TADBM-410

<< kembali ke TADBM-409 | lanjut ke TADBM-411 >>

Bagian 1

TADBM-410ALANGKAH dahsyatnya kemampuan orang ini dalam menyerap bunyi dan mengaburkan pengamatan batin sehingga kehadirannya telah luput dari pantauan ajiku sapta pangrungu,” desis Kiai Sabda Dadi dalam hati sambil mencoba mengenali wajah yang terlihat samar-samar dari tempat Kiai Sabda Dadi berdiri.

Namun belum sempat Kiai Sabda Dadi menduga-duga siapakah orang yang datang paling akhir itu, tiba-tiba saja Punjul dan Wareng telah maju beberapa langkah. Kemudian hampir bersamaan mereka menyapa sambil membungkukkan badan mereka dalam-dalam.
“Selamat malam Guru. Bakti dari kami kedua murid perguruan Sapta Dhahana.”

Ternyata Secaprana dan Secabawa juga mengenali orang itu. Berkata mereka berdua kemudian, “Selamat datang Kiai Damar Sasongko.”

Orang yang dipanggil guru oleh Punjul dan Wareng itu memang pemimpin perguruan Sapta Dhahana dari lereng gunung Tidar, Kiai Damar Sasongko.

“Nah,” berkata Kiai Damar Sasongko kemudian sambil meloncat turun dari tanggul. Gerakannya hampir tidak kasat mata. Seolah-olah tubuh tinggi besar itu begitu saja melayang turun tanpa memakai ancang-ancang, “Aku sangat setuju dengan murid-murid Kumuda, bahwa kita memang bukan segolongan pengecut yang hanya berani membunuh orang yang tak berdaya. Perguruan Sapta Dhahana tidak akan menodai nama perguruan dengan perbuatan pengecut.”

Sejenak Kiai Damar Sasongko berhenti. Diedarkan pandangan matanya menyapu ke sekelilingnya. Ketika tatapan matanya yang menyala bagaikan sepasang mata burung hantu di dalam gelap itu tersangkut pada seraut wajah tua, wajah Kiai Sabda Dadi, untuk beberapa saat pemimpin perguruan Sapta Dhahana itu tertegun.

Dengan langkah perlahan namun mantap, akhirnya pemimpin perguruan dari lereng gunung Tidar itu mendekat ke tempat Kiai Sabda Dadi dan Pandan Wangi berdiri.

“Ki Sanak,” berkata Kiai Damar kemudian sesampainya dia di hadapan Kiai Sabda Dadi, “Siapakah Ki Sanak ini? Rasa-rasanya kita pernah bertemu sebelumnya.”

“Ah,” desah Kiai Sabda Dadi sambil tersenyum, “Itu mungkin hanya perasaan Ki Sanak saja. Sebenarnyalah kita belum pernah saling bertemu dan saling mengenal.”

Kiai Damar mengangguk anggukkan kepalanya sambil sesekali mencuri pandang ke arah Kiai Sabda Dadi. Kiai Damar merasa pernah mengenal atau setidaknya bertemu muka dengan orang tua yang kini berdiri di hadapannya. Sebenarnya pemimpin perguruan dari lereng Tidar itu ingin mengetahui nama atau gelar dari orang tua yang telah menarik hatinya itu. Namun kesombongan dan keangkuhan hatinya lah yang membuat Kiai Damar menahan diri untuk bertanya.

“Baiklah,” akhirnya Kiai Damar memutuskan, “Aku telah melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana Ki Rangga Agung Sedayu yang namanya telah kawentar di sepanjang pesisir utara pulau ini dan juga di seluruh kadipaten bawahan Mataram, telah berhasil mengalahkan Panembahan Cahya Warastra yang menurut berita telah kalis dari segala macam sakit bahkan kematian,” guru padepokan Sapta Dhahana itu berhenti sejenak. Kemudian lanjutnya, “Hatiku telah tergelitik untuk mencoba kedahsyatan ilmunya. Untuk itu aku akan memberinya batas waktu sampai sebulan penuh untuk memulihkan kesehatannya kembali. Dan jika dalam waktu sebulan Ki Rangga belum pulih seperti sediakala, aku akan berbaik hati untuk menambah sepuluh hari, ingat hanya sepuluh hari. Setelah itu aku tidak akan peduli lagi, apakah Ki Rangga siap atau tidak siap aku akan membunuhnya.”

Berdesir dada Kiai Sabda Dadi dan Pandan Wangi. Mereka berdua sadar bahwa waktu yang hanya sebulan untuk memulihkan kesehatan Ki Rangga yang terluka parah hampir tidak masuk akal. Walaupun sudah ditambah sepuluh hari, namun mereka berdua tetap tidak yakin bahwa Ki Rangga akan siap pada waktunya. Sementara pengawal Menoreh yang tidak begitu paham dengan ilmu pengobatan justru merasa bersyukur. Waktu sebulan baginya adalah sangat panjang, dan dia yakin orang-orang yang sombong ini nantinya akan tergilas oleh dahsyatnya ilmu Ki Rangga Agung Sedayu.

“Baiklah, kami segera minta diri,” berkata Kiai Damar kemudian tanpa menghiraukan tanggapan dari ketiga orang Menoreh itu, “Carilah tabib terbaik untuk segera dapat memulihkan kesehatan Ki Rangga Agung Sedayu. Aku akan sangat kecewa jika sampai batas waktu yang aku berikan ternyata Ki Rangga belum siap untuk berperang tanding.”

“Sebentar Ki Sanak,” tiba-tiba Kiai Sabda Dadi menyela, “Apakah sebenarnya kepentingan Ki Sanak dengan Ki Rangga sehingga Ki Sanak telah menetapkan batas waktu untuk berperang tanding? Bukankah Ki Rangga juga mempunyai hak untuk menyatakan pendapatnya sehubungan dengan kepentingan Ki Sanak itu?”

Kiai Damar tertawa pendek. Jawabnya kemudian, “Terbunuhnya kakang Pideksa sudah cukup alasan bagiku untuk membunuhnya sekarang juga, melawan atau pun tidak melawan. Namun aku masih menjunjung tinggi sifat-sifat kejantanan sehingga aku memutuskan untuk memberinya waktu sebulan lebih sepuluh hari.”

“Ki Sanak,” Pandan Wangi yang sedari tadi diam saja ternyata telah terusik untuk menyatakan pendapatnya, “Bukankah perang tanding antara Ki Rangga melawan Ki Ajar Kumuda itu sudah berlaku sangat adil? Siapapun yang keluar dari medan perang tanding itu masih dalam keadaan hidup tidak akan dituntut oleh pihak yang merasa dirugikan? Sebagaimana yang telah diceritakan oleh kedua muridnya yang menjadi saksi pada waktu itu bahwa Ki Ajar Kumuda meminta dari pihak perguruan Kumuda untuk tidak membalas dendam atas peristiwa itu?”

“Persetan!” geram Kiai Damar, “Persoalannya telah bergeser kepada harga diri sebuah perguruan. Aku sebagai saudara muda Ki Ajar Kumuda akan membuktikan bahwa kami masih mempunyai kekuatan yang pantas untuk diperhitungkan. Memang menurut kedua muridnya, kakang Pideksa telah berpesan untuk tidak membalas dendam sejalan dengan kemampuan kedua murid utamanya yang masih terpaut sangat jauh dengan kemampuan Ki Rangga. Namun itu bukan berarti bahwa perguruan Kumuda tidak akan bangkit lagi untuk membalaskan sakit hati ini. Sekarang ada aku, saudara muda Kakang Pideksa walaupun pada perkembangan selanjutnya kami berguru pada guru yang berbeda, namun ikatan batin sebagai saudara seperguruan tidak akan pernah lekang oleh panas dan tidak akan lapuk oleh hujan.”

Kiai Sabda Dadi dan Pandan Wangi hanya dapat menarik nafas dalam-dalam mendengar penuturan Kiai Damar. Agaknya dendam benar-benar telah membutakan hati orang itu.

“Kami akan pergi,” gumam Kiai Damar hampir tak terdengar sambil mengayunkan langkahnya meninggalkan tempat itu. Kemudian katanya kepada kedua muridnya dan kedua murid Ki Ajar Kumuda, “Kita tinggalkan tempat ini. Tidak ada gunanya lagi kita berlama-lama di sini. Sebulan lebih sepuluh hari lagi kita akan kembali dan akan tuntaslah sudah dendam dan penghinaan yang selama ini kita tanggung.”

Dengan sekali loncat, Kiai Damar pun menghilang dalam gelapnya malam. Sementara kedua muridnya dan murid-murid Kumuda masih berdiri termangu-mangu. Baru sejenak kemudian keempat orang itu pun melangkah mengikuti Kiai Damar yang sudah pergi terlebih dahulu.

“Marilah kita lanjutkan perjalanan,” akhirnya Kiai Sabda Dadi berkata perlahan untuk mencairkan ketegangan yang terasa mencekam setiap dada, “Tinggal beberapa langkah lagi kita akan segera sampai di kediaman Ki Gede Menoreh.”

Pandan Wangi mengangguk. Tanpa terasa setitik air mengambang di kedua sudut matanya. Sebentar lagi dia akan sampai ke rumahnya yang telah sekian lama ditinggalkan, walaupun kadangkala dia bersama suaminya jika ada kepentingan masih sempat menengok rumah itu. Namun setiap kali dia datang ke Menoreh, selalu saja getaran rindu bercampur pilu mengaduk-aduk dadanya. Betapa kenangan indah dan sekaligus pahit telah terlukis di dinding-dinding rumah itu yang tak mungkin terhapuskan oleh berjalannya waktu.

Pengawal Menoreh itu segera tanggap. Dengan segera dia naik di bagian depan pedati untuk mengendalikan jalannya lembu-lembu penarik pedati. Sementara Kiai Sabda Dadi dan Pandan Wangi telah berjalan beriringan menuju bagian belakang pedati.

Namun alangkah terkejutnya kedua orang itu begitu mereka sampai di belakang pedati. Jerami yang pada awalnya menutupi tubuh Ki Rangga itu ternyata telah berserakan dan tercecer sebagian jatuh ke tanah. Sedangkan tubuh Ki Rangga yang sebelumnya tergeletak di lantai pedati telah raib entah ke mana.

“Kakang!” jerit Pandan Wangi begitu menyadari Ki Rangga telah lenyap tak berbekas. Dengan kedua tangan gemetar putri kepala Tanah Perdikan Menoreh itu menyibakkan beberapa onggokan jerami yang masih tersisa. Namun tubuh Ki Rangga benar-benar telah lenyap.

Kiai Sabda Dadi yang menyadari sesuatu pasti telah terjadi dengan hilangnya Ki Rangga segera mengetrapkan aji sapta pangrungu dan aji sapta pandulu. Dicobanya untuk mendengarkan setiap gerak yang mungkin dapat dijadikan pancatan untuk melacak keberadaan Ki Rangga. Demikian juga pandangan matanya yang menjadi sangat tajam berlipat-lipat telah mencoba menembus pekatnya malam. Namun usaha itu ternyata tidak membawa hasil. Ki Rangga Agung Sedayu benar-benar telah lenyap bagaikan di telan bumi.

Untuk beberapa saat Kiai Sabda Dadi dan Pandan Wangi hanya berdiri membeku. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Sementara pengawal Menoreh yang sudah siap menggerakkan cambuknya untuk menghela lembu-lembu pedati itu terkejut begitu mendengar Pandan Wangi menjerit.

“Ada apa Kiai?” tanya pengawal Menoreh itu sambil berpaling ke belakang.

Kiai Sabda Dadi termangu-mangu. Sambil menarik nafas dalam-dalam akhirnya dia menjawab, “Ki Rangga tidak ada di tempatnya.”

“He!” pengawal Menoreh itu terlonjak dari tempat duduknya. Dengan cepat dia meloncat masuk ke dalam pedati. Namun yang dijumpainya hanyalah jerami-jerami yang berserakan.

“Bagaimana ini bisa terjadi, Kiai?” tanya pengawal itu dengan suara bergetar menahan gejolak di dalam dadanya.

Kiai Sabda Dadi menggeleng lemah, “Aku tidak tahu dan tidak berani menduga-duga.”

Untuk sejenak ketiga orang itu hanya dapat berdiam diri. Sementara Pandan Wangi sudah mulai terisak-isak. Walaupun dengan sekuat tenaga dicobanya untuk menahan tangisnya, namun rasa-rasanya tangis itu telah berdesak-desakan ingin keluar dari tenggorokannya sehingga untuk beberapa saat Pandan Wangi bagaikan tercekik.

“Sudahlah,” akhirnya Kiai Sabda Dadi berusaha mencairkan suasana, “Sekarang kita hanya bisa pasrah dan berdoa, semoga Yang Maha Agung selalu melindungi hambaNya.”

Hampir bersamaan Pandan Wangi dan pengawal itu mengangguk. Namun tetap saja kegelisahan menghentak-hentak dada ketiga orang itu.

“Kiai,” berkata pengawal itu setelah beberapa saat mereka terdiam, “Bagaimanakah rencana kita selanjutnya? Tetap menuju ke kediaman Ki Gede atau kembali ke padukuhan induk?”

Kiai Sabda Dadi termenung. Berbagai pertimbangan bergejolak dalam dadanya. Namun akhirnya kakek Damarpati itu pun mengambil keputusan, “Kita teruskan perjalanan. Nyi Pandan Wangi memerlukan istirahat yang cukup. Sesampainya di kediaman Ki Gede nanti, aku akan menggunakan kuda untuk kembali ke padukuhan induk.”

Pandan Wangi dan pengawal itu hanya dapat mengangguk-angguk. Agaknya itu adalah jalan yang terbaik untuk sementara ini.

Demikianlah akhirnya pedati itu kembali merayap di atas jalan berbatu-batu menuju ke kediaman Ki Gede yang tinggal beberapa langkah lagi.

Dalam pada itu, pertempuran di depan gerbang padukuhan induk sudah benar-benar berakhir. Para pengikut Panembahan Cahya Warastra kebanyakan telah melarikan diri mencari selamat dari pada tertawan oleh prajurit Mataram. Sedangkan sebagian yang lainnya banyak yang terluka bahkan terbunuh di medan pertempuran.

Pertempuran si sayap kanan dari gelar Garuda Nglayang pasukan Mataram juga telah berhenti. Berkat bujukan dan rayuan dari Nyi Citra Jati yang telah kehilangan lawannya, akhirnya murid-murid perguruan Pamulatsih memilih menyerah.

“Percayalah. Kami tidak akan memperlakukan kalian dengan semena-mena,” berkata Nyi Citra Jati sambil menghampiri keenam murid perguruan Pamulatsih yang semuanya perempuan.

“Apakah kalian akan mengikat kedua tangan kami dan menggiring kami sepanjang jalan layaknya budak-budak tawanan?” bertanya salah seorang yang berwajah bulat dan bertahi lalat di dagu.

“Tentu tidak,” Padmini lah yang dengan serta merta menjawab, “Kalian bebas berjalan bersama kami menuju ke padukuhan induk. Hanya saja demi keamanan dan ketertiban, kami mohon senjata-senjata kalian diserahkan.”

Untuk sejenak murid-murid Pamulatsih itu saling berpandangan. Namun ketika yang tertua diantara mereka menganggukkan kepala, senjata-senjata mereka pun kemudian dengan rela hati harus diserahkan.

Seorang prajurit Mataram dengan sigap segera mengikat senjata-senjata yang telah diserahkan itu dan membawanya ke luar medan pertempuran untuk digabungkan dengan senjata-senjata yang lain.

“Marilah,” berkata Nyi Citra Jati kemudian sambil membimbing salah seorang murid Pamulatsih, “Kita tinggalkan medan pertempuran ini. Sebaiknya kita beristirahat di padukuhan induk. Pada saatnya nanti aku akan menghadap Ki Gede Menoreh dan Ki Patih Mandaraka untuk memohonkan ampunan bagi kalian sehingga kalian akan aku angkat sebagai anak-anakku dan aku persaudarakan dengan anak-anakku yang terdahulu.”

Kata-kata Nyi Citra Jati itu bagaikan tetesan embun di tengah padang tandus. Menyejukkan dan sekaligus memberikan harapan bagi masa depan mereka yang lebih baik.

Beberapa saat kemudian, dengan berjalan beriringan mereka telah meninggalkan medan pertempuran menuju ke padukuhan induk. Sementara Ki Citra Jati dengan di bantu kedua Putut dari jati Anom itu telah mendekati lingkaran pertempuran Mlayawerdi melawan Alap-Alap Siwurbang.

“Kita mendekat,” berkata Ki Citra Jati kepada kedua Putut itu.

Putut Darpa dan Putut Darpita hanya mengangguk sambil mengikuti langkah ki Citra Jati.

Sesampainya mereka di pinggir arena pertempuran, tampak kedua orang yang sedang bertempur itu sudah tidak dapat mengekang diri lagi. Keduanya agaknya telah merambah pada puncak ilmu masing-masing dan siap untuk dibenturkan.

Trisula di tangan Alap-Alap Siwurbang tampak menyala di malam yang gelap. Ujung-ujung trisula itu bagaikan menyemburkan lidah api yang siap menghanguskan tubuh lawannya. Sementara Mlayawerdi yang bersenjatakan sebilah pedang telah mengetrapkan puncak ilmunya, Pacar Wutah Puspa Rinonce.

Sejenak kemudian benturan yang dahsyat pun telah terjadi. Alap-alap Siwurbang yang meloncat tinggi sambil menghunjamkan dengan deras ujung trisulanya ke dada Mlayawerdi telah membentur aji Pacar Wutah Puspa Rinonce. Namun kekuatan yang terpancar pada pedang Mlayawerdi berlandaskan Aji Pacar Wutah Puspa Rinonce ternyata tidak mampu menahan laju ujung trisula yang bagaikan menyala itu. Beruntung sebelum ujung trisula itu menyentuh dadanya, Mlayawerdi masih sempat mengungkitnya sehingga arah sasarannya menjadi sedikit berbelok tidak jadi menghunjam jantung namun hanya merobek pundak kirinya.

Sementara getaran pedang Mlayawerdi yang berlandaskan pada aji Pacar Wutah Puspa Rinonce ternyata telah mampu menyusup pertahanan Alap-alap Siwurbang. Kekuatan aji Pacar Wutah Puspa Rinonce itu bagaikan ribuan jarum yang menyusup menembus kulit dan daging serta akhirnya melumatkan jantungnya.

Terdengar umpatan yang sangat kasar dari mulut Alap-alap Siwurbang sebelum tubuhnya yang melayang itu jatuh terjerambab ke tanah. Sementara Mlayawerdi yang terdorong beberapa langkah ke belakang karena kekuatan lawannya segera berguling ke samping agar tidak tertimpa tubuh lawannya.

“Mlayawerdi?” teriak Ki Citra jati sambil melangkah memasuki lingkaran pertempuran, “Engkau tidak apa-apa?”

Sejenak Mlayawerdi belum menjawab. Dibiarkan tubuhnya terlentang sambil mencoba mengatur pernafasannya yang terasa bagaikan tersumbat. Sementara perasaan panas dan pedih telah menyengat pundak kirinya.

Ki Citra Jati yang telah berjongkok di samping tubuhnya segera memeriksa luka di pundak kirinya. Luka itu tampak mengalirkan darah cukup deras serta sebagian kulit di pundaknya telah hangus terbakar.

“Duduklah,” berkata Ki Citra Jati kemudian sambil membantu Mlayawerdi bangkit, “Lukamu cukup parah. Aku akan menaburkan obat hanya untuk sementara memampatkan aliran darah, sedangkan luka bakar ini harus dirawat dengan sungguh-sungguh.”

Mlayawerdi hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab. Ketika Ki Citra Jati kemudian menaburkan sejenis serbuk berwarna kehitam-hitaman di atas lukanya, tampak Mlayawerdi untuk beberapa saat mengatupkan giginya rapat-rapat menahan rasa sakit yang bagaikan membakar pundak kirinya.

Demikianlah akhirnya, dengan dibantu kedua Putut dari jati Anom, Mlayawerdi telah dipapah menuju padukuhan induk untuk mendapatkan perawatan yang semestinya.

Dalam pada itu, di tengah padang rumput yang tidak begitu luas dan terlindung oleh gerumbul-gerumbul perdu yang berserakan, tampak seseorang yang bertubuh tinggi besar dengan sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu putih sedang merenungi sesosok tubuh yang tergeletak di hadapannya.

“Eyang Resi,” tiba-tiba seorang perempuan muda yang sangat cantik yang duduk bersimpuh di sampingnya membuka suara, “Apakah tidak sebaiknya Ki Rangga kita bawa saja ke gunung Kendalisada? Di sana Eyang Resi dapat mengobati Ki Rangga dan aku yang akan merawatnya sehari-hari. Dengan demikian Ki rangga dapat sembuh dengan cepat dan tidak terganggu oleh keadaan di sekitarnya yang dapat berkembang tidak menentu.”

Orang yang dipanggil Eyang Resi itu memang Resi Mayangkara. Beberapa saat yang lalu seorang pengawal Menoreh telah mendahului perjalanan Kiai Sabda Dadi dengan menggunakan seekor kuda untuk memberitahu keadaan Ki Rangga kepada keluarga di kediaman Ki Gede Menoreh. Anjani yang mendengar Ki Rangga telah terluka segera mencari Resi Mayangkara di halaman belakang.

“Eyang Resi,” panggil Anjani sesampainya dia di halaman belakang yang gelap gulita, “Dimanakah Eyang?”

Resi Mayangkara yang menyadari Anjani pasti sedang memerlukan bantuannya segera muncul dari kegelapan sambil menyapa, “Ada apa Anjani?”

“Eyang,” berkata Anjani sambil menghampiri Resi Mayangkara, “Ki Rangga Agung Sedayu telah terluka di medan pertempuran. Apakah tidak sebaiknya kalau kita menyusulnya ke padukuhan induk?”

Sejenak Resi Mayangkara merenung. Kemudian jawabnya, “Anjani, di sana sudah ada Ki Patih Mandaraka. Kehadiran kita mungkin tidak begitu diperlukan. Lebih baik kita menjaga kediaman Ki Gede Menoreh saja.”

“Ah, Eyang ini,” bibir yang mungil dan lembut itu tampak cemberut, “Ki Rangga di medan pertempuran telah terluka sedangkan di sini kita hanya berpangku tangan saja. Apakah itu pantas?”

Resi Mayangkara mengerutkan keningnya. Jawabnya kemudian, “Masalahnya bukan pantas dan tidak pantas, namun masing-masing mempunyai tugas dan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan.”

“Kita tidak meninggalkan tugas,” tukas Anjani dengan cepat, “Namun lebih dari itu, kita berjalan menuju padukuhan induk sambil meronda di sepanjang jalan yang menuju ke sana. Barangkali ada hal-hal yang mencurigakan dan perlu mendapatkan perhatian sehingga apabila ada rencana Ki Rangga dibawa pulang ke kediaman Ki Gede, keamanan di sepanjang jalan sudah terjamin.”

Resi Mayangkara menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah Resi yang waskita itu sudah paham apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Anjani. Anjani ingin segera mengetahui keadaan Ki Rangga.

Akhirnya Resi Mayangkara tidak dapat menolak. Tanpa sepengetahuan para penghuni rumah Ki Gede serta para pengawal yang berjaga, Resi Mayangkara telah berangkat menuju padukuhan induk bersama Anjani.

Ketika di tengah perjalanan panggraita Resi Mayangkara yang sangat tajam itu menyentuh getaran yang sedang terjadi di tengah bulak, Resi Mayangkara segera memerintahkan Anjani untuk bersembunyi di antara gerumbul-gerumbul di tengah padang itu. Sementara dia menyelamatkan Ki Rangga Agung Sedayu.

Demikianlah akhirnya Ki rangga Agung sedayu telah dibawa Resi Mayangkara ke tengah padang rumput tempat Anjani menunggu.

“Bagaimana Eyang?” kembali Anjani bertanya. Jari jemari lentik itu telah mencengkeram lengan Resi Mayangkara dan mengguncang-guncangkannya, “Aku berjanji untuk tinggal di gunung Kendalisada jika Eyang Resi membawa Ki Rangga dan mengobatinya di gunung Kendalisada.”

“Anjani,” dengan sareh Resi Mayangkara menjawab, “Ki Rangga mempunyai keluarga di Menoreh. Biarlah keluarganya saja yang merawatnya, kita tidak usah ikut campur. Untuk pengobatannya aku dapat memberi beberapa petunjuk kepada keluarga atau tabib yang merawatnya sebelum aku kembali ke gunung Kendalisada.”

“Jadi Eyang Resi setelah ini segera kembali ke gunung Kendalisada?” mata yang biasanya berbinar indah dan cemerlang itu menatap Resi Mayangkara dengan sinar mata yang redup, seredup sinar matahari senja.

“Ya, Anjani,” jawab Resi Mayangkara dengan sareh tanpa berpaling, “Tidak ada sesuatu pun yang menahanku di Menoreh ini. Bukankah kedatanganku ke tanah Perdikan yang subur ini hanya atas permintaanmu?”

Untuk beberapa saat Anjani membisu. Memang tidak ada yang bisa menahan Resi Mayangkara untuk tetap tinggal di Menoreh. Sedangkan dirinya, apakah sebenarnya yang akan dikatakan kepada Sekar Mirah, istri Ki Rangga Agung Sedayu jika pada saatnya nanti Sekar Mirah ingin mengetahui lebih jauh tentang jati dirinya?

Angin malam yang dingin mulai terasa menggigit tulang. Langit yang bersih tanpa mendung selembar pun tampak gemerlapan dihiasi berjuta-juta bintang gemintang. Sementara burung-burung malam dan sejenisnya telah lama berkeliaran mencari mangsa. Burung kedasih yang bertengger di dahan sebuah pohon randu alas sebesar pelukan orang dewasa yang tumbuh di pinggir padang itu suaranya terdengar ngelangut sampai ke ujung bulak.

Anjani menarik nafas panjang, panjang sekali. Dadanya yang membusung itu rasa-rasanya ingin menampung seluruh udara yang ada di padang perdu. Ketika sudut matanya mencoba mencuri pandang ke arah Resi Mayangkara yang duduk di sebelahnya, Resi yang Waskita itu tampak menundukkan kepalanya sambil mengerutkan keningnya dalam-dalam.

“Ada beberapa pilihan yang dapat engkau jadikan sebagai landasan untuk menentukan masa depanmu, Anjani,” tiba-tiba Resi Mayangkara berdesis perlahan sambil mengangkat kepalanya, “Tinggal di Menoreh dalam lingkungan keluarga Ki Rangga adalah salah satu pilihan. Sementara ikut aku ke gunung Kendalisada adalah pilihan lain yang mungkin dapat engkau pertimbangkan.”

Anjani hanya menundukkan kepala sambil jari-jemarinya yang lentik tak henti-hentinya mencabuti rumput yang terhampar di hadapannya. Sesekali sepasang mata yang indah dan jernih bak berlian itu menatap wajah Ki Rangga Agung Sedayu yang tergolek diam. Kadang dia merasa alangkah dekatnya Ki Rangga itu dengan dirinya sehingga dengan mudah dia dapat menggapainya? Namun di saat yang lain, betapa jauh jarak yang harus ditempuh untuk merengkuh hati laki-laki yang telah menjadi pujaan hatinya itu.

“Bagaimana Anjani?” tiba-tiba pertanyaan dari Resi Mayangkara telah membuyarkan lamunannya.

“Entahlah Eyang,” desah Anjani sambil meluruskan kedua kakinya, “Jika ada pilihan lain yang mungkin lebih baik dari kedua pilihan itu, aku lebih senang untuk memilihnya.”

Resi Mayangkara berpaling sambil mengerutkan keningnya, “Apakah engkau mempunyai pilihan lain selain kedua pilihan yang telah aku sebutkan tadi.”

Kepala yang indah itu menggeleng lemah. Jawabnya kemudian dengan suara yang lemah, “Aku tidak tahu Eyang.”

Sejenak suasana menjadi sepi kembali. Hanya suara binatang-binatang malam yang bersahut sahutan dalam sebuah irama yang ajeg. Semilir angin yang sesekali bertiup telah membuat rambut Anjani yang tergerai itu beriak-riak bagaikan aliran air di sungai yang jernih. Ketika suatu saat angin bertiup agak kencang, dagu yang runcing bak lebah bergantung itu terangkat sedikit sehingga sinar bintang yang jauh di puncak langit telah menyentuhnya dan menerangi seraut wajah cantik dan sempurna. Kecantikan yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata, kecantikan yang hanya dapat ditandingi oleh dewi-dewi kahyangan dalam cerita babat dan dongeng-dongeng.

Malam telah menuju puncaknya. Sesekali terdengar gonggongan anjing-anjing liar jauh di hutan yang membujur di sebelah utara padukuhan induk. Gardu ronda yang berada di dekat regol kediaman Ki Gede Menoreh telah dipukul dengan nada dara muluk. Malam ternyata telah sampai ke puncaknya.

Ketika pendengaran Resi Mayangkara yang sangat tajam itu tersentuh oleh bunyi kelinting lembu-lembu penarik pedati yang membawa Pandan Wangi menuju ke kediaman Ki Gede Menoreh, Resi yang waskita itu pun segera menyadari bahwa sudah saatnya untuk membawa Ki Rangga Agung Sedayu menyingkir dari tempat itu.

“Marilah Anjani,” berkata Resi Mayangkara kemudian, “Pedati itu agaknya sudah bergerak lagi. Kita harus segera menyesuaikan diri.”

Anjani sekilas berpaling. Dicobanya untuk mempertajam pendengarannya namun keberadaan pedati itu memang masih cukup jauh.

“Sudahlah Anjani,” akhirnya Resi Mayangkara bangkit dari tempat duduknya. Dengan sedikit membungkukkan badan, diangkatnya tubuh Ki Rangga yang tergolek diam diatas rerumputan, “Marilah kita antar Ki Rangga ke kediaman Ki Gede Menoreh agar segera mendapatkan perawatan yang semestinya.”

Tidak ada jalan lain bagi Anjani selain mengikuti langkah Resi Mayangkara yang mendukung Ki Rangga Agung Sedayu berjalan di antara gerumbul-gerumbul liar menyebarangi padang rumput yang tidak begitu luas itu menuju ke kediaman Ki Gede Menoreh.

Dalam pada itu di padukuhan induk Ki Jayaraga dan Ki Gede Menoreh dibantu oleh Ki Citra Jati telah mengatur korban-korban yang terluka baik dari pihak Mataram maupun dari pengikut Panembahan Cahya Warastra. Demikian juga korban-korban yang telah gugur dari kedua belah pihak telah dikumpulkan di sebuah pendapa terpisah.

Ketika Ki Jayaraga sedang merenungi tubuh-tubuh yang telah membeku dan berjajar-jajar di pendapa, dua orang pengawal Menoreh telah berlari-lari mendapatkannya.

“Ki Jayaraga!” seru salah satu pengawal itu sambil mencoba menguasai nafasnya yang memburu, “Mayat Panembahan Cahya Warastra telah hilang.”

“He!” terkejut Ki Jayaraga sambil bangkit berdiri, “Apa katamu? Mayat Panembahan Cahya Warastra hilang?”

“Ya, Ki,” jawab kedua pengawal itu hampir bersamaan, “Ketika kami berdua menyisir bekas tempat perang tanding Ki Rangga melawan Panembahan Cahya Warastra, kami tidak menemukan sebuah mayat pun.”

Ki Jayaraga sejenak menarik nafas panjang untuk meredakan getar di dalam dadanya. Katanya kemudian sambil tersenyum, “Ah, itu mungkin kalian saja yang sudah terlambat. Para prajurit Mataram telah mengambilnya terlebih dahulu.”

Untuk beberapa saat kedua pengawal itu saling berpandangan. Namun salah satunya segera menyahut, “Itu mungkin sekali, Ki. Namun yang sangat mengejutkan, di bekas tempat perang tanding itu kami bertemu dengan seseorang yang mencari Ki Rangga Agung Sedayu.”

“He?” kembali Ki Jayaraga terkejut, “Ada yang ingin bertemu dengan Ki Rangga?” Ki Jayaraga berhenti sejenak, lanjutnya kemudian, “Apakah kalian mengenalinya?”

Kedua pengawal itu menggeleng. Jawab salah satu dari keduanya kemudian, “Ketika kami sedang mencari mayat Panembahan yang sakti itu, tiba-tiba seseorang telah berdiri di hadapan kami bagaikan muncul begitu saja dari kegelapan.”

Ki Jayaraga mengerutkan keningnya, “Bukankah kalian membawa penerangan sehingga bisa mengenali wajah orang itu dengan jelas?”

“Kami membawa obor,” jawab salah satu pengawal itu dengan serta merta, “Namun begitu orang itu muncul di hadapan kami, tiba-tiba saja obor yang kami bawa telah padam.”

Jantung tua Ki Jayaraga rasa-rasanya berpacu semakin cepat. Berbagai dugaan telah tumbuh di hatinya.

“Mungkinkah cerita tentang Panembahan yang sakti dan telah terhindar dari segala rasa sakit dan kematian itu benar adanya?” berkata Ki Jayaraga dalam hati.

“Tidak ada orang yang mempunyai kemampuan seperti itu,” angan-angan itu dibantahnya sendiri, “Selama masih berujud manusia, dia tidak akan luput dari rasa sakit dan kematian.”

“Bagaimana, Ki?” tiba-tiba pertanyaan salah satu pengawal itu telah membuyarkan lamunan Ki Jayaraga.

“Apakah orang itu menyebutkan kepentingannya mencari Ki Rangga?” bertanya Ki Jayaraga kemudian setelah sejenak terdiam.

“Ya, Ki,” jawab mereka bersamaan.

“Untuk apa?”

Sejenak kedua pengawal itu ragu-ragu. Namun akhirnya salah satu menjawab, “Orang itu menunggu Ki Rangga di bekas arena perang tanding.”

“He?” kali ini Ki Jayaraga benar-benar terkejut bukan alang-kepalang. Katanya kemudian sambil menggeram, “Baiklah, kalau memang Panembahan itu hidup lagi, apapun yang terjadi, aku lah lawannya sekarang.”

Selesai berkata demikian Ki Jayaraga dengan tergesa-gesa segera menuruni tlundak pendapa dan berjalan melintasi halaman menuju ke bekas tempat perang tanding Ki Rangga Agung Sedayu melawan Panembahan Cahya Warastra di luar dinding padukuhan induk.

Kedua pengawal itu terkejut begitu menyadari Ki Jayaraga dengan cepat telah berlalu dari tempat itu. Dengan setengah berlari keduanya pun berusaha mengejar guru Glagah Putih itu.

“Sebentar, Ki Jayaraga!” hampir bersamaan kedua pengawal itu berteriak memanggil.

Sejenak Ki Jayaraga menghentikan langkahnya. Katanya kemudian sambil memutar tubuhnya, “Ada apa lagi?”

“Ki Jayaraga,” berkata salah satu dari keduanya setelah tiba di hadapan Ki Jayaraga, “Apakah tidak sebaiknya kita melaporkan kejadian ini kepada Ki Gede Menoreh terlebih dahulu?”

Ki Jayaraga termangu sejenak. Sambil menarik nafas dalam-dalam akhirnya dia pun menjawab sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah. Agaknya aku memang terlalu tergesa-gesa mengambil keputusan. Lebih baik masalah ini kita laporkan terlebih dahulu kepada Ki Gede Menoreh.”

Demikianlah akhirnya mereka bertiga berjalan beriringan menuju ke rumah yang dijadikan sebagai tempat penampungan bagi mereka yang terluka. Rumah itu hanya khusus untuk yang terluka parah, sedangkan bagi yang terluka ringan dan tidak terlalu membahayakan jiwa telah dipindahkan ke banjar padukuhan induk.

Dari kejauhan tampak pendapa itu telah penuh dengan orang-orang yang sedang dalam perawatan. Begitu banyaknya korban yang terluka dari kedua belah pihak sehingga ruangan di bagian dalam tidak mampu untuk menampung mereka semua. Atas petunjuk Ki Gede Menoreh, dengan sangat terpaksa sebagian yang lain telah di tempatkan di pendapa.

Beberapa prajurit yang sedang bertugas jaga telah menambah penerangan dengan menancapkan bambu-bambu setinggi orang dewasa yang ujungnya telah diberi minyak jarak yang berguna sebagai penerangan di setiap sudut halaman rumah itu yang dirasa gelap. Sehingga dari jauh halaman rumah itu tampak terang benderang.

Ki Jayaraga yang berjalan di depan seperti tidak sabar ingin segera sampai. Sementara kedua pengawal itu hanya mengikutinya saja dari belakang tanpa berbicara sepatah kata pun.

Agaknya prajurit yang berjaga-jaga di rumah itu telah melihat rombongan itu begitu mereka mendekati regol. Dengan tergesa-gesa seorang prajurit yang mengenali Ki Jayaraga sebagai pemimpin pasukan pengawal Menoreh di medan pertempuran siang tadi segera menyambut.

“Selamat malam Ki Jayaraga,” sapa prajurit itu dengan ramah, “Malam sudah larut dan Ki Jayaraga belum juga beristirahat?”

Ki Jayaraga tersenyum sekilas sambil menyahut dengan tetap berjalan tanpa berhenti, “Aku ingin bertemu Ki Gede Menoreh. Ada sesuatu yang harus aku sampaikan.”

Prajurit itu maklum bahwa tentu ada sesuatu yang sangat penting sehingga Ki Jayaraga memerlukan datang menemui Ki Gede di malam yang telah larut. Maka katanya kemudian sambil memberi jalan, “Silahkan, Ki. Namun aku tidak yakin apakah Ki Gede masih terjaga? Beliau berada di gandhok sebelah kanan bersama Ki Patih Mandaraka.”

“Ki Patih masih berada di sini?” bertanya Ki Jayaraga heran sambil berpaling dan menahan langkahnya sejenak.

Prajurit itu mengangguk. Jawabnya kemudian, “Ki Patih telah memutuskan untuk bermalam di sini. Sebenarnya Ki Gede telah mempersilahkan untuk bermalam di kediaman Ki Gede. Namun karena malam sudah cukup larut, Ki patih memutuskan untuk bermalam di padukuhan induk saja.”

Ki Jayaraga mengangguk-anggukkan kepalanya. Menjelang waktu sirep bocah tadi setelah pertempuran benar-benar selesai, Ki Gede Menoreh memang telah mempersilahkan Ki Patih Mandaraka bersama para prajurit pengawal kepatihan untuk bermalam di kediaman Ki Gede. Walaupun jarak kediaman Ki Gede dengan padukuhan induk cukup jauh, namun beberapa ekor kuda telah disiapkan. Ternyata Ki Patih tidak berkenan dan justru memilih untuk bermalam di padukuhan induk. Karena pada dasarnya Ki Patih Mandaraka juga seorang prajurit, baginya bukan hal yang perlu dipermasalahkan jika harus bermalam di medan pertempuran sekali pun.

“Marilah,” berkata Ki Jayaraga kemudian kepada kedua pengawal yang berdiri termangu-mangu di sebelah menyebelah regol, “Waktu kita sangat sempit.”

Tanpa menjawab kedua pengawal itu dengan tergesa-gesa segera mengikuti langkah ki Jayaraga menuju gandhok sebelah kanan.

Dalam pada itu, Ki Gede Menoreh dan Ki Patih Mandaraka ternyata juga belum beristirahat. Mereka berdua sedang duduk-duduk sambil berbincang-bincang di atas sebuah amben besar yang berada di ruang tengah.

Ketika kedua orang itu mendengar percakapan yang bernada sedikit keras di luar gandhok, Ki Gede pun memerlukan untuk turun dari amben dan berjalan menuju pintu gandhok.

“Ada apa?” bertanya Ki Gede sambil membuka pintu.

Namun begitu pandangan mata Ki Gede tertumbuk pada seraut wajah yang sudah sangat dikenalnya, Ki Gede pun segera berseru, “Ki Jayaraga? Masuklah. Ki Patih Mandaraka juga belum berkenan istirahat.”

Para prajurit pengawal kepatihan yang sebelumnya menahan Ki Jayaraga hanya dapat saling pandang. Mereka menyangka Ki Patih dan Ki Gede sudah berada di bilik masing-masing. Namun ternyata kedua orang penting itu masih belum beristirahat.

“Nah,” berkata Ki Jayaraga kemudian kepada para prajurit pengawal kepatihan yang sedang berjaga, “Aku sangat berterima kasih atas peringatan kalian, namun ternyata Ki Gede dan Ki Patih masih berkenan menerimaku.”

Prajurit pengawal kepatihan yang berdiri paling dekat dengan Ki Jayaraga hanya dapat menarik nafas dalam-dalam sambil melangkah mundur. Katanya kemudian, “Silahkan, Ki. Sebenarnya kami hanya menjalankan tugas.”

“Memang itulah yang seharusnya kalian pegang teguh sebagai prajurit pengawal kepatihan,” sahut Ki Jayaraga sambil tersenyum dan mengayunkan langkah mengikuti Ki Gede memasuki gandhok. Sementara kedua pengawal Menoreh yang menyertainya menunggu di luar.

Demikianlah ketiga orang tua itu akhirnya segera terlibat dalam perbincangan yang sungguh-sungguh. Berita yang dibawa Ki Jayaraga telah membuat Ki Patih sangat berhati-hati dalam menyimpulkan peristiwa itu.

“Aku memang telah mendengar cerita tentang kesaktian saudara kembar Kecruk Putih yang sudah kalis dari rasa sakit bahkan kematian,” berkata Ki Patih, “Namun apakah cerita itu benar ataukah memang sengaja disebar luaskan dengan tujuan tertentu, masih perlu dibuktikan.”

“Ampun Ki Patih,” berkata Ki Jayaraga, “Menurut hamba, orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra itu memang sakti dengan aji Brahala Wuru nya. Namun kalau menurut cerita dia telah kalis dari rasa sakit bahkan kematian, aku pribadi tidak mempercayainya. Selama masih berujud manusia, betapapun tinggi ilmunya, dia pasti merasakan sakit dan akan mengalami kematian.”

“Ampun Ki Patih,” Ki Gede Menoreh ternyata mempunyai pendapat sendiri, “Berdasarkan cerita Ki Jayaraga atas dasar laporan kedua pengawal Menoreh, sekarang ini ada seseorang yang sedang menunggu Ki Rangga Agung Sedayu di tempat bekas arena perang tanding. Aku tidak yakin kalau itu Panembahan Cahya Warastra yang hidup kembali. Seandainya benar Panembahan itu mempunyai kemampuan terhindar dari kematian, dia tentu sudah bertiwikrama kembali dan mengamuk mencari Ki Rangga Agung Sedayu sampai kemari. Kalau itu benar terjadi, tidak ada kekuatan yang akan mampu menahannya lagi.”

Ki Patih Mandaraka dan Ki Jayaraga hampir bersamaan mengangguk-angguk. Apa yang disampaikan oleh Ki Gede itu memang masuk akal. Dan memang menurut perhitungan nalar orang yang sekarang sedang menunggu Ki Rangga itu bukan Panembahan Cahya Warastra.

“Bagaimana dengan jasadnya yang tidak ditemukan?” tiba-tiba saja Ki Jayaraga mengajukan pertanyaan.

Ki Gede tersenyum. Jawabnya kemudian, “Bukankah Ki Jayaraga tadi telah menyampaikan kemungkinannya bisa saja telah dibawa oleh prajurit Mataram yang telah terlebih dahulu menyisir tempat itu?”

“Tentu tidak,” tiba-tiba saja Ki Patih Mandaraka dengan serta merta memotong, “Tugas menyisir bekas medan pertempuran tentu telah dibagi dengan sangat jelas oleh Lurah prajurit yang memimpin di bagian kesehatan. Para prajurit yang bertugas di bagian kesehatan itu akan dibagi dalam beberapa kelompok yang masing-masing mempunyai tugas untuk menyisir daerah bekas pertempuran yang telah ditentukan, sehingga tidak akan terjadi tumpang suh.”

Penjelasan Ki Patih itu ternyata telah membuat jantung kedua orang tua itu menjadi berdebar-debar. Dengan demikian hilangnya jasad Panembahan Cahya Warastra itu masih menyisakan sebuah teka-teki.

“Sebaiknya kita temui saja orang yang ingin bertemu dengan Ki Rangga itu,” berkata Ki Patih selanjutnya.

Sejenak kedua orang tua itu saling berpandangan. Berkata Ki Gede Menoreh kemudian, “Ampun Ki Patih. Apakah Ki Patih sudah mempunyai gambaran tentang orang itu?”

Ki Patih menggeleng, “Untuk itulah lebih baik kita segera menemuinya dari pada hanya berteka-teki?”

Kedua orang tua itu mengangguk-angguk. Tiba-tiba Ki Gede bertanya sambil berpaling ke arah Ki Jayaraga, “Ki Jayaraga, apakah kedua pengawal itu dapat memberikan gambaran ujud dari orang yang ingin bertemu dengan Ki Rangga itu?”

Untuk beberapa saat Ki Jayaraga mengerutkan keningnya. Akhirnya Ki Jayaraga pun bangkit dari duduknya dan turun dari amben.

“Aku akan memanggil mereka,” berkata Ki Jayaraga sambil berjalan menuju ke pintu.

Beberapa saat kemudian kedua pengawal itu pun telah dibawa oleh Ki Jayaraga menghadap Ki Patih.

“Berikan gambaran yang jelas sejauh pengamatanmu terhadap orang yang mencari Ki Rangga itu,” perintah Ki Patih kepada kedua pengawal itu.

Dengan suara sedikit bergetar, salah satu pengawal itu pun kemudian memberikan gambaran orang yang ingin bertemu dengan Ki Rangga Agung Sedayu.

“Ampun Ki Patih. Malam cukup gelap dan obor yang kami bawa tiba-tiba saja padam. Sehingga kami tidak dapat mengenali wajahnya, namun bentuk tubuh orang yang berdiri di hadapan kami itu dapat kami amati dengan cukup jelas,” berkata pengawal yang satunya.

Ki Gede Menoreh yang mendengarkan keterangan kedua pengawal itu sampai tuntas merasa mengenal sosok orang yang sedang menunggu Ki Rangga Agung Sedayu di bekas medan perang tanding itu.

“Aku akan menemuinya,” tiba-tiba Ki Gede Menoreh bangkit dari tempat duduknya dan turun dari amben besar di tengah-tengah ruangan.

Kemudian sambil mengangguk hormat kepada Ki Patih, Ki Gede berkata, “Ampun Ki Patih, rasa-rasanya aku mengenal orang itu dan orang itu pun tentu masih mengenaliku walaupun aku sudah semakin tua. Ijinkanlah aku menemuinya.”

Ki Patih tersenyum sambil mengangguk-angguk. Jawabnya kemudian, “Apakah Ki Gede perlu membawa pasukan segelar sepapan?”

“Ah,” hampir bersamaan Ki Gede dan Ki Jayaraga tertawa pendek. Ki Jayaraga lah yang kemudian menjawab, “Biarlah aku saja yang menemani Ki Gede, Ki Patih. Setidaknya tenaga tuaku ini masih diperlukan.”

Kembali Ki Patih tersenyum. Sambil bangkit dari tempat duduknya dan turun dari amben, Ki Patih pun menanggapi kelakar kedua orang itu, “Kalau Ki Gede dan Ki Jayaraga sudah merasa tua, aku bahkan sebaliknya. Dari hari ke hari aku merasa semakin muda dan bergairah.”

“Ah,” kembali kedua orang itu tertawa.

“Baiklah, kami mohon diri, Ki Patih,” akhirnya Ki Gede mohon diri sambil beranjak dari amben.

“Silahkan Ki Gede,” jawab Ki Patih kemudian sambil melangkah mengiringi kedua orang tua itu menuju ke pintu gandhok, “Berhati hatilah. Tidak menutup kemungkinan ada pihak-pihak yang mencoba mengambil kesempatan pada saat seperti ini. Tidak ada jeleknya kita selalu waspada.”

Kedua orang tua itu tidak menjawab hanya mengangguk-anggukkan kepala mereka sambil mengiringi langkah Ki Patih.

“Apakah Ki Gede tidak perlu membawa senjata?” tiba-tiba Ki Patih menghentikan langkahnya sambil menunjuk ke arah sebuah tombak pendek yang terbungkus selongsong kain putih dan tersandar di sudut gandhok.

Ki Gede tersenyum sambil menggeleng, “Tidak Ki Patih. Aku tidak memerlukan senjata. Jika memang benar dugaanku tentang orang itu, dia justru tidak akan mau menemuiku jika aku membawa senjata.”

Hampir bersamaan orang-orang yang ada di dalam gandhok itu mengangguk-anggukkan kepala mereka.

Demikianlah akhirnya kedua orang tua itu bersama dengan kedua pengawal Menoreh segera menuju ke bekas tempat perang tanding Panembahan Cahya Warastra melawan Ki Rangga Agung Sedayu.

Sesampainya mereka berempat di luar dinding padukuhan induk, bekas medan pertempuran yang gelap gulita tampak terhampar di hadapan mereka karena tidak ada sebuah obor pun yang menerangi tempat itu. Sementara beberapa saat tadi Ki Gede Menoreh telah menolak ketika para prajurit penjaga regol yang mereka lewati menawarkan sebuah obor untuk penerangan.

“Aku belum rabun,” jawab Ki Gede sambil tersenyum, “Selebihnya kami memang sengaja bergerak dalam gelap agar tidak mudah diketahui oleh sisa-sisa pasukan lawan yang mungkin masih berkeliaran di bekas medan pertempuran.”

Demikanlah mereka berempat dengan sangat hati-hati mulai bergeser menuju ke dinding padukuhan induk sebelah barat. Dengan kemampuan yang dimiliki oleh kedua orang tua itu, mereka berdua tidak mengalami kesulitan berjalan di malam sepekat apapun. Sementara kedua pengawal itu hanya mampu mengikuti kedua orang linuwih itu dari belakang.

“Kita berhenti di sini,” berkata Ki Gede sesampainya mereka di ujung dinding padukuhan induk sebelah barat, “Aku akan maju beberapa langkah untuk sekedar menampakkan diri agar kedatangan kita diketahui oleh orang yang ingin menemui Ki Rangga Agung Sedayu.”

Ki Jayaraga ragu-ragu sejenak. Maka katanya kemudian, “Apakah tidak sebaiknya aku mengawani Ki Gede? Kita belum tahu dengan siapa sesungguhnya kita berhadapan.”

“Terima kasih, Ki Jayaraga,” jawab Ki Gede perlahan, “Akan tetapi lebih baik aku sendiri yang menemuinya.”

Selesai berkata demikian, tanpa menunggu jawaban Ki Jayaraga, Ki Gede segera maju beberapa puluh langkah ke depan. Ketika pandangan tajam Ki Gede melihat sebuah pohon dadap yang tumbuh menjulang, Ki Gede pun menghentikan langkahnya. Ki Gede telah melihat seseorang sedang berdiri hampir melekat pada sebatang pohon dadap yang batangnya hampir sebesar tubuh orang dewasa.

Sejenak suasana menjadi sunyi. Hanya suara nyanyian merdu binatang-binatang malam yang terdengar riuh rendah dalam irama yang ajeg. Sesekali terdengar gonggongan anjing-anjing liar yang jauh dari arah hutan yang membujur di utara padukuhan induk. Sedangkan di langit yang gelap tampak berseliweran kelelawar dan burung-burung malam mencari mangsa.

“Selamat malam, Paman,” tiba-tiba bayangan yang melekat pada sebatang pohon dadap itu bergeser maju mendekati tempat Ki Gede Menoreh berdiri.

Ki Gede Menoreh menarik nafas dalam-dalam begitu mendengar suara yang masih dikenalinya itu. Maka jawabnya kemudian, “Terima kasih Rudita. Aku sengaja datang kemari untuk memberitahukan kepadamu tentang keadaan Ki Rangga Agung Sedayu. Ki Rangga telah menderita luka yang cukup parah sehingga tidak mungkin baginya untuk datang menemuimu di tempat ini.”

Orang itu memang Rudita, putra satu-satunya Ki Waskita yang masih terhitung kerabat dekat dengan keluarga Ki Gede Menoreh.

“Ma’afkan aku telah mengganggu istirahat Paman Argapati, setelah seharian Paman berjuang menegakkan kedamaian di atas bumi ini dengan tumpahan darah dan nyawa,” berkata Rudita selanjutnya sambil melangkah semakin dekat.

Ki Gede mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Rudita. Ada sedikit singgungan di sudut hati orang tua itu. Maka katanya kemudian, “Apakah maksud sebenarnya kedatanganmu kemari, Rudita?”

Rudita tertawa pendek. Jawabnya kemudian, “Aku datang hanya sekedar untuk melihat dan menyaksikan sekali lagi dan sekali lagi, betapa manusia merupakan makhluk yang paling berbahaya, bukan hanya bagi sesamanya, namun lebih jauh lagi akibat perbuatannya yang tidak pernah mengenal puas akan dapat berakibat pada seluruh makhluk yang lebih rendah derajatnya dari manusia itu sendiri. Bahkan tidak menutup kemungkinan keseimbangan alam pun akan terganggu karena pokal makhluk yang disebut manusia.”

Ki Gede kembali menarik nafas dalam-dalam untuk mengurai getar jantungnya yang mulai melonjak-lonjak. Dengan nada suara yang dalam, Ki Gede mencoba menjawab kata-kata Rudita, “Rudita, sebenarnya kita berdiri di atas alas yang sama namun pada ujung yang berbeda. Di satu ujung kami berusaha menciptakan perdamaian di atas bumi ini dengan cara kami, cara yang mungkin tidak disukai oleh beberapa pihak. Namun yakinlah kita juga membatasi diri dengan paugeran-paugeran yang telah digariskan oleh para pendahulu kami yang selalu kami sesuaikan dan kami perbaiki seiring dengan bergulirnya waktu sehingga akan bermanfaat dan tidak mencederai kehidupan bebrayan. Sementara engkau berdiri di ujung yang lain, yang ingin melihat dunia ini dalam genggaman kedamaian dengan cara yang masih belum terjangkau oleh akal manusia dan masih merupakan mimpi yang belum pernah terjamah.”

“Itu adalah pandangan mereka yang belum memahami arti kehidupan yang sebenarnya,” jawab Rudita, “Paman masih selalu dihinggapi oleh rasa curiga dan syak wasangka terhadap sesama. Pendekatan dari hati ke hati , sikap yang saling terbuka dan menyadari serta menerima bahwa perbedaan itu pasti ada adalah salah satu cara untuk mengurangi ketegangan jiwa yang terjadi di antara kita karena adanya perbedaan. Jadikanlah perbedaan itu sebagai rahmatan lil alamin yang harus kita terima tanpa prasangka buruk serta ikhlas bahwa sebenarnyalah dalam menjalani kehidupan ini kita harus siap untuk berbagi.”

“Sudahlah Rudita,” kembali ki Gede Menoreh mencoba berkata dengan nada rendah, “Kita memang berseberangan dalam hal keyakinan untuk menciptakan perdamaian. Cara yang engkau tempuh itu mungkin suatu saat akan menampakkan hasilnya, namun tidak untuk saat ini,” Ki Gede Menoreh berhenti sejenak. Kemudian lanjutnya, “Nah, sekarang katakanlah kepentinganmu, aku akan menyampaikannya karena Ki Rangga tidak mampu datang ke tempat ini sehubungan dengan keadaannya yang terluka cukup parah.”

Sejenak Rudita menarik nafas dalam-dalam. Betapapun juga Ki Rangga Agung Sedayu sejak masa mudanya telah akrab dengan dirinya walaupun mereka tidak pernah seiring sejalan. Namun selama ini menurut pengamatannya, hanya Ki Rangga Agung Sedayu lah yang mau mendengarkan isi hatinya.

“Aku hanya ingin bertemu dengannya, tidak lebih,” Rudita berhenti sejenak, lalu, “Namun karena dia sedang sakit, sebaiknya aku minta diri. Sampaikan saja salamku kepada Agung Sedayu dan semoga dia cepat sembuh dari sakit wadagnya maupun sakit batinnya,”

Sebuah desir tajam terasa menggores jantung Ki Gede, namun Ki Gede berusaha untuk tidak mempedulikannya. Maka katanya kemudian, “Baiklah Rudita, pesanmu akan aku sampaikan. Namun sebelum engkau meninggalkan tempat ini, aku ingin menanyakan sesuatu hal kepadamu.”

bersambung ke bagian 2

32 Responses

  1. Matur nuwun sanget mbah, kawulo remen sanget wedaranipun, ananging rasane ati mboten sabar nenggo rontal sak candakipun he … he… he …. ngapunten mbah rodo mekso

  2. saking lereng sundoro sumbing ngawantu wantu candakipun

  3. he he he saya di kowangan dekat terminal ki

  4. mana kelanjutannya nie…???

  5. mboten sabar niki nenggo mbah man

  6. Tulung mbaaah
    selak dicokoti nyamuk antri dari pagi

  7. Sugeng dalu…
    Sami kaliyan Ki Eko, nenggo rontal Mbah Man….

  8. Kapan dilanjutkan Mbah Man??
    Saya tetap berharap secepatnya yang kemudian saya bagikan ke teman2.
    Terima kasih..

  9. Mbenjang menapa wedaran rontsl candakipun mbah..?

  10. Saya selalu menggharapkan…kapan bagian 3 jilid 410 itu diturunkan, kemudian jilid2 berikutnya Mbah Man???
    Sekali lagi saya berharap tenggangnya tidak terlalu lama, kasihan mereka yang selalu menunggu dan menunggu.
    Terima kasih akan kepedulian Mbah Man..

  11. Kapan yach TADBM-410 bagian 3 dan seterusnya akan hadir

  12. hmm… dos pundi mbah man. ki rangga napa taksih dereng siuman, kok lami mboten medal2..??? mpun diantos tiyang kathah mbah.. suwuun.

  13. Sugeng siyang mbah! Prpun kbre?

  14. …nunggu kelanjutan Ki Ronggo Agung Sedayu…sdh siumankah oleh wanginya tubuh Anjani atau terlelap….

  15. Kok pending mawon Mbah Dos pundi kelajenganipun….
    Kulo tansah nenggo
    Suwun..

  16. Ki Rangga Agung Sedayu, cepat sadar ya?! Sebentar lagi lebaran lho. Kasihan Sekar Mirah dan putramu belum dibelikan pakaian baru. THR dari Mataram belum turun, Ki?

  17. Rontal kelanjutan nya………………………ditunggu dengan sabar,,

  18. saking wonoaobo kawulo nenggo kanti ketar ketir,monggo enggal pun wedaraken.

  19. Ana tutuge

    masih menunggu rontal terkumpul untuk diposting disini bagian demi bagian

    Tapi kapan dilanjutkan Mbah Man???
    Mengingat komentar pertama pada lanjutan ini sudah sejak 18 Mei 2015, lalu masih harus menunggu sampai kapan lagi dan berapa bulan lagi Mbah Man?

    Tolong ada sedikit prioritas buat teman-teman yang seolah-olah tidak sabar lagi menunggu jatuhnya rembulan dari langit.

    Matur nuwun..

  20. MANTUN LEBARAN LHO MBAH PUNDI LANJUTIPUN ?

  21. Dipun tenggo lho …..ngantos waringuten nenggo ki ronggo siuman

  22. Suwun mbah

  23. Mbah, kadosipun nyi waskito sampun dipun kisahaken tilar lan kakang rudito mboten tungal griyo malih ,
    Nanging sampun gadhah padepokan piyambak. Cobi dipun buka malih……

  24. ngenteni rontal gogrok sinambi mancing

  25. Kenapa rudita dari awal sampai sekarang serorahnya hanya kepada orang yng di kenalnya saja.. Dan disini orang2 itu baik.. Coba saja tokoh rudita itu sesorah di depan kecruk putih atau bango lamatan pasati langsung akan dibunuhnya..

  26. sepengetahuanku dalam membaca ADBM istri ki waskita telah lama meninggal dunia

  27. Cerita yang menarik…….
    Hanya saran…… Sifat yg mudah marah sedikit dikuranggi….serta alur tentang ungkapan perasaan terlalu jelas… Peran dari Rudita….juga kabur karena memaksakan suatu yg bukan pada tempatnya…… Semoga penulis lebih jeli untuk melihat latar belakang dan kehidupan dari penulis Api di bukit menoreh SH Mintarja….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s