telah membuat perhitungan yang lain dan menyerbu ke kediaman Ki Gede dari arah yang lain.

“Baiklah,” akhirnya Ki Gede memutuskan, “Aku akan memimpin sendiri pasukan cadangan ini. Aku harap Kiai Sabda Dadi berkenan untuk tinggal dan menjaga keamanan di rumah ini bersama sebagian pengawal.”

Kiai Sabda Dadi menarik nafas dalam-dalam sambil memandang Ki Gede sekilas. Jawabnya kemudian, “Sebenarnya aku ingin ikut bergabung dengan pasukan cadangan, namun keamanan rumah ini memang perlu dipertimbangkan.”

“Ya Kiai,” jawab Ki Gede, “Tidak semua pasukan cadangan dikerahkan untuk turun ke medan, mungkin sepertiganya tetap tinggal untuk membantu Kiai Sabda Dadi menjaga rumah ini.”

“Itu tidak perlu,” tiba-tiba terdengar suara dari arah samping rumah induk, “Ki Sanak berdua dapat pergi ke medan pertempuran, biarlah aku dan cucuku ini yang menjaga keamanan rumah ini.”

Mereka yang ada di pendapa itu terkejut. Serentak mereka berpaling ke arah suara itu berasal. Sejenak kemudian dari samping rumah induk Ki Gede muncul dua orang yang sangat aneh. Seorang yang berperawakan tinggi besar dan hampir sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu panjang berwarna putih dan seorang perempuan muda yang sangat cantik.

“Resi Mayangkara!” hampir bersamaan Ki Gede dan Kiai Sabda Dadi berseru.

Ki Gede dan Kiai Sabda Dadi memang belum pernah bertemu dengan Resi Mayangkara. Mereka hanya mendengar cerita itu dari mulut ke mulut. Namun pengalaman mereka berdua dalam mengenali para tokoh sakti serta kenyataan bahwa kehadiran Resi Mayangkara di tempat itu ternyata tidak mereka ketahui sebelumnya telah menunjukkan bahwa orang itu pasti seorang yang linuwih.

Mereka berdua itu memang Resi Mayangkara dan Anjani. Sebenarnya Resi Mayangkara sangat jarang menampakkan diri di muka umum apalagi di siang hari. Sudah menjadi kebiasaannya untuk menutup diri dan hanya berhubungan dengan orang-orang tertentu saja. Namun atas desakan Anjani, akhirnya dengan sangat terpaksa Resi Mayangkara menuruti keinginan Anjani untuk memperkenalkan diri kepada Ki Gede dan menyatakan ingin membantu menjaga keamanan rumah Ki Gede selama ditinggal menuju ke padukuhan induk.

Semua itu sebenarnya hanyalah alasan yang dicari cari saja oleh Anjani. Keinginan yang sebenarnya dari Anjani adalah untuk mengenal lebih dekat dengan Sekar Mirah, istri Ki Rangga Agung Sedayu.

“Eyang,” demikian Anjani merengek kepada Resi Mayangkara ketika diajak untuk segera meninggalkan tempat itu, “Aku ingin mengenal lebih dekat dengan Nyi Sekar Mirah, selagi dia belum mengetahui siapa aku sebenarnya dalam hubunganku dengan Ki Rangga Agung Sedayu. Aku ingin mengetahui lebih jauh atas tanggapannya seandainya seorang istri itu diduakan cintanya oleh suaminya. Aku ingin tahu tanggapan yang sebenarnya dari lubuk hatinya yang paling dalam.”

“Apakah itu memang perlu, Anjani?” dengan sareh orang tua itu mencoba meluluhkan hati Anjani.

“Ya, Eyang,” jawab Anjani cepat, “Aku ingin mengenal lebih dekat dengan keluarga Ki Rangga dengan segala macam persoalan rumah tangganya, sehingga aku akan dapat memutuskan dengan benar tentang masa depanku sesuai dengan pengamatanku terhadap keluarga Ki Rangga.”

Sejenak Resi Mayangkara merenung. Sepanjang hidupnya Resi Mayangkara memang tidak pernah bersinggungan dengan urusan perempuan. Maka katanya kemudian, “Anjani, aku tidak begitu mengetahui seluk beluk sebuah rumah tangga, namun menurut penalaranku, tidak ada seorang perempuan pun di dunia ini yang mau diduakan cintanya. Seharusnya sebagai sesama perempuan engkau sudah menyadari semua itu sejak awal.”

“Tapi bukankah Ki Rangga sendiri yang berjanji membawaku ke Menoreh setelah dia memenangkan perang tanding itu dan aku sebagai taruhannya?”

Kembali Resi Mayangkara termenung. Sebenarnyalah Resi Mayangkara yang mempunyai pandangan waskita itu dapat menebak bahwa Ki Rangga tidak bersungguh sungguh dalam menentukan taruhan pada saat perang tanding dengan guru Anjani. Ki Rangga hanya ingin mengolok-olok kedua Guru Anjani agar mereka menjadi marah dan kehilangan penalaran dalam perang tanding itu sehingga pengetrapan ilmunya akan tumpang suh dan kurang perhitungan. Namun ternyata yang terjadi adalah diluar dugaan Ki Rangga Agung Sedayu, justru Anjani bersedia menjadi taruhan dan sangat berharap Ki Rangga memenangkan perang tanding dan membawanya ke Menoreh.

bersambung ke bagian 2

2 Responses

  1. Matur nuwun mbah Man

  2. mantap mbah man…nyambung dengan karya sang legenda SH Mintardja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s