TADBM-408

<< kembali ke TADBM-407 | lanjut ke TADBM-409 >>

Bagian 1

TADBM-408KI GEDE Menoreh yang mengamati pergerakan para pengawal dalam mengejar lawan-lawannya itu menjadi berdebar-debar ketika pasukan lawan sudah mulai mendekati dinding padukuhan induk. Sambil bergerak mundur mereka terus mengadakan perlawanan yang sengit. Sementara para pengawal Menoreh tidak menyadari bahaya yang dapat mengancam nyawa mereka dari balik dinding padukuhan induk.

“Hentikan pengejaran!” teriak Ki Gede Menoreh mencoba menghentikan gerak maju para pengawal Menoreh yang sudah hampir mendekati dinding padukuhan induk.

Beberapa pemimpin kelompok yang terlibat dalam pengejaran itu segera menyadari bahaya yang dapat menerkam mereka dari balik dinding padukuhan induk, pasukan segelar sepapan dari Panembahan Cahya Warastra yang sedang menghimpun kekuatan.

Menyadari semua itu, masing-masing pemimpin kelompok telah mengulangi perintah pemimpin tertinggi mereka, Ki Gede Menoreh.

“Hentikan pengejaran!” perintah pun bersahut-sahutan memenuhi medan pertempuran di dalam padukuhan induk.

Beberapa saat kemudian para pengawal Menoreh telah melepas lawan-lawan mereka keluar dari padukuhan induk untuk bergabung dengan pasukan Panembahan Cahya Warastra yang telah memulai memasang gelar.

Ki Gede Menoreh segera memanggil para pemimpin kelompok untuk mengatur anggotanya. Beberapa pengawal yang terluka dan tidak dapat melanjutkan pertempuran telah dipapah oleh kawan-kawannya menuju ke sebuah rumah di belakang garis pertempuran yang berfungsi sebagai balai pengobatan sementara. Sedangkan para pengawal yang telah gugur segera dibawa menyingkir dari medan menunggu saat yang tepat untuk dikebumikan.

“Kita akan melihat situasi di luar dinding padukuhan induk terlebih dulu,” berkata Ki Gede ketika para pemimpin kelompok itu telah berkumpul.

“Ma’af Ki Gede,” seorang pemimpin pengawal yang berbadan agak gemuk mengajukan pertanyaan, “Apakah tidak sebaiknya kita bergabung dengan pasukan Mataram?”

Beberapa kawannya bergeremang mendengar pertanyaan yang terdengar aneh di telinga mereka.

Ki Gede hanya tersenyum. Jawabnya kemudian, “Keadaan memang tidak begitu menguntungkan bagi kita,” Ki Gede berhenti sejenak kemudian lanjutnya, “Kita harus menempuh jalan memutar untuk bisa bergabung dengan pasukan Mataram yang datang dari depan padukuhan induk. Namun jika kita tetap bertahan di dalam padukuhan ini, berarti kita harus siap sepenuhnya jika pasukan Panembahan Cahya Warastra nantinya berbalik menyerbu ke dalam padukuhan induk jika serbuan dari pasukan Mataram dirasakan terlalu kuat.”

Mereka yang hadir dalam pertemuan singkat itu pun mengangguk-anggukkan kepala mereka.

“Nah aku memilih untuk tetap bertahan di dalam padukuhan induk,” berkata Ki Gede kemudian, “Siapkan kembali senjata-senjata jarak jauh yang masih tersisa untuk menghambat laju pasukan lawan jika mereka nantinya terdesak oleh pasukan Mataram dan memutuskan untuk mundur memasuki padukuhan ini.”

Perintah itu tidak perlu diulangi. Para pemimpin kelompok pengawal Menoreh itu pun segera menuju ke tempat kelompoknya masing-masing untuk mengatur pertahanan jika pasukan lawan kembali memasuki padukuhan induk.

Dalam pada itu, ternyata tidak semua pasukan yang dipimpin Bango Lamatan menarik diri keluar dari padukuhan induk dan bergabung dengan pasukan Panembahan Cahya Warastra. Ternyata di dalam padukuhan induk masih berlangsung tiga lingkaran pertempuran. Agak jauh di sebelah kiri regol padukuhan induk sedang terjadi perang tanding yang dahsyat antara Bango Lamatan melawan Kiai Sabda Dadi. Sedangkan di sisi kanan agak jauh dari regol sedang berlangsung dengan sengitnya perang tanding antara Ki Jayaraga melawan Ki Gede Ental Sewu.

Adapun lingkaran pertempuran berikutnya adalah sekelompok pengawal yang sedang mengeroyok kedua murid Ki Gede Ental Sewu, Sindang Wangi dan Bantar Kawung. Kedua murid dari perguruan Ental Sewu di lereng gunung Sindara itu agaknya tidak mau meninggalkan guru mereka yang sedang menyabung nyawa melawan Ki Jayaraga.

Sejenak Ki Gede Menoreh memandangi ketiga lingkaran pertempuran itu bergantian. Wajah yang sudah tua dan berkeriput itu semakin berkerut-kerut ketika menyaksikan pertempuran antara para pengawal Menoreh melawan dua orang muda yang kelihatannya sudah mulai kelelahan, seorang gadis muda yang bersenjatakan sebilah pedang tipis dan seorang pemuda tanggung yang menggenggam sepasang pedang pendek yang tampak berkilat-kilat tertimpa sinar Matahari.

Setelah menimbang-nimbang beberapa saat akhirnya Ki Gede Menoreh memutuskan untuk mendekati lingkaran pertempuran yang ketiga. Ki Gede merasa berkewajiban untuk menghentikan pertempuran yang tidak seimbang itu. Dua orang yang masih belia harus melawan sekelompok pengawal yang jumlahnya tidak kurang dari sepuluh. Dan jumlah itu akan terus bertambah karena para pengawal yang sudah tidak mempunyai lawan ternyata telah berdatangan ke tempat itu.

Beberapa pengawal segera meloncat mundur dan menepi ketika mereka menyadari pemimpin tertinggi Tanah Perdikan Menoreh telah hadir. Ketika Ki Gede Menoreh telah berdiri di pinggir arena pertempuran itu, beberapa saat kemudian pertempuran itu pun telah berhenti dengan sendirinya.

“Apakah yang sebenarnya sedang terjadi disini?” bertanya Ki Gede dengan pandangan mata yang tajam, “Mengapa kalian tidak memberikan kesempatan kepada lawan-lawan kalian untuk bertempur satu lawan satu?”

Seorang pengawal yang bertubuh kurus mendesak maju, “Ma’afkan kami Ki Gede. Mereka berdua sangat tangguh untuk dilawan satu persatu. Dalam sebuah peperangan dibenarkan untuk berperang secara berkelompok.”

“Kalian memang benar. Dalam sebuah pertempuran memang tidak ada salahnya untuk bertempur secara berkelompok,” Ki Gede berhenti sejenak. Kemudian lanjutnya, “Namun apakah kalian sudah pernah menawarkan kepada mereka berdua untuk menyerah? Dengan melihat kenyataan bahwa mereka telah tertinggal dari kawan-kawan mereka yang mengundurkan diri keluar dari padukuhan induk ini, seharusnya mereka diberi kesempatan untuk mengambil keputusan yang lebih bijak.”

“Kami tidak akan menyerah,” geram Bantar Kawung, “Kami tidak takut menghadapi para pengecut yang beraninya hanya main keroyokan. Sebentar lagi guru kami akan menyelesaikan lawannya dan kalian tidak akan mendapatkan kesempatan lagi untuk menatap Matahari terbenam di senja hari.”

Ki Gede Menoreh mengerutkan keningnya dalam-dalam mendengar kata-kata Bantar Kawung. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Ki Gede pun akhirnya bertanya, “Siapakah gurumu itu, anak muda?”

Sejenak Bantar Kawung memandang kakak perempuannya, Sindang Wangi untuk mendapatkan persetujuan. Sindang Wangi yang sedari tadi hanya diam saja akhirnya berkata pendek saja, “Guru kami berdua adalah Ki Gede Ental Sewu dari lereng gunung Sindara. Namaku Sindang Wangi dan ini adikku Bantar Kawung.”

Ki Gede Menoreh terkejut mendengar nama Ki Gede Ental Sewu disebut. Ki Gede Ental Sewu adalah termasuk golongan angkatan tua, setua dirinya. Namun sebenarnyalah nama Ki Gede Ental Sewu itu jarang didengar karena memang jarang sekali turun gunung keluar dari padepokannya.

“Dimanakah guru kalian sekarang?” bertanya Ki Gede Menoreh kemudian setelah beberapa saat mereka terdiam.

Sindang Wangi memandang Ki Gede beberapa saat sebelum menjawab pertanyaannya, “Guru sedang bertempur dengan lawannya.”

Selesai berkata demikian Sindang Wangi menunjuk ke arah Ki Gede Ental Sewu yang sedang mengadu kesaktian dengan Ki Jayaraga beberapa puluh tombak dari tempat mereka berdiri. Serentak mereka yang ada di tempat itu berpaling ke arah yang ditunjukkan oleh Sindang Wangi.

Ki Gede Menoreh menarik nafas dalam-dalam begitu menyadari ternyata lawan Ki Jayaraga adalah Ki Gede Ental Sewu dari lereng gunung Sindara. Sebenarnyalah Ki Gede Menoreh secara pribadi belum mengenal pemimpin padepokan Ental Sewu itu. Namun sebagai tokoh angkatan tua, Ki Gede pernah mendengar tokoh sakti dari gunung Sindara yang tidak suka mencampuri urusan dunia sekitarnya. Namun kini ada satu keanehan yang dirasakan oleh ayah Pandan Wangi itu, mengapa orang seperti Ki Gede Ental Sewu mau terbujuk oleh rayuan Panembahan Cahya Warastra untuk menghimpun kekuatan di Menoreh dengan tujuan menggulingkan pemerintahan Mataram?

“Kalau menilik ujud lahiriahnya, Ki Gede Ental Sewu ini masih sebaya dengan aku dan juga Ki Jayaraga,” berkata Ki Gede Menoreh dalam hati sambil mengamati pertempuran kedua orang yang linuwih itu, “Seharusnya kalau memang benar yang sedang bertempur dengan Ki Jayaraga itu pemimpin Perguruan Ental Sewu di lereng gunung Sindara, orangnya tentu sudah sangat tua sekali, karena pada saat aku masih muda, menurut pendengaranku Ki Gede Ental Sewu itu juga sudah setua sekarang ini.”

Berbagai pertanyaan muncul di benak Ki Gede Menoreh namun dia tidak dapat menyimpulkan keadaan yang sebenarnya.

“Marilah kita mendekat,” berkata Ki Gede akhirnya kepada para pengawal.

Kemudian kepada kedua murid Ki Gede Ental Sewu, Ki Gede Menoreh berkata, “Sarungkan senjata kalian. Aku tidak menyuruh kalian untuk menyerah, akan tetapi marilah kita lihat keadaan gurumu yang sedang bertempur dengan Ki Jayaraga.”

Sindang Wangi dan Bantar Kawung untuk sejenak hanya saling berpandangan. Namun akhirnya keduanya pun kemudian menyarungkan senjata mereka dan melangkah mengikuti Ki Gede Menoreh yang telah terlebih dahulu meninggalkan tempat itu.

Dalam pada itu pasukan Mataram ternyata telah membentuk Gelar Garuda Nglayang begitu mereka tiba di tanah pesawahan yang kering di depan padukuhan induk. Dengan seijin Ki Patih Mandaraka, Ki Tumenggung Tirtayudha telah menarik pasukan berkuda Jalamangkara untuk bergabung dengan pasukan Mataram yang baru tiba.

“Kita akan bertempur di atas tanah,” perintah Ki Tumenggung Tirtayudha, “Lepaskan kuda-kuda kalian di belakang pasukan Mataram. Jika memungkinkan kalian dapat menambatkan pada pohon-pohon perdu di tanggul-tanggul pesawahan.”

Panembahan Cahya Warastra yang melihat pasukan Jalamangkara menarik diri telah tersenyum sambil berkata, “Mengapa kalian tidak memanfaatkan kuda-kuda itu untuk bertempur? Apakah kalian takut kuda-kuda itu justru akan menginjak-injak pasukan kalian sendiri?”

Ki Patih Mandaraka yang masih berdiri di depan kedua lawannya tersenyum. Jawabnya kemudian, “Kami mempunyai perhitungan yang tidak perlu Ki Sanak ketahui. Lebih baik kalian segera mengatur gelar sebelum pasukan Mataram menggilas seperti buah durian menggilas buah mentimun.”

“Omong kosong!” teriak Panembahan Cahya Warastra, “Marilah kita tuntaskan permasalahan di antara kita. Baik yang menyangkut dendam pribadi maupun kepentingan yang lebih luas untuk tujuan perbaikan tata pemerintahan di negeri ini.”

“Ah,” Ki Patih tertawa hambar. Kemudian sambil berpaling ke arah Ki Rangga Agung Sedayu dia berkata, “Ki Rangga, ternyata aku menjadi sangat kecewa. Jauh-jauh dari kota Mataram aku ingin menyambut Panembahan Cahya Warastra yang aku sangka telah bangkit dari kubur karena kesaktiannya. Ternyata yang aku hadapi hanyalah seorang pengecut yang bersembunyi di balik kebesaran nama Panembahan itu.”

“Gila!” geram orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra itu, “Juru Martani, kalau memang engkau jantan aku tantang untuk berperang tanding. Persetan dengan segala persoalan negeri ini. Tapi yang jelas dendam ini harus terbalaskan dengan tuntas, bahkan mungkin lebih.”

Namun Ki Patih sudah tidak mempedulikan lagi. Baginya sudah tidak ada manfaatnya lagi untuk melayani orang yang mengaku bernama Panembahan Cahya Warastra itu. Dengan tenangnya Ki Patih kemudian melangkah surut meninggalkan tempat itu.

Panembahan Cahya Warastra yang merasa disepelekan segera bertindak. Namun sebelum serangannya meluncur menghantam Ki Patih yang melangkah surut, tiba-tiba Ki Rangga Agung Sedayu telah berdiri tiga langkah di hadapannya.

“Setan alas!” kembali orang yang wajahnya mirip dengan Kecruk Putih itu menggeram, “Sepertinya aku harus membunuhmu terlebih dahulu sebelum mengakhiri petualangan orang yang bernama Juru Martani itu. Bersiaplah, engkau akan mengalami sebuah benturan ilmu yang belum pernah ada dalam angan-anganmu.”

Ki Rangga Agung Sedayu tidak menjawab, akan tetapi dia segera mundur beberapa langkah untuk mempersiapkan menghadapi serangan saudara kembar Kecruk Putih itu.

Setelah melilitkan cambuknya terlebih dahulu di pinggang, Ki Rangga yang menyadari sepenuhnya dengan siapa dia berhadapan, segera mengetrapkan ilmu kebalnya setinggi-tingginya sehingga sejenak kemudian udara di sekitar Ki Rangga perlahan-lahan terasa mulai menghangat. Ketika kemudian Panembahan Cahya Warastra telah menggeser kakinya selangkah ke samping, Ki Rangga Agung Sedayu pun telah siap menghadapi serangan pertama lawannya.

Panembahan Cahya Warastra yang ingin segera mengejar Ki Patih Mandaraka tidak ingin berlama-lama melayani Ki Rangga Agung Sedayu. Serangan yang akan dilancarkan ke arah lawannya tidak akan dilakukan tataran demi tataran, namun langsung pada tataran tinggi dari ilmunya yang nggegirisi walaupun Panembahan Cahya Warastra merasa masih belum perlu untuk merambah pada puncak ilmunya.

Beberapa saat kemudian, serangan pertama Panembahan Cahya Warastra pun meluncur dengan dahsyat menerjang Ki Rangga Agung Sedayu. Dari telapak tangan Panembahan itu benar-benar telah muncul semburan api yang menjilat ke arah dada lawannya.

Sekejap Ki Rangga terkesiap menghadapi kecepatan gerak lawannya. Belum sempat Ki Rangga menggeser kedudukannya untuk menghindari serangan lawannya, semburan api yang terjulur dari telapak tangan Panembahan Cahya Warastra telah berhasil menggapai dadanya.

“Gila!” tanpa sesadarnya Ki Rangga menggeram.

Segera saja Ki Rangga Agung Sedayu mengetrapkan ilmu meringankan tubuhnya yang dipelajari dari kitab Ki Waskita untuk meloncat ke belakang. Tubuh Ki Rangga melenting ke belakang seolah-olah tanpa bobot. Namun yang membuat Ki Rangga kembali terkejut adalah gerakan tangan lawannya yang telah menggapai dadanya itu ternyata tidak berhenti sampai disitu saja. Ketika Ki Rangga mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan meloncat ke belakang, ternyata tangan itu tetap saja terjulur lurus mengikuti gerak mundur Ki Rangga.

Kali ini bukan hanya ujung semburan api dari pancaran ilmu lawannya saja yang berhasil menjilat dada Ki Rangga Agung Sedayu, namun hantaman telapak tangan Panembahan Cahya Warastra benar-benar telah membuat dada Ki Rangga bagaikan tertimpa berbongkah-bongkah batu padas yang berguguran dari puncak bukit.

Hantaman telapak tangan Panembahan Cahya Warastra itu ternyata belum mampu menembus ilmu kebal Ki Rangga Agung Sedayu, namun getaran yang diterima oleh Ki Rangga telah membuatnya terlempar ke belakang beberapa langkah sebelum akhirnya Ki Rangga berhasil menguasai kedudukannya dan kembali tegak di atas kedua kakinya yang renggang.

“Luar biasa,” desis Ki Rangga, “Sebuah ujud dari ilmu yang aneh. Ilmu yang berlandaskan pada dua buah sumber ilmu yang berbeda namun dapat berpadu dengan begitu sempurna.”

“Tidak usah merajuk Ki Sanak,” bentak Panembahan Cahya Warastra, “Lebih baik engkau segera menyingkir dari hadapanku agar aku segera dapat mengejar Ki Patih Mandaraka yang berlaku sangat pengecut. Meninggalkan medan tanpa berani menerima tantanganku untuk berperang tanding.”

Ki Rangga tersenyum sekilas. Jawabnya kemudian, “Panembahan, Ki Patih telah menunjuk aku untuk menghadapi Panembahan. Sebagai seorang prajurit, pantang bagiku untuk menolak perintah, betapapun beratnya perintah itu. Selain itu, tentu Ki Patih telah membuat pertimbangan-pertimbangan sebelum menjatuhkan perintahnya.”

“O..,” orang yang mengaku saudara kembar Kecruk Putih itu tertawa pendek, “Engkau menganggap dirimu cukup pantas untuk menghadapiku hanya atas dasar perintah dari Juru Martani?” Panembahan Cahya Warastra berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Apakah engkau tidak menyadari bahwa engkau telah diumpankan oleh Patih yang licik itu agar dia bisa menghindar dariku?”

“Tentu tidak,” jawab Ki Rangga Agung Sedayu, “Ki Patih adalah seorang yang linuwih dan sekaligus waskita dalam memperhitungkan kejadian-kejadian yang akan datang atas dasar pertimbangan keadaan di masa kini dalam hubungannya dengan peristiwa di sekelilingnya.”

“Omong kosong!” bentak Panembahan Cahya Warastra, “Keberhasilannya selama ini dalam mengatasi segala macam persoalan adalah tidak lebih dari akal liciknya yang disertai dengan tipu muslihat untuk membenarkan segala tindakannya.”

“Aku kurang setuju Panembahan,” potong Ki Rangga cepat, “Kadang-kadang orang sulit membedakan antara licik dan penuh perhitungan. Orang-orang yang berpihak pada Ki Patih akan memberikan tanggapan atas apa yang dilakukan oleh Ki Patih itu sebagai tindakan yang penuh dengan perhitungan, sedangkan pihak lawan akan menyebut itu sebagai tindakan licik, tindakan yang tidak jantan dan melanggar paugeran.”

Panembahan Cahya Warastra mengerutkan keningnya sejenak. Kemudian katanya setengah berteriak, “He! Apa katamu tentang Harya Penangsang yang terbunuh di tepian bengawan sore? Bukankah dengan licik Juru Martani telah menyuruh Sutawijaya mengendarai seekor kuda betina?”

Ki Rangga tersenyum sambil menggeleng, “Tidak ada aturan yang melarang seorang prajurit turun ke medan pertempuran dengan mengendarai kuda betina.”

“Tapi itu dapat disebut licik,” geram Panembahan Cahya Warastra, “Semua tahu bahwa Gagak Rimang adalah kuda perang yang tidak diperkenankan untuk berhubungan dengan kuda betina manapun juga. Sehingga kehadiran kuda betina di tengah-tengah medan pertempuran telah membuat Gagak Rimang menjadi liar dan sulit dikendalikan.”

“Itulah salah satu perhitungan cerdik dari Ki Juru Martani pada waktu itu yang luput dari pengamatan para perwira Jipang. Mereka begitu yakin dengan kesaktian Harya Penangsang sehingga kelengahan itu harus ditebus dengan sangat pahit.”

“Tutup mulutmu!” bentak Panembahan Cahya Warastra dengan muka merah membara, “Sudah cukup waktu yang kuberikan kepadamu untuk berpikir. Sekarang kesempatan itu sudah tertutup. Jangan terlalu membanggakan ilmu kebalmu yang masih mentah itu. Bajumu di bagian dada telah hangus terbakar oleh ilmuku, itu membuktikan bahwa ilmu kebalmu masih jauh dari sempurna. Ketahuilah, ilmu kebal yang sempurna itu akan dapat merambah pada benda-benda di sekitarnya yang berhubungan erat dengan orang yang mempunyai ilmu kebal itu. Seseorang yang telah sempurna ilmu kebalnya tidak akan tertembus oleh ilmu lawan walaupun hanya ujung bajunya.”

Sejenak Ki Rangga Agung Sedayu tertegun mendengar uraian Panembahan Cahya Warastra. Dia memang pernah mendengar ilmu kebal semacam itu, ilmu yang dapat membuat pemiliknya kebal sampai dengan baju yang dipakainya sekalipun. Namun menurut gurunya, tidak ada ilmu yang sempurna di dunia ini. Walaupun seseorang dapat melindungi dirinya sampai dengan baju yang dipakainya, namun sebuah getaran ilmu yang sangat kuat dan tajam justru akan dapat menembus dan menghancurkan tulang dan daging tanpa harus merusak kulit dan baju pembungkusnya.

Dalam pada itu, Ki Ageng Blarak Sineret ternyata masih bisa berpikir jernih dan tidak terbawa arus perasaannya. Ketika Ki Ageng Blarak Sineret melihat pasukan berkuda Jalamangkara menarik diri dan bergabung dengan pasukan Mataram yang baru datang, dengan cepat dia segera bergeser dari tempatnya dan memberi isyarat kepada pasukan Panembahan Cahya Warastra yang telah bergabung dengan pasukan Bango Lamatan untuk menyusun gelar dibantu oleh para pemimpin perguruan. Sesuai dengan arahan sebelumnya dari Panembahan Cahya Warastra, Ki Ageng Blarak Sineret telah ditunjuk menjadi senopati pengapit bersama Bango Lamatan. Namun ternyata sampai saat itu Bango Lamatan belum menampakkan batang hidungnya sehingga Ki Ageng Blarak Sineret telah mengambil alih pasukan karena Panembahan Cahya Warastra sendiri telah mengikatkan diri dengan Ki Rangga Agung Sedayu dalam sebuah perang tanding.

Berangsur-angsur pasukan Panembahan Cahya Warastra telah menyesuaikan dengan gelar yang mereka susun, Gelar Capit Urang. Segera saja tampak kesibukan yang luar biasa. Beberapa pemimpin perguruan telah berkumpul di depan Ki Ageng Blarak Sineret untuk mendapatkan penjelasan singkat.

“Aku akan berada di kepala gelar,” berkata Ki Ageng Blarak Sineret memulai pengarahannya, “Sambil menunggu Ki Bango Lamatan dan Ki Gede Ental Sewu hadir, aku mohon Ki Wasi Jaladara untuk mendampingiku di ujung gelar.”

Ki Wasi Jaladara yang berada di samping Ki Ageng Blarak Sineret hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa berkata sepatah kata pun.

“Untuk di kedua ujung gelar,” berkata Ki Ageng Blarak Sineret selanjutnya, “Aku mohon Nyi Rahutri, Alap-Alap Siwur Bang dan Ki Bagus Lelana di ujung kiri gelar, sedangkan Kiai Sadaksada, Ki Rudraksa dan Ki Bagas Waras berada di ujung gelar yang lain.”

Para pemimpin perguruan yang telah disebut namanya hanya mengangguk-anggukkan kepala mereka tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka untuk menolak atau pun menyatakan keberatannya. Namun tiba-tiba dua orang telah mendesak maju.

“Mohon maaf Ki Ageng,” berkata salah satu dari keduanya, “Kami sepasang Iblis bertangan badai dari kali Dadung mohon arahan.”

Ki Ageng Blarak Sineret sejenak mengerutkan keningnya sambil menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab. Dilemparkan pandangan matanya ke sekeliling, seolah-olah ada yang sedang dicarinya.

“Di manakah Kiai Sasadara dan Ki Ajar Wiyat?” bertanya Ki Ageng kepada mereka yang hadir tanpa memperdulikan permintaan Sepasang Iblis bertangan badai dari kali Dadung.

Sejenak mereka yang hadir saling berpandangan, mereka memang tidak melihat kedua orang itu semenjak tadi.

“Mereka berdua mendampingi Ki Bango Lamatan untuk menyerbu padukuhan induk Menoreh pagi tadi,” akhirnya seseorang menjawab pertanyaan Ki Ageng Blarak Sineret.

“Aku tahu itu,” jawab Ki Ageng cepat, “Akan tetapi mengapa mereka tidak ikut menarik diri bersama-sama dengan pasukan yang lain?”

“Ki Bango Lamatan dan Ki Gede Ental Sewu juga belum tampak hadir di antara kita,” tiba-tiba Ki Wasi Jaladara yang sedari tadi hanya diam saja telah berdesis perlahan.

Kembali Ki Ageng Blarak Sineret menarik nafas dalam-dalam. Berbagai dugaan timbul dalam benaknya, mengapa para tokoh-tokoh penting sejauh ini belum bergabung dengan pasukan induk Panembahan Cahya Warastra.

“Apakah mereka sedang terlibat dalam sebuah pertempuran yang membuat mereka terikat sehingga tidak mendapat kesempatan untuk menarik diri bersama-sama pasukan?” pertanyaan itu bergulung-gulung dalam dada Ki Ageng Blarak Sineret.

“Kita jangan tergantung dengan mereka yang tidak hadir disini,” tiba-tiba terdengar suara merdu menyela, “Pasukan lawan sudah mulai bergerak dengan gelar Garuda Nglayang, sedangkan kita di sini masih disibukkan dengan segala urusan yang tidak jelas. Lebih baik kita segera bersiap. Apabila kemudian para tokoh-tokoh penting itu hadir di medan, segala sesuatunya dapat diatur kemudian.”

Hampir bersamaan semua yang hadir di situ berpaling ke arah seseorang yang sedang berdiri dengan anggunnya, Nyi Rahutri.

Sejenak suasana menjadi hening. Segera saja beberapa pasang mata laki-laki yang berada di situ dengan tanpa berkedip menyelusuri seluruh lekuk-lekuk tubuh pemimpin Perguruan Pamulatsih itu dengan sorot mata yang nanar dan sedikit liar.

Untuk beberapa saat hati Nyi Ayu Rahutri bagaikan tercekat begitu menyadari berpasang-pasang mata laki-laki yang ada di sekitarnya seolah-olah sedang menggerayangi sekujur tubuhnya yang terbungkus oleh pakaian khusus yang ringkas dan ketat.

Dengan sedikit tersipu cepat-cepat Nyi Ayu Rahutri bertanya perlahan, “Apakah pendapatku salah?”

“O, tidak..tidak,” beberapa orang tanpa disadari telah menyahut.

“Jadi..? Bagaimana selanjutnya..?” kembali Nyi Ayu Rahutri bertanya dengan nada sedikit manja.

Sejenak mereka yang hadir di situ hanya dapat saling pandang tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Beberapa orang yang sudah dapat menguasai diri segera menarik nafas dalam-dalam untuk mengurangi laju detak jantung mereka yang tiba-tiba saja telah melonjak-lonjak. Sedangkan beberapa yang lain segera melemparkan pandangan mata mereka ke titik-titik di kejauhan sambil menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir bayangan aneh yang tiba-tiba saja menyusup dalam benak mereka.

“Pendapatmu benar, Nyi Rahutri,” Ki Ageng Blarak Sineret lah yang segera menyahut untuk mencairkan suasana, “Kita akan menghadapi Mataram dengan kekuatan yang ada. Jangan membuang-buang waktu lagi. Marilah kita segera menempati tempat masing-masing sesuai dengan apa yang telah aku sampaikan tadi.”

“Bagaimana dengan kami berdua?” tiba-tiba kedua iblis dari tepian kali Dadung itu kembali bertanya.

“Ki Sanak berdua dapat bergabung dengan beberapa Putut yang ada di ekor pasukan untuk menjaga jangan sampai pada saat kita sedang disibukkan oleh pasukan Mataram, para pengawal dari Menoreh itu justru akan menusuk kita dari belakang.” Akhirnya Ki Ageng Blarak Sineret memutuskan.

Rona merah segera saja mewarnai kedua wajah iblis dari tepian kali dadung itu. Ada sedikit ketersinggungan di dalam hati mereka karena tingkat kemampuan mereka yang hanya disamakan dengan kemampuan para Putut padepokan. Namun mereka sama sekali tidak mempunyai nyali untuk menolak justru mereka tahu dengan siapa mereka berdua berhadapan.

Demikianlah akhirnya dengan tergesa-gesa para pemimpin perguruan itu segera menempati tempat mereka masing-masing. Dengan gelar capit urang mereka telah siap menunggu aba-aba dari Ki Ageng Blarak Sineret untuk menyerbu pasukan lawan yang telah berada di depan mata.

Dalam pada itu perang tanding antara Ki Rangga Agung Sedayu melawan Panembahan Cahya Warastra berlangsung dengan dahsyatnya. Tanah bagaikan dibajak dan debu-debu berhamburan. Sementara pepohonan serta gerumbul-gerumbul liar yang terdapat di sekitar perang tanding itu telah porak poranda. Ranting-ranting sebesar lengan orang dewasa berderak derak berpatahan terkena sambaran angin pukulan kedua orang yang sudah hampir putus segala kawruh lahir dan batin itu. Bahkan gerumbul-gerumbul bagaikan tercerabut dari akarnya dan ikut berhamburan tertiup angin pusaran yang timbul dari akibat dahsyatnya perang tanding itu.

Semakin lama lingkaran pertempuran itu semakin bergeser mendekati pintu gerbang padukuhan induk yang sudah runtuh terbakar menjadi abu. Ki Ageng Blarak Sineret yang mengambil alih sementara pimpinan pasukan Panembahan Cahya Warastra menyadari sepenuhnya bahwa pertempuran antara kedua orang linuwih itu tidak bisa diganggu, sehingga dia telah merencanakan untuk menggeser pasukannya menjauhi lingkaran pertempuran.

“Kita tidak dapat membiarkan lingkaran pertempuran Panembahan Cahya Warastra itu berada di dalam gelar kita. Kita harus membangun kekuatan gelar capit urang agak jauh dari dinding padukuhan, agar tidak mengganggu perang tanding itu,” berkata Ki Ageng Blarak Sineret kepada Ki Wasi Jaladara yang mendampinginya.

Ki Wasi Jaladara mengangguk. Kemudian dia segera meneriakkan aba-aba sambil mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, sedangkan tangan kirinya yang juga terangkat tinggi telah bergerak menunjuk ke arah luar menjauhi dinding padukuhan. Suara teriakan yang dilambari dengan tenaga cadangan itu segera menggema ke seluruh pasukan sehingga para pemimpin pasukan yang berada di kedua ujung gelar segera bersiap untuk menindak lanjuti.

“Apakah kita akan membiarkan Panembahan Cahya Warastra bertempur sendirian di belakang gelar kita?” bertanya seorang Putut dari Padepokan Cahya Warastra yang berdiri di belakang Ki Ageng Blarak Sineret.

Ki Ageng hanya berpaling ke belakang sekilas sambil menjawab, “Panembahan Cahya Warastra tidak akan memerlukan waktu yang lama untuk segera menyelesaikan lawannya. Sementara pasukan pengawal Menoreh yang berada di balik dinding padukuhan induk bukan ancaman yang berarti bagi Panembahan.”

Putut itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia sepenuhnya percaya dengan kesaktian pemimpin perguruannya, namun di dalam hatinya terbersit kekhawatiran akan keselamatan pemimpinnya itu jika lawan ternyata tidak segan untuk berbuat curang dengan meminta bantuan seluruh pengawal Menoreh yang berada di balik dinding padukuhan itu untuk beramai-ramai mengeroyok Panembahan Cahya Warastra.

“Tapi aku yakin, Panembahan akan dapat mrantasi semua itu walaupun seisi Tanah Perdikan Menoreh ini beramai-ramai mengeroyoknya,” berkata Putut itu dalam hati sambil tersenyum tipis dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Marilah kita bergerak,” berkata Ki Ageng Blarak Sineret membuyarkan angan-angan Putut dari perguruan Panembahan Cahya Warastra itu, “Usahakan kedua ujung gelar kita bergerak mendahului untuk menghancurkan sayap-sayap gelar Garuda Nglayang pasukan lawan. Sementara dua kelompok putut-putut yang terpilih dari setiap perguruan yang telah kita persiapkan agar menyusup diantara barisan pasukan kita menuju ke masing-masing ujung gelar untuk memberikan kejutan di kedua sayap pasukan lawan.”

Ki Wasi Jaladara sejenak mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Apakah Ki Ageng bermaksud memberikan bantuan di kedua ujung gelar capit urang untuk menambah tekanan kepada kedua sayap pasukan lawan?”

“Ya,” jawab Ki Ageng cepat, “Begitu benturan pertama terjadi, kita akan melihat keseimbangan medan beberapa saat. Jika pasukan kita di kedua ujung gelar menguasai medan, kelompok para Putut terpilih dari setiap perguruan itu akan mempercepat hancurnya kekuatan lawan.”

“Jika pasukan kita yang terdesak atau kekuatannya seimbang dengan pasukan Mataram?”

“Kelompok khusus para putut terpilih akan menambah kekuatan kita di setiap ujung gelar atau paling tidak akan memberikan keseimbangan dalam memberikan perlawanan.” Jawab Ki Ageng Blarak Sineret mantap.

Ki Wasi Jaladara hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika pandangan matanya kemudian menatap ke arah barisan pasukan lawan, tampak pasukan Mataram sudah siap dalam gelar garuda Nglayang

Demikianlah ketika Ki Ageng Blarak Sineret sudah merasa cukup dengan segala persiapan pasukannya, tombak pendek di tangan kanannya segera diangkat tinggi-tinggi. Segera saja terdengar suara teriakan menggelegar dari Ki Wasi Jaladara memberi aba-aba untuk menyerbu lawan.

Dengan suara gemuruh dan teriakan serta sumpah serapah, pasukan Panembahan Cahya Warastra bagaikan air bah yang turun dari lereng-lereng bukit menerjang apa saja yang dilewatinya, gerumbul-gerumbul perdu, bebatuan yang berserakan dan pohon-pohon kecil yang tidak begitu kuat akarnya ikut terseret arus banjir bandang.

Pasukan Mataram ternyata mempunyai perhitungan lain. Mereka tidak menyongsong pasukan lawan yang menyerbu dengan teriakan gegap gempita serta senjata yang terangkat tinggi-tinggi siap menebas leher lawan. Namun pasukan Mataram tetap menunggu di tempat mereka menggelar kekuatan. Perlahan tapi pasti mereka justru telah bergerak mengatur jarak yang cukup antara prajurit satu dengan yang lainnya agar pada saat terjadi benturan pertama, mereka tidak salah mengayunkan senjata yang justru akan dapat melukai kawan sendiri.

Tumenggung Singayudha dan Surayudha yang berada di kepala gelar sejenak saling pandang begitu melihat pasukan Panembahan Cahya Warastra berlari-larian sambil mengangkat senjata mereka yang terayun-ayun mengerikan. Pasukan lawan memang telah memasang gelar capit urang namun dalam perkembangannya kelihatannya pasukan lawan itu dengan cepat dapat mengubah gelar menjadi jurang grawah atau pun gedong minep.

“Luar biasa,” desis Tumenggung Singayudha tanpa disadarinya, “Ternyata Panembahan Cahya Warastra mampu menghimpun sedemikian besar pasukan dari berbagai perguruan yang ada di tanah ini.”

Tumenggung Surayudha yang ada di sebelahnya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya kemudian, “Pasukan itu memang kelihatannya sangat besar, namun sesungguhnya sangat rapuh dan mudah tercerai-berai.”

Tumenggung Singayudha mengerutkan keningnya sambil berpaling. Katanya kemudian, “Mengapa Kakang mengatakan pasukan sebesar itu sangat rapuh dan mudah sekali tercerai-berai?”

“Mereka berjuang tidak atas dasar keyakinan yang kuat. Mereka berjuang untuk kepentingan golongan mereka masing-masing,” Tumenggung Surayudha berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Berbeda dengan kita para prajurit Mataram, kita berjuang dengan landasan keyakinan yang sama, keyakinan akan kebenaran dan demi tetap tegaknya pemerintahan Mataram di atas tanah ini.”

Sejenak Tumenggung Singayudha termenung. Sudah berapa puluh kali sejak Panembahan Senopati memindahkan pemerintahan dari Pajang ke Mataram telah terjadi pergolakan di negeri ini. Beberapa pihak merasa tidak puas dengan pengangkatan Panembahan Senopati menjadi pemimpin tertinggi di tanah ini. Namun yang justru telah membuat hati para kawula alit sedih dan nelangsa tak terperikan adalah perang yang terjadi justru kebanyakan bersumber dari tingkah polah keluarga istana sendiri.

“Marilah,” berkata Tumenggung Surayudha menyadarkan Tumenggung Singayudha dari lamunannya, “Beri perintah untuk meniup sangkakala dan genderang untuk memulai peperangan ini.”

Tumenggung Singayudha segera memberi isyarat kepada Ki Bekel Sidokepung dari kademangan Candisari yang berdiri tidak jauh di belakangnya untuk memerintahkan anak buahnya menabuh genderang dan meniup sangkakala.

Sejenak kemudian udara di atas padukuhan induk itu pun telah digetarkan oleh bunyi sangkakala yang menggelegar ditingkah dengan suara genderang yang ditabuh bertalu-talu. Pasukan cadangan Mataram itu memang tidak membawa bende Kiai Becak karena bende itu telah dibawa oleh pasukan yang melawat ke Panaraga. Sebagai gantinya pasukan cadangan Mataram telah membawa sangkakala Kiai Sembur Geni dan genderang Kiai Talkanda.

Suara sangkakala Kiai Sembur Geni yang melengking tinggi memekakkan telinga itu ternyata telah mempengaruhi pasukan Panembahan Cahya Warastra yang sedang berlari-larian sambil mengacungkan senjata mereka yang berkilat-kilat tertimpa sinar Matahari. Untuk beberapa saat langkah mereka bagaikan tertahan. Apalagi ketika genderang Kiai Talkanda telah ditabuh, getar suaranya seakan-akan telah menghimpit dan menyesakkan dada.

“Jangan terpengaruh!” teriak Ki Ageng Blarak Sineret sambil terus melangkah menuju ke tempat pasukan lawan menunggu, “Hancurkan setiap penghalang. Tidak ada belas kasihan. Rawe-rawe rantas malang-malang putung.”

Teriakan Ki Ageng Blarak Sineret yang mengandung tenaga cadangan ini ternyata telah memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap ketahanan jiwani pasukannya dan membangkitkan kembali semangat perjuangan mereka. Dengan teriakan yang membahana, pasukan Panembahan Cahya Warastra pun kembali bergerak dengan cepat menyerbu ke tempat pertahanan para prajurit Mataram.

Dalam pada itu, pertempuran antara Ki Gede Ental Sewu dan Ki Jayaraga berlangsung dengan dahsyatnya. Kedua orang yang sudah memasuki masa-masa tua dan sudah selayaknya menikmati hidup dengan menimang cucu itu, ternyata masih harus mengadu liatnya kulit dan kerasnya tulang. Keduanya benar-benar sudah tenggelam dalam pertempuran mengadu ilmu yang tinggi dan nggegirisi.

Ki Gede Ental Sewu agaknya sudah tidak sabar lagi untuk segera menyelesaikan pertempuran begitu melihat kedua muridnya yang masih sangat belia, Sindang wangi dan Bantar Kawung mendekati arena pertempuran. Apalagi ketika dilihatnya beberapa pengawal yang lain telah mendahului berkerumun di pinggir arena, hatinya benar-benar menjadi marah. Ki Gede Ental Sewu mengira kedua muridnya itu telah menyerah dan ditawan oleh para pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

“Tapi mengapa kedua tangan anak-anak itu tidak diikat?” sebuah pertanyaan berputar-putar di benak Ki Gede Ental Sewu begitu menyadari kedua muridnya itu berjalan dengan bebas diiringi oleh Ki Gede Menoreh dan beberapa pengawal menuju ke tempatnya.

Namun ketika Ki Gede kemudian mendapat kesempatan sekilas untuk mengawasi medan di sekitarnya, degup jantungnya pun menjadi semakin kencang begitu menyadari pasukan pengawal Menoreh ternyata telah berada di mana-mana.

“Gila!” umpat Ki Gede dalam hati sambil menghindari serangan lawannya yang mengarah ke tengkuk, “Mengapa kedua anak itu tidak ikut mundur bergabung dengan pasukan Panembahan Cahya Warastra yang telah berada di luar dinding padukuhan?”

“Pengalaman mereka masih terlalu dangkal sehingga dengan mudah terjebak di antara para pengawal Menoreh yang lebih berpengalaman,” kembali Ki Gede Ental Sewu berkata dalam hati.

Maka ketika suatu saat tekanan dari lawannya agak berkurang, Ki Gede Ental Sewu segera mengambil keputusan untuk menggunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Dengan cepat Ki Gede telah meloncat ke belakang untuk mengambil jarak.

Ki Jayaraga terkejut begitu menyadari lawannya telah mengambil jarak. Panggraitanya yang tajam segera menyadari bahwa lawannya telah mengambil keputusan untuk menggunakan puncak ilmunya.

“Kakang Respati,” berkata Ki Jayaraga berusaha untuk meredam kemarahan lawannya, “Apakah Kakang bermaksud mengakhiri pertempuran ini dengan salah satu dari kita harus menjadi banten?”

“Tutup mulutmu, Pradapa,” geram Ki Gede Ental Sewu dengan wajah yang membara, “Hari ini aku telah memutuskan hanya salah satu dari kita yang berhak menghirup segarnya udara dan teriknya sinar Matahari. Kalau engkau merasa takut melihat kenyataan, berlututlah di hadapanku dan tundukkan kepalamu, aku berjanji untuk tidak terlalu menyakitimu pada saat membunuhmu.”

Ki Jayaraga menarik nafas dalam-dalam. Ada sebuah penyesalan yang membelit hati tuanya. Penyesalan yang tak mungkin dapat ditebus sampai saatnya nanti ajal akan menjemput di akhir hayatnya.

“Bersiaplah!” teriakan Ki Gede Ental Sewu yang semasa mudanya bernama Respati Mintuna itu telah menyadarkan Ki Jayaraga akan kenangan masa lalunya, “Aku tidak akan memberimu peringatan untuk kedua kalinya. Sekali peringatan itu sudah terlalu banyak bagi orang sepertimu, orang yang hanya mementingkan diri sendiri dan meninggalkan tanggung jawab yang seharusnya menjadi beban kewajibannya.”

Kata-kata Ki Gede Ental Sewu yang terakhir itu bagaikan ujung sembilu yang dengan sengaja secara perlahan-lahan membelah hati tua Ki Jayaraga menjadi potongan–potongan yang berserakan tak berarti. Kenangan akan Niken Larasati yang telah terpendam berpuluh-puluh tahun yang lalu telah muncul kembali dan seakan-akan baru saja terjadi kemarin sore.

Ketika Ki Jayaraga masih bergulat dengan kenangan masa lalunya, tiba-tiba Ki Gede Ental Sewu telah berteriak lantang, “Tataplah langit, peluklah bumi, Pradapa. Jangan rindukan lagi terbitnya Matahari esok pagi!”

Terkejut Ki Jayaraga bagaikan tersengat ribuan lebah. Serangan Ki Gede Ental Sewu yang dilambari dengan ilmu puncaknya telah meluncur dengan dahsyat menerjang dadanya.

Tidak ada kesempatan bagi Ki Jayaraga untuk mengetrapkan Aji Sigar bumi dalam menghadapi gempuran Ki Gede Ental Sewu. Yang dapat dilakukan hanyalah menghindari serangan lawan sejauh-jauhnya.

Dengan cepat Ki Jayaraga segera menjatuhkan dirinya berguling ke kanan beberapa kali, bahkan dengan sengaja Ki Jayaraga menambah lagi beberapa putaran untuk menghindari kemungkinan akan adanya serangan susulan.

Serangan Ki Gede Ental Sewu yang bagaikan tatit melompat di udara itu ternyata hanya mengenai tempat kosong, sehingga sebuah kekuatan yang dahsyat telah meluncur menghantam sebuah pohon sebesar pelukan orang dewasa yang berada segaris dengan serangan Ki Gede Ental Sewu. Akibatnya adalah sangat dahsyat dan nggegirisi sehingga membuat jantung mereka yang hadir di seputar arena pertempuran itu telah tergetar dengan hebat, bahkan sebagian pengawal ada yang merasa seolah-olah jantung mereka bagaikan telah terlepas dari tangkainya.

Sementara kedua murid dari perguruan Ental Sewu di lereng Gunung Sindara, Sindang Wangi dan Bantar Kawung seolah-olah tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan, kekuatan puncak dari aji kebanggaan perguruan Ental Sewu yang selama ini hanya mereka dengar dari dongengan para Putut dan Cantrik padepokan.

Pohon sebesar pelukan orang dewasa itu sejenak bergetar sebelum akhirnya meledak pecah berkeping-keping. Tanah tempat tumbuh pohon itu pun ikut terbongkar sampai dengan akar-akarnya sehingga tanah bercampur batu-batu kecil dan debu serta serpihan-serpihan kayu bercampur dedaunan berhamburan memenuhi udara seputar arena pertempuran.

Sejenak pandangan di seputar arena itu menjadi kabur. Ki Gede Menoreh yang mengawasi jalannya perang tanding dari pinggir arena menjadi berdebar-debar. Kekuatan aji lawan Ki Jayaraga ini benar-benar tidak dapat dipandang dengan sebelah mata. Namun Ki Gede Menoreh yakin, Ki Jayaraga yang telah dikenalnya sejak Kiai Gringsing masih hidup itu tentu tidak akan membiarkan dirinya lumat diterjang ilmu lawannya, Ki Jayaraga tentu mempunyai perhitungan-perhitungan yang mungkin tidak terpikirkan oleh lawannya.

“Seandainya Ki Rangga Agung Sedayu telah hadir disini,” tiba-tiba tanpa disadarinya Ki Gede Menoreh bergumam perlahan.

“Apakah seorang lawan telah mampu menahannya sehingga sampai saat ini dia belum mendapatkan jalan untuk memasuki padukuhan induk?” kembali Ki Gede Menoreh bertanya-tanya dalam hati.

Untuk sejenak ingatan Ki Gede Menoreh melayang kepada Ki Rangga Agung Sedayu, pemimpin pasukan khusus Mataram yang berkedudukan di Menoreh. Ki Gede Menoreh memang telah mendengar bunyi ledakan cambuk Ki Rangga Agung Sedayu beberapa saat yang lalu namun dia belum mengetahui bahwa di luar dinding padukuhan induk sedang terjadi perang tanding hidup mati antara Ki Rangga Agung Sedayu dan Panembahan Cahaya Warastra.

“Jika sejauh ini Ki Rangga Agung Sedayu masih tertahan di luar dinding padukuhan induk, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa pasukan Panembahan Cahya Warastra benar-benar terdiri dari orang-orang yang pilih tanding,” kembali Ki Gede Menoreh berangan-angan.

Namun angan-angan Ki Gede Menoreh menjadi buyar bagaikan awan tipis yang tertiup angin kencang ketika mendengar teriakan lawan Ki Jayaraga yang menggelegar memekakkan telinga.

“Pengecut!” teriak Ki Gede Ental Sewu dengan gigi bergemeretakan menahan amarah yang tiada taranya, “Pradapa, kalau memang engkau jantan, jangan hanya menghindar. Terimalah seranganku ini dengan dada tengadah.”

Selesai berkata demikian, kembali Ki Gede Ental Sewu memusatkan segenap nalar budinya untuk mengulangi serangannya.

Ki Jayaraga yang telah melenting berdiri kini tidak ada pilihan lain baginya kecuali harus melawan. Sejenak kemudian Ki Jayaraga pun telah berdiri dengan kokoh di atas kedua kakinya yang renggang, siap membenturkan aji sigar bumi dengan aji pamungkas dari Perguruan Ental Sewu di lereng Gunung Sindara.

Sejenak kemudian, dengan sebuah lompatan panjang Ki Gede Ental Sewu telah mengayunkan tangannya ke arah ubun-ubun Ki Jayaraga. Tangan kanan Ki Gede Ental Sewu yang terayun mengarah ubun-ubun lawannya itu tampak bercahaya menyilaukan dari siku sampai telapak tangannya yang terbuka dengan jari-jari merapat. Cahaya yang terpancar itu begitu menyilaukan pandangan mata sehingga mereka yang hadir di pinggir arena tidak berani memandang langsung dan memilih untuk memalingkan kepala.

Ki Jayaraga yang melihat cahaya menyilaukan terpancar dari tangan Ki Gede Ental Sewu tidak bergeming. Dengan sepenuh hati dipanjatkan doa kepada Yang Maha Hidup untuk memohon perlindunganNya dan pasrah atas apa yang akan menjadi ketentuan dari garis hidupnya.

Dengan sedikit merendahkan kedua lututnya, Ki Jayaraga yang telah siap dengan aji sigar bumi segera menyilangkan kedua tangan di atas kepalanya untuk melindungi diri dari terjangan aji pamungkas perguruan Ental Sewu dari lereng Gunung Sindara.

Sejenak kemudian sebuah benturan yang dahsyat telah terjadi. Memang Ki Gede Ental Sewu sengaja membenturkan ilmunya langsung melalui tangannya, tidak dengan lontaran ilmu jarak jauh, untuk memberikan dampak benturan yang berlipat ganda kepada lawannya.

Benturan yang terjadi benar-benar telah menggoncangkan medan pertempuran. Sebuah ledakan yang mengguntur telah memekakkan telinga sedangkan getaran yang ditimbulkan akibat benturan itu telah menyentuh dada setiap orang yang hadir di seputar arena. Akibatnya adalah sangat dahsyat. Para pengawal yang tidak mempunyai ketahanan tubuh yang cukup kuat telah terbungkuk-bungkuk sambil memegangi dada mereka yang rasa-rasanya bagaikan terhimpit berbongkah-bongkah batu padas. Bahkan beberapa diantaranya telah jatuh tidak sadarkan diri. Sementara kilatan cahaya yang menyilaukan akibat benturan ilmu kedua orang yang linuwih itu untuk beberapa saat telah membutakan pandangan orang-orang yang hadir di seputar medan.

Ternyata ketahanan tubuh kedua orang tua itu hampir seimbang. Akibat benturan itu ternyata telah melontarkan keduanya beberapa langkah ke belakang. Sejenak keduanya masih yang terhuyung-huyung sambil memegangi dada mereka masing-masing yang rasa-rasanya tulang-tulang iganya telah berpatahan.

Setelah menghentakkan kekuatannya untuk menahan laju tubuhnya yang terseret ke belakang, Ki Jayaraga yang terlebih dahulu dapat menguasai keseimbangan tubuhnya telah kembali tegak di atas kedua kakinya yang renggang.

Ketika Ki Jayaraga melontarkan pandangan matanya ke depan, dilihatnya Ki Gede Ental Sewu yang mengalami sedikit kesulitan dalam mengembalikan keseimbangan tubuhnya ternyata telah berhasil untuk berdiri tegak kembali. Sambil menarik nafas dalam-dalam beberapa kali untuk melonggarkan dadanya yang bagaikan terhimpit sebuah bukit, pemimpin perguruan Ental Sewu itu pun kemudian segera bergeser beberapa langkah ke depan untuk kembali siap menyabung nyawa.

“Kakang Respati,” berkata Ki Jayaraga begitu melihat lawannya telah menyilangkan kedua tangannya di depan dada, “Apakah benar-benar tidak ada jalan lain untuk menyelesaikan permasalahan di antara kita ini?”

“Inilah jalan yang telah aku pilih,” geram Ki Gede Ental Sewu yang semasa mudanya bernama Respati Mintuna, “Salah satu diantara kita harus mati. Aku tidak mau hidup di bawah langit yang sama dengan orang yang telah menodai nama baik keluargaku. Hari ini juga dendam setinggi langit sedalam lautan ini harus dituntaskan.”

Ki Jayaraga hanya dapat menarik nafas dalam-dalam menanggapi kata-kata lawannya. Hati tuanya benar-benar bagaikan teriris-iris sembilu. Niat baiknya untuk meluruskan peristiwa yang telah terjadi berpuluh tahun yang lalu ternyata telah membentur sebuah dinding batu yang tak tergoyahkan.

“Nah, Pradapa. Terserah engkau akan melawan atau tidak, ilmuku akan segera melumatmu,” berkata Ki Gede Ental Sewu kemudian.

Agaknya pemimpin perguruan di lereng Gunung Sindara itu telah siap dengan puncak ilmunya dalam ujud yang lain. Kedua tangannya yang semula bersilang di depan dada segera diuraikannya. Dengan penuh kepercayaan diri yang tinggi, dia pun melanjutkan kata-katanya, “Aku tidak akan bertempur seperti anak kemarin sore yang baru belajar olah kanuragan, berloncat-loncatan dan saling mengadu liatnya kulit dan kerasnya tulang. Namun aku akan menggunakan ilmu yang berlandaskan kekuatan batin. Bersiaplah kalau tidak ingin tubuhmu lumat menjadi seonggok daging dan serpihan tulang.”

Selesai berkata demikian, Ki Gede segera berdiri tegak menghadap penuh ke arah lawannya dengan kaki yang renggang. Kedua tangannya terjulur lurus dengan telapak tangan terbuka menghadap ke arah Ki Jayaraga.

Sejenak kemudian, perlahan-lahan kabut tipis tampak muncul dari kedua belah telapak tangan Ki Gede Ental Sewu yang terbuka. Kabut itu berwarna putih kebiru-biruan bergerak perlahan mengarah ke tempat lawannya berdiri.

Terkesiap guru Glagah Putih itu melihat kabut tipis yang berwarna putih kebiru-biruan bergerak perlahan dengan pasti menuju ke arahnya. Semakin lama kabut itu semakin tebal dan bergerak bagaikan kepala seekor ular berbisa yang siap mematuk dada Ki Jayaraga.

Sekilas Ki Jayaraga teringat dengan Kiai Gringsing, guru Ki Rangga Agung Sedayu yang telah lama meninggal. Pertemuannya dengan Kiai Gringsing telah mengubah jalan hidupnya yang semula selalu penuh dengan gelimang noda. Sebuah pertemuan yang harus ditebus dengan mengadu ilmu seperti yang sekarang sedang terjadi antara dirinya dengan Ki Gede Ental Sewu.

Namun Ki Jayaraga tidak dapat berlama-lama membiarkan angannya terbang ke masa lalu. Ketika dilihatnya kabut tipis yang berwarna putih kebiru-biruan itu telah semakin dekat dengan tempatnya berdiri, dengan cepat disilangkan kedua tangannya di depan dada. Ki Jayaraga hanya memerlukan waktu sekejap untuk mengungkapkan ilmunya, ilmu yang sama ketika dia bertemu dengan Kiai Gringsing untuk pertama kalinya.

bersambung ke bagian 2

 

4 Responses

  1. Ah,,,, belum ada kiriman rontal, mas?

    Belum ada, masih kejar tayang. Silahkan kunjungi https://cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-408 jika tidak sabar menunggu disini

  2. Selamat tahun baru 2015. Semoga tahun ini lebih baik dari tahun yang lalu untuk kalian semua.

  3. Wilujeng enjing. Salam pasedherekan, kados padhepokan menika sae kagem wadhah komunikasi budaya. Khususipun ing bab sastra ingkang ngemu unsur lokal sejarah, Katur mbah Man, mugi tansah pinaringan sehat lan ‘trengginas’ ugi ing pangatos-atos anggenipun momong olah sastra lan momong para cantrik sutrisna padhepokan.

  4. nenggo dawahipun lontar selajengipun…seking padepokan.mugi sami sehat.mbahman .lan sanak kadang sedoyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s