TADBM-411

<< kembali ke TADBM-410 | lanjut ke TADBM-412 >>

Bagian 1

TADBM-411NAH,” berkata Kanjeng Sunan kemudian, “Aku akan melanjutkan perjalananku mendaki perbukitan Menoreh. Terserah kepadamu anak muda, apakah engkau akan mengikuti aku ataukah melanjutkan perjalananmu sendiri menemui Ki Rangga Agung Sedayu?”

Untuk beberapa saat anak muda itu masih termangu-mangu. Namun ketika orang yang dipanggil Kanjeng Sunan itu mulai bergerak melangkahkan kakinya, dengan tanpa berpikir panjang, anak muda itu pun segera menyusul sambil berkata, “Ampun Kanjeng Sunan, jika diijinkan, perkenankan hamba mengikuti Kanjeng Sunan mendaki perbukitan Menoreh.”

Kanjeng Sunan tidak menjawab. Hanya sebuah senyum kecil tersungging di bibirnya. Sejenak kemudian kedua orang itu telah berjalan menyusuri jalan setapak di pinggir hutan menuju ke perbukitan Menoreh.

*****

Dalam pada itu di padukuhan induk, Ki Jayaraga dan Ki Gede Menoreh sedang mempersiapkan pemberangkatan pemakaman para korban baik dari pihak prajurit Mataram dan pengawal Menoreh, maupun dari pasukan Panembahan Cahya Warastra. Dari pihak Mataram telah hadir pula Ki Tumenggung Surayudha.

“Ki Patih Mandaraka menyampaikan permohonan maafnya tidak bisa menghadiri pemberangkatan pemakaman ini, Ki Gede,” berkata Ki Tumenggung Surayudha saat mereka bertiga berdiri di pendapa banjar padukuhan induk, tempat para jenazah disemayamkan untuk sementara, “Ki Patih masih membicarakan sesuatu yang sangat penting dengan Raden Mas Rangsang.”

Ki Gede tersenyum. Jawabnya kemudian, “Kami sudah sangat berterima kasih atas kehadiran Ki Tumenggung.”

“Sudah seharusnya kami hadir di sini,” sahut Ki Tumenggung Surayudha, “Bukan karena ada beberapa prajurit kami yang gugur, namun ini adalah sebuah bentuk penghormatan dari Mataram atas bantuan dari pengawal Tanah Perdikan Menoreh dalam menghancurkan pasukan Panembahan Cahya Warastra yang dapat menjadi duri dalam daging bagi pemerintahan Mataram di masa yang akan datang.”

Mereka yang hadir di pendapa banjar padukuhan induk itu pun mengangguk-anggukkan kepala.

“Apakah keluarga para prajurit Mataram yang gugur sudah dihubungi?” bertanya Ki Gede kemudian.

Ki Tumenggung Surayudha menggeleng. Jawabnya, “Itu membutuhkan waktu. Bagi seorang prajurit, gugur di medan tugas adalah akibat yang wajar dari sebuah pekerjaan. Sejak kali pertama mereka memasuki lingkungan keprajuritan, kemungkinan seperti itu sudah ditanamkan sejak dini. Demikian juga keluarga para prajurit, mereka sudah menyadari akibat paling buruk yang dapat menimpa anggota keluarga mereka jika salah satu dari anggota keluarga telah membulatkan tekat untuk mengikatkan diri menjadi seorang prajurit,” Ki Tumenggung berhenti sebentar. Kemudian lanjutnya, “Namun demikian kami atas nama pemerintah Mataram akan menghubungi keluarga mereka setelah kita kembali ke ibu kota. Segala sesuatunya telah diatur dalam sebuah paugeran termasuk santunan yang berhak diterima oleh para keluarga korban.”

Hampir bersamaan Ki Gede dan Ki Jayaraga mengangguk-anggukkan kepala.

“Apakah keluarga dari para pengawal Menoreh yang gugur juga telah dihubungi?” sekarang Ki Tumenggung Surayudha yang ganti bertanya.

“Sudah Ki Tumenggung,” jawab Ki Jayaraga yang berdiri di sampingnya, “Kita sedang menunggu kedatangan mereka.”

Ki Tumenggung Surayudha mengangguk anggukkan kepalanya, sementara Ki Gede Menoreh telah menarik nafas dalam-dalam. Pandangan matanya yang sayu menatap kosong ke titik-titik di kejauhan. Seolah-olah terbayang kembali beberapa puluh tahun yang lalu ketika api membakar Tanah Perdikan Menoreh karena pertikaian keluarga. Seandainya dengan dada tengadah dan niat baik, Sidanti pada waktu itu menghadap kepadanya dan meminta untuk diangkat menjadi kepala tanah Perdikan menggantikan dirinya, mungkin sejarah dapat berubah. Tidak ada secuwil niat pun di dalam hatinya untuk membedakan antara Sidanti dengan Pandan Wangi. Namun semuanya telah berlalu, dan untuk kesekian kalinya Tanah Perdikan Menoreh harus berduka kembali, karena putra-putra terbaiknya telah gugur dalam menegakkan dan mempertahankan tanah kelahiran mereka.

“Ternyata kedatangan orang-orang bercambuk itu telah menorehkan sejarah panjang Tanah Perdikan ini,” gumam Ki Gede Menoreh dalam hati, “Khususnya Ki Rangga Agung Sedayu jasanya terhadap tanah ini benar-benar tidak dapat dihitung dan dinilai dengan apapun. Tidak salah sebenarnya kalau Pandan Wangi pada waktu itu telah menjatuhkan pilihan kepadanya. Yang salah adalah waktu, mengapa puteriku terlambat mengenal Ki Rangga Agung Sedayu sedangkan gadis dari Sangkal Putung itu telah menarik hati Ki Rangga terlebih dahulu.”

“Ki Gede,” tiba-tiba kata-kata Ki Jayaraga telah membuyarkan lamunan Ki Gede Menoreh, “Agaknya para keluarga korban telah berdatangan.”

Ki Gede Menoreh mengerutkan keningnya yang sudah berkeriput. Tampak berpuluh-puluh orang, baik laki-laki maupun perempuan bahkan kanak-kanak telah berhamburan memasuki halaman banjar padukuhan. Segera saja suasana menjadi sangat gaduh. Jerit tangis yang memilukan pun segera meledak begitu mereka mulai menaiki tangga pendapa dan mencoba mengenali keluarga mereka yang telah menjadi korban. Perempuan-perempuan menangis sejadi-jadinya sambil menjerit-jerit dan berteriak memanggil-manggil nama suami atau pun anak laki-laki mereka. Tak terkecuali kanak-kanak yang masih belum mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi, telah ikut menangis karena biyung-biyung mereka juga menangis. Sedangkan para lelaki tampak hanya menahan getaran yang melanda rongga dada mereka dengan menahan nafas dan tangan yang dikepal keras-keras untuk menahan jatuhnya air mata.

Beberapa pengawal dibantu oleh prajurit Mataram telah membimbing dan mencoba menenangkan perempuan-perempuan yang telah kehilangan kendali. Mereka menangis meraung-raung disisi jenasah Ayah, suami ataupun saudara kandung mereka yang telah gugur dalam menunaikan tugas.

Seorang perempuan muda sambil menggendong bayinya yang masih berumur beberapa bulan tampak berdiri termangu-mangu di tangga pendapa. Air matanya berlinangan membasahi wajahnya bagaikan sumber air di musim penghujan yang tidak pernah kering. Wajahnya terlihat sangat pucat dengan bibir yang bergetar hebat namun tak sepatah kata pun yang terucap. Tidak terdengar jeritan atau teriakan, bahkan sebuah isak tangis pun. Hanya pandangan matanya yang tampak redup itu dengan nanar menjelajahi ke seluruh sudut-sudut pendapa. Dicobanya untuk mengenali barangkali dia dapat menemukan keberadaan suaminya dari tempatnya berdiri. Dia merasa tidak mempunyai kekuatan untuk melangkahkan kakinya mendekati mayat-mayat yang terbujur diam berjajar-jajar diatas lantai pendapa beralaskan tikar pandan dalam balutan putihnya kain kafan.

Ki Gede yang melihat seorang perempuan muda sedang berdiri termangu-mangu di tangga pendapa, segera mengayunkan langkahnya. Sesampainya Ki Gede di depan perempuan muda itu, beberapa saat Ki Gede tidak tahu harus berbuat apa. Perempuan muda itu tampak linglung karena goncangan yang dahsyat telah mendera jantungnya.

“Nyi,” akhirnya dengan sangat berhati-hati Ki Gede mencoba menyapa, “Apakah ada sesuatu yang dapat aku bantu?”

Perempuan itu masih tetap termangu seolah tidak mendengar sapa Ki Gede. Baru ketika Ki Gede mengulangi pertanyaannya, dengan perlahan dia berpaling. Begitu menyadari siapa yang berdiri di hadapannya, bagaikan bendungan yang pecah diterjang banjir di musim hujan, tangisnya pun meledak tak tertahankan lagi. Tubuhnya limbung ke kiri, kalau saja Ki Gede tidak dengan segera menahan tubuh yang limbung itu dengan cara memegangi lengan kirinya, tentu perempuan muda yang sedang menggendong bayinya itu sudah jatuh terjerembab di tangga pendapa.

Beberapa pengawal segera memburu untuk membantu Ki Gede. Dengan perlahan-lahan akhirnya perempuan muda itu pun dibantu untuk dapat duduk bersimpuh di tangga pendapa. Tangisnya terdengar sangat memilukan hati. Apalagi ketika bayi dalam gendongannya terbangun dari tidur lelapnya dan ikut menangis melengking-lengking, suasana pun menjadi semakin kisruh.

Ki Gede masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Sejenak dipandanginya perempuan muda yang bersimpuh selangkah di hadapannya itu dengan jantung yang bagaikan diremas-remas. Perang memang selalu membawa korban dan kebanyakan para kawula alit lah yang paling menderita.

“Sudahlah Nyi..,” akhirnya dengan kata-kata sedikit ditekan Ki Gede mencoba menghibur sambil berjongkok di depan perempuan muda itu, “Sebaiknya engkau lebih mengedepankan nalarmu dari pada mengikuti perasaanmu. Lihatlah, bayimu ikut menangis dan kelihatannya membutuhkan perhatianmu. Mungkin dia merasa haus. Sebaiknya engkau rawat dulu bayimu.”

Mendengar Ki Gede menyebut bayinya, perempuan muda itu seolah-olah baru saja terbangun dari sebuah mimpi buruk. Dengan segera dipeluknya bayi yang sedang menangis melengking-lengking dalam gendongannya dan dicium kedua pipinya agar menjadi sedikit lebih tenang.

“Masuklah ke pringgitan,” berkata Ki Gede kemudian sambil berdiri, “Di sana engkau dapat memberi minum bayimu dengan lebih leluasa.”

Perempuan muda itu hanya menganggukkan kepalanya sambil bangkit berdiri. Dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk menahan tangisnya. Namun rasa-rasanya ada sesuatu yang masih menyangkut di tenggorokannya sehingga nafasnya menjadi tersengal-sengal. Ketika seorang pengawal kemudian mempersilahkannya ke pringgitan lewat samping pendapa, dia pun hanya menurut saja.

Ketika bayangan perempuan muda itu telah hilang di balik pintu pringgitan, barulah Ki Gede beranjak dari tempatnya berdiri dan berjalan menuju ke tempat Ki Jayaraga dan Ki Tumenggung Surayudha berdiri menunggu.

“Ki Gede, apakah pemberangkatan jenasah sudah dapat dimulai?” bertanya Ki Jayaraga sesampainya Ki Gede di hadapannya.

Ki Gede belum menjawab. Sejenak ditebarkan pandangan matanya ke seluruh pendapa. Perempuan-perempuan masih menangis walaupun tidak sekeras pada saat pertama kali mereka datang, sedangkan beberapa laki-laki sudah dapat menguasai perasaan mereka dan mulai membantu menyiapkan pemberangkatan jenasah. Beberapa orang telah membantu para pengawal dan prajurit menyiapkan alat pengusung jenasah yang terbuat dari bambu yang sederhana karena dibuat dengan sangat tergesa-gesa.

Ketika Ki Gede masih menilai kesiapan peralatan yang akan digunakan untuk mengusung jenasah, tiba-tiba dari arah regol banjar padukuhan induk tampak beberapa orang sedang berjalan memasuki halaman.

“Ki Patih Mandaraka dan Raden Mas Rangsang berkenan hadir!” terdengar seorang prajurit berseru.

Hampir bersamaan ketiga orang yang berdiri di pendapa itu berpaling kearah regol halaman banjar padukuhan. Tampak Ki Patih Mandaraka dan Raden Mas Rangsang sedang berjalan melintasi halaman dikawal oleh para prajurit kepatihan.

Dengan tergopoh-gopoh Ki Gede bersama Ki Jayaraga dan Ki Tumenggung Surayudha segera menyambut kedatangan kedua bangsawan itu.

“Merupakan suatu anugrah bagi kami atas berkenannya Ki Patih dan Raden Mas Rangsang hadir di tempat ini,” sambut ki Gede Menoreh sambil menyalami kedua bangsawan Mataram itu.

“Mereka adalah pahlawan bagi Mataram,” sahut Ki Patih sambil menyambut uluran tangan Ki Gede, “Sudah selayaknya dan juga merupakan suatu kewajiban bagi kami untuk menghormati mereka sampai ke peristirahatan yang terakhir.”

Beberapa orang yang mendengar kata-kata Ki Patih itu menarik nafas dalam-dalam. Beberapa keluarga korban bahkan merasa sedikit terhibur mendengar apa yang dikatakan oleh Ki Patih.

Setelah mereka menempatkan diri di depan pintu pringgitan, Ki Gede pun kemudian mempersilahkan Ki Patih Mandaraka untuk memberikan sesorahnya.

“Setiap jiwa akan kembali menghadap Sang Pencipta, “ berkata Ki Patih Mandaraka memulai sesorahnya, “Hanya saja kita tidak diperkenankan untuk mengetahui kapan dan bagaimana cara kita kembali menghadapNya.”

Orang-orang yang hadir di pendapa itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mereka yang terbaring di pendapa ini, telah lulus dari segala ujian yang diberikan oleh Yang Maha Agung. Kini mereka dapat pulang kembali ke haribaan Nya untuk menikmati apa yang telah mereka sumbangsihkan kepada negara dan bangsa serta amal ibadah selama mereka hidup di dunia. Di dunia mereka akan selalu kita kenang sebagai pahlawan, dan di kehidupan yang langgeng mereka akan mendapatkan balasannya berupa derajat yang tinggi di sisi Tuhan mereka,” Ki Patih Mandaraka berhenti sejenak. Kemudian lanjutnya, “Atas nama Penguasa Tertinggi Mataram, kami mengucapkan bela sungkawa yang sangat dalam disertai dengan permohonan doa kepada Yang Maha Kuasa, semoga diampuni segala dosa mereka serta diterima segala amal ibadah mereka. Bagi keluarga yang ditinggalkan, baik dari prajurit Mataram maupun pengawal Tanah Perdikan Menoreh, kami doakan semoga tabah dalam menerima cobaan ini dan selalu mendekatkan diri dan pasrah serta menerima dengan ikhlas segala sesuatu yang telah menjadi ketentuanNYA.”

Suasana benar-benar hening. Sudah tidak ada lagi isak tangis di antara mereka. Agaknya apa yang telah disampaikan oleh Ki Patih Mandaraka sedikit banyak telah mendinginkan dada mereka yang hadir di pendapa pagi itu.

“Selanjutnya,” Ki Patih Mandaraka meneruskan sesorahnya, “Untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur dalam pertempuran hari kemarin, Pemerintah Mataram akan memberikan penghargaan berupa santunan bagi para ahli waris yang berhak. Jangan lah menilai penghargaan ini terlalu dangkal dalam ukuran duniawi, namun lebih dari itu, mereka tentu akan menerima pahala yang jauh lebih baik di sisi Tuhan mereka. Semoga apa yang dapat diberikan oleh Pemerintah Mataram ini nantinya bermanfaat dan selanjutnya dapat untuk membantu menopang kehidupan para ahli warisnya dalam meneruskan kehidupan bebrayan. Setelah pemakaman ini selesai, para ahli waris dapat berhubungan dengan Ki Lurah Panyarikan.”

Ki Lurah Panyarikan yang berdiri di ujung pendapa segera maju dua langkah sambil menganggukkan kepalanya dalam-dalam agar para keluarga korban dapat mengenalinya dan pada saatnya nanti dapat menghubungi untuk kepentingan mengurus hak para ahli waris.

“Nah, kiranya tidak ada lagi yang perlu kami sampaikan,” berkata Ki Patih kemudian, “Untuk selanjutnya, marilah dengan penuh khidmat kita hantarkan jenasah para pahlawan ini ke peristirahatan yang terakhir.”

Demikianlah akhirnya, setelah seorang sesepuh dari padukuhan induk yang ikut hadir di situ memimpin doa, dengan berangsur-angsur para pengawal dan prajurit yang sedang bertugas dibantu oleh sebagian laki-laki keluarga korban segera mengangkat jenasah satu persatu turun dari pendapa. Sejenak kemudian iring-iringan itu pun telah keluar dari halaman banjar padukuhan induk menuju ke tempat pemakaman umum yang terletak agak jauh di sebelah timur tanah pesawahan bersebelahan dengan padang perdu di pinggir hutan yang masih cukup lebat.

Dalam pada itu di tengah hutan yang masih lebat yang bersebelahan dengan padang perdu dekat pemakaman padukuhan induk, sekelompok orang tampak sedang beristirahat sambil bersandaran pada batang-batang pohon yang menjulang. Sebagian lagi telah merebahkan diri beralaskan pada rumput-rumput kering serta dedaunan.

“Kiai, ternyata kita sudah terlambat,” berkata seorang yang berperawakan pendek kekar.

Orang yang dipanggil Kiai itu tertawa pendek. Katanya kemudian, “Bukan kita yang terlambat, namun orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra itulah yang bergerak terlalu cepat.”

Orang yang berperawakan pendek kekar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya kemudian seolah-olah ditujukan kepada dirinya sendiri, “Lebih baik kita kembali pulang saja dari pada duduk-duduk di sini tanpa arti.”

“Siapa bilang kehadiran kita di sini tanpa arti?” tiba-tiba terdengar suara berat dan dalam dari arah kiri. Ketika mereka berpaling, tampak seseorang yang berperawakan tinggi besar sedang melangkah ke tempat mereka.

“Guru,” hampir bersamaan orang-orang yang sedang duduk-duduk di sekitar itu bergumam perlahan.

Sedangkan orang yang dipanggil Kiai itu telah bangkit berdiri sambil berkata, “Selamat datang Ki Ajar Serat Gading. Walaupun kedatangan kita sudah sangat terlambat dan tidak menjumpai hiruk pikuknya pertempuran.”

“Terima kasih, Ki Sambi,” jawab orang yang dipanggil Ki Ajar Serat Gading itu sambil berjalan mendekat, “Kita tidak terlambat, justru kita lah yang akan membuat sejarah di tempat ini. Sebentar lagi jasad penerus trah Mataram itu akan tergeletak tak bernyawa di padang rumput itu bersama dengan jasad orang yang sangat berpengaruh terhadap pemerintahan Mataram itu sendiri, Ki Juru Martani yang sangat cerdik namun juga licik.”

Orang-orang yang sedang beristirahat di dalam hutan itu menjadi berdebar-debar. Mereka belum mengetahui apa maksud dari ucapan Ki Ajar Serat Gading.

Sejenak Ki Ajar Serat Gading masih menebarkan pandangan matanya yang setajam burung elang itu ke seluruh sudut hutan. Murid-muridnya yang telah berdiri dengan serentak begitu guru mereka hadir di situ, tidak ada seorang pun yang berani menentang pandangannya. Semuanya telah menundukkan kepala dalam-dalam. Sementara Kiai Sambiwaja hanya dapat berdiri termangu-mangu sambil menarik nafas dalam-dalam.

“Duduklah,” perintah Ki Ajar Serat Gading kemudian sambil tetap berdiri di tempatnya. Sementara Kiai Sambiwaja masih berdiri termangu-mangu.

“Silahkan Kiai,” berkata Ki Ajar mempersilahkan Kiai Sambiwaja. Yang dipersilahkan pun kemudian kembali duduk sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah,” berkata Ki Ajar Serat Gading selanjutnya ketika semua telah duduk, “Keterlambatan kita ternyata membawa keberuntungan. Aku memang sengaja membiarkan kalian berangkat terlebih dahulu bersama Kiai Sambiwaja. Namun sebenarnyalah aku telah menyempatkan diri untuk menghadap Eyang guru terlebih dahulu sebelum menyusul kalian ke Menoreh.”

Semua mendengarkan dengan seksama sambil menduga-duga, apakah Ki Ajar berhasil menghadap Eyang gurunya yang sudah sangat sepuh dan telah menjadi pertapa di puncak gunung Lawu.

“Dan ternyata aku telah diperkenankan oleh eyang guru menghadap,” berkata ki Ajar selanjutnya, “Inilah buktinya.”

Semua mata segera saja tertuju ke arah tangan kiri Ki Ajar Serat Gading yang perlahan-lahan menyingkapkan baju dan mengambil sesuatu dari balik bajunya. Segera saja di tangan kiri Ki Ajar tergenggam sebuah pusaka yang masih tersimpan dalam wrangkanya. Ketika Ki Ajar kemudian mengangkat pusaka itu di atas kepalanya terlebih dahulu, maka sejenak kemudian mereka yang hadir di situ telah dikejutkan oleh sebuah sinar yang menyilaukan yang keluar dari wrangka itu ketika Ki Ajar dengan perlahan mencabut pusaka itu dengan tangan kanannya.

“Keris Kanjeng Kiai Sarpasri..!” hampir setiap mulut menyebut nama pusaka itu dengan jantung yang berdebaran.

Kiai Sambiwaja yang duduk paling dekat dengan Ki Ajar sampai terlonjak berdiri. Dengan seksama diamat-amatinya keris yang tergenggam di tangan kanan Ki Ajar. Sebuah keris yang berbentuk naga sebagaimana keris Nagasasra, Naga Kumala dan Naga Geni. Yang membedakan adalah Keris Sarpasri ujudnya lurus tidak mempunyai luk sama sekali. Pada ujung ekor naga yang merupakan ujung keris itu terbuat dari emas berkilauan. Beberapa butir permata tampak menghiasi tubuh naga itu di antara ukiran sisik-sisiknya. Sementara kedua matanya terbuat dari sepasang intan yang gemerlapan. Demikian juga di antara gigi-giginya yang tajam terdapat beberapa butiran intan.

Sejenak Kiai Sambiwaja masih mengerutkan keningnya dalam-dalam. Namun akhirnya dengan mengangguk-anggukkan kepalanya, Kiai Sambiwaja pun kemudian duduk kembali sambil berdesis perlahan, “Memang benar Keris Kanjeng Kiai Sarpasri, keris yang hampir saja mengakhiri keangkuhan Panembahan Senapati pada waktu itu.”

“Kiai benar,” sahut Ki Ajar sambil menyarungkan kembali keris Kiai Sarpasri ke dalam warangkanya sebelum terlebih dahulu mengangkat keris itu di atas kepalanya. Lanjutnya kemudian, “Seandainya Panembahan Senapati pada waktu itu tidak sempat mengambil pusaka Mataram Kanjeng Kiai Plered, tentu Mataram sekarang hanya tinggal namanya saja.”

Orang-orang yang hadir di dalam hutan itu terlihat menahan nafas. Mereka memang pernah mendengar cerita tentang kedahsyatan keris Kiai Sarpasri yang hampir saja berhasil membunuh Panembahan Senapati pada saat salah seorang murid perguruan Nagaraga berhasil memasuki bilik peraduan Panembahan Senapati. Namun sejauh ini mereka hanya mendengar namanya saja dan mengetahui ciri-cirinya. Secara kewadagan mereka belum pernah melihat ujud asli keris itu. Sedangkan Kiai Sambiwaja yang mempunyai kemampuan untuk mengenal jenis-jenis pusaka segera yakin bahwa keris yang berada di tangan ki Ajar adalah Kanjeng Kiai Sarpasri.

Pengaruh kekuatan keris Kiai Sarpasri itu memang luar biasa sebagaimana yang telah diakui sendiri oleh Panembahan Senapati pada waktu itu. Yang sangat mendebarkan adalah ujud keris itu pada setiap geraknya. Keris itu seolah-olah telah berubah menjadi seekor naga yang tidak seberapa besar namun mampu menyemburkan api dari mulutnya. Api yang beracun yang keluar dari mulutnya itulah yang ternyata mampu menekan kekuatan ilmu lawannya.

Memang murid perguruan Nagaraga yang berhasil menyusup ke bilik peraduan Panembahan Senapati pada waktu itu sempat menunjukkan kemampuan ilmunya yang cukup tinggi. Dengan dilambari kekuatan keris yang berada di tangannya, murid perguruan Nagaraga itu mampu memaksa Panembahan Senapati untuk bertempur beberapa lama sebelum akhirnya Panembahan Senapati menyadari kekuatan nggegirisi yang terpancar dari keris lawannya. Sebelum persoalannya menjadi semakin rumit, Panembahan Senapati pun akhirnya memutuskan untuk mengimbangi pusaka lawannya dengan pusaka terbesar Mataram.

Dengan cerdik Panembahan Senapati pun kemudian telah memancing lawannya untuk bertempur keluar bilik. Demikian lawannya telah berada di luar bilik, dalam kesempatan yang tak terduga, Panembahan Senapati ternyata justru telah meloncat memasuki biliknya kembali. Ketika lawannya dengan kemarahan yang menghentak dada kemudian menyusul ke dalam bilik, di tangan Panembahan Senapati telah tergenggam pusaka Mataram yang mempunyai kekuatan tiada taranya, Kanjeng Kiai Plered.

“Nah,” berkata Ki Ajar selanjutnya sambil masih tetap berdiri, “Di Menoreh tidak ada pusaka yang mampu menandingi kedahsyatan Kanjeng Kiai Sarpasri. Ki Patih Mandaraka tidak akan mampu melawan pengaruh pamor dari Kanjeng Kia Sarpasri, apalagi Raden Mas Rangsang yang masih ingusan. Dengan demikian akan tuntaslah dendam perguruan Nagaraga yang telah dihancurkan oleh pasukan Mataram di bawah pimpinan Pangeran Singhasari pada waktu itu.”

“Bagaimana dengan Kiai Nagaraga sendiri?” tiba-tiba Kiai Sambiwaja menyela, “Pemimpin Agung perguruan Nagaraga pada waktu itu tidak terbunuh di tangan pangeran yang sombong itu, akan tetapi justru di tangan orang bercambuk.”

“Kiai Gringsing maksud Kiai?” bertanya Ki Ajar sambil tertawa pendek, “Orang itu sudah mati karena sakit tua, namun setelah aku berhasil membunuh Ki Juru Mertani dan Raden Mas Rangsang, aku akan menantang murid utama perguruan orang bercambuk itu, Ki Rangga Agung Sedayu.”

Kiai Sambiwaja mengerutkan keningnya. Jawabnya kemudian, “Ki Ajar, Ki Rangga Agung Sedayu sampai saat ini belum terdengar beritanya. Apakah dia masih sanggup bertahan hidup setelah berperang tanding melawan Panembahan Cahya Warastra, kita belum tahu. Sementara berita lain yang aku dengar, murid kedua orang bercambuk juga sedang menderita luka yang cukup parah dan dirawat di padepokan Jati Anom.”

“Persetan!” geram Ki Ajar Serat Gading, “Aku akan menantang berperang tanding salah satu atau bahkan kedua-duanya kalau perlu. Kalau mereka memerlukan waktu untuk menyembuhkan luka atau meningkatkan ilmu terlebih dahulu, aku tidak akan berkeberatan, asalkan tidak lebih dari tiga kali purnama.”

Kiai Sambiwaja kembali mengerutkan keningnya. Menurut perhitungannya, ilmu Ki Ajar Serat Gading mungkin masih selapis tipis di bawah ilmu perguruan orang bercambuk. Namun dengan bantuan keris pusaka Kanjeng Kiai Sarpasri, keadaan akan dapat berbalik. Orang yang memiliki ilmu dan ketahanan batin setingkat Panembahan Senapati pun masih perlu imbangan kekuatan dengan menggunakan pusaka terbesar Mataram, Kanjeng Kiai Plered. Apalagi perguruan orang bercambuk, sepanjang pengetahuannya mereka tidak memiliki sejenis pusaka apapun selain senjata andalan mereka, cambuk.

“Sekarang kita akan mengatur siasat untuk menjebak Ki Juru Martani dan Mas Rangsang,” Ki Ajar berhenti sejenak. Lalu katanya, “Berapa jumlah kawanmu semuanya, Jabung?”

Orang yang dipanggil Jabung itu ternyata orang yang berbadan pendek dan kekar yang duduk di dekat Kiai Sambiwaja. Segera saja dia bangkit berdiri sambil menjawab, “Empat puluh orang, Guru.”

Ki Ajar Serat Gading mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Sebelum menuju tempat ini, aku tadi sempat menyusup sampai di dekat banjar padukuhan induk. Para Pengawal Menoreh dibantu prajurit Mataram tampak sedang sibuk mempersiapkan pemberangkatan para korban perang dari kedua belah pihak. Aku melihat Ki Juru dan Mas Rangsang ada di antara mereka. ini adalah kesempatan yang langka. Sebentar lagi iring-iringan jenasah itu pasti akan menuju kemari, dan aku yakin kedua bangsawan Mataram yang menjadi sasaran kita itu pasti akan ikut dalam iring-iringan itu. Lebih baik kita segera mempersiapkan diri, sebagian dari kalian bersembunyi di dalam hutan ini dan yang lain akan menunggu di tanah pekuburan itu.”

Beberapa orang telah melemparkan pandangan mata mereka ke tanah pekuburan di sebelah padang perdu yang hanya berjarak sekitar sepuluh tombak. Dari tempat mereka bersembunyi, tampak sekitar sepuluh orang penggali kubur sedang duduk-duduk melepaskan lelah di antara gundukan-gundukan tanah sambil menunggu kedatangan iring-iringan jenasah.

“Bagaimana dengan para penggali kubur itu?” bertanya Kiai Sambiwaja.

Ki Ajar tertawa. Jawabnya kemudian, “Apakah keberatan Kiai? Beberapa orang dari kita akan merayap mendekati mereka dari arah belakang dan membungkam mereka untuk selama-lamanya. Setelah itu sebagian dari kita akan menyamar sebagai penggali kubur dan menunggu kesempatan membunuh kedua Bangsawan Mataram itu.”

Tidak ada seorang pun yang membantah perintah Ki Ajar Serat Gading. Murid-murid perguruan Serat Gading sudah terbiasa dengan kehidupan yang bergelimangan dengan darah. Bagi mereka adalah suatu kebanggaan tersendiri dapat melaksanakan dengan tuntas setiap perintah dari pemimpin tertinggi mereka.

Sedangkan Kiai Sambiwaja yang berasal dari luar perguruan Serat gading ternyata sependapat dengan siasat Ki Ajar. Bagi orang-orang yang telah menenggelamkan diri mereka dalam kehidupan yang kelam, segala cara akan ditempuh tanpa mempertimbangkan hak dan kepentingan orang lain.

“Baiklah Ki Ajar,” berkata Kiai Sambiwaja kemudian, “Jika diijinkan, aku sendiri yang akan memimpin penyergapan ini. Menilik jumlah para penggali kubur yang tidak lebih dari sepuluh orang, aku memerlukan kawan paling banyak separo dari jumlah mereka. Kami hanya perlu waktu sekejab untuk membinasakan mereka. Dengan sekali ayunan atau tebasan, kepala mereka pasti sudah terpisah dari badan mereka.”

Ki Ajar mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun katanya kemudian, “Kiai, sebaiknya Kiai membawa sepuluh orang agar pekerjaan ini segera cepat selesai. Jangan beri kesempatan mereka berteriak atau meminta bantuan dengan cara apapun. Sebentar lagi iring-iringan jenasah itu tentu sudah berangkat dari banjar padukuhan induk.”

“Baiklah Ki Ajar, aku akan membawa sepuluh orang agar pekerjaan ini selesai dalam sekejab.”

Selesai berkata, Kiai Sambiwaja segera memberi isyarat kepada Jabung dan kawan-kawannya untuk bergerak.

Demikianlah, sejenak kemudian sepuluh orang dipimpin oleh Kiai Sambiwaja telah merayap di antara gerumbul-gerumbul perdu serta batang-batang ilalang yang tumbuh merapat berjajar-jajar di padang perdu sebelah tanah pekuburan.

Dalam pada itu di kediaman Ki Gede Menoreh, Sekar Mirah tampak sedang menggendong bayinya sambil berjalan tergesa-gesa memasuki bilik Ki Rangga Agung Sedayu. Di dalam bilik itu telah berkumpul Ki Waskita, Kiai Sabda Dadi, Pandan Wangi dan sepasang suami istri Glagah Putih dan Rara Wulan yang baru saja tiba. Mereka tampak sedang bercanda dengan gembira menyambut Ki Rangga Agung Sedayu yang telah tersadar dari pingsannya.

“Inilah yang ditunggu-tunggu!” seru Pandan Wangi tiba-tiba sambil bangkit dari duduknya begitu Sekar Mirah melangkah memasuki bilik.

“Ah, betapa lucunya..!” seru Rara Wulan. Dengan penuh suka cita dia bergegas menyongsong Sekar Mirah. Dengan tanpa disadarinya kedua tangannya telah terjulur ingin menggendong bayi dalam pelukan Sekar Mirah.

“Sebentar Rara,” dengan halus Sekar Mirah menolak sambil tersenyum, “Biarlah Kakang Agung Sedayu melihatnya terlebih dahulu.”

“Oh..maaf..maaf. Aku sudah tidak sabar ingin menggendongnya,” desis Rara Wulan dengan wajah bersemu merah. Sementara orang-orang yang ada di dalam bilik itu justru telah tertawa.

“Agaknya Rara sudah tidak sabar lagi ingin segera mendapat momongan,” gurau Ki Waskita yang duduk di sebelah Kiai Sabda Dadi.

Yang mendengar gurauan Ki Waskita tertawa tergelak. Sedangkan Glagah Putih yang duduk agak di sudut hanya tersenyum masam. Ketika pandangan matanya kemudian bertemu dengan sepasang mata istrinya yang kebetulan juga sedang menatapnya, hampir bersamaan keduanya pun kemudian telah tersenyum.

“Marilah Ki Rangga, aku bantu untuk duduk,” berkata Kiai Sabda Dadi sambil membantu Ki Rangga yang masih lemah untuk duduk. Sedangkan Ki Waskita telah menahan punggung Ki Rangga dengan menggunakan beberapa bantal yang disusun pada sandaran tempat tidur.

“Terima kasih,” desis Ki Rangga Agung Sedayu perlahan sambil tersenyum.

“Nah,” berkata Kiai Sabda Dadi kemudian, “Sekarang sebaiknya kita beri kesempatan Ki Rangga untuk beristirahat. Aku telah meramu obat untuk memperkuat daya tahan tubuh terutama bagian perut Ki Rangga yang telah lama tidak terisi makanan agar dapat bekerja kembali seperti sediakala.”

Orang-orang yang ada di dalam bilik itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Walaupun mereka masih ingin bercengkerama lebih lama lagi dengan Ki Rangga, terutama Sekar Mirah, namun mereka harus menyadari bahwa Ki Rangga memerlukan pengobatan khusus dari Kiai Sabda Dadi serta istirahat yang cukup untuk mengembalikan kesehatannya.

Sekar Mirah yang duduk di bibir pembaringan segera beringsut sambil berkata, “Beristirahatlah Kakang. Biarlah Bagus Sadewa aku bawa dulu. Nanti kalau Kakang sudah sembuh, Kakang dapat menggendongnya seharian penuh.”

“Ah,” serentak orang-orang yang berada di dalam bilik itu tertawa. Sahut Ki Waskita kemudian, “Aku kira Ki Rangga memerlukan sebuah latihan khusus, karena selama ini Ki Rangga belum pernah belajar menggendong bayi.”

“Aku kira tidak jauh berbeda dengan apa yang telah aku lakukan selama ini,” jawab Ki Rangga sambil tersenyum penuh arti.

Sejenak orang-orang yang berada di dalam bilik itu mengerutkan kening. Ternyata Pandan Wangi lah yang tidak dapat menahan diri, tanyanya kemudian dengan nada sedikit ragu-ragu, “Apakah yang telah Kakang lakukan selama ini?”

“Menggendong ibunya,” jawab Ki Rangga perlahan.

Segera saja gelak tawa memenuhi bilik tempat Ki Rangga dirawat. Sementara Sekar Mirah hanya dapat menundukkan wajahnya sambil tersipu-sipu.

Dalam pada itu, Anjani yang berada di bilik yang berseberangan dengan bilik Ki Rangga telah mendengar gelak tawa yang berasal dari dalam bilik Ki Rangga.

“Agaknya Ki Rangga benar-benar telah menemukan kesadarannya kembali,” berkata Anjani dalam hati, “Alangkah berbahagianya Nyi Sekar Mirah. Seandainya saja aku dapat bergabung dengan mereka sekarang ini.”

Untuk sejenak Anjani termenung. Ingatannya segera kembali pada saat dia diberi tugas oleh Resi Mayangkara untuk menyadarkan Ki Rangga Agung Sedayu dengan mengetrapkan aji seribu bunga.

“Untunglah aku masih ingat suba sita dan tidak melanggar tata kesopanan dalam bebrayan ini walaupun sebenarnya Kakang Agung Sedayu tidak akan menyadari apa yang terjadi di sekitarnya,” desis Anjani dalam hati, “Seandainya itu benar-benar terjadi, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri dan aku merasa tidak pantas untuk bertemu dengan Kakang Agung Sedayu kembali.”

Kembali Anjani termenung. Hatinya benar-benar resah dan gelisah. Dia tidak tahu apa yang akan dikerjakannya di Tanah Perdikan Menoreh ini. Sebenarnya dia mempunyai banyak pilihan sebagaimana yang telah ditawarkan oleh Resi Mayangkara, namun ada satu hal yang masih memberati hatinya dan ingin diungkapkan di hadapan Ki Rangga sendiri jika suatu saat nanti dia memperoleh kesempatan untuk bertemu berdua saja.

Lamunan Anjani terputus ketika tiba-tiba saja pintu bilik berderit terbuka. Seorang pembantu perempuan Ki Gede Menoreh yang rambutnya sudah ubanan memasuki bilik sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman.

Perempuan tua itu tersenyum begitu Anjani turun dari pembaringan. Sambil meletakkan nampan berisi makanan dan minuman di atas meja kayu di sudut bilik, perempuan tua itu pun kemudian berkata, “Silahkan Nini. Kami telah membuatkan bubur halus ini khusus untuk Nini agar segera sehat kembali.”

“Terima kasih, Bibi,” jawab Anjani sambil memegang lengan pembantu perempuan Ki Gede itu, “Jangan terlalu merepotkan.”

“Ah, tidak,” jawab perempuan tua itu sambil tersenyum, “Nini adalah tamu di rumah ini. Sudah sewajarnya lah kalau kami menghormat tamu selagi kami mampu.”

“Terima kasih,” sekali lagi Anjani menjawab sambil mengantar perempuan tua pembantu rumah Ki Gede itu sampai ke pintu bilik.

Ketika bayangan perempuan tua itu telah hilang di balik pintu yang menghubungkan ruang tengah dengan dapur, tiba-tiba saja pintu bilik Ki Rangga terbuka dan tampak lah Rara Wulan dengan riang gembira menggendong Bagus Sadewa keluar dari bilik.

“Ayo, mBokayu, kita bawa Bagus Sadewa ke halaman belakang,” berkata Rara Wulan sambil berjalan bergegas. Kemudian katanya kepada Glagah Putih yang mengikutinya dari belakang, “Kakang, tolong ambilkan tikar pandan untuk digelar di bawah pohon jambu air di dekat perigi.”

Glagah Putih yang berjalan di belakangnya hanya menganggukkan kepala. Sementara Sekar Mirah telah ikut keluar dari bilik menyusul sepasang suami istri itu yang telah hilang di balik pintu dapur.

Anjani yang berdiri di dekat pintu biliknya segera bergeser agak ke dalam agar terhindar dari pengamatan sepasang suami istri yang belum dikenalnya itu. Ketika Sekar Mirah terlihat ikut keluar dari bilik, hampir saja dia menyapanya, namun niat itu segera diurungkannya begitu melihat seorang perempuan paro baya yang terlihat masih cantik melangkah keluar bilik di belakang Sekar Mirah.

“Nyi Pandan Wangi,” desis Anjani dalam hati sambil melangkah mundur. Namun usahanya untuk menghindarkan diri dari pandangan Pandan Wangi ternyata gagal. Pandan Wangi justru telah melihatnya terlebih dahulu dan melangkah menuju ke biliknya.

Entah perasaan apa yang bergejolak dalam dadanya begitu menyadari Pandan Wangi telah memasuki bilik. Darah di sekujur tubuhnya serasa membeku sehingga Anjani hanya diam mematung di tempatnya berdiri begitu Pandan Wangi menghampirinya.

“Engkau belum makan?” pertanyaan itu lah yang pertama-tama meluncur dari bibir Pandan Wangi begitu dia melihat makanan dan minuman di atas meja kayu di sudut bilik yang terlihat masih utuh belum tersentuh sama sekali.

Anjani menarik nafas dalam-dalam untuk mengurai getar di rongga dadanya. Jawabnya kemudian perlahan, “Aku belum lapar, mBokayu.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Dipandanginya Anjani dari ujung rambut sampai ke ujung kaki dengan tatapan yang tajam, setajam tatapan mata elang yang sedang mengintai mangsanya.

“Engkau memerlukannya untuk mengembalikan kekuatan tubuhmu agar segar kembali,” berkata Pandan Wangi kemudian tanpa melepaskan tatapan matanya, “Atau memang engkau memiliki ketahanan tubuh melebihi orang-orang kebanyakan, itu aku tidak tahu.”

“Ah, itu tidak benar, mBokayu,” jawab Anjani dengan serta-merta, “Tubuhku memang terasa sangat lemah namun aku tidak mempunyai selera makan sama sekali.”

“Itu karena engkau terlalu memaksakan diri untuk mengangkat beban diluar kemampuanmu, diluar jangkauan nalarmu.”

Sebuah desir tajam terasa menggores jantung Anjani, namun dia berusaha untuk menghilangkan kesan apapun dari wajahnya. Maka katanya kemudian untuk mengalihkan pembicaraan, “mBokayu, apakah Ki Rangga benar-benar telah sadar? Dan apakah keadaannya telah semakin membaik?”

Kembali sebuah kerut-merut tampak di kening Pandan Wangi. Jawabnya kemudian, “Ki Rangga baik-baik saja dan sudah dalam perawatan Kiai Sabda Dadi. Kita yang tidak terlalu berkepentingan, untuk sementara sebaiknya tidak usah mengganggunya.”

Kembali sebuah desir tajam menggores jantung perempuan muda berlesung pipit itu. Setelah sejenak mengatur detak jantungnya yang tiba-tiba saja melonjak-lonjak, dengan sedikit menekan kata-katanya, akhirnya Anjani perlahan berkata, “Aku hanya ingin mengetahui keadaan yang sebenarnya, agar usahaku dalam melaksanakan tugas yang telah dibebankan oleh Eyang Resi kepadaku untuk membantu menyadarkan Ki Rangga tidak sia-sia. Hanya itu, aku hanya melaksanakan sebuah tugas, tidak lebih dan tidak kurang.”

Sekarang giliran jantung Pandan Wangi yang berdesir. Namun tidak ada perubahan sama sekali pada raut wajahnya. Puteri satu-satunya Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu hanya menarik nafas dalam-dalam sambil berdesis, “Engkau memang benar, Anjani. Engkau hanya melaksanakan tugas, dan memang dalam hal ini kita semua hanya bisa berusaha dan berdoa. Yang Maha Agung lah yang menentukan semua itu.”

Anjani mengangguk-anggukkan kepalanya, walaupun dia menyadari bahwa kata-kata Pandan Wangi itu seolah-olah mengabaikan perannya dalam membantu Ki Rangga menemukan kesadarannya kembali. Namun hal itu tidak menjadikan persoalan dalam hatinya. Maka katanya kemudian, “Marilah, mBokayu. Kita dapat bercakap-cakap sambil duduk.”

Selesai berkata demikian Anjani segera melangkah menghampiri sebuah dingklik kayu di dekat pembaringan dan kemudian mendudukinya.

Sedangkan Pandan Wangi dengan langkah yang sedikit segan mengambil tempat duduk di dekat meja kayu di sudut bilik.

“Anjani,” berkata Pandan Wangi kemudian setelah membetulkan letak duduknya, “Apakah sebenarnya yang membawamu sampai ke Tanah Perdikan Menoreh ini?”

Jantung Anjani yang sudah tenang segera saja bergejolak kembali. Pertanyaan Pandan Wangi kali ini benar-benar telah menyudutkannya. Untuk beberapa saat Anjani justru telah terdiam sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Ada sedikit perasaan iba di hatinya. Bagaimana pun juga Pandan Wangi adalah juga seorang perempuan yang pernah merasa mempunyai harapan yang berlebih terhadap Ki Rangga Agung Sedayu, dan agaknya kini Anjani akan merasakan sebagaimana yang pernah dirasakan oleh Pandan Wangi pada waktu itu, kecewa.

“Anjani,” perlahan Pandan Wangi berkata sambil memandang tajam ke arah Anjani, “Aku tidak tahu dan tidak mau tahu tentang latar belakang dirimu dan untuk tujuan apa dirimu datang ke tanah Perdikan Menoreh ini. Namun ada satu hal yang ingin kusampaikan kepadamu dan aku harap engkau menyadarinya dengan sepenuh hatimu,” Pandan Wangi berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Sedikit banyak Kakang Agung Sedayu telah bercerita kepadaku tentang dirimu. Namun saat ini aku tidak ingin membuat sebuah penilaian terhadap dirimu karena memang itu bukan kewenanganku. Yang ingin kusampaikan kepadamu adalah bahwa Kakang Agung Sedayu adalah suami dari seorang perempuan yang bernama Sekar Mirah, dan Sekar Mirah itu adalah adik iparku karena suamiku, kakang Swandaru adalah kakak kandung Sekar Mirah. Jadi aku mohon dengan sangat, jauhilah kakang Agung Sedayu. Jangan ganggu keluarga mereka betapa pun aku menyadari perasaanmu yang paling dalam terhadap Kakang Agung Sedayu.”

Untuk sejenak Anjani bagaikan membeku di tempatnya. Dia sama sekali tidak menduga kalau ternyata Pandan Wangi begitu tega menyampaikan hal yang sangat pribadi itu kepadanya, walaupun Anjani menyadari hubungan kekeluargaan antara Ki Rangga Agung Sedayu dengan Pandan Wangi. Namun jauh di lubuk hatinya, Anjani merasa Pandan Wangi tidak mempunyai hak untuk melarang dirinya mendekati Ki Rangga.

Maka setelah menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu untuk mengurangi debar di dalam rongga dadanya, akhirnya dengan kata-kata yang penuh tekanan, Anjani pun menjawab, “Nyi Pandan Wangi, tidak ada seorang pun di dunia ini yang berhak mengatur perasaan seseorang. Demikian juga perasaanku kepada Kakang Agung Sedayu. Namun aku menyadari batasan mana yang tidak boleh aku langgar justru karena aku menyadari bahwa Kakang Agung Sedayu telah berumah tangga.”

Selarik warna merah tampak membayang di wajah puteri satu-satunya kepala Tanah Perdikan Menoreh itu. Untuk beberapa saat Pandan Wangi justru telah terdiam. Jauh di dalam lubuk hatinya dia pun mengakui bahwa tidak ada seorang pun yang berhak untuk mengatur perasaan seseorang. Bahkan sampai saat ini pun hatinya masih belum bisa berpaling dari Ki Rangga Agung Sedayu.

“Pandan Wangi,” demikian terdengar suara dari dasar hatinya, “Bukankah selama ini dalam mendampingi suamimu Swandaru Geni engkau hanya menganggap sebagai menjalankan tugas semata yang dibebankan kepadamu? Engkau menganggap semua itu hanya sebagai bentuk tanda baktimu kepada orang tuamu? Serta selebihnya adalah sebagai sarana untuk membalas budi kebaikan orang-orang bercambuk yang telah menolong Tanah Perdikan ini dari kehancuran karena pertikaian antara keluarga sendiri?”

Pandan Wangi berdesah perlahan sambil menggeleng lemah. Hatinya benar-benar galau. Dia tidak dapat mengingkari suara hatinya yang tidak bisa berpaling dari bayang-bayang Ki Rangga Agung Sedayu. Apa yang selama ini dijalaninya adalah lamis, walaupun dengan sepenuh hatinya dia berusaha untuk menjadi seorang istri yang baik, namun pada kenyataannya justru suaminya lah yang telah berpaling kepada perempuan lain.

“Sekar Mirah adalah cinta pertama kakang Agung Sedayu,” kembali terdengar suara hatinya, “Sedangkan aku adalah korban sebuah cinta yang tersia-sia. Sebenarnyalah dalam hal ini Kakang Agung Sedayu tidak dapat dipersalahkan. Akan tetapi mengapa tanggapan kakang Agung Sedayu pada waktu itu begitu meyakinkan hatiku? Ataukah aku yang terlalu berperasaan sehingga menanggapi sikap Gupita pada saat itu dengan berlebihan?”

Seolah terbayang kembali di rongga mata Pandan Wangi saat dirinya dengan Gupita berlari-larian menyelamatkan diri dari kejaran anak buah Ki Peda Sura. Dengan bergandengan tangan mereka berdua berlarian di antara pematang sawah dan sesekali meloncati parit-parit yang cukup lebar. Genggaman tangan Gupita pada saat itu dirasakannya bagaikan seonggok bara yang panasnya menjalar ke sekujur tubuhnya dan menghangati hatinya yang selama itu dingin dan beku.

Bulan bulat di langit yang bersinar dengan cerahnya telah menambah suasana hatinya yang sedang berbunga-bunga menjadi semakin cerah dan ceria. Seolah-olah ingin dijelajahinya seluruh pelosok Tanah Perdikan Menoreh pada malam itu sampai pagi menjelang. Seandainya saja Gupita tidak mengingatkan tugasnya sebagai prajurit yang bertanggung jawab penuh atas pasukannya, tentu dirinya lebih senang duduk-duduk berdua saja di atas pematang yang becek di bawah cerahnya sinar bulan purnama.

“Mungkin aku saja yang telah terjebak sendiri dalam perasaanku,” berkata Pandan Wangi dalam hati, “Setidaknya pada waktu itu, kakang Agung Sedayu hanya memainkan perannya sebagai seorang gembala yang bernama Gupita. Aku yakin , gurunya telah memainkan peran dalam setiap peristiwa yang terjadi di tanah ini pada saat itu. Kemunculan Gupita yang tiba-tiba pada saat aku terdesak dalam pertempuran melawan Ki Peda Sura tidak mungkin terjadi hanya kebetulan saja. Kiai Gringsing tentu sudah dapat mengukur ketinggian ilmu Ki Peda Sura sehingga dia tidak akan mungkin melepaskan muridnya begitu saja untuk menghadapi Ki Peda Sura.”

Berpikir sampai disini tiba-tiba saja wajah Pandan Wangi menjadi semburat merah kembali. Namun cepat-cepat kesan itu segera dihilangkan dari wajahnya.

“Alangkah malunya,” desisnya dalam hati, “Mungkin pada saat itu Kiai Gringsing dari jarak tertentu telah mengikuti kami berdua yang sedang berlari-larian sepanjang pematang dan meloncati parit-parit yang berair bening sambil bergandengan tangan.”

“Ah,” tiba-tiba saja tanpa disadarinya Pandan Wangi telah berdesah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Maafkan aku mBokayu,” tiba-tiba suara Anjani telah membuyarkan lamunannya, “Apakah kata-kataku tadi menyinggung perasaan mBokayu?”

Pandan Wangi tersenyum, betapapun pahitnya. Jawabnya kemudian sambil menggeleng, “Tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Aku mohon maaf jika aku terlalu mencampuri urusanmu. Bukan maksudku untuk menghalangimu berhubungan dengan Ki Rangga, namun apa yang aku sampaikan hanyalah sebatas saran dan nasihat kepadamu, pandai-pandailah membawa diri sehubungan dengan keberadaan Ki Rangga yang sudah berumah tangga,” Pandan Wangi berhenti sejenak. Kemudian sambil bangkit dari tempat duduknya dia melanjutkan, “Aku mohon diri, Anjani. Jika engkau memang mempunyai kepentingan yang mendesak, engkau dapat menjenguk Kakang Agung Sedayu sekarang, selagi masih ada Kiai Sabda Dadi dan Ki Waskita.”

Selesai berkata demikian, tanpa menunggu jawaban dari Anjani, Pandan Wangi segera melangkah menuju pintu bilik. Sementara Anjani dengan tergesa-gesa segera bangkit berdiri dan mengantar Pandan Wangi sampai ke pintu dengan pertanyaan yang menggumpal di dalam dada. Mengapa Pandan Wangi menyarankan dirinya untuk bertemu dengan Ki Rangga selagi di dalam bilik masih ada orang lain? Padahal apa yang ingin disampaikan adalah urusan pribadi yang tidak perlu diketahui oleh orang lain.

Ketika langkah Pandan Wangi hampir saja mencapai pintu, tiba-tiba saja dia berbalik sambil menatap tajam ke arah Anjani. Katanya kemudian, “Anjani, kita adalah sama-sama perempuan. Engkau tentu menyadari betapa sakitnya hati seorang perempuan ketika cintanya diduakan. Aku tidak ingin melihat hati Sekar Mirah terluka, sebagaimana yang pernah terjadi pada diriku.”

Anjani terkejut mendengar kata-kata Pandan Wangi. Dengan serta merta dia menyahut, “Maksud mBokayu.?”

“Ah sudahlah. Lupakan saja,” tukas Pandan Wangi cepat begitu menyadari keterlanjurannya. Kemudian katanya sambil melangkah keluar bilik, “Makanlah! Usahakan engkau dapat makan walaupun hanya sesuap nasi dan seteguk air, agar kesehatanmu pulih kembali.”

“Terima kasih mBokayu,” jawab Anjani sambil mengangguk.

Diikutinya saja langkah Pandan Wangi yang hilang di balik pintu yang menghubungkan ruang dalam dengan dapur dengan pandangan kosong. Terasa ada sesuatu yang tersembunyi dibalik ucapan Pandan Wangi yang terakhir. Benarkah puteri satu-satunya Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu pernah terluka hatinya? Anjani hanya dapat menarik nafas dalam-dalam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sepeninggal Pandan Wangi, Anjani segera menutup pintu biliknya rapat-rapat namun tidak diselarak dari dalam. Sambil duduk termenung di tepi pembaringan, angan-angan Anjani pun kemudian melayang. Bayangan berbagai macam bentuk dan corak telah hilir-mudik dalam benaknya. Bayangan masa lalunya yang kelam maupun kejadian-kejadian yang baru saja terjadi atau harapan-harapan yang telah tumbuh dalam hatinya serta angan-angan dan cita-citanya untuk meraih masa depan.

Dalam pada itu, Kiai Sambiwaja yang memimpin sepuluh orang murid-murid perguruan Serat Gading sedang merayap di antara gerumbul-gerumbul perdu serta batang-batang ilalang yang tumbuh merapat berjajar-jajar yang bersebelahan dengan tanah pekuburan. Dengan gerakan yang senyap mereka berusaha mendekati para penggali kubur yang sedang melepaskan lelah dan duduk-duduk di atas gundukan-gundukan tanah.

“Kiai,” bisik Jabung sambil merayap di sebelah Kiai Sambiwaja, “Aku kira jarak antara kita dengan mereka sudah cukup dekat. Sebaiknya Kiai segera memberi isyarat kepada kawan-kawan kita untuk menyerbu.”

“Belum,” jawab Kiai Sambiwaja sambil merunduk di sebelah gerumbul perdu yang cukup lebat, “Kita maju beberapa langkah lagi. Dengan demikian kita dapat menyelesaikan pekerjaan kita dengan sekali loncat.”

Jabung tidak menjawab. Bagaimana pun juga debar jantungnya telah berpacu kencang walaupun dalam perhitungannya lawan yang akan dihadapi tidak lebih dari para penggali kubur.

Sejenak kemudian, ketika terdengar suara jengkerik yang cukup keras dari balik sebuah gerumbul, tiba-tiba saja dari gerumbul-gerumbul yang berserakan di sebelah tanah pekuburan itu telah bermunculan murid-murid perguruan Serat Gading dengan menggenggam senjata telanjang.

Bagaikan burung-burung sikatan yang beterbangan di padang ilalang, mereka segera berloncatan menerjang para penggali kubur itu tanpa ampun.

Namun alangkah terkejutnya para murid perguruan Serat Gading itu begitu senjata-senjata mereka terayun deras, dengan sangat cekatan orang-orang yang mereka sangka sebagai penggali kubur itu hampir bersamaan telah berguling menjauh. Demikian mereka melenting berdiri, di tangan kanan mereka telah tergenggam senjata masing-masing.

bersambung ke bagian 2

10 Responses

  1. HUT Indonesia Merdeka. Semoga semakin baik di segala bidang dan tetap utuh NKRI!

  2. ….waiting for third chapter

  3. Dipun entosi tutugipun ….. Nuwun.

  4. makasih…makasih…makasih…

  5. saya kok penasaran sama cerita tentang rara wulan dan glagah putih yang setelah menikah seperti terputus dari hubungan keluarga dengan orang tua rara wulan..nuwun sewu apa saya yang salah baca

  6. betul betul betul, SHM sendiri tidak perbah menyinggung hubungan GP dgn mertuanya. pada saat hari raya mereka juga ndak sowan. Agaknya SHM memang sengaja memutus hubungan itu agar cerita ndak terlalu melebar.

  7. Bersambung ke bag 2
    Link bag 2 mana kolk gaka ada, jilid sebelumnya juga gak ada

    He he he …
    maaf….., lupa belum dberi link.
    kalau seperti itu, bisa klik angka dua dibawah tulisan itu (Pages:1 2 3 atau Halaman 1 2 3 ika menggunakan bahasa Indonesia), sebelum komentar.

  8. Maturnuwun …..dipun tenggo lontar selanjutnya

  9. Peran pasukan Khusus dalam perang hanya diam di dalam barak …top

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s