TADBM-409

<< kembali ke TADBM-408 | lanjut ke TADBM-410 >>

Bagian 1

TADBM-409UNTUK SEJENAK raksasa itu tertegun. Bagaimanapun juga ilmu Ki Rangga yang dipelajarinya dari kitab Ki Waskita itu nyaris sempurna. Bukan hanya ujud-ujud semu yang hanya dapat mengelabuhi pandangan mata wadag saja, namun kedua ujud Ki Rangga itu juga mempunyai kemampuan ilmu yang sama dengan ujud aslinya.

Raksasa itu menggeram dengan dahsyatnya. Suaranya bagaikan auman berpuluh-puluh singa gurun yang kelaparan.

“Ki Rangga,” katanya kemudian dengan suara yang menggelegar. Gaungnya sampai jauh memantul ke bukit-bukit dan lembah di sekitarnya, “Engkau mencoba mengelabuhi aku dengan ilmu kakang pembarep adi wuragil. Jangan harap aku akan tertipu. Dengan sangat mudah aku akan dapat menemukan ujudmu yang asli.”

“Silahkan, Panembahan,” jawab Ki Rangga dengan mengerahkan tenaga cadangannya sehingga suaranya terdengar menggelegar, “Aku hanya berusaha mengimbangi ilmu Panembahan yang tiada taranya. Namun aku yakin, setinggi apapun ilmu itu kalau digunakan pada jalur yang tidak diperkenankan oleh Yang Maha Agung, pasti akan hancur juga.”

“Omong kosong!” bentak Panembahan Cahya Warastra. Suaranya bergulung-gulung bagaikan guntur yang meledak di langit, “Engkau tidak usah merajuk, Ki Rangga. Perlawananmu akan segera berakhir. Walaupun engkau mampu meningkatkan ilmumu selapis dua lapis lagi, itu semua tidak ada artinya menghadapi aji Brahala Wuru.”

“Belum tentu Panembahan,” sahut Ki Rangga, “Betapapun tinggi ilmu seseorang, pasti mempunyai kelemahan, dan kelemahan aji Brahala Wuru itulah yang sedang aku jajagi sekarang ini.”

Panembahan Cahya Warastra tertawa pendek, namun suaranya cukup mengguncang medan sekitarnya, “Jangan bermimpi Ki Rangga, hari masih terlalu siang untuk bermimpi. Hadapi sajalah kenyataan ini. Engkau telah dengan deksura berani menjadi talang patinya Juru Mertani yang licik itu. Engkau tidak usah menyesali diri lagi.”

Selesai berkata demikian dengan disertai suara bentakan yang mengguntur kaki Panembahan Cahya Warastra itu menginjak ujud Ki Rangga Agung Sedayu yang berdiri paling dekat.

Ujud Ki Rangga yang terdekat itu memang ujud yang asli. Panembahan Cahya Warastra memang dengan mudah dapat menemukan ujud asli Ki Rangga, namun betapapun mudahnya, tetap saja Panembahan Cahya Warastra memerlukan waktu sekejap untuk menilai ujud ketiga lawannya, dan itu sangat berarti sekali bagi Ki Rangga Agung Sedayu.

Dengan cepat Ki Rangga melenting menghindari serangan lawannya justru mendekati ke arah kedua ujudnya yang lain. Dengan bergerak saling menyilang, ketiga ujud itu saling merapat untuk kemudian berpencar lagi.

Sejenak kemudian perang tanding itu pun berkobar kembali dengan sengitnya. Ki Rangga yang telah mengetrapkan aji kakang pembarep adi wuragil benar-benar memanfaatkan keberadaan ketiga ujudnya untuk mempengaruhi penalaran lawannya. Ketiga ujud Ki Rangga itu berloncatan saling menyilang untuk bersatu kemudian terpecah lagi menjadi tiga. Ketika Panembahan Cahya Warastra sedang menilai ketiga ujud Ki Rangga untuk mencari ujud yang asli, sebuah ledakan yang tidak terdengar tapi dari ketiga ujung cambuk itu telah meluncur tiga larik cahaya kebiru-biruan dan menghantam bagian tubuh raksasa itu. Satu di bagian dada, satu di bagian punggung dan yang terakhir di bagian perut.

Raksasa itu terlihat tidak gentar dengan serangan beruntun dari ketiga ujud lawannya. Dengan tanpa menghiraukan serangan lawannya, raksasa itu mengejar kemanapun ujud Ki Rangga yang asli berada. Walaupun Panembahan Cahya Warastra mampu mengenal ujud Ki Rangga yang asli, namun waktu yang sekejap itu telah digunakan sebaik-baiknya oleh Ki Rangga untuk mencoba membalas serangan lawannya.

Dalam pada itu pertempuran antara kedua pasukan yang sempat terhenti sebentar, perlahan telah berkobar kembali. Pasukan Panembahan Cahya Warastra bagaikan mendapat tambahan tenaga baru. Mereka bertempur sambil bersorak-sorai seakan-akan kemenangan telah berada di tangan mereka. Sementara para perwira prajurit Mataram dengan susah-payah harus mengembalikan semangat pasukannya untuk bertempur kembali dengan tidak terpengaruh oleh perang tanding antara Ki Rangga Agung Sedayu melawan Panembahan Cahya Warastra.

“Jangan terpengaruh!” teriak Ki Tumenggung Surayudha, “Perang tanding itu tidak menentukan akhir dari perang ini. Kita masih punya kekuatan berlebih untuk menghancurkan Panembahan Cahya Warastra.”

“Jangan takut!” Ki Tumenggung Singayudha ikut memberi semangat para prajuritnya, “Masih ada Ki Patih Mandaraka yang belum turun ke medan. Selebihnya, junjungan kita Panembahan Hanyakrawati tentu tidak akan membiarkan Mataram hancur karena pokal orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra.”

“Apakah kalian yakin?” tiba-tiba terdengar suara tertawa di antara riuhnya pertempuran.

Ki Tumenggung Singayudha berpaling. Tampak seorang yang berperawakan tinggi dengan kumis melintang berdiri dengan kaki renggang beberapa langkah di samping kanannya.

Ki Tumenggung Singayudha tersenyum sambil menghadap penuh ke arah orang itu. Sedari tadi dia sudah melihat orang itu berada di seputar tempat itu. Namun agaknya orang itu salah satu dari pemimpin pasukan Panembahan Cahya Warastra menilik sikapnya yang begitu yakin akan kemampuannya serta ketenangannya dalam menghadapi pertempuran di sekelilingnya. Dia terlihat memberi aba-aba dan perintah terlebih dahulu tanpa tergesa-gesa menerjunkan dirinya dalam kancah pertempuran.

“Selamat sore Ki Sanak,” sapa Ki Tumenggung Singayudha, “Sedari tadi aku sudah melihat Ki Sanak di seputar arena pertempuran ini. Suatu kehormatan bagiku untuk menghadapi Ki Sanak dalam sebuah pertempuran besar seperti ini.”

Orang itu sejenak mengerutkan keningnya, namun dengan sebuah senyuman dia kemudian menjawab, “Menilik pakaian yang Ki Sanak kenakan, Ki Sanak pasti seorang prajurit yang berpangkat Tumenggung. Namun masih harus dibuktikan apakah kemampuan Ki Sanak sesuai dengan pakaian yang Ki Sanak kenakan?”

Ki Tumenggung Singayudha menarik nafas dalam-dalam. Dadanya sedikit berdesir mendengar ucapan orang itu. Namun Ki Tumenggung berusaha untuk mengendapkan perasaannya agar tidak mudah terpancing. Jawabnya kemudian, “Engkau benar Ki Sanak. Aku Tumenggung Singayudha yang membantu Ki Tumenggung Surayudha untuk memimpin pasukan Mataram menghadapi segerombolan orang-orang yang tidak jelas tujuannya dan juga tidak jelas perjuangannya dengan mengabaikan sendi-sendi kehidupan kawula Mataram yang telah tertata dan terbina dengan baik selama ini.”

“Omong kosong!” bentak orang itu dengan wajah memerah, “Apa yang Ki Tumenggung ketahui tentang arti sebuah perjuangan? Apakah Ki Tumenggung bisa merasakan penderitaan kawula alit di seluruh pelosok negeri ini? Mengapa banyak Adipati-Adipati yang memberontak? Semenjak pemerintahan Panembahan Senapati berdiri, sudah berapa banyak nyawa yang melayang dengan sia-sia akibat keserakahan dan ketamakan para pemimpin Mataram? Bagaimana mungkin Kadipaten-Kadipaten bawahan Mataram mengangkat senjata padahal para pejabat yang diangkat untuk menduduki jabatan itu masih terbilang kerabat istana? Bahkan adik Panembahan Hanyakrawati sendiri yang berkedudukan di Panaraga juga memberontak melawan kakandanya sendiri? Berpikirlah Ki Tumenggung, agar kehidupan di sekitarmu tidak meracunimu sehingga engkau terlena dan tidak peka lagi dengan penderitaan para kawula alit.”

Untuk beberapa saat Ki Tumenggung Singayudha tercenung. Apa yang dikatakan orang yang berdiri di hadapannya itu memang benar dan sesuai dengan kenyataan. Semenjak pemerintahan Mataram berdiri, silih berganti perang demi perang terjadi yang berawal pada perebutan kekuasaan sehingga waktu telah bergulir dengan sia-sia, hampir tidak ada kesempatan untuk memikirkan apalagi meningkatkan kesejahteraan para kawula. Yang terjadi adalah ketamakan, keserakahan, ketidak-puasan dan nafsu untuk meraih kekuasan tertinggi di Mataram walaupun untuk itu harus ditebus dengan darah dan nyawa.

“Bagaimana Ki Tumenggung?” pertanyaan lawannya telah membuyarkan lamunan Ki Tumenggung Singayudha.

“Perubahan pemerintahan menuju yang lebih baik pada dasarnya aku setuju,” jawab Ki Tumenggung, “Namun cara Panembahan Cahya Warastra ini yang aku tidak setuju. Mengapa harus melalui pertumpahan darah? Bukankah perubahan pemerintahan menuju ke arah yang lebih baik dapat dilakukan dengan cara lain?”

Lawannya tertawa pendek. Katanya kemudian, “Tidak ada cara yang lebih baik dan lebih cepat untuk mengganti pemerintahan Mataram yang sudah tidak berlandaskan pada keinginan para kawula alit. Panembahan punya kekuatan, apa salahnya jika mengambil jalan pintas ini agar perubahan segera terwujud.”

Ki Tumenggung menggeleng, “Itu terserah pendapat Ki Sanak. Sekarang sebut nama dan gelar Ki Sanak sebelum menjadi bebanten dalam perang brubuh ini.”

Lawannya mengerutkan keningnya. Jawabnya kemudian, “Alangkah sombongnya Ki Tumenggung. Ketahuilah, aku Wasi Jaladara dari perguruan Liman Benawi di Madiun siap mengantarmu ke liang lahat untuk menjadi contoh bagi orang yang berani berdiri berseberangan dengan Panembahan Cahya Warastra.”

Dada Ki Tumenggung berdesir tajam. Dia sudah mendengar nama itu, nama yang cukup menggetarkan di daerah sekitar Madiun selain nama Panembahan Cahya Warastra itu sendiri.

Sejenak kemudian keduanya segera terlibat dalam sebuah pertarungan sengit untuk mengadu liatnya kulit dan kerasnya tulang.

Dalam pada itu Ki Jayaraga yang telah melintasi regol padukuhan induk yang sudah hangus terbakar segera mendekati lingkaran perang tanding antara Ki Rangga Agung Sedayu melawan saudara kembar Kecruk Putih.

Sebenarnyalah ilmu kebal Panembahan Cahya Warastra telah mendekati sempurna. Sebagaimana ilmu kebal Panembahan Alit ketika melawan Kiai Gringsing. Ilmu kebal itu telah tersalur sampai kepada pakaian yang dikenakan sehingga sehebat apapun benturan ilmu lawannya tidak akan mampu menyobek pakaian lawannya apalagi sampai melukai kulitnya.

Ki Rangga Agung Sedayu yang menyadari kelebihan ilmu kebal lawannya tak henti-hentinya berpikir untuk mencari kelemahannya. Gurunya, Kiai Gringsing pernah memberinya pesan bahwa setinggi-tingginya ilmu seseorang, pasti ada kelemahannya, dan ilmu kebal Panembahan Cahya Warastra ini pasti ada titik lemahnya.

“Panembahan Alit pada waktu itu telah tewas dalam keadaan yang utuh, tidak ada luka segores pun pada kulit Panembahan yang ternyata lebih sakti dari Panembahan Agung, itu menurut pengamatan Ki Waskita,” berkata Ki Rangga dalam hati sambil berloncatan menghindari serangan lawannya, “Memang tubuhnya utuh, namun menurut keterangan guru pada waktu itu, tubuh bagian dalam Panembahan Alit telah hancur terkena serangan ilmu cambuk guru.”

“Aku akan mencoba kekuatan sorot mataku untuk menembus ilmu kebalnya yang nyaris sempurna,” tiba-tiba terlintas sebuah pemikiran dalam benak Ki Rangga.

Berpikir sampai disitu, Ki Rangga segera melaksanakan rencananya untuk menguji sampai dimana kekuatan ilmu kebal lawannya. Ki Rangga akan menyerang dengan berbagai ilmu yang dikuasainya, baik melalui ujung cambuknya maupun lewat sorot matanya.

Sekali waktu ujud Ki Rangga yang satu menyerang kepala lawannya dengan lontaran puncak ilmu cambuknya, sedang ujud yang satunya menyerang dengan sorot matanya mengarah ke dada, sedangkan ujud yang terakhir telah menghentakkan ujung cambuknya langsung ke arah lutut dengan kekuatan penuh untuk mengganggu gerak langkah lawannya.

Ternyata serangan Ki Rangga kali ini ada pengaruhnya. Tampak raksasa itu menggeram sambil berusaha memburu ujud Ki Rangga yang asli.

Kejadian itu terus berulang. Setiap selesai menyerang, ketiga ujud Ki Rangga segera bersatu untuk kemudian berpencar menyerang lawannya lagi. Ki Rangga benar- benar menjaga jarak yang sangat dekat dengan lawannya agar memudahkan ketiga ujud itu bergerak mengaburkan pengamatan Panembahan Cahya Warastra.

Lawannya benar-benar kewalahan menghadapi ketiga ujud Ki Rangga yang bergerak sangat lincah menyusup di sela-sela kaki raksasa itu. Setiap kali ketiga ujud Ki Rangga itu bersatu, Panembahan Cahya Warastra berusaha menyerangnya. Namun dengan cerdik Ki Rangga yang asli bersama ujud yang satunya telah meloncat ke arah yang berbeda dan membiarkan saja salah satu ujudnya yang lain terkena serangan lawan karena itu hanya ujud semu yang tidak terpengaruh oleh rasa sakit. Justru ujud Ki Rangga yang sedang diserang itu telah membalas serangan lewat sorot matanya langsung ke mata Panembahan Cahya Warastra, sedangkan kedua ujud Ki Rangga yang asli dan yang lainnya telah menyerang punggung dan kakinya.

Raksasa itu menggeram dengan dahsyatnya. Ilmu kebal Panembahan Cahya Warastra memang nyaris sempurna, namun menghadapi gempuran puncak ilmu cambuk perguruan Windujati serta ilmu yang terpancar dari sorot mata ketiga ujud Ki Rangga itu, ternyata kekuatan ilmu kebal saudara Kecruk Putih itu mulai goyah. Memang pada ujud wadag Panembahan itu tidak terlihat luka segores pun, namun di balik kulitnya yang tidak mempan segala jenis senjata dan sentuhan ilmu itu, daging dan tulangnya terasa remuk dan berpatahan. Walaupun demikian Panembahan Cahya Warastra masih berbuat seolah-olah tidak terpengaruh oleh serangan lawannya.

Ketika sekali lagi ujud-ujud Ki Rangga itu berloncatan saling menyatu untuk kemudian berloncatan ketiga arah yang berbeda, Panembahan Cahya Warastra kembali menerima serangan dari tiga arah yang berbeda.

Kali ini ketiga ujud Ki Rangga ternyata telah melontarkan sorot matanya bersama-sama mengarah ke satu titik, ke arah dada lawannya sehingga kali ini Raksasa itu tidak kuat lagi untuk menahan gempuran lawannya hanya dengan mengandalkan ilmu kebalnya. Sejenak kemudian untuk pertama kalinya raksasa itu telah melangkah mundur untuk menghindari serangan lawannya.

“Demit, iblis, gendruwo, tetekan..!” geram Panembahan Cahya Warastra. Dia benar-benar merasa dipermainkan oleh ketiga ujud Ki Rangga yang dapat bergerak dengan sangat lincah itu.

Sejenak raksasa itu terdiam. Namun belum sempat Ki Rangga bernafas lega karena raksasa itu telah melangkah surut, tiba-tiba saja dengan sekali renggut, di tangan kanan Panembahan Cahya Warastra telah tergenggam sebatang pohon mahoni sebesar dua pelukan orang dewasa.

Ki Rangga tertegun beberapa saat begitu mengetahui di tangan kanan lawannya telah tergenggam sebatang pohon yang besar. Panembahan Cahya Warastra dalam ujudnya yang meraksasa itu mencabut pohon sebesar dua pelukan orang dewasa bagaikan mencabut sebatang rumput saja.

Agaknya Panembahan itu telah memutuskan untuk menghalau ketiga ujud lawannya menjauhi dirinya dengan menggunakan sebatang pohon sebagai senjatanya. Dengan bertempur dari jarak jauh, dengan mudah Panembahan dapat mengenali ujud Ki Rangga yang asli serta akan mengurangi pengaruh tekanan dari sentuhan ilmu Ki Rangga.

“Ternyata aku harus menyerang bersama-sama pada titik yang sama sehingga pengaruhnya akan berlipat tiga kali dari pada aku menyerang pada tiga tempat yang berbeda, karena ilmu kebal panembahan ini nyaris sempurna,” berkata Ki Rangga dalam hati sambil mengawasi lawannya yang mulai memutar batang pohon yang ada di tangan kanannya. Suara deru angin yang tercipta dari putaran itu bagaikan angin puting beliung.

“Gila!” desis Ki Rangga dalam hati, “Alangkah dahsyatnya. Apakah aku mampu menembus pusaran angin itu dengan lontaran ilmu cambuk perguruan Windujati?”

Belum sempat Ki Rangga mendapat jawaban dari pertanyaan dalam hatinya, tiba-tiba dengan teriakan mengguntur raksasa itu mengayunkan senjatanya menerjang ujud Ki Rangga yang asli.

Dengan cepat Ki Rangga melenting kesamping. Ketika raksasa itu mengejarnya dengan tendangan kakinya yang sebesar pohon kelapa itu, Ki Rangga segera meluncur turun. Sementara kedua ujud Ki Rangga yang lain telah memutar cambuknya untuk mengambil ancang-ancang melepaskan ilmu puncak perguruan Windujati.

Ki Rangga dalam ujudnya yang asli begitu menjejakkan kedua kakinya di atas tanah segera mengikuti gerakan kedua ujud semunya, memutar cambuk untuk bersama-sama melontarkan puncak ilmu perguruan Windujati pada satu titik sasaran yang sama, kali ini lutut kiri raksasa itu yang menjadi sasaran.

Ketika tiga larik sinar meloncat bagaikan tatit di udara menerjang lutut kiri Panembahan Cahaya Warastra, raksasa itu menggeram dengan dahsyatnya. Geramannya bagaikan auman puluhan singa gurun yang sedang menerkam mangsanya. Ternyata sekali lagi ilmu kebal Panembahan Cahya Warastra yang hampir sempurna itu telah tertembus oleh hantaman ilmu tertinggi perguruan Windujati, gabungan dari ketiga ujud Ki Rangga Agung Sedayu.

Demikian raksasa itu tertatih-tatih karena tempurung lutut kaki kirinya bagaikan remuk, Ki Rangga Agung Sedayu dengan kedua ujud semunya telah meloncat mendekat untuk mengulangi serangannya kembali. Namun agaknya kali ini perhitungan Ki Rangga agak tergesa-gesa. Dia menyangka raksasa itu sudah tidak berdaya, sehingga ketika tiga larik sinar kembali meloncat dari ujung cambuk ketiga ujud Ki Rangga, Panembahan Cahya Warastra telah mengayunkan pohon mahoni sebesar dua pelukan orang dewasa itu membabat ujud Ki Rangga Agung Sedayu yang asli.

Ki Rangga Agung Sedayu terkejut bukan buatan begitu batang pohon mahoni itu menyambar tubuhnya. Tidak ada kesempatan sama sekali bagi dirinya untuk menghindar. Yang dapat dilakukan Ki Rangga hanyalah mengetrapkan ilmu kebalnya setinggi-tingginya serta menghilangkan bobot tubuhnya sehingga sedikit banyak akan dapat mengurangi akibat dari benturan itu.

Benturan itu telah melemparkan Ki Rangga jauh melayang keluar arena perang tanding. Tubuh Ki Rangga yang seolah olah tanpa bobot itu meluncur menghantam dinding padukuhan induk. Dinding itu pun hancur berantakan bersamaan dengan terbantingnya tubuh Ki Rangga ke atas tanah yang berdebu. Untuk sesaat, Ki Rangga merasakan tubuhnya bagaikan remuk dan tulangnya berpatahan serta pandangan matanya gelap berkunang-kunang.

Dalam pada itu, Ki Jayaraga yang sedang mengawasi jalannya perang tanding terkejut begitu mengetahui Ki Rangga telah terlempar dan menabrak dinding padukuhan induk. Namun baru saja Ki Jayaraga akan berlari mendapatkan Ki Rangga yang tergolek tak berdaya di dekat dinding padukuhan yang runtuh, dengan teriakan bagaikan guntur yang membelah langit, Panembahan Cahya Warastra dengan terpincang-pincang telah meloncat mengejar lawannya sambil mengayunkan pohon di tangan kanannya menghantam ke tempat Ki Rangga tergeletak.

Ki Rangga yang belum menyadari dirinya sepenuhnya masih sempat mendengar teriakan lawannya. Namun pandangan mata Ki Rangga masih gelap dan belum dapat melihat arah serangan lawannya sehingga Ki Rangga hanya dapat menunggu apa pun yang akan terjadi. Sementara ujud kakang pembarep dan adi wuragil dari Ki Rangga sendiri telah lenyap tak berbekas bagaikan asap tertiup angin sejalan dengan terganggunya pemusatan penalaran Ki Rangga ketika terlempar dan jatuh membentur dinding padukuhan.

Dalam keadaan yang sedemikian gawatnya, Ki Jayaraga yang berdiri di luar arena perang tanding itu memutuskan untuk menolong Ki Rangga, apapun nanti yang akan dikatakan orang tentang dirinya, dia tidak peduli. Nyawa Ki Rangga Agung Sedayu harus diselamatkan.

Namun sebelum Ki Jayaraga sempat melontarkan ilmu puncaknya untuk mengganggu langkah Panembahan Cahya Warastra yang memburu ke tempat Ki Rangga tergeletak, pandangan mata Ki Jayaraga sempat melihat tubuh Ki Rangga menggeliat dan melenting ke arah kiri sejauh tiga tombak.

Hanya berjarak sekejap mata begitu Ki Rangga melenting ke arah kiri, pohon mahoni sebesar dua pelukan orang dewasa di tangan Panembahan Cahya Warastra itu menghantam tanah tempat Ki Rangga tergeletak sebelumnya.

Akibatnya sangat dahsyat. Tanah tempat Ki Rangga tergeletak itu bagaikan terbongkar dan membentuk sebuah parit sedalam “dêdêk pêngawé”. Batu-batu kerikil bercampur debu dan daun-daun kering berhamburan sehingga sejenak pandangan menjadi gelap tertutup debu.

Ki Rangga Agung Sedayu yang telah terhindar dari serangan dahsyat lawannya itu menjadi heran dengan keberadaan dirinya sendiri. Ketika serangan lawannya itu meluncur ke arahnya, seolah-olah dia dapat merasakan ke arah mana serangan lawannya itu walaupun pandangan matanya masih gelap. Dengan mengikuti isyarat yang diterimanya, Ki Rangga telah mampu bergerak menghindar ke arah yang tepat.

“Agaknya Aji Sapta Panggraitaku telah bekerja dengan sendirinya pada saat yang gawat. Aji Sapta Panggraita ini telah terlebih dahulu mengetahui arah gerak lawan sehingga aku mampu membaca arah serangan Panembahan tanpa melihatnya,” berkata Ki Rangga dalam hati dengan penuh rasa syukur kepada Yang Maha Agung yang telah berkenan menolongnya dari maut.

Ketika sekali lagi Panembahan Cahya Warastra dengan menyeret kaki kirinya memutar senjatanya menebas Ki Rangga yang sedang mencoba berdiri di atas kedua kakinya, Ki Rangga pun tanpa melihat arah serangan lawannya telah meloncat ke tiga arah yang berbeda. Ternyata Ki Rangga telah mengetrapkan Aji Kakang Pembarep dan Adi Wuragil kembali.

Raksasa itu menggeram marah begitu serangannya mengenai tempat kosong. Dengan cepat diputarnya batang pohon mahoni itu untuk melibat lawannya yang telah meloncat menghindar pada tiga arah yang berbeda.

Ki Rangga menyadari sepenuhnya bahwa dengan senjatanya itu, Panembahan Cahya Warastra akan sulit untuk didekati. Putaran batang pohon mahoni sebesar dua pelukan orang dewasa itu sulit ditembus. Ki Rangga tidak mau mengulangi kesalahannya lagi terkena sambaran senjata lawannya itu.

Atas dasar perhitungan itulah Ki Rangga telah mulai memikirkan untuk mengetrapkan ilmunya yang lain, ilmu yang diwarisi dari kitab gurunya, kitab perguruan Windujati.

“Aku harus bersembunyi lebih rapat lagi dari kejaran raksasa ini, sehingga aku akan mendapat kesempatan untuk mendekatinya dan melontarkan serangan,” berkata Ki Rangga dalam hati. Pandangan matanya secara perlahan telah mulai pulih, sementara rasa sakit yang mendera di sekujur tubuhnya akibat sabetan lawannya mulai berkurang, walaupun punggungnya rasa-rasanya masih terasa bagaikan patah.

Demikianlah akhirnya, di saat Matahari mulai condong dan sinarnya yang kemerah-merahan mulai menyentuh pucuk-pucuk pepohonan, selembar demi selembar telah turun kabut di sekitar arena perang tanding Ki Rangga melawan Panembahan Cahya Warastra.

Pada awalnya Panembahan Cahya Warastra tidak memperdulikannya. Namun ketika kabut itu semakin lama menjadi semakin tebal dan mulai menghalangi pandangan matanya untuk menemukan tempat di mana lawannya berada, saudara kembar Kecruk Putih itu mulai menyadari bahwa lawannya telah mengetrapkan sejenis ilmu yang dapat mengaburkan penglihatan lawan.

“Anak iblis!” geram Panembahan itu, “Dari mana engkau dapatkan ilmu pengecut ini, he..! Dalam sebuah perang tanding, seorang yang jantan tidak akan bertempur sambil bersembunyi.”

“Ma’afkan aku Panembahan, aku tidak mempunyai kemampuan untuk membengkakkan diriku seperti Panembahan, maka tidak ada salahnya jika aku menggunakan ilmuku ini untuk bersembunyi dari ilmu Panembahan yang tiada taranya.” Jawab Ki Rangga sambil melangkah mendekat. Ki Rangga harus mengetrapkan kemampuannya untuk menyerap segala bunyi sehingga lawannya tidak akan menyadari kalau dia telah melangkah semakin dekat.

Panembahan Cahya Warastra menggeram marah. Kabut itu begitu tebalnya dan Panembahan Cahaya Warastra belum menemukan rahasia untuk menembusnya.

Dalam pada itu Ki Rangga Agung Sedayu harus berkejaran dengan waktu. Sebelum Panembahan mampu mengetahui rahasia ilmu kabutnya, Ki Rangga sudah harus bisa melumpuhkannya.

Demikianlah, ketiga ujud Ki Rangga segera melangkah semakin dekat. Kabut yang sangat tebal di seputar arena perang tanding itu telah menghalangi pandangan Panembahan Cahya Warastra. Sambil memutar cambuknya, ketiga ujud Ki Rangga itu siap melontarkan kembali puncak ilmu perguruan Windujati. Setelah lutut kiri, lutut kanan Panembahan Cahya Warastra kini yang menjadi sasaran. Ki Rangga benar-benar ingin membuat Panembahan itu tidak mampu lagi untuk mengejarnya, sebelum melumpuhkannya.

Panembahan Cahya Warastra yang masih belum mampu menembus ilmu kabut dari perguruan Windujati menjadi semakin wuru. Diputarnya pohon mahoni sebesar pelukan orang dewasa yang tergenggam di tangan kanannya. Pusaran angin yang ditimbulkannya memang telah memutar kabut itu dengan dahsyat namun tidak mampu melemparkan atau pun menyibak kabut tebal yang bergulung-gulung di seputarnya.

“Iblis, demit, gendruwo, tetekan..!” umpat Panembahan Cahya Warastra. Gema suaranya menggelegar memenuhi udara medan pertempuran.

Dalam pada itu, Ki Jayaraga yang mengawasi jalannya perang tanding menjadi semakin berdebar-debar. Ki Jayaraga tidak mempunyai kemampuan untuk menembus kabut itu. Dia sadar bahwa ilmu perguruan Windujati memang tiada taranya dan dia yakin Ki Rangga Agung Sedayu akan mampu mengatasi raksasa yang mengerikan itu.

Ketika sudut pandang mata Ki Jayaraga kemudian menangkap dua sosok bayangan orang yang sedang berlari-lari ke arahnya dari arah regol padukuhan induk, Ki Jayaraga pun segera berpaling. Ternyata Ki Gede Menoreh dan Kiai Sabda Dadi sedang berlari-larian menuju ke tempatnya berdiri.

“Bagaimana, Ki?” bertanya Ki Gede setibanya di tempat Ki Jayaraga mengawasi perang tanding itu.

“Ki Rangga Agung Sedayu tadi sempat terjatuh terkena sambaran pohon mahoni di tangan Panembahan Cahya Warastra,” jawab Ki Jayaraga sambil menunjuk dinding padukuhan induk yang hancur tertimpa tubuh Ki Rangga, “Namun agaknya Ki Rangga telah berhasil menguasai dirinya sehingga pertempuran telah berlangsung kembali.”

Selesai berkata demikian, Ki Jayaraga kemudian menunjuk ke arah arena perang tanding yang diselimuti oleh kabut yang sangat tebal.

Ki Gede dan Kiai Sabda Dadi sejenak mengerutkan kening sambil memandang kabut tebal yang melingkupi arena perang tanding. Ternyata kedua orang tua itu tidak mampu untuk melihat apa yang sedang terjadi di dalam kabut yang tebal itu.

“Bagaimanakah keadaan Ki Rangga sekarang?” kini Kiai Sabda Dadi yang bertanya.

Ki Jayaraga menggeleng lemah, “Aku tidak tahu. Aku tidak mempunyai kemampuan untuk menembus kabut itu. Namun menilik dari suara Panembahan yang terus mengumpat-umpat, agaknya Ki Rangga telah membuat lawannya kebingungan.”

Kedua orang tua itu menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk-angguk. Memang mereka berdua sebelum tiba di tempat itu juga telah mendengar suara Panembahan Cahya Warastra yang berteriak dan mengumpat-umpat.

Dalam pada itu, Ki Patih Mandaraka yang berdiri di atas tanggul mengamati jalannya perang tanding antara Ki Rangga Agung Sedayu melawan Panembahan Cahya Warastra dari kejauhan telah mengajak para prajurit pengawal kepatihan untuk turun dari atas tanggul mendekati arena perang tanding.

“Marilah,” berkata Ki Patih kepada para prajurit pengawal kepatihan, “Sudah waktunya kita untuk mendekat. Agaknya perang tanding itu sudah mendekati puncaknya.”

Beberapa prajurit pengawal kepatihan itu masih berdiri termangu-mangu ketika Ki Patih telah meloncat turun dari atas tanggul. Dengan tergesa-gesa, orang yang di masa mudanya lebih dikenal dengan nama Ki Juru Martani itu berjalan melintasi tanah-tanah pesawahan yang kering mendekati arena perang tanding.

Dengan berloncatan para prajurit pengawal kepatihan segera menyusul langkah Ki Patih. Bagaimanapun juga dada para prajurit pengawal itu menjadi berdebar-debar ketika mereka semakin dekat dengan arena perang tanding. Namun mereka percaya sepenuhnya bahwa Ki Patih akan dapat mengatasi setiap permasalahan yang mungkin timbul sebagai akibat dari perang tanding itu.

“Aku yakin Ki Patih pasti memiliki ilmu simpanan yang dapat meredam Aji Brahala Wuru,” berkata salah seorang prajurit pengawal kepatihan dalam hati, “Bahkan tidak menutup kemungkinan justru Ki Rangga Agung Sedayu yang akan keluar sebagai pemenang dalam perang tanding ini.”

Namun sesungguhnya para prajurit pengawal kepatihan itu hanya dapat berangan-angan. Mereka tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam gumpalan kabut yang bergulung-gulung itu.

Beberapa saat kemudian Ki Patih Mandaraka beserta para prajurit pengawal kepatihan telah mendekati arena perang tanding. Dengan tergopoh-gopoh ketiga orang-orang tua itu pun segera menyambut mereka.

“Terima kasih,” berkata Ki Patih kemudian sambil menerima salam dari ketiga orang-orang tua itu, “Marilah kita agak mendekat. Kelihatannya Ki Rangga sudah mendapat titik terang untuk melumpuhkan Aji Brahala Wuru.”

Ketiga orang itu hanya saling pandang. Mereka tidak dapat mengatakan apapun tentang perang tanding yang sedang berlangsung, karena mereka tidak mempunyai kemampuan untuk menembus ilmu kabut Ki Rangga Agung Sedayu.

Ki Patih agaknya menyadari. Maka katanya kemudian, “Bersiaplah, Tampaknya sebentar lagi Ki Rangga akan menyelesaikan perang tanding ini.”

Dada ketiga orang-orang tua itu menjadi semakin berdebar-debar. Mereka yakin bahwa Ki Patih Mandaraka mempunyai kemampuan untuk menembus kabut tebal yang menyelimuti arena perang tanding itu.

Sebenarnyalah pandangan tajam Ki Patih Mandaraka telah melihat ketiga ujud Ki Rangga mengambil sikap yang sama, memutar cambuk mereka di atas kepala sebelum akhirnya dengan sebuah lecutan sendal pancing, tiga larik sinar meloncat dari masing-masing ujung cambuk itu dan menyambar lutut kanan Panembahan Cahya Warastra.

Panembahan Cahya Warastra yang sedang mencoba mengurai ilmu kabut Ki Rangga itu terkejut ketika sudut matanya tiba-tiba menangkap tiga berkas cahaya menyilaukan dari arah samping kanannya. Sebelum Panembahan Cahya Warastra sempat menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi, tiba-tiba saja dari balik kabut yang bergulung-gulung tiga larik sinar meluncur bagaikan tatit yang meloncat di udara menyambar lutut kanannya.

“Anak iblis.!” Teriak Panembahan Cahya Warastra menggelegar. Dengan mengerahkan segenap kemampuannya, raksasa itu mengayunkan pohon mahoni sebesar dua pelukan orang dewasa yang berada di genggaman tangan kanannya, mendatar ke arah tiga larik sinar itu berasal.

Namun ternyata Ki Rangga Agung Sedayu sudah memperhitungkan akan serangan balasan dari Panembahan Cahya Warastra. Sambil membungkukkan badannya dalam-dalam menghindari sambaran pohon mahoni sebesar dua pelukan orang dewasa itu, Ki Rangga pun kemudian bersiap kembali mengulangi serangannya.

Panembahan Cahya Warastra yang kesakitan karena lutut kanannya terkena lontaran ilmu puncak Perguruan Windujati itu kembali mengumpat ketika sambaran senjatanya tidak mengenai sasaran. Sementara tempurung lutut kanannya terasa pecah dan kini kedua kakinya rasa-rasanya sudah hampir tidak mampu lagi menopang tubuhnya. Ketika sekali lagi cambuk di tangan ketiga ujud Ki Rangga itu meledak tanpa memperdengarkan suaranya, kembali tiga larik sinar menyambar lutut kanannya.

“Gila, pengecut..!” teriak Panembahan Cahya Warastra sambil terhuyung-huyung ke belakang. Sejenak raksasa itu mencoba bertahan berdiri di atas kedua kakinya yang goyah. Namun akhirnya raksasa itu pun kemudian terjatuh pada kedua lututnya.

Ki Rangga yang melihat lawannya sudah terjatuh pada kedua lututnya segera bergerak maju mengambil tempat tepat di depan Panembahan Cahya Warastra. Ki Rangga sudah mengambil keputusan untuk segera mengakhiri perang tanding yang dahsyat itu.

Dalam pada itu Panembahan Cahya Warastra yang bertumpu pada kedua lututnya ternyata tidak menyerah begitu saja. Dengan segenap kemampuannya, tiba-tiba saja mulutnya yang selebar pintu regol padukuhan itu dibuka lebar-lebar. Sejenak kemudian dengan cepat dihirupnya kabut tebal bergulung-gulung yang berada di depannya.

Agaknya Panembahan ini ingin mengurangi kepekatan kabut yang berada di depannya dengan cara dihisap masuk ke dalam perutnya. Demikian sebagian kabut yang bergulung-gulung di depannya itu terhisap masuk ke dalam perutnya, samar-samar tampak tiga buah bayangan yang sedang duduk bersila tepat di hadapannya hanya berjarak sekitar dua tombak saja.

Menyadari lawannya ternyata berada hanya dua tombak di hadapannya, dengan menggeram penuh kemarahan Panembahan Cahya Warastra pun segera menghentakkan seluruh kemampuannya. Dengan sepenuh kekuatan, saudara kembar Kecruk Putih itu pun kemudian mengayunkan pohon mahoni sebesar dua pelukan orang dewasa yang tergenggam di tangan kanannya dengan deras membabat bayangan yang tampak samar-samar di hadapannya.

Tepat pada saat Panembahan Cahaya Warastra mengayunkan senjatanya, Ki Rangga yang memilih sikap dengan duduk bersila itu telah melancarkan serangannya melalui sorot matanya. Dengan mengerahkan segenap kemampuan, tiga pasang mata dari ketiga ujud Ki Rangga telah menyala dan sinarnya meluncur bagaikan tatit yang meloncat di udara menerjang dada sebelah kiri Panembahan Cahya Warastra. Tanpa ampun ilmu sorot mata Ki Rangga Agung Sedayu yang dahsyat tiada taranya itu telah menyusup ke dalam dada dan meremas jantung Panembahan Cahya Warastra.

Panembahan Cahya Warastra yang melihat tiga pasang mata dari ketiga bayangan di depannya itu menyala terkejut bukan buatan. Namun Panembahan Cahya Warastra sudah terlanjur mengayunkan senjatanya. Tidak ada kesempatan sama sekali baginya untuk menghindarkan diri dari terjangan ilmu sorot mata lawannya yang langsung menerjang dada dan meremas jantung.

Sedangkan Ki Rangga Agung Sedayu yang menyadari betapa berbahayanya terjangan pohon mahoni sebesar dua pelukan orang dewasa yang menuju ke arahnya itu sudah mengambil keputusan bulat untuk tidak bergeser menghindar, apapun yang akan terjadi. Dengan mengetrapkan ilmu kebal setinggi-tingginya serta ilmu yang dapat menghilangkan bobot tubuhnya agar dapat mengurangi kemungkinan buruk dari akibat benturan itu, Ki Rangga dan kedua ujud semunya itu telah menghentakkan serangannya untuk mengakhiri perlawanan Panembahan Cahya Warastra.

Demikianlah yang terjadi. Pada saat yang hampir bersamaan, Panembahan Cahya Warastra telah memekik tinggi, tubuhnya yang bertumpu pada kedua lututnya itu tergetar hebat dan terdorong ke belakang menahan sakit yang tiada taranya karena jantungnya telah hancur diremas ilmu lawannya.

Sementara ayunan senjatanya tetap meluncur dan menghantam Ki Rangga Agung Sedayu yang sedang memusatkan seluruh nalar dan budinya untuk mengakhiri perlawanan Panembahan Cahya Warastra.

Tenyata Ki Rangga Agung Sedayu sama sekali tidak bergeser dari tempat duduknya walaupun hanya sejengkal. Ki Rangga tidak ingin melepaskan kesempatan sekejap pun untuk menghancurkan lawannya sehingga dengan deras pohon mahoni sebesar dua pelukan orang dewasa itu menghantam tubuhnya.

Benturan itu benar-benar sangat dahsyat dan telah membuat jantung Ki Patih Mandaraka yang menyaksikan dari luar arena perang tanding bagaikan terlepas dari tangkainya. Tubuh Ki Rangga yang terhantam pohon mahoni sebesar dua pelukan orang dewasa itu telah terlempar jauh melayang melewati dinding padukuhan induk dan akhirnya jatuh terbanting di atas tanah yang berdebu di sebuah halaman rumah kosong yang telah ditinggal penghuninya mengungsi.

“Ki Rangga..!” hampir bersamaan orang-orang yang berada di sekitar arena perang tanding itu berteriak dengan penuh kekhawatiran.

“Cepatlah susul Ki Rangga, aku akan melihat keadaan Panembahan Cahya Warastra, apakah dia masih berbahaya ataukah sudah berakhir cita-citanya hanya sampai disini saja,” berkata Ki Patih Mandaraka kemudian sambil berbegas memasuki arena perang tanding.

Kiai Sabda Dadi dan Ki Gede Menoreh segera tanggap dengan perintah Ki Patih Mandaraka. Sementara Ki Jayaraga telah berlari menyusul Ki Patih.

“Sebagian dari kalian ikut aku,” berkata Ki Gede Menoreh kepada para prajurit pengawal kepatihan, “Barangkali Kiai Sabda Dadi nanti memerlukan sesuatu untuk menolong jiwa Ki Rangga Agung Sedayu.”

Empat prajurit pengawal kepatihan segera berlari-larian di belakang Kiai Sabda Dadi dan Ki Gede Menoreh yang telah terlebih dahulu berlari memasuki padukuhan induk mengejar ke arah Ki Rangga Agung Sedayu terlempar dari medan perang tanding. Sementara yang lain tetap berjaga-jaga di tempat itu untuk menjaga segala kemungkinan yang bisa terjadi.

Dalam pada itu, kabut tebal yang menyelimuti medan perang tanding itu perlahan-lahan menipis sejalan dengan terlepasnya pengendalian ilmu dari Ki Rangga Agung Sedayu. Beberapa saat kemudian ketika Ki Patih Mandaraka dan Ki Jayaraga yang menyusul di belakangnya telah memasuki arena perang tanding, kabut itu pun telah lenyap tak berbekas.

Sejenak kedua orang tua itu tertegun. Dalam keremangan senja, tampak di hadapan mereka Panembahan Cahya Warastra dalam ujudnya yang asli terbujur diam di atas tanah yang berdebu.

Untuk beberapa saat kedua orang tua itu masih ragu-ragu untuk mendekat. Namun akhirnya Ki Patih Mandaraka berdesis perlahan, “Marilah, kita harus meyakinkan bahwa Panembahan ini sudah tidak berbahaya lagi.”

Ki Jayaraga tidak menjawab, hanya kepalanya saja yang terangguk-angguk. Kemudian kedua orang tua itu pun berjongkok di sebelah menyebelah tubuh saudara kembar Kecruk Putih yang telah membeku itu.

Ketika tanpa disadarinya Ki Jayaraga menjulurkan tangan kanannya menyentuh dada kiri Panembahan Cahya Warastra, alangkah terkejutnya guru Glagah Putih itu. Dengan tergesa-gesa ditariknya tangan yang sudah terjulur itu.

“Ada apakah Ki Jayaraga?” bertanya Ki Patih dengan terheran-heran melihat Ki Jayaraga terkejut ketika menyentuh dada kiri Panembahan Cahya Warastra.

KI Jayaraga memandang Ki Patih sekilas. Sambil menarik nafas dalam-dalam, akhirnya dia menjawab, “Ampun Ki Patih, aku menjadi sangat terkejut ketika menyentuh dada kiri Panembahan ini. Dada itu seakan akan tidak bertulang. Seolah olah hanya seonggok daging yang terbungkus kulit.”

Ki Patih tersenyum. Sambil mengamat-amati tubuh Panembahan yang terbujur diam, Ki Patih berkata, “Itulah kelemahan ilmu kebal yang dimiliki oleh Panembahan ini. Baju dan kulitnya memang tidak mempan segala macam senjata dan juga benturan ilmu sekuat apapun, namun tidak demikian dengan tubuh bagian dalamnya. Kekuatan ilmu Ki Rangga mampu menembus kekebalan kulitnya dan menghancurkan bagian dalam tubuh Panembahan, sehingga kulit luarnya saja yang tampak utuh, bahkan pakaiannya pun masih dalam keadaan utuh. Namun daging dan tulangnya hancur terkena kekuatan ilmu Ki Rangga Agung Sedayu.”

Ki Jayaraga mengangguk-anggukkan kepalanya. Ki Jayaraga memang tidak mendalami ilmu kebal karena menurut pendapatnya seseorang yang mempunyai ilmu kebal itu cenderung untuk mengandalkan ilmu kebalnya dan kurang memperhatikan peningkatan pada ilmu yang lain. Namun semuanya itu tidak mutlak. Ada beberapa orang yang tetap memperhatikan peningkatan ilmunya yang lain sejalan dengan peningkatan ilmu kebalnya, Ki Rangga Agung Sedayu salah satu contohnya.

“Bagiku mempelajari ilmu kebal hanya membuang-buang waktu saja,” berkata Ki Jayaraga dalam hati, “Lebih baik waktu yang ada digunakan untuk meningkatkan ilmu pamungkas yang dimiliki sehingga benar-benar matang dan dapat menembus ilmu kebal setinggi apapun.”

Namun Ki Jayaraga agaknya menyadari bahwa ada beberapa orang yang lebih senang membentengi dirinya dengan ilmu kebal atau pun sejenisnya.

“Namun itu semua kembali kepada diri masing-masing,” berkata Ki Jayaraga kembali dalam hati, “Bagiku lebih baik menekuni ilmu pamungkas dari pada ilmu kebal.”

Demikianlah, setelah merasa cukup meyakinkan keadaan Panembahan Cahya Warastra, kedua orang tua itu pun kemudian berdiri dan berjalan beriringan menuju ke padukuhan induk untuk melihat keadaan Ki Rangga Agung Sedayu.

Dalam pada itu, para prajurit Mataram dibantu oleh para pengawal Menoreh yang berada di sayap kanan dan lebih dekat dengan arena perang tanding Ki Rangga melawan Panembahan Cahya Warastra telah bersorak dengan riuhnya. Mereka melihat dari kejauhan Ki Patih Mandaraka dan Ki Jayaraga telah meninggalkan arena perang tanding, sedangkan Panembahan yang sudah kembali kepada ujud aslinya itu tampak terbujur diam di atas tanah yang berdebu.

“Panembahan Cahya Warastra telah mati..!” teriak para pengawal Tanah Perdikan Menoreh ditingkah oleh sorak sorai prajurit Mataram.

“Panembahan Cahaya Warastra telah mati..!” suara itu terdengar bersahut-sahutan di seluruh penjuru medan.

Segera saja seluruh medan pertempuran menjadi gempar. Para pengikut panembahan Cahya Warastra terutama para cantrik padepokan Cahya Warastra benar-benar tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi. Bagaimana mungkin Panembahan yang sakti dan mempunyai ilmu bertiwikrama sebagaimana Sri Kresna dari cerita babat Mahabarata dapat dikalahkan oleh Ki Rangga Agung Sedayu, seorang prajurit Mataram yang hanya berpangkat Rangga, di bawah pangkat Tumenggung?

“Pasti ada kecurangan,” geram seorang cantrik padepokan Cahya Warastra dalam hati, “Selain ilmu Brahala Wuru, Panembahan juga kebal atas segala jenis pusaka dan senjata tajam. Panembahan sudah kalis dari segala rasa sakit bahkan kematian sekalipun.”

Sekali lagi cantrik itu menggeram. Namun dia tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa memang Panembahan yang sakti itu kini telah terbujur diam tak bergerak.

Namun ternyata para pengikut Panembahan Cahya Warastra yang lain tidak tinggal diam. Ki Ageng Blarak Sineret yang berada di pusat gelar dengan jelas melihat bagaimana Ki Rangga terlontar dari arena perang tanding sampai jauh ke dalam padukuhan induk. Walaupun Ki Ageng Blarak Sineret tidak mampu menembus ilmu kabut Ki Rangga, namun dari kejauhan pandangan mata Ki Ageng yang tajam dengan dilandasi oleh aji sapta pandulu telah melihat Ki Rangga terlempar jauh melewati dinding padukuhan induk.

Atas dasar pengamatannya itulah, Ki Ageng pun segera berteriak keras di lambari dengan aji sengguruh macan, “Ki Rangga Agung Sedayu juga tewas! Keduanya sampyuh..!”

“Sampyuuh..!” teriakan Ki Ageng telah diikuti oleh para pengikut Panembahan Cahya Warastra yang berada di pusat gelar.

“Sampyuh..!”

“Sampyuuh..!”

Suara teriakan itu pun kemudian membahana ke seluruh medan pertempuran.

Dalam pada itu Glagah Putih dan Rara Wulan yang di tempatkan di sayap kiri gelar menjadi sangat terkejut mendengar teriakan para pengikut Panembahan Cahya Warastra.

“Benarkah Kakang Agung Sedayu telah gugur?” pertanyaan itu telah melingkar-lingkar di dalam dada Glagah Putih dan telah mempercepat detak jantungnya.

Lawannya, Kiai Sadaksada justru telah memberinya kesempatan untuk merenung. Dengan cepat Kiai Sadaksada meloncat ke belakang sambil berkata, “Silahkan ngger, untuk mengamati keadaan. Berita tentang sampyuhnya kedua orang yang sedang berperang tanding itu memang sangat mengejutkan. Namun aku yakin, kalau tidak ada kecurangan, Panembahan Cahya Warastra tidak mungkin dapat dikalahkan, bahkan oleh orang yang bernama Juru Mertani itu sekalipun.”

“Belum tentu,” potong Glagah Putih cepat., “Kakang Agung Sedayu juga mempunyai segudang ilmu yang sudah sangat jarang dimiliki orang pada saat ini. Aku yakin orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra itu pasti menemui ajalnya dan Kakang Agung Sedayu mungkin hanya pingsan saja atau bahkan hanya terluka ringan.”

Kiai Sadaksada tertawa pendek, “Silahkan saja berandai-andai, ngger. Namun kenyataan berbicara lain. Perang tanding itu sudah selesai dan dinyatakan sampyuh. Lebih baik kita tidak usah mempersoalkan mereka lagi. Yang perlu diselesaikan adalah persoalan di antara kita sekarang ini. Apakah dengan kematian Kakangmu itu engkau akan menyerah?”

“Omong kosong!” bentak Glagah Putih, “Kakang Agung Sedayu tidak mati dan aku juga tidak akan menyerah. Justru Kiai lah yang seharusnya menyerah karena sudah jelas Panembahanmu itu sekarang sudah terbujur menjadi mayat.”

Selesai berkata demikian, Glagah Putih menunjuk ke arah arena perang tanding di dekat dinding padukuhan induk sebelah kiri. Samar-samar dalam keremangan senja tampak sesosok tubuh terbujur diam membeku.

“Persetan!” geram Kiai Sadaksada, “Kematian Panembahan Cahya Warastra tidak menyurutkan tekad kami untuk berjuang menegakkan keadilan di tanah ini. Mataram harus runtuh dan kami akan membangun pemerintahan baru yang benar-benar mengedepankan kepentingan para kawula alit.”

“Syukurlah,” berkata Glagah Putih menanggapi kata-kata lawannya, “Kapan Kiai akan mulai membangun cita-cita itu?”

“Tutup mulutmu!” bentak Kiai Sadaksada, “Engkau harus menyadari dengan siapa engkau berhadapan, anak muda!”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Agaknya lawannya sudah mulai terpancing kemarahannya. Maka katanya kemudian, “Baiklah Kiai, kita akan bertempur dengan sungguh-sungguh agar segera diketahui, siapa di antara kita yang masih tegak berdiri dengan gagahnya di akhir pertempuran nanti.”

“Alangkah sombongnya!” geram Kiai Sadaksada, “Jadi, sejak tadi engkau menganggap perkelahian ini hanya sebagai main-main saja? Akan kita buktikan siapakah yang masih berdiri dengan tegak di atas kedua kakinya setelah pertempuran ini berakhir.”

Glagah Putih tidak menjawab. Diedarkan pandangan matanya ke sekeliling medan. Tampak di sebelah kirinya agak jauh sekitar lima tombak, istrinya sedang bertempur dengan sengitnya melawan seorang yang bertubuh tinggi besar bersenjatakan sepasang bindi.

Namun Glagah Putih tidak sempat berangan-angan, karena serangan lawannya telah datang membadai. Dari telapak tangan Kiai Sadaksada itu meluncur angin lembut yang sangat dingin. Sebelum telapak tangan yang terbuka merapat itu menyentuh tubuh Glagah Putih, pada jarak dua jengkal terasa angin yang sangat lembut dan dingin bagaikan ribuan jarum telah menusuk-nusuk kulitnya dan menembus daging.

“Gila!” geram Glagah Putih sambil meloncat ke samping kanan menghindari serangan lawannya.

Dengan bertumpu pada kaki kanannya, kaki kiri Glagah Putih pun menyapu kaki kiri lawannya yang digunakan sebagai tumpuan sewaktu menyerang ke depan.

Namun lawannya telah memperhitungkan dengan seksama akan kemungkinan serangan balasan dari Glagah Putih. Dengan menggeser kaki kirinya selangkah ke depan, sapuan kaki Glagah Putih hanya mengenai tempat kosong.

Demikian lah kedua orang yang mempunyai perbedaan umur cukup jauh itu telah kembali terlibat dalam pertempuran yang sangat dahsyat. Masing-masing mulai merambah pada penggunaan tenaga cadangan dan landasan ilmu yang semakin tinggi.

Dalam pada itu, Rara Wulan yang bertempur beberapa tombak jauhnya dari suaminya tidak sempat memikirkan keadaan Ki Rangga Agung Sedayu. Walaupun dia mendengar teriakan dari kedua belah pasukan tentang perang tanding antara Ki Rangga melawan Panembahan Cahya Warastra, namun Rara Wulan benar-benar dibuat sangat sibuk menghadapi lawannya yang bertubuh tinggi besar dengan bersenjatakan sepasang bindi yang mengerikan.

Kedua bindi itu terayun ayun mengerikan menutup setiap lobang yang memungkinkan Rara Wulan untuk dapat membalas serangan. Rara Wulan yang bersenjatakan selendang itu memang mendapat kesulitan untuk melawan senjata lawannya yang berupa sepasang bindi. Tidak mungkin bagi Rara Wulan untuk sesekali membenturkan senjatanya. Walaupun terbesit juga keinginan untuk membelit salah satu bindi itu, namun Rara Wulan masih belum yakin akan kekuatan tenaga lawannya. Seandainya tenaga lawan lebih kuat, tentu selendangnya yang akan terampas dan akan dapat memperlemah perlawanannya.

“Menyerahlah anak manis,” berkata lawannya yang telah memperkenalkan diri sebagai Pemimpin perguruan jambu alas, Ki Rudraksa, sebelum mereka berdua terlibat dalam pertempuran yang dahsyat itu, “Aku tidak tega untuk melukai kulitmu yang halus mulus itu. Biarkanlah aku membelainya dengan kedua belah tanganku, bukan dengan kedua bindiku ini.”

“Tutup mulut kotormu,” bentak Rara Wulan sengit sambil melecutkan selendangnya mengarah dada.

Dengan tenang Ki Rudraksa memiringkan dadanya sehingga ujung selendang Rara Wulan tidak mengenai sasaran.

“Ikutlah denganku ke perguruan Jambu alas,” berkata Ki Rudraksa kembali sambil mengayunkan bindinya, “Engkau akan kujadikan Ratu ku. Aku akan siap melayanimu apa saja yang engkau inginkan dan kapan saja engkau membutuhkan.”

“Diaaam!” kembali Rara Wulan membentak. Dia benar-benar merasa risih dengan kata-kata lawannya yang penuh rayuan.

Mendapat bentakan Rara Wulan, Ki Rudraksa hanya tertawa pendek sambil berkata, “Semakin marah, engkau terlihat semakin cantik dan manis. Lihatlah, betapa kedua pipimu menjadi kemerah-merahan. Wajahmu yang tertimpa cahaya senja seolah-olah bersinar menerangi hatiku yang telah lama gelap merindukan cahaya cinta dari seorang perempuan cantik seperti dirimu.”

bersambung ke bagian 2

7 Responses

  1. yo sabar nunggu….nuwun

  2. mana lagi…

  3. sueora jamu :p

  4. ya memang harus bersabar meski maunya (saya) setiap adegan cepat diketahui endingnya.apalagi kalo sudah menyangkut Agung sedayu dengan pdn wngi,anjani,padmini dll.semoga mbah man selalu sehat shg lncar dlm menulis rontal tadbm.Amin

  5. semoga mbahman cepat sembuh….’ beberapa hari yg lalu saya baru tahu kalau mbahman sakit.

  6. Nderek nyemak dulur….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s