TADBM-407

<< kembali ke TADBM-406 | lanjut ke TADBM-408 >>

Bagian 1

TADBM-407

SEJENAK Ki Ajar Wiyat masih termangu mangu sambil menatap Ki Gede Menoreh yang tegak bediri tak tergoyahkan bagaikan sebuah bukit. Pemimpin perguruan dari Tumapel itu seakan-akan tidak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya. Tenaga lawannya tak ubahnya dengan tenaga seekor gajah walaupun Ki Gede terlihat sudah sangat tua dan lemah.

“Baiklah, perhitunganku mungkin sedikit keliru,” akhirnya Ki Ajar Wiyat berkata sambil mulai mempersiapkan serangan berikutnya, “Namun semua ini tidak akan menggoyahkan ilmuku, tidak ada sekuku ireng dari ilmu yang telah sempurna aku kuasai. Berdoalah Ki Gede, umurmu tidak akan lebih dari suwe mijet wohing ranti.”

Ki Gede Menoreh tidak menjawab. Dibiarkan saja lawannya itu membual sepuas hatinya. Dengan sedikit merendahkan lututnya, Ki Gede berusaha untuk tidak banyak bergerak dan bergeser agar cacat di kakinya tidak kambuh lagi. Dengan bertumpu pada permainan tombak pendeknya, Ki Gede yakin akan mampu mengimbangi permainan lawannya.

Ketika lawannya kemudian telah meloncat menyerang dengan disertai teriakan yang menggelegar, Ki Gede Menoreh pun sudah siap menyongsong dengan ujung tombak pendeknya.

Demikianlah akhirnya kedua orang yang sudah menapaki hari-hari tua itu ternyata masih mampu bertempur dengan dahsyatnya. Saling serang untuk mencari kelengahan lawan. Silih ungkih singa lena.

Dalam pada itu, Empu Wisanata yang sedang menyusup di antara riuhnya pertempuran di sisi kiri gerbang padukuhan induk telah dikejutkan oleh pertempuran yang tidak seimbang antara sekelompok pengawal Menoreh dengan seseorang yang memiliki kemampuan yang ngedab-edabi.

Orang yang sudah cukup umur itu seolah olah mempunyai mata tidak hanya sepasang dan mampu berada di beberapa tempat pada waktu yang bersamaan. Kecepatan geraknya sungguh sangat mengagumkan. Di suatu saat dia terlihat sedang menangkis sebuah tombak yang terjulur lurus mengarah lambung hanya dengan tangan kosong. Pada saat yang bersamaan pedang seorang pengawal yang menyambar kepalanya telah berhasil dirampasnya, sedangkan seorang pengawal yang lain yang berusaha menusuk punggungnya dari belakang tiba-tiba saja telah mengeluh tertahan dan terdorong ke belakang beberapa langkah karena perutnya bagaikan tertimpa sebongkah batu hitam dan menjadi mual karena terkena tumit lawannya.

Dengan demikian para pengawal Menoreh yang mengeroyoknya merasa heran dengan gerakan lawan yang tidak dapat diikuti oleh pandangan mata itu. Sepuluh orang pengawal ternyata tidak mampu menghentikan tandang orang yang sudah cukup umur itu. Beberapa kali di antara mereka dibuat jatuh bangun. Agaknya orang itu tidak begitu bernafsu untuk membunuh. Dia terlihat hanya bermain-main saja menghadapi sepuluh pengawal yang mengepungnya.

Melihat keadaan para pengawal yang kebingungan dalam menghadapi lawannya yang hanya seorang itu, Empu Wisanata pun tergerak hatinya untuk segera membantu. Dengan langkah satu-satu ayah Nyi Dwani yang masih terlihat kokoh dan tegap walaupun usianya sudah melewati setengah abad itu segera bergeser semakin dekat dengan lingkaran pertempuran.

Sebelum para pengawal menyadari kehadiran Empu Wisanata, tiba-tiba saja orang yang sudah cukup berumur itu telah meloncat mundur sambil tertawa. Katanya kemudian, “Cukup anak-anak. Kalian menyingkirlah. Agaknya ada seseorang yang merasa memiliki ilmu yang cukup mumpuni untuk bermain main sejenak denganku.”

Mendengar kata-kata lawannya itu, barulah para pengawal menyadari bahwa di tengah-tengah mereka telah hadir Empu Wisanata.

“Selamat datang Empu,” berkata pengawal yang tertua mewakili kawan kawannya, “Kami sudah cukup dibingungkan dengan lawan yang hanya seorang ini. Selanjutnya terserah kepada Empu. Sedangkan kami akan membantu kawan-kawan kami yang lain yang mungkin sedang dalam kesulitan.”

“Terima kasih,” sahut Empu Wisanata tanpa melepaskan kewaspadaannya terhadap calon lawannya yang begitu yakin akan kemampuannya, “Sekarang kalian dapat membantu kawan-kawan yang lain. Usahakan tetap mengadakan hubungan dengan Ki Jayaraga untuk menghadapi setiap perubahan yang mungkin terjadi secara tiba-tiba di medan pertempuran ini.”

“Baik Empu,” jawab pengawal tertua itu, “Kami mohon diri.”

Sebelum Empu Wisanata sempat menjawab, tiba-tiba saja terdengar tawa yang berderai derai dari lawannya. Katanya kemudian sambil bertolak pinggang, “He! Apakah kalian akan berunding dulu untuk menentukan langkah-langkah dalam menghadapi peperangan yang semakin kisruh ini? Aku masih cukup bersabar untuk menunggu kalian berunding, asal jangan sampai melewati waktu sampai Matahari tergelincir. Aku sudah berjanji kepada Panembahan Cahya Warastra untuk membuka jalan ke Menoreh tidak lebih dari waktu Matahari tepat di atas ubun-ubun kita.”

“Marilah Ki Sanak,” dengan cepat Empu Wisanata menyahut sambil memberi isyarat kepada para pengawal untuk menyingkir, “Aku Empu Wisanata memberanikan diri untuk menghadapi Ki Sanak walaupun aku menyadari sepenuhnya bahwa lawanku adalah seorang yang pilih tanding. Namun itu bukan berarti tidak mungkin terkalahkan. Setinggi apapun ilmu seseorang, pasti mempunyai kelemahan, dan bagian dari kelemahan Ki Sanak itulah yang akan aku pelajari sambil menanti saat yang tepat untuk mengalahkan ki Sanak.”

Sekarang orang yang cukup berumur itu benar-benar tertawa terbahak bahak sambil menggeleng gelengkan kepalanya. Katanya kemudian, “Ternyata Ki Sanak sangat berbakat untuk mendongeng. Aku senang sekali dengan orang yang mempunyai daya khayal yang tinggi, walaupun pada kenyataannya tidak akan mampu berbuat apa-apa dalam sebuah medan pertempuran yang sebenarnya. Namun setidaknya Ki Sanak sudah cukup puas dengan khayalan itu.”

“Aku tidak sedang mengkhayal Ki Sanak,” tukas Empu Wisanata, “Disadari atau pun tidak, selama kita masih berujud manusia pasti mempunyai kelemahan. Tidak ada seorang pun yang sempurna di muka bumi ini.”

“O..” seru lawannya sambil tersenyum dan mengangguk anggukkan kepalanya, “Pendapat Ki Sanak memang ada benarnya. Namun yang akan menjadi bagian tersulit untuk mewujudkan angan-angan Ki Sanak adalah bagaimana cara Ki Sanak untuk menemukan kelemahanku. Mungkin seharian penuh Ki Sanak berusaha mencari kelemahanku dan belum tentu berhasil, sementara itu tubuh Ki Sanak sudah terkapar tak bernyawa.”

“Belum tentu,” kembali Empu Wisanata menyanggah, “Demikian juga sebaliknya, jangan berharap terlalu mudah bagi Ki Sanak untuk menemukan kelemahanku. Aku pun akan berusaha sedapat mungkin untuk menutupi kelemahanku dan justru Ki sanak lah yang mungkin terlebih dahulu akan terkapar tak berdaya sebelum Matahari sampai puncaknya.”

“Omong kosong!” bentak orang itu dengan wajah yang merah padam. Agaknya usaha Empu Wisanata untuk memancing kemarahannya cukup berhasil, “Engkau akan mengalami penyesalan yang sangat sebelum ajal menjemputmu. Engkau akan menghadapi sebuah ilmu yang belum pernah engkau bayangkan sebelumnya. Bersiaplah, tataplah langit dan peluklah bumi untuk terakhir kali. Jangan harap engkau masih akan dapat melihat terbitnya matahari esok pagi.”

Bergetar juga dada Empu Wisanata mendengar sesumbar lawannya. Namun sebagai orang yang telah banyak makan asam garamnya kehidupan, Empu Wisanata dengan hati yang tatag telah siap menghadapi apapun kemungkinan yang akan terjadi.

“Nah,” berkata lawan Empu Wisanata kemudian dengan sebuah senyum mengejek menghiasi bibirnya, “Kalau tadi Ki Sanak sudah memperkenalkan diri sebagai Empu Wisanata, perkenalkan namaku Bango Lamatan, orang kedua setelah Panembahan Cahya Warastra. Aku harap Ki Sanak tidak menjadi pingsan atau menggigil ketakutan setelah menyadari dengan siapa Ki Sanak berhadapan. Lebih baik kalian semua menyerah dan bergabung bersama kami untuk mewujudkan suatu pemerintahan yang lebih adil dan sejahtera. Yang lebih mengedepankan pada kepentingan kawula alit serta menjunjung tinggi paugeran yang berlaku di atas semua golongan.”

Empu Wisanata mengerutkan keningnya mendengar kata-kata lawannya yang ternyata adalah Bango Lamatan. Keinginan dari Panembahan Cahya Warastra dan para pengikutnya untuk memperbaiki tata pemerintahan yang sudah ada serta mengedepankan kepentingan kawula alit adalah cita-cita yang mulia namun tidak harus dengan jalan pertumpahan darah.

“Ki Bango Lamatan,” akhirnya Empu Wisanata memberikan tanggapan, “Aku sangat setuju jika tata pemerintahan yang sekarang ini diperbaiki untuk menuju yang lebih baik serta kawula alit lebih diperhatikan lagi kesejahteraannya. Namun cara yang diambil Panembahan Cahya Warastra inilah yang aku tidak setuju. Perbedaan pendapat tidak harus disampaikan dengan cara kekerasan dan pertumpahan darah. Bukankah perang pada akhirnya hanya akan menyengsarakan kawula alit? Kehidupan mereka yang sudah berat, akan semakin berat dengan adanya peperangan yang silih berganti di atas tanah ini. Mereka tidak dapat dengan bebas menggarap sawah dan ladang mereka karena selalu dihantui dengan perasaan tidak aman, sementara beban pajak yang mereka pikul akan semakin berat setiap timbul sebuah peperangan. Karena setiap peperangan tentu memakan biaya yang tidak sedikit dan semua itu akan dibebankan kepada kawula alit melalui pajak yang semakin tinggi dan mencekik.”

“Mengapa Empu berpikiran sesempit itu?” bertanya Bango Lamatan, “Bukankah sebuah perjuangan itu pasti memerlukan pengorbanan? Lihatlah apa yang terjadi sejak Mataram berdiri. Pemberontakan demi pemberontakan silih berganti yang bersumber pada perebutan kekuasaan antara keluarga istana. Apapun yang menjadi alasan mereka untuk memberontak, namun yang jelas para bangsawan itu tidak dapat dijadikan contoh yang baik. Mereka seharusnya sudah sangat bersyukur dilahirkan di dalam kalangan istana yang bersumber pada trahing kusuma rembesing madu. Seharusnya mereka bersatu padu untuk menjadikan Mataram semakin besar, bukannya saling berebut untuk menduduki singgasana yang pada akhirnya hanya memberikan contoh yang memuakkan bagi para kawula Mataram. Untuk itulah Panembahan Cahya Warastra telah menghimpun perguruan-perguruan yang sealiran dengannya untuk memperbaiki tata pemerintahan yang sudah carut marut ini. Tidak ada lagi yang peduli dengan nasib negeri ini. Sekarang ini yang terjadi hanyalah bagaimana dapat memperjuangkan nasib golongan mereka sendiri dan hasilnya nanti juga untuk mereka nikmati sendiri.”

Sejenak Empu Wisanata menarik nafas dalam-dalam. Tanpa disadari, dipandanginya Bango Lamatan yang berdiri beberapa langkah di depannya. Katanya kemudian sambil mengangguk anggukkan kepalanya, “Aku menyadari apa yang telah dan sedang terjadi di dalam keluarga istana Mataram. Namun bagiku, memperbaiki tatanan pemerintahan yang sudah ada ini tidak perlu dengan perang. Itu sama saja dengan pemberontakan, dan pemberontakan itu apapun alasannya tidak akan pernah dibenarkan oleh paugeran yang berlaku di suatu Negara.”

“Persetan dengan segala macam paugeran,” umpat Bango Lamatan, “Semua paugeran itu dibuat hanya untuk menguntungkan para Bangsawan dan Penguasa, kita sebagai kawula biasa tidak akan pernah mendapatkan tempat di jajaran para bangsawan dan penguasa itu. Selebihnya mereka adalah orang-orang yang hanya mementingkan diri mereka sendiri dan golongannya. Memang keadaan negeri ini sudah sedemikian parahnya dan hanya dengan sebuah perjuangan dan pengorbanan seperti yang dilakukan oleh Panembahan Cahya Warastra inilah, masa depan tanah ini akan dapat diperbaiki.”

Empu Wisanata menggeleng lemah, “Walaupun kalian menyebutnya ini adalah sebuah perjuangan untuk membela kawula alit atau karena alasan yang lain, aku tetap tidak sejalan dengan pemikiran kalian. Bagiku, tata pemerintahan ini masih dapat dipertahankan dan dikembangkan ke arah yang lebih baik. Kawula alit sudah terlalu banyak menderita dan siapakah yang dapat menjamin bahwa seandainya Panembahan Cahya Warastra dapat menduduki tahta kemudian pemerintahannya akan lebih baik dari sekarang? Aku justru cenderung melihat ketamakan dan keserakahan lah yang akan muncul ke permukaan dari masing-masing perguruan yang merasa paling berjasa terhadap Panembahan Cahya Warastra.”

“Tutup mulut kotormu!” bentak Bango Lamatan menggelegar memenuhi udara medan pertempuran sehingga membuat orang-orang yang sedang bertempur di dekat itu terkejut dan merasakan telinga mereka sejenak menjadi sakit serta rongga dada yang terasa pepat.

Sementara Empu Wisanata yang berdiri paling dekat dengan Bango Lamatan dadanya bagaikan tertimpa berbongkah-bongkah batu padas yang berguguran dari lereng bukit. Namun ketahanan tubuh Empu Wisanata memang luar biasa serta dengan segera mengerahkan Aji Tameng Wajanya, perlahan tapi pasti pengaruh himpitan di dalam rongga dadanya itu pun menjadi reda.

“Luar biasa,” desis Empu Wisanata perlahan lahan sambil tersenyum, “Aji Gelap Ngampar Ki Bango Lamatan benar-benar hampir meremukkan rongga dadaku. Untunglah Yang Maha Agung masih melindungiku.”

“Alangkah sombongnya,” geram Bango Lamatan, “Jangan mengira bahwa aku sudah menunjukkan puncak ilmuku. Aku percaya bahwa Empu masih mampu memunahkan kekuatan ajiku dengan mudah. Tapi untuk selanjutnya aku tidak akan bermain main lagi. Aku sudah memberi kesempatan kepada kalian orang-orang Menoreh untuk bergabung dengan perjuangan kami. Kini kesempatan itu sudah tertutup. Kalian tinggal meratapi nasib buruk yang akan menimpa Tanah Perdikan ini.”

Empu Wisanata tidak menjawab. Dilihatnya lawannya itu sudah mulai menggeser kedudukannya dan siap untuk melontarkan serangan yang pertama.

Demikianlah ketika kaki kanan Bango Lamatan yang terjulur lurus itu melesat mengarah dada, Empu Wisanata tanpa membuang waktu segera menggeser tubuhnya miring ke kanan. Ketika serangan lawannya lewat sejengkal di depan dadanya, dengan kecepatan yang tinggi, tangan kanan Empu Wisanata pun meluncur menebas tengkuk lawannya.

Tentu saja Bango Lamatan tidak akan membiarkan tengkuknya menjadi sasaran lawan yang akan dapat berakibat sangat parah. Dengan sedikit merendahkan kepalanya dan tangan kiri di angkat sejajar kepalanya untuk melindungi dari kemungkinan adanya serangan susulan, Bango Lamatan mengubah arah serangannya dengan cara menarik kaki kanannya yang tidak mengenai sasaran itu sehingga seolah olah tubuhnya telah melambung ke kanan. Ketika Empu Wisanata masih terkejut dengan gerakan lawannya itu, tiba-tiba dengan menggunakan tangan kanannya Bango Lamatan memukul ulu hati lawannya.

Empu Wisanata terkejut mendapat serangan susulan yang tiba-tiba itu. Tidak ada kesempatan baginya untuk mengelak. Yang dapat dilakukannya hanyalah menggeser kedudukan tangan kirinya merapat tepat di depan ulu hati sambil mengetrapkan aji tameng waja separo dari kekuatan sebenarnya untuk sekedar menjajagi kekuatan lawan pada saat benturan pertama.

Benturan itu ternyata telah mengakibatkan Empu Wisanata terdorong surut beberapa langkah, sehingga akibat dari benturan itu telah membuat Empu Wisanata terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang sebelum akhirnya dengan cepat dia segera memperbaiki kedudukannya agar tidak sampai jatuh terjengkang.

Sedangkan Bango Lamatan merasakan pukulannya bagaikan membentur batu-batu padas di gerojokan. Sejenak pergelangan tangan kanannya rasa rasanya bagaikan lumpuh dan tidak bertenaga. Dia tidak menyangka sama sekali bahwa lawannya itu mempunyai benteng pertahanan yang sedemikian kuat walaupun dirinya pada saat membenturkan kekuatannya tadi juga belum mengerahkan tenaga sepenuhnya.

Sejenak Empu Wisanata yang terdorong surut beberapa langkah mencoba untuk menarik nafas sedalam dalamnya agar getar yang memenuhi rongga dadanya akibat benturan tadi segera mereda. Ketika pandangan matanya menangkap gerak lawannya yang telah mempersiapkan serangan berikutnya, Empu Wisanata pun kemudian semakin meningkatkan kekuatan Aji Tameng Wajanya.

Dalam pada itu di tepian Kali Praga, Ki Rangga Agung Sedayu tampak sedang berjalan mondar mandir di atas tepian yang berpasir dengan gelisah. Sesekali ditengadahkan wajahnya ke langit. Matahari sudah naik cukup tinggi dan selama itu belum ada tanda-tanda akan ada penyerbuan dari para pengikut Panembahan Cahya Warastra.

“Mungkin isyarat yang aku terima salah,” desisnya dalam hati, “Atau memang aku yang belum mampu untuk menguraikan isyarat yang aku terima itu sehingga yang muncul dalam hatiku hanyalah sebuah kegelisahan.”

Kembali Ki Rangga Agung Sedayu menengadahkan wajahnya ke langit yang biru bersih tanpa selembar awan pun yang menggantung. Ketika tanpa disadarinya dia berpaling ke arah Pandan Wangi yang duduk di atas sebuah batu hitam sambil menyelonjorkan kedua kakinya ke dalam air Kali Praga yang keruh, sekejap jantung suami Sekar Mirah itu bagaikan berhenti berdetak.

Alangkah cantiknya Pandan Wangi di usianya yang sudah tidak muda lagi itu dalam pandangan Ki Rangga Agung Sedayu. Sinar Matahari yang berkilauan di atas riak-riak air Kali Praga dan memantul ke seraut wajah cantik yang diam termangu, seolah olah Ki Rangga Agung Sedayu melihat sebuah golek kencana yang indah namun yang selalu terlunta-lunta dan disia-siakan oleh pemiliknya.

“Seharusnya Adi Swandaru bersyukur mempunyai istri yang cantik dan setia,” kembali angan-angan Ki Rangga Agung Sedayu mengembara, “Kademangan Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh sudah dalam genggaman kekuasaannya. Apa lagi yang kurang pada diri Adi Swandaru? Mengapa dia begitu tega mengkhianati istrinya?”

Lamunan Ki Rangga Agung Sedayu sejenak menjadi buyar ketika telinganya yang tajam mendengar desir langkah mendekatinya. Ketika dia berpaling ke belakang, tampak Pandan Wangi telah berdiri termangu mangu beberapa langkah saja di belakangnya.

Ketika Ki Rangga Agung Sedayu kemudian memutar tubuhnya menghadap penuh ke arah Pandan Wangi, tanpa sadar kedua pasang mata itu pun telah bertatapan disertai dengan degup jantung yang berdentangan seakan akan dapat merontokkan isi dada.

“Kakang,” tiba-tiba Pandan Wangi berdesis perlahan sambil melemparkan pandangan matanya ke titik-titik di kejauhan, “Sampai kapan kita akan menunggu di tepian ini? Aku sangat mengkhawatirkan keadaan Ayah di Menoreh. Kalau memang diijinkan, aku akan mendahului ke padukuhan induk lewat jalan memutar. Aku sudah mengenal dengan baik daerah ini sejak aku masih kanak-kanak, sehingga tidak akan ada kesulitan yang berarti untuk mencari jalan pulang tanpa harus melewati padukuhan di depan yang telah dikuasai oleh Panembahan Cahya Warastra.”

Sejenak Ki Rangga Agung Sedayu termenung. Pandan Wangi memang lahir dan dibesarkan di Menoreh. Kegemarannya pergi berburu semasa dia telah beranjak dewasa telah menambah wawasannya tentang tanah kelahirannya itu dari ujung ke ujung. Nyaris tidak ada satu tempat pun yang tidak pernah dikunjungi Pandan Wangi walaupun hanya sebatas lewat atau mengetahui letak suatu tempat dari tempat yang lain.

“Wangi,” akhirnya Ki Rangga menjawab dengan suara yang sareh, “Keadaan sekarang ini sangat gawat. Para pengikut Panembahan Cahya Warastra telah ada di depan mata kita. Namun tidak menutup kemungkinan mereka juga tersebar di tempat-tempat yang tidak kita ketahui. Kemungkinan terburuk dapat saja terjadi pada saat engkau mencari jalan pintas untuk menuju ke padukuhan induk.” Ki Rangga berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Aku tahu bagaimana perasaanmu tentang Ki Gede Menoreh yang sedang sakit. Namun untuk sementara ini, marilah kita serahkan keadaan Ki Gede kepada Yang Maha Agung. Semoga doa kita selalu didengar dan kita selalu dalam lindungan dan karuniaNYA.”

Pandan Wangi tampak menggigit bibirnya untuk menahan gejolak dalam dadanya setiap kali teringat akan Ayahnya. Tanpa sadar ditengadahkan wajahnya untuk menahan air mata yang hampir saja tumpah. Sejenak ditariknya nafas dalam-dalam untuk memenuhi rongga dadanya dengan udara tepian Kali Praga yang segar agar perasaan pepat yang ada di dalam dadanya sedikit longgar.

“Kakang,” berkata Pandan Wangi kemudian setelah getar dalam dadanya mereda, “Bukan maksudku untuk meninggalkan kewaspadaan dan mengabaikan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi, namun semua itu semata mata karena terdorong oleh kekhawatiran seorang anak terhadap orang tua satu satunya yang sedang sakit.”

Ki Rangga Agung Sedayu mengangguk anggukkan kepalanya. Kemudian sambil mengajak Pandan Wangi duduk di bawah sebatang pohon yang rindang tidak jauh dari tepian untuk menghindari sinar Matahari yang mulai terasa menyengat, Ki Rangga berkata perlahan, “Wangi, aku akan berterus terang kepadamu. Aku mohon engkau menilaiku dengan jujur.”

Pandan Wangi untuk beberapa saat terdiam. Dia tidak mengetahui kemana arah pembicaraan Ki Rangga Agung Sedayu. Tiba-tiba saja hatinya menjadi berdebar debar. Kenangannya kembali ke masa bertahun tahun silam ketika dia masih seorang gadis putri Kepala Tanah Perdikan Menoreh. Ketika terjadi pergolakan di tanah kelahirannya yang memaksa dirinya untuk berdiri berseberangan dengan kakaknya yang sangat dikasihinya, Sidanti.

Kenangan itu tidak akan mungkin terhapus dari ingatan Pandan Wangi. Bagaimana mungkin dia melupakan peristiwa yang telah mematahkan angan angannya, bahkan harapannya sebagai seorang gadis terhadap laki-laki yang telah menarik hatinya?

Masih tergambar jelas dalam benak Pandan Wangi, ketika dalam sebuah perjalanan berdua, Ki Rangga Agung Sedayu yang pada waktu itu menggunakan nama Gupita telah mengajaknya berhenti di sebuah bulak yang sepi kemudian mereka berdua menyusup masuk ke dalam sebuah pategalan untuk menghindar dari perhatian orang lain yang mungkin tanpa sengaja melewati bulak itu.

Sikap yang sama kini dilihatnya pada diri Ki Rangga Agung Sedayu di tepian Kali Praga. Hanya bedanya pada waktu itu harapan Pandan Wangi sebagai seorang gadis yang telah mengenal Gupita beberapa waktu sempat melambung tinggi. Pandan Wangi berharap Gupita mendengar jeritan hatinya yang selalu gelisah dirundung ketidak pastian. Dia benar-benar ingin mendengar dari mulut Gupita sendiri tentang kepastian hubungan mereka selama itu dalam hubungan antara seorang gadis dan laki-laki yang sama-sama telah dewasa.

Namun harapan itu ternyata telah hancur bagaikan sebuah belanga yang jatuh di tanah berbatu batu, hancur berkeping keping. Ternyata Gupita pada waktu itu sama sekali tidak menyinggung hubungan mereka berdua, tetapi Gupita justru telah menyediakan dirinya membantu adik seperguruannya untuk memadukan kedua hati yang sebelumnya tidak pernah bersentuhan sama sekali.

Tiba-tiba Ki Rangga Agung Sedayu yang duduk hanya beberapa jengkal di sebelahnya berpaling sekilas sambil berkata, “Wangi, akhir-akhir ini aku digelisahkan oleh suatu keadaan tentang diriku yang aku sendiri kurang memahami.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya dalam-dalam sambil berpaling ke arah Ki Rangga. Dipandanginya wajah Ki Rangga Agung Sedayu yang menunduk sambil jari jarinya mempermainkan rerumputan yang ada di depannya. Wajah itu masih tetap seperti dulu, wajah yang penuh keragu raguan dan pertimbangan yang terlalu panjang. Namun memang itulah Agung Sedayu yang telah dikenalnya dulu sampai sekarang.

Karena lama Pandan Wangi tidak menanggapi kata katanya, Ki Rangga pun kemudian berpaling ke arahnya. Sejenak kembali dua pasang mata itu bertemu. Entah gejolak apa yang sedang berkecamuk dalam rongga dada mereka masing-masing. Namun ternyata Ki Rangga Agung Sedayu lah yang segera membuang pandangannya jauh ke depan, ke arah bulak panjang yang menghubungkan tepian Kali Praga dengan padukuhan terdekat.

“Mengapa engkau diam saja, Wangi?” bertanya Ki Rangga sambil tetap memandang ke depan.

Pandan Wangi menarik nafas panjang sambil menggeleng, “Engkau ini dari dulu memang aneh Kakang. Engkau belum menceritakan apa yang telah membuatmu gelisah akan tetapi engkau telah meminta aku untuk menanggapinya. Bagaimana mungkin?”

“Ah,” Ki Rangga tertawa hambar begitu menyadari kesalahannya. Katanya kemudian dengan nada yang bersungguh sungguh, “Akhir-akhir ini aku sepertinya mendapat firasat atau getaran-getaran dari suatu persoalan yang sedang terjadi jika aku sedang mencoba merenunginya. Namun aku tidak mengerti bagaimana caranya untuk menguraikan isyarat atau pun getaran-getaran yang aku terima melalui mata hatiku itu.” Ki Rangga berhenti sejenak, lalu, “Aku jadi teringat dengan Ki Waskita. Ki Waskita adalah salah satu dari sekian banyak orang yang dikaruniai kemampuan untuk membaca masa depan walaupun hanya berupa isyarat yang masih harus diuraikan kembali. Kadangkala uraian itu mendekati kebenaran atau bahkan salah sama sekali, itu tergantung dari ketajaman batin seseorang. Apakah pengaruh kemampuan Ki Waskita itu sekarang telah mulai menular kepada diriku? Bagaimana pun juga, Ki Waskita adalah guruku yang kedua setelah Kiai Gringsing walaupun aku tidak menerima tuntunan ilmu langsung darinya. Aku hanya diijinkan untuk membaca kitabnya dan berusaha memahatkan apa yang tertera dalam kitab itu di dinding hatiku untuk aku ingat. Sehingga suatu saat ingatan itu dapat aku ungkap kembali untuk kemudian aku pelajari.”

Pandan Wangi tertegun sejenak. Serba sedikit dia memang sudah tahu hubungan antara Ki Waskita dengan Ki Rangga Agung Sedayu. Namun sejauh itu Pandan Wangi tidak pernah menyangka kalau Ki Waskita itu dapat dikatakan sebagai guru kedua dari Ki Rangga Agung Sedayu setelah Kiai Gringsing walaupun menurut pengakuan Ki Rangga, dia hanya diijinkan untuk membaca kitab Ki Waskita. Namun ternyata seluruh isi kitab itu telah terpahat di dinding hatinya yang pada suatu saat dapat dipelajari kembali sesuai dengan keinginannya.

“Engkau harus bersyukur, kakang,” perlahan Pandan Wangi memberikan tanggapan, “Jarang sekali seseorang itu diberi karunia oleh Yang Maha Pemurah kemampuan seperti itu. Untuk mengasah kemampuan itu diperlukan waktu yang sangat panjang. Kemampuan itu sangat berhubungan erat dengan kebersihan dan keluhuran hati seseorang. Aku hanya dapat berpesan, tekunilah kemampuan itu sambil jangan lupa selalu mensyukuri nikmatNya karena kemampuan seperti itu nantinya akan sangat banyak menolong sesama dalam kehidupan bebrayan ini.”

“Kalau aku boleh jujur, Wangi. Sesungguhnya kemampuan seperti ini sangat menakutkan bagiku. Aku takut jika seseorang yang meminta pertolongan untuk melihat masa depannya kepadaku nantinya akan menjadi kecewa setelah mengetahui masa depannya itu menurut isyarat yang aku terima tidak sesuai dengan cita-cita atau harapannya. Demikian juga jika ternyata aku yang salah dalam mengartikan isyarat itu. Itu sama saja dengan memberikan harapan kosong dan menjerumuskan seseorang dalam kebohongan.”

“Bukan begitu Kakang. Sejauh pengetahuanku, Ki waskita tidak pernah menyatakan dirinya secara mutlak mengetahui masa depan. Hanya isyarat-isyarat yang masih harus diuraikan dengan cermat. Dan itu tidak pernah disampaikan secara bulat dan utuh karena apa yang dilihat oleh Ki Waskita hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang yang itu pun belum tentu dapat diuraikan dengan jelas dan benar. Selebihnya kemampuan sebenarnya yang dimiliki oleh Ki Waskita dan telah terbukti banyak membantu orang-orang yang membutuhkannya adalah kemampuan untuk menangkap getaran-getaran yang ditimbulkan oleh benda-benda atau apapun yang berhubungan antara satu dengan lainnya. Sehingga Ki Waskita dapat dikatakan mempunyai kemampuan untuk menemukan barang-barang yang hilang atau dicuri. Bahkan mungkin kakang masih ingat peristiwa hilangnya putera satu satunya Ki Waskita, Rudita, yang diculik oleh para pengikut Panembahan Agung. Ki Waskita dengan tepat dapat memberikan arah kepada pasukan Mataram yang dipimpin oleh Raden Sutawijaya dan pasukan Menoreh yang dipimpin oleh ayah Argapati mengenai letak padepokan Panembahan Agung.”

“Ya, aku masih ingat,” sahut Ki Rangga, “Getaran antara ayah dan anak akan sangat kuat untuk menuntun arah di mana pada waktu itu Rudita disembunyikan.”

“Nah, jika demikian. Apalagi yang kakang takutkan? Kakang tidak usah memperdulikan masa depan, karena masa depan itu memang rahasia Yang Maha Hidup. Sedangkan kemampuan untuk menangkap getaran dari benda-benda bahkan orang di sekitar kita itu memang ada ilmunya dan dapat dipelajari.”

Ki Rangga Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam untuk memenuhi rongga dadanya. Pendapat Pandan Wangi itu memang ada benarnya. Namun persoalan yang sedang melanda hatinya ternyata tidak sesederhana itu.

“Wangi,” berkata Ki Rangga kemudian setelah sejenak mereka berdua terdiam, “Aku memang sedang mempelajari salah satu bagian dari kitab Ki Waskita yang mempelajari tentang getaran benda-benda di sekitar kita. Namun dalam perkembangannya itulah yang telah menakutkan diriku. Pagi tadi sebelum matahari terbit, ketika aku sedang merenung dan memikirkan Sekar Mirah, tiba-tiba saja isyarat itu datang tanpa aku minta. Seolah olah aku melihat ada darah di mana-mana di sekeliling istriku yang sedang duduk bersimpuh sambil menggendong bayinya. Aku juga melihat Ki Gede yang sedang menjinjing tombak pendeknya dengan wajah yang merah membara. Bukankah menurut kabarnya Ki Gede sedang sakit? Isyarat seperti itulah yang telah menggelisahkan hatiku karena aku tidak mampu menolak kehadirannya dan juga tidak mampu menguraikannya.”

Tiba-tiba saja wajah Pandan Wangi menegang begitu mendengar Ki Rangga menyebut ayahnya dalam isyarat yang telah diterimanya itu. Katanya kemudian dengan kata-kata yang sedikit bergetar, “Kakang, apakah yang terjadi pada Ayah Argapati? Mengapa beliau terlihat begitu marah dalam isyarat kakang itu? Dan bagaimana dengan Sekar Mirah? Mengapa dia bersimpuh dalam genangan darah?”

“Wangi,” potong Ki Rangga sambil menggeleng gelengkan kepalanya, “Seperti yang sudah aku katakan tadi. Aku tidak mampu untuk menguraikan isyarat yang telah aku terima itu. Dan satu lagi yang membuatku sangat gelisah. Selain Sekar Mirah dan Ki Gede, dalam isyarat itu pun aku melihat wajah seorang perempuan yang justru sedang tersenyum. Aku benar-benar tidak mengerti.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Dengan serta merta dia bertanya, “Siapakah perempuan yang kakang maksud?”

Sejenak Ki Rangga tertegun. Dia menyadari keterlanjurannya menyebut seorang perempuan dalam isyarat yang diterimanya itu yang belum pernah dikenal oleh Pandan Wangi.

Namun Ki Rangga sudah tidak mampu lagi untuk mengelak. Maka jawabnya kemudian dengan kata-kata yang hampir tak terdengar, “Nama perempuan itu Anjani.”

“Siapa Kakang..? Anjani..? Rasa rasanya nama itu baru aku dengar,” sergah Pandan Wangi dengan cepat. Kemudian dengan suara yang terdengar penuh dengan tekanan dan sedikit bergetar dia melanjutkan, “Kakang, aku tidak tahu siapa perempuan yang bernama Anjani itu. Namun kalau memang perempuan itu telah menjadi duri dalam keluarga Kakang, aku yang pertama kali akan menghadapinya. Aku tidak peduli siapa Anjani itu. Tapi yang jelas, aku tidak rela jika Sekar Mirah sampai diganggunya walaupun hanya seujung rambut. Aku benar-benar tidak rela.”

Kata-kata Pandan Wangi yang tegas dan jelas itu bagaikan palu godam yang meremukkan dada Ki Rangga Agung Sedayu. Jauh di lubuk hatinya, memang tidak ada niat sebiji sawi pun untuk melukai perasaan Sekar Mirah sehubungan dengan kehadiran Anjani dalam lingkaran kehidupannya. Namun di sisi lain, Ki Rangga terikat dengan janjinya untuk membawa Anjani ke Menoreh.

“Kakang,” Pandan Wangi meneruskan kata katanya begitu melihat Ki Rangga Agung Sedayu hanya diam termangu, “Kalau aku boleh tahu, siapakah sebenarnya Anjani itu? Dan ada hubungan apakah dengan Kakang?”

Sejenak kebimbangan terpancar dari wajah Ki Rangga. Agaknya memang sudah waktunya bagi Ki Rangga untuk berbagi cerita dengan orang lain, dalam hal ini adalah Pandan Wangi yang bagi Ki Rangga nantinya akan dapat membantu menjelaskan perihal Anjani ini kepada istrinya.

Setelah berkali-kali menarik nafas dalam-dalam, akhirnya dengan secara singkat Ki Rangga menceritakan perjalanannya ke Panaraga sampai dengan peristiwa perang tanding dengan murid Ajar Tal Pitu sehingga dia telah terbebani dengan keberadaan Anjani disisinya. Namun yang membuat Pandan Wangi benar-benar tidak habis mengerti dengan jalan penalaran Ki Rangga adalah mengapa Ki Rangga mengusulkan Anjani sebagai taruhan dalam perang tanding itu?

“Kakang,” katanya kemudian, “Mengapa Kakang mengusulkan Anjani sebagai taruhan?”

“Wangi,” jawab Ki Rangga, “Bukan maksudku untuk mengambil Anjani dengan sungguh-sungguh. Aku hanya berolok-olok saja pada waktu itu dengan maksud untuk memancing kemarahan kedua murid Ajar Tal Pitu itu, karena aku tidak yakin mereka akan berlaku jujur dalam perang tanding itu, dan terbukti yang terjadi kemudian adalah mereka berdua telah melanggar janji.”

“Apakah Kakang tidak pernah memikirkan akibat yang akan timbul kemudian dengan meminta Anjani sebagai taruhan?”

“Aku tidak berpikir sejauh itu, Wangi. Aku hanya mempunyai perhitungan dengan meminta Anjani sebagai taruhan, kedua gurunya akan marah sehingga sedikit banyak akan mengurangi daya penalaran mereka pada saat bertempur. Namun yang terjadi diluar perhitunganku adalah Anjani itu sendiri. Aku menyangka dia akan bela pati terhadap kedua gurunya atau paling tidak akan menolak dijadikan sebagai taruhan.”

Kembali Pandan Wangi terpekur. Dia dapat mengerti jalan pemikiran Ki Rangga sejauh itu. Namun sebagaimana Ki Rangga, Pandan Wangi sendiri pun juga heran dengan kesediaan Anjani untuk dijadikan taruhan dan bahkan ingin diajak ke Menoreh.

“Dimanakah Anjani sekarang?” pertanyaan itu begitu saja meluncur dari bibir Pandan Wangi setelah sejenak mereka berdua terdiam.

Untuk beberapa saat Ki Rangga bagaikan membeku mendapat pertanyaan itu. Namun lambat laun Ki Rangga mampu menguasai dirinya kembali dan akhirnya menjawab dengan perlahan, “Semalam dia ada di tepian ini.”

“He!’ Pandan Wangi benar-benar terlonjak kaget sehingga telah bangkit dari tempat duduknya.

Ki Rangga yang melihat Pandan Wangi bangkit dari duduknya segera berkata dengan sareh, “Duduklah Wangi.”

“Tidak Kakang,” jawab Pandan Wangi tegas, “Mengapa kakang tidak memberitahukan hal ini kepadaku semalam? Apakah suara tangis perempuan yang kami dengar semalam itu adalah tangisan Anjani?” Pandan Wangi berhenti sejenak untuk mengatur pernafasannya yang tiba-tiba memburu. Lalu lanjutnya kemudian, “Jadi selama ini kakang telah membawa Anjani secara diam-diam sejak dari Sangkal Putung, tapi mengapa Kakang tidak memberitahukan kepadaku? Apakah yang sebenarnya telah terjadi diantara kalian berdua? Aku tidak dapat membayangkan betapa kecewanya Sekar Mirah jika mengetahui hal ini.”

“Wangi,” tiba-tiba Ki Rangga Agung Sedayu bangkit berdiri, dipandanginya sepasang mata Pandan Wangi yang membara namun di kedua sudut matanya tampak titik-titik air mulai mengembang. Kemudian katanya dengan nada yang sangat dalam, “Apakah engkau sudah tidak percaya lagi kepada Kakangmu ini? Apakah engkau mulai membandingkan diriku dengan adi Swandaru? Tidak wangi, aku tidak akan melangkah sejauh itu. Aku sangat menyayangi keluargaku. Dan aku siap berkorban apapun demi untuk kebahagiaan Sekar Mirah.”

Begitu Pandan Wangi mendengar nama suaminya disebut, tangisnya pun meledak bagaikan bendungan yang pecah diterjang banjir di awal musim penghujan.

Ki Rangga Agung Sedayu begitu terkejut melihat akibat dari keterlanjurannya. Dengan tergesa-gesa dia segera berkata dengan nada lembut, “Wangi, maafkan aku. Bukan maksudku untuk mengungkit kejadian di masa lalu. Aku mengerti bagaimana perasaan seorang istri jika suaminya telah menduakan cintanya. Untuk itulah aku benar-benar menjaga jarak terhadap Anjani. Aku akan sangat bersyukur jika di Menoreh nanti Anjani dapat menemukan masa depannya yang lebih gemilang.”

Sambil berusaha menahan isak tangisnya, Pandan Wangi mencoba untuk menelaah kata-kata kakak seperguruan suaminya itu. Dia sadar, tentu Ki Rangga tidak ingin menyakiti hati Sekar Mirah setelah sekian lama berumah tangga. Adalah sangat menyakitkan dan tak mungkin akan termaafkan seandainya benar Ki Rangga telah menjalin hubungan dengan Anjani justru di saat rumah tangga mereka sedang menyongsong kebahagiaan setelah penantian panjang yang seolah tak berujung dengan hadirnya buah hati mereka, buah cinta Ki Rangga Agung Sedayu dan Sekar Mirah.

“Sudahlah Wangi,” kembali Ki Rangga membujuk Pandan Wangi untuk menghentikan tangisnya, “Aku sungguh-sungguh sangat menyesal atas kejadian tadi. Semoga engkau memaafkan aku. Marilah kita lupakan sejenak urusan pribadi di antara kita. Keselamatan Menoreh sekarang ini memerlukan perhatian kita.” Ki Rangga Agung Sedayu berhenti sejenak sambil berpaling ke arah Pandan Wangi yang kelihatannya sudah mulai dapat menguasai dirinya. Lanjutnya kemudian, “Beberapa saat ketika masih di tepian tadi, aku mencoba menelusuri gejala yang mulai tampak pada ilmu yang sedang aku tekuni dari kitab Ki Waskita untuk mencoba melihat apa yang sedang terjadi di padukuhan depan. Masih menurut getaran isyarat yang aku terima, padukuhan di depan kita itu kelihatannya sudah dikosongkan beberapa saat yang lalu. Namun aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikan hal ini kepada Ki Patih Mandaraka, karena dasar yang aku gunakan bukan hasil dari pengamatan prajurit sandi, hanya berdasarkan isyarat yang aku terima yang kebenarannya masih perlu diuji.”

Mendengar Ki Rangga Agung Sedayu mencoba mengalihkan arah pembicaraan, Pandan Wangi pun dengan sekuat tenaga mencoba untuk menghentikan tangisnya. Setelah menarik nafas dalam-dalam beberapa kali agar getar-getar di dalam rongga dadanya mereda, akhirnya Pandan Wangi pun menjawab, “Kakang, benar atau tidak isyarat yang kakang terima, sebaiknya tetap disampaikan kepada Ki Patih Mandaraka agar dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan. Sementara itu para prajurit sandi tentu juga tidak akan tinggal diam. Mereka tentu akan segera melapor jika ada kejadian-kejadian yang perlu untuk segera ditindak lanjuti.”

Sejenak Ki Rangga mengerutkan keningnya mendengar saran Pandan Wangi. Sambil mengangguk anggukkan kepalanya dia menyahut, “Engkau benar Wangi. Seharusnya aku tetap menyampaikan apa yang telah aku terima melalui getaran isyarat ini walaupun cara penyampaiannya kepada Ki Patih harus berbeda agar tidak ada kesan seolah olah aku telah mempunyai kemampuan untuk melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh orang kebanyakan. Aku dapat saja menyampaikan hal ini atas dasar perhitungan dan pertimbangan-pertimbangan nalar serta firasat sebagai prajurit yang telah terbiasa dalam medan pertempuran.”

“Ya, kakang. Marilah kita segera menghadap Ki Patih agar beliau dapat mengambil keputusan yang tepat menghadapi keadaan yang tidak menentu ini.”

“Marilah,” berkata Ki Rangga kemudian sambil bangkit berdiri diikuti oleh Pandan Wangi. Keduanya pun kemudian dengan tergesa-gesa menyusuri tepian Kali Praga yang berpasir lembut menuju ke tempat Ki Patih Mandaraka beristirahat.

Namun sebelum keduanya sampai di tempat Ki Patih Mandaraka, mereka telah dikejutkan oleh bunyi derap kuda yang sedang dipacu menuju ke tepian. Ketika Ki Rangga dan Pandan Wangi kemudian mengarahkan pandangan mata mereka ke ujung bulak, dari kejauhan tampak seekor kuda sedang dipacu dengan kecepatan tinggi. Debu pun mengepul tinggi di belakang kaki-kaki kuda itu.

“Apakah yang sebenarnya sedang terjadi?” hampir bersamaan kedua orang itu berdesis.

Beberapa prajurit yang sedang bertugas jaga segera berloncatan ke tengah jalan dengan senjata terhunus. Dalam keadaan yang tidak menentu ini, segala kemungkinan dapat saja terjadi.

Namun para prajurit itu segera menepi begitu melihat penunggang kuda itu memberikan isyarat dengan lambaian tangan tiga kali berturut turut yang menandakan bahwa penunggang kuda itu adalah prajurit sandi yang sedang bertugas mengamati padukuhan di depan.

Para prajurit yang sedang berdiri di sebelah menyebelah jalan segera menutup hidung sambil memalingkan wajah begitu kuda yang masih berlari kencang itu melintas di hadapan mereka. Setelah mengurangi laju kudanya ketika kaki-kaki kuda itu sudah mulai menginjak tanah berpasir, penunggang kuda yang ternyata adalah salah satu dari prajurit sandi yang sedang bertugas mengamati keadaan di padukuhan depan itu segera meloncat turun. Seorang prajurit segera menyambut tali kekang kudanya dan membawa kuda itu menepi.

Dengan tergesa-gesa Ki Rangga Agung Sedayu dan Pandan Wangi segera menyusul ke tempat Ki Patih. Ternyata disitu telah hadir Ki Tumenggung Tirtayudha dan beberapa perwira yang membawahi pasukan cadangan.

“Kemarilah,” berkata Ki Patih kepada Ki Rangga dan Pandan Wangi begitu mereka berdua datang mendekat.

Setelah menghaturkan sembah, keduanya pun kemudian duduk di atas bebatuan yang berserakan di tepian Kali Praga. Sementara prajurit sandi yang juga telah menghadap Ki Patih telah dipersilahkan untuk menyampaikan laporannya.

“Ampun Ki Patih,” berkata prajurit sandi itu sambil berusaha mengatur nafasnya, “Menurut pengamatan kami, ternyata pasukan Panembahan Cahya Warastra telah meninggalkan padukuhan beberapa saat yang lalu. Kami menjumpai perapian yang masih hangat, bahkan bekas-bekas tempat makanan dan minuman masih tergeletak si sana sini. Kelihatannya mereka meninggalkan padukuhan itu dengan tergesa-gesa sehingga tidak sempat membereskan peralatan makan dan minum yang telah mereka pergunakan.”

Ki Patih Mandaraka tampak mengerutkan keningnya dalam-dalam. Sementara itu Ki Rangga Agung Sedayu dan Pandan Wangi hanya dapat saling berpandangan. Ternyata isyarat yang diterima oleh Ki Rangga itu benar adanya, Panembahan Cahya Warastra telah meninggalkan padukuhan yang selama ini mereka tempati.

“Ampun Ki Patih,” tiba-tiba Ki Tumenggung Tirtayudha berkata sambil menghaturkan sembah, “Apakah tidak sebaiknya kita segera menyusul para pengikut Panembahan Cahya Warastra sebelum mereka mencapai padukuhan induk Menoreh?”

Ki Patih menggeleng, “Kita tidak perlu tergesa-gesa menyusul mereka. Aku sudah menyiapkan enam puluh ekor kuda yang telah diseberangkan ke tepian ini beberapa saat setelah tepian ini dapat kita kuasai pagi tadi.” Ki Patih berhenti sejenak. Kemudian lanjutnya, “Empat puluh ekor kuda dengan penunggangnya empat puluh prajurit Jalamangkara aku kira sudah cukup untuk mengejar para pengikut Kecruk Putih itu. Biarkan pasukan Kecruk Putih itu berbenturan dengan para pengawal Menoreh terlebih dahulu. Kita akan mengejutkan mereka justru pada saat mereka sedang sibuk menyerang padukuhan induk. Pasukan berkuda Jalamangkara akan menyerang dari arah belakang dan menghancurkan gelar yang telah mereka susun. Dengan hancurnya gelar mereka, diharapkan para pemimpin pasukan lawan akan sulit mengendalikan pasukannya sehingga pada saat pasukan cadangan Mataram yang berjalan kaki tiba di medan pertempuran, dengan mudah kita dapat menghancurkan musuh.”

“Ampun Ki Patih, bagaimana dengan kuda-kuda yang lain?” kembali Ki Tumenggung Tirtayudha bertanya.

“Engkau akan memimpin pasukan Jalamangkara itu sendiri, sedangkan sebagian kuda yang tersisa akan digunakan oleh Ki Rangga Agung Sedayu dan kawan kawannya untuk melakukan tugas khusus.”

Terkejut Ki Rangga mendengar titah Ki Patih Mandaraka. Dengan segera dirangkapkan kedua tangannya sambil berkata, “Ampun Ki Patih, tugas khusus apakah yang harus hamba emban dan siapa sajakah yang harus menemani hamba?”

“Ki Rangga,” jawab Ki Patih, “Nanti akan aku sampaikan setelah pasukan Jalamangkara berangkat.”

Kemudian kata Ki Patih kepada Ki Tumenggung Tirtayudha, “Berangkatlah! Atur pasukanmu agar tidak terlalu dekat dengan ekor pasukan lawan. Begitu benturan dengan para pengawal Menoreh terjadi, pasukanmu harus segera menyerbu ekor dari gelar pasukan lawan sehingga perhatian mereka akan terpecah.”

“Hamba Ki Patih, ijinkan kami berangkat,” sembah Ki Tumenggung Tirtayudha sambil mengundurkan diri dari tempat itu untuk mengumpulkan para prajurit Jalamangkara.

Sepeninggal Ki Tumenggung Tirtayudha, Ki Patih Mandaraka segera mengajak Ki Rangga Agung Sedayu dan Pandan Wangi untuk menghadap Sinuhun Panembahan Hanyakrawati yang berada di pesanggrahan yang sangat sederhana tidak jauh dari tempat itu.

Namun sebelum beranjak meninggalkan tempat itu, Ki Patih telah memberikan beberapa arahan secara singkat kepada para perwira pasukan cadangan yang hadir di tempat itu.

“Segera kumpulkan para prajurit. Berangkatlah tanpa harus menunggu aku. Ki Tumenggung Ranakusuma aku minta untuk memimpin pasukan yang berjalan kaki. Engkau dapat memilih perwira pendampingmu. Usahakan jangan terlalu dekat dengan pasukan Jalamangkara yang sedang menyusul gerak pasukan lawan. Tugasmu adalah menghancurkan ekor gelar pasukan lawan yang telah terlebih dahulu diobrak-abrik oleh pasukan berkuda Jalamangkara.” Berkata Ki Patih memberi arahan.

“Hamba, Ki Patih,” jawab Ki Tumenggung Ranakusuma sambil beranjak mengundurkan diri bersama para perwira yang lain.

Sejenak kemudian Ki Patih Mandaraka bersama Ki Rangga Agung Sedayu dan Pandan Wangi telah menyusuri tepian kali Praga yang berpasir lembut menuju ke sebuah pesanggrahan yang didirikan sementara untuk tempat peristirahatan Panembahan Hanyakrawati dan Raden Mas Rangsang.

Setibanya mereka di pesanggrahan yang dijaga kuat oleh para prajurit kawal istana, Ki Patih Mandaraka segera mengucapkan salam sambil berdiri di depan tirai yang melindungi pintu masuk ke pesanggrahan.

“Cucunda Panembahan, hamba bersama Ki Rangga Agung Sedayu dan Pandan Wangi mohon diperkenankan menghadap,” berkata Ki Patih.

“Silahkan Eyang Patih, kami memang sudah menunggu kedatangan Eyang Patih,” terdengar suara yang bernada dalam dan sangat berwibawa dari dalam pesanggrahan.

Sejenak kemudian, sambil memberikan isyarat kepada Ki Rangga dan Pandan Wangi untuk mengikutinya, Ki Patih pun kemudian melangkah masuk sambil menyingkapkan tirai yang membatasi pintu masuk ke pesanggrahan.

Ketika Ki Rangga dan Pandan Wangi kemudian berjalan mengikuti Ki Patih masuk ke dalam pesanggrahan, alangkah terkejutnya mereka berdua terutama Ki Rangga Agung Sedayu. Ternyata di dalam pesanggrahan itu selain Panembahan Hanyakrawati dan Raden Mas Rangsang, telah hadir seseorang yang berpakaian serba putih dengan mengenakan sorban yang berwarna putih pula sedang duduk dengan penuh wibawa di sebelah kiri Panembahan Hanyakrawati.

Tercekat hati Ki Rangga Agung Sedayu begitu mengenali siapakah yang duduk di sebelah Panembahan Hanyakrawati itu. Orang itulah yang telah menemuinya beberapa waktu yang lalu ketika dirinya sedang bertugas di Panaraga, serta yang menyebut dirinya Panembahan Panjer Bumi dan telah meninggalkan secarik kain gringsing peninggalan gurunya kepada ki Dukuh Merjan.

Dengan tergopoh-gopoh ki Rangga dan Pandan Wangi pun kemudian mengikuti Ki Patih menyampaikan sembah sebelum akhirnya keduanya duduk terpekur di belakang Ki Patih Mandaraka.

“Eyang Patih,” bersabda Panembahan Hanyakrawati setelah ketiga orang itu duduk, “Aku tidak bisa mengikuti gerakan pasukan Mataram sampai ke padukuhan induk Menoreh sehubungan dengan berita yang telah kita terima pagi tadi. Semalam Kadipaten Panaraga telah jatuh dan Adimas Pangeran Jayaraga telah menyerah di bawah kekuasaan Adimas Pangeran Pringgalaya.” Panembahan Hanyakrawati berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Sebelum berangkat melawat ke Panaraga, aku memang telah berpesan kepada Adimas Pangeran Pringgalaya untuk membujuk Adimas Pangeran Jayaraga agar mengurungkan niatnya untuk memberontak. Namun jika hal itu sudah tidak memungkinkan lagi, aku telah memberikan kuasa kepada Adimas Pangeran Pringgalaya sebagai duta pamungkas.”

Ki Patih Mandaraka mengangguk anggukkan kepalanya. Memang tadi pagi ketika Ki Patih menghadap ke pesanggrahan, ternyata Panembahan Hanyakrawati telah kedatangan seorang tamu yang sangat dihormati, seorang Wali yang waskita yang membawa berita tentang keadaan Panaraga. Sementara Ki Rangga Agung Sedayu dan Pandan Wangi menjadi berdebar debar begitu mendengar berita bahwa Kadipaten Panaraga telah jatuh.

“Bagaimanakah dengan orang yang selama ini menyebut dirinya sebagai Pangeran Ranapati?” bertanya Ki Rangga dalam hati, “Apakah dia ikut menjadi korban peperangan di Panaraga?”

“Ampun Cucunda Panembahan,” sembah Ki Patih kemudian membuyarkan lamunan Ki Rangga, “Bagaimanakah nasib yang menimpa Cucunda Pangeran Jayaraga setelah Panaraga jatuh di bawah kekuasaan prajurit Mataram?”

Sejenak Panembahan Hanyakrawati berpaling ke arah tamunya. Ketika orang itu tersenyum sambil mengangguk, Panembahan Hanyakrawati pun kemudian melanjutkan sabdanya, “Adimas Pangeran Jayaraga telah menuai hasil dari perbuatannya. Untuk waktu yang tidak terbatas biarlah Adimas merenungi kesalahannya di masjid watu yang berada di Nusa Kambangan.”

Suasana sejenak menjadi sepi. Masing-masing tenggelam dalam angan angannya. Ki Rangga Agung Sedayu dan Pandan Wangi yang tidak terlibat secara langsung pertikaian antara keluarga istana itu dapat merasakan, betapa pertikaian dalam keluarga hanya akan menyebabkan semakin ringkihnya kekuatan Mataram itu sendiri. Kekuatan yang ada diantara para putra Panembahan Senopati yang seharusnya dapat bersatu dan semakin memperkokoh keberadaan Mataram di mata kadipaten-kadipaten bawahan Mataram serta kerajaan-kerajaan lain yang belum bersatu di bawah panji-panji kebesaran Mataram, kini justru semakin memperburuk citra Mataram itu sendiri karena ulah para generasi penerusnya.

“Ampun Cucunda Panembahan,” sembah Ki Patih setelah untuk beberapa saat mereka terdiam, “Hamba telah membawa Ki Rangga Agung Sedayu menghadap untuk menunggu titah dari Cucunda Panembahan.”

Panembahan Hanyakrawati sejenak menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Ki Rangga Agung Sedayu yang duduk sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam beberapa langkah di belakang Ki Patih Mandaraka bersebelahan dengan Pandan Wangi. Sabdanya kemudian, “Ki Rangga Agung Sedayu, aku meletakkan kepercayaan di atas pundakmu untuk melakukan tugas khusus ini. Mungkin Eyang Mandaraka belum menyampaikan secara rinci tugas khusus yang harus engkau emban, namun sebagai prajurit yang telah matang ditempa dalam segala medan, aku percaya engkau akan dapat melaksanakan tugas ini dengan baik.”

bersambung ke senthong tengah

Advertisements

10 Responses

  1. Lha..dhalaa..aahhh… ngerem maneh ki….

  2. saya membaca ADBM ketika saya masih SD, ketika itu ayah berlangganan setiap bulan, dan terputus ketika saya keluar dari rumah. akhir-akhir ini saya bisa menikmati ADBM melalui internet, tapi sayang terputus karna beliaunya ( SH Mintardja ) sudah wafat. kemunculan Mbah Man untuk melanjutkan ADBM ibarat setetes air di musim kemarau. saya berdoa untuk kesehatan mbah Man serta umur panjang supaya cerita ini tak terputus lagi

    Aamiin…

  3. Mantap Mbah sambungannya adbm pass buangettt…
    Ditunggu lanjutannya Mbah.
    Smoga Mbah Man selalu sehat dan panjang umurr sehingga bisa melanjutkan adbm.amin

  4. Nyuwun pangapunten mbah,, sambungan TADBM 408 nya ko ga ada ya, makin penasaran neh mbaaaaahhh ….

  5. Kok nggak bisa lihat older comment lagi ya dari opera mini? mohon petunjuk….

  6. Terima kasih atas rontalnya. Monggo dilanjut, kang…

  7. Bagaimana ya kabarnya TADBM 408 . . . mbah Man !
    Setia menunggu lho

    Lho….???
    Lha wong sudah sampai 413

  8. Semoga cepat tersmbung lagi ceritanya……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s